Makam Bunga Mawar Jilid 28

 
Jilid 28

"Kau tak usah kuatir. Pertanyaanku sangatlah sederhana, tetapi memerlukan jawaban yang sejujur-jujurnya, tidak boleh. "

"Kau jangan lantaran mendapat sedikit kemenangan saja lantas mau pandang ringan semua orang ! Aku masih belum mau bertindak demikian, untuk membohongi orang-orang seperti kau !"

Hee Thian Siang mengambil kembali jaring wasiatnya yang diletakkan diatas batu, setelah itu ia berkata sambil tertawa :

"Memang baik sekali kalau kau tidak mau bohong. Apa yang hendak kutanyakan ialah siapa puteri kesepian yang berada di dalam istana kesepian ?"

May-yu Kie-su mengerutkan sepasang alisnya, dan diam saja.

Hee Thian Siang tidak senang menampak May-yu Kie-su tidak menjawab, katanya :

"Kau jangan lupa bahwa ini adalah soal pertaruhan !" Mendengar disebutnya pertaruhan, May-yu Kie-su terpaksa menjawab sambil mengerutkan alisnya :

"Puteri kesepian di dalam istana kesepian itu adalah Liok Giok Jie !"

Hee Thian Siang yang sudah menduga atas diri Liok Giok Jie, maka ketika mendengar jawaban itu, sedikitpun tidak merasa heran atau terkejut, hanya saling pandang dengan Cin Lok Pho sejenak, kemudian bertanya pula kepada May-yu Kie- su :

"Apakah istana kesepian itu letaknya diatas puncak gunung Bun thian hong ?"

May-yu Kie-su menatap wajah Hee Thian Siang sejenak, mulutnya lantas mengeluarkan suara tertawa aneh yang kedengarannya sangat menyeramkan.

"Mengapa kau tertawakan aku demikian rupa ?" bertanya Hee Thian Siang.

"Aku sudah memenuhi janjiku menjawab satu pertanyaanmu, tapi kau masih hendak tanya ini itu lagi. Bukankah ini sangat keterlaluan ?" berkata May-yu Kie-su.

Hee Thian Siang yang bertanya secara sembarangan, tidak diduganya mendapat sindiran keras dari May-yu Kie-su, maka sambil tertawa kemaluan ia lantas berkata :

"Bertanya atau tidak itu adalah urusanku, kau mau menjawab atau tidak, itu terserah padamu. Mengapa kau harus bersikap demikian ? Aku tak percaya hanya dengan petunjukmu kami baru bisa menemukan istana kesepian !"

"Orang yang ada jodoh, masuk ke istana kesepian seolah- olah masuk ke pulau nirwana. Tetapi bagi orang yang tidak ada jodoh, masuk ke dalam istana kesepian seperti juga masuk ke dalam neraka ! Karena aku masih mengingat perkenalan kita tadi, maka sekarang cuma bisa memberi nasehat kepada kalian, janganlah kalian coba-coba hendak menempuh bahaya !" berkata May-yu Kie-su sambil tertawa dingin.

"Hee Thian Siang adalah seorang yang suka membongkar segala macam rahasia, segala tempat yang mengandung rahasia selalu Hee Thian Siang ingin tahu. Sekalipun tenmpat itu sudah pasti adalah suatu tempat semacam neraka, juga masih ingin Hee Thian Siang menyaksikan dengan mata kepala sendiri !" kata Hee Thian Siang sambil tertawa.

May-yu Kie-su merangkapkan kedua tangannya, sedang mulutnya kemak-kemik memuji nama Budha, kemudian berkata :

"Kalau kalian memang demikian bandel, maka lebih dulu aku memujikan dan membacakan doa-doa untuk mengiringi kehendak kalian !'

Sehabis berkata demikian, ia lalu memutar tubuhnya dan lambat-lambat berjalan menuju ke bagian dalam di lembah May-yu kok.

Oleh karena Hee Thian Siang mempunyai rencana lain, maka tidak menanya lebih jauh kepada May-yu Kie-su, juga bersama-sama Cin Lok pho berjalan keluar dari lembah itu.

Selama berjalan, Cin Lok Pho berkata kepada Hee Thian Siang :

"Tidak kusangka May-yu Kie-su ternyata memiliki ilmu silat demikian tinggi. Terutama ilmu silatnya yang dinamakan Kiang-sie Cit-khao-ciau boleh dibilang termasuk salah satu ilmu silat yang luar biasa anehnya. Kalau begitu, kekuatan tenaga bao-ie. " Hee Thian Siang tahu bagaimana lapangnya sekalipun hati Cin Lok Pho, sebagai seorang tingkatan tua dari salah satu partai besar sampai kalah dalam 15 jurus oleh lawannya, dalam hatinya sedikit banyak tentu merasa tidak enak juga. Maka ia buru-buru menjawab sambil tertawa.

"Locianpwe, janganlah kau mengatakan perkataan itu sekali lagi. Hee Thian Siang cuma bisanya mengandalkan ilmu silat warisan Duta Bunga Mawar dan Thian-ie Siangjin, tidak bisa disebut telah mendapat kemenangan. Bila May-yu Kie-su tadi meloloskan diri dari empat jurus serangan Hee Thian Siang, Hee Thian Siang juga tidak berdaya menghadapinya. Kalau sudah begitu, kekalahan Hee Thian Siang barangkali akan lebih hebat dari pada apa yang locianpwe alami barusan. "

"Perkembangan di rimba persilatan, memang selamanya harus mengikuti jaman. Jago-jago sudah seharusnya pula terdiri dari angkatan muda. Kukira laote adalah satu-satunya orang luar biasa dalam rimba persilatan dewasa ini. Janganlah kau terlalu merendahkan diri, juga jangan sekali-kali menganggap bahwa lantara aku kalah lantas dalam hati merasa tidak enak ! Kepandaian ilmu silat lawanku itu memang kuakui terlalu tinggi. Biarpun kalah juga aku sudah rela. Aku hanya curiga, May-yu Kie-su memiliki kepandaian ilmu silat demikian tinggi, entah dari golongan mana dia sebenarnya."

"Kecurigaan locianpwe ini memang sudah pada tempatnya. May-yu Kie-su memiliki kepandaian demikian hebat, kalau dipikir benar-benar sudah tentu tidak mungkin dia rela berada dibawah kekuasaan orang lain. Kalau begitu, apa sebabnya dia mau mendengar perintah Liok Giok Jie ?"

Cin Lok Pho berpikir dulu, barulah berkata sambil menggelengkan kepala : "Akut idak percaya nona Liok Giok Jie yang baru saja masuk kedalam istana kesepian sudah lantas menajdi puteri dan dapat memberikan perintah kepada orang-orang yang berada di dalam istana itu !"

Hee Thian Siang tiba-tiba tertawa kemudian berkata :

"Cin locianpwe, apakah locianpwe berani menerjang pintu neraka ?"

"Aku yang sudah berusia demikian lanjut, memang sudah tidak jauh lagi dalam perjalanan menuju akherat. Perlu apa kau harus tanya berani atau tidak ? Apa Hee laote ada maksud hendak menengok ke istana kesepian ?"

"Jikalau kau tidak berusaha untuk mengunjungi sendiri pintu neraka yang dikatakan May-yu Kie-su tadi, apakah doanya tadi bukan berarti cuma-cuma saja ?"

Cin Lok Pho mendongakkan kepala mengawasi puncak gunung Bun-thian-hong yang tinggi menjulang ke langit, kemudian berkata sambil mengerutkan alisnya :

"Untuk menengok istana kesepian, tidak menjadi soal. Cuma apa benar, istana itu berada di puncak Ban-thian-hong

?"

"Burung kecil yang diperintahkan memberi kabar dengan surat pergi datang melalui puncak gunung itu. Jadi, istana kesepian itu tidak bisa berada di lain tempat !"

"Kali ini kita mendaki ke puncak gunung harus berangkat sekarang juga atau perlu harus tunggu sampai nanti malam ?"

"Buat menyerepi dahulu, dengan sendirinya lebih baik kita berangkat malam. Tapi puncak itu tinggi sekali, lebih baik kita tunggu sampai matahari mulai silam lalu berangkat. Tiba di puncak gunung mungkin pada waktu tengah malam." Cin Lok Pho menganggukan kepala sebagai tanda mufakat. Dua orang itu lalu mencari tempat di dekat-dekat situ untuk beristirahat sambil menantikan silamnya matahari, barulah melakukan perjalanan ke puncak gunung.

Setelah malam tiba, mereka mulai melakukan perjalanan. Tiba di puncak gunung, benar saja cuaca sudah gelap sekali. Keadaan malam itu sepi sunyi. Ditempat mereka berpijak, kecuali batu-batu besar yang aneh bentuknya, tak terdapat sebuah bangunan pun, begitu juga dengan letaknya istana kesepian itu entah ada dimana mereka juga tidak tahu.

Hee Thian Siang mengerutkan alisnya, berkata sambil tertawa getir :

"Orang-orang ini, benar-benar berlaku sangat misteri seperti kelakuan hantu saja."

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara yang aneh, lalu disusul dengan munculnya bayangan hitam bagaikan roda kereta dengan tiba-tiba menyambar atas kepala Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang mengira ada orang membokong, apalagi waktu itu sedang dalam keadaan mendongkol, maka diam- diam sudah mengerahkan ilmu jari tangannya Kian-thian-cie, ditujukan kepada bayangan hitam yang berada ditengah udara itu.

Bayangan hitam itu menimbulkan suara tajam yang melayang turun ke dalam lembah, kiranya itulah seekor kalong yang besar.

Hee Thian Siang jadi geli sendiri, sementara bayangan kedua sudah muncul lagi dihadapannya yang menyambar dengan cepat. Cin Lok Pho yang pengalamannya jauh lebih banyak dari pada Hee Thian Siang, buru-buru berkata memperingati padanya :

"Hee laote awas ! Kali ini yang datang bukan binatang lagi

!"

Hee Thian Siang yang agak lalai, sedikitpun tidak melakukan penjagaan. Setelah diperingatkan oleh Cin Lok Pho, bayangan hitam itu sudah berada dekat sekali di batang lehernya !

Kalau orang lain, tentu saja tidak mungkin keburu mengelakkan sambaran bayangan hitam yang demikian hebat. Tetapi Hee Thian Siang bukanlah sembarang orang, ia memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh hebat sekali, apalagi gerak badannya sangat lincah, maka dengan menggerakkan bagian badannya ke belakang, lagi pula dengan satu gerakan membalikkan diri ke samping sudah berhasil mengelak ke kanan beberapa kaki.

Hee Thian Siang berhasil mengelakkan ancaman itu dan menjadi sangat marah. Tetapi baru saja hendak bertindak, kembali tampak empat lima buah bayangan hitam yang terbang melayang ke arahnya !

Hee Thian Siang kini tunjukkan serangannya kepada bayangan hitam yang menyerang dirinya. Mula-mula serangan itu ditujukan degnan sepenuh tenaga.

Serangan dengan melalui tengah udara itu membuat bayangan hitam itu mengeluarkan suara mengaung dan terbang miring ke sebelah kiri tetapi seolah-olah suatu barang hidup yang bisa bergerak dengan lincah, begitu miring dan mengeluarkan suara menganung lalu melayang balik lagi menyambar bahu kiri Hee Thian Siang dan kemudian melayang turun. Empat buah bayangan hitam lainnya juga terbang dari empat penjuru hingga kini Hee Thian Siang turun ditengah- tengah.

Cin Lok Pho yang menghadapi situasi demikian, tidak bisa turun campur tangan. Menampak Hee Thian Siang sudah terkurung oleh bayangan hitam itu, dianggapnya ringan atau parah Hee Thian Siang pasti akan terluka, maka ia hanya dapat menghela napas saja.

Di luar dugaannya, sesosok bayangan orang bagaikan naga sakti melesat ke tengah udara, kemudian disusul oleh suara beradunya barang hitam dan percikan sinar api.

Kiranya Hee Thian Siang dalam keadaan sangat berbahaya tadi sudah menggunakan ilmu silat warisan Duta Bunga Mawar, dengan satu gerakan yang indah sekali, sudah terbang satu tombak lebih.

Begitu ia melesat tinggi, empat bayangan hitam yang mengurung dirinya tadi lalu saling bentrok di tengah udara hingga mengeluarkan suara beradunya barang logam, ada yang jatuh dan menyambar ke atas batu-batu aneh hingga menimbulkan percikan api.

Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho semula karena udara gelap sehingga tidak dapat melihat apa-apa, kini baru tahu bahwa bayangan hitam yang datang dari berbagai penjuru itu ternyata adalah senjata rahasia yang berupa piring terbang yang tajam sekali !

Suara beradunya barang logam tadi mulai sirna, begitu pula percikan api juga sudah tidak nampak lagi hingga keadaan dan suasana dipuncak gunung Bun-thian-hong kini kembali menjadi sepi sunyi.

Kini Hee Thian Siang tidak berani berlaku gegabah lagi. Ia telah mengerahkan ilmunya Kian-thian-ceng-kie untuk melindungi sekujur tubuhnya, sementara ia berkata dengan suara lantang :

"Kawanan manusia tidak tahu malu, mengapa tidak berani unjuk muka ? Cara kalian yang menyerang dengan membokong itu, apakah masih terhitung orang gagah ?"

Ia berdiri diatas puncak gunung dan diwaktu malam sepi sunyi seperti itu, suaranya yang lantang tadi hanya mendapatkan jawaban dari suaranya sendiri yang menggema di tengah udara.

Hee Thian Siang semakin mendongkol, ditujukan pandangan matanya ke tempat disekitar dirinya.

Puncak gunung Bun-thian-hong itu meskipun tidak seberapa luas tetapi kecuali batu-batu aneh yang terjal, hampir tidak terdapat sebatang pohon pun juga.

Hee Thian Siang dalam hati menghitung-hitung sendiri beberapa piring terbang yang menyerang dirinya tadi, seharusnya dilancarkan dari sebuah tempat yang tinggi yang letaknya kira-kira dua tombak disebelah kirinya.

Maka ia lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya ke tangan kanan sambil menarik Cin Lok Pho, ia berjalan lambat- lambat menuju ke kiri. Ia sengaja berbicara dengan suara keras kepada Cin Lok Pho :

"Cin locianpwe, May-yu Kie-su tadi telah menggambarkan puncak gunung Bun-thian-hong ini sebagai neraka. Ini rasanya memang tidak salah. Sekarang ini kita seolah-olah berhadapan degnan beribu-ribu hantu yang tidak berani bertemu muka dengan manusia !"

Sementara itu, orangnya sudah berjalan terpisah dengan sebuah batu besar yang diduga dibelakangnya ada bersembunyi orang. Hee Thian Siang dengan bergerak secepat kilat, sudah berada disebelah kanan batu besar itu.

Benar saja dibelakang batu besar itu ada sembunyi sesosok bayangan putih.

Dugaan Hee Thian Siang ternyata tidak keliru. Maka ia lalu membentak sambil tertawa besar :

"Sahabat, walaupu kau ini benar-benar adalah hantu atau setan, sekarang ini barangkali sudah tidak bisa pulang ke akherat lagi !"

Kata-katanya itu disusul dengan serangannya yang merupakan kekuatan tenaga Kian-thian-ceng-kie yang ditujukan ke bayangan putih yang sembunyi dibelakang batu besar tadi.

Bayangan orang yang berada di belakang batu besar ternyata tidak takut oleh serangan hebat Hee Thian Siang tadi, ia sedikitpun tidak melakukan sesuatu gerakan pun.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, ia diam-diam juga heran dan mengerti pula ada apa-apanya yang aneh.

Benar saja, dimana serangannya tadi sampai, bayangan putih itu berterbangan ke empat penjuru dan dibelakang batu besar tadi ternyata tidak nampak bayangan orang berbaju putih, hanya tulang-tulang kerangka manusia yang sudah bertahun-tahun.

Apa yang mengherankan ialah tulang-tulang itu setelah diserang dan buyar, telinganya lalu mendengar suara cit cit seperti suara setan yang kabur disekitarnya, kemudian dari sebelah utara dan selatan tampak dua bayangan putih yang berlari bagaikan manusia, tetapi bukan manusia. Dua sosok bayangan putih itu setelah muncul ke depan Hee Thian Siang lalu bergerak-gerak dan menari-nari tidak berhentinya sambil mengeluarkan suara aneh terhadap Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho, membuat berdiri bulu roma mereka.

Hee Thian Siang pernah ada sama-sama dalam satu peti mati dengan bangkai manusia. Tetapi waktu itu ia dalam keadaan tidak ingat diri, jadi sama sekali tidak tahu. Tetapi kini dalam keadaan sadar, ia menyaksikan pemandangan aneh demikian rupa, sekalipun dia seorang pemberani, sedikit banyak ada juga rasa takutnya.

Cin Lok Pho sebagai seorang Kang-ouw ulung yang banyak pengalaman, ia sedikitpun tidak merasa gentar. Ia pasang mata benar-benar memperhatikan bentuk dua buah tengkorak tadi, lalu berkata dengan suara perlahan kepada Hee Thian Siang :

"Hee laote, ini adalah permainan orang-orang Kang-ouw yang menggunakan cuaca gelap di puncak gunung ini, menggunakan tengkorak-tengkorak manusia yang diberikan sedikit pakaian hendak mempermainkan kita. Jadi bukanlah setan atau hantu benar-benar."

"Hemmm ! Kalau demikian halnya, asal kita berhasil menyambar salah satu diantaranya, agaknya dapat membuka rahasia ini !" berkata Hee Thian Siang.

"Kita satu orang menyambar satu. Aku hendak menangkap yang disebelah utara dan kau boleh tangkap yang sebelah selatan. Tetapi kau harus hati-hati jangan sampai membunuhnya, supaya kita dapat menangkap hidup untuk minta keterangannya !"

Sehabis berkata demikian, secepat kilat sudah bergerak untuk menyerbu kepada tengkorak yang berada disebelah utara. Hee Thian Siang juga bertindak seperti apa yang diusulkan oleh Cin Lok Pho, tetapi begitu ada didekatnya, ternyata sudah terjadi hal-hal diluar dugaannya.

Kiranya baru sajaia bergerak, suara setan seperti menangis tadi lantas berhenti, tetapi tulang-tulang tengkorak itu masih tetap menari-nari tidak ada berhentinya.

Hee Thian Siang yang kini sudah berada sangat dekat sekali, dapat melihat denan nyata, bukanlah seperti apa yang diduga dengan Cin Lok Pho yang dikatakan adalah orang Kang-ouw yang memakai pakaian spesial mirip dengan tengkorak manusia. Ternyata benar-benar adalah tulang- tulang tengkorak manusia yang dagingnya sudah kering berdiri di atas tanah, sedang kaki dan tangannya bergoyang- goyang tidak berhentinya.

Keadaan demikian kembali menimbulkan keresahan Hee Thian Siang. Ia lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya untuk mendorong perlahan-lana kepada tengkorak itu.

Tengkorak tadi jatuh terlentang di tanah, bahkan hancur berantakan dan tidak bisa bergerak lagi.

Menghadapi kejadian yang aneh itu, Hee Thian Siang terpaksa hendak minta keterangan kepada Cin Lok Pho, maka lalu berseru :

"Cin locianpwe !"

Berulang-ulang ia memanggil, tetapi tidak mendapat jawaban dari Cin Lok Pho.

Hee Thian Siang terkejut, lalu memutar tubuh. Ternyata disitu sudah kosong melompong, tidak terdapat bayangan Cin Lok Pho ! Meskipun ia tadi sedang menghadapi kejadian yang luar biasa, tetapi dengan daya pendengarannya yang tajam, ia belum pernah mendengar suara apa-apa. Bagaimana Cin Lok Pho bisa menghilang dengan mendadak ?

Hee Thian Siang sejak terjun ke dunia Kang-ouw, meskipun sudah banyak mengalami gelombang besar dan bahaya maut berkali-kali, tetapi belum pernah menjumpai kejadian aneh seperti apa yang dialaminya hari ini.

Dalam keadaan terkejut dan terheran-heran, sebagai tindakan pertama sudah tentu ia lantas menyergap ke tempat dimana ada muncul tengkorak manusia tadi.

Tiba ditempat itu, ia memeriksa dengan seksama. Kecuali batu-batu yang aneh-aneh bentuknya, disitu ternyata tidak terdapat apa-apa lagi, tengkorak yagn tadi bergerak-gerak juga sudah lenyap sekalian.

Hee Thian Siang tidak mau mengerti. Tentu ia tak mau membiarkan Cin Lok Pho hilang tanpa bekas begitu saja, maka ia lalu bergerak ke atas puncak gunung Bun-thian-hong untuk menyelidiki seorang diri.

Tetapi usahanya itu ternyata sia-sia belaka, ia tidak dapat menemukan sedikit tanda apa pun juga disana.

Berbagai-bagai pertanyaan timbul dalam otaknya. Benarkah yang muncul tadi itu setan atau hantu ? Ataukah. "

Hati Hee Thian Siang sangat risau, tetapi juga sangat mendongkol.

Jikalau Cin Lok Pho terbinasa ditangan Pek-kut Ie-su dahulu didalam pertempuran di gunung Kie lian, bukan suatu hal yang menyedihkan hatinya. Bahkan sebaliknya Cin Lok Pho akan mendapat nama baik di dunia Kang-ouw. Akan tetapi sekarang dengan lenyapnya dia ini, bagaimana ia harus menjelaskan kapada ketua Lo bu pay Peng-sim Sunnie dan Ca Bu Khao ?

Hee Thian Siang berdiri bingung seorang diri, benar-benar tak habis pikir atas kejadian yang aneh itu. Ia ingin sekali mencari tahu siapa kiranya yang menculik Cin Lok Pho yang hendak digempurnya mati-matian. Tetapi, di atas puncak gunung Ban-thian-hong itu sedikitpun tidak terdapat bayangan orang, apa yang ada hanya batu-batu aneh yang berdiri berserakan di tanah.

Justru dalam keadaan sunyi sepi seperti itu, tiba-tiba terdengar suara setan dah hantu yang terdengar di empat penjuru.

Sementara Hee Thian Siang terbangun, diam-diam mengerahkan ilmunya Kian-thian-cie sambil menggertak gigi, ia pasang mata untuk menantikan perubahan selanjutnya.

Akan tetapi suara-suara hantu itu hanya terdengar suaranya saja, tidak tampak wajahnya bahkan suara menangis itu semakin lama semakin memiriskan hati.

Hee Thian Sian waktu itu benar-benar bingung memikirkan semua kejadian itu, hatinya juga resah sekali. Ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telingan, berkata ke arah puncak gunung :

"Kalian main gila di dalam gelap, tidak berani unjuk muka terang-terangan. Benar-benar merupakan orang-orang yang tidak berguna !"

Usahanya itu ternyata berhasil, sebab diantara tumpukan batu-batu aneh itu, setitik demi setitik dan perlahan-lahan muncul percikan api berwarna putih kebiru-biruan. Begitu muncul percikan api itu, keadaan di puncak gunung Bun-thian-hong nampak semakin menyeramkan.

Hee Thian Siang berpikir keras sambil mengerutkan alisnya tetapi tidak menemukan tempat sembunyinya orang-orang diatas puncak gunung itu, terpaksa ia mengerahkan kekuatan tenaganya lagi dan berkata dengan suara nyaring :

"Hee Thian Siang berani menerjang pintu neraka, berani menyerbu istana di akherat, bagaimana dapat digertak oleh permainan yang tidak ada artinya ini ? Jikalau kalian masih mau mengaku orang-orang yang memiliki jiwa jantan, lekaslah unjuk diri kita melakukan pertandingan secara jantan !"

Setelah berkata demikian, tampak api-api yang berkeliaran itu ternyata perlahan-lahan berkumpul menjadi satu.

Hee Thian Siang pasti akan ada perobahan lain, maka ia menarik napas dalam guna menenangkan pikirannya sambul menantikan perkembangan selanjutnya.

Sungguh aneh, api-api yang bertebaran ditengah udara itu setelah berkumpul menjadi satu ternyata kemudian berubah menjadi 16 huruf yang memancarkan sinar yang berkilauan !

Huruf-huruf itu berbunyi sebagai berikut :

"Istana kesepian sudah menerima Cin Lok Pho, pintu neraka tidak terima Hee Thian Siang !"

Huruf-huruf itu berkelap-kelip tidak berhentinya seperti mengejek kepada Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang dengan murka melesat ke arah huruf yang terbuat dari percikan api itu dan melancarkan serangan tangan kosong. Kira sessat sinar api itu lalu pada, suasana kembali sepi sunyi hingga puncak gunung seperti kota mati keadaannya tetapi jauh disebelah timur tampak sinar merah agak remang- remang.

Hee Thian Siang berdiri seperti patung, terus juga sinar matahari pagi itu menyinari puncak gunung. Barulah dapat ia menarik napas lega.

Sebabnya ia menarik napas lega ialah dari kata-kata yang ditujukan oleh huruf bersinar tadi yang mengatakan bahwa "Istana kesepian sudah menerima Cin Lok Pho, pintu neraka tidak terima Hee Thian Siang", ia jadi mengetahui bahwa Cin Lok Pho kini dalam keadaan selamat hanya kini sudah ada di dalam istana kesepian.

Kapan sebabnya ia menggertak gigi ialah karena mengetahui bahwa Liok Giok Jie benar-benar telah menjadi puteri istana kesepian. Mengapa dia itu bukan saja tidak mau menjumpai dirinya bahkan menggunakan rupa-rupa cara untuk menolak dirinya ?

Tak lama kemudian, sudah mulai terang tanah. Hee Thian Siang masih penasaran, kembali melakukan penyelidikan dengan seksama diatas puncak gunung itu.

Tetapi ia masih tetap tidak menemukan tanda apa pun yang lebih aneh.

Apa yang dinamakan istana kesepian itu seolah-olah berada diantara ada dan tiada.

Semua kejadian tadi malam yang tidak habis dipikir itu, kalau diingat-ingat kembali seolah-olah orang baru bangun mimpi.

Dengan kecerdikan dan kecerdasan otak yang dimiliki oleh Hee Thian Siang, toh masih belum sanggup menjawab pertanyaan yang mengandung maksud misteri ini dengan sendirinya ia merasa malu, mendongkol dan bingung.

Suara siulan panjang keluar dari mulutnya, hati mendongkol, ia bergerak menuju ke puncak gunung Bun- thian-hong.

Setiap orang jikalau berada dalam keadaan sedih tentu akan teringat keapda orang yang terdekat. Hee Thian Siang demikian pula keadaannya waktu itu. Tetapi oleh karena orang yang terdekat itu justru ialah suhunya sendiri yang sudah wafat, lalu Liok Giok Jie yang berkelakuan aneh, begitu juga Hok Sin In yang belum diketahui nasibnya. Jadi tinggal lagi orang satu-satunya yang terdekat dalam hatinya dengan sendirinya hanya Tiong sun Hui Kheng. Hee Thian Siang yang teringat kepada diri Tiong sun Hui Kheng, maka perjalanannya itu dengan sendirinya ditunjukan ke selat Bu hiat di sungai Tiang-kang.

Sebab, sewaktu berpisahan dengan Thian sun Hui kheng, ia pernah mengadakan perjanjian. Nanti setelah satu sama lain muncul lagi di dunia Kang-ouw, lebih dahulu harus berkunjung ke puncak Tiauw In hong di gunung Bu san. Disana di tempat kediaman It pun Sin ceng bersama Bu-san Sian-cu Hwa Jie Swat. Di tempat itulah akan memberitahukan kepada It pun Sin ceng dan Hwa Jie Swat jejak selanjutnya, supaya mudah mencarinya.

Sewaktu baru turun dari gunung Pak hin, Hee Thian Siang sudah pikir akan pergi ke puncak gunung Tiauw in hong, tetapi karena mendadak mendapat kabar buruk yang menimpa partai Bu tong, maka ia buru-buru memberi kabar kepada partai Lo bu, terpaksa ia robah rencananya semula. Dan kini dengan hilangnya Cin Lok Pho di istana kesepian, ia merasa asing berada terus seorang diri karena mengingat pula bahwa waktu pertemuan di malam Cap go meh masih cukup, ditambah lagi perjalanan itu harus melalui ke...... she, maka dengan sendirinya Hee Thian Siang majukan pikirannya ke selat Bu hiat.

Meskipun ia telah melalui tempat-tempat bersejarah yang terkenal, tetapi ia tiada maksud untuk mengunjungi, langsung ia melakukan perjalanan ke timur dengan mengambil jalan air.

Dalam perjalanannya yang mengambil jalan air itu, diatas perahu ia teringat kepada tempat dimana Hok Sin In dulu pernah mendapat kecelakaan. Menurut cerita Oe-tie Khao, Hok Sin In lebih dulu yang terluka parah setelah merubuhkan lawannya yakni wanita kesepian, keduanya lantas terjatuh dari tebing tinggi. Keadaan seperti itu, walaupun tidak sampai mati, juga pasti sudah remuk tulang-tulangnya atau sudah kecebur ke dalam air sungai.........

Mengingat bahwa Hok Sin In sudah tidak mungkin masih hidup, bagaimana pula mendadak bisa si wanita berbaju hitam yang membawa-bawa pedang Liu-yap hian-sie kiam dan kemudian mati di dalam lembah kematian di gunung Cong-lam

?

Ini benar-benar merupakan satu kejadian sangat ajaib hingga membuat kusut pikiran Hee Thian Siang. Selain dari pada itu, Hee Thian Siang juga teringat kepada permohonannya dihadapan Makam Bunga Mawar di gunung Bin-san, setelah dari itu dalam perjalanannya ke dunia Kang- ouw, di tepi sungai ia telah berpapasan dengan pelayang berambut putih Lam Kiong Houw.

Lam Kiong Houw sebetulnya adalah seorang pendekar dari telaga Tong peng, kemudian merubah namanya menjadi Lam Kiong Houw dan mengasingkan diri di tepi daerah Su-coan, jelas karena kejadian-kejadian menyedihkan yang menimpanya. Waktu itu meski ditanya oleh Hee Thian Siang, tetapi Lam Kiong Houw selalu tidak mau memberi keterangan dan kini sewaktu Hee Thian Siang datang ke tempat itu, ia teringat pada diri orang tua itu, apakah ia masih hidup. Air sungai mengalir deras, tanpa disadari ia telah tiba dibawah puncak gunung Tiauw-in hong.

Hee Thian Siang teringat ketika pertama kali ia berjumpa dengan Bu-san Sian-cu Hwa Jie Swat sajak yang diyanyikan oleh Hwa Jie Swat waktu itu, justru sama dengan keadaan sendiri yang memikirkan diri Hok Sin In, maka ia juga segera menyanyikan sajak yang memilukan hati itu.

Baru saja habis menyanyi, sinar emas berkelebat di tengah udara kemudian menyusul seutas rantai emas yang ujungnya sangat tajam, menancap di atas perahunya.

Tukan perahu terkejut dan terheran-heran. Hee Thian Siang sudah dapat mengenali bahwa rantai emas berbentuk aneh ituadalah rantai Hwa Jie Swat. Maka sambil menggoyangkan tangan kepada tukang perahu, sebagai tanda supaya si tukang perahu jangan terkejut, ia sudah berkata dengan suara nyaring :

"Enci Hwa, Siaote Hee Thian Siang ada disini !"

Di belakang pohon cemara di tepi sungai mendadak muncul diri seseorang, dia bukan lain dari Bu-san Sian-cu Hwa Jie Swat dengan tangan membawa rantai emasnya yang luar biasa itu, telah menarik perahu yang ditumpangi oleh Hee Thian Siang, perlahan-lahan diseret ke tepi sungai.

Hee Thian Siang setelah berada di tepi sungai segera memberikan ongkos perjalanan kepada tukang perahu dan suruh tukang perahu itu pulang sendiri.

Hwa Jie Swat lalu berkata sambil tertawa :

"Tadi aku begitu mendengar suara nyanyian sajak itu, segera mengetahui bahwa nyanyian itu keluar dari mulutmu ! Tetapi kau datang dari gunugn Pek bin, seharusnya berlayar ke atas. Mengapa sekarang berbalik menuju ke bawah ?" Sebelum Hee Thian Siang menjawab, Hwa Jie Swat bertanya pula :

"Dan lagi, kau terhadap enci Tiong-sunmu sudah pasti selalu mengingatnya. Seharusnya kau menyanyikan sajak- sajak yang bergembira."

"Sajak siaote tadi adalah siaote tujukan kepada Hok Sin In yang mendapat nasib buruk, bukan kutujukan kepada enci Tiong-sun ! Enci Tiong-sunku seharusnya merupakan bulan purnama yang selalu bulat, semua halnya seperti bunga yang selalu mekar !" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa kecil.

Hwa Jie Swat sambil mengajak Hee Thian Siang berjalan bersama-sama menuju ke puncak Tiauw-in-hong, berkata :

"Enci Tiong-sunmu itu memang benar dapat disamakan sebagai rembulan purnama yang selalu bundar dan bunga yang selalu segar. Tetapi hal itu agaknya juga tidak mungkin seorang yang pendek umur, aku anggap ucapanmu tadi, harusnya kau rubah sedikit ! Diain waktu pada kapan waktunya untuk bertemu kembali, bukan merupakan suatu kejadian yang menggembirakanmu ?"

"Kalau kami dapat dipertemukan kembali, memang benar- benar merupakan suatu hal yang amat menggembirakan. Tetapi kemungkinan demikian terlalu sedikit sekali. Siaote denan Hok Sin In barangkali untuk selamanya sudah tiada harapan untuk saling berjumpa lagi !" berkata Hee Thian Siang sambil menghela napas.

Hwa Jie Swat juga tidak dapat menemukan kata yang tepat untuk menghibur hati Hee Thian Siang, terpaksa ia berusaha mengalihkan pembicaraannya ke soal lain.

Hingga hampir sampai dihadapan kediaman Hwa Jie Swat di Tiauw-in-hong, pikiran Hee Thian Siang baru perlahan- lahan mulai tenang, ia berkata sambil tersenyum : "Enci Hwa, apakah It-pun Sin-ceng baik-baik saja ?

Mengapa hari ini kau seorang diri pergi ke tepi sungai ?"

Belum habis ucapannya, Hwa Jie Swat sudah mengangkat tangannya sambil menunjukkan serenceng ikan hidup ditangannya seraya berkata :

"Terima kasih atas perhatianmu. It-pun Sin-ceng baik-baik saja dan sekarang sedang membaca kitab suci di dalam gubuknya. Oleh karena aku sudah habis duluan membaca kitab suci, maka seorang diri lalu pergi ke tepi sungai untuk menangkap beberapa ekor ikan sebagai teman dia minum arak nanti !"

"It-pun Sin-ceng adalah seorang beribadat tinggi dari golongan Budha dalam rimba persilatan dewasa ini. Mengapa masih tidak pantang makan barang berjiwa dan minum arak segala ?" bertanya Hee Thian Siang sambil tertawa.

Hwa Jie Swat tersenyum-senyum saja, masih belum menjawab. Dari Tiauw-in-kiong sudah terdengar suara It-pun Sin-ceng yang berkata dengan suara nyaring :

"Peribahasa ada kata : Arak dan daging berlalu melalui usus, Budha bersemayan didalam hati, Hee laote seorang yang demikian romantis, apakah kau masih mempunyai pikiran demikian kolot ? Mau memakan orang yang menjadi padri harus pantang makanan berjiwa dan arak ?"

Hee Thian Siang angkat muka, tampak It-pun Sin-ceng yang berwajah tampan dan bertubuh tegap sedang berjalan perlahan-lahan dari Tiauw-in-kiong.

Hee Thian Siang lalu memberi hormat dan berkata sambil tersenyum :

"Bukan maksudku hendak minta taysu pantang menyediakan ingin minta disediakan arak yang baik." It-pun Sin-ceng menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Adik baik selalu saja, biarlah enci Hwamu yang menyediakan sedikit arak baik itu, kemudian kita memilih suatu tempat yang baik untuk kita sama minum sepuas- puasnya !"

Setelah It-pun Sin-ceng berkata begitu, ia lalu pegi ke dalam dapur sambil membawa ikannya. Baru berjalan beberapa langkah, ia berpaling dan berkata sambil tertawa :

"Hee laote, kalian sebaiknya pergilah ke tebing di sebelah sana untuk minum arak. Aku sudah perintahkan pelayan untuk menyediakan meja kursi serta barang-barang lainnya sebab tempat itu tempat yang dahulu kau pilih buat kau terjun ke dalam sungai !"

Hee Thian Siang teringat kembali kepada kenangan di masa lampau, wajahnya menajdi merah, ia bertanya kepada It-pun Sin-ceng sambil tersenyum :

"Taysu, dimanakah sebetulnya tempat kediaman Tiong-sun locianpwe dan enci Tiong-sun ? dan akan memerlukan waktu berapa waktu lagi supaya kekuatan tenaga enci Tiong-sun menjadi sempurna ? Apakah taysu tahu ?"

It-pun Sin-ceng menggelengkan kepala, dan menjawab sambil tertawa "

"Jejak Tiong-sun locianpwe dan putrinya itu dirahasiakan. Ada orang kata berada digunung Heng-san di Pak-gak, tetapi juga ada orang kata di gunung Bin-san, tempat Makam Bunga Mawar dahulu. Tapi sebetulnya mana yang lebih tepat, aku sendiri juga tidak tahu !" "Dan menurut pandangan taysu, enci Tiong-sun kapan baru berhasil menyempurnakan pelajarannya dan akan datang ke Tiauw-in-hong ini ?"

"Enci Tiong-sunmu seorang yagn cerdas dan mudah mengerti, agaknya mempunyai bakat lebih baik dari kau sendiri. Aku duga akhir tahun ini barangkali bisa datang kemari untuk mencari kau !"

Hee Thian Siagn yang mendengar ucapan itu, dalam hati merasa sangat gembira. Katanya :

"Kalau bisa datang kesini sebelum akhir tahun itulah yang paling baik, jikalau tidak barangkali kita tidak keburu bertemu muka !"

It-pun Sin-ceng merasa heran, tanyanya :

"Laote, sebetulnya ada urusan penting apa ? Mengapa mengharapkan enci Tiong-sunmu datang kemari pada sebelum akhir tahun ?"

"Sebab aku pikir hendak mengajak enci Tiong-sun pergi bersama-sama mengunjungi pertemuan besar antara kawan- kawan setan dan hantu !"

Setelah itu Hee Thian Siang lalu menceritakan bagaimana manusia jahat dari Ceng-thian pay dan kawanan orang golongan sesat dari daerah luar perbatasan yang pada malaman cap go meh di tahun depan hendak mengadakan perjamuan di puncak Tay-pek-hong di gunung Cong-lam untuk merayakan hari ulang tahun Pat-bao Yao ong Hian Wan Liat dan Kim-hwa Seng-ho. Ia menceritakan dengan jelas semua apa yang diketahuinya kepada It-un Sin-ceng.

It-pun Sin-ceng yang mendengar penuturan itu tampak berpikir, kemudian berkata : "Orang-orang golongan sesat dari daerah dalam negeri dan daerah luar perbatasan hendak berkumpul di puncak Tay-pek- hong di gunung Cong-lam. Sudah tentu jumlahnya banyak sekali, kekuatan mereka juga tidak boleh dianggap remeh. Laote dan nona Tiong-sun Hui Kheng, meskipun merupakan tunas-tunas harapan bagi rimba persilatan dewasa ini, tetapi kalau hanya kalian berdua saja yang menghadapi mereka agakanya terlalu berbahaya !"

"Taysu barangkali belum tahu, bagi aku sendiri aku tidak boleh tidak harus pergi kesana, sekalipun aku tidak dapat menunggu kedatangan enci Tiong-sun, juga akan pergi seorang diri !" berkata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

"Hee laote ternyata masih suka sekali mengurusi urusan demikian !"

"Soalnya, bukanlah aku suka mengurusi urusan atau tidak, melainkan ada sebuah surat penting yang harus kusampaikan sendiri kepada Pat-bao yao ong Hian Wan Liat !"

Saat itu Hwa Jie Swat sudah keluar dari dapur, sambil duduk dikursinya ia bertanya :

"Hee laote, surat apakah yang kau katakan sangat penting tadi ?"

Hee Thian Sian lalu mengeluarkan surat tantangan itu dan diberikan kepada It-pun Sin-ceng dan Hwa Jie Swat, ia juga menceritakan semua apa yang terjadi atas partai bu-tong, partai Ngo-bie dan pertempuran hebat diatas gunung Tay- swat san serta hilangnya Cin Lok Pho di puncak gunung Bun- thian-hong secara sangat misterius.

It-pun Sin-ceng setelah membaca surat itu dan mendengar lagi keterangan yang keluar dari mulut Hee Thian Siang, lalu berkata sambil menatap wajah Hwa Jie Swat : "Kalau mendengar cerita Hee laote ini, ancaman bencana bagi rimba persilatan agaknya sudah tidak dapat dielakkan lagi, bahkan sudah berada di hadapan mata ! Kita tidak seharusnya selalu berada diluar garis dengan enak-enak saja, rasanya perlu juga menyumbangkan segala kepandaian yang ada pada kita demi untuk membela keadilan dan kebenaran dan guna menumpas pengaruh kejahatan !"

Hwa Jie Swat berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa :

"Laote, kau benar-benar seorang hantu yang selalu mencari bencana sja. Baru mendaki di puncak gunung Tiauw- in-hong sudah menggerakkan hatiku dan suamiku padri ini, selalu saja membicarakan urusan duniawi !"

"Enci Hwa dan It-pun taysu jikalau dapat ikut dalam barisan yang membela keadilan dan kebenaran untuk menumpas kejahatan, ini benar-benar suatu perbuatan yang membawa bahagia bagi rimba persilatan, jasa siaote kali ini rasanya bukan kecil !" berkata Hee Thian Siang sambil tersenyum.

"Sekarang masih ada waktu untuk menantikan kedatangan malam Cap go meh dimana orang dari golongan sesat itu hendak mengadakan pertemuan dan perjamuan untuk merayakan ulang tahun Pat-bao Yao ong dan selama waktu itu, adik Siang pikir bagaimana harus dilewatkan ?"

"Siaote tidak berani lagi menimbulkan urusan, sebab sejak siote turun dari gunung Pak bin, lebih dulu telah menemukan ancaman bahaya di lembah kematian di gunung Cong-lam. Disitu telah kehilangan senjata terampuh laote Kian-thian-pek- lek, kemudian dikutub Hian-penggoan, diatas gunung Tay swat san, kembali terluka ditangan Pek-kut Ie-su, maka itu Sioate merasa bahwa kepandaian yang siaote miliki masih belum cukup. Maka siaote pikir hendak berdiam dikediaman enci Hwa ini supaya dapat mempelajarinya secara baik-baik, disamping itu juga sambil menunggu kedatangan enci Tiong- sun !" berkata Hee Thian Siang sambil mengerutkan alisnya.

Hwa Jie Swat yang mendengar ucapan itu, berulang-ulang menganggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum :

"Dari keterangan adik Siang ini, aku sudah tahu bahwa baik dalam pelajaran ilmu silat maupun dalam hal bertambahnya pengalaman dunia Kang-ouw, kau sesungguhnya sudah mendapat kemajuan banyak ! Tempat ini tenang dan tentram, pemandangan alamnya juga indah sekali. Kami menerima kau dengan kedua tangan terbuka, hanya kau dapat memperdalam pelajaran ilmu silatmu secara baik-baik ?"

It-pun Sin-ceng juga turut berkata sambil tertawa :

"Hee laote, kalau kau akan mempelajari pelajaran ilmu silatmu ditempat ini, sebaliknya dengan aku. Aku hendak turun gunung untuk melakukan suatu urusan !"

"Taysu hendak mengurus soal apa ?" bertanya Hee Thian Siang.

"Laote adalah seorang pintar, coba sekarang kau duga, urusan apa kiranya yang paling penting pada dewasa ini ?" bertanya It-pun Sin-ceng sambil tersenyum.

Hee Thian Siang tampak berpikir dahulu, kemudian baru menjawab :

"Pengaruhnya orang-orang golongan sesat baik dari dalam negeri maupun dari luar perbatasan kini semakin merajalela. Maka jikalau mau berbicara soal yang penting pada dewasa ini, agaknya perlu berusaha memperkokoh barisan dan kekuatan tenaga dari orang-orang golongan kebenaran !"

It-pun Sin-ceng mengangguk-anggukkan kepala dan berkata sambil tertawa : "Dugaan laote sedikitpun tidak salah, akan tetapi untuk memperkokoh dan memperkuat tenaga, hal ini tidaklah mudah. Setidak-tidaknya kita harus mengurangi kekuatan tenaga yang sekarang ada !"

"Apakah taysu ingin mengundang keluar Hong-tim Ong- khek May Ceng Ong, Sian Swat Siangjin Long Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo lie Teng San Siang bertiga cianpwe dari tingkatan tua itu ?" bertanya Hee Thian Siang yang seolah- olah sudah sadar.

"Kalau ditilik dari sifat dan kepribadian Ong-tim Ong-khek May Ceng Ong, kini rimba persilatan sedang menghadapi bencana besar. Sebenarnya tidak mengijinkan mereka mengasingkan diri dan berpeluk tangan. Dan ditinjau dari urusan pribadi, anak perempuan mereka yaitu Liok Giok Jie, tindakannya sangat misteri, sedang Hok Sin In masih belum diketahui bagaimana nasibnya, juga tidak seharusnya mereka tinggal diam begitu saja !" berkata It-pun Sin-ceng sambil menganggukkan kepala dan tersenyum.

"Jikalau bisa bertemu muka dengan tiga locianpwe itu, aku juga dapat menggerakkan hati mereka, tetapi goa Bo cu sek itu sudah ditutup. Meskipun tempat itu tampaknya dekat, tetapi susah untuk mengadakan perhubungan......." berkata Hee Thian Siang sambil mengerutkan alisnya.

"Hee laote tidak perlu khawatir, aku sudah ada akal !" "Apakah taysu sudah memiliki kepandaian ilmu untuk

membuka batu gunung itu ?"

Hwa Jie Swat yang berdiri disamping lalu tertawa dan kemudian berkata :

"Meskipun ia tidak memiliki kepandaian ajaib yang dapat membuka batu dan membelah gunung tetapi ilmunya yang ampuh dari golongan kebenaran jauh lebih tinggi dari pada ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga, dengan ilmu itu dapat digunakan untuk berbicara dengan Ong-tim Ong-khek meskipun terpisah dengan lautan atau gunung !"

Hee Thian Siang yang mendengarkan itu sangat gembira, katanya :

"Taysu, kalau sudah memiliki ilmu semacam itu, itulah yang paling baik. Siaote justru merasa sedih karena tidak mendapat berita pasti dari Liok Giok Jie dan Hek Sin In untuk memberitahukan kepada tiga locianpwe itu !"

Hwa Jie Swat tiba-tiba berkata kepada It-pun Sin-ceng : "Kau hendak turun gunung, pergi ke Bo cu-sek, mengapa

tidak sekalian pergi ke lembah May-yu kok dan puncak

gunung Bu-thian-hong di gunung Lo san untuk mencari keterangan asal usul dari May-yu Kie-su ?"

Ke gunung Ko-le-kong-san terpisah tidak jauh dengan gunung Lo-san, sudah tentu aku akan sekalian pergi ke sana. Tetapi kuharap jangan sampai aku dijadikan padti kesunyian di dalam istana kesepian oleh May-yu Kie-su." berkata It-pun Sin-ceng sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

"Kalau kau menjadi padri kesepian, aku juga terpaksa akan pergi ke istana kesepian untuk menjadi padri disana !" berkata Hwa Jie Swat sambil tertawa.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan Hwa Jie Swat itu sangat lucu, juga tertawa geli.

It-pun Sin-ceng bangkit dan masuk kedalam kamarnya mengambil sebuah caran batu giok kecil lalu dituangkan arak dan diberikan kepada Hee Thian Siang seraya berkata : "Hee laote, aku sudah akan turun gunung. Untuk melakukan perjalanan jauh, sebelum aku berangkat, lebih dulu aku hendak menghormat padamu secawan arak bagus !"

Hee Thian Siang tidak mengerti mengapa It-pun Sin-ceng menukar cawan lain, maka diam-diam ia merasa heran.

It-pun Sin-ceng berkata sambil tertawa :

"Laote tidak perlu banyak curiga, setelah kau minum habis arak ini, baru aku nanti akan menerangkan sebab-sebabnya kepadamu !" berkata It-pun Sin-ceng sambil tertawa.

Hee Thian Siang menerima cawan arak itu, lalu diminumnya sampai kering. Tiba-tiba dapat dirasakan bahwa arak dalam cawan itu jauh lebih harum dari pada yang diminumnya tadi.

It-pun Sin-ceng tertawa terbahak-bahak dan berkata : "Apakah laote sudah lupa janjiku sewaktu dalam pertemuan

besar di upacara pembukaan partai baru Ceng thian pay dahulu ?"

Hee Thian Siang segera teringat bahwa dalam pertemuan di gunung Kie-lian itu dahulu, It-pun Sin-ceng pernah mengumumkan di hadapan orang banyak, ia hendak menghadiahkan sisa dua lembar daun pohon Leng-cie kepadanya dan juga kepada Tiong-sun Hui Kheng untuk menambah kekuatan tenaganya dan supaya digunakan untuk kepentingan dalam pembasmian kawanan orang jahat dan melindungi keadilan dan kebenaran.

Maka saat itu ia merasa sangat girang sekali, tanyanya : "Apakah di dalam arak tadi, sudah taysu campur dengan

getah dari pada daun pohon Leng-cie itu ?" "Dalam arak itu tercampur dengan getah selembar daun Leng cie yang sudah kuperas. Masih ada selembar daun lagi, kutinggalkan untuk keperluan dan untuk kuberikan kepada enci Tiong-sunmu nanti !" menjawab It-pun Sin-ceng sambil menganggukkan kepala.

Bukan kepalang girangnya Hee Thian Siang, baru saja hendak mengucapkan terima kasihnya, dengan tiba-tiba perutnya merasa panas, demikian pula sekujur tubuhnya.

It-pun Sin-ceng lalu berkata sambil tersenyum :

"Hee laote, kau sekarang boleh atur pernapasanmu dan tenangkan semua pikiranmu. Terhadap segala perobahan yang terjadi atas dirimu, kau boleh tidak perlu menghiraukan !"

Hee Thian Siang tahu bahwa It-pun Sin-ceng hendak menggunakan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah tidak ada taranya itu untuk mempercepat mengalirnya getah pohon leng-cie yang berada dalam tubuhnya. Maka ia menurut dan duduk tenang untuk melakukan semedi. 

Begitu kedua matanya dipejamkan, tangan It-pun Sin-ceng sudah ditempelkan diatas kepalanya. Dari telapakan tangannya itu mengalir hawa hangat yang menyusup terus melalui batok kepalanya dan menyusuri sekujur tubuhnya.

Sementara itu Hwa Jie Swat sendiri juga turut membantunya. Ia meletakkan tangan kanannya kepada belakang punggung Hee Thian Siang untuk membantu supaya obat mujarab itu lebih cepat bekerjanya.

Hee Thian Siang semula merasa sangat enak, tetapi hawa panas yang menyusupi sekujur tubuhnya itu semakin lama semakin kuat, sehingga ia merasa agak berat untuk menerimanya, semua tubuhnya dirasakan sakit sekali. Ia yang memang memiliki dasar baik sekali dan kekuatan tenaga dalamnya sendiri juga sudah cukup sempurna, apalagi lebih dahulu ia telah diberi tahu oleh It-pun Sin-ceng, sudah tentu tidak membawa kesulitan banyak baginya, juga rasa sakit itu, tidak dihiraukannya sama sekali.

Rasa sakit itu perlahan-lahan mulai berkurang, lalu timbulkkan perasaan segar dalam tubuhnya. Setelah tubuh Hee Thian Siang dirasakan nyaman, baginya sudah berada dalam keadaan menemukan dirinya sendiri.

Entah berapa lama sang waktu telah berlalu. Ketika Hee Thian Siang membuka matanya, tiba-tiba terdengar suara Hwa Jie Swat yang berkata padanya sambil tertawa :

"Adik Siang, kuhaturkan selamat kepadamu. Dengan demikian, kau nanti kalau menggunakan ilmumu Kian-thian-jie dan Thian-kian-ciat-khao dan lain-lainnya ilmu silatmu yang aneh-aneh dan hebat, kau pasti mendapat hasil jauh lebih banyak daripada yang sudah-sudah !"

Hee Thian Siang juga merasakan bahwa keadaannya waktu itu jauh berbeda dari pada dahulu. Sekujur badannya dirasakan kekar dan sehat sekali hingga ia tahu sudah mendapat tambahan kekuatan tenaga tidak sedikit. Maka buru-buru membuka lebar matanya dan berkata sambil tertawa :

"Taysu dan enci Hwa telah memberikan bantuan tenaga terlalu banyak bagi siaote.  "

Belum habis ucapannya, tiba-tiba diam sebab dihadapannya kini hanya tampak Hwa Jie Swat seorang. Tidak lagi tampak jejak It-pun Sin-ceng.

Hwa Jie Swat lalu berkata sambil tertawa : "Adik Siang terkejut ?" "Dimana It-pun Sin-ceng sekarang ?" bertanya Hee Thian Siang.

"Adik Siang, kau tadi telah melakukan semedi sehingga mendapat hasil seperti sekarang ini. Selama kau dalam keadaan semedi, tadi ia sudah turun gunung untuk melakukan perjalanannya yang jauh, sekarang barangkali sudah berada di tempat sejauh ribuan pal dari sini !"

Hee Thian Siang terkejut, tanyanya :

"Kurasa aku tadi seperti semedi dalam waktu tidak lama, apakah It-pun Sin-ceng memiliki ilmu sakti yang dapat memperciut bumi ? Jikalau tidak bagaimana ia bisa berjalan demikian pesat ?"

Hwa Jie Swat menggelengkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Dari mana ia memiliki ilmu untuk memperciut bumi ? Adik Siang, apakah kau kira bahwa kau tadi semedi hanya dalam waktu sangat pendek ? Sebetulnya kau tadi melakukan semedi entah sudah berapa jauh kau melakukan perjalanan dalam keadaan tidak ingat diri sendiri, oleh karenanya, barulah kau sekarang kelihatannya bersemangat dan kekuatan tenaga sudah bertambah banyak !"

Wajah Hee Thian Siang kemerah-merahan, tanyanya : "Menurut keterangan enci Hwa ini, apakah aku tadi

bersemedi lama sekali ?"

"Sejak adik Siang mulai bersemedi, matahari yang sekarang sudah mendoyong ke barat ini, sudah berputar tiga kali lamanya !" berkata Hwa Jie Swat sambil menunjuk matahari yang sudah mendoyong ke barat. Hee Thian Siang terkejut mendengar keterangan itu, sebab di dalam semedinya yang dikatakan hanya tidak berapa lama, ternyata sudah tiga tiga malam lamanya.

Mulai hari itu, Hee Thian Siang bertekun mempelajari ilmunya yang baru dan memperdalam ilmunya yang suda ada. Tak dirasa, sudah hampir setahun lamanya berada di gunung Bu san itu. Selama itu, bukan saja Tiong-sun Hui Kheng masih belum muncul, sedangkan It-pun Sin-ceng yang melakukan perjalanan jauh juga belum kembali.

Oleh karena sudah dekat waktunya dengan malam Cap go meh, maka Hee Thian Siang tidak menunggu lagi. Ia lalu minta diri keada Hwa Jie Swat sambil menyatakan terima kasihnya.

"Adik Siang boleh pergi. Jangan memikirkan selainnya. Jikalau enci Tiong-sunmu nanti datang, aku pasti suruh dia menyusul ke puncak Tay-pek-hong di gunung Cong-lam-san untuk menjumpai kau !" berkata Hwa Jie Swat sambil tertawa.

"It-pun taysu sudah lama pergi, hingga kini belum kembali. Bagaimana enci Swat tidak merasa khawatir ? Apakah kau juga tidak perlu melakukan perjalanan ke In-lam barat untuk mencari dia ?" bertanya Hee Thian Siang sambil tersenyum.

Hwa Jie Swat menggeleng-gelengkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Ia dalam hidupnya selalu berpedoman welas asih. Meskipun memiliki kepandaian ilmu silat tinggi sekali, belum pernah ia menyombongkan diri atau mempertontonkan kepandaiannya. Kedua tangannya belum pernah kecipratan sedikit pun darah manusia. Bagaimana aku merasa khawatir ? Tentang kepergiannya yang demikian lama belum kembali, kukira pasti ada urusan penting, di dunia Kang-ouw yang luas ini, kemana kau harus pergi buat mencari padanya ?" Mendengar jawaban demikian, Hee Thian Siang senyum- senyum saja. Lalu minta diri sambil memberi hormat.

Hampir setahun lamanya Hee Thian Siang berdiam di kediaman Hwa Jie Swat hingga hubungan mereka semakin erat. Namun hubungan itu seperti saudara sendiri. Maka sewaktu hendak pergi, Hwa Jie Swat juga seperti kehilangan. Ia mengantar sendiri dan berkata padanya sambil tersenyum :

"Adik Siang, setelah kau makan getah dari pohon Long-cie itu, kemudian kau bertekun mempelajari ilmu silatmu dan memperdalam kepandaianmu, bukan saja ilmu Kian-thian-cie perguruanmu sudah mencapai hasil baik sekali, sedangkan ilmu silatmu Bunga Mawar dan Phian-kim-ngo-sek-in-mao juga semakin hebat !"

"Semua ini adalah berkat jasa enci Swat yang mendorong aku untuk mempelajarinya." berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Meskipun kepandaia ilmu silatmu sudah mencapai banyak kemajuan, tetapi sekali-kali jangan menyombongkan diri terutama kau harus pantang kepada sikap sewenang-wenang kapada yang lemah selama perjalananmu ke puncak gunung Tay-pek-hong kali ini. "

"Aku mengerti maksud enci Swat, bukankah enci Swat suruh aku berlaku sabar sedapat mungkin dan berlaku hati- hati sekali terhadap Pat bao Yao ong dan Kim-hoa Seng-bo, tidak boleh bertindak gegabah !"

"Adik Siang, kau hanya menebak jitu separohnya saja !"

"Harap enci Swat jelaskan. Siaote bersedia mendengarkan

!"

"Pat bao Yao ong Hian Wan Liat dan Kim-hoa Seng-bo

suami isteri itu telah disanjung-sanjung dan dijunjung tinggi oleh kawanan golongan sesat dari dalam negeri dan luar negeri. Pasti memiliki kepandaian ilmu yang luar biasa. Dengan sendirinya adik Siang tidak boleh gegabah membuat onar kepada mereka. Sekalipun terhadap orang-orang bawahannya, juga tidak boleh kau abaikan begitu saja. Kau harus tahu bahwa binatang tawon peliharaannya itu, meskipun binatang itu amat kecil, tetapi bisanya cukup untuk membuat sulit manusia. "

"Peringatan enci Swat ini memang benar ! Waktu bagi orang-orang golongan kebenaran dan golongan sesat dalam rimba persilatan untuk mengadakan pertemuan yang memutuskan akan dilangsungkan pada musim Tiong-ciu dua tahun lagi. Dan sekarang dengan sendirinya aku tidak akan dengan secara gegabah mencari setori kepada siapapun juga. Karena dengan tindakan itu berarti memberi kesempatan kepada orang-orang golongan sesat dapat mengetahui kekuatan tenaga kita." berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

"Adik Siang, kau bisa mendengar kata-kataku ini paling baik. Aku bukan saja minta supaya kau berlaku sabar sedapat mungkin, dan jangan menonjolkan kepandaianmu, bahkan minta supaya kau mengerti filsafat hidup manusia !"

"Maksud enci Swat, apakah suruh aku terhadap orang- orang jahat itu masih harus jangan bertindak terlalu kejam supaya bisa memberi kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki kesalahannya ?"

"Ada suatu pepatah yang mengatakan begini : Jikalau ingin menanya apa yang telah dilakukan dalam hidupmu di masa yang lampau, tengoklah apa yang diterima olehnya sekarang. Jikalau ingin menanya apa yang akan terjadi di kemudian hari, lihatlah apa yang dilakukan olehnya dimasa hidup sekarang. Dunia Kang-ouw yang penuh bahaya dan kejahatan, memang merupakan suatu tempat yang setiap hari terdapat pembunuhan, juga merupakan arena yang penuh dosa tetapi juga merupakan tempat yang paling baik untuk menguji kekuatan iman manusia. Aku harap adik Siang dalam usahamu menegakkan keadilan dan kebenaran dan membasmi kejahatan dalam dunia Kang-ouw dalam segala hal harus bisa kendalikan diri." berkata Hwa Jie Swat sambil menganggukan kepala dan tertawa.

"Enci Swat dahulu pertama kali bertemu muak dengan siote, dari gerak, sikap dan kelakuanmu masih menunjukkan keganasanmu. Tetapi kini setelah berkumpul dan bersama- sama mempelajari pelajaran ilmu Budha dengan It-pun taysu, bukan saja keganasan itu sudah lenyap seluruhnya, dalam pembicaraan enci bahkan terdapat banyak pelajaran Budha yang sangat berharga. Dalam hati enci juga sudah penuh cinta kasih hingga siaote merasa menerima ilmu pelajaran banyak sekali. Maka dengan ini siaote akan menerima baik pesan tadi

!"

"Orang hidup harus berlaku sebagaimana yang ditentukan oleh Tuhan. Terhadap orang lain, kita harus bisa bersikap memberi maaf ! Adik Siang, baik sifat maupun bakatmu, semua boleh dibilang termasuk sebagai orang dari golongan atas, hanya dalam urusan memberi maaf ini, agaknya kalau disandingkan dengan enci Tiong-sunmu, masih kalah setingkat. Maka selanjutnyakau harus berusaha belajar banyak untuk memberi maaf kepada orang lain ! Aku yang menjadi encimu, pesanku hanya sampai disini saja. Harap kau berlaku baik-baik dan kini aku tidak akan mengantar kalu lebih jauh lagi !" berkata Hwa Jie Swat sambil menghela napas.

Selama itu mereka sudah berada di bwah kaki puncak Tiauw-in-hong, Hee Thian Siang yang sudah berkumpul agak lama dengan Hwa Jie Swat kini tiba-tiba harus berpisah hendak melakukan perjalanan jauh, maka agaknya merasa berat. Katanya lambat-lambat :

"Siaote kali ini perpisahan dengan enci barangkali harus pada nanti malaman Tiong-ciu dua tahun kemudian, sewaktu orang-orang dari golongan sesat mengadakan pertemuan di atas puncak Tay-pek-hong di gunung Cong-lam san, baru bisa berjumpa lagi !"

"Belum tentu harus menunggu sampai waktu itu, aku akan menunggu kedatangan enci Tiong-sunmu disini. Nanti setelah kuberitahukan jejakmu, mungkin juga akan segera terjun ke dunia Kang-ouw untuk menyumbangkan sedikit tenaga buat orang-orang golongan baik yang hendak menegakkan kebenaran dan keadilan !" berkata Hwa Jie Swat sambil tertawa.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lalu mohon diri kepadanya sambil menjura. Setelah itu lalu melakukan perjalanannya ke gunung Cong-lam san.

Dari propinsi Su-coan ke propinsi San-see, banyak jalan dapat dilalui Hee Thian Siang yang mengandalkan ilmunya meringanknan tubuh yang hebat. Maka ia mengambil jalan yang menyusuri daerah pegunungan Tay-pu-san. Dari situ langsung menuju ke kota Kang-goan, barulah menuju ke timur utara dan langsung menuju ke puncak Tay-pek-san di gunung Cong-lam san.

Meskipun jalan itu agak pendek, tetapi harus melalui perjalanan pegunungan, maka juga masih memerlukan banyak waktu.

Ketika Hee Thian Siang tiba di dekat puncak Tay-pek-hong, sudah tanggal 13 bulan satu, hanya tinggal dua hari lagi akan tibalah waktunya bagi Pat-bao Yao-ong untuk merayakan hari ulang tahunnya.

meskipun hari itu belum tiba waktunya diadakan suatu keramaian, tetapi di daerah sekitar puncak Tay-pek-hong sudah berkumpul banyak orang rimba persilatan dari golongan yang sebagian besar dari golongan sesat. Keterangan-keterangan yang dapat dikumpulkan oleh Hee Thian Siang, unuk memberi selamat kepada Pat-bao Yao-ong suami istri itu, ternyata melalui banyak liku-likunya yang ternyata tidak sederhana. Kalau hendak sampai ke puncak gunung Tay-pek-hong itu masih memerlukan tiga pos penjagaan di tempat-tempat yang penting.

Pos pertama merupakan tempat penerimaan barang yang didirikan di bawah kaki puncak gunung Tay-pek-hong. Bila barang antara yang dibawa orang bukanlah emrupakan barang-barang berharga dan jarang ada di dalam dunia, sama sekali tidak diijinkan mendaki ke puncak gunung untuk memberi selamat, hanya boleh minum tiga cawan arak yang disediakan di bawah kaki puncak gunung itu.

Pos penjagaan kedua, ialah suatu tempat atau tebing yang tingginya dua tiga puluh tombak. Di tebing yang tinggi itu penuh tumbuhan rumput yang sangat licin, orang harus memiliki ilmu meringankan tubuh luar biasa, baru bisa mendaki diatasnya. Jikalau tidak, hanya dapat memandangnya dari bawah sambil mengeluh saja.

Pos ketiga lebih istimewa, ialah barang antaran bukan saja harus merupakan barang-barang sangat berharga dan istimewa, juga harus orang yang memiliki kepandaian ilmu tinggi sekali. Setelah berhasil mendaki tebing yang tinggi dan licin itu, harus orang yang menjaga di pos itu nama dan asal usulnya, barulah oleh penjaga tadi dilaporkan kepada pat-bao Yao-ong suami istri. Jikalau diterima, boleh langsung naik ke puncak situ dan akan dijamu dengan perjamuan makan dan minum. Jikalau tidak dapat ijin masuk, hanya diperbolehkan turut makan perjamuan biasa yang diadakan dibawah bukit.

Setelah mendapat keterangan itu, Hee Thian Siang diam- diam mengerutkan alisnya. Sebab untuk memenuhi syarat penjagaan pertama ialah memberi barang antaran yang berharga, bagaimana ia menyediakannya ! Meskipun ia sendiri memiliki banyak harta pusaka istimewa, seperti bulu burung Phian-kim-ngo-sek-in-mao dan jaring wasiat warna merah, tetapi barang-barang itu bagaimana dibuat sebagai barang antaran ? Apalagi diberikan kepada Pao-bao Yao-ong yang menjadi pemimpin golongan sesat. Tentu tidak boleh jadi.

Dalam keadaan seperti itu, Hee Thian Siang terpaksa mengambil keputusan akan bertindak dengan melihat gelagat.

Pada tanggal 15 bulan satuitu, Hee Thian Siang sudah berada diantara orang banyak yang hendak memberi selamat kepada Pat-bao Yao-ong.

Waktu itu orang-orang rimba persilatan yang datang dari berbagai penjuru sudah berkumpul tetapi barang-barang hadiah yang mereka bawa kebanyakan merupakan barang- barang biasa saja, maka yang diperbolehkan naik ke puncak untuk menjumpai Pat-bao Yao-ong boleh dikata tidak ada seorang pun juga.

Hee Thian Siang mengawasi orang-orang itu, ternyata sebagian besar adalah orang-orang dari golongan sesat, orang-orang dari golongan baik-baik tidak terdapat seorang pun juga.

Hee Thian Siang yang berada diantara orang banyak golongan sesat itu, sengaja hendak menunjukkan kemahirannya meringankan tubuh. Dengan mendadak ia lompat melesat sejauh tujuh tombak dan turun di hadapan meja tempat menerima barang antaran lalu berdiri dengan muka berseri-seri.

Benar saja, kemahirannya ilmu meringankan tubuh itu telah mengejutkan semua orang yang ada disitu. Kalau tadi terdegnar suara riuh dimana-mana, kini mendadak jadi sunyi senyap dengan semua mata ditujukan kepadanya. Anak buah Pat-bao yao-ong yang ditugaskan menerima barang antaran juga dikejutkan oleh perbuatan Hee Thian Siang tadi, bertanya sambil menjura hormat :

"Apakah sahabat hendak memberi selamat kepada Hiat Wan Liat Pat-bao Yao-ong ?"

Hee Thian Siang hanya tertawa dingin tidak menjawab dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Anak buah Pat-bao Yao-ong menyaksikan Hee Thian Siang demikian, tampak terkejut. Tanyanya pula :

"Kalau sahabat bukan hendak memberi selamat kepada Hian Wan Liat Pat-bao Yao-ong, memang kebetulan bisa datang kemari ?"

"Ada dua hal yang lebih penting dari pada memberi selamat kepada Hian Wan Liat Pat-bao Yao-ong yang memaksa aku tidak boleh tidak harus pergi ke puncak Tay-peng-hong !" menjawab Hee Thian Saing sambil tersenyum.

"Sahabat ada urusan pentin apa ? Bolehkah kiranya sahabat memberitahukan kepada kami ?" tanya pula anak buah Pat-bao Yao-ong.

"Urusan kesatu adalah : dahulu aku pernah mengadakan perjanjian dengan pelindung hukum Ceng thian pay Pek-kut Ie-su, sudah berjanji pada hari ini akan mengadakan pertandingan di puncak gunung Tay-pek-hong !" menjawab Hee Thian Siang sambil tertawa.

Orang-orang yang ada disitu, hampir semua pernah mendengar nama besar Pek-kut Ie-su, maka ketika mendengar ucapan Hee Thian Siang, semua mata lantas ditujukan kepadanya dengan perasaan terkejut dan tidak percaya. Hee Thian Siang kemudian mengeluarkan lagi surat tantangan yang ditulis oleh May Giok Ceng, diperlihatkan kepada anak buah Pat-bao Yao-ong seraya berkata :

"Urusan kedua ialah aku diperintahkan oleh ketua para partai Siao lim, Bu tong, Lo bu, Swat san dan Ngo-bie serta Mao Ceng ong locianpwe datang untuk menyampaikan surat kepada Pat-bao Yao-ong. Apakah kalian berani merintangi perjalananku, tidak mengijinkan aku naik ke puncak gunung ?"

Sehabis berkata demikian, ia lalu mengeluarkan siulan panjang. dengan satu gerakan yang indah, sudah melesat tinggi lima tombak lebih, kemudian beberapa kali lompatan pula sudah berada di tempat setinggi tujuh delapan belas tombak.

Semua anak buah Pat-bao Yao-ong tidak berani merintangi perbuatan Hee Thian siang, terpaksa melepaskan tiga batang anak panah sebagai tanda laporan.

Hee Thian Siang yang telah terluka ketika mengadu kekuatan dengan Pek-kut Ie-su diatas gunung Tay-swat san, pernah memakan sebutir pel teratai Swat lian buatan Peng- pek Sin-kun, di atas puncak Tauw-in-hong di gunung Bu-san kembali makan getah pohon Leng-cie yang diberikan oleh It- pun Sin-ceng, ditambah lagi latihannya yang tidak berhenti- hentinya selama beberapa lama berdiam di gunung Bu san, maka kekuatan tenaga dalamnya sudah mendapat kemajuan pesat sekali. Diwaktu bisa ia tidak dapat merasakan itu, tetapi kini setelah ia mengerahkan ilmu tubuhnya, meringankan baru tahu bahwa sudah mendapat kemajuan demikian pesat, maka diam-diam juga merasa girang.

Gunung setinggi 22 tombak lebih itu, dalam waktu sangat singkat sudah dicapai sampai diatas tebing, mereka mengawasi Hee Thian Siang dengan sikap terkejut dan terheran. Hee Thian Siang yang menyaksikan dandanan kaum padri berjubah kuning itu, segera dapat menduga asal usulnya, maka lalu memberi hormat dan bertanya sambil tersenyum :

"Taysu berdua, bukankah Tee it Thian cun ... sie Thian cun dari Su-thian kiong Kie-Jie-ouw ?"

Padri berjubah kuning itu, begitu mendengar pertanyaan Hee Thian Siang yang ternyata dapat menyebutkan asal usulnya, diam-diam merasa heran. Satu diantaranya yang berdiri di sebelah kiri, lalau menjawab sambil mengulapkan tangannya :

"Pinceng adalah Goan Ceng. Orang-orang memberi nama julukan pada pinceng Tiat Cee Thian cun Leng bin hud dan dia ini adalah suteku Goan Tek, nama julukannya Sam Ciok Thian cun Bu Tek hud. Entah bagaimana nama sebutan Siauw siecu

?"

Hee Thian Siang tersenyum hambar, kemudian menjawab dengan lantang :

"Namaku Hee Thian Siang, murid Pek bie Sin-po Hong-poh Cui. Kedatanganku kali ini ialah dititah oleh Thian gwa Ceng mo Tiong sun Seng, Hong-tim Ong khek May Ceng Ong serta beberapa locianpwe lainnya untuk mengantar surat kepada Hian Wan Liat ong !"

Goan Ceng Taysu tidak tahu kalau waktu ia menjawab pertanyaannya, Hee Thian Siang sudah menggunakan ilmunya menyampaikan suara ke dalam telinga. Maka ucapannya tadi saat itu juga sudah tiba dan masuk ke dalam telinga Pat-bao Yao-ong sendiri !

Sementara itu, Goan Ceng Taysu sambil merangkapkan kedua tangannya sudah berkata lagi : "Hee laote, kalau benar kedatanganmu adalah atas perintah Tiong-sun Seng dan beberapa tokoh rimba persilatan daerah Tiong-goan, mungkin Hian Wan Liat ong akan menemui kau. Tunggulah sebentar, pinceng akan perintahkan perihal kedatanganmu ini. "

Belum habis ucapannya, dari puncak gunung terdengar suara yang sangat nyata :

"Hee laote adalah muridnya seorang guru ternama, merupakan seorang tokoh luar biasa dari angkatan muda dalam rimba persilatan pada dewasa ini. Jangankan kau datang sekarang ini kau membawa perintah, sekalipun tidak, kalau kau sudah tiba disini, aku si orang tua juga ingin jumpai ! Harap Gaon Ceng Taysu tolong antarkan naik ke puncak gunung !"

Goan Ceng Taysu yang mendengar ucapan itu berkata dengan nada suara dingin sambil menatap wajah Hee Thian Siang :

"Sungguh hebat ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga yang laote gunakan. Kini Han Wan Liat ong sudah ada perintah supaya pinceng mengantar kau menghadap !"

Hee Thian Siang dapat melihat sikap dari padri itu agaknya merasa tidak senang karena ia tadi diam-diam sudah menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga Han Wan Liat ong. Padri itu agaknya hendak menguji lagi dalam hal ilmu meringankan tubuhnya dengan dia hendak mengajak menghadap kepada Pat-bao Yao-ong. Maka ia lalu mengeluarkan siulan panjang dan dengan satu gerakan burung raja terbang ke angkasa, lompat melesat beberapa tombak tingginya, menuju ke puncak Tay-pek-hong.

Goan Ceng Taysu tidak menduga bahwa Hee Thian Siang sudah lantas bergerak dengan segera dan gerakannya itu demikian gesit. Ia khawatir ia jatuh ke belakang sehingga kehilangan muka, maka juga buru-buru mengerahkan ilmunya meringankan tubuh untuk menyusul.

Kekuatan tenaga dan kepandaian Hee Thian Siang pada saat itu, memang sudah diatas padri Goan Ceng Taysu, tetapi oleh karena waktu meninggalkan gunugn Bu san pernah dipesan oleh Bu-san Sian-cu Hwa Jie Swat, maka ia tidak mau terlalu menonjolkan kepandaiannya. Ketika mengetahui dirinya disusul oleh Goan Ceng Taysu, dia memperlambat gerakannya dan berdampingan dengan Goan Ceng Taysu sama-sama naik ke puncak gunung.

Dalam keadaan demikian, juga sudah membuat Goan Ceng Taysu terkejut sebab Su-thian kiong Kie-Jin-ouw itu merupakan daerah yang dianggap sebagai dewanya rimba persilatan daerah tibet, sedangkan kepandaian ilmu silat si Su- thian-cun itu diurut menurut urutan, ia sendiri termasuk orang kuat nomor dua dan kini dalam gerakannya mendaki puncak gunung yang menggunakan ilmu meringankan tubuh itu ternyata masih tidak dapat menangkan seorang angkatan muda. Dapat dibayangkan bahwa ilmu silat dari daerah Tionggoan sesungguhnya tidak boleh dipandang ringan. Dari sini juga bisa dibayangkan entah berapa banyak orang kuat dari angkatan tuanya.

Di atas puncak gunung Tay-pek-hong, waktu itu sudah disediakan beberapa meja perjamuan. Di situ terdapat semua anggota dari partai Ceng-thian pay termasuk Pek-kut Ie-su, Pek-kut Siau-cu dan lain-lainnya yang juga duduk di meja bagian tuan rumah.

Di meja tuan rumah kecuali sepasang iblis Pek-kut, Khie Tay Cio dan Thiat-koan Totiang masa ada seorang aneh yang hitam mukanya, perawakannya pendek dan seorang perempuan tua berambut putih yang membawa tongkat bambu. Dalam hati Hee Thian Siang segera mengerti bahwa laki- laki kulit hitam itu tentu adalah salah seorang dari sepasang manusia aneh berancun dan yang bertubuh katai adalah tiga orang katai dari negara timur, orang-orang buas dan ganas seperti mereka itu benar saja kini sudah berkumpul di puncak gunung Tay-pek-hong. Tetapi dua orang katai yang lainnya yang pernah diketemui di dalam pertemuan besar Ciang-thian pay dahulu kini tidak tampak hadir.

Sementara perempuan tua berambut putih yang membawa tongkat bambu itu dan seorang laki-laki berjubah perak yang sikapnya luar biasa, apakah Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat dan isterinya kim-hoa Seng-bo yang namanya disanjung- sanjung oleh orang-orang golongan sesat ?

Selagi berpikir, Hee Thian Siang tampak tiga pasang mata yang memancarkan sinar buas sedang mengawasi dirinya.

Tiga pasang mata yang memancarkan sinar buas itu datang dari Liong Cay Yan dan Liong Cay Pian yang berdiri di belakang lelaki tua berjubah warna perak.

Dengan adanya tiga persaudaraan Liang yang hadir dibelakang laki-laki tua berjubah warna perak itu, Hee Thian Siang mau menduga bahwa orang berjubah perak itu pasti adalah Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat yang namanya menggemparkan rimba persilatan itu. Maka ia lalu berjalan maju dua langkah, memberi hormat kepada laki-laki berjubah perak dan perempuan tua berambut putih seraya berkata :

"Murid golongan Pek-bin Hee Thiang Siang unjuk hormat kepada Hian Wan Liat-ong dan Kim-hoa Seng-bo locianpwe. Juga menghaturkan selamat dan panjang umur atas ulang tahun dua locianpwe ini !"

Kim-hoa Seng-bo diam saja, hanya sinar matanya yang menyapu wajah Hee Thian Siang. Wajahnya tidak menunjukkan perobahan sikap apa-apa. Sebaliknya dengan Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat, sikapnya ramah tamah. Ia berkata kepada Hee Thian Siang sambil menggoyangkan tangan dan tertawa :

"Aku benar-benar ingin melihat rupanya Hee laote seorang dari angkatan muda rimba persilatan daerah Tiong-goan, yang namanya demikian kesohor dan merupakan seorang angkatan muda yang memiliki kepandaian luar biasa. Sekarang keinginanku ternyata terkabul. Apakah suhumu Pek-bin Sin-po baik-baik saja ?"

Mendengar Pat-bao Yao-ong menanyakan kesehatan suhunya, Hee Thian Siang buru-buru berdiri tegak dan menjawab dengan suara sedih "

"Suhu sudah wafat !"

Pat-bao Yao-ong terkejut mendengar jawaban itu, katanya sambil menghela napas :

"Pek-bin sin-po kembali sudah mendahului kami. Kalau begitu di dalam dunia ini dimana akan mencari seorang yang dapat mengimbangi diriku ?"

Ucapan itu sesungguhnya terlalu jumawa. Bagi yang lainnya, oleh karena mereka pada menjunjung tinggi dan sudah menganggap pat-bao Yao-ong dan Kim-hoa Seng-bo sebagai dewa, sudah tentu tidak merasa apa-apa. Tetapi Pek- kut Ie-su dan Pek-kut Sian-cu, sebaliknya merasa tersinggung. Mereka saling berpandangan sejenak dengan wajah berubah.

Hee Thian Siang yang diam-diam memperhatikan reaksi orang-orang itu, telah dapat melihat dengan jelas, ia lalu berkata dengan suara lantang :

"Locianpwe, meskipun namamu sangat terkenal dan dijunjung tinggi oleh semua orang rimba persilatan, akan tetapi di dalam rimba persilaan masih terdapat banyak orang yang berilmu tinggi yang tidak mau menyombongkan kepandaiannya. Menurut apa yang aku tahu, tidak sedikit jumlahnya orang-orang berkepandaian tinggi yang dapat mengimbangi Locianpwe !"

"Oh, masa iya ? Coba Hee laote tolong katakan. Aku Hian Wan Liat suami istri ingin dengar keteranganmu !" berkata Pat- bao Yao-ong.

Dengan tiba-tiba Hee Thian Siang mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

Perbuatan Hee Thian Siang itu, sesungguhnya mengejutkan dan mengherankan Pat-bao Yao-ong yang menjadi pemimpin besar dari golongan orang-orang sesat, maka ia lalu bertanya :

"Mengapa Hee laote tertawa demikian ?"

"Aku tertawa karena merasa geli atas sikap locianpwe yang terlalu jumawa !" menjawab Hee Thian Siang dengan berani.

Pat-bao Yao-ong yang sudah biasa disanjung oleh orang- orang dari golongan sesat, benar-benar tidak menduga bahwa Hee Thian Siang berani mengatakan perkataan itu dihadapannya dengan terus terang. Maka untuk sesaat ia menjadi terkejut, kemudian bertanya pula sambil mengerutkan alisnya "

"Hee laote anggap aku sombong ?"

"Kita tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Adapun sebabnya Hee Thian Siang menyebut kau locianpwe, itu hanya berdasar atas tata tertib rimba persilatan yang harus menghormati orang tingkatan tua........" Hee Thian Siang menyahut sambil tersenyum, sikapnya itu seolah-olah berhadapan dengan orang sebayanya. Pat-bao Yao-ong menganggukkan kepala dan berkata : "Ucapanmu ini memang benar !"

"Kalau hubungan kita satu sama lain hanya sebagai tuan rumah dan tamu, seharusnya locianpwe memberi tempat duduk bagi Hee Thian Siang. Juga seharusnya pula locianpwe menjamu seperti terhadap tamu yang lainnya supaya Hee Thian Siang bisa bicara dengan leluasa dan sepuasnya tentang orang-orang kuat rimba persilatan dengan locianpwe." kata Hee Thian Siang.

Pat-bao Yao-ong hingga saat itu benar-benar telah merasa kagum atas keberanian Hee Thian Siang. Maka saat itu ia mempersilahkan Hee Thian Siang duduk di meja perjamuan dan berkata sambil tertawa-tawa :

"Peringatanmu ini memang betul. Hian Wan Liat sudah linglung. Aku mengaku telah berlaku kurang sopan terhadap tamunya. Mari, mari ! Kuajak minum kau secawan arak lebih dahulu sebagai. "

Tidak menunggu sampai habis ucapan Pat-bao Yao-ong, Hee Thian Siang sudah mengangkat cawannya dan berkata sambil tersenyum :

"Locianpwe jangan terlalu merendahkan diri. Secawan arak ini seharusnya adalah aku Hee Thian Siang yang menghormati kepadamu untuk menyatakan terima kasih Hee Thian Siang atas kelakuan yang tidak sopan tadi."

Pat-bao Yao-ong terheran-heran, tanyanya :

"Di dalam hal apa Hee laote berlaku kurang sopan ?"

"Pos pertama dibawah puncak gunung Tay-pek hong ini, dimana ada tempat untuk menerima barang antaran. Sudah ditetapkan jikalau tidak membawa antaran barang istimewa, tidak boleh mendaki ke atas gunung. Sedang Hee Thian Siang datang seorang diri merasa malu tidak membawa barang- barang yang berharga. "

Belum habis ucapan Hee Thian Siang, selembar wajah Pat- bao Yao-ong sudah menjadi merah, lalu berkata kepada Khie Tay Cio :

"Khie Ciangbujin, harap segera keluarkan perintah. Suruh cabut kembali peraturan yang tidak pantas itu. Jikalau tidak, aku Hian Wan Liat tidak berani terima kebaikanmu lagi dan tidak perlu diteruskan perjamuan dan perayaan pada malam ini !"

Khie Tay Cio tidak bisa menjawab, terpaksa mengeluarkan perintah seperti apa yang diminta oleh Pat-bao Yao-ong. Tetapi Kim-hoa Seng-bo sebaliknya mengawasi Hee Thian Siang dengan sikap dingin dan dari sinar matanya menunjukkan sikap yang benci dan jemu.

Setelah Khie Tay Cio menjalankan perintah Pat-bao Yao- ong, Pat-bao Yao-ong lalu bertanya pula kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum :

"Masih ada apa lagi yang Hee laote anggap perlu dikoreksi

?"

"Locianpwe terlalu memandang tinggi diri Hee Thian Siang.

Di atas puncak gunung Tay-pek hong ini, sebenarnya ada terdapat banyak tokoh-tokoh kenamaan yang tidak sedikitnya jumlahnya. Hee Thian Siang yang bisa berada di sini bersama-sama mereka makan malam, sudah merasa sangat beruntung sekali !" menjawab Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Meskipun jumlahnya tokoh kuat dan kenamaan tidak sedikit, tetapi dari kalangan dan partai-partai benar rimba persilatan daerah Tiong-goan, kecuali orang-orang dari Ceng- thian pay, tiada satu yang datang. " berkata pat-bao Yao-

ong sambil menghela napas.

"Para ketua partai besar Siauw lim, Bu tong, Swat san, Lo bu dan Ngo bie, semuanya ada menulis surat yang minta Hee Thian Siang untuk menyampaikan kepada locianpwe. Sebentar lagi akan boanpwe serahkan !" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Hee laote kini sudah ikut dalam perjamuan dan sudah minum arak juga. Agaknya sudah boleh menceritakan beberapa tokoh kenamaan dalam pandanganmu ?" berkata Pat-bao Yao-ong sambil tertawa.

"Sebagai orang angkatan muda, sebetulnya tidak pantas dan tidak berhak untuk menilai orang angkatan tua. Apa lagi terhadap suhu Hee Thian Siang. Disini Hee Thian Siang perlu menerangkan lebih dahulu di dalam nama-nama tokoh-tokoh kuat rimba persilatan pada dewasa ini. Hee Thian Siang tidak akan menyebut dan memasukkan nama suhu !" berkata Hee Thian SIang sambil menganggukkan kepala.

Pat-bao Yao-ong yang mendengar ucapan itu, memuji sikap pemuda itu. Katanya :

"Hee laote, usiamu masih muda. Tetapi dalam segala hal kau berlaku sempurna !"

Hee Thian Siang menjura, lebih dahulu menghabiskan araknya yang tinggal setengah cawan. Lalu berkata kepada Pat-bao Yao-ong. Sedangkan matanya melirik kepada Pek- kue Ie-su dan Pek-kut Sian-cu :

"Locianpwe tadi tidak pandang mata kepada orang lain. Menganggap sejak wafatnya suhu, dalam dunia ini sudah tidak ada orang lagi yang bisa mengimbangi kepandaianmu ! Akan tetapi hendaknya locianpwe juga tahu, diatas puncak Tay-pek hong ini, sebenarnya ada orang-orang yang memiliki kepandaian ilmu hebat sekali !"

Pat-bao Yao-ong benar-benar tidak tahu bahwa Pek-kut Ie- su dan Pek-kut Sian-cu ada memiliki kepandaian ilmu silat sampai dimana tingkatnya. Maka ia masih tidak sadar dan bingung mendengar ucapan Hee Thian Siang tadi. Tanyanya sambil tersenyum :

"Ucapan Hee laote ini, apakah menunjuk diri sendiri ? Menganggap sama dengan Co Beng Yak dahulu yang membicarakan tokoh-tokoh dunia sambil minum arak ?"

Hee Thian Siang menggelengkan kepala dan berkata sambil tertawa hambar :

"Dugaan locianpwe ini keliru seluruhnya ! Benar locianpwe boleh dipandang sebagai orang segolongan dengan Co Cho, akan tetapi orang seperti Hee Thian Siang yang hanya merupakan seorang baru dari angkatan muda, mana dapat dibandingkan dengan Lauw Pie ?"

Ucapan Hee Thian Siang itu, meskipun mengandung sindiran, akan tetapi diwajahnya sedikitpun tidak menunjukkan sikap jumawa hingga Pat-bao Yao-ong yang mendengar ucapan itu benar-benar merasa serba salah.

Hee Thian Siang berkata lagi sambil menunjukk Pek-kut Ie- su dan Pek-kut Sian-cu :

"Kedua locianpwe ini, kepandaian ilmu silatnya tinggi sekali. Lagi pula beliau juga banyak pengalaman dan pengetahuannya. Sudah mana nama mereka menggemparkan rimba persilatan daerah Tiong-gwan. Menurut pandangan Hee Thian Siang, betapapun tingkat kepandaian locianpwe, juga rasanya masih belum dapat dibandingkan dengan mereka berdua !" Pek-kut Ie-su dan Pek-kut Sian-cu yang mendengar ucapan Hee Thian Siang itu, dalam hati diam-diam merasa girang.

Mereka girang karena diantara begitu banyak tokoh kuat dan kenamaan di puncak gunung Tay-pek hong, Hee Thian Siang hanya menunjuk mereka berdua.

Akan tetapi, mereka juga dapat menyadari bahwa dalam ucapan Hee Thian Siang yang menyanjung mereka, ada mengandung maksud untuk mengadu domba dengan Pat-bao Yao-ong.

Pat-bao Yao-ong mengeluarkan suara "Ow !" dari mulutnya, kemudian berpaling kepada Pek-kut Ie-su dan Pek- kut Sian-cu dan setelah itu ia berkata sambil mengangkat cawannya dan tertawa :

"Hian Wan Liat tadi dalam kata-katanya telah berlaku agak keliawatan. Harap taysu berdua suka memaafkan !"

Pek-kut Ie-su dan Pek-kut Sian-cu yang mendengar ucapan itu, dalam hati sama-sama merasa terkejut. Mereka tahu bahwa Pat-bao Yao-ong ini orangnya suka sekali disanjung. Kini ternyata sudah kena kegosok oleh omongan Hee Thian Siang ngandel kekuatan tenaga dalamnya yang sangat tinggi, yang dapat menggentarkan telinga orang, Pat-bao Yao-ong lantas ke arah Pek-kut Siang-mo untuk menguji kepandaian mereka.

Pek-kut Siang-mo saling berpandangan sejenak, juga sudah lantas menggunakan kekuatan tenaga dalam mereka, berkata ke arah Pat-bao Yao-ong dan Kim-hoa Seng-bo :

"Hian Wan Liat ong berdua, dalam rimba persilatan sebenarnya sudah tidak ada orang yang menandingi. Nama Liat ong juga dijunjung tinggi oleh semua orang rimba persilatan. Kita sebagai sahabat-sahabat dalam satu perjuangan, tidak akan lantaran urusan sekecil ini lalu bisa diadu domba, yang satu merasa kecil hati terhadap yang lain

!"

Pat-bao Yao-ong melihat dua orang itu ternya juga bisa menggunakan ilmunya kekuatan tenaga dalam, segera mengetahui bahwa ucapan Hee Thian Siang tadi bukanlah main-main, maka bertanya pula kepada Hee Thian Siang :

"Kecuali kedua sahabatku ini, dalam matamu, ada siapa lagi yang memiliki kepandaian silat tinggi ?"

"Dalam daerah pegunungan yang sangat luas Tiong-gwan, banyak sekali terdapat orang-orang berilmu tinggi. Kecuali apa yang sudah diketahui oleh semua orang, ialah para ketua partai dan disamping itu masih terdapat orang-orang seperti Thian gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng, Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong, Siang Swat Sian seng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo lie Teng dan lain-lainnya.  "

Pat bao Yao-ong disamping mendengarkan penuturan Hee Thian Siang, menunjukkan sikap yang sangat jumawa, ia tidak berhentinya menggelengkan kepala dan tertawa dingin.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan itu, dalam hati sangat marah, ia berkata lagi sambil tertawa dingin :

"Kau jangan berlaku jumawa seperti ini. Siapa tahu apa yang kuucapkan tentang mereka itu tadi, bukan saja masing- masing memiliki kepandaian yang dapat mengimbangi kepandaianmu, disamping mereka masih ada seorang lagi yang memiliki kepandaian luar biasa dan orang itu baik kepandaiannya maupun kekuatan tenaga dalamnya pasti masih diatasmu !"

Pat-bao Yao-ong terkejut mendengar ucapan itu, sikapnya yang jumawa lantas lenyap seketika. Ia bertanya :

"Siapakah orang itu ? Harap Hee laote lekaslah jelaskan." "Orang itu bernama Hee kauw Soan. Dalam hidupnya selama ini, ia ada mempunyai suat hal yang membuat ia sangat penasaran ialah selama berkelana di rimba persilatan, ia tidak pernah dapat menemukan seorang pun juga yang dapat menandingi kepandaiannya !" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Pat-bao Yao-ong yang mendengar keterangan itu agaknya merasa sangat tertarik, katanya sambil tersenyum :

"Sekarang dimana berdiamnya orang yang bernama Hee kauw Soan itu ? Aku hendak mencari dia untuk bertempur hingga 3000 jurus, supaya aku juga mendapat kesempatan untuk menggerakkan tulang-tulangku !"

"Hee kauw Soan Locianpwe itu, kekuatan tenaganya dan kepandaiannya sungguh tidak dapat dijajaki. Tempat jejaknya sangat misterius dan sulit sekali untuk dicari. Aku sendiri juga tidak tahu dimana ia berdiam !" berkata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala dan menghela napas.

Sehabis itu, ia lalu menceritakan bagaimana orang tua berbaju kuning Hee kauw Soan itu mengadakan perjalanan ke seluruh dunia, untuk menemukan tandingan dengan secara kalau ia dapat menemukan Thian it Taysu dan Sam ciok Cinjin. Apa mau dikata locianpwe kenamaan itu, kedua- duanya sudah meninggal dunia. Hal itu diceritakan semua kepada Pat-bao Yao-ong.

Pat-bao Yao-ong tidak kenal Hee kauw Soan tetapi sudah lama ia mendengar nama besar Sam ciok Cinjin dan Thian it Siangjin, yang ia tahu orang itu pasti berkepandaian sangat tinggi. Ia berkata sambil menganggukkan kepala dan berkata :

"Hee kauw Soan itu benar-benar seorang yang berkepandaian sangat tinggi, aku akan segera mencari dia !" "Dengan cara bagaimana kau hendak mencarinya ?" tanya Hee Thian Siang.

"Aku ada memelihara banyak binatang aneh dan burung- burung yang cerdik. Aku dapat membuat banyak panji-panji yang diatasnya akan kutulis 'Hian Wan Liat ingin bertemu dengan Hee kauw Soan'. Aku bisa suruh burung-burungku membawa panji-panji itu ke pelbagai daerah pegunungan dan tempat-tempat yang jarang dikunjungi manusia. Burung- burung bisa beterbangan di tengah udara. Bila Hee kauw Soan benar-benar seorang yang berilmu tinggi, setelah mengetahui panji-panji itu, seharusnya ia bisa lekas datang mencari aku !"

"Akalmu ini boleh juga !" berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

"Maksud Hee laote hari ini berkunjung ke Tay-pek hong seorang diri, kecuali memberi selamat ulang   tahun, apakah. " bertanya Pat-bao Yao-ong sambil tertawa.

"Kecuali ini, aku masih ada membawa dua tugas berat. Kesatu ialah beberapa locianpwe rimba persilatan minta Hee Thian Siang menyampaikan surat kepadamu !"

Sehabis berkata demikian, ia lalu menyerahkan surat tantangan yang ditulis oleh Mao Giok Ceng dan beberapa ketua partai rimba persilatan serta Tiong sun Seng dan May Ceng Ong.

Pat-bao Yao-ong sehabis membaca surat itu, lalu diberikan kepada istrinya seraya berkata sambil tertawa.

"Beberapa tokoh kuat dari persilatan daerah Tiong-goan telah minta kita pada malaman Tiong-ciu tahun depan akan mengadakan pertemuan di puncak gunung Tay-pek hong ini !" Sejak munculnya Hee Thian Siang, belum pernah Kim-hoa Seng-bo membuka mulut. Tapi begitu membaca surat itu, dari mulutnya lantas mengeluarkan suara gumaman, kemudian berkata dengan suara berat :

"Dengan demikian kita jadi tidak perlu repot-repot lagi. Tetapi waktunya masih ada satu tahun setengah lagi. Untuk menantikan sampai tibanya perayaan malaman Tiong ciu itu, waktu setahun setengah itu rasanya terlalu panjang. Buat kita yang menunggu sesungguhnya bisa tidak sabaran !"

"Kita suami istri baru pertama kali mengadakan pertandingan dengan orang-orang rimba persilatan daerah Tiong-goan, sudah tentu harus memberikan kelonggaran waktu buat mereka siap-siap.

Baru berkata sampai disitu, lalu berpaling dan berkata kepada Hee Thian Siang :

"Tolong Hee laote sampaikan kepada orang-orang yang namanya tertera di dalam surat ini. Katakan bahwa Hian Wan Liat suami istri bersama beberapa sahabat baiknya, bersedia akan memenuhi kehendak hati mereka !"

Hee Thian Siang tersenyum sambil menganggukkan kepala, kembali matanya melirik ke arah Pek-kut Ie-su, sementara katanya lagi :

"Tugasku yang kedua ialah hendak memenuhi janjiku kepada Pek-kut Ie-su, juga di puncak Tay-pek hong ini !"

Pat-bao Yao-ong dan Kim-hoa Seng-bo suami istri yang mendengar ucapan itu tampaknya merasa terkejut dan terheran-heran. Mereka agaknya tidak mengerti ada perjanjian apa sebetulnya antara Pek-kut Ie-su dan Hee Thian Siang.

Pek-kut Ie-su waktu itu dalam hati merasa serba salah. Sebab sejak mengadakan pertandingan sekali mengadu kekuatan tenaga dalam dengan Hee Thian Siang digunung Tay swat san, ia tahu bahwa Hee Thian Siang bukanlah seperti pemuda biasa. Pemuda itu sesungguhnya telah mendapat banyak penemuan gaib, tinggi sekali kekuatan tenaga dalamnya yang jauh diluar dugaan semua orang. Kecuali kedua pihak bertempur dengan tiada perjanjian apa- apa, jikalau hendak dalam satu jurus dapat menjatuhkannya atau membuat ia terluka parah, agaknya tidaklah mungkin. Sebab ia sendiri yang namanya sudah tersohor di daerah TIong-goan, bila turun tangan terhadap seorang dari angkatan muda, apalagi tidak berhasil bukankah akan mendapat malu dihadapan pat-bao Yao-ong ?

Meskipun dalam hatinya Pek-kut Ie-su merasa gentar untuk menghadapi pemuda itu, tetapi sebagai seorang Kang-ouw kawakan yang mempunyai banyak pengalaman, akhirnya ia dapat menemukan suatu cara yang dianggapnya baik untuk menghadapinya. Maka lalu berkata sambil tersenyum :

"Karena kedua pihak sudah berjanji akan mengadakan pertemuan di puncak Tay-pek hong pada malaman bulan Tiong ciu di tahun depan, maka perjanjian kita ini juga lebih baik dirobah saja waktunya. Apalagi hari ini juga adalah hari baik Hian Wan Liat dan Kim-hoa Seng-bo. Tidak pantas jikalau kita mengadakan pertandingan di tempat ini !"

Hee Thian Siang sangat mengagumi kecerdikan orang tua itu, ia terpaksa menjawab sambil menganggukkan kepala :

"Locianpwe benar-benar seorang yang welas asih. Tapi ketahuilah olehmu, sekalipun Hee Thian Siang masih sangat muda dan belum mempunyai banyak pengalaman, lagi pula seorang bodoh, tapi belum tentu begitu menyambut serangan locianpwe lantas akan mengalami nasib buruk !"

Mendengar jawaban demikian, Pek-kut Ie-su menjadi marah, katanya : "Usulku tadi semata-mata karena tidak ingin ada pertumpahan darah di hari baik pada ulang tahun Hian Wan Liat dan Kim-hoan Seng-bo ini. Tetapi jikalau kau benar-benar mencari mati, tidak halangan kita boleh turun sekarang juga disini. "

Tidak menunggu habis ucapan Pek-kut Ie-su, Hee Thian Siang sudah memotongnya sambil menggoyangkan tangan dan berkata :

"Tidak perlu, tidak perlu. Karena Locianpwe sendiri sudah menjanjikan akan ditangguhkan pada malaman Tiong ciu tahun depan, sudah tentu Hee Thian Siang tidak merasa keberatan. Perjanjian kita tentang pertandingan ini boleh kita tangguhkan sampai lain tahun. Kalau tidak halangan, kita langsungkan di tempat lain juga boleh !"

Pek-kut Ie-su merasa mendongkol, tetapi ia tidak dapat mencari kata-kata yang lebih pantas untuk menimpali kata- kata Hee Thian Siang.

Di luar dugaan Hee Thian Siang sendiri, ucapan Pek-kut Ie- su tadi secara tak langsung sudah menghalang dirinya dari bahaya maut.

Adapun sebabnya ialah begini. Sejak tiga saudara Liong Cay Thian, Liong Cay Yan dan Liong Cay Kian mendapat kekalahan dikutub Hian peng-goan, sekembalinya mereka ini dari sana, mereka lalu melakukan fitnahan atas diri Hee Thian siang di hadapan Kim-hoa Seng-bo. Inilah pula sebabnya hari itu Kim-hoa Seng-bo sejak pertama melihat Hee Thian Siang tadi dalam hatinya sudah dipenuhi oleh rasa benci. Ia juga sudah menyiapkan senjata rahasianya yang sangat berbisa ialah bunga mas pencabut nyawa dalam lengan jubahnya, sedang menanti kesempatan buat membinasakan Hee Thian Siang. Tetapi karena ucapan dan janji Pek-kut Ie-su yang tidak suka mengadakan pertandingan dengan Hee Thian Siang di atas puncak gunung tersebut, senjata rahsari sangat berbisa yang sudah disiapkan itu, meskupun sudah beberapa kali akan dikeluarkan untuk digunakan, tetapi akhirnya tidak sampai terlaksana maksud keji Kim-hoa Seng-bo itu. Jikalau tidak demikian, Hee Thian Siang yang dalam keadaan tidak berjaga-jaga sama sekali, sudah tentu akan mengalami nasib malang di tempat itu.

Sementara itu, Hee Thian Siang sesudah mempersulit Pek- kut Ie-su dengan enaknya minum dan makan sendiri. Setelah itu ia berkata kepada Pat-bao Yao-ong sambil tersenyum :

"Numpang tanya Hian Wan locianpwe. Mengapa Hek nio Kam lo, salah satu dari tiga orang dari negara barat, hari ini tidak tampak ?"

"Mereka ada urusan penting. Setelah datang kemari untuk menghaturkan selamat kepadaku dan membawa barang bingkisan yang sangat berharga sudah lebih dahulu !" menjawa Pat-bao Yao-ong sambil tertawa.

Hati Hee Thian Siang tergerak, lalu tanyanya pula :

"Kedua orang itu bersama-sama mengantarkan barang antaran yang sangat aneh kepada Locianpwe, apakah barang itu bukannya rompi yang terbuat dari 36 lembar sisik naga pelindung jalan darah ?"

Pat-bao Yao-ong tampaknya terkejut mendengar pertanyaan itu, jawabnya :

"Hee ! Mengapa Hee laote dapat menduga demikian tepat

? Sisik naga pelindung jalan darah itu adalah benda pusaka peninggalan Thay Piat Siangjin, seorang pendekar berkediaman dahulu di derah Tionggoan. Buat orang biasa saja, mau mendapatkan selembar saja sudah susah sekali. Dan kini dengan sebuah rompi yang terbuat dari tiga puluh enam lembar benda pusaka itu sudah seharusnya kalau kukatakan sebagai barang pusakan yang jarang ada di dalam dunia !"

Setelah mendengar ucapan itu, Hee Thian Siang mendongakkan kepala dan tertawa besar. Tawanya itu ada mengandung sindiran.

Pat-bao Yao-ong sudah tentu mengerti bahwa Hee Thian Siang itu menyindir dirinya. Untuk sesaat ia terkejut dan bertanya sambil menatap wajahnya :

"Hee laote, mengapa kau tertawa ? Apakah ucapan tadi ada terdapat kesalahan ?"

"Locianpwe menganggap bahwa barang antaran rompi sisik naga pelindung jalan darah yang dihadiahkan oleh dua orang dari negara barat itu adalah sebuah benda yang langka dan luar biasa di dalam dunia. Tetapi aku sebaliknya menganggap bahwa perbuatan itu adalah suatu perbuatan yang tidak hormat sekali terhadap locianpwe !"

pat-bao Yao-ong dikejutkan oleh jawaban yang tidak diduga-duganya itu, tanyanya :

"Bagaimana Hee laote bisa kata begitu ?"

"Locianpwe rupanya hanya tahu bahwa rompi yang terbuat dari sisik naga pelindung jalan darah itu sebagai peninggalan Thay piat Siang Jin, tetapi sudah tentu tidak tahu bagaimana asal usulnya rompi itu !" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Pat-bao Yao-ong menggelengkan kepala dan berkata : "Aku memang tidak tahu, harap Hee laote suka

menerangkannya !" Pada saat itu, Khie Tay Cao sudah duduk bersama-sama di satu meja. Wajahnya tampak merah padam. Beberapa kali ingin bicara tetapi akhirnya dibatalkan.

Hee Thian Siang lalu menceritakan bagaimana di dalam pertemuan besar pada berdirinya partai Ceng Thian pay sewaktu dua ekor monyet sedang bertempur sengit, Hek nio Kam lo dan orang katai dari negara timur itu dengan tidak tahu malu, di depan mata demikian banya orang telah merampas rompi sisik naga pelindung jalan darah dan sehabis menceritakan itu semua, ia berkata sambil tertawa :

"Coba sekarang locianpwe pikir sendiri. Rompi sisik naga pelindung jalan darah yang didapat dengan jalan merampok itu dan kini oleh dua orang dari negara asing itu telah dihadiahkan kepada locianpwe sebagai barang antaran pada hari ulang tahun locianpwe. Bukankah itu merupakan suatu perbuatan yang tidak sopan dan tidak menghormat keapda locianpwe, seakan-akan mereka sudah menganggap locianpwe sebagai seekor monyet !"

Pat-bao Yao-ong yang mendengar ucapan Hee Thian Siang yang penuh sindiran itu, benar-benar merasa tidak enak. Waktu itu ia benar-benar merasa tertawa salah menangis pun tidak bisa. Maka lalu berpaling dan bertanya kepada Khie Tay Cao sambil mengerutkan alisnya :

"Khie Ciangbunjin, kau adalah pemimpin dan orang penting yang mengadakan pertemuan berdirinya partaimu itu. Kau seharusnya tahu apakah ucapan Hee Thian Siang laote ini benar atau bohong."

Khie Tay Cao sebagai seorang pemimpin dari partai besar sudah tentu tidak dapat menyangkal kebenaran kata-kata Hee Thian Siang tadi. Maka terpaksa membenarkan dengan anggukkan kepala. Pat-bao Yao-ong yang menampak Khie Tay Cio sudah mengakui, wajahnya menjadi merah dan berkata kepada Hee Thian Siang :

"Kekuatan tenaga dalam yang kumiliki, aku pun sudah mencapai ke tingkat yang sempurna. Sebetulya tidak memerlukan rompi yang terubat dari sisik naga pelindung jalan darah seperti kau. Karena asal usul rompi ini kini baru kuketahui demikian tidak baik, biarlah sekarang kukembalikan kepadamu saja !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, segera juga memuji tindakan Pat-bao Yao-ong yang sangat bijaksana ini. Sesungguhnya tidak kecewa ia menjadi seorang pemimpin, meskipun dari golongan sesat, namun masih boleh orang berjiwa ksatria. Hal ini benar-benar berbeda dengan orang banyak.

Akan tetapi tetamu aneh yang bertubuh pendek itu, setelah mendengar ucapan Pat-bao Yao-ong, lalu mengoyang- goyangkan tangan sebagai tanda memberi isyarat, setelah itu ia mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak dimengerti oleh Hee Thian Siang.

Pat-bao Yao-ong tampak berpikir, kemudian berkata kepada Hee Thian Siang :

"Ia adalah Ti pun Eng kie, salah satu dari orang dari negara asing itu. Ia anggap bahwa rompi sisik naga pelindung jalan darah itu sebetulnya adalah milik monyet putih peliharaan Tiong sun Hui kheng. Seharusnya biar Tiong-sun Hui kheng atau monyet putih itu yang mengambil sendiri, tidak boleh diberikan kepada laote, karena bukan laote yang punya !"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala dan berkata : "Ucapannya   itu   memang   beralasan.   Tetapi   bolehkan

kiranya Cianpwe mengadakan suatu perjanjian kapan dan ditempat mana mereka dapat mengambil kembali barang itu ? Nanti aku boleh menyampaikan kepada enci Tiong-sun atau monyet putih itu !"

"Sekarang aku tidak akan menerima barang antaran ini. Maka barang ini akan kukembalikan lagi kepada tiga orang dari negara asing dan dua persaudaraan dari sepasang manusia berbisa itu. Tapi boleh jugalah aku bantu kau buat menetapkan suatu tempat dan harinya untuk mengambil barang itu dari mereka !" berkata Pat-bao Yao-ong sambil tertawa.

Setelah itu, lalu berunding sebentar dengan Ti pun Eng kie dan setelah itu berkata pula kepada Hee Thian Siang :

"Mereka ingin mengundang Hee laote bersama Tiong sun Hui kheng dan monyet putih itu untuk mengadakan pertemuan di tebing Hui mo di gunung Liok tiauw san pada nanti tanggal satu bulan empat tahun ini !"

"Waktu dan tempatnya aku dapat menyetujui seluruhnya. Tetapi permintaanku satu-satunya ialah minta supaya Hek nio Kamlo dan seorang dari tiga orang katai dari negara asing itu, juga harus ikut serta !" berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

"Hee laote jangan khawatir. Mereka sekarang justru ada dibawah tebing Hui mo itu, tetapi Hee laote juga boleh menggunakan kesempatan selama ini, boleh mengajak beberapa orang dari daerah Tiong-goan. Sebab tiga orang katai dan sepasang manusia berbisa itu, semua berjumlah lima orang. Apalagi aku sendiri mungkin akan mengirim beberapa binatang peliharaanku untuk belajar kenal dengan monyet peliharaan Tiong-sun Hui-kheng itu dan aku ingin sekali tahu sampai dimana cerdik dan kepandaian binatang peliharaannya itu." menjawab Pat-bao Yao-ong sambil tertawa. "Begitu pun baik juga ! Pertemuan di tebing Hui mo diatas gunung Liok tiauw san itu, boleh dianggap sebagai tempat ujian kedua pihak sebelum diadakan pertemuan besar di malam Tiong ciu tahun depan !" Hee Thian Siang berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mendengar ucapan itu, tiba-tiba Khie Tay Cao memperdengarkan suara tertawanya yang aneh, kemudian berkata :

"Hee laote jangan terlalu gembira dulu, kau baik-baik menjaga dirimu. Jangan-jangan kau tidak sanggup mempertahankan hidupmu sampai tanggal satu bulan empat itu !"

Hee Thian Siang dapat dengar maksud di luar ucapan Khie Tay Cao itu. Sepasang alisnya berdiri, matanya memancarkan sinar tajam. Tanyanya dengan sikap jumawa :

"Apakah Khie Ciangbunjin ada maksud hendak menahan Hee Thian Siang disini ?"

Khie Tay Cao hanya memperdengarkan suara tawa dingin berulang-ulang, tidak menjawab.

Hee Thian Siang mendadak bangkit dari tempat duduknya. Sepasang matanya menyapu semua orang yang ada disitu, terutama terhadap tiga persaudaraan dari keluarga Liong. Ia memandang mereka beberapa kali, lalu berkata :

"Hee Thian Siang berkelana di dunia Kang-ouw dengan bekal sedikit kepandaian yang tidak berarti dan hasrat yang baik, dengan maksud untuk menolong orang lemah yang tertindas. Sudah tentu mendapat banyak musuh dari orang- orang yang bemaksud jahat. Hari ini di puncak gunung Tay- pek hong ini, bila ada kawan dunia Kang-ouw yang hendak mencari onar, aku persilahkan supaya turun ke gelanggang. Hee Thian Siang akan melayani satu persatu !"