Makam Bunga Mawar Jilid 12

 
Jilid 12

"Menurut apa yang kau katakan tadi, hal-hal yang sekarang ini perlu kau bereskan, agaknya hanya ada dua perkara. Ke satu, harus berusaha untuk memulihkan jalan darah Ngo-in- hiatmu yang tertotok dan memulihkan kepandaian ilmu silatmu. Kedua, kau harus pergi ke lembah Leng-cui-kok untuk mencari keterangan tentang kata-kata yang ditinggalkan supekmu, Kwan Sam Pek".

Su-to Wie menjura dalam-dalam kepada Hong Tim Ong- khek, katanya: "May tayhiap seorang bijaksana, jikalau bersedia memberi bantuan supaya aku dapat melanjutkan kedua keinginan itu maka seumur hidupku tak akan melupakan dirimu".

"Dalam hal ini adalah kerelaanku sendiri, maka kau juga tak perlu terlalu banyak adat, juga tak perlu merasa hutang budi kepadaku. Biar kusembuhkan dulu luka-luka mu, sampai dimana parahnya !" Berkata May ceng ong sambil menggoyang-goyangkan tangan.

Sehabis berkata demikian, ia lalu memeriksa urat nadi Su- to Wie, setelah itu ia bertanya: "Lukamu ini memang benar- benar sangat parah, sebetulnya agak sukar memulihkan kembali kekuatan dan kepandaianmu. Tetapi agaknya masih ada sedikit harapan bagimu, Apakah pada waktu belakangan ini kau pernah makan obat mustajab yang jarang ada ?" Su-to Wie lama berpikir, kemudian baru menjawab: "Aku ? Kecuali di tanah kuburan dibukit buleng san, makan sebutir obat pil warna merah yang diberikan oleh orang aneh yang tak mau unjukkan diri, belum pernah memakan obat lainnya !"

"Barangkali obat pil warna merah yang kau makan itu mempunyai khasiat besar, tetapi orang aneh yang kau temukan tetapi tak mau unjuk diri itu, siapakah orangnya ?" berkata May Ceng Ong sambil menganggukkan kepala.

Su-to Wie sendiri juga belum tahu siapa namanya dan bagaimana rupanya orang aneh yang pernah menolong dirinya secara menggelap itu, oleh karenanya, selama itu masih menjadi pikirannya. Tetapi dua orang itu berpikir lama sekali, masih belum dapat mengetahui siapakah orangnya itu

?

Akhirnya May Ceng ong berkata sambil menggelengkan kepala: "Siapa adanya orang itu, untuk sementara kita tidak perlu mencari tahu lagi, lebih dulu aku hendak membawamu ke lembah Leng cio kok dan aku akan berusaha menyembuhkan luka-lukamu !"

Sehabis berkata demikian, lalu ia mengajak Su-to Wie pergi menuju ke lembah tersebut, Su-to Wie dengan bantuan orang yang memiliki kepandaian luar biasa seperti May ceng ong, sudah tentu tak takut lagi segala rintangan alam pegunungan itu.

Tak lama kemudian tibalah mereka didalam satu lembah yang terkurung lebat oleh pohon-pohon cemara dan lain- lainnya yang sudah tua umurnya, juga keadaan itu dari luar tampaknya seperti sebuah rimba lebat.

Su-to Wie yang memperhatikan keadaan di sekeliling lembah itu, lalu berkata kepada May ceng ong: "May taihiap, inilah barangkali yang dinamakan lembah Leng cui kok." "Benar, di sini adalah tempat yang dinamakan lembah Leng cui kok itu, juga suatu tempat yang tadinya hendak kugunakan untuk menghabisi nyawaku sendiri dengan jalan menggantung diri." berkata May seng ong dengan suara sedih.

Buka kepalang terkejutnya Su-to Wie mendengar ucapan itu. Tanyanya: "May taihiap, untuk apa kau kandung maksud demikian?"

Wajah May ceng ong terlintas senyum, jawabnya: "Waktu aku datang kemari memang pernah ada pikiran demikian, tetapi sekarang aku tak ingin mati lagi !"

"Perubahan pikiran May Tayhiap ini apakah lantaran diriku?"

"Bukan lantaran kau, sebab sebelum aku ketemu denganmu, aku telah berhasil merebut sebuah barang!"

Suto Wie semakin heran, pikirnya; "Dengan kedudukan seperti May ceng ong, bagaimana merebut barang orang ?"

Pikiran itu masih belum terjawab, May ceng ong dari sakunya sudah mengeluarkan sebuah bunga aneh berwarna merah dan diberikan kepada Su to Wie seraya berkata: "Kenalkah kau, ini bunga apa?"

Su tu Wie mengamat amati bunga itu, hanya merupakan bunga berwarna merah yang bentuknya seperti bunga teratai, ketika diendus bau harum menusuk ke hidung dan saat itu pikirannya kembali jernih, maka buru buru dikembalikan kepada May ceng ong, katanya: "Bunga ini, apakah bukan bunga yang dinamakan bunga teratai merah swat lian yang menjadi impian setiap orang rimba persilatan?"

"Benar, bunga ini adalah bunga teratai swat lian berwarna merah, coba kau tebak lagi, dari tangan siapa aku dapat merebut bunga ini?" "Aku rasa pernah dengar, bahwa di kutub Hian peng gwan di gunung Tay swat san, pernah tumbuh kembang dewa seperti ini, apakah May tayhiap dapat merebut dari tangan orang golongan Swat san pay?"

"Jikalau dari tangan manusia, bagaimana aku ada muka untuk merebutnya ? Kalau ku katakan barangkali sulit dipercaya. Bunga berwarna merah ini, telah kerebut dari tangan seekor binatang aneh yang berbulu emas!"

Su-to Wie mendengar ucapan itu matanya terbuka lebar, itu sesungguhnya merupakan hal yang sangat janggal !

May ceng ong yang menyaksikan sikap tercengang Su-to Wie, bertanya pula: "Apakah kau sedang berpikir, apa sebab wangi bunga teratai ini bisa merubah pikiranku yang hendak menghabiskan jiwa sendiri ?"

Su-to Wie menganggukkan kepala. Dengan mata memandang bunga teratai di tangannya, May ceng ong bertanya pula sambil menghela napas: "Tahukan kau apa khasiatnya bunga ini ?"

Bagi orang rimba persilatan, khasiat bunga teratai merah ini dapat menyembuhkan luka-luka dan memunahkan racun, serta menambah kekuatan tenaga dalam!"

Apa yang kau ucapkan itu adalah merupakan kata-kata umum bagi orang-orang. Tetapi bunga teratai merah ada semacam khasiatnya yang istimewa"

"Su-to Wie seorang yang kurang pengetahuan, May Tayhiap suka memberi penjelasan?"

May ceng ong mendongakkan kepala mengawasi awan di langit, matanya kembali berkaca-kaca lalu diam sejenak, baru berkata lagi lambat-lambat: "Dengan menggunakan setengah tangkai bunga ini ditambah lagi dengan tiga tetes air dari batu hijau yang sudah ribuan tahun kalau diberikan kepada orang, bisa melenyapkan pikiran tidak baik bagi orang itu, sehingga berubah sifatnya!"

Mendengar keterangan itu Su-to Wie baru sadar katanya: "Orang yang terdekat dengan May Tayhiap itu apakah sudah terjerumus ke jalan yang salah? Sehingga perlu menggunakan obat luar biasa ini untuk merubah sifatnya ?"

"Aku sendiri yang berdosa, maka aku sendiri yang harus berusaha untuk melenyapkan kesalah itu, kau tak perlu menduga-duga lagi, mari makanlah dahulu setengah kuntum bunga merah ini!" Berkata May ceng ong sambil menghela napas panjang.

Meskipun Su-to Wie sudah dapat menduga sebagian penderitaan batin May ceng ong, tetapi masih banyak pertanyaan yang masih belum jelas, selagi hendak menanya lagi, siapakah orang yang mengakibatkan penderitaannya itu, tiba-tiba mendengar suara May ceng ong yang perintahkan ia lekas makan setengah kuntum bunga teratai merah, dalam keadaan terkejutnya ia buru-buru mengucapkan terima-kasih sambil menggoyang-goyangkan tangan.

"Bunga teratai ini adalah obat dewa yang jarang ditemukan didalam dunia..."

Tidak menantikan Su-to Wie melanjutkan ucapannya, May ceng ong sudah memotong: "Bunga ini meskipun merupakan obat dewa dalam dunia, tetapi tadi sudah kujelaskan, hanya setengahnya saja sudah cukup, yang lebihnya jika kau tidak makan, bagaimana aku dapat memulihkan kekuatan tenagamu?" sehabis berkata demikian ia lalu membagi setengah kuntum bunga itu kepada Su-to Wie.

Dalam keadaan demikian, Su-to Wie tak bisa menolak lagi, terpaksa menerimanya dengan perasaan bersyukur. Ketika bunga itu masuk ke dalam perutnya sudah berubah menjadi hawa hangat yang menyusuri sekujur tubuhnya, saat itu terdengar suara May ceng ong yang berkata padanya: "Su- to laote, lekas duduk sambil pejamkan matamu, semua penderitaan dalam hatimu jangan kau pikirkan lagi!"

Su-to Wie yang mendengar ucapan itu ia tahu bahwa May ceng ong sudah akan mulai menyembuhkan lukanya dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah sempurna. Maka ia buru-buru memejamkan mata dan menenangkan pikirannya, ia hanya merasakan sekujur dirinya dengan tiba-tiba tertiup oleh angin dingin yang menyerang seluruh jalan darahnya yang terpenting.

Tiap hembusan angin dingin yang mengenai tubuhnya, membuat Su-to Wie gemetaran dan menimbulkan rasa sakit yang tak tertahan. Tetapi Su-to wie tetap bertahan, semua penderitaan rasa sakit itu tidak dihiraukannya.

Setelah semua lobang jalan darah di sekujur tubuhnya sudah tersentuh oleh hembusan angin dingin itu, Su-to Wie kembali merasakan bahwa May ceng ong sudah mengulurkan tangan satunya, diletakkan kebagian belakang ulu hatinya, telapak tangan May ceng ong dirasakannya panas sekali, agaknya sedang menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya, karena hawa panas itu perlahan-lahan menyusup ke dalam tubuhnya. Su-to Wie juga mulai mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, kini ia telah mendapat kenyataan bahwa usahanya itu ternyata mulai berhasil, maka dalam hatinya merasa sangat girang, buru-buru ia memancing hawa panas yang masuk ke dalam ulu hatinya untuk disalurkan ke dalam sekujur tubuhnya, setelah melalui bagian bagiannya yang terpenting, ia barulah merasakan segar kembali !

May ceng ong menyaksikan demikian cepat Su-to Wie sudah pulih kekuatan tenaganya ia tahu bahwa sebagian lantaran khasiat bunga teratai merah tadi dan bantuan tenaga dalamnya sendiri, sedangkan sebagian lagi oleh karena Liong- hui kiam-khek sendiri sudah memiliki dasar yang cukup baik, maka diam-diam ia memberi pujian sambil menarik kembali tangannya dan berkata di telinga Su-to Wie dengan suara perlahan: "Su-to laote, sekarang kau baru sembuh dari lukamu yang parah, tenaga barumu masih merupakan babak permulaan, maka duduklah dengan tenang, untuk sementara May ceng ong hendak pergi dulu, ku hendak pergi kesalah satu tempat di lembah leng cui kok ini untuk mengenangkan impianku yang gila dimasa yang lampau!"

Sehabis berkata demikian, badannya bergerak menghilang kebagian dalam lembah Leng cui kok.

Berulang ulang Su-to Wie mencoba melakukan gerakan untuk melatih kekuatan tenaga dalamnya sampai tiga kali, benar-benar merasakan sekujur tubuhnya sudah segar, semangatnya bertambah, maka ia membuka matanya, saat ini barulah tampak segar pemandangan d ihadapan matanya.

Sang waktu perlahan-lahan mulai gelap. ketika malam larut, May ceng ong sudah tak kelihatan jejaknya, entah pergi kemana.

Su-to Wie semula karena mengingat baru pertama kali itu datang ke lembah tersebut, masih agak asing terhadap keadaan dalam lembah itu, maka tak berani bergerak kemana- mana. Ia sebentar ingin menunggu di tempatnya semula, tetapi kemudian berpikir dan tiba-tiba teringat pada May Ceng ong, entah lantaran apa, yang membuat dirinya menderita demikian hebat, sehingga maksud hendak menghabiskan jiwanya di tempat itu. Sewaktu hendak pergi, ia juga perlu memberitahukan kepadanya, hendak mencari ke tempat itu untuk mengenangkan kembali impian gila yang telah lampau, maka dikhawatirkan pendekar luar biasa itu nanti setelah teringat kembali kepada masa-masa lalu yang menyedihkan bisa timbul pula perasaan dan pikirannya yang hendak meninggalkan dunia yang fana ini! Berpikir bolak-balik ia merasa bahwa pikiran itu kemungkinan ada, maka ia lalu bangkit dan berjalan lambat- lambat menuju ke dalam lembah untuk mencari Hong tim ong khek yang telah menanam budi begitu besar terhadap dirinya. Didalam lembah yang lebat itu setelah melalui jalanan dengan tiga kali, di depan matanya terbentang taman segar yang cukup luas, terutama di bawah sinar bintang diwaktu malam, pohon-pohon itu menunjukkan keadaannya yang aneh dan lain daripada yang lain.

Menurut bunyi surat yang ditinggalkan oleh orang aneh yang pernah menolong dirinya di Bu leng san, bahwa lembah Leng cui kok di ko le kong san ada bunga pohon cemara penunjuk jalan, ucapan terakhir sebelum susioknya Kwan Sam Pek dipotong lidahnya oleh Thiat Kwan totiang, juga pernah menyebut demikian, semua ini rasanya bukan suatu hal yang kebetulan saja, tentunya ada mengandung maksud sangat dalam.

Tetapi sekarang dirinya sendiri yang berada didalam lembah Leng cui kok lagi pula menghadapi pohon cemara demikian banyak dan terang bulan di atas langit, bagaimanapun ia masih belum dapat memecahkan kata-kata yang mengandung rahasia itu.

Pada waktu itu Su-to Wie berdiri di bawah sebuah pohon cemara yang tinggi dan besar menghadap ke rimba pohon yang lebat, kepalanya mendongak memandang rembulan di atas langit sembari memikirkan ucapan yang mengandung maksud sangat penting itu pasti dipikirkan sangat hati-hati, tetapi oleh karena pikirannya masih teringat kepada keselamatan diri May ceng ong, maka ia hanya berpikir sejenak, tidak bisa berpikir tenang. Ia melanjutkan langkah kakinya berjalan masuk ke dalam rimba pohon cemara.

Didalam dunia ini kadang-kadang ada hal-hal yang terjadi secara kebetulan, Su-to Wie baru saja tiba di tepi rimba, di belakangnya terdengar suara burung yang sangat aneh, sehingga menarik perhatiannya dan dengan sendirinya lantas berpaling untuk mengawasinya! Dari atas pohon cemara tua yang tadi ia berdiri di bawahnya, tampak terbang seekor burung raksasa yang bentuknya lebih besar daripada burung garuda, burung itu bulunya berwarna sangat indah dan saat itu sedang terbang tinggi ke angkasa.

Su-to Wie terkejut, tetapi rasa terkejutnya bukanlah karena burung aneh yang terbang tinggi itu, melainkan bentuk pohon kuno yang sangat aneh keadaannya.

Tadi ketika ia berada di bawah pohon itu, sedikitpun tidak merasa ada apa-apanya yang aneh. tapi sekarang setelah terpisah kira-kira empat atau lima belas tombak dari pohon itu dan ketika berpaling mengawasinya, barulah dapat kenyataannya kalau dipandang itu mirip dengan setangkai bunga teratai yang berdiri di depan tebing tinggi.

Terbukalah pikiran Su-to Wie, dalam hatinya ada teringat kepada kata-kata rahasia yang mengatakan tentang bunga pohon siong petunjuk jalan, apakah yang dimaksudkan dalam kata-kata itu ialah pohon cemara yang bentuknya bagaikan tiga bunga teratai ini?

Akan tetapi andai kata benar apa yang dikatakan adalah pohon cemara ini, namun manakah agaknya jalan yang ditunjuk?

Su-to Wie mulai perhatikan keadaan sekitarnya ia telah dapat kenyataan bahwa pohon dan ranting-ranting cemara itu, tidak mendoyong kesalah satu arah, melainkan tumbuh lurus menjulang tinggi ke langit, dengan mendadak hatinya tergerak pula, ia pikir, apakah yang dimaksudkan dengan jalan itu adalah diatasnya pohon ini? Dan rahasia besar yang ada hubungannya dengan diri sendiri tentunya disembunyikan di suatu tempat diatasnya pohon yang sangat tinggi ini. Penemuan yang tidak terduga-duga itu, dengan sendirinya telah membawa ia kembali kepohon tua itu, dengan mengikuti lurusnya pohon, ia merambat naik ke atas tebing dekat pohon itu. Lamping tebing itu ternyata penuh dengan lumut, sehingga licin sekali, kalau tidak lantaran ia sudah makan bunga teratai warna merah dan mendapat bantuan tenaga dalam May ceng ong yang menyembuhkan luka dalam tubuhnya, sudah pasti tidak akan dapat memanjat tempat yang setinggi itu. Tetapi setelah memanjat setinggi sepuluh tombak, ia mulai merasa goyah terhadap pikirannya sendiri tadi, sebab tempat sekitar tiga empat puluh tombak di tebing itu, kecuali tetumbuhan lumut yang licin, tak terdapat tumbuhan lain, juga tidak terdapat batu-batu untuk menyimpan rahasia besar.

Ketika Su-to Wie arahkan pandangan matanya ke sekitarnya, ia sudah mulai merasa kecewa, tetapi ia masih belum putus asa. Dengan mengerahkan ilmunya "cecak merambat" ia melanjutkan usahanya untuk merambat ke atas.

Pada saat itu, bulan purnama sedang berada ditengah langit memancarkan sinarnya yang terang-benderang.

Su-to Wie merasa hampir kehabisan tenaga, maka ia lantas cari tempat yang agak menonjol dipakai untuk tempat mengaso. Meskipun sedang beristirahat, namun matanya terus ditujukan kepada tempat-tempat yang dianggap agak aneh keadaannya. Tak disangka-sangka bahwa usahanya itu ternyata merupakan kenyataan, suatu tempat ajaib yang tak diduga-duganya, segera muncul di hadapan matanya. Ketika ia merambat lagi sampai tujuh delapan kaki jauhnya, dengan tiba-tiba ia mendapat kenyataan bahwa warna dari tumbuhan lumut itu agak aneh. Ditempat itu tampak sebuah bayangan bundar yang garis tengahnya kira-kira dua kaki. Dalam keadaan girang Su-to Wie segera menginjakkan kakinya menuju ke tempat yang terdapat bayangan bundar tadi. Tetapi ketika ia geser kakinya sampai delapan kaki jauhnya, bayangan bundar tadi mendadak hilang lagi. Dengan mengerahkan pandangan matanya, ia mencari-cari tempat di sekitarnya, namun tidak tampak apa-apa yang mencurigakan. Maka ia kembali ke tempat semula dengan pikiran bingung Setelah tiba ditempat semula, ia berpaling lagi, kini ia mulai timbul perasaan heran dan curiganya, bayangan bundar itu kembali tertampak nyata.

Su-to Wie yang memang sangat cerdik, keadaan aneh yang hampir tak dapat dipecahkannya dipelajarinya dengan seksama dan benar saja ia telah berhasil dengan usahanya itu. Ia anggap bahwa bayangan bundar itu semata-mata karena pancaran sinar rembulan dan malam itu sinar rembulan justru sedang terangnya, sedangkan ia sendiri naik ke atas mengikuti tingginya pohon cemara itu, maka barulah menemukan penemuan ganjil itu, apabila malam itu bukanlah malam terang bulan, bayangan bundar itu pasti tidak akan tertampak.

Setelah ia mendapatkan pikirannya demikian ia lalu ingat betul letak bayangan tadi dan kembali ia gerakkan badannya sambil maju ia pasang mata ke arah bundaran itu dan benar saja ketika ia baru menggeser ke kiri tiga kaki, bayangan bundar itu kembali telah menghilang.

Kali ini karena ia sudah ingat betul letak bayangan bundar tadi, maka terhadap menghilangnya bayangan itu ia sedikitpun tidak menghiraukan, ia hanya menunggu setelah tiba di tempatnya lantas mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya mencoba mendorong tebing batu itu.

Pertama kali ia tak berhasil menggoyangkan batu besar itu, tetapi kedua kalinya ketika ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, batu yang didorong itu dirasakannya telah kosong dan ia sendiri berada didalam sebuah goa yang sangat gelap.

Didalam sakunya ia membawa alat untuk membuat api, setelah diperiksanya sebentar, ia mengetahui bahwa goa itu sangat dalam, bahkan jalannya sangat banyak liku-likunya. Tetapi keadaannya bersih dan kering.

Urusan itu telah berkembang demikian jauhnya, tempat dimana ia sedang berada itu semuanya sudah tepat dengan apa yang dikatakan di pesan rahasia oleh Kwan Sam Pok, maka ia segera mengetahui bahwa didalam goa itu pasti tidak ada bahaya, dengan perasaan gembira ia maju ke dalam goa.

Setelah melalui beberapa tikungan, dengan tiba-tiba di hadapan matanya tampak sinar lampu, keadaan itu telah mengejutkan dirinya. Ia buru-buru padamkan api di tangannya dan ia maju dengan langkah yang hati-hati sekali.

Ketika berjalan semakin dekat, baru diketahui bahwa sinar lampu itu memancar keluar dari sebuah kamar batu, tirai di depan pintu tampak diturunkan, di atas pintu itu diukir dengan huruf besar Bo CIU yang berarti JANGAN KESAL!

Su-to Wie tiba-tiba teringat sajak yang dinyanyikan oleh May ceng ong yang membuatnya bersedih hati, dalam bait pertama pernah ditulis dengan "Bo Ciu Tang" artinya Kamar Jangan Kesal. Hingga ia tahu bahwa ia sendiri baru saja memecahkan rahasia yang disimpan dalam kata-kata Kwan susioknya, sehingga ditemukan tempat yang dimaksudkan, bahkan mungkin hong tim Hong khek May ceng ong sedang berada didalam kamar BO CIU. Sambil berpikir, ia membuka tirai pintu dengan pelahan sekali, kamar batu itu bukan saja sangat indah, sedangkan May ceng ong pada saat itu benar saja sedang tengkurap ditempat tidur batu, dengan airmata yang bercucuran.

May ceng ong sudah tahu bahwa Su-to Wie dapat mencari tempat itu, maka ketika singkap tirai dan masuk ke dalam kamar, sedikitpun tidak merasa heran, ia lalu bangun duduk, dengan lengan bajunya mengeringkan air mata yang mengalir turun, katanya dengan suara sedih: "Oleh karena aku membantu laote membukakan seluruh jalan darahmu, sehingga banyak mengeluarkan tenaga dalam, maka aku pikir hendak beristirahat ditempat kediamanku dulu seperti pada dua puluh tahun berselang. Ditempat ini pula aku akan mengenangkan dan menyatakan penyesalan atas perbuatanku dahulu. Tetapi aku setelah tiba di sini barulah tahu bahwa didalam dunia ada banyak kebetulan. Susiokmu Kwan San pek juga pernah didalam kamar ini tinggal beberapa waktu lamanya!"

"Bagaimana May Tayhiap tahu Kwan susiok pernah berdiam di sini? Apakah susiok ada meninggalkan barang apa?" bertanya Su-to Wie heran.

Dari atas pembaringan itu May ceng ong mengambil sebilah pedang pusaka dan sejilid kitab kecil, diberikan kepada Su-to Wie seraya berkata: "Kwan susiokmu memang benar meninggalkan pedang pek liong kiam dan sejilid kitab pelajaran ilmu pedang pek liong kiam po ditempat ini!"

Su-to Wie yang menampak benda itu lalu teringat kepada orangnya, pedang dan kitab itu diletakkan di atas meja batu, ia lalu berlutut dan berkata dengan suara sedih: "semoga arwah susiok membantu Su-to Wie membersihkan partai Tiam cong pay dari kawanan penjahat dengan pedang pek liong kiam dan ilmu pedang pek liong po ini, ini juga berarti menuntut balas dendam untuk susiok!"

May ceng ong yang mendengarkan itu lalu berkata sambil menghela napas: "Orang-orang rimba persilatan barangkali akan menghadapi bencana besar, jika tidak, dengan cara bagaimana masih ada manusia-manusia jahat dan kejam yang sedikitpun tak mempunyai perikemanusiaan!"

Berkata sampai di situ ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula, sambil menatap wajah Su-to Wie: "Akan tetapi tiam cong dan Kie lian sudah berserikat hendak merebut kekuasaan rimba persilatan, di belakang mereka ada orang kuat yang ilmunya aneh luar biasa menunjang. Kau dengan mengandalkan pedang ini barangkali tidak cukup untuk melaksanakan cita-citamu yang hendak membersihkan golongan Tiam cong dan hendak menuntut balas dendam bagi Kwan susiokmu!"

Su-to Wie yang berotak cerdas, ia mendengarkan ucapan May ceng ong itu ada mengandung maksud, maka ia buru- buru menanya dengan suara seperti orang memohon sesuatu: "Kalau May Tayhiap mengatakan demikian, apakah kiranya masih ada ilmu yang lebih tinggi hendak diturunkan kepada Su-to wie?"

May ceng ong tertawa terbahak-bahak kemudian berkata: "Kepandaian dan kekuatan tenaga dalammu, sudah tidak lemah lagi pula kau sudah makan setengah kuntum teratai Swat lian, kalau kau berdiam dan beristirahat didalam kamar ini, nanti akan mendapat banyak kemajuan! Ilmu Hian kang yang kupelajari, oleh karena tidak sesuai dengan pelajaran yang kau anut, hingga tak dapat kuturunkan kepadamu, aku hanya ingin belajar sama-sama beberapa jurus ilmu pedang!"

Mendengar ucapan itu, bukan kepalang girangnya Su-to Wie, maka buru-buru minta diajarinya dengan sikap sangat menghormat.

May ceng ong berkata pula sambil tertawa: "Sudah lama aku tidak menggunakan senjata, tetapi karena dahulu aku pernah mempelajari ilmu pedang dan tadi aku juga memeriksa kitab peninggalan Kwan susiok mu, ditambah lagi dengan pendapatan yang baru kutemukan ternyata sudah berhasil menciptakan dua jurus ilmu pedang yang aneh yang agaknya sangat hebat sekali pengaruhnya!"

Berkata sampai di situ ia diam sejenak, lalu mengambil pedang Pek liong kiam dari atas meja ketika pedang itu terhunus keluar dari sarungnya tampak suaranya yang mengaung dan sinarnya yang berkilauan. Lama May ceng ong memandang pedang itu, dari mulutnya mengeluarkan kata-kata pujian: "Benar-benar suatu barang pusaka yang jarang ada didalam dunia, pantas kwan susiokmu dahulu dengan menggunakan pedang ini beruntun terus-menerus bertanding dengan ketua Siao lim, Lo hu dan Kie lian tidak sampai terkalahkan!"

Su-to Wie yang menyaksikan pedang itu, lalu teringat pula kawan susioknya yang dianiaya oleh ciangbun suhengnya Thiat kwan Totiang. Maka air matanya lalu mengucur keluar.

May ceng ong yang menyaksikan keadaan demikian, diam- diam menganggukkan kepala, kemudian dengan tangan menggenggam pedang pek liok kiam dan memainkan dua jurus ilmu pedangnya yang baru saja diciptakan.

Ilmu pedang golongan Tiam cong yang dinamakan Hui- hong-u-liu-kiam-hoat yang terdiri dari tujuh puluh dua gerakan dan ilmu pedang golongan Bu tong, Ngo bie, dalam rimba persilatan dipandang sebagai tiga ilmu pedang yang terampuh. Su-to Wie yang memiliki nama julukan Ling hui kiam khek sudah tentu merupakan seorang ahli yang kenamaan, maka begitu menyaksikan permainan pedang May ceng ong tadi, diam-diam mengenang kebesaran jago rimba persilatan yang namanya pernah menggemparkan rimba persilatan itu.

Dua jurus ilmu pedang yang dimainkan tadi baik dalam perubahan-perubahannya maupun dalam hebatnya serangan, merupakan suatu ilmu pedang yang jarang dilihat selama hidupnya, bahkan tampaknya jauh lebih hebat dari pada ilmu pedangnya sendiri yang dipandang sebagai ilmu pedang terampuh dalam dunia persilatan.

Setelah menyaksikan dengan seksama, buru-buru dipelajarinya dengan tekun, tetapi oleh karena dua jurus ilmu pedang itu yang satu adalah ilmu pedang yang dimainkan ditempat datar dua yang lainnya digunakan ditengah udara, maka gerak dua jurus itu digabung menjadi satu mengandung pertahanan yang sangat rinci, maka ia harus melatihnya sampai sepuluh kali lebih baru bisa mengingat betul.

Su-to Wie yang sudah ingat baik-baik serangan mematikan dari ilmu pedang itu lalu menyimpan pedangnya kembali dan mengucapkan terima kasih kepada May ceng ong. katanya sambil tersenyum: "Ilmu pedang yang sangat hebat ini, seharusnya diberi nama yang sesuai dengan geraknya, harap May Tayhiap berikan lagi nama ilmu pedang ini... "

"Ilmu pedang itu meskipun baru saja kuciptakan, tetapi nama gerak tipunya sudah ada, Laote seorang yang sangat cerdas, kiranya boleh coba pikir-pikir sendiri!" Berkata May ceng ong sambil tertawa.

Su-to Wie setelah berpikir sejenak, lalu berkata: "Ilmu pedang yang harus digunakan di tanah datar, baik kita namakan saja Siong hwa ce lo (bunga pohon siong menunjuk jalan) dan serangan yang harus digunakan di tengah udara, namakan saja "Bulan purnama di atas kepala !"

"Memang bagus sekali nama itu, tetapi diharap saja gerak tipu "Bunga siong menunjuk jalan" itu benar-benar dapat menikam hancur hati kawanan penjahat dan "Bulan purnama di atas kepala" benar-benar dapat menyinari perasaan kawanan durhaka itu, Su-to Wie laote sebaiknya melatih baik- baik dan beristirahat dahulu didalam kamar ini, supaya kau nanti dapat gunakan ilmu pedangmu ini untuk membersihkan golongan Tiam cong dan menuntut balas bagi susiokmu, agar Thiat kwan totiang yang sudah tidak waras pikirannya itu, serta saudaramu sendiri Su to keng yang sudah kehilangan akal budi dapat pembalasan yang setimpal!"

Sehabis berkata demikian, ia lalu bangkit dan hendak berjalan keluar. Su-to Wie buru-buru bertanya kepadanya: "May tayhiap hendak kemana ?" May ceng ong wajahnya kembali kelihatan murung, katanya dengan suaranya yang sedih: "Aku tadi setelah mengenangkan dan menyatakan kekesalanku atas segala perbuatanku yang dulu didalam kamar ini, aku semakin merasa bahwa secepatnya aku harus menyelesaikan hutang dosaku!"

"May tayhiao sebetulnya mempunyai hutang dosa apa?" bertanya Su to wie heran.

"Hutang dosa yang ku pikul untuk sementara aku belum bisa menjelaskan, tetapi apa yang dapat kuberitahukan kepadamu, May ceng ong selama hidupnya terhadap hutang dosa ini selalu mengambil cara menyingkir saja dan sekarang setelah kupikir baik-baik, aku sudah mengambil sikap tidak akan menyingkir lagi, bahkan aku akan mengambil sikap tegas dan berusaha untuk membereskannya"

Berkata sampai di situ, ia menghela napas panjang, kemudian berkata lagi sambil menggelengkan kepala dan tertawa dingin: "Hutang dosaku ini, ada hubungan besar sekali dengan utuh atau hancurnya rimba persilatan, barangkali dari diriku ini akan timbul suatu bencana hebat yang susah diselesaikan!"

Sementara mulutnya masih bicara, badannya telah bergerak dan sebentar lagi sudah keluar dari kamar itu.

Su-to Wie tahu benar bahwa orang-orang yang sifatnya aneh seperti May ceng ong itu tindak-tanduknya juga seperti naga sakti yang tak mudah untuk didekati, orang itu kalau sudah timbul niat hendak pergi, bagaimanapun juga susah akan ditahannya, maka dengan seorang diri lalu ia berdiam didalam kamar batu itu dengan tekun mempelajari kitab ilmu pedang yang ditinggalkan oleh Kwan Sam Pek, disamping itu ia juga dengan tekun mempelajari dua jurus ilmu pedang yang diwariskan oleh May Ceng Ong. Untung kamar dalam goa itu, dahulu pernah dirawat baik- baik oleh May Ceng Ong, di beberapa bagian dibuatkan lubang angin, sehingga hawa bisa masuk ke dalam. Dan kemudian Kwan Swan Pek selama berdiam di situ juga menyimpan barang hidangan kering banyak sekali dan waktu itu sebagian besar masih belum rusak. Untuk keperluan makannya sehari-hari, Su-to Wie sudah tidak usah khawatirkan lagi. Maka selama berdiam didalam goa itu ia boleh bertekun mempelajari ilmu silat dan ilmu pedangnya. Dengan demikian ia telah mendapatkan kemajuan yang sangat pesat sekali.

Pada suatu hari, seperti biasa, selagi ia melatih ilmu pedangnya yang dapat dipelajarinya dari May Ceng Ong dan selagi memikirkan apakah perlu meninggalkan tempat itu untuk kembali ke gunung Tiam-cong, supaya membuat perhitungan dengan Ciangbun suhengnya dan saudaranya sendiri dengan tiba-tiba dari dalam lembah ada orang dengan menggunakan ilmu "menyampaikan suara ke dalam telinga" memanggil padanya: "Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie..., Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie..."

Suara panggilan itu meskipun disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga tetapi dengan melalui dinding batu-batu kamar, masuk ke telinga Su-to Wie kedengarannya halus sehingga hampir tak dapat ia dengar dengan biasa.

Ia heran dan terkejut mendengar suara panggilan itu, sebab kecuali May Ceng Ong siapa lagi yang mengetahui kalau ia berdiam di lembah gunung Ko-le-kong-san itu.

Ia berjalan ke mulut goa sambil berpikir dan panggilan itu kini juga terdengar lagi dengan tak disangka-sangkanya dengan tiba-tiba tubuh Su-to Wie gemetaran, secepat kilat ia sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuh lari keluar goa! Kiranya setelah berada di luar, karena jarak yang dekat, suara itu terdengarnya juga semakin nyata, kini Su-to Wie dapat mengenali suara itu ternyata adalah suara Ca Bu kao sendiri yang setiap hari dan malam dipikirkannya.

Jika ia berada di luar goa, matanya jeli dan mencari-cari ke tempat di sekitarnya, benar juga ia menampak kekasihnya yang selalu dipikirkannya, berdiri didekat sebuah pohon besar yang tampaknya seperti bunga teratai itu.

Su-to Wie yang sudah mengalami berbagai penderitaan dan hampir saja mengorbankan jiwa, setelah tampak kekasihnya yang telah lama ditinggalkan, hatinya merasa pilu sehingga air matanya membasahi sepasang matanya, ia juga memanggilnya" "Jimoay, Jimoay, aku ada di sini"

Sambil memanggil, ia melayang turun dari tebing, dengan kedua tangan terbentang, menyerbu kepada Ca Bu Kao supaya dapat menuangkan isi hatinya yang selama itu terpendam dalam lubuk hatinya sendiri!

Ca Bu Kao yang sebetulnya sedang tujukan pandangannya ke arah jauh dan memanggilnya semakin lama, dengan tiba- tiba tampak Su-to Wie melayang turun di atas kepalanya menyerbu dirinya, sehingga wajahnya menjadi merah dan melompat minggir beberapa kali.

Dengan demikian, maka serbuan Su-to Wie tadi mengenakan tempat kosong ia merasa kecewa, pikirnya: Ca Bu Kao dahulu demikian mesra terhadap dirinya, bagaimana setelah ditinggalkan sekian lama mendadak menjadi berubah seperti orang asing?

Ca Bu Kao yang menyaksikan sikap Su-to Wie yang merasa kecewa, lantas tersenyum, sambil menunjuk ke sampingnya ia berkata: "Sieko, kau kuperkenalkan dulu dengan Say Han Kong tayhiap, tabib sakti kenamaan dalam rimba persilatan pada dewasa ini!" Su-to Wie karena dalam barisan tokoh-tokoh Tiam-cong- pay termasuk nomor empat, maka Ca Bu Kao memanggil padanya Sieko yang berarti "ke empat" ; semula tidak diketahui oleh Su-to Wie karena perhatiannya hanya ditujukan kepada sang kekasih saja. Kini setelah ditunjuk oleh Ca Bu kao baru tahu, bahwa kedatangan Ca Bu kao itu bersama Say Han Kong. Ia lalu mengikuti ke tempat yang ditunjuk oleh Ca Bu Kao, benar saja di belakang pohon besar itu tampak seorang tua yang memakai pakaian kasar.

Su-to Wie setelah melihat dari Say Han Kong baru tahu bahwa Ca Bu Kao menyingkiri dirinya dan tidak membiarkan dirinya dipeluk olehnya karena disitu masih ada orang lain sehingga ia merasa risi dan malu, kemudian ia berkata sambil memberi hormat: "Say tayhiap dengan kepandaianmu dalam ilmu obat-obatan, telah banyak sekali menolong orang-orang rimba persilatan. Dalam hal ini Su-to Wie sudah lama mengagumimu!"

Say Han Kong memberi hormat dan berkata sambil tersenyum: Saudara Su-to seorang gagah perkasa yang budiman, dengan jiwamu yang besar dan keberanianmu yang tiada taranya dengan seorang diri melawan kawanan iblis dan akhirnya meskipun mengalami banyak penderitaan toh dapat saudara lewatkan! Mungkin dalam goa rahasia di gunung ini saudara sudah menemukan penemuan-penemuan ajaib"

Mendengar perkataan itu, Su-to Wie lalu berkata kepada Ca Bu Kao: Jimoay, apakah tadi kau dengan Say tayhiap pernah jumpa dengan May Ceng Ong?"

Ca Bu Kao melihat kekasihnya dalam keadaan selamat, bukan saja keadaannya masih seperti dulu yang gagah dan tampan, bahkan dari air mata dan semangatnya terlihat lebih sempurna, hingga tahu, bahwa dalam penderitaannya itu sudah menemukan pengalaman gaib, maka hatinya merasa sangat girang. Dengan wajah berseri-seri ia balas menanya kepadanya: Mengapa Sieko mengajukan pertanyaan demikian? aku dengan Say tayhiap belum pernah bertemu muka dengan Bong Tim Ong-kek."

Mendengar keterangan bahwa Ca Bu Kao dan Say Han Kong tidak berjumpa dengan May Ceng, Ong Su-to Wie semakin heran, tanyanya: "Jimoay dan Say tayhiap kalau benar tak berjumpa dengan May Ceng Ong, dengan cara bagaimana bisa mengetahui bahwa aku berada didalam Leng- cui-kok di gunung Ko-la-san ini?"

Ca Bu Kao berkata sambil mengawasi Say Han Kong: "Say tayhiap, kalau kita tidak menjelaskan apa yang kita alami dan kita jumpai, barangkali tidak mudah dimengerti oleh Su-to sieko!"

Say Han Kong menganggukkan kepala dan berkata kepada Su-to Wie"

"Saudara Su-to, harap kau beritahukan dulu kepada kita, semua pengalamanmu setelah kau ditotok jalan darahmu didalam kuil Pho-hio-to-kwan."

Su-to Wie lalu menceritakan semua pengalamannya dan penderitaannya sehingga Ca Bu Kao yang mendengarkan itu merasa gemas!

Say Han Kong setelah mendengarkan keterangan Su-to Wie lalu berkata kepada Ca Bu Kao sambil tertawa: "Kalau begitu bunga teratai swat-lian ternyata adalah may Ceng Ong yang merampasnya, bahkan dengan bunga itu ia memberikan pertolongan banyak bagi saudara Su-to, kalau demikian halnya, perjalanan nona Tiong-sun Hui Keng ternyata tidak percuma!"

"O! Jadi bunga teratai swat-lian merah itu milik kalian!" Bertanya Su-to Wie kaget. Ca Bu Kao lalu menceritakan apa yang terjadi didalam pertemuan di atas puncak gunung Thian-tu-hong digunung Oey-san.

Su-to Wie setelah mendengar keterangan itu baru mengetahui keadaan rimba persilatan pada masa ini, tetapi diam-diam ia berpikir lagi dan menanya kepada Ca Bu Kao: "Jimoay, kau sudah bicara cukup banyak, tapi kau belum menceritakan, dengan cara bagaimana kau tahu bahwa aku berada didalam lembah Leng-cui-kok ini?"

"Ketika aku dengan Say tayhiap sedang melakukan perjalanan ke gunung Ngo-bie-san dan hendak berkumpul di sana bersama Oe-tie Khao dan Hee Thian Siang, dengan tiba- tiba aku menemukan sebuah surat!"

"Apakah dalam surat itu dijelaskan bahwa aku berada di lembah ini?"

Ca Bu Kao menganggukkan kepala dan tersenyum, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sepucuk surat dan diberikan kepada Su-to Wie.

Su-to Wie yang melihat sampul surat itu belum terbuka, tetapi di atas sampulnya tertulis empat baris syair yang berbunyi: "Tahukah dimana adanya Liong-hui Kiam-khek. Habis penderitaan, mendapatkan penemuan ajaib! Dalam lembah Leng-cui-kong di gunung Ko-lo-kong-san, membuktikan teka-teki dari pohon siong dan bulan purnama!"

Habis membaca itu Su-to Wie berkata: "Sampul surat ini pasti ditulis oleh may Ceng ong, kecuali dia tiada orang lain yang tahu dimana aku berada ditempat ini mendapatkan pedang Pek-liong-sin-kiam dan kitab ilmu pedang Pek-liong- kiam-pho peninggalan Kwan susiok!"

"Aku dengan Ca lihiap setelah mendapatkan sampul surat ini, dengan menunjuk kata-kata dalam syair ini, segera menuju kemari, karena ingin lekas-lekas menemukan saudara, maka sampul ini belum sempat dibukanya.

Sekarang coba saudara buka, betul atau tidak kalau itu ditulis oleh May Ceng Ong."

Dalam hati Su-to Wie sudah menganggap pasti bahwa urusan ini kecuali May Ceng Ong tiada seorangpun yang mengetahui. Tetapi setelah ia membuka suratnya, barulah terheran-heran dan tidak bisa berkata apa-apa lagi! Sebab, didalam sampul surat itu hanya terdapat empat huruf besar: "SEMOGA MENDAPAT RESTU MAKAM BUNGA MAWAR!"

Say Han Kong yang menyaksikan sikap Su-to Wie demikian rupa, juga merasa heran, ketika tampak empat huruf besar itu, lantas berkata sambil menghela nafas: "Kalau begitu, kini telah ternyata benar bahwa orang yang menolong saudara Su-to secara menggelap dan kemudian menulis surat ini adalah Duta bunga mawar yang beritikad baik dan mengharap supaya semua orang hidup berbahagia!"

Wajah Ca Bu Kao menjadi kemerah-merahan, perasaan girang dan terkejut serta kagumnya tidak dapat kita dilukiskan. Katanya sambil menghela nafas: "Duta bunga mawar ini sesungguhnya juga boleh disebut sebagai seorang luar biasa aneh di sepanjang masa, dengan bantuannya, hingga makam bunga mawar itu benar-benar menunjukkan kemanjurannya! Su-to sieko, tahukah kau bahwa lantaran kemarahanku aku pernah menganggap bahwa makam bunga mawar itu tidak manjur lagi dan aku pernah pergi ke lembah Kim-giok-kok di gunung Bin-san dan siap untuk menggunakan kekuatan tenagaku Pan-sian-ciang guna menghancurkan makam bunga mawar itu!"

Su-to Wie mengerti bagaimana besar cinta kasih Ca Bu Kao terhadap dirinya. Maka ia menyimpan baik-baik sampul surat pemberian Duta Bunga Mawar itu, dan berkata sambil menghela nafas: "Jimoay, tunggu aku sehabis membersihkan partai Tiam-cong dari kawanan penjahat serta menghukum ciangbun suheng dan engko-ku sendiri, supaya dapat menuntut balas dendam sakit hati Kwan susiok, kita agaknya merasa perlu untuk pergi lagi ke gunung Bin-san dengan bergandengan tangan di hadapan makam bunga mawar, kita harus menyatakan terima-kasih kepada Duta Bunga mawar!"

"Su-to sieko, sekarang kau sudah mendapatkan pedang Pek-liong-sin-kiam sudah mempelajari ilmu pedangnya dari kitab Pek-liong-kiam-pho, disamping itu kau juga sudah mendapat pelajaran ilmu pedang "bunga siong menunjuk jalan" serta "Bulan purnama di atas kepala", seharusnya kau dapat menimbang-nimbang sendiri, apakah engkau dapat melawan ciangbunmu sendiri Thiat Kwan totiang?" Bertanya Ca Bu Kao sambil tersenyum.

Su-to Wie berpikir sejenak, lalu menjawab dengan alis berdiri: "Dengan seorang diri aku berdiam didalam makam, sedikitpun tidak memikirkan gangguan dari luar, selama beberapa bulan aku mempelajari ilmu pedang, aku sudah berhasil menggabungkan ilmu pedang dari kitab Pek-liong- kiam-pho dengan intisari ilmu pedang Hui-hong-u-liu-kiam- hoat golonganku sendiri, maka ilmu pedang itu tambah hebat sekali pengaruhnya, ditambah lagi dengan pedang pusaka Pek-liong-sin-kiam dan ilmu pedang "bunga siong menunjuk jalan", serta "bulan purnama di atas kepala", seharusnya sudah cukup untuk melawan ciangbun suheng dan saudaraku sendiri yang sudah seprti orang lain itu?"

"Aku juga sudah memperhitungkan bahwa kepandaianmu sekarang ini, sudah cukup untuk melawan Thiat-kwan Totiang dan Siu Hwa atau Su-to keng, tetapi kau masih perlu bersabar untuk sementara waktu, tidak perlu tergesa-gesa ke Pho-hio- to-kwan dan masuk ke sarang harimau sendiri, baiknya tunggu saja sampai pada nanti tanggal enam belas bulan dua belas tahun ini, didalam perjamuan besar orang-orang rimba persilatan di atas gunung Thian-tu-hong, di hadapan para tokoh rimba persilatan kau boleh membeberkan semua dosa yang diperbuat oleh ciangbun suhengmu, dan sekalian kau mengadakan pembersihan terhadap partai Tiam-cong!" Berkata Ca Bu Kao sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Su-to Wie setelah mengalami penderitaan hebat dalam hidupnya kali ini, pikirannya sudah banyak berubah, begitupun kesabarannya. Dalam segala urusan ia dapat mempertimbangkan dahulu masak-masak, tidak seperti dimasa yang lalu, suka menuruti hawa napsu sendiri. Maka ketika mendengar ucapan kekasihnya tadi, ia sedikitpun tidak menolak, katanya sambil menganggukkan kepala: "Ucapan jimoay memang benar, tetapi dari sekarang hingga tanggal enam belas bulan dua belas itu, masih ada waktu sangat panjang, dengan cara bagaimana kita harus melewatkan waktu itu?..."

"Kita masih harus pergi ke gunung Ngo-bi-san untuk bertemu dengan Hee Thian Siang dan lain-lainnya, untuk melihat dalam perjalanan mereka ke gunung Kun-lun yang hendak membuka rencana keji golongan Kie-lian dan Tiam- cong, apakah mengalami perubahan besar?"

Su-to Wie sejak bertemu lagi dengan Ca Bu Kao meskipun dengan adanya Say han Kong di situ sehingga tidak bisa berlaku terlalu mesra, tetapi hubungan mereka yang memang sudah akrab sejak dahulu, maka meskipun demikian, ia sudah merasa terhibur banyak.

Kini setelah mendengar Ca Bu Kao berkata demikian, sudah tentu ia sangat setuju. Tiga orang itu lalu meninggalkan gunung Ko-le-kong-san dan melakukan perjalanan ke Timur hendak pergi ke gunung Ngo-bie-san untuk menggabungkan diri dengan Hee Thian Siang dan Oe-tie Khao.

Tetapi ketika berjalan mendekati gunung Tiam-cong, Ca Bu Kao membeli sebuah baju panjang berwarna kuning yang sangat lebar, ia membuatkannya sendiri kerudung muka, katanya kepada Su-to Wie: Su-to siko, tukarlah bajumu dengan baju kuning ini, kecuali itu, kau perlu juga menggunakan kerudung muka ini."

"Jimoy, apakah artinya ini?" Bertanya Su-to Wie dengan heran.

"Tempat ini dekat dengan Tiam-cong, beberapa anak buah dan kaki tangan ciangbun suheng sendiri dan engkomu terlalu banyak, aku tidak mau mereka menemukan Su-to Wie lebih pagi, dan diketahui pula kalau kepandaian ilmu silatnya sudah pulih kembali!" Berkata Ca Bu Kao sambil tertawa.

Mendengar ucapan demikian Su-to Wie berpikir sejenak, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala: "Demikianpun baik juga, biar, engkoku dan ciangbun suheng nanti terkejut dan ketakutan setengah mati apabila aku memperhitungkan segala dosa mereka secara mendadak."

Say Han Kong, Ca Bukao dan Su-to Wie bertiga, sebetulnya ingin melalui gunung Tiam-Cong itu dengan secara diam-diam jangan sampai diketahui oleh Thiat-kwan Totiang, Lui Hwa, Su-to Keng dan lain-lainnya, tetapi maksud mereka ternyata tidak tercapai, bahkan masih tetap menimbulkan pertempuran hebat dengan orang-orang Pho-hio-to-kwan.

Kiranya, ketika mereka sudah melalui gunung Tiam-cong- san, dalam perjalanan itu telah berjumpa dengan ketua Ngo- bi-pay Hian-hian Sianio secara tiba-tiba.

Say Han Kong yang dengan tiba-tiba ketemu ditempat itu dengan ketua Ngo-bi-pay, lantas tahu, pasti ada sebabnya, maka setelah mengucapkan kata-kata biasa, lalu bertanya sambil tersenyum: "Sian-lo, bolehkah Say Han Kong numpang tanya, Say Han Kong mempunyai seorang sahabat kecil yang bernama Hee Thian Siang, dahulu pernah mengadakan perjanjian dengan muridmu, ialah nona Hok Siu Im, hendak mengadakan pertandingan ilmu silat di puncak gunung Ngo-bi. Entah sekarang..."

Hian-hian Sian-lo oleh karena mendengar dari mulut Hee Thian Siang dan Oe-tie Khao, sehingga mereka tahu maksud pertanyaan Say Han Kong, maka ia pun berkata sambil tersenyum.

"Hee Thian Siang hiantit sudah pernah datang ke gunung Ngo-bi-san sekarang oleh karena ketua Kun-lun-pay Tie-hui- cu sedang ada urusan, maka ia bersama Leng Pek Ciok, Oe- tie Khao dan Hok Siu Im pergi ke goa Siang-swat-tong di gunung Kie-lian-san. Mereka berusaha hendak menolong ketua Kun-lun-pay. Aku si nenek tua ini sedang dalam perjalanan ke Pho-hie-to-kwan untuk mengadakan penyelidikan dari kawanan penjahat golongan Tiam-cong."

Say Han Kong yang mendengar penuturan itu bukan kepalang terkejutnya, tanyanya: "Ketua Kun-lun-pay Tie-hui- ciu dengan kepandaiannya yang demikian tinggi, dengan cara bagaimana bisa terjatuh ditangan musuh?

"Peribahasa ada mengatakan: Serangan secara terang- terangan mudah dielakkan, tetapi serangan menggelap paling susah dijaga, Tie-hui-cu bukan saja diserang secara menggelap, bahkan terluka di bawah duri racun thian-keng- cek dari Kun-lun-san sendiri!"

Habis berkata demikian ia lalu menceritakan yang diketahuinya kepada Say Han Kong dan teman-temannya.

Mendengar keterangan Hian-hian Sianio, Say Han Kong baru tahu, bahwa orang-orang golongan Kie-lian dan Tiam- cong, bukan saja sudah berniat hendak melakukan kejahatan, di belakang mereka bahkan ada orang pandai yang menunjang. Jelas, bahwa bencana rimba persilatan bakal tidak dapat dielakkan lagi. Say Han Kong lalu memperkenalkan Hian-hian Sianio kepada Su-to Wie, bahkan menceritakan apa yang terjadi dan dialami oleh jago pedang golongan Tiam-cong itu.

Hian-hian Sian-lo yang mendengar penuturan penuh bahaya itu berulang-ulang menganggukkan kepala, katanya sambil menghela nafas: "Aku semula hanya mengira bahwa kawanan penjahat dari Kie-lian-pay melakukan perbuatan itu atas inisiatif sendiri, sungguh tak disangka kalau tiga jago pedang golongan Tiam-cong juga melakukan perbuatan yang lebih hina daripada orang-orang golongan Kie-lian."

Lalu sampai di situ, ia berkata dengan hati-hati, sambil menatap wajah Su-to wie: "Lalu bagaimana, antara kau dengan saudaramu, apa sudah tak bisa diperbaiki lagi perhubungannya, perlu apa kita harus sembunyikan jejak kita. Terus-terang saja kita pergi berkunjung ke Pho-hie-to-kwan, apabila benar Tie-hui-ciu terjatuh ditangan orang-orang Tiam- cong-pay, kita juga bisa menggunakan kesempatan itu untuk sama-sama menolong ia keluar dari bahaya!"

Su-to Wie berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepala menerima baik usul itu.

Ca Bu Kao oleh karena di pihaknya sendiri bertambah seorang kuat seperti ketua Ngo-bi-pay itu, keadaannya tidak terlalu dikhawatirkan maka ia berkata kepada Su-to Wie sambil tersenyum: "Su-to siko, meskipun kita sudah mengambil keputusan, berkunjung ke Tiam-cong dengan terang-terangan, tetapi wajahmu yang sebenarnya masih perlu disembunyikan, pada akhirnya baru boleh diperlihatkan supaya mereka lebih-lebih terkejut!"

Rencana yang telah disusun baik, rombongan yang dipimpin oleh Hian hian sianlo itu, lalu berangkat menuju ke Pho-hi-to-kwan di gunung Tiam-cong-san. Sementara itu Thiat-kwan Totiang, Lui Hwa dan Su-to Keng, tiga jago pedang golongan Tiam-cong, waktu itu semua sedang berada didalam kuil Pho-hie-to-kwan, ketika mendengar laporan bahwa ketua Ngo-bi-pay datang berkunjung, Thiat-kwan Totiang lalu berkata kepada kedua sutenya.

"Nenek itu dengan tiba-tiba datang berkunjung entah apa maksudnya?

Dengan memandang padanya juga merupakan salah seorang ketua partai, maka kita seharusnya keluar menyambut bersama-sama!"

Tetapi ketika kedua pihak saling bertemu, Thiat-kwan Totian dan dua saudaranya lantas merasa terkejut, sebab orang yang datang itu kecuali ketua Ngo-bi-pay sendiri, masih ada Say Han Kong, Ca Bu Kao dan seorang lelaki bertubuh tegap-kekar yang mengenakan pakaian panjang warna kuning dan mengenakan kerudung muka. Dengan perkunjungannya lagi Cu Ca Kao dan Say Han kong kekuil Pho-hi-to-kwan, itu saja sudah mengejutkan Thiat-kwan Totiang, apalagi kalau ditilik dari perawakan dan gerakan orang yang memakai kerudung dimukanya itu, seolah-olah sudah tidak asing lagi, tapi saat itu ia tak dapat memikirkan siapa dia nya.

Ketika orang-orang kedua pihak sudah masuk ke dalam kuil dan masing-masing sudah duduk di tempatnya, dan karena Su-to Keng kini sudah mengenakan jubah imam seperti dahulu, dan menghapus tanda tahi lalat merah ditengah alisnya, sehingga menimbulkan rasa gemas dan benci Ca Bu Kao yang pernah terpedaya berulang-ulang. Dengan sinar mata yang tajam berulang-ulang ia memandang kepada Su-to Keng, sehingga orang jahat dan buas seperti Su-to Keng dipandang demikian juga merasa bergidik!

Setelah pada duduk, Thiat-kwan Totian berkata kepada Hian-hian Sianlo sambil tersenyum: "Kedatangan Sian-lo, sesungguhnya merupakan suatu kehormatan bagi Pho-hie-to- kwan, maaf, pinto bersama kedua sute agak terlambat menyambut!"

Hian-hian Sian-lo sambil menunjuk kepada Say Han Kong dan Ca Bu Kao, berkata sambil tersenyum: "Perlu apa totiang merendahkan diri, dan sahabat ini ialah Say Han Kong dan Ca Bu Kao..." Tidak menantikan Hian-hian Sian-lo meneruskan ucapannya, Thiat Kwan Totiang menyambungnya sambil tertawa : "Yang satu adalah tabib sakti sedang yang lain adalah pendekar wanita dari golongan Lo-hu-pay, bagi pinto sekalian bukan saja sudah pernah mendengar nama besar mereka, bahkan pada belum lam berselang mereka juga pernah berkunjung ke kuil kita ini.

Say Han Kong dan Ca Bu Kao meskipun sudah mengerti bahwa ucapan Thiat Kwan Totiang itu ada mengandung sindiran, tetapi mereka tidak menghiraukannya. Thiat Kwan Totiang sehabis berkata demikian ia berdiam diri sejenak, melihat Hian-hian Sianlo tidak memperkenalkan orang yang memakai kerudung itu maka ia lalu bertanya: "Siapakah sahabat ini? Bagaimana sudah berada di kuil ini masih tidak memperkenalkan diri?"

Semakin cemas perasaan Thiat-kwan totiang semakin di sengaja Hian-bian Sianlo mengulur waktu, tidak mau memberitahukan secara terus terang. Ia sengaja mengalihkan arah pembicaraannya ke lain soal, katanya sambil tersenyum : "Apa totiang tidak dapat menebak maksud kedatanganku si nenek tua ini?" "Pinto tidak berani menduga sembarangan, harap Sianlo jelaskan terus terang.."

"Tahukah totiang bahwa ketua Kun-lun-pay Tie-Hui-cu telah diserang oleh kawanan orang jahat dengan secara menggelap, dan kini juga telah menghilang secara misterius?" Berkata Hian-hian Sianlo dengan sikap yang sungguh- sungguh. Su-to Keng yang mendengar ucapan itu sepasang alisnya berdiri, selagi hendak menjawab Thiat-kwan Totiang sudah memberei isyarat padanya dan mendahului berkata sambil tertawa: "Tie-hui-cu telah membiarkan murid-muridnya menggunakan duri beracun Thian-keng-cek secara serampangan, sehingga menimbulkan bencana di dunia kangouw. Namun Tian masih belum meram, hingga mendapat pembalasan yang setimpal, dia sendiri juga terserang oleh orang secara menggelap."

Hian-hian Sianlo tahu, bahwa Thiat-kwan Totiang berlaku pura-pura seperti orang baik, bahkan bicara soal pembalasan dari Tian juga, dalam amarahnya dia malah tertawa dingin dan berkata pula: "Aku pribadi, oleh karena dengan Tie-Hui-cu merupakan sahabat akrab yang telah terjalin banyak tahun, ketika mendengar kabar itu dengan sendirinya lantas terkejut dan lantaran itu pula sengaja aku berkunjung kemari untuk mencari keterangan apakah dia berada di sini ataukah barangkali kalau totiang bisa menberi keterangan dimana dia sekarang berada?"

Thiat-kwan totiang yang mendengar ucapan itu wajahnya lantas berubah, katanya: "Sianlo adalah seorang ketua dari salah satu partai, kalau berbicara seharusnya lebih hati-hati sedikit, dengan hak apa kau mencurigai Tie-hui-cu berada ditangan orang Tiam-cong?"

Hian-hian Sian-lo tertawa dingin, sebelum menjawab, Ca Bu Kao sudah mendahului berkata dengan alis berdiri: "Sebab ketua Kun-lun-pay itu lebih dulu diserang dengan duri berbisa thian-keng-cek dan kemudian ditotok jalan darah Ngo-im- hiatnya"

Thiat-kwan Totiang karena tidak menduga bahwa Hian-hian Sianlo dan lain-lainnya sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya, semula wajahnya menunjukkan perasaan terkejutnya tetapi secepat kilat sudah pulih tenang seperti biasa. ia pura-pura terkejut dan bertanya: "Tie-hui-cu terkena serangan duri berbisa dan tertotok jalan darahnya, tetapi ada hubungan apa dengan partaiku Tiam-cong-pay?"

"Ca Bu Kao karena menyaksikan Thiat-kwan totiang menolak mentah-mentah lalu berkata pula sambil tertawa dingin: "Bagaimana tidak ada hubungannya? Didalam goa Siang-swat-tong, telah ditanam bibit pohon Thian-keng yang digunakan untuk memfitnah partai Kun-lun-pay! Sedangkan orang yang menotok jalan darah Ngo-im-hiat, jugalah ilmu totokan yang digunakan untuk mencelakakan diri Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie! Berdasarkan fakta-fakta itu semua, barulah kita membagi orang-orang kita. Sebagian pergi ke gunung Kie-lian dan sebagian datang kemari!"

Sehabis mendengar ucapan itu, Thiat-kwan Totiang, Liu Hwa dan Su-to Keng serta lain-lainnya lantas mengetahui bahwa kelakuan mereka yang dianggap sebagai suatu rahasia besar, tidak diduga sudah diketahui semua oleh lawan- lawannya.

Hening sejenak, Thiat-kwan Totiang dengan sinar matanya yang buas dan dalam keadaan malu jadi berbalik menjadi marah, katanya sambil tertawa sinis: "Dugaan Ca lihiap ini keliru seluruhnya, Tie-hui-cu tidak berada didalam Pho-hie-to- kwan!"

Dengan jawaban kosong ini apakah sudah anggap supaya kita percaya begitu saja?" Berkata Bu Kao dingin.

Thiat-kwan Totiang kembali perdengarkan suara tertawa iblisnya, dengan sinar matanya yang menatap wajah Ca Bu Khao, setelah itu bertanya: "Bagaimana baru bisa dipercaya? Apakah kau hendak mengandalkan kepandaianmu dari golongan Lo-hu? Hendak melakukan pemeriksaan didalam kuil Pho-hie-to-kwanku ini?"

Ca Bu Kao melihat fihak Thiat-kwan Totian sudah mulai naik darah, maka diam-diam mengerahkan ilmu tenaga dalamnya untuk siap siaga dari serangan tiba-tiba. Selagi hendak balas mendamprat, Hian Sianlo sudah menggoyangkan kepalanya sambil berkata: "Ca lihiap jangan marah dulu, Thiat-kwan totiang juga berkedudukan sebagai ketua dari suatu partai besar, ucapan yang keluar darinya kiranya bukan omong kosong belaka! jadi kita tidak perlu bicarakan lagi, kita minta lain keterangan darinya saja!"

Thiat-kwan Totiang yang masih belum reda hawa amarahnya, kutanya dengan nada suara dingin: "Sian-lo masih ada urusan apa terhadap partai Tiam-congku?"

"Urusan kedua ini tak ada hubungannya denganku, dialah yang hendak minta keterangan kepada Totiang!" Berkata Hian hian Sianlo sambil tertawa.

Sehabis berkata demikian, ia menunjuk kepada Su-to Wie yang duduk disampingnya yang waktu itu mengenakan jubah warna kuning dan berkerudung kain hitam dimukanya.

Sepasang alis Thiat-kwan Totiang dikerutkan, ia mengamati Liong-hui Kiam-khek, tetapi oleh karena ia sedikitpun tak menduga bahwa sutenya itu demikian cepat sudah pulih kembali kepandaiannya, bahkan hendak membuat perhitungan dengannya, maka ia masih belum dapat menduga kalau itu adalah diri sutenya sendiri, ia balik bertanya kepada Hian-hian Sianlo: "Siapakah sebetulnya sahabat ini?"

Ca Bu Kao dengan sikapnya yang sangat bangga dan sombong balas bertanya kepada Thiat-kwan Totiang: "Dia adalah kenalan lamamu, apakah karena dimukanya tertutup kain hitam saja dan mengenakan jubah warna kuning, kau sudah tak mengenalinya lagi?"

Meskipun Thiat-kwan Totian, Lui Hwa dan Su-to Keng sudah mengerti bahwa ucapan Ca Bu Kao ada mengandung maksud lain, tetapi mereka masih belum dapat menduga kepada diri Su-to Wie. Sementara itu Su-to Keng lantas berkata sambil tertawa: "Kita rasanya tak mempunyai kenalan seorang yang demikian misteri kelakuannya, yang tidak sudi menemui orang secara terus-terang."

Ca Bu Kao tertawa terkekeh-kekeh, sambil menatap Su-to Wie ia berkata dengan suara nyaring: "Engko, sekarang bukalah jubah kuningmu dan kerudung mukamu, biarlah semua melihat bentuk aslimu, supaya mereka tahu siapakah yang tidak berani ketemu orang? Kau ataukah orang lain?"

Su-to Wie menurut, ia bangkit dari tempat duduknya, perlahan-lahan membuka jubah kuningnya yang agak gerombongan!

Ketika jubah kuning itu terlepas dari badannya tampaklah tubuh kekar kuat Su-to Wie, yang lain belum lagi dibuka kerudung mukanya telah mengejutkan Thiat-kwan Totiang, Liu Hwa dan Su-to Keng, sehingga mereka segera bangkit dari tempat duduk masing-masing! 

Pihak Ngo-bi-pay Hian hian Sian lo, Say Han Kong dan Ca Bu Kao yang menyaksikan hal demikian, diam-diam juga mengerahkan ilmu tenaga dalamnya, semua bangkit dan siap sedia menghadapi segala kemungkinan.

Dengan perasaan terkejut dan heran, Thiat-kwan Totiang menunjuk Su-to Wie yang masih belum membuka kerudung mukanya, tanyanya dengan suara terputus-putus: ".....kau...kau adalah... Su-to..."

Tidak menantikan kata-kata selanjutnya, Su-to Wie sudah membuka kerudung mukanya, dengan sepasang sinar matanya yang tajam menyapu tiga manusia buas dari partai Tiam-cong, katanya sambil tertawa: "Siaote benar adalah Su- to Wie, suheng bertiga, apakah selama ini baik-baik saja?" Thiat-kwan Totiang bertiga begitu melihat Su-to Wie untuk muka dengan tiba-tiba, tadi memang sudah terkejut dan ketakutan setengah mati! Tetapi, apa yang lebih mengherankan bagi mereka, ialah Liong-hui Kiam-khek yang sudah tertotok jalan darah Ngo-im-hiatnya dan sudah dimusnahkan kepandaian ilmu silatnya mengapa sinar matanya demikian bercahaya, jelas sudah mendapat penemuan gaib, sehingga kepandaian ilmu silatnya sudah pulih seperti biasa!

Suasana demikian sesungguhnya sangat tidak enak bagi Thiat-kwan Totiang bertiga, maka kecuali merasa malu dan mendongkol, ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

Thiat-kwan Totiang terpaksa menebalkan mukanya sendiri, katanya dengan nada suara dingin: "Dahulu karena kau tidak turut perintah ketua seharusnya dihukum mati, oleh karena mengingat tali persahabatan kita sebagai suheng dan sute maka aku barulah mengeluarkan perintah pengampunan supaya kau tidak dihukum mati. Bagaimana sekarang kau masih ada muka kembali ke Pho-hie-to-kwan ini?"

Su-to Wie yang mendengar itu hanya menggeleng- gelengkan kepala sambil berkata dan menghela nafas: "Ciangbun Suheng, kau jangan kukuh dengan pendirianmu yang sesat itu, kau coba memutar balikkan urusan sebenarnya. Kedatanganku hari ini untuk menjumpai suheng bertiga, hanya untuk mengucapkan selamat berpisah, karena perhubungan kita sebagai suheng dan sute sudah putus sampai disini, perbuatan kalian terhadap aku tadi, aku tak akan menarik panjang. Tetapi perbuatanmu yang mencelakakan diri Kwan susiok merupakan suatu dosa sangat besar dan akan dikutuk oleh Dewa-dewa. Perbuatan itu terpaksa aku tidak dapat membiarkan begitu saja, dilain waktu apabila kita berjumpa lagi, juga merupakan kewajiban bagiku Su-to Wie untuk minta keadilanmu atas perbuatanmu terhadap Kwan susiok, sekalian aku hendak mengambil tindakan tegas untuk membersihkan dalam tubuh partai Tiam-cong-pay!" Thiat-kwan Totiang sehabis mendengarkan perkataan Su- to Wie, berkata sambil tertawa: "Kwan Sam Pek sudah mati, akulah yang menjadi ketua partai Tiam-cong-pay. Sekarang sudah tidak ada lagi orang-orang tingkatan tua, juga tidak ada lagi barang-barang peninggalan dari tingkatan tua. Dengan apa kau hendak membersihkan partai Tiam-cong? Dengan hak apa kau hendak menghukum aku?"

Berdasarkan perikemanusiaan, keadilan, kebenaran dan keberanian, Su-to Wie hendak memikul tugas itu. Apalagi Kwan susiok meskipun dianya sudah meninggal, tetapi pedang Pe-liong-kiam nya masih ada!" Menjawab Su-to Wie.

Beberapa patah kata itu, mempunyai pengaruh besar, sehingga Hian-hian Sian lo Say Han Kong dan Ca Bu Kao yang mendengarkan semua pada menganggukkan kepala dan ingin menyaksikan bagaimana tiga kawanan penjahat Tiam- cong-pay itu hendak menghadapinya.

Thiat-kwan Totiang semula juga dikejutkan oleh ucapan Su- to Wie itu, tetapi kemudian ia pulih kembali dengan sikap jahatnya, katanya sambil tertawa dingin: "Dunia ini luas, kemana harus mencari pedang Pek-liong-kiam? Waktu Kwan Sam Pek hendak menutup mata, tangannya sudah tak dapat menulis, mulutnya juga sudah tak bisa berbicara..."

Dengan sinar mata merah Su-to Wie menatap wajah Thiat- kwan Totiang katanya dengan suara gemas: "Meskipun Kwan Susiok sudah kau siksa demikian rupa, tetapi sebelum ia kehilangan dayanya, sudah menyebutkan dua patah kata BUNGA SIONG MENUNJUK JALAN, BULAN PURNAMA

DIATAS KEPALA yang mengandung rahasia besar!"

Su-to Keng yang berdiri disamping suhengnya lantas menyeletuk: "Kata-kata yang mengandung rahasia itu, benarkah mempunyai kekuatan gaib, yang bisa menciutkan luasnya dunia sehingga kau dapat menemukan pedang yang ditinggalkan oleh setan Kwan Sam Pek?" Hati Su-to Wie merasa sangat sedih, ia memandang saudaranya yang sangat jahat dan kejam, lantas berkata sambil menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang: "Dahulu didalam kuburan kuno dibukit Bu-san, dengan menggunakan tangan kejam, kalian telah menyiksa aku dan paksa aku supaya menerangkan arti kata-kata yang mengandung rahasia, dan waktu itu aku memang benar masih belum tahu apa maksudnya dalam kata-kata rahasia itu, tetapi berkat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, waktu itu aku telah ditolong oleh seorang gaib, dan diberi petunjuk kemana aku harus pergi, barulah didalam lembah Leng-cui-kok di gunung Ko-le-kong-san aku berhasil menemukan pedang Pek- liong-sin-kiam peninggalan Kwan susiok yang dahulu pernah menggemparkan rimba persilatan!"

Sehabis berkata demikian, ia menghunus pedangnya dari atas punggungnya. Ketika pedang itu keluar dari sarungnya, menimbulkan suara gaung amat nyaring, sinarnya yang berkilauan membuat silau kepada mata yang mengawasinya. Thiat-kwan Totiang bertiga ketika menyaksikan Su-to Wie benar-benar sudah menemukan pedang Pek-liong-sin-kiam, semuanya terkejut. Mereka saling berpandangan sejenak, barulah Su-to Keng membuka suara sambil tertawa terbahak- bahak: "Hanya dengan mengandalkan sebilah pedang Pek- liong-sin-kiam, apa kau lantas pikir hendak menuntut balas dendam sakit hati Kwan Sam Pek?

"Su-to Wie bukan saja sudah pulih kepandaian ilmu silatnya, bahkan sudah menemukan kejadian gaib. Keadaanku hari ini tak boleh dibandingkan dengan keadaanku dahulu." Berkata Su-to Wie dengan suara lantang.

Su-to Keng tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya, dengan sikap menghina mengawasi Su-to Wie, kemudian berkata sambil tertawa mengejek: "Aku tidak percaya bahwa kau Liong-hui Kiam-khek, kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada dahulu, mari! Kita coba bertanding di halaman luar!" Su-to Wie memang sudah menduga bahwa saudaranya itu pasti tidak mau mengerti dan pertumpahan darah antara saudara sendiri itu tidak akan terelakkan lagi, maka dengan pedang Pek-liong-sin-kiam ditangan, ia berjalan menuju ke halaman.

Ketua Ngo-bie-pay Hian-hian Sianlo, Say Han Kong, Cu Bu Kao dan Thiat-kwan Totiang serta Lie Hwa dan lain-lainnya, semuanya juga mengikut keluar!

Su-to Keng menghunus pedang Ceng-hong-kiamnya yang pernah digunakan untuk melawan pedang pusaka Hok Siu Im Lin-yap-bian-sikiam sehingga terpapas sedikit, dengan sikapnya yang sangat jumawa, begitu berada dimedan pertempuran, sudah mulai melakukan serangan lebih dahulu, bahkan dengan beruntun sudah melancarkan tiga kali serangannya.

Bagi Su-to Wie, inilah untuk pertama kalinya bertanding dengan saudaranya sendiri, sudah tentu dalam hatinya merasa perih. Ketika diserang secara demikian, ia menggunakan gerak tipu dari golongannya Tioam-cong sendiri, dengan mudah serangan saudaranya itu dapat dipunahkan.

"Aku kira kau yang sudah belajar ilmu silat pada orang luar dan hendak menghadapi golonganmu sendiri, tentunya sudah memiliki pelajaran ilmu pedang yang luar biasa, tak kuduga bahwa kau masih tetap menggunakan ilmu pedang golongan Tiam-cong, Hui-hong-u-ciu-kiam-hoat" Berkata Su-to Keng sambil tertawa terbahak-bahak.

"Su-to Wie adalah murid golongan Tiam-cong, dalam hidupnya sudah menerima budi dari ketua partai Tiam-cong yang terdahulu, bagaimana aku tidak akan menggunakan ilmu pedang golongan Tiam-cong?" Menjawab Su-to Wie dengan suara lantang. Karena kau menggunakan ilmu pedang golongan Tiam- cong, maka jangan harap kau bisa mengalahkan pedang di tanganku ini!"

Sambil berkata demikian, pedangnya melancarkan serangan dengan gerak tipu luar biasa, ia berusaha untuk memancing Su-to Wie ke dalam lingkaran pedangnya sendiri. Tangan kirinya kadang-kadang melancarkan serangan dengan jari tangan yang ditujukan kepada jalan darah sekujur tubuh Su-to Wie.

Posisi pada waktu itu meskipun Su-to Keng berhasil melakukan serangan lebih dahulu, sehingga berada di atas angin, tetapi Tiam-cong Thiat-kwan Totiang, seorang ahli pedang kenamaan, setelah menyaksikan jalannya pertempuran dengan kepala dingin, alisnya tampak dikerutkan dan berkata kepada lui Hwa dengan suara perlahan: "Lui Jite sudah lihat, meskipun Su-to Wie masih tetap menggunakan ilmu pedangnya Hui-hong-u-liu-kiam-hwat, tetapi jelas ada sedikit perubahan, hebatnya masih tetap seperti dahulu, tetapi mantap dan lincahnya jauh kalau dibandingkan dengan ilmu pedangnya yang dahulu. Dalam dua tiga puluh jurus lagi, Su- to samte barangkali akan kehilangan posisinya yang sekarang."

Lui Hwa tahu bahwa pandangan Thian-kwan Totiang itu memang tepat maka lantas menjawab dengan suara perlahan: "Kalau Ciang-bun suheng sudah mengetahui keadaan Su-to Wie sudah jauh lebih tinggi kepandaiannya daripada dahulu, agaknya tidak perlu menunggu sampai Su-to samte terkalahkan olehnya, seharusnya berusaha untuk menggantikan..."

Sementara itu ketua Ngo-bi-pay Hian-hian Sianlo yang menyaksikan dua manusia buas itu kasak-kusuk sendiri, lantas curigai mereka akan melakukan perbuatan keji, maka ia juga mengerahkan tenaga dalamnya, pasang telinga baik-baik untuk mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka. Setelah mendengar ucapan Liu Hwa yang minta kepada Thiat-kwan Totiang supaya berusaha mengganti jago, maka lalu memperdengarkan suara batuk-batuk. Matanya memandang tajam dua penjahat Tiam-cong itu, katanya: "Mengenai pertempuran antara persaudaraan Su-to ini, aku si nenek tua tidak akan membantu fihak manapun juga. Jikalau ada orang yang turut campur tangan, harus bertanding dahulu dengan aku!"

Thiat-kwan Totiang yang beradat sombong mendengar ucapan itu lantas naik darah, selagi hendak balas mendamprat, tetapi kemudian berpikir pula, ia tahu benar bahwa ketua Ngo-bi-pay Hian-hian Sianlo ini tidak mudah dihadapi maka ia tidak mau menanggung resiko besar yang akan membawa akibat gagalnya rencana sendiri yang hendak menjagoi rimba persilatan.

Berdasarkan atas pertimbangan itulah, maka untuk sementara ia kendalikan perasaannya dan berkata kepada Lui Hwa sambil tersenyum: "Pertandingan ilmu silat orang-orang rimba persilatan, menang atau kalah sudah merupakan soal biasa, perlu apa kita pandang terlalu besar? Apalagi sekarang Su-to Samte masih belum terkalahkan. Andaikata sudah menunjukkan tanda-tanda akan kalah, aku juga tak suka suruh orang lain menggantikan kedudukannya!"

Hian-hian Sianlo yang mendengar Thiat-kwan berkata demikian, sebaliknya merasa kaget. Ia curiga benar bahwa ketua Tiam-cong-pay ini, sudah mempunyai rencana yang lebih besar, jika tidak sudah tentu ia akan turun tangan sendiri atau mungkin juga bersedia menghadapi dirinya.

Tetapi, meskipun ia sudah menduga pasti bahwa orang- orang golongan Tiam-cong-pay itu mempunyai rencana keji, namun juga belum dapat menduga rencana keji apa yang sedang disusunnya. Maka ia hanya bersikap waspada dan berbisik-bisik pada Ca Bu Kao yang berdiri disampingnya. Ca Bu Kao yang sedang memperhatikan jalannya pertempuran, ketika mendengar ucapan Hian-hian Sianlo, berpikir sejenak kemudian berkata: "Kita harus bisa menguasai waktu yang tepat, jangan sampai terbengkalai. Sebab malam panjang impian pasti banyak..."

Su-to Wie karena memang sifatnya yang baik meskipun berulang kali dianiaya oleh saudaranya sendiri, namun dalam hati bagaimanapun juga masih mengingat tali persaudaraan dengan dirinya, beberapa kali ia rela melepaskan kesempatannya yang baik, tidak sampai hati untuk menurunkan tangan kejam.

Kini setelah dengan tiba-tiba mendengar ucapan Ca Bu Kao yang maksudnya mendesak dia supaya lekas turun tangan jangan sampai banyak buang waktu, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, pedang Pek-liong-sin- kiam di tangannya bergerak, kini ia menggunakan beberapa jurus ilmu pedang gabungan, antara Pek-lion-sin-kiam dengan Hui-hong-u-liu-kiam-hwat, dengan perubahan siasat itu, ia berhasil mendesak Su-to Keng hingga yang tersebut belakangan ini terpaksa mundur berulang-ulang kali sehingga lima langkah jauhnya.

Su-to Keng yang melihat serangan Su-to Wie berubah, ia sendiri yang selama di pihak yang menyerang, kini berbalik diserang, sudah tentu dalam hatinya merasa penasaran. Setelah beberapa kali ia coba mengelakkan serangan hebat saudaranya, dengan beberapa jurus gerak tipunya yang terampuh ia coba melakukan serangan pembalasan dengan hebat. Sedang Su-to Wie yang memang berhati baik, karena ilmunya baru saja berhasil dipelajarinya, juga ada maksud hendak menggunakan Su-to Keng sebagai kelinci percobaan, maka setelah bertempur selama seratus jurus lebih, ia sudah memahami betul bahwa ilmu pedangnya yang baru dipelajari itu sudah cukup untuk menghadapi Ciangbun Suhengnya Thiat-kwan Totiang. Sekarang setelah melihat Su-to Keng ternyata masih tidak tahu diri dan menyerang secara membabi-buta maka ia telah mengambil keputusan hendak mengeluarkan gerak tipunya yang terampuh ialah dua jurus ilmu pedang yang dinamakan "Bunga siong menunjuk jalan" yang didapat dari May Ceng Ong, sedangkan dilain pihak ia sudah menyiapkan gerak tipunya "Terang salju di atas kapal", gerak tipu itu masih disimpannya dan digunakan pada lain waktu. Setelah mengambil keputusan tetapi, dilancarkannya serangan itu, serangan itu tidak menunjukkan keistimewaannya, bahkan pasang kuda-kuda juga tidak karuan macam bentuknya, ujung pedang Pek-liok-sin-kiam bergerak dan menyapu padam serangan pedang yang dilancarkan oleh Su-to Keng.

Su-to Keng tidak mengerti, bahwa Su-to Wie sebetulnya ada mengandung maksud apa, ia terpaksa harus memeras otak untuk memikirkan cara untuk memunahkan serangan yang aneh itu. Pedang Ceng-bong-kiam di tangannya diputar demikian rupa, ia berusaha hendak memapas kutung lengan tangan Su-to Wie yang memegang pedang.

Su-to Wie tertawa terbahak-bahak, kekuatan tenaga dalam yang ada didalam badannya dipusatkan pada ujung pedang, dengan tiba-tiba pedang itu dicepatkan hingga pedang Pek-lio- kiam menimbulkan percikan api bagaikan bunga tersebar, saling beradu dengan putaran pedang Su-to Keng.

Su-to Keng selalu menganggap bahwa Su-to Wie yang sudah ditotok jalan darah Ngo-im-hiatnya, sekalipun ditolong orang dan bisa pulih kembali kepandaiannyam tentunya juga tidak bisa terpaut terlalu banyak. Akan tetapi kini setelah berhadapan sungguh, bukan saja kepandaiannya tetapi kekuatan tenaga dalamnya juga banyak mendapat kemajuan yang pesat sekali.

Anggapan demikian itu telah menyesatkan dirinya sendiri, ia anggap bahwa serangan tadi pasti akan berhasil tak diduga- duganya bahwa serangannya  itu ternyata tak bisa berbuat apa-apa terhadap saudaranya itu.

Serangan pedang Su-to keng tadi jikalau menggunakan tenaga penuh, mungkin masih bisa digunakan untuk mengimbangi serangan Su-to wie, tetapi kini serangannya itu sebaliknya malah menyulitkan dirinya sendiri, setelah dua pedang tadi saling beradu, Suto Keng merasakan se olah-olah terkena setrum listrik, pergelangan tangannya merasa kesemutan, pedang Ceng-bong kiamnya terlepas dari tangannya dan terbang sejauh tujuh kaki.

Begitu pedangnya terlepas dari tangan, Suto Keng sudah tahu bahwa nyawanya terancam bahaya, maka ketika ujung pedang Pek-liong-sin-kiam ditangan Su-to Wie mengancam ulu hatinya, ia lantas menghela napas panjang dan memejamkan mata untuk menantikan kematiannya.

Dalam keadaan demikian, betapapun keras hati Thiat-kwan totiang hendak mengendalikan perasaan sendiri, juga masih terkejut dan wajahnya berubah seketika, ia buru-buru bersama dengan Liu Hwa lompat memburu, masing-masing mengeluarkan serangan dengan lengan jubah tangan dan menghembuskan angin kuat, maksudnya hendak menggulung Su-to Wie dan menolong nyawa Su-to Keng.

Karena mereka sudah turun tangan, maka Hian-hian Sian lo, Say Han Kong dan Ca Bu Kao, sudah tentu tidak tinggal diam. Mereka juga dengan serentak melancarkan serangan, ada yang menggunakan tangan kosong, ada yang menggunakan lengan jubahnya, untuk menyambut serangan dari Thiat-kwan Totiang dan Liu Hwa.

Hian Hian sian lo yang menghadapi Thain kwan totiang, kekuatan tenaga dalam mereka ternyata berimbang, tetapi Say Han kong dan Ca Bu Kao yang menghadapi Lui Hwa, sudah tentu dia lebih kuat, maka kesudahannya jago pedang nomor dua dari Tiam cong itu terdengar keluhan tertahan dari mulutnya, badannya tergoncang dan mundur terhuyung- huyung sampai dua langkah.

Pada saat itu, ujung pedang Su-to Wie sudah menunjuk ulu hati Suto keng, tetapi pedang itu berhenti tidak bergerak, Su-to Wie dengan air mata berlinang-linang berkata dengan suara sedih: "Engko, buka matamu, aku hendak berkata beberapa patah kata denganmu !"

Su-to Keng benar-benar merupakan seorang jahat dan buas sekali, mendengar ucapan itu matanya terbuka lebar, dengan sinar mata beringas ia bersuara dengan keras: "Su-to Wie kau hendak bunuh, bunuhlah! tidak perlu berlaku pura- pura, kau harus tahu bahwa pada hari ini kau tidak membunuh aku, dilain waktu itu aku masih akan mencari kau dan akan cincang tubuhmu."

Kini Thiat-kwan totiang, Hian-hian Sian-lo dan lain lainnya, sudah menghentikan pertempuran, meraka berdiri dengan tenang, untuk menyaksikan Su-to Wie dengan cara bagaimana hendak membuat perhitungan dengan saudaranya sendiri yang bagaikan serigala buasnya ?

Su-to Wie dengan airmata berlinang menatap Su-to Keng, sikapnya sangat sedih katanya dengan suara berat: "Orang- orang golongan tua dahulu pernah mengatakan suatu ucapan yang baik sekali, saudara tua itu merupakan sahabat dan adik itu harus merendah! Kau yang menjadi saudara tua meskipun sudah berulangkali hendak mencelakakan diriku sedikitpun tidak mempunyai perasaan cinta, tetapi aku yang menjadi adik, hingga saat ini aku masih tetap menghormati dirimu, aku tidak tega turun tangan dan memutuskan begitu saja tali persaudaraan kita! ..."

Ucapan Su-to Wie itu meskipun penuh cinta kasih, tetapi Su-to Keng sedikitpun tidak bergerak hatinya, ia masih tetap menunjukkan mukanya yang bengis, katanya dengan suara keras: "Su-to Keng tidak sudi menerima cintamu ini, sudah lama aku memutuskan hubungan persaudaraan denganmu!"

Say Han Kung, Ca Bu Kao dan Ketua Ngo-bi-pay Hian-hian Sian Lo, semua yang mendengarkan ucapan itu pada geleng- gelengkan kepala, sedang Su-to Wie sendiri juga mengerutkan alisnya, sampai di situ ia barulah mengeringkan air matanya, katanya dengan suara nyaring: "Kalau engko masih tetap kukuh dengan pendirianmu yang tersesat itu, maka Su-to Wie hari ini sudah coba menaruh belas kasihan, anggap saja bahwa hubungan kita telah terputus. Akan tetapi lain waktu apabila kita ketemu lagi, aku akan menggunakan pedang peninggalan Kwan Susiok ini untuk melakukan pembalasan sakit hati susiok dan membersihkan partai Tiam cong pay !"

Sehabis berkata demikian, dengan sikapnya yang sedih, ia menarik kembali pedangnya dan dimasukkan ke dalam sarungnya.

Ketua Ngo-bie-pay Hian hian Sian-lo, yang menyaksikan urusan itu telah berkembang demikian jauh, lalu berkata kepada Thiat Kwan Totiang: "Urusan ini sudah terjadi begini rupa, aku nenek tua untuk sementara minta diri dulu, pertikaian dan permusuhan antara kedua pihak, kita tangguhkan sampai pertemuan di puncak gunung Thian-tu- hong pada lain waktu !"

Thiat Kwan Totiang karena mengingat rencana itu yang disusun rapi olehnya dengan ketua Kie-lian-pay Khie Tay cao ternyata sudah bocor rahasianya, maka lantas menjawab sambil tertawa dingin: "Partai Kie-lian dan Tiam-cong tak lama lagi akan bergabung menjadi satu, tidak perlu menghadiri pertemuan di puncak gunung Thian-hong lagi, sahabat- sahabat rimba persilatan apabila ada yang ingin memberi pelajaran, dipersilahkan untuk datang ke bukit Siang-swat- giam digunung kie-lian san. Pinto pasti akan menyambutnya bersama Khie Tay cao !" Su-to Wie yang mendengar itu terperanjat, sepasang matanya ditujukan kepada Thiat kwan Totiang, tanyanya dengan berat: "Kau berani bertindak demikian rupa, ini berarti bahwa partai Tiam cong pay sampai di sini sudah tamat riwayatnya!"

"Partai Tiam cong dan Kie lian bergabung itu berarti kekuatan dan pengaruhnya akan bertambah, barulah cukup untuk berebut pengaruh dengan partai manapun juga dalam rimba persilatan. ini justru merupakan usaha besarku dalam jabatanku sebagai ketua partai, siapa suruh kau yang demikian mati-matian pertahankan peraturan sendiri?" Berkata Thiat kwan totiang sambil tertawa terbahak-bahak.

Su-to Wie yang merasa gemas tanpa sadar kakinya digabrukkan di lantai hingga batu yang dipijaknya itu telah retak beberapa potong.

Ca Bu kau yang menyaksikan keadaan demikian, lalu berkata ditelinganya: "Siko jangan marah dulu, kita boleh siarkan rencana keji, mereka pada partai-partai lainnya, supaya bersama-sama membela keadilan dan kebenaran untuk menumpas partai Kie-lian, waktu itu bukankah kau masih bisa mengadakan pembersihan ke dalam Partai Tiam cong dan dibangun lagi?"

Hian hian sian-lo dan Say han Hong juga menasehati padanya. Dengan demikian Su-to Wie terpaksa menyimpan kemarahan dan meninggalkan Pho hie ro kwan. Tetapi baru saja mereka melalui dua buah bukit, dari Pho hie to kwan tampak api berkobar setinggi langit.

Su-to Wie tahu bahwa itulah perbuatan Thiat Kwan totiang untk menunjukkan bahwa ia telah bertekad untuk menggabungkan diri dengan Kie lian pay, hingga kuilnya yang selama ini merupakan markas besar atau pusat partai Tiam cong telah dibakarnya sendiri! Ia Lalu berdiri tegak dan menjura menghadap Pho hie ti kwan sementara mulutnya menyeru: "Arwah para Cosu yang semayam didalam kuil, mohon supaya memberi restu kepada Su-to Wie untuk membersihkan anak murid golongan Tiam cong yang murtad dan durhaka itu supaya dapat mengembalikan kedudukan partai Tiam cong seperti sediakala!"

Ketika Su-to wie mengucapkan do'a untuk minta restu kepada arwah para ketua yang dahulu saat itu juga merupakan saat bagi Hee Thian siang yang berada di gunung Kei lian san, melakukan tugasnya mencari keterangan dari kawanan penjahat di gunung itu.

Kiranya Leng Pek Ciok, Oe tie khao, Hee Thian siang dan Hok Siu Im berempat, sejak meninggalkan gunung Ngo bi dan berjalan menuju ke gunung Kie lian, meskipun ditengah jalan tidak mendapatkan rintangan apa-apa, tetapi Hee Thian siang oleh karena Siaopek pernah memergoki dirinya yang sedang berlaku mesra terhadap Hok Siu Im di puncak gunung Ngo bi dan kera itu merasa cemburu padanya sehingga perlu menyerang dirinya dengan batu, dalam perjalanan itu selalu khawatir kalau-kalau Siaopek itu nanti akan mengadu kepada Tiong sun Hui kheng dan apabila Tiong sun hui kheng percaya betul, ini akan membuat dirinya harus bagaimana untuk menghadapinya atau memberi penjelasannya?

Empat orang itu semua merupakan tokoh-tokoh muda dalam rimba persilatan pada masa itu, dengan mengerahkan ilmunya meringankan tubuh masing-masing, maka tidak memerlukan waktu lama telah tiba ditempat yang dituju. Lantaran mengkuatirkan keselamatan Tiong san Hui kheng yang ketua partai Kun lun pay Tie hui cu maka malam itu juga di bawah pimpinan Hee Thain siang yang sudah pernah berkunjung ke tempat itu terus menuju ke goa Siang swat tong. Tak disangka-sangka, baru saja tiba ditempat dimana dahulu Hee Thian siang bertemu dengan Tiong san hui kheng, tiba tiba terdengar suara derap kaki kuda, Hee Thian siang lalu minta Leng pek ciok, oe tie khao dan Hok Siu Im sembunyikan diri di belakang batu-batu besar, katanya dengan suara pelahan: "Kita akan lihat, siapa penunggang kuda itu: sebab derap kaki kuda itu sudah tak asing baginya, jikalau bukan kudanya ketua Kie lian pay, tentunya kuda enci Tiong sun!"

Leng pek ciok pasang telinga, kemudian berkata kepada Hee Thian siang sambil tertawa: "Menurut pendengaranku, suara kaki kuda ini berlawanan dengan tujuan kita, ketika kita datang kemari, rasanya tidak pernah melihat ada kuda, apakah orang itu tadi sembunyi di tepi jalan, tidak suka bertemu muka dengan kita ?"

Hee Thian siang yang mendengar itu hatinya lalu berdebaran, tiba-tiba dari jauh ia terdengar suara nyanyian Tiong sun Hui kheng yang sangat sedih, sajak yang dinyanyikan malam itu sama dengan yang dinyanyikan didalam kuil tua dahulu.

Bunyi sajak itu masuk di telinga Hee Thian siang, saat itu merasakan seolah-olah disambar geledek, sehingga badannya gemetaran, ia buru-buru lompat keluar, dengan mengerahkan ilmunya menyampaikan suara jarak-jauh, ia memanggil manggil: "Enci Tiong sun... Enci Tiong sun..."

Ketika baru saja mengucapkan "Enci Cong sun" yang kedua kalinya tampak berkelebatan bayangan kuning dan binatang aneh taywong, dengan mendadak menyerbu padanya dari tengah udara, tangannya yang berbulu panjang sudah memukul dada Hee Thian siang.

Hee Thian siang karena pikirannya sedang risau, kedua tidak menduga Taywong akan menyerang dirinya, hingga sama sekali ia tak mendapat kesempatan untuk mengelakkan diri, serangan itu mengenakan dengan tepat. Hee Thian siang terjatuh empat lima langkah jauhnya, hampir saja menjadi pingsan.

Leng Pek Ciok yang tidak mengerti duduk persoalannya, menyaksikan keadaan itu mendadak menjadi marah. Selagi hendak turun tangan menghajar Taywong, Oe-tie Khao buru- buru mencegahnya: "Saudara Leng, sabar dulu. Urusan ini terlalu aneh. Binatang ini, adalah piaraan nona Tiong-sun, entah bagaimana dengan tiba-tiba bisa menyerang Hee Thian siang laote ?"

Taywong setelah serangannya itu menjatuhkan Hee Thian siang, masih memandangnya dengan mata marah. Ia melemparkan sepucuk surat, dan lantas kabur menuju ke tempat Tiong-sun Hui Kheng.

Serangan Taywong tadi tidak ringan, Hee Thian siang setelah berusaha menyembuhkan rasa sakitnya sendiri, lalu berdiri dengan perasaan bingung. Hok Siu Im yang masih putih bersih dan sikapnya yang masih kekanak-kanakan, bertanya kepadanya dengan mengerutkan alisnya: "Engko Siang. Aku benar-benar tidak mengerti, binatang piaraan enci Tiong-sun kera putih itu di puncak Ngo-bie pernah menghantam kau dengan batu, sekarang binatang bulu kuning itu menyerang padamu, apakah kau berbuat salah terhadap enci Tiong-sun?"

Pertanyaan itu betul-betul menyedihkan Hee Thian siang, ia memandang gadis itu dengan muka merah, berulang-ulang menggelengkan kepalanya dan tidak bisa menjawab!

Oe-tie Khao yang menyaksikan sikap Hee Thian siang sangat menyedihkan itu, juga memandang kepada Hok Siu Im sejenak, lantas menjadi sadar, katanya sambil tertawa geli:

"Hee laote, aku sudah tahu kesulitanmu, tetapi kini salah paham itu sudah tak dapat dilawan lagi, terpaksa kita tangguhkan sampai dilain waktu untuk memberi penjelasannya. Coba kau buka surat yang ditinggalkan oleh Taywong tadi."

He Thian siang meskipun hatinya merasa sedih tetapi karena Tiong-sun Hui Kheng sudah lama berlalu darinya, sambil mengerutkan alisnya ia mengambil surat tadi dan dibukanya, di situ tertulis dengan kata-kata: "Ketua kun-lun- pay Tie-hui-cu sekarang terjaring dalam kawanan penjahat partai Kie-lian-pay, Tie-hui-cu rupa-rupanya ada menyimpan rahasia yang sulit diterangkan, dalam partai Kun-lun-pay memang benar ada penghianat dan dua orang tua berambut panjang berbaju kuning yang menunjang partai Kie-lian dibelakang layar, kepandaian ilmu silatnya sangat tinggi sekali, harus sangat hati-hati menghadapi mereka!

Mereka malam ini mengadakan pemeriksaan terhadap ketua Kun-lun-pay di luar goa Siang-swat-tong, kalau kita nanti mendengar tanya-jawab mereka, segala-galanya akan jadi jelas! Sianlie berkelana di dunia kangouw seolah-olah burung yang sudah lama meninggalkan sarangnya, sudah merasa lelah dan harus kembali, kini sianlie pikir hendak kembali kepada ayah untuk melaksanakan tugas sebagai anak. Tuan- tuan dikala kau membaca surat ini sianli sudah berada sejauh ratusan pal bersama siaopek dan taywong. Surat ini kutulis dengan tergesa-gesa semoga semua berada dalam keselamatan!"

Surat itu tidak ditulis dan dialamatkan kepada siapa, juga tidak ada kata-kata yang mengandung penjelasan, tetapi dalam mata Hee Thian siang seolah-olah ribuan anak panah yang ditujukan ke ulu hatinya. Ia merasa amat sedih sekali, karena ia tahu bahwa enci Tiong-sun nya sudah salah paham dan merasa kecewa terhadap dirinya, kalau ia ingin memberi penjelasan tentang kesalah pahaman itu, barangkali bukanlah soal yang sangat mudah. Oe-tie Khao tahu bahwa Hee Thian siang pikirannya sedang risau, maka ia buru-buru mengalihkan pembicaraannya ke lain soal. katanya sambil tersenyum: "Dalam surat nona Tiong-sun tadi telah menyebutkan orang- orang Kie-lian-pay sebagai kawanan penjahat dan hendak memeriksa ketua Kun-lun-pay di luar goa Siang-swat-tong, tentunya sudah tahu bahwa Tie-hui-ca masih belum mati, kita yang datangnya sangat kebetulan, barangkali sebelum menjadi pertempuran sengit, masih ada waktu untuk menyaksikan suatu pertunjukan seru!"

Kata-kata itu benar saja telah membangkitkan semangat Hee Thian siang, dengan alis berdiri berkata: "Dalam surat enci Tiong-sun tadi dikatakan bahwa Tie-hui-cu agaknya menyembunyikan rahasia yang susah diceritakan, malam ini kita diam-diam harus seperti apa yang dikatakan oleh Oe-tie locianpwe tadi, sembunyikan diri ditempat ini, jikalau jiwa Tie- hui-cu belum terampas benar-benar, jangan sampai turun tangan, Kita tidak tahu siapakah pengkhianat partai Kun-lun- pay itu? Selain dari pada itu, kita juga tidak mengenal diri dua orang tua berbaju kuning dan berambut panjang yang menunjang Kie-lian-pay dari belakang layar itu..."

Oe-tie khao seolah-olah teringat sesuatu, dengan buru-buru ia menyela: "Semula ketika aku didalam ruangan Cong-swat- tong, hanya melihat seorang tua berambut panjang dan berpakaian kuning, sekarang bagaimana bisa berubah menjadi dua ?"

Hee Thian siang menunjuk kepada Leng Pek tek, katanya sambil tersenyum: "Tidak perduli ada beberapa banyak orang tua berambut panjang berpakaian kuning, dengan adanya Leng toako dipihak kita ini... "

Leng Pek Ciok yang mendengar ucapan itu buru-buru menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata sambil tertawa: "Hee laote, kau jangan berkata demikian, dalam partai Kie-lian-pay banyak sekali tokoh-tokoh yang kuat, Khie Tay coa, Pan Sam Kow dan lain-lainnya semua merupakan tokoh kuat yang tidak mudah kita hadapi, apalagi masih ada dua orang tua berambut panjang, yang masih belum kita ketahui sampai dimana ketinggian ilmu silatnya, maka malam ini jika kita berusaha hendak menolong Tie-hui-cu, rasanya akan menghadapi banyak kesulitan, maka Hee laote harus hati-hati sekali, jangan sampai berlaku gegabah!"

Empat orang itu berjalan sambil merunding, sudah tiba tidak jauh dari goa Siang-swat-tong, Hee Thian siang teringat ketempat dimana dahulu Taywong mengintai, Siaopek yang mempermainkan Go Eng, maka lantas berkata kepada Leng Pek Ciok bertiga: "Mari kita sembunyikan diri dibalik tebing kecil itu, kita sembunyi diatasnya, bisa menyaksikan mulut goa dengan tepat. Apalagi terpisahnya juga hanya tiga empat belas tombak tingginya, tidak sukar andaikata kita perlu menyerbu."

Semua orang yang mendengar perkataan itu semua pada melesat ke atas tebing, di atas tebing itu terdapat banyak batu, hingga merupakan suatu tempat yang sangat ideal untuk menyembunyikan diri.

Leng Pek Ciok dengan seorang diri sembunyi di atas pohon cemara, sedangkan Oe-tie Khao masuk ke celah celah batu, Hee Thian siang dan Hok Siu Im sembunyi di belakang batu besar.

Kini barangkali oleh karena waktunya masih awal, di luar goa Siang-swat-tong tidak tampak bayangan seorangpun juga, Hok Siu Im menggunakan suara yang sangat halus sekali berbisik-bisik di telinga Hee Thian siang: "Engko Siang, sejak kau tiba di gunung Kie-san ini agaknya tidak begitu memperhatikan aku, Apakah kau marah kepadaku?"

Hok Siu Im juga merupakan seorang wanita yang sangat cantik, terpisah dengan Hee Thian siang demikian dekat, bau harum yang menusuk hidung, sudah tentu menggoncangkan hati Hee Thian siang, apalagi ia sudah tahu salah paham Tiong-sun Hui Kheng, kesalahannya bukan dipihak Hok Siu Im, maka ia lalu menjawab sambil menggelengkan kepala dan tertawa getir: "Adik Im kau jangan menduga yang bukan- bukan, toh tidak pernah melakukan suatu kesalahan bagaimana aku harus marah kepadamu?"

Hok Siu Im yang mendengar ucapan itu, hatinya mulai lega, tetapi matanya masih merah, sekali ia bertanya dengan suara pelahan: "Engko Siang, kalau kau tidak marah kepadaku mengapa kau selalu tampak kesal saja? apakah binatang kuning berbulu kuning tadi memukulmu terlalu keras? Di kemudian hari apabila aku jumpa lagi dengannya, aku hendak menggunakan pedang Liu-yap-bian-si-kiam memotong satu kaki depannya, untuk membalas dendammu!"

Hee Thian siang yang mendengar ucapan itu buka kepalang terkejutnya, buru-buru menggoyangkan tangannya dan berkata: "Jangan, jangan! Sebaiknya kau jangan coba mengganggu dua binatang itu!"

Oleh karena hatinya cemas, maka ketika mengucapkan perkataan itu, suaranya agak tinggi, hingga Oe-tie Khao yang mendengar itu lantas mengerutkan alisnya dan melemparkan batu kecil untuk memperingatkannya.

Hee Thian siang lantas sadar dan tidak meneruskan ucapannya lagi, mukanya menjadi merah, tetapi saat itu dimulut goa Siang-swat-tong sudah tampak ada gerakan, dua orang anggota Kie-lian sedang repot menyediakan meja kursi dan lain-lainnya.

Waktu itu kira-kira sudah jam dua malam, dari dalam goa Siang-swat-tong, berjalan keluar serombongan orang, berjalan dimuka, dua orang tua berpakaian kuning, berambut panjang. Di belakangnya dua orang tadi diikuti oleh seorang yang mengenakan jubah warna putih gerombongan, namun muka orang itu ditutup oleh kerudung kain hitam, kecuali dia masih ada ketua golongan Kie-lian Khie Tay Cao, Go Eng, tetapi tidak tampak Phao Sam-kouw dan Tong-kie.

Maka dua orang tua berbaju kuning itu semuanya tertutup oleh rambutnya yang panjang sehingga tidak dapat dilihat dengan nyata, tetapi sikapnya sangat jumawa, mereka duduk ditengah-tengah, sedangkan Khie Tay dan Go Eng hanya duduk dikedua sisinya, orang berjubah putih gerombongan yang mukanya memakai kerudung hitam, agaknya kedudukannya rendah, ia tidak mengambil tempat duduk, sebaliknya berdiri di belakang orang tua berbaju kuning yang sebelah kiri.

Empat orang itu setelah masing-masing mengambil tempat duduk, orang tua berjubah kuning yang di sebelah kiri, dengan suaranya yang aneh katanya kepada Khie Tay Cao: "Kie Cianbunjin, kapan Tie-hui-cu bisa dibawa kemari ?"

Ciku Pek Thoa Losat Sam-kow bersama Samte Tong kie, akan membawa sendiri Tie-hui-cu datang kemari, sebelum jam tiga pasti sudah tiba di sini!" menjawab khie Tay Cao sambil tersenyum.

Pada waktu itu Leng Pek Ciok yang bersembunyi di atas pohon yang lebat dalam hatinya merasa terkejut, ia pikir Khie Tay Cao biasanya sangat jumawa, tetapi mengapa sekarang berlaku begitu menghormat dan menurut oleh orang tua berbaju kuning itu, Dari sini dapat diukur bahwa dua orang tua berbaju kuning itu sudah pasti merupakan orang yang berilmu tinggi, namun ia sendiri yang sudah hapal hampir semua tokoh rimba persilatan belum dapat menduga asal usul dia orang tua itu.

Sementara itu orang tua berbaju kuning yang di sebelah kanan sudah memperdengarkan suaranya yang aneh: "Khie ciangbunjin, urusan mengenai penggabungan antara golongan Kie-lian dengan Tiam-cong berlangsung bagaimana ?" Khie Tay Coa tampak sangat bangga dan ia tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: "Ketua Tian-cong-pay Thia-kwan Totiang dalam waktu dekat akan membakar kuil Pho hie to-kwan dan memimpin anggota anggotanya yang kuat pindah ke gunung Kie-lan, lalu menggabungkan diri dengan partai Kie-lan untuk menambah pengaruh dan kekuatan, sehingga bisa mengadu kekuatan dengan Siao- liem, Bu-tong Lo-hu, Ngo-bi, Swat-san dan lain lainnya!"

Orang tua itu perdengarkan suara: "Oo!"

Kemudian bertanya pula: "Dua partai Kie lian dan Cam- cong, kalau memang sudah bergabung, seharusnya memakai nama lain. Apakah kau sudah pikirkan nama baru itu ?"

"Tentang nama itu biarlah Locianpwe berdua saja yang memutuskan!" Berkata Khie Tay Cao sambil tertawa.

Orang tua berbaju kuning yang duduk di sebelah kiri berkata dengan suara berat: "Maksud kita ialah hendak membantu kau untuk menindas partai-partai yang lainnya sehingga menjadi partai terkuat dalam dunia, mengapa kita tidak menamakan saja CENG-THIAN-PAY ?"

Khie Tay Cao setuju dengan usul itu, katanya: "Baik, aku menurut perintah itu, nama CENG THIAN PAY itu sangat tepat."

Leng Pak Ciok dan lain lainnya yang mendengar Tiam-cong dan Kei-lian hendak tergabung dan membentuk partai lain yang dinamakan Ceng Thian pay semuanya terperanjat dan mendengarkan pembicaraan selanjutnya.

Orang tua berbaju kuning yang sebelah kanan, tiba-tiba menghela napas dan berkata kepada orang tua yang sebelah kiri: "Siauw Tek dari Kun lun pay sudah berubah menjadi patung es, Ciangbunjinnya Tie hui cu sudah menjadi tawanan, tampaknya partainya sudah akan runtuh, jadi usaha kita itu tidak cuma-cuma dan kita merasa lega sudah dapat melampiaskan dendam hati yang sudah lama ku pendam."

Orang tua sebelah kiri, berkata dengan suara dingin: "Membubarkan partai Kun-lun-pay hanya merupakan cita-cita kita yang kedua, sedang cita-cita kita yang pertama, entah kapan baru bisa terkabul? Orang itu sungguh cerdik, hingga saat ini masih belum mau unjuk muka."

Mengenai ucapan itu, Leng Pek Ciok dan Siu In yang mendengarkan, semua pada merasa bingung, tetapi bagi Oe- tie Khao dan Hee Thian siang yang sudah tahu bahwa orang tua baju kuning itu hendak bertemu muka dengan seorang rimba persilatan luar biasa pada masa itu, hanya belum dapat menduga siapa orangnya yang dinanti-nantikan, maka hanya dapat menduga-duga salah satu diantara orang tokoh itu, ialah Pak-bin-sin-po Hong Po Ciu, Lengwa Ceng-mo Cong-sun seng dan Hong ng khek May Ceng Ong !

Orang tua berbaju kuning yang sebelah kanan ketika mendengar ucapan itu berkata dengan suara dingin: "Paling lama kita akan menunggu lagi satu tahun " Berkata sampai

disitu, Pao San Kow dan Tong kie sudah tiba, dilengan Tong Kie waktu itu mengempit ketua Kun-lun-pay Tie-hui-cu yang sudah tidak ingat orang.

Orang tua berbaju kuning yang sebelah kiri bertanya kepada Phao Sam Kow sambil menunjuk Tie-hui-cu: "Racun duri Thain keng cek yang mengeram dalam tubuhnya sudah dihilangkan atau belum?"

"Dia telah terkena tiga biji racun Thian keng cek yang kulancarkan kepadanya, racunnya hingga tadi baru lenyap semua, tetapi su-to keng yang hendak menjaga sesuatu kemungkinan sudah menotok jalan darahnya Ngo-im hiat!" Menjawab Phao Sam kow sambil menganggukkan kepala. Orang tua berbaju kuning sebelah kiri berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala: "Untuk menghadapi orang seperti Tie hui cu perlu apa bertindak sampai demikian rupa?"

Sambil bicara orang tua itu mengibaskan lengan bajunya kepada Tie hui cu yang meringkuk dilempar sejarak setombak lebih, Hembusan angin dingin meluncur ke arahnya hingga badan Tie hui cu gemetaran, seolah-olah dibukakan totokan jalan darahnya oleh orang tua itu melalui ilmunya yang dilancarkan dari totokan jarak jauh.

Orang yang berpakaian gerombongan memakai kerudung muka dan berdiri di belakang orang tua sebelah kiri, sejak berada di situ belum pernah mengeluarkan suara, tetapi Hee Thian Siang yang berada di atas tebing justru mengambil perhatian istimewa terhadapnya. Sebab dalam penglihatannya ia merasa bahwa gerak kaki orang sangat gesit dan lincah. Agaknya pernah bertemu, tetapi entah dimana.

Tie hui cu yang sudah sadarkan diri, membuka sepasang matanya, pertama tama yang dilihatnya ialah ketua Kie lian pay Khei Tay cao, alisnya selalu mengerutkan, ia duduk di tanah lalu bertanya dengan suara gusar: "Khie Ciangbunjin, Kun lun pay denganmu ada permusuhan apa? Bagaimana kau telah berpihak dengan Tiam cong pay dan melakukan serangan secara menggelap terhadap diriku?"

Khie Tay Cao hanya tertawa saja, tidak menjawab. Tetapi orang tua berbaju kuning yang duduk di sebelah kiri sebaliknya sudah mengeluarkan suara dari hidung dan berkata kepada orang berbaju putih yang memakai kerudung yang berdiri di belakangnya: "Kau pergi ambil patung es nomor satu, biarkan ketua Kun lun pay ini duduk, kita nanti bergebrakan lagi!"

Orang berbaju putih berkerudung muka mendengar perintah itu lantas undurkan diri dan masuk ke dalam goa Siang swat tong. Hee Thian siang yang mengambil perhatian terus terhadap orang berkerudung itu, semakin percaya benar, bahwa orang itu rasanya pernah dikenalnya. Jika kerudung muka itu dibukanya, dia pasti merupakan seorang yang tidak asing baginya.

Hok Siu Im yang tak tahu apa-apa, ia hanya menonton keramaian saja, sedangkan Leng Pek ciok san Oe-tie Kao sedang bertekun dan berusaha untuk mengetahui asal-usul dua orang berbaju kuning itu. Tetapi bagaimana juga ia putar otak masih belum berhasil menemukan.

Sementara itu orang berjubah putih berkerudung muka yang masuk ke dalam goa, sudah keluar lagi dengan membawa patung es yang berasal dari Siauw Tek, patung itu dilemparkan di hadapan Tie-hui-cu.

Tie-hui-cu semula masih belum mengerti apa yang dinamakan patung es itu. Sekarang setelah barang itu berada di depan matanya, baru tahu bahwa Sam sutenya sendiri Siauw Tek ternyata sudah menjadi bangkai yang dibekukan oleh hawa dingin. Maka saat itu hatinya merasa perih dan bertanya kepada Khie Tao Cao: