Makam Bunga Mawar Jilid 23

 
Jilid 23

Sebelum menjawab pertanyaan Tham Eng mengenai delapan jenis rasa cinta itu, lebih dahulu Tiong-sun Seng menatap Hee THian Siang, baru melanjutkan:

"Persahabatan sejati, hubungan itu yang disebutkan cinta dalam. Sahabat berfoya-foya merupakan cinta hambar. Perpisahan permaisuri zaman dahulu ialah Lo-sin dengan Cho Pa yang berarti cinta murni. Berada ditengah-tengah rumpun bunga seruni sambil memandang gunung-gunung sejauh pandangan mata, itulah merupakan suatu perasaan yang tenang. Perpisahan ditepi sungai Tian-kang yang dilakukan oleh sepasang suami-istri dijaman dahulu, itulah merupakan cinta mengharukan. Diwaktu haus minum es, diwaktu musim salju, diwaktu lapar mengharap dapat makanan dari Utara, itulah yang dinamakan suatu perasaan yang memilukan. Sementara tentang cinta yang mengandung arti gagah, agaknya kita akan menengadahkan sajak Ceng-khie-ko yang dikarang oleh Bun Bun San jaman dahulu, rasanya dapat digunakan untuk mewakili cinta semacam ini!" Jawaban itu telah membuat Tham Eng yang mendengarkan serentak menundukkan kepala diam saja, kemudian ia mengundurkan diri sambil memberi hormat, sementara dalam hatinya merasa sangat kagum terhadap orang tua itu.

Pek-kut Ie-su yang menyaksikan tiga pertanyaan Tham Eng sudah dijawab semua dengan baik oleh Tiong-sun Seng, maka lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum:

"Hee laote, sekarang adalah giliranmu untuk menanyakan tiga pertanyaan kepadaku. Kau boleh putar otak sebaik- baiknya, pertanyaan itu semakin sulit semakin baik!"

"Totiang jangan kuatir, pertanyaan yang diajukan oleh nona Tham tadi kepada Tiong-sun Seng Cianpe tidak terhitung sulit, aku juga tidak akan berlaku keterlaluan yang menyulitkan kepada Totiang!" Menjawab Hee Thian Siang sambil tertawa.

Berkata sampai disitu, badannya bergerak, melakukan suatu serangan yang tadi pernah digunakan tiga kali dengan beruntun untuk menyerang Khi Tay Cao, gerak tipu itu adalah salah satu dari gerak tipu ilmu silat Bunga Mawar yang dinamakan Bun-kun mencuci pakaian.

Pek-kut Ie-su berkata dengan perasaan terheran-heran: "Mengapa kau tidak mengajukan  pertanyaan, sebaliknya

menunjukkan gerak tipu yang kau gunakan tadi?"

"Tadi aku menggunakan gerak tipu ini, dengan beruntun tiga kali melancarkan serangan kepada Khi ciangbunjin, tetapi semuanya tidak berhasil. maka pertanyaanku yang kesatu itu, adalah ingin menanyakan kepada Totiang, apakah serangan dan gerak tipu ini kekurangannya?"

Pek-kut Ie-su benar-benar tidak menduga bahwa pertanyaan yang diajukan oleh Hee Thian Siang itu demikian sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Tetapi ia juga tidak boleh tidak menjawab, terpaksa sambil mengerutkan alisnya ia berkata:

"Gerak tipu yang kau gunakan tadi, sangat aneh sekali, sama sekali tidak ada kekurangannya. Lawanmu kalau bukan seorang yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi daripadamu dan mempunyai banyak pengalaman dalam medan pertempuran, pasti merasa sulit juga untuk mengelakkan seranganmu tadi. Tetapi menurut apa yang kulihat, kau rupa-rupanya belum lama mempelajari ilmu itu, maka didalam soal ketenangan dan kemantapan masih agak kurang. Perobahan gerakanmu juga kurang lincah! Jikalau tidak mungkin Khi Ciangbunjin siang-siang tadi sudah mendapat kesulitan dari seranganmu yang tadi."

Hee Thian Siang tahu bahwa jawaban Pek-kut Ie-su itu memang benar, maka ia menerimanya kemudian mengeluarkan lagi gerak tipu yang dari pelajaran ilmu silat yang ia dapat dari Thian Ie Sianjin, gerak tipu itu ialah yang dinamakan menolong sesama dalam kesulitan, kemudian bertanya kepada Pek-kut Ie su:

"Kedua Hee Thian Siang ingin bertanya kepada Totiang, gerak tipu penjagaanku ini, apakah kekurangannya? Umpama kata akan bertanding dengan Pek-kut Thian-kun dapatkah mengelakkan dengan baik serangan Pek-kut Thian kun yang dinamakan serangan geledek yang sangat hebat itu?”

Pertanyaan ini, benar-benar tidak habis dipikir, hingga Pek- kut Ie-su, saat itu mengerutkan alisnya, tetapi terpaksa menjawab juga:

"Gerak tipu penjagaan diri ini, lebih indah. Sedikitpun tidak ada kekurangannya. Lawanmu apabila tidak memiliki kekuatan tenaga dalam setidak-tidaknya 50% keatas darimu, bagi serangan yang bagaimanapun sulitnya, juga dapat kau elakkan atau punahkan! Tetapi apabila toakoku menyerang dengan tenaga penuh, oleh karena kekuatan tenaga kedua pihak berselisih sangat jauh, sekalipun kau menggunakan gerak tipu penjagaan diri yang sangat indah ini, walaupun tidak sampai mati, tetapi juga pasti akan terluka parah!"

Hee Thian Siang yang mendengar jawaban itu, oleh karena ia tahu bahwa jawaban itu bukanlah sekedar sebagai gertakan, maka terhadap Pek-kut Thian kun yang merupakan kepala dalam rombongan Pek-kut Sam-mo, diam-diam harus mengakui, harus semakin waspada.

"Kau masih ada satu pertanyaan yang terakhir, sebaiknya kau pikir dulu baik-baik. Jikalau tidak, maka pertandingan tiga babak dengan Thian-gwa Ceng-mo ini barangkali akan berakhir dengan seri lagi!" Berkata Pek-kut Ie-su sambil menatap Hee Thian Siang.

"Tadi dalam tiga pertanyaan nona Tham, semua tidak terlepas dari soal perasaan dan cinta. Hee Thian Siang juga tidak akan meninggalkan diri dari pertanyaan yang ada hubungannya dengan dua pertanyaan diatas tadi."

"Apakah kau masih hendak menunjukkan beberapa gerak tipu lagi?" bertanya Pek-kut Ie-su tersenyum.

"Untuk pertanyaan yang ketiga ini, boanpe hendak bertanya kepada Totiang, gerak tipu menyerang dan gerak tipu menjaga diri yang kutunjukkan tadi, apa namanya? dan dari ciptaan siapa serta dari golongan mana?"

Pertanyaan ini, ternyata membuat kesulitan bagi Pek-kut Ie- su, hingga saat itu ia bungkam berdiri terpaku ditengah lapangan.

"Dari senjata bulu burung warna lima yang digunakan oleh Hee Thian Siang tadi Pek-kut Ie-su telah dapat menduga, bahwa dua macam gerak tipu yang sangat indah itu, setidak- tidaknya ada satu dari Thian Ie Sianjin, akan tetapi karena ia belum tahu benar, lagi pula tidak dapat menyebutkan namanya, terpaksa menghela napas dengan muka merah, kemudian dengan menggandeng tangan Tham Eng, ia kembali kerombongannya dengan muka murung.

Selagi Hee THian Siang masih berdiri dalam keadaan gembira dan bangga, Tiong-sun Seng sudah menghampiri dan menepuk bahunya, kemudian berkata dengan suara perlahan sambil tersenyum:

"Hee hiantit, pertandingan dalam pertemuan telah mendekati babak akhir, Pek-kut Thian kun yang merupakan salah seorang yang paling sulit dihadapi didalam barisan Pek- kut Sam-mo sudah akan turun sendiri, maka kita harus kembali kerombongan, untuk berunding lebih jauh dengan para ketua partai."

Seraya berkata demikian, bersama-sama HeeThian Sian kembali kerombongannya.

Begitu tiba dalam rombongannya, Hee Thian Siang pertama-tama sudah berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa:

"Enci Tiong-sun, siaote masih merasa beruntung tidak sampai memalukan!"

Tiong-sun Hui Kheng tahu bahwa Hee Thian Siang waktu itu merasa sangat gembira, maka ia juga lalu berkata sambil tersenyum:

"Pantas kalau adik Siang merasa gembira dan bangga. Tiga pertanyaanmu itu, kau majukan dengan menyesuaikan keadaan yang sedang dihadapi, sesungguhnya sangat pintar sekali. Kalau dibandingkan dengan pertanyaan Tham Eng tadi, sesungguhnya kau jauh lebih pintar!"

"Enci jangan hanya memuji aku saja, sebabnya siaote ini tidak sampai memalukan, ialah oleh karena pengetahuan dan pengalaman Pek-kut Ie-su, bagaimanapun juga masih kalah kalau dibandingkan dengan empek Tiong-sun! Tham Eng sesungguhnya memiliki kecerdikan luar biasa, ia hendak menggunakan persoalan perasaan dan cinta buat menyulitkan Thian-gwa Ceng-mo, terutama pertanyaan yang terakhir, lebih menyulitkan kecuali empek Tiong-sun yang sudah banyak pengalaman dan pengetahuan, barangkali tiada seorangpun yang dapat menjawab!"

Tiong-sun Seng yang berada disamping, ketika mendengar ucapan itu lalu berkata sambil tertawa:

"Hee hiantit jangan menempelkan emas dimukaku, Pek-kut Sam-mo benar-benar bukan hanya nama kosong belaka. Tadi, dalam dua babak yang lalu hampir saja nama baikku termusnah ditangan iblis itu!"

Berkata sampai disitu, ia lalu berpaling dan berkata kepada para ketua dari partai-partai Ngo-bie, Swat-san, Lo-hu, Bu- tong dan anggota pelindung partai Siao-lim pay:

"Pertemuan berdirinya partai Ceng-thian-pay sudah hendak berakhir, aku pikir tidak perlu menunggu Pek-kut Thian-kun turun kelapangan, kiranya kurasa boleh Hee Thian Siang yang mengeluarkan tantangan lebih dahulu, untuk membakar hatinya!"

Swat San Peng lo Leng, Pek Ciok lalu bertanya sambil mengerutkan alisnya:

"Tiong-sun tayhiap hendak suruh Hee Thian Siang laote menghadapi Pek-kut Thian kun, apakah tidak terlalu berbahaya?"

Dengan wajah dan sikap sungguh-sungguh Tiong-sun Seng menjawab sambil mengangguk-angguk: "Sudah tentu berbahaya, tetapi jikalau lain orang yang turun kelapangan, bahayanya lebih besar. Oleh karena aku harus berusaha untuk melindungi nama baik tuan-tuan sebagai ketua dari partai besar, dan nama baik yang dipupuk dengan susah payah dari tuan-tuan lainnya, terpaksa hanya mengharap agar Hee hiantit dan It-pun Sinceng tegak bergandengan tangan melawan Pek-kut Thian-kun, kita hanya mendoakan saja, semoga Tuhan melindungi mereka, mungkin dengan kecerdikan mereka berdua, sanggup menghadapi dan menyesuaikan keadaan, tidak sampai mendapat bahaya besar!"

pada saat itu, ketua partai Butong Hong-hoat Cinjin tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepada para ketua partai ketua dan pelindung hukum partai Siaolim:

"Pinto ada sedikit usul, sekarang ini kekuatan partai baru Ceng-thian-pay sudah mulai dipupuk, kawanan penjahat sudah coba-coba hendak bergerak, raja siluman Hian Wan Liat kembali sudah berserikat dengan kawanan penjahat dari negara luar, sedang mengintai daerah Tiong-goan, mereka rupa-rupanya sudah bertekad hendak mengacau rimba persilatan! Kita orang-orang yang ditugaskan untuk membasmi kejahatan dan melindungi kebaikan, kecuali harus mempertinggi kewaspadaan dan memperkuat diri sendiri, apakah tidak perlu kita memupuk kader-kader baru dari orang angkatan muda yang berbakat baik supaya kita bisa menciptakan beberapa tokoh sangat kuat yang tidak mungkin ditandingi oleh mereka?"

Para ketua partai dan Ceng-kak Siansu semuanya menganggukkan kepala menandakan setuju.

Hong-hoat Cinjin lalu melanjutkan pertanyaannya:

"Hee Thian Siang laote dan nona Tiong-sun Hui Kheng, baik kepandaian ilmu silat maupun tulang-tulang dan bakat serta sifat mereka, apakah boleh disebut sebagai orang-orang yang memiliki bakat luar biasa, yang ada harga untuk mendapat bimbingan dari kita?"

Tiga ketua partai besar dan anggota pelindung hukum gereja Siao-lim, kembali menganggukkan kepala sebagai tanda suka menerima baik usul itu.

Hong-hoat Cinjin dengan mata menatap Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng sejenak berkata dengan sungguh- sungguh:

"Jikalau tuan-tuan setuju dengan usul pinto ini, maka pinto minta masing-masing menurunkan semacam kepandaian ilmu silat yang terampuh supaya diturunkan kepada Hee laote dan nona Tiong-sun. Sebab, meskipun mereka yang satu ialah murid dari orang tingkatan tua kenamaan dan yang lain adalah putri dari jago kenamaan pula tetapi seperti apa yang peribahasa kata, tumbuh pasir bisa menjadi menara, kumpulan potongan kain bisa menjadi baju. Jikalau masing- masing menurunkan kepandaian ilmu yang ampuh kepada mereka, mereka masih bisa melakukan sendiri dengan baik, dengan demikian diri mereka pasti akan merupakan suatu tunas dari berbagai ilmu terampuh angkatan tua!"

Ketua partai Lo-hu-pay Peng-sim Sinnie lebih dulu berkata: "Sin-nie bersedia menurunkan ilmu terampuh Sian-ciang

dari golongan Lo-hu!”

Kemudian ketua Swat-san-pay Peng-pek Sin-po juga berkata:

"Aku akan menurunkan ilmuku Kiu-coan han-sin-kang!"

Selanjutnya ketua Ngo-bi- pay Hian Hian Sin-nie juga berkata: "Aku akan menurunkan kitab pelajaran ilmu pedang Phian- hian-kiam-pho yang menjadi kitab mustika golongan Ngo-bie- pay!"

Terakhir anggota pelindung hukum Siao-lim-pay Ceng-kek Siansu setelah memuji nama Buddha, kemudian berkata sambil tersenyum:

"Pinceng tidak memiliki kepandaian apa-apa yang boleh dikatakan ampuh, hanya ingin menurunkan ilmu serangan jari tangan It-ci-sian untuk turut mencukupi jumlah saja!"

Hong-hoat Cinjin berkata sambil menghitung dengan jari tangannya:

"Pan-sian-ciang-lek, Kiu-coan-thian-han-sin-kang. Phian- thian-kiam-pho, It-ci-sian, dalam empat jenis kepandaian ilmu silat yang sangat ampuh itu, kebetulan masih kekurangan semacam pelajaran serangan dengan tinju. Oleh karena itu, biarlah pinto menurunkan ilmu serangan dengan tinju Pek- pow-sin-koan dari golongan Bu-tong-pay!”

Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu, kedua-duanya saling berpandangan dan tersenyum.

Hong-hoat Cinjin berkata pula sambil tertawa:

"Kalau tuan-tuan sudah berkeputusan demikian harap lekas sediakan pelajaran yang hendak tuan-tuan turunkan kepada mereka. nanti setelah pertandingan antara Hee laote dengan Pek-kut Thian-kun selesai, biarlah kita menghadiahkan pelajaran ini sebagai tanda kehormatan untuknya!"

Peng-pek Sin-kun dan lain-lain, masing-masing telah mempersiapkan pelajaran ilmu yang terus ditulis diatas kertas. Hee Thian Siang juga dengan sangat gembira melesat ketengah lapangan. Tiba ditengah lapangan, ia menghadap kepada Pek-kut Thian-kun yang berada dirombongan tuan rumah, berkata dengan suara nyaring sambil memberi hormat:

"Murid golongan Pak-bin, Hee Thian Siang minta dengan hormat kepada Pek-kut Thian-kun supaya suka turun kelapangan untuk menjawab beberapa rupa pertanyaanku!"

Pek-kut Thian-kun melirik kearah Pek-kut Ie-su, Pek-kut Siancu, Khi Tay Cao dan lain-lain setelah itu ia berkata sambil tertawa dingin:

"Bocah ini karena berkali-kali mendapat nama baik, kini ternyata telah menjadi lupa daratan, berani mencari mati lagi. Sebetulnya, sekarangpun aku bertindak terhadapnya, juga tidak ada salahnya!"

baru habis berkata demikian, badannya sudah bergerak dan secepat kilat sudah melayang turun dalam lapangan, dengan mata menatap Hee Thian Siang, bertanya:

"Dalam rombonganmu, orang-orang yang biasa dianggap sebagai pendekar rimba persilatan, mengapa tiada seorangpun yang berani turun kelapangan? Sebaliknya suruh kau seorang dari angkatan muda untuk mengantar nyawa?"

"Pek-kut Thian kun, hargailah sedikit kedudukanmu sendiri! Hee Thian Siang pernah melihat tulisan yang kau gantung didepan tandumu, disitu ada kata-kata yang bersifat menantang suhu. Apakah tidak pantas kalau sekarang aku sebagai muridnya minta sedikit keadilan darimu?"

Pek-kut Thian kun tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata:

"Orang yang boleh minta keadilan dariku, seharusnya cuma Pak-bin Sin-po Hong Poh Cui, bukanlah kau. Dengan usiamu semuda itu dan kekuatan tenagamu seperti sekarang ini, mana pantas kau minta keadilan dariku!"

"Siapa yang berani, tidak usah melihat usia. Siapa yang tidak mempunyai kepandaian sekalipun hidup seribu tahun lagi juga percuma saja"

Pek-kut Thian kun tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata:

"Kau ingin mati tidaklah susah. Tapi sayang, menurut kebiasaanku, selamanya tak pernah aku turun tangan melawan orang dari golongan muda!"

Ketika ia mengucapkan perkataan itu, kekuatan tenaga dalamnya sudah dikerahkan ditelapakan tangan kanan, ia sudah siap, apabila Hee Thian Siang berani mengeluarkan ucapan kasar dan bersikap sombong, atau ada ucapan yang dapat digunakan sebagai alasan untuk ia turun tangan, ia sudah berniat hendak membinasakan Hee Thian Siang dengan sekali pukul.

Tetapi Hee Thian Siang seperti sudah menduga maksud iblis tua itu, waktu itu ia tidak menunjukkan sikapnya yang sombong seperti biasa, sebaliknya malah bersikap ramah, dengan berseri-seri ia berkata:

"Kalau kau anggap aku terlalu muda dan orang dari angkatan muda, aku bisa mencari seorang pembantu. Bagaimana kau pikir?"

Pertanyaan itu, benar-benar diluar dugaan Pek-kut Thian kun, hingga untuk sesaat ia agak terperanjat, lama baru menjawab sambil menganggukkan kepala:

"Sekarang lekas kau panggil pembantumu itu, biar kulihat tampangnya!" Hee Thian Siang memutar tubuhnya dan menghadap ke rombongannya sendiri sambil berseru:

"It-pun Taysu, sekarang Taysu harus menerima tugas!"

It-pun Sinceng sebagaimana biasanya dengan tangannya yang selalu membawa-bawa pot batu kumala berwarna ungu yang didalamnya ada pohon Lengci yang sudah ribuan tahun usianya, keluar dari rombongannya. Dengan wajah berseri- seri gembira melayang turun ketengah lapangan.

Pek-kut Thian kun mengira bahwa orang yang dikatakan sebagai pembantu oleh Hee Thian Siang, dianggapnya pastilah Tiong-sun Hui Kheng yang pernah menghinanya sehingga membawa kematian anak buahnya sendiri, U-bun Hong, maka ia sudah bertekad apabila gadis itu nanti datang hendak dibinasakan sekalian.

Tetapi kini setelah melihat kedatangan It-pun Sinceng, bukan saja merupakan suatu hal yang diluar dugaannya, tetapi juga bukan orang diduga lebih dahulu olehnya, maka ia bertanya sambil mengerutkan alisnya:

"Apakah kalian mengira dengan dua orang bergandengan tangan, lantas sanggup melawanku."

Hee Thian Siang menggelengkan kepala dan berkata sambil tertawa:

"It-pun Taysu ini selama hidupnya belum pernah memukul orang, kalau dia turun kelapangan hanya bersedia untuk menerima gebukan saja!"

Pek-kut Thian kun tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan ucapan Hee Thian Siang maka lalu bertanya dengan terheran-heran: "Jikalau dia tiada maksud memukul orang, hanya hendak menerima gebukan, apakah artinya itu?"

"Sebab kecuali kau, siapa yang pukulannya dapat memuaskan It-pun Taysu ini?" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Pek-kut Thian kun berkata dengan perasaan masih bingung:

"Ia datang hanya khusus hendak menerima gebukanku, itu bukankah terlalu dirugikan?"

"Tidak bisa rugi, biarlah kau yang memukulnya dan aku yang memukul kau, dengan demikian bukankah menjadi adil?"

"Ah, aku mengerti! Pertandingan secara ini juga sangat unik, kiranya kamu berdua yang seorang ialah tukang pukul sedangkan yang lain ialah mandah digebuk!"

"Hingga sekarang kau mengerti, disini suatu bukti bahwa kecerdikanmu dan kecepatanmu berpikir ternyata tidak ada yang luar biasa."

"Hee Thian Siang, kau jangan menggunakan tajamnya lidah saja. Harus kau ketahui, meskipun kau merupakan orang yang menjadi tukang pukul, juga belum tentu kau akan mendapat keuntungan!" Berkata Pek-kut Thian-kun marah.

"Aku tahu, aku bisa berjaga-jaga dengan serangan ilmumu Pek-kut Cui-sim!" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa besar.

"Kalau kau tahu, itu baik! kita sekarang siap-siap buat mulai, aku tidak akan membuka serangan lebih dulu. Tetapi setiap kali kau memukul aku, barulah aku melakukan serangan pembalasan kepada temanmu itu!" Hee Thian siang tampak sangat girang, katanya:

"Jadi kau setuju dengan syarat yang ku-usulkan tadi ?" "Mengapa tidak setuju? Paling banyak dalam tiga  jurus,

diantara kamu berdua, orang yang bertindak sebagai tukang pukul, sepasang tulang-tulang lengannya semua akan patah dan orang yang mandah digebuk, tulang-tulangnya akan remuk dan akhirnya akan mati sebagai daging cincangan!"

It-pun sinceng dengan tenang mendengarkan pembicaraan mereka, hingga kini barulah ia menyebut nama Buddha, kemudian berkata:

"Pinceng bersedia dengan tenang untuk menantikan serangan sicu!"

Mata Pek-kut Thian kun tertuju kepada pot batu kumala ditangannya, kemudian bertanya:

"Kalau kau memang bersedia digebuk, seharusnya berjaga- jaga sebaik mungkin. Mengapa kau masih belum mau meletakkan pot batu kumala ditanganmu itu ?"

Selagi It-pun Sinceng hendak menjawab, telah didahului oleh Hee Thian Siang:

"Didalam partai kalian Ceng-thian-pay ini banyak sekali terdapat sahabat-sahabat yang menjadi tukang culik dan perampok. Oleh karena itu It-pun Taysu kuatir, apabila pot batu kumalanya ditinggalkan, bisa diambil oleh tukang sabot atau perampok seperti apa yang dilakukan oleh orang tadi terhadap benda milik Siaopek si monyet kecil itu."

Diejek demikian oleh Hee Thian Siang, selembar muka Pek-kut Thian-kun menjadi merah seperti kepiting direbus, tetapi ia tetap bungkam tidak berani menjawab. Sementara itu It-pun Sinceng lantas berkata sambil tersenyum:

"Pot batu kumala pinceng ini, selamanya belum pernah berpisah dari tangan pinceng, serangan sicu yang berjumlah tiga jurus itu belum tentu dapat memaksa pinceng melemparkan benda ini!"

Pek-kut Thian kun tertawa besar mendengar perkataan itu, sambil menatap Hee Thian Siang ia membentak dengan suara keras:

"Kalian berdua semuanya boleh beranggapan demikian.

Hayo, lekas turun tangan!"

"Aku yang bertindak sebagai tukang pukul masih belum begitu tergesa-gesa, mengapa orang yang akan digebuk sebaliknya malah demikian terburu nafsu?" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Setelah berkata demikian ia berdiam sejenak kemudian berkata pula sambil tersenyum.

"Sekarang aku hendak mulai menyerang, kau harus siap sedia baik-baik, sedikitpun tidak boleh gegabah! Sebab, kalau aku tak dapat memukul kau, itu memang sudah semestinya, tetapi apabila sampai kesalah tangan, maka kedudukanmu sebagai ketua pelindung hukum partai Ceng-thian-pay sebaliknya akan menjadi goyah, dan mungkin karena kau takut kehilangan muka, hingga akan bunuh diri sendiri dan oleh karenanya pula, nanti It-pun Sinceng terpaksa akan membacakan doa untukmu!"

Pek-kut Thian kun sangat marah diejek demikian, tetapi selagi akan balas memaki, kemudian ia berpikir lagi, ia anggap bahwa apa yang diucapkan oleh Hee Thian Siang itu, memang benar adanya, maka akhirnya ia berlaku sabar dan dengan tenang menunggu serangan Hee Thian Siang. Hee Thian Siang mengangguk-anggukkan kepala dan berkata:

"Sikapmu seperti sekarang ini, barulah menurut sikap dari seorang pemimpin dari Pek-kut Sam-mo. "

Baru saja menutup mulut, serangannya sudah dilancarkan, diam-diam ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dan serangan itu digerakkan lambat-lambat kearah dada Pek-kut Thian-kun.

Dari apa yang telah dipertunjukkan oleh Pek-kut Siancu dan Pek-kut Ie-su, ia dapat mengukur sampai dimana kekuatan tenaga orang, maka kekuatan tenaga yang dikeluarkan untuk menyerang Pek-kut Thian kun sudah merupakan kekuatan yang sangat hebat, malah pada gerakan pertama itu ia lantas mengeluarkan gerak tipu dari ilmu yang diwariskan oleh Thian Ie taysu.

Pek-kut Thian kun sebagai seorang yang berpengetahuan luas sudah tentu segera dapat mengenali ilmu yang bagus. Begitu melihat, ia sudah tahu didalam gerakan serangan Hee Thian Siang yang sangat lambat itu ada mengandung banyak perubahan yang indah dan susah diduga.

Dengan mengandalkan pengalaman serta pengetahuannya dan toh ia masih belum dapat menganalisa sampai dimana hebatnya kekuatan tenaga itu, ini juga merupakan suatu bukti betapa hebat ilmu warisan Thian Ie Siangjin itu.

Oleh karenanya, maka ia tidak mau menempuh bahaya dengan menggunakan dirinya sebagai bahan percobaan. Selagi Hee Thian Siang belum melakukan perobahan dalam gerakannya itu, ia menggunakan ilmunya Thian-mo-pu-in, kedua bahunya tampak bergerak sedikit, sudah lompat menyingkir sejauh setombak lebih. Sambil lompat menyingkir demikian, Pek-kut Thian kun masih bisa menggerakkan lengan jubahnya untuk menyerang It-pun Sinceng.

Hee Thian Siang sungguh tidak menduga Pek-kut Thian kun tiba-tiba bisa bersikap demikian hati-hati terhadap serangannya, hingga ia bisa menyingkir demikian cepat, sudah tentu ia tidak keburu melanjutkan serangannya, dan terpaksa menarik kembali seraya berkata:

"Taysu, hati-hati kekuatan dan kepandaian ketua pelindung hukum partai Ceng-thian-pay ini sesungguhnya tidak boleh dipandang ringan!"

It-pun Sinceng masih tetap dengan satu tangan memegang pot batu kumala, bibirnya menunjukkan senyum riang, seolah- olah tidak mendengar sama sekali peringatan Hee Thian Siang tadi dan terhadap serangan Pek-kut Thian kun yang sedemikian hebat, juga seolah-olah tidak dirasakan.

Kekuatan tenaga Pek-kut Thian kun, benar-benar luar biasa, sambaran angin yang dikirannya tidak berarti itu semula hampir tidak ada suaranya tetapi setelah terpisah dengan tubuh It-pun Sinceng kira-kira empat lima kaki, dengan tiba- tiba mengeluarkan suara menderu dan hembusan angin itu dari lambat berubah menjadi cepat, dengan kekuatannya yang luar biasa besar dan hebatnya menggulung dada It-pun Sinceng!

It-pun Sinceng yang satu tangannya diletakkan didepan dada, sedang mulutnya mengeluarkan pujian nama Buddha, badannya bergerak dan melesat tinggi ketengah udara, seolah-olah terangkat oleh gulungan angin tadi dan jatuh ditempat sejauh empat lima tombak.

Tetapi ketika ia melayang turun dan kakinya menginjak tanah, bukan saja masih tetap dengan posisinya yang semula, sedangkan jubahnya juga tidak tampak ada perobahan seperti kena digulung angin, sikapnya masih tetap tenang-tenang saja, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa atas dirinya.

Hee Thian Siang setelah menyaksikan gerak tipu yang digunakan oleh It-pun Sinceng ini, justru gerak tipu yang dinamakan Bunga Mawar Beterbangan dari ilmu silat Bunga Mawar, tetapi ia masih jauh lebih mahir dari apa yang ia mainkan sendiri.

Disamping kagum, juga semakin berkobar semangatnya untuk memenangkan pertandingan itu, segera kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan selanjutnya dengan satu gerakan dari ilmu silat Bunga Mawar kembali menyerang Pek- kut Thian kun.

Selagi Pek-kut Thian kun terhadap serangan dan gerak tipu itu dari Hee Thian Siang, ia sudah menyaksikan beberapa kali, tahu benar bahwa serangan itu tidak mudah dielakkan. Ia kemudian mengandalkan ilmunya tenaga balik yang ia miliki sengaja menyambut serangan hebat itu sambil tersenyum.

Serangan Hee Thian Siang mengenakan dada Pek-kut Thian kun dengan telak, tetapi ia sendiri dengan tiba-tiba merasakan seperti terdorong oleh kekuatan tenaga membalik, isi perutnya dirasakan bergolak, satu tangan kanannya juga serasa sakit seperti mau patah.

Keadaan seperti itu, sudah tentu mengejutkan padanya, hingg ia lantas mundur tiga langkah buru-buru berdiri tenang untuk memulihkan keadaannya.

Tapi Pek-kut Thian kun sendiri juga tidak menduga Hee Thian Siang memiliki kekuatan tenaga dalam demikian hebat. Serangan yang dilakukan kedepan dadanya tadi ternyata telah memaksa ia mundur setengah langkah.

Mundur setengah langkah, sebetulnya tidak berarti apa- apa, tetapi bagi seorang tokoh kenamaan seperti Pek-kut Thian kun, mundur setengah langkah itu sudah berarti kekalahan besar, hingga saat itu wajahnya menjadi merah, dalam keadaan malu dan marah ia hendak membalas sakit hati itu kepada It-pun Sinceng, maka sambil tertawa dingin kembali melancarkan serangan dengan kebutan lengan jubahnya.

Tetapi serangan Pek-kut Thian kun kali ini, berbeda dengan yang pertama. Ia tidak berlaku seperti main-main. Begitu turun tangan, sudah dibarengi dengan hembusan angin yang menggulung-gulung ditengah udara.

Serangan dengan lengan jubah Pek-kut Thian kun itu cukup kuat dan hebat. Apa mau dikata, It-pun Sinceng lebih lincah dari padanya, juga lincah sekali. Untuk kedua kalinya kembali padri muda tersebut menggunakan ilmu Bunga Mawar Beterbangan, dengan gerak sangat indah terbang melayang- layang setinggi dua tombak.

Hee Thian Siang yang sementara itu sudah pulih kembali kekuatan tenaganya, lalu lompat menyerbu Pek-kut Thian kun dengan menggunakan serangan Tiga jurus Menyelamatkan diri babak terakhir.

Serangan yang sangat ampuh itu, mengandung kekuatan tenaga terlalu kuat. Pek-kut Thian kun yang menyaksikan itu, diam-diam juga terkejut, tidak berani menyambut dengan kekerasan, terpaksa menggunakan pula ilmunya Thian-mo-pu- in, untuk mengelakkan serangan hebat itu.

Ketika serangan yang kedua kali terhadap It-pun Sinceng tidak berhasil, juga ia baru tahu bahwa buat siasat membela diri, padri muda itu benar-benar mempunyai kepandaian khusus, maka ia lalu memikirkan cara lain untuk memperbaik kedudukannya sendiri.

Setelah mengambil keputusan tetap, ia lalu melancarkan serangan lagi. Diluarnya ia kelihatan seperti mengebut dengan lengan jubahnya disertai kekuatan tenaga yang lebih hebat daripada yang terdahulu. Tetapi disamping itu, kedua tangan yang berada dilengan baju telah menyentil dengan tenaga Ceng-khi, mengarah pada pot batu kumala yang berada ditangan It-pun Sinceng.

It-pun Sinceng yang sama sekali tidak menduga perbuatan licik lawannya itu, karena mengira Pek-kut Thian kun hanya melancarkan serangan untuk ketiga kalinya, maka juga hendak menggunakan sekali lagi ilmunya Bunga Mawar Beterbangan untuk mengelak lagi. Ia sudah siap menunggu, sedikitpun tidak pernah menduga kalau lawannya sedang mengincar pot batu giok melalui ilmu tak berwujud dari tangannya.

Serangan dari jari tangan itu sampai lebih dulu, tatkala It- pun Sinceng menyadari keadaan itu, sudah tidak keburu mengelak. Ia hanya merasakan tangan yang memegang pot itu tergetar, kemudian disusul oleh suara menggeretak, pada batu kumala ditangannya lalu tampak beberapa bekas retakan yang panjang.

Sepasang alis It-pun Sinceng mendadak berdiri, baru saja ia hendak menegur, serangan jubah tangan sudah mengancamnya. Terpaksa ia mengelit dulu dengan mengerahkan ilmu Bunga Mawar Beterbangan pula, terbang tinggi!

Hee Thian Siang dapat melihat sikap aneh diwajah It-pun Sinceng, ia mengira paderi muda tersebut terluka dalam, maka buru-buru lompat kesampingnya dan bertanya kepadanya sambil mengerutkan alisnya:

"Taysu kanapa?"

It-pun Sinceng mengawasi pot batu kumala yang retak ditangannya, sepasang alisnya berdiri, baru berkata sambil tersenyum: "Hee laote, tolong kau jaga dari samping, aku hendak minta sedikit keterangan dari Pek-kut Thian kun!"

Sehabis berkata demikian, satu tangan yang diletakkan didepan dada, setelah memuji nama Buddha, matanya lalu menatap Pek-kut Thian kun dan bertanya dengan nada suara dingin:

"Hee Thian Siang laote telah menyerang sicu tiga kali, mengapa sicu membalas serangan terhadap pinceng ditambah dengan bunganya? Kecuali tiga kebutan lengan jubah, sicu menambah lagi satu serangan jari tangan. Itu apa maksudnya?"

Pek-kut Thian kun tahu bahwa perhitungannya sendiri tadi ternyata membawa kesalahan besar, dan sekarang setelah ditegur oleh lawannya menurut aturan dalam dunia kang-ouw, apalagi dihadapan orang banyak seperti itu, bagaimana dapat membantah?

It-pun Sinceng yang melihat selembar muka Pek-kut Thian kun merah seperti kepiting direbus dan tidak bisa menjawab pertanyaannya, maka berkata lagi sambil menunjuk pot batu kumalanya:

"Pinceng mengandalkan pot batu kumala ini mendapat nama sedikit didalam dunia Kang-ouw. Kini benda ini, sicu rusakkan. Terpaksa pinceng akan melepas kebiasaan yang tidak bertempur dengan orang, hendak menuntut balas dendam bagi potku ini. Pinceng akan mencoba mengadu kekuatan tenaga dalam dengan sicu sampai tiga kali sembilan, jadi dua puluh tujuh kali!"

Pek-kut Thian kun yang waktu itu sedang berada dalam kesulitan, tidak bisa memberi jawaban, mendengar ucapan tersebut diam-diam merasa girang, setelah tertawa terbahak- bahak ia lalu berkata: "Jikalau kau sanggup menerima pukulanku duapuluh tujuh kali, aku akan mengganti kau punya pot batu kumala itu!"

"Pot batu kumala ini, seluruhnya terbuat dari batu kumala yang terbaik, didalam dunia jarang terdapat pot semacam ini. Dengan cara bagaimana kau hendak mengganti?" Bertanya It- pun Sinceng.

"Batok kepalaku, atau nama Pek-kut Thian kun boleh dipakai untuk mengganti pot itu, barangkali sudah cukup berharga!" Berkata Pek-kut Thian kun dengan sombongnya.

Tapi It-pun Sinceng menggeleng-gelengkan kepala kemudia berkata:

"Sebagai seorang yang menyucikan diri, selalu menggunakan welas asih sebagai pegangan hidup. Aku tidak mau batok kepalamu, tetapi hanya minta sedikit penjelasan mengenai ucapanmu tadi, yang mengatakan hendak menggunakan nama Pek-kut Thian kun untuk mengganti!"

"Maksudnya ialah, apabila kau benar-benar sanggup menyambut duapuluh tujuh kali seranganku, untuk selanjutnya aku seorang tua ini akan mengasingkan diri. untuk selama- lamanya tidak keluar lagi didunia kang-ouw! Tetapi kau juga harus ingat ucapan menyambut dengan kekerasan, tidak boleh lagi menggunakan cara mengelak terus seperti tadi!"

It-pun Sinceng menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa:

"Baiklah, kita boleh bertanding dengan cara demikian! Didepan mata banyak tokoh rimba persilatan ini, kita mengadu kekuatan tenaga!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu merasa sangat kuatir, ia menarik It-pun Sinceng kesamping, dengan penuh perhatian berkata kepadanya dengan suara perlahan: "Taysu, kekuatan tenaga dalam iblis ini sesungguhnya jarang ada, aku merasa. "

"Hee laote tidak perlu kuatir, dari tiga kali serangannya iblis tua itu tadi, aku sudah tahu sendiri kalau aku masih sanggup menyambut tiga kali serangannya dengan kekerasan!" berkata It-pun Sinceng sambil tersenyum.

"Eee, Taysu, kau ini seperti sudah linglung! Perjanjianmu dengan Pek-kut Thian kun tadi bukan hanya menyambut tiga kali serangannya, melainkan 3 X 9, jadi 27!

"Laote, kau adalah seorang yang sangat pintar. Seharusnya kau bisa tahu, asal aku bisa menyambut tiga kali serangan Pek-kut Thian kun saja, tentunya boleh ditambah sembilan kali, jadi juga berarti sanggup menerima pukulannya sampai dua puluh tujuh kali!"

"Aku hendak menggunakan kesempatan ini supaya iblis tua itu kembali mendapat malu dihadapan orang banyak. Ia tentu tidak akan memungkiri ucapannya sendiri dan untuk selanjutnya akan mengasingkan diri dari tempat umum. Ini bukankah berarti, menghilangkan satu bencana bagi rimba persilatan? Juga tentunya merupakan suatu pahala besar!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu menjadi bingung sendiri. Ia pikir, menurut ucapan It-pun Sinceng, asal dapat menyambut tiga kali serangan Pek-kut Thian kun, juga sanggup ditambah lagi dengan sembilan kali, jadi berturut juga sanggup menyambut pukulannya sampai dua puluh tujuh kali. Apakah artinya itu?

Selagi ia masih memikirkan persoalan rumit itu, It-pun Sinceng sudah berjalan maju lambat-lambat, hendak mengadu kekuatan dengan Pek-kut Thian kun yang tentunya sangat hebat sekali. Hee Thian Siang rupanya sudah tidak bisa mencegah, terpaksa berkata kepadanya dengan nyaring:

"Jikalau Taysu memang sudah bertekad hendak mengadu kekerasan dengan Pek-kut Thian kun biarlah pot batu kumala itu Taysu berikan kepadaku supaya bisa dilindungi!"

It-pun Sinceng berpaling dan memandang Hee Thian Siang sejenak, dengan sinar matanya yang mengandung banyak misteri, sambil tersenyum menjawab kepadanya:

"Tidak perlu Hee laote membawa pot ini, dengan satu tangan saja aku bisa minta pelajaran pada Pek-kut Thian kun.

Hee Thian Siang adalah seorang anak muda yang sangat cerdas. Ketika dipandang oleh It-pun Sinceng dengan sinar matanya yang penuh misteri itu, tergeraklah hatinya. Ia pikir, It-pun Sinceng kalau sudah tahu sendiri bahwa paling banyak dapat menyambut serangan Pek-kut Thian kun tiga kali, tetapi mengapa ia mau mengadakan perjanjian, hendak mengadu kekuatan sampai dua puluh tujuh kali? Dalam hal ini sudah pasti ada mengandung rahasia.

Kalau ditilik dari jumlah yang digunakan sebagai batasan dalam perjanjian itu. It-pun Sinceng mengajukan jumlah tiga kali sembilan, bukankah rahasia dalam jumlah ini pasti terletak pada angka sembilan.

Ketika Hee Thian Siang teringat kepada angka sembilan, matanya secara tiba-tiba tertumpuk kepada pot batu kumala ditangan It-pun Sinceng. Begitu melihat, terbukalah pikirannya. Ia lantas teringat kepada pohon Lengci yang ditanam oleh It- pun Sinceng, seluruhnya ada sembilan daun. Jikalau ia hendak dengan satu tangan membawa pot, satu tangan mengadu kekuatan dengan Pek-kut Thian kun, apakah ia ingin mendapat bantuan dari daun pohon Lengci ini ? Baru saja Hee Thian Siang menyadari perhitungan It-pun Sinceng yang mengandung rahasia itu, Pek-kut Thian kun telah mengerahkan ilmu Hian-kangnya, sehingga kulit sekujur badannya hampir berubah putih bagaikan salju.

Meskipun It-pun Sinceng sudah mempunyai rencana matang, tetapi oleh karena ia tahu benar bahwa ilmu Pek-kut Cui Sim-ciang-lek dari Pek-kut Thian kun lihai sekali, maka ia juga mengerahkan ilmunya dari golongan Buddha Kiu-yat Kim- kong-chiu, yang belum pernah ia gunakan dan kerahkan untuk menghadapi lawannya yang tangguh itu.

Pek-kut Thian kun memperdengarkan suara tertawa dingin, Ketika lengan jubahnya dikebutkan, sekalian melakukan gerakan mendorong kepada It-pun Sinceng, gerakan itu menimbulkan hembusan angin dingin luar biasa yang meluncur menyerbu It-pun Sinceng!

It-pun Sinceng melihat serangan lawannya hebat sekali, maka juga menggunakan tangannya untuk menangkis, kemudian menggunakan ilmunya Kiu-yat Kim-kong-chiu untuk menyambut serangan itu. Ilmu Kiu-yat Kim-kong-chiu meskipun merupakan ilmu tertinggi dari golongan buddha, tetapi karena kekuatan tenaga Pek-kut Thian kun sudah mencapai ketaraf yang tertingi maka begitu kedua kekuatan tenaga itu saling beradu, Pek-kut Thian kun masih berdiri tanpa goyah, sedangkan It-pun Sinceng tidak berhasil mempertahankan kuda-kudanya, terpaksa mundur setengah langkah.

Pek-kut Thian kun tertawa besar, kemudian berkata:

"Tak kusangka kau ternyata benar-benar dapat menyambut seranganku yang hebat ini. Akan tetapi, serangan ini baru merupakan taraf permulaan, dari jumlah dua puluh tujuh serangan yang kita tetapkan masih jauh sekali!" Baru saja menutup mulut, serangan kedua sudah dilancarkan, dari hembusan angin yang menyambar, dapat diketahui bahwa serangan itu ternyata lebih hebat daripada yang pertama. It-pun Sinceng karena terikat oleh janjinya sendiri tadi, tidak boleh menggunakan ilmunya mempertahankan diri untuk mengelakkan serangan itu, terpaksa ia menyambut lagi dengan kekerasan, juga dengan ilmu Kiu-yat Kim-kong-chiu, menyambut serangan hebat itu.

Kali ini kekuatan tenaga kedua pihak kembali saling beradu, disekitar tempat dimana mereka berdiri, pasir dan abu pada beterbangan, jenggot yang panjang dan jubah Pek-kut Thian kun tampak bergoyang-goyang, sedang It-pun Sinceng terdorong mundur tiga langkah.

Sepasang alis Pek-kut Thian kun berdiri, tanpa memberi kesempatan kepada lawannya beristirahat, serangan yang ketiga sudah dilancarkan lagi.

Tetapi It-pun Sinceng dapat menggunakan kesempatan yang sangat singkat itu, dari dalam potnya memetik selembar daun Lengci, dimasukkan kedalam mulutnya sendiri, untuk dikunyah juga untuk ketiga kalinya ia menyambut serangan Pek-kut Thian kun.

Serangan ketiga ini lebih hebat lagi, Pek-kut Thian kun sedikitpun tidak bergoyang, sedangkan It-pun Sinceng telah terpental terbang sejauh tujuh delapan kaki.

Pek-kut Thian kun mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata:

"Perlu apa harus menunggu sampai duapuluh tujuh kali serangan? Dalam tiga kali serangan saja aku sudah bisa menyelesaikan pertandingan ini dan mengirim kau kealam baka!" Baru saja ia menutup mulut, kembali terasa hembusan angin, hingga menarik perhatian semua orang yang berada dipihak tetamu.

Diantarannya ialah Hwa Ji Swat yang merupakan kekasih It-pun Sinceng dan ketua golongan Lo-hu-pay, Peng-sim Sin- nie yang juga merupakan sahabat karib padri muda itu, tampak kekuatiran dihati mereka.

Tapi selembar daun pohon Lengci yang berumur ribuan tahun, yang sudah dikunyah dimulut It-pun Sinceng tadi, kini ternyata sudah menunjukkan khasiatnya yang luar biasa, kekuatan tenaganya dengan cepat sudah pulih kembali, malah sambil tersenyum, ia mengerahkan lagi ilmu Kiu-yat-Kim-kong- chiu, hendak melayani Pek-kut-cui-sim-ciang-lek dari Pek-kut Thian kun.

Pada pertandingan pukulan yang keempat itu, dengan serangan pertama, It-pun Sinceng kalah setengah langkah saja.

Keadaan demikian itu tentu mengejutkan Pek-kut Thian kun, sepasang matanya memandang dengan terheran-heran, kemudian dengan beruntun melancarkan serangan yang kelima dan keenam!

Dengan sikap tenang sekali It-pun Sinceng menyambut serangan yang dilancarkan dengan kuat itu, tetapi setelah menyambuti serangan keenam, kembali ia harus memetik selembar daun Lengcinya untuk dikunyah lagi.

Selanjutnya dengan cara demikian It-pun Sinceng melawan dan menyambut serangan Pek-kut Thian kun yang hebat sekali, namun selama itu ia tetap melawan dengan baik.

Penonton dari kedua pihak termasuk Pek-kut Ie su, Pek-kut Siancu dan lain-lain tiada satupun yang tidak pasang mata dengan penuh perhatian. Sementara itu Pek-kut Thian kun sudah melancarkan serangan yang kedua puluh satu, sedangkan daun pohon Lengci di pot It-pun Sinceng tinggal dua tangkai lagi.

Akan tetapi, sejak serangannya yang kelima belas, serangan Pek-kut Thian kun sudah tidak sehebat seperti semula, saat itu sudah menunjukkan keletihannya.

It-pun Sinceng setelah menyambut serangan yang keduapuluh satu, dengan tiba-tiba ia meletakkan tangannya didepan dada dan menganggukkan kepala memberi hormat dalam-dalam kepada Pek-kut Thian kun seraya katanya:

"Sicu, meskipun sicu memiliki kekuatan tenaga yang sudah mencapai ketaraf yang tertinggi, tetapi kalau digunakan terus- menerus seperti tadi tanpa berhenti, baru dengan beruntun melancarkan serangan duapuluh satu kali, tenaga maupun semangat sicu pasti sudah terganggu!"

Pek-kut Thian kun mendelikkan sepasang matanya, masih tetap dengan sikap yang sombong ia berkata:

"Meskipun tenagaku terhambur banyak, tetapi aku yakin masih cukup kuat untuk melanjutkan lima kali serangan lagi."

It-pun Sinceng menganggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum:

"Memang benar sicu masih sanggup melancarkan serangan enam kali lagi, tetapi daun pohon Lengci didalam pot pinceng ini, masih ada dua tangkai, sebelum mengadakan pertandingan ini pinceng sudah mengadakan perhitungan dengan hitungan yang cermat, setiap helai daun pohon Lengci hasil dan khasiatnya dapat menahan tiga kali serangan sicu yang bagaimanapun hebatnya.”

Pek-kut Thian kun sudah mengalami pengalaman pahit, selama melancarkan dua puluh satu kali senagan tak pernah berhasil, dengan sendirinya sudah tahu bahwa apa yang diucapkan It-pun Sinceng adalah memang hal yang sebenar- benarnya, maka ia lalu diam saja tanpa dapat menjawab.

It-pun Sinceng kembali memberi hormat dan berkata sambil tertawa:

"Kalau masih bisa disudahi, sudahi sajalah, jikalau perlu harus mengundurkan diri, perbuatlah demikian. Karena dengan kekuatan tenaga latihan yang sicu miliki sekarang ini, bila saja sicu tidak mencampuri semua urusan dunia yang banyak bahaya, apalagi bila sicu bisa keluar dari pertarungan untuk berebut nama dan kedudukan ini, alangkah baiknya bagi ketenraman hidup sicu sendiri. "

Pek-kut Thian kun termasuk golongan iblis kenamaan. Tetapi ia sudah mempunyai pengalaman hidup, orangnya juga sangat cerdas. Sebelumnya ucapan It-pun Sinceng, seolah- olah terasa seperti air dingin, keganasan yang tadi nampak diwajahnya, telah lenyap semua, berganti dengan wajah yang berseri-seri. Ia kemudian berpaling kepada empat orang pengusung tandunya dan memerintahkan mereka membawa tandunya ketengah lapangan.

Empat pengusung tandu tadi dengan cepat sudah membawa sebuah tandu besar kelapangan.

Pek-kut Thian kun menurunkan papan nama yang terpancang didepan tandu yang bertuliskan: "Thian-gwa Ceng- mo binasa dalam tiga jurus, Hong-tim Ong-khek terbang semangatnya dalam satu pukulan," kemudian dibalik dan diganti dengan tulisan yang berbunyi: "Kepergianku ini akan menjadi tamu yang asing bagi dunia Kang-ouw untuk selama- lamanya, tidak akan berebut nama dan kedudukan sebagai orang kang-ouw lagi."

Dan tulisan yang berbunyi, "Pak-bin Sin-po hancur lebur tubuhnya" juga dirubah menjadi "urusan dunia bagaikan main catur," kemudian ia melompat masuk kedalam tandunya, lalu memberi hormat kepada It-pun sinceng dan semua orang kedua pihak, setelah mana tandu tersebut digotong oleh empat pengusungnya dan berjalan keluar dari kalangan untuk tidak kembali lagi!

Orang dari rombongan tamu yang menyaksikan kejadian itu, semua pada menarik nafas, sedang Tiong-sun Seng berkata:

"Memang benar urusan didunia ini bagaikan main catur. Barang siapa yang tidak suka main barulah orang pintar. "

Sementara itu It-pun Sinceng bersama Hee Thian Siang sudah kembali kedalam rombongan sendiri.

Semua orang kecuali memberi pujian tinggi kepada It-pun Sinceng, saat itu tulisan-tulisan mengenai kepandaian ilmu silat terampuh dari para ketua partai, juga sudah selesai dan diberikan kepada Tiong-sun Seng, supaya selanjutnya diserahkan kepada Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng buat mereka melaksanakan tugas mereka dikemudian hari.

It-pun Sinceng yang menyaksikan perbuatan itu mereka itu lalu berkata sambil tertawa:

"Demikian besar cinta tuan-tuan terhadap Hee Thian Siang laote dan adik Hui Kheng, kalau begitu pinceng juga bersedia menyerahkan sisa dua helai daun pohon Lengci ini untuk dihadiahkan kepada mereka!"

Sehabis berkata demikian, ia berkata kepada Hee Thian siang dan Tiong-sun Hui Kheng:

"Pohon Lengci ini, dengan beruntun telah kupetik daunya hingga tujuh tangkai, dan sekarang hanya tinggal dua tangkai saja. Dengan demikian sudah tentu khasiatnya juga banyak berkurang. Biarlah untuk sementara aku akan rawat dulu baik- baik, supaya pulih kembali khasiatnya, setelah itu nanti akan kuhadiahkan kepada Hee laote dan adik Hui Kheng, agar dapat kembali gunakan dalam usaha untuk menumpas kalangan penjahat yang mengacau rimba persilatan nanti. Jikalau ilmu kepandaian yang dihadiahkan oleh para ketua partai ini sudah dilatih semua dengan baik, dan bersedia hendak menumpas kalangan penjahat Ceng-thian-pay, serta penjahat dari negara luar itu, harap kalian datang kepuncak Gow-in-hong di gunung Heng-san untuk mencariku!"

Hee Thian Siang dan tiong-sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu lalu memberi hormat kepada It-pun Sinceng dan para ketua partai besar. Tetapi dengan cara demikian, mereka juga jadi merasakan, bahwa tugas yang berat telah diberikan kepada mereka, tugas untuk menghadapi kawanan penjahat itu semakin bertambah berat.

Tiong-sun Seng kembali berkata kepada para ketua lima partai besar:

"Pertemuan ini, hingga kini seharusnya sudah berakhir. Kita juga masing-masing harus pulang ketempat sendiri-sendiri, setelah kembali ketempat kita sndiri-sendiri kita harus mempersiapkan diri untuk mendidik anak buah kita dan melatih ilmu dengan sungguh-sungguh, supaya dapat digunakan untuk menghadapi orang-orang dari golongan penjahat itu!"

Setelah itu Tiong-sun Seng lalu berjalan kedepan dan berkata kepada ketua Ceng-thian-pay, Khi Tay Cao yang berada diseberang sana.

"Khi Ciangbunjin, pertemuan besar Ceng-thian-pay ini sampai disini agaknya sudah boleh diakhiri untuk sementara. Tiong-sun Seng atas nama semua kawan-kawan yang ada disini, mengucapkan banyak-banyak terima-kasih dan dengan ini hendak mohon diri pada Ciangbunjin." Oleh karena senjata yang tersayang telah hancur, dan pula Pek-kut Thian kun telah ditendang oleh kata-kata It-pun Sinceng dan berlalu meninggalkan padanya, maka Khi Tay Cao merasa kecewa dan agak gelisah, tetapi Pek-kut Ie su berkata dengan suara perlahan ditelinganya:

"Khi Ciangbunjin jangan kecil hati, kau penuhi sajalah permintaan Thian-gwa Ceng-mo itu untuk mengakhiri pertemuan ini. Kemudian secepat mungkin kita harus bertindak, lebih dahulu kita membasmi partai Bu-tong, kemudian partai Swat-san, Lo-hu, Ngo-bie dan Siao-lim, kita hancurkan satu persatu dengan demikian bukankah akan lebih baik, daripada harus menghadapi keseluruhannya? Percayalah, akan lebih cepat Khi Ciangbunjin menanamkan kekuasaan!”

Khi Tay Cao yang mendengar ucapan itu, sepasang matanya memancarkan sinar buas, semangatnya terbangun lagi, maka ia lantas tertawa dan berkata kepada Tiong-sun Seng:

"Pertemuan kali ini baiklah kita akhiri dulu sampai disini, harap tuan-tuan suka memaafkan atas jamuan yang kurang pantas dari Khi Tay Cao, semoga dilain waktu kita bertemu lagi!"

Dengan demikian, pertemuan besar yang merupakan pertandingan tokoh-tokoh terkemuka telah dibubarkan, para tamu maupun tuan rumah masing-masing pada pulang ketempatnya sendiri-sendiri.

Tetapi dipihak tuan rumah, masih ada rencana yang lain, Untuk sementara kita tinggalkan dulu, dan dari pihak tamu juga tahu bahwa dunia persilatan sedang menghadapi ancaman besar, bencana dikemudian hari, bahakan mungkin lebih besar daripada yang telah dihadapi hari itu, maka mereka masing-masing kembali ketempatnya sendiri-sendiri, lalu mengadakan persiapan seperlunya. Saat itu, dimulut gunung Ki-lian-san hanya tinggal Tiong- sun Seng, Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang bertiga.

Bagi Hee Thian Siang, diantara tiga orang kawan wanitanya yang terdekat Liok Giok Ji, belum diketahui dimana jejaknya. Hok Siu Im, tidak diketahui bagaimana nasibnya. Masih hidup atau sudah matikah Hok siu Im? dan yang terdekat ialah Tiong-sun Hui Kheng! Kini juga terpaksa harus berpisah untuk sementara, maka sebelum melakukan perpisahan ia tampaknya sangat sedih hingga dua pasang matanya sudah basah dengan air mata.

Tiong-sun Seng sebagai seorang ayah yang sudah banyak pengalaman, juga mengerti bagaimana perasaan kedua anak muda itu. Maka ia dengan alasan hendak pergi bersama Siaopek hendak mencari kudanya Ceng-hong-ki dan Taywong, membiarkan Tiong-sun Hui Kheng mendapat kesempatan untuk menyatakan rasa hatinya kepada kekasihnya.

Ketika Tiong-sun Seng berlalu, Hee Thian Siang tidak dapat menahan lagi perasaan dalam hatinya, ia menggenggam sepasang tangan Tiong-sun Hui Kheng, air matanya mengalir deras.

Bagi Tiong-sun Hui Kheng sendiri, juga demikian perasaannya, tetapi untuk menghiburi Hee Thian Siang, mau tak mau ia harus menunjukkan sikap tenang, katanya sambil tersenyum;

"Adik Siang, kau kenapa? baru saja habis bertempur hebat dengan Khi Tay Cao dan menundukkan Pek-kut Ie su dengan lidahmu yang tajam, kemanakah kegagahanmu tadi itu?"

"Enci Kheng, perlu apa enci masih pura-pura berlaku tenang, toh kita yang sedang menghadapi saat perpisahan ini, dalam hatimu tidak merasa sedih?" menjawab Hee Thian Siang sambil tersenyum. Tiong-sun Hui Kheng yang ditegur demikian sepasang matanya juga lantas merah, tetapi ia masih berkata sambil tersenyum:

"Sudah tentu aku juga merasa duka, bagi kawanan iblis dan penjahat berbagai penjuru kini sudah mau bergerak lagi, bahaya yang mengancam rimba persilatan semakin dekat dan semakin besar, jikalau aku tidak mengikuti ayah untuk mempelajari ilmu Thay-it-thian Sin-kang, dengan cara bagaimana bisa mendampingi kau untuk melindungi rimba persilatan dari mala-petaka?"

Baru berkata sampai disitu, ia berdiam sebentar, matanya menatap Hee Thian Siang dengan penuh cinta kasih, katanya pula lambat-lambat:

"Sedangkan suhumu sendiri Hong-Pho Sian-pak-bin locianpe, juga sudah akan tiba waktunya untuk naik kesorga, kau juga seharusnya lekas kembali kegunung Pak-bin supaya dapat mengantarkan dan menunaikan tugasmu sebagai murid, tidak boleh lantaran urusan kita, lantas menelantarkan urusanmu sendiri. Seandai kau pergi agak terlambat dan nanti tidak keburu bertemu muka dengan suhumu, dengan cara bagaimana kau nanti dapat membalas budi kepada diri sendiri

?"

Mendengar ucapan itu, sekujur badan Hee Thian Siang menjadi basah, keringat dingin mengucur keluar, ia buru-buru berkata:

"Harap enci jangan anggap aku sebagai seorang yang tidak ada gunanya, mana aku dapat mengabaikan kewajibanku terhadap suhu Tetapi perpisahan kita hari ini, entah kapan dan bila baru bisa berkumpul lagi? Saat itulah yang membuat sedih perasaanku." "Adik Siang, kau jangan berpikiran demikian, kalau aku nanti sudah berhasil mempelajari ilmu baruku Thay-it-thian- hian Sin-kang, aku akan mencari jejakmu!"

Sehabis berkata demikian, lalu mengeluarkan lembaran- lembaran ilmu para ketua partai yang tadi ditulis diatas kertas, semua diberikan kepada Hee Thian Siang seraya berkata sambil tersenyum:

"Adik Siang, terima penuh kepandaian ilmu yang sangat ampuh itu, sebetulnya merupakan simpanan yang selamanya belum pernah dikeluarkan, kecuali kepada bakal ketua partai mereka sendiri, betapa berharga dan dalamnya ilmu ini dan sekarang kau ambillah untuk kau pelajari!"

Hee Thian Siang menggoyangkan tanganya tidak mau menerima, katanya sambil tersenyum:

"Enci Kheng, kau mengikuti empek Tiong mempelajari ilmu Thay-it-thian-hian Sin-kang, disamping itu itu merupakan satu kesempatan yang baik untuk sekalian mempelajari lima jenis ilmu ini, lagi pula dengan adanya empek Tiong-sun disamping yang memberi petunjuk, sudah pasti hasilnya akan lebih pesat dan lebih baik! Sedang aku sendiri karena masih ada urusan dan harus diselesaikan lebih dulu, dalam waktu demikian tidak ada kesempatan untuk mempelajarinya!"

"Adik Siang, kau masih ada urusan penting apa perlu diselesaikan dulu?” bertanya Tiong-sun Hui Kheng pelan.

"Urusan penting yang bertama, sudah tentu lekas pulang kegunung Pak-bin, untuk mengantar suhu pulang kesorga!"

"Mengantar keberangkatan suhu itu memang suatu kewajiban yang sudah seharusnya!"

"Dalam soal ini, sudah tentu masih ada banyak hal-hal yang perlu dibereskan, umpama waktu suhu sebelum berhasil mendapat kedudukan seperti sekarang ini, sudah tentu akan meninggalkan warisan ilmunya yang sangat ampuh dan disamping itu suhu pasti akan meninggalkan pesan apa-apa terhadap tugas atau urusan yang belum selesai!"

"Itu semua memang sudah kuterka."

"Dan urusan penting yang kedua, seharusnya mempelajari ilmu Thian Khin Chit Khao-pit-kit yang diwariskan oleh Twa-ji Taysu, jikalau tidak bagaimana lima tahun kemudian kita bisa pergi ke Lam-chian-moy digunung Tay-san, untuk memenuhi janji terhadap Hee Kow Soan, orang tua berbaju kuning itu?"

"O iya, jikalau tidak adik sebut, aku hampir melupakan urusan ini, orang tua berbaju kuning Hee Kow Soan itu, adatnya sangat keras, lagi pula mau menang sendiri saja, perjanjian digunung Tay-san pada lima tahun kemudian, memang benar kita harus lebih dulu siap sedia!"

Urusan penting ketiga ialah mempelajari ilmu peninggalan suhu dan disamping mempelajari ilmu Thian-khin-chit-khao- pit-kit, masih perlu untuk mencari jejak Liok Giok Ji dan soal mati hidupnya Hok Siu Im!”

"Untuk mencari keterangan tentang diri nona Liok dan tentang kematian nona Hok, ini sudah sangat penting, adik Siang bukan saja harus berusaha sekuat tenaga, sedangkan aku dan kau juga masih perlu mencari keterangan dulu mengenai kedua soal itu!"

Berkata sampai disitu ia berdiam sebentar, matanya menatap Hee Thian Siang kemudian berkata lambat-lambat sambil tertawa:

"Tiga urusan penting ini, sudah cukup membuatmu "

belum habis ucapannya, Hee Thian Siang sudah menyela sambil tertawa: "Bukan hanya tiga urusan itu saja, aku masih ada urusan yang keempat!"

"Oh! Urusan keempat? Ini aku tidak dapat menduganya, urusan itu menyangkut persoalan apakah?"

"Pantas enci tidak dapat menduganya, urusan keempat ini, ialah menyangkut diri Siaopek."

Mendengar ucapan itu, Tiong-sun Hui kheng bertanya, "Siaopek hendak merampas kembali rompi emasnya yang

dirampas oleh orang jahat itu?"

"Terhadap perbuatan dua manusia jahat itu aku merasa benci sekali!" berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

"Dua orang itu meskipun patut dibenci, tetapi yang satu berada jauh diseberang lautan Timur, sedang yang lain berada jauh di. "

Tidak menantikan Tiong-sun Hui Kheng mengakhiri ucapannya, Hee Thian Siang sudah memotong:

"Enci Kheng tak usah kuatir, aku tidak akan menyeberang lautan seorang diri, atau pergi ke daerah manusia beracun itu, tapi jejak manusia tidak tahu malu itu apabila masih ada didaerah Tiong-goan, aku harus akan merampas kembali rompi emas yang dirampoknya dan hendak menuntut balas perbuatannya terhadap Siaopek!"

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu, alisnya dikerutkan sambil berpikir, dari badannya membuka tiga lembar sisik emas melindungi jalan darah, diberikan kepada Hee Thian Siang dan dengan sikap yang penuh perhatian berkata: "Adik Siang, sisik naga emas pelindung jalan darah peninggalan Tay-pek Sianjin ini seluruhnya ada tigapuluh enam lembar, kecuali yang tigapuluh lembar kugunakan untuk rompi Siaopek, sisanya enam lembar kita masing-masing membagi tiga lembar, kukira boleh digunakan untuk menghindarkan bahaya. Sekarang aku harus ikut ayah pergi keatas gunung untuk belajar ilmu silat, tidak memerlukan barang ini, maka sebaiknya kuberikan kau semuanya, sebab kepandaian ilmu silat manusia beracun itu, merupakan ilmu tersendiri. Menurutku luka yang diderita oleh Siaopek, benar- benar mengandung racun yang sangat berbahaya!"

Hee Thian Siang menerima baik pemberian tiga lembar sisik naga pelindung jalan darah, ia masih merasakan hawa hangat diatas benda tersebut, ia tahu bahwa benda itu baru dilepaskan dari tubuh Tiong-sun Hui Kheng, maka dia sangat berterimakasih dan berulang-ulang diciumnya, kemudian berkata:

"Langit bisa tua, bumi bisa kering, kembang bisa rontok, dan rembulan bisa gelap, air laut bisa kering, batu bisa hancur. "

Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan Hee Thian Siang berulang-ulang mencium tiga lembar sisik naga pelindung jalan darah pemberiannya, selembar mukanya menjadi merah, apalagi setelah mendengar ucapan yang demikian, ia bertanya dengan heran:

"Adik Siang, mengapa kau menyebutkan itu pula ?"

"Ketika aku membaca tulisan diatas nisan Makam Bunga Mawar, aku merasa bahwa hubungan enci denganku, seperti apa yang dikatakan dalam ucapan terakhir dalam nisan itu!"

Berkata yang sejujurnya tidak akan luntur selama-lamanya. Selagi kedua insan itu tenggelam dalam kasih mesra, Tiong-sun Seng sudah berjalan kembali membawa Taywong, Siaopek dan Ceng-hong-ki.

Ketika Hee Thian Siang melihat Tiong-sun Seng sudah kembali, ia tahu bahwa tidak lagi bisa berkasih-kasihan dengan kekasihnya, apalagi ketika ia ingat kepada suhunya, pikirannya juga sudah berada digunung Pak-bin, maka saat itu ia lantas minta diri kepada Tiong-sun Seng dan Tiong-sun Hui Kheng.

Tiong-sun Seng berkata sambil menepuk bahu Hee Thian Siang:

"Hee hiantit, begitulah baru seorang gagah, kalian masih sangat muda sekali, asal kalian satu sama lain cinta dengan sejujurnya dan sepenuh hati, waktu masih panjang untuk apa memikirkan perpisahan dalam waktu sementara?" Berkata sampai disitu, matanya menatap putrinya sendiri dan Hee Thian Siang, kemudian berkata lagi: "Hendak berkumpul lebih dahulu harus berpisah, tiada perpisahan juga tiada pertemuan, cinta yang suci murni dapat dirasakan oleh perasaan masing- masing? Tetapi tidak perduli ada urusan apa, sebelum mendapat hasilnya yang memuaskan sedikit banyak pasti banyak penggodanya! Sebaiknya kalian menggunakan waktu perpisahan selama setahun ini, masing-masing bertekun untuk mempelajari ilmu silat yang baru, untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana yang akan datang!"

Hee Thian Siang menerima pesan itu, selagi hendak berlalu, Tiong-sun Hui Kheng tiba-tiba berkata:

"Adik Siang, kali ini kau pergi kegunung Pak-bin, perjalanan itu sangat jauh, apakah tidak kau bawa kudaku Ceng-hong-ki

?"

Hee Thian Siang menunjukkan sikapnya berterima-kasih, berkata sambil menggoyangkan tangan. "Enci Kheng bersama empek, yang harus pergi kesuatu tempat untuk mempelajari ilmu silat mana boleh tidak membawa kuda jempolan. Siaotit yang melakukan perjalanan kegunung Pak-bin, masih harus melalui jalanan air, maka tidak memerlukan kuda ini! Sebalik karena dunia luas, dikemudian hari apabila enci sudah berhasil dengan pelajaranmu yang baru, dimana kita akan mengadakan pertemuan lagi ?"

Tiong-sun Hui Kheng berpikir dulu sejenak, dan menjawab: "Tempatnya    yang    kita    janjikan    untuk    mengadakan

pertemuan dikemudian hari, pada waktu itu barangkali ada

perobahan apa-apa, begini saja, setelah pelajaranku berhasil dan terjun kedunia Kang-ouw lagi, aku akan pergi dulu ke puncak Tiauw-in-hong digunung Bu-san untuk menengok enci Hwa Ji Swat dan sekalian memberitahukan jejakku, dengan demikian bukankah adik Siang lebih mudah untuk mencariku

?"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala, menyetujui usul itu, setelah itu lalu berpisahan.

Tiong-sun Seng bersama Tiong-sun Hui Kheng membawa binatangnya pergi mencari tempat untuk mempelajari ilmu silatnya yang baru, urusan ini untuk sementara mari kita tinggalkan dulu, marilah kita mengikuti jejak Hee Thian Siang lebih dulu.

Hee Thian Siang adalah seorang anak piatu. Sejak masih kanak-kanak sudah diambil, dibesarkan dan dididik oleh Pak- bin Sin-po Hong Hong Poh Cu, oleh karenanya, hubungan antara guru dengan murid itu sudah tentu sangat dalam, seperti antara ibu dengan anak sendiri.

Kini setelah mendapat kabar bahwa suhunya itu sudah akan mangkat menjadi dewa, maka ia lantas mengerahkan ilmunya lari pesat, supaya bisa lekas sampai digunung Pak- bin, untuk melihat suhunya. Selekas mungkin ia ingin tiba cepat ditempatnya, tetapi perjalanan yang dilakukan hampir setiap hari siang malam tanpa mengasoh, juga masih memakan waktu tidak sedikit baru tiba ditempatnya.

Ketika ia tiba digunung Pak-bin, tampak tempat pertapaan gurunya, pintunya tertutup rapat, maka ia berdiri ditempat itu terpisah beberapa kaki, jantungnya berdebaran keras, tidak berani maju lagi.

Bangunan itu, dibangun membelakangi gunung dan menghadap kelaut, disekitarnya terdapat air mancur dan tumbuh-tumbuhan yang aneh-aneh, pemandangan alamnya sangat indah, ketika Hee Thian Siang berdiri seorang diri ditempat dimana ia pernah dibesarkan sejak ia kanak-kanak, teringat pula akan pengalamannya dimasa kanak-kanak, lama ia berdiri bengong, tak tahu apa yang harus diperbuat.

Selagi dalam keadaan demikian, dari dalam gubuk itu tiba- tiba terdengar suara gurunya yang berkata nyaring:

"Apakah yang berdiri diluar pintu itu Siang-ji yang sudah pulang?"

Ketika Hee Thian Siang mendengar suara gurunya bukan kepalang girangnya, hingga ia tidak keburu mengetok pintu, lompat melalui tembok, terus masuk kedalam kamar sambil tersedu ia menjatuhkan diri kedalam pelukan suhunya.

Pak-bin Sin-po mengulurkan tangannya mengelus kepala Hee Thian Siang, memandangnya sejenak, kemudian berkata sambil tersenyum:

"Siang-ji, sekarang sudah mempunyai kawan wanita yang akrab, berulang-ulang kau menemukan kejadian gaib tetapi juga berulang-ulang mengalami bahaya, namamu sudah menggemparkan dunia Kang-ouw, mengapa masih demikian kanak-kanak? Apakah kau tidak takut aku menyalahkan kau yang dengan diam-diam sudah pergi dari gunung Pak-bin ?"

Hee Thian Siang berlutut dihadapan gurunya sambil menangis ia berkata:

"Suhu sekarang hendak curahkan cinta kasih kepada Siangj-i barangkali masih belum cukup, bagaimana masih dapat menyesalkan tindakan muridmu? Siang-ji hanya menyesal tidak mempunyai sayap, hingga tidak bisa terbang dari Siang-swat-tong digunung Ki-lian untuk menjumpaimu, sehingg bisa mengawani suhu beberapa lamanya!”

Pak-bin Sin-po mengelus-elus kepala Hee Thian Siang dan tersenyum, kemudian berkata:

"Pertemuan berdirinya partai Ceng-thian-pay digunung Ki- lian-san itu, diadakan pada tanggal enambelas bulan dua, aku masih tidak menyangka demikian cepat kau datang kemari. Kita suhu dan murid, barangkali masih bisa berkumpul setengah bulan lamanya!"

Mendengar keterangan suhunya, bahwa sang suhu yang dipandang sebagai ibunya sendiri itu hanya tinggal menunggu waktu berkumpul setengah bulan saja, hatinya merasa pilu hingga air matanya mengalir deras sekali.

Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui itu memang adalah seorang yang sudah hampir menjadi dewa yang sudah jauh dengan urusan duniawi dan hambar terhadap urusan dunia, tetapi karena hubungan dengan Hee Thian Siang kecuali sebagai hubungan antara guru dengan murid, tetapi juga sudah seperti ibu dengan anak, maka ketika melihat pemuda itu demikian sedih, juga tergerak hatinya, hingga sepasang matanya sudah berkaca-kaca.

Hee Thian Siang dengan tiba-tiba teringat bahwa gurunya sudah akan menjadi dewa, tidak seharusnya terganggu pikirannya, apabila timbul lagi pikiran dunia oleh karena perbuatannya sendiri itu, sehingga menyesatkan gurunya bukankah itu merupakan dosa yang sangat besar?

Berpikir sampai disitu, keringat dingin sekujur badannya mengucur keluar, buru-buru ia mengeringkan air mata sendiri dan mengalihkan pembicaraannya kesoal lain, katanya sambil tersenyum:

"Suhu setelah bertemu dengan Tiong-sun Susiok lantas pulang kegunung Pak-bin untuk bersiap-siap menyempurnakan diri, barangkali tidak demikian terhadap jalannya pertandingan dengan pertemuan partai baru Ceng- thian-pay!"

"Sejak aku pulang kegunung Pak-bin, belum pernah meninggalkan selangkahpun juga dari tempat ini dengan sendirinya terhadap keadaan gunung Ki-lian, meskipun tidak tahu tetapi bila ditilik dari keadaanmu yang sudah pulang dengan selamat, tidak mendapat luka sedikitpun juga, dapat diduga bahwa kemenangan pasti dipihak golongan yang benar!"

"Tokoh-tokoh dari golongan benar dan kawanan golongan penjahat dari partai Ceng-thian-pay, dalam petemuan berdirinya partai Ceng-thian-pay itu, hanya merupakan suatu pertandingan ilmu saja, dalam pertandingan itu kita sudah dapat menjajaki bahwa kekuatan pihak kawanan penjahat memang sudah sangat kuat, kelima partai besar Siao-lim, Bu- tong, Lo-hu, Swat-san dan Ngo-bie, apabila mereka bersatu, pasti selamat, tetapi apabila terpencar pasti bahaya semuanya. Hal yang paling ditakuti ialah apabila Ceng-thian- pay mengambil siasat untuk menghancurkan satu persatu, inilah sesungguhnya yang sangat berbahaya, sebab dengan demikian rimba persilatan akan banjir darah dan malapetaka tak dapat dihindarkan lagi!" Sehabis berkata demikian ia lalu menceritakan semua pengalamannya sejak turun gunung hingga keadaan pertempuran didalam pertemuan partai Ceng-thian-pay itu.

Sehabis mendengar penuturan itu, Pak-bin Sin-po merasa terhibur atas prestasi yang didapat oleh muridnya, tetapi juga kuatir akan tindakan partai Thiam-cong dan Ki-lian yang sudah menggabungkan diri menjadi partai Ceng-Thian-Pay, sebab apabila partai itu pengaruhnya sudah besar dan berserikat dengan kawanan penjahat dari negara luar, bahayanya memang benar seperti apa yang dikuatirkan oleh muridnya.

Setelah berpikir lama, sambil mengerutkan alisnya, ia berkata lambat-lambat:

"Menurut penuturanmu tadi, dalam pertandingan digunung Ki-lian itu, hasil yang paling baik sudah tentu harus terhitung It-pun Sinceng yang menggunakan akal yang sangat cerdik dapat mengusir Pek-kut Thian kun, bahkan bisa mempengaruhi iblis kenamaan itu, sampai dia mau mengumumkan dihadapan umum, bahwa selamanya tidak akan muncul lagi didunia kang-ouw. Akan tetapi, meskipun Pek-kut Thian kun sudah pergi, Ceng-thian-pay masih ditunjang oleh Pek-kut Siancu dan Pek-kut Ie su serta lain- lainnya. Kekuatan yang mereka miliki masih bukan seperti partai Bu-tong, Swat-san dan lain-lainnya yang dapat menghadapi! Apalagi iblis kenamaan raja Siluman Pat-bo Yao- ong Hiao Yan Liat, lagi pula kawanan penjahat dari luar negeri ini juga menyanjung Khi Tay Cao sebagai Bengcu, untuk menguasai rimba persilatan daerah Tiong-goan! Orang ini. . .

."

Hee Thian Siang segera menyambung:

"Siang-ji seperti pernah ingat mendengar suhu berkata, bahwa dahulu pernah bertemu dengan Raja Siluman yang mendapat julukan Pat-bo Yao-ong itu!" "Dahulu ketika aku berada didaerah perbatasan Barat-laut, memang benar pernah berjumpa dengan raja siluman itu. Orang itu boleh dikatakan merupakan lawan paling tangguh satu-satunya yang pernah kuhadapi!"

Hee Thian Siang yang mendengar keterangan gurunya tampak mengerutkan alisnya, sementara Pak-bin Sin-po sudah berkata lagi:

"Apa yang dikuatirkan ialah Raja siluman itu selain daripada memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat tinggi sekali, juga pandai memiliki kepandaian gaib luar biasa, orang-orang ini sudah biasa membantu melakukan kejahatan!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu semakin kuatir, sementara itu Pek-bin Sin-po telah melanjutkan ucapannya:

"Siang-ji juga tidak perlu terlalu kuatirkan adanya Pek-kut Sam-mo dan Raja siluman Pat-bo Yao-ong. Sudah menjadi takdir dari dahulu kala orang jahat semuanya tidak dapat menangkan orang baik. Baik dan jahat, pada waktunya akan mendapat imbalan sesuai dengan kebaikan dan kejahatannya. Kau meskipun mengalami banyak kejadian gaib, tapi diwaktu aku sudah akan berpisah untuk selamanya denganmu, juga sudah seharusnya meninggalkan warisan sedikit apa-apa untukmu!"

Hee Thian Siang menatap wajah suhunya yang masih tersenyum-senyum, katanya lambat-lambat:

"Siang-ji sebetulnya tidak menginginkan mengharap peninggalan warisan suhu, pengharapan Siang-ji ialah, sudah cukup apabila didalam waktu setengah bulan ini, dapat menunggu dan menjaga suhu sebaiknya!"

Pak-bin Sin-po yang mendengar ucapan ini kembali menunjukkan senyuman yang ramah dan penuh welas asih, ia mengusap rambut kepala Hee Thian Siang perlahan-lahan, berkata dengan suara lemah lembut:

"Siang-ji, mengapa kau demikian bodoh? Sekarang aku hendak tanya kepadamu, bagaimanakah adat suhumu ini pada waktu biasanya ?"

"Suhu biasa terhadap Siang-ji sayang dan cinta sekali, tetapi terhadap orang luar berlaku keras dan tidak kenal ampun!"

"Kalau kau sudah mengetahui adatku, seharusnya kau tahu, bahwa sebelum aku mangkat, tidak mungkin tidak meninggalkan sedikit barang untukmu, supaya kau dapat mengangkat nama baik golongan Pak-bin!"

Hee Thian Siang juga tahu bahwa gurunya sudah pasti akan mewariskan kepandaian ilmunya yang terampuh, maka bagaikan anak kecil, sikapnya sangat manja sekali, tanyanya:

"Jikalau suhu sudah berkata demikian, sudah tentu Siang-ji tidak berani menolak, tetapi Siang-ji belum tahu entah barang apa yang hendak suhu wariskan kepada Siang-ji ?"

"Sejak aku bersama Tiong-sun Susiokmu mempelajari berbagai ilmu, selama ini sudah berhasil menyelesaikan pelajaran ilmuku yang terampuh dari ilmu Kian-thian-khi-kang, ilmu itu kunamakan Kian-thian-it-ci!"

Hee Thian Siang tahu benar betapa hebatnya ilmu Kian- thian-it-ci itu, hampir tidak dapat kita bayangkan, barang siapa yang memiliki ilmu itu, sudah cukup untuk menjagoi dunia kang-ouw!

Ia lalu bertanya dengan perasaan terkejut bercampur girang: "Jadi suhu ingin menurunkan kepada Siang-ji ilmu Khian- thian-it-ci itu ?"

"Selain akan mewariskan ilmu Khian-thian-it-ci, aku juga akan mewariskan ilmu bathin Sim-sin-hoat itu, boleh kau pelajari menurut apa yang kutulis dalam kitab tersebut. Akan tetapi terhadap pelajaran ilmu Khian-thian-it-ci, kau masih memerlukan latihan berat dan berhati-hati, ilmu itu kau harus latih siang dan malam hari tidak berhentinya, sebab menurut perhitunganku, apabila kau tidak dapat melatih ilmu itu hingga mahir benar-benar, jangan harap kau dapat mengimbangi kepandaian maupun kekuatan tenaga dalam Raja Siluman Pat-bo Yao-ong!"

Hee Thian Siang tahu benar sifat suhunya yang keras dan tinggi hati, tetapi kini ia demikian mengkuatirkan muridnya menghadapi Raja Siluman Pat-bo, maka ia tahu bahwa iblis dari daerah luar itu pasti jauh lebih hebat dari pada Pek-kut Ie su dan Pek-kut Siancu! Dengan demikian ia harus waspada, maka ia kembali berkata sambil mengerutkan alisnya:

"Suhu, kalau harus melatih ilmu Kian-thian-ti-ci itu hingga mahir betul-betul, memerlukan waktu berapa lama ?"

Ilmu tunggal yang tiada tandingannya dalam dunia ini apabila dimulai dari pertama, paling juga memerlukan waktu kurang lebih tiga puluh tahun untuk melatih, baru mencapai ketarap matang benar-benar!" menjawab suhunya sambil tersenyum.

Mendengar ucapan "tiga puluh tahun" itu, sepasang alis Hee Thian Siang semakin dikerutkan, tetapi Hong-poh Sin-po sudah berkata lagi sambil tertawa:

"Tetapi Siang-ji, kau jangan putus asa dulu. Kau tidak sama dengan orang lain. Kesatu, kau sudah memiliki dasar yang terlalu bagus sekali. Kedua, kau sudah mendapat warisan pelajaran ilmuku yang sejati. Ketiga, sejak masih kanak-kanak kau sudah mempunyai dasar kuat sekali dalam ilmu Kian-thian khie-kang, dan keempat, kau telah mendapat penemuan gaib terlalu banyak sehingga kekuatan tenagamu maju pesat sekali. Dengan adanya empat syarat yang tidak dimiliki oleh orang lain itu, sudah tentu tidak boleh diperhitungkan dengan perhitungan biasa. Menurut perhitunganku, kalau kau melatih dengan tekun hati, dalam waktu tiga sampai lima tahun, walaupun tidak semahir apa yang kumiliki, tetapi setidak- tidaknya kau sudah mencapai hampir sembilan bagian mendekatiku!"

Mendengar keterangan itu, Hee Thian Siang baru merasa gembira, katanya:

"Kalau hanya dalam waktu tiga sampai lima tahun saja masih boleh tetapi, bila suhu suruh Siang-ji melatih sampai tiga puluh tahun untuk bisa menghadapi Raja Siluman itu, ini benar-benar sangat menggelisahkan Siang-ji!"

"Sifatmu ini mirip benar dengan sifatku. Kau haru tahu, hanya kau seorang saja dari golongan Pak-bin yang akan menjadi pewarisku. Maka dari itu, jikalau kau hendak meningkatkan nama baik golongan kita dalam dunia kang- ouw, sudah seharusnya kau semakin berusaha keras supaya cita-citamu itu terlaksana!"

Berkata sapai disitu, dengan tiba-tiba ia teringat sesuatu, maka lalu bertanya sambil tersenyum:

Siang-ji, sewaktu kau turun dari gunung Pak-bin, secara diam-diam, kau juga membawa sebutir bom peledak Kian- thian Pek-lek. Dimana senjata peledak itu sekarang ?"

Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, seketika ia menjawab dengan agak gelagapan:

"Sejak Duta Bunga Mawar locianpee mengatakan kepada Siang-ji bahwa senjata peledak Kian-thian Pek-lek itu adalah barang tiruan sama sekali tidak ada gunanya, maka Siang-ji sudah melemparkan kedalam jurang dugunung Bu-tong. "

Setelah terdiam sejenak, kemudian berkata pula sambil tertawa:

"Tapi senjata peledak Kian-thian Pek-lek sesungguhnya sangat mujarab. Hampir semua orang Kang-ouw merasa jeri menghadapi senjata sehebat itu. Entah telah berapa kali Siang-ji berada dalam keadaan bahaya, cuma berkat senjata yang ternyata palsu itu kawanan penjahat tidak berani mendekat, hingga berkali-kali Siang-ji lolos dari bahaya!"

"Tapi, bila sampai waktunya aku harus pergi, akan kutinggalkan untukmu dua rupa ilmu dan barang, yaitu pelajaran ilmu bathin Pak-bin-hoat, pelajaran ilmu jari tangan Kiam-sin-chi dan sebutir bahan peledak Kian-pek-lek yang asli!"

"Demikian besar budi suhu terhadap Siang-ji, suhu juga sudah dekat waktunya harus berangkat kealam dewata, bagaimana Siang-ji dapat membalas budi ini?" berkata Hee Thian Siang dengan air mata bercucuran.

Pak-bin Sin-po menepuk bahu Hee Thian Siang, katanya dengan suara lemah-lembut:

"Siang-ji, kau denganku adalah sebagai guru dengan murid. Tetapi hubungan kita, seperti ibu dengan anak. Mengapa masih pula kau menyebut-nyebut soal balas budi segala? Asal kau dapat melanjutkan saja cita-cita suhunya, asal kau bisa memikul tugas membela keadilan dan kebenaran dalam rimba persilatan dan bikin harum nama golongan Pak-bin, itu sudah berarti kau memenuhi kewajiban sebagai murid dan aku juga sudah merasa cukup terhibur!"

Berkata sampai disitu, ia berdiam kemudian bangkit dan berkata pula sambil tertawa: "Kita jangan bicara soal perpisahan saja Siang-ji, pusatkanlah pikiranmu. Sekarang aku hendak menurunkan ilmuku Kian-thian-it-ci yang merupakan ilmu paling ampuh dalam rimba persilatan itu!"

Hee Thian Siang tahu benar bahwa suhunya telah menaruh harapan besar atas dirinya, maka ia tidak berani berlaku ayal, saat itu juga ia memusatkan semua pikirannya untuk belajar dan berlatih dengan tekun, barulah dapat memahami pelajaran itu, dan selanjutnya ia masih perlu melatih lagi setiap hari siang dan malam, barulah bisa mendapat kemajuan.

Pak-bin Sin-po yang menyaksikan muridnya sejak turun gunung pertumbuhan tubuhnya sudah menjadi demikian gagah dan tambah tampan pula, kecerdasannya juga bertambah, maka dengan itu ia tampak sangat gembira.

Tapi bagi Hee Thian Siang sendiri, oleh karena waktu berkumpul dengan suhunya itu hanya lima hari lagi saja, bagaimana juga hatinya sedikit banyak merasa pilu. Meski ia sudah bisa mempelajari ilmu terampuh rimba persilatan itu, namun diwajahnya masih dirundung perasaan duka. Tapi lima hari itu dengan cepat telah berlalu.

Tiba-tiba saja, Pak-bin Sin-po sudah menutup mata dalam keadaan duduk. Dalam keadaan sangat sedih, Hee Thian Siang lalu mengurus pemakaman jenazah suhunya. Setelah itu, dengan membawa bekalnya sejilid kitab pelajaran ilmu bathin Pak-bin-sin-hoat dan senjata peledak Khian-thian Pek- lek, meninggalkan gunung Pak-bin dan terjun kembali kedunia kang-ouw.

Untuk kedua kalinya Hee Thian Siang terjun ke dunia Kang- ouw, pertama-tama ia mendengar cerita yang sangat mengejutkan.

Berita yang mengejutkan itu ialah, partai Ceng-thian-pay telah mengerahkan seluruh kekuatannya, yang dibantu oleh anggota pelindung hukumnya Hek-kut Ie su, dalam waktu setengah hari setelah pertemuan digunung Ki-lian itu secara tiba-tiba ia melakukan penyerangan terhadap partai Bu-tong.

Partai Bu-tong yang selama itu belum mengadakan persiapan, hampir terbasmi ludas. Hong-kong Totiang dan It- tim telah terbinasa dalam pertempuran dikuil Sam-goan-koan, sedangkan ketua partai Bu-tong Hong-hoat Cinjin juga terluka parah oleh perangan ilmu serangan tangan Pek-kut Ie-su yang dinamakan Pek-kut im-hong-jiauw, kemudian ditolong dan dibawa lari oleh beberapa orang anak buahnya, hingga kini belum diketahui dimana adanya.

Mendengar berita buruk itu, bukan kepalang terkejut Hee Thian Siang, Diam-diam ia teringat ramalan Tiong-sun Seng waktu itu, dan benar saja partai Ceng-thian-pay bukan saja sudah mengambil tindakan yang hendak menghancurkan partai-partai itu tidak keburu mempersiapkan diri.

Kini Bu-tong-pay sudah hancur, tujuan kedua kawan penjahat Ceng-Thian-pay itu entah ditujukan kepada partai mana ?

Hee Thian Siang setelah memikirkan persoalan itu, ia lalu mengambil keputusan untuk pergi kepartai Lo-hu lebih dulu, untuk menengok Ca Bu Kao, sekalian mengabarkan berita buruk itu, Peng-sim Sin-ni serta sesepuhnya Cin Pok Pho dan lain-lain, waspada terhadap gerakan Ceng-thian-pay itu, dan mengambil langkah-langkah persiapan seperlunya.

Setelah mengambil keputusan itu, Hee Thian Siang segera berangkat menuju kegunung Lo-hu.

Disepanjang jalan ia masih tetap melatih ilmunya yang terbaru Khian-thian-it-ci tanpa sedikitpun berani melalaikan. Untung, setiba digunung Lo-hu, kawanan penjahat Ceng- thian-pay masih belum bergerak kesitu, Peng-sim Sin-nie dan Cin Pok Pho dan lain-lainnya masih dalam keadaan selamat.

Peng-sim Sin-nie yang mendengar kabar bahwa partai Bu- tong telah dihancurkan, Hong-kong totiang dan It-tim-cu juga telah terbinasa, sedang Hong-hoat Cinjin juga terluka parah, dan tidak diketahui kemana perginya, lalu mengerutkan alisnya dan memuji nama Buddha, setelah itu lalu berkata;

"Sungguh tidak kuduga bahwa kawanan penjahat Ceng- thian-pay ternyata benar-benar sudah berani bertindak melakukan kejahatan secara terang-terangan seperti itu! Kalau begitu, aku harus siap-siap dan memperkuat penjagaan agar jangan sampai diserang oleh orang-orang Ceng-thian- pay secara tiba-tiba!"

Hee Thian Siang yang pada waktu itu tidak bertemu dengan Ca Bu Kao, lalu bertanya dengan perasaan heran;

"Peng-sim taysu, dimana bibi Ca itu sekarang ?"

"Bibi Ca-mu sedang mengawani Liong-hui-kiam-khek Su-to Wie pergi kegunung Tiam-cong, untuk bersembahyang dihadapan makam Koan Sam Pek dan berusaha untuk membangun kembali partai Thiam-cong!"

"Jikalau menurut keterangan taysu ini, boanpwe rasa taysu sebaiknya lekas memberi bantuan kepada bibi Ca dan Su-to tayhiap, sebab meskipun Thiat koan totiang kini sudah menjabat wakil dari partai Ceng-thian-pay, tetapi terhadap partai Thiam-cong, pasti masih tidak mengabaikan begitu saja! Seandai. " berkata Hee Thian Siang sambil mengerutkan

alisnya.

Ucapan Hee laote ini memang benar, aku sudah kirim orang untuk mengundang Cin susiok, tunggu setelah Cin susiok datang, barulah mengambil keputusan apa yang kita harus lakukan!"

Belum habis ucapannya, diluar sudah terdengar suara tertawa terbahak-bahak Cin Lok Pho, kemudian disusul oleh kata-katanya;

"Sudah lama aku mendengar nama dan sepak-terjang yang sangat mengagumkan tentang diri Hee Thian Siang laote ini, sayang didalam pertemuan digunung Oey-san waktu itu hanya bertemu muka sepintas lalu saja, Hari ini aku harus bicara dengannya!"

Setelah itu orangnya juga muncul, dan kedua tangannya memegang sepasang lengan Hee Thian Siang, Tetapi ia tiba- tiba melihat Peng-sim Sin-nie dan Hee Thian Siang, semuanya seperti berada dalam kebingungan, maka ia lalu melepaskan sepasang tangannya dan bertanya kepada Peng- sim Sin-nie dengan rasa heran;

"Hee Thian Siang laote membawa kabar apa? Kalian kelihatan kelihatan serius sekali!"

"Susiok, Hee laote membawa sedikit kabar buruk, Kawanan penjahat Ceng-thian-pay benar seperti apa yang telah kita duga hendak menghancurkan partai-partai besar satu persatu, Tindakan pertama sudah ditujukan kepada partai Bu-tong, entah partai mana lagi menyusul?" Berkata Peng-sim Sin-nie sambil mengerutkan alisnya.

"Ceng-thian-pay menyerang Bu-tong? Bagaimana kesudahannya ?"

"Oleh karena partai Ceng-thian-pay mendapat bantuan Pek-kut Ie su, dan partai Bu-tong masih belum siap maka akhirnya mengalami kekalahan hebat, Hong-kong Totiang dan It-tim Cu telah binasa dalam medan pertempuran. " Cin Lok Pho karena merupakan sahabat baik dari Hong- kong totiang, maka ketika mendengar berita itu, berulang- ulang ia membanting kakinya, kemudian bertanya;

"Dan bagaimana dengan nasib Hong-hoat Cinjin ?"

"Hong-hoat Cinjin telah terkena serangan Pek-kut-im-hong- jiauw dari Pek-kut Ie su, sudah dibawa pergi oleh anak buahnya, tetapi tidak tahu sekarang dimana berada ?"

"Partai Bu-tong-pay telah menjadi sasaran pertama kawanan penjahat Ceng-thian-pay, Tindakan selanjutnya, mungkin akan lebih ganas lagi! Partai-partai Lo-hu dan Ki-lian meskipun terpisah jauh tetapi kita juga tidak boleh tidak harus mengadakan persiapan!"

"Kawanan penjahat Ceng-thian-pay menyerang partai Bu- tong lebih dulu, barangkali karena Hong-hoat Cinjin pernah melukai Pek-thao Losat Pao Sam-kow dengan ilmunya Ci- yang-sin-kang. Sehingga menimbulkan suatu dendam sakit sangat dalam, ditambah lagi dengan jatuhnya nama baik Pek- kut Siancu yang pernah mengadakan pertandingan tiga babak dengan Hong-hoat Cinjin, maka dapat diduga, sebelum mereka bertindak dulu terhadap partai-partai Ngo-bi dan Swat- san yang lebih dekat dengan pusat partai Ceng-thian-pay, tidak mungkin menunjukkan gerakannya kemari! Sebaliknya adalah ucapan Hee laote tadi dalam perjalanan Ca sumoy dengan sute tayhiap kegunung Tiam-cong, besar sekali bahayanya, maka kita anggap perlu untuk menyiapkan bantuan dengan segera!" berkata Peng-sim Sin-nie.

Cin Lok Pho yang mendengar ucapan itu terus mengangguk-anggukan kepala dan kemudian berkata sambil tertawa;

"Pikiranmu macam ini memang ada benarnya, Sekarang sudah tiba waktunya kita mengadakan garis tegas antara orang-orang golongan baik dengan golongan sesat, Sekalipun Twee Hwa Lojin tidak mau turun gunung, tetapi setidak- tidaknya juga harus menyumbangkan tiga pusaka Twe Hwa yang sangat manjur itu, untuk mempertahankan kedudukan orang-orang dari golongan kebenaran! Tentang perjalanan kegunung Tiam-cong, biarlah aku dengan Hee laote yang pergi memberi bantuan kepada Ca sutit!"

Melihat susioknya mau berjalan bersama-sama dengan Hee Thian Siang, Peng-sim Sin-nie merasa sangat girang sekali, katanya sambil tersenyum;

"Kalau susiok memang senang pesiar ketempat jauh, sebaiknya berangkat mulai dari sekarang. Hee laote meskipun usianya masih sangat muda, tetapi berkepandaian sangat tinggi dan bernyali besar, sepanjang jalan mungkin akan menimbulkan banyak urusan, harap susiok suka ambil perhatian padanya!"

Cin Lok Pho memandang Hee Thian Siang sejenak, kemudian berkata sambil tertawa terbahak-bahak;

"Sutit tak usah kuatir, aku dengan Hee laote berdua meskipun tenaganya tidak cukup tapi untuk menyerbu sarang penjahat, dalam perjalanan apabila berpapasan dengan kawanan iblis itu, maka terpaksa akan membereskan mereka sebanyak mungkin, untuk mengurangi kekuatan tenaga mereka, juga kalau kita dapat membinasakan beberapa orangnya, hati mereka juga akan kuncup!"

Peng-sim Sin-nie juga tahu bahwa susioknya itu meskipun diluarnya sabar, tapi hatinya keras, bahkan dengan Hong- kong totiang ada hubungan persahabatan sangat erat, sejak mendengar kabar tentang dihancurkannya partai Bu-tong, sudah timbul amarahnya, maka ia lalu berkata sambil tersenyum;

"Bencana sudah didepan mata, kawanan iblis sudah mulai berdansa, kita sudah tentu tidak boleh berpeluk tangan saja, sebagaimana biasa antara kita dengan kawanan penjahat tidak bisa berdiri bersama-sama, kini tibalah saatnya guna mengambil suatu keputusan yang menentukan, apabila susiok berpapasan dengan kawanan penjahat itu, basmilah sebanyak mungkin, itu sudah menjadi keharusan bagi kita!"

Sehabis berkata demikian, Cin Lok Pho kembali ketempat kediamannya untuk membereskan perbekalan dalam perjalanan, lalu bersama-sama dengan Hee Thian Siang turun gunung Lo-hu, menuju ke Barat-laut.

Orang tua dan anak muda itu, meskipun yang satu sudah berusia lanjut dan yang lain masih sangat muda belia, tetapi adat mereka ternyata cocok satu sama lain, Cin Lok Pho melihat Hee Thian Siang yang melakukan perjalaan jauh itu menggunakan ilmu lari pesat demikian rupa, bagaimanapun letihnya, masih tetap setiap pagi dan sore melatih ilmunya dengan tidak ber-henti-hentinya, maka ia sangat memuji ketekunan belajar pemuda itu.

Hee Thian Siang yang mendapat pujian itu, lalu berkata; "Locianpwe   jangan   memuji   aku,   jikalau   ditinjau   dari

kepintaran dan kecerdasan, aku bukan saja tidak sebanding

dengan enci Tiong-sun Hui Kheng, sekalipun dengan dua sahabat wanitaku yang lain, juga berada dalam keadaan setaraf, agaknya kecerdasan otak dan kepintaran itu kebanyakan berada pada diri anak-anak perempuan!"

Ketika diadakan pertandingan digunung Ki-lian, Cin Lok Pho meskipun berada digunung Lo-hu untuk menjaga partai Lo-hu, maka tidak dapat ikut serta dengan ketuanya, tetapi apa yang terjadi dalam pertandingan itu, sebagian besar sudah mendapat keterangan dari Peng-sim Sin-nie, maka dari itu ketika mendengar ucapan tersebut ia lalu berkata sambil tertawa; "Dua kawan wanita akrab yang lain, seperti apa yang Hee laote katakan tadi, apakah putri Hong-tim Ong-kheng yang bernama Liok Giok Ji dan Hok Siu In ?"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala, tetapi ketika ia teringat akan Liok Giok Ji yang tidak diketahui dimana berada, dan diri Hok Siu In yang belum diketahui bagaimana nasibnya, hatinya merasa sedih, hingga diwajahnya saat itu juga menunjukkan sikap yang sangat berduka.

Cin Lok Pho yang mempunyai pengalaman banyak dalam dunia Kang-ouw, begitu melihat perobahan sikap dari wajah Hee Thian Siang, sudah mengetahui bahwa ketika menyebut diri Liok Giok Ji dan Hok Siu In, sudah menimbulkan perasaan sedih pemuda itu, maka ia segera mengalihkan ucapannya kesoal lain, tanyanya sambil tersenyum;

"Hee laote setiap hari pagi dan sore, selalu melatih ilmu silat dengan tekun, barangkali ilmu Pan-sian-ciang warisan Ciangbun sutitku kala itu sudah dilatih dengan berhasil baik?"

Hee Thian Siang menggelengkan kepala dan menjawab sambil tertawa;

"Didalam pertemuan digunung Ki-lian itu, meskipun Hee Thian Siang diberi kitab pelajaran dari para ketua partai, tetapi aku sudah beri kepada enci Hui Kheng, untuk membawanya kembali kegunung, dengan dibantu Tiong-sun locianpwe untuk mempelajari lebih dahulu, maka terhadap pelajaran ilmu terampuh golongan Lo-hu hingga saat ini masih belum dimulai sedikitpun juga!"

Cin Lok Pho yang mendengar Hee Thian Siang selalu menyebut-nyebut nama Tiong-sun Hui Kheng, lalu berkata sambil tersenyum;

"Nona Tiong-sun itu adalah putri dari seorang tokoh kenamaan, aku juga sudah lama mendengar nama harumnya, meskipun belum pernah bertemu muka, tetapi aku dapat menduga, ia pasti merupakan seorang gadis cantik dan gagah perkasa pula!"

"Enci Tiong-sun ku itu boleh dikata merupakan seorang gadis yang baik hati, lemah-lembut, berjiwa besar dan selain cantik juga memang sangat gagah . . . ." berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

Baru berkata sampai disitu, dengan tiba-tiba teringat diri Liok Giok Ji dan Hok Siu In, yang juga adalah gadis-gadis cantik dan gagah perkasa, hanya dalam kelemah- lembutannya dan welas asihnya, kalah dibanding dengan Tiong-sun Hui Kheng, memang terpaut jauh sekali.

Begitu teringat akan diri Liok Giok Jie, Hee Thian Siang segera teringat akan pesan Siang-swat Siangjin Leng Biauw Biauw, tentang tempat-tempat yang disebutkan seperti puncak gunung Kun-lun, goa digunung Tay-Pa-san, lembah digunung Cong-lam dan Istana kesunyian, sesaat ia lalu menatap wajah Cin Lok Pho dan berkata lambat-lambat:

"Cin locianpwe, perjalanan kita kegunung Tiam-cong ini, apakah kiranya bisa kalau mengambil jalan agak memutar ?"

"Memutar? Apa salahnya ? Tetapi aku tidak tahu Hee laote hendak pergi kemana ?" balas bertanya Cin Lok Pho sambil tersenyum.

"Aku ingin melakukan perjalanan kelembah kematian digunung Cong-lam !"

"Untuk apa Hee laote hendak pergi kelembah kematian digunung Cong-lam ? Apakah sudah mengadakan perjanjian hendak melakukan pertempuran ditempat itu ?" bertanya Cin Lok Pho heran. Ia lalu menceritakan soal menghilangnya Liok Giok Ji dan empat nama tempat yang ditunjukkan oleh Leng Biauw Biauw kepada Cin Lok Pho, katanya:

"Tempat-tempat yang disebut sebagai puncak gunung Kun- lun, goa gunung Tay-pa-san, lembah kematian digunung Cong-lam dan istana kesunyian, diantara empat tempat itu, yang pernah kukunjungi ialah puncak gunung Kun-lun, maka sekarang aku ingin pergi melihat lagi kelembah kematian digunung Cong-lam !"

Cin Lok Pho yang mendengar ucapan itu menggeleng- gelengkan kepala sambil tertawa:

"Tempat-tempat yang ditunjuk oleh Leng Biauw Biauw kepada laote itu, sesungguhnya sangat aneh, jangankan tempat yang disebut sebagai istana kesunyian yang masih merupakan suatu teka-teki, sekalipun tempat-tempat seperti lembah kematian digunung Cong-lam, agaknya juga bukan merupakan tempat yang baik bagi nona Liok Giok Ji untuk mengasingkan diri !"

"Kalau locianpwe sudah mengatakan demikian berarti sudah kenal baik dengan keadaan lembah kematian digunung Cong-lam itu ?"

"Sebagai orang rimba persilatan, siapakah yang tidak tahu nama lembah kematian digunung Con-lLam itu ? Didalam lembah itu angin menghembus dengan dingin sekali, dan tulang-tulang manusia bertumpuk-tumpuk bagaikan gunung . .

. . ."

"Menurut cerita orang dalam dunia Kang-ouw, bicara tumpukan tulang-tulang dilembah kematian digunung Cong- lam itu, hampir tiada satu yang bukan tulang-tulang dari tokoh rimba persilatan !"

Cin Lok Pho menganggukkan kepala dan berkata: "Orang yang bisa masuk kedalam lembah gunung Cong- lam, pasti memiliki ilmu mengecilkan tubuh. Seorang yang memiliki ilmu seperti itu harus merupakan tokoh rimba persilatan kenamaan! Apalagi kecuali permusuhan bebuyutan, siapapun tidak suka mengadakan perjanjian dan bertanding didalam lembah kematian itu !"

Hee Thian Siang tidak mengerti ucapan itu, maka ia lalu bertanya:

"Aku pernah berkunjung kelembah kematian digunung Cong-lam itu. Tempat itu memang terlalu sunyi sekali, seolah- olah sudah diciptakan sebagai tempat untuk mengadakan pertempuran mati-matian !"

"Tempat itu meskipun sangat ideal, tetapi mengandung alamat tidak baik, sebab barang siapa yang mengadakan perjanjian untuk mengadu kekuatan didalam lembah kematian itu, kebanyakan kedua-duanya terluka parah, dan kedua- duanya mati dalam lembah itu, hingga yang tinggal hanya tulang-tulangnya saja !"

"Menurut ucapan locianpwe seperti ini, dahulu Peng-sim Sin-nie, ketua partai Lo-hu dengan ketua partai Tiam-cong Thiat-koan totiang kedua pihak, mengadakan pertempuran mati-matian didalam lembah itu, dan akhirnya kedua-duanya ternyata dalam keadaan selamat, apakah itu merupakan suatu kejadian kecualian ?"

"Bukan hanya kecualian saja, selama beberapa puluh tahun, semua orang masih merasa ngeri jikalau menyebutkan nama lembah kematian itu, maka Ciangbun sutitku, terhadap kau Hee laote, merasa sangat berterima kasih !"

"Mengenai urusan itu, Hee Thian Siang tidak berani mendapat pahala, sebab selamanya itu hanya atas jasa dari It-pun Sinceng! Jikalau bukan dia yang membawakan getah pohon lengci, untuk memunahkan racun dari duri Thian-keng- cek, Peng-sim Sin-nei benar-benar akan terbinasa karena rencana busuk Thiat-koan Totiang itu !"

Cin Lok Pho kalau mengingat peristiwa itu, benar-benar memang masih merasa ngeri. Ia kemudian berkata sambil menghela napas panjang:

"Dalam dunia Kang-ouw memang banyak sekali terdapat manusia-manusia licik seperti itu! Apabila bertempur secara terang-terangan, kalah karena kepandaian tidak cukup, juga tidak akan menang! Apa yang ditakuti cuma, iblis-iblis yang menggunakan cara dan tindakan tanpa menurut aturan itu, mereka kadang-kadang menggunakan akal jahat, membokong orang dengan senjata gelap dan menggunakan akal untuk menjebak lawannya. Maka Hee laote harus bercermin dari pengalaman dan apa yang pernah dilihat, harus waspada terhadap siapapun saja, tidak boleh mengandalkan kepandaian ilmu sendiri, sehingga akan lengah dalam penjagaan diri.”

"Terhadap akal keji kawanan penjahat orang-orang Ceng- Thian-pay itu, aku sudah melihat tidak sedikit, juga mengerti cara-caranya untuk menghadapi mereka! Semoga dalam perjalanan ini, tidak akan terlalu aman, kalau ada kesempatan kita bisa membinasakan beberapa orang diantaranya dengan demikian kecuali dapat menghilangkan kesepian dalam perjalanan, juga dapat menjatuhkan nyali mereka !"

Dua tokoh rimba persilatan ini, meskipun usianya berbeda jauh, tetapi kedua-duanya sama-sama senang berkelahi, dan akhirnya benar-benar terjadi sesuatu seperti apa yang mereka harapkan !

Tetapi peristiwa itu tidak terjadi dalam perjalanan mereka, melainkan terjadi setelah mereka tiba dilembah kematian dalam daerah gunung Cong-lam-san ! Cin Lok Pho meskipun usianya sudah lanjut, tetapi belum pernah datang kelembah kematian itu, sebaliknya dengan Hee Thian Siang meskipun masih muda, tetapi ia sudah mengenal baik keadaan dilembah itu, maka ia berlaku sebagai petunjuk jalan, mengajak Cin Lok Pho melalui jalan yang sulit itu, tibalah dilembah kematian dan didepan danau kematian yang berada diluar mulut goa.

Dari tempat jauh Hee Thian Siang berkata sambil menunjuk dengan tangannya kesuatu tempat:

"Cin locianpwe lihat, tempat ini diarah Timur, selatan dan utara semuanya merupakan tebing-tebing tinggi, sedang dibagian Barat adalah air terjun, dibelakang air terjun ini dekat danau, ada sebuah goa mati yang sangat dalam itulah merupakan pintu masuk bagi lembah kematian yang tersohor itu !"

"Keajaiban alam, memang sangat aneh, apabila orang yang tidak mengetahui keadaan dilembah ini, siapa yang dapat mengetahui bahwa dalam goa itu ada tersembunyi lembah kematian yang sudah mengubur entah berapa banyak tulang tokoh-tokoh rimba persilatan !" berkata Cin Lok Pho sambil menghela napas.

Hee Thian Siang sambil merambat turun bersama Cin Lok Pho kedalam danau, berkata:

"Cin locianpwe, goa rahasia dibelakang air terjun itu diatas tebing kedua sisinya terdapat lukisan gambar yang digores diatas dinding, didinding tebing sebelah kiri dilukis batang- batang pohon Yang Liu yang melambai-lambai, seolah-olah tertiup hembusan angin, sedang dinding tebing sebelah kanan dilukis dengan sepasang tangan manusia yang dirangkapkan

!"

Dua tangan manusia yang dirangkapkan adalah tanda rahasia Ciangbun sutitku, sedangkan lukisan batang pohon Yang Liu itu, barangkali adalah tanda dari ilmu pedang golongan Tiam-cong, pasti diukir oleh Thiat-koan Totiang !"

"Dugaan locianpwe memang benar "

Belum habis ucapannya, mendadak ia bungkam. Sebab, pada saat itu ternyata mereka sudah tiba di dasarnya danau, sudah dapat melihat, dikedua dinding yang dibicarakan tadi, ternyata kedua buah lukisan yang dibicarakan tadi, semuanya sudah menjadi rata dengan dinding tebingnya, sebagai gantinya, disebelah dinding kiri terdapat tulisan :

. LEMBAH INI SUDAH

DITUTUP !

Sedang disebelah kanan goa, ditulisi kata :

BARANG SIAPA MASUK

LEMBAH, MATI !

Ciu Lok Pho kerutkan alisnya, heran ia berkata:

"Dilihat dari bunyi tulisan ini, lembah kematian ini seperti sudah ditempati orang. Entah siapakah orang itu ?"