Makam Bunga Mawar Jilid 25

 
Jilid 25

"Hee laote, manusia ini berkumpul atau berpisah, semua itu adalah jodoh, orang-orang seperti nona-nona Liok Giok Ji dan Hok Sui In yang bukan saja memiliki kepandaian tinggi, tetapi juga bakatnya sangat baik, tidak mungkin mati dalam usia muda! Perpisahan yang kau alami sekarang ini, tentu masih ada harapan untuk bertemu kembali, Laote yang sekaligus mendapat tiga gadis cantik, peruntunganmu terlalu bagus, mungkin oleh karenanya sehingga membuat iri hati kepada setan-setan dan iblis-iblis, hingga menggoda supaya selalu dirundung pikiran!"

Sehabis berkata demikian, orang tua itu menepuk-nepuk bahu Hee Thian Siang dan tertawa terbahak-bahak.

Tetapi oleh karena hati Hee Thian Siang terus memikiri kedua sahabat perempuannya itu, lagi pula kini ditambah lagi sudah kehilangan benda wasiatnya Kian-thian-pek-lek, pikirannya sesungguhnya sangat terpengaruh, meskipun dihiburi oleh Cin Lok Pho, tetap masih berduka.

Pada saat itu, diatas tebing yang tinggi dengan tiba-tiba terdengar suara ketokan Bokhi. Cin Lok Pho sengaja hendak menarik perhatian Hee Thian Siang, maka ia lalu berseru;

"He! Tempat ini adalah bagian dalam gunung Cong-lam- san, sebetulnya sedikit sekali orang bisa datang kemari, orang suci yang mengetok Bokhi ini, pasti juga adalah orang rimba persilatan!"

Benar saja Hee Thian Siang juga tertarik oleh suara ketokan Bokhi tadi, ia mengangkat kepala dan tujukan pandangan matanya kearah tebing tinggi disebelah Timur-laut itu, kemudian berkata sambil tersenyum;

"Ketika pertama kali Hee Thian Siang berkunjung kelembah kematian ini, secara kebetulan bertemu dengan It-pun Sinceng, dan kini kunjunganku yang kedua, kembali mendengar suara ketokan Bokhi, mari kita sembunyikan diri, untuk melihat orang suci yang mengasingkan diri ini sebetulnya siapa? Orang suci itu secara kebetulan lewat disini, ataukah sengaja hendak berkunjung kelembah kematian?"

Cin Lok Pho menganggukkan kepala sambil tersenyum, bersama-sama Hee Thian Siang lalu mengerahkan ilmunya meringankan tubuh, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun juga lompat melesat keatas pohon yang rindang.

Suara ketokan Bokhi itu semakin lama semakin mendekat, sesaat kemudian, dari tebing tinggi itu tampak melayang sesosok bayangan orang dengan gerakannya yang sangat indah sekali! Orang itu adalah seorang padri berjubah hitam berperawakan kurus, yang agak mengherankan adalah diwajahnya tertutup oleh kain warna hitam.

Hee Thian Siang agak heran, sebab padri yang menegnakan jubah hitam, jumlahnya tidak banyak, apabila mengenakan kerudung muka warna hitam, merupakan suatu hal yang belum pernah ada, maka ia semakin tertarik dan ingin tahu siapakah sebetulnya padri itu!"

Sedangkan Cin Lok Pho yang menilik gerakan sangat indah dari padri tersebut ketika melayang turun keatas tebing, juga sudah mengetahui bahwa padri itu berkepandaian sangat tinggi, ia juga sedang memikir-mikir entah dari golongan mana padri yang aneh itu?

Padri berjubah hitam itu berdiri ditepi danau, pandangan matanya ditujukan kekeadaan disekelilingnya, kemudian ia berkata sendiri sambil menganggukkan kepala;

"Suatu tempat yang sangat sunyi dan indah sekali, aku akan menikmati kesepian tempat ini dengan sebaik-baiknya!" Ucapan kesepian itu, telah menarik perhatian Hee Thian Siang, ia teringat kepada keterangan U-thi-Khao tentang gadis kesepian yang bertempur dengan Hok Siu In dan kemudian kedua-duanya jatuh dari atas tebing tinggi, juga mengenakan jubah warna hitam, mengenakan kerudung hitam warna hitam pula, dandanannya itu mirip atau sama dengan padri dihadapan mukanya itu.

Dari sini dapat ditarik kesimpulan, bahwa padri berjubah hitam yang suka dengan kesunyian itu, apakah bukan orang dari golongan istana kesepian yang ia sendiri sedang cari dan belum tahu dimana letaknya tempat itu ?

Sambil berpikir dan menduga-duga, Hee Thian Siang bersama Cin Lok Pho kedua-duanya hampir tidak berani bernapas, matanya ditujukan kepada padri berjubah hitam itu, entah apa yang akan dilakukan selanjutnya?

Padri berjubah hitam itu mencari sebuah batu besar, kemudian duduk dibawah pohon cemara, mukanya menghadap danau, tanpa berkata apa-apa juga tidak ada gerakan apa-apa.

Keadaan demikian itu, berlangsung kira-kira setengah jam lamanya, sehingga membuat keadaan disekitar danau itu, kecuali suara air terjun, suasana menjadi sunyi sepi.

Hee Thian Siang yang tidak sabar menunggu lama, ia pikir hendak menyanyi, untuk mencoba padri berjubah hitam itu apakah akan bertindak seperti padri kesepian yang pernah bertempur dengan Hok Siu In, karena marah ada orang yang mengganggu kesunyiannya.

Setelah mengambil keputusan demikian, baru saja ia hendak membuka mulut, Cin Lok Pho dengan perlahan menyentuh padanya dan mengulurkan tangannya menunjuk kebawah. Hee Thian Siang mengikuti arah yang ditunjuk dengan pandangan matanya, tampak padri berjubah hitam itu tiba-tiba menghela napas panjang, dari samping badannya mengeluarkan Bokhi dan kembali diketoknya beberapa kali.

Bersamaan dengan suara ketokan Bokhi, dari mulut padri berjubah hitam itu ternyata juga keluar nyanyian yang menyatakan kesepian hatinya. . . . . .

Belum habis suara nyanyian padri berjubah hitam itu, dari atas tebing sebelah selatan tiba-tiba terdengar suara tertawa terbahak-bahak, ada orang yang meniru nada dari nyanyian padri jubah hitam tadi, juga bernyanyi dengan suara nyaring.

Sewaktu bernyanyi dibagian yang terakhir, sesosok bayangan kuning, melayang turun dari atas tebing bagian selatan.

Cin Lok Pho lalu berbisik-bisik ditelinga Hee Thian Siang; "Seorang padri mengeluh karena kesedihan, seorang padri

lain hendak mengajak ia kembali kekesadaran yang murni, ini

sesungguhnya sangat mengherankan! Hee laote, kita mungkin akan menyaksikan satu pertunjukan yang ramai!"

Kiranya, bayangan kuning yang melayang turun dari atas tebing sebelah selatan tadi, juga seorang padri, tetapi jubahnya yang berwarna kuning sangat lebar, tidak mirip dengan padri daerah Tiong-goan.

Padri berjubah hitam itu meskipun melihat turunnya padri berjubah kuning tadi tetapi masih tetap duduk diatas batu, tidak berdiri menyambut kedatangannya, sebaliknya bertanya sambil tertawa dingin:

"Taysu benar-benar seorang yang welas asih, apakah kau hendak mengajak aku pulang kekesadaran yang sebenarnya

?" Padri berjubah kuning tadi lebih dulu memuji nama Buddha, kemudian menjawab sambil menggelengkan kepala:

"Di daerah Tiong-goan memang banyak penggoda dan banyak penderitaan, daerah Baratlah merupakan daerah yang sudah mendapatkan kesadaran yang sebenar-benarnya !"

"Oh ! Jikalau ditilik dari ucapan Taysu ini, Taysu tentunya datang dari daerah Barat ?" bertanya padri berjubah hitam.

Padri berjubah kuning itu mengganggukkan kepalanya dan menjawab sambil tertawa:

"Jikalau kau suka menganut pelajaranku dari daerah Barat, kau tidak akan merasakan kesepian lagi !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu tampak terkejut, dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga, ia berkata disamping telinga Cin Lok Pho:

"Cin Locianpwe, padri berjubah kuning ini, kalau benar datang dari daerah Barat. lagi pula memiliki kepandaian ilmu silat demikian tinggi apakah ia itu bukan salah satu dari kawanan iblis luar perbatasan yang dinamakan See-hek si- thian-cun ?"

Cin Lok Pho menganggukkan kepala sambil tersenyum, juga memberi isyarat kepada Hee Thian Siang supaya jangan bertindak apa-apa, sebaiknya melihat saja apa yang selanjutnya akan terjadi.

Padri berjubah hitam itu, setelah mendengar perkataan padri berjubah kuning tadi, sepasang matanya dipejamkan, kemudian dibuka lagi menatap wajahnya, kemudian bertanya sambil tersenyum; "Taysu, berulang-ulang memuji kebaikan daerah Barat, apakah Taysu bukan salah satu dari empat Thian-cun atau See-hek si-Thian-Cun ?"

Hee Thian Siang yang mendengar padri berjubah hitam itu bertanya demikian, barulah ia pasang telinga. Sementara padri berjubah kuning itu kembali sudah memuji nama Buddha lalu menjawab:

"Dugaanmu tidak salah, telaga Ki-lin-ouw sangat indah, Istana Si-thian-kiong merupakan tanah firdaus didalam dunia. Pinceng diantara Si-Thian-Cun menduduki kedudukan ketiga, orang-orang memberi nama julukan pada pinceng 'Tay-lek- thian-cun Siong Song Hut !"

"Nama julukan taysu ini sungguh hebat! Tetapi meskipun taysu adalah padri dari daerah Barat, memuji keindahan danau Ki-lin-ouw dan istana Si-thian-kiong, tetapi pinceng sedikitpun tidak tertarik. Pinceng anggap bahwa didalam dunia yang fana ini, hanya ada satu tempat yang dinamakan tempat kebahagiaan !"

"Apa nama tempat yang disebut tempat kebahagiaan itu ?" bertanya Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut heran.

"Istana Kesepian !" menjawab padri berjubah hitam. Mendengar disebutnya Istana Kesepian itu, semangat Hee

Thian Siang mendadak terbangun.

Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut mengerutkan sepasang alisnya, tampaknya sedang berpikir keras, kemudian bertanya lagi:

"Apa nama sebutan Taysu ?"

"Pinceng adalah padri kesepian dari Istana Kesepian !" Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut yang mendengar ucapan itu menggelengkan kepalanya, lalu bertanya pula sambil tersenyum:

"Didalam istana kesepian itu, ada apanya yang dapat membahagiakan kita, bagaimana bisa disebut sebagai tempat yang bahagia ?"

"Cinta dan kejahatan musnah semua, ditempat yang sunyi tiada ada kedudukan!"

Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut yang mendengar ucapan itu semakin tidak mengerti, ia berkata sambil menggelengkan kepala:

"Orang hendak mencapai supaya rasa cinta dan kejahatan musnah semua, bukanlah soal yang mudah!"

"OLeh karena Taysu tadi hendak mengajak pinceng pergi kedanau Ki-lin-ouw dan istana Si-thian-kiong, untuk bersama- sama menikmati kesadaran yang sebenar-benarnya, maka sekarang pinceng sebaliknya ingin mengajak Taysu bersama- sama pergi ke Istana Kesepian, untuk bersama-sama menikmati kebahagiaan !"

Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut mendengar ucapan itu tertawa besar, kemudian berkata:

"Bagus sekali, Aku hendak mengajak kau, kini kau sebaliknya hendak mengajak aku, Dan urusan ini bagaimana seharusnya dibereskan ?"

"Rasanya tidak halangan kita mengadakan suatu pertaruhan!" berkata padri kesepian sambil tertawa.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan padri berjubah hitam itu, lalu berbisik-bisik kepada Cin Lok Pho , "Bagus! Bagus! Cin Locianpwe, Hee Thian Siang adalah seorang yang paling suka bertaruh, maka kini ingin melihat bagaimana kedua padri itu hendak bertaruh !"

Pada saat itu Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut rupanya merasa tertarik oleh usul yang diajukan oleh padri kesepian mengenai pertaruhan itu. Maka ia menganggukkan kepala dan bertanya sambil tersenyum:

"Bagaimana kita akan bertaruh? Dan menggunakan pertaruhan barang apa ?"

"Kita sama-sama orang rimba persilatan, sudah tentu tidak berpisah dari soal ilmu silat, aku akan menunjukkan ilmu silatku dari daerah Tiong-goan, sedang kau harus mengeluarkan ilmu-mu dari daerah Barat !"

"Pertaruhan semacam inilah yang paling baik, tetapi harus menggunakan barang apa untuk pertaruhan ?"

"Jikalau aku kalah, aku akan segera mengikut kau pergi ke Barat, untuk menganut agama Baratmu, tetapi jikalau kau yang kalah, harus bersumpah pada tahun depan akan datang ke Istana Kesepian !"

Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut heran mendengar ucapan itu, tanyanya:

"Jikalau aku kalah, mengapa harus bersumpah dulu dan menunggu tahun depan baru pergi ke Istana Kesepian? Mengapa tidak suruh aku segera mengikut engkau ?"

"Sebab orang-orang yang berada didalam Istana Kesepian, semuanya pernah mengalami suatu kejadian yang sangat menyedihkan, oleh karena itu, sekalipun seekor binatang apapun, jikalau tidak mengalami kedukaan, juga dilarang masuk kedalam " "Taysu tadi bukankah pernah berkata bahwa didalam istana kesepian itu, merupakan tempat yang bahagia dan tidak ada kedukaan! mengapa sekarang. "

"Ucapan Taysu tidak salah, maksudnya ialah jika bukan orang yang pernah mengalami kedukaan berat, tidak boleh masuk kedalam Istana Kesepian untuk menikmati kebahagiaan dari kesepiannya!"

Padri itu berdiam sejenak, mengawasi Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut sebentar, kemudian melanjutkan ucapannya:

"Oleh karena itu, maka dalam pertaruhan ini, apabila Taysu yang kalah, hanya minta Taysu bersumpah terhadap langit, sebelum kau mengalami kedukaan hebat, dan sudah bosan benar terhadap keduniawian, barulah diperbolehkan datang ke Istana Kesepian menurut petunjuk yang akan kuberikan !"

Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut mengangguk-angguk kepala dan berkata sambil tertawa:

"Boleh, boleh! Aku setuju dengan usul Pertaruhan ini, sekarang kita harus bertanding dulu dengan cara bagaimana, masing-masing akan menunjukkan kepandaiannya?"

Selagi Padri kesepian itu hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara orang memuji nama Buddha,

Suara itu ternyata keluar dari mulut Hee Thian Siang, sementara itu orangnnya juga sudah melayang turun kehadapan Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut dan Padri Kesepian.

Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut ketika melihat wajah dan sikap Hee Thian Siang, segera dapat mengetahui bahwa anak muda itu meskipun berusia sangat muda sekali, tetapi keadaan dan sikapnya, jelas memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat baik, bukanlah orang rimba persilatan sembarangan.

Maka dari itu, ia sedikitpun tidak berani memandang ringan, tanyanya sambil tersenyum;

"Siao sicu, bagaimana sebutanmu? Mengapa kau dapat memuji nama Buddha?"

Hee Thian Siang berlagak seperti orang yang sedang berduka, kedua tangannya dirangkapkan kedepan dada, jawabnya sambil mengerutkan alisnya:

"Namaku orang yang terluka hatinya, kini sedang dirundung kesepian hebat, maka ingin menyingkirkan semua kedukaan itu, dan menganut agama Buddha! Taysu berdua, siapakah kiranya yang sudi memimpin dan memberi petunjuk kepadaku?"

Cin Lok Pho kini karena sudah tahu benar kepandaian dan kekuatan Hee Thian Siang, ia masih tetap bersembunyi diatas pohon, tidak ikut turun kebawah. Ketika mendengar Hee Thian Siang berkata demikian dan sikapnya yang ditunjukkan seperti benar-benar mengalami kedukaan, juga turut merasa sedih.

Setiap orang rimba persilatan, memang suka sekali terhadap angkatan muda yang memiliki bakat dan bahan baik, supaya mau menjadi golongannya, maka baru saja Hee Thian Siang mengucapkan perkataan tadi, Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut lalu berkata lebih dahulu sambil tertawa:

"Pinceng bersedia memberi pimpinan kepadamu, dengan tangan terbuka pinceng menyambut Siao sicu untuk berkunjung Istana Si-thian-kiong di Tibet untuk menikmati pemandangan alam indah ditepi danau Ki-lin-ouw. Pinceng tanggung, Siao sicu nanti akan melupakan semua kesedihanmu!" Padri Kesepian juga tidak mau tinggal diam, katanya:

"Kalau Siao sicu memang mengalami kedukaan hebat, agaknya mengikut pinceng ke Istana Kesepian, lebih tepat !"

Hee Thian Siang memang sudah menduga bahwa kedua padri itu pasti akan berebut untuk mendapatkan dirinya, maka ia sengaja berpikir dulu barulah berkata sambil tersenyum:

"Pemandangan alam di danau Ki-lin-ouw memang indah, meskipun aku juga tertarik, tetapi Istana Kesepian itu juga mempunyai daya tarik besar sekali bagi seorang yang ditimpa kedukaan seperti diriku ini! Kedua Taysu semua pada menaruh simpatik atas diriku dan bersedia memberi bimbingan, tetapi dengan malah membuat serba salah !"

"Bencana dan kebahagiaan sama-sama tidak ada pintunya, terserah kau sendiri yang mengadakan pilihan. Pikiran tenang, hanya berada dalam hati sendiri! Siao sicu merupakan seorang muda yang berbakat baik, dan mempunyai dasar sempurna, kau sekali-kali jangan bertindak gegabah, sebaiknya dipikir dulu masak-masak. Jangan sampai membuat kesalahan terhadap kesempatan yang baik ini!" berkata Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut sambil tertawa.

"Setelah kupikir bolak-balik, hanya ada satu jalan yang dapat menghindarkan aku dari kesulitan!" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Cara apa? Kau toh tidak bisa membagi dirimu kedua tempat, jadi harus mengadakan pilihan salah satu diantara kita berdua!" berkata Padri Kesepian.

Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut memiliki kekuatan tenaga dalam sempurna, demikian pula kepandaian ilmu silatnya, tetapi ia sungguh tidak menduga bahwa ia berani menyatakan hendak turut pertaruhan, maka lalu bertanya dengan keheran-heranan: "Apa? Siao sicu juga ingin turut ambil bagian dalam pertaruhan itu."

"Apabila Tay-Lek-thian-cun Siong Song Hut menang, maka aku bersama Taysu Kesepian ini akan ikut kau pergi kedaerah Barat! Sebaliknya apabila Taysu Kesepian yang mendapat kemenangan, maka aku segera ikut mengikut kau pergi ke Istana Kesepian, tidak usah mengadakan sumpah segala, sebab aku memang sudah merupakan orang yang dirundung kedukaan!" berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

"Apabila Siao sicu yang menang, lalu bagaimana?" bertanya Padri Kesepian.

"Oleh karena aku bukanlah utusan Buddha, sudah tentu tidak bermaksud untuk menyempurnakan orang! Apabila dengan kepandaian yang kumiliki sekarang ini beruntung bisa mendapat kemenangan, aku hanya ingin mempersilahkan kedua taysu setiap orang menjawab dua pertanyaanku yang tidak berarti apa-apa, itu saja sudah cukup!"

Tay-lek-thian-cun Siong Song Hut yang mendengar ucapan itu, dengan sinar matanya yang tajam mengawasi Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil mengangguk-anggukkan kepala;

"Kiranya Siao sicu ada mengandung maksud tertentu sengaja turun ambil bagian dalam pertaruhan ini!"

"Aku adalah orang yang terluka hatiku, bukan orang yang sengaja mengandung maksud tertentu, sebaiknya kita lekas mulai bertaruh, lihat Taysu mana yang ada jodoh bakal memimpin aku ?"

Tay-lek-thian-cun Siong Song Hut yang sudah dapat memahami maksud kedatangan Hee Thian Siang, mendengar ucapan itu lalu mengeluarkan suara dari hidung, kemudian berkata kepada padri kesepian;

"Kita orang yang usianya lebih lanjut dari Siao sicu ini, maka acara bagi pertaruhan ini, agaknya lebih baik diputuskan oleh Siao sicu!"

Padri kesepian dapat menyetujui usul itu, jawabnya sambil menganggukkan kepala;

"Ini sudah tentu, biarlah Siao sicu ini yang mengajukan acaranya!"

Dalam hati Hee Thian Siang sudah membuat perhitungan, dua padri ini tampaknya semua memiliki kekuatan dan kepandaian yang sangat tinggi, terutama Tay-lek-thian-cun Siong Song Hut yang merupakan salah seorang tokoh terkemuka dalam golongan sesat didaerah luar perbatasan, maka ia sendiri tidak boleh mengandalkan kesombongan dengan kepandaiannya, Ia ingin menggunakan kesempatan itu se-baik-baiknya untuk menaklukkannya.

Setelah mengambil keputusan demikian, maka ia tidak menolak, Sambil menunjuk air danau dihadapannya, ia berkata sambil tersenyum;

"Kita tidak perlu repot-repot, sekarang kita pinjam air danau ini saja, untuk menguji kekuatan tenaga dalam kita, bagaimana Taysu sekalian pikir ?"

Padri kesepian lalu berkata sambil tersenyum;

"Seorang ahli, begitu mengulurkan tangan sudah diketahui berisi atau kosong! Sebetulnya dengan secara sembarangan saja mengambil selembar daun atau sepotong kayu, dapat digunakan untuk menguji kekuatan tenaga dalam masing- masing! Pinceng hanya belum tahu apakah Siao sicu perlu menetapkan peraturan dan caranya pertandingan ini ?" "Kita tidak perlu menetapkan satu aturan, silahkan Taysu berdua berlaku menurut kehendak sendiri, masing-masing boleh mengeluarkan kekuatan tenaga dalam, ditujukan kepada air danau itu."

Siapa yang lebih baik dan lebih gemilang hasilnya, dialah yang lebih unggul!"

"Begitupun baik! Biarlah pinceng yang akan menunjukkan keburukan pinceng lebih dulu!" berkata padri kesepian.

Sehabis berkata demikian ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, lalu ditujukan ketengah udara dengan gerakan tekanan, Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, air danau itu terpukul dan muncrat setinggi satu kaki lebih!

Hee Thian Siang terkejut, diam-diam berpikir bahwa padri kesepian ini, wajahnya tidak ada hal-hal yang menarik, tetapi ternyata memiliki kekuatan tenaga dalam demikian hebat, suatu bukti bahwa dalan Istana kesepian itu, ternyata masih tersembunyi banyak orang gagah.

Tay-lek-thian-cun Siong Song Hut yang menyaksikan keadaan demikian, diam-diam juga mengagumi ilmu silat orang daerah Tiong-goan, saat ini ia juga mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, lalu merangkapkan kedua tangannya dan ditujukan kepada air danau itu.

Sungguh heran, suatu gerakan yang tidak mengeluarkan suara ataupun angin, telah membuat air danau yang sudah mulai tenang itu tiba-tiba tampak legok kedalam sekitar dua kaki, setelah itu menyemburkan pancuran air ketengah udara!

Wajah padri kesepian segera berubah, ia memuji nama Buddha, kemudian berkata;

"Ilmu menundukkan naga dengan telapakan tangan Taysu sesungguhnya hebat sekali, pinceng menyerah kalah!" Tay-lek-thian-cun Siong Song Hut yang mendengar ucapan itu menunjukkan sikap bangga, tetapi sikap bangganya itu sesaat kemudian telah berubah demikian masgul, sebab Hee Thian Siang waktu itu juga sudah mengerahkan ilmunya, warisan Pak-bin Sin-po dan yang dilatihnya setiap hari siang dan malam tanpa berhenti, ilmu itu adalah ilmu jari tangan Kian-thian-ci ditujukan ketengah danau, dan air danau itu terdapat tanda melesak sedalam tiga kaki lebih!

Padri kesepian ketika melihat Hee Thian Siang yang memperoleh kemenangan, dalam hati malah merasa lega, dengan sangat girang ia berkata dengan pujiannya;

"Jago-jago jaman sekarang memang kebanyakan terdiri dari angkatan-angkatan muda, ini memang benar Siao sicu, kau sudah menangkan pertaruhan ini, maka apa yang kau hendak tanyakan, silahkan tanya saja, apa yang pinceng tahu pasti akan menjawab dengan sejujurnya!"

"Aku cuma menurut apa yang sudah dijanjikan saja, hanya ingin Taysu menjawab dua pertanyaanku, Pertanyaan pertama ialah tentang Liok Giok Ji, Apakah sekarang ini nona Liok itu berada didalam Istana kesepian ?"

Padri kesepian menggelengkan kepala, kemudian menjawab;

"Didalam Istana kesepian, hanya terdapat orang-orang yang terluka hatinya atau dirundung kedukaan, mereka kebanyakan sudah melupakan hal-hal yang sudah lalu, tidak mau meninggalkan namanya, karena itu pinceng juga tidak tahu siapa nona yang bernama Liok Giok Ji itu, sebaiknya Siao sicu jelaskan wajahnya dan usianya, mungkin pinceng masih dapat mengingat-ingatnya!"

Hee Thian Siang lalu melukiskan wajah dan usia Liok Giok Ji, dijelaskan kepada padri kesepian. Padri kesepian sehabis mendapat gambaran yang dilukiskan oleh Hee Thian Siang, sesaat tampak terkejut, kemudian menjawab;

"Nona yang kau tanyakan itu mirip dengan putri kesepian!"

Hee Thian Siang telah mencatat nama putri kesepian itu dalam hatinya, kemudian bertanya pula;

"Pertanyaan kedua adalah dimanakah letaknya Istana kesepian itu?"

Padri kesepian menjawab pula sambil tertawa kecil;

"Orang-orang dari dalam Istana kesepian, semua sudah bersumpah tidak boleh menceritakan kepada siapapun juga letaknya Istana kesepian secara langsung!"

Hee Thian Siang dapat mengerti maksud jawaban padri itu, maka lalu berkata pula sambil tersenyum;

"Kalau toh tidak boleh menceritakan secara langsung, setidak-tidaknya boleh menceritakan secara tidak langsung!"

Padri kesepian karena merasa tidak baik jikalau menarik kembali ucapannya sendiri, dan mengingkari perjanjiannya, dengan terpaksa berkata;

"Apabila Siao sicu pasti ingin mencari Istana kesepian, boleh datang dilembah May-ya-kok dibawah puncak gunung Bun-thian-hong, kemudian Siao sicu memanggil tiga kali namanya May-yu Kisu, nanti olehnya akan ditanyakan segala apa yang mengakibatkan kau bersedih dan terluka hati, barulah diambilnya keputusan boleh mengajak kau masuk kedalam Istana kesepian atau tidak."

Hee Thian Siang mengucapkan terima kasih kepada padri kesepian atas jawabannya itu, dan padri kesepian itu kemudian lantas berlalu seorang diri, dengan membawa pulang rasa kesepiannya.

Begitu padri kesepian berlalu, Tay-lek-thian-cun Siong Song Hut juga lantas berkata kepada Hee Thian Siang;

"Siao sicu sudah menangkan pertaruhan tadi, mengapa masih belum menanyakan dua pertanyaan itu kepada pinceng? Pinceng masih ada urusan penting, setelah menjawab pertanyaan Siao sicu juga akan pergi dari sini!"

"Pertanyaanku yang pertama ialah, apakah Taysu kenal dengan Hek-ni-kam-lo dan Kim-to-cin, Tay-lek-thian-cun Siong Song Hut tidak menyangka kalau Hee Thian Siang bisa menyebutkan nama dua orang itu, maka untuk sesaat ia nampak tercengang, kemudian menjawab sambil anggukkan kepala;

"Mengenai kedua orang itu memang benar aku kenal, Hek- ni-kam-lo adalah Sin-pok-siang-koay yang muda, sedangkan Kim-to-cin adalah salah satu dari orang katai dari negara Timur!"

"Pertanyaanku yang kedua ialah, apabila aku ingin mencari Hek-ni-kam-lo dan Kim-to-cin dengan tidak usah melakukan perjalanan jauh ketempat mereka, apakah ada jalan lain yang mudah?"

"Pertanyaan Siao sicu ini boleh dikata tepat pada alamat yang kau tanyakan, pinceng bisa tunjukkan kepada Siao sicu satu jalan yang mudah!"

"Coba Taysu tolong terangkan jalan apa yang taysu kata lebih mudah itu." Hee Thian Siang selanjutnya mengucapkan terima kasih.

"Nanti pada tanggal lima belas bulan satu tahun depan, diwaktu pesta keramaian Cap-go-mee, bertepatan dengan hari ulang tahun keseratus Raja Siluman Pat-bo Yan Liat, semua tokoh-tokoh rimba persilatan baik dari dalam atau luar daerah, hendak berkumpul dipuncak gunung tertinggi digunung Cong- lam-san, ialah puncak Thay-pek-hong, untuk mengadakan upacara pemberian selamat ulang tahun! Hek-ni-kam-lo dan Kim-to-cin pasti datang, Disamping itu, yang satu-satunya seperti Sin-pak Siang-koay yang tua dan orang katai dari negara Timur dia yang lainnya, kami Tay-lek-thian-cun dari daerah Barat, juga akan datang semua! Asal Siao sicu hadir dalam pertemuan itu, pasti bisa bertemu dengan mereka, dengan demikian tak usah pergi jauh-jauh kenegara Timur atau ke Barat!"

"Pat-bo Yao-ong Hian Yan Liat, mengapa harus mengadakan upacara ulang tahunnya dipuncak gunung Cong- lam?" tanya Hee Thian Siang heran."Tokoh-tokoh rimba persilatan dari dalam dan luar negeri, oleh karena mengagumi kepandaian ilmu Hian Yan Liat Pat-bo Yao-ong, telah menggerakkan pertemuan ini, sengaja mengundang Hian Yan Liat datang berkunjung kegunung itu, supaya tokoh-tokoh rimba persilatan daerah Tiong-goan dapat belajar kenal dengannya!"

"Pada hari itu, aku juga hendak pergi kepuncak gunung Cong-lam, hendak melihat Pat-bo Yao-ong Hian Yan Liat yang memimpin rimba persilatan daerah luar perbatasan sebetulnya bagaimana macamnya?"

"Apabila Siao sicu juga ingin hadir pada pertemuan itu, harap jangan lupakan bingkisannya, sebab barang siapa yang tidak membawa bingkisan yang agak aneh untuk memberi selamat padanya, barangkali tidak akan diijinkan naik keatas puncak gunung Thay-pek-hong, untuk belajar kenal dengan wajah Hian Yan Liat!"

"Kiranya pemimpin rimba persilatan itu bukan saja gemar nama baik, tetapi juga masih gemar kekayaan! Oleh karena ia masih tidak bisa melepaskan diri dalam soal nama dan harta, maka kepandaian ilmunya juga belum tentu seperti apa yang diagung-agungkan bahwa sudah mencapai taraf tanpa tandingan!"

"Ilmu kepandaian Hian Yan Liat memang benar-benar luar biasa tingginya, boleh dikata sudah tidak ada taranya, selain itu juga tawar terhadap nama dan kekayaan, hadiah-hadiah ulang tahunnya itu, hanya untuk dihadiahkan kepada nyonya Liat-ong saja!"

Hee Thian Siang agaknya tidak menduga akan hal itu, maka lalu ia bertanya;

"Oh, apakah Pat-bo Yao-ong masih mempunyai istri?" "Nyonya Hian Yan Liat ialah Ceng-hoa Ceng-ho,

Kepandaian ilmu silatnya, tidak selisih banyak dengan Hian Yan Liat sendiri, apakah Siao sicu belum pernah mendengar nama itu?"

Hee Thian Siang menggelang-gelengkan kepala, menunjukkan sikap bingung, sementara itu Tay-lek-thian-cun Siong Song Hut sudah berkata lagi sambil tertawa;

"Orang-orang rimba persilatan daerah Tiong-goan terhadap tokoh-tokoh kuat daerah perbatasan memang masih agak asing! Tetapi nanti setelah pertemuan digunung Cong-lam, barang siapa yang pernah menyaksikan Hian Yan Liat dan Ceng-hoa Ceng-bo serta kepandaian ilmu silatnya, pasti akan kagum dan takluk benar-benar terhadap mereka suami istri!"

Berkata sampai disitu ia lantas berdiam dan katanya menatap dalam-dalam kepada Hee Thian Siang, kemudian bertanya sambil tersenyum;

"Bagaimana sebutan Siao sicu yang sebenarnya? Siao sicu murid dari golongan mana? Bolehkah pinceng tahu ?" Hee Thian Siang kalau tadi terhadap padri kesepian tidak mau menyebutkan nama aslinya, tetapi terhadap Tay-lek- thian-cun Siong Song Hut ia sudah tidak perlu menyembunyikan nama aslinya lagi, maka lalu menjawab;

"Aku bernama Hee Thian Siang, suhuku adalah Hong-po Sin-po, selamanya berdiam digunung Pak-bin!"

Tay-lek-thian-cun Siong Song Hut terkejut, sekali lagi ia mengawasi Hee Thian Siang beberapa kali,, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala dan berkata;

"Pantas Hee Siaosicu dalam usia yang demikian muda, latihan kekuatan tenaga dalammu sudah mencapai ketaraf yang demikian sempurna, Kiranya adalah murid Pak-bin Sin- po Hong Poh Cui yang sering disebut-sebut Hian Yan Liat- ong! tidak halangan Siao sicu nanti sampaikan apa yang pinceng beritahukan kepadamu tadi, sebab Hian Yan Liat-ong dan Ceng-hoa-Ceng-bo suami-istri, sangat mengharapkan dengan menggunakan kesempatan pada pertemuan itu bisa belajar kenal dengan beberapa tokoh rimba persilatan daerah Tiong-goan!"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala sambil tertawa, sementara itu Tay-lek-Thian-cun Siong Song Hut sudah merangkapkan kedua tangannya diatas dadanya untuk memberi hormat, kemudian berkata sambil tertawa;

"Pinceng hendak minta diri, karena masih ada urusan hendak pergi kepuncak gunung Thay-pek-hong, untuk mengadakan persiapan guna keperluan pertemuan dalam upacara ulang tahun yang diadakan tahun depan, juga hendak mencari beberapa barang yang aneh-aneh, sebagai hadiah ulang tahun Hian Yan Liat-ong!"

Sehabis berkata demikian jubahnya bergerak bagaikan berkelebatnya rajawali dicakrawala, mumbul tinggi beberapa tombak, dan menghilang dari tempat tebing dimana ia tadi mumbul.

Hee Thian Siang mengawasi berlalunya Tay-lek-thian-cun Siong Song Hut, dengan sepasang alis dikerutkan, ia memanggil Cin Lok Pho dengan suara nyaring;

"Cin Locianpwe, urusan ini membuat Hee Thian Siang semakin bingung!"

Cin Lok Pho melayang turun dari atas pohon, berada disamping Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil tertawa terbahak-bahak;

"Hee laote, dalam pertaruhan tadi, kau telah menang dengan gemilang, bahkan sudah mendapat kabar rahasia yang tidak sedikit, Mengapa masih mengatakan bingung?"

"Cin Locianpwe, apakah Locianpwe tadi tidak dengar aku menanyakan tentang jejak Liok Giok Ji ?"

"Bagaimana aku bisa tidak mendengar? Padri kesepian tadi bukankah berkata bahwa nona Liok Giok Ji berada didalam Istana kesepian, menjadi putri kesepian ?"

"Karena Liok Giok Ji sudah berada didalam Istana kesepian sudah menjadi putri kesepian, maka wanita muda berparas cantik berpakaian kuning emas yang binasa dilembah kematian gunung Cong-lam, siapa dia orangnya? Dari mana ia mendapatkan pedang Liu-yap-bian-si-kiam? dan lantaran apa dengan seorang diri memasuki lembah kematian?"

Mengenai beberapa pertanyaan ini, Cin Lok Pho juga tidak dapat menjawab, berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa;

"Hee laote, urusan dalam dunia ini banyak sekali yang seperti mudah sekali dipecahkan, Untuk sementara kita terpaksa jangan mengusut dulu, biarlah segala sesuatunya berjalan sendiri sebagaimana biasa, lalu kita boleh selidiki perlahan-lahan, Sebab, tentang kematian seorang wanita muda cantik yang membawa pedang Liu-yap-bian-si-kiam itu, adalah orang kedua yang menyaksikan dan dapat dimintakan sebagai saksi? Seandainya si-Buddha berbisa Khong-khong Hweshio itu membuka mulut seenak perutnya, bukankah sama artinya Hee laote telah tertipu olehnya? Buat apa kita harus pusing-pusing memutar otak sendiri dengan cuma- cuma?"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, setelah dipikirnya, juga merasa curiga atas keterangan padri jahat itu, maka lalu berkata sambil tertawa;

"Locianpwe benar, biarlah untuk sementara waktu kita biarkan saja dulu urusan itu, Marilah kita lanjutkan lagi usaha kita untuk memberi bantuan kepada Liong-hui-kiam-khek dan bibi Ca Bu Khao yang melakukan perjalanan kegunung Tiam- cong!"

"Orang-orang rimba persilatan yang suka memberi keadilan dan kebenaran serta mau menolong sesama yang susah sebagai kewajiban mutlak, memang ada saja kemungkinan setiap waktu berada dalam bahaya karena perbuatan orang- orang jahat. Maka mengenai urusan kita yang hendak memberi bantuan kepada Su-to Wie dan Ca Bu Khao, tidak perlu tergesa-gesa, tetapi sekarang kita yang melakukan perjalanan kepropinsi In-lam, sebaliknya mendapat dua keuntungan, Sebab justru kita boleh pergi kegunung Lo-sam, untuk mengunjungi lembah May-yu-kok yang disebutkan oleh padri kesepian tadi untuk mencari keterangan kepada May-yu Kisu dimana letaknya Istana kesepian itu ?"

"Cin Locianpwe mengatakan dalam perjalanan kita kepropinsi In-lam kali ini ada mempunyai dua keuntungan, Tetapi Hee Thian Siang kira masih perlu ditambah satu lagi, Jadi, boleh dibilang kita akan mendapat tiga  keuntungan?" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa, dan kemudian bersama-sama Cin Lok Pho mengerahkan ilmu meringankan tubuh mendaki tebing yang sangat tinggi.

Cin Lok Pho tahu bahwa Hee Thian Siang itu seorang anak muda yang cerdas dan pintar otaknya, lagi pula banyak akalnya, maka lalu bertanya sambil tersenyum;

"Hee laote, apa yang kau maksudkan dengan keuntungan yang ketiga?"

"Locianpwe, tadi dalam salah satu jawaban yang diberikan oleh Tay-lek-thian-cun Song Song Hut, bukankah pernah mengatakan bahwa pada perayaan Cap-go-mee tahun depan, hendak mengadakan pertemuan dipuncak tinggi Tay-pek-hong digunung Cong-lam, untuk memberi selamat atas ulang tahun Pat-bo Yao-ong Hian Yan Liat, bahkan hendak mencari benda aneh se-banyak-banyaknya untuk diberikan kepada nyonya Hian Yan Liat, yaitu Ceng-hoa-Ceng-bo!"

"Didalam barisan Pek-kut Sam-mo, hanya berhasil menyingkirkan seorang Pek-kut Thian-kun yang meninggalkan berisan itu, tetapi sekarang kawanan iblis dan penjahat dari daerah luar, kembali sudah menyusup kedaerah Tiong-goan, ini benar-benar merupakan suatu alamat buruk seperti akan datangnya bencana bagi rimba persilatan! Menurut pandanganku, tindakan Ki-lian-pay yang menyerbu partai Bu- tong adalah merupakan babak permulaan dalam rencananya yang akan menguasai rimba persilatan, rasanya mala-petaka yang mengancam partai-partai dalam rimba persilatan, sudah tidak dapat dihindarkan lagi!"

"Sekarang Hee Thian Siang ingin bertanya kepada Cin Locianpwe, diwaktu rimba persilatan sedang terancam bahaya dan bencana, dari kalangan penjahat luar daerah, jikalau kita mengenal tokoh berkepandaian tinggi, apakah perlu kita mengundang mereka supaya keluar, dan membantu usaha kita untuk membasmi kawanan  penjahat itu? Rasanya kita tidak boleh membiarkan mereka mengasingkan diri untuk mengelakkan tanggung jawab dan kewajiban itu."

"Pendirian Hee laote semacam ini sebenarnya patut sekali dipuji, tetapi aku tidak tahu ada berapa banyakkah tokoh-tokoh dalam pandanganmu yang rasanya bisa ditarik untuk membantu usaha kita ini?"

Hee Thian Siang pikir hendak menggunakan kesempatan dalam perjalanan ke-propinsi In-lam ini, sekalian pergi kelembah Leng-cui-kok digunung Ko-le-kong-san, untuk berkunjung kegoa Bo-ciu-sek untuk menjumpai Hong-tim Ong- khek May Ceng Ong, Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Moli Tang Siang Siang tiga Locianpwe!"

Cin Lok Pho telah diingatkan oleh ucapan Hee Thian Siang itu, lalu berkata sambil tersenyum;

"Ucapan Hee laote ini benar, tiga tokoh luar biasa dalam rimba persilatan ini, semuanya memiliki kepandaian ilmu yang sangat tinggi, apabila mereka mau sama-sama keluar dari pertapanya, maka dalam barisan kita yang hendak membasmi kawanan penjahat ini, aku rasa akan bantuan yang tidak sedikit! Apabila kita membiarkan mereka tinggal diam dalam pertapaan mereka, sesungguhnya sangat sayang!"

"Tiga Locianpwe itu telah tidak tercapai cita-cita mereka, tetapi tidak dibenarkan hanya lantas tawar terhadap urusan dunia, Dalam perjalanan kita ini, apabila kita dapat menceritakan bagaimana maksud dan tujuan kawanan iblis dari luar yang hendak menguasai rimba persilatan daerah Tiong-goan, demi kepentingan dan keutuhan rimba persilatan daerah Tiong-goan, kita bisa minta mereka supaya mau menyumbangkan sedikit tenaga, Lain daripada itu kita boleh sekalian beritahukan nasib yang dialami oleh Liok Giok Ji dan Hok Sui In, menurut pendapatku Cianpwe itu setelah mendapat berita ini, bisa turun gunung untuk menunjukkan kepandaian mereka lagi!" "Mana mungkin hanya turun gunung dan menunjukkan kepandaian saja? Tiga tokoh luar biasa dalam rimba persilatan itu, setelah mendengar kabar berita itu pasti akan marah, dan segera muncul lagi dalam dunia Kang-ouw! Sebab aku hampir lupa bahwa Liok Giok Ji dan Hok Siu In kedua nona itu semua adalah putri-putri kesayangan Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong!"

"Hong-tim Ong-khek May Locianpwe bersama Hee Thian Siang pernah bersahabat erat, sedangkan Kiu-thian Moli Tang Locianpwe sifatnya juga lemah lembut, Tetapi Siang-swat Sianjin Tang Locianpwe, sebaliknya sangat keras dan kukoay sekali adatnya! Jikalau Hee Thian Siang paksakan juga menyampaikan kabar buruk ini, Hee Thian Siang ragukan, bisa2 akan memdapat kesulitan yang tidak sedikit dari padanya!"

"Hee laote dengan Liok Giok Ji dan Hok Siu In, sekarang ini meskipun belum mengadakan keputusan hendak menikah, tetapi satu sama lain sudah setia dan sehati, dalam mata May Ceng Ong, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang bertiga, pasti juga sudah menganggap kau sebagai menantunya! Peribahasa ada kata; 'ibu mertua paling sayang kepada bakal menantu', maka dari itu aku berani menjamin, sekalipun betul seperti apa katamu tadi, Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biauw keras adatnya, tapi rasanya tak mungkin akan bertindak dan merugikan Hee laote, Percayalah!"

"Seandai berhadapan dengan musuh bagaimanapun lihaynya musuh itu, Hee Thian Siang tidak akan takut! Tetapi kini Leng Locianpwe sudah menjadi orang tingkatan tua dari Hee Thian Siang, kalau bertempur tidak boleh membantah, perasaan semacam inilah, yang sesungguhnya merupakan penderitaan bathin yang sangat hebat! Oleh karenanya maka Hee Thian Siang merasa sedikit sangsi, tidak berani masuk kedalam goa Bo-ciu-sek itu!" Dua orang itu berjalan sambil mengobrol, disepanjang jalan juga tidak mendapatkan halangan apa-apa, demikianlah mereka telah tiba di Pho-hi-to-koan digunung Tiam-cong-san.

Poh-hi-to-koan bekas markas partai Tiam-cong di-propinsi In-lam itu, sebetulnya sudah dihancurkan dan dibakar habis oleh Thiat-koan Totiang yang sudah bertekad bersama-sama ketua Ki-lian-pay membentuk partai baru Ceng-thian-pay, maka kini tinggal hanyalah reruntuhan puing-puing lagi saja.

Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang semula mengira Su-to Wie dan Ca Bu Khao pasti hendak membangun lagi kuil Poh- hi-to-koan itu, supaya dapat mendirikan lagi partai Tiam-cong, Siapa tahu, keadaan dihadapannya sekarang ini, benar-benar diluar dugaannya, maka lalu timbul rasa wasangka, diam-diam mengkhawatirkan keselamatan Su-to Wie dan Ca Bu Khao!

Setelah mereka mencari keterangan, baru tahu bahwa Su- to Wie sedang mencari tanah untuk membangun kembali Poh- bi-to-koan, Berita buruk mengenai tindakan Ceng-thian-pay terhadap Bu-tong-pay sudah tersiar luas dalam kalangan Kang-ouw! Oleh karenanya, maka Ca Bu Khao menasehati Su-to Wie supaya jangan tergesa-gesa membangun kembali kuil Poh-hi-to-koan, yang penting ialah mengumpulkan lagi bekas orang-orang Tiam-cong-pay yang tidak mau mengikut jejak Thiat-koan Totiang, orang-orang itu setelah dikumpulkan semua, untuk sementara diboyong kegunung Lo-hu, untuk menantikan tindakan partai-partai golongan baik, yang akan menumpas gerakan Ceng-thian-pay, setelah itu, barulah membangun kembali kuil Poh-hi-to-koan dan partai Tiam- cong, Begitulah, setelah Su-to Wie menimbang berat entengnya, ia juga tahu bahwa dengan berdiri terpencil didaerah In-lam, mungkin sebelum Poh-hi-to-koan selesai dibangun, kawanan penjahat dari Ceng-thian-pay sudah datang menyatroni, Oleh karena kekuatan kedua belah pihak selisih sangat jauh, maka jikalau sampai terjadi apa yang dikhawatirkan itu dan harus dilakukan suatu pertempuran, dengan sendirinya pihak Tiam-cong-pay akan mengalami kekalahan total! Mana ada harapan untuk membangun kembali partai Tiam-cong-pay? Tentu tidak mungkin!

Berdasarkan atas pertimbangan itulah, Su-to Wie lalu menyetujui usul Ca Bu Khao, setelah mengumpulkan beberapa puluh orang bekas anak buah partai Tiam-cong lainnya yang berkepandaian tinggi, yang tidak mau bekerja- sama dengan Thiat-koan Totiang, semua dibawanya untuk sementara ditempatkan digunung Lo-hu-san.

Dalam perjalanan pulang Su-to Wie dengan Ca Bu Khao, sebetulnya bisa berpapasan dengan Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang ditengah jalan, Apa mau, Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang telah mengambil jalan memutar untuk pergi kelembah kematian digunung Cong-lam lebih dulu, maka satu sama lain jadi tidak saling bertemu.

Hee Thian Siang setelah mengetahui sebab musababnya, lalu berkata kepada Cin Lok Pho sambil tertawa;

"Cin Locianpwe, rencana bibi Ca ini, benar-benar cerdik! Su-to tayhiap dan beberapa puluh tokoh Tiam-cong jadi bisa menyingkir jauh-jauh dari keganasan Ceng-thian-pay, Disamping itu tentu akan menambah kuat kedudukan Lo-hu- pay!"

Cin Lok Pho juga merasa lega hatinya, katanya sambil tersenyum;

"Hee laote, kalau ternyata disini sudah tidak ada urusan, marilah kita pergi kelembah Leng-cui-kok digunung Ko-le- kong-san, untuk mengunjungi Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong bertiga ditempat kediamannya digoa Bo-ciu-sek!"

Selagi Hee Thian Siang hendak menjawab, Cin Lok Pho sudah berkata lagi sambil tersenyum berseri-seri; "Hee laote selamanya bernyali besar, mengapa sekarang mendadak bersikap murung? Mungkinkah tiga tokoh terkemuka rimba persilatan yang akan menjadi mertuamu itu betul-betul begitu sulit dihadapi? Kalau benar-benar ada kesulitan, baiknya kita tidak usah kesana sajalah!"

"Untuk menambah kekuatan tenaga golongan baik, dan untuk dapat menghancurkan kawanan penjahat dari luar daerah, gunung Ko-le-kong-san itu mau tak mau harus kita kunjungi! Sebabnya Hee Thian Siang tadi merasa ragu-ragu, bukanlah karena takut tiga Locianpwe itu sulit dihadapi, melainkan ada perasaan menyesal dalam hati Hee Thian Siang yang tidak dapat melindungi keselamatan Liok Giok Ji dan Hok Siu In, sampai mereka menemukan nasib demikian buruk, Sesungguhnya Hee Thian Siang tidak ada muka untuk bertemu lagi dengan May Locianpwe!"

"Nasib manusia, setiap waktu bisa saja mengalami perobahan, siapapun tidak dapat meramalkan peristiwa yang belum terjadi! Liok Giok Ji merasa bosan dengan kehidupan dunia, sedangkan Hok Siu In mendapat kecelakaan yang tidak terduga-duga, semua ini ada sangkut-paut apa denganmu? Aku pikir sekalipun bagaimana buruk adat Siang-swat Sianjin asal kita beritahukan secara baik-baik, juga tidak akan menyalahkan kepadamu!" berkata Cin Lok Pho yang sedapat mungkin menghiburi pemuda itu.

Setelah mendengar keterangan itu, pikiran dan perasaan Hee Thian Siang mulai sedikit lega, Begitulah mereka selanjutnya melanjutkan perjalanan kelembah Leng-cui-kok digunung Ko-le-kong-san, Tetapi ketika mereka tiba dihadapan goa Bo-ciu-sek, pintu goa itu ternyata sudah tertutup rapat! Diatas tebing ditulis dengan empat bait syair yang maksudnya menyatakan bahwa goa itu sudah ditutup, tidak boleh ada orang masuk lagi! Dengan arti kata lain, menolak orang-orang luar yang hendak menjumpai mereka! Hee Thian Siang yang membaca bunyi syair itu, sesaat tercengang, lalu berpaling dan bertanya kepada Cin Lok Pho;

"Locianpwe, May Locianpwe sekalian telah meninggalkan tulisan ditebing itu, menyatakan telah menutup goa Bo-ciu- sek, Apakah kita masih perlu minta bertemu secara paksa, atau tidak mengganggu mereka lagi?"

Cin Lok Pho beberapa kali membaca syair itu, lantas berkata sambil menghela napas panjang;

"Kalau kubaca bunyi syair itu, rasanya seperti mengandung maksud yang sangat dalam, dan betapa besar perasaan mereka! Begitu kuat jalinan kasih antara Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong, Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Moli Tang Siang Siang, apa mau percobaan hidup yang demikian hebat telah membuat mereka menderita untuk banyak tahun, Kini, setelah masing-masing rujuk kembali karena kesalah-pahaman antara mereka sudah lenyap, sudah sewajarnyalah kalau mereka mengecap hidup manis dan merasa tenteram, kalau toh tidak ingin meniru kehidupan dewa, hanya mengharap supaya hidup tenteram, maka jika kita belum terpaksa benar-benar, agaknya tidak perlu mengganggu mereka! Biarlah untuk sementara mereka mengasingkan diri dahulu, untuk menikmati hidup tenteram dan damai ditempat yang sepi sunyi ini!"

"Cin Locianpwee benar, setelah membaca bunyi syair tadi, Hee Thian Siang juga jadi tidak ada keinginan buat mengganggu May Locianpwee bertiga dengan urusan anak- anak dan urusan Kang-ouw lagi!"

Berkata sampai disitu, Hee Thian Siang lalu menatap wajah Cin Lok Pho, kemudian ia berkata pula sambil tertawa;

"Locianpwe, sewaktu kita datang kemari, sudah pernah melewati gunung Lo-san, tetapi oleh karena kita langsung menuju kemari, jadi tidak mampir ditempat itu, Sekarang apakah kita masih perlu pergi kelembah May-yu-kok untuk mencari orang yang bergelar May-yu Kisu, itu yang mengetahui dimana letak Istana kesepian?"

Cin Lok Pho segera menyetujui usul itu, seraya berkata sambil menganggukkan kepala;

"Jangankan laote sudah begitu ingin sekali untuk menemukan jejak nona Liok Giok Ji, Sekalipun tidak, aku juga ingin sekali belajar kenal dengan tempat yang dinamakan Istana kesepian itu, bagaimana keadaannya dan terdapat keanehan apa ditempat itu, serta siapa-apa orangnya yang mendiami Istana itu, dan apa sebab mereka mempunyai pengaruh demikian besar!"

Karena sudah mengambil keputusan tetap, maka dua tokoh rimba persilatan itu, berjalan perlahan-lahan menuju mulut lembah Leng-cui-kok sambil menikmati pemandangan alam sekitarnya.

Hee Thian Siang kembali berkata sambil menghela napas; "Goa ini sudah ditutup dan tidak boleh dimasuki lagi, Cin

Locianpwee menurut pandangan Locianpwee, benarkah May Ceng Ong Locianpwee bersama Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang Cianpwee bisa hidup tenang untuk selanjutnya dan selama-lamanya tidak akan teringat lagi dengan anak- anaknya sendiri?"

Cin Lok Pho berpikir dulu sebentar, kemudian berkata; "Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong bersama Leng Biauw

Biauw dan Tang Siang Siang, dengan Liok Giok Ji dan Hok Siu In masih ada hubungan darah ayah-ibu dan anak, meskipun ada mempunyai ikatan darah yang demikian dekat, tetapi selama hidupnya belum pernah menikmati hidup manis dengan anak-anaknya, Selayaknya jikalau menurut dugaan biasa, bagaimana mungkin mereka memutuskan hubungan dengan anak-anaknya sendiri yang seharusnya berkumpul hidup bersama-sama menjadi satu?. "

Baru berkata sampai disitu, ditengah udara diluar lembah Leng-cui-kok, tiba-tiba tampak berkelebat sinar hijau.

Hee Thian Siang mengeluarkan suara terkejut: "Ha!", lalu berkata kepada Cin Lok Pho dengan suara perlahan;

"Cin Locianpwee, apakah Cin Locianpwee tadi ada melihat sinar hijau? Tahukah Cin Locianpwee dari mana asal sinar hijau tadi?"

Cin Lok Pho menggelengkan kepala, lalu berkata; "Berkelebatnya sinar hijau tadi agaknya tidak dekat dari

tempat ini, maka kita juga tidak tahu benar apakah itu

perobahan alam, ataukah perbuatan manusia? Bagaimana aku bisa menduganya? Mari, kita selidiki dulu dari mulut goa, mungkin akan mengetahui ada apa!"

Hee Thian Siang yang merasa tertarik oleh sinar tadi, ketika mendengar ucapan itu, lantas lompat melesat sejauh enam tombak lebih menuju kemulut lembah Leng-cui-kok.

Pada waktu itu, sinar aneh berwarna hijau kembali tampak berkelebat ditengah udara.

Selagi Cin Lok Pho masih berpikir, tampak Hee Thian Siang sudah menyembunyikan diri dimulut goa dan menggapai kearah Cin Lok Pho, sikapnya tampak sangat tenang, jelas sudah menemukan sesuatu apa-apa.

Cin Lok Pho buru-buru lompat melesat kemulut goa, Tampak olehnya dari arah Timut-laut ditengah udara yang gelap itu, ada tujuh buah sinar hijau yang sangat aneh, diwaktu itu sedang mulai pudar. Hee Thian Siang ketika melihat Cin Lok Pho menunjukkan sikap terkejut dan maksudnya hendak membuka mulut, maka lebih dulu ia menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga, berkata kepadanya sambil menggoyang- goyangkan tangannya;

"Cin Locianpwe awas! Sebaiknya kita jangan bersuara keras2, didekat lembah Leng-cui-kok ini rasanya ada bersembunyi beberapa tokoh kuat Ceng-thian-pay!"

Cin Lok Pho mendengar disebutnya nama Ceng-thian-pay, kembali terkejut, dengan tangan menunjuk tujuh buah sinar hijau yang sudah mulai padam ditengah udara itu, juga bertanya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga;

"Itu adalah sinar api Kiu-yu-leng-hwee orang-orang Ceng- thian-pay yang digunakan khusus untuk menunjukkan diri dan kedudukannya kepada kawan-kawannya!"

"Kawanan penjahat Ceng-thian-pay sehabis melakukan tindakan biadab terhadap partai Bu-tong, dengan maksud apa kini datang kegunung Ko-le-kong-san?"

"Mereka bukan saja sudah tiba digunung Ko-le-kong-san, bahkan sedang menyerbu kelembah Leng-cui-kok, mungkin akan berlaku tidak baik terhadap May Ceng Ong Locianpwe bertiga!"

"Hee laote berkata bahwa api Kiu-yu-leng-hwee ini, dapat menunjukkan orang dan kedudukannya kepada kawan- kawannya? Kalau begitu, api yang semuanya berjumlah tujuh tadi.."

"Sembilan buah tanda api Kiu-yu-leng-hwee, adalah lambangnya ketua atau Ciangbunjin, jumlah tujuh tidak terlalu tinggi kedudukannya, sedang yang telah datang ketempat ini barangkali adalah orang-orang yang setingkat seperti Lui Hoa dan Cong Ki serta lain-lainnya!"

"Ini sepertinya tidak benar!" berkata Cin Lok Pho sambil mengerutkan alisnya dan menggoyangkan kepala.

"Cin Locianpwe, Hee Thian Siang pernah mengadakan pertempuran beberapa kali dengan kawanan penjahat Ki-lian yang kini sudah dirobah menjadi Ceng-thian-pay, terhadap api Kiu-yu-leng-hwee ini, tidak mungkin dapat keliru!"

"Aku sama sekali bukan hendak mengatakan bahwa Laote yang salah, melainkan menganggap bahwa kawanan penjahat Ceng-thian-pay, sudah tahu benar bahwa diantara May Ceng Ong, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang bertiga, semuanya merupakan orang kuat yang berkepandaian tinggi, apabila hendak bertindak tidak baik terhadap mereka, setidak- tidaknya Khi Tay Cao bersama Thiat-koan Totiang yang datang sendiri, disamping mereka, juga tentunya perlu dibantu oleh Pek-kut Ie-su atau Pek-kut Siancu, barulah dapat mengadakan perlawanan dengan tiga tokoh terkuat itu! Mengapa hanya mengutus orang yang kedudukannya cuma tujuh buah api Kiu-yu-leng-hwee seperti Liu Hoa atau Cong Ki? Ini bukankah diibaratkan belalang yang menyerbu api?"

Kini tiba-tiba dibawah tebing yang jaraknya sejauh lima- enam belasan tombak dari tempat diatas ini, sudah timbul delapan buah api tertanda Kiu-yu-leng-hwee.

Begitu delapan buah api Kiu-yu-leng-hwee timbul, Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho baru tahu bahwa dugaan mereka tidak keliru, orang-orang Ceng-thian-pay benar saja telah bersembunyi disekitar tempat itu! Jikalau mereka tidak mengetahui lebuh dulu, dan bercakap-cakap seenaknya, maka sudah tentu jejaknya akan segera diketahui oleh orang- orang itu, dan dengan sendiri tidak dapat mengetahui rahasia gerakan orang-orang Ceng-thian-pay. Hee Thian Siang tiba-tiba teringat kejadian digunung Hok- bu-san, sewaktu pertama kali bertemu dengan Khi Tay Cao dan lain-lainnya, Maka lalu pikirnya hendak menggunakan taktik yang lama, Begitulah, ia lalu berkata kepada Cin Lok Pho dengan suara perlahan;

"Cin Locianpwe, tebing itu tidak tinggi, asal diam-diam kita naik keatasnya, tentunya dapat melihat keadaan dibawah tebing ini!"

Cin Lok Pho menganggukkan kepala sambil tersenyum, keduanya lalu mengerahkan ilmunya meringankan tubuh, diam-diam memutar kebelakang dan mendaki tebing tinggi itu.

Hee Thian Siang sebelum tiba diatas tebing sudah berkata kepada Cin Lok Pho;

"Cin Locianpwe, dari delapan buah Kiu-yu-leng-hwee tadi, Cianpwe seharusnya dapat menduga siapa orangnya yang berada dibawah tebing itu, bukan?"

"Kalau sembilan buah Kiu-yu-leng-hwee adalah sebagai lambang ketuanya, maka orang yang berada dibawah tebing ini, mungkin sucinya Khi Tay Cao, yakni Pek-thao Losat Pao Sam-kow!"

"Dugaan Cin Locianpwe tidak keliru, Hee Thian Siang berani pastikan, penjahat yang berada dibawah tebing ini adalah Pek-thao Losat yang pernah dihajar dengan ilmunya Kiu-cosu Thian-han-sin-kang oleh Toako Hee Thian Siang Swat-san Peng-lo Leng Pek Ciok!"

Berkata sampai disitu, dari arah Timur-laut tiba-tiba terdengar suara orang lari, kemudian tampak berkelebat sesosok bayangan orang yang tinggi besar, muncul dari arah kira-kira empat lima tombak dari tempat persembunyian Hee Thian Siang dan langsung menuju kebawah tebing. Hee Thian Siang yang melihat itu lalu berkata sambil tertawa;

"Dugaan Hee Thian Siang kali ini ternyata benar, orang yang datang itu benar-benar adalah samtenya Khi Tay Cao, Cong Ki!" Sehabis berkata demikian, bersama-sama Cin Lok Pho lalu bertiarap diatas tebing untuk memperhatikan keadaan dibawahnya.

Diatas sebuah batu besar dibawah tebing, tampak duduk seorang wanita yang bukan lain dari pada Pek-thao Losat Pao Sam-kow, ketika melihat Cong Ki datang, lalu bangkit dan bertanya sambil tertawa;

"Cong-samte, apakah Khi Ciangbunjin dan Pek-kut Siancu Hu-hoat, bersama-sama Leng totiang dan lain-lainnya berhasil gemilang sewaktu menggempur partai Ngo-bie-pay? Apakah jalannya pertempuran lancar juga seperti apa yang terjadi sewaktu kita membasmi Bu-tong! Mengapa mereka memerintahkan kau datang kesini? Dan kapan mereka bari bisa datang?"

Pertanyaan itu telah mengejutkan Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang yang mencuri dengar diatas tebing, mereka pikir partai Ngo-bie-pay kekuatannya agak berkurang, orangnya juga tidak banyak, waktu itu hanya Hian-hian Sianlo bersama Siu-wan To-kow dan Siu-long To-kow serta Seng Siu Ciu, dibawah gempuran tokoh kuat seperti Pek-kut Siancu, Thiat- koan totiang Lui Hoa dan Cong Ki, bagaimana dapat mempertahankan diri? Nasibnya mungkin lebih buruk dari pada Bu-tong-pay!

"Toa-suci, dugaanmu keliru! Orang-orang Ngo-bie-pay mungkin karena mendengar nasib buruk tentang hancurnya partai Bu-tong, maka sudah melarikan diri lebih dahulu, dalam kuil Kun-lun-to-i sudah kosong melompong, tiada seorangpun penghuninya didalamnya!" Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu dalam hati merasa lega, Mereka saling pandang dan menganggukkan kepala, kemudian pasang telinganya untuk mendengarkan lebih lanjut pembicaraan orang-orang Ceng- thian-pay itu lagi!

Sementara itu Pek-thao Losat sudah berkata pula;

"Oh! Kalau orang Ngo-bie-pay sudah melarikan diri, mengapa pula Khi Ciangbunjin dan Puk-kut Siancu Hu-hoat belum datang kemari juga? Urusan apa pula yang menghambat kedatangan mereka?"

Cong Ki segera menjawab;

"Khi Ciangbunjin bersama Pek-kut Siancu Hu-hoat, setelah membakar kuil Kun-lun-to-i masih perlu mengadakan pemeriksaan yang teliti didalam gunung Ngo-bie-pay, maka memerintahkan siaote untuk memberitahukan kepada Suci lebih dahulu, sebab rencana kita yang sudah disusun semula, mengalami sedikit perobahan, maka harap Suci jangan bergerak sembarangan, supaya tidak mengejutkan orang yang akan kita arah."

Pek-thao Losat Pao Sam-kow bertanya sambil mengerutkan alisnya;

"Rencana kita ada mengalami perobahan apa lagi?" Cong Ki menjawab sambil tertawa:

"Pek-kut Siancu Hu-hoat menganggap bahwa dalam lembah Leng-cui-kok ini meskipun cuma ada Hong-tim Ong- khek May Ceng Ong, Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biuaw dan Kiu-thian Moli Tang Siang Siang bertiga, tetapi ketiga orang itu semuanya merupakan tokoh kuat yang berkepandaian tinggi sekali dan susah dihadapinya, Maka kini rencana jadi dirubah hendak menggempur Swat-san lebih dulu, baru balik lagi kemari guna menghadapi May Ceng Ong dengan sepenuh tenaga kita!"

Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, sangat khawatir terhadap keselamatan partai Swat-san- pay.

Pek-thao Losat Pao Sam-kow tampak sangat girang, katanya sambil tertawa;

"menyerang Swat-san-pay dulu baik juga! Kesatu, aku pernah mengadakan penyelidikan didalam lembah Leng-cui- kok ini, dalam lembah ternyata tidak ada orang sama sekali dan tidak melihat jejak Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong dan kedua istrinya! Kedua, aku memang sudah lama pikir untuk mencari Swat-san Peng-lo Leng Pek Ciok, hendak membalas sakit hatiku dalam pertempuran digunung Li-lian!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lalu menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga, berkata pada Cin Lok Pho;

"Cin Locianpwe, dari ucapan Pek-thao Losat ini, kawanan Ceng-thian-pay rupanya masih belum tahu dimana letaknya goa Bo-cui-sek, Mak kita agaknya harus menunda dulu perjalanan kita kelembah May-yu-kok, lebih dulu pergi kegunung Tay-swat-san untuk memberi kabar kepada Peng- pek Sinkun suami-istri dan Leng Pek Ciok Toako, supaya mereka dapat mengadakan persiapan, dan jangan sampai digempur tanpa penjagaan!"

Cin Lok Pho baru saja menganggukkan kepala, sudah terdengar pula suara Pek-thao Losat yang bertanya;

"Khi Cianbunjin dan Pek-kut Siancu Hu-hoat kapan kiranya bisa sampai disini?"

Cong Ki menjawab; "Barangkali besok malam baru bisa sampai disini, Mereka memerintahkan siaote bersama Suci, supaya menunggu diluar lembah Leng-cui-kok, dan supaya kita menggabungkan diri segera berangkat kegunung Tay-swat-san, bersama-sama Ciangbunjin dan Pek-kut Ie su Hu-hoat untuk menggempur Swat-san-pay!"

Hee Thian Siang sudah mengetahui rahasia itu, sudah tentu tidak perlu mencuri dengar lebih jauh, maka bersama Cin Lok Pho diam-diam turun dari atas tebing, dan bertanya;

"Cin Locianpwe, apakah kita tidak perlu selesaikan dulu Pao Sam-kow bersama Cong Ki kedua penjahat itu ?"

Cin Lok Pho berpikir-pikir dulu, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala;

"Tidak perlu berbuat demikian! Seperti pribahasa ada kata, 'memanah orang lebih baik panah dadanya dulu, menangkap maling lebih baik menangkap rajanya dulu', Untuk menyingkirkan dua orang jahat ini terhadap Ceng-thian-pay tidak berarti besar, sebaliknya malah membuat Pek-kut Siancu dan lain-lain, akan mengetahui bahwa rahasianya suda bocor dan ada kemungkinan akan merobah rencana mereka selanjutnya!"

"Kalau kita tidak perlu menimbulkan urusan, lebih baik kita lekas pergi kegunung Tay-swat-san! Tetapi Khi Tay Cao dan Pek-kut Ie su sudah berangkat lebih dulu keperbatasan Tibet, entah sudah mulai bertarung dengan orang-orang golongan Swat-san-pay atau belum?"

"Kalau menurut keterangan Cong Ki tadi, gerakan orang- orang Ceng-thian-pay secara tiba-tiba ini hanya dilakukan sangat hati-hati, jikalau belum yakin sepenuhnya, tidak mungkin mereka berani turun tangan! Kita yang sudah mengetahui rahasia mereka lebih dulu, disini masih mempunyai waktu satu hari untuk mengadakan persiapan, perlu apa ter-buru-buru pergi ke Swat-san-pay?"

Sehabis berkata demikian, ia menarik tangan Hee Thian Siang dan secepatnya berjalan menuju lembah Leng-cui-kok, katanya sambil tersenyum;

"Kita selesaikan dulu urusan didalam lembah ini, baru berangkat kegunung Tay-swat-san!"

"Kita masih ada urusan apa yang belum diselesaikan didalam lembah ini?" tanya Hee Thian Siang heran.

Cin Lok Pho hanya tersenyum tidak menjawab, setelah berjalan dibawah goa Bo-cui-sek dan naik keatasnya, agaknya hendak menghapus tulisan yang ditinggalkan oleh May Ceng ong, Hee Thian Siang baru sadar, maka lalu berkata;

"Locianpwe benar-benar sangat cermat, Locianpwe tentunya tidak suka kawanan penjahat itu menemukan tulisan ini, sehingga menemukan tempat persembunyiannya May Locianpwe bertiga, sehingga mereka akan mengganggunya!"

"Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong sudah setengah abad lamanya menderita bathin, Baru beberapa hari menikmati ketenangan dan ketentraman serta kebahagiaan hidup, seorang seperti Laote dan aku ini, toh masih tidak tega untuk mengganggunya, Begitu juga kawanan penjahat seperti orang-orang Ceng-thian-pay sekali-kali tidak boleh tahu tempat ini! Sekarang kita boleh berangkat segera kegunung Tay-swat-san!"

Tetapi, begitu baru tiba digunung Tay-swat-san dan mencapai tujuannya dikutub Hian-peng-goan, telah terjadi pula suatu rintangan!

Sewaktu Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho tiba ditempat itu, waktu itu sudah larut malam, cuaca juga gelap, hingga batu-batu gunung yang berserakan itu, kalau dari jauh tampaknya seperti bayangan setan.

Hee Thian Siang yang lari dengan mengerahkan ilmu lari pesatnya, ia masih tidak lupa pasang mata mengawasi keadaan disekitarnya, dalam keadaan demikian, tampak olehnya berkelebatnya bayangan hitam, muncul dibawah kaki gunung sejauh sepuluh tombak lebih dari tempatnya.

Bayangan hitam itu, meskipun hanya sepintas lalu saja berkelebat dimata Hee Thian Siang, tetapi sudah jelas merupakan orang yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Hee Thian Siang yang berkepandaian tinggi dan bernyali besar, ketika lari sampai ketempat itu, dengan cepat berhenti dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak;

"Sahabat rimba persilatan dari mana yang sembunyi dibelakang puncak gunung? Silahkan keluar sebentar untuk bertemu muka!"

Baru saja menutup mulut, dari belakang puncak gunung itu terdengar suara tertawa dingin, disusul dengan munculnya bayangan seseorang yang bagaikan hantu diwaktu malam, orang itu menghadang perjalanan Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho.

Cin Lok Pho melihat dandanan orang yang berada dihadapannya itu ternyata seorang padri yang mengenakan jubah warna kuning, padri itu wajahnya kurus, perawakannya sedang, tetapi sikapnya itu segera menunjukkan cirinya kalau dia bukan orang dari golongan baik-baik.

Oleh karena ia sendiri belum pernah melihat padri itu, maka lalu mengangkat tangan memberi hormat seraya berkata sambil tersenyum; "Bagaimana sebutan Taysu yang mulia? Mengapa merintangi aku siorang she Cin dan sahabat Hee ini ?"

Padri berjubah kuning itu merangkapkan kedua tangannya didepan dada, dengan sikapnya yang sangat sombong sekali membalas hormat seraya berkata;

"Pinceng Goan-thong, selamanya berdiam didaerah Barat, Perbuatan pinceng yang merintangi perjalanan sicu berdua ini, sebetulnya merupakan suatu jasa bagi sicu berdua!"

Hee Thian Siang tiba-tiba teringat pada padri Tay-lek-thian- cun Siong Song Hut yang pernah ditemuinya dilembah kematian digunung Cong-lam, yang dandanan maupun bentuknya semuanya mirip dengan padri yang mengaku bernama Goan-thong ini, maka tergeraklah hatinya, dan saat itu lalu bertanya sambil tersenyum;

"Apakah Taysu juga merupakan salah seorang dari empat Thian-cun dari daerah Barat?"

Goan-thong Hweshio ternyata seorang yang sangat cerdik, mendengar pertanyaan itu lalu mengangkat muka, sepasang sinar mata yang tajam terus menatap muka Hee Thian Siang, kemudian berkata;

"Bagaimana Siao-sicu dapat mengetahui asal-usul pinceng? Kau barangkali sudah bertemu dengan suheng atau sute pinceng entah berada dimana?"

"Dugaanmu tidak salah, diluar lembah kematian digunung Cong-lam, aku pernah bertemu dengan Tay-lek-thian-cun Siong Song Hut!"

"Oh! Itu adalah sam-suteku Goan-ti, pinceng dalam urutan empat orang itu termasuk nomor dua, orang-orang memberi julukan kepada pinceng Chit-po-thian-cun To-chu-hut, entah bagaimana sebutan yang mulia sicu berdua?" Cin Lok Pho menjawab sambil tertawa;

"Aku orang tua ini bernama Cin Lok Pho, dan laote ini bernama Hee Thian Siang, Bolehkah aku bertanya, apakah yang Taysu maksudkan sebagai jasa besar dalam tindakan Taysu merintangi perjalanan kami berdua?"

"Ada beberapa orang yang semuanya memiliki kepandaian yang sangat tinggi, hendak membasmi kawanan setan-setan dedemit ditempat ini, oleh karenanya, maka dalam perjalanan kedepan sepuluh pal ini, hampir sudah berubah menjadi daerah maut, Pinceng kuatir sicu berdua masih belum tahu, supaya jangan terperosok kedalamnya, dan supaya sicu berdua jangan sampai mengantarkan nyawa dengan cuma- cuma, maka Pinceng lalu mencegah kedua sicu ini dari bahaya maut, Bukankah ini merupakan satu jasa baik?" berkata Goan-thong sambil tertawa.

Hee Thian Siang tahu siapa-apa yang dimaksudkan oleh Goan-thong Taysu, Yang dimaksud dengan orang-orang yang berkepandaian tinggi, bukan lain daripada Pek-kut Ie su, Khi Tay Cao dan lain-lain, sedangkan yang dimaksud sebagai kawanan iblis dedemit, tentunya Peng-pek Sinkun suami-istri dan Leng Pek Ciok dari Swat-san-pay!

"Meskipun maksud Taysu baik ingin berbuat baik terhadap sesama manusia, tetapi aku dengan Cin Locianpwe ini, mungkin sudah ditakdirkan harus menempuh bahaya besar ini, karena ada urusan penting, untuk mengurus urusan kami yang maha penting!"

"Sicu berdua ada urusan penting apa? Apakah perlu kiranya harus menempuh bahaya besar ini ?"

"Kami perlu segera pergi kekutub Hian-peng-goan digunung Tay-swat-san, untuk menghadiri pertemuan besar para jago!" Goan-thong Hweshio mendengar disebutnya nama kutub Hian-peng-goan, sikap diwajahnya semula tercengang, tetapi setelah mendengar ucapan Hee Thian Siang tadi, sebaliknya malah bertanya dengan perasaan heran;

"Apa yang sicu maksudkan dengan pertemuan besar para jago ?"

"Ketua Swat-san-pay Peng-pek Sinkun dan istrinya Mao Giok Ceng, oleh karena peristiwa yang terjadi digunung Bu- tong atas perbuatan orang-orang Ceng-thian-pay yang melakukan pembunuhan besar-besaran digunung itu sangat marah sekali, maka bersama-sama ketua partai Ngo-bi Hian- hian Sianlo dan Hong-tim Ong-khek, Leng Biauw Biauw serta Tang Siang Siang dan yang lain-lainnya yang mengasingkan diri digunung Kong-le-kong-san, telah mengundang banyak tokoh rimba persilatan hendak memprakarsai untuk minta keadilan kepada Ceng-thian-pay, dan akan merundingkan bagaimana harus menghadapi Ceng-thian-pay yang bertindak secara kejam! Dalam pertemuan itu, dinamakan pertemuan besar para jago golongan kebenaran, Taysu adalah seorang terkenal didaerah Barat, apakah tidak mengetahui urusan ini? Apakah tidak mendapat undangan dari Peng-pek Sinkun suami-istri?"

Goan-thong Hweshio sama sekali tidak mengetahui bahwa ucapan Hee Thian Siang itu se-mata hanya karangan belaka, maka setelah dipikirnya sejenak, lalu memberi jalan kepadanya, sementara mulutnya berkata;

"Sicu berdua karena ada urusan penting, maka pinceng juga tidak berani merintangi, Semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi sicu berdua, jangan sampai terlibat oleh kawanan setan itu!"

Hee Thian Siang sejak mengetahui nama julukan Goan- thong Hweshio itu, ia merasa curiga bahwa padri itu pandai menggunakan senjata rahasia yang sangat berbisa. Kini ketika melihat padri itu memberi jalan kepadanya, maka bersama-sama Cin Lok Pho melanjutkan perjalanannya, tetapi tidak lupa ia mengerahkan ilmunya Kian-thian-khi-kang dan menyiapkan jaring wasiatnya untuk menjaga-jaga serangan gelap dari padri itu.

Diluar dugaannya, Goan-thong tidak bertindak sesuatu apapun, maka Hee Thian Siang bersama Cin Lok Pho buru- buru melanjutkan perjalanannya kekutub Hian-peng-goan.

Setelah melalui beberapa jalanan dibawah kaki gunung, Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho memperhatikan keadaan disekitarnya, mereka tahu bahwa disitu tidak terdapat bayangan orang, maka Cin Lok Pho lalu berkata kepada Hee Thian Siang;

"Hee laote, karanganmu tentang pertemuan besar para jago tadi pasti ada mengandung maksud dalam!"

"Cin Locianpwe, menurut apa yang kita ketahui, gerakan Ceng-thian-pay kali ini yang ditujukan kepada partai Swat-san- pay, kira-kira menggunakan kekuatan berapa banyak orang?"

"Yang sudah datang lebih dulu ialah Pek-kut Ie su dan Khi Tay Cao, yang belum tiba Pek-kut Siancu, Thiat-koan totiang dan beberapa anak buah Ceng-thian-pay, diantara mereka masih ditambah lagi Goan-thong Hweshio!"

"dengan kekuatan mereka seperti itu, apakah kiranya Swat- san-pay ditambah dengan Locianpwe dan Hee Thian Siang berdua, dapat melawan serangan mereka?"

Cin Lok Pho berpikir dulu agak lama, baru menjawab: "Peng-pek Sinkun suami-istri bersama Swat-san  Peng-lo

Leng Pek Ciok, meskipun semuanya memiliki kepandaian ilmu yang sangat tinggi, tetapi hanya dapat menghadapi orang- orang seperti Thiat-koan totiang dan Khi Tay Cao! Tetapi bukanlah tandingan Pek-kut Ie su dan Pek-kut Siancu! sekalipun ditambah laote dengan aku sendiri, kekuatan kedua belah pihak masih berselisih sangat jauh, hingga sulit untuk mengadakan perlawanan."

"Jikalau dikutub Hian-peng-goan itu, seperti apa yang Hee Thian Siang ucapkan tadi, masih ada Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong, Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang ketiga Locianpwe serta ketua Ngo-bie Hian-hian Sianlo, bagaimana situasinya?"

"May, Leng dan Tang bertiga bukanlah orang-orang sembarangan, Kalau ditambah lagi dengan ketua Ngo-bie-pay, selain ancaman bahaya bisa disingkirkan, malah sebaliknya bisa merebut kemenangan!" berkata Cin Lok Pho sambil tertawa.

"Justru oleh karena merasa sulit untuk menyingkirkan bahaya itu, maka Hee Thian Siang tadi sengaja mengarang cerita bohong demikian, untuk menggertak mereka! Khi Tay Cao adalah seorang licik yang banyak sekal akalnya, Mungkin dia belum tentu mau percaya benar-benar, tetapi setidak- tidaknya ia juga akan berpikir dan memeriksa lebih dahulu untuk mengambil keputusan, atau mengutus orang-orangnya untuk mengadakan penyelidikan! Taktik ini setidak-tidaknya dapat dipakai menunda waktu dari lawan, sehingga kita masih bisa mendapatkan banyak kesempatan untuk mengadakan perundingan dengan Peng-pek Sinkun!"

"Kiranya Hee laote telah menggunakan siasat mengosongkan kota, Coba kalau tadi menyebut nama ketua Ngo-bie-pay Hong-tim Ong-khek bertiga itu lebih baik, Karena Pek-kut Siancu dan Thiat-koan totiang yang hendak menggempur Ngo-bie-san sudah menubruk tempat kosong, bila dihubung-hubungkan kata-katamu kepada mereka, maka Khi Tay Cao ada kemungkinan besar akan percaya, Dan siapa tahu oleh karena mereka akan segera mengundurkan diri!" "Mengundurkan diri atau tidak itu adalah urusan mereka, Sebab, meski Swat-san-san-pay sedikit orangnya tetapi Hee Thian Siang pernah dengar keterangan enci Tiong-sun, kutub Hian-peng-goan itu merupakan suatu tempat yang strategis, mudah untuk mengadakan penjagaan, sulit untuk digempur! Jikalau kita mempunyai kesempatan baik untuk membantu Swat-san-pay dalam pertarungan dengan kaum penjahat Ceng-thian-pay ini, rasanya boleh juga!"

"Hee laote, dimasa muda aku pernah ikut dalam suatu perjuangan menjadi tentara, Jikalau benar kita harus melakukan pertempuran besar-besaran dengan Ceng-thian- pay, pengertianku dan pengalamanku dalam peperangan mungkin masih ada gunanya!"

"Cin Locianpwe, Hee Thian Siang tanggung bahwa pengetahuan dan pengalaman yang Locianpwe miliki dapat dipergunakan dikutub Hian-peng-goan nanti, bahkan akan menunjukkan keunggulannya! Sebab Khi Tay Cao yang datang dari jauh dengan sepenuh tenaga, tidak mungkin dapat digertak dengan begitu saja, lalu mengundurkan diri oleh ucapanku tadi!"

Kedua orang itu berjalan terus, dan menjelang subuh mereka sudah mendaki puncak gunung Swat-san yang terdapat tulisan besar 'HIAN PENG GOAN'.

Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho segera melaporkan namanya kepada penjaga pintu gerbang, dan anak buah Swat-san-pay segera pergi melapor kepada ketuanya, yang berdiam digoa Kong-han-tong.

Tak lama kemudian, suara tertawa nyaring tiba-tiba terdengar, Swat-san Peng-lo Leng Pek Ciok adalah orang yang pertama-tama lari menyongsong, sedangkan ketua Swat-san-pay Peng-pek Sinkun bersama istrinya Mao Giok Ceng, kedua-duanya juga telah keluar dari istananya digoa Kong-han-tong untuk menyambut kedatangan tetamunya. Cin Lok Pho maju beberapa langkah, berkata sambil mengangkat tangan dan memberi hormat sambil tertawa;

"CinLok Pho dan Hee Thian Siang, tidak berani menerima sambutan yang sedemikian dari Ciangbunjin sendiri!"

"Cin Locianpwe dan Hee laote berkunjung kemari, merupakan suatu kehormatan besar sekali bagi kami, silahkan masuk kekediaman kami digoa Kong-han-tong untuk beromong-omong!" Sehabis berkata demikian, kedua suami- istri itu mengajak kedua tamunya kegoa Kong-han-tong.

Nama goa Kong-han-tong itu benar-benar sesuai dengan keadaan tempatnya, Goa itu bukan saja sangat luas, tetapi juga sejuk hawanya, Dimusim panas seperti ini, juga tidak merasakan hawa panas sedikitpun juga.

Setelah minum teh, Peng-pek Sinkun yang pertama bertanya kepada Hee Thian Siang;

"Hee laote, sejak berpisah digunung Ki-lian, kau sudah pergi pesiar kemana saja?"

"Pulang kegunung Pak-bin menengoki suhu." menjawab Hee Thian Siang.

"Apakah suhumu ada baik-baik saja?" bertanya Mao Giok Ceng sambil tersenyum.

"Suhu sudah menutup mata!" menjawab Hee Thian Siang dengan suara sedih.

"Aaaaa! Seorang beribadat yang sudah mencapai tingkat sempurna sehingga pulang kesorga, sebetulnya merupakan suatu hal yang sangat menggembirakan, Terutama dalam golongan Pak-bin, mempunyai murid seperti Hee laote yang demikian cerdas, sudah cukup untuk menegakkan nama baik Pak-bin, seharusnya gurumu juga sudah merasa puas dan tidak ada yang mesti dibuat keberatan lagi!" berkata Mao Giok Ceng.

Peng-pek Sinkun setelah menghiburi Hee Thian Siang dengan beberapa patah kata, lalu bertanya kepada Cin Lok Pho sambil tertawa;

"Cin Locianpwe, mengapa Locianpwe bisa berjalan bersama-sama dengan Hee laote? Dan kedatangan Cin Locianpwe kegunung ini, pasti ada urusan penting, Urusan apa itu?"

Selagi Cin Lok Pho hendak menjawab, Hee Thian Siang sudah mendahului;

"Sinkun, Sinkun jangan bertanya dulu kepada kami, sekarang aku hendak bertanya dulu kepada Leng Toako sebentar!"

Leng Pek Ciok bertanya sambil tersenyum;

"Hee laote hendak menanyakan soal apa padaku?"

"Aku hanya ingin bertanya kepada Leng Toako sejak pertemuan digunung Ki-lian itu, apakah anak buah Swat-san- pay pernah bergerak dikalangan Kang-ouw?"

"Ciangbunjin kami telah melihat tanda bahwa rimba persilatan akan terancam bencana besar, maka sejak kembali dari gunung Ki-lian lalu mengadakan persiapan dan melatih semua anak buahnya dengan tekun, untuk mempelajari kepandaian ilmu golongan kami, Jadi tiada seorangpun yang keluar dari daerah gunung Swat-san!" menjawab Leng Pek Ciok sambil menggelangkan kepala.

Mendengar jawaban demikian, Hee Thian Siang lalu berkata kepada Cin Lok Pho; "Kalau demikian halnya, Sinkun dan lain-lainnya bukan saja masih belum mengetahui bahwa partai Ngo-bie sudah diserbu dan kuil Kun-lun-to-i sudah dibakar, bahkan orang-orang Ceng-thian-pay yang membasmi partai Bu-tong, juga masih belum mendengar kabar?"

Peng-pek Sinkun terkejut mendengar ucapan itu, buru-buru bertanya;

"Hee laote, apa katamu tadi? Benarkah kawanan penjahat Ceng-thian-pay sudah membakar kuil Kun-lun-to-i digunung Ngo-bie dan membasmi partai Bu-tong?"

"Kawanan penjahat Ceng-thian-pay Khi Tay Cao, dibantu dengan anggota pelindung hukumnya Pek-kut Ie su dan Pek- kut Siancu, bersama-sama Thiat-koan totiang, setelah pertemuan pembukaan partai barunya itu, telah mengeluarkan semua anak buahnya, dengan kecepatan bagaikan kilat menyerbu kuil Sam-goan-koan digunung Bu-tong, Hong-kong Totiang dan It-tim-cu telah gugur dalam medan pertempuran, sedangkan ketuanya ialah Hong-hoat Cinjin belum diketahui dimana jejaknya. " berkata Cin Lok Pho.

Berita itu, benar-benar telah mengejutkan Peng-pek Sinkun suami-istri dan Swat-san Peng-lo Leng Pek Ciok.

Sementara itu Cin Lok Pho sudah melanjutkan ucapannya; "Tangan kawanan penjahat Ceng-thian-pay yang masih

berlepotan darah, kedua kalinya ditujukan kepada partai Ngo- bie. "

Mao Giok Ceng lantas berseru!

"Kekuatan Ngo-bie, masih tidak lebih kuat dari pada Bu- tong, bukankah kini sudah mengalami nasib serupa?" "Untung ketua Ngo-bie-pay Hian-hian Sianlo sudah mengetahui gelagat tidak baik, Lebih dahulu bersama-sama anak buahnya siang-siang sudah menyingkir, sehingga terluput dari bahaya maut! Tetapi kawanan penjahat Ceng- thian-pay masih belum puas, kemarahan mereka telah dialihkan kekuil Kun-lun-to-i yang tidak berdosa, sehingga dibakar habis!" berkata Cin Lok Pho.

Peng-pek Sinkun menghela napas panjang, ia kemudian berkata sambil menatap istrinya dan Leng Pek Ciok;

"Aku memang sudah melihat gelagat bahwa kawanan penjahat itu mengandung maksud hendak menguasai rimba persilatan, tetapi tidak menduga kalau gerakan mereka bisa demikian cepat! Kini karena gerakan itu sudah dimulai, kawanan panjahat Ceng-Thian-pay sudah pasti akan melanjutkan kejahatannya, Tujuan meraka selanjutnya entah ditujukan kepihak mana ?"

"Tujuan kawanan penjahat Ceng-thian-pay yang ketiga ialah partai Swat-san-pay, mereka bukan saja sudah mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya yang ada, bahkan sudah berserikat dengan kawanan padri jahat dari daerah Barat, sekarang ini sudah berada dibawah kutub Hian-peng- goan." kata Hee Thian Siang.

Leng Pek Ciok terkejut mendengar keterangan itu, sehingga ia terlompat dari tempat duduknya, Sambil memegang kedua tangan Hee Thian Siang ia berkata;

"Hee laote! Apakah ucapanmu ini benar dan bukan sedang bergurau ?"

"Urusan ini sangat penting, mana berani siaote main-main? Kalau Sinkun sudah mengadakan persiapan syukurlah, se- lambat-lambatnya besok pagi atau malam diatas kutub Hian- peng-goan ini, akan terjadi suatu pertempuran yang akan betul-betul sangat dahsyat!" berkata Hee Thian Siang dengan sikap sungguh-sungguh.

Sehabis berkata demikian, ia lalu menceritakan semua apa yang dilihat dan didengar ditengah perjalanan kepada orang Swat-san-pay itu.

Peng-pek Sinkun dan lain-lainnya setelah mendengar ucapan itu selanjutnya tampak berpikir untuk mengatur siasat selanjutnya guna menghadapi musuh.

Cin Lok Pho lalu berkata:

"Sinkun, kita seharusnya menetapkan suatu siasat dulu, baik mengenai siasat preventif atau defensif, kemudian barulah mengatur anak buah yang ada."

Peng-pek Sinkun menganggukkan kepala, lalu berkata; "Cin Locianpwe pasti sudah mempunyai rencana, bolehkah

Sin To Hay mendengar keterangan Locianpwe?"

"Dalam perjalanan Cin Lok Pho ini, sudah merencanakan tiga siasat yang sekiranya dapat digunakan untuk menghadapi musuh kita!"

"Sin To Hay ingin minta keterangan kepada Cin Locianpwe dulu tentang siasat yang terburuk!"

"Siasat yang terburuk ialah menelaah tindakan Ngo-bie- pay, menyingkir lebih dahulu ketempat yang jauh, barulah kita mengambil tindakan selanjutnya!"

Peng-pek Sinkun segera menggelengkan kepala dan berkata;

"Keadaan Swat-san-pay jauh berbeda dengan Ngo-bie-pay, tentu kekuatan tenaga Ngo-bie-pay banyak terdapat perbedaan, sudah tentu kekuatan mereka sangat jauh kalau dibandingkan dengan kekuatan kawanan penjahat Ceng-thian- pay, Kalau mereka menyingkir ketempat jauh, itulah suatu siasat yang paling baik! Tetapi Swat-san-pay mempunyai kekuatan tenaga inti tidak kurang dari tiga puluh orang, mana bisa menyingkir ketempat jauh seluruhnya? Apalagi kita suami-istri tidak rela menyerah mentah-mentah kepada orang- orang Ceng-thian-pay! Sekarang bolehkah Sin To Hay bertanya lagi mengenai siasatmu yang pertengahan itu, bagaimanakah kiranya?"

"Aku juga tahu Sinkun Sin To Sinkun pasti tidak suka mengambil siasat yang terburuk, Siasat pertengahan ialah kita sambut dan hajar mundur musuh yang datang selagi mereka belum sempat mengaso, dan kita kerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk menggempur mereka."

Peng-pek Sinkun yang mendengar ucapan itu, berpikir dulu, kemudian berkata sambil menggoyangkan kepala;

"Kalau menurut keterangan Hee laote tadi, orang-orang Ceng-thian-pay yang datang kemari, bukanlah suatu tenaga ringan, Kalau kita tilik dan memperhitungkan kekuatan mereka dengan kekuatan kita, Sin To Hay merasa walaupun ada bantuan tenaga Cin Locianpwe dan Hee laote, namun kekuatan kedua belah pihak masih selisih agak jauh, maka dari itu siasat menyerang terhadap musuh yang baru datang inipun kurasa malah akan mencari kemusnahan sendiri! Sekarang bagaimana kalau Sin To hay minta Cin Locianpwe menguraikan siasat yang terbaik?"

"Sinkun tidak menyombongkan kekuatan sendiri, sesungguhnya sangat bijaksana, Adapun siasat yang terbaik yang akan kuuraikan ini ialah menggunakan tempat strategis seperti kutub Hian-peng-goan ini, kita mengadakan pertahanan yang cukup kuat, sekali-kali jangan biarkan kawanan penjahat itu maju selangkahpun ketempat kita!" berkata Cin Lok Pho sambil tertawa. Baru saja Cin Lok Pho menutup mulut, Mao Giok Ceng sudah berkata sambil tertawa;

"Letak kutub Hian-peng-goan yang sangat strategis ini memang sangat baik sebagai tempat penjagaan, tidaklah tepat kalau dipakai untuk menyerang, Sebaliknya jika menurut rencana Cin Locianpwe ini, kita lebih dulu boleh bertindak menghadapi musuh kita, kemudian baru kita memikirkan rencana atau siasat lain yang lebih baik, Biarlah kawanan penjahat itu memandang kita sambil menarik napas, bahkan akan pulang dengan tangan hampa!"

Hee Thian Siang lalu mencela;

"Cin Locianpwe dahulu pernah turut dalam latihan keprajuritan sudah tentu banyak mempunyai siasat dalam ilmu peperangan, Barangkali Cin Locianpwe masih mempunyai siasat atau rencana yang baik sekali untuk memukul mundur musuh kita!"

"Hee laote, kau sekarang janganlah memuji dulu, Kita baru saja tiba digunung Tay-pa-san, terhadap keadaan disekitar kutub Hian-peng-goan, aku belum tahu apa-apa, Mana bisa dibilang sudah mempunyai rencana baik untuk memukul mundur musuh? Sebaiknya begini sajalah, Sinkun berdua dan Leng Pek Ciok sekalian yang menentukan siasat, aku bersama Hee laote jikalau mempunyai usul akan memberi sedikit tambahan dan bantuan ala-kadarnya!"

Sin To Hay tahu bahwa ucapan Cin Lok Pho itu memang sebetulnya, bukanlah berarti merendahkan diri, maka lalu berkata kepada Leng Pek Ciok sambil tertawa;

"Coba kau perintahkan semua anak murid Swat-san-pay, supaya lekas mengumpulkan sebanyak mungkin salju-salju diatas kutub ini, ditumpuk diluar pintu gerbang Hian-peng- goan, supaya dapat kita pergunakan setiap waktu!" Leng Pek Ciok lalu menyampaikan perintah itu kepada anak buahnya, Hee Thian Siang tiba-tiba berkata kepada Peng-pek Sinkun;

"Sinkun, Tindakanmu seperti ini, bukankah akan membentuk garis pertahanan pertama yang hendak Sinkun letakkan dimulut kutub Hian-peng-goan?"

Peng-pek Sinkun baru saja menganggukkan kepala, tiba- tiba menyadari bahwa ucapan Hee Thian Siang itu seperti ada mengandung maksud lain, maka ia lalu bertanya kepadanya sambil tersenyum;

"Hee laote, pertanyaanmu tentang garis penjagaan pertama ini, agaknya ada mengandung maksud apa-apa yang lain, Benarkah itu?"

"Situasi pada waktu sekarang ini boleh dibilang musuh lebih kuat dan kita pihak yang lemah, Maka dalam pertempuran devensif digunung Swat-san ini, agaknya perlu ditilik beratkan juga usaha menyelamatkan pihak kita, dan usaha menghancurkan musuh boleh kita letakkan dibagian yang kedua! Apalagi sewaktu Hee Thian Siang datang kemari, pernah mengadakan penyelidikan digunung bawah kutub Hian-peng-goan yang tingginya ada seratus tombak, meskipun cukup tinggi, tetapi tidak terlalu curam, sekalipun kita memperkuat penjagaan dan menjaga sekuat tenaga, barangkali tidak dapat menahan terlalu lama orang-orang yang berkepandaian tinggi seperti Pek-kut Sam-mo, Maka dari itu, menurut pikiran Hee Thian Siang, demi keselamatan semua orang yang ada disini, Hee Thian Siang kira perlu diadakan lagi garis pertahanan kedua, supaya apabila garis pertahanan pertama dikutub Hian-peng-goan ini sampai bobol atau mengalami kesulitan masih ada tempat lain untuk kita mengundurkan diri."

Peng-pek Sinkun dan Mao Giok Ceng kedua-duanya dengan sinar mata kagum mengawasi Hee Thian Siang, baru saja hendak menjawab, Cin Lok Pho telah berkata lebih dahulu sambil tertawa terbahak-bahak;

"Hee laote, ucapanmu ini berarti mengetahui keadaan sendiri lebih dulu harus tahu keadaan lawan, Hati-hati diwaktu maju tetapi juga tidak melupakan jalan mundur, Inilah memang merupakan suatu siasat yang tepat dalam ilmu kemiliteran! Sinkun cobalah pikir masak-masak, diatas kutub Hian-peng- goan ini, apabila masih ada tempat yang lebih strategis lagi atau tidak, untuk kita pertahankan sebagai basis yang terakhir?"

Peng-pek Sinkun yang mendengar pertanyaan itu, baru saja memikirkan tempatnya yang ditanyakan oleh Cin Lok Pho, Mao Giok Ceng tiba-tiba bertanya kepadanya sambil tersenyum;

"bagaimana kalau lembah Phian-han-kok saja kita jadikan untuk benteng pertahanan kita?"

"Dari enci Tiong-sun, Hee Thian Siang pernah mendapat keterangan keadaan lembah Phian-han-kok itu, Memanglah lembah itu merupakan suatu tempat yang paling baik! Sinkun agaknya perlu segera perintahkan anak buah Swat-san-pay ber-siap-siap, pilihlah orang-orang yang terkuat dan terpandai kira-kira lima orang, jadi bersama kita semuanya sepuluh orang menjaga digaris pertahanan pertama, anak murid yang lainnya dan barang-barang penting semuanya harus dipindahkan dan ditaruh didalam lembah Phian-han-kok terlebih dahulu!"

"Pikiran Hee laote seperti ini memang benarlah adanya," berkata Peng-pek Sinkun sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Ia berdiam sejenak, kemudian berpaling dan berkata pada Swat-san Peng-lo Leng Pek Ciok; "Saudara Leng tolong samnpaikan lagi perintahku, suruh tinggal disini Liau Peng Thiu, Kan Siong Swat-hay-ji Ie kao, Peng-san-hui-hiong Sun Kiu Siao, bersama-sama Leng Eng dan Leng Kiat! Semuanya harus membawa cukup senjata Peng-pek-gin-kong, mereka harus ikut dan bersama kita mempertahankan garis pertama Hian-peng-goan dari serangan musuh! Anak murid yang lainnya, semuanya suruh bawa barang-barang penting lebih dulu menyingkir kelembah Phian-han-kok! katakanlah sebelum mendapat perintah bergerak, jangan lakukan tindakan apa-apa lebih dulu!"

Leng Peng Ciok menerima baik perintah itu, sementara itu Cin Lok Pho seolah-olah mendapat pikiran lagi, biji matanya nampak berputaran seolah-olah sedang memikirkan siasat baru.

Mao Giok Ceng yang menyaksikan hal itu, lalu bertanya sambil tersenyum;

"Cin Locianpwe agaknya sudah mendapat pikiran lain yang lebih baik lagi, Benarkah dugaanku ini?"

"Aku pikir, baiknya Phian-han-kok dijadikan garis pertahanan ketiga saja!"

"Habis Cin Locianpwe hendak memindahkan garis pertahanan kedua ketempat mana?" bertanya Peng-pek- Sinkun sambil tertawa.

"Tadi sewaktu aku masuk kegoa Kong-han-tong ini, se-olah melihat goa ini bukan saja terdapat banyak lobang, tetapi samar-samar rasanya juga ada mengandung Im-yang-ngo- heng!"

Mao Giok Ceng diam-diam mengagumi ketajaman mata Cin Lok Pho, ia menganggukkan kepala dan menjawab sambil tersenyum; "Didalam gunung es ini, seluruhnya mempunyai seratus delapan lobang goa, goa-goa itu satu sama lain saling berhubungan, memang dibentuk menurut barisan Ngo-heng, hanya ada satu tempat saja yang merupakan jalan keluar yang tepat!"

"Menurut keterangan Sin-hui dulu, apabila kita pada penjagaan garis pertama telah terpukul oleh musuh, maka kita boleh memancing mereka masuk kepuncak gunung salju ini, Bukankah dengan demikian mereka akan jadi bingung dan kehilangan arah? Waktu itulah baru kita turun tangan dan basmi mereka!" berkata Cin Lok Pho.

Tapi dengan tiba-tiba ia seperti menemukan sesuatu yang lainnya, lalu berkata sambil menggelengkan kepala; "Tidak kena! Kita tidak dapat menggunakan tempat bersalju yang sangat indah ini sebagai garis pertahanan kedua, Betul kita dapat membuat kawanan penjahat itu tersesat tidak bisa keluar, bahkan ada kemungkinan dapat membunuh mereka, tetapi seandainya mereka marah marena malu dan kemudian merusak tempat yang indah ini. "

Peng-pek Sinkun memotong sambil menggoyangkan tangannya;

"Cin Locianpwe tidak perlu pikirkan soal ini, seandai benar kawanan penjahat Ceng-thian-pay itu menghancurkan goaku Kong-han-tong ini, diatas kutub Hian-peng-goan aku dapat membangun sepuluh Kong-han-tong lagi! Apalagi bilamana mereka berada didalam goa, berani melakukan tindakan keras, seandai gunung-gunung salju itu rubuh dan mengubur mereka dalam dunia ini bukankah akan menjadi bersih dari kawanan penjahat?"

Istri Peng-pek Sinkun Mao Giok Ceng bertanya kepada Cin Lok Pho; "Cin Locianpwe, kapan kira-kira kawanan penjahat Ceng- thian-pay itu akan datang kemari? Apakah kira-kira kita masih mempunyai cukup waktu untuk mengadakan persiapan. ?"

Belum habis ucapannya, anak buah Swat-san-pay yang tadi diutus untuk mengumpulkan banyak salju diatas Hian- peng-goan, sudah balik kembali dengan laporannya;

"Unjuk beritahu, dibawa Hian-peng-goan sudah nampak tidak sedikit orang-orang Kang-ouw, agaknya ada mengandung maksud hendak menyatroni tempat kita!"

Cin Lok Pho mendengar ucapan itu, sesaat tampak terkejut, kemudian berkata;

"Kaum penjahat Ceng-thian-pay bagaimana dapat datang sedemikian cepat? Apakah mereka merobah siasatnya dengan tiba-tiba?"

"Didalam kawanan penjahat itu, ternyata terdapat tokoh- tokoh terkemuka yang disegani, sesungguhnya tidak boleh dipandang ringan! Pribahasa ada kata, 'Tentara datang harus ditahan oleh perwira, air membanjir harus dibendung oleh tanah' Kalau benar musuh kita sudah berada dibawah kutub Hian-peng-goan, kita boleh persilahkan mereka untuk mencicipi gumpalan salju diatas gunung Tay-swat-san, supaya mereka tahu bagaimana rasanya." berkata Mao Giok Ceng. Lalu berpaling dan berkata pula kepada Leng Pek Ciok: "Saudara Leng, lekaslah pimpin anak buah golongan kita, bawa barang-barang penting, pindahkan kedalam lembah Phian-han-kok, dan bentuk garis pertahanan ketiga! Setelah urusan selesai, lekas kembali ke Hian-peng-goan untuk menyambut kedatangan musuh!"

Leng Pek Ciok menerima perintah itu, lekas-lekas mengundurkan diri dari goa Kong-han-tong.

Mao Giok Ceng berkata lagi pada suaminya; "Aku hendak pergi dulu kekutub Hian-peng-goan untuk mengadakan persiapan, kau bersama Cin Locianpwe dan Hee laote boleh mengatur dulu barisan Pat-kwa-kiu-kiong didalam goa ini beserta jalan-jalan rahasianya yang dapat menyesatkan musuh, Setelah semua selesai, segera susul aku kesana!"

Sehabis berkata begitu, ia lalu minta diri kepada Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang, pergi dulu keatas kutub Hian-peng- goan, guna mengatur dan mengadakan persiapan!

Oleh karena pihak musuh sudah berada dibawah kutub Hian-peng-goan dan waktu mendesak, maka Peng-pek Sinkun buru-buru mengajak Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang berjalan mengitari seluruh goa bahkan menunjukkan letak- letaknya barisan Pat-kwa-kiu-kiong, Dalam peninjauan itu, Hee Thian Siang juga menemukan beberapa lobang angin.

Hee Thian Siang lalu bertanya sambil tersenyum; "Sinkun, apa gunanya lubang-lubang angin ini ?"

Peng-pek Sinkun setelah menanyakan Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang berdua, apakah mereka sudah ingat benar- benar jalanan didalam goa itu, maka sambil menuju kekutub Hian-peng-goan, ia menjawab pertanyaan Hee Thian Siang;

"Lubang-lubang angin tadi, semuanya adalah lubang- lubang ciptaan alam, lubang-lubang itu setiap waktu-waktu tertentu selama dua jam pasti mengeluarkan angin yang sangat dingin sekali, terutama bagian yang ditengah-tengah, Angin dari situ bukan saja dingin, juga tajam sekali bagaikan pisau belati, kami suami-istri dengan susah-payah barulah berhasil dapat mengendalikan lubang-lubang angin itu menurut sesuka hati kami!"

Cin Lok Pho merasa heran, maka lalu bertanya; "Angin-angin dingin yang berhembus dari lubang-lubang itu, kalau memang benar sedemikian hebatnya dan susah dilawan, sebaiknya kita tutup saja, perlu apa mesti kita buka dan tutup?"

"Cin Locianpwe tidak tahu, dalam golongan Swat-san-pay kami, ada semacam ilmu yang dinamakan Cu-ngo-im-hong- ciang, Sewaktu melatih ilmu itu, justru amat memerlukan bantuan dari hembusan angin dari lubang itu!"

Hee Thian Siang tiba-tiba mendapat suatu akal, katanya sambil tertawa;

"Sinkun, sebentar seandai kekuatan kawanan Ceng-thian- pay itu terlalu hebat, dan kutub Hian-peng-goan perlu kita lepaskan, maka kita harus bisa pancing musuh supaya masuk kedalam garis pertahanan kedua didalam goa ini, Setelah mereka masuk kedalam sini, selanjutnya kita boleh buka lubang angin yang sangat dingin itu, biar kawanan penjahat itu merasa dinginnya hembusan angin dari dalam goa ini!"

Peng-pek Sinkun mengganggukan kepala dan berkata; "Pikiran Hee laote ini memang benar, siasat ini merupakan

siasat yang sangat bagus, jikalau kita sudah benar-benar tidak

dapat mempertahankan garis pertahanan yang pertama, kita boleh segera jalankan siasat itu!"

Ketika Peng-pek Sinkun bertiga sudah didekat pintu gerbang kutub Hian-peng-goan, dan berjalan mendekati ketempat Mao Giok Ceng berdiri, dibawah gunung benar saja tampak disitu puluhan orang rimba persilatan yang berkumpul, tetapi oleh karena letak gunung itu terlalu tinggi, setidak- tidaknya terpisah enam tujuh pal dari permukaan laut, hingga tidak dapat terlihat tegas wajah-wajah orang itu.

Mao Giok Ceng lalu berkata sambil tertawa; "Musuh sudah berkumpul dibawah gunung, rupanya sudah lama mereka berkumpul disitu, Tetapi anehnya, mengapa hingga sekarang masih belum terlihat pergerakan apapun dari mereka? Mungkinkah mereka sedang menduga-duga apakah kita mempunyai persiapan? Atau mungkin mereka sedang merundingkan caranya untuk menggempur tempat ini?"

"Musuh memilih waktu musim panas seperti ini untuk menggempur gunung Swat-san, mungkin pikiran mereka dapat mengurangi rintangan dari alam, Tetapi mana mereka tahu kalau kutub Hian-peng-goan ini keadaannya lain dari yang lain? Setiap tahun salju disini tidak pernah mencair, oleh karena seluruh gunung diliputi salju, sudah tentu mereka harus berunding dulu untuk mengambil tindakan selanjutnya!" kata Peng-pek-Sinkun.

Cin Lok Pho memandang keadaan sekitar lutub Hian-peng- goan, Tampak dibagian depan kira-kira empat puluh tombak agak kekanan, ada terdapat tebing menjulang tinggi namun tidak besar, Sedang disebelah belakang, kira-kira sepuluh tombak tebing-tebingnya menjulang tinggi kelangit, betapapun hebat ilmu meringankan tubuh seseorang juga memerlukan dua tiga kali gerakan meloncat baru dapat mendaki kepuncaknya.

Dikedua samping puncak gunung itu, sudah ditumpuki oleh salju-salju yang dilakukan oleh anak murid Swat-san-pay atas perintah ketuanya, sehingga tercipta sebuah bukit salju yang kecil, dan sebuah puncak es. Kedua-duanya ini disiapkan untuk menahan majunya musuh.

Hee Thian Siang memperhatikan gunung es buatan itu, sementara otak berputar, kemudian berkata kepada Mao Giok Ceng;

"Mao Sinhui, kawanan penjahat Ceng-thian-pay itu, setelah selesai mengadakan perundingan mereka pasti akan mendaki gunung ini seluruhnya, mungkin mereka akan mendaki dulu gunung yang tidak besar yang setinggi kira-kira empatpuluh tombak lebih itu saja, kemudian masing-masing menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk menyerbu keatas kutub Hian-peng-goan!"

"Dugaan Hee laote ini sangat tepat, aku juga berpikir begitu!" berkata Mao Giok Ceng sambil menganggukkan kepala.

"Tetapi bukit salju yang menjulang kelangit kira-kira duapuluh tombak lebih ini, setidak-tidaknya mereka memerlukan gerakan tiga kali menaik, dan menancap kaki ditebingnya paling sedikit dua kali barulah bisa sampai tiba dipuncaknya! Sebaiknya kita bersikap tenang saja, jangan melakukan gerakan apa-apa dulu, tunggu sampai musuh masuk kedua kali menggunakan ilmunya untuk mendaki keatas, dan tepat ketika mereka tancapkan kaki didinding gunung, karena tidak mendapat kekuatan untuk berpijak, kekuatan tenaga mereka pasti hampir habis, barulah kita mengerahkan tenaga kita untuk menyambut dan menyerang kepada mereka! Serangan semacam ini, oleh karena pihak musuh sulit untuk mengelakkan diri, lagi pula sudah berada ditempat setinggi sepuluh tombak lebih, jikalau mereka terkena serangan oleh gumpalan salju yang menggulundung turun kebawah, penderitaan ini pasti berat bagi mereka!" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Siasat Hee laote ini sangat bagus, baiklah aku memerintahkan kepada mereka supaya bertindak seperti apa yang Hee laote ucapkan tadi, tidak boleh menjadi kalut! Dan seandai kita tidak dapat berhasil menahan majunya musuh, apabila musuh itu sudah hampir merebut kutub Hian-peng- goan, kita semua harus menggunakan Peng-pek-gin-kong untuk melawan!" berkata Mao Giok Ceng sambil menganggukkan kepala. Pada waktu itu, kawanan penjahat Ceng-thian-pay benar- benar seperti apa yang diduga oleh Hee Thian Siang, semuanya sudah mulai mendaki keatas gunung.

Cin Lok Pho tahu bahwa kedua belah pihak sudah siap hendak melakukan pertempuran besar-besaran, maka lalu berkata kepada Peng-pek Sinkun dengan suara perlahan;

"Sinkun, senjata salju yang membuka ini meskipun hebatnya tidak kalah dari senjata rahasia biasa, tetapi terhadap tokoh-tokoh kuat seperti Pek-kut Siang-mo, barangkali. "

Peng-pek Sinkun yang tahu benar kekuatan dan kepandaian Pek-kut Ie su dan Pek-kut Siancu maka mendengar ucapan itu lalu berkata;

"Kekuatan dan kepandaian ilmu Pek-kut Siang-mo, memang lebih tinggi dari pada kekuatan kita, memang sudah seharusnya kita pandang mereka dengan kaca-mata lain!"

Sambil bicara, ia menyerahkan kepada Cin Lok Pho sebuah kantong kulit dan sebuah sarung tangan kulit berwarna putih, setelah itu ia berkata lagi sambil tertawa;

"Ini adalah senjata Peng-pek-sin-sa yang jauh lebih hebat dari pada Peng-pek-gin-kong, harap Cin Locianpwe bersama Hee laote nanti memusatkan perhatian kepada Pek-kut Ie su dan Pek-kut Siancu, Kalau dua iblis itu lompat naik kesini, kita boleh segera hadiahkan mereka senjata-senjata Peng-pek- sin-sa ini, jangan sekali-kali dibiarkan mereka naik keatas kutub Hian-peng-goan ini!"

Cin Lok Pho menerima baik pemberian itu, pada saat itu, kawanan penjahat Ceng-thian-pay sudah berhasil melalui jalanan gunung yang tidak rata, dan sudah tiba ditempat yang tinggi menjulang kelangit dan agak susah didaki, oleh karenanya, maka orang itu bukan saja dapat dengan mudah dikenali wajahnya, sedang suara pembicaraan dan tertawa mereka juga dapat didengar dengan nyata.

Hee Thian Siang yang menyembunyikan diri diatas kutub Hian-peng-goan, matanya tetap ditujukan kebawah.

Ia segera dapat mengenali bahwa diantara orang-orang yang datang itu terdapat Pek-kut Ie su, Khi Tay Cao, Thiat- koan totiang, Pek-thao Losat Pao Sam-kow, Cong Ki, Tho-hoa Nio-cu Ki Liu Hiang, Lui Hoa dan Goan-thong Hweshio serta dua orang yang masih asing wajahnya, Mereka itu mengenakan rupa-rupa dandanan yang aneh-aneh, Jumlah seluruhnya ada sepuluh orang, tetapi diantara mereka tidak ada Pek-kut Siancu!

Peng-pek Sinkun dengan menggunakan suara yang sangat perlahan berkata;

"Sepuluh orang menyerang, sepuluh orang bertahan, Kedua belah pihak sama jumlahnya, siapapun tidak ada yang dirugikan! Tetapi mengapa Pek-kut Siancu tidak tampak dalam barisan mereka?"

Hee Thian Siang lalu bertanya kepada Peng-pek Sinkun; "Sinkun, apakah ditempat ini  masih ada jalan lain yang

dapat digunakan untuk mendaki kekutub ini ?"

"Keadaan kutub Hian-peng-goan ini sangat aneh, kecuali dibagian depan ada terdapat bukit yang agak rendah, dan dapat digunakan orang untuk jalan naik turun, sekelilingnya semua dikitari oleh puncak gunung salju yang tingginya ratusan tombak, sekalipun binatang seperti kera juga sulit untuk naik sampai kepuncaknya!" jawab Peng-pek Sinkun sambil menggelengkan kepala.