Makam Bunga Mawar Jilid 16

 
Jilid 16

Tham Eng juga seorang yang sangat cerdik, ia tahu tindakannya yang terlalu tergesa-gesa hendak merebut kemenangan, sudah kehilangan posisi terlebih dahulu, jikalau pikir hendak melawan tantangan lawannya dengan kekerasan, jangankan diri sendiri masih belum mempunyai keyakinan dengan kekuatannya sendiri, walaupun berhasil menghantamnya, tetapi sang lawan pasti akan mengejar dan melancarkan serangannya dengan beruntun, dengan demikian ia sendiri pasti akan menjadi bulan-bulanan dari serangan hebat lawannya. Maka ia terpaksa menggunakan ilmunya untuk menyalurkan kembali kekuatan tenaga dalamnya yang sudah di kerahkan, dan badannya lompat melesat setinggi delapan kaki.

Hee Thian Siang tertawa terbahak-bahak, dengan gerakan yang sangat cepat sudah mendesak maju, selagi hendak mencecer serangannya kepada Tham Eng, tiba-tiba terdengar suara Pek-kui Sian-cu dari samping: "Thamji, sudahlah hentikan seranganmu! Bocah yg bernama Hee Thian Siang ini benar-benar memiliki kepandaian yang berarti, kau bukan tandingannya, tidak perlu di langsungkan lagi!"

Tham Eng yang mendengar ucapan gurunya, dengan perasaan agak berat lompat keluar dari barisan Pek-kut- cheng, lalu bertanya kepada suhunya: "Suhu berkata demikian, apakah itu adil? Muridmu belum merasakan dia jauh lebih kuat daripada muridmu sendiri!"

"Seranganmu yang pertama tadi sudah tidak berhasil. Apakah itu belum cukup untuk membuktikan bahwa lawanmu itu memiliki kekuatan tenaga dalam yang hebat sekali? Dan seranganmu yang kedua tadi kau sudah menyerang ke tempat kosong, apakah belum cukup untuk membuktikan betapa gesit dan lincah gerakan bocah itu? Seranganmu yang ketiga, belum sempat kau keluarkan sudah di sambut oleh kibasan lengan baju yang mengandung serangan hawa Ceng-Khie, sehingga kau harus lompat mundur delapan kaki jauhnya, apakah itu belum cukup untuk membuktikan betapa cerdik dan gesit dia dalam menghadapi serangan lawan? Dari 3 jurus pertandingan itu, aku telah memberikan keputusan dengan adil. Kekuatan tenaga pemuda itu kira-kira masih tinggi dua bagian darimu, siapa yang akan menang dan yang akan kalah sudah jelas keadaannya, perlu apa masih akan dilanjutkan lagi?" Berkata Pek-kut Sian-cu sambil tertawa.

Oleh karena keadaan memang demikian sebenarnya, maka Tham Eng yang mendengar penjelasan itu mukanya menjadi merah serta menundukkan kepala tak berani membuka mulut lagi.

Dalam hati Hee Thian Siang juga merasa malu sendiri, sebab ia tahu benar jikalau ia tidak mendapat warisan tenaga dari Duta Bunga Mawar, bagaimana ia dapat melawan gadis she Tham ini? Barangkali baru diserang pertama saja sudah tak sanggup melawan lagi. Dengan perasaan sangat malu Tham Eng pergi ke samping, memerintahkan para pelayan wanita menggotong dua balok es dengan perapian yang apinya menyala, serta dua belas butir biji It-yap-cie, dimasukkan dalam perapian itu, Pek-kut Sian-cu lalu berkata kepada Hee Thian Siang:

"Di lembah Cu-tek-kok ini, selamanya belum ada orang luar datang kemari. Aku yang berdiam di sini juga sudah lama merasa kesepian, maka sekarang hendak kugunakan kesempatan ini untuk coba-coba denganmu dengan menggunakan api bara ini"

Hee Thian Siang tahu bahwa dia sedang menghadapi persoalan yang sangat sulit meskipun ia masih menganggukkan kepala sambil tersenyum, tapi matanya terus di tujukan kepada api yang menyala dan dua balok es besar yg di letakkan di situ, dalam hatinya diam-diam merasa heran, entah pertunjukkan macam apa lagi yang hendak dilakukan oleh Pek-kut Sian-cu. Pek-kut Sian-cu berkata pula sambil tertawa: "Kau tak usah khawatir, latihan ilmu Hian Kang sejenis ini hanya tergantung lama tidaknya waktu latihannya, sedikitpun tidak boleh dipaksa. Usiamu dan usiaku selisih terlalu jauh, sudah tentu tidak dapat disamakan, maka tidak perlu kau meniru perbuatanku seluruhnya, kau boleh melakukan seberapa banyak mungkin, itu sudah cukup, juga merupakan suatu hasil yang lumayan!" Setelah berkata demikian ia lantas duduk di atas balokan es yang setebal dua kaki dan panjangnya kira-kira empat kaki.

Hee Thian Siang mengerti bahwa ilmu Hian-kang semacam itu bukan saja harus tahan hawa dingin, tetapi juga harus bisa duduk di atas es, dan jangan sampai es yang diduduki itu jadi lumer, itu berarti suatu syarat mutlak. Maka ia juga ikut duduk dibalokan es, dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya.

Pek-kut Sian-cu dari jarak jauh sekira tiga empat kaki dengan perapian itu, ia mengulurkan tangannya dan melakukan gerakan menyedot dari tengah udara tiga butir biji Jit-gwat-cu yang merah membara keluar dari api bara dan terbang ke dalam tangannya!

Hee Thian Siang yang menyaksikan itu, selagi hendak menelad perbuatan Pek-kut Sian-cu, Pek-kut Sian-cu sudah berkata padanya sambil menggelengkan kepala dan tertawa: "Kau tak sanggup mengambil biji ini dari dalam perapian. Kau boleh menyambuti dari tanganku saja sudah cukup."

Sehabis berkata demikian, tiga butir biji ditangan Pek-kut Sian-cu yang warnanya sudah tidak terlalu merah dilemparkan kepada Hee Thian Siang. Hee Thian Siang yang sudah mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, menyambuti tiga butir biji itu. Ia tahu ini sudah merupakan suatu keuntungan baginya. Ternyata Pek-kut Sian-cu tak mau mengandalkan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah sempurna untuk mengalahkan lawannya yang masih muda, benar-benar masih merupakan seorang berjiwa jantan. Sebab biji Jit-gwat-cu yang sudah terbakar merah setelah berada ditangan Pek-kut Sian-cu, lalu di oper ke tangan Hee Thian Siang, hawa panasnya sudah lebih banyak berkurang. Bagi orang yang sudah melatih ilmu Pan-san-ciang sampai sempurna, sudah tentu tak usah takut dengan panasnya biji itu.

Tangan kanan Pek-kut Sian-cu melemparkan tiga butir biji berapi itu kepada Hee Thian Siang, sedang tangan kirinya mengikuti pula bergerak ke tengah udara, kembali tiga butir biji yang sudah merah membara dalam perapian melayang lagi ke dalam tangannya.

Dalam permainan itu meskipun Hee Thian Siang sudah banyak mendapat keuntungan, tetapi ketika ia menyambut sampai ke enam puluh butir, kekuatan tenaganya sudah mulai kendor, telapak tangannya merasa sangat panas dan nyeri sekali. Tapi karena ia adalah pemuda yang keras hatinya, meskipun menghadapi demikian, ia masih mencoba menyambuti sisanya yang tinggal dua belas butir, setelah itu dia berkata kepada Pek-kut Sian-cu sambil tertawa terbahak- bahak: "Kau benar-benar tidak kecewa menjadi seorang nona dari golongan Pek-kut Sam-mo, ilmu Hian-kangmu tinggi sekali, benar-benar berhak untuk bertanding dengan suhuku didalam pertemuan pada waktu pembukaan partai Ceng-thian- pay nanti!"

Pek-kut Sian-cu hanya menyambut dengan senyuman, setelah itu ia melayang turun dari atas es balokannya, tempat yang bekas di duduki tampak rata, seolah-olah tidak ada bekasnya, tidak mencair, juga tidak tampak tanda apa-apa.

Sedangkan balok es yang bekas diduduki oleh Hee Thian Siang, tengahnya nampak legok, jelas tampak tanda bekas didudukinya.

Pek-kut Sian-cu menganggukkan kepala kepada Hee Thian Siang, dan berkata sambil tertawa: "Dengan usiamu yang masih begitu muda, yang bisa menyambuti tujuh puluh dua butir biji yang sudah membara, dan duduk di atas balokan es yang hanya meninggalkan bekas sedikit saja, benar-benar sudah merupakan suatu prestasi yang bagus sekali!"

Hee Thian Siang waktu itu telapak tangannya sudah merasa sangat panas sekali, sehingga hampir tak dapat menahannya. tetapi ia terus paksakan diri untuk bertahan, ketika mendengar ucapan itu ia tertawa menyeringai, tidak menjawab.

Pek-kut Sian-cu berkata pula sambil tertawa: "Kau jangan terlalu sombong dan keras kepala, sepasang tanganmu barangkali sudah terluka parah. "

Tidak menantikan ucapan selanjutnya, Hee Thian Siang sudah berpura-pura seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, ia minta diri sambil tersenyum katanya: "Dalam pembukaan partai Ceng-thian-pay nanti, bukan saja aku mengharap agar kau datang tepat pada waktu nya, supaya bisa bertanding dengan suhuku, juga harap supaya kau bawa serta monyet putihmu itu!"

"Kau suruh aku membawa monyet putihku lagi kesana untuk apa? Apakah kau ingin berkelahi dengannya?" Bertanya Pek-kut Sian-cu.

"Aku mempunyai seorang enci yang memelihara seekor kera putih, kera itu sangat cerdik sekali. Pada waktu itu aku ingin supaya mereka dua monyet ini, juga bisa melakukan pertarungan di sana, bukankah itu sangat menarik? Berkata Hee Thian Siang.

Pek-kut Sian-cu tersenyum sambil menganggukkan kepala, matanya menatap Hee Thian Siang, dari dalam sakunya mengeluarkan sebutir pil berwarna putih, dan kemudian berkata kepadanya:

"Pil semacam ini mempunyai khasiat luar biasa untuk menyembuhkan luka terbakar!"

Tetapi Hee Thian Siang yang sifatnya sombong tak mau menerima maksud baik dari perempuan tua itu, dengan suara nyaring ia memotong ucapan Pek-kut Sian-cu: "Kau keliru, tujuh puluh dua butir biji besar itu belum sampai membuat aku terluka parah"

Belum habis ucapannya badannya sudah melesat dengan melalui rumah bertingkat itu lari keluar dari lembah Cu-tek-kok.

Pek-ku Sian-cu mengawasi berlalunya Hee Thian Siang, diam-diam menghela nafas, ia berkata pada dirinya sendiri: "Anak muda ini terlalu keras kepala, tetapi dua telapak tangannya sudah terkena racun api, kalau racun itu bekerja, sekalipun ia terbuat dari besi atau baja, pasti tidak sanggup bertahan!"

Hee Thian Siang yang memiliki kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna, pendengarannya sangat tajam, meskipun ia mendengar ucapan Pek-kut Sian-cu itu, tetapi ia tetap lari dan tidak menghiraukan.

Tetapi tidak jauh dari sekeluarnya dari lembah itu, ketika tiba di suatu tempat yang sunyi, peringatan yang keluar dari mulut Pek-kut Sian-cu tadi, kini sudah mulai tampak kenyataannya.

Hee Thian Siang waktu itu merasakan sepasang telapak tangannya panas luar biasa, ia buru-buru menelan dua butir pilnya sendiri, dan sebutir lagi di pulaskan ditelapak tangannya. Sesudah menggunakan hancuran pil itu, di luar dugaannya, rasa nyeri semakin hebat, Hee Thian Siang tujukan matanya ketempat seputarnya, tampak disebelah kanan dinding tebing ada air mancur yang bening sekali, maka ia lalu melompat kesana, dan mengulurkan sepasang tangannya kedalam air mancur itu. Air mancur itu setelah mengguyur telapak tangan Hee Thian Siang yang bengkak dan merah, sesungguhnya merasa sangat dingin dan nyaman.

Hee Thian Siang bukan tidak tahu bahwa luka ditelapak tangannya sendiri tidak tepat untuk menggunakan air yang kelewat dingin, tetapi dalam keadaan luar biasa nyerinya seperti itu, mau tak mau ia harus berbuat demikian, untuk mengurangi rasa sakitnya.

Sesaat kemudian, perasaan dingin air mancur itu perlahan- lahan mulai berkurang, bengkak di telapak tangannya mulai bertambah besar, dan warnanya juga mulai bertambah merah. Waktu itu ketika air dingin menyiram di tangannya, bukan saja sedikitpun tidak merasa nyaman, sebaliknya malah rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Ia terpaksa menarik kembali tangannya dan mencari ke suatu tempat yang rata untuk duduk diatasnya, dalam keadaan demikian, tampaknya sedikitpun ia tidak berdaya.

Sepasang telapak tangannya itu sesungguhnya merupakan salah satu jalan darah tertentu, dan racun panas yang mengenai telapak tangannya sangat mudah sekali menyerang ke ulu hatinya, setelah lama ia coba bertahan dari rasa sakitnya, akhirnya ia tidak sanggup hingga jatuh pingsan di atas batu.

Tatkala ia perlahan-lahan mulai sadarkan diri, telinganya menangkap suara pembicaraan dari seorang wanita.

Ia masih mengira bahwa dirinya kembali terjatuh ditangan Pek-kut Sian-cu dan Tham Eng, tetapi ketika membuka mata, apa yang dilihatnya, bukan kepalang terkejutnya. Kiranya dua wanita yang berdiri disampingnya, meskipun terdiri dari seorang wanita tua dan seorang wanita muda, tetapi mereka itu bukanlah Pek-kut Sian-cu dan muridnya, melainkan Liok Giok Jie yang pernah mengadakan hubungan raga dengannya karena perangsang bunga mujizat bersama Pao Sam-kow, salah seorang tokoh terkuat dari Kie-lian-pay!

Dengan tiba-tiba Hee Thian Siang teringat pesan Duta Bunga Mawar yang mengatakan bahwa Liok Giok Jie yang sedikit banyak masih ada titisan darah ibunya, ditambah lagi dengan perbuatannya yang dipergoki oleh Pao Sam-kow, ada kemungkinan karena merasa malu, bisa berbalik benci terhadapnya. Maka harus berhati-hati terhadapnya......

Mengingat akan hal itu maka menghela nafas panjang, karena dia sendiri yang baru terlepas dari mulut harimau, kini kembali terjatuh di sarang ular. Apa mau dikata, sepasang tangannya waktu itu sudah terluka parah, dengan sendirinya tak bisa digunakan untuk berkelahi.

Belum hilang kekhawatirannya, tiba-tiba terdengar suara Pao Sam-kow yang bertanya kepada Liok Giok Jie: "Nona Liok, apakah ini bukan bocah yang melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap dirimu ketika berada didalam goa rahasia di gunung Tay-pa-san?"

Waktu itu Liok Giok Jie dan Pao Sam-kow membawa tugas dari Leng Biaw Biaw dan Kiu-thian Mo-li Tang Siang Siang pergi kegunung Tay-pa-san, lao-san dan Ay-lao san, untuk menghubungi Pek-kut Thian-khun, Pek-kut I-su dan Pek-kut Sian-cu, kawanan tiga serangkai Pek-kut Sam-mo itu. Tak disangka-sangkanya, ditempat sunyi didekat daerah gunung Ay-lao-san itu dengan secara tiba-tiba menemukan Hee Thian Siang yang sedang pingsan dia tas batu, dalam hati Liok Giok Jie sendiri terhadap pemuda itu merasa kasihan, cinta, tetapi juga gemas.

Dalam keadaan demikian, ketika ditanya demikian oleh Pak thao Losat, dengan sendirinya tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri, maka dalam keadaan terpaksa, ia hanya menganggukan kepala sambil menjawab: "Betul, itulah orangnya!"

"Kalau memang benar adalah bocah yang berbuat tidak senonoh terhadap dirimu itu, maka kita seharusnya mencari suatu cara sebaik-baiknya untuk mengadakan pembalasan terhadapnya!" Berkata Pak-thao Losat sambil tertawa dingin.

Hee Thian Siang mendengar ucapan itu semakin terkejut, ia lalu berpura-pura belum sadar, untuk mendengarkan jawaban Liok Giok Jie.

Sementara itu Liok Giok Jie hanya mengeluarkan suara dari hidung, lalu bertanya kepada Pao Sam-kow: "Bo-lo, kita sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, tidak seharusnya melakukan pembunuhan terhadap orang yang tak mempunyai daya perlawanan sama sekali, kau lihat Hee Thian Siang ini kecuali masih pingsan sepasang telapak tangannya juga bengkak dan merah, bagaimana ia bisa bertempur dengan kita?" Biji mata Pao Sam-kow berputaran, katanya sambil tertawa sinis: "Aku lebih dulu akan menyembuhkan luka-luka tangannya, barulah kubereskan perlahan-lahan; dengan demikian, bukankah itu suatu perbuatan yang adil?"

"Apakah lukanya yang demikian itu mudah disembuhkan?" "Ini merupakan luka karena terserang oleh racun api yang

menyerang ke ulu hati. Obat pil Kiu-han-tan di golongan kita

Kie-Lian-pay khusus untuk menyembuhkan luka semacam ini. Pil ini khasiatnya manjur sekali!"

Hee Thian Siang yang mendengarkan ucapan itu hatinya merasa tergerak, diam-diam berpikir pil Kiu-han-tan dari Kie- Lian-pay yang bisa menyembuhkan racun api, makan senjata rahasia Peng-pek-sin-tan yang dihadiahkan kepadanya oleh Leng Pek Ciok, sudah tentu juga mempunyai faedah yang serupa. Mengapa aku tadi tidak berpikir untuk mencobanya?

Liok Giok Jie ketika mendengar ucapan Pao Sam-kow itu, lalu berkata sambil menganggukkan kepala: "Kalau Bo-lo berkata demikian, harap kau berikan sebutir kepadanya, supaya lukanya sembuh kembali, biarlah aku yang turun tangan sendiri untuk melakukan pembalasan!"

Pao Sam-kow tertawa dingin, dari dalam saku nya mengeluarkan dua butir pil Kiu-han-tan, kemudian dimasukkan ke dalam mulut Hee Thian Siang. Liok Giok Jie mengerutkan sepasang alisnya, kemudian bertanya: "Kira-kira memerlukan waktu berapa lama baru bisa sembuh dari luka-lukanya?"

Pao sam-kow menundukkan kepala, mengamati luka di telapak tangan Hee Thian Siang. Setelah ia berpikir sejenak, baru menjawab: "Lukanya terlalu parah, mungkin memerlukan waktu dua jam lebih, bengkaknya baru mulai hilang dan rasa sakitnya barulah berhenti, setelah itu baru bisa melakukan pertempuran." "Apakah selama dua jam itu kita harus mengawasi terus padanya di sini?"

Hee Thian Siang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Liok Giok Jie itu, benar saja terhadap dirinya sedikitpun tidak mempunyai perasaan cinta kasih, maka ia lantai membuka sepasang matanya, untuk melihat Liok Giok Jie dan bertanya: "Adik Giok, benarkah kau masih hendak berkelahi denganku?"

Sebutan "Adik Giok" yang diucapkan di hadapan Pek-thao Lo-sat Pao Sam-kow itu, bukan saja membuat marah Liok Giok Jie, sebaliknya malah menimbulkan perasaan bencinya semakin dalam, dengan nada yang tajam ia balas bertanya kepada Hee Thian Siang: "Siapa adik Giokmu, orang tidak tahu malu seperti kau ini? Hari ini kita berhadapan sebagai musuh, aku hendak menuntut balas dendam atas perbuatanmu terhadap diriku ketika aku dalam keadaan terluka!"

Beberapa patah kata itu didengar oleh Hee Thian Siang sangat tidak enak sekali, hingga menimbulkan hawa amarahnya. Ia lalu berkata sambil tertawa hambar: "Kalau demikian besar bencimu terhadapku, mengapa aku tidak kau bunuh mati saja?"

Dengan wajah pucat, Liok Giok Jie berkata dengan nada suara dingin: "Liok Giok Jie tidak seperti kau, orang yang tak tahu malu, melakukan perbuatan mesum selagi orang dalam keadaan tak berdaya! Aku menunggu sampai luka-luka racun api di telapak tanganmu sampai sembuh kembali, dan sudah memiliki kekuatan tenaga untuk melawan, barulah aku akan turun tangan sendiri untuk membunuhmu!"

Sebaiknya sekarang saja kau bunuh aku, itu barangkali tidak perlu menggunakan banyak tenaga, kalau tidak asal luka-lukaku sudah sembuh, dengan kepandaianmu seperti itu, belum tentu dapat menandingi aku!" Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa terbahak-bahak. Dengan cepat Liok Giok Jie memotong ucapan Hee Thian Siang: "Kau jangan pandang dirimu sendiri terlalu tinggi, kau harus tahu bahwa ibuku waktu belakangan ini telah menurunkan ilmu kepandaiannya dari Bu-siang-mo-su Kong Yang Ek, yang namanya pernah menggemparkan rimba persilatan."

"Tadi aku dengar Pao Sam-kow berkata bahwa lukaku ini memerlukan waktu dua jam baru bisa sembuh sama sekali. Kalian tak perlu di sini mengawasi aku cuma-cuma, baiknya kau pergi melakukan pekerjaanmu, dua jam kemudian kau boleh datang lagi untuk menghajar aku dengan ilmu itu."

Pek-thao Losat bertanya: "Apakah kau pikir hendak menyuruh kita pergi dari sampingmu supaya kau dapat kesempatan untuk melarikan diri?"

Hee Thian siang memandangnya dengan sinar mata marah, katanya dengan sikap menghina: "Hei! Phao Sam Kow, percuma saja kau merupakan salah seorang tokoh kuat dari Kie-lian-pay, namun dalam otakmu ternyata dipenuhi oleh pikiran mesum dan jahat. kau tak perlu menggunakan pikiran manusia rendah untuk mengukur hati orang!"

Liok Giok Jie tertawa terkekeh-kekeh, kemudian berkata: "Kalau kau anggap dirimu sendiri adalah seorang ksatria, tidak ada halangan kita membuat perjanjian secara kesatria!"

Hee Thian siang tahu bahwa gadis itu mempunyai banyak akal, maka ia segera bertanya sambil mengerutkan alisnya: "Apa yang kau namakan perjanjian secara kesatria itu?"

"Aku hendak menggoreskan tanda tempat ini sebagai dinding penjara, aku ingin mencoba apakah kau juga menghargai dirimu sendiri untuk memegang teguh janjimu?"

"Cara ini nampaknya masih baru, terserah kau membuat berapa luas goresan tanah dan ... meskipun tempat disekitar tempat ini kosong melompong, tapi aku akan menganggap disekitar diriku ini dibentuk dinding tinggi sebagai tembok penjara!"

Liok Giok Ji mengawasi keadaan di sekitarnya sejenak, lalu mengeluarkan senjata Kun-lun-cek, ia membuat goresan di tanah kira-kira tiga empat persegi, kemudian berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum: "Rumah penjara ini seharusnya sudah cukup besar, juga cukup memuaskan!"

"Kapan kau akan balik untuk menepati janjimu? Toh tidak mungkin kau akan menghukum aku seumur hidup!"

Liok Giok Ji angkat muka, mengawasi keadaan cuaca, ia berpikir sejenak kemudian baru menjawab: "Sebab perjanjian kali ini adalah merupakan suatu pertempuran antara mati dan hidup kita dan yang baru sembuh lukamu, aku harus memberimu cukup waktu untuk beristirahat. Dengan demikian barulah adil!"

Pada waktu itu Hee Thian Siang sebetulnya tidak dapat meraba-raba perubahan sikap Liok Giok Ji itu, terpaksa menjawab: "Kau tak perlu memikirkan demikian sempurna, sekalipun bertempur sekarang juga, aku juga akan mengiringi kehendakmu, sedikitpun tidak merasa gentar!"

"Kau benar-benar seorang yang tak tahu diri, kau selalu ingin gagah-gagahan dan keras kepala, tetapi selagi aku tidak suka untuk turun tangan kepada orang masih belum mampu melawan. Karena perbuatan itu akan merupakan suatu perbuatan yang memalukan! Sekarang baru bunyi kentongan pertama, kita pasti akan kembali pada waktu subuh, untuk mengadakan pertempuran ditempat ini."

"Seandainya lewat subuh kau masih belum datang, bagaimana dengan aku?" "Jikalau lewat waktu subuh aku belum datang ke sini, maka perjanjian ini kau boleh anggap batal dan kau boleh berbuat sesukamu, kubebaskan kau dari situasimu sebagai seorang tawanan!" Berkata sampai di situ Liok Giok Ji berpaling dan berkata kepada Pao Sam-Kow: "Bo-lo, marilah kita pergi, nanti diwaktu subuh kita kembali lagi untuk membunuh dia!"

"Nona Liok, kau tidak usah kuatir, aku jamin setan kecil ini jiwanya tidak akan lolos dari tanganku, aku pasti akan memberikan kesempatan padamu untuk membunuh dia, guna melampiaskan kebencianmu!" Berkata Pao Sam-Kow sambil tertawa menyeringai.

Liok Giok Ji mendengar perkataan Pao Sam Kow itu seperti ada mengandung maksud, maka lalu ia berkata sambil mengerutkan alisnya: "Bo-lo, meskipun aku hendak membunuhnya tapi aku ingin turun tangan sendiri, kau tidak boleh mencampuri urusanku!"

Dengan alis berdiri, Hee Thian Siang berkata sambil tertawa terbahak-bahak: "Sekalipun kalian berdua turun tangan bersama, aku Hee Thian Siang juga tidak takut!"

Pao Sam-Kow tiba-tiba mengeluarkan suaranya yang aneh dan menyeramkan, katanya sambil tertawa: "Kalau raja akherat Giam-lo-ong sudah menetapkan kau harus mati pada jam tiga, siapa ada orang yang menahan kau sampai jam lima...?

Ia berdiam sejenak, lalu berkata kepada Liok Giok Ji sambil tertawa: "Nona Liok, aku lihat bocah ini di jidatnya tampak tanda guram. Ini suatu pertanda bahwa dia akan mendapat bencana. Bencana itu sudah berada di depan mata. Mungkin, kalau kita nanti kembali diwaktu subuh, dia sudah menjadi santapan binatang buas atau ular berbisa."

Dengan sikap dingin Liok giok Ji menatap wajah Hee Thian Siang, kemudian berkata dengan nada suara dingin: "Aku harap kau supaya menjaga jiwamu sendiri, setidak-tidaknya menunggu sampai waktu subuh. Apabila benar seperti apa yang dikatakan oleh Pao Bo-lo ini, ini akan berarti membuat aku Liok Giok Ji sangat menyesal untuk selama-lamanya!"

Sehabis berkata demikian, ia bersama-sama Pao Sam-kow bergerak lari menuju ke lembah Cu-tek-kok, kediaman Pek-kut Sian-cu.

Setelah Liok Giok Ji dan Pao sam-kow berlalu, dengan seorang diri Hee Thian Siang berada ditempat itu. Diam-diam ia sesalkan dirinya sendiri, karena terkena pengaruh bunga mukjizat, hingga didalam goa kuno itu melakukan perbuatan tidak pantas terhadap diri Liok Giok Ji. dalam hati terhadap gadis itu selalu merasa menyesal. Tetapi sekarang Liok Giok Ji ternyata sudah mengabaikan semua kenyataan dan mengucapkan kata-kata mengandung sikap permusuhan terhadapnya. Perbuatannya yang keji itu, sebaliknya membuat perasaan menyesalnya Hee Thian Siang mulai luntur!

Dalam pertempuran yang akan datang nanti apabila ia yang kalah, ini berarti menggunakan jiwanya sendiri untuk menebus dosanya, Jikalau tidak, jangan sampai melakukan tangan kejam, supaya dapat menebus perbuatannya yang tak disengaja didalam goa gunung Tay-pa-san itu.

Teringat akan perbuatannya itu, sekujur badan Hee Thian siang tiba-tiba mengucurkan keringat dingin, diam-diam ia mengeluh sendiri ! Sebab perbuatannya itu hanya ia sendiri dan Liok Giok jie serta Duta Bunga Mawar yang mengetahui dengan jelas, sedangkan Pek-thao losat Pao Sam-kwo hanya mengetahui setelah hal itu terjadi.

Dan satu satunya orang yang bisa dijadikan saksi atas perbuatannya yang dilakukan tanpa sengaja itu orangnya sudah tiada, maka perbuatannya itu, oleh si gadis dan Pao Sam-kwo dianggapnya telah dilakukan terhadap orang yang lagi dalam keadaan bahaya, sehingga menodai diri dan kesucian gadis itu. Hal itu kalau dibuat alasan guna menuduh dirinya, bukankah ia sulit untuk membantah ? Dan tuduhan yang menodai nama gadis itu, sungguh susah untuk membersihkan dirinya !

Berpikir sampai di situ hati Hee Thian siang merasa sedih, dengan tiba-tiba telinganya menangkap suara seperti orang bicara kepadanya dengan samar : "Hee Thian siang, kau sudah dekat ajalmu !"

Ia lalu mengawasi keadaan sekitarnya, namun tidak tampak bayangan seorangpun juga. Ia mengira bahwa itu adalah akibat lamunannya sendiri, maka ia lalu menghela napas panjang dan berkata pada diri sendiri: "Mati lebih baik, mati segala galanya sudah habis!"

Baru saja menutup mulutnya, suara samar-samar seperti lamunan itu terdengar pula, kali ini kata katanya demikian : "Mati itu tidak baik, mati masih belum berarti bahwa semuanya sudah selesai !"

Dalam hati Hee Thian siang terkejut, ia pikir bahwa dua patah kata itu memang benar. Mati itu tidak baik. Dan sesudah mati belum berarti segala galanya sudah selesai, sebab jikalau ia sendiri tidak mati, mungkin masih bisa berusaha untuk menjernihkan segala kesalah pahaman, dan membersihkan nama baiknya sendiri. Jikalau tidak, bukan saja akan mati secara penasaran, sedangkan nama perguruannya juga akan ternoda oleh dirinya sendiri !

Pada saat itu dari ujung puncak gunung, tiba-tiba tampak seorang tua berjubah hijau berjalan pelahan lahan. Semula Hee Thian siang tidak tampak benar tapi setelah semakin dekat it baru mengenali kalau orang itu adalah Thian-gwa Ceng-mo tiang-sun Seng adanya, sudah tentu ia merasa terkejut dan girang. Maka buru-buru memberi hormat seraya berkata: "Murid Pak-bin Hee Thian siang, unjuk hormat kepada Locianpwe" Thian-gwa cengmo berdiri sejarak empat lima tombak, menggapai kepada Hee Thian siang seraya berkata: "Hee laote, mari kemari, aku hendak bicara baik baik denganmu !"

Hee Thian Siang berjalan di batas guratan Liok Giok Jie lantas berhenti, lalu memberi hormat dan berkata sambil tertawa: "Locianpwe, maafkan Hee Thian Siang terpaksa tak dapat memenuhi perintah Locianpwe, karena Liok Giok Jie telah berjanji denganku pada sebelum matahari terbit akan melakukan pertempuran di sini. Ia telah memberi tanda guratan di tanah ini sebagai penjaraku."

Thian-gwa Ceng-mo memandang guratan di tanah itu sejenak, kemudian berkata sambil tersenyum: "Kau ini benar- benar bisa mentaati janji, tempat yang hanya digurat dengan pedang ini kau sudah anggap sebagai dinding tembok yang kokoh kekar."

"Hee Thian Siang meskipun tak berani mengatakan harus patuh kepada janjinya sendiri, tetapi sebagai orang rimba persilatan, janji itu mutlak perlu sekali untuk dipatuhi."

"Orang yang bisa pegang janji, sudah tentu itulah yang paling baik. tetapi aku ada keperluan satu hal, hendak minta keterangan kepadamu."

"Locianpwe ingin minta keterangan apa, silahkan.

Bagaimana aku berani tidak berkata terus terang?"

"Laote, kau berada didalam penjara. Di empat penjurumu terkurung dengan dinding tembok tinggi, tapi bagaimana kau bisa melihat aku Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng?"

Pertanyaan itu hampir membuat Hee Thian Siang tak bisa menjawabnya. Setelah berpikir sejenak, barulah ia menjawab dengan muka merah: "Pikiran itulah yang harus berisi, pandangan itu sebetulnya kosong. Asal sebagian besar jangan melanggar, bagian kecil agaknya tak perlu terlalu kita perhatikan."

"Ucapan Hee laote ini memang merupakan satu ucapan yang keluar dari seorang jujur dan berjiwa ksatria. Harapanku, semoga kau akan selalu ingat dengan ucapanmu ini. Karena itulah merupakan suatu pedoman bagi kehidupan manusia!"

Setelah berkata demikian ia tiba-tiba tertawa terbahak- bahak, dan dengan tiba-tiba lengan bajunya terbentang, orangnya melesat tinggi enam tombak lebih, seolah-olah terbang, dan ditengah udara melakukan gerakan jalan yang sangat ringan, setelah itu melayang turun di samping Hee Thian Siang sejarak tiga kaki. Hee Thian Siang tidak mengerti mengapa Tiong-sun Seng bertindak demikian?

Maka ia terheran-heran dan memandangnya dengan mata bersinar. Tiong-sun Peng berkata sambil tertawa: "Kau jangan heran, aku bukannya hendak menunjukkan kepandaianku kepadamu, hanya oleh karena kau berada didalam penjara, jikalau aku ingin bicara secara bebas dan sepuas-puasnya, mau tak mau aku harus masuk ke dalam melalui dinding tembok ini!"

Hee Thian Siang sungguh tak menduga bahwa Tiong-sun Peng itu orangnya demikian menyenangkan dan pegang aturan, maka ia semakin menaruh hormat kepadanya.

Tiong-sun Seng memandang Hee Thian Siang, katanya dengan sungguh-sungguh: "Hee laote harap ulurkan tangan kirimu, aku hendak memeriksa guratan tangan dan peruntunganmu!"

Hee Thian Siang mengulurkan tangannya dengan perasaan tak mengerti, Tiong-sun Seng dengan tiga jari tangannya meletakkan ke tangan Hee Thian Siang, tiba-tiba matanya memancarkan sinar tajam, katanya sambil tertawa dingin: "Pantas tadi Pek-thao Losat Pao Sam Kow berani berkata bahwa raja akhirat Giam-lo-ong sudah menetapkan jam tiga harus mati, siapakah yang berani menahan sampai jam lima. Jikalau bukan lantaran aku harus mencari jejak May Ceng Ong, sehingga aku harus menjelajahi daerah barat selatan dan kebetulan lewat disini, kau benar-benar tidak bisa hidup hingga jam lima pagi, dan kau akan mati penasaran!"

Oleh karena Liok Giok Jie menggurat tanah sebagai penjara, dengan maksud supaya Hee Thian Siang menunggu ditempat itu, untuk melakukan pertempuran pada esok pagi, tapi kini Thian-gwa Ceng-mo telah memeriksa peruntungannya dan mengatakan bahwa dirinya tak bisa hidup sampai esok jam lima pagi, bukankah itu sangat membingungkan?

Tiong-sun Seng berkata lagi padanya sambil tersenyum: "Hee laote, tadi Pek-thao Losat Pao Sam Kow telah memberimu pil Kiu-han-tan, apakah bukan lebih dari satu butir?"

Hee Thian Siang berpikir dulu, kemudian baru menjawab: "Waktu itu meskipun aku baru sadar dan pikiranku belum jernih, tetapi samar rasanya aku masih ingat pernah diberi dua butir pil."

"Itulah, sebetulnya hawa panas dari racun api yang ada dikedua telapak tanganmu, sebutir Kiu-han-tan saja sudah cukup untuk memunahkan racunnya. Tetapi Pek-thao Losat telah memberikan kau lebih dari satu butir, maksudnya ialah supaya kau sebelum jam lima pagi, tulang-tulang sumsummu akan menjadi beku, sehingga kau akan mati kedinginan!"

Hee Thian Siang mendengar keterangan itu seolah-olah baru sadar dari mimpinya, ia merasa sangat gemas sekali kepada Pao Sam Kow, dan selagi hendak bicara, Tiong-sun Seng sudah berkata lagi: "Tetapi laote, kau jangan khawatir. Pek-thao Losat Pao Sam Kow meskipun sangat licik, culas dan kejam, tetapi bagaimanapun juga ia tidak bisa memerintahkan raja akhirat Gian-lo-ong untuk menurutin kehendaknya. Aku Tiong-sun Seng boleh menyumbangkan sedikit tenaga, bukan saja akan menghilangkan seluruh racun dingin dalam tubuhmu, bahkan lantaran ini kau nanti akan mendapat keuntungan. Untuk selanjutnya kau nanti akan mampu bertahan terhadap hawa dingin atau panas yang bagaimanapun jahatnya!"

Hee Thian Siang mendengar ucapan itu lantas mengucapkan terima kasih se-dalam-dalamnya. Tiong-sun Seng mengeluarkan sebutir obat pil warna merah diberikan kepada Hee Thian Siang seraya berkata: "Laote, kau boleh makan pil Peng-ling-tan ini, setelah itu aku nanti akan membantu dengan tenagaku, supaya kedua obat itu membawa khasiat dalam tubuhmu, untuk selanjutnya, selain tidak usah takut dengan hawa panas atau dingin, juga tahan serangan yang mengandung sifat keras atau lunak dari kekuatan tenaga dalam."

Hee Thian Siang menurut, ia menelan pil merah itu, tetapi setelah pil itu masuk kedalam tenggorokannya, hawa panas dirasakan seolah-olah membakar dirinya.

Meskipun kepala dan dadanya merasa panas, namun kedua kaki dan tangannya dengan tiba-tiba merasa dingin. Sesaat kemudian Hee Thian Siang sudah tak sanggup bertahan, dari mulut nya mengeluarkan suara rintihan, sekujur badannya juga menggigil.

Tiong-sun Seng yang menyaksikan keadaan demikian, mengitari Hee Thian Siang dengan lari secepet-cepatnya sambil mengibaskan lengan jubahnya. Selama berjalan mengitari dengan cepat itu, lengan bajunya berkibaran, dengan menggunakan ilmunya membuka jalan darah sambil lalu, ia sudah membuka seratus delapan lubang jalan darah disekitar tubuh Hee Thian Siang. Hee Thian Siang semula merasa tertekan oleh hawa panas dan dingin dalam tubuhnya, dengan susah payah menahan penderitaan, sebetulnya hampir tak sanggup bertahan lebih lama. Ia lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya untuk menenangkan perasaannya sendiri, untuk melupakan segala siksaan badan.

Setelah tiga puluh enam lubang jalan darah penting tertotok seluruhnya oleh Tiong-sun Seng, barulah merasakan ringan hawa panas dan dingin dalam tubuhnya, juga perlahan-lahan mulai lenyap, dan hembusan angin yang keluar dari kebutan baju Tiong-sun Seng, seolah-olah berubah menjadi lunak, ketika angin itu menghembus tubuhnya, ia merasa segar sekali. Hingga jam empat tengah hari, Tiong-sun Seng baru menghentikan usahanya, dan berkata kepada Hee Thian Siang yang saat itu masih dalam keadaan lupa pada dirinya sendiri:

"Hee laote, sekarang ini kau harus pura-pura mati!"

Kata-kata ini mengandung maksud sangat dalam, hingga Hee Thian Siang yang mendengar itu membuka matanya, dan perasaannya menjadi heran!

Thian-gwa Ceng-mo pasang telinga, kembali berkata kepada Hee Thian Siang: "Hee laote, aku dengar dari jauh ada orang datang. Mungkin itu adalah Liok Giok Jie dan Pao Sam Kow, ia datang hendak memenuhi janjinya. Laote, kau jangan pura-pura terkena akal kejinya Pao Sam Kow, kau boleh berlagak seperti orang keracunan, dan liat apa yang mereka hendak perbuat?"

Hee Thian Siang mendengar usul Tiong-sun Seng itu merasa tertarik hatinya, maka ia lalu meng-angguk-kan kepala untuk menerima baik usul tersebut.

Tiong-sun Seng menunjuk lamping gunung di belakang dirinya, dan berkata dengan suara pelan: "Aku akan bersembunyi di belakang tumbuhan rotan di lamping gunung itu untuk melindungi dirimu, maka kalau kau berlagak mati, harus berlagak yang mirip benar-benar!"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala, lalu berkata sambil tersenyum: "Aku sudah melatih ilmu panti hidup, mengerti caranya untuk menutup pernapasanku sendiri."

Baru berkata sampai di situ, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki orang, orang itu agaknya akan muncul dari tikungan ujung sebelah selatan.

Tiong-sun Seng memberi isyarat dengan lirikan mata kepada Hee Thian Siang, lantai bergerak bagaikan burung terbang, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun juga sudah bersembunyi dibalik pohon rotan.

Hee Thian Siang juga buru-buru menggunakan ilmunya, ia segera menutup jalan pernapasannya, dan rebah terlentang di tanah, pura-pura sudah mati.

Begitu orang yang datang itu unjukkan dirinya, benar saja adalah Giok Liok Jie yang sifatnya susah diduga, bersama Pek-thao Losat yang sangat kejam. Pada saat itu sudah jam lima pagi, ditempat daerah pegunungan yang sunyi senyap dan dingin itu, tampak mulai sedikit terang.

Liok Giok Jie ketika melihat Hee Thian Siang benar-benar menepati janjinya, dan orangnya rebah terlentang didalam penjara buatannya, maka ketika berada sejarak lima enam kaki di luar penjara, lantas berkata dengan suara nyaring:

"Hee Thian Siang, nyalimu benar-benar besar sekali. Kau sudah berani mengadu Hiang-kang dengan Pek-kut Sian-cu, sudah tentu kau mengalami kerugian. Mari, mari! sekarang sudah jam lima pagi, hari sudah akan terang tanah, kau boleh mengeluarkan kepandaianmu dari golongan Pak-bin, untuk melawan ilmuku!" Hee Thian Siang meskipun mendengar jelas kata-kata Liok Giok Jie, tetapi ia pura-pura tidak mendengar. Ia masih tetap rebah membujur bagaikan bangkai, tidak bergerak.

Liok Giok Jie melihat Hee Thian Siang tidak menghiraukan dirinya, sepasang alisnya berkerut, dengan suatu gerakan ia melesat empat tombak lebih, berada didalam garis yang ia buat sendiri. Tetapi begitu kakinya menginjak tanah sudah menyaksikan keadaan Hee Thian Siang agak lain. Ia lalu berpaling dan bertanya kepada Pao Sam Kow:

"Dia rebah membujur seperti ini, keadaannya seperti orang mati, apakah orang lelaki dalam tidur itu sikapnya memang demikian?"

Pao Sam Kow sendiri yang sudah melakukan kejahatan, sudah tentu dalam hatinya mengerti, dan ketika di tanya demikian, lantas berkata sambil tertawa menyeringai: "Tadi bukankah aku sudah berkata kepadamu, Giam-lo-ong sudah menentukan jam tiga harus mati, siapakah yang bisa menahan sampai jam lima pagi? bocah she Hee ini, sekujur badannya kaku, barangkali benar-benar sudah mati, bukan sedang tidur."

Liok Giok Jie tak tahu bahwa Pao Sam Kow telah menurunkan tangan keji kepada Hee Thian Siang. Maka ketika mendengar ucapan itu, sudah tentu ia tak mau percaya, buru-buru ia menghampiri Hee Thian Siang, dan diperiksanya dengan teliti, memang benar, Hee Thian Siang sudah tidak ada napasnya lagi, dan sekujur badannya sudah kaku. Saat itu entah bagaimana tiba-tiba hatinya merasa pilu, hingga dari sudut matanya mengalir dua tetes airmata.

Sementara itu dalam hari Hee Thian Siang diam-diam berpikir: Kau setan yang tak mempunyai perasaan ini, ternyata juga bisa merasa sedih dan bisa mengeluarkan airmata! Pek-thao Losat Pao Sam Kow yang menyaksikan keadaan Hee Thian Siang benar-benar sudah mati, maka dengan sangat bangganya mengeluarkan suara tertawa.

Liok Giok Jie lompat balik sambil mengucurkan airmata, ia bertanya dengan perasaan terkejut: "Bo-lo, mengapa kau tertawa demikian bangga?"

"Inilah hasil pekerjaanku yang patut kubanggakan!"

Sekujur badan Liok Giok Jie gemetar, dengan menatap Pao Sam Kow ia bertanya pula: "Apakah dia mati di tanganmu?"

"Racun api yang mengenai sepasang telapak tangannya, sebetulnya sudah cukup dengan sebutir pilku Kiu-han-tan, tetapi aku telah menggunakan kesempatan ini untuk memberikan dua pil kepadanya, supaya ia tak bisa hidup sampai jam lima pagi. Karena pil itu akan menjadikan beku tulang dan sumsum-sumsum dalam tubuhnya, hingga sekujur badannya akan menjadi kaku dan akhirnya mati." Menjawab Pao Sam Kow sambil tertawa bangga.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, diam-diam juga bergidik, sebab jikalau ia tidak secara kebetulan diketahui oleh Thian-gwa Ceng-mo, bukankah akan mati penasaran ditangan perempuan jahat itu?

Liok Giok Jie kini baru ingat bahwa Pao Sam Kow tadi pernah mengatakan bahwa kalo Giam-lo-ong sudah menetapkan jam tiga harus mati, siapakah yang berani menahan sampai jam lima pagi? Maka kini diam-diam merasa bergidik, tangannya lalu bergerak dan menempeleng pipi Pao Sam Kow, hingga tempelengan yang demikian keras itu telah menimbulkan suara nyaring. Pao Sam Kow meraba pipi kirinya, dengan perasaan terkejut dan terheran-heran ia mundur terhuyung-huyung hingga sampai lima langkah. Tamparan yang dilakukan Liok Giok Jie dalam keadaan sangat marah, sudah tentu menggunakan tenaga sepenuhnya. Kalau bukan karena Pao Sam Kow sudah melatih ilmunya yang kebal, barangkali ia juga sudah jatuh pingsan.

Hee Thian Siang yang mendengar semua kejadian itu, ia dapat merasakan bahwa apa yang dilakukan oleh Thian-gwa Ceng-mo benar-benar sangat menarik.

Pao Sam Kow yang mendapat pelajaran demikian, sudah tentu sangat marah sekali hingga rambut putihnya tampak berdiri, dan dengan sikap marah menatap Liok Giok Jie, tanyanya dengan suara bengis: "Liok ... Giok .... Giok Jie

.... apakah artinya ini??"

Liok Giok Jie semakin pilu, airmatanya mengalir deras, dengan suara terisak-isak ia balas bertanya kepada Pao Sam Kow: "Kau ... mengapa ... hendak .. membinasakan dia?"

Pao Sam Kow yang melihat sikap Liok Giok Jie itu agaknya sudah jatuh cinta kepada Hee Thian Siang, maka lantas bertanya dengan terheran-heran: "Bukankah dia telah melakukan perbuatan yang tidak pantas terhadap dirimu, ketika kau terkena serangan duri beracun dari Siang Biauw Yan? Aku membunuh dia, adalah untuk menuntut balas untukmu, apa salahnya?"

"Huh.. kau ini benerlah apa yang dikatakan memutar balik kenyataan, aku terkena serangan duri beracun Siang Biauw Yan, justru Hee Thian Siang yang menolong diriku, kemudian kita berdua sama-sama kesalahan, karena mencium bau harum yang keluar dari setangkai bunga berwarna merah, hingga kedua-duanya dalam keadaan tak sadar sudah melakukan perbuatan terlarang, bagaimana kau bisa mengatakan selagi orang dalam keadaan bahaya menodai kesucianku?" Hee Thian Siang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Liok Giok Jie itu, hatinya merasa lega, diam-diam merasa girang, bahwa perbuatan yang akan mencemarkan nama baiknya sudah tersapu bersih oleh orang yang bersangkutan sendiri! Baru saja timbul perasaan girangnya, sudah timbul rasa sedih lagi, dengan tiba-tiba ia teringat kepada diri Tiong- sun Seng yang bersembunyi di belakang pohon rotan, justru merupakan ayah dari kekasihnya yang paling dicintai. Karena perbuatannya yang tak pantas itu telah didengarnya, apabila hal itu disampaikan kepada Tiong-sun Hui Kheng, bukankah akan menimbulkan perasaan cemburu?

Sementara itu Pao Sam Kow yang mendengar Liok Giok Jie berkata demikian, lantas tahu bahwa perbuatannya sendiri yang diam-diam menurunkan tangan kejam, benar saja sesungguhnya memang terlalu gegabah. Maka dengan perasaan sangat menyesal ia bertanya pula: "Kalau kau benar tidak membenci Hee Thian Siang, mengapa kau tadi menggurat tanah sebagai batas penjara dan berjanji dengannya untuk bertempur pada hari ini?"

"Oleh karena aku merasakan bahwa ayah ibuku sendiri adatnya sama-sama sombong, tak mudah akur kembali. Aku sebagai anaknya, sudah tentu tidak enak membantu ibu untuk melawan ayah, juga tak enak membantu ayah melawan ibu. Maka setelah kupikir bolak balik, dalam hidupku ini merasa tidak ada gunanya, barulah kupikir hendak menggunakan kesempatan dalam pertempuran ini, supaya aku bisa mengakhiri hidupku ditangan Hee Thian Siang yang pernah kucintai, juga berarti bebas dari segala penderitaan batinku!"

Pek-thao Losat Pao Sam Kow menghela napas panjang dan berkata: "Bagaimana aku tahu dari nona Liok yang ternyata demikian risau? Tindakanku itu memang terlalu gegabah, tetapi sekarang sudah terlanjur, Hee Thian Siang sudah kaku, sudah tentu tak ada jalan lain untuk menghidupkan lagi ..." Liok Giok Jie menyeka airmatanya, sepasang alisnya tampak berdiri, dan wajahnya tampak sangat dingin, ia memotong perkataan Pao Sam Kow, dengan nada suara yang dingin pula: "Enak saja kau bicara, bahwa urusan sudah terlanjur, tak bisa ditolong lagi. Bo-bo, kau sebagai tokoh terkuat dalam Kie-lian-pay, seharusnya kau tahu bahwa membunuh orang harus mengganti jiwa, hutang uang harus mengganti uang ....

Pao Sam Kow yang mendengar ucapan itu bukan kepalang terkejutnya, pertanyaan yang keluar dari mulut Liok Giok Jie, sesungguhnya di luar dugaannya. Maka ia lalu bertanya:

"Apakah artinya ucapan itu? Apakah kau ingin aku mengganti jiwa Hee Thian Siang si setan kecil ini?"

Liok Giok Jie dengan mata memancarkan sinar buas, berkata sambil menganggukkan kepala: "ucapan itu benar, aku menghendaki selembar jiwamu, ditambah dengan jiwaku, untuk mengganti jiwanya!"

Sehabis berkata demikian, sepasang tangannya lalu bergerak, tujuh butir duri beracun Thian-keng-cek sudah melayang kediri Pek-thao Losat Pao Sam Kow.

Pao Sam Kow menggunakan dua lengan jubahnya, di depan dirinya diliputi jaring hawa tenaganya yang tak berwujud, tujuh butir serangan duri berbisa itu semua nya terpental jatuh, katanya dengan suara nyaring: "Nona Liok, kau sekarang dalam keadaan marah, sudah tentu tak kenal aturan. Aku si nenek tua untuk sementara minta diri darimu, tunggu nanti digoa Siang-swat-tong aku akan meminta ampun terhadapmu!" Sehabis berkata demikian kakinya lalu bergerak, hendak berlalu, tetapi Liok Giok Jie lantai berkata dengan suara marah: "Pao Sam Kow kalo kau meninggalkan nyawamu, kau jangan pikir hendak kabur!" Dengan suatu gerakan ia lompat melesat sejauh enam tombak, sudah berhasil mengejar Pao Sam Kow. Tetapa Pao Sam Kow yang memiliki kekuatan tenaga dalam yang lebih hebat daripada Kie Tay Cao, ia terhitung seorang terkuat dalam Kie-lian-pay dengan gerakan kakinya itu sudah tentu ia tak berhasil menyambarnya.

Pada saat itu Hee Thian Siang oleh karena rebah terlalu lama, ada sedikit kepayahan, maka dengan suara perlahan ia berkata kepada Tiong-sun Seng: "Tiong-sun Seng locianpwe "

Ucapan itu baru keluar dari mulutnya, Liok Giok Jie yang tak berhasil mengejar Pao Sam Kow, sudah balik kembali dengan perasaan jengkel.

Hee Thian Siang terpaksa buru-buru menutup mulutnya, dan berlagak mati lagi.

Ketika Liok Giok Jie berjalan disamping Hee Thian Siang, berkata dengan suara sedih: "Engko Siang, Liok Giok Jie tidak sengaja melakukan kesalahan, maka aku tidak ada jalan lain untuk menebus dosa, terpaksa dialam surga aku nanti akan tuangkan cintaku lagi kepadamu, dan berjanji kita akan hidup rukun dilain penitisan!"

Sambil bicara airmatanya mengalir bercucuran, lalu menghunus senjatanya Kun-lun-cek sendiri, lantas ditusukkan kepada tenggorokannya.

Hee Thian Siang karena sudah tahu bahwa Liok Giok Jie kecintaannya masih tidak berubah, mendengar perkataan seperti mau menghabisi jiwanya sendiri, makanya hatinya merasa cemas, begitu membuka sepasang matanya, hampir saja ia melompat bangun.

Liok Giok Jie waktu itu sudah bertekad hendak menghabisi jiwanya sendiri, selagi pejamkan sepasang matanya, dan dengan senjatanya hendak menikam dirinya sendiri, sudah tentu ia tidak memperhatikan Hee Thian Siang yang pura-pura mati di tanah, sudah mengawasi perbuatannya sendiri dengan kedua mata terbuka lebar.

Ketika senjata Kun-lun-cek hampir menancap di tenggorokannya sendiri, tiba-tiba dirasakan sambaran angin disamping dirinya, siku tangannya merasa kesemutan, dan senjatanya sudah dirampas oleh tangan orang.

Dengan perasaan terkejut Liok Giok Jie membuka matanya, dihadapannya tampak berdiri seorang tua berjubah hijau, dengan sikapnya yang agung.

Hee Thian Siang melihat Thian-gwa Ceng-mo sudah turun tangan, makan kembali memejamkan matanya, sedangkan keringat dingin sudah membasahi badannya. Liok Giok Jie merasa pernah melihat orang tua berjubah hijau itu, ia berpikir agak lama, kemudian baru teringat, maka lalu bertanya: "locianpwe bukankah Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun cianpwe?"

Tiong-sun Seng karena bersahabat baik dengan ayah Liok Giok Jie, ialah Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong, Maka ketika ditanya demikian, lantas ia menjawab sambil menganggukkan kepala dan tertawa: "Hian-titlie sungguh tajam pandangan matamu, pertemuan sepintas lalu di depan goa Siang-swat-tong, ternyata masih kau ingat dengan baik."

Liok Giok Jie melihat senjatanya berada ditangan Tiong- sun Seng, hatinya merasa pilu, dan kembali mengeluarkan airmata "Hian-titlie, mengapa kau begitu sedih? Aku adalah seorang yang memiliki julukan Thian-gwa Ceng-mo, jikalau lantaran soal asmara, aku memiliki jimat yang tinggi khasiatnya, rasanya dapat memberikan bantuan untuk meringankan penderitaan!" Berkata Tiong-sun Seng sambil tertawa. Oleh karena Liok Giok Jie mengira Hee Thian Siang sudah lama mati, sudah tentu segala harapannya ikut ludes. Mendengar ucapan itu, sedikitpun tidak merasa tertarik, tanyanya: "Tiong-sun cianpwe, berapakah besar khasiat jimat locianpwe itu?"

Tiong-sun Seng sengaja membesar-besarkan pengaruhnya, katanya sambil tersenyum: "Walaupun terpisah ribuan pal dengan orangnya, tetapi jikalau selalu kau ingat seperti berada di hadapan matamu. Andai anggauta famili dialam baka, meskipun mati seolah-olah bisa hidup lagi."

Mendengar ucapan terakhir itu Liok Giok Jie terbangun semangatnya; dengan tangan menunjuk Hee Thian Siang yang rebah di tanah, ia bertanya: "Tiong-sun locianpwe, jikalau locianpwe benar-benar memiliki kepandaian yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati, harap cianpwe tolong dia, Liok Giok Jie seumur hidup akan merasa bertanggung budi terhadap locianpwe!"

Tiong-sun Seng dengan tiba-tiba mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak. Dengan penuh rasa curiga, Liok Giok Jie bertanya: "Tiong-sun cianpwe, mengapa tertawa?"

"Hian-titlie, apakah kau sudah pernah liat orang mati bisa mengeluarkan keringat?" Berkata Tiong-sub Seng sambil menunjuk keringat di jidat Hee Thian Siang.

Liok Giok Jie seolah-olah baru sadar, sebagai seorang yang sedang bingung karena menyaksikan Hee Thia Siang, ia tidak mendapat kesempatan untuk berpikir sampe disitu, setelah ditunjuk oleh Tiong-sun Seng, matanya segera ditunjukkan kepada keringat yang membasahi Hee Thian Siang. Maka lalu bertanya: "Apakah ... dia terhindar dari tangan kejam Pao Sam Kow, tidak mati benar-benar?"

Tiong-sun Seng sengaja memberi sedikit penambahan dari kenyataan yang sebenarnya, katanya sambil tersenyum: "Hee Thian Siang terkena akal keji Pek-thao Losat Pao Sam Kow, ia sudah keracunan dari obat yang diberikan olehnya, selagi sekujur badannya kedinginan dan jiwanya terancam bahaya maut, secara kebetulan aku lewat ditempat ini dan melihat keadaannya, dengan kepandaian yang kumiliki, sedapat mungkin aku berusaha memunahkan racun dingin didalam tubuhnya, barangkali tak lama lagi ia akan sembuh dari luka- lukanya!"

Oleh karena Hee Thian Siang telah mendapat kenyataan bahwa Liok Giok jie demikian gelisah sehingga hampir membunuh dirinya sendiri suatu bukti betapa besar cintanya kepada dirinya; maka ia pikir tak perlu ber-pura-pura lagi. Selagi hendak bangkit untuk menghibur gadis itu, tetapi setelah mendengar ucapan demikian dari Tiong-sun Seng, maka terpaksa menutup pernafasannya lagi, dengan tenang menantikan perintah Tiong-sun Seng selanjutnya. Sebab apabila ia bertindak gegabah, dikhawatirkan akan menggagalkan rencana Tiong-sun Seng.

Liok Giok Jie ketika mendengar keterangan Tiong-sun Seng, bahwa Hee Thian Siang belum mati, kedukaannya lenyap seketika, tetapi kemudian disusul oleh perasaan malunya kepada dirinya sendiri, maka sesaat kemudian ia lantas bergerak dan lompat melesat sejauh empat tobak: Thian-gwa Ceng-mo lalu berkata padanya sambil tertawa: "Nona Liok, mengapa hendak pergi tergesa-gesa? Mengapa tidak menunggu Hee Thian Siang sadar kembali, baru pergi?"

Liok Giok Jie tidak menghentikan kakinya, dengan beruntun tiga kali bergerak sudah berada ditempat sejauh dua puluh tombak. Kemudian dengan kekuatan tenaga dalamnya, menjawab pertanyaan Tiong-sun Seng: "Terima kasih atas usaha locianpwe yang sudah menolong jiwa Hee Thian Siang dari ancaman bahaya maut, tetapi Liok Giok Jie sudah tidak ingin bertemu muka lagi dengannya, ditambah lagi dengan pertentangan antara ayah dan ibu, hal itu membuat Liok Giok Jie berada dalam kesulitan dan penderitaan batin yang hebat. Untuk selanjutnya, Liok Giok Jie hendak menghabiskan sisa hidupnya sebagai murid Buddha yang setia, Liok Giok Jie hendak mencari suatu tempat yang sunyi dan tenang, untuk melewatkan sisa hidupnya!"

Sehabis berkata demikian, kembali bergerak dan sebentar sudah menghilang dari pandangan mata Tiong-sun Seng.

Tiong-sun Seng memandang ke arah berlalunya Liok Giok Jie, dan berkata sendiri dengan hati pilu: "Dalam dunia memang banyak hal-hal yang tak menyenangkan, hati anak perempuan memang sudah di jajaki."

Sementara itu Hee Thian Siang yang masih rebah di tanah sudah tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Dengan menggunakan ilmunya menyampaikan suara ke dalam telinga, ia bertanya kepada Tiong-sun Seng: "Locianpwe, aku sudah terlalu lama mati, apakah sekarang sudah boleh hidup lagi?"

"Liok Giok Jie sudah menghilang dan tak diketahui kemana jejaknya. Sudah tentu kamu boleh bangun, tetapi pembicaraan yang dilakukan tadi, kau tentunya sudah dapat mengerti bahwa kemenakan perempuanku yang dirinya patut dikasihani dan luar biasa aneh asal usulnya itu, besar sekali cinta kasihnya terhadap dirimu!"

Hee Thian Siang menarik napas lega. Ia melompat bangun, dan dengan wajah kemerah-merahan bertanya kepada Tiong- sun Seng: "Locianpwe, ucapan Liok Giok Jie sebelum berlalu dari sini agaknya bersedih hati lantaran diriku. Ia pikir, mungkin hendak menyucikan diri."

"Meskipun ia pernah menyatakan bahwa kepergiannya kali ini hendak mencari tempat yang tenang, untuk menyucikan diri, tetapi itu kan lantaran kau!" Berkata Tiong-sun Seng sambil menggelengkan kepala.

"Lantaran siapa?" Bertanya Hee Thian Siang. Tiong-sun Seng menatap wajahnya sejenak, jawabnya lambat-lambat: "Lantaran ibunya sendiri Siang-swat Sian-jin Leng Biauw Biauw dengan ayahnya Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong!"

Hee Thian Siang ingat bahwa Liok Giok Jie dulu memang pernah mengutarakan penderitaan batinnya lantaran pertentangan antara ayah dan ibunya.

Tiong-sun Seng berkata pula: "Hingga saat ini ayah dan ibunya masih merupakan musuh yang hampir saja tidak mau mengalah satu dengan yang lain, Liok Giok Jie sebagai anaknya, dengan sendirinya tak bisa bertindak membantu di pihak ibunya untuk membunuh ayahnya, juga tak bisa berpihak kepada ayahnya untuk membunuh ibunya, ia juga tidak mampu membujuk kedua orang tuanya, dengan sendirinya hanya meninggalkan mereka berdua yang dianggapnya sebagai satu-satu-nya jalan yang se-baik- baiknya."

Hee Thian Siang menggelengkan kepala dan menghela napas, sementara mulutnya menggumam sendiri: "Dunia ini luas, banyak terdapat gunung-gunung yang sunyi dan tenang, kemana harus pergi? "

Tiong-sun Seng lantas berkata sambil tertawa: "Laote, kau tak perlu menguatirkan hal itu, di kemudian hari aku akan memerintahkan kepala Hwiji, beserta siaopek dan Taywong serta kuda Cong-hong-kie-nya untuk bersama-sama kau mencarinya. Sekalipun dunia ini luas, tidak mungkin kalau tidak menemukan!"

Beberapa patah kata itu memberi dorongan kepada Hee Thian Siang, hingga saat itu semangatnya terbangun lagi.

Tiong-sun Seng melihat itu semua, dalam hati diam-diam membenarkan bahwa pengaruh asmara itu sesungguhnya jahat sekali, lantaran soal asmara sudah berapa banyak gadis- gadis terlibat dan tidak dapat menguasai dirinya sendiri!.

Hee Thian Siang tiba-tiba bertanya: "Locianpwe, dengan cara bagaimana locianpwe secara tiba-tiba berada di daerah ini?"

"Aku bermaksud mencari ayah Liok Giok Jie, ialah May Ceng Ong, Jikalau aku nanti bisa menemukannya, aku pasti akan mendamprat orang tua yang tidak tahu malu itu. Juga akan kuberitahukan kepadanya, karena perbuatannya yang durhaka itu, sehingga menyusahkan diri anak perempuannya sendiri."

"Tentang May locianpwe itu bukan saja jejaknya tidak di daerah ini lagi, bahkan ia sudah tahu bahwa Siang-swat Sian- jin Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo-lie Teng Siang Siang sedang mencari dirinya untuk membuat perhitungan urusan yang lama."

"Kalau begitu, dimana sekarang May Ceng Ong berada?

Apakah kau sudah pernah bertemu dengannya?"

Hee Thian Siang lalu menceritakan pertemuannya di sebuah rumah minum di daerah gunung Tay-pa-san, tetapi ia tak menceritakan pertemuan dan perbuatannya dengan Liok Giok Jue didalam goa.

Tiong-sun Seng seorang yang sangat cerdik, walaupun Hee Thian Siang tidak mau menceritakan, ketika mendengar ucapan itu ia sudah tahu bahwa Hee Thian Siang ada menyembunyikan rahasia apa-apa, tetapi ia juga tak perlu mengorek keterangan lebih jauh, katanya sambil tersenyum: "Aku semua masih mengira bahwa May Ceng Ong masih berada di daerah propinsi ini. Aku tidak menyangka kalau ia sudah pergi sejauh itu, jadi sia-sia saja perjalananku ini!" "Locianpwe, bolehkah aku numpang tanya? Dimanakah sekarang Enci Tiong-sun berada?"

"Aku tadi baru saja membicarakan kekuatanku kepada Liok Giok Jie, apakah kamu masih ingat?"

"Apakah mengenai kata-kata yang locianpwe ucapkan ...?" "Tadi Liok Giok Jie minta aku menggunakan kepandaianku

untuk menghidupkan orang yang sudah mati. Kau sekarang

barangkali sudah menjadi orang kenang-kenangan baginya!" Berkata Tiong-sun Seng sambil menganggukkan kepala.

Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, ia berkata dengan terus terang: "Dengan terus terang, aku sebetulnya memikirkan Enci Tiong-sun."

"Iya, barangkali ia sekarang masih ada di sekitar gunung Ko-Ie-kong-san, untuk mencari jejak May Ceng On!" Berkata Tiong-sun Seng sambil tertawa.

Mendengar bahwa Tiong-sun Hui Kheng berada di daerah Ko-Ie-kong-san, Hee Thian Siang lalu berkata sambil tertawa:

-- halaman berikut ceritanya tidak nyambung ---

"Kalau kau Kwan Cu Gang sama saja gendeng yang bermata keranjang dan gemar nona-nona yang berparas cantik!"

"Kau jangan sembarangan menyangka orang baik." kata Kwan Cu Gang yang juga menjadi gusar dengan tuduhan orang perempuan yang membuta tuli itu. "Aku bukan datang kemari karena tertarik oleh kecantikannya nona. Karena walaupun ia bagaimana cantiknya ia toh tidak mempunyai sangkut paut denganku. Demikian juga kalo ia jelek, juga tidak mempunyai sangkut paut denganku." Sambil berkata demikian, ia segera menunggang kudanya yang segera dilarikan menuju keluar ??? yang tidak terawat itu.

"Balik kembali!" Tiba-tiba ia mendengar suara perempuan itu yang memanggilnya.

Tapi Kwan Cu Gang bukan saja tidak mendengari, bahkan menolehkan kepalanya pun tidak.

"???? kemari - Kamu boleh memandangku di belakang .....

???

Kwan Cu Gang tetap tidak menghiraukannya, bahkan membedal kudanya terlebih cepat lagi.

Hampir dalam saat itu juga, Cu Gang mendengar desiran angin yang dibarengin dengan berkelebatnya sesosok bayangan yang melayang dari ??? dan jatuh ke tanah tepat di hadapan kudanya yang sedang lari dengan pesatnya itu! Dan kuda Pek-liong-sin-ku yang tiba-tiba dikejutkan oleh orang yang menghadangnya, sudah barang tentu segera berhenti dengan kedua kaki depan terangkat bagaikan kuda dalam pertunjukkan komedi yang sedang berakrobatik kemudian ia berhenti ditengah jalan menghadapi seorang gadis jelita berbaju ungu menolak pinggang dan berdiri tegak ditengah jalan.

Apakah dia perempuan muda berbaju ungu yang barusan juga?

Ya. Namun wajahnya yang semula buruk dan agak menyeramkan hati itu, kini telah berobah sesuai dengan bentuk tubuhnya dan kulitnya yang putih bersih. Bentuk wajahnya yang lonjong dan beruntusan, kini telah berobah menjadi bersih dan licin. Alisnya melengkung bagaikan rembulan muda, sedang matanya yang bersinar terang ditimpahi oleh hidung yang mancung dan bagus. Dikala ia menyunggingkan senyuman dibibirnya yang merah delima, dua baris gigi yang putih tampak jelas bagaikan dua baris mutiara terpilih yang teratur rapi diatas tilam empuk yang berwarna dadu.

Cu Gang berdiri terpaku dengan sorot mata yang tidak berkesip. Karena kini ia baru sadar bahwa penglihatannya tadi hanya ditutupi oleh sebuah topeng belaka. Maka setelah topengnya ditanggalkan, kini ia berhadapan dengan Kie Siauw Tiap yang tulen atau gadis yang manis yang cocok dengan pembilangan Ie-han-lim Ie-??-Yang itu!

Tetapi si pemuda ber-pura-pura tidak memperhatikannya dan hendak membelokkan kudanya ke lain jurusan.

"Kini kau berhadapan dengan Kie-Siauw Tiap yang tulen." Kata gadis manis itu sambil tersenyum menggairahkan. "Maka tidak berhalangan kau mengutarakan maksud kedatanganmu ini."

Kwan Cu Gang segera menahan tali kekang kudanya, mengerlingkan matanya dengan sikap dingin dan bertanya: "Benarkah kau ini nona yang se-sungguh-sungguhnya?"

Kie Siauw Tiap mengangguk dengan wajah dingin

Kwan Cu Gang menunjukkan matanya sambil berkata dengan suara dingin: "Seratus kali mendengar tak sama dengan sekali melihat! Tetapi sama sekali bahwa pandangan Ie-bun locianpwe itu terlampau berlebih-lebihan!"

Kie Siauw Tiap merasa tersinggung dengan perkataan si pemuda itu, hingga wajahnya agak berubah dan kedua belah pipinya berwarna merah. "apa katamu?" ia menegaskan.

Kwan Cu Gang tersenyum simpul. "Ie-bun locianpwe terlampau memandang tinggi pada ???." katanya. "Ia menyuruh aku berikhtiar agar kau tak mau menerima pengoperan dari gurumu untuk menjadi pangcu dari golongan Kay Pang. Tetapi karena aku sendiri tidak memperoleh jalan yang lain, maka dengan ini aku hendak menasehati padamu. Aku melihat bagi seorang sebagaimu ini, memang tak ada jalan yang tepat daripada menjadi pengemis!"

Mendengar kata-kata Kwan Cu Gang itu, wajah Kie Siauw Tiap berobah menjadi merah padam dan amat gusarnya. Ia mengerutkan alisnya dan menggigit bibirnya, kemudian ia berseru: "Apakah kau kira aku hendak menolak kedudukan pangcu dari golongan Kaypang itu?"

Kwan Cu Gang tertawa terbahak-bahak.

"Ternyata bertentangan dengan dugaanku semula." katanya. "Tetapi apabila pada suatu hari kau betul-betul menolak kedudukan itu, aku pasti akan mentertawakan dirimu!"

"Baik," kata gadis manis itu, mendongkol. "Apabila pada hari lusa aku dilantik menjadi pangcu, kau boleh datang menyaksikan, kalau saja aku sudi!"

Kwan Cu Gang menyoja sambil tertawa" "Sangat menyesal" katanya, "selama dua hari ini mungkin juga tak ada waktu yang luang. Perbuatan benar menjadi salah dalam hal penggantian pangcu dari golongan Kaypang ini, pasti akan diketahui oleh orang sedunia. Sekarang aku mohon nona Kie sudi minggir untuk memberikan kesempatan aku berlalu."

Kie Siauw Tiap mengeluarkan suara jengekan dari lobang hidup: "Hm!" katanya. Kemudian ia melangkahkan kakinya ke samping untuk mengasih lewat si pemuda yang berkuda itu.

Cu Gang segera membedal kudanya meninggalkan halaman taman Leng-wan untuk menuju kota Thiang-an. Ia tampak keluar dari situ dalam keadaan bebas, pada hal hatinya diam-diam tertawan oleh gadis manis yang tertinggal di belakangnya. Sedang didalam hati ia bertanya-tanya, apakah sebab musabab seorang gadis secantik dan secerdik Kie Siauw Tiap itu rela menjadi pengemis?

Kian lama ia berpikir, kian bertambah pula rasa pening kepalanya, hingga akhirnya ia menemui jalan buntu dan terpaksa melemparkan pikiran-pikiran yang memberatkan hatinya disaat itu juga.

Dan tatkala ia hampir memasuki daerah luar kota Tiang-an, haripun telah menjelang senja pula.

Ditengah jalan ia menjumpai seorang pengemis wanita yang usianya telah lanjut dab seorang laki-laki setengah tua yang mengenakan pakaian seperti seorang sekolahan.

Rambut pengemis wanita itu telah berobah putih seluruhnya. Wajah bengis dan sinar matanya menyala-nyala. Ia mengenakan pakaian yang bersih, walaupun pakaian itu penuh tambalan, sedang didalam tangannya ia mencekal sebatang tongkat bambu yang berbuku sembilan. Disamping kiri sinenek pengemis itu tampak seorang laki-laki setengah tua yang oleh Ie-han-lim Ie bun Yang diperkenalkannya sebagai Im-yang Siu-cai. Maka sebegitu lekas ia menampak kehadiran Kwan Cu Gang didaerah belakang mereka, dengan lantas ia membisiki sesuatu ditelinga sinenek pengemis itu, hingga sinenek pengemis mendadak membelalakkan matanya sambil mengeluarkan suara jengekan dari lobang hidung

:"Hm!" katanya.

Sementara Kwan Cu Gang yang terlebih siang sudah menyaksikan juga Im-yang Siu-cai kasak kusuk dengan sinenek itu, diam-diam segera menduga didalam hatinya, bahwa dia telah membocorkan siasat yang telah dilakukannya itu atas suruhan Ie-han-lim Ie-bun Yang. Maka biarpun didalam hatinya timbul perasaan cemas, tetapi ia berjalan terus dengan ber-pura-pura tenang dan tidak menghiraukan mereka berdua.

Sinenek itu, yang memang bukan lain daripada pangcu dari golongan Kay-pang Kway-po-po Lay In Nio segera menghadang dijalan sambil menggerak-gerakkan tongkatnya dan berseru dengan suara bengis: "Kwan Cu Gang, apakah maksudmu datang kekota Tiang-an?"

Kwan Cu Gang lekas turun dari kuda dan menyoja serta bertanya: "Lay pang-cu, apakah pang-cu baik-baik saja? Kepergianku kekota Tiang-an pada kali ini adalah membawa dua rupa tugas. Yang pertama untuk menyelidiki penyakit keliuran dalam keadaan tertidur yang diderita oleh orang- orang perempuan disana, sedang yang keduanya aku menerima pesan Ie-bun locianpwe untuk menasehati muridmu supaya menolak pengoperan kedudukan pangcu dari golongan Kay-pang yang hendak diwariskan padanya oleh Lay pang-cu sendiri."

Kway po po yang mendengar percakapan Kwan Cu Gang yang jujur dan tanpa tedeng aling-aling itu, keruan saja menjadi terbengong bagaikan orang yang kesima. Maka untuk melampiaskan amarahnya yang tdk diketahui kemana harus ditimpakannya, lalu digerakkan tongkatnya dan terus dihantamkan pada punggung Im-yang Siu-cay sambil berseru: "Enyahlah! ... cucilah pakaianmu sehingga bersih betul! Apabila dilain kali aku melihat kau mengenakan pakaian yang kotor serupa ini pula, lo-sin akan kemplang kakiku hingga parah!" 

Sipengemis setengah tua itu bagaikan orang yang memperoleh pengampunan, lekas-lekas berlutut ditanah dengan kepala diangguk-anggukkan bagaikan ayam yang mematuk gabah. Setelah itu, ia berbangkit dan menyingkir kesamping bagaikan tikus yang ketakutan kucing. "Anak," kata Kway po po dengan senyuman dingin, "ternyata kau bernyali sangat besar, berani melakukan perbuatan senekad ini, walaupun semua itu adalah atas anjuran si setan tua bangka itu! Apakah kau telah menjumpai muridku itu?"

"Sudah," Kwan Cu Gang menganggukkan kepalanya.

Wajah sinenek pengemis itu tampak berobah, "Apakah yang telah kamu percakapkan dengannya?"

"Aku telah menganjurkan supaya ia terima pengoperan kedudukan pangcu dari Lay Pangcu itu," kata Kwan Cu Gang.

Kway po po terbengong sejenak, lalu membelalakkan matanya, "Bohong!" bentaknya. "Mengapakah kau berbalik telah menganjurkannya untuk menerima pengoperan kedudukan dariku?"

Kwan Cu Gang tersenyum dengan waja yang tenang," Karena menurut pendapatku muridmu itu tidak memiliki sesuatu yang luar biasa. Tapi ia mungkin juga dapat menjadi pengemis kelas satu!"

"Kamu menghinakan pada muridku?" berseru Kway po po dengan rupa yang sangat gusar.

Kwan Cu Gang lekas-lekas membungkukkan badannya memberi hormat," Bukan menghinakannya," kata nya, "tetapi aku mengatakan itu dengan menilik pada kenyataan yang ada."

Kway po po menggerakkan tongkatnya seolah-olah hendak memukul Kwan Cu Gang, tetapi Cu Gang yang ternyata tidak mudah digertak, bukan saja tidak takut, bahkan iapun pantang mundur, oleh sebab itu, pukulan tongkat itu telah me layang kesamping dan menimpa bahu Im-yang Siu-cay yang berdiri didekatnya, hingga si siucay jorok itu menyengir menahan rasa sakit nya sambil tersenyum jengah.

"Im-yang Siu-cay!" berseru sinenek itu pula, "Segeralah kau mewakilkan padaku untuk menghajar anak ini!"

Tetapi Im-yang Siu-cay segera berlompat mundur sambil tersenyum dan minta maaf: "Harap pangcu jangan menjadi gusar. Aku dan Kwan Siauw-hiap tidak bermusuhan, maka tak mungkin aku melawan bertempur padanya ... Kini .. aku ada sedikit urusan didalam kota Harap pangcu sudi memaafkan

... aku mohon diri "

Sambil bercakap-cakap, lekas-lekas ia mengundurkan diri dan terus berlalu dengan laku tersipu-sipu.

Kwan Cu Gang yang melihat Im-yang Siu-cay, menuju kekota Tiang-an, didalam hatinya ia menjadi gugup dan segera menyerukannya:

"Im-yang Siu-cay, kau jangan membocorkan rahasia kedatanganku kekota Tiang-an pada kali ini. Apabila kau berani membocorkannya, kelak aku membuat perhitungan kepadamu!"

Kway po po tertawa terkekeh-kekeh. "Apabila kau tak mau ia bercakap-cakap," katanya, "kau harus potong dahulu lidahnya, barulah kau berhasil membuatnya menutup mulut!"

"Im-yang Siu-cay tampaknya kerap juga berkunjung pada pangcu disini," kata Kwan Cu Gang, "tetapi mengapakah pangcu tak pernah mendengar atau menanyakan hal ini kepadanya?"

Dalam rimba itu tak ada apa-apanya yang menarik perhatian. Apa yang dilihatnya hanya tumpukkan daun-daun kering dan kayu-kayu yang sudah rusak. Tentang binatang buas dan ular berbisa, tidak banyak terdapat. Dan apa yang didengarnya hanya suara monyet-monyet dan menggaungnya harimau, serta burung-burung yang banyak terdapat disitu.

Tetapi ketika ia berjalan lagi beberapa tombak jauhnya, apa yang disaksikannya membuat ia terkejut. Daun-daun dan ranting-ranting yang terdapat dalam rimba itu tampak tulang tengkorak yang masih utuh. Semula ia kira bahwa tulang- tulang itu adalah tulang-tulangnya orang yang datang ke dalam rimba dan terbinasa oleh binatang buas atau ular berbisa.

Tetapi ia berpikir lagi, ia tahu bahwa dugaannya itu keliru seluruhnya. Sebab apabila digigit ular berbisa atau binatang buas, tulang-tulang yang berupa tengkorak itu tak mungkin bisa dalam keadaan rebah demikian rapi. dari apa yang disaksikan itu bisa ditarik kesimpulan bahwa didalam rimba itu pasti ada hal-hal yang sangat mujizat. Hee Thiang Siang yang memang pemberani, ditambah lagi dengan beberapa penemuan-penemuan yang ajaib hingga kekuatan tenaganya banyak bertambah, sudah tentu lebih berani lagi mengadakan penyelidikan. Setelah ia menduga didalam rimba itu ada apa- apanya yang mujizat, bukan saja tak merasa takut, bahkan sebaliknya menarik perhatiannya yang ingin tahu. Maka ia melanjutkan perjalanannya lebih jauh untuk mengadakan penyelidikan.

Di depan matanya terbentang pohon tua yang sangat besar sekali, akan tetapi ranting-ranting dan daunnya sudah jarang, agaknya sudah lama mati hanya tinggal batangnya yang tinggi besar yang masih belum rubuh.

Ketika ia berjalan ke bawah pohon itu dengan tiba-tiba kepalanya merasa pening, perutnya merasa mual, agaknya hendak muntah. Ia yang mulai banyak pengalaman, meskipun nyalinya besar, tetapi masih berlaku sangat hati-hati terhadap keadaan dalam rimba itu. Maka ketika kepalanya merasa pening, buru-buru menelan obat pil buatan Say Han Kong, yang khasiatnya untuk menolak hawa racun didalam rimba.

Benar saja ketika pil itu berada dalam mulutnya, badannya merasa segar kembali, hingga ia dapat kepastian bahwa didalam rimba itu ada hawa racun yang sangat berbisa.

Tak di-sangka-sangka baru saja ia melalui pohon besar itu, lantas merandek dan dikejutkan oleh pemandangan di depan matanya.

Kiranya ia tiba di suatu tempat yang dihadapannya sudah jarang terdapat pohon, di situ terdapat sebidang tanah, yang luas setombak persegi yang ditumbuhi rumput yang lebat.

Didalam rumput lebat itu, ada seekor harimau yang sangat besar sekali, namun sekujur badannya berbulu hitam.

Harimau hitam itu berada ditempat sejarak kira-kira tiga tombak dengan pohon raksasa itu, sepasang matanya mengawasi Hee Thian Siang, mata itu memancarkan sinar tajam dan menakutkan, hingga bagi orang yang dipandangnya bisa menimbulkan perasaan jeri. Hee Thian Siang yang memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat tinggi dan keberaniannya melebihi manusia biasa, terhadap harimau yang besar sekali itu hanya merasa terkejut dan terheran- heran, tapi tidak merasa takut. Ia juga dapat membedakan bahwa sinar menakutkan yang memancar dari mata harimau hitam itu, agaknya mengandung cahaya yang luar biasa.

dengan tiba-tiba ia dapat kenyataan bahwa mata harimau itu ternyata ditujukan ke atas pohon besar yang sudah kering itu, ia segera sadar dan mulai dapat menduga apa sebabnya dengan tiba-tiba merasa pening, dan mengapa harimau itu menunjukkan pandangan matanya ke atas pohon, ia merasa pasti, bahwa di atas pohon itu pasti ada sejenis ular berbisa yang luar biasa besarnya. Teringat pikiran itu, ia lantas waspada. Dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh yang sangat mahir sekali ia melesat setinggi tiga tombak, dan sudah berada di atas pohon lain.

Harimau hitam itu melihat Hee Thian Siang melompat ke atas pohon lain, masih tetap tidak bergerak, sepasang matanya juga masih tetap ditujukan ke arah pohon besar yang sudah kering itu. Hee Thian Siang semakin kuat dugaannya, bahwa apa yang dipikirnya tadi sedikitpun tidak salah. Ia lalu memilih tempat yang agak rindang duduk di atas ranting yang agak besar sedang matanya ditujukan ke atas pohon besar tadi.

Ia telah mendapat kenyataan bahwa terpisah dengan tanah kira-kira tiga empat tombak, di atas pohon itu terdapat lobang yang bergaris tengah kira-kira satu kaki. Dari dalam lobang itu muncul keluar seekor makhluk aneh.

Makhluk aneh itu seperti ular, tetapi bukan ular, panjangnya kira-kira setombak lebih. Badannya bagian depan bulat, tetapi bagian belakang pipih. Di bawah perutnya terdapat delapan pasang kaki yang pendek dan kasar. Warna sekujur badannya coklat kehitam-hitam-an, tampaknya sangat mengerikan. Apa yang mengherankan ialah bentuk badannya itukira-kira beberapa kaki besarnya, akan tetapi kepalanya yang berbentuk segi tiga, hanya sebesar kepalan tangan manusia.

Panca indra di kepalanya bentuknya sangat sederhana. Kecuali bagian tengah-tengah kelihatan matanya yang hanya satu, di bawah mata itu ialah mulutnya yang lebar dengan giginya yang tajam-tajam. Lidahnya yang panjang bagaikan ular, sebentar-bentar menyemburkan hawa racunnya yang sangat ganas.

Hee Thian Siang yang sudah cukup lama berkelana di dunia kang-ouw meskipun pengalamannya cukup banyak, tetapi belum pernah dengar orang berkata binatang sejenis ular tetapi bukan ular seperti itu. "Kalau ditinjau dari luarnya, binatang aneh itu pasti mengandung bisa yang sangat jahat. Jelas bahwa harimau besar itu bukanlah tandingannya, tetapi harimau hitam itu masih coba melawannya, sekujur bulu badannya pada berdiri, sedikitpun tidak tampak takut. dalam hati Hee Thian Siang diam-diam merasa girang, sebab jikalau bisa menyaksikan pertarungan antara harimau dan binatang aneh itu, juga merupakan suatu pengalaman yang tak mudah diketemukan!

Kaki yang pendek dan kasar binatang aneh itu ternyata memiliki daya kuat luar biasa, setapak demi setapak binatang itu merayap turun ke bawah, lalu mengangkat kepalanya yang berbentuk segi tiga, agaknya sangat bangga sekali. Matanya yang cuma satu memancarkan cahaya yang berkilauan mengawasi harimau hitam, kemudian dari mulutnya mengeluarkan suara aneh yang sangat menyeramkan.

Dengan hati-hati sekali, harimau hitam itu mundur dua langkah, kepalanya digoyang-goyangkan, mulutnya mengeluarkan suara mengeram, seperti hendak menerkam.

Binatang aneh itu ketika melihat harimau hitam itu mengambil sikap menantang, maka ia lantas menjadi marah. Kepalanya diulur penjang membentang mulutnya lebar-lebar, kemudian secepat kilat menyambar harimau hitam itu, bahkan dari jarak enam tujuh kaki menepi jauh menyemburkan hawa racunnya yang berwarna hitam. Harimau hitam itu ternyata sangat gesit sekali gerakannya. Binatang aneh menyemburkan hawa racunnya, ia sudah melompat melesat sejauh setombak lebih, untuk mengelakkan semburan racun dari binatang aneh tadi. Setelah itu ia mengulurkan kaki depannya dengan kukunya yang runcing balik menyerang kepala binatang aneh itu.

Binatang aneh itu meskipun tampaknya sangat jumawa, tetapi ketika menyaksikan lawannya itu sangat cerdik dan berani sekali, kakinya yang pendek dan kasar itu, mulai bergerak lagi. Badan bagian belakangnya yang tampaknya sangat kaku dengan tiba-tiba menjadi gesik, ia memutar ditengah udara dan menyapu kepala harimau itu dengan bagian ekornya.

Harimau itu agaknya kenal baik dengan sekali gerakan dari binatang aneh itu. Serangan tadi ternyata merupakan serangan tipuan, secepat kilat balik kembali lagi dan lompat sejauh lima enam tombak. Dengan demikian maka samberan binatang aneh tadi dengan sendirinya mengenakan tempat kosong. Ekor kasar itu ketika membabat pohon-pohon di sekitarnya, terdengar suara gemuruh dan beberapa batang pohon telah tumbang olehnya.

Hee Thian Siang ketika menyaksikan keadaan demikian, meskipun tahu bahwa harimau hitam itu sangat lincah, tetapi karena binatang aneh itu sudah menyemburkan hawa racun, apalagi tenaganya demikian kuat, tampaknya apabila pertempuran itu berlangsung terus, lama kelamaan harimau hitam itu pasti akan kalah.

Meskipun kejadian itu tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri, karena ia sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sedikit banyak ia merasa khawatir akan keselamatan diri harimau hitam itu, apalagi kalau ditilik kejahatan dan keganasan binatang aneh itu mungkin akan membawa bencana bagi orang banyak, maka diam-diam ia lalu mencari pikiran untuk memberi bantuan kepada harimau hitam. Supaya dengan tindakannya itu dapat menyingkirkan bahaya yang ditimbulkan oleh binatang aneh itu.

Selagi Hee Thian Siang masih berpikir keras untuk mencari akal, pertempuran antara harimau dan binatang aneh itu sudah tentu pindah ke tempat sejauh beberapa tombak dari hadapannya.

Hee Thian Siang telah mendapat kenyataan bahwa harimau hitam itu sengaja memancing binatang aneh supaya meninggalkan sarangnya, tergeraklah hatinya. Ia pikir apakah harimau hitam itu masih mempunyai kawan? Jikalau tidak ...

Belum lenyap pikirannya itu, benar saja dari dalam rimba, dengan diam-diam muncul seekor kera hitam, dengan satu gerakan yang gesit sekali ia sudah lompat melesat ke atas pohon yang terdapat di depan kediaman binatang aneh tadi. Dari dalam goa ia mengambil dan melemparkan segempal benda merah.

Hee Thian Siang yang baru saja berpikir bahwa kedatangan kera hitam yang memberi bantuan kepada harimau hitam itu, binatang aneh itu pasti kalah. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaannya.

Kiranya binatang aneh yang mirip ular bukan ular yang mirip kelabang bukan kelabang ternyata memiliki gerakan yang sangat lincah dan gesit sekali. Di luarnya ia pura-pura mau terpancing oleh akal harimau hitam ke tempat yang agak jauh, akan tetapi matanya yang tunggal tetap waspada, ia masih tetap memperhatikan keadaan sekitarnya.

Kera hitam itu muncul dari dalam rimba, dan baru saja melemparkan benda merah itu ke dalam dari atas pohon, binatang aneh itu sudah melesat kembali dari tempat sejarak beberapa tombak itu, dengan mulutnya mengeluarkan suaranya yang aneh, telah berhasil melilit kera itu dengan ekornya.

Harimau hitam itu ketika melihat kera hitam dililit oleh binatang aneh itu, tampaknya sangat marah, ia segera lompat menerkam.

Binatang aneh itu kembali mengeluarkan suaranya yang bangga, mulutnya yang lebar dibentang, dan dari situ mengeluarkan hawa racun yang berwarna hitam untuk menyerang harimau hitam yang sedang menerkam dirinya. Hee Thian Siang yang melihat keadaan demikian berbahaya bagi harimau hitam dan kera hitam itu, ia tahu apabila ia tidak turun tangan lagi, harimau dan kera hitam itu niscaya akan terbinasa kedua-duanya ditangan binatang aneh itu.

Tapi karena ia berada di atas lain pohon, terpisah dengan pertempuran binatang itu kira-kira masih tiga tombak jauhnya, betapapun gesit gerakannya juga sulit untuk menghindarkan serangan ganas dari binatang aneh itu.

Dalam keadaan demikian, Hee Thian Siang tiba-tiba teringat akan senjata rahasia Peng-pek Sin-sa pemberian Leng Pek Ciok, maka buru-buru mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya pada telapak tangannya, lalu dimasukkan ke dalam kantong pasir berbisa itu, untuk mengambil tiga butir Peng-pek Sin-sa, digunakan untuk menyerang mata dan mulut binatang aneh itu. Senjata rahasia itu pengaruhnya hebat sekali, bahkan merupakan sesuatu senjata yang tepat untuk menundukkan binatang aneh itu.

Ketika benda itu meluncur dari tangan Hee Thian Siang, tiga titik sinar putih berkelebatan, lebih dulu menolong jiwa harimau hitam, karena pasir dingin itu tepat mengenai mulut binatang aneh, hingga hawa racun yang menyambar keluar, dengan sendirinya punah seketika, dan matanya yang tunggal itu lantas menjadi buta, sisik-sisik di sekujur badannya seluruhnya menggigil, tidak bisa melihat kera hitam itu. Kera hitam tadi ketika mendapat pertolongan dengan tiba-tiba, dengan gesitan yang luar biasa sudah lompat melesat dari lilitan binatang aneh tadi.

Hee Thian Siang meskipun gembira karena serangannya memperoleh hasil demikian memuaskan, tetapi ia masih khawatir bahwa binatang aneh yang buas itu susah untuk ditundukkan, maka kembali ia melancarkan dengan dua butir senjata rahasianya untuk menyerang kepada binatang aneh itu. Dua butir Peng-pek Sin-sa itu, setelah mengenai kepala dari binatang aneh itu, badan binatang aneh itu tampak kembali menggigil, perlahan-lahan menjadi kaku dan tidak bisa bergerak lagi.

Agak lama harimau hitam itu mengeluarkan suara perlahan dari mulutnya, ketika melihat Hee Thian Siang tidak menghiraukan, lalu berpaling dan memanggil kera hitam yang baru mengorek biji mata binatang aneh tadi.

Kera hitam itu ketika mendengar suara kawannya lantas lari menghampiri, ia angkat kepalanya beberapa kali kepada Hee Thian Siang , kemudian lompat dan duduk di atas punggung harimau hitam itu. Hee Thian Siang yang menyaksikan kejadian itu, agaknya mengerti maksudnya. Maka ia lantas berkata sambil tertawa: "Apakah kamu minta aku supaya duduk di atas punggung harimau hitam ini?"

Kera hitam itu ternyata mengerti kata-kata yang dimaksudkan oleh Hee Thian Siang itu. Berulang-ulang ia menganggukkan kepala, dan tangannya menunjuk-nunjuk punggung harimau hitam, agaknya minta Hee Thian Siang agar duduk diatasnya.

Oleh karena tertarik oleh perasaan heran dan melihat harimau dan kera itu terhadap dirinya tidak mengandung maksud jahat, maka Hee Thian Siang lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum, kemudian melayang turun dari atas dan sudah berada di atas punggung harimau itu.

Setelah Hee Thian Siang berada di atas punggung harimau hitam, kembali binatang itu mengeluarkan suara perlahan, berjalan perlahan-lahan menuju kebagian barat laut dalam rimba itu. Sedangkan kera hitam itu terus mengikuti di belakangnya.

Gerak kaki harimau itu dari perlahan-lahan berubah menjadi cepat, kira-kira setengah jam kemudian sudah keluar dari rimba lebat itu. Baru tiba dimulut lembah, Hee Thian Siang sudah merasa terkejut, sebab dikanan kiri mulut lembah itu terpancang sebuah barang yang diikat dengan rotan, dan barang itu sangat mengejutkan sekali.

Di sebelah kiri barang yang terpancang itu ternyata binatang anehnya Tiong-sun Hui Kheng ialah Taywong, sedangkan di sebelah kanan adalah siaopek, sikera putih yang sangat cerdik.

Hee Thian Siang selagi hendak menanya, tapi harimau itu lari sangat pesat sekali, dan sebentar saja sudah melalui bawah Taywong dan siaopek masuk ke dalam lembah.

"Taywong dan siaopek telah diikat dan digantung dimulut lembah, apakah Tiong-sun Hui Kheng dan kudanya Ceng- hong-kie, juga terdapat didalam lembah?

Pertanyaan itu terus mengganggu pikiran Hee Thian Siang. Oleh karena saat itu ia sudah berada didalam lembah, maka segala-galanya setelah ia menjumpai penghuni lembah itu, sudah tentu akan jelas semua, dan tak perlu menduga-duga lagi.

Kembali ia melalui dua tikungan, dan harimau hitam itu mendadak berhenti. Hee Thian Siang tahu bahwa ia sudah sampai ditempatnya, maka ia lantas melompat turun dan apa yang dilihatnya? Pemandangan disekitar tempat itu ternyata sangat indah. Yang mengherankan ialah di sana terdapat pohon yang sangat aneh, pohon itu kira-kira setinggi sepuluh tombak lebih, diatasnya terdapat sarang burung raksasa.

harimau hitam dan kera hitam itu ketika berjalan tiba di bawah pohon besar itu, keduanya lantas berlutut menghadap ke atas. Menyaksikan tindakan itu dalam hati Hee Thian Siang merasa heran dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: "Apakah penghuni lembah ini berdiam di atas sarang burung di atas pohon ini?" Belum hilang pikirannya, didalam sarang burung di atas pohon itu tiba-tiba terdengar suara Orang bicara yang nada suaranya seperti anak kecil: "Kamu sudah mengajak tamu. Silahkan naik ke atas pohon untuk bicara."

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, tidak menunggu sampai harimau hitam dan kera hitam itu memberi isyarat kepadanya, dengan suatu gerakan ia sudah melesat setinggi lima tombak, kemudian dengan dua kali gerakan lagi sudah berada didalam sarang burung di atas pohon itu. Dalam sarang burung raksasa itu duduk seorang padri yang berperawakan pendek kecil, mukanya merah. Padri itu tampaknya baru berusia tiga puluh tahunan.

Padri yang mengenakan jubah berwarna kuning dengan sinar mata tajam menatap Hee Thian Siang. Lantas mengulurkan tangannya mempersilahkan Hee Thian Siang duduk, sikapnya seolah-olah sangat sombong dan dingin sekali.

Hee Thian Siang yang berulang-ulang sudah menjumpai kejadian-kejadian ajaib, sifatnya sedikit banyak sudah mengalami perubahan, maka ia menuruti petunjuk padri pendek kecil itu, didalam sarang burung yang sangat luas itu duduk ber??? dihadapannya.

Padri itu menunggu Hee Thian Siang sampai duduk benar, memandangnya lagi sampai beberapa kali, dengan sikap ramah dia unjukkan tertawanya, kemudian berkata pada diri sendiri: "Lembahku Thian-keng-kok ini, sudah delapan puluh tahun lamanya, selalu menolak kedatangan tamu dari luar tak diduga-duga pada hari belakangan ini tampaknya begitu banyak orang datang, juga ada binatang yang berkunjung."

Hee Thian Siang dikejutkan oleh kata-kata padri itu yang menyebutkan "Waktunya delapan puluh tahun lebih menolak tamu dari luar," tetapi kemudian ia teringat apa yang pernah didengarnya dari gurunya, maka dengan sikap sangat menghormat ia memberi hormat kepada padri itu, kemudian bertanya sambil tersenyum:

"Taisu ini apakah bukannya Thian-Ie Siangjin yang selama seratus tahun ini dengan bulu burung berwarna merah sebagai senjata, didalam rimba persilatan belum pernah menemukan tandingan, serta kemudian telah menghilang dengan secara tiba-tiba?"

Padri berjubah kuning itu agaknya tak menyangka bahwa Hee Thian Siang dapat menyebutkan nama julukannya sendiri, maka lalu bertanya dengan sikap terheran-heran:

"Laote ini, bagaimana sebutannya? Murid dari golongan mana? Pengetahuanmu tentang orang-orang rimba persilatan begitu luas. Begitu melihat orangnya, sudah dapat menyebutkan julukan dan asal usulnya. Laote, kau ini benar- benar sangat mengherankan!"

Hee Thian Siang mengira bahwa terkaannya yang tidak disengaja itu ternyata tepat, maka ia semakin menaruh hormat kepada Thian-Ie Siangjin, seorang padri gaib dari golongan Buddha yang usianya lebih dari seratus tahun. Atas pertanyaan padri tua itu, ia lalu menjawab dengan sikap sangat menghormat:

"Boanpwee, Hee Thian Siang, seorang pendatang baru dalam dunia Kang-ouw. Sedang guru boanpwee adalah Pak- bin Sin-po Hong-poh Cui."

"Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui ...... " Demikian Thian-Ie Siangjin mengulang.

Oleh karena Hee Thian Siang anggap bahwa karena suhunya pernah menggemparkan rimba persilatan, sedangkan sikap dan nada suara Thian-Ie Siangjin ini seolah-olah belum pernah dengar, sudah tentu semula ia merasa agak heran, tetapi kemudian berpikir lagi: Padri itu tadi sudah berkata bahwa di lembah itu sudah delapan puluh tahun lebih lamanya terpisah dengan dunia luar. Dengan sendirinya ia tidak mengetahui nama suhunya. Tapi belum lenyap pikirannya, Thian-Ie Siangjin sudah berkata sambil tersenyum:

"Sejak loceng masuk didalam gua ini, sudah hampir seratus tahun lamanya, terhadap urusan luar sudah banyak tidak ambil perhatian. Hee laote harap kau jangan kecil hati jikalau sipadri agak kurang sopan!"

"Mengapa taisu mengucapkan demikian? Hee Thian Siang yang melakukan perjalanan dan menjelajah banyak tempat, tak diduga-duga atas petunjuk harimau sakti dan kera sakti tadi sehingga terbawa kemari dan dapat berjumpa dengan taisu, seorang padri beribadat tinggi."

Baru saja perkataan "Padri beribadat tinggi" keluar dari mulutnya, Thian-Ie Siangjin itu sudah tertawa terbahak-bahak. Hee Thian Siang dibingungkan oleh sikap padri tua itu, maka ia bertanya dengan sikap terheran-heran: "Mengapa taisu ketawa? Apakah ucapan Hee Thian Siang terdapat kesalahan?"

"Aku tertawakan Hee laote, mengapa menyebut aku ini sebagai padri beribadat tinggi? Sebetulnya aku ini adalah orang yang tak berguna dalam golongan Buddha." Berkata Thian-Ie Siangjin sambil tertawa terbahak-bahak.

Hee Thian Siang masih tidak mengerti, sementara itu Thian-Ie Siangjin sudah bertanya lagi: "Tahukah kau, apa sebab aku berdiam didalam lembah Thi-keng-kok ini sampai seratus tahun lamanya?"

"Jika menurut apa yang tersiar di kalangan Kang-ouw, taisu sudah menginsyafi penghidupan manusia didalam dunia, yang penuh coba dan dosa, hingga pergi mengasingkan diri ke tempat ini." "Kau keliru, mana aku pergi mengasingkan diri? Sebetulnya hanya lantaran berjumpa dengan lawan yang terlalu lihay!" Berkata Thian-Ie Siangjin sambil tertawa.

Mendengar ucapan itu, Hee Thian Siang terkejut, tanyanya: "Dahulu taisu hanya dengan sebatang bulu burung berwarna merah, telah menjelajah dunia Kang-ouw tanpa tandingan. Bagaimana ada lawan yang lebih lihay lagi?"

Thian-Ie Siangjin mengalihkan pandangan matanya ke arah Barat laut, katanya sambil tersenyum: "Aku dengan lawanku itu, hanya secara kebetulan berjumpa di dunia Kang-ouw, karena mengandalkan kepandaian masing-masing, maka terjadilah pertempuran sengit. Oleh karena pertempuran itu berlangsung lama tanpa ada yang kalah atau menang, maka setiap kali berjumpa, kami lantas mengadakan pertempuran. Demikian sekian tahun kami mengadakan pertempuran ini, hingga saat ini sudah seratus tahun tapi masih belum ketahuan siapa yang lebih hebat."

Hee Thian Siang mendengar keterangan itu, bukan kepalang terkejutnya. Tanyanya: "Lawan taisu ini apakah juga berdiam didalam lembah gunung Ko-le-kong-san ini?"

Ia bernama Siam-ciok Cinjin, memang ia berdiam di sebelah kiri lembah ini. Dan tempat itu dinamakan Thian-ciu- kan, kami sudah mengadakan perjanjian, kecuali sudah ada satu yang menang atau kalah, jika tidak, siapa saja tak boleh muncul lagi didalam dunia Kang-ouw, tetapi juga barang siapa yang tutup mata lebih dulu, juga harus masih perlu mengaku kalah terhadap yang masih belum menutup mata!" Berkata Thian-Ie Siangjin sambil menganggukkan kepala.

"Aku yang sudah menganut agama masih tidak bisa meninggalkan pikirannya untuk berebut nama, bukankah ini sangat lucu? Maka aku tak bisa menerima sebutanmu sebagai padri beribadah lagi. Aku hanya menganggap diriku sebagai orang yang tidak berguna bagi kalangan Buddha!" Berkata pula Thian-Ie Siangjin sambil mengulap.

Berkata sampai disitu, harimau dan kera hitam yang berada dibawah pohon, dengan tiba-tiba mengeluarkan suara berulang-ulang.

Thian-Ie Siangjin agaknya memahami bahasa binatang, ia pasang telinga sejenak, lalu berkata kepada Hee Thian Siang: "Harimau dan kera yang kudidik selagi aku keisengan, tadi didalam rimba telah menemui bahaya. Untung Hee laote menolong mereka. Pinceng seharusnya mengucapkan terimakasih kepadamu!"

Mendengar Thian-Ie Siangjin menyebut harimau dan monyet hitamnya, Hee Thian Siang juga teringat kepada siaopek dan Taywong yang digantung dimulut lembah, maka ia memberi hormat dan berkata sambil tertawa: "Sewaktu Hee Thian Siang baru masuk ke lembah ini pernah melihat dimulut lembah ada digantung ... "

Thian-Ie Siangjin lantas menyambungnya sambil tertawa: "Dua ekor binatang itu entah peliharaan siapa? Mereka sangat cerdik, agaknya sedang mencari-cari orang di lembah ini, hingga akhirnya kutangkap dan ku gantung dimulut lembah maksudku sebetulnya hendak menundukkan mereka supaya menjadi jinak ..."

Hee Thian Siang mendengar sampai di situ lalu memberi hormat dan berkata sambil tertawa: "Dua ekor binatang cerdik itu, adalah binatang peliharaan sahabat Hee Thian Siang. Bolehkah taisu memaafkan kesalahan mereka?"

"Hee laote, sahabatmu itu apakah seorang nona yang menunggang seekor kuda berbulu hijau yang sangat perkasa?

..." Hee Thian Siang justru karena belum menemukan jejak Tiong-sun Hui Kheng, maka hati merasa agak cemas. Sebelum menunggu selesai ucapan padri itu, sudah menganggukkan kepala dan berkata: "Benar, benar, kedatangan Hee Thian Siang ke gunung Ko-le-kong-san ini maksudnya ialah untuk mencari dia, bolehkah Hee Thian Siang numpang tanya kepada taisu, sahabatku itu berada dimana sekarang?"

"Tatkala aku turun tangan menangkap dua binatang cerdik itu, dari dalam Thian-ciu-kan aku pernah dengar suara meringkiknya kuda berjalan, sahabatmu itu mungkin sudah kena ke dalam Thian-ciu-kan, dan jatuh ditangan Sam-ciok Cinjin yang adatnya lebih sukar dihadapi daripadaku."

Hee Thian Siang mendengar ucapan itu segera mengetahui bahwa enci Tiong-sunnya pasti selama berada digunung Ko- le-kong-san ini, mereka pasti berpencaran mencari jejaknya May Ceng Ong, sehingga akhirnya masing-masing terpisah dan kesasar ke dalam lembah Thian-keng-kok dan Thian-ciu- kan.

Karena menurut Thian-Ie Siangjin bahwa orang yang disebut Sam-ciok Cinjin itu lebih sukar dihadapin, maka dengan sendirinya Hee Thian Siang semakin mengkhawatirkan keselamatan Tiong-sun Hui Kheng. Ia segera bangkit dan minta diri, dan menanyakan jalannya menuju ke Thian-ciu-kan itu.

Thian-Ie Siangjin lebih dulu mengeluarkan suara memerintahkan kepada kera hitam supaya melepaskan siaopek dan Taywong, kemudian berkata kepada Hee Thian Siang: "Hee laote, kau jangan terburu nafsu, aku hendak menanyakan lebih dulu kepada imam tua itu!" Sehabis berkata demikian matanya mengawasi ke atas puncak gunung yang tinggi di sebelah Barat laut, dan mengeluarkan suara yang amat nyaring: Tak lama kemudian setelah suara itu keluar dari mulutnya Thian-Ie Siangjin, dibalik puncak gunung diarah Baratlaut itu terdengar suara siulan dan balasan.

Thian-Ie Siangjjin dengan sikap serius, dengan menggunakan suara tidak keras dan tidak pelahan tetapi kedengarannya sangat lunak, berkata: "Sam-ciok toyu, apakah di tempatmu ada tetamu?"

Dari seberang sana lantas mendapat jawaban: "Ada, seorang anak perempuan yang cantik jelita dan berbakat bagus, dengan menunggang seekor kuda jempolan, kesasar masuk ke tempat kediamanku, aku justru hendak berusaha untuk menghukum dia!"

Hee Thian Siang yang mendengar percakapan itu diam- diam merasa heran, sebab tempat antara dua orang itu sedikitnya terpisah jarak beberapa pal. Tetapi Thian-Ie Siangjin dan Sam-ciok Cinjin ternyata bisa bercakap-cakap seperti berhadapan muka, hal ini sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang sangat langka (jarang terjadi).

Sementara itu Thian-Ie Siangjin lantas tertawa terbahak- bahak dan berkata pula: "Imam tua, kau jangan berbuat demikian tidak tahu malu. Usiamu sudah demikian lanjut, bagaimana kau bisa berpikiran seperti anak-anak? Lekas bebaskan dia dan katakan padanya bahwa ada sahabat baiknya sekarang di kediamanku sedang menantikan kedatangannya!"

Dengan suara yang tegas sekali, jawaban Sam-ciok Cinjin terdengar pula, kali ini bahkan dibarengin dengan suara tertawanya yang aneh. "Anak perempuan itu baik perasaannya maupun hatinya, sesungguhnya sangat menyenangkan. Aku sebetulnya hendak menghukum dia dalam waktu tiga hari harus menyelesaikan pelajaran ilmu silat yang kuberikan kepadanya " Hee Thian Siang yang mendengar itu, dalam hati diam- diam girang. Sebab, jikalau cuma disuruh belajar ilmu silat, hukuman itu semakin lama malah semakin baik! Sedangkan ia sendiri untuk sementara boleh membiarkan Tiong-sun Hui Kheng mendapat warisan ilmu silat dari tokoh yang luar biasa itu. Setelah itu perlahan-lahan ia akan berusaha supaya bisa bertemu muka kembali.

Akan tetapi saat itu terdengar pula Sam-ciok Cinjin yang melanjutkan keterangannya: "Tapi sekarang karena aku tahu dia ada sedikit hubungan dengan kau kepala gundul tua bangka ini, maka pikiranku sudah berubah lagi, bukan saja aku tidak akan menurunkan pelajaran ilmu silat, bahkan aku akan menghukum dia untuk bekerja berat selama seratus hari, kemudian baru diusir pergi dari sini."

Hee Thian Siang mendengar ucapan itu perasaan girangnya tadi lenyap seketika dan diganti dengan perasaan khawatir. Ia menatap wajah Thian-Ie Siangjin. Sementara itu, padri tua yang masih belum bisa melenyapkan pikirannya untuk berebut nama, itu setelah berpikir sejenak, kemudian berkata lagi ke arah Thian-cu-kan: "Imam tua, kau jangan sombong. Anak muda jaman sekarang, kebanyakan berkepala batu dan berhati sombong. Kau pikir hendak menghukum anak perempuan itu untuk melakukan pekerjaan berat selama seratus hari, tetapi kiraku ia belum tentu mau mendengar perintahmu!"

Dari seberang sana terdengar suara aneh Sam-ciok Cinjin, kemudian disusul dengan kata-katanya: "Padri tua, dugaanmu ini tidak salah, anak perempuan ini memang benar terlalu berkepala batu dan sombong sikapnya. Tetapi dia memiliki seekor kuda jempolan yang amat disayang, dan kuda itu sekarang ada di tanganku. Jikalau dia tidak mau menuruti perkataanku, aku nanti akan memotong sebelah paha kuda kesayangannya itu!" Mendengar ucapan itu, sekujur badan Hee Thian Siang gemetaran, ia pikir San-ciok Cinjin itu lebih kukoay adatnya daripada Thian-Ie Siangjin. Ia sudah memikirkan cara demikian keji untuk menghadang Tiong-sun Hui Kheng, maka Tiong-sun Hui Kheng pasti berani melawan lagi.

Thian-Ie Siangjin seperti tiba-tiba ingat sesuatu, alisnya bergerak beberapa kali, dengan wajah tampak girang, ia berkata: "Imam tua, kau jangan bertindak yang bukan-bukan, aku sekarang justru mendapatkan suatu akal, mungkin bisa membantu lekas menyelesaikan persoalan kita berdua."

Sam-ciok Cinjin nampaknya sangat tertarik dengan ucapan itu. Maka lalu memberi jawaban: "Lekas ceritakanlah! Akal apa yang kau ??? bagus itu?"

Thian-Ie Siangjin bertanya: "Aku dengan kau sejak mengadakan pertempuran, semula dari lembah Tong-teng- ouw dan kemudian ke Oei-hok-??? dan lain-lain tempat, apakah kau masih ingat sudah melakukan pertempuran berapa kali?"

"Setiap tahun melakukan pertandingan sekali, hingga tahun ini sudah seratus tahun lamanya. Jadi kita sudah bertempur sembilan puluh sembilan kali!" Menjawab Sam-ciok Cinjin.

"Dalam pertempuran sengit yang terdahulu belum ada ketentuan siapa yang lebih unggul, dan pertempuran tahun ini yang belum dimulai, apa kau sudah yakin benar ...?" Berkata Thian-Ie Siangjin.

"Kepandaianku dan kepandaianmu sama-sama sudah sampai ke taraf yang tiada taranya, siapapun sudah tidak bisa mendapat kemajuan lagi. Dan siapapun juga tak berani mengatakan apa keyakinannya sendiri!" Berkata Sam-ciok Cinjin sambil tertawa. "Kalau benar kita sama-sama tidak yakin, maka jika kita hendak merebut kemenangan harus dicoba lagi sampai kapan baru bisa tercapai?. apa tidak lebih kita mengenakan suatu cara atau cara dari orang-orang persilatan kita untuk menentukan kemenangan."

"Apa yang kau maksudkan dengan orang penciptaan kita itu?"

"Aku di sini ada seorang sahabat kecil yang usianya masih muda belia, karena kesasar hingga datang ke tempatku ini. Sahabat kecilku itu bernama Hee Thian Siang. Dan kau di sana juga ada kesasar seorang gadis muda belia, bernama

....."

"Dia bernama Tiong-sun Hui Kheng!"

Thian-Ie Siangjin mengawasi Hee Thian Siang sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata: "Mengapa kita tidak menyerahkan tugas kita kepada Hee laote ini dan nona Tiong-sun? Biarlah mereka yang menggantikan kedudukan kita untuk menetapkan kemenangan!"

Sam-ciok Cinjin berdiam; lama sekali baru menjawab lambat-lambat: "Cara yang kau usulkan ini memang benar baik, tetapi mengenai bekalnya ..."