Makam Bunga Mawar Jilid 27

 
Jilid 27

Bagi sebagian besar orang rimba persilatan yang kebanyakan sombong dan tinggi hati, apa yang semakin dibesarkan oleh lawannya, makin menarik perhatian buat terus diselidiki. Demikian dengan Pek-kut Ie-su. Ia juga tidak luput dari sifat demikian. Mendapat peringatan bukannya menjadi takut, malah semakin keras keinginannya untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Tetapi sebagai orang Kang-ouw kawakan yang sudah banyak menghadapi lawan tangguh, banyak pula pengalamannya. Sebelum menggerakkan tangannya untuk memutar plat baja bundar itu, lebih dulu sudah memperhatikan dan mempersiapkan jalan mundurnya, juga sudah memperhitungkan apa-apa kiranya yang mungkin tersembunyi dibalik plat bundar itu.

Dalam otaknya Pek-kut Ie-su waktu itu, ada tersimpan empat macam perkiraan. Tentu saja ia sama sekli tak menduga bahwa plat bundar itu sebenarnya adalah penutup pesawat pusat angin yang bila dibuka dapat menghembuskan angin Cu-ngo-im-hong, yang paling dahsyat dan sulit ditahan.

Pek-kut Ie-su hanya menduga demikian : Pertama ialah dibalik plat bundar itu mungkin ada tersimpan berbagai jenis binatang berbisa. Tetapi kemudian setelah dipikirnya pula, tempat ini hawa udaranya sangat berlainan, dimana-mana setiap saatnya pasti ada terdapat salju yang membeku, meskipun di musim panas hawa udaranya tidak berbeda dengan musim dingin. Maka dugaan akan adanya binatang berbisa itu kemungkinannya sedikit sekali. Dugaan kedua ialah dibalik plat mungkin ada tersimpan senjata rahasia yang sangat ganas. Kalau ia mengerahkan ilmu Hian-kangnya lebih dulu dengan dibantu ilmu Ceng khieji yang dapat berubah menjadi uap tanpa wujud untuk melindungi dirinya, ia sudah tidak khawatirkan serangan senjata rahasia yang melesat keluar dari tempat itu.

Dugaan yang ketiga ialah didalam itu tersimpan sejenis asap beracun. Untuk itu ia harus menutup pernapasannya, maka juga tidak perlu ditakuti !

Dan dugaannya yang keempat ialah dibalik plat itu ada tersimpan air bah. Tetapi ia boleh tidak usah takuti itu karena ia pandai berenang. Tidak perlu khawatir ! Begitu pikirnya.

Berdasar atas dugaan-dugaan seperti diatas, ia merasa bahwa dirinya sendiri tidak akan munkin sampai terjebak dalam perangkap musuh yang bagaimanapun, apa lagi kamar batu itu tidak luas, tempat keluarnya juga dekat. Seandai benar ada bahaya luar biasa yang mengancam, dengan kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya rasanya juga ia masih bisa meloloskan diri.

Setelah jalan mundur dan persiapan segala telah disiapkan dengan baik, Pek-kut Ie-su dengan tenang berjalan ke depan dinding, lalu memutar plat baja itu ke kiri tiga kali dan ke kanan tiga kali, untuk mencoba pesawat apa ini sebenarnya yang dibanggakan oleh orang-orang Swat san pay dan Hee Thian Siang.

Tetapi baru menyentuh plat baja itu, ujung jari tangannya sudah merasakan hawa yang dirasanya luar biasa. Setelah memutar selesai ke kanan tiga kali dan ke kiri tiga kali, plat bundar itu mendadak copot sendirinya dari tempatnya, angin dingin yang luar biasa dinginnya dibarengi dengan suara hembusannya yang demikian hebat serta kekuatan dari hembusannya yang sangat kuat telah menghembus keluar dari balik plat baja yang berbentuk bundar tadi. Menghembusnya angin dingin itu sungguh sama sekali diluar dugaan Pek-kut Ie-su. Sekujur badannya jadi kedinginan dan menggigil. Maksudnya lalu hendak menyingkir, apa mau kekuatan alam itu, bukanlah seharusnya dilawan oleh tenaga manusia, apalagi tempat itu merupakan pusat dari angin dingin itu, maka saat itu Pek-kut Ie-su sudah terkurung oleh kekuatan angin hingga sedikitpun tidak bisa bergerak.

Namun demikian, ia masih sangat penasaran. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya yang ada, berulang-ulang ia mencoba, barulah berhasil cukup lumayan setelah menggunakan ilmunya Kim kong koa tee. Disandarkannya segernya di dinding batu, membiarkan dirinya ditiup angin dingin. Dengan cara demikian, ia malah merasa agak baik, tetapi asal ia sedikit bergerak saja, lantas membuat dirinya terlibat lagi dan mungkin akan digulung oleh pusaran angin yang demikian dahsyat dan dingin. Malah ada kemungkinan akan digulung dan kebentur dinding batu disekitarnya.

Setelah mengetahui kekuatan tenaga alam itu sesungguhnya tidaklah dapat dilawan dengan kekerasan, kesombongan Pek-kut Ie-su jadi lenyap seketika. Ia jadi bersandar terus di dinding batu dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya. Sebisa-bisa seluruh hawa panas dikumpulkannya di seluruh tubuhnya untuk menambah serangan hawa dingin dari luar.

Kalau keadaan bagian pusat itu sudah demikian hebatnya, di bagian-bagian yang lainnya juga tidak kalah hebatnya. Hanya bedanya kekuatan tenaga hembusan angin dingin itu agak berkurang sedikit dari apa yang terhembus dari pusat.

Dalam waktu sekejap mata, seluruh goa Kong han tong sudah berubah menjadi tempat yang penuh hawa dingin, disitu lantas timbul suara gemuruh dan jeritan orang. Pada saat itu, Peng pek Sin kun suami istri, Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang semua sudah berkumpul di luar goa dengan melalui jalan berliku-liku yang mudah menyesatkan orang.

Tempat dimana mereka berkumpul adalah dinding samping goa itu, terpisah jauh dengan mulut goa. Jadi tidak mudah diketahui oleh Thiat koan Totiang dan Liong Cay yan yang menjaga di luar goa.

Dua orang dari kawanan penjahat itu didekat rombongan Peng pek Sin kun. Tetapi Hee Thian Siang yang memiliki pandangan mata sangat tajam, sudah dapat melihat bercokolnya dua orang jahat tersbut di tempat itu. Maka ia lantas bertanya kepada Cin Lok Pho : "Cin Locianpwe, apakah kita perlu bereskan dulu dua manusia buas ini ?"

Sebelum Cin Lok Pho menjawab, sudah didahului oleh Mao Giok Ceng : "Hee laote, cukuplah kita lawan seorang Pek thao Losat saja dulu. Dia saja cukup buat kita, dapat kita tahan sebagai orang se. Orang-orang Ceng thian pay kini sedang

berjuang mati-matian melepaskan diri dari ancaman angin dingin Cu ngo im bong, maka kita tidak perlu berbuat keterlaluan !"

Hee Thian Siang menghela napas, berkata sambil menganggukkan kepala : "Mao locianpwe anggap demkian, tetapi jika kita pindah tempat dan berbalik Khie Tay Cao yang berada diatas angin, ia barangkali akan anggap penting untuk membasmi kita sekalian. Inilah perbedaan antara orang bijaksana dengan orang yang berhati ganas, juga perbedaannya antara orang dari golongan kebenaran dan dari golongan sesat !"

Selagi bicara begitu, ditengah udara tiba-tiba terdengar suara burung garuda tadi. Mao Giok Ceng yang melihat burung garuda itu terbang dari arah Thian han kok, lantas berkata sambil mengerutkan alisnya : "Jikalau burung garuda ini tidak disingkirkan, akhirnya pasti akan merupakan ancaman besar bagi kita. Tidak tahu kenapa lagi Leng Pek Ciok. Sampai sekarang ia masih belum mengantarkan panah dan anak panah yang kupesan suruh dia ambilkan. Ada apa lagi dengan dia ?"

Peng pek Sin kun juga merasa kelambatan Leng Pek Ciok itu sebagai hal yang mencurigakan maka bersama-sama Mao Giok Ceng, Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang, lalu pergi secepat mungkin ke lembah Thian han kok.

Di luar lembah saja hawanya sudah terasa dingin. Apalagi di dalam, tentu terlalu dingin sekali. Untuk berjaga-jaga dari dari hal itu, Mao Giok Ceng lalu mengeluarkan dua butir pel dari Swat san pay, lebih dulu minta Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang menelannya, kemudian bersama-sama masuk ke dalam lembah.

Tak disangka-sangkanya, begitu masuk ke dalam lembah, sudah tertampak Leng Pek Ciok bertempur dengan Pek thao Losat, kedua-duanya tampak sudah hampir kehabisan tenaga.

Peng pek Sin kun berkata dengan perasaan terheran- heran.

"Pao Sam kow tadi sudah ditotok roboh oleh Hee laotee, siapa yang membuka totokannya ?"

Hee Thian Siang dapat menduga hal itu, lalu berkata sambil tersenyum : "Orang yang membuka totokan Pao Sam kow, barangkali ada Leng toako sendiri. "

Leng Pek Ciok agaknya sudah melihat juga kedatangan mereka, maka sambil bertempur dia berkata dengan suara nyaring : "Kalau Leng Pek Ciok hari ini tidka dapat membinasakan Pek thao Losat, aku tidak mau berhenti bertempur ! Kalau ada yang berani turun tangan membantu lagi, tidak perduli siapa aku akan bunuh diri disini juga !"

Peng pek Sin kun tampak mengerutkan alis, ia lalu memanggil Swat hay jie yang sedang menyaksikan Leng Pek Ciok. Panah yang ada ditangannya Swat hay jie segera dimintanya. Lalu menanya bagaimana sampai bisa terjadi pertempuran antara kedua orang itu.

Swat hay jie menjawab dengan sikap menghormat : "Ketika Leng susiok membawa Pek thao Losat kemari, Pai Sam kow terus memaki-maki tidak berhentinya dan menyindir-nyindir Leng susiok. Katanya, kita mengandalkan jumlah banyak menyerang dirinya. Dan katanya lagi, tertangkapnya itu bukanlah mengandalkan kepandaian Leng susiok sendiri. Leng susiok yagn disindir demikian tentu saja sangat marah, ia mengambil panah dan anak panah ini, minta teecu mengantarkan ke goa Kong han tong, kemudian membuka totokan Pek thao Losat dan setelah itu mengadakan pertempuran dengan dia sampai sekarang ini. Oleh karenanya teecu menyaksikan pertandingan itu demikian dahsyat, maka agak lambat pergi ke goa Kong han tong. Harap Ciang bun Sucun suka memaafkan dosa teecu ini !"

Peng pek Sin kun dari tangan Swat Hay jie menerima gendewa dan anak panahnya, kemudian bertanya pula : "Semua suheng dan sutemu mengapa seorangpun tidak tampak disini ?"

Dengan sikap menghormat dan suara perlahan Swat hay jie menjawab : "Suheng dan sute sekalian sudah mendapat perintah Leng Susiok untuk sembunyi terus di dalam gudang Thian han to kuo."

"Gudang itu memang merupakan suatu tempar persembunyian yang paling baik. Dengan demikian, aku boleh tak usah pikirkan jauh-jauh dan bisa menghadapi orang-orang Cong thian pay dengan lebih leluasa !" berkata Peng pek Sin Kun sambil menganggukkan kepala.

Pada saat itu, Hee Thian Siang yang berdiri di samping menonton pertempuran itu ada maksud hendak memberi semangat kepada Leng Pek Ciok, maka lalu berkata dengan suara nyaring : "Leng Toako jangan kuatir. Aku akan merebut jasamu lagi. Kau mengeluarkanlah semua kepandaianmu dan bertempurlah sepuas-puas hatimu. Kudoakan juga dari sini agar bisa lekas mengirim Pek thao Losat ke akhirat !"

Leng Pek Ciok yang mendengar suara Hee Thian Siang itu, benar saja semangatnya lantas terbangun, gerak tipu gerak tipunya yang ampuh-ampuh sudah dikeluarkannya semua, hingga Pek thao Losat tampak kewalahan dan terpaksa telah mundur berulang-ulang.

Pao Sam kow bukan saja merupakan toa....... Khie Tay Cao, kepandaian ilmu silatnya juga sangat tinggi. Lagi pula ia ada melatih semacam ilmu yang dapat membuat orang beku bagaikan es. Dalam pertempuran kali ini dengan Leng Pek Ciok sebetulnya kekuatan mereka berimbang, tetapi kini perlahan-lahan Pek thao Losat mulai terdesak mundur, karena pikirannya kalut sendiri dan hatinya merasa gentar.

Kalau pada jurus-jurus permulaan adalah Pek thao Losat yang dalam keadaan mendongkol teru menerus, melakukan penyerangan tetapi setelah Peng pek Sin kun bertiga datang ke situ, dengan sendirinya Pak Sam kow merasa gentar, Leng Pek Ciok juga sedikit demi sedikit sudah dapat mendapat kembali posisinya, sedangkan Pao Sam kow terus menerus harus mundur untuk menghindarkan serangan hebat lawannya.

Hee Thian Siang yang memperhatikan jalannya pertempuran, mengertilah sudah semua perubahan itu, maka lalu berkata kepada Peng pek Sin kun dengan suara perlahan

:   "Sin   kun,   pertempuran   ini   tampak   berbeda   dengan pertempuran di atas kutub Hian penggoan. Leng toako yang selama hidupnya jarang menemukan tandingan, biarlah sekali ini bertempur sepuas-puasnya dengan Pek thao Losat !"

Peng pek Sin kun juga sudah melihat Leng Pek Ciok mulai menguasai keadaan, jadi terang tak mungkin mendapat bahaya, maka lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum dan memberi isyarat kepada Mao Giok Ceng supaya memperhatikan dan berjaga-jaga saja untuk Leng Pek Ciok.

Cin Lok Pho sementara itu bertanya sambil tersenyum : "Sin kun, angin Cu ngo im hong didalam goa Kong han tong itu, apakah kalau sudah lewat waktunya akan berhenti sendiri

?"

"Sebentar lagi, orang-orang dari Ceng Thian pay itu ada yang luka atau mati atau tidak, segera dapat kita ketahui !" menjawab Peng pek Sin kun sambil tertawa.

Berkata sampai disitu, di tengah udara kembali terdengar suara burung garuda tadi. Hee Thian Siang dengan cepat lalu pasang mata ke atas. Tampak olehnya burung garuda raksasa itu berputar putaran di angkasa, lalu berkata kepada Peng Pek Sin kun : "Sin kun, sudah siapkah panahmu ditangan ? Aku pikir hendak aku pancing garuda itu biar dia terbang rendah, ingin sekali kulihat kepandaianmu memanah burung !"

Sehabis berkata demikian, ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dan mengeluarkan suara siulan panjang.

Burung garuda yang sedang terbang berputar-putaran di angkasa mendengar suara siulan Hee Thian Siang. Benar saja lantas terbang rendah ke atas lembah Thian han kok.

Gendewa ditangan Peng pek Sin kun sudah ditarik penuh hingga tiga kali, anak panah sudah siap untuk dilepaskan. Matanya terus menatap ke angkasa dan henda melepaskan anak panah ditangannya. Benar dugaannya, burung garuda itu ternyata sangat cerdik. Ketika terbang diatas lembah, mengetahui bahwa orang-orang di bawah itu sedang mengincar dirinya, maka hanya terbang berputaran di angkasa yang tinggi, tidak berani ke bawah.

Peng pek Sin kun sudah hendak mencoba kepandaiannya memanah, tetapi ternyata tidak dapat digunakan, Hee Thian Siang lalu berkata sambil tersenyum : "Sin kun, burung garuda ini terlalu tinggi terbangnya, apalagi dia adalah binatang cerdik dan sudah terdidik baik oleh Pat bo Yao ong, sama sekali tidak gampang-gampang di panah !"

"Memang terlalu tinggi. Burung garuda itu sungguh sangat cerdik, tidak mau terbang rendah. Terpaksa aku ingin mencoba memanah dari sini sekali saja !" berkata Peng pek Sin kun.

"Sin kun, tidak perlulah kau begitu tergesa-gesa ! Kau terus pasang mata ke angkasa, aku kira dengan melihat Pek thao Losat terpukul jatuh oleh Leng toako, burung itu pasti akan turun untuk membantu." berkata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

Peng pek Sin kun membenarkan ucapan Hee Thian Siang itu, ia menganggukkan kepala sambil tersenyum, tidak jadi memanah.

Hee Thian Siang membalikkan tubuhnya untuk melihat lagi pertempuran kedua tokoh kuat itu, kini, Pao Sam kow sudah beradai dalam kepungan ketat lawannya, pikirannya rupanya juga sudah mulai takut hingga semangatnya menurun, kekalahan sudah terbayang pasti berada di pihak penjahat.

Hee Thian Siang menyaksikan keadaan demikian, lalu berkata sambil tertawa panjang : " Leng toako, mengapa kau masih belum mengeluarkan seranganmu yang terampuh ? Kau keluarkanlah ilmumu Kiu coan thian haw kang !' Leng Pek Ciok yang mendengar ucapan itu, lalu mengeluarkan suara bentakan bengis, rambut dan jenggotnya pada beterbangan, ia menghentikan serangannya, hanya sepasang matanya yang bersinar tajam, ditujukan kepada sepasang tangannya tanpa berkedip.

Perlu diketahui, dalam pertemuan pembukaan partai baru Ceng thian pa dahulu, Pek thao Losat pernah dikalahkan lantaran Leng Pek Ciok mengeluarkan ilmu Kiu coan thian haw kang. Kini ketika menampak sepasang telapak tangan Leng Pek Ciok perlahan-lahan telah berubah menjadi putih, Pao Sam kow sudah dapat meramalkan bagaimana hebat serangan selanjutnya yang sesungguhnya tidak mudah disambut olehnya.

Kecuali itu dia juga tahu bahwa Peng pek Sin kun, Mao Giok Ceng dan Cin Lok Pho dan Hee THian Siang yang menjadi musuh-musuh juga sedang memperhatikan dirinya, maka sekalipun ia bisa lolos dari serangan mau Leng Pek Ciok kalau ia mengadu ilmu dan kekuatan tenaga dalamnya yang duah mempunyai latihan selama beberapa puluh tahun, namun apakah musuhnya yang empat orang lagi itu, mau mengerti begitu saja ? Relakah mereka melepaskan dirinya turun gunung dalam keadaan masih bernyawa ?

Mengingat jalan hidupnya sudah buntu dalam keputusasaannya, Pao Sam kaw telah mengambil suatu keputusan. Sementara itu tangan Leng Pek Ciok sudah putih semua, dengan perlahan sudah diangkat tinggi.

Orang ganas seperti Pek thao Losat itu, sudah pasti memiliki sifat sangat kejam luar bisa, kalau benar bahwa harapan hidupnya sudah tidak ada, sudah tentu tidak mau menyerahkannya secara cuma-cuma.

Meskipun ia sudah tahu tidak bisa hidup lagi, ia masih pikir hendak minta korban satu atau dua orang yang akan dibuat konco untuk ia berangkat ke akhirat. Di antara musuh-musuhnya sekalian itu kecuali Leng Pek Ciok yang sudah menanam bibit permusuhan pada pertempuran di gunung Kie lian dahulu, yang paling dibenci oleh Pek thao Losat ialah Hee Thian Siang, maka dia jugalah yang dimaui jiwanya. Sebelum menyambut serangan Peng Pek Ciok, diam-diam sudah mempersiapkan serangannya yang mematikan.

Oleh karena sudah bertekad hendak turung tangan terhadap Hee Thian Siang, maka selagi Peng Pek Ciok berhenti melancarkan serangannya, gigi dimulutnya telah dirontokkan sendiri dan dikulum dalam mulutnya dengan mengandal ilmunya Kun goan cin khi, ia sudah siap hendak menggunakan gigi-giginya sebagai ganti senjata rahasia untuk menyerang Hee Thian Siang.

Baru saja tangan kanan Leng Pek Ciok diangkat tinggi, Pao Sam kow dengan kecepatan bagaikan kilat sudah menotok ulu hatinya sendiri dengan jari tangannya.

Tetapi sebelum ujung jari tangannya menyentuh jalan darah terpenting di dirinya sendiri, terlebih dahulu Pao Sam kow menyemburkan giginya yang berada dalam mulutnya, ditujukan ke arah Hee Thian Siang !

Hee Thian Siang telah tahu, Pek thao Losat Pao Sam kow pasti tidak mau menyerah mentah-mentah dan mati secara cuma-cuma. Tetapi ia juga tidak pernah menduga, selagi menghadapi serangan maut Leng Pek Ciok, terbalik sudah menyerang dirinya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Hee Thian Siang lebih-lebih tidak menduga Pao Sam kaw akan menggunakan giginya sebagai ganti senjata untuk menyerang dirinya. Jarak diantara mereka tidak terlalu jauh, perobahan yang terjadi juga secara mendadak. Jadi sekalipun Hee Thian Siang memiliki kepandaian luar biasa, juga sudah tidak ada gunanya saat itu.

Pao Sam kaw telah menggunakan kekuatan yang berisi ilmu Kun-goan-cin-khi, maka ketika gigi itu melesat keluar dari mulutnya lalu berubah menjadi semacam senjata tajam yang dapat menembus segala benda keras.

Peng pek Sin kun sedang mencurahkan perhatiannya hanya kepada burung garuda yang terbang di angkasa. Tentu saja tidak mengetahui sama sekali terjadinya perobahan itu.

Sementara Mao Giok Ceng dan Cin Lok Pho yang masing- masing mempunyai perhitungan cermat dan hati-hati, keduanya siap-siap melindungi Leng Pek Ciok dari serangan Pao Sam-kow.

Dan kini ketika mengetahu bahaya maut timbul dengan mendadak, Hee Thian Siang sudah berada dalam sangat kritis, waktu itulah keduanya lantas turun tangan dengan berbareng.

Ilmu kiu-coan-thian-hang-kang dari Mao Giok Ceng dan ilmu Pan-san-ciang dari Cin Liok Pho telah meluncur. Memang mereka berhasil menyampok jatuh beberapa biji gigi-gigi Pao Sam-kow, tetapi karena agak terlambat, masih ada tiga biji yang mengenakan sasaran dengan telak. Hee Thian Siang mengeluarkan keluhan tertahan dan mundur dua langkah.

Sewaktu orang-orang sedang kerepotan seperti itu, burung garuda raksasa yang terbang diangkasa, tiba-tiba menukik ke bawah !

Peng-pek Sin-kun sudah siap dengan panahnya. Degnan keahliannya memanah, anak panah itu sudah meluncur dan dengan beruntun melepaskan tiga batang anak panah. Anak panah yang dilepaskan dengan beruntun itu, bukan main hebatnya, sudah tentu sukar dielakkan.

Akan tetapi burung garuda itu adalah burung sangat cerdik yang sudah terdidik dan terlatih baik. Meskipun dalam keadaan bahaya seperti itu, masih berhasil menyampok jatuh tiga batang anak panah yang dilepaskan oleh Peng-pek Sin- kun dan masih tetapi melayang turun hendak menerkam Leng Pek Ciok.

Leng Pek Ciok saat itu baru saja mempersiapkan ilmunya Kiu-coan-thian-han-kang hingga sebelas bagian. Baru hendak menyerang Pao San-kow, perempuan ganas itu sudah bunuh diri dengan menotok ulu hatinya sendiri dengan jari tangannya dan Hee Thian Siang tahu terluka oleh serangan menggelap Pao Sam-kow.

Lagi dalam keadaan terkejut dan marah, tiba-tiba burung garuda raksasa itu menerkam dirinya. Tangan kanan Leng Pek Ciok segera dibalikkan dan ilmunya Kiu-coan-thian-han- kang dilancarkan ke atas.

Burung garuda itu berhasil menyampok jatuh tiga batang anak panah Peng-pek Sin-kung, tetapi tidak sanggup bertahan dari serangan Kiu-coan-thian-han-kang dari Leng Pek Ciok yang mengandung hawa dingin, terpaksa merubah gerakannya hendak mengelak dari serangan itu.

Peng-pek Sin-kun tak mau menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Dengan cepat anak panahnya yang keempat melesat ke atas. Kali ini anak panahnya telah berhasil menembusi perut burung garuda itu, hingga burung raksasa itu jatuh binasa seketika.

Setelah Pek thao Losat Pao Sam-kow dan burung garuda raksasa itu menggeletak sebagai bangkai, Peng-pek Sin-kun, Mao Giok Ceng, Leng Pek Ciok dan Cin Lok Pho dengan penuh perhatian menanyakan keadaan Hee Thian Siang. Hee Thian Siang menunjuk tangan kirinya, ia berkata sambil tertawa getir : "Keberuntunganku masih terhitung baik, tiga gigi yang digunakan untuk menyerangku tadi, ada dua biji yang mengenakan jalan darah di depan dada yang terlindung sisik naga pelindung jalan darah, hanya satu yang masuk di lengan tangan kiriku, mungkin kini tulangnya telah remuk !"

"Hee laote jangan kuatir, Leng toakomu juga seorang ahli bedah. Aku nanti akan bantu kau mengeluarkan gigi Pao Sam- kow dari dalam tanganmu. Di gunung Swat san sini juga ada sedia banyak obat-obat manjur untuk menyambung tulang !" kata Leng Pek Ciok sambil tertawa.

Cin Lok Pho berkata sambil menggelengkan kepala dan menghela napas : "Orang-orang Kang-ouw sesungguhnya terlalu jahat dan kejam. Kejahatan mereka tidak dapat diukur dengan pikiran wajar ! Siapa bisa menyangka kalau Pek thao Losat Pao Sam-kow tidak menggunakan senjata rahasianya yang ampuh-ampuh seperti Kiu-yu-leng-hwee dan duri beracun thian-keng-cek, sebaliknya menggunakan gigi sendiri sebagai senjata rahasia ?"

Hee Thian Siang sudah mulai dibedah lukanya oleh Leng Pek Ciok dengan menggunakan pisau batu giok. Matanya mengawasi bangkai Pek thao Losat, berkata sambil menghela napas panjang : "Inilah kejam dan ganasnya Pao Sam-kow. Dia tahu aku memiliki jaring wasiat yang dapat digunakan untuk menggagalkan serangan senjata berbisanya Kiu-yu- leng-hwee dan Thian-keng-cek, lalu pikir mau menggunakan gigi sendiri, dengan kekuatan tenaga Kun-goan-cin-khi hendak membinasakan diriku !"

Peng-pek Sin-kun juga berkata kepada istrinya sambil tertawa kecil. "Hal-hal yang tidak dapat dipikir dalam dunia ini sesungguhnya terlalu banyak sekali. Seperti anak panahku, yang dahulu belum pernah gagal. Hari ini ternyata sudah tiga batang kugunakan tanpa ada hasil, baru yang terakhir dengan secara kebetulan bisa membinasakan burung garuda itu." Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, berkata sendiri sambil mengawasi bangkai burung garuda itu : "Sayang ! Sayang. !"

"Hee laote, apa yang perlu disayangi ?" tanya Mao Giok Ceng sambil tertawa.

"Aku dengan enci Tiong-sun sudah pikir hendak memelihara dan menjinakkan seekor burung garuda yang cerdik, akan digunakan sebagai tunggangan untuk melayang- layang di tengah udara. Sekarang ada kesempatan menemukan seekor burung garuda yang cocok ini, tetapi sudah terbunuh oleh cin kun !" kata Hee Thian Siang sengit menunjuk burung itu.

Leng Pek Ciok yang mendengar ucapan itu, ia berkata sambil tertawa : "Burung itu adalah burung ganas peliharaan Pat bo Yao ong Hian Wan Liat, kurasa tidak mau menyerah kepada Laote. "

Tidak menantikan sampai habis ucapan Leng Pek Ciok, Hee Thian Siang sudah berkata : "Leng toako, apakah kau tidak tahu bahwa enci Tiong-sun itu memiliki kepandaian ilmu yang bisa menjinakkan segala macam binatang terbang dan binatang buas ?"

"Kalau benar demikian halnya, aku berjanji kepadamu akan memberikan kau seekor burung rajawali besar !" berkata Leng Pek Ciok sambil tertawa besar.

Sewaktu di goa kuno Hong-gu san dahulu, Hee Thian Siang sudah pernah menyaksikan tengkorak burung rajawali raksasa, ia tahu jauh lebih kuat daripada burung garuda ini, maka ia sangat girang tanyanya : "Leng toako, kemana kau hendak mencari burung rajawali raksasa yang hendak kau berikan kepadaku itu ?" "Dahulu waktu aku pesiar ke gunung Thian-san utara telah berkenalan dengan seorang aneh yang menamakan diri Bu kie Sianseng. "

Cin Lok Pho lalu berkata : "Nama Bu kie Sianseng ini kedengarannya sangat aneh !"

"Orang itu paling senang hidup di tempat-tempat pegunungan yang banyak air dan batunya, yang banyak binatang-binatang buas dan burung beraneka warna serta pohon-pohon cemara yang tinggi menjulang ke langit, maka menamakan dirinya Bu kie Sianseng !" berkata Leng Pek CIok sambil menganggukkan kepala.

"Apakah Bu kie Sianseng itu udah memelihara burung rajawali raksasa ?" bertanya Hee Thian Siang.

"Ada. Aku pernah menyaksikan sendiri ia memberi makan seekor burung rajawali raksasa dengan buah mukjizat. Kabarnya itu adalah burung raksasa bersayap emas !" berkata Leng Pek Ciok sambil tertawa.

Hee Thian Siang kegirangan, katanya : "Leng toako, bagaimana hubunganmu dengan Bu kie Sianseng itu ? Kalau toako hendak minta kepadanya seekor rajawali raksasa, apa kiranya ia tidak akan keberatan ?"

"Aku dengannya ada hubungan sangat baik. Aku juga tahu Bu kie Sianseng itu paling suka lukisan dan tulisan kuno. Jadi asal diberikan lukisan simpanan Peng-pek Sin-kun dan tulisan Budha Gouw To Cu, pasti suka memberikan seekor burung rajawali raksasanya dan burung itu nanti yang akan kuhadiahkan kepadamu." kata Leng Pek Ciok sambil tertawa.

Peng-pek Sin-kun lalu berkata : "Aku tidak akan sayang untuk menukar lukisan tulisan kuno itu kepadanya. Leng heng cari sendiri di gudang Thian- han- to- kao, ambil lukisan dan tulisan itu supaya Hee laote bisa mendapatkan burung itu." Hee Thian Siang bukan kepalang girangnya mendengar ucapan itu, sampai ia lupa bahwa saat ini mereka sedang menghadapi orang-orang jahat. Leng Pek Ciok memberi obat kepadanya dan telah dibungkus luka-lukanya lalu berkata sambil tersenyum : "Hee laote, tulang-tulang di lengan kirimu memang sudah remuk karena nenek itu turun tangan terlalu kejam. Tetapi kini setelah kuberikan obat mujizat dari Swat san pay, sudah tidak halangan. Tetapi ingat baik-baik, dalam waktu sepuluh hari tidak boleh kau menggunakan kekuatan tenaga dalam !"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia mendongakkan kepala melihat langit, kemudian bertanya kepada Peng-pek Sin-kun.

"Sin-kun, sekarang ini rasanya sudah lewat tengah hari !" "Sekarang memang sudah lama lewat waktu tengah hari !"

sahut Peng-pek Sin-kun sambil mengangguk.

"Kalau begitu, bukankah angin Cu-ngo-im-hong sudah lama terhenti ? Apakah orang-orang Ceng-thian-pay itu pasti ada yang luka atau mati ? Mengapa tidak terdengar suaranya sedikitpun juga ?" tanya pula Hee Thian Siang.

Peng-pek Sin-kun seolah-olah baru dibikin sadar oleh pertanyaan Hee Thian Siang. Ia diam-diam juga merasa heran, sambil mengerutkan alisnya ia berkata : "Benar juga. Mengapa tak terdengar suara atau gerakan dari orang-orang Ceng-thian-pay ? Benar-benar sangat ganjil ! Kita harus segera kirim orang untuk pergi ke Kong-han-tong untuk mengadakan pemeriksaan !"

"Jumlah musuh terlalu banyak. Kalau kita kirim orang kesana, mudah sekali terkurung oleh mereka. Kalau memang mau pergi, sebaiknya semua pergi !" kata Hee Thian Siang sambil tertawa. "Luka di lengan kiri Hee laote masih belum sembuh sama sekali. Sudahlah, tak perlu kita pergi ke sana !" berkata Leng Pek Ciok.

"Leng toako yang khawatir, aku tidak nanti akan menurunkan tangan sembarangan. Dengan meninggalkan aku seorang diri disini, bukankah sangat menyebalkan ?" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Setelah mengadakan perundingan sebentar, kesemua orang itu lalu meninggalkan lembah Thian-han-kok dan berjalan menuju ke goa Kong-han-tong.

Di luar dugaan mereka, begitu tiba di goa Kong-han-tong, goa itu ternya sepi sunyi. Sedangkan Thiat koan Totiang dan Liong Cay yan yang menjaga dilura juga sudah tidak tampak bayang-bayangnya.

Peng-pek Sin-kun berempat denang perasaan terheran- heran masuk ke dalam goa. Meraka melakukan pemeriksaan dengan teliti, juga tidak menemukan tanda apa-apa.

Cin Lok Pho memejamkan matanya memikirkan persoalan itu. Lama, baru ia bisa berkata sambil tersenyum : "Keadaan seperti ini tidak berapa aneh. Mungkin setelah mengalami serangan angin dingin Cu-ngo-im-hong, tentunya orang-orang Ceng Thian itu telah mendapat pukulan hebat. Jikalau tidak mereka yang datang dengan semangat berkobar dan penuh ambisi, bisa berlalu secara diam-diam. Malah burung garuda mereka dan Pek thao Losat ditinggalkan begitu saja. Bukankan sangat mustahil ?"

Dugaan Cin Lok Pho ini, sedikitpun tidak salah. Di dalam rombongan orang-orang Ceng Thian itu hanya Pek-kut Ie-su sajalah yang memiliki kepandaian sangat tinggi. Juga Khie Tay Cao si pemimpin rombongan masih bisa menahan serangan hawa dingin itu. Yang lainnya seperti Tong Kie dan Tho hwa N......., karena kedua orang ini sudah lama berdiam di gunung Kie lian yang hawanya dingin, jadi sudah biasa hingga bagi mereka juga tidak begitu hebat pengaruh angin Cu-ngo-im-hong. Akan tetapi orang-orang seperti Lui Hwa, Liong Cay-yan dan Goan thong Hweshio berempat, mereka telah kedinginan setengah mati sehingga hampir tidak dapat mempertahankan jiwanya.

Di bawah keadaan demikian, Pek-kut Ie-su dan Kie Tay Cao takut kalau orang-orang Swat san pay nanti menyerbu mereka dengan sepenuh tenaga, yang sendirinya akan membawa kerugian lebih besar bagi pihaknya. Bahkan ada kemungkinan besar akan ludas sama sekali, lantas minggat dari gunung Swat san secara diam-diam.

Sudah tentu, karena mengingat keadaan sendiri sangat berbahaya, sudah tidak ada pikiran lagi bagi mereka untuk menolong Pek thao Losat dan memanggil burung garudanya.

Selagi Peng-pek Sin-kut dan lainnya semua menunjukkan perasaan dan sikap girang, Hee Thian Siang malah tampak berpikir keras sambil mengerutkan alisnya, sedang di wajahnya menunjukkan sikap sedih.

Cin Lok Pho yang menyaksikan keadaan demikian, lalu bertanya dengan terheran-heran. "Hee laote, apa yang sedang kau pikirkan ?"

"Permusuhan antara kedua pihak kini makin hari makin dalam. Meskipun musuh besar kini sudah undurkan diri tetapi ancaman bahaya di kemudian hari masih tetap ada. Pat bo Yao ong Hian Wan Liat dan kawan-kawannya, entah kapan pasti akan datang lagi ke daerah Tionggoan. Apakah Sin-kun dan semua anak buah Sin-kun bisa tetap tinggal di kutub Hian penggoan ini tanpa mengawatirkan gangguan musuh ?"

Ucapan Hee Thian Siang itu, membuat Peng-pek Sin-kun dan istrinya yang mendengarkan saling berpandangan sejenak, diwajahnya juga terlintas perasaan khawatir. "Hee laote sudah memikirkan demikian jauh, kiranya ada mempunya rencana untuk mengenai mereka ?" tanya Leng Pek Ciok.

"Aku kira kalau kita hendak membabat rumput bersih harus dibabat akar-akarnya. Jikalah tidak melakukan pembasmian sampai ke akar-akarnya, rimba persilatan pasti tidak akan aman sentosa !"

"Habis menurut pikiran Hee laote bagaimana kita dapat membasmi sampai ke akar-akarnya ?" beratnya Cin Lok Pho sambil tersenyum.

"Aku pikir, biar partai-partai seperti Siao lim pay, Lo bu pay, Swat san pay dan Ngo bie pay bersatu bersama-sama dengan partai-partai kebenaran di rimba persilatan, beramai-ramai keluar dengan alasan menuntut keadilan buat Bu tong, mengadakan pertempuran dengan kawanan penjahat itu !"

"Itu merupakan siasat yang benar, alasannya juga teguh. Tetapi untuk mengadakan pertemuan dengan berbagai partai masih memerlukan banyak waktu. Apakah kiranya keburu ?" tanya Cian Lok Pho.

"Apakah Cin locianpwee anggap bahwa partai Siau lim, Lo bu dan Ngo bie serta dari golongan kebenaran tidak akan menyetujui usulku ini ?"

"Untuk pihak Lo bu pay, aku dapat pertanggungjawabkan, Ngo bie pay dan Swas san pay juga pernah digempur oleh kawanan penjahat itu. Sudah pasti menganggap orang jahat itu sebagai musuh besarnya. Sedangkan Siao lim pay dan beberapa orang dari golongan kebenaran juga selalu menganggap dirinya kewajiban untuk membasmi kejahatan sebagai tugas mereka yang utama, barangkali tidak ada orang yang menentang pikiran laote ini !" "Kalau benar tidak ada orang yang akan menentang, rasanya tidak ada salahnya kalau kita menggunakan para ketua dari berbagai partai menantang perang lebih dahulu kepada partai Ceng thian pay. Kita boleh menetapkan suatu hari, kemudian barulah memberitahukan kepada orang-orang yang bersangkutan. Dengan demikian jadi tidak akan menghambat atau terlambat waktunya !'

Peng-pek Sin-kun lalu berkata sambil menganggukkan kepala.

"Pikiran Hee laote ini baik sekali. Sekarang kita harus mempelajari dahulu kapan kiranya kita bisa mengadakan pertempuran dengan kawanan penjahat itu. Dan siapa yang mengirim surat tantangan. Surat tantangan itu ditujukan kepada siapa."

"Soal hari dan bulannya, harus Sin-kun dan Mao locianpwe serta Cin locianpwe dan Leng toako pikirkan dulu masak- masak. Tentang tugas untuk mengirim surat tantangan itu, biarlah Hee Thian Siang sendiri yang akan melakukan !" kata Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Apakah Hee laote pikir akan berkunjung lagi ke goa Siang swat tong di gunung Kie lian ?" tanya Mao Giok Ceng sambil tersenyum.

"Aku tidak akan pergi ke goa Siang swat tong, menunggu setelah surat tantangan itu ditetapkan waktunya dan ditulis pada perayaan tahun cap go meh tahun depan. Akan kusampaikan sendiri ke puncak Tay pak hong di gunung Cong lam san !"

Peng-pek Sin-kun, Mao Giok Ceng dan Leng Pek Ciok yang mendengar ucapan itu pada tersenyum. Cin Lok Pho lalu memberikan keterangan kepada mereka : "Malaman Cap go meh di tahun depan, ada bertepatan jatuhnya hari ulang tahun keseratus dari Pat bo Yao ong Hian Wan Liat. Orang-orang dari golongan sesat diluar dan dalam negeri, pada malam itu hendak mengadakan perjamuan di puncak gunung Tay pek hong gunung Cong Lam san untuk merayakan hari ulang tahunnya !"

Mendengar itu, Peng-pek Sin-kun lalu bertanya sambil menatap wajahnya Hee Thian Siang.

"Apakah Hee laote sudah pikir hendak mengantarkan surat tantangan itu ke puncak gunung Tay pek hong, apakah Pat bo Yao ong Hian Wan Liat juga kita tantang sekalian ?"

"Kalau ditilik dari pertempuran di gunung Swan san hari ini, tiga persaudaraan keluarga Liong dan Goan thong Hweshio, semua berada di barisan Ceng thian pay. Jelas bahwa penjahat dari dalam dan luar negeri sudah berkumpul. Apalagi Sin-kun sudah membinasakan burung garuda yang dipelihara dan dididik oleh Wan Liat sendiri, ditambah ini permusuhan kedua pihak semakin mendalam, sekalipun kita tidak tantang ia, ia juga bisa datang. Daripada begitu, ada baiknya kalau kita secara terang-terangan menantang iblis tua itu."

"Ucapan Hee laote ini memang benar. Tetapi Pat bo Yao ong Hian Wan Liat itu bukan saja memiliki kepandaian ilmu silat yang sudah tidak ada taranya, ia bahkan masih memelihara banyak binatang-binatang buas dan burung- burung aneh serta binatang-binatang beracun. Disamping itu juga masih terdapat tokoh-tokoh luar biasa seperti tiga orang kerdil dari negara timur, sepasang manusia aneh beracun dan empat Thian cun dari negara barat, semua tunduk dibawah perintahnya, pengaruh mereka besar sekali. Kalau kita sudah hendak mengadakan pertempuran dengan mereka, agaknya perlu mengadakan persiapan yang lebih seksama !" berkata Peng-pek Sin-kun sambil menganggukkan kepala. "Sayang suhu telah tiada, semoga ayah enci Tiong sun, Tiong sun locinapwe masih bisa tinggal di dunia ini barang tiga atau lima tahun lagi !" berkata Hee Thian Siang sambil menghela napas panjang.

"Walaupun Tiong sun tayhiap masih ada di dunia, ia juga cuma dapat menghadapi Pek-kut Ie-su. Sedangkan disamping Pek-kut Ie-su masih ada Pek-kut Sian-cu dan Pat bo Yao ong serta yang lain-lainnya......." berkata Mao Giok Ceng sambil mengerutkan alisnya.

"Ditilik dari keadaan dewasa ini, sekalipun orang-orang dan partai-partai golongan kebenaran bisa bersatu, masih tidak seperti golongan orang-orang golong sesat yang pengaruhnya demikian besar ! Kita agaknya perlu berusaha untuk mengundan Hong tim Ong-khek May Ceng Ong, Siang sian Siangjin Lek Biauw Biauw dan Kiu thian Mo lie Teng san Siang bertiga dari kediamannya dilembah Lecui kok di gunung Ko le kong san !" berkata Cin Lok Po.

"Ketiga tokoh luar biasa rimba persilatan ini, meskipun kepandaiannya ilmunya sudah tidak ada tandingannya, tetapi paling-paling cuma bisa diimbangkan dengan Tiong sun tayhiap, mungkin masih bukan tandingan Hian Wan Liat si iblis tua itu !" berkata Leng Pek Ciok.

Hee Thian Sian yang mendengar ucapan itu, ia teringat kepada ucapan suhunya yang mengatakan bahwa kepandaian dan kekuatan suhunya terpaut sedikit saja dengan Pat bo Yao ong. Maka kalau ditinjau dari sisi kepandaian dan kekuatan Tiong sun Seng, Hong tim Ow khek dan lain-lainnya, pasti juga masih bukan tandingan iblis tua itu yang dipandang sebagai orang terkuat pada dewasa ini !

Mao Giok Ceng menampak Hee Thian Siang yang tiba-tiba menundukkan kepala seperti sedang berpikir, lalu bertanya sambil tersenyum : "Hee laote, kau sedang pikirkan apa lagi ?"

Hee Thian Siang tiba-tiba tergerak pikirannya, berkata sambil tertawa :

"Aku ingat, aku ingat ! Locianpwe, kalau nanti kau menulis surat undangan itu, harinya sebaiknya ditetapkan agak lama sedikit supaya aku dapat mencari seorang tokoh gaib kenamaan, untuk menghadapi Pat bao Yao ong !"

"Hee laote, siapa yang kau maksudkan dengan tokoh gaib kenamaan itu ?" bertanya Cin Lok Pho heran.

Hee Thian Siang lalu menceritakan dua tokoh luar biasa yang sudah menyembunyikan diri. Thian Siangjin dan Sam Ciok Cinjin. Ketika keduanya itu hendak menutup mata, tiba- tiba muncul seorang tua berbaju kuning Hee kouw Soan, katanya sambil tersenyum :

"Orang tua ini, kepandaian ilmunya dan kekuatan tenaga dalamnya sesungguhnya sudah mencapai ke tingkat yang tidak ada taranya ! Tetapi ambisinya sangat besar, ia tidak mau mengalah kepada siapa pun juga. Jikalau aku dapat menemukan dia, pasti dapat memancing ia keluar untuk bertanding dengan Pat bao Yao ong !"

"Orang tua she Hee kouw ini memang merupakan seorang tokoh yang tepat untuk menghadapi Pat bao Yao ong. Tetapi dia sudah mengadakan perjanjian dengan laote untuk mengadakan pertemuan di gunung Tay san pada lima tahun kemudian. Dan sekarang orangnya tidak menentu jejaknya, dimana laote hendak mencari ?" bertanya Cin Lok Pho sambil menganggukkan kepala.

"Oleh karenanya, maka kuminta locianpwe sekalian, supaya waktunya mengadakan pertempuran itu, di dalam surat tantangan, supaya ditetapkan agak jauh sedikit !" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa. Peng-pek Sin-kun berpikir sejenak, lalu bertanya kepada Hee Thian Siang :

"Hee laote, kalau kita tetapkan harinya itu pada malam Tiong ciu dua tahun kemudian, bagaimana ? Apakah kau pikir masih terlalu dekat ?"

"Rasanya tidak. Pada malam Cap go meh tahun depan, setelah kuantarkan surat tantangan, masih ada waktu satu tahun untuk mencari orang tua berbaju kuning itu. Dalam waktu setahun itu rasanya masih boleh juga !"

"Kalau waktunya ditetapkan pada malaman Tiong-ciu dua tahun lagi, tempatnya lalau kita tetapkan dimana ?" tanya Peng-pek Sin-kun.

"Tempatnya kupikir paling baik kita adakan di daerah Tiong goan, jangan terpisah terlalu dekat dengan markas Pat bao Yao ong dan sarang penjahat Ceng-thian pay !" kata Cin Lok Pho.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, dia berkata sambil tersenyum :

"Apa tidak lebih baik kita tetapkan saja di puncak Tay pek- hong di gunung Cong lam yang digunakan oleh kawanan penjahat itu untuk merayakan hari ulang tahun Pat bao Yao ong ?"

"Hee laote memang pintar, tempat itu sesungguhnya paling tepat !" berkata Cin Lok Pho dengan pujiannya.

"Waktu dan tempatnya sudah ada keputusan. Sekarang baiklah aku akan menulis surat tantangannya !" berkata Mao Giok Ceng sambil tertawa.

"Yang menandatangani surat tantangan itu, ketua partai- partai Swat-san, Ngo-bie, Siao-lim dan Lo-hu. Sebaiknya ditambah dengan nama-nama Tiong sun tayhiap, May Ceng Ong, Leng Biauw Biauw dan Teng Sang Siang berempat !" berkata Cin Lok Pho sambil tertawa.

Mao Giok Ceng baru saja menganggukkan kepala dan tersenyum, Hee Thian Siang sudah berkata lagi "

"Mao locianpwe, masih perlu ditambah dua orang lagi !" "Apakah ditambah dengan nama Hee laote dengan nona

Tiong-sun Hui-kehing ?" bertanya Mao Giok Ceng sambil tertawa.

"Kami hanyalah merupakan sebagian dari orang-orang angkatan muda, meskipun tindakan pembasmian kawanan iblis dan melindungi keadilan dan kebenaran sudah termasuk tugas dan kewajiban kami, tetapi kami masih tidak berani demikian jumawa ! Aku pikir minta Mao locianpwe supaya ditambah dua nama, yang satui alah Hong hoat Cinjin dan yang lain ialah Liong hui Kiam khek Su to Wie. Sebab mereka akan mewakili partai Bu tong dan Tiam Cong !"

Mao Giok Ceng yang mendengar ucapan itu, mengangguk- anggukkan kepala dan segera mengambil keras dan alat tulis untuk menulis surat tantangan.

Peng-pek Sin-kun berkata sambil menghela napas panjang

:

"Partai Swat san pay jikalau bukan karena kedatangan Cin

locianpwe dan Hee laote yang jauh-jauh spesial hendak memberi kabar dan memberi bantuan tenaga pula, pasti sudah mengalami nasib sama dengan partai Bu tong. Dan kini untuk sementara telah terhindar dari bahaya mau, sebaliknya membuat aku teringat kepada ketua Bu tong Hong hoat Cinjin, entah dia sekarang dalam keadaan selamat atau tidak. Dan dimana ia sekarang berada." "Nanti setelah mengantarkan surat tantangan, aku hendak gunakan kesempatan ini untuk pesiar ke seluruh tempat guna mencari orang tua berbaju kuning Hee kouw Soan, juga hendak mncari jejak Heng hoat Cinjin, minta padanya supaya jangan sampai putus asa, sebisa-bisa harus berusaha membangun kembali partai Bu tong !" berkata Hee Thian Siang.

"Jikalau tiada halangan, nanti pada malaman Tiong-ciu dua tahun lagi bisa menumpas kawanan penjahat di puncak gunung Tay pek hong dan kita dapat melakukan upacara bangun kembali partai Bu tong dan Tiam cong, bukankah ini merupakan suatu hal penting bagi rimba persilatan ?" berkata Cin Lok Pho sambil tertawa.

"Pikiran locianpwe ini sangat bagus, harapan seperti ini pasti dapat terwujud. Sebab aku sangat yakin bahwa kebenaran pasti selamanya akan menang dan kejahatan pasti hancur !" berkata Hee Thian Siang.

Pada saat itu, Mao Giok Ceng sudah selesai menulis suratnya, diberikan kepada Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang membaca surat itu dan disimpannya di dalam sakunya dan berkata pada Peng-pek Sin-kun :

"Sin-kun, tentang urusan Pek thao Losat yang bunuh diri, sebaiknya untuk sementara disimpan rahasianya dulu rapat- rapat, tidak perlu dibocorkan. "

"Hee laote jangan khawatir, kau barangkali kuatir Khie Tay Cao yang memikirkan keselamatan sucinya, tidak berani bergerak lagi terhadap Swat san pau, bukan ? Baik, aku pasti akan menurut pesanmu itu !"

Karena urusan disitu sudah selesai, Hee Thian Siang lalu minta diri kepada Cin Lok Pho, Peng-pek Sin-kun suami isteri dan Leng Pek Ciok. Peng-pek Sin-kun tahu Hee Thian Siang masih ada urusan lain, maka tidak menahannya. Mereka mengantar sampai dibawah gunung.

Sebelum perpisahan, Leng Pek Ciok dengan penuh perhatian memesan kepada Hee Thian Siang :

"Hee laote, janganlah sekali-kali kau lupakan tangan kirimu yang belum sembuh betul. Sambungan di tulangmu itu belum berapa kuat. Dalam sepuluh hari ini, janganlah kau menggunakan kekuatan tenaga dalam !"

"Leng toako, aku tidak bisa lupa. Hara saja supaya kau juga jangan lupa !" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Leng Pek Ciok terkejut, tanyanya :

"Aku lupa apa ?"

Cin Lok Pho yang berdiri disampingnya berkata sambil tertawa "

"Bukankah saudara Leng sudah berjanji hendak memberikan kepada Hee laote seekor burung rajawali besar

?"

Leng Pek Ciok jadi tertawa terbahak-bahak, ia katanya sambil menepuk-nepuk bahu Hee Thian Siang :

"Aku akan membantu Peng-pek Sin-kun suami isteri, mengatur segala apa yang perlu disini dulu. Selesai dengan tugasku, secepatnya aku akan pergi ke gunung Thian san utara dengan membawa lukisan dan tulisan kuno, untuk mencari Bu kie Sianseng dan minta kepadanya seekor burung rajawali besar ! Aku rasa, sebelum pertemuan kita yang akan datang, aku sudah dapat memenuhi janjiku !' Keluar dari daerah gunung Tay Swat san, Hee Thian Siang berkata pada Cin Lok Pho.

"Cin locianpwe, apakah locianpwe hendak pergi ke gunung Lo bu untuk memberitahukan Peng sim Sin nie tentang maksud kita mengadakan perjanjian bertempur dengan Pat bao Yao ong ?"

"Perjanjian itu waktunya masih lama, sekarang tidak perlu tergesa-gesa. Aku akan mengawani Hee laote menyampaikan surat tantangan ke puncak gunung Tay pak hong, setelah itu baru pergi ke gunung Lo bu. Rasanya masih belum terlambat

!" kata Cin Lok Pho.

Hee Thian Siang merasa bahwa jawaban itu diluar dugaannya, maka ia lalu bertanya sambil menatap orang tua itu :

"Cin locianpwe hendak mengawani boanpwe pergi ke puncak gunugn Tay pek-hong ?'

"Laote jangan kuatir, aku hanya ingin belajar kenal saja dengan Pat bao Yao ong, Kim-hoa Seng-bo dan beberapa tokoh dari kawanan orang luar perbatasan. Tidak nanti aku akan mengganggu tugas laote !"

"Surat tantangan akan boanpwe antar pada malaman cap go meh tahun depan, jadi masih banyak waktunya. Sekarang baiknya kita pergi kemana ? Apa locianpwe ada pikiran baik ?"

"Apakah laote hendak mencari nona Liok Giok Jie ? Sudah tentu kita harus pergi ke May yo kok dulu seperti apa yang disebutkan oleh padri istana kesepian, untuk mencari seorang yang bernama May yu Kie su."

"Boanpwe selalu merasa bahwa di dalam istana kesepian itu, setiap orang mempunya adat masing-masing yang sangat aneh. Apa sebabnya Liok Giok Jie justru pergi ke tempat itu, menjadi putri istana kesepian ?"

"Laote adalah seorang pemberani, apa kau gentar terhadap istana kesepian ?"

Hee Thian Siang mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata :

"Boanpwe bukannya merasa gentar terhadap istana kesepian, hanya merasa sangat tidak enak ! Coba saja nama julukan orang yang menamakan diri Mau-yu Kie su itu, kalau memang benar dia risau dan ruwet, apa perlunya harus menyekap diri di istana kesepian ? Mengapa tidak berkelana untuk menghibur lara ? Umpama mengandalkan kepandaiannya dan senjatanya, pergi menuntut balas dendam, bukankah lebih baik daripada harus bersikap demikian. ?"

"Orang yang berpikiran seperti laote ini adalah orang-orang yang optimis progresif dan mereka adalah orang-orang yang sudah putus asa hingga menjadi apatis !"

"Jikalau memang mereka benar-benar sudah putus asa dan menjadi apatis, biarlah sudah saja. Artinya mereka sudah rela menjalani hidup demikian tanpa berusaha untuk memperbaiki nasib dirinya. Tetapi herannya, mengapa masih banyak juga orang-orang dari istana kesepian itu yang bergerak bebas di dunia Kang ouw ?"

"Ucapan laote ini benar. Bila orang-orang dari istana kesepian sudah anggap bahwa segala-galanya sudah tak ada yang diharap hingga rela menyekap diri dalam kesepiannya, mengapa masih sering muncul di dunia Kang ouw ?"

"Aku duga orang yang bertindak sebagai pemimpin istana kesepian itu pasti mempunyai ambisi yang tidak dapat kita ukur. Mereka meminjam nama 'kesepian' sebagai pelarian saja untuk memancing tokoh-tokoh rimba persilatan yang gagah dalam usahanya supaya dapat memperkuat pengaruhnya !'

"Kalau menurut pikiran seperti Hee laote ini, pemimpin istana kesepian itu pasti bukan puteri kesepian !"

"Liok Giok Jie bagaimana dapat menjadi seorang pemimipin ? Dia paling-paling hanya dijadikan puteri istana kesepian itu, yang kedudukannya tidak lain dari pada patung saja !"

"Kalau kita ada kesempatan memasuki istana kesepian untuk menyaksikan di dalam istana itu, sebetulnya ada tersembunyi berapa banyak orang aneh, juga merupakan suatu hal yang sangat baik !"

"Kita memang ingin sekali masuk ke dalam istana kesepian, tetapi barangkali bukanlah suatu hal yang mudah !"

"Padri kesepian yang pernah kita jumpai di lembah kematian di gunung Cong-lam san bukankah pernah mengatakan kepada kita bahwa kalau kita hendak menjumpai May-yu Kie-su, boleh masuk ke istana kesepian saja ?"

"Locianpwe telah melupakah suatu hal. Setelah menemukan May-yu Kie-su, pasti lebih dahulu menerangkan urusan kita yang dianggap menyenangkan hati dan olehnya baru diambil keputusan boleh atau tidak kita masuk ke dalam istana kesepian itu !"

"Aku memang benar telah melupakan hal ini. Kalau demikian halnya, soal niat kita hendak menjumpai May-yu Kie- su, apa masih perlu mengalami suatu kejadian yang sedih lebih dulu ?"

"Dalam hal ini ada baiknya locianpwe pikir dulu masak- masak. Sebab kita tidak biasa membohong. Sekarang keadaan sangat memaksa, terpaksa berbuat demikian. Kalau tidak kita rencanai dulu dan pikir masak-masak tentu akan diketahui oleh mereka !"

"Apakah laote sendiri sudah dapat akal baik ?"

"Boanpwe rasanya tidak perlu harus mengarang lagi. Asal pengalaman boanpwe selama ini tambah sedikit saja, seharusnya sudah cukup sebagai bahan untuk mengemukakan diri boanpwe sebagai orang yang selalu kesepian !"

Cin Lok Pho mendengar ucapan itu, menghela napas panjang, kemudian berkata :

"Laote hendak menceritakan riwayat diri sendiri. Kalau begitu, aku juga akan menceritakan kisah hidupku dimasa lampau. Sama-sama saja kita gunakan kisah hidup sendiri sebagai alasan untuk dapat masuk ke dalam istana kesepian

!"

Keduanya setelah berunding masak-masak dalam perjalanannya pulang ke timur, terus menuju ke lembah May yo kok.

Tiba di depan puncak Bun thian hong, Hee Thian Siang lalu berkata :

"Cin locianpwe, puncak gunung ini bukan saja tinggi menjulang ke langit, di puncaknya sana agaknya ada banyak orang juga yang tinggal. Nama yang dipakai untuk menyebut puncak gunung ini benar-benar tepat sekali dengan keadaannya !"

"Nama tempat ini memang ada hubungan erat dengan istana kesepian. Apakah kau sudah dapat memikirkan ?"

"Memang ada suatu syair yang menyebut tentang itu." "Coba laote pikir. Pikir ditinjau dari nama-nama ini, istana kesepian itu rasanya tidak bisa terlalu jauh terpisahnya dari sini, pasti berada didekat-dekat puncak gunung Bun thian hong sini !"

"Kalau locianpwe sudah menduga pasti demikian, kita pergi cari sendiri atau minta petunjuk dulu dari May yu Kie su ?"

Cin Lok Pho berpikir dulu sejenak, kemudian menjawab : "Kita tidak perlu terlalu menghambur banyak tenaga.

Sebaiknya kita pergi cari May yu Kie-su dulu. Biar dia memberi petunjuk. Rasanya lebih tepat !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lantas bejalan masuk ke dalam lembah dibawah puncak gunung Bun thian hong.

Baru saja tiba di mulut lembah, sudah menampak di lamping gunung yang menjulang tinggi, ada beberapa tulisan yang berbunyi :

"Bunga tidak harum, burung tidak berkicau, air tidak mengalir, air mata tidak terhentinya. Umpama masih belum merasa putus asa benar-benar, tidak perlu datang disini !"

Hee Thian Siang berkata sambil menujuk tulisan itu :

"Cin locianpwe coba lihat. Kita barangkali sudah memasuki negara orang-orang aneh !"

"Hee laote, disini masih terdapat sepasang tulisan Lian. Kau barangkali masih belum melihat ?" berkata Cin Lok Pho sambil menunjuk lamping gunung di sebelah kirinya.

Hee Thian Siang alihkan pandangannya ketempat itu. Benar saja dilamping gunung itu terdapat sepasang tulisan Lian, tetapi huruf-huruf itu sebagian besar sudah tertutup oleh tanaman rumput-rumput. Tetapi kalau diperhatikan seksama masih dapat dibaca.

Hee Thian Siang setelah membaca tulisan itu, lantas berkata :

"Heh, Cin locianpwe. Menurut bunyi tulisan sepasang Lian ini, apakah untuk menuju ke lembah itu masih harus menempuh jalan yang sangat jauh ?"

"Kita toh sudah tiba disini ? Perduli apa dengan sepi sunyi atau jalan yang panjang. Biar bagaimana juga, lembah ini toh sudah berada di depan mata. Tidak perduli betapa dalamnya juga, pasti akan ada dasarnya !"

Hee Thian Siang mengangguk dan tertawa. Lalu bersama- sama Cin Lok Pho berjalan berdampingan menuju ke dalam lembah May yu kok. Tak lama kemudian, tampak di lamping gunung ada beberapa pokok tanaman bunga cempaka yang sedang mekar.

Cin Lok Pho berkata keheranan :

"Musim seperti ini, kenapa bisa ada bunga cempaka yang mekar ?"

"Locianpwe tidak perlu heran. Di dalam lembah aneh ini, sudah tentu ada bunga yang aneh. Tetapi bunga cempaka itu biasa disebut sebagai bunganya raja yang sangat harum, boanpwe coba ingin tahu, apakah kata-kata yang ditulis dimuka lembah tadi yang mengatakan bunga tidak harum, burung tidak berkicau, air tidak mengalir, air mata tidak berhenti. apakah itu benar semuanya ?"

Sehabis berkata demikian, ia lompat mendekati bunga cempaka yang sangat indah itu kemudian diciumnya. Tak disangka-sangkanya, begitu ia mencium bunga cempaka itu, sepasang kakinya lantas lemas dan jatuh dari lamping gunung.

Kiranya bunga aneh yang berbentuk seperti bunga cempaka itu, bukan saja sedikitpun tidak ada harum baunya, bakan ada semacam bau yang pedas dan busuk. Begitu masuk ke lubang hidung, segera membuat yang mengendusnya menjadi pingsan dan sekujur badannya lemas.

Cin Lok Pho yang menyaksikan Hee Thian Sian mengalami kejadian aneh itu, diam-diam ia terkejut. Buru-buru lompat melesat dan ditengah udara menyambar tubuh Hee Thian Siang kemudian baru melayang turun ke tanah.

Hee Thian Siang berulang-ulang menggelengkan kepala untuk menghilangkan rasa yang seperti ngantuk, barulah berkata sambil tertawa getir :

"Tidak disangka bunga yang demikian indah, ternyata mempunyai bau demikian busuk !"

Tindakannya itu telah mengejutkan beberapa ekor burung kecil yang sedang hinggap diatas pohon. Tetapi sungguh benar-benar aneh, burung-burung itu sama sekali tidak ada suaranya, bahkan lantas terbang begitu saja.

Cin Lok Pho berkata sambil tertawa :

"Tidak disangka bahwa di lembah May yu kok ini ada bunga yang benar-benar tidak harum dan burung yang sama sekali tidak bisa berkicau !"

"Bunga tidak harum, burung tidak berkicau, masih belum terhitung apa-apa ! Jikalau ada bunga yang tiada rasa, dan ada burung yang tidak bisa terbang, barulah benar-benar merupakan dunia sepi seperti mati !" Dua orang itu terus melanjutkan perjalanannya sambil mengobrol. Lama mereka melalui jalan berliku-liku, masih tidak tampak bayangan seorang pun juga.

Hee Thian Siang tiba-tiba teringat pesan padri kesepian, maka lalu mengerahkan tenaga dalamnya. Dengan menggunakan ilmunya menyampaikan suara ke dalam telinga, memanggil tiga kali nama May yu Kie-su ke lembah bagian dalam.

Tidak lama setelah ia mengeluarkan panggilan untuk yang ketiga kalinya, dari dalam lembah bagian dalam lantas terdengar suara nyanyian. Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho pasang telinga untuk mendengarkan suara itu dengan seksama. Hee Thian Siang lalu berkata :

"Cin locianpwe, ini adalah nyanyian kesepian. Orang yang membuat syair itu, pasti adalah May yu Kie-su sendiri !"

"Aku ingat syair yang dinyanyikan oleh padri kesepian diluar lembah kematian di gunung Cong lam san, Tay lak thian cun Siong Seng Hud pernah menimpali syairnya dengan syairan juga. Cobalah Hee laote tirulah perbuatan Siong Seng Hud. Timpalilah nyanyian May yu Kie su tadi !"

"Boleh juga kita timpali, tetapi tidak perlu harus sama. Aku akan meminjam permulaan dari syairannya, itu saja sudah cukup."

Setelah berkata demikian, benar-benar ia lantas nyanyikan lagu syairan yang dikarangnya sendiri. Hanya bagian kepala yang meniru nyanyian May yu Kie su tadi.

Baru saja suara nyanyian Hee Thian Siang tadi berhenti, dari bagian dalam lembah itu mendadak muncul seorang orang tua berbaju hitam dalam roman sedih sekali sehingga air matanya tampak mengucur begitu deras seolah-olah benar-benar merasa sedih sekali setelah mendengar nyanyian Hee Thian Siang tadi.

Cin Lok Pho lalu mengangkat tangan memberi hormar seraya bertanya sambil tersenyum :

"Apakah tuan ini adalah May yu Kie-su ? Lantaran apa kau sampai demikian bersedih ?"

Orang tua berbaju hitam itu masih belum menjawab, Hee Thian Siang sudah berkata terlebih dahulu :

"Apa Cin locianpwe lupa ada tulisan dilamping gunung ini yang mengatakan bahwa air tidak mengalir, air mata tidak berhenti ?"

Orang tua berbaju hitam itu dengan sikap siap sedia menjawab :

"Aku si orang tua benar adalah May yu Kie-su. Bolehkah aku numpang tanya nama tuan-tuan yang mulia ? Apa pula maksud tuan-tuan datang kemari ?"

Hee Thian Siang mendengar orang tua itu menerangkan nama dirinya, tanpa banyak dipikir, ia menjawab dengan sejujurnya :

"Aku bernama Hee Thian Siang, dan tuan ini adalah Cin Lok Pho. Tentang maksud kedatangn kami kemari, agaknya tidak perlu ditanya lagi tentu kau sudah tahu. Kami sudah masuk ke lembah May yu kok, sudah tentu ada maksud hendak mengubur kesedihan kami !"

May yu Kie-su mengangkat lengan baju hitamnya untuk menyeka air matanya, sedang matanya menatap kepada Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho bergiliran, kemudian bertanya dengan suara perlahan sekali : "Kalian datang kemari hendak mengubur perasaan sedih ?

Siapa yang memberi petunjuk itu pada kalian ?"

"Di lembah kematian di gunung Cong-lam-san, setelah bertemu dengan seorang padri yang menamakan dirinya padri kesepian. Dialah yang menunjukkan jalan kepada kami."

May yu Kie-su kembali menatap wajah Hee Thian Siang sekian lama kemudian baru berkata :

"Tadi pada nyanyianmu yang terakhir, ada mengatakan bahwa kau pernah menjelajahi gunung hingga air mata tidak kering, masih tidak dapat menemukan negara kesepian. Apakah itu benar ? Bila benar-benar ada negara kesepian, sukakah kalian berdua pergi kesana ?"

"Maksud kami memang hendak mencari negara kesepian, harap Kie-su suka memberi petunjuk !" berkata Cin Lok Pho.

"Untuk masuk ke negara kesepian, tidak susah. Hanya memerlukan dua rupa syarat. Apakah syaratnya itu kalian sudah tahu ?" bertanya May yu Kie-su.

"Apakah syaratnya ? Harap Kie-su suka memberi petunjuk lagi."

"Syarat pertama ialaha kalau bukan orang yane mempunyai kesedihan besar, tidak boleh masuk ke negara kesepian !" kata May-yu Kie-su.

"Syarat pertama ini kami dapat segera memenuhi ! Apakah syaratnya yang kedua itu ?" tanya cin Lok Pho.

"Syarat kedua ialah orang biasa tidak boleh masuk ke negara kesepian. Jadi orang itu harus memiliki kepandaian surat juga kepandaian silat !" kata May-yu Kie-su pula. Hee Thian Siang mendengar ucapan itu makin lama makin mendekati apa yang telah diduganya bahwa pemimpin istana kesepian itu pasti hendak menggunakan tempat itu untuk mengumpulkan orang-orang rimba persilatan yang berbakat dan berkepandaian tinggi untuk memperkuat pengaruhnya.

Berpikir sampai disitu dengan alis berdiri menatap May-yu Kie-su, Hee Thian Siang kemudian bertanya :

"Orang biasa dan orang bukan biasa, orang yang memiliki kepandaian silat dan yang mengerti ilmu surat. Bagaimana bisa dibedakannya ?"

"Aku yang hendak mengujinya. Bila kuanggap memenuhi syarat, aku akan segera menulis surat perkenalan untuk memperkenankan orang itu masuk ke negara kesepian. Tetapi masih harus menunggu sampai datang surat panggilan putri kesepian, orang itu baru boleh masuk ke negara kesepian !" menjawab May-yu Kie-su.

Hee Thian Siang terkejut mendengar jawaban itu, tanyanya pula :

"Negara kesepian ini, apakah dipimpin dan dikuasai oleh putri kesepian ?"

"Negara kesepian, juga dinamakan istana kesepian, semuanya dibawah pimpinan puteri kesepian !" menjawab May-yu Kie-su sambil menundukkan kepala.

Cin Lok Pho berdiri disamping lalu bertanya :

"Bagaimana kebaikan dari istana kesepian itu ? Mengapa tidak mudah dimasuki ?"

"Barang siapa yang mengalami kedukaan hebat pasti merasa kesepian. Setelah masuk kedalam istana kesepian, perlahan-lahan akan biasa dengan kesepian hingga segala penderitaan dan kesedihan yang sudah lampau berubah menjadi kesenangan !"

"Waw, kalau memang ada mengandung kebaikan demikian, kami juga bersedia menerima ujian !" berkata Hee Thian Siang.

Mendengar ucapan itu, May-yu Kie-su lalu berkata kepada Cin Lok Pho :

"Sahabat Cin, harap ceritakan dulu kisahmu yang menyedihkan !"

Cin Lok Pho lebih dulu menghela napas panjang, kemudian menyanyikan sebuah sajak :

"Perwira dari satu negara yang pecah menyanyikan lagu berduka. Menteri yang tinggal seorang diri sulit untuk menjamin utuhnya negara, kejadian dan pengorbanan yang hebat menimpa telah membuat hati dingin, dimana-mana banjir air mata ! Istri dan anak telah berpisah berpencar atau binasa dalam kerusuhan, yang masih hidup tinggal mengenangkan kesedihannya dengan mengeramkan diri dengan air kata-kata, dari kesepian hendak tanam segala kedukaannya. "

May-yu Kie-su baru mendengar sampai disitu sudah berkata :

"Kiranya sahabat Cin dahulu pernah menjadi perwira dari kerajaan Beng. Pengalaman dan penderitaanmu ini, sudah cukup memenuhi syarat pertama. Sekarang Hee laote mempunyai kedukaan apa ?"

Hee Thian Siang merasa bahwa tindakan Cin Lok Pho yang mengutarakan kesedihannya dengan sajak, dianggapnya tepat sekali. Maka ia lalu meniru membacaka sajak juga : "Begitu mendusin, segala impian buyar. "

May-yu Kie-su lalu berkata sambil menganggukkan kepala :

"Aku memang sudah dapat menduga bahwa seorang yang masih muda belia seperti Hee laote ini, kalau toh memang mempunyai kedukaan, sudah pasti cuma lantaran urusan perempuan !"

Hee Thian Siang meneruskan nyanyian sajak :

"Kenangan yang memenuhi perasaan harus diceritakan kepada siapa. "

May-yu Kie-su lalu berkata :

"Aku si orang tua ini paling suka mendengar orang menceritakan kedukaan hatinya. Kalau Hee laote hendak menumpahkan perasaanmu, tumpahkan dihadapanku !"

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula :

"Kalian berdua sudah memenuhi syarat pertama. Sekarang aku hendak menguji kalian dengan syarat kedua !"

"Kau hendak menguji ilmu surat ataukah ilmu silat ?" tanya Hee Thian Siang.

"Tadi kalian sudah menceritakan kedukaan masing-masing dalam sajak itu, sudah kuketahui bahwa kalian berdua memiliki ilmu surat yang sangat dalam. Dan kini sudah cukup dengan menunjukkan kepandaian ilmu silat masing-masing !"

Hee Thian Siang memandang Cin Lok Pho sejenak, lalu berkata : "Ilmu terampuh Pan sian ciang golongan Lohu Cin locianpwe sudah mencapai ke taraf sepuluh bagian lebih. Boleh coba dahulu, nanti Hee Thian Siang akan menyusul !"

Cin Lok Pho mendengar ucapan Hee Thian Siang jadi tergerak hatinya. Jelas pemuda itu yang ilmu Pan sian ciang nya sudah mencapai.... atau yang lebih dari itu, tetapi semacam saja dia menyebut sepuluh bagian saja. Sudah tentu lantas dapat tertebak maksudnya ialah supaya menyediakan tenaga cadangan supaya May-yu Kie-su tidak dapat menduga pasti sampai dimana sebenarnya ilmunya yang sejati.

Oleh karenanya, maka ia lalu menganggukkan kepala dan segera menggerakkan tangannya ke tengah udara melakukan satu gerakan menekan diatas sebuah batu yang segera tampak tanda telapakan tangannya.

Tanda telapakan tangan itu tidak begitu dalam tetapi sudah jelas menunjukkan sampai dimana hebat kekuatan tenaga dalamnya. May-yu Kie-su yang menyaksikan itu, tanpa menyadari telah merubah wajahnya yang selama itu kelihatan seperti orang sedih dengan tiba-tiba satu senyuman gembira tersungging di bibirnya.

Hee Thian Siang yang menyaksikan itu, diam-diam menganggukkan kepala. Kemudian tangan kanannya bergerak melancarkan satu serangan hebat. Serangan yang dilancarkan dari jarak jauh telah membuat batu besar tadi hancur menjadi lima enam potong.

May-yu Kie-su yang menyaksikan itu sampai bertepuk tangan memuji kepandaian Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang lalu bertanya :

"Tuan, tanda telapakan tangan Cin locianpwe tadi tidak dalam dan benturan batu yang Hee Thian Siang buat tadi juga tidak sama besarnya. Apakah sudah cukup memenuhi syarat yang tuan tetapkan ?"

May-yu Kie-su menjawab sambil menganggukkan kepala : "Sudah cukup, sudah cukup ! Sekarang aku hendak

mengabarkan kepada putri kesepian akan maksud

kedatangan kalian berdua !"

Hee Thian Siang mendengar itu lantas diam. Ia mulai memperhatikan gerakan orang. Bagaimana dia memberi kabar. Dan dimana kiranya letak istana kesepian itu.

May-yu Kie-su lalu bersiul. Suara siulannya itu kedengaran amat nyaring dan mencapi ke jarak yang jauh. Kemudian dari dalam sakunya ia membuka segulungan kertas dan alat tulis yang rupanya sudah sejak tadi dia siapkan lalu menulis nama Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang dan mencatat juga asal usul mereka dengan jelas.

Habis menulis, tampak seekor burung kecil berbulu lima warna yang mirip dengan burung kakaktua tetapi bukanlah kakaktua burung itu. Yang turun dari puncak gunung Bun thian hong dan terbang masuk ke dalam lembah.

May-yu Kie-su segera menggulung kertas tulisan tadi dan disambitkan ke tengah udara, disambut burung kecil berbulu lima warna tadi. Dengan gerakan gesit sekali, lantas menyambarnya dan terbang lagi ke puncak Bun thian hong.

Hee Thian Siang menyaksikan semua itu, diam-diam berkuatir : Kalau begitu, istana kesepian letaknya adalah di puncak gunung Bun thian hong.

May-yu Kie-su lalu berkata :

"Harap tuan-tuan jangan terlalu gelisah. Begitu surat panggilan puteri kesepian sampai, aku si orang tua akan segera mengantarkan sendiri kalian untuk masuk ke istana kesepian dan selanjutnya kujamin kalian akan dapat kenikmatan yang amat sempurna dalam kesepian disana !"

"Apakah puteri kesepian itu tidak melarang kita masuk ke istana kesepian ?" tanya Hee Thian Siang.

"Barangkali tidak mungkin kalian ditolak. Siapa saja yang sudah kuperkenalkan dengan laporan surat biasanya belum pernah ada yang ditolak oleh puteri istana kesepian !" menjawab May-yu Kie-su sambil menggelengkan kepala.

Hee Thian Siang menggunakan kesempatan ini menanya lagi dengan maksud hendak mencari keterangan :

"Jadi kekuasaanmu kalau begitu lebih besar dari puteri istana kesepian ?"

Sejenak May-yu Kie-su tampak terkejut. Antara sesaat ia tak dapat menjawab. Lama baru ia berkata sambil menggoyang-goyangkan tangannya :

"Puteri istana kesepian berhak atas segala apa di dalam istana. Aku hanya sebagai seorang pesuruh yang tidak punya nama. Mana dapat dibandingkan dengan puteri ?"

Cin Lok Pho juga telah menggunakan kesempatan itu mengajukan pertanyaan padanya :

"Kalau memang puteri kesepian memegang kekuasaan dan hak demikian besar, tentu istana kesepian ini dibangun juga olehnya, bukan ?"

May-yu Kie-su ternyata seorang sangat licin, sedikitpun tidak mau membuka rahasia. Jawabnya sambil menggelengkan kepala : "Segala benda yang ada di dalam istana kesepian, semuanya dirahasiakan. Sedikitpun tidak boleh bocor. Asal kalian berdua sudah masuk ke dalam istana, nanti sudah tentu akan mengerti sendiri !"

Lama mereka bicara, burung kecil berbulu lima warna itu kembali muncul diatas puncak gunung, kemudian melayang ke bawah.

May-yu Kie-su lalu berkata :

"Surat panggilan puteri datang !"

Waktu itu, Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho yang juga telah melihat di paruh burung kecil itu ada terjepit sepucuk surat berwarna kuning, burung itu terus melayang turun ke bawah hingga bahu May-yu Kie-su.

May-yu Kie-su mengambil surat dari paruhnya, lalu dibacanya. Sedang burung kecil berbulu lima warna tadi kembali terbang ke puncak gunung.

Hee Thian Siang menampak May-yu Kie-su sehabis membaca surat itu, sikapnya menunjukkan perasaan aneh. Maka lalu bertanya :

"Apakah dugaanku tadi benar puteri istana kesepian tidak mengijinkan kami masuk ke istana kesepian ?"

Mau-yu Kie-su dengan sikap terkejut dan terheran-heran, memperlihatkan surat yang ditulis di atas kertas warna kuning, kemudian berkata :

"Tuan-tuan berdua silahkan baca sendiri. Aku si orang tua juga heran. Untuk pertama kali ini selama hidupku mendapat surat jawaban dari puteri yang demikian bunyinya !" Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho segera membaca surat itu, diatas kertas kuning tertulis dengan kata-kata sebagai berikut :

"Cin Lok Pho diijinkan masuk ke istana kesepian, sedangkan Hee Thian Siang harus diusir keluar dari lembah May yo kok !"

Di bawah tulisan itu terdapat cap dengan tinta merah darah. Jelas kalau orang yang menulis surat itu masih menghargai tamunya.

Hee Thian Siang yang melihat tulisan diatas kertas itu meskipun sangat indah, tetapi bukan tulisan tangan Liok Giok Jie. Maka lalu bertanya pula :

"Surat ini apakah ditulis oleh puteri sendiri ?"

May-yu Kie-su menjawab sambil menggelengkan kepala : "Puteri selamanya mengatakan sesuatu secara lisan. Ini

juga adalah tulisan dari sekretaris pribadinya yang selalu mengurus surat menyurat puteri."

"Karena dalam surat sudah dinyatakan demikian, sudah tentu sulit dirubah. Apa kau hendak bertindak menurut perintahnya ?" tanya pula Hee Thian Siang.

May-yu Kie-su berpikir dulu sebentar, baru menjawab : "Kecuali kalau sahabat Cin ini mau segera ikut aku pergi

menjumpai puteri. Sebab Hee laote datang dari jauh, sesungguhnya tidak mudah dipulangkan begitu saja. Aku bersedia akan melanggar puteri, tidak akan mengeluarkan ucapan pengusiran terhadapmu, hanya mempersilahkan kau keluar dari lembah ini saja !"

Cin Lok Pho berkata sambil tertawa : "Oleh karena Hee laote tidak diijinkan masuk, maka aku juga tidak ingin pergi ke istana kesepian lagi !"

May-yu Kie-su yang mendengar ucapan itu, yang diluar dugaan, dengan sinar mata tajam mengawasi tamunya dan berkata :

"Kalian tidak boleh berpikir seenaknya saja, datang dan pergi semau sendiri !"

Hee Thian Siang tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata :

"Di dalam dunia ini banyak gunung-gunung terkenal yang ada pemandangan indah, siapa yang menjadi pemiliknya ? Di empat penjuru lautan siapa saja boleh pergi pesiar ! Apakah kalian orang-orang yang karena luka hati kesepian sendiri lalu merubah hendak menguasai daerah pengunungan ini ?"

Mendengar ucapan Hee Thian Siang yang agak tajam itu, May-yu Kie-su juga segera berubah wajahnya, katanya dingin

:

"Meskipun daerah-daerah pegunungan terkenal didunia tidak ada pemiliknya, tetapi lembah May yo kok ini tetap aku tidak mengijinkan orang masuk sesukanya ! Cin Lok Pho boleh datang tetapi tidak boleh pergi, sedang Hee Thian Siang sebaliknya, boleh pergi tetapi tidak boleh datang !'

"Hmmm ! Dengan hak apa kau hendak mengusir aku ? Dan menahan dia ?" bertanya Hee Thian Siang.

"Dengan berdasar atas kepandaian ilmu silatku dan akal muslihatku !" menjawab May-yu Kie-su sambil tertawa dingin.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu tertawa terbahak-bahak sambil mendongakkan kepala, kemudian berkata : "Kalau hendak berbicara soal akal muslihat, kau belum tentu dapat menangkan Cin Lok Pho, dan dalam soal ilmu silat, kau belum tentu lebih kuat dari aku, Hee Thian Siang !"

"Kalau kutilik dari kepandaian ilmu kalian yang tadi kalian tunjukkan, sudah tentu bukan tandinganku. Sebaiknya kau baik-baik dengar kataku !" berkata May-yu Kie-su.

Cin Lok Pho yang sejak tadi diam saja, dengan menatap wajah May-yu Kie-su ia bertanya :

"Menurut pandanganmu, kira-kira bearpa jurus kau dapat menangkan kita ?"

May-yu Kie-su menyapu dua orang itu sejenak, kemudian berkata dengan sombong :

"Menangkan kau memerlukan 30 jurus, menangkan dia sudah cukup dengan 10 jurus !"

Ucapan May-yu Kie-su itu, di dalam pendengaran Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang benar-benar sangat mengejutkan. Terhadap May-yu Kie-su ini mau tak mau mereka harus sedikit waspada.

Sebab kepandaian ilmu silat yang tadi dua orang itu pertunjukkan meskipun belum seluruhnya tetapi sudah merupakan ilmu-ilmunya yang ampuh. May-yu Kie-su setelah menyaksikannya ternyata masih berani mengucapkan perkataan sombong demikian, mungkin benar-benar mempunyai kepandaian yang berarti.

Hee Thian Siang kini tidak berani bersikap sombong lagi, ia bertanya sambil menatap wajah May-yu Kie-su :

"Kalau kau sudah berani omong besar, apakah berani bertaruh dengan kita ?" "Bagaimana cara pertaruhannya ?" bertanya May-yu Kie- su.

"Cara pertaruhan masing-masing, jikalau kau benar-benar bisa menangkan aku dalam waktu 30 jurus, aku akan berdiam di istana kesepian ini, tidak akan mengikuti pergi dengan Hee Thian Siang lagi !" berkata Cin Lok Pho sambil tertawa.

"Jikalau dalam waktu 30 jurus aku tidak dapat menangkan kau, kau boleh mengambil pula apa yang kau hendaki ?" berkata May-yu Kie-su.

"Jikalau kau tidak dapat menangkan aku, sudah tentu aku akan bertindak menurut sesukaku sendiri, dengan demikian boleh dijadikan pertaruhan ?" bertanya Cin Lok Pho sambil tertawa.

"Habis bagaimana menurut pikiranmu ?" bertanya May-yu Kie-su.

"Jikalau dalam tiga puluh jurus, kau tidak dapat menangkan kau, maka kau harus menjawab pertanyaanku dengan sejujurnya."

May-yu Kie-su berpikir dahulu sejenak, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala :

"Baiklah, pertaruhan antara kita ini, kita tetapkan demikian saja."

Hee Thian Siang yang berdiri disamping, berkata kepada Cin Lok Pho sambil tertawa :

"Cin locianpwe, urusanmu sudah selesai, biarlah aku sekarang yang hendak berbicara soal pertaruhan ini dengannya !" May-yu Kie-su dengan sikap memandang rendah mengawasi padanya sejenak, kemudian berkata :

"Aku beri nasehat padamu, sebaiknya kau tidak usah turut pertaruhan sebab aku merasa jumlah sepuluh jurus itu, sudah cukup banyaknya !"

"Kau jangan melihat titik-titiknya macan tutul saja. Menurut pandanganku, dalam pertaruhan dua kali pertandingan ini, kau pasti akan kalah seluruhnya dengan secara mengenaskan !"

"Hmm ! Kalau kau memang anak yang tidah tahu diri, boleh juga kau belajar kenal sedikit ! Jikalau kau kalah. "

berkata May-yu Kie-su.

Hee Thian Siang segera memotong :

"Jikalau dalam sepuluh jurus aku kalah ditanganmu, aku akan menurut kehendakmu, keluar dari lembah May-yo kok ini

!"

"Kalau kau kalah sudah tentu kau harus pergi. Bagaimana ini boleh dibilang pertaruhan ?" bertanya May-yu Kie-su sambil tertawa dingin.

Hee Thian Siang yang sengaja hendak mencoba hatinya, bertanya dengan mengikuti nada May-yu Kie-su :

"Habis menurut pikiranmu, bagaimana ?"

"Aku ingin supaya kau bersumpah selama-lamanya tidak akan masuk ke lembah May-yo kok lagi !" berkata May-yu Kie- su.

Hee Thian Siang menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa : "Aku setuju pertaruhan yang kau usulkan ini. Tetapi jikalau dalam 10 jurus kau tidak dapat menangkan aku, aku juga akan berlaku seperti Cin locianpwe tadi, aku minta supaya kau menjawab degnan sejujur-jujurnya pertanyaanku !"

Pertanyaan-pertanyaan yang kalian hendak tanyakan, rasanya tidak sedikit jumlahnya !"

"Hanya satu pertanyaan saja, apakah kau masih tidak berani ?" berkata Hee Thian Siang.

"Siapa kata aku tidak berani menerima permintaan ? Dua macam pertaruhan ini, semuanya sudah kita tetapkan secara demikian, sekarang diantara kalian siapa yang ingin bertanding denganku lebih dahulu ?"

"Aku akan menerima pelajaranmu lebih dahulu !" berkata Cin Lok Pho sambil tertawa.

May-yu Kie-su memandang padanya dengan sikap dingin, kedua tangannya diluruskan hingga tubuhnya nampak lempeng, seolah-olah sebuah bangkai yang berdiri tidak bergerak.

Cin Lok Pho diam-diam terkejut, ia sedang memperhatikan entah itu cara pembukaan dari ilmu silat golongan mana. Rasanya mirip dengan pembawaan dari ilmu silat yang dinamakan Kiang-see Ngo-tok-jiauw yang sudah lama menghilang di dunia Kang-ouw.

Tetapi ilmu silat ini, ciri-cirinya ialah sekujur badannya lempeng keras bagaikan bangkai, sedang kulit putih bagaikan salju, kedua tanganya dengan siku ke bawah, samar-samar berubah menjadi lebih gelap ! Sekarang tangan May-yu Kie-su ini hitam, kulitnya juga tidak putih, hanya tubuhnya saja yang berdiri kaku, entah menggunakan ilmu silat apa. Sudah kebiasaan dalam orang rimba persilatan sebelum mengetahui baik keadaan musuhnya, tidak akan bergerak dengan sembarangan. Maka itu, Cin Lok Pho hanya meletakkan kedua tangannya dihadapan dadanya, juga berdiri bagaikan gunung Tay san.

Hee Thian Siang juga sudah melihat bahwa kepandaian ilmu silat May-yu Kie-su itu agak aneh, maka diam-diam ia juga memperhatikan segala gerak geriknya.

Dari wajah May-yu Kie-su yang seperti bangkai itu, tampak sikapnya yang mengandung senyum, kemudian bertanya dengan nada suara dingin :

"Cin Lok Pho, apakah kau tidak mengenali aliran ilmu silaku sehingga tidak berani turun tangan ?"

"Peribahasa ada kata, bagaimana kuatnya sang tetamu, tidak boleh menghina tuan rumah. Sebabnya CIn Lok Pho menunggu kau turun tangan lebih dahulu hanya menurut peraturan dunia Kang-ouw, yang mau tak mau harus kita mentaatinya ! Sementara tentang ilmu silatmu ini, kecuali kulitmu yang tidak berubah putih, dan tanganmu tidak berubah hitam, gerakanmu ini mirip dengan ilmu Kiang-see Ngo-tok- jiauw dari Bo Cu Keng dahulu !"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Kau dapat mengenali nama ilmu silat Kiang-see Ngo-tok- jiauw, sudah terhitung seorang yang memiliki pengetahuan luas !" berkata May-yu Kie-su sambil tertawa.

"Apakah kau murid atau cucu murid dari Bo Cu keng ?" tanya Hee Thian Siang.

"Bo Cu Keng masih belum terhitung apa-apa. Hanya kepandaian ilmu silatnya yang dinamakan Kiang-sie Cit-khao- ciu ini, juga tidak tahu berapa kali lipat dari ilmu Kiang-sie Ngo-tok-jiauwnya Bo Cu Keng !" berkata May-yu Kie-su.

"Semuanya hanya merupakan gerak tipu-gerak tipu yang aneh-aneh di dalam mataku. Burung kutilang setinggi apa yang kau katakan !" kata Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Tinggi atau tidak, hebat atau tidak, lebih dulu aku akan menggunakan dirimu sebagai percobaan. Kau boleh rasakan sendiri !" berkata May-yu Kie-su marah.

Baru habis ucapannya, badannya segera bergerak. Lima jari tangan kanannya diulurkan, ujung kuku jari tangannya sudah menerkan ke ulu hati Cin Lok Pho.

Oleh karena Cin Lok Pho tahu benar hebatnya serangan yang menggunakan kuku yang dinamakan Kiang-sie Ngo-tok- jiauw itu, begitu mengenakan korbannya bisa membawa maut. Sedangkan ilmu silat yang digunakan oleh May-yu Kie-su ini agaknya juga merupakan ilmu silat dari satu aliran dengan ilmu silatnya Bo Cu Keng, maka ia tidak berani menyambut dengan kekerasan. Dengan satu gerakan yang sangat lincah, cuma mengelakkan serangan May-yu Kie-su tadi, kemudian mengulurkan dua jari tangannya, menotok pergelangan tangan May-yu Kie-su.

May-yu Kie-su memperdengarkan suara tertawanya yang aneh, tangan kanannya secepat kilat ditariknya kembali, lalu mengulurkan tangan kirinya. Seperti yang pertama ujung- ujung jari kuku tangannya dibalik menggores pergelangan tangan Cin Lok Pho.

Cin Lok Pho yang menampak lawannya itu sekujur tubuhnya seperti kaku, tetapi gerakannya dapat dilakukan demikian cepat dan lincah sekali hingga diam-diam juga merasa terkejut. Untung gerakannya yang lincah sewaktu mengelakkan serangan lawannya tadi masih belum dibunakan seluruhnya, maka tangan kanannya secepat kilat diturunkan ke bawah, sedang tangan kiri serong keluar. Dengan menggunakan ilmu andalannya dari golongan Lo bu pay, menyerang May-yu Kie-su dari jarak jauh. Ia tidak berani memandang ringan lawannya. Oleh karenanya semua serangannya itu sudah menggunakan kekuatan tenaga lebih dari takeran.

May-yu Kie-su dapat merasakan betapa hebat serangan lawannya, maka juga terpaksa menarik kembali kedua tangannya dengan cepat, dipakai untuk menyambut serangan Cin Lok Pho dengan sepenuh tenaga pula.

Dua jenis kekuatan tenaga dalam telah berbenturan ditengah udara. Betapa hebatnya benturan yang dapat dibuktikan dari timbulnya kekuatan angin yang menderu-deru yang telah membuat batu-batu ditanah pada beterbangan. May-yu Kie-su dan Cin Lok Pho, kedua-duanya juga sudah pada mundur sepuluh langkah.

Hee Thian Siang terkejut menyaksikan kejadian itu, sedang wajah Cin Lok Pho juga menunjukkan perobahan.

Pengaduan kekuatan tenaga dengan keras lawan keras tadi, kalau dipandang sepintas lalu, meski seperti berimang tetapi kejadian yang sebenarnya, Cin Lok Pho sudah kalah tidak sedikit.

Sebab, sewaktu Cin Lok Pho melancarkan serangan tadi, ia sudah menggunakan kekuatan tenaga yang lebih dari takaran, sedangkan May-yu Kie-su waktu menyambut serangan tadi dilakukan dengan tergesa-gesa. Jadi dia tidak menggunakan kekuatan tenaga seperti lawannya. Perbandingan keadaan seperti inilah, jelas menunjukkan bahwa orang yang menamakan diri May-yu Kie-su itu memiliki kekuatan dan ilmu silat tinggi sekali. Ditinjau dari itu pula, kekuatan tenaga dalamnya masih jauh lebih tinggi entah berapa lipat dari pada kekuatan ilmu Pan-sian-ciang dari Lo bu pay yang sudah terkenal didalam rimba persilatan itu. Sementara itu, May-yu Kie-su sendiri juga agak tercengang. Ia berkata sambil menganggukkan kepala dan menatap Cin Lok Pho :

"Cin Lok Pho, aku tidak menduga bahwa kau ada memiliki kekuatan dan pikiran demikian dalam. Tadi sewaktu aku menguji kepandaianmu, ternyata kau masih menyimpan kepandaian. Jadi kau masih menyembunyikan kepandaianmu yang belum kau keluarkan seluruhnya ?"

Cin Lok Pho hanya sambut ucapan lawannya itu dengan senyum saja May-yu Kie-su sementara itu sudah berkata lagi :

"Walaupun kau masih menyimpan kepandaianmu yang belum kau keluarkan seluruhnya, juga tidak mungkin dapat lolos dari seranganku dalam 30 jurus !'

Cin Lok Pho sudah mencoba sendiri hebatnya kepandaian lawannya. Kini ia semakin waspada dan hati-hati, katanya sambil menganggukkan kepala :

"Mungkin juga demikian, tetapi kau ingin menangkan aku dalam waktu 30 jurus. Barangkali masih perlu mengeluarkan kepandaianmu yang lain lagi !"

"Tidak perlu menggunakan yang lain, ilmu silatku Kang-sie Cit-kahow-ciu saja sudah cukup untuk menjatuhkan kau dalam

30 jurus." berkata May-yu Kie-su sambil menggelengkan kepala.

Setelah berkata demikian, kedua tangannya lalu melakukan gerakan mencengkeram, baru tiga kali ini ia menggunakan serangannya yang sangat aneh itu, dlama serangannya yang sangat aneh dan ganas, dalam waktu sekejap Cin Lok Pho sudah terkurung di dalam serangannya yang hebat dan mengandung hawa dingin itu. Hee Thian Siang yang berdiri sebagai penonton dengan sendirinya dapat melihat dengan nyata segala perubahan. Ia dapat kenyataan bahwa ilmu silat Kiang-sie, Cit-khao-ciu May- yu Kie-su memang luar biasa anehnya. Cin Lok Pho telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, masih ia dapat melayani serangan lawannya. Tetapi kelihatannya sudah agak kewalahan, hingga beberapa kali terancam bahaya. Memang benar ada kemungkinan tidak bisa lolos dari serangan lawannya dalam 30 jurus.

Andai pertandingan ini dimenangkan oleh May-yu Kie-su, apakah benar Hee Thian Siang tega membiarkan Cin Lok Pho berdiam seorang diri dalam istana kesepian ?

Hee THian Siang yang menyaksikan pertandingan itu sambil mengerutkan alisnya. Diam-diam mengharap supaya Cin Lok Pho jangan sampai dikalahkan. Jikalau dalam tempo

30 jurus Cin Lok Pho sampai terkalahkan oleh lawannya, maka ia sendiri terpaksa akan berusaha menambah pertaruhannya, untuk menebus kekalahan Cin Lok Pho ini.

Sementara itu, pertandingan antara dua jago ini, sudah tampak hasilnya. Cin Lok Pho tampak mengerutkan sepasang alisnya, di wajahnya menunjukkan sikap agak malu.

Sedangkan May-yu Kie-su masih memegangi potongan ujung baju Cin Lok Pho ditangannya dan berkata sambil tertawa bangga :

"Jumlah 30 jurus, baru setengahnya saja kita jalani, sudah tampak ada keputusan siapa yang menang dan kalah. Kau barangkali sudah menepati janjimu sendiri, harus jadi penghuni istana kesepian ini."

Cin Lok Pho menatap wajah Hee Thian Siang, berkata sambil menghela napas panjang. "Sebagai seorang laki-laki, tidak mungkin aku akan menjilat ludah sendiri. Sudah tentu aku akan menepati janjiku, untuk berdiam didalam istana kesepian !"

Sehabis berkata demikian, Hee Thian Siang tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan berkata :

"Cin locianpwe, sabar dulu. Meskipun kau sudah kalah dalam pertaruhan ini, tetapi siapa tahu aku masih bisa menang ?"

May-yu Kie-su yang mendengar ucapan itu, berkata dengan sikap bangga :

"Dalam waktu 15 jurus aku dapat mengalahkan Cin Lok Pho, apakah 10 jurus tidak cukup banyak buat menangkan kau ?"

"Kau takkan mungkin dapat menangkan aku. Malah mungkin, akulah yang akan menjatuhkan kau !" kata Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Kau ini benar-benar seorang bocah yang tidak tahu tingginya langit, tebalnya bumi. Ucapanmu ini seperti kau keluarkan seenakmu saja !" kata May-yu Kie-su.

"Sekarang apakah kau berani menambah pertaruhannya lagi denganku ?" tanya Hee Thian Siang dengan sikap sombong.

"Menambah pertaruhan tidak halangan. Tapi aku tidak tahu kau hendak menambah pertaruhan dengan cara bagaimana." bertanya May-yu Kie-su.

Oleh karena Hee Thian Siang tadi sudah menyaksikan sendiri betapa tinggi kepandaian ilmu silat May-yu Kie-su, lagi pula dalam ilmu silat itu ada terdapat keanehan, meskipun dalam hati masih belum yakin benar dapat menjatuhkan lawannya, akan tetapi karena ia pikir guna menolong Cin Lok Pho dalam kesulitan yang dihadapi sekarang ini kecuali menempuh bahaya untuk mencoba sudah tidak ada jalan lain lagi. Maka ia terpaksa hendak bertinak menurut rencana yang sudah dipikirkan lebih dahulu, katanya :

"Jikalau dalam 10 jurus aku bisa menangkan kau, maka kau harus segera membatalkan kemenanganmu tadi terhadap Cin locianpwe. Akulah yang akan mengambil keputusan tentang Cin locianpwe, ia harus tetap tinggal disini atau berlalu."

May-yu Kie-su menganggap bahwa Hee Thian Siang yang masih sangat muda tentu kekuatan tenaga dalamnya terpaut jauh dengannya, tentu tidak mungkin pula lebih tinggi kepandaiannya dari pada Cin Liok Pho. Tetapi anehnya, pemuda ini sudah menyaksikan pertandingan antara May-yu Kie-su dengan Cin Lok Pho tadi, dan dia masih bisa bersikap demikian sombong. Ini yang benar-benar mengherankan sekali. May-yu Kie-su dalam herannya mengamat-amati Hee Thian Siang sejenak, lalu berkata sambil menganggukkan kepala :

"Baik ! Kalau aku yang kalah, akan kuhapus kemenanganku tadi dalam pertandingan dengan Cin Lok Pho, membiarkan Cin Lok Pho bebas dari sini. Tapi bagaimana kalau kau tidak dapat menangkan aku ?"

Hee Thian Siang masukkan tangannya ke dalam sakunya sendiri, mengeluarkan jaring wasiat warna merah yang mempunyai khasiat luar biasa itu, dilemparkannya benda wasiat itu ke atas batu seraya katanya :

"Jikalau aku tidak dapat menangkan kau, maka jaring wasiatku ini akan kuberikan kepadamu !"

May-yu Kie-su yang melihat jaring wasiat warna merah itu, sikapnya menunjukkan perasaan terkejutnya, tanyanya : "Bukankah itu jaring wasiat warna merah milik Thina-gwa Ceng-mo Tiong-sung Seng ?'

"Benar ! Khasiat dari pada jaring merah ini luar biasa sekali

! Benda ini juga merupakan benda yang paling berharga dalam diriku. Aku tidak tahu, apakah kau mau menyetujui pertaruhan dengan cara ini." berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

"Sudah tentu aku setuju ! Tapi mengapa kau segoblok itu ? Ini berarti, kau hendak mengadu telor dengan batu. Mengapa kau mau menghadiahkan barang pusakamu ini dengan cuma- cuma ?" bertanya May-yu Kie-su sambil tertawa.

"Kekalahan Cin locianpwe tadi hanya lantaran kurang hati- hati. Tetapi sekarang kau ketemu aku, Hee Thian Siang. Kaulah yang harus berlaku hati-hati sekali, mungkin aku hanya memerlukan tiga empat gebrakan saja, akan dapat membuang kegembiraanmu seluruhnya !"

May-yu Kie-su tertawa dingin, kedua tangannya diluruskan ke bawah. Kembali memperlihatkan cara pembukaan dengan berdiri tegak bagaikan bangkai hidup.

Hee Thian Siang yang sudah memperhitungkan masak- masak, diam-diam berpikir bahwa ilmu silatnya tiga jurus bunga mawar, ada satu jurus yang dapat mematahkan ilmu silat lawan itu dan didalam ilmu silatnya yang didapat dari Thian-ie Siangjin, dalam tiga jurus itu hampir semuanya mengandung kekuatan serangan yang hebat sekali. Bila dua jenis ilmu itu dibangkan dan digunakan dengan berbareng dan andai kata masih belum dapat menangkan May-yu Kie-su, maka terpaksa ia akan mengeluarkan ilmu silat Cian-khio-cit- khao dan ilmu jari tangan Kian-thian-cie dari perguruan sendiri.

Setelah mengambil keputusan demikian, dan menampak May-yu Kie-su kembali mengeluarkan ilmunya seperti bangkai tadi, maka ia juga tidak sungkan-sungkanlagi lantas bergerak lebih dahulu, dengan menggunakan ilmu silatnya bunga mawar sudah melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga.

Serangan itu memang luar biasa sekali. Dahulu didalam pertemuan besar di gunung Kie lian, tokoh kuat seperti Pe-kut Thian-kun juga menjadi kewalahan menghadapinya, betapa hebatnya serangan itu, disini dapat dibayangkan. Sedangkan May-yu Kie-su terkejut, bahkan pada waktu menghadapi serangan pertama itu, sehingga mulutnya sampai menganga. Ia tidak berani lagi menyambut serangan Hee Thian Siang dengan sembarangan. Sepasang kakinya menjejak ke tanah dan melesat setinggi dua tombak untuk melepaskan diri dari serangan Hee Thian Siang yang mengandung hembusan angin hebat itu.

Hee Thian Siang tertawa terbahak-bahak, dia berkata : "Kau jangan lari ! Aku yang salah omong ataukah kau ?

Sebenarnya siapa yang harus mengatakan telor diadu dengan

batu ?"

Setelah berkata demikian, ia mengejar lawannya untuk melancarkan serangan lagi. Sekali ini ia menggunakan ilmu silatnya yang lain, dengan kecepatan bagaikan kilat, tiga kali dilancarkan dengan beruntun. Serangan itu sejurus demi sejurus dilancarkan dan sejurus demi sejurus semakin hebat. Disamping itu, ia juga menggunakan ilmu perguruannya sendiri yang disusunkan oleh gurunya ialah serangan jari tangan Kian-thian-cie.

Dalam babak permulaan saja, Hee Thian Siang sudah menggunakan ilmu silatnya yang luar biasa dan melancarkan serangan-serangannya yang hebat-hebat. Hal mana telah membuat May-yu Kie-su agak gelagapan, karena tidak menduga apa lagi sama sekali menyangka ilmu silat apa yang telah digunakan oleh pemuda itu. Itu pulalah sebabnya mengapa ia mengelak, ia hendak memikir dan ingin tahu lebih dahulu asal usul ilmu itu sebelum balas menyerang, supaya jangan ia dikalahkan oleh Hee Thian Siang yang masih muda belia.

Akan tetapi baru saja ia meluncur turun, serangan Hee Thian Siang yang penuh angin sudah masuk ke dalam telinganya, maka hatinya benar-benar merasa tidak enak dan wajahnya terasa panas. Maka ia lantas pikir hendak menggunakan ilmu silatnya yang tunggal untuk balas menyerang lawannya.

Yang ia tidak sangka pada saat ia sedang memikirkan hendak balas menyerang, seluruh tubuhnya telah terkurung oleh serangan tangan Hee Thian Siang yang demikian luar biasa aneh dan hebatnya. Yang digunakan oleh Hee Thian Siang itu adalah ilmu silat warisan Thian-ie Siangjin dulu, yang pernah menjagoi rimba persilatan tanpa tandingan selama beberapa puluh tahun lamanay. Dan lagi Hee Thian Siang dalam waktu belakangan ini sudah mendapat banyak kemajuan kemampuannya maupun kekuatan tenaga dalamnay, maka hebatnya serangan itu semakin membuat lawannya tidak berdaya.

Satu jurus saja May-yu Kie-su sudah tak sanggup menyambut, apalagi tiga jurus telah diluncurkan Hee Thian Siang dengan beruntun, May-yu Kie-su lantas dibuat kusut pikirannya, matanya berkunang-kunang, hatinya berdebaran. Diam-diam ia terkejut oleh ilmu silat pemuda itu. Sungguh ia tidak mengerti entah darimana Hee Thian Siang mendapatkan kepandaian yang demikian rupa tingginya.

May-yu Kie-su belum mengetahui asal usul ilmu silat itu, dengan sendirinya jadi tidak berani sembarangan memberikan perlawanan. Terpaksa ia mengeluarkan seluruh kepandaian ilmu silat golongannya, kembali melesat setinggi beberapa tombak untuk melepaskan diri dari libatan serangan Hee Thian Saing. Sewaktu masih berada di tengah udara, May-yu Kie-su telah mendengar suara ejekan Cin Lok Pho dan suara tertawa terbahak-bahak yang keluar dari mulut Hee Thian Siang.

May-yu Kie-su melayang turung lagi ke tanah, lalu memutar tubuhnya. Selanjutnya, ia melancarkan serangan tangannya yang mengandung hawa dingin luar biasa. Tindakannya itu dilakukan demi untuk menjaga jangan sampai terkejar dan keduluan diserang lagi oleh Hee Thian Siang.

Tapi serangannya itu ternyata sia-sia belaka, sebab kemana saja serangannya sampai, ternyata cuma mengenakan tempat kosong, tidak tampak bayangan orang yang diserang.

Muka May-yu Kie-su kembali dirasakan panas, matanya menatap Hee Thian Sian yang masih berdiri tegak ditempat asalnya dengan muka berseri-seri. Dalam marahnya May-yu Kie-su lalu berkata :

"Hee Thian Siang, seranganmu tadi cukup hebat. Tapi kau bisa berbuat apa dengan kepandaianmu yang cuma sebegitu terhadap diriku ? Mengapa kau sekarang merasa bangga ?"

"Hmmm ! Aku sudah menaruh belas kasih terlau besar terhadap dirimu. Berapa tebalkah mukamu sehingga kau tidak mau mengaku kalah ?" kata Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Aku sudah memberikan kesempatan padamu menyerang sampai empat jurus. Belum lagi aku yang menyerang. Bagaimana kalu latnas mengatakan aku sudah kalah ? Dan dimana letak kekalahanku ?" berkata May-yu Kie-su marah.

Cin Lok Pho yang menyaksikan pertandingan itu, lalu berkata sambi tertawa :

"Hee Thian Siang laote pernah mendapat wasiat dari seorang jago kenamaan pada jaman dahulu, dalam dunia ini ilmu silatnya sudah tidak ada orang kedua yang mampu menandingi. Kau bertanya dimana letakk kekalahanmu. Mengapa tidak kau raba dulu dirimu sendiri ? Sekarang setelah kau periksa bagian jalan darah dibelakang punggungmu, disitu ada terdapat tanda apa ?"

May-yu Kie-su lantas meraba dengan tangannya pada bagian jalan darah dibelakang punggung. Wajahnya lalu berubah seketika. Kiranya, bajunya di bagian luar, di bagian jalan darah diraba ternyata sudah terkena totokan jari tangan Kian-thian-cie dari Hee Thian Siang, sehingga terdapat sebuah lubang kecil........

Menampak perubahan muka lawannya, Hee Thian Siang lalu bertanya sambil tersenyum :

"Sekarang kau barangkali sudah mengerti, bukan ? Sebuah lubang kecil ada dibajumu, namun tidak sampai melukai jalan darahmu. Aku sengaja bertindak begitu karena tidak ingin mengambil jiwamu !"

May-yu Kie-su tidak dapat membantah, terpaksa dengan wajah dining berkata lambat-lambat :

"Baik, aku mengaku kalah karena kurang hati-hati. Dan juga kunyatakan kebebasan Cin Lok Pho untuk kemenangan dalam pertandingan ini !"

"Itu masih belum cukup. Kau hendak membebaskan Cin locianpwe, itu memang wajar. Tapi ingat, itu cuma sekedar tambahan dalam pertaruhan kita tadi. Aku masih ingin kau melaksanakan janji pertama dari dari pertaruhan kita yang semula, sebab diantara kita masih ada pertaruhan yang belum diselesaikan !" berkata Hee Thian Siang.

"Oh, apakah ka ingin aku menjawab pertanyaanmu ?" bertanya May-yu Kie-su. "Aku telah bertanding setengah harian, kau pikirlah sendiri, apakah gunanya bila cuma untuk mendapatkan kebebasan Cin locianpwe ?"

May-yu Kie-su tidak bisa berbuat lain, ia lalu berkata sambil menganggukkan kepala :

"Baiklah ! Kau hendak tanya apa tanyakan saja ! Tetapi, aku cuma dapat menjawab apa yang kutahu !"