Makam Bunga Mawar Jilid 13

 
Jilid 13

"Khie Tay Cao, partai Kie-lian dengan Kun-lun sebetulnya ada permusuhan apa sehingga kau mendadak demikian kejam ?"

"Thie-huicu, jangan cemas dulu, sekarang baru jam tiga. Tunggu sampai jam lima hampir pagi, kau akan mengikuti jejak Siauw Tek dan Bo Bu Yu berubah menjadi patung es ketiga didalam goa Siang-swat-tong ini. Akan tetapi diantara jam tiga hingga jam lima, kalau kau ingin bertanya apa-apa, silahkan tanya kepadaku, kita juga ada banyak hal yang akan ditanyakan kepadamu", berkata Khie Thay Cao sambil tertawa dingin.

Hee Thian Siang yang sembunyi diatas tebing mendengar kata-kata Khie Tay Cao baru tahu, bahwa dari tiga buah patung yang hari itu dilihatnya dalam goa Siang-swat-tong, dua patung yang pertama adalah patung Siau Tek dan Bo Bu Yu itu adalah benar, tetapi belakangan patung May Ceng Ong ternyata palsu, sebab andainya benar patungnya, Khie Tay Cao tidak akan mengatakan kepada Tie-huicu sebagai patung "nomor tiga" !".

Hee Thian Siang belum pernah kenal dengan Siauw Tek, sudah tentu tidak ambil perduli terhadapnya, tetapi terhadap May Ceng Ong yang sudah dikenalnya telah mengetahui keselamatannya, diam-diam merasa syukur, disamping ia juga mengeluarkan air mata atas nasib buruk yang telah dialami Bo Bu Yu.

Hok Siu Im yang melihat ia dengan tiba-tiba mengucurkan airmata, dengan sikap lemah lembut dan ramah tamah menghibur dirinya, dengan suara yang sangat pelahan sekali bertanya kepadanya:

"Engko Siang, mengapa engkau menangis ?"

Hee Thian Siang juga menggunakan suara yang halus sekali, menjawab di telinganya:

"Aku bersedih karena sudah mendapat kenyataan bahwa Bo Bu Yu telah mengalami nasib buruk, adik Im jangan banyak tanya, sebab orang-tua berbaju kuning itu nampaknya tinggi sekali kepandaian ilmu silatnya. Kita sedikitpun tak boleh perdengarkan suara, jikalau tidak rahasia besar dalam rimba persilatan itu kita tidak akan menyaksikannya lagi". Sikap mereka yang demikian mesra, meskipun tanpa dilakukan dengan sengaja, tapi sesungguhnya bagaikan hubungan antara dua kekasih saja.

Tetapi semuanya itu tidak dilihat oleh kawanan penjahat yang berada di bawah, hanya di suatu tempat yang lebih tinggi dari tebing itu ada sepasang mata yang memandangnya dengan sinar mata menyala-nyala.

Sepasang mata itu bukanlah sepasang mata manusia, melainkan sepasang mata Siaopek si kera putih yang cerdik itu.

Sepasang tangan Siaopek sudah menggenggam dua butir batu kecil, sudah siap di ukur-ukur untuk dilancarkan kepada Hee Thian Siang dan Hok Siu Im. Tetapi karena ia khawatir mengejutkan kawanan penjahat yang ada di mulut goa Siang- swat-tong, akhirnya dikendalikannya perasaannya dan tidak sampai disambitkannya.

Pada waktu itu ketua Kun-lun-pay Thie-huicu tampak berpikir lalu mendongakkan kepala dan menghela nafas, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa getir: "Aku sekarang sudah terbokong, sehingga kepandaian ilmu silatku sudah musnah, terpaksa membiarkan dipermainkan oleh kalian kawanan penjahat ini."

Belum habis ucapannya, orang tua berbaju kuning yang didik di sebelah kanan tiba-tiba berkata dengan suaranya yang aneh:

"Tie-huicu, kau jangan kira bahwa kepandaian ilmu silatmu itu sudah tinggi sekali, kau harus tahu sekalipun jalan darahmu belum ditotok, kekuatan tenaga dalammu belum hilang, tetapi di bawah tanganku kau juga tidak mampu melawan sampai seratus jurus !". Tie -huicu agaknya masih penasaran, tetapi orang tua yang duduk di sebelah kiri, menggerakan tangan kirinya ditujukan ke dinding tebing batu yang letaknya sejarak tujuh-delapan kaki.

Tie-huicu dan kawanan orang Kie-lian-pay sudah tentu melihat dengan tegas, sedangkan Leng Pek Ciok, Oe-tie Khao, Hee Thian Siang dan Hok Siu Im yang berada di atas tebing sudah bisa melihat dengan nyata, ketika tangan kiri orang berbaju kuning itu melakukan gerakan tersebut, dinding tebing batu itu tidak tampak bergerak, namun lantas terdapat tanda tapak tangan sedalam beberapa dim.

Didalam pertemuan di atas puncak Thian-siang-hong tahun lalu, ketua Lo-hu-pay Peng-sim Sianie pernah menggunakan ilmunya Pan-siang-ciang, meninggalkan tapak tangan di atas batu, tapi bagi orang yang mengerti sudah tahu bahwa pertunjukkan orang tua malam itu maksudnya untuk menunjukkan ilmunya tertinggi ini jauh lebih kuat daripada Peng-sim Sianie, sampaipun Leng Pek Ciok yang sembunyi di atas pohon dan selamanya tidak pernah mengerti apa artinya menyerah, terkejut serta mengetahui bahwa dirinya sendiri jauh lebih rendah kalau dibandingkan dengan kepandaian orang tua itu !

Tie-huicu sebagai ketua satu partai besar dengan sendirinya dapat mengerti bahwa orang tua itu benar-benar memiliki ilmu yang luar biasa dan ilmu itu bukanlah omong kosong belaka, maka ia lantas menghela nafas panjang dan berkata: "Aku Tie-huicu sudah mendekati ajalku, maka jikalau kalian hendak menanya apa-apa, aku pasti akan menjawabnya, tetapi harus menurut peraturan dunia kangouw, supaya masih menghargai aku sebagai ketua dari satu partai".

Kie Tay Cao mengeluarkan suara dari hidung, dan berkata sambil mengawasi Tong Kie: "Tong samte, mengingat ia sebagai ketua dari salah satu partai juga sudah hampir mati, tolong kau beri ia satu tempat duduk"

Tong Kie menurut, ia bangkit dari tempat duduknya, dan kursinya dipindah ke tengah lapangan untuk Tie-huicu duduk.

Orang tua berbaju kuning yang berada di sebelah kiri, angkat muka melihat keadaan cuaca, lalu berkata kepada Tie- huicu, tetap dengan suaranya yang aneh: "Sekarang masih kira-kira satu jam hampir pukul lima pagi. Juga merupakan saat terakhir bagimu berada didalam dunia. Kita masing- masing mempunyai persoalan sendiri, aku pikir ada baiknya kita mengadakan tukar pikiran, mengingat dirimu sudah jatuh ke tangan orang dan dalam keadaan menyedihkan seperti ini, biarlah kuberi kesempatan padamu untuk mengajukan pertanyaan lebih dahulu !".

Tie-huicu melihat situasi dihadapannya, sekalipun mempunyai sayap juga tidak akan bisa terbang. Ia telah mengambil keputusan menuruti orang tua tadi, ia menanyakan segala sesuatu yang masih menjadi tanda tanya baginya, supaya jangan sampai mati menjadi patung dalam keadaan penasaran.

Setelah mengambil keputusan demikian, dirinya merasa lega, soal kematiannya sebaliknya tidak dihiraukan lagi. Dengan suara lantang ia bertanya: "Orang yang menggunakan duri berbisa melakukan kejahatan terhadap orang-orang rimba persilatan, apakah itu perbuatan kalian orang Kie-lian-pay, ataukah masih ada orang lain yang membantu ?"

"Ini adalah suatu rencana yang disusun oleh ketua Tiam- cong-pay Tiat Kwan totiang, dengan aku sendirinya; sayang rahasia itu agaknya bocor sehingga tidak membawa hasil seperti yang kita inginkan", menjawab Kie Tay Cao sambil menganggukkan kepalanya. "O ! Darimana duri berbisa Thian-keng-cek yang kalian gunakan itu ?"

"Semula di suplai oleh anak murid kalian dari Kun-lun-pay, kemudian kita mengutus orang ke goa kuno di gunung Hok- gu-san, dari situ kita menemukan sebatang pohon Thian-keng sehingga kita pindah dan tanam di gua Siang-swat-tong".

Hee Thian Siang yang mendengarkan ucapannya bersama dengan Oe-tie Khao yang sembunyikan diri didalam lubang, saling berpandangan, maksudnya ialah hendak menanyakan bahwa dugaan mereka ternyata tidak keliru. Bukan saja pohon aneh yang berada di goa itu sudah diambil dan dipindah ke gunung Kielian oleh kawanan penjahat Kielianpay.

Bagi Tie-huicu hal itu meskipun merupakan suatu hal diluar dugaannya tetapi masih belum terkejut, hanya ketika mendengar semula diperoleh dari anak murid Kun-lun-pay, lantas bertanya dengan suara kaget: "Jadi orang-orangku golongan Kun-lun-pay ada yang sekongkol dengan pihak luar dan menghianati partainya sendiri ?"

Orang tua berbaju kuning yang berada di sebelah kiri selama itu mendengarkan dengan tenang, dengan tiba-tiba memperdengarkan suara tertawa dingin berulang-ulang, lalu menyela: "Berkhianat terhadap partai sendiri memang merupakan kepandaian khusus bagi orang Kun-lun-pay, mengapa kau tidak pikir, kau sendiri jikalau tidak melakukan perbuatan demikian, bagaimana kau bisa menjabat ketua yang sekarang ?"

Pertanyaan itu sangat mengejutkan Tie-huicu, wajahnya merah seketika, matanya mengawasi orang berbaju kuning yang agaknya mengetahui segala perbuatannya sendiri dimasa yang lalu, tanyanya dengan heran: "Kau siapa ? Bolehkah sebutkan namamu ?" Orang tua berbaju kuning sebelah kiri itu menjawab dengan suara dingin"

"Sekarang biarlah kau menebak, bagaimanapun juga sebelum kau meninggalkan duniamu itu aku pasti akan menunjukkan wajah asliku kepadamu".

Leng Pek Ciok dan lain-lainnya yang berada di atas tebing semuanya pada terkejut, dalam hati mereka berpikir, pantas dalam surat Tiongsun Hui Keng dikatakan bahwa " Tie huicu masih ada rahasia yang tidak dapat disebutkan", kini kalau ditinjau dari ucapan orang tua berbaju kuning itu, Tie huicu yang menduduki ketua partai Kun-lun-pay agaknya benar pernah menggunakan cara dan perbuatan yang tidak baik.

Tie huicu melihat orang tua itu tidak menyebutkan namanya, alisnya dikerutkan dan bertanya lagi pada Khie Tay Cao: "Siapakah murid penghianat Kun-lun-pay ? Boleh kau memberitahukan kepadaku ?"

Bibir Khie Tay Cao baru bergerak, sudah didahului orang tua berbaju kuning sebelah kanan: "Hal-hal yang menyangkut wajah aslinya orang yang bersangkutan, harus menunggu sampai ia akan meninggalkan dunia ini, baru dibuka".

"Ia sudah tanya banyak sekali, rasanya sudah sampai giliran kita untuk bertanya kepadanya".

Tie huicu sebetulnya sudah ingin tahu siapakah sebenarnya murid yang berkhianat itu, seketika mendengar perkataan itu ia lantas berkata:

"Kalian hendak tanya, lekas tanya. Apa yang aku ketahui, pasti akan aku jawab semua".

Orang tua yang duduk di sebelah kiri, lalu mengajukan pertanyaan dengan nada suara dingin: "Nama julukanmu Tie- huicu setelah menduduki kursi ketua Kun-lun-pay, apakah maksudnya semata-mata hendak menunjukkan bahwa kau tahu kesalahanmu sendiri terhadap satu urusan yang tidak baik dimasa lampau ?"

Tie-huicu terperanjat, ia bertanya dengan mata terbuka lebar: "Dengan cara bagaimana kau mengetahui sedemikian jelas ? Perbuatan tidak baik apa yang aku lakukan ?"

Orang tua di sebelah kiri menjawab sambil tertawa dingin: "Cousu partai Kun-lun-pay, sebelum menutup mata telah mengeluarkan perintah, suruh mengangkat murid perempuannya yang bernama Liok Liem yang kepandaiannya paling tinggi dalam partai untuk menduduki kursi ketua ! Kau yang waktu itu mendengarkan perintah tersebut, dan karena waktu itu tidak ada orang lain, maka lalu timbul dalam hati jahatmu, kau tutupi perintah itu, tidak mengumumkannya. Kemudian kau memerintahkan orang kepercayaannya sendiri membokong Liok Liem sewaktu ia berada di puncak gunung, telah didorong oleh orangmu ke dalam jurang. Demikianlah maka kau baru menerima jabatan ketua Kun-lun-pay !".

Bukan kepang terkejutnya Tie-huicu, ia menghela nafas panjang kemudian berkata: "Sungguh aneh! Sungguh aneh! Aku sekarang sudah berada di tanganmu, sudah menghadapi kematianku, aku tidak akan menyangkal kesalahanku yang dulu, tetapi rencana keji itu bagaimana kau tahu ?"

Orang tua di sebelah kiri itu unjukkan ketawa yang menyeramkan, kemudian berkata: "Jikalau ingin orang lain tidak tahu, jangan berbuat sendiri ! Sekarang aku hendak bertanya kepadamu, orang yang kau tugaskan dengan diam- diam menggunakan tangan keji mendorong Liok Liem dari puncak gunung jatuh ke dalam jurang, siapakah orang itu ?"

Tie-huicu nampak sedih, sedang orang tua itu sudah berkata lagi dengan suaranya yang berat: "JIkalau kau tidak menjawab terus terang, jangan sesalkan aku. Sebelum kau mati akan merasakan lebih dahulu ilmuku memindahkan tulang dan urat-urat dalam tubuhmu !".

Tie huicu kini sudah seperti ayam jago kalah dalam pertarungan, wibawanya lenyap semua, semangatnya sudah terbang, lalu menjawab sambil menunjuk ke patung yang berada di depannya:

"Semula orang yang kuperintah untuk mencelakakan diri Liok Liem adalah sam-suteku sendiri, Siauw Tek ini, yang kini sudah berubah menjadi patung es."

Orang tua yang mendengar ucapan itu matanya menatap orang tua yang duduk di sebelah kanan, katanya sambil tertawa dingin"

"Bagaimana dengan dugaanku, apakah ada salahnya kematian Siauw Tek ini, sedikitpun tidak percuma".

Waktu itu Leng Pek Ciok yang sembunyi di atas pohon, Oe- tie Khao yang sembunyi dalam lubang dan Hee THian Siang serta Hok Siu Im yang sembunyi di belakang batu besar, ketika mendengar tanya jawab itu semuanya diliputi tanda tanya besar !

Tanda tanya itu adalah, mereka semua menganggap bahwa Tie-huicu sebagai salah seorang ketua dari partai besar, sungguh tidak becus terjatuh ke kawanan penjahat, maka baru melakukan perjalanan jauh menempuh bahaya besar, berusaha memberi pertolongan. Tapi sekarang tanpa disengaja telah mengetahui rahasia itu, kedudukan ketua bagi Tie huicu ternyata didapatkan dengan cara rendah yang sangat kejam, dengan tindakan dan perbuatan semacam itu apakah masih ada harganya untuk ditolong dengan menempuh bahaya besar ? Terhadap tanda tanya itu mereka masih belum mendapatkan jawabannya. Tie-huicu saat itu sudah menunjukkan sikapnya yang menyesal, katanya sambil menghela nafas: "Waktu itu meskipun aku dipengaruhi oleh nama, kedudukan, sehingga perlu merencanakan akal keji ini, tetapi selama itu hati nuraniku selalu terganggu, maka aku merasa malu untuk berhubungan dengan orang-orang dunia kang-ouw dari golongan baik-baik, maka aku merubah nama julukanku menjadi Tie-huicu, aku berusaha mengendalikan anak buah Kun-lun-pay sedapat mungkin jangan mengadakan perhubungan dengan orang luar. Dan aku mengerahkan seluruh kepandaianku tenagaku membimbing murid perempuanku Liok Giok Jie, aku ingin menjadikan ia seorang yang kuat yang pantas untuk menjadi ketua Kun-lun-pay untuk menebus dosaku kepada Liok Liem".

Orang tua di sebelah kiri ketika mendengarkan sampai di situ, mendongakkan kepala untuk melihat cuaca lagi. Waktu otu sudah hampir jam empat, maka ia bertanya kepada Ti- huicu: "Apakah kau ingin tahu, siapakah orangnya yang berkhianat terhadapmu, dan yang diam-diam menyuplai duri berbisa kepada golongan Kielian dan Tiam-cong ?"

Tie-huicu menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa getir: "Aku Tie-huicu malam ini bukan saja sudah akan tamat riwayatku, tetapi Kun lun pay mungkin juga akan tamat pula riwayatnya. Di bawah keadaan demikian kalian agaknya harus membiarkan aku supaya aku dapat mati dengan baik".

Orang tua di sebelah kiri menganggukkan kepala sambil tertawa dingin, lalu berkata sambil menunjuk ke orang berjubah putih gerombongan yang memakai kerudung muka itu: "Dialah orangnya yang dinamakan penghianat Kun-lun- pay. Apakah kau kenal padanya ?"

Pertanyaan itu menarik perhatian Tie-huicu dan Leng Pek Ciok sekalian yang berada ditempat sembunyi masing-masing. Semua mata ditujukan kepada orang berbaju putih yang mengenakan kerudung muka itu.

Percuma saja Tie huicu menggunakan matanya untuk mengenali orang itu, karena orang berjubah putih berkerudung muka itu berdiri di tengah-tengah dua orang berbaju kuning bagaikan patung, tidak bersuara juga tidak bergerak. Jubahnya warna putih gerombongan, kerudung muka dimukanya sangat tebal, susah bagi orang yang melihatnya untuk mengetahui wajah aslinya.

Orang tua berbaju kuning yang duduk di sebelah kiri, karena menampak Tie-huicu tidak bisa mengenali, lantas tertawa geli, tangannya diulur menepuk pundak orang berkerudung itu dengan pelahan, katanya: "Bukalah jubahmu, turunkan kerudung mukamu, biar ketua Kun-lun-pay itu bisa melihatmu dengan seksama"

Orang berjubah putih berkerudung muka itu menurut, sesaat itu orang-orang yang mengawasinya pada terkejut, hingga hampir tak percaya pada mata sendiri.

Semua orang yang menyaksikan murid penghianat Kun- lun-pay itu pada terkejut, kecuali Leng Pek Ciok.

Kiranya orang itu setelah membuka jubah dan kerudung mukanya, ternyata adalah Liok Giok Jie, yang perbuatannya sangat aneh dan pernah menimbulkan perasaan curigaa Hee THian Siang dan Oe-tie Khao, juga merupakan murid kesayangan Tie-huicu sendiri yang sedianya hendak diangkat menjadi penggantinya untuk ketua Kun-lun-pay.

Tie-huicu begitu melihat orang yang ditunjuk sebagai murid penghianat Kun-lun-pay ternyata adalah murid kesayangannya sendiri Liok Giok Jie, sudah tentu sekujur badannya gemetaran, perasaan terkejut dan marah hampir membuat ia pingsan ! Oe-tie Khao dan Hee Thian Siang setelah hilang terkejutnya barulah sadar. Pantas, dahulu Liok Giok Jie pernah merebut dan menghancurkan daun warna merah muda yang merupakan daun dari pohon thian-keng. Hee Thian Siang semakin mengagumi duta bunga mawar yang mengetahui segala kejadian yang sudah lalu. Dalam kata-katanya dahulu pernah ditulis bahwa "Giok ada durinya", ini kalau dipikir sedikitpun tidak salah. Liok Giok Jie yang dikatakan sebagai penghianat murid Kun-lun-pay, wajahnya itu ternyata mirip sekali dengan wajahnya sendiri.

Dengan sepasang alisnya dikerutkan, Tie-huicu menatap wajahnya Liok Giok Jie sekian lama, kemudian berkata dengan suara agak gemetar: "Giok Jie, biasanya aku perlakukan kau cukup baik sungguh tak kuduga bahwa orang yang menjadi penghianat Kun-lun-pay ternyata kau sendiri !".

"Ada sebab, pasti ada akibat, balas membalas tak ada akhirnya, jikalau kau teringat perbuatanmu, bagaimana aku bisa mengacau partai Kun-lun-pay hingga berantakan ?", menjawab Liok Giok JIe dengan wajah dingin.

Tie-huicu yang mendengar ucapan itu lalu bertanya: "Kau sebenarnya anak buangan lain orang, telah ku tolong dari goa menjangan di kaki gunung Kunlun, maka aku menggunakan nama Liok sebagai she-mu, sebab aku tidak tahu kau anak siapa. Justru kutemukan di goa menjangan maka aku menggunakan she menjangan untukmu. Sejak orok telah ku rawat kau baik-baik, selama sepuluh tahun cinta kasihku terhadapmu seperti anak sendiri, tapi sekarang, bagaimana kau dapat menyebut soal balas membalas ?".

Oe-tie Khao, Hie Thian Siang dan lain-lain yang ada di atas tebing, semua merasa perkataan Tie-huicu itu memang tepat. Mereka hendak melihat bagaimana Liok Giok Jie hendak menjawab. Liok Giok Jie dengan sikapnya yang masih dengan dingin memandang Tie-huicu sejenak, agaknya sedikitpun tidak tergerak hati dalam menjawabnya"

"Budimu yang merawat aku pribadi sehingga dewasa, masih belum cukup untuk menghapus dosamu yang sudah kau perbuat pada diri ibu kandungku".

"Siapakah ibu kandungmu itu?" Bertanya Tie-hui-cu.

"Ibuku adalah wanita yang dahulu kau perintahkan secara diam-diam kepada Siauw Tek mendorong ke dalam jurang, jikalau ibuku tidak kau aniaya demikian, darimana kau bisa mendapatkan kedudukan ketua Kun-lun-pay ini?"

"Jadi ibumu itu adalah sumoayku sendiri Liok Liem?"

"Kau sudah tahu rahasia ini, barangkali sekalipun mati, kan sudah tidak penasaran!" Menjawab Liok Giok Ji sambil menganggukkan kepala.

Tie-hui-cu menghela nafas panjang, menundukkan kepala tidak berkata apa-apa lagi. Orang tua berbaju kuning yang duduk sebelah kiri kembali mendongakkan kepala melihat cuaca, ternyata saat itu sudah hampir jam lima pagi, maka lalu berkata kepada kawannya yang duduk di sebelah kanan: "Waktu sudah sampai, marilah kita mengakhiri persidangan kita terhadap Kun-lun-pay ini. Semua dendam yang berlangsung beberapa tahun lamanya sudah waktunya untuk diselesaikan."

Orang tua sebelah kanan baru saja menganggukkan kepala, Tie-hui-cu mendadak bangkit dan berkata: "Aku Tie- hui-cu malam ini sudah sediakan darah dagingku untuk menebus dosaku, tetapi bolehkah sebelum aku mati hendak bertanya dulu kepada Liok Giok Ji beberapa patah kata saja?" "Kau hendak tanya apa, silahkan!" Berkata Liok Giok Ji dingin.

"Ibumu Liok Liem, dahulu bernama In Eng (???) merupakan seorang gadis yang belum bersuami, sikapnya juga baik dan masih suci, dia binasa jatuh ke dalam jurang, bagaimana dia melahirkan dirimu? Dan siapakah ayahmu?"

Liok Giok Ji yang ditanya demikian hendak menjawab, orang tua berbaju kuning yang sebelah kiri sudah berkata kepada Tie-hui-cu dengan nada suara dingin: "Pertanyaanmu ini agak keterlaluan, sebaiknyalah kau berada dalam perjalanan ke akherat, nanti pikir-pikir sendiri..."

Berkata sampai di situ, mendadak berhenti, ia arahkan kepala dan matanya ditujukan ke atas. Dengan menggunakan suara yang aneh berkata sambil tertawa: "Sahabat-sahabat rimba persilatan yang berada di atas tebing sudah menyaksikan pertunjukan ini sekian lama, sekarang seharusnya pada turun untuk mengantar kepergian ketua Kun- lun-pay!"

Bukan kepalang terkejutnya jago-jago kita yang di atas tebing, kini mereka baru tahu bahwa daya pandang mata dan pendengaran orang tua berbaju kuning itu sangat luar biasa hebatnya. Mereka yang sudah berlaku demikian hati-hati, tidak pernah mengucapkan suara sedikitpun juga, toh dapat diketahui jejaknya.

Dalam keadaan terpaksa Leng Pek Ciok lebih dahulu melayang turun dari atas pohon persembunyiannya, Oe-tie Khao, Hee Thian Siang, Hok Siu Im melayang turun dan tiba di depan goa Siang-swat-tong. Semua anggota golongan Kie- lian, termasuk Liok Giok Ji tampak tenang-tenang saja, tak seorangpun yang menunjukkan sikap terkejut. Tie-hui-cu, melihat orang datang, semula masih timbul pikiran, mungkin akan mendapat bantuan. Tetapi setelah melihat dekat kepada Leng Pek Ciok dan lain-lainnya, segera merasakan bahwa orang-orang itu kalau dibanding dengan kawanan penjahat yang berada di depan matanya, kekuatan dan kepandaiannya masih terpaut jauh sekali. Kembali ia menunjukkan sikapnya yang putus asa.

Pada saat itu, ketua Kiei-lian-pay Khie Tay Cao perlahan- lahan bangkit dari tempat duduknya, memberi hormat kepada Leng Pek Ciok dan berkata sambil tersenyum: "Saudara Leng sekalian, tadi di atas sudah melihat sendiri dengan jelas sebab musababnya. Seharusnya tahu bahwa tindakan kita kali ini untuk menghadapi Tie-hui-cu bukanlah tanpa sebab..."

Leng Pek Ciok memang sudah merasa agak sulit untuk membela Tie-hui-cu. Tetapi juga tidak rela begitu saja, maka lalu memotong ucapan Khie Tay Cao, katanya: "Ketua Kun- lun-pay meskipun ada persengketaan demikian hebat dengan nona Liok Giok Ji, tetapi tiga pahlawan partai Bu-tong, ketua partai Lo-hu dan majikanku Peng-Pek Sin-kun suami istri adalah orang-orang di luar garis. Mereka mendapat hadiah duri beracun Thiat-keng-cek, ada yang luka dan ada yang mati. Ku kira saudara Khie harus mempertanggung-jawabkan terhadap sahabat-sahabat rimba persilatan!"

Khie Tay Cao tidak menyangka Leng Peng Ciok mengalihkan persoalannya dan membelokkan urusan ke arah lain, maka sesaat itu ia tertegun tak bisa menjawab.

Orang berbaju kuning sebelah kiri ketika menyaksikan keadaan itu dengan suaranya yang tetap perlahan, berkata: "Perbuatan orang-orang Kie-lian-pay yang menggunakan duri beracun Thian-keng-cek sehingga berbuat kesalahan terhadap orang-orang rimba persilatan lainnya dengan tindakan kita menuntut balas terhadap Tie-hui-cu adalah merupakan lain persoalan, tidak boleh dicampur menjadi satu!"

Leng Pek Ciok lalu memberi hormat kepada orang tua itu dan berkata sambil tertawa: "Leng Pek Ciok meskipun tidak kenal siapa adanya Tuan, dapat menduga bahwa Tuan pasti adalah seorang berilmu tinggi, maka Leng Pek Ciok pikir hendak mintakan sedikit ampun untuk ketua Kun-lun-pay yang sekarang sudah menjadi tawanan, apakah Tuan tidak keberatan dengan permintaanku ini?"

Liok Giok Ji yang mendengar ucapan itu bertanya kepada Leng Pek Ciok: "Tie-hu-cu seorang yang luarnya baik, tetapi dalam hatinya jahat. Dia merupakan seorang berhati binatang. Aku telah menanggung penderitaan atas kematian ibuku sehingga sekarang, barulah mendapat kesempatan untuk menuntut balas dendam. Bagaimana kau hendak mintakan ampun kepadanya? Aku sebaliknya hendak menanya kepadamu, apakah orang seperti dia itu dapat diberi ampun?"

"Nona Liok hendak menuntut balas dendam ibumu, ini memang patut dipuji. Tetapi Tie-hui-cu bagaimanapun juga merupakan ketua dari salah satu partai besar pada dewasa ini, bagaimanapun juga kepandaian ilmu silatnya toh sudah dimusnahkan, dalam keadaan demikian ia tentu tidak bisa terbang jauh, bolehkah kiranya dibiarkan ia menunda kematiannya untuk sementara waktu, kupikir hingga nanti pada pertemuan di puncak gunung Thian-tu-hong, barulah disiarkan dosanya di hadapan sahabat-sahabat rimba persilatan seluruh dunia. Jikalau dia merasa bersalah dan tidak bisa membantah, mungkin akan merasa malu dan dengan sendirinya akan mati!"

Orang tua berbaju kuning yang sebelah kiri setelah mendengarkan ucapan Leng Pek Ciok perdengarkan suara tertawanya yang aneh beberapa kali lalu bertanya kepada Khie tay Cao: "Khie Cianbunjin, apakah kau masih perlu hadir pada pertemuan digunung Oey-san pada nanti tanggal enambelas bulan duabelas?"

Khie Tay Cao tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya: "Sekarang partai Kie-lian dan Tiam-cong sudah bertekad hendak menggabungkan diri, hal ini agaknya sudah menjadi rahasia umum. Perlu apa kita masih perlu mengadakan perjalanan jauh ke gunung Oey-san untuk mendapat kesulitan dari partai Bu-tong, Lo-hu dan Swat-san? Terus terang saja, tidak perduli siapa, apabila ingin bertanya kepada Khie Tay Cao, silahkan mereka datang ke gunung Kie-lian!"

Orang tua yang berada di sebelah kanan, yang selama itu jarang bicara setelah mendengarkan ucapan Khie tay Cao tiba-tiba berkata: "Bukankah Khie Ciangbunjin sudah mengadakan perjanjian dengan ketua Tiam-cong, hendak menggabungkan diri dan membentuk partai baru Ceng-thian- pay, mengapa tidak menggunakan kesempatan itu sebagai hari berdirinya partai Ceng-thian-pay, disamping undang semua orang rimba persilatan untuk menghadiri upacara berdirinya partai baru kita, sekalian membersihkan segala permusuhan yang selama itu masih terkatung-katung!"

Orang tua sebelah kiri setelah mendengar ucapan itu, tidak memberi kesempatan kepada Khie Tay Cao, sudah berkata kepada Leng Pek Ciok: "Cara itu memang paling baik, apakah kau bisa bertanggung-jawab untuk melakukan tugas supaya memberitahukan kepada semua partai dan tokoh-tokoh rimba persilatan?"

Lek Pek Ciok berpikir dulu sejenak, lalu berunding dengan Oe-tie Khao, Hee Thian siang In, Hok Sin Im, setelah itu ia baru menjawab: "Meskipun aku bisa tanggung jawab mengabarkan kepada sahabat-sahabat dan partai-partai rimba persilatan untuk menyampaikan berita ini, tetapi waktunya agaknya terlalu mendesak, barangkali tidak keburu semua datang berkunjung ke gunung Kie-lian!"

Orang tua sebelah kiri tadi mengangguk-anggukkan kepala dan berkata: "Ucapanmu ini memang sebenarnya, oleh karena aku mengharap hari berdirinya partai Ceng-thian-pay itu supaya dihadiri oleh tokoh-tokoh kuat dalam rimba persilatan, tidak halangan kalau harinya diundurkan dua bulan, kita boleh tetapkan pada tahun depan tanggal enam belas bulan dua!"

"Aku terima baik permintaanmu untuk menyampaikan kabar kepada sahabat-sahabat rimba persilatan, kau seharusnya juga terima baik permintaanku untuk memberi kelonggaran kepada ketua Kun-lun-pay, supaya untuk sementara jangan dibinasakan." Berkata Leng Pek ciok.

Orang tua sebelah kiri, berulang-ulang menganggukkan kepala, lalu menjawab sambil tertawa aneh: "Baik, baik, aku terima baik permintaanmu, aku bukan saja sementara tidak menghukum mati dia, bahkan kuterima baik untuk membebaskan dia bersama-sama kau berlalu dari sini! hanya tindakan semacam ini ada lebih kejam sepuluh kali daripada membunuh dia dan dibekukan bangkainya didalam goa Siang- swat-tong!"

Leng Pek Ciok tiak mengerti apa yang terkandung dalam ucapan orang tua itu, baru saja mengerutkan alisnya, orang tua sebelah kiri tadi kembali berkata dengan sikapnya yang bangga: "Coba kau pikir, seluruh kepandaian ilmu silat Tie-hui- cu sudah dimusnahkan, sutenya sendiri yang paling dipercaya, Siauw Tek sudah binasa, atas kesalahannya sendiri, Liok Giok Ji sudah berkhianat terhadapnya, kejadian- kejadian dan kelakuannya yang tidak patut pada waktu yang lampau kini telah terbuka rahasianya, apa kau pikir dia masih bisa hidup didalam dunia, itu bukankah lebih baik mati saja?" Ternyata sampai di situ, matanya menatap Tie-hui-cu yang sudah pucat pasi dan gemetar sekujur badannya, dengan nada suara mengejek ia berkata: "Tie-hui-cu aku sudah menerima baik permintaan sahabatmu untuk mengampuni jiwamu, kau sekarang boleh kembali ke puncak gunung Kun- lun untuk menjabat ketua partaimu lagi!"

Tie-hui-cu kini betul-betul sudah merasa menyesal, ia merasa sudah tidak ada tempat untuk bertemu kembali dengan kawan-kawan dunia persilatan, maka lantas menggeram dan mulutnya menyemburkan darah segar, ternyata dia sudah mengambil keputusan nekad dengan jalan menggigit lidahnya sendiri.

Leng Pek Ciok yang menyaksikan kematian mengenaskan ketua Kun-lun-pay yang bersahabat dengan majikannya sendiri Peng Pek Sin-kun juga merasa sedih dan menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia berkata kepada Khie Tay Cao sambil memberi hormat: "Tie-hui-cu sudah mengakhiri hayatnya sendiri, Leng Pek Ciok sekalian kini mohon diri!"

Orang tua berbaju kuning sebelah kiri dengan tenang berkata: "Kau dengan pengemis tua itu boleh jalan dulu tetapi dua bocah ini untuk sementara tinggal disini dulu!"

Leng Pek Ciok dan Oe-tie Khao ketika mendengar orang tua itu hendak menahan Hee Thian Siang dan Hok Sin Im, lalu saling berpandangan sejenak, baru saja putar otak bagaimana harus menjawab, Hee Thian Siang sudah berkata dengan suara nyaring: "Sekalipun kau suruh aku pergi, akupun tidak akan pergi, karena aku masih ada beberapa perkataan hendak ditanyakan padamu!"

Orang tua berbaju kuning yang duduk di sebelah kiri itu berkata sambil tertawa: "Aku tahu, kau bocah ini memang sangat berani, kau hendak tanya apa, silahkan saja!" Hee Thian Siang ternyata tidak pandang mata pada dua orang tua yang memiliki kepandaian demikian tinggi dan kawanan penjahat golongan Kie-lian dan ia berkata dengan sikap marah.

"Aku sekalipun beradat kukoay, tetapi setidak-tidaknya jauh lebih baik daripada kalian orang-orang yang tak mempunyai perikemanusiaan, berhati kejam dan bertangan ganas. Kalian membunuh musuh Siauw Tek dan Tie-hui-cu masih boleh dikata karena masih ada dendam permusuhan lama. Tetapi pendekar pemabokan Bo Bu Ju mengapa juga kau binasakan didalam goa Siang-swat-tong?"

Pertanyaan itu benar-benar menyulitkan orang tua itu, semua pada berdiam sekian lama, barulah orang tua berbaju kuning yang sebelah kiri menjawab perlahan-lahan: "Pendekar pemabokan Bo Bu Ju terlalu banyak mengetahui rahasia kita. Dia sifatnya juga suka banyak mulut, maka setelah ditundukkan oleh Sam-kow, telah diantarkan ke dalam goa Siang-swat-tong dan dibekukan menjadi patung!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu menjadi marah-marah dan berkata: "Orang lain banyak pengetahuan, ada hubungan apa denganmu? Apakah kalian ada hal-hal yang ingin diketahui oleh orang lain dan takut terbuka rahasianya barulah kau berbuat demikian kejam terhadap seorang pendekar dunia Kang-ouw?"

"Bocah kau jangan terlalu jumawa, untung sementara aku menahan kalian, sebetulnya aku tidak mengandung maksud jahat, tetapi jikalau kau mau mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, maka janganlah kau sesalkan ..." Berkata orang itu sambil ketawa bengis.

"Kau jangan berlaku sombong, tinggal atau tidak adalah hakku. Aku mau datang, aku datang, aku mau pergi, aku pergi!" Sebelum aku keluar dari goa Siang-swat-tong aku sudah tahu kalian menyembunyikan diri dibalik tebing. Tetapi karena mengingat aku hendak meminjam mulut kalian untuk membuka kedok Tie-hui-cu, supaya disampaikan kepada sahabat-sahabat rimba persilatan, maka aku membiarkan kalian mendengar dan menyaksikan hingga sekarang ; jikalau tidak, dengan satu gerakan ringan saja kalian semua sudah menjadi orang siluman!"

Leng Pek Ciok yang mendengar ucapan jumawa orang tua itu hatinya merasa panas, baru saja ia hendak membuka mulut, sudah didahului oleh Hee Thian Siang: "Tua bangka, kau jangan coba-coba membual..."

Orang tua berbaju kuning sebelah kanan dengan tiba-tiba berkata sambil tertawa dingin: "Jikalau kau tak percaya, sekarang baiklah ku akan tangkap salah satu sahabatmu untuk kau lihat sendiri!"

Sehabis mengucap demikian, badannya bergerak dari tempat duduknya melesat setinggi lima tombak, kemudian kakinya menginjak di dinding tebing, setelah itu bagaikan garuda melayang ke atas tebing tempat Hee Thian Siang tadi menyembunyikan diri.

Kepandaian Leng Pek Ciok dalam golongan Swat-san-pay sudah terhitung jarang tandingan, kepandaiannya sebetulnya tidak di bawah kepandaian Peng-pek Sin Kun suami-istri. Tetapi sekarang setelah menyaksikan cara bergerak orang tua itu melesat ke tebing tinggi, juga diam-diam merasa kagum, dan tahu benar ia masih belum sanggup menghadapi orang tua itu.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan orang tua tadi, dan setelah menyaksikan tindakannya itu, merasa sangat heran, sebab ia pikir bahwa dalam rombongannya sendiri itu empat orang, bagaimana orang itu masih mengatakan di atas tebing masih ada seorang kawan lagi?

Belum lenyap pikirannya, orang tua berbaju kuning itu sudah melayang turun dan kembali ke tempat duduknya semula, dalam tangannya membawa siaopek yang sangat cerdik dan memiliki kepandaian sangat aneh itu!

Hee Thian Siang menyaksikan kejadian itu bukan kepalang terkejutnya. Pikirnya, Tiong-sun Hui Kheng mengirim siaopek, untuk menyambut. Adanya, suatu bukti bahwa gadis itu masih belum melupakan kepada dirinya! Siaopek yang dikenalnya sangat cerdik dan lincah serta memiliki rompi emas dari sisik naga pelindung jalan darah, toh masih dapat ditangkap oleh orang tua itu, dari situ bisa diduga, bahwa ilmu kepandaian orang tua itu benar-benar sudah mencapai ke taraf yang tiada- taranya. Kini ia sedang berpikir; dengan cara bagaimana harus menolong Siaopek itu.

Orang tua itu dengan mengangkat sepasang kaki depan Siaopek, berkata kepada orang tua berbaju kuning sebelah kirinya sambil tertawa: "Dunia ini sangat luas, ada beberapa kejadian aneh yang tak diduga-duga, benar-benar telah terjadi. Rompi emas yang dipakai oleh monyet ini ternyata terbuat dari sisik naga pelindung jalan darah, peninggalan Tay thiat Sian-jin!"

Pada waktu itu Hee Thian Siang sudah merasa kesal dan cemas, ia berkata kepada Leng Pek Ciok dan Oe-tie Khao: "Leng toako, Oe-tie locianpwe, kita harus pikirkan dengan cara bagaimana untuk menolong Siaopek?"

Leng Pek Ciok yang sudah mengikat tali persaudaraan dengan Hee Thian Siang, juga dalam rombongannya itu merupakan seorang yang berkepandaian paling tinggi, maka ia tidak menolak permintaan Hee Thian Siang, sambil menepuk pundaknya, berkata sambil tertawa: Hee laotee, jangan cemas. Dengan mempertaruhkan nama baikku selama setengah abad, dengan ilmu kepandaianku golongan Swat- san-pay yang tunggal ,aku hendak menguji kepandaiannya!"

Sambil bicara ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, sekujur badannya tiba-tiba berubah menjadi putih, bahkan mengeluarkan hawa dingin dari bulu-bulu romanya, perobahan itu telah mengejutkan Hee Thian Siang yang berada disampingnya, sehingga melompat mundur dua langkah.

Oe-tie Khao tahu bahwa Leng Pek Ciok hendak menggunakan ilmu simpanan golongan Swat-san-pay yang dinamakan Kiu-wan-thian-han-kang, hendak mengadu jiwa dengan orang tua berbaju kuning yang tidak diketahui asal- usulnya itu.

Ia sendiri mengawasi dengan kepala dingin, sudah dapat dilihat bahwa dua orang berbaju kuning itu jauh lebih tinggi daripada Kie Tay Cao, Phao Sam-kow, mungkin Leng Pek Ciok masih susah menghadapinya, maka lantas berkata sambil mengerutkan alisnya: "Saudara Leng, sabarlah dahulu!"

Leng Pek Ciok yang mendengar ucapan Oe-tie Khau sudah tahu bahwa Oe-tie Khao hendak menasehati dirinya jangan bertindak gegabah. Sepasang matanya dibuka lebar, sinar tajam memancar keluar, dengan suara gagah ia berkata: "Barang-barang yang terbuat dari beling atau tembikar, pada akhirnya toh akan pecah, seorang pahlawan mati di medan perang, itu sudah wajar. Aku Leng Pek Ciok sejak berhasil menemukan kepandaian ini, selama berkecimpung di dunia Kang-ouw, benar-benar jarang menemukan tandingan. Saat ini jikalau mendapat kehormatan mengakhiri hidupku di goa Siang-swat-tong ini, juga merupakan suatu hal yang memuaskan bagiku!" Sehabis berkata demikian, selagi hendak menantang kepada orang tua berbaju kuning yang memegang Siopek, di luar dugaannya, Hok Siu Im tengah keluar dan berjalan lambat-lambat dengan tangan memainkan pedang Liu-yap- bian-si-kiam yang digulung menjadi butiran, lalu berkata kepada dua orang tua berbaju kuning sambil tersenyum: "Kalian berdua telah anggap sebagai seorang berkepandaian dan berilmu tinggi di dunia, perlu apa kau membuat seekor monyet kecil sampai demikian rupa? Kalau kau ingin berkelahi, kita berempat semuanya tidak takut. Lebih baik kau bebaskan saja padanya!"

Orang tua berbaju kuning yang tangannya memegang Siaopek melihat Hok Siu Im bicara, dengan tiba-tiba berubah sikapnya menjadi ramah, katanya sambil tertawa: "Kalau kau mintakan ampun untuk monyet ini, aku bersedia mengampuni jiwanya, tetapi kau juga harus menuruti satu permintaanku!"

Hok Siu Im benar-benar tidak menduga bahwa tindakannya itu ternyata berhasil, sambil tersenyum sinis ia bertanya: "Permintaan apa?"

Orang tua itu kini sikapnya tampak lemah-lembut dan ramah-tamah, katanya sambil ketawa: "Aku menghendaki supaya kau menjadi tamu beberapa hari didalam goa Siang- swat-tong!"

Hok Siu Im yang kini sudah berbicara dan berhadapan muka dengan orang tua berbaju kuning itu, telah merasakan bahwa orang tua itu bukan saja tidak menakutkan, bahkan ia merasa bahwa orang tua itu ramah-tamah, maka sedikitpun tanpa dipikir lagi lantas menjawab sambil menganggukkan kepala: "Asal kau mau melepaskan dulu monyet itu aku terima baik permintaanmu untuk berdiam tiga hari didalam goa Siang-swat-tong!" Orang tua berbaju kuning itu menganggukkan kepala dan tersenyum, ia menepuk dengan perlahan belakang kepala Siaopek, lantas melemparkan ditengah udara.

Sejak pertama kali Hok Siu Im melihat Siaopek di gunung Thay-piat-san sudah merasa suka dengan kecerdikan dan kelincahannya. Karena ia khawatir Siaopek masih belum sadar, nanti bila jatuh di tanah pasti terluka, maka buru-buru mengulurkan tangannya dan menyambutinya di tangannya.

Di luar dugaannya Siaopek itu terlalu setia kepada majikannya, sejak mengetahui hubungan mesra Hok Siu Im dengan Hee Thian Siang dan tadi ketika ia bersembunyi, dua kali melihat Hee Thian Siang berlaku mesra sekali dengan Hok Siu Im, maka anggap gadis itu sebagai saingan majikannya! Ketika totokannya dibuka oleh orang tua berbaju kuning, baru saja sadar, ternyata dapatkan dirinya ditangan Hok Siu Im, maka ia lantas mengeluarkan suara nyaring dan mengulurkan tangannya untuk mencakar muka Hok Siu Im.

Hok Siu Im sungguh tidak menduga akan adanya kejadian itu, buru-buru ia miringkan kepalanya tetapi tidak urung pipinya kena cakar juga, sehingga terdapat tanda darah.

Pada waktu itu Hee Thian Siang-lah yang merasa paling sulit kedudukannya. Ia sangat cemas dan tidak tahu bagaimana harus bertindak. Oe-tie Khao dan Leng Pek Ciok juga tak bisa berbuat apa-apa, sementara itu Siaopek yang sudah melepaskan diri dari tangan Hok Siu Im, di tangannya bergerak hendak menyerang Hok Siu Im.

Hok Siu Im semakin repot, ia juga merasa tidak enak untuk turun tangan menghadapi Siaopek, dalam keadaan serba salah dan hendak menyingkir ke tempat jauh, tiba-tiba merasakan desiran angin, di hadapan matanya tampak sesosok bayangan orang, sedangkan siaopek yang bergerak demikian lincah sudah disambar lehernya oleh orang itu, dan diangkatnya tinggi-tinggi.

Orang yang baru muncul itu adalah seorang berjubah hijau, sikapnya agak agung, kapan ia bergerak sesungguhnya jarang tampak, juga tidak tahu darimana datangnya orang itu. Apa yang lebih mengherankan ialah Siaopek lehernya dipegang oleh orang tua itu ternyata demikian takut, sedikitpun tidak berani melawan.

Hee Thian Siang baru merasa heran, Oe-tie Khao sudah bisik-bisik di telinganya, katanya sambil tertawa: "Hee laute jangan khawatir, kita telah kedapatan seorang pembantu kuat luar biasa, Tuan itu adalah Thian-gwa Ceng-mo yang namanya telah menggetarkan rimba persilatan!"

Hee Thian Siang mendengar ucapan itu baru sadar, kiranya orang tua berbaju hijau itu adalah ayah Tiong-sun Hui Kheng sendiri, yang namanya sama sama terkenal sebagai orang yang luar biasa bersama gurunya sendiri dan May Ceng ong. Pantas setelah siaopek dipegang lehernya, sedikitpun tidak berani melawan.

Tiong sun seng telah mengangkat tinggi dimukanya, berkata kepadanya: "Kau ini memang monyet bodoh tidak ada gunanya, kau sudah tertangkap oleh musuh, dan nona Hok yang mintakan ampun kepadamu, dia adalah tuan penolongmu sendiri, bagaimana kau sebaliknya anggap dia sebagai musuh ?"

Siaopek yang memang cerdik dan mengerti bahasa orang, ketika mendengar ucapan itu baru tahu, bahwa tadi ia sendiri telah berbuat salah, maka lalu memandang Hok Siu Im dengan sinar mata yang minta dimaafkan kesalahannya.

Hok Siu Im sudah tahu, siapa adanya orang itu, oleh karena mukanya sendiri tidak berarti apa-apa, lagi pula ia merasa senang terhadap Siaopek, lalu memberi hormat dan berkata kepada Tiong sun seng:

"Tiong sun locianpwe harap jangan salahkan siaopek, dia tadi karena tertotok jalan darahnya sehingga dalam keadaan pingsan, dalam keadaan yang baru sadar ia tidak dapat membedakan siapa lawan dan siapa kawan... "

Lalu Tiong sun Seng berkata pula kepada siaopek: "Dengar tidak ? sebab nona Hok sekali lagi mintakan ampun atas kesalahanmu, maka untuk sementara barulah aku mengampuni kesalahanmu lain kali jikalau kau berbuat tidak karuan seperti ini, aku tidak akan mengampunimu lagi "

Setelah berkata demikian, tangannya dilepaskan, sehingga siaopek menubruk kedalam pelukan Hok Siu Im.

Hok Siu Im tahu, bahwa tindakan siaopek kali ini tidak mengandung maksud jahat, maka ia menyambutnya sambil tertawa, siaopek sikapnya kali ini benar-benar sangat ramah, dia sandarkan kepalanya ke pundak Hok Siu Im, lidahnya digunakannya untuk membersihkan luka di pipinya. Tetapi kalau ia mengawasi Hee Thian siang masih ada mengandung jelus, hingga menunjukkan sikapnya seperti bermusuhan. Pada waktu itu dua orang tua berbaju kuning dan kawanan penjahat Kie lian, dengan tiba-tiba kedatangan musuh tangguh, semuanya bangkit dari tempat duduknya, oleh orang tua berjubah kuning sebelah kiri menyapa lebih dahulu :

"Thian gwa Ceng mo..." baru mengucapkan ucapan itu, Tiong sun seng sedah memotong sambil menggelengkan kepala: "Kau panggil aku Tiong sun seng saja sudah cukup, nama julukan Thian gwa Ceng mo ini sudah tidak ada muka untuk dipakai lagi !" "Nama sebutan Thian gwa Ceng mi telah menggetarkan rimba persilatan. Dengan cara bagaimana kau..." bertanya orang tua berbaju kuning kaget.

"Tiong sun seng menghela napas, matanya melirik Hee Thian siang, kemudian berkata sambil tertawa getir : Didalam golonganku, selalu menggunakan pedoman, sewaktu berkumpul harus berkumpul. sewaktu buyar harus buyar, tidak akan terjatuh omongan orang, tidak akan terlibat jaring asmara, sebagai pelajaran, siapa tahu murid kesayanganku sendiri Hwa Jie swat dan puteriku sendiri Tiong sun seng Hui Kheng, yang satu lantaran It cem sin ceng dan yang lain lantaran. dua duanya ternyata sudah terlibat dalam asmara.

Dan kini tidak berhasil menolong dirinya sendiri, maka dimana aku masih ada muka, menggunakan nama julukan Thian gwa Ceng mo ?"

Hee Thian siang yang mendengar ucapan Tiong sun seng, dalam hati merasa girang juga merasa khawatir, apa yang dikhawatirkan ialah dalam kata-kata Tiong sun seng ini yang dimaksudkan adalah dirinya, yang membuat girang ialah ditilik dari sini Tong sun Hui Keng memang benar telah jatuh cinta kepada dirinya. Di kemudian hari asal bisa menjelaskan kesalah pahaman itu, bukankah...

Sementara itu orang tua berbaju kuning sebelah kiri sudah menggunakan jari tangannya untuk menunjuk kawannya yang duduk di sebelahnya, bertanya kepada Tiong sun Seng : "Kau berbeda dengan mereka, seharusnya bisa menebak siapakah adanya kita dua orang !"

Tiong sun seng menganggukkan kepala, dan menjawab sambil tersenyum: "Tidak usah menebak, begitu melihat aku sudah dapat mengenali bahwa kalian adalah kenalan lama dari Cong lam yang pada masa itu pernah menggemparkan seluruh rimba persilatan !" Orang tua berbaju kuning sebelah kanan berkata sambil tersenyum: "Ucapanmu kanalan lama dari Com lam ini ternyata sangat tepat, dua puluh tahun berselang pertama kali kita bertemu muka, didekat lembah kematian gunung Cong lam san, aku masih ingat semua itu dengan kedudukanmu Thian gwa ceng mo, pernah mengucapkan kata-kata yang seperti kau ucapkan tadi !"

Orang baju kuning sebelah kiri juga berkata kepada Tiong sun seng: "Kalau kau sudah tahu siapa adanya kita, maka aku akan minta pertolongan padamu !"

"Apakah kau ingin aku membantu kalian untuk mencarikan tuan itu? Biar ia pergi ke gunung Kie lian san di goa Siang swat ting untuk melunaskan hutang dosanya tahun dahulu." Berkata Tiong sun seng sambil tertawa.

Dia datang sendiri mencari kita, itu lebih baik, jikalau tunggu kita sampai pergi mencari dia, maka didalam rimba persilatan mungkin akan terjadi geger seperti keadaan pada dua puluh tahun berselang" berkata orang tua berbaju kuning sebelah kiri.

"Dalam soal ini meskipun aku suka menerima permintaanmu, tetapi jejak tuan itu seperti naga sakti, barangkali memerlukan waktu yang cukup lama." berkata Tiong sun seng sambil tersenyum.

Orang tua sebelah kiri itu berpikir dulu, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala: "Ucapanmu ini memang sebenarnya, untung partai Kie lian lain Tiam cong sudah bersepakat menggabungkan diri untuk membentuk partai baru yang dinamakan Ceng Thian pay bahkan sudah ditetapkan waktunya pada nanti tanggal enam belas bulan dua tahun depan akan mengundang semua tokoh tokoh rimba persilatan, turut dalam upacara berdirinya partai baru itu, dan menggunakan kesempatan itu sekalian untuk menyelesaikan segala permusuhan lama. Asal kau bisa menyampaikan khabarnya supaya datang tepat pada waktunya sudah cukup

!"

"Tanggal enam belas bulan dua tahun depan, mungkin aku masih bisa melaksanakan tugas tugasku!" Berkata Tiong-sun seng sambil tertawa.

Setelah itu, ia berpaling mengawasi Leng Pek Ciok dan Oe- tie Khao, lalu berkata sambil tersenyum: "Saudara leng, saudara Oe-tie, urusan di sini sudah selesai, kita seharusnya minta diri kepada mereka !"

Leng Pek Ciok dan Oe-tie Khao dengan serentak menjawab sambil tertawa : "Bagaimana baiknya saudara Tiong-sun seng saja !"

Tiong-sun seng yang mendengar ucapan itu, selagi hendak berkata kepada dua orang tua berbaju kuning itu, Hok Siu Im sudah berkata kepada Hee Thian siang dengan suara perlahan: "Engko Siang, kalian jalan dulu, di kaki gunung Kie- lian-san menunggu aku, aku masih perlu menepati janjiku untuk berdiam didalam goa Siang -swat-tong tiga hari lamanya

!"

"Mana boleh ? Bagaimana dengan seorang diri kau bisa berdiam dalam sarang harimau yang penuh bahaya ini ?" berkata Hee Thian siang.

"Engko Siang jangan khawatir, aku lihat dia orang tua berjubah kuning itu terhadapku selalu tidak mengundang maksud jahat ! Apalagi sudah menerima baik permintaan orang, mana boleh mengingkari janji sendiri ?" kata Hok Siu Im sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

Setelah memberikan siaopek didalam tangannya kepada Hee Thian siang, diluar dugaannya Siaopek masih mengandung permusuhan terhadap Hee Thian siang, ia meronta ronta dan lompat ke sisi tiong sun seng, bahkan menunjukkan sikap beda terhadap Hee Thian siang, seolah- olah menunjukkan sikap yang menghina.

Hok Siu Im benar-benar masih putih bersih sikapnya masih kekanak kanakan, hingga saat ini ia masih belum sadar, sebab Siaopek anggap Hee Thian siang sebagai musuh, Ia masih mengawasi siaopek sambil tersenyum manis, setelah itu dengan seorang diri ia berjalan ke samping dua orang berjubah kuning tadi.

Hee Thian siang masih merasa khawatir, katanya sambil mengerutkan alisnya: "Adik Im... "

Tiong sun seng tiba tiba berjalan dengan perlahan di depannya, tangannya diulurkan menepok pundak Hee Thian siang, katanya: "Hee hiantit jangan kuatir. Biarlah nona Hok berdiam di sini tiga hari, aku jamin keselamatannya, baginya, ada untuk tidak ada jahatnya !"

Hee Thian siang tiba-tiba teringat bahwa dirinya di hadapan Tiong-sun Seng seharusnya jangan terlalu mesra terhadap Hok Siu Im. Bagaimana ia malah memanggil "Adik Im", yang demikian hangat.

Dalam hati merasa cemas, mukanya dengan sendirinya menjadi merah. Tetapi Tiong-sun Seng rupanya tidak menghiraukan soal itu, ia hanya memberi hormat kepada dua orang tua berjubah kuning itu, katanya sambil tersenyum: "Tiong-sun Seng untuk sementara minta diri, hingga tanggal enam belas bulan dua tahun depan akan datang kemari lagi untuk menghadiri upacara berdirinya partai Ceng-thian-pay!"

Dua orang tua berjubah kuning itu sedikitpun tidak berani berlaku ayal terhadap Tiong-sun Seng. Keduanya memberi hormat untuk mengantarkan dia pergi! Tiong-sung Seng bersama Leng Pek Ciok dan lain-lainnya ketika tiba di luar bukit Kie-lian-san, berkata sambil tersenyum: "Pergolakan dalam rimba persilatan kali ini sesungguhnya sangat hebat, bagiku sendiri, sudah tentu ingin sekali dapat menemukan orang yang ditunggu-tunggu oleh dua orang tua tadi untuk merundingkan tindakan apa yang akan diambil.

Saudara Leng dan saudara Oe-tie, juga seharusnya masing-masing harus pergi memberitahukan kepada berbagai partai besar, menghentikan pertemuan kedua di atas gunung Oey-san, dan beritahukan sekalian kepada mereka bahwa partai Kie-lian dan Tiam-cong sudah menggabungkan diri, akan membentuk partai baru yang dinamakan partai Ceng- thian-pay, kita masing-masing mempunyai tugas, maka tidak bisa berkumpul lama lagi. Maka sebaiknya di sini saja kita berpisah, sampai lain waktu kita berjumpa kembali!"

Sehabis berkata demikian, tampak berkelebat bayangan hijau, dan sebentar sudah menghilang bersama Siaopek.

Leng Pek Ciok dan Oe-tie Khao selagi hendak menanyakan kepada Tiong-sun Seng siapa kedua orang tua berbaju kuning berambut panjang itu, rahasia apa yang menyelimuti diri mereka, tak disangka-sangka Tiong-sun Seng berkata hendak pergi, lantas berlalu tanpa memberi kesempatan pada mereka untuk bertanya, terpaksa membatalkan maksudnya.

Kalau mereka tidak menahan kepada Tiong-sun Seng tetapi tidak demikian dengan Hee Thian Siang, ia tidak menghiraukan kepada itu urusan, katanya dengan suara nyaring: "Tiong-sun locianpwe harap tunggu sebentar!"

Tion-sun Seng saat itu sudah berada sejauh sepuluh tombak, ketika mendengar panggilan itu lantas berhenti dan berkata sambil berpaling n" Hee hiantit, ada keperluan apa?" Hee Thian Siang meskipun tidak enak masih tebalkan muka untuk bertanya: "Bolehkah boanpwe numpang tanya, dimana sekarang enci Tiong-sun berada?"

"Dia terhadap kau ada merasa sedikit kecewa, kini pergi ke gunung Bu-san di puncak in-hong untuk menengok sucinya Hwa Jie!" Berkata tiong-sun Seng sambil tertawa.

Sehabis berkata demikian, bersama-sama siaopek kembali melesat dan menghilang. Leng Pek Ciok mengawasi berlalunya Tiong-sun Seng dan Siaopek, ia berkata sambil menghela napas dan mengggelengkan kepala: "Orangnya adalah orang yang berwatak aneh, sedang binatangnya juga binatang gaib, pantas kalau Thian-gwa Ceng-mo bersama- sama Pak-hin Sin-po dan Hong-tim Ong-khek, namanya berendeng didalam rimba persilatan sebagai orang-orang yang sudah dihadapi, namun demikian, nama mereka masih diatas ketua dari delapan partai besar!"

Berkata sampai di situ ia berpaling kepada Hee Thian Siang dan Oe-tie Khao, berkata pula sambil tertawa: "Saudara Oe-tie dan Hee laote, harap menunggu nona Hok Siu Im ditempat ini. Leng Pek Ciok akan pulang dulu kegunung Swat- san, untuk memberitahukan kepada majikanku Peng-pek Sin- kun suami istri, tentang persengkongkolan antara partai Ciam- cong dan partai Kie-lian yang mereka akan bergabung dan mendirikan partai baru Ceng-thian-pay.

Mereka sudah menetapkan pada tanggal enam belas bulan dua tahun depan hendak mengumumkan berdirinya partai baru itu, juga dalam kesempatan itu hendak menyelesaikan semua permusuhan antara orang-orang yang mengandung dendam, aku juga hendak memberitahukan sekalian tentang kematian ketua Kun-lun-pay sesudah itu aku akan terjun lagi ke dunia Kang-ouw sedapat mungkin, untuk mengabarkan kepada sahabat-sahabat dunia persilatan dan semua partai rimba persilatan!" "Saudara Leng, boleh berjalan dulu, tetapi soal memberi kabar kepada berbagai partai rimba persilatan, tidak boleh kau seorang diri yang melakukan tugas itu, masih untung Hok Sui Im turut serta bersama kita, hingga bagi partai Ngo-bie, kita hitung sudah tahu. Hanya perlu melaporkan kepada Peng-pek Sin-kun suami-istri dan mengabarkan kepada Ji-sute Tie-hui Sang Biauw Jan. Mengenai partai Bu-tong. Siaw-tiem dan Lo- hu, biarlah aku bersama-sama laote yang akan menyampaikan kabar."

Baru Leng Pek Ciok berpikir, ia dapat menyetujui usul itu, setelah itu lalu minta diri dan pergi meninggalkan Oe-tie Khao dan Hee Thian Siang.

Tetapi baru saja hendak berlalu, dengan tiba-tiba ingat sesuatu hal, ia berpaling dan berkata kepada Hee Thian Siang: "Hee laote, aku berikan kau sebuah barang!"

He Thian Siang menghampiri dan Leng Pek Ciok mengambil sebuah kantong yang terbuat dari kulit kera, diberikan kepada Hee Thian Siang, kemudian berkata: "Barang yang tersimpan dalam kantong kecil ini adalah dua belas butir senjata rahasia yang dinamakan Peng-pek Sin-sa, senjata rahasia terkenal yang pengaruhnya hebat sekali dari golongan Swat-san-pay, jikalau Hee laote menemukan musuh tangguh, boleh dicoba! Tetapi sebelum kau menggunakan, lebih dulu kerahkan tenaga murnimu dalam telapak tangan, barulah boleh mengambil senjata rahasia ini, kalau tidak, kau sendiri akan lebih dulu mendapat kesulitan!"

Hee Thian Siang tahu bahwa sahabatnya itu sangat aneh, tidak perlu merasa sungkan, maka ia menyambutnya dan mengucapkan terima-kasih.

Leng Pek Ciok minta diri lagi kepada Oe-tie Khao, dan setelah itu ia bergerak menuju ke gunung Tay-swat-san. Hee Thian Siang setelah mengantarkan Leng Pek Ciok, saat itu dalam hatinya merasa kesal. Rasa kesal itu sebagian besar mengkhawatirkan diri Hok Siu Im yang sekarang berada di sarang harimau. Apakah tidak ada bahaya untuk menghadapi dua orang tua berjubah kuning yang luar biasa itu?

Sebentar lagi pikirannya melayang ke puncak Tiauw-in- hong, dan sebentar lagi melayang ke dalam goa Siang-swat- tong, sikapnya dengan sendirinya sebentar-sebentar berubah.

Oe-tie Khao memperhatikan itu semua, dalam hati mengerti. Maka lalu bertanya kepadanya sambil tersenyum: "Hee laote, sekarang sudah tidak ada orang ketiga disamping kita, aku akan menanyakan kepadamu satu soal, kau harus menjawab dengan sejujurnya."

Hee Thian Siang yang mendengar pertanyaan itu, malah balas menanya kepada Oe-tie Khao dengan terheran-heran.

"Mengapa locianpwe mengucapkan perkataan demikian? Sejak Hee Thian Siang mengikuti jejak locianpwe, ada urusan apa yang tidak pernah berlaku terus-terang terhadap locianpwe?"

"Menurut apa yang ku tilik dari samping, nona Tiong-sun Hui Kheng dan nona Hok Siu Im, semua telah jatuh cinta kepadamu, tetapi entah bagaimana pikiran Hee laote, perlakukan mereka sama-sama atau berat sebelah?"

Hee Thian Sian tidak menduga Oe-tie Khao menanya urusan itu secara blak-blakan, maka wajahnya merah seketika, ia menjawab sambil menghela nafas: "Dengan terus- terang, sudah tentu Tiong-sun Hui Kheng yang menduduki tempat agak berat dalam hatiku, tetapi Hok Siu Im yang masih muda dan kekanak-kanakan, sesungguhnya juga menimbulkan perasaan senang, aku juga tidak tega untuk tidak menghiraukan dirinya!"

"Kalau Hee laote benar-benar terhadap mereka sama-sama cintanya, maka aku harus berusaha supaya kau mendapatkan dua-duanya!"

"Locianpwee, perlu apa menggoda aku? Enci Tiong-sun telah melakukan perjalanan jauh dengan marah, kesalah- pahaman itu rasanya tidak mudah untuk dijelaskan..."

"Tidak susah hendak menjelaskan kesalah-pahaman itu kepada nona Tiong-sun Hui Kheng. Tunggu saja urusan di sini selesai, aku akan mengawani Hee laote pergi ke puncak Tiauw-in-hong di gunung Bu-san, tetapi laote harus hati-hati menjaga Siaopek dan Taywong, dia bisa memukul kau lantaran cemburu bagi majikannya!"

Muka Hee Thian Siang kembali menjadi merah, katanya: "Tentang diri Adik Im...:"

"Keselamatan nona Hok, sebetulnya memang juga mengkhawatirkan. Aku sudah berpikir bolak-balik, juga tak dapat memikirkan apa sebabnya dua orang tua berbaju kuning itu hendak menahannya untuk menjadi tamu tiga hari lamanya"

"Tiga hari kemudian, jika dua orang tua itu tidak mengantar keluar Adik Im dalam keadaan selamat, aku terpaksa akan berlaku nekad, untuk menghancurkan goa itu dengan senjataku terampuh Kiam-thian-pek-lek!"

Oe-tie Khao yang mendengar ucapan itu memandang Hee Thian Siang sambil tertawa. Hee Thian Siang yang melihat orang tua itu ketawanya agak aneh, lalu bertanya dengan perasaan heran: "Mengapa Locianpwe ketawa? Apakah ucapanku ada yang keliru?"

"Laote, kau menggunakan senjata terampuhmu Kian-thian- peklek untuk menghancurkan goa Siang-swat-tong itu memang hebat! Tetapi jikalau goa itu hanacur, bukankah nona Hok sendiri juga terpendam hidup-hidup didalamnya? Berkata oe-tie Khao sambil tertawa geli.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu kupingnya merasa panas, ia membantah: "Maksudku ialah apabila Adik Im mendapat celaka ditangan mereka, maka aku terpaksa menggunakan senjataku Kian-thian-peklek untuk membalas, sebelum mendapat kepastian kabar tentang dirinya, sudah tentu aku tidak akan berbuat demikian gegabah."

Oe-tie Khao, tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi. Keduanya lalu mencari tempat di kaki gunung Kie-lian-san untuk menanti pulangnya Hok Siu Im.

Hari pertama, kedua dan ketiga diwaktu malam ini, bukan saja Hee Thian Siang sangat khawatir terhadap diri Hok Siu Im, sedangkan Oe-tie Khao juga merasa tidak tenang pikirannya.

Waktu itu musim panas, tetapi gunung Kie-lian yang letaknya di Barat daya diwaktu malam ini sudah seperti musim kemarau!

Oe-tie Khao mendongakkan kepala melihat purnama di atas langit, ia lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa: "Hee laote, marilah kita duduk tenang masing-masing, menenteramkan perasaan kita, barangkali bisa melupakan segala kericuhan! Setelah kita selesai bersemadi, hari mungkin juga sudah terang. Apabila masih belum ada khabar tentang nona Hok, kita boleh pergi ke depan goa Siang-swat- tong, untuk menanyakan kepada dua orang tua berambut panjang itu!"

Dalam keadaan apa boleh buat, Hee Thian Siang terpaksa menganggukkan kepala, menerima baik usul Oe-tie Khao. Baru saja ia mulai bersemadi, telinganya samar-samar seperti mendengar orang memanggil namanya "Hee Thian Siang!"

Semula ia masih mengira pikirannya sendiri yang risau, maka sedikitpun tidak menghiraukan. Tetapi ketika suara kedua kalinya terdengar lagi, hatinya terkejut, ia tahu bahwa ada orang yang menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga kepadanya, panggilan itu maksudnya sudah tentu supaya tidak mengganggu Oe-tie Khao.

Hee Thian Siang membuka sepasang matanya, tampak Oe-tie Khao benar-benar tidak terkejut, maka ia lalu bangkit dan dengan berindap-indap jalan menuju ke arah datangnya suara tadi.

Berjalan kira-kira beberapa tombak, mengitari sebuah tebing tinggi, baru mengetahui bahwa suara tadi keluar dari dalam goa.

Hee Thian Siang baru saja tiba dimulut goa, dari dalam goa sudah ada orang berkata kepadanya dengan nada suara lemah-lembut: "Hee Thian Siang, duduklah dimulut goa, aku hanya ingin bicara denganmu, belum ingin bertemu muka"

Hee Thian Siang mendengar suara itu rasanya tidak asing baginya, tetapi ia tidak ingat lagi, maka ia menurut saja, duduk dimulut goa dan bertanya: "Siapakah locianpwe yang mengeluarkan suara dari dalam goa? Ada keperluan apa memanggil Hee Thian Siang?" Suara orang dari dalam goa menyahut sambil tertawa: "Hok patut dikasihani, Giok ada durinya Kheng banyak cinta kasih, ucapanku ini rasanya sekarang semua sudah terbukti!"

Bukan kepalang terkejutnya Hee Thian Siang mendengar ucapan itu, ia lompat bangun dan bertanya: "Locianpwe apakah Duta Bunga Mawar?"

"Dugaanmu tidak salah, Restuku bunga mawar sudah berhasil dan terbukti kepada diri Su-to Wie dan Ca Bu Kao, hingga sepasang kekasih itu setelah mengalami berbagai penderitaan, kini sudah tercapai cita-cita mereka, dan sekarang aku harusnya akan membantu kau dengan sepenuh tenaga!"

Hee Thian Siang mendengar Duta Bunga Mawar berkata demikian, dalam hati merasa sangat girang, katanya: "Sekarang ini aku sedang menemukan kesulitan besar, pikirku, dalam dunia pada dewasa ini barangkali hanya Duta Bunga Mawar yang bisa memberi bantuan kepadaku, tak diduga-duga pikiran itu ternyata terbukti!"

"Kau jangan merasa girang dulu, mengenai urusanmu barangkali jauh lebih sulit daripada urusan Su-to Wie dengan Ca Bu Kao!"

Hee Thian Siang terkejut mendengarkan keterangan itu, sementara itu Duta Bunga Mawar sudah bertanya kepadanya lagi: "Tanda Bunga Mawar yang kuberikan kepadamu untuk minta getah pohon lengci kepada It-sun Sin-ceng dimana sekarang?"

"Tanda Bunga Mawar itu, telah terjatuh ditangan Tion-sun Hui Kheng, karena aku kalah bertaruh dengannya. Aku minta tunggu supaya aku berusaha untuk mengembalikannya kepadamu." "Tidak usah kau kembalikan, berikan saja kepada Tiong- sun Hui Kheng untuk tanda peringatan! Sebab, Duta Bunga Mawar sebetulnya memang ada tiga orang yang melakukan tugasnya dengan membawa tanda bunga mawar itu secara bergiliran. Kalau semuanya ada, maka harus kau kembalikan. Tetapi sekarang, hanya tinggal aku seorang."

Duta Bunga Mawar menghela nafas dan berkata pula: "Kami bertiga semula pernah bersumpah, hendak mengerahkan seluruh kepandaian kami, selama hidup akan membantu para kekasih yang minta restu kepada makam bunga mawar, sedapat mungkin kami akan berusaha menyingkirkan segala rintangan bagi mereka, supaya mereka bisa tercapai cita-cita mereka buat merangkap jodoh."

"Ooo! Apakah dua orang Duta Bunga Mawar itu kini sudah tiada?"

"Dugaanmu ini tidak keliru, Duta Bunga Mawar nomor satu dan nomor dua semua sudah wafat. Hanya tinggal aku Duta Bunga Mawar nomor tiga yang masih harus membantu kau untuk mendapat restu Makam Bunga Mawar. Setelah cita- citamu tercapai, barulah aku akan meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya!"

Hee Thian Siang yang mendengar perkataan itu dalam hati mendadak merasa tenang, sementara itu Duta Bunga Mawar tiba-tiba menghela nafas dan berkata pula: "Tetapi dahulu di depan makam bunga mawar, aku yang sudah terima baik atas permintaanmu untuk membantu, merupakan tugas paling berat selama hidupku, juga merupakan tugas yang terakhir!"

Hee Thian Siang mendengar ucapan itu dari siang merasa sedih. Ia bertanya sambil mengerutkan alisnya: "Berulang kali locianpwe mengatakan susah, sebetulnya dimanakah susahnya?" "Bisakah kau beritahukan kepadaku dengan terus-terang, dalam hatimu siapakah yang kau cintai?"

Hee Thian Siang tahu, di hadapan Duta Bunga Mawar, sedikitpun tidak boleh membohong, maka tanpa tedeng aling- aling ia memberi jawaban: "Terhadap Tiong-san Hui Kheng dan Hok Siu kedua-duanya sama-sama kucintai. Tetapi andaikata dua-duanya tak dapat kuperoleh, dalam keadaan terpaksa maka aku akan memilih Tiong-sun Hui Kheng saja!"

"Jawabanmu ini memang sejujurnya, tetapi apa yang menyulitkan bagiku jugalah merupakan soal ini..."

Hee Thian Siang mengira bahwa Duta Bunga Mawar itu akan menyalahkan dirinya, seharusnya bukan mendapatkan dua gadis cantik, maka dengan agak gelagapan ia berkata: "Apakah locianpwe menyesalkan aku..."

"Tiap orang memang senang kecantikan. Itu memang sudah sewajarnya. Apalagi Tiong-sun Kheng dan Hok Siu Im terhadap kau sangat perhatian sekali, asal mereka bisa saling mengerti bisa saja kedua-duanya menikah pada dirimu apa salahnya?"

"Jikalau benar locianpwe beranggapan demikian, mengapa selalu mengatakan susah. Apakah cinta itu tidak boleh dibagi kepada dua orang? Dengan demikian restu Makam Bunga Mawar akan terbukti!"

"Jikalau aku tidak menjunjung tinggi restunya Bunga Mawar, urusan ini sesungguhnya tak ada kesulitannya, jikalau aku menghargai restunya Makam Bunga Mawar, maka urusan ini sesungguhnya sulit sekali!"

Hee Thian Siang semakin mendengar semakin bingung, tanyanya: "terhadap Makam Bunga mawar yang keramat dan memiliki kepandaian tidak ada taranya, sudah tentu harus dihormati..."

"Aku tahu, adatmu keras, terhadap segala urusan semua tak akan merasa menyesal, maka aku merasa sulit sekali tidak dapat memikirkan cara yang sebaik-baiknya, bagaimana supaya menjadi sempurna betul!"

"Apakah yang locianpwe maksudkan dengan sempurna itu?"

"Dalam urusan ini, terlibat suatu kesalahan sangat besar, gadis yang paling kau cintai adalah Tiong-sun Hui Kheng, kedua adalah Hok Siu Im. Tetapi gadis semula yang kau lihat di Kim-gi-san dan lantas kau jatuh cinta padanya, sehingga kau perlu pergi kehadapan Makam Bunga Mawar minta restunya supaya kau dapat menemani gadis itu, sebaliknya bukankah Tiong-sun Hui Kheng, juga bukan Hok Sie Im!"

Hee Thian Siang yang mendengar itu, barusan saja alisnya dikerutkan, dan bertanya: "Apakah locianpwe sudah dapat menyelidiki gadis yang mengenakan mantel hitam, menunggang kuda berbulu hijau dan membunuh mati empat setan dari Kie-lian? Siapakah sebetulnya satu diantara mereka bertiga?"

"Justru karena aku sudah berhasil menyelidiki, maka barulah aku merasa sulit sekali. Dia bukan Hok Siu Im, juga bukan Tiong-sun Hui Kheng. Melainkan gadis yang wajahnya mirip dengan Hok Sui Im, tapi berkhianat terhadap partai Kun- lun, sekarang menjadi anggota Kie-lian, ialah Liok Giok Ji yang ku sebut Giok ada durinya itu!"

"Tidak benar, tidak benar!" Berkata Hee Thian Siang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kali ini giliran Duta Bunga Mawar yang bertanya kepadanya dengan heran.

"Apa yang tidak benar?"

"Aku pernah bertanya sendiri kepada Liok Giok Ji, tetapi dia menyangkal belum pernah pergi ke gunung Kin-gi-san!"

Duta Bunga Mawar tertawa terbahak-bahak dan berkata: "Waktu itu karena ia khawatir akan membongkar rahasianya sendiri yang hendak berkhianat terhadap Tie-hui-cu maka pura-pura menyangkal!, tetapi darimana Liok Giok Ji mendapatkan kuda berbulu hijau itu?"

"Yang ia pakai waktu itu adalah kuda Cian-ok-hoa-ceng milik Kie Tay Cao!"

Liok Giok Ji sudah bersekongkol dengan Kie-lian-pay dan menunggang kuda kencang-kencang. Dengan cara bagaimana pula dia berbuat demikian kejam membinasakan empat anggota Kie-lian yang mempunyai julukan empat setan itu?"

"Pertanyaanmu memang cukup beralasan, tetapi aku sudah mengadakan penyelidikan dengan cermat, jikalau tidak, benar- benar aku tidak akan menjawab pertanyaanmu ini!"

Hee Thian Siang lihat cuaca, waktu itu kira-kira jam tiga malam, ia tahu bahwa Oe-tie Khao sedang bersemedi, untuk sementara tidak akan mendusin, maka ia bisa dengan tenang mendengarkan penuturan Duta Bunga Mawar. Sementara itu Duta Bunga Mawer telah berkata pula: "Waktu itu Liok Giok Ji cuma kenal salah seorang dari orang tua berambut panjang dan berbaju kuning itu, belum mengadakan persekutuan dengan Kie-lian-pay, kuda Cian-lie-kiok-hoa ceng itu juga orang tua tersebut yang meminjamkan dari Kie Tay Cao, yang diberikan kepada Liok Giok Ji untuk ia melakukan perjalanannya ke gunung Kiu-gi-san menjumpai orang tua berbaju kuning yang lain yang ada hubungan erat dengannya!

Siapa tahu, dalam perjalanan itu telah berpapasan dengan empat setan dari Kie-lian. Oleh karena empat setan itu melihat Liok Giok Ji menunggang kuda milik ketuanya, dalam hyati mereka lalu timbul perasaan curiga dan menegurnya, terjadilah pertengkaran dan akhirnya bertempur. Liok Giok Ji menggunakan senjata Kun-lun-pek, dengan ilmu kepandaiannya yang luar biasa, empat setan dari Kie-lian itu benar-benar terbinasa di tangannya, dan menjadi setan di gunung Kui-gi-san!"

Hee Thian Siang yang mendengar keterangan itu seolah- olah baru sadar dari mimpinya, dalam hati benar-benar merasa sulit, sebab gadis yang ia cintai sesungguhnya hanya Tiong-sun Hui Kheng dan Hok Siu Im, apa mau yang dahulu yang ia minta restu Makam Bunga Mawar, justru Liok Giok Ji yang sekarang telah tergabung dengan Kie-lian-pay. Bagaimana ia harus menghadapi persoalan seperti itu?

Duta Bunga Mawar melihat Hee Thian Siang diam-diam saja, lalu berkata sambil tertawa: "Kau setan cilik yang nakal dan berani mati, sekarang barangkali sudah tahu, bagaimana kesulitanku?"

terhadap Duta Bunga Mawar itu sesungguhnya Hee Thian Siang merasa berterima-kasih, juga merasa kagum, dengan muka merah dan nada suara meminta, ia berkata: "Dalam urusan ini, ternyata telah menjadi berubah demikian rumit. Aku, sesungguhnya bagaimana harus menghadapinya?"

"Waktu itu yang diterima baik permintaanmu jika kau minta restu Makam Bunga Mawar, adalah ditujukan kepada Liok Giok Ji, maka dalam hal itu sikapku hanya berusaha supaya kau dengan Liok Giok Ji, bisa tercapai cita-citamu merangkap jodoh sebagai pasangan yang berbahagia didalam rimba persilatan." Berkata Duta Bunga Mawar sambil tertawa.

"Tetapi bagaimana dengan Tiong-sun Hui Kheng dan Hok Siu Im?" Bertanya Hee Thian Siang cemas.

Siapa suruh kau sebelum kau ketahui benar orang yang kau incar itu, kau sudah main-main lagi dengan gadis lain? Perbuatanmu yang romantis itu kini sungguh-sungguh menimbulkan kesulitan sendiri! Mengenai urusan mereka berdua tidak termasuk dalam tugasku, seharusnya kau sendiri yang membereskan!"

Hee Thian Siang semakin cemas, ia minta kepada Duta Bunga Mawar: Locianpwe.., locianpwe berpengetahuan luas dan memiliki kecerdasan luar biasa. Sudikah kiranya locianpwe menolong boanpwe lagi?"

"Restuku Bunga Mawar, jika sudah kulaksanakan, tidak boleh ditarik kembali!" Berkata Duta Bunga Mawar sambil tertawa.

"Boanpwe toh belum minta kepada locianpwe supaya menarik kembali? Boanpwe ingin minta agar locianpwe memperluas restu itu."

"Oo! Kau setan cilik ini memang benar-benar meskipun orangnya kecil, akan tetapi ambisinya besar! Kau ternyata menghendaki sekaligus mendapatkan tiga dara!"

Sementara muka Hee Thian Siang menjadi merah, ia diam tak bisa berkata apa-apa, Duta Bunga Mawar berkata pula sambil tertawa: "Kalau restu Bunga Mawar ini diperluas benar- benar merupakan restu untuk kepentingan semua orang!"

"Locianpwe, ini bukanlah berarti boanpwe terlalu serakah, tetapi urusan sudah menjadi begini. " Belum habis ucapannya, Duta Bunga Mawar tiba-tiba berkata lagi sambil tertawa: "Coba kau sekarang lompat ke atas tebing yang terdapat batu aneh itu, barangkali dara-dara yang menjadi idaman-idamanmu itu sedikitnya sudah ada dua orang yang datang."

Mendengar ucapan itu Hee Thian Siang lantas benar-benar melesat ke tebing setinggi empat tombak lebih, dari situ, tampak goa Siang-swat-tong dari dalam goa itu meluncur dua bayangan langsing yang secepat kilat lari keluar.

Hee Thian Siang berpaling dan bertanya pada Duta Bunga Mawar: "Locianpwe, dua gadis yang datang itu apakah Hok siu Im dan Tiong-sun Hui Kheng?"

Namun dalam goa itu sepi sunyi, tidak ada jawaban lagi, Duta Bunga Mawar itu seolah-olah setan atau dewa, yang datang atau perginya tanpa menunjukkan bekasnya. Sebab selagi Hee Thian Siang lompat melesat ke atas tebing, ia sudah menghilang dari tempatnya! 

Sepasang alis Hee Thian Siang dikerutkan, ia masuk ke dalam goa. Goa itu kira-kira hanya setombak lebih dalamnya, sedikitpun tidak ada bekas jejak manusia, ternyata Duta Bunga Mawar benar-benar sudah menghilang. Ia cuma bisa menghela nafas panjang dan keluar dari goa lagi. Tetapi hampir saja ia bertumbukan dengan dua bayangan yang muncul secara mendadak dihadapannya.

Dua bayangan langsing itu, yang satu adalah Hok siu Im yang sudah balik kembali dalam keadaan selamat. Dan yang lain adalah Liok Giok Ji, gadis yang dulu pernah dilihatnya di gunung Bu-gi-san dan yang menimbulkan hasratnya untuk minta restu kepada Makam Bunga Mawar, supaya dapat menemukan gadis itu. Dua gadis cantik yang wajahnya hampir mirip satu sama lain, sekarang seolah-olah menjadi sahabat akrab, sikap mereka baik sekali, Hok Sui Im begitu melihat Hee Thian Siang lantas berkata sambil tertawa manis: "Engko Siang, kau mempunyai Enci Tiong-sun Hui Kheng, aku juga mendapat kenalan baru seorang Enci, inilah Enciku yang baru, Enci Giok!"

Hee Thian Siang mengawasi Liok Giok Ji sejenak, ia merasa bahwa gadis itu meskipun kecantikannya tidak di bawah Tion-sun Hui Kheng dan Hok Sui Im, tetapi kalau teringat bagaimana kejam dan ganas kelakuannya, diam-diam juga merasa takut, sehingga sampai mundur setengah langkah.

Liok Giok Ji agaknya dapat menduga pikiran Hee Thian Siang, katanya sambil tersenyum: "Waktu itu karena aku hendak membalas dendam sakit hati ibuku, aku terpaksa harus menutup rahasiaku. Sekarang Tie-hui-cu sudah binasa, musuh besarku sudah tidak ada, asal kau perlakukan adik Im- ku ini secara baik-baik, aku tidak akan menggunakan duri berbisa untuk menyerang kau!"

Hee Thian Siang yang melihat usia Liok Giok Ji sebaya dengan Hok Siu Im, tetapi kata-katanya itu seolah-olah seorang tua terhadap anaknya maka lalu bertanya sambil tertawa geli: "Ucapanmu ini mirip seperti Enci yang sudah tua terhadap adiknya yang masih muda. Tetapi kalau dibanding dengan adik Im-ku itu, kau rasanya tidak berbeda jauh dengan usianya."

"Meskipun aku hanya lebih tua lima hari daripadanya, tetapi itu sudah cukup untuk menetapkan diriku sebagai Encinya, bukan?" berkata Liok Giok Ji dengan bangga.

Saat itu, Hee Thian Siang masih belum percaya betul ucapan Duta Bunga Mawar, maka ia lalu bertanya kepada Liok Giok Ji: "Kau tadi kata karena Tie-hui-cu sudah binasa, tidak ada apa-apa yang dibuat pikiran lagi, maka sekarang aku hendak menanya padamu suatu soal, tetapi aku minta supaya kau menjawab secara terang!"

"Sekarang pikiranku sudah lega, tiada urusan yang perlu kusimpan didalam hati. Kau hendak bertanya apa, boleh tanya saja!"

"Aku hanya ingin tanya, pernahkah kau memegang seekor kuda berbulu hijau, mendaki gunung Kiu-gi-san dan menggunakan senjata mirip pedang Go-kauw-kiam yang bentuknya agak aneh, dan dengan seorang diri kau membinasakan empat setan dari Kie-lian?"

Sehabis bertanya, sinar mata yang tajam terus menatap Liok Giok Ji untuk menantikan jawabannya.

Liok Giok Ji menganggukkan kepala dan menjawab: "Aku memang pernah menunggang kuda Cian-pek Hoa-ceng milik ketua Kie-lian-pay. Aku pernah mendaki gunung Kiu-leng-cek untuk membinasakan empat setan dari Kie-lian!"

Serentetan jawaban yang keluar dari mulutnya secara terus-terang itu telah membuktikan bahwa keterangan Duta Bunga Mawar itu sedikitpun tidak salah, sehingga Hee Thian Siang yang mendengar itu mulutnya ternganga, lama tak bisa berkata apa-apa.

Liok Giok Ji menyaksikan sikap demikian, dan hatinya juga merasa geli. Tanyanya: "Mengapa kau bersikap demikian? Apakah dengan empat setan Kie-lian yang kubunuh itu ada perhubungan sahabat yang baik sekali?"

Hok Siu Im sementara itu juga ingat bahwa Hee Thian Siang dulu di atas puncak Ngo-bi pernah menanyakan soal itu, maka saat itu juga bertanya dengan terheran-heran: "Engko Siang, aku juga ingat, sewaktu berada di puncak gunung Ngo- bi, kau juga pernah menanyakan soal itu padaku, apakah kau benar-benar hendak menuntut balas atas kematian empat setan dari Kie-lian itu?"

"Kau demikian rumit menanya orang, setelah mendapat jawaban terus-terang lantas bungkam. Ini benar-benar aneh! Sekarang aku sudah bawa adik Sui Im kemari, juga sudah waktunya aku harus pulang ke goa Siang-swat-tong, apabila masih ada jodoh, kita nanti masih bisa bertemu lagi di dunia Kang-ouw!" Berkata Lok Giok Ji sambil tertawa. Sehabis berkata demikian, sepasang kakinya terus melesat meninggalkan Hee Thian Siang. Tetapi tangan kanannya bergerak ke tengah udara, sebuah benda berkilauan, meluncur ke depan dada Hee Thian Siang. Hee Thian Siang mengira bahwa gadis itu hendak menyerang kembali dirinya dengan duri berbisa Thian-keng-cek, dengan perasaan terkejut dan terheran-heran ia lompat menyingkir tiga kaki jauhnya, sebentar terdengar suara nyaring, benda itu sudah menancap di dinding batu.

Liok Giok Ji sementara itu sudah berada sejauh empat lima tombak, katanya sambil tertawa manis: "Hee Thian Siang jangan takut, dahulu oleh karena tanpa sebab aku menyerang kau dengan duri thian-keng-cek, setelah itu hatiku merasa menyesal sendiri. Maka barulah aku memberikan kau sebuah benda yang bukan benda biasa, sekedar untuk mengganti kerugian dari perbuatanku dulu!"

Setelah itu dengan beberapa kali gerakan sudah menghilang ditempat gelap.

Hee Thian Siang mengawasi berlalunya Liok Giok Ji, kepalanya di geleng-gelengkan sambil ketawa getir. Dengan langkah lambat-lambat ia berjalan menghampiri tebing itu, mengambil benda yang menancap. Setelah diperiksanya, ia baru tahu bahwa itu adalah tusuk konde yang biasa dipakai oleh kaum pria. Tetapi benda itu bukan terbuat dari emas atau batu giok, bukan pula tulang atau perak, entah terbuat dari bahan apa?

Hok Siau Im kemudian berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa: "Engko Siang, enci Giok-ku itu baik sekali terhadapku!"

Hee Thian Siang setelah menyimpan tusuk konde itu ke dalam sakunya, bersama Hok Siu Im berjalan ke tempat Oe- tie Khao yang masih bersemedi. Dalam perjalanan itu ia berkata sambil tersenyum: "Adik Im, sudah tiga hari lamanya kau menjadi tamu dalam goa Siang-swat-tong. Apakah kau menemukan kejadian yang aneh-aneh atau yang bahaya? Apa sebab dua orang tua berbaju kuning itu begitu kuat kemauannya untuk menahanmu didalam goa?"

"Aku sendiri juga tidak tahu, sebab apa mereka hendak menahan aku. Tetapi dalam tiga hari itu benar saja sedikitpun tak ada bahaya, bahkan aku telah diberi makan banyak sekali dengan obat mukjizat, dan buah-buahan aneh, juga mendapat pelajaran tiga jurus ilmu pedang yang sangat tinggi dan hebat sekali!" Menjawab Hok Siu Im sambil menggelengkan kepalanya sambil tertawa.

"Dua orang tua berambut panjang berjubah kuning itu begitu baik, terhadapmu. Kau seharusnya tahu siapa namanya dan asal-usulnya, bukan?"

"Aku tidak tahu, dan juga tidak bertanya. Mereka belum pernah menyebutkan."

Hee Thian Siang tahu bahwa pikiran Hok Siu Im masih kekanak-kanakan, sedikitpun tidak bisa memikirkan hal-hal yang lainnya. Maka ia bertanya pula sambil tersenyum: "Kau seharusnya sudah melihat ada beberapa buah patung membeku didalam goa Sian-swat-tong itu?"

"Ada tiga, Ciauw Pek dari Kun-lun-pay, pendekar pemabokan Bo Bu Ju, dan ketua Kun-lun-pay Tie-hui-cu."

"Waktu pertama kali aku mengadakan penyelidikan didalam goa Siang-swat-tong, aku pernah melihat patung Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong. Kemana sekarang perginya?"

"Engko Siang, kau keliru. Patung May Ceng Ong yang ada didalam goa Siang-swat-tong, terbuat dari pada malam (lilin tiruan), bukan orang yang sebenarnya yang dibekukan!"

"Perlu apa mereka membuat patung May Ceng Ong dari malam, dan diletakkan didalam goa Siang-swat-tong?"

"Aku tidak tahu, tapi kulihat Liok Giok Ji setiap pagi-pagi sekali, pasti berlutut dahulu di depan patung Hong-tim Ong- khek May Ceng Ong itu, dengan sikap yang sangat hormat sekali ia bersujud dan menjura empat kali, setelah itu baru bangkit lagi, kemudian dengan suara gemas ia menyumpahi patung itu!"

Hee Thian Siang yang mendengar penuturan itu sudah dapat menduga pasti bahwa orang yang hendak ditemui oleh dua orang tua berbaju kuning itu, sudah pasti adalah Hong- tim-ong-khek May Ceng Ong. Tetapi ia masih belum dapat menduga apa sebabnya, dan ada permusuhan apa diantara mereka.

Pada waktu itu, Oe-tie Khao sudah selesai semedinya, baru saja sadar dan membuka matanya, lantas melihat Hee Thian Siang dan Hok Siu Im yang sedang berjalan menghampirinya, maka lalu bertanya sambil tertawa: "Nona Hok, mengapa demikian lama kau berada didalam goa Siang-swat-tong? Hampir saja Engko Siangmu ini tidak bisa diam karena cemas hatinya!"

Hok Siu Im yang mendengar ucapan itu, dengan sinar mata penuh arti memandang Hee Thian Sinag, ia hanya tersenyum tidak berkata apa-apa. Sementara itu dalam hati Hee Thian Siang sedang memperhitungkan, saat itu tugasnya yang pertama adalah segera pergi ke puncak Tiauw-in-hong di gunung Bu-san, ditempat kediaman Hwa Ji-swat, untuk mencari Tiong-sun Hui Kheng, dan menjelaskan kesalah- pahaman mereka. Jikalau tidak, apabila waktunya lebih lama, lebih susah baginya untuk memberi penjelasan!

Tetapi hendak menjelaskan kesalah-pahaman terhadap Tiong-sun Hui Kheng, ia harus pergi seorang diri dan tidak boleh mengikut sertakan Hok Siu Im. Sebab gadis itu masih putih-bersih dan sifatnya masih kekanak-kanakan, bagaimana ia harus menggunakan kata-kata supaya ia bisa pulang sendiri ke gunung Ngo-bie? Hal itu patut dicegah, supaya jangan sampai menimbulkan susah lagi terhadap Tiong sun Hui kheng.

Oe-ti khao yang melihat Hee Thian siang mendadak mengerutkan alisnya dan sedang berpikir, lalu bertanya: "Hee laote, mengapa kau menunjukkan rasa murung ? apakah nona Hok didalam goa siang swat ting sudah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan ?"

"Peruntungannya sungguh baik, selama tiga hari berdiam di goa Siang swat tong, bukan saja sudah diperlakukan sangat baik sekali oleh dua orang tua berambut panjang berbaju kuning itu, bahkan sudah menjadi sahabat baik dengan Liok Giok je, serta diberi makan banyak serta obat obatan mujarab dan buah buahan yang sangat berfaedah baginya, disamping itu juga diberi pelajaran tiga jurus ilmu pedang yang luar biasa, untuk itu ia seharusnya merasa sangat senang. Bagaimana ada kejadian yang tidak menyenangkan ?" menjawab Hee thian siang sambil menatap Hok siu im.

"Tetapi sikapmu tadi, sudah jelas seperti ada suatu urusan

!" berkata Oe ti khao sambil tertawa.

"Aku sedang memikirkan perjalanan kita selanjutnya, bagaimana harus diatur ?" menjawab Hee Thian siang sekenanya.

"Ya benar!" tuga kita tidak ringan, kita masih perlu memberitahukan kepada partai Lo-hu dan Bu tong serta beberapa tokoh ternama dalam rimba persilatan... " Berkata Oe tie Khao sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Berkata sampai di situ ia diam sejenak, lalu berkata pula sambil menatap wajah Hee Thian siang : "Hee laote, mengenai suhumu Pek Bin Sin po Hong poh Cui sebaiknya harus diberitahukan sekalian. Bilamana Hong poh sin po pada tanggal enam belas tahun depan bisa berkunjung kegunung Kie lian, pasti bisa mengurangi pengaruh kawanan penjahat itu tidak sedikit !"

Hee Thian siang terbuka pikirannya mendengar ucapan Oe tie khao tadi, maka ia memberi isyarat kepadanya, lalu berkata sambil tersenyum:

"Tempat yang harus kita kunjungi sebetulnya terlalu banyak sekali, dan untuk mengejar waktu, agaknya kita harus menjalankan tugas secara berpencaran. Dengan demikian, barulah bisa keburu !"

Oe tie Khao yang memang seorang yang banyak akal, melihat Hee Thian siang memberi isyarat dengan mata kepadanya sudah dapat menduga bahwa Hee Thian siang ada maksud pergi seorang diri untuk mencari Tiong sun Hui Kheng, Maka lantas menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Ucapan ini memang benar, tugas untuk memberitahukan kepada tokoh-tokoh ternama rimba persilatan, memang sebetulnya harus dilakukan secara berpencaran, aku sudah memikirkan caranya bagaimana kita harus bertindak ?"

Dari senyumnya yang misteri Oe tie Khao tadi, Hee thian siang sudah mengerti bahwa orang angkatan tua yang cerdik dan banyak akalnya itu sudah dapat menduga apa yang dipikirkan olehnya, maka lalu bertanya sambil tersenyum :

"Locianpwe bagaimana hendak mengatur ?"

"aku dengan nona Hok akan pulang dulu ke gunung Ngo-bi, untuk melihat perjalanan suhu ??? ke gunung Tiam cong, adakah menjumpai suatu kejadian ? Setelah itu aku juga perlu melaporkan kepada Hian-hian sian lo apa yang kuketahui. Apabila aku bisa berjumpa dengan May Han kong si tua bangka itu, dan Ca bu kao. Lantas kira akan pergi bersama sama ke Timur laut untuk memberitahukan kepada partai- partai Lo-hu dan Siao-lim, serta tokoh-tokoh rimba persilatan ternama yang perlu diberi tahu."

Hee Thian siang yang melihat Oe tie Khao benar saja sudah dapat menduga pikirannya, diam-diam menyatakan terima kasih kepada orang tua itu, tanyanya sambil tersenyum

: "Dan aku ?"

"Kita orangnya banyak, tugasnya juga lebih berat. Kan hanya seorang diri sudah cukup bertugas untuk memberitahukan kepada partai Bu ??? dan suhumu, sisa waktunya kau boleh menentukan tugas apa yang kau pandang perlu." Hee Thian siang baru saja menganggukkan kepala sambil tersenyum, Hok Siu Im sudah berkata sambil tertawa : "Oe tie Locianpwe, rencanamu ini bolehkah kalau dirobah sedikit ?"

"Nona Hok kau pikir hendak merubah bagaimana ?" Bertanya Oe tie Khao sambil tertawa.

"Bagaimana kalau locianpwe seorang diri balik ke Ngo bie untuk memberitahukan kepada suhu, sedangkan aku akan berjalan bersama sama Engko Siang ?" Berkata Hok siu Im sambil menatap wajah Hee Thian siang dengan penuh rasa cinta kasih.

Beberapa perkataan itu, meskipun menggerakkan hati Hee Thian siang, tetapi juga menyulitkan baginya. Maka ia hanya memandangnya dengan tertawa getir.

Oe tie Khao yang menyaksikan keadaan demikian buru- buru berkata sambil tertawa: "Nona Hok, suhu engko Siangmu itu adatnya terlalu kukuh, kalau kau membiarkan dia seorang diri pergi menjumpai suhunya, dan dengan secara baik memberitahukan padanya tentang hubunganmu dengan dia, barulah tak akan dicaci maki olehnya !"

"Suhu sendiri sudah mengijinkan aku untuk menganggap engko padanya, mengapa suhunya tidak mengijinkan ia menganggapku sebagai adiknya ?" Berkata Hok Siu Im dengan perasaan tidak senang.

Kesan Oe tia Khao terhadap Hok Siu Im sesungguhnya baik sekali, ia merasa senang sekali dengan sikapnya yang masih kekanak kanakan, maka katanya sambil tersenyum: "Jikalau demikian, dengan cara bagaimana Pak bin Sin po Hong poh Cui bisa dianggap oleh umum sebagai orang yang paling susah dihadapi ?" Ia menggunakan kata-kata itu dengan tepat sekali hingga Hok Siu Im yang mendengarkan, matanya lantas merah, dan berkata kepada Hee Thian siang dengan sikap sedih.

"Engko Siang, kalau begitu kita terpaksa harus berpisah." Hee Thian siang yang menyaksikan sikap sedih Hok Siu

Im, dalam hati juga merasa tidak enak, tetapi untuk membawanya ke gunung Bu ???, itu sudah pasti tidak mungkin, apalagi hal ini menyangkut dirinya dengan diri Tiong Sun ??? Kheng, maka katanya sambil tersenyum : "Untuk sementara waktu, perlu apa adik Im merasa sedih ? Selambat- lambatnya pada bulan dua tahun depan kita toh sudah akan berkumpul lagi, bahkan kalau urusan ini sudah selesai, mungkin juga kita bisa bertemu lagi sebelum tanggal itu."

Hok Siu Im yang mendengar perkataan itu lantas tersenyum, waktu itu sikapnya sesungguhnya sangat menarik sekali, hingga Hee Thian siang itu sikapnya romantis, jantung hatinya sampai berdebaran.

Oe tie Khao yang menyaksikan keadaan demikian lantas berkata sambil tertawa terbahak bahak: "Hendak berkumpul lebih dulu harus berpisah, tidak berpisahan bagaimana bisa berkumpul lagi ! Nona Hok, biarlah engko Siangmu pulang dulu untuk menjumpai suhunya, supaya minta suhunya turut campur tangan untuk menghadapi dua orang tua berambut panjang berbaju kuning yang sangat tinggi kepandaiannya itu, mungkin masih bisa mencegah terjadinya pertumpahan daras ter hebat dalam rimba persilatan. Sedang kita juga, seharusnya kita lekas pulang ke Ngo bie untuk melaporkan kepada suhumu."

Dalam keadaan apa boleh buat Hok Siu Im berpisahan dengan Hee Thian siang, dengan mengikuti Oe tie Khao ia pulang ke gunung Ngo bie san. Hee Thian siang menantikan Oe tie Khao dan Hok Siu Im sampai sudah berlalu jauh, barulah menggeleng gelengkan kepala sambil menghela napas panjang san berkata kepada diri sendiri;

"Aku cinta kepada Tiong sun Hui Kheng, sedang Hok Siu Im cinta kepadaku, diantara kedua gadis itu, sudah menyulitkan kedudukanku apa mau gadis yang kumintai restunya di hadapan makam bunga mawar di gunung Bin san, justru merupakan diri Liok Giok jie ! Persoalan asmara yang demikian ruwet benar-benar sangat memusingkan kepalaku. Aku benar0benar ingin mencari kepada Say Han Kong locianpwe, hendak minta tanya kepadanya tentang impian orang yang dirundung asmara, dengan cara bagaimana mendusin ? Kasih yang tak sampai bagaimana harus diputuskan ? Dan sakit rindu itu apakah ada obatnya... ?" berkata sampai di situ tiba-tiba ia menggeleng gelengkan kepala sendiri dan berkata kepada dirinya sendiri pula:

"Aa tidak benar Say Han Kong locianpwe tidak mungkin bisa menyembuhkan penyakit rindu, semula lantaran tiga pertanyaan itu, orang tua itu telah kalah seekor kuda jempolannya ditangan Cong sun Hui Kheng, dalam dunia ini sudah terang jarang ada orang yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut, barangkali hanya Duta Bunga Mawar. "

Teringat kepada Duta Bunga Mawar, Hee Thian siang lantas berkata lagi sambil menghela napas : "Tetapi orang tua itu meskipun memiliki kesaktian luar biasa, namun jejaknya bagaikan burung bangau, tidak mudah didapatkannya ! Kecuali jikalau dia sudah datang mencari aku, jika kita mencari dia, sekalipun menjelajahi seluruh dunia, barangkali juga tidak akan dapat menemukannya. "

Baru saja menutup mulutnya, tiba-tiba tampak sekelebat bayangan putih, selembar kertas melayang turun dari atas tebing. Hee Thian siang lalu mengulurkan tangannya dan menyambuti kertas tersebut, Sepintas lalu dilihatnya di bawah tulisan itu tanda tangan Duta Bunga Mawar. Buru buru ia mengerahkan ilmunya meringankan tubuh lompat melesat ke atas tebing sambil berkaok-koak memanggilnya: "Duta Bunga Mawar locianpwe jangan pergi dulu, berikan kesempatan kepada Hee Thian siang untuk minta keterangan."

Akan tetapi ketika ia tiba di atas tebing, Duta Bunga Mawar yang bagaikan bayangan itu sudah tidak tampak lagi jejaknya, apa yang dilihatnya hanya gunung-gunung yang menghijau dan awan yang di atas langit !

Hee Thian siang menggeleng gelengkan kepala sambil menarik napas panjang, terpaksa ia hanya membuka surat yang berada di tangannya, namun di atas kertas itu hanya ditulis dengan empat baris kata-kata yang mirip dengan syair tetapi bukan syair, demikian bunyinya :

Ingin bahagia mengapa takut kesukaran ? Hidup sebagai merpati alangkah senangnya ! Sekali panah mengenakan tiga burung dara, Sudah pasti akan jadi kenyataan !

Namun, masih diperlukan ketabahan dan keuletan untuk menyelesaikan segala kesulitan !

Sehabis membaca tulisan itu Hee Thian siang berulang ulang tersenyum getir, dalam hatinya berpikir. "Duta bunga mawar itu, telah mendesak aku supaya mendapatkan tiga gadis sekaligus, namun tidak mau memberikan penjelasan bagaimana harus bertindak, bukankah malah akan membuatku mengalami lebih banyak kesukaran ? Namun tak dapat disangkal bahwa kata-kata terakhir dalam surat itu memberikan dorongan semangat bagi Hee Thian siang. Maka ia lalu mengambil keputusan akan pergi ke gunung Busan lebih dulu untuk mencari Tiong sun Hui kheng, menjelaskan kesalah pahamannya. Persoalan yang lainnya untuk sementara boleh ditinggalkan dulu. Di kemudian hari dilihat lagi bagaimana perkembangan selanjutnya.

Karena sudah mengambil keputusan demikian sudah tentu ingin cepat-cepat tiba di gunung Bu san untuk menyatakan penjelasannya kepada Tiong Sun Hui kheng.

Perjalanan lalu dilakukan siang hari malam, hampir tak beristirahat. Ketika ia tiba di kaki puncak gunung Tiauw ih hong, adalah pada hari-hari permulaan bulan tujuh.

Hee Thian siang berdiri seorang diri di bawah puncak, memandang awan yang meliputi puncak gunung Tiauw in hong, ia pikir, apabila nanti berjumpa dengan Tiong sun hui kheng, supaya gadis itu jangan sampai terlalu sedih, maka ia berlaku sangat hati hati, rasanya bisa baik kembali hubungan lama ! Tetapi binatang gaib Taywong dan Siaopek sering menyulitkan dirinya.

Di gunung Kie lian saja ia pernah mendapat kesulitan dari dua binatang itu. Dengan sendirinya harus berlaku lebih hati- hati terhadap mereka.

Karena ia harus waspada terhadap Siaopek dan Taywong, maka lebih dulu mengerahkan ilmunya Hian hian khi kung untuk menjaga diri, kemudian baru bertindak mendaki ke puncak gunung. Tetapi di luar dugaannya, dalam perjalanannya itu ternyata tidak mendapat gangguan apa-apa.

Ketika tiba di depan bangunan yang dinamakan Istana Tiauw in kiong, kediaman Hwa Jie ???. tampak dua orang pelayan wanita cantik berdiri menunggu kedatangannya di depan pintu.

Hee Thian siang maju memberi hormat. seraya berkata: "Tolong beritahukan, bahwa murid golongan Pak-bin Hee Thian siang, ingin berjumpa dengan Bu-san Siancu !"

Pelayan wanita itu setelah mendengar ucapan tersebut segera masuk ke dalam untuk memberitahukan kepada junjungannya. Tak lama kemudian, pintu istana Tiauw in kiong terbuka lebar, Hwa Jie Swat dengan wajah berseri seri, bersama dengan It-pun Sin-ceng yang pernah menghadiahkan padanya dua tetes getah pohon lengci di lembah kematian gunung Cong-lam telah menyambut kedatangannya sambil tersenyum.

Hee Thian siang yang secara mendadak bertemu muka dengan It-pun Sin-ceng, dalam hatinya lalu berpikir: "Suatu bukti asal sungguh hati, segala apapun bisa tercapai, orang luar biasa yang berdiam di lautan timur ini, sejak menerima kabar dariku, benar saja telah digerakkan hatinya oleh kecintaan hati yang tulus dari Hwa Ji Swat, datang kemari untuk memenuhi janjinya. Dan kini telah menjadi suami istri bersamanya.

It-pun Sin-ceng masih tetap dengan kebiasaannya yang lama, tangannya membawa bawa pot ham-giok berwarna ungu yang terdapat sulaman pohon lengci, begitu melihat Hee Thian siang mengawasi dirinya, dengan sikap seperti terheran heran lalu berkata sambil tertawa : "Hee laote, tentunya kau merasa heran mengapa aku si padri ini tidak memegang kesucianku, datang ke gunung Bu-san ini untuk menikah" Ucapan datang ke gunung Bu-san untuk menikah kedengarannya sangat lucu, hingga Hwa Jie swat yang mendengarkan lantas merah pipinya, dia pendelikan matanya kepada It-pun Sin-ceng. Dalam hati hee Thian siang juga merasa ???, namun diluarnya masih menjawab sambil tersenyum: "Taisu dan Hwat siancu telah menyadari soal keduniawian dan menjadi pasangan seperti de???, peristiwa ini cukup akan tercatat sebagai pasangan yang bahagia dari rimba persilatan, Hee Thian siang merasa kagum !"

Hwa Jie Swat sementara itu juga berkata sambil tersenyum: "Kalau bisa tercapai angan-angan kami dan hidup bagai pasangan seperti hari ini, semua itu adalah berkat bantuanmu yang tidak sedikit! Mari lekas masuk ke dalam kediaman kami ini, supaya kami dapat memperlakukan engkau sebagai tamu yang kami junjung tinggi !"

Sehabis berkata demikian, bersama sama It-pun ???-ceng mempersilahkan Hee Thian siang masuk.

Hee Thian siang tahu, terhadap mereka berdua tidak perlu terlalu merendahkan diri, maka ia masuk ke dalam sambil tersenyum: Tiba didalam, baru melihat bahwa tempat yang dinamakan istana Tiaw-in-kiong itu dibangunnya dengan sangat indah dan menyenangkan hati.

Peralatan dalam ruangan itu tidak terlalu mewah, kecuali lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan yang memenuhi dinding, bagian lain hanya dilengkapi dengan tempat tidur dan tempat duduk saja.

Hwa Jie Swat mempersilahkan Hee Thian siang duduk, lalu memerintahkan pelayannya: "Kalian lekas pergi petik buah Tanliu yang sudah masak, kemudian seduhkan teh dengan ditambah buah bwee-swat yang sudah disimpan lama !"

Hee Thian siang sama sekali tidak memperhatikan pesan Hwa Jie Swat itu, oleh karena tidak tampak Tiong-sun Hui Kheng di situ, diam-diam hatinya merasa cemas. Hwa Jie swat setelah memerintahkan kepada pelayannya, lalu berpaling dan berkata kepada Hee Thian siang: "Hee laote, kali ini kau balik ke gunung Busan dan hendak menjumpai aku, entah ada keperluan apa ?"

Wajah Hee Thian siang menjadi merah, katanya dengan suara terputus putus : "Aku... aku... datang mencari Enci Tiong-san Hui Kheng !"

"Oo !" berkata Hwa Jie swat sambil tersenyum, "Tiong-sun Hui Kheng sumoay memang benar pernah berdiam di sini, sayang kedatanganmu agak terlambat. Tiga hari berselang ia sudah berlalu dengan membawa Siaopek dan Taywong !"

Hati Hee Thian siang gelisah, hingga lantas bangkit dari tempat duduknya dan bertanya dengan suara cemas: "Hwa Siancu..."

Hwa Jei Swat memandangnya sejenak, lalu berkata sambil menggoyang goyangkan tangannya: "Tiong-sun Hui Kheng adalah sumoayku, kalau kau panggil dia enci, mengapa tidak panggil aku enci juga ?"