Makam Bunga Mawar Jilid 22

 
Jilid 22

Hong-kong totian juga nampak sedih, ia berkata sambil menghela nafas panjang: “Sungguh tak kusangka Pek-kut Sian-cu itu kepandaian ilmunya demikian juga. Sekalipun Cianbun sute yang menyedot belakangan, juga tidak akan dapat berbuat seperti dia demikian, dan pada akhirnya pasti akan kalah.”

Sementara itu ketua Swat-san-pay Peng-pek Sin-sa juga sudah turut berkata: “Dalam babak pertama Hong-hoat Cinjin sudah menang meskipun dalam babak kedua ini kalah, juga masih terhitung seri. Pek-kut Sian-cu yang memiliki ilmu Hian- kang demikian tinggi, kekuatan tenaga dalamnya juga pasti sangat hebat, maka dalam pertandingan babak ke tiga ini memang benar sangat berbahaya bagi Hong-hoat Cinjin. Sekarang harap tuan-tuan lekas memikirkan suatu cara yang baik, supaya dapat melindungi nama baik ketua Bu-tong-pay.”

Selagi orang-orang dipihak Hong-hoat Cianjin pada tidak berdaya, Bu-san Sian-cu Hwa Jie Swat sudah mengumumkan hasil pertandingan dalam babak kedua tadi.

Benar seperti apa yang diduga oleh Tiong-sun Seng, Hwa Jie Swwat sedikitpun tidka berat sebelah, ia telah mengatakan bahwa pertandingan babak kedua itu dimenangkan oleh Pek- kut Sian-cu Pek-kut Sian-cu, dan Hong-hoat Cinjin keduanya memberi hormat kepada wasit yang dapat bertindak adil itu. Hwa Jie Swat berkata sambil tertawa: “Kedua locianpe masing-masing telah menang satu babak, dengan demikian pertandingan dalam dua babak ini telah berkesudahan seri. Sekarang harap segera dimulai babak ketiga, buat menetapkan pemenangnya. Keinginan Hwa Jie Swat sudah tercapai, biarlah untuk sementara minta diri dulu!”

“Pek-kut Sian-cu yang telah mendapat kesan baik dari Hwa Jie Swat, menganggukkan kepala sambil tersenyum, sedangkan Hong-hoat Cinjin masih belum mengerti apa maksud dan tujuan perempuan cantik itu sampai mengakibatkan kekalahannya, memandangnya dengan perasaan terheran-heran.

“Dalam babak ketiga, akan dilakukan pertandingan mengadu kekuatan tenaga dalam. Hong hoat Cinjin dan Pek kut Sian-cu sudah sama-sama bangkit dan berhadapan semakin dekat, mereka masing-masing membuat suatu lingkaran dan berdiri ditengah-tengahnya, kemudian masing- masing mengulurkan tangan kanannya, ditempelkan satu pada yang lain tanpa bersuara.

Khie Tay Cao sudah mulai meramalkan bahwa kemenangan sudah pasti berada dipihak Pek-kut Sian-cu maka ia tampak sangat girang, lalu kembali kedalam rombongan sendiri. Hwa Jie Swat bersama It-pun Sinceng juga sudah berjalan menuju kerombongan pihak tamu.

Terlebih dulu mereka menghampiri Tiong-sun Seng, setelah itu memberi hormat kepada yang lain-lainnya.

Tiong-sun, Hui Kheng yang menyaksikan Hwa Jie Swat selalu tersenyum seolah-olah merasa bangga itu lalu bertanya kepadanya sambil mengerutkan alisnya: “Enci Hwa, kau tadi telah mencoba hendak membantu Hong-hoat Cinjin, tetapi tahukah kau bahwa kesudahannya malah berbalik telah merugikannya? Dalam babak kedua ini Hong-hoat Cinjin locianpe telah menderita kekalahan? Mengapa pula kau nampaknya gembira?”

Hwa Jie Swat menarik Tiong-sun Hui Kheng kedalam pelukannya, kemudian berkata kepadanya sambil tertawa: “Karena kematian Lie-tim totiang dan Lok Kiu Siang dahulu, terhadap partai Butong dan Siao-lim, aku merasa menyesal dan berdosa. Sekarang aku baru berusaha untuk menebus sedikit dosa dengan membantu Hong-hoat Cinjin, masakan tidak merasa girang?”

Hee Thian Siang heran mendengar jawaban ini, tanyanya: “Enci Hwa, tindakanmu yang membawa akibat kekalahan Hong-hoat Cinjin locianpe ini, apakah juga terhitung suatu tindakan yang hendak menebus dosa?”

“Kalau adik Siang juga demikian menyesalkan aku, biarlah aku umumkan tindakanku ini?” Berkata Hwa Jie Swat sambil tertawa.

Semua orang yang mendengarkan ucapan itu pada berpikir, menduga-duga muslihat apa yang terkandung dalam tindakan Hwa Jie Swat tadi.

Sementara ito Hong-kong Titiang yang merasa bahwa urusan itu besar sekali sangkut-pautnya dengan nama baik sutenya dan padri Bu-tong, ia yang lebih dahulu merasa tidak sabaran, bertanya kepada Hwa Jie Swat: “Hwa Siancu, harap lekas Siancu jelaskan rahasia apa yang Siancu gunakan untuk membantu suteku. Pinto justru sedang merasa kuatir akan keselamatan sute!”

Hwaw Jie Swat menghormat kepadanya dan berkata sambil tertawa: “Atas pertanyaan Totiang ini, Hwa Jie Swat ingin bertanya terlebih dahulu. Sudikah kiranya Totiang memberi jawaban atau sudikah kiranya Totiang maafkan tindakan boanpe tadi, jikalau sekiranya Totiang anggap boanpe bersalah terhadap sute Totiang?” Hong-kong Totiang menganggukkan kepala, kemudian berkata: “Hwa Siancu tidak perlu merendahkan diri, jika ada apa-apa boleh tanyakan saja!”

Hwa Jie Swat masih tetap dengan sikapnya yang sangat menghormat, katanya: “Totiang, boanpe ingin bertanya. Pemimpin Bu-tong Hong-hoat Cinjin locianpe, meskipun dalam babak pertama dengan ilmu pedangnya yang luar biasa indahnya dapat memenangkan Pek-kut Siancu, tetapi dalam babak kedua dan ketiga dalam pertandingan Hian-kang apakah Totiang yakin benar Hong-hoat locianpe bisa merebut kemenangan?”

Tanpa ragu-ragu sedikitpun juga Hong-kong Totiang menjawab: “Menurut apa yang dipertunjukkan oleh Pek-kut Siancu barusan, dalam pertandingan ilmu Hiang kang, sudah pasti tidak akan ada harapan sedikitpun juga untuk suteku merebut kemenangan. Dalam babak kedua itu pasti dia kalah. Dan dalam babak ketiga dalam mengadu kekuatan tenaga dalam, oleh karena sute harus mempertaruhkan nama baik partai Bu-tong, ada kemungkinan besar bisa terancam jiwanya!”

Hwa Jie Swat menganggukkan kepala memuji pandangan Hong-kong Totiang, katanya: “Jawaban terus-terang tanpa tedeng aling-aling dari Totiang ini, benar patut menjadi teladan baik buat golongan partai kebenaran, dalam hal ini Hwa Jie Swat merasa sangat kagum!”

Hong-kong Totiang yang masih cemas hatinya, lantas berkata lagi: “Harap Hwa Siancu jangan terlalu lekas memuji pinto, jelaskanlah dahulu rahasianya kalau benar siancu membantu sute tadi, disini terlebih dahulu atas nama partai Butong Pinto mengucapkan terima-kasih banyak!”

“Boanpe demikian, oleh karena menduga Hong-hoat Cinjin dalam babak kedua itu pasti akan kalah, maka boanpe sengaja bertindak demikian untuk menunjukkan dimata umum, seolah-olah tindakan boampe tadi adil, bahkan kalau diperhatikan memang ada sedikit condong membela kepada pihak lawan, agar Pek kut

Siancu mendadpat kemenangan! Tetapi segala daya upaya boanpe berusaha dalam pertandingan babak kedua ini, guna menanamkan sesuatu untuk merebut kemenangan bagi Hong- hoat Cinjin dalam pertandingan babak ketiga nanti! Benar saja usaha boanpe tadi berjalan lancar, sehingga kawanan penjahat yang licik dan banyak akal muslihatnya itu, ia barang sedikitpun tidak mengetahuinya!”

Semua yang mendengarkan perkataan itu, masih tetap keheran-heranan dan tidak mengerti akal apa yang digunakan oleh Hwa Jie Swat hingga dapat menanam dasar dalam pertandingan babak kedua agar Hong-hoat Cinjin dalam babak ketiga nanti bisa merebut kemenangan.

Tapi ketika pandangan mata Tiong-sun Seng sekilas lintas tertumbuk kepada pot batu kumala warna ungu yang berada ditangan It-pun Sinceng dan tanaman pohon Lengci yang berada dalam pot itu, tiba-tiba hatinya tergerak, maka saat itu sadarlah ia dan lalu berkata: “Sekarang aku mengerti! Barangkali pada waktu Hong-hoat Cinjin menyedot araknya, diam-diam kau telah menaruh setetes getah Lengci yang usianya sudah ribuan tahun ini!”

“Suhu memang lihay. Swat Jie sudah berusaha sekuat tenaga supaya jangan ada yang tahu, tetapi ternyata tidak dapat juga mengelabui mata suhu?” Menjawab Hwa Jie Soat sambil memberi hormat dan tertawa.

“Tindakanmu seperti ini, menunjukkan bagaimana kecerdikanmu. tadi jikalau aku bukan sepintas lalu melihat pot ditangan It-pun Sinceng dan tanamannya pohon Lenci, juga belum tentu dapat menduga perbuatanmu ini. terhadap usahamu yang mempersilahkan Pek-kut Siancu menyedot arak lebih dahulu, dengan kecepatan mana kau dengan diam- diam sudah memasukkan getah Lengcie, sampai-sampai seorang licik seperti Khie tay Cao juga tidak menaruh curiga barang sedikitpun. Setelah Pek kut Siancu mempersilahkan Hong-hoat Cinjin yang meminumnya dahulu, tindakanmu itu semakin lebih benaran kelihatannya!”

Semua orang yang telah mengetahui akal yang dikeluarkan oleh Hwa Jie Swat tadi, dalam hati lantas merasa lega, dan memuji tidak berhentinya terhadap Hwa Jie Swat yang sangat cerdik itu.

Sementara itu Hwa Jie Swat sudah merapikan pakaiannya dan memberi hormat kepada pelindung dalam Siao lim sie Ceng Kak Siansu dan hendak mengucapkan sesuatu.

Ceng Kak Siansu sudah mengerti maksud Hwa Jie Swat, terlebih dahulu berkata sambil menggoyangkan tangannya dan tertawa: “Hwa siancu, harap sekali-kali jangan pikirkan urusan kematian Lok Kiu Siang, semua kejadian yang telah lalu, tidak perlu kita ungkat-ungkat lagi! terutama akalmu yang kau tunjukkan hari ini, terhadap usaha kita untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, besar sekali faedahnya, maka hari ini lolap mendoakan supaya kau bersama It-pun Sinceng bisa hidup rukun hingga hari tua!”

Mendengar ucapan Cen Kak Siancu itu Hwa Jie Swat merasa lega dan ganjalan dalam hatinya selama itu, kini telah lenyap semuanya, maka dengan wajah berseri-seri ia duduk berkumpul bersama Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian sian untuk beromong-omong.

Tiong-sun Seng sudah berkata dengan suara perlahan kepada It-pun Sinceng: “Taysu benar-benar cerdik, muridku itu sudah berdiam beramamu untuk mempelajari ilmu Budha, sudah mendapat banyak perobahan yang sangat berfaedah baginya.” It-pun Sinceng yang mendengar ucapan itu wajahnya agak kemerah-merahan, ia tidak dapat menjawab, hanya dengan pandangan matanya ia tujukan kearah medan pertempuran yang disana sedang berlangsung pertandingan mengadu kekuatan tenaga dalam antara Hong-hoat Cinjin dan Pek Kut Siancu yang pada saat itu masih belum diketahui siapa yang lebih unggul, maka ia mengalihkan pembicaraanya kesoal lain: “Pemimpin partai Butong meskipun sudah minum getah Lengci yang usianya sudah ratusan tahun, sehingga kekuatan tenaga dalamnya bertambah banyak, tetapi jikalau mengadu kekuatan terlalu lama, masih akan menganggu dirinya. Apakah tidak lebih baik kalau locianpe minta kepada Pek Kut Thian kun atau Khie Tay Cao untuk membatasi waktunya?”

Hong Kong Totiang yang mendengar ucapan itu, juga berkata kepada Tiong Sun Seng: “Suteku itu, meskipun mengandalkan ilmunya Yang Singkang dan sudah minum getah Lengci pemberian Hwa Siancu, rasanya tiak dapat bertahan dalam waktu yang lama tanpa tak terkalahkan! Lawannya memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat, untuk merebut kemenangan barangkali masih agak sulit. Memang ada baiknya kalau Tiong-sun tayhiap suka mengadakan perjanjian untuk membatasi waktu, dengan Pek- kut Thian kun atau KhieTay Cao!”

Mendengar ucapan itu, Tiong-sun Seng lalu menggunakan ilmunya menyampaikan suara kedalam telinga, berkata kepada Pek-kut Thian kun dan Khie Tay Cao: “Pek Kut Thian kun dan Khie ciangbunjin, apakah kita tidak perlu mengadakan pembatasan waktu dalam pertandingan mengadu kekuatan tenaga antara ketua Butong dengan Pek Kut Siancu ini? Sebab apabila pertandingan antara mereka itu berlangsung secara demikian terus menerus, seandai harus memakan waktu sampai dua hari dua malam, bukankah akan mengganggu acara yang lainnya?”

Pek-kut Thian kun yang mendengar ucapan itu, menjawab dengan nada suara dingin: “Tiong-sun Seng, kau tak usah cemas, dalam waktu setengah jam aku tanggung Hong-hoat Cinjin pasti akan dihancurkan oleh ilmu Pek Kut Hian kang dari Pek kut Siancu!”

Tiong-sun Seng diam-diam memaki Pek-kut Thian kun yang terlalu sombong. Ia hanya tertawa dingin saja tidak menjawab, kemudian ia berkata kepada Khie Tay Cao:

“Khie Ciangbunjin, setelah kita mengadakan pertandingan beberapa babak, kini cuaca perlahan-lahan sudah mulai gelap dan kapankah pihakmu dapat menyediakan santapan malam?”

“Nanti jam 5 sore kita boleh beristirahat sebentar dan kita bersama-sama makan malam, sehabis makan malam kedua pihak dapat melanjutkan pertandingan lagi!” Menjawab Khie Tay Cao.

“Mengenai urusan Ceng-thian-pay kali ini, kau meskipun selaku pemimpin, tetapi belum tentu dapat bertanggung- jawab, sebaiknya tanyakan saja pada kedua pelindung hukummu Pe-kut Thian-kun?”

Pek-kut Thian kun tahu benar kekuatan tenaga dalam Pek- kut Siancu, maka ia anggap sebelum jam 5 sore pasti dapat merebut kemenangan, maka ia juga menjawab: “Tiong-sun Seng, mengapa kau harus mengadu domba? Sudah tentu sebagai ketua, Khie Ciangbunjin bisa bertanggung-jawab. Apabila ketua Butong Hong-hoat Cinjin dapat bertahan sampai jam 5, tanpa didorong oleh ilmu Pek-kut Siangkang dari sumoyku Pek-kut Siancu, dalam pertandingan ini hitung saja seri!”

Sehabis berkata demikian, ia lalu menggunakan ilmunya menyampaikan suara kedalam telinga kepada Pe-kut Siancu yang sedang bertanding dengan Hong-hoat Cinjin: “Sumoy, aku sudah mengadakan perjanjian dengan Tiong-sun Seng, begitu santapan malam disiapkan, kedua belah pihak harus sudah berhenti! Kau harus menggunakan seluruh kekuatan tenagamu, sebelum jam 5 nanti, kau sudah harus berhasil mendorong orang ini keluar dari kalangan, supaya nama baik Butongpay tersapu bersih.”

Pada saat Pek-kut Thiankun memberi instruksi pada Pek- kut Siancu, dari pihak Tiong-sun Seng juga menggunakan ilmunya menyampaikan suara kedalam telinga, sudah berkata kepada Hong-hoat Cinjin: “Lawan Cinjin sesungguhnya memiliki kekuatan tenaga dalam terlalu tinggi, dalam pertandingan ini harap Cinjin berusaha sekuat tenaga, dan bisa berakhir seri sudah cukup, jangan sekali-kali mencoba merebut kemengangan dengan menempuh bahaya. Arak yang kau sedot tadi, didalamnya terdapat setetes getah pohon Lengci, ditambah lagi dengan ilmumu Ci Yang Sinkang Tay hoan Cinlek, apabila Cinjin menggunakan baik-baik, sudah cukup untuk bertahan, tidak sampai terkalahkan. Asal Cinjin bisa bertahan sampai jam lima sore ini, begitu santapan malam dimulai, kedua pihak lantas dinyatakan dalam keadan istirahat, setelah makan malam selesai, akan diadakan pertandingan lagi yang akan diikuti oleh orang lain.”

Hong-hoat Cinjin sejak menyedot araknya itu, juga sudah merasakan bahwa dalam araknya ada bau sangat aneh. Dan yang mengherankan baginya ialah, kekuatan tenaga dalamnya dengan tiba-tiba bertambah, semangatnya terbangun. Kini setelah mendengar ucapan Tiong-sun Seng, baru tahu bahwa didalam arak tadi ternyata sudah dicampuri dengan getah pohon Lenci yang sulit didapatkan. Hingga diam-diam ia merasa berterima-kasih kepada Tiong-sun Seng dan Hwa Jit Swat

Ia menurut pesan Tiong-sun Seng, tidak berusaha untuk merebut kemenangan, hanya berusaha untuk bertahan jangan sampai terkalahkan, oleh karenanya maka ia dapat bertanding dengan tenang dengan kekuatan tenaga dalam yang ada, untuk menahan serangan pihak lawan yang dilancarkan bertubi-tubi. Oleh karena dalam babak kedua tadi, Pek-kun Siancu sudah mengetahui bahwa ilmu Hiankannya jauh lebih kuat dari pada lawannya, maka setelah mendengar pesan Pek kut Thian kun, diam-diam mentertawakan twakonya itu terlalu pandang tinggi kepada lawannya, ia sudah menganggap bahwa Hong-hoat cinjin sudah pasti tidak akan sanggup bertahan sampai jam 5 sore.

Diluar dugaannya, setelah berkali-kali melancarkan serangannya, ternyata tidak berhasil, ia baru merasakan keadaan ada perubahan, kekuatan tenaga dalamnya meskipun tidak memberi ancaman berat bagi dirinya tetapi walau bagaimanapun juga ia menggunakan kekuatan tenaganya masih belum dapat berhasil juga untuk menggeser Hong-hoat Cinjin dari tempatnya, sehingga tangan kanannya juga tidak berdaya lagi untuk menggeser maju barang setengah dim lagi saja.

Dalam keadaan marah, Pek kutSiancu menambah kekuatan tenaga dalamnya lagi sehingga melampau batas yang ada, ilmunya Pek kut Hiangkang dikerahkan seluruhnya, bagaikan ombak sungai Tiangkan mendorong terus ia lancarkan serangannya itu bertubi-tubi, berusaha hendak mendorong Hong-hoat Cinjin keluar dari lingkarannya, atau menghancurkan tubuhnya.

Sudah tentu Hong-hoat Cinjin menghadapi lebih berhati- hati, ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk bertahan terus. Ia tahu benar bahwa kekuatan tenaga dalam Pek-kut siancu, memang jauh lebih tinggi dari padanya, jikalau tidak ada bantuan dari Hwa Jie Swat dengan akalnya, mencampurkan getah Lengci kedalam araknya, sekalipun ia sudah berhasil melatih ilmunya Ci Yang Sinkang, hingg kekuatan tenaga dalamnya bisa digunakan tak habis-habisnya, tapi oleh karena dalam tubuhnya ia harus menahan tekanan berat, apabila dilakukan dalam waktu yang lama, pasti terluka parah dan ada kemungkinan akan hancur bagian dalamnya. Keadaan demikian itu teru bertahan hingga mendekati jam lima, kedua-duanya masih berkutet tanpa satupun yang mau menyerah. Hong-hoat Cinjin pada saat itu sudah nampak mengucurkan keringat, sedangkan Pek kut Siancu sendiri nafasnya juga sudah mulai memburu.

Semua orang yang menyaksikan pertandingan pada mengerutkan alisnya, sementara itu Hong kong Totiang bertanya kepadad Tiong-sun Seng: “Bagaimana pandangan Tiong-sun tayhiap? apakah pada akhirnya masih tetap akan rubuh bersama-sama?”

Tiong-sun Seng berpikir dahulu, baru menjawab: “Oleh karena sudah ada pembatasan waktu, maka Pek kut Siancu ingin buru-buru merebut kemenangan. Ia paksa terus melancarkan serangan dengan seluruh kekuatan tenaganya, tetapi dari nafasnya yang sudah memburu, rasanya

sudah sampai kepada puncaknya. Menurut pandanganku, Hong-hoatCinjin yang memiliki kekuatan tenaga tay Hoan Cinlek Yang sehabisnya mungkin masih dapat menggunakan kesempatan baik untuk merebut kemenangan!”

Hong-kong Totiang yang mendengar keterangan itu, baru saja merasa terheran-heran, Hwa Jie Swat yang ternyata lebih cerdik, sudah berkata kepada Tiong sun Hui Kheng dengan suara yang sangat perlahan: “Adik Kheng, suhu pura-pura merasa bangga, ia sengaja berbicara dengan suara nyaring, supaya didengar oleh orang-orang dari Ceng Thian. Mereka pasti tertipu oleh akalnya itu, hingga bahaya yang akan dihadapi oleh Hong-hoat Cinjin juga akan segera lenyap!”

Dugaannya itu ternyata jitu seluruhnya. Ucapan yang dikeluarkan oleh Tiong-sun Seng sudah didengar oleh Pek kut It su.

Ternyata, Pek kut It su yang sifatnya kejam, diam-diam telah melihat Hong-hoat Cinjin dibawah serangan bertubi-tubi dari adik seperguruannya yang ketiga, meskipun akibatnya sudah mandi keringat, tetapi badannya sedikitpun belum bergerak, hingga diam-diam merasa heran. Oleh karena itu, maka secara diam-diam pula sudah pasang telinga untuk mencuri dengar ucapan dari pihak lawan.

Ia tidak tahu bahwa usaha itu ternyata digagalkan oleh Tiong-sun Seng yang lebih cerdik. Tiong-sun Seng dengan berpura-pura merasa bangga dan mengucapkan perkataan demikian dengan suara keras, hingg semua itu sudah didengar oleh Pek kut It Su.

Pek kut It su belum tahu bahwa Hong-hoat Cinjin meskipun sudah memiliki kekuatan tenaga dalam Tay hoan Cin-lek, tetapi itu masih belum berarti besar baginya, ketika mendengarkan Tiong-sun Seng, diam-diam terkejut, ia juga berunding dulu dengan Pek-kut Thian-kun, Khie Tay cao, sudah menggunakan ilmunya menyampaikan suara kedalam telinga, berkata kepada Pek-kut Siancu yang sedang berusaha keras untuk menjatuhkan lawannya: “Sumoy awas, aku tadi sudah mendapat keterangan, bahwa Hong-hoat Cinjin sudah memiliki ilmu Tay-hoan Cin-lek yang dapat menyalurkan kekuatan tenaga dalam tidak habis-habisnya, kau sekali-kali jangan berlaku gegabah, sehingga tertipu oleh lawanmu!”

Pek-kut Siancu sendiri yang waktu itu sedang terheran- heran oleh kekuatan tenaga dalam Hong-hoat Cinjin, ketika mendengar ucapan itu juga terkejut, ia sengaja mengurangi tekanannya dengan ilmunya Pek-kut Hiankang.

Hong-hoat Cinjin sementara itu yang merasa tekanan berkurang, kekuatan tenaga dalamnya Tay hoan cin-lek kembali tumbuh tidak habisnya juga dapat menggunakan kesempatan itu untuk bernafas lega.

Pek-kut Sianju yang sangat lihay, dengna percobaannya mengurangi tekanannya tadi, benar saja segera sudah mengetahui bahwa lawannya itu benar-benar ada melatih ilmu kekuatan tenaga dalam Tay hoan Cin-lek, maka lalu berkata sambil tertawa dingin: “Ketua Bu-tong, aku si nenek tua masih belum menduga bahwa kau ternyata sudah memiliki ilmu Tay hoan Cin-lek!”

Pikiran Hong-Hoat Cinjin mulai tenang, ia berkata sambil tersenyum: “Meskipun pinto sudah berhasil melatih ilmu Tay- lian cin lek, tetapi masih sangat cetek, hanya dapat digunakan untuk membela diri, tidak berdaya untuk memenangkan Siancu! Sebaiknya kita berhenti samapi disini saja, ataukah terus berlangsung hingga jam lima!”

Pek-kut Siancu tadi karena sudah mengerahkan seluruh kekuaatan tenaganya, namun masih belum berhasil menjatuhkan lawanya, maka dalam hati juga merasa jeri, ketika mendapatkan usul itu, lalu mengangguk-anggukkan kepala seraya berkata: “Kalau kita memang sudah mendapat keputusan, perlu apa harus dilangsungkan hingga jam lima? Baiklah kita sekarang sama-sama keluar dari batas lingkaran masing-masing!”

Sehabis berkata demikian, masing-masing lalu menarik tangannya dan lompat keluar dari kalangannya sendiri-sendiri, setelah itu kembali kerombongannya masing-masing.

Hong-hoat cinjin begitu kembali kerombongan tempat duduknya, pertama-tama memberi hormat kepada Hwa Jie Swat, guru dan murid itu.

Tiong-sun Seng dan Hwa Jie swat buru-buru memberi hormat, setelah itu Hong-hoat Cinjin baru berpaling dan berkata kepada suhengnya Hong kong Totiang: “Jikalau tidak mendaki gunung Tay san, kita tidak tahu betapa luasnya dunia ini! Sedikit kepandaian ilmu yang siaote dapatkan jikalau bertemu dengan orang yang memiliki kepandaian benar- benar, sesungguhnya tidak berarti apa-apa! Kali ini begitu kita pulang kegunung Butong, bersama-sama Suheng dan sute, kita boleh menutup selama tiga tahun untuk memperdalam ilmu kita masing-masing, tidak lagi akan mencampuri urusan luar!”

Tiong-sun Seng yang mendengar ucapan itu menganggukkan kepala, tetapi siapapun menduga bahwa pikiran manusia, kadang-kadang seperti apa yang sudah digariskan oleh Yang Maha Esa. tak lama kemudian setelah ditutupnya pertemuan berdirinya partai baru Ceng-thian-pay, kuil Sam goan koan diatas gunung Butong, lantas mengalami bencana hebat.

Khie Tay cao yang menyaksikan Pek-kut Sianjin dan Hong- hoat Cinjin sebelum batas waktu telah menarik kembali tangan masing-masing, lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyediakan perjamuan malam. Sewaktu hari menjadi gelam, tempat sekitar depan goa itu diterangi dengan sinar pelita, hingga keadaannya terang benderang.

Dari rombongan pihak tetamu, diwaktu perjamuan berlangsung, sambil makan minum mereka merundingkan rencananya untuk menghadapi musuh-musuhnya sehabis makan nanti.

Tiong-sun Seng berkata sambil tertawa: “Dipihak lawan, kecuali laki-laki berkulit hitam dan mirip dengan sepasang manusia berbisa dan 2 manusia kate dari negara timur, masih ada Pek kut Thian kun, Pek kut Ie su dan Khie Tay Cao sendiri yang masih belum turun tangan..

Ketua partai Ngobie pay It Hian Hian Sianlo berkata sambil tertawa: “Tentang diri Khie Tay Cao sendiri sebenarnya tidak perlu ditakuti, aku sinenek tua, atau suami-istri Peng-pek Sin kun atau kedua sianse dari partai siaolim, siapa saja diantaranya juga sudah cukup untuk menghadapinya! Sebaliknya adalah Pek kut Sam mo, memang bukan nama kosong belaka, diantara mereka bertiga, yang paling lemah adalah Pek kut Siancu, tetapi toh pihak kita Hong-hoat Cinjin masih belum sanggup menjatuhkannya, sedangkan Pek-kut Thian kun dan Pek kut Ie su berdua, sudah tentu lebih hebat daripadanya, walau Tiong-sun Tayhiap memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekalipun, barangkali juga tidak akan sanggup sekaligus untuk menghadapi dua musuh tangguh itu!”

Dengan tiba-tiba Tiong-sun seng mengawasi It-put Sinceng, kemudian berkata kepadanya: “Didalam dunia kangouw, taysu selamanya suka menjadi orang pertengahan, belum pernah campur tangan untuk bertempur dengan orang lain. Bagaimana kalau hari ini mengadakan pengecualian satu kali saja?”

Lebih dahulu It-pun Sinceng memuji nama Budha, kemudian berkata: “Kali ini locianpe mungkin sudah salah mata. Kepandaian yang tidak berarti dari pinceng ini, mana mungkin dapat direndengkan dengan salah seorang saja dari Pek-kut Sam mo?”

“Taysu tidak perlu sembunyikan kepandaian sendiri, tadi kau dengan mengandalkan seutas selendang sutera Hwa Jie Swat, dapat melayang turun dari tempat setinggi beberapa puluh tombak, apakah itu tidak dapat diartikan sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi?”

“Pinceng, kecuali lmu meringankan tubuh yang masih boleh juga, atau ilmu menjaga diri, yang rasanya masih boleh diandalkan, untuk menghadapi lawan kuat seperti Pek-kut Thian kun, rasanya hanya sanggup melayani pukulannya, tiga atau lima puluh jurus, tetapi kalau suruh pinceng menghajar orang, sedikitnya belum pernah mempelajari ilmu itu…”

Hee Thian Siang yang ingin sekali melawan Pek-kut Thian kun, ia kuatir lawan itu akan diberikan kepada It-pun Sin-ceng yang menghadapinya, maka lalu buru-buru berkata: “Begini saja, sebentar aku dengan Taysu turun kelapangan bersama- sama, untuk menantang pada Pek-kut Thian kun. Biarlah suruh dia menghajar kau dan aku yang menghajar kepadanya!

It-pun Sinceng mengawasi Hee Thian Siang sejenak, kemudian berkata sambil tersenyum: “Usul Hee laote ini, sesungguhnya sangat bagus sekali. Tetapi Pek-kut Thian kun belum tentu dapat menyetujui suatu pertandingan yang sangat aneh dan belum pernah ada dalam rimba persilatan ini!”

Tiong-sun Seng dengan tiba-tiba berkata sambil tertawa: “Kawanan iblis seperti Pek-kut Thian kun itu, kebanyakan memiliki sifat yang aneh sekali. Seringkali pertandingan yang semakin aneh luar biasa, kadang-kadang semakin mudah diterima! Usul Hee hiantit ini, sebentar boleh dicoba!”

Usul yang diajukan oleh Hee Thian Siang itu, ketika tidak disetujui oleh It-pun Sinceng, ia merasa agak kecewa, tetapi setelah mendengar tiong-sun Seng menyetujuinya, ia lalu merasa sangat girang.

Hwaw Jie Swat juga berkata kepada Hee Thian Siang: “Adik Siang, tak kusangka permainan yang kau pikirkan ternyata lebih aneh daripada permainan yang pernah kupertunjukkan!”

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu lalu berbisik- bisik disamping telinga Hwa Jie Swat: “Enci Hwa, ilmu membela diri It-pun Sincengmu itu, sebetulnya sampai dimana? Pek-kut Thian kun adalah seorang yang sangat hebat, perlukah kiranya aku memberikan petunjuk kepadanya dua jurus ilmu menjaga diri yang baru dapat kupelajari?”

“Adik Siang hendak memberi petunjuk ilmu menjaga diri bagaimana?” Bertanya Hwa Jie Swat sambil tertawa.

Hee Thian Siang berpikir dulu, kemudian baru menjawab: “Aku pikir hendak memberi petunjuk kepadanya pelajaran ilmu yang dinamakan menolong sesama yang susah dan bunga mawar berterbangan!”

“Nama dari gerak ini, sesungguhnya sangat aneh. Biarlah kupanggil dulu dia kemari, untuk menanyakan sendiri kepadanya suka menerima atau tidak?”

Sehabis berkata demikian, ia lalu menggapai kepada It-pun Sinceng dan berkata kepadanya sambil tersenyum: “Peruntunganmu datang, adik Siang taku kau akan terluka terkena pukulan Pek-kut Thian-kun, ia hendak memberi petunjuk dua jurus ilmu menjaga diri kepadamu!”

It-pun Sinceng mengawasi Hee Thian Siang beberapa kali, lalu berkata sambil tersenyum: “Bagaimana Hee laote dengan tiba-tiba menaruh perhatian terhadap diriku? Kau hendak memberi petunjuk ilmu menjaga diri, sudah tentu baik sekali, pinceng bersedia untuk menerima.”

Hee Thian Siang dengan wajah merah buru-buru berkata: “Harap Taysu jangan kecil hati. Hee Thian Siang bukanlah seorang yang tidak tahu diri, oleh karena ilmuku menjaga diri ini, terhadap serangan yang bagaimanapun hebatnya, benar- benar sangat manjur.”

“Nama dari ilmu membela diri itu bolehkah laote beritahukan lebih dahulu kepadaku?”

“Kesatu bernama Bunga Mawar Beterbangan dan yang lain bernama…”

Begitu mendengar disebutnya nama gerak tipu itu It-pun Sinceng lantas bertanya: “Gerak Bunga Mawar Beterbangan itu apakah bukan ilmu ciptaan dari Duta Bunga Mawar ketika itu, Sian-ceng Kiesu Chie Hiang Pho?”

Kali ini adalah gilirannya Hee Thian Siang yang dikejutkan oleh pertanyaan itu, dengan mata menatap It-pun Sinceng, ia berkata dengan terheran-heran: “Bagaimana Taysu tahu tiga jurus gerak tipu Bunga Mawar itu?…”

Belum lagi melanjutkan pertanyaannya, tiba-tiba ia berseru: “Ooo, aku benar-benar sudah linglung! Taysu dengan Duta Bunga Mawar, tentunya merupakan sahabat akrab! Jikalau tidak demikian, sudah tentu Duta Bunga Mawar waktu itu tidak akan memerintahkanku pergi kelautan Timur untuk minta getah dari pohon Lenci darimu.”

“Hee laote, kau sudah mempelajari tiga jurus ilmu Bunga Mawar, kalau begitu Duta Bunga Mawar barangkali sudah tiada, betulkah?”

“Bagaimana Taysu dapat menebak dengan demikian jitu?”

It-pun Sinceng menghela napas panjang dan berkata: “Aku dengan Duta Bunga Mawar memang benar merupakan sahabat akrab, dahulu dia lantaran sifatku yang suka mengalah, tidak suka berkelahi dengan orang, maka lalu menurunkan kepadaku ilmu tiga jurus Bunga Mawar itu, untuk menjaga diri! Ia bahkan menerangkan bahwa ilmu silat itu adalah diciptakan olehnya selama hidupnya itu, jikalau belum tiba waktunya hendak meninggalkan dunia yang fana ini, ia tidak akan menurunkan kepada orang lain! Sekarang Hee Laote sudah mendapat warisan ilmu darinya, sudah tentu aku dapat menduga dengan pasti bahwa ia sudah meninggalkan dunia ini!”

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lalu menceritakan semua apa yang terjadi dengan Duta Bunga Mawar itu, setelah itu ia berkata sambil tersenyum: “taysu sudah memahami ilmu silat Duta Bunga Mawar, kalau begitu ucapan Hee Thian Siang tadi terlalu sombong. Aku rasa sebaliknya malah akulah yang perlu minta petunjuk darimu!” “Laote tidak perlu merendahkan diri. Kau masih memiliki semacam ilmu yang ampuh, apakah namanya itu? Bolehkah kau beritahu?”

“Gerak tipu ini juga merupakan suatu ilmu dari keturunan golongan Budha, namanya menolong sesama yang susah!”

selama ini memang mengandung maksud welas asih dengan namanya itu, pasti merupakan suatu gerak tipu yang sangat ampuh. Pinceng merasa sangat beruntung, maka lebih dulu pinceng ucapkan terima kasih kepadamu!”

Hee Thian Siang buru-buru membalas, ia lalu mulai memberi petunjuk ilmu yang ia dapatkan dari Thiat-ie Sianjin, dengna disertai oleh lukisan-lukisan gampar yang dipetakan dengan sumpit ditangannya.

Setelah It-pun sinceng dapat memahami seluruh ilmu bela diri itu, perjamuan makan itu sudah selesai. Dibawah penerangan lampu pelita yang terang-benderang, keadaan didepan goa Siang-swat-tong kembali nampak gawat.

Dari jauh Hee Thian Siang menampak Pek-thian Sam mo sedang mengadakan perundingan dengan Khie tay Cao, agaknya sedang merundingkan siapa-siapa yang harus turun kelapangan. maka ia lalu berpaling dan mengawasi monyet kecil Siaopek yang berada disamping Tiong-sun Hui Kheng, kemudian bertanya kepadanya: “Siaopek, kau lihatlah! Monyet disamping Pek-kut Siancu itu, bentuknya selisih tidak jauh denganmu, kepandaiannya juga hebat. Apakah kau juga suka turun kelapangan untuk bertanding dengannya?”

Siaopek yang memang bersifat sombong, apalagi mendengar kata bahwa Pek-kut Siancu juga memelihara seekor monyet yang sangat cerdik, maka ketika mendengar pertanyaan itu, lalu berkali-kali bersiul perlahan berulang- ulang didepan Tiong-sun Hui Kheng. Tiong-sun Hui Kheng tahu bahwa monyet peliharaannya itu sedang minta izin kepadanya untuk turun kelapangan, lantas mengelus-elus kepalanya dan memberi pesan kepadanya supaya bertempur dengan sungguh-sungguh, jangan sampai menghilangkan muka tuannya.

Siaopek yang mendengar pesan Tiong-sun Hui Kheng, merasa sangat girang, saat itu segera turun kelapangan meminta bertempur.

Caranya ia turun kelapangan, agak mengejutkan semua orang yang ada disitu, sebab Siaopek bukannya lompat melesat kelapangan, juga bukan merayap sebagaimana bangsa kera lazimnya, melainkan berdiri bagaikan manusia. Ia berjalan sambil membusungkan dada, setapak demi setapak berjalan menuju ketengah lapangan.

Dalam pertandingan Pek-kut Sam mo dengan Khie Tay Cao, talah menganggap bahwa Butong pay baru saja kembali kerombongannya, sedangkan yang lain orang-orang dari pihak partai Siaolim, Swat-san, Ngobie dan Lohu, sekalipun ada orang yang kepandaiannya dapat mengimbangi Khie Tay Cao, tetapi kekuatan tenaganya pasti selisih jauh. Selagi Khie tay Cao hendak turun kelapangan sendiri untuk merebut kemenangan beberapa babak, supaya mengharumkan nama partainya dan supaya Tiong-sun Seng segera bisa dihadapkan kepada Pek-kut Thian kun atau Pek-kut Ie su, ditengah lapangan tiba-tiba muncul seekor kera putih, yang kemudian disusul oleh ucapan Hee Thian siang: “Pek-kut Siancu, kita hendak mengadakan pertandingan binatang peliharaan kita. Apakah monyet putih peliharaanmu berani menyambut tantangan monyet kami?”

Oleh karena monyet putih peliharaan Pek-kut Sianju itu juga sejenis monyet yang sangat cerdik dan bertenaga besar, maka ketika Pek-kut Siancu mendengar ucapan itu, segera menggapai monyetnya dan memerintahkan kepadanya supaya turun kelapangan untuk menghadapi lawannya. Kera putih itu baru saj lompat meleat menuju kelapangan, go Eng yang duduk disampingnya tiba-tiba berkata kepada pek-kut Siancu: “Siancu harus pesan kepada binatang peliharaanmu ini, supaya berlaku hati-hati. Pihak lawan ada memakai rompi emas, rompi emas itu adalah peninggalan Tay piat Siangjin, barang pusaka itu dahulu dinamakan Sisik Naga pelindung jalan darah, yang kemudian dibuat rompi oleh majikannya, sekalipun duru berbisa Thian Kheng, juga tidak bisa menembusi!”

Ucapan Go eng itu, bukan saja diluar dugaan Pek-kut Sam mo, tetapi juga menarik perhatian tamu Khie Tay cao dari daerah luar perbatasan, hingga semua mata lantas ditujukan pada rompi emas ditubuh Siaopek.

Selagi Pek-kut Siancu hendak memperingatkan pada monyet peliharaannya, Siaopek dengan sikap sombongnya perlahan-lahan sudah membuka rompi emasnya yang dapat dibanggakan itu.

Ketika monyet Pek-kut Siancu sudah berada ditengah lapangan, rompi wasiat yang dipakai oleh Siaopek, juga sudah dilepaskan dan dilemparkan ditanah.

Dua binatang kera itu berdiri berhadapan, masing-masing menunggu kesempatan baik untuk melancarkan serangan. Pertandingan itu merupakan suatu pertandingan istimewa, hingga bukan saja menarik, juga mengherankan semua penonton. Sebab bentuk badan dua ekor kera itu, hampir mirip satu sama lainnya. Bedanya hanya pada sepasang mata Siaopek merah seperti bara, adalah monyet piliharaan Pek-kut Siancu matanya hitam jengat.

Pek-kut Siancu sendiri ketika menyaksikan sepasang mata Siaopek, diam-diam juga merasa heran, ia pikir bahwa monyetnya sendiri itu sifatnya galak dan buas pada waktu biasanya tidak perduli bertemu dengan binatang yang bagaimanapun buasnya, selalu menggeram lantas diserbu dengan cengkeramannya, tetapi hari ini ketika bertemu dengan monyet sejenisnya, bagaimana sebaliknya malah menunjukkan sikap takut?

Sementara itu Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan keadaan demikian lalu berkata kepada Hee Thian Siang yang waktu itu menunjukkan sikap sangat tegang: “Adik Siang, kau jangan kuatir. Dalam pertandingan ini, Siaopek pasti bisa merebut kemenangan!”

Hee Thian Siang tahu bahwa Tiong-sun Hui Kheng mengenal baik sifat berbagai binatang, mendengar ucapan itu lalu bertanya: “Berdasar atas apa enci dapat mengatakan demikian? Aku lihat dua ekor kera itu mirip benar satu sama lain!”

“Dalam dunia ini ada banyak hal yang kadang-kadang terjadi secara kebetulan. Dua ekor kera ini, berasal dari serumpun bangsa. Tetapi sepasang mata Siaopek merah bagaikan bara, ini suatu tanda bahwa kera sejenis ini lebih tinggi kecerdikkannya. Sedang kera milik Pe-kut Siancu, sepasang matanya hitam jengat, ini suatu tanda bahwa latihan ilmunya belum seberapa matang, maka itu, ketika kera tadi berhadapan dengan Siaopek, lantas menunjukkan sikap takut!”

Baru saja Hee Thian Siang menganggukkan kepala, dua ekor kera putih dalam kalangan sudan mulai bertempur, mereka bertempur sengit sambil bersuitan tidak hentinya.

Pertempuran ini sudah tentu berbeda dengan pertempuran antara manusia, sebab dua ekor kera kecuali menggunakan kuku-kukunya yang tajam mencakar, tetapi juga telah mengeluarkan kepandaian masing-masing yang dapat mereka pelajari dari majikannya sendiri, dari situpun dapat dilihatbetapa tinggi kepandaian majikan mereka masing- masing. Pertempuran antara binatang itu berlangsung semakin sengit. Dua ekor kera itu sama-sama mengerahkan ilmu meringankan tubuh masing-masing yang luar biasa, hingga semua orang hanya nampak berkelabatnya segumpalan bayangan putih, tidak tahu bagaimana mereka mengadakan pertempuran.

Semua orang yang menyaksikan pada tertarik, terutama orang aneh berkulit hitam dan orang kate yang berpakaian aneh. Mereka pada berhenti minum, lalu turun kebawah panggung, berdiri dipinggir lapangan, menonton dengan penuh perhatian.

Halaman 32~35 hilang…

“Hee Thian Siang hanya ingin tanya kepada Ciangbunjin, dua manusia yang merampok bendad milik kera putih kami tadi dan yang kemudian turun tangan kejam menyerang lagi kepadanya, apakah perbuatan itu sesuai dengan peraturan dalam rimba persilatan?”

Muka Khie tay Cao menjadi merah ditanya demikian, ia memaksa diri untuk tertawa, kemudian berkata: “Kedua tuan tadi adalah tetamu kami yang datang untuk menghadiri upacara berdirinya partai baru ini, bukan orang dari golongan Ceng-thian-pay. Sekalipun perbuatannya itu tidak dapat dibenarkan, tetapi Khie Tay Cao juga tidak bisa memikul tanggung-jawab atas perbuatan mereka!”

“Khie Ciangbunjin, kau benar-benar mau lepas tangan seenaknya saja. Tetapi, manusia yang tidak tahu malu seperti mereka itu, duduk sebagai tamu agung dari partaimu, sudah lama disini makan minum, toh tidak mungkin jikalau Ciangbunjin tidak mengetahui asal-usul dan nama mereka?” Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa dingin.

Khie Tay Cao dibuat kewalahan oleh ucapan Hee Thian Siang itu, terpaksa menjawab sekenanya. “Mereka tadi yang satu bernama Hek-nie-kam lo dan yang lain bernama Kin-jie-long yang mempunyai julukan golok emas, mereka sama-sama merupakan orang-orang dari negara luar!”

“Ouw! Benar seperti apa yang kami duga, satu adalah salah satu dari tiga orang kate negara Timur dan yang satu adalah salah satu dari sepasang manusia aneh berbisa!”

Khie Tay Cao mendengar ucapan Hee Thian Siang yang ternyata sudah mengetahui asal-usul tiga tetamunya itu, sesaat juga tampak terkejut, kemudian berkata: “Sahabat she Hee, kalau sudah tahu siapa diri mereka berdua, seharusnya mengerti bahwa Khie Tay Cao tidak bisa bertanggung-jawab atas perbuatan mereka tadi!”

Halaman 38~39 hilang…

Pek-kut Thian-kun membenarkan ucapan saudara seperguruannya, katanya sambil mengerutkan alisnya: “Kecuali Tong It Bong padri aneh itu, dalam rimba persilatan belum pernah terdengar ada orang lain yang mengunakan bulu burung sebagai senjata! Jite boleh peringatkan Khie ciangbunjin, supaya dia suka berlaku hati-hati sedikit menghadapi senjata aneh itu!”

Pek-kut Ie-su lalu menggunakan ilmunya menyampaikan suara kedalam telinga, untuk memperingatkan kepada Khie Tay Cao, bahwa senjata bulu burung berwarna lima itu adalah senjata ampuh Tong It Bong dahulu yang pernah menggemparkan dunia rimba persilatan.

Khie Tay Cao yang memang sudah pusing menghadapi Hee Thian Siang, kini setelah mendengar peringatan Pek-kut Ie-su, hatinya semakin merasa kuatir.

Dalam keadaan demikian, ia tidak suka banyak bicara dengan Hee Thian Siang, maka sengaja menunjukkan aksinya sebagai ketua dari suatu partai, berkata kepada Hee Thian Siang: “Sahabat Hee, meskipun ilmu silatmu berasal dari golongan ternama, dan kau juga sudah mendadpat warisan ilmu menggunakan senjata bulu burung berwarna lima ini yang dahulu namanya menggemparkan dunia persilatan, tetapi usiamu masih terlalu muda. Aku Khie Tay Cao tidak suka dianggap orang sebagai seorang tua yang menghina satu anak-anak, juga tidak enak untuk main-main dengan orang yang tidak sama tingatannya, maka bagiku sesungguhnya merasa agak sulit untuk mengiringi kehendakmu.

Baru saja Hee Thian Siang hendak menjawab, Khie Tay Cao sudah berkata pula: “Sekarang begini saja, aku dengan kedudukan sebagai ketua dari partai Ceng-thian-pay, suka memberi prioritas kepadamu untuk menyerang 3 jurus lebih dulu, kemudian kita lanjutkan pertandingan sampai 10 jurus. Kalau setelah 10 jurus masih belum diketahui siapa yang menang dan siapa yang kalah, hitung seri saja, kedua pihak mengganti orang untuk mengadakan petandingan selanjutnya, bagaimana?”

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, ia merasa girang, karena itu justru yang diharapkan olehnya, sebab ilmu silat warisan yang didapatnya, semuanya merupakan ilmu silat yang andal untuk menghadapi segala macam pertandingan. Hanya patut disayangkan oleh batas usianya yang masih muda, dalam waktu singkat tentu tidak mudah baginya dapat menjatuhkan seorang kuat seperti Tay Cao ini. Akan tetapi ilmu silat yang ia dapatkan dari Duta Bunga Mawar, sekalipun ia tidak bisa menjatuhkan lawan, tetapi kalau untuk mempertahankan diri saja masih sanggup.

Oleh karena demikian, maka ia segera dapat menyetujui usul Khie Tay Cao tadi.

Khie Tay Cao yang sudah pernah dibikin pusing oleh pemuda itu, meskipun diluar masih tampak tenang, namun dalam hati sesungguhnya masih agak kuatir menghadapi Hee Thian Siang.

Dengan senjata tongkat berkepala burung yang dibentangkan didepan dada, ia berdiri bagaikan raksasa, berkata dengan suara nyaring:

“Sahabat Hee, sekarang kau boleh mulai menyerang lebih dahulu. Dalam tiga jurus, aku Khie Tay Cao tidak akan membalas!”

Hee Thian Siang maju selangkah. Ketika senjata bulu burungnya itu diangkat tinggi, tidak menunjukkan tanda apa- apa yang agak aneh, lalu dengan gerakan lambat ditujukan kedepan dada Khie Tay Cao.

Khie Tay Cao karena mendapat peringatan Pek-kut Ie su tadi, ia telah menganggap serangan senjata aneh Hee Thian Siang itu sebagai serangan yang sangat berbahaya.

Oleh karena ia sendiri tidak tahu bagaimana hebatnya serangan tersebut, maka ia merasa semakin terkejut. Ia telah bertekad untuk menunggu setelah serangan lawannya datang dekat dan diadakan perobahan, baru dengan mengandalkan kekuatan tenaganya sendiri hendak menghadapinya sendiri. Ia pun telah maklum pula apabila ia kurang hati-hati pasti akan dijatuhkan oleh lawannya.

Gerak tipu yang digunakan oleh Hee Thian Siang tadi sebetulnya digunakan secara seenaknya, ia hendak melihat bagaimana reaksi Khie Tay Cao dalam menghadapi serangannya yang pertama ini, kemudian barulah dirubah cepat! Sebab, bagaimanapun juga Khie Tay Cao sudah sesumbar dihadapan umum bahwa ia hendak memberi kesempatan kepadanya menyerang lebih dahulu tiga jurus tanpa membalas, maka untuk sementara ia boleh berlaku tenang tanpa banyak pikiran. Kini ketika melihat bahwa bulu burung dalam tangannya sudah menyentuh senjata tongkat besar yang dilintangkan didepan dada Khie Tay Cao, namun lawannya itu masih tetap berdiri, dengan hati merasa girang telapak tangan kirinya dengan tiba-tiba dibalikkan dengan menggunakan gerak tipu terampuh dari imu silatnya Bunga Mawar. Sedang tangan kanannya, dengan disalurkan kekuatan tenaga dalamnya kepada senjata bulu burung itu digunakan untuk menyerang tongkat Khie Tay Cao.

Selagi Khie Tay Cao pusatkan semua perhatiannya kepada senjata bulu burung lima warna ditangan Hee Thian Siang yang diduga akan melancarkan serangan aneh, sedikitpun tidak menyangka kalau Hee Thian Siang dengan tiba-tiba menyerang dengan tangan kiri.

Serangan Hee Thian Siang yang dilakukan sepenuh tenaga itu sudah tentu hebat sekali, sehingga Pek-kut Thian kun, Pek- kut Ie su maupun Pek-kut Siancu, semuanya juga merasa sangat kuatir.

Masih untung Khie Tay Cao memiliki kekuatan tenaga yang sangat hebat. Tidak kecewa ia menjadi ketua dari salah satu partai, ketika dalam keadaan tergesa-gesa dan bahaya demikian, dengan cepat ia menyedot hawa dan mengeluarkan suara siulan aneh, kemudian dengan suatu gerakan “burung terbang keangkasa”, lompat melesat sambil membawa senjatanya yang beratnya lebih dari lima puluh kati itu untuk mengelakkan serangan tersebut.

Tetapi meskipun dengan susah payah ia dapat mengelakkan serangan hebat Hee Thian Siang itu, ia tidak berhasil melindungi senjata tongkatnya dari serangan bulu burung Hee Thian Siang, hingga senjata yang kasar dan berat itu tergores dan pecah tepat dibagian tengah-tengahnya.

Halaman 44~45 hilang… itu terlalu keburu nafsu untuk maju menyerang sehingga kehilangan posisi, dan berbalik harus menghadapi serangan hebat dari lawannya. Aku benar-benar sangat kuatirkan dia dapat menghadapi serangan hebat dari senjata tongkat yang berat itu atau tidak?”

“Ayah tak usah kuatir, adik Siang bisa terbang, ilmu silatnya “Bunga Mawar Beterbangan” bisa menolong kepadanya buat lolos dari serangan maut Khie Tay cao itu! atau ia menggunakan ilmunya “Menolong Sesamanya Yang Susah” juga dapat memunahkan dengan mudah serangan lawannya yang hebat itu!” Menjawab Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa.

Baru saja menutup mulut, dalam lapangan dengan tiba-tiba terjadi perobahan! Ada batok kepala seseorang mengapung ketengah udara akibat terkena serangan senjata berat Khie Tay cao tadi, dengan separuh badannya hancur lebur dan bangkainya berserakan ditanah!”

Orang yang mati konyol itu, sudah tentu bukan Khie Tay Cao sendiri, juga bukanlah Hee Thian Siang! Melainkan adalah seorang anak buah partai Ceng-thian-pay yang melayang, yang tadi berdiri jauh ditepi lapangan.

Kiranya ketika tiga kali serangan Hee Thian Siang tadi tak berhasil mengenakan lawannya semua, dalam hati merasa mendongkol dan cemas, sebelum ia balik kembali ketempatnya, hembusan angin hebat sudah mengancam batok kepalanya.

Lawannya membalas serangan dengancepat, sesungguhnya diluar dugaannya, maka mau tak mau Hee Thian Siang diam-diam juga merasa terkejut. Semula hendak menggunakan ilmunya Bunga Mawar Beterbangan, untuk lebih dahulu lolos dari bahaya sebelum sempat mengambil tindakan akan tetapi baru saja hendak mengeluarkan ilmunya itu, hembusan angin hebat sudah dirasakan lagi diatas batok kepalanya.

Kiranya senjata berat yang digunakan oleh Khie Tay Cao itu meskipun beratnya 50 kati lebih, tetapi sebagian besar beratnya terletak dikedua sayap dibagian kepala tongkat kepala burung itu.

Oleh karena batang senjata itu sudah tergores oleh senjata bulu burung Hee Thian Siang, sudah tentu tidak dapat menahan berat seperti itu, apalagi Khie Tay Cao menggunakan sepenuh tenaga, maka ketika gagang senjata itu diputar, gagang tersebut lantas terputus ditengah-tengah, sepotong masih berada ditangan Khie Tay Cao, sedang sepotong yang lain, ialah dibagian kepala yang ada bulu garuda bersama sayapnya sudah melesat dan tepat telah mengenakan kepala salah seorang anak muridnya sendiri.

Hee Thian Siang untuk sesaat juga dikejutkan oleh kejadian itu, tetapi kemudian ia segera mengerti apa sebabnya, maka lantas tertawa terbahak-bahak dan berkata untuk mengejek Khie Tay Cao: “Khie Ciangbunjin! Anak buahmu ini, tidak usah disamakan dengan kuda tunganmu Cian-lie-hiok-wa-ceng yang sudah dikalahkan olehku. Mengapa kau pukul mampus juga dia yang tidak berdosa itu?”

Bagaimanapun tebal muka Khie Tay Cao, juga sudah merasa sangat malu. Oleh karenanya, maka ia tidak dapat menjawab, hanya tertawa sendiri, kemudian sepotong senjata tongkat yang berada ditangannya disambitkan kepada kepalanya sendiri.

Hee Thian Siang tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Dikemudian hari apabila ada orang yang mengetahui hari ini, pasti akan membuat syair untukmu yang ditulis dengan kata- kata: 'Makam ketua partai Ceng Thian pay yang membunuh diri dengan senjatanya sendiri.'” Belum habis ucapannya, hembusan angin yang sangat dingin, tiba-tiba menotok jalan darah bagian dadanya. Meskipun dilapisan dalam pakaiannya itu sudah memakai sisik naga pelindung jalan darah sehingga tidak terluka, tetapi oleh karena hembusan angin terlalu kuat itu, ia masih terdorong mundur beberapa langkah, sehingga akhirnya perlu disambut oleh tangan orang.

Dalam keadaan terkejut, Hee Thian Siang baru tahu bahwa orang yang menyerang dirinya itu adalah Pek-kut Ie su, sedang tangan yang lain telah berusaha merebut senjata tongkat yang hendak disambitkan oleh Khie Tay Cao kearah kepalanya sendiri, sedangkan yang menyanggah dirinya tadi adalah Tiong-sun Seng yang kini berada dibelakang dirinya.

Pek-kut Ie su berkata kepada Tiong-sun Seng sambil tertawa menyeramkan: “Thian-gwa Ceng mo! Pinto sudah lama mengagumi nama besarmu, kita antar pulang dulu dua orang ini, lalu turun kelapangan lagi untuk bertanding, kau pikir bagaimana?”

Tiong-sun Seng menganggukkan kepala dan menjawab: “Tiong-sun Seng bersedia mengiringi setiap kehendakmu. Tetapi, kulihat sikap diwajah Khie Ciangbunjin, agaknya terbakar hatinya oleh karena cemas dan marah, harap Totiang rawat dulu dia baik-baik!”

Pek-kut Ie su mengawasi Khie Tay Cao yang saat itu bibirnya sudah hitam dan wajahnya menjadi pucat, lalu tertawa beberapa kali, kemudian menjawab: “Pinto masih mengerti sedikit ilmu tabib, sudah tentu dapat menyembuhkan luka Khie Cianbungjin. Tetapi aku tadi karena merasa mendongkol pada sikap dan ucapan Hee Thian Siang yang terlalu nakal, pernah memberi sedikit hajaran padanya. Jikalau tidak segera diobati, mungkin bisa bahaya bagi jiwanya.”

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, sangat marah, selagi hendak balas memaki, sudah keburu dibawa pergi oleh Tiong-sun Seng, ditelinganya ia berkata kepadanya: “Hee hiantit, jangan kau buka mulut dulu! Kau sudah terkena serangan Pek-kut Ie-su yang sangat lihay, ilmu itu dinamakan Pek-kut Im-yang-jie.”

Melihat sikap Tiong-sun Seng yang demikian cemas, ia mengerti bahwa orang tua itu tentu mengira dirinya terluka parah, maka lantas berkata kepadanya dengan suara perlahan: “Empek tak usah kuatir, Tuhan Allah itu sangat adil, tidak mungkin melindungi orang jahat. Ilmu jahat sangat berbisa yang dipergunakan oleh Pek-kut Ie su tadi, sebelum mengenakan orangnya memang tidak mengeluarkan tanda atau suara apa-apa, tetapi serangannya tadi justru mengenakan bagian jalan darah Siaotit yang dilindungi oleh sisik naga pelindung jalan darah, oleh karenanya maka siaotit sedikitpun tidak terluka apa-apa.

Tiong-sun Seng yang mendengar keterangan itu, baru merasa lega hatinya, tetapi setelah ia kembali ketempat duduknya lantas berkata kepadanya dengan sikap sungguh- sungguh: “Hee hiantit, tadi ketika kau berhadapan dengan Khie Tay Cao, bukan saja masih kurang jauh pengalamanmu untuk menghadapi musuh atau menghadapi perobahan gerakanmu, sedangkan ucapan-ucapan yang kau gunakan juga memang benar seperti apa yang dikatakan oleh Pek-kut Ie su, terlalu nakal. Aku sebagai sahabat baik dari suhumu dan sebagai ayah dari enci Tiong-sun mu, maka aku hendak memberi nasehat sedikit kepadamu, selanjutnya didalam kepandaian ilmu silat kau harus titik beratkan kepada siasat yang dinamakan tahu keadaan sendiri tetapi juga harus tahu keadaan lawan! Kau harus tahu umpama enci Hwa Jie Soat mu ini, sekalipun cerdik dan banyak akalnya, tetapi jikalau sebelum dia menganut agama Budha, kurasa juga tidak akan mendapat hasil yang tinggi!”

Hwa Jie Swat yang mendengar ucapan itu lalu bangkit dari tempat duduknya dan memberi hormat kepada suhunya seraya berkata: “Ucapan suhu ini memang benar, tecu berjanji dikemudian hari hendak merobah kelakuan yang sudah- sudah!”

Hee Thian Siang yang pertama kali diberi nasehat oleh Tiong-sun Seng dihadapan umum meskipun perkataan itu diucapkan dengan sikap ramah tetapi sedikit banyak dirasakan agak berat sehingga saat itu selembar wajahnya menjadi merah membara, keringat dingin mengucur deras.

Tiong-sun Seng yang melihat sikap Hee Thian Siang itu, lantas menepuk pundaknya dan berkata pula sambil tersenyum: “Hee hiantit tidak perlu merasa malu, setiap orang ada mempunyai kesalahan, orang yang masih muda belia seperti kau ini, sudah berhasil membuat semacam ketua partai seperti Khie Tay Cao mendapat malu dihadapan orang banyak juga jarang terdapat didalam rimba persilatan.” Sehabis berkata demikian, kembali berkata kepada It-pun Sinjeng: “It Taysu, harap berundinglah dahulu dengan Hee hiantit, dengan cara bagaimana nanti akan menghadapi Pek-kut Thian kun? Aku hendak turun kelapangan lebih dahulu untuk bertanding dengan Pek-kut Ie su!”

Setelah berkata demikian, ia lantas terbang melayang ketengah lapangan untuk menantikan munculnya Pek-kut Ie su.

Hee Thian Siang yang sudah dihibur oleh Tiong-sun Seng meskipun dalam hati sudah merasa sedikit lega, tetapi masih agak malu.

Tatkala ia berjalan lewat dihadapan Tiong-sun Hui Kheng dengan tiba-tiba tampak Siaopek yang sudah sembuh seluruhnya yang saat itu sedang berada dalam pelukan Tiong- sun Hui Kheng.

Hee Thian Siang lalu berkata kepadanya sambil tersenyum: “Enci Tiong-sun, getah buah Lengci It-pun Sinceng itu, benar sangat manjur. Kau lihat Siaopek tadi yang terluka demikian parah tetapi sekarang sudah sembuh seluruhnya!”

Siaopek yang berada dalam pelukan Tiong-sun Hui Kheng lantas menoleh dan mengawasi Hee Thian Siang, kemudian dengan suara tidak lampias mengeluarkan kata-kata: “Aku…. sudah… sembuh…!”

Hee Thian Siang heran sekali mendengar Siaopek mendadak bisa bicara dalam bahasa manusia.

Belum lagi Tiong-sun Hui Kheng menjawab, sudah didahului oleh Say hankong yang berada disampingnya: “Siaopek memang seekor binatang yang sangat cerdik, dibawah didikan enci Tiong-sun mu hampir ia dapat memahami ilmu silat dan ilmu surat, hampir segala urusan ia telah tahu semua, hanya tulang-tulangnya masih belum berubah, sehingga tidak dapat mengeluarkan perkataan seperti kita! Tetapi karena luka-lukanya tadi justru berada dibagian tenggorokan, kemudian dengan bantuan getah pohon Lengci It-pun Sinceng setelah kutambah lagi dengan beberapa ramuan obat, untuk mengeluarkan tulangnya yang malang itu sehingga ia berubah menjadi seekor binatang satu- satunya yang bisa berbicara seperti manusia, ini juga akan menjadi buah tutur ramai dalam kalangan rimba persilatan setelah pertemuan berdirinya partai Cengthian pay hari ini!”

Setelah kejadian itu, lenyaplah sebagian rasa menyesal dalam hati Hee Thian Siang, hingga ia dapat duduk disamping Tiong-sun Hui Kheng bersama yang lainnya menonton pertandingan antara Tiong-sun Seng dengan Pek-kut Ie su.

Pek-kut Ie su setelah mengantar Khie Tay Cao kembali kerombongannya dan mengobati lukanya yakin bahwa apa yang diucapkan oleh Tiong-sun Seng itu ternyata benar, Khie Tay Cao oleh karena senjatanya yang terampuh dan terkenal dirusak oleh Hee Thian Siang, dalam keadaan marah dan malu, sehingga hampir membawa keadaan paling buruk bagi jiwanya. Lalu buru-buru menggunakan obat manjurnya untuk menyembuhkan dan menghiburi dulu dengan beberapa patah kata kepadanya.

Khie Tay Cao setelah minum obat Pek-kut Ie su perasanya mulai agak tenang, tetapi jika ia ingat lagi senjatanya yang sangat kesohor yang telah membuatnya terkenal oelh senjatanya itu, ia masih merasa berat dan sayang sekali.

Pek-kut Ie su berkata kepadanya dengan suara perlahan: Khie Ciangbunjin tak perlu marah, dipihak tamu hari ini ada berkumpul orang-orang Lo hu, Swat-san dan lima partai besar, ditambah lagi dengan Tiong-sun Seng dan putrinya, sudah tentu tidak mudah kita hadapi! Akan tetapi apbila kita menyimpan tenaga dari orang-orang partai Ceng-thian pay yang ada, setelah pertemuan ini selesai, lalu kita basmi satu persatu, bukankah itu lebih mudah?”

“Pendapat Cinjin ini memang benar, Khie Tay Cao sudah bertekad, setelah pertemuan hari ini selesai lebih dulu ingin menumpas partai Butong, dan setelah itu juga akan menumpas anak murid golongan Pak-bin sibocah yang usil mulit itu Hee Thian Siang.” Berkata Khie Tay Cao sambil menganggukkan kepala.

Pek-kut Thian kun yang duduk disampingnya turut bicara sambil tertawa: “Dua urusan ini, semuanya bukanlah merupakan persoalan yang rumit, jite berikan dulu pelajaran kepada Thian-gwa Ceng mo, selanjutnya aku pasti akan turun kelapangan, aku ingin melihat mereka masih ada memiliki tokoh pandai darimana yang akan menghadapi? Kita belum tahu bahwa apa yang dinamakan ketua lima partai besar itu dan anggota pelindung partai Siaolim, semua tidak bisa lolos dari srangan ilmu Cat Sim Ciang lek dan Pek-kut sianjiauw dalam 10 jurus lebih.”

Pek-kut Ie su tersenyum, lalu bergerak dan melayang turun kelapangan. Pada saat itu Tiong-sun Seng juga sudah berada ditengah lapangan dengan sikapnya yang sangat tenanga dan tersenyum sedang menantikan kedatangannya.

Pek-kut Ie su menampak lawannya bersikap demikian tenang, tahu bahwa Thian-gwa Ceng mo bukanlah cuma seorang yang mendapat nama kosong belaka. Mungkin adalah lawan satu-satunya yang paling tangguh selama hidupnya, maka ia juga coba bersikap setenang mungkin, bertanya kepadanya sambil tersenyum: “Thian-gwa Ceng mo, kita harus bertempur dengan cara bagaimana?”

“Semua julukan Thian-gwa Ceng mo sudah kuhapus dan tidak dipergunakan lagi, sebaiknya tuan panggil saja nama asliku! Sementara mengenai cara pertandingan, oleh karena kita ini bagaimanapun juga terhitung tokoh-tokoh angkatan tua, tidak seharusnya hanya berebut kemenangan saja, disamping itu kita juga harus memberi teladan baik kepada orang-orang angkatan muda dalam rimba persilatan!”Berkata Tiong-sun Seng sambil tertawa.

“Aku tahu bahwa kau mempunyai banyak akal, tak apalah! Sebutkan saja cara-cara yang kau kehendaki, kukira lebih aneh dan lebih sulit dari yang ada lebih baik!” berkata sambil menganggukkan kepala.

“Nama Pek-kut Sam mo sudah menggemparkan seluruh rimba persilatan dan aku Tiong-sun Seng juga sudah boleh dikata mendapat sedikit nama diantara kawan-kawan, masing- masing ada memiliki kedudukan dan tingkatan yang hampir sama. Walaupun aku menyebutkan caranya, juga tidak minta kemurahan hatimu! Lebih baik kau menyebutkan caranya, kukira itu sama saja.

“Aku tahu kau memang tidak akan ingin senang sendiri, tak apa, tidak apa-apa! Sebutkan sajalah apa yang kau pikir paling baik!” “Aku juga ingin meniru cara-cara pertandingan antara Pek- kut Siancu dengan Hong-hoat Cinjin tadi ditetapkan siapa yang menang dan kalah semua dalam tiga babak. Kau pikir bagaimana?”

“Jangankan tiga babak, sekalipun seratus atau seribu babak, pinto juga masih bersedia melayani! Lekaslah sebutkan cara-caranya!”

“Baik, dalam babak pertama kita bertanding ilmu Hian kang, babak kedua bertanding kekuatan tangan,…” Berkata Tiong- sun Seng sambil tertawa, tetapi mendadak berhenti.

Pek-kut Ie su menampak Tiong-sun Seng mendadak diam, lalu bertanya dengan heran: “Mengapa tidak kau teruskan lagi?”

“Aku pikir, dalam babak ketiga ini sebaiknya diisi dengan suatu cara yang baru dan agak aneh sedikit!” Berkata Tiong- sun Seng sambil tersenyum.

“Tadi toh sudah kukatakan, cara-cara pertandingan itu semakin mengherankan, adalah semakin baik!”

“Aaa… Begini saja bagaimana? Untuk babak ketiga, kita masing-masing harus dapat menjawab tiga pertanyaan sulit, tetapi dua diantara tiga buah pertanyaan itu harus menyangkut dengan kepandaian ilmu sialt!”

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu lalu berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng dengan suara perlahan sambil tertawa: “Enci, kalian ini benar-benar merupakan suatu keluarga yang ada menyimpan banyak pertanyaan. Hwa Jie Swat sudah mengajukan tiga pertanyaan kepada Hie timcu dari Butong pay, sehingga berakhir dengan kematian imam itu dengan rela terjunkan diri kedalam sungai! kau mengajukan tiga pertanyaan kepada Say Han Kong locianpe, kesudahannya kau dapat  menangkan kuda saktinya Ceng- hong-kie! Dan sekarang empek hendak mengajukan tiga pertanyaan pula kepada Pek-kut Ie su. coba aku mau lihat, Pek-kut Ie su pasti akan dibikin pusing setengah mati oleh beliau!”

Baru saja Tiong-sun hui Kheng hendak membuka mulut, Pek-kut Ie su yang berada ditengah lapangan sudah membuka suara: “Dengan cara yang kau usulkan ini, memang agak unik, tetapi apakah tiga pertanyaan itu harus diajukan oleh kita masing-masing?”

“JIkalau kita yang melakukan tanya-jawab apalah artinya? Seharusnya dari kedua belah pihak masing-masing dipilih seorang dari angkatan muda, mereka boleh mengajukan pertanyaan kepada kita dan menjawab pertanyaan itu dengan demikian mereka juga akan mendapat faedah yang tidak sedikit dari situ.”

Pek-kut Ie su ynag mendengar ucapan itu tersenyum, kemudian berkata: “Permainan yang kau usulkan ini memang sangat unik! Tetapi apakah tidak lebih baik kalau kita pilih dulu orangnya? Dipihakku sini, mempunyaai calon baik, kutunjuk saja murid adik seperguruanku, Tham Eng sutit yang akan turun kelapangan untuk mengajukan pertanyaan. Kau henda menunjuk siapa?”

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lalu berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa: “Kukira empek Tiong-sun pasti akan menunjuk enci yang akan turun kelapangan…”

Belum habis ucapan itu, tiba-tiba terdengar suara Tiong- sun Seng dari lapangan yang menyebut Hee Thian Siang sebagai jagonya.

Hee Thian Siang tampak terperanjat mendengar disebutnya namanya, ia hampir berseru, lalu berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng: “Empek Tiong-sun barangkali salah alamat.” “Kalian adalah keluarga oraong-orang yang suka sekali mengajukan pertanyaan, walaupun tidak menunjuk enci Kheng, juga seharusnya minta enci Hwa Jie Swat yang turun, barulah benar!”

“Kau tahu, ayahku selamanya tidak suka dengan orang mau menang sendiri, sudah tentu ia harus menghindarkan jangan sampai menimbulkan kesangsian orang lain, oleh karenanya maka ia tidak bisa menunjuk anaknya sendiri, atau muridnya yang turun kelapangan membantu dirinya! Pendeknya sekarang kau sudah mendapat perintah turun kelapanagan. Coba aku ingin lihat, kau bisa seperti aku atau tidak yang bisa menangkan kuda Ceng Hong-kie dari tangan Say-hue-hong locianpe?” Berekata Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa.

Hee Thian Siang yang tinggi hati, mendengar ucapan itu lalu berkata: “Enci Kheng, mungkin aku bisa menangkan sebuah barang yang lebih berharga daripada kudamu Ceng- hong-kie!”

“Oh, kau ingin menangkan benda apa dari Pek-kut Ie su?” “Setidak-tidaknya aku ingin menangkan nama besar Pek-

kut Ie su yang telah dipupuk hampir setengah abad, kalau tidak bisa meminta selembar nyawanya!”

Istri Peng-pek Siakun Mao Giong Ceng yang duduk disamping, ketika mendengar percakapan diatantara mereka lalu berkata sambil tersenyum: “Cita-cita besar Hee laote benar-benar sangat mengagumkan, aku hanya mendoakan agar cita-citamu itu

lekas tercapai! sekarang babak pertama akan dimulai, kita harus memperhatikan jalannya pertandingan. Orang-orang seperti Tiong-sun tayhiap dan Pek-kut Ie su, kalau bertanding kepandaian ilmu benar-benar merupakan suatu pertandingan yang jarang ada, kapan lagi kita mendapat kesempatan baik seperti ini?”

Orang-orang yang mendengar ucapan itu, lalu pusatkan perhatiannya kemedan pertandingan.

Pada saat itu, Tiong-sun Seng sudah minta kepada orang- orang anak buah Ceng-thian-pay, supaya menyediakan dua tong pasir halus dan empat buah batu-bata kualitet yang terbaik.

Sementara itu Pek-kut Ie su hanya berdiri dipanggung sambil tersenyum-senyum, tidak ambil pusing..

Tiong-sun Seng minta supaya empat puluh buah batu-bata itu ditumpuk menjadi empat tumpuk, kemudian pasir halus dari dalam kedua tong itu dituang kedepan empat tumpuk batu bata yang kira-kira setinggi dua kaki dari tanah, menjadi bentuk dua gundukan pasir yang puncaknya runcing bagaikan puncak gunung.

Pek-kut Ie su yang menyaksikan keadaan itu, bertanya kepada Tiong-sun Seng: “Dalam babak pertama ini, kita bertanding dengan cara bagaimana? Kita berdiri dipuncak tumpukan pasir itu, ataukah diatas tumpukan batu-bata?”

“Apakah Cinjin anggap bahwa pertandingan dengan cara ini terlalu biasa? Tidak dapat menunjukkan kepandaian asli kita masing-masing?” demikian balas bertanya Tiong-sun Seng.

“Berdiri diujung gundukan pasir atau tumpukan bata masih boleh dibilang terlalu biasa. Tetapi, bagaimana melakukannya, itu tergantung dari orangnya! Dengan kekuatan dan kepandaian seperti kau dan aku, sekalipun selembar daun kering atau setangkai bunga, toh masih dapat digunakan untuk menunjukkan kepandaian yang aneh-aneh dan mengejutkan orang. Bukankah begitu?” “Kalau Cinjin berkata demikian, marilah kita mendaki tumpukan pasir ini dan masing-masing mencoba mengadu kekuatan dengan dua tumpukan batu-bata itu!”

Pek-kut Ie su menganggukkan kepala dan tertawa, kemudian melesat kegundukan pasir sebelah kiri dan berdiri diujungnya.

Tiong-sun Seng juga melesat kegundukan pasir sebelah kanan, ia memberi hormat kepada Pek-kut Ie su dan berkata sambil tertawa: “Kita terangkan dulu aturannya pertandingan kekuatan ilmu Hian kang yang akan dilakukan diatas tumpukan batu-bata ini, kemudian melakukan pertandingan, supaya orang-orang dari angkatan muda mudah mengerti, dan dapat digunakan sebagai teladan!”

“Semuanya pinto serahkan menurut kehendak Tiong-sun Tayhiap saja, biarlah kulakukan sedapat mungkin!”

Dua tokoh angkatan tua kenamaan itu, belum lagi bertanding ilmu Hian kang, dalam pembicaraan mereka, sudah mengagumkan semua orang yang ada disitu, baik dari pihak tuan rumah maupun dari pihak tamu.

Kiranya, dua gundukan pasir tadi, masing-masing tingginya duakaki, tetapi karena tertumpuk pasir halus, sudah tentu sulit untuk menerima tindihan barang berat. Sekalipun selembar daun ditindih diatasnya, juga sudah cukup untuk membuyarkan puncak gundukan pasir yang menjulang tinggi itu.

Dan sekarang ada orang yang berdiri diujungnya dan ternyata sebutirpun tidak bergerak. Ilmu meringankan tubuh yang mereka unjukkan sudah pada mengejutkan semua orang yang berada disitu, ditambah lagi mereka malah masih bisa bercakap-cakap sesuka hatinya, bahkan masih belum mengerahkan kukuatan tenaga untuk menggempur batu bata, kegaiban ilmu semacam itu bukankah merupakan suatu ilmu gaib seperti dalam dongeng saja?

Tiong-sun Seng dengan sikap serius berkata dengan suara nyaring: “Sekarang kita mulai bertandidng untuk babak pertama. Aku akan menggunakan telapak tangan bagian kanan, untuk melakukan tekanan kepada tumpukan batu-bata itu. Tumpukan batu-bata disebelah kiri, kecuali yang paling atas masih boleh tinggal utuh, sisanya yakni yang keempat, keenam, kedelapan dan kesepuluh potong bagian atas harus hancur lebur, dan bagian bawah masih utuh! Lapisan yang ketiga, ketujuh dan sembilan, sepotong bagian atas tetap utuh, sedang bagian bawah harus hancur! Sedangkan tumpukan batu-bata di sebelah kanan, lapisan kedua, keempat, enam, delapan dan sepuluh keadaannya justru kebalikan dari keadaan batu-bata tumpukan sebelah kiri, demikianpun lapisan kesatu, tiga, lima, tujuh dan sembilan!”

Pek-kut Ie su yang mendengar keterangan Tiong-sun Seng dapat melakukan dan mencapai tingkatan demikian rupa, dalam hati diam-diam juga terkejut, tetapi betapapun juga ia toh tidak boleh menunjukkan kelemahannya dihadapan umum, maka ia lalu mengerahkan ilmunya Pek-kut Cui Sim ciang dan berkata: “Aku juga akan menggunakan dua telapak tanganku ini untuk melakukan tekanan seperti apa yang kau lakukan, Cuma dari tumpukan batu-bata disebelah kiri, lapisan kesatu, tiga, lima, tujuh dan sembilan tetap dalam keadaan utuh, sedangkan lapisan dalam urutan nomor genap harus terlihat tanda telapak tangan yang sangat nyata. Sedangkan batu- bata diitumpukan bagian sebelah kanan akan menunjukkan tanda-tanda serupa, tetapi dalam deretan kebalikkannya.”

Semua orang yang mendengar ucapan itu pada menggelengkan kepala. Kecuali Pek-kut Thian kun seorang, rasanya Pek-kut Siancu sendiri masih belum sanggup melakukan itu. Tiong-sun Seng menunggu sampai bicara Pek-kut Ie su selesai, dua orang sama-sama tersenyum, lalu masing-masing melakukan seperti apa yang diucapkan tadi, setelah itu lalu melayang turun lagi ketanah.

Ketika Tiong-sun Seng melayang turun, gundukan pasir yang tadi diinjaknya masih dalam keadaan seperti semula. Sebaliknya, ketika Pek-kut Ie su melakukan gerakan tekanan kepada batu-bata tadi, diujung kakinya telah meruntuhkan beberapa butir pasir yang diinjaknya, sehingga diwaktu turun ada lebih banyak lagi pasir yang merosot.

Dari pihak golongan tamu, Hee Thian Siang lebih dulu menyatakan pikirannya, ia berseru dengan girang: “Empek Tiong-sun menang!”

Tapi ketua partai Butong Hong-hoat Cinjin sebaliknya berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala: “Menang atau kalah harus ditilik juga dari keadaan batu-bata yang mereka tekan, benar serupa yang mereka katakan atau tidak? Jikalau menurut pandangan pinto, dalam babak pertama ini barangkali akan berakhir seri!”

Hee Thian Siang baru ingat bahwa Pek-kut Ie su hendak meninggalkan bekas tanda telapak tangannya diatas tumpukan batu-bata, memang terlebih sulit daripada Tiong- sun Seng yang menghancurkan batu-bata, maka ia lantas diam saja.

Beberapa anak buah golongan Ceng-thian pay yang berada dipinggir lapangan, menampak dua orang susah selesai bertanding, lalu maju untuk mengadakan pemeriksaan. Batu-bata itu sepotong demi sepotong diperiksa dengan teliti.

Hasil pemeriksaan itu, benar saja seluruhnya seperti apa yang dua orang tadi katakan hingga para penonton pada bersorak sorai memberikan pujian. Tiong-sun Seng mengawasi batu-bata yang terdapat tanda telapakan tangan Pek-kut Ie su, lalu berkata kepadanya sambil menghela nafas, “Kekuatan ilmu Pek-kut Cui Sin Ciang Cinjin benar-benar sudah mencapai ketaraf yang tertinggi, Tiong-sun Seng rela mengaku kalah!”

Tetapi Pek-kut Ie su lalu berkata sambil menggelengkan kepala: “Apa yang kulakukan diatas tumpukan batu-bata itu, mungkin lebih sulit daripada apa yang kau lakukan, tetapi Tiong-sun Tayhiap gundukan pasir tempat berdirimu tadi, sedikitpun tidak terdapat tanda-tanda runtuh, sebaliknya dengan gundukan pasir yang kuinjak, tampak sedikit tanda ujung kaki. Oleh karena itu, maka babak pertama ini boleh dikata tidak ada yang lebih unggul, sebaiknya kita segera menyiapkan segala sesuatunya untuk babak kekdua.”

Tiong-sun Seng yang mendengarkan ucapan itu tahu bahwa Pek-kut Ie su bagaimanapun juga masih merupakan tokoh kenamaan yang memimpin golongan sesat, ia juga tahu bahwaw Pek-kut Ie su adalah seorang yang banyak akalnya, orangnya sangat licik. Tetapi dalam pertandingan dihadapan begitu banyak mata, masih tidak mau berlaku curang sedikitpun juga, mungkin karena hal itu dianggapnya akan merendahkan derajatnya sendiri maka perbuatannya itu patut juga dipuji.

Kini setelah mendengar Pek-kut Ie su minta segera dilangsungkan pertandingan untuk babak kedua, maka kembali Tiong-sun Seng minta dua anak buah partai Ceng- thian pay untuk mengambil lagi beberapa tong pasir, lalu disuruh membuat dua kalangan yang masing-masing seluas dua tombak persegi, diatas kalangan itu lalu diuruk pasir yang agak tinggi.

Setelah pasir itu sudah selesai diuruk, Tiong-sun Seng lalu bertanya kepada Pek-kut Ie su: “Bagaimana kalau kita melakukan pertandingan diatas pasir ini dalam seratus jurus?” “Menurut penetapan Tiong-sun Seng Tayhiap ini, bila habis

100 jurus dan belum didapat kenyataan siapa yang lebih unggul dulu bagaimana? apakah dilanjutkan lagi, kurasa juga tidak ada gunanya!: Berkata Pek-kut Ie su sambil tertawa.

Untuk meningkatkan kegembiraan kita, sebelum melakukan pertandingan, sebaiknya kita rencanakan lebih dahulu cara- caranya. Oh ya! Sehabis mengadakan pertandingan 100 jurus, berapakah jejak kaki kita diatas pasir? ini saja diambil sebagai putusan!”

Caramu yang membatasi telapakan kaki, juga merupakan suatu pertandingan versi baru, begitu mendengar dulu keteranganmu!”

Kekuatan tenaga dan kemahiran meringankan tubuh TIong- sun Seng belum mencapai kepuncak tertinggi, barangkali paling sedikit masih meninggalkan 20 tanda bekas telapakan. Tetapi Cinjin yang sudah memiliki kekuatan ilmu lebih tinggi, barangkali jumlahnya lebih sedikit dari jumlahku itu. Kalau tak salah perhitunganku, bagi Cinjin barangkali jumlah 16 tapak saja sudah cukup!”

Pek-kut Ie su yang mendengar ucapan itu tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: “Put bie Sin poh tidak datang, Hong tim Ong-pek juga tidak. Bukanlah pinto menyombongkan diri, didalam pertemuan berdirinya partai Ceng-thian pay ini, apabila hendak diadakan pemilihan jago, kecuali toako dan sumoyku, hanya beberapa gelintir saja yang dapat menghadapiku. Nama Tiong-sun Tayhiap benar-benar memang bukan nama kosong belaka, sekarang sudah menjadi kenyataan merupakan lawan tertangguh yang pernah kuhadapi selama hidupku. Perlu apa kau mengangkat-angkat diri pinto demikian tinggi? Pertandingan 100 jurus hanya meninggalkan tanda telapak kaki 20 itu sudah merupakan suatu prestasi yang sangat bagus sekali, tidak halangan kukira dengan jumlah sebagai batas, entah bagaimana pikiran Tiong- sun Tayhiap?” “Jika Cinjin memang menginginkan demikian, baiklah kita tetapkan begitu saja.”

“Aku pikir kecuali diadakan pembatasan tanda telapak kaki ini, ditambah batas lain lagi, entah bagaimana pikiran Tiong- sun Tayhiap”

Tiong-sun Seng dalam hati terkejut, namun diluarnya masing tenang-tenang saja, ia bertanya sambil tersenyum: “Cinjin ada mempunyai usul apalagi yang kiranya lebih baik?”

“Kita kecuali dalam tanda telapak kaki dibatasi dalam jumlah 20, masih perlu ditambah dengan satu ketetapan, ialah pasir yang kita injak harus tampak dasarnya. Tapi kecuali itu, bolehkah ditambah lagi dengan satu sarat, ialah kaki jangan sampai menimbulkan debu dan serangan tangan jangan sampai menimbulkan kepulan debu diatas pasir, Tiong-sun Tayhiap pikir bagaimana? Setujukah usul itu?”

Tiong-sun Seng tahu bahwa kaki tidak menimbulkan debu, setelah menginjak pasir sampai dasarnya, ini berarti bahwa tatkala menarik kakinya dari injakan pasir yang habis diinjaknya, badan tidak boleh tertempel debu ialah selama mengelak, pakaian tidak boleh melakukan gerakan yang membawa akibat mengepulnya pasir dan tangan tidak boleh mengepulkan debu diwaktu melakukan serangan menggunakan kekuatan tenaga dalam, tidak boleh menimbulkan sambaran kepermukaan pasir, sehingga mengakibatkan mengepulnya debu pasir.

Diantara tiga syarat itu, adalah syarat kedua paling mudah, paling-paling menghindarkan tangan jangan sampai menggunakan serangan dengan kekuatan tenaga dalam yang bersifat keras sehingga menimbulkan hembusan angin hebat, jadi harus dirobah dengan menggunakan serangan dengan ilmu lunak. Sedangkan badan tidak boleh kena kepulan debu atau pasir yang pernah diinjaknya baik menghindarkan bergeraknya baju atau jubah yang sedemikian lebar saja sudah sulit, tapi yang paling sulit ialah kaki tidak boleh menimbulkan kepulan pasir. Sebab kaki sehabis melangkah sehingga tampak dasarnya, lagi pula harus berjaga-jaga untuk mengelakkan serangan lawan sewaktu mengangkat kaki itu, bagaimanapun juga akan membawa serta pasir keatas maka jikalau telapak kai tidak boleh menempel pasir, itu benar-benar merupakan suatu hal yang sulit sekali.

Selain kesulitan dari tiga syarat itu, masih dibatasi telapak kaki yang tidak boleh lebih dari 20. Ini jug aberarti bahwa selama dua orang itu bertanding, masing-masing harus berusaha jangan sampai menginjak pasir, jadi harus sesedikit mungkin kakinya bergerak dan menginjak pasir, baik selagi melakukan serangan maupun selagi menjaga serangan lawan, semua harus diperhitungkan baik-baik jangan sampai kakinya menginjak pasir lebih dari 20 kali.

Dengan batas jumlah itu, harus melakukan pertandingan selama 100 jurus, apabila disatu pihak terdapat tanda kaki lebih banyak dari batas itu, atau agak kalut, maka nama baik yang sudah dipupuk selama itu akan turut hancur.

Oleh karena itu, maka ketua Butong pay Hong-hoat Cinjin setelah mendengar ucapan Pek-kut Ie su tadi, segera mengutarakan pikirannya, ia berkata sambil menggeleng- gelengkan kepala dan tersenyum kecil: “Ilmu kepandaian sesungguhnya tidak ada batasnya, pinto hari ini boleh dikata telah membuka mata, tampaknya orang-orang seperti kita ini masih perlu banyak berlatih untuk menyampai ketinggian ilmu seperti mereka, tampaknya didalam dunia ini, orang yang lebih tinggi kepandaiannya dari pinto, entah ada berapa banyak jumlahnya?”

Ketua Lohu pay Peng sun Sin nie, berkata sambil tersenyum dingin: “Ucapan Cinjin ini kukira tidak seluruhnya benar, kalau kita selalu ingin mempertinggi kepandaian diri sendiri dan menggunakan waktunya untuk melatih ilmu silat yang lebih tinggi, itu berarti menutup pintu dan tidak memperdulikan urusan luar, ini berarti akan menambah kesempatan bagi kawanan penjahat untuk melakukan kejahatannya, hingg kawanan iblis semakin memperhebat usahanya untuk menguasai rimba persilatan. Dewasa ini urusan rimba persilatan baru saja dimulai, kita bukan saja tidak boleh berputus asa, sebaliknya malah harus berusaha untuk meningkatkan kewaspadaan, barulah dapat mengamankan dunia persilatan. Oleh karena itu maka Pin nie mengharap semua sahabat-sahabat yang ada disini setelah pertemuan besar ini selesai, masing-masing kembali ketempat sendiri-sendiri, kembali memperkuat diri sendiri seperti apa yang Cinjin ucapkan tadi, masih perlu kita menumbuhkan tradisi lama yang selalu menyumbang kepandaian sendiri dan sekarang ini kukira partai besar, menurunkan kepandaian ilmu yang terampuhnya kepada anak murid angkatan muda agar mereka dapat menggantikan kedudukan kita, sebab diatas diri mereka kita letakkan beban ini, barulah dapat melindungi keselamatan rimba persilatan!”

Dengan tenang Hong-hoat Cinjin mendengarkan ucapan Peng Ssun Sin nie, setelah itu ia bangkit dari tempat duduknya dan menganggukkan kepala dan berkata: “Ucapan Taysu ini, seolah-olah suara genta dipagi hari, bukan saja pinto merasa berterima-kasih atas itu, juga mengharap supaya tunas muda yang berada disini dengan tujuan bersama maka kita wujudkan cita-cita Sin nie tadi!”

Selagi mereka masih merundingkan soal tindakan apa yang akan diambil untuk selanjutnya setelah pertemuan itu selesai, seorang pendekar rimba persilatan dan seorang Iblis kenamaan segera melesat keatas tanah yang sudah ditaburi dengan pasir tadi, mereka kini sudah mulai melakukan pertandingan.

Kiranya, Tiong-sun Seng setelah mendengarkan usul Pek- kut Ie su tadi, lalu diterima baik dan selanjutnya mereka membuka pertandingan yang luar biasa anehnya itu. Pek-kut Ie su waktu itu juga dikagumkan oleh karena kepandaian ilmu dan kepribadian Tiong-sun Seng. Keduanya setelah masing-masing pada mengutarakan ucapan merendahkan diri, lalu mulai bergerak.

Dua orang itu dalam waktu bersamaan melayang turun ketengah lingkarannya sendiri-sendiri. Mereka terpisah empat kaki lebih, tempat yang mereka injak sudah tentu tidak menimbulkan kepulan pasir, tetapi siapapun tahu bahwa mereka sudah menginjak pasir itu hingga tampak dasarnya, sebab diatsa pasir itu sudah terdapat tanda dua pasang kaki.

Tidak kecewa Pek-kut Ie su sebagai golongan Iblis kenamaan, begitu kakinya menginjak pasir, segera membuka serangan lebih dulu dengan suatu gerak tipu yang dinamakan menutup pintu mendorong rembulan, dengan ilmunya yang mengandung kekuatan tenaga keras menyerang lawannya.

Tiong-sun Seng semula agak dikejutkan oleh serangan dengan gerak tipu mengandung kekerasan itu, tetapi kemudian ia sadar, ia dapat melihat bahwa sepuluh jari tangan Pek-kut Ie su melekuk kebelakang, telapakan tangannya menghadap keatas dan kedua tangan itu karena melakukan gerakan mendorong dengan cara menyerang seperti itu meskipun menggunakan kekuatan tenaga yang bersifat keras dan menimbulkan hembusan angin hebat, tetapi bagian yang ia serang adalah dibagian perut keatas, sudah tentu tidak akan menimbulkan kepulan pasir dibagian bawah.

Akal lawannya itu demikian licik, serangannya juga dilakukan demikian cepat, sedang ia sendiri baru saja menginjakkan kakinya diatas pasir, oleh karena dengan batas jangan sampai menimbulkan kepulan pasir diatas kakinya, sudah tentu ia tidak boleh mengelak dengan tiba-tiba, apalagi sampai digetarkan oleh serangan itu. Seandainya jubah hijau yang dipakainya itu juga terbang oleh hembusan angin yang keluar dari serangan tangan Pek-kut Ie su, sudah tentu akan membawa akibat terkenanya debu pasir, ini juga bisa dihitung kalah.

Dibawah keadaan demikian, Tiong-sun seng yang tadi kurang berjaga-jaga terhadap kelicikan lawannya, telah kehilangan posisi lebih dulu. tapi ia bukanlah seorang yang mendapat nama kurang baik, kecerdasan maupun kepandaian ilmu silatnya kedua-duanya melebihi kepandaian manusia lain. Begitu melihat lawannya berlaku licik, ia segera mengempos seluruh kekuatan tenaga dalamnya, ia juga mengerahkan ilmunya Thay-it thian-siu kang yang baru saja berhasil dipelajarinya, hingga kedua jenis ilmu itu berubah bentuk menjadi jaring kokoh yang tidak berwujud, ia segera miringkan dadanya, untuk menyanggah serangan lawannya, kemudian ia menggeser tubuh dengan menukar gerak tipu menanya jarak, tangan kanannya diulurkan dengan cepat, untuk menepok bahu kiri Pek-kut Ie su.

Pek-kut Ie su benar-benar tidak menyangka kalau Tong- sun Seng dalam keadaan buruk demikian itu masih bisa menyelamatkan dirinya sendiri, bahkan masih bisa balas menyerang, maka ia segera menganggukkan kepala dan tertawa, dengan beruntun ia mundur dua langkah untuk mengelakkan serangan pembalasan Tiong-sun Seng. Diatas pasir dengan nyata tampak empat buah tanda injakan kakinya.

Pertandingan secara aneh itu setelah berlangsung dengna seru, kedua belah pihak tampaknya bersikap sangat hati-hati sekali, namun gerakan mereka sma-sama gesit dan lincahnya, masing-masing mengerahkan seluruh kepandaiannya, terutama ilmunya meringankan tubuh dlam waktu sangat singkat, mereka sudah bertanding 50 jurus lebih, siapapun tidak pernah menimbulkan kepulan pasir dibawah kakinya atau ada pasir yang menempel dibadan mereka.

Penonton dari kedua belah pihak, selagi menyaksikan pertandingan itu dengan mata terbuka lebar dan mulut menganga serta memberi semangat kepada fihaknya sendiri, tiba-tiba timbul angin santer, hingga pasir yang menguruk tempat pertandingan tadi pada tersapu bersih.

Tiong-sun Seng dan Pek-kut Ie su sama-sama mengeluarkan siulan panjang, lompat melesat keluar dari kalangan, kemudian saling berpandangan dan tertawa terbahak-bahak.

Kiranya, tempat bertanding yang diuruk dengan pasir ritu meskipun sudah dirusak oleh tiupan angin santer, bekas tanda kaki mereka masih tetap dapat dikenali, dua orang itu hanya memandang sepintas lalu saja, sudah dapat menghitung jumlah telapak kaki itu, yang ternyata msing-masing separuh dan jumlah seluruhnya adalah empat puluh.

Dengan demikian, keduanya saling mengagumi dan tertawa terbahak-bahak, tertawa mereka tampaknya sangat riang, hingga membuat orang yang paling mengkuatirkan Tiong-sun Seng ialah Tiong-sun Hui Kheng yang pertama- tama merasa lega, ia berkata kepada Hee Thian Siang yang duduk disampingnya: “Adik Siang, sekarang akan tiba giliranmu untuk kau unjukkan kepandaianmu. Jangan lupa, nama besar Pek-kut Ie su yang dipupuk selama setengah abad harus kau bawa kemari untik diberikan kepadaku.”

Sepasang alis Hee Thian Sing nampak berdiri, seolah-olah sudah mempunyai rencana baik, ia berkata sambil tertawa: “Enci jangan kuatir, aku pernah mendapat kebaikan dari keluarga kalian, barangkali tidak akan mengecewakan pengharapanmu.”

Belum lagi Hee Thian Siang menutup mulut, Tiong-sun Seng dan Pek-kut Ie su masing-masing sudah memanggil namanya dan nama Tham Eng supaya turun kelapangan.

Hee Thian Siang segera lompat keluar dan turun ketengah lapangan, sedang murid kesayangan Pek-kut Siancu, Tham Eng juga sudah   keluar dari rombongannya   dan turun kelapangan.

Tiong-Sun Seng lalu berkata kepada Hee Thian Siang dan Tham Eng: “Hee hiantit harus mengajukan tiga pertanyaan kepada pek-kut Cinjin, sedang nona Tham harus mengajukan pertanyaan yang sama jumlahnya kepadaku. Tetapi dua diantara pertanyaan itu, harus yang ada hubungannya dengan kepandaian ilmu silat, sedang yang satu, kau boleh menanya menurut sesukamu, tidak ada batasnya atau ikatannya.”

Hee Thian Siang adalah seorang pemuda yang sangat cerdik, mendengar keterangan Tiong-sun Seng, bahwa dua diantara tiga pertanyaan itu harus yang ada hubungannya dengan kepandaian ilmu silat, pertanyaan itu tidak mungkin dapat menyulitkan Pek-kut Ie su, maka ia lalu mencari akal sebaik-baiknya, supaya mendapat sedikit faedah didalamnya. Ini berarti, apabila ia hendak menyulitkan jago kenamaan dari golongan sesat, mau tak mau harus memeras pikiran untuk mendapat satu pertanyaan yang tidak ada batasnya itu.

Setelah mengambil keputusan demikian, disamping memikirkan dan mencari-cari pertanyaan yang agaknya tepat dan dapat menyulitkan Pek-kut Ie su ia berkata kepada Tham Eng sambil tertawa: “Silahkan nona Tham bertanya lebih duli kepada Tiong-sun locianpe.”

Tham Eng yang mendengar ucapan itu juga tidak berlaku sungkan lagi, lalu mengajukan pertanyaan kepada Tiong-sun Seng yang lebih dulu melakukan penghormatan sebagaimana lazim seorang dari tingkatan muda terhadap tingkatan tua: “Numpang tanya Tiong-sun Cianpe, apa yang dimaksud dengan Sam-shi? Apa yang dimaksudkan dengan Liok-chat? Dan bagaimana memutuskan Sam-shi, mengusir liok-chat?”

“Pengetahuan, perasaan dan pikiran itu yang dimaksud dengan Sam-shi. Rupa, harum, badan, sentuhan dan akal itu yang dimaksudkan dengan Liok-chat. Tetapi kalau digabung menjadi satu, semua itu terbit dari perasaan, maka segala godaan iblis akan lenyap sendiri, menjawab Tiong-sun Seng sambil tersenyum.

Tham Eng selanjutnya mengajukan pula pertanyaan yang kedua: “Sekarang boanpe ingin tanya kepada Tiong-sun locianpe, bagaimana pula caranya memutuskan perasaannya?”

“Jikalau hendak memutuskan perasaan, harus memutuskan dulu badan, mulut dan pikiran, hendak memutuskan badan, mulut dan pikiran, lebih dulu harus menundukkan hati, supaya hati itu bisa merasa kosong, tenang, barulah segala pikiran tidak timbul, sedikitpun tidak dipengaruhi oleh kotoran! Semua ini kalau dikatakan memang mudah, tetapi untuk melakukan sesungguhnya terlalu sulit, jangankan nona, sekalipun orang- orang seperti aku dan supekmu yang sudah mengadakan latihan bathin maupun badan hampir seratus tahun apa nona kira kami orang-orang tua bisa terlepas dari perasaan?”

Hee Thian Siang yang mendengarkan ucapan itu merasa geli, diam-diam ia mentertawakan Tham Eng yang benar- benar seorang yang tidak tahu diri, sebab dihadapan seorang yang mempunyai julukan Thian-gwa Ceng mo, telah mengajukan pertanyaan yang ada hubungannya dengan Ceng atau perasaan. Bukankah itu sama artinya dengan mencari penyakit sendiri?

Tetapi belum lenyap pikiran itu, Tham Eng sudah mengajukan pertanyaan yang ketiga, katanya sambil tersenyum: “Tiong-sun Cianpe dahulu mempunyai nama julukan Thian-gwa Ceng mo, terhadap Ceng atau perasaan, sudah tentu mempunyai penilaian tersendiri. Dalam dua pertanyaan Tham Eng tadi, sudah mendapat faedah tidak sedikit bagi latihan kekuatan tenaga dalam! Dan pertanyaan terakhir ini, tidak berani menanya hal-hal yang lain malah tetap ada hubungannya dengan perkataan Ceng tadi.” “Nona Tham silahkan tanya saja!” Berkata Tiong-sun Seng sambil tertawa.

Tham Eng kembali memberi hormat terlebih dahulu, baru bertanya: “Apa yang dimaksudkan dengan istilah cinta dalam cinta hambar, cinta murni, cinta tenang, cinta yang sangat mengharukan dan cinta yang mengandung makna kegagahan? Tolong locianpe memberi sedikit keterangan dengan diliputi berbagai perumpamaan, supaya dapat membuka pikiran boanpe!”

Hee THian Siang ketika mendengar ucapan itu tampak terkejut, tadi ia masih mentertawakan Tham Eng yang tidak seharusnya menannyakan cita rasa atau cinta, diluar dugaannya gadis itu ternyata mempunyai pikiran demikian cerdik.

Pertanyaan terakhir itu, terbagi dari delapan cita rasa cinta yang berlainan sifatnya, jilau harus menjawab dengan cepat tanpa dipikir terlebih dahulu, sesungguhnya bukanlah satu soal yang mudah! Terutama bagi Tiong-sun Seng yang mendapat nama karena rasa atau pengertian yang dalam dengan soal cinta, jangankan tidak dapat terjawab, sekalipun hanya berpikir lama atau menjawab dengan agak gelagapan juga sudah merupakan suatu hal yang akan mempengaruhi nama baiknya.

Pertanyaan Tham Eng yang seluruhnya ada hubungannya dengan perasaan dan cinta itu, seakan-akan disengaja, untuk menunjukkan keunggulannya berpikir. Sebab Tham Eng sudah tahu, terhadap seorang yang mempunyai nama julukan Thian-gwa Ceng mo, untuk menanyakan seolah-olah yang bersangkutan dengan perasaan dan cinta, tidak mungkin akan menyulitkan dia, ini toh masih ditanyakannya juga sekitar soal itu.

Oleh karenanya, maka Hee Thian Sinag terpaksa lalu membuang seluruh pertanyaan-pertanyaan sulit dan aneh yang sudah dipikirnya dahulu, mau tak mau ia juga harus berusaha menunjukkan keunggulannya berpikir, jangan sampai kalah dari Tham Eng. Ia harus bisa berpikir cepat dengan menyesuaikan keadaan, untuk menanya kepada Pek- kut Ie su dengan pertanyaan-pertanyaan yang tepat tetapi sulit.

Sementara itu Tiong-sun Seng sudah menjawab pertanyaan Tham Eng tadi: “Pertanyaan nona Tham yang menyangkut dengan delapan jenis rasa cinta ini, sesungguhnya sangat berarti, tetapi jawabanku yang secara tergesa-gesa, barangkali belum tentu tepat keseluruhannya.”