Makam Bunga Mawar Jilid 11

 
Jilid 11

Ketika ia mendekati patung orang yang kedua dan sinar api dalam bumbung Hee Thian Siang menyoroti orangnya, ia terkejut dan berdiri kesima. Sebab wajah dan potongan orang itu agaknya tidak asing baginya, adalah pendekar pemabokan Bo Bu Yu yang mengadakan perjanjian dengannya yang hendak bertemu di gunung Ngo-bie-san! Di depan dada Bo Bu Yu juga tergantung sebuah plat kuningan, di situ tertulis: "PATUNG SALJU KEDUA. PENDEKAR PEMABOKAN BO BU YU"

Terhadap patung berbaju putih Siauw tek, karena Hee Thian Siang belum pernah kenal dengannya, ia masih menyangsikan kebenarannya. Tetapi terhadap pendekar pemabokan Bo Bu Yu ia sedikitpun tidak merasa curiga. Ia tahu benar, sekalipun Oe Tie Khao sendiri yang terkenal sebagai tukang ukir terpandai pada masa itu juga tidak mampu menciptakan patung demikian mirip dengan keadaan pendekar pemabokan yang asli.

Di dalam keadaan terkejut dan sedih, dengan sendirinya bulu roma Hee Thian Siang berdiri, keringat dingin juga membasahi badannya. Ia kini baru menyadari bahwa di sekitar tempatnya berdiri penuh dengan bahaya maut; maka ia lalu mengeluarkan barang pusaka perguruannya yang berupa bom peledak Kian Thian-pek-lek, benda itu digenggam dalam tangannya, siap hendak menghadapi segala kemungkinan.

Ketika tangan Hee Thian Siang dimasukkan dalam sakunya, orang tua berbaju kuning yang diam-diam mengikuti di belakang dirinya, sudah hendak menggerakkan jari tangannya untuk menotok jalan darah belakang kepalanya. Tetapi ketika orang tua itu melihat Hee Thian Siang mengeluarkan butiran benda kecil yang dapat digunakan untuk merubuhkan bukit, sejenak tampak terkejut. Agaknya ia tahu benar hebatnya senjata itu sehingga tak berani menurunkan tangan keji.

Hee Thian Siang terus menggunakan api istimewanya, di jarak yang hampir sama kembali tampak sesosok bayangan orang yang mengenakan jubah warna kuning. Dari samping kelihatan brewoknya yang panjang dan tebal. Orang berjubah kuning bermuka brewokan itu merupakan tanda she bagi Hee Thian Siang. Maka setelah berpikir sejenak lantas teringat bahwa orang itu tak lain Hong-tien Ong-khek yang pernah menghadiahkan sebutir kipas pusakanya.

Hong-tien Ong-khek May Ceng Ong merupakan salah satu dari tiga orang terkuat dalam rimba persilatan pada masa itu. Bukan saja namanya sangat terkenal, kepandaian ilmu silatnya juga sudah mencapai taraf yang tiada-taranya, akan tetapi kini juga sudah menjadi beku di dalam goa Siang-swat- long. Ini bukankah sangat mengejutkan Hee Thian Siang.

Selagi hendak maju lagi untuk mengadakan pemeriksaan lebih lanjut, dari luar goa tiba-tiba terdengar suara siulan binatang yang sangat tajam. Suara itu adalah suara kera Siaopek, maka ia segera mengetahui bahwa pasti ada orang Kie-lian-pay yang berada di luar goa.

Ia masih belum tahu benar siapa orang yang datang karena masih berada dalam goa, lagi pula tidak kenal keadaan dalam situ, sudah tentu sangat berbahaya baginya. Maka ia lalu membatalkan maksudnya yang hendak menyelidiki patung brewokan itu, apakah betul Ong-khek May Ong ataukah bukan. Maksud utamanya yang hendak mencari potongan thian-keng yang dipindahkan dari goa tempat kuburan elang raksasa. Secepat kilat ia sudah lari keluar goa lagi. Ketika Hee Thian Siang berpaling, orang tua berbaju kuning berambut panjang di belakangnya kembali mengangkat tangan hendak menurunkan tangan keji. Tetapi akhirnya oleh karena takut menghadapi bom peledak Kiau-tian-pek-lek, maka membiarkan ia keluar dengan penasaran. Hee Thian Siang tak tahu bahwa Kian thian-pek-lek yang merupakan senjata terampuh dari perguruannya sudah menolongnya dari bahaya maut. Ia hanya merasa waktu itu walaupun sudah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya untuk menahan serangan hawa dingin, namun masih tidak berhasil, maka buru-buru ia keluar dari dalam goa.

Tiba di luar goa, di situ ternyata sunyi-senyap, tidak terdapat bayangan seorangpun termasuk Siaopek dan Taywong. Selagi dalam keadaan terheran-heran, tiba-tiba telapak tangan yang berbulu kuning menarik dirinya ke atas gunung yang tinggi. Ketika taywong dan Hee Thian Siang tiba di atas puncak gunung yang tinggi, Taywong mengeluarkan tangannya menunjuk ke bawah. Hee Thian Siang segera tampak Siaopek yang mengenakan rompi emasnya dengan sangat lincahnya sedang memainkan diri Go Eng yang kakinya tinggal satu, sehingga berputar-putaran hendak menyergap Siaopek.

Kiranya ketika Go Eng tadi tiba di mulut goa, Siaopek yang sangat cerdik sengaja mengeluarkan suara siulan panjang untuk memberitahukan kepada Hee Thian Siang, sedangkan ia sendiri lantas menyambar pohon rotan mengayun-ayunkan dirinya di atas goa itu.

Go Eng yang melihat kera putih sangat cerdik itu timbul rasa sukanya, apalagi ia tidak mengerti darimana kera kecil itu mengenakan rompi emas demikian berharga, maka ia bernapsu menangkapnya dan berusaha hendak menundukkannya. Dengan gerakan yang sangat lincah, Siaopek sengaja memancing Go Eng perlahan-lahan berlalu menjauh dari mulut goa, supaya Hee Thian Siang dapat kesempatan mengelakkan diri dari perhatiannya. Kini setelah Hee Thian Siang bersama Taywong berada di atas puncak gunung, mata Siaopek yang tajam sekali telah melihat keadaan itu, ia memang sengaja mempermainkan Go Eng, maka gerakannya pura-pura diperlambat, kakinya terpeleset, ia sengaja jatuhkan diri.

Go Eng tidak mengerti bahwa Siaopek telah menggunakan akal, menyaksikan kejadian itu bukan kepalang-girangnya, dengan menggunakan tongkatnya sebagai penunjang, ia melompat sejauh tiga tombak. Di tengah udara tangannya menjulur hendak menyambar leher Siaopek.

Sesaat sebelum ujung jari tangan menyentuh leher Siaopek, kera kecil yang cerdik itu dengan tiba-tiba menggelindingkan diri ke belakang , dan tangannya yang jahil telah menyambar dan merebut tongkat baja yang digunakan oleh Go Eng sebagai ganti kaki kirinya. Oleh karena Go Eng sedikitpun tidak mengira bahwa kera kecil itu memiliki gerak badan sedemikian lincah, ia pun tidak mengetahui bahwa Siaopek mempunyai kekuatan tenaga yang luar biasa, ditambah lagi karena ia menyergap di tengah udara, sehingga dengan mudah saja tongkat bajanya direbut oleh Siaopek.

Setelah Siaopek berhasil merebut tongkat dari tangan Go Eng, ia berdiri di tempat sejauh tiga tombak, dengan sangat bangganya ia buat main tongkat Go Eng sambil mengeluarkan siutan tiada hentinya.

Go eng yang dipermainkan sedemikian rupa meskipun merasa heran dan mendongkol tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, ia terpaksa memandangnya dan membiarkan kera kecil putih itu mengejek dirinya, sementara matanya berputar memikirkan akal keji. Meskipun ia memiliki kepandaian dan kekuatan tenaga yang cukup hebat, tetapi oleh karena paha kirinya sudah kutung, tongkat di tangannya yang digunakan untuk menunjang kaki itu juga sudah berada di tangan Siaopek, maka harapan untuk menangkap hidup-hidup kera itu kini sudah lenyap dari pikirannya.

Selagi Go Eng mencari akal untuk menurunkan tangan keji pada Siaopek, Siaopek yang sangat cerdik dan kuat tenaganya, sudah mengeluarkan seluruh tenaganya, dua tangan bergerak, satu tangan memegang ujung kaki, tongkat itu dipaksa melengkung bagaikan kaki kuda. Go Eng semula hanya merasa bahwa kera itu keadaannya bagus dan menyenangkan, gerakannya lincah, tetapi sekarang setelah mengetahui kekuatan tenaganya yang demikian hebat alisnya lalu dikerutkan, dengan diam-diam tangannya mengeluarkan dua buah senjata rahasianya api kiuju-leng-hwe, hendak digunakan untuk menyerang Siaopek, bahkan karena khawatir serangannya itu tidak mengena, di tangan kirinya kembali menggenggam dua buah duri beracun Thian-keng-cek.

Siaopek meskipun sengaja mempermainkan Go Eng, tetapi terhadap orang-orang jahat dari golongan Kie-lian-pay ia sudah waspada. Asap dan sinar biru yang timbul dari kiuju- leng-hwe begitu baru keluar dari tangan Go Eng, Siaopek sudah bergerak dan melompat sejauh empat tombak.

Go Eng adalah seorang berhati kejam dan sudah tahu bahwa Siaopek itu gerakannya sangat lincah hanya dua buah kiuju-leng-hwe takut tidak mengenakan dirinya maka dengan diam-diam tangan kirinya dari dalam sakunya menyentil dan melancarkan serangan dengan dua buah duri beracun Thian- keng-cek, dengan saling menyusul dua buah duri itu meluncur ke arah Siaopek yang masih berada di tengah udara.

Waktu itu Siaopek sedang melemparkan tongkat baja yang sudah melengkung kepada Go Eng, dan tongkat baja itu tepat menahan duri berbisa thian-keng-cek yang pertama, dengan demikian tongkat itu lalu membentur duri yang dilancarkan oleh Go Eng, setelah menimbulkan suara "trang" yang agak nyaring, duri berbisa itu ternyata telah menembusi tongkat baja sehingga menjadi lobang, di sini merupakan suatu bukti betapa hebatnya senjata duri berbisa itu, yang ternyata benar merupakan senjata ampuh yang dapat menembusi segala benda keras!

Serangan pertama dari duri berbisa dari Go Eng dengan demikian telah menjadi meleset, tetapi serangan yang kedua, tetap mengenai ketiak sebelah kanan siaopek.

Go Eng perdengarkan suara tertawanya yang girang. Selagi hendak menyaksikan siaopek yang akan jatuh di tanah dalam keadaan pingsan, tapi secepat kilat pula sudah melompat bangun dan meloncat ke puncak gunung yang tinggi, dengan gerakannya yang lincah ia dapat mendaki puncak gunung yang tinggi!

Siaopek yang tidak takut dan tidak mempan duri berbisa thian-keng-cek, hal ini lebih mengejutkan Go Eng, sehingga ia berdiri sekian lama dalam keadaan terkesima !

Sudah tentu ia tak dapat menduga bahwa rompi emas yang dipakai oleh Siaopek adalah terbuat dari sisik pelindung jalan darah peninggalan Tayhiap Siang Jin yang dijadikan rompi oleh Tiong Sun Hui Kheng. Maka ketika kera kecil itu mendaki ke puncak gunung yang tinggi, ia hanya mengawasinya dengan perasaan bingung. Ia tidak dapat menduga darimana asa-usulnya kera kecil yang cerdik itu ?

Siaopek ketika tiba di puncak gunung, di situ berkumpul lagi dengan Hee Thian Siang dan Taywong, dari situ mereka bertiga balik kembali ke jalan semula, baru saja melalui sebuah tikungan lantas berpapasan dengan Oe-tie Khao dan Tiongsun Hui Kheng yang menyusul mereka ! Tiong Sun Hui Kheng dan Oe-tie Khao ketika menampak mereka dalam keadaan selamat, dalam hatinya merasa lega, tetapi Siaopek yang terkena serangan oleh duri berbisa thian- keng cek Go Eng, duri itu lantas diberikan kepada Tiong Sun Hui Kheng.

Tiong Sun Hui Kheng mengerutkan alisnya, berkata sambil menggelengkan kepala: "Orang-orang Kie-lian-pay benar saja menggunakan duri berbisa ini untuk mencelakakan diri orang, di sini adalah suatu bukti bahwa apa yang dikatakan oleh Duta Bunga Mawar itu semuanya benar, jikalau aku tidak menggunakan sisik naga pelindung jalan darah untuk membuatkan Siaopek sebuah rompi penjaga dirinya, sekarang ia pasti akan mengalami penderitaan seperti sewaktu di gunung Oey-san !".

Sehabis berkata demikian, ia menjulurkan tangannya untuk menggendong Siaopek sambil berjalan ia bertanya jepada Hee Thian Siang: "Duri berbisa thian-keng-cek sudah muncul ditempat ini, kalau begitu perjalananmu ke goa Siang-swat- tong pasti akan menemukan pohon thian-keng yang diambil kawanan Kie-lian dari gunung Hok-gu-san".

Hee Thian Siang teringat apa yang disaksikannya dalam goa itu, dengan hati masih bergidik ia menjawab sambil menggelengkan kepala: "Aku tidak pernah melihat pohon duri thian-keng, sebaliknya telah menyaksikan suatu pemandangan yang luar biasa dan mengejutkan, lebih-lebih daripada menemui pohon duri thien-keng".

"oo! Didalam goa Siang-swat-tong ternyata masih ada barang yang mengherankan lebih daripada pohon thian-keng

?" Berkata Oe-tie Khao yang merasa tertarik atas penuturan Hee Thian Siang. "Orang yang kusaksikan itu merupakan patung-patung yang sudah membeku seolah salju", menjawab Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

"Apa yang dinamakan patung yang sudah membeku ?", bertanya Tiong-sun Hui Kheng heran.

Oe-tie Khao yang mendengar ucapan itu tiba-tiba teringat kepada ucapan orangtua berbaju kuning didalam Cong-biauw- tong, yang hendak merubuhkan dirinya, kemudian diantar ke dalam goa Siang-swat-tong, akan dibekukan menjadi patung. Saat itu ia merasa bergidik, dan bertanya kepada Hee THian Siang sambil mengerutkan alisnya: "Hee-laote, apakah didalam goa Siang-swat-tong itu benar-benar ada patung yang dinamakan patung membeku menjadi salju ?"

"Bukan saja benar ada, bahkan jumlahnya barangkali juga tidak sedikit. Hanya menurut apa yang kuketahui saja sudah ada tiga buah banyaknya", berkata Hee Thian Siang sambil tertawa getir.

Tiong-sun Hui Kheng semakin mendengar semakin merasa aneh, maka lalu bertanya sambil mengerutkan alisnya: "Patung siapakah yang kau saksikan itu ? Apakah merupakan orang-orang ternama ?"

"Bukan saja merupakan orang-orang ternama, kalau disebutkan barangkali Oe-tie locianpwe dan enci Tiong-sun semua akan terperanjat", jawab Hee Thian Siang.

"Laote, kau jangan coba jual mahal, coba lekas kau ceritakan siapa orangnya yang sudah kau saksikan menjadi patung membeku itu ?", berkata Oe-tie Khao sambil tertawa.

"Patung pertama yang kusaksikan, aku tidak kenal, tapi menurut tanda plat yang tergantung di dadanya, patung itu adalah patungnya Tiauw Tek, sute ketua Kun-lun-pay Tie-Hui- cu".

Oe-tie Khao yang mendengar ucapan itu bukan kepalang terkejutnya. Katanya: "Siauw Tek pernah hadir dalam pertemuan di puncak gunung Thian-tu-hong waktu itu, ia memang suka mengenakan pakaian berwarna putih, dandanannya seperti pelajar, ia merupakan seorang gagah dan tampan yang berusia kira-kira tiga puluh tahun."

"Betul dia, sedikitpun tidak salah !" Berkata Hee thian siang sambil menghela napas.

Oe-tie Khao dan Tiong sun Hui Kheng semua tahu bahwa Siauw Tek itu merupakan salah satu tokoh terkemuka dalam golongan Kun-lun-pay, kepandaian Ilmu silatnya sangat tinggi, sungguh tidak disangka ia menemui ajalnya didalam goa Siang swat tong, bahkan ia sudah berubah menjadi patung yang sudah membeku!

Mereka saling berpandangan sejenak, juga menyadari bahwa orang yang menyembunyikan diri di belakang layar menunjang gerakan jahat orang-orang Kie lian pay pasti adalah seorang luar biasa dan seorang gaib dalam rimba persilatan !

"Patung pertama yang kau lihat adalah patungnya Siauw tek, dan kedua itu siapa Pula ?" bertanya Tiong sun hui kheng kepada Hee Thian siang sambil mengerutkan alisnya.

Mata Hee Thian siang waktu itu berkaca-kaca ia menjawab dengan suara sedih, "Patung kedua itu adalah patungnya orang yang pernah membantu aku, dan berjanji denganku hendak mengadakan pertemuan di gunung Ngo bie san. Dia adalah seorang tingkatan tua dalam rimba persilatan !" "Apakah bukan pendekar pemabokan Bo bu yu ?" bertanya Oe-tie Khao kaget.

"Dugaan locianpwe benar, dia adalah Bo Bu yu locianpwe yang berpengalaman luas, yang dalam rimba persilatan mendapat julukan pendekar pemabokan !" menjawab Hee Thian siang sambil menganggukkan kepala dan mengucurkan air mata.

Oleh karena Oe-tie Khao juga merupakan sahabat lama Bo Bu yu, maka ketika mendengar keterangan itu, juga merasa pilu hatinya. setelah berpikir sejenak ia bertanya pula: "Hee laote, bagaimana kau berani memastikan bahwa patung yang sudah membeku yang kau lihat itu adalah ciptaan dari orang- orang yang sebenarnya ?"

"Terhadap tokoh Kun-lun-pay Siauw Tek aku tidak kenal, tetapi terhadap Bo Bu yu locianpwe aku kenal betul! Begitu melihat patung itu, aku sudah tahu, sekalipun Oe-tie locianpwe yang terkenal sebagai tukang pengukir dan pematung yang terpandai, juga tak dapat meniru patung yang demikian mirip!"

Dengan perasaan terheran-heran dan sedih Oe-tie Khao bertanya pula: "Dua patung itu nama dan kedudukannya sudah cukup mengejutkan orang yang mendengarnya, dan siapa pula patung yang ketiga itu ?"

Hee Thian siang dengan sikapnya yang seolah olah ia sendiri juga tidak percaya, menjawab: "Oe-tie locianpwe, kau bingung! Kedudukan dua patung yang kusebutkan dahulu tadi masih merupakan nama orang nomor dua, kedudukan dan tingkatan patung yang ketiga ini, barulah benar benar sangat mengherankan dan mengejutkan orang yang mendengarkan, dia adalah salah satu dari tiga orang yang paling sulit dihadapi pada dewasa ini!" Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu terkejut, tanyanya: "Salah satu dari iga orang yang paling susah dihadapi? Adalah gurumu sendiri ataukah ayahku?"

"Bukan suhu juga bukan ayahmu, melainkan Hong-tim Ong Khek May Ceng Ong locianpwe yang dulu pernah menghadiahi aku sebuah kipas di sebuah rumah makan di kota Gie-ciang!"

Tiongsun Hui Kheng berpikir sejenak, kemudian menjawab sambil menggelengkan kepala: "Aku tidak percaya bahwa Hong-tim Ong Khek May Ceng Ong bisa binasa di dalam goa Siang-swat-tong dan berubah menjadi patung membeku!"

"Enci Tiong-sun, bukan hanya kau yang tidak percaya sedangkan aku sendiri juga tidak, tetapi semua iu telah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana aku tidak percaya?" Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa getir.

Tiong-sun Hui Kheng kembali berpikir, kemudian berkata : "Mari kita buktikan dulu kebenarannya!"

"Jikalau mencari buktinya, sudah tentu paling baik, tapi sekarang aku sudah dibingungkan oleh apa saja yang kulihat di dalam goa itu sehingga aku merasa kabur, pikiranku merasa risau. Aku tidak dapat memikirkan bagaimana harus bertindak?" Berkata Hee Thian Siang.

"Urusan ini tidak terlalu susah, kau dengan Oe-tie locianpwe pergi ke gunung Ngo-bie-san untuk memenuhi janji, kau nanti akan dapat membuktikan sendiri pendekar pemabokan Bo Ju datang atau tidak?"

Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa. "Apakah enci sendiri hendak bersama kudamu dan siaopek serta taywong pergi ke gunung Kun-lun-san untuk mencari keterangan apakah benar siao Tek masih hidup ataukah sudah mati?" Bertanya Hee Thian Siang.

"Oleh karena jejak Hong-tim Ong-khek Tay Ceng Ong tidak menentu, dia seolah-olah naga sakti dari langit, siapapun tidak dapat menemukannya, maka terpaksa mencari keterangan di dua tempat yang berbeda yaitu Ngo-bie-san dan Ku-lun-san untuk mencari keterangan. Jikalau Siauw Tek dan Bo Bo Ju benar-benar mendapat kecelakaan seperti apa yang kau duga, maka bagi Ong-khek Tay Ceng Ong mungkin juga banyak bahayanya! "Seandainya nanti kau bertemu muka dengan Bo Bu Ju Locianpwe di gunung Ngo-bie-san atau aku bertemu dengan Siauw Tek di gunung Kun-lun-san maka kecurigaan kita-kita ini dengan sendirinya akan lenyap!" Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil mengangguk kepala dan tertawa.

"Enci Tiong-sun, kita baru saja bertemu tapi harus berpisah lagi dengan tergesa-gesa.." Berkata Hee Thian Siang sambil mengerutkan alisnya. Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu matanya melirik kepada Oe-tie Kao, pipinya merah seketika. Oe-tie Khao tahu, bahwa kedua muda-mudi itu terlibat dalam asmara, maka dia menyingkir jauh-jauh dan berjalan lebih dulu bersama taywong supaya tidak mengganggu mereka Tiong-sun Hui Kheng mengerti bahwa tindakan itu memang disengaja. Maka ia pura-pura merasa tidak senang dan mendelikkan matanya kepada Hee Thian siang dan berkata: "Apakah kau dapat menduga bahwa kali ini kau akan bertemu denganku di gunung Kie-lian-san ini?"

Dengan sikap sungguh-sungguh Hee Thian siang menatap Tiong-sun Hui Kheng kemudian menjawab: "Sejak pertemuan di gunung Tiam-cong-san dan kemudian berpisah, meskipun tiap hari akan memikirkan diri enci, tetapi pertemuan kita kali ini benar-benar di luar dugaanku." "Pertemuan ini adalah di luar dugaanmu, maka kalau berpisah lagi juga tidak perlu sedih. Apalagi kita yang masih akan pergi ke gunung Ngo-bi dan Kun-lun, apa yang akan disaksikannya di sana nanti masih perlu dibuktikan kebenarannya, maka waktu untuk bertemu lagi, bagaimanapun khan tidak akan lama!" Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa.

Hee Thian Siang yang mendengar jawaban itu, katanya: "Kalau enci sudah berkata demikian, hanya berpisah untuk sementara waktu dengan sendirinya mudah sekali dilewatkan. Akan tetapi kapan kira-kira kita nanti akan bertemu lagi?"

"Waktu tidak perlu ditetapkan, akan tetapi tempatnya di gunung Ngo-bi-san saja, sebab kudaku bisa lari cepat sekali, asal ditengah jalan tidak mendapat halangan, mungkin ketika kalian nanti baru tiba, aku juga sudah akan menyusul."

Hee Thian Siang tiba-tiba teringat sesuatu, maka dengan penuh perhatian ia berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng: "Enci Tion-sun, kali ini kau pergi ke gunung kun-lun, ada seorang yang sangat berbahaya, kau harus ambil perhatian secara khusus.!"

Tiong-sun Hui Kheng baru merasa heran mendengar ucapan itu, tetapi Hee Thian Siang sudah berkata pula: "Dia adalah murid kepala ketua Kun-lun-pay He-hui-cu, yang bernama Liok Giok Ji!"

"Aku pernah dengar nama Liok Giok Ji itu, dia bagaikan setangkai bunga luar biasa dari gunung Kun-lun, bagaimana kau katakan ia sebagai orang yang berbahaya?" Bertanya Tiong-sun Hui Kheng terheran-heran.

Hee Thian Siang lalu menceritakan pengalamannya yang pahit ketika mengadakan kunjungan ke gunung Kie-lian-san. Setelah menceritakan itu ia berkata sambil tertawa: "Enci Tiong-sun, coba kau pikir, seorang seperti nona Liok Giok Ji itu, berani menggunakan duri thian-keng-cek untuk menyerang orang dengan secara serampangan, apakah bukan orang yang sangat berbahaya?"

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu merasa heran dengan cara bagaimana Liok Giok Ji tanpa sebab melakukan tangan keji sedemikian rupa? Dalam hal ini pasti ada mengandung rahasia apa-apa, maka lalu ia mengerutkan alisnya dan berpikir keras.

Sementara itu Hee Thian siang sudah berkata lagi sambil tersenyum: "Enci Tiong-sun, kali ini dalam perjalananmu ke gunung Kun-lun-san, kecuali mencari keterangan tentang diri Siauw Pek, benar sudah mendapat bahaya atau tidak, tolong kau sampaikan juga kepada Tie-hui-cu locianpwe tentang golongan Kun-lun, yang terjadi penghianatan antara muridnya sendiri, katakan saja bahwa itu menurut pemberitahuan dari Duta Bunga Mawar supaya ketua Kun-lun-pay itu berlaku hati- hati dan jangan sampai menimbulkan kejadian yang tidak diingini!"

Tiong-sun Hui Kheng baru saja menganggukkan kepala, Taywong yang berjalan bersama-sama Oe-tie Khao dengan tiba-tiba berhenti, tangannya menunjuk ke tempat jauh dan memberi tanda-tanda kepada Tiong-sun Hui Kheng.

Tiong-sun Hui Kheng lalu pasang telinga, untuk mendengar suara apa, saat itu ia baru mendengar suara siulan seekor binatang.

Hee Thian Siang tahu bahwa gadis itu juga mengeluarkan suara untuk memanggil kudanya, maka lantas berkata sambil mengerutkan alisnya: "Enci Tiong sun, kudamu bisa lari cepat, mengapa buru-buru hendak pergi?" Tiong-sun Hui Kheng menatap wajahnya sejenak, katanya sambil tersenyum: "Aku bukannya tergesa-gesa hendak pergi, oleh karena ketua Kie-lian-pay Khie Tay Cao sudah balik kembali, maka aku harus berusaha untuk memancing ia pergi lagi, supaya kau dan Oe-tie Khao locianpwe bisa keluar dari sarang harimau ini dalam keadaan selamat!"

"Sungguh unik, enci hendak balapan kuda dengan Khie tay Cao, tetapi dua ekor kuda jempolan dan istimewa itu, apakah Ceng-hong-kie yakin bisa menangkan Cian-ile-kiok-hwat- cengn?"

"Urusan ini sebetulnya aku sendiri juga tidak yakin benar, tetapi Khie Tay Cao sudah lari beberapa ratus pal dengan cuma-cuma, dalam keadaan lelah seperti itu, sudah tentu keadaan akan lain, kudanya belum tentu dapat mengejar kudaku Ceng-hong-kie!"

Berkata sampai disitu, kuda Ceng-hong-kie yang mendengar panggilan majikannya sudah dapat menemukan. Dengan gerakannya yang gesit dan lincah sekali ia lalu menghampiri, saat itu di kaki gunung benar saja terdengar derap kaki kuda!

Tiong-sun Hui Kheng lalu melambaikan tangan kepada Hee Thian Siang dan Oe-tie Khao berdua sambil memondong Siaopek lantas lompat ke atas punggung kudanya!

Oe-tie Khao yang sangat cerdik, juga Hee Thian Siang tahu benar bahwa Kie Tay Cao itu sangat lihay, maka dua orang itu lalu buru-buru bersembunyi kedalam rimba yang lebat.

Tak lama kemudian, Khie Tay Cao yang tinggi besar yang saat itu berada diatas kudanya sudah tampak dari atas, Tiong- sun Hui Kheng lalu mengeluarkan siulan panjang, dengan membawa Taywong, memacu kudanya dan dilarikan kearah gunung Kun-lun. Ketua Kie-lian-pay Khie Tay Cao ternyata sudah terjebak oleh tipu muslihat Tiong-sun Hui Kheng, lari mondar-mandir beberapa ratus pal dengan tangan hampa, karena ia tidak berhasil menemukan jejak Tiong-sun Hui Keng dan Oe-tie Khao. Selagi dalam keadaan marah-marah tiba-tiba menemukan jejak Tiong-sun Hui Kheng sudah tentu ia merasa sangat girang hingga unjukkan tertawanya yang nyaring dan pedal kembali kudanya mengejar Tiong-sun Hui Kheng!

Khie Tay Cao pedal kudanya seperti kalap. Sedangkan Tiong-sun Hui Kheng sengaja melarikan kudanya perlahan- lahan, setelah jarak kedua pihak semakin dekat, dari lima puluh tombak hingga diperpendek menjadi empat puluh tombak dan dari empat puluh tombak menjadi tiga puluh tombak, namun Tion-sun Hui Kheng masih tenang-tenang saja, seolah-olah tidak menghiraukan dirinya Khie tay Cao.

Setelah menunggu sampai sejarak lima belas tombak, Tiong-sun Hui Kheng mulai pedal kudanya, saat itu dua telinga Ceng-hong-kie berdiri, dan meringkik nyaring, empat kakinya digerakkan laksana terbang, sebentar saja sudah menghilang lagi dari depan Khie Tay Cao.

Khie Tay Cao sudah tidak memberi kesempatan kepada Tiong-sun Hui Kheng untuk lepas lagi dari tangannya, sambil mengeluarkan geramnya yang hebat ia terus mengejar dari belakang.

Dua ekor kuda saling mengejar dengan jarak cukup jauh terpisahnya, dalam waktu sekejap mata keduanya sudah menghilang ke lapisan bukit!

Oe-tie Khao yang menyaksikan Khie Tay Cao sudah terpancing jauh oleh Tiong-sun Hui Kheng, lalu bersama Hee Thian siang dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, lari keluar dari daerah gunung Kie-lian-san! Setelah berlari jauh dari gunung Kie-lian, Hee Thian Siang lalu berkata kepada Oe-tie Khao sambil tertawa: "Oe-tie locianpwe, didalam goa siang-swat-tong aku melihat tiga buah patung yang sudah membeku, dan kau sendiri, apa yang kau temukan di ruangan Cong-biauw-tong? Siapakah sebetulnya orang yang dibuat andalan oleh orang-orang Kie-lian-pay?"

"Dia adalah seorang tua berbaju kuning berambut panjang, namun wajahnya susah dikenali dan suaranya juga halus sekali seperti dibikin-bikin agar jangan sampai dikenali."

"Orang tua berbaju kuning itu siapakah nama dan julukannya? Dan dari golongan mana?"

"Nama dan julukannya aku tidak tahu, begitu pula golongannya, tetapi seorang seperti Khie Tay Cao yang demikian gagah dan menganggap dirinya sudah kuat, juga berlaku sangat menghormat sekali terhadap orang tua berbaju kuning itu, jikalau bukan nona Tiong-sun yang datang secara kebetulan dan mengelabui Khie tay Cao demikian sempurna, aku hampir saja terbinasa ditangan orang tua berbaju kuning itu, atau setidak-tidaknya terkubur didalam goa Siang-swat- tong, dijadikan patung membeku seperti apa yang kau saksikan!"

Sehabis berkata demikian, ia lalu menceritakan apa yang dialami didalam Cong-biauw-tong.

Hee Thian Siang sendiri tak tahu bahwa ketika didalam goa Siang-swat-tong juga pernah dibayangi oleh seorang tua berbaju kuning berambut panjang dan wajahnya susah dikenali. Jikalau bukan lantaran tangannya menggenggam sebutir bom Kiam-thian-peklek perguruannya, sehingga orang tua itu merasa ragu-ragu untuk turun tangan, barangkali ia sudah mengalami kematian dan menjadi patung membeku didalam goa itu secara mengenaskan! Sehabis mendengar penuturan itu, ia berkata sambil mengerutkan alisnya: "Jikalau Bo Bu Ju locianpwe masih dalam keadaan selamat dan masih bisa menepati janjinya ke gunung Ngo-bi, mungkin dia tahu rahasia orang tua berbaju kuning itu. tapi seandainya benar-benar ia sudah mengalami nasib buruk.  "

Oe-ti Khao menghela napas panjang dan berkata: "Menurut dugaanku, patung membeku yang laote saksikan di goa Siang-swat-tong, barangkali semuanya benar!"

"Bagaimana locianpwe bisa menduga demikian?"

"sebab orang-orang Kie-lian-pay semuanya memandang goa siang-swat-tong itu sebagai tempat keramat dan tempat larangan bagi orang luar, apa yang ada didalam goa dianggap mengandung rahasia besar. perlu apa dia menggunakan barang tiruan membuat patung itu untuk menipu dirinya sendiri?"

Mendengar keterangan Oe-tie Khao, Hee Thian siang merasa khawatir terhadap nasib Bo Bu Ju, oleh karena ia ingin lekas dapat membuka rahasia itu, maka keduanya lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya lari menuju ke gunung Ngo-bi.

Tiba di daerah gunung Ngo-bi, terpisah dengan waktu yang ditetapkan oleh Hee thian Siang bersama Bo Bu Ju, masih ada dua hari. Tetapi ia tidak menemukan Say Han Kong dan Ca Bu Kao yang menurut janji, seharusnya sudah tiba ditempat itu lebih dahulu!

Dalam keadaan apa boleh buat, Hee Thian Siang bersama Oe-tie Khao mondar-mandir didekat tempat itu, sehingga pada pagi hari tanggal dua puluh bulan lima masih tidak menemukan Bo bu Ju, Say Han Kong dan Ca Bu Kao. Hee Thian siang lalu berkat kepada oe-tie Khao sambil tertawa getir: "Oe-tie locianpwe, sekalipun benar bahwa Bo Bu Ju locianpwe sudah mendapat dan mengalami kejadian buruk itu, tetapi Say locianpwe dan bibi Ca toh tidak semuanya mendapatkan kecelakaan. tapi dengan cara bagaimana hingga hari ini juga masih belum tiba. Apakah mereka juga menjumpai suatu kejadian aneh?"

"Gangguan bagi setiap orang Kang-ouw sudah biasa, jadi tak dapat dielakkan, apalagi urusan seperti ini sudah menjadi ruwet sedemikian rupa, hingga tak dapat diduga dengan hanya mengandalkan kecerdikan otak manusia, marilah kita tunggu lagi satu dua hari untuk melihat mereka, salah satu diantara tiga orang itu akan tiba di sini atau tidak?"

Namun aku tak bisa menunggu lagi, aku harus pergi ke puncak gunung Ngo-bi untuk memenuhi janjiku kepada Hok siu Im!"

Oe-tie Khao berpikir lama, kemudian baru berkata: "Begini saja, laote, kau pergi memenuhi janji kepada nona Hok Siu Im di puncak gunung Ngo-bi, sedangkan aku akan disini untuk menunggu kedatangan mereka, nanti kalau tugas masing- masing sudah selesai, diwaktu senja kita berkumpul di kuil Khun-leng-to-ie di atas gunung Ngo-bi."

"Ini merupakan suatu cara yang paling baik, aku terpaksa minta tolong locianpwe menunggu di sini dan sekarang aku hendak pergi dahulu."

Sehabis berkata demikian kakinya bergerak, secepat kilat ia lompat melesat ke atas gunung Ngo-bi.

Ketika sudah tiba di atas puncak gunung Ngo-bi, segera menampak Hok Su Im yang sudah berdiri menunggu dengan pakaian ringkas serta menyoren pedang panjang. Begitu Hee Thian Siang tiba, Hok Siu Im lantas mengerutkan alisnya dan bertanya padanya: "Orang yang menamakan diri pemabokan Bo Bu Ju itu orang yang mengaku sebagai seorang yang berpengetahuan luas, tetapi suka usil mulut, apakah tidak berani menepati janjinya untuk datang ke gunung Ngo-bi?"

"Gunung Ngo-bi merupakan tempat suci bagi orang-orang golongan Imam dan golongan Budha, toh bukan merupakan neraka atau sarang kawanan penjahat, mengapa tidak berani masuk? Hanya pendekar pemabukan yang kau maksudkan itu barangkali tidak akan datang kemari lagi" Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Hok Siu Im terkejut, tanyanya: "Mengapa tak bisa datang?

Apakah bo Bu Ju sudah tenggelam dalam araknya?"

"Aku telah berjanji dengannya hendak bertanding ilmu pedang di atas puncak gunung Ngo-bi ini. Apakah sekarang perlu dibatalkan?"

Dengan sinar mata yang tajam Hok Siu Im menatap Hee Thian Siang, kemudian menjawab sambil menggelengkan kepala: "Bagaimana boleh dibatalkan? Hari ini aku harus bertanding sepuas-puasnya!"

"Sekarang kita bicara dulu baru melakukan pertandingan, ataukah bertanding dulu nanti baru bicara lagi?"

"Sehabis bertanding kita nanti berbicara lagi, biasanya lebih enak!"

Baru habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara mengaung, ternyata gadis itu sudah menurunkan pedangnya dari atas punggungnya! Hee Tiang Siang yang menyaksikan keadaan itu lalu berkata sambil tertawa: "Mengapa kau tidak menggunakan pedang Hu-cap-bian-si-kiammu yang kau dapatkan dari nona Tiong-sun?"

"Pedang itu merupakan pedang pusaka yang terlalu tajam, kita toh bukan musuh bebuyutan, perlu apa..."

"Benar, benar, kita juga bukan musuh besar kalau bertanding seharusnya tahu batas! Dalam pertandingan ini jikalau nanti bisa ketahuan siapa yang lebih unggul sudah tentu mudah dibereskan, tetapi apabila masing-masing memiliki keunggulannya sendiri-sendiri dan tidak dapat diputuskan siapa yang lebih unggul, bagaimana akhirnya?" Mata Hok Siu Im memandang Hee Thian Siang sekian lama, kemudian menundukkan kepala setelah berpikir lama sekali baru berkata: "Asal kau sanggup menyambut serangan ilmu pedangku seratus jurus, urusan ini sudah boleh terhitung selesai!"

Hee Thian Siang lalu mengeluarkan senjata tunggalnya yang merupakan senjata gelang sam-ciok-kang-hwan, katanya sambil tertawa nyaring: "Bagus, bagus! Hee Thian Siang bersedia menyambut serangan ilmu pedang golongan Ngo-bi selama seratus jurus!"

Hok Sui Im tidak berkata apa-apa lagi, ia sudah mulai memasang kuda-kuda, akan mulai melakukan pertandingan.

Hee Thian Siang satu senjata gelangnya dipindahkan ketangan kiri, kakinya bergerak memutar.

Hok Siu Im tahu bahwaw Hee Thian Siang pasti merendahkan dirinya dan tidak mau turun tangan lebih dulu, maka ia lantas bergerak dan membuka serangan lebih dulu!

Waktu Hee Thian Siang pertama kali melihat Hok Siu Im digunung Kie-bun-san, sesungguhnya masih belum tahu bahwa gadis itu adalah merupakan anggota terkuat diantara empat jago Ngo-bi! Tetapi kemudian dari mulut Oe-tie Khao ketika di puncak gunung Thian-tu-hong sewaktu dengan seorang diri dan dengan senjatanya pedang pusaka liu-yap- biau-si-kiam bertempur melawan Su-to Keng yang menyamar menjadi Su-to Wie, sedikitpun tidak merasa gentar, bahkan dapat mendesak lawannya terus-menerus, maka mulai saat itulah ia mengerti dan berjaga-jaga terhadap dirinya. Terhadap serangan pertama itu, ia menghadapinya dengan sangat hati- hati, kemudian menggunakan ilmu kepandaian dari golongannya sendiri dengan senjata sepasang gelangnya hendak menjepit pedang Hok Su Im.

Gerak tipu yang sangat indah itu diwaktu belakangan ini ia sudah dua kali menggunakannya, pertama waktu bertempur menghadapi imam Hian-ceng Tojin, saat itu dengan mudah berhasil mengutungi lengan tangan Hian-ceng Tojin. Kedua kalinya oleh karena digunakan menghadapi ketua Tiam-cong- pay Thiat-kwan totian, sedangkan kekuatan tenaga kedua pihak selisih jauh sekali, sehingga menyusahkan kedudukannya sendiri. Segala perubahan gerakannya semua tidak dapat dikeluarkan, sebaliknya malah hampir saja mengantarkan nyawa di bawah serangan ketua Tiam-cong- pay!

Dan hari itu adalah untuk ketiga kalinya ia menggunakan lagi gerak tipunya itu, Hee Thian Siang juga mengandung maksud hendak menggunakan kesempatan itu untuk mengadu kekuatan tenaga dalam dengan Hok Siu Im!

Benar saja Hok Siu Im yang menyaksikan keadaan demikian lantas berkata: "Gerak tipu semacam ini kalau kau gunakan menghadapi lawanmu yang lemah, mungkin menunjukkan keistimewaannya yang luar biasa, tetapi buat menghadapi lawan teguh, barangkali akan menyusahkan dirimu sendiri. kau harus berlaku hati-hati, coba-coba kau dapat menahan getaran dari tenaga dalamku atau tidak?" Sementara mulutnya mengeluarkan perkataan demikian, pedang panjangnya tetap bergerak tanpa mengadakan perubahan, ia membiarkan senjata Hee Thian Siang mengunci pedangnya!

Hee Thian Siang juga menjawab sambil tersenyum.

"Nona Hok, jangan terlalu percaya kepada diri sendiri, gerak tipuku ini mengandung banyak sekali perubahan, semuanya tidak akan ku keluarkan, hanya khusus untuk menahan getaran tenaga dari pedangmu, sebetulnya sampai dimana tingginya?"

Hok Siu Im menggertakkan gigi, kekuatan tenaga dalamnya disalurkan keujung pedang, kemudian pergelangan tangannya tiba-tiba digetarkan sehingga menimbulkan suara mengaung!

Hee Thian Siang sejak mengalami kekalahan hebat di depan kuil Pho-hie-to kwan di gunung Tiam-cong-san, pengalaman pahit itu membuatnya sangat hati-hati untuk menghadapi lawan yang lebih teguh dari dirinya sendiri, maka diam-diam ia sudah menyalurkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya ke dalam senjata gelangnya!

Suara mengaung tadi perlahan-lahan mulai reda, dua orang itu lantas terpisah, Hee Thian Siang menyilangkan dua senjatanya di depan dada, sedangkan Hok Siu im berdiri sambil memondong pedangnya!

Pada saat itu, pergelangan tangan dua orang, semuanya merasakan linu, siapapun tidak berani menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk memulihkan tenaganya dan sebelum berhasil memulihkan tenaganya, siapapun tidak berani bertindak lebih dulu. Hok Siu Im dengan sinar mata bercahaya menatap Hee Thian Siang, pandangan mata itu sebagian mengandung rasa cinta sebagian pula mengandung rasa gemas!

Ia timbul rasa cinta kepada Hee Thian Siang, sebab pemuda yang sebaya dengannya didalam rimba persilatan, semuanya belum pernah menemukan seorangpun yang berkepandaian tinggi, sedangkan Hee Thian Siang ini ternyata dapat mengimbangi kekuatan tenaga dalamnya. Hal ini sesungguhnya jarang ada.

Ia merasa gemas, karena pemuda yang gagah dan tampan ini, sifatnya agak tinggi hati dan sombong sekali, tidak mau mengaku kalah sedikit saja terhadap dirinya, jikalau tidak demikian, alangkah mengasyikkannya apabila di atas puncak gunung Ngo-bi ini saling menyatakan isi hatinya, bukankah itu lebih baik daripada mengadakan pertandingan itu?

Bagi Hee Thian Siang sendiri, saat itu juga diam-diam mengagumi kepandaian gadis cantik itu, matanya memandang sejenak, tetapi yang terkandung dalam pandangan matanya itu sebagian mengandung rasa terkejut, sebagian pula mengandung rasa malu.

Terkejut, oleh karena Hok Siu Im yang nampaknya lemah- gemulai dan berusia masih sangat muda demikian, kekuatan tenaganya dan tenaga dalamnya demikian hebat! Ia merasa malu oleh karena ia sendiri seandainya tidak ada penemuan gaib dalam peti mati, sehingga ilmunya Kiam-thian-kikang mendapat kemajuan pesat, mungkin akan terulang lagi tragedi di gunung Tiam-cong-san, sepasang senjata gelangnya itu mungkin juga akan dibuat terpental oleh pedang Hok Siu Im!

Satu pihak diliputi oleh rasa cinta dan rasa gemas, sedang dilain fihak diliputi oleh perasaan terkejut, kagum dan merasa malu, dua orang itu berdiri berhadapan lama sekali, tidak lagi melanjutkan pertandingannya. Hee Thian Siang tiba-tiba tertawa dan memanggil: "Nona Hok..."

Hok Siu Im tidak menghiraukan panggilan Hee Thian Siang, dengan pedangnya kembali membuka serangannya dengan gerak tipunya yang aneh-aneh, dilancarkan saling menyusul. Sehingga keadaan Hee Thian Siang waktu itu seolah-olah terkurung oleh sinar pedang Hok Siu Im.

Hee Thian Siang dikejutkan oleh gerak tipu yang digunakan oleh gadis itu, karena memberi ancaman yang hebat sekali bagi dirinya, maka ia mengeluarkan ilmu simpanannya dari golongan Pak-bin Sin-po, badannya berputaran bagaikan gasingan, badannya bergerak ke kanan dan ke kiri, dengan beruntun memutar tiga kali kemudian kakinya bergerak menukar tempat, setelah itu ia melompat mundur sejauh delapan kaki, dan menggunakan sepasang senjata gelangnya untuk melancarkan serangan pembalasan.

Saat itu Hok Siu Im baru tahu bahwa Hee Thian Siang menggunakan ilmu simpanannya yang selama ini belum pernah dikeluarkan, dengan sangat tenang berhasil mengelakkan diri dari tiga kali serangannya yang hebat, bahkan masih ada kesempatan untuk melakukan serangan pembalasan. Maka diam-diam ia juga merasa kagum terhadap pemuda yang tinggi hati dan keras kepala itu. Tetapi ia sendiri juga memiliki sifat yang sama dengan Hee Thian Siang, sebelum Hee Thian Siang mengaku kalah, ia sendiri juga tak mau mengakhiri pertandingan itu.

Ia sudah mulai bergerak lagi, serangan pedangnya diam- diam digabung dengan ilmu Ngo-heng-pat-hwa, sekali saja mengeluarkan seluruh kepandaian ilmu pedangnya, bahkan ditambah dengan ilmu-ilmu yang lebih tinggi untuk menundukkan lawan. Hee Thian Siang sebagai seorang murid dari perguruan ternama, ketika menyaksikan ilmu pedang Hok Siu Im dicampur dengan ilmu Ngo-heng-pat-hwa dan diam-diam melibat dirinya ke dalam kedudukan sulit dan mendesak padanya ke depan pintu kematian, lantas juga merubah gerak tipunya. Ia juga menggunakan ilmu-ilmu dari golongan Thay- kek, tiap serangan dihadapinya dengan kepala dingin, bahkan kadang-kadang maju mencari kesempatan untuk melakukan serangan pembalasan dengan ilmu silat golongan Pak-bin.

Lima puluh jurus sudah berlalu, masih belum ketahuan siapa yang lebih unggul, pertempuran berlangsung terus sehingga seratus jurus, ketika pertempuran sampai seratus enam tujuh puluh jurus, Hok Siu Im baru melancarkan serangannya yang hebat beberapa kali dan berhasil mendesak mundur Hee Thian Siang sampai beberapa tombak kemudian ia melintangkan pedangnya ke dada dan berdiri tegak di tempatnya.

Hee Thian Siang meletakkan senjatanya ditangan kanan ke tangan kiri, ibu jari tangan kanan diacungkan, sambil menatap Hok Siu Im ia berkata dengan pujiannya: "Ilmu pedang golongan Ngo-bi yang nona gunakan tadi sungguh hebat sekali!"

Hok Siu Im yang mendengar ucapan Hee Thian Siang memuji dirinya, hawa amarahnya mulai reda, dengan muka berseri-seri ia bertanya sambil tersenyum: "Apa kau sudah merasa takluk?"

Hee Thian Siang dengan alis berdiri menjawab sambil menggelengkan kepala: "Ilmu pedangmu meskipun bagus, tetapi belum pernah mengalahkan aku, bagaimana aku harus tunduk!"

Hok Siu Im yang amarahnya tadi sudah reda, ketika mendengar jawaban demikian, lantas berkobar lagi. Sambil menggertakkan gigi, matanya menatap Hee Thian Siang, katanya dengan nada suara dingin: "Oleh karena aku pikir, kita hanya menuruti hawa napsu orang muda, pertandingan ini bukan berarti pertempuran mati-matian antara kedua musuh maka aku masih menyimpan beberapa gerak tipuku yang mematikan, apakah kau benar-benar masih belum tahu diri dan hendak mencari kesusahan sendiri?"

Hee Thian Siang tertawa terbahak-bahak, selagi hendak menjawab tiba-tiba terdengar suara oe-tie Khao yang memanggil padanya: "Hee Thian Siang laote.... Hee Thian Siang laote..."

Oleh karena Oe-tie Khao telah mengadakan perjanjian dengannya, pada waktu senja hendak berkumpul dikuil Khun- leng-to-ie, dan sekarang tiba-tiba memanggil dirinya, ia tahu pasti ada urusan penting. Ia buru-buru menjawab: "Oe-tie locianpwe, aku berada di puncak Ngo-bie, harap kau datang lekas!"

Sehabis berkata demikian, ia menyimpan senjata gelangnya dan berkata kepada Hok Siu Im.

"Aku masih ada urusan penting, maaf tidak dapat melayani kau lagi. Biarlah untuk sementara ini aku mengaku kalah, dilain waktu aku masih ingin belajar kenal lagi dengan ilmu pedangmu Ngo-bie yang belum pernah kau keluarkan itu!"

Hok Siu Im juga menggunakan kesempatan itu untuk mengakhiri pertandingan, ia masukkan pedang ke dalam sarungnya, matanya berputaran menatap wajah Hee Thian Siang, katanya: "Siapa suruh kau mengalah untuk sementara? Pada suatu hari pasti kau nanti akan takluk benar-benar!"

Baru saja menutup mulutnya, tampak berkelebat bayangan orang, Oe-tie Khao sudah berada di hadapan mereka berdua. Hee Thian Siang lalu menyambutnya dan bertanya sambil tersenyum: "Oe-tie locianpwe, di bawah gunung kau barangkali sudah mendapatkan berita apa-apa, berita itu mengenai diri Bibi Ca-ku dan Say locianpwe? Ataukah berita yang mengenai diri Su-to locianpwe?" 

"Semua ada khabarnya!" Menjawab Oe-tie Khao sambil tertawa.

"Mengapa Bibi Ca dan Say locianpwe tidak dapat datang?" "Mereka telah menemukan jejak Ling-hui Kiam-khek Su-to

Wie, kini mereka sedang melakukan perjalanan ke gunung Ko-

le-kong-san hendak melindungi jago pedang yang sudah dimusnahkan kepandaiannya itu supaya jangan menghadapi ancaman bahaya."

"Bibi Ca-ku dengan Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie mereka saling jatuh cinta sudah sangat mendalam. Kalau sudah tahu berada di Ko-le-kong-san, sudah seharusnya pergi kesana untuk memberi perlindungan. Pantas, dia tidak bisa datang kemari untuk memenuhi janji! Tetapi bagaimana dengan berita Bo Bu Ju locianpwe? Mengapa menjadi terlambat?"

Wajah Oe-tie Khao berubah, katanya sambil menghela nafas: "Sahabat lamaku ini barangkali menghadapi bahaya besar!"

Jawaban ini bukan saja mengejutkan Hee Thian Siang, tapi juga mengherankan Hok Siu Im, maka ia lalu pasang telinga untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Hee Thian Siang bertanya sambil mengerutkan alisnya: "Oe-tie locianpwe, bukankah kau tadi sudah mendapat berita tentang Bo Bu Ju locianpwe?" "Berita ini semuanya disampaikan oleh orang lain, terutama berita yang disampaikan oleh Bo Bu Ju, hanya menggunakan segumpal kertas, diatasnya hanya tertulis beberapa patah kata yang maksudnya: "Diri berada dalam bahaya, tidak dapat menepati janji!"

"Menurut keadaan demikian, Bo Bu Ju locianpwe mungkin benar-benar sudah mendapat bahaya." Berkata Hee Thian Siang sambil menghela nafas panjang.

Hok Siu Im yang mendengarkan sampai di situ hatinya dipenuhi oleh perasaan curiga, maka ia lalu bertanya kepada Hee Thian Siang: "Bo Bu Ju mendapat bahaya apa?"

"Dia telah berubah menjadi patung beku di dalam goa Siang-swat-tong di gunung Kie-lian-san!" Menjawab Hee Thian Siang sambil menghela nafas. Hok Siu Im yang mendengar keterangan itu semakin bingung. Ia bertanya pula sambil mengerutkan alisnya: "Apa yang kau namakan patung membeku?"

Oe-tie Khao berkata kepada hee Thian Siang sambil tertawa: "Bagaimanapun juga kita toh sudah tahu bahwa partai Tian-cong dan Kie-lian sedang bersepakat merencanakan suatu tindakan yang akan membawa bencana bagi rimba persilatan, urusan ini kita harus buka di hadapan umum sebanyak mungkin, maka sebaiknya kita pergi menjumpai Hian-hian Sian-lo, ketua Ngo-bi-pay."

"Sebab musabab urusan ini terlalu panjang ceritanya, apakah nona Hok kiranya tidak keberatan jikalau mengajak Hee Thian Siang bersama aku siorang tua pergi kekuil Khun- leng-to-hie untuk menjumpai Hian-hian Sian-lo, setelah itu kita nanti akan memberikan penjelasannya?" Hok Siu Im berpikir dulu, lama baru menjawab menganggukkan kepala: "Baik juga aku bawa kalian untuk menjumpai suciku!"

Setelah itu ia mengajak Oe-tie Khao dan Hee Thian Siang meninggalkan puncak Ngo-bie dan berjalan menuju ke kuil Khun-leng-to-hie.

Tiba dikuil Khun-leng-to-ie, bertemu dengan Hian-bian Sian-lo ketua Ngo-bi-pay, oleh Oe-tie Khao lalu diceritakan semua apa yang dilihat dan didengar dalam perjalanannya setelah pulang dari pertemuan dari puncak Thian-tu-hong. Hian-bian Sian-lo yang mendengarkan penuturan itu, tak henti-hentinya menggelengkan kepala, sedangkan Hok Siu Im yang berdiri disampingnya, tampak sangat tertarik oleh berita yang penuh bahaya yang menegangkan itu.

Partai Kun-lun dan partai Ngo-bie memang mempunyai hubungan sangat baik, Hian-bian Sian-lo yang mendengar cerita bahwa anak murid golongan Kun-lun ada yang berkhianat, apalagi setelah mendengar bahwa Siauw Tek dari Kun-lun, juga mengalami nasib menyedihkan telah berubah menjadi patung beku, maka ia lalu berkata sambil menghela nafas: "Urusan ini kita hanya bisa menunggu kedatangan nona Tiong-sun yang pergi ke Kun-lun-pay untuk mencari keterangan, barulah kita dapat memastikan benar atau palsu. Apabila apa yang disaksikan oleh Hee laote itu benar, maka kita seharusnya berserikat dengan berbagai partai, secepatnya untuk bertindak supaya jangan sampai terjadi bahaya besar dalam rimba persilatan!"

Ia berdiam sejenak, kemudian menunjuk sebuah batu tempat duduk, lalu berkata pula kepada Oe-tie Khao dan Hee Thian Siang: "Hong-thian Ong Khek May Ceng Ong yang Hee laote lihat di goa Siang-swat-tong, tentang ini sesungguhnya membuat kita susah percaya! Coba Hee laote lihat batu tempat duduk yang dahulu diduduki oleh May Ceng Ong sewaktu bertanding ilmu Hian-kang, betapa tinggi kepandaiannya itu?"

Oe-tie Khao dan Hee Thian Siang mengikuti telunjuk Hian- ceng Siang-lo tampak oleh mereka batu tempat duduk itu, diatasnya dialas oleh dua buah kasur tempat duduk, yang satu telah menjadi rata masuk ke dalam batu, sedang yang satu lagi masih tinggal tiga-perempat bagian, tidak bisa masuk seluruhnya. Sewaktu Hee Thian Siang digunung tay-piat-san sudah pernah mendengar dari mulut Hok Siu Im, bahwa Hong- thian Ong Khek May Ceng Ong dengan seorang diri pergi menyerbu Khun-leng-to-ie, di atas tempat duduk itu yang dialasi oleh kasur telah mengadakan pertandingan ilmu kiankang. Dalam pertandingan itu Hian-bian Sian-lo hanya kalah sedikit saja, tetapi sekarang setelah menyaksikan batu tempat duduk itu ia semakin merasa bahwa kepandaian ilmu orang tingkatan tua itu sesungguhya sudah mencapai ketaraf yang tiada taranya.

Sementara itu Oe-tie Khao sehabis mendengar cerita Hian- bian Siang-lo lantas berkata sambil menghela nafas panjang.

"Ucapan sian-lo ini meskipun benar, tapi peribahasa ada kata: Serangan terang-terangan mudah dielakkan, tetapi serangan menggelap susah diduga. Pendekar gelandangan May Ceng Ong itu meskipun sudah memiliki kepandaian ilmu silat yang tiada taranya, tetapi di bawah keadaan lengah, juga belum tentu kalau tidak bisa tergelincir di bawah serangan manusia buas dari golongan Kie-lian. Urusan ini kita harus masih menunggu kedatangan nona Tiong-sun, barulah kita mempelajari lagi untuk mendapatkan jawabannya. Tetapi, apakah Siao-lo kiranya dapat menduga siapakah orang tua berbaju kuning itu yang berdiri di belakang layar dan menunjang gerakan Kie-lian dan Tiam-cong?

Hian-bian Sian-lo tampak berpikir, lama baru berkata sambil menggelengkan kepala: "Dunia ini lebar, entah berapa banyak orang gaib berilmu tinggi yang tersembunyi? Sekarang kita tak perlu menebak serampangan, harap supaya Oe-tie tayhiap dan Hee Thian Siang laote berdiam dulu beberapa hari disini untuk menantikan kedatangan nona Tiong-sun Hui Kheng, kita ingin tahu yang pergi jauh kegunung Kun-lun-san apakah mendapatkan berita yang pasti, nanti kita bicarakan lagi!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu lantas teringat ucapan Tiong-sun Hui Kheng ketika berpisah dengannya. Oleh karena kudanya bisa lari pesat, mungkin akan tiba lebih dulu di gunung Ngo-bi daripada mereka. Tetapi mengapa hingga hari belum tiba, hingga diam-diam ia merasa khawatir. Ia mengkhawatirkan gadis itu yang waktu itu sedang melakukan balapan kuda dengan Khie Tay Cao kalau-kalau tertangkap oleh orang jahat itu sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketika ia mengingat sampai di situ alisnya lalu dikerutkan, tapi kalau ia ingat pula bahwa disamping Cong-sun Hui Kheng yang memiliki kepandaian tinggi, juga ada Siaopek kera putih dan Taywong si binatang aneh yang turut melindungi dirinya, sekalipun dapat dikejar oleh Khie Tay Cao, barangkali juga tidak sampai mengalami kesulitan besar.

Tak lama kemudian, malampun tiba. Seluruh gunung Ngo- bie diliputi oleh kegelapan. Hok Sui Im kemudian berkata kepada Hee Thian Siang dengan suara dingin: "Biarlah Oe-tie locianpwe mengawani suhu minum arak sambil mengobrol. Dan marilah kita jalan-jalan lagi ke atas puncak gunung Ngo- bie."

Hee Thian Siang mengikuti ia keluar dari Khun-leng-to-ie, disepanjang jalan yang menuju kepuncak gunung Ngo-bi, ia bertanya kepada Hok Siu Im sambil tertawa: "Mengapa kita harus pergi lagi kepuncak Ngo-bi? Apakah kau masih ingin menjatuhkan ku supaya takluk benar-benar kepadamu?" Wajah Hok Siu Im menjadi merah, ia mendelikkan matanya kepada Hee Thian Siang, katanya: "Kau sekarang sudah menjadi tamu Khun-leng-to-ie, bagaimana aku harus mengajak berkelahi lagi denganmu? Aku hanya membawa kau ke puncak itu untuk melihat-lihat sinarnya Budha, lentera sakti dan malam terang bulan di atas Ngo-bi."

Hee Thian Siang memang sudah lama ingin menyaksikan pemandangan di puncak Ngo-bi diwaktu malam, maka ketika mendengar ucapan itu merasa sangat girang dan mengucapkan terima-kasihnya.

Hok Siu Im berkata pula sambil tertawa: "Kau tak perlu berterima-kasih kepadaku, aku hanya ingin kau mengajakku pergi ke gunung Khie-lian sekali lagi, aku ingin sekali melihat patung beku di goa Siang-swat-tong dan orang tua berbaju kuning penunjang orang-orang golongan Kie-lian-pay. Sesungguhnya orang macam apa ?"

Hee Thian siang menganggukkan kepala sambil tersenyum, sementara matanya memandang sikap dan tubuh Hok Siu Im yang indah, lalu teringat pula pada gadis berbaju hitam yang dilihatnya di gunung Kiu-gie-san, dan yang selama itu masih merupakan suatu teka-teki yang belum terpecahkan, dengan memberanikan hati ia bertanya: "Nona Hok, apakah kau pernah... berkunjung ke gunung Kiu-gie-san di daerah Ouw-lam dengan seekor kuda warna hijau, dan seorang diri kau membinasakan empat setan dari gunung Kie-lian?"

"Aku belum pernah berkunjung ke gunung Kiu-gie-san, bagaimana kau bisa menanyakan soal itu ?" Menjawab Hok Siu Im sambil menggelengkan kepala.

Hee Thian siang kembali terbenam dalam alam pikirannya sendiri, ia memikirkan keterangan yang diberikan oleh pendekar pemabokan Bo Bu ju tentang tiga gadis, ialah: Tiong-sun Hui-kheng, Liok Giok Jie dan Hok Siu Im. Tiga gadis itu bukan saja sudah pernah dilihatnya semua, bahkan ditanyakan satu persatu tentang peristiwa di gunung Kiu-gie-san, tetapi mereka semua menyangkal, apakah masih ada orang lain lagi yang merupakan gadis bermantel hitam yang ia minta restu kepada makam bunga mawar ?

Hok Siu Im yang menyaksikan sikap Hee Thian siang agak aneh, lalu bertanya: "Kau sedang memikirkan apa?"

Wajah Hee Thian siang menjadi merah, untuk menutupi keadaannya sendiri, ia lalu menjawab sekenanya: "Aku sedang membayangkan apa yang tadi kau katakan tentang sinar Budha, lentera sakti dan pemandangan di atas gunung Ngo-bi diwaktu malam !"

Hok Siu Im menatap wajahnya sejenak, lantas menundukkan kepala dan tersenyum, sikapnya sangat menarik, dengan sikapnya yang lemah gemulai telah menggantikan sikap gagah, galak dan sombong ketika pagi hari selagi hendak melangsungkan pertandingan tadi.

Jantung Hee Thian siang berdebaran, kemudian ia menjadi terkejut, dalam hatinya berpikir; Tidak perduli siapakah gadis bermantel hitam yang dilihatnya di gunung Kiu-gie-san, tetapi ia sendiri sudah tertambat hatinya oleh Tiong-sun Hui Kheng, Hok Siu Im meskipun menunjukkan tanda-tanda kalau juga cinta kepadanya, akan tetapi untuk kepentingan Tiong-sun Hui Kheng ia terpaksa tak berani menerima cinta Hok Siu Im.

Dua muda mudi itu, telah memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh yang sangat bagus, maka tiada beberapa lama kemudian sudah tiba ditempat yang dituju.

Hok Siu Im agaknya sangat gembira, seolah-olah sudah melupakan dirinya sendiri, tangannya menarik tangan Hee Thian siang, tangan yang satu menunjuk ke atas, katanya sambil tertawa: "Sekarang sinar rembulan sedang tertutup oleh awan, tunggu sebentar, jikalau rembulan itu sudah muncul dari balik awan, kita akan menikmati pemandangan puncak Ngo-bi diwaktu malam."

Hee Thian siang yang ditarik tangannya, dengan sendirinya merasa likat. Hok Siu Im mendadak menyadari kelakuannya yang agak bebas maka buru-buru melepaskan tangannya, dengan wajah kemerah-merahan menatap Hee Thian Siang, katanya sambil tertawa: "Hari ini aku terlalu gembira sekali sehingga hampir lupa daratan, kau jangan tertawakan diriku !"

Hee Thian siang yang memang seorang pemuda romantis, melihat sikap dan kelakuan gadis itu yang sangat menarik, maka juga tidak merasa enak untuk menolak uluran tangannya, ia masih berdiri berdampingan dengan Hok Siu Im, katanya sambil tersenyum : "Hari ini mengapa kau demikian gembira?"

Mata Hok Siu Im mendadak menjadi merah, ia menundukkan kepala, seolah-olah dengan menangis.

Hee Thian siang yang menyaksikan keadaan demikian, dalam hatinya merasa terheran-heran tanyanya: "Kau tadi masih mengatakan masih gembira, mengapa sekarang dengan mendadak menjadi"".

Hok siu Im tampaknya semakin pilu, dari kelopak matanya menetes keluar sebutir air mata, katanya dengan suara sedih: "Aku adalah anak buangan, sejak masih bayi aku sudah dipungut oleh suhu dan dibesarkan hingga sekarang ini, selama delapan belas tahun, kecuali satu dua kali melakukan perjalanan di dunia kangouw, banyak waktu ku kulewatkan di atas puncak ini dengan seorang diri, maka tempat yang oleh banyak orang dianggap ke bagai tempat yang indah ini, aku merasa sudah bosan... " Berkata sampai di situ, ia tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, hingga air matanya mengalir deras.

Hee Thian siang oleh karena tidak berdaya untuk menghibur, terpaksa mendengarkan dengan tenang, kata- katanya selanjutnya: "Bukan saja aku tak mengetahui siapa ayah dan ibuku, tetapi juga tak seorangpun yang dapat kuminta untuk memberi nasehat, juga tak menemukan... "

"Bukankah kau masih ada suheng dan suci ?"

"Aku tak mempunyai suheng, hanya suci. Toa suci dan Jisuci merupakan imam yang sudah lanjut usianya. Sam suci Song Sin Cie juga seorang yang sudah bersuami, dengan sendirinya tidak bisa terlalu sayang terhadap diriku!"

"Ketika kau melakukan perjalanan di dunia Kang-ouw, apakah juga belum pernah menemukan sahabat yang cocok dengan hatimu ?"

Hok siu im angkat muka dengan mata berkaca-kaca menatap wajah Hee Thian siang, kemudian unjukkan masamnya, lalu berkata: "Orang-orang dari kalangan Kang- ouw, kebanyakan merupakan orang-orang dari golongan biasa, bagaimana aku bisa bersahabat akrab dengan mereka" Berkata sampai di situ dengan tiba-tiba ia menyadari bahwa ucapan itu ada mengandung ke tujuan. Maka sepasang pipinya seketika menjadi merah, tetapi matanya tetap memandang Hee Thian siang, katanya kemudian: "Tadi pagi, setelah kita mengadakan pertandingan ditempat ini, ternyata kita dapat melepaskan pendirian masing-masing dan menjadi sahabat, maka aku merasa sangat gembira, akan tetapi aku tak tahu, apakah kau sudi mempunyai sahabat seperti aku?"

Manusia tetap manusia yang terdiri dari darah. Bagaimana bisa melupakan budi ? Bagaimana aku sanggup menolak uluran tangan seorang gadis manis seperti Hok Siu Im itu ?? Hati Hee Thian siang meskipun dapat merasakan bahwa kata-kata gadis itu mengandung cinta kasih besar terhadap dirinya, tetapi ia toh tidak mempunyai keberanian untuk menolak cintanya itu, maka terpaksa menjawab sambil tersenyum: "Bersahabat dengan kau yang bukan saja memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat tinggi, tetapi juga memiliki kecantikan dan kepribadian yang jarang ada didalam dunia, sudah tentu aku merasa sangat gembira bersahabat denganmu, bagaimana aku tidak akan sudi ?"

Hok Siu Im yang tadi menatap wajah Hee Thian siang seolah-olah hendak menjajagi hati pemuda itu, maka selama itu wajahnya masih tampak murung, tetapi setelah mendengarkan demikian, sikapnya yang murung itu lantas lenyap diganti dengan senyuman yang menawan hati, terutama sepasang lesung pipit di kedua pipinya, ditambah lagi dengan sikapnya yang lemah-gemulai dan agak kemalu- maluan dari seorang gadis, sesungguhnya sangat menggiurkan.

Pada saat itu, dengan tiba-tiba angin gunung meniup, hingga dua orang itu bukan saja merasakan dingin badannya, tetapi cuaca agak gelap.

Kiranya waktu itu awan hitam telah menutupi sinar bulan, agaknya tak lama lagi akan turun hujan.

Hok Siu Im baru merasa cemas, katanya: "Tuhan sesungguhnya sangat jahil, malam yang begini indah mendadak akan turun hujan, dengan demikian maka malam terang bulan di atas gunung Ngo-bi, bukanlah kita tak akan bisa menyaksikan lagi ?"

Hee Thian siang yang melihat malam sudah mulai larut, lalu berkata: "Malam sudah begini larut, mengapa enci Tiong sun masih belum bisa tiba kembali ? Kuda Ceng hong kienya itu bukanlah kuda jempolan yang bisa menempuh jalan seribu pal setiap harinya? Tidak mungkin membuang waktu cuma-cuma, apakah terjadi apa-apa dijalan ?"

Oleh karena hati Hee Thian siang yang memang sudah tertambat oleh gadis itu, maka dalam kata-kata maupun sikapnya dengan sendirinya tertampak adanya perhatian besar terhadap gadis itu, meskipun tanpa disadari, kalau ia mengingat diri Tiong sun Hui kheng, matanya lalu terbayang kepada gadis cantik manis yang menggoda hatinya!

Hok Siu Im yang mendengar ucapan itu tampak terperanjat, tetapi kemudian lantas berkata sambil tertawa: "Mengapa kau gelisah di sini ? Mungkin enci Tiong sun mu itu sudah berada didalam kuil thun leng to ie, marilah kita kembali untuk melihat sendiri !"

Hee Thian siang yang masih memikirkan diri Tiong sun Hui kheng, sedikitpun tidak dapat memahami ucapan yang terkandung dalam ucapan Hok Siu im, maka ia lalu menganggukkan kepala dan menjawab: "Baik juga kita pulang untuk menyaksikan sendiri, kawanan iblis dari gunung Kie lian san, sesungguhnya terlalu buas, apabila ada apa-apa dengan enci Tiong sun... "

Berkata sampai di situ dengan tiba-tiba berhenti, memandang Hok Siu Im yang demikian sedih dan mengucurkan air mata, lalu bertanya dengan pelan: "Mengapa dengan tiba-tiba kau menjadi sedih ?"

Hok siu im sendiri juga tak mengerti, ia hanya pernah mendengar Hee Thian siang menyebut Tiong sun Hui kheng Enci tiong sun, tak disadari olehnya airmatanya mengucur semakin deras, setelah ditegor demikian oleh Hee Thian siang, dengan sendirinya merasa malu, dan pipinya menjadi merah kembali, jawabnya sambil menundukkan kepala: "Aku, oleh karena menganggap enci Tiong sun-mu itu mempunyai seorang adik yang begitu baik dan demikian besar perhatiannya terhadapnya maka teringat diriku yang sebagai seorang sebatang kara, hingga kalau melakukan perjalanan di dunia Kang ouw selalu tiada kawan baik yang dapat ku ajak berdamai atau beromong-omong.

Hee thian siang kini baru mengerti bahwa ucapannya tadi sudah menunjukkan perhatiannya terhadap Tiong sun hui kheng, sehingga menimbulkan kedukaan hati Hok Siu im, maka sesaat itu pipinya juga menjadi merah katanya dengan suara yang agak gelagapan: "aku hanya memanggil ia enci, tidak mempunyai "

Kalau kau sudah pandang ia sebagai encimu, bolehkah kau anggap aku sebagai adikmu??" bertanya Hok Siu Im dengan suara sedih.

Menghadapi seorang gadis cantik yang menyatakan cinta kasihnya secara blak blakan demikian, Hee Thian siang merasa sedih sedikit bingung. dalam keadaan terpaksa ia hanya dapat menjawab : "aku... aku. "

Hok siu im kembali mengucurkan air mata, dengan suara yang sangat memilukan berkata pula: "Kau mau manggil dia enci, tetapi kau tidak mau memandang diriku, tidak mau menganggapku adik, jadi nyata bahwa aku Hok Siu Im memang bernasib malang, keadaanku tak dapat dibandingkan dengan orang lain, ada lebih baik aku minta kepada suhuku supaya memotong rambutku, agar selanjutnya aku akan menganut agama Budha!"

Airmata seorang cantik memang mempunyai daya pengaruh sangat besar sekali, Hee thian siang yang menyaksi keadaan yang sangat memilukan itu, betapapun keras hatinya bagaikan batu juga menjadi lemas.

Hok siu im sehabis mengucapkan perkataannya, dengan mengertak gigi ia sudah akan berlalu dari puncak gunung, secepat kilat Hee Thian Siang menarik bajunya, kemudian berkata dengan suara perlahan sambil tertawa: "Aku sungguh tak mengerti bagaimana kau demikian suka menangis? aku toh belum pernah mengatakan bahwa aku tak mau!"

Hok Siu Im membalikkan dirinya, menyandarkan tubuhnya ke dada Hee Thian Siang, katanya kemudian dengan sangat manja: "Kau masih berani mengatakan aku suka menangis? Hok Siu Im seorang gadis yang bersifat keras kepala dan tinggi hati, sebelum ketemu dengan kau, aku pernah menangis di hadapan siapa?"

Beberapa patah kata itu mengandung rasa cinta yang demikian dalam, sehingga Hee thian siang yang mendengar itu, disamping merasa senang, tapi juga merasa terperanjat!

Hok siu im ketika mengucapkan perkataannya sampai di situ, lalu mengangkat muka dan tersenyum, dengan sinar mata yang lembut menatap wajah Hee thian siang, katanya pula dengan suara sedih: "Engko siang, kalau kau sudah sudi menganggapku sebagai adik, panggillah aku adik, sudikah kau

?"

Hee thian siang tak sanggup mempertahankan dirinya untuk menolak mentah-mentah permintaan gadis itu, maka lalu menjawab dengan lemah-lembut: "Adik Hok... ah tidak, adik Hok ini rasanya kurang enak didengar, maka selanjutnya aku akan memanggilmu adik Im saja"

Hok siu im merasa sangat gembira, dengan dua tangannya merangkul leher Hee thian siang, katanya sambil tertawa: "Engko, Siang, hari ini aku sangat gembira sekali! panggilanmu adik Im ini merupakan panggilan yang paling penuh kasih sayang kedengarannya, sejak aku dilahirkan"

Hee thian sian yang menyaksikan sikap kekanak-kanakan Hok siu im, dalam hatinya berpikir; mungkin Hok siu im ini yang sejak dilahirkan sebagai anak sebatang kara, hatinya masih putih bersih, mungkin ia benar-benar ingin anggap aku sebagai engkonya sendiri, bukanlah engko yang mengandung rasa cinta kasih antara pria dan wanita, kalau itu benar, memiliki seorang adik sebagai ia yang gagah dan cantik, sesungguhnya juga tidak menyesal!

Selagi memikirkan urusan yang menggembirakan itu, dengan tiba-tiba telinganya dapat menangkap desiran angin, ia dapat mengenali pula bahwa desiran angin itu terbit karena ada orang yang menggunakan senjata rahasia menyerang belakang dirinya !

Dengan tangan kanan Hee Thian Siang mendorong Hok siu im yang sedang mabok dalam pelukannya, sesudah itu ia lompat mundur tiga kaki jauhnya untuk mengelakkan serangan tersebut, ternyata benda yang menyerang dirinya itu adalah sebuah batu gunung, karena tidak mengenai sasarannya batu itu jatuh di tanah menimbulkan suara yang nyaring dan lelatu api, jelas orang yang melancarkan serangan itu memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat kuat.

Hee thian siang dan Hok siu im kedua duanya berpaling, tampak di atas sebuah tebing di belakang diri mereka berdiri kera kecil putih yang mengenakan rompi emas di badannya !

Hee thian siang yang melihat kera putih itu bukan kepalang terkejut dan girangnya selagi hendak membuka suara, di luar dugaannya, kera siaopek kembali menyambit dirinya dengan sebuah batu gunung !

Perbuatan siaopek itu telah menyadarkan Hee thian siang, ia lalu mengerutkan alisnya dalam mengerahkan ilmunya meringankan tubuh untuk mengelakkan serangan itu, selain daripada itu ia memanggil dengan suara nyaring: "Siaopek jangan salah paham, dengarlah keteranganku..." Baru berkata sampai di situ, siaopek yang lebih gesit sudah melayang turun ke puncak gunung Ngobi, selagi masih berada di udara, sepasang matanya yang tajam memandang Hee thian siang, kemudian melemparkan lagi sebuah batu putih.

Hee thian siang tahu bahwa ilmunya meringankan tubuhnya sendiri kalau dibandingkan dengan Siaopek sesungguhnya masih selisih jauh sekali, sudah tentu tidak berdaya untuk mengejar, selagi dalam keadaan cemas, Hok siu im memungut sepucuk surat, lalu diberikan kepada Hee thian siang. ia bertanya sambil tersenyum: "Engko siang, kera itu bukankah kera berbulu putih yang dahulu pernah kita temui digunung Tay hiap san? dia datang mengantarkan surat, mengapa menyerang kau dengan batu?"

Hee thian siang tahu benar bahwa Siaopek itu berbuat demikian, karena menyaksikan dirinya berlaku demikian mesra terhadap Hok siu im, sehingga ia merasa cemburu dan tidak senang lalu menyerang padanya dengan batu gunung. tetapi hal itu ia tak dapat menerangkan kepada Hok siu im, maka terpaksa hanya sambut dengan senyuman getir, setelah itu ia memunguti suratnya dan membuka sampulnya.

Dalam surat itu diterangkan bahwa Tiong sui hui kheng ketika tiba di gunung kun lun oleh karena Tie hui cu masih belum kembali, maka ia kemudian pergi mengadakan penyelidikan ke tempat yang dinamakan thian tie, melihat bagaimana rupanya daun thian keng yang aneh itu. benar saja daun itu sama bentuknya dengan daun yang disimpan oleh Hee thian siang, yang kemudian dihancurkan oleh Liok giok jie, kecuali itu, ia juga menemukan beberapa rahasia sangat penting, tetapi perlu pergi lagi ke dekat goa siang swat tong, untuk menyembunyikan diri di situ, diam-diam mengadakan pemeriksaan, oleh karenanya maka ia tak keburu datang ke gunung Ngo-bi, dan perlu mengirim Siaopek untuk memberi kabar lebih dahulu. Ia minta supaya Hee thian siang bisa mencari beberapa pembantu orang kuat, bersama-sama pergi ke gunung Kie lian untuk merundingkan tindakan yang akan diambil!

Hee thian siang sehabis membaca surat itu disamping mengkhawatirkan keselamtan Tiong sun hui kheng yang dengan seorang diri pergi ked ekat goa siang swat tong, karena tempat itu terlalu berbahaya ! Tetapi ia juga tahu kecerdikan siaopek, maka apa yang dilihatnya tadi kalau ia kembali pasti akan diberitahukan kepada majikannya. Oleh karenanya maka ia diam-diam juga merasa cemas.

Hok siu im yang tidak mengetahui sebab-sebabnya hanya membuka lebar-lebar matanya, kemudian bertanya kepadanya dengan perasaan heran: "Engko Siang, apakah sebetulnya yang telah terjadi, sehingga engkau demikian khawatir ?"

Hee thian siang tersenyum getir tak bisa menjawab, ia menyerahkan surat kepadanya, setelah Hok siu im membaca surat tersebut, katanya dengan alis berdiri: "Ini apa salahnya enci Tiong sun sudah memintamu agar minta bantuan beberapa tokoh kuat masa sekarang, biarlah kuberitahukan kepada suhu dengan empat jagonya golongan Ngobi, bersama-sama kau pergi ke gunung Kie lian. dengan demikian posisi kita agaknya tidak terlalu lemah"

Berkata sampai di situ, biji matanya berputar-putar, lalu berkata lagi sambil tertawa: "Engko siang, kau menyebut Tiong sun hui kheng enci, aku juga akan memanggilnya enci juga. Apakah kau tidak berkeberatan?"

Hee thian siang terpaksa menjawab sambil tertawa getir: "Boleh saja!"

Namun demikian dalam hatinya diam-diam berpikir; melihat sikapmu yang masih kekanak-kanakan itu sudah membuatku sangat repot. Entah bagaimana aku nanti harus menjelaskan kepada Tiong Sun Hui Kheng ? Selagi masih belum menetapkan tindakan selanjutnya, cuaca mendadak berubah, di bawah awan gelap demikian, diangkasa tiba-tiba timbul kilat, dan kemudian disusul oleh menggelegarnya suara geledek.

Hok Siu Im menarik baju Hee Thian siang, katanya dengan suara cemas, "Engko siang, kau tak perlu kesal lagi, betapapun besar urusannya, juga tunggu kita pulang dulu ke Khun-leng-to-ie dan merundingkan bersama-sama dengan suhu serta Oe tie locianpwe, sekarang hujan sudah akan turun, tampaknya hujan ini sangat lebat!"

Dalam keadaan gelisah Hee Thian siang yang baru hendak turun gunung bersama Hok siu im, ditengah kembali terdengar geledek, dan hujan sudah mulai turun! Walaupun mereka berdua sudah mengeluarkan seluruh ilmunya meringankan tubuh, tetapi ketika tiba di Khun leng to ie, semuanya sudah basah kuyup oleh air hujan!

"Engko siang, lekas kau masuk kekamar, aku juga akan tukar pakaian, aku nanti mencarikan jubah untuk kau pakai!" demikian Ho siu im berkata.

Hee thian siang justru merasa bingung karena dengan keadaannya yang demikian mengenaskan, dengan cara bagaimana harus masuk ke kamar untuk menjumpai Hian hian Sian lo?

Tetapi selagi memikirkan cara bagaimana harus bertindak, sudah mendengar suara Hian hian Sian lo yang memanggil kepadanya: "Hee hiantit, apakah kau tadi kehujanan? masuklah dulu ke kamar untuk tukar pakaian, tak perlu kau merasa bingung!"

Karena Hian hian Sian lo sendiri sudah mengatakan demikian, Hee Thian siang terpaksa menerima baik usulnya untuk masuk ke kamar, tapi dalam hati diam-diam berpikir, mengapa Hian hian Sian lo dengan mendadak memanggil aku semula dengan "Hee laote" lantas berubah menjadi "Hee hiantit"? apakah ketua dari Ngo bie pay ini memiliki perasaan tajam? Hingga sudah mengetahui hubunganku dengan Hok Siu Im diatas gunung Ngo bi?

Dengan otak penuh tanda-tanya ia masuk ke dalam kamar, surat yang diterima dari Hok Siu Im diberikan kepada Oe tie Khao, seraya berkata: " locianpwe, silahkan baca, kita masih perlu pergi ke goa Siang swat tong!"

Oe tie Khao menyambuti surat yang diberikan kepadanya, sehabis membaca, lalu diserahkan kepada Hian hian Sian lo dan berkata kepada Hee Thian siang: ""Hee laote siapakah yang mengantarkan surat itu ?"

"Siaopek. " demikian jawabnya.

Sementara itu, Hok siu im sudah tukar pakaian dan mengambil sebuah jubah imam dan pakaian dalam, diberikan kepada Hee Thian siang sambil tertawa: "Engko Siang, masuklah ke kamar untuk ganti pakaianmu yang basah, lalu berikan kepadaku, biar nanti ku keringkan di atas api."

Pakaian Hee Thian siang yang basah kuyup sesungguhnya merasa tidak enak, maka ia terpaksa menurut masuk ke kamar untuk ganti pakaian, setelah itu ia berkata kepada Oe tie Khao sambil mengerutkan alisnya: "Oe tie locianpwe, aku lihat kata-kata dalam surat ini, dan berwarna merah muda yang kudapatkan di goa tua di gunung Hok-gu-san dan yang kemudian dihancurkan oleh Hok Liok Giok jie, benar saja bentuknya mirip sekali dengan daun Thian-keng yang tumbuh di gunung Kun lun san"

"Hee laotee, nona Liok Giok jie yang sudah merobek-robek daun merah yang kau perhatikan padanya, juga menggunakan duri thian keng berbisa melakukan serangan terhadapmu, perbuatan itu adalah anggota Kun lun yang berkhianat seperti apa yang telah dikatakan oleh Duta Bunga Mawar ?"

"Dugaan locianpwe semacam ini meskipun beralasan, tetapi barangkali bukan sebenarnya! Liok Giok jie adalah murid kesayangan Tie hui cu, juga merupakan satu satunya orang yang merupakan pewaris dari ketua Kun lun pay itu. Untuk apa ia perlu berserikat dengan orang Kie lian pay untuk menghianati partainya sendiri ?"

"Aku juga merasakan bahwa Liok Giok jie tidaklah mungkin akan berkhianat, tetapi selain dia, aku tidak dapat memikirkan orang-orang lainnya yang dapat dicurigai. Dalam surat nona Tiong sun ada dikatakan telah menemukan tanda-tanda penting yang sangat mencurigakan, kuharap tanda-tanda penting itu ada hubungan dengan urusan ini, supaya agak mudah untuk menduga keadaan yang sebenarnya."

"kita lekas pergi ke gunung Kie lian, setelah menjumpai enci Tiong sun, segalanya akan dimengerti ?"

"Nona Tiong sun dengan seorang diri sembunyi di gunung Kie lian, meskipun ada kuda jempolan dan binatang sakti yang bantu melindungi namun masih tetap diliputi oleh berbagai bahaya. Sudah semestinya kita lekas pergi kesana. Tetapi dalam suratnya bukankah masih minta kita memanggil bala bantuan yang terdiri dari orang-orang gagah?. "

Sementara itu Ho Siu Im yang sedang mengeringkan pakaian Hee thian siang di atas api berkata kepada Hian Hian Sian lo" Supo, tadi di puncak gunung Ngo bi aku sudah angkat saudara dengan Engko Siang !"

Hian hian sianlo mengulurkan tangannya mengelus elus pundak Hok Siu Im, di wajahnya dengan senyuman, katanya: Im-jie, sejak kanak-kanak kau hidup piatu, orang-orang golongan Ngo-bi juga tiada ada seorangpun yang usianya sebaya denganmu, sifat mu yang cocok, seharusnya juga perlu mempunyai kawan seorang yang berhati lapang, berjiwa kesatria, supaya kau nanti jika melakukan perjalanan didunia kang ouw, barulah satu sama lain saling menghibur dan membantu, tidak sampai kesepian!"

Berkata sampai disitu, matanya dialihkan kepada Hee Thian siang dan berkata padanya sambil tersenyum: "Hee hiantit sudah mengikat tali persahabatan dengan Im jie, untuk selanjutnya kuharap kau supaya suka melindungi terhadap adikmu yang masih putih bersih dan belum mengerti urusan dunia."

Hee Thian siang bangkit memberi hormat, menerima baik permintaan itu, namun dalam hatinya berpikir, dengan demikian, maka hubungannya dengan Hok siu Im sudah jelas merupakan suatu tindakan yang tidak melanggar adat istiadat, Di kemudian hari, mungkin lebih mudah untuk menjelaskan kepada Tiong sun Hui kheng.

Sementara itu Hok Siu Im, setelah mendengar ucapan Hian hian sianlo, kembali berkata sambil tertawa: "Supo, kau dengan ketua Kun lun pay Tie hui cu adalah sahabat akrab, enci Tiong sun lantaran urusan Kun lun pay, kini memerlukan bala bantuan tenaga, mengapa kita tidak menggerakkan kekuatan empat jago Ngo-bi untuk bersama sama berangkat ke gunung Kie lian san... ?"

Tidak menantikan keterangan Hok Siu Im lebih lanjut, Hian hian sianlo sudah berkata sambil tertawa: "Barisan pedang Su siang tui hui kiamceng yang terdiri dari kalian empat jago golongan Ngo-bi, apabila digunakan dengan baik-baik, memang hebat sekali pengaruhnya, untuk pergi bersama- sama sudah tentu sangat baik sekali. Tetapi Siu Wan, Siu Lan, dan Seng Siu, ketiga sucimu semuanya masih belum kembali ke gunung, sedangkan nona Tiong sun, dengan seorang diri berada disarang harimau, sesungguhnya sangat berbahaya dan perlu segera diberi bantuan..."

Pada saat itu, di luar terdengar suara siulan panjang, lalu disusul dengan kata-kata seorang dengan suaranya yang kasar: "Ketua Ngo bi pay Hian hian sianlo apakah ada didalam?. Swat ??? Peng lo Leng Pek Ciok ada sedikit urusan ingin berjumpa dengannya!"

Hee Thian siang yang mendengar suara itu bukan kepalang girangnya, katanya: "Kedatangan Leng toako ini kita akan mendapat seorang bantuan tenaga yang sangat baik!"

Hian hian sianlo yang mendengar Hee Thian siang yang menyebut orang aneh dari golongan Swat ??? pay itu sebagai toako, diam-diam merasa heran, memperhatikan kepada Hok Siu Im supaya mengundang Leng pek ciok masuk!

Hok siu im keluar dan mengundang Leng pek ciok masuk ke dalam, ketika Leng pek ciok menampak Hee Thian siang berasa didalam, sesaat nampak terkejut, terlebih dahulu ia memberi hormat kepada Hian hian sianlo, setelah itu bertanya kepada Hee thian siang sambil tertawa terbahak bahak:

"Hee laote, setelah kita berpisah di gunung Oey san, masing-masing melakukan perjalanannya di kalangan Kang ouw, sehingga selama itu belum pernah bertemu lagi, apakah selama itu kau masih ingat dengan Leng toakomu ?"

"Aku bukan saja selalu ingat kepada Leng toako, pada dewasa ini justru ada urusan penting yang ingin minta bantuan leng toako !" berkata Hee Thian siang sambil tertawa.

"Lekas kau ceritakan, jikalau kau laote, benar-benar ada urusan betapapun besar urusannya, Leng pek ciok nanti akan membantumu!" berkata Leng pek ciok sambil tertawa terbahak-bahak. "Leng toako kau ada urusan dengan Ciangbunjin, silahkan berbicara dahulu dengan Hian hian Sian lo locianpwe, sesudah selesai, nanti kita bicarakan lagi!" berkata Hee Thian siang sambil tertawa.

Leng Pek ciok yang mendengar ucapan itu lalu berpaling dan berkata kepada Hian hian sianlo sambil tersenyum: "Leng pek ciok seorang kasar yang sudah biasa dengan sifatnya yang masih liar, maka atas perlakuanku yang mungkin tercela, harap supaya Sianlo memaafkan, karena begitu melihat sahabat kecilku Hee laote ini aku merasa sangat girang sekali sehingga hampir lupa daratan !"

"Perlu apa Leng tayhiap berlaku merendah diri? Orang- orang yang sikapnya polos memang begitu caranya bersahabat. Tidak ada apa-apa yang harus dicela" berkata Hian hian sianlo sambil tertawa.

Kini wajah senyum Leng pek ciok telah lenyap, diganti dengan sikap serius, katanya: "Tahukah sianlo maksud kedatangan leng pek ciok kemari untuk menjumpai sianlo ? adalah untuk melaporkan suatu kabar buruk!"

Hian hian sianlo terkejut mendengar itu, tanyanya: "Didalam dunia ini memang tiap saat bisa terjadi perubahan cuaca, begitupun manusia, setiap waktu bisa mengalami kejadian yang tak terduga duga, Leng tayhiap bicara terus terang, ada berita buruk apa bagi kita golongan Ngo bi pay ?"

Leng Pek ciok menjawab sambil menggelengkan kepala: "Berita buruk ini meskipun sangat mengejutkan, tetapi tidak ada hubungan apa-apa dengan golongan Ngo bi pay !"

"Walaupun bukan berita buruk yang menyangkut diri orang- orang Ngo bi pay, setidak-tidaknya juga ada sangkut-pautnya dengan kita, jikalau tidak, dengan cara bagaimana Leng Tayhiap melakukan perjalanan jauh guna memberi kabar kepadaku ?"

"Menurut apa yang Leng Pek ciok ketahui, Sianlo dengan majikanku Peng pek Sun kun suami istri, dan ketua Kun lun pay Tie hui cu, mempunyai persahabatan yang sangat erat!"

Hian hian sianlo menganggukkan kepala membenarkan ucapan Leng pek ciok. Leng Pek ciok berkata pula: "Kedatangan Leng pek ciok kali ini adalah atas perintah majikanku, untuk menyelidiki siapa orangnya yang menggunakan duri berbisa thian-keng-cek secara serampangan, sehingga menodai nama baik Kun lun pay, ini berarti fitnah bagi partai itu, sebagai melakukan perjalanan ke dunia Kang ouw untuk menyelidiki soal ini, di luar dugaannya sebelum mendapat keterangan, lebih dahulu telah mendengar berita bahwa salah seorang penting dari golongan Kun lun pay telah diserang secara menggelap !"

Hee thian siang mendengar sampai di situ, ia tidak dapat menahan lagi perasaannya, maka lalu bertanya: "Leng toako tokoh penting Kun lun pay yang kau maksud apakah bukan Sam sute adik perguruan nomor tiga Tie Hui Cu yang bernama Ciauw tek itu ?"

Dengan sinar mata yang tajam Leng Pek Ciok memandang Hee Thian siang, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala: "Dugaan Hee laote ini keliru, orang itu kalau dibanding dengan kedudukan Siauw Pek masih jauh lebih penting !"

Sementara itu Oe tie Khao yang juga merasa tertarik oleh penuturan itu, lalu bertanya: "Kalau kudengar dari keterangan saudara Leng ini, yang saudara Leng maksudkan apakah bukan ketua Kun lun pay sendiri, apakah saat ini sedang mengalami nasib buruk ?" Leng Pek Ciok menganggukkan kepala, katanya: "Ya, memang ketua Kun lun pay sendiri ialah Tie hui cu, selagi mengadakan penyelidikan siapa orangnya menggunakan duri berbisa Thian leng cek mengganas di dunia Kang-ouw untuk memfitnah Kun Lun pay, dalam perjalanan itu telah diserang secara menggelap"

Keterangan itu benar-benar mengejutkan semua orang yang ada disitu, Hee Thian siang baru sadar sebabnya ia sendiri dan Tiong sun Hui Kheng yang berkunjung ke gunung Kun lun san untuk menemui Tie Hui cu semua harus kembali dengan tangan hampa.

Hian hian Sian lo sesaat lama diam, lalu bertanya kepada Leng Peng Ciok: "Siapakah orangnya yang menyerang secara menggelap?"

"Dalam hal ini aku hanya mendengar khabar saja, tidak menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, aku hanya tahu bahwa ketua Kun lun pay Tie Hui cu didalam keadaan tidak berjaga-jaga lebih dahulu diserang dengan duri thian leng cek, setelah itu tertotok jalan darahnya ngo in hiat, lalu diculik, barangkali sekalipun orangnya tidak binasa, seluruh kepandaian ilmu silatnya sudah pasti dimusnahkan!"

Sepasang alis mata Hian hian Sianlo berdiri, ketika mendengar keterangan itu, katanya dengan agak marah: "Jadi mereka juga berani menurunkan tangan keji terhadap seorang ketua dari satu partai besar ?"

"Kawanan penjahat itu sebetulnya terlalu ganas dan terlalu rendah martabatnya, sayangnya masih belum tahu orang dari golongan mana !"

"Dalam urusan ini sesungguhnya tidak susah menduga, jikalau bukan orang-orang dari golongan Tiam cong pay, tentunya orang dari golongan Kie lian pay..." berkata Hee Thian siang.

Dengan sinar mata yang tajam Leng Pek ciok menatap wajah Hee tian siang sekian lama, kemudian bertanya: "Hee laote, apa kau mempunyai bukti ? mengapa berani mengambil kesimpulan demikian pasti ?"

"Kesimpulanku ini ialah berdasarkan keterangan Leng toako yang mengatakan caranya mereka membokong ketua Kun lun pay ! Sebab Tiong hui Kiam khek Su to wie dari golongan Tiam cong, juga ditotok jalan darahnya oleh orang golongan Tiam cong sendiri dengan cara demikian, kemudian dimusnahkan seluruh kepandaian ilmu silatnya, sedangkan orang-orang golongan Kie lian pay juga menggunakan duri berbisa itu untuk mengganas didalam rimba persilatan. Mereka itu adalah kawanan binatang buas yang mengganas dimana mana !" berkata Hee Thian siang.

Keterangan itu sesungguhnya di luar dugaan Leng Pek Ciok, maka ia bertanya dengan terheran-heran: "Keterangan ini semua merupakan suatu bahan yang penting yang belum pernah ku dapat, selama ku melakukan perjalanan untuk menyelidiki urusan itu di kalangan kang ouw, belum pernah mendapat keterangan seperti ini, dengan cara bagaimana Hee laote mengetahui ?"

Hee Thian siang lalu menceritakan semua pengalamannya, setelah berpisah dengannya di gunung Oey san.

Leng Pek Ciok dengan tenang mendengar semua penuturannya, kemudian berkata: "Jikalau ditilik dari semua kejadian itu, segala peristiwa dan huru-hara itu pasti adalah perbuatan yang sudah direncanakan oleh orang-orang golongan Tian cong dan Kie lian. Tetapi oleh karena partai Kie lian pengaruhnya agak besar, mungkin Tie Hui cu telah diculik dan dibawa lari ke goa Siang Swat tong. "Dugaan Hee laotee ini, meskipun sebagian besar tidak salah, tetapi segala urusan didalam dunia ini tak dapat dipastikan seratus persen, perbuatan ganas dan mengandung misteri yang mereka lakukan, meskipun mereka coba menyembunyikan tindakannya secara misteri, tetapi penyelidikan kita terhadap Pho hi to kwan tak boleh diabaikan begitu saja!" Berkata Oe tie Khao.

"Kalau menurut pikiran saudara Oe tie, dalam usaha kita untuk menolong ketua Kun lun pay bagaimana harus bertindak?" bertanya Leng Pek Ciok sambil menganggukkan kepala.

"Siaote dari mana mempunyai pendapat yang lebih baik ? Hanya merasa bahwa kita seharusnya menitik beratkan dan memusatkan semua perhatian kepada pihak Kie lian pay, lalu membagi satu atau dua orang pergi ke gunung Thiam cong, supaya jangan ada yang kelalaian !" berkata Oe tie Khao sambil tertawa.

Hian hian sianlo mendengar ucapan itu, nampak berpikir kemudian berkata: "Begini saja baiknya, Leng tayhiap dan oe tie tayhiap, bersama sama Hee Laote dan Im jie pergi ke goa Siang swat tong untuk membantu nona Tiong sun Hui kheng, sekalian menyelidiki jejak ketua Kun lun pay, sedangkan aku sendiri akan pergi ke Pho hie to kwan di gunung Tiam cong san !"

Pembagian tugas secara ini adalah yang paling baik, oleh karena sejak mendapat berita itu sebetulnya aku ingin pulang ke Tay swat san untuk minta bantuan, karena aku khawatir perjalanan terlalu jauh akan menghambat waktu, barulah aku berkunjung ke gunung Ngo bie ini. Sesungguhnya tak kusangka bahwa di sini aku bisa berjumpa secara kebetulan dengan Hee laote, dan secara tidak terduga-duga pula semua teka-teki yang membingungkan itu telah terpecahkan!" berkata Leng pek ciok sambil tertawa besar. Selama perjalanan itu masing-masing telah mendapat halangan besar, bahaya maut selalu mengintai di belakang jejak mereka. Dua orang tua berbaju kuning dan berambut panjang yang sebagai penunjang golongan Kie lian pay, juga sudah muncul, masing-masing mengeluarkan kepandaian mereka yang tinggi, hingga hampir saja rombongan Leng Pek ciok, oe tie khao, Hee thian siang, Hok siu Im dan Tiong san Hui Kheng tertangkap dan dibekukan dalam goa Siang swat tong ! Akan tetapi semua ini untuk sementara kita tunda dahulu, dan lebih dulu kembali kepada Su to wie yang sedang melarikan diri karena terancam jiwanya oleh saudara tuanya sendiri !

Su to wie sejak di gunung Bu leng san hampir terbinasa ditangan saudaranya sendiri, tetapi berkat pertolongan seorang aneh yang tak mau menunjukkan muka, sehingga nyatanya telah tertolong. Dengan munurut petunjuk orang aneh itu pergi ke gunung Ko le kong san mencari lembah Lang cwie kok, dengan tekun mempelajari dua kata yang ditinggalkan oleh susioknya Kwan Sam pek sebelum dianiaya oleh Thiat kwan totiang, dua kata-kata rahasia itu entah mengandung teka teki apa. Oleh karena jalan darahnya Ngo im kiat sudah tertotok, tenaga dalamnya sudah tak dapat dibangkitkan lagi, maka kepandaian ilmu silatnya yang sangat tinggi, tidak dapat digunakan sama sekali. Dalam perjalanannya ke gunung Ko le kong san itu, apabila ke tempat dengan salah seorang kawanan jahat dari golongan Tiam cong, dan dilaporkan kepada Thiat kwan totiang atau diketahui oleh Su to keng, pasti akan mendapat celaka besar.

Tetapi masih untung, waktu itu didalam kuil Pho hie to kwan sendiri, sedang dapat kunjungan Hee Thian siang, Ca Bu kao dan lainnya yang demikian rupa sehingga menjadi kalang- kabut.

Thiat kwan totiang dalam keadaan marah-marah mengumpulkan semua anggota golongan Tiam cong untuk mengadakan rapat tertutup. dirapat itu telah diusahakan untuk menambah kekuatan penjagaan dan menambah kekuatan untuk melaksanakan rencana keji mereka, oleh karena itu maka Su to wie dalam perjalanannya tidak mendapat gangguan apa-apa. dan tiba di gunung Ko le kong san dengan selamat.

Setelah tiba di gunung Ko le kong san ia minta keterangan kepada penduduk daerah situ, apa yang didapat dari mereka membuatnya hampir putus asa.

Entah karena lembah yang disebutkan itu ternyata hanya dibagian dalam gunung itu, untuk meneruskan perjalanan ke lembah itu harus melalui perjalanan gunung yang sangat berbahaya, jalan yang menuju ke puncak gunung yang sulit dilalui, sering diliputi oleh kabut tebal, jalan itu juga jarang didatangi oleh manusia.

Semula Su to wie merasa berat, tetapi setelah berfikit lagi, meskipun kepandaian ilmu silatnya kini sudah dimusnahkan, kekuatan tanaga dalamnya tak bisa dikerahkan, setidak- tidaknya toh lebih dari keadaannya daripada orang biasa, tak perlu takut menghadapi rintangan ditengah jalan ? oleh karenanya ia sudah bertekad untuk mencari hal tersebut.

Semuanya meskipun keras, tetapi ia dalam perjalanan yang jauh dan sukar itu, baru menuju empat lima puncak gunung sudah kehabisan akal dan tenaga.

Masih untung tempat itu memiliki pemandangan alam yang sangat indah, yang cukup untuk menghibur hatinya, maka di salah satu puncak gunung, dimana ia sedang beristirahat memakan bekal makanan kering dan minum, menggunakan kesempatan itu untuk menikmati pemandangan alam yang sangat indah. Akan tetapi semakin indah pemandangan alam dimana ia berada, semakin menimbulkan rasa terpencilmu bagi perasaannya sendiri, tiap manusia apabila timbul perasaan sunyinya, dengan sendirinya memikirkan sahabat, saudara dan kekasihnya, tetapi orang terdekat satu satunya justru adalah saudaranya sendiri yang berhati jahat dan kejam yang mencelakakan dirinya sehingga menderita penderitaan demikian hebat.

Betapapun baik hati Su to wie, betapapun besar jiwanya, paling banter juga tidak mengandung sifat permusuhan terhadap Su to keng, bagaimana ia bisa terkenang kepada saudara kandungnya sendiri yang seperti binatang itu.

Karenanya, maka satu satunya orang yang mengisi hatinya yang sunyi dan kosong itu, hanya Ca Bu kao yang pernah menjadi kekasihnya dan yang selama itu juga sedang menderita oleh karena memikirkan nasibnya.

Su to wie yang teringat kepada diri Ca Bu kao perasaan hatinya meluap luap demikian hebat, sehingga hampir tak dapat dikendalikan, ia lampiaskan suara hatinya itu dengan sajaknya, yang ia nyanyikan dengan suaranya yang pilu.

Baru saja mulai menyanyikan sajaknya, di belakangnya tiba-tiba terdengar suara helaan nafas, kemudian disusul oleh suara sajaknya: "Jangan takut perjalanan gunung yang sulit, harus ingat bahwa wanita cantik itu merupakan bencana !"

Bukan kepalang terkejutnya Su to wie, seketika berpaling, tampak di belakang dirinya, entah sejak kapan sudah berdiri seorang setengah tua yang mengenakan pakaian panjang berwarna kuning.

Orang itu karena berewoknya yang lebat, sepintas lalu wajah itu tampaknya sangat galak. tetapi kalau diperhatikan dengan seksama, sesungguhnya merupakan seorang gagah yang tampan dan menarik, sepasang matanya yang bercahaya tajam, kalau memandang orang memancarkan sinarnya bagaikan stroom listrik, sehingga begitu melihat orang bisa mengetahui bahwa orang itu tentu memiliki kepandaian ilmu silat sangat tinggi.

Su to wie yang biasa ramah terhadap setiap orang, terutama sesudah melihat sikap dan keadaan lelaki berbaju kuning yang berewokan itu yang keadaannya agak berubah dari manusia biasa, maka buru-buru memberi hormat sambil mengangkat tangan, katanya sambil tersenyum: "Kita berada sama-sama di satu tempat terpencil seperti ini pasti sudah ditetapkan oleh takdir ! Saote adalah Su to wie, bolehkah siaote numpang tanya nama saudara yang mulia ?"

Lelaki itu memandang lama kepada Su to wie, tiba tiba airmatanya mengalir turun dari kelopak matanya, dan kemudian menangis tersedu sedan!

Perbuatan orang itu sesungguhnya membingungkan Su to wie, maka ia terpaksa menghiburnya: "Saudara sebetulnya terganggu oleh penderitaan? bolehkah beritahukan kepada siaote.

Lelaki berewokan itu sesungguhnya beradat aneh, ketika ditanya demikian dengan suara sedih ia menyanyikan sajak dari salah seorang penyair dizaman dahulu. Su-to wie ketika menampak orang itu tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya malah menyanyikan sajak dari salah seorang penyair zaman dahulu, perasaannya semakin heran tetapi dari kata-kata terakhir dalam sajak itu, ia lantas menjadi sadar, tanyanya segera: "Saudara ini apakah salah seorang pendekar luar biasa pada masa ini yang namanya sangat terkenal dan pernah menggemparkan rimba persilatan... Hong tin ong khek May ceng ong ?"

Lelaki berewokan itu dengan mata masih berkaca kaca balas menanya kepada Su-to wie: "Aku May ceng ong, apakah itu kehormatan untuk menerima pujian sebagai seorang pendekar luar biasa yang namanya menggetarkan rimba persilatan ?"

Dari jawaban itu Su-to wie telah mendapat kepastian bahwa lelaki dihadapannya itu adalah May Ceng ong, salah seorang jago kenamaan yang paling sulit dihadapi, bukan kepalang rasa terkejut dan girangnya pada saat itu, kembali ia memberi hormat dan berkata: "Nama besar May Ceng Ong taihiap sudah lama menggetarkan rimba persilatan, seorang pendekar luar biasa yang hampir seperti Dewa seperti kau ini, dengan cara bagaimana bisa berada ditempat sunyi terpencil seperti ini, dalam keadaan sedih demikian rupa ?"

"Kau jangan bertanya, aku hendak menanyamu lebih dahulu !"

Su-to wie tahu bahwa Hong ti Ong khek ini adatnya sangat aneh maka terpaksa menganggukkan kepala serta menjawab sambil tersenyum: "May taihiap hendak tanya apa, silahkan. apa yang Su-to wie tahu pasti akan menjawab dengan sejujurnya."

Sinar mata May Ceng Ong yang tajam ditujukan kepada Su-to wie, tanyanya: "Kau adalah sute ketua Tiam cong pay Thai can Totiang yang mempunyai julukan Liong hui Kiam khek ?"

Su-to wie menganggukkan kepala, lengan jubah Ney Ceng Ong dengan tiba-tiba dikebaskan, hembusan angin yang amat kuat telah menggulung dari tengah udara !

Kebutan itu meski hanya menggunakan tenaga tiga bagian saja, tetapi Su-to wie yang sudah kehilangan kepandaian ilmu silat dan kekuatan tenaga dalamnya, sudah tentu tak sanggup menghadapi kebutan itu. Kakinya terhuyung huyung, dan mundur beberapa langkah, hampir saja ia terjatuh kedalam jurang! Dengan wajah sangat dingin May Ceng Ong berkata: "Liong hui kiam khek dari golongan Tiam cong pay setidak- tidaknya harus sanggup menahan kebutan lengan jubahku yang menggunakan tiga bagian... "

Ia mendengar ucapan itu barulah tahu May Ceng Ong merasa curiga dan dianggapnya ia menyamar menjadi Liong hui kiam kehk, maka buru-buru berkata sambil menggoyang- goyangkan kepala: "May taihiap jangan curiga dulu, Su-to wie telah teraniaya oleh orang jahat, tertotok jalan darah Ngo-im hiatnya, maka kepandaian ilmu silatku sudah dimusnahkan!"

Mulut May Ceng Ong, mengeluarkan suara terkejut "Oo" ia memandang dan menegasi Su-to wie sejenak, kemudian berkata pula: "Ada satu hal aku masih curiga terhadapmu !"

"Silahkan May Taihiap tanyakan semua !" berkata Su-to wie sambil tertawa.

"Dahulu didalam rimba persilatan namamu sangat baik, mengapa pada belakangan ini sikapmu telah berubah seratus delapan puluh derajat, Kau sering melakukan perbuatan keji dan mesum yang tak patut dilakukan oleh orang rimba persilatan ?"

"May taihiap, pertanyaanmu ini, telah membangkitkan perasaan sedih bagiku. Tetapi segala sesuatu yang menimpa diriku aku merasa malu untuk menceritakan kepadamu !" Berkata Su-to wie sambil tertawa getir.

"Sebaiknya kau ceritakan terus terang, pertemuan kita ini sesungguhnya merupakan suatu pertemuan yang tidak terduga-duga, juga boleh dikata jodoh, mungkin May Ceng ong bersedia memberi sedikit bantuan kepadamu yang mungkin ada gunanya bagimu sendiri !" Mendengar ucapan demikian, Su-to wei merasa sedih bercampur girang maka ia ceritakan seluruh riwayat hidupnya, dimana ia mengikat cinta kasih dengan Ca Bu kao dan bersama sama mengandung maksud hendak memperbaiki perhubungan antara golongan Lo-hu dan Tiam cong yang bermusuhan beratus tahun lamanya tanpa diduga-duga telah dicelakakan oleh saudaranya sendiri, ialah Su-to keng, bukan saja seluruh kepandaian ilmu silatnya sudah dimusnahkan, bahkan dengan menggunakan namanya Liong hui kiam khek melakukan segala kejahatan di luar batas,

May Ong Tiam Ongkek setelah mendengar cerita haru dengan tiba-tiba timbul perasaan sedihnya sendiri maka kembali menangis tersedu sedu !

Su-to wie merasa heran, tanyanya: "May taihiap, mengapa kau demikian sedih ? apakah ucapanku tadi ada yang salah ?"

"Kita sama sama senasib, maka setelah aku mendengar ceritamu yang penuh kesedihan ini juga membangkitkan rasa sedihku dan kebencianku!" jawab May ceng ong sambil menggeleng gelengkan kepala.

Dengan cara bagaimana May taihiap bisa senasib dengan Su-to wie ?"

Kekasihku tidak dapat mengampuni kau, kekasihku juga tidak dapat mengampuni diriku, apakah itu sama-sama senasib ?"

Dalam keadaan terheran heran Su-to wie bertanya pula: "May tayhiap selamanya suka menyendiri, rasanya belum pernah dengar kau ada mempunyai sahabat karib atau kekasih. Kedukaanmu dan kebencianmu kau bisa utarakan kepada orang lain kedukaanku dan kebencianku, sulit kuterangkan kepada orang. Sekarang biarlah aku menindas perasaan dukaku dan berusaha untuk mengobati kedukaan hatimu !"

Mendengar keterangan itu, sudah tentu May Ceng Ong merasa sangat girang. Setelah berpikir sejenak, kemudian berkata: