Makam Bunga Mawar Jilid 15

 
Jilid 15

"Kau benar-benar sangat pintar, dugaanmu ini sedikitpun tidak salah. Orang tua berambut panjang berbaju kuning yang duduk di sebelah kiri adalah ibuku, sedang yang duduk di sebelah kanan, adalah ibu kandung adik Siu Im!"

Hee Thian Siang setelah mendengar keterangan Liok Giok Ji baru tahu bahwa dua orang berambut panjang berjubah kuning yang dilihatnya di depan mulut goa Siang-swat-tong, semua adalah orang perempuan yang menyamar. Sadarlah ia kini, maka katanya pula: "Aku kini sudah mengerti, ibumu pasti adalah Kiu-thian Mo-lie Tan Siang Siang. Sedangkan ibu Hok Siu Im adalah Siang-swat Siang-len Leng Biauw Biauw."

"Dugaanmu ini justru sebaliknya. Ibuku adalah Siang-swat Siang-len, sedang ibu adik Im adalah Kiu-thian Mo-lie Tang Sian Siang!"

Setelah mendengar keterangan itu, Hee Thian Sian coba mengorek lagi keterangan yang lainnya, ia teringat sewaktu di atas puncak gunung Keng-bun-san, pendekar pemabokan Bo Bu Ju pernah berkata bahwa Hong-tien Ong-khek May Ceng Ong tidak suka bertemu muka dengan Hok Siu Im, dan ia sendiri kali ini, sewaktu bertemu muka dengan May Ceng Ong di suatu rumah minum di desa kecil, apa yang didengarnya dari mulut May Ceng Ong dalam keadaan mabok, semuanya itu dibanding-bandingkannya, lalu bertanya kepada Liok Giok Ji: "Kalau demikian halnya, ayah adik Giok dan adik Im, apakah bukan Hong-tien Ong-khek May Ceng Ong Locianpwe?"

Alis Liok Giok Ji dikerutkan, tangannya menekan dada sendiri, lalu menarik nafas panjang kemudian baru menjawab: "Ayahku memang benar Hong-tien Ong-khek May Ceng Ong, tetapi mengenai urusannya, terlalu panjang ceritanya..."

Hee Thian Siang melihat sikap Liok Giok Ji kurang baik, maka ia mengeluarkan pil yang dibuat oleh Say Han Kong, seluruhnya dikeluarkan dan diberikan kepadanya. Dengan penuh perhatian ia bertanya: "Adik Giok, keadaanmu ada sedikit kurang baik, bagaimana perasaan dalam tubuhmu?"

Dengan mata yang sayu Liok Giok Ji berkata sambil tertawa.

"Tadi perasaanku memang kurang enak, mungkin racun dalam tubuhku hendak bekerja, tetapi setelah aku menelan dua butir pilmu tadi sudah banyak baik!"

"Pil itu adalah buatan Tabib sakti pada dewasa ini Say Han Kong locianpwe, dalam pil itu juga dicampuri dengan setetes getah pohon Lingci, pil itu sangat mujarab sekali, sayang aku hanya memiliki dua butir saja..."

Mendengar keterangan Hee Thian Siang bahwa pil yang hanya tinggal dua butir itu seluruhnya diberikan kepadanya, dalam hati Liok Giok Ji merasa sangat berterima-kasih, sementara itu lambang batu Giok Bunga Mawar yang berada ditangannya, diletakkan dalam bibirnya, dan berulang-ulang diciumnya, katanya sambil tertawa: "Engko Siang, setelah aku makan pil mu yang mujarab itu, rasanya tubuhku banyak segar, biarlah nanti kuceritakan kepadamu, hal ikhwal yang menyangkut diri ayah ibuku."

Melihat keadaan Liok Ciok Ji demikian rupa, Hee Thian Siang merasa sangat kasihan, katanya sambil tersenyum: "Adik Giok, kau sudah terkena racun berbisa, kalau banyak bicara mengganggu kesehatanmu. Biarlah kau istirahat dulu. Kalau kau sudah agak baik, nanti kau boleh ceritakan lagi!"

Liok Giok Ji menggeleng-gelengkan kepala dan berkata: "Aku tahu benar bahwa Siang Biauw Yan itu sangat kejam, senjata rahasia duri berbisa masih perlu ditambah dengan racun yang sangat berbisa, racun itu bukanlah dua butir obat mujarabmu ini yang dapat memunahkan. Jika sebelum mati aku tak menceritakan kepadamu, maka rahasia diriku ini kau nanti tak bisa mendengar lagi!"

Hee Thian Siang tidak berdaya, terpaksa memeluk erat-erat mendengar ceritanya.

Liok Giok Ji mulai berkata: "Jurang yang sangat dalam di bawah puncak gunung Kun-lun ada berdiam seorang luar- biasa dari golongan sesat, orang itu namanya Bu-siang Mo-su Kong Jan In!"

"Aku sudah pernah dengar cerita mengenai diri orang itu, tinggi kepandaian ilmunya dalam dunia pada dewasa ini tiada tandingannya, tetapi ia sudah menutup mata pada beberapa puluh tahun berselang!" Berkata Hee Thian Siang.

"Ibuku telah didorong oleh Siauw Tek sehingga terjatuh ke dalam jurang itu, tetapi sesaat itu dengan secara kebetulan telah ditolong oleh Bu-Siang Mo-su Kong Jang In, orang tua itu karena suka dengan ibuku yang memiliki tulang-tulang baik dan berbakat baik pula untuk mempelajari ilmu silat, maka olehnya diberi makan sebutir obat pil yang dapat melupakan keadaannya sendiri, sehingga sehabis makan pil itu lupa asal- usul dirinya sendiri dan kemudian dipungutnya menjadi murid. Dan nama ibu telah dirubah menjadi Siang Biauw Biauw. Dengan seorang gadis yang merupakan muridnya orang tua itu juga yang bernama Tang Siang Siang, sama-sama mempelajari ilmu kepandaian Kong Jang In!"

"Oo, pantas dahulu ibumu pernah malang melintang di dunia Kang-ouw, namanya pernah menggetarkan rimba persilatan, tetapi selama itu belum pernah mencari Tie-hui-cu dan Siaw Pek untuk menuntut balas dendam. Kiranya karena ibumu sudah makan obat pil dari golongan sesat sehingga melupakan asal-usul dirinya sendiri!"

Berkata sampai di situ ia merasa heran, maka ia bertanya: "Tetapi sekarang dengan bagaimana tiba-tiba bisa ingat pula? Apakah obat pil dari orang tua itu setelah melalui proses demikian lama sudah hilang khasiatnya?"

"Engko Siang, mengapa kau demikian terburu nafsu? Dengarlah ceritaku perlahan-lahan, nanti kau akan mengerti sendiri!"

Muka Hee Thian Siang agak merah, sambil tertawa ia mendengarkan Liok Giok Jie bercerita terus: "Ibuku bersama Tan Siang Siang telah menyelesaikan pelajarannya kepada Kong-yang In lalu terjun kedunia Kang-ouw, sejak saat itu namanya menggemparkan dunia Kang-ouw, tetapi sejak berjumpa dengan ayahku Hong-tien Ong-khek May Ceng Ong, satu sama lain lantas jatuh cinta!"

"Mereka sama-sama orang-orang yang memiliki nama besar dalam rimba persilatan, sudah tentu merupakan pasangan yang setimpal. Seharusnya merupakan suatu perkawinan yang bahagia. Dengan cara bagaimana bisa berubah menjadi musuh?"

"Ayahku meskipun cinta kepada dua ibuku, tetapi karena ia mempertahankan kedudukan dan nama baiknya sebagai seorang pendekar besar, maka menganggap kedua ibuku itu yang keluaran dari golongan sesat, bisa merendahkan derajatnya. Dua ibuku itu yang sudah terlibat oleh jaring asmara, maka diam-diam telah menggunakan obatnya yang tiada berwujud untuk membikin ayahku lupa kepada dirinya sendiri, akhirnya diantara ayah dan kedua ibuku telah melakukan perkawinan dan sama-sama berdiam didalam taman Bo-hiu di lembah Leng-ci-kok di gunung Ko-le-kong- san!"

"Sudah menjadi suami-istri, bagaimana kemudian bermusuhan lagi? Apakah ada orang yang mengadu domba?" Bertanya Hee Thian Siang heran.

Liok Giok Ji mengangguk-anggukkan kepala dan berkata: "Dugaanmu ini tepat, orang yang mengganggu dan mengadu domba itu bahkan kau kenal baik dengannya. Tidak lain adalah pendekar pemabokan Bo Bu Ju!"

"Kalau begitu Bo Bu Ju locianpwe dijadikan patung beku didalam goa Siang-swat-tong, juga ada sebab musababnya. Mengapa ia harus mengadu domba rumah-tangga orang lain?"

"Bo Bu Ju keliru pendapatnya, karena desas-desus yang tersiar di kalangan Kang-ouw ia menganggap kedua ibuku itu, karena keluaran dari golongan sesat sehingga dirinya tidak bersih. Maka berulang-ulang ia menasehati ayahku supaya jangan sampai terlibat oleh jaring asmara, dan mau hidup bersama-sama dengan dua gadis golongan sesat yang tak tahu malu, jangan sampai nama baiknya sebagai pendekar dinodakan olehnya!" Berkata Liok Giok Ji sambil menghela nafas.

"Apakah ayahmu percaya begitu saja keterangan Bo Bu Ju yang tanpa bukti itu?"

"Ayahku sebetulnya tidak percaya, tetapi tidak sanggup karena selalu dibujuk oleh Bo Bu Ju. Maka dalam keadaan setengah percaya tidak, akhirnya ia minta keterangan kepada kedua ibuku!"

"Kalau toh memang hanya desas-desus di kalangan Kang- ouw, perlu apa takut ditanya?"

"Desas-desus itu meskipun merupakan desas-desus, tetapi memang sebagian adalah sebenarnya, tidak disangka bahwa kedua ibuku itu memang orang-orang dari golongan sesat. Tetapi ada sebagian yang dibuat-buat sendiri yang oleh ayah tidak enak untuk ditanya langsung. Yang ditanyakan hanya soal kecil-kecil saja. Kedua ibuku itu, karena berhati lapang, maka telah menjawab dengan terus-terang. Dengan demikian ayah lantas percaya kepada ucapan Bo Bu Ju. Perlahan-lahan ayah mulai pandang rendah dan jemu kepada kedua ibuku!"

"Apakah ayah dan ibumu itu dengan demikian lantas menjadi bercidera?"

"Meskipun ayah dan ibumu itu dengan demikian lantas menjadi bercidera?"

"Meskipun ayah sudah mulai berubah pikirannya, tetapi oleh karena saat itu kedua ibuku itu masing-masing sudah mengandung, terpaksa bersabar, setelah aku dan Hok Sui Im kedua-duanya lahir, pendekar pemabokan Bo Bu Ju berkunjung lagi untuk memberi nasehat kepada ayah, supaya memutuskan hubungan cinta dengan ibu dan jangan sampai kedua bayi yang masih kecil itu nanti juga berubah menjadi iblis wanita!"

"Bo Bu Ju locianpwe ini sesungguhnya memikirkan terlalu jauh..." Berkata Hee Thian Siang sambil menghela nafas.

"Di bawah desakan Bo Bu Ju demikian rupa, akhirnya ayah telah mendengar perkataannya, bersama aku dan adik Siu Im yang baru lahir satu bulan, telah turun-tangan keji terhadap kedua ibuku!" "Turun-tangan keji bagaimana?"

"Selagi kedua ibuku itu tidak berjaga-jaga sama sekali, ayah telah memusnahkan ilmunya dengan membawa aku dan adik Siu Im, ayah meninggalkan kamar Bo-ciu di lembah Leng- cui-kok itu!"

"Ayahmu kalau benar sudah membawa pergi kalian, seharusnya ia pelihara sendiri dan mendidik hingga besar. Mengapa kau bersama adik Hok ditinggalkan di bawah gunung Ngo-bie dan satu lagi ditinggalkan di bawah kaki gunung Kun-lun?"

"Engko Sian, kau tidak tahu. Ketika ayahku baru saja meninggalkan gunung Ko-le Kong-san, Bu Siang Mo Su telah tiba di kamar Bo-ciu, ketika menyaksikan keadaan itu ia sangat marah sekali, ia telah mengatakan hendak mencari ayah tidak peduli kemana saja, bahkan ia akan membunuh sekalian aku bersama adik Siu Im!"

"Oo, kiranya May locianpwe yang meninggalkan kau dan adik Hok itu sebabnya ialah takut menghadapi Kong Jan Ik, maka ia harus sembunyikan diri terus menerus, dan untuk keselamatanku dan adik Im, maka diam-diam ia mengantarkan kepada partai Ngo-bie dan Kun-lun!" Berkata Liok Giok Ji sambil menganggukkan kepala.

Berkata sampai di situ pipi Liok Giok Ji nampak merah, napasnya memburu, agaknya racun yang mengeram didalam tubuhnya sudah mulai bekerja.

Hee Thian Siang terkejut, buru-buru bertanya: "Adik Giok, sekarang bagaimana perasaanmu?"

"Engko Siang jangan kuatir, untuk sementara aku masih tidak halangan, tidak nanti sebelum ucapanku habis aku bisa mati mendadak!" "Adik Giok, kau jangan bicara lagi, istirahatlah dengan baik!"

"Engko Siang jangan menghalangi aku, aku yang hidup sebagai anak sebatang kara, selama hidupku penuh kegetiran, sebelum aku mati biarlah segala penderitaan ku itu kuucapkan sepuas-puasnya kepadamu, jika tidak, bagaimana aku bisa mati meram?"

Mendengar ucapan yang sangat menyedihkan itu Hee Thian Siang merasa pilu, hingga kembali mengucurkan airmatanya.

Liok Giok Ji melihat Hee Thian Siang demikian pilu, lalu mengulurkan tangannya dan mengusap-usap mukanya, dengan mata ditujukan kepada sudut timur dalam goa, katanya sambil tertawa: "Engko Siang, kau jangan menangis, dengan adanya airmatamu ini, Liok Giok Ji meskipun mati juga tidak akan menyesal! Di sudut timur dinding goa ini, ada tumbuh bunga yang sangat indah. Cobalah kau ambil untuk aku!"

Hee Thian Siang menengok ke tempat yang ditunjuk, benar saja di suatu sudut goa itu, ada tumbuh sebuah pohon yang bunganya tumbuh tergantung ke bawah, bunga itu bentuknya agak aneh, mirip dengan bunga seruni, namun warnanya warna lima. Ia perlahan-lahan meletakkan Liok Giok Ji, lantas lompat untuk memetik bunga itu dan diberikan kepada Liok Giok Ji.

Sewaktu Liok Giok Ji memandang bunga itu, hidungnya dapat mencium bahwa bunga itu sangat harum sekali baunya, disamping itu ia lalu melanjutkan ceritanya: "Sejak waktu itu, ayah lantas memulai penghidupannya yang tak menentu jejaknya, tindakkan itu diambil semata-mata hendak menyingkiri Kong Jang Ik. Akan tetapi tak lama kemudian Kong Jang Ik sudah menutup mata. Kitabnya yang dinamakan Bu-siang Mo-keng diwariskan kepada kedua ibuku, tetapi kedua ibuku itu mulai saat itu lantas tinggal mencar, yang satu berdiam di goa Siang-swat-tong dan yang lain berdiam digoa Cian-khek-cian di gunung Kiu-gi-san.

Dengan menurut kitab peninggalan Kong Jang Ik yang dinamakan Bu-sing Mo-keng itu, kedua ibuku kembali mempelajari dan memulihkan kekuatan dan ilmunya yang dimusnahkan oleh ayah. Disamping itu juga mempelajari beberapa kepandaian ilmu yang luar biasa!"

Waktu itu Hee Thian Siang yang mendengarkan cerita Liok Giok Ji, tampak wajah gadis itu makin lama makin merah, selagi hendak menasehati ia agar jangan banyak bicara lagi, Liok Giok Ji sudah melanjutkan ucapannya lagi: "Hingga paling belakang ini, karena belajar dengan tekun dan sungguh hati, bukan saja kepandaian ilmu silat yang lama pulih kembali keduanya, tetapi juga obat yang melupakan dirinya dahulu juga hilang khasiatnya, hingga pulih kembali ingatannya seperti sedia kala.

Oleh karena waktu itu Pek-thao Lo-sat Sam kow dari Kie- lian-pay juga berdiam didalam goa Siang-swat-tong melatih ilmunya, maka lantas berkenalan dengan orang golongan Kie- lian. Ibu telah bertekad hendak mencari ayah, pendekar pemabokan Bo Bu Ju dan Tie-hui-cu serta Siauw Tek untuk membalas dendam sakit hatinya!"

Hee Thian Siang mendengarkan sampai di situ barulah mengetahui rahasia rimba persilatan yang membawa akibat sangat tragis itu, maka dengan memeluk erat tubuh Liok Giok Ji, ia bertanya pula sambil tersenyum: "Adik Giok, apakah ucapanmu ini sudah habis?"

"Engko Siang, jangan keburu nafsu. Kisahku ini masih ada bagian yang terakhir yang belum kujelaskan kepadamu!"

Dengan sikapnya yang lemah-lembut dan penuh cinta kasih ia memandang Hee Thian Siang bertanya sambil tersenyum: "Aku yang berkelana di dunia Kang-ouw telah kesalahan masuk digoa Siang-swat-tong, waktu itu ibuku karena melihat aku, wajahnya mirip dengan wajahku sendiri, lalu menanya keterangan diriku. Disitulah kami ibu dan anak mulai bertemu kembali!

Ibu lalu minta pinjam kuda Cian-kie-kiok-hwa-ceng milik ketua Kie-lian-pay, suruh aku pergi ke gunung Kiu-gie-san untuk mencari ibuku yang lain ialah Kiu-thian Mo lie Tang Siang Siang, minta ia supaya berkunjung kegunung Kie-lian untuk merundingkan siasat bagaimana harus menghadapi Ce- hui-cu, Siau Pek, untuk menuntut balas dan paksa ayah unjuk diri untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya dahulu dikamar Bo-ciu."

Berkata sampai disitu, Liok Giok Ji terdiam, kepalanya mendongak dengan mata bersinar tajam mengawasi Hee THian Siang, kemudian berkata pula: "Engko Siang, kisahku ini sudah selesai. Selanjutnya, sebagian besar kau sudah tahu sendiri hingga tidak perlu aku ceritakan lagi!"

Hee Thian Siang mengangguk-anggukkan kepala, oleh karena melihat wajah Liok Giok Ji yang merah itu, ia sangsikan bahwa racun didalam tubuhnya itu kembali memberikan tanda-tanda bekerjanya maka dengan penuh perhatian ia bertanya: "Adik Giok, kulihat wajahmu seperti sangat pucat, apakah kau merasakan apa-apa yang kurang enak? Ayahmu barangkali berada ditempat dekat-dekat sini, mari aku gendong dan naik kuda untuk mencari dia, mungkin dengan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah sempurna bisa membantu menghilangkan racun dalam tubuhmu!"

Liok Giok Ji terheran-heran mendengar ucapan Hee Thian Siang, tanyanya: "Bagaimana kau tahu ayahku berada ditempat dekat-dekat sini?" "Aku pernah minum bersama-sama dengannya. Lalu datang kemari untuk membantu kau. Mungkin juga ia yang memberi petunjuk kepadaku!"

Liok Giok Ji berpikir sejenak, lalu berkata sambil menggelengkan kepala: "Walaupun ayahku berada dekat sini, aku juga tak suka menjumpainya!"

"Apa sebabnya?" Bertanya Hee Thian Siang heran.

Liok Giok Ji menghela nafas panjang, katanya sambil tertawa getir: "Engko Siang, coba kau pikir sendiri, dua orang tuaku itu adalah ayah dan ibu yang melahirkan diriku. Kau suruh aku membantu pihak yang mana?"

Hee Thian Siang mendengar ucapan itu juga merasa memang benar agak sulit kedudukan seperti Liok Giok Ji itu. Selagi mengerutkan alisnya untuk berpikir, Liok Giok Ji memberikan bunga aneh warna merah itu ditaruh di depan hidung Hee Thian Siang, katanya sambil tertawa: "Engko Siang, coba kau cium, betapa harumnya bunga ini? Mungkinkah ini adalah bunga ajaib yang terdiri dari dua jenis hawa?"

Hee Thian Siang menciumnya beberapa kali memang benar bunga yang bentuknya aneh itu baunya sangat harum sekali! Yang mengherankan ialah, begitu mencium bau harum itu, sekujur badannya dirasakan segar, dalam badannya merasa hangat!"

Ia lalu berkata kepada Liok Giok Ji sambil tertawa: "Adik Giok, kau benar. Bunga yang berwarna lima ini, benar-benar harum sekali baunya! Kau tadi setelah mencium bau harum ini apakah badanmu merasa enak dan segar?"

Liok Giok Ji mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum, sikapnya waktu itu sangat menggiurkan, hingga Hee Thian Siang yang menyaksikan tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Ia menundukkan kepala dan menciumnya.

Mereka tidak tahu bahwa bunga yang tumbuh didalam hutan dan warnanya aneh itu bukanlah tumbuhan dari hawa mukjizat, melainkan tumbuh dari dua jenis hawa yang mengandung perangsang. Bunga itu biasanya dinamakan Cui- sin-hwa, bau harum yang keluar dari bunga itu mengandung daya perangsang sex yang sangat hebat!

Diluar kesadarannya, Hee Thian Siang dan Liok Giok Ji yang merasa suka dan mencium bunga itu kedua-duanya sudah terkena pengaruhnya. Hingga tanpa disadari pengaruh perangsang yang terkandung dalam bunga itu telah menguasai dirinya. Apalagi keduanya demikian dekat dan saling berciuman, seluruh budi pekertinya telah terpengaruh oleh bunga itu, dengan demikian kedua-duanya telah lupa segala-galanya dan terjerumus ke dalam perbuatan asusila.

Setelah mereka melakukan perbuatannya yang tidak dikehendaki itu, pengaruh dari bunga itu perlahan-lahan juga mulai lenyap. Begitu kembali pikirannya jernih, Hee Thian Siang merasa sangat malu sekali, hingga keringat dingin membanjiri dirinya.

Liok Giok Ji sendiri oleh karena tadi baru terluka parah, maka sehabis melakukan perbuatan itu, keadaannya semakin menyedihkan!

Hee Thian Siang yang menghadapi keadaan demikian, ia menyesali dirinya sendiri, maka buru-buru keluar dari dalam goa, ia lari ke tempat dekat sekitar itu dengan pengharapan bisa menemukan Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong yang mungkin bisa menolong jiwa Liok Giok Ji.

Akan tetapi sia-sia saja ia mencari kemana-mana, ia tak dapat menemukan orang yang dicari. Dalam keadaan tak berdaya ia kembali ke dalam goa, ia sesungguhnya sudah tidak ada muka lagi untuk menjumpai Liok Giok Ji. Selagi hendak menghabiskan jiwanya sendiri, tiba-tiba teringat kepada pesan Duta Bunga Mawar, ia juga ingat bagaimana kepandaian orang tua yang sangat misteri itu.

Karena ingat kepada diri Duta Bunga Mawar semangatnya terbangun lagi. Ia lalu membatalkan maksudnya untuk masuk ke dalam goa, kemudian berjalan ke tempat yang agak tinggi. Dengan menggunakan ilmunya menyampaikan suara ke dalam telinga, ia memanggil-manggil nama Duta Bunga Mawar.

Duta Bunga Mawar itu setiap kali Hee Thian Siang menemui kesulitan, pasti akan muncul untuk memberi petunjuk, kali ini agaknya tidak perdulikan kepada dirinya lagi.

Hee Thian Siang yang dengan pengharapan bisa menemukan Duta Bunga Mawar, namun apa yang didapat olehnya usahanya tadi hanyalah suara mengaungnya dari suaranya sendiri saja.

Dalam keadaan putus asa, kembali timbul maksudnya hendak bunuh diri. Tetapi baru saja hendak terjun dari tempatnya berdiri, matanya telah tertumbuk oleh tempat dimana kuda Cian-lie-ciok-hoa-ceng tadi beristirahat, kini ternyata sudah tak tampak lagi bayangannya.

Hee Thian Siang tahu benar bahwa kuda yang sangat cerdik itu, jika tanpa sebab, tidak mungkin ia meninggalkan majikannya. Maka ketika mengetahui menghilangnya kuda itu, ia lantas tahu pasti ada terjadi perubahan apa-apa atas diri Liok Giok Ji. Oleh karenanya, maka ia terpaksa menebalkan muka masuk ke dalam goa.

Begitu masuk kedalam goa, Hee Thian Siang lantas berdiri melongo! Karena Liok Giok Ji yang tadi dalam keadaan payah, ternyata juga sudah tiada ditempatnya lagi, lambang Bunga Mawar batu giok juga dibawa pergi, hanya bunga Cui-siem- hwa sudah diremas-remas sehingga menjadi hancur berantakan ditanah. Apa yang mengejutkan baginya ialah didalam dinding tembok waktu itu terdapat huruf yang ditulis dengan jari tangan, huruf-huruf itu berbunyi: "Jodoh ataukah durhaka?"

Hee Thian Siang yang menghadapi pemandangan itu disamping terkejutnya juga timbul curiga dan girang.

Ia terkejut karena didalam waktu yang sangat singkat ternyata sudah ada orang yang membawa dan menolong Liok Giok Ji. Dan yang mencurigakan ialah siapa orangnya yang datang dan membawa pergi Liok Giok Ji? Liok Giok Ji waktu itu masih dalam keadaan pingsan, dengan cara bagaimana orang yang masih asing dengan kuda Cian-lie-giok-hwa-ceng mau dinaiki begitu saja?

Yang menyedihkan baginya, ialah ia sendiri yang terkena pengaruh kembang mudjizat tadi, pikirannya menjadi kalut, sehingga melakukan perbuatan gila-gilaan itu, bukan saja ia merasa berdosa terhadap Tiong-sun Hui Kheng, Hok Siu Im, tetapi juga merasa menyesal terhadap diri Liok Giok Ji. Yang menggirangkan ialah menurut tanda-tanda yang dihadapinya sekarang dan tulisan-tulisan yang ditulis dengan jari tangan itu, meskipun kesucian Liok Giok Ji sudah ternoda oleh dirinya, tetapi jiwanya masih selamat, hanya dibawa pergi oleh penolongnya.

Hee Thian Siang yang dalam keadaan demikian, tiba-tiba mendengar suara orang yang memanggil dirinya. Suara itu kedengarannya sangat samar-samar, tetapi agaknya tidak asing baginya. Hee Thian Siang yang mendengar suara itu lantas membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju kemulut goa. Tetapi sebelum ia keluar dari goa, suara kedua terdengar pula. Kali ini kedengarannya lebih nyata. Suaranya juga bukan dari luar, melainkan dari dalam goa. Goa itu merupakan goa mati, tiada jalan lain daripada mulut goa. Tetapi ada suara dari dalam, sudah tentu ia merasa terkejut dan terheran-heran hingga dianggapnya suara dari setan atau hantu. Ketika suara ketiga itu terdengar pula, kali ini Hee Thian Siang dapat mengerti dengan nyata sekali, suara itu ternyata keluar dari belakang dinding goa.

Dengan perasaan heran ia berjalan ke depan dinding, baru saja matanya ditujukan untuk mencari-cari tanda-tanda di dinding goa itu, tiba-tiba mendengar suara orang itu berkata: "Dinding dalam goa ini merupakan pintu hidup, kau boleh mendorong dengan sekuat tenaga, maka nanti akan tergerak sendiri!"

Hee Thian Siang masih setengah percaya setengah tidak, ia mendekati dinding goa, dengan menggunakan ilmunya Thian-thian Khie-khang, mendorong sekuat-kuatnya. Dinding batu yang tampaknya utuh itu, benar saja lantas bergerak. Dinding batu itu memutar, depan matanya tampak sinar terang. Hee Thian Siang sudah berada didalam kamar yang lain.

Kamar dalam goa itu tidak seberapa luas, kira-kira hanya setombak persegi saja, tetapi lampu minyak yang berada didalam kamar itu terang-benderang, sehingga menerangi seluruh kamar itu.

Dalam ruangan itu tidak ada barang apa-apa lagi, hanya sebuah tempat duduk untuk bersemedi yang tebal, di atas tempat duduk itu duduk bersila seorang padri tua berpakaian jubah abu-abu yang wajahnya menunjukkan kelemahannya. Padri tua itu sedang mengawasi Hee Thian Siang sambil tersenyum. Hee Thian Siang meskipun sifatnya agak tinggi hati, tetapi begitu melihat sikap agung padri tua itu, ia lantas tahu bahwa padri tua itu adalah orang yang luar biasa, maka ia segera menjura untuk memberi hormat, kemudian berkata sambil tersenyum: "Seorang baru dalam rimba persilatan Hee Thian Siang, di sini menjumpai taisu. Hee Thian Siang bolehkah numpang tanya sebutan taisu yang mulia?"

Padri tua itu balas menanya kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum: "Hee laote, kau ini benar sudah linglung, ataukah karena terlalu girang sehingga sudah menjadi pelupa? Apakah kau sudah tak mengenali aku lagi?"

Suara yang keluar dari padri tua itu tadi melalui dinding tembok, maka Hee Thian Siang meskipun merasa tidak asing, namun merasa samar-samar. Dan kini setelah berhadapan, mendengar suaranya, lantas mundur setengah langkah, matanya menatap padri tua itu, dan tanyanya dengan heran : "Locianpwe... Apakah kau Duta Bunga Mawar ?"

Padri tua itu yang memang benar Duta Bunga Mawar adanya, menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa : "Tadi bukankah kau memanggil manggil aku di luar goa ?"

Mata Hee thian siang menatap Duta Bunga Mawar yang baru pertama kali dilihatnya, lalu bertanya dengan agak menyesal : "Locianpwe telah sembunyikan diri ditempat ini, mengapa tadi tidak lekas keluar ?"

"Jikalau aku unjuk diri terlalu pagi, bagaimana harus dapat melunaskan hutang rindumu ? Dan bagaimana pula bisa membuktikan kemanjuran restu dari Makan Bunga Mawar ?" Berkata Duta Bunga Mawar sambil tertawa.

Dengan wajah ke merah merahan, Hee Thian siang berkata: "Oo ! Aku semula mengira bahwa May Ceng Ong Locianpwe yang mengantarkan aku ke tempat ini. Kiranya adalah Locianpwe yang sudah mengatur lebih dahulu !" "May Ceng Ong sekalipun seorang bermuka tebal, tetapi sebagai ayah tidak pantas kalau menjual anak perempuannya sendiri. Apalagi orang yang dirundung kesedihan dan gampang sekali mabok. keadaannya waktu itu juga seperti dengan kau yang tidak tahu apa-apa lagi. Hanya orang yang seperti aku ini, yang suka menjodohkan orang, barulah melakukan perbuatan itu. Supaya kalian bisa tercapai maksud semula, dan menunaikan kerinduan hatimu !"

"Apakah Locianpwe tidak takut racun yang mengeram di tubuh Liok Giok jie nanti bekerja dengan mendadak, sehingga membahayakan jiwanya ?"

"Lambang Bunga mawar batu giok yang kuberikan kepadamu itu, kau telah berikan kepadanya, lambang bunga mawar itu mempunyai khasiat dapat memunahkan segala jenis racun, ia setelah menerima dari tanganmu, berulang ulang diciumnya, mengapa harus takut racun dalam tubuhnya

?"

Mendengar jawaban itu Hee Thian siang baru tahu bahwa Lambang Bunga Mawar itu mempunyai khasiat yang demikian mujizat, tetapi dengan kata katanya itu ia juga mengerti bahwa Duta Bunga Mawar yang menyaksikan semua adegan yang tidak beres dengan Liok Giok jie, maka saat itu wajahnya merah membara, katanya dengan suara gelagapan : "Locianpwe, apakah Liok Giok jie pergi sendiri ?"

"Liok Giok jie telah diketemukan oleh Pek tao Lo-sat Pao Sam-kow dari Kie-lian-pay, ketika perempuan itu jalan melalui sini, ia lihat ada Cian-lie-ciok-hwa-ceng yang berada dimulut goa, dalam kecurigaannya ia lalu masuk kedalam goa dan membawanya pergi !" 

Hee Thian siang baru menganggukkan kepala, kata Duta Bunga Mawar sudah berkata lagi : "Hee laote, jika Liok Giok jie itu kecipatan sifat dan watak ibunya, sedikit banyak ada ketularan sifat iblisnya, diwaktu biasa ia merupakan seorang pendekar wanita yang mempunyai pikiran waras. Tetapi apabila sifat iblisnya itu timbul, segala tindakannya tidak dapat diukur dengan ukuran biasa. Apalagi anak perempuan kebanyakan sifatnya tinggi hati dan sombong, suka jaga muka, perbuatannya denganmu itu apa mau telah kepergoki oleh Pao Sam Kow, apabila Liok Giok Ji merasa malu dan marah, ada kemungkinan perasaan cintanya berbalik menjadi dendam sakit hati. Itulah yang dikatakan jodoh ataukah durhaka? Sekarang ini masih terlalu pagi untuk diduga-duga, sebaiknya laote di kemudian hari jikalau bertemu muka dengannya, berlakulah lebih hati-hati!"

"Locianpwe, dengan cara locianpwe yang menjodohkan orang secara paksa semacam ini sesungguhnya membuat diriku terjepit dalam kesulitan! Tiong-sun Hui Kheng dan Hok Siu Im, dua gadis itu apabila mengetahui perbuatanku yang gila-gilaan ini, bagaimana aku harus menempatkan diri, apa ada muka untuk bertemu dengan mereka?"

"Jodoh yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, begitu bertemu lantas jadi. Laote, kau seorang yang mempunyai rejeki besar. Tidak perlu banyak kuatir!" Berkata Duta Mawar sambil tertawa.

Berkata sampai di situ, sepasang matanya memancarkan sinar aneh, bertanya pula kepada Hee Thian Siang: "Hee laote, kau sangat pintar, apakah kau dapat menduga bagaimana hari ini aku bersedia bertemu muka denganmu?"

Hee Thian Siang yang ditanya secara tiba-tiba demikian, tampak berpikir agak lama, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala.

Duta Bunga Mawar berkata pula sambil tertawa: "Sebab, ini adalah pertemuan muka kita yang terakhir!" Hee Thian Siang baru sadar, tanyanya: "Apakah locianpwe juga sama dengan dua cianpe Duta Bunga Mawar yang lain, sudah tiba waktunya untuk naik ke sorga?"

"Hari ini adalah saatku untuk kembali ke dalam pangkuan Tuhan dan kamar didalam goa ini merupakan tempatku yang terakhir." Berkata Duta Bunga Mawar sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Hee Thian Siang yang sudah banyak mendapat bantuan Duta Bunga Mawar, mendengar ucapan itu hatinya merasa pilu, katanya sambil mengucurkan air mata: "Locianpwe baru pertama kali bertemu muka denganku, kini sudah akan berpisah untuk selama-lamanya, bagaimana Hee Thian Siang tak akan sedih?"

"Hee laote, kau benar-benar seorang yang baik, tetapi manusia siapakah yang tidak akan mati? Apalagi orang sebagai aku ini, kematian itu seolah-olah meninggalkan badan kasarku, tetapi toh sudah kembali kepada pangkuan Tuhan, inilah yang diidam-idamkan bagi orang yang memeluk agama Budha seperti aku ini. Laote seharusnya merasa turut gembira dengan hasilku itu, tidak perlu terlalu banyak pikiran!" Berkata Duta Bunga Mawar sambil tertawa

Namun demikian, wajah Hee Thian Siang masih tetap diliputi oleh kedukaan, ia bertanya: "Sebelum locianpwe meninggalkan Hee Thian Siang, bolehkah locianpwe memberitahukan nama locianpwe yang mulia?"

"Laote, coba pikirkan sendiri baik-baik, mungkin bisa menebak sendiri."

Hee Thian Siang dengan tiba-tiba teringat kepada ucapan Oe-tie Khao yang berkata padanya, bahwa dua puluh tahun berselang ada tiga tokoh pria dan dua tokoh wanita yang namanya menggemparkan rimba persilatan. Diam-diam ia pikir, dua orang tua berambut panjang berjubah kuning itu kalau benar adalah tokoh wanita yang disebutkan oleh Oe-tie Khao itu, pasti adalah Siang-swat Siancu Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo-lie Tang Siang Siang, sedangkan Duta Bunga Mawar ini mungkin adalah orang yang disebut sebagai tiga tokoh pria ialah Go Boan ciu yang mempunyai julukan pelajar romantis, Bo Chun-Yang yang mempunyai julukan Bu- ceng Kiam-khek dan Ce Hiang Po, yang mempunyai julukan Cian-ceng Kiesu. Dan Duta Bunga Mawar yang di hadapan matanya itu salah seorang dari tiga tokoh.

Berpikir sampai di situ, ia lalu coba bertanya kepada Duta Bunga Mawar: "Apakah locianpwe salah seorang dari Go Boan Ciu, Bo Chun Yang dan Ce Hiang Po?"

"Dugaan ini tepat sekali, pelajar romantis Go Boan Ciu adalah Duta Bunga Mawar yang ke satu, Bo Chun Yang adalah Duta yang nomor dua. Sedangkan aku, Duta Bunga Mawar nomor tiga, adalah Ce Hiang Po!"

"Locianpwe bertiga, dahulu merupakan musuh bebuyutan yang sama-sama memiliki kekuatan dan kepandaian yang luar biasa, dengan cara bagaimana bisa bersatu hati, berubah menjadi Duta Bunga Mawar?"

"Hee laote, tahukah kau apa sebabnya aku bersama Go Boan Ciu menjadi musuh bebuyutan?"

Oleh karena dahulu Hee Thian Siang sudah pernah dengar cerita dari Oe-tie Khao, maka ia lantas menjawab: "Locianpwe bertiga telah kebentrok lantaran urusan julukan nama!"

"Duta Bunga Mawar menggeleng-gelengkan kepala dan berkata sambil tertawa: "Orang-orang dalam dunia Kang-ouw yang tidak tahu seluk beluknya, mengira kami bertiga menjadi musuh lantaran urusan julukan nama. Sebetulnya, kami bertiga dari puncak gunung Ngo-gak yang tertinggi, bertempur terus hingga gunung Ngo-bie, kami bertempur mati-matian sampai enam kali, semua itu semata-mata lantaran saling cemburu!"

Jawaban itu sesungguhnya di luar dugaan Hee Thian Siang, maka ia lalu bertanya dengan heran!

"Lantaran cemburu?"

"Orang-orang yang bersangkutan dahulu, hanya aku seorang yang masih hidup, sudah tentu sebelum aku menutup mata harus menceritakan kisah ini kepadamu, supaya tidak akan menjadi rahasia untuk selama-lamanya!"

Urusan yang menyangkut diri tiga Duta Bunga Mawar itu ternyata mengandung kisah yang sangat menarik. Sudah tentu ia senang sekali mendengarkannya. Lebih-lebih orang yang menceritakan itu justru adalah orang yang bersangkutan sendiri.

Sementara itu Duta Bunga Mawar sudah berkata: "Aku dengan Go Boan Ciu dan Bo Jun Yang sebabnya cemburu, ialah lantaran tiga orang itu sama-sama jatuh cinta kepada pendekar wanita Bunga Mawar, yang pada waktu itu merupakan seorang pendekar wanita tercantik didalam rimba persilatan!"

"Apakah pendekar Bunga Mawar itu adalah sahabat karib suhu boanpwe pada dua puluh tahun berselang, tetapi kemudian telah menghilang dengan tiba-tiba? Menurut suhu, pendekar Bunga itu bernama Gwie Cie Liem!"

"Dia memang betul sahabat karib suhumu, Giw Cie Liem. Lantaran dia, kita bertiga pernah melakukan pertempuran sampai lima kali di puncak gunung Ngo-gak yang tertinggi. Namun dalam pertempuran itu tidak ada yang menang atau kalah. Dan akhirnya kita berjanji untuk mengadakan pertempuran lagi di atas puncak gunung Ngo-bi. Dan sebelumnya, kita sudah menetapkan suatu perjanjian, apabila belum ada yang mati salah satu, pertempuran tak boleh berhenti! Jadi, diantara tiga orang, hanya boleh ada seorang saja yang hidup, supaya bisa menikah dengan pendekar Bunga Mawar yang jelita itu!"

"Dalam pertarungan sengit yang terjadi berulang-ulang kali itu, mengapa locianpwe bertiga belum ada seorangpun yang tewas? Sebaliknya bekerja-sama menjadi Duta Bunga Mawar?"

"Diatas gunung Ngo-bi yang tertinggi, kita bertempur selama tiga hari dan kita semuanya terluka parah, namun masih terus berusaha untuk memperoleh kemenangan yang terakhir. Pada saat itu pendekar Mawar Gwie Cie Liem dengan tiba-tiba datang ke situ dan ia menjelaskan bahwa terhadap kita bertiga, ia sama-sama cintanya, cinta itu susah baginya untuk membedakan. Oleh karena ia tidak b isa membagi dirinya, maka terpaksa hendak mengorbankan jiwanya sendiri untuk menyelesaikan persoalan cinta segi empat itu. Ia mengharap dengan perbuatannya itu supaya kita mengakhiri permusuhan dan selanjutnya bekerja sama untuk kepentingan umat manusia!

Sehabis mengucapkan perkataan itu, ia meninggalkan kepada kita sebuah tanda mata yang berupa Bunga Mawar batu giok sebagai tanda kenang-kenangan kita. Setelah itu lantas ia melompat dari atas gunung, ke dalam jurang yang curam! Aku bersama Go Boan Ciu, Bo jun Yang sudah tentu pada terkejut dan terharu. Maka kita bertiga lalu bersepakat dan mendirikan Makam Bunga Mawar di lembah Kim-giok-kok di gunung Bin-san, makam itu kita kubur setengah tangkai Bunga Mawar batu giok dan setengah yang lainnya dibagi tiga. 

Kita lalu bersumpah setiap orang dengan bergiliran menjadi penjaga makam itu untuk tiga tahun lamanya dan kita namakan diri Duta Bunga Mawar yang bertugas untuk melaksanakan restu Bunga Mawar yang diminta oleh setiap orang. Oleh karena pengalaman pahit dalam asmara yang sudah kita alami sendiri, maka kita mempunyai hasrat, barang siapa yang meminta restu supaya bisa terkabul maksudnya dalam soal asmara dan kami akan membantu sedapat mungkin agar maksudnya itu bisa terkabul."

Hee Thian Siang yang mendengar itu tak henti-hentinya menghela nafas, dalam hatinya juga merasa sangat kagum akan keputusan yang telah diambil oleh ketiga lelaki gagah itu.

"Pendekar wanita Bunga Mawar itu, telah mengorbankan jiwanya sendiri guna kepentingan seluruh umat manusia yang bercinta-kasih, semangat ini sungguh agung dan locianpwe bertiga yang mengingat pengalaman pahit diri sendiri juga bisa mengambil keputusan demikian untuk membantu orang-orang yang putus asa, agar mencapai cita-citanya, tindakan ini sesungguhnya patut kami junjung tinggi dan kami hargai!" Demikian ia berkata.

"Nama dan asal-usulku, serta dengan bagaimana aku bisa menjadi Duta Bunga Mawar, sudah kujelaskan semua, sekarang tiba giliranmu dengan maksudku memanggil kau datang kemari."

"Apa masih ada pesan lain lagi?"

"Hee laote, kau coba duga. Dalam golongan iblis pada dewasa ini siapakah yang menurut anggapanmu paling lihay?"

Hee Thian Siang berpikir dulu, lama baru menjawab: "Ketua Tiam-cong-pay Thiat-kwan totiang, ketua Kie-lian-pay Khie tay Cao, Pek-thao Lo sat Pao Sam-kow, semua merupakan tokoh- tokoh golongan kelas satu. Tetapi yang lebih lihay, harus terhitung Siang-swat Sian-cu Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang yang menyamar sebagai orang tua berambut panjang berbaju kuning!" "Dugaanmu ini keliru. Siang-swat Sian-cu Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo-lie Tang Siang Siang, meskipun sangat lihay, tetapi bagaimanapun juga dengan Hong-tien Ong-khek May ceng Ong pernah ada hubungan sebagai suami-istri. Asal May Ceng Ong mau mandah dan mau menerima kesalahannya, mereka ada kemungkinan membatalkan maksudnya yang semula. Dengan demikian ada kemungkinan pula, suami-istri bertiga itu, bisa rujuk kembali dan sama-sama pergi mengasingkan diri! Berkata Duta Bunga Mawar sambil menggelengkan kepala.

Hee Thian Siang dapat menangkap maksud yang terkandung dalam ucapan Duta Bunga Mawar itu kemudian ia bertanya: "Jika kudengar ucapan locianpwe ini, maksudnya apakah ada kawanan iblis yang lebih lihay lagi yang akan muncul didalam rimba persilatan?"

Duta Bunga Mawar menganggukkan kepala dan berkata: "Kie-lian dan Tiam-cong, dua partai itu sudah menggabungkan diri dan membentuk partai yang baru Ceng-thian-pay, sesudah partai itu terbentuk, Khie Tay Cao dan Thiat-kwan totiang nanti pasti akan mengadakan perundingan, mereka akan merasakan hanya dengan mengandalkan Siang-swat Sian-cu Leng Biauw dan Kiu-thian Mo-lie Tang Siang Saign dua orang saja yang menunjang dibelakang layar untuk menghadapi jago-jago rimba persilatan, dianggapnya masih kurang kuat kedudukannya. Maka mereka akan putar otak dan berusaha untuk mengundang lagi tiga orang yang pada tiga empat puluh tahun berselang pernah menggetarkan rimba persilatan untuk menjabat sebagai anggota pelindung hukum tertinggi dari partai Ceng-thian-pay."

"Siapakah orangnya yang sangat lihay itu, yang sudah empat puluh tahun belum pernah muncul dalam dunia Kang- ouw?" Bertanya Hee Thian Siang.

"Apakah kau belum pernah dengar suhumu menceritakan tentang diri Pek-kut Sam-mo atau tiga iblis tulang putih?" "Boanpwe belum pernah dengar nama Pek-kut Sam-mo ini. Harap locianpwe sudi menerangkan lebih jelas." Menjawab Hee Thian Siang sambil menggoyangkan kepalanya.

"Apa yang disebut sebagai Pek-kut Sam-mo itu terdiri dari tiga orang manusia yang perbuatannya lebih jahat daripada iblis, mereka adalah Pek-kut Thian-kun dari gunung Tay-pa- san, Pek-kut I-su dari gunung Lao-san dan Pek-kut Thian-cu dari lembah Cu-tek-kok dari gunung Tay-lao-san..."

"Bagaimana kepandaian ilmu silat tiga iblis itu?"

"Tiga iblis itu, dahulu namanya sama-sama terkenal dengan Bu-siang Mo-su Kong Yang Ek, kepandaian ilmu silat mereka sudah tentu telah mencapai ketaraf yang tiada taranya!"

"Locianpwe, menurut pemandangan locianpwe, bagaimana kepandaian suhu kalau dibandingkan dengan kepandaian tiga iblis itu?"

"Aku sudah memperhitungkan kekuatan dan kepandaian mereka kedua fihak. Suhumu dapat melawan Pek-kut Thian- kun, termasuk orang paling lihay dalam barisan tiga iblis itu. Sedang Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng, dapat melawan Pek-kut I-su, sementara tokoh-tokoh dari Bu-tong, Lo-hu, Siao-lim, Ngo-bie dan Swat-san, boleh menghadapi kawanan penjahat dari partai Ceng-thian-pay. Tentang murid-murid Pek-kut Sam-mo, Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong bersama Siang-swat Sian-cu Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo-lie Tang Siang Siang yang sudah akur lagi tak perlu dibicarakan. Hanya tinggal seorang yang sulit dihadapi ialah Pek-kut Sian-cu, tiada orang yang sanggup menghadapi!"

Hee Thian Siang mendengar keterangan itu, matanya menatap Duta Bunga Mawar, sementara itu Duta Bunga Mawar sudah berkata lagi sambil tertawa. "Aku sebetulnya boleh menyumbangkan sedikit tenaga. Tetapi oleh karena batasku sudah sampai sebentar lagi aku akan pulang ke alam baka, maka aku sengaja memanggilmu untuk datang kemari.  "

Sebelum habis ucapannya, Hee Thian Siang mendengar gelagat tidak baik, dalam terkejutnya ia lantas berseru: "Locianpwe, apakah maksud locianpwe menyuruh aku yang masih muda dan berkepandaian tidak berarti ini, bertugas menghadapi Pek-kut Thian-kun?"

"Dugaanmu ini meskipun bukan seluruhnya benar tetapi juga selisih tidak jauh!" Aku bukan saja menghendaki kau menghadapi Pe-kut Sam-mo, tetapi juga menghendaki kau bertukar tempat dengan suhumu, biarlah Pak-bin Sin-po yang menaklukkan Pek-kut Sian Sian-cu dan kau yang harus menghadapi Pek kut Thian-kun yang paling lihay!"

"Oo!" Demikian Hee Thian Siang berseru sambil tertawa." "Aku mengerti, maksud locianpwe ini ialah hendak

menggunakan akal yang dilakukan dizaman dahulu, dimana Thian Kie dan raja She Ong berlomba pacuan kuda, dengan aku seorang rendah, menghadapi seorang yang paling lihay, tetapi dengan demikian bukankah aku Hee Thian Siang akan menjadi korbannya yang lebih dahulu?"

"Ini bukan rencana Thian Kie berpacu kuda." Berkata Duta Bunga Mawar sambil tertawa. Sebab Pek-kut Thian-kun itu sudah mengandalkan ilmu Sin-kang, orangnya terlalu sombong, tidak pandang mata kepada siapapun juga. Maka lalu aku pikir hendak menggunakan kau untuk mengobor dia supaya tidak ada muka turun tangan dan merasa malu sendiri, akhirnya pasti akan kabur! Bagi orang-orang golongan kita, kalau sudah pergi seorang musuh tangguh seperti itu, dengan sendirinya banyak kesempatan untuk merebut kemenangan dan membasmi kawanan penjahat itu!" "Locianpwe pikir suruh aku dengan cara bagaimana untuk memanaskan hati Pek-kut Thian-kun itu?"

"Seorang seperti kau yang masih muda belia dan orang dari tingkatan muda, asal di hadapan orang banyak sanggup menyambut tiga kali pukulannya Pek-kut Thian-kun, dia sudah pasti merasa tiada muka untuk menjadi jago lagi. Dan dengan sendirinya pasti akan mengundurkan diri karena merasa sangat malu."

"Kalau locianpwe sudah berkata demikian, baiklah pada waktu upacara pembukaan partai baru Ceng-thian-pay nanti aku akan berusaha membakar Pek-kut Thian-kun untuk bertanding dengan aku. Dan aku akan mengerahkan seluruh kekuatan tenagaku guna menyambuti pukulannya sampai tiga kali."

Duta Bunga Mawar dengan melihat sikap Hee Thian Siang yang tidak kenal takut, lalu tertawa geli, katanya: "Hee laote kau ini benar-benar seperti anak sapi yang baru lahir, tidak takut kepada harimau yang buas! Dengan kepandaian yang kau miliki sekarang ini, jangankan tiga jurus, satu jurus pun kau juga tidak sanggup menyambut serangan Pek-kut Thian- kun itu."

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan Duta Bunga Mawar bahwa ia sendiri tidak sanggup menghadapi serangan Pek-kut Thian-kun sejurus saja, dalam hati merasa penasaran. Selagi hendak menyatakan pikirannya, Duta Bunga Mawar sudah berkata lagi sambil tertawa: "Hee laote, kau jangan merasa penasaran dulu, kekuatan dan kepandaian ilmu silat seseorang tak boleh dipaksa, coba kau pikir sendiri, ketika kau di gunung Tiam-cong-san, kau telah mendapat serangan hebat hanya sejurus saja dari ilmu Thiat-sin Sin-kang Thiat- kwan totian dan hampir saja kau kehilangan nyawamu. Apalagi kekuatan dan kepandaian ilmu Pek-kut Thian-kun masih jauh lebih tinggi daripada ketua Tiam-cong-pay itu!" Hee Thian Siang yang mendengar keterangan itu mukanya merah seketika, lanjutnya: "Kalau begitu, mengapa locianpwe minta aku menyambut serangan Pek-kut Thian-kun sampai tiga kali?"

"Aku sebetulnya hendak berangkat besok pagi tetapi aku sekarang telah mengambil keputusan untuk lebih cepat beberapa jam. Aku hendak menurunkan kepandaian dan kekuatan tenaga dalamku kepadamu. Disamping itu aku juga akan menurunkan ilmuku tiga jurus gerakan Bunga Mawar. Barangkali kau bisa lolos dari tiga kali serangan Pek-kut Thian-kun!"

Sebagai murid Pak-bin Sin-po Hee Thian Siang hampir setiap hari dengar tentang ilmu-ilmu, seakan pengetahuan dan pengertian dalam ilmu persilatan sangat luas sekali, ia tahu benar bahwa untuk menyalurkan kekuatan tenaga dalam dari salah satu aliran lain merupakan suatu usaha yang paling sulit sekali. Orang yang menurunkan kekuatan tenaga itu harus mengerahkan tenaga sepenuhnya, sedangkan orang yang menerima kekuatan tenaga itu hanya dapat menerima setengahnya saja. Dan lagi, orang yang menyalurkan harus lebih sungguh-sungguh dan tidak boleh lengah sedikitpun juga. Dalam keadaan seperti itu kadang-kadang bisa membahayakan dirinya sendiri.

Dengan lain perkataan, apabila Duta Bunga Mawar tidak menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya kepadanya sendiri, bisa hidup sampai besok pagi. Tetapi apabila ia berbuat demikian, sesudah menyalurkan kekuatan tenaganya, pasti akan meninggal dunia.

Perbuatan seperti itu, sesungguhnya berarti mengorbankan jiwanya sendiri demi kepentingan orang lain. Dan sudah tentu Hee Thian Siang merasa berat untuk menerimanya. Baru saja ia mengatakan ucapan "Locianpwe..." namun Duta Bunga Mawar itu sudah dapat menduga isi hatinya. Maka lantas berkata sambil tertawa: "Hee laote, kau tak perlu menguatirkan diriku. Coba kau pikir dulu, bagaimanapun juga aku toh akan pulang ke rahmatullah, lebih lama beberapa jam, atau lebih cepat beberapa jam, apalah artinya? Toh ada baiknya jikalau aku mewariskan kepandaian dan kekuatan tenagaku kepadamu, supaya kau bisa menjadi seorang yang berguna dalam tingkatan muda pada dewasa ini!"

Meskipun alasan yang diberikan itu sangat tepat, namun Hee Thian Siang masih menggeleng-gelengkan kepala, tidak mau menerima hadiah yang berarti mengorbankan orang lain itu.

Lama Duta Bunga Mawar membujuknya, melihat Hee Thian Siang kukuh dengan pendiriannya, maka ia pura-pura marah dan berkata: "Hee laote, jika kau tidak mau mendengar perkataanku lagi, aku terpaksa akan menggunakan kekerasan kepadamu!"

"Apakah menyalurkan kekuatan tenaga juga bisa menggunakan kekerasan?"

"Maksudku sudah tetap, tetapi kau tidak mau mendengar, terpaksa aku harus menotok dulu jalan darahmu dengan kekerasan aku menyalurkan kekuatan tenagaku! Tetapi dengan cara demikian, karena satu sama lain tak mau bekerja sama, hasilnya mungkin agak kurang, jikalau kau menurut dengan baik, sudah pasti sedikitnya akan mendapat lima bagian. Tetapi jika aku secara paksa, kau hanya akan mendapat tiga bagian saja, itu yang paling banter!"

Dalam keadaan demikian, meskipun ia merasa berat, ia menerima juga. Katanya sambil mengangguk-anggukkan kepala: "Locianpwe, demikian besar budi locianpwe kepadaku. Hee Thian Siang merasa tak sanggup membalas budimu itu. Maka aku hanya hendak bersumpah di hadapan locianpwe, Hee Thian Siang bersedia meneruskan cita-cita locianpwe, dalam hidup Hee Thian Siang akan berusaha untuk membantu setiap muda-mudi yang cinta kasihnya tak kesampaian supaya satu sama lain dapat mencapaikan maksudnya!"

"Ucapan ini aku merasa girang sekali dapat mendengar dari mulutmu sendiri. Mari, mari, mari, waktunya sudah tidak banyak! Sebelum aku menyalurkan ilmu kekuatan tenagaku kepadamu, lebih dulu aku hendak mengajarkan kau tiga jurus ilmu silat Bunga Mawar!"

Hee Thian Siang tahu benar, apabila sudah menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya, Duta Bunga Mawar pasti akan menutup mata. Maka lebih dulu harus menurunkan ilmu silatnya tiga jurus gerak tipu Bunga Mawar, maka ia buru-buru mengerahkan pikirannya untuk menerima pelajaran.

"Tiga jurus ilmu silat" Bunga Mawar itu adalah ciptaanku sendiri selama aku ada waktu luang. Gerak tipu ke satu dalam ilmu itu dinamakan perempuan Han menangisi dandanannya. Kedua dinamakan Bun-kun mencuci putra dan ketiga dinamakan Bunga Mawar berterbangan."

Hee Thian Siang yang memiliki kepandaian ilmu silat dan ilmu surat sama baiknya, ia tahu bahwa nama-nama dari tiga jurus itu diambil dari kitab kuno, nama bunga mawar berterbangan itu sangat baru, ditambah dengan Duta Bunga Mawar, Restu Bunga Mawar, Makam Bunga Mawar. Jelas Cian-ceng In-su Ci Hiang Po ini tindak-tanduknya, selama sisa hidupnya semata-mata untuk mengenangkan kekasihnya, ialah pendekar Bunga Mawar yang sudah menutup mata sebagai korban asmara!

Sementara itu Duta Bunga Mawar sudah melanjutkan kata- katanya: "Gerak tipu pertama, khusus digunakan untuk menangkis atau menggagalkan berbagai jenis pukulan yang hebat. Dan gerak tipu kedua khusus untuk melakukan serangan balasan yang hebat. Sedangkan jurus ketiga, digunakan apabila dalam keadaan sudah berbahaya betul, untuk melepaskan diri dari bahaya maut!" Sehabis berkata demikian, ia bangkit dari tempat duduknya dan memainkan ilmu silatnya tiga jurus di hadapan Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang begitu menyaksikan pertunjukan ilmu silat itu, ia dapat memahami bahwa ilmu silat tiga jurus itu sesungguhnya bagus sekali dan jarang ada sebelumnya, maka lantas diingatnya baik-baik, setelah itu ia berkata sambil tersenyum: "Locianpwe, aku sudah dapat menduga bahwa locianpwe menyuruhku dengan cara bagaimana menggunakan ilmu silat tiga jurus Bunga Mawar itu untuk menghadapi serangan Pek-kut Thian-kun yang paling lihay!"

Duta Bunga Mawar memandangnya sejenak, kemudian berkata sambil tersenyum.

"Aku tahu, kau memang pintar sekali dan banyak akalnya. Tetapi urusan ini menyangkut nasib seluruh rimba persilatan, runtuh atau bangunnya orang-orang golongan kebenaran, tergantung dalam pertempuran kali ini, maka tindakanmu nanti mengandung arti yang besar sekali! Sebaiknya ceritakanlah dulu kepadaku, dengan cara bagaimana kau nanti akan melawan Pek-kut Thian-kun, ini rasanya lebih aman!"

Hee Thian Siang merasa sangat kagum akan tindakan Duta Bunga Mawar yang demikian teliti dan sangat hati-hati. Ia lalu berkata sambil tersenyum.

"Aku nanti setelah membakar hati Pek-kut Thian-kun dan mengajaknya bertarung dengan suatu syarat menerima serangannya sampai tiga kali. Iblis yang terlalu sombong dan tinggi hati itu, sudah tentu akan menghina aku sebagai seorang muda yang masih belum pengalaman. Serangan pertama paling-paling hanya menggunakan enam bagian dari kekuatan tenaganya!"

Duta Bunga Mawar mengangguk-anggukkan kepala dan berkata sambil tertawa. "Dugaanmu demikian ini, meskipun masuk akal, tetapi kau masih menduga ia menggunakan tenaga enam bagian, sebaiknya kau perhitungkan sampai tujuh bagian, baru aman!"

"Dalam tiga jurus gerak tipu Bunga Mawar, gerak tipu pertama khusus untuk memunahkan berbagai jenis serangan hebat. Apalagi aku sudah mendapat tambahan kekuatan tenaga locianpwe, walaupun Pek-kut Thian-kun menggunakan kekuatan tenaga tujuh bagian, barangkali juga tidak menjadi halangan!"

"Walaupun demikian, tetapi setelah kau menerima saluran kekuatan tenagaku, masih perlu banyak berlatih. Setiap kali mengalami pertempuran seru, berarti tambah sedikit kekuatan tenaga. Jikalau kau tidak banyak berlatih, nanti tiba saatnya, barangkali masih menguatirkan!"

"Jadi, maksud locianpwe menyuruhku untuk mencari orang guna diajak berkelahi? Hal ini memang paling ku gemari. Tunggu saja setelah aku nanti mengantarkan locianpwe pulang, aku akan segera mencari orang-orang golongan Tiam- cong dan Kie-lian untuk ku ajak berkelahi. Mulai saat ini, aku akan melakukan pertempuran terus, sehingga tanggal enam belas bulan dua tahun depan!"

Duta Bunga Mawar telah dibuat geli oleh sikap Hee Thian Siang itu, sehingga tertawa sendiri. Dan sementara itu, Hee Thian Siang telah berkata lagi: "Nanti setelah serangan Pek- kut Thian-kun ku gagalkan dengan gerak tipu pertama dari ilmu Bunga Mawar, pasti akan terperanjat. Dan serangan yang kedua dengan sendirinya akan ditambah kekuatannya. Mungkin dia akan menggunakan tenaga sampai delapan atau sembilan bagian!"

Duta Bunga Mawar diam mengakui bahwa perhitungan Hee Thian Siang itu memang tepat! Hee Thian Siang berkata pula sambil tertawa: "Dalam keadaan demikian, maka aku nanti akan segera mengerahkan gerak tipu kedua yang khusus untuk melancarkan serangan pembalasan dengan kekuatan tenaga yang hebat, aku akan menggunakan sebaik-baiknya, bahkan seluruh kekuatan tenaga yang locianpwe salurkan ke dalam tubuhku, ditambah lagi dengan ilmu Kian-Thian Khie-kang dari perguruanku, mungkin jika bertanding yang ketiga kalinya, iblis yang sombong itu nanti akan terkejut dan akan mengambil langkah seribu, lari terbirit-birit!"

"Kepandaian ilmu silat, jikalau sudah mendapat kemajuan, gampang maju pesat. Kau nanti setelah mendapat tambahan kekuatan tenagaku, ilmu Kian-thian Khie-kang dengan sendirinya pasti akan bertambah. Kau boleh berusaha sepenuh tenaga, seharusnya dapat menyambut Pek-kut Thian-kun, meskipun ia menggunakan sembilan bagian tenaganya! Tetapi jika serangan dua kali tidak berhasil, Iblis Pek-kut Thian-kun itu dalam keadaan terkejut, malu, akan marah, serangannya yang ketiga itu pasti merupakan serangannya yang terhebat dan dilakukan dengan sepenuh tenaga!"

"Kekuatan tenaga dalam iblis tua itu memang sudah mencapai taraf tertinggi. Sedangkan aku hanya mengandalkan nasibku yang beruntung, sudah tentu, pertandingan latihan aku masih kalah jauh, mana sanggup menyambuti serangannya yang dilakukan dengan sepenuh tenaga? Maka aku harus menggunakan jurus ketiga yang khusus digunakan untuk meloloskan diri dari bahaya maut!"

Duta Bunga Mawar yang mendengar keterangan itu di wajahnya tersungging senyuman puas, katanya: "Besok pada tanggal enam belas bulan dua tahun depan, di pertemuan pembukaan partai baru Ceng-thian-pay, jikalau laote benar- benar bisa melakukan apa yang kau katakan tadi, sudah pasti akan dapat membuat Pek-kut Thian-kun lari terbirit-birit karena merasa marah dan malu. Jikalau ia sudah kabur, maka untuk membasmi kawanan penjahat dan iblis itu, kiranya tidak terlalu sulit. Tindakan itu nanti akan membuat dunia persilatan menjadi aman kembali, sedikitnya dalam waktu dua puluh tahun! Sekarang, waktunya sudah tidak banyak. Marilah kita memulai baik-baik dengan gerak tipu Bunga Mawar itu!"

Sehabis berkata demikian, oleh Duta Bunga Mawar ditunjukkan satu persatu, biar Hee Thian Siang bisa melatih dengan bebas.

Hee Thian Siang yang mempunyai bakat, ditambah dengan otaknya yang cerdas, hanya menggunakan waktu satu jam lebih saja, sudah berhasil memahami seluruh gerak tipu dari ilmu silat Bunga Mawar yang ampuh itu.

Duta Bunga Mawar merasa terhibur, ia menarik nafas lega, lalu duduk lagi di atas tempat duduknya dan menyuruh Hee Thian Siang duduk berhadapan dengannya. Mereka berdua duduk bersila. Duta Bunga Mawar kemudian berkata sambil tersenyum.

"Kau sudah ingat betul tiga jurus pukulan Bunga Mawar ini. Dan sekarang aku akan memulai menyalurkan kekuatan tenagaku ke dalam tubuhmu. Asal kau dengar perintahku, untuk menerima saluran kekuatan tenagaku, dalam waktu singkat sudah akan berhasil. Dan selanjutnya diantara kita akan berpisah untuk selama-lamanya!"

Hee Thian Siang waktu itu sudah pandang Duta Bunga Mawar ketiga itu sebagai ayahnya sendiri yang tersayang, maka ketika mendengar ucapan itu, sepasang matanya lantas merah, airmatanya hampir mengalir keluar.

"Hee laote, jangan sedih. Tadi sudah kukatakan bahwa aku ini hanya merupakan seorang yang akan meninggalkan badan kasarku, aku hendak pulang ke Rahmatullah, ini adalah hasil dari jerih payah sebagai murid Budha, kau seharusnya merasa gembira atas hasilku itu!" Dengan perasaan berat, Hee Thian Siang berkata sambil menghela nafas: "Ucapan locianpwe ini sekalipun benar, tetapi bagiku yang baru saja bertemu muka dengan locianpwe dan harus tinggal untuk selama-lamanya, apalagi Hee Thian Siang yang sudah menerima budi begitu besar, bagaimana tidak merasa pilu?"

Mendengar ucapan memilukan itu, Duta Bunga Mawar juga merasa terharu. Tetapi dengan cepat sudah pulih kembali seperti biasa, sambil menatap Hee Thian Siang dan tersenyum, ia berkata lambat-lambat:

"Hee laote, jangan berpikir demikian, kau jangan lupa ucapan Enci Tiong-sun mu itu: "Diwaktu berkumpul kita berkumpul, diwaktu berpisah harus berpisah..."

Hee Thian Siang mendengar ucapan itu, dengan tiba-tiba sadar bahwa orang beragama itu, sebelum berhasil mencapai tingkatan demikian tinggi, paling pantang ada orang membicarakan soal asmara dan perhubungan antara orang lelaki dan perempuan, supaya hatinya jangan sampai tergoyah. Maka terpaksa ia menguatkan perasaannya sendiri, agar jangan sampai mengganggu perjalanan Duta Bunga Mawar.

Oleh karenanya, maka ia segera menenangkan kembali pikirannya dan duduk bersila di hadapan Duta Bunga Mawar.

Duta Bunga Mawar yang menyaksikan keadaan demikian, berkata sambil menggelengkan kepala: "Hee laote, usiamu memang masih sangat muda sekali, dengan cara dan sikapmu seperti itu, hati mudah terganggu oleh kawanan iblis, maka sebaiknya kau bikin sikapmu yang sewajar mungkin. Latihanku dan pelajaran agamaku selama beberapa puluh tahun tak akan terusak oleh sikapmu yang menyedihkan tadi..." Berkata sampai di situ ia berdiam sejenak, matanya mengamat-amati Hee Thian Siang, lalu berkata lagi sambil tertawa: "Tetapi setelah aku mulai usahaku untuk menyalurkan kekuatan tenagaku, tidak boleh berbicara lagi. Apakah kau masih ingin bertanya sesuatu hal kepadaku?"

Hee Thian Siang berpikir dulu, kemudian baru menjawab: "Locianpwe memiliki kepandaian dan pengetahuan yang demikian hebat, seolah-olah segala urusan sudah diketahui lebih dahulu. Tahukah locianpwe, dimana Tiong-sun Hui Kheng ku itu sekarang berada?"

"Meskipun aku sudah mempelajari agama Budha, tetapi tidak mempunyai pengetahuan seperti dewa. Darimana aku mempunyai kepintaran untuk mengetahui hal-hal yang belum terjadi? Akan tetapi mengenai diri Tiong-sun Hui Kheng, karena dia telah mendapat perintah untuk mencari Hong-tim Ong-khek May Ceng ong, maka kuduga dia tentu berada tidak jauh dari lembah Ling-ciu-kok digunung Ko-le-kong-san!"

"Hee Thian Siang menganggukkan kepala, sementara itu Duta Bunga Mawar sudah berkata lagi: "Aku sekarang hendak mulai menyalurkan kekuatan tenagaku, terhadap segala kejadian yang terjadi disekitar dirimu, semua jangan dihiraukan. Asal kau tenangkan pikiranmu dan kerahkan seluruh pikiranmu untuk menerima saluran dari kekuatan tenagaku, itu sudah cukup."

Hee Thian Siang menurut. Duta Bunga Mawar lalu mengulurkan tangannya, diletakkan di atas kepala Hee thian Siang, setelah itu ia berkata pula: "Tulang-tulang laote nanti kalau sudah mengeluarkan suara sampai tiga ratus enam puluh lima kali, itu berarti sudah berhasil. Aku juga sat itu akan berangkat pulang. Kau nanti boleh mendorong dinding sebelah kiri dengan sekuat tenaga, lalu bisa keluar dari dalam kamar ini, tetapi setelah kau keluar dari sini, harap kau ditengah-tengah dinding kanan, melakukan serangan keudara satu kali!" Baru habis perkataannya, Hee Thian Siang segera dapat merasakan bahwa telapak tangan duta mawar mengandung hawa hangat dari atas kepalanya, perlahan-lahan menyusup ke dalam tubuhnya, Maka dia buru-buru menenangkan pikirannya dan mengerahkan tenaganya. Dengan hawa murni yang ada dalam tubuhnya sendiri untuk memancing hawa hangat yang keluar dari tangan Duta Bunga Mawar. Hawa hangat itu dirasakan menyelusuri sekujur tubuhnya dan seluruh urat nadinya!

Tetapi saat kedua kalinya dimulai Hee Thian Siang lantas merasakan bahwa hawa hangat yang telah keluar telah berubah menjadi demikian panas, sehingga dia sendiri hampir tidak tahan, tulang sekujur tubuhnya dirasakan pada pegal- pegal dan linu, saat itu juga menimbulkan suara gemeratakan. Hee Thian Siang telah tau bahaya, maka buru-buru menenangkan pikirannya dan melupakan segalanya, segala hawa panas dan penderitaan lain yang mengganggu tubuhnya semua tak dihiraukannya.

Sungguh aneh, tulang sekujur tubuh Hee Thian Siang telah berbunyi tiga ratus enam puluh lima kali, hawa panas yang dirasakan dan segala penderitaannya itu semua telah lenyap dan diganti dengan rasa nyaman segar dan sehat. Ia tidak lantas bangkit, tetapi duduk bersemedi lagi hingga perasaan tubuhnya semakin segar, baru saja pelan-pelan membuka mata hatinya merasa pilu lagi dari matanya keluar air mata yang deras.

Kiranya Duta Bunga Mawar saat itu sudah tidak bernafas lagi. Hee Thian Siang meskipun merasa sedih dan mengucurkan air mata, ia khawatir sukma Duta Bunga Mawar masih belum pergi jauh, maka ia tidak berani maengeluarkan suara untuk mengganggu, terpaksa ia memandang dan memberi hormat yang penghabisan kali kepada orang tua yang telah melepas budi demikian besar kepada dirinya. Perlahan-lahan dia bangkit, mendorong dinding sebelah kiri dan kembali lagi dalam goa di luar kamar itu. Setelah berada di luar kamar, menurut petunjuk Duta Bunga Mawar mengayunkan tangan kanan, menggunakan kekuatan tenaga delapan bagian melancarkan serangan ke tengah-tengah dinding. Dinding itu segera terdapat telapak tangannya sedalam satu dim lebih samar-samar juga terdengar suara gemuruh.

Hee Thian Siang maju ke depan lagi, tangannya mendorong dinding batu namun sedikitpun tidak bergerak, hingga ia tahu kamar rahasia itu telah tertutup lagi dengan demikian jenazah Duta Bunga Mawar telah terkubur di dalam kamar goa itu selama-lamanya.

Ketika lagi melihat lagi tanda telapak tangan di dinding tembok, ia tau pengalamannya sendiri terlalu gaib. Hanya dalam waktu setengah hari saja ia telah mendapat tambahan kekuatan tenaga demikian hebat, seperti melakukan latihan dua tiga puluhan tahun lamanya. Kita tidak tahu bagaimana perasaan hatinya pada waktu itu, untuk menyatakan terima kasihnya kepada Duta Bunga Mawar, di tempat itu juga dia lantas berlutut dan menjura beberapa kali.

Setelah selesai melakukan upacara penghormatan, ia teringat kembali kepada pengalamannya selama sehari itu. Mula-mula pertemuannya dengan Hong-tiem Ong-khek May Ceng Ong dalam sebuah rumah minum didesa kecil. Dalam keadaan mabuk ia sudah tak tau apa yang telah terjadi. Tetapi ketika ia mendusin tahu ia telah berada di dalam goa. Dari situ ia bertemu dengan Liok Giok Jie dan akhirnya Liok Giok Jie telah terkena racun berbisa.

Setelah itu oleh karena bunga perangsang yang ditemukan tanpa disengaja akibatnya telah melakukan hubungan di luar batas dengan Liok Giok Jie, kemudian oleh Duta Bunga Mawar di terangkan bahwa semuanya itu adalah takdir. Dan dari itu ia telah mendapatkan pelajaran ilmu silat serta mendapatkan tenaga tambahan dari orang tua gaib itu.

Pengalaman Hee Thian Siang selama setengah hari itu benar-benar seperti di dalam mimpi, maka dengan perasaan itu ia lantas berlalu meninggalkan goa yang juga meninggalkan banyak kenangan bagi dirinya. Sekeluarnya dari tempat itu hatinya teringat pula kepada Tiong-sun Hui Kheng dan Hok Siu Im, ia khawatir karena hubungannya dengan Liok Giok Jie tidak akan dapat pengertian dari Tiong- sun Hui Kheng dan Hok Siu Im, kalau mau menjelaskan dan memberi pengertian barangkali tidak begitu mudah.

Menurut dugaan duta Bunga Mawar, Tiong-sun Hui Kheng melakukan perjalanan ke Gunung Ko-le-kong-san, maka ia tujukan arahnya ke propinsi In-lam, maksudnya adalah untuk pergi ke lembah Lang-cui-kok tempat kediaman May Ceng On dahulu untuk mencari Tiong-sun Hui Kheng. Tak disangkanya baru saja memasuki propinsi In-lam sudah menemukan suatu pengalaman yang di luar dugaannya lagi. Hee Thian Siang yang melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa siang dan malam, waktu lohor tiba-tiba di tempat sejauh sepuluh tombak di depannya di bawah suatu bukit tertampak sesosok bayangan putih yang bergerak cepat sekali!

Bayangan putih itu sangat kecil dan gesit sekali gerakannya, sangat mirip dengan Siaopek monyet peliharaan Tiong-sun Hui Kheng yang dahulu cemburu kepadanya. Dalam girangnya Hee Thian Siang mengerahkan kekuatan tenaga dan memanggil dengan suara nyaring : "Siaopek jangan pergi, aku berada di sini!" Bayangan putih itu ketika mendengar seruan Hee Thian Siang malah naik ke bukit tanpa menoleh sama sekali.

Hee Thian Siang mengira bahwa monyet itu masih marah kepadanya hingga tidak menghiraukan panggilannya. Oleh karenanya maka Hee Thian Siang lalu mengejar. Bayangan putih itu melihat ada orang yang mengejar, lantas melompat- lompat dengan gesitnya menuju ke selatan.

Hee Thian Siang karena sudah melihat dengan tegas, memang bayangan putih itu berupa seekor monyet berbulu putih, ia telah mengikuti ke arah larinya monyet tersebut dan juga mengejarnya dengan kencang-kencang.

Meskipun ia telah menemui pengalaman ajaib dan kekuatan tenaganya telah bertambah beberapa kali lipat tetapi karena waktunya masih singkat belum bisa mengerahkan seluruhnya, maka laju larinya hanya sanggup mengimbangi monyet itu. Selama itu masih terpisah kira-kira sepuluh tombak.

Kejar-kejaran seperti itu dari waktu lohor sehingga esok pagi entah berapa banyak tempat dan bukit yang telah di lewatinya, Hee Thian Siang juga tidak tahu ia telah mengejar sampai dimana. Saat itu ia baru tahu bahwa ia sudah berada di suatu lembah yang letaknya di apit oleh bukit-bukit yang menjulang tinggi ke langit, monyet putih itu begitu masuk ke dalam lembah tiba-tiba berhenti, tidak berjalan lagi.

Ia berpaling dan unjukkan sikapnya mengejek kepada Hee Thian Siang, bahkan menggerakkan kakinya seolah-olah hendak menyergap. Ketika kera putih itu berhenti dan membalikkan tubuhnya serta mengejek sedemikian rupa, Hee Thian Siang baru nampak tegas, ternyata monyet itu bukanlah Siaopek milk Tiong-sun Hui Kheng. Kiranya bentuk badan monyet itu memang mirip benar dengan Siaopek, hanya warna sepasang matanya yang lain. Kalau matanya Siaopek berwarna merah sedang monyet itu berwarna hitam legam.

Setelah Hee Thian Siang melihat tegas bahwa kera putih itu bukanlah Siaopek, di tertawa geli sendiri. Ia telah menyesali dirinya yang demikian bodoh, apakah itu sudah dibingungkan oleh perasaan sendiri, karena mengingat kepada diri Tiong-sun Hui Kheng, sehingga pikirannya menjadi kabur? Ia tak mau berpikir ke situ dulu, sudah mengejar secara membabi buta, dan sekarang setelah melakukan kejar- kejaran semalam suntuk, ia juga tidak tahu dimana ia berada saat itu.

Kera putih itu memandang marah kepada Hee Thian Siang sebentar, dan tiba-tiba mengeluarkan suara nyaring, sepasang kaki depannya di angkat tinggi dan benar-benar telah menyerbu kepada Hee Thian Siang. Hee Thian Siang yang menyaksikan gerakan yang gesit kera putih itu mendapat pikiran aneh, ia sengaja menyamai Tiong-sun Hui Kheng yang dapat menundukkan seekor monyet.

Karena ada maksud demikian, maka Hee Thian Siang tidak balas menyerang melainkan menghindar dengan gesit untuk mengelakkan serangan dari kera putih itu.

Kera putih itu meskipun memiliki gerakan yang sangat lincah dan kepandaian yang cukup tinggi tetapi karena sudah dikejar semalaman oleh Hee Thian Siang tampaknya sudah letih sekali, setelah menyerbu beberapa kali tidak berhasil tampak tegas keletihannya. Ia berdiri dengan nafas tersengal- sengal tidak mampu bergerak lagi. Hee Thian Siang tiba-tiba teringat bahasa binatang yang pernah di ajarkan oleh Tiong- sun Hui Kheng, maka dengan sinar mata dan sikap yang bersungguh-sungguh, menatap kera putih itu dan dengan ucapan yang sungguh-sungguh pula ia berkata dengan lemah- lembut : "Ha-ki-ri-mo, mo-ki-ri-ha...ha-ki-mo-mo-ku-.."

Sambil mengucapkan bahasa binatang itu perlahan-lahan ia berjalan menghampiri monyet putih itu. Kera putih itu tidak menduga Hee Thian Siang tiba-tiba sikapnya berubah demikian untuk dirinya, sepasang matanya yang hitam besar di kedip-kedipkan sikapnya jelas kebingungan.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian lalu mengira bahwa perkataannya tadi membawa hasil, ia merasa sangat bangga lalu mengulurkan tangan kanannya hendak mengelus-elus kepala kera putih itu. Kera putih melihat Hee Thain Siangs emakin mendekati dirinya, sebetulnya ia sudah siap siaga, maka begitu melihat Hee Thian Siang mengulur tangannya lagi dianggapnya pemuda itu akan bertindak tidak baik kepadanya, dalam keadaan terkejut tangannya dengan kukunya yang tajam di ulurkan untuk menyambar dada Hee Thian Siang.

Hee THiang Siang yang sudah mabok oleh pikirannya sendiri, maka dalam keadaan sangat bangga, ketika di serbu demikian sudah tentu tak berhasil untuk menghindarkan diri. Di dalam keadaan terdesak sedemikian rupa dengan tiba-tiba teringat gerak tipu ilmu silat bunga Mawar yang khusus di gunakan untuk meloloskan diri dari bahaya. Buru-buru menggerakkan kekuatan tenaga dalamnya kakinya di putar dan orangnya lompat melesat sejauh lima tombak. Kera Putih itu karena serangannya yang dilancarkan berkali-kali itu selalu tidak berhasil terhadap Hee Thian Siang sudah mulai merasa gentar, maka selagi Hee Thian Siang melompat mundur ia lari ke bagian dalam. Hee Thian Siang meskipun sudah tahu bahwa kera putih itu bukanlah siaopek peliharaan Tiong-sun Hui Kheng, tetapi oleh karena sudah tiba di tempat itu ia juga melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam ia ingin melihat tempat apakah yang sebetulnya di dalam lembah itu.

Sembari berjalan dengan perlahan-lahan, ia memikirkan apa sebab bahasa binatang Tiongsun Hui Kheng mendadak hilang kemanjurannya? Seandainya ia belum mendapat pelajaran barunya dari Duta Bunga Mawar bukankah tadi di koyak dadanya oleh kera putih tadi? Ia berpikir bolak-balik dengan tiba-tiba menemukan sebab musababnya. Wajahnya merah seketika ia sesalkan dirinya sendiri yang menganggap pintar tetapi sebetulnya bodoh.

Tiga patah kata bahasa binatang itu adalah diperuntukkan buat kuda. Tetapi ia menggunakannya untuk bangsa monyet sudah tentu tidak berhasil. Pada saat itu ia sudah tiba di suatu tikungan, ketika ia melalui jalan tikungan itu di hadapan matanya terbuka suatu lapangan luas, dengan pemandangan alamnya yang sangat indah. Dari tempat agak jauh tampak bangunan rumah bersusun yang terletak di lereng bukit dengan dihiasi oleh air mancur.

Tempat yang memiliki pemandangan yang demikian indah sangat mengejutkan Hee Thian Siang. Apa yang lebih mengejutkan adalah dalam lembah itu tempat dimana tumbuh pohon bambu, pohon itu seluruhnya berwarna merah, berbeda dengan daun bambu biasa yang berwarna hijau.

Baru pertama kali ini Hee Thian Siang melihat daun bambu berwarna merah. Tetapi hatinya seolah-olah mendapat firasat bahwa bambu merah yang dinamakan Cu-tek, juga berarti bambu merah, nama itu seperti pernah dengar.

Menghadapi tempat yang demikian indah pemandangan alamnya, dan bangunan-bangunan itu sudah berdiri demikian megahnya, dapat diduga, bahwa penghuni bangunan itu pastilah orang yang mengasingkan diri di tempat itu. Selagi ia berdiri termangu dan terpesona menyaksikan pemandangan itu, dengan tiba-tiba dari jauh terdengar suara bunyi lonceng tiga kali. Seorang nona berbaju putih berjalan keluar dari sebuah bangunan bertingkat tiga. Gerakan nona itu gesit sekali, hanya beberapa kali lompatan sudah berada di hadapan Hee Thian Siang.

Nona itu mengawasi Hee Thian Siang sejenak lalu bertanya kepadanya :

"Tuan datang dari mana? Siapa namamu? Siancu telah mengundang kau ke loteng untuk menanyakan sendiri."

Hee Thian Siang yang sejak tadi mengawasi saja, ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian ilmu silat gadis itu sangat bagus, tetapi ia tidak dapat menduga, dari mana asal usul golongan gadis itu, maka ia lalu menjura dan menjawab sambil tertawa : "Aku yang rendah Hee Thian Siang, karena mengejar seekor kera putih, hingga kesasar datang kemari. Numpang tanya, nona, tempat ini tempat apa? Siancumu itu siapakah orangnya?"

Nona berbaju putih itu membalikkan diri dan mengajak Hee Thian Siang ke rumah bertingkat itu, sementara itu mulutnya menjawab :

"Tempat ini adalah air lautan, nama Siancu selamanya tidak diberitahukan kepada orang lain hanya setelah kau bertemu muka sendiri dengannya, kau boleh bertanya sendiri kepadanya."

Nama air lautan, mengingatkan Hee Thian Siang kepada nama gunung yang diberitahukan oleh Duta Bunga Mawar di dalam gua kuno, di gunung Tay-pa-san, teringatlah ia sekarang bahwa nama salah satu dari Iblis Pek-kut Siancu. Siancu itu berdiam di lembah Bambu Merah di gunung air lautan ini. Kalau tempat ini benar adanya, apalagi dalam tempat itu terdapat banyak bambu merah, apalagi ditambah dengan keterangan nona berbaju putih, jelas bahwa dirinya yang mengejar-ngejar kera putih tidak karuan masuk ke sarang Pek-kut Siancu. Hee Thian Siang yang kesasar dalam lembah bambu merah dan hendak berjumpa dengan salah satu iblis dari tiga orang Pek-Kut Sam-mo, bukan saja merasa keder, sebaliknya semangatnya makin tersa bangun.

Kiranya sebelum Duta Bunga Mawar menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya ke dalam tubuhnya memesan padanya, bahwa kalau nanti sudah mendapatkan ilmu silat dan kekuatan tenaganya, masih perlu berlatih. Katanya, setiap kali melakukan pertandingan, kekuatan tenaganya juga akan makin bertambah. Semakin giat latihannya, semakin cepat mendapat kemajuan, jadi di waktu menghadapi lawan tertangguhnya Pek -Kut Thian-kun nanti, kepandaian dan kekuatannya sudah mencapai ke taraf yang sama dengan iblis itu. Dan kini ia hendak menjumpai Pek-Kut Sian-cu, bukankah itu merupakan suatu kesempatan baik baginya untuk mencoba kepandaiannya sendiri? Akan tetapi dalam keadaan demikian, ia masih ingat dan mengambil keputusan hendak menyimpan dulu kepandaiannya ilmu silat Bunga Mawar jurus ketiga, jangan sampai Pek-kut Siancu nanti mengetahui bahwa dirinya mempunyai kepandaian ilmu silat yang luar biasa.

Sementara itu ia sudah mengikuti nona berbaju putih itu berjalan masuk ke rumah bertingkat itu. Nona itu sangat gesit dan tenang sekali. Di depan pintu tampak dinding bambu halus, di balik tirai samar-samar tampak sesosok bayangan berbaju putih yang sedang duduk bersila. Gadis berbaju putih yang mengajak Hee Thian Siang masuk ke situ, memberi hormat kepada orang berbaju putih di belakang tirai, seraya berkata :

"Siancu, orang yang datang ini bernama Hee Thian Siang.

Sekarang kami datang, harap Siancu bertanya sendiri."

"Hee Thian Siang, mengapa kau kejar monyet kesayanganku hingga menjadi demikian rupa?"

Hee Thian Siang yang sudah tahu siapa adanya orang itu, maka ia dapat menjawab dengan tenang :

"Siancu ini janganlah sembarangan menegor orang dulu, bagaimana Hee Thian Siang tahu, bahwa monyet putih itu ada majikannya?"

Orang di balik tirai itu mengeluarkan suara dari hidung, lalu bertanya pula :

"Monyetku putih ini bukanlah sembarangan. Gerak kakinya gesit sekali, juga buas, bagaimana kau dapat mengejar dia, bahkan tidak terluka di tangannya?" "Manusia adalah makhluk yang paling cerdik, sangat mustahil kalau tidak sanggup menghadapi kera. Keramu itu meskipun memiliki kepintaran dari alam, tetapi aku mempunyai kepandaian ilmu silat ....." Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Belum habis ucapannya, perempuan berbaju putih yang berada di belakang tirai sudah perdengarkan suara dingin, kemudian berkata :

"Pada waktu ini, siapa yang berani mengaku memiliki kepandaian luar biasa? Kau ini sebetulnya murid golongan mana?"

Karena menurut keterangan Duta Bunga Mawar, di dalam upacara pembukaan partai Ceng-thian-pay nanti, Pek-kut Siancu ini disediakan untuk melawan suhunya sendiri ialah Hong-poh Tjui, maka ketika mendengar ucapan itu, ia lantas berkata sambil tertawa :

"Suhuku adalah orang kuat nomor satu dalam rimba persilatan pada dewasa ini!"

Perempuan berbaju putih di belakang tirai itu semakin tidak percaya, dan dengan sikap menghina bertanya "

"Partai-partai Ngo-bie, Kun-lun, Bu-tong, Siauw-lim, Lo-hu, Swat-san, Tiam-cong dan Kie-lian, siapa yang berani menganggap partai kuat nomor satu demikian sombongnya?"

Hee thian Siang sengaja memanaskan hati perempuan itu, maka lantas berkata sambil tertawa :

"Apa kau kata sombongkan diri? Nama Suhuku sangat kesohor dan pernah menggetarkan seluruh jagat."

Perempuan berbaju putih itu tanpa menunggu ucapan Hee Thian Siang selesai, sudah memotong : "Suhumu sebetulnya siapa?"

"Pak-Bin Sin-po Hong-poh Cui." Demikian Hee Thian Siang menjawab sambil berdiri tegak sebagai penghormatan kepada gurunya.

"Oo, nama Pak-bin Sin-po memang betul sangat kesohor. Tetapi kalau mau menganggap dirinya sebagai orang kuat nomor satu, itu masih ku anggap terlalu sombong!"

Sepasang alis Hee Thian Siang berdiri, katanya dengan suara marah :

"Kau ini siapa? jikalau kau penasaran, akupun cukup untuk melawan kau!"

Nona berbaju putih yang berdiri di sampingnya, ketika mendengar ucapannya itu lantas membentak :

"Hee Thian Siang, kau jangan anggap dirimu terlalu gagah, karena itu berarti mencari mampus sendiri."

Hee Thian Siang pendelikkan matanya, dengan sikap lebih sombong ia berkata :

"Apa terlalu gagah? Aku tidak percaya bahwa di dalam dunia ini ada orang yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari diriku!"

Ia memang bermaksud hendak membakar hati perempuan berbaju putih itu, maka kata-katanya selalu membakar dan membikin panas hati orang. Benar saja, perempuan berbaju putih di belakang tirai yang mendengar ucapan itu lantas perintahkan gadis berbaju putih untuk membuka tirainya.

Gadis berbaju putih menurut, ia berjalan ke sudut rumah, tirai bambu itu perlahan-lahan tergulung naik. Di atas tempat duduk bersemadi, tampak duduk seorang perempuan tua berbaju putih. Perempuan itu rambutnya sudah putih semua, akan tetapi wajahnya masih kemerah- merahan bagaikan anak kecil. Bagi seorang ahli tenaga dalam tahu perempuan tua itu sudah memiliki kekuatan tenaga dalam yang tiada taranya.

Perempuan tua berbaju putih dengan sinar tajam menatap Hee Thian Siang kemudian berkata :

"Bocah. "

Tidak menunggu perempuan itu berkata lebih lanjut, Hee Thian Siang sudah berkata dengan alis berdiri :

"Kau jangan kira pandang aku dari usiaku yang sangat muda sekali, tetapi jejakku sebetulnya sudah menjelajahi seluruh negeri,. "

Perempuan itu tertawa hambar, kemudian berkata : "Sombong benar, kalau kau anggap dirimu sudah banyak

pengetahuan dan sudah menjelajahi seluruh negeri, mungkin

kau sudah kenal diriku."

Hee Thian Siang menggunakan kesempatan itu memandang wajah perempuan berbaju putih, semakin lama ia memandangnya, semakin tahu bahwa nenek itu benar-benar adalah seorang yang berkepandaian tinggi, maka ia sengaja pura-pura berpikir dulu, baru berkata :

"Bukankah kau ini Siang-swat Siangcu Leng Biauw Biauw?" Perempuan berbaju putih itu tampak sangat terkejut,

katanya sambil tertawa :

"Kau bocah ini sungguh pintar menebak orang. Sayang aku bukan Siang-swat Siang-tju Leng Biauw Biauw, juga bukan Kiu-thian Mo-li Tang Siang Siang yang namanya sama-sama terkenal dengannya!"

Hee Thian Siang kembali berpikir, lama baru berkata : "Jikalau   menurut   usiamu   seperti   ini,   dan   dari   nada

pembicaraanmu, kau pasti merupakan salah seorang iblis

wanita Pek-kut Sam-mo yang mempunyai julukan Pek-kut Siancu!"

Perempuan tua berbaju putih itu sungguh-sungguh tak menduga bahwa dirinya sendiri yang sudah mengasingkan diri demikian lama, masih ditebak jitu oleh Hee Thian Siang yang usianya masih muda sekali. Maka ia lalu berkata sambil tersenyum :

"asal usulku sudah kau tebak dengan jitu, tahukah kau betapa lihaynya Pek-kut Sam-mo itu?"

"Tentang dirimu dan Pek-kut Thian-kun serta Pek-kut I-su, dalam kalangan Kang-ouw tersiar luas delapan bait nyanyian ini!"

Pek-kut Sin-cu merasa tertarik oleh cerita Hee Thian Siang, maka bertanya :

"Aku tidak percaya bahwa kami bertiga yang sudah mengasingkan diri beberapa puluh tahun lamanya masih belum dilupakan oleh orang-orang rimba persilatan, coba kau sebutkan bunyi nyanyian itu kepadaku!"

Hee Thian Siang tersenyum dan menganggukkan kepala, dengan sembarangan saja ia mengarang sendiri beberapa patah kata dan dinyanyikannya lambat-lambat :

"Dua pria satu wanita, tiga iblis tulang putih itu namanya, gagah perkasa menjinakkan harimau dan singa, tenaganya dapat mematahkan nyamuk dan serangga. Ilmu yang dimilikinya tidak terhingga. "

Yang disebut di atas itu juga kata yang mengandung pujian, tetapi juga mengandung ejekan, sehingga Pek-kut Sin-cu yang mendengarkan diam-diam juga merasa geli dan mendongkol. Melihat sikap dan keadaan Hee Thian Siang yang sengaja berhenti dan tidak melanjutkannya, Pek-kut Sian-cu merasa heran, katanya :

"Nyanyian itu katamu ada berapa bait, mengapa baru lima bait sudah kau hentikan?"

"Yang pertama kau dengar tadi, kau dengar mungkin tidak marah. Tetapi bait yang belakangan sangat tidak enak sekali, maka sudahlah tidak perlu ku sebut lagi!"

"Sekalipun tidak enak juga tidak halangan, kau lanjutkan saja!"

"Siapa.....yang bisa. " Berkata Hee Thian Siang sepatah

demi sepatah.

Pek-Kut Siancu tiba-tiba tertawa tergelak-gelak, kemudian berkata :

"sudahlah, kau tak perlu bacakan lagi, aku sudah bisa menerkanya!"

"Apa kau juga dapat menebak?"

"Yang dimaksudkan dalam bait terakhir itu apakah bukan Pak-bin Sin-po?"

"Apa yang kuceritakan padamu tadi adalah sebenarnya. mungkin kau kira aku membuat sendiri?" Pek-kut Siancu hanya tertawa menyeringai. Hee Thian Siang lalu berkata :

"jangan tertawa, kau ingin mencoba kepandaian ilmu silatku, barangkali kau nanti ingin tahu bahwa aku tidak omong kosong belaka?"

"Aku tak akan bertempur denganmu!" Menjawab Pek-kut Siancu sambil menggelengkan kepala.

"Apa kau tidak pandang mata padaku?" Bertanya Hee Thian Siang marah.

Pek-kut Siancu menatap wajah Hee Thian Siang sekian lama, katanya sambil menggelengkan kepala dan tertawa:

"Bukan aku tidak pandang mata padamu, itu adalah orang- orang rimba persilatan yang tidak pandang muka gurumu!"

Hee Thian Siang kini yang dibingungkan oleh ucapan Pek- kur Siancu, tanyanya heran :

"Apa maksud ucapanmu ini?"

"Coba kau ulangi lagi bunyi nyanyian tadi!"

Hee Thian Siang menurut, ia mengulangi kata-kata dalam nyanyian tadi. Tapi kini hanya di bait terakhir memang disebut Pak-bin Sin-po.

"Betul tidak kataku, bukankah orang-orang rimba persilatan tidak pandang mata gurumu? Mereka hanya mengatakan Pak- bin Sin-po Hong-Poh Cui yang dapat menundukkan Pek-kut Sam-mo, sedikitpun tidak terdapat namamu Hee Thian Siang yang diikut sertakan." berkata Pek-kut Siancu sambil tersenyum. Mendengar jawaban itu Hee Thian Siang tak dapat berkata apa-apa. Baru saja ia hendak membuka mulut lagi, Pek-kut Siancu sudah berkata lagi sambil tertawa :

"Tetapi meskipun aku sendiri tak mau turun tangan denganmu, kau masih ada kesempatan untuk menunjukkan kepandaianmu!"

Mendengar itu, semangat Hee Thian Siang terbangun. Dengan sepasang alis berdiri ia mendengarkan ucapan Pe-kut Siancu lebih lanjut. Berkatalah Pek-kut Siancu seterusnya :

"Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui adalah gurumu. Betapa tinggi kepandaian gurumu, barangkali selisih tidak begitu jauh dengan aku sendiri, asal kau mau, kau boleh main-main beberapa jurus dengan muridku!"

Hee Thian Siang alihkan pandangan matanya kepada nona berbaju putih yang tadi mengajaknya datang ke mari, lalu bertanya :

"Apakah kau suruh aku bertanding dengan nona ini?"

Pek-kut Siancu tertarik, dan berkata kepada nona berbaju putih itu :

"Engji pergilah kau bentuk barisan.   di atas barisan tulang

itu kau boleh coba-coba kepandaian Hee Thian Siang murid seorang gaib nomor satu di rimba persilatan, Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui, sebetulnya memiliki berapa tinggi kepandaian?"

Gadis itu menerima baik perintah gurunya sambil membongkokkan badan, setelah itu berjalan keluar.

Selagi Hee Thian Siang hendak mengikut, Pek-kut Sincu sudah menunjuk kepada tempat duduk yang kecil di samping kanan dirinya, lalu berkata : "Muridku Sam Heng tadi pergi membentuk barisan tulang, masih memerlukan sedikit waktu. Duduklah kau di tempat ini lebih dulu untuk bersemedi, barangkali bisa memulihkan tenagamu yang tadi sudah kau gunakan untuk mengejar kera putih, supaya kalau mengadakan pertandingan nanti adil."

Hee Thian Siang mendengar ucapan itu, ia memandang kepada Pek-kut Siancu beberapa kali. Pek-kut Siancu bertanya sambil tersenyum :

"Untuk apa kau mengawasi aku?"

"Kiraku, kepandaian ilmu silat yang sudah dilatih mencapai taraf seperti kalian ini, meskipun dari golongan iblis, setidak- tidaknya sudah harus memiliki kedudukan sebagai ketua golongan itu."

Pek-kut Siancu tertawa menyeringai, dengan tiba-tiba seperti teringat sesuatu, lalu bertanya kepada Hee Thian Siang :

"Tahukah kau bahwa delapan partai besar rimba persilatan pada dewasa ini, dan dua di antaranya ialah Tiam-cong dan Kie-lian hendak menggabungkan diri dan membentuk partai gabungan yang dinamakan partai Ceng-thian-pay? Kabarnya waktu itu sudah mengambil keputusan pada nanti tanggal enam belas bulan dua tahun depan, akan dilakukan upacara pembukaan, sekalian hendak mengumpulkan semua tokoh- tokoh rimba persilatan seluruh negeri untuk menghadiri pertemuan itu?"

"aku bukan saja tahu, bahkan sudah mengambil keputusan, nanti pada waktunya aku pun akan datang hadir." Menjawab Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

"Apakah gurumu Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui juga akan hadir?" "Pasti datang, kiraku kalian berdua nanti boleh bertempur sepuas-puasnya di depan goa Siang-swat-tong." Menjawab Hee Thian Siang sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Pek-kut Siancu tampaknya sangat girang sekali, kemudian berkata sambil tertawa :

"aku rasa, aku sudah menemukan tandingan yang tepat, sayang sejak itu Pek-kut I-su dan Pek-kut Thian-kun belu ada orang yang melawan, mereka akan mengiri terhadapku!"

"Pek-kut I-su dan Pek-kut Thian-kun semuanya sudah mendapat lawan sendiri." Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Pek-kut Siancu terkejut, ia bertanya dengan perasaan terheran-heran :

"Siapakah yang akan menjadi lawannya? Ketua-ketua dari delapan partai besar masih belum sanggup menjadi lawan Pek-kut I-su atau Pek-kut Thian-kun!"

"Mengenai lawan mereka berdua, aku boleh tunjukkan mulai sekarang. Yang satu adalah Thian-gwa Ceng-mo Tiong- sun Seng."

"Aku kenal. Thian-gwa Ceng-mo ini namanya sangat kesohor, agaknya selisih tidak banyak dengan gurumu sendiri. Dan satu lagi?"

Hee Thian Siang sebetulnya hendak mengatakan dirinya sendiri. Tetapi kemudian ia berpikir lain, ia selalu menjunjung nama Duta Bunga Mawar, maka lalu menyebutkan nama jago tua itu :

"yang satu adalah Cian-ceng Kiesu Cie Hiang Po !" Pek-kut Siancu yang mendengar jawaban itu bukan kepalang terkejutnya, tanyanya :

"Kabarnya Cie Hiang Po sudah menutup mata, bagaimana masih berada dalam dunia?"

"tentang Cie locianpwe itu masih segar bugar, ia berdiam di lembah kematian dekat gunung Cong-lam, mengapa kau sumpahi dia mati?"

Sepasang alis Pek-kut Siancu dikerutkan, tanyanya pula : "Kalau benar ia masih ada di dalam dunia, maka orang-

orang yang namanya sama-sama kesohor dengannya ialah

Go Boan Ciu dan Bu-ceng kiam-khek Bo Cun Yang, apakah juga masih hidup?"

"Tentang mereka berdua, memang sudah lama meninggal dunia."

Pek-kut Siancu menarik nafas lega, katanya :

"Dahulu aku pernah bersumpah dengan Bu-ceng Kiam- khek Bo Cun Yang tidak akan bertemu muka untuk selama- lamanya. Untuk dia sekarang sudah tiada, jikalau tidak, keramaian di depan goa Siang-swat-tong nanti, aku terpaksa tidak akan turut hadir." Mendengar ucapan demikian, dalam hati Hee Thian Siang merasa menyesal, dia sesalkan dirinya sendiri, mengapa ia tadi tidak membohongi padanya bahwa Go Boan Ciu dan Bu-ceng Kiam-khek Bo Cun Yang, dikatakan saja mereka masih hidup?

Jikalau dengan nama-nama mereka berhasil mencegah kedatangan Pek-kut Thian-kun, bukankah tidak perlu lagi memerlukan dirinya turun tangan sendiri? Berpikir sampai di situ nona berbaju putih yang bernama Tham Eng yang pergi, sudah berjalan kembali ke dalam rumah dan memberi hormat kepada Pek-kut Siancu untuk melaporkan bahwa barisan tulang itu sudah selesai.

Pek-kut-Siancu menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Tunggu... kau sediakan lagi dua tempat tidur es, sama perapian yang besar apinya dan tujuh puluh dua butir Jit-gwat Kang-cu."

Tham Eng sambil menganggukkan kepala, diam-diam merasa heran dan bertanya :

"Siancu hendak mengadu hiankang dengan siapa?"

Pek-kut Siancu menunjuk Hee Thian Siang sambil berkata :

"sekarang bocah ini tampaknya bukan dari golongan sembarangan, apabila kau masih terkalahkan olehnya di atas barisan tulang, aku akan mengajaknya duduk di atas pembaringan es, main-main peluru api."

"Apakah siancu mengijinkan muridmu menggunakan ilmu Pek-kut Pat-sian-jiao?"

Pek-kut Siancu berpikir dulu, kemudian menjawab sambil tersenyum :

"Ilmu Pek-kut Pat-sian-jiao itu meskipun luar biasa hebatnya, tetapi bocah ini yang sudah mengeluarkan omongan besar, pasti memiliki kepandaian yang berarti. Seharusnya ia tak takut menghadapi apa saja, maka aku mengijinkan kau menggunakannya!"

Tham Eng memandang Hee Thian Siang dengan sinar mata dingin, lalu memberi hormat kepada Pek-kut Siancu, dan setelah itu ia mengundurkan diri keluar dari rumah bertingkat itu. Pek-kur Siancu berkata kepada Hee Thian Siang : "kau sudah mempropagandakan gurumu Pak-bin Sin-po demikian hebat, juga kau anggap dirimu sendiri hebat sekali. Sekarang apa salahnya kau coba main-main beberapa jurus dengan muridku di atas barisan tulang Pek-hut-theng!"

Hee Thian Siang tahu, sebagai murid Pek-kut Siancu gadis berbaju putih itu meskipun usianya masih sangat muda, tetapi kepandaian ilmu silatnya mungkin tinggi sekali, dan karena ia sendiri pikir tidak mau menggunakan jurus ketiga dari ilmu silat Bunga Mawar, maka untuk menghadapinya perlu berlaku hati- hati sekali.

"Hee Thian Siang bersedia menggunakan kemampuannya yang ada untuk menerima pelajaran nona Tham di atas baris tulang!"

Pek-kut Siancu tersenyum tidak berkata apa-apa, ia bangkit lambat-lambat dari tempat duduknya, lalu mengajak Hee Thian Siang berjalan ke belakang rumahnya.

Di belakang rumah itu terdapat sebuah tanah lapang yang dilapisi oleh pasir yang sangat halus sekali, di atas tanah berpasir itulah ditancapi tujuh puluh dua batang tulang.

Tulang itu ditancapkan sedemikian rupa, merupakan bundaran bagaikan bentuk telor. Tulang-tulang itu panjangnya kira-kira dua kaki, tetapi bukan seluruhnya sama panjangnya, agaknya terdiri dari tulang-tulang bagian paha binatang dan manusia.

Ditancapkan dalam tanah berpasir itu tidak lebih dari satu dim dalamnya.

Ini berarti mudah sekali jatuh, jikalau tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah betul-betul sempurna, jangankan bertanding diatasnya sambil berlari-lari, sedangkan untuk berjalan diatasnya saja sudah tidak mudah, yang lebih menyulitkan ialah bentuk tulang-tulang itu merupakan bentuk barisan Bwee-hwa-cang dan sejenisnya, tulang-tulang itu terpisah demikian rupa satu sama lain, ada yang lebih tinggi, juga ada yang lebih pendek. Jelas apabila perhatiannya ke tulang-tulang diatasnya, harus membagi perhatiannya ke tulang-tulang yang hendak diinjak oleh kakinya. Maka kekuatan tenaga yang digunakan untuk menghadapi lawannya, dengan sendirinya harus dikurangi.

Pek-kut Siancu melihat Hee Thian siang mengerutkan alisnya, tahu bahwa pemuda itu sudah melihat betapa lihaynya barisan tulang itu, maka lantas berkata sambil tersenyum : "Kalau kau murid seorang guru silat ternama, seharusnya sudah bisa lihat bahwa barisan tulangku ini berbeda sekali dengan barisan-barisan sejenisnya yang biasa

!"

"Barisan Pek-kut-ceng ini dibagian dua kepala, tengahnya berbentuk bundar, menancap sedikit sekali didalam tanah, tulang-tulang yang ditancapkan demikian rupa, kekuatannya menerima tenaga injakan, rupanya mirip dengan barisan Lo- han-swat-yan-ceng, akan tetapi tinggi pendeknya terpisah- pisahnya yang berbeda jauh terhadap gerak kaki orang yang bertempur merupakan handicap yang sangat besar ! Masih untung aku sudah mempunyai latihan ilmu meringankan tubuh leng pho-pou, mungkin masih sanggup main-main mengawani beberapa jurus kepandaian nona Tham, juga untuk belajar kenal serangannya Pek-kut-cap-sha-jiauw."

Tham Eng perdengarkan suara tertawa dingin, badannya bergerak, dengan sangat ringan sekali sudah lompat ke atas tulang Pek-kut-teng. Hee Thian Siang sejak penemuan gaibnya di dalam peti mati, kekuatan tenaganya sudah banyak bertambah. Ditambah lagi dengan penemuan yang terakhir dengan Duta Bunga Mawar yang kemudian mendapat saluran kekuatan tenaga dalam orang tua itu, sudah tentu baik kepandaian ilmu silatnya maupun kekuatan tenaga dalamnya, sudah tak dapat dibandingkan dengan yang dahulu. Di luar pengetahuannya sendiri, kekuatan tenaga dalamnya pada waktu itu bisa dijajarkan dengan para ketua partai besar. Ditambah lagi karena ada maksud hendak mempertunjukkan kepandaiannya, maka ketika melompat dan melayang di tengah udara, dengan seolah-olah Dewa terbang, dengan gerakannya yang sangat mencengangkan sudah berada di atas tulang.

Ilmu meringankan tubuh yang dipertunjukkan itu, benar saja sangat mengejutkan Pek-kut Siancu, bahkan Tham eng yang lompat lebih dulu di atas tancapan tulang-tulang dalam hati merasa berdebar.

Melakukan pertempuran di atas tulang-tulang yang ditancapkan demikian rupa, sebelum dimulai kedua pihak lebih dulu harus memikirkan letak-letaknya setiap tulang yang menancap di tanah, supaya dapat mengukur berapa dalam bagian yang menancap di tanah, berapa kekuatan yang sanggup menerima tenaganya.

Hee Thian Siang yang sangat cerdik, selama berjalan berputaran di atas tulang-tulang itu, sudah merasakan betul, bahwa tinggi pendeknya dan jauh dekatnya sukar sekali diinjak, apabila kurang hati-hati, pasti akan jatuh tergelincir. Dalam keadaan demikian, jikalau ia tidak hati-hati pasti akan terjungkel di tangan lawannya, maka ia lalu memikirkan suatu akal untuk mengurangi kesalahannya sendiri.

Selagi masih memikirkan caranya, selama ia berjalan di atasnya, diam-diam mengerahkan ilmunya Sin-kong sim-hwat, tulang-tulang yang agak tinggi diinjak dengan menggunakan tenaga lebih kuat, supaya menancap lebih dalam, dan menjadi agak rata dengan yang pendek, tetapi jarak yang jauh dan dekat ia tidak berdaya untuk memperbaiki.

Tham Eng yang menyaksikan tindakan Hee Thian Siang, diam-diam mengagumi ketelitian pemuda itu, tetapi ia juga merasa gemas atas kelicikannya, di samping itu ia juga tahu benar bahwa pemuda itu memiliki kepandaian dan kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna, agaknya tidak mudah untuk dihadapi. Maka diam-diam mengerahkan ilmunya Pek- kut-hian-kang, dikerahkan kedua tangannya untuk menghadapi lawan tangguh itu.

Sementara itu Hee Thian Siang sudah menginjak satu persatu tulang yang menancap di tanah yang jumlahnya tujuh puluh dua itu, lalu kembali ke tengah-tengah. Selagi hendak bicara dengan Tham Eng untuk mempersilahkan ia membuka serangannya, tetapi ketika matanya melihat gadis itu, dalam hati mendadak terkejut. Dalam hatinya berpikir : Gadis itu kulitnya semula agak sedikit kemerah-merahan, tetapi mengapa dalam waktu sekejap mata dengan tiba-tiba sudah berubah demikian pucat, bagaikan kulit mayat.

Selagi dalam keadaan terkejut dan heran, Tham Eng sudah menggulung lengan bajunya, dari jarak agak jauh melakukan serangannya yang menyambar dengan tangan.

Pada waktu itu kedua pihak berdiri terpisah kira-kira tiga kaki, Hee Thian Siang dengan mendadak merasakan sekujur badannya menjadi dingin, dan semangatnya seperti terbang, ia baru tahu bahwa serangan yang dinamakan Pek-kut-cap- sha-jiauw itu benar-benar memiliki pengaruh demikian hebat, maka buru-buru menenangkan pikirannya dan mengerahkan kekuatan tenaganya, untuk memberikan perlawanan. Matanya terus menatap Tham Eng, sementara mulutnya menunjukkan senyuman yang sangat jumawa.

Ilmu Pek-kut-cap-sha-jiauw yang dimiliki oleh Tham Eng terbagi dari ilmu-ilmu yang ada wujudnya dan tiada wujudnya dua jenis, gerakan pertama yang dilakukan tadi, termasuk jenis yang tak berwujud, harus menggunakan kekuatan tenaga dalam kira-kira sembilan bagian dari seluruh kekuatan tenaganya. Semula ia melihat Hee Thian Siang sekujur tubuhnya menggigil, ia mengira bahwa serangannya tadi sudah membawa hasil. Di luar dugaannya, bahwa lawannya itu hanya menunjukkan sikap terkejut saja, segera diganti dengan senyumnya yang sangat jumawa. Apalagi matanya itu memandang dirinya, seolah-olah mengandung sikap mengejek.

Sepasang pipi Tham Eng lantas menjadi merah, serangannya Pek-kut-cap-sha-jiauw dari yang tidak berwujud menjadi yang berwujud. Sepuluh jari tangannya yang runcing semua meluncurkan hembusan angin yang sangat dingin, dengan suatu gerakan menerkam, menyerbu Hee Thian Siang.

Terhadap serangan kedua itu Hee Thian Siang tak mau menyambuti dengan kekerasan, ia terpaksa menggeser kaki dan badannya turut menggeser miring. Dengan menggunakan ilmu perguruannya Pak-bin Sin-po yang dinamakan Thian- liong-cwan mengelakkan diri dan melompat melewati tiga batang tulang.

Gerakan Thian-liong-cwan itu memang luar biasa sekali indah dan hebatnya, ditambah lagi kekuatan tenaga dalam yang telah mendapat kemajuan demikian pesat, sudah tentu tampak semakin hebat. Maka sesaat itu Tham Eng hanya tampak berkelebatnya bayangan Hee Thian Siang, serangannya dengan gerakan menerkam tadi sudah mengenakan tempat kosong. Sedangkan Pek-kut Siancu yang menyaksikan dari samping, diam-diam juga mengagumi gerakan Hee Thian Siang yang luar biasa itu.

Hee thian Siang dalam jurus pertama tadi menggunakan ilmunya Hian-kang untuk melawan serangan lawannya. Sedang jurus kedua menggunakan ilmu yang diturunkan dari Pak-bin Sin-po ialah ilmu Thian-liong-cwan, untuk mengelakkan serangan hebat lawannya dan jurus ketiga ia sudah mulai melancarkan serangan pembalasan, ujung kakinya menginjak sebatang tulang, ia lantas memutar badannya, lengan tangan kiri mengibas ke belakang, dari situ mengeluarkan hembusan tenaga dalam tak berwujud, tetapi mengandung kekuatan yang hebat sekali.

Tham Eng yang tak berhasil dalam serangan pertama, demikian pula dalam serangan kedua, bagaimana umumnya sifat anak perempuan yang selalu ingin menang sendiri, selagi lompat melesat mengejar Hee Thian siang dengan maksud hendak menggunakan serangan yang paling hebat sebelum Hee Thian siang memperbaiki kedudukannya, ia pikir dengan demikian mungkin bisa saja tubuhnya melesat tinggi melancarkan serangannya, hembusan angin yang hebat sudah menggulung dirinya.