Makam Bunga Mawar Jilid 30

 
Jilid 30

Muka Liong-hoan Tojin menjadi merah, jawabnya sambil menggelengkan kepala:

“Dugaan Hee Siaohiap keliru, aku sama sekali tidak bisa menginjak tempat yang dinamakan istana kesepian itu!”

“Apa sebabnya?” tanya Hee Thian Siang heran.

“May-yu Kiesu setelah mendengar ceritaku tentang nasib buruk Bu-tong-pay hingga membuat aku putus asa, tetapi ia anggap bahwa sebab-sebab itu masih belum memenuhi syaratnya. Ia suruh aku berpikir masak-masak dulu setengah tahun, jikalau pikiranku tetap tidak berubah, barulah boleh datang lagi menemui dia!” menjawab Liao-hoan Tojin.

“Kiranya Totiang sama dengan aku. Aku juga untuk kedua kalinya ini masuk ke lembah May yu kok ini!” berkata Hee Thian siang sambil tertawa.

“Sepuluh hari berselang aku sudah datang kemari. Tapi May-yu Kiesu mengatakan padaku bahwa istana kesepian itu oleh karena mengalami kejadian yang tidak diduga-duga, waktu ini dinyatakan sudah ditutup, untuk sementara tidak menerima orang-orang yang merasa kesepian lagi!” menjawab Liao hoan Tojin.

Tiong sun Hui kheng lalu bertanya sambil tersenyum: “Tahukah Totiang di dalam istana kesepian itu sebetulnya

ada kejadian apa?”

“Pinto pernah bertanaya kepada May yu Kiesu. Menurut keterangannya bahwa kejadian itu terjadi atas diri putri kesepian!”

Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui kheng yang mendengar ucapan itu semuanya terkejut, mereka saling berpandangan sejenak. Hee Thian Siang lalu bertanya:

“Harap Totiang bicara lebih jelas, bagaimana dan apa yang telah terjadi dengan putri kesepian?”

“Kejadian itu sesungguhnya sangat lucu. menurut May yu Kiesu di waktu putri kesepian itu masuk ke dalam istana, ternyata sudah mengandung lalu melahirkan di dalam istana kesepian itu!” Jawaban mana keruan saja lantas membuat wajah Hee Thian Siang jadi merah lantaran jengah, sesaat ia berdiri terpaku. Entah bagaimana perasaannya waktu itu. Manis? Kecut? Malu? Ataukah girang?

Tiong sun Hui kheng semula juga merasa terkejut, tapi kemudian menjadi girang, katanya kepada Hee Thian Siang sambil tertawa: “Adik Siang, selamat, selamat!”

Hal yang tak diduga-duga itu telah membuat Hee Thian Siang gelagapan dan makin bertambah merah wajahnya. Tetapi sebaliknya dengan Liao hoan, ia rupanya bingung sekali mendengar ucapan Tiong sun Hui kheng tadi.

Tiong sun Hui kheng sementara itu yang menampak sikap keheran-heranan Liao hoan Tojin lalu memberi penjelasan kepada padri itu sambil tertawa:

“Totiang tentu tidak tahu kalau putri kesepian itu sebenarnya adalah nyonya adik Siang ini. Karena ia telah mendapat anak, bagaimana kalau aku tidak merasa girang dan menghaturkan selamat kepadanya?”

Liao hoan Tojin yang mendengar itu jadi semakin bingung. Sebab menurut apa yang telah didengar dan disaksikannya sendiri, Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui kheng tampaknya rukun dan saling menyayang, jelas merupakan sepasang kekasih yang setimpal. Bagaimana lalu tahu-tahu putri kesepian dari istana kesepian bisa diselak di antara mereka, malah dikatakan sudah menjadi nyonyanya dan pula telah melahirkan anak?

Dalam hati orang beribadat itu sudah dipenuhi oleh tanda tanya besar, tetapi ia tidak boleh tidak harus mengikuti ucapan Tiong sun Hui kheng juga lantas mengucapkan selamat kepada Hee Thian Siang Dalam hati Hee Thian Siang meskipun terkejut bercampur girang, tetapi ia sesungguhnya tidak tahu bagaimana harus berbuat.

Tiong sun Hui Kheng merasa kasihan melihat sikap pemuda itu, tidak tega menggoda lagi. Maka lalu bertanya kepada Liao hoan Tojin:

“Totiang apakah di dalam hal itu masih ada lain sebab? Hanya soal melahirkan anak dari putri kesepian, agaknya juga tidak perlu menutup istana kesepian?”

Liao hoan Tojin menganggukkan kepala dan berkata: “Memang benar masih ada lain sebab. Sebulan sesudah

putri kesepian melahirkan anak, anak yang baru lahir itu

mendadak hilang!”

Hee Thian Siang yang mendengar itu hampir lompat dari tempat duduknya, ia mengeluarkan suara terkejut, buru-buru bertanya:

“Dengan … cara bagaimana anak itu hilang?”

Liao hoan Tojin menggelengkan kepala dan berkata:

“Tidak diketahui apa sebabnya, juga siapapun tidak ada yang tahu. Tetapi di dalam istana kesepian itu, di dalam waktu bersamaan juga menghilang seorang petani tua kesepian dan pemimpin kesepian!”

Kembali Hee Thian Siang dikejutkan oleh keterangan itu, ia berkata kepada Tiong sun Hui Kheng sambil mengerutkan alisnya:

“Enci Kheng, yang dimaksudkan dengan petani tua kesepian itu, pasti adalah Cin Lok Pho Locianpwe! Tetapi siapakah yang dimaksud dengan pemimpin kesepian?” “Adik Siang jangan cemas dulu, kita menanyakan dulu biar jelas, barulah kita mempelajarinya!” berkata Tiong sun Hui Kheng.

Sehabis berkata demikian, ia lalu bertanya kepada Liao hoan Tojin:

“Putri kesepian itu apakah tidak menunjukkan gerakan apa- apa terhadap hilangnya anaknya yang tersayang itu?”

“Bagaimana tidak? Putri kesepian kemudian juga mengikuti jejak petani kesepian dan pemimpin kesepian, telah menghilang dari istana kesepian!”

“Dia pasti pergi mencari anaknya!” berkata Tiong sun Hui Kheng.

Liao hoan Tojin berkata lagi:

“Setelah istana kesepian itu mengalami kejadian-kejadian besar seperti ini, lalu dinyatakan ditutup untuk umum, dan juga mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam istana, disebar ke seluruh pelosok untuk mencari petani tua kesepian, pemimpin kesepian dan putri kesepian. Sebelum didapatkan dan diajak kembali tiga orang itu ke dalam istana kesepian, maka istana kesepian itu tidak menerima lagi orang-orang yang datang untuk merenungi kesepiannya!”

Hee Thian Siang yang mendengar sampai di sini, sepasang alisnya berdiri dan berkata kepada Tiong sun Hui Kheng:

“Enci Kheng terhadap kejadian ini, aku ada mempunyai pandangan yang menurut pikiranku sendiri!”

“Coba kau terangkan, aku ingin dengar pendapatmu!”

“Aku kira tentu anak putri kesepian itu sudah dibawa kabur oleh pemimpin kesepian, sedang petani tua kesepian mungkin secara kebetulan mengetahui perbuatan pemimpin kesepian, lalu mengejarnya guna memberi pertolongan kepada anak itu!”

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXX

“Analisamu seperti ini mungkin mendekati kebenaran, tetapi aku kira masih perlu untuk memberi sedikit tambahan!” kata Tiong sun Hui Kheng sambil menganggukkan kepala.

“Coba enci Kheng jelaskan!”

“Menurut analisaku tentang diri pemimpin kesepian itu, aku kira orang yang mengangkat dirinya sebagai pemimpin kesepian itu mungkin adalah Siang Biaw Yan, karena dia jugalah yang pernah mengangkat diri sebagai ketua Kun-lun- pay!”

Hee Thian Siang berdiam sekian lama, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala:

“Dugaan enci Kheng ini cukup beralasan. Di antara para ketua delapan partai besar pada dewasa ini, hanya Siang Biaw Yan yang pernah mengangkat diri menjadi pemimpin Kun-lun-pay, tetapi tidak diterima oleh orang banyak maka merasa kesepian! Tetapi apabila benar dia, aku benar-benar tidak tahu dengan cara bagaimana ia berlalu dari puncak tertinggi gunung Kun lun itu?”

“Siang Biaw Yan sudah lama berdiam di gunung Kun lun pay, ia tentunya hapal sekali dengan keadaan di situ, mungkin ia punya cara sendiri untuk melarikan diri atau telah ditolong oleh kawan baiknya, juga belum tentu! Sekarang istana kesepian telah ditutup dan terjadi pula kejadian seperti ini, kita sebetulnya hendak pergi dulu ke gunung Liok tiaw san untuk memenuhi janji ataukah pergi mencari jejak putri kesepian?” Hee Thian Siang benar-benar tidak menyangka bahwa perbuatannya yang dilakukan di dalam goa di gunung Tay pa san waktu dahulu, yang di luar kesadarannya sendiri, di bawah pengaruh bunga perangsang telah membawa akibat hamilnya Liok Giok Jie, maka dalam hati semakin tidak enak terhadap gadis itu; tetapi setelah dipertimbangkannya masak- masak, ia anggap seharusnya memenuhi kewajibannya dulu untuk menghadapi tiga orang katai dari negara timur dan sepasang manusia bercun di gunung Liok tiaw san, maka lalu menjawab:

“Soal mencari Liok Giok Jie, meskipun sangat penting tetapi di dalam dunia yang luas ini sudah tentu tidak mudah diketemukan dalam waktu yang sangat singkat, maka kupikir ada lebih baik untuk memenuhi janji kepada lima orang itu di gunung Liok tiaw san lebih dahulu, setelah selesai dalam urusan itu barulah lita mengambil keputusan lagi!”

Tiong sun Hui Kheng bukan saja berkepandaian sangat tinggi dan berparas sangat cantik tetapi juga seorang gadis berhati lapang, maka ketika mendengar Liok Giok Jie melahirkan anak ia sedikitpun tidak merasa cemburu, sebaliknya malah merasa sangat girang.

Atas keputusan Hee Thian Siang tadi ia lalu berkata:

“Adik Siang jangan khawatir, untuk sementara urusan ini tak usah kau pikirkan di dalam hati. Di gunung Liok tiaw san kita masih perlu menghadapi lawan-lawan yang sangat tangguh sekali, meskipun di waktu belakangan ini kita sudah mendapat kemajuan banyak, tapi masih perlu menghadapi mereka dengan sepenuh tenaga dan pikiran! Bila urusan itu sudah selesai baru kita pergi mencari putri kesepian dan anakmu sendiri!”

Liao hoan Tojin yang mendengar mereka hendak mengadakan pertandingan dengan lawan tangguh di gunung Liok tiaw san, lalu berkata sambil tersenyum: “Hee Siaohiap dan nona Tiong-sun, kalau benar ada perjanjian dengan orang buat mengadakan pertandingan, pinto bersedia menyumbangkan tenaga hendak membantu kalian!”

“Terima kasih atas maksud baik Totiang, tetapi lawan kami itu adalah manusia-manusia buas dari luar negri yang sudah terkenal keganasannya, di samping itu juga dibantu oleh anak buah pat-bao

Yao ong yang tangguh, kalau lebih banyak orang yang menghadapinya, kukira malah akan lebih merepotkan saja, kukira Totiang ada lebih baik berusaha supaya menyampaikan perintah Hong hoat Cinjin itu kepada kawan-kawan dari Bu tong!” menjawab Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala.

Hee Thian Siang sudah berkata demikian, sehingga Liao hoan Tojin juga tidak berani terlalu memaksa, ia lalu minta diri kepada dua orang itu dan lantas berlalu dari situ.

Setelah Liao hoan Tojin berlalu, Hee Thian Siang bersama Tiong sun Hui Kheng dan kedua binatang cerdiknya, juga segera meninggalkan lembah May yu kok, untuk melanjutkan perjalanannya ke gunung Liok tiaw san.

Di perjalanan Hee Thian Siang sekali waktu berkata kepada Tiong sun Hui Kheng:

“Sayang kini kita tidak dapat menemukan suci Hwa Jie Swat dan It pun Sinceng, jikalau tidak bukankah mereka merupakan dua pembantu yang sangat baik?”

“Bukan cuma pembantu yang sangat baik! Bila ada kuda Cheng hong kin yang dipinjam oleh enci Hwa Jie Swat sekarang, dapat kita gunakan untuk mencari Liok Giok Jie, rasanya masih banyak waktunya!” kata Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa. Mendengar ucapan itu, Hee Thian Siang teringat janji Leng Pek Ciok kepadanya, maka lalu bertanya:

“Enci Kheng, apakah kau masih ingat bahwa kita pernah mempunyai cita-cita bila kita dapat menundukkan seekor burung rajawali raksasa yang cerdik, kita dapat gunakan sebagai binatang tunggangan di tengah udara?”

“Urusan ini hanya cita-cita kita yang sedang melamun saja; burung raksasa yang seperti kau bayangkan itu, jangankan tidak mudah ditundukkan, sedangkan untuk melihatnya saja tidak mudah!”

“Aku lupa untuk memberitahukan padamu, sejak lama kita berpisahan, tidak lama kemudian cita-citaku ini mungkin akan terlaksana, sebab Swat-san Peng-lo Leng Toako, pernah menjanjikan hendak memberikan seekor burung rajawali raksasa yang sudah jinak!”

Sehabis itu ia lalu menceritakan apa yang telah terjadi di kutub Hian peng goan dahulu. Tiong sun Hui Kheng yang mendengarkan sudah tentu juga merasa sangat girang.

Selama berjalan itu, mereka mengobrol ke barat ke timur, hingga kesusahan hati Hee Thian Siang, perlahan-lahan juga sudah mulai hilang. Bersama Tiong sun Hui Kheng, Siaopek dan Taywong, kini sudah mulai menginjak daerah pegunungan Liok tiaw san.

Ketika ia tiba di sebuah lembah yang sangat dalam, tampak bahwa tebing yang dinamakan tebing Hai-mo itu ternyata berada di ujung penghabisan lembah itu.

Siaopek dan Taywong baru saja memasuki mulut lembah, keduanya sudah mengeluarkan siulan dan merandek, sedang bulu sekujur tubuhnya pada berdiri. Tiong sun Hui Kheng yang mengenal baik sifat kedua binatang peliharaannya itu, setelah menyaksikan keadaan demikian segera mengetahui bahwa di lembah itu ada terdapat binatang-binatang aneh yang sangat lihai, atau ular- ular berbisa yang jarang terlihat.

Maka ia bersama Hee Thian Siang juga lantas merandak,sambil mengusap-usap kepala Siaopek, ia bertanya "

"Siaopek, mengapa kau bersikap demikian ? Apakah kau melihat apa-apa di dalam lembah ini atau mungkin ada binatang aneh yang sangat lihai ?"

Tulang malang di tenggorokan Siaopek meskipun sudah tidak ada dan bisa bicara dalam bahasa manusia tetapi mengenai soal-soal yang sangat ruwet masih sulit untuk dia menyatakan dari mulutnya, maka hanya menjawab pertanyaan Tiong sun Hui Kheng dengan beberapa patah kata bahasa monyet.

Hee Thian Siang yang tidak mengerti maksud ucapan Siaopek tadi lalu bertanya kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Enci Kheng, apa yang dikatakan oleh Siaopek itu ?

Mengapa ia tidak mau menjawab dengan bahasa kita ?"

"Bahasa manusia tidak mudah dipelajari. Siaopek meskipun sangat cerdik dan tulangnya yang malang juga sudah hilang, tetapi biar bagaimana masih memerlukan waktu yang cukup lama baru bisa berbicara dengan lancar !"

"Mereka tadi demikian terkejut dan agaknya ketakutan, apakah di dalam lembah juga terdapat binatang-binatang buas

?"

"Menurut kata Siaopek, dia sendiri juga tidak tahu sebetulnya ada binatang macam apa disini. Dia hanya merasa bahwa di dalam lembah ini agaknya ada tersembunyi banyak bahaya !"

"Semakin banyak bahaya semakin baik. Kalau tidak ada bahayanya dan segala-galanya berjalan lancar, apakah artinya ? Dengan kepandaian yang kita miliki sekarang ini. "

Sebelum habis ucapannya, Tiong sun Hui Kheng sudah memotong "

"Adik Siang, ingat ! Kita sedang menghadapi musuh yang sangat tangguh. Jadi janganlah kita terlalu banggakan diri sendiri. Seperti pribahasa : Orang kuat masih ada yang lebih kuat, orang pandai masih ada yang lebih pandai. "

Baru bicara sampai setengahnya, lalu diam. Matanya ditujukan ke puncak gunung di hadapannya, sikapnya seperti orang terkejut.

Hee Thian Siang tahu benar bahwa Tiong sun Hui Kheng selamanya suka berlaku tenang, kini perobahan sikap yang aneh dan mendadak dari gadis itu, pasti ada sebabnya.

Lalu mengikuti pandangan mata Tiong sun Hui Kheng, matanya ditujukan ke tebing itu, tampak olehnya ekor dari binatang yang panjangnya satu tombak lebih dan bersisik merah darah, sedang bergerak cepat disela-sela lamping gunung, dalam waktu yang singkat ekor binatang tersebut sudah menghilang di satu tikungan hingga ia tidak dapat membedakan ekor itu ekornya binatang ataukah ekor ular raksasa.

Dalam keadaan terkejut, Hee Thian siang lalu berpaling ke arah Siaopek. Tanpak waktu itu Siaopek sudah menunjukkan sikap seperti biasa, sedangkan bulu warna emas Taywong, sebaliknya tampak berdiri. Tiong sun Hui Kheng setelah menyaksikan menghilangnya ekor panjang berwarna merah tadi, lalu berkata kepada Hee Thian Siang :

"Adik Siang, ekor panjang berwarna merah tadi entah ekornya ular atau ekor binatang. Demikian panjang dan besar ekornya saja, entah bagaimana badannya, sudah tentu juga besar. Bila binatang peliharaan Pat-bao Yao-ong yang dibawa oleh Pan Pek Giok, maka dalam pertandingan kali ini, benar- benar tidak mudah kita hadapi !"

"Enci Kheng, tadi mereka ketika melihat ekor panjang berwarna merah itu, bulu Taywong pada berdiri sedangkan Siaopek sikapnya sudah tenang seperti biasa. Mungkin Siaopek kenal binatang itu, bahwa mungkin ia dapat menundukkan padanya !" berkata Hee Thian Siang sambil menunjuk Siaopek.

Siaopek yang berdiri di samping, lantas menjawab dalam bahasa manusia :

"Benar ! Aku kenal dia, juga tidak takut kepadanya !"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu lalu bertanya :

"Siaopek, kalau kau kenal dia, lekaslah beritahukan padaku itu binatang apa ?"

Siaopek menggaruk-garuk telinganya sekian lama, agaknya tidak dapat menyatakan dalam bahasa manusia lagi. Maka akhirnya dengan menggunakan bahasa monyetnya, ia berusaha menjelaskan kepada Tiong sun Hui Kheng.

Tiong sun Hui Kheng lalu menyampaikan kata-kata Siaopwk kepada Hee Thian Siang. "Menurut Siaopek binatang yang tadi itu adalah cecak raksasa yang bisa menyemburkan air berbisa, wajahnya buas tapi tidak terlalu susah menundukkannya.

"Sewaktu aku mengirim surat tantangan di puncak gunung Tay pek hong, Pat-bao Yao-ong pernah berkata hendak mengirim beberapa jenis binatang-binatangnya yang aneh untuk turut menghadiri pertemuan di gunung Liok-tiauw san ini, juga ada maksud hendak menguji ketangkasan Siaopek dan Taywong. Kalau aku ingat ucapan itu, mungkin di dalm lembah ini masih terdapat banyak binatang-binatang yang aneh, tidak hanya seekor cecak raksasa yang besar itu saja !"

"Dugaan itu barangkali tidak salah, tetapi karena kita sudah datang kemari, bagaimana pun juga kita harus hadapi dengan tenang. Berapa banyak pun binatang aneh yang dikirim oleh mereka, kita juga tidak boleh takut. Kita hanya dapat

menghadapi dengan pikiran dan hati yang tenang !"

"Enci Kheng, kau biasanya selalu melarang keras Siaopek dan Taywong melukai orang, sekarang kita sudah berada ditempat berbahaya seperti ini dan sedang menghadapi musuh tangguh seharusnya kau hapuskanlah dulu laranganmu itu supaya mereka bisa menghadapi lawan- lawannya dengan bebas dan memberikan hajaran kepada mereka !" Berkata Hee Thian Siang sambil menengok ke arah Siaopek dan Taywong.

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu, lalu berkata kepada Siaopek dan Taywong sambil tersenyum.

“Buat memenuhi permintaan adik Siang ini, kali ini aku akan mencabut larangan yang kemarin-kemarin masih berlaku, kuijinkan kalian menghadapi musuh-musuh yang ada disini dengan bebas!” Siaopek tidak menunjukkan perubahan sikap apa-apa, tetapi Taywong setelah mendengar ucapan itu, tampaknya sangat girang sekali, hingga ia lompat-lompat dan berjingkrak- jingkrak, mulutnya mengeluarkan siulan berulang-ulang.

Tiba-tiba, ada angin kencang menyambar dibarengi dengan suara siulan aneh, angin itu menembus dari belakang diri mereka.

Siaopek dan Taywong yang hendak melindungi majikannya, kedua-duanya sudah hendak bergerak, tetapi dicegah oleh Tiongsun Hai Kheng, memerintahkan mereka supaya tenang saja menghadapi segala kejadian.

Benar saja angin kuat dan siulan aneh itu setelah melalui kepala Tiongsun Hui Kheng, lalu tampak seekor burung aneh yang sangat besar sekali, diatas burung yang kepalanya seperti kucing itu, tampak duduk Pek-tok Bie-Jin lo Pan Pek Giok.

Sambil terbang melalui atas kepala mereka, Pan Pek Giok melongok kebawah, dan dengan menggunakan ilmunya menyampaikan suara kedalam telinga, ia berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum :

“Adik kecil, kau benar-benar seorang yang bisa pegang janji, tiga orang katai dari negara timur Tipun Engkie dan kawannya Hek nie Kamlo dari sepasang manusia beracun, semua sudah menunggu kedatanganmu di depan sana!”

Burung raksasa aneh yang kepalanya seperti kucing itu, terbang cepat sekali, maka ucapan terakhir Pan Pek Giok baru masuk ke telinga Hee Thian Siang, Pan Pek Giok bersama burungnya sudah menghilang kesatu tikungan.

Tiong sun Hui Khang berkata pada Hee Thian Siang sambil tertawa: “Adik Siang, kau dengar bukan? Dari antara Tiga manusia katai dari negara timur dan sepasang manusia beracun, hanya tiga orang saja yang datang kemari. Barangkali mereka tidak pandang mata kepada kita berdua!”

“Yang kita cari justru Haknie Kam Lo dan si golok emas itu, hanya mereka berdua saja yang datang itu ada lebih baik!”

“Orang-orang dari negara luar yang buas itu, sebagian besar tidak tahu aturan dan tidak bisa pegang janji, kita jangan mengira bahwa mereka itu terlalu sombong, mereka tidak datang semua, sebaliknya harus berjaga-jaga dua orang yang tidak unjuk muka itu mungkin sembunyi di tempat gelap buat membokong kita!”

“Ucapan enci ini benar, dari perbuatan si golok emas dan Heknie Kam Lo itu saja, yang mencuri rompi sisik emas pelindung jalan darah selagi Siaopek bertempur sengit melawan binatang peliharaan Pek kut Sian cu, kita sudah bisa tahu jiwa mereka sampai dimana. Mereka mana mengerti apa artinya tata tertib dunia Kangouw?”

Sementara itu mereka telah melalui dua tikungan dan berada di dalam lembah.

Kini mereka menghadapi suatu tebing, yang sangat tinggi, kira-kira ada tujuh atau delapan belas tombak tingginya, di tebing itu terdapat banyak batu-batu yang menonjol, keadaannya sangat berbahaya, seolah-olah ada banyak hantu yang sedang menari-nari.

Di hadapan tebing ada berdiri empat orang, mereka adalah si golok emas, salah satu dari tiga orang katai dari negara timur, bersama kawannya Tipun Engkie dan Heknie Kamlo salah satu dari sepasang manusia beracun, beserta Pan Pek Giok yang tadi datang dengan menaiki burung raksasa. Tetapi cecak raksasa yang berbuntut panjang bersisik merah, yang tadi dikatakan oleh Siaopek bisa menyemburkan air berbisa bersama burung raksasa aneh berkepala seperti kucing tidak tampak disitu.

Heknie Kamlo begitu melihat Hee Thian Siang dan Tiong- sun Hui Kheng datang bersama Siaopek dan Taywong, lalu membelalakkan sepasang matanya yang buas, mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti oleh Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng.

Hee Thian Siang tidak mengerti ucapan itu. Baru hendak menanya kepada Tiong-sun Hui Kheng, Pan Pek Giok sudah berkata lebih dahulu sambil menunjukkan senyumnya yang manis :

“Saudara kecil, ia bertanya kepada kalian apakah hanya dua orang dan dua binatang ini saja yang datang untuk memenuhi janji?”

Hee Thian Siang tahu bahwa Pan Pek Giok ini adalah seorang yang sulit dihadapi dengan kekerasan, apalagi dibawah tangannya juga ada memelihara binatang-binatang berbisa yang tidak mudah dihadapi, maka untuk sementara ia tidak ingin melukai hatinya, maka ia lalu menjawab sambil tersenyum:

“Enci Pek, harap kau sampaikan kepada orang hitam dan dua setan katai itu, bahwa untuk menghadapi mereka bertiga, Hee Thian Siang seorang diri saja yang terjun sudah cukup, enci Tiong-sun ku ini barangkali juga tidak perlu turut campur tangan!”

Pan Pek Giok mengeluarkan suara terkejut, kemudian berkata sambil tersenyum:

“Adik kecil sungguh seorang sangat berani, kau harus tahu bahwa ilmu golok si golok emas ini, dan ilmu golok Tipun Engkie, bukan main hebatnya, sedangkan tangan beracun Heknie Kamlo juga sangat berbisa, tidak mudah kalau cuma kau sendiri saja yang menghadapi.”

“Tolong enci sampaikan saja, aku tidak takut pada mereka!” kata Hee Thian Siang sambil tertawa.

“Kau panggil aku enci Pek, apa kau tidak takut enci Tiong- sunmu akan cemburu?” bertanya Pan Pek Giok sambil tertawa.

Sehabis berkata demikian, matanya melirik Tiong-sun Hui Kheng, mau tak mau ia juga merasa kagum akan kecantikan paras gadis ini.

Tiong sun Hui Kheng tahu maksud Hee Thian Siang yang hendak menggunakan diri Pan Pek Giok sebagai kawan yang ditaruh di pihak lawan maka buru-buru berkata sambil tersenyum:

“Tidak halangan, dia sebetulnya mempunyai banyak enci dan adik, ditambah seorang lagi rasanya masih baik juga! Nona Pan boleh tanyakan kepada si golok emas dan Heknie Kamlo,mereka ada membawa rompi sisik naga pelindung jalan darah milik Siaopek ini atau tidak?”

Pan Pek Giok yang mendengar ucapan itu, lalu menyampaikan ucapan Hee Thian Siang dan Tiongsun Hui Kheng tadi kepada Heknie Kamlo berdua.

Si golok emas yang sudah mendengar habis ucapan juru bicaranya, lalu menudingkan jari tangannya ke tebing yang dinamakan tebing Hui-mo itu, dan mengucapkan beberapa kata dalam bahasa negerinya sendiri kepada Pan Pek Giok.

Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng yang melihat si golok emas menunjuk ke tebing gunung, baru tahu bahwa rompi Siaopek itu telah dilipat menjadi lipatan kecil, diletakkan di atas batu yang jauhnya sejarak tigabelas empatbelasan tombak di atas permukaan bumi.

Sementara itu Pan Pek Giok sudah menerjemahkan kata- kata si golok emas pada Tiong-sun Hui Kheng:

“Nona Tiong-sun, si golok emas tadi kata bahwa rompi sisik naga pelindung jalan darah itu diletakkan di atas tebing itu, tetapi harus melalukan pertempuran dahulu dengan tiga orang ini. Melalui proses tiga kali bertempur, kalau kalian dapat menangkap dua orang ini, barulah boleh mengambilnya!”

“Kita toh sudah berani datang untuk memenuhi janji? Sudah seharusnya pula kalau kami harus lantas memenuhi permintaan mererka. Tapi tidak tahu, apakah nona Pan juga akan turut ambil bagian?” tanya Tiongsun Hui Kheng.

“Aku akan ambil bagian atau tidak, mau lihat dulu dari selisih kepandaian kalian, pokoknya nanti sajalah kita bicarakan lagi. Tapi, Wan Liat ong ada perintah, suruh aku membawa dua binatang peliharaannya, untuk menghadapi dua ekor binatangmu yang cerdik ini!” kata Pan Pek Giok sambil tertawa.

“Dua ekor binatangku yang bodoh ini, suka sekali mencari onar, kalau mendengar kabar ada perkelahian bagi mereka, mereka benar-benar sangat girang sekali! Tapi aku masih belum tahu, kita bertanding orangnya dulu atau suruh mereka duluan?”

“Dalam pertemuan hari ini, orangnya selaku pemegang peranan pertama. Sudah tentu dilakukan pertandingan diantara orang-orangnya lebih dahulu, barulah mengadakan pertandingan antara binatang-binatang peliharaannya. Nona Tiongsun dan adik Hee, siapa diantara kalian yang lebih dulu akan turun ke lapangan?” Hee Thian Siang maju dua langkah dan berkata sambil tersenyum :

“Aku tadi sudah kata hanya aku seorang diri saja sudah cukup untuk membereskan tiga manusia yang tidak berguna ini! Enci Pek tolong sampaikan kepada mereka, mereka hendak bertanding dengan senjata tajam, tangan kosong, mengadu kekuatan tenaga, ataukah ilmu Hiankang, boleh pilih sendiri. Hee Thian Siang selalu bersedia akan mengiringi kehendak mereka!”

Hee Thian Siang menunjukkan sikap yang gagah dan sombong itu, tapi dimata Pan Pek Giok sikap demikian malah makin menarik perhatiannya, hingga perasaan sukanya semakin dalam, matanya mengerling beberapa kali, dan lantas menyampaikan ucapan Hee Thian Siang itu kepada tiga orang dari negara luar tersebut.

Si golok emas yang mendengar ucapan itu lalu bersidakep, dari pinggangnya lantas mengeluarkan sebuah golok yang awaknya kecil namun sangat panjang, ujungnya agak melengkung sedikit, senjata itulah yang dinegaranya disebut samurai

Hee Thian Siang semula bersikap sombong terhadap musuhnya, tetapi begitu menyaksikan si golok emas itu yang berdiri dengan sikapnya yang demikian, diam-diam juga terkejut.

Sebab si golok emas itu bukan saja memegang “Samurai”nya dengan kedua tangan, yang jauh berbeda dengan ilmu golok dalam rimba persilatan daratan Tiongkok, tetapi dari cara dan sikapnya juga menunjukkan kemantapannya. Dimata seorang ahli, segera dapat diketahui bahwa orang ini bukanlah orang sembarangan.

Hee Thian Siang karena waktu belakangan ini sudah mendapat kemajuan pesat dalam berbagai kepandaian ilmunya, lagi pula sudah memakan sebatang getahnya pohon leng-cie, kekuatan tenaga dalamnya sudah tambah berlipat ganda, ia sebetulnya ingin mempermainkan orang-orang buas dari negara luar itu, hendak menghadapi senjata si golok emas itu dengan tangan kosong, tetapi setelah menyaksikan cara pembukaan si golok emas yang demikian mantap, maka segera berubah maksudnya.

Si golok emas berdiri dengan kedua tangan memegang golok atau samurainya, dipegang agak miring di hadapan badannya, sedang ujung goloknya menunjuk keatas, matanya mengawasi Hee Thian Siang, dan berkata dengan menggunakan bahasa Han yang kurang lancar:

“Mengapa kau masih belum mengeluarkan senjatamu?”

Hee Thian Siang tersenyum, lalu mengeluarkan bulu burung Phan Kim ngo tek ie mao pemberian Thian ie Taysu.

Si golok emas, Tipun Engkiue dan Heknie Kamlo, serta Pan Pek Giok, karena mereka semua adalah orang-orang yang berasal dari negara luar maka tidak satupun yang tahu asal- usul bulu burung berwarna hitam itu maka semua menganggap bahwa Hee Thian Siang yang menggunakan senjata bulu burung untuk menghadapi golok samurai sesungguhnya terlalu sombong dan terlalu menghina orang sekali!

Pan Pek Giok tahu benar bahwa orang-orang katai dari negara timur ini terlalu kejam dan ganas, apalagi ia sudah jatuh cinta terhadap Hee Thian Siang maka lalu berkata kepadanya sambil mengerutkan alisnya :

“Adik kecil, kau jangan terlalu sombongkan diri, kau harus tahu bahwa ilmu golok dari negara timur ini, bukan saja jauh berbeda dengan ilmu golok daerah Tionggoan, tetapi juga sangat ganas sekali, samurai yang digunakan olehnya itu, sangat tajam sekali, dan dapat digunakan untuk memotong batu dan barang logam, bagaimana kau hanya menggunakan selembar bulu burung ? ”

“Enci Pan tidak usah kwatir, senjatanya Kho Tay Cao yang seberat 100, seratus lima puluh kati yang pernah meng gentar kan daerah Pat Bong, tokh bisa patah juga oleh senjata bulu burungku ini, apalagi cuma golok tipis ditangan setan kate dari negara timur itu !” berkata Hee Thian Siang.

Baru saja berkata sampai disitu, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras dan berkelebatnya sinar golok yang secepat kilat sudah membabat kepalanya.

Kiranya sigolok emas itu yang paham sedikit bahasa Han, lagi pula adatnya sangat berangasan, ketika mendengar ucapan Hee Thian Siang yang menghina dirinya, lantas naik darah dan menyerang Hee Thian Siang dengan goloknya.

Hee Thian Siang sudah tahu bahwa orang kate itu sangat kejam dan buas, maka meskipun ia berbicara dengan Pan Pek Giok dengan ucapan yang sombong itu, tetapi diam-diam sudah memperhatikan gerak gerik sigolok emas itu.

Dalam keadaan demikian, sudah tentu ia dapat menghadapi dengan tenang. Atas datangnya serangan golok yang hebat tadi, seolah-olah tidak menghiraukan sama sekali. Ia tidak berusaha untuk balas menyerang, sebaliknya malah menantikan sampai ujung golok hampir menyentuh lehernya, barulah mengeluarkan ilmu Thian-Liong-Coan dari perguruan nya. Menggeser kaki sedikit, tahu-tahu sudah berada ditempat sejauh tujuh kaki dari tempat asalnya ! Serangan golok sigolok emas tadi, boleh dikata cukup cepat, serangan pertama baru saja mengenakan tempat kosong, serangan kedua sudah lantas menyusul. Bahkan orangnya juga sudah turut maju. Ujung golok kini membabat pinggang Hee Thian Siang! Hee Thian Siang kini mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, secepat kilat sudah melesat setinggi delapan kaki, hingga serangan golok sigolok emas tadi lewat dibawah kakinya. Dinegaranya, sigolok emas itu adalah jago samurai yang sangat terkenal, kepandainya sangat hebat. Sebelum ia membabat pinggang Hee Thian Siang dengan serangan nya yang kedua tadi, ia sudah menduga bahwa lawannya itu pasti akan melesat tinggi untuk menghindarkan serangan nya, maka ia lalu menggunakan ilmu golok tunggal dari negaranya, disaat ujung golok lewat dikaki Hee Thian Siang, dengan tiba- tiba membalikkan tangan nya. Punggung golok dihadapkan kearah bumi dan bagian yang tajam diarahkan keatas, rupanya hendak menyambut Hee Thian Siang yang sedang melayang turun.

Serangan kali ini benar-benar diluar dugaan semua orang. Hee Thian Siang kala itu sedang melayang turun dan tampaknya tidak mungkin sanggup merubah posisinya, pinggang kirinya sudah terancam oleh ujung golok ! Pan Pek Giok yang menyaksikan itu lantas membanting-banting kaki sambil menghela napas, sayang !

Siapa tahu, baru saja ia mengeluarkan keluhan demikian, golok tadi ternyata cuma menyasar ketempat kosong ! Kiranya, Hee Thian Siang dalam keadaan sangat berbahaya itu, telah menggunakan ilmunya dari Duta Bunga Mawar, terbang setinggi setombak lebih lagi kemudian melayang turun disebelah sana sambil tersenyum.

Si golok emas kini menunjukkan sikapnya yang terkejut dan terheran-heran, ia menatap wajah Hee Thian Siang. Dari mulutnya mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak dimengerti oleh Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang lalu bertanya kepada Pan Pek Giok : "Enci Pek, si golok emas mengomeli siapa sebetulnya ?" "Ia menanya kepadamu, mengapa kau cuma mengelak

saja, tidak mau membalas !" Hee Thian Siang yang mendengar uapan demikian alisnya lalu berjengit dan berkata sambil tertawa :

"Enci Pek, tolong sampaikan padanya katakan bahwa di sini sekarang berkata : jago pedang daerah Tionggoan biasa kalau ketemu jago samurai dari negara timur suka memberi lawannya menyerang lebih dahulu sampai tiga kali sebagai tanda sopan santun dan menurut penuturan yang sudah lazimnya dipakai dalam negara kita."

Pan Pek Giok menyampaikan ucapan Hee Thian Siang kepada orang asing itu dan si golok emas kembali mengucapkan kata-kata dalam bahasanya sambil menunjuk Hee Thian Siang.

Pan Pek Giok setelah mendengarkan ucapannya, lalu menyampaikan lagi kata-kata si golok emas kepada Hee Thian Siang, katanya :

"Adik kecil, si golok emas kata supaya kau berlaku hati-hati. Nanti kalau kalian sudah bertanding lagi, ia hendak menggunakan ilmu goloknya angin puyuh yang dalam waktu singkat bisa memutar tujuh puluh dua kali putaran, ilmu golok yang dibanggakannya itu sesungguhnya memang sudah menggemparkan negaranya !"

"Nama ilmu golok itu sangat bagus sekali, tetapi aku tidak tahu siapa sebetulnya nanti yang lebih cepat, dia ataukah aku

?"

Sehabis berkata demikian, sudah bergerak melesat setinggi empat tombak. Ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya ke senjatanya bulu burung itu, lalu digerakkannya demikian cepat, setelah itu menyerbu kepada si golok emas.

Gerak tipu yang digunakan itu adalah satu satu gerak tipu terampuh dalam ilmunya dengan senjata istimewa itu, namanya ialah bintang beterbangan. Gerak itu memiliki gerakan perobahan banyak sekali, juga hebat sekali daya serangannya.

Si golok emas sudha tentu juga merasa jeri dengan serangan Hee Thian Siang yang luar biasa ini. Tetapi oleh karena senjata lawannya itu hanya berupa sebatang bulu burung berwarna lima, sedang ia sendiri menggunakan golok yang sangat tajam. Maka ia juga menggunakan ilmunya, ilmu golok angin puyuh. Dengan memutar goloknya bagaikan titiran untuk menyambut serangan gencar yang dilakukan oleh Hee Thian Siang itu.

Dahulu di dalam pertemuan besar berdirinya partai Ceng- thian-pay, sehabis mencuri rompi sisik naga pelindung jalan darah milik Siaopek, si golok emas dan Hek-nie Kamlo lantas kabur, jadi mereka tidak tahu bagaimana kesudahan pertandingan para jago waktu itu.

Jikalau mereka tahu bagaimana senjata berat Khie Tay Cio telah dipatahkan oleh senjata ringan yang berupa bulu burung di tangan Hee Thian Siang ini, sudah tentu golok emas ini tidak akan berani bersikap keras lawan keras.

Ketika golok di tangan si golok emas itu diputar untuk menyambut serangan Hee Thian Siang, terdengarlah suara nyaring dari benturan kedua senjata itu.

Bulu burung yang kecil digunakan sebagai senjata untuk menyambut golok besar, ternyata dapat mengeluarkan suara benturan yang demikian. Hal ini saja sudah sangat mengherankan si golok emas. Apalagi setelah adanya benturan keras tadi, si golok emas itu dapat merasakan betapa hebatnya tenaga dalam yang dimiliki oleh lawannya. Ia yang memegang golok dengan dua tangan toh masih merasa kesemutan, hingga goloknya hampir terlepas dari tangannya.

Oleh karena itu, maka si golok emas tidak berani bersikap berlaku galak lagi sudah lantas undurkan diri. Hee Thian Siang begitu menarik kembali senjatanya dan setelah menyaksikan lawannya mengundurkan diri juga tidak mengejar, hanya mengawasinya sambil tertawa berseri-seri dengan membawa senjata bulu burungnya berdiri tegak ditempatnya.

Si golok emas yang menampak Hee Thian Siang tidak mengejar dirinya lalu tujukan matanya kepada golok ditangannya sendiri untuk diperiksanya. Apa yang telah terjadi

?

Hampir saja membuat orang asing itu menjerit dan menangis.

Kiranya tadi setelah dua senjata itu saling bentur, senjata bulu burung di tangan Hee Thian Siang sedikitpun tidak bergeming, sedangkan golok tajam di tangan si golok emas, yang kesohor karena tajamnya dapat menghancurkan batu dan memotong logam, kini terdapat gompalan kecil disembilan tempat !

Orang katai itu, sayang kepada senjatanya melebihi nyawanya sendiri, mereka yang menjadi jago-jago berkelahi seperti si golok emas itu, kebanyakan pernah bersumpah selama goloknya masih ada, orangnya akan tetap jaya. Tapi bilamana goloknya musnah, orangnya juga lebih baik mati. Oleh karena itu maka si golok emas saat itu merasa sangat malu sekali dan kemudian menggeram hebat. Dari pinggangnya lalu mencabut sebilah belati kecil, wajahnya menunjukkan sikap yang mengerikan sekali.

Hee Thian Siang mengira bahwa si golok emas itu hendak menggunakan belati kecil itu untuk menghadapi dirinya lagi. Maka lalu berkata sambil tersenyum :

"Kau gunakan senjata panjang masih bukan lawanku, sekarang kau ganti dengan belati yang begitu pendek, bukankah itu lebih.  " Belum habis ucapannya, Pan Pek Giok sudah menyambungnya :

"Adik kecil, maksudnya dia mengeluarkan belati tajam itu bukanlah untuk dipakai sebagai senjata buat menempur kau melainkan hendak digunakan untuk alat bunuh diri, yang dinegara mereka biasa disebut sebagai hara kiri !"

Baru saja Pan Pek Giok menutup mulutnya, si golok emas sudah menggeram lagi dan ujung belatinya itu lalu ditusukkan ke dalam perutnya sendiri !

Sementara itu, Tiong sun Hui Kheng setelah mendengar ucapan Pan Pek Giok tadi diam-diam sudah siap hendak menggunakan ilmu It-cie-keng dari golongan Siao lim. Ketika si golok emas menggerakkan tangannya, jari tangan kanannya berbareng diulurkan hingga dari situ lantas meluncur hembusan angin yang menuju ke arah belati di tangan si golok emas, setelah itu ia lalu berkata sambil tersenyum :

"Dalam mengadakan pertandingan diantara kira orang- orang rimba persilatan, kalah atau menang seharusnya merupakan soal biasa saja. Kenapa tuan berbuat demikian ?"

Ketika hamburan angin itu mengenakan belati di tangan si golok emas, belati itu lantas patah menjadi dua potong.

Si golok emas tadi mengambil tindakan nekad karena terdorong oleh perasaan malu dan panas. Tetapi setelah maksudnya digagalkan oleh Tiong sun Hui Kheng, keberaniannya juga lantas lenyap. Maka ia tidak melanjutkan tindakannya lagi, hanya mengawasi Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng dengan mata marah, sedang mulutnya menggumam sendiri.

"Enci Pek, enci Tiong sunku sudah menolong jiwanya.

Apalagi katanya ? " "Dia kata biar sekarang kalian mau melepaskan dia, tapi kalau lain kali bertemu dengan mereka, mereka tidak akan mau melepaskan kalian !" Pan Pek Giok menerangkan sambil tertawa.

"Kita berdasar atas ajaran Tuhan yang harus kasih sayang terhadap sesamanya, sekalipun terhadap orang jahat, juga bisa memberi kesempatan hidup supaya mereka bisa merubah kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar. Tapi bilamana orang yang kita kasih kesempatan hidup itu masih juga tidak sadarkan kekeliruannya dan masih melakukan kejahatan terus, maka bila di lain waktu bertemu dengan kita, tidak akan kita lepaskan lagi !" berkata Hee Thian Siang lalu tertawa besar.

Berkata sampai disini, pandangan matanya beralih kepada Tipun Engkie dan Hek-nie Kam-lo, katanya sambil tertawa nyaring :

"Si golok emas ini sudah kuhadapi. Dari tiga babak pertandingan, babak pertama sudah dimenangkan olehku. Kalian berdua apakah masih akan melanjutkan terus ?"

Pan Pek Giok menyampaikan ucapan Hee Thian Siang itu kepada dua orang tersebut. Tipun Engkie yang sifatnya licik dan ganas, sudah mengetahui bahwa senjata bulu burung berwarna lima yang digunakan oleh Hee Thian Siang ternyata sangat lihai, maka ia suruh Hek-nie Kam-lo yang turun lebih dahulu.

Hek-nie Kam-lo mengandalkan tangannya yang mengandung bisa. Maka ia menganggukkan kepala dan segera turun ke lapangan. Lalu mengeluarkan beberapa penggal perkataan yang tidak dimengerti oleh Hee Thian Siang.

Pan Pek Giok yang bertindak sebagai penerjemah atau juru bicara lalu berkata kepada Hee Thian Siang : "Adik kecil, dia kata dia tidak akan bertanding dengan menggunakan senjata, dia minta bertanding dengan tangan kosong !"

Hee Thian Siang tersenyum. Maklum akan kelicinan orang. Lalu menyimpan kembali senjata bulu burungnya, seraya katanya :

"Aku tadi sudah menjelaskan, tidak perduli dengan tangan kosong, senjata tajam, kekuatan tenaga dalam atau ilmu Hian kang, aku selalu bersedia buat mengiringi !"

Pada saat itu, si Siaopek tiba-tiba menarik ujung baju Tiong sun Hui Kheng dan mengeluarkan kata yang sangat perlahan.

Tiong sun Hui Kheng lalu berkata kepada Hee Thian Siang

:

"Adik Siang, Siaopek ingin membalas dendam atas serangan menggelap yang dilakukan oleh Hek-nie Kam-lo kepadanya sewaktu di gunung Kie-lian dulu. Sukakah kau memberikan kesempatan kali ini kepadanya ?"

Hee Thian Siang menggelengkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Kita tadi sudah berjanji kepada mereka, lebih dulu melakukan pertandingan antara orang dengan orang, barulah mengadakan pertandingan antara binatang kita dan binatang mereka. Perlu apa Siaopek begitu keburu nafsu ? Sebaiknya biar aku saja yang akan menjajaki sampai dimana sebenarnya kepandaian orang-borang buas dari negara timur ini !"

Siaopek dahulu pernah terluka parah di tangan Hek-nie Kiam-lo. Tiong sun Hui Kheng juga sadar akan bahayanya bahwa orang itu ada melatih ilmu yang mengandung racun sangat berbisa. Maka ia lalu berkata lagi sambil tertawa : "Kalau sudah begitu bulat niat adik Siang buat melayani orang ini, aku cuma bisa pesan padamu berhati-hatilah ! Jangan terlalu gegabah. Ingatlah bagaimana Siaopek mendapat lukanya dahulu !"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala sambil tersenyum lalu turun ke lapangan dan berkata kepada Hek-nie Kiam-lo :

"Dahulu dalam pertempuran berdirinya partai Ceng-thian- pay di gunung Kie-lian, kau pernah melukai monyet kecil peliharan enco Tiong-sunku. Hari ini aku keluar adalah buat menuntut balas untuk dia !"

Pan Pek Giok menyampaikan ucapan Hee Thian Siang itu kepada Hek-nie Kam-lo, hal mana lantas membuat manusia beracun itu berdiri bulu-bulu alisnya dan kemudian dengan kecepatan luar biasa sudah melancarkan serangannya ke dada Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang karena ingin mencoba kepandaian manusia beracun itu, ia masih bersikap tenang tidak mengeluarkan tangan untuk melawan, juga tidak bergerak untuk mengelak, hanya sendiri Kian-thian-cin-khi melindungi sekujur dirinya dengan ilmunya itu.

Siapa sangka, baru saja Hee Thian Siang melindungi dirinya dengan kekuatan tenaga dalam Kian-thian-cin-khi, mendadak dirasakan suatu hawa yang sangat panas menindih dadanya. Dalam terkejutnya buru-buru menyedot hawanya dan dengan satu gerak yang manis sekali, buru-buru lompat mundur sejauh enam tujuh kaki.

Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan dalam babak pertama Hee Thian Siang hampir saja salah perhitungan, lalu mengerutkan alisnya.

Sebaliknya dengan Hek-nie Kam-lo waktu itu tampaknya sangat bangga sekali. Sambil mengeluarkan geraman, ia mengejar dan melancarkan serangannya lagi dengan kedua tangannya, beruntun melancarkan lima enam kali serangan yang disertai dengan hawa sangat panas.

Hee Thian Siang yang diserang dengan beruntun itu, menjadi naik pitam. Saat itu ia menggunakan ilmunya meringankan tubuh, berulang-ulang mengelakkan diri dari serangan hebat itu. Tetapi selama mengelak itu, diam-diam mengerahkan ilmunya Kian-thian-jie di sepuluh jari tangannya, sudah siap akan memberi hajaran yang telak pada orang buas itu.

Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan keadaan demikian, diam-diam tersenyum sendiri. Sebab ia tahu benar sifat Hee Thian Siang yang tinggi hati, ia mau mengalah demikian rupa yang terus mengelakkan serangan lawannya. Pasti ada mengandung maksud supaya musuhnya itu berlaku lengah lebih dulu. Kemudian baru turun tangan memberi hajaran kepadanya.

Benar saja, setelah Hee Thian Siang mengelakkan serangan ganas Hek-nie Kam-lo, beberapa kali mendadak ia putar balik tubuhnya menggunakan jari tangan yang sudah disiapkan dari tadi, balas menyerang kepada musuhnya.

Ilmu serangan dengan jari tangan Kian-thian-cie itu adalah ilmu terampuh yang sangat dibanggakan oleh suhunya Hee Thian Siang, Pekbin Sin Po. Maka sebelum ia menutup mata, sengaja diturunkan kepada Hee Thian Siang supaya bisa digunakan oleh muridnya ini guna menghadapi Pat-bao Yao- ong. Betapa hebatnya ilmu itu, dari sini dapat kita bayangkan sendiri.

Sedangkan Hee Thian Siang sendiri, setelah berhasil mempelajari ilmu itu, karena ia tahu benar pentingnya ilmu tersebut, maka setiap hari dan malam dilatihnya dengan tekun, di tambah lagi ketika ia berada di puncak Tiauw in hong, telah mendapat hadiah getahnya pohon leng cie hingga kekuatan tenaga dalamnya tambah berlipat ganda. Dengan demikian maka ilmunya jari tangan Kian thian cie itu dengan sendirinya juga semakin hebat.

Jikalau ia sejak tadi-tadi menggunakan ilmunya ini untuk melawan serangan Hek-nie Kam-lo, dengan kekuatan tenaga dalamnya yang dimilikinya pada waktu itu, pasti sangat hebat sekali serangan itu dan hal itu sudah pasti juga akan membuat Hek-nie Kam-lo tidak berani menyambut dengan kekerasan.

Tetapi kini setelah Hek-nie Kam-lo dibiarkan menyerang terus menerus sehingga menjadikan orang dari luar daerah ini lupa daratan, sedangkan ilmu jari tangannya Hee Thian Siang saat itu tampaknya tidak mengandung kekuatan yang sangat hebat, hal mana jadi membuat Hek-nie Kam-lo tidak pandang mata lawannya. Begitulah orang dari negara luar ini lantas mengeluarkan ilmunya yang paling dibanggakan ialah ilmu yang dapat menyerang melalui jarak jauh, menyambuti serangan ilmu jari tangan Hee Thian Siang itu, bahwa ia lantas menggunakan dua-dua tangannya dengan berbareng. Pikirnya dengan cara itu pasti dapat menjatuhkan Hee Thian Siang.

Hawa panas yang terkandung dalam serangan Hek-nie Kam-lo itu, setelah berdua dengan hembusan angin yang keluar dari serangan jari tangan Hee Thian Siang, segera dapat diketahui mana yang lebih kuat. Kalau Hee Thian Siang di satu pihak masih berdiri tegak sambil tertawa dingin, adalah Hek-nie Kam-lo dilain pihak waktu itu sudah terdesak mundur dua langkah, mulutnya mengeluarkan suara jeritan tertahan, tangan kanannya menjadi keplek, diwajahnya terlihat bermacam-macam perobahan yang sukar diduga.

Itu disebabkan karena ilmu serangan tangannya mengandung hawa panas itu tidak sanggup melawan serangan jari tangan Hee Thian Siang. Maka begitu kedua kekuatan itu beradu, bukan saja hawa panasnya lantas buyar seketika tetapi tulang-tulang ditangan kanan Hek-nie Kam-lo juga terpukul hancur ! Pan Pek Giok yang berdiri sebagai penonton, tahu benar bahwa si golok emas dan Tipun Engkie dari negara timur itu. Kecuali ilmu goloknya yang sangat mahir dan senjata rahasianya yang sangat berbisa, tetapi dalam hal kekuatan tenaga dalam yang sebenarnya masih belum sebanding dengan Hek-nie Kam-lo. Dan kini Hek-nie Kam-lo ternyata sudah hancur tangan kanannya dibawah serangan Hee Thian Siang. Maka kalau ia sendiri tidak turun tangan, agaknya tidak bisa memberi pertanggungan jawab kepada Pat-bao Yao-ong dan Kim-hoa Seng-bo.

Oleh karena itu, maka ia lalu menggoyangkan tangannya dan mencegah Hek-nie Kam-lo yang hendak berlaku nekad. Sementara dari mulutnya sudah mengeluarkan siulan panjang.

Hee Thian Siang yang menyaksikan itu, lalu bertanya sambil tersenyum :

"Enci Pek, apakah kau juga pikir hendak turun tangan ?" "Aku sudah diperintahkan oleh Hian Wan Liat ong dan Kim-

hoa Seng-bo untuk memimpin dua ekor binatang datang kemari. Jikalau turun tangan, bagaimana aku harus memberi pertanggungan jawabku kepada mereka ?" jawab Pan Pek Giok sambil tersenyum.

"Baik juga kalau enci Pek suka turun tangan supaya aku bisa buka mata. Jikalau tidak, aku benar-benar akan merasa tidak puas !"

"Aku tidak akan bertanding denganmu. Aku cuma ingin mengadu binatangku dengan dua ekor binatang peliharaan nona Tiong sun. Lalu setelah itu, barulah aku sendiri yang turun guna minta pelajaran beberapa jurus dari nona Tiong sun !" kata Pan Pek Giok serius.

Dari kelakuan dan sikap Pan Pek Giok, Tiong sun Hui Kheng sudah tahu bahwa si cantik jeli dan beracun ini ada memiliki kepandaian dan kekuatan sangat tinggi. Maka mendengar itu lalu berkata sambil menganggukkan kepala :

"Jikalau nona Pan ada kegembiraan seperti itu, baiklah.

Aku suka mengiringi kehendakmu !"

"Aku ingin minta pelajaran ilmu Hian kang dan kekuatan tenaga dalam dari nona Tiong sun. Tapi biarlah binatang yang kubawa ini bertanding dulu dengan kedua binatangmu. Barulah kita turun tangan !" berkata Pan Pek Giok sambil tertawa.

Sehabis mengucapkan demikian, kembali mulutnya mengeluarkan siulan panjang yang yang kedengarannya sangat merdu.

Tak lama setelah itu, dari atas tebing tinggi, tiba-tiba melayang turun dua ekor binatang aneh, yang satu merah dan yang satu lagi biru.

Binatang aneh berwarna merah adalah cecak raksasa sebangsa komodo yang dikatakan oleh Siaopek tadi. Sedangkan binatang aneh berwarna biru adalah seekor binatang aneh yang bentuk badannya mirip orang utan. Tapi agak lebih besar. Kalau mau dibandingkan dengan Taywong, agaknya binatang aneh itu jauh lebih besar, lebih kuat dan lebih bagus, bulu-bulu disekujur tubuh binatang tersebut berwarna biru gelap. Kalau berjalan seperti mengombaknya air ombak di laut. Tampaknya sangat buas sekali.

Dua ekor binatang aneh itu segera mendekam di sebelah kaki Pan Pek Giok. Tampaknya sangat jinak sekali.

Pan Pek Giok lalu berkta kepada Tiong sun Hui Kheng : "Nona Tiong sun, aku sebetulnya masih membawa

beberapa ekor ular. Tetapi oleh karena kau hanya membawa

dua ekor binatang saja, maka aku tidak mau dianggap orang- orang mencari kemenangan dengan jumlah besar. Jadi aku hanya memerintahkan cecak dan orang utan ini saja yang harus turun ke lapangan !"

"Nona Pan pikir suruh mereka bertempur secara beramai atau satu lawan satu ?"

"Sebaiknya satu lawan satu saja ! Kita masing-masing boleh memilih seekor yang bisa disuruh turun ke lapangan lebih dulu dan sekarang juga sudah bolehlah dimulai !"

Sehabis berkata Pan Pek Giok lalu menepuk punggung orang utan berbulu biru dan mendorongnya. Dan orang itu lantas maju ke lapangan dengan dua lengannya yang panjang diteruskan ke bawah.

Tiong sun Hui Kheng tahu benar Siaopek sudah mengerti bagaimana caranya untuk menundukkan cecak berwarna merah yang sangat menakutkan itu. Maka ia lantas perintahkan Taywong turun duluan ke lapangan untuk menghadapi orang utan berbulu biru itu.

Mendapat perintah dari majikannya, Taywong lantas lompat keluar. Bulu disekujur badannya yang berwarna emas pada berdiri. Ia berhadapan sejarak enam tujuh kaki jauhnya dengan lawannya orang utan berbulu biru itu.

Dua ekor binatang aneh, agaknya masing-masing tahu bahwa lawannya itu sangat tangguh. Maka lalu mereka berhadapan, sebelum berani bergerak dengan gegabah.

Pan Pek Giok yang melihat keadaan demikian, lalu berkata kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Nona Tiong sun, kalau mereka cuma berhadapan secara demikian terus menerus, entah berapa banyak waktu yang akan terbuang secara cuma-cuma. Mari kita keluarkan perintah berbareng supaya mereka segera mulai !" Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepala dan tertawa. Pan Pek Giok lalu mengeluarkan perintahnya lebih dahulu dan kemudian disusul oleh Tiong sun Hui Kheng.

Orang utan berbulu biru bersama Taywong, mendengar majikan mereka memerintahkan supaya pertandingan cepat dimulai. Lalu tanpa menghiraukan keadaan diri sendiri, keduanya menggeram dan mulai baku hantam.

Pertempuran antara dua binatang aneh itu, hampir sama cepat dan dahsyat dengan pertandingan antara orang-orang rimba persilatan kelas satu. Dalam waktu sekejap sulit orang membadakan tubuh mereka. Sebab sebentar berkelebat sinar kuning dan sebentar sinar biru.

Hee Thian Siang kini sudah dapat tahu bahwa orang utan berbulu biru itu lihai sekali. Maka ia jadi sangat mengkhawatirkan keselamatan Taywong, bertanya kepada Siaopek dengan suara perlahan :

"Siaopek, kau lebih pintar. Seharusnya tahu apakah Taywong dapat mengalahkan lawannya orang utan berbulu biru atau tidak ?"

Terhadap pertanyaan yang demikian ruwet, Siaopek tidak bisa memberikan jawaban dalam bahasa manusia. Tapi buat tidak menjawab juga tidak berani. Maka lalu menggeleng- gelengkan kepala tapi kemudian mengangguk-angguk lagi.

Hee Thian Siang yang mendapat jawaban dengan sikap seperti itu, sebaliknya malah menjadi bingung. Maka ia terpaksa bertanya kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Enci Kheng, jawaban Siaopek yang semula menggeleng- gelengkan kepala tapi kemudain menganggukkan kepala seperti ini, sebetulnya apa maksudnya ?" Tiong sun Hui Kheng lalu bertanya kepada Siaopek dengan meniru akan bahasa Siaopek. Setelah mendapat jawaban, baru memberikan keterangan kepada Hee Thian Siang :

"Adik Siang, menurut Siaopek kata bahwa orang utan berbulu biru semacam ini adalah sejenis binatang berdarah campuran yang terdiri dari orang utan dan beruang berbulu biru. Kekuatan tenaganya besar sekali ! Taywong sebetulnya tidak sanggup melawan dia. Tetapi oleh karena di gunung Siong-san dahulu pernah mencuri obat-obat mujizat dan setelah kekuatan tenaganya bertambah berlipat ganda, maka juga tidak perlu takut lagi kepadanya !"

Berkata sampai disitu, Taywong dan orang utan berbulu biru yang sudah bertempur sekian lama tapi masih belum ada yang kalah dan yang menang, masing-masing tampaknya mulai timbul sifat mereka yang ganas hingga merubah cara pertempuran mereka yang semula saling terkam saling pukul, keadaan kini berubah menjadi suatu pergumulan sengit dengan cara saling cakar saling gigit.

Dengan demikian, bulu mereka yang satu kuning emas dan satu biru tadi yang tampak berkelebat kian kemari, kini telah berubah bergulung-gulung seperti bola berwarna dua yang bergelindingan di tengah lapangan.

Perlahan-lahan ditempat itu sudah mulai terdapat tetesan darah. Bulu-bulu biru beterbangan disebelah timur dan bulu- bulu kuning beterbangan di sebelah barat.

Tiong sun Hui Kheng yang sangat sayang kepada binatang peliharaannya, saat itu tampak mengerutkan alisnya dan berkata kepada Pan Pek Giok :

"Nona Pan, menurut pandanganku, mereka barangkali akan terluka kedua-duanya. Kalau belum ada salah satu yang terluka parah atau yang mati barangkali tidak bisa dipisah lagi

!" "Biar bagaimana toh mesti ada salah satu yang akan mati lebih dahulu dan ada yang mati belakangan, sudah tentu dialah yang menang !" menjawab Pan Pek Giok.

"Perlu apa kita harus merebut kemenangan berdarah semacam ini ? Aku tidak setuju ! Lebih baik perintahkan mereka lekas berhenti. Kita anggap pertandingan ini berakhir seri. Kau pikir bagaimana ?" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil menggelengkan kepala.

Oleh karena dipihaknya sendiri telah mengalami kekalahan dua kali, Pan Pek Giok merasa sangat tidak enak. Maka setelah berpikir dulu sejenak baru berkata dengan tegas

"Kecuali nona Tiong sun mau mengakui kekalahan adalah binatangmu, aku lebih suka mengorbankan satu orang utan itu

! Aku tidak akan mengeluarkan perintah menghentikan pertempuran lebih dulu !"

Tiong sun Hui Kheng mendengar itu lantas menerima baik usulnya. Maka Pan Pek Giok baru mau mengeluarkan siulan panjanga, memerintahkan orang utannya supaya kembali.

Tiong sun Hui Kheng juga lantas memerintahkan Taywong kembali. Tetapi dua binatang aneh itu, yang sedang bertempur sengit-sengitnya, mana mau menurut perintah majikannya ? Mereka terus berkutelan dengan sengitnya. Seolah-olah sebelum ada salah satu yang mati, tidak mau berhenti.

Pan Pek Giok dan Tiong sun Hui Kheng yang melihat itu terpaksa membentak berulang-ulang. Dengan demikian kedua binatang yang sedang bertempur sengit itu baru bisa dipaksa memisahkan diri. Dengan tubuh berlumuran darah, mereka kembali ke samping majikannya masing-masing.

Tiong sun Hui Kheng merasa kasihan dan sayang kepada binatangnya, buru-buru mengeluarkan dua butir pil diberikan kepada Taywong. kemudian dengan menggunakan saputangannya membersihkan luka-luka ditubuh Taywong.

Hee Thian Siang yang menyaksikan itu semua berulang- ulang menganggukkan kepala. Dalam hatinya berpikir, pantas saja Tiong sun Hui Kheng dapat menjinakan binatang, karena kasih sayangnya terhadap binatang demikian besar hingga binatang yang bagaimana pun buasnya juga pasti bisa jinak terhadapnya.

Taywong sudah diobati oleh majikannya, namun mulutnya masih mengeluarkan geraman tidak berhentinya.

Hee Thian Siang heran. Tidak mengerti apa maksud Taywong. Maka lalu tanyanya sambil tertawa :

"Enci Kheng, apa Taywong sesalkan aku yang memerintahkan dia kembali ? Apa dia tidak puas lantaran tidak bisa membinasakan lawannya ?"

"Memang. Tapi aku tahu juga orang utan berbulu biru itu sudah tidak bisa lama hidup lagi. Jadi perlu apa aku membiarkan Taywong mengadu jiwa lebih lama ?" menjawab Tiong sun Hui Kheng dengan suara sangat perlahan.

Mendengar ucapan Tiong sun Hui Kheng itu, Hee Thian Siang diam-diam merasa heran. Apa sebabnya orang utan berbulu biru itu tidak bisa hidup lama lagi ? Sementara itu Tiong sun Hui Kheng sudah berkata lagi dengan menggunakan ilmunya menyampaikan suara ke dalam telinga

:

"Di kuku Taywong ada semacam kaitan yang tersembunyi. Di dalam kaitan itu ada mengandung racun sangat berbisa. Begitu masuk ke dalam darah, tidak ampun lagi, racun itu akan lantas bekerja. Bahkan tidak mungkin akan ada obat yang dapat menolongnya !" Setelah mendengar keterangan itu, Hee Thian Siang juga berkata dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga :

"Di kutub Hian-peng-goan dahulu Pat-bao Yao-ong sudah kehilangan sekor burung rajawali raksasa, dan sekarang kembali kehilangan sekor orang utan biru ini. Kalau ia mendapat kabar itu, pasti dia akan marah sekali ! Tetapi entah berapa banyak binatang aneh-aneh yang di pelihara oleh iblis tua itu."

Tiong sun Hui Kheng belum menjawab, Pan Pek Giok sudah berkata :

"Nona Tiong sun, kau jikalau sudah mengobati binatangmu itu, kita boleh mulai pertandingan yang kedua !"

Tiong sun Hui Kheng kini baru memperhatikan gadis cantik yang sangat kejam itu, ternyata hingga saat itu ia masih tidak memperdulikan binatangnya sendiri yang terluka. Ia membiarkan orang utan itu dalam keadaan merintih-rintih dan tersengal-sengal nafasnya. Maka kemudian bertanya sambil mengerutkan alisnya :

"Nona Pan, bagaimana kau tidak membereskan binatang orang utanmu itu ?"

Dengan sinar mata kejam, Pan Pek Giok mengawasi sejenak. Kemudian berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh :

"Nona Tiong sun, kau jangan anggap bahwa aku Pan Pek Giok adalah seorang liar yang tidak mempunyai pengetahuan. Aku mengenali monyet kuning ini adalah sejenis orang utan berbulu kuning yang sangat cerdik, tetapi juga sangat sulit didapatkan. Di dalam kukunya itu tersembunyi senjata pembawaan alam yang seperti kaitan dan didalam kaitan itu mengandung racun sangat berbisa. Jikalau ia menggunakan senjatanya yang terampuh itu untuk menikam lawanya, dalam waktu sangat pendek pasti tidak dapat tertolong lagi. Binatang orang utan biruku ini sudah terluka seluruh tubuhnya. Apakah kau kira ia masih bisa hidup ?"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar itu, wajahnya lantas berubah menjadi merah. Tetapi di dalam hati diam-diam mengagumi Pan Pek Giok yang mengerti banyak bahasa binatang dan mempunyai pengetahuan banyak tentang berbagai jenis binatang buas. Sesungguhnya merupakan seorang jago wanita luar biasa di dalam rimba persilatan.

Saat itu, sepasang mata Pan Pek Giok memancarkan sinar sangat aneh. Ia mengawasi secara bergiliran kepada Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng, kemudian berkata pula sambil tertawa :

"Untuk Hian Wan Liat ong dan Kim-hoa Seng-bo kedua- duanya sudah memelihara empat ekor binatang terbang dan empat ekor binatang buas serta empat ekor ular. Jika mati beberapa ekor saja juga tidak berarti apa-apa !"

Sehabis berkata demikian, kemudian Pan Pek Giok mengibaskan tangannya. Dari situ mengmbus kekuatan tenaga dalam hingga orang utan berbulu biru yang sudah terluka parah itu lantas mengeluarkan suara yang mengerikan dan sesaat kemudian menghembuskan napasnya.

Hee Thian Siang yang menyaksikan kejadian itu, diam- diam merasa kagum. Mengapa seorang yang demikian cantik dan memiliki kepandaian sangat tinggi, mempunyai hati demikian kejam ? Ia lebih heran lagi mengapa perempuan itu mau menjadi budak Pat-bao Yao-ong dan Kim-hoa Seng-bo.

Pan Pek Giok setelah membinasakan orang utannya sendiri lalu menggapai kepada cecak raksasa bersisik merah yang berada di sampingnya dan cecak raksasa itu lantas lambat-lambat merayap ke tengah lapangan. Sebaliknya dengan Siaopek, ia tanpa menunggu perintah Tiong sun Hui Kheng sudah melesat ke hadapan cecak raksasa itu sejarak kira-kira tiga kaki.

Cecak raksasa itu tubuhnya yang besar hanya kira-kira lima kaki saja panjangnya. Tetapi ekornya ada setombak lebih. Sekujur tubuhnya penuh dengan sisik berwarna merah darah. Sikapnya sangat galak hingga barang siapa yang melihatnya pasti akan merasa gentar.

Sebaliknya dengan monyet kecil Siaopek yang tubuhnya kurus lagi kecil pula, tampaknya tidak menarik. Apalagi waktu berdiri terpisah tiga kaki dengan cecak raksasa, hingga kedua binatang itu kalau dibandingkan sesungguhnya mempunyai perbedaan yang sangat mencoloks sekali.

Hee Thian Siang merasa khawatir terhadap Siaopek yang kurus kecil harus menghadapi cecak raksasa. Maka ia lalu bertanya kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Enci Kheng, benarkah Siaopek itu mempunyai keyakinan dapat melawan cecak raksasa sangat berbisa ini ?"

Baru habis berkata demikian, Siaopek yang cerdik tiba-tiba berpaling dan berkata beberapa patah kata kepada Tiong sun Hui Kheng.

Tiong sun Hui Kheng lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa :

"Adik Siang, jangan khawatirkan ia. Kata Siaopek baru saja ia jamin akan kemenangannya. Masih suruh aku menambah pertarohan dengan Nona Pan !"

Kata itu diucapkan dengan nada tinggi hingga dapat didengar oleh Pan Pek Giok. Sudah tentu perempuan yang tersebut belakangan itu tidak mau mengalah. Maka lalu berkata sambil tertawa : "Nona Tiong sun, jikalau kau anggap benar-benar yakin akan kemenangan binatang monyetmu, kita tambah sedikit pertaruhan. Rasanya juga baik !"

"Nona Pan, kau hendak menambah pertaruhan apa ?" bertanya Tiong sun Hui Kheng.

Pan Pek Giok unjukan senyumnya yang manis, melirik ke arah Hee Thian Siang. Kemudian berkata :

"Apabila binatang cecakku yang menang, kau harus membiarkan Hee Tian Siang bersama-sama aku seorang diri selam tiga hari."

Hee Thian Siang ketika mendengar ucapan itu, wajahnya menjadi merah. Selagi hendak mengeluarkan kata-kata untuk menegor tetapi Tiong sun Hui Kheng sudah berkata lebih dulu sambil menganggukkan kepala :

"Boleh, boleh. Tetapi apabila Siaopekku yang menang, nona Pan hendak memberikan pertarohan apa denganku ?"

Biji mata Pan Pek Giok yang jeli dan hitam tampak berputar beberapa kali, kemudian berkata sambil tersenyum :

"Apabila binatang cecakku yang kalah, aku bukan saja akan segera meninggalkan tempat ini bersama binatangku yang lain dan tidak ikut campur urusan di sini lagi, bahkan aku berjanji kepada kalian di lain waktu akan membantu kepadanya satu kali !"

Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepala dan berkata : "Aku setuju pertaruhan ini. "

Baru berkata sampai disitu, si Siaopek kembali berpaling dan berkata beberapa patah kata. Pan Pek Giok sangat memuji kecerdikan Siaopek. Katanya

: "Monyet putih ini benar-benar sangat cerdik. Apa dia kata ?"

"Ia suruh aku berjanji baik-baik denganmu, apabila cecak raksasa itu tidak berani maju dan mundur keluar dari kalangan, juga harus dihitung ia yang kalah !" menjawab Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa.

Pan Pek Giok yang mendengar ucapan itu, juga merasa geli. Katanya :

"Ludah berbisa cecak raksasaku ini, kalau menyemburkan bisanya dan mengenakan orang, segera akan mati tanpa ampun lagi. Sedangkan ekornya yang sangat panjang itu lebih hebat lagi gerakannya. Batu besar yang berapapun besarnya kalau kena disabet akan hancur berkeping-keping.

Bagaimana ia bisa takut terhadap monyetmu yang sekecil ini ? Aku terima baik usulnya, apabila kedua pihak sebelum bertempur ada salah satu yang melarikan diri, lalu dianggap kalah !"

Tiong sun Hui Kheng sehabis mendapatkan janji demikian, lalu berkata kepada Siaopek sambil tertawa :

"Siaopek, kau dengar tidak ? Jikalau kau bisa membuat takut cecak raksasa itu dan lagi mundur, sudah dihitung kau yang menang !"

Pan Pek Giok mengeluarkan siulan panjang berulang- ulang, memerintahkan kepada binatang cecaknya supaya mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi monyet kecil itu.

Cecak raksasa setelah mendengar majikannya, ekornya yang panjang dan merah diobat-abitkan ke kanan kiri sehingga menimbulkan angin gemuruh dan batu-batu yang ada di dekatnya pada hancur beterbanan. Selain dari pada itu ia sudah menggembungkan lehernya yang semakin lama semakin besar, seolah-olah sudah mempersiapkan ludahnya yang berbisa ke dalam mulut, siap hendak disemburkan kepada Siaopek.

Hee Thian Siang dapat menduga bahwa ludah berbisa cecak raksasa itu, pasti merupakan benda beracun yang sangat ganas. Selagi ia masih mengkhawatirkan keselamatan Siaopek, dengan tiba-tiba Siaopek mengeluarkan semacam suara yang sangat aneh. Suara itu seperti binatang menangis hingga tiga kali. Kemudian mengeluarkan suara lagi yang sangat tidak enak dalam pendengaran, seolah-olah sedang tertawa besar.

Sungguh aneh, cecak raksasa yang sudah siap hendak menerkam mangsanya tetapi setelah mendengar suara tangisan Siaopek hingga tiga kali tadi, lantas numprah di tanah, sekujur tubuhnya gemetaran seolah-olah merasa takut sekali.

Pan Pek Giok yang menyaksikan kepandaian itu, benar- benar sangat heran. Selagi hendak mengeluarkan perintah lagi untuk memerintahkan cecaknya bertindak menyerang lawannya, suara tangisan Siaopek sudah berubah seperti suara tertawa.

Suara tertawa monyet yang tidak enak di dengarnya itu, begitu timbul, cecak raksasa tadi lebih-lebih ketakutan setengah mati hingga tanpa memperdulikan majikannya, ia sudah memutar kepalanya dan lari ke samping Pan Pek Giok sedang sekujur tubuhnya masih gemetaran.

Hee Thian Siang tidak habis mengerti. Dengan perasaan terkejut dan terheran-heran, ia hendak bertanya kepada Tiong sun Hui Kheng.

Tiong sun buru-buru mencegahnya seraya berkata : "Adik Siang jangan tanya dulu. Setelah selesai boleh tanya lagi !"

Pan Pek Giok yang selama hidupnya beradat tinggi dan tidak pandang mata kepada siapa pun juga kecuali Pat-bao Yao-ong dan Kim-hoa Seng-bo, kini setelah mengalami kejadian sangat aneh itu, lalu merasa sangat malu sekali hingga wajahnya menjadi merah padam, giginya berkeretekan, sedang hatinya sangat mendongkol sekali. Kembali tangannya digerakkan dan memukul mati cecak raksasanya yang tadi masih segar bugar.

Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan keganasan Pan Pek Giok itu, baru saja mengeluarkan suara terkejut, Pan Pek Giok sudah mengeluarkan suara siulan panjang dan burung raksasa yang berkepala seperti kucing itu sudah muncul di atas tebing dan melayang turun ke dalam lembah.

Hee Thian Siang mengira Pan Pek Giok hendak mengandalkan kepandaian burungnya yang aneh itu untuk mendapatkan kembali kemenangannya, diam-diam sudah mengerahkan ilmunya Kian-thian-cie hendak digunakan untuk menyerang.

Di luar dugaannya, sebelum burung aneh itu hinggap di tanah, Pan Pek Giok sudah bergerak melesat dan naik ke atas punggung burungnya.

Tiong sun Hui Kheng meskipun tahu bahwa Pan Pek Giok itu sangat kejam dan ganas sekali, tetapi juga mengagumi bahwa perempuan itu ternyata masih bisa pegang janji. Ia janji kalau binatangnya kalah hendak berlalu dan kini benar-benar dia sudah berlalu. Maka lalu berkata sambil tersenyum :

"Nona Pan, harap nona jangan berkecil hati. Menang atau kalah bagi orang rimba persilatan adalah merupakan soal biasa. Apalagi kemenangan yang di dapat oleh Siaopek ini hanya disebabkan oleh karena ia telah tahu bagaimana caranya menundukkan binatang raksasamu itu !"

Pan Pek Giok yang mendengar ucapan itu lalu memerintahkan burungnya terbang kembali. Selagi masih berada di tengah udara ia menjawab sambil tertawa "

"Bagi aku, menang atau kalah tidak menjadi soal. Tapi nona Tiong sun, kiranya perlu aku memberi sedikit peringatan kepadamu !"

Tiong sun Hui Kheng lalu berkata sambil tertawa.

"Nona Pan, kau hendak kata apa dan hendak memberi peringatan apa ? Silahkan !"

Pan Pek Giok berkata sambil menunjuk kepada Hee Thian Siang :

"Adik Siangmu ini, sesungguhnya terlalu gagah dan tampan sekali hingga aku tidak dapat mengendalikan perasaanku sendiri. Dengan sesungguhnya sudah timbul rasa suka dalam hatiku terhadapnya !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, telinganya menjadi panas dan wajahnya menjadi merah. Tetapi Tiong sun Hui Kheng sebaliknya, sedikitpun tidak merasa tersinggung, katanya sambil tersenyum :

"Kalau nona Pan suka padanya, boleh saja nona harus mendapatkan dirinya !"

Pan Pek Giok sambil memerintahkan burungnya itu terbang rendah berputar-putaran, berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

"Di daerah Lam-bong aku selalu membanggakan kecantikanku. Tetapi hari ini setelah bertemu muka denganmu, aku merasa diriku tidak secantik kau. Kau ingatlah, selama kau berada disamping Hee Thian Siang, aku tidak akan bertindak ! Tapi jikalau tidak. !"

Ucapan selanjutnya, Pan Pek Giok tidak mau melanjutan tapi hanya diganti dengan suara terkekeh-kekeh yang mengandung arti sangat misterius.

Dalam keadaan demikian, ia lantas tepok burungnya hingga burung raksasa itu melesat tinggi dan terbang menghilang di balik awan.

Hee Thian Siang mengawasi Pan Pek Giok hingga menghilang di balik awan. Ia masih berdiri sambil berpikir dengan mengerutkan alisnya.

Tiong sun Hui Kheng lalu berkata sambil tertawa :

"Adik Siang, apakah kau masih memikirkan si cantik yang sudah naik burung itu ? Dia disini ada meninggalkan dua bangkai binatang aneh !"

Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, katanya :

"Pek tok Bie jin lo ini demikian kejam dan ganas, siapa yang mau memikirkan dirinya ? Apa lagi suruh bersahabat denganya, siapa mau ? Salah-salah, sedikit tidak senang saja ia bisa lantas berbuat seperti apa yang telah dilakukannya terhadap orang utan dan cecak raksasanya tadi !"

"Adik Siang, kau jangan terlalu pandang rendah dia. Perempuan itu meskipun bertangan ganas dan berhati kejam serta bersifat cabul, tetapi ia paham banyak bahasa daerah, juga bisa menjinakkan binatang buas dan ular berbisa. Di samping itu, ia juga memiliki kepandaian ilmu silat sangat tinggi. Benar-benar juga merupakan seorang luar biasa yang jarang ada. Jikalau adik Siang dapat menggunakan dia yang sudah demikian tergila-gila kepadamu, lalu kau bisa memperbaiki adatnya supaya jadi orang baik, ini juga merupakan satu pahala yang sangat besar !" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil menghela napas.

Hee Thian Siang tiba-tiba teringat sesuatu, lalu lompat dan berkata :

"Enci Kheng, kita disini hanya memperbincangkan diri Pan Pek Giok saja, sudah melupakan sama sekali tiga orang katai dari negara timur itu. Kemana mereka pergi ? Dan sejak kapan mereka menghilang ?"

Tiong sun Hui Kheng mengawasi keadaan disekitarnya tetapi di bawah tebing Hui mo itu kecuali ia sendiri bersama Hee Thian Siang, benar saja sudah tak tampak orang lain lagi. Baik si golok emas maupun Hek-nie Kam-lo sudah hilang entah kemana.

Selagi ia mencari, Hee Thian Siang sudah berkata sambil menunjuk ke atas tebing :

"Enci Kheng, orang-orang asing yang tidak tahu itu meskipun telah melarikan diri secara diam-diam, tetapi rompi sisik naga pelindung jalan darah itu ternyata masih berada di atas tebing Hui-mo itu !"

Tiong sun Hui Kheng angkat muka. Benar saja rompi itu masih berada di atas tebing. Maka lalu berkata kepada Siaopek :

"Siaopek, Taywong masih luka. Kau tunggulah dia disini. Biarlah kami yang naik ke atas tebing untuk mengambil rompi itu !"

Sehabis berkata demikian, kembali ia berkata kepada Hee Thian Siang : "Adik Siang, batu besar yang digunakan untuk menaruh rompi itu terpisah dengan tanah kira-kira tiga atau empat belas tombak tingginya. Kita belakangan ini masing-masing sudah mendapat kemajuan. Bagaimana kalau kita mencoba mengukur kepandaian kita masing-masing ?"

"Apa enci Kheng hendak mengajakku berlomba mengambil rompi di atas sana itu ?" tanya Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Ya. Kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk sekalian melatih ilmu meringankan tubuh kita masing-masing. Toh boleh juga bukan ?"

"Kalau begitu baiklah. Biar Siaopek yang mengeluarkan aba-aba. Kita bersama-sama melesat ke sana !"

Siaopek yang mendengar ucapan itu, lalu mengeluarkan siulan aneh.

Baru saja siulan itu keluar dari mulutnya, Tiong sun Hui Kheng bersama Hee Thian Siang sudah melayang tinggi ke atas tebing.

Berbareng mereka bergerak. Kepandaian mereka hampir berbareng, tetapi kalau dibandingkan sungguh-sungguh Tiong sun Hui Kheng agaknya masih lebih unggul sedikit.

Mereka melompat bersama-sama, juga bersama-sama sampai diatas batu dimana terletak rompi sisik naga pelindung jalan darah itu.

Tapi pada saat dua orang itu bersama-sama terpisah tiga kaki dari batu besar itu, rompi sisik naga pelindung jalan darah yang diletakkan diatas batu itu melayang sendiri ke atas !

Hee Thian Siang dapat melihat bahwa diatas rompi itu ada terikat benang yang terbuat dari rotan yang halus sehingga jadi tahu bahwa di pihak orang-orang jahat itu ternyata sudah menggunakan akal busuk. Maka lalu membentak dengan suara keras :

"Kawanan tikus yang tidak tahu malu. Siapa yang sembunyi diatas tebing ?"

Di atas tebing terdengar suara tertawa terbahak-bahak, lalu muncullah lima orang.

Tiga diantara lima orang bertubuh pendek dan berpakaian aneh-aneh, mereka adalah orang-orang katai dari negara timur.

Dua orang lainnya adalah orang-orang berkulit hitam dan berwajah aneh, mereka bukan lain dari pada sepasang manusia beracun !

Tiong sun Hui Kheng menampak lima orang jahat dari negara timur itu semua sudah berada diatas tebing, segera mengetahui bahwa mereka telah terjebak. Dengan demikian keadaannya menjadi berbahaya. Maka buru-buru berkata kepada Hee Thian Siang :

"Adik Siang hati-hati. Mereka dari atas hendak menyerang kita yang berada dibawah. "

Baru berkata sampai disitu, tiga orang katai itu semua tertawa. Setiap orang menaburkan dua genggam pasir halus berwarna hitam sehingga sebentar kemudian di daerah itu timbul semacam kabut tipis yang berbau amis yang mengurung atas kepala Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng.

Baru saja Hee Thian Siang hendak mengeluarkan jaring wasiatnya untuk melindungi dirinya, telinganya sudah mendengar suara gemuruh. Sepasang manusia beracun kembali dari atas tebing sudah mendorong beberapa buah batu besar !

Di hujani dengan pasir beracun dan batu besar dari atas tebing, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah untuk mengelakkan diri. Apalagi Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng justru sedang berada ditengah-tengah tebing yang dengan sendirinya tidak mudah untuk mengelak, karena tempat itu terpisah empat belas tombak dari tanah.

Keadaan itu sesungguhnya sangat berbahaya sekali. Tampaknya Hee Thian Siang bersama Tiong sun Hui Kheng dan kedua ekor binatangnya, semua akan mengalami bencana hebat disitu juga.

Sekarang biarkanlah kita tinggalkan dahulu mereka dan kita ajak para pembaca balik ke atas puncak gunung Kun-lun.

Dugaan Tiong sun Hui Kheng dahulu ternyata tidak salah. Pencuri bayi Liok Giok Jie ternyata benar saja adalah bekas ketua Kun lun pay Siang Biauw Yan.

Siang Biauw Yan dahulu meskipun sudah terkurung oleh Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng dipuncak gunung Kun-lun dan kemudian sudah pula ditinggalkan surat untuk orang-orang yang berada di Kun-lun kiong dimana ada dibeberkan kejahatan Siang Biauw Yan. tetapi apa mau surat itu secara kebetulan telah dipungut oleh kaki tangan Siang Biauw Yan, jadi kaki tangannya itulah yang lantas balik ke atas puncak untuk menolong keluar dia dari bahaya.

Setelah ditolong oleh anak buahnya itu, Siang Biauw Yan karena takut Hee Thian Siang dan lain-lainya mengetahui dirinya belum mati yang mungkin akan datang lagi ke Kun-lun- san, maka lalu memerintahkan anak muridnya yang setia kepadanya supaya diam-diam memupuk kekuatan di dalam istana Kun-lun-kiong. Sementara ia sendiri lekas-lekas meninggalkan gunung, mencari tempat yang sunyi untuk sembunyi, tapi disamping itu ia juga diam-diam telah melatih dua macam ilmu yang sangat ganas buat bekal kemudian hari bila ia kembali lagi ke Kun-lun untuk memegang tampuk pimpinan tentunya.

Karena ia pikir masih ingin berkuasa lagi, ditambah lagi ia mendapat kesempatan baik. Maka ia masuk ke istana kesepian, dengan alibi tidak mau mengadakan hubungan lagi dengan dunia luar. Di tempat yang mengandung misteri itu, ia dapat mempelajari ilmunya dengan tekun.

Di dalam istana kesepian, setiap orang mengenakan tutup muka yang tebal, kecuali May-yu Kiesu yang bertugas sebagai kuasa dalam istana, semuanya sudah berhati teguh, satu sama lain jarang mengadakan hubungan, bahkan siapa pun juga tidak boleh tahu mana dan asal usul mereka masing- masing.

Siang Biauw Yan datang ke istana kesepian dengan menggenggam maksud besar. Sebaliknya dengan Liok Giok Jie yang datang belakangan, tanpa sengaja sudah diketahui oleh Siang Biauw Yan, siapa yang datang-datang terus diangkat sebagai puteri kesepian itu, bahkan tahu pula anak yang terkandung dalam perut Liok Giok Jie wkatu itu adalah darah daging Hee Thian Siang.

Siang Biauw Yan berusaha dengan susah payah barulah berhasil mendapatkan kedudukannya sebagai ketua atau pemimpin yang sudah lama menjadi idam-idamannya, apa mau kembali telah diganggu oleh kedatangan Hee Thian Siang, tentu saja dia menjadi benci sekali. Maka sebulan setelah Liok Giok Jie melahirkan, ia kebetulan mendapat kesempatan baik buat mencuri bayi putri kesepian tersebut. Ia pikir bayi mana hendak digunakan sebagai alat pemeras kepada Hee Thian Siang supaya selama-lamanya menjaga rahasia partai Kun-lun atau digunakan sebagai pancingan supaya ia dapat menyingkirkan musuh besarnya itu. Di luar tahu siapa pun, ketika Siang Biauw Yan turun tangan mencuri sang bayi, meskipun tidak diketahui oleh Liok Giok Jie ibunya, tetapi sudah dipergoki oleh Cin Lok Pho yang di dalam istana itu dipanggil sebagai petani tua kesepian.

Adapun mengenai Cin Lok Pho berada di istana kesepian ceritanya adalah sebagai berikut :

Hari itu, ketika berada di puncak Bun-thian-hong, Cin Lok Pho bukan menghilang tanpa sebab melainkan tertarik oleh perasaan heran dan ingin tahu, separuh terpancing juga, ia hanya tahu telah memasuki sebuah goa dalam yang sangat misterius yang kemudian ternyata digunakan sebagai jalanan istimewa yang menuju ke istana kesepian.

Berada dalam istana kesepian, Cin Lok Pho sebaliknya malah merasa senang. Ia sudah akan menyampaikan maksud Hee Thian Siang kepada Liok Giok Jie yang kini sudah diangkat menjadi puteri kesepian, tapi belum juga mendapat kesempatan yang baik.

Tetapi May-yu Kiesu karena mengetahui Cin Lok Pho ada hubungan dalam dengan Liok Giok Jie, maka dilakukannya penjagaan keras dan tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengadakan hubungan. Di tambah lagi tidak lama setelah Cin Lok Pho berada di dalam istana, Liok Giok Jie lantas melahirkan seorang anak. Cin Lok Pho merasa girang, bagi Hee Thian Siang pikirnya di dalam istana kesepian ini, bagi ia sendiri juga masih bisa melewati hari tuanya dengan tenang. Maka diam-diam ia melindungi Liok Giok Jie, untuk menunggu hingga Hee Thian Siang berusaha datang mencarinya, baru bertindak lagi.

Hari itu, Cin Lok Pho mendadak tampak May-yu Kiesu yang tampaknya sangat gelisah. Sebab di dalam lembah May-yu- kok, kembali ada orang yang datang. Ia muncul di dalam istana itu melalui jalanan dibawah tanah, maka ia buru-buru pergi ke tempat berdiam Liok Giok Jie, maksudnya hendak mencari kesempatan untuk menyatakan maksudnya.

Tak disangka-sangkanya, sebelum ia berjumpa dengan Liok Giok Jie telah mempergoki ketua istana kesepian yang sedang memondong bayi Liok Giok Jie lari dengan tergesa- gesa.

Cin Lok Pho yang waktu itu juga tidak tahu siapa yang menjadi ketua istana kesepian itu tetapi karena melihat bayi Liok Giok Jie dicuri sudah tentu terkejut, kemudian mengejarnya.

Mengejar hingga seratus pal lebih, baru ia berhasil menyandak. Kedua orang itu lalu bertempur dengan sengit, Siang Biauw Yan yang terkena serangan ilmunya Pan siang Ciang, sedang Cin Lok Pho juga terkena serangan ilmu Hek sat hian im chiu yang baru saja dipelajari oleh Siang Biauw Yan, di paha kirinya, kembali terkena tiga batang jarum beracun.

Serangan dari ilmu Hek sat hian im chiu itu cukup berat. tetapi Cin Lok Pho dengan mengandalkan kekuatan tenaga dalamnya, ia masih memaksakan dirinya untuk bertahan. Hanya tiga batang jarum yang berbisa, sudah terlalu hebat. Hingga ia terpaksa mengambil keputusan nekad, memotong paha kirinya pada batas lutut dan dapat mengawasi berlalunya Siang Biauw Yan dengan memondong bayi Liok Giok Jie.

Setelah Siang Biauw Yan berlalu, Cin Lok Pho karena mengeluarkan darah terlalu banyak hingga lukanya yang ditimbulkan oleh serangan Hek sat hian im chiu, telah bekerja lagi. Maka ia akhirnya ia jatuh pingsan. Untung ada seorang penduduk gunung yang baik hati yang membawanya pulang untuk diobati. Dan dengan demikian tertolonglah jiwanya, tetapi kalau hendak sembuh benar-benar sedikitnya masih memerlukan waktu setengah tahun. Liok Giok Jie sejak masuk kedalam istana kesepian, tampaknya memang sudah seperti patung saja hatinya sudah beku. Tetapi setelah melahirkan anak, timbul kembali harapan untuk hidup.

Dan kini karena anaknya itu dengan tiba-tiba telah diculik orang hingga membuat ia benar-benar seperti orang yang jatuh ke dalam jurang yang dalam, keadaannya sudah hampir seperti orang gila. Maka tanpa mengindahkan kedudukannya dirinya sendiri juga keluar dari istana untuk pergi mengejar penculik anaknya.

Tetapi ia tidak tahu siapa yang menculik anaknya itu, terpaksa ia berlari kesana kesini seperti orang gila. Bahkan jikalau ia melihat ada orang menggendong anak kecil lantas hendak dirampasnya untuk diperiksa dahulu.

Cin Lok Pho yang berdiam di rumah penduduk pegunungan yang merawat lukanya dan Liok Giok Jie yang sedang kalap mencari anaknya, semuanya ini kita tinggalkan dulu untuk sementara dan kita balik menceritakan kepada Siang Biauw Yan yang membawa kabur bayi Liok Giok Jie dari situ lantas langsung lari pulang ke gunung Kun-lun-san.

Tiba di gunugn Kun-lun, ia segera mengumumkan bahwa ia baru saja pulang dari perantauan dan beberapa anak muridnya yang dipercaya, dikirimkan keluar untuk melatih ilmu silatnya lagi, hanya beberapa orang yang terdekat disuruhnya berdiam di istana Kun-lun-kiong.

Sedangkan bayi yang ia peroleh dari culikkannya itu, ia carikan seorang perempuan tua untuk merawatnya. Lalu anak bersama pengasuhnya itu, semua ditaruh di puncak gunung Kun-lun dan disekitarnya dipasang beberapa pesawat rahasia dan diberi banyak jebakan. 

Ketika ia selesai mengatur itu semuanya, orang-orang yang mengejar padanya itu juga sampai. Rombongan pengejar pertama yang sampai disitu adalah rombongan yang dipimpin oleh May-yu Kiesu yang mengetahui asal usul dirinya dan tiga tokoh persilatan yang kuat dari istana kesepian.

Rombongan May-yu Kiesu itu setelah berjumpa dengan Siang Biauw Yan di istana Kun-lun-kiong, dengan tertawa terbahak-bahak Siang Biauw Yan kemudian berkata :

"May-yu Kiesu, kau sudah tahu siapa aku dan aku juga sudah tahu asal usulmu yang sebenarnya. Kau adalah Bo Cu Keng si bangkai terbang yang sudah terlalu banyak melakukan kejahatan sehingga tidak diterima oleh orang- orang baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih !"

Bo Cu Keng hanya memperdengarkan suara tertawa dingin, sebelum menjawab. Siang Biauw Yan kembali berkata sambil menunjuk kepada tiga tokoh lainnya yang waktu itu pada mengenakan kerudung muka :

"Jangankan kau, sedangkan mereka bertiga aku juga sudah tahu semua nama dan asal usulnya !"

Bo Cu Keng agaknya tidak percaya, lalu bertanya sambil menatap Siang Biauw Yan :

"Mereka itu siapa ? Coba kau jelaskan jika kau mengerti !" "Mereka dahulu adalah sahabat akrabku, si Budha berbisa

Kong kong Hweshio, si naga bongkok kaki pendek Piauw It Hai dan si hantu malam Gu Long Goan !"

Bo Cu Keng dan tiga orang itu ketika mendengar ucapan Siang Biauw Yan semuanya menjadi terkejut, diam-diam mereka berpikir bahwa Siang Biauw Yan ini benar-benar seorang yang sangat lihai. Sebab ia sudah dapat mengetahui dengan jelas asal usul mereka. Selagi mereka dalam keadaan terheran-heran itu, Siang Biauw Yan sudah berkata lagi :

"Aku bukan saja mengetahui asal usul kalian tetapi juga maksud kalian yang hendak menggunakan nama istana kesepian untuk mengumpulkan orang-orang rimba persilatan yang berkepandaian tinggi tetapi sudah putus asa, supaya mereka dapat kau gunakan untuk mencapai maksudmu !"

"Kau ini benar-benar seorang yang sangat cerdik. Tetapi jawablah dulu pertanyaanku. Ialah apa sebabnya kau membawa kabur bayi dari putri kesepian Liok Giok Jie ?" bertanya Bo Cu Keng dengan nada suara dingin.

Siang Biauw Yan membelalakkan sepasang matanya serta memancarkan sinar buas, katanya dengan sikap gemas :

"Aku hendak menuntut balas dendam !"

"Ada permusuhan apa dengan Liok Giok Jie ?" bertanya Bo Cu Keng kaget.

"Aku dengan Liok Giok Jie sebetulnya tidak mempunyai permusuhan apa-apa. Tetapi dengan Hee Thian Siang ada dendam yang sangat dalam. Kau mungkin belum tahu bahwa bayi Liok Giok Jie itu adalah keturunan Hee Thian Siang !" menjawab Siang Biauw Yan.

Bo Cu Keng dan lain-lainnya semua menggelengkan kepala mendengar ucapan itu. Siang Biauw Yan karena dalam hati ada mempunyai rencana lain, maka tanpa tedeng aling- aling, ia lalu menceritakan semua perbuatannya dahulu yang hendak merampas kedudukan ketua Kun-lun-pay. Belum sampai ceritanya habis, Kong-kong Hweshio sudah berkata sambil memperdengarkan suara tertawanya yang aneh :

"Kalau demikian halnya, kita ini masih orang sejalan.

Semua pernah ada dendam dengan Hee Thian Siang !" Setelah mengucap demikian, ia juga menceritakan apa yang pernah terjadi dilembah kematian di gunugn Cong-lam, ia juga menceritakan bagaimana ia telah dapat mengambil senjata peledak Kian-thian-pek-lek yang menggemparkan rimba persilatan. Tetapi ia telah lupa menanyakan bagaimana cara menggunakan cara menggunakannya, hingga kini masih menjadi sebuah benda yang tidak ada gunanya.

Siang Biauw Yan girang sekali ketika mendengar keterangan itu, katanya pula sambil tertawa besar :

"Kalian sekarang sudah tiba di Kun-lun sini dan aku bermaksud untuk mengajak kalian bekerja sama dan sekarang setelah kita mendengar keterangannya, semakin jelas bahwa kita mau tidak mau harus bekerja sama !"

"Coba kau ceritakan yang lebih jelas !" berkata Bo Cu Keng.

Siang Biauw Yan menunjuk ke puncak gunung Kun-lun yang menjulang ke langit. Dengan sangat bangga ia berkata :

"Anak Hee Thian Siang itu telah kusembunyikan di puncak gunugn Kun-lun itu, maksudku hendak digunakan sebagai pancingan dan disekitar puncak itu kupasang pesawat jebakan. Asal kita menyiarkan berita, tentu Hee Thian Siang tidak lama lagi pasti akan datang mencari, lalu kita paksa supaya ia menerangkan cara-caranya menggunakan senjata peledak Kian-thian-pek-lek. Setelah itu baru kita bunuh dia bersama anaknya. Kemudian kita nanti pada malaman Tiong- ciu ditahun depan, selagi semua tokoh-tokoh rimba persilatan berkumpul hendak mengadakan pertandingan dipuncak Tay- pek-hong, diam-diam kita menggunakan senjata peledak Kian- thian-pek-lek itu untuk membasmi semua tokoh rimba persilatan ini. Dengan demikian, maka hanya tinggal kau dan aku saja yang akan menjagoi dunia Kang-ouw !" Bo Cu Keng rupanya tertarik oleh ucapan itu. Katanya sambil menganggukkan kepala :

"Perhitunganmu ini, memang tepat sekali !" Siang Biauw Yan melanjutkan ucapannya lagi :

"Jikalau saudara-saudara mau bekerja sama dengan aku disini, maka tidak perlu kalian kembali lagi ke istana kesepian yang hanya menikmati hari-hari yang sunyi sepi. Baiklah berdiam di Kun-lun sini saja. Di samping itu kita melatih ilmu masing-masing sambil menunggu kedatangan Hee Thian Siang jika akan mengantarkan nyawanya !"

Bo Cu Keng tampak berpikir sejenak, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala :

"Aku setuju usulmu ini. Tetapi kita yang berdiam disini, alangkah baiknya apabila dibagi dalam kedudukan dan tingkatan sendiri, jikalau kita tetapkan. "

Tidak menunggu habis bicara Bo Cu Keng, Siauw Biauw Yan sudah berkata lagi sambil tertawa besar :

"Bagaimana Siang Biauw Yan berani memperlakukan secara tidak pantas terhadap saudara-saudara ? Aku dengan saudara Bo tidak ada bedanya dalam hal kedudukan. Kita sama-sama memegang tampuk pimpinan partai Kun-lun, sedang tiga saudara yang lainnya, kita angkat sebagai anggota pelindung hukum !"

Terhadap susunan tingkatan seperti yang diusulkan oleh Siang Biauw Yan itu, Bo Cu Keng dan lain-lainnya tidak merasa keberatan, maka sejak saat itu, mereka lantas berdiam di gunung Kun-lun untuk mempelajari dan melatih ilmnya masing-masing. Kemudian Siang Biauw Yan lalu mengutus beberapa anak buahnya yang sangat dipercaya terjun ke dunia Kang-ouw untuk mencari Hee Thian Siang dan memancingnya kemari, supaya mencari anaknya.

Soal mengenai urusan Kun-lun-pau, sampai disini kita tinggalkan dulu dan sekarang kita ajak pembaca kembali ke bawah gunung Liok-tiauw san, dimana Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng bersama dua binatangnya sedang terancam bahaya.

Waktu itu bila tiga orang katai dari negara timur itu tidak menggunakan pasir beracunnya lebih dulu untuk menyerang, maka Hee Thian Siang dan lain-lainnya, sekalipun tidak sampai mati tertimpa oleh batu besar yang digelindingkan dari atas tebing oleh sepasang manusia beracun itu, setidak- tidaknya mereka juga pasti akan terluka parah.

Oleh karena mereka bertiga menebarkan pasir beracun lebih dahulu dan kemudian baru disusul dengan serangan batu besar, maka hal itu malahan telah buat Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng dan kedua binatangnya jadi beroleh banyak kesempatan buat meloloskan diri dari bahaya maut.

Pada waktu pasir beracun yang ditebar oleh tiga orang katai itu meluncur turun ke bawah bagaikan kabut gelap, Hee Thian Siang sudah pikir hendak menggunakan jaring wasiatnya untuk melindungi dirinya. Akan tetapi Tiong sun Hui Kheng yang berperasaan halus, tahu benar khasiat jaring wasiat hee Thian Siang itu. Meskipun sangat dahsyat tetapi tidaklah sesuai untuk dipakai menahan pasir berbisa yang sangat halus itu. Apalagi pasir itu sudah seperti kabut yang menutupi pandangan mata mereka, hingga mereka jadi lebih- lebih tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh tiga orang katai dan sepasang manusia beracun itu. Mungkin sesudah menebarkan pasir beracun akan disusul lagi oleh tindakan lainnya yang lebih ganas dan kejam.

Oleh karena itu, maka Tiong sun Hui Kheng selain mencegah Hee Thian Siang menggunakan jaring wasiatnya juga sudah menarik tangan pemuda itu dan dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh yang luar biasa hebatnya, mereka berdua melayang ditengah udara menuju ke bawah sebuah batu besar yang menonjol di samping gunung, dimana diatasnya ada terletak rompi sisik naga pelindung jalan darah.

Dua orang itu baru saja merapatkan dirinya di bawah batu yang menonjol dilamping gunung itu dari atas tebing sudah terdengar suara yang dahsyat dan gemuruh, lalu disusul dengan menggelindingnya turun beberapa buah batu besar yang menimpa ke tempat mereka tadi.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian bukan kepalang terkejutnya. Diam-diam ia berpikir, bila kurang-kurang cerdik Tiong sun Hui Kheng tadi maka saat ini saat ini pasti keduanya sudah tertimpa oleh batu besar yang menggelinding dari atas tebing itu sekalipun tidak akan binasa setidak-tidaknya juga akan patah tulang-tulang mereka.

Tidak demikian dengan Tiong sun Hui Kheng, disamping merasa bersyukur karena terhindar dari bahaya maut, namun pikirannya masih teringat keselamatan Taywong dan Siaopek, maka ia segera melongok ke bawah.

Ketika matanya tertuju ke bawah, bukan kepalang terkejutnya dia. Sebab di bawah tebing itu, sudah tertutup oleh kabut hitam dari pasir beracun tadi. Selain suara gemuruh menggelindingnya batu-batu besar dari atas sudah tidak terdengar suara lain. Juga tidak tampak lagi bayangan Taywong dan Siaopek.

Tiong sun Hui Kheng terkejut karena kejadian itu sangat mendadak dan tidak terduga-duga, dikiranya mungkin kedua binatang kesayangannya itu tidak keburu menyingkir dan waktu itu tentunya sudah binasa tertimpa batu besar, maka hatinya merasa sedih dan air matanya turun berlinang-linang. Hee Thian Siang karena tubuhnya agak miring, matanya melihat dari sudut yang berlainan. Ia dapat menyaksikan ke bawah lebih nyata dari pada Tiong sun Hui Kheng. Maka ia menarik ujung baju Tong sun Hui Kheng dan berkata kepadanya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga :

"Enci Kheng, jangan bersedih ! Siaopek dan Taywong tidak terancam bahaya maut. Mereka sama seperti juga kita, sedang sembunyi dibawah sebuah batu besar yang berada di tempat yang agak jauh dari gua."

Tiong sun Hui Kheng dengan cepat lalu tujukan pandangan matanya ke arah yang ditunjuk oleh Hee Thian Siang. Benar saja, tampak olehnya sesosok bayangan putih dan bayangan kuning hingga ia tahu bahwa kedua binatangnya itu berada dalam keadaan selamat, sehingga saat itu juga ia menjadi kegirangan sekali.

Pada saat itu, hujan batu juga sudah berhenti. Tiga orang dari negara timur dan sepasang manusia beracun mengira bahwa rencana jahat mereka itu berhasil, maka kembali tertawa terbahak-bahak.

Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng melayang turun dari atas lamping gunung, lalu mendongakkan kepala dan membentak dengan suara keras :

"Kalian kawanan buas dari negara asing ini, meskipun perbuatanmu demikian tidak tahu malu, telah membokong orang secara rendah, tetapi Tuhan maha adil selalu berada dipihak orang yang benar. "

Orang-orang yang berada di atas tebing itu terkejut mendengar ucapan Hee Thian Siang tadi, mereka sungguh tidak menduga bahwa dibawah ancaman mau demikian, Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng ternyata masih dapat meloloskan diri. Maka dalam takutnya, mereka sudah lari sipat kuping hingga sebentar kemudian sudah tidak tampak lagi bayangan mereka.

Siaopek dan Taywong yang berada dalam keadaan selamat, saat itu, kedua-duanya sudah melayang turung dari lamping gunung.

Tiong sun Hui Kheng lalu menanyakan kepada Siaopek dan Taywong dengan cara bagaimana mereka dapat menyingkirkan diri. Dari penuturan dua ekor binatang peliharaannya, Tiong sun Hui Kheng baru tahu bahwa pada waktu tiga orang katai dan sepasang manusia beracun itu muncul di atas tebing dan tertawa terbahak-bahak, Siaopek dan Taywing yang mengkhawatirkan keselamatan majikannya terancam bahaya, kedua-duanya lantas lompat keatas. Maksudnya hendak memberi bantuan dan pada saat itu kembali ari atas tebing menggelinding batu-batu besar yang banyak sekali jumlahnya. Waktu itulah mereka segera melesat ke tempat yang lebih aman untuk menyelamatkan diri.

Setelah bahaya maut itu lewat, Hee Thian Siang sambil menggandeng tangan Tiong sun Hui Kheng perlahan-lahan berjalan keluar dari dalam lembah, bertanya kepadanya :

"Enci Kheng, ada satu hal, aku mau tanya kepadamu !"

Tiong sun Hui Kheng memandang pemuda disampingnya sejenak, lalu berkata sambil tersenyum :

"Adik Siang, mengapa kau berlaku demikian merendahkan diri ?"

"Sewaktu Siaopwk berhadapan dengan cecak raksasa bersisik merah itu, mengapa baru ia menangis tiga kali dan tertawa sebentar, sudah membuat si cecak raksasa yang sangat ganas itu ketakutan setengah matai dan lantas lari balik ke arah majikannya tanpa berani melawan ?" "Siaopek dahulu pernah menjumpai suatu kejadian aneh. Di suatu tempat belukar dia pernah melihat seekor cecak bersisik merah yang jauh lebih besar dari pada cecak bawaan Pan Pek Giok, sedang disiksa dan dipukuli terus sampai mati oleh seekor monyet berbulu emas dengan cara menangis dan tertawa seperti yang dilakukan Siaopek tadi. Anehnya binatang itu sedikit pun tidak berani melawan ! Hari ini Siaopek yang kebetulan tahu caranya, lantas meniru suara monyet berbulu emas itu. Begitu dia berhadapan lalu menangis tiga kali dan kemudian memperdengarkan suara tertawanya yang aneh dan benar saja cecak raksasa itu menjadi ketakutan setengah mati lantas kembali kepada majikannya !"

"Tuhan menciptakan makhluk-makhluknya memang adil. Betapa pun galaknya sesuatu binatang, mesti ada yang menaklukkannya ! Aku hanya tidak tahu siapa yang bakal bisa menaklukan orang-orang buas dari negara asing ini. Hari ini rompi sisik naga pelindung jalan darah sudah akan kembali ke tangan kita dan kini telah hilang lagi hingga membuat aku semakin gemas !"

"Penakluk bangsa-bangsa buas ini adalah keadilan dan kebenaran ! Hilangnya sebuah rompi belum terhitung satu soal yang sangat besar. Maka adik Siang tidak perlu jadikan pikiran. Sekarang yang perlu, kita harus curahkan semua perhatian, berusaha untuk mencari Liok Giok Jie dan anaknya supaya kita bisa lekas memberi pertolongan !"

Mendengar Tiong sun Hui Kheng menyebut persoalan yang menyangkut diri Liok Giok Jie, Hee Thian Siang jadi malu berbareng sedih, katanya sambil mengerutkan alisnya :

"Enci Kheng kalau sudah menduga bahwa pemimpin istana kesepian yang membawa kabur anak Liok Giok Jie adalah Siang Biauw Yan, maka ada baiknya kita berkunjung dulu ke gunung Kun-lun. Bagaimana ?" "Dugaanku ini hanya berdasar dari perkataan pemimpin yang dipakainya itu. Gunung Kun-lun masih jauh dari sini. Jikalau kita jalan cuma-cuma, barangkali akan menelantarkan yang lainnya !"

Hee Thian Siang juga merasa bahwa ucapan Tiong sun Hui Kheng ini benar, maka ia lantas berkata sambil menghela napas :

"Sayang kuda Ceng hong kie enci sudah dipinjamkan kepada enci Hwa Jie Swat, jikalau sekarang ini kita ada kuda itu, maka untuk melakukan perjalanan ke gunung Kun-lun juga tidak menjadi soal !"

Tiong sun Hui Kheng menampak Hee Thian Siang sangat cemat, lalu berpikir. Kemudian berkata sambil tersenyum :

"Adik Siang, menurut pikiranmu, kita sekarang rupanya terpaksa harus mencari secara berpencaran, supaya bisa lebih mudah mendapatkan hasilnya. Begitulah ?"

"Enci pikir kita harus berpencar dengan cara bagaimana ?" "Aku menduga pasti bahwa pemimpin istana kesepian itu

sedang mencuri hatinya Liok Giok Jie. Pasti tidka terus dibawa pergi ke arah timur laut, daerah yang sangat rapat penduduknya, ia pasti jalan melalui daerah-daerah pegunungan seperti propinsi In-lam, Kui ciu, Tibet, Su-coan, Liong hay, Ceng hay dan lain-lain !"

"Dugaan enci ini bisa jadi benar, tapi daerah-daerah yang enci sebutkan tadi, jikalau kita harus menjelajahi satu persatu dengan teliti, cukup memusingkan kepala !"

"Karena Liok Giok Jie dengan kau sudah ada kenyataan sebagai suami istri, maka bayi yang dilahirkannya juga berarti darah dagingmu sendiri dan kini setelah hilang, lebih-lebih kau perlu harus mencarinya. Tetapi karena daerahnya terlalu luas, untuk mencari sudah tentu membuang banyak waktu. Maka kurasa hanya bisa dicari degan jalan berpencaran, barulah hasilnya agak lebih baik ! Kau pergilah mencari ke daerah- daerah In-lam, Kui ciu, Tibet dan lain-lain. Sementara aku akan mencari ke daeah Su coan, San see, Kam-sian dan Sin- kiang."

"Mengapa harus dibagi demikian ?"

"Sebab daerah-daerah In-lam, Kui ciu dan Tibet, jalannya lebih dekat dari sini !"

"Kalau dipikir semua ini adalah gara-gara aku. Sudah tentu akulah yang harus berjalan lebih jauh !"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar Hee Thian Siang mau mengakui kesalahannya, hatinya juga merasa pilu. Setelah dipikir lagi, lalu berkata sambil menganggukkan kepala.

"Adik Siang, kalau kau memang ingin melakukan perjalanan yang lebih jauh, biarlah kau yang pergi ke daerah- daerah yang kusebutkan belakangan tadi !"

"Enci Kheng, kalau kita sudah mengambil keputusan hendak mencari dengan cara berpencaran, seharusnya juga menetapkan waktunya dan tempatnya untuk kita bertemu lagi

!"

"Sekarang baru tanggal satu bulan empat. Kita boleh tetapkan pada nanti malaman Tiong ciu tahun ini, bertemu lagi diatas puncak gunung Ngo-bie !"

"Dengan begini, berarti pula bahwa sekali lagi aku harus berpisah denganmu selama seratus hari lebih !"