Makam Bunga Mawar Jilid 17

 
Jilid 17

Tidak menunggu sampai Sam-ciok Cinjin mulai berkata, Thian Ie Sianjin sudah berkata: “Kita masing-masing menggunakan seluruh kepandaian ilmu kepada Hee laote dan nona Tiong-sun, kemudian kita pertemukan mereka dipuncak gunung Ko-le-kong yang letaknya ditengah-tengah Thian-cun- kan dan Thian-keng-kok!” “Walaupun mereka masih muda belia dan masih mudah dikasih mengerti, tetapi dalam waktu sepuluh hari dengan cara bagaimana mereka bisa dapat memahami seluruh kepandaian ilmu yang sudah kita pelajari sampai seratus tahun lamanya?”

“Kulihat mereka semua mempunyai bakat dan tulang yang bagus sekali, sudah pasti juga mempunyai kecerdikan otak yang luar biasa, rasanya bila dididik segera dapat dimengerti oleh mereka! Maka soal dimengerti, rasanya sudah tidak menjadi soal lagi, yang menjadi persoalan ialah latihan mereka yang cukup masak. Maka jikalau mereka tak dapat memperkembangkan inti sarinya dengan baik, dengan sendirinya tak dapat mengeluarkan seluruh kepandaiannya! Tetapi kesulitan yang kita hadapi dalam soal ini juga sudah kupikirkan suatu cara untuk memperbaikinya!”

“Kepala gundul, kau memang mempunyai banyak akal, coba ceritakanlah dulu, cara perbaikan apa yang kau maksudkan itu?”

“Caraku ini hanya terdiri dari beberapa patah kata saja, ialah setengah ilmu silat setengah ilmu surat. Memetik inti sarinya dan harus dipelajarinya dengan tekun!”

“Tentang ini agaknya masih perlu diberi penjelasan sedikit.”

“Seluruh kepandaian ilmu yang kita miliki, kita harus wariskan kepada hee laote dan nona Tiong-sun. Dengan kecerdasan dan kepintaran masing-masing, ajarkan mereka tiga jurus ilmu yang terbaik, kemudian suruh mereka mengadakan perbandingan. Hasil dari perbandingan itulah kita gunakan, untuk menyelesaikan pertikaian antara kita yang berlangsung seratus tahun lamanya ini!”

Mendengar usul itu Sam-ciok Cinjin tidak menjawab, agaknya sedang mempertimbangkan cara yang diusulkan oleh Thian Ie Siangjin itu, adil atau tidak. Hee Thian Siang yang mendengar percakapan itu diam- diam merasa girang, ia tahu bahwa ia sudah berjumpa engan orang-orang gaib dari rimba persilatan yang adatnya aneh luar biasa, orang-orang seperti mereka itu kalau mau berbuat demikian, tentu akan sangat berguna bagi Tiong-sun Hui Kheng dan dirinya sendiri. Tak lama kemudian dengan nada dingin dari Sam-ciok Cinjin sudah terdengar pula: “Kita masing-masing harus menurunkan tiga jurus ilmu silat, supaya mereka mengadakan pertandingan, cara ini pula boleh dikata yang kau maksudkan mengambil inti sarinya itu, maka kau harus menjelaskan lagi tentang usulmu setengah ilmu surat dan setengah ilmu silat!”

“Setengah ilmu surat, maksudnya ialah hal-hal yang menyangkut kesulitan-kesulitan dalam soal hafalan, sedangkan setengah ilmu silat yang kumaksudkan ialah melakukan pertandingan. Yang disebutkan duluan biarlah kau dan aku yang bertindak sebagai pelatihnya, kau boleh menguji Hee Thian siang dan aku akan menguji Tiong Sun Hui Kheng. Pertanyaan-pertanyaan terbatas hanya pada pertanyaan saja! Sedangkan pertandingan tetap dilakukan oleh mereka dan pertandingan juga harus dibatasi sampai tiga jurus saja!”

“Cara-cara yang kau usulkan ini memang benar tepat sekali! Tentang ujian setengah ilmu surat itu, asal mereka ingat betul hafalan yang kita berikan, maka dalam pertandingan yang akan dilakukan asal mereka sudah mempelajari dengan tekun sudah boleh mereka gunakan semuanya!”

“Dengan cara demikian, bagi Hee laotee dan Tiong sun Hui Kheng tidak akan menyia-nyiakan usaha kita, bahkan mereka akan mendapat faedah yang sangat berguna!”

“Sudah tentu, mereka yang sudah mendapatkan warisan tiga jurus ilmu kepandaian kita pada waktu sekarang ini cukup untuk menjagoi dunia Kang ouw. Dilain waktu apabila mereka bisa mengembangkan lagi dan dicampur lagi dengan ilmu-ilmu yang lainnya, pasti besar sekali kegunaannya!”

“Kalau kau memang sudah setuju dengan usulku ini, maka kita harus tetapkan waktunya untuk dimulai!”

“Hari ini tidak terhitung, mulai besok pagi, sepuluh hari kemudian diwaktu tengah hari kita bersama-sama Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng bertemu diatas puncak gunung Giok can-hong!”

Selanjutnya pembicaraan kedua fihak terputus, keadaan sunyi kembali. Thian Ie Siang-jin duduk tenang sambil menundukkan kepala, agaknya hendak mulai melakukan semedi lagi.

Hee Thian Siang tahu bahwa Thian Ie Siang-jin dan Sam- ciok Cinjin sudah menggunakan tenaga terlalu banyak dalam pembicaraan tadi, betapapun tinggi ilmu mereka juga sudah pasti merasa lelah, perlu mengatur pernafasannya dan memulihkan tenaganya lagi!

Oleh karenanya, maka ia juga tak berani mengganggu, duduk diam menantikan sadarnya kembali Thian Ie Siangjin, matanya dari atas sarang burung raksasa itu menikmati pemandangan alam dilembah yang dinamakan lembah Thia- keng-kok itu.

Pada saat itu Taywong dan Siaopek sudah dibebaskan oleh harimau hitam dan kera hitam, tetapi semua masih berdiri dibawah pohon raksasa itu, agaknya masih takut terhadap Thian Ie Siangjin, sesaat kemudian Thian Ie Siangjin perlahan- lahan membuka matanya, melihat Hee Thian Siang sejenak dan berkata sambil tersenyum: “Hee laote, apa yang kubicarakan tadi dengan Ciok Cinjin seharusnya kau sudah dengar pula. Apakah kau perlu mengajukan usul lain?” “Dengan maksud baik taisu hendak mendidik Hee Thian Siang, bagaimana Hee Thian Siang berani membantah?” Berkata Hee Thian Siang sambil memberi hormat.

Jikalau kau sudah setuju, maka aku sekarang hendak mengatur persiapannya dan pelajaran pada lima hari pertama aku akan melakukan disini denganmu tentang kepandaian ilmu silat yang kupelajari dan kumiliki selama hampir seratus tahun ini. Dan lima hari kemudian baru aku akan menurunkan pelajaran kepadamu tiga jurus kepandaian ilmu tertinggi dari milikku.”

Hee Thian Siang tahu bahwa pertemuan gaib ini sesungguhnya merupakan suatu pengalaman yang sulit dijumpai, maka ia lantas mendengarkan dengan seluruh perhatiannya, serta diingatnya baik-baik semua pelajaran yang diceritakan padanya.

Tempo lima hari berlalu dengan cepat, seluruh kepandaian ilmu silat yang dimiliki oleh Thian Siangjin sudah diturunkan semua kepada hee Thian Siang, setelah itu ia masih menguji lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat teliti. Ketika melihat Hee Thian Siang sudah dapat menjawab dengan lanacar, lalu ia berkata sambil tertawa gi-

“Mataku benar saja tidak lamur, Hee laote benar-benar mempunyai daya ingatan yang sangat tinggi sekali.”

Dengan cepat Hee Thian Siang memotong ucapan Thian Ie Siangjin, katanya sambil tertawa: “Taisu jangan merasa gembira dulu, enci Tiong-sunku itu jauh lebih pintar dari padaku. Lima hari kemudian dalam pertandingan itu barangkali Hee Thian Siang tidak mudah untuk mendapat kemenangan.”

Diwajah Thian-Ie Sianjin masih penuh senyum gembira, dari sikapnya itu menunjukkan bahwa ia percaya penuh akan usahanya, ketika mendengar ucapan Hee Thian Siang, ia lalu berkata sambil tertawa: “Laote boleh belajar dengan tenang dan tekun, dalam pertandingan yang akan dilakukan nanti, andaikata masih seperti apa yang kita lakukan terdahulu dengan Sam Ciok Cinjin, berkesudahan seri, tak ada yang menang atau kalah, tetapi dalam perasaanku dan Sam Ciok Cinjin sendiri juga akan hilang setengahnya.”

Hee Thian Siang yang mendengar itu masih merasa ragu- ragu, sementara itu Thian-Ie Sianjin berkata lagi: “Sebab sebagai orang rimba persilatan, kecuali soal nama yang masih belum bisa pandang tawar, masih ada keinginan yang sangat penting. Itu adalah tentang ilmu kepandaian yang dipelajari selama hidupnya, kuatir kalau tidak ada pewarisnya. Dan apalagi sudah mendapt pewaris yang boleh diandalkan, dalam hati nanti akan merasa lega. Laote dan nona Tiong-sun sekarang ini meskipun hanya mendapatkan peninggalan masing-masing tiga jurus ilmu kepandaian yang aku dan Sam Ciok Cinjin ciptakan sendiri, tetapi dikemudian hari apabila kekuatan tenaga kalian sudah menjadi sempurna, terhadap semua ilmu kepandaian yang kita berikan dengan mulut, pasti dapat menyadari sendiri, kemajuan yang kau dapatkan akan merupakan suatu kejadian yang luar biasa didalam rimba persilatan!”

Selama beberapa hari itu oleh karena Hee Thian Siang mendapat didikan, baik dengan mulut ataupun dengan ilmu silatnya, apa yang dia dengar dan dilihatnya, semua sudah membuktikan kepandaian dan kekuatan Thian-Ie Sianjin, maka dalam hati diam-diam merasa bersyukur, sekali lagi ia mengucapkan terima kasihnya kepada padri tua itu.

Thian-Ie Sianjin berkata sambil menggoyang tangan dan ketawa: “Laote tidak perlu memakai banyak peraturan, engkau yang mendapat warisan dariku, memang seharusnya kau mengucapkan terimakasih kepadaku, tetapi bagiku sendiri yang sudah memiliki kepandaian itu dapat menemukan seorang pewaris seperti kau ini, aku juga harus merasa bersyukur, karena kepandaian ilmuku itu tak akan musnah bersama badan kasarku, apakah itu juga tidak seharusnya mengucapkan terima kasih kepadamu?”

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu dalam hatinya merasa pilu. Thian-Ie Sianjin berkata pula sambil tersenyum: “Hee laote sudah ingat betul pelajaran yang kuberikan dengan lisan. Maka lima hari berikutnya kita harus gunakan baikk-baik untuk mempelajari ilmu silat tiga jurus itu!”

“Tiga jurus ilmu silat itu, kedengarannya sangat aneh.”

“Apa yang dibuat heran? Yang mengherankan masih ada lagi, nanti akan terbukti dibelakang hari.”

Hee Thian Siang diam-diam berpikir: Duta Bunga Mawar sudah menurunkan tiga gerak tipu kepadanya dan sekarang padri tua ini hendak menurunkan tiga jurus ilmu silat kepadanya lagi. Dikemudian hari, semua ilmu silat yang didapatkan dari dua orang gaib itu bisa digunakan untuk menghadapi Pek Kut Sam-mo, ialah tiga iblis tulang putih, ditambah lagi dengan Tiong-sun Hui Keng, Hok Siu Im dan Liok Giok Jie, tiga dara cantik manis, semuanya itu agaknya merupakan suatu kejadian yang tidak terlepas dari angka tiga. Seolah-olah ia terjodoh dengan angka tiga itu.

Setelah itu Thian-Ie Sianjin sudah berkata lagi sambil tertawa: “Hee laote, kau sedang memikirkan apa?”

“Hee Thian Siang sedang memikirkan, taisu hendak menurunkan tiga jurus ilmu pukulan kepada Hee Thian Siang, tapi Hee Thian Siang tidak tahu apa namanya ilmu pukulan yang akan diturunkan oleh Sam-ciok Cinjin kepada enci Tiong- sun Hui Kheng?”

“Sam-ciok Cinjin kalau dibandingkan dengan aku, sifatnya lebih mau menang sendiri saja, gerak tipu yang akan diturunkan kepada enci Tiong-sun mu sudah pasti sangat hebat sekali. Jikalau aku juga menurunkan kau gerak yang demikian hebat, maka lima hari kemudian apabila kalian melakukan pertandingan, mungkin kedua-duanya akan terluka! Oleh karena itu aku baru memikirkan untuk memberi pelajaran kepadamu dari golongan Budha, tiga jurus ilmu silat yang kuberi nama urut Tiga jurus ilmu menyelamatkan jiwa. Tujuanku ialah tidak mementingkan kemenangan, tetapi menjamin tidak akan kalah. Betapapun tinggi ilmu silat lawan, betapapun ganas serangannya, juga tidak bisa melukai dirimu!”

“Itulah yang paling baik!” Berkata Hee Thian Siang dengan sangat girang.

“Laote tidak perlu terlalu girang dulu, enci Tiong-sun mu yang telah mendapat pelajaran tiga jurus ilmu tertinggi dari Sam-ciok Cinjin yang sangat hebat, mungkin selanjutnya ia bisa menjagoi rimba persilatan, sedangkan ilmu yang kau dapatkan dariku hanya sanggup untuk menjamin kau dari bahaya!”

“Sebagai orang rimba persilatan yang hidupnya seperti diujung senjata, betapapun tinggi kepandaian ilmu silatnya, betapapun cermat pikirannya, sedikit banyak pasti akan menemukan celakanya juga, maka jikalau dapat mempelajari beberapa jurus ilmu untuk menjaga diri lebih berharga daripada mempelajari ilmu pukulan itu!” Berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

Thian-Ie Sianjin terkejut mendengar penuturan itu, ia ulangi beberapa kali ucapan Hee Thian Siang itu, sambil menatap wajah Hee Thian Siang ia berkata sambil tersenyum: “Hee laote, kata-kata yang kau ucapkan tanpa sengaja tadi, didalamnya mengandung arti sangat dalam. Aku telah menjalani ibadat ini selama seratus tahun, aku masih belum dapat memecahkan persoalan itu. Hingga sat ini aku masih belum dapat keluar dari lingkaran perebutan nama saja. Hampir saja tersapu bersih oleh ucapanmu tadi!” “Bunga teratai meskipun bersih, sebetulnya tumbuh diatas lumpur, kerisauan timbul dari godaan hati. Pengertian terhadap Budha tidak terlepas dari kesadaran! Kesadaran taisu dengan tiba-tiba berarti akan menyingkirkan segala rintangan, waktu bagi suhu untuk mendapatkan keselamatan jiwa, sebetulnya tidak jauh lagi!” Berkata Hee Thian Siang.

“Kau rupanya pernah mempelajari sampai dalam tentang ilmu Budha!” Berkata Thian Siangjin terkejut.

“Setiap hati manusia, semua ada Budha. Burung berkicau bunga mekar dan rontok, semua itu mengandung arti kehidupan. Taisu yang memang sebagai orang suci yang lantas menyadari kesucian tentunya lebih tahu dari pada orang biasa. Hee Thian Siang hanyalah seorang anak yang belum lama menikmati penghidupan dunia, bagaimana dapat mengerti ilmu Budha? Dan mengandung arti sangat dalam?”

“Justru kau belum lama didunia, maka masih bersih dan belum terkena kotoran dunia. Kalau hidup itu hanya mengejar nama dan kedudukan saja, itu artinya masih belum dapat melepaskan diri dari keduniawian. Apa yang patut dibuat girang? Didalam suasana hidup yang banyak godaan seperti ini aku sudah hidup seratus tahun lamanya, sesungguhnya sudah masanya harus menghadap kepada Tuhan, supaya terhindar dari segala dosa!”

Hee Thian Siang tahu bahwa orang-orang seperti Thian Siangjin ini merupakan orang suci, isi hatinya bersih, setiap waktu dapat naik sorga, maka lalu berkata sambil tersenyum: “Walaupun taisu sudah menyadari seluruhnya, agaknya juga harus menunggu lima hari kemudian baru berangkat!”

Thian-Ie Siangjin yang mendengar ucapan itu semangatnya terbangun, ia berkata sambil membuka mata: “Awan dilangit beterbangan, manusia didalam dunia ada masa berkumpul, ada masa berpisah. Semuanya itu tak lepas dari soal jodoh. Tak ku sangka Hee laote menjadi seorang yang sangt penting bagiku, yang merupakan suatu orang yang memberikan pimpinan untuk lebih lekas pergi ke sorga.”

Berkata sampai disitu ia berdiam sejenak, matanya dipejamkan dan berkata pula: “Ilmu yang hendak kuturunkan padamu ini, jurus pertama kunamakan 'Menolong kesusahan membantu kesulitan'… Kalau gerak tipu itu bernama menolong kesusahan dan membantu kesulitan, jurus kedua apa bukan dinamakan 'permurah dan pengasih?'” Tanya Hee Thian Siang sambil tertawa.

Hee laote, kau ini benar-benar sangat pintar sekali. Pengetahuanmu rupanya juga sangat luas, begitu dengar sudah dapat menangkap hati orang lain! Sekarang coba kau tebak lagi, apa namanya jurus ketiga itu?” Berkata Thian-Ie Siangjin sambil tertawa dan menganggukkan kepala.

“Nama dari gerakan kedua itu karena justru ada hubungan dengan kata-kata yang tercantum dalam pelajaran ilmu Budha yang dinamakan menolong kesusahan dan membantu kesulitan, semua itu Hee Thian Siang baru bisa menebak, tetapi tentang gerak tipu ketiga, itulah sudah tidak tahu lagi.” Berkata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

“Gerak ketiga ini namanya menyelamatkan orang banyak. Mari, mari kita duduk dibawah supaya aku bisa menurunkan pelajaran ini!” Berkata Thian-Ie Siangjin sambil tertawa.

Sehabis berkata demikian, badannya lalu melesat melayang turun kebawah pohon.

Hee Thian Siang mengikuti jejak Thian-ie Sianjin, melayang turun. Begitu kakinya menginjak tanah, kedua tangannya sudah ditarik oleh Taywong dan Siaopek, hendak diajak keluar dari lembah itu. Menyaksikan sikap Siaopek dan Taywong, demikian mesra, Hee Thian Siang tahu bahwa mereka sudah tidak pandang musuh lagi terhadap dirinya, tentunya kejadian dipuncak gunung Tiauw-in-hong itu sudah diberitahukan kepada Tiong- sun Hui Kheng.

Kini mereka tampak sangat cemas, hingga mengajak ia keluar dari lembah, maksudnya pasti minta padanya supaya menolong Tiong-sun Hui Kheng yang kesasar ke Thian-cu- kan, maka ia lantas berkata kepada Siaopek dan Taywong: “Siaopek, Taywong kalian jangan gelisah. Biarlah majikanmu berdiam beberapa hari lagi di Thian-cu-kan, ia akan mendapat warisan pelajaran dan kepandaian ilmu dari Sam-ciok Cinjin, ini sangat berguna sekali baginya!”

Siaopek dan Taywong semua paham bahasa manusia, maka setelah mendengar keterangan Hee Thian Siang, juga lenyaplah perasaan sedih mereka, kemudian bersama dengan harimau hitam dan kera hitam peliharaan Thian-ie Sianjin berjalan kebagian dalam lembah itu.

Thian-ie Siangjin yang menyaksikan gerakan lincah dari Siaopek dan taywong, lalu berkata sambil tersenyum: “Dua binatang itu demikian cerdik, juga jarang ada.”

“Enci Tiong-sunku itu memiliki kepandaian luar biasa, ia dapat menjinakkan segala binatang buas, kuda tunggangannya itu bahkan merupakan kuda jempolan yang jarang ada.” Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Thian-ie Siangjin mendengar ucapan itu tampak sangat girang, katanya: “Jika benar Tiong-sun Hui Kheng memiliki kepandaian menjinakkan binatang, maka cita-citaku akan tercapai. Nanti stelah aku pulang ke rahmatullah, harimau hitam dan kera hitam yang sudah lama mengikuti aku ini, boleh mendapatkan majikan baru, hingga tidak sampai terlantar ditanah pegunungan ini!” Hee Thian Siang sangat girang, pikirnya, lima hari berselang, ketika ia datang kelembah itu naik diatas punggung harimau itu, harimau hitam itu sudah lari cepat dan aneh, apabila dikemudian hari harimau hitam itu digunakan sebagai binatang tunggangan, bukankah lebih hebat dan lebih menarik daripada kuda ceng-hong-kie dan cian-lie-kiok-hwa-ceng? Hanya sayang binatang buas seperti harimau ini hanya bisa digunakan sebagai binatang tunggangan daerah pegunungan atau daerah sunyi, tak dapat digunakan didalam kota!

Selagi masih berpikir dengan sangat girang, Thian-ie Sianjin sudah menepuk pundaknya seraya berkata: “Hee laote, sudahlah! Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Kita sekarang akan memulai dengan pelajaran ilmu silat menyelamatkan jiwa itu!”

Wajah Hee Thian Siang jadi merah, buru-buru menenangkan pikirannya, memperhatikan gerak tipu ilmu silat yang dimainkan oleh Thian-ie Sianjin. Padri tua itu dengan sabar memberi petunjuk tiap jurus yang dimainkannya.

Setelah tiga jurus tipu silat itu dimainkan semuanya, Hee Thian Siang sudah mengerti. Memang benar saja, ilmu silat itu sangat luar biasa dan lebih hebat daripada tiga jurus ilmu pukulan yang diberikan oleh Duta Bunga Mawar. Maka sambil memperhatikan setiap gerakan ilmu itu, dalam hatinya diam- diam berpikir: “Cian-ceng Kiesu Cie Hiang Po, dalam dunia Kangow masih ada orang yang tahu, tentang Thian-ie Sianjin ini yang selama itu terus berdiam dilembah ini untuk memperdalam ilmunya hampir seratus tahun, orang-orang rimba persilatan tentunya sudah menganggap lama meninggal. Dan aku sendiri yang bertemu secara kebetulan dan diwariskan kepandaiannya, aku seharusnya sembunyikan dulu, tak akan dikeluarkan sembarangan, hingga pada tanggal enambelas bulan dua tahun depan, barulah akan kugunakan untuk menyapu bersih kawanan penjahat, supaya rimba persilatan mendapat ketentraman! Karena ia mempelajari dengan tekun dan ditambah lagi dengan bakatnya serta kecerdikannya yang luar biasa, maka tidak sampai sehari, sudah ingat seluruhnya tiga jurus gerak tipu ilmu silat yang dinamakan “Menyelamatkan jiwa”

Thian-ie Sianjin yang melihat ia demikian pintar dan mudah mengerti, sudah tentu merasa sangat girang, maka ia menggunakan sisa waktunya yang empat hari, untuk memperdalam pengertiannya ilmu silat itu, ia mengeluarkan segala gerak tipu terganas dari perbagai partai dan golongan, untuk melakukan latihan kepada Hee Thian Siang dan supaya ia dapat menggagalkan setiap serangan dengan menggunakan gerak tipunya yang baru itu.

Hanya tiga hari saja, Hee Thian Siang bukan saja sudah hafal betul menggunakan tiga jurus gerak tipu ilmunya yang baru itu, tetapi juga sudah berhasil menghadapi setiap serangan yang ganas dari pelbagai gerak tipu yang bagaimanapun ganasnya.

Hingga hari kelima, Thian-ie Sianjin berkata sambil tertawa: “Sudah cukup, dengan caramu belajar ilmu silat menyelamatkan jiwa yang meskipun hanya empat hari tetapi sudah cukup untuk menghadapi pertandingan dipuncak gunung Giok-can-hong yang akan dilakukan besok pagi! Tetapi aku masih ada sedikit keragu-raguan…”

“Taisu ada keragu-raguan apa?”

“Daya ingat dan kecerdasan otak Hee laote mah sudah dikata sudah bakat dan itu pemberian dari Tuhan. Tentang kepandaian ilmu silatmu boleh didapat dari didikan guru yang pandai. tapi kekuatan tenaga dalammu aku masih merasa ragu, agaknya kurang tepat bila pemuda seusia kau ini telah mempelajari ilmu yang demikian tinggi!”

Karena mendapat pertanyaan demikian maka Hee Thian Siang lalu menceritakan semua tentang dirinya yang mendapat warisan kekuatan tanaga dalam dari Duta Bunga Mawar.

Thian-ie Sianjin yang mendengarkan dengan tenang, lalu berkata sambil tersenyum: “Laote, kau sesungguhnya banyak sekali mendapatkan penemuan gaib, biarlah aku juga turut meramaikan pengalamanmu, kuhadiahkan lagi sesuatu barang untukmu!”

Sehabis mengucapkan demikian, ia lantas lompat melesat kesarang burungnya diatas pohon mengambil empat batang bulu burung lima warna. Bulu burung itu yang satu panjang dan yang lain berbentuk pendek.

Hee Thian Siang menampak Thian-ie Sianjin mengambil empat batang bulu burung berwarna maka dalam hati terkejut, pikirnya, apakah bulu burung ini adalah bulu yang dinamakan Thian-khim Ngo-sek yang pada seratus tahun berselang pernah menggemparkan rimba persilatan?

Dengan menggunakan bulu burung yang agak panjang itu, Thian-ie Sianjin menggoreskan kesebatang pohon, disitu lantas terdapat tanda goresan sedalam setengah kaki lebih, agaknya jauh lebih tajam dari segala golok atau pedang!

Hee Thian Siang yang sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi lalu bertanya sambil tersenyum: “Taisu, bolehkah Hee Thian Siang numpang tanya, empat batang bulu burung ini apakah senjata sakti Thian-khim Ngo-sek yang dahulu taisu gunakan sebagai senjata yang pernah menggemparkan rimba persilatan?”

Thian-ie Sianjin menganggukkan kepala dan tersenyum, diwajahnya tampak tegas sikapnya yang mengenangkan kejadian-kejadian dimasa yang lampau, katanya lambat- lambat: “Memang benar, inilah senjata rahasiaku yang dulu kugunakan untuk bekal berkelana didunia kangouw, juga merupakan senjata  yang kugunakan untuk menindas kaum iblis, senjata ini khasiatnya kecuali keras melebihi baja, juga memiliki daya guna yang luar biasa bagi senjata golok atau pedang yang biasa saja, jika tersentuh dengan bulu ini pasti akan patah. Laote, sebagai angkatan muda yang usiamu belum lebih dari dua puluh tahun, ternyata masih bisa mengenali benda yang jarang diketahui oleh umum ini, sesungguhnya jarang ada!”

Dalam hati Hee Thian Siang berdebar keras, ia benar- benar hampir tak percaya pada dirinya sendiri bahwa hari itu ia mempunyai rezeki demikian besar, bukan saja ia sudah mempelajari tiga jurus ilmu silat menyelamatkan jiwa, bahkan sudah mendapat senjata rahasia yang tak ada duanya didunia ini.

Namun ia tak tahu, empat batang bulu burung itu meskipun membuat nama Hee Thian Siang menanjak dan menonjol dirimba persilatan, maka lantaran senjata itu juga ia dikemudian mendapatkan kesulitan yang tidak terhingga.

Lebih dulu Thian-ie Sianjin menyerahkan kepada Hee Thian Siang bulu yang bentuknya agak panjang dan berkata sambil tersenyum: “Bulu yang agak panjang ini digunakan sebagai senjata, mengenai cara-cara dan gerakannya menggunakan senjata ini, oleh karena waktu sudah mendesak tidak keburu untuk kuturunkan kepadamu, maka aku akan menyediakan catatan yang berupa sejilid kitab pelajaran menggunakan senjata bulu ini. Kalau kau ada waktu terluang, boleh mempelajarinya menurut isi kitab itu, sudah tentu kau nanti akan memahami sendiri.”

Hee Thian Siang tahu bahwa padri tua itu setelah pertandingan besok selesai, ia sudah mencapai cita-citanya, itu juga berarti habislah sudah ia didalam dunia, maka ia juga tidak menolak menerima pemberian itu sabil mengucapkan terima kasih. Thian-ie Sianjin mengambil lagi tiga batang bulu yang bentuknya lebih pendek, berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum: “Tiga batang bulu yang lebih pendek ini digunakan sebagai senjata rahasia. Tampaknya sepele, tetapi sangat ampuh. Bukan saja dapat menembus segala benda keras, tetapi juga untuk memecahkan ilmu kebal dalam golongan rimba persilatan. Sekarang aku hendak mengajari kau cara menggunakannya dengan tipu Sam-cay-hot-ei.”

Sehabis berkata demikian, tiga batang bulu ditangannya lantas melesat ketengah udara, bulu itu terbang keudara sedikitpun tidak menurun siuran, tetapi warnaya menimbulkan pemandangan yang sangat indah. Dengan tiba-tiba tiga batang bulu itu berkumpul menjadi satu, dan menancap keselembar daun diatas pohon kering. Hee Thian Siang yang memiliki pandangan yang tajam, sudah dapat melihat bahwa cara demikian itu, boleh dilancarkan menurut sesuka hatinya, dengan demikian lawannya yang sama sekali tidak berjaga- jaga dapat diserang secara tidak terduga-duga maka ia merasa sangat girang dan minta diberi penjelasan cara menggunakan ilmu itu.

Setelah menyelesaikan pelajarannya, Thian-ie Sianjin memberikan kesempatan kepada Hee Thian Siang untuk melatih hingga matang betul. Hingga pelajaran itu selesai, haripun sudah menjadi malam.

Besok paginya sebelum tengah hari Thian-ie Sianjin dan Hee Thian Siang dengan membawa harimau hitam dan kera hitam, serta taywong dan siaopek pergi kepuncak gunung Giok-can-hong untuk menantikan kedatangan Sam-Ciok Cinjin dan Tiong-sun Hui Kheng.

Puncak gunung itu terdapat sebuah batu besar seluas dua tiga tombak persegi yang sangat rata, tetapi diatas batu itu tampak tanda-tanda seolah-olah bekas dilingkari oleh naga, samar-samar juga ada bekas sisiknya. Thian-ie Sianjin mendongakkan kepala melihat cuaca, dengan tiba-tiba menghela nafas dan berkata: “Persoalanku dengan Sam-ciok Cinjin yang berlangsung selama seratus tahun ini, sebentar lagi akan selesai! Tetapi masih ada seorang…”

Belum habis ucapannya, dari Thian-ciou-kian di puncak gunung itu terdengan suara nyaring.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan Thian-ie Sianjin tadi ternyata mengandung maksud, maka lalu bertanya: “Apakah taisu kecuali dengan Sam-ciok Cinjin masih ada persoalan lain lagi?”

“Aku tidak mempunyai keinginan apa-apa, tetapi yang satu lagi itu sudah lama ingin bertanding denganku. Ia tak dapat menemukan tempat persembunyianku. Hari ini jikalau aku bisa berangkat keakhirat dengan pikiran tenang, baginya tentunya merupakan suatu penyesalan yang besar!” Berkata Thian-ie Sianjin sambil gelengkan kepala dan tertawa.

“Apakah orang itu?” Bertanya Hee Thian Siang merasa tertarik.

“Orang itu sama terkenalnya dengan aku, akan tetapi jejaknya tak menentu, hingga saat ini belum pernah bertemu muka, dia seorang she Siauw bernama Swat..”

Berkata sampai disitu, tampak dua sosok bayangan orang melayang turun diatas batu besar, mereka itu adalah seorang gadis cantik jelita dan seorang imam setengah umur bertubuh kurus kering.

Hee Thian Siang tahu, bahwa imam setengah umur itu adalah Sam-ciok Cinjin yang sudah menghilang seratus tahun lamanya dengan Thian-ie Sianjin, diam-diam ia merasa heran sebab puncak Giok-can-hong yang tingginya 100 tombak itu, bagaimana Sam-Ciok Cinjin masih belum lama berselang, masih mengeluarkan siulan dari tempatnya, kini sudah berada diatas batu besar itu?

Sikera putih siaopek dan taywong begitu melihat majikannya dalam keadaan selamat keduanya berjingkrak- jingkrak kegirangan, mereka segera melompat maju menyongsong dan pada memeluk Tion-sun Hui Kheng.

Hee Thian Siang begitu bertemu muka dengan Tiong-sun Hui Kheng, ia sudah tahu bahwa Tiong-sun Hui Kheng sudah tidak mengandung sikap permusuhan terhadapnya, dalam girangnya ia sudah maju menyongsong dengan wajah berseri- seri, dengan sikap sangat menghormat ia memanggil: “Enci Tiong-sun!”

Akan tetapi, Tiong-sun Hui Kheng dengan tiba-tiba menggoyangkan tangan dan berkata kepadanya: “Sebagai anak rimba persilatan, harus bisa pegang teguh setiap janji, kita sudah menemukan pengalaman gaib seperti ini, dan sudah menerima baik kepada kedua locianpe untuk bantu menyelesaikan urusan mereka. Maka sudah seharusnya kalau kita uruskan persoalan ini lebih dahulu, barulah nanti bicara soal pribadi, segala sesuatu yang terjadi selama kita berpisah nanti kita bicarakan lagi, sekarang ini anggaplah saja seperti tak kenal satu sama lain!”

Sam-ciok Cinjin mendengar ucapan Tiong-sun Hui Kheng, perdengarkan suara tertawa terbahak-bahak, tampaknya sangat bangga sekali. Sambil menatap Thian-ie Sianjin ia bertanya: “Gadis pilihanku ini baik sifatnya maupun bakatnya atau dasarnya, apakah bukan seorang yang jarang ditemukan didalam rimba persilatan?”

Thian-ie Sianjin mengamat-amati Tiong-sun Hui Kheng sejenak, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala: “Nona Tiong-sun ini, benar-benar memang merupakan seorang gadis berbakat bagus sekali. Tetapi pemuda pilihanku Hee Thian Siang laote juga kira-kira merupakan setangkai bunga yang luar biasa didalam rimba persilatan. Agaknya tidak kalah terhadapnya!”

Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang, yang mendengar percakapan kedua orang aneh itu semua merupakan kata-kata yang sangat bertentangan, agaknya satu sama lain tak ada yang mau mengalah, maka lantas pada tertawa geli sendiri.

Sam-ciok Cinjin sementara itu telah berkata lagi sambil memelototkan matanya: “Mereka terpaut tidak banyak katamu? Sebentar kalau sudah melakukan pertandingan, kau baru tahu sendiri bahwa anak perempuan ini masih jauh lebih kuat daripada pemuda itu!”

“Kau menurunkan pelajaran hebat apa kepada nona Tiong- sun?” Bertanya Thian-ie Sianjin sambil tertawa.

“Oleh karena kulihat dia memiliki bakat kecerdasan otak luar biasa, maka aku mewariskan ilmuku yang terampuh, ialah Bu-siang Khao-hun Liong-hui Siam-cok!” Menjawab Sam-ciok Cinjin bangga.

“Oo, nona Tiong-sun,” berkata Thian-ie Sianjin sambil mengawasi Tiong-sun Hui Kheng.

“rejekimu terlalu baik sekali, kau jika sudah memiliki ilmu itu, sudah cukup seperti melatih pelajaran ilmu biasa selama 20 tahun!”

Dengan sikap rendah hati, Tiong-sun Hui Kheng berkata sambil tertawa: “Wanpe seorang bodoh, semua itu semata- mata berkat didikan Sam-ciok Cinjin yang baik sekali!”

Sam-ciok Cinjin tertawa bangga, katanya: “Kau sudah mewarisi ilmuku yang terampuh itu dan kau memberikan pelajaran dan mewariskan ilmumu yang apa kepada bocah itu?” “Perlu apa kau harus menanya? Tiap tahun kita bertemu sekali dan tiap kali harus melakukan pertandingan hingga 99 tahun lamanya, juga berarti kita sudah melakukan pertandingan sebanyak 99 kali. Siapakah yang tak mengenali adat satu sama lain? Didalam pertandingan yang terakhir ini sudah tentu kita masing-masing akan memilih ilmunya yang terampuh, untuk diturunkan kepada penggantinya!” Berkata Thian-ie Sianjin sambil tertawa terbahak-bahak.

Sam ciok Cinjin yang mendengar jawaban itu alisnya dikerutkan, ia menatap wajah Hee Thian Siang beberapa kali, kemudian bertanya kepadanya: “Apakah kau sudah mewarisi ilmu menyelamatkan jiwa dari padri Thian-ie Sianjin yang terdiri dari tiga jurus itu?”

“Wanpe dibawah didikan yang teliti dari Thian-ie taisu, terhadap ilmu menyelamatkan jiwa itu sudah bisa menggunakannya!” Menjawab Hee Thian Siang sambil memberi hormat.

Thian-ie Sianjin tiba-tiba berkata kepada Sam Ciok Cinjin: “Kita meskipun sudah mempelajari berbagai ilmu silat, tetapi hampir seumur hidup kita dan dengan jerih payah kita, dipusatkan kepada ilmu Khao-hun Liong-hui Siam-cok dan ilmu menyelamatkan jiwa! Sekarang oleh karena masing- masing sudah mempunyai warisan, andaikata saja dari pertandingan yang ke 100 kali ini, masih tetap tidak ada yang unggul dan asor, maka sudah seharusnya kita mengakhiri pertandingan ini, supaya untuk selanjutnya kita menjadi tenang dan tentram!”

Sam Ciok Cinjin mengawasi Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang sejenak, lalu berkata sambil menganggukkan kepala: “Kini tergantung kepada mereka, jikalau mereka bisa melakukan tugasnya dengan baik dan tidak mengecewakan pengharapan kita, sudah tentu kita akan merasa turut gembira dan pikiran kita bisa menjadi tenang, sekalipun kita meninggalkan dunia yang fana ini, juga sudah tidak ada penyesalan lagi!”

“Kalau demikian halnya, maka sekarang kita tidak perlu mengulur waktu lagi, pertandingan yang ke 100 kali, yang cukup untuk meninggalkan tempat dalam rimba persilatan, rasanya sudah bisa dimulai!” Berkata Thian-ie Sianjin sambil tertawa.

“Lebih cepat dimulai, juga baik, cara-cara pertandingan yang sudah kita janjikan adalah setengah ilmu surat dan setengah ilmu silat, dalam ilmu surat kita batasi dengan tiga pertandingan, dan ilmu silat kita batasi dengan tiga jurus, sekarang kita mulai dengan ujian ilmu suratnya lebih dahulu, dan kemudian barulah ilmu silatnya!”

Berkata sampai disitu, ia berpaling mengawasi kepada Tiong-sun Hui Kheng dan berkata sambil tersenyum: “Nona Tiong-sun, pergilah kesana dulu, supaya padri tua itu bisa menguji kau lebih dahulu!”

Tiong-sun Hui Kheng menerima baik, ia berjalan menghampiri Thian-ie Sianjin, lalu memberi hormat dan berkata kepadanya: “Wanpe Tiong-sun Hui Kheng, ingin menerima ujian dari taisu?”

Thian-ie Sianjin berkata kepada Sam Ciok Cinjin sambil menggoyangkan tangannya: “Tunggu dulu, mengapa kau tidak menguji Hee Thian Siang lebih dulu? Sebaliknya menyuruhku untuk menguji Tiong-sun Hui Kheng?”

“Soal yang mana lebih dulu dan yang mana belakangan ini apakah masih perlu dibuat persoalan?”

“Bukan begitu, maksudku ialah supaya adil. Jikalau aku minta kau menguji Hee laote lebih dulu, sudah tentu kau juga tidak mau?” Sam Ciok Cinjin berpikir, matanya melihat keadaan sekitarnya, kemudian mengulurkan tangan mengambil selembar daun kering dibawah tanah lalu bertanya sambil menunjuk sebuah batu besar yang terpisah kira-kira tujuh kaki dari tempatnya: “Begini saja, aku hendak menggunakan daun kering ini untuk memukul batu itu, kau boleh tebak, hanacuran batu itu genap atau ganjil, jikalau tebakanmu itu jitu, kau yang harus menguji lebih dulu. Tapi jika tebakanmu salah, akulah yang menguji lebih dahulu.”

Thian-ie Sianjin menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa: “Cara seperti ini bukan saja adil, tetapi akan sangat menarik!”

“Kalau benar adil dan menarik, sekarang kau bisa mulai menebak, kau mau menebak jumlah ganjil ataukah genap, supaya aku bisa menggunakan daun ini untuk memukul batu!”

Thian-ie Sianjin hanya tersenyum tidak menjawab, ia juga mengambil selembar daun kering ditanah, dengan kuku jari menggurat sebuah huruf diatasnya dimasukkan didalam saku bajunya.

Sam Ciok Cinjin yang menyaksikan perbuatan itu tidak mengerti, ia bertanya dengan tertawa: “Kau hendak main sandiwara apalagi?”

“Dengan kekuatan tenaga dalam yang sudah kita latih selama hampir 100 tahun ini, kalau menggunakan daun kering untuk memukul batu, seharusnya kita mengendalikan jumlah batu yang dipukulnya! Aku lebih dulu hendak menebak jumlah ganjil atau genap, kau yang masih pikiran mengalah terhadapku, bukankah itu memberi kesempatan bagiku untuk menebak dengan jitu?” Berkata Thian-ie Sianjin sambil tertawa.

Sam Ciok Cinjin kini baru mengerti maksud Thian-ie Sianjin mengambil daun kering dan menggores diatasnya, maka lalu berkata sambil tertawa: “Jadi, maksudmu kau menyuruhku memukul batu itu dengan daun kering, kemudian kau baru mengumumkan tebakanmu yang sudah kau tulis didaun itu tadi?”

“Dengan cara demikian, siapapun tidak ada yang main gila, jadi lebih adil!” Berkata Thian-ie Sianjin sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Sam Ciok Cinjin lalu menggunakan dadun kering ditangannya untuk menyerang batu besar dihadapannya.

Dengan daun kering memukul batu hingga hancur, itu adalah ilmu tertinggi, serta orang yang memiliki kekuatan tenaga dalam sudah sempurna betul. Dalam rimba persilatan pada dewasa itu, sekalipun guru Hee Thian Siang Pak Bin Sin Po, atau ayah Tiong-sun Hui Kheng Thian Hwa Ceng Mo Tiong Sun Seng, yang merupakan orang-orang berkepandaian tinggi pada masa itu juga hanya dapat melakukan, tidak sehebat mereka. Maka perbuatan Sam Ciok Cinjin itu sangat menarik perhatian Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang.

Daun kering dari tangan Sam Ciok Cinjin terbang melayang ditengah udara, daun itu tampaknya biasa saja seperti daun tertiup angin, tidak menimbulkan angin hebat dan juga tidak mengeluarkan suara, hanya melayang-layang ditengah udara kemudian turun diatas batu.

Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan batu itu ternyata tidak hancur, mereka sedang merasa terheran-heran dan merasa curiga, tetapi Thian-ie Sianjin sudah mengawasi Sam Ciok Cinjin dan tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: “Tebakanku keliru, kau harus menguji Hee laote lebih dulu!”

Hee Thian Siang bertanya kepada Thian-ie Sianjin dengan terheran-heran: “Bagaimana taisu tahu, kalau tebakan taisu keliru?” Thian-ie Sianjin mengeluarkan daun kering dari dalam sakunya, menunjuk huruf yang digaris oleh kukunya diatas daun kering tadi, itu merupakan huruf ganjil ia berkata sambil tersenyum: “Tebakanku ialah jumlah ganjil, tetapi batu itu terpukul hancur menjadi empat belas potong kecil, sudah tentu aku yang kalah.”

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu berpaling mengawasi kepada batu tersebut. tampak batu yang atasnya tertutup oleh daun kering itu keadaannya tetap seperti biasa, maka katanya kepada diri sendiri: Jangankan batu besar ini masih belum hancur, meskipun hancur, juga belum tentu menjadi jumlahnya empat belas potong kecil.

Cuma dalam hatinya merasa tidak percaya, ia lalu berjalan menghampiri batu besar itu dan mendorongnya dengan perlahan, batu besar itu benar saja telah terpukul hancur oleh kekuatan tenaga dalam hingga menjadi hancur.

Tiong-sun Hui Kheng juga tidak percaya, Thian-ie Sianjin bisa menebak demikian jitu, ia diam-diam menghitung hancuran batu itu, benar saja jumlahnya ada empat belas potong. Dengan demikian, Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang lantas mengagumi kepandaian dua orang tua itu. Tetapi disamping itu ia juga merasa geli sendiri.

Sebab Thian-ie Sianjin dan Sam ciok Cinjin sudah berjanji suruh Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng berdua untuk menggantikan mereka melakukan pertandingan tetapi akhirnya mereka masih diam-diam mengadu kekuatan tenaga dalam juga. Yang satu melancarkan ilmu kekuatan tenaga dalamnya yang tiada taranya, yang lain menunjukkan hal ketajaman pandangan matanya yang luar biasa! Tiong-sun Hui Kheng lalu memandang secara bergiliran kepada dua orang tua yang usianya 100 tahun lebih itu sambil tersenyum. Senyuman gadis itu membuat merah muka Sam Ciok Cinjin, maka ia lalu berkata kepada Thian-ie Sianjin sambil menghela nafas: “Padri tua, kita semua sudah hidup 100 tahun lebih lamanya, tetapi hati kita ternyata masih belum bisa tawar terhadap keduniawian, kita masih ingin berebut nama, kapankah sebetulnya pikiran itu baru bisa lenyap? Kapankah hati semacam itu baru bisa tawar?”

Thian-ie Sianjin memejamkan matanya, berkata lambat- lambat: “Kalau tidak dipikirkan dengan sendirinya akan lenyap, kalau hati kita tawar, dengan sendirinya menjadi tawar…”

“Padri tua, kau jangan menggunakan kata-kata yang mengandung arti dalam golongan Budha, dua bocah ini barangkali sehabis melakukan pertandingan nanti, pikiran dan hati kita untuk mendapat nama, barangkali juga akan menjadi tawar dan lenyap, kita mungkin masing-masing akan menyadari sebenar-benarnya!” Berkata Sam Ciok Cinjin. Thian-ie Sianjin membuka sepasang matanya, memancarkan sinarnya yang berkilauan, ia memandang Sam Ciok Cinjin, katanya sambil menggelengkan kepala dan tersenyum: “Imam tua, hari ini ternyata kau mendapat ilham tidak sedikit dalam pikiranmu. Kau barangkali sudah tahu bahwa kita sudah mendekati waktu untuk menyadari seluruhnya, dan sudah dekat pula waktu kita untuk menghadap kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Bagaimana kau tidak mau lekas menguji kepada Hee Thian Siang laote?”

“Baik-baik, sekarang aku hendak mengajukan ujian, setelah urusan ini selesai, kau boleh cepat pergi demikian pula dengan aku!”

Thian-ie Sianjin mengawasi Hee Thian Siang, Tiong-sun Hui Kheng sejenak, kemudian katanya sambil tersenyum: “Hee laote dan nona Tiong-sun, pertemuan kita secara tak terduga-duga ini, sesungguhnya sangat ajaib, sebentar setelah jodoh kita habis, aku akan pergi menghadap kepada Tuhan Yang Maha Esa, demikianpun dengan dia, kalian juga boleh melanjutkan cita-cita kalian berdua untuk hidup sebagai kekasih yang berbahagia!” Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu hatinya menjadi sangat girang, sedangkan Tiong-sun Hui Kheng mukanya lantas menjadi merah, Siaopek dan taywong yang juga mengerti dan mendengar ucapan itu, tampaknya sangat girang. Mereka berjingkrak-jingkrak dan mengeluarkan jerit kegirangan.

Sam-ciok Cinjin menggapaikan tangannya, memanggil Hee Thian Siang untuk menghadap kepadanya, kemudian bertanya sambil tersenyum: “Hee laote, perbuatanku dengan menggunakan daun kering untuk menghancurkan batu besar menjadi beberapa potong kecil itu, apakah itu sudah merupakan suatu bukti bahwa kekuatan tenaga dalam yang sudah mencapai ketaraf yang tak ada taranya?”

“Jikalau ditinjau dari jumlah hancuran batu tadi, tindakan Cinjin tadi sudah mencapai ketaraf yang tiada taranya! Tetapi yang mencapai taraf yang tiada taranya benar-benar, adalah daun kering yang mengenai batu, bersama batunya hancur bersama-sama!” Menjawab Hee Thian Siang.

“Ucapanmu itu memang benar, tetapi pada dewasa ini, siapakah orang yang memiliki kekuatan tenaga dalam yang demikian sempurna?” Bertanya Sam Ciok Cinjin sambil menganggukkan kepala.

“Manusia pada umumnya tiada ada seorangpun yang dapat disebut super manusia, sekalipun hal itu dilakukan oleh Thian- ie Sianjin, paling-paling juga hanya dapat menghancurkan batu besar itu seperti apa yang telah Cinjin lakukan tadi. Barangkali tak bisa menghancurkan daunnya sekalian!” Berkata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala.

Jawaban itu sungguh tepat, Thian-ie Sianjin dan Tiong-sun Hui Kheng diam-diam menganggukkan kepala memuji Hee Thian Siang. “Bocah ini sungguh pandai sekali bicara, ia telah memberi sedikit muka kepadaku! Jikalau aku yang melakukan, sekalipun daun dadn batu tidak bisa hancur bersama-sama tentunya kehancuran batu itu menjadi lebih dari empat belas potongan kecil!” Berkata Sam-Ciok Cinjin pada Thian-ie Sianjin sambil menatap wajah Hee Thian Siang.

“Kau imam tua ini mengapa dengan tiba-tiba mengerti istilah merendahkan diri? Apakah lantaran pergaulanmu dengan nona Tiong-sun selama tempoh hari ini kau sudah dipengaruhi oleh sifat lemah lembutnya? Kita yang sembunyikan diri di daerah pegunungan Ko-le-kong-san ini sudah 99 kali melakukan pertempuran sengit dan setiap kali selalu berkesudahan seri, suatu bukti bahwa baik dalam kepandaian ilmu silat maupun kekuatan tenaga memang tidak dapat dibeda-bedakan, siapa yang lebih unggul dan siapa yang lebih asor. Kau tidak bisa mencapai ketaraf yang benar- benar tiada taranya, apakah kau kira aku bisa menjadi seorang yang seperti Hee laote maksudkan? Tadi aku dapat menebak jitu batu besar yang kau pukul menjadi empat belas potongan kecil, itu adalah berdasarkan atas perhitunganku sendiri, jika tidak, aku bukanlah… yang menitis lagi, bagaimana dengan pandangan mataku, aku dapat melihat demikian jitu?” Berkata Thian-ie Sianjin sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

Sam-Ciok Cinjin yang mendengar ucapan itu diwajahnya tersungging senyuman kecil, ia kembali bertanya kepada Hee Thian Siang: “Hee Thian Siang, kau berdiam bersama-sama padri tua itu didalam sarannya diatas pohon, sudah sepuluh hari lamanya, kepandaian ilmu apa yang kau dapatkan dari dirinya?”

“Kecuali ilmu tiga jurus menyelamatkan jiwa, oleh Thian-ie Sianjin diberi petunjuk tidak sedikit hafalan latihan kekuatan tenaga dalam, tetapi oleh karena pelajaran itu sangat dalam sekali, dengan kekuatan tenaga yang Hee Thian Sian miliki sekarang ini masih sulut untuk mempelajarinya, biarlah tunggu sampai dilain waktu apabila kekuatan tenaga Hee Thian Siang sudah mendapat kemajuan barulah…”

“Tentang hafalan ilmu melatih kekuatan tenaga dalam meskipun saat ini kau masih merasa sulut untuk mempelajarinya, tetapi jikalau aku menanya dengan lisan, tentunya kau toh bisa menjawab bukan?”

“Asal Hee Thian Siang tahu, pasti akan menjawab sejujurnya, silahkan Cinjin mengajukan pertanyaan!”

“Apabila didalam rimba persilatan menemukan lawan tangguh yang sama-sama pandainya dengan keadaan diri sendiri, dalam pertempuran sengit apakah yang menjadi pantangan paling besar?”

Tanpa ragu-ragu Hee Thian Siang lantas menjawab: “Yang menjadi pantangan paling besar, ialah perasaan sombong. Dua orang yang sedang bertempur sengit, apabila kepandaian dan kekuatannya berimbang, barang siapa yang mempunyai perasaan sombong, dia akan menjadi lalai karena perasaannya sendiri, dan kelalaiannya itu akan membawa akibat kekalahan!”

Sam-Ciok Cinjin bertanya pula sambil menunjuk Thian-ie Sianjin: “Aku dengan padri tua ini, apakah semua juga melanggar pantangan perasaan sombong ini?”

“Locianpe berdoa merupakan orang-ornag yang sudah tidak ada taranya, bagaimana bisa melanggar pantangan itu? Locianpe berdua hanya diluarnya saja sombong, tetapi didalamnya tidak. Mukanya sombong, tetapi hatinya tidak, selama 100 tahun diluarnya siapapun tidak ada yang mau mengalah terhadap musuhnya, tetapi keadaan sebetulnya semua berlaku sangat hati-hati dan waspada, hatinya tenang bagaikan air danau yang tidak berombak!” Berkata Hee Thian Siang sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa. Thian-ie Sianjin tertawa terbahak-bahak dan berkata kepada Sam-Ciok Cinjin: “Rahasia hati kita selama 100 tahun, tak disangka-sangka telah dipecahkan Hee laote ini!”

sam-Ciok Cinjin tersenyum, kembali bertanya kepada Hee Thian Siang: “Pertanyaanku yang terakhir ialah hendak menanya kepadamu, apakah yang kau maksudkan dengan ucapan tetap tenang bagaikan air danau yang tidak berombak?”

“Filsafat ini terlampau dalam. Bagaimana Hee Thian Siang bisa menjelaskan? Tetapi didalam renungan Budha ada pepatah yang mengatakan 'dalam menu kebenaran, tiada dua jalan, kelihatan ada banyak pintunya', barangkali jika seseorang bisa berlaku tanpa pamrih, rasanya sudah cukup!” Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Sam-ciok Cinjin berkata sambil tertawa: “Bagus sekali perumpamaanmu ini, tanpa ragu, betapa banyak jago-jago sejak dahulu kala, betapa banyak raja-raja, berapakah jumlahnya dan menepati sebab itu?”

“Imam tua, kau jangan menghela nafas, hari ini apabila maksud kita selesai, bukankah semuanya juga akan selesai?” Berkata Thian-ie Sianjin sambil bertawa.

“Baik.. baik, padri tua, sekarang ini tibalah saatmu untuk menguji pertanyaan kepada Tiong-sun Hui-Kheng. Selesai pertanyaanmu, kita juga supaya lekas mengakhiri semua pertikaian yang lalu!” Berkata Sam-ciok Cinjin sambil tertawa terbahak-bahak.

Thian-ie Sianjin mengulurkan tangannya menunjuk Sam- ciok Cinjin, kemudian berkata sambil tertawa terbahak-bahak: “Imam tua, meskipun kau beribadat tinggi, bagaimanapun juga masih ada sedikit kurang bersih hatimu! Hari ini kita semua sudah akan melepaskan keduniawian, perlu apa masih perlu bertanya kepada nona Tiong-sun itu? Apakah nona Tiong-sun Hui-kheng menggunakan ilmu yang kau turunkan kepadanya untuk bertanding dengan ilmu menyelamatkan jiwa yang kuturunkan kepada Hee laote….”

Belum habis ucapan Thian-ie Sianjin, sudah dipotong oleh suara tertawa Sam-ciok Cinjin. Thian-ie Sianjin heran, ia bertanya: “Apakah aku ada salah bicara sehingga kau tertawa demikian rupa?”

“Aku tertawakan kau bisa mencela orang, akan tetapi tak berani mencela dirimu sendiri”.

Thian-ie Sianjin semakin heran, tanyanya pula: “Apakah artinya ucapanmu ini?”

“Kau tadi bukankah anggap kita hari ini sudah akan terlepas dari keduniawian, dan tidak perlu bertanya lagi kepada nona Tiong-sun?”

“Apa salahnya pertanyaan itu?

Sam-ciok Cinjin kembali tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Kalau memang tidak perlu lagi bertanya kepada nona Tiong-sun mengapa kau suruh menggunakan ilmunya yang kuturunkan kepadanya untuk bertanding dengan ilmu menyelamatkan jiwa dari Hee laote? Hatimu sendiri masih belum bersih, pikiranmu sendiri masih belum tenang, sebaliknya kau menyalahkan aku, bukankah ini berarti hanya bisa mencela orang, tetapi tidak bisa mengoreksi diri sendiri?”

Thian-ie Sianjin yang mendengar ucapan itu dengan terkejut dan gembira, berkata: “Kalau begitu menurut ucapanmu ini pertandingan antara nona Tiong-sun dengan Hee laote tidak perlu diadakan lagi.”

“Mereka masing-masing toh sudah memamahi ilmu Bu- siang Kao-hun Liong-hui Siam-cok dan 3 jurus ilmu menyelamatkan jiwa, jika mereka berkelana didunia Kangow sudah lebih dari cukup untuk dibuat bekal!” Berkata Sam-ciok Cinjin.

Thian-ie Sianjin memuji nama Budha, merangkapkan sepasang ibu jarinya kepada Sam-ciok Cinjin, katanya sambil tersenyum: “Sungguh pintar, hari aku mengakui kau yang lebih pintar daripadaku!”

“Mengakui pintar saja tidak boleh, pertandingan tiga jurus antara Hee laote dengna nona Tiong-sun boleh ditiadakan, tetapi antara kita masih perlu melakukan pertandingan terakhir, siapakah sebetulnya yang lebih pintar!” Berkata Sam- ciok Cinjin sambil menggelengkan kepala.

Thian-ie Sianjin mengerutkan alisnya, bertanya sambil menatap Sam-ciok Cinjin: “Kau tadi sudah mengatakan sendiri, bahwa segala pikiran sudah jernih, dengan cara bagaimana telah timbul pikiranmu untuk memperebutkan kemenangan?”

“Dalam pertandingan ini jauh berbeda dengan apa yang kita lakukan terdahulu!” Berkata Sam-ciok Cinjin sambil tertawa.

“Apa bedanya? Kecuali itu segala ilmu Hian-kang dan kekuatan tenaga dalam, serta ilmu-ilmu dari golongan Budha, masih ada apalagi yang hendak dipertandingkan?”

“Dahulu dalam pertandingan 99 kali, kita masing-masing mengerahkan seluruh kepandaian yang ada, hingg susah ditentukan siapa yang lebih unggul! Tetapi pertandingan yang terakhir kali ini, sekalipun tak dapat ditentukan siapa yang lebih unggul juga tidak bisa diketahui sendiri!”

“Bagaimana dalam suatu pertandingan ada yang unggul dan asor tidak diketahui oleh mereka sendiri?” “Apakah kau sudah lupa apa yang kukatakan bahwa ini adalah pertempuran yang terakhir?”

Thian-ie Sianjin sadar, katanya sambil tertawa besar: “O, kiranya kau hendak bertanding denganku, siapa yang lebih dahulu ke sorga.”

“Tidak perlu mengatakan perkataan yang demikian enak didengarnya, terus-terang saja kita akan melakukan pertandingan, siapa yang mati lebih dulu tanpa meninggalkan pikiran, jadi mati dengan pikiran bersih!”

“Tak kusangka kau dapat memikirkan cara demikian, pertandingan yang terakhir ini memang ganjil dan sangat unik sekali,” Berkata Thian-ie Sianjin sambil menganggukkan kepala.

“Jangan memuji dulu, aku masih ingin menambah sedikit variasi dalam pertandingan ini!”

“Bagus.. bagus! Aku ingin melihat apa yang hendak kau keluarkan?”

Sam-ciok Cinjin mengawasi Hee Thian Siang dan Tiong- sun Hui Kheng, lalu berkata sambil tersenyum: “Hee laote dan nona Tiong-sun, kemenangan dan kekalahan dalam pertandingan terakhir antara aku dan sikepala gundul Thian-ie ini, sebabnya yang diketahui oleh yang bersangkutan saja, maka kuminta kalian berdua yang menjadi juri!”

Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng tahu bahwa pertandingan antara Sam-ciok Cinjin dan Thian-ie Sianjin ini sangat unik sekali, tetapi karena urusan sudah berkembang demikian jauh, juga terpaksa menerima baik dan saling berpandangan.

Sam-ciok Cinjin berkata pula sambil tertawa: “Dalam pertandingan kalau sudah ditetapkan ada yang menang dan yang kalah, maka hanya ada orang yang menjagoi, siapa yang kalah dan menang! Sekarang aku dan padri tua sebagai jagonya, dan kalian berdua boleh pilih yang mana satu sebagai jago, lalu dimulailah pertaruhan. Bukankah itu akan menambah sedikit kegembiraan?”

Tion-sun Hui Khengtahu tak bisa mencegah lagi, maka lalu berkata sambil tersenyum: “Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang suka sekali mengiringi kehendak dan perintah Cinjin dan Thian-ie taisu.”

Thian-ie Siangjin berkata sambil tertawa: “Kalau begitu, kalian berdua boleh pilih seorang, adu untung saja! Siapa yang akan menjagoi aku?”

Hee Thian Siang lalu berkata sambil tertawa: “Hee Thian Siang yang menerima budi taisu yang sudah mewariskan ilmu kepandaian, maka Hee Thian Siang bersedia memegang taisu sebagai jagoku!”

Tiong-sun Hui Kheng juga berkata sambil tertawa: “Kau pegang taisu dan aku akan pegan Cinjin, tetapi pertandingan yang luar biasa ini pertaruhan yang digunakan seharusnya tak boleh digunakan barang biasa!”

“Nona Tiong-sun, barang taruhan yang hendak kau gunakan dengan Hee laote, aku sudah pikirkan untuk kalian.” Berkata Sam-ciok Cinjin sambil tertawa: “Oo! Barang pertaruhan yang Cinjin sudah pikirkan, pastilah barang taruhan yang sangat berharga!” Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil tersenyum.

“Sam-ciok Cinjin mengawasi Hee Thian Siang dan berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa: “Aku lihat kau dan Hee laote adalah sepasang kekasih yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa! Akan tetapi perhubungan antara suami istri jikalau ingin rukun selalu dan tidak terjadi pertengkaran, maka satu sama lain harus saling menghormati dan saling menghargai, disamping itu fihak yang satu harus tunduk benar-benar kepada fihak yang lain! Maka inilah pertaruhan yang kupikirkan buat kalian dalam soal tunduk betul-betul ini!”

Tion-sun Hui Kheng meskipun seorang gadis yang mempunyai pikiran dan pandangan luas tetapi setelah mendengar ucapan itu, tak urung juga lantas menjadi merah pipinya dan menundukkan kepala tak berani mengeluarkan suara.

Sebaliknya dengan Hee Thian Siang, ia merasa sangat girang, lantas berkata sambil tertawa.

“Bagus sekali, asal Cinjin yang menang, aku harus tunduk benar-benar terhadap Enci Tiong-sun seumur hidup tidak akan…”

Ucapan “Seumur hidup tidak akan berubah” baru sampai dibibirnya, Hee Thian Siang tiba-tiba merasa tak enak dikeluarkan. Ia sendiri kecuali sudah jatuh cinta kepada Tiong- sun Hui Kheng, disamping itu masih ada Liok Giok Jie dan Hok Su Im dua saudara yang tidak boleh disia-siakan pengharapannya, maka seketika ucapannya yang terakhir itu ditelannya.

Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin yang melihat Hee Thian Siang tidak melanjutkan ucapannya dan wajah serta sikapnya dari gembira berubah menjadi bingung, keduanya lantas saling berpandangan, semua sama-sama tidak mengerti!”

Tiong-sun Hui Kheng yang sudah dapat memahami isi hati Hee Thian Siang, maka perdelikkan mata kepadanya, lantas berkata kepada Sam-ciok Cinjin dan Thian-ie Sianjin: “Pertandingan terakhir antara dua locianpe ini kapan hendak dimulai?” “Jikalau kau sudah tidak ada apa-apa yang dipikirkan, kita sudah bisa memulai dengan segera!” Menjawab Thian-ie Sianjin sambil tertawa.

Sam-ciok Cinjin juga berkata sambil menganggukkan kepala: “Kuminta agar nona mengeluarkan tanda dan aku bersama padri tua ini akan memulai melakukan pertandingan!”

Setelah Tiong-sun Hui Kheng mengeluarkan tanda dimulai, benar saja dua orang tua aneh itu segera menundukkan kepala dan duduk bersila.

Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang yang sudah berpisah lama, kini telah bertemu kembali, satu sama lain sudah ingin menceritakan isi hati masing-masing. Tetapi karena kuatir mengganggu dua orang tua yang sedang bertanding dengan ilmu kebatinan itu, maka terpaksa dua- duanya berdiri dihadapan kedua orang tua itu, mereka hanya saling berpandangan mata.

Difihak Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin, semuanya tampak berseri-seri dan tersenyum. Dari keadaan demikian Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng semua melihat bahwa dua orang tua gaib dan luar biasa itu, begitu mereka sadar akan kekeliruannya dimasa yang lalu sudah tentu hati dan pikiran mereka menjadi jernih, maka dapat menghadapi keadaan dengan perasaan tenang.

Selagi Hee Thian Sinag dan Tiongo-sun Hui Kheng berdiri tenang menantikan keberangkatan Sam-ciok Cinjin dan Thian- ie Sianjin, dengan tiba-tiba terdengar siulan panjang yang timbul dari arah pegunungan Barat-laut.

Oleh karena suara siulan itu datangnya dari arah jauh, tetapi terdengar dalam telinga orang seperti dilancarkan dari tempat dekat, jelas sekali kedengarannya. Maka Tiong-sun Hui Kheng tahu, bahwa suara itu dikeluarkan dengan menggunakan ilmu Kian-thian Ceng-kie dan sudah tentu pula hanya orang berkepandaian yang luar biasa tingginya yang bisa mengeluarkan.

Dalam keadaan terkejut, ia menatap Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin tetapi dua orang tua itu masih tetapi tenang, tidak terganggu oleh suara siulan panjang itu. Hee Thian Siang sementara itu mengawasi Tiong-sun Hui Kheng, kemudian mengacungkan ibu jarinya menunjuk kepada Thian- ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin, sebagai tanda untuk memberitahukannya, betapa teguhnya hati kedua orang tua itu. Sebaliknya dengan Tiong-sun Hui Kheng, ia merasa kuatir suara siulan itu apabila terus-menerus terdengar, tentu akan menghalangi keberangkatan kedua orang luar biasa itu.

Diluar dugaannya suara siulan aneh itu telah tak terdengar lagi, hingg keadaan disitu kembali menjadi sepi-sunyi.

Tiong-sun Hui Kheng baru merasa lega, ia arahkan lagi pandangan matanya kepada Sam-ciok Cinjin dan Thian-ie Sianjin, tampak semua sudah kelihatan otot-ototnya, maka ia tahu sudah dekat waktunya untuk mereka meninggalkan dunia yang fana ini.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, dalam hati diam-diam berpikir: Dua orang tua ini bukan saja dahulu setiap tahun melakukan pertandingan sekali, dalam 99 kali pertandingan itu selalu berakhir dengan seri, maka pada saat pertandingan yang terakhir ini masih menetapkan siapa yang lebih unggul.

Pada saat itu, harimau hitam dan kera hitam sejak tadi terus berada didekat Thian-ie Sianjin dengan tenang, 2 binatang itu oleh karena sudah lama mengikuti Thian-ie Sianjin maka semuanya memiliki kecerdikan-kecerdikan luar biasa. Mereka juga sudah melihat bahwa majikannya itu sudah akan meninggalkan dunia fana, maka kedua-duanya lantas mengucurkan air mata dengan sendirinya juga mengeluarkan suara perlahan yang sangat memilukan hati. Sungguh heran, suara siulan yang semula kedengarannya demikian hebat dan bisa mengganggu pikiran manusia, tapi sedikitpun tak mengganggu pikiran Thian-ie Sianjin, namun kali ini suara helaan yang keluar dari mulut harimau dan kera hitam yang kedengarannya demikian memilukan hati, Thian-ie Sianjin yang mendengarkan, alisnya tampak bergerak, otot- ototnya yang tadi tampak diantara hidungnya kembali menghilang.

Hee Thian Siang baru dikejutkan oleh perubahan itu, sekujur tubuh Thian-ie Sianjin tampak bergetar, tetapi wajahnya dengan tiba-tiba berubah kembali, keadanya berubah kembali seperti semula.

Manusia gaib itu meskipun dengan mengandalkan keteguhan hatinya, berhasil dengan gangguan yang terakhir dan sudah akan melakukan perjalanan kesorga, tetapi ketika mendengar ratapan harimau dan kera hitam, lalu tergerak pula hatinya, justru lantaran itu, maka telah ketinggalan sedetik oleh keberangkatan Sam-ciok Cinjin.

Hee Thian Siang merasa pilu berbareng girang. Sambil menatap Tiong-sun Hui-kheng ia berkata: “Enci Tiong-sun, pertaruhanmu telah menang. Untuk selanjutnya aku pasti akan menurut segala perintahmu!”

Tiong-sun Hui-kheng tahu bahwa pemuda itu sangat cerdik sekali, menggunakan kesempatan dalam pertaruhan ini, dengan cara blak-blakan mengutarakan isi hatinya, ucapan tadi berarti meminang atas dirinya.

Selagi pikirannya masih setengah girang dan setengah malu, serta belum tahu bagaimana harus menjawab, Hee Thian Siang sudah berkata lagi sambil menghela nafas panjang: “Enci Tiong-sun, dalam penghidupan manusia, paling sulit ditembusi, mungkin adalah soal kasih, bukanlah nama atau kedudukan atau pangkat. Thian-ie taisu, betapa kuat keteguhannya? Hanya lantaran harimau hitam dan kera hitam yang sudah demikian lama mengabdi padanya, maka ketika mendengar suara ratapan binatang-binatang itu, tergeraklah perasaan cintanya. Dengan demikian, barulah dia ketinggalan sedetik oleh Sam-ciok Cinjin. Tetapi hatinya mengambil keputusan dan keteguhan untuk bertindak memutuskan cinta- kasihnya terhadap binatang piaraannya itu, masih tetap sangat kita kagumi dan kita hargai!”

Tiong-sun Hui-kheng menyaksikan harimau hitam dan kera hitam itu kedua-duanya sedang meringkuk disamping Thian-ie Sianjin, maka latas berkata kepada Hee Thian Siang: “Kedua locianpe itu meskipun sudah meninggalkan raganya datang kerahmatullah, akan tetapi kita toh tak boleh membiarkan tubuh mereka tertinggal ditempat ini, maka kita harus pikirkan suatu cara untuk mengubur jenazah mereka!”

Mendengar itu, Hee Thian Siang juga merasa sukar, sebab dipuncak gunung itu tidak terdapat tanah. Apakah jenazah dua orang gaib itu harus dibawa turun kebawah puncak gunung, ataukah ditutupi dengan daun-daun kering?

Ketika dua orang itu selagi dalam keadaan tidak berdaya, kembali terdengar suara siulan nyaring dan lantang, yang timbul dari puncak gunung. Suara itu demikian hebat, sehingg menggetarkan hati mereka berdua.

Tiong-sun Hui-Kheng berkata dengan perasaan terkejut: “Suara siulan itu mengandung ilmu Kian-thian Ceng-kie, kekuatan tenaga dalam orangnya, rupanya tidak dibawah Sam-ciok Cinjin dan Thian-ie Sianjin. Dalam pegunungan Ko- le Kong-san ini bagaimana sembunyi demikian banyak tokoh- tokoh luar biasa?”

“Orang ini berulang-ulang mengeluarkan siulan, agaknya mengandung maksud hendak mengacau, sudah tentu bukanlah orang baik-baik” Berkata hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala. Baru saja menutup mulut, siopek dan taywong serta harimau hitam dan kera hitam, dengan tiba-tiba semua mendongakkan kepala dan tujukan pandangan matanya kearah Barat laut, sedang mulutnya mengeluarkan suara marah, agaknya melihat tanda akan kedatangan musuh.

Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang tahu ada firasat tidak baik, buru-buru menenangkan pikirannya, tak lama kemudian diatas puncak gunung Giok-can-hong tampak melayang turun sesosok bayangan orang, bayangan itu ternyata adalah seorang tua berbaju kuning, bertubuh tinggi besar.

Orang tua berbaju kuning begitu tiba diatas puncak gunung, masih belum melihat Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin yang kedua-duanya sudah tidak bernyawa, matanya ditujukan kepada harimau hitam dan kera hitam, kemudian baru bertanya kepada Hee Thian Siang: “Binatang harimau dan kera ini apakah binatang piaraan Thian-ie taisu yang sudah lama mengasingkan diri?”

Hee Thian Siang yang mendapat kesan tidak enak maka atas pertanyaan itu ia balas bertanya dengan nada suara dingin: “Apakah kau kenal dengan Thian-ie taisu atau tidak?”

“Sudah lama kudengar namanya, tetapi belum melihat orangnya. Aku juga sudah mencarinya selama 80 tahun lamanya!” Menjawab orang tua itu sambil menggelengkan kepala.

Hee Thian Siang tiba-tiba ingat waktu Thian-ie Sianjin baru naik keatas puncak gunung Giok-can-hong apa yang pernah dikatakan olehnya, ia lantas berkata sambil menatap orang tua itu: “O, aku tahu, barangkali kau adalah orang yang bernama Hee Khao Soan itu?”

Orang tua berbaju kuning itu terperanjat, katanya: “Dalam rimba persilatan pada dewasa ini ternyata masih ada orang yang tahu namaku, betul-betul merupakan suatu kejadian ajaib!”

Sedikitpun tidak aneh, kau mencari Thian-ie taisu sudah 80 tahun lamanya, sendang Thian-ie taisu juga sudah menunggu kau selama itu, tapi apa mau dikata, pada saat terakhir seperti ini kedatanganmu sudah terlambat selangkah.”

Mendengar ucapan “saat terakhir” itu, orang tua berbaju kuning Hee-khao Soan, bukan kepalang terkejutnya, matanya lalu ditujukan kepada Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin yang sudah tak bernyawa, tanyanya dengan suara penasaran: “Padri itu apakah Thian-ie taisu?”

“Thian-ie taisu dan sam-ciok Cinjin kedua-duanya sudah berangkat kedunia lain!” Menjawab Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

Hee-khao Soan menjerit sedih, wajahnya menunjukkan sikapnya yang sangat pilu, ia berjalan lambat-lambat menghampiri jenazah Thian-ie Sianjin.

Binatang harimau hitam dan kera hitam yang masih menunggu disamping majikannya, mereka mengira Hee-khao Soan berlaku tidak baik terhadap jenazah Thian-ie Sianjin. Maka kedua-duanya lalu menggeram dan menyerbu.

Hee-khao Soan mengebutkan lengan bajunya, dari situ menghembus angin hebat, hingga harimau hitam dan kera hitam yang menyerbu telah terlempar jatuh, dan pada mengeluarkan jeritan dan bergulingan sejauh setombak lebih dan hampir terjatuh kedalam jurang.

Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang dua-duanya bergerak serentak kehadapan jenazah Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin, siap untuk melindungi jenazah orang tua itu. Tiong-sun Hui Kheng lalu berkata sambil tersenyum: “Dalam rimba persilatan ada pepatah mengatakan: BEGITU MALAIKAT EL MAUT TIBA, LENYAPLAH SEGALA

PERMUSUHAN, Thian-ie taisu dan Sam-ciok Cinjin sudah berangkat kesorga, apakah kau orang tua masih belum mau melepaskan mereka?…”

Hee-kaho Soan tidak menunggu Tiong-sun Hui Kheng melanjutkan ucapannya, lantas menjawab sambil menggelengkan kepalanya: “Kalian jangan salah mengerti, Hee-kaho Soan karena terlambat selangkah hingga tak bisa bertemu muka dengan Thian-ie taisu, penasaran hatiku susah untuk dilukiskan, maka aku mau melihatnya beberapa lama saja dan akan berada didepan jenazahnya!”

Habis berkata demikian, ia mengamat-amati Thian-ie Sianjin, kemudian dengan tiba-tiba berkata dengan suara nyaring: “Thian-ie taisu, Hee-khao Soan telah melakukan perjalanan keseluruh negeri, mencari kau selama 80 tahun leboh, tak disangka pada akhirnya belum bisa menjumpai kau dalam keadaan hidup, hingga tak bisa belajar kenal dengan ilmu terampuh Thian-kim Ngo-sek mu. Hari ini secara kebetulan baru bertemu tempat ini, apa mau sudah terlambat sedangkan kau sudah berangkat lebih dahulu! Dapat hidup berapa kali bisa dapat menjumpai lawan yang seimbang? Maka setelah kau mangkat, cita-cita hidupku kini telah menjadi buyar, masa suruh aku tidak sedih?”

Setelah mencurahkan isi hatinya itu, benar saja orang tua itu lantas menangis dengan sedihnya seperti anak kecil.

Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng sesungguhnya merasa heran. Mereka mengawasi dan berdiam saja, tetapi kemudian melihat Hee-khao Soan semakin menangis semakin sedih, Hee Thian Siang yang tidak tega lantas berkata padanya: “Empek Hee-khao, jangan menangis lagi, aku tahu cara untuk menghiburmu!” Hee-khao Soan smbil menyeka air matanya, menjawab: “Kecuali Thian-ie taisu hidup lagi dan bertempur denganku hingga 1000 jurus kalau tidak masih ada apa lagi yang dapat menghibur kususahanku?”

Sehabis berkata demikian lantas menangis lagi dengan sedihnya.

Menyaksikan keadaan demikian, Hee Thian Siang measa bahwa orang tua itu, kendatipun usianya telah lanjut, namun pikirannya masih seperti anak-anak, maka ia lalu mengeluarkan bulu hadiah Thian-ie Sianjin, berkata kepada Hee-khao Soan: “Jangan menangis, lihatlah, ini benda apa?”

Hee-khao Soan mengawasi bulu burung ditangan Hee Thian Siang, lantas menghentikan tangisnya, tanyanya heran: “Apakah itu bukan bulu burung yang dinamakan Thian-khim Ngo-sek Ie-mao, senjata Thian-ie taisu pada 100 tahun berselang?”

“Dugaanmu sedikitpun tidak salah!” Menjawab Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Hee-khao Soan mengawasi bulu ditangan Hee Thian Siang, katanya dengan sedih: “Bulunya masih ada, tetapi orangnya sudah tiada, itu masih merupkan suatu penyesalan bagiku. Mengenai bulu burung itu hanya dapat digunakan untuk membuka mataku, tetapi tidak ada gunanya untuk menghibur hatiku.”

“Mengapa tidak dapat digunakan untuk menghibur hatimu?. Aku bisa menggunakan senjata bulu ini, mewakili Thian-ie taisu untuk bertanding denganmu!” Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

“Apakah kau pewaris Thian-ie taisu?” Berkata Hee-khao Soan heran. “Bukan, bukan, aku dengan Thian-ie taisu hanya sahabat selama sepuluh hari ini saja, tetapi atas kebaikan taisu, telah menghadiahkan 3 batang bulu Thian-khim Ngo-sek Ie-mao bahkan menurunkan ilmunya untuk menggunakan senjata ini dan ilmunya Sam-goan Hap-it.”

Sepasang alis Hee-khao Soan berdiri, seolah-olah sangat girang mendengar keterangan itu. Tetapi rasa girangnya itu hanya sepintas lalu saja, tetapi kemudian ia masih tetap mengerutkan alisnya dan berkata: “Engkau dengan Thian-ie taisu hanya bergaul 10 hari saja. Kendatipun kau mewarisi kepandaiannya tapi kekuatan tenagamu juga masih jauh untuk menang, bagaimana bisa bertanding denganku?”

“Kau jangan tidak pandang mata padaku, aku boleh pertunjukkan dulu padamu, bagaimana ilmuku?”

“Tunggu dulu, tunggu dulu, kau jangan mempertunjukkan dulu! Beritahukan dulu padaku orang tua yang bernama Sam- ciok Cinjin itu seorang bagaimana? bagaimana bisa binasa bersama-sama dengan Thian-ie taisu?” Berkata Hee-khoan Soan sambil menggoyangkan tangannya.

Thian-sun Hui Kheng lalu menceritakan riwayat dua orang tua luar biasa itu, karena dalam pertandingan selama 100 tahun tidak ketahuan siapa yang lebih unggul, dan akhirnya diatas puncak giok-can-hong itu melakukan pertandingan terakhir, sehingga kedua-duanya mati bersama-sama.

Hee Khao Soan yang mendengar penuturan Tiong-sun Hui Kheng tidak berhentinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sehabis itu lantas tertawa besar, barulah ia berkata sambil menghela nafas: “Suatu kejadian yang luar biasa, sayang peristiwa yang sangat menarik dalam rimba persilatan dan aku Hee-khao Soan tidak mendapat kesempatan untuk turut menyaksikannya!” Berkata sampai disitu, ia berkata pula sambil menatap Hee Thian Siang: “Mengenai maksudmu hendak mendemontrasikan kepandaianmu menggunakan bulu Thian- khim Ngo-sek Ie-mao, untuk sementara jangan kau lakukan dulu, aku hendak memberi hadiah dulu kepada Thian-ie taisu dan Sam-ciok Cinjin!”

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu saling berpandangan dengan Tiong-sun Hui Kheng dengan perasaan terheran-heran, sementara itu dalam hatinya berpikir: Aku hendak melihat kau si tua bangka ini akan menghadiahkan barang apa kepada Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin.

Hee-khao Soan sehabis mengucap demikian tampak mondar-mandir sejenak dipuncak gunung kemudian memilih suatu tempat yang menghadap keair terjun, yang cukup untuk digunakan menikmati pemandangan alam disekitar puncak gunung itu, lalu duduk bersila, juga memejamkan mata dan melakukan semedi. Hee Thian siang yang menyaksikan itu merasa sangat heran, lalu berbisik-bisik ditelinga Tiong-sun Hui Kheng: “Enci Tiong-sun, lihatlah orang tua aneh itu, apa yang sedang dilakukannya disitu? Tadi dia berkata hendak memberi hadiah barang berharga kepada Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin tetapi sekarang sebaliknya, dia duduk berdiam dan bersemadi ditempat ini, apakah dia juga akan mengikuti jejak Thian-ie taisu dan sam-ciok Cinjin untuk pulang ke rahmatullah bersama-sama?”

Tiong-sun Hui Kheng melihat Hee-khao Soan sedang bersemadi, alisnya dikerutkan, katanya dengan suara perlahan: “Orang tua she Hee-khao ini bukan saja adatnya sangat aneh, tidak mudah ditangkapnya, tentang kepandaian ilmu silatnya tampaknya juga tinggi sekali! Kau tadi hendak bertanding dengannya barangkali mencari susah sendiri?”

“Pertama, tadi karena aku melihat dia menangis demikian menyedihkan, kedua, karena aku tahu benar kalau Thian-ie taisu juga ingin sekali melakukan pertandingan dengan orang tua ini, maka aku telah mengambil keputusan hendak mewakili Thian-ie Sianjin untuk menyelesaikan keinginannya yang belum terlaksana itu!”

Mendengar Hee Thian Siang berkata demikian, sudah tentu Tiong-sun Hui Kheng diam saja. Pandangan matanya ditujukan kepada Hee-khao Soan dan tempat yang diduduki oleh orang itu, serta binatang harimau dan kera hitam yang tadi dikebut jatuh berguling, masih tetap berada disamping Thian-ie Sianjin sambil menangis: Hatinya merasa tergerak, lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil menunjuk harimau dan kera hitam itu: “Apakah Thian-ie taisu juga memberikan kepadamu harimau dan kera hitam yang sangat cerdik ini? Terutama harimau hitam itu kelihatannya sangat menyenangkan sekali!”

“Thian-ie taisu memang pernah mengucapkan demikian. Enci Tiong-sun, tahukah kau, justru harimau hitam itu yang membawaku kelembah Thian-kheng-kok untuk menjumpai Thian-ie taisu!” Berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

“O!” Berkata Tiong-sun Hui Kheng, sambil kembali mengawasi harimau dan kera hitam. Hee Thian Siang lalu menceritakan apa yang dijumpainya didalam rimba, dan dengan cara bagaimana ia telah menolong kedua binatang aneh itu dan akhirnya ia diajak oleh mereka untuk menjumpai majikannya. Setelah itu, ia lalu berkata sambil tertawa: “Enci Tiong-sun, untuk selanjutnya jikalau aku menggunakan harimau hitam itu sebagai kuda tunggangan, bukan saja sangat menarik, tetapi juga bisa diadu lari dengan kudamu, siapakah yang lebih cepat larinya?”

Tiong-sun Hui Kheng tertawa, bilum lagi menjawab, orang tua berbaju kuning Hee-khao Soan, tiba-tiba menghela nafas panjang, sikapnya dengan mendadak berubah demikian lelah, agaknya sudah tak bersemangat lagi. Hee Thian Siang bertanya sambil tersenyum, “Empek Hee- khao, apakah kau yang dudu bersemadi dalam waktu singkat itu, sudah menghadiahkan barang berharga kepada Thian-ie taisu dan sam-ciok Cinjin?”

Hee-khao Soan belum menjawab apa yang ditanyakan, sebaliknya balas menanya kepada Tiong-sun Hui Kheng: “Kalian dua anak-anak yang muda belia, siapakah adanya kalian?”

“Dia bernama Hee Thian Siang, sedang aku sendiri bernama Tiong-sun Hui Kheng.” Menjawab Tiong-sun Hui Kheng.

“Kalian lihatlah dengan seksama, hadiahku kau anggap berharga atau tidak?” Berkata Hee-khao Soan ambil tertawa besar.

Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar pertanyaan itu kedu-duanya lantas memasang mata, mereka mendapat kesan bahwa segalanya dipuncak gunung itu sedikitpun tidak tampak perubahan apa-apa, mereka tidak dapat menemukan barang apa yang katanya oleh orang tua itu sebagai hadiah kepada Sam-ciok cinjin dan Thian-ie Sianjin.

Hee-khao Soan yang melihat mereka masih belum menemukan hadiahnya, kembali tertawa besar, kedua lengan jubahnya bergerak-gerak, lantas menari-nari ditempatnya berdiri.

Dengan perbuatannya itu, Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng barulah melihat, bahwa berbareng dengan bergeraknya lengan baju, terlihat hancuran batu yang sudah menjadi bubuk berterbangan!

Akan tetapi bubuk-bubuk batu itu tidak beterbangan mengikuti arah angin, hanya seolah-olah ada mengandung sifat yang melekat, semakin perlahan semakin tinggi, diatas tanah itu membentuk suatu gundukan bundar.

Gundukan bundar yang terdiri dari bubuk-bubuk batu itu semakin tinggi, sedang tubuh Hee-khao Soan tampak semakin pendek, akhirnya seluruh badan Hee-khao Soan terbenam kebawah tanah.

Pada saat itu, Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng sudah mulai mengerti apa yang dilakukan oleh Hee-khao Soan, tetapi ia masih belum 100% tahu benar, maka kedua- duanya masih berdiri tenang untuk menyaksikan perkembangan selanjutnya.

Sesaat kemudian Hee-khao Soan menghentikan perbuatannya yang menari-nari, baju kuningnya berkibar melompat keluar dari tempat yang disekitarnya sudah tertimbun bubuk batu. sedangkan tempatnya berdiri tadi telah berubah menjadi sebuah lobang sedalam 8 kaki danselebar satu tombak persegi, sekitar lobang itu seolah-olah digali oleh barang tajam.

Tiong-sun Hui Kheng lantas sadar, ia sangat kagum akan kepandaian ilmu orang itu maka lantas berkata dengan pujiannya sambil tersenyum: “Empek Hee-khao, kau dengan ilmumu kim-kong Sian-chui telah menghancurkan batu-batu sebesar itu, kemudian menggunakan lagi ilmumu Liu-in Put- sin telah membuat lobang batu ini, apakah itu hendak kau gunakan untuk mengubur jenazah Sam-ciok Cinjin dan Thian- ie taisu?”

Hee-khao Soan seolah-olah sudah kehabisan tenaga, sepasang matanya dipejamkan, setelah beristirahat sebentar barulah menjawab sambil tertawa: “Budak perempuan, kau ternyata lebih pintar, sekarang kau anggap hadiahku ini, apakah tidak terlalu ringan?” Hee Thian Siang yang tadi sedang memikirkan cara mengubur jenazah kedua orang gaib itu, ketika menyaksikan keadaan demikian hatinya merasa lega, maka ia lalu memberi hormat sambil berkata dan tersenyum: “Empek Hee-khao, bapak telah membangun kuburan untuk mengubur jenazah kedua locianpe ini, jasamu itu sangat besar sekali. Hee Thian Siang disini mengucapkan banyak-banyak terima kasih!”

“Aku telah membuat lobang demikian besar dan merasa letih, kalian boleh bawa jenazah Sam-ciok Cinjin dan Thian-ie taisu, kedalam lubang ini!” Berkata Hee-khao Soan sambil tersenyum.

Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng segera melakukan menurut perintah Hee-khao Soan dengan sangat hormat, keduanya mengubur jenazah dua orang tua itu kedalam lobang kuburan buatan Hee-khao Soan. Tak disangka-sangka, harimau hitam dan kera hitam itu, juga lantas ikut lompat masuk kedalam lobang, masih tetapi berlutut disamping jenazah Thian-ie taisu.

Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan keadaan demikian, lalu berkata kepada Hee Thian siang sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menghela nafas: “Harimaumu barangkali tak bisa kau gunakan lagi, lihatlah sikap mereka itu, pasti karena masih mengingat budi majikannya, maka hendak mengikuti jejak majikannya pulang ke alam baqa!”

Hee Thian Siang merasa sangat cemas, baru saja hendak memanggil kedua binatang hitam itu, supaya lekas keluar, tetapi mendadak terdengar suara menyedihkan, harimau dan kera hitam itu masing-masing sudha memukul hancur kepalanya sendiri dan mati dibawah kaki Thian-ie Sianjin.

Hee-khao Soan yang menyaksikan kejadian itu juga menggelengkan kepala, sepasang lengan bajunya dikibar- kibarkan ditengah udara, gundukan bubuk batu itu kembali berhamburan menimbuni lobang.

Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang yang tak tega menyaksikan keadaan harimau dan kera hitam itu juga membantu Hee-khao Soan untuk menimbun lobang, dimana dikubur jenazah Sam-ciok cinjin dan Thian-ie Sianjin.

Dengan bekerja sama, ketiga orang itu sudah tentu bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Demikianlah sebuah kuburan batu telah muncul diatas puncak gunung Giok-can-hong.

Tiong-sun Hui Kheng berkata sambil mengerutkan alisnya. “Bubuk-bubuk batu  diatas kuburan ini, jika tidak disiram

dengan air pada waktunya, supaya bisa membeku, barangkali akan tertiup angin gunung sehingga berhamburan!”

Hee-khao Soan angkat muka mengawasi keadaan sekitarnya, dengan tiba-tiba mengeluarkan siulan panjang, lengan bajunya kembali digerak-gerakkan seolah-olah seekor burung elang raksasa yang terbang melesat ketengah udara.

Kiranya didekat punccak gunung itu, terdapat air mancur yang tidak besar, tetapi juga tidak kecil, saat itu sedang memancurkan airnya, sehingga menjadi kabut air.

Hee-khao Soan lompat turun kedekat kolam air menggunakan ilmunya, kedua tangannya bergerak-gerak, air dari air terjun itu telah berubah arahnya, kini menyembur keadah kuburan Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin serta harimau dan kera hitam itu.

Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan air mancur seperti air hujan, merasa sangat kagum atas kepandaian ilmu Hee- khao Soan, tetapi juga merasa kuatir bila Hee Thian Siang bertindak mewakili Thian-ie Sianjin untuk bertanding dengan orang tua itu. Sebaliknya dengan Hee Thian Siang, ia sedikitpun tidak mau ambil pusing, sesaat kemudian ia dongakkan kepala dan berkata kepada Hee-khao Soan yang berada di puncak: “Sudah cukup, sudah cukup, air ini sudah cukup untuk membasahi bubuk batu diatas makam ini!”

Hee-khao Soan mendengar ucapan itu lalu menarik ilmunya, hingga air yang mencurah seperti hujan tadi, lantas berhenti.

Hee Thian Siang menantikan Hee-khao Soan yang balik kembali, barulah berkata kepadanya sambil tersenyum: “Sekarang kau masih ingin melihat aku mendemontrasikan ilmuku menggunakan senjata rahasia bulu burung yang baru kupelajari itu atau tidak?”

“Aku justru ingin melihat kau, dalam 10 hari yang sangat singkat itu sudah dapat kau menggunakan dengan baik atau tidak ilmu Thian-kim Cit-khao dan Sam-goan-hap-it!” Berkata Hee-khao Soan sambil menganggukkan kepala.

“Menyesal sekali, tentang ilmu Thian-khim Cit-khao, aku hanya baru diberi penjelasannya dengan lisan saja, oleh Thian-ie taisu, belum pernah mengadakan latihan! Maka sekarang ini aku hanya dapat mengadakan pertunjukan ilmu Sam-goan-hap-it saja!” Berkata Hee Thian Siang sambil tersenyum.

Hee-khao Soan agaknya merasa kecewa, setelah mendengar ucapan itu wajahnya agak berubah, sejenak berpikir, kemudian dengan perasaan apa boleh buat ia menganggukkan kepala dan berkata: “Bolehlah kau pertunjukkan dulu kepandaianmu menggunakan ilmu sam- goan-hap-it sampai dimana kehebatannya!”

Hee Thian Siang lalu mengeluarkan tiga batang bulu burung berwawrna lima pemberian Thian-ie Sianjin, bulu itu dijepit dengan jari tangannya, kemudia ia menunjuk kesebuah pohon tua sejarak empat tombak dihadapannya lalu berkata sambil tersenyum: “Bapak Hee-khao, harap kau memberikan tanda diatas pohon tua itu!”

Hee-khao Soan menggunakan kancing bajunya dan dilemparkan kepohon itu. Kancing baju tersebut lantas menancap dibatang pohon.

Hee Thian siang yang memang memiliki dasar bakat yang sangat baik, maka terhadapa kepandaian ilmu yang diwarikan oleh Thian-ie Sianjin semua sudah dapat dipelajarinya dengan baik sekali!

Sekarang dihadapan Hee-khao Soan dan Tiong-sun Hui Kheng, ia tambah bersemangat, tiga batang bulu burung itu semua tidak disambitkan langsung, akan tetapi dengan secara membalik ditujukan kebelakang dirinya, kemudian memutar menyambit kesasarannya.

Tiga batang bulu burung itu begitu terlepas dari tangannya, bagaikan tiga batang anak panah meluncur keatas, tiba-tiba sejarak tiga tombak tingginya, kemudian memancar memutar keliling, dibelakang berputaran demikian rupa, sehingga merupakan suatu pemandangan yang sangat indah.

Pada waktu semua mata dikaburkan oleh warna tiga bulu burung yang berputaran itu, 3 batang bulu burung itu dengan tiba-tiba tergabung menjadi satu kemudian dengan secepat kilat meluncur kearah dimana ada tanda kancing yang menyusup diatas pohon tadi. Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan pertunjukan itu dengan wajah berseri-seri memandang Hee Thian Siang sejenak, sedang Hee-khao Soan mengangguk-anggukkan kepala dan berkata dengan pujiannya: “Sungguh hebat ilmumu ini, dalam waktu yang sangat singkat kau sudah mendapatkan hasil seperti ini, sesungguhnya sudah cukup memuaskan!” Selagi Hee Thian Siang hendak menjawab, 3 batang bulu burung yang manancap dipohon tua itu dengan tiba-tiba melayang terbang kedalam lengan baju Hee-khao Soan.

Hel itu yang terjadi secara tanpa diduga-duga telah mengejutkan Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng, dengan perasaan terheran-heran hee Thian Siang bertanya: “Bapak Hee-khao, bagaimana kau telah merampas 3 batang senjata bulu burungku ini?”

Wajah dan sikap Hee-khao Soan saat itu dengan tiba-tiba berubah demikian menyedihkan, sambil menatap Hee Thian Siang, ia menjawab lambat-lambat.

“Meskipun kau sudah mempelajari sedikit ilmu Thian-ie taisu, akan tetapi kekuatan tenagamu masih terlalu dangkal, masih belum dapat mengimbangi kepandaian dan kekuatanku! Cita-citaku selama 80 tahun untuk mengadakan pertandingan dengan Thian-ie Siangjin telah menjadi buyar seperti asap tertiup angin. Dalam keadaan seperti ini, semangatku sudah tidak bisa tergugah lagi, agaknya juga tak bisa hidup lama didalam dunia!”

Berkata sampai disitu dari dalam lengan bajunya ia mengeluarkan 3 batang bulu burung berwarna lima yang dipandangnya berulang-ulang, katanya dengan suara sedih: “Oleh karena aku mengagumi benda ini, aku telah menjelajahi seluruh tempat hampir gunung-gunung dan rimba-rimba sudah kudatangi. 80 tahun lamanya barulah aku melihat benda ini. Aku telah mengambilnya, kupikir hendak kujadikan sebagai kawan dalam kuburanku!”

Hee Thian Siang mendengar itu alisnya dikerutkan ia berpikir sejenak, kemudian berkata: “Jadi kau anggap bahwa dalam waktu singkat sudah bisa mempelajari kepandaian ilmu Thian-ie taisu, itu sesungguhnya tidak mudah. lalu dengan cara bagaimana kau tidak memberi kesempatan kepadaku untuk mempelajarinya lebih dalam?” “Kepandaian yang kau dapatkan memang sudah cukup memuaskan!” Berkata Hee-khao Soan sambil menganggukkan kepala.

“Kalau begitu mengapa kau tak memberi sedikit waktu kepadaku, biarlah aku memperdalam ilmu itu? Kalau saatnya sudah tiba, marilah kita mengadakan pertandingan sepuas- puasnya dengan demikian kau juga tak sia-sia mencari dan menunggu selama 80 tahun!” Berkata Hee Thian Siang.

Hee-khao Soan yang mendengar itu tampak tenang kembali, sambil menatap Hee Thian Siang katanya: “Ilmu itu sangat dalam sekali, apakah kau pikir memerlukan waktu berapa lama barulah bisa mempelajari dengan baik?”

Hee Thian Siang menundukkan kepala untuk berfikir, kemudian menjawab: “Bapak Hee Khao, terhadap orang berkepandaian tinggi seperti kau ini, aku tidak berani anggap diriku sendiri terlalu pintar. Bagaimana kalau aku minta waktu 5 tahun?”

Hee-khao soan merasa sangat girang, ia mengangguk- anggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum: “Lima tahun kemudian, pada bulan 9 tanggal 9, kita mengadakan pertemuan ditempat yang dinamakan Lam Thian Bun dipuncak gunung Thay-san!”

Sehabis mengucapkan demikian, wajahnya yang tadi gembira kini kembali menjadi sedih, katanya samabil menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang: “Tidak adil, tidak adil, kau bocah ini meskipun memiliki dasar yang baik dan kecerdasan luar biasa. tetapi hanya menggunakan waktu 5 tahun, apakah mungkin bisa mempelajari dengan baik? Maka bagaimanapun juga, masih bukan tandinganku yang sudah memiliki latihan selama 100 tahun. Pertandingan yang tidak adil seperti ini apa gunanya? Lebih baik aku meniru tindakan Thian-ie taisu dan Sam-ciok Cinjin untuk meninggalkan dunia fana ini, supaya bebas dari segala gangguan!”

Sehabis berkata demikian tangan kanannya diangkat hendak memukul batok kepalanya sendiri.

Tiong-sun Hui Kheng yang memiliki perasaan halus dan hati baik, sesungguhnya tidak tega melihat-tokoh-tokoh terkenal mati secara mengenaskan itu, apalagi yang terjadinya secara beruntun maka buru-buru memberi hormat dan berkata sambil tertawa: “Bapak Hee-khao, kau tidak perlu berbuat seperti itu. Tiong-sun Hui Kheng ada satu jalan yang bisa membantu keinginanmu untuk mengadakan pertandingan dengan Thian-ie taisu secara adil!”

Hee-khao Soan mendengar ucapan itu, dengan perasaan heran bertanya: “Thian-ie taisu sudah pulang kealam baqa dan jenazahnya juga sudah dikubur didalam kuburan batu ini. Apakah kau bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati? Jika tidak dengan cara bagaimana kau bisa membuat Thian-ie taisu mengadakan pertandingan secara adil denganku?”

Tiong-sun Hui Kheng tersenyum, kemudian menjawab: “Meskipun Tiong-sun Hui Kheng tak mempunyai kepandaian untuk menghidupkan orang yang sudah mati, tetapi benar- benar ada suatu cara, untuk memuaskan keinginan bapak Hee-khao!”

Hee-khao Soan tak dapat menerka maksud yang terkandung dalam ucapan gadis itu, maka dengan perasaan cemas ia berkata: “Coba katakan! Apa sebenarnya yang kau maksudkan itu?”

“Bapak Hee-khao, kau anggap Hee Thian Siang dapat mewakili Thian-ie taisu hendak bertanding denganmu, dalam hal mana kau anggap tidak adil itu?” Bertanya Tiong-sun Hui Kheng sambil tersenyum. “Usia dia terpaut jauh sekali denganku, demikianpun tingkatan dan kepandaian ilmu silat serta kekuatan tenaga dalamnya, tidak ada setitikpun yang dapat dikatakan adil!”

“Itu terlalu susah. Terlalu susah! Perbedaan jauh itu adalah sudah dari alam, sungguh tiada manusia yang bisa menghapuskan!”

“Mudah, mudah! Perbedaan ini asal dengan sepatah kataku, semua dapat dihapus!”

Hee-khao Soan tertegun, sementara itu Tiong-sun Hui Kheng melanjutkan ucapannya sambil tertawa: “Letak ketidak- adilan itu dapat dipecahkan dengan perkataan wakil, kau boleh mencari seorang wakil untuk mewakili dirimu, dengan demikian bukankah sudah menjadi adil?”

“Nona Tiong-sun, bolehkah kau memberi keterangan lebih jelas sedikit?” Bertanya Hee-khao Soan sambil menatap wajah Tiong-sun Hui Kheng.

Tiong-sun Hui Kheng berkata sambil tersenyum dan menunjuk makam Thian-ie Sianjin: “Cara ini bukanlah aku yang menelorkan. Sam-ciok Cinjin dan Thian-ie Sianjin yang kini sudah berada didalam kuburan itu, sudah pernah menggunakan satu kali.”

Hee-khao Soan masih belum mengerti, tetapi Hee Thian Siang sudah paham, maka lalu berkata sambil tertawa: “Maksud enci Tiong-sun ialah menyuruh kau juga mencari seorang wakil yang usianya sebaya denganku. Begitu pula bakat serta kepandaiannya, supaya dalam waktu lima tahun sudah mendapatkan kepandaian tinggi yang dapat mengimbangi kepandaianku…”

Belum habis ucapannya, Hee-khao Soan sudah sadar, maka lalu berkata sambil tertawa dan menepuk tangan: “Bagus, bagus, lima tahun kemudian dalam pertemuan ditanggal sembilan bulan sembilan nanti, kau akan mewakili Thian-ie taisu dengan melatih ilmumu, sedangkan pewarisku akan mewakili aku Hee-khao Soan nanti mengadakan pertandingan diatas gunung Thay-san, benar-benar itu sangat adil, juga sudah memuaskan keinginanku selama delapan puluh tahun?”

“Bapak Hee-khao, kalau sudah setuju dengan usulku ini, maka kau harap lekas mencari wakil yang dapat kau gunakan untuk mengadakan pertandingan dengan Hee Thian Siang!” Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa.

Hee-khao soan dengan tiba-tiba menatap wajah Tiong-sun Hui Kheng, kemudian berkata sambil tertawa: “Peribahasa ada kata: DIHADAPAM MATA SANG BUDHA, PERLU APA

PERGI KEGUNUNG SAKTI? Biarlah aku mimilih kau nona Tiong-sun untuk menjadi wakilku.”

Tiong-sun Hui Kheng tidak menduga bahwa usulnya tadi telah menyulitkan dirinya sendiri. Maka ia buru-buru berkata sambil menggoyangkan tangannya: “Tidak bisa, tidak bisa aku tak dapat mewakili bapak Hee-khao!”

“Aku Hee-khao Soan selamanya mempunyai adat bahwa apa yang sudah kuputuskan, tak bisa dibatalkan lagi. sekalipun TIDAK BISA harus DI BIKIN BISA. Kau anak perempuan ini demikian cerdik, apakah masih tak tahu jikalau kau mengikuti aku selama lima tahun, akan mendapatkan banyak faedah bagimu sendiri?”

Sehabis ucapannya, lengan baju kuningnya bergerak, sedikitpun tidak memberi kesempatan pada Tiong-sun Hui Kheng untuk membantah lagi, ia sudah mengebut jalan darahnya, sehingga tidak ingat dirinya lagi!

Siaopek dan taywong yang melihat majikannya dibikin tak berdaya, kedua-duanya menggeram hebat dan menyerbu dari kanan dan kiri. Hee-khao Soan tertawa terbahak-bahak, tangan kanan menggunakan jari tangannya, tangan kiri menggunakan lengan bajunya, sudah berhasil merubuhkan siaopek dan taywong, semuanya tertotok jalan darahnya.

Hee Thian Siang tahu bahwa kekuatan tenaganya sendiri masih jauh sekali kalau dibandingkan dengan Hee-khao Soan yang beradat aneh itu, melihat Tiong-sun Hui Kheng, siaopek dan taywong telah dibikin tak berdaya semua, juga tanpa menghiraukan tenaganya sendiri, melancarkan serangan kepada Hee-khao Soan dengan menggunakan ilmunya yang didapat dari Duta Bunga Mawar.

Hee-khao Soan sebagai seorang tokoh kenamaan, bagaimana ia tidak tahu? Maka begitu Hee Thian Siang turun tangan, ia sudah dapat mengenali bahwa serangan itu hebat sekali. Bukan saja memiliki perubahan gerakan yang tiada habisnya, tetapi juga mengandung kekuatan tenaga yang sangat hebat.

Saat itu ia mengerutkan alisnya dan tidak berani balas menyerang, hanya badannya bergerak lompat melesat sejauh 3 tombak.

Hee Thian siang tak mau mengerti, ia terus mengejar dan menyerbunya. Hee-khao soan berkata sambil menggoyang- goyang tangannya: “Tunggu dulu, aku tak akan berkelahi denganmu, gerak tipu yang kau gunakan tadi apakah warisan ilmu Thian-ie taisu?”

“Gerakan ini bukanlah warisan Thian-ie taisu, bila kau tak hendak berkelahi denganku, mengapa hendak menggunakan enci Tiong-sun untuk mewakili kau?” Berkata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala.

Hee-khao Soan merasa heran, ia menatap wajah Hee Thian Siang sekian lama, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala: “Tidak bisa, aku tak boleh tidak harus bawa dia, untuk menurunkan kepandaian ilmuku agar bisa menjadi wakilku. Sebab, untuk mencari orang biasa sangat mudah, tetapi untuk mencari orang yang berbakat sungguh susah. Bila dia kulepaskan barangkali aku tidak akan dapat menemukan lagi seorang yang memiliki bakat baik yang bisa mengimbangi bakatku, hingga pada pertandingan diatas gunung Thay-san 5 tahun yang akan datang, bukankah akan mengecewakan harapanku?”

Dalam keadaan cemas tiba-tiba Hee Thian Siang mendapat suatu akal, ia mengawasi Tiong-sun Hui Kheng yang menggeletak ditanah, lalu berkata: “Jika kau hendak minta enci Tiong-sun menjadi wakilmu, maka dalam pertemuan pada

5 tahun yang akan datang, ini agaknya tidak adil.” Dimana letak tidak keadilannya?” Bertanya Hee-khao Soan heran.

Hee Thian Siang waktu itu sudah mempunyai suatu pikiran, kemudian dengan tenang ia menjawab: “Jika kau menghendaki keadilan, ada 2 alasan, tidak boleh menggunakan enci Tiong-sun sebagai wakilmu!

“Sebabnya? Jikalau kau dapat memberi penjelasan dengan baik, aku tak akan mita dia untuk mewakiliku!”

“Kesatu, karena enci Tiong-sun sudah memperoleh warisan tidak sedikit dari Sam-ciok Cinjin yang kepandaian dan kekuatan tenaganya berimbang dengan Thina-ie taisu. Apabila ditambah lagi dengan didikanmu selama 5 tahun, hasilnya sudah tentu akan jauh lebih kuat dari padaku. Itu juga berarti, kau bersama Sam-ciok Cinjin dua orang menghadapi Thian-ie taisu seorang. Bukankah itu tidak adil?”

“Hei, tentang ini memang benar patut diperhatikan!” Berkata Hee-khao Soan sambil menganggukkan kepala.

“Alasan pertama sudah patut diperhatikan dan alasan kedua lebih kuat lagi. Sebab aku dengan enci Tiong-sun, terikat hubungan yang erat sekali, dia tidak akan tega melukai aku dan akupun juga tidak sampai hati untuk melukainya. coba pikirlah, dalam keadaan demikian sekalipun satu sama lain mengadakan pertandingan dalam keadaan terpaksa, apakah bisa mewakili benar-benar kepandaianmu dengan Thian-ie taisu? Apalagi untuk menetapkan siapa yang lebih unggul dan siapa yang lebih asor.”

Hee-khao Soang dengan tenang mendengarkan ucapan Hee Thian Siang, barulah berkata sambil menghela nafas panjang: “Ya, memang cukup beralasan. Ucapanmu ini memang benar. Aku terpaksa melepaskan Tiong-sun Hui Kheng dan akan berkelana lagi untuk mencari seorang yang berbakat baik!”

“Bapak Hee-khao kau tak usah kuatir. Untuk mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya, aku beri waktu yang lebih cukup kepadamu untuk mencari orang yang sepadan denganku.”

Hee-khao Soan menganggukkan kepala dan berkata: “Aku dapat memahami maksuudmu, kau barangkali akan menunda usahamu untuk mempelajari ilmu Thian-khim Cit-kao, supaya tidak menarik keuntungan, karena mempelajari lebih dahulu!”

“Dugaanmu itu tepat, pada tahun depan tanggal enam belas bulan 2 aku akan mulai mempelajari ilmu Thian-kihim Cit-kao. Ini juga berarti pada saat tanggal enambelas bulan dua tahun depan kau harus sudah menemukan wakilmu yang memiliki bakat yang baik!”

Hee-khao soan berulang kali menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa besar: “Baik, baik! Usulmu ini memang sangat adil, tak kusangka kau setan kecil ini memiliki kepintaran otak demikian tajam. Dan dua batang bulu burung ini untuk sementara kubawa, 5 tahun kemudian, diatas gunung Tay-san akan kukembalikan kepadamu lagi!”

Sehabis berkata demikian, badannya bergerak sebentar sudah menghilang dipuncak gunung Giok-can-hong. Hee Thian Siang menghampiri Tiong-sun Hui Kheng yang masih menggeletak ditanah demikian pula siaopek dan taywong. Selagi hendak melepaskan totokan mereka, tiba-tiba terdengar suara yang berkata: “Jangan bertindak dulu, untuk membuka totokan ini tak boleh dilakukan dengan cara biasa!”

Hee Thian Siang berpaling, tampak orang tua berbaju kuning Hee-khao Soan sudah balik kembali. dengan mata mengawasi dirinya, orang tua itu berkata sambil tersenyum: “Ilmu totokan yang kugunakan ini jauh berlainan dengan totokan biasa. Kau harus menepuk dijalan darah Pek-hui-hiat diatas kepala mereka, barulah mereka bisa sadar!”

Sehabis berkata demikian, kembali badannya bergerak, dan sudah menghilang lagi kepuncak gunung.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu setengah percaya setengah tidak, sebab jalan darah Pek-hui-hiat diatas kepala adalah salah satu jalan darah terpenting dalam anggota tubuh manusia. bagaimana berani bertindak gegabah? Maka sesaat itu ia berpikir dulu sebentar, lebih dulu ia memilih taywong untuk digunakan sebagai kelinci percobaan. Dengan menggunakan 50% dari kekuatan tenaganya menepuk bagian jalan darah diatas kepala taywong.

Sungguh heran, dalam keadaan biasa, apabila taywong dipukul demikian berat, sekalipun tidak mati juga akan pingsan. Tetapi sekarang binatang itu dalam keadaan pingsan dengan mendadak lantas menjadi sadar.

Hee Thian Siang menggeleng-gelengkan kepala, diam- diam mengagumi kepandaian Hee-khao Saon, ia mendadpat suatu pengalaman baru, bahwa kepandaian ilmu silat itu sebetulnya terlalu banyak cabangnya, sekalipun menggunakan tenaga dan kepintaran seumur hidup, untuk mempelajarinya juga barangkali tidak bisa mempelajari seluruhnya. Totokan diatas badan taywong ia sudah memperlihatkan hasilnya, maka Hee Thian Siang baru merasa lega, selanjutnya barulah ia menepok jalan darah dPek-hui-hiat diatas kepala Tiong-sun Hui Kheng dan siaopek.

Tiong-sun Hui Kheng sadar kembali, ia duduk ditanah, matanya mengawasi keadan sekitarnya, melihat Hee-khao Soan sudah tak ada lalu ia bertanya kepada Hee Thian Siang: “Kemana iblis tua yang tidak tahu aturan itu? Apakah kau sudah mengusirnya pergi?”

Hee Thian Siang kalau mengingat kembali kejadian tadi, juga merasa geli sendiri, ia lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi.

Sehabis mendengar penuturan Hee THian Siang, Tiong- sun Hui Kheng bertanya pula sambil tersenyum: “Dengan cara bagaimana kau tahu aku berada digunung Ko-le-kong-san ini? Dan kemudian bagaimana pula kau bisa menemukan kediaman Thian-ie Sianjin?”

di gunung Ay-lao-san, aku telah berjumpa dengan empek Tiong-sun!” Menjawab Hee Thian Siang sambil tertawa: “Oo, jadi kau sudah ketemu dengan ayahku?” Apa ayah sudah menjumpai May Ceng Ong Cianpe?”

“Empek Tiong-sun masih belum berjumpa dengan May Ceng Ong locianpe, tetapi aku sudah bertemu dengannya!”

“Kemana-mana aku mencari dia, tak berhasil menemukan.

Sedangkan kau yang tidak mencarinya bisa ketemu.”

“Aku waktu itu sedang minum arak disebuah rumah minum dikampung kecil dekat gunung Tay-pa-san, kebetulan May locianpe juga sedang minum disitu, hingga kita lantas minum bersama-sama dan akhirnya pada mabok!” “Kau sebetulnya kemana saja selama ini? Bagaimana sebentar berada digunung Tay-pa-san, sebentar digunung Ay- lao-san dan kini kembali berada digunung Ko-le-kong-san?”

“Aku telah melakukan perjalanan jauh, lantaran aku hendak mencari enci agar aku bisa minta maaf kepadamu!”

“Kau toh tidak pernah bersalah terhadapku, untuk apa mencari aku hendak meminta maaf? Sebaliknya dengan Siaopek dan taywong yang semuanya berlaku tidak sopan terhadapmu, sebetulnya akulah yang mewakili mereka untuk minta maaf kepadamu!”