Makam Bunga Mawar Jilid 29

 
Jilid 29

Semua orang yang mendengar ucapan Hee Thian Siang itu lantas berdiam. Sebaliknya dengan Kim-hoa Seng-bo yang sejak tadi jarang membuka mulut kini sekali lagi sudah perdengarkan suaranya :

"Hari ini adalah hari ulang tahun 100 tahun kami suami istri. Atas kebaikan sahabat-sahabat disini, telah mengadakan perjamuan ditempat ini. Mana mungkin mereka berpikiran picik seperti kau ini ? Kau boleh terus makan dan minumlah dengan tenang, kujamin pada hari ini dan ditempat 100 pal dari daerah puncak gunung Tay-pek hing ini, pasti tidak akan yang berani mengganggumu!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan demikian dari Kim-hoa Seng-bo lalu berkata sambil tertawa :

"Hee Thian Siang sudah banyak mengganggu dan dahar cukup kenyang. Maka sampai disini ingin mohon diri dulu. Bila diantara tua-tuan ada yang merasa gembira, nanti jam tiga malam, aku akan menunggu di tempat 100 pal lebih di sebelah timur laut dari tempat ini !"

Pat-bao Yao-ong tertawa terbahak-bahak lalu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Hee Thian Siang kemudian berkata sambil menepok-nepok pundaknya :

"Hee laote, orang muda yang gagah berani seperti kau ini, selama hidupku sesungguhnya jarang sekali menemukannya. Hanya sayang kita masing-masing hidup dalam suasana dan cita-cita yang berlainan. Kalau tidak. "

Hee Thian Siang juga merasa diantara orang-orang golongan sesat ini, memang hanya Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat inilah yang paling menonjol dan berbeda dengan yang lainnya. Orang tua ini meskipun merupakan pemimpin dari golongan sesat, tetapi jiwanya masih berjiwa ksatria. Kesannya terhadap orang ini tidak terlalu buruk. Maka ia juga berkata sambil memberi hormat dan tertawa :

"Hian Wan locianpwe sesungguhnya terlalu memuji. Hee Thian Siang sendiri terhadap locianpwe sebenarnya sudah sangat kagum dan menjunjung tinggi sekali !"

Pat-bao Yao-ong tertawa lagi terbahak-bahak, kemudian berkata :

"Kau yang berada tinggi hati inidan tidak memandang mata orang lain, ternyata juga masih memandang mata kepadaku. Hian Wan Liat benar-benar merasa heran ! Selama hidupku, jarang sekali berada di daerah Tiong-goan. Hari ini kita bertemu di tempat ini. Juga boleh diktakan ada jodoh. Agaknya tidak boleh tidak aku akan meninggalkan sedikit barang sebagai tanda peringatan padamu !"

Hee Thian Siang telah salah artikan maksud perkataan Pat- bao Yao-ong. Dalam hati merasa terkejut, kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan dan mundur setengah langkah dan bertanya dengan alis berdiri.

"Apakah Hian Wan locianpwe hendak memberi pelajaran kepadaku ?"

Dengan sepasang mata menatapi wajah Hee Thian Siang, Pat-ao Yao-ong berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa :

"Hee laote, kau jangan terlalu menunjukkan kegagah- gagahan. Meskipun betul kau telah mendapat banyak penemuan gaib dan memiliki kepandaian ilmu silat sangat tinggi sekali, tetapi kekuatan tenagamu masih selisih jauh dibandingkan denganku. Kau masih belu sanggup melawan aku dalam tiga jurus saja !" Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, hatinya dirasakan bergolak hebat. Dengan sikap tidak takut sama sekali, ia berkata dengan suara lantang :

"Terangnya cahaya kelap kelip kunang-kunang memang benar tidak dapat dibandingkan dengan terangnya sinar rembulan. Tetapi antara kita berdua, Hee Thian Siang masih sanggup melawan Locianpwe sampai 100 jurus !"

Pat-bao Yao-ong tersenyum dan berkata :

"Aku kata kau bukanlah tandinganku. Dalam waktu tiga jurus saja kau tidak mungkin dapat menyambut seranganku lagi. Tetapi kau sebaliknya mengatakan sanggup melawan sampai 100 jurus, sebetulnya bagaimana ? Tunggulah, kita lihat saja buktinya di lain hari. Aku jadi orang selamanya paling suka kepada anak muda yang memiliki keberanian seperti kau ini. Ucapanku tadi yang hendak meninggalkan sedikit barang sebagai tanda peringatan kepadamu bukanlah maksudku hendak memberi pelajaran melainkan hendak memberi hadiah apa-apa kepadamu !"

Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, ia berkata sambil memberi hormat dan tertawa :

"Meskipun pada umumnya barang hadian dari orang tingkatan tua, Hee Thian Siang tidak menolak. Akan tetapi. "

Pat-bao Yao-ong kembal menggelengkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Aku bukanlah hendak memberi barang kepadamu. Hanya akan memberi pesan sepatah dua patah kata saja !"

Hee Thian Siang sebagai seorang berpikiran cerdas, kini benar-benar tidak berani berlaku jumawa lagi. Tanyanya sambil tersenyum : "Silahkan ! Kalau locianpwe hendak memberikan pesan apa kepada Hee Thian Siang ?"

"Pesanku ini, kau belum tentu suka dengar. Begini : Kalau kau nanti terjatuh di dalam tanganku, aku akan memberi keampunan padamu, satu kali kau tidak akan kubinasakan !" kata Pat-bao Yao-ong sambil tertawa.

Hee Thian Siang yang mendengar itu benar-benar merasa di luar dugaan, setelah berpikir sejenak, ia memberi hormat menyatakan terima kasihnya. Kemudian berkata :

"Budi locianpwe terhadap Hee Thian Siang, Hee Thian Siang tidak berani mengabaikan begitu saja. Dan sebagai pembalasan budimu ini, Hee Thian Siang juga hendak meninggalkan pesan sepatah dua patah kata kepada Locianpwe !"

"Kau benar-benar kepala batu yang menimbulkan rasa benci tetapi juga menyenangkan. Kau ada pesan apa ? Ucapkanlah saja lekasan Hian Wan Liat bersedia mendengarkan !"

Hee Thian Siang berkata dengan sikap sungguh-sunguh : "Di lain waktu bila locianpwe mendapat kesulitan, asal Hee

Thian Siang ada disitu, aku Hee Thian Siang pasti akan berusah sekuat tenga untuk membantu kau meloloskan diri dari bahaya, untuk membalas budimu hari ini !"

Kim-hoa Seng-bo dan semua orang yang berada disitu mendengar ucapan Hee Thian Siang pada menunjukkan sikap menghina, tetapi Pat-bao Yao-ong sebaliknya menganggukkan kepala kepada Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil tertawa :

"Di sini Hian Wan Liat mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu. Perjamuan diatas puncak Tay-pek hong ini sebenarnya sudah hampir selesai. Baiklah ditahun depan kita akan bertemu ditempat ini lagi !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu mohon diri dan menghadap kepada Kim-hoa Seng-bo dan lain-lainnya untuk memberi hormat, setelah itu ia mengerahkan ilmunya meringankan tubuh turun dari puncak gunung.

Dalam perjalanan turun dari puncak gunung Tay-pek hong itu, dalam hati Hee Thian Siang terus memikirkan Tiong-sun Hui Kheng mengapa belum tiba. Sedang ia sendiri sudah mewakili TIong sun Hui Kheng mengadakan perjanjian dengan sepasang manusia beracun dan tiga orang katai dari negara timur akan mengadakan pertandingan pada nanti tanggal satu bulan empat. Bila mana sudah tiba waktunya dan ia masih tidak berjumpa dengan sang enci itu, apakah ia sendiri harus menghadapi mereka seorang diri ?

Semua orang-orang yang berada di bawah puncak Tay-pek hong sudah mendapat peringatan lebih dahulu dari Khie Tay Cao supaya jangan merintangi perjalanan Hee Thian Siang. Maka ia bisa berlalu dengan tenang menuju ke timur.

Hee Hian Siang sebelum berada di puncak Tiauw in hong di gunung Bu san, dalam hati sebagian besar tertambat kepada Liok Giok Jie dan Hek Sin In serta keselamatan diri Cin Lok Pho. Tetapi sejak berada di istana Tiauw in kiong di puncak Tiauw in hong, lama menunggu Tiong sun Hui Kheng tidak datang, kini semua pikirannya ditujukan kepada Tiong sun Hui Kheng.

Dan kini kembali telah mewakili TIong-sun Hui Kheng mengadakan perjanjian dengan sepasang manusia beracun dan tiga orang katai dari negara timur. Sedang hari pertandingan itu tidak terlalu jauh, sudah tentu semakin memikiri diri gadis itu. Hee Thian Siang yang berjalan denagn pikiran melayang jauh itu, dengan tiba-tiba dikejutkan oleh tetesan embun malam dimukanya. Ternyata waktu itu ia sudah terpisah dengan puncak Tay pek hong kira-kira 100 pal.

Sewaktu di atas puncak Tay-pek hong ia pernah mengucapkan kata-kata yang hendak menunggu kawanan orang jahat itu pada malam ini jam tiga malam. Tidak perduli mereka datang atau tidak, juga seharusnya ditunggu. Jangan sampai membuat tertawaan mereka.

Teringat urusan itu, Hee Thian Siang lalu balik kembali untuk menunggu di tempat yang terpisah 100 pal dengan pucak gunung Tay-pek hong.

Tiba di tempat itu, justru jam tiga malam tepat. Tempat itu disebelah kanan terdapat tebing sangat tinggi, sebelah kiri terdapat rimba lebat, ditengah-tengah ada sebidang tanah yang datar dan cukup luas. Baik sekali untuk digunakan sebagai medan pertandingan atau sebagai tempat bertempur.

Malam itu terang bulan, udara cerah. Kecuali tiupan angin silir-silir yang datang dari arah rimba, tidak tertampak bayangan seorang pun.

Hee Thian Siang diam-diam berpikir. Sejak ia makan getah pohon Leng cie dan dikediaman It-pun Sin-ceng di puncak gunung Tiauw in hong sudah melatih ilmu silatnya setiap hari, berbaagi kepandaian ilmu silatnya jelas sudah mendapat kemajuan. Tetapi selama itu dia tidak mendapat kesempatan mencoba. Maka ia mengharap dari orang-orang golongan sesat itu, ada orang yang datang supaya ia tidak menunggu dengan cuma-cuma dan juga dapat digunakan untuk menguji kepandaian dan kekuatannya sebetulnya sudah maju berapa jauh.

Belum lagi lenyap pikirannya, dari atas tebing tinggi tiba- tiba terdengar satu siulan yang amat nyaring. Kemudian tampak pula dua sosok tubuh manusia yang melayang turun dari atas dan berada di hadapan Hee Thian Siang kira-kira tujuh delapan kaki jauhnya.

Hee Thian Siang memperhatikan dua orang itu. Yang satu ia dapat mengenali, tetapi yang lain masih asing sekali baginya.

Orang yang dikenalnya itu ialah Liong Cay Yan yang pernah dikalahkan olehnya di gunung Tay-swat san.

Sedang yang asing baginya itu adalah seorang wanita muda yang sangat cantik berusia kira-kira 25 tahunan. Wanita itu mengenakan pakaian warna warni, sikapnya tampak genit sekali.

"Tak kusangka kau adalah sahabat Liong yang datang ! Sepasang manusia beracun dan orang katai dari negara timur itu, mengapa tidak ada yang datang ?" menegur Hee Thian Siang sambil tertawa dingin.

"Sepasang manusia beracun dan tamu dari negara timur itu sudah mengadakan perjanjian denganmu pada nanti tanggal satu bulan empat akan mengadakan pertandingan di tebing Hui-mo diatas gunung Liok-tiauw san. Perlu apa sekarang datang ? Dan aku, karena dahulu pernah mendapat hadiahan di atas gunung Tay swat san. "

Tidak menunggu orang she Liong itu melanjutkan ucapannya, Hee Thian Siang sudah mendahuluinya :

"Ouw ! Kiranya kedatangan sahabat Liong ini, sengaja hendak menuntut balas dendam terhadapku rupanya ?"

"Untuk membalas dendam ? Aku mana berani mengatakan begitu ? Tapi Liong Cay Yan ada mempunyai semacam senjata, ingin senjata itu hendak minta pelajaran lagi darimu !" "Sudah tentu aku selalu bersedia buat mengiringi kehendakmu ! Tetapi tentang nona ini, bagiku masih sangat asing. Bolehkah sahabat Liong memperkenalkannya kepadaku ?"

Sepasang alis Liong Cay Yan yang tebal tampak berjengit, diwajahnya menunjukkan sikap sangat bangga. Lalu menunjuk ke arah wanita cantik berpakaian warna warni itu sambil katanya :

"Nona ini adalah nona Pan Pek Giok. Adalah orang yang paling terkenal namanya dibawah Hian Wan Liat ong dan Kim- hoa Seng-bo. Orang-orang memberi gelar padanya Pek tok Bie Jin to atu budak cantik berbisa ! Semua binatang-binatang aneh peliharaan Liat ong dan segala binatang-binatang berbisa adalah didikan nona Pan ini !"

Hee THian Siang yang sangat cerdik. Mendengar keterangan itu, lantas mengetahui bahwa wanita yang mendapat gelar budak cantik berbisa ini pasti adalah seorang yang tidak mudah dihadapi.

Ia lalu memberi hormat dan bertanya sambil tersenyum : "Nona Pan dengan Hee Thian Siang satu sama lain belum

penah saling mengenal. Kedatangan nona ini apakah juga hendak memberi pelajaran kepadaku ?"

Wajah tampan dan sikap gagah yang dimiliki Hee Thian Siang benar-benar dapat menggugurkan iman setiap wanita yang melihatnya, tidak kecuali dengan perempuan cantik genit seperti Pan Pek Giok ini. Maka saat itu si genit ini lalu memperlihatkan senyumnya yang manis, kemudian menjawab dengan suara merdu :

"Oleh karena terhalang oleh sedikit urusan, maka ketika aku tiba dipuncak Tay-pek hong, sahabat Hee sudah berlalu. Aku pernah mendengar cerita dari beberapa orang tamunya Liat ong, mereka umumnya memuji keberanianmu dan bakat- bakatmu. Oleh karenanya aku jadi merasa tertarik. Begitulah aku lantas pergi bersama Liong Jie ko ini untuk menyaksikan sendiri kebenaran kata-kata mereka.

Hee Thian Siang yang mendengar kata-kata itu lantas berkata :

"Hee Thian Siang seorang biasa saja. Bakatku juga sangat buruk. Nona Pan oleh karena telah mendengar ketarang Hian Wan locianpwe hingga melakukan perjalanan jauh secara cuma-cuma."

Pan Pek Giok mengerlingkan matanya kemudian berkata sambil menganggukkan kepala dan tertawa manis :

"Perjalanan yang sudah kutempuh sejauh ini sedikit pun rasanya tidaklah mengecawakan. Pandangan Hian Wan Liat ong ternyata sama sekali tidak keliru. Kau benar-benar merupakan seorang pemuda tampan yang gagah berani dan bakatmu yang luar biasa ini, mungkin dalam rimba persilatan dewasa ini sulit untuk mencari orang keduanya."

Hee Thian Siang yang mendapat pujian demikian, wajahnya menjadi merah. Tanyanya dengan keras-keras :

"Apa nona Pan juga seorang ahli yang dapat melihat wajah orang ? Jikalau tidak, bagaimana begitu melihat sudah tahu kalau Hee Thian Siang seorang gagah berani dan memiliki bakat sangat baik ?"

Pan Pek Giok kembali melancarkan lirikannya yang tajam, kemudian berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh :

"Dengan wajahmu yang kau miliki seperti ini, siapa pun yang melihatnya sudah dapat menduga bahwa kau memiliki bakat sangat baik. Sesungguhnya kau merupakan orang yang jarang ada dalam dunia persilatan ! Sementara mengenai pujianku bahwa kau adalah orang yang gagah berani, itu disebabakan karena kau setelah mendengar nama julukanku Pek tok Bie jin lo masih bisa berlaku tenang-tenang saja, bahkan masih bisa berbicara sambil tersenyum-senyum !"

Hee Thian Siang sesungguhnya tidak tahu betapa lihainya perempuan genit itu, mendengar ucapan itu ia berkata sambil tersenyum.

"Kau yang demikian cantik, sesungguhnya adalah orang perempuan yang susah mendapat bandingan. Apa yang perlu ditakuti ? Sementara mengenai nama gelarmu Pek tok Bie jin lo, dalam nama Pek tok ini meskipun tidak enak di dengar, tapi agaknya juga tidak perlu membaut orang takut."

Pan Pek Giok kembali perdengarkan suara tertawanya yang merdu, setelah itu berkata :

"Ini disebabkan karena kau masih asing terhadap kami orang-orang dari luar daerah Tiong-goan ini. Kau harus tahu bahwa jago-jago di sekitar dan dekat-dekat daerahku, begitu mendengar nama julukanku Pek tok Bie jin lo, tiada satu yang tidak ketakutan setengah mati ! Mereka selalu mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya sangat lucu ialah : Lebih baik bertemu dengan siluman ular berbisa yang cantik, jangan sampai bertemu dengan Bie jin lo !"

"Oh ! Siluman ular cantik itu adalah siluman yang jarang ada di dalam dunia. Siluman itu sangat berbisa dan kau ternyata masih ditakuti demikian, bahkan lebih dari pada siluman ular cantik itu. Bagian mana dari badanmu sebetulnya yang ditakuti oleh mereka itu ?"

Pan Pek Giok menggigit bibir, matanya menatap Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil tersenyum manis : "Kelihaianku, sesungguhnya aku tidak tega untuk kugunakan terhadap kau. Tapi bila ada kesempatan, mungkin aku bisa suruh kau mencobanya sendiri !"

Hee Thian Siang tidak tahu bahwa wanita cantik Pan Pek Giok dihadapannya itu selain memiliki kepandaian ilmu silat tinggi sekali, tetapi juga merupakan wanita genit yang pandai memikat kaum lelaki. Barang siapa yang pernah mengadakan perhubungan raga dengannya, tidak akan terlepas lagi, sehingga kadang-kadang ada yang sampai mati kehabisan tenaga.

"Nona Pan, mereka takut kau lihai. Tetapi aku tidak. Perlu apa harus mencari kesempatan baik ? Sekarang juga boleh kalau kau ingin aku merasakan kelihaianmu itu !" demikian ia berkata dengan sifat menantang.

Pan Pek Giok melirik kepada Liong Tay Yan sejenak, kedua pipinya menjadi merah, katanya samil menggelengkan kepala dan tertawa :

"Kau ingin mencoba kelihaianku ? Tapi harus dilakukan di tempat yang sangat rahasia, tidak boleh ada orang luar ada disini. Sekarang dihadapan Liong Jie ko ku, mana boelh kita berbuat begitu ? Apalagi hari ini juga tidak kebetulan waktunya. "

Hingga saat itu, Hee Thian Siang baru mengerti apa yang dimaui oelh perempuan genit itu hingga wajahnya menjadi merah. ia tahu salah ucapan perempuan tadi selagi tidak membuka mulut lagi. Liong Tay Yan yang mendengarkan ucapan perempuan itu menunjukkan sikapnya tidak senang, lalu berkata kepada Pan Pek Giok :

"Nona Pan, perlu apa banyak bicara dengan orang semacam dia ini ? Liat ong suami istri saat terang tanah nanti, akan pulang kembali Pat bo. Waktunya sudah tidak banyak. Jikalau kau tidak mau turun tangan, biarlah aku yang turun tangan lebih dulu !"

Kirainya tiga persaudaraan Liong itu, semuanya ada orang- orang yang gemar paras cantik. Terhadap perempuan cantik seperti Pan Pek Giok itu, mereka sudah lama ingin mendapatkan dirinya. Sedang Pan Pek Giok yang cantik dan genit itu, tandingannya sangat tinggi. Ia tahu barang baik. Ia pun orangnya genit dan cabul, juga tidak pandang mata terhadap tiga saudara yang dianggap barang rongsokan itu.

Apa mau kini untuk pertama kali bertemu muka dengan Hee Thian Siang, ternyata sudah tertarik oelh ketampanan pemuda gagah itu. Oleh karenanya hingga Liong Cay Yan merasa cemburu dan perasaan sakit hatinya semakin berkobar.

Pan Pek Giok adalah seorang perempuan yang sangat cerdik. Begitu mendengar ucapan Liong Cay Yan, segera mengerti maksudnya. Biji matanya yang hitam jeli tampak berputaran, kemudian berkata sambil tersenyum :

"Liong Jie ko, aku tadi sudah kata padamu bahwa kedatanganmu ini hanya untuk menyaksikan bagaimana gagahnya sahabat Hee ini. Apalagi hari ini aku ada sedikit kurang enak badan, agak malas untuk bertindak ! Kalau kau ingin menuntut balas dendam, silahkan kau turun tanganlah sendiri !"

Liong Cay Yan mengetahui bahwa Pan Pek Giok tidak mau membantu dirinya, ia menduga pasti bahwa perempuan itu sudah jatuh hati pada Hee Thian Siang. Maka perasaan benci dan cemburunya semakin berkobar, lalu berkata sambil tertawa dingin :

"Tidak disangkan Pek tok Bie jin lo yang biasanya suka membunuh orang tanpa berkedip, hari ini juga bisa timbul perasaan welas asih.  " Belum habis ucapannya, sepasang mata Pan Pek Giok memancarkan sinar tajam, menatap wajah Liong Cay Yan.

Liong Cay Yan tahu benar bahwa Pan Pek Giok ini telah disayang oleh Pat-bo Yao-ong dan istrinya. Adatnya sombong sekali. Kalau ia sudah marah tidak mengenal orang lagi. Lagi pula kepandaian ilmu silatnya juga bukan tandingannya sendiri, maka ketika dipandang demikian, hatinya merasa gentar. Buru-buru merubah sikapnya dan berkata sambil tersenyum :

"Kalau nona terganggu kesehatannya, harap berdiri di samping. Sedia untuk memberi bantuan muka kepadaku. Biar bagaimana aku duga bocah itu tidak akan lolos dari senjata tongkatku Citt-san-lui-hun-ciang !"

Sehabis berkata demikian, dari pinggangnya mengeluarkan sepotong tongkat pendek hitam. Setelah ditarik oleh tangan Liong Cay Yan, tongkat pendek itu berobah menjadi sebatang tongkat besi yang panjangnya hampir lima kaki.

Hee Thian Siang diam-diam merasa heran. Sebab tongkat besi itu, kecuali dapat dibikin panjang, tidak ada apa-apanya yang aneh. Mengapa Liong Cay Yan berani sesumbar yang katanya dapat digunakan untuk membalas dendam sakit hatinya dahulu ?

Selama masih terbenam dalam keheran-heranna, Pan Pek Giok sudah menatap wajah Hee Thian Siang lebih dahulu, kemudian berkata kepada Liong Cay Yan sambil tertawa terkekeh-kekeh :

"Liong Jie ko, katamu tadi benar dengan senjata tongkatmu Cit-sat-lui-hun-ciang yang ada menyimpan tujuh jenis senjata rahasia sangat lihai itu, yang mana saja sudah cukup untuk membuat repot lawanmu Karena senjata itu bukan saja lihai, juga sangat berbisa ! Apalagi kau juga sudah meminjam setangkai bunga mas pencabut nyawa dari Seng-bo yang akan kau gunakan sebagai senjatamu yang terakhir. Aku duga pasti kemenangan itu akan berada dipihakmu. Maka itu, perlu apa masih memerlukan bantuanku ?"

Liong Cay Yan yang mendengar ucapan Pan Pek Giok itu dengan secara terang-terangan telah membuka rahasia senjata tongkatnya dan urusan mengenai perbuatannya yang meminjam kepada Kim-hoa Seng-bo tentang setangkai bunga mas pencabut nyawa, ini berarti sudah membocorkan semua rahasianya keapda Hee Thian Siang. Maka saat itu ia sangat marah sekali sehingga tubuhnya gemetaran, sepasang matanya memancarkan sinar buas, katanya dengan suara marah :

"Nona Pan, buka aku Liong Cay Yan omong sombong. Sekalipun Hee Thian Siang dapat mengetahui rahasia senjataku ini dari keteranganmu tadi, dia juga tidak bisa lolos dari senjataku ! Tentang bunga mas pencabut nyawa yang dipinjamkan oleh Seng-bo itu, mungkin aku tidak akan menggunakan sama sekali !"

Pan Pek Giok mengeluarkan suara terkejut, sepasang alisnya berdiri. Wajahnya menatap wajah Liong Cay Yan dengan sikap terheran-heran. Ia berkata lambat-lambat :

"Liong Jie ko, tak kusangka ucapanku yang tidak kusengaja tadi menimbulkan pikiranmu yang menganggap aku sudah berkhianat."

Liong Cay Yan yang tahu benar adatnya perempuan cantik dan genit itu, takut saat itu akan berbalik muka terhadapnya. Terpaksa buru-buru merobah sikapnya lagi, katanya sambil tertawa :

"Nona Pan jangan salah paham, bagaimana Liong Cay Yan berani menaruh curiga terhadapmu ? Aku hanya. " Tidak menunggu habis ucapan Liong Cay Yan, Pan Pek Giok sudah berubah sikapnya demikian dingin. Katanya dengan nada suara dingin pula ::

"Aku tidak perduli kau merasa curiga terhadapku atau tidak. Sebentar apabila aku ketemu dengan Liat ong dan Seng-bo, aku akan membeberkan urusanmu ini lagi !"

Liong Cay Yan melihat sikap perempuan itu tiba-tiba sudah marah terhadapnya, maka ia terpaksa berkata lagi sambil tertawa kecil :

"Nona Pan. "

Tetapi ucapannya itu segera dipotong oleh Pan Pek Giok, katanya sambil memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang sangat tidak enak ditelinga Liong Cay Yan :

"Tadi kau telah junjung tinggi senjatamu Cit-sat-lui-hun- ciang dan menghina senjata rahasia Seng-bo yang berupa bunga emas pencabut nyawa. Ini saja kau sudah bersikap tidak menghormat terhadap Seng-bo ! Sekarang aku akan mewakili Seng-bo untuk minta kembali senjatamu yang kau anggap tidak perlu digunakan itu !"

Senjata rahasia bunga emas pencabut nyawa itu adalah senjata yang mengangkat nama Kim-hoa Seng-bo sehingga menggetarkan seluruh daerah Lim-bong dan menakutkan orang-orang daerah itu. Betapa besar pengaruhnya dan betapa hebat senjata itu, sesungguhnya dapat dibayangkan sendiri. Dan Liong Cay Yan yang dengan susah payah baru dapat meminjam setangkai saja, kini ketika mendengar ucapan Pan Pek Giok yang hendak menarik kembali, sudah tentu merasa berat untuk melepaskannya. Tanyanya :

"Nona Pan, dengan hak apa kau dapat mewakili Seng-bo untuk minta kembali benda itu ?" Hee Thian Siangyang menyaksikan keadaan lawannya sebelum bertempur dengannya, sudah timbul perselisihan lebih dahulu dengan orangnya sendiri. Maka diam-diam ia merasa lucu dan menyaksikan kedua orang itu dengan menyender di sebuah pohon cemara sambil tersenyum.

Sementara itu Pan Pek Giok yang menampak Liong Cay Yan menegur demikian, diwajahnya sebelumnya sudah menunjukkan sikap berseri-seri, lalu berkata :

"Pertanyaan Liong Jie ko ini memang benar. Aku bernama Pek tok Bie jin lo. Karena berkedudukan sebagai budak, bagaimana dapat mewakili Kim-hoa Seng-bo memimpin anak buah demikian banyak dan untuk minta kembali senjata rahasianya ?"

Sambil berkata demikian, ia memasukkan tangannay ke dalam sakunya dengan wajah berseri-seri. Entah apa yang akan diambilnya.

Tetapi bagi Liong Cay Yan yang mengetahui benar adat perempuan cantik itu, telah mendapat tahu gelagat tidak baik hingga diam-diam bergidik dan merunduk. Dalam hati sungguh merasa gelisah. Pikirannya kalau Pan Pek Giok ini benar-benar akan berbalik sikap terhadapnya, bagaimana harus dihadapinya ?

Dari dalam sakunya Pan Pek Giok mengeluarkan sebuat plat emas kecil mungil yang dimukanya diukir dengan lukisan sepasang naga. Lebih dulu ia mengerling kepada Hee Thian Siang, kemudian menatap wajah Long Cay Yan dan setelah itu bertanya sambil tertawa berseri-seri :

"Liong Jie ko, kenalkah kau plat emas kecil ditanganku ini

?"

Liong Cay Yan   terkejut.   Buru-buru   menjawab   sambil

memberi hormat : "Ini adalah benda kepercayaan tertinggi dari Hian Wan Liat ong dan Kim-hoa Seng-bo. "

"Liong Jie ko, meskipun aku adalah seorang budak yang tidak berarti dari Hian Wan Liat ong dan Kim-hoa Seng-bo, tetapi karena dalam tanganku ada sebuah tanda kepercayaan Liat ong ini, agaknya jauh lebih tinggi beberapa tingkat darimu

!"

Liong Cay Yan benar-benar telah mati kutunya. Ia menundukkan kepala dengan sikap ketakutan. Setelah lama ia berdiri tegak dalam keadaan demikian, kemudian baru berani berkata sambil memberi hormat :

"Nama Pat-bao telah menggemparkan dunia. Semua orang tunduk kepada sepasang naga ! Barang siapa yang melihat tanda kepercayaan ini seperti juga berhadapan dengan Liat ong dan Seng-bo. Sudah tentu Liong Cay Yan akan menurut segala perintah nona Pan !"

Kini Pan Giok Peng kembali menunjukkan sikapnya yang keren, ia berkata dengan nada suara dingin :

"Kau bersikap terlalu sombong. Tidak menghormati Seng- bo. Serahkan dahulu kepadaku bunga emas pencabut nyawa itu !"

Liong Cay yan yang mendengar ucapan itu, sepasang alisnya yang tebal dikerutkan. Tetapi ia tidak berani membantah meskipun hatinya merasa berat. Tetapi ia mengeluarkan juga barang yang diminta, yang merupakan sebuah bunga-bungaan terbuat dari emas yang bentuknya aneh, sebesar kira-kira mulut margiok, lalu diberikan kepada Pan Pek Giok dengan sikap sangat menghormat sekali.

Pan Pek Giok setelah menyambuti benda aneh itu, lalu dimasukkan ke dalam sakunya sendiri. Kembali berkata kepada Liong Cay Yan : "Karena Hee Thian Siang sudah berjanji dengan tiga orang katai dari negara timur dan sepasang manusia beracun akan mengadakan pertandingan di gunung Liok tiauw san pada nanti tanggal satu bulan empat, maka segala dendam dan permusuahna boleh tunggu sampai waktu itu untuk dibereskan. Sekarang tidak boleh mencari onar. Liong Cay Yan lekas kembali ke puncak Tay-pek hong untuk mengiring Liat ong dan Seng bo pulang ke Pat bo !"

Liong Cay yan terpaksa menggertak gigi, mengawasi perempuan genit itu dengan hati geram sedangkan matanya beberapa kali melirik akan ada Hee Thian Siang yang berdiri menyender pada pohon, lalu menyimpan kembali senjata kecilnya yang berbisa itu dan setelah itu memberi hormat pula kepada Pan Pek Giok dan lari menuju ke barat utara dengan mendongkol.

Pan Pek Giok setelah mengawasi Liong Cay Yan hingga tidak tertampak lagi, kakinya menghampiri Hee Thian Siang dengan sikap ramah dan tersenyum.

"Adik kecil, bantuan yang kuberikan terhadap kau ini, besar sekali artinya ?"

"Apa kau kira aku takut kepada Liong Cay Yan ? Atau senjatanya tongkat Cit-sat-lui-hun-ciang itu ?" balas bertanya Hee Thian Siagn sambil tertawa.

Pan Pek Giok mengerling beberapa kali kepada Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil tersenyum :

"Adik kecil, dari sikap dan kelakuanmu ini aku dapat lihat bahwa kau memang benar-benar memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari mereka. Sudah tentu kau sanggup melawan Liong Cay Yan atau kau juga tidak takut senjata Cit- sat-lui-hun-ciang yang sangat tinggi itu. Akan tetapi kau tidak boleh tidak harus takut senjata rahasia bunga emas pencabut nyawa yang sudah kuambil kembali itu.  " "Bunga emas yang kecil itu dimana letak keistimewaannya

?" bertanya Hee Thian Siang.

"Aku tidak berani membocorkan rahasia atau keistimewaannya bunga emas pencabut nyawa ini, tetapi kau jelas adalah seorang yang sangat pintar. Darimana julukan Kim hoa Seng-bo yang sangat kesohor itu. Seng-bo itu bukanlah .......... melainkan nama senjata ini sebagai .........

dengan senjata ini pernah mene.           manusia beracun dan

tiga orang.........negara timur itu serta empat Tianjin..........

barat. Dari ini sja kau boleh men........, tentunyakau dapat mengetahui sampai dimana hebatnya senjata ini dan nama julukan pencabut nyawa bukanlah hanya untuk menggertak sambal saja !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, juga merasa bahwa bunga-bunga emas yang kecil, yang tampaknya tidak ada apa-apanya yang aneh itu, pasti merupakan senjata rahasia yang hebat sekali !

Pan Pek Giok berkata pula sambil tertawa :

"Adik kecil, kalau kau sudah tahu sampai dimana hebatnya bunga emas pencabut nyawa ini, kau tentunya lebih mengerti tindakanku untuk berusaha mengambil kembali dari tangan Liong Cay Yan itu. Bukankah suatu tanda perhatianku terhadap dirimu ? Apakah bantuanku ini tidak besar artinya ?"

Sampai disini, meskipun Hee Thian Siang sudah tahu bahwa perempuan genit itu lihai sekali, tetapi oleh karena sikap dan kelakuan yang ditunjukkan terhadap dirinya ramah tamah dan mengandung persahabatan, maka ia pikir untuk menghadapi orang kuat seperti Hian Wan Liat dan Kim-hoa Seng-bo serta lain-lainnya, apabila dapat mengikat salah seorang diantaranya sebagai sahabat, dilain waktu mungkin ada gunanya. Maka ia setelah mendengar bahwa perempuan itu menyebut dirinya adik kecil, ia jgua robah sebutannya terhadap perempuan itu. Katanya sambil tersenyum : "Terima kasih banyak-banyak atas bantuan enci Pek. Tetapi ini hari sudah hampir terang. Kau tentunya akan mengikuti Hian Wan Liat ong dan Kim-hoa Seng-bo pulang ke Pt bo. Agaknya tidak seharusnya menghambat waktumu ditempat ini. Apabila di dunia Kang-ouw kita masih ada jodoh, di lain waktu kita akan bertemu lagi !"

Sepatah sebutan enci Pek itu benar-benar besar sekali pengaruhnya hingga Pan Pek Giok yang mendapat sebutan mesra dan lemah lembut itu, hatinya merasa senang sekali dan matanya beberapa kali melirik kepada Hee Thian Siang, agaknya berat untuk meninggalkannya.

Tetapi setelah mendongakkan kepala dan mengetahui hari benar-benar sudah hampir terang, dengan terpaksa berkata sambil menghela napas panjang :

"Yah, hari sudah hampir terang. Aku benar-benar terpaksa pergi ! Malam ini karena kesatu badanku agak kurang enak, dan kedua juga harus melayani Hoat ong suami istri untuk kembali ke Pat bo. Terpaksa sampai disini saja kita harus berpisahan ! Adik kecil harap jaga dirimu baik-baik. Perhubungan kita yang belum habis ini, kita tangguhkan sampai nanti tanggal satu bulan empat di tebing Hui mo di gunung Liok tiauw san supaya kita dapat berbicara lebih puas

!'

Sehabis mengucap demikian lalu melambaikan tangan kepada Hee Thian Siang. Tidak tahu bagaimana ia bergerak hanya menampak berkelebatnya pakaiannya yang berwarna warni sudah melesat setinggi empat tombak, di tengah udara kedua kakinya bergerak pula dengan beberapa kali gerakan sudah berada di atas tebing dan kemudian menghilang.

Ilmu meringankan tubuh Pan Pek Giok yang diunjukkan di depan Hee Thian Siang benar-benar sangat mengagumkan hati pemuda gagah itu. Ia diam-diam juga terkejut karena anak buah Pat-bao Yao-ong dan Kim-hoa Seng-bo benar-benar terdapat banyak yang berkepandaian sangat tinggi.

Selagi masih terbenam dalam pikirannya, Hee Thian Siang tiba-tiba merasa ada hembusan angin yang menyambar dari belakangnya.

Hee Thian Siang yang kini sudah memiliki kepandaian tinggi sekali, begitu hembusan angin itu masuk ke dalam telinganya sudah mengetahui bahwa itu adalah hembusan angin yang timbul dari serangan tangan yang dinamakan ilmu memutar bumi. Maka buru-buru ia menyingkir beberapa kaki dan matanya menyapu ke arah belakang. Ia ingin tahu siapa orangnya yang membokong dirinya.

Di belakang dirinya ada sebuah rimba lebat. Namun keadaannya sepi. Tidak terdengar ada suara orang. Tetapi sambaran angin yang timbul dari serangan tangan tadi, jelas hebat sekali. Hingga ketika ia mengelak, batu besar yang tadi berada dihadapannya telah terpukul hancur berkeping-keping.

Bukan kepalang terkejutnya Hee Thian Siang ini. Sebab ia dapat mengenali asa usul serangan dengan tangan kosong itu, yang lain dari pada ilmu serangan tangan kosong Pek pow sin koan dari partai Bu tong.

Ia dikejutkan bukan cuma lantaran ilmu Pek puw sin koan itu saja. Sebab kecuali ketua Bu tong pay Hong hoat Cinjin, sekalipun Hong-.. Totiang atau It tim cu, juga tidak memiliki kekuatan tenaga demikian hebat.

Oleh karena mengingat ia sendiri tidak ada permusuhan dengan orang-orang Bu tong pay, bagaiman bisa diserang secara mendadak ini ? Maka dalam keadaan terheran-heran itu, ia lalu bergerak. Menyerbu ke dalam rimba yang gelap gulita itu. Belum lagi memasuki rimba, kembali mendapat serangan hebat dari tengah udara. Tetapi kali ini bukanlah serangan dengan tinju seperti tadi, melainkan dengan kekuatan tenaga jari tangan.

Oleh karena belum tahu benar keadaan orang yang menyerang, maka ia tidak mau menyambut dengan kekerasan. Dengan satu gerakan yang sangat indah, dengan mudah ia dapat mengelakkan serangan itu.

Ketika ia mengelak, kembali sebuah pohon besar sekali telah bergoyang-goyang sehingga daunnya pada rontok. Di pohon itu lalu tampak sebuah lubang berukuran jari tangan yang sangat dalam. Dari sini dapat dibayangkan betapa hebat serangan dengan jari tangan itu.

Menurut apa yang disaksikannya dan dari bukti tanda lobang jari tangan itu, kali ini orang yang menyerang secara membokong itu ternyata sudah menggunakan ilmu It-cie-sian, yakni sejenis ilmu terampuh dari golongan Siao lim pay yang tidak pernah diturunkan. Tetapi dari hebatnya serangan itu, dapat diduga bahwa orang yang melancarkan serangan itu bukanlah orang biasa dari partai Siao lim pay.

Kejadian yang mengherankan ini ialah terjadi dengan beruntun. Maka Hee Thian siang mau tak mau terpaksa harus undurkan diri. Ia berdiri menyender ke tebing. Matanya ditujukan ke dalam rimba seraya berkata :

"Aku disini Hee Thian Siang. Suhuku adalah Pek bin Sin po Hong poh Cui. Tidak tahu cianpwe dari Bu tong ataukah Siao lim yang berada di dalam rimba. Mengapa tidak mau keluar untuk bertemu muka ?"

Meskupun sudah mengucapkan perkataan itu, tetapi dalam rimba itu masih sepi sunyi. Tidak terdengar suara jawaban apa-apa. Hee Thian Siang menunggu lagi sekian lama. Selagi hendak bertanya lagi, dari dalam rimba tiba-tiba meluncur lagi hembusan angin yang dilancarkan oleh serangan tangan kosong.

Hee Thian Siang terpaksa mengelak. Batu diatas tebing gunung dimana tadi ia menyender, segera nampak sebuah tanda telapakan tangan yang sangat jelas.

Hal ini terlalu aneh, terlalu mengherankan dan benar-benar tidak habis pikir ! Sebab serangan yang sangat dibanggakan oleh partai Lo bu pay, bahkan kekuatan tenaga yang diunjukkan dari bukti pada telapakan tangan itu ternyata dilancarkan oleh seorang yang kekuatan tenaganya tidak dibawah ketua Lo bu pay, Peng sim Sin nie sendiri.

Tiga tokoh kuat dari partai-partai Bu tong, Siao lim dan Lo bu masing-masing dengan ilmunya yang tidak diturunkan kepada orang luar telah mnyerang Hee Thian Siang. Ini benar suatu kejadian yang sangat mengherankan.

Tetapi dari tanda telapakan tangan dibatu itu, Hee Thian Siang dari terkejutnya. Segera dapat mengenali bahwa telapakan itu telapakan tangan seorang perempuan. Maka ia lalu sadar dan dengan wajah berseri-seri lalu memutar tubuh dan memanggil-manggil.

"Enci Tiong sun, sejak kita berpisah kau ternyata sudah dapat melatih ilmu-ilmu dari tiga partai besar itu dengan sangat sempurna. Tetapi entah bagaimana dengan ilmu pedang Ngo bie pay dan ilmu Kiu coan thian han sin kang dari Swat san pay ? Bagaimana pula dengan ilmu simpanan empek Tiong sun yang dinamakan Thay-pian-hian-sinkang itu

? Barangkali juga sudah kau latih dengan baik ?"

Di dalam rimba setelah sunyi sejenak, benar saja tampak muncul seorang gadis cantik bagaikan bidadari yang bukan lain dari pada Tiong sun Hui Kheng yang siang malam dipikiri oleh Hee Thian Siang.

Tangan kanan gadis itu menggendong Siso pek sedang dikirinya di ikuti oleh Tay wong, tetapi tidak tampak kuda Ceng hong kie.

Mengetahui bahwa dugaannya tidak salah, Hee Thian Siang girang sekali. Lompat melesat menghampiri Tiong sun Hui kheng seraya memanggil-manggil :

"Enci. "

Tetapi baru saja ucapan itu keluar dari mulutnya, ia lalu merandek dan memandang Tiong sun Hui kheng dengan perasan heran. Sebab saat itu Tiong sun Hui kheng tidak seperti biasanya yang ramai dengan senyuman. Kini ternyata menunjukkan sikap dingin dan seperti orang tidak senang.

Hee Thian Siang tidak mengerti apa sebab Tiong sun Hui kheng bersikap demikian. Baru saja hendak menegurnya, TIong sun Hui kheng sudah memandangnya dengan sinar mata dingin, kemudian berkata :

"Enci, enci ! Sungguh enak benar panggilan encimu itu. Kau sudah mempunyai dua adik dan satu enci. Apakah masih belum cukup ?"

Hee Thian Siang baru tahu bahwa Tiong sun Hui kheng ternyata sudah lama sembunyikan diri di dalam rimba. Oleh karenanya, maka kelakukannya terhadap Pan Pek Giok tadi dan panggilan enci Pek sudah diketahui olehnya.

"Oh ! Enci jangan salahkan aku. Kelakuanku tadi disebabkan karena dengan mendadak aku mendapat satu pikiran hendak mengikat seorang sesat diantara orang- orangnya Pat-bao Yao-ong dan Kim-hoa Seng-bo yang dapat kugunakan sebagai kaki tangan barulah aku pura-puara berlaku baik terhadap Pan Pek Giok. "

Sikap Tiong sun Hui kheng tadi sebenarnya ialah sengaja menggoda Hee Thian Siang. Maka setelah mendengar ucapan itu, ia juga tertawa dan kemudian berkata :

"Kita berpisah baru sebelas bulan saja. Kau ternyata sudah berubah menjadi seorang licin hingga bisa melekat seorang kaki tangan dibawah Pat-bao Yao-ong suami istri. Hal ini benar-benar diluar dugaanku !"

Menampak sikap dingin Tiong sun Hui kheng sudah lenyap, rasa takut Hee Thian Siang juga hilang. Tanyanya sambil tersenyum :

"Apakah selama sebelas bulan ini, enci mendapat banyak kemajuan ? Dimana sebetulnya enci telah mempelajari ilmu- ilmu itu ? Dan apakah empek Tiong sun ada baik ?"

"Adik Siang barangkali tidak dapat menduga. Aku bersama ayah selama ini berdiam di sim peng di gunung Siong san,

bersama-sama Suy han Kong locienpwe mempelajari ilmu- ilmu silat." menjawab Tiong sun Hui kheng sambil tertawa.

"Suy Locianpwe telah mendapat sahabat berilmu tinggi seperti empek, tentunya juga mendapat faedah tidak sedikit !"

"Ya, memang mendapat petunjuk pelajaran ilmu silat tidak sedikit dari ayah. Tetapi ayah juga mendapat bantuannya, membuat tidak sedikit obat-obat mujijat, hingga satu sama lain mendapatkan faedahnya. Barangkali satu dua tahun lagi, ayah juga sudah menjadi seorang sempurna benar-benar !"

Hee Thian Siang yang tidak melihat Ceng hong kie, lalu bertanya kepadanya dengan terheran-heran.

"Enci, dimana kuda Ceng hong kie mu ?" "Enci Hwa Jie Swat hendak pergi pesiar untuk mencari It- pun Sin-ceng. Maka kuda Cneg hong kie kupinjamkan kepadanya !"

"Bagaimana enci tahu aku ada disini ?"

"Sebelum aku tiba di puncak Tay-pek hong, aku telah dengar orang kata bahwa kau sudah pergi dari sana bahkan pernah sesumbar hendak menantikan musuhmu di sebelah timur laut 100 pal dari Tay-pek hong. Maka aku segera menyusul kemari !"

"Kedatangan enci sungguh kebetulan. Jikalau tidak aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan soal janjiku dengan lima manusia dari luar daerah itu nanti pada tanggal satu bulan empat di tebing Hui-mo di gunung Liok tiauw san."

"Adik Siang, surat tantangan yang ditulis oleh Mao Giok Ceng itu, bukankah sudah disebutkan akan mengadakan pertandingan dengan Pat-bao Yao-ong dan lain-lainnya pada nanti malaman Tiong ciu tahun depan ? Bagaimana ada perjanjian pula pada tanggal satu bulan empat di gunung Liok tiauw san ini ?"

"Dalam pertemuan kali ini, semata-mata karena lantaran persoalan yang menyangkut diri Siao pek." berkata Hee Thia Siang sambil menunjuk Siao pek.

Siao pek yang sejak tadi berdiri disamping tidak bersuara, kini mendadak bertanya :

"Mengapa lantaran aku ?"

Hee Thian Siang yang mendengar pertanyaan itu menjadi terkejut. Tetapi segera teringat bahwa dalam pertemuan besar partai Ceng thian pay saat itu, Siao pek lantaran mendapat celaka dan akhirnya menguntungkan baginya sebab tulang yang malang ditubuhnya telah disingkirkan oleh Suy han kong, sehingga sejak waktu itu, ia bisa mengeluarkan dan meniru perkataan orang, maka ia bertanya kepada Tiong sun Hui kheng :

"Enci, Siaopek yang mengikuti kau dan empek yang melatih ilmu, barangkali kecuali di dalam ilmu silatnya sudah mendapat kemajuan banyak, sedang perkataan orang biasa barangkali sudah paham benar ?"

"Ucapan yagn tidak terlalu ruwet, ia bisa mengucapkan semua !" berkat Tiong sun Hui kheng sambil menganggukkan kepala.

Berkata sampai di situ, ia berdiam sebentar. Ia bertanya kepada Hee Thian Siang :

"Adik Siang, tadi kau berkata telah mengadakan perjanjian karena urusan Siaopek. Apakah hal ini ada hubungannya dengan rompi sisik naga pelindung jalan darah itu ?"

"Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat meskipun pemimpin golongan orang jahat, tetapi merupakan seorang ksatria. Setelah kuceritakan padanya bahwa barang antaran yang berupa rompi sisik naga pelindung jalan darah itu adalah milik Siaopek yang dicuri oleh Hek nie Kam lo dan seorang dari tiga orang katai dari negara timur secara tidak tahu malu, ia sebetulnya hendak mengembalikan padaku dengan segera. Tetapi setelah dicegah oleh seorang lain dari tiga orang katai dari negara timur itu yang bernama Ti pun Eng kie, ia tetap menghendaki mengembalikan barang itu. Tetapi supaya enci bersama Siaopek sendiri yang datang mengambil. Maka itulah aku baru menjanjikan mereka pada nanti tanggal satu bulan empat untuk mengadakan pertemuan di tebing Hui mo digunung Liok tiauw san !"

"Tahukah kau dipihak sana ada berapa orang yang akan datang ? Pat-bao Yao-ong dan Kim-hoa Seng-bo serta Pek- kut Ie-su dan Pek-kut Sian-cun bersama, apakah juga akan datang ?"

"Tokoh-tokoh utama dari pihak lawan barangkali hanya sepasang manusia beracun dan tiga orang katai dari negara timur yang akan datang. Pat-bao Yao-ong dan Kim-hoa Seng- bo sudah menerangkan tidak akan datang. Pek-kut Ie-su dan Pek-kut Sian-cu dari Ceng Thian pay mungkin juga akan turut campur tangan. "

"Adik Siang, bagaimana kau telah melupakan seorang yang sangat lihai ?"

"Siapakah orang yang enci maksudkan dengan orang yang sangat lihai itu ?" bertanya Hee THian Siang keheranan.

Tiong sun Hui Kheng menatap wajah Hee Thian Siang sejenak, kemudian berkata sambil tersenyum :

"Dia ada enci Pekmu yang baru kau kenal beberapa waktu yang lalu. Orang-orang kuat di daerah Lom bong, hampir semuanya takut padanya lebih dari pada ular berbisa !"

Hee Thian Siang yang digoda demikian wajahnya menjadi merah. Ia berkata sambil menganggukkan kepala :

"Aku benar-benar lupa padanya. Pan Pek Giok pasti akan datang sebab Pat-bao Yao-ong pernah berkata hendak mengirim beberapa binatang peliharaannya yang aneh-aneh. Biar mereka belajar kenal dengan Taywong dan Siaopek !"

TIong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu lalu berkata kepada Taywong :

"Kau sudah lama menganggur. Sekarang akan mendapat kesempatan untuk berkelahi. Kau tentu merasa girang, bukan

?' Taywong membuka mulutnya lebar-lebar, mengeluarkan suara cekikikan. Namun masih berdiri di samping Tiong sun Hui Kheng dengan sikapnya yang sangat menghormat sekali.

Hee Thian Siang tahu benar bahwa binatang Taywong itu berbeda dengan monyet putih Siaopek, sifatnya buas sekali. Melihat binatang itu ternyata sangat jinak, maka lalu bertanya terheran-heran :

"Enci benar-benar pandai sekali menjinakkan binatang buas. Berdiam di gunung SIong san belum setahun, Taywong yang demikian buas dan ganas bisa berubah sifatnya !"

"Adik Siang. Janganlah kau puji aku terlalu tinggi. Betul aku bisa menjinakkan binatang buas, tetapi masih belum memiliki kepandaian sampai demikian tinggi yang dapat merobah sifat Taywong yang ganas menjadi jinak dalam waktu yang sangat singkat sekali !" menjawab Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa geli.

He Thian Siang makin heran, katanya :

"Kalau begitu, apakah Taywong sudah menemukan kejadian gaib ?"

Tiong sun Yui Kheng memandang Taywong sejenak, katanya sambil tertawa :

"Penemuan gaib sih tidak, hanya ia pernah melakukan satu kali pencurian kecil !"

Taywong yang mendengar ucapan itu, segera menundukkan kepala. Agaknya ia merasa sangat malu sekali.

Hee Thian Siang jadi makin heran, lalu bertanya lagi sebab musababnya. Tiong sun Hui Kheng lalu bertanya sambil tertawa : "Suy han khong locianpwe telah membuat ramuan obat untuk keperluan ayah, obat itu dimasak dalam satu kuali besar. Apa mau telah dicuri oleh Taywong dan dimakan hampir separuh isinya. Karena pengaruh obat itu terlalu kuat, Taywong tentu saja tidak tahan. Hampir saja waktu itu pembuluh darahnya pecah semua dan keadaannya sangat berbahaya !"

"Kalau begitu bagaimana Taywong kemudian bisa selamat, tidak terjadi apa-apa ?"

"Untuk Siaopek mengetahui keadaan Taywong waktu itu yang buru-buru melaporkan kepada ayah dan Suy han khong locianpwe. Suy han khong dengan susah payah mencoba menyembuhkannya. Siapa tahu setelah sembuh, bukan saja kekuatan tenaga Tyawong bertambah hebat, sifatnya yang buas juga banyak berkurang !"

Hee Thian Siang memang sudah tahu bahwa Taywong mempunyai kekuatan tenaga luar biasa. Mendengar keterangan itu, menjadi girang. Katanya sambil tertawa :

"Taywong sebetulnya memang sudah lihai. Kalau sudah mendapat tambahan kekuatan tenaga, pasti dapat mengalahkan binatang-binatang peliharaan Pat-bao Yao-ong untuk membantu Siaopek mengambil kembali rompi sisik naga pelindung jalan darah !"

"Dalam pertandingan di tebing Hui mo nanti, dipihak lawan ada tiga orang katai dari negara timur, sepasang manusia beracun, Pan Pek Giok dan binatang-binatang peliharaan Pat- bao Yao-ong yang akan ambil bagian. Apakah kita disini perlu mengajak beberapa pembantu ataukah hanya kita berdua saja yang harus menghadapi, dengan hanya mengajak Taywong dan Siaopek ?"

Hee Thian Siang berpikir dahulu, kemudian berkata : "Jikalau ditilik dari jumlah orangnya, sudah tentu pihak lawan lebih banyak dari pihak kita sini, tetapi waktunya sudah sangat mendesak. Pembantu yang tepat barangkali tidak mudah dicari. "

"Adik Siang tidak perlu khawatir. Mari kita berjalan menuju ke barat laut, pesiar sekedarnya saja. Kalau bisa menemukan pembantu yang tepat, kita boleh ajak beberapa orang. Jikalau tidak, sekalipun kita berdua dan dua peliharaan kita ini pergi ke tebing Hui mo, rasanya juga tidak menjadi halangan !"

"Ucapan enci ini benar. Di waktu belakangan ini aku juga mendapat kemajuan yang tidak sedikit, apalagi enci sendiri sudah mendapat kemajuan demikian pesat ditambah Siaopek dan Taywong, juga belum tentu tidak sanggup menghadapi kawanan penjahat dari luar negeri itu !"

Dari dalam sakunya, Tiong sun Hui Kheng mengeluarkan kitab pelajaran ilmu silat Kiu-coan-thian-ban-sin-kang, Phia- hian-kian-pho, Pek-pow-sin-koan, Pan-sian-ciang-lek dan It- cie sian. Lima jenis ilmu silat terampuh yang ditulis oleh para ketua dari lima partai besar Swat san, Bu tong, Ngo bi, Lo bu dan Pelindung hukum Siao lim sie, diberikan kepada Hee Thian Siang seraya berkata sambil tersenyum :

"Adik Siang, lima jenis ilmu silat sangat ampuh dalam rimba persilatan sudah kupelajari sampai mahir ini adalah pelajaran- pelajaran yang ditulis oleh beberapa Cianpwe itu dan sekarang kuberikan kepadamu !"

Hee Thian Siang menyambuti pelajaran ilmu silat itu. Dengan sangat hati-hati disimpannya ke dalam sakunya. Setelah itu ia berkata sambil tertawa :

"Enci, sebelum kita pergi ke gunung Liok tiauw san untuk memenuhi perjanjian mereka, sebaiknya kita pergi pesiar dulu ke puncak Bun thian hong di gunung Lo san dan lembah kematian di gunung Cong lam !" "Sebabnya pergi ke puncak Bun thian hong, aku sudah dengar keterangan dari enci Hwa Jie Swat, maka aku tahu kau tentunya hendak menolong Cin locianpwe dan putri kesunyian itu ! Tetapi aku tidak tahu ada perlu apa kau harus pergi ke lembah kematian ?"

"Aku telah membuat hilang senjata penting perguruanku ialah Bom Kian thian pek lek di dalam lembah itu !"

Setelah itu ia lalu menceritakan bagaimana dalam perjalanannya ke lembah kematian dengan Cin Lok Pho. Didana telah bertempur dengan Khong khing Hwee shio, Pao It Hui dan Gulong Goan sehingga akhirnya telah kehilangan senjata peledaknya yang sangat ampuh.

Tiong sun Hui kheng sedih mendengarkan penuturan itu, lalu berkata sambil menggelengkan kepala :

"Menurut pendapatku, tiga manusia buas dari Cong lam itu setelah mendapatkan senjata terampuh yang dapat menggemparkan rimba persilatan, pasti sudah pindah dari situ. Hanya karena lembah kematian itu tidak jauh dari sini, tidak ada halangan kita pergi menengok sebentar kesana !"

Mendengar jawaban itu, Hee Thian Siang lalu bersama- sama dengan Tiong sun Hui Kheng dengan membawa Siaopek dan Taywong, sekali lagi berkunjung ke lembah kematian yang terletak di gunung Cong lam.

Benar seperti apa yang diduga oleh Tiong sun Hui Kheng. Di dalam lembah kematian itu, selain tumpukan tulang-tulang sudah tidak dapat ditermukan jejak tiga orang buas itu.

Hee Thian Siang dalam keadaan masgul, terpaksa berjalan bersama-sama Tiong sun Hui Kheng menuju ke selatan, dari San see melalui Su coan dan masuk ke daerah In lam. Di luar dugaan mereka, sebelum keluar dari daerah pegunungan Cong lam, mendadak turun hujan lebat sekali.

Tiong sun Hui Kheng memilih sebuah goa yang agak bersih untuk meneduh, tetapi hujan turun deras sekali bahkan tidak berhenti-hentinya. Dan setelah hujan berhenti, di daerah itu terjadi banjir besar sehingga tidak bisa berjalan.

Hee Thian Siang yang merasa bingung berjalan menuju keluar mulut lembah. Dengan menunjuk air banjir yang menggulung-gulung turun dari gunng, berkata kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Enci Kheng, waktu pertama kali aku datang ke lembah kematian ini, setelah berjumpa dengan It-pun Sin-ceng juga pernah menemukan air banjir seperti ini. Keadaan banjir waktu itu lebih besar dari sekarang. Sebelum air menggenangi tempat-tempat dibawah kaki gunung, lebih dahulu tampak binatang yang banyak sekali jumlahnya pada lari serabutan. Siaopek dan Taywong juga kedua-duanya menunggang diatas kuda Ceng hong kie itu !"

Tetapi Tiong sun Hui Kheng saat itu agaknya tidak mendengar ucapan Hee Thian Siang. Matanya ditujukan ke seberang sana ditempat ditengah-tengah puncak gunung tinggi.

Hee Thian Siang terkejut menyaksikan sikap Tiong sun Hui Kheng, tanyanya heran :

"Enci Kheng, kau sedang perhatikan apa ?"

"Aku lihat disela-sela tengah-tengah puncak gunung itu, disebuah goa dekat pohon besar, seperti ada bayangan orang yang bergerak-gerak !" jawab Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa. "Apa yang harus dibuat heran ? Mungkin orang yang seperti kita juga yang sedang meneduh disana !" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa geli.

"Gerakan bayangan orang itu gesit sekali. Jelas ia memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Aku jadi curiga, apakah itu bukan tiga manusia buas yang pindah ke tempat itu ?" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil menggelengkan kepala.

Hee Thian Siang yang memang hendak mencari tiga manusia buas itu, maka mendengar perkataan itu, sepasang alisnya tampak berdiri. Katanya :

"Tidak perduli dia itu betul tiga manusia buas dari Cong lam atau bukan, kita boleh tunggu setelah air banjir ini surut dan pergi ke sana untuk menyaksikan sendiri !"

Air banjir dari gunung datangnya demikian hebat, tetapi surutnya juga cepat. Beberapa jam kemudian hujan lalu berhenti dan matahari mulai tampak dari balik awan.

Hee Thian Siang yang pikirannya lebih cerdas, lebih dulu melesat ke goa diseberangnya. Begitu tiba di mulut goa, tampak diluarnya, diatas sebuah batu hijau, diukir sebuah tulisan delapan huruf yang berbunyi sebagai berikut : Di dalam ada berjangkit semacam wabah yang sangat berbahaya. Harap jangan lancang masuk !"

Dengan peringatan itu saja, mana dapat menggertak Hee Thian Siang yang sangat berani ? Ia diam-diam mengerahkan ilmunya Kian-thian-kie-kang, perlahan-lahan menyusup masuk ke dalam.

Di dalam goa itu terdapat banyak lobang batu bagaikan kaca. Maka sesudah masuk ke bagian dalam, masih tampak sinar terang hingga membuat Hee Thian Siang dapat lihat diatas batu besar itu masih terdapat lagi delapan huruf yang berbunyi : "Pelancong yang bernyali besar. Harap berhenti sampai disini !"

Pada saat itu Tiong sun Hui Kheng bersama Siaopek dan Taywong juga sudah menyusul. Hee Thian Siang lalu menunjuk tulisan-tulisan diatas batu dan berkata sambil tersenyum :

"Apa yang enci lihat tadi tidak salah. Menurut tulisan-tulisan diatas batu ini, dapat diduga bahwa di dalam goa ini jelas ada yang tinggal. Sekarang aku akan lompat naik ke atas batu besar untuk melihat dibelakang batu itu bagaimana keadaannya !"

Tiong sun Hui Kheng mengerutkan alisnya. Selagi hendak membuka mulut, Hee Thian Siang sudah lompat ke atas sebuah batubesar.

Sebelum ia dapat melihat dengan tegas keadaan di belakang batu besar itu, hembusan angin yang dilancarkan oleh serangan tangan yang kuat sudah menyambut dirinya.

Hee Thian Siang dapat merasakan bahwa hembusan angin yang keluar dari serangan tangan itu juga lantaran ia belum mengetahui siapa orangnya yang melancarkan serangan itu. Ia tidakmau menyambut dengan kekerasan, maka ia pun melayang turun ke tanah lagi.

Baru saja ia melayang turun, beberpa lubang batu diatas goa telah hancur karena serangan tangan tadi.

Tiong sun Hui Kheng mengibaskan tangannya untuk membuat buyar runtuhan batu yang jatuh dari atas. Katanya sambil tertawa :

"Sahabat dari mana didalam sana ? Kami adalah orang pesiar, sedikitpun tidak mengandung maksud jahat. Mengapa sahabat menurunkan tangan demikian ganas ? Apakah tuan hendak menduduki goa ini sebagai pemiliknya ?"

Orang di dalam goa setelah mendengar ucapan Tiong sun Hui Kheng, lama tidak ada jawaban. Tetapi kemudian dengan tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi dengan suaranya yang nyaring.

Hee Thian Siang yang mendengar suara nyanyian itu lalu berkata sambil tertawa :

"Ini adalah syari Lie Tiang Kiat. Dijaman dulu penyair she Lie itu gemar minum arak. Orang yang menyanyikan syair itu mungkin adalah seorang penggemar minum arak !"

Tiong sun Hui Kheng sebaliknya dapat membedakan bahwa suara nyanyian itu ada mengandung arti orang pemabukan. Maka lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum, sedang orang dalam goa itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, kemudian menyanyikan lagu nyair itu lagi.

Kali ini, ia memuji arak yang sedang diminumnya.

Hee Thian Siang yang juga suka minum arak, tiba-tiba hidungnya dapat mengendus bau arak wngi, hingga ia juga ingin minum. Maka lalu berkata ke arah dalam sambil tertawa :

"Kau tuan rumah ini, percuma saja menyanyikan syair memuji arak. Kau pelit sekali, tidak mau membagi sedikit kepada tamu yang mengunjungi tempatmu."

Belum habis ucapannya, dari sela-sela batu dalam goa muncul kepala orang berewokan dan rambutnya awut-awutan. Tetapi sepasang matanya memancarkan sinar tajam. Orang itu lama memandang Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng, kemudian berkata sambil tertawa aneh :

"Benarkah kalian hendak minum arakku ?" "Kalau tuan rumah tidak keberatan, apa salahnya kita minum bersama-sama ?" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Orang aneh itu kembali berkata sambil tertawa gembira : "Bagus, bagus ! Kalian berdua bukan orang Kang-ouw

sembarangan ! Tunggulah sebentar diatas batu diluar goa ini. Aku akan sediakan cawan dan nampan dulu. Sebentar aku akan keluar untuk undang kalian minum bersama-sama.

Hee Thian Siang mengangguk sambil tersenyum. Lalu bersama Tiong sun Hui Kheng berjalan ke luar sambil berkata dengan girang :

"Enci Kheng, sungguh tidak disangka. Di tanah pegunungan seperti ini, masih ada arak wangi yang jarang terdapat di dunia ini yang dapat kita nikmati !"

"Sepasang mata tuan rumah tadi tampaknya bengis. Tapi bukanlah sinar mata orang jahat. Barangkali seorang pendekar gemar arak yang mengasingkan dirinya di tempat ini

!"

"Tidak perduli dia itu pendekar atau iblis. Kita minum dulu baru bicara lagi ! Bila dia seorang pendekar, sehabis miinum kita boleh ikat persahabatan. Bila iblis, setelah minum kita turun tangan dan membasminya !"

Baru saja Hee Thian Siang menutup mulut, dari belakang dirinya terdengar suara tertawa terbahak-bahak. Orang aneh dari dalam goa itu sudah berkata :

"Ucapan laote ini sungguh bagus. Tetapi sayangnya aku bukanlah pendekar juga bukan iblis. Panggil sajalah aku Ciauw San Gak, tamu pemabokan di gunung Cong lam !" Bersamaan dengan itu, tamu pemabokan dari Cong lam itu sudah menunjukkan dirinya.

Ia mengenakan jubah panjang warna hitam, tangan kirinya membawa sebuah nampan besar. Dalam nampan itu ada terpadat daging-daging rusa dan binatang lainnya yang sudah dikeringkan serta beberapa cawan arak, sedang ditangan kanannya membawa poci besar berisi arak wangi.

Oleh karena orang aneh itu sudah memperkenalkan namanya sendiri, maka Tiong sun Hui Kheng yang juga lantas memperkenalkan namanya dan nama Hee Thian Siang.

Dan kini dapat dilihat bahwa tamu dari gunung Cong lam itu usianya sedikitnya sudah enam puluhan ke atas. Seharusnya ia dan Hee Thian Siang menyebut diri orang angkatan muda, maka sambil duduk diatas batu besar itu, ia berkata sambil tersenyum :

"Ciauw locianpwe, perlu apa merendahkan diri ? Kau adalah seorang Kang-ouw yang memiliki kepandaian sangat tinggi yang sedang mengasingkan diri di tempat ini."

Tamu pemabokan dari gunung Cong lam ini menggelengkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Bukan ! Kalau pendekar sudah tentu bisa menolong orang dan kalau iblis sudah tentu bisa mencelakakan orang ! Aku Ciauw San Gak bukan saja tidak bisa menolong sesama manusia, juga tidak mau mencelakakan orang. Aku sama sekali tidak mempunyai kesukaan untuk mencampuri urusan dunia Kang-ouw, juga tidak ingin kecipratan darah orang- orang Kang-ouw. Kesukaan seperti inilah, berdiam di dalam gunung Cong lam yang sepi ini, membuat beberapa poci arak wangi, setiap hari aku mabok-mabok sendiri dan berkawan dengan air mancur serta batu-batu yang tidak bisa bergerak ini. Maka aku ini bukanlah iblis juga bukan pendekar !" Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lalu berkata sambil tertawa :

"Ciauw Locianpwe demikian gemar arak. Arak buatan locianpwe itu pasti merupakan arak yang luar biasa. "

Tamu pemabukan dari gunung Cong lam itu melihat Hee Thian Siang, matanya mengawasi poci araknya. Agaknya sudah mengiler. Lalu segera menuangkan secawan dan memberikan kepadanya seranya berkata sambil tersenyum :

"Hee laote, kau coba-coba bagaimana rasanya arak buatanku sendiri ini."

Hee Thian Siang kini telah mendapat kenyataan bahwa arak itu berwarna biru muda yang sangat bening sehingga sangat menyenangkan. Lalu dicicipinya sedikit. Ternyata harum sekali. Rasa arak itu benar-benar enak, merupakan arak yang jarang ia jumpai. Maka ia menunjukkan sikap terkejut dan berkata :

"Ciauw locianpwe, harumnya dan rasanya arak ini boleh dikata jarang ada di dalam dunia. Entah apa namanya."

Tamu pemabukan dari gunung Cong lam itu mengulurkan jari tangannya menunjuk goa, lalu berkata sambil tertawa bangga :

"Di dalam goa itu ada terdapat aliran air terjun dari gunung. Meskipun bukan air dari kayangan tetapi bagusnya air itu jauh lebih bagus lagi dari pada air terjun biasa. Dan benar saja rasanya hebat sekali. Tentang namanya, karena aku sangat malas, tidak kuberikan nama apa-apa. Sekarang bolehlah aku minta tolong Hee laote atau nona TIong sun yang tolong memikirkan suatu nama yang bagus bagi arak ini."

Hee Thian Siang lalu berkata sambil tertawa gembira : "Soal mencarikan nama buat arak ini, kurasa lebih tepat enci Tiong sun lah yang memberikan. Sebab enciku ini adalah seorang yang memiliki kecerdasan luar biasa."

Tamu pemabukan dari gunung Cong lam mendengar ucapan itu, lalu berkata kepada Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa :

"Hee laote terlalu tinggi menjunjung nona maka sekarang kuminta nona Tiong sun sajalah yang tolong carikan nama yang baik untuk arak ini !"

Tiong sun Hui Kheng juga lantas menghirup sedikit arak dari cawannya, kemudian berkata sambil tersenyum :

"Arak ini memang benar-benar sangat bagus. Warnanya jernih seperti getah batu kumala, harumnya seperti sari bunga- bungaan. Perlu apa dikasih nama rupa-rupa lagi ? Namakan saja sari kumala, bukankah lebih tepat ?"

Tamu pemabukan dari gunung Conglam tertawa besar dan berkata dengan pujiannya :

"Bagus, bagus ! Nama yang kau berikan itu, rasanya lebih indah dari araknya sendiri !"

Sehabis berkata demikian, dengan sangat girang, ia mengeringkan secawan araknya lalu menyambar sepotong daging rusa lalu dimakan dengan lahapnya.

Hee Thian Siang berkata sambil tertawa kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Enci Kheng, alam di daerah pegunungan sehabis turun hujan merupakan suatu pemandangan yang lain dari pada yang lain. Ditambah lagi tuan rumah yang gemar minum arak, apa lagi dengan araknya yang demikian harum " Tiong sun Hui Kheng yang berpikiran halus, diam-diam merasa heran apa sebab tamu pemabukan dari gunung Cong lam itu mengajak minum arak kepada tamunya diluar goa. Agaknya tidak suka ada orang masuk ke dalam goa. Sudah pasti ada sebab-sebab yang dirahasiakannya. Maka sehabis mendengar ucapan Hee Thian Siang, hatinya tergerak. Maka ia lalu menganjurkan kepada Hee Thian Siang supaya mengajak tuan rumah bersama-sama membuat tebakan yang berupa syair-syair pujangga ternama di jaman dahulu.

Tapi belum Hee Thian Siang menjawab, tamu pemabukan dari gunung Cong lam sudah menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa.

Demikianlah tiga orang itu lalu mulai melakukan tebakan- tebakan yang merupakan syair-syair dari pujangga kuno yang terkenal sambil minum arak bergiliran.

Selama tiga orang itu bersajak dengan meniru syair-syairan pujangga-pujangga jaman dahulu, Tiong sun Hui Kheng tiba- tiba menyebut nama kuil yang dinamakan Hian-tu-koan. Hee Thian Siang lantas mengingat kembali bagaimana nasib kuil Sam goan koan di gunung Bu tong yang sudah dimusnahkan oleh orang-orang Ceng thian pay. Maka saat itu ia menunjukkan sikap masgul dan tanpa disadarinya sudah menarik napas kesal.

Ketika Tiong sun Hui Kheng melihat perobahan itu, segera menanyakan sebabnya. Hee Thian Siang lalu menjawab :

"Aku tadi dengar enci Kheng ada menyebutkan nama kuil Hian tu koan dalam syairmu, lalu jadi teringat kepada kuil Sam goan koan. Maka aku juga merasakan sedih atas nasib Bu tong pay yang telah musnah. Hingga kini aku terkenang kepada ketua Bu tong pay yang belum diketahui dimana sekarang berada !" Tamu pemabukan dari gunung Cong lam ketika mendengar ucapan Hee Thian Siang, matanya mendadak terbelalak. Di wajahnya menunjukkan sikap aneh, tetapi secepat kilat sudah tenang kembali, agaknya hendak mengucapkan sesuatu tetapi kemudian dibatalkan.

Tiong sun Hui Kheng lalu berkata sambil tertawa :

"Ketua Bu tong pay Hong hoat Cinjin locianpwe sekarang ini masih belum diketahui dimana jejaknya. Tetapi sejak dahulu kala, kejahatan tidak mungkin menguasai kebenaran. Orang baik juga tidak mungkin bisa mengalami nasib buruk. Adik Siang tidak perlu khawatir, mari kita lanjutkan tebakan kita tadi !"

Hee Thian Siang menerima baik. Maka lalu melanjutkan tebakannya sambil minum-minum.

Tiong sun Hui Kheng yang mempunyai pikiran halus, ketika Hee Thian Siang mengucapkan perkataan yang mengenangkan diri Hong hoat Cinjin sudah melihat perobahan sikap si tamu pemabukan dari gunung Cong lam. Namun ia masih pura-pura tidak tahu dan masih melanjutkan menyanyikan sajak-sajaknya sambil minum-minum.

Untuk membuktikan perasaan curiganya, Tiong sun Hui Kheng sengaja berkata :

"Syair yang dibuat oleh Lauw Gie Sek ini sebenarnya bisa dipakai untuk menggugah kembali kenangan lama. Kalau diingat keadaan rimba persilatan dewasa ini, yang hampir dikuasai oleh orang-orang jahat tapi sebaliknya orang-orang dari golongan kebenaran banyak yang menyingkirkan diri. Maka syair yang dibuat oleh lauw Giok Sek itu rasanya sangatlah tepat buat menggambarkan keadaan dewasa ini ! Kita ambil saja sebagai contoh kejadian yang belum lama berselang telah terjadi atas diri partai Bu tong. Kalau ingin membangun kembali kuil Sam goan koan dan menghukum penjahatnya, sesungguhnya sulit sekali !"

Berkata sampai disini, ia sengaja berdiam diri sebentar. Matanya menatap wajah tamu pemabokan dari gunung Cong lam itu, kemudian bertanya kepada orang tersebut :

"Ciauw locianpwe, yang mengasingkan diri jauh dari tempat ramai, setiap hari harus berkawan dengan arak. Barangkali tidak tahu bahwa ketua partai baru Ceng thian pay, Khie Tay Cao dengan mengandalkan bantuan Pek-kut Sian-cu dan Pek- kut Ie-su, setelah mengadakan pertemuan pada pembukaan partai baru itu, dengan kecepatan bagaikan kilat dant idak disangka-sangka telah menyerang partai Bu tong, lalu membakar kuil Sam goan koan. Dan yang lebih celaka, It tim cu dah Hong khong totiang, mati dalam pertempuran saat itu. Sedang ketua Bu tong Hong hoat cinjin juga terluka parah yang kemudian ditolong oleh muridnya. Hingga sekaang belum diketahui dimana jejaknya."

Ciauw San Gak yang mendengar sampai disitu, tiba-tiba menyambungnya :

"Meskipun sudah banyak tahun aku belum keluar dari gunung Cong lam tetapi terhadap kejadian besar di dalam rimba persilatan ini, sedikit banyak pernah dapat dengar juga. Hee laote dan nona Tiong sun tadi berulang kali menyebut diri Hong hoat Cinjin. Apakah kalian berdua ada hubungan rapat dengan partai Bu tong pay ?"

"Ayah enci Kheng ini adalah Tiong sun Tayhiap yang namanya menggemparkan rimba persilatan dan suhuku adalah Pak bin Sin po dari gunung Pak bin. Dengan partai Bu tong, tidak mempunyai hubungan terlalu rapat tetapi dalam pertemuan wakt pembukaan partai Ceng thian pay, kami berdiri di dalam satu barisan. Dan atas kebaikan Hong hoat cinjin locianpwe, telah diturunkan pelajaran ilmu silat simpanan partai Bu tong ialah ilmu Pek pow sin koan." berkata Hee Thian Siang sambil tersenyum.

Ciauw San Gek yang mendengar ucapan itu nampaknya terkejut hingga hampir saja ia berseru kaget. Kemudian ia bertanya :

"Apakah Hong hoat Cinjin mau menurunkan ilmu simpanannya Pek pow sin koan kepada orang diluar partai Bu tong ?"

Hee Thian Siang tersenyum memandang Tiong sun Hui Kheng. Tiong sun Hui Kheng lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dan dengan menggunakan ilmu Pek pow sin koan melakukan gerakan menyerang ke arah sebuah batu besar yang menonjol di tempat sejarak kira-kira enak tujuh kaki darinya.

Ketika hembusan angin meluncur keluar, bukan saja batu besar itu telah terpukul menjadi hancur sedangkan dimana batu tadi terletak juga melesak ke dalam.

Hee Thian Siang lalu berkata sambil tertawa terbahak- bahak :

"Ciauw locianpwe coba lihat. Ilmu serangan yang digunakan oleh enci Tiong sun ku tadi apakah bukan ilmu simpanan partai Bu tong ?"

Tamu pemabukan dari gunung Cong lam tampak terkejut dan kegirangan, ia berkata sambil menatap Tiong sun Hui Kheng :

"Nona Tiong sun, kau dapat menggunakan ilmu Pek pow sin koan dari Bu tong sudah mencapai ke taraf demikian. Benar-benar membuat aku Ciauw San Gek sangat kagum. Mari, mari ! Kuhormati kau dengan secawan arak !" Sehabis berkata demikian, ia menuang arak dalam pocinya. Tetapi ternyata sudah kosong, maka lalu berkata sambil tertawa :

"Hee laote dan nona Tiong sun harap tunggu sebentar. Aku akan mengambil lagi arakku supaya kita bisa minum sampai puas !"

Hee Thian Siang setelah menampak tamu pemabukan itu memasuki goa, baru berkata kepada Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa :

"Enci Kheng, aku lihat Ciauw locianpwe ini agaknya ada mempunyai hubungan rapat dengan Bu tong pay. Setiap kali aku menyebut nama Hong hoat Cinjin, sikapnya lantas menunjukkan perobahan !"

"Ucapan ini memang benar. Aku juga mempunyai dugaan serupa denganmu. Maka aku baru memikirkan suatu cara dengan menggunakan alasan tebakan syairan pujangga- pujangga jaman dahulu supaya aku dapat meloloh ia banyak minum dan setelah ia bergembira, mudah sekali mengutarakan rahasia dalam hatinya. Siapa tahu locianpwe ini benar-benar sangat hati-hati sekali, ia tidak sampai tergelincir oleh akalku itu !" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil menganggukkan kepala.

"Kalau enci Kheng tidak dapat menyulitkan Ciauw locianpwe, sebaliknya hampir saja mempersulit diriku. Tebakan syairan tadi, sangat interesan sekali, selanjutnya tidak halangan bila "

Belum habis ucapannya, Ciauw San Gek sudah balik dari dalam goa. Kali ini membawa sepoci arak besar dan ditambah lagi dengan sebuah gelas dan sepasang sumpit serta hindangan-hidangan dari ayam dan lain-lainnya.

Hee Thian Siang lalu berkata sambil tertawa gembira : "Arak yang demikian bagus sudah susah untuk mendapatkan tandingan, kini masih merepotkan Ciauw locianpwe lagi yang harus mengeluarkan lagi beberapa cawan. Sesungguhnya membuat malu kami. Tapi gelas dan sumpit ini sudah tersedia untuk tiga orang, perlu apa. "

Tidak menunggu habis perkataan Hee Thian Siang, tamu pemabukan itu lantas berkata sambil tertawa :

"Aku pikir hendak menambah seorang kawan dan akan kuperkenalkan kepada Hee laote dan nona Tiong sun, seorang sahabat lamaku !"

Tiong sun Hui Kheng berseru kaget : "Ouw !" lalu berkata sambil tertawa :

"Kiranya Ciauw locianpwe bukan berdiam disini seorang diri

? Di dalam goa kalau begitu masih ada kawanmu ? Orang yang bisa berdiam bersama-sama dengan locianpwe yang mungkin satu aliran, mungkin juga merupakan seorang pendekar luar biasa. Harap silahkan keluar untuk bersama- sama minum !"

Tamu pemabukan dari Cong lam mendengar ucapan itu lalu berpaling dan berkata ke arah dalam goa :

"Sahabatku, mengapa masih belum keluar ? Nona Tiong sun dan Hee laote bukan orang luar. Mereka sudah lama ingin bertemu denganmu !"

Tiong sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang baru dikejutkan oleh ucapan Ciauw San Gek itu dari dalam goa mendadak berkelebat bayangan orang lalu muncul seorang imam.

Imam itu mengenakan jubah berwarna hijau, wajahnya kurus. Wajahnya menunjukkan sikap dari seorang yang sedang berada dalam kesedihan. Dia bukan lain dari pada ketua Bu tong Hong hoat Cinjin yang selama itu tidak diketahui orang dimana adanya !

Tiong sun Hui Kheng sudah lama tahu perobahan sikap Ciauw San Gek yang agak aneh. Tetapi ia tidak menduga sama sekali kalau Hong hoat Cinjin sudah lama berada di dalam goa itu. Maka lalu bersama-sama Hee Thian Siang bangkit dan kemudian menjura kepadanya. 

Hong hoat Cinjin buru-buru mengulurkan tangannya membimbing mereka bangun. Katanya sambil tersenyum getir

:

"Nona Tiong sun dan Hee laote, apakah ayahmu dan suhumu baik-baik saja ? Sejak kita berpisahan dari gunung Kie lian, aku sebenarnya sudah mendapat firasat bahwa rimba persilatan akan mengalami bencana. Tetapi sama sekali tidak kuduga bahwa Khie Tay Cao akan bertindak demikian ganas. "

Menampak sikap Hong hoat Cinjin yang masih diliputi oleh perasaan gemas, Tiong sun Hui Kheng lalu berkata sambil menghiburi :

"Ayah baik-baik saja tetapi Pak bin Sin po sudah ke sorga. Mengenai kejadian yang menimpa partai Bu tong pay, selambat-lambatnya nanti pada malaman Tiong ciu, pasti akan mendapat keadilan ! Locianpwe barangkali belum tahu, kecuali Bu tong pay yang mendapat nasib buruk, juga partai- partai Ngo bie dan Swat san mendapat serangan dari orang- orang jahat dari Ceng thian pay !"

"Sejak aku dapat melepaskan diri dari kepungan di puncak Thian tu hong, selain dari pada memberi perintah kepada sisa- sisa murid Bu tong pay supaya masing-masing pergi menyembunyikan diri dan melatih ilmu dengan tekun untuk membangun kembali partai Bu tong dan kuil Sam goan koan. Aku sendiri berdiam disini melatih ilmu Tay hoan cin lek. Sejak waktu itu belum pernah meninggalkan setapak pun juga dari gunung Cong lam. Bagaimana aku mengetahui kejadian di luar ? Semoga Ngo bie dan Swat san, keadaannya tidak demikian hebat seperti apa yang dialami oleh Bu tong pay !" berkata Hong hoat Cinjin sambil menghela napas.

"Ngo bie pay sudah tahu gelagat. Hian hian telah membawa seluruh anak buahnya pergi meninggalkan gunung Ngo bie. Maka ketika Pek-kut Sian-cu dan lain-lain tiba digunung Ngo bie hanya dapat membakar kuil Kun lun to ie yang sudah tidak ada orangnya !" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Hong hoat Cinjin yang mendengar ucapan itu, di wajahnya terlihat perasaan terhibur. Katanya :

"Kalau begitu masih baik. Dan bagaimana dengan Swat san ?"

"Serangan yang dilakukan oleh Khie Tay Cao kepada partai Swat san pay, kecuali ia sendiri bersama Pek-kut Ie-su yang memimpin anak buahnya, juga ditambah lagi dengan Goan thong Hweshio dan empat Thian cun daerah barat dan anak buah Pat-bao Yao-ong tiga persaudaraan Liong yang sangat buas sebagai pembantu. " berkata Hee Thian Siang.

Mendengar ucapan itu, Hong hoat Cinjin mengeluarkan seruan terkejut. Katanya :

"Di bawah tekanan demikian, kerugian yang dialami oleh Swat san pau barangkali lebih besar dari pada Bu tong pay ! Harap Hee laote lekas jelaskan bagaimana kesudahan dalam pertempuran di kutub Hian peng goan itu. Bagaimana keselamatan Peng-pek Sin-kun suami istri dan Leng Pek ciok. " Perhatian Hong hoat Cinjin terhadap Swat san pay nampaknya jelas dari ucapan dan sikapnya. Maka Hee Thian Siang buru-buru berkata :

"Locianpwe jangan kuatir. Kesudahan dalam pertempuran di dalam kutub Hian peng goan itu, barangkali jauh diluar dugaan Locianpwe ! Orang-orang Swat san pay sedikit pun tidak ada yang terganggu. Sebaliknya dengan kawanan penjahat Ceng thian pay melarikan diri dengan mendapat kerusakan besar. Seekor burung garuda peliharaan Pat-bo Yao-ong telah dibunuh mati oleh anak panah Peng-pek Sin- kun, sedangka tokoh Ceng thian pay terkuata Pek thao Losat Pao San kow terjatuh ke dalam tangan pihak kita, hal mana telah membuat iblis itu merasa malu dan akhirnya bunuh diri sendiri !"

Keterangan Hee Thian Siang itu benar-benar telah membuat Hong hoat Cinjin yang mendengarkan menjadi terkejut dan terheran-heran, hingga lama ia berdiri terpaku. Kemudian baru bertanya :

"Partai Swat san pay agaknya tidak mempunyai kekuatan tenaga demikian besar. Apakah disamping mereka ada mendapat bantuan orang kuat dari luar ?"

Hee Thian Siang tersenyum, lebih dulu ia minum seteguk araknya dalam cawan, kemudian menceritakan semua apa yang terjadi di gunung Swat san.

Hong hoat Cinjin mendengarkan dengan penuh perhatian. Kini baru mengerti sebab musaban kemenangan yang diperoleh oleh pihak Swat san pay. Maka ia lalu menuangkan arak secawan penuh, diberikan kepada Hee Thian Siang seraya berkata sambil tersenyum :

"Hee laote, dalam pertempuran di kutub Hian peng goan itu bukan saja sudah menjaga nama Swat san pay dan keselamatan orang-orangnya tetapi juga membikin kuncup nyali kawanan penjahat dari Ceng thian pay ! Dan tindakan selanjutnya yang mengirim surat tantangan ke puncak gunung Tay pek hong, ini membuat orang-orang dari golongan kebenaran mendapat kesempatan banyak untuk mengadakan persiapan. Ini benar-benar merupakan suatu jasa yang sangat besar. Maka minumlah secawan arak !"

Hee Thian Siang memberi hormat sambil mengucapkan terima kasih dan sehabis minum araknya, ia berkata lagi sambil tersenyum :

"Hari ini boanpwe bisa bertemu locianpwe disini, benar- benar merupakan suatu kejadian diluar dugaan. Waktu untuk melakukan pertandingan di malaman Tiong ciu itu masih jauh. Locianpwe masih punya banyak kesempatan buat memperdalam ilmu. Kalau waktunya tiba, semoga dapat digunakan untuk menuntut balas dan membangun kembali partai Bu tong !'

"Hee laote dan nona Tiong sun, semuanya bukan orang luar. Terus terang saja kukatakan setelah aku lolos dari bahaya, sudah menurunkan semua kepandaian ilmu simpanan partai Bu tong kepada murid-murid yang berbakat baik, memerintahkan mereka masing-masing mempelajari sejenis ilmu ampuh dan supaya dilatih dengan tekun. Kalau belum tiba saatnya yang dianggap perlu buat menuntut balas, tidak akan muncul lagi di rimba persilatan !" berkata Hong hoat Cinjin sambil tersenyum getir.

Berkata sampai disini, ia berdiam sejenak. Kemudian berkata lagi sambil menatap wajah Hee Thian Siang :

"Hee laote. Tadi aku mendengar keterangan dari sahabatku Ciauw San Gek, enci Tiong sun mu sudah berhasil melatih ilmu simpanan Pek pow sin koan yang kuturunkan kepadanya. Aku tidak tahu bagaimana kemajuan yang kau dapatkan selama ini." Muka Hee Thian Siang menjadi merah, katanya dengan kemalu-maluan :

"Boanpwe oleh karena pulang dahulu ke gunung Pak bin untuk menunggu suhu, sejak berpisah dengan enci Tiong sun hingga sekarang, belum lama ini baru bertemu kembali. Maka terhadap lima macam ilmu yang diturunkan oleh para locianpwe sekalian, selama ini belum mendapat kesempatan untuk mempelajarinya !"

"Kalau laote belum mempelajari ilmu Pek pow sin koan, sudahlah kau jangan pelajari itu. Aku akan menurunkan lagi padamu semacam ilmu terampuh dari golongan Bu tong !" berkata Hong hoat Cinjin.

Hee Thian Siang sangat girang dan cepat-cepat mengucapkan terima kasih. Lalu bertanya :

"Locianpwe hendak menurunkan pelajaran ilmu apa kepada boanpwe ? Apakah ilmu pedang dari golongan Bu tong ?"

Hong hoat Cinjin menggelengkan kepala, katanya sambil tertawa :

"Laote toh tidak menggunakan pedang. Untuk apa kuturunkan ilmu pedang padamu ? Lagi pula ilmu pedang aliran Bu tong, meskipun sudah demikian hebatnya tetapi jikalau hendak digunakan untuk menghadapi kawanan musuh yang sangat tangguh, rasanya masih kurang tepat !"

Hee Thian Siang semakin girang, tanyanya :

"Apakah locianpwe hendak menurunkan ilmu terampuh yang dapat digunakan untuk menghadapi musuh tangguh ?"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar pembicaraan mereka, agaknya dapat mengerti maksud Hong hoat Cinjin. Maka lalu berkata sambil tersenyum : "Adik Siang, benar-benar bagus sekali peruntunganmu. Hong hoat Cinjin locianpwe barangkali akan menurunkan kepadamu ilmunya yang terbaru Tay hoan cin lek yang selama ini dilatih di dalam goa ini !"

Hong hoat Cinjin menganggukkan kepala dan berkata : "Dugaan nona Tiong sun tidak salah. Tadi setelah aku

mendengar penuturan Hee laote, aku telah memperhitungkan

bahwa kekuatan tenaga dalamnya pada saat ini dapat digunakan untuk melatih ilmu terampuh yang lain disamping ilmu terampuh yang ia sudah miliki. Apalagi kali ini di puncak Tiauw in hong ia sudah makan setangkai getahnya pohon Leng cie. Apa yang ia dapatkan sebetlnya sudah cukup untuk mengimbangi tokoh-tokoh pandai dewasa ini. Satu-satunya hal yang masih dikhawatirkan ialah misalnya kalau menghadapi musuh terlalu tangguh ! Maka itu aku ingin menurunkan padanya ilmu Tay hoan cin lek. Setelah bisa mempelajarinya, boleh dilatih siang hari malam dengan tekun hingga pada malaman Tiong ciu tahun depan, pasti sudah mencapai hasil yang memuaskan !"

Hee Thian Siang girang sekali. Berulang-ulang ia mengucapkan terima kasihnya.

Sejak waktu itu pulalah ia lalu menerima pelajaran terbarunya dari Hong hoat Cinjin.

Tamu pemabukan dari gunung Cong lam yang selama itu diam saja mendengarkan pembicaraan mereka, melihat Hong hoat Cinjin habis menurunkan ilmunya kepada Hee Thian Siang lantas berkata sambil tertawa terbahak-bahak :

"Cinjin, ilmumu Cie yang sin kan pan Tay hoan cin lek yang kau pelajari dan latih siang hari malam dengan tekun, ternyata mendapat hasil demikian sempurna. Sekarang Cinjin pikir hendak bersama-sama Hee laote dan nona Tiong sun pergi ke tebing Hui mo di gunung Liok tiauw san untuk menonton keramaian ataukah masih hendak berdiam di sini, hendak menantikan datangnya pertandingan besar di puncak Tay pek hong tahun depan ?"

Hong hoat Cinjin berpikir, lalu menjawab sambil tertawa : "Untuk sementara waktu aku masih belum perlu unjuk diri.

Bagaimana pun juga ada lebih baik mengadakan persiapan. Hal ini ada faedahnya, tidak ada ruginya. Maka kupikir untuk berdiam disini dulu, bersamamu minum arakmu yang sangat harum ini !"

"Locianpwe untuk sementara waktu menyembunyikan diri di tempat ini juga baik. Supaya dalam pertandingan besar di tahun depan, kalau muncul dengan tiba-tiba dan dapat mencapai hasil yang bagus, pasti akan membuat kawanan penjahat terkejut bukan main !" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Sekarang aku pikir akan minta sedikit pertolongan kepada Hee laote !" berkata Hong hoat Cinjin.

"Kalau locianpwe ada perintah, katakan sajalah. Perlu apa menggunakan perkataan minta tolong segala." menjawab Hee Thian Siang sambil memberi hormat dan tertawa.

"Urusan yang pertama ialah kuminta tolong padamu, bila ditengah jalan kau berpapasan denga Khie Tay Cao. "

"Dalam hal ini locianpwe tidak perlu pesan. Bila boanpwe berpapasan dengan Khie Tay Cao sudah pasti akan berusaha membunuhnya supaya dapat menyingkirkan bencana besar bagi rimba persilatan !"

"Hee laote ternyata salah sangka ! Yang kuminta ialah supaya kau jangan membinasakan dirinya. Biarlah kau tinggalkan ia hidup hingga tahun depan dalam pertandingan besar itu, supaya aku dapat menuntut balas atas kematian suhengku dan It tim cu !" berkata Hong hoat Cinjin sambil menggoyangkan tangan.

"Apakah Hong khong Totiang dan It tim cu Totiang, semuaya terbinasa di tangan Khie Tay Cao ?" tanya Tiong sun Hui Kheng.

Hong hoat Cinjin menganggukkan kepala dan berkata : "Kedatangan kawanan penjahat Ceng thian pay itu begitu

tiba-tiba. Tahu-tahu sudah mendaki puncak Thian tu hong. Kami mendapat kabar, tapi waktu itu bencana hebat sudah berada di depan mata. Untuk menyimpan tenaga Bu tong pay, aku mengambil tindakan darurat, membubarkan anak murid Bu tong pay yang jumlahnya seribu lebih. Kuperintahkan mereka masing-masing sembunyikan diri dan menantikan kesempatan baik untuk menuntut balas dendam, hanya kutinggalkan It tim cu, Hong khong suheng, bersama aku sendiri. Bertiga untuk melawan musuh-musuh itu di dalam kuil Sam goan koan !"

"Tindakan locianpwe semacam ini benar-benar sangat bijaksana. Karena bisa memandang ke arah jauh sekali !" berkata Tiong sun Hui Kheng dengan pujiannya.

"Sewaktu kawanan Ceng thian payitu tiba, karena jumlah perbedaan orangnya terlalu besar, aku kena dilibat oleh Pek- kut Ie-su hingga tidak dapat memisahkan diri. Dengan demikian aku telah menyaksikan kematian mereka dengan mata kepalak sendiri. Im tim cu terkena senjata rahasia Kiu yo leng hwee dari Khie Tay Cao hingga tubuhnya musnah menjadi hangus, Hong khong suheng sewaktu bertempur sengit dengan Thian toan tojin juga diserang secara menggelap oleh senjata rahasia Thian kheng cek Khie Tay Cao !" berkata Hong hoat Cinjin sambil menghela napas.

Hee Thian Siang yang mendengarkan penuturan itu merasa gemas hingga giginya sampai bercerukan, katanya : "Khie Tay Cao benar-benar seorang berhati kejam dan ganas sekali perbuatannya. Sekarang ini meskipun ia masih bisa enak-enak dalam hidupnya, tetapi dalam pertemuan besar di puncak Tay pek hong tahun depan, ia pasti akan menebus semua dosanya itu dengan nyawanya sendiri ! Tentang pesan locianpwe yang pertama ini, Hee Thian Siang menurut. Dan locianpwe masih ada pesan apa lagi ?"

Dari dalam sakunya Hong hoat Cinjin lalu mengeluarkan sebilah pedang kecil yang terbuat dari pada emas. Pedang yang panjangnya hanya tiga dim itu diberikan kepada Hee Thian Siang. Lalu berkata sambil tersenyum :

"Urusan kedua ialah minta Hee laote dikemudian hari apabila berkelana di dunia Kang ouw, pedang kecil ini, kau sematkan di bajumu yang mudah terlihat orang !"

Hee Thian Siang menyambuti pedang kecil itu. Tampak perbuatannya sangat indah, di bagian belakang ada terdapat peniti kecil. Maka waktu itu lantas disematkan di depan dadanya, kemudian bertanya kepada Hong hoat Cinjin :

"Locianpwe, pedang kecil ini, bagaimana kegunaannya ?" "Pedang kecil ini, tidak dapat untuk memotong logam atau

batu. Juga tidak dapat untuk bertempur dengan musuh. Tetapi adalah sebuah benda kepercayaan yang dapat digunakan untuk menyampaikan kabar. Barang siapa yang membawa pedang kecil ini, ia adalah seorang yang berkedudukan sebagai ketua partai Bu tong pay !" menjawab Hong hoat Cinjin sambil tertawa.

Hee Thian Siang berseru kaget, lalu berkata dengan wajah kemerah-merahan :

"Kalau demikian halnya, dengan cara bagaimana Hee Thian Siang berani membawa-bawa pedang ini dibadan ?" Sehabis berkata demikian ia hendak membuka lagi pedang yang sudah disematkan di depan dadanya.

Hong hoat Cinjin menggoyangkan tangan mencegah perbuatan Hee Thian Siang. Katanya sambil tersenyum :

"Hee laote, kau jangan buka lagi. Aku lantaran untuk sementara tidak bisa unjuk diri, barulah kupikir untuk minta pertolonganmu menjadi waliku, diwaktu kau melakukan perjalanan di dunia kang ouw, apabila berpapasan dengan murid golongan Bu tong, kau boleh sampaika perintahku !"

Hee Thian Siang lalu bertanya :

"Untuk menyampaikan perintah apa ? Mareka melihat pedang kecil iitu, meskipun tahu boanpwe adalah utusan locianpwe, tetapi bagaimana boanpwe dapat mengenali mereka adalah murid-murid golongan Bu tong ?"

"Pertanyaanmu ini memang benar. Bagi anak murid golongan Bu tong, setelah melihat pedang ini pasti akan menunjukkan hormatnya sambil berdiri tegak dan mulutnya mengucapkan kata-kata dan mengandung rahasia. Maka asal kau berjumpa dengan orang yang berlaku demikian, kau lantas perintahkan mereka pada malaman Tiong ciu tahun depan sebelum matahari terbenam sudah harus berada di bawah kaki gunung Tay pek hong untuk menantikan perintah lebih jauh dan sedapat mungkin supaya disampaikan kepada anak murid yang lainnya !"

Hee Thian Siang setelah mendengar ucapan itu, baru berani menyanggupi dan kata-kata rahasia itu telah diingatnya baik-baik.

Tamu pemabukan dari gunugn Cong lam tertawa terbahak- bahak, kemudian berkata : "Utusan Hee laote ini boleh juga, boleh jadi ketua Bu tong pay untuk sementara !"

Empat orang itu setelah makan minum lagi sambil mengobrol. Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng lantas bangkit guna mohon minta diri. Hong hoat Cinjin dan Ciauw San Gek juga tidak menahan. Begitulah satu sama lain lalu saling berpisahan.

Hee Thian Siang yang melakukan perjalanan itu, sambil buat memain pedang emas kecil yang berada di dadanya, berkata kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Enci Kheng, dengan tindakan kita kali ini yang pergi mencari tahu keadaan dalam goa kuno itu, bukan saja dapat mencicipi arak harum buatan Ciauw San Gek tetapi juga sudah ketemu dengan Hong hoat Cinjin. "

Tidak menunggu habis ucapan Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng sudah berkata :

"Adik Siang, pertemuan secara kebetulan ini tidaklah mengherankan. Sebaliknya adalah ilmu Tay hoan cin lek yang diturunkan kepadamu oleh Hoan hong Cinjian sangat penting sekali artinya. Kau harus mempelajarinya dan melatih dengan tekun, jangan sampai lalai !"

"Ilmy Tay hoan cin lek ini benar-benar luar biasa mujijatnya. Setelah berhasil mempelajari ilmu itu, jikalau kita bertemu dengan musuh tangguh dan umpama kata harus mengadu kekuatan tenaga, diman sewaktu kedua pihak sudah kehabisan tenaga, asal mendapat sedikit kesempatan, dapat digunakan untuk memperbaiki pernapasan dan menambah kekuatan tenaga ! Perjanjianku dengan Pek-kut Ie-su untuk mengadakan pertandingan tiga jutus masih ada satu kali belum dilaksanakan. Di dalam pertemuan nanti, rasanya dapat kurobah sejurus pukulan itu menjadi 100 jurus. Aku pasti akan membuat iblis itu akan mati kecapean !" "Adik Siang, kau janganlah cuma pikirkan baiknya saja. Di bawah tangan Pek-kut Ie-su kau pikir hendak mendapat kemenangan tiga jurus. Apa kau kira itu mudah ?"

"Tidak susah, tidak susah ! Aku akan menggunakan semua ilmuku yang kudapat dari Duta Bunga Mawar locianpwe dan Thian Ie taysu locianpwe. Dengan dikombinasikan dengan pelajaranku yang terbaru ini, tidak sulitlah rasanya untuk mendapatkan kesempatan waktu tiga jurus untuk memperbaiki pernapasanku !"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar pemuda itu berkata demikian, juga hanya tersenyum-senyum simpul tanpa mengatakan apa-apa lagi. Selanjutnya dua orang itu dengan membawa Siaopek dan Taywong, bersama-sama melakukan perjalanan menuju ke propinsi In lam.

Sementara itu Hee Thian Siang yang masih memikirkan keselamatan diri Cin Lok Pho dan Liok Giok Jie bermaksud hendak melakukan penyelidikan lagi ke istana kesepian. Ditambah lagi karena masih ada cukup waktu dengan perjanjiannya akan mengadakan pertandingan di gunung Liok tiauw san. Maka setelah tiba di propinsi In lam, ia tidak langsung menuju ke gunung Liok tiauw san tetapi lebih dahulu pergi ke gunung Lo san yang letaknya di sebelah barat propinsi itu.

Tiba di bawah puncak Bun thian hong, Tiong sun Hui Kheng yang mendengar penuturan Hee Thian Siang dalam pengalamannya berkunjung ke tempat itu di waktu yang lalu, setelah memikir sebentar lalu berkata sambil tersenyum :

"Adik Siang, tadi kau berkata cin Lok Pho Locianpwe telah hilang secara misteri di puncak Bun thian hong ini. Apa itu benar ?"

"Puncak Bun thian hong ini benar-benar seperti daerah setan. Tempat ini mengandung banyak misteri. Sekarang enci Kheng pikir bagaimana ? Apakah kita terus mendaki ke puncak Bun thian hong ataukan memasuki dulu lembah May yu kok ?"

"Dari penuturanmu tadi, setelah kupikirkan kukira May yu Kie-su itu pasti adalah seorang anggota terpenting dari istana kesepian. Jadi sebaiknya kita masuk saja ke lembah May yu kok lebih dahulu untuk menjumpai May yu Kiesu itu !"

Sambil mengajak Tiong sun Hui Kheng berjalan maju ke mulut lembah May yu kok, Hee Thian Siang berkata :

"Dugaan enci Kheng ini barangkali tidak salah. Hanya ditinjau dari serangan Kiang sie Ngo tok jiauw yang sangat aneh dan ganas itu, kita dapat menduga pasti bahwa dia tentu bukanlah seorang sembarangan !"

"Ilmu Kiang sie Ngo tok jiauw itu adalah ilmu Bo Cu Keng dahulu yang membuat ia mendapat nama. Apakah May yu Kiesu itu penjelmaan dari Bo Cu Keng ?"

"Dalam pembicaraan May yu Kiesu itu agaknya masih tidak pandang mata kepada Bo Cu Keng. Menurut keterangannya, ilmunya Kiang sie Cit hao ciu adalah lebih hebat dari ilmu yang dilatih oleh Bo Cu Keng !"

"Hei ! Nama Kian sie Cit hao chiu ini tetapi darimana asal usulnya. Sekarang aku tidak ingat lagi."

Pada saat itu mereka sudah mendekati lembah May yu kok. Tiba-tiba tampak seorang imam berjubah hijau yang berusia kira-kira empat puluh tahun berjalan keluar dari dalam lembah.

Hee Thian Siang bertanya padanya sambil tersenyum : "Totiang ini di dalam lembah May yu kok tadi, apakah

pernah melihat May yu Kiesu ?" Baru saja imam itu menganggukkan kepala dan hendak menjawab, tiba-tiba tampak pedang kecil emas yang disematkan di depan dada Hee Thian Siang. Wajahnya agak berubah, buru-buru berdiri tegak dan mengatakan kata-kata kode rahasia dari golongan Bu tong.

Hee Thian Siang juga merasa terkejut. Katanya sambil tersenyum :

"Apakah totiang murid golongan Bu tong ? Bolehkah aku numpang bertanya, bagaimana nama sebutanmu yang mulia

?"

Imam itu menjawab dengan sikap tetap menghormat : "Teecu Liao hoan. Tuan ada membawa peang emas

pemimpin Bu tong. Teecu tidak beani menanyakan nama !"

"Liao hoan totiang tidak perlu dmeikian kukuh dengan peraturan. Aku hanya sekedar menjalankan tugas yang diberikan oleh pemimpinmu Hong hoat Cinjin untuk membawa pedang ini, supaya menyampaikan perintahnya !'

Laio hoan Tojin yang mendengar ucapan itu dengan sikapnya yang masih sangat hormat, menjawab dengan meluruskan kedua tangannya :

"Tuan ada membawa pedang emas. Ini seperti juga wakil pemimpin yang datang sendiri. Tidak perduli ada perintah apa, Liao hoan bersedia melakukan !"

"Hong hoat Cinjin minta aku menyampaikan kepada semua murid-murid partai Bu tong, masing-masing supaya melatih ilmunya dengan tekun. Pada malaman Tiong ciu tahun depan sebelum matahari silam harus sudah berkumpul di bawah puncak Tay pek hong di gunung Cong lam san untuk mendengar perintah-perintahnya lebih jauh guna membasmi musuh dan menuntut balas dendam serta memulihkan nama baik Bu tong pay !"

Liao hoan Tojin menunjukkan sikap sangat girang, kembali menjawab sambil memberi hormat :

"Teecu menurut perintah pemimpin !"

Hee Thian Siang berkata lagi dengan sikap sungguh- sungguh :

"Murid-murid Bu tong, semua sedang melatih ilmunya sambil sembunyikan diri. Untuk mencari mereka sesungguhnya tidak mudah. Harap kau berusaha menyampaikan perintah ini kepada mereka !'

"Teecu menurut !" menjawab Liao hoan Tojin sambil menganggukkan kepala.

Hee Thian Siang yang sifatnya bebas ternyata tidak biasa dengan segala peraturan. Sesungguhnya agak sedikit kikuk untuk menghadapi sikap demikian hormat dari Liao hoan Tojin. Maka lalu membuka pedang emas yang disematkan di depan dadanya, lalu berkata lagi sambil tertawa keras :

"Aku sebagai wakil pimpinan Bu tong untuk menyampaikan perintah, kini telah selesai. Dan sekarang kita sebagai kawan dalam rimba persilatan, untuk berbicara dengan Totiang. Harap totiang jangan pegang aturan lagi !"

Liao hoan Tojin setelah melihat Hee Thian Siang menyimpan pedang emasnya dan berkata demikian, maka lalu menganggukkan kepala dan bertanya sambil tersenyum :

"Pinto belum tahu bagaimana Siao siecu biasa disebut dan siapa nona ini ?" "Aku Hee Thian Siang, murid golongan Pak bin dan ini adalah enci Tiong sun Kui Kheng, puteri Tiong sun tayhiap yang namanya sangat terkenal di kolong langit ini !"

"Ouw ! Siao siecu ini kiranya adalah Hee Siao hiap yang pada pertemuan berdirinya partai baru Ceng thian pay telah menunjukkan ketangkasanmu sehingga menggetarkan kawanan penjahat ? Dan nona Tiong sun inilah puteri dari Tiong sun tayhiap ? Kalau begitu pinto berlaku kurang sopan !"

"Liao hoan Totiang, justru lantaran kau terlalu menghormat, maka adik Siang mu ini tidak sanggup menerima. Barulah ia menyimpan tanda kepercayaan pedang emasnya itu supaya bisa bicara dengan bebas. Harap kau jangan terlalu merendahkan diri lagi !" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa.

Liao hoan Tojin menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Numpang tanya kepada Siaohiap, dimana pemimpin kami sekarang ini ?"

"Pertanyaan totiang ini, maaf, Hee Thian Siang tidak dapat menjawab. Sebab menurut Hong hoat Cinjin, sekarang ini belum waktunya untuk diberitahukan kepada siapa pun dimana tempat tinggalnya !"

Liao hoan tojin juga maklum bahwa Hong hoat Cinjin erat sekali hubungannya dengan mati hidupnya partai Bu tong pay di kemudian hari, terutama karena orang-orang jahat partai Ceng thian pay kini sedang merajalela. Dalam keadaan sangat berbahaya seperti itu, seharusnya dirahasiakan tempat tinggalnya. Maka lalu berkata sambil tersenyum :

"Kalau Ciangbunjin sudah menganggap demikian, pinto juga tidak perlu bertanya lagi. Tadi Hee Siaohiap tanya apa pinto pernah melihat May yu Kiesu, bukan ? Apa Siaohiap kenal dengan dua manusia aneh itu ?"

"Pada beberapa bulan yang lalu, di dalam lembah May yu kok ini, aku pernah bertemu muka sekali dengan May yu Kiesu

!" berkata Hee Thian Siang.

"Kedatangan Hee Siaohiap ini agak terlambat. Sebab istana kesepian sudah ditutup. Siapa pun juga tidak dapat menemukan jalanan yang menuju keluar masuk istana itu. May yu Kiesu yang berdiam di May yu kok ini juga sudah berlalu. Entah kemana perginya !" menjawab Liao hoan Tojin sambil tertawa.

Hee Thian Siang terheran-heran mendengar keterangan itu, tanyanya :

"Tahukah totiang apa sebabnya istana kesepian itu ditutup

?"

"Urusan ini panjang kalau mau diceritakan. Hee Siaohiap dan nona Tiong sun duduklah dulu diatas batu ini kalau mau mendengar perlahan-lahan penuturan pinto."

Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng menurut. Lantas duduk diatas sebuah batu besar. Liao hoan Tojin lalu berkata sambil tertawa :

"Sewaktu kawanan penjahat Ceng thian pay menyerang partai Bu tong, pinto sedang melakukan perjalanan di daerah In lam barat ini. Setelah mendengar berita buruk itu, merasa sangat berduka hingga pikiran pinto merasa kecewa dan hampir putus asa. Secara kebetulan telah berpapasan dengan seorang imam yang menamakan diri imam kesepian yang menasehatkan supaya pinto masuk ke istana kesepian untuk menghilangkan kerisauan hati pinto !" "Di dalam istana kesepian itu, benar-benar terdapa berbagai macam orang. Sewaktu di lembah kematian gunung Cong lam, aku pernah bertemu dengan seorag padri yang menamakan diri padri kesepian dan Totiang juga menemukan seorang imam yang menamakan diri imam kesepian ?" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Tiong sun Hui Kheng lantas ikut berkata sambil tertawa : "Totiang waktu itu sedang berduka lantaran urusan Bu tong

pay, barangkali setelah mendengar nasehatnya lalu datang ke lembah May yu kok ini. Betul tidak ?"

Liao hoan Tojin menganggukkan kepala, jawabnya : "Dugaan nona Tiong sun tidak salah. Setelah pinto

mendengar nasehat imam kesepian itu, lalu datang ke lembah May yu kok ini untuk minta bertemu dengan May yu Kiesu !"

"Oleh karena Totiang mendengar nasehat imam kesepian, seharusnya dengan lancar dapat masuk ke istana kesepian. Aku hendak tanya lagi, istana yang misterius itu didalamnya sebetulnya. ?" bertanya Hee Thian Siang.