Makam Bunga Mawar Jilid 14

 
Jilid 14

Hee Thian siang terpaksa merobah sebutannya lalu ia berkata pula:

"Enci Hwa, bolehkah kau memberitahukan kepadaku kemana Enci Tiong sun sekarang berada?"

Selagi Hwa Jie swat hendak menjawab, tampak pelayan tadi sudah kembali dengan membawa nampan, di atas nampan itu terdapat enam biji buah tanliu yang masih segar dan masak. Hwa jie swat lalu berkata kepada Hee Thian siang sambil tersenyum : "Adik Hee, cobalah kau cicipi dulu buah tanliu yang hanya terdapat di gunung Bu san saja ini, bagaimana rasanya ?"

Hee Thian Siang melihat buah yang dinamakan buah tanliu itu, kulitnya nampak merah, namun dalamnya putih dan segar sekali, ia bisa menduga bahwa buah itu pasti enak rasanya, namun ia berkata sambil menggelengkan kepala: "Enci Hwa, jika kau tidak mengatakan padaku kemana Enci Tiong-sun pergi, sekalipun buah yang paling enak kau sodorkan kehadapan mataku, aku juga tidak bisa menelan!"

Hwa Ji Swat yang mendengar ucapan itu unjukkan tertawanya yang manis, ia berkata sambil memandang kepada It-pun Sin-ceng: "Kau lihat, adik Hee ini terhadap Hui Kheng sumoay seperti dahulu sikapku terhadap kau!"

"Kau ini memang benar suka mempermainkan orang. kau hendak bicara apa, lekas jelaskan saja kepada Hee laote!" Berkata It-pun Sin-ceng sambil tertawa.

Hwa Ji Swat melirik kepada Hee Thian Siang sejenak, lalu berkata sambil tertawa: "Tetapi dia tidak suka barang yang ku sediakan kepadanya, maka aku juga merasa tidak senang."

Hee Thian Siang mendengar ucapan itu buru-buru berkata: "Enci Hwa, katakanlah, katakanlah! Biarlah sekarang juga aku makan!"

Ucapan itu membuat tertawa Hwa Ji Swat dan It-pun Sin- ceng.

Hee Thian Siang yang memang sudah merah wajahnya ditambah ditertawakan demikian oleh dua orang itu, benar- benar merasa malu, terpaksa ia mengambil sebiji buah tanliu, setelah dikupas kulitnya, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya. Buah tanliu itu benar-benar sangat harum baunya, bukan saja sangat enak rasanya, tetapi juga tampaknya menyegarkan mulut dan semangat, dengan sekaligus Hee Thian Siang menghabiskan 3 biji baru berkata kepada Hwa Ji Swat sambil tersenyum getir: "Enci Hwa, aku sudah makan buahmu, sekarang kau seharusnya sudah merasa senang, bukan?"

Hui Kheng sumoayku, selamanya mempunyai kesukaan melakukan perjalanan ditempat-tempat yang berpemandangan sangat indah, kuda ceng-hongnya, bersama Taywong dan Siaopek juga merupakan binatang-binatang luar biasa yang bisa melakukan perjalanan sangat jauh, waktu ia pergi dari sini belum mengatakan ke tempat mana ia hendak menuju, kau barangkali tidak mudah menemukannya!"

Hee Thian Siang yang mendengar keterangan itu lantas wajahnya berubah seketika, hingga tanliu yang masih berada di tangannya juga terjatuh ke tanah.

Hwa Ji Swat yang menyaksikan kecemasan Hee Thian Siang demikian rupa, lalu berkata sambil tertawa: "Adik Hee, kau tidak perlu cemas, Hui Kheng sumoayku itu meskipun orangnya pergi tetapi barangnya masih ditinggalkan. Ia meninggalkan dua barang untukmu!"

Hee Thian Siang boleh dikata seorang pintar dan cerdik, namun karena pikirannya butek, saat itu berlaku seperti seorang bodoh, ia juga tidak memikirkan dahulu bagaimana Tiong-sun

Hui Kheng bisa tahu dan bisa memperhitungkan dahulu bahwa dirinya akan mencari kegunung Bu-san?"

Ia hanya merasa gelisah sendiri, maka lalu bertanya: "Enci Hwa, dia. dia meninggalkan barang apa untukku?" Hwa Ji Swat mengeluarkan jaring wasiat merah dan batu giok yang berbentuk bunga mawar warna ungu, lalu bertanya kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum: "Adik Hee, dua barang ini betulkah oleh karena kalah pertaruhan, kau berikan kepada Hui Kheng sumoay?" 

Hee Thian Siang seolah-olah mendapat firasat buruk, ia menganggukkan kepala dengan sikap murung.

Hwa Ji Swat berkata pula: "Hui Kheng sumoay oleh karena tahu bahwa kau seorang pemberani dan bersifat sombong, dimana saja bisa menimbulkan bahaya bagimu, maka ia minta aku memberikan jaring wasiat merah ini untuk diberikan kepadamu, supaya bisa kau gunakan untuk menjaga diri, lagi pula lambang bunga mawar warna ungu ini adalah milik Duta Bunga Mawar, ia takut apabila di kemudian hari kau berjumpa dengan Duta Bunga Mawar, kau tidak bisa menyerahkan kembali barangnya, maka ia menyuruh juga supaya aku mengembalikan kepadamu!"

"Dengan berbuat demikian, apakah Enci Tiong-sun sudah tidak suka menemui aku lagi?" Bertanya Hee Thian Siang sambil menghentikan nafas.

Aku tidak tahu, dengan cara bagaimana kau membuat kesalahan terhadapnya? Hui Kheng sumoay memang benar- benar merasa kecewa terhadapmu selanjutnya ia ingin mengasingkan diri dari dunia, tidak akan memikirkan soal keduniawian lagi, demikian ia pernah mengatakan kepadaku."

Hati Hee Thian Siang merasa pilu, matanya lantas menjadi basah oleh air matanya sendiri, tapi ketika dengan tiba-tiba melihat jaring wasiat warna merah itu tergeraklah hatinya, dengan menahan perasaan sedihnya, ia berkata kepada Hwa Ji Swat: "Dari jala wasiat merah ini, aku jadi teringat bahwa kau dahulu di selat Bu-hiap di bawah puncak gunung Tiauw- in-hong ini pernah kalah padaku dalam satu pertaruhan yang hingga kini masih belum kau laksanakan imbalannya"

It-pun sin-ceng sementara itu menyaksikan kecemasan Hee Thian Siang sedemikian rupa dalam hati merasa tidak tega, maka lalu mengulurkan tangannya menyentuh belakang punggung Hwa Ji Swat.

Hwa Ji Swat melirik it-pun Sin-ceng sejenak lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala dan tersenyum: "Aku ingat dalam pertaruhan itu aku yang kalah, akan berusaha sekuat tenaga untuk satu kali membantu kesulitanmu."

"Sekarang aku minta kepada Enci Hwa supaya melaksanakan janji itu, bolehkah sekarang kau laksanakan? Berkata Hee Thian Siang dengan tertawa getir.

Hwa Ji Swat berpikir sejenak, lalu berkata:

"Kau minta bantuanku, sebetulnya aku tidak keberatan apa- apa, tetapi aku cuma bisa memberikan dua patah kata, saja biarlah kau yang mempelajari sendiri, dan kuminta setelah kau mendengarkan pesanku itu segera berlalu dari sini!"

Hee Thian Siang yang sedang berduka, dalam keadaan yang tidak berdaya, bersedia mendengar kata-kata yang harus dipelajarinya, lalu menganggukkan kepala dan mengawasi Hwa Ji Swat dengan penuh pengharapan.

"Ingin mendapat rahasia mengapa takut kesulitan? Kehidupan burung merpati alangkah indahnya!" Demikian Hwa Ji Swat mengeluarkan kata-kata yang seperti menyanyikan sajak sambil tersenyum. Setelah itu bersama-sama it-pun Sin-ceng bangkit dari tempat duduknya untuk mengantarkan hee Thian Siang keluar.

Hee Thian Siang tidak menduga bahwa apa yang dikatakan oleh Hwa Ji sebagai pesan itu ternyata sama dengan apa yang ditulis oleh Duta Bunga Mawar dalam surat kepadanya. terpaksa ia mengulangi ucapan itu berulang-ulang sambil bangkit berdiri dan menuju keluar dari Istana Tiauw-in-kiong.

Hwa Ji Swat bersama Iti-un Sin-ceng mengantarkan ia dari pintu Tiauw-in-kiong, dan tidak mengantar lebih jauh lagi, keduanya minta diri kepada Hee Thian Siang dan balik kembali bahkan menutup rapat pintu istananya.

Hee Thian Siang waktu itu otaknya merasa kosong- melompong, sama sekali tak bisa memikirkan dan mempelajari kata-kata yang diberikan kepadanya tadi. Seperti seorang linglung ia berjalan menuju tebing dan mengawasi ombak sungai Tiang-kang yang bergulung-gulung, dan mulutnya mengeluarkan kata-kata sendiri: "Ah enci Tiang-sun, tidak seharusnya kau hanya mendengar keterangan sepihak dari Siaopek saja, lalu kau mengambil keputusan demikian tegas kepadaku mengapa sedikitpun kau tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk memberikan penjelasan?"

Berkata sampai di situ kembali hatinya merasa duka, namun selama itu ia menahan air matanya jangan sampai tumpah. Namun bagaimanapun ia berusaha, air mata itu tetap mengalir dengan derasnya hingga bajunya bagian dada sudah menjadi basah oleh air matanya sendiri.

Dalam keadaan demikian, berkali-kali ia mengulangi lagi kata-kata yang pernah ditulis oleh Duta Bunga Mawar, dan kini diucapkan kembali oleh Hwa Ji Swat. Ketika ia mengulangi sampai kelima kalinya, dengan tiba- tiba ia berkata sendiri sambil tertawa terbahak-bahak: "Ucapan yang pertama itu agaknya sudah dirubah satu kata, asal tidak sanggup menahan kesulitan, bukanlah segala-galanya akan tamat riwayatnya, tidak ada kesulitan lagi!"

Teringat akan itu, ia lalu ingat soal kematian setelah itu hatinya merasa tergugah, lalu mendorongkan kepala dan mendoa sendiri: "Enci Tiang-sun, Hee Thian Siang terhadapmu sebenar dengan sungguh hati dan sejujur- jujurnya mencinta, sekarang oleh karena kesalah-pahaman, cita-citamu mungkin tidak terlaksana. Dunia yang lebar dan penuh dosa ini, ada apa yang patut diharapkan lagi? Lebih baik aku habiskan jiwaku ke dalam sungai Tiang-kang untuk melepaskan diri dari segala godaan, supaya aku tidak perlu mengalami penderitaan karena sakit rindu!"

Sehabis mendoa, lantas bersiul panjang, suara siulan itu seolah-olah hendak melampiaskan kesedihan dalam hatinya!

Ketika suara siulan berhenti, dengan tiba-tiba kakinya menjejak, badannya melesat ke tengah udara hendka terjun dari puncak Tiauw-in-hong ke dalam sungai.

Akan tetapi baru saja badannya melesat dari puncak gunung, tiba-tiba terdengar suara memuji nama Budha yang nyaring sekali. Suara itu mengaum di udara, sesat kemudian tampak berkelebat warna merah dari atas ke bawah untuk menyambar tubuh Hee Thian Siang.

Baru melayang turun kira-kira enam tujuh kaki, tubuh Hee Thian Siang sudah terjaring oleh jaring wasiat merah yang dilepaskan dari atas.

Sementara itu It-pun Sin-ceng bersama Hwa Ji Swat kedua-duanya muncul di tepi tebing, tangan It-pun Sin-ceng menenteng jaring untuk mengangkat Hee Thian Siang dari dalam jaring.

Hwa Ji Swat sementara itu mendongak ke atas tebing, dimana terdapat banyak pohon cemara, lalu berkata sambil tersenyum: "Hei, setan cilik yang banyak mulut, kau sudah lihat atau belum? Adik He-ku ini terhadap majikanmu bukankah demikian sungguh-sungguh cintanya, dan sedikitpun tidak ada yang tercela?"

Dari antara pohon cemara itu terdengar suara siulan girang, Siaopek yang cerdik dan usil itu muncul dari dalam daun lebat, seolah-olah butiran perak melayang turun, sebentar kemudian sudah menghilang jejaknya.

Pada saat itu Hee Thian Siang baru keluar dari dalam jaring, ketika menyaksikan keadaan demikian lantas bertanya kepada Hwa Ji Swat: "Enci Hwa, kalian sebetulnya sedang main sandiwara apa?"

Hwa Ji Swat tidak bisa mengendalikan perasaan gelinya, ia berkata sambil tertawa: "Adik Hee, biasanya kau sangat pintar sekali, mengapa hari ini demikian goblok? Hai! Pantas bikin sumoayku yang sifatnya tinggi hati dan galak tidak pandang mata kepada siapapun juga, sejak melihatmu lantas terjatuh dalam jaring sakti cinta!"

Hee Thian Siang yang sudah terlibat oleh jalinan asmara, sehingga pikirannya menjadi butek, setelah berada di ruangan Tiauw-in-hong lantas menanyakan keterangan lebih jauh kepada Hwa Ji Swat.

Hwa Ji Swat unjukkan senyum misteri kepadanya, kemudian bertanya: "Adik Hee, jawablah terus-terang, apakah kau masih ada mempunyai sahabat wanita nona Hok yang bergaul sangat erat denganmu?" Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, jawabnya: "Siaopek monyet usil itu terlalu curiga, pada nona Hok Siu Im itu adalah seorang gadis yang masih putih bersih dan masih kekanak-kanakan..."

Tidak menantikan habis ucapan Hee Thian Siang, Hwa Ji Swat sudah berkata:

"Kau kata Hok Siu Im itu seorang yang masih kekanak- kanakan sifatnya! Akan tetapi, penilaian Enci Tiong-sun mu terhadapnya tidak demikian, menurutnya, Hok Siu Im itu seorang gadis yang memang benar bersih dan patut dikasihani keadaannya."

Mendengar ucapan demikian, sepasang alis Hee Thian Siang dikerutkan, sedangkan Hwa Ji Swat yang menyaksikan keadaan demikian tidak tega mengganggu lagi, maka lantas berkata sambil tersenyum: "Enci Tiong-sun mu berkata seorang gadis seperti Hok Siu Im itu, bukan saja kau bisa jatuh cinta kepadanya, sedangkan Enci Tiong-sun mu sendiri, juga merasa senang kepadanya! Apalagi diantara dua gadis itu perkenalanmu dengan Hok Siu Im lebih dahulu daripada Hui Kheng sumoayku...!"

Hee Thian Siang tahu bahwa kata-kata Tin-sun Hui itu, yang dimaksud ialah pertemuan di gunung Tay-piat-san ketika ia bersama Hok siu Im mencari benda pusaka, maka ia hendak memberikan keterangan, tetapi sebelum ia membuka mulutnya, Hwa Ji Swat sudah berkata lagi sambil tertawa: "Oleh karena itu Si Siaopek dan Taywong meskipun merasa cemburu terhadap kau, karena membela majikannya, tetapi Hui Kheng-Sumoay ku terhadap hubunganmu dengan Hok Siu Im yang demikian mesra sedikitpun tidak ambil perhatian. Ia hanya ingin mencari kesempatan untuk mencoba kau bagaimana perasaanmu terhadapnya, sungguh ada hati atau tidak?. " "Hee Thian Siang terhadap Enci Tiong-sun sesungguhnya dengan hati tulus dan aku berani bersumpah terhadap langit dan bumi!"

Hwa Ji Swat berkata sambil menggoyangkan tangannya dan tertawa: "Tidak usah, tidak usah, perbuatanmu tadi yang hendak menghabiskan jiwa lompat dari puncak gunung, bukankah sudah merupakan suatu bukti yang lebih nyata daripada sumpah kosong? Siaopek si monyet nakal itu tadi sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan ia kini sudah kabur untuk melaporkan kepada Hui Kheng sumoayku. Untuk selanjutnya kalian tiga orang yang merupakan cinta segi-tiga ini tidak akan mengalami kesulitan apa-apa lagi!"

Setelah mendengar keterangan itu, hati Hee Thian Siang baru merasa lega, disamping itu ia juga lantas menyadari apa yang dikatakan oleh Hwa Ji Swat dalam pesannya tadi. Maka dengan muka berseri-seri ia berkata kepada Hwa Ji Swat: "Tadi aku tidak membohongimu, Hui Kheng sumoay sekarang sedang membawa perintah ayahnya dengan menunggang kudanya pergi mencari seseorang, bukankah itu tidak menentu jejaknya?"

Hee Thian Siang mendengar itu baru saja wajahnya tampak girang, kini diliputi lagi oleh kesedihan, Hwa Ji Swat berkata pula sambil tertawa: "Adik Hee, bagaimana kau demikian bodoh? Sekarang ini meskipun kau tidak dapat menemukan Hui Kheng Sumoayku, selambat-lambatnya pada nanti hari pembukaan berdirinya partai baru Ceng-thiam-pay bukankah pasti akan bertemu lagi? Saat itu aku bersama kekasihku padri ini juga akan turut datang untuk menonton keramaian!"

Sehabis berkata demikian ia miringkan kepala dan tersenyum kepada kekasihnya. "Enci Hwa, benarkah kau juga hendak pulang ke goa Siang-swat-tong digunung Kie-lian-san?"

Hwa Ji Swat berkata sambil menunjuk ke pada It-pun Sin- ceng: "Semula, aku lantaran kekasihku ini, tiap hari aku memikirkannya sehingga pikiranku menjadi kusut, maka perbuatanku juga kadang-kadang melewati batas dan melanggar hati nuraniku sendiri, sehingga membuat Lie-tim-cu dari Bu-tong-pay dan Lok Kiu Siang dari Siao-lim-pay, kedua- duanya menghabiskan jiwanya di sungai Thian-kang karena merasa malu.

It-pun Sin-ceng yang mendengar sampai di situ, lalu memuji nama Budha dan berkata sambil tertawa getir: "Demikian juga dengan aku, lantaran hendak meringankan dosamu itu, maka setiap pagi dan petang hari, aku pergi ke tepi sungai, untuk membacakan doa guna arwah Lie-tim-cu dan Lok Kiu Siang.

Hwa Ji Swat melirik It-pun Sin-ceng sejenak, lalu berkata sambil tertawa: "Kalian orang-orang dari kalangan Budha selalu mengutamakan soal sebab dan akibat. Akibat dari perbuatanku itu, merupakan dosa yang aku harus pikul sendiri, tapi sebabnya adalah atas perbuatanmu. Sebab jikalau bukannya kau yang dahulu mengingkari janji tidak datang kemari, dengan cara bagaimana aku bisa berlaku demikian?"

It-pun Sin-ceng yang mendengar ucapan itu hanya unjukkan senyumnya yang getir dan merangkapkan kedua tangannya di dadanya, sedang mulutnya tak henti-hentinya menyebut nama Budha.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan mereka demikian, diam-diam juga merasa lucu, sementara itu Hwa Ji Swat sudah berkata lagi padanya: "Oleh karena itu, maka dalam hatiku terhadap partai Bu-tong dan Siao-liem selama itu masih merasa menyesal, pada waktu pembukaan partai baru Ceng-thian-pay itu pertengkaran bahkan mungkin meningkat menjadi pertumpahan dara dari orang-orang rimba persilatan, rasanya tak dapat dielakkan lagi. Aku sudah mengambil keputusan bersama kekasihku padri ini, keduanya akan ikut menghadiri upacara berdirinya partai baru itu apabila orang dari golongan Siao-lim dan Bu-tong dalam bahaya dan jiwa mereka terancam, segera berusaha memberi pertolongan sekadar untuk menebus dosaku!"

Hee Thian Siang mendengar Hwa Ji Swat menyebut nama partai Bu-tong-pay, segera teringat pada dirinya sendiri yang masih memikul tugas berat, karena Tiong-sun Hui Kheng seorang ini sudah dicari jejaknya, maka ia seharusnya lekas pergi ke Bu-tong-san setelah itu kembali ke Pak-bin untuk mengabarkan kepada ketua Bu-tong-pay Hong Hwat Cinjin dan kepada suhunya Pak-bin Sinpo Hong-po Cinjin untuk melaporkan bahwa pertemuan kedua digunung Oey-san akan dibatalkan. Sebaliknya waktu itu akan digunakan oleh partai Kie-lian dan Tiam-cong yang sudah menggabungkan diri menjadi partai baru Ceng-thian-pay, untuk mengundang semua tokoh rimba persilatan, menghadiri pertemuan besar itu. Disamping itu ia juga akan memberitahukan tentang munculnya dua orang tua berambut panjang yang aneh itu!

Berpikir sampai di situ, Hee Thian Siang lalu minta diri kepada It-pun Sin-ceng dan Hwa Ji Swat.

Hwa Ji Swat mengantarkan sambil tersenyum, satu sama lain menetapkan perjanjian untuk bertemu lagi dilain waktu. Hwa Ji Swat menyerahkan kembali dua benda lambang bunga mawar batu giok dan jaring sutera warna merah kepada Hee Thian Siang supaya dibawa dan digunakan diwaktu perlu. Hee Thian Siang setelah meninggalkan gunung Bu-san, dengan perjalanan air, ia menuju ke timur. Kalau dari kota She-leng ia mendarat di pelabuhan Hie-kiang. Dengan menurut jalanan yang dahulu dilalui terus menuju ke Barat untuk pergi ke gunung Bu-tong-san.

Perjalanan itu sama dengan perjalanan yang dilakukan olehnya dahulu, tetapi Bo Bu Ju kini sudah tiada dan sudah berubah menjadi patung didalam goa Siang-swat-tong, sedangkan nelayan tua Lam-kiong Houw yang mengubah namanya menjadi Kiong Lam juga tidak diketemukan lagi. Sedangkan ia sendiri sejak mendapat petunjuk dari Bo Bu Ju tentang diri tiga gadis, Hwa Siu Im, Liok Giok Ji dan Tiong-sun Hui Kheng, selanjutnya lantas terlibat dalam jaring asmara yang demikian ruwet!

Sekarang sejak Tiong-sun Hui Kheng dan Hok Siu Im, meskipun tidak banyak yang perlu dikhawatirkan, tapi dahulu ia sendiri yang pergi ke gunung Bu-san untuk minta restu pada Makam Bunga Mawar, dan orang yang dimaksudkan itu merupakan pengkhianat dari partai Kun-lun-pay, gadis itu bahkan sudah bersekongkol dengan orang tua berambut panjang dan kawanan penjahat dari partai Kie-lian-pay!

Apabila ia melemparkan Liok Giok Ji begitu saja, agaknya tidak pantas terhadap Duta Bunga Mawar yang telah menolong kepadanya demikian besar. Apabila tidak mewujudkan cita-citanya dahulu yang minta restu dari Makam Bunga Mawar, maka Tiong-sun Hui Kheng dan Hok Siu Im, pasti akan menganggap dirinya sebagai seorang pemuda yang serakah, dan gemar pipi licin dan pasti pula akan membawa akibat tidak karuan!

Semakin berpikir semakin kusut pikirannya, ia tidak dapat memikirkan suatu jalan yang baik untuk memecahkan persoalan itu. Ketika ia tiba di gunung Bu-tong-san dalam keadaan kusut, barulah ia disadarkan oleh suara memuji Budha yang demikian nyaring. Suara pujian Budha itu ialah keluar dari mulut seorang imam tua yang tangannya membawa kebutan.

Hee Thian Siang lalu maju menghampiri sambil memberi hormat ia bertanya: "Bagaimana sebutan totiang yang mulia?"

"Pinto It-tim, Siapakah nama siau-sicu? Pesiar ke gunung Bu-tong, ataukah ada urusan hingga perlu ke kuil Sam-gwan- kwan?" bertanya imam tua itu sambil tertawa.

Hee Thian Siang mendengar nama sebutan imam tua itu adalah It-tim, ia tahu bahwa imam tua itu merupakan orang pertama dalam barisan tujuh pahlawan, kemudian ia memberi hormat dan berkata sambil: "O, kiranya totiang adalah It-tim locianpwe salah seorang dari tujuh pahlawan Bu-tong-pay, Aku yang rendah ini adalah Hee Thian Siang, suhuku adalah Pak-bin Hong-poh Sinpo, kedatanganku kali ini ada urusan penting untuk menjumpai ketua Bu-tong-pay sendiri!"

It-tim yang mendengar Hee Thian Siang adalah murid dari Hong-poh Cui, bahkan ada urusan penting dengan Hong-gwat Cinjin, maka lantas berkata sambil menganggukkan kepala: "Harap Hee laote ikut aku mendaki gunung, ketua pinto sedang berada dalam kuil Sam-gwan-kwan!"

Hee Thian Siang menerima baik, ia mengikuti It-tim mendaki gunung Bu-tong, disamping itu diam-diam ia berpikir, jikalau bisa menggunakan kesempatan itu aku bisa menyingkirkan ganjalan antara Hwa Ji Swat partai Bu-tong, alangkah baiknya!

Begitu masuk kekuil Sam-gwan-kwan dan menemui ketua Bu-tong-pay Hong-hwat Cinjin, Hong Hwat Cinjin lantas mempersilahkan ia duduk dan bertanya kepadanya: "Apakah Suhumu Hong-poh Sinpo ada baik? Hee laote datang kemari, entah ada keperluan apa?" "Suhu berkat kasih Tuhan, selama ini baik-baik saja, tetapi Hee Thian Siang bukanlah diperintahkan oleh suhu melainkan mendapat perintah dari Tian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Locianpwe khusus datang kemari untuk menjumpai Ciangbunjin, ada urusan penting yang hendak disampaikan!" Menjawab Hee Thian Siang sambil memberi hormat.

Hong-hwat Cincin mendengar keterangan Hee Thian Siang bahwa kedatangannya kemari adalah atas perintah Tiong-sun Seng, sesungguhnya di luar dugaannya, maka segera bertanya sambil mengerutkan alisnya: "Tiong-sun Seng dengan golongan kita Bu-tong-pay masih ada sedikit ganjalan hati, ada urusan apa ia perintahkan laote datang kemari?"

Hee Thian Siang lalu menceritakan hal ikhwal partai Kie- lian dan Tiam-cong yang sudah bersekongkol hendak mendirikan partai baru dan mengacau dengan menggunakan duri berbisa untuk memfitnah partai Kun-lun-pay dan supaya timbul huru-hara diantara orang-orang rimba persilatan sendiri, dengan demikian supaya kekurangan musuh kuat dan bisa mencapai tujuannya untuk menjagoi rimba persilatan.

Kini karena rencana itu bocor, maka telah mengambil keputusan hendak mendirikan partai yang baru itu pada tanggal enam belas bulan dua tahun depan, dan kedua orang tua berambut panjang yang berkepandaian tinggi menunjang di belakang layar, oleh karenanya mereka telah menolak menghadiri pertemuan kedua di gunung Oey-san, serta memutuskan pada nanti tanggal enam belas bulan dua tahun depan, akan mengundang semua tokoh rimba persilatan untuk datang ke goa Siang-swat-tong, menghadiri berdirinya partai Ceng-thian-pay. Dalam kesempatan itu juga digunakan untuk membereskan semua perselisihan dan permusuhan antara orang-orang rimba persilatan.

Selain daripada itu, ia juga memberitahukan bagaimana ketua Kun-lun-pay, Tie-hui-cu dan sutenya Siau Tek sudah terbinasa oleh dua orang tua aneh itu, semua rahasia itu terbuka semata-mata atas kecerdikan putrinya Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng dan ayahnya!

Hong-hwat Cinjin bersama tokoh-tokoh Bu-tong ketika mendengar keterangan itu baru tersadar dari mimpinya. It-tiem sementara itu telah memuji nama Budha dan kemudian berkata "Suteku Lie-tim, pernah dengar secara tidak langsung terdesak oleh murid Tiong-sun Seng Hwa Ji Swat, sehingga menghabiskan jiwanya di sungai Tiang-kang, tidak disangka- sangka bahwa Thiang-gwa Ceng-mo itu masih ada perhatian besar terhadap partai Bu-tong!"

Hee Thian Siang menggunakan kesempatan itu berkata: "Boanpwe kali ini dalam perjalanan kemari pernah mampir di gunung Bu-san, telah mendengarkan sendiri dari Hwa Ji Swat, dalam peristiwa ini ia menyatakan menyesal, dengan kekasihnya yang baru saja bertemu lagi ialah It-pun Sin-ceng, setiap hari pagi dan petang membacakan doa dari kitab suci di tepi sungai untuk arwah Lie-tim-cu siang dan Lok Kiu Siang. Bahkan Hwa Siancu dan It-pun Sinceng pernah menyatakan di kemudian hari segala urusan yang menyangkut pada orang- orang Bu-tong dan Siao-lim, apabila diketahui oleh mereka, pasti akan memberi bantuan tenaga sepenuhnya!"

Hong-hwat Cinjin setelah mendengar keterangan itu lalu berkata kepada It-tiem sambil tersenyum: "Menurut keterangan Hee laote ini, persengketaan mengenai diri Lie- tiem sute agaknya tidak perlu diungkap lagi."

It-tiem kembali memuji nama Budha dan berkata: "Asal saja perbuatan Hwa Ji Swat dulu itu dilakukan dengan tidak sengaja dan setelah terjadinya itu demikian menyesal, sudah tentu permusuhan itu lebih baik diselesaikan daripada diperdalam, apalagi kita masing-masing sekarang kembali harus menghadapi musuh bersama, maka peristiwa itu baik juga jangan diungkap lagi, tetapi Hee laote tadi pernah mengatakan tentang orang yang di belakang layar yang menunjang partai Kie-lian dan Tiam-cong, katanya kepandaiannya sangat tinggi sekali sehingga seorang ketua seperti Khie Tay Cao, Thiat-kwan Totiang semua rela diperintah oleh dua orang berbaju kuning itu, entah dari manakah asal-usul orang itu? Apakah Ciangbun Cincin dapat menduganya?"

Mendengar pertanyaan itu Hong-hwat Cinjin berpikir keras, sedangkan Hee Thian Siang diam-diam sesalkan dirinya sendiri, mengapa selama ini pikirannya selalu terganggu oleh asmara? Hwa Ji Swat dan It-pun Sin-ceng jelas mengetahui urusan itu, mengapa waktu itu tidak menanyakan kepada mereka? Sekarang karena urusan ini semua sudah diberitahukan kepada ketua Bu-tong-pay, maka ia sendiri seharusnya lekas kembali ke Pak-bin untuk memberitahukan kepada gurunya, selanjutnya baru melakukan perjalanan lagi di dunia kang-ouw, supaya lekas ketemu lagi dengan Tiong- sun Hui Kheng, Hok Siu Im dan lain-lainnya.

Begitu ingat kepada dua gadis itu, Hee Thian Siang kembali dipenuhi oleh rasa rindunya, maka ia lantas bangkit dan minta diri kepada Hong-hwat Cinjin.

"Hee laote tampak tergesa-gesa, apakah masih hendak memberitahukan kepada partai-partai Siao-lim, Lo-hu?" Bertanya Hong-hwat Cinjin sambil tertawa: "Tentang partai Siao-lim, Lo-hu dan lain-lainnya sudah ada orang lain yang pergi untuk memberitahukan, Hee Thian Siang dengan membawa perintah Tiong-sun locianpwe, kini hendak pulang ke Pak-bin untuk mengabarkan kepada suhu, supaya suhu bisa menghadiri dan dapat menghadapi dua orang berambut panjang dan berbaju kuning yang tidak diketahui nama serta asal usulnya itu." Menjawab Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala. "Nama besar dan kepandaian ilmu Hong-poh-po, memang benar sudah cukup untuk menggentarkan nyali kawanan penjahat, Hee laote meskipun susah payah harus melakukan perjalanan jauh, tetapi itu sebaliknya merupakan suatu tindakan untuk menyelamatkan nasib rimba persilatan, jasamu ini sesungguhnya tidak kecil!" Berkata Hong-swat Cinjin sambil menganggukkan kepala.

Sehabis mengucapkan demikian, ia bangkit untuk mengantarkan tamunya keluar.

Hee Thian Siang setelah turun dari puncak gunung Butong selagi hendak menuju ke Timur dengan mengambil jalan melalui propinsi Swatang dan pulang ke Pak-bin, diluar dugaannya kembali sudah menemukan kejadian, ketika ia berjalan di suatu lembah yang terapit oleh tebing tinggi, tiba- tiba ada hembusan angin gunung yang sangat keras, timbulnya angin itu dibarengi oleh suara nyanyian samar- samar, nyanyian itu dinyanyikan oleh orang, entah dimana berada. Ia tertarik oleh suara itu, karena apa yang dinyanyikan olehnya, justru empat baris syair yang ditinggalkan oleh Duta Bunga Mawar, maka ketika ia mendengar suara nyanyian itu, buru-buru mencarinya dengan mengikuti dari mana arah suara nyanyian itu. Ia ingin tahu siapa gerangan yang menyanyikan syair tersebut.

Setelah mengitari sebuah tebing tinggi, kini ia telah mendengar dengan nyata bahwa suara yang datang dari atas tebing tinggi terpisah kira-kira sepuluh tombak tingginya dari permukaan tanah, disitu tampak sebuah lobang goa, tetapi karena tempat itu tinggi dan licin, sedikitpun tidak ada tempat untuk berpijak kaki dan Hee Thian siang juga tahu sendiri, bahwa kepandaiannya sendiri hanya dapat mencapai setinggi lima tombak, maka menyaksikan keadaan itu diam-diam merasa heran. Ia heran, dengan cara bagaimana orang itu bisa masuk ke dalam goa yang setinggi itu? Selagi ia berada dalam keadaan terheran-heran dari dalam goa itu kembali terdengar suara nyanyian yang serupa.

Mendengar suara itu, Hee Thian Siang sudah mengetahui siapa orangnya yang berada didalam goa tersebut. Ia lalu mendongakkan kepala dan berkata dengan suara nyaring: "Duta Bunga Mawar locianpwe, locianpwe seolah-olah selalu membayangi diriku, tetapi mengapa kau selalu berlaku demikian misterius? apa tidak suka bertemu muka denganku?"

Dari dalam goa itu terdengar suara Duta Bunga Mawar yang lemah-lembut, katanya sambil tertawa: "Untuk mempertahankan kewibawaan, kemantapan, prestasi dan nama baik Makam Bunga Mawar, tiada satu saat aku tidak memeras otak untuk memikirkan urusanmu. Tetapi menurut apa yang kuketahui pada belakangan ini, sebuah cintamu, sebaliknya sudah kau berikan kepada Tiong Sun Hui Kheng dan Hok Siu Im, kau sedikitpun tidak menghargai dan mengingat permohonanmu sendiri di hadapan bunga mawar!"

Hee Thian Siang berkata sambil tertawa getir: "Locianpwe, bukannya aku tidak menjunjung Makam Bunga Mawar, aku hanya merasa bingung, bagaimana harus berbuat!"

Aku hendak mewujudkan restunya Makam Bunga Mawar, sudah tentu aku akan memberi petunjuk bagimu!" Berkata Duta Bunga Mawar sambil tertawa.

"Tentang petunjuk locianpwe, sebaiknya yang jelas sedikit, supaya aku jangan selalu memikirkan teka-teki yang locianpwe berikan!"

"Petunjuk kali ini yang hendak kuberikan sangat mudah dan jelas, itu adalah kuminta kau segera balik melakukan perjalanan ke Barat daya lagi, dari propinsi Su-cwan kau masuk ke bu-sia, di perbatasan Kam-siok dan Siu-kang disana boleh pesiar sesukamu!" "Aku sekarang sedang melakukan perjalanan ke Pak-bin menjumpai suhu..."

Tidak menanti selesai ucapan Hee Thian Siang, Duta Bunga Mawar memotong dan berkata sambil tertawa: "Untuk apa kau kembali ke Pak-bin? Suhu mu sekarang tidak berada di gunung Pak-bin!"

"Locianpwe, bagaimana locianpwe tahu bahwa suhu tidak berada di gunung Pak-bin?" Bertanya Hee Thian Siang heran.

"Pada waktu aku mengantar jenazah Duta Bunga Mawar nomor satu dan nomor dua, pulang ke daerah barat, suhumu juga berada di sana, waktu itu kita bahkan pernah berbicara panjang, hampir sehari lamanya!" Berkata Duta Bunga Mawar sambil menghela nafas.

"Mengenai perbuatan ku yang diam-diam turun dari gunung Pak-bin dan terjun ke dunia Kang-ouw, suhu ada berkata apa? Apakah suhu ada menyesali perbuatanku itu?"

"Hong Poh Sinpo tiada ada kata-kata yang menyatakan amarah terhadap perbuatanmu itu, ia hanya mengatakan bahwa kau sebetulnya anak yang berbakat baik, tetapi adatmu agak sombong sedikit dan binal, ia memintaku supaya menolongnya untuk menilik keadaanmu!"

Hati Hee Thian Siang merasa lega ketika mendengar suhunya tidak marah terhadap perbuatannya yang meninggalkannya dengan diam-diam. Ia bertanya lagi kepada Duta Bunga Mawar: "Menurut keterangan locianpwe ini, tentunya locianpwe sudah lama kenal dengan suhu?"

"Bukan kenal begitu saja, kita sudah ada hubungan selama tiga empat puluh tahun, dahulu sebetulnya kita juga sudah pernah bertarung beberapa kali kita melakukan pertandingan dengan pedang!" "Dan siapakah yang merebut kemenangan?"

"Siapapun tidak ada yang menang, ketika ia melakukan pertandingan dan mengikat tali persahabatan!"

Hee Thian Siang dengan tiba-tiba teringat sesuatu lalu bertanya sambil tersenyum: "Locianpwe, aku sebetulnya masih melakukan satu pelanggaran besar, tidak seharusnya kalau suhu tidak marah terhadap perbuatanku itu!". "O, kau melakukan pelanggaran apa?"

"Sewaktu aku hendak meninggalkan gunung Pak-bin, diam- diam pernah mencuri sebutir bom yang cukup untuk menggempur sebuah bukit!"

Duta Bunga Mawar yang mendengar ucapan itu dengan di luar dugaan Hee Thian Siang telah tertawa terbahak-bahak. Reaksi Duta Bunga Mawar itu telah menimbulkan kecurigaan Hee Thian Siang, maka segera bertanya: "Locianpwe, mengapa kau malah tertawa?"

"Kalau bukan kau yang menyebutkan soal itu, aku malah lupa untuk menyampaikan pesan suhumu kepadamu!"

"Suhu minta locianpwe menyampaikan pesan apa kepadaku?"

"Suhumu minta aku supaya lekas kau buang bom Kian- thian-pek-lek yang sedikitpun tidak ada gunanya itu, supaya kau jangan sampai menggunakan sebagai barang andalan, sebab salah-salah bisa membahayakan dirimu sendiri!"

"Apakah bom yang ku curi itu bukan barang baik?"

"Barang pusaka yang membuat bencana besar itu, dengan cara bagaimana gurumu membiarkan kau curi begitu saja? Sekarang benda yang kau bawa-bawa dan simpan baik-baik itu hanya merupakan batu dari gunung Pak-bin saja!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu dari dalam sakunya mengeluarkan bom Khian-tian-pek-lek yang pernah membantu ia meloloskan diri dari berbagai bahaya, benda itu diletakkan di atas tangannya dan diperiksanya dengan seksama. Dari sikapnya menunjukkan belum mau percaya akan ucapan Duta Bunga Mawar.

Duta Bunga Mawar berkata sambil tertawa: "Jika kau tidak percaya, coba kau lemparkan didalam goa dimana aku sendiri berada!"

Selagi Hee Thian Siang hendak menyambitkan bom ditangan, tetapi tiba-tiba berpikir, dengan cara demikian sesungguhnya terlalu gegabah, apabila bom itu benar-benar meledak, bukankah akan mengorbankan Duta Bunga Mawar yang demikian baik dan sungguh-sungguh membantu dirinya?

Oleh karena keragu-raguan itu, maka bom itu dilemparkan ke suatu tempat sejauh tiga tombak dari tempatnya sendiri.

Ketika benda itu menyentuh dinding tebing, hati Hee Thian Siang berdebaran, ia khawatir ledakkan itu akan membawa bencana hebat, tetapi ketiga benda itu begitu menyentuh tebing hanya perdengarkan suara agak keras, kemudian jatuh mental dan menggelinding ke dalam jurang, sedikitpun tidak meledak, benar seperti apa yang dikatakan oleh Duta Bunga Mawar, hanya merupakan sebuah batu dari gunung Pak-bin yang agak berat sedikit dari batu biasa.

Duta Bunga Mawar lalu berkata sambil tertawa terbahak- bahak: "Hee laote, kau jangan kesal, barangkali dengan menggunakan batu itu kau sudah berhasil menggertak beberapa orang kuat rimba persilatan yang kau tidak sanggup hadapi!" Wajah Hee Thian Siang menjadi merah dan berkata kepada Duta Bunga Mawar yang berada dalam goa: "Locianpwe, meskipun suhu tidak berada di gunung Pak-bin, tetapi aku masih perlu mencarinya. Jikalau tidak, bagaimana suhu nanti bisa datang ke goa Siang-swat-tong di gunung Kie- lian-swat pada waktunya, untuk menghadiri berdirinya partai baru Ceng-thian-pay."

"Lakukan saja seperti apa yang kukatakan dengan hati lega, kau boleh pesiar sepuas-puasnya, namun suhumu pasti bisa turut menghadiri acara pembukaan partai baru itu di gunung Kie-lian!"

"Apabila suhu terlambat mendapat kabar, sehingga tak keburu pergi ke gunung Ki-lian dan orang tua berbaju kuning berambut panjang itu tiada seorangpun yang sanggup menghadapinya tentu akan membuat bencana hebat, bukan..."

"Hee laote, kau jangan khawatir. Tentang suhumu biarlah aku yang bertanggung-jawab untuk memberitahukan kepadanya. Apabila ada kelainan saat itu biarlah aku yang turun-tangan sendiri menghadapi orang berambut panjang dan berbaju kuning itu!"

Mendengar Duta Bunga Mawar berkata demikian, sudah tentu Hee Thian Siang merasa lega, ia bertanya pula: "Locianpwe, bolehkah locianpwe beritahukan nama dan asal- usul dua orang tua itu?"

"Meskipun aku tahu siapa adanya mereka, tetapi tak perlu kujelaskan di sini, biarlah kau sendiri nanti berusaha untuk mencari keterangan, ini rasanya lebih baik!"

Mendengar Duta Bunga Mawar tidak mau memberitahukan nama dan asal-usul dua orang tua berbaju kuning itu, Hee Thian Siang agak heran, sementara itu Duta Bunga Mawar sudah berkata pula: "Tugasku untuk memberi petunjuk kepadamu telah selesai, aku masih ada urusan hendak pergi lebih dahulu, berusahalah sendiri menurut apa yang kuberi petunjuk kepadamu, aku jamin kau nanti akan berhasil menyampaikan tujuanmu!"

Sehabis berkata demikian terdengar pula suara nyanyiannya tadi, tetapi suara itu semakin lama semakin jauh, tatkala suara terakhir itu terdengar, sudah hampir tak kedengaran lagi. Duta Bunga Mawar yang sangat misteri tindak-tanduknya itu sudah menghilang seolah-olah ditelan ke dalam perut gunung.

Hee Thian Siang semula meskipun merasa heran, tetapi setelah dipikir lagi juga segera mengerti, ia tahu bahwa didalam goa itu pasti ada jalan keluar yang lain, tetapi entah menuju kemana.

Karena Duta Bunga Mawar sudah berlalu, sudah tentu Hee Thian Siang terpaksa bertindak menurut seperti apa yang diberi petunjuk olehnya, ia balik kembali menuju ke propinsi su-cwan, tetapi ia tidak berjalan melalui selat bu-hiat lagi, sebaliknya mengambil jalan ke gunung Bu-san menuju ke Barat. Ketika tiba di sebuah desa kecil, dan hendak menangsal perutnya, kembali berjumpa dengan seorang gaib di luar dugaannya.

Rumah makan dimana ia singgah itu membelakangi gunung dan menghadapi sungai, keadaan disitu memang sangat indah, araknya dirumah makan itu juga cukup harum, Hee Thian Siang yang duduk minum seorang diri di pinggir jendela, selagi tujukan matanya ke tempat yang jauh, di belakangnya tiba-tiba terdengar suara helaan nafas panjang, dan meletakkan cawan araknya demikian keras di atas meja.

Hee THian Siang terkejut dan menoleh, tampak di belakang sebuah tiang di sebelah Timur, sang tamu berbaju panjang warna kuning, bentuk pakaian dan warnanya itu tidak asing baginya. Selagi otaknya berpikir-pikir, tetamu berbaju kuning itu sambil memanggil pelayan rumah makan ia kembali menghela napasnya panjang-pendek, seolah-olah sedang dirundung kedukaan.

Ketika tamu itu menoleh memanggil pelayan, Hee Thian Siang segera melihat jambangnya, hingga saat itu menjadi terkejut. Dalam hati segera berpikir: Apakah tamu itu bukan Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong yang pernah kujumpai dirumah makan di kota Gi-ciang?

Oleh karena Hee Thian Siang dan Oe-tie Khao tidak menduga, orang yang hendak ditemui oleh orang tua berambut panjang berbaju kuning didalam gua Siang-swat- tong itu, adalah Hong-tim Ong-khek ini, maka diam-diam merasa sayang atas tindakan Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng dan Tiong-sun Hui Kheng yang sedang mencari-cari di segala pelosok, tak diduga-duga orang yang dicari itu berada didalam rumah makan di desa yang sunyi, dan secara tidak disengaja telah ditemukan olehnya.

Ia buru-buru bangkit menghampiri dan berkata sambil memberi hormat kepadanya: "Hee Thian Siang sungguh tak menduga, ditempat ini berjumpa dengan May locianpwe!"

May Ceng Ong mungkin karena terlalu banyak minum, tampaknya sudah agak mabok, ia mengamat-amati sebentar, barulah berkata sambil tertawa: "Apakah kau adalah Hee laote yang pernah berjumpa denganku dirumah makan kota Gi- ciang dan kemudian di puncak gunung Keng-bun san, untuk membebaskan Bo Bu Ju dalam kesulitan? Aku masih ingat, aku pernah memberi sebuah kipas padamu!"

Hee Thian Siang menampak sikap orang aneh itu sewaktu bicara dengannya seperti sedang diliputi oleh kedukaan, maka ia sengaja mencoba menjajaki pikirannya, katanya: "Dunia Kang-ouw telah terjadi banyak perubahan, segala kejadian didalam dunia ini tidak menentu, kipas yang locianpwe hadiahkan kepada Hee Thian Siang, kini telah terjatuh ditangan orang Kun-lun-pay, sementara itu, pendekar pemabokan Bo Bu Ju locianpwe itu kini sudah berubah menjadi setan penasaran didalam goa Siang-swat-tong di gunung Kie-lian-san."

Beberapa patah kata Hee Thian Siang itu saja telah membawa hasil, May Ceng ong yang mendengarkan itu maboknya mendadak hilang setengah, ia memandang Hee Thian Siang demikian rupa, kemudian berkata: "Hee laote, ucapanmu ini darimana asalnya? coba kita duduk lagi untuk bicara lebih jelas!"

Hee Thian Siang mengucapkan terima-kasih, kembali duduk bersamanya. Ia mulai menceritakan pengalamannya dan apa yang disaksikan dan dengar selama dua kali mengadakan penyelidikan di gunung Kie-lian.

May Ceng Ong yang mendengarkan dengan lama, saat itu tampak melengak, lalu berkata kepada diri sendiri: Pantas... Pantas..." Ucapan yang diulang dua kali itu dalam hati Hee Thian Siang benar-benar merasa agak aneh. Ia menatap wajah May Ceng Ong, kemudian dengan terheran-heran berkata: "May locianpwe, apakah maksud ucapan lantas tadi?"

May Ceng Ong setengah menjawab pertanyaan Hee Thian Siang, setengah seolah-olah diucapkan kepada dirinya sendiri: "Pantas saja Siang Biau Jan dengan membawa dua tiga murid Kun-lun hendak melakukan tindakan tidak baik terhadap Liok Giok Ji!" dengan mengerutkan alisnya, Hee Thian Siang menanya: "Locianpwe, orang yang dicari oleh dua orang aneh berambut panjang berbaju kuning didalam goa Siang-swat- tong itu, betulkah May cianpwe sendiri?" May Ceng ong mendongakkan kepala mengawasi awan di langit, wajahnya menunjukkan sikap sangat murung, seolah- olah sedang mengenangkan kejadian dimasa yang lampau. Atas pertanyaan Hee Thian Siang tadi, ia menjawab sekenanya: "Ya, aku! Itulah aku sendiri..."

Hee Thian Siang bertanya pula: "Locianpwe, dua orang tua itu, kalau benar sedang mencari locianpwe, maka sebab- sebab permusuhan apa antara locianpwe dengan mereka, bolehkah kiranya locianpwe beritahukan kepadaku?"

Kali ini May Ceng Ong tidak menjawab pertanyaan Hee Thian Siang, ia hanya menuang arak dan dipegang didalam tangannya, lalu berkata kepadanya: "Hee laote, kau dan aku sudah dua kali bertemu muka, kedua-dua kalinya ini secara kebetulan selalu bertemu dirumah makan, boleh dikata jodoh dalam arak kita memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Sukakah mengawani aku minum lagi beberapa cawan arak? Supaya dapat melenyapkan kesusahan dalam hatiku?"

Arak putih sifatnya paling keras, Hee Thian Siang waktu itu juga sudah mulai agak mabok, mendengar ucapan itu, lalu berkata sambil tersenyum: "Kalau May locianpwe hendak menggunakan arak untuk menghilangkan kesedihan dalam hati dengan cara bagaimana Hee Thian Siang berani menolak? Tetapi Cheng Liam Kie-siu dalam syairnya pernah berkata: "Mengangkat arak untuk menghilangkan kesedihan, tetapi kesedihan semakin memuncak..."

May Ceng Ong mengerutkan alisnya, kembali menuangkan arak ke dalam cawannya, katanya sambil tertawa terbahak- bahak: "Ceng Lian Kie-su adalah seorang penggemar arak yang terbesar, juga merupakan seorang pengemis yang paling besar. Sudah tentu apa yang diucapkan itu adalah terhadap orang yang seperti dia. Tetapi hanya secawan arak ditangan, kalau mau dikata kesedihan bertambah kesedihan, apa salahnya?" Berkata sampai di situ, Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong, ternyata tidak sanggup kendalikan perasaan hatinya, tanpa disadari olehnya, dari sela-sela matanya mengeluarkan tetesan butiran airmata! Kalau diwaktu biasa Hee Thian Siang apabila menampak sikap May Ceng Ong demikian pasti akan merasa heran, tetapi sekarang oleh karena ia dalam keadaan setengah sinting karena mabok arak, orang yang sedang mabok akan mengucapkan isi hatinya, itu memang sudah wajar, maka ia lalu berkata: "May locianpwe, keadaan kita ada berlainan, begitu pula perasaan masing-masing juga berbeda- beda, kalau kau telah merubah syair Auw Ceng Liam Kie-siu dengan dua kata-kata, maka aku akan mengembalikan ke asalnya, baru merasa sesuai."

May Ceng Ong mengeringkan arak dalam cawannya, ia kembali menuang lagi, juga menuang secawan untuk Hee Thian Siang, setelah itu ia berkata: "Hee laote, kalau kau mengatakan bahwa air-matamu itu adalah airmata rindu, sedangkan air mataku adalah airmata kepedihan hati. Airmata-airmata itu meskipun berbeda, tetapi semua merupakan airmata orang yang sama-sama dirundung malang! Orang sedih ketemu dengan orang sedih tiada jalan lain hanya menggunakan air kata-kata untuk menyirami kesedihan kita. Mari, mari, minumlah lagi lima cawan!"

Dengan beruntun Hee Thian Siang meneguk lagi araknya hingga lima cawan. Sudah mulai mabok benar-benar, dalam keadaan mabok ia teringat pada diri Tiong-sun Hui Kheng, sebentar lagi teringat kepada Hok Sui Im yang masih bersifat kekanak-kanakan, kemudian ia teringat lagi kepada Liok Giok Ji yang nakal dan memusingkan kepalanya sendiri. Teringat akan itu semua, dalam hati merasa sedih sendiri, hingga tanpa disadarinya olehnya, airmatanya mengalir turun!

Melihat Hee Thian Siang menangis, sebaliknya May Ceng Ong tertawa terbahak-bahak, kemudian bertanya sambil menunjuk airmata yang menetes di depan dada Hee Thian Siang: "Hee laote, kau telah menangis. Mengapa menangis? Bukankah kau sudah tahu, bahwa seorang gagah itu tidak mudah mengucurkan airmata? Kau tidak seharusnya seperti aku ini yang banyak kerisauan. Usiamu masih sangat muda sekali. Ada kedukaan apa yang menimpa dirimu? .... Ai, hari ini barangkali aku benar-benar terlalu banyak minum, sehingga pikiranku sudah terlalu butek, tadi bukankah kau pernah berkata bahwa air mataku dan air matamu itu berlainan, airmata yang mengalir dalam mataku itu semata- mata airmata kesedihan sedangkan airmata mu itu adalah airmata kerinduan?"

Berkata sampai di situ, kembali mengeringkan arak dalam cawan masing-masing, setelah itu ia mengamat-amati Hee Thian Siang, dengan airmata berlinang-linang ia berkata lagi: "Hee laote, seorang muda seperti kau yang begitu gagah dan tampan pula, dengan sendirinya menarik banyak perhatian gadis-gadis, dan timbullah kisah-kisah yang sangat romantis, semua itu merupakan bahan-bahan yang bisa melibatkan kau dalam jaring asmara!"

Hee Thian Siang meletakkan cawannya di atas meja, mulutnya mengeluarkan nyanyian dengan suara nyaring: "Yang mudah mengalir hanya darah panas, yang susah dibuang ialah penyakit rindu..."

Suara itu segera dipotong oleh May Ceng Ong, katanya sambil menggoyang-goyangkan kepala dan tertawa: "Tidak benar, tidak benar! Airmata kedukaan susah dihapus, penyakit rindu gampang diobati! Hee laote, kalau kau percaya kepadaku May Ceng Ong, bolehkah kau jelaskan siapa yang kau rindukan dan kesulitan apa yang sedang kau hadapi? May Ceng Ong akan membantumu untuk menghilangkan penyakit rindumu, dan sementara aku akan menahan kedukaan dalam hatiku!" Hee Thian Siang waktu sudah mabok benar-benar, sambil menatap wajah May Ceng Ong ia berkata sambil tertawa terbahak-bahak: "May locianpwe, kau jangan berkata asal berkata saja, sekalipun Duta Bunga Mawar yang memegang kunci dari restu Bunga Mawar, belum tentu memiliki kepandaian seperti itu!"

"Duta Bunga Mawar meskipun sudah bersumpah dan bertekad hendak berusaha supaya semua kekasih yang ada didalam dunia ini bisa terangkap jodoh, tetapi semua itu tercapainya dengan sahat perlahan sekali. Sebaliknya dengan cara yang kutempuh, aku akan dengan secara langsung untuk menghadapi orang yang bersangkutan. Urusan dalam dunia ini kadang-kadang tidak bisa dengan cara agresif terutama terhadap wanita, kita perlu mengambil tindakan cepat dan langsung, hal ini jauh lebih berhasil daripada bertindak lambat- lambat seperti lakunya nenek-nenek! Hee laote, beritahukanlah terus-terang, siapa nona yang kau rindukan itu?"

Dalam hati Hee Thian Siang, yang paling berat sudah tentu adalah Tiong-sun hui Kheng, setelah itu ialah Hok Siu Im, tetapi dua pendekar wanita itu justru semuanya jatuh cinta kepadanya, dia tidak perlu khawatir berbalik pikiran, maka Hee Thian Siang yang dalam keadaan mabok seperti itu, sudah menyebutkan nama Liok Giok Ji, yang memang sedang mengganggu pikirannya.

May Ceng Ong sesungguhnya adalah seorang yang gemar minum, ditambah lagi dengan kekuatan tenaga dalamnya yang sangat sempurna, maka sekalipun sudah banyak minum arak, tetapi rasa maboknya kalau dibandingkan dengan Hee Thian Siang, ternyata masih jauh kurang. Ketika mulut Hee Thian Siang menyebut nama Liok Giok Ji, saat itu ia terkejut, dengan alis dikerutkan ia bertanya: "Hee laote, katamu bahwa orang yang kau pikirkan itu adalah Liok Giok Ji? Betul tidak?" Keadaan Hee Thian Siang pada waktu itu sudah mabok benar-benar, maka ia lantas mengangguk-anggukkan kepala dan menjawab dengan ucapannya yang tak lancar: "Mee....

Me... Mengapa tidak? aku.... pernah.... lantaran Liok Gion ji...... hingga harus..... melakukan perjalanan jauh.     Ke

gunung... Bu-san, di hadapan Makam Bunga Mawar, aku minta restu pada Duta Bunga Mawar. !"

Dengan tenang May Ceng Ong mendengarkan cerita Hee Thian Siang, setelah itu ia menatap wajahnya beberapa kali, sepasang matanya yang sudah mabok memancarkan sinar tajam, katanya sambil tertawa terbahak-bahak: "Baik, baik! Ini benar-benar merupakan suatu tindakan yang mendapat dua keuntungan, sesungguhnya ini merupakan suatu kejadian yang luar-biasa, disamping mengakhiri kedukaan hatiku, juga akan melunasi hutang rindumu!"

Dalam keadaan mabok, namun Hee Thian Siang masih bisa menangkap bahwa ucapan May Ceng Ong itu seolah- olah mengandung maksud dalam, maka ia menggeleng- gelengkan kepalanya, untuk menyatukan ingatannya, setelah itu bertanya: "May locianpwe, melunasi hutang rinduku, ada hubungan apa dengan mengakhiri kedukaanmu?"

Depan dada baju kuning May Ceng Ong kini sudah basah semua oleh air kata-kata dan airmatanya sendiri, dengan sumpit di tangannya diketok-ketokkan di atas meja sambil mengeluarkan kata-kata: "Perkara yang paling menyedihkan hati dalam dunia, sayang tidak dapat diucapkan kepada orang. "

Dengan tiba-tiba ia menutup mulut, matanya terbuka lebar, berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa terbahak- bahak: "Hee laote, hutang rindu maupun kedukaan dalam hati, untuk sementara jangan dihiraukan, adalah ucapan penyair zaman dahulu itulah yang tepat, segala hal tidak bisa dibandingkan dengan cawan arak didalam tangan, janganlah sia-siakan waktumu menghadap rembulan. Mari, mari, mari! Kita minum lagi sepuluh cawan!"

Benar saja, arak putih secawan demi secawan masuk ke tenggorokan dua orang itu dan habis sepuluh cawan, Hee Thian Siang sudah tak kuat lagi, tanpa disadarinya sudah rebahkan kepalanya di atas meja, dan tidur dengan nyenyaknya.

Ketika ia mendusin dari tidurnya, badannya merasa segar, setelah hilang semua maboknya begitu sadar kembali, barulah merasa terkejut sebab tempat ia berada, bukanlah rumah makan di desa kecil itu, melainkan didalam sebuah goa.

Hee Thian Siang yang baru sadar dari maboknya, otaknya masih sedikit linglung, sama sekali sudah tidak ingat lagi apa yang diucapkan selama dalam keadaan mabok, dan apa yang terjadi selama itu, ia hanya samar-samar ingat pernah minum bersama-sama dengan May Ceng Ong, tetapi dengan cara bagaimana bisa berada ditempat itu?

Lama ia berpikir, namun masih bingung, tak dapat menemukan jawabannya. Maka ia terpaksa melompat bangun dan duduk di tanah.

Baru saja Hee Thian Siang duduk di luar goa, tiba-tiba terdengar suara orang bicara, samar-samar ia dapat menangkap ucapan yang keluar dari mulut orang: "Semua berusaha sekuat tenaga, untuk menangkap pembunuh pengkhianat dan menuntut balas dendam bagi ketua kita!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu diam-diam berpikir, orang yang mengeluarkan ucapan itu apakah orang- orang dari Kun-lun-pay, dan yang dimaksudkan dengan "Ketua" apakah ditujukan pada Tie-hui-cu? Dan yang disebut sebagai "pengkhianat" apakah diri Liok Giok Ji? Berbagai pertanyaan itu mengganggu pikirannya, untuk mendapatkan jawabannya itu lalu ia mengintai dari dalam goa. Tampak olehnya bahwa mulut goa itu sangat sempit sekali, bahkan tertutup oleh pohon-pohon rotan. Sedangkan Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong kini entah berada dimana? Dan dengan cara bagaimana ia dimasukkan ke dalam goa itu?

Disamping jalan pegunungan di luar goa itu terdapat sebidang tanah lapang, di atas tanah lapang itu berdiri empat orang, tiga diantaranya sudah pernah dilihatnya di gunung Cong-lam, mereka itu adalah: Tio Giok, Phoa Sa dan Im Ya-ok yang pernah dilihatnya di pintu kuil Kun-kiong. Sedangkan yang lain lagi meskipun masih asing, tetapi ditilik dari usianya yang lebih tua dari yang lainnya apalagi kalau ditilik sikap orang muda yang begitu menghormat. Hee Thian Siang lalu menduga bahwaw orang itu pasti merupakan Jisute, atau adik seperguruan nomor dua Thie-hui-cu yang bernama Siang Biau.

Memang benar bahwa imam yang lebih tua itu adalah Siang Biauw jan.

Pada saat itu Siang Biauw Jan bertanya kepada In Ja Hok: "In Ja Hok, apakah kau tahu benar bahwa budak hina itu adalah Liok Giok Ji sendiri, yang malam ini hendak lewat dijalan ini?"

In Ja Hok memberi hormat dan menjawab: "Unjuk beritahu kepada susiok, tecu dengan tidak disengaja telah berpapasan dengan Liok sumoay..."

Belum habis ucapannya, sudah dipotong oleh Siang Biauw Jan: "Apa? Liok sumoay? Didalam partai Kun-lun-pay tidak mengakui ada seorang murid yang durhaka seperti dia itu yang telah melakukan pembunuhan terhadap suhunya sendiri!" In Ja Hok terpaksa merubah nada suaranya, katanya pula: "Secara kebetulan tecu telah bertemu dengan Liok Giok Ji dan Pek-thao Lo-sat Pao Sam kow dari Kie-lian-pay, mereka berpisahan di gunung Tay-piat-san, Pao sam kow hendak menuju ke Shun-se, sedang Liok Ciok Ji ke Holam. Malam ini pasti lewat ditempat ini!"

Mendengar itu sepasang alis Siang Biauw Jan berdiri, wajahnya tampak penuh bernapsu, ia bertanya kepada Tio Giok, Phoa San dan In Jan Hok bertiga: "Kalian bertiga membawa berapa banyak racun berduri Tian-kheng chek?"

In sute tujuh buah, Poa sumoay sepuluh buah, sedang sute sendiri sekarang ada delapan buah, jumlah seluruhnya dua puluh lima buah!" jawab Tio Giok.

Siang Biauw Jan mengangguk-anggukkan kepala, katanya pula: "Didalam sakuku masih ada sepuluh buah, jumlah tiga puluh lima buah, seharusnya sudah cukup untuk digunakan!"

Phoa San yang mendengar ucapan itu lantas bertanya: "Siang Susiok hendak menggunakan duri beracun untuk menghadapi Liok Giok Ji... benarkah begitu?"

"Budak hina itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi, kalian semua lebih dulu harus menjelaskan tanda-tanda rahasianya, apabila sudah tidak berhasil menangkap hidup padanya, lalu menggunakan duri berbisa itu, dua puluh lima buah duri itu dilepaskan dengan berbareng, kurasa itu sudah cukup untuk membunuh mati padanya!" Berkata Siang Biauw Jan sambil tertawa.

Hee Thian Siang yang berada didalam goa ketika mendengar ucapan itu alisnya lantas berdiri, dalam hatinya berpikir: Seorang tingkatan tua seperti Siang Biauw Jan ternyata mempunyai hati demikian kejam. Sementara itu Siang Biauw Jan sudah berkata pula: "Kalian bertiga untuk menghadapi dia seorang sesungguhnya sudah cukup. Aku sembunyi dulu ditempat gelap di atas tebing itu, jikalau kalah barulah aku turun tangan sendiri?"

Tio Giok yang baru saja hendak bicara, dengan tiba-tiba mendengar dari sebelah Barat jalan itu. Siang Biauw Jan memandang rembulan yang baru muncul dibagian Timur, lalu berkata kepada Tio Giok, Phoa San dan In Ja Hok bertiga: "Derap kaki kuda itu mungkin kuda tunggangan Liok Giok Ji. Aku akan berdiam ditempat gelap untuk mengawasi kalian dan kalian harus berhati-hati menghadapinya." Sehabis berkata demikian, ia lalu lompat melesat dan menyembunyikan diri ditempat gelap setinggi kira-kira lima tombak dari tempatnya.

Pada waktu itu, kuda tadi agaknya berjalan perlahan, beberapa lama kemudian baru tampak Liok Giok Ji melewati satu tikungan, sambil menikmati pemandangan malam gunung Tay-pa-san, ia jalankan kudanya perlahan-lahan. Kuda tunggangannya malam itu ternyata kuda Cian-lie-kiok-hwa ceng milik ketua Kie-lian-pay Khie Tay Cao. Liok Giok Ji malam itu mengenakan mantel berwarna hitam. Dengan kulitnya yang putih bagaikan salju, sungguh merupakan suatu kontras yang nyata. Juga kelihatannya semakin gagah dan cantik.

Hee Thian Siang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Liok Giok Ji yang mengenakan mantel berwarna hitam itu, dengan menunggang kuda berbulu hijau, ia baru percaya betul bahwa gadis yang dilihatnya di gunung Kie-gie-san dan yang ia jatuh cinta sehingga perlu pergi ke gunung Bin-san untuk meminta restu kepada Makam Bunga Mawar, memang benar adalah gadis itu.

Karena perasaan sangsinya selama itu telah lenyap, dengan sendirinya timbullah rasa cintanya terhadap Liok Giok Ji dan selagi ia diam-diam memuji kecantikan gadis itu, Tio Giok, Phoa san dan In Ja Hok bertiga sudah muncul dari samping tebing dengan berdiri berbaris mereka merintangi perjalanan Liok giok Ji.

Liok Giok Ji yang dengan tiba-tiba menampak orang kuat dari generasi kedua partai Kun-lun-pay, merintangi perjalanannya, buru-buru menahan kudanya dan lompat turun, setelah itu ia memberi hormat dan berkata sambil tersenyum: "In suheng, Tio suheng dan Phoa suci, apakah selama ini baik-baik saja?"

In Ja Hok dan Tio Giok selama itu sangat erat hubungannya dengan sumoay kecil itu, ketika sang sumoay itu menghadapinya dengan demikian hormat, sedikitpun tidak ada maksud permusuhan, maka saling berpandangan sambil mengerutkan alisnya. Lama sekali barulah oleh In Ja Hok yang maju dan mengajukan pertanyaan: "Giok sumoay, kau masih anggap dirimu sebagai murid golongan Kun-lun dan masih menyebut kita sebagai suheng dan suci, hal itu apakah terbit dari dalam hati nuranimu sendiri?"

Liok Giok Ji seorang gadis yang sangat cerdik, mendengar pertanyaan itu, lantas berkata dengan wajah berseri-seri: "Mengapa In suheng bisa berkata demikian? Apa hanya dengan Tie-hui-cu dan Siauw Tek-heng ada dendam permusuhan. Kalian masih tetap merupakan suheng dan suciku yang kuhormati!"

Diantara tiga orang itu, hanya Phoa San yang biasanya tidak begitu senang terhadap Liok Giok Ji, karena gadis yang tersebut belakangan ini terlalu disayang oleh ketuanya, maka setelah mendengar ucapan itu ia memperdengarkan tertawa dingin, kemudian berkata: "Liok Giok Ji, kau telah berkhianat terhadap partai Kun-lun dan bersekongkol dengan partai Kie- lian, kau membinasakan Ciangbun suheng dan Siauw susiok, perbuatanmu itu merupakan suatu pelanggaran besar di rimba persilatan, juga merupakan suatu dosa yang terkutuk oleh dewa-dewa! Apakah kau ada muka untuk memanggil kami suheng dan suci? Bagi kami sesungguhnya merasa malu mempunyai seorang sumoay seperti kau ini."

Liok Giok Ji yang sikapnya demikian berangasan, mendengar ucapan itu ternyata tidak marah. Ia hanya mengeluarkan suara "oh", dan matanya menatap Phoa San, lalu berkata dengan tersenyum.

"Phoa suci, kau denganku biasanya baik sekali, mengapa hari ini kau maki diriku demikian keji?"

"Kau berani membunuh suhu, dosamu itu terlalu besar sekali, tidak cukup hanya memaki kau dengan hanya beberapa patah kata saja!" Berkata Phoa San dingin.

Liok Ciok Ji masih tetap ramah, katanya sambil tertawa: "Aku tadi bukankah sudah menerangkan duduk perkaranya? Aku hanya mempunyai dendam dan permusuhan dalam dengan Tie-hui-cu dan Siauw Tek, barulah aku mengambil tindakan pembalasan seperti itu!"

Tio Giok yang di samping lantas bertanya: "Liok Giok sumoay, kan sebetulnya memang merupakan anak buangan, diwaktu masih orok kau dibuang oleh ibumu, kemudian diketemukan oleh Sucun, dalam goa menjangan, lalu dibawanya pulang. Oleh karena itu kau diberi nama she Liok, yang berarti menjangan. Setelah kau mulai besar, kau diberi didikan golongan kita. Tindakan Sucun itu boleh dikata merupakan budi yang jauh lebih besar daripada ayah bundamu sendiri, aku tidak mengerti, darimana kau bisa menggunakan istilah dendam sakit hati atau permusuhan.

"Kalian terhadapku sudah ada sentimen sangat dalam, sekalipun aku menjelaskan sebab musababnya permusuhan itu, barangkali juga sulit untuk kalian percaya! Dilain hari aku akan mencari saksi, pergi bersama-sama ke gunung Kun-lun, urusan itu akan ku beber di hadapan umum!" Berkata Liok Giok Ji sambil tertawa.

Setelah berkata demikian, ia memutar dirinya dan menghampiri kudanya lagi, agaknya hendak naik ke atas kuda dan berlalu.

Phoa San buru-buru berkata dengan suara cemas: "Kau tidak boleh pergi, anak murid golongan Kun-lun hendak menuntut balas dendam terhadap mu atas kematian Sucun dan Siaw susiok!"

Selama berbicara, tangan kanannya sudah bergerak, melancarkan serangan kebelakang ulu hati Liok Giok Ji, serangan itu meskipun cepat, tetapi tidak mengeluarkan hembusan angin, karena ia menggunakan gerak tipu dari ilmu "Sia-thian-sing" yang begitu keluar serangannya, pasti akan melukai orang.

Selagi ujung jari Phoa San sudah akan menyentuh belakang punggung Liok Giok Jie, dan kekuatan tenaga dari ilmu itu sudah hampir dikerahkan dengan sepenuh tenaga, Liok Giok jie tampak bergerak dengan suatu gerakan yang sangat lincah, melesat ke kiri tiga langkah, ia memutar dirinya dengan mata menatap Phoa San, katanya sambil tertawa : "Phoa suci, mengingat hubunganku denganmu dimasa yang lampau, aku mandah untuk kau serang satu kali!" Muka Phoa Sa kemerah merahan, kedua tangannya bergerak dengan berbareng, kembali melancarkan serangannya yang lebih hebat !

Alisnya Liok Giok jie tampak berdiri, ia kini balas menyerang dengan suatu gerakan yang dinamakan "mendorong tempat duduk", tangannya dengan satu gerakan ringan menyerang depan dada Phoa Sa. Phoa Sa tahu, bahwa kepandaian Liok Giok jie masih lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, maka diam-diam memberi isyarat kepada Tio giok dan In Ya Hok, dengan cara bagaimana mereka bisa melanjutkan serangan dengan berbareng. Tiba-tiba melihat Liok Giok jie sudah melancarkan serangan, maka buru-buru dengan satu gerakan "Mendorong awan mengusir rembulan" menutup serangan Liok Giok jie.

Hee Thian siang setelah menyaksikan kejadian itu dengan jelas, ia tahu bahwa serangan dengan gerak tipu "mendorong tempat duduk" itu, sangat hebat. Juga mengandung perubahan banyak sekali, bukanlah dengan gerak tipu "mendorong awan mengusir rembulan" yang dapat memusnahkannya. Ia diam-diam mengeluh dan khawatir bahwa Phoa Sa mungkin sulit untuk mengelakkan diri dari kematian. Setidak-tidaknya ia pasti akan terluka parah.

Sebelum lenyap pikiran itu, benar saja Liok Giok jie sudah merubah gerakannya, jari tangan gadis itu sudah berada dijalan darah Cit-??am depan dada Phoa Sa. Phoa Sa menghela napas panjang memejamkan matanya, untuk menantikan kematiannya, sementara itu In Ya Hok dan Tio Giok merasa sangat cemas dan bingung, keduanya lantas bergerak menyerbu dengan maksud hendak menolong diri Phoa Sa.

Liok Giok Jie mengibaskan lengan baju tangan kirinya, dari situ menghembus angin hebat, mendorong mundur Tio Giok dan In Ya Hok, setelah itu ia berkata sambil tertawa terkekeh kekeh : "In Suheng dan Tio Suheng tidak usah khawatir, aku tidak akan melukai sedikitpun juga kepada Phoa suci, anggap saja ini sebagai suatu latihan antara saudara seperguruan sendiri, aku hanya ingin Phoa suci mengerti, di kemudian hari apabila pihak lawan menggunakan gerakan tipu "mendorong tempat duduk" untuk melancarkan serangannya, harus dipunahkan dengan gerak tipu " Hok-gie melukis patkwa" atau "Boa kho membuka bumi" dengan gerakan itu berarti balas menyerang sebagai gantinya menjaga diri, juga berarti merebut posisi lebih dahulu, jangan sekali kali menggunakan gerak tipu "mendorong awan mengusir rembulan" ! Jikalau tidak keselamatan diri masih terhitung soal kedua, tetapi nama baik partai kun-lun akan ternoda !

Sehabis berkata demikian, ia menarik kembali tangannya dan lompat mundur. Dan dengan wajah berseri seri sejauh tiga tombak.

Phoa Sa yang diberi pelajaran dengan kata-kata sifat mengejek itu merasa sangat malu, keruan pipinya merah membara, matanya menatap pada In Hok dan Tio giok, agaknya memberi isyarat hendak melakukan serangan berbarengan menggunakan dua puluh lima buah duri berbisa Thian keng cek.

tepat pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang berkata : "Saudara Tio Giok, ketika di gunung Cong san kau pernah pinjam kipas, sekarang sepantasnya kau kembalikan kepadaku !"

Betapa terkejut Tio Giok mendengar suara orang didalam goa sempit yang teraling oleh pohon rotan, tampak seorang muda berbaju biru berjalan keluar lambat-lambat. Kiranya Hee Thian siang yang melihat Liok Giok jie memamerkan kepandaiannya, dengan kata kata yang sangat tajam memberi pelajaran kepada Phoa Sa khawatir akan membuat marah Phoa Sa hingga berlaku nekad atau dikhawatirkan Siang Biauw Yan yang bersembunyi ditempat agak tinggi melancarkan serangan-serangan gelap dengan tiba-tiba, apabila serangan itu tidak diketahui oleh Liok Giok jie, gadis itu malah akan celaka ditangan mereka, oleh karena itu ia dengan alasan minta kembali kipas kepada Tiok Giok, muncul dari persembunyiannya. Tio Giok ketika melihat Hee Thian siang. terpaksa mengeluarkan kipas yang pernah ia pinjam darinya, ia berikan dengan kedua tangannya lalu berkata sambil tersenyum : "Saudara Hee, kipasmu kini kukembalikan, dilain waktu nanti kita bicara lagi, sebab partai Kun lun kini hendak melakukan pembersihan terhadap orang sendiri!"

Menurut peraturan dunia Kang ouw, setiap urusan mengenai pembersihan dalam partai sendiri, tiada mengijinkan orang luar turut serta atau berada disitu ! Hee Thian siang mengerti ucapan Tio Giok itu, merupakan suatu alasan supaya minta ia berlalu dari tempat itu. akan tetapi ketika ia menerima kipas, sambil tersenyum ia berkata : "Hari ini secara kebetulan Hee Thian siang bertemu dengan saudara Tio, kecuali minta kembali kipas itu, juga ingin menjadi saksi bagi nona Liok Giok jie seperti apa yang dikatakan olehnya tadi !" Tio Giok terkejut mendengar ucapan itu, tanyanya : "Saudara Hee hendak menjadi saksi dalam soal apa ?" "Nona Liok Giok jie dengan ketua partaimu Tie hu cu, dan susiokmu Siauw Tek yang pernah ada dendaman sakit hati dan permusuhan oleh karena secara kebetulan waktu itu aku justru berada d isitu, aku mengetahui keadaan sejelas jelasnya !"

Sepasang mata Liok Giok jie ditujukan kepada Hee Thian siang, ia berkata sambil menganggukkan kepala dan tertawa: "Benar, benar! Pada hari Tie hui cu menemui ajalnya, dia justru berada ditempat itu !"

Tio Giok, phoa sa dan In Ya Hok bertiga ketika mendengar ucapan itu tampak terkejut, selagi mereka hendak menanyakan kepada Hee Thian siang, dengan tiba tiba terdengar suara serangan yang datang dari jurusan dimana Siang Biauw yan sembunyikan diri, suatu itu timbul karena serangan duri berbisa thian keng cek yang dilancarkan oleh Siauw yan. Duri-duri berbisa itu mengurung kepada Hee thian siang dan Liok Giok jie bagaikan gasing.

Liok Giok jie benar-benar tidak menduga, bahwa in Tio giok, phoa san dan in ya hok, telah ada Siang Biauw yan yang bersembunyi di atas tebing, dan kini menyerang dirinya secara tiba-tiba!

Oleh karena duri berbisa itu dilancarkan dengan jumlah demikian banyak, hingga ia benar-benar hampir tidak ada kesempatan untuk menyingkir dari bahaya! Akan tetapi bagi Hee Thian siang ia sudah tahu dan siap pula, apalagi dari semula ia sudah ambil perhatian kepada Siang Biauw yan yang sembunyikan diri ditempat gelap, maka ketika serangan duri berbisa itu mengancam dirinya, ia segera menggunakan jaring wasiatnya yang berwarna merah, untuk menangkap duri-duri berbisa itu, hingga sesaat kemudian duri berbisa yang dilancarkan oleh Siang Biauw yang terjatuh ke dalam jaringnya!

Hee Thian siang menarik kembali jaringnya, didalam jaring wasiat itu jatuh sembilan buah duri berbisa, kemudian baru angkat kepala dan berkata ke arah tebing di seberangnya: "Siang Biauw Yan cianpwe, mengapa kau turun tangan demikian kejam? Silahkan keluar supaya Hee Tian siang bisa menceritakan apa yang terjadi dan yang kulihat dengan mata kepala sendiri di depan goa Siang swat tong tentang ketua partaimu Tie hui cu, yang meninggal dunia pada waktu itu !"

Sesaat itu, Siang Biauw yan sudah melayang turun dari persembunyiannya, dengan sinar mata dingin mengawasi Hee Thian siang dan Liok Giok jie, namun tiada sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Hee Thian siang mengangkat tangan memberi hormat kepada Siang Biauw yan, lalu bertanya sambil tersenyum: "Hee Thian siang hendak menanyakan sesuatu kepada Siang Biauw yan cianpwe, segala persoalan permusuhan didalam dunia kang ouw, permusuhan apakah yang termasuk paling utama ?"

Siang Biauw yan masih belum menjawab, sudah didahului oleh In ya hok:

"Permusuhan terhadap ayah bunda yang dibinasakan oleh orang, itulah yang merupakan permusuhan yang paling besar di kalangan kang ouw !"

Hee Thian siang berkata sambil mengangguk anggukkan kepala: "Sebab musababnya nona Liok Giok pandang Tie hui cu dan Siauw tek dipandang sebagai musuh besarnya, adalah karena hendak menuntut balas sakit hati ibunya, bahkan Tie hui cu karena merasa malu atas perbuatannya sendiri dimasa lampau, maka telah mengambil keputusan membunuhnya diri sendiri di hadapan orang banyak, sedangkan kematian Siauw Tek juga tidak langsung di bawah tangan nona Liok!"

Siapakah ibunya? bagaimana bisa memendam sakit hati terhadap Ciangbun suheng ?" tanya Siauw Biauw yan terkejut, sambil menunjuk pada Liok Giok jie.

Ibu nona Liok, adalah Liok Liem Lihiap yang oleh pejabat ketua Kun lun pay pada waktu dahulu ditunjuk sebagai ketua yang akan menggantikan kedudukannya, Tie hui cu yang tidak mendapat kedudukan ketua, dengan secara rahasia memerintahkan kepada Siauw tek didalam suatu kesempatan telah mendorong Liok Liem Lihiap dari puncak gunung sehingga terjatuh kedalam jurang yang curam!" berkata Hee Thian siang sambil tertawa.

Selama mendengarkan penuturan itu, Siang Biauw yan menggeleng gelengkan kepala, dan kemudian berkata sambil tertawa dingin : "Ucapanmu ini, apakah bukan kau sengaja mengarang sendiri untuk membebaskan nona Liok Giok jie? mana buktinya ?"

Didepan goa Siang swat tong aku pernah mendengar sendiri Tie hui cu pernah mengakui kelakuannya, dan kemudian menghabisi jiwanya sendiri karena merasa malu !" menjawab Hee Thian siang.

Siang Biauw yan masih tak mau percaya tanyanya: Segala keteranganmu ini apakah sudah boleh berharap sebagai suatu kebenaran ? Supaya orang boleh percaya ?"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu sepasang alisnya berdiri, katanya sambil tertawa besar: "Hee Thian Siang meskipun seorang yang tak berarti, hingga ucapannya tak dipandang orang dan tidak dapat dipercaya, tetapi orang yang waktu itu turut menyaksikan bersama-sama dan turut mendengar semua ucapan tie-hui-cu, masih ada Swat-san Peng-lo Leng Pek Ciok dari Swat-san-pay, Hok Siu Im salah satu jago pedang golongan Ngo-bi dan Oe-tie Khao. kalau Siang locianpwe sudi menggunakan waktu, tidak halangan mencari mereka dan tanyakan satu-satu kebenarannya untuk membuktikan bahwa ucapan Hee Thian Siang ini betul ataukah Bohong?"

Siang Biauw yan mendengar Hee Thian Siang mengajukan banyak nama sebagai saksi, ia tahu bahwa keterangan itu bukanlah bohong, terpaksa ia memandang kepada Liok Giok Ji dengan sinar mata gemas, dengan mulut bungkam.

Bagi Liok Giok Ji sendiri sejak munculnya Hee Thian Siang, selama itu diam saja, tetapi kini dengan mendadak lantas berkata: "Siang Biauw yan!"

Siang Biauw Yan yang dipanggil demikian tampak terkejut.

Ia balas bertanya: "Kau panggil aku Siang Biauw Yan?" Liok Giok Ji dengan jari tangannya menunjuk kepada In Ya Hok, Tio Giok dan Phoa Sa, kemudian berkata dengan nada suara dingin.

"Aku masih mau memanggil mereka suheng dan suci. tetapi aku tidak sudi memanggilmu susiok."

Dengan muka pucat Siang Biauw yan bertanya: "Kenapa?"

Sebab mereka itu berhati bersih, masih memperlihatkan wataknya orang-orang Kang-ouw!"

Wajah Siang Biauw yan semakin tidak sedap, ia bertanya dengan suara marah: "Apakah aku sudah kehilangan watakku sebagaimana orang Kang-ouw?"

Liok Giok Ji hanya tertawa dingin, tidak menjawab. Sebaliknya bertanya kepada Siang Biauw Yan: "Kematian Tie- hui-cu meskipun merupakan kematian dengan jalan membunuh diri, tetapi siapakah sebetulnya yang bersalah?"

Sekujur badan Siang Biauw Yan gemetaran hatinya marah sekali, dengan tangan menunjuk pada Liok giok Ji, ia berkata dengan suara bengis: "Kematian Cianbun suhengku, sudah tentu kesalahannya ada di pihakmu!"

Dengan alis berdiri Liok giok Ji balas menanya pula: "Ketua partai Kie-lian-pay Khie tay Cao telah menerima sepucuk surat rahasia, dalam surat itu kecuali menjelaskan jejak Tie-hui-cu juga diterangkan bahwa ilmu pukulannya Tong-cian-lek, bagian tangan kirinya yang paling lemah. mata kiri Tie-hui-cu juga pernah mendapat penyakit, hingga pengawasannya agak longgar. Jikalau musuh mencecar serangannya dibagian kir, itulah yang paling tepat! Dengan demikian, maka orang-orang Kie-lian-pay dengan berdasarkan surat itu, barulah mengerahkan orang-orangnya yang kuat, dari sebelah kiri menyerang dengan senjata-senjata rahasia duri berbisa thian- keng-cek dan dengan demikian pula, barulah bisa berhasil menawan Tie-hui-cu!"

Sian Biauw Yan saat itu sekujur badannya sudah gemetaran karena marah, tanyanya: "Kau.... kau.... perlu apa menceritakan hal ini kepadaku?"

Mata Liok Giok Ji menyapu Tio Giok, Phoa Sa dan In Ya Hok bertiga, lalu berkata sambil tertawa dingin: "Partai Kun-lun dalam generasi ini, rupanya masih ada orang yang mengandung maksud hendak merebut kedudukan ketua. Tie- hui-cu telah mencelakakan ibuku, lalu merebut kedudukannya sebagai ketua, dan sekarang Siang Biauw yan kembali menggunakan akal keji mencelakakan tie-hui-cu, maksudnya juga hendak merebut kedudukannya sebagai ketua!"

Ucapan Liok Giok Ji itu dalam telinga Tio-Giok, Phao Sa dan In ya Hok, benar-benar bagaikan suara geledek disiang hari bolong. Mata mereka semua ditujukan kepada Siang Biauw yang yang masih merupakan susiok atau paman guru mereka dengan perasaan terheran-heran!

Sebaliknya dengan Siang Biauw Yan, waktu itu mengawasi Liok Giok Ji dengan sinar mata yang berapi-api, katanya sambil menggertak gigi: "Kau jangan memfitnah orang dan hendak mengadu domba kepada orang sendiri!"

"Tulisan dalam surat rahasia itu, jelas merupakan tulisan tanganmu, apakah kau kira aku tak dapat mengenali?" Berkata Liok Giok Ji dingin.

Sepasang mata Siang Biauw Yan memancarkan sinar yang buas, napsunya membunuh berkobar-kobar. Katanya dengan suara bengis: "Jikalau kau bisa mengeluarkan buktinya, selanjutnya aku akan mengasingkan diri dan meninggalkan dunia Kang-ouw untuk selama-lamanya. Jikalau tidak, aku akan bertindak terhadap kau bersama bocah she Hee ini, untuk mencincang kalian menjadi berkeping-keping!"

Liok Giok Ji tertawa dingin, dari dalam sakunya mengeluarkan sepucuk surat, lalu diberikan kepada Tio Giok, Phoa Sa dan In Ya Bok.

Siang Biauw Yan begitu melihat surat itu, wajahnya berubah sekitika, hingga tak berani bersuara lagi. Dengan tiba-tiba ia melesat kedalam sebuah rimba lebat hingga sebentar kemudian tidak tampak bayangannya lagi!

Tio Giok, Phoa Sa dan In Ya Hok melihat tulisan dalam surat itu, mereka dapat mengenali memang benar tulisan tangan Siang Biauw Yan. Ditambah lagi dengan perginya susiok itu dalam kemarahan, maka urusan itu sudah menjadi jelas. Mereka saling berpandangan dan tertawa getir serta menggeleng-gelengkan kepala.

Liok Giok Ji juga merasa terharu, ia berkata sambil menghela nafas panjang: "Tio suheng, Phoa suci dan in suheng tidak perlu berduka, Siang Biauw yan telah berlalu karena merasa malu, orang-orang tingkatan tua dari partai Kun-lun-pay semuanya sudah tidak karuan! Suheng dan suci bertiga harap supaya mengundang semua partai Kun-lun, dengan hati-hati mengadakan pemilihan ketua, setelah itu lebih baik kita menutup pintu, jangan lagi terlibat urusan dunia Kang-ouw. Sepuluh atau dua puluh tahun kemudian, partai Kun-lun barangkali akan menjadi partai baru dengan orang- orang baru. Bagiku, oleh karena dendam sakit hati dan permusuhan yang belum tahu kapan baru selesai, maka biarlah sampai di sini dulu kita berpisahan!"

Tio Giok, Phoa Sa dan In Ya Hok kini sudah tidak ada mengandung permusuhan lagi terhadap Liok Giok Ji, semuanya merasa menyesal ditinggalkan olehnya. Setelah ketiga saudara seperguruannya pada berlalu, Liok Giok Ji memungut sembilan buah duri berbisa yang bertebaran ditanah, lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa: "Dengan cara bagaimana kau bisa muncul secara kebetulan seperti ini, hingga sudah membantu aku untuk keluar dari kesulitan?" Sehabis berkata demikian matanya mengawasi duri berbisa di tangannya, katanya pula sambil tertawa: "Siang Biauw jan sesungguhnya seorang yang sangat kejam! Barangkali ia tahu bahwa aku mempunyai obat pemunah untuk duri berbisa ini, maka di atas duri berbisa ini ditambah lagi secara diam-diam dengan selapis racun lain!"

Hee Thian Siang mendengar ia berkata demikian, warna duri berbisa itu yang biru kehitam-hitaman kini ditambah lagi selapis sinar hijau. Maka lalu berkata sambil menggeleng- gelengkan kepala: "Kun-lun Gek-su Siang Biauw Jan ini sesungguhnya terlalu kejam dan jahat, jelas ia sudah bertekad hendak membunuh kau!"

Sepasang mata Liok Giok Ji mengerling pada Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil tersenyum: "Bagaimana kau seorang diri berada disini? Dimana Hok Siu Im adikku itu sekarang?"

Hee Thian Siang kini telah berhadapan dengan Liong Giok Ji yang ramah-tamah, tidak lagi seperti dahulu yang galak, hingga merasakan seperti jauh berbeda sifatnya, maka lalu menjawab: "Hok Siu Im balik pulang ke gunung Ngo-bie, untuk menyampaikan berita kepada ketuanya tentang pendirian partai baru Ceng-thiam-pay yang akan diadakan nanti pada tanggal enam belas bulan dua tahun depan, ia hendak mengundang pula tokoh-tokoh rimba persilatan untuk menghadiri upacara itu!"

"O! Ada sesuatu hal, yang selama itu masih menjadi tanda- tanya dalam hatiku dan ingin menanyakan kepadamu!" "Urusan apa? Apakah ada hubungannya denganku?"

"Sudah tentu ada hubungannya denganmu. Apa sebab berulangkali kau menanyakan kepadaku, apakah aku pernah menunggang kuda berbulu hijau? Apakah aku pernah berada digunung Kiu-gie-san membunuh empat setan dari golongan Kie-lian?"

Wajah Hee Thian Siang menjadi merah. Ia kini merasa sulit untuk memberi jawaban, terpaksa alihkan pertanyaan itu, sambil menunjuk kuda tunggangan ketua Kie-lian-pay, ia berkata: "Dahulu yang kau naiki bukankah kuda ini?"

"Khie tay Cao telah memandang kuda ini bagaikan jiwanya sendiri. Selama ini ia tak mau meminjamkan kepada orang, tetapi terhadap aku itu ada kekecualian. Waktu aku menunggang kuda dan selagi melewati gunung Kiu-gie-san, justru lantaran kuda ini, sehingga menimbulkan salah faham empat setan dari Kie-lian, mereka coba merintangi perjalananku, karena mulut mereka mengeluarkan perkataan mesum menghina diriku, maka barulah aku menjadi marah dan semua kubunuh dengan senjataku Thian-keng-cek!"

"dengan sekejap mata kau telah membunuh empat orang itu, apakah dalam hatimu tidak merasa tidak enak?"

"Empat setan dari Kie-lian itu biasanya sangat kejam, buas dan suka berbuat tidak senonoh terhadap kaum wanita. Mereka bukanlah orang baik-baik. Orang-orang sebangsa itu meskipun dibunuh begitu banyak juga tidak menjadi halangan, bahkan dunia Kang-ouw bisa menjadi lebih aman!"

Hee Thian Siang melihat gadis itu jelas telah berada segaris dengan Khie tay Cao, tetapi kini dari nada suaranya, agaknya merasa tidak senang terhadap kawanan penjahat golongan Kie-lian, maka dalam hati diam-diam merasa bingung dan terheran-heran sendiri. Pada saat itu, kudanya Cian li-kiok-hwa-ceng meringkik dan menghampiri Liok giok Ji, kuda itu mengangkat setinggi kaki depannya dan memberi isyarat kepada Liok Giok Ji. Hee Thian Siang yang menyaksikan itu lalu berkata: "Kuda ini juga sangat cerdik, ia seolah-olah ingin bicara denganmu!"

"Dia memang benar adalah seekor kuda jempolan yang sangat cerdik, apakah kau ingin mencoba kekuatan tenaga larinya?" Berkata Giok Ji sambil menganggukkan kepala dengan tertawa.

"Tidak mau, sewaktu digunung Oey-san secara kebetulan aku telah bertemu dengan Khie Tay Cao, aku pernah menunggang dia, akhirnya aku pernah dilempar dua kali di tanah!" Menjawab Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala dan tertawa getir.

Liok giok Ji yang mendengar itu juga tertawa geli, kemudian berkata: "Kau jangan takut, aku akan memberitahukannya lebih dahulu, dia tak akan melemparkan kau lagi!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, dengan tiba- tiba ia teringat bahwa dirinya sendiri pernah mempelajari bahasa binatang dari Tiong-sun Hui Kheng dan ini adalah waktunya yang tepat untuk mencoba pelajarannya itu, berhasil atau tidak. Maka lalu berkata kepada Liok Giok Ji sambil tersenyum: "Untuk memberi pesan kepada kuda ini aku sendiri bisa!"

Liok Giok Ji agaknya tidak percaya, memandang beberapa kali, kemudian berkata sambil tertawa: "Kau benar-benar seorang yang pintar dalam segala-galanya. Sampai pun bahasa binatang juga kau faham!"

"Kau jangan memuji dulu, aku hanya baru belajar dua patah saja, dapat dimengerti atau tidak masih merupakan suatu pertanyaan!" Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa: Sehabis berkata demikian, tangannya mengelus-elus bulu panjang Cian-lie-kiok-hwa-ceng, disamping telinganya dengan sikap sungguh-sungguh ia berkata dengan suara perlahan: "Haki-rimo, Moki-riba, Hakimomokurung!"

Sungguh aneh, kuda itu yang semula mengawasi Hee Thian Siang dengan mata marah, tetapi setelah mendengar ucapan itu kemarahannya tiba-tiba lenyap dan diganti dengan sikap lunak.

Liok Giok Ji yang menyaksikan itu benar-benar terheran- heran, ia berkata sambil tertawa: "Kata-katamu ini benar-benar sangat manjur, dia sekarang sudah baik terhadapmu!"

Hee Thian Siang merasa bangga, dengan tangan memegang kendali lantas lompat ke atas punggung kuda. Kuda itu benar-benar tidak menunjukkan kebinalannya, kepalanya diangkat, kembali meringkik kepada Liok Giok Ji. Hee Thian Siang tahu bahwa kuda yang cerdik itu, dua kali mengeluarkan suara ringkikan dengan demikian nyaring, pasti bukan tidak ada sebab! Selagi hendak mempelajari soal itu, dengan tiba-tiba tampak wajah Liok giok Jie menjadi pucat, tangannya meraba-raba pundak kanannya, bandannya terhuyung-huyung hendak roboh!

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini terjadinya sangat aneh, Hee Thian Siang terkejut menyaksikan kejadian itu, ia buru-buru lompat turun dan bertanya kepada Liok Giok Ji: "Nona Liok, kau kau kenapa?"

Liok Giok Ji sambil menggertakkan gigi, dengan tangan kirinya ia mencabut dari pundak kanan sebuah duri berbisa Thian-keng yang berwarna biru kehitam-hitaman serta mengandung sinar hijau, lalu berkata sambil mengerutkan alisnya: "Aku..... Aku telah terkena serangan Siang Biauw Yan. " Hee Thian Siang kini baru ingat, ketika dirinya didalam goa pernah dengar Siang Biauw Yan pernah berkata bahwa ia membawa sepuluh biji duri berbisa. Semula yang digunakan untuk menyerang dan terjatuh dalam jaringnya hanya ada sembilan biji, kalau begitu Siang Biauw yan belum pergi jauh, tentunya sembunyi ditempat gelap, dengan sisa sebiji yang masih ada digunakan menyerang Liok Giok Ji secara menggelap.

Cian-li-kiok-hwa-ceng barangkali sudah melihat jejak musuhnya itu, maka baru dua kali ia mengeluarkan ringkikan, sayang ia sendiri dan Liok Giok Ji waktu itu karena terlalu lengah, sehingga mengalami kejadian serupa ini!

Belum hilang pikiran Hee Thian Siang sepertinya dari dalam rimba sejauh tiga tombak dari tempatnya, sudah muncul diri Siang Biauw Yan, sambil tertawa bangga imam itu lompat melesat ke atas tebing dan menghilang.

Hee Thian Siang meskipun benci sekali terhadap perbuatan rendah imam itu, tetapi karena Liok Giok Ji waktu itu sudah terkena duri berbisa dan segera perlu ditolong, maka ia tidak lalu mengejar Siang Biauw Yan. Dengan alis dikerutkan ia bertanya kepada Liok giok Ji yang sedang mengambil obat didalam sakunya untuk ditelannya: "Nona Liok, setelah kau makan obat, bagaimana perasaanmu? Apakah. "

Liok Giok Ji dengan muka pucat menjawab sambil tertawa getir: "Aku barangkali masih bisa hidup dua jam lagi!"

"Bagaimana bisa demikian hebat?" Bertanya Hee Thian siang kaget.

"Siang Biauw Yan adalah seorang ahli menggunakan barang berbisa didalam partai Kun-lun, dia juga sudah punya maksud hendak mengambil jiwaku, maka di atas duri berbisa Thian-keng-cek dilapis lagi dengan racun yang lebih ganas, sudah tentu senjata berbisa itu lebih jahat lagi! Kecuali dua orang tua berambut panjang yang kau lihat di goa Siang-swat- tong itu, barangkali sudah tak ada orang lain yang sanggup memunahkan racunnya!" Menjawab Liok Giok Ji sambil tertawa getir.

Hee Thin Siang mengawasi kuda berbulu hijau sebentar, lalu bertanya: "Kuda Cian-lie-kiok-hwa-ceng ini merupakan kuda jempolan yang bisa lari pesat. Aku akan mengantarkan kau ke goa Siang-swat-tong dengan menunggang kuda itu, sukakah kau?"

Liok Giok Ji saat itu agaknya sudah tak sanggup menahan sakitnya, perlahan-lahan rebahkan diri di atas batu, katanya sambil menggelengkan kepala: "Dengan rebah tenang seperti ini mungkin aku masih bisa hidup dua jam lagi. Apabila harus menunggang kuda dan lari demikian kencang, dalam waktu satu jam saja barangkali aku sudah tak bisa hidup lagi. lagi pula, goa Siang-swat-tong di gunung Kie-lie-san itu terpisah dari sini masih ribuan pal jauhnya. Betapapun pesat larinya kuda ini juga tak bisa mencapai ke tempat itu sebelum aku menarik nafas yang penghabisan...!"

Hee Thian Siang adalah salah seorang yang sangat romantis, menyaksikan gadis cantik yang dahulu pernah menggoda hatinya sehingga ia perlu kepada Makam Bunga Mawar untuk minta bantu supaya bisa mendapatkannya, kini berada dalam keadaan sangat mengenaskan dan hampir mati, hatinya sangat gelisah, maka ia berkata sambil mengepal tinjunya: "Kalau begitu. bagaimana kita harus bertindak?"

Liok Giok Ji meskipun dirinya kemasukan racun berbisa sudah bernapas, namun sikapnya lebih tenang daripada Hee Thian Siang sendiri. Ia menghela nafas panjang, katanya dengan suara sedih: "Jika kau sudi membantu aku, carilah sebuah goa yang bersih, bawalah aku masuk kedalamnya, biarlah aku bisa mati dengan pikiran yang lebih tenang!" Hee Thian Siang teringat kepada goa yang ia pernah sembunyikan diri didalamnya, goa itu ternyata keadaannya sangat tersembunyi dan bersih sekali. Maka dengan hati-hati sekali ia menggendong tubuh Liok Giok Ji dan dibawanya kedalam goa itu.

Liok Giok Ji memandang keadaan sekitar itu dengan matanya yang sayu, agaknya merasa puas, dengan nafas yang masih lemah ia berkata kepada Hee Thian Siang, dengan suara perlahan: "Kau ini benar-benar baik sekali, sudah mencarikan aku sebuah tempat yang terang untuk tempatku bersemayam selama-lamanya!"

Hee Thian Siang yang mendengar gadis itu mengucapkan perkataan demikian, hatinya merasa pilu, dengan mata menatap Liok Giok Ji ia bertanya dengan suara lemah lembut: "Nona Liok, kau jangan berpikir demikian, meskipun badanmu terkena racun berbisa, namun barangkali masih ada jalan untuk ditolong, siapa tahu?"

Berkata sampai di situ, tiba-tiba alisnya dikerutkan tanyanya pula dengan hati cemas: "Nona Liok, duri berbisa tadi mengenai lengan kananmu, apakah kau sudah menutup jalan darahmu untuk mencegah mengalirnya racun?"

"Jikalau aku tidak buru-buru menutup jalan darah yang terkena racun tadi, saat ini niscaya aku sudah tidak bisa lagi berbicara dengan kau."

"Kalau begitu, maka apabila keadaan sudah memaksa, baik nona Liok korbankan saja sebelah lenganmu, dengan demikian nyawamu akan tertolong."

Liok Giok Ji tahu bahwa maksud Hee Thian Siang menghendaki ia memotong lengan tangannya sendiri, agar jiwanya tertolong namun gadis yang berhati keras itu lantas menggelengkan kepala, lalu berkata sambil tertawa getir: "Kaum wanita sifatnya suka kecantikan, kecuali memang yang memiliki wajah buruk sejak dilahirkan sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. Siapakah yang tak akan membanggakan kecantikannya sendiri? Apabila aku harus kehilangan satu lengan saja, sekalipun aku bisa hidup sampai ratusan bahkan ribuan tahun, apa gunanya?"

Hee Thian Siang melihat sikap Liok Giok Ji yang demikian kukuh, tak bisa berbuat apa-apa. maka saat itu ia hanya bisa menundukkan kepala sambil memeras otak untuk mencari jalan keluar.

Dipikir bolak-balik ia tak dapat menemukan suatu cara yang lebih baik untuk memunahkan racun dalam tubuh gadis itu. Maka ia hanya berjalan mondar-mandir dalam goa itu, berulang-ulang menggabrukkan kakinya sendiri. Liok Giok Ji yang menyaksikan sikap demikian dari pemuda itu, bertanya dengan heran: "Waktu pertama kali aku berjumpa dengan mu di kaki gunung Kun-lun-san, aku pernah menggunakan duri berbisa untuk menyerang kau, bagaimana kau tidak ingat dendam sakit hati itu, sebaliknya kau sekarang demikian memperhatikan keselamatanku?"

Dalam keadaan apa boleh buat, ia berkata pada Liok Giok Ji: "Nona Liok, sukakah kau dengar aku menceritakan suatu kisah?"

"Waktuku hidup dalam dunia sudah tidak lama lagi, untuk mendengar kisa baik juga. Tetapi kisah yang mengenai orang- orang rimba persilatan yang haus darah amis aku sudah bosan. Kuminta saja kau menceritakan kisah yang sangat indah dan menarik hati!" Berkata Liok Giok Ji sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Sehabis berkata demikian, dengan tiba-tiba ia merintih dan kemudian berkata pula: "Aiiya, mengapa tubuhku demikian dingin?" saat itu, tubuhnya sudah menggigil, giginya juga bercatrukan.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian sangat tidak tega, ia tahu bahwa hawa dingin itu adalah bekerjanya racun didalam tubuhnya, ia lantas duduk di tanah, membuka baju panjangnya sendiri dan mengangkat tubuh Liok Giok Ji diletakkan dalam pelukannya. Ia mengerahkan ilmunya tenaga dalam dengan hawa murni tubuh sendiri, untuk mengusir hawa dingin itu. Kira-kira setengah jam kemudian tubuh Liok Giok Ji yang menggigil agak reda. Dan dengan menatap wajah Hee Thian Siang dengan sinar mata berterima kasih, ia berkata sambil tertawa getir: "Kau demikian baik sekali terhadapku, aku suka menyebut kau engko Siang seperti halnya dengan adik Siu Im!"

Hee Thian Siang yang memang suka kepada Liok Giok Ji, apalagi didalam keadaan demikian, sudah tentu ia tidak ingin membuat sedih hatinya. Maka setelah mendengar ucapan itu, ia menganggukkan kepala sambil tersenyum, bahkan memeluk semakin erat tubuh gadis itu.

Liok Giok Ji yang berada didalam pelukan Hee Thian Siang, agaknya merasa terhibur. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan matanya terlihat sangat sayu.

Tetapi begitu matanya itu dibuka, dengan tiba-tiba memandang kepada Hee Thian Siang, lalu menunjukkan senyumnya yang menawan hati, katanya lambat-lambat: "Engko Siang, kau tadi berkata hendak menceritakan kisah kepadaku. Jikalau kau tidak mulai sekarang, mungkin aku sudah tidak bisa mendengarnya lagi."

Hee Thian Siang semula berpikir, karena Liok Giok Ji dahulu pernah turun tangan ganas kepada dirinya sendiri, terhadap gadis itu masih agak takut, tetapi sekarang setelah menyaksikan sikapnya yang masih jujur dan tiada mengandung maksud jahat, sifat gadis ini mirip benar dengan sifat Hok Siu Im, maka perasaan cintanya semakin bertambah. Ia lalu menceritakan bagaimana ia sendiri pertama kali melihat gadis itu di gunung Kiu-gi-san dan mulai saat itu entah bagaimana ia merasa tertarik dan jatuh cinta sepihak saja. Namun karena tidak mengetahui asal-usul gadis itu, ia tak dapat mengutarakan isi hatinya. Maka ia lalu pergi ke gunung Bu-san di hadapan Makam Bunga Mawar, hendak minta doa restunya supaya dapat menemukan gadis yang dilihatnya baru sekali saja itu.

Liok Giok Ji yang mendengar kisah itu membuka lebar sepasang matanya, ia menatap wajah Hee Thian Siang dan berkata sambil tertawa sedih: "Engko siang, kau benar-benar bisa menghibur hatiku, tetapi kisahmu itu meskipun sangat indah dan menarik, namun agaknya membuat orang sudah untuk percaya!"

Waktu itu karena Hee Thian siang sudah tak berdaya memunahkan racun dalam tubuh Liok Giok ji, dan tampak jiwa nona itu sudah terancam bahaya maut, sudah tentu hatinya merasa pilu, kasihan, dan cinta ! Ketika mendengar ucapannya bahwa ia tidak percaya kepada kisahnya sendiri, saat itu menjadi gelisah.

Liok Giok ji yang menampak sikap pemuda itu, lalu berkata sambil tertawa : "Engko Siang, kau jangan cemas, aku percaya ceritamu yang indah itu !"

Saat itu Hee thian siang seolah-olah baru sadar, ia teringat kepada Duta Bunga Mawar, maka dari dalam sakunya ia mengeluarkan "Lambang" yang baru dikembalikan oleh Hwa Ji swat, lambang bunga mawar itu diberikan kepada Liok Giok jie, katanya sambil tertawa: "Adik, Giok, kau lihat sendiri, lambang bunga mawar batu giok warna ungu ini adalah benda yang diberikan oleh Duta Bunga Mawar kepadaku !" Liok Giok jie senang sekali kepada lambang bunga mawar itu, barang itu digenggamnya dan dibuat main, lalu berkata Hee Thian siang sambil tersenyum : "Engko siang, warna batu giok yang berbentuk bunga mawar ini alangkah indahnya, sudikah kau memberikan kepadaku ?"

Oleh karena menampak keadaan gadis itu yang sudah demikian menyedihkan, hatinya sangat pilu, bagaimana ia tega menolak permintaannya ? Maka ia lalu mengangguk anggukkan kepala sambil mengusap usap rambut di kepalanya, katanya sambil tertawa : "Sudah tentu boleh, tetapi racun yang mengenai dirimu, betulkan tak bisa ditolong lagi ? Dengan kau sendiri sedikitpun tak merasa khawatir ?"

Liok Giok jie melihat Hee Thian siang suka memberikan lambang Bunga Mawar itu kepadanya. Batu itu diletakkan di bibirnya sendiri, berulang ulang diciumnya, seolah-olah sangat girang sekali.

Ketika ditanya oleh Hee Thian siang, wajah dan sikap Liok Giok jie dari girang tiba-tiba berubah menjadi sedih, matanya dipejamkan, dari dua matanya mengalir airmata, katanya dengan nada suara sedih :

"Engko siang, aku dilahirkan sebagai anak piatu, apa yang ku alami selama hidupku, juga sangat aneh dan ajaib, Disamping itu juga mengandung pertentangan satu sama lain, maka aku sudah lama merasa tidak senang dengan kehidupan ini. Mengapa harus takut mati ?"

Berkata sampai disitu, matanya terbuka lagi. dengan sinar matanya yang bisa membuat orang tergiur, mengawasi Hee Thian siang dan berkata dengan suara pelahan : "Engko Siang, aku tidak mempunyai perasaan benci apa apa. aku hanya menyesal, mengapa hingga hari ini bisa bertemu dan demikian baik terhadapmu ! Sekarang, sekarang sekujur badanku sudah merasa segar, barangkali itu adalah firasat menjalarnya racun berbisa itu... "

"Adik Giok, dapatkah kau mengerahkan ilmu Hiu Khie kang untuk melawan racun dalam tubuhmu. Aku masih bisa mencarikan akal untuk menolong jiwamu!" Bertanya Hee Thian siang dengan penuh perhatian.

Liok Giok ji menggelengkan kepala, katanya sambil tersenyum getir: "Sejak aku terkena racun berbisa itu, kekuatan tenagaku sudah susah dikerahkan, sama sekali aku tidak tahu racun didalam tubuhnya itu kapan hendak bekerja. Mungkin akan mati sesaat kemudian, mungkin juga masih bisa bertahan satu atau dua jam lagi. Engko Siang, kau peluklah aku erat-erat, biarlah aku menikmati kehangatan dan kemesraan untuk pertama kali ini dalam hidupku, supaya aku bisa mati didalam pelukanmu dengan menyungging senyuman!"

Hee Thian siang yang memang seorang pemuda berperasaan, kini ketika mendengar gadis dalam pelukannya itu berkata demikian menyedihkan maka ia menuruti permintaannya, dan memeluk erat-erat tubuh gadis itu, ia menundukkan kepalanya dan menciumnya. bahkan dari matanya meneteskan air mata.

Air mata itu justru meneter di pipi Liok Giok ji, Liok Giok ji agaknya merasa sangat terharu, katanya dengan airmata berlinang: "Engko Siang, kau benar-benar baik sekali terhadapku, sayang aku yang bernasib malang, tiada mempunyai rejeki untuk menerima kebaikanmu, Setelah aku mati, kecintaan dan kebaikan terhadap diriku ini, biarlah kau berikan kepada adik Siu Im saja, kuminta supaya kau baik- baik mencintai dirinya!"

"Adik Giok, dengan adik Im kau baru pertama bertemu muka, dengan cara bagaimana sudah demikian besar perhatianmu terhadap dirinya?" Bertanya Hee Thian siang heran.

"Kita memang bersaudara !" menjawab Liok Giok jie sambil tertawa. "Jadi kalian berdua adalah... bersaudara ??"

Liok Giok jie balas memeluk Hee Thian siang makin erat, katanya dengan suara perlahan: "Kita adalah satu ayah dan lain ibu. Tetapi rahasia ini adik Siu Im masih belum tahu !"

Jawaban itu benar-benar di luar dugaan Hee Thian siang. Ia bertanya sambil menatap Liok Giok jie : "Ibumu bukankah pendekar wanita Kun-lun Liok Liem yang didorong oleh Siauw Tek di puncak gunung Kun-lun atas perintah Tie-hui ??? ?"

Di wajah Liok giok jie, saat itu terlintas sikap yang aneh, katanya : "Liok Liem adalah nama asli ibuku, tetapi ia sudah merubah she dan namanya sejak beberapa puluh tahun berselang."

"Oo ! Jadi ibumu yang didorong oleh Siauw tek dari atas puncak gunung ke dalam jurang ternyata masih... "

Belum habis ucapannya Hee Thian siang, Liok Giok jie sudah memotongnya sambil tertawa : "Ibu didorong oleh Siauw Tek ke dalam jurang, meskipun tidak binasa, tetapi sejak saat itu ia telah menjumpai kejadian gaib, dari seorang yang mendapat gelar Kun-lun Lihiap, telah berubah menjadi iblis wanita yang menakutkan !"

Iblis wanita yang menakutkan, ketika Hee Thian siang mendengarnya, sepasang alisnya dikerutkan, otaknya bekerja keras: Liok giok jiw yang melihat ia berpikir demikian, lantas berkata sambil tertawa: "Mengenai ibuku, kau toh sudah pernah melihatnya. Ibu mempunyai kepandaian ilmu yang sangat tinggi sekali, dahulu namanya pernah menggemparkan dunia kang-ouw, namanya sangat terkenal sekali! Apakah kau yang demikian pintar masih belum dapat menduga, siapakah adanya ibu itu ?"

Hee Thian siang mendengar ucapan itu, yang katanya ia pernah melihat ibu Liok Giok jie, hatinya lantas tergerak, lalu teringat kepada dua orang tua berambut panjang jago Siang- swat-tong, bukan saja sangat tinggi sekali kepandaian ilmunya, tetapi suaranya juga amat aneh. maka lantas bertanya : "Ooo, ibumu bukankah salah satu dari dua orang tua berambut panjang yang waktu itu duduk di sebelah kiri ?"