Makam Bunga Mawar Jilid 19

 
Jilid 19

Leng Biauw Biauw hanya menjawab dengan menggerutu, sementara itu, Hee Thian Siang telah berkata pula :

"Ketika Hee Thian Siang bersama enci Tiong Sun bersama- sama pesiar di gunung Ko-le-kong-san, secara kebetulan telah menolong May locianpwe dalam kesulitannya! Tetapi tampaknya May locianpwe sudah bertekad dengan maksudnya hanya terkecuali Leng dan Tang locianpwe, bisa diundang datang ke kamar Bo ciu sek, untuk berjumpa dengannya supaya menyelesaikan urusan dahulu, jikalau tidak, dia akan mengakhiri hidupnya dengan jalan tidak mau makan!"

Leng Biauw Biauw mengerutkan alisnya dan tertawa getir, lalu berkata kepada Tang Siang Ing : "Apabila dia binasa, usaha kita selama bertahun-tahun ini bukankah juga akan sia- sia belaka?

Tampaknya kita terpaksa akan berkunjung ke tempat lama dahulu, kita terpaksa akan melakukan perjalanan ke lembah Leng cui kok."

Tang Siang Siang masih belum menjawab, Hee Thian Siang sudah melanjutkan ucapannya :

"Enci Tiong-sunku, oleh karena melihat May-locianpwe terlalu berduka, maka ia berdiam di Ko-le-kong-san untuk menghiburi May locianpwe, di samping itu ia suruh boanpwe malam-malam berangkat ke gunung Kie-lian untuk mengundang kedua locianpwe !"

Kebohongan itu disusun demikian rapi, hingga Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang tidak sampai timbul kecurigaannya. Maka bersama Hee Thian Siang dan siaopek, sama-sama pergi menuju ke lembah Leng cui kok di gunung ko-le-kong-san.

Dalam perjalanan, Hee Thian Siang teringat kepada tindakan Tang Siang Siang yang dahulu pernah menangkap siaopek dari atas tebing, maka lalu bertanya kepada dua nyonya tua itu sambil tertawa :

"Gerakan cianpwe berdua sesungguhnya sangat mengagumkan Hee Thian Siang, entah itu apa namanya, dan dari golongan mana?"

Leng Biauw Biauw menjawab sambil tertawa : "Kepandaian ilmu silat kita, semua berasal dari golongan sesat, gerakanku itu dinamakan Sin mo cit hong, sedang gerakan Tang locianpwe dinamakan Thian mo bu eng !"

"Kepandaian ilmu sebetulnya tidak perlu dibagi-bagi golongan baik atau sesat, pelajaran tergantung pada pikiran dan hatinya, apabila jujur dan benar, sudah tentu akan menghapus segala kejahatan. Sekalipun belajar dari golongan baik-baik, apabila hatinya tidak benar-benar mudah saja berubah menjadi iblis! Apabila menyadari kebenaran dan menjalani kejahatan, sekalipun iblis juga bisa berubah menjadi dewa!” berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Jika kau tidak pandang hina kepada ilmu dalam dari kita, di kemudian hari mungkin kita akan menurunkan kepadamu beberapa bagian!” berkata Kiu thian Moli Tang Siang Siang sembari tertawa.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu sangat girang, baru saja akan mengucapkan terimakasih, Leng Biauw Biauw sudah bertanya kepadanya :

"Kau kata bahwa setelah selesai pertemuan pembukaan partai baru Ceng thian pai hendak pergi mencari Liok Giok Ji, tetapi di dalam dunia yang luas seperti ini.  "

Dengan alis berdiri dan nada tegas, Hee THian Siang memotong :

"Dunia meskipun luas, toh tidak mungkin tidak ada pangkalnya. Lautan meskipun lebar, tetapi sesungguh- sungguhnya hati itulah merupakan tepinya. Hee Thian Siang tidak segan melakukan perjalanan ke seluruh jagat, apabila setahun tidak menemuinya, akan mencari terus sampai sepuluh tahun, sepuluh tahun pun tidak dapat menemukan, mencari terus untuk selama-lamanya " Leng Biauw Biauw juga memotong ucapan Hee Thian Siang, katanya sambil tertawa dingin :

"Menurut caramu mencari ini, sekalipun cintamu itu teguh, tetapi Liok Giok Ji yang harus menantimu bertahun-tahun, mungkin sudah akan menjadi tua, bukankah akan tetap menjadi penasaran baginya?”

Hee Thian Siang dapat menangkap maksud ucapan Siang swat Sianjin Leng Biauw Biauw ada mengandung arti dalam. Maka lalu memberi hormat dan berkata sambil tertawa :

"Apakah Leng locianpwe dapat menduga, di mana tempat mengasingkan diri Liok Giok Ji? Tolong locianpwe memberi petunjuk bagi Hee THian Siang!"

“Kau benar-benar sangat pintar, meskipun aku dapat menduga tempat di mana Liok Giok Ji berdiam, tempat itu rasanya tak lebih dari empat tempat. Tetapi aku hanya berharap kau dapat menemukan padanya di tiga tempat yang terdahulu. Jika tidak, kau pasti akan membuang banyak waktu

!” berkata Leng Biauw Biauw sambil menganggukkan kepala.

"Tiada tempat yang Leng locianpwe duga tersebut, dimanakah letaknya tempat itu?"

bertanya Hee Thian Siang.

"Aku tidak dapat memberi penjelasan, harus kau sendiri yang memikirkan, tiga tempat yang kumaksudkan itu adalah puncak gunung Kun-lun, goa gunung Tay pa san dan lembah di gunung Ciong Lam san!" berkata Leng Biauw Biauw sambil tertawa.

Begitu mendengar disebutnya puncak gunung Kun-lun, Hee Thian Siang tahu bahwa tempat itu yang ditunjuk adalah tempat dimana Liok Giok Ji dahulu dibesarkan dan dididik sebagai murid golongan Kun-lun, sedang goa di gunung Tay pa san yang dimaksud adalah tempat di mana Liok Giok Ji dahulu telah melakukan perbuatan yang tak diduga-duga dengannya dahulu, tentang lembah di gunung Ciong lam san, sebaliknya merasa agak bingung. Pikirnya, "gunung Ciong lam san terdapat banyak puncak dan lembah-lembah, lembah manakah yang dimaksudkan dengan lembah gunung Ciong lam? Apakah yang dimaksudkan itu adalah Lembah Kematian, yang dahulu pernah digunakan oleh Ketua Lohu pai dan ketua Tiam cong pai mengadakan pertandingan mati-matian ?"

Setelah berdiam untuk berpikir sekian lama, kembali ia berkata kepada Leng Biauw Biauw;

"Numpang tanya kepada Leng locianpwe, di mana letak tempat keempat yang Leng locianpwe maksudkan ?”

Siang Swat Sianjin Leng Biauw Biauw menggeleng- gelengkan kepala, lalu berkata sambil menghela nafas :

"Apabila Liok Giok Ji berada di tempat keempat yang kumaksudkan, barangkali sekalipun kau menggunakan banyak akal, juga tidak ada harapan untuk menyambung hubungan cinta kasihmu lagi !”

Dengan perasaan heran Hee Thian Siang bertanya : “Tempat itu sebetulnya terletak di mana?”

“Tempat itu dinamakan Istana Sunyi !” menjawab Leng Biauw Biauw.

Hee Thian Siang oleh karena selama itu belum pernah mendengar nama “Istana Sunyi” itu, maka alisnya dikerutkan, tanyanya dengan heran :

“Tempat yang dinamakan Istana Sunyi itu, siapakah yang mendiami? Dimana letaknya?” “Aku sendiri juga tidak tahu, siapakah yang mendiami tempat yang dinamakan Istana Sunyi itu? Mengenai letaknya, lebih-lebih sangat asing, ada yang mengatakan berada di tengah-tengah gunung Swat san, ada pula orang kata di dasar Toa-hai. Tetapi aku banyak tahu bahwa tempat itu adalah tempat berkumpul orang-orang yang telah patah hati, orang- orang yang berdiam di situ semuanya pernah mengalami kegagalan dalam hidup atau cinta, maka semuanya sudah mempunyai riwayat diri sendiri tentang patah hati mereka. Semuanya sudah berubah menjadi roang-orang yang sifatnya sedih, yang menjauhi segala keduniawian. Sifat yang aneh itu sudah menjadi sedemikian rupa, sehingga tidak menginjinkan seekor burung atau seekor binatang pun juga yang memasuki golongan mereka!” menjawab Leng Biauw Biauw sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Hee Thian Siang yang mendengar keterangan itu benar- benar merupakan suatu hal yang belum pernah didengar pada sebelumnya, tetapi dengan tiba-tiba timbul perasaan curiganya, sambil menatap Leng Biauw Biauw ia bertanya pula :

"Leng Locianpwee, bagaimana Locianpwee tahu ada tempat yang dinamakan Istana Sunyi itu? Dan bagaimana pula bisa tahu jikalau penghuni Istana itu merupakan orang- orang yang sifatnya sangat aneh?"

"Pertanyaanmu ini memang sangat beralasan. Dengan secara kebetulan aku berjumpa dengan salah seorang penghuni aneh di dalam Istana Sunyi itu, dia menasehiati aku supaya meninggalkan keduniawian dan berdiam disana, supaya membiarkan kesunyian untuk menghabiskan sisa hidup kita, barulah aku tahu bahwa di dalam dunia ini ternyata masih ada suatu tempat yang sangat aneh itu!" Berkata Leng Biauw Biauw. "Orang aneh itu sudah menasehati locianpwee meninggalkan keduniawian, bagaimana jawab locianpwee kepadanya?"

"Aku menjawab kepadanya, aku harus menunggu untuk menyelesaikan persoalan kita lebih dahulu, barulah bisa mengambil keputusan untuk pergi ke Istana Sunyi itu atau tidak?"

Oleh karena banyak pengalaman hidupnya yang sangat aneh, terutama setelah bertemu dengan Thian-ie taysu dan sam-ciok Cinjin, maka Hee Thian Siang tahu benar bahwa di dalam dunia ini, entah masih ada berapa banyak orang-orang rimba persilatan bersifat aneh yang berdiam di tempat-tempat yang sangat asing. Maka ketika mendengar ucapan itu lantas berkata :

"Kalau demikian halnya, orang aneh itu tentunya masih mengadakan perjanjian dengan locianpwee untuk bertemu lagi?"

"Orang aneh itu menamakan dirinya sendiri, Tuan Kesunyian. Tindak tanduknya sangat aneh, jejaknya tidak menentu. Dia bilang bahwa orang yang berdiam di dalam Istana Sunyi, belum pernah terlibat dalam urusan dunia kang- ouw, Maka setelah selesai hari pembukaan partai baru Leng- Thian-Pay nanti, dia akan datang untuk mencari aku lagi!" Berkata Leng Biauw Biauw sambil menganggukan kepala.

Hee Thian Siang diam-diam mengingat baik-baik tempat- tempat yang disebutkan itu, sambil melanjutkan perjalanan, dia bertanya pula kepada Leng Biauw Biauw :

"Persoalan yang masih belum diselesaikan oleh locianpwee itu apakah persoalan yang menyangkut diri May Ceng Ong locianpwee?" Leng Biauw Biauw menganggukan kepala dan Lee Thian Siang pura-pura bertanya lagi :

"Sekarang asal kita sudah tiba di kamar Bo—Sek di lembah Leng-Cui-Kok, sudah tentu bisa bertemu dengan May locianpwee, dan bagaimana pikiran Leng locianpwee mengenai nasehat Tuan Kesunyian itu?"

Leng Biauw Biauw saling berpandangan sejenak dengan Tang Siang Siang, kemudian dengan sikap agak marah, jawabnya dengan suara dingin :

"Dalam pertemuan ini, apabila May Ceng Ong membunuh kita, sudah tentu segala sudah selesai. Apabila kita membunuh May Ceng Ong aku akan memikirkan nasehat Tuan Kesunyian dan biarlah dia menyambut kita untuk pergi bersama-sama ke Istana Kesunyian untuk menghabiskan hidupku !"

Hee Thian Siang mendengar jawaban itu sepasang alisnya dikerutkan, ia berlaku pura-pura tidak tahu, dan bertanya kepadanya:

"Locianpwee berdua, dengan cara bagaimana telah terbit permusuhan demikian dalam?"

Tan Siang Siang yang sejak tadi tidak turut bicara, lalu berkata sambil menggelengkan kepala :

"Inilah merupakan suatu persoalan lama dimasa yang lampau, terhadap orang luar kita sudah lama tidak mengungkit lagi, maka kau juga tak perlu bertanya! Kalau waktunya sudah tiba, kita dengan May Ceng Ong yang hampir duapuluh tahun lamanya dulu pernah bertemu muka, dan selama ini dia..."

Hee Thian Siang yang sudah lama memikirkan dengan cara bagaimana untuk melenyapkan segala ganjalan sakit hati antara ketiga bakal mertuanya sendiri itu, begitu melihat ada kesempatan untuk bicara, maka lantas berkata :

"May locianpwe agaknya mempunyai kesulitan yang sangat besar, agaknya dirundung penderitaan bathin yang sangat hebat, selama waktu ini setiap hari minum arak sampai mabok, dan menyanyikan sajak-sajak yang bersifat sedih, Kadang-kadang jika sudah menyanyikan, lantas menangis seperti anak kecil!"

Leng Biauw Biauw lantas berkata sambil tertawa dingin, "Kalau benar dia setiap hari minum sampai mabok dan

bernyanyi-nyanyi, itu suatu bukti bahwa dia bersenang hati, masih ada kesedihan apa?"

"Meskipun May locianpwe setiap hari minum arak sampai mabok dan bernyanyi-nyanyi, tetapi arak dalam cawan, setengahnya dicampur oleh air matanya sendiri, dan sajak yang dinyanyikan, juga selalu tidak berubah kata-katanya!" Berkata Hee Thian Siang.

Tan Siang Siang berseru: "Oo!" kemudian bertanya sambil menatap Hee Thian Siang: "Tahukah kau kata-kata apa yang dinyanyikan olehnya?"

"Kata-kata itu adalah petikan dari sajak penyair besar Li Gi San di zaman Tong-ouw, setiap hari May locianpwee mabok arak, pasti menyanyi-nyanyi dengan sajaknya itu, Habis menyanyi, lantas menangis! Kata-kata yang dinyanyikan itu selalu adalah :

"Penghidupan perempuan lacur ternyata hanya impian, perempuan beribadat memang tiada prianya: Kalau bukan itu, dia menyanyikan sajak yang berbunyi, 'Ulat sutera sampai mati baru habis suteranya, lilin yang menyala sudah menjadi abu air mata baru kering!" Leng Biauw Biauw telah mengulangi beberapa kali bunyi sajak itu, kemudian dengan tiba-tiba berkata dengan Tan Siang Siang:

"Menurut keterangan Hee Thian Siang laote sikap dan tindak tanduk May Ceng Ong rupa-rupanya sudah mengetahui keadaan kita yang sebenarnya dimasa lalu, Oleh karenanya marasa menyesal sekali atas tindakannya yang terburu napsu!"

Kiu-thian Mo-li dan Siang Siang yang adatnya agak lebih besar daripada Leng Biauw Biauw ketika mendengar ucapan itu, lantas menganggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum :

"Dugaanmu ini mungkin benar, jikalau tidak bagaimana setiap hari dia menyanyikan sajak Ulat sutera sampai mati baru habis suteranya, lilin yang menyala sudah menjadi abu, air mata baru kering ??"

"Tidak perduli ia sudah mengetahui kesulitan kita dahulu, atau tidak, Dan kini dia sudah menyadari kesalahannya sehingga setiap hari minum arak untuk melampiaskan kesusahannya, tetapi sakit hati kita yang sudah tertimbun selama duapuluh tahun, tidak boleh tidak kita harus lampiaskan!"

Tang Siang Siang menganggukkan kepala dan berkata:

"Itu sudah tentu, dia bukan saja sudah menyakiti hati kita. tetapi juga sudah mengakibatkan kedua anak perempuan kita Liok Giok Ji dan Hok Siu Im sampai menjadi merana. "

Berkata sampai disitu, seolah-olah sadar bahwa terlepasan omong, maka saat itu lantas diam dan bersama-sama Leng Biauw Biauw mengerahkan ilmunya meringankan tubuh, secepat kilat bergerak menuju kelembah Leng-cui-kok. Hee Thian Siang dan siaopek masing-masing juga mengerahkan ilmunya meringankan tubuh untuk mengikuti jejak dua nyonya tua itu, dalam hati Hee Thian Siang diam- diam merasa geli, atas sikap bakal mertuanya itu.

Gunung Ko-le-kong-san keadaannya masih tetap seperti sediakala.

Meskipun Leng Biauw Biauw masih merasa perih dalam pengalamannya dimasa lampau, tetapi ketika tiba ditempat itu, perasaan dan kenangan manis yang sudah-sudah timbul kembali, Dengan memandang burung-burung yang berterbangan hendak pulang kesarang, perasaan terharu timbul dengan tiba-tiba, dari mulutnya terdengar suara nyanyian lirih: "Orang-orang lama semua sudah menjadi tua, burung-burung baru kembali pulang kesarangnya "

Mendengar itu, Hee Thian Siang lantas berkata sambil tertawa:

"Orang-orang yang lama, kalau benar semua sudah menjadi tua, maka apa perlunya masih diingat hari-hari yang sudah lampau? Kedua Locianpwee tentunya tahu, pepatah yang pernah mengatakan 'walau mendapat sejengkal tanah, dimana tidak bisa memberi tempat untuk tinggal? Boanpwe harap Locianpwee semoga bisa berlaku bijaksana dan akur kembali dengan May Locianpwee, Inilah yang akan membahagiakan rimba persilatan!"

Mendengar ucapan itu, Tergeraklah hati Leng Biauw Biauw, ia memandang Hee Thian Siang beberapa kali, kemudian bertanya;

"Kalau kudengar dari perkataanmu ini, rupanya kau sudah mengetahui suka-duka antara kita dengan May Ceng Ong?" Ditanya demikian, Hee Thian Siang tidak berani untuk tidak mengaku, Tetapi ia juga tidak mengaku seluruhnya, jawabnya sambil tertawa;

"Boanpwee pernah dengar dari Duta Bunga Mawar, yang menceritakan secara singkat, tetapi dimana keadaan yang sebenarnya, boanpwee belum jelas!"

Kiu-thian Mo-li Tang Siang Siang lalu bertanya; "Siapakah Duta Bunga Mawar itu ??"

"Duta Bunga Mawar, semuanya ada tiga orang, Mereka adalah yang dahulu bernama Go Boan Ciu dengan gelarnya Pelajar Romantis, Boh Jun Yang dengan gelarnya Bu-ceng Kiam-khek dan Ci Hiang Po yang bergerlar Cian-ceng Ki-su!" Menjawab Hee Thian Siang.

Leng Biauw Biauw terkejut, lalu bertanya;

"Meraka bertiga bukankah sudah lama menghilang dipuncak gunung Ngo-bi? Bagaimana bisa menjadi Duta Bunga Mawar?"

Hee Thian Siang menghela napas panjang, kemudian menjawab;

"Tiga Locianpwee itu, dahulu dipuncak gunung Ngo-bi hanya pura-pura menghilang saja, tetapi sekarang semuanya sudah benar-benar meninggalkan dunia yang fana ini!"

Ketika mendengar ucapan itu, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang kemudian menceritakan hubungan antara tiga Duta Bunga Mawar dengan pendekar Wanita Bunga Mawar.

Leng Biauw Biauw sehabis mendengar ceritanya, juga merasa terharu oleh cinta suci antara tiga Duta Bunga Mawar itu kepada pendekar Wanita Bunga Mawar, Maka lalu berkata kepada Tang Siang Siang;

"Kedatangan kita kali ini kekamar Bo-ciu-sek apabila May Ceng Ong benar-benar sudah menyesal dan tahu kesalahannya sendiri, kta juga boleh memberikan sedikit muka kepadanya, tak usah berbuat keterlaluan!"

Tang Siang Siang yang adatnya lebih lunak sudah tentu menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, dalam hati diam-diam merasa girang, Pikirnya; 'Apabila aku berhasil membujuk May Ceng Ong rukun kembali dengan Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang, bukankah itu berarti sudah memenuhi janjiku sendiri, untuk melanjutkan cita-cita Duta Bunga Mawar, yang menghendaki supaya semua kekasih yang ada hubungan cinta suci dalam dunia ini bisa hidup rukun jadi suami istri?'

Selagi melamun sendiri, ia sudah masuk kelembah Leng- cui-kok, Tiba dibawah tebing yang diatasnya terdapat kamar goa Bo-ciu-sek, Dibawah pohon cemara aneh, yang bentuknya seperti bunga teratai mekar, tampak berdiri taywong, bersama Tiong-sun Hui-kheng dengan kudanya, Hee Thian Siang lalu berkata sambil tertawa;

"Enci Tiong-sun, mari lekas kemari, aku perkenalkan padamu dengan Siang-swat Sianjiu Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo-li Tang Siang Siang Locianpwee!"

Kiong-sun Hui-kheng segera lari menghampiri lalu berkata sambil memberi hormat dan tertawa;

"Boanpwee Tiong-sun Hui-kheng, unjuk hormat kepada Leng dan Tang Locianpwee, atas nama ayah untuk menanyakan keselamatan kedua Cianpwee!" Leng Biauw Biauw berkata sambil tertawa;

"Hiantitli tidak perlu banyak memakai peraturan!" Sambil bicara, matanya terus ditujukan kepada gadis itu.

Oleh karena selama itu ia sendiri menganggap bahwa putrinya Liok Giok Ji dan putri Tang Siang Siang, Hol Siu Im, merupakan gadis-gadis yang baik kepandaian ilmu silatnya maupun wajahnya terdiri dari gadis-gadis pilihan, Maka ketika mendengar keterangan Hee Thian Siang yang memuji Tiong- sun Hui-kheng, dalam hati masih kurang percaya, Ia hendak membuktikan sendiri.

Dan kini setelah meng-amati-mati sekian lama, ia telah mendapat kenyataan bahwa Tiong-sun Hui-kheng lebih lembut, lebih luwes daripada putrinya sendiri, maka lalu menghela napas panjang dan berkata kepada Tang Siang Siang;

"Apa yang diucapkan oleh Hee Thian Siang ternyata tidak salah, Tiong-sun hiantitli ini sesungguhnya merupakan gadis yang bukan saja cantik, tetapi juga lembut perangainya, Tidak kecewa dia mengumpamakan sebagai bulan dilangit!"

Tang Siang Siang yang mendengar ucapan itu tertawa geli, diam-diam dengan menggunakan ilmunya menyampaikan suara kedalam telinga, ia berkata kepada Leng Biauw Biauw;

"Kau tidak perlu cemburu terhadap putrimu, kita sudah tiba ditempat lama, sebaliknya lekas menyelesaikan urusan kita sendiri!"

Leng Biauw Biauw mewnganggukkan kepala, matanya kembali ditujukan kepada Tiong-sun Hui-kheng, dan kemudian bertanya;

"Nona Tiong-sun, dimana sekarang May Ceng Ong berada?" Dengan menunjuk ketebing tinggi yang diliputi oleh awan, Tiong-sun Hui-kheng menjawab sambil tersenyum;

"Silahkan dua Locianpwee dengar sendiri!"

Leng Biauw biauw dan Tang Siang Siang berdua sama- sama pasang telinga, Benar saja terdengar suara orang bernyanyi yang keluar dari atas tebing, Suara itu kedengarannya demikian samar-samar, lagu yang dinyanyikan benar-benar petikan sajak dari Li Gi San yang pernah dikatakan oleh Hee Thian Siang.

Sebagai orang-orang yang tiba ditempat lama, dan mendengar pula suara bekas kekasih lamanya, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang sekalipun berhati baja, juga masih tergerak!

Tetapi oleh karena nama baik mereka dahulu pernah dihina, dan kepandaian ilmu silatnya pernah dimusnahkan, sehingga suami istri, ibu dan anak semua berpencaran, Selama dua puluh tahun mereka menderita lahir bathin, sakit hati itu sesungguhnya sudah dalam sekali, Maka sejenak setelah tergerak hatinya, hawa amarahnya kembali berkobar, Leng Biauw Biauw lalu berkata kepada Hee Thian Siang;

"May Ceng Ong sudah berada didalam kamar Bo-ciu-sek, marilah kita pergi kesana untuk menjumpainya, sekalian untuk membereskan perhitungan lama, supaya melampiaskan sakit hati kita selama ini."

Kiu-thia Mo-li Tang Siang Siang tersenyum lalu menganggukan kepala, kemudian berkata kepada Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui-kheng;

"Hee laote dan nona Tiong-sun, mari juga sama-sama masuk kekamar Bo-ciu-sek, Seandainya kami bertiga nanti berakhir dengan suatu kematian, supaya kalian juga mengumumkan kepada sahabat-sahabat rimba persilatan tentang keadaan kita, supaya sahabat-sahabat rimba persilatan membersihkan nama baik Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang!"

Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui-kheng tampak Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang berdua, meskipun perasaan lama sudah bangkit kembali, tetapi sakit hati masih tetap ada, sebetulnya mereka khawatir terhadap May Ceng Ong, Maka ketika mendengar ucapan itu, ia lantas memberi hormat dan menerima baik ajakannya, keduanya dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh, mendaki ketebing tinggi itu.

Tiba digoa Bo-ciu-sek, tampak May Ceng Ong duduk diatas kursi batu, dia jelas sudah melihat kedatangan Leng Biauw Biauw, Tang Siang Siang, Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui-kheng berempat, namun masih menunjukkan sikap yang sombong, tidak bangkit, juga tidak menghiraukan!

Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui-kheng semua mengerutkan alisnya, dalam hati diam-diam berpikir; 'May Ceng Ong ini jelas sudah menyesal atas perbuatannya yang lalu, tetapi dengan cara bagaimana sekarang bersikap demikian? Bukankah itu berarti hendak memaksa terjadinya penumpahan darah?'

Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang, sebetulnya mereka sudah bersepakat dan mengambil keputusan, asal May Ceng Ong benar-benar sudah menyesal atas kesalahannya sendiri, dan minta maaf kepada mereka berdua, sudah boleh menghapuskan semua kesalahannya dan rukun kembali, Tetapi kini melihat sikap May Ceng Ong yang demikian angkuh dan sombong, sampaipun Kiu-thian Mo-li Tang Siang Siang yang adatnya tidak demikian keras seperti Leng Biauw Biauw juga merasa marah. Dengan mengawasi May Ceng Ong yang duduk diam di atas kursinya, bertanya: “May Ceng Ong, hari ini kau melihat kita lagi, apakah kau bersedia membereskan persoalan kita yang sudah lalu?” Sikap May Ceng Ong saat itu tidak menunjukkan perasaan senang atau marah, ucapan yang keluar dari mulutnya tidak keruan maksudnya, ia hanya menjawab dengan suara hambar:

“Penghidupan perempuan lacur ternyata hanya impian, kediaman perempuan beribadat sebetulnya tiada prianya!”

Leng Biauw Biauw mengeluarkan suara dari hidung kemudian berkata:

“Kalau kau sudah tahu bahwa dahulu kau mendengar bujukan pendekar pemabokan Bo Bu Yu, yang semuanya adalah ucapan bohong, maka sekarang bagaimana kau harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu dahulu yang demikian kejam memusnahkan kepandaian kita dan membawa lari anak-anak kita?”

Sepasang mata May Ceng Ong tampak mendelik, sikapnya masih tetap sombong dan tak mau menanggapi pertanyaan itu. Sikapnya itu seolah-olah merupakan tantangan, bahwa sekalipun sudah berlaku salah, tetapi apa yang bisa kalian perbuat?

Siang-swat Siangjin Leng Biauw Biauw sudah tak bisa mengendalikan hawa amarahnya. Dalam keadaan marah ia mendorongkan tangannya, dengan kekuatan tenaganya yang hebat, hembusan angin dari tangannya telah menggempur May Ceng Ong.

Leng Biauw Biauw yang hendak dijadikan deking Khi Yay Cao, dapat diduga betapa hebat kekuatan tenaganya, apalagi serangannya yang dilakukan dalam keadaan marah, dapat diduga pula betapa pula hebatnya, Tetapi betapun hebat serangan itu, May Ceng Ong tidak menyingkir juga tidak membalas, ia masih tetap duduk diatas kursinya, bibirnya tersungging sebuah senyuman. Tang Siang Siang membentak dengan suara marah;

"Apakah kau masih berani berkepala batu, hendak jual kesombonganmu? Sekarang coba lagi ilmuku Thian-mo Ba- hong-im-ciang!"

Sehabis berkata demikian, tangan kanannya diangkat tinggi, dari atas melakukan suatu gerakan menekan kearah May Ceng Ong, Serangan hebat yang dilancarkan oleh Leng Biauw Biauw tadi, May Ceng Ong masih sanggup menyambuti, sedikitpun tidak bergerak, tetapi kini serangan Tang Siang Siang yang dilakukan seolah-olah hanya suatu gerakan main-main, telah memaksa dia untuk bangkit dari tempat duduknya.

Sebab, kursi batu yang diduduki oleh May Ceng Ong ternyata sudah digempur hingga retak oleh tekanan kekuatan tenaga Leng Biauw Biauw, ditambah lagi dengan tekanan ilmu Thian-mo Bu-bong-im-ciang dari Tang Siang Siang, kursi batu itu lantas menjadi hancur!

Leng Biauw Biauw baru saja hendak menyerang lagi, Tiong-sun Hui-kheng buru-buru membujuk dari samping;

"Harap Leng Locianpwee jangan menciptakan satu tragedi yang membuat penyesalan seumur hidup, Serangan dua Locianpwee yang dilancarkan dalam keadaan marah sudah cukup untuk menggempur gunung, sudah tentu May Locianpwee tidak sanggup lagi!"

Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang yang mendengar ucapan itu baru memperhatikan keadaan May Ceng Ong, Benar saja, wajah May Ceng Ong saat itu sudah pucat pasi, mulut, hidung, mata, telinga, sudah tampak mengeluarkan darah, Jelas ia sudah mendapat luka parah bagian dalamnya, Berdirinya juga tidak bisa tegak, tampaknya sudah sempoyongan hendak jatuh. Hee Thian Siang merasa penasaran, ia lompat maju, mengeluarkan sebutir pil, dimasukkan kedalam mulut May Ceng Ong, tanyanya dengan perasaan heran;

"May Locianpwee, mereka telah memukulmu, mengapa Locianpwee tidak membalas?"

May Ceng Ong menghela napas panjang, dari sinar matanya menunujukkan rasa penyesalan yang amat dalam, ia mengawasi Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang sejenak, dengan suara lemah sekali menjawab lambat-lambat;

"Dahulu aku telah menodai nama baiknya, memusnahkan kekuatan dan kepandaian mereka, membawa lari anak-anak mereka, sehingga mereka sangat menderita lahir bathin selama dua puluh tahun, Penderitaan itu kurasa jauh lebih hebat daripada dua kali serangan tadi! Jikalau aku tidak saja memancing mereka supaya memukul aku dan aku menerima dengan rela hati, bagaimana aku bisa membuktikan penyesalanku?"

Sehabis mengucapkan demikian, sekujur badannya gemetaran, mulutnya mengeluarkan darah lagi, dan akhirnya jatuh pingsan.

Hee Thian Siang hendak memberi pertolongan tetapi dicegah oleh Leng Biauw Biauw, kata nyonya tua itu;

"Hee laote tidak perlu cemas, dia memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat sempurna, Meskipun ia tadi rela kami hajar sampai dalamnya terluka parah, tetapi tidak membahayakan jiwanya! Kami dengannya memang masih mempunyai hubungan suami istri, soal memberi pertolongan biarlah kami yang bertanggung jawab!"

Hee Thian Siang mendengar suara Leng Biauw Biauw agak parau, ketika ia mengangkat muka benar saja sikap dua nyonya itu semua sudah terpengaruh oleh keadaan May Ceng Ong, mereka semua pada mengucurkan air mata.

Tiong-sun Hui-kheng yang lebih cerdik, tahu bahwa dengan menangisnya Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang itu, jelas bahwa kedua nyonya itu telah tergerak hatinya, maka sakit hatinya yang lama sudah tentu lenyap sama-sekali, maka buru-buru menghampiri dan memberi hormat kepada mereka seraya berkata;

"Tiong-sun Hui-kheng dan Hee Thian Siang masih ada urusan yang perlu segera diselesaikan hingga tak bisa berdiam lebih lama disini, maka hendak mohon diri kepada kedua Locianpwee!"

Leng Biauw Biauw diam-diam memuji kecerdikan Tiong-sun Hui-kheng, ia lantas menganggukkan kepala, disamping itu ia juga memberi pesan kepada Hee Thian Siang, katanya;

"Hee Thian Siang, May Locianpwee-mu relah dan mandah kami serang sampai dua kali, dalam diri terlaku parah, Maka kami masih perlu merawatnya perlahan-lahan oleh karenanya, maka dalam pertemuan pembukaan partai baru Ceng-tian-pay nanti, sudah tentu tidak bisa berdiri! Kau nanti setelah selesai dalam pertemuan itu, jangan lupa apa yang kukatakan kepadamu tentang empat tempat puncak gunung Kun-lun, goa gunung Tay-pa-san, lembah gunung Cong-lam dan Istana kesepian."

Hee Thian Siang menerima baik pesan itu, bersama Tiong- sun Hui-kheng meninggalkan kamar Bo-ciu-sek, dan turun kelembah Leng-cui-kok.

Tiong-sun Hui-kheng memandang mulut goa kamar Bo-ciu- sek, lantas berkata sambil tersenyum;

"Rembulan akhirnya bulat lagi, kita juga telah menyelesaikan tugas yang dibebankan pada kita!" "Meskipun kita sudah berhasil menyelesaikan satu tugas berat, tetapi aku sendiri sudah mengalami suatu kejadian yang sangat menyakiti hati!" berkata Hee Thian Siang.

"Kau mengalami suatu kejadian apa lagi?"

"Enci Tiong-sun, pada dewasa ini, kuda berbulu hijau yang satu hari bisa melakukan perjalanan seribu pal, hanya tinggal kudamu Ceng-hong-ki ini saja!"

"Kenapa? Bagaimana dengan kuda Cian-li-kiok-hwa-ceng milik Ki Tay Cao?"

"Ai! Kuda itu sebenarnya sudah menjadi milikku karena Ki Tay Cao sudah kalah dalam pertaruhan, tetapi kemudian dibinasakan sendiri oleh pemimpin yang jahat dan kejam itu, Sesungguhnya sangat kasihan, Maka aku telah mengambil keputusan dalam upacara pembukaan partai baru nanti, aku bertekad hendak menuntut balas sakit hati untuk kuda itu."

Setelah itu Hee Thian Siang menceritakan semua apa yang telah terjadi didepan goa Siang Swat-tong, kemudian berkata pula sambil menghela napas;

"Seandai kuda itu tidak dibinasakan, bukankah akan menjadi milikku? Dan alangkah baiknya kalau digunakan sebagai kuda tunggangan, hingga bisa melakukan perjalanan didunia kang-ouw bersama-sama kudamu!"

Melihat sikap sedih Hee Thian Siang, Tiong-sun Hui-kheng lalu berkata sambil tersenyum;

"Adik Siang, kau tak usah sedih begitu rupa, kalau benar kau suka kuda, aku masih ada suatu akal!"

Mendengar ucapan itu, semangat Hee Thian Siang lantas terbangun, tetapi kemudian menggelengkan kepala dan berkata sambil menghela napas; "Enci jangan membohongi aku, kuda Cian-li-kiok-hwa-ceng bukan saja sudah terkubur digunung Ki-lian, kau juga tidak mungkin bisa menghidupkan kuda yang sudah mati!"

"Aku bukan kata hendak menghgidupkan Cian-li-kiok-hwa- ceng, maksudku ialah, kalau kau suka kuda boleh mencari seekor yang lain."

"Kuda biasa mudah didapat, tetapi kuda jempolan susah dicari, Apalagi kuda yang ku-kehendaki adalah kuda berbulu hijau seperti kuda enci!"

"Kau jangan cemas dulu, Tunggu setelah pertemuan digunung Ki-lian nanti selesai, dan kawanan penjahat sudah terbasmi, aku akan perintahkan Siaopek pergi kedaerah barat untuk mencari seekor kuda jempolan berbulu hijau!"

"Apakah Siaopek memiliki kepandaian serupa itu?" tanya Hee Thian Siang terkejut.

Sementara itu Siaopek telah perdengarkan suara siulannya yang bangga.

"Apakah adik Siang tidak pernah dengar kata sajak Sun Go Kong diangkat sebagai pengurus kuda oleh Giok-hong Tay- tee, maka keturunan monyet yang sedikit cerdik semuanya bisa menjinakan kuda? Hanya, Siaopek ini kecuali menjinakkan, juga pandai melihat sifat kuda!"

Mendengar ucapan itu, Hee Thian Siang lalu berkata kepada Siaopek;

"Siaopek, karena enci Tiong-sun berkata demikian, maka soal mencari kuda ini, aku serahkan kepadamu!"

Siaopek menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Monyet ini sesungguhnya sangat menyenangkan!" berkata Hee Thian Siang kepada Tiong-sun Hui-kheng sambil mengawasi Siaopek.

"Dalam perjalanan ini, ada apa lagi dengan Siaopek?" tanya Tiong-sun Hui-kheng.

"Ketika Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang kedua Locianpwee itu membicarakan diri Liok Giok Ji dan Hok Sui Im, aku perumpamakan mereka sebagai bintang dilangit, Siaopek yang mendengar itu telah unjukkan sikap tidak senang, rupa-rupanya ia membela enci!"

Wajah Tiong-sun Hui-kheng menjadi merah mengawasi Siaopek sejenak.

Hee Thian Siang sudah berkata lagi sambil tersenyum; "Tetapi ketika ia dengar aku umpamakan enci sebagai rembulan dilangit, ia lantas menjadi girang dan tertawa sendiri!"

Mendengar ucapan itu, Tiong-sun Hui-kheng mendadak ingat suatu hal, maka lalu bertanya;

"Adik Siang, ketika kau minta diri kepada Siang-swat Siang- jin Locianpwee, aku ingat ia telah pesan padamu, supaya setelah selesai pertemuan digunung Ki-lian nanti, kau jangan lupa apa yang dikatakan olehnya tentang tempat-tempat puncak gunung Kun-lun, goa gunung Kay-pa-san, lembah kematian digunung Kiong-lam dan Istana kesunyian, Apalah sebetulnya itu ?"

"Sebabnya ialah karena menghilangnya Liok Giok Ji, yang katanya hendak mensucikan diri, maka Leng Locianpwee lalu menunjukkan empat tempat itu sebagai ancar-ancar kalau aku pergi mencari padanya, karena dalam anggapan Leng Locianpwee kalau benar Liok Giok Ji pergi mengasingkan diri, pasti tidak luput dari salah satu tempat diantara empat tempat itu!"

"Apa sebabnya Liok Giok Ji hendak pergi mengasingkan diri ?"

Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, ia pikir rahasianya itu sudah tidak dapat disembunyikan lagi, maka lebih baik diberitahukan terus-terang kepada Tiong-sun Hui-kheng.

Tiong-sun Hui-kheng yang menyaksikan sikap Hee Thian Siang demikian rupa, merasa semakin heran, maka kembali bertanya:

"Adik Siang, kau yang selamanya suka berlaku tabah, mengapa sekarang berubah menjadi demikian rupa? Apakah tindakan Liok Giok Ji itu disebabkan karena perbuatanmu?"

Wajah Hee Thian Siang semakin merah, tetapi ia memberanikan diri dan menceritakan semua apa yang telah terjadi didalam goa Tay-pa-san.

Dengan tenang Tiong-sun Hui-kheng mendengarkan cerita Hee Thian Siang, setelah itu dengan mendadak bergerak dan lompat keatas kudanya.

Hee Thian Siang mengira kekasihnya itu marah, hendak berlalu meninggalkan dirinya, hingga hatinya merasa cemas, hampir saja ia mau nangis.

"Enci Tiong-sun, terjadinya peristiwa gila itu, sebetulnya karena pengaruh bunga aneh yang mengandung daya perangsang luar biasa, demikian hebat daya perangsang itu sehingga hawa napsu kami tidak terkendalikan lagi, Apakah enci tidak bisa memaafkan kesalahanku ini ?"

Tiong-sun Hui-kheng lama tidak bisa menjawab, tali kuda ditariknya hingga kuda Ceng-hong-ki menggerakkan kakinya, sebentar kemudian sudah menghilang dari depan mata Hee Thian Siang.

Melihat perubahan sikap Tiong-sun Hui-kheng, Hee Thian Siang semakin cemas dan pilu, Hingga tak disadarinya sudah mengucurkan air mata.

Pada saat itu, mendadak tampak Taywong dan Siaopek mengawasi dirinya dengan sinar mata mengejek.

Hee Thian Siang yang sangat cerdik, segera memikir; 'rasanya tidak benar, kalau enci Tiong-sun marah dan memutuskan hubungan denganku, Sebab kalau demikian halnya, mengapa tidak membawa Taywong dan Siaopek?'

Berpikir sampai disitu hatinya mulai lega lagi, dengan menggunakan ilmunya menyampaikan suara kedalam telinga jarak jauh, ia memanggil-manggil; "Enci Tiong-sun.        enci

Tiong-sun.        " Percuma saja ia memanggil-manggil, tempat

itu tetap sepi sunyi, tidak mendapat jawaban dari orang yang dipanggil.

Kalau hati Hee Thian Siang merasa risau, sebaliknya dengan Siaopek dan Taywong, dua binatang itu semakin menunjukkan sikapnya yang mengejek, bahkan tertawa besar!

Diejek demikian rupa oleh dua binatang itu, muka Hee Thian Siang semakin merah, maka lantas membentak;

"Siaopek, kau monyet kecil ini, kalau berani tertawakan aku lagi, aku nanti akan hajar padamu!"

Baru saja menutup mulut, dari belakang dirinya tiba-tiba terdengar suara Tiong-sun Hui-kheng yang dibarengi dengan suara ketawanya;

"Kalau kau berani menghajar Siaopek-ku, aku nanti akan memaafkan kau lagi." Hee Thian Siang terkejut dan buru-buru berpaling benar saja Tiong-sun Hui-kheng, yang entah sejak kapan sudah memutar dan berada dibelakang dirinya sejauh dua tombak lebih.

Bukan kepalang girangnya, maka buru-buru dipanggilnya; "Enci Tiong-sun "

"Kepandaianmu sudah maju pesat, bahkan sudah faham ilmu Bunga Mawar dan ilmu Menyelamatkan jiwa segala, serta baru-baru ini kau sudah menelan biji mata ulat kelabang yang mempunyai khasiat hebat, bagaimana aku memutar dibelakangmu dengan menuntun Ceng-hong-ki, kau masih tetap tidak dengar ada suara? Seandai ada musuh datang hendak membokong kau, bukankah itu sangat berbahaya? Dengan keadaanmu seperti ini, bagaimana kau nanti bisa menghadapi Pek-kut-sam-mo dalam pertemuan digunung Ki- lian?" berkata Tiong-sun Hui-kheng sambil tertawa.

Hee Thian Siang merasa jengah, katanya sambil tertawa getir;

"Enci Tiong-sun, bukannya telingaku sudah kehilangan daya pendengarannya, melainkan tinadakan enci yang pergi meninggalkan aku dalam keadaan marah, hingga aku anggap enci akan memutuskan hubungan denganku, Oleh karenanya, hingga hatiku merasa cemas. "

Tidak menunggu sampai habis ucapan Hee Thian Siang, Tiong-sun Hui-kheng sudah memotong;

"Orang yang belajar ilmu silat yang penting adalah ketenangan hati, sekali pun menghadapi gunung rubuh juga harus tetap tenang, tanpa menunjukkan sikap gelisah, Jikalau terganggu sedikit saja sudah bingung pikirannya, bagaimana masih terhitung orang kosen yang memiliki kekuatan tenaga dalam sempurna!" Hee Thian Siang takut kalau Tiong-sun Hui-kheng marah lagi, maka ia tidak berani membantah, sambil memberi hormat dalam-dalam ia berkata;

"Hee Thian Siang mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas nasihat enci, biarlah untuk selanjutnya akan menjadi perhatianku!"

Melihat sikap demikian, Tiong-sun Hui-kheng juga tertawa.

Kini Hee Thian Siang benar-benar merasa lega, buru-buru menghampirinya dan berkata sambil tertawa;

"Enci Tiong-sun, apakah enci dapat memaafkan perbuatanku itu ?"

"Aku toh bukan perempuan cemburu, bagaimana tidak bisa memaafkan? Apalagi seperti katamu itu, bahwa pada waktu itu kalian berdua sudah tidak bisa menguasai pikiran dan perasaan diri karena pengaruh bunga mujijat itu, sudah tentu aku juga tidak dapat menyalahkan pihak yang manapun juga!" menjawab Tiong-sun Hui-kheng dengan tenang.

"Kalau benar enci tidak menyalahkan aku, tapi tadi mengapa enci pergi meninggalkan aku sehingga hatiku gelisah?"

"Digunung Ai-lao-san dahulu kau bisa berpura-pura mati, sehingga Liok Giok Ji sampai timbul pikiran hendak mensucikan diri, apakah aku tidak boleh membalas dendam baginya, supaya kau juga ketakutan dan bingung!" menjawab Tiong-sun Hui-kheng sambil perdelikkan matanya.

"Enci, mengapa kau timpahkan semua kesalahan kepada diriku? Perbuatanku digunung Ai-lao-san waktu itu se-mata hanya menuruti petunjuk empek Tiong-sun saja!" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa getir. "Sepak terjang ayah, kadang-kadang hanya menuruti kisikan hatinya sendiri, tidak memikirkan akibatnya, sekarang Liok Giok Ji telah pergi dengan hati pilu, jikalau kau tidak mencari kembali, bukan saja akan menghancurkan restu Makam Bunga Mawar, tetapi buat kau sendiri juga tidak akan merasa tenang! Dan kalau kau hendak pergi mencari, kemana kau harus mencarinya?. "

"Mengenai tempat tujuan Liok Giok Ji, Leng Locianpwee sudah memberi ancar-ancar empat tempat seperti apa yang sudah kusebutkan tadi, maka aku pikir setelah pertemuan digunung Ki-lian nanti selesai, aku segera.  "

Pada saat itu, Tiong-sun Hui-kheng sudah lompat keatas kudanya lagi dan berkata kepada Hee Thian Siang sambil menggeser tempat duduknya;

"Adik Siang, naiklah keatas kudaku, kita pergi melakukan perjalanan jauh!"

Secepat kilat Hee Thian Siang sudah lompat dan duduk dibelakang Tiong-sun Hui-kheng, kemudian bertanya sambil tersenyum;

"Enci hendak kemana ?"

"Ke-puncak gunung Kun-lun!" jawab Tiong-sun Hui-kheng sambil perintahkan Siaopek dan Taywong mengikut.

"Jadi enci hendak menyertai aku pergi mencari Liok Giok Ji? Tetapi mengapa harus pergi sekarang, tidak menunggu sampai pertemuan digunung Ki-lian selesai?"

"Pertama, karena sekarang baru bulan sepuluh, masih jauh waktunya dengan pertemuan digunung Ki-lian, kita berkelana didunia Kang-ouw tidak mempunyai pekerjaan apa-apa inilah merupakan suatu kesempatan baik untuk melakukan perjalanan kegunung Kun-lun! Kedua, kalau benar Liok Giok Ji terlibat asmara denganmu, tetapi juga berada dalam kesulitan karena peristiwa yang menimpa diri ayah-bundanya, Meskipun timbul pikiran hendak mensucikan diri, tetapi pasti masih belum tenang pikirannya, bahkan mungkin sangat risau! Dan kini May Locianpwee sudah rujuk kembali dengan Leng Locianpwee dan Tang Locianpwee, mengapa kita tidak lekas memberikan kabar gembira ini kepadanya? Supaya ia juga merasa girang?"

Hee Thian Siang dapat membenarkan pikiran Tiong-sun Hui-kheng, ia juga mengagumi kepribadiannya yang luhur.

Perjalanan itu dilakukan dengan hati gembira, tanpa dirasa sudah tiba didaerah pegunungan Kun-lun.

Tiong-sun Hui-kheng perintahkah Siaopek dan Taywong pergi bermain dibawah gunung, sedang ia sendiri bersama Hee Thian Siang pergi mendaki puncak Kun-lun.

Tiba didekat Istana Kun-lun-kiong, tempat berkumpulnya anggota Kun-lun-pay, dari jauh sudah tampak seorang tua berjubah gerombongan, sedang mundar-mandir didepan Istana sambil memandang pemandangan alam disekitarnya.

Hee Thian Siang segera dapat mengenali bahwa orang tua itu adalah sute Ti-hui-cu, yang pernah menggunakan senjata rahasia berbisa Kun-lun-cek membokong diri Liok Giok Ji hingga gadis itu hampir binasa, dialah Siang Biauw Yan.

Hee Thian Siang agak terkejut, maka ia lalu merandak dan berkata kepada Tiong-sun Hui-kheng;

"Enci Tiong-sun, Siang Biauw Yan ini hendak merampas kedudukan ketua, dialah yang mencelakakan diri Ti Hui Cu, Imam ini sangat kejam dan rendah moralnya, semua perbuatannya itu sudah diketahui oleh Liok Giok Ji dan dibuka rahasianya dihadapan semua murid Kun-lun-pay, Semula aku duga ia tentu sudah tidak ada muka untuk kembali kegunung Kun-lun, tetapi mengapa ia sekarang berada disini? Sikapnya bahkan nampak sangat bangga."

Tiong-sun Hui-kheng berpikir, kemudian berkata dengan suara perlahan;

"Kedatangan kita ini maksudnya ialah hendak mencari Liok Giok Ji, terhadap urusan lainnya, terpaksa kita jangan perdulikan dulu, Sekarang coba kita unjuk diri, kita lihat dulu bagaimana sikapnya, barulah mengambil tindakan."

Hee Thian Siang dapat menyetujui pikiran itu, keduanya lalu berjalan menghampiri Siang Biauw Yan dengan muka berseri-seri.

Siang Biauw Yan yang menampak kedatangan mereka secara tiba-tiba itu, sangat heran dan terkejut, apalagi setelah mengetahui bahwa kedua tetamunya itu adalah Hee Thian Siang yang pernah menyaksikan Liok Giok Ji ketika membuka rahasianya dihadapan murid-murid Kun-lun-pay, Tetapi yang perempuan, ia belum pernah melihat.

Sementara itu Hee Thian Siang bersama Tiong-sun Hui- kheng sudah berada kira-kira satu tombak dihadapan Siang Biauw Yan.

Dengan maju menyongsong, imam itu berkata;

"Kun-lun-pay sudah mengambil keputusan untuk menutup pintu selama sepuluh tahun, maka sepuluh tahun ini semua anggota Kun-lun-pay akan berdiam dan berkumpul dalam Istana Kun-lun-kiong, untuk mempelajari ilmu kepandaian yang tinggi dan tidak akan mengadakan perhubungan dengan orang luar, Ada urusan apa saudara berdua datang kemari, Silahkan berhenti dulu!"

Hee Thian Siang lantas berhenti dan bertanya sambil tersenyum; "Oh! Namun aku hendak tanya kepada sahabat Siang, siapakah yang mengambil keputusan menutup partai Kun-lun ini ?"

"Keputusan penting itu sudah tentu menurut ketetapan ketuanya!"

Ketua Kun-lun-pay Ti-hui-cu, sudah membunuh diri didepan goa Siang-swat-tong digunung Ki-lian, apakah ia sudah berubah menjadi setan dan mengeluarkan perintah dari akhirat?"

"Meskipun Ti-hui-cu sudah menutup mata tetapi kedudukan ketua, toch sudah ada penggantinya, dan tindakannya ini diambil juga guna mempersiapkan tenaga untuk menyapu partai Ki-lian, guna menuntut balas sakit hati Toa-suheng dan Sam-suteku!"

"Sahabat Siang, aku hendak tanya padamu, ketua baru itu kau sendiri ?"

"Ditinjau dari tingkatan dan kepandaian, kecuali aku siapakah diantara anggota Kun-lun yang mempunyai reputasi untuk memegang jabatan itu ?"

"Maaf aku tidak tahu, kalau begitu cita-cita sahabat Siang benar-benar kini telah tercapai! Mari, mari, kuperkenalkan Ciangbunjin dengan enci Tiong-sun Hui-kheng ini!"

Ucapan 'cita-cita telah tercapai' itu, ada mengandung maksud mengejek, hingga Siang Biauw Yan yang mendengarkan mukanya menjadi merah seketika, Tetapi ia terpaksa berlaku pura-pura tidak mengerti, tanyanya lagi;

"Sebetulnya ada urusan apa kalian mendaki gunung Kun- lun ini ?" "Kami bukan sengaja berkunjung kemari, Karena sedang melakukan perjalanan kebarat, maka sekalian mampir untuk menepati perjanjian dengan sahabat lamaku digunung ini."

"Siapa orangnya yang mengadakan perjanjian denganmu

?"

"Orang-orang yang mengadakan perjanjian denganku adalah orang-orang golongan Kun-lun, Tiok Giok dan Phoa Sa, harap Ciangbunjin perintahkan mereka keluar untuk bertemu denganku!"

Mendengar perkataan itu Siang Biauw Yan diam-diam merasa geli sendiri, karena tetamunya ini ternyata masih belum mengetahui bahwa Tiok Giok, Phoa Sa dan In Ya Hok sudah lama mati dibawah serangan duri berbisa Thian-keng- cek sudah lama terkubur digunung Tay-pa-san, Tetapi ia sedikitpun tidak menunjukkan perubahan sikap apa-apa, katanya sambil menggelengkan kepala;

"Kun-lun-pay sudah bertekad hendak menuntut dendam sakit hati ketuanya yang dulu, selama sepuluh tahun ini, bukan saja tidak menerima kunjungan tamu dari luar, sedangkan para anggotanya sendiri, kecuali yang mendapat giliran pergi berbelanja keperluan sehari-hari, semua dilarang keluar dari istana Kun-lun-kiong, Maka apabila kau hendak bertemu dengan mereka, harus menunggu sepuluh tahun kemudian!"

Hee Thian Siang menyebut nama-nama Tiok Giok bertiga, ialah hendak menutupi maksud yang sebenarnya, maka ketika mendengar ucapan itu, lantas berlaku pura-pura acuh tak acuh, tanyanya lagi sambil tersenyum;

"Kalau benar Tiok Giok dan Phoa Sa dilarang keluar, bagaimana dengan Liok Giok Ji ?"

Siang Biauw Yan yang sangat licik dan banyak akalnya, meskipun Hee Thian Siang sudah pura-pura demikian, tetapi toch masih diketahui maksud yang sebenarnya, maksud Hee Thian Siang datang ke Kun-lun sebetulnya hendak menemui Liok Giok Ji.

Dari situ ia juga tahu bahwa Liok Giok Ji ternyata masih hidup, tidak mati dibawah serangan duri berbisa.

Tiong-sun Hui Kheng maksudnya hanya ingin tahu apakah benar Liok Giok Ji berada digunung Kun-lun, lalu berusaha mengorek keterangan dari mulut Siang Biauw Yan, katanya sambil tersenyum;

"Siang Ciangbunjin tidak perlu repot-repot, Liok Giok Ji boleh menemui kami atau tidak, itu terserah kepada Ciangbunjin sendiri."

Siang Biauw Yan benar-benar sangat lihay, dalam waktu sekejap itu ia sudah dapat mengarang jawaban bohong, katanya;

"Sebab Liok Giok Ji kini sudah berada didalam istana Kun- lun-kiong, maka aku sedang memikirkan, kalau aku memperbolehkan ia bertemu dengan kalian, apakah itu tidak melanggar perintahku sendiri yang sudah menutup partai ini selama sepuluh tahun ?"

Ketika mendapat keterangan bahwa Liok Giok Ji berada digunung Kun-lun, dalam hati Hee Thian Siang diam-diam merasa girang, tanyanya pula;

"Liok Giok Ji tidak berada dalam istana Kun-lun-kiong, lalu berada dimana ?"

Tampak sikap cemas Hee Thian Siang, Siang Biauw yan semakin mantap menjalankan akal-akalannya, maka lalu menjawab; "Liok Giok Ji agaknya sedang terganggu pikirannya, sejak pulang kegunung kelakuannya banyak berubah, terpaksa aku suruh dia tinggal menyendiri, Sekarang mungkin berada diatas puncak gunung!"

Karangan itu memang masuk diakal, juga tepat dengan petunjuk Siang-swat Siangjin Leng Biauw Biauw, maka Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng tidak merasa curiga.

"Siang Ciangbunjin, bolehkah Siang Ciangbunjin mengizinkan aku dan enci Tiong-sun ini pergi menengok Liok Giok Ji sebentar saja? Mungkin kami dapat menyembuhkan penyakit dalam hatinya." berkata Hee Thian Siang.

Siang Biauw Yan diam-diam merasa girang, tetapi diluarnya masih menunjukkan sikap tenang-tenang saja, Setelah pura-pura memikirnya agak lama, barulah memberi jawaban seperti terpaksa;

"Aku dapat meluluskan permintaanmu ini mendaki puncak gunung untuk menjumpai Liok Giok Ji sebentar, tetapi sebelum matahari tenggelam, kalian harus pergi tidak boleh datang kegunung ini lagi !"

Dalam hati Hee Thian Siang merasa geli, karena ia terpaksa harus berlaku merendah, sebab sebelum bertemu muka dengan Liok Giok Ji, Ia tidak mau bertengkar dengan orang-orang partai Kun-lun.

Maka setelah mendengar jawaban itu, sudah siap hendak menuju kepuncak, pikirnya ia hendak membawa pergi Liok Giok Ji kegunung Ko-le-kong-san, supaya bisa menyaksikan kebahagiaan ayah-bundanya yang sudah rujuk kembali.

Tiong-sun Hui Kheng yang lebih sabar, sudah tentu tidak suka menunjukkan sikap kasar untuk menimbulkan kesulitan, maka setelah mendengar jawaban Siang Biauw Yan, lebih dulu berkata kepadanya; "Siang Ciangbunjin jangan khawatir, setelah kami menjumpai Liok Giok Ji, kami hanya perlu beromong-omong sebentar saja, barangkali tidak perlu sampai matahari tenggelam sudah akan turun lagi."

"Kalau kalian berkata demikian, silahkan pergi sendiri, maaf aku tidak bisa mengantar, Tetapi puncak itu terlalu tinggi, kecuali tumbuhan pohon rotan yang dapat digunakan untuk pegangan, tiada jalan yang mudah untuk mencapai puncak itu, Kalau kalian mau aku boleh meminjamkan alat berupa sepatu yang khusus digunakan untuk mendaki puncak itu," berkata Siang Biauw Yan sambil menunjuk keatas gunung.

"Tak usah, puncak setinggi beberapa puluh tombak saja barangkali masih tidak menyulitkan kami berdua," menjawab Hee Thian Siang.

Sehabis berkata demikian, lalu minta diri dan bersama Tiong-sun Hui Kheng lari kepuncak Kun-lun.

Tak lama kemudian, tibalah mereka ketempat yang dituju, Benar saja didepan mereka terbentang puncak gunung yang tingginya kira-kira 70 - 80 tombak.

Tiong-sun Hui Kheng memandang puncak itu sejenak, lalu berkata kepada Hee Thian Siang;

"Adik Siang, kau lihat puncak ini bukan saja diliputi oleh tumbuhan lumut yang sangat tebal, keadaannya juga sangat aneh, Bagian atas menonjol dan menjulang kelangit, sedangkan bagian bawah kecil lurus, Seandai tidak ada tumbuhan pohon rotan yang besar-besar itu dengan kekuatan dan ilmu meringankan tubuh kita, barangkali masih belum sanggup mendaki keatasnya."

"Untung masih ada pohon rotan yang dapat kita gunakan sebagai pegangan, jikalau tidak, masakah kita ada muka untuk meminjam alat mendaki gunung dari Siang Biauw Yan?" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Sehabis berkata demikian, lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya melesat setinggi empat tombak, sedang tangannya menyambar sebatang rotan besar digunakan sebagai pegangan, kemudian dengan beruntun tiga kali ia jumpalitan, hingga melesat setinggi hampir dua puluh tombak.

Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan itu, ia berseru memuji;

"Ilmu meringankan tubuh adik Siang benar-benar telah maju sangat pesat sekali, hampir menandingi kepandaian Siaopek!"

Mendapat pujian seperti itu, Hee Thian Siang merasa senang, katanya;

"Enci Tiong-sun lekas kemari, kau jangan selalu mengejekku saja, mari kita mendaki kepuncak yang teratas, untuk menikmati pemandangan alam diwaktu senja!"

Tiong-sun Hui Kheng tersenyum juga melihat perbuatan Hee Thian Siang tadi, dengan menggunakan rotan yang tumbuh dipuncak gunung untuk mendaki keatas puncak, sedang mulutnya masih juga berkata;

"Adik Siang, kau sekarang sudah belajar pintar ngomong, kupikir apa yang kau ucapkan belum tentu sesuai dengan apa yang kau pikir didalam hatimu, Kau buru-buru untuk mencapai kepuncak tertinggi sebetulnya hendak menikmati pemandangan alam diwaktu senja, ataukah ingin segera bertemu dengan enci Giok-mu ?"

Wajah Hee Thian Siang merah seketika, lalu merandek, dan berkata sambil tertawa; "Kalau enci merasa cemburu, sudahlah kita jangan pergi saja!"

Tiong-sun Hui Kheng yang saat itu sudah berada disamping Hee Thian Siang, dengan wajah kemerah-merahan berkata kepada pacarnya;

"Adik Siang, kau ini harus dipukul! Mengapa kau mengucapkan perkataan demikian? Kalau aku ada pikiran yang bukan-bukan terhadap Liok Giok Ji, perlu apa aku menganjurkan kau lekas pergi Kegunung Kun-lun? Kau hendak mendaki atau tidak terserah kepadamu sendiri, kalau kau berkata demikian, maaf aku tidak dapat menemani kau, aku dengan Siaopek dan taywong serta kudaku Ceng-hong-ki, akan pulang saja kedaerah Tiong-goan!"

Ucapan itu membuat Hee Thian Siang bingung, ia buru- buru meminta maaf kepada gadis itu.

Dua orang itu melanjutkan perjalanannya mendaki puncak gunung sambil bersenda-gurau, Tanpa dirasa sudah berada dipuncak yang tertinggi.

Tetapi tempat itu hanya tampak kabut putih, dan angin gunung yang dingin, sedikitpun disitu tidak nampak bayangan Liok Giok Ji.

Tiong-sun Hui Kheng mengerutkan alisnya, Hee Thian Siang yang agak bingung lalu menunjuk kesebuah lobang goa yang hanya cukup untuk satu orang, seraya berkata;

"Enci, apakah Liok Giok Ji berada didalam goa ini? Mari kita lihat!"

Tiong-sun Hui Kheng mengawasi keadaan goa itu sejenak, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa kecil; "Menurut dugaanku, mungkin Liok Giok Ji tidak bisa berada didalam goa yang sangat kecil itu!"

Hee Thian Siang masih belum mau percaya, ia sudah mengerahkan tenaganya untuk melompat kedalam goa, dan dari situ ia melongok kedalam, kemudian berkata dengan suara terkejut;

"Enci, bagaimana kau bisa menebak demikian jitu? Goa ini hanya sedalam beberapa kaki saja, sudah tentu tidak dapat dimasuki orang, Goa ini ternyata adalah goa bikinan manusia!"

"Adik Siang, kita yang selalu memikirkan hendak segera menemukan Liok Giok Ji, selama ini belum pernah memikirkan secara baik dan memperhatikan sikap dan segala perkataan Siang Biauw Yan, sehingga tertipu mentah-mentah olehnya. . .

. ."

Belum habis ucapannya, dengan tiba-tiba dihidungnya telah mencium bau hangus yang timbul dari bawah puncak gunung.

Hee Thian Siang juga sudah dapat membaui bau hangus itu, maka segera bertanya dengan perasaan heran;

"Enci, itu bau apa ?"

Alis Tiong-sun Hui Kheng dikerutkan, lantas menjawab sambil menggelengkan kepala;

"Bau ini sudah kuduga terlebih dahulu, pasti adalah Siang Biauw Yan yang membakar rotan-rotan itu, hendak memutuskan perjalanan pulang kita!"

Hee Thian Siang yang mendengarkan perkataan itu dalam hati masih ragu-ragu, ia lalu berjalan ketepi untuk melongok kebawah, benar saja apa yang diucapkan oleh Tiong-sun Hui Kheng tadi sedikitpun tidak salah, rotan-rotan yang tadi bekas digunakan untuk mendaki kepuncak itu kini terdapat bau minyak, dan api sudah mulai berkobar semakin besar.

Wajah Hee Thian Siang berubah seketika, katanya;

"Enci Tiong-sun, kita yang berkali-kali menemukan kejadian gaib, sehingga kekuatan tenaga banyak mendapat kemajuan, biarlah kita tunggu saja kepada Siang Biauw Yan, kalau ia nanti berada diatas sini, aku akan bertindak terhadapnya, untuk menyingkirkan kawanan penjahat dari golongan Kun- lun-san!"

Tiong-sun Hui Kheng mengawasi Hee Thian Siang sejenak, katanya perlahan-lahan;

"Adik Siang, biasanya kau sangat cerdik, mengapa hari ini bisa berubah begitu tolol? Orang seperti Siang Biauw Yan itu yang demikian licik dan banyak akalnya, kalau keadaan seperti ini, walau api membakar rotan-rotan itu, kukira juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kita." berkata Tiong-sun Hui Kheng dengan alis berdiri.

"Kalau Siang Biauw Yan tidak mendaki kepuncak ini, tetapi membakar rotan-rotan itu, kukira juga tidak bisa berbuat apa- apa terhadap kita." berkata pula Hee Thian Siang.

Tiong-sun Hui Kheng balas menanya; "Adik Siang, keadaan kita sekarang ini sangat berbahaya sekali, kau jangan lagi coba-coba sombong diri sendiri! Sekarang aku hendak tanya padamu, diatas puncak gunung tertinggi ini apakah ada tersedia bahan makanan dan minuman ?"

Ditanya demikian, Hee Thian Siang menggeleng-gelengkan kepala.

Tiong-sun Hui Kheng berkata pula; "Oleh karena tidak ada bahan makanan dan minuman, maka perlu apa Siang Biauw Yan datang kemari menghadapi kita? Sudah cukup asal dia dengan tenang menunggu saja, biar kita kelaparan sendiri sehingga tidak sanggup berdiam disini lama, dan kalau hal itu telah terjadi bukankah sangat mudah baginya untuk menangkap kita? Atau ia terus tidak menghiraukan kita dan membiarkan kita berdiam disini selama seminggu dua minggu, dan kita yang berada ditempat dingin seperti ini, apalagi tidak ada bahan makanan dan minuman, bukankah akan menjadi setan kelaparan dipunvak gunung ini?"

Hee Thian Siang waktu itu baru merasa gugup, dengan alis dikerutkan ia berkata;

"Enci, jikalau Siang Biauw Yan benar-benar berbuat seperti apa yang kau katakan tadi, memang benar kita tidak bisa berbuat apa-apa, hal ini sesungguhnya membuat kita tidak berdaya sama sekali!"

"Oleh karena itu, maka kita harus tenang-tenang jangan gugup atau cemas, kita harus memikirkan sesuatu cara sebaik-baiknya dengan cara bagaimana kita turun dari tempat setinggi tujuh belas tombak ini, Jikalau kita tidak berbuat demikian, mungkin tidak bisa lolos dari cengkeraman tangan Siang Biauw Yan!" berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil menganggukkan kepala.

"Justru kau adalah seorang yang sangat pintar, Aku seorang yang terlalu bodoh, Mari kita sekarang mengadu kecepatan siapa yang lebih dahulu dapat memikirkan caranya untuk keluar dari jalan buntu ini!"

Tiong-sun Hui Kheng sementara itu tujukan pandangan matanya kedaerah disekitarnya, kemudian seolah-olah sudah menemukan jalan keluar, maka lalu berkata sambil tertawa; "Adik Siang, apakah kau merasa bahwa oleh karena setiap kali kau selalu kalah dariku, hingga merasa penasaran?"

Hee Thian Siang tertawa, selagi hendak menjawab, Tiong- sun Hui Kheng sudah berkata lagi;

"Tetapi kali ini jikalau kau bertaruh denganku, kau pasti akan kalah lagi!"

"Bagaimana enci dapat memastikan aku yang akan kalah

?"

"Sebab aku sudah mendapatkan suatu akal yang baik! Bahkan merupakan suatu akal yang luar biasa bagi kita untuk turun kebawah!"

Hee Thian Siang terheran-heran, tapi ia juga sangat mengagumi gadis itu, tanyanya;

"Enci benar-benar sangat pintar sekali, akal apakah yang engaku sudah dapati itu ?"

"Kau boleh juga coba memikirkan, Bilamana tidak ada akal lain yang lenih baik, baru nanti akan kuceritakan padamu mengenai akal sederhanaku itu! Sebab pikiranmu mungkin lebih pintar dariku!"

"Enci tidak perlu memberi muka kepadaku, untuk selanjutnya aku benar-benar tidak berani mengadu kecerdasan otak dengan enci lagi, untuk selamanya aku rela menjadi budakmu saja!"

"Alangkah ganjilnya ucapanmu 'menjadi budak' itu, tetapi bagi orang yang menjadi budak yang terpenting ialah kesetiaan, Dan kau sebagai pemuda berandalan yang sangat romantis dimana-mana kau mempunyai kekasih, Dirimu selalu tidak terpisah dari persoalan asmara, Mungkin disamping yang kesatu, masih ada yang kedua, dan dikemudian hari entah akan ada berapa banyak lagi gundik-gundik yang hendak engkau kumpulkan?"

"Enci, bukankah kau sudah berkata tidak akan cemburu terhadap Hok Siu In dan Liok Giok Ji? Kenapa sekarang kau bawa-bawa perasaan cemburumu itu keatas puncak gunung Kun-lun ini?" bertanya Hee Thian Siang dengan muka merah.

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar pertanyaan itu lantas tertawa cekikikan, kemudian berkata;

"Aku tidak akan bicara yang bukan-bukan lagi denganmu, sekarang hendak melaksanakan rencanaku sendiri."

Hee Thian Siang sebetulnya tidak tahu benar siasat apa yang hendak diambil oleh Tiong-sun Hui Kheng untuk meloloskan diri dari bahaya ini, maka dengan perasaan terheran-heran, ia mengawasi segala tindak-tanduknya.

Tiong-sun Hui Kheng dengan sikap tenang-tenang saja dari pinggangnya mengambil sebuah terompet, kemudian ditiupnya sehingga dari situ mengeluarkan suara aneh yang mencapai kejarak jauh.

Hee Thian Siang tahu ketika pertama kali bertemu dengan Tiong-sun Hui Kheng digunung Tay-piat-san, sudah pernah melihat gadis itu menggunakan terompet seperti itu, maka ia tahu terompet itu besar sekali gunanya, Dan sekarang kembali gadis itu menggunakan terompetnya yang luar biasa itu, ketika suara terompet itu mengalun jauh ia baru sadar maksudnya, maka lalu berkata sambil tersenyum;

"Apakah enci menggunakan alat ini hendak berbicara dengan Siaopek dan Taywong!"

"Diatas puncak gunung yang keadaannya demikian tinggi dan licin ini, hanya Siaopek dan Taywong dua binatang luar biasa itu yang baru bisa naik turun dengan leluasa!" "Adik benar-benar goblok, kalau enci perintahkan Siaopek dan Taywong, untuk membawa sebanyak mungkin rotan-rotan yang sangat panjang keatas puncak ini, bukankah kita dapat gunakan untuk merambat turun?" berkata Hee Thian Siang sambil menepok tangan dan tertawa.

"Tetapi, cara seperti ini terlalu banyak bahayanya! Apabila kita merambat dan sedang berada ditengah-tengah lantas dipergoki oleh Siang Biauw Yan, dan kemudian rotan itu dibakarnya lagi, bukankah kita akan berada dalam keadaan yang lebih berbahaya?" berkata Tiong-sun Hui Kheng dengan menggelengkan kepalanya.

"Kalau enci tidak berani menempuh bahaya, kita benar- benar tidak dapat memikirkan cara yang lebih baik lagi!"

"Rencanaku ini boleh dikata suatu rencana yang baik, rencana itu kunamakan dengan tenang menunggu kedatangan kelinci yang akan datang membuka kunci emasnya sendiri!"

Hee Thian Siang telah mengulangi berkali-kali ucapan Tiong-sun Hui Kheng itu, namun ia masih belum dapat memahami maksud yang sebenarnya, terpaksa bertanya lagi kepadanya;

"Kalau begitu, apakah maksud enci yang sebenarnya dengan memanggil Siaopek dan Taywong keatas puncak gunung ini ?"

"Kita barangkali memerlukan berdiam sepuluh hari atau setengah bulan lamanya diatas puncak gunung ini, jikalau kita tidak minta bantuan Siaopek dan Taywong untuk mencari barang makanan bagi kita, bukankah kita nanti akan mati kelaparan disini?"

"Jadi kita harus menunggu sepuluh hari atau setengah bulan lamanya diatas puncak gunung ini ?" "Itu sudah tentu mengingat perhitunganku, paling sedikit harus menunggu sepuluh hari kemudian kita baru ada kemungkinan mendapat pertolongan! Sebelum pertolongan tiba, bagaimana kita bisa keluar dari tempat bahaya ini ?"

Semakin Hee Thian Siang mendengar, semakin ia merasa heran, ia bertanya lagi sambil membuka lebar matanya;

"Jadi kita masih ada harapan kedatangan pertolongan ?" "Peribahasa ada kata: Tuhan selalu akan memberi jalan

bantu kepada ummatnya, Sekarang kita sudah berada dijalan buntu, sudah tentu akan kedatangan Tuan penolong!"

"Siapakah Tuan penolong kita itu!"

"Orang yang akan membuka ikatan itu seharusnya adalah orang yang mengikatnya itu sendiri!"

"Maksud enci, apakah Siang Biauw Yan ?"

"Hmm! Kecuali Siang Biauw Yan, siapa lagi yang bisa datang keatas puncak gunung Kun-lun ini untuk memberi bantuan kepada kita?"

"Bolehkan enci menjelaskan siasat enci yang bagus itu, supaya pikiranku tidak terganggu begitu ?"

Tiong-sun Hui Kheng minta Hee Thian Siang duduk bersama-sama diatas sebuah batu, kemudian berkata sambil tersenyum;

"Adik Siang, setiap orang yang melakukan sesuatu perbuatan yang khianat, untuk membanggakannya bukankah ingin melihat sendiri hasilnya ?"

Meskipun Hee Thian Siang sudah tahu mengapa Tiong-sun Hui Kheng dengan tiba-tiba mengajukan pertanyaan demikian, tetapi ia masih tetap menjawab sembari menganggukkan kepala;

"Enci, itu memang sudah sewajarnya!"

"Atas dasar dugaanku inilah, coba kau pikir, apakah Siang Biauw Yan nanti tidak akan datang mendaki kepuncak gunung ini untuk melihat sendiri apakah kita benar-benar sudah mati kelaparan atau tidak ?"

"Oh, dugaan enci ini memang tepat, Tetapi dengan cara bagaimana enci tahu bahwa Siang Biauw Yan paling tidak sepuluh hari kemudian baru akan mendaki gunung ini ?"

"Dalam pikiran Siang Biauw Yan, kita dianggapnya sudah menjadi barang tawanan dalam jebakannya, Sekalipun tidak ditindak juga akan mati sendiri, perlu apa dia tergesa-gesa datang dengan menempuh bahaya ?"

"Mengenai soal ini enci sudah pernah katakan, Siang Biauw Yan sudah memperhitungkan walaupun kita membawa bekal rangsum kering dan air, paling lama dalam waktu tiga hari juga sudah dimakan habis, Kalau ia sepuluh hari kemudian datang kemari, itu berarti kita sudah menahan lapar selama tujuh hari, sudah pasti akan mati!"

"Tetapi mengingat ucapanmu tentang kejahatan dan kekejaman Siang Biauw Yan, aku dapat menduga, Setiap orang yang licik dan banyak akalnya dan kejam seperti itu, kalau melakukan sesuatu pasti ia berhati-hati, Dalam waktu sepuluh hari, ada kemungkinan ia masih belum mau datang, ia mungkin masih akan menunggu beberapa hari lagi, untuk menjaga kita masih belum putus napas, Sebab apa bila kita belum mati benar-benar, kalau ditemukan olehnya pasti akan berlaku nekad dan bertempur dengannya!"

"Betul! Siang Biauw Yan mengira kita diatas puncak ini akan kelaparan dan kehausan, dan pasti akan mati, sedang kita dengan bantuan Siaopek dan Taywong yang menyediakan barang makanan, dengan enak-enak menantikan kedatangannya, Ini berarti ia yang terbalik terjebak oleh kita. . . . . ." Ia berdiam sejenak seolah berpikir, kemudian katanya pula; "Dengan berbuat demikian, meskipun itu dapat dinamakan sebagai siasat menantikan kedatangan kelinci, tetapi keterangan enci yang lainnya mengenai membuka kunci emas sendiri, bagaimana enci artikan ?"

"Begitu Siang Biauw Yan nanti mendaki puncak ini, kita tangkap dia hidup-hidup! Lalu, kita boleh meniru cara dia mendaki kemari, turun dari tempat ini, Bukankah ini dapat dinamakan ia yang membuka kunci emasnya sendiri telah menyelamatkan kita ?"

Berkata sampai disitu, dari tepi tebing nampak berkelebat bayangan putih dan kuning, benar saja siaopek dan taywong ketika mendengar suara terompet tadi, kedua-duanya sudah datang kepuncak yang sangat tinggi itu.

Dari pinggangnya siaopek membuka bungkusan, didalam bungkusan itu terdapat dua ekor ayam panggang dan sepotong daging.

Sedang taywong ada membawa buli-buli besar yang diberikan oleh Tiong-sun Hui Kheng, didalam buli-buli itu penuh berisi arak.

Tiong-sun Hui Kheng yang melihat kedatangan dua binatang kesayangannya, lalu bertanya kepada siaopek;

"Siaopek, barang-barang hidangan dan arak ini, apakah kau bersama taywong dapat mencuri dari istana Kun-lun-kiong

?"

Siaopek mengangguk-anggukkan kepala, dan Tiong-sun Hui Kheng kembali berkata sambil menunjuk Hee Thian Siang; "Aku dengannya hendak bertapa kira-kira selama setengah bulan dipuncak gunung Kun-lun ini, tidak memerlukan barang hidangan yang begini bagus, sudah cukup apabila kau bersama taywong, setiap tiga hari sekali mengantar makanan kering dan air! sekarang kau lekas turun sama-sama menemani Ceng-hong-ki, perjalananmu kemari ini harus dilakukan dengan hati-hati dan dirahasiakan, jangan sampai orang lain tahu bahwa kita mendapat supply barang makanan!"

Siaopek mengeluarkan suara dua kali, suatu tanda mengerti baik pesan majikannya, lalu menarik taywong, bersama-sama turun dari atas puncak dengan sangat lincah.

Hee Thian Siang yang menyaksikan gerakan siaopek dan taywong demikian lincah dan gesit, diam-diam menghela napas.

Sementara itu Tiong-sun Hui Kheng sudah berkata sambil tertawa;

"Adik Siang, sekarang disini ada arak dan hidangan lezat, Mengapa kau masih menghela napas panjang pendek ?"

"Aku sebetulnya mengagumi kepandaian enci yang dapat menjinakkan kedua binatang itu, tetapi sayang tidak dapat menjinakkan bangsa burung, alangkah baiknya jikalau kita juga memelihara seekor burung raksasa yang cerdik! Kalau kita dapat berbuat begitu, bukankah hari ini kita tidak akan mendapat kesulitan seperti hari ini ?"

Tiong-sun Hui Kheng menatap Hee Thian Sing sejenak, lantas berkata sambil tertawa;

"Siapa kata aku tidak dapat menjinakkan bangsa burung? Hanya burung raksasa yang cerdik lebih susah dihadapi dari pada binatang cerdik! Nanti setelah urusan digunung Ki-lian selesai, aku akan berusaha untuk mendidik seekor burung raksasa yang dapat ditunggangi untukku perlihatkan kepadamu!"

Hee Thian Siang dengan tiba-tiba teringat kepada persiapan pertama yang diucapkan oleh Tiong-sun Hui Kheng setengah bulan yang lalu, maka lalu bertanya;

"Enci tadi berkata kepada Siaopek bahwa kita hendak bertapa setengah bulan lamanya dipuncak gunung yang dingin ini, Apakah maksudmu?"

"Memang, sudah waktunya kita harus mengaso dan bertapa disini!" menjawab Tiong-sun Hui Kheng sambil menganggukkan kepala.

"Kita toch tidak melakukan perbuatan yang melanggar hati nurani, perlu apa harus bertapa?" Bertanya lagi Hee Thian Siang heran.

"Yang kita akan tapakan bukanlah perbuatan kita, melainkan menapakan ilmu kepandaian kita !"

Hee Thian Siang baru melengak, Tiong-sun Hui Kheng sudah berkata pula;

"Adik Siang, coba kau pikir selama ini, dalam hal kepandaian ilmu silat, kau sudah mewarisi tiga jurus ilmu silat Bunga Mawar, tiga jurus ilmu menyelamatkan jiwa, dan mendapat pula hadiah senjata pusaka bulu burung warna lima dari Thian-i Taysu, yang dahulu pernah digunakan untuk menaklukkan kawanan iblis, sedangkan aku juga sudah mewarisi kepandaian sangat ampuh yang ditinggalkan oleh Sam-ciok Cinjin, semua sudah cukup digunakan untuk menghadapi tokoh-tokoh terkuat pada masa ini, akan tetapi, mengenai dasar latihan kekuatan tenaga dalam, oleh karena selama ini kita repot mengurusi banyak soal, hingga sedikitpun tidak mendapatkan kemajuan! Jikalau tidak demikian, kau yang sudah diwarisi kekuatan tenaga dalam oleh Duta Bunga Mawar, dengan cara bagaimana didepan pintu goa Siang- swat-tong, masih belum sanggup mencabut senjata tongkat ketua partai Ki-lian? Dan akhirnya kau masih memerlukan bantuan tenaga orang lain, barulah terhindar dari hinaan orang? Sekarang kita yang kebetulan harus berdiam dipuncak gunung ini selama setengah bulan, bukankah itu merupakan suatu kesempatan baik untuk menenangkan hati dan pikiran kita, membina kekurangan kita yang selama ini tidak kita perhatikan baik-baik? Apa lagi waktu pertemuan digunung Ki- lian sudah dekat, selain tokoh-tokoh kuat yang kita sudah kenal, masih ada tiga iblis Pek-kut Sam-mo dan jago-jago tokoh kuat yang belum pernah kita hadapi, kita yang sudah mendapat tugas dari Duta Bunga Mawar, Dengan cara bagaimana kau masih belum mengadakan persiapan mulai sekarang? Tempat ini hawanya sangat dingin udaranya juga bersih, merupakan suatu tempat yang baik sekali bagi orang yang melatih kekuatan tenaga dalam! Maka itulah kau harus lekas mempersiapkan diri untuk membina kekuatan tenagamu sendiri, kecuali waktu makan dan minum serta diwaktu beristirahat, aku tidak akan banyak bicara denganmu."

Tiong-sun Hui Kheng setelah mengucapkan perkataan itu, ia sendiri lantas duduk diam untuk bersemedi, tidak menghiraukan Hee Thian Siang lagi, Sesaat kemudian ia sudah berada dalam keadaan seperti melupakan dirinya sendiri.

Sedangkan Hee Thian Siang setelah mendengar ucapan Tiong-sun Hui Kheng yang mengandung arti dalam, juga merasa malu terhadap dirinya sendiri, Kini setelah menyaksikan gadis itu sudah mulai bersemedi, dalam hati lantas timbul perasaan kagumnya, pikirnya; "Enci Tiong-sun- ku ini, benar-benar seperti bidadari yang turun dari khayangan, baik sifat perangainya serta kecerdikan dan pengetahuannya, maupun kepandaian ilmu silatnya, semua menunjukkan perbedaan yang jauh lebih tinggi dari manusia biasa. Oleh karena ia telah mengumpamakan Tiong-sun Hui Kheng sebagai bulan purnama, maka ia sendiri pada saat itu telah merasakan seolah-olah tidak berarti sama sekali, maka ia buru-buru mengikuti perbuatan Tiong-sun Hui Kheng, untuk duduk bersemedi.

Puncak diatas gunung Kun-lun itu memang merupakan suatu tempat yang sangat bagus bagi orang untuk bertapa, maka Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng sehabis melakukan semedinya, segera dapat merasakan faedahnya, Sekujur badannya serasa enteng, pikirannya juga lega!

Selesai bersemedi, dua orang itu membuka mata lalu berpandangan sambil tersenyum, mereka tidak mengadakan percakapan yang tidak ada gunanya.

Demikianlah hari-hari mereka lalui dipuncak gunung tertinggi gunung Kun-lun-san, tanpa dieasa sepuluh hari telah berlalu, Selama itu kecuali siaopek dan taywong yang suka datang membawa makanan kering dan minuman, Siang Biauw Yan belum pernah muncul disitu.

Tiong-sun Hui Kheng bertanya kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum;

"Adik Siang, sekarang kau pasti dapat merasakan hasilnya bersemedi selama sepuluh hari ini, yang sudah tentu membawa faedah tidak sedikit bagimu, bukan ?"

"Terima kasih atas petunjuk enci, Selama sepuluh hari ini dalam melakukan semediku, aku belum pernah memikirkan hal-hal yang lain, Didalam keadaan demikian aku sudah berhasil menyempurnakan kepandaian dan kekuatan tenaga yang diwariskan oleh Duta Bunga Mawar, kugabungkan dengan ilmu perguruanku Khian-thian-khi-kang, nanti kalau benar Siang Biauw Yan datang kemari, aku akan coba-coba dengan ilmu gabungan itu!" Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa. Sehabis berkata demikian, tangan kanannya digerakkan, ditengah udara melakukan suatu gerakan menekan, sungguh heran, sebuah batu besar yang terpisah sejarak tiga-empat tombak jauhnya, lantas tertampak tanda bekas jari tangannya yang sangat nyata.

Tiong-sun Hui Kheng tahu bahwa Hee Thain Siang yang sudah mendapat warisan tenaga dalam dari Duta Bunga Mawar, kemudian makan biji mata kelabang ajaib, dan sekarang ditambah lagi dengan latihannya bersemedi selama sepuluh hari, maka semua ilmu yang didapatkan itu telah digabung menjadi satu, dengan demikian maka hawa murni dan kekuatan tenaga dalamnya sudah pasti tidak dibawah para ketua partai besar pada dewasa ini! Akan tetapi ia tak mau menceritakan itu semua dan tidak mau memberi pujian terlalu tinggi, hanya berkata sambil tersenyum;

"Adik Siang, jikalau kau ingin menggunakan Siang Biauw Yan sebagai percobaan, barangkali mungkin masih harus menunggu tiga hari lagi!"

"Enci, kau toh tidak mempunyai ilmu ramal yang bisa meramalkan hal-hal yang belum terjadi? Dengan cara bagaimana kau dapat memastikan bahwa tiga hari kemudian Siang Biauw Yan akan datang kemari ?"

"Ini adalah perhitunganku sendiri!"

"Bagaimana enci dapat menduga demikian pasti ?" "Sesudah menunggu sepuluh hari, Siang Biauw Yan pasti

akan sangat cemas, ingin sekali menyaksikan akal busuknya itu berhasil seperti apa yang diperhitungkan olehnya atau tidak? Tetapi oleh karena dia salah seorang yang sangat licik dan banyak akal untuk bertindak lebih hati-hati, terpaksa ia harus menunggu lagi beberapa hari, baru berani datang kemari!" "Benar. "

Satu hari lewat satu hari, sesudah hari ketiga belas, Siang Biauw Yan bukan saja sudah bersabar sedemikian rupa, tentunya ia akan menghitung-hitung lagi, ia dalam pikirannya mungkin mengira bahwa kita mungkin bisa tahan sampai sepuluh hari tidak makan, tetapi selewatnya dianggapnya tentu tidak sanggup lagi, berdasar perhitungan itulah maka ia pasti akan diam-diam mendaki kepuncak gunung ini, untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri !"

Berkata sampai disitu Tong-sun Hui Kheng memberi penjelasan yang lebih tegas;

"Siang Biauw Yan hendak mencelakakan diri kita dengan jalan demikian, pasti oleh karena kau sudah mengetahui perbuatannya yang mencelakakan diri Ti-hui-cu, barulah hendak membinasakan kita secara diam-diam diatas puncak gunung ini! Maka dari itu aku bukan saja berani menduga pada waktu hari ketiga belas ini ia pasti datang, bahkan berani menduga pula ia akan datang pada waktu tengah malam yang sunyi!"

"Enci, apabila aku dapat mempelajari pikiranmu semacam ini, pasti banyak sekali gunanya!"

"Untuk memikirkan sesuatu persoalan, meskipun belum tentu tepat seluruhnya, tetapi apabila kita bisa mengadakan analisa dengan cermat, kadang-kadang dapat menduga sebagian besar!"

Dua orang itu setelah bercakap-cakap agak lama, lalu mulai makan dan minum, setelah itu kembali bersemedi seperti biasa.

Waktu tiga hari berlalu dengan cepat, ketika malam tiba, benar saja selewatnya tengah malam, mereka telah mendengar suara orang mendaki gunung dengan alat logam, suara itu kedengaran nyata, seperti orang setindak demi setindak merambat keatas tebing itu.

Hee Thian Siang yang sudah pasang telinga sejak tadi, lalu berkata disamping telinga Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa;

"Perhitungan enci benar-benar seperti dewa untuk selanjutnya aku harus memberi julukan kepadamu 'Cu Kat Liang' wanita, bagaimana ?"

"Adik Siang jangan berkata yang bukan-bukan, mari kita lekas rebahkan diri ditempat gelap dan pura-pura berlagak mati, biarlah sebelum Siang Biauw Yan mendapat pembalasannya, ia akan merasakan kegirangannya lebih dahulu, mungkin dari mulutnya yang sudah kegirangan kita nanti dapat mendengar sedikit keterangan tentang Liok Giok Ji yang sebenarnya ?"

Hee Thian Siang menurut, keduanya lalu merebahkan diri disamping sebuah batu besar yang tempatnya agak gelap.

Suara ketokan batu gunung semakin lama terdengar semakin dekat, tak lama kemudian imam tua itu benar-benar sudah muncul dipuncak gunung dengan membawa seutas rotan yang besar dan panjang.

Hee Thian Siang diam-diam mencuri lihat, tampak sepatu yang dipakai oleh Siang Biauw Yan, ujungnya ternyata diperlengkapi dengan sepasang kaitan besi yang tajam, hingga ia tahu sepatu semacam itulah barangkali yang digunakan oleh orang-orang Kun-lun-pay untuk mendaki gunung.

Sementara mengenai rotan panjang yang dibawa oleh Siang BIauw Yan, barangkali karena menganggap dengan menggunakan semacam itu bagaimana pun juga memerlukan banyak tenaga, maka ia membawa rotan yang sangat panjang supaya kalau diwaktu turun nanti bisa lebih mudah.

Begitu tiba diatas puncak, mata Siang Biauw Yan menyapu keadaan disekitarnya, tampak diri Hee Thian Siang dan Tiong- sun Hui Kheng kedua-duanya rebah tengkurap didekat batu besar tanpa bergerak sedikitpun juga, dua orang itu seolah- olah sudah putus nyawanya.

Menyaksikan keadaan demikian, ia sangat bangga dan girang sekali, maka lantas melupakan dirinya sendiri dan mengoceh sendirian;

"Barang siapa yang mengetahui rahasiaku pasti mengalami nasib yang serupa, Thio Giok, Phoa Sa dan In Ya Hok, semuanya sudah menjadi setan gentayangan digunung Tay- pa-san, dan bocah Hee Thian Siang ini kini juga sudah menjadi setan kelaparan diatas puncak gunung ini, maka kedudukanku sebagai ketua, barangkali sudah aman."

Berkata sampai disitu, barangkali karena terlalu girang ia sudah tertawa terbahak-bahak sendiri.

Hee Thian Siang kini baru tahu bahwa bukan saja Liok Giok Ji pernah secara menggelap dengan menggunakan senjata duri berbisanya sehingga kemudian terjadilah perbuatan yang tidak diingini dengan dirinya digoa kuno itu, bahkan tiga murid angkata muda dari golongan Kun-lun, semua juga sudah dibinasakan cara serupa oleh paman seperguruannya sendiri yang waktu itu sudah ter-gila dengan kedudukan ketua.

Tetapi Siang Biauw Yan yang masih lupa diri dan dalam keadaan tertawa, dengan tiba-tiba berkata lagi seorang diri sambil mengerutkan alisnya;

"Sayang dari sikap dan ucapan Hee Thian Siang, Liok Giok Ji ternyata masih belum mati, ini akan merupakan suatu ancaman dan bahaya besar bagiku dikemudian hari, Sedangkan didunia yang luas ini, kemana aku harus mencari dia ?"

Sambil berbicara, lengan bajunya dikebutkan dengan perasaan gemas, apa mau, hembusan angin yang keluar dari kibasan lengan bajunya tadi, telah menyapu buli-buli arak yang diletakkan dibelakang sebuah batu besar, bersamaan dengan itu, tulang-tulang ayam dan lain-lainnya juga berhamburan oleh kebutan tadi.

Siang Biauw Yan yang dengan secara tiba-tiba menemukan buli-buli arak dan tulang-tulang ayam itu bukan kepalang terkejutnya, sepasang matanya menunjukkan sinar beringas, mata itu kembali ditujukan kepada Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng yang menggeletak tidak jauh dibelakang batu tadi.

Hee Thian Siang sebetulnya ingin tahu jejak Liok Giok Ji, oleh karenanya maka ia berlagak mati untuk mendengar keterangan dari mulut Siang Biauw Yan sendiri dan kini setelah mengetahui itu semua, maka ia tidak perlu berlagak mati lagi, Dengan tiba-tiba ia lompat bangun dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak;

"Ciangbunjin, mengapa sekarang baru datang? Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng sudah lama menantikan kedatanganmu, karena hendak mengucapkan terima kasih kepadamu yang sudah meminjamkan tempat sebaik ini untuk kita melatih ilmu silat dengan tenang, bahkan dengan baik hati kau sudah menyediakan arak dan hidangan lezat, maka atas budimu ini kami berdua tidak akan bisa melupakan!"

Siang Biauw Yan yang sangat licik, sejak melihat buli-buli arak dan tulang-tulang ayam, sudah mengetahui gelagat tidak beres, maka diam-diam ia sudah mengerahkan kekuatan tenaganya untuk membunuh dua anak muda itu. Maka dari itu, baru saja Hee Thian Siang mengucapkan perkataan itu, Siang Biauw Yan sudah memperdengarkan suaranya dari hidung, kemudian lengan bajunya yang gerombolan dikebutkan, hingga kekuatan tenaga dalam yang meluncur dari situ telah menggulung Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng dengan hebat.

Serangannya secara mendadak itu, selanjutnya bahkan disusul dengan serangan senjatanya duri berbisa sebanyak tujuh delapan buah dengan cara bertebaran, mengarahkan bagian kematian ditubuh Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng.

Tetapi Hee Thian Siang sudah tahu kekejaman dan keganasan Siang Biauw Yan, sejak tadi ia sudah siap-sedia, maka ketika itu ia sudah mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dari ilmu perguruannya sendiri ketangan kanan, untuk menyambut serangan Siang Biauw Yan tadi, sedang tangan kanannya segera membuka jaring wasiat warna merah, untuk menjaring senjata berbisa Siang Biauw Yan.

Kekuatan tenaga dalam yang keluar dari kedua belah pihak, waktu itu belum tampak siapa yang lebih hebat, begitu saling beradu lantas terpecah, tapi senjata rahasia duri berbisa sebanyak tujuh delapan buah itu sebaliknya dengan sangat mudah sekali sudah terjaring oleh jaring wasiat Hee Thian Siang.

Bukan kepalang terkejutnya Siang Biauw Yan, sehingga ia lompat mundur beberapa langkah, Diam-diam merqasa heran, sebab serangannya dengan lengan jubah tadi yang menggunakan kekuatan tenaga sepenuhnya, dengan cara bagaimana dapat dipunahkan dengan tenang oleh lawannya itu ?

Hee Thian Siang menyerahkan jaring wasiat yang sudah berisi senjata duri berbisa kepada Tiong-sun Hui Kheng, kemudia ia mendekati Siang Biauw Yan dan berkata, katanya sambil tertawa terbahak-bahak;

"Siang Biauw Yan, oleh karena kau ini telah merebut kedudukan ketua partaimu dengan cara keji dan beruntun kau telah mencelakakan secara menggelap kepada Ti-hui-cu dan Liok Giok Ji, kemudian kau juga sudah membinasakan kepada murid keponakanmu sendiri Thio Giok, Phoa Sa dan In Ya Hok, kau ini sesungguhnya merupakan seorang berhati binatang yang sangat kejam, dosamu seperti itu tidak dapat bisa diampuni, maka puncak gunung Kun-lun ini, barangkali merupakan tempatmu yang terakhir dalam dunia ini!"

Siang Biauw Yan sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, berkata dengan nada suara dingin;

"Apa yang kau maksudkan dengan orang berhati binatang yang sangat kejam? Apa yang kau maksudkan dengan tempat terakhir? Aku tidak tahu semua itu, aku hanya tahu didalam dunia yang penuh kejahatan dan setiap orang berusaha berebut nama dan kedudukan seperti ini, yang menang boleh menjadi jago, yang kuat boleh hidup dan yang lemah harus mati!"

Baru saja menutup mulutnya, kembali sudah melancarkan serangannya yang sangat ganas, dengan ilmunya dari golongan Kun-lun yang terampuh, lima jari tangan kanannya dipentang bagaikan kaitan, untuk menyambar tenggorokan Hee Thian Siang, Ia malah sudah siap apabila Hee Thian Siang dapat mengelak, ia akan lompat tinggi keatas dengan menggunakan gerak tipu ilmu silat yang dinamakan Naga unjuk diri dalam awan tiga kali, hendak membinasakan Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang sudah tahu bahwa serangan Siang Biauw Yan itu meskipun mengandung kekuatan hebat, tetapi hanya gerak-tipu belaka, imam itu pasti akan menantikan kesempatan selagi dirinya menyambut serangan tadi, barulah merubah siasatnya melancarkan serangannya yang lebih ganas.

Oleh karena Hee Thian Siang terlalu banyak memiliki kepandaian ilmu silat dari tokoh-tokoh kenamaan, nyalinya semakin besar, maka ia sengaja mengiringi kehendak lawannya, dengan berdiri tegak bagaikan gunung Tay-san, tangan kirinya digunakan untuk melindungi bagian dada, sedang tangan kanan digunakan untuk menahan serangan musuh.

Gerak tipu yang digunakan oleh Siang Biauw Yan tadi sebetulnya boleh digunakan sebagai gertakan belaka, apabila lawannya menganggap itu sebagai suatu gerak tipu kosong tidak begitu menghiraukannya, maka ia segara mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya kepada lima jari tangannya untuk melakukan serangan yang lebih hebat, Apabila dipandang serangan sungguh-sungguh oleh lawannya, disambut dengan tenaga penuh, baru ia akan melancarkan serangan yang mengandung banyak perobahan.

Kini setelah melihat Hee Thian Siang berdiri tegak dan menggunakan kekuatan tenaga hendak menyambut serangannya, ia lalu memperdengarkan suara dingin, tangan kanannya mendesak keluar, tangan kirinya menggunakan jubahnya untuk mengebut, itu merupakan gerakan seekor Naga dan kemudian ia lompat melesat setinggi empat tombak lebih, setelah itu ia membuat gerakan salto dan terus menukik dalam sikap menyergap, dalam keadaan demikian sepasang matanya tampak beringas, dua tangannya bergerak seperti mau menerkam, gerakan itu mengandung hembusan angin demikian hebat, hingga didaerah sekitar lima enam tombak, semua sudah terkurung olehnya.

Hee Thian Siang ada maksud hendak menunjukkan kepandaiannya diahadapan Tiong-sun Hui Kheng, ia sengaja tidak menghiraukan, sehingga tangannya pun tidak diangkat untuk menyambut, ia hanya miringkan kepalanya mengawasi gerakan Siang Biauw Yan, sikapnya sangat tenang dan sombong sekali.

Tiong-sun Hui Kheng menonton dari samping lantas berseru;

"Adik Siang, kau jangan terlalu gegabah! itu adalah ilmu serangan tangan Naga tiga kali unjuk diri didalam awan, ilmu terampuh dari golongan Kun-lun!"

Pada saat Tiong-sun Hui Kheng memberikan peringatan itu, Siang Biauw Yan sudah menerkam kepada Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang waktu itu kalau mau menggunakan salah satu dari ilmu yang didapat dari Duta Bunga Mawar, atau ilmu yang didapat dari Thian-i Siang-jin, dengan mudah ia dapat memunahkan serangan hebat Siang Biauw Yan itu.

Tetapi ia sejak bersemedi melatih ilmunya selama sepuluh hari diatas puncak gunung itu, sudah berhasil menyempurnahkan kekuatan tenaga dalamnya yang diwarisi oleh Duta Bunga Mawar, maka ia sengaja tidak menggunakan ilmunya dari Duta Bunga Mawar dan Thian-i Siang-jin u8ntuk menghadapi lawannya, sebaliknya ia malah melesat keatas, ditengah udara ia menggunakan kedua tangannya, dengan ilmunya Khian-thian-khi-kang dari perguruannya sendiri untuk mengadu kekuatan dengan Siang Biauw Yan.

Jikalau ditinjau dari kekuatan tenaga dalamnya Hee Thian Siang pada waktu itu, meskipun boleh dibilang ia lebih kuat dari pada Siang Biauw Yan, akan tetapi kerena yang satu menerkam dari atas sedangkan yang lain menyambut dari bawah, sudah tentu agak merugikan dirinya, maka dalam mengadu kekuatan itu, kesudahannya menjadi seri, Hee Thian Siang terpental mundur tiga kaki, dan Siang Biauw Yan terpental mundur setombak lebih, bedanya ialah yang tersebut belakangan ini darahnya terasa bergolak, hingga matanya berkunang-kunang.

Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan itu, lalu berkata sambil mengerutkan alisnya;

"Adik Siang, mengapa kau tidak menggunakan kepandaianmu yang terampuh, sebaliknya kau mencari kesulitan sendiri ?"

Selama itu, Hee Thian Siang sudah berhasil memulihkan kekuatan tenaga dalamnya, maka ketika mendengar ucapan itu lantas berkata sambil tersenyum;

"Enci jangan khawatir, karena aku tadi ingin mencoba hasil yang didapat selama melatih ilmu sepuluh hari diatas gunung ini, dan kedua aku merasa untuk menghadapi orang seperti Siang Biauw Yan ini rasanya masih tidak terlalu perlu sampai harus menggunakan ilmu menyelamatkan jiwa atau tiga jurus ilmu Duta Bunga Mawar!" Berkata sampai disitu, ia menatap Siang Biauw Yan dengan sikap mengejek, ia berkata sambil tertawa dingin:

"Siang Biauw Yan, meskipun kau mencuri dan merampas kedudukan ketua golonganmu, tetapi sekarang juga terhitung salah seorang ketua dari satu partai, Aku sudah menyambut dua kali seranganmu, aku merasa bahwa ilmu jari golongan Kun-lun-pay dan ilmu yang terampuh Naga tiga kali unjuk diri didalam awan, ternyata hanya bernama kosong belaka, karena tidak ada buktinya! Pribahasa ada kata: 'Menerima apa-apa harus balas memberi', maka aku akan mengembalikan dua kali serangan dari golongan Pak-bin, biarlah kau yang mendapatkan kedudukan ketua secara tidak mudah ini untuk merasakan sendiri bagaimana seranganku ini!"

Oleh karena dua kali serangan Siang Biauw Yan tadi telah gagal semua, sedangkan senjata rahasia duri berbisa juga sudah terjaring oleh jaring wasiat Hee Thian Siang, maka waktu itu ia sudah mengerti gelagat tidak baik, terpaksa diam- diam berusaha memulihkan kekuatan tenaganya dan siap hendak menggunakan ilmunya yang terakhir tetapi yang mematikan, Apa mau sebelum ilmunya itu digunakan, Hee Thian Siang sudah mulai membuka serangannya dengan dua macam gerak tipu yang dilancarkan olehnya, sudah menggempur bagian dadanya.

Siang Biauw Yan yang sebelumnya sudah dikatakan sebagai ketua dari satu partai oleh Hee Thian Siang, sudah tentu ia tidak ada muka untuk merasa takut, terpaksa menyambut serangan itu sambil menggigit bibir.

Dua kali beradunya tenaga tadi telah menimbulkan suara sangat hebat, tampak Siang Biauw Yan mundur terhuyung- huyung hingga dua langkah, bahkan sudah berada ditepi tebing.

Hee Thian Siang tertawa terbahak-bahak dan berkata; "Jikalau dilihat dari keadaan seperti ini, sudah cukup aku

mengeluarkan sepulah kali pukulan lagi, namun aku tidak tahu Ciangbunjin masih berani menyambut beberapa kali?"

Setelah itu, ilmunya Khian-thian-khi-kang dikerahkan, ia sudah siap hendak mendorong jatuh Siang Biauw Yan kebawah gunung.

Tetapi Siang Biauw Yan yang sudah merasa ditepi tebing, juga sudah merasa bahwa serangan Hee Thian Siang terlalu hebat, maka ia buru-buru lompat kesamping, dan pada waktu itulah ia sudah melontarkan rotan panjangnya yang semula hendak digunakan untuk merambat turun dari puncak gunung itu.

Rotan panjang itu besar sekali gunanya bagi Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng kini ternyata sudah dilempar kebawah gunung oleh Siang Biauw Yan, maka Hee Thian Siang yang menyaksikan perbuatan itu menjadi marah, dan membentak padanya dengan suara keras;

"Siang Biauw Yan, kau demikian kejam, sesungguhnya sudah tidak dapat diampuni lagi, lebih baik kau serahkan nyawamu secara baik-baik!"

Selagi hendak menggunakan serangannya dengan ilmunya yang mematikan, mendadak tampak tangan Siang Biauw Yan memegang sebuah benda berkilauan.

Benda berkilauan itu berbentuk kumis naga yang panjangnya hanya satu kaki setengah, tetapi meskipun benda itu kecil, tetapi dibagian kepala tampak besar, seolah-olah dibuat oleh seorang ahli yang sangat pandai.

Siang Biauw Yan dengan tangan memegang senjata aneh itu, sikapnya menunjukkan seolah-olah ada yang diandalkan hingga dibibirnya tersungging senyuman bangga.

Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng semula merasa heran dengan senjata itu, dalam hatinya berpikir: benda seperti naga kecil ini, apakah senjata aneh Siang Biaw Yan? Tetapi nampaknya meskipun buatannya sangat bagus, namun bentuknya agak kecil, rasanya tidak bisa mengeluarkan serangan hebat.

Siang Biaw Yan ketika melihat Hee Thian Siang dan Tiong- sun Hui Kheng mengawasi senjata di tangannya lalu berkata sambil tertawa bangga:

“Apakah kamu kenal dengan barang ini?”

"Itu hanya sebatang senjata berbentuk naga yang kecil saja, apa artinya?” berkata Hee Thian Siang. "Kau masih bau pupuk bawang, pantas kalau kau tidak kenal dengan senjata pusaka yang tidak ada keduanya ini!” berkata Siang Biaw Yan dengan sombongnya, setelah ia berdiam sejenak, lalu berpaling dan berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng :

"Usiamu lebih besar, seharusnya kau sudah pernah mendengar dari ayahmu, tiga puluh tahun berselang, di dalam rimba persilatan ada seorang aneh luar biasa, yang pandai membuat berbagai jenis benda yang aneh-aneh, bahkan namanya sangat terkenal dengan senjata rahasianya."

Tidak menunggu sampai habis ucapan Siang Biaw Yan, Tiong-sun Hui Kheng sudah berkata:

“Kau maksudkan apakah bukan pamannya U-Ti Khao U-Ti Co Koat yang mempunyai julukan manusia agung tangan seratus?"

"Kalau kau sudah tahu tentang diri U-Ti Co Koat, seharusnya kenal dengan barang ini. Ini adalah salah satu dari tiga benda wasiatnya yang tersayang selama hidupnya dari U- Ti Co Koat dan di waktu ia meninggal dunia karena tidak mau menurunkan kepada keponakannya U-ti Khao, maka dikubur bersama-sama dengan dirinya!” berkata Siang Biaw Yan sambil menganggukkan kepala dan tertawa:

"Tiga rupa benda wasiat dari U-Ti Co Koat kalau tidak salah adalah Giam-ong-leng Kui-ong-thian atau cemeti raja setan dan Thian-ong-pha, mana ada senjata yang bentuknya seperti naga ini? Lagi pula ketiga benda wasiat itu semua toh sudah dikubur bersama-sama dengan pemiliknya, dengan cara bagaimanan pula kini berasa di tanganmu?”

"Benda pusaka memang selalu membawa malapetaka! U-ti Co Koat yang mati dengan membawa tiga macam benda pusakanya, belum sampai tiga bulan kuburannya telah dibongkar oleh orang dunia kang-ouw, dan benda pusakanya itu dicuri semua!” berkata Siang Biaw Yan sambil tertawa bangga.

Hee Thian Siang yang mendengar keterangan itu, lalu berkata sambil tertawa dingin:

"Kau adalah seorang yang rendah martabatnya, orang yang membongkar kuburan dan mencuri barang pusaka itu, barangkali adalah engkau sendiri!”

"Jikalau orang yang membongkar kuburan dan mencuri benda pusaka itu adalah aku, makak cemeti raja setan Kui- ong-thian dan Thian-ong-pha pasti juga berada di tanganku. Dengan cara bagaimana hanya sebuah Giam-ong-leng ini saja?” menjawab Siang Biaw Yan sambil menggelengkan kepala.

Sementara itu Tiong-sun Hui Kheng mendengar ucapan Siang Biaw Yan bahwa senjata yang berbentuk seperti naga kecil itu ternyata adalah senjata yang dinamakan Giam-ong- leng, matanya segera ditujukan kepada benda aneh itu, sedang mulutnya berseru:

"Jadi senjata itu adalah yang dinamakan Giam-ong-leng?" Sambil tersenyum Siang Biaw Yan menjawab:

"Waktu itu di dalam rimba persilatan telah tersiar luas beberapa ucapan yang katanya begini: Lebih baik ketemu dengan Thian-ong-pha, jangan berjumpa dengan cemeti Kui- ong-thian; lebih baik berjumpa dengan cemeti Kui-ong-thian, tetapi jangan bertemu dengan Giam-ong-leng. Dengan lain perkataan, senjata hebatnya senjata Giam-ong-leng ini, termasuk yang terhebat di antara tiga benda pusaka itu! Kalian bisa mati di bawah senjata pusaka rimba persilatan yang semacam ini, sudah boleh merasa bangga!" "Aku justru tidak percaya senjata yang panjangnya tidak ada dua kaki ini, memiliki keampuhan demikian hebat!” berkata Hee Thian Siang sambil tertawa dingin.

"Bagaimana pun juga, sekalipun kalian memiliki sayap juga tidak akan lolos dari senjata Giam ong leng ini! Sekarang aku boleh beritahukan kepadamu lebih dahulu ampuhnya raja dari senjata rahasia ini, supaya kau jangan penasaran!” berkata Siang Biauw Yan dengan bangganya.

Ia berdiam sejenak, dengan jari tangan kiri ia menunjuk senjata Giam ong leng di tangan kanannya, lalu berkata pula sambil tertawa mengejek :