Makam Bunga Mawar Jilid 24

 
Jilid 24

Hee Thian Siang heran atas apa yang dilihat dihadapan matanya, mendengar pertanyaan Cin Lok Pho yang seperti juga ditujukan padanya sendiri itu, sambil menggelang- gelengkan kepala kemudian katanya:

"Jelas, memang ada yang menempati lembah, tetapi dari kata-kata sombong yang menyatakan yang masuk kelembah akan mati, sudah jelas ia pasti bukan Liok Giok Ji adanya ?" "Kalau demikian halnya, apakah perlu masuk atau tidak ?"

"Oleh karena adanya sikap sombong dari tulisannya yang berbunyi barang siapa masuk lembah akan mati itu, kita juga harus masuk untuk melihat kawanan iblis siapa sebetulnya yang berdiam didalam lembah ini ?" menjawab Hee Thian siang dengan sinar mata berkilauan.

"Masuk kedalam juga baik, aku juga ingin melihat bagaimana orang itu suruh kita mati dengan cara bagaimana

?"

Hee Thian Siang diam-diam mengerahkan ilmu kepandaiannya, bersama-sama Cin Lok Pho masuk kedalam gua, bahkan sudah menyiapkan jaring wasiatnya warna merah, untuk menggunakan setiap waktu.

Dalam goa itu keadaannya galap gulita, dua orang itu karena sengaja hendak mengadu kesaktian dengan orang mengasingkan diri didalam lembah kematian itu, tidak perlu sembunyi-sembunyi, maka setelah masuk kedalam goa, mereka pada menyalakan api sebagai penerangan.

Hee Thian Siang berkata sambil tertawa:

"Partai-partai Tiam-cong dan Ki-lian, setelah menggabungkan diri membentuk partai Ceng-hian-pay, lalu berdiam digunung Ki-lian, Pak-kut Thian kun, salah satu dari Pek-kut sam-mo, berdiam di goa Thian-mo-hok digunung Tay- pa-san, sedang Pek-kut Ie su berdiam di lembah setan jahat gunung Lao-san, sementara Pek-kut siancu berdiam didalam lembah bambu merah di gunung Ay-loa-san. Selain mereka, raja siluman Pat-bo yao-ong dan kawanan iblis dari negeri luar, berdiam jauh di luar perbatasan! Aku benar-benar tidak dapat memikirkan iblis siapa yang mendiami lembah kematian ini ?" "Orang-orang ajaib yang berkepandaian tinggi, yang sudah banyak tahun belum muncul di rimba persilatan, kini pada unjuk diri lagi, bagaimana kita bisa mengenali semuanya? Tetapi ini juga merupakan suatu firasat, jelas dalam waktu yang tidak lama, rimba persilatan pasti akan mengalami bencana hebat !"

Mereka mengobrol sambil berjalan, setelah melalui perjalanan yang berliku-liku itu, dalam goa itu ada selapis dinding yang merintangi perjalanan mereka !

Cin Lok Pho berkata sambil menunjuk lubang di atas dinding yang hanya kira-kira satu kaki lebarnya:

"Perlengkapan ini, jelas dibuat oleh tangan manusia, bukanlah ciptaan alam, maka dalam lembah kematian ini, pertama-tama pasti merupakan tempat mengasingkan diri bagi seorang berilmu tinggi, hanya entah bagaimana kemudian digunakan oleh orang-orang rimba persilatan, sebagai tempat melakukan pertandingan mati-matian !"

Berkata sampai disitu, Hee Thian Siang tiba-tiba mengangkat api obornya dan berkata sambil tersenyum :

"Locianpwee lihat, di atas goa ini, juga ada terdapat huruf besar !"

Cin lok pho ketika mengangkat kepalanya, tampak di atas mulut goa, ada sebuah tangkorak kepala manusia dan dua batang tulang-tulang iga, di atas tulang itu, diukir dengan dua baris tulisan, yang berbunyi :

"NASEHAT BAGI ORANG YANG DATANG KEMARI, SUPAYA BERHENTI DITEMPAT INI !"

Hee Thian Siang berkata sambil tertawa : "Tulisan itu maksudnya barangkali mau mengatakan, apabila tidak berhenti, segera akan berubah menjadi tengkorak! Tetapi Hee Thian siang orang yang suka dan berani menyerbu istana Gioam-ong, tak takut penjaga neraka, maka aku justru hendak mencoba masuk !" 

Sehabis berkata demikian, lantas mengerahkan ilmunya untuk memperkecil tubuhnya, setelah tubunhnya mengkeret menjadi kecil demikian rupa baru ia masuk kelobang yang kecil itu melalui dinding yang merintangi perjalanan tadi.

Tetapi baru saja orangnya masuk kedalam goa, tetapi dengan tiba-tiba angin meniup dengan kencang kearahnya dari sebelah muka, angin yang menyambar itu demikian tajamnya, seolah-olah tertusuk oleh jarum tajam.

Hee Thian Siang memperdengrkan suara tertawa dingin lalu mengerahkan ilmunya Kiau-thian-khi-kang, mulutnya dipentang, menyemburkan hawa murni yang tidak berwujud.

Penemuan yang ajaib selama itu, telah membuat dirinya memiliki kekuatan tenaga dalam demikian hebat, terhadap Khi Tay Cao dengan serangan tongkatnya yang berkepala burung garuda terbang itu, juga tidak mau mengalah, sudah tentu hawa murni yang menghembus keluar itu, mempunyai pengaruh sedimikian hebat, ia telah menutup lobang kecil itu dengan hawanya yang keluar dari tubuhnya, untuk menolak kembali angin yang meniup kencang tadi, sehingga angin itu yang terpental balik telah menimbulkan suara gemuruh dan benturan hebat.

Suara benturan hebat itu, dalam telinga Hee Thian Siang, semakin tahu semakin yakin bahwa apa yang diduganya semula tidaklah salah, benar saja yang menyambar dalam hembusan angin, tadi merupakan benda beracun sejenis jarum terbang atau sebagainya. Hee Thian Siang setelah memasuki lobang goa itu, lalu melayang turun ketanah, katanya sambil tersenyum:

"Cin locianpwee jangan kuatir, masuklah saja didalam goa ini meskipun ada penjagaan ketat, tetapi sudah kepatahkan semua !"

Cin Lok pho, juga menggunakan ilmunya memperkecil tubuhnya, masuk melalui lubang kecil tadi, sambil masuk ia telah mencabut sebatang jarum halus berwarna hijau, ketika diperiksanya sejenak, alisnya lalu dikerutkan, katanya kepada Hee Thian siang:

"Apa yang Hee laote katakan sebagai jebakan oleh Hee laote tadi, apakah jarum halus berwarna hijau ini ?"

"Benar adalah jarum ini, apakah Cin locianpwee dapat mengenali asal-usul jarum ini ?"

"Aku belum memastikan asal-usul jarum ini, tapi rasanya masih dapat mengenali bahwa jarum ini seperti senjata rahasia yang dahulu pernah digunakan oleh Gu Long Goan, salah seorang dari tiga penjahat besar dalama golongan rimba hijau ?"

Oleh karena Gu Long Goan, itu belum pernah didengar oleh Hee Thian Siang, maka ia bertanya dengan keheran- heranan :

"Locianpwee yang dimaksudkan salah satu dari penjahat dalam rimba hijau, dan siapakah lagi orang yang lainnya!"

"Tiga orang itu meskipun mendapat nama pada tigapuluh tahun berselang, dan kepandaian ilmu silat mereka semuanya juga tidak lemah, tetapi oleh karena sepak terjangnya selama hidupnya, terlalu kejam dan ganas, lagi pula tanpa memilih cara kadang-kadang sangat keterlaluan dan memalukan sekali, maka tidak dapat diterima oleh orang-orang baik golongan hitam maupun golongan putih, mereka hendak mengingkirkan tiga penjahat besar itu! Tiga orang itu tahu benar bahwa kemarahan orang banyak sulit dihadapi, maka lantas mengasingkan diri, untuk selanjutnya tidak diketahui dimana jejaknya! Nama julukan mereka Tok-hut Khong-khong Hweshio, Pao It Hui yang mempunyai nama julukan Naga kaki pendek dan yang satu lagi ialah yang kusebutkan tadi Gu Long Goan yang mempunyai nama julukan Hantu malam bertangan enam !"

Berkata sampai disitu Cin Lok Pho berdiam sebentar, ia mengamat-amati lagi jarum warna hijau dalam tangannya, kemudian melanjutkan ucapannya:

"Gu Long Goan itu, bukan saja mahir berbagai jenis senjata rahasia, tetapi juga paling suka warna hijau, maka dari itu, aku tadi berkata bahwa jarum halus berwarna hijau ini ada sedikit mirip dengan tanda rahasianya !"

"Diantara tiga penjahat besar dalam rimba hijau itu, siapakah diantara mereka yang berkepandaian paling tinggi ?"

"Mereka masing-masing memiliki kemahiran sendiri-sendiri dalam soal ilmu meringankan tubuh dan senjata rahasia, Gu Long Goanlah yang paling mahir, dalam akal muslihat, atau rencana jahat, terbilang Khoan-khong Hwaesio si buddha berbisa yang paling mahir, tetapi kepandaian ilmu silatnya yang sejati, harus diperhitungkan Pao It Hui !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, tentu saja memperdengarkan suara tertawa dinginnya, Cin Lok Pho sudah menambahkan lagi:

"Hee laote, jangan pandang ringan mereka apa yang kukatakan tadi, hanya merupakan kepandaian atau kemahiran mereka, sebenarnya diantara tiga orang itu, siapapun juga sudah boleh terhitung tokoh kelas satu dalam rimba persilatan

!" Hee Thian Siang hanya tersenyum-senyum tidak menjawab, ketika berjalan sampai dibawah lapisan kedua, ia lalu berkata sambil menunjuk mulut goa:

"Cin locianpwee silahkan lihat, disini kembali terpahat sebelas kata-kata hurup besar yang berbunyi

"PERLU APA KAU MENEMPUH BAHAYA MAUT?

SEBAIKNYA LEKAS UNDURKAN DIRI SAJA !"

Cin Lok Pho berkata sambil tertawa: "Bagaimana pikiran Hee laote ?"

"Jawabanku terhadap sebelas kata-kata itu, juga terdiri dari sebelas kata-kata yang berbunyi:

"TIDAK TAKUT KESULITAN DAN RINTANGAN, PASTI AKAN MASUK KEDALAM LEMBAH INI"

Berkata sampai disitu, ia tiba-tiba menyatakan pikirannya: "locianpwee, meskipun kita tidak takut kesulitan dan rintangan, tetapi juga tidak perlu menempuh bahaya, biarlah aku akan mencoba dulu, didalam lapisan kedua ini, ada tersembunyi benda macam apa ?"

Sehabis berkata demikian, ia mengeluarkan bulu burung yang berwarna lalu dimasukkan kedalam goa, kemudian menggerak-gerakan sebentar, hingga dinding tembok batu itu memperdengarkan suara seolah-olah dibor oleh senjata tajam.

Baru saja Hee Thian Siang menggerakkan tepi bulu burungnya itu, dalam goa terdengar suara mengaung yang aneh, juga terdapat beberapa puluh benda kuning warna emas, terbang melesat keluar ! Cin Lok Pho dapat melihat bahwa benda warna kuning emas berkilauan itu adalah benda hidup maka ia terkejut, dan berseru kepada Hee Thian Siang:

"Hee laote awas, benda kuning emas berkilauan ini, seperti benda hidup yang berbisa !"

Hee Thian Siang yang sudah siap sedia, juga menggerakkan lengannya dan saat itu tampak berkelebat warna merah, melesat keluar dan menjaring benda benda kuning emas berkilauan tadi.

Dua orang itu sedang memeriksa benda-benda kuning emas berkilauan yang kini berada dalam jaring Hee Thian Siang, barulah mendapat kenyataan bahwa benda-benda yang berkilauan itu, ternyata adalah kutu-kutu aneh berkaki panjang berkepala tajam, bentuknya sebesar telor burung, kutu-kutu itu berjumlah hampir dua puluh, bentuknya mirip dengan lalat tetapi bukanlah lalat, mirip dengan lebah tetapi bukan lebah seluruhnya berwarna kuning emas ?

Cin Lok Pho yang merupakan seorang Kang-ouw kawakan begitu dapat menyaksikan kutu-kutu aneh itu, segera dapat mengenali, maka lalu berkata dengan perasaan terkejut:

"Ini adalah lebah emas penghisap darah, juga merupakan binatang maut, tidak perduli kepala yang runcing, ekornya bagaikan jarum tajamnya, dan kakinya yang panjang, semuanya mengandung racun yang sangat berbisa, jikalau binatang-binatang ini mendekati manusia, tidak ampun lagi manusianya pasti akan terbinasa !"

Hee Thian Siang yang mendengar keterangan bahwa lebah ini sangat berbisa, maka lalu mengerahkan ilmunya Kian- thian-khi-kang, dari jarak jauh, ia melancarkan serangan kepada lebah-lebah berbisa yang berada dalam jaring wasiat yang berwarna merah itu, hingga beberapa lebah-lebah berbisa itu mati seluruhnya. Karena lebah emas penghisap darah sudah dibinasakan seluruhnya, Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang kembali mengeluarkan ilmunya mengecilkan tubuhnya, menyusup masuk kelobang dinding yang kedua.

Hee Thian Siang yang berjalan dimuka, jari tangannya terus menunjuk kedepan, sementara mulutnya masih berkata kepada Cin Lok Pho :

"Cin locianpwee, kita sudah berhasil memasuki lapisan kedua, setelah masuk lagi kedalam lapisan yang lain, tibalah kelembah kematian! tapi dinding batu dilapisan yang lain itu, lobangnya lebih kecil dari pada yang sudah dilalui"

"Bukan saja laote yang mendapat karunia tuhan hingga memiliki ilmu demikian tingi sekalipun ilmuku mengkerutkan tubuh yang kulatih selama ini bukanlah ilmu sembarang ilmu! Masuk kelobang goa itu bagaimanapun kecilnya kurasa tidak perlu ditakuti, tetapi kita harus waspada dan siap siaga terhadap jebakan yang dipasang oleh penjahat itu, mungkin selapis demi selapis lebih lihay lagi !"

"Cin locianpwee jangan khawatir, aku tidak akan mengandalkan kepandaianku untuk berlaku sombong bertindak gegabah !"

Selama berbicara, mereka sudah tiba dihadapan lapisan yang ketiga.

Hee Thian Siang pasang mata, benar saja sekitar mulut dinding itu, kembali terdapat tulisan. Tetapi kali ini tulisan itu lebih banyak daripada yang dimuka, dan tulisan itu berbunyi sebagai berikut:

"SETELAH BERHASIL MELALUI DUA LAPISAN, SUATU BUKTI DARI KEJUJURAN, MAKA TIDAK AKAN DIRINTANGI LAGI. SILAHKAN MASUK KELEMBAH KEMATIAN !" Setelah membaca tulisan itu, Hee Thian siang berkata :

"Cin locianpwee, kalau ditilik dari bunyi tulisan ini rasanya seperti sudah tidak ada rintangan lagi !"

"lebih baik kita berlaku waspada, jangan percaya seluruhnya, tak ada salahnya kita berlaku hati-hati !"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala. Dua orang itu melalui dua lapis dinding tersebut, tibalah kedalam lembah kematian, Benar saja tidak menemukan rintangan apa-apa lagi.

Tiba didalam lembah kematian, Cin Lok Pho mengawasi pemandangan disekitarnya dengan sinar mata terheran-heran.

Kiranya, didalam lembah kematian itu, tempat yang tidak begitu luas. tetapi puncak puncak gunung menjulang kelangit, yang semuanya merupakan dinding-dinding yang curam, susah untuk mendaki keatasnya. Ditempat yang demikian itu, hanya itu satu-satunya jalan keluar.

Dalam lembah itu tulang-tulang manusia telah bertumpu- tumpuk, jelas itu adalah tulang-tulangnya tokoh-tokoh rimba persilatan yang terbinasa disitu.

Hee Thian Siang juga melepaskan pandangan matanya, tiba-tiba berkata dengan suara perlahan:

"Cin locianpwee, tumpukan tulang dalam lembah ini, rasanya tidak sama dengan apa yang pernah kulihat dahulu !"

Cin Lok Pho yang mendengar ucapan itu, memperhatikan bentuk tumpukan tulang-tulang itu, kemudian berkata;

"Laote benar, tulang-tulang ini agaknya disusun orang dengan sengaja, tunggu aku periksa dulu, tulang-tulang ini dibentuk menurut barisan apa ?" Hee Thian Siang disadarkan oleh ucapan itu, ia pandang lagi tumpukan tulang-tulang itu dengan seksama, tiba-tiba berseru;

"Cin locianpwee, aku kini sudah tahu, tumpukan tulang- tulang ini bukanlah barisan apa-apa   yang aneh, melainkan dua hurup besar yang berbunyi 'KESUNYIAN'!"

Cin Lok Pho waktu itu juga sudah melihat bahwa tumpukan tulang tulang itu, memang benar mirip dengan huruf 'SUNYI', maka ia berkata dengan perasaan terkejut;

"Heran, orang yang mengasingkan diri didalam lembah kematian ini, telah menumpuk tulang tulang itu merupakan huruf Sunyi, apakah artinya;

Dari huruf kecil itu, Hee Thian Siang teringat kepada nasib Hok Siu In yang bertarung sengit diatas puncak gunung dengan seorang tokoh wanita kesunyian! Ia teringat pula dengan tempat yang dinamakan istana kesunyian, maka lalu berkata;

"Locianpwee, apakah orang yang mengasingkan diri didalam lembah kematian ini, ada hubungannya dengan istana kesunyian yang aku hendak cari itu ?"

"Kedua soal ini ada hubungannya atau tidak belum dapat dipastikan, marilah kita minta keluar dulu penghuni tempat ini supaya suka menjumpai kita !"

Setelah mengucapkan demikian, ia lalu memberi hormat kelembah bagian dalam dan berkata dengan suara nyaring;

"Cin Lok Pho dari golongan Lo-hu-pay, bersama Hee Thian Siang murid golongan Pak-bin, kini sudah masuk kedalam lembah kematian, minta dengan hormat agar sahabat Kang- ouw yang mendiami lembah ini suka keluar untuk menjawab pertanyaan kita !" Tak lama kemudian benar saja dari balik puncak gunung diseberang sana muncul keluar seorang tua bertubuh pendek bongkok.

Orang itu wajahnya pucat pasi, tetapi wajahnya menunjukkan sikap agak sedikit jahat, ketika berjalan dihadapan Cin Lok Pho kira-kira tujuh delapan kaki lantas berhenti, dengan sinar mata dingin memandang Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang bergiliran, sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya.

Hee Thian Siang lalu bertanya;

"Orang yang berdiam didalam lembah kematian ini, apakah hanya kau seorang saja ?"

Orang tua pendek bongkok itu hanya mengeluarkan suara dari hidung, tidak mau menjawab, sebaliknya bertanya kepada Cin Lok Pho;

"Dunia toh cukup luas, dimana saja kalian ada pergi pesiar, mengapa memasuki lembah kematian ini ?"

Oleh karena melihat sikap orang tua pendek bongkok itu sangat sombong, maka Cin Lok Pho juga menjawab dengan nada suara yang tidak kalah sombongnya:

"Dimana saja aku bisa pergi, gunung-gunung atau danau- danau, belum pernah aku mendengar ada yang memiliki, kau ini siapa? Apakah sudah hendak mengangkangi lembah kematian ini menjadi milikmu sendiri ?"

Wajah orang tua pendek bongkok itu menunjukkan tertawanya yang kejam, katanya;

"Dunia meskipun luas, tetapi hampir tidak sejengkal tempat yang dapat menerima kita bersama-sama, tidak kusangka- sangka lembah kematian  yang sepi sunyi senyap ini, juga masih ada orang yang datang kemari untuk menggerecoki !"

Hee Thian Siang mengabaikan ucapan orang tua itu yang mengatakan ada orang yang menggerocok, sebaliknya menunjukkan tumpukan tulang yang menjadi huruf 'KESUNYIAN' tanyanya;

"Kau telah menumpuk tulang-tulang ini menjadi perkataan 'KESUNYIAN' apakah maksudnya ?"

Lembah kematian ini disekitarnya dikurung oleh puncak- puncak gunung yang menjulang kelangit, tulang-tulang bertumpuk tampak dalam lembah ini, jangankan sudah tiada ada orang yang bisa mendekati, sekalipun burung-burung atau ular dan sebagainya, juga jarang tampak, apakah tidak pantas kalau kusebut sebagai suatu tempat yang sangat sunyi ?"

"Jikalau kau sudah menganggap tempat ini terlalu sepi, mangapa kau sengaja mengasingkan diri dan memilih tempat seperti in ? Bahkan dibagian masuk mulut goa itu, kau masih memasang jebakan yang berupa jarum-jarum terbang berbisa dan lebah-lebah penghisap darah, melarang orang masuk kedalam ?"

"Aku meskipun takut kesepian, tetapi apa mau karena aku juga benci melihat orang dunia, sebab dunia pada dewasa ini, hampir semua orang menjadi musuh-musuhku !"

Hee Thian Siang teringat penuturan Cin Lok Pho tentang riwayat orang dihadapannya itu, maka ia segera menyadari dan berkata sambil menganggukkan kepala:

"Aku sudah kenal kau siapa. "

Belum habis ucapannya, orang tua pendek bongkok itu sudah memotong, dan berkata sambil menggelengkan kepala; "Dengan usiamu yang masih begini muda, tidak mungkin kau dapat mengenali aku ini siapa, jikalau benar kau bisa menyebutkan namaku, aku bisa mengampuni perbuatanmu yang secara lancang masuk kemari dan membiarkan kau keluar dari dalam keadaan hidup !"

Hee Thian Siang memperdengarkan suara dari hidung, kemudian berkata sambil tertawa dingin;

"Kalau aku mau datang, aku bisa datang sesuka hatimu, begitupun kalau aku hendak pergi, siapa yang minta kau ampuni? Aku duga kau ini tentunya adalah orang yang bernama Pao It Hui yang mempunyai julukan Naga kaki pendek, dulu merupakan tiga kawan penjahat dari rimba persilatan? betul tidak ?"

Orang tua pendek bongkok itu, mendengar Hee Thian siang dapat menyebutkan nama dan julukannya sendiri, benar-benar sangat terkejut, tetapi ia sudah mendengar ucapan selanjutnya, lantas murka, sepasang matanya memancarkan sinar terang, menatap wajah pemuda itu, sedangkan kedua tangannya dipentang dan berjalan maju beberapa langkah.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, lalu berkata sambil tertawa dingin:

"Sikapmu seperti ini, kau kira dapat menggertak siapa? Jangankan kau hanya merupakan seekor Naga yang berkaki pendek saja, sekalipun Naga kuno yang benar-benar, Hee Thian Siang tidak akan takut !"

Poa It Hui yang mendengar ucapan itu, semakin marah, tangan kanannya bergerak, lalu terdengar suara hembusan angin gemuruh, serangan dilancarkan dari jarak jauh !

Hee Thian Siang yang sudah ada maksud hendak menguji kekuatan tenaga orang tua pendek bongkok itu, sebelum mengucapkan perkataannya sudah mengerahkan ilmu perguruannya sendiri Kian-thian-khi-kang, sehingga dirinya seolah-olah diliputi oleh kabut hawa bagaikan jaring yang terpentang dihadapannya, siap menanti serangan Pao It Hui, dan setelah itu akan menyerang dengan tiba-tiba.

Tetapi ketika hembusan angin yang keluar dari tangan orang tua pendek bongkok itu, hebatnya serangan itu, ternyata bagaikan gunung guntur, hebatnya kekuatan tenaga dalam orang tua pendek itu ternyata tidak dibawah para ketua partai besar rimba persilatan pada dewasa itu.

Hee Thian Siang diam-diam terkejut, selagi hendak mengeluarkan seluruh kekuatan tenaganya, untuk menambah kekuatan membalik dari ilmunya Kian-thian-khi-kang, tetapi Cin Lok Pho sudah mengerahkan tangan kanannya, dan berkata sambil tersenyum:

"Sahabat Pao kau juga merupakan salah seorang yang ada nama dalam rimba persilatan, bagaimana baru saja bertemu muka, sudah menggunakan serangan tangan ganas demikian terhadap Hee Laote ?"

Kiranya Cin Lok Pho meskipun tahu Hee Thian Siang keluaran dari golongan perguruan yang ternama, lagi pula banyak sekali penemuan gaibnya, dewasa itu merupakan salah seorang terkuat dari angkatan muda, tetapi oleh karena malihat serangan Pao It hui itu terlalu hebat, bagaimanapun juga ia merasa tidak tega, maka lebih dulu mengeluarkan serangannya dengan menggunakan ilmunya Pan-sian-ciang- lek. menalangi Hee Thian Siang untuk memunahkan serangan lawannya terlebih dahulu.

Dua ilmu yang sangat ampuh dalam rimba persilatan itu saling bentur ditengah udara, ternyata sangat berimbang, tak ada yang lebih unggul. dengan demikian, maka Pao It Hui diam-diam juga terkejut, Cin Lok Pho juga tahu benar bahwa tiga tokoh kenamaan dari rimba hijau ini, yang sekian lama menyembunyikan diri ditempat yang tersembunyi ini, benar- benar sudah melatih ilmunya yang sangat ampuh, apabila ketiga orang itu menjadi marah karena malu, dengan kekuatan tenaga bertiga yang maju bersama, benar-benar tidak mudah dihadapi.

Hee Thian Siang tahu apa yang terkandung dalam pirikan Cin Lok Pho, maka ia juga merasa berterima kasih kepadanya, tetapi disamping itu juga merasa geli, ia sebetulnya sudah berniat memberi hajaran atas diri salah satu dari tiga kawanan penjahat itu, supaya Cin Lok Pho mengetahui sampai dimana kepandaian ilmu silatnya sendiri.

Sementara itu dari bagian lembah kematian itu, muncul lagi dua orang, satu adalah seorang paderi berjubah kuning, dan satu lagi ialah seorang tua berjubah putih yang badannya tingi kurus.

Hee Thian Siang mengawasi dengan bergiliran kepada dua orang yang baru datang itu, segera ikut mengetahui bahwa paderi berjubah kuning pasti adalah si budha berbisa Khong- khong Hweesio, dan orang tua bertubuh tinggi kurus tentunya sihantu malam tujuh tangan Gu Lon Goan mahir menggunakan senjata rahasia berbisa.

Pao It Hui begitu melihat dua orang kawannya muncul. lalu berkata sambil tertawa;

"Toako, samte, kediaman kita dilembah kematian ini, dengan tiba-tiba kedatangan tamu dari luar, bukan hanya itu saja, mereka bahkan memiliki kepandaian yang sangat tinggi, kita justru sendang kesepian, maka kupikir ingin main-main dengan mereka untuk menghilangkan rasa kesepian kita !"

Khong-khong Hweshio menggunakan ilmunya meringankan tubuh yang luar biasa, dengan tepat sudah tiba disamping Pao It hui, ia mengamat-amati kepada Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang sejanak, lalu bertanya kepada Pao It Hui: "Jite, apakah kau sudah tanya mereke dari mana dan golongan mana ? "

"Sahabat Cin Lok Pho ini mempunyai nama julukan Boan- bwee-lo-long, adalah orang dari golongan Lo-hu-pay, sedang sahabat Hee Thian Siang ini, adalah murid dari golongan Pak- bin !"

Khong-khong Hweesio yang mendengar keterangan itu, mulutnya mengeluarkan suara memuji nama buddha, kemudian berpaling kepada Cin Lok Pho untuk memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangannya, kemudian berkata dengan nada suara dingin:

"Cin sicu dan Hee siaosicu semua adalah orang-orang dari golongan baik-baik, dengan cara bagaimana tiba-tiba bisa berkunjung kedalam lembah ini? Tindakan ini merupakan suatu penghargaan bagi kita bertiga dari golongan rimba hijau yang tidak bisa diterima oleh orang dunia !"

Cin Lok Pho juga mengangkat tangan membalas hormat seraya berkata;

"Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang laote ini kedatangan kita kelembah kematian ini sebetulnya ada yang dicari, kita tidak tahu bahwa Taysu sekalian berdian ditempat ini!"

Khong-khong Hweesio seolah-olah tidak mau percaya, katanya sambil tertawa dingin:

"Sahabat Cin, kau dihadapan orang yang sudah banyak pengalaman, perlu apa masih mengaku bohong? Tempat seperti lembah kematian ini, merupakan tempat yang sangat sepi dan sunyi, juga merupakan jalan penting bagi dunia kang ouw. "

Hee Thian Siang tidak menunggu habis ucapan Hweesio itu, sudah menyelak: "Kau padri ini mengapa tidak percaya ucapan orang? Kita sebetulnya suka datang kemana saja, rasanya tidak seorangpun yang bisa melarang, begitupun jikalau kita hendak pergi, juga tidak ada yang dapat merintangi, perlu apa membohong."

Khong-khong Hweesio yang mendengar ucapan itu, wajahnya sesaat menunjukkan sikap bengis, selagi hendak membuka mulut, Gu Long Goan sudah maju dan mendahului padanya:

"Sahabat Hee masih sangat muda, mengapa caramu demikian sombong? Dihadapan kami Cong-lam-sam-sat, bagaimana kau dapat berlaku lagak hatimu, apakah kau kira bisa datang dan pergi menurut seenak perutmu saja ?"

Hee Thian Siang menatap wajah Gu Long Goan, kemudian bertanya sambil tersenyum;

"Kau apakah yang mendapat julukan nama hantu malam tujuh tangan ?"

Gu Long Goan, menganggukkan kepala dan menjawab: "Nama julukan hantu malam tujuh tangan adalah sahabat-

sahabat dunia kang-ouw yang menghadiahkan kepadaku,

mengapa dengan tiba-tiba kau menanyakan julukan itu ?"

Sepasang alis Hee Thian Siang berdiri, sikapnya sangat sombong sekali, ia tidak mau menjawab pertanyaan Gu Long Goan, sebaliknya mendongakan kepala dan mengawasi awan dilangit sambil mendengarkan suata ketawa dingin.

Gu Long Goan yang diperlakukan dengan sikap demikian rupa, sudah tentu ia merasa tidak senang, tanyanya pula dengan wajah berubah: "Apakah perkataanku si orang she Gu tadi terdapat kesalahan sehingga menimbulkan perasaan gelimu ?"

Dengan sinar mata yang tajam Hee Thian Siang menjawab dengan suara lantang;

"Aku mentertawakan kau hanya merupakan seorang hantu malam bertangan tujuh yang hanya menguasai sebidang tanah sepi sunyi seperti lembah kematian ini, apabila kau merupakan hantu malam tangan seribu, maka diempat penjuru dunia ini, bukankah akan menjadi dunia yang dikuasai oleh segala iblis dan setan ?"

Pao It Hui yang mendengar ucapan itu lantas berkata dengan nada suara gusar:

“Toako, samte, hari ini mau tak mau kita harus menahan dua orang ini didalam lembah kematian. Jikalau tidak bisa Pao It Hui lebih suka akan bunuh diri !"

Hee Thian Siang segera bertanya kepadanya:

"Dengan mengandalkan ilmu apa kau hendak menahan kami berdua ?"

"Yang kuandalkan ialah ilmuku Hek-sat-tui-hun-ciang-lek, senjata rahasia Gu Long Goan dan Liu-yap-bian-si-kiam milik Khong-khong toako ku !"

Hek-sat-tui-hun-ciang dan senjata rahasia tidak mengejutkan Hee Thian Siang, tetapi pedang Liu-yap-bian-si- kiam yang disebut sebagai milik Khong-khong Hweesio, ketika masuk ketelinganya saat itu semangatnya seolah-olah terbang dan dalam hatinya terkejut dan terheran-heran.

Sebab pedang Liu-yap-bian-si-kiam itu adalah milik Hok Siu In yang bersama-sama dengan orangnya terjatuh kedalam jurang yang dalam dan hanyut oleh air selat, dengan cara bagaimana bisa terjatuh ditangan Khong-khong Hweesio yang muncul dari dalam lembah kematian ini ?

Ciu Lok Pho tahu bahwa urusan itu tidak akan berakhir dengan baik, ketika melihat Hee Thian Siang dengan tiba-tiba terbenam dalam pikirannya sendiri, lagi pula wajahnya menunjukkan rasa terkejut, ia mengira bahwa mendengar kekuatan tenaga lawannya dalam pikirannya merasa ragu- ragu, maka lalu berkata sambil tersenyum;

"Sahabat Pao dan lain-lainnya, kalau kalian merasa kesepian, karena terlalu lama berdiam didalam lembah kematian ini, kita tidak halangan coba-coba beberapa jurus, baik kita tetapkan tiga babak untuk memberi keputusan siapa yang lebih unggul dan siapa yang asor, Ciu Lok Pho sedia menerima pelajaran Hek-sat-tui-hun-ciang-lek dari sahabat Pao lebih dulu !"

Baru saja menutup mulutnya, Hee Thian Siang tiba-tiba berkata kepada Cin Lok Pho sambil memberi hormat;

Cin locianpwee, Hee Thian Siang ada suatu permintaan yang kurang pantas, harap supaya locianpwee tidak keberatan untuk menerima baik permintaan Hee Thian Siang itu !"

Cin Lok Pho meskipun tahu bahwa Hee Thian Siang pasti akan mengeluarkan permaian baru, terpaksa bertanya sambil tersenyum:

"Hee laote ingin bicara apa? Katakanlah dengan terus terang, perlu apa memakai penghormatan sedemikian rupa ?"

"Hee Thian Siang ingin seorang diri menghadapi tiga orang yang menamakan diri Cong-lam-sam-sat ini, harap pertandingan tiga babak itu Cin locianpwee berikan semua kepadaku, Cin locianpwee sudah cukup kalau mengawasi dari samping saja !" Cin Lok Pho mendengar ucapan bahwa Hee Thian Siang hendak bertanding dengan Cong-lam-sam-sat dengan seorang diri, sudah tentu merasa agak kuatir, tetapi melihat sikap Hee Thian Siang ketika berbicara kepadanya, yang berulang-ulang memberi isyarat dengan sinar mata, ia tahu bahwa pemuda itu sudah mempunyai rencana yang masak- masak didalam hatinya, maka terpaksa menerima baik dan katanya sambil tertawa:

"Dibawah jago kenamaan tidak ada murid yang lemah, sejah dahulu kala jago timbul dari angkatan muda, kegagahan Hee laote ini sesungguhnya sangat mengagumkan tetapi orang orang seperti Khong-khong Hweesio dan lain-lain, masing-masing memiliki kepandaian tinggi tersendiri-sendiri, mereka namanya sudah lama tersohor kau harus berlaku sangat hati-hati sekali !"

"Locianpwee jangan memandang lawan terlalu tinggi, sebaliknya aku merasa bahwa ucapan mereka itu terlalu dibesar-besarkan, sedikitpun tidak ada artinya !" berkata Hee Thian Siang.

Gu Long Goan lantas membentak dengan suara gusar: "Sahabat Hee jangan terlalu sombong ucapannya dimana

yang kau anggap bahwa ucapan kami bersaudara tadi terlalu

berlebih-lebihan ?"

"Pedang Liu-yap-bian-si-kiam adalah benda pusaka peninggalan tokoh rimba persilatan Tay-piat Siangjin dengan cara bagaimana bisa berada didalam lembah kematian? ucapanmu yang bohong dan kosong belaka ini, sudah tentu tidak ada kenyataannya !"

Khong-khong Hweesio yang mendengar ucapan itu dengan sinar mata dingin menatap Hee Thian Siang sejenak kemudian mengeluarkan benda seperti sebutir gulungan perak, diletakkan ditelapak tangannya, kemudian ia mengempos semangatnya, butiran-butiran warna perak tadi dengan tiba-tiba terbuka, berubah menjadi sebilah pedang bagaikan daun pohon Yang-liu, yang sangat aneh bentuknya !

Hee Thian Siang telah menyaksikan dengan jelas pedang kecil berbentuk aneh dalam tangan Khong-khong Hweesio memang benar milik Tay-piat Sianjin yang didapatkan oleh dan Siaopek dan kemudian oleh Tiong-Sun Hui Kheng dihadiahkan kepada Hok Siu In.

Karena pedang milik Hok Siu In itu berada dalam tangan Khong-khong Hweesio maka kecuali Khong-khong Hweesio pada waktu itu berada dipuncak gunung itu, tentunya Hok Siu In belum mengalami bencana.

Hantu malam bertangan tujuh Gu Long Goan menampak Hee Thian Siang dengan tiba-tiba mengerutkan alisnya dan diam seribu bahasa, lalu berkata dengan suara dingin:

"Sahabat Hee, tadi kau berani mengucapkan perkataan sombong, mengapa setelah melihat pedang Liu-yap-bian-si- kiam sikap gagahmu tadi mendadak lenyap, apakah kau takut menghadapi pedang yang sangat tajam ini!"

Sepasang alis Hee Thian Siang berdiri, katanya dengan sikap sombong:

"Pedang Liu-yap-bian-si-kiam meskipun tajam tetapi bagi Hee Thian Siang masih bukan soal apa-apa, aku hanya sedang berpikir hendak mengadakan pertaruhan dengan kalian Cong-lam-sam-sat!"

Pao It Hui lantas bertanya:

"Dengan barang apa kau hendak mengadakan pertaruhan dengan kami?" "Aku seorang diri akan menerima pelajaran kalian yang berupa ilmu Hek-sat-ciang, senjata rahasia, Hek-sat-tui-hui- ciang-lek dan Liu-yan-bian-si-kiam, apabila dalam tiga pertandingan itu aku beruntung bisa mendapat kemenangan, akulah yang keluar sebagai pemenang, dan dalam tiga pertandingan itu asal Hee Thian Siang kalah satu babak saja, kalian tiga saudara yang terhitung menang!"

Cin Lok Pho mendengar ucapan Hee Thian Siang yang mengandung sikap memandang rendah kepada lawannya, dan ucapannya itu juga terlalu sombong, diam-diam menggelengkan kepala dan menghela napas, tetapi karena ucapan sudah dikeluarkan, sudah tentu tidak bisa ditarik kembali.

Sementara itu Khong-khong Hweshio yang mendengar ucapan itu, lalu berkata dengan nada suara dingin:

"Pemuda yang terlalu jumawa, dengan barang apa kau hendak menggunakan sebagai barang pertaruhan dengan kami?"

Hee Thian Siang mengeluarkan benda peledak Kian-thian- pek-lek peninggalan suhunya, diperlihatkan kepada Cong-lam- sam-sat seraya berkata:

"Jikalau Hee Thian Siang kalah dalam pertandingan ini, rela menghadiahkan benda pusaka golongan Pak-bin yang bernama Kian-thian-pek-lek ini kepada kalian bertiga!"

Mendengar disebutnya nama Kian-thian-pek-lek Cong-lam- sam-sat terkejut tetapi juga girang, Pao It-hui dengan sinar mata yang tajam mengawasi benda ditangan Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala dan tertawa terbahak-bahak;

"Baik, baik mari kita laksanakan pertaruhan ini, kalau kau kalah kau harus memberikan senjata Kian-thian-pek-lekmu kepada kami, sebaliknya kami yang kalah, akan menyediakan batok kepala Cong-lam-sam-sat kepadamu!"

Hee Thian Siang yang mendengar Pao It Hui berkata demikian, berulang-ulang ia menggoyangkan tangannya dan berkata;

"Tidak perlu, tidak perlu, dahulu, meskipun kalian sudah dianggap sebagai manusia tidak berharga dalam rimba hijau oleh orang-orang dunia Kang-ouw, tetapi diwaktu belakangan ini kejahatan kalian tidak terlalu nyata, maka Hee Thian Siang yang masih mengingat kebaikan Tuhan, juga karena mengingat kalian mendapat kepandaian itu dengan secara tidak mudah, bagaimana aku dapat tega hati jika menang dalam pertempuran itu lantas menerima batok kepala kalian bertiga?"

Khong-khong Hweshio lalu bertanya:

"Tidak menghendaki batok kepala kita, apakah kau menghendaki pedang Liu-yap-bian-si-kiam ditanganku ini ?"

"Pedang Liu-yan-bian-si-kiam itu, dalam pertandingan selama tiga jurus antara kau dengan aku, tentu sudah berhasil kurampas dari tanganmu, maka tidak perlu digunakan sebagai barang taruhan!" berkata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala.

Gu Long Goan yang mendengar ucapan jumawa itu, lantas membentak;

"Kau sesungguhnya terlalu jumawa sekali !"

Khong-khong Hweshio diantara tiga orang itu, benar saja ia yang paling sabar, meskipun dihina sedemikian rupa oleh Hee Thian Siang, namun sedikitpun belum merasa marah, ia menggoyangkan kepala terhadap Gu Long Goan, kemudian berpaling dan bertanya kepada Hee Thian Siang; "Sahabat Hee, menurut pikiranmu, kau minta kita menggunakan barang apa sebagai barang pertaruhan ?"

"Apabila Hee Thian Siang dapat merebut kemenangan dalam pertandingan ini, aku minta kalian menjawab tiga pertanyaanku dengan terus terang, sedikitpun tidak boleh berbohong!"

Pao It Hui lalu bertanya sambil mengerutkan alisnya; "Pertaruhan semacam ini tidak ada artinya, sebab bagi

kami terlalu enak sekali !"

Hee Thian Siang berkata sambil menggelengkan kepala; "Tampaknya memang kalian terlalu enak, tetapi sebetulnya

tidak !"

Selagi Gu Long Goan hendak bertanya lagi, Khong-khong Hweshio sudah menyelak;

"Samte tidak perlu bertanya lagi, sahabat Hee ini sebabnya menganggap kita tidak terlalu enak, adalah karena ia pasti akan merebut kemenangan !"

Hee Thian Siang memandang Khong-khong Hweshio beberapa kali, kemudian berkata sambil tertawa;

"Didalam barisan Cong-lam-sam-sat ini memang benar kaulah padri ini yang terhitung paling pintar, aku harus berlaku hati-hati terhadap kau ?"

Pao It Hui adatnya agak berangasan, waktu itu sudah merasa gatal tangannya, ketika mendengar ucapan itu, lalu membentak kepada Hee Thian Siang dengan suara bengis; "Pertarohan ini kalau memang sudah ditetapkan, perlu apa kita banyak bicara lagi, kau siap-siaplah turun kelapangan, untuk mencoba-coba ilmuku Hek-sat-hui-hun-ciang-lek!"

"Aku tahu bahwa diantara Cong-lam-sam-sat, jikalau ditinjau dari kepandaian ilmu yang sejati, kaulah yang terhitung paling kuat, tetapi jika ditilik dari adatmu yang beranggasan ini, juga kaulah yang paling mudah dijatuhkan lebih dahulu!"

Pao It Hui yang diejek demikian rupa, sesaat lantas naik darah, ia menggeram hebat, badannya melesat setinggi setombak lebih, kemudian melayang turun diatas tumpukan tulang-tulang itu, dan minta kepada Hee Thian Siang supaya turun kelapangan.

Hee Thian Siang selagi hendak bergerak, Cin Lok Pho yang masih khawatir, bertanya kepadanya dengan suara perlahan;

"Hee laote, apakah kau benar-benar sudah yakin dapat menghadapi tiga lawan tangguh ini dengan seorang diri ?"

"Semoga Cin Locianpwe doakan saja, Cong-lam-sam-sat ini meskipun lihay, tetapi bagaimana pun juga toh tidak lebih lihay daripada ketua partai Ceng-thian-pay Khi Tay Cao!"

"Ucapanmu ini meskipun benar, aku juga tahu tindakanmu yang hendak melawan Cong-lam-sam-sat seorang diri bukanlah suatu tindakan yang bukan tidak ada sebabnya, kuduga pasti mengandung maksud dalam, tetapi karena lawan-lawanmu itu adalah orang-orang yang tidak dapat diterima baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih, maka disebut sebagai tiga penjahat besar yang tidak ada harganya, dapat diduga bahwa kekejaman dan kejahatan mereka sudah tidak ada tarafnya! Sampaipun binatang berbisa juga dipergunakan untuk menyerang orang, maka Hee laote sebaiknya berlaku hati-hati terhadap mereka?" "Maksud Cin Locianpwe ini Hee Thian Siang sangat menghargai sekali, Hee Thian Siang minta supaya Locianpwe tolong waspada terhadap gerakan mereka, itu saja sudah cukup!"

Setelah berkata demikian orangnya juga bergerak, melayang ketumpukan tulang-tulang, berdiri terpisah empat kaki dengan Pao It Hui.

Dalam kalangan Kang-ouw yang sudah kotor, banyak sekali kawanan kurcaci yang menggunakan akal busuk untuk menghadapi lawannya, oleh karenanya perbuatan itu kadang- kadang membuat seorang jago atau pendekar kenamaan, harus sampai terjebak oleh kawanan kurcaci itu, hingga sebelum kepandaian ilmu silatnya digunakan sudah dibokong oleh mereka, bahkan ada yang korbankan nyawa karena perbuatan ceroboh itu, semua itu terlalu menganggap dirinya sendiri terlalu pandai, hingga sudah mengabaikan gerakan lawannya, oleh karenanya juga tidak ada penjagaan sama sekali.

Demikian juga keadaan Hee Thian Siang pada waktu itu, karena mengabaikan pantangan demikian, hampir saja selembar nyawanya melayang ditangan kawanan kurcaci didalam lembah kematian dengan secara mudah.

Sinaga kaki pendek Pao It Hui oleh karena merasa mendongkol dengan ucapan sombong Hee Thian Siang, maka sudah bertekad dalam babak pertama akan menurunkan serangan yang mematikan, oleh karenanya maka ia lebih dulu berada diatas tumpukan tulang, dengan menggunakan ketepatan yang sangat itu, sudah mengerahkan ilmu Hek-sat- tui-hun-ciang-lek sepenuhnya kelengan kanan.

Setelah Hee Thian Siang lompat keatas tumpukan tulang dan berhadapan dengannya, tangan kanan Pao It Hui seluruhnya sudah berubah warna menjadi kehitam-hitaman, tangan itu masih disembunyikan didalam lengan bajunya, dan siap hendak melancarkan serengannya.

Hee Thian Siang begitu kakinya menginjak tumpukan tulang, lalu memberi hormat kepada Pao Itu Hui seraya berkata;

"Hee Thian Siang bersedia belajar kenal dengan kepandaianmu, sahabat Pao bagaimana masih belum melancarkan seranganmu Hek-sat-tui-hun-ciang-lek ?"

Pao It Hui yang mendengar ucapan itu, memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian lengan bajunya digulung, sebuah tangannya yang hitam jengat sudah mendorong kearah dada Hee Thian Siang!

Gerakan itu demikian cepat dan hebat, hembusan angin yang terkandung dalam serangan itu rasanya dingin sekali, bahkan samar-samar mengandung bau amis.

Hee Thian Siang sebetulnya ingin menggunakan ilmunya Kian-thian-khi-kang dari perguruannya sendiri untuk mematahkan serangan lawannya, tetapi oleh karena gerakan serangan Pao It Hui telah ditujukan kepada dadanya itu, demikian hebat dan diluar dugaannya sendiri, maka ia tidak berani lagi main gila, juga lantas mengerahkan ilmunya Kian- thian-khi-kang untuk menutup serangan lawannya.

Disamping berusaha sedapat mungkin untuk menahan serangan lawannya, ia juga merobah siasat dengan cara tergesa-gesa, sudah tentu Hee Thian Siang mengalami kerugian yang tidak sedikit, lengan tangan kanannya seketika merasa kesemutan, kakinya juga tidak dapat mempertahankan kedudukannya, hingga terpaksa mundur dua langkah dan menghancurkan beberapa batang tulang.

Pao It Hui tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata; "Anak muda yang tidak tahu diri, dengan kepandaianmu seperti ini juga berani omong besar, hendak melawan Cong- lam-sam-sat!" Ucapan itu disusul dengan gerakannya yang mengejar Hee Thian Siang, dengan satu gerakan tipu yang lebih hebat ia melancarkan serangannya lagi dengan ilmunya Hek-sat-tui-hun-ciang-lek!

Cin Lok Pho yang merupakan seorang Kang-ouw kawakan, karena menyaksikan Hee Thian Siang melawan dengan tergesa-gesa, hingga berada dibawah angin, tetapi meskipun ia melakukan gerakan mundur. namun belum tampak kalut gerakannya, hingga ia tahu pasti bahwa pemuda itu belum mengeluarkan ilmunya yang terampuh.

Ketika Pao It Hui mengejar dengan melancarkan serangannya lagi, ia mungkin akan mengalami kedudukan yang lebih sulit.

Baru berpikir sampai disitu, Hee Thian Siang yang dalam keadaan terkejut dan malu, segera mengeluarkan ilmunya terampuh dari ilmu silat Bunga Mawar, dan untuk merebut posisi ia mengerahkan kekuatan tenaga murninya Kian-thian- cin-khi hingga melampaui takaran.

Sejak ia mendapatkan bantuan kekuatan tenaga dalam dari Duta Bunga Mawar, dan menelan butiran yang berada dalam binatang aneh seperti kelabang itu, kekuatan tenaga dalamnya bertambah berlimpah-limpah, kekuatan tenaga dalam itu semakin hari semakin bertambah, kalau dibanding sewaktu pertemuan digunung Ki-lian, sudah mendapat banyak kemajuan lagi.

Apalagi sebagai seorang anak muda yang sekarang ingin menang saja, dan serangan yang dilakukan dengan tenaga yang melampaui takaran, diiring itu gerak tipu Bun-kun yang juga merupakan gerak tipu yang sangat ajaib dan luar biasa dalam rimba persilatan, dengan demikian maka Pao It Hui saat itu mengalami nasib yang sangat buruk sekali! Pao It Hui sebetulnya tidak percaya Hee Thian Siang dalam usianya yang demikian muda ada memiliki kepandaian dan kekuatan benar-benar hebat, ditambah lagi serangan yang pertama berhasil dengan gilang-gemilang, sudah tentu manambah kesombongannya sendiri.

Dan kini serangannya sendiri Hek-sat-tui-hun-ciang-lek, belum mengenakan Hee Thian Siang, pemuda itu sudah memutar demikian cepat dan melancarkan serangan yang belum pernah ia lihat, tetapi jelas ada mengandung perobahan aneh-aneh yang luar biasa, bahkan serangan itu mengandung hembusan angin demikian hebat, yang menggulung dari udara kepada dirinya sendiri!

Pao It Hui tahu gelagat tidak beres, tetapi kalau ia tidak mengadu kekerasan, sudah tidak keburu menyingkir, maka serangan kedua pihak akhirnya beradu ditengah udara, setelah itu mulut Pao It Hui mengeluarkan suara keluhan tertahan, dan terpental mundur sejauh tujuh delapan kaki oleh kekuatan tenaga dari serangan Hee Thian Siang tadi!

Hee Thian siang yang sudah berhasil dengan serangannya, sudah tentu tidak mau memberi kesempatan bagi lawannya, maka kembali menggunakan ilmunya Bunga Mawar, melesat melalui samping Pao It Hui, kemudian menggunakan serangan ilmu jari tangan yang baru dipelajarinya, meskipun belum mahir benar untuk menotok bagian yang bongkok dibelakang punggungnya, sementara mulutnya berkata sambil tertawa;

"Sahabat Pao perlu apa berlaku sombong? Kau lihat aku orang dari angkatan muda yang tidak tahu diri ini, sanggupkah menjatuhkan Cong-lam-sam-sat?"

Sesungguhnya hampir tidak dapat dipercaya, seorang tokoh hitam yang namanya sudah terkenal sebagai orang kuat pada masa yang lalu, ternyata tidak sanggup menerima totokan jari tangan Hee Thian Siang itu, Pao It Hui menjerit, mulutnya mengeluarkan darah segar, dan saat itu lantas jatuh ditanah tidak ingat orang lagi!

Kiranya Hee Thian Siang yang memiliki kepandaian sangat tinggi, ia sudah dapat memperbaiki kedudukannya dengan cepat, ia telah menggunakan ilmunya Bunga Mawar yang semula untuk melindungi dirinya, telah dirubah dan digunakan untuk mengejar dan melukai lawannya, perubahan gerakan yang sedemikian cepat itu tidak diduga sama sekali oleh Pao It Hui, dan apa mau bagian bongkok dibelakang punggungnya yang menjadi pusat kekuatan tenaga dan ilmu nya itu dijadikan sasaran, hingga ia tidak sanggup mempertahankan diri dari serangan Hee Thian Siang itu, apalagi Hee Thian Siang sudah menggunakan ilmunya jari tangan Kian-thian-it-ci sudah tentu Pao It Hui terluka parah seketika dan tidak ingat orang lagi.

Masih untung Hee Thian Siang hanya menggunakan kekuatan tenaga lima bagian saja, apabila ia menggunakan kekuatan tenaga lebih banyak, Pao It Hui pasti akan binasa pada saat itu juga.

Perobahan secara tiba-tiba itu, sudah tentu diluar dugaan dua penjahat yang lainnya, sedangkan Cin Lok Pho sendiri juga merasa terheran-heran.

Si-Buddha berbisa Khong-khong Hweesio segera memeriksa urat nadi Pao It Hui, dan diberi makan dua pil untuk menolong kepadanya.

Si-Hantu malam bertangan tujuh Gu Long Goan sepasang matanya memancarkan sinar buas, ia bertanya kepada Khong-khong Hweesio;

"Toako! Apakah Jiko masih dapat ditolong nyawanya ?"

Diwajah Khong-khong Hweesio pada saat itu menunjukkan sikap kegusarannya, jawabnya dengan suara perlahan; "Mati barangkali masih belum waktunya, tetapi kekuatan tenaga dalamnya yang dilatih selama beberapa puluh tahun, kini telah menjadi sia-sia belaka!"

Gu Long Goan yang mendengarkan ucapan itu, dengan mata menatap Hee Thian Siang , lalu berkata dengan nada suara dingin;

"Seorang yang mengaku murid dari golongan baik, ternyata menggunakan serangan tangan kejam lebih ganas daripada penjahat dari rimba hijau seperti kami ini, suhumu Hong Poh Cui apakah mengajar kau khusus untuk menghadapi dan menyerang orang yang melatih ilmu Cao-moy?"

Ucapan itu, tajam bagaikan pisau belati, hingga Hee Thian Siang pada saat itu menjadi merah mukanya dan tidak dapat menjawab!

Sementara itu Cin Lok Pho lantas menghampiri, dengan alis dikerutkan dan berlaku pura-pura menyesali Hee Thian Siang, tapi sebetulnya memberi sedikit peringatan kepadanya, ia berkata;

"Hee laote, mengapa kita sengaja turun tangan terhadap tempat pusat ilmunya Cao-moy dari sahabat Pao It Hui ini ?"

Hee Thian Siang yang diperingatkan oleh ucapan Cin Lok Pho, buru-buru membantah;

"Cin Locianpwe, aku dengan sahabat Pao ini hanya secara kebetulan bertemu muka didalam lembah kematian ini, kita satu sama lain hanya main-main beberapa jurus saja, bagaimana aku tahu kalau dia melatih ilmu Cao-moy, dan juga bagaimana aku tahu kalau punggungnya yang bungkuk itu merupakan pusat ilmunya ?"

Cin Lok Pho lalu berkata kepada Khong-khong Hweshio dan Gu Long Goan; "Satu sama lain hanya bertemu secara kebetulan saja, dengan cara bagaimana Hee laote mengetahui letak pusat ilmu Cao-moy sahabat Pao, apalagi kalau tuan-tuan mengatakan sengaja turun tangan ganas terhadapnya? Dalam medan pertempuran, kesalahan tangan itu memang sulit untuk dihindarkan, sebaiknya sekarang sahabat Gu yang turun kelapangan untuk meneruskan pertandingan dalam babak kedua ini!"

"Enak sekali kau bicara, dalam pertandingan babak kedua ini, apabila sahabat Hee mengalami kejadian apa-apa atas dirinya, sahabat Cin juga jangan sesalkan kalau aku Gu Long Goan berlaku ganas!" berkata Gu Long Goan sambil tertawa dingin.

Cin Lok Pho tahu benar bahwa hantu malam bertangan tujuh itu, terkenal dan mendapat nama dengan senjata rahasianya, sekarang ia sudah mengeluarkan ucapan seperti itu, sudah pasti akan menurunkan tangan kejam, maka ia sangat menguatirkan keselamatan Hee Thian Siang, ia lalu berkata sambil menatap wajah Hee Thian Siang;

"Senjata rahasia sahabat Gu, sudah terkenal didalam kolong langit, Hee laote pikir hendak menggunakan benda apa untuk menerima pelajaran darinya ?"

"Suhuku belum pernah mengajari senjata rahasia, oleh karena itu maka dalam babak kedua ini aku tidak akan balas menyerang, hanya dengan mengandalkan ilmuku meringankan tubuh, untuk mengelakkan serangan senjata rahasia sahabat Gu!" menjawab Hee Thian Siang dengan alis berdiri.

Cin Lok Pho yang mendengar keterangan Hee Thian Siang yang hanya hendak menggunakan ilmunya meringankan tubuh untuk mengelakkan serangan lawannya, dan tidak akan membalas dengan senjata rahasia pula, dalam hati merasa cemas. Tetapi Gu Long Goan yang mendengar ucapan itu, sebaliknya tertawa besar dan berkata;

"Kalau sahabat Hee sudah berkata demikian, asal kau dapat mengelakkan serangan senjata rahasiaku tanpa mendapat luka sedikitpun juga, aku Gu Long Goan akan menyerah kalah!"

Hee Thian Siang tahu bahwa lawannya itu terkenal namanya karena senjata rahasianya itu, maka senjata rahasia itu pasti hebat sekali, tetapi ia masih tetap tidak merasa gentar, berkata sambil menganggukkan kepala dan tertawa;

"Sahabat Gu, silahkan mengeluarkan semua kepandaianmu, Hee Thian Siang bersedia belajar kenal dengan kepandaianmu menggunakan senjata rahasia!"

Sehabis berkata demikian, orangnya bergerak setinggi satu tombak lebih, lalu berdiri ditumpukan tulang-tulang sambil tersenyum.

Senjata rahasia Gu Long Goan itu sebetulnya terdiri dari tiga buah jarum, tiga batang duri ikan terbang, butir mutiara, segenggam pasir beracun dan sebumbung lebah kuning emas, tetapi karena dalam babak pertama Hee Thian Siang telah melukai Pao It Hui demikian parah, maka ia bertekad untuk menuntut sakit hati Jikonya, maka diam-diam ia menambah lagi tiga batang bulu burung berbisa, tetapi ia simpan senjata rahasia itu, dan akan digunakan jikalau perlu.

Tujuh jenis senjata rahasia itu meskipun dilancarkan sekali- gus, tetapi keluarnya tidak berbareng, ada yang dari kanan dan dari kiri, pendek kata, serangan dengan tujuh jenis senjata rahasia itu, akan mengurung Hee Thian Siang dari berbagai penjuru, asal terkena salah satu dari senjata rahasia itu, jiwa Hee Thian Siang pasti melayang. Hee Thian Siang yang melihat cara menggunakan senjata rahasia lawannya demikian indah juga terkejut, ia lalu menggerakkan ilmunya Kian-thian-khi-kang, dirubah menjadi benda yang tidak berwujud untuk melindungi sekitar tubuhnya, disamping itu ia menggunakan ilmunya Bunga Mawar berterbangan, terbang melayang diatas.

Walaupun gerakan dengan ilmu Bunga Mawar Berterbangan itu luar biasa lincah dan gesitnya, tetapi disebabkan jumlah senjata rahasia yang dilancarkan oleh Gu Long Goan tadi jumlahnya terlalu banyak, maka Hee Thian Siang masih terkena dari sebatang duri ikan terbang, tiga butir pasir beracun, sebilah belati beracun dan dua buah sengat lebah kuning emas, namun demikian, karena sekitar tubuhnya sudah dilindungi oleh lapisan ilmunya Kian-thian-khi-kang yang merupakan dinding tembok sangat kokoh tak berwujud, maka berbagai senjata rahasia itu pada terjatuh ditanah, dan ia sedikitpun tidak mendapat laka apa-apa.

Gu Long Goan yang menyaksikan Hee Thian Siang memiliki kepandaian dan kekuatan tenaga demikian hebat, diam-diam terkejut, tangan kirinya diam-diam mengibas, tiga batang bulu burung berbisa telah melesat dengan bentuk lingkaran tanpa bersuara.

Waktu itu Hee Thian Siang baru saja melayang turun, dan baru saja mengacungkan ibu jari tangannya untuk memberi pujian kepada lawannya, katanya sambil tersenyum;

"Sahabat Gu, seranganmu sekaligus menggunakan tujuh macam senjata rahasia ini, benar-benar merupakan kepandaian ilmu tunggal dalam dunia Kang-ouw "

Tetapi belum habis ucapannya, tiga batang bulu burung beracun yang khusus untuk memunahkan kekuatan hawa murni itu sudah memutar dan menyerang dari belakang, langsung menuju kejalan darah kematian dibelakang punggung Hee Thian Siang. Gu Long Goan sementara itu sudah tertawa terbahak- bahak dan berkata;

"Ilmu menyerang dengan tujuh jenis senjata rahasia Gu Long Goan, sudah tentu merupakan ilmu kepandaian tunggal dalam dunia Kang-ouw, terutama senjata rahasiaku yang terampuh bulu burung berbisa ini yang khusus digunakan untuk memecahkan hawa murni yang melindungi tubuh, bisanya yang terkandung dalam senjata ini tidak kalah dengan duri beracun Thian-keng-cek dari golongan Kun-lun-pay, senjata ini begitu melihat darah, segera bekerja racunnya, sahabat Hee tadi kau menggunakan kata-kata sangat tajam, dan sekarang apakah kau masih dapat membuka mulut untuk bicara ?"

Sementara itu, Cin Lok Pho yang menyaksikan keadaan demikian, telah mengeluarkan napas panjang dan tidak bisa berkata apa-apa."

Tetapi Hee Thian Siang sebaliknya bersikap acuh tak acuh, seolah-olah tidak ada terjadi sesuatu atas dirinya, terlebih dulu sepasang matanya yang tajam ditujukan kepada senjata- senjata rahasia Gu Long Goan yang jatuh berserakan ditanah, kemudian membalikan badannya dan mencabut tiga batang bulu burung berbisa yang menancap dibajunya, setelah itu ia lemparkan kembali kepada Gu Long Goan seraya berkata sambil tertawa;

"Gerakan tanganmu dan akal muslihatmu, kedua-duanya sangat hebat, tetapi senjata rahasia itu agaknya bertambah satu macam, seharusnya kau sebut dari jumlah tujuh menjadi delapan, barulah sesuai dengan kenyataan! Oleh karena tindakanmu ini, aku baru menyadari dan tahu apa sebab para sahabat-sahabat dunia Kang-ouw menganggap kalian tiga bersaudara sebagai manusia busuk yang tidak bermoral!"

Walau jalan darah kematian diatas punggung Hee Thian Siang sudah terkena serangan senjata rahasia burung berbisa, ternyata sedikitpun tidak celaka dan masih tetap tertawa-tawa seolah-olah tidak terjadi apa-apa, hal ini bukan saja mengejutkan Gu Long Goan, hingga saat itu ia merasa malu sekali, tetapi juga mengherankan Con Lok Pho, karena ia sesungguhnya tidak menduga sama sekali akan kejadian itu, juga tidak mengerti apa sebabnya!

Sekalipun Hee Thian Siang sendiri, saat itu sudah mengucurkan keringat dingin, dalam hati diam-diam merasa bersyukur terhadap Tiong-sun Hui Kheng.

Sebab meskipun ia memiliki tiga lembar sisik naga pelindung jalan darah, tetapi kesemuanya itu dipergunakan untuk melindungi jalan darah didepan dadanya, dan ketika Tiong-sun Hui Kheng waktu berpisah dengannya, menghadiahkan lagi kepadanya tiga lembar untuk melindungi jalan darah dibelakang punggungnya.

Apabila tidak ada Tiong-sun Hui Kheng yang demikian besar perhatiannya atas keselamatan dirinya, maka sekarang ini pasti ia sudah terbinasa oleh karena terkena serangan tiga batang bulu burung berbisa itu.

Kalau memikirkan hal itu, ia lalu teringat dan bersyukur kepada kecintaan Tiong-sun Hui Kheng, tetapi disamping itu ia pun sudah mengucurkan keringat dingin.

Hantu malam tujuh tangan Gu Long Goan dengan wajah sangat malu mengundurkan diri dengan diam-diam, sementara itu Cin Lok Pho masih tetap merasa kuatir, maka bertanya kepada Hee Thian Siang dengan suara perlahan;

"Hee laote jangan terlalu gegabah, kau sebenarnya telah terluka atau tidak? Bagaimana kalau dalam babak ketiga ini aku wakili dirimu?"

"Cin Locianpwe doakan saja, Hee Thian Siang masih tidak sampai terluka ditangan manusia tidak tahu malu itu, aku dengan Cong-lam-sam-sat sudah mengadakan pertaruhan, apabila Locianpwe hendak menggantikan, bukankah senjata pusaka perguruanku Hian-khian-pek-lek, akan dihadiahkan kepada mereka ?"

Baru saja Cin Lok Pho hendak berkata lagi, Hee Thian Siang sudah menyapu Cong-lam-sam-sat dan berkata lagi sambil tertawa;

"Locianpwe jangan kuatir, biarlah Locianpwe siap berjaga- jaga disamping, biarlah mereka menggunakan akal sangat rendah, tetapi kita sudah ada perjanjian dimuka, dengan sendirinya tidak dapat ditarik kembali, aku sekarang harus turun kelapangan lagi untuk melanjutkan pertandingan dalam babak ketiga, untuk belajar kenal dengan ilmu pedangnya Khong-khong Hweshio yang sangat lihay!"

Khong-khong Hweshio tidak marah juga tidak terkejut, wajahnya masih tenang-tenang seperti biasa, ia mengangguk- anggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum;

"Sejak dahulu kala orang yang berkepandaian tinggi sudah tentu bernyali besar, sahabat Hee meskipun memandang ringan pinceng, tetapi hal yang sebaliknya membuat pinceng bertambah hati-hati menghadapi sahabat Hee, sekarang harap sahabat Hee keluarkan senjatamu, supaya kita dapat mulai!"

Hee Thian Siang sebetulnya hendak melayani padri itu dengan tangan kosong, yang kemudian akan merebut pedang dari tangannya, tetapi kemudian ia berpikir lagi, babak terakhir ini sangat besar artinya, apabila ia sampai salah bertindak tidak dapat ditarik kembali.

Oleh karena itu maka ia tidak berani berlaku sombong lagi, sesaat kemudian ia mengeluarkan senjatanya bulu burung lima warna siap untuk menghadapi lawannya. Khong-khong Hweshio melihat Hee Thian Siang mengeluarkan bulu burung warna lima sebagai senjata, meskipun merasa heran tetapi ia tahu bahwa bulu burung itu pasti bukanlah barang biasa! Maka ia sedikitpun tidak berani berlaku gegabah, ia membuka pedang Liu-yap-bian-si- kiamnya yang digulung, hingga sesaat kemudian pedang yang sudah menjadi lurus itu digunakan untuk menyerang Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang sudah tentu tahu bahwa serangan Khong- khong Hweshio itu sangat hebat, begitu mulai sudah menggunakan gerak tipu serangan yang sangat amph, ia sudah mengambil keputusan hendak menunjukkan semua kepandaiannya didalam lembah kematian ini, maka segera menggerakkan bulu burung warna lima dalam tangannya, melakukan suatu gerakan yang ditujukan ketengah udara yang waktu itu sudah penuh dengan sinar pedang Khong- khong Hweshio.

Khong-khong Hweesio meskipun tidak tahu bahwa senjata bulu burung yang digunakan oleh Hee Thian Siang itu, sebetulnya adalah senjata yang sangat luar biasa dari Thian-ie Taysu pada jaman dahulu, tetapi ia juga dapat mengerti bahwa meskipun gerakan tangan anak muda itu tampaknya biasa saja, tetapi ada mengandung perubahan yang sangat hebat, serangan pedangnya yang hebat telah ditutup olehnya.

Dalam keadaan terkejut, ia segera merobah gerak tipunya, tetapi gerakan Hee Thian Siang cepat luar biasa, senjata bulu burung warna lima didalam tangannya sudah bergerak lagi, kali ini ia melancarkan serangannya dengan menggunakan jurus menyelamatkan jiwa orang banyak, selagi Khong-khong Hweshio menarik kembali serangannya dan merobah gerak tipunya, serangan sudah tiba dengan hebatnya.

Serangan dengan gerak tipu itu mengandung tenaga hebat, dalam pertempuran digunung Ki-lian dahulu Hee Thian Siang sudah pernah menggunakan serangan dengan gerak tipu itu, sekali pun seorang tokoh kenamaan seperti Pek-kut Sin-kun juga tidak berani menyambut dengan kekerasan, bagaimana Khong-khong Hweshio sanggup menahan serangan hebat itu

?

Ia sudah tidak keburu untuk menyingkir, hendak menangkis juga sudah tidak berdaya lagi, sebaliknya balas melancarkan serangan kepada lawannya yang masih muda itu.

Hee Thian Siang sengaja menguji kepandaian padri itu, ia tidak bermaksud untuk melukai lawannya, bulu burung itu hanya menyerempet saja dipundak kanan Khong-khong Hweshio, tetapi padri itu sudah menjerit dan mundur terhuyung-huyung beberapa langkah, pedang Liu-yap-bian-si- kiam ditangannya benar saja sudah berpindah kedalam tangan Hee Thian Siang.

Cin Lok Pho yang menyaksikan kejadian itu, lalu tertawa dan berkata dengan pujiannya;

"Hee laote, dua gerak tipu yang kau gunakan tadi, sesungguhnya merupakan gerak tipu yang sangat mengagumkan, Aku Cin Lok Pho benar-benar merasa kagum terhadap kepandaianmu!"

Hee Thian Siang tersenyum, dengan tangan memegang pedang Liu-yap-bian-si-kiam, dengan sinar mata tajam mengawasi Khong-khong Hweshio, Gu Long Goan dan Pao It Hui bergiliran kemudian berkata dengan nada suara dingin;

Hee Thian Siang sudah belajar kenal dengan kepandaian kalian dalam tiga babak, atas tindakan kalian yang mengalah, hingga Hee Thian Siang dapat menyelesaikan pertandingan ini dengan baik, Dalam babak terakhir Hee Thian Siang merasa beruntung, dalam waktu dua jurus sudah berhasil merebut pedang dari tangan Khong-khong Hweshio! Entah bagaimana pikiran sahabat bertiga, apakah masih perlu melanjutkan pertandingan lagi ?" Khong-khong Hweshio sikapnya masih tenang-tenang saja, atas pertanyaan Hee Thian Siang itu, ia menjawab;

"Kita tiga bersaudara Cong-lam-sam-sat! rela menyerah kalah, sahabat Hee ingin bertanya apa silahkan tanya saja !"

Mata Hee Thian Siang ditujukan kepada pedang ditangannya, dan bertanya kepada Khong-khong Hweshio;

"Pedangmu Liu-yap=bian-si-kiam ini, dari mana kau dapatkan ?"

"Pedang ini kudapatkan dari tangan seorang wanita cantik yang usianya masih muda belia!"

Hee Thian Siang terkejut mendengar jawaban itu, buru- buru melanjutkan pertanyaannya;

"Dari mana kau dapatkan! Apakah kau dapatkan dimulut selat Wan-hiap disungai Tiang-kang?"

"Bukan, bukan, tempat pinceng mendapatkan pedang ini, justru didalam lembah kematian ini!" menjawab Khong-khong Hweshio sambil menggelengkan kepala.

Hee Thian Siang semakin mendengar semakin bingung, ia bertanya pula sambil mengerutkan alisnya;

"Wanita cantik yang masih muda itu, berada dimana sekarang ?"

Khong-khong Hweesio mengulurkan tangannya menunjukkan tumpukan tulang-tulang ditepi tebing yang merupakan makam yang tampaknya masih baru, jawabnya sambil tersenyum; "Semua wanita cantik adalah bibit bencana, perempuan cantik yang masih muda ini, kini sudah menjadi tumpukan tulang-tulang ditempat itu!"

Hee Thian Siang yang mendengar jawaban itu jantungnya terguncang keras, ia bertanya lagi:

"Khong-khong Taysu, bersediakah kau memberitahukan padaku, bagaimana bedak dan bentuk serta dandanan wanita cantik yang masih muda itu?"

Khong-khong Hweshio menatap wajah Hee Thian Siang, sikapnya tampak sangat aneh, katanya sambil tersenyum;

"Dalam perjanjian kita, seharusnya kau hendak mengajukan berapa pertanyaan?"

"Tiga !"

"Khong-khong Hweshio tertawa hambar dan berkata; "Kalau benar tiga, maka pertanyaanmu yang keempat

ini,agaknya sudah diluar batas perjanjian kita, maka pinceng boleh menolak untuk menjawab!"

Hee Thian Siang yang mendengar jawaban itu, sejenak tampak tercengang, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala;

"Pertanyaanku yang sudah ditetapkan dalam perjanjian memang sudah kau jawab, sekarang pertanyaan ini karena diluar perjanjian, maka Hee Thian Siang bersedia menghadiahkan kepadamu lain barang."

"Tiga bersaudara Cong-lam-sam-sat banyak pengalaman dan pengetahuan, meskipun sahabat Hee memberikan tumpukan emas berlian, juga belum tentu dapat membuat kita.

. . . ." "Tumpukan emas berlian, bukan berarti apa-apa bagi orang rimba persilatan, Khong-khong taysu jikalau kau sudi menjawab pertanyaanku yang diluar perjanjian tadi, Hee Thian Siang bersedia memberikan kepadamu sebuah benda pusaka yang jarang ada didalam dunia ini!"

"Apakah yang sahabat Hee maksudkan dengan benda pusaka yang jarang ada itu!" bertanya Khong-khong Hweshio sambil tersenyum.

Hee Thian Siang mengacungkan pedang Liu-yap-bian-si- kiam ditangan kirinya, dibolang balingkan sebentar kemudian berkata;

"Dengan pedang ini aku dapat membunuh naga didalam air, dapat menerkam singa dan harimau didaratan, pedang ini bisa berlaku keras dan berlaku lunak, biarlah aku bersedia menghadiahkan pedang ini kepadamu!"

Khong-khong Hweshio menggelengkan kepala dan berkata sambil tertawa;

"Aku tidak menghendaki pedang Liu-yap-bian-si-kiam, kecuali. "

"Habis kau menghendaki barang apa ?"

"Aku menghendaki bom peledak Kian-thian-pek-lek milik Pak-bin Sin-po yang namanya menggemparkan rimba persilatan dan khasiatnya dapat menggetarkan gunung!"

"Kian-thian-pek-lek adalah benda pusaka perguruanku, aku tidak dapat menerima permintaan ini!" jawab Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala.

Baru berkata sampai disitu, dengan tiba-tiba sekujur tubuhnya merasakan dingin, hingga untuk sesaat ia gemetaran. Khong-khong Hweshio mendadak menunjuk dengan sikap jumawanya, ia berkata dengan suara bengis;

"Apa? Kau tidak suka menerima permintaanku? tidak perduli kau suka atau tidak, bom peledak Kian-thian-pek-lek itu yang dapat digunakan untuk menjagoi rimba persilatan, sudah menjadi milik pinceng!"

"Kamu semua adalah bekas pecundangku, dengan mengandalkan apalagi kau berani mengucapkan perkataan sombong seperti ini?"

Khong-khong Hweshio tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata;

"Aku ingat sebelum aku bertanding denganmu, bukankah kau berkata bahwa diantara tiga orang Cong-lam-sam-sat, akulah yang paling banyak akalnya, maka kau akan berlaku lebih hati-hati terhadapku ?"

Dalam dua jurus sudah kehilangan pedang, itu bukti bahwa kau tidak ada apa-apanya yang lebih unggul daripada mereka!"

Khong-khong Hweshio menunjukkan senyuman yang misteri, kemudian berkata;

"Nama julukanku si budha berbisa, bagi orang-orang baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih, baru mendengar nama saja tiada satu yang tidak takut, hanya kau si setan kecil ini, yang terlalu jumawa dan menganggap dirimu sendiri terlalu kuat,, kau tidak tahu betapa tingginya langit dan berapa tebalnya bumi, hingga tidak tahu bahwa kau sebetulnya sudah kemasukan racun yang sangat berbisa, sekarang nyawamu sudah terancam, bagaimana tidak mau menyerahkan Kian-thian-pek-lek untuk minta belas kasihan dariku?" Hee Thian Siang lupa bahwa tadi ketika tubuhnya merasa dingin sehingga gemetaran, masih menunjukkan sikapnya yang sombong, hendak membantah ucapan padri itu, tetapi Cin Lok Pho yang sudah banyak pengalaman menghampiri kepadanya, lalu berkata dengan suara perlahan;

"Hee laote, coba dulu kau atur pernapasanmu untuk memeriksa keadaan dalam tubuhmu, ada perobahan apa-apa atau tidak ?"

Hee Thian Siang tersenyum, belum lagi ia mengatur pernapasannya, dengan tiba-tiba jantungnya tergoncang keras, kemudian matanya gelap dan jatuh pingsan ditanah.

Khong-khong Hweshio tertawa terbahak-bahak, ia membongkokkan badannya, dan mengambil kembali pedang Liu-yap-bian-si-kiam dari tangan Hee Thian Siang.

Cin Lok Pho mengira Khong-khong Hweshio hendak melakukan kejahatan terhadap Hee Thian Siang, buru-buru membentak dan menyerang dengan ilmunya Pan-sian-ciang- lek.

Khong-khong Hweshio melesat sejauh setombak lebih, katanya sambil tersenyum;

"Sahabat Cin, jangan terburu napsu, aku hanya menghendaki bom peledak Kian-thian-pek-lek dibadan setan kecil ini, tidak menghendaki nyawanya!"

Oleh karena Khong-khong Hweshio menyingkir, maka serangan hebat Cin Lok Pho tadi sudah membuat tulang- tulang disitu pada beterbangan.

Oleh karena Khong-khong Hweshio sudah menyingkir, maka Cin Lok Pho lalu maju dan berada disamping Hee Thian Siang dengan sangat hati-hati ia melindunginya, tetapi ketika matanya melihat pedang Liu-yap-bian-si-kiam ditangan Khong-khong Hweshio ia segera sadar, maka segera bertanya kepadanya;

Taysu benar-benar seorang yang mempunyai banyak akal, kau ternyata sudah memoles racun berbisa diatas gagang pedang itu!"

Khong-khong Hweshio menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa;

Pandangan mata sahabat Cin benar-benar sangat tajam, setan kecil ini karena terlalu mengandalkan kepandaiannya dan bersikap jumawa, ia sudah berani mengeluarkan omong besar bahwa dalam tiga jurus hendak merebut pedang ini dari tangan pinceng, maka pinceng lalu memoleskan racun berbisa diatas pedang, dan sengaja membiarkan pedang ini direbut olehnya!"

Cin Lok Pho yang mendengar ucapan itu, diam-diam merasa gemas kepada padri yang licik dan banyak akalnya itu, kemudian berkata dengan nada suara dingin;

"Perlu apa Taysu harus berlaku demikian kejam terhadap Hee Thian Siang laote? Hee laote ini bukanlah orang dari golongan sembarangan, karena ia adalah ahli waris tunggal dari Pak-bin Sin-po, juga bakal menantu Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng. "

Khong-khong Hweshio menyela, dan berkata sambil tertawa dingin;

"Pinceng tidak perduli betapa tinggi kedudukannya, apabila dalam waktu beberapa menit, ia tidak memberikan bom peledak Kian-thian-pek-lek kepadaku, maka setan cilik she Hee ini akan hancur lebur tulang-tulang dan dagingnya!"

Cin Lok Pho yang mendengar ucapan itu, saat itu merasa bingung, karena Kian-thian-pek-lek adalah barang wasiat perguruan Hee Thian Siang, apabila terjatuh ditangan Cong- lam-sam-sat yang merupakan orang-orang jahat tidak kenal batas, maka kemudian hari pasti akan membawa bencana lebih hebat bagi rimba persilatan, Tetapi keadaan yang sedang dihadapinya sekarang, dimana racun ganas yang berada dalam tubuh Hee Thian Siang, jikalau bukan Khong- khong Hweshio yang memberikan obat pemunahnya, sudah tentu jiwanya tidak akan tertolong. . . . . .

Cin Lok Pho masih dalam keragu-raguan, Khong-khong Hweshio sudah berkata lagi sambil tertawa;

"Sahabat Cin, kalau kau menunda waktumu satu jam saja, setan cilik Hee Thian Siang ini akan lekas pergi menghadap kepada Giam-lo-ong, menurut keteranganmu tadi apabila setan cilik ini mati, bukan saja golongan Pak-bin akan putus riwayatnya, tetapi anak perempuan Tiong-sun Seng, juga akan menjadi janda muda!"

Cin Lok Pho tahu bahwa keadaan sudah semakin menggawat, tidak boleh ditunda lagi, terpaksa berkata dengan suara berat;

"Harap taysu suka memberikan obat pemunahnya, Cin Lok Pho menerima baik permintaanmu, bom peledak Kian-thian- pek-lek itu untuk sementara boleh diberikan kepadamu, tetapi dikemudian hari apabila bertemu lagi didunia Kang-ouw aku tidak berani jamin. "

Khong-khong Hweshio menganggukan kepala dengan memotong ucapan Cin Lok Pho;

"Sudah tentu, benda pusaka sangat berharga seperti ini kalian tidak akan rela hati memberikannya kepadaku, dikemudian hari kalian boleh saja menggunakan kepandaian kalian untuk merebut kembali dari tanganku!" Cin Lok Pho yang mendengar ia berkata demikian, lantas mengulurkan tangannya dan berkata;

"Taysu, dimana obat pemunah itu sekarang ?" Khong-khong Hweshio berkata sambil tertawa tawar;

"Sahabat Cin, jikalau aku memberikan obat pemunah lebih dulu kepadamu, apakah masih aku dapatkan bom peledak itu

?"

Sepasang alis Cin Lok Pho berdiri, katanya dengan suara lantang;

"Ketua partai Lo-hu-pay Peng-sim Sin-nie adalah sutitku, Cin Lok Pho dengan gelarnya Boan-bwee-lo-long, dalam rimba persilatan masih mendapat sedikit nama, urusan sekecil ini, aku masih sanggup untuk tidak mengingkari janji sendiri!"

Khong-khong Hweshio kembali tertawa, kemudian berkata; "Bom Kian-thian-pek-lek itu adalah milik Hee Thian Siang,

sekalipun kau tidak mengingkari janjimu sendiri, tetapi jikalau ia tidak boleh bagaimana ?"

"Hee Thian Siang laote adalah seorang muda yang berjiwa besar, ia tidak bisa tidak akan menjaga nama baikku Boan- bwee-lo-long, seandai ia tidak mau menyerahkan, Cin Lok Pho akan segera bunuh diri dihadapannya, Taysu seharusnya boleh tak usah kuatir lagi!"

Khong-khong Hweshio tahu benar bahwa nama ia sendiri sudah terkenal kejahatan dan kebusukannya dikalangan Kalangan Kang-ouw, tidak mungkin Cin Lok Pho mau menyerahkan bom peledak Kian-thian-pek-leknya lebih dahulu, apabila ia kukuh akan pendiriannya, maka soal ini pasti akan gagal, Karena mengingat benda pusaka yang mempunyai pengaruh hebat itu sudah berada dihadapan matanya, apabila terlolos lagi bukankah sangat sayang? Maka setelah mendengar ucapan Cin Lok Pho demikian, ia lalu berkata sambil menganggukkan kepala;

"Kalau sahabat Cin sudah berkata demikian, pinceng memandang kedudukanmu dan nama gelarmu Boan-bwee-lo- long, suka memberikan obat pemunahnya kepadamu lebih dahulu!" Sehabis berkata demikian, ia memberikan sebutir pil warna merah kepada Cin Lok Pho.

Cin Lok Pho masih kuatir padri itu main gila, maka lebih dulu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya ditelapak tangan kanannya, dan menutup jalan darah sekujur tubuhnya untuk sementara, kemudian baru menyambuti pil yang dihadapkan kepadanya itu.

Khong-khong Hweshio dan Gu Long Goan serta Pao It Hui, melihat sikap hati-hati Cin Lok Pho seperti itu, semuanya diam-diam berpikir;

"Jahe yang tua bagaimanapun juga lebih pedas, tadi apabila orang tua ini yang merupakan seorang Kang-ouw kawakan yang menggantikan kedudukan Hee Thian Siang, pasti tidak akan mudah terjebak.

Cin Lok Pho setelah menyambuti pil warna merah itu, diperiksanya sebentar, ketika tidak tampak tanda-tanda yang aneh, kembali diletakkan didepan hidungnya untuk dicium, ia dapat mengendus bau harum, maka ia baru merasa lega dan diberikan kepada Hee Thian Siang.

Sesaat kemudian, Hee Thian Siang sudah siuman kembali, ia lompat bangun, matanya menatap Cong-lan-sam-sat secara bergiliran, kemudian memaki-maki dengan suara keras;

"Perbuatan kalian yang tidak tahu malu itu, barangkali sampai menghadapi ajal juga tidak bisa berubah!" Meskipun dicaci-maki demikian, Khong-khong Hweshio sedikitpun tidak marah, bahkan masih berkata sambil tertawa cengar-cengir;

"Baik orang busuk dari rimba hijau mau pun perbuatan rendah, racun dibadanmu sudah punah dan keselamatanmu juga sudah pulih kembali, mengapatidak lekas menyerahkan Bom peledak Kian-thian-pek-lek kepadaku ?"

Hee Thian Siang masih belum tahu pembicaraan antara Khong-khong Hweshio dengan Cin Lok Pho yang dilakukan ketika ia dalam keadaan pingsan, maka ketika mendengar ucapan itu lantas menjadi marah, katanya;

"Apa? Aku harus menyerahkan Bom peledak Kian-thian- pek-lek kepadamu? Sekalipun kalian Cong-lam-sam-sat ingin hancur lebur, juga masih belum pantas mendapatkan benda pusaka milik perguruanku ini!"

"Ini adalah suatu perdagangan yang sudah dilakukan antara pinceng dengan sahabat Cin tadi, jikalau tidak demikian, bagaimana aku sudi menghadiahkan obat pemunah racun kepadamu? Kalau kubiarkan saja kau dalam keadaan demikian, bukankah kau lekas akan menghadap kepada raja akhirat?" jawab Khong-khong Hweshio sambil tertawa.

Hee Thian Siang terperanjat mendengar keterangan itu, ia berpaling dan bertanya kepada Cin Lok Pho;

"Cin Locianpwe, benarkah aku sudah makan obat pemunah dari padri ini ?"

Wajah Cin Lok Pho menjadi agak merah, ia menjawab sambil menghela napas panjang;

"Cin Lok Pho seorang tua bangka yang tidak berguna, tidak berhasil melenyapkan racun dalam tubuhmu, terpaksa menerima baik permintaan padri itu!" Sepasang alis Hee Thian Siang berdiri, matanya menatap Khong-khong Hweshio, lalu kembali bertanya;

"Jikalau aku tidak mau menerima baik soal perdagangan ini, maka apa yang kalian bisa berbuat terhadap aku ?"

Hantu malam bertangan tujuh Gu Long Goan baru saja mengeluarkan suara geramnya yang hebat, Khong-khong Hweshio sudah mencegah dan ia berkata kepada Hee Thian Siang sambil menunjuk Cin Lok Pho;

"Jual-beli ini, ialah berdasarkan nama baik Boan-bwee-lo- long didalam rimba persilatan yang telah bertindak sebagai perantara dan menjamin bahwa dirimu tidak akan mengingkari janjinya, kalau kau coba menolak, ia segera akan bunuh diri dihadapan matamu!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lalu bertanya kepada Cin Lok Pho;

"Cin Locianpwe, benar Cin Locianpwe mengadakan janji dengan jaminan demikian padanya?"

Cin Lok Pho tahu benar bahwa senjata Kian-thian-pek-lek itu bagi Hee Thian Siang sangat penting sekali, apalagi senjata itu demikian hebat pengaruhnya, apabila terjatuh ditangan kawanan penjahat, kemungkinan besar akan menimbulkan bencana hebat bagi rimba persilatan, maka ia lalu berkata sambil mengertak gigi;

"Hee laote jangan kuatir, aku tahu senjata Kian-thian-pek- lek ini penting sekali bagimu, hingga bagi seluruh umat manusia sekali-kali tidak boleh terjatuh ditangan kawanan penjahat yang tidak tahu malu seperti mereka ini, maka harap kau lindungi baik-baik. "

Belum habis ucapannya, Khong-khong Hweshio sudah membentak kepada Cin Lok Pho dengan suara keras; "Cin Lok Pho, apa kau sudah tidak menghargai nama baikmu sendiri yang sudah kau pupuk beberapa puluh tahun lamanya, sehingga berani mengingkari janjimu sendiri?"

Sepasang mata Cin Lok Pho terbuka lebar, dengan sinar mata berkilauan ia berkata;

"Siapa kata aku tidak menghargai nama baikku sendiri? Siapa kata aku mengingkari janji? Aku tadi toh sudah pernah berkata lebih baik aku bunuh diri, paling-paling lembah kematian ini menjadi kuburanku untuk mengubur tulang- tulangku yang sudah bangkotan!" 

Khong-khong Hweshio yang mendengar ucapan itu, biji matanya buas berputaran, ia pikir, tujuannya sendiri ialah ingin mendapatkan senjata terampuh dalam rimba persilatan itu, tetapi ia tidak menduga bahwa Cin Lok Pho lebih suika menghabiskan nyawanya sendiri untuk mempertahankan kepercayaannya, hal ini membuat ia tidak berdaya untuk mencapai maksudnya, dan sekarang bagaimanakah sebaiknya ia harus bertindak?

Cong-lam-sam-sat merupakan orang-orang yang buas dan kejam, tetapi setelah mendengar ucapan demikian dari Cin Lok Pho, ia tidak berdaya.

Pada saat kedua pihak saling berhadapan tanpa berdaya, tiba-tiba tampak sinar hitam melesat dari tangan Hee Thian Siang, ditujukan kepada Khong-khong Hweshio.

Dengan perasaan kuatir, takut dan dengan sangat hati-hati, Khong-khong Hweshio memnyambut benda itu denga lengan jubahnya, tatkala pandangan matanya tertumbuk pada benda hitam itu, bukan kepalang girangnya, sehingga jantungnya bergoncang hebat, benar saja benda itu adalah Bom peledak Kian-thian-pek-lek yang menggemparkan rimba persilatan. Cin Lok Pho ketika melihat Hee Thian Siang dengan tiba- tiba melemparkan senjata Bom peledaknya Kian-thian-pek-lek, bukan kepalang terkejutnya, ia hendak merintangi, tetapi tidak keburu, terpaksa berkata kepadanya dengan suara cemas;

"Hee laote, kau. . . . .kau. "

Hee Thian Siang menggoyangkan tangannya sambil tersenyum memotong ucapan Cin Lok Pho.

"Cin Locianpwe, Bom peledak Kian-thian-pek-lek ini, meskipun cukup untuk mengancam rimba persilatan, juga merupakan benda pusaka yang sangat berharga dalam perguruanku, tetapi apabila dibandingkan dengan nama baik Locianpwe, benda ini tidak berarti apa-apa! Oleh karenanya, maka Hee Thian Siang lebih suka mengorbankan benda ini dari pada nama baik Locianpwe harus tercemar karenanya!"

Kata-kata itu telah menunjukkan betapa besar jiwa Hee Thian Siang, hal ini bukan saja sangat mengagumkan Cin Lok Pho, bahkan orang-orang yang terkenal sebagai penjahat besar yang tidak disenangi oleh orang-orang dari kalangan Kang-ouw, seperti Cong-lam-sam-sat juga memberi pujian tinggi.

Hee Thian Siang ketika berkata sampai disitu, lalu mengawasi Kian-thian-pek-lek yang sudah berada ditangan Khong-khong Hweshio, kemudian bertanya kepada Cin Lok Pho sambil tersenyum;

"Cin Locianpwe, sekarang ini meskipun aku sudah memberikan Kian-thian-pek-lek kepada padri itu, tetapi apakah masih boleh kurampas kembali?"

"Sudah tentu boleh, tetapi menurut tata tertib dunia Kang- ouw, urusan hari ini kita bikin habis sampai disini, dikemudian hari apabila bertemu lagi boleh Hee laote bertindak untuk merebut kembali benda peledak itu!" Setelah mendengar ucapan itu Hee Thian Siang lalu berkata kepada Cong-lam-sam-sat;

"Karena Cin Locianpwe sudah berkata demikian, maka harap kalian bertiga baik-baik melindungi senjata peledak Kian-thian-pek-lek dan pedang Liu-yan-bian-si-kiam itu, apabila dikemudian hari kalian berjumpa lagi dengan aku, aku tidak akan berlaku murah hati seperti sekarang!"

"Kita tiga saudara mempunyai suatu cita-cita! yang selama ini belum tercapai, dan sekarang sudah mendapatkan senjata peledak seperti Kian-thian-pek-lek ini, untuk selanjutnya barangkali sudah dapat memuaskan hati kami, oleh karena itu maka kalau kalian nanti sudah berlalu dari sini, kami bertiga saudara juga akan meninggalkan lembah kematian ini! Dunia sangat luas, apakah kita masih bisa bertemu lagi, ini merupakan suatu tanda tanya dan tergantung kepada jodoh kita masing-masing!" berkata Khong-khong Hweshio sambil tersenyum.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lalu berkata kepada Cin Lok Pho sambil tertawa;

"Cin Locianpwe, perjalanan kita kelembah kematian ini, sampai disini berakhir sudah, seharusnya sudah tiba waktunya untuk minta diri kepada orang-orang ini!"

Baru saja Cin Lok Pho menganggukkan kepala, Khong- khong Hweshio sudah berkata;

"Tunggu dulu !"

"Dengan sinar mata tajam Hee Thian Siang menatap wajah padri tua itu, tanyanya dengan suara nyaring;

"Taysu merintangi aku berlalu dari sini, apakah masih ingin menunjukkan kepandaianmu lagi?" "Khong-khong Hweshio menggelengkan kepala dan berkata dengan suara dingin;

"Urusan hari ini sudah beres, sekalipun kita ingin bertindak, juga harus ditunda pada lain waktu, Aku hanya memandang muka kepada Kian-thian-pek-lek ini, hendak memberikan sebuah barang hadiah kepadamu!"

"Oh! Seorang yang berhati kejam seperti Taysu ini ternyata masih akan memberikan hadiah kepadaku?"

Khong-khong Hweshio oleh karena Kian-thian-pek-lek sudah berada ditangannya, sudah tentu merasa bangga terhadap ejekan dan caci-maki Hee Thian Siang, sedikitpun tidak menghiraukan, ia berkata sambil menganggukkan kepala;

"Apakah kau sudah lupa masih ada satu pertanyaan yang aku belum jawab kepadamu?"

Hee Thian Siang teringat pertanyaannya tadi, maka lalu ia bertanya;

"Aku hanya ingin bertanya kepadamu tentang wanita cantik berusia muda yang membawa pedang Liu-yap-bian-si-kiam ini, bagaimana macamnya, ada ciri-cirinya? Apakah kau sudi memberitahukan kepadaku ?"

"Paras nona itu cantik sekali, ia mengenakan pakaian warna kuning emas, kecuali ini pinceng sudah tidak tahu lagi, maka juga tidak dapat memberitahukan kepadamu!"

Begitu mendengar keterangan itu, Hee Thian Siang kembali mengerutkan alisnya, oleh karena sudah tidak bisa mengorek keterangan apa-apa lagi, maka bersama Cin Lok Pho keluar lagi dari lembah kematian melalui lobang kecil tadi. Setelah keluar dari lembah kematian Hee Thian Siang berdiri ditepi danau yang airnya jernih itu, mendongakkan kepala mengawasi gumpalan awan sambil menghela napas panjang.

Cin Lok Pho telah menduga keliru maksud Hee Thian Siang, berkata kepadanya sambil tertawa kecil;

"Urusan didalam lembah kematian, sesungguhnya karena Cin Lok Pho yang kurang waspada dan bertindak keliru, sehingga mengakibatkan Hee laote kehilangan barang pusaka perguruanmu, entah kemudian hari dapat direbut kembali atau tidak ?"

"Urusan ini, sebetulnya karena kelalaian dan kesembronoan Hee Thian Siang sendiri, bila Locianpwe tidak bertindak tepat, barangkali Hee Thian Siang sudah terbinasa ditangan padri jahat itu!"

Semakin Hee Thian Siang menyesalkan dirinya sendiri, semakin membuat tidak enak bagi Cin Lok Pho, katanya sambil menggelengkan kepala dan menghela napas;

"Sebetulnya, seorang seperti aku ini yang sudah berusia hampir seratus tahun, matipun tidak perlu dibuat sayang! Aku hanya takut kalau senjata Kian-thian-pek-lek itu yang mempunyai kekuatan hebat, bisa membawa bencana lebih besar bagi rimba persilatan, dosa ini bukankah sangat. . . . . . .

."

Tidak menunggu habis ucapan Cin Lok Pho, Hee Thian Siang sudah tertawa terbahak-bahak.

Oleh karena perbuatannya itu sehingga membuat Cin Lok Pho semakin bingung, ia bertanya dengan perasaan heran; "Hee laote, lantaran urusan senjata peledak Kian-thian-pek- lek, aku sudah merasa gelisah sekali, bagaimana kau masih bisa tertawa demikian riang ?"

"Aku tertawa karena merasa geli terhadap Khong-khong Hweshio si budha berbisa itu, percuma saja ia cerdik dan banyak akal busuknya, tetapi akhirnya toh masih ada kelalaiannya juga, ia telah membawa pergi sebutir Kian-thian- pek-lek yang tak ada gunanya!"

Cin Lok Pho yang mendengar ucapan itu, diam-diam merasa girang, tanyanya;

"Menurut katamu ini, apakah senjata peledak Kian-thian- pek-lek itu, adalah barang tiruan ?"

"Kian-thian-pek-lek yang kuberikan kepada padri itu memang betul barang peninggalan suhu yang tulen, sedikitpun tidak salah, bagaimana Locianpwe anggap barang tiruan?" jawab Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala.

Cin Lok Pho semakin tidak mengerti, tanyanya cemas; "Kian-thian-pek-lek itu kalau bukan barang tiruan,

bagaimana Laote katakan tidak ada gunanya sama sekali ?"

"Coba Locianpwe pikir, senjata terampuh seperti Kian- thian-pek-lek itu, apakah tidak disertai dengan cara menggunakannya yang khusus ?"

Mendengar ucapan itu, maka Cin Lok Pho baru sadar, katanya sambil tertawa terbahak-bahak;

"Benar, benar! Khong-khong Hweshio setelah mendapatkan Kian-thian-pek-lek itu lantas kegirangan setengah mati, hingga lupa untuk menanyakan kepadamu bagaimana cara menggunakannya!" "Oleh karena itu meskipun untuk sementara Hee Thian Siang sudah kehilangan barang pusaka perguruannya tetapi tidak mungkin benda itu dapat digunakan secara serampangan oleh Cong-lam-sam-sat! Tunggu saja, kalau sudah ada kesempatan, nanti Hee Thian Siang akan mencari jejak mereka bertiga untuk merebutnya kembali!"

Meskipun ia masih bisa berbicara sambil tertawa-tawa, tetapi pada akhirnya suara tertawanya itu mendadak lenyap, dan berganti dengan wajah murung.

Cin Lok Pho yang menyaksikan perobahan itu, bertanya dengan agak terkejut;

"Hee laote selamanya suka riang gembira, bagaimana hari ini tampaknya kau selalu seperti berduka saja, apakah disebabkan karena pedang Liu-yap-bian-si-kiam itu ?"

"Maksudku mengajak Locianpwe mengambil jalan memutar kelembah kematian ini, sebetulnya lantaran ucapan Siang- swat Sianjin Leng Biauw Biauw Locianpwe yang mengatakan tentang empat tempat sebagai petunjuk untuk mencari jejak Liok Giok Ji, diluar dugaanku, disini Hee Thian Siang menemukan senjata senjata Liu-yap-bian-si-kiam milik kawan akrabku yang lain ialah nona Hok Sui In, yang ternyata sudah menamatkan riwayat ditempat ini!" menjawab Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

"Urusan ini benar-benar diluar dugaan kita, oleh karena aku tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, tidak tahu bagaimana pikiran Hee laote terhadap urusan ini ?"

"Yang sangat membingungkan ialah tentang jawaban terakhir dari Khong-khong Hweshio yang mengatakan bahwa nona itu mengenakan baju berwarna kuning emas!" "Keterangan mengenai pakaian yang dipakai oleh nona itu, agaknya biasa saja, mengapa Hee laote pandang demikan penting ?"

"Locianpwe barangkali masih belum tahu, tiga sahabat wanita akrabku itu, baik Tiong-sun Hui Kheng maupun Liok Giok Ji atau Hok Sui In, semuanya suka mengenakan baju warna kuning emas, dan kini menurut keterangan Khong- khong Hweshio bahwa nona yang berparas cantik itu, juga mengenakan pakaian berwarna kuning emas, bukankah ini sangat membingungkan ?"

Mendengar ucapan itu Cin Lok Pho hanya bisa berpikir sambil mengerutkan alisnya, sementara itu Hee Thian Siang sudah berkata lagi;

"Diantara mereka bertiga, Tiong-sun Hui Kheng karena mengikuti ayahnya pergi mengasingkan diri untuk melatih ilmu silat yang lebih dalam, sudah tentu tidak pikirkan tentang dia, tetapi yang harus dikhawatirkan ialah Liok Giok Ji dengan Hok Sui In berdua, siapa sebetulnya yang mengalami nasib buruk? Ataukah hal ini semua tidak ada hubungannya dengan mereka, ini benar-benar merupakan suatu teka-teki yang tidak mudah dipecahkan!"

"Coba Hee laote sebutkan apa yang mencurigakan kau, supaya aku dapat membantu untuk memikirkan!"

"Sebab nona cantik berpakaian warna kuning emas itu dibadannya ada membawa pedang Liu-yap-bian-si-kiam, maka lebih dulu aku anggap sebagai Hok Sui In!"

"Sekarang Laote coba teruskan lagi !"

"Tetapi menurut apa yang dilihat oleh U-thi Khao diatas puncak gunung, Hok Sui In yang balas diserang oleh wanita kesepian yang sudah hampir mati dengan goloknya, kemudian keduanya jatuh kedalam jurang yang tingginya seratus tombak lebih, jelas sudah pasti telah hanyut oleh air sungai, bagaimana masih bisa hidup lagi?"

Mendengar keterangan sampai disitu, Cin Lok Pho lantas berkata;

"Urusan didalam dunia, kadang-kadang banyak sekali keajaiban dan keganjilan, mungkin nona Hok Sui In masih panjang umur, dalam keadaan yang sangat berbahaya itu telah mendapat pertolongan sehingga lolos dari bahaya maut!"

"Harapan semacam ini, sebetulnya sedikit sekali! Tetapi andaikata benar Hok Sui In dalam bahaya telah mendapat pertolongan, sehingga lolos dari kematian, ia seharusnya segera pulang kegunung Ngo-bie, untuk menjumpai Ciangbun sucinya Hian-hian Sianlo, untuk menceritakan pengalamannya, tidak mungkin tanpa sebab melarikan diri kedalam lembah kematian untuk menjadi setan dalam lembah itu!"

Cin Lok Pho tampak berpikir keras, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala;

"Analisa Hee laote ini memang masuk diakal, aku juga menganggap nona cantik berpakaian warna kuning emas yang terbinasa didalam lembah kematian itu, tidak mungkin kalau nona Hok Sui In!"

"Kalau perumpamaan pertama ini tidak mungkin, maka perumpamaan kedua ialah bagi diri Liok Giok Ji!"

"Siang-swat Siangjin Leng Biauw Biauw, sudah memberi petunjuk empat tempat kepada Hee laote, maka kemungkinan Liok Giok Ji yang datang kelembah kematian itu, lebih besar daripada Hok Sui In!" "Aku juga menduga kemungkinan besar Liok Giok Ji datang kesitu, tetapi Liok Giok Ji tidak memiliki pedang pusaka itu, darimanakah pedang Liu-yap-bian-si-kiam itu?"

Cin Lok Pho yang mendengar ucapan itu, juga merasa bahwa sebetulnya ini terlalu ruwet, dan tidak mudah untuk dipelajari.

Hee Thian Siang berkata pula sambil tertawa kecil; "Setelah Hee Thian Siang pikir bolak-balik, diantara Hok

Sui In dengan Liok Giok Ji, masing-masing ada kemungkinan setengah-setengah, juga masing-masing tidak ada kemungkinan setengah-setengah, maka aku pikir seperti ini!"

Dalam keadaan tidak berdaya, Cin Lok Pho hanya bisa menghiburi Hee Thian Siang, katanya sambil tersenyum;

"Kalau memang demikian, aku sebaliknya menganggap bahwa nona cantik berbaju kuning emas yang binasa didalam lembah kematian itu, bukanlah Liok Giok Ji, juga bukan Hok Sui In, sama sekali bukan salah satu diantara mereka berdua!"

"Munculnya pedang pusaka Liu-yap-bian-si-kiam ditempat ini, membuat Hee Thian Siang semakin memikirkan nasib Hok Sui In! Tentang diri Liok Giok Ji, menurut petunjuk Leng Locianpwe, diantara empat tempat itu, sudah dua tempat yang kukunjungi, kini hanya tinggal dua tempat yang belum dan satu diantaranya ialah tentang tempat yang disebut sebagai Istana kesepian itu, masih merupakan suatu tempat yang samar-samar, entah dimana letaknya!" berkata Hee Thian Siang sambil menghela napas panjang.