Makam Bunga Mawar Jilid 26

 
Jilid 26

Sementara orang-orang di puncak Hian-peng-goan sedang bercakap-cakap memperbincangkan soal tidak adanya Pek- kut Siancu dalam rombongan musuh, kawanan penjahat Ceng-thian-pay sudah melalui jalan bukit yang agak rendah semuanya berhenti di bawah puncak gunung yang tingginya ada dua puluh tombak lebih.

Orang-orang di atas kutub Hian-peng-goan disamping berhati-hati mengadakan persiapan, mereka juga memasang telinga untuk mendengarkan percakapan pihak musuh, sementara itu sudah terdengar suara Khi Tay Cao yang berkata kepada Thiat-koan Totiang:

"Setan kecil Hee Thian Siang bersama setan Tua Cin Lok Pho itu barangkali sudah bosan hidup, dan sudah ditakdirkan akan menemukan ajalnya ditempat ini. Dari jauh-jauh melakukan perjalanan kemari, gunanya cuma untuk mengantarkan jiwa secara cuma-cuma diatas gunung Tay- swat-san ini."

Hee Thian Siang yang mendengar perkataan itu alisnya berdiri, ketika ia menujukan pandangan matanya ke bawah, tampak ditengah Khi Tay Cao ternyata membawa sebatang senjata tongkat dari baja yang tampaknya sangat berat.

Tetapi tongkat baja itu, jelas dibuatnya secara tergesa- gesa, meskipun kasar dan sangat berat, tetapi dibagian atasnya, tidak terdapat lagi burung garuda yang membentang sayap, sehingga tampaknya tidak demikian menakutkan seperti senjatanya yang dahulu.

Thiat-koan Totiang setelah mendengar ucapan itu, tampaknya berpikir dulu, kemudian baru menjawab:

"Kalau buat si setan Hee Thian Siang bersama setan tua Cin Lok Pho itu, sudah mendaki gunung Hian-peng-goan ini, maka Pang-pek Sin-kun dan istrinya Mo Giok Ceng seharusnya sudah mengadakan persiapan jauh-jauh, tetapi mengapa tidak tertampak gerakan mereka?"

Pek-thao Lo-sat Pao Sam-kow memperdengarkan suara tertawanya bagaikan burung hantu, kemudian berkata:

"Mungkin orang-orang Swat-san-pay menerima perbuatan Ngo-bie-pay diam-diam telah melarikan meninggalkan markas sendiri!"

Khi Tay Cao berkata kepada Pek-kut-Ie su :

"Pek-kut Siancu Hu-hoat, agaknya terlalu banyak pikiran, setelah ia mencari-cari diseluruh gunung Ngo-bie tidak tampak jejak Hian-hian Sianlo bersama tiga saudara seperguruannya, khawatir mereka akan melancarkan serangan selagi pihak kita lengah, dan langsung menyerbu ke gunung Ki-lian. Oleh karenanya mereka memerlukan pulang dulu ke Ki-lian untuk mengadakan penjagaan. Sebetulnya menurut dugaanku, Ngo- bie begitu lemah, mana berani berbuat demikian?"

"Sam-moay ku itu meskipun agaknya terlalu banyak pikiran, tetapi partai-partai rimba persilatan satu sama lain sedang berusaha untuk mempererat dirinya, memang tidak ada salahnya! Masih untung kekuatan di pihak kita pada dewasa ini masih cukup bila diperlukan untuk membasmi golongan Swat-san Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho. Jadi, kurang dia seorang juga tidak menjadi halangan."

Hee Thian Siang juga mendengar ucapan itu, barulah mengerti apa sebabnya Pek-kut Siancu tidak datang dan Thiat-Koan Totiang dan lainnya mempercepat gerakannya hendak menggempur Swat-san-pay.

Sementara itu Goan-tong Hweshio sudah bertanya kepada Khi Tay Cao: "Khi Ciangbujin, mengapa kau menganggap bohong ucapan Hee Thian Siang yang mengatakan ketua Ngo-bie-pay Hian-hian Sianlo dan Hong-tim Ong khek May Ceng Ong serta Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biauw bersama Kiu-thian Mo-li Tang Siang Siang, semua sudah berada diatas kutub Hian- peng-goan mengadakan pertemuan para jago?"

Khi Tay Cao tertawa terbahak-bahak dan berkata:

"Urusan ini mudah sekali diduganya. Hong-tim Ong Khek May Ceng Ong selamanya sangat sombong dan tidak suka pandang mata kepada orang lain, sedangkan Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo-li Tang Siang Siang, merupakan orang-orang yang lebih sulit dihadapi daripada May Ceng Ong sendiri! Apabila mereka suami istri berada dikutub Hian-peng-goan, maka setelah mendengar berita kedatangan kita tentunya siang-siang sudah unjuk muka, mengapa hingga saat ini masih diam tidak tampak gerakan apa-apa?"

Setelah mendengar ucapan itu, Hee Thian Siang berkata kepada Cin Lok Pho:

"Ki Tay Cao benar-benar seorang tua yang sangat licik, tidak mudah dikelabui. Akal yang kuceritakan kepada Goan- thong itu memang benar ada cacatnya, dan cacatnya itu segera diketahui olehnya!"

Sementara itu terdengar suara Lui Hoa yang berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

"Kalau Ciangbujin sudah menduga pasti bahwa ucapan setan kecil Hee Thian Siang itu adalah bohong belaka, Hong- cim Ong-khek May Ceng Ong, Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biauw, Kiu Thian Mo-li Tang Siang Siang tidak ada dikutub Hian-peng-goan, apalagi yang harus kita takuti? Mengapa tidak lekas naik menggempur, supaya kita bisa lekas membasmi habis berikut setan kecilnya itu?" Pek-kut Ie su lalu berkata sambil tertawa:

"Sungguhpun benar May Ceng Ong dan kedua istrinya tidak berada ditempat ini, tetapi Peng-pek Sin-kun suami istri dan Swat-san Penglo Leng pek Ciok serta Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang bukanlah orang-orang yang boleh dipandang remeh. Apalagi mereka berada diatas dan kita dibawah, ini saja bagi mereka sudah menguntungkan karena tempatnya strategis! Walaupun kita yakin dapat merebut kemenangan, tetapi juga tidak boleh terlalu gegabah!"

Peng-pek Sin kun yang mendengar pembicaraan itu lantas berkata perlahan:

"Peribahasa ada kata, tong kosong nyaring bunyinya. Botol yang berisi tidak berbunyi. Pek-kut Ie su ini benar-benar seorang yang paling susah dihadapi!"

Berkata sampai disitu, tiba-tiba bertanya kepada Hee Thian Siang:

"Hee laote, padri berjubah kuning dalam rombongan mereka itu, sudah tentu salah satu dari Si Thian-cun dari daerah Barat, Goan-thong hweesio seperti apa yang kau katakan tadi. Tetapi dua orang lainnya yang berpakaian aneh, agaknya juga bukan orang rimba persilatan daerah Tiong- goan, apakah laote pernah melihat mereka?"

"Dua orang aneh ini, Hee Thian Siang belum pernah melihat dandanan mereka yang ganjil itu, tidak mirip dengan tiga orang katai dari negara Timur, juga tidak mirip dengan sepasang manusia beracun. Entah murid atau anak buah Raja Siluman Pat Lo Yao-ong?" jawab Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala.

"Tidak perduli siapa, asal dia berani mencoba mendaki kutub Hian-peng-goan ini, terlebih dulu harus suruh mereka merasakan salju yang sudah kita siapkan!" berkata Mao Giok Ceng sambil tertawa.

Pembicaraan orang-orang diatas kutub itu, semua dilakukan dengan suara perlahan, tidak seperti kawanan iblis yang bicara dan tertawa-tawa seenaknya seolah-olah tidak takut didengar oleh pihak lawannya.

Oleh karena itu, mereka termasuk Pek-kut Ie su sendiri, semua tidak dapat menduga tentang orang-orang Swat-san- pay entah sudah berlalu dari kutub Hian-peng-goan, ataukah masih berada disana untuk menantikan kedatangannya?

Sementara itu Lui Hoa sudah mengajukan pertanyaan kepada Thiat-koan Totiang.

"Suheng, kita datang dari tempat jauh ribuan li, apakah harus berdiri saja dibawah kutub Hian-peng-goan ini, untuk melihat saja?”

Sebelum Thiat-koan Totiang menjawab, sudah didahului oleh Khi Tay Coa:

"Saudara Lui, jangan keburu nafsu, aku sedang memikirkan perlukah mengirim dua orang terlebih dahulu? Untuk menyelidiki keadaan diatas."

Lui Hoa lantas menjawab:

"Lui Hoa bersedia naik keatas untuk mengadakan penyelidikan!"

Khi Tay Cao berkata sambil tertawa:

"Kalau saudara Lui bersedia naik keatas, maka aku akan memerintahkan Cong samteku untuk mengawani kau pergi bersama-sama!" Lui Hoa dan Cong Ki yang mendengar ucapan itu, selagi hendak bergerak untuk melakukan tugasnya, Khi Tay Cao sudah berkata lagi:

"Kita harus siapkan senjata-senjata rahasia kita Ci-yan-sin- sa dan Kiu-yu-leng-hwee, apabila diatas gunung itu terdapat penjagaan keras, kita bisa menggunakan untuk menyerang dan bisa mengundurkan diri dengan selamat!"

Hee Thian Siang yang mendengar pembicaraan itu lalu berkata kepada Peng-pek Sinkun dengan suara perlahan:

"Sinkun, sekarang kita perlu mengadakan sedikit perobahan siasat kita, biarkan Lui Hoa dan Cong Kin naik keatas, lantas kita tangkap mereka hidup-hidup, apakah itu tidak baik? Bagaimanapun juga Pek-kut Ie su dan lain-lainnya toh berada dibawah, pasti tidak keburu memberi pertolongan!"

Peng-pek Sinkun berpikir dulu, sebelum menjawab, sudah didahului oleh Cin Lok Pho yang berada disampingnya:

"Lui Hoa dan Cong Ki berdua, merupakan orang-orang yang tidak terlalu berbahaya, dan Pek-kut Ie su dan lain- lainnya juga tidak keburu untuk menolong, tetapi senjata rahasia mereka Cie-yan-sin-sa dan Kiu-yu-leng-hwee sangat berbisa, perlu apa kita harus menempuh bahaya? Sebaiknya kita bertindak menurut rencana kita semula."

Peng-pek Sinkun tahu bahwa Cin Lok Pho khawatir senjata rahasia lawannya, takut jika melukai anak buah Swat-san-pay yang belum terlalu tinggi ilmunya, seperti Leng Eng, Leng Kiat dan lain-lain, maka ia lalu berkata sambil tertawa:

"Cin Locianpwe bertindak sangat hati-hati, kalau memang harus demikian halnya, kiranya lebih baik jikalau Hee laute melancarkan serangannya dari tengah udara, coba menggunakan Lui Hoa dan Cong Ki sebagai barang percobaan!" Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu melongok kebawah, tampak Lui Hoa dan Cong Ki, masing-masing sudah melesat tinggi keatas dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh.

Kawanan penjahat Cong-thian-pay datang dengan kekuatan tenaga pilihan, orang-orang itu ternyata memiliki kepandaian yang tidak lemah.

Cong Kieadalah siaute atau adik perguruan Khi Tay Cao, sedangkan Lui Hoa adalah jago pedang golongan Tiam-cong yang nomor dua, semuanya memiliki kepandaian yang tidak rendah, maka gerakan mereka begitu melesat mencapai tinggi lima tombak lebih.

Hee Thian Siang yang memperhatikan gerakan Lui Hoa dan Cong Ki, ia menduga kedua orang itu sedikitnya memerlukan tiga kali gerakan enjotan dan gerakan yang keempat barulah bisa mencapai ke puncak kutub Hian-peng- goan. Maka ia segera mempersiapkan dua potong besar gumpalan es yang amat dingin, menantikan dua orang itu pada gerakannya yang ketiga dan selagi hendak melesat mengakhiri gerakannya barulah bertindak untuk menyambit dengan potongan esnya itu.

Bagi Lui Hoa dan Cong Ki sendiri, dalam hati mereka juga sudah berjaga-jaga terhadap serangan dari atas oleh musuhnya, maka mereka masing-masing juga sudah mempersiapkan senjata rahasia Ci-yan-sin-sa dan api Kiu-yu- leng-hwee.

Dalam waktu yang singkat sekali, dua manusia buas dari Ceng-thian-pay, sudah meleset untuk yang ketiga kalinya, gerakannya gesit sekali, hingga Goan-thong Hweesio dan dua orang yang berdandan aneh dari luar perbatasan yang menyaksikannya, juga pada turut memberi pujian. Di puncak kutub Hian-peng-goan, masih sunyi dan tenang- tenang saja.

Pek-kut Ie su berseru 'Eeei' lalu berkata kepada Khi Tay Cao:

"Benarkah orang-orang Swat-san-pay ini telah menelan perbuatan orang-orang Ngo-bie-pay yang menyingkir jauh- jauh lebih dulu? Mengapa mereka tidak menggunakan tempat yang sangat strategis ini untuk mengadakan perlawanan diatas kutub Hian-peng-goan?"

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara tertawa nyaring yang timbul di tengah udara, suara itu disusul dengan munculnya jago muda Hee Thian Siang diatas puncak kutub Hian-peng-goan.

Begitu Hee Thian Siang menampakkan diri, segera menggunakan dua potong es yang berada ditangannya, yang pada waktu itu sudah dihancurkan menjadi berkeping-keping, kemudian dengan mengarahkan ilmunya Kian-thian-khi-kang, dan menggunakan gerak tipu menebar hujan, es yang hancur itu ditebarkan keatas kepala Lui Hoa dan Cong Ki.

Pada saat itu Lui Hoa dan Cong Ki berdua oleh karena lompatan yang ketiga kalinya tadi sudah habis dan selagi hendak mengenjotkan kakinya ke tebing gunung, tiba-tiba diserang oleh Hee Thian Siang sedemikian rupa, sehingga pada waktu itu mereka terkejut.

Hee Thian Siang telah memilih waktu yang tepat dan baik sekali, sehingga Lui Hoa dan Cong Ki berdua yang pada waktu itu masih berada di tengah udara, dan tidak mempunyai tempat untuk berpijak kaki, sudah tentu tidak dapat berbuat apa-apa lagi, ia terpaksa melempar senjata rahasia apinya Kin-yu-leng-hwee dan pasir beracun Ci-yan-sin-sa sambil mengebutkan lengan jubah mereka, hendak mengelakkan serangan hancuran es dari Hee Thian Siang. Diluar dugaan mereka, es-es yag sudah menjadi hancur itu, dilemparkan Hee Thian Siang sedemikian hebat, apalagi ia sudah menggunakan ilmunya Kian-thian-khi-kang, sudah tentu tidak dapat dicegah oleh kibasan lengan jubah orang-orang seperti Lui Hoa dan Cong Ki.

Apalagi es-es dari kutub Hian-peng-goan itu, bukan saja dingin tetapi juga keras bagaikan besi, bukanlah es sembarangan es maka ketika es itu mengenai sasarannya, Lui Hoa dan Cong Ki keduanya lantas terjatuh dan menggelinding kebawah dari tempat setinggi lima enam belas tombak.

Oleh karena mereka menggelinding dengan cepat, senjata rahasia mereka yang disambitkan tadi, sedikitpun tidak ada gunanya.

Sebab, senjata pasti beracun Ci-yan-sin-sa meskipun hebat, tetapi tidak dapat mencapai ke jarak jauh, terutama disambitkan dari bawah keatas, maka sebelum sampai kepada sasarannya, sudah tertiup buyar oleh angin gunung yang berhembus kencang.

Begitupun keadaannya dengan api Kiu-yu-leng-hwee, juga sudah ditumpas oleh Cin Lok Pho dengan menggunakan ilmunya Pan sian ciang.

Pek-kut Ie su, Khi Tay Cao dan Thiat-koan Totiang yang menyaksikan kejadian itu, benar saja diatas kutub Hian-peng- goan telah terjaga kuat, dan setelah menyaksikan Lui Hoa dan Cong Ki terpukul jatuh, mereka segera maju memburu untuk memberikan pertolongan.

Lui Hoan dan Cong Ki meskipun semuanya memiliki kekuatan tenaha dalam yang cukup sempurna, tetapi karena terjatuh dari tempat setinggi lima enambelas tombak, apalagi kemudian menggelinding terus kebawah, ditambah lagi sudah terkena serangan es-es dari Hee Thian Siang, sudah tentu sekujur badannya luka-luka, keadaannya sangat mengenaskan.

Khi Tay Cao merasa gemas sekali, ia tancapkan tongkat bajanya ditanah dan berkata dengan suara bengis:

"Setan cilik Hee Thian Siang! Kau sungguh jahat sekali! Bila kau nanti bertemu lagi denganku, atau kutub Hian-peng- goan ini kupukul hancur, pasti akan kuhancurleburkan tubuhmu dengan tongkat bajaku ini!"

Baru saja menutup mulut, diatas kutub Hian-peng-goan, kembali terdengar suara tertawa terbahak-bahak.

Suara tertawa itu ternyata keluar dari mulut Hee Thian Siang yang pada waktu itu berdiri dengan gagahnya diatas gunung.

Dengan sinar mata buas, Khi Tay Cao kemudian membentak kepadanya:

"Hee Thian Siang! Mengapa kau tertawa ?"

"Aku mentertawakan dirimu! Ha,ha… Percuma saja kalau menjadi ketua dari salah satu partai besar. Kiranya bukan saja perbuatanmu sangat rendah, perkataanmu juga seenaknya saja, sedikitpun tidak mengukur kekuatan pada dirimu sendiri!"

Bukan kepalang marahnya Khi Tay Cao, sekujur badannya sampai menggigil, dengan mengendalikan hawa amarahnya, ia membentak lagi sambil mendongakkan kepala :

"Bagaimana kau bisa berkata demikian? Apakah kau tidak dapat menjelaskan. . ."

Tidak menantikan sampai habis ucapan ketua Ceng-Thian- pay itu, Hee Thian Siang sudah berkata sambil tertawa terbahak-bahak: "Khi Ciangbunjin, aku sekarang hendak bersoya kepadamu lebih dulu. Hebatnya senjata tongkat bajamu yang berat ditanganmu sekarang ini, bagaimana kalau dibandingkan dengan yang dahulu, yang sangat kesohor itu?"

Khi Tay Cao yang mendengar ucapan itu, wajahnya merah padam seketika, dan diam tidak mampu menjawab.

Hee Thian Siang berkata lagi sambil tertawa terbahak- bahak:

"Dahulu dalam pertandingan di gunung Ki-Lian, kau begitu mengagulkan senjatamu yang berat dan kesohor itu. Tapi buat melawan senjataku yang ringan bulu burung warna lima, bagaimana kesudahannya? Senjatamu yang berat dan kesohor itu bukankah sudah patah? Tapi aku orang dari angkatan muda ini meskipun tidak terluka apa-apa, bahkan anak buahmu sendiri yang tidak berdosa, telah mati menjadi setan penasaran karena senjatamu sendiri!"

Khi Tay Cao menggeram hebat, kakinya menjejak tanah yang diinjaknya sehingga salju-salju ditempat ia berpijak menjadi hancur, katanya dengan suara keras:

"Hee Thian Siang! Kita sekarang hanya berbicara soal di depan mata! Jangan sebut-sebut urusan yang sudah lalu!"

Hee Thian Siang kembali tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata:

"Dalam pertemuan berdirinya partai Ceng-thian-pay itu hingga saat ini, baru saja empat bulan lamanya. Meskipun sudah merupakan kejadian yang lalu, tetapi sekarang ini dalam keadaan begini, Khi Ciangbunjin tentunya tidak akan lupa, bukan? Senjatamu yang berat dan kesohor itu toh masih tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku, apalagi sekarang! Senjatamu yang terdiri dari baja biasa ini, bagaimana kau berani mengatakan dapat memukul hancur tubuhku? Oleh karena itu kalau aku katakan tadi padamu bahwa kau berkata seenaknya saja tanpa memperhitungkan keadaan dirimu sendiri, apakah itu salah?"

Ki Tay Cao tidak bisa menjawab, ia hanya dengan sepasang matanya yang buas, mengawasi kepada Hee Thian Siang.

Tapi semakin ia marah, Hee Thian Siang semakin mengejek dengan ejekannya yang lebih hebat, dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, ia berkata kepadanya lagi:

"Khi Ciangbunjin, kau tidak perlu marah sedemikian rupa! Aku berada diatas kutub Hian-peng-goan, kau berada dibawah. Satu sama lain terpisah tigapuluh tombak lebih. Senjata rahasiamu Kiu-yu-leng-hwee tidak mungkin akan dapat membakar aku, senjata rahasia berbisa milikmu Thian- keng-cek tidak mungkin melukai aku, dan senjata tongkatmu yang terbuat dari baja biasa itu, lebih-lebih tidak dapat menyentuh diriku! Apabila kau marah sedemikian rupa dan sampai kau muntah darah atau mati mendadak, bukankah hal ini akan membuat aku Hee Thian Siang akan semakin tersohor saja didunia Kang-ouw?"

Khi Tay Cao benar-benar tidak sanggup lagi mengendalikan hawa amarahnya lagi-lagi dengan menggeram marah, senjata tongkat bajanya dicabut lagi dan ia menggempur gunung es salju itu sehingga membuat satu lobang besar!

Hee Thian Siang merasa geli menyaksikan perbuatan Khi Tay Cao, katanya:

"Sekalipun kau memiliki kekuatan tenaga bagaikan banteng, barangkali juga tidak akan mampu menggempur gunung salju ini! Kau jangan berbuat seperti orang kebakaran jenggot. Biarlah aku mewakili ketua Swat-san-pay hendak menyuguhi kau dan kawan-kawanmu dengan es dingin yang ada dikutub Hian-peng-goan ini, supaya kepalamu agak dingin, jadi jangan marah-marah saja!"

Sehabis berkata demikian, ia lalu mengerahkan ilmunya Kian-thian-khi-kang, mendorong ketumpukan salju diatas kutub Hian-peng-goan, hingga tumpukan salju itu berguguran kebawah, dengan demikian, kawasan penjahat Ceng-thian- pay mau tak mau terpaksa pada menyingkir untuk mengelakkan diri supaya jangan sampai kena tertimpa guguran salju itu.

Mao Giok Ceng yang menyaksikan perbuatan Hee Thian Siang, berkata kepada Cin Lok Pho sambil tertawa:

"Cin Locianpwe, Hee laute ini bukan saja sudah mewarisi kepandaian Pak-bin Sin-po, tetapi juga sudah mendapat banyak pengalaman gaib, maka dalam usianya yang masih sedemikian muda, sudah memiliki kepandaian dan kekuatan tenaga yang sangat tinggi! Bukan itu saja, ia juga pandai main lidah, hingga seorang ketua partai seperti Khi Tay Cao sampai tidak berdaya sama sekali!"

"Kawanan penjahat seperti itu, biasanya memang suka berbuat sewenang-wenang, terhadap orang-orang yang lemah, memang sudah sewajarnya kalau dimaki-maki!" menjawab Cin Lok Pho sambil tertawa juga.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu lalu berkata sambil tertawa:

"Cin Locianpwe dan Mao Locianpwe, apakah tidak ingin turut memaki-maki mereka, supaya mereka semakin marah ?"

"Kami tidak perlu lagi turut campur tangan! Sebab, orang- orang Ceng-thian-pay yang datang dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga yang ada, tidak akan mundur kalau hanya mengalami sedikit aral rintangan saja. Sudah pasti mereka masih akan melancarkan serangan besar-besaran. Oleh karena itu, maka kita seharusnya bersikap setenang mungkin, supaya pihak lawan tidak dapat menduga berapa kekuatan yang ada dipihak kita!" berkata Cin Lok Pho sambil menggeleng kepala dan tertawa. 

Berkata sampai disitu, pandangan matanya lalu ditujukan kebawah gunung. Tiba-tiba ia berkata dengan wajah berobah:

"Sinkun, lekas perintahkan semua tenaga yang ada dikutub Hian-peng-goan supaya pertahankan tempat ini dengan seluruh kekuatan yang ada! Semua yang datang kali ini terlalu kuat, semua merupakan tokoh-tokoh kelas satu!"

Peng-pek Sin kun mengalihkan pandangan matanya kebawah. Benar saja, tampak olehnya tiga sosok bayangan orang cepat bagaikan kilat melompat tinggi keatas, terus menyerbu kekutub Hian-peng-goan.

Mereka itu terdiri dari ketua Ceng-thian-pay Thiat-koan Totiang, Pek-thao Losat, Pao Sam-kow dan yang berada di tengah-tengah adalah Pek-kut Ie su, yang oleh mereka dipandang sebagai andalan tenaga yang terkuat.

Kiranya Khi Tay Cao dalam keadaan marah dan tidak bisa berbuat apa-apa seperti itu, terpaksa meminta pendapat dan pikiran Pek-kut Ie su. Pek-kut Ie su kemudian berkata sambil mengerutkan alisnya;

"Tempat kedudukan lawan sangat strategis, sesungguhnya sulit untuk digempur. Biarlah aku turun tangan bersama-sama Ki Ciangbunjin dan Pek-thao Losat untuk mencoba sekali lagi, menyelidiki puncak kutub Hian-peng-goan, sebetulnya ada berapa banyak sih kekuatan tenaga mereka? Setelah itu baru kita mengambil keputusan lagi."

Khi Tay Cao tahu bahwa Thiat-koan Totiang dan Pek-kut Ie su, semuanya merupakan orang-orang yang berkedudukan tinggi dan memiliki kepandaian yang tinggi pula, hingga dapat diduga sampai dimana batas kemampuannya. Sedangkan Pek-thao Losat, meskipun didalam pertandingan diatas gunung Ki-lian, pernah terluka parah, tetapi setelah dibantu dan diobati oleh Pek-kut Siancu, kini semua luka-lukanya sudah pulih kembali bahkan sudah melatih semacam ilmu yang tahan hawa dingin, juga merupakan suatu pilihan yang sangat tepat.

Oleh karenanya, maka ia menganggukkan kepala menyetujui pikiran Pek-kut Ie su.

Pek-kut Ie su berkata kepada Thiat-koan Totiang dan Pek- thao Losat:

"Pao po-po dan Khi Ciangbunjin, lekas kita gunakan peluang yang baik ini selagi Hee Thian Siang masih membanggakan diri seperti itu, selekasnya menyerbu keatas, untuk mengadakan penyelidikan berapa banyak sebetulnya kekuatan tenaga mereka yang dapat mempertahankan garis pertahanan mereka itu?"

Thiat-koan Totiang dan Pek-thao Losat menganggukkan kepala, maka tiga bayangan orang itu lalu loncat tinggi keatas, untuk menyerbu kekutub Hian-peng-goan.

Peng-pek Sin kun yang melihat serbuan itu benar-benar berkekuatan besar, buru-buru mengadakan perundingan untuk mengambil keputusan. Akhirnya telah diambil keputusan, ia sendiri bersama istrinya hendak menahan majunya Pek-kut Ie su, Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang diberi tugas melawan Thiat-koan Totiang, sedangkan Pao Sam-kow dihadapi oleh lima anak buah Swat-san-pay.

Baru saja diatur segala persiapan, tiba-tiba bayangan orang itu sudah berhasil lompat melesat setinggi tujuh delapan tombak tingginya. Asal sekali lagi mereka berhasil menancap di tebing gunung, pasti akan berhasil naik ke puncak gunung. Peng-pek Sinkun dan istrinya semua tahu bahwa untuk menghadapi orang-orang seperti Pek-kut Ie su yang sudah memiliki kepandaian tidak ada lemahnya, tidak boleh menggunakan lagi senjata racunnya, maka suami istri itu sedikitpun tidak berani berlaku gegabah ketika mempersiapkan ilmunya Kiu Coan phian-lian-sinkang, kedua- duanya mendorongkan tangannya, mengeluarkan hembusan angin yang sangat dingin, menyerang kearah Pek-kut Ie su.

Pek-kut Ie su mengeluarkan suara dari hidung, kemudian mengebutkan lengan jubahnya. Hembusan angin Pek-kut-im- hong telah berubah menjadi kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat, kali ini digunakan untuk menyambut serangan kedua suami istri tadi.

Bertempur secara demikian, sudah tentu yang lebih kuat akan menang.

Apabila pertempuran itu dilakukan ditanah datar, sekalipun Peng-pek Sin kun berdua bersama istrinya melawan berbareng, mungkin masih tidak sanggup menahan serangan Pek-kut Ie su yang hebat itu.

Tetapi kini karena Pek-kut Ie su berada dibawah, ia mendapat tiga macam kerugian.

Pertama, sudah mengerahkan kekuatan tenaganya terlalu besar buat bisa melesat tinggi delapan belas tombak. Dengan demikian, maka kekuatan tenaga dalamnya tentu sudah agak berkurang. Kedua, ketika kedua kalinya ia hendak menancap kaki, waktu itu tenaga loncatan naik keatasnya hampir habis, sehingga sekujur badannya boleh dibilang terapung bebas di tengah udara, sudah tentu tidak mudah untuk menggunakan kekuatan tenaga sepenuhnya. Ketiga, untuk menyambut serangan lawan dari bawah, kalau dibandingkan dengan serangan dari atas yang meluncur kebawah, sudah tentu yang menyerang dari bawah harus mengalami kerugian. Oleh karena adanya tiga faktor yang merugikan itu, maka dalam mengadu kekuatan tenaga itu, Peng-pek Sin kun suami istri telah mengeruk keuntungan tidak sedikit. Namun demikian, akhirnya toh kedua pihak masih berimbang, disini dapat dibayangkan betapa hebatnya kekuatan Pek-kut Ie su.

Kekuatan kedua belah pihak boleh dibilang berimbang.

Tetapi, masing-masing toh sudah terdorong sedikit.

Peng-pek Sin kun bersama istrinya karena berpijak di tempat yang lebih tinggi, meskipun terdorong mundur, juga hanya menggeser setengah langkah saja.

Tidak demikian keadaannya dengan Pek-kut Ie su. Oleh karena tubuhnya sedang terapung ditengah udara, setelah terdorong mundur, sudah tentu melayang turun kebawah, tetapi ia memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna, maka tidak mendapat luka sedikitpun juga seperti Cong Ki dan Lui Hoa yang harus menggelinding turun dengan keadaan yang sangat mengenaskan.

Dengan demikian, Pek-kut Ie su yang berada di bawah dengan Peng-pek Sin-kun dan istrinya, meskipun keadaan sangat berbahaya, tetapi sudah berhasil memukul mundur musuhnya yang kuat.

Kalau di pihak Peng-pek Sin-kun suami istri sudah berhasil memukul mundur lawannya, tetapi di sayap kiri tidak demikian halnya. Tiba-tiba terdengar tertawa seorang tertawa bangga.

Suara tertawa bangga itu keluar dari mulut Hee Thian Siang! Sebab, wakil ketua Ceng-thian-pay Thiat-koan Totiang yang menyerang dari jurusan kiri ternyata telah mengalami nasib yang sangat mengenaskan.

Kiranya Hee Thian Siang kecuali mahir ilmu silat Bunga Mawar, ilmu silat warisan Thian Ciangbunjin dan ilmu jari tangan Kian-thian-it-ci dari perguruannya sendiri, sedangkan kekuatan tenaga dalamnya, selain sudah mendapat warisan dari Duta Bunga Mawar, juga sudah memakan biji mata kelabang. Ditambah lagi latihannya yang tekun, maka keadaan waktu itu jauh berbeda daripada dahulu, sudah tentu jauh diatas Thiat-koan Totiang.

Sekalipun pertempuran itu dilakukan di tanah datar, Hee Thian Siang juga tidak akan kalah. Apalagi sekarang ia yang berada diatas dan Thiat-koan Totiang dibawah. Sudah tentu Hee Thian Siang mendapat lebih banyak keuntungan. Maka ia telah menggunakan ilmunya Kian-thian-khi-kang ketika Peng- pek Sinkun suami istri sedang menghadapi Pek-kut Ie su, ia sudah menyerang hebat kepada Thiat-koan Totiang.

Dilain pihak Cin Lok Pho juga tidak mau tinggal diam, ia juga mengerahkan tenaganya dengan menggunakan ilmu terampuhnya dari golongan Lo-hu-pay ialah Pan-sian-ciang- lok, menyerang Thiat-koan Totiang dari samping.

Thiat-koan Totiang yang berada di tengah udara, sudah tentu sangat dirugikan, untuk menghadapi serangan Kian- thian-khikang Hee Thian Siang saja, atau serangan tunggal Pan-sian-ciang-lok dari Cin Lok Pho, tidak mungkin sanggup menahan. Apalagi dua macam ilmu luar biasa itu kini menggempur kearahnya dengan berbareng! Maka tidak ampun lagi, tubuhnya yang tinggi besar telah terpental dan terbang sejauh lima enam kaki, terus meluncur turun kebawah!

Lui Hoa dan Cong Ki yang pertama-tama terpukul oleh Hee Thian Siang hanya menggelinding kebawah, maka meskipun keadaannya mengenaskan, tetapi lukanya tidaklah terlalu parah. Tidak demikian dengan Thiat-koan Totiang. Oleh karena digempur oleh dua macam ilmu yang sangat hebatm terlebih dulu sudah terluka bagian dalam tubuhnya dan kemudian terlempar jauh lalu melayang turun, maka keadaannya itu sangat membahayakan jiwanya. Khi Tay Cao yang menyaksikan kejadian demikian, mengeluarkan suara geraman hebat, tongkat bajanya dirancapkan ditanah, kemudian ia bergerak bagaikan burung raksasa terbang tinggi ganas.

Khi Tay Cao terbang setinggi lima tombak, hendak menyambut tubuh Thiat-koan Totiang yang meluncur turun, kemudian disambar dan disangganya dengan kedua tangannya.

Thiat-koan Totiang yang meminjam sedikit tenaga itu, memaksakan diri menahan luka di dalam tubuhnya, dibantu dengan Khi Tay Cao, barulah bisa berdiri di tanah dengan selamat.

Tetapi baru saja kakinya menginjak tanah, kepalanya dirasakan berkunang-kunang, dan dari mulutnya menyemburkan darah segar.

Pek-kut Ie su pada saat itu juga sudah berada ditanah, buru-buru memberikan sebutir pil, suruh Thiat-koan Totiang menelannya.

Hee Thian Siang dengan tindakannya itu telah berhasil membalas dendam sakit hati dalam pertempuran di gunung Tiam-cong-san dahulu, jika ia tidak besar rejekinya, kemudian mendapat pengalaman gaib dari dalam peti mati, mungkin ia sudah binasa. Maka pada saat itu ia sangat gembira sekali, dan tertawa terbahak-bahak.

Tetapi selagi ia tertawa terbahak-bahak, diatas kutub Hian- peng-goan pada saat itu terjadi kericuhan.

Sampai pada saat itu, musuh yang menyerang dari tengah Pek-kut Ie su sudah terpukul mundur oleh Peng-pek Sinkun suami istri. Thiat-koan Totiang yang menyerang dari barisan kiri juga sudah terpukul jatuh oleh Hee Thian Siang bersama Cin Lok Pho. Tetapi lima anak buah Swat-san-pay yang menghadapi musuh dari sebelah kanan, ternyata tidak berhasil mempertahankan serangan Pek-thao Losat, hingga garis pertahanan ditengah jadi bobol!

Kiranya Leng Eng dan Leng Kiat serta lain-lainnya juga tidak mengetahui bahwa Pek-thao Losat Pao Sam-kow ada melatih ilmu kebal yang tidak mempan senjata tajam, telah mengalami kegagalan dalam serangannya. Pada saat Peng- pek Sinkun dan istri berhasil memukul mundur Pek-kut Ie su dan Thiat-koan Totiang sudah didorong jatuh oleh Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho, lima orang anak buah Swat-san-pay telah menghujani Pao Sam-kow dengan senjata ampuh salju yang dingin.

Leng Eng dan Leng Kiat yang berlaku sangat hati-hati dalam serangan itu masih ditambah lagi dengan senjatanya Peng-pek-gan-long.

Namun mereka tidak mengetahui bahwa Pek-thao Losat Pao Sam-kow bukan saja mempunyai ilmu weduk, tidak mempan senjata tajam tetapi juga memiliki ilmu yang tidak takut segala hawa dingin.

Maka dibawah serangan luncuran salju yang sedemikian deras, ia masih bisa naik kepuncak seperti tanpa rintangan.

Sun-kiu-siao, salah seorang anak buah dari lima anak buah Tay-swat-san yang adatnya paling keras. Ketika ia melihat musuh-musuh dari barisan tengah dan kiri semua terpukul mundur, sedangkan dipihaknya sendiri sebaliknya telah kebobolan hanya oleh seorang nenek-nenek tua, maka ia merasa sangat penasaran, secepat kilat sudah menyerbu dan menerjang kepada Pao Sam-kow.

Serangan itu sudah tidak digubris oleh Pao Sam-kow, malah mengebutkan lengan jubah tangannya hingga Sun-kiu- siao terdampar mundur beberapa langkah. Setelah Pao Sam-kow memukul mundur Sun-kiu-siao, tangan kanannya mengeluarkan empat buah senjata apinya Kiu-yu-leng-hwee untuk menyerang empat anak buah Swat- san-pay yang lain, disamping itu ia juga berkata dengan suara nyaring kepada kawan-kawannya dibawah gunung:

"Aku sudah berada di puncak kutub Hian-peng-goan, Ciangbun sute lekaslah pimpin kawan-kawan menyerbu keatas!" Baru saja ia menutup mulut, tampak sesosok bayangan tinggi besar dan berkelebatnya sinar merah dengan berbareng menyerbu kepadanya.

Bayangan tinggi besat itu bukan lain daripada Leng Pek Ciok yang datang dari dalam lembah Phian-han-kok.

Sedang sinar merah adalah jaring pusaka Hee Thian Siang yang digunakan untuk menjaring api Ki- yu-keng-hwee yang oleh Pao Sam-kow digunakan untuk menyerang Leng Eng dan Leng Kiat berempat.

Leng pek Ciok yang menampak Pao Sam-kow berhasil mendaki keatas kutub Hian-peng-goan, lalu mendelikkan matanya dan membentak dengan suara keras:

"Nenek tua, kedatanganmu disini sungguh amat kebetulan! Jikalau bukan musuh tidak akan ketemu lagi, kita yang barangkali memang berjodoh, hari ini kita boleh bertempur sepuas-puasnya!"

Setelah berkata demikian, dengan beruntun ia telah melancarkan serangannya yang mengandung hawa dingin dari ilmunya Kiu-coan-pian-han-kang.

Didalam pertandingan di gunung Ki-lian dahulu Pao Sam- kow telah terpukul hampir mati oleh Leng Pek Ciok, dan Leng Pek Ciok juga sama juga keadaannya. Maka kedua belah pihak boleh dikata telah sama-sama mengalami penderitaan hebat, oleh karena itu dalam pertemuan kembali pada hari itu, sudah tentu Pao Sam-kow semakin ganas, ia juga menggunakan dua jenis ilmu, bukan saja sudah berhasil menggagalkan serangan Leng Pek Ciok, tetapi juga sudah melancarkan serangan pembalasan. Pada waktu itu Khi Tay Cao yang masih berada di bawah, ketika melihat sucinya sudah berhasil membobolkan garis pertahanan sebelah kanan, tampak sangat girang. Kecuali Thiat-koan Totiang yang masih terluka bagian dalam, dan memerlukan banyak istirahat, yang lain-lainnya lantas naik keatas semua.

Peng-pek Sinkun melihat lima anak buahnya yang terpilih dan menjaga garis pertahanan sebelah kanan ternyata sudah bobol oleh Pao Sam-kow, juga merasa malu dan terkejut.

Selagi hendak meninggalkan garis pertahanan bagian tengah untuk memberi pertolongan, tiba-tiba tampak Leng Pek Ciok sudah datang dan berhasil menahan Pao Sam-kow, sedangkan Hee Thian Siang juga sudah menggunakan jaring wasiatnya, untuk menjaring senjata api Kiu-yu-leng-hwee, barulah setelah ia melihat kejadian itu hatinya merasa lega.

Tetapi keadaan dikutub Hian-peng-goan, baru saja agak reda, kawanan penjahat yang berada di bawah sudah mulai meluruk lagi keatas.

Cin Lok Pho lalu berkata kepada Peng-pek Sinkun sambil mengerutkan alisnya.

"Musuh kita kali ini telah mengerhkan seluruh kekuatan tenaga untuk menggempur kita, kalau kita tidak hadapi dengan seluruh kekuatan, garis pertahanan yang pertama ini, barangkali tidak dapat kita pertahankan!"

Peng-pek Sinkun menganggukkan kepala dengan sikap serius, lalu bersama-sama Cin Lok Pho bersama istrinya Mao Giok Ceng, mendorong bukit salju yang ditumpuk tadi kebawah. Tumpukan salju itu meskipun dibuat dengan tergesa-gesa, dan hanya setinggi setombak saja, tetapi jika didorong kebawah sudah tentu mengandung kekuatan sangat hebat. Bukan cuma berhasil menahan serangan orang-orang Ceng- thian-pay saja, tetapi juga telah berhasil melukai beberapa orang diantaranya.

Orang-orang Ceng-Thian-pay tidak tahu berapa banyak salju semacam itu yang disiapkan diatas gunung, maka semuanya pada mengerutkan alis dan tidak berdaya sama sekali.

Khi Tay Cao lebih-lebih mengkhawatirkan Sucinya yang berada di atas seorang diri, maka ia waktu itu merasa sangat cemas sekali.

Pada saat itu Leng Pek Ciok sudah bertempur sampai empat limapuluh jurus dengan Pao Sam-kow, tetapi kekuatan kedua belah pihak nampak masih berimbang.

Hee Thian Siang yang menyaksikan kejadian itu bertanya kepada Cin Lok Pho:

"Cin Locianpwe, bagaimana menurut pandangan Locianpwe? apakah Leng Toakoku akan berhasil mengalahkan Pao Sam-kow yang mempunyai ilmu kebal itu?"

"Kekuatan tenaga kedua belah pihak sama-sama tingginya jikalau kedua-duanya tidak sampai kehabisan tenaga sendiri, masih susah ditentukan siapa yang kebih unggul atau siapa yang bakal asor. Dengan lain perkataan, siapa yang sanggup bertahan lama dan lebih ulet, barulah ada harapan untuk mendapat kemenangan!"

"Cin Locianpwe, dibawah sana musuh sudah siap hendak menggempur, agaknya tak dapat dibiarkan Leng Toako bertempur terus dengan Pao Sam-kow secara itu!” Kata Hee Thian Siang. "Apakah Hee laote ada maksud kehendak membantu Leng toakomu?" tanya Cin Lok Pho sambil tertawa.

Hee Thian Siang menganggukkan kepala, tetapi kemudian berkata pula sambil kerutkan alis:

"Aku sebenarnya memang ingin menggunakan Pek-thao Losat Pao Sam-kow ini untuk menguji kepandaian dari perguruanku yang baru dipelajari, tapi takut akan melanggar peraturan dunia Kang-ouw!"

Cin Lok Pho menunjuk kawanan penjahat dari Ceng-thian- pay dibawah kutub Hian-peng-goan, katanya sambil tersenyum:

"Mereka dengan beramai-ramai telah datang mengeroyok kemari, apakah itu bukannya perbuatan yang melanggar dunia Kang-ouw? Bila saja tidak lebih dahulu kita mendapat kabar, kutub Hian-peng-goan ini mungkin sudah banjir darah."

"Kalau mendengar ucapan Locianpwe ini, rasanya Hee THian Siang toh boleh juga membantu Leng toako bukan?" tanya Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Sudah tentu boleh sekali! Sebab, pada saat seperti ini tidak perlu lagi kita bicarakan soal peraturan dengan kawanan penjahat seperti mereka itu!"

"Baiklah! Kalau begitu Hee Thian Siang akan menggunakan Pek-thao Losat ini untuk menguji ilmu silat pelajaran suhu sebetulnya ada mempunyai kehebatan sampai dimana," kata Hee Thian Siang sambil tertawa besar.

Setelah itu, tubuhnya melayang ke tengah-tengah antara dua orang yang sedang bertempur. Karena ia bermaksud supaya dapar lekas-lekas menundukkan Pao Sam-kow agar dapat mengurangi kekuatan pihak lawan, maka begitu turun tangan sudah menggunakan pelajaran ilmu silat yang diturunkan oleh Siau-ie Siangjin, ditambah lagi dengan ilmu silat serangan jari tangan Kian-thian-ci, ilmu terampuh dan simpanan dari suhunya Hong-poh Lui.

Pao Sam-kow sedang bertempur dengan Leng Pek Ciok. Kedua orang itu kecepatannya berimbang. Di pihak Pao Sam- kow, orang Ceng-thian-pay ini sudah bertekad menghancurkan kutub Hian-peng-goan, maka segenap serangannya dilancarkan dengan hebat dan ganas. Begitu juga dengan Leng Pek Ciok, sebagai jago buat pihak tuan rumah, ia harus berusaha mempertahankan musuhnya, juga bertempur dengan hati-hati. Jadi mereka sama sekali tidak menduga kalau Hee Thian Siang yang biasanya tinggi hati, tiba-tiba bisa membantu Leng Pek Ciok untuk menggempur Pao Sam-kow.

Sudah tentu tindakan Hee Thian Siang itu telah mengejutkan Pao Sam-kow. Selagi hendak membagi kekuatannya untuk menghadapi lawan baru, Hee Thian Siang sudah datang menggempur dengan sekuat tenaga, apalagi ilmu serangannya Kian-thian-ci demikian hebat, ia tidak keburu berbuat apa-apa, serangan itu sudah berhasil mengenakan bagian jalan darah dibagian ketiak Pao Sam- kow.

Jago betina itu tersadar sesudah terlambat juga sama sekali tidak keburu menyingkir. Bagitulah seketika itu juga ia lantas jatuh rubuh ditanah.

Bagi Leng Pek Ciok yang sedang bertempur sengit dengan semangat tinggi, ketika tiba-tiba melihat perubahan itu, lantas penyelidikan matanya dan berkata kepada Hee Thian Siang:

"Hee laote, apakah artinya semua ini? Apa kiramu Leng toakomu tidak sanggup menghadapi nenek tua itu?"

"Leng toako, jangan salah paham. Dengan kepandaian dan kekuatan yang engkau miliki, sudah tentu bisa merebut kemenangan! Tetapi toako harus ingat, dibawah sana masih ada banyak orang Ceng-thian-pay sedang berusaha naik ke atas. Mungkin akan menggempur dengan sepenuh tenaga. Tindakan siaote ini meskipun agak ceroboh, tapi semua ini semata-mata karena mengingat kepentingan Swat-san-pay seluruhnya. Leng toako, maafkanlah siaote sekali ini!"

Mendengar ucapan Hee Thian Siang itu wajah Leng Pek Ciok menjadi merah, ia lalu menyambar tubuh Pao Sam-kow yang sudah rubuh dalam keadaan pingsan dengan langkah lebar berjalan ke puncak Hian-peng-goan. Tubuh jago betina itu diangkatnya tinggi-tinggi, lalu berkata dengan suara bengis:

"Ketua Ceng-thian-pay Khi Tay Cao, dengarlah Sucimu Pek-thao Losat Pao Sam-kow sudah dirubuhkan oleh Hee Thian Siang laote. Jikalau kalian berani berbuat semaunya saja, Leng Pek Ciok tidak mau segan-segan lagi pasti akan mencincang siluman perempuan ini hingga hancur berkeping- keping!”

Khi Tay Cao, Pek-kut Ie su dan yang lain-lainnya, saat itu sedang dongakkan kepala mengawasi puncak Hian-peng- goan. Mereka agaknya sudah merasa kewalahan. Ketika tiba- tiba tampak Pek-thao Losat dalam genggaman tangan Leng Pek Ciok, betul-betul mereka jadi semakin tidak berdaya.

Maka kecewalah Khi Tay Cao. Setelah bersangsi sejenak, matanya memancarkan sinar buas, dan berkata pada Leng Pek Ciok diatas puncak Hian-peng-goan:

"Khi Tay Cao sudah bertekad bulat kalau tidak dapat menghancurkan Hian-peng-goan, tidak akan kembali. Jikalau kalian berani ganggu seujung rambut saja Suciku, aku pasti akan membunuh habis semua orang Swat-san-pay untuk menuntut balas!"

Leng Pek Ciok sudah tentu tidak mau dibentak mentah- mentah oleh Khi Tay Cao begitu saja. Dirinya bermaksud hendak melemparkan tubuh Paw Sam-kow kebawah gunung, Hee Thian Siang tiba-tiba mencegahnya, berkata kepada Peng-pek Sinkun;

"Sin-kun, untuk sementara ini biarlah kita pertahankan dulu nyawa Pao Sam-kow. Sedikit banyak itu bisa mempengaruhi juga usaha kawanan penjahat Ceng-thian-pay."

Peng-pek Sinkun menganggukkan kepala dan memerintahkan Leng Pek Ciok supaya jangan marah lagi dan jangan sampai melempar Pao Sam-kow ke bawah gunung.

Tepat pada saat itu ditengah udara tiba-tiba terdengar suara cecuitan burung yang sangat aneh.

Leng Pek Ciok perlahan-lahan meletakkan tubuh Pao Sam- kow ditanah, dan mulutnya mengeluarkan suara:

"Hey! Suara burung itu demikian nyaring, baru kali ini kudengar!"

Mao Giok Ceng yang mendengar juga bunyi burung itu, wajahnya juga berubah katanya sambil menunjuk kearah Timur-laut:

"Burung itu besar sekali, diatasnya juga masih ada satu orang yang menunggangi, entah darimana datangnya?"

Sementara itu, didalam barisan orang-orang Ceng-thian- pay, dua orang yang berdandan sangat aneh tiba-tiba mengeluarkan suara siulan, seolah-olah menyambut kedatangan orang yang sedang duduk di atas burung itu.

Hee Thian Siang kini juga sudah menampakkan bahwa burung ditengah udara itu adalah burung garuda yang sangat besar, diatasnya duduk seorang yang berdandan sangat aneh perlahan-lahan menengok ke barisan orang-orang Ceng-thian- pay. Menyaksikan keadaan demikian, hatinya tergerak diam- diam ia mengeluh, buru-buru berkata kepada Peng-pek Sinkun:

"Sinkun, aku pernah dengar kata bahwa Pat-bo Yao-ong Hian Wan Liat adalah seorang sakti yang dapat menjinakkan binatang terbang dan binatang buas. Burung garuda besar itu kiranya ada hubungan dengan musuh-musuh kita. Kalau benar demikian, kutub Hian-peng-goan ini rasanya sulit sekali dipertahankan. Mau tak mau kita harus memperkuat garis pertahanan yang kedua."

Peng-pek Sinkun juga sudah melihat gelagat sangat gawat, maka segera memerintahkan Leng Pek Ciok membawa lima orang anak murid Swat-san-pay mundur dulu kelembah Thian- han-kok, dan supaya diatur penjagaannya tetapi muridnya jangan sampai diketemukan oleh burung garuda dari tengah udara.

Leng Pek Ciok juga tahu bahwa Swat-san-pay sedang menghadapi bahaya besar, maka tidak berlaku keras kepala. Ia segera menerima permintaan itu. Baru saja hendak berlalu, Peng-pek Sinkun berkata sambil tertawa:

"Saudara Leng, setelah kau bawa lima murid kita bersama Pao Sam-kow kelembah Thian-han-kok, sekalian kau buka gudang Thian-ha ambil senjata anak panah yang sudah lama disimpan disana. Kau keluarkanlah untuk dipakai."

Leng Pek Ciok menerima permintaan itu dan sebelum berlalu lantas berkata kepada Peng-pek Sinkun sambil tersenyum:

"Tak disangka Sinkun masih pandai menggunakan anak panah." Peng-pek Sinkun masih belum menjawab, sudah didahului oleh Mao Giok Ceng istrinya berkata: "Pertama kali datang di gunung Tay Swat-san, ia dengan mengandalkan sebuah gendewa dan tujuh batang anak panah telah berhasil menundukkan jago disini. Sekarang barangkali karena melihat burung garuda raksasa itu, tangannya menjadi gatal. Ia rupanya hendak menggunakan kekkuatannya yang sudah lama tidak digunakan, memanah burung garuda itu."

Hee Thian Siang lalu berkata sambil tertawa:

"Kalau Sinkun memang benar pandai menggunakan anak panah untuk memanah burung garuda itu, itulah yang paling baik. Sayang sebelumnya kita tidak menduga akan kedatangan burung raksasa itu dan anak panah juga tidak ada disini. Jikalau tidak, sekarang ini mungkin sudah berhasil memanah burung itu. Bukankah hal itu akan mengejutkan orang-orang Ceng-thian-pay dan mereka tidak berdaya untuk maju lagi?"

Berkata sampai disitu, matanya lantas diarahkan kebawah, alisnya dikerutkan, lalu berkata kepada Cin Lok Pho:

"Cin Locianpwe, orang-orang Ceng-thian-pay sudah mempunyai burung garuda raksasa yang dapat digunakan sebagai tunggangan, mengapa masih belum nampak melancarkan serangan? Bahkan masih merundingkan sesuatu, entah urusan apalagi yang mereka rundingkan itu." 

"Burung garuda itu meskipun besar, tetapi sudah terang tidak dapat ditunggangi bersama-sama oleh beberapa orang sekaligus. Bagaimana mereka hendak mengatur urut-urutan siapa yang akan dibawa lebih dahulu dan siapa yang harus belakangan? Dan pula, apa burung garuda itu mau saja ditunggangi oleh orang yang masih asing, itu yang masih merupakan pertanyaan. Yang juga dirundingkan dulu oleh mereka supaya dapat mengambil tindakan selanjutnya." Berkata Cin Lok Pho sambil tertawa. Mendengar ucapan itu Hee Thian Siang lalu berkata Peng- pek Sinkun sambil tertawa:

"Anak panah yang hendak Sinkun pergunakan untuk sementara dapat dipergunakan, sedangkan musuh tangguh sudah diambang pintu. Apakah tidak lebih baik kita lepas saja dulu garis pertahanan pertama ini dan pindah ke goa Kong- han-tong guna memastikan kawanan penjahat itu masuk jaring sendiri, biar mereka rasakan dinginnya angin Kiu-kiong-hong dan Co-ngo-im-hong!"

Peng-pek Sinkun juga tahu apabila kawanan penjahat Ceng-thian-pay itu melanjutkan serangannya, tentu Pek-kut Ie su yang dipilih lebih kuat biar menunggang burung garuda untuk datang menyerbu, sebelum yang lain-lainnya. Maka garis pertahanan pertama itu memang mungkin sukar dipertahankan. Begitulah setelah berpikir sejenak, ia lalu menyetujui juga usul Hee Thian Siang tadi katanya:

"Ucapan Hee laote ada benarnya, baiknya kita tinggalkan saja garis pertahanan pertama ini dan mundur dulu ke goa Kong-han-tong dengan mengandal jalan terowongan yang menyesatkan dalam goa itu dan angin dingin dari hawa yang berada di dalam goa untuk membuat kawanan penjahat Ceng- thian-pay terpukul habis-habisan, kemudian didepan garis pertahanan terakhir barulah kita semua turun guna mengadakan pertempuran yang menentukan."

Sehabis berkata demikian, lalu bersama Cin Lok Pho, Hee Thian Siang, dan Mao Giok Ceng berempat diam-diam meninggalkan kutub Hian-peng-goan dan pindah ke dalam goa Kong-han-tong.

Benar seperti apa yang diduga oleh Peng-pek Sinkun, tak lama setelah mereka undurkan diri, dari kawanan penjahat Ceng-thian-pay tampak orang yang memiliki kepandaian paling tinggi yakni Pek-kut Ie su menunggang burung raksasa melayang turun dari atas udara. Begitu Pek-kut Ie su turun di Hian-peng-goan, lantas mengawasi keadaan di sekitarnya. Namun sudah tidak tampak bayangan seorangpun juga! Oleh karenanya, maka dalam hati merasa harus buru-buru perintahkan burungnya turun lagi untuk membawa semua orang Ceng-thian-pay naik satu persatu.

Thiat-koan Totiang sejak makan obat mujarab pemberian Pek-kut Ie su, ditambah dengan kekuatan tenaga dalamnya yang memang sudah sempurna, waktu itu luka di dalamnya sudah cepat sembuh. Begitu tiba di puncak Hian-peng-goan lalu berkata dengan suara keras:

"Pertahanan pertama ini sudah pecah, kita pasti dapat menumpas orang-orang Swat-san-pay dan mencuci Hian- peng-goan dengan darah!"

Pek-kut Ie su segera memotong ucapannya, ia berkata sambil menunjuk ke arah puncak gunung sambil mengoyang- goyangkan tangannya.

"Hu Ciangbunjin, silahkan lihat sendiri, gunung Thay-swat- san ini keadaannya luar biasa, diatas gunung Hian-peng-goan ini masih ada gunung tinggi, orang-orang Swat-san-pay bersama Cin Lok Pho si setan tua dan Hee Thian Siang si setan kecil sembunyikan diri entah kemana? Untuk membunuh mereka barangkali tidak begitu mudah.

Tho-hoa Niocu Ki Liu Hiang dengan alis berkerut dan wajah penuh amarah telah berkata:

"Kita disini punya banyak tenaga pilihan, disamping itu juga masih ada Cit-po Thian-cun Goan-thong taysu, dan tiga jago keluarga Liong yang membantu. Kita tak usah takut orang- orang Swat-san-pay terbang kelangit!"

Kiranya tiga orang berpakaian aneh itu adalah persaudaraan keluarga Liong yang menjadi tangan kanan Hian Wan Liat. Semua orang menyebut mereka sebagai tiga orang ganas keluarga Liong, tapi mereka sendiri telah menyebut diri sendiri sebagai tiga jago keluarga Liong.

Setelah mendengar ucapan Tho-hoa Niocu Ki Liu Hiang mengeluarkan nafas dari hidung. Selagi hendak menjawab, tiga saudara keluarga Liong yang paling tua, Liong Thian lantas berkata sambil tertawa:

"Ki Hujin jangan khawatir. Burung garudaku memiliki pandangan mata yang sangat tajam, dapat melihat dari atas setinggi ratusan tombak. Di tempat tinggi bagaimanapun ia dapat melihat kelinci yang sembunyi di dalam rumput, atau cacing kecil yang merambat diatas tanah. Baiklah perintahkan dia guna mencari orang-orang Swat-san-pay. Sekalipun mereka sembunyi di dalam air, pasti akan dapat diketemukan!"

Sehabis berkata demikian, matanya mengawasi burung garudanya sambil bersiul panjang, dan burung garuda itu segera terbang tinggi menuju puncak gunung yang diliputi salju guna mencari jejak musuh.

Pek-kut Ie su yang menyaksikan keadaan demikian lalu berkata kepada Thiat-koan Totiang sambil tertawa:

"Hu Ciangbunjin adanya burung garuda milik Liong Toa sicu yang membantu pihak kita, sangat menguntungkan bagi kita. Mungkin kita benar-benar akan menumpas orang-orang Swat-san-pay untuk membalas sakit hati orang-orang yang kena terjebak oleh mereka!"

Baru saja berkata demikian, tiba-tiba terdengar suara nyanyian yang terdengar sangat nyata, tapi tidak diketahui dari arah mana datangnya suara itu.

Orang dari golongan Ceng-thian-pay kecuali Pek-kut Ie su, adalah Thiat-koan Totiang yang mengerti ilmu surat. Mendengar suara nyanyian itu, lantas dapat mengenali bahwa itu adalah nyanyian yang biasa dinyanyikan dalam ketentaraan. Maka Pek-kut Ie su segera berkata:

"Kudengar kabar, Cin Lok Pho dimasa mudanya ikut dalam ketentaraan, nyanyian itu berangkali dinyanyikan olehnya!"

Pek-kut Ie su baru saja menganggukkan kepala, suara nyanyiannya tiba-tiba berubah, dan kali ini menyanyikan lagu dari pujangga terkenal So Tong Po. Pek-kut Ie su yang mendengar suara nyanyian itu, diwajahnya terlintas sikap aneh seperti benci, tetapi juga seperti sayang. Ia lantas menghela napas dan berkata sambil menggelengkan kepala:

"Setan kecil Hee Thian Siang itu benar-benar merupakan bakat luar biasa dalam rimba persilatan pada dewasa ini. Ia pandai ilmu silat dan pandai ilmu surat, lagi luar biasa pintarnya. Dengarkah kau, ia telah menyanyikan syair dari pujangga So Tong Po demikian bagusnya?"

Thiat-koan Totiang yang benci sekali pada Hee Thian Siang sudah tentu tidak bisa berlaku seperti Pek-kut Ie su yang merasa sayang akan kepandaiannya, ia menunjuk ke goa kong-han-tong, lalu berkata kepada Khi Tay Cao:

"Khi Ciangbunjin, aku tadi perhatikan suara tadi, seperti datang dari arah puncak gunung. Tetapi pihak sana agaknya ada maksud hencak memancing kita. Apa kira-kira disana ada jebakan sulit dilewati?"

"Kita sudah berani menyerbu kemari, perlu apa takut! Aku juga dengar suara nyanyian tadi seperti keluar dari puncak gunung es itu. Mari kita serbu dan bunuh mereka sepuas- puasnya!" kata Khi Tay Cao dengan alis berdiri.

Sehabis berkata demikian, dengan menenteng tongkat bajanya lebih dahulu menuju ke goa Kong-han-tong. Gerakan itu segera diikuti oleh yang lainnya, dan tibalah mereka di depan goa yang digunakan orang-orang Swat-san- pay sebagai garis pertahanan kedua.

Oleh karena keadaan diatas gunung Thay-swat-san sangat aneh, Hee Thian Siang jadi tidak terlalu yakin. Melihat orang- orang Ceng-thian-pay sudah terpancing oleh suara nyanyiannya dan lantas menyerbu, lalu bertanya kepada Pang pek Sinkun:

"Sin-kun, sekarang ini kira-kira sudah pukul berapa ?" "Sudah mendekati tengah hari!"

Orang-orang Ceng-thian-pay itu nasibnya bagus terus. Mereka datang justru pada waktu angin Cu-ngo-im-hong itu akan timbul. Sinkun dan Cin locianpwe, harap bersiap-siaplah dahulu. Nanti kalau dengar suara siulanku tiga kali, bukalah pesawat rahasianya untuk mengeluarkan angin itu, lalu lekaslah keluar dari goa Kong-han-tong." Kata Hee Thian Siang sambil tersenyum.

"Kau sendiri Hee Laote, kau hendak memikul tugas apa?" tanya Peng-pek Sin kun.

"Aku hendak menyambut kedatangan musuh di depan pintu goa, menunggu angin Cu-ngo-im-hong berhembus, barulah membiarkan orang-orang Ceng-thian-pay itu masuk kedalam goa Kong-han-tong." Kata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Mao Giok Ceng memandang Hee Thian Siang dengan sikap penuh perhatian berkata sambil tersenyum:

"Hee laote, meskipun kau sudah mewarisi semua kepandaian Pak-bin Sin-po, dan juga mendapat banyak penemuan gaib, tapi sekali-kali janganlah kau terlalu pandang rendah musuh. Kau dengan seorang diri bagaimana dapat menahan serbuan musuh demikian banyak?" "Mao Locianpwe, harap tidak usah terlalu kuatir, Hee Thian Siang sudah mengetahui keadaan diri sendiri, asal tidak mengganggu Pek-kut Ie su lebih dulu, iblis tua itu sudah tentu akan banggakan diri dan kedudukannya, pasti merasa malu untuk turun tangan lebih dulu! Kecuali dia yang lainnya meskipun mereka itu sangat ganas dan telengas, tapi kalau dalam waktu sanagt pendek untuk melukai diriku rasanya tidak mungkin akan berhasil!"

Berkata sampai disitu, orang-orang Ceng-thian-pay sudah meluruk semua ke depan puncak gunung.

Hee Thian Siang lalu mengganggukkan kepala sambil tertawa kepada Peng-pek Sinkun, Mao Giok Ceng dan Cin Lok Pho, kemudian beranjak keluar dari mulut goa.

Peng-pek Sinkun suami istri masih merasa kuatir, selagi hendak mengikuti, Cin Lok Pho mendadak menggoyangkan tangannya dan berkata dengan suara perlahan:

"Hee laote bukan saja cerdik, tapi juga tahu keadaan sendiri dan keadaan lawan. Ia yang telah mengetahui keadaan lawan, sudah tentu tak mungkin akan dirugikan. Sebaiknya kita turuti apa yang dipesannya tadi, biar orang Ceng-thian- pay itu merasakan bagaimana dinginnya hawa disini!"

Peng-pek Sinkun suami istri mendengar Cin Lok Pho berkata demikian, terpaksa menurut dan mempersiapkan senjatanya.

Baru saja kawanan penjahat Ceng-thian-pay tiba didepan mulut goa Kong-han-tong, sudah tampak Hee Thian Siang seorang diri menyongsong keluar lambat-lambat dengan sikap biasa-biasa saja.

Khi Tay Cao yang benci sekali terhadap Hee Thian Siang tetapi juga selalu pusing dibuatnya begitu melihat Hee Thian Siang juga terkejut. Entah pemuda itu akan berbuat apalagi kali ini.

Ia melantangkan tongkat besi ditangannya, memerintahkan kawan-kawannya supaya jangan bergerak lebih jauh.

Hee Thian Siang berjalan terus hingga terpisah kira-kira satu tombak lagi dengan orang-orang Ceng-thian-pay barulah berhenti. Matanya menatap Khi Tay Cao dan bertanya sambil tersenyum:

"Khi Cianghujin, kaliam beramai-ramai datang kemari dari tempat demikian jauh tentunya sudah bertekad hendak membasmi partai Swat-san-pay bukan? Tetapi mengapa sekarang malah merandek dan tidak berani maju lagi? Apa dengan kekuaran tenaga kalian yang sudah dikerubungi semua itu, masih takut menghadapi aku Hee Thian Siang seorang diri ?"

Khi Tay Cao yang mendengar itu baru saja hendak mengecam, Hee Thian Siang sudah berkata lagi dengan sikap tenang:

"Ini juga tidak dapat disalahkan sebab meskipun kalian berjumlah tidak sedikit, juga terdiri dari orang-orang ganas, tetapi diantaranya terdapat juga orang-orang yang seperti kantong nasi, tak ada gunanya sama sekali!"

Tho-hoa Niocu yang paling mudah tersinggung mengira bahwa Hee Thian Siang memaksudkan dirinya, maka lalu berkata:

"Setan kecil! Kau jangan buka mulut seenaknya saja menghina orang! Siapa yang kaumaksud dengan orang seperti kantong nasi yang tiada berguna itu?"

"Hendaknya kau Ki Liu Hiang jangan terlalu kuatir, yang kumaksud itu bukanlah kau. Sebab, kau dengan menggunakan kelakuanmu yang genit dan pandai memikat orang lelaki, telah berhasil memakai Su-to Kheng sehingga sudah terpikat padamu dan melampaui batas. Ia mencelakakan paman gurunya sendiri, terakhir dirinya terpaksa harus mati di bawah tangan saudara kandungnya sendiri. Partai Tiam-cong-pay dari keadaan baik-baik saja, juga menjadi berantakan karena perbuatanmu. Ini juga menunjukkan besar pahalamu untuk Ceng-thian-pay!”

Kata-kata itu bukan saja memaki habis Tho-hoa Niocu hingga tak bisa menjawab, Thiat-koan Totiang Lui Hwa sendiri juga sudah merasa malu sendiri, hingga wajahnya menjadi merah tanpa dirasa.

Khi Tay Cao marah sekali, berkata dengan suara besar: "Hee Thian Siang! Bukalah matamu dan lihatlah! Orang-

orang   dimukamu   sekarang   ini   terdiri   dari   tokoh-tokoh

kenamaan rimba persilatan, mana ada seperti apa yang kau sebut tadi?"

Hee Thian Siang yang sudah kadung maksudnya mencoba kekuatan dan kepandaian orang dari luat perbatasan, memang sengaja berkata demikian. Ketika mendengar ucapan itu, ia menunjuk kepada tiga persaudaraan Liong dan katanya:

"Apa mahluk yang manusia bukan manusia bukannya setan ini, bukankah itu orang-orang tidak berguna?"

Tiga persaudaraan Liong yang sifatnya kejam buas itu mengetahui Hee Thian Siang menunjuk mereka, menjadi kalap. Selagi hendak buka mulut, Khi Tay Cao sudah berkata dengan suara bengis:

"Hee Thian Siang! Kau ini benar-benar seorang yang mempunyai mata tapi tidak bisa gunakan matamu itu dengan baik! Kau dengarlah! Tiga persaudaraan Liong ini adalah tiga jago sebagai anak emas Hian Wan Pat-ho-hu!" Hee Thian Siang pura-pura berlaku menghina, berkata sambil dongakkan kepala tertawa:

"Jangankan mereka! Sekalipun Pat-bo Yao-ong Hian Wan Liat sendiri, tak lain juga cuma orang ganas yang Cuma bisa mengganas di luar perbatasan saja!"

Orang nomor dua dari persaudaraan Liong yang mendengar ucapan itu, tidak dapat mengendalikan emosinya lagi, lantas melesat sejauh tujuh kaki, kemudian berkata sambil menatap wajah Hee Thian Siang:

"Sahabat Hee! Usiamu masih sangat muda sekali, tapi kata-katamu sungguh tajam. Aku Liong Cay Yan ingin meminta pelajaran darimu dalam hal ilmu silat golongan Tiong-goan, aku ingin tahu sebetulnya sampai dimana sih tingginya ?"

Hee Thian Siang juga tahu bahwa tiga persaudaraan Liong itu adalah orang penting dibawahan Hian Wan Liat, kepandaian ilmu silat maupun kekuatan tenaganya pasti hebat, maka meskipun diluarnya masih menunjukkan sikap sombong, tetapi diam-diam sudah waspada. Ia balas bertanya sambil tersenyum:

"Kau hendak minta pelajaran didalam hal apa ?"

"Liong Cay Yan sebagai orang ganas diluar perbatasan bagaimana mengerti tentang ilmu silat tinggi? Aku hanya ingin mengadu tiga kali kekuatan tangan yang biasa saja."

Hee Thian Siang yang kadung maksud hendak mengobor lawannya, lantas tersenyum. Dengan tenang berdiri sambil mengawasi awan-awan dilangit, tapi diam-diam sudah mengerahkan ilmu perguruannya Kian-thian Ceng-ke-khi dengan sikap sombong sekali lalu berkata lambat-lambat: "Tiga kali serangan tangan? Apa kau yakin akan sanggup menyambut?"

Benar saja Liong Cay Yan jadi marah sangat, hingga kumis dan jenggotnya pada berdiri, jawabnya dengan suara marah;

"Bila saja Liong Cay Yan tidak sanggup menyambut tiga kali seranganmu, selamanya aku akan diam di Pat-bo, tidak akan memasuki daerah Tiong-goan lagi!"

Hee Thian Siang seolah-olah sudah yakin benar akan dapat menundukkan lawannya, berkata sambil menundukkan kepalanya:

"Begitupun baik! Kalau kau bernama Liong Cay Yan, sebetulnya harus tenang-tenang saja untuk mempelajari ilmuku, perlu apa hendak mencari penyakit?"

Liong Cay Yan yang sudah lama mendapat ajaran dari Hian Wan Liat, benar-benar merupakan seorang rokoh yang memiliki kekuatan tenaga dalam yang sudah sangat sempurna. Dalam keadaan amat marah demikian, dengan tiba-tiba dapat menyadari bahwa dalam keadaan seperti itu justru aneh sekali terjebak oleh lawannya, maka buru-buru ia kendalikan amarahnya, segera mengganti wajahnya menjadi setenang mungkin, katanya sambil tersenyum simpul:

"Kalau Liong Cay Yan tidak sanggup menahan tiga kali seranganmu, selanjutnya akan berdiam di Pat-bo, tidak akan keluar-keluar lagi. Tapi seandainya beruntung dapat menyambuti seranganmu, lalu bagaimana?"

Hee Thian Siang yang menampak lawannya itu tadi jelas sudah dalam keadaan mara-marah karena dibakar olehnya, tapi dengan mendadak tenang kembali, juga diam-diam memuji kecerdikannya maka lalu menjawab: "Kalau kau kalah, kau lantas akan berdiam terus di Pat-bo. Kalau aku yang kalah, biarlah Khi Ciangbunjin dengan tongkat besinya itu hancurkan batok kepalaku!"

Liong Cay Thian yang menjadi saudara tertua dari tiga persaudaraan itu ketika mendengar ucapan itu diam-diam terkejut, lalu bertanya kepada Khi Tay Cao dengan suara perlahan:

"Khi Ciangbunjin, kepandaian ilmu silat Hee Thian Siang ini sebetulnya sampai dimana tingginya? Mengapa dia berani omong sebesar itu didepan kita semua?"

"Liong-toa-hia sebaiknya cepat peringatkan Liong-ji-hia, sebaiknya berlaku hati-hati. Setan cilik Hee Thian Siang itu adalah murid kesayangan Pak-bin Sin-po Hong Poh Cui, selain daripada itu, ia juga telah menemukan banyak sekali penemuan gaib. Baik kepandaian ilmu silatnya maupun kekuatan tenaga dalamnya, sesungguhnya tidak boleh dianggap ringan!"

Karena mendengar Khi Tay Cao telah berkata demikian, maka ia segera menyampaikan kepada Liong Cay Yan dalam bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh Hee Thian Siang dan yang lainnya.

Hee Thian Siang lalu berkata kepada Liong Cay Yan:

"Kau sebetulnya tidak perlu kuatir. Terus terang saja kalian tiga saudara maju semua, biarlah aku seorang Hee Thian Siang menyambuti tiga serangan gabungan kalian!"

"Kau masih berbau air susu, sudah berani berlaku demikian sombong. Apa kau sudah bosan hidup? Jikalau kau dapat lolos dari pukulan saudaraku kedua, aku Liong Cay Thian dengan sendirinya akan turun tangan juga untuk memberi pelajaran kepadamu!" kata Liong Tay Thian dingin. Sementara itu Hee Thian Siang diam-diam sudah mengerahkan kekuaran tenaga dalam Kian-thian-ci-khie, dipusatkan ke tangan kanannya. Mendengar ucapan itu, lantas berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

"Kalian datang dari tempat ribuan pal jauhnya, jadi wajiblah Hee Thian Siang disini mewakili tuan rumah untuk mencoba kaki tangan Pat-bo Yao-ong sebetulnya mempunyai kekuatan sampai dimana hingga berani menantang didepan begitu banyak orang?"

Sehabis berkata demikian, tangan kanannya didorong keluar, dari situ mengeluarkan hembusan angin yang hebat sekali, hembusan angin itu menyerbu ke dada Liong Tay Yan.

Liong Cay Yan oleh karena mendengar Hee Thian Siang telah mengeluarkan ucapan sombong, diam-diam juga sudah waspada, sedikitpun tidak berani pandang ringan lawannya yang masih muda itu. Ketika melihat datangnya serangan, ia buru-buru menyambut dengan satu tangan kanan juga.

Ketika dua kekuatan tenaga itu saling beradu saat itu juga dapat diketahui siapa yang terlebih unggul.

Hee Thian Siang dengan kedua alis berdiri masih tetap tegak tidak bergerak, sementara dibibirnya tampak seulas senyum yang bersifat mengejek. Tapi Liong Cay Yan ternyata sudah tidak berhasil pertahankan dirinya, tubuhnya agak bergoyang, kaki kirinya tergeser kebelakang selangkah.

Hee Thian Siang dengan pukulannya yang pertama itu sudah dapat menjajaki sampai dimana kekuatan pihak lawan, yang ternyata jauh dibawah kebiasaannya, hatinya lantas merasa lega. Dengan menggunakan kesempatan itu ilmu Kian-thain Cin-khinya lantas dikerahkan lagi untuk melancarkan serangan kedua. Diam-diam mengulurkan kedua tangannya, mengeluarkan serangan dengan ilmu Kian-thian- Ci! Liong Cay Yan yang pertama kali sudah dikejutkan oleh kekuatan tenaga sangat besar dari Hee Thian Siang juga dikejutkan oleh perubahan gerakan yang demikian cepat dari lawannya itu. Tetapi oleh karena ia adalah tangan kanan Pat- bo Yao-ong, didaerah luar perbatasan telah mendapat nama baik, mendapat nama besar maka tentu tidak rela mundur begitu saja. Pada waktu datang serangan kedua, ia menggunakan dua tangannya guna menyambut lagi.

Kali ini nyata benar perbedaan kekuatan keduanya itu, Liong Cay Yan sudah terdampar mundur demikian hebat, hingga dari mulutnya mengeluarkan suara tertahan, sedang kakinya juga sudah tak dapat dipertahankan lagi, berulang- ulang mundur sampai tiga langkah.

Dalam keadaan demikian, ilmu Kian-thian-ci yang sudah disiapkan oleh Hee Thian Siang membuat Liong Cay Yan mundur terhuyung-huyung dan dengan keadaan tidak berdaya serangan jari tangan sudah dilancarkan lagi untuk yang ketiga kalinya.

Ketika Liong Cay Yan sedang memikirkan untuk balas menyerang, untuk menjaga muka dan nama baiknya tiba-tiba terdengar suara 'serr', ada kekuatan yang maha hebat menggulung kearahnya menyambar ke bahu kanan!

Sudah tidak keburu mengelak atau menghindar, terpaksa sambil kertak gigi mengerahkan tenaganya ke bahu kanan, bersedia menyambut serangan tadi.

Tetapi serangan dengan jari tangan Kian-thian-ci itu hebatnya benar-benar luar biasa! Meskipun tenaga Hee Thian Siang masih belum pulih benar, tapi bagi Liong Cay Yan artinya sangat besar sekali. Ia tidak sanggup bertahan lagi seteleh menggeram demikian hebat karena tulang bahu kanannya sudah remuk, orangnya juga sudah roboh ditanah! Liong Cay Thian saudara tertua dari tiga persaudaraan Liong itu, dan Liong Cay Kian saudara termuda yang menyaksikan kejadian itu semuanya terkejut, hingga keduanya lantas lompat keluar menyergap Hee Thian Siang.

Tidaklah kecewa Pek-kut Ie su mendapat gelar iblis kenamaan. Ia sebagai penonton yang memperhatikan jalannya pertandingan, jelas sudah ia dapat melihat bahwa sejak pertemuan di gunung Ki-Lian dahulu, kini kekuatan tenaga Hee Thian Siang ternyata jauh lebih maju. Kecuali ia sendiri yang dapat menundukkan, walaupun Khi Tay Cao turun tangan sendiri, juga belum tentu dapat merebut kemenangan. Maka lalu berkata kepada dua saudara Liong itu;

"Liong-toa-hia dan Liong-sam-hoa tidak perlu marah, sekarang yang penting sembuhkan dulu Ji-hia, biarlah pinto yang turun tangan sendiri untuk mengirim setan cilik ini menemui raja akherat!"

Liong Cay Thian yang pertama kali baru menginjak daerah Tiong-goan, masih belum tahu sampai dimana kepandaian Pek-kut Ie su. Tetapi Liong Cay Thian yang mendengar ucapan itu, lalu berkata sambil tertawa:

"Kalau Cinjin suka turun tangan, setan cilik ini pasti akan hancur menjadi debu!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu sedikitpun tidak menunjukkan rasa takut, ia masih berdiri dengan sikap tenang, kemudian berkata sambil tertawa dingin:

"Belum tentu!"

Pek-kut Ie su berjalan menghampiri lambat-lambat lalu tertawa, matanya menatap Hee Thian Siang lalu bertanya lambat-lambat: "Hee Thian Siang, kau boleh perhitungkan dulu baik-baik kepandaian dan kekuatan tenagamu apakah dapat kau bandingkan dengan Thian-goan Ceng-mo Tiong-sun Seng?"

Hee Thian Siang segera berdiri sambil turunkan kedua tangannya, dan menjawab dengan sikap hormat sekali:

"Tiong-sun locianpwe dapat diibaratkan sebagai rembulan diatas langit, sedangkan Hee Thian Siang hanya boleh diumpamakan sebagai kelap-kelipnya sinar kunang-kunang!"

"Bagaimana kalau kau dibandingkan dengan Hong-hoat cinjin ketua partai Bu-tong?" tanya pula Pek-kut Ie su.

Dengan sikap tetap sopan dan menghormat Hee Thian Siang kembali menjawab:

"Hong-hoat Cinjin adalah ketua dari salah satu partai besar, baik kekuatan tenaga dalam maupun kepandaian ilmu silatnya sudah mencapai taraf yang sangat tinggi, juga merupakan orang tingkatan tua yang patut dihargai. Bagaimana Hee Thian Siang dapat dibanding-bandingkan dengan beliau?"

"Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng telah beberapa kali mengadu kekuatan denganku di dalam pertemuan besar berdirinya partai Ceng-thian-pay. Waktu masih belum ada yang kalah dan menang. Sedangkan dalam pertempuran digunung, Hong-hoat Cinjin sudah terluka parah karena ilmuku Pek-kut-sin-kang, hampir-hampir binasa saat itu juga. Kepandaian mereka saja baru begitu saja, apalagi kau. "

Tidak menanti sampai habisnya perkataan Pek-kut Ie su, Hee Thian Siang sudah memotong dengan alis berdiri:

"Pek Cianpwee tidak perlu terlalu unggulkan kepandaian. Hee Thian Siang dapat mengukur sendiri kepandaian yang kumiliki. Kalau dibandingkan dengan kau, seorang cianpwee kenamaan, memang benar masih ada terpautnya, tetapi aku masih mempunyai suatu andalan, maka berani menghadapi dan melawan kau!”

Pek-kut Ie su dalam herannya bertanya:

"Apa yang bisa kau andalkan sekarang?"

Dengan sinar mata tajam Hee Thian Siang melihat kawanan penjahat itu sejenak, kemudian berkata dengan suara lantang:

"Kalian datang dari tempat jauh dengan jumlah yang demikian banyak dan hendak membokong partai Swan-san- pay. Perbuatan ini adalah perbuatan yang paling rendah yang amat memalukan! Atau boleh dikata tindakanmu ini tidak ada artinya sama sekali! Dan aku Hee Thian Siang Cuma dengan andalkan kebenaran dan keadilan serta keberanian membantu pihak orang yang kalian hina! Itulah yang kuandalkan, jiwa kebenaran dan keadilan yang harus kita junjung tinggi!”

Ucapan itu bukan saja telah membuat Khi Tay Cao dan lain-lainnya merasa malu, sedangkan Pek-kut Ie su juga tidak bisa membantah, sama sekali hingga ia menjadi tidak enak sendiri. Tapi bagaimana pun juga ia adalah seorang tua yang banyak pengalaman. Setelah dibungkamkan oleh ucapan Hee Thian Siang tadi, tak lama kemudian segera bertanya:

"Kau pikir hendak bertempur dengan cara bagaimana?" Sejak Pek-kut Ie su turun ke gelanggang, dalam hati Hee

Thian Siang ada dua persoalan yang hendak diselesaikannya.

Satu ialah hendak meminjam tangan iblis tua ini untuk menguji kekuatan tenaganya yang didapatkan belakangan ini sebenarnya telah mendapat kemajuan sampai dimana.

Yang lain ialah untuk menghindarkan jangan sampai mengadu kekuatan dengan lawannya, sedapat mungkin hendak pancing saja mereka semua masuk kedalam goa Kong-han-tong supaya mereka dapat merasakan betapa hebat kekuatan tenaga alam yang berupa angin dingin Cu- ngo-im-hong.

Dan kini Pek-kut Ie su sudah terang-terangan mengeluarkan tantangan. Hee Thian Siang sudah memperhitungkan benar-benar sebentar lagi justru adalah saatnya angin alam itu berhembus, maka hatinya menjadi besar. Pertama ia mengambil keputusan hendak melayani dulu lawan tangguhnya ini beberapa jurus, kemudian pancing mereka masuk kedalam goa.

Setelah mengambil keputusan demikian, lalu berkata pada Pek-kut Ie su sambil tertawa:

"Aku juga tak perlu mencari cara yang aneh-aneh seperti yang tadi, bersedia menyambut pukulanmu sampai tiga kali."

Pek-kut Ie su perdengarkan sambil tertawa dirinya berulang-ulang, lalu berkata sambil meniru cara bicara Hee Thian Siang yang pernah diucapkan dihadapan Liong Cay Yan tadi:

"Tiga kali serangan tangan? Apa kau yakin akan sanggup menyambuti?"

Hee Thian Siang tertawa terbahak-bahak, kemudian menjawab dengan sikap sombong:

"Hee Thian Siang meskipun masih terlalu muda dan rendah tingkatnya tapi hatiku bagaikan matahari dan rembulan. Jangankan pukulan sampai tiga kali, sekalipun kalian Pek-kut Sam-mo datang semua, dan Hian Wan Liat datang sendiri, aku juga tidak akan takut!"

"Aku hanya hendak mengadu tenaga denganmu bukan akan beradu mulut. Lekaslah kau siap-siap! jadi atau tidak, kalau cuma dengan satu pukulan aku membinasakan dirimu, ini sesungguhnya tentu tidak menyenangkan!"

Hee Thian Siang tergerak pikirannya, ia berkata sambil goyang-goyangkan tangannya:

"Sabar dulu! Sabar dulu! Aku masih ingin berunding dulu denganmu!"

Pek-kut Ie su tidak dapat menduga apa maksud Hee Thian Siang, terpaksa berkata sambil angguk-anggukkan kepala:

"Kau ingin bicara dan rundingkan soal apa? Cepat jelaskan!"

"Aku ingin di dalam tiga pukulan itu, ditambah sedikit variasi!"

Pek-kut Ie su berkepandaian tinggi dan bernyali besar, tidak banyak pikir sudah menjawab sambil menganggukkan kepala:

"Kau katakan saja, semuanya terserah kepadamu sendiri!" "Aku pikir dalam pertandingan tiga kali pukulan tangan itu,

dibagi dan dilakukan di tiga tempat. Disini aku hanya hendak menyambut satu kali pukulan!"

"Dan yang kedua?"

"Di dalam goa Kong-han-tong bagian dalam ini Hee Thian Siang bersedia melayani kau lagi!”"berkata Hee Thian Siang sambil menunjuk goa di belakang dirinya.

"Sekalipun orang-orang Swat-san-pay memasang jebakan di dalam goa Kong-han-tong ini, aku juga tidak takut. Sekarang coba kau terangkan dimana lagi kau hendak menyambut serangan pukulan yang ketiga?" "Pukulan yang ketiga harus dipindah di lain tempat, waktunya juga dirubah pada malam Cap-go-meh tahun depan di puncak gunung Tay-pek-hong di gunung Cong-lam-san!"

Pek-kut Ie su tahu bahwa Pat-bo Yao-ong Hian Wan Liat pada malam Cap-go-meh tahun depan akan mengadakan perjamuan hari ulang tahunnya diatas puncak Tay-pek-hong yang tertinggi digunung Cong-lam-san, maka setelah mendengar ucapan itu, sesaat ia menjadi terkejut.

"Kau jangan heran, justru karena kau tahu Pak-bo Yao-ong Hian Wan Liat pada malam Cap-go-meh tahun depan hendak mengadakan peringatan ulang tahunnya, barulah aku bersedia menyambut pukulanmu yang ketiga itu. Diatas puncak gunung tertinggi gunung Cong-lam-san!" kata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Pek-kut Ie su menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata sambil tertawa dingin:

"Aku tidak percaya nyawamu begitu panjang bisa berlalu dari kutub Hian-peng-goan ini dalam keadaan hidup apalagi masih bisa hidup sampai malam Cap-go-meh tahun depan!"

"Pantas umur Hee Thian Siang masih belum tiba sampai waktunya. Kalau waktunya belum tiba, raja akherat juga tidak akan mau menerima kedatanganku dan setan-setan juga tidak akan mendesak. Sekalipun aku ingin mati sendiri, juga tidak akan tercapai!” berkata Hee Thian Siang sambil tertawa besar.

Pek kut Ie su menunjuk orang-orang Ceng-thian-pay katanya dengan suara bengis:

"Pada saat dan tempat ini, diantara orang-orang Ceng- thian-pay tidak perduli siapa saja, semua merupakan utusan raja akherat yang hendak mengambil nyawamu!" Hee Thian Siang dengan sikapnya yang sombong sekali mengawasi kawanan penjahat itu dengan sikap dingin, katanya sambil tertawa terbahak-bahak:

"Mereka mana boleh disebut utusan raja akherat? Paling- paling hanya kawanan rase yang tidak gagah dan kau juga tidak lebih dari orang seperti hakim saja!"

Bagaimanapun sabarnya Pek-kut Ie su, dikocok demikian oleh Hee Thian Siang juga menjadi marah, perlahan-lahan ia mengangkat tangan kanannya dan membentak keras:

"Hee Thian Siang, kau tidak perlu banyak bicara! Lekas siap sedia, aku akan segera mulai melancarkan pukulanku yang pertama!"

Hee Thian Siang melihat telapak tangan Pek-kut Ie su terus berubah berwarna putih hingga ke bagian sikunya, warna itu hampir serupa dengan warna salju yang ada di gunung itu. Ia tahu benar hebatnya serangan dengan ilmunya Pek-kut-cui- sim-ciang itu, berbeda dengan pukulan biasa. Maka ia tidak berani berlaku sombong lagi, dengan memusatkan pikirannya, seluruh kekuatan tenaganya dikerahkan, dipusatkan ke telapak tangan kanannya, berdiri sambil tersenyum.

Meskipun Pek-kut Ie su benci sekali terhadap Hee Thian Siang, tetapi ketika menyaksikan sikap gagah dan tenang dari pemuda itu, diam-diam juga merasa kagum.

"Apa kau sudah siap?" demikian tanyanya.

"Rimba persilatan sedang menghadapi ancaman bahaya dari orang-orang jahat, Hee Thian Siang tidak ada satu saat tidak siap siaga. Silahkan kau lancarkan seranganmu!" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Pek-kut Ie su terus mengawasi sambil tertawa dingin, ia menunggu sampai Hee Thian Siang habis bicara, telapak tangannya yang diletakkan di depan dada, didorong perlahan- lahan

Gerakannya itu tidak cepat, juga tidak memancarkan hembusan angin. Orang tidak bisa melihat dimana ampuhnya serangan itu.

Tapi tangan kanan Pek-kut Ie su baru bergerak, Hee Thian Siang sudah merasakan ada kekuatan hebat yang menekan dirinya. Serangan itu seperti mengandung hawa dingin luar biasa, hampir saja ia tidak sanggup berdiri.

Dalam keadaan terkejut, ia juga menggerakkan tangan kanannya dengan mengerahkan dua bagian ilmunya Kian- thian-cin-ki.

Telapak tangan kanan kedua orang itu didorong dengan perlahan sekali, tetapi gerakan Hee Thian Siang agaknya lebih perlahan dari Pek-kut Ie su. Khi Tay Cao yang menyaksikan keadaan demikian diwajahnya segera menunjukkan sikapnya. Ia tahu bahwa Pek-kut Ie su ternyata lebih tinggi kekuatan tenaga dalamnya, dan lebih menang dari pada murid Pak-bin Sin-po yang sangat nakal itu.

Saat telapak tangan dari kedua pihak akhirnya bertemu satu sama lain, Pek-kut Ie su masih tersenyum dan berdiri tidak bergerak, sedangkan Hee Thian Siang darahnya lantas dirasakan berdesir, wajahnya menjadi merah dan tanpa disadari kakinya mundur selangkah.

Pek-kut Ie su terus memandang Hee Thian Siang kemudian berkata sambil mengangkat kepala dan tertawa :

"Kau ternyata sanggup menahan serangan Pek-kut-cui-sim- ciang, sesungguhnya tidak kecewa menjadi murid golongan Pak-bin, boleh dibilang sebagai bunga harapan rimba persilatan! Sekarang kau lekas masuk kedalam goa untuk mengadakan persiapan seperlunya. Kami akan segera menyusul untuk menerjang tempat penting orang Swat-san- pay, dan sekalian hendak melihat ada pesawat rahasia apa sebenernya disana!"

Hee Thian Siang diam saja tidak menjawab dengan merapatkan kedua tangannya, sudah undurkan diri masuk ke dalam goa.

Pek-kut Ie su mengawasi berlalunya Hee Thian Siang, ia berkata sendiri sambil menggelengkan kepala:

"Setan cilik ini meskipun murid keturunan seorang guru ternama, tetapi usianya masih terlalu muda, entah bagaimana memiliki kekuatan tenaga demikian hebat?"

Khi Tay Cao lalu berkata sambil tertawa:

"Cinjin sudah berada di atas angin, Hee Thian Siang undurkan diri tanpa mengucapkan sepatah kata, agaknya sudah terluka parah bagian dalamnya!"

"Serangan tanganku tadi sudah menggunakan kekuatan tenaga duabelas bagian, dalam kekuatan tenaga masih ada selisih terlalu jauh, sudah tentu ia akan terluka! Tetapi pinto yang pernah malang melintang di dunia Kang-ouw sekian lamanya kecuali Thian-gwa cen- mo Tiong-sun Seng, setan cilik inilah yang terhitung lawan sangat kuat bagiku!" berkata Pek-kut Ie su sambil menghela napas.

Ucapan Pek-kut Ie su itu memang bukan berlebihan, Hee Thian Siang memang benar sudah terluka bagian dalamnya.

Setelah ia masuk ke dalam goa Kong-han-tong, tidak bisa berdiri tegak, hingga hampir terjatuh ditanah.

Cin Lok Pho dan Peng-pek Sinkun serta istrinya yang menyaksikan keadaan demikian, semuanya terperanjat, Cin Lok Pho lalu bertanya: "Ilmu Pek-kut-cui-sim-ciang yang dipelajari oleh Pek-kut Sam-mo sesungguhnya memang hebat sekali. Hee laote, kau rasa bagaimana?"

Hee Thian Siang masukkan tangannya ke dalam baju, mengeluarkan sebutir obat pil yang diberi oleh Say-hao-kong, lalu ditelannya, kemudian menjawab sambil tersenyum:

"Tidak halangan, hanya disebabkan serangan tenaga Pek- kut Ie su itu terlalu kuat, hingga bagian dalamku agak tergerak. Locianpwe sekalian apabila sudah siap semua, Hee Thian Siang akan panggil kawanan penjahat itu masuk kedalam goa dan Hee Thian Siang sendiri harus menyambangi satu kali serangan Pek-kut Ie su!”

Mao Giok Ceng lalu menasehati padanya sambil tersenyum:

"Hee laote sudah terluka bagian dalam, seharusnya menghindarkan pertempuran lagi dengan lawan tangguh, serangan yang kedua ini baiklah jangan kau sambut lagi!"

"Seorang laki-laki harus dapat menepati janji sendiri, soal mati hidup kita anggap ringan, Hee Thian Siang sekalipun akan menjadi hancur lebur, juga harus menyambut lagi serangan dari Pek-kut Ie su itu!" menjawab Hee Thian Siang.

Peng-pek Sinkun menepok-nepok bahu Hee Thian Siang, katanya sambil tertawa besar:

"Hee laote, sikapmu yang jantan ini, sesungguhnya sangat mengagumkan aku! Aku pikir hendak menghadiahkan kau berupa barang, entah kau mau terima atau tidak?"

Mendengar ucapan Peng-pek Sinkun yang demikian merendahkan diri, buru-buru memberi hormat dan menjawab sambil tertawa: "Hadiah dari orang angkatan tua, Hee Thian Siang tidak berani menolak disini lebih dulu Hee Thian Siang mengucapkan banyak terima kasih! Dan mengharap supaya Sinkun jangan anggap Hee Thian Siang sebagai seorang yang terlalu sombong dan tidak tahu diri!"

Peng-pek Sinkun mengeluarkan sebutir pil warna merah yang baunya harum sekali, diberikan kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum, dan minta supaya segera ditelannya.

Hee Thian Siang menurut, begitu pil itu masuk kedalam perutnya, bau harum memenuhi mulutnya, dan saat itu juga rasa sakit dibagian usus dan dadanya lenyap seketika, semangatnya juga terbangun kembali.

Ia ada seorang yang sangat cerdik, dari warnanya pil dan khasiatnya yang sangat kuat, segera menduga pil jenis apa itu sebetulnya. Sambil mengawasi Peng-pek Sinkun, ia bertanya:

"Hee Thian Siang menerima budi terlalu berat, pil mujarab ini barangkali merupakan pusaka yang terbuat dari benda pusaka alam di Hian-peng-goan, pil ini tentunya terbuat dari bunga Swat-lian yang menjadi idam-idaman orang rimba persilatan, yang khasiatnya dapat menghidupkan orang yang hampir mati!"

Peng-pek Sinkun menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa:

"Aku bersama istriku ketika pergi ke puncak gunung Oey- san untuk menghadiri pertemuan, ditengah jalan telah dibokong oleh musuh dengan menggunakan duri beracun Thian-kheng-cek, maka kami terpaksa balik kembali ke Hian- peng-goan untuk mengambil setangkai bunga Swat-lian merah yang usianya paling tua, ditambah lagi dengan empat jenis obat manjur kami buat tiga butir pil, aku bersama istriku masing-masing makan sebutir untuk menghilangkan racun dari dalam tubuh dan sisa sebutir, ini hari kebetulan dapat kuberikan kepada Hee laote, untuk menyembuhkan luka dalammu, juga dapat menambah kekuatan tenaga dalammu, supaya kau dapat menghadapi Pek-kut Ie su dan memenuhi janjimu untuk menyambut serangan tangannya lagi!"

Hee Thian Siang sambil memberi hormat dan mengucap terima kasih, lalu berkata:

"Terima kasih atas budi Sinkun, tetapi Hee Thian Siang yang menerima hadiah demikian berat. "

Belum habis ucapannya, Mao Giok Ceng sudah berkata sambil tertawa:

"Kita satu sama lain lebih mementingkan persaudaraan antara orang-orang rimba persilatan, harap Hee laote jangan mengucapkan kata-kata yang merendahkan diri lagi! Kalau mau dikata benar-benar menerima budi justru kami berdualah yang sama sekali rasanya tidak dapat membalas budimu ini, sebab jikalau bukan Cin locianpwe dan Hee laote yang sengaja datang dari jauh-jauh untuk memberi kabar, kami dari Swat-san-pay yang sama sekali tidak berjaga-jaga, kedatangan kawanan penjahat ini pasti akan merepotkan kami dan mungkin seluruh Hian-peng-goan sudah akan menjadi medan pertempuran!"

Cin Lok Pho yang mendengar ucapan itu, lantas berkata sambil tertawa:

"Mao Sia hui dan Hee laote jangan bicara soal itu yang sifatnya merendahkan diri lagi, sekarang sudah tiba waktunya untuk memancing kawanan penjahat itu masuk ke dalam goa, biar mereka merasakan hebatnya angin dingin Cu-ngo-im- hong!"

Hee Thian Siang lalu berkata kepada orang-orang Ceng- thian-pay yang berada di luar goa: "Khi Ciangbunjin, semua tetamu disilahkan masuk ke dalam goa Kong-han-tong!"

Khi Tay Cao yang mendengar suara Hee Thian Siang terkejut, ia bertanya kepada Pek-kut Ie su:

"Aku tadi melihat Hee Thian Siang sudah terluka parah terkena pukulan Pek-kut-cui-sim-ciang, bagaimana dari suaranya tadi sedikitpun tidak seperti orang terluka parah?"

Pek-kut Ie su juga tidak mengerti, dengan mengerutkan alisnya, ia menjawab sambil tersenyum:

"Sekarang Khi Ciangbunjin lekas bagi orang-orang kita untuk masuk ke dalam goa. Bukankah kita akan segera mengetahui keadaan yang sebetulnya?"

Khi Tay Cao lalu menghitung-hitung orang di pihak sendiri, kecuali Pek-thao Losat yang sudah tertawan, masih ada Thiat- koan Totiang, Lui Hoa, Cong Ki, Tho-hwa Niocu, Goan-hong hwesio dan tiga persaudaraan keluarga Liong, ia sendiri bersama Pek-kut Ie su, semua berjumlah sepuluh orang.

Maka setelah berpikir sejenak, lalu berkata kepada Liong Cay Yan dan Thiat-koan Totiang:

"Tiong jiseng dan Hu Ciangbunjin, harap tunggu di luar goa. Saudara-saudara yang lainnya, semua masuk ke dalam untuk melihat-lihat orang-orang Swat-san-pay sebetulnya telah mengadakan persiapan apa di dalam?"

Liong Cay Yan dan Thiat-koan Totiang sudah tahu bahwa Khi Tay Cao yang mengatur barisan sebabnya ialah karena meraka habis terluka dalam, tidak tepat kalau masuk ke dalam gua Kong-han-tong lagi, karena itu berarti harus mengadakan pertempuran hebat, apalagi di luar goa juga perlu ada orang yang jaga dan kembali kalau ada bahaya, maka semuanya mengangguk tanda menerima perintah itu. Setelah diatur selesai lalu dipimpin oleh Pek-kut Ie su, Khi Tay Cao, Goan-tong, dan Liong Cay Thian yang berjalan dimuka, lalu diikuti dengan lainnya perlahan-lahan masuk kedalam goa Kong-han-tong.

Setelah masuk ke dalam goa, dan melalui jalan berliku-liku, tibalah mereka di dalam sebuah kamar batu yang sangat luas. Tetapi sekitar kamar batu itu, terdapat banyak lobang, yang merupakan jalanan seperti sarang tawon.

Ditengah-tengah kamar batu tampak berdiri empat orang, mereka adalah ketua Swat-san-pay Peng-pek Sinkun, istrinya Mao Giok Ceng, Hee Thian Siang, dan Cin Lok Pho.

Setelah kedua pihak bertemu muka, smeua merasa tidak tahu bagaimana harus berbuat, hingga sesaat itu suasana hening.

Keheningan itu telah dipecahkan oleh Khi Tay Cao dengan sinar mata tajam, ia menatap dan bertanya kepada Peng-pek Sinkun:

"Peng-pek Sinkun, Toa-suciku Pao Sam-kow apakah masih selamat?"

Peng-pek Sinkun meskipun benci sekali kepada kawanan penjahat ini, tetapi ia masih berlaku sabar, jawabnya sambil tersenyum:

"Nenek Pao sekarang ini berada di dalam lembah Thian- han-kong, menjadi tetamu agung Swat-san-pay! Hanya menunggu kedatangan Ciangbunjin di goa Kong-han-tong ini. .

. . ."

Tidak menantikan Peng-pek Sinkun habis bicara, Pek-kut Ie su sudah bertanya: "Didalam goamu Kong-han-tong ini, ada tempat apa yang indah untuk kami lihat?"

Peng-pek Sinkun belum menjawab, Hee Thian Siang sudah berkata sambil tertawa:

"Goa Kong-han-tong ini, merupakan ciptaan alam yang sangat indah, di dalamnya ada berisan Kiu-kiong-pat-kwa yang sangat ajaib!"

Khi Tay Cao tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: "Mengenai soal barisan Kiu-kiong-pat-kwa-tin, Khi Tay Cao

yang berkelana di dunia Kang-ouw selama beberapa puluh

tahun, entah sudah berapa kali menyaksikannya!"

Hee Thian Siang mengawasi ia sejenak, katanya dingin: "Kalau benar demikian halnya, hari ini kau tidak halangan

untuk menambah pengetahuan sekali lagi."

Berkata sampai disitu, dengan tiba-tiba ia berpaling bertanya kepada Peng-pek Sinkun, sementara Mao Giok Ceng dan Cin Lok Pho sudah mengerti maksud Hee Thian Siang. Mereka diam saja, membiarkan Hee Thian Siang bicara terus.

Hee Thian Siang berkata pula sambil berseru:

"Mereka ingin pesiar ke dalam goa Kong-han-tong ini, Locianpwe bertiga bagaimana menurut kalian? Apakah mau menyambut dengan baik?"

Peng-pek Sinkun bertiga yang. . . . . (Halaman robek sebagian. )

Khi Tay Cao tidak menyangka bahwa tiga orang itu sebelum melakukan pertandingan, mereka sudah menghilang, tetapi oleh karena Peng-pek Sinkun bertiga semua adalah orang-orang yang berilmu tinggi, sudah tentu mereka gesit luar biasa, karena Khi Tay Cao bergerak agak lambat sehingga tidak keburu menyandak, maka terpaksa mengawasi Hee Thian Siang yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan itu dengan heran:

"Mengapa kau tidak lari bersama-sama tiga setan tua yang bernyali besar itu?"

"Khi Ciangbunjin, mengapa kau demikian pelupa? Aku dengan Pek-kut Ie su yang berbuat andalan, masih ada perjanjian yang belum diselesaikan!" menjawab Hee Thian Siang sambil tertawa dingin.

Pek-kut Ie su lalu berkata sambil tersenyum:

"Hee Thian Siang, janganlah kau mencoba berlaku gagah- gagahan! Apakah kau tadi masih belum cukup merasakan pukulanku yang pertama? Dan sekarang benar-benar kau berani menyambut pukulanku yang kedua?"

Sepasang alis Hee Thian Siang berdiri, ia tertawa terbahak- bahak, kemudian berkata:

"Perlu apa kau selalu minta aku menyambuti seranganmu Pek-kut-cui-sim-ciang? Kalau kau coba menyambut seranganku Khian-thian-ceng-khi-kang akankah sama juga?"

Sejak ia makan pil bunga teratai merah pemberian Peng- pek Sinkun, bukan saja luka-luka didalam tubuhnya sembuh sama sekali, tetapi juga bertambah kekuatan tenaga dalamnya, kini sudah leluasa menggunakan kekuatan tenaga dan diisi dengan ilmu Khian-thian-ceng-khi untuk menghadapi lawannya Pek-kut Ie su. Maka begitu habis ucapannya, tangan kanannya segera bergerak, dengan melakukan dorongan, membuat angin hebat meluncur ke arah Pek-kut Ie su dan rombongan orang-orang Ceng-thian-pay. Bagi orang-orang yang kekuatannya belum cukup seperti Tong Khie, Thao hwa Niocu dan yang lain-lainnya meskipun berdiri sejarak setombak lebih, tetapi semuanya masih merasa seakan terdorong oleh kekuatan itu, sehingga tidak dapat mempertahankan diri.

Kekuatan tenaga yang terkandung dalam serangan Hee Thian Siang itu telah diketahui oleh Pek-kut Ie su, ternyata jauh lebih hebat dari pada yang semula, hingga diam-diam merasa heran. Sekalipun seorang kenamaan, ia sedikitpun tidak berani berlaku gegabah, lalu juga mengerahkan ilmu Pek-kut-cui-im-ciang untuk menyambut serangan Hee Thian Siang.

Waktu pertama Hee Thian Siang baru terjun kedunia Kang- ouw, sikapnya memang agak sombong. Dengan ambisi yang sangat besar, ia ingin menjagoi dunia Kang-ouw. Dalam perjalanannya, setiap kali ketemu lawan kuat yang dimanapun juga, ia pasti berkelahi mati-matian sampai pada akhirnya lebih baik mati tidak mau kalah. Tetapi kini oleh karena sudah banyak menjumpai lawan tangguh, telah berubah menjadi seorang yang mengerti keadaan sendiri, dan juga mengetahui keadaan lawan. Apalagi ketika di luar goa Kong-han-tong, lebih dulu sudah mengadu kekuatan dengan Pek-kut Ie su pernah merasakan betapa hebat pukulan Pek-kut Ie su. Ia tahu benar, meskipun ia sendiri menemukan banyak kejadian gaib, tetapi bagaimanapun juga, karena usianya masih muda, kekuatannya masih agak kurang, waktunya belum sampai baginya untuk menjadi seorang kuat benar-benar pada dewasa ini, masih belum merupakan lawan yang setimpal terharap orang-orang luar biasa seperti Pek-kut Ie su itu.

Karena itulah, sudah tentu ia tidak mau mengalami kerugian lagi. Didalam serangannya, dengan menggunakan ilmu Kian-thian-ceng-khi itu telah ditambah dengan variasi, meskipun serangan itu dilakukan dengan cepat dan hebat, tetapi juga bisa menarik kembali dengan cepat dimana dirasa perlu. Ketika ilmu Pek-kut-cui-sim-ciang dari Pek kut Ie su membentur ilmunya sendiri Khian-thian-ceng-khi, Hee Thian Siang dengan tenang sudah lompat mundur, dan berada dibagian Kian-kiong di dalam goa itu.

Pek-kut Ie su agak heran, hingga mengawasi pemuda itu, Hee Thian Siang lantas berkata sambil tertawa nyaring:

"Pek-kut Sam-mo benar-benar bukan hanya nama kosong belaka! Pukulan kita yang ketiga baiklah kita tunggu hingga malam Cap-go-meh pada tahun depan! Diatas puncak Tay- pek-hong di gunung Cong-lam, kita nanti boleh mengadu kekuatan sepuas-puasnya! Sekarang silahkan ikut aku masuk, untuk belajar kenal dengan kekuaran tenaga dalam dari goa Kong-han-tong ini!"

Sehabis berkata, ia menggapai sambil tersenyum kepada Pek-kut Ie su, dan lantas menghilang.

Pek-kut Ie su tentu saja tidak mau unjukkan kelemahannya di hadapan Hee Thian Siang, maka lalu berkata kepada Khi Tay Cao:

"Khi Ciangbunjin, kita delapan orang, setiap orang boleh masuk satu bagian, mari kita masuk dengan berpencaran untuk mencoba bagaimana sebetulnya! Tetapi seandainya ada menemukan bahaya benar-benar, boleh menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga, untuk saling mengabarkan!"

Khi Tay Cao menganggukkan kepala sebagai tanda setuju, Pek-kut Ie su lebih dulu bergerak mengikuti Hee Thian Siang, masuk ke lingkaran bagian Kian-kiong.

Yang lainnya juga bergerak dengan berpencaran dalam waktu sekejap, semua sudah masuk dalam goa Kong-han- tong, goa yang sebagian merupakan ciptaan alam, sebagian buatan manusia sehingga di dalamnya mempunyai jalanan berliku yang dapat menyesatkan orang.

Sekarang kita bicarakan dulu bagaimana Pek-kut Ie su setelah masuk ke dalam goa. Sudah tentu ia menjadi tercengang, sebab Hee Thian Siang ternyata tidak jalan jauh, ia masih menunggu di dalam goa.

Saat melihat Pek-kut Ie su masuk ke dalam, Hee Thian Siang tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, mulutnya mengeluarkan kata-kata sindiran:

"Kekiri tiga, kekanan tiga, rahasianya ditengah-tengah.

Heran ia tidak terhingga, Pek-kut akan celaka!"

Sambil menyindir demikian, ia sudah bergerak dengan cepat, kembali lari menuju ke goa bagian dalam.

Pek-kut Ie su yang mengandalkan kepandaian kekuatan tenaga dalamnya sedikitpun tidak merasa takut, ia terus mengejar sambil mengikuti dari gerakan Hee Thian Siang, dengan mudah ia telah terpancing oleh Hee Thian Siang hingga tiba di dekat tempat dimana angin Cu-ngo-im-hong menghembus keluar.

Hee Thian Siang yang tadi masih mengeluarkan suara mendadak hilang jejaknya, sedangkan Pek-kut Ie su sudah tiba di dalam kamar batu berbentuk bundar yang tidak begitu luas.

Kamar batu itu hanya dapat dimasuki oleh dua orang saja, dan jalan masuk itu juga sangat sempit.

Tetapi ditengah-tengah dinding kamar batu itu, ada sebuat plat baja bundar yang lebarnya satu kaki lebih, diatas plat bundar itu terdapat enambelas huruf ditulis dengan cat putih: "Kalau ingin tahu keadaan sebenarnya harap memutar plat ini, tiga kali kekiri dan tiga kali kekanan, ajaibnya terdapat ditengah-tengah!"