Makam Bunga Mawar Jilid 18

 
Jilid 18

Kata-kata itu membuat Hee Thian Siang tidak merasa sendiri, maka ia lalu berkata sambil tertawa girang: “Enci Tiong-sun, tahukah kau lantaran enci, aku hampir saja menghabiskan jiwaku di puncak gunung Tiao-in-hong digunung Ki-lian-san!”

“Kesemuanya itu, siapoek sudh menceritakan padaku!” Berkata Tiong-sun Hui-kheng sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

“Enci Tiong-sun, bagaimana kau masih belum mau memaafkan aku? Terhadap enci segalanya aku berlaku sungguh-sungguh dan sejujurnya, semuanya bukanlah suatu permainan sandiwara!”

“Segala apa yang telah lalu tidak perlu disebut lagi, sekarang bukankah aku masih tetap denganmu…”

Hee Thian Siang mendengar ucapan gadis itu yang sudah mengandung maksud saling mengerti, merasa sangat girang sekali. Tiong-sun Hui-kheng yang menyaksikan sikap Hee Thian Siang, juga merasa geli sendiri, tanyanya: “Sejak kau berpisah denganku digunung Ki-lian-san, selama itu apa sja yang kau lakukan?”

Karena perbuatannya dengan Liok Giok Jie didalam goa digunung Tay-pa-san, Hee Thian Siang tidak bisa menceritakan dengan terus-terang, maka ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraannya kesoal lain, jawabnya sambil tersenyum: “Segala urusan tetek-bengek nanti akan kuceritakan kepadamu perlahan-lahan, sebab empek Tiong- sun telah memberikan tugas yang sangat penting kepadaku, dia memintaku supaya berusaha segera menyelesaikan bersama enci!”

Dengan kata-katanya itu, benar saja Tiong-sun Hui-kheng telah dapat dikelabui, kini ia alihkan perhatiannya kelain soal, tanyanya: “Ayah telah memberikan tugas penting apa kepadamu?”

“Empek Tiong-sun suruh kita berusaha supaya May locianpe dengan Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo-lie Tang Siang Siang bisa rujuk kembali!”

Mendengar ucapan itu Tiong-sun Hui-kheng tampaknya juga merasa tertarik, katanya: “Ini bukan saja merupakan suatu tugas yang sangat berat, tetapi juga merupakan suatu persoalan yang sangat sulit!”

“May Ceng Ong locianpe adatnya terlalu tinggi hati dan sombong sekali. Sedangkan Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang keduanya beradat aneh luar biasa. Jika mereka benar-benar akan melakukan pertempuran mati-matian, itu tidak mudah, letak kesulitannya ialah pada kata-kata rujuk kembali itu.”

“Jika mereka bisa melupakan segala kejadian dimasa yang dahulu, sudah tentu bisa rujuk kembali. Menurut pikiranku, dalam hal ini agak berlainan dengan pandangan enci. Kuanggap persoalan ini tidak terlalu susah!”

“Ceritakanlah, aku ingin mendengar pendapatmu!”

“May locianpe dengan Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo- lie Tang Siang Siang, dahulu bukan saja merupakan suami- istri yang saling mencinta dan berbahagia, tetapi masing- masing juga sudah melahirkan seorang putri ialah Giok Jie dan Hok Siu Im, itu bukti bahwa cinta kasih mereka sangat dalam, kemudian oleh karena salah faham, hingga masing- masing pada menjadi bermusuhan. Maka kita bisa berusaha untuk membangkitkan rasa kasih mereka yang lama, mungkin perasaan cinta mereka bisa tergugah kembali. Dan dengan demikian, rasanya mereka juga akan rujuk kembali hubungannya!”

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar penuturan itu, berulang-ulang menganggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum: “Pendapat yang demikian itu memang betul, tetapi kalau kita hendak membangkitkan rasa cinta mereka yang sudah lama, barangkali bukanlah merupakan soal yang mudah!”

“Aku telah melakukan perjalanan ribuan pal jauhnya. Jika aku tidak menemukan enci, terpaksa aku akan coba sendiri. Dalam soal ini aku pernah memikirkan masak-masak, tentah pikiranku itu bisa digunakan atau tidak? Kini aku hendak minta pertimbanganmu…?”

“Jelaskanlah, aku bersedia mendengarkan pendapatmu lagi!”

“Kupikir, faktor yang paling mudah membangkitkan perasaan cinta mereka yang sudah lama, adalah tempat dimana mereka dahulu untuk pertama kalinya mengadakan hubungan!” “Kupikir, pendapatmu ini sesungguhnya juga bagus, sebab dalam hubungan pertama, segala sesuatu yang terjadi diwaktu itu, selalu meninggalkan kesan sangat dalam, cukup buat dikenangkan kembali, juga cukup buat menggugah perasaan cinta mereka kembali!”

Hee Thian Siang memandang Tiong-sun Hui Kheng sejenak, katanya dengan tertawa bangga: “Oleh karena itu, maka kupikir jika kita bisa berusaha memancing May Ceng locianpe, Leng Biauw-biauw dan Tang Siang-siang kedalam kamar yang terletak didalam goa lembah Leng-cui-kok digunung Ko-le-kong-san, lebih baik lagi apabila Liok Giok Jie dan Hok Siu Im juga hadir, dengan demikian mereka suami- istri, ayah-ibu dan anak berkumpul dalam satu ruangan, maka cinta kasih yang dahulu, dengan sendirinya akan timbul lagi, barangkali segala permusuhan yang lama akan lenyap sama sekali!”

“Pikiranmu ini memang masuk diakal, ada gunanya untuk dicoba!” Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Karena Tiong-sun Hui Kheng menyetujui segala apa yang dikemukakan, maka Hee Thian Siang merasa sangat gembira. Katanya sambil tertawa: “Enci Tiong-sun, kalau kau menyetujui pikiranku ini, maka seharusnya kau mencari May Ceng-ong locianpe lebih dulu, setelah kita temukan dia, biarlah aku yang memancingnya kedalam goa. Setelah itu aku hendak pergi mengundang Siang-swat Sianjin dan Kiu-thian Jie. Sementara mengenai diri Liok Giok Jie dan Hok Siu Im, kalau kita bisa ketemukan mereka, itulah yang paling baik, tetapi andaikata mereka tidak bisa kita jumpai, juga sudah saja.”

“Tahukah kau dimana saja sekarang jejak May Ceng Ong locianpe?” “Hal ini tidak sulit untuk diduga, sebab aku sudah menceritakan kepadanya, ucapan orang tua berbaju kuning yang sebetulnya adalah Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang yang menyamar, maka ada kemungkinan besar, dia kini sedang mondar-mandir dekat goa Siang-swat tong digunung Kie-lian-san. Mungkin dia sedang mempertimbangkan masak- masak dengan cara bagaimana untuk menghadapi dua orang bekas kekasih dan istrinya dahulu itu!”

“Jika kau berkata demikian, apakah perlu bersama denganku pergi kegunung Ki-lian-san.”

“Enci Tiong-sun, kini kau sudah mengerti ilmu Bu-siang Kao-khun Liong-hui Sam-Ciok. Sedang aku juga memahami ilmu-ilmu yang diwariskan oleh Duta Bunga Mawar dan Thian- ie Sianjin, apakah masih perlu takut dengan orang-orang buas dari Kie-lian? Dalam perjalan ini, apabila kita berjumpa dengan Khie Tay Cao atau Pek-thao Lo-sat phao Sam Kow dan lain- lainnya, aku pasti suruh mereka mencoba ilmu yang baru kupelajari ini!”

“Siapakah yang berkata bahwa aku takut pada kawanan penjahat dari gunung Kie-lian?”

baru bicara sampai disitu, tiba-tiba ia bertanya sambil menatap Hee Thian Siang: “Aku tahu, bahwa ilmumu menyelamatkan jiwa, adalah warisan dari Thian-ie taisu, tetapi dengan cara bagaimana Duta Bunga Mawar bisa mewariskan kepadamu ilmu Bunga Mawar?”

Hee Thian Siang tahu bahwa ucapannya telah terlanjur, maka terpaksa berkata sambil tertawa: “Duta Bunga Mawar itu ialah Duta Bunga Mawar yang menurunkan kepadaku sebelum menutup mata!”

Mendengar ucapan “sebelum menutup mata” Tiong-sun Hui Kheng terperanjat, tanyanya: “Apakah Duta Bunga Mawar sudah menutup mata?…” Dengan wajah sedih Hee Thian Siang berkata sambil menganggukkan kepala: “Duta Bunga Mawar adalah seorang padri beribadat tinggi, dia juga seorang pendekar kenamaan. Dia ialah Chie Hian Pho yang memiliki gerakan Tan-ceng Kie- su, yang pada beberapa puluh tahun berselang, namanya pernah menggetarkan dunia! Tetapi locianpe itu kini benar sudah menutup mata, sebelum menutup mata ia telah mewariskan kepadaku kekuatan tenaga dalamnya dan menurunkan ilmu silatnya yang terdiri dari tiga gerakan yang dinamakan Jurus Bunga Mawar!”

Tiong-sun Hui Kheng merasa sedih juga dan merasa heran, tanyanya sambil menatap Hee Thian Siang: “Kenapa kejadian penting seperti itu, bagaimana kau tidak menceritakan dengan jelas kepadaku?”

“Enci Tiong-sun, kau cari dulu kudamu Ceng Hong-kie, aku nanti akan menceritakan kepadamu sambil berjalan, bukankah itu lebih baik?”

Tiong-sun Hui Kheng menganggukkan kepalanya sambil mengeluarkan siulan panjang untuk memanggil kudanya.

Tak lama kemudian kudanya yang mendengarkan siulan itu telah muncul dari jurusan Thian-ciu-kan. Tiong-sun Hui Kheng berkata pula kepada siaopek dan taywong: “Siaopek, Taywong, pergilah dulu dan bawa cheng-hong kie kekaki puncak gunung Giok-can-hong untuk menunggu aku.”

Siaopek dengan tiba-tiba mengulurkan kaki depan kanannya, pada dua tangannya itu terdapat sebuah benda hitam, mulutnya mengeluarkan beberapa kata-kata kepada Tiong-sun Hui Kheng kemudian baru pergi bersama-sama Taywong.

Hee Thian Siang yang menyaksikan itu merasa heran, tanyanya: “Enci Tiong-sun, benda apa yang diserahkan siaopek kepadamu tadi?” “Siaopek tadi berkata, bahwa kera hitam peliharaan Thian- ie taisu, sebelum korbankan diri mengikuti majikannya telah memberikan barang kepadanya, ialah sebutur mata dari ular berbisa yang banyak sekali gunanya!”

Mendengar keterangan itu Hee Thian Siang baru sadar, ia tahu bahwa ketika baru tiba digunung itu, dengan menggunakan senjata rahasia Peng-pek sin-sa pemberian Swat-san Peng Im yang digunakan untuk membinasakan binatang seperti ular bukan ular, kelabang bukan kelabang. Mata dari binatang aneh itu yang kemudian diambil oleh kera hitam. Ia bersama Tiong-sung Hui Kheng, siaopek, taywong dan kudanya Cheng-hong kie lari menuju kegunung Kie-lian- san.

Hee Thian Siang yang selama beberapa hari sudah memikirkan diri Tiong-sun Hui Kheng setelah bersama-sama menunggang seekor kuda, sudah tentu merasa sangat gembira.

Tiong-sun Hui Kheng yang juga sudah jatuh hati kepada Hee Thian Siang, sudah tentu membiarkan dirinya dipeluk erat-erat oleh pemuda itu. Dalam perjalan itulah Hee Thian Siang menceritakan semua perjalanannya setelah berpisah dengan gadis pujaannya, tetapi ia tidak menceritakan perbuatan mesumnya yang dilakukannya dengan Liok Giok Jie.

Kuda ceng-hong kie yang bisa lari pesat sekali hanya dalam beberapa hari saja sudah tiba di bawah gunung Kie- lian.

Setiba digunung Kie-lian, Tiong-sun Hui Kheng segera menyuruh Siaopek dan Taywong secara bersamaan untuk mencari May Ceng Ong. Sedangkan kudanya juga dibiarkan untuk pesiar. Ia bersama Hee Thian Siang berjalan-jalan menikmati pemandangan alam didaerah gunung itu. Pada perjalanan kesebuah puncak gunung, Hee Thian Siang melihat ada seorang tua bercambang dan berbaju hijau sedang berjalan dibawah kaki gunung. Dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, ia lalu menyanyikan sajaknya dengan suara yang nyaring: ”…Kelambu terturup menutupi tempat tidur dalam kamar Bo-ciu-tang. Sesosok tubuh langsing kecil, roboh terlentang. Penghidupan perempuan lacur ternyata hanya impian. Kediaman perempuan beribadat memang tiada prianya. Ombak dan angin tidak percaya akan kelemahan tiang pepohonan. Halimun ataukah rembulan yang mengharumkan bunga ditaman. Hingga maklum bahwa memikirkan selalu tak ada gunanya. Baru sadar tindakan gila yang tak dipikirkan akibatnya…”

Dengan tenang Tiong-sun Hui Kheng mendengarkan Hee Thian Siang menyanyikan sajaknya dan setelah selesai, barulah ia bertanya sambil tersenyum: “Kenapa dengan tiba- tiba kau menyanyikan sajak Lie cong In yang kau tambahi dengan kekuatan menyampaikan suara kedalam telinga?”

“Dibawah puncak gunung sana, ada lewat seorang kenalan lamaku. Maka aku sengaja mengingatkan dia, supaya dia naik keatas puncak untuk mencariku! Mengenai sebabnya kutambahi dengan kekuatan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga, disebabkan karena May Ceng Ong cianpe paling suka menyanyikan sajak Lie Ciong In ini. Apabila dia berada ditempat sekitar ini dan mendengar suara nyanyian sajak ini pasti akan datang mencari sendiri. Bukankah kalau begitu kita sudah tak usah mencarinya kesana kemari?” Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

“Akalmu memang banyak sekali, siapakah kenalanmu yang dibawah gunung itu? Kalau ditinjau dari gerak-geriknya, rupanya seorang penting, sekarang rasanya sudah hampir tiba diatas puncak sini.”

“Enciku yang baik, harap kau menyingkir dulu sebentar. Orang ini besar sekali hubungannya denganku, biarlah aku akan mempermainkan dirinya untuk mempertunjukkan sebuah permainan terbaik untukmu!”

Tetapi dalam hati Tiong-sun Hui-kheng masih ada sedikit heran, namun ia menerima baik permintaannya, lalu menyingkir kebelakang sebuah batu besar.

Hee Thian Siang berlaku seperti acuh tak acuh, lengan bajunya berkibar-kibar, ia berdiri ditepi tebing mengawasi pemandangan alam dibawahnya, sedang mulutnya terus menyanyikan lagu-lagu sajak penyair dizaman dahulu.

Dengan tiba-tiba dibelakangnya terdengar suara tertawa seorang dengan suara yang besar dan berkata kepadanya: “Mencari dimana-mana, ternyata diketemukan secara mudah, inilah yang dinamakan jika tiada musuh, tidak akan bertemu muka!”

Hee Thian Siang pelan-pelan membalikkan dirinya, dirinya terus mengawasi orang tua bercambang dan wajahnya yang menyeramkan itu, kemudian dari mulutnya tercetus suara: “O”, setelah itu ia berkata sambil tersenyum: “Kiranya adalah sahabat Tong Kie Kie-lian-pay!”

“Hee Thian Siang, partai baru yang dibentuk dari gabungan partai Kie-lian dan Tiam-cong sudah ditetapkan akan diresmikan pada tahun depan tanggal 16 bulan 2. Sekarang ada perlu apa kau berada disini?” Bertanya Tong Kie dengan nada suara dingin.

“Gunung Kie-lian ini toh bukan milik kalian partai Kie-lian- pay sendiri, Hee Thian Siang mau datang atau pergi, menurut sesuka hatinya sendiri. Apakah sahabat Tong Kie bisa mencampuri urusanku?” Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

“Kau datang dan pergi kegunung Kie-lian, sudah tentu aku tak akan mengurusi urusanmu, aku hanya ingin bertanya kepadamu, barang wasiatmu jaring merah itu, apakah sekarang kau bawa juga?” Berkata Tong Kie sambil tertawa dingin.

“Barang wasiat jaring merah adalah barang pusakaku yang sangat penting guna menjaga diriku. Sudah tentu tak akan terpisah denganku!” Menjawab Hee Thian Siang sambil tertawa.

Tong Kie mendengar ucapan itu tertawa terbahak-bahak, tetapi kemudian bertanya pula dengan suara bengis: “Hee Thian Siang, apakah kau masih ingat pertaruhan kita digunung Hok-gu-san?”

“Pertaruhan yang unik itu, maksudmu? Bagaimana Hee Thian Siang bisa melupakan? Bukankah kita bertaruh akan memotong paha?”

Tong Kie mengangguk-anggukkan kepala dan berkata: “Ingatanmu sungguh baik. Waktu setahun sudah sampai. Tetapi kedua pahaku masih tetap menempel dengan badanku, jadi barang wasiatmu jaring merah itu, seharusnya kau serahkan kepadaku!”

“Rasanya aku masih ingat hari dan tanggal mana kita mengadakan perjanjian itu. Rasanya kalau tidak salah pada tanggal 8 bulan 10!”

“Ingatanmu benar, pada tanggal 8 bulan 10, aku justru berada digunung Hok-gu-san, menemukan goa kuno kuburan tengkorak burung elang raksasa!”

“Jika memang benar tanggal 8 bulan 10, maka belum tiba waktunya satu tahun, bukankah barang wasiatku jaring merah itu belum akan terkalahkan olehmu, bahkan mungkin masih perlu pergi keruangan Cong Biauw hendak minta kuda Cian- lie-hiok-wa-ceng pemimpinmu Khe Tay Cao!” Sepasang mata Tong Kie mendelik, ia berkata sambil mendongakkan kepala dan tertawa: “Apakah didalam waktu beberapa hari yang datang ini, sepasang pahaku bisa terkutung dengan mendadak?”

“Itu tergantung dengan aku, hendak menangkan pertaruhan itu atau tidak!”

“Bagaimana maksud ucapanmu itu?”

“Terserah jika aku ingin memenangkan, maka tentang ini juga aku bisa menguntungi sebelah pahamu, bukankah itu sudah berarti menangkan taruhan yang sudah dijanjikan digunung Hok-gu-san itu?” Menjawab Hee Thian Siang dengan sikap tenang sambil tertawa.

Tong Kie yang mendengar jawaban itu lantas naik pitam, ia menggeram hebat, kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan hingga 80%, tangannya berkerak melancarkan serangan kedada Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang yang bermaksud hendak menguji kekuatan tenaganya sendiri, setelah mendapat saluran tenaga dalam dari Duta Bunga Mawar, maka ia tidak menggunakan gerak tipunya Bunga Mawar, juga tak menggunakan gerak tipunya yang diwariskan oleh Thian Ie Sianjin, hanya dengan sebuah gerakan yang biasa saja, untuk menyambut serangan Tong Kie. Kalau dipihak Tong Kie selalu menganggap dirinya seorang tokoh kuat kenamaan, maka agak memandang rendah kepada lawannya yang masih muda itu dan hanya menggunakan 80% kekuatan tenaganya. Kekuatan tenaga kedua belah fihak saling beradu, dua-duanya lantas mundur, belum dapat kepastian siapa yang lebih unggul.

Bagi Tong Kie, karena melihat lawanya dengan sikapnya yang sembarangan, telah berhasil menyambut serangannya sendiri, bahkan sikapnya masih tampak sangat tenang, maka diam-diam menjadi terkejut, dan timbul pikiran untuk berlaku hati-hati.

Difihak Hee Thian Siang setelah menguji kekuatan tenaga dalamnya sendiri, ternyata telah mendapat kemajuan, maka semakin yakin akan kekuatannya sendiri, ia lalu berkata sambil tertawa: “Tunggu dulu, tunggu dulu. Aku hendak berunding dulu denganmu.”

Tong Kie yang sudah akan melancarkan serangan lagi, mendengar ucapan itu alisnya yang tebal dikerutkan, bentaknya dengan suara bengis, “Kita bertanding dengan seluruh kepandaian dan kekuatan masing-masing, siapa yang kuat dialah yang menang, masih perlu berunding apa lagi?”

“Kuda seperti Cian-lie-hiok-wa-ceng yang demikian hebat, siapakah yang tidak suka? Tetapi hendak menangkan pertaruhan itu, harus sebelum tanggal 8 bulan 10 nanti, sudah mengutungi sebelah pahamu, kemenangan secara ini aku tidak terlalu inginkan…”

“Pikiranmu semacam ini bukankah sangat mudah sekali? Kalau kau memang sudah rela mengalah, lekas serahkan saja barang wasiatmu bukankah sudah beres?”

“Aku tidak suka menangkan dengan cara sekejam itu, juga tak suka dikalahkan dengan secara demikian. Maka itulah baru aku hendak berunding denganmu, bagaimana kalau kita lepaskan saja pertaruhan itu?”

Tong Kie meskipun sudah menguji kekuatan tenaga Hee THian siang yang ternyata sudah mendapat kemajuan pesat, tetapi ia masih yakin bahwa pemuda itu bukanlah tandingannya sendiri. Ditambah lagi dengan keinginannya yang besar sekali untuk mendapatkan barang wasiat jaring merah itu, ketamakan itu yang menggelapkan pikirannya, maka apapun yang diusulkan oleh Hee Thian Siang sudah tentu ia tak mau menerima begitu saja. “Bagi orang rimba persilatan yang diutamakan ialah bisa pegang janji, begitu sudah mengadakan perjanjian, tidak akan ditarik kembali lagi, jikalau kau hendak mengingkari janjimu juga tidak dengan cara demikian…”

Menampak sikap Tong Kie yang sombong dan tak tahu diri itu, sepasang alis Hee Thian Siang berdiri, dengan sinar mata tajam ia berkata sambil tertawa: “Sahabat Song, jikalau kau demikian kukuh, terpaksa kita harus mengadu kekuatan untuk mencari keputusan!” 

Dengan sikap yang sangat angkuh Tong Kie tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: “Orang-orang rimba persilatan yang ingin menentukan siapay yang unggul dan siapa yang asor agaknya hanya dengan jalan ini saja!”

Hee Thian Siang menggelengkan kepala dengan menghela nafas , kemudian berkata: “Dikalangan Budha ada peribahasa yang mengatakan demikian: OBAT HANYA UNTUK MENYEMBUHKAN ORANG YANG TIDAK MATI. BUDHA MENYELAMATKAN ORANG YANG ADA JODOH! Jangankan

aku Hee Thian Siang yang tak mempunyai kekuatan dalam agama Budha, sekalipun aku berhati jujur dan baik, juga tak mampu untuk menyelamatkan seorang yang kukuh dan tidak mempunyai jodoh.”

Tidak menunggu Hee THian siang menghabiskan ucapannya, Tong Kie sudah bergerak menyerang Hee Thian Siang dengan kedua tangannya dan dengan menggunakan gerak tipu berlainan. Serangan semacam itu benar-benar terlalu ganas, juga paling susah dihadapi. Tetapi Hee Thian Siang yang bermaksud hendak menguji kekuatan tenaganya sendiri, ia masih berdiri tegak, sedikitpun tidak bergerak, ia menantikan hingga serangan Tong Kie yang terdiri dari dua jenis kekuatan tenaga lunak dan keras, sudah hampir menyentuh dirinya, barulah menggunakan ilmunya gerak bunga mawar berterbangan”, pundaknya bergoyang, dengan kecepatan bagaikan kilat sudah melayang setinggi 3 tombak. Serangan hebat Tong Kie yang dibanggakan tadi, tenyata sudah mengenai tempat kosong. Disitulah Tong Kie baru terkejut dan heran akan kemajuan Hee Thian Siang, selagi ia sendiri masih belum tahu bagaimana harus bertindak, Hee THian Siang yang berada sejauh 3 tombak, begitu kakinya menginjak tanah sudah balik kembali dengan menggunakan gerak tipu yang paling hebat dari ilmunya “Bunga Mawar”, sudah melancarkan serangannya kepada Tong Kie.

Ketika pertama kalinya Hee Thian Siang menggunakan gerak tipunya itu, seorang tokoh kenamaan seperti Hee-kao Swan, toh masih dikejutkan oleh kehebatan serangan tersebut, sehingga tak berani menyambut dapat dibayangkan betapa hebat dan betapa dashyat perubahan gerakannya itu. Kini Hee Thian Siang yang bermaksud hendak menunjukkan ilmunya itu dihadapan Tiong-sun hui Kheng, sudah tentu ia menggunakan kekuatan sepenuhnya, bagaimana Tong Kie yang dalam barisan tokoh-tokoh golongan Kie-lun-pay hanya termasuk orang nomor tiga itu sanggup menyambut serangan yang sehebat itu?

Tong Kie masih belum mengenali gerak tipu apa yang digunakan oleh lawannya yang muda itu, ia terpaksa menggunakan gerak tipunya yang diandalkan untuk menahan serangan Hee Thian Siang yang dilancarkan dari jarak 3 tombak.

Tetapi Hee Thian Siang yang sudah mendapat warisan Duta Bunga Mawar dan warisan tipu silat “Bunga Mawar”, jauh lebih kuat kalau dibandingkan dengan Tong Kie, maka ketika dua serangan saling beradu, dari mulut Tong Kie mengeluarkan suara seruan tertahan yang mengerikan, sedang tubuhnya yang tinggi besar telah terpental sejauh 8 kaki!

Hee Thian Siang terus memburu, dengan sebuah gerakan yang bagus sekali menotok jalan darah Tong Kie, sehingga orang she Tong itu jatuh pingsan. Begitu Tong Kie roboh, Hee Tihan Siang lantas berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng yang sedang bersembunyi dibelakan sebuah batu besar: “Enci Tiong-sun, kau lihat gerak tipuku Bunga Mawar, hebat atau tidak! Ditambah dengan ilmu menyelamatkan jiwa yang diturunkan oleh Thian Ie Sianjin, benar-benar aku ingin bertanding dengan Pek-kut Sam-mo didalam upacara pembukaan partai baru Ceng-thian-pay nanti!”

Tetapi ucapnnya itu tak mendapat tanggapan dari Tiong- sun Hui Kheng. Tempat itu tetap sunyi senyap. Hee Thian Siang merasa heran, ia lalu melompat kesana untuk menengoknya, tetapi tempat itu ternyata sudah kosong, tak tampak bayangan Tiong-sun Hui Kheng lagi. Selagi dalam keadaan terkejut dan keheranan serta tidak mengetahui sebab apa Tiong-sun Hui Kheng berlalu begitu saja, tiba-tiba tampak berkelabat bayangan putih, siaopek sikera kecil, telah datang dengan membawa selembar daun lebar.

Karena menampak diatas daun itu terdapat tulisan, Hee Thian Siang buru-buru menyambutnya, benar saja itu adalah tulisan tangan Tiongi-sun Hui Kheng. Tulisan itu sangat singkat, bunyinya: “Adik Thian Siang, encimu karena kebetulan bertemu dengan May locianpe, maka pergi bersama dia kegunung Ko-le-kong-san. Taywong kuajak serta, hanya kutinggalkan siaopek untuk menemui kau, harap kau berusaha untuk mengajak Leng Swat Sianjin dan Kiu Thian Mo Lie berdua berkunjung kekamar Bo-ciu-sek untuk mengadakan pertemuan!”

Sehabis membaca surat Tiong-sun Hui-kheng itu Hee Thian Siang merasa terhibur, lalu ia menyambar tubuh Tong Kie yang tinggi besar bersama siaopek kedua-duanya menggunakan ilmu meringankan tubuh lari menuju kegoa Swat-ong dimana ada berdiam Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang. Dalam perjalanan Hee Thian Siang kali ini, masih menjumpai beberapa kejadian yang berbahaya, tetapi kini kita tunda dahulu, karena hendak menceritakan perjalanan Tiong- sun Hui-kheng bersama Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong. Tiong-sun Hui-kheng yang menyembunyikan diri dibelakang batu besar dan selagi mendengar suara nyanyian Hee Thian Siang, tiba-tiba dari jauh terdengar suara binatang piaraannya. Bunyi suara binatang itu bagi telinga orang tidak mengherankan, tetapi bagi TIong-sun Hui-kheng yang sudah tahu benar bahwa suara itu adalah suara binatangnya, semangatnya lantas terbangun. Sebab suara itu bukan saja suara yang dikeluarkan oleh Taywong, bahkan dari suara itu samar-samar ada mengandung perasaan marah, seolah-olah menemukan musuh besar.

Tiong-sun Hui-kheng yang memang sudah mengutus Taywong dan Siaopek untuk mencari jejak May Ceng Ong, maka ketika mendengar suara itu, ia menduga pasti telah berjumpa dengan orang-orang golongan Kie-lian-pay, bahkan mungkin sudah terjadi pertempuran, maka ia buru-buru pergi menyambutnya.

Hee Thian Siang yang sedang menghalangi Tong Kie, tiada sempat membagi perhatiannya, maka sebaiknya ia diam-diam pergi untuk menghadapi sendiri. Apabila musuhnya terlampau tangguh dan dirinya tak sanggup melayani, barulah hendak minta bantuannya.

Setelah mengambil keputusan demikian, Tiong-sun Hui- kheng diam-diam menghilang dari tempat persembunyiannya, dan Hee Thian Siang sedang mempermainkan Tong Kie, sudah tentu tidak mengetahui.

Tiong-sun Hui-kheng setelah mendaki sebuah puncak gunung, dari jauh tampak sebidang tanah datar, disana tampak dua bayangan kuning sedang berkejaran. Gerakan dua bayangan itu lincah dan gesit sekali.

Yang mengejar dibelakang ternyata adalah Taywong, sedang bayangan kuning dihadapannya oleh karena terpisah terlalu jauh, tidak tampak wajahnya, tetapi ia tahu bahwa orang itu tidak mengandung maksud jahat, hanya menggunakan gerak tubuhnya yang lebih gesit dan lincah daripada Taywong, sedang mempermainkan Taywong diajak kejar-kejaran diatas tanah datar itu.

Tiong-sun Hui-kheng pergi menghampiri sambil berpikir. Setelah ia berpisah agak dekat dengan orang yang dikejar oleh Taywong itu, baru tampak nyata bahwa bayangan orang itu mengenakan baju warna kuning, wajahnyapun berewok, hingga hatinya tergerak, dengan perlahan ia berseru: “Taywong, jangan berlaku kurang ajar! Beliau ini adlah May Ceng Ong locianpe aku perintahkan kepadamu untuk pergi menjauh!”

Taywong yang menampak majikannya datang dan mencegahnya, terpaksa tidak pergi mengerjar lagi, tetapi ia masih melototkan matanya yang besar dengan wajah yang mengawasi May Ceng Ong mulutnya menggeram tidak hentinya.

May Ceng Ong setelah berhadapan dengan Tiong-sun Hui- kheng, ditatapnya sejenak kemudian sambil tersenyum: “Binatang berbulu kuning ini tampaknya sangat cerdik sekali, apakah dia itu binatang peliharaanmu? Apa yang dikatakannya tadi?”

Tiong-sun Hui-kheng mengawasi Taywong sejenak lantas menjawab sambil tersenyum: “Ia berkata bahwa locianpe pada masa belum lama berselang dari tangannya telah merampas setangkai bunga teratai berwarna merah yang kutinggalkan padanya untuk bawa guna menolong orang sehingga ia hampir saja kena hukuman!”

Mendengar keterangan itu May Ceng Ong telinganya menjadi merah, ia menatap Taywong sekali, barulah teringat akan binatang itu, lalu berkata sambil menganggukkan kepala. “Betul, aku memang pernah melakukan perbuatan gila- gilaan itu, pantas hari ini dia begitu melihat aku, lantas hendak menyergap!”

Berkata sampai disitu, ia lantas bertanya sambil tersenyum: “Nona seorang gagah berani, pasti bukan dari golongan sembarangan. Dengan cara bagaimana kau dapat mengenali namaku?”

Tiong-sung Hui-kheng memberi hormat dan menjawab sambil tertawa: “Boanpe Tiong-sun Hui-kheng, ayah boanpe dengan locianpe dan Pak-bin Sin-pek Hong-po Cui, namanya sama-sama tersohor pada waktu dewasa ini!”

Mendengar ucapan itu, wajah May Ceng Ong kembali merah, lalu tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata: “Kiranya adalah Tiong-sun Titlie, tak disangka kau masih memiliki kepandaian ilmu menjinakkan binatang buas!” Sejenak ia berdiam kemudian dengan sikap agak menyesal dan penuh perhatian, bertanya pula kepada Tiong-sun Hui- kheng: “Hiantitlie tadi berkata bahwa bunga teratai itu perlu hendak menolong jiwa orang. Entah siapakah orang yang hendak kau tolong itu? Apakah oleh karena perbuatanku ini sehingga menelantarkan kewajibanmu? Bunga teratai itu sudah kugunakan setangkai, sisanya masih berada didalam sakuku dan sekarang aku hendak mengembalikan kepadamu!”

Setelah berkata demikian ia memasukkan tangan kedalam sakunya hendak mengeluarkan setengah tangkai bunga teratai merah itu, untuk diberikan pada Tiong-sun Hui-kheng. Akan tetapi Tiong-sun Hui-kheng menolak, katanya sambil menggoyangkan tangan dan tertawa: “Locianpe tak perlu memulangkan lagi setangkai bunga teratai merah itu biarlah kuhadiahkan kepada locianpe untuk locianpe gunakan menolong jiwa orang juga sama saja!” Melihat sikap Tiong-sun Hui-kheng yang sungguh-sungguh, May Ceng Ong juga tidak segan lalu berkata sambil tersenyum: “Jikalau kudengar dari ucapan ini, orang yang menantikan pertolonganmu dengan bunga teratai merah ini, pasti sudah mendapat pertolonganmu siapakah orangnya?”

“Dia adalah Hee Thian Siang, sudah pasti cianpe kenali!” Berkata Tiong-sun Hui-kheng sambil menganggukan kepala. May Ceng Ong seolah-olah baru sadar, katanya sambil tertawa: “Oo! Kiranya si setan kecil yang sangat cerdik itu”

Hee Thian Siang diserang oleh ketua Tiam-cong-pay Thiat- kwan Totiang dengan ilmunya Bu-sin-sin-kang, sehingga terluka bagian dalamnya, sebetulnya harus disembuhkan oleh bunga teratai merah itu, oleh karena itulah maka boanpe berkunjung kegunung Tay-swat-san untuk mengambil bunga mukjizat itu! Tetapi setelah boanpe kembali menemukan Taywong, boanpe tugaskan pulang dulu membawa bunga itu, ternyata kembali dengan tangan kosong. Menurut keterangan Taywong, bunga itu ditengah jalan telah dirampas orang. Say Han Kong, Oe-tie Khao dan Ca Bu Kao, semuanya mengira bahwa Hee Thian Siang pasti tak akan bisa tertolong lagi jiwanya. Diluar dugaan ketika dirinya diletakkan dalam peti mati, untuk menghindari ancaman musuh telah menemukan kejadian gaib, sehingga tertolong jiwanya.”

May Ceng Ong keheranan dan bertanya: “Hee Thian Siang yang sudah berada didalam peti mati, dengana cara bagaimana menemukan penemuan ajaib?”

Tong-sun Hui kheng lalu menceritakan apa yang telah terjadi didalam kuil tua itu.

Sehabis mendengar penuturan aneh itu May Ceng Ong tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: “Kalau demikian halnya urusan ini semakin mudah, coba kau tebak, setengah tangkai bunga teratai itu kugunakan untuk menolong siapa?” Tiong-sun Hui Kheng menggeleng-gelengkan kepala lalu berkata sambil tertawa: “Dalam urusan ini, karena tidak diketahui ujung pangkalnya, maka Hui Kheng tak berani menduga-duga secara sembarangan, sebaiknya locianpe saja yang menjelaskan!”

“Dalam lembah Leng-cui-kok digunung Ko-leng-san, dengan menggunakan setengah tangkai bunga teratai merah itu, aku telah berhasil memulihkan kekuatan tenaga Liong-hui Kiam-khek Suto Wie!”

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengarkan penuturan itu, ia juga merasa bersyukur bahwa bunga teratai merahnya itu digunakan untuk menolong kekasih Ca Bu Kao. Ia menanyakan terjadinya urusan itu, May Ceng Ong juga menuturkan pertemuannya dengna Su-to Wie.

Ketika Tiong-sung Hui Kheng mendengar May Ceng Ong menyebut kamar Bo-ciu-sek dilembah Leng-cui-kok, tergeraklah hatinya, ia berlaku pura-pura tidak tahu dan bertanya kepadanya: “Locianpe, kamar yang locianpe sebut kamar Bo-ciu-sek itu, sebetulnya tempat apa? Bagaimana Hui Kheng tadi mendengar orang berkata hendak kesana untuk mengenangkan impian yang lama!”

May Ceng Ong menunjukkan sikap terkejut lantas bertanya dengan perasaan cemas: “Kapan kau dengar orang berkata demikian? dan siapakah orangnya?”

“Kemarin, pagi-pagi sekali Hui Kheng dengar dari mulut Go Eng, orang dari golongan Kie-lian, dia berkata bahwa dua orang anggauta pelindung hukum Kie-lian-pay, ialah dua orang tua berbaju kuning, segera akan bersama-sama berangkat kekamar Bo-ciu-sek dilembah Leng-cui-kok digunung Ko-le-kong-san, untuk mengenangkan impiannya yang lama.” Cerita bohong itu diatur sedemikian sempurna oleh Tiong- sun Hui Kheng, hingg May Ceng Ong mempercayai kebenarannya. Saat itu pikirannya seolah-olah terbius oleh ucapan gadis itu, mulutnya menggumam sendiri.

Tiong-sun Hui Kheng membiarkan May Ceng Ong mengenangkan kembali masa-masa yang lampau, ia juga tidak membujuk, hanya turut merasa duka, matanya mengawasi pandangan alam disekitar tempat itu.

Pikiran manusia, umumnya hampir sama setiap ada yang dirundung kedukaan seperti keadaan May Ceng Ong, apabila ditanya melit-melit pasti tidak mau menceritakan kesusahan hatinya tetapi bila tidak menghiraukannya sama sekali terang malah merasa tertekan lebih hebat dan akan menuturkan kesusahannya dengan sukarela. Demikianlah keadaan May Ceng Ong pada waktu itu, setelah melamun dan tenggelam dalam kelakuannya sekian lama, lantas bertanya kepada Tiong-sun Hui Kheng: “Hiantitlie, apakah ayahmu belum pernah mengatakan rahasia pribadi pada masa yang lalu?”

Tiong Sung Kheng menggelengkan kepala sambil tertawa. May Ceng Ong menghela nafas panjang dan kemudian berkata: “Urusan ini panjang ceritanya, sekarang oleh karena aku perlu untuk lekas pergi kekamar Bo-ciu-sek dilembah Leng-cui-kok, maka tidak ada waktu untuk menceritakan kepada…”

Tiong-sun Hui Kheng kebetulan tidak ada kerjaan apa-apa, bagaimana kalau mengawani locianpe bersama-sama pergi kepropinsi In-lam?” Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa.

May Ceng Ong berpikir sejenak, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala: “Baik juga bila hiantitlie hendak mengikuti, nanti ditengah jalan kau boleh mendengarkan aku tentang penghidupanku dimasa lalu dan setelah tiba dikamar Bo-ciu-sek, serta bertemu muka dengan 2 pelindung hukum dari partai Kie-lian-pay tak peduli bagaimana kesudahannya, entah damai ataukah perang? Dan aku May Ceng Ong masih bisa hidup ataukah sudah mati? bagaimanapun juga untuk selanjutnya aku akan meninggalkan dunia Kang-ouw untuk selama-lamanya, saat itu mungkin aku masih perlu untuk minta bantuanmu, menyelesaikan segala sesuatu yang masih belum kuselesaikan.”

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengarkan ucapan itu menganggukkan kepala sambil tersenyum. Diam-diam ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dan mengeluarkan siulan panjang.

“Hiantitlie benar-benar keturunan jago rimba persilatan. Kekuatan tenaga dalammu sangat sempurna sekali. tetapi kau menggunakan ilmu ini untuk memanggil siapa?” Bertanya May Ceng Ong sambil tersenyum.

“Boanpe sedang memanggil seekor kera putih dan seekor kuda peliharaan boanpe!”

Baru saja menutup mulut, tiba-tiba terdengar suara kaki kuda dan kemudian kudanya yang hebat itu sudah sampai lebih dahulu.

“Sungguh hebat kuda ini…” Demikian May Ceng Ong berseru memuji.

Belum habis ucapannya, tampak berkelabat bayangan putih, siaopek yang lincah dan cerdik juga sudah tiba ditempat itu.

Tiong-sun Hui Kheng memetik selembar daun lebar, dengan kuku jari tangannya menuliskan huruf diatsnya, untuk diberikan kepada Hee Thian Siang, kemudian ia perintahkan siaopek untuk mengantarkan kepada Hee Thian Siang. Setelah itu ia mengajak Taywong dan menunggang kudanya mengikuti May Ceng Ong kegunung Ko-le-kong-san. Mari kita tinggalkan dulu perjalanan Tiong-sun Hui Kheng dan balik kembali kepada Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang setelah menotok Tong Kie, bersama- sama siaopek pergi ke goa Siang-swat-tong. Terlebih dulu ia perintahkan siaopek supaya membawa Tong Kie kesebuah tempat yang terdapat banyak batunya, setelah itu mereka dua- duanya sembunyikan diri, kemudian dengna mengerahkan tenaga dalamnya ia memanggil dengan nyaring: “Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang locianpe, bersama ketua Kie- lian-pay, apabila ada didalam goa, tolong keluar sebentar untuk berjumpa!”

Sesaat kemudian dari dalam goa tampak berjalan keluar 4 orang. Orang-orang itu semuanya dikenali dengan baik oleh Hee Thian Siang, mereka adalah ketua Kie-lian-pay Kie Tay Cao, ketua Tiam-cong-pay Thiat-kwan Totiang, bersama Lui Hwa Go Eng.

Kie Tay Cao ketika melihat orang yang memanggil tadi ternyata Hee Thian Siang, tampaknya merasa terkejut dan terheran-heran, tanyanya: “Hee Thian Siang, kabarnya kau sudah mati dalam gunung Ay-lao-san, bagaimana sukmamu bisa gentayangan datang kemari, untuk apa?”

Hee Thian Siang berdiri tegak, tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata: “Meskipun dunia Kang-ouw banyak sekali manusia jahat yang banyak menggunakan akal keji, tetapi Tuhan bagaimanapun juga masih berlaku adil! Dua pil Kiu- ban-tan Pek-thao Losat Pao Sam-kow, apakah kau kira bisa membinasakan diriku?”

Go Eng yang terkenal kekejamannya, lantas bertanya: “Hari ini baru tanggal tujuh bulan sepuluh terpisah dengan tanggal enambelas bulan dua masih ada empat bulan lebih. Perlu apa kau datang kemari?” “Kuanggap datang lebih pagi, itulah paling baik, apabila aku datang terlambat, bukankah akan kalian anggap mengingkari janji?” Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa terbahak- bahak.

Khie Tay Cao baru sadar, katanya sambil tertawa terbahak- bahak: “Kiranya kau datang untuk menetapi janji dalam pertaruhan digunung Hok-gu-san dulu? Tak kusangka kau yang masih muda belia dan toh masih mematuhi janji, juga susah didapt seorang semacam kau ini. Sekarang serahkanlah jaring merahmu, Khie Tay Cao akan mengampuni kau untuk bisa berlalu dari sini dalam keadaan selamat!”

Hee Thian Siang dengan alis berdiri bertanya: “Jaring pusaka itu adalah barang wasiat untuk menjaga diriku, mengapa harus diserahkan kepadamu?”

“Jaring pusaka warna merah itu adalah barang yang digunakan pertaruhan bagi kedua fihak, kau yang sudah kalah, apakah masih hendak mengingkari?” Berkata Khie Tay Cao sambil tertawa.

“Kalau benar barang taruhan bagi kedua fihak, sekarang kuhendak tanya padamu, dimana barang taruhanmu itu berada?”

Kie Tay cao bersiul panjang, setelah itu ia berkata sambil tertawa: “Barang pertaruhanku kuda kesayanganku sendiri Cian-lie-hiok-wa-ceng, sebentar akan datang!”

“Ciangbunjin, aku hendak tanya padamu, apa kau masih ingat batas waktu pertaruhannya itu, dan cara bagaimana pertaruhannya?”

Pada saat itu dari dalam goa kembali keluar 3 orang, mereka adalah Leng Biauw, Tang Siang Siang dan Pek-thao Losat Pao Sam-kow. 3 orang itu semua mengira bahwa Hee Thian Siang sudah mati, maka ketika melihat  masih hidup tentunya telah memandangnya dengan sinar mata dan perasaan terheran-heran.

Kie Tay Cao sementara itu sudah berkata sambil tertawa: “Bagaimana aku bisa tidak ingat? Kita telah bertaruhan dengan dirinya Go Eng dan Tong Kie dimana mereka pada tanggal 8 bulan 10, masih ada paha kaki mereka, maka benda wasiat jaring merahmu akan kau berikan kepadaku. Sekalipun kalah sebelum tanggal 8 bulan 10, apabila kedua kaki mereka dikutungi oleh orang, aku akan menyerahkan kudaku kepadamu…”

Berkata sampai disitu, tiba-tiba ia ingat bahwa hari itu baru tanggal 7, maka hatinya tergerak, ia berpaling dan bertanya kepada Go Eng.

Eng sute, apakah Sam suhengmu sekarang berada diruangan Cong-biauw-tong?”

“Harap tenangkan hati Ciangbunjin, Tong Kie suheng bukan saja orangnya masih berada dalam ruangan Cong- biauw-tong, sekalipun dengan kekuatan dan kepandaian seperti Hee Thian siang juga belum sanggup menghadapi!” Menjawab Go Eng sambil tertawa.

Khie Tay Cao menganggukkan kepala, lalu berkata sambil menatap Hee Thian Siang.

“Sekarang sudah tanggal 7 bulan 10, sebentar lagi jam 1.00 malam, berarti batas waktu itu sudah habis. Go suteku meskipun sudah dikutungi oleh orang, sehingga kehilangan sebelah pahanya, tetapi Tong samte masih utuh dan dalam keadaan selamat. Maka jaring wasiatmu seharusnya kau serahkan kepadaku!” Berkata sampai disitu, tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda Cian-li-kiok-wa-cheng saat itu sudah lari menghampiri. Hee Thian Siang sesungguhnya sangat sayang kepada kuda itu, dalam hati sudah berpikir apabila ia dapat menagkan kuda itu, akan digunakan sebagai kuda tunggangannya dan bersama-sama Tiong-sun Hui Kheng berkelana didunia kang- aow.

Dalam keadaan sangat gembira, ia bertanya kepada Khie Tay Cao: “Khie ciangbunjin, bagaimana kau dapat membuktikan bahwa sepasang paha kaki Tong Kie masih belum kutung?”

Khie Tay Cao lalu berpaling dan berkata kepada Lui Hwa yang disampingnya. “Sebentar Lui Thiancun harap menggunakan kudaku, pergi keruangan Cong-biauw-tong menyambut kedatangan Tong samte, dan diperlihatkan kepada setan kecil Hee Thian Siang ini!”

Lui Hwa tersenyum dan menganggukkan kepala, baru saja berjalan menghampiri kuda itu dengan tiba-tiba Hee Thian Siang mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, siaopek yang sembunyikan diri dibelakang batu besar, telah melemparkan tubuh Tong Kie yang segede gajah ketengah udara. Hee Thian Siang lalu mengulurkan tangannya untuk menangkap tubuh Tong Kie yang melayang turun, lalu berkata kepada Lui Hwa sambil tertawa: “Sahabat Lui, tak perlu pergi ke Cong-biauw-tong lagi. Ini bukankah Tong Kie yang merupakan seorang kuat dari partai Kie-lian-pay?”

Khie Tay Cao, Phao Sam-kow, Go Eng, Thiat Kwan totiang dan Lui Hwa, ketika manampak Tong Kie ternyata sudah terjatuh ditangan Hee Thian Siang semuanya terkejut hingga saling berpandangan dengan perasaan terheran-heran.

Hanya Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang yang masih bersikap dingin, agaknya tidak tertarik sama sekali.

Hee Thian Siang lalu berkata kepada Khie Tay Cao. “Ciangbunjin, sekarang waktunya baru tanggal 7 bulan 10 dan samsutemu Tong Kie sudah terjatuh ditanganku. Jikalau aku hendak menguntungi sebelah paha kakinya untuk menangkan pertaruhan kita dan membaw pergi kudamu yang hebat itu, bukankah itu sangat mudah sekali?”

Khie Tay Cao hanya mengawasi dengan muka merah padam, tak bisa menjawab. Sedang sinar mata Hee Thian Siang yang menyapu kawanan penjahat itu sejenak kemudian berkata dengan lantang: “Tapi untuk menangkan suatu pertaruhan, tanpa melakukan tindakan kejam demikian rupa untuk menguntungi sebelah paha kaki ornag Hee Thian Siang tidak tega berbuat demikian, juga ta akan mau melakukan. Aku sekarang menyerahkan kembali kepada ciangbunjin sam sutemu Tong Kie dalam keadaan tidak terluka sedikitpun juga. Dihadapan Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang, 2 locianpe tingkatan tua, jikalau kau mengaku kalah, menyerahkan kudamu kepadaku, aku akan menyelesaikan urusan ini begini saja. Jika tidak, terpaksa kita selesaikan secara jantan. Andaikata aku kalah, aku juga akan menyerahkan barang wasiatku dengan suka rela!”

Sehabis berkata demikian, benar saja, Toan Kie yang tidak mendapat luka apa-apa dilemparkan kepada Khie Tay Cao.

Perbuatan dan tindakan Hee Thian Siang itu ternyata tidak melanggar peraturan, beberapa partah kata itu juga mengandung ejekan yang sangat tajam, lebih tajam daripada senjata tajam sehingga ketua Kie-lian-pay Khie Tay Cao mukanya merah padam, tak tahu bagaimana harus menjawab.

Go Eng tahu, bahwa cianbun suhengnya pasti tidak rela menyerahkan kuda kesayangannya maka lantas berkata sambil tertawa dingin: “Hee Thian Siang, aku tidak tahu entah menggunakan akal rendah apa kau telah membokong suhengku? Bahkan masih berani datang kembali untuk jual tampang. Kau benar-benar tidak mengukur keadaanmu sendiri, berani-beraninya  kau datang kemari untuk mencari mampus. Dalam goa ini barangkali akan tambah sebuah patung batu lagi.

Dengan sinar mata dingin Hee Thian Siang mengawasi Go Eng sejenak, kemudian berkata: “Sahabat Go, kau salah. Jika tidak memiliki kepandaian, aku tak akan datang kemari. Hee Thian Siang sudah berani datang ditempat ini, sudah tentu tak memandang goa Siang-swat-tong ini sebagai tempat yang berdinding golok atau pedang. Asal Leng dan Siang kedua locianpe tidak turun tangan terhadapku…”

Leng Biauw Biauw ketika mendengar ucapan itu lantas berkata sambil tertawa.

“Hee Thian Siang, kau tak usah kuatir. Tak perlu kau mengejek aku, kami berdua selamnya tak akan turun tangan terhadap orang tingkatan muda. Tetapi setelah kau nanti menyelesaikan urusanmu dengna ciangbunjin, masih perlu menjawab pertanyaanku, itu adalah keselamatan dari Liok Giok Jie, dimana sekarang berada?”

Hee Thian Siang memberi hormat kepada Leng Biauw Biauw, selagi hendak menjawab, Khie Tay Coa sudah mendapat akal, maka lalu berkata kepada Hee Thian Siang dengan nada suara dingin.

“Hee Thian Siang, apakah kau masih ingat pertemuanmu denganku digunung Oey-san dahulu?”

“Urusan itu belum setahun, bagaimana Hee Thian Siang bisa lupa?”

“Jika kau masih ingat, itulah bagus. Aku masih tetap itu sebagai alasanku, tidak bisa menyerahkan kudaku sebagai barang kalah taruham darimu.”

“Harap kau ceritakan 2 pasal yang kau anggap sebagai alasan itu, supaya aku bisa dengar.” “Kesatu, ialah sekarang ini baru tanggal 7 bulan 10, maka bagi kau sendiri belum tentu masih sanggup mempertahankan sebelah pahamu tidak akan terkutung pada besok hari…”

“Heh, aku masih ingat alasanmu yang kedua, bukankah karena kau anggap bahwa kudamu yang hebat itu, tidak mau mengikuti aku?”

“Kau seharusnya masih ingat ketika kau mencoba untuk menungganginya digunung Oey-san. Dua kali kau telah dibanting jatuh olehnya!”

Hee Thian Siang teringat kejadian digunung Oey-san dahulu, maka mukanya lantas menjadi merah, matanya mengawasi kuda yang berdiri disisi Khie Tay Cao, kemudian berkata dengan sikap yang jumawa.

“Aku akan membereskan dulu 2 pasal sebagai alasanmu itu, kulihat kau masih akan bicara apalagi?”

Khie Tay Cao juga tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Asal kau bisa menyelesaikan 2 urusan ini dihadapan Leng dan Sian kedua locianpe, Khie tay Cao terima baik kekalahanku dan akan menyerahkan kuda kesayanganku itu.”

Hee Thian Siang mengangguk-anggukkan kepala dan berkata: “Kalau demikian halnya, aku nanti akan membereskan soal ini satu persatu.”

Sehabis berkata demikian, matanya menyapu kawanan penjahat yang ada disekitarnya, katanya dengan suara lantang: “Siapakah diantara tuan-tuan yang tertarik dengan dua pahaku Hee Thian Siang?”

Lui Hwa yang merasa jemu dengan sikap Hee Thian Siang yang dipertunjukkan kepada Khie Tay Cao dan lain-lainnya, juga tahu benar, bahwa dalam pertempuran dikuil Pho-hie Tong dahulu, Hee Thian Siang pernah terluka ditangan suhengnya Thiat-kwan totiang. Maka dengan sikap memandang rendah, ia melangkah keluar dari rombongannya sambil menenteng pedangnya.

Hee Thian Siang yang melihat Lui Hwa hendak turun tangan, lantas bertanya dengan alis berdiri.

“Apa kau hendak mengadu kekuatan tenaga denganku?”

Lui Hwa agaknya belum bisa menangkap maksud pertanyaan Hee Thian Siang, ia masih berkata dingin sambil tertawa sombong: “Pedang pusaka ditanganku, ditambah dengan ilmu pedangku Hui-hong Uliu-kiam hoat, aku merasa tertarik kepada dua paha kakimu itu!”

Mendengar jawaban itu Hee Thian Siang lalu berpaling dan bertanya kepada Khie Tay Cao: “Khie ciangbunjin, apakah kalian berpikir hendak mengutus wakil untuk bertanding denganku ataukah hendak bertempur secara bergilir?”

Semua kawanan penjahat yang ada disitu yang paling muda usianya juga masih dua kali Hee Thian Siang. Bagaimana Khie Tay Cao ada muka untuk menggunakan siasat bergilir menghadapi Hee Thian Siang? Apalagi dalam hatinya sendiri masih pandang ringan lawannya itu, maka ia lantas menyahut: “Kuserahkan padamu untuk melihat salah seorang diantara kita untuk menjadi tandinganmu, asal sudah mendapat keputusan dan kedua pahamu ternyata belum kutung, maka alasanku yang pertama itu boleh dikata sudah kau selesaikan dengan baik.”

Dalam hati Khie Tay Cao, Hee Thian Siang pasti akan memilih Go Eng yang kakinya tinggal satu sebagai lawan. Tetapi ia masih penuh keyakinan, bahwa Go sutenya itu pasti akan dapat mengalahkan Hee Thian Siang. Sebab sejak kakinya tinggal satu, Go Eng bertekun melatih ilmunya yang baru, yang ternyata sangat ganas. Hee Thian Siang setelah mendengar jawaban itu, lalu berkata kepada Liu Hwa sambil menggoyangkan kepala dan tanyanya: “Sahabat Lui, kau boleh kembali. Aku tidak akan bertempur denganmu!”

Lui Hwa sebenarnya mempunyai maksud hendak mendemonstrasikan ketangkasannya dihadapan orang banyak. Tetapi oleh karena Khie Tay Cao sudah memberikan kesempatan kepada Hee Thian Siang untuk memilih sendiri lawannya, maka terpaksa ia bertanya dengan heran: “Kau hendak memilih siapa sebagai lawanmu?”

Hee Thian Siang tiba-tiba tertawa besar, kemudian baru berkata: “Sahabat Liu, mengapa kau begitu tidak tahu diri? Kepandaian ilmu silatmu, paling banter hanya berimbang dengan kepandaian Tong Kie. Tong Kie dibawah tanganku hanya dalam satu jurus sudah tertotok olehku. Kau barangkali masih sulit untuk sanggup melawan 3 jurus, dan tentu aku hendak memilih lawan yang lebih tangguh, supaya Khie Ciangbunjin merasa lega.”

Sementara itu Leng Biauw Biauw yang mendengar ucapan Hee Thian Siang, lalu berkata dengan suara perlahan kepada Tang Siang Siang yang berada disampingnya: “Pantas saja Liok Jie bisa jatuh hati kepada Hee Thian Siang, bocah ini memang benar sangat menarik dan gadis-gadis mudah jatuh cinta kepadanya!”

Kiu-thian Mo-lie Tang Siang Siang tersenyum dan menganggukkan kepala, pada saat itu Lui Hwa oleh karena Hee Thian Siang memandang rendah terhadap dirinya, tidak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi. Ia bermaksud untuk menyerang dengan kekerasan.

Ketua Tiam-cong-pay Thiat Kwan Totiang yang mempunyai pandangan mata lebih tajam dan menyaksikan keadaan itu lantas berkata: “Lui jite, silahkan kembali, Khie Cianbunjin sudah memberikan kesempatan kepada Hee Thian Siang untuk memilih sendiri lawannya, biarlah ia yang memilih sendiri!”

Lui Hwa yang mendengar ciangbun suhengnya berkata demikian, terpaksa menyimpan kembali pedangnya dan berjalan balik. Mata Hee Thian Siang yang tajam lalu menyapu lagi kepada kaum penjahat yang berada disekitarnya.

Sinar mata tajam itu akhirnya berhenti kearah Ciangbunjin Tiam-cong-pay Thiat-kwan Totiang.

Sepasang alis yang tebal Thiat-kwan Totiang nampak berdiri, dengan sikapnya yang sangat sombong sekali ia bertanya dengna nada suara yang sangat dingin: “Apakah kau hendak memilih aku sebagai lawanmu?”

Pertanyaan itu penuh jumawa dan keyakinan serta memandang hina kepada lawannya.

Hee Thian Siang tertawa hambar, jawabnya sambil menggelengkan kepala: “Dahulu dikuil Pho-hie To-kwan, Hee Thian Siang pernah menerima hadiahmu Thiat-siu Sinkang, malam ini seharusnya aku hendak membalas budimu itu, tetpai ada 2 alasan aku tidak bisa memilih kau sebagai lawanku!”

“Alasanmu rupanya banyak sekali!” Berkat aThiat-kwan totiang sambil tertawa mengejek.

“Alasan itu bahkan sangat tepat sekali!”

“Kalau alasanmu itu memang tepat, lekas ceritakanlah! Sebab jika aku tak memberimu kesempatan untuk menceritakan, nanti setelah kau berubah menjadi patung didalam goa itu barangkali juga tak bisa terpejam matamu!” Sikap yang tertawa-tawa Hee Thian Siang tadi mendadak lenyap, dengan sinar mata yang berapi ia mengawasi Thiat- kwan Totiang, katannya dengan nada suara dingin.

“Kesatu, ialah meskipun kau masih hutang kepadaku, tetapi hutang orang lain lebih banyak dariku, apabila malam ini aku mengalahkan kau dan kau nanti akan bunuh diri lantaran merasa malu, bukankah akan membuat penyesalan besar bagi orang yang pernah memberi hutang padamu?”

Thiat-kwan Totiang tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: “Engkau ini benar-benar pintar mencari alasan, Thiat Kwan yang pernah melintang dalam dunia kang-ouw, darah orang-orang rimba persilatan mengalir dibawah pedangku, tak terhitung jumlahnya, bagaimana aku bisa ingat dengan baik, siapakah orangnya yang memberiku hutang paling banyak?”

Hee Thian Siang maju selangkah, katanya: “Hutang ini dengan hutang darah dirimba persilatan yang biasa, jauh berlainan. Kalau diwaktu silam coba kau tanyakan kedalam hati nuranimu sendiri, pasti kau akan merasa tak enak makan dan tak enak minum, bagaiman kau bisa samakan?”

Dengan tiba-tiba, Thiat-kwan totiang teringat kepada perbuatannya yang durhaka terhadap paman seperguruannya sendiri, hingga saat itu sekujur badannya gemetar, sikap sombongnya dan galaknya lantas berkurang.

Hee Thian Siang tidak mau memberi kesempatan lagi padanya, kembali berkata dengan suara dingin: Hutangmu yang terbesar ialah terhadap paman seperguruanmu sendiri Kwan Sam Pek, yang binasa secara mengenaskan, karena kau telah potong lidah dan jari tangannya! Hutang darah ini pasti kutinggalkan kepada Su-to Wie agar dia nanti akan membersihkan golongan Tiam-cong-pay, supaya dia bisa mewakili paman seperguruannya untuk menagih hutang kepadamu, itulah alasanku yang utama, apa sebab malam ini menahan dan mengendalikan perasaan sendiri tidak menuntut balas terhadapmu”.

Perbuatan durhaka yang dilakukan oleh Thiat-kwan totiong itu, merupakan suatu perbuatan keji yang tiada taranya, karena ia kuatir urusan itu kalau makin dibeber oleh Hee Thian Siang, semakin membikin hilang mukanya, sudah tentu dia tak berani menjawab sepatahpun juga.

Sementara itu Hee Thian Siang sudah melanjutkan kata- katanya sambil tertawa: “Alasanku yang kedua ialah menang atau kalah dalam pertempuran ini, ada hubungan erat dengan nasib seekor kuda jempolan pada dewasa ini, maka orang yang kupilih sebagai lawan, harus bisa bertanggung-jawab agar Khie Ciangbunjin dengan rela menyerahkan kudanya, dan tak akan menyesal atas tindakannya!”

Leng Biauw Biauw mendengar ucapan itu lalu berkata dengan tertawa geli: “Kau bocah ini, benar-benar bisa bikin mendongkol orang! Tetapi lawan yang kau sebutkan itu barangkali tak mudah dicari!”

“Mana, mana? Aku sudah memikirkan baik-baik lawanku. Apabila Hee Thian Siang beruntung bisa memperoleh kemenangan, kutanggung Khie Ciangbunjin pasti akan menyerah kalah dengan hati puas dan rela menyerahkan kudanya!”

Ucapan itu menimbulkan perasaan Khie Tay Cao jadi curiga lalu bertanya dengan perasaan heran.

“Siapakah lawan yang kau anggap paling tepat itu?”

Hee Thian Siang perdelikkan matanya, dengan sinar mata yang tajam menatap Khie Tay Cao lalu berkata sambil tertawa terbahak-bahak: “Orang ini sangat mudah sekali ditebak, dia adalah kau, Khie Ciangbunjin sendiri!” Orang-orang yang berada disitu ketika mendengar kata- kata itu semua pada menganggap bahwa pemuda itu terlalu jumawa dan berani mati. Dalam usia yang semuda itu, ternyata berani menantang salah seorang terkuat dalam rimba persilatan pada dewasa itu.

Khie Tay Cao menggeleng-gelengkan kepala dan berkata sambil tertawa: “Apa sebab kau memilih aku?”

'Karena kau adalah majikan dari kuda Cian-li-kiok-wa- cheng, sudah tentu kau harus menyerahkan dengan tanganmu sendiri apabila kau setuju!”.

Khie Tay Cao yang sangat mendongkol malah menjadi tertawa, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu bertanya sambil mengerutkan alisnya.

Engkau pikir, hendak bertanding secara bagaimana denganku? Tangan kosong, ataukah dengan senjata? Ilmu tenaga dalam, ataukah senjata rahasia?”

“Aku sudah berani menantangmu, sudah tentu akan melawan senjatamu yang terampuh yang mempunyai berat 150 kati itu!”

Khie Tay Cao mendengar ucapan itu sepasang alisnya dikerutkan, sejenak ia mengawasi pemuda itu, dengan tiba- tiba ia mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

Apakah perkataanku salah? Mengapa kau tertawa seperti orang gila?” Bertanya Hee Thian Siang.

Khie Tay Cao mempermainkan senjata tongkat bajanya yang berat hingga menimbulkan suara ting-tingan dan percikan api, kemudian berkat dengan suara bengis: “Para ketua partai-partai besar pada dewasa ini seperti Ngo-bi, Kun- lun, Siauw-liem, Bu-tong, Swat-san dan Lo-hu, kalau melihat senjata tongkat bajaku ini, juga masih merasa jeri, tetapi kau bocah kemarin sore dengan berani mati mencoba melawan senjataku ini. Seperti telor yang hendak diadu dengan batu, mengapa aku tidak tertawa?”

“Omong besar saja apa gunanya? Kalau kau bisa menangkan aku, baru itu terhitung kepandaianmu benar- benar. Kalau kau tidak lekas turun tangan sekarang, begitu kentongan berbunyi sekali, maka kudamu sudah terhitung jatuh ditanganku.” Berkata Hee Thian Siang dengan alis berdiri.

“Mana sampai menunggu jam satu malam? Begitu tongkat bajaku ini bergerak dalam 3 jurus bukan saja pahamu akan terkutung, tulang-tulang mudamu juga akan remuk!”

“Kalau kau bisa omong besar, aku juga akan mengimbangi ucapanmu itu. Didalam 30 jurus, apabila aku kalah, bukan saja mengaku kalah dalam pertaruhan dan akan menyerahkan jaring wasiatku kepadamu, tetapi juga akan menguntungi pahaku sendiri!”

Khie Tay Cao diam-diam juga dikejutkan oleh ucapan sombong Hee Thian Siang itu, ia tak berani omong besar lagi, tanyanya: “Senjata apa yang hendak kau gunakan?”

Ketua Thiam-cong-pay Thiat-kwan Totiang yang berdiri disamping lantas menyela: “Senjata yang biasa digunakan adalah sepasang gelang Sam-ciok-kang-hwan, senjata tulen dari Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui!”

Hee Thian Siang mengawasi Thiat-kwan Totian sejenak, lantas berkata sambil menggelengkan kepala: “Dikemudian hari apabila aku ada kesempatan untuk belajar kenal dengan ilmu pedangmu pasti aku tetap akan menggunakan senjata gelang itu. Tetapi malam ini untuk menghadapi senjata Khie Ciangbunjin yang demikian berat maka hendak kutukar dengan senjata lain!” Sehabis berkata demikian, ia mengeluarkan bulu burung milik Thian-Ie Sianjin, yang disimpan dalam kantong lemas yang dibuatkan oleh Tiong-sun Hui Kheng. Senjata bulu burung itu dipegang ditangannya, dan berkata kepada Khie Tay Cao sambil tertawa: “Khie Ciangbunjin, senjata tongkat bajamu jikalau ditambah dengan kekuatan tenaga dalam, kalau kau cecer tentu bukan kepalang beratnya! Tetapi senjataku bulu burung berwarna merah ini, sebaliknya sangat ringan sekali, seoralh tiada bobotnya, maka dalam pertandingan ini seharusnya adalah merupakan pertandingan tenaga lunak dan keras yang paling baik!”

Khie Tay Cao sebagai ketua salah satu partai besar. Hee Thian Siang hendak menggunakan sebatang bulu burung untuk menghadapi sienjatanya seberat 150 kati, maka ia segera tahu pasti ada sebabnya. Maka kini ia bukan saja tidak berani memandang ringan lagi kepada lawannya, sebaliknya menatap senjata bulu burung dan diamatinya dengan cermat.

Kini ia bukan saja sudah melihat bahwa bulu burung itu memiliki warna yang indah sekali bahkan ada mengandung sinar berkilauan. Maka ia semakin yakin bahwa benda itu pasti bukanlah benda sembarangan. Mau tak mau ia harus berlaku lebih hati-hati. Tetapi untuk sesaat ia belum bisa memikirkan asal-usul dan nama senjata yang aneh itu.

Tetapi Kiu-thian Mo lie sebagai orang angkatan tua, ketika melihat senjata ditangan Hee Thian Siang, lalu mengeluarkan seruan kaget dan berkata kepada Leng Biauw Biauw: “Bulu burung ditangan bocah itu, mirip dengan bulu burung Thian- khim Ngo-sek Ie-mao yang pada 100 tahun berselang pernah menggemparkan dunia kang-ouw, entah darimana ia dapatkan bulu burung itu, apakaha Thian-ie taisu Tong It masih hidup didalam dunia dan menurunkan ilmunya Thian-khim Cit-kaow yang tidak ada duanya itu kepada bocah ini?”

Ucapan Siang-swat Sian-jie itu ketika terdengar oleh Khie Tay Cao, telah membuat ketua partai Kie-lian-pay yang selamanya tidak pandang sebelah mata kepada segala orang tergerak hatinya bahwa apa yang diduganya itu ternyata benar. Hee Thian Siang berani datang kemari, memang ada yang diandalkan. Maka kini ia harus berhati-hati menghadapinya tak boleh berlaku gegabah.

Setelah dipikir masak-masak, apalagi ditinjau dari tertangkapnya Tong Kie oleh Hee Thian Siang, ditangan pemuda itu dengan seorang diri, Ketua Siang-Swat-tong bahkan berani menantangnya sebagai lawan, maka ia menduga pasti bahwa apa yang diucapkan oleh Leng Siang memang benar, senjata bulu burung ditangan pemuda itu pasti adalah Thian-khim Ngo-sek Ie-mao, yang pada 100 tahun berselang merupakan sebuah senjata tanpa bandingan. Dan pemuda itu sudah pasti juga bertemu dengan Thian-Ie taisu serta mendapat warisan kepandaian, jikalau tidak tak mungkin ia berani berlaku demikian berani mati.

Ia sendiri sebagai ketua salah satu partai besar sedangkan Hee Thian Siang hanyalah seorang angkatan muda, jika menang bagi ia sendiri bukanlah merupakan suatu yang patut dibanggakan, tetapi jika kalah, nama besarnya yang telah dipupuk selama itu, akan ludes sama sekali. Akan tetapi karena ia sudah mengizinkan Hee Thian Siang untuk memilih sendiri lawannya dan pemuda itu telah memilih dirinya sendiri sebagai lawan, dalam keadaan demikian bagaimana ia bisa bermuka dua lagi!

Sebagai seorang ketua salah satu partai besar bagaimanapun juga mempunyai banyak pengalaman, maka Khie Tay Cao telah berpikir lama, dalam hatinya mendapat suatu pikiran untuk memecahkan persoalannya.

Sementara itu Hee Thian Siang yang melihat Khie Tay Cao terus memandang senjata bulu ditangannya dan tiada sepatah katapun keluar dari mulutnya lalu bertanya dengan perasaan terheran-heran: “Khie Ciangbunjin, apakah menganggap bahwa aku Hee Thian Siang masih belum pantas untuk bertanding denganmu?”

Khie Tay Cao yang waktu itu sudah mendapat suatu pikiran, sepasang matanya diperdelikkan dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

“Aku sebenarnya sedang berpikir, sebagai seorang ketua dari salah satu partai besar, sekalipun aku berhasil membunuh kau dengan tongkatku yang seberat ini, tetapi akhirnya juga akan menjadi buah tertawaan sahabat-sahabat rimba persilatan, yang mengatakan aku sebagai orang tua menghina seorang tingkatan muda. Sebagai seorang yang kuat menghina yang lemah, bukankah itu terlalu merugikan namaku sendiri?”

“Dan menurut pikiran ciangbunjin, kita harus bertanding secara bagaimana? Barulah tidak akan merugikan nama baikmu?” Bertanya Hee Thian Siang.

Melihat Hee Thian Siang sudah terpancing, Khie Tay Cao lalu berkata sambil tertawa: “Sikap Hee laote yang demikian gagah perkasa sesungguhnya sangat mengagumkan, apakah masih berani minta aku mengeluarkan usul mengenai cara pertandingan?”

Hee Thian Siang yang sangat cerdik, meskipun dapat menyelami bahwa ucapan Khie Tay Cao itu mengandung akal muslihat, tetapi oleh karena dalam keadaan terdesak itu, terpaksa melanggarnya, katannya sambil tertawa: “Sekalipun Khie Ciangbunjin mengusulkan suatu pertandingan dengan minyak mendidih, Hee Thian Siang juga berani bertanding denganmu hendak melompat lebih dahulu!”

Leng Biauw Biauw berkata dengan suara perlahan kepada Tang Siang Siang: “Bocah ini benar-benar sangat mengagumkan dan menyenangkan sekali, aku setuju apabila Giok Liok Jie menikah dengannya!” Tang Siang Siang tersenyum, diam-diam menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, jangan sampai terdenganr oleh orang luar berkata perlahan kepada Leng Biauw Biauw: “Kau jangan memikirkan dirimu dulu yang sudah ingin menjadi mertua orang. Menurut pandanganku, bakal menantumu ini terlalu keras kepala, barangkali akan tertipu oleh akal muslihat Khie Tay Cao, mungkin juga malam ini sulit baginya untuk keluar dari lingkaran tipu yang dipasang oleh Khie Tay Cao!”

Selagi Leng Biauw Biauw hendak berkata lagi, sudah terdengar suara Khie Tay Cao yang berkata sambil tertawa: “Hee laote, mengapa mengeluarkan ucapan demikian berat? Kalah atau menang dalam suatu pertaruhan tidak terhitung urusan besar! Bagaimana aku sampai berani menggunakan pertandingan dengan minyak mendidih segala? Aku hanya masih ingin tetap diatas senjataku tongkat baja ini untuk mengadakan sedikit permainan denganmu. Tetapi bukanlah digunakan untuk saling menggempur!”

Mendengar ucapan itu Hee Thian Siang merasa sedikit lega, katanya sambil tertawa: “Apapun yang Khie Ciangbunjin kehendaki Hee Thian Siang akan selalu mengiringi, untuk menghemat waktu sebaiknya kita segera memulai!”

Khie Tay Cao tertawa, kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan kesepasang tangannya, kemudian menancapkan senjata tongkatnya ditanah sehingga masuk sedalam 3 kaki.

Kemudian, ia mengerahkan pula kekuatan tenaga dalamnya dengan ditujukan dibagian kepala tongkat yang merupakan 9 ekor burung terbang, digempur berulang-ulang sehingga tongkat yang panjang itu seluruhnya masuk kedalam tanah batu, hingga bagian kepalanya saja yang masih tampak diatas tanah.

Selesai melakukan itu Khie Tay Cao dengan sangat bangga berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa tergelak-gelak: “Hee Thian Siang, asal kau bisa mencabut tongkat ini dari dalam tanah dengan tidak menggunakan kekuatan tenaga luar, maka pertaruhan digunung Hok-gu-san itu, akulah yang terhitung kalah, kudaku juga boleh kau bawa pergi!”

Akal Khie Tay Cao itu memang sangat cerdik, sebab meskipun Hee Thian Siang sudah mendapat warisan dari Thian-Ie taisu yang pada 100 tahun berselang belum pernah menemukan tandingannya, tetapi warisan kepandaian itu paling juga hanya warisan ilmu-ilmu silat yang luar biasa, tetapi tentang kekuatan tenaga dalam mungkin belum memperoleh kemajuan demikian pesat. Sedangkan ia sendiri yang terkenal dengan tenaganya yang hebat dengan cara sedemikian ia menancapkan senjata tongkatnya didalam tanah, kemudian suruh Hee Thian Siang mencabutnya kembali, sudah tentu merupakan persoalan berat bagi Hee Thian Siang dan kalaulah begitu, pasti Hee Thian Siang yang akan mendapat kekalahan. Tetapi andaikata tongkat itu tercabut keluar, bagi ia sendiri juga tak kehilangan muka dan kuda kesayangannya bisa diserahkan untuk menepati janjinya, ia masih anggap kudanya yang galak itu kecuali atas perintahnya sendiri barangkali siapapun tidak didengar olehnya.

Hee Thian Siang setelah mengetahui sikap Khie Tay Cao tampaknya sangat bangga sekali, maka ia lantas sadar bahwa sikapnya sendiri terlalu jumawa, benar saja telah tertipu akal muslihat ketua Khie-lian-pay itu. Dan akibatnya, bukan saja ia tak dapat menangkan kudanya, bahkan berat hatinya untuk tidak mentaati kehendak Khie Tay Cau dan mungkin juga akan kehilangan jaring wasiatnya!. Sedangkan apabila bertanding ilmu silat, ia yang

~~~~~~~~~ Halaman 54~55 hilang… ~~~~~~~~~

Siang itu setelah mencapai sembilan dim lebih, kedua lengan tangan Hee Thian Siang sudah mulai ngilu, jantungnya berdebaran, matanya berkunang-kunang. Hee Thian Siang teringat pada pesan Duta Bunga Mawar sebelum menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya pernah memberitahukan padanya harus banyak latihan dan banyak menghadapi lawan tangguh, kekuatan tenaga itu dengan sendirinya akan bertambah, supaya dapat digunakan untuk menghadapi Pek-kut Sin-kun pada waktu pembentukan partai baru Ceng-thian-pay nanti. Kini oleh karena baru bulan 10, latihannya itu masih belum cukup, dengan cara bagaimana ia dapat berhasil mencabut tongkat dari dalam tanah itu?

Meski ia mengetahui bahwa tenaganya sudah kehabisan, namun ia masih penasaran, kembali menggunakan sisa tenaganya untuk mencoba lagi. Namun senjata yang berat itu tampaknya berubah menjadi lebih berat lagi, sedikitpun tidak bergerak.

Hee Thian Siang yang sudah kehabisan tenaga selagi hendak mengaku kalah, untuk menyerahkan jaring wasiatnya dengan tiba-tiba dibelakang dirinya merasakan hembusan angin dingin yang menyusup kedalam tubuhnya.

Hee Thian Siang merasa marah, ketika ia berpaling tampak orang yang berdiri dibelakangnya itu justru Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang. Leng Biauw Biauw bahkan berkata padanya sambil tertawa: “Hee Thian Siang, berulangkali kau datang kekediamanku digoa Siang-swat-tong ini, untuk menjago, sesungguhnya sangat menjemukan sekali. Sekarang kau sudah mengadakan pertaruhan dengan Khie Ciangbunjin, maka harus lakukan pertaruhanmu itu. Asal kau berhasil mencabut tongkat baja itu, boleh lekas pergi dari sini dengan membawa kuda jempolan itu! Jika tidak, bukan saja kau akan kehilangan jari wasiatmu bahkan aku masih akan menguntungi dua pahamu!”

Hee Thian Siang dengan tiba-tiba naik pitam, baru saja hendak balas mendamprat, dengan tiba-tiba ia mendapat kenyataan bahwa ucapan Leng Biauw Biauw itu meskipun galak, tetapi sepasang matanya memancarkan sinar yang mengandung arti, yang mengawasi dirinya.

Sinar mata yang demikian itu, telah menggerakkan hatinya. Sementara itu dalam telinganya terdengar pula suara orang yang berkata kepadanya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga.

“Hee Thian Siang, kita hendak membantu dengan kekuatan tenaga kita, kau lekas pura-pura mengelabui Khie Tay Cao dengan perkataan, lalu cabut lagi dengan menggunakan tenaga, kutanggung kau nanti akan berhasil!”

Hee Thian Siang yang sangat cerdik ketika mendengar ucapan itu lantas perdelikkan matanya kepada Leng Biauw Biauw, katanya dengan nada sombong: “Kalian jangan berlaku sombong dulu, aku yang sudah berhasil mencabut hampir sepanjang satu kaki tongkat baja ini, sudah tentu akan berhasil mencabut seluruhnya!”

“Kau bisa mencabut satu kaki, memang hebat kekuatan tenagamu! Tetapi selanjutny setiap dim setiap bagian, semuany lebih sulit. Menurut pandanganku, jaring wasiatmu itu sudah tentu akan terkalahkan olehku!” Berkata Khie Tay cao sambil tertawa dingin.

Hee Thian Siang menggunakan kesempatan itu untuk berpaling, bertanya kepada Khie Tay Cao: “Khie Ciangbunjin, kita mengadakan pertandingan mencabut tongkat ini, apakah kau pernah menetapkan batas waktu?”

Selama bicara itu, angin dingin dari belakang punggungnya kembali menyusup kedalam dan akhirnya berubah menjadi kekuatan tenaga yang hangat, menyusuri kesekujur tubuhnya sehingga semangat Hee Thian Siang menyala-nyala dan rasa letihnya perlahan-lahan lenyap. Khie Tay Cao mana menduga bahwa Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang yang dibuat andalan olehnya, ternyata malah membantu Hee Thian Siang, maka ia masih penuh keyakinan akan kemenangannya, jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak: “Meskipun tidak ditetapkan bahwa waktunya tetapi kau seharusnya juga mengerti, sebelum jam 1.00 malam ini menang atau kalah sudah harus ada keputusannya!”

Hee Thian Siang pura-pura bertanya lagi: “Bolehkah aku hendak menggunakan obat untuk membantu kekuatan tenagaku?”

Khie Tay Cao menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa: ” Sudah tentu boleh, aku sesungguhnya juga ingin melihat dalam waktu yang sangat singkat ini kau mempunyai obat apa untuk membantu tenagamu?”

Selagi Hee Thian Siang hendak berpura-pura mengambil sebutir pil untuk dimakan dari dalam sakunya, tiba-tiba terdengar suara kera yang sangat nyaring, Siaopek sikera putih kecil dengan tiba-tiba muncul dari belakang batu, berjalan menghampiri dengan langkah lebar.

Sewaktu Siaopek melemparkan tubuh Tong Kie yang tinggi besar, meskipun sudah diketahui kawanan orang Kie-lian-pay, bahwa monyet kecil itu sembunyi dibelakang batu, tetapi mereka tidak menduga kali ini telah muncul pula tiba-tiba, bahkan menghampiri Hee Thian Siang dengan langkah lebar.

Hee Thian Siang tahu benar bahwa kera itu cerdik sekali, tetapi kali ini muncul dengan tiba-tiba pasti ada maksudnya, maka lalu berkata sambil tersenyum: “Siaopek, perlu apa kau datang kemari? Apakah kau hendak membantu aku? Aku sedang mengadakan pertaruhan dengan lawanku. Tongkatnya yang menancap ditanah ini, harus kucabut dengan tanganku sendiri, kalau berhasil baru dihitung menang!” Siaopek dengan mulut celeletan, tangan kanannya menyodorkan biji mata ular yang diperoleh sikera hitam peliharaan Thian-Ie taisu sebelum mengorbankan diri mengikuti majikannya, biji mata ular itu dimasukkan kedalam mulut Hee Thian Siang, agaknya minta ia supaya menelannya.

Siang Swat Sianjin Leng Biauw Biauw ketika melihat biji mata ditangan Siaopek, lantas saling berpandangan dengan Tang Siang Siang.

Hee Thian Siang kembali terdengar suara orang yang menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinganya.

“Benda ditangan kera putih itu, mirip sekali dengan biji mata ular yang seperti kelabang. Kau lekas telan dan atur pernafasanmu pasti akan mendapat faedah yang tidak sedikit. Aku berdua sebetulnya sudah membantumu dengan kekuatan tenagamu yang sudah kau gunakan tadi, tetapi setidak- tidaknya kau harus beristirahat selama setahun baru bisa pulih kembali. Sekarang dengan adanya biji mata binatang aneh itu dengan sendirinya tidak akan menjadi halangan lagi.”

Mendengar ucapan itu Hee Thian Siang sudah tentu merasa sangat girang. Ia segera menelan biji mata binatang aneh yang diberikan oleh Siaopek dan seperti apa yang diperintahkan oleh Siang Swat Sianjin, ia mengatur pernafasannya, supaya khasiat pil itu menyusup kesekujur tubuhnya.

Khie Tay Cao yang menyaksikan Hee Thian Siang duduk sambil memejamkan matanya lama sekali mengatur pernafasannya, lantas merasa tidak sabar, ia angkat kepala untuk melihat cuaca kemudian berkata: “Hee Thian Siang, waktunya hampir tiba. Jika kau berlagak demikian lagi, barangkali sudah tidak keburu!”

Hee Thian Siang membuka sepasang matanya, ia lantas bangkit sambil tersenyum. Untuk kesekian kalinya ia berjalan menghampiri tongkat baja yang sudah dicabut hampir satu kaki panjangnya, lalu berkata kepada Khie Cao sambil tertawa.

“Khie Ciangbunjin, harap sediakan kudamu untuk membayar kekalahanmu, kali ini akan kucabut seluruhnya tongkat bajamu ini!”

Khie Tay Cao hanya mengeluarkan suara dari hidung, tidak menghiraukan ucapan Hee Thian Siang.

Saat itu Hee Thian Siang kembali merasa ada angin yang menghembus dibelakang punggungnya maka kedua tangannya memegang tongkat baja, perlahan-lahan ditarik keatas.

Tindakannya kali ini benar-benar membuat Khie Tay Cao dan Pek-thao Lo-sat Phao Sam-kow dan yang lain-lainnya semua berdiri terpaku dengan mulut menganga. Kirany dengan sekali tarik Hee Thian Siang sudah berhasil mencabut tongkat baja Khie Tay Cao. Setelah dicabutnya Hee Thian Siang mengawasi kaitan-kaitan yang muncul ditongkat itu, lalu mengeluarkan suara: “Oo!” Kemudian berkata sambil tersenyum: “Kiranya tongat baja ini dibagian bawah ternyata dilengkapi dengan kaitan, jika tidak bagaimana bisa demikian sulit dicabut keluar?”

Wajah Khie Tay Cao waktu itu dari biru berubah menjadi merah, dari merah berubah pucat. Jelas sekali ia mendapat malu besar.

Selagi ketua Kie-lian-pay itu dalam keadaan begitu rupa, Hee Thian Siang mengeluarkan suara siulan panjang, tongkat baja ditangannya lalu diserahkan kepada Khe Tay Cao. Khie Tay Cao dalam keadaan malu dan mendongkol terpaksa mencabut senjata yang diberikan oleh Hee Thian Siang, digunakan untuk memukul batu besar yang berada dibelakang dirinya, hingga batu besar itu hancur berantakan. Hee Thian siang diam-diam merasa geli, dengna berlaku pura-pura sungguh-sungguh hormat kepada Khie Tay Cao lalu berkata sambil tersenyum: “Pendatang baru rimba persilatan Hee Thian Siang, minta dengan hormat kepada Cianbunjin supaya sudi menyerahkan kuda Cian-li-kiok-wa-cheng untuk menepati janjinya!”

Dalam keadaan demikian, apalagi disaksikan oleh Siang- swat Siangjin Leng Biauw Biauw, Kiu-thian Mo-lie tang Siang Siang, Thiat-kwan Totiang dan Liu Hwa dan yang lain-lainnya, sekalipun Khie tay Cao bermuka tebal, juga tak berani menolak permintaan Hee Thian Siang, maka terpaksa berkata sambil mengertakkan gigi.

“Asal kau mampu menjinakkan kudaku, kau boleh membawa pergi!”

Oleh karena digunung tay-pa-san dulu Hee Thian Siang pernah mencoba bahasa binatang yang dipelaajari oleh Tiong- sun Hui Kheng sehingga Cian-li-kiok-wa-cheng menjadi jinak maka ketika menghampiri kuda itu dan dengan sikap sungguh- sungguh matanya mengawasi kuda itu.

Khie Tay Cao yang menyaksikan keadaan demikian, merasa heran. Ia pikir kudanya yang hebat itu, biasanya sangat buas dan tidak mudah dijinakkan, apabila tidak mendapat perintahnya sendiri, tidak mengizinkan orang lain mendekati dirinya. Tetapi malam itu mengapa sikapnya demikian jauh berbeda ketika menghadapi Hee Thian Siang sikap Cian-li-kiok-wa-cheng waktu itu memang benar sangat jinak sekali, ia membiarkan dirinya dielus-elus oleh Hee Thian Siang, tetapi kedua matanya mengalir beberapa tetes air mata.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, diam-diam terkejut. Ia teringat kembali apa yang terjadi digunung Tay-pa-san dahulu, kuda itu pernah mengeluarkan suara ringkikan menyedihkan untuk memperingatkan kepada Liok Giok Jie, tetapi waktu itu Liok Giok Jie tidak menyangka sama sekali dan akhirnya terserang secara menggelap oleh Siang Biauw Yan dengan senjata berbisa Thian-keng-cek. Dan sekarang kuda itu kembali mengalirkan air mata menyedihkan, apakah itu merupakan suatu firasat tidak baik, akan terjadinya hal-hal atau bahaya? Apakah orang-orang Khie-lian-pay dalam keadaan malu dan marah nanti akan membokongnya dengan secara menggelap?

Oleh karenanya, ia kini berlaku sangat hati-hati dan waspada, selagi hendak melompat keatas punggung kuda, sebelum mencoba melarikannya terdengar suara geraman dari mulut Khie Tay Cao, kemudian terdengar pula suara ser- seran memecah kesunyian.

Hee Thian Siang tahu, keadaan telah berubah, selagi ia hendak menegornya, kuda itu mendadak badannya gemetaran, akhirnya jatuh rubuh.

Hee Thian Siang lompat turun. waktu ia memperhatikan kuda jempolan itu dibagian kiri atas pahanya telah menancap sebuah duri berbisa Thian-keng-cek, dengan demikian seekor kuda jempolan yang luar biasa, telah terbinasa ditangan majikannya sendiri!

Sudah lama Hee Thian Siang ingin memperoleh kuda itu, suapa bisa digunakan untuk berkelana bersama-sama Tiong- sun Hui Kheng didunia Kang-ouw. Tetapi kini kuda itu meskipun sudah terjatuh ditangannya, tetapi cita-citanya ternyata gagal lagi! Dalam keadaan demikian sudah tentu ia marah sekali, dengan menunjuk Khie Tay Cao ia membentak dengan suara keras.

“Khie Tay cao, kau sebagai ketua dari salah satu partai besar dengan cara bagaimana melakukan perbuatan yang sangat memalukan dan dikutuk orang dan dewa-dewa?” Dengan wajah pucat pasi, Khie Tay Cao menjawab dengan suara bengis: “Hee Thian Siang, kau jangan berlaku jumawa untuk mencari kematianmu sendiri, jangan kau mengucapkan perkataan seenak perutmu saja, aku membunuh kuda peliharaanku sendiri, bagaimana kau katakan tidak tahu malu? Apalagi kau katakan dikutuk oleh dewa-dewa!”

Hee Thian Siang melihat keadaan kuda itu hatinya merasa pilu. Bentaknya dengan suara yang lebih galak: “Kau membunuh kuda peliharaanmu sendiri, sudah tentu orang lain tak bisa campur tangan. Tetapi kudamu ini sudah kalah bertaruh denganku, seharusnya sudah menjadi milikku!”

“Meskipun aku sudah menepati janji memberikan kuda ini kepadamu, tetapi sebelumnya aku toh belum pernah mengatakan aku harus menyerahkan kuda hidup atau kuda mati?”

“Aku menangkan peraturan lebih dulu dan akan melakukan pembunuhan pada sesudahnya, dan aku sekarang hendak menuntut balas kepadamu atas perbuatanmu yang membunuh kuda yang tak berdosa ini!”

“Jika bukan kau setan kecil ini yang datang mengacau disini, maka kudaku yang telah kupelihara beberapa tahun juga tidak akan mengalami nasib seperti hari ini! Jika diusut dari semula, kaulah yang merupakan pembunuh atau biangkeladi pembunuhan kuda ini, sekarang aku hendak membunuh kau sebagai ganti jiwanya!”

Sehabis berkata demikian tongkat baja ditangannya diputar, dengan hembusan angin yang sangat hebat ia menyerang punggung Hee Thian Siang.

Khie Tay Cao yang terkenal sebagai salah seorang terkuat dari 8 partai besar pada masa itu sesungguhnya apa yang dilakukan dalam keadaan marah itu, sudah tentu lebih hebat dari biasanya, tongkat baja itu seolah-olah terlepas dari badannya, masih ada beberapa jauh dari badannya, hembusan anginnya yang hebat sudah mengurung kebadan orang yang diserang.

Hee Thian Siang meskipun waktu belakangan banyak menemukan kejadian gaib dan meskipun kemajuannya pesat sekali, tetapi menghadapi serangan yang dilakukan sangat hebat dan secara tiba-tiba itu, juga tak berani menyambuti secara gegabah. Maka ketika tongkat baru berputar, ia menggunakan ilmunya Thian-liong-cwan dari perguruannya sendiri, dengan sangat tenang ia melesat sejauh 3 tombak untuk mengelakkan serangan tersebut.

Khie Tay Cao juga tahu benar, bahwa Hee Thian Siang itu meskipun masih muda-belia, tetapi memiliki kepandaian gaib banyak sekali, tidak mudah untuk dihadapinya. Dalam sergapannya itu yang dilakukan dengan demikian hebat, ketika mengenai tempat kosong juga tidak merasa heran. Selagi hendak merubah siasatnya dengan gerak tipunya untuk menyerang lagi, tiba-tiba terdengar suara Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biauw yang diucapkan dengan nada sangat dingin: “Khie Ciangbunjin, harap hentikan dulu seranganmu, dengarlah ucapanku!”

Dengan tiba-tiba Khie Tay Cao menarik kembali serangannya, dengan mata mengawawsi Siang-swat Sianjin ia bertanya dengan perasaan heran: “Mengapa Leng Hok-hwat mencegah aku untuk membunuh bangsat kecil ini?”

Sinar mata yang tajam Siang-swat Sianjin menyapu kawanan penjahat itu sejenak, lalu berkata sambil tersenyum: “Dihadapan goa Siang-swat tong ini, fihak kita sudah berkumpul, tokoh-tokoh kelas satu dari partai yang akan dibentuk Ceng-thian-pay, sedangkan fihak sana hanyalah Hee Thian Siang seorang, kalau kau menangkan pertempuran ini bukanlah suatu kemengangan yang gemilang, sekalipun Khie Ciangbunjin berhasil membinasakan Hee Thian Shiang dibawah senjata tongkatmu, juga akan menjadi buah tertawaan bagi sahabat-sahabat rimba persilatan!”

Wajah Khie Tay Cao menjadi merah, katanya dengan perasaan tidak senang: “Kalau Leng Hok-hwat berkata demikian, apakah kita harus membiarkan Hee Thian Siang berlalu dari sini begitu saja?”

Ucapan berdirinya partai Ceng-thian-pay, itu nanti akan berkumpul banyak tokoh-tokkoh rimba persilatan terkemuka, Khie Ciangbunjin telah secara terang-terangan menantang kepada guru Hee Thian Siang, ialah Pak-bin Sin-po-ong-poh itu, untuk menyelesaikan urasan ini!” Berkata Leng Biauw Biauw sambil tertawa.

Dengna sinar mata dingin Khie Tay Cao memandang Hee Thian Siang, kemudian berkata kepadanya dengan gemas: “Ucapan Leng Hok-hwat memang benar, aku juga tak takut harus berhadapan dengan Pak-bin Sin-po, tetapi sayang aku sudah kehilangan kudaku dengan cuma-cuba, sedangkan setan kecil Hee Thian Siang ini, dikemudian hari…”

Sebelum habis ucapannya, Tang Siang Siang telah berkata sambil tersenyum: “Harap Ciangbunjin jangan salahkan kalau aku Tang Siang Siang hendak berkata terus-terang, perbuatanmu yang menyerang secara menggelap dengan senjata rahasia untuk membinasakan kudamu itu sesungguhnya kurang tepat! Sebaiknya kau biarkan Hee Thian Siang membawanya pergi, setelah itu dikemudian hari apabila ada kesempatan barulah kau rampas kembali. Dengan demikian bukankah kau tak akan kehilangan kudamu?”

Khie Tay Cao yang mendengar ucapan kedua pelindung hukumnya yang dibuat andalan itu, ternyata agak condong membela Hee Thian Siang, dalam hati merasa tidak senang. Tetapi perbuatannya sendiri yang membunuh kuda kesayangannya sesungguhnya juga lantaran menuruti hawa amarahnya, setelah kejadian itu, ia sendiri juga merasa menyesal, sudah tentu ia juga tak bisa menjawab, dan terpaksa diam saja.

Kiu-thian Mo lie Tang Siang Siang meskipun tahu Khie tay Cao nampak sikapnya menunjukkan perasaan tidak senang, tetapi ia juga tidak pedulikan padanya, ia berpaling dan bertanya kepada Hee Thian Siang: “Hee Thian Siang, kau tadi rasanya seperti pernah berkata bahwa kedatanganmu ditempat ini bukan cuma lantaran untuk menyelesaikan pertaruhanmu digunung Hok-gu-san dan masih ada urusan lain lagi…”

Hee Thian Siang tahu bahwa malam itu berkat bantuan kedua locianpe itu, barulah ia tidak mendapatkan kekalahan maka ia lalu menjawab dengan sikapnya yang sangat hormat: “Hee Thian Siang memang mendapat perintah dari seorang cianpe untuk mengundang Leng Cianpe dan Tang Cianpe berdua untuk mengadakan pertemuan dengannya!”

“Hmm! Orang itu benar-benar terlalu sombong! Ia tak mau datang untuk mengunjungi kita, digoa Siang-swat-tong ini, sebaliknya menyuruh kau menyampaikan undangannya, perlu apa ia berbuat demikian?” Berkata Leng Biauw Biauw.

“Menurut keterangan locianpe itu, katanya merasa kurang enak kalau datang kemari, maka itu baru minta Hee Thian Siang untuk mengundang kedua locianpe, supaya sudi menjumpai dirinya!” Berkata Hee Thian Siang sambil memberi hormat.

Kiu-thian Mo-lie Tang Siang Siang bertanya sambil tertawa: “Orang itu sombong sekali, tahukah kau siapa namanya atau julukannya?”

“Orang itu dengan suhu dan Tiong-sun Cianpe, namanya sama-sama terkenal, beliau bernama May Ceng Ong. Orang- orang dalam rimba persilatan memberi julukan kepadanya Hong-tiem Ong-khek.” Begitu mendengar disebutnya “Hong-tiem Ong-pek May Ceng Ong”, sekujur badan Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo Lie Tang Siang Siang semua tergetar. Agaknya hal itu diluar dugaan mereka.

Leng Biauw Biauw bertanya lebih dulu: “Dengan cara bagaimana kau berjumpa dengan Hong-tiem Ong-khek May Ceng Ong? Dia mengundang kita bertemu dimana?”

Hee Thian Siang menjawab sekenanya, katanya sambil tersenyum: “Didalam suatu rumah minum disuatu desa kecil, Hee Thian Siang secara kebetulan telah berjumpa dengan May Locianpe yang sedang minum arak seorang diri. Dan minta Hee Thian Siang mengundang locianpe berdua untuk menjumpainya didesa itu.”

Dimana letaknya desa itu?” Bertanya Tang Siang Siang. “Namanya Hee Thian Siang tidak tahu, tetapi tempat itu

terpisah dengan gunung Kie-lian-san, kira-kira memerlukan perjalanan dua hari Hee Thian Siang bersedia sebagai penunjuk jalan bagi locianpe berdua!”

Leng Biauw Biauw baru saja menganggukkan kepala, Khie Tay Cao sudah berkata sambil tertawa dingin: “Dengan cara bagaimana, nama tempat saja tidak tahu? Leng-hok-hwat harap berlaku hati-hati dengan setan kecil yang banyak akalnya ini, jangan sampai tertipu oleh akal muslihatnya.”

Leng Biauw Biauw berkata sambil tertawa besar: “Khie cianbunjin, dalam rimba persilatan dewasa ini, siapakah yang berani main gila terhadap Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang? Kita hendak mengikuti Hee Thian Siang ini untuk menjumpai May Ceng Ong. Setelah kita membereskan perselisihan yang lama nanti akan lekas kembali! Kau boleh menggali lobang untuk mengubur kudamu, tidak usah mengkuatirkan diri kita!” Sebelum Khie Tay Cao membuka mulut, Leng Biauw Biauw sudah berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum: “Hee Thian Siang, kita bersedia menjumpai May Ceng Ong, kau dengan kera putih ini jalanlah lebih dulu untuk memberi petunjuk kepada kita!”

Hee Thian Siang dengan hati pilu mengawasi kuda yang sudah menggeletak menjadi bangkai, kemudian berkata kepada Khie Tay Cao: “Khie Tay Cao, pada hari pembukaan partai Ceng-thian-pay nanti, Hee Thian Siang hendak menuntut balas untuk kuda yang patut dikasihani nasibnya ini. Kau harus hati-hati untuk memberikan keadilan kepadaku!”

Sehabis berkata demikian, bersama siaopek keduanya lari menuju ke selatan.

Leng Swat Siangjin Leng Biauw Biauw dan Hok-thian Mo- lie Tang Siang Siang, juga bertindak mengikuti jejak Hee Thian Siang, hanya Khie Tiay Cao yang menyaksikan itu dengan wajah pucat pasi, amarahnya meluap-luap, segera tongkatnya digunakan lagi untuk mengempur batu yang tidak berdosa.

Setelah berjalan melalui 2 puncak gunung Hee Thian Siang sambil berjalan berkata kepada Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang: “Hee Thian Siang ucapkan terima kasih kepada locianpe berdua yang sudah memberi saluran tenaga kepada Hee Thian Siang selagi menghadapi kesulitan, hingga Hee Thian Siang berhasil mencabut tongkat Khie Tay Cao yang berat itu!”

“Urusan sepele ini tak perlu kau sebut-sebut lagi, satu hal yang aku ingin mendapat keteranganmu. Menurut keterangan Pek Thao Losat Phao Sam-kow, kau sudah dibokong olehnya dengan memakan dua butir pil Kiu-han-tim, hingga tulang- tulang sunsummu pada beku dan waktu itu sudah pingsan, dengan cara bagaimana kau masih…” Berkata Leng Biauw Biauw sambil tertawa. Phao Sam-kow meskipun seorang yang sangat kejam dan jahat, tetapi Hee Thian Siang adalah orang yang masih dilindungi oleh Tuhan, secara kebetulan Hee Thian Siang ditemui oleh Ceng-mo Tiong-sun locianpe dan kemudian diberi pertolongan, bukan saja tulang-tulang sumsun Hee Thian Siang tidak sampai beku seperti es, sebaliknya malah dengan dua butir pilnya kiu-han-tan Phao-sam-kow dapat menawarkan racun api yang berada didalam tubuh Hee Thian Siang!” Menjawab Hee Thian Siang sambil tertawa.

“Ho..ho, kiranya kau telah ketemu dengan Thian-gwa Ceng- mo Tiong-sun Seng yang suka mengurusi orang? Tetapi apakah Liok Giok Jie tahu kalau kau masih belum mati?” Berkata Leng Biauw Biauw.

“dari mulut Tiong-sun locianpe, dia sudah tahu bahwa Hee Thian Siang hidup kembali dari kematian, belum mati benar!” Menjawab Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala!

“Dimana sekarang dia berada?” Bertanya pula Leng Biauw Biauw.

“Ketika dia mendengar keterangan bahwa Hee Thian Siang masih belum mati dan melihat Hee Thian Siang hendak sadar kembali, lantas pergi dengan tiba-tiba, katanya selanjutnya dia akan menyucikan diri, tak mau menemui Hee Thian Siang lagi!” Menjawab Hee Thian Siang.

Leng Biauw Biauw yang ada hubungannya dengan anak, ketika mendengar ucapan itu lantas menarik nafas panjang, hatinya berasa pilu.

Hee Thian Siang yang sangat cerdik, melihat sikap Leng Biauw Biauw ia sudah mengetahui bagaimana perasaan nyonya tua itu, maka lalu berkata dengan suara lantang: “Leng locianpe harap jangan kuatir. Nanti setelah pertemuan hari pembukaan partai baru Ceng-thian-pay selesai, Hee Thian Siang pun harus melakukan perjalanan keujung dunia, juga akan menemukan adik Giok!”

Leng Biauw Biauw mendengar ucapan itu perasaannya mulai lega, tanyanya sambil menatap wajah Hee Thian Siang: “Kau nanti setelah menemukan Liok Giok Jie, apakah kau masih akan mengecewakan cintanya terhadap dirimu?”

Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, ia menggelengkan kepala sebagai jawabannya.

Leng Biauw Biauw berkata pula sambil tertawa: “Kalau kau tak akan mengecewakan harapannya itulah bagus! Apabila kau melanggar janjimu ini, jangan salahkan kalau aku akan berlaku kejam terhadapmu, aku nanti juga akan jadikan kau patung es didalam goa Siang-swat-tong!”

Hee Thian Siang yang beradat tinggi hati dan keras kepala, terhadap siapapun juga tak mau menyerah, ketika mendengar ucapan itu, sepasang alisnya berdiri dan berkata: “Leng locianpe harap jangan mengucapkan demikian, apa sebabnya Hee Thian Siang tak akan mengecewakan hati Liok Giok Jie ialah karena hati nurani tidak mengizinkan berbuat demikian, apalagi semula lantaran dia, Hee Thian siang melakukan perjalanan jauh kegunung Bi-san, untuk minta restu dihadapana Makam Bunga Mawar. Bukanlah karena takut ancaman locianpe, ketahuilah locianpe, bahwa Hee Thian Siang adalah seorang yang keras kepala, selamanya tak takut…”

Leng Biauw Biauw berkata sambil tertawa geli: “Jikalau kau bukan seorang yang keras kepala dan tinggi hati, sehingga menyenangkan orang-orang, bagaiman Liok Giok Jie bisa jatuh cinta kepadamu? Apa katamu tadi? Kau lantaran dia telah menempuh perjalanan jauh kegunung Bin-san untuk minta restu dari Makam Bunga Mawar, apakah artinya itu?” Hee Thian Siang tahu bahwa Leng Biauw Biauw adalah ibu kandung Liok Giok Jie, sedangkan Tang Siang Siang adalah ibu kandung Hok Siu-im. Tetapi ia masih pura-pura tidak tahu dan menceritakan seluruh perjalanannya mulai pertama pergi kegunung Bin-san untuk minta restu Makam Bunga Mawar dan kemudian ia mengadakan hubungan dengan Tiong-sun Hui Kheng Hok Siu-Im dan Liok giok Jie, ketiga gadis itu ternyata sama-sama jatuh cinta kepadanya, hingga menyulitkan dirinya sendiri.

Kiu-thian Mo-lie Tang Siang Siang sehabis mendengar penuturan itu lantas berkata sambil tertawa: “Peribahasa ada kata: DIANTARA DUA WANITA ADALAH YANG  MENJADI

SUAMINYA YANG SULIT! Tetapi kau masih memikirkan sekaligus hendak mendapatkan ketiga gadis itu, benar-benar hebat sekali kau ini!”

Hee Thian Siang mendengar ucapan itu lalu teringat kepada diri Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang sendiri yang menikah dengan seorang suami May Ceng Ong hingga akhirnya timbul kericuhan demikian hebat.

Leng Biauw Biauw mengawasi Tang Siang Siang sejenak, katanya sambil tersenyum: “Tentang Liok Giok Jie dan Hok Siu Im kita semua sudah melihatnya, hanya Tiong-sun Hui Kheng kita hanya tahu bahwa dia adalah anak tunggal Thian- gwa Ceng-mo Tiong-sun seng. Bagaimana rupanya dan kepandaian ilmu silatnya? Apakah dapat dibandingkan dengan Liok Giok Jie dan Hok Siu Im?”

Hee Thian Siang berkata sambil menunjuk bintang-bintang cemerlang diatas langit: “Liok Giok Jie dan Hok Siu Im, kita boleh umpamakan bintang cemerlang diatas langit itu..”

“Dan bagaimana dengan Tiong-sun Hui Kheng?” tanya Tang Siang Siang sambil tersenyum. Hee Thian Siang sambil memandang bulan purnama diatas langit, berkata: “Tiong-sun Hui Kheng kita boleh umpamakan sebagai bulan yang berada dilangit itu!”

Kera putih siaopek yang paham bahasa manusia semula ketika mendengar Hee Thian siang memuji Liok Giok Jie, Hok Siu Im dan kemudian menyebut nama Tiong-sun Hui Kheng perdelikkan sepasang matanya yang merah mengawasi Hee Thian Siang, tetapi kini setelah dengan disebutnya nama Tiong-sun Hui Kheng dan disebandingkan dengan rembulan, lantas unjukkan tertawa girangnya dan sikapnya yang sangat lucu.

Siang Swat Sianjin Leng Biauw Biauw agaknya menganggap Hee Thian Siang terlalu mengagumi Tiong-sun Hui-kheng maka lalu berkata: “Aku tidak percaya bahwa Tiong-sun Hui-kheng adalah seorang gadis yang demikian baik. Aku ingin mendapat kesempatan untuk menyaksikan sendiri!”

“Tidak perlu mencari lain kesempatan, enci Tiong-sun Hui- kheng itu kini sedang mengawasi May Ceng Ong locianpe, disana menantikan kedatangan locianpe berdua” Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Tang Siang Siang mendadak menghentikan langkahnya dan bertanya sambil mengawasi Hee Thian Siang: “Hee Thian Siang, kau barangkali sudah membohongi kita, sebetulnya siapakah yang mengundang kita, May Ceng Ong atau bukan?”

“Harap locianpe jangan kuatir. Hee Thian Siang tak akan berani mempermainkan locianpe berdua!” Berkata Hee Thian Siang sambil memberi hormat.

Siang-swat Siangjin Leng Biauw Biauw juga melihat gelagat telah tertipu oleh Hee Thian Siang, katanya dengan suara dingin: “Hee Thian Siang, kau jangan coba mengelabui kita dengan omongan manis lagi, May Ceng Ong tak mungkin berada didalam rumah makan didesa kecil itu!”

Hee Thian Siang diam-diam mengagumi lihaynya nyonya itu, ia berkata sambil tersenyum: “Dua locianpe memang betul, May Ceng Ong locianpe memang tidak berada didalam rumah minum didesa kecil, waktu itu oleh karena dihadapan goa Siang-swat-tong terdapat banyak orang-orang Kie-lian-pay, maka Hee Thian Siang terpaksa tidak berani berkata terus terang!”

Leng Biauw Biauw mengawasi Hee Thian Siang dalam- dalam, katanya lambat-lambat: “Sekarang kecuali kau dan kita berdua, sudah tidak ada orang lain lagi, kau seharusnya sudah boleh berkata terus-terang!”

Hee Thian Siang menganggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum: “May locianpe sekarang ini berada didalam kamar Bo-ciu-sek dilembah Leng-cui-kok digunung Ko-le- kong-san!”

Tang Siang Siang terkejut, tanyanya: “Jadi, dia sudah pergi dilembah Leng-cui-kok digunung Ko-le-kong-san?”

Hee Thian Siang menganggukkan kepala, sementara itu Leng Biauw Biauw lantas berkata: “Kamar Bo-ciu-sek dilembah Leng-cui-kok adalah tempat kita yang lama, juga merupakan suatu tempat yang menimbulkan kenangan sedih. Kita tidak suka mengunjungi tempat itu lagi, ianya dapat membangkitkan kesedihan perasaan dimasa yang lampau, sebaiknya kau suruh May Ceng Ong datang sendiri kegoa Siang-swat-tong digunung Kie-lian-san untuk menyelesaikan persoalan kita yang lama!”

Sehabis berkata demikian, bersama Tang Siang Siang hendak membalikkan diri, agaknya tidak mau melanjutkan perjalanan lagi. Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, dalam hati merasa cemas, kembali mengeluarkan kata-kata untuk membohongi kedua nyonya itu lagi: “Leng dan Tang locianpe harap jangan tergesa-gesa dulu. Apabila locianpe berdua tidak mau pergi kelembah Leng-cui-kok digunung Ko- le-kong-san, maka untuk selanjutnya tidak akan bisa bertemu lagi dengan May Ceng Ong Locianpe!”

Beberapa patah kata itu benar saja membuat Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang membatalkan maksudnya, sementara itu Leng Biauw Biauw lantas bertanya: “Apa artinya ucapanmu ini?”

Dengan pura-pura bersikap sungguh-sungguh, Hee Thian Siang berkata: “May locianpe, entah mendapat gangguan apa, telah kandung maksud hendak menghabiskan jiwa didalam kamar Bo-ciu-sek itu!”

Mendengar ucapan itu, Kiu-thian Mo-lie tang Siang Siang berkata kepada Leng Biauw Biauw sambil tertawa dingin: “Bagaimana dia bisa berubah demikian jauh? Kini ternyata hendak mengakhiri hidupnya untuk melepaskan tanggung- jawabnya, kemana perginya sikap galak dan sombong dahulu?”