Makam Bunga Mawar Jilid 20

 
Jilid 20

"Awak senjata yang berbentuk naga ini, memiliki tujuh puluh dua sisik mas, setiap lembar merupakan senjata golok terbang yang berbetuk aneh tapi dibalur dengan racun yang sangat berbisa ! Sedangkan kumis dibawah bagian kepalanya ini hanya khusus digunakan untuk memunahkan kekuatan tenaga dalam, diujung kumis ini bisa menyemburkan senjata jarum berbisa yang sangat ampuh, dan tanduk bagian kepala, didalamnya tersimpan asap berbisa ! Sedang didalam bagian mulutnya, juga bisa menyemburkan air berbisa yang dapat menghancurkan tulang tulang ! Baik golok terbang maupun jarum beracun atau asap berbisa asal salah satu dari itu menyentuh badan, orang yang tersentuh badannya segera akan berubah menjadi darah dan mati tanpa bekas! Maka asal aku menarik bagian ekornya saja, begitu pesawatnya dibuka, daerah sejarak sepuluh tombak persegi, segera akan berubah menjadi neraka, sekalipun dewa dari langit, juga sulit meloloskan diri dari ancaman bahaya!" Tiong-sun Hui kheng yang mendengar ucapan itu, tampak berpikir sejenak, kemudian berkata sambil tersenyum : "Siang Ciang-bun-jin!"

Siang Biauw Yan yang dipanggil oleh Tiong-sun Hui Kheng sesaat menjadi terkejut dan heran, ketika ia angkat kepala dan beradu pandangan mata dengan Tiong-sun Hui Kheng, sesaat itu ia merasa bahwa kecantikan gadis itu sesungguhnya susah didapat bandingannya, terutama sikapnya yang agung dan lemah lembut, benar-benar menbuatnya tidak tega untuk turun tangan kejam. Siang Biauw Yan yang usianya sudah agak lanjut, meskipun tidak mempunyai pikiran jahat terhadap perempuan cantik, tetapi toh timbul perasaan kasiannya, maka lalu bertanya sambil mengerutkan alisnya : ,,Perlu apa kau panggil aku? Apakah kau takut dengan senjata ini? Apakah kau ingin meminta keampunan kepadaku?"

"Hebat dan ampuhnya senjata Giam ong-leng ini, benarkah seperti keteranganmu itu?" Bertanya Tiong-sun Hui Kheng dengan suara lemah lembut sambil tersenyum.

"Ucapanku itu semuanya benar, senjata Giam ong-leng ini disebut sebagai rajanya senjata rahasia, dengan namanya itu saja kau sudah dapat bayangkan sendiri betapa ampuh dan hebatnya senjata ini!" menjawab Siang Biauw Yan.

Tiong-sun Hui Kheng mengulurkan tangannya yang putih halus, lalu berkata sambil tersenyum manis : "Senjata rahasia ini demikian hebat, bolehkah aku pinjam lihat sebentar?"

Siang Biauw Yan merasa heran, dia pikir permintaan gadis itu sebetulnya agak keterlaluan, senjata Giam ong-leng yang dipandang sebagai jiwanya yang kedua, apalagi kedua belah pihak sedang berhadapan sebagai musuh, bagaimana bisa dipinjamkan kepadanya?

Hee Thian Shiang juga merasa bahwa pertanyaan Tiong- sun Hui Kheng itu terlalu kekanak-kanakan, seolah-olah mengandung sifat main-main, tetapi pada saat Siang Biauw Yan terkejut dan terheran-heran, dengan tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang, entah dengan cara bagaimana yang tidak diketahui olehnya sendiri, senjatanya yang terampuh Giam ong-leng, tahu-tahu sudah pindah ke tangan Tiong-sun Hui Kheng !

Hee Thian Shiang yang menyaksikan gerakan Tiong-sun Hui Kheng untuk merebut senjata Giam ong-leng dari tangan musuhnya ternyata demikian indah dan gesit sekali, saat itu dia sadar apa artinya, maka ia lalu berkata : ,,EnCi Tiong-sun, gerakanmu tadi, apakah itu yang diwarisi oleh Sam-ciok Jindjin?"

Tiong-sun Hui Kheng hanya menganggukkan kepala dan menjawab sambil tersenyum : "Benar, sekarang Giam ong- leng sudah berada di tanganku, maka urusan selanjutnya kuserahkan padamu "

Belum habis ucapannya, dibelakang dirinya dirasakan ada orang yang menyerang. Siang Biauw Yan saat itu yang sudah gemas dan marah karena dikibuli oleh gadis itu, dengan sepenuh tenaga, telah melanjutkan serangan tiga kali dari belakang. Hee Thian siang yang mengetahui itu, juga menggunakan ilmunya yang didapat dari Thian-te Siangjin, untuk memunahkan serangan gelap Siang biauw Yan tadi.

Siang Biauw Yan yang sudah kehilangan senjatanya Giam- ong leng yang terampuh, dalam keadaan sedih dan marah, saat itu sudah menjadi kalap benar benar, dengan menggeram hebat, kembali mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya yang dilatih selama beberapa puluh tahun, untuk menyerang secara nekat kepada Hee Thian siang.

Hee Thian siang tahum Siang Biauw Yan dalam keadaan kalap, serangannya demikian hebat, maka ia juga tidak berani berlaku gegabah dengan menggunakan ilmunya yang diwariskan oleh Duta Bunga Mawar ia balas menyerang. Dengan kekuatan tenaga yang dimiliki oleh Hee Thian siang, sudah tentu Siang Biauw Yan tidak sanggup menahan, maka saat itu terdengar seruan tertahan, Siang Biauw Yan telah terpental mundur dalam keadaan sangat mengenaskan, hampir hampir saja terjatuh dari puncak gunung.

Hee Thian siang terus mengejar, sambil melancarkan serangannya lagi, selagi hendak menamatkan nyawa manusia jahat itu, Tiong-sun Hui Kheng buru buru berseru kepadanya : "Adik siang, totok saja padanya sudah cukup, jangan kau habiskan nyawanya !"

Hee Thian siang menurut ia robah gerakannya dengan jari tangannya menotok tubuh Siang Biauw Yan. Siang Biauw Yan masih hendak berusaha untuk melawan, dengan menggunakan ilmunya yang masih ada hendak balas menyambar pergelangan tangan Hee Thian siang. Ilmunya itu meskipun merupakan ilmu terampuh dari golongan Kun-lun, tetapi oleh karena Siang Biauw Yan sudah terluka parah, hingga kekuatan tenaganya terlalu lemah dengan demikian maka usahanya itu tidak membawa arti sama sekali baginya.

Sebaliknya dengan Hee Thian siang, yang malah tidak terlalu terpengaruh kekuatan tenaganya, maka totokannya itu telah berhasil mengenakan sasarannya, hingga Siang Biauw Yan jatuh rubuh ditanah.

Hee Thian siang lalu berpaling dan bertanya pada Tiong- sun Hui Kheng :

"Mengapa enci tidak perbolehkan aku membunuh dia ? Apakah terhadap orang yang jahat seperti dia ini, kau juga masih merasa kasihan ?"

"Bukan aku kasihan kepadanya, hanya disebabkan Siang Biauw Yan yang bermaksud hendak merebut kedudukan ketua telah mencelakakan diri ketuanya sendiri Ti-hui cu, disamping itu, ia juga diam-diam hendak mencelakakan diri Liok Giok ji, bahkan sudah membunuh mati keponakan muridnya sendiri, semua kejahatan yang dilakukannya itu, ada yang menyangkut urusan dalam partai Kun-lun, sebaiknya kita serahkan kepada orang-orang golongan Kun-lun-pay sendiri yang akan memberikan hukuman padanya!"

"Cara enci ini, memang benar sangat adil!" berkata Hee Thiang Siang sambil menganggukkan kepala.

"Mari kita buka sepatu Siang Biauw Yan yang digunakan sebagai alat pendaki gunung itu, dengan cara ia sendiri yang memperlakukan kita, sekarang kita balas kepada dirinya, biarlah dia kita tinggalkan di atas puncak ini, supaya merasakan sendiri bagaimana orang kelaparan dan kehausan

! kita nanti beberkan semua kejahatannya di hadapan anggota partai Kun-lun, supaya mereka mengambil tindakan sepantasnya untuk menghadapi manusia jahat dan kejam ini!"

Hee Thiang Siang sangat setuju, matanya menatap Siang Biauw Yan sejenak, kemudian berkata kepada Tiong-sun Hui- Kheng sambil tertawa kecil : "Kita sudah mengambil keputusan untuk memperlakukan diri Siang Biauw Yan, tetapi rotan panjang itu sudah dilemparkan ke bawah olehnya, dengan cara bagaimana kita bisa turun dari sini? Maka kita berusaha selekasnya, sebab sudah dekat waktunya untuk kita menghadiri pertemuan di gunung Kie-lian!"

"Siang Biauw Yan sudah kita bikin tidak berdaya, apa susahnya untuk turun dari atas puncak ini?. " Berkata sampai

di situ, tiba-tiba terdengar suara binatang Siopek.

Tiong-sun Hui-Kheng lalu pasang telinga, kemudian mengeluarkan suara siulan, setelah itu berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum:

"Siaopek dan Taywong dibawah puncak gunung ini telah menemukan rotan panjang tadi ia tanya kepadaku apakah boleh kalau sekarang dibawa naik keatas? Aku sudah memberi jawaban kepada mereka, sekarang persolan itu bukankah sudah beres?"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu hatinya merasa lega, dan benar saja, tak lama kemudian Siaopek dan Taywong dua binatang gaib itu, sudah mendaki keatas puncak gunung dengan membawa rotan panjang tadi.

Tiong-sun Hui-Kheng dan Hee Thian Siang lalu berbuat seperti apa yang sudah di rencanakan, ia membuka sepatu Siang Biauw Yan yang khusus digunakan untuk mendaki gunung, sepatu itu dilemparkan kebawah, kemudian mereka berdua dengan menggunakan rotan panjang itu merambat turun dari puncak gunung Kun-lun. Tiba dibawah, Hee Thian Siang menulis surat kepada anak murid partai Kun-lun, membeberkan semua kejahatan Siang Biauw Yan, surat itu kemudian ditinggalkan diistana Kun-lun-kiong. Setelah semua selesai, keduanya kembali dengan naik seekor kuda, bersama-sama dilarikan menuju kegunung Kie-lian.

Tiba didekat gunung Kie-lian, oleh karena waktu itu baru tanggal empatbelas bulan dua, jadi masih ada waktu dua hari lagi dihitung dari waktu hendak diadakannya pertemuan besar digunung itu. Maka Hee Thian Siang bersama Tiong-sun Hui Kheng pergi pesiar kekota Kang Ciu, dan makan dirumah makan yang dahulu pernah bertemu dengan Go Eng.

Selagi mereka masih minum dan dahar, dikamar seberang tiba-tiba terdengar orang menghela napas panjang. Hee Thian Siang rasanya sudah kenal suara itu, maka lalu berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng:

"Enci, urusan didalam dunia ini apakah bisa terjadi demikian kebetulan? Dahulu aku dengan U-tie Khao cianpwee didalam rumah makan ini, kita mencuri dengar pembicaraan Go Eng, sehingga mengetahui segala rahasia didalam goa Siang-swat-tong, bahkan dengan secara kebetulan bertemu dengan enci pula! Dan sekarang kita datang kembali ketempat ini, bagaimana aku dengar suara elahan napas panjang tadi, mirip benar dengan suara U-tie cianpwee?"

"U-tie cianpwee telah ditugaskan bersama Hok Siu In untuk memberitahukan kepada para ketua berbagai partai rimba persilatan, karena pertemuan besar digunung Uy-san telah dirubah tempatnya dan waktunya, sekarang harinya sudah dekat, mereka balik kembali kegunung Ki-lian, juga tentunya pesiar ketempat ini untuk makan minum, bukankah itu mungkin saja bisa terjadi? Biarlah aku coba bertanya kepadanya betul atau tidak? Kau barangkali sudah kangen dengan adik In mu itu?"

Hee Thian Siang yang di goda demikian rupa, wajahnya menjadi merah, sementara itu Tiong-sun Hui Kheng sudah menyapa orang diseberang sana:

"Apakah yang duduk makan minum dikamar seberang itu adalah U-tie Khao cianpwee dan bersama Siu In? Boanpwee Tiong-sun Hui Kheng bersama Hee Thian Siang ada disini!"

Baru habis ucapannya, tirai yang memisahkan mereka itu telah terbuka, dari situ melayang masuk sesosok bayangan orang. Orang itu ternyata benar adalah U-tie Khao, tetapi tidak disertai dengan Hok Siu In. Dan yang mengherankan ialah munculnya U-tie Khao itu dengan wajah cemberut, agaknya diliputi kedukaan.

Hee Thian Siang tahu benar U-tie Khao selamanya suka membanyol dan selalu girang saja, mengapa dengan tiba-tiba berubah demikian? Dalam hal ini pasti ada sebabnya. Oleh karenanya, maka sambil berbangkit untuk menyilahkan tamu itu duduk, ia bertanya sambil tersenyum:

"Apakah selama ini U-tie locianpwee baik-baik saja? Bagaimana adik Hok Siu In tidak ikut serta bersamamu? Apakah ia kembali kegunung Go-bie?" U-tie Khao duduk, menyambut secawan arak yang diberikan oleh Hee Thian Siang, tetapi arak itu tidak diminum, sebaliknya dari kelopak matanya mengalir turun air mata.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, menjadi heran dan terkejut, tanyanya:

"U-tie locianpwee, mengapa locianpwee demikian sedih? Apakah Hok Siu In menemukan kejadian yang mengharukan?"

U-tie Khao menghela napas panjang, jawabnya dengan nada suara sedih:

"Hee laote, U-tie Khao merasa tidak mempunyai kepandaian untuk melindungi Hok Siu In, maka sesungguhnya tidak ada muka untuk bertemu denganmu!"

Terkejut Hee Thian Siang mendengar jawaban itu, hingga ia tahu bahwa Hok Siun In sudah mengalami nasib buruk, maka lalu saling berpandangan dengan Tiong-sun Hui Kheng, ia coba menenangkan pikiran dan perasaannya, lalu berkata kepada U-tie Khao:

"Locianpwee jangan gelisah, cobalah cerita kan dengan jelas, apa sebetulnya yang dialami oleh Hok Siu In? supaya kita bisa berusaha untuk memberi pertolongan."

"Jikalau kecelakaan biasa saja, masih bisa kita berusaha untuk memberi pertolongan, akan tetapi Hok Siu In sudah mengalami nasib buruk, mungkin selama-lamanya tidak dapat kita ketemui lagi ..." berkata U-tie Khao sambil menggelengkan kepala dan menghela napas.

Belum habis ucapan U-tie Khao, wajah Hee Thian Siang sudah berubah pucat, cawan di tangannya telah jatuh hancur tanpa disadarinya, dan arak itu jatuh berhamburan membasahi badan Tiong-sun Hui Kheng. Adalah Tiong-sun Hui Kheng yang masih tetap tenang- tenang saja, ia khawatir Hee Thian Siang terlalu sedih, bisa mengganggu kesehatannya, maka lalu menggenggam satu tangannya, dan berkata dengan suara lemah lembut:

"Adik Siang, kau jangan cemas dulu, biarlah kita tanya lebih dahulu kepada U-tie Khao cianpwee, dimana sekarang jenazah adik Hok Siu In berada? Dan apakah U-tie locianpwee menyaksikan dengan mata kepala sendiri kematiannya?"

"Meskipyn aku tidak dapat menemukan jenazah Hok Siu In, juga tidak menyaksikan sendiri kematiannya, tetapi aku tahu ia pasti mati, sudah tidak perlu diragukan lagi!" menjawab U-tie Khao dengan suara sedih.

Mendengar keterangan U-tie Khao yang menyatakan tidak dapat menemukan jenazah Hok Siu In dan tidak menyaksikan kematiannya sendiri dalam hati Hee Thian Siang masih timbul sedikit harapan, maka ia lalu berkata sambil tertawa kecil:

"U-tie locianpwee, semuanya sudah terjadi, kau dan aku meskipun gelisah juga tidak ada faedahnya, harap locianpwee suka menjelaskan kepadaku bagaimana Hok Siu In bisa menemukan bahaya?"

U-tie Khao menggunakan lengan bajunya untuk menyeka air matanya yang membasahi kedua pipinya, dan setelah itu minum arak dari cawannya, untuk menenangkan pikirannya, kemudian berkata lambat-lambat:

"Ketika aku bersama Hok Siu In pergi untuk memberitahukan kepada partai Lo hu dan Siao-lim. serta beberapa kawan-kawan rimba persilatan didaerah Tiong-goan, oleh karena waktu pertemuan digunung Ki-lian itu sudah dekat, maka kita balik menuju kebarat dengan mengambil jalan air, kupikir lebih dahulu hendak pulang ke gunung Ngo- bi-san, untuk menggabungkan diri dengan Hian-hian Sian-lo, bersama ketiga jago wanita dari Lo-ni, untuk pergi kegunung Ki-lian."

Tiong-sun Hui Kheng lalu menyela: "Kalau demikian halnya, kejadian itu terjadi sewaktu locianpwee mengadakan perjalanan pulang?"

"Dalam perjalanan pulang kami masih tidak mengalami kejadian apa-apa, tetapi ketika perahu yang kami tumpangi baru keluar dari selat, waktu itu justru tengah malam. Nona Hok dengan tiba-tiba timbul kegembiraannya, minta aku mengawani ia meninggalkan perahu dan mendarat ketepi, lalu mendaki puncak gunung tinggi, katanya hendak menikmati pemandangan diwaktu malam dipuncak gunung itu."

"Hok Siu In memang paling suka dengan bulan purnama, dari puncak gunung tinggi menikmati pemandangan malam diwaktu terang bulan, memang sangat menyenangkan." berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

"Nikmat memang nikmat, tetapi nona Hok justru lantaran ini telah mengalami nasib buruk!" berkata U-tie Khao sambil tertawa kecil. Kemudian mengerutkan alisnya, ia berpikir dulu kemudian berkata: "Suciku Hwa-jie-swat berdiam dipuncak gunung Tiauw-in-hong digunung Bu-san, selat didekat gunung itu agaknya belum pernah dengar ada orang luar biasa yang mengasingkan diri."

"Meskipun tidak terdapat tokoh luar biasa, tetapi toh bisa terjadi suatu kejadian yang aneh ialah nona Hok justru terancam oleh kejadian aneh itu?" Berkata U-tie Khao sambil menghela napas.

"Coba locianpwee lekas jelaskan duduk perkaranya, diatas puncak gunung itu, sebetulnya terjadi kejadian gaib apa?" bertanya Hee Thian Siang cemas. "Waktu kami mendaki puncak gunung itu, dan memandang mengalirnya air sungai disela gunung itu, serta pemandangan alam diwaktu malam terang bulan yang indah permai, hati kami sesungguhnya terbuka, nona Hok yang sangat gembira, ia sudah menyanyikan suatu lagu!"

Hee Thian Siang mendapat kesan bahwa Hok Siu In agaknya mendapat bahaya disebabkan menyanyi itu, maka lalu bertanya sambil mengerutkan alisnya:

"Apakah locianpwee masih ingat, apa yang dinyanyikannya waktu itu?"

"Waktu itu nona Hok menyanyikan syair dari penyair besar Tong Bo Kisu, suaranya itu demikian merdu, ditambah lagi dinyanyikan diwaktu malam sunyi dan terang bulan saat itu, sesungguhnya dapat menambah keindahan."

"Kalau menurut keterangan locianpwee ini, tidak seharusnya bisa terjadi kejadian aneh?" bertanya Hee Thian SIang heran.

"Tetapi setelah nona Hok menyanyikan syairnya itu, ketika ia baru saja menyanyikan lagunya dan duduk sila seperti mimpi, dari suatu sudut dipuncak itu tampak sesosok bayangan hitam yang muncul secara tiba-tiba." berkata U-tie Khao sambil menghela napas.

"Bayangan hitam? Benarkah didalam dunia ini ada dewa atau setan?" bertanya Hee Thian Siang heran

"Bayangan hitam itu, bukanlah setan atau hantu, kumaksudkan ialah munculnya secara tiba-tiba, bayangan itu, adalah seorang wanita yang mengenakan jubah berwarna hitam, kerudung mukanya berwarna hitam pula, sehingga tampaknya seperti hantu yang baru keluar dari peti mati." "Oh! Setelah perempuan berjubah hitam itu muncul, lalu bagaimana?" bertanya Tiong-sun Hui Kheng.

"Setelah wanita berjubah hitam itu muncul, tangannya lalu menunjuk kepada air sungai yang mengalir deras dibawah puncak gunung itu, suruh aku bersama Hok Siu In lompat dari situ untuk menghabiskan nyawa sendiri," berkata U-tie Khao sambil menggelengkan kepala dan menghela napas.

Hee Thian Siang marah sekali, hingga ia mengebrak meja dan berkata dengan nada suara gusar:

"Perempuan itu sesungguhnya terlalu kurang ajar, locianpwee seharusnya menanyakan padanya orang dari mana? Mengapa suruh locianpwee dan Hok Siu In terjun kedalam sungai suruh membunuh diri?"

"Nona Hok justru demikian bertanya kepadanya, wanita berjubah hitam itu menjawab nama dan julukannya, sudah lama dilupakan, kini ia hanya menyebut dirinya sebagai wanita kesepian." menjawab U-tie Khao sambil menganggukan kepala.

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar jawaban itu lalu berkata: "Sebutan wanita kesepian ini, benar-benar sangat aneh, apakah ia tidak menjelaskan kepada locianpwee dan adik Hok Siu In, apa sebabnya suruh orang bunuh diri terjun kedalam air sungai?"

"Wanita berjubah hitam yang menamakan diri sebagai wanita kesepian itu, mengatakan bahwa dengan tidak mudah ia baru mendapatkan tempat tinggi dipuncak gunung yang sunyi itu, ia sudah bermaksud berdiam disitu untuk penghidupan selanjutnya dengan tenang, tetapi saat itu telah digerocoki ketenangannya oleh kedatangan nona Hok yang sudah menyanyikan lagu itu, maka ia paksa kami terjun kedalam sungai untuk melampiaskan perasaan bencinya" menjawab U-tie Khao. "Ini benar-benar suatu perbuatan yang sangat brutal. Apakah Hok Siu In benar-benar menurut perintahnya, lompat kedalam sungai?" bertanya Hee Thian Siang marah.

"Adik Siang jangan memotong dulu, biarlah U-tie locianpwee menceritakan dengan jelas. Mana dapat adik Hok Siu In lantas kita anggap orang demikian bodoh?" menyelak Tiong-sun Hui Kheng.

"Nona Hok waktu itu masih dapat merasakan bahwa wanita kesepian itu, sebetulnya terlalu tidak tahu aturan, maka ia bertanya kepadanya sambil tertawa: "seandai kita menurut perintahnya, dia mau apa? Dan seandainya kita tidak menurut perintahnya, lalu bagaimana?" berkata U-tie Khao.

"Pertanyaan itu memang benar, menurut dugaanku, wanita kesepian itu, terlalu keras," berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

"Dugaan laote tidak salah, wanita kesepian itu dari dalam jubahnya, mengeluarkan sebilah pedang yang menyerupai kaitan, ia berkata bagaimanapun juga kita toh tidak bisa hidup, jikalau tidak habiskan nyawa sendiri kedalam sungai akan menjadi setan gentayangan dibawah pedangnya."

Hee Thian Siang baru bertanya kepada Tiong-sun Hui Kheng sambil mengerutkan alisnya:

"Enci, tahukah enci siapa orang yang menggunakan senjata pedang menyerupai kaitan itu, terutama dari tokoh- tokoh rimba persilatan dari kaum wanita?"

"Tokoh-tokoh rimab persilatan golongan kelas satu, agaknya tidak ada yang menggunakan pedang menyerupai kaitan sebagai senjata, mengenai soal ini, biarlah kita tunggu dulu penjelasan U-tie locianpwee barulah kita mengadakan analisa." U-tie Khao lalu melanjutkan penuturannya: "Karena wanita kesepian itu sudah mengeluarkan senjatanya dan berkata demikian pula, sudah tentu nona Hok juga menggunakan pedangnya Liu-yap-hiap-si-kiam, untuk bertempur dengannya!"

"Aku tahu bahwa ilmu pedang Hok Siu In dari golongan Ngo-bie, memang hebat, apalagi ia sudah menggunakan pedang pusaka peninggalan jago pedang kenamaan jaman dahulu. Apakah ia tidak berhasil mengalahkan wanita kesepian itu?" bertanya Hee Thian Siang sambil menatap wajah U-tie Khao.

Ditanya demikian U-tie Khao merasa sangat sedih, jawabnya sambil tertawa kecil:

"Apabila kepandaian silat nona Hok sebanding dengan lawannya, dan mati dibawah pedang wanita kesepian, aku tidak akan demikian sedih dan penasaran!"

"Jikalau kudengar keterangan locianpwee ini, agaknya adik Hok Siu In waktu itu sesudah berada diatas angin, tetapi kemudian terjatuh oleh tangan jahat lawannya?" berkata Tiong-sun Hui Kheng heran.

"Ilmu pedang wanita kesepian itu sangat mahir sekali, nona Hok Siu In yang bertempur dengannya selama lima puluh jurus lebih, masih dalam keadaan berimbang, tetapi ketika ilmu pedang nona Hok berubah, menggunakan ilmu pedangnya yang sangat ampuh dari golongan Ngo-bi, dengan beruntun beberapa kali ia melancarkan serangannya, sudah berhasil mendesak lawannya ketepi jurang!"

"Kalau benar demikian halnya, bagaimana Hok Siu In kemudian berbalik terjatuh oleh lawannya?"

"Sebetulnya ia sudah berhasil memapas kutung pedang lawannya, dan ujung pedang pusakanya sendiri juga sudah ditujukan kepada tenggorokan wanita kesepian itu!" berkata U- tie Khao sambil menghela napas panjang.

"Dahulu dipuncak gunung Ngo-bi, aku pernah bertempur dengan Hok Siu In, maka aku tahu bahwa dua jurus ilmu pedang itu, memiliki perubahan gerakan yang banyak sekali, juga mengandung kekuatan tenaga sangat hebat, memang benar adalah ilmu ampuh dari golongan Ngo-bi!" berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

"Akan tetapi, dalam keadaan sangat kritis bagi wanita kesepian, dengan tiba-tiba nona Hok timbul rasa kasihannya, karena pertempuran itu telah terjadi hanya soal yang sepele saja, tidak ada permusuhan dalam, maka dianggapnya tidak perlu sampai mengambil jiwa lawannya, maka ujung pedangnya yang sudah mengancam tenggorokan lawannya itu dibalik arahnya untuk menyontek kerudung muka wanita kesepian, mungkin ia ingin melihat wajah buas dari wanita yang tidak mengenal aturan itu!" berkata U-tie Khao sambil menghela napas dalam.

"Adik Hok Siu In dalam keadaan sudah menguasai lawannya lalu timbul pikiran untuk melepaskan lagi, sudah tentu ia agak lalai dalam penjagaan sendiri, hal itu sesungguhnya melanggar pantangan besar bagi orang rimba persilatan!" berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil menghela napas.

"Dan bagaimanakah rupanya wanita yang menyebut diri wanita kesepian itu?" berkata Hee Thian Siang.

"Wanita kesepian itu memiliki wajah yang sangat cantik sekali, kulitnya putih halus, benar-benar seperti bidadari turun dari kayangan, tetapi wajahnya itu penuh tanda trotolan hitam, sedangkan hidung dan mulutnya juga terdapat cacat, entah dirusak oleh obat apa, sehingga berubah demikian rupa!" menjawab U-tie Khao. Hee Thian Siang yang mendengar keterangan itu lalu berpandangan dengan perasaan terheran-heran kepada Tiong-sun Hui Kheng. Sementara itu U-tie Khao sudah berkata lagi:

"Hok Siu In ketika menyaksikan wajah aneh dari wanita itu, sesaat dalam keadaan terkejut, dan wanita kesepian itu, juga menggunakan kesempatan baik itu, dari mulutnya menyemburkan hawa hitam yang ditujukan kepada nona Hok!"

"Hawa hitam itu mungkin disembunyikan didalam mulut wanita kesepian itu, dengan menggunakan gigi palsu, supaya dapat digunakan untuk menolong diri apabila dalam keadaan bahaya!" berseru Tiong-sun Hui Kheng.

"Dugaan nona Tiong-sun ini barangkali tidak salah, karena nona Hok setelah disembur oleh hawa itu, lantas mundur terhuyung-huyung, kemudian telah ditikam lagi dengan sebilah belati oleh wanita itu yang mengenakan ketiak bagian kiri!" menjawab U-tie Khao sambil menganggukkan kepala.

Hee Thian Siang yang mendengar sampai disitu, sudah tidak dapat mengendalikan perasaannya sendiri, dengan air mata bercucuran ia bertanya: "Kalau begitu, apakah adik Hok Siu In sudah binasa ditangannya?"

"Meskipun nona Hok mendapat tikaman, tetapi belati itu tidak sampai masuk terlalu dalam, maka waktu itu belum sampai membahayakan jiwanya, sebaliknya pedang pusaka ditangan nona Hok, dengan gerakan menyontek dan membabat, sudah berhasil menabas kutung kepala wanita kesepian sehingga terpental jatuh sejauh tiga kaki lebih!" berkata U-tie Khao sambil mengucurkan air mata.

"Kalau benar wanita kesepian itu sudah dibinasakan oleh adik Hok Siu In, andaikata adik Hok Siu In kemudian meninggal dunia karena luka-lukanya, setidak-tidaknya toh masih ada bangkainya, bagaimana ... ." bertanya Tiong-sun Hui Kheng dengan suara sedih.

"Pertanyaan nona Tiong-sun ini meskipun benar, tetapi wanita kesepian itu sesungguhnya sangat ganas dan kejam, bagaikan bangkai ular yang sudah mati, tetapi masih bisa mengganas, wanita itu ketika kepalanya terpapas kutung, tetapi tangannya masih berhasil menyambar baju nona Hok, hingga dua-duanya terjatuh dari atas gunung setinggi seratus tombak lebih!" berkata U-tie Khao sambil menghela napas.

Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar keterangan itu, sudah menangis tersedu-sedu. U- tie Khao sendiri meskipun merasa sedih, akan tetapi ia masih coba kendalikan perasaannya sendiri, dengan air mata bercucuran, ia melanjutkan penuturannya:

"Perobahan yang terjadi tanpa diduga-duga dan sangat mengejutkan itu, telah berlangsung demikian cepat, sehingga aku tidak kebutu untuk memberi pertolongan, dibawah sinar rembulan purnama, tampak meluncurnya bayangan dua orang, karena terlalu dalam, akhirnya tidak tampak jejaknya lebih jauh lagi. Hanya sesaat kemudian terdengar suara gemuruh air sungai yang agaknya kejatuhan barang berat, dan tubuh nona Hok serta wanita kesepian sudah ditelan oleh air ombak!"

Hee Thian Siang berpikir, karena Hok Siu In yang sudah mendapat luka parah, kemudian terjatuh lagi dari puncak gunung setinggi ratusan tombak, dan terjatuh kedalam air, memang sesungguhnya tidak mungkin masih bisa hidup, maka ia lalu menangis lebih keras. 

Tiong-sun Hui Kheng tidak berdaya sama sekali, hanya mengawasi Hee Thian Siang sama-sama menanggis. Sementara U-tie Khao sudah berkata lagi: "Waktu itu, setelah mengalami kejadian hebat itu aku merasa malu terhadap Hee laote, lebih-lebih merasa malu sekali terhadap guru nona In serta ayah bundanya, karena aku tidak dapat memberi pertanggung jawab terhadapat mereka, maka waktu itu aku juga sudah ingin terjun kedalam sungai itu, untuk membunuh diri!" Berkata sampai disitu, U-tie Khao sudah tidak sanggup mengendalikan perasaan sedihnya, dengan air mata bercucuran ia masih melanjutkan kata- katanya: "Waktu itu apa sebab aku membatalkan maksudku hendak membunuh diri, justru karena aku perlu tinggal hidup, supaya dapat mengabarkan kecelakaan nona Hok ini kepada Hee laote, gurunya dan ayah bundanya ..." Setelah itu, ia mendadak tertawa sedih, kemudian dengan tiba-tiba angkat tangannya hendak memukul batok kepalanya sendiri.

Hee Thian Siang selagi hendak memberi pertolongan, Tiong-sun Hui Kheng yang berdiri lebih dekat, sudah mengibaskan lengan bajunya, hingga tangan U-tie Khao yang tersentuh oleh samberan angin baju merasakan linu dan kejang, dan akhirnya diturunkan kembali. 

"Hee laote dan nona Tiong-sun, mengapa kalian tidak membiarkan aku mati, aku sipengemis tua ini kalau mau masih hidup hingga hari ini, tahukan kalian berapa kedukaan dalam hatiku?" Berkata U-tie Khao sambil menghela napas.

"Locianpwee mengapa terlalu demikian sedih? Mengenai urusan peristiwa yang menimpa diri adik Hok Siu In kesalahannya toh bukan pada dirimu! Apalagi didalam dunia kang-ouw, terlalu banyak sekali kejadian-kejadian aneh yang tidak dapat diduga-duga oleh pikiran biasa, locianpwee toh belum menyaksikan dengan mata kepala sendiri bangkai adik Siu In, mungkin ia masih dapat pertolongan oleh tangan Tuhan, dan siapa tahu sekarang ini masih ada didalam dunia?" berkata Tiong-sun Hui Kheng.

Tetapi U-tie Khao yang dalam tugasnya sudah melakukan perjalanan bersama-sama dengan Hok Siu In, telah terjalin hubungan yang sangat baik, hubungan itu sudah hampir seperti hubungan ayan dan anak, maka meskipun dihiburi oleh Tiong-sun Hui Kheng, hatinya toh masih merasa sangat sedih.

Tiong-sun Hui Kheng dengan tiba-tiba seperti teringat sesuatu, kemudian bertanya kepada Hee Thian Siang:

"Adik Siang, wanita kesepian yang binasa ditangan adik Hok Siu In itu, bukan saja kelakuannya sangat aneh tetapi nama sebutannya itu, juga sangat luar biasa, apakah ia itu bukan orang dari dalam istana kesepian seperti apa yang diceritakan oleh Leng locianpwee kepadamu dahulu?"

"Hei! Pikiran enci ini, agaknya sangat aneh, tetapi mungkin dugaan serupa itu ada benarnya!" menjawab Hee Thian Siang.

U-tie Khao yang mendengar percakapan itu dalam otaknya telah diliputi oleh berbagai pertanyaan maka ia lalu bertanya kepada Hee Thian Siang:

"Hee Thian Siang apakah sebetulnya yang dinamakan istana kesepian itu?"

Hee Thian Siang lalu menceritakan tentang menghilangnya Liok Giok Jie karena ngambek dan kemudian oleh Leng Biauw Biauw telah diberikan ancar-ancar empat tempat jikalau Hee Thian Siang mau mencari jejak Liok Giok Jie, salah satu dari empat tempat yang disebutkannya itu termasuk istana kesepian. Oleh karena U-tie Khao dianggapnya bukan orang luar, maka Hee Thian Siang setelah menceritakan itu semua, lalu berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng:

"Enci Tiong-sun, sekarang Liok Giok Jie dan Hok Siu In, yang satu kabur yang satu sudah mati, dan tidak diketahui dimana jejaknya, maka itu, kawan wanita dalam hidupku ini hanya tinggal enci seorang saja." Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu, wajahnya merah seketika, tetapi oleh karena ia tahu benar bahwa hati Hee Thian Siang waktu itu masih sangat sedih, maka ia tidak mau menyinggung perasaannya, oleh karenanya ia sengaja mengalihkan pembicaraan kelain soal, ia berkata kepada U-tie Khao sambil tertawa:

"U-tie locianpwee, kini kuucapkan selamat kepadamu!"

U-tie Khao terheran-heran, ia berkata sambil tertawa kecil: "Aku sipengemis tua ini, kini sedang diuruk oleh kedukaan, air mataku hampir terkuras kering, bagaimana kau memberi selamat kepadaku?"

"Aku dengan adik Siang, oleh karena pergi mencari Liok Giok Jie, telah melakukan perjalanan jauh kepuncak gunung Kun-lun, tanpa sengaja telah mendapatkan sebuah benda pusaka rimba persilatan, kini sudah seharusnya kuserahkan kembali kepada pewaris utama ialah U-tie locianpwee sendiri!"

Mendengar ucapan itu, U-tie Khao semakin heran katanya: "Aku sipengemis tua ini selama hidupku telah

berkecimpungan didunia Kang-ouw, selama itu selalu dalam keadaan miskin, tidak memiliki barang apa-apa dibadanku, bagaimana aku bisa menjadi pewaris benda pusaka rimba persilatan?"

Tiong-sun Hui Kheng hanya tersenyum-senyum tidak menjawab, kemudian dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah barang yang disebut sebagai rajanya senjata rahasia, ialah benda pusaka yang dinamakan Giam-ong-teng, yang bentuknya seperti naga kecil.

U-tie Khao ketika menyaksikan benda berbentuk seperti naga itu, terkejut hingga lompat dari tempat duduknya, kemudian berseru: "Ini ... ini adalah salah satu benda pusaka milik pamanku, dan waktu menutup mata telah dikubur bersama-sama, dengan cara bagaimana nona Tiong-sun bisa mendapatkan barang ini?"

"Kita dapat merebut dari tangan ketua partai Kun-lun-pay." menjawab Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa.

"Ketua Kun-lun-pay Ti-hui-cu, bukankah sudah bunuh diri sendiri dimulut goa Siang-swat-tong digunung Ki-lian?" bertanya U-tie Khao heran.

Tiong-sun Hui Kheng berkata sambil menyerahkan benda pusaka itu kepada U-tie Khao. "Ketua partai Kun-lun-pay yang sekarang, sudah diganti oleh Siang Biauw Yan, tetapi ia mendapatkan kedudukan itu, dengan cara yang kurang bagus!"

Setelah itu, ia lalu menceritakan apa yang terjadi dipuncak gunung Kun-lun. U-tie Khao sehabis mendengarkan penuturan itu, lalu menyambuti benda pusaka milik pamannya, dengan melihat benda itu ia telah terkenang apa yang terjadi dimasa yang lampau, katanya sambil menghela napas panjang:

"Pamanku dahulu mengandalkan tiga buah benda pusakanya telah melakukan terlalu banyak pembunuhan, sehingga sesudah mati, masih ada orang yang membongkar kuburannya dan mencuri barangnya, U-tie Khao juga tidak suka menggunakan senjata rahasia yang terlalu ganas ini, maka sebaiknya dihancurkan saja!" Setelah itu, ia lantas hendak menghancurkan benda pusaka yang berupa naga kecil itu,

Hee Thian Siang sebaliknya lantas berkata sambil menggelengkan kepala:

"U-tie locianpwee, mengenai senjata rahasia itu sendiri, sebetulnya tidak berdosa apa-apa, apakah senjata itu terlalu ganas atau tidak, hanya tergantung kepada orang yang menggunakan! Sekarang orang yang membongkar kuburan dan mencuri benda pusaka itu masih belum diketahui, dua benda pusaka yang lainnya, juga belum kita dapatkan kembali, apa salahnya kalau locianpwee simpan dulu senjata Giam-ong-teng ini? Tunggu setelah kita berhasil menemukan orang yang membongkar kuburan dan mencuri barang itu, kita boleh gunakan benda pusaka ini untuk menghadapinya!"

U-tie Khao berpikir sejenak, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala:

"Ucapan Hee laote ini memang ada benarnya, biarlah untuk sementara kusimpan dahulu senjata Giam-ong-leng ini, nanti setelah kita dapat menemukan dua senjata yang lainnya, barulah kukubur kembali bersama-sama dengan tulang-tulang paman, dan untuk selamanya supaya tidak dapat di gunakan lagi!"

Setelah itu, U-tie Khao meminum beberapa cawan arak, kemudian berkata pula:

"Dua hari lagi, digunung Ki-lian akan diadakan upacara pembukaan partai baru, orang-orang dari berbagai partai akan diundang barangkali sudah pada menuju kegunung itu, baik kita pergi kesana untuk menantikan kedatangan beberapa kenalan dan kawanku situa bangka Say-han-kong, sudah lama tidak bertemu, maka aku merasa kangen sekali!"

Mendengar ucapan U-tie Khao itu. Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang segera teringat kepada diri ayahnya Tiong-sun Seng dan Pak-bin sin-po, guru Hee Thian Siang, maka buru-buru meninggalkan rumah makan itu, dan melakukan perjalanan kegunung Ki-lian.

Tiba dikaki gunung Kie-lian, Tiong-sun Hui Kheng telah memanggil kumpul tiga ekor binatangnya, ialah Siaopek, Taywong dan kudanya Ceng-hong-ki. Hee Thian Siang tiba-tiba tergerak hatinya, katanya kepada Tiong-sun Hui Kheng:

"Enci Tiong-sun, sebaiknya engkau perintahkan Taywong mengawani Ceng-hong-ki, menunggu dimulut gunung Ki-lian, kita pergi kegoa Sian-swat-tong, cukup dengan membawa Siaopek saja!"

Tiong-sun Hui Kheng merasa heran, memandangnya sejenak, Hee Thian Siang lalu berkata:

"Kuda jempolan seperti Ceng-hong-ki ini, siapakah yang tidak suka? Khi Tay Cao dalam keadaan tidak berdaya telah membunuh mati kuda kesayangannya sendiri, sudah pasti ia masih merasa menyesal dan sedih! AKu takut jikalau ia nanti dapat melihat kuda itu, bisa timbul pikiran iri hati dan gemas, dan ada kemungkinan melakukan perbuatan jahat terhadap kudamu Ceng-hong-ki!"

"Kekuatiran adik Siang semacam ini, memang ada benarnya!" Kata Tiong-sun Hui Kheng sambil menganggukkan kepala dan tertawa, Setelah itu, ia berpaling dan berkata kepada Taywong: "Taywong, kau bersama Ceng-hong-ki, boleh pesiar sesukamu dibawah gunung Ki-lian ini, kalau mendengar suara siulanku boleh datang lagi, tetapi harus menjauhi orang yang masih asing bagimu, dan berjaga- jagalah jangan sampai dicelakakan oleh manusia jahat!"

Taywong mengangguk-anggukakan kepala, kemudian lompat keatas punggung Ceng-hong-ki dan berjalan perlahan- lahan menuju kedalam rimba yang lebat. U-tie Khao berkata sambil tertawa:

"Kepandaian nona Tiong-sun menjinakkan binatang, benar- benar sangat mengagumkan. Lihat binatangmu Siaopek, Taywong dan Ceng-hong-ki, alangkah takutnya dan turut segala perintahmu." Hee Thian Siang juga berkata sambil tertawa:

"U-tie locianpwee, enci Tiong-sunku ini, kecuali bisa menjinakkan binatang buas, juga bisa menjinakkan binatang bersayap seperti burung. Katanya, setelah pertemuan digunung Ki-lian ini selesai, ia akan berusaha mencari seekor burung raksasa, akan dididik dan dipelihara, kalau hal itu nanti terbukti, kita nanti boleh menggunakan sebagai binatang tunggangan untuk pesiar kemana-mana!"

U-tie Khao yang menyaksikan hubungan Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng demikian akrabnya, dibibirnya tersunging satu senyuman yang mengandung misteri. Tiong- sun Hui Kheng yang sangat cerdik, sudah mengerti pikiran orang tua itu, tetapi oleh karena ia sendiri memang sangat mencintai Hee Thian Siang, apalagi didepan orang yang sudah dianggapnya sebagai orang dalam sendiri, maka ia tidak perlu merasa malu-malu, karenanya, ia membalas dengan senyum yang mengandung misteri pula, bahkan tampaknya jadi lebih berani.

Ia berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum: "Adik Siang, aku masih ingin tanya kepadamu, Mengapa kau hanya menyuruh aku perintahkan Taywong buat pergi mengawani Ceng-hong-kie? Sebaliknya, hanya suruh membawa Siaopek? Perlu apa Siaopek harus ikut serta dalam pertemuan digunung Ki-lian?"

"Sebab Pek-kut Sian-cu, salah satu dari Pek-kut Sam-mo juga mempunyai binatang peliharaan seekor kera aneh, bentuk dan keadaannya, mirip dengan Siaopek, hanya warna biji matanya, agaknya berlainan sedikit, maka aku minta supaya Siaopek diajak, maksudku ialah supaya bisa diadakan pertandingan dengan keranya Pek-kut Sian-cu. Aku ingin lihat, siapa yang lebih gagah dan cerdik?" Siaopek yang mendengar ucapan itu, matanya bergerak- gerak, mengawasi U-tie Khao, mulutnya mengeluarkan suara cecuitan beberapa kali.

U-tie Khao merasa heran, lalu bertanya kepada Tiong-sun Hui Kheng: "Nona Tiong-sun, Siaopek itu berkata apa? Kulihat sikapnya itu, seperti tidak senang mendengar perkataanku!"

"Ia bukan tidak senang terhadap locianpwee, juga tidak berani berbuat demikian, hanya ia mengatakan didalam pertandingan digunung Ki-lian nanti, ia pasti akan membuka rompi sisik naga emasnya, lalu baru mengadakan pertandingan dengan monyet peliharaan Pek-kut Sian-cu, supaya jangan sampai dipandang rendah oleh orang!" menjawab Tiong-sun Hui Kheng.

U-tie Khao yang melihat bahwa sesungguhnya monyet itu mempunyai perasaan harga diri, diam-diam juga merasa kagum. Maka lalu tertawa terbahak-bahak.

Hee Thian Siang pada saat itu, tiba-tiba melihat dibawah salah satu sudut kira-kira satu tombak terdapat tumbuh setangkai bunga yang bentuknya sangat aneh, bunga itu sedang setengah mekar, sedang yang setangkai lagi sudah mekar benar-benar, bunga itu berwarna merah yang sangat indah.

Maka ia lalu berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng sambil menunjukkan bunga tersebut : "Ebci Tiong-sun, kedua tangkai bunga itu, sangat indah sekali !"

Tiong-sun Hui Kheng yang sedang mengawasi tiba tiba angin timur meniup santer, bunga yang sedang mekar itu, dengan mendadak telah menjadi layu, lalu rontok beterbangan tertiup angin. Wajah Hee Thian siang segera berubah dan sikapnya menunjukkan sikap sangat muram, katanya sambing menghela napas : "Setangkai bunga yang demikian indah dengan mendadak telah layu dan rontok, apakah ini bukan suatu alamat tidak baik bagi nasib Hok Siu In ?" Sehabis berkata demikian matanya tampak berkaca kaca.

Tiong-sun Hui Kheng tahu bahwa Hee Thian siang tentu teringat akan nasib Hok Siu In, lantas merasa sedih, maka ia juga lalau mengangguk, jari tangannya menunjuk kesetangkai bunga yang masih belum mekar dan bertanya sambil tersenyum :

"Adik siang, kalau kau anggap bunga yang sudah layu itu sebagai Hok Siu In, lalu kembang yang belum mekar ini kau anggap sebagai siapa ?"

"Bunga itum kuharap hidup sendiri !" menjawab Hee Thian siang sekenanya.

"Kalau menurut logikamu ini tidak lama kemudian aku juga pasti akan menjadi layu !" berkala Tiong-sun Hui Kheng sambil tersenyum.

"Enci jangan berkata demikian, itu hanya perumpanaan saja yang keliru ! Enci bagaikan bunga ditaman Firdaus, bukanlah bunga dalam dunia. Bunga didalam taman firdaus selamanya cantik dan bersih, selamanya tidak bisa layu !" berkata Hee tian siang cemas.

"Adik siang, jangan begitu tolol, mekar dan layu, semua sudah ada waktunya tertentu. manusia lahir, dan mati juga sudah ada garisnya sendiri sendiri. Jikalau takdir adik Hok Siu In belum sampai, maka biar bagaimana kita bersedih atau menangis, juga sudah tidak bisa menghidupkan kembali ! Apabila waktunya belum sampai, maka dikemudian hari pasti bisa bertemu kembali ! Sekarang yang penting ialah kita harus menenangkan hati dan pikiran, urusan ini untuk sementara kita singkirkan dulu sebab banyak tokoh tokoh rimba persilatan sudah berkumpul digunung Ki-lian. Dihadapan musuh tangguh, kita dibebankan tugas berat untuk membasmi kawanan penjahat!" berkata Tiong-sun Hui Kheng dengan sikap sungguh sungguh.

Ketika Tiong-sun Hui kheng mengucapkan perkataan membasmi kawanan penjahat, dengan tiba tiba terdengar suara orang tertawa dingin yang timbul ditenah udara. Diantara mereka bertiga, kecuali U-tie Khao yang kekuatan tenaga dalamnya agak rendah sedikit, Hee thian siang dan Tiong-sun hui kheng kini sudah terhitung tokoh-tokoh kuat golongan kelas satu, maka pendengaran mereka jauh lebih tajam, suara tertawa dingin itu, mereka dapat membedakan, keluar dari tempar sejarak kira-kira tiga puluh tombak jauhnya. Suara itu tidak tinggi, akan tetapi didalam telinga menimbukan perasaan seram, dapat diduga bahwa orang yang mengeluarkan suara itu pasti memiliki tenaga dalam yang hebat sekali.

U-tie Khao kekuatan tenaganya lemah sedikit, tetapi ia toh masih dapat mengenali, ia lalu berkata : "Hee laote dan nona Tiong-sun, suara tertawa dingin itu, tentunya keluar dari mulut seorang yang memiliki kepandaian dan kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat..."

Baru saja menutup mulutnya, seorang imam berjubah kelabu telah muncul disuatu sudut sejarak setombak lebih terpisah dari mereka berdiri. Imam itu tubuhnya tinggi kurus, wajah mukanya yang pirus, dan tulangnya pada menonjol, dan yang lebih menarik perhatian ialah matanya yang tajam, dan hidungnya yang melengkung seperti burung betet, ditambah kulit mukanya yang putih bagaikan kertas, sehingga mirip sekali dengan bangkai hidup. Rambut diatas kepalanya yang dibuat sanggul, tampak tertancap sebatang tulang yang dibuat tusuk konde. Sejak munculnya imam itu, susasana tampak sedikit tegang, tapi imam itu masih meneruskan perjalanannya lambat-lambat, sedikitpun tidak menghiraukan kehadiran Hee Thian siang, Tiong-sun Hui Kheng dan U-tie Khao bertiga, sikapnya sangat sombong sekali. Tapi walaupun nampaknya lambat namun luar biasa gesitnya, kegesitan itu sesungguhnya sangat mengejutkan, sebab merekapun masih tidak tahu bagaimana ia berjalan, dan entah ilmu meringankan tubuh dari golongan mana, dalam waktu sekejap mata sudah meninggalkan tempat Hee Thian siang bertiga sejauh dua puluh tombak lebih, setelah melalui satu tikungan, lantas lenyap didalam kegelapan.

U-tie Khao berkata kepada Hee Thian siang : "Hee laote tahukah kau siapa imam berjubah kelabu yang tubuhnya tinggi kurus itu tadi ?"

Hee Thian siang berpikir dulu baru menjawab : "Aku tidak kenal orang itu. Tetapi, kalau ditilik dari bentuk dan dandanannya, mungkin ia adalah Pek-kut Ie-su salah satu dari Pek-kut ? Sam-mo yang berdiam diselat Ok-kie digunung ? Lo-san !"

"Adik siang, menurut siasat yang diatur oleh Duta Bunga Mawar dengan kau, siapakah yang harus menghadapi Pek-kut Ie-su ini ?" bertanya Tiong-sun Hui Kheng.

"Menurut siasat Duta Bunga Mawar, haruslah Enci Tiong- sun yang menghadapi Pek-kut Ie-su !" jawab Hee Thian siang,

Tiong-sun Hui Kheng mengerutkan alisnya, berkata sambil menggelengkan kepala : "Jikalau ditilik dari ilmu meringankan tubuh yang digunakan oleh Pek-kut Ie-su tadi, ditambah lagi dengan ilmunya yang dapat memperpendek jalannya, tampaknya kepandaian dan kekuatan iblis itu sesungguhnya tinggi sekali. Ayahku diwaktu belakangan ini banyak mempelajari ilmu kebathinan dan agama, terhadap kepandaian ilmu silatnya, mungkin agak kendor, belum tentu dapat dipakai untuk menundukkan Pek-kut Ie-su. lalu bagaimana baiknya ?"

Baru saja menutup mulut, sesosok bayangan hijau telah muncul dengan tiba-tiba, dan setelah itu disusul oleh suara tertawa dan kata-kata dari Tiong-sun seng : "Kheng jie, seorang pujangga dijaman dulu, dalam sebuah syairnya melukiskan seorang ahli siasat peperangan jaman sam kok, ialah Cu-kat liang, pernah menulis demikian : Belum menyaksikan hasil siasatnya, orang sudah meninggal terlebih dahulu. Hal mana membuat banyak jago peperangan mengucurkan air mata! dan sekarang pertemuan besar digunung Ki-lian belum lagi dimulai, kau sudah berani memastikan bahwa kepandaian ilmu silatku sudah mundur, sehingga merasa kuatir tidak sanggup menghadapi Pek-kut Ie- su, bukankah itu sebagai hendak melemahkan semangat ayahmu sendiri ?"

"Ayah ini mengejutkan orang saja !" berkata Tiong-sun Hui Kheng.

Tiong-sun Seng menyapa lebih dahulu kepada U-tie Khao dan Hee Thian siang, kemudian baru berkata lagi kepada anaknya : "Kheng-jie kau ini benar benar kurang ajar, berani omongkan ayahnya dibelakang orangnya !"

Tiong-sun Hui kheng hanya tersenyum senyum saja, lalu memeluk ayaknya seraya bertanya dengan suara perlahan : "Ayah, benarkah ayah yakin akan sanggup menundukkan Pek-kut Ie-su ?"

"Ia adalah Pek-kut Mo, sedangkan aku adalah seorang yang memiliki nama julukan Thian gwa ceng-mo, seorang Mo (iblis) menghadapi Mo yang lain, walaupun aku mungkin tidak dapat menundukkan dia, dia juga belum tentu sanggup melawan aku !" jawab sang ayah sambil tertawa. Berkata sampai disitu, tiba-tiba teringat sesuatu, lalu berkata pula sambil menghela napas : "Oya, aku telah lupa, aku dahulu pernah berkata, bahwa untuk selanjutnya aku tidak akan menggunakan nama julukanku Thian-hwa ceng-mo ini !" Tiong-sun Hui Kheng keheranan, tanyanya : "Ayah, nama julukanmu Thian-gwa ceng-mo, sudah kesohor keseluruh negeri, mengapa kau tidak suka pakai lagi ?"

Tiong-sun seng hanya tertawa, tidak menjawab, sebaliknya bertanya kepada putrinya : "Kheng-ji, kau adalah putri Thian- gwa ceng-mo, seharusnya masih ingat peraturan dari ayahmu itu !"

"Ya, masih ingat, dimasa berkumpul, harus berkumpul, dimasa berpisah harus berpisah. Tidak akan terikat oleh sesuatu janji, tidak akan terjerumus dalam jaring asmara !"

"sekarang sucimu sendiri, ialah Hwa-ji-swat, bukan saja sudah terjerumus dalam jaring asmara, bahkan sudah menarik orang lain kedalamnya bersama-sama It-pun-sin-ceng, berdiam bersama-sama dipuncak gunung Tiauw-in-hong, dan kau sendiri... "

Dengan cepat, Tiong-sun Hui kheng memotong ucapan ayahnya, dan berkata sambil mengetruk ngetruk kakinya sendiri berulang-ulang :

"Ayah, kalau kau lanjutkan kata-katamu, aku benar benar tidak senang !"

Menyaksikan adegan itu, Hee Thian siang juga merasa jengah sendiri, sehingga mukanya menjadi merah, sehingga U-tie khao merasa geli sendiri.

Dengan mata memandang Hee Thian siang dan Tiong-sun Hui Kheng, tiong-sun seng kembali berkata sambil tersenyum :

"Putriku sendiri dan muridku, kedua-duanya telah berbuat demikian, maka merekku Thian-gwa ceng-mo, bagaimana ada muka aku menggunakan ? Bukankah ada baiknya aku simpan saja ? itu rasanya lebih tepat !" Berkata sampai disitu, dengan tiba tiba sikapnya berubah menjadi sungguh sungguh, katanya pula : "Dunia ini, memang diciptakan oleh karena cinta, segala isi didalam dunia semuanya tidak luput dari soal cinta, tetapi istilah cinta ini entah menyusahkan beberapa banyak jago- jago dahulu hingga sekarang ! Hee laote, dan kau Kheng-ji, kalian kedua-duanya jangan sampai dibikin mabok olehnya ! Aku harap kamu berdua jangan mementingkan dirimu sendiri, ingatlah kepentingan orang lain, jangan cinta kasih kamu yang besar kepada diri sendiri, curahkanlah kepada sesama umat manusia, negara, rakyat dan masyarakat ! Kamu harus ingat bahwa hidupmu didalam dunia ini, bukan semata mata untuk diri sendiri, kamu harus memikirkan diri orang lain, dan didalam dunia Kang-ouw yang masih belum mentaati hukum negara, apa yang kau lihat dengan mata dan yang kau dengar dengan telinga, semua harus dapat ditindak dengan pikiran terang ! Kamu harus tahu bahwa cinta kasih itu bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk semua ! Bila kamu hanya tenggelam dalam asmara yang bersifat mementingkan kepentingan diri sendiri, hal itu tidak beda sebagai binatang yang tidak mempunyai pikiran luas!"

Kata-kata yang mengandung filsafat tinggi itu, bukan saja Hee Thian siang dan Tiong-sun hui kheng berdua yang mendengarkan merasa berdebaran, bahkan U-tie Khao sendiri yang merupakan seorang tua yang sudah banyak pengalaman, juga sangat kagum akan pikiran Tiong-sun Seng semacam itu.

Sehabis memberikan pesan kepada anaknya, kembali Tiong-sun Seng berkata sambil tertawa: "Kheng-ji, penuturanku tadi yang secara tiba tiba aku memberikan pelajaran kepadamu, hanya lantaran aku melihat pikiranmu seperti terganggu, tidak seperti biasa yang bisa memikirkan dengan tenang, barulah. "

"Ayah, dalam hal mana, anakmu tampak kebodohannya ?" menyelak Tiong-sun Hui Kheng. "Waktu aku baru melayang turun dari atas gunung itu, kau seharusnya sudah melihat bahwa tindakanku itu agak aneh !"

"Aku sudah tahu bahwa ayah melayang turun dari tempat tinggi sepuluh tombak lebih, kegesitan gerakan ayah ini, berbeda dengan biasa, rupanya apa yang ayah cari sudah lama itu belum ayah memahami benar benar, kini sudah berhasil ayah pahami ! Ilmu itu bukankah ilmu Thay-it Tiang- hian Sin-keng ? Karena tadi sebelum anak mengajukan pertanyaan, ayah sudah menegor lebih dahulu, dan kemudian memberi pelajaran yang sangat berharga itu, sehingga anakmu tidak ada kesempatan untuk mengajukan pertanyaannya. Apakah ayah masih tega untuk menggoda anakmu sendiri ?"

Tiong-sun Seng berkata kepada Hee Thian siang sambil tersenyum : "Hee laote, sejak aku berpisah denganmu digunung Hay-lai-san, sebetulnya ingin pergi keselat Ok-kui digunung Lauw-san, lebih dahulu untuk menjajaki kepandaian Pek-kui Ie-su, tetapi kemudian berpikir, dari pada mengulur keadaan orang lain, lebih baik mempersenjatai diri sendiri, maka kemudian, aku mencari suatu tempat yang sunyi buat ilmuku Thay-it Tiang-hian Sin-kang yang sudah sekian lama kupelajari, tetapi selama itu belum pernah berhasil, kini telah kupelajari sungguh-sungguh"

"Dengan cara bagaimana ayah tiba-tiba berhasil mempelajari ilmu yang selama itu tidak pernah dipelajari dengan baik-baik ?" bertanya Tiong-sun Hui Kheng.

"Dengan tidak disengaja bertemu dengan suhu Hee laote, ialah Pak-bin Sin-po. Kami berdua dalam waktu senggang selalu saling menukar pikiran, membicarakan berbagai ilmu silat yang kita pelajari, dengan cara demikian, aku telah menarik banyak faedah, banyak sekali kesulitan-kesulitan dahulu yang kualami dalam mempelajari ilmuku Thay-it Tiang- hian Sin kang itu, kini telah berhasil terpecahkan!" berkata Tiong-sun Seng sambil tertawa. Hee Thian siang bertanya : "Dimana suhu boanpwe? mengapa suhu tidak bersama-sama locianpwe datang kemari

?"

"Suhumu sendiri. selama bertukar pikiran dan mempelajari bersama-sama, kepandaian ilmu silatnya sendiri telah mendapat kemajuan pesat sekali, ia tidak bisa menghadiri lagi pertemuan besar digunung Ki-lian ini, kini sudah balik kembali kegunung Pak-bin, siap untuk meninggalkan keduniawian !" menjawab Tiong-sun Seng sambil tertawa. "Sebanding dengan Hong Poh locianpwemu, maka waktunya aku meninggalkan dunia yang fana ini, barangkali masih dua tahun kemudian lagi !"

Mendengar ucapan itu, hati Tiong-sun Hui Kheng agak lega, dengan mata berkaca-kaca ia memandang kepada ayahnya, kemudian berkata :

"Kejadian pada dua tahun kemudian, masih belum bisa ditentukan dari sekarang, bagaimana demikian tepat ayah memberitahukan kepadaku, sehingga membuat pikiran anakmu merasa berduka ?"

"Aku memberitahukan lebih dahulu kepadamu, itu memang ada sebabnya, nanti setelah pertemuan besar digunung Ki-lian berakhir, adik Siangmu pulang kembali kegunung Pak-bin untuk menunggu suhunya yang hendak meninggalkan dunianya, kau juga harus mengikut aku untuk mencari tempat guna mempelajari ilmu Thay-it Tiang-hian Sin-kang selama satu tahun, dengan demikian barulah nanti dapat menghadapi segala kesulitan yang ada didunia ini !"

"Dengan tidak hadirnya Hong-poh locianpwee, dipihak kita kurang seorang tenaga penting untuk menghadapi Pek-kut san-mo, situasi dalam pertemuan besar digunung ki-lian itu sudah sangat berbahaya. Bagaimana ayah bisa mengatakan bahwa dikemudian hari masih ada kesulitan yang lebih besar lagi ?" bertanya Tiong-sun hui kheng terkejut. "Didalam pertemuan besar digunung Ki-lian nanti, meskipun kurang seorang Hong-poh locianpweemu tetapi oleh karena aku sudah berhasil menahami ilmu Thay-it Tiang-hian Sin-kang, dan adik Siangmu sendiri juga banyak mendapatkan penemuan ajaib, dapat digunakan untuk hadapi lawan lawan tangguh. Orang-orang dari golongan Ngo-bie, Siao-lim, Bu- tong, Lo-hu dan Swat-san, lima partai besar, semua juga merupakan tenaga tenaga ampuh, maka, meskipun belum tentu kita mendapat kemenangan total, tetapi juga tidak sampai menjumpai bahaya terlalu besar. Dan menurut apa yang diketahui oleh Hong-poh locianpwee mu, kawanan orang-orang jahat diluar perbatasan kini telah timbul pikiran hendak menguasai rimba persilatan daerah Tiong-goan, dan pada waktu yang tidak lama lagi, orang-orang itu akan bergerak. Mereka semuanya terdiri dari orang-orang yang sangat jahat, buas dan memiliki kepandaian yang sangat tinggi, orang-orang itu apabila bergabung dengan orang-orang dari partai baru dan Pek-kut sam-mo, bukankah akan menjadi suatu bahaya besar dikemudian hari ?" berkata Tiong-sun Seng sambil menarik napas panjang.

"Siapa saja yang dinamakan sebagai kawan orang orang jahat dari luar perbatasan, oleh suhu itu ?" bertanya Hee Thian siang yang merasa terkejut juga heran.

"Mereka adalah sekelompok manusia-manusia jahat golongan rimba persilatan yang berada diluar perbatasan daerah Tiong-goan, umpamanya Raja siluman dari Pat-beng, tiga manusia kerdil dari lautan timur, sepasang manusia aneh berbisa, empat orang yang menamakan dirinya orang agung dari daerah barat dan lain-lainnya. Apakah Hee laotee belum pernah mendengar cerita suhumu ?" menjawab Tiong-sun Seng.

"Boanpwee hanya dengar suhu pernah menyebut tentang diri Raja siluman Pak-mo yang bernama Hian-wan-liat, katanya ia itu sebetulnya orang bangsa Han, oleh karena kakek monyangnya dahulu melanggar hukum sehingga dibuang kedaerah luar perbatasan, dan ia sendiri kemudian masuk menjadi warga negara Pak mo! Suhu dahulu sewaktu pergi pesiar kedaerah barat laut, pernah berjumpa dengannya, satu sama lain juga pernah merundingkan soal ilmu silat, agaknya kepandaian ilmu silat orang itu jauh lebih tinggi dari pada kepandaian ilmu silat suhu sendiri !" berkata Hee Thian siang.

"Sekarang ini tiga menusia kerdil dari negara timur, sepasang manusia aneh berbisa, empat orang yang menamakan diri empat manusia agung dari daerah barat dan lain-lain, semua sudah mengangkat Raja siluman dan Pak Beng sebagai pemimpin, siap hendak mengacau rimba persilatan daerah Tiong-goan. Maksud mereka hendak menjagoi rimba persilatan. Maka itu, setelah pertemuan besar digunung Ki-lian ini semua selesai, aku hendak mengajak enci Hui Kheng-mu untuk melatih kepandaian ilmu yang sangat ampuh selama satu tahun! Hee laotee sendiri nanti kalau pulang kegunung Pak-bin, pasti juga akan diberi pelajaran kepandaian ilmu simpanan suhumu. aku harap laotee supaya belajar dengan tekun, sebab ancaman bahaya dikemudian hari bagi kita orang dari angkatan tua, barangkali sudah tidak akan mengalami lagi, maka itu tugas yang dibebankan kepada kalian sangat berat sekali, tugas itu merupakan suatu tugas yang membela keadilan dan kebenaran dunia Kang-ouw, oleh karenanya, jangan sampai kalian lalaikan !" berkata Tiong-sun Seng sambil menganggukkan kepala.

Hee Thian siang menerima baik pesan itu, tetapi dalam hati, ketika mengingat kalau pertemuan digunung Ki-lian ini selesai, ia sendiri harus pulang kegunung Pek-bin untuk mengantar suhunya yang hendak pulang ke alam baka, hingga ia harus seorang diri melatih dengan tekun palajaran ilmu yang ditinggalkan oleh suhunya, hidup jika seorang diri pasti sangat kesepian! Tiga kekasihnya, yang satu, ialah Hok Siu In masih belum diketahui sudah mati atau masih hidup, dan Liok Giok Ji masih belum ditemukan, sedangkan Tiong sun Hui Kheng juga akan mengikuti ayahnya untuk berlatih ilmu silat selama satu tahun. Karena memikir semua itu, Hee Thian siang menunjukkan sikap murung.

Tiong sun Hui Kheng menyaksikan sikap Hee Thian siang, ia dapat menebak isi hatinya, ia sendiri juga merasa sedih, namun masih menghibur padanya seraya berkata :

"Adik Siang, jangan bersedih, aku mengikuti ayah belajar ilmu silat, hanya dalam waktu satu tahun saja, sebelum aku berangkat, biarlah nanti aku tinggalkan Siaopek, Taywong dan kuda Ceng-hong-ki kepadamu, supaya kau jangan terlalu kesepian."

Hee Thian siang sangat bersyukur kepada kekasihnya itu. Baru saja ia hendak mengucapkan terima kasihnya, Tiong-sun Seng sudah berkata sambil tersenyum :

"Kheng-ji, kau tinggalkan saja kudamu Ceng-hong-ki untuk mengawani adik Siangmu, sedang Siaopek dan Taywong aku hendak bawa pergi !"

"Untuk apa ayah hendak bawa Siaopek dan Taywong ? Apakah juga hendak mempelajari mereka kepandaian ilmu yang baru ?" bertanya Tiong-sun Hui Kheng heran.

"Dugaanmu ini tepat, sebab raja siluman dari Pat Beng, juga ada memelihara beberapa ekor binatang dan burung burung aneh, maka aku juga akan menggunakan kepandaian yang kumiliki, untuk mendidik siaopek dan Taywong menjawab Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa.

"Mengenai soal kawanan penjahat dari daerah luar perbatasan yang ingin menguasai rimba persilatan daerah Tiong-goan, diwaktu ini masih belum terlalu mendesak, kita boleh tunda dulu, sebaliknya untuk menghadapi pertemuan besar digunung Ki-lian sekarang ini, oleh karena pihak kita kekurangan seorang tenaga penting, ialah tidak hadirnya suhu Hee laote, maka itu, siasat kita untuk menghadapi musuh juga perlu tiadakan perobahan dengan susunan yang baru lagi, alangkah baiknya apabila saudara Tiong-sun bisa menyusun suatu rencana yang lebih baik, supaya kalau tiba saatnya jangan kita menjadi kalut sendiri."

"Partai-partai besar yang mengikuti pertandingan dalam pertemuan besar kali ini, jumlahnya banyak sekali, kita hanya dapat memberi usul saja, tidak berani menyusun rencana secara gegabah. Biarlah kuperhitungkan dahulu, dipihak lawan semuanya ada berapa jumlah tokoh-tokoh yang termasuk paling kuat." berkata Tiong-sun Seng sambil tertawa.

Sehabis berkata, ia lalu memulai menyebutkan satu persatu nama-nama tokoh pihak lawan: "Pek-Kut Thian-kun, Pek-kut Ie-su, Pek-kut Siancu dan lain-lain, tiga iblis dari golongan Pek-kut. Khi Tay Cao yang menjadi pemimpin golongan Ki- Lian, juga bertindak sebagai tuan rumah, Pek-thao Losat Pao Sam Kow, Thiat-koan Totioang.............. disamping itu masih ada Siang Swat Siancu Leng Biaw Biauw dan Kiu-Thian Mo-li Tang Siang Siang, yang juga merupakan tokoh-tokoh kuat !"

Tiong Sun Hui Kheng segera memotong ucapan ayahnya, katanya sambil tertawa : "Ayah jangan masukkan Siang Swat Siancu Leng Biauw Biauw dan Kiu Thian Mo-li Tang Siang- Siang dalam bagian lawan !"

Tiong-sun Seng agaknya mengerti maksud anaknya, maka sambil menatap wajah Hee Thian Siang yang agaknya belum mau percaya benar, ia berkata : "Hee laote, ketika aku berada digunung Ay-lao-san, aku pernah minta padamu bersama Kheng dji supaya berusaha untuk melenyapkan permusuhan antara May Ceng Ong dengan Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang, apakah tugas itu sudah diselesaikan ?"

Sebelum Hee Thian Siang menjawab, sudah didahului oleh Cong-sun Hui Kheng : "Sudah, Yah ! Tugas itu sudah kami selesaikan dengan baik !" Setelah itu ia lalu menceritakan bagaimana mereka telah berusaha memancing May Ceng Ong sehingga kemudian bertemu kembali dengan kedua istrinya, ialah Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang, dan akhirnya rujuk kembali.

Tiong-sun Seng setelah mendengar penuturan ini, sangat mengagumi kecerdikan Hee Thian Siang dan putrinya, maka setelah berpikir sejenak lalu berkata :

"Kini Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang sudah meninggalkan Ki-lian, bersama-sama May Ceng Ong hidup digunung Ko-le Kong-San, kalau begitu tokoh-tokoh kuat dipihak lawan hanya tinggal Pek-kut Sam-mo saja ! Aku nanti yang akan menghadapi Pek-kut Ie-su " 

Sebelum melanjutkan ucapannya, sudah dipotong oleh Hee Thian Siang, katanya : "Jikalau menurut rencana Duta Bunga Mawar, boanpwee-lah ....., yang akan menghadapi Pek-kut Thian-kum !"

Tiong Sun Seng memandang Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil tersenyum : "Diantara tiga iblis itu, adalah Pek- kut Thian-kun yang berkepandaian paling tinggi, ini agaknya terlalu berbahaya! Duta Bunga Mawar suruh kau menghadapi Pek-Kut Thian-Kun, rencana ini mungkin hanya merupakan suatu rencana sementara, tidak boleh dianggap suatu kepastian. Nanti biarlah akan kutinjau dulu situasinya, kemudian pikirkan siasatnya. Kita tidak boleh menempuh bahaya, juga tak perlu memaksa Hee laote menghadapi lawan yang paling tangguh !"

Hee Thian Siang yang semula penuh kepercayaan atas kepandaiannya sendiri, kini setelah mendengar Tiong-Sun Seng berkata demikian, rupanya merasa kecewa, tetapi oleh karena Tiong-Sun Seng adalah orang dari tingkatan tua, juga merupakan ayah dari Tiong-Sun Hui Kheng, ia tidak berani membantah, terpaksa menyimpan semua perasaannya sendiri sambil mengerutkan alisnya. Sementara itu Tiong-Sun Seng lalu berkata lagi sambil menepok-nepok bahu Hee Thian Siang: "Hee laote, kau benar-benar sangat berani, sekarang ini kau jangan merasa kecewa dahulu, mungkin orang-orang dari lima partai besar itu tidak ada yang sanggup menghadapi Pek-Kut Thian-Kun. Nah, jikalau benar demikian, bukankah masih ada kesempatan bagimu untuk mencoba ?"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan ini, wajahnya menjadi merah, lalu saling berpandangan dengan Tiong-Sun Hui Kheng sambil tertawa.

Sementara itu U-lie Khao juga berkata, "Walaupun sudah ada Hee laote yang menghadapi Pek-Kun Thian-Kun, tetapi masih ada Pek-kun Siancu, tidak ada orang lain yang menghadapi. Apakah saudara Tiong-sun sudah perhitungkan hal itu?"

"Orang-orang dipihak kita hanya ada sekian banyaknya, terpaksa kita nanti akan pilih orang-orang dari golongan lima partai besar, harus menghadapi Pek-Kut Siancu!"

"Menurut pandangan ayah, diantara orang-orang dari partai besar yang akan datang nanti, siapakah yang memiliki kepandaian ilmu silat paling tinggi?" bertanya Tiong-Sun Hui Kheng.

"Orang-orang dari berbagai partai besar, kepandaian mereka berlainan, maka sampai dimana tingginya kepandaian ilmu silat mereka, masih susah dibicarakan. Apa yang aku tahu, Hong Hoa Cinjin, ketua partai Bu-Tong, Peng-Sian Siansu pemimpin Siao-Lim, Sinto Sinkun ketua partai Swat- San, Hian Hian Sianlo, ketua partai Ngo-bie dan Peng-sim Since, ketua partai Lo-hu, semua merupakan tokoh-tokoh kuat kelas atas. Pada saatnya terpaksa kita harus menilik dahulu keadaan dan kekuatan ilmu kepandaian Pek-kut Siancu, barulah mengadakan perhitungan dan memilih orangnya yang harus menghadapinya !" berkata Tiong-sun Seng sambil tertawa.

"Apakah ketua dari lima partai besar pasti akan datang semua?" berkata Hee Thian Siang.

"Semua orang-orang dari lima partai besar tahu, bahwa partai Ki-Lian bersama partai Tiam-cong telah membentuk gabungan partai baru yang dinamakan partai Ceng-Thian-Pay, dan berkomplot dengan Pek-kut Sam-mo guna mengadakan pertemuan besar ini. Maksud dan tujuannya ialah hendak merebut kedudukan sebagai jago atau pemimpin rimba persilatan. Apabila kita tidak lekas bertindak untuk mengagalkan maksud mereka ini pada waktu sekarang ini selagi mereka belum tumbuh sayap. Di lain waktu, pasti akan menimbulkan bencana besar. Oleh karenanya, kecuali ketua Siao-Lim Peng Sian Siansu yang mungkin karena usianya yang sudah terlalu lanjut, yang mungkin hanya bisa mengirim wakilnya, untuk menghadiri pertemuan itu. Para ketua empat partai lainnya, pasti akan datang sendiri bersama-sama anggota yang terpilih !" berkata Tiong-sun Seng sambil menganggukkan kepala.

Hee Thian Siang tiba-tiba ingat sesuatu, ia bertanya sambil tersenyum, "Sewaktu Hee Thian Siang berkunjung ke puncak Tiauw-in-hong, enci Hwa Ji Swat pernah berkata bahwa dalam pertemuan besar digunung Ki-lian itu, ia akan datang bersama-sama It-pun Sinceng, untuk membantu partai Bu- tong dan Siao-Lim, sebagai usaha untuk menebus dosa atas kesalahannya dahulu yang membuat kebinasaanya dua anggota dari kedua partai tersebut."

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu, lalu menarik baju ayahnya serta berkata; "Ayah, kalau enci Hwa benar akan datang kemari, bukankah ia boleh diminta untuk menghadapi Pek-kun Siancu ?" "Enci Hwa-mu meskipun kepandaian ilmu silatnya tidak tercela, tetapi barangkali masih belum dapat direndengkan dengan kemahiran kepandaian ketua lima partai besar !" menjawab Tiong-sun Seng sambil menggelengkan kepala.

"Dan bagaimana dengan It-pun Sinceng ?" bertanya Hee Thian Siang dengan tersenyum.

"Padri yang masih muda dan yang berwajah tampan itu, dalam kalangan Kang-auw terkenal sebagai seorang yang baik hati dan suka mendamaikan segala pertikaian. Ia belum pernah melakukan pertandingan dengan orang lain, maka sampai dimana tinggi kepandaian ilmu silatnya, barangkali saudara Tiong-sun sendiri juga tidak tahu." berkata U-tie Khao sambil tertawa.

Terhadap urusan rimba persilatan, saudara U-tie jauh lebih tahu daripadaku, kalau kau sendiri masih belum tahu sampai dimana tingginya kepandaian ilmu silat It-Pun Sinceng, sudah tentu aku sendiri juga tidak tahu!" berkata Tiong-sun Seng sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Berkata sampai disitu, diatas jalan gunung, dari satu tikungan tiba-tiba tampak sebuah tandu besar. Empat orang laki-laki pengusung tandu itu semua memakai pakaian warna hitam dengan sulaman gambar tengkorak manusia. Dibelakang tandu diiringi oleh seorang berbaju hitam yang berbadan kurus kering. Dalam tandu itu tampak duduk seorang yang mengenakan pakaian seperti raja, oleh karena tandu itu berjalan terlalu cepat, sehingga wajahnya tidak tampak jelas. Oleh karena waktu itu Tiong-sun Seng dan yang lainnya pada berdiri disatu tikungan dibawwah bukit, maka hanya sepintas lalu saja berlalunya tandu itu, sudah teraling oleh bukit-bukit lagi.

"Hmm, orang yang duduk didalam tandu yang berpakaian seperti raja itu, mungkin adalah orang yang dinamakan Pek- kut Thian-kun itu !" berkata Tiong-sun Hui Kheng. "Dugaan nona Tiong-sun ini barangkali tidak salah, tadi aku samar-samar telah melihat dikedua sisi tandu itu, ada terdapat sepasang papan lian .... " berkata U-tie Khao sambil menganggukkan kepala.

"Tulisan diatas lian itu, aku sudah lihat dengan nyata !" berkata Hee Thian Siang.

"Padangan mata laote sungguh hebat, entah apa yang ditulis diatas lian itu? Bisa kau ceritakan kepada kita?" berkata U-tie Khao dengan pujiannya.

Hee Thian Siang mengawasi Tiong-sun Seng sejenak, agaknya merasa keberatan. Tiong-sun Seng yang juga sudah melihat sendiri tulisan diatas lian itu, tetapi ia tidak merasa keberatan, maka lalu berkata sambil tersemyum;

"Hee hiantit, tidak halangaan kau ceritakan saja,sebab orang-orang dari golongan sesat kebanyakan demikian jumawa sikapnya."

Mendengar ucapan itu Hee Thian Siang membacakan tulisan yang dilihatnya dari papan lian itu, "Dibagian atas terdapat tulisan yang berbunyi: 'THIAN-GWA CENG-MO AKAN BINASA DALAM TIGA JURUS', sedangkan dibagian bawah ditulis: 'HONG-TIM ONG-KHEK TERBANG NYAWANYA DALAM SATU PULULAN'. Diatas tandu masih terdapat tulisan yang berbunyi: 'PAK-BIN HANCUR HATINYA'

!".

U-tie Khao yang mendengar penjelasan itu lantas berkata sambil tertawa dingin, "Sungguh sombong, berani mengeluarkan ucapan demikian. Agaknya tidak pandang mata dengan sekaligus hendak membasmi tiga tokoh kuat dalam rimba persilatan pada dewasa ini !"

"Saudara U-tie, kita tidak dapat menyalahkan Pek-kut Thian-kun yang berani membuat demikian rupa, orang itu memang benar memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali

! Kau seharusnya sudah melihat sendiri, bukan saja orang tua berbaju hitam seperti tengkorak hidup mengikuti dibelakang tandunya itu ada memiliki kekuatan dan kepandaian yang sangat tinggi sekali, bahkan empat pengusung tandu juga bukan orang-orang dari golongan sembarangan !"

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu lantas berkata kepada Hee Thian Siang; "Adik Hee, dengar tidak? Pek-kun Thian-kun yang sudah memiliki kekuatan tenaga dalam dengan latihan bertapa puluhan tahun bukanlah satu lawan sembarangan. Meskipun kau sudah mendapat beberapa macam kepandaian ilmu baru, tetapi kekuatan tenaga dalammu masih selisih jauh, maka apabila tidak terpaksa jangan gegabah melakukan serangan !"

Meskipun dalam hati Hee Thian Siang merasa penasaran tetapi diluarnya tidak berani membantah, dan terima baik pesan kekasihnya itu. Tanggal enambelas bulan dua, pagi- pagi sekali dibawah kaki gunung Ki-lian-san tampak empat bayangan orang. Mereka adalah rombongan partai Ngo-bie- pay yang dipimpin oleh ketuanya Hian-hian Sian-lo. Hian-hian Sian-lo ketika berjumpa dengan rombongan Tiong-sun Seng yang tiba lebih dahulu, lalu menghampirinya dan menyapanya, kemudian bertanya kepada U-tie Khao;

"Saudara U-tie, mengapa Hok Sui In tidak turut serta, apakah ia tidak berani ?"

Ditanya demikian, wajah U-tie seketika menjadi merah, mulutnya gelagapan. Sebelum dapat menjawab, Tiong-sun Hui Kheng memberikan keterangan lebih dahulu. Ia memberitahukan kepada Hian-hian Sian-lo, tentang nasib yang dialami Hok Siu In.

Hian-hian Sian-lo dan tiga jago dari Ngo-bie, semua terkejut ketika mendengar penuturan itu, dan meminta penjelasan lebih jauh kepada U-tie Khao. U-tie Khao lalu menceritakan kembali semua apa yang terjadi atas diri Hok Siu In. Hian-hian Sian-lo seorang ketua dari salah satu partai besar, sudah tentu memiliki ketenangan luar biasa, setelah mendengar keterangan U-tie Khao, ia berkata sambil menghela napas:

"Hok Siu In, selain seorang gadis yang sangat pintar, juga bukanlah seorang yang berumur pendek. ia juga memiliki hati sangat baik. Aku masih sangsi bahwa bunga yang sedang mekar dalam rimba persilatan ini benar-benar menemukan ajalnya. Keadaan waktu itu, sekalipun bahaya baginya, tetapi U-tie toh tidak menyaksikan kematiannya, maka aku berani menduga ia pasti mendapat pertolongan! Ucapan saudara Tiong-sun tadi ada benarnya, kita yang sedang menghadapi tugas berat untuk membasmi kawanan penjahat, seharusnya curahkan semua pikiran dan tenaga untuk menghadapi kawanan penjahat itu. Urusan mengenai Hok Siu In, meskipun sangat menyedihkan, tetapi untuk sementara kita boleh tinggalkan dahulu. Nanti setelah pertemuan besar digunung Ki-lian ini selesai, kita akan mengerahkan semua kekuatan tenaga yang ada dari golongan Ngo-bie untuk mencari jejak Hok Siu In !"

Setelah itu ia berpaling dan berkata kepada Siu-lang Tokow bertiga, "Sumoy bertiga, dengan tidak adanya Hok Siu In, maka barisan Su siang-tui-hun-kuan-tin, kalian kekurangan satu tenaga inti. Dengan demikian sudah tentu kehebatannya jauh berkurang! Apalagi pihak lawan kita mendapat banyak bantuan orang-orang jahat yang berkepandaian sangat tinggi. Oleh karenanya, jikalau tidak ada perintahku, jangan coba- coba turun tangan terhadap musuh karena hal itu bisa membawa akibat menjatuhkan nama baik golongan Ngo-bie !"

Sin-lang bertiga menerima baik pesan itu, mereka juga sangat berduka dengan tidak hadirnya sumoy mereka Hok Siu In. Tiong-sun Hui Kheng yang ingin memecahkan suasana duka itu, lalu berkata kepada Hian-hian Sianlo; "Sianlo, sekarang waktunya sudah tidak pagi lagi. kita harus berangkat ke goa Siang-Swat-Tong untuk menghadiri pertemuan. Tahukan Sianlo bahwa Pek-kun Sam-mo juga sudah ditarik oleh mereka untuk membantu pihak Ki-lian pay dan Tiam cong pay ?"

"Justru karena mendengar kabar bahwa Pek-kut Sam-mo hendak membantu partai baru Ceng thian-pay, maka dengan memecahkan tradisi Ngo-bie-pay aku menurunkan ilmu pedang simpanan Ngo-bie-pay yang sebetulnya hanya boleh diturunkan kepada calon ketua saja, kepada ketiga sumoy-ku." Berkata sampai disitu, kemudian berpaling dan berkata kepada Hee Thian Siang: "Hee laote, suhumu Hong-poh, kapan kiranya akan tiba disini ?"

"Sudah dekat waktunya untuk pulang ke Sorga, kini sedang bertapa digunung Pek-bin, sehingga tidak dapat datang hadir pada pertemuan ini !" menjawab Hee Thian Siang dengan sangat hormat.

Hian-hian Sianlo yang mendengar jawaban itu, alisnya dikerutkan. Ia mengawasi Tiong-sun Seng sejenak, nampak ia hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya dibatalkan.

Tiong-sun Seng agaknya sudah mengerti maksud Hian- hian Sianlo maka ia berkata sambil tertawa, "Apakah sianlo anggap dengan tidak datangnya Hong-poh, khawatir tidak ada orang yang dapat menundukkan Pek-kut Sam-mo ?"

Hian-hian Sianlo khawatir Tiong-sun Seng salah paham, maka buru-buru menjawab sambil tertawa, "Meskipun Hong- poh Sin-po tidak datang tetapi dengan adanya saudara Tiong- sun disini, rasanya sama juga "

"Sianlo jangan coba memuji diriku, dengan mengandalkan aku seorang, bagaimana dapat menghadapi Pek-kut Sam- mo?" "Tetapi dari dahulu kejahatan tidak dapat menguasai kebenaran selama-lamanya, maka itu apabila keadaan memaksa, aku terpaksa menghadapi sekuat tenaga! Apalagi dalam pertandingan hari ini, paling banter cuma dapat memberi pukulan kepada orang-orang yang bernafsu besar hendak mendirikan partai baru, karena rimba persilatan masih akan menghadapi ancaman bahaya yang lebih besar, kira-kira tiga tahun kemudian, barulah ada kemauan."

Mereka berjalan sambil mengobrol, tahu-tahu tiba didepan goa Siang-swat-tong. Kedua samping goa, ditempat yang tinggi, dibangun dua bangunan untuk tempat duduk penonton. Tengah-tengah diantara dua bangunan itu, adalah lapangan seluas kira-kira sepuluh tombak persegi, untuk tempat pertandingan. Dalam dua bangunan itu, sudah disediakan meja-meja perjamuan bersama beberapa penjaganya yang terdiri dari anggota-anggota Ceng-thian-pay angkatan muda. Rombongan tuan rumah duduk dalam bangunan sebelah kiri, sedangkan rombongan fihak tamu duduk dalam bangunan sebelah kanan.

Waktu itu, anggota-anggota penting Ceng-thian pay masih belum nampak, sebetulnya dalam rombongan fihak tamu sudah tidak sedikit jumlah orang yang datang. Ketika pandangan mata Tiong-sun Seng ditujukan kedalam bangunan tuan rumah, tampak seorang pendek dengan dandanannya yang aneh, bersama seorang berperawakan tinggi besar berkulit hitam berkepala besar.

Dalam bangunan pihak tamu, tampak Hong-hoat Cinjin, ketua partai Bu-tong bersama ketua golongan Swat-san, Peng-pek Sin-kun bersama istrinya Mao Giok Ceng, dan Swat-san Penglo, Leng Pak Ciok; anggota pelindung hukum Siao-Lim tingkat Tianglo, Thian-hong Thianio Peng-sim Sin-nie dari golongan Lo-hu bersama Ca Bu Kao dan Su-to Wie serta Say-han kong dan lain-lain. Tiong-sun Seng berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa, "Hee hiantit, orang-orang penting dipihak kita sini sudah datang semua. Ketua Siao-lim-pay, meskipun tidak datang, tetapi sudah mengirim wakilnya, seorang tokoh terkemuka dalam partainya Ceng-kak Siansu dibantu oleh Thian-hong Tianglo. Darisini kita dapat mengetahui bahwa pertemuan kali ini sudah dianggap penting oleh mereka. Untuk membasmi kawanan penjahat, menegakkan kebenaran dan keadilan, nampaknya semua sudah bersatu tujuan. Hal ini sesungguhnya jarang terjadi didalam riwayat rimba persilatan

!"

Sambil bicara, jago tua itu sudah berjalan masuk kebangunan sebelah kanan. Kedatangannya itu disambut oleh para tokoh rimba persilatan. Mereka pada berdiri dan menyambut mesra kedatangannya serta mempersilahkan duduk.

Hee Thian Siang yang sudah lama tidak bertemu dengan Say-han-kong, Ca Bu Kao dan lain-lain, sudah tentu segera duduk bersama-sama sambil ngobrol.

Sementara itu, Tiong-sun Hui Kheng berkata kepada ayahnya dengan suara perlahan, "Ayah, coba ayah lihat! Kecuali partai Kun-lun, karena terjadi peristiwa mengenaskan hari ini, hingga tidak ada orang yang bisa hadir, yang lainnya seperti partai-partai Swat-san, Lohu, Ngo-bie, Bu-tong dan Siao-Lim, lima partai besar, semua sudah mengutus orang- orangnya yang terkuat. Tapi mengapa Hwa suci dan It-pun Sin Ceng hingga saat ini masih belum tampak?"

"Enci Hwa-mu itu selamanya memang suka berlaku misteri, mungkin orangnya sudah lama datang, tetapi entah sedang membuat rencana apa secara menggelap." jawab Tiong-sun Seng sambil tertawa. Pada saat itu, pelindung hukum Siao-Lim, Ceng Kak Siansu, karena melihat waktunya sudah hampir tiba, maka lalu berkata:

"Sekarang sudah hampir tengah hari, nanti setelah upacara berdirinya partai Ceng Thian pay selesai, suatu pertemuan hebat dan sengit dalam rimba persilatan pasti tidak dapat dielakkan lagi. Dipihak sana ada Pak-kut Sam-mo sebagai pelindung hukum. Kekuatan mereka tidak dapat kita pandang sepele. Untuk kepentingan kita dan kebaikan kita, sebelum pertandingan dimulai, ada baiknya kalau diadakan pemilihan siapa kiranya yang memiliki kecerdikan dan bisa mengatur siasat. Dia boleh kita angkat sebagai pemimpin rombongan."

Tiong-sun Seng yang mendengar ucapan itu lalu menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa, "Ucapan Siansu memang benar. Menurut pandanganku, ketua Bu-tong- pay, Hong-hoat Cinjin selain seorang beribadat tinggi, juga memiliki kecerdikan "

Belum habis ucapannya, Hong hoat Cinjin sudah bangkit sambil tersenyum, kemudian menganggukkan kepala dan berkata sambil memuji nama Budha, "Ucapan Tiong-sun tayhiap seperti ini, bukankan hanya membuat malu pinto saja? Diantara tokoh-tokoh rimba persilatan yang hari ini ada disini, baik kepandaian ilmu silat maupun kecerdikan dan pengalamannya dalam dunia kang-ouw, pinto kira hanya Tiong-sun Tayhiap-lah yang kiranya paling tepat kalian pilih. Maka tugas sebagai pemimpin rombongan ini, pinto rasa tepatlah kalau Tiong-sun Tayhiap juga yang memegang."

Usul Hong-hoat Cinjin itu didukung oleh Ceng-kak Siansu dari Siao-Lim, Peng-sim Sin-nie dari Lo-hu, Peng-pek Sin-kun dari Swat-san, dan Hian Hian Sianlo dari Ngo-bie-pay.

Karena wakil-wakil dari lima partai besar semua mendukung pengangkatannya, maka Tiong-sun Seng terpaksa tak dapat menampik lagi. Hong-hoat Cinjin berkata sambil tertawa, "Kini sudah kita angkat pemimpinnya. Pinto minta kepada tuan-tuan sekalian, patuhilah segala perintahnya. Sebentar apabila pertandingan berlangsung, jikalau tidak ada ijin dari Tiong-sun Tayhiap, siapapun tidak boleh berlaku lancang, supaya jangan timbul kericuhan dalam pihak kita sendiri."

Semua tokoh menganggukkan kepala sambil tersenyum. Saat itu pandangan mata Tiong-sun Seng sedang ditujukan kepada seorang aneh yang ada didalam bangunan seberang lain. Yang sangat mencolok ialah orang itu selain tubuhnya yang pendek, juga kulitnya hitam legam. Maka, bertanyalah ia kepada para ketua partai :

"Saudara-saudara, tahukan bahwa kawanan penjahat di luar perbatasan daerah Tiong-goan telah mengangkat Raja siluman Pat-mo sebagai kepala untuk mengacau dalam rimba persilatan daerah Tiong-goan?"

Peng-sim Sin-nie menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa: "Sebelum Tiong-sun tayhiap sampai, kami justru sedang mendengarkan perundingan ketua Bu-tong dan ketua Swat-san tentang urusan perundingan ini."

"Di sebrang sana orang aneh yang bertubuh pendek berpakaian aneh. Kalau dilihat dari sikap dan dandanannya, mirip dengan orang luar daerah Tiong-goan. Mungkinkah dia itu salah satu dari tiga orang katai negara Timur dan sepasang manusia aneh beracun, yang datang untuk meninjau atau memeriksa keadaan rimba persilatan daerah Tiong-goan?"

Tiong-sun Seng baru berkata sampai disitu, tiba-tiba terdengar suara genta berbunyi tiga kali. Kawanan penjahat yang akan mendirikan partai baru Ceng-thian-pay, semuanya dengan sikap jumawa dan bangga, berjalan keluar dari dalam goa Siang-swat-tong. Upacara pembukaan partai baru Ceng- thian-pay ni ternyata sangat sederhana sekali. Upacara dibuka oleh salah seorang anak murid dari partai baru itu dengan menghadap kepada Pek-kut Thian kun, Pek-kut Ie-su dan Pek-kut Sian-cu tiga anggota pelindung hukumnya, serta kepada ketua kuil Thiat-koan Totiang, berlutut sambil mengucapkan sumpah, lalu selesailah sudah upacara tersebut.

Hong-hoat Cinjin yang menyaksikan upacara secara demikian, lalu berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala: "Apakah ini yang dinamakan upacara pembukaan partai baru? Sungguh tidak habis dimengerti. Dengan begitu, mereka masih ada muka mengundang kita orang dari jauh untuk menyaksikan upacara ini...?"

Peng-pek Sin-kun segera menyambutnya sambil tertawa: "Upacara pembukaan partai baru dari kawanan penjahat Ceng-thian-pay ini hanyalah suatu alasan saja. Maksud dan tujuan yang utama dari mereka, ialah hendak memancing dan mengumpulkan orang-orang golongan baik-baik, untuk dibasmi semuanya! Oleh karena itu, tidaklah heran upacara itu demikian sederhana."

Baru saja menutup mulut, anggota-anggota terpenting dari Ceng-thian-pay, semua sudah masuk ke bangunan sebelah kiri. Dan, Khie Tay Cao yang bertindak selaku pemimpin, berjalan maju ke depan, dan menghadap kepada tokoh-tokoh di pihak Hong-hoat Cinjin dan lain-lainnya, berkata sambil memberi hormat:

"Hari ini sahabat-sahabat dari berbagai partai dan golongan, telah berkumpul di gunung Ki-lian, hal ini sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang patut dicatat dalam sejarah rimba persilatan. Khi Tay Cao sudah menyediakan sedikit barang hidangan, nanti setelah sahabat- sahabat duduk bersama-sama untuk minum dan dahar, sebagaimana kebiasaan Kang-ouw, ada baiknya kita melakukan sedikit permainan untuk menguji kepandaian dan keahlian masing-masing. Disamping itu, apabila diantara sahabat-sahabat yang datang ada permusuhan atau sakit hati, juga boleh sekalian menggunakan kesempatan ini untuk melakukan pembalasan.”

Sehabis mengucap demikian, ia balik kembali ke tempat duduknya, dan dimulailah perjamuan makan yang dilakukan secara besar-besaran. Liong-hui Kiam-khek Su-to Wi, yang mengingat sakit hati susioknya dan mengingat sepak terjang Thiat-koan To-tiang yang telah menggabungkan partai Thiam- cong-pay dengan Ki-lian-pay sudah akan mengambil tindakan untuk memberekan persoalannya, maka bertanyalah kepada Tiong-sun Seng:

"Tiong-sun tayhiap, bolehkah Su-to Wie akan menyelesaikan persoalan Thiam-cong-pay dan sekalian hendak menuntut balas dendam atas kematian Koan Sam Pek Susiok kepada Thiat-koan To-tiang?"

"Pertemuan hari ini rupanya tidak akan berakhir dengan baik. Segala dendam dan permusuhan semua akan diselesaikan. Saudara Su-to yang bermaksud hendak membersihkan kawanan penjahat dari golongan Thiam-cong- pay, meskipun itu suatu perbuatan yang patut kita hargai, tetapi untuk sekarang ini, sebaiknya sabarlah dahulu, sekarang silahkan makan dan minum sepuas-puasnya dahulu. Kita lihat saja apabila di pihak sana sudah tidak sabar dan berlaku terlalu jumawa, barulah kita bertindak," Tiong-sun Seng menjawab sambil tertawa.

Mendengar ucapan itu, Su-to Wie terpaksa kendalikan hawa amarahnya, dan duduk kembali bersama-sama Ca Bu Khao dan Hee Thian Siang.

Benar saja seperti apa yang diduga oleh Tiong-sun Seng. Di pihak Ceng-Thian-pay, tampillah Khi Tay Cao bangkit berdiri lagi. Ia tadi sudah berbicara. Karena tidak ada jawaban dari pihak lawannya, rupanya ia sudah tidak sabaran, berulang-ulang ia mengeluarkan suara tertawanya yang aneh. Kemudian dengan secara tiba-tiba, dari rombongannya tampak melesat keluar sesosok bayangan hitam yang bagaikan burung terbang dan turun di tengah-tengah lapangan.

"Orang ini adalah orang tua berbaju hitam yang bentuknya seperti setan yang pernah dilihat oleh Tiong-sun Seng dan lain-lainnya di kaki gunung Ki-lian-san, dia adalah orang yang mengikuti di belakang tandu Thian-kun. Ketika tiba ditengah- tengah lapangan, kedua tangannya dirangkap untuk menjura ke pihak lawan, dengan sikapnya yang sangat jumawa, orang itu berkata dengan sombongnya:

"Aku yang rendah U-bun Hong, orang-orang memberi nama julukan kepadaku Song-bun Hek-sat. Dalam peremuan besar hari ini, karena tokoh-tokoh kuat rimba persilatan semua telah berkumpul di gunung Ki-lian ini, maka kupikir rasanya tidaklah baik jikalau tidak diadakan sedikitpun atraksi. U-bun Hong seorang yang tidak memiliki kepandaian apa-apa, dengan maksud hendak minta tuan-tuan yang berkepandaian tinggi, supaya suka menunjukkan kepandaian masing-masing, maka dengan memberanikan diri turun ke lapangan lebih dahulu, untuk memita pelajaran beberapa jurus saja!"

Oleh karena dari pihak tuan rumah sudah ada orang yang keluar menantang, maka pihak tamu sudah seharusnya juga ada orang yang menghadap. Tetapi dalam babak pertama ini siapakah orangnya yang harus keluar? Benar-benar memusingkan Tiong-sun Seng. Sebab Tiong-sun Seng sudah melihat tegas, bahwa Song-bun Hek-sat Oe-bun Hong ini, merupakan seorang yang memiliki kepandaian luar biasa, baik kekuatan tenaganya maupun kepandaian ilmu silatnya, mungkin tidak di bawah Khi Tay Cao, Thiat-koan Totiang dan Poa San kow orang-orang penting dari partai Ceng-thian-pay. Orang ini meskipun tinggi kepandaian ilmu silatnya, tetapi dalam rimba persilatan tidak mempunyai nama dan kedudukan. Dia hanya merupakan seorang budak dari Pek-kut Thian-kun. Siapa yang harus menghadapinya? Inilah yang merupakan kesulitan besar bagi Tiong-sun Seng. Jikalau diminta para ketua lima partai besar, sudah tentu tidak sepadan. Sebab, sekalipun menang juga tidak pantas. Lebih-lebih kalau kalah, tentu akan segera menjadi buah tertawaan pihak musuh. Orang yang paling tepat untuk menghadapi U-bun Hong, sebetulnya adalah Hee Thian Siang, tetapi karena Hee Thian Siang amat dibutuhkan tenangnya untuk menghadapi Pek-kut Thian-kun, agaknya tidaklah bijaksana jikalau Hee Thian Siang disuruh menghadapi U-bun Hong lebih dahulu, karena hal itu berarti akan menghamburkan tenaga anak muda itu tidak sedikit.

Swat-san Peng-lo Leng Pek Ciok menampak Tiong-sun Seng mengawasi U-bun Hong sambil mengerutkan alisnya dan seperti berpikir keras, rupanya mengetahui kesulitan yang dihadapi olehnya, maka lalu berkata kepadanya dengan suara perlahan:

"Tiong-sun tayhiap, apakah tayhiap merasa sulit untuk menyediakan orang yang harus menghadapi orang itu? Bolehkan kiranya Leng Pek Ciok keluar untuk menghadapinya dalam babak pertama ini?"

Tiong-sun Seng tahu benar bahwa Leng Pek Ciok ini meskipun rela menjadi budak ketua Swat-san-pay oleh karena sudah menerima budi besarnya, tetapi kepandaian ilmu silat dan nama besar Swat-san Peng-lo sebetulnya tidak di bawah Peng-pek Sinkun dan istrinya sendiri, maka begitu mendengar ucapan itu, lalu menjawab sambil tersenyum;

"Untuk babak pertama ini mana berani aku minta saudara Leng yang turun lebih dahulu? Aku pikir sebaiknya saudara Leng siapkan saja dulu tenaga, untuk menghadapi Pek-thao Losat Pao Sam-kow, yang melatih ilmu bangkai dingin, yang terkena susah dihadapi."

Berkata sampai disitu, matanya beralih kepada putrinya Tiong-sun Hui Kheng, kemudian menggapainya seraya berkata: "Kheng-ji kemari kau!" Tiong-sun Hui Kheng yang sedang mengobrol dengan Ca Bu Kao, mendengar panggilan ayahnya, lantas menghampiri dan bertanya: "Apakah ayah suruh aku turun ke lapangan?"

Dengan sikap sungguh-sungguh Tiong-sun Seng menganggukkan kepala dan berkata: "Telah kupikir masak- masak, rasanya hanya kau yang agak tepat untuk menghadapi lawan pertama ini. Song-bun Hek-sat U-bun Hong adalah budaknya Pek-kut Thian-kun. Meskipun kedudukannya hanya sebagai budak saja, tetapi kepandaiannya sangat tinggi. Juga lantaran ini merupakan babak pertama, maka di pihak kita harus berusaha untuk merebut kemenangan, guna membuat nyali mereka kuncup. Kheng-ji, kau boleh gunakan seluruh kepandaian yang baru kau dapatkan. Bisa menang dengan gemilang dan leibh cepat, itulah yang paling baik."

Pada waktu Tiong-sun Seng sedang memilih orangnya dan memberi pesan kepada putrinya, Song-bun Hek-sat U-bun Hong tampaknya sudah tidak sabaran, dengan sikapnya yang sangat jumawa ia sudah berkata sambil tertawa terbahak- bahak:

"Di dalam panggung sana toh ada tokoh-tokoh terkuat dari golongan Ngo bie, Butong, Siao-lim, Lo-hu dan Swat-san? Apakah diantara demikian banyak tokoh kuat itu tidak seorangpun yang berani menghadapi aku U-bun Hong?"

Baru saja menutup mulutnya, Tiong-sun Hui Kheng sudah bergerak dan melayang turun tepat di hadapannya dengan sikapnya yang sangat tenang sekali, sambil membereskan rambutnya yang terurai di mukanya, gadis itu berkata dengan suara yang merdu sekali:

"Sahabat U-bun, jangan meniru kelakuan orang-orang yang berpikiran cupat, hingga anggap di dalam dunia ini sudah tidak ada orang lain yang lebih pandai dari diri sendiri. Lantaran nama julukanmu Song-bun Hek-sat itu terlalu jelek, rasanya susah sekali bagimu untuk mencari lawan salah satu saja dari para cianpwee dalam lima partai besar. Mana mereka sudi menghadapi orang seperti kau ini?"

Sepasang alis U-bun Hong berdiri, dengan sinar mata tajam mengawasi Tiong-sun Hui Kheng, kemudian berkata dengan nada suara dingin:

"Budak perempuan, jangan kau jual lagak dengan lidahmu yang tajam! Beritahukanlah namamu dan golonganmu!"

"Aku Tiong-sun Hui Kheng, tidak termasuk golongan dari salah satu partai manapun juga pada dewasa ini," demikian Tiong-sun Hui Kheng berkata sambil tertawa.

Pek-kut Thian-kun yang duduk dalam rombongan pihak tuan rumah nampak miringkan sedikit kepalanya, dan bertanya kepada Khi Tay Cao: "Khi ciangbunjin, orang yang mempunyai she rangkap Tiong-sun, jumlahnya aku rasa tidak banyak. Apakah gadis Tiong-sun Hui Kheng ini adalah putri Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng?"

Sebelum Khi Tay Cao menjawab, sudah didahului oleh Thiat-koan Totiang: "Dugaan Thian-kun tidak salah. Tiong-sun Hui Kheng ini memang putrinya Thian-gwa Ceng-mo Tiong- sun Seng. Kepandaian ilmu silatnya cukup hebat!”

Pek-kut Thian-kun tertawa terbahak-bahak lama baru berkata: "Apakah Totiang tidak ingat papan lian yang kupancang di kedua samping tanduku itu?"

Thiat-koan Totiang menjawab sambil tersenyum: "Yah, masih ingat dengan baik. Tulisan itu berbunyi : Tian Gwa Can Mo binasa dalam tiga jurus, Hong tim Ong Khek terbang nyawanya dengan sekali pukulan!"

Pek Kut Thian Kun kembali tertawa bangga, kemudian berkata : "U Bun Hong mengikuti aku sejak banyak tahun, ilmu pukulannya Song Bun Cik Ciang yang terdiri dari tujuh jurus dan ilmu jari tangannya Hek Sat Ciu Hua, semuanya sudah benar-benar mahir, aku berani memastikan bahwa Tiong Sun Seng tidak bisa lolos dari tanganku dalam tiga jurus, maka putrinya yang kini berhadapan dengan U Bun Hong, barangkali dalam tiga jurus juga akan binasa!"

Bagi Khi Tay Co dan Thian Koat Totiang, berlalunya Siang Swat Siangjin Leng Biauw Biauw dan Kiu Thian Mo Li Tang Siang Siang adalah kehilangamn dua tenaga pembantu utama yang paling diandalkan, tetapi dengan adanya Pek Kut Sam Mo, apalagi dipihak lawan Pak Bin Sin Po Hong Poh Cui tidak datang, begitupun ketua biara Siao-Lim tidak turut hadir, dan kini yang ada hanya Tiong-sun Seng bersama pada ketua patai Ngo Bie, Bu Tong, Lo Hu dan Swat san yang terhitung agak tinggi kepandaiannya, kalau ditinjau dari barisan pihak lawan, jelas pihaknya sendiri yang lebih kuat, hingga kemenangan rasanya sudah dapat dibayangkan dari sekarang akan berada dipihak sendiri, maka ketika mendengar ucapan Pek Kut Thian Kun, ia juga lantas tertawa terbahak-bahak.

Percakapan yang sangat jumawa dan suara tertawa yang sangat bangga itu bukan saja sudah dapat didengar dengan jelas oleh Tiong-Sun Hui Kheng, tetapi juga sudah terdengar oleh orang-orang dipihak tamu, terutama bagi Ca Bu Kho, yang usianya masih muda sehingga tidak sanggup mengendalikan perasaannya, saat itu sepasang alisnya lantas berdiri dan bertanya dengan suara perlahan kepada Hee Thian Siang:

"Adik Siang, Song Bun Hek Sat U Bun Hong ini, dari sinar matanya sudah diketahui dia orang yang sangat buas, jelas pula memiliki kekuatan tenaga dalam yang sempurna. Apakah nona Tiong Sun sanggup menghadapinya? Perlukah kalau aku menggantikan kedudukannya? Biar manusia buas itu merasakan seranganku Pan Sian Ciang dari goongan Ngo- bie?" Hee Thian Siang menggelengkan kepala dan berkata sambil tertawa: "Bibi Ca jangan kuatir, enci Tiong Sun-ku itu sifatnya sangat sabar. Sebetulnya Song Bun Hek Sat U Bun Hong meskipun akan kalah, juga masih sanggup melayani sampai beberapa jurus. Tetapi karena ucapan Pek Kut Thian Kun yang jumawa ini, mungkin akan menimbulkan kemarahan enci Tiong Sun-ku dan mungkin begitu pertandingan dimulai, enci Tiong-sun akan menggunakan ilmunya yang terampuh dan luar biasa, Tu Siang Kho Hun Liong Hui Sam Ciok!"

Begitu nama dari ilmu terampuh Tiong Sun Hui Kheng keluar dari mulut Hee Thian Siang, ketua partai Bu-Tong Hong Hoat Cinjin yang duduk tidak jauh dengannya seketika lantas terkejut.

Sementara itu Song Bun U Bun Hong dengan Tiong Sun Hui Kheng sudah mulai bertanding.

Tetapi dugaan Hee Thian Siang tadi hanya tepat separoh, Sebab, meskipun benar Tiong-sun Hui Kheng sudah mengambil keputusan, begitu pertandingan dimulai, segera akan mengeluarkan ilmunya Tu-sian-kho-hun-liong-hui-sam- ciok, tetapi itu bukanlah disebabkan karena ucapan jumawa dari Pek-kut Thian-kun, yang menimbulkan kemarahannya, melainkan adalah petunjuk dari ayahnya sendiri, yang minta ia lekas-lekas mengakhiri pertandingan itu dengan cepat dan gemilang, supaya dalam babak pertama ini dapat menggetarkan nyali kawanan penjahat.

Dari pihak Song-bun Hek-sat U-bun Hong tadi, begitu mendengar majikannya telah memuji kepandaiannya sendiri, sikapnya semakin sombong, matanya menatap Tiong-sun Hui Kheng dan minta kepadanya supaya pertandingan lekas dimulai.

"Budak perempuan, kau sudah berani turun dilapangan, mengapa masih belum mulai? Kau harus tahu meskipun kau adalah seorang putri dari ayah yang ternama, tetapi juga tidak akan lolos dari tanganku dalam tiga jurus saja." demikian ia berkata.

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu, diam- diam mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, tetapi diluarnya masih bersikap ramah-tamah, ia nahkan mengawasi Song-bun Hek-sat sambil tersenyum manis.

Song-bun Hek-sat U-bun yang mendapat perlakuan demikian, sesaat itu telah merasa bahwa senyum gadis itu bukan saja sangat mengiurkan, tetapi juga mengandung suatu pengaruh yang luar biasa, sehingga semangatnya sendiri agak tergoncang.

Sebagai seorang yang memiliki kepandaian ilmu sangat tinggi, ia segera dapat menyadari apa yang akan terjadi, apabila ia tergelincir oleh pengaruh senyuman tadi, Maka ia buru-buru menenangkan pikirannya dan bertanya;

"Mengapa kau tidak segera mulai? Untuk apa kau tertawa

?"

Tiong-sun Hui Kheng kembali unjukkan senyumnya yang

menggiurkan, katanya;

"Kau suruh aku turun tangan itu sangat mudah sekali! Tetapi begitu aku turun tangan, kau segera terjatuh dalam tanganku, bukankah majikanmu sendiri yang menjadi pelindung hukum partai Ceng-thian-pay juga akan turut kehilangan muka ?"

Kali ini senyumnya itu berbeda dengan yang tadi, Selama mengucapkan kata-katanya tadi, badannya secepat kilat sudah bergerak, dengan gerakannya yang sangat indah dan aneh sekali sudah maju beberapa kaki, tangan kanannya juga melakukan suatu gerakan dengan melancarkan serangan kedepan dada Song-bun Hek-sat U-bun Hong, Jari jemarinya dengan suatu gerakan yang ringan dan indah telah menyambar dada lawannya!

U-bun Hong yang menghadapi serangan cepat dan luar biasa anehnya dari Tiong-sun Hui Kheng, Diam-diam juga terkejut, ia buru-buru mengerutkan dadanya dan menyedot pernapasannya, Selagi lima jari tangannya Tiong-sun Hui Kheng hendak menyentuh dadanya, ia sudah lompat mundur sejauh satu tombak lebih.

Tiong-sun Hui Kheng tidak mengejar, ia tetap berdiri ditempatnya, bertanya sambil tersenyum;

"Sahabat U-bun, bagaimana kau anggap dengan serangan pembukaan yang sederhana ini ?"

Sepasang alis U-bun Hong dikerutkan, jawabnya dengan nada suara dingin;

"Budak hina, seranganmu ini adalah serangan dari gerak tipu yang dinamakan bdadari memetik bunga, Meskipun kau dapat menggunakan dengan baik, tetapi aku U-bun Hong yang memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh baik sekali, dapat mengelakan seranganmu itu dengan sempurna, maka sedikitpun tidak terluka. "

Berkata sampai disitu, dengan tiba-tiba terdengar suara tertawa yang sangat nyaring sekali, Tetapi suara tertawa nyaring itu, bukan keluar dari mulut Pek-kut Thian-kun atau orang-orang dalam partai Ceng-thian-pay, melainkan keluar dari mulut Hee Thian Siang, yang saat itu sudah bangkit dari tempat duduknya dan dengan sinar matanya yang tajam mengawasi medan pertempuran.

Khi Tay Cao menjadi marah, ia berkata dengan suara keras; "Hee Thian Siang, pertandingan dalam medan pertempuran masih belum diketahui siapa yang bakal menang atau kalah, mengapa kau tertawa demikian ?"

Hee Thian Siang kembali tertawa terbahak-bahak, kemudian baru berkata;

"Aku tertawa karena sikap iblis tua Pek-kut Thian-kun yang membanggakan anak buahnya yang cuma begitu setinggi langit, ternyata hanya seorang yang memiliki kepandaian biasa saja, bahkan merupakan seorang bagaikan patung yang tidak mempunyai perasaan sama sekali!"

U-bun Hong yang mendengar ucapan itu, bukan kepalang marahnya, ia lompat berjingkrak-jingkrak sambil menggeram hebat.

Sebaliknya dengan Hee Thian Siang, dengan tenang ia berkata kepadanya sambil tertawa;

"Kau jangan marah, akan kujelaskan kepadamu, kau nanti tidak merasa penasaran!"

U-bun Hong terpaksa menahan hawa amarahnya, hendak mendengarkan keterangan Hee Thian Siang.

Sementara itu Hee Thian Siang sudah melanjutkan ucapannya;

"Kau anggap ilmu serangan yang digunakan enci Tiong-sun tadi sebagai ilmu bidadari memetik bunga, padahal adalah ilmu Liong-hui-sam-ciok yang tulen! Apakah itu tidak menggelikan? Hian-ki dan Thian-tay didepan dadamu sudah terkena totokan enci Hui Kheng, tetapi karena ia tidak tega hati untuk melakukan pembunuhan, maka hanya membuat lobang dibajumu saja, dan toh kau masih tidak merasakan itu! Apakah salah kalau aku mengatakan kau sebagai patung? Dan lagi yang paling lucu sekali adalah ucapan Khi Tay Cao yang mengatakan belum ada bukti siapa yang kalah dan siapa yang menang! Aku benar-benar tidak mengerti, seorang demikian goblok seperti dia itu sampai masih ada muka buat menjabat kedudukan ketua Ceng-thian-pay? Idiiih, bikin malu saja!"

Kata-kata itu sesungguhnya sangat tajam dan pedas sekali, sehingga semua orang dari Ceng-thian-pay, termasuk Pek-kut Thian-kun sendiri, wajahnya menunjukkan sikap yang tidak enak dipandang.

Orang bertubuh pendek berkulit hitam berpakaian aneh yang selama ini masih duduk tenang-tenang menyaksikan pertandingan itu, ketika mendengar ucapan Hee Thian Siang itu, sepasang matanya memancarkan sinar buas, memandang kepada Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng tanpa berkedip.

Song-bun Hek-sat U-bun Hong masih tidak percaya atas ucapan yang telah dikeluarkan oleh Hee Thiang Siang, tetapi ketika ia menundukkan kepala dan melihat bagian dadanya, benar saja! Di depan dadanya, di bagian dua jalan darah Han- ki dan Thian-thay, terdapat tanda lobang kecil bekas jari tangan Tiong-sun Hui Kheng di atas bajunya yang hitam.

Batapapun tebal muka U-bun Hong, juga sudah tidak ada muka lagi untuk melanjutkan pertandingan itu. Sesaat itu ia merasa sangat malu, dan lenyaplah semua sikapnya yang sangat juwana tadi, dari mulutnya mengeluarkan suara elahan napas panjang, kemudian dengan tiba-tiba ia lompat melesat balik kembali ke rombongannya.