Makam Bunga Mawar Jilid 10

 
Jilid 10

"Oe-tie locianpwe namanya sudah terkenal di mana-mana dan murid Pak-bin Sin-po juga bukan orang sembarangan, bagaimana In-ya-hok berani membohongi. Di dalam Kun-lun- kiong ini, kecuali aku dan susiok Liong-yu Cin-jin, semua orang sudah pergi turun gunung!"

Oleh karena orang itu sudah berkata demikian, sudah tentu Hee Thian Siang tidak perlu menanya lagi. Terpaksa ia minta diri dari In-ya-hok, lalu turun gunung lagi bersama Oe-tie- Khao.

"Oe-tie locianpwe, dalam perjalanan kita yang jauh ini, ternyata sangat mengecewakan, kita datang dengan gembira, tetapi sekarang harus kembali dengan tangan kosong." demikian He Thian-Siang berkata.

Oe-tie Khao hanya ketawa menyeringai. He Thian Siang berkata pula dengan nada uring-uringan, "Kupikir hendak menggunakan kesempatan ini, kita pergi ke gunung Kie-lian- san untuk mengobrak-abrik sarang mereka!"

Oe-tie Khao berpikir sejenak, lalu berkata perlahan, "Pergi ke gunung Kie-lian-san, jika hanya untuk menyelidiki keadaan saja tidak ada halangan, tetapi posisi dan kedudukan Kie-lian- pay agaknya jauh lebih kuat daripada Tiam-cong-pay, Pek thao Losat Pao Sam-kow sudah berhasil melatih ilmu kebalnya. "

"Oe-tie locianpwe jangan kuatir, maksudku mengobrak- abrik itu bukanlah dengan kekerasan, tetapi dengan akal. Kita titik beratkan kepada usaha kita! Sebab satu kali mendapat pengalaman pahit, berarti bertambah suatu pengalaman berharga, bukan saja Pek-thao Losat Phao Sam-kow yang sudah memiliki ilmu kebal, walaupun ketuanya Kie-lian-pay dan senjata tongkat garuda kepala sembilannya itu, juga bagi kita merupakan lawan tangguh yang tidak sanggup menghadapinya!"

"Hee laote, kalau kau sudah mengetahui betapa hebat mereka itu, itulah paling baik. Kita benar-benar harus memikirkan caranya, bagaimana meyelidiki keadaan Kie-lian- pay dan Tiam-cong-pay yang sedang merencanakan muslihat jahat yang akan menimbulkan huru-hara di rimba persilatan. Sebab aku selalu merasa curiga. "

"Oe-tie locianpwe , kau mencurigai apa?"

"Dengan kekuatan Kie-lian dan Tiam-cong dua partai itu, tidak mungkin dapat menghadapi enam partai besar lainnya, dan orang rimba persilatan golongan baik-baik yang selalu menegakkan keadilan dan kebenaran ! Aku selalu curiga apakah mereka masih mempunyai jago yang sangat kuat, yang di luar pengetahuan kita, dan orang itu berdiri di belakang layar, mendorong Khie Tay Cao dan Thiat Kwan Totiang untuk menjalankan tugas mengadu domba dalam rimba persilatan !"

Hee Thian-Siang merasa bahwa dugaan Oe-tie Khao ini memang masuk akal, maka lantas ia berkata sambil menganggukkan kepala.

"Oe-tie locianpwe, dugaanmu ini meskipun besar kemungkinannya ada, tetapi aku tak dapat memikirkan, pada dewasa ini siapa orangnya yang cianpwe anggap orang yang paling kuat dan paling berbahaya ?"

"Ucapan laote ini tidak benar, ada orang yang kadang- kadang di luar dugaan kita. Umpamanya Pek-thao Losat Pao Sam-kow, adalah orang yang lama bertapa di goa salju dan kini muncul kembali secara tiba-tiba. Yang kumaksudkan adalah orang-orang yang pada sepuluh duapuluh tahun berselang namanya sudah menggemparkan rimba persilatan, dan kemudian menghilang secara tiba-tiba, bagaimana kalau mereka sekarang muncul lagi ?"

"Usiaku terlalu muda, orang-orang kuat dan ternama pada waktu itu aku masih belum tahu. Terhadap tokoh-tokoh kuat yang mengasingkan diri pada sepuluh dua puluh tahun yang lalu, sudah tentu asing bagiku. Cianpwe mempunyai pengetahuan sangat luas, coba ceritakan beberapa di antaranya kepadaku !"

Oe-tie Khao berpikir dahulu, kemudian berkata perlahan- lahan, "Apa yang kuketahui juga tidak terlalu banyak, aku hanya teringat pada tiga kaum pria dan dua kaum wanita. "

Hee Thian Siang terkejut, katanya , "Ha, ada demikian banyak ? Tolong locianpwe lekas ceritakan supaya aku mendapat tambahan pengetahuan!"

"Kuberitahukan dahulu padamu tentang tiga kaum pria itu, tiga orang itu memiliki kepandaian dan kekuatan yang luar biasa sekali tingginya, hampir sudah mencapai taraf yang tiada taranya! Tetapi mereka satu sama lain merupakan musuh bebuyutan. Mereka pernah mengadakan pertempuran di atas gunung Ngo-gak sampai lima kali. Setiap kali selalu seri, belum ada ketentuan siapa yang lebih unggul dan siapa yang asor!

Pada pertandingan terakhir, dilakukan di puncak gunung Ngo-bi-san, mereka telah berjanji jikalau tidak ada yang menang dan kalah, tidak ada yang mau kembali dalam keadaan hidup. Akhirnya di atas gunung Ngo-bi-san itu dengan beruntun tiga hari tiga malam lamanya tampak penerangan terus menyala. Sedangkan tiga orang luar biasa itu sejak saat itu juga menghilang. Ada yang mengatakan bahwa setelah mereka bertarung sengit, telah terjatuh ke dalam jurang dan mati semua. Ada pula yang mengatakan bahwa dalam pertempuran di atas bukit Ngo-bi itu mereka telah menyadari keduniawian yang banyak dosanya, maka lalu mengikuti agama Buddha! Meskipun dugaan ini belum tentu semuanya benar, tetapi selama dua puluh tahun ini, yang sudah nyata ialah mereka tidak tampak di rimba persilatan!"

"Oe-tie Cianpwe, mendengar keteranganmu ini aku juga ingat bahwa suhuku pernah menyebut nama mereka, apakah mereka bertiga itu bukan Go Ban-cit yang memiliki gelar Pelajar Romantis, Bo Cun-yang yang memiliki gelar Bu-ceng- kiam-kek dan Gi Yang Po yang memiliki gelar Thian-ceng Kie- su?"

"Betul, tiga orang itu masing-masing mempunyai adat yang sangat aneh. Hanya lantaran nama julukan itu saja telah menimbulkan konflik begitu hebat. Rimba persilatan hampir dua puluh tahun lamanya dibikin tidak aman oleh perbuatan mereka!"

"Dan tentang dua tokoh wanita itu?"

"Dua tokoh wanita itu kalau dibandingkan dengan tiga tokoh pria tadi lebih susah lagi dihadapinya. Yang satu bernama Leng Biao Biao, julukannya Siang-swat Sian-jin, yang satunya bernama Tan Siang Siang, julukannya Kiu-thian Mo-li, mereka berdua terkenal di kalangan kang-ouw dengan kepandaian silatnya yang aneh luar biasa, tapi kedua-duanya menghilang dengan mendadak pada duapuluh tahun bersilang!"

"Namun julukan Leng Biao Biao dengan markas besar Kie- lian-pay Siang-swat-giam sangat cocok satu sama lain!"

"Justru karena nama julukan yang diambil oleh tokoh wanita itu begitu tepat dengan markas golongan Kie-lian-pay, maka barulah aku ingat kepada diri mereka!" Berkata Oe-tie hao sambil menganggukkan kepala.

"Apakah lo-cianpwe menganggap pasti bahwa di antara tiga tokoh pria dan dua tokoh wanita itu mungkin ada salah satu yang menunjang di belakang layar Kie-lian-pay dan Tiam- cong-pay untuk mengacau dan menimbulkan huru-hara di rimba persilatan?"

"Meskipun aku mempunyai kecurigaan demikian, tetapi aku belum berani memastikan! Sebab bagaimanapun juga pengetahuanku sangat terbatas. Di antara begitu banyak tokoh-tokoh kuat yang sudah mengasingkan diri, jumlahnya toh tidak mungkin hanya lima orang itu saja!"

Berkata sampai di sini, tiba-tiba ia ingat lagi suatu hal, lalu berkata pula: "Di dalam kelenteng tua yang sudah rusak keadaannya di daerah lautan Nie-hay, bibimu pernah mengatakan bahwa anak murid golongan Kun-lun ada yang berkhianat dan mengadakan hubungan dengan musuh luar. Mereka telah mencuri duri berbisa Thian-keng-cek lalu diberikan kepada orang-orang Kie-lian-pay, hingga barang itu digunakan untuk mencelakai diri tiga jago Bu-tong dan ketua Lo-hu-pay Peng-sim Sin-nie."

"O! Bagaimana bibi Ca bisa mengetahui hal itu?"

"Dia juga mendengar apa yang diberitahukan oleh duta bunga mawar!"

"Duta bunga mawar itu sesungguhnya merupakan tokoh misterius luar biasa. Wajah aslinya tiada seorangpun yang pernah melihat, entah siapakah sesungguhnya orang itu?"

"Itulah seperti apa yang tadi kukatakan, bahwa di dalam dunia yang luas ini, entah berapa banyak orang berilmu yang tak mau menonjolkan kepandaiannya, susah bagi kita untuk mengetahui semua."

"Tentang murid pengkhianat dari Kun-lun-pay itu tentunya susah juga untuk mengetahui siapa orangnya! Sayang, kedatangan kita tidak kebetulan, jika tidak, selain kita bisa minta Tie-hai-cu untuk memeriksa daun itu, apakah betul daun dari pohon Thian-keng atau bukan! Bahkan dapat memberitahukan kepadanya bahwa partai Kun-lun sendiri ada pengkhianat di dalamnya, maka perlu lebih dahulu mengadakan pembersihan di dalam!"

Sementara itu dua orang itu sudah berjalan turun dari gunung Kun-lun. Di bagian belokan sebelah kiri, tiba-tiba muncul seorang gadis bertubuh langsing dan mengenakan mantel berwarna hitam hendak mendaki gunung dengan tergesa-gesa, seolah-olah baru selesai mengadakan perjalanan jauh dan hendak pulang ke atas gunung!

Karena dari samping dilihatnya gadis itu mirip benar dengan gadis yang dilihatnya dahulu di gunung kiu-gi-san, ia lalu menduga gadis itu adalah murid kepala Tie-hui-cu, ialah Liok Giok Jie, maka lantas memanggilnya sambil tertawa, "Nona, harap tunggu sebentar!"

Gadis itu ketika mendengar panggilannya lantas berhenti dan menoleh, sinar matanya yang tajam menatap wajah Hee Thian Siang, hingga membuat Hee Thian Siang terkejut dan dalam hati ia berpikir, 'Gadis ini mengapa mirip benar dengan Hok Siu Im dari Ngo-bie-pay.'

Dipandang demikian rupa oleh Hee Thian Siang , gadis itu rupanya merasa tidak senang, maka lalu bertanya sambil mengerutkan alisnya, "Ada urusan apa kau memanggilku? Dan ada keperluan apa kau datang kemari?"

Melihat sikap dingin dan nada ketus gadis itu, Hee Thian Siang teringat kepada surat yang ditinggalkan oleh Duta bunga mawar di luar goa tempat burung elang raksasa. Dalam tulisan itu dikatakan bahwa "Giok berduri", tampaknya memang betul.

"Namaku Hee Thian Siang, dengan Oe-tie Khao locianpwee ini ada urusan penting hendak menjumpai ketua Kun-lun-pay. Nona ini adalah murid kesayangan Tie-hui-cu locianpwe yang bernama Liok Giok Jie?". Demikian bertanya Hee Thian Siang.

"Memang benar aku adalah Liok Giok Jie, sekarang ini bukan saja suhu tidak berada di Kun-lun-kiong, sekalipun ada tetapi karena Kun-lun-pay sendiri sedang ada urusan, tidak akan menemui tamu dari luar!". Berkata gadis itu yang masih tetap dingin.

Oleh karena sikap Liok Giok Jie yang dingin itu, Oe-tie Khao kuatir menimbulkan amarahnya Hee Thian Siang, hingga timbul percekcokan, maka ia lalu berkata sambil tertawa: "Kedatangan kita ini, justru lantaran urusan partai Kun-lun-pay".

"Urusan partai Kun-lun-pay, juga diurus oleh partai Kun-lun- pay sendiri! Rasanya tidak perlu lain orang turut campur tangan!" Berkata liok Giok Jie sambil mengawasi Oe-tie Khao.

Jawaban itu sesungguhnya terlalu keras, maka Hee Thian Siang yang mendengar itu merasa tidak senang, katanya: "Tahukah kalian bahwa anak murid Kun-lun-pay terdapat penghianat yang bersekongkol dengan musuh luar?"

"Hee Thian Siang jika kau berani mengeluarkan perkataan seenak perutmu sendiri sehingga menodai nama baik Kun-lun- pay, aku terpaksa akan bertindak tegas terhadapmu!" Berkata Liok Giok Jie dengan suara keras.

"Apa itu perkataan seenak perut sendiri? Memang benar bahwa orang-orang dalam partai kalian ada yang mencuri duri beracun Thian-keng diberikan kepada orang-orang Kie-lian- pay yang hendak membuat bencana dirimba persilatan dan menimbulkan huru-hara besar!". Berkata Hee Thian Siang marah.

Dengan alis berdiri Liok Giok Jie berjalan menghampiri tiga langkah dan bertanya sambil menatap wajah Hee Thian Siang: "Apa yang kau katakan tadi, ada buktinya atau tidak? Siapakah murid Kun-lun-pay yang berkhianat?"

Ditanya soal bukti, membuat Hee Thian Siang gelagapan, katanya: "Bukti meskipun.... meskipun tidak ada tetapi. "

"Kau berkata hanya seenak perutmu sendiri, ini membuka mulut saja, sekarang kau rasakan rasanya ilmu In-liong-pat- set dari golongan Kun-lun-pay!", berkata Liok Ciok Jie dengan sikap dingin dan suara bengis, sehabis berkata benar-benar ia menggunakan ilmunya yang dinamakan In-Liong-pat-set, tangan-kanannya digerakkan menyerang bagian ulu hati Hee Thian Siang!

Hee Thian Siang juga timbul amarahnya, dia tertawa terbahak-bahak dan berkata: "bagus-bagus! Tak kusangka kita jauh-jauh datang kemari dengan susah-payah, setiba di Kun- lun-san harus menerima gebukan! Biarlah aku coba merasakan ilmu golongan Kun-lun-pay yang dinamakan In- liong-pat-set itu, bagaimana rasanya?"

Sambil bicara, ia diam-diam sudah mengerahkan ilmunya Kian-thian-khie-kang, dengan tangan kanannya ia menyambut serangan Liok Giok Jie.

Begitu kedua kekuatan saling beradu, masing-masing mundur setengah langkah, ternyata kekuatan mereka berimbang, tetapi Hee Thian Siang tahu, apabila tidak karena penemuan gaibnya dalam peti mati kali ini, sehingga kekuatan tenaga dalamnya tambah berlipat-ganda, barangkali masih belum sanggup menandingi kekuatan Liok Giok Jie!

Oe-tie Khao tidak ingin melihat urusan menjadi runyam, selagi kedua pihak saling mundur dalam keadaan terkejut dan belum lagi maju bertempur kembali, lantas melesat dan berdiri ditengah-tengah dua orang itu, ia berkata kepada Liok Giok Jie sambil tertawa: "Nona Liok jangan marah, meskipun kita tidak dapat membuktikan murid Kun-lun-pay yang berkhianat itu, tetapi kita datang dari jauh untuk memberitahukan hal itu, bagaimanapun juga toh tidak mengandung maksud jahat ! Apa lagi di dalam kantong kita ada sebuah benda juga besar sekali sangkut pautnya dengan Kun-lun-pay; suhumu Tie-hui-cu jikalau belum kembali ke gunung, tolong sampaikan kepadanya minta ia mencari kita untuk menanyakan saja itu sudah cukup !"

"Apa yang kau katakan tentang benda yang ada sangkut pautnya besar sekali dengan partai Kun-lun-pay, barang apakah sebetulnya itu ?" bertanya Liok Giok Jie.

Hee Thian Siang dalam hati berpikir bahwa daun pohon Thian-keng itu, jika diserahkan kepada Liok Giok Jie, juga sama saja. Maka lalu memasukkan tangannya ke dalam sakunya, dan selagi hendak mengeluarkan, Oe tie khao memberi isyarat dengan mata kepadanya dan sudah berkata lebih dahulu sambil tertawa :

"Nona Liok, maaf benda itu karena besar sekali sangkut pautnya dengan Kun-lun-pay, maka kita harus menyerahkan sendiri kepada ketua Kun-lun-pay sendiri !"

Karena Oe-tie khao berkata demikian, sudah tentu Hee Thiang Siang tidak jadi memberikan daun itu kepada Liok Giok Jie, hal itu sesungguhnya tidak enak, maka waktu itu wajahnya merah seketika, seolah mengeluarkan suara dari hidung, ia lantas memutar diri hendak berlalu.

Hee Thian Siang karena mengingat ucapan Bo Bu Yu tentang tiga gadis, Liok Giok Jie, Tiong-sun Hui Kheng dan Hok Siu Im, kini tiga gadis itu sudah dijumpai semuanya, tetapi dia masih belum dapat menduga pasti, mana satu diantara mereka yang dahulu pernah dilihatnya di gunung Kiu-gie-san menunggang kuda berbulu hijau, dengan seorang diri membinasakan empat setan dari golongan Kie-lian, maka ia lalu bertanya : "Nona Liok, aku hendak bertanya lagi padamu satu hal, apakah kau pernah dengar seorang diri menunggang kuda berbulu hijau di daerah gunung Kiu-gie-san, dengan seorang diri membinasakan empat setan dari golongan Kie- lian ?"

Liok Giok Jie yang ditanya demikian tampak terperanjat, matanya berputaran sejenak, jawabnya sambil menggelengkan kepala: "Aku belum pernah pergi ke gunung Kiu-gie-san, dan belum pernah menunggang kuda berbulu hijau, juga belum pernah membinasakan empat setan dari Kie- lian-pay !"

Sehabis mengucap demikian, tiba-tiba mengeluarkan ilmu meringankan tubuh, kedua tangannya bergerak, lompat melesat setinggi empat lima tombak, tanpa menoleh lagi terus melesat ke gunung Kun-lun-san.

Jawaban tegas dari gadis itu membuat Hee Thian Siang bingung. Oe-tie khao sebaliknya yang mengawasi berlalunya Liok Giok Jie, ia berkata dengan pujiannya :

"Sungguh hebat ilmu meringankan tubuhnya, sungguh hebat kekuatan tenaga dalamnya. Nona ini tidak kecewa menjadi murid kesayangan Tie-hui-cu, ia benar-benar merupakan setangkai bunga indah di dalam gunung Kun-lun- san !"

"Oe-tie locianpwe, mengapa kau tidak mengijinkan aku memperlihatkan daun pohon Keng-cek itu kepada Liok Giok Jie ?" bertanya Hee Thian Siang.

"Nona Liok ini tampaknya hendak melindungi nama baik Kun-lun-pay, hingga hampir timbul onar denganmu, apabila nanti marah karena malu setelah menerima daun Thian-keng itu, lantas dihancurkannya, maka di kemudian hari kalau hendak membuka rahasia keji Tiam cong dan Kie-lian, bukankan lebih susah lagi mencari buktinya ?" Sejenak Oe-tie Khao diam, matanya menatap Hee Thian Siang, kemudian bertanya sambil tersenyum : "Hee laote, kau lihat antara Liok Giok Jie, Tiong-sun Hui Kheng dan Hok Siu Im, tiga nona itu, manakah satu yang pernah kau lihat di gunung Kiu-gie-san dahulu ?"

Mendengar pertanyaan yang paling sulit baginya itu, Hee Thian Siang terpaksa menjawab sambil tertawa getir : "Aku sendiri juga tak tahu, mana satu yang sebenarnya ? Aku hanya merasa diantara mereka bertiga Liok Giok Jie-lah yang terhitung paling jahat adanya, Tiong-sun Hui Kheng paling baik, sedangkan Hok Siu Im hampir mirip dengan Liok GIok Jie !"

"Waktu itu apakah kau sudah melihat benar gadis memakai mantel hitam yang dengan seorang diri membinasakan empat setan dari Kie-lian, benarkah menunggang seekor kuda bagus berbulu hijau ?"

"Kuda hebat berbulu hijau itu justru yang membuatku jadi bingung !" Berkata Hee THian Siang sambil menganggukkan kepala.

Oe-tie Khao menanyakan sebab-sebabnya sambil ketawa, Hee Thian Siang lalu menjawab : "Sebab menurut apa yang dikatakan oleh Bo Yu locianpwe, pada waktu ini, kuda pilihan berbulu hijau yang jarang di dalam dunia, hanya ada dua ekor saja ! Seekor adalah milik ketua Kie-liau-pay, Kie Tay Cao; kuda itu dinamakan Cian-li-kiok-hwa-ceng. Dan seekor lagi ialah kuda milik Say Han Kong locianpwe yang dinamakan Ceng-hong-kie, tetapi oleh karena dalam pertaruhan dikalahkan oleh Tiong-sun Hui Kheng, maka kini menjadi milik nona itu. Jika ditilik dari bulu hijaunya, gadis bermantel hitam yang dengan seorang diri membinasakan empat setan dari Kie-lian-pay, seharusnya adalah Tiong-sun Hui Kheng..."

Oe-tie Khao yang mendengar keterangan itu lantas berkata: "Dugaanmu ini barangkali kurang tepat, sebab aku tahu nona Tiong-sun bukan saja adatnya lebih baik, lemah lembut, belum pernah membunuh orang, bahkan kepda binatang peliharaannya sendiri seperti siaopek dan taywong, juga dilarang membunuh orang secara sembarangan."

Hee Thian Siang mengangkat kepala dan berkata: "Ucapan locianpwe ini memang benar, senjata yang digunakan oleh gadis bermantel hitam itu mirip dengan senjata pedang Ngo- kao-kiam, ini jelas mirip dengan senjata Kim-leng-cek yang digunakan Liok Giok Ji, tetapi karena ia tidak mengaku, juga sama halnya dengan kuda berbulu hijau itu juga tidak cocok satu sama lain."

"Hee laote, perlu apa kau hendak mengetahui siapa sebetulnya gadis yang kau lihat pada waktu itu? Menurut pandanganku, diantara tiga gadis itu, memang benar Tiong- sun Hui Kheng yang paling baik."

Muka Hee Thian Siang menjadi merah, kemudian berkata dengan gelagapan : "Aku bukanlah pasti mempunyai kesan paling baik terhadap orang yang kulihat di gunung Kiu-gie-san itu, cuma lantaran urusan ini seolah-olah mengandung misteri yang perlu kita pelajari, maka aku baru mengambil keputusan hendak mengetahui sedalam-dalamnya ! Ai, Dua bunga mawar benar-benar seperti Dewa, dia mengetahui segala urusan, apa yang dikatakan itu benar sekali, surat yang ditinggalkan padaku di gua kuno tempat rangka burung elang raksasa iru sudah ditulis dengan jelas, ia mengatakan Hok patut dikasihi, Giok ada durinya dan Kheng banyak cinta kasihnya. "

Berkata sampai di situ, mendadak berhenti. Alisnya dikerutkan, katanya pula : "Tetapi kalau benar Tiong-sun Hui Kheng banyak cinta kasih mengapa sewaktu aku lolos dari bahaya maut ia tidak mau melihat aku sekali saja ?"

"Untuk kepentinganmu, Tiong-sun Hui Kheng memerlukan pergi ke gunung Tay-swat-san yang jauhnya ribuan pal, mengambil bunga teratai swat-lian, dari sini bisa diketahui bagaimana besar perhatiannya terhadap dirimu, meskipun telah melihat kau dalam keadaan selamat ia lantas pergi meninggalkan dirimu, tetapi tindakannya itu bukan berarti tidak mengambil perhatian terhadap dirimu, sebaliknya malah membuktikan bahwa dirinya sudah terjerat oleh jaring asmara

!

Ia memiliki kuda istimewa yang sehari bisa berjalan ribuan pal, di dunia Kang-ouw di mana saja gampang bertemu. laote, asal kau bersabar dan sungguh-sungguh terhadapnya, kujamin kau tentu bisa mencapai maksudmu untuk mendapatkan gadis itu !"

Hee Thian Siang diam-diam merasa senang ketika mendengar keterangan itu, ia sengaja mengalihkan pembicaraannya ke lain soal, maka ia lantas berkata sambil tertawa: "locianpwe, karena dalam perjalanan kita ke Kun-lun- san ini masih menunggu waktu yang belum kita ketahui berapa lama, maka baiklah kita menurut rencana semula, buru-buru menuju ke timur, masuk ke kota Giok-bun-kwan, dengan melalui propinsi Kiam-siok terus ke Su-cwan; mungkin masih keburu untuk menepati janjimu dengan Bo Bu Yu locianpwe dan Hok Siu Im di gunung Ngo-bie-san."

Oe-tie Khao tertawa sambil menganggukkan kepala, bersama Hee Thian Siang berjalan menuju timur.

Hari itu tak ada kejadian apa-apa, tetapi pada hari kedua di waktu malam, terjadilah suatu peristiwa yang membingungkan Hee Thian Siang ! Dalam perjalanan yang jauh itu, sudah tentu mereka hanya melakukan perjalanannya di waktu siang hari, dan di waktu malam harus mengaso, tidak seperti melakukan perjalanan dekat, yang bisa dicapai dalam sehari semalam, boleh saja tanpa mengaso. Maka, jika merasa tidak mendapatkan kampung atau desa untuk bermalam di rumah penduduk, terpaksa duduk bersemedi semalam suntuk, kadang-kadang di dalam rimba, kadang-kadang di bawah kaki bukit !! Begitulah keadaannya malam itu, ketika malam sudah mulai larut, Oe-tie Khao siang-siang sudah seperti orang tidur nyenyak; tetapi Hee Thian Siang yang pikirannya risau, ia tak dapat menenangkan hatinya !

Sebentar dia teringat kepada Hok Siu In yang sifatnya keras, sebentar ia teringat kepada Tiong Sun Hui Kheng yang agung dan lemah lembut, dan sebentar lagi kepada Liok Giok Jie yang baru dikenalnya yang sifatnya agak ketus tinggi hati dan nakal, bayangan tiga gadis cantik itu terus menggoda pikirannya. Di dalam keadaan demikian, dengan tiba-tiba mendengar suara orang yang memanggil namanya.

Hee Thian Siang semula mengira pikirannya terganggu, dia mulai memasang telinga. Suara itu didengarnya dari tempat yang ada pohon lebat yang berada kira-kira sepuluh tombak dari tempatnya, tetapi juga menggunakan ilmu mengirim suara ke dalam telinga yang di tujukan kepada dirinya sendiri, sehingga tidak mengejutkan Oe-Tie Kao!

Di dalam keadaan terkejut dan heran diam-diam dia bangkit dan menghampiri tempat tersebut, sementara dalam hatinya diam-diam merasa heran di dalam selak belukar seperti itu dari mana datangnya seorang kenalan? Jarak sepuluh tombak itu tidak sukar dicapainya, tempat itu ternyata merupakan sebuah rimba kecil. Hee Thian Siang yang sudah berkali-kali mendapat pengalaman buruk, maka kini dia mulai berhati-hati, begitu tiba di depan rimba lantas berhenti dan berkata dengan suara pelan-pelan.

"Siapa yang berada di dalam rimba? Bolehkah keluar sebentar untuk bertemu muka?"

Di dalam rimba itu benar saja ada orang yang menjawab dengan suara yang sangat merdu : "Hee Thian Siang mengapa kau tak berani masuk? Apakah. ?" Suara itu jelas merupakan suara seorang wanita muda, juga rasanya suara itu masih dikenalinya. Maka belum sampai menunggu habis ucapan tadi, Hee Thian Siang sudah masuk ke dalam rimba kecil itu sambil berjaga-jaga dengan ilmunya Kiam-thian-kiekang. Dalam rimba itu meskipun gelap tetapi rembulan waktu itu masih memancarkan sinarnya melalui celah-celah pepohonan, hingga samar masih bisa membedakan muka orang. Tampak olehnya gadis yang kemarin di jumpainya di bawah kaki gunung Kun-lun-san ialah Liok Giok Jie berdiri seorang diri dengan pakaiannya yang ringkas.

Hee Thian siang tidak menduga bahwa gadis itu membuntuti dirinya sampai di situ, dan memanggil padanya, sehingga ketika bertemu muka diam-diam terkejut, tapi Liok Giok Jie sikapnya tidak seperti kemarin yang demikian ketus dan nakal, malam itu mukanya ramai dengan senyuman begitu melihat Hee Thian Siang ia lantas berkata : "Kau barangkali tidak menduga kalau aku bisa mengikuti jejak kalian dan bertemu di tempat ini!"

"Apakah suhu nona sudah kembali?" Demikian Hee Thian Siang pura-pura bertanya. Liok Giok Jie menggelengkan kepala, berkata sambil menunjuk ke sebuah pohon yang berada di sampingnya.

"Marilah kita duduk sambil omong-omong" Sehabis berkata ia duduk lebih dulu, lalu minta Hee Thian Siang duduk di sisinya dengan senyumnya yang manis.

Hee Thian Siang tampak sikap ramah gadis itu, ia juga tidak menolak, kemudian duduk pula di sisinya dan bertanya sambil tersenyum: "Kalau benar Tie-Hui-cu locianpwe belum kembali, ada keperluan apa nona menyusul aku datang kemari?".

Kesatu aku hendak mengucapkan terima-kasih kepadamu dan kedua hendak menegur kau!". "Nona Liok, untuk apa kau mengucapkan terima-kasih kepadaku?". Ada apa kau perlu menegur aku?".

"Kuucapkan terima-kasih kepadamu, karena kau jauh-jauh memerlukan berkunjung ke gunung Kun lun, hendak memberitahukan kepada golongan kita, tentang terdapatnya murid yang berkhianat!".

"Kita sama-sama orang rimba persilatan, untuk keadilan dan kebenaran, hal itu sudah pada tempatnya, hingga tidak berharga untuk nona sampai mengucapkan terima-kasih! Tetapi mengapa pula kau hendak menegurku aku?".

Dengan sinar mata yang tajam Liok Giok Jie menatap wajah Hee Thian Siang kemudian bertanya lambat-lambat: "Mengapa kau tidak pandang mata diriku?".

Ditanya demikian Hee Thian Siang terkejut heran, jawabnya: "Mengapa nona Liok mengucapkan perkataan demikian? Kau adalah murid kepala Tie-hui-cu locianpwe, merupakan tokoh kuat dari golonganmu yang gagah perkasa! Itu sudah cukup bagiku untuk menanam perasaan kagum terhadapmu dengan cara bagaimana..

"Jika kau benar bukan tidak pandang mata kepadaku, mengapa barang yang kau katakan ada sangkut-pautnya yang besar dengan Kun-lun-pay tidak kau perlihatkan kepadaku?"

Kini Hee Thian Sian baru sadar, maka lalu ia berkata sambil tertawa: "Harap nona Liok jangan sesalkan diriku, aku toh tidak mengatakan bahwa barang itu tidak akan kuperlihatkan padamu?".

"Kalau kau hendak memperlihatkan kepadaku, mengapa tidak lekas kau keluarkan dan mengapa kau berlaku ragu- ragu?". Ditegur demikian, Hee Thian Siang benar-benar merasa malu sendiri, maka dari dalam sakunya mengeluarkan daun bentuk segi tiga berwarna kemerah-merahan itu, diberikan kepada Liok Giok Jie dan ia berkata sambil tertawa: "Daun inilah yang kumaksudkan ada sangkut-pautnya dengan partai Kun-lun-pay!".

Liok Giok Jie menyambuti daun itu diperiksanya sejenak, namun sedikitpun tidak menunjukkan perasaan kaget atau heran. Ia hanya menatap wajah Hee Thian Siang, memandang pemuda itu dengan perasaan heran.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, diam-diam juga merasa heran. Maka lalu menceritakan kepadanya, segala pengalamannya didalam goa kuno tengkorak burung elang raksasa dan bagaimana ditemukannya daun itu.

Liok Giok Jie mendengarkan dengan tenang dan memeriksa bolak-balik daun berwarna ke-merah-merahan yang berada didalam tangannya, setelah itu ia berkata: "Oo, apa kau kira partai Kie-lian-pay hendak memfitnah partai Kun- lun-pay? Dan apa kau anggap bahwa daun inilah adalah daun dari pohon Thian-keng yang hanya tumbuh di puncak gunung Kun-lun-san?".

Mendengar pertanyaan itu ia balas bertanya dengan perasaan heran: "Apakah ada apa-apanya yang tidak benar?".

"Kali ini kalian tiba di Kun-lun-kiong apakah pernah diajak oleh Liong ya Cinjin susiok untuk melihat-lihat pohon Thian- keng yang tumbuh ditengah-tengah danau Thian-tie?".

"Sebab kalian orang-orang Kun-lun-pay semuanya sudah keluar, maka kita tidak enak masuk Kun-lun-kiong untuk mengganggu susiokmu". Berkata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala. Mendengar jawaban itu, tiba-tiba Liok Giok Jie tertawa terkekeh-kekeh!

"Mendengar ucapan nona Liok Giok ini apakah daun ini bukannya daun pohon Thian-keng?".

Liok Giok Jie menatap wajah Hee Thian Siang, kini sikapnya berbalik seperti seorang menghina, katanya: "Kau telah menganggap daun pohon Hong yang bentuknya agak beda dengan biasa, sebagai daun dari pohon Thian-keng yang hanya tumbuh di atas gunung Kun-lun-san, bukankah ini sangat menggelikan?"

Sehabis berkata demikian, daun itu lantas dirobek-robek sehingga hancur berkeping-keping!

Hee Thian Siang melihat perbuatan gadis itu nyata seperti apa yang dikuatirkan oleh Oe-tie Khao. Daun dari pohon aneh yang disimpan lama di sakunya, telah dirobek-robek menjadi berkeping-keping, dalam keadaan cemas ia lantas bangkit dari tempat duduknya dan bertanya dengan suara marah: "Mengapa kau robek-robek daunku ini?".

Wajah ramah Liok Giok Jie sesaat telah lenyap dan berubah menjadi dingin lagi, bahkan mengandung maksud membunuh, pelahan-lahan ia bangkit dan berkata: "Aku mau robek atau hancurkan, itu adalah urusanku sendiri, kau bisa berbuat apa terhadap aku?".

"Baru pertama kali ini Hee Thian Siang menemukan gadis yang demikian licik hingga amarahnya meluap seketika, dengan sinar mata tajam mengawasi wajah gadis itu, memikirkan perlu menghajar gadis itu atau tidak, tiba-tiba terdengar suara Oe-tie Khao yang tadi duduk bersemedi, kini agaknya dikejutkan oleh suara ribut-ribut: "Hee laote, dengan siapa kau berbicara?". Hee Thian Siang pikir minta kepada orang itu untuk membereskan persoalan itu, maka lantas menjawab: Oe-tie locianpwe, aku ada didalam rimba dengan nona Liok dari Kun- lun-pay: ...

Belum habis ucapannya, Liok Giok Jie sudah bertindak dengan tiba-tiba, ia menyerang Hee Thian Siang. Hee Thian Siang tidak menduga Liok Giok Ji menerjang dirinya secara tiba-tiba, apalagi serangan itu dilakukan dengan cepat dan ganas tanpa kenal kasihan, ditambah lagi jarak mereka terlalu dekat, betapapun gesitnya juga tak bisa mengelakkan serangan tersebut. Sebuah benda hitam bersinar yang meluncur dari tangan gadis itu tepat mengenai jalan darah Ciang-tay-hiat dibagian dadanya.

Liok Giok Ji yang melihat benda itu sudah tepat mengenai jalan darah dibagian dada Hee Thian Siang, tanpa menunggu kedatangan Oe-tie Khao sudah melompat dan kabur ke atas gunung.

Ketika Oe-tie Khao tiba didalam rimba, Liok Giok Ji sudah tidak nampak lagi bayangannya, hanya terdengar suara tawanya yang penuh ejekan dan sebentar sudah tak terdengar lagi.

Hee Thian Siang mengulurkan tangannya mengambil benda yang dilancarkan ke depan dadanya, bend itu ternyata adalah senjata rahasia racun Thian-keng-cek maka sesaat itu keringat dingin mengucur keluar membasahi sekujur tubuhnya.

Oe-tie Khao yang belum jelas duduk perkaranya, menyaksikan itu lantas membuka lebah matanya. Hee Thian Siang sambil memperlihatkan benda itu kepada Oe-tie Khao, katanya sambil tertawa dingin: "Duta bunga mawar hanya memberitahukan kepadaku bahwa Giok berduri, namun sedikitpun aku tidak menduga bahwa Giok Ji itu ternyata mempunyai hati demikian kejam dan jahat. Selagi kita habis bercakap-cakap dan dalam keadaan tidak berjaga-jaga ia menyerangku dengan duri beracun thian-keng-cek ini yang hampir membuatku kehilangan jiwa."

Oe-tie Khao menatap wajah Hee Thian Siang, kemudian berkata dengan penuh perhatian: "Hee laote, untuk sementara tidak perlu kau menceritakan duduk perkara yang sebenarnya, kau sudah terkena duri beracun thian-keng-cek, harus lekas makan sebutir obat yang diberikan oleh si tua bangka Say Han Kong."

" locianpwe mengapa dengan tiba-tiba menjadi gelisah? Bisa dari duri beracun ini terlalu jahat sekali, tetapi hingga saat ini aku masih dalam keadaan segar bugar, sudah tentu merupakan suatu bukti bahwa aku belum terluka, perlu apa harus memboroskan obat ajaib yang terbuat dari getah pohon lengci itu?" Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa getir.

"Duri berbisa dari pohon Thian-keng yang hanya tumbuh di gunung Kun-lun-san, terkenal sebagai senjata rahasia yang dapat menembusi segala benda keras, apalagi senjata rahasia itu sudah mengenai jalan darah ciang-tay-hiat mu, mengapa kau tidak terluka?" Bertanya Oe-tie Khao terheran-heran.

"Jikalau serangan Liok Giok Ji tadi tidak demikian ganas dan menyerang dibagian lain dari tubuhku, sedikitnya kita harus kehilangan sebutir obat mukjijat itu, untung dia bertindak sangat ganas, dan yang diserang itu justru jalan darah ciang- thay-hiat, sehingga aku tidak menjadi halangan."

Mendengar keterangan itu Oe-tie Khao kini baru sadar, katanya: "O iya, aku lupa bahwa didalam dirimu menyimpan..."

Hee Thian Siang menyeka keringat dinginnya, berkata sambil menganggukkan kepalanya: "Ucapan locianpwe benar, tiga bagian jalan darah di dadaku, kulindungi dengan sisik naga pelindung jalan darah peninggalan Tay piat Sianjin, maka kalau kuingat jiwaku ini, sesungguhnya ditolong oleh Tiong sun Hui Kheng!".

"Kalau laote sudah tidak berhalangan, sekarang ceritakanlah dengan cara bagaimana Liok Giok Jie bisa datang kemari? Dan dengan sebab apa pula kalian bisa bertengkar?"

"Didalam dunia kang ouw yang penuh bahaya dan kejahatan seperti ini, jikalau belum mempunyai pengalaman cukup, betapapun hebat kepandaian ilmu silatnya juga tidak luput mengalami kesulitan-kesulitan, sebelum aku menceritakan bagaimana tadi aku bertengkar dengan Liok Giok Jie, lebih dulu aku harus menyatakan kagum terhadap locianpwe yang dapat menduga sesuatu perkara demikian tepat!"

Hee laote, mengapa tanpa sebab kau memuji diriku demikian tinggi?"

Hee Thian Siang menghela nafas dan menggelengkan kepala, lalu menceritakan seluruh apa yang telah terjadi dengan Liok Ciok Jie tadi. Habis itu ia bertanya:

" locianpwe, coba kau pikir-pikir lagi, mengapa Liok Giok Djie dengan tiba-tiba berbuat demikian, yang seolah-olah sudah tidak mengenal aturan?".

Oe-tie Kao berpikir dahulu, kemudian baru berkata: "Urusan ini bukanlah merupakan soal yang sederhana, apa yang terselip didalamnya juga tak dapat ditetapkan dengan mengandalkan dugaan-dugaan saja, untuk sementara rasanya boleh kita kesampingkan dulu, tunggu setelah kita bertemu dengan ketua Kun-lun-pay Tie hui cu, setidak-tidaknya kita akan mengerti sebab-sebabnya".

Hee Thian Siang juga tahu bahwa soal itu mengandung rahasia besar, tidak dapat dibongkar dalam waktu singkat, terpaksa ia berlaku sabar. Lalu menyimpan duri berbisa itu ke dalam sakunya dan berkata kepada Oe-tie Kao.

"Melakukan perjalanan jauh dengan cuma-cuma, masih tidak apa, kita hanya merasa sayang tentang daun yang disobek-sobek oleh Liok Giok Jie itu sebetulnya ada hubungan apa dengan pohon ajaib Thian-keng? Jika tak ada hubungannya, ya sudah, tetapi jika ada, dalam pertemuan di atas puncak gunung Thian-tu-hong nanti, dengan tidak adanya bukti yang sangat penting itu, sudah tentu tidak dapat membuka rahasia komplotan jahat yang direncanakan oleh partai Tiam-cong dan Kie-lian!"

Hee Thian Siang tahu bahwa daun itu penting sekali artinya, maka setelah berpikir sejenak ia lantas berkata: " locianpwe, pohon thian-keng yang tumbuh dalam goa kuno itu, telah ditemukan oleh Siauw Kian dan kemudian dibawa pergi untuk ditanam lagi, dengan demikian pohon itu pasti sudah ditanam di gunung Kie-lian. Jika kita berhasil mengambil sebatang saja, bukankah lebih berharga daripada selembar daunnya?"

"Hee laote, ucapanmu ini meskipun benar, tetapi hendak memasuki Siang-swat-giam di daerah gunung Kie-lian-san, tempat itu merupakan sarang naga, kalau kita hendak mencuri pohon hendak dijadikan bukti barangkali susah tercapai." Berkata Oe-tie Khao sambil menggelengkan kepala.

"Perjalanan kita sejak dari gunung Oey-san, sehingga menuju ke Barat ini, apa yang kita jumpai selalu merupakan rintangan-rintangan yang susah. Tetapi semuanya toh dapat kita lalui dengan selamat."

"Jikalau laote sudah bertekad demikian, boleh juga kita pergi mengadakan perjalanan digunung Kie-lian.

Dua orang itu setelah mengambil keputusan tetap, lalu berangkat menuju ke gunung Kie-lian untuk mengadakan penyelidikan, setelah itu baru pergi lagi ke gunung Ngo-bi-san, untuk menggabungkan diri dengan Say Han Kong dan Ca Bu Kao.

Sungguh kebetulan, ketika Oe-tie Khao dan Hee Thian Siang tiba di kota Keng-cu, selagi minum arak di sebuah rumah makan, dan merundingkan dengan cara apa untuk mengadakan penyelidikan di gunung Kie-lian, dikamar seberang tiba-tiba terdengar suara orang berbicara, orang itu dengan nada suara dingin dan tertawa bangga berkata: "Hian- siu totiang, harap kau sampaikan kabar kepada ketuamu Thiat-kwan Totiang, katakan saja bahwa kita memiliki seorang pembantu luar biasa yang tidak diduga oleh pihak sana, dan orang itu kini berada didalam Cong-biao-tong dibukit Siang- swat-giam, bahkan benda yang tersimpan dalam goa Siang- swat-tay juga sudah cukup untuk membuat kacau balau rimba persilatan."

Suara itu rasanya tidak asing bagi Hee Thian Siang, maka ia lalu menyingkap kain gorden yang menutupi jendela untuk melihat ke kamar seberang, di situ ia tampak sebatang tongkat yang terbuat dari baja, yang biasa digunakan oleh seorang tanpa daksa.

Begitu melihat tongkat itu, Hee Thian segera mengetahui, siapa orangnya, maka lalu menggunakan air teh untuk menulis di atas meja: "ORANG YANG BERADA DISEBERANG SANA ITU ADALAH GO ENG DARI KIE-LIAN-PAY".

Oe-tie Khao yang melihat tulisan itu, ia menggoyang- goyangkan tangannya kepada Hee Thian Siang, memberi isyarat agar supaya Hee Thian Siang jangan mengejutkan Go Eng, agar supaya bisa menangkap pembicaraan mereka.

Go Eng sehabis berkata demikian, lantas terdengar suara orang yang disebut Hian-siu Totian tadi: "Partai-partai Kie-lian dan Tiam-cong karena sudah bersatu-hati, siapa yang takut urusan? Tetapi ciangbun suhengku, oleh karena beberapa rahasia penting agaknya sudah diketahui oleh pihak sana, barulah memerintahkan aku datang kemari untuk memberitahukan kepada ciangbunjinmu. Untuk selanjutnya, apabila bertemu dengan orang dari pihak sana, semua harus ditindak dengan tegas, barangkali pada nanti pertemuan kedua di puncak Thian-tu-hong gunung Oey-san, semua sudah diperhitungkan dengan beres!"

Terdengar suara tertawa dinginnya Go Eng, kemudian kata-katanya: "Inilah yang dinamakan bahwa sama-sama jago berpendapat sama pula, seharusnya sebelum dilakukan pertempuran resmi, sebanyak mungkin kita membasmi kekuatan tenaga lawan, juga harus berusaha menimbulkan pertentangan, supaya lain-lain partai tidak sampai bersatu! Kini Hian-siu totiang hendak pergi ke Cong-biauw-tong dibukit Siang-swat-hong hendak bertemu dengan suhengku, ataukah aku yang menyampaikan kedatangan totiang?"

"Pemimpinmu sudah berada di Cong-biauw-tong bersama beberapa tokoh golongan Kie-lian untuk membuat lagi senjata rahasianya Kiu-ju-lenghwe, maka tidak perlu pinto menghadap kepadanya, karena itu berarti mengganggu ketenangannya! Apalagi pinto sudah bertemu denganmu, Go-heng, tolong supaya Go-heng sampaikan saja maksud pinto ini".

Go Eng menerima baik permintaan imam itu, dan imam itu kembali bertanya: "Go-heng, dua orang berilmu tinggi yang kau maksudkan itu, kapan baru mau bertindak?".

"Orang yang berilmu itu, luar biasa anehnya, kalau orang yang dimaksudkan olehnya belum keluar, ia tidak mau unjuk muka. Nanti setelah orang yang diminta itu keluar barulah keluar dengan tindakannya yang menggemparkan dunia!".

Hee Thian Siang yang mendengarkan pembicaraan itu, mengagumi pikiran Oe-tie Khao, karena apa yang diduganya ternyata benar, memang benar-benar ada dua tokoh kuat yang tidak diduganya bersembunyi di belakang layar partai Kie-lian dan Tiam-cong!

Oe-tie Khao mengerutkan alisnya, dengan jari tangannya ia mengerti isyarat kepada Hee Thian Siang supaya tenang, benar saja dari seberang sana terdengar pula suara Hian-siu Tojin yang bertanya: "kalau demikian halnya, kita harus berusaha untuk lekas-lekas memancing keluar orang yang ditunjuk oleh dua tokoh berilmu itu, bukankah itu lebih baik?"

"Orang yang ditunjuk oleh dua orang berilmu itu, kukira tak mudah didekati! Tindak tanduk orang itu seolah-olah naga sakti, kecuali dia sendiri yang suka unjuk diri, jika tidak, siapapun tidak mudah menemukan jejaknya!"

Oe-tie Khao dan hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, pada saling berpandangan dan menggeleng-gelengkan kepala, diam-diam juga menarik nafas.

Siapakah sebetulnya dua tokoh berilmu yang disebut-sebut oleh Go Eng dan Hain-siu tojin? Dan siapakah pula yang dimaksudkan dengan orang yang dimaksudkan oleh dua orang berilmu itu?

Pada saat itu, di seberang sana terdengar suara berbisik, rupanya mereka sudah selesai makan dan minum serta hendak berlalu. Hee Thian Siang buru-buru menurunkan gordennya, terdengar suara tongkat go Eng yang menyentuh lantai, bersama-sama Hian-siu Tojin turun ke loteng.

Dari jendela Oe-tie Khao mengawasi berlalunya orang itu sampai jauh, baru berkata kepada hee Thian siang dengan suara perlahan: "Hee laote, dengan tidak disengaja kita sudah mendapat hasil luar-biasa, kau tak perlu lagi pergi ke gunung Kie-lian-san, karena itu berarti menempuh bahaya dengan resiko terlalu besar!" "Oe-tie Khao locianpwe, katamu ini kurang tepat, sekarang ini aku masih ada dua pertanyaan, perlu harus ke bukit Siang- swat-giam di gunung Kie-lian-san!"

"Hee laote, dua pertanyaan itu, aku dapat menduga! Pertama adalah tokoh berilmu yang menyembunyikan diri didalam Cong-biauw-cong, yang diam-diam menunjang partai Kie-lian-pay mengacau rimba persilatan, siapakah sebenarnya orang itu? Dan kedua ialah apa yang dikatakan oleh Go Eng, benda didalam goa Siang-swat-tong yang cukup untuk menggegerkan rimba persilatan, betul adalah pohon thian- keng dari goa kuburan burung elang di gunung hok-gu-san yang dipindahkan ke gunung Kie-lian-san atau bukan!"

"Dugaan locianpwe sedikitpun tidak salah, apakah dua pertanyaan ini aku masih tidak perlu untuk menempuh bahaya guna mengadakan penyelidikan dibukit Siang-swat-giam?"

"Harus pergi, harus pergi! Tetapi tokoh-tokoh kuat golongan kie-lian-pay yang ditempatkan dibukit Siang-swat-giam, jauh lebih kuat daripada tokoh-tokoh Tiam-cong yang berada di Po- hie-to-kwan, sedangkan kita hanya berdua saja, ini seperti juga dengan menggunakan daging untuk memukul anjing, bisa pergi tidak bisa kembali."

" locianpwe jangan menonjolkan kekuatan orang lain dan merendahkan kekuatan sendiri, dengan kecerdikanmu, dan tongkatmu Cit-po-bie-kong-kay yang banyak gunanya, seharusnya tidak perlu takut menghadapi bahaya. Sedangkan aku juga masih mempunyai sebutir bom peledak Kian-thian- pek-lek yang cukup menakut-nakuti lawan!"

Oe-tie Khao mendengar perkataan Hee Thian Siang, semangatnya terbangun, dengan sinar mata tajam mengawasi Hee Thian Siang kemudian berkata: "Baiklah, kita boleh saja mengadu untung sekali-kali pergi menyelidiki sarang naga!". " locianpwee, kali ini kita mengadakan penyelidikan digunung Kie-lian, bolehkah kiranya kalau aku yang membuat rencananya?"

"Boleh saja! Boleh saja!"

Hee Thian Siang sangat girang, ia berkata sambil menunjuk daging sapi yang berada di atas piring di meja: "Sekarang kita umpamakan saja bahwa tumpukan daging ini bagaikan bukit Siang-swat-giam, kita harus berjalan memencar, locianpwe pergi ke Cong-biau-tong, berusaha menyelidiki siapakah orangnya yang dibuat jago oleh orang Kie-lian-pay? Sedangkan aku akan pergi ke bukit Siang-swat-giam-im, untuk menyelidiki goa Siang-swat-tong, apakah sebenarnya yang dikatakan cukup untuk menggemparkan rimba persilatan, betul atau tidak benda itu adalah pohon thian-keng?"

Oe-tie Khao belum dapat memahami apa yang dipikirkan oleh Hee Thian Siang, maka ia bertanya sambil tersenyum: "Aku pergi ke Cong-biau-tong dengan secara terang-terangan, ataukah secara menggelap?..."

"Secara terang-terangan, locianpwe harus secara terang- terangan pergi ke Cong-biau-tong, sedangkan aku akan menyelidiki ke goa Siang-swat-tong harus secara menggelap!"

"Kalau kau laote, memang sudah merencanakan masak- masak akan tindakanmu ini, berikanlah petunjuk lebih jelas, kepergianku ke Cong-biau-tong ini seharusnya dengan jalan bagaimana?"

"Locianpwe boleh meminjam nama seorang tokoh kuat rimba persilatan, katakan saja bahwa kedatangan locianpwe ini adalah atas perintah tokoh itu, bukankah bisa secara terang-terangan berjalan-jalan ke dalam Tong-biau-tong? Asal locianpwe memberi jawaban yang masuk akal, kawanan penjahat golongan Kie-lian mungkin tidak akan berlaku kasar terhadapmu!" Oe-tie Khao setelah mendengar keterangan itu, juga terbuka pikirannya waktu itu dengan tiba-tiba ia mendapat akal bagus, katanya dengan wajah girang: "Benar... benar, akal Hee laote ini sangat bagus sekali, aku nanti akan pinjam namaku ini, dan katakan saja bahwa aku utusan oleh Hong-po Sin-po".

"Suhu seumur hidup tidak suka mencampuri urusan orang lain, sebaiknya kau meminjam nama Thian-gwa Ceng-mo locianpwee, rasanya lebih tepat!"

Berkata sampai di situ lantas diam, dengan tiba-tiba seperti terkenang oleh sesuatu, katanya pula sambil menghela nafas panjang: "Menyebut nama Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng locianpwe, aku teringat kepada putrinya nona Tiong-sun Hui Kheng. Bila ia berada di sini, dengan bantuannya taywong, siaopek dan kudanya ceng-hong-kie, urusan ini mudah diselesaikan!"

"Hee laote, kau tak perlu menarik nafas, kalau kuperhatikan dari samping, aku tahu bahwa nona Tiong-sun terhadapmu, diluarnya tampaknya dingin, akan tetapi didalamnya hangat, ia tampaknya juga sudah jatuh cinta padamu, meskipun belum tentu akan berjumpa di sini, tetapi dilain tempat pasti akan berjumpa lagi!".

"Aku tahu dia baik terhadapku, jika tidak juga tidak akan dia mau menempuh perjalanan demikian jauh pergi kegunung Tay-swat-san untuk meminta obat bunga teratai swat-lian untukku, tetapi ia tidak memberikan kesempatan bagiku untuk mengucapkan terima kasihku kepadanya, sudah meninggalkan aku begitu saja, hal ini yang selalu membuat pikiranku merasa tidak enak!".

Berkata sampai di situ agaknya pikirannya merasa tidak enak, maka lantas minum araknya berulang-ulang, sikapnya sangat sedih. Oe-tie Khao seorang yang sudah banyak makan asam garam, ia tahu benar bahwa soal asmara bagi anak-anak muda seperti ini jika diberi nasehat langsung, kadang-kadang semakin runyam, maka ia sengaja mengalihkan pembicaraannya kelain soal, katanya sambil tertawa: "Hee laote, kalau kita sudah menetapkan rencana, sebaiknya lekas kita jalankan. Kita sudah cukup makan dan minum, marilah kita berangkat, masing-masing melakukan tugasnya!".

Mendengar ucapan itu, benar saja Hee Thian Siang lantas lenyap perasaan dukanya, semangatnya tergugah lagi, katanya sambil tertawa: " locianpwe, rasanya boleh berangkat dahulu, sebab apabila dibukit Siang-yang terjadi apa-apa dan mungkin juga penjagaannya lebih kuat dibukit Siang-im, mungkin penjagaannya agak kendor. Bagiku lebih mudah untuk masuk ke gunung siang-swat-tong!".

Oe-tie Khao menganggukkan kepala sambil tersenyum, kemudian memanggil pelayan rumah makan untuk memperhitungkan rekeningnya, setelah itu, ia berangkat menuju ke gunung Kie-lian-san. Tiba-tiba di kaki gunung Kie- lian-san Oe-tie-khao berkata kepada Hee Thian Siang sambil menunjuk ke sebelah selatan: "Menurut apa yang kuketahui, dari sini masuk ke puncak ke empat yang setiap tahun diliputi oleh salju, puncak itu adalah siang-swat-yan! Kita sekarang tak bisa berjalan bersama-sama lagi. Setelah tugas kita selesai, kita akan bertemu ditempat ini lagi!"

Sehabis berkata demikian, ia lantas bergerak dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh, ia berangkat lebih dulu menuju ke tempat itu!

Sementara itu Hee Thian Siang yang masih ditinggal di situ, mondar-mandir sebentar untuk mengingat letak dan keadaannya tempat, lantas berjalan perlahan-lahan menuju ke Selatan. Tetapi baru saja melalui tikungan ditempat tanjakan, telah menjumpai suatu hal yang mengejutkan dan menggirangkan padanya.

Kiranya pada saat itu, di atas sebuah batu, tampak Taywong binatang aneh itu, di bawah sebuah pohon cemara yang tinggi ada berdiri kuda luar biasa ceng-hong-kie, sedangkan Tiong-sung Hui Kheng gadis yang setiap hari dibuat piran, juga berdiri disamping pohon dengan memandang kera kesayangannya siaopek. Saat itu gadis cantik itu sedang menunjukkan pandangannya yang lembut kepada dirinya. Hee Thian Siang sebelum bertemu muka dengan Tiong-son Hui kheng, gadis itu selalu menjadi pikirannya.

Tetapi setelah dengan tiba-tiba bertemu dengannya, ia merasa gugup dan bingung, tidak tahu bagaimana harus berbuat?

Lama dalam keadaan demikian, kemudian ia menyapa dengan wajah kemerahan: "Enci Tiong-sun!"

Tiong-sun Hui Kheng juga dikejutkan oleh sebutan itu, kemudian ia berkata: "Kau selamanya tinggi hati, tidak mau mengalah kepada orang lain, sekarang bagaimana dengan mendadak bisa berubah demikian manis sikapmu? Bahkan memanggilku enci segala?"

Mendengar perkataan itu, wajah Hee Thian Siang kembali menjadi merah, ia pikir bahwa pertanyaan itu memang tidak mudah dijawab, maka lebih baik tidak dijawab saja, ia menghampiri gadis itu, dan berkata sambil menjura dalam- dalam: "Enci Tiong-sun, lebih dulu kuucapkan terima kasih kepadamu, karena kau telah menempuh perjalanan demikian jauh ke gunung Tay-swat-san untuk mencari obat penyambung nyawa bagiku." "Bunga teratai merah swat-lian sudah dirampas ditengah jalan oleh orang, perjalananku ke gunung swat-san hanya merupakan suatu budi kosong saja. Kau tidak perlu selalu teringat dalam hatimu." Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa.

"Apakah enci sudah dapat menduga perjalananku, hingga datang kemari mencari aku?"

Kali ini giliran Tiong-sun Hui Kheng yang pipinya menjadi merah, dengan setengah merasa malu dan setengah manja, ia mendelikkan mata kepada Hee Thian Siang, kemudian bertanya: "Apakah kau sudah yakin, dan tahu benar kalau aku mencari kau?"

Dari nada suara Tiong-sun Hui Kheng, Hee Thian Siang mengetahui bahwa ucapannya sendiri terlalu terus terang, sehingga gadis itu merasa malu. Maka ia buru-buru mengalihkan pembicaraannya kesoal lain, katanya sambil tertawa: "Enci tahu, bahwa aku suka hal-hal yang sifatnya mengandung bahaya, maka diam-diam melindungi diriku. Kali ini nampaknya juga hendak melindungi aku lagi."

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar ucapan Hee Thian Siang itu, wajahnya mulai tenang kembali, ia berkata sambil menunjuk siaopek, taywong dan kudanya ceng-hong-kie: "Semua anak buah dan pengiringku ini semua ada di sini, kalau kau menghendaki bantuan mereka, kau boleh bawa, kukira besar sekali gunanya bagimu, yang hendak mengadakan penyelidikan ke goa Siang-swat-tong."

Hee Thian Siang terkejut mendengar ucapan itu, katanya: "Enci Tiong-sun, kau benar-benar seperti Dewi. Kau nampaknya tahu segala hal yang belum terjadi."

"Jika aku mengerti ilmu ramalan, tentu aku bisa memberitahukan kepadamu siapa adanya orang yang menunjang di belakang layar kepada partai Kie-lian-pay, benda apa dalam goa Siang-swat-tong itu, apakah benar pohon ajaib Thian-keng atau bukan. Ini bukanlah lebih mudah? Hingga kau dan Oe-tie Khao juga tak perlu meminjam nama ayahku untuk pergi ke Cong-biauw-tong mengakali orang!"

Hee Thian Siang seolah-olah tersadar, tanyanya: "Kalau begitu waktu itu enci juga berada dalam rumah makan di kota Keng Ciu itu?"

"Untung kau tidak memaki aku di belakangku, kalau kau berbuat demikian aku juga tak sudi mengurusi soal ini!" Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil tersenyum.

"Bagaimana aku bisa memaki di belakangmu? Hampir setiap siang hari dan malam aku selalu memikirkan dirimu."

"Kau berani mengoceh lagi?"

Menyaksikan wajah dan sikap Tiong-sun Hui Kheng yang sangat menarik, pikirannya menjadi goncang. Katanya seperti orang linglung: "Enci, aku bukan mengoceh, ini adalah kata- kata yang keluar dari dalam hati nuraniku. Sejak kita berpisah di tepi lautan Nie-hay, aku selalu memikirkan dirimu..."

Tiong-sun Hui Kheng menampak Hee Thian Siang sudah mengungkapkan perasaan hatinya, juga merasa malu, sehingga pipinya menjadi merah.

Hee Thian Siang yang menyaksikan Tiong-sun Hui Kheng demikian rupa, baru sadar bahwa kata-katanya itu telah kelepasan, hingga ia juga menjadi malu sendiri, buru-buru mengalihkan pembicaraannya kelain soal: "Enci Tiong-sun, aku ingin minta kau mengajari aku semacam ilmu, apakah enci tidak keberatan?"

"Kau adalah murid kesayangan Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui, bagaimana masih hendak belajar kepandaian dariku?" "Yang ingin kupelajari bukanlah kepandaian silat, hanya ilmu bahasa!"

Tiong-sun Hui Kheng mengira Hee Thian Siang hendak mencari alasan lagi, maka lalu berkata dengan suara dingin: "Kalau kau berani mengoceh lagi, jangan sesalkan jika untuk selanjutnya aku tidak akan meladeni kau lagi."

Hee Thian Siang buru-buru berkata: "Aku sesungguhnya ingin minta enci mengajari aku bahasa yang dulu kau gunakan untuk menjinakkan kuda ceng-hong-kie setelah menangkan pertaruhan dengan Say Han Kong locianpwe hingga kuda itu menurut segala perintahmu."

"Untuk apa kau hendak belajar bahasa itu?" Bertanya gadis itu heran.

"Aku dengan ketua Kie-lian-pay Khie Tay Cao telah mengadakan pertaruhan, mungkin akan dapat memenangkan kuda tunggangannya cian-li-kiok-hwa-ceng, tetapi kuda itu adatnya jahat sekali..."

Tiong-sun Hui Kheng agaknya sudah bisa menangkap maksud Hee Thian Siang, maka ia bertanya sambil tersenyum: "Bagaimana kau tahu kalau adat kuda itu terlalu jahat? Apakah kau pernah disusahkan olehnya?"

Wajah Hee Thian Siang kemerahan, lalu menceritakan bagaimana ketika di daerah gunung Oey-san ia pernah dua kali mencoba menunggang kuda cian-li-kiok-hwa-ceng, tetapi dua kalinya dijatuhkan olehnya.

"Jikalau enci sudi mengajari aku beberapa patah kata yang dapat digunakan untuk bicara dengan kuda itu, dilain waktu apabila aku bertemu lagi dengan kuda itu, asal aku mengatakan beberapa patah kata di telinganya, mungkin dia akan meninggalkan Khie Tay Cao dan suka mengikuti kepadaku, bukankah Khie Tay Cao akan marah-marah setengah mati?" Demikian ia berkata sambil tertawa.

Tiong-sun Hui Kheng menganggukkan kepala dan tersenyum, dari mulutnya mengeluarkan tiga patah kata yang tidak dimengerti oleh siapapun juga kecuali oleh binatang: "HAKICIMO, MOKIRIHA, HAKI-MO-MO-KURUNG!"

Hee Thian Siang mengikuti suara yang diucapkan oleh gadis itu, semula ia merasa agak susah tetapi setelah diulangi tiga kali, juga bisa diingatnya baik-baik, setelah itu ia bertanya pula sambil tertawa: "Enci, ucapan yang seperti bunyi doa itu sebetulnya apa maksudnya?"

"Kata-kata itu maksudnya serupa dengan manusia kalau mengatakan: AKU CINTA PADAMU, JIKA KAU MENCINTAIKU, AKU PASTI AKAN BERLAKU BAIK

TERHADAPMU." Demikian Tiong-sun Hui Kheng menjawab sambil tertawa.

"Oo, aku cinta padamu, jika kau mencintaiku, aku pasti akan berlaku baik padamu!" Berkata Hee Thian Siang sambil menatap wajah Tiong-sun Hui Kheng.

Tiong-sun Hui Kheng tiba-tiba mendapat perasaan bahwa ucapannya itu mengandung maksud rangkap, didengarnya sangat menusuk telinga, maka dengan wajah marah ia mendelikkan matanya kepada Hee Thian Siang dan berkata: "Kau ini terlalu nakal, untuk selanjutnya aku tidak akan meladeni kau lagi!"

Sehabis berkata demikian, ia lantas naik ke atas kuda ceng-hong-kie, hendak berlalu.

Hee Thian Siang buru-buru mengejar dan menarik mantel Tiong-sun Hui Kheng, berkata dengan suara cemas: "Enci Tiong-sun, bagaimana kau selalu menyalahkan aku saja. Aku kan tidak mengerti bahasa binatang yang seperti bunyi doa itu? Sebetulnya pa maksudnya?"

Tiong-sun Hui Kheng tadi karena merasa malu, hingga hendak pergi, sekarang setelah mendapat keterangan Hee Thian Siang, memang benar bahwa kesalahan itu bukan dipihat Hee Thian Siang, maka ia melompat turun lagi dari atas kudanya dan berkata: "Kalau hanya bisa mempelajari tiga patah kata itu saja, kuda cian-li-ciok-hwa-ceng barangkali masih belum mengikuti kau dengan rela hati."

"Enciku yang baik, kalau kau sudah mengajari aku kepandaian bahasa binatang, kecuali tiga patah itu, masih perlu belajar apa lagi?"

"Tidak perlu belajar lain lagi, asal ditambah satu saja sudah cukup."

"Apakah itu? Masa mempunyai pengaruh demikian besar?"

"Yang kumaksudkan hanya dengan sungguh-sungguh saja! Kau harus menggunakan sikap sungguh-sungguh dengan menggunakan suara sungguh-sungguh, berkata di telinganya, barulah ada hasilnya. Jikalau tidak tiga patah kata itu kau ucapkan begitu saja, belum habis ucapannya barangkali kau akan ditendang oleh kaki kuda sejauh delapan kaki."

Hee Thian Siang meskipun di mulutnya menyatakan menurut, tetapi didalam hatinya diam-diam berpikir: Jika terhadap enci Tiong-sun yang demikian cantik, dengan menggunakan sikap sungguh-sungguh dan suara sungguh- sungguh, berbisik di telinganya, jangankan kuda, sekalipun patung yang tak bisa bicara juga akan menganggukkan kepala. Tetapi kuda cian-li-ciok-hwa-ceng itu meskipun terhadap enci Tiong-sun yang demikian, toh masih susah menghadapi, apalagi aku barangkali benar aku nanti akan ditendang olehnya. Tiong-sun Hui Kheng yang melihat Hee Thian Siang tampak sedang berpikir, lantas bertanya: "Kau sedang memikirkan apa?"

Ditegor demikian, Hee Thian Siang terkejut, matanya ditujukan kepada gadis cantik itu, dengan menggunakan sikap dan nada yang sungguh-sungguh pula ia berkata lambat- lambat: "Enci Tiong-sun, aku sedang berpikir apakah kuda itu bisa berlaku sama dengan manusia? Menghadapi sikap yang sungguh-sungguh atau tidak, apakah dia bisa mengerti?"

Tiong-sun Hui Kheng memahami ucapan Hee Thian Siang itu, ada mengandung maksud, maka pipinya merah seketika, kemudian berkata dengan sungguh-sungguh: "Peribahasa mengatakan: Berjalan jauh baru mengetahui kekuatan kuda, pergaulan lama baru mengetahui hati manusia. Sungguh- sungguh hati atau tidak, harus menunggu keputusan sang waktu."

Hee Thian Siang juga mengerti apa yang terkandung dalam kata-kata gadis itu, katanya dengan perasaan girang: "Aku mengerti, aku mengerti. Enci Tiong-sun, terima kasih padamu."

Wajah Tiong-sun Hui Kheng kembali tampak merah, katanya pura-pura marah: "Mengerti, ia mengerti. Perlu apa mengucapkan terima kasih padaku? Kelakuanmu seperti ini, benar-benar orang edan..."

"Enci tidak mengerti, orang edan barulah benar-benar..."

Tiong-sun Hui Kheng juga tidak menunggu ucapan selanjutnya, sudah memotong: "Kita tidak perlu mengobrol yang tak karuan, Oe-tie locianpwe itu sekarang mungkin sudah bertemu muka dengan kawanan orang jahat Kie-lian- pay, bahkan mungkin sudah menemukan kesulitan." Hee Thian Siang mendengar ucapan itu terkejut, katanya: "Enci, kudamu bisa lari cepat, tolong aku bawa taywong untuk memberi bantuan Oe-tie locianpwe dan tolong siaopek bantu aku pergi ke goa siang-swat-tong."

"Taywong waktu didalam kelenteng tepi laut Nihay, pernah membunuh Ciauw Kian, tidak boleh bertemu lagi dengan orang-orang Kie-lian-pay, dia bersama siaopek, semua harus ikut ke goa Swan-swat-tong." Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil menggelengkan kepala.

Mata Hee Thian Siang menatap Tiong-sun Hui Kheng, dengan penuh perhatian ia berkata: "Dengan seorang diri enci pergi ke Cong-biauw-tong, sesungguhnya membuat kuatir."

"Aku pergi seorang diri, kau merasa kuatir, tetapi kalau Oe- tie locianpwe pergi sendirian, bagaimana kau tidak kuatir?"

Muka Hee Thian Siang menjadi merah, tak bisa menjawab.

Tiong-sun Hui Kheng berkata pula sambil tertawa: "Oe-tie locianpwe itu dengan menggunakan nama ayah pergi menjumpai orang-orang Kie-lian-pay, hal ini mungkin menimbulkan kecurigaan mereka, tetapi biarlah aku nanti akan datang kesana untuk membantunya keluar dari kesulitan."

Hee Thian Siang menganggukkan kepala, Tiong-sun Hui Kheng berkata pula: "Apalagi aku juga tak membawa senjata, juga tak membawa siaopek dan taywong yang mendapat perhatian orang-orang Kie-lian-pay, dengan demikian tampak lebih menyolok bahwa aku sedikitpun tidak mengandung maksud permusuhan. Kie Tay Cao bagaimanapun galak dan buasnya juga tidak berani berlaku jahat, apalagi mencelakakan utusan Thian-gha Ceng-mo dan istrinya!"

Mendengar ucapan Tiong-sun Hui Kheng yang beralasan, Hee Thian Siang lalu berkata sambil tersenyum: "Enci Tiong- sun, kalau demikian halnya biarlah aku pergi membawa siaopek dan taywong."

Tiong-sun Hui Kheng lalu berkata kepada taywong: "Taywong, waktu itu kau sudah melanggar pesanku, dan melakukan pembunuhan di depan kuil tua, tetapi oleh karena kesalahan bukan di pihakmu, juga ada demikian banyak orang yang memintakan ampun untukmu, maka aku memberi kelonggaran kepadamu. Maka sekarang kau jangan sekali-kali membunuh orang lagi."

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu teringat kejadian di gunung Kiu-gie-san dahulu, maka lalu bertanya kepada Tiong-sun Hui Kheng: "Enci Tiong-sun, apakah kau pernah menunggang kuda di gunung Kiu-gie-san dengan seorang diri membunuh empat setan dari Kie-lian-pay?"

Ditanya demikian gadis itu merasa bingung, jawabnya: "Seumur hidupku belum pernah aku membunuh seorang pun juga, bagaimana aku pergi ke gunung Kiu-gie-san seorang diri membunuh empat setan dari Kie-kian? Mengapa dengan tiba- tiba kau mengajukan pertanyaan demikian?"

Hee Thian Siang mengerutkan alisnya, tanyanya pula: "Kuda ceng-hong-kie enci ini apakah pernah kau pinjamkan kepada orang lain?"

"Kudaku ini, kecuali majikannya yang lama Say Han Kong dan aku, barangkali tidak mengijinkan orang ketiga naik diatasnya." Menjawab Tiong-sun Hui Kheng sambil menggelengkan kepalanya.

Berkata sampai di situ ia berdiam sejenak, matanya menatap Hee Thian Siang kemudian berkata pula sambil tertawa: "Tetapi sekarang kau sudah mempelajari tiga patah kata itu, juga sudah paham artinya, terhadap kau mungkin akan pandang lain!" Baru saja Tiong-sun Hui Kheng menutup mulutnya, kuda ceng-hong-kie yang luar biasa utu sudah mengawasi Hee Thian Siang dan berbunyi beberapa kali.

"Dia meringkik-ringkik demikian rupa, apakah maksudnya?" Bertanya Hee Thian Siang.

Tiong-sun Hui Kheng saat itu menepuk-nepuk paha kudanya, sebagai tanda pujian, lantas berkata sambil tertawa: "Dia kata, bahwa dia tahu kau adalah sahabat baikku, jikalau ingin menunggang dia, dia takkan berbuat seperti cian-lie-kiok- hwa-ceng, yang mencari akal untuk membanting kau dari atas punggungnya."

Hee Thian Siang mendengar perkataan itu lalu berkata sambil tertawa getir: "Terima kasih atas kebaikannya, enci harap kau lekas pergi ke Cong-biaw-tong, untuk melepaskan Oe-tie locianpwe dari kesulitannya."

Tiong-sun Hui Kheng lantas perintahkan siaopek dan taywong mengikuti Hee Thian Siang pergi mengadakan penyelidikan digoa Swan-swat-tong, sedang ia sendiri lantas naik lagi keatas kudanya, kuda itu lalu dipacu menuju ke markas Kie-lian-pay, Cong-biauw-tong.

Kita tinggalkan dulu Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng yang masing-masing hendak melalukan tugasnya, mari kita kembali kepada Oe-tie Khao yang pergi ke Cong-biaw- tong.

Oe-tie Khao setelah meninggalkan Hee Thian Siang dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh terus berlari menuju Siang-swat-giam-yang, oleh karena di daerah barat daya itu belum pernah ada orang yang berani memasuki goa macan, maka Khie Tay Cao tidak menaruh banyak penjaga disekitar tempat itu, dengan demikian Oe-tie Khao juga bisa tiba di tempatnya tanpa rintangan apa-apa. Tempat yang disebut Cong-biaw-tong itu sebetulnya sebuah bangunan sebagai tempat untuk berkumpul mengadakan pertemuan orang-orang Kie-lian-pay, dibangun diatas gunung, tetapi supaya enak disebutnya, maka pelahan- lahan setelah tempat itu menjadi markas Kie-lian-pay, tempat itu disebut Cong-biaw-tong. Diluar pintu gerbang, ada empat anak buah Kie-lian-pay yang menjaga secara bergiliran.

Begitu Oe-tie Khao muncul ditempat itu, belum sampai ditanya oleh penjaga sudah tertawa lebih dahulu, kemudian berkata: "Tolong beritahukan kepada ketuamu, katakan saja bahwa aku Sam Chiu Lopan Oe-tie Khao ada urusan penting minta bertemu."

Nama Sam-ciu Lopan itu memang sangat terkenal, dengan sendirinya murid Kie-lian-pay yang menjaga pintu itu buru- buru melaporkan kepada ketuanya. Tiada beberapa lama kemudian, Go Eng yang kakinya tinggal satu, dengan membawa tongkat bajanya sudah keluar menyambut mewakili Khie Tay Cao.

Oe-tie Khao lalu mengangkat tangan memberi hormat dan berkata kepadanya sambil tertawa: "Oe-tie Kho dengan memberanikan diri datang dari tempat jauh, entah cianbunjin berkeberatan atau tidak untuk menemui aku?"

go Eng memperlihatkan tertawa iblisnya, kemudian berkata: "Oe-tie tayhiap dari tempat jauh datang kemari, hal ini membuat bangga Kie-lian-pay, cianbun suheng hari ini ada di Cong-biauw-tong menantikan kedatanganmu, marilah ikut Go Eng pergi bersama-sama". 

Karena melihat sikap orang she Go itu ternyata tidak berlaku buruk, maka dalam hati Oe-tie Khao diam-diam berpikir: Apakah Pek-thao Losat Pao Sam-kow dan Tho-hwa Nio-cu Kie Liu Hiang semua masih belum kembali? Apabila orang-orang Kie-lian-pay mengetahui kematian Ciauw-kian, sudah tentu tidak akam memperlakukan diriku demikian baik. Selagi masih berpikir, tanpa dirasa sudah masuk ke Cong- biauw-tong. Ditengah-tengah ruangan yang luas itu, kecuali terdapat tidai yang terbuat dari sutera warna kuning yang menutupi sebagian besar ruangan itu, hanya terdapat beberapa buah kursi dan meja, sedangkan ketua Kie-lian-pay Khie Tay Cao, tampak ada di pintu ruangan menyambut kedatangannya sambil tersenyum.

Oleh karena Oe-tie Khao pernah mendengar percakapan antara Go Eng dengan Hian-siu Totian dari Tiam-cong-pay, ia tahu bahwa Khie Tay Cao mungkin sedang membuat senjata kimcu lenghwe ditempat itu, pasti karena mendengar kedatangannya, barulah dengan tergesa-gesa meninggalkan pekerjaannya dan pura-pura tidak tahu. Oe-tie Khao lalu mengangkat tangannya memberi hormat kepada Khie Tay Cao seraya berkata:

"Harap cianbunjin maafkan. Aku Oe-tie Khao yang datang mengganggu ketenanganmu".

Khie tay Cao disamping membalas hormat, mempersilahkan tamunya duduk, kemudian tertawa terbahak- bahak dan berkata: "Mengapa tayhiap berkata demikian? Kie- lian-pay karena tempatnya mencil jauh di barat daya, jarang sekali dikunjungi oleh sahabat-sahabat rimba persilatan. Orang seperti Oe-tie tayhiap ini sekalipun kita undang, barangkali juga masih tidak mau datang berkunjung!"

Oe-tie Khao melihat sikap Khie Tay Cao demikian ramah- tamah, hingga ia tahu bahwa dugaannya sendiri tidak keliru. Pek Thao Losat Tao-sam-kow dan Kie Liu Hiang masih belum kembali!

Dengan tidak adanya Pao-sam-kow dan Kie Liu Hiang yang belum kembali, dengan sendirinya orang-orang Kie-lian-pay tidak pandang musuh padanya, dengan demikian pula, maka kata-katanya juga harus hati-hati, jangan sampai  menyakiti orang itu, sehingga menimbulkan kerewelan yang tidak diingini.

Pada saat itu, anak buah Kie-lian-pay baru saja menyuguhkan teh wangi, Oe-tie Khao lalu mengangkat cawannya dan berkata kepada Khie-lay Cao serta Go Eng sambil tersenyum: "Apakah Ji sute dapat menduga, dengan maksud apa Oe-tie Khao jauh-jauh mendaki gunung Kie-lian- san?"

Baik Khie Tay Cao maupun Go Eng sesungguhnya merasa bingung dan tidak mengerti dengan maksud apa kedatangan Oe-tie Khao secara mendadak itu. Maka setelah ditanya demikian, mereka saling berpandangan sejenak, kemudian oleh Khie Tay Cao dijawab sambil tertawa: "Menyesal Khie Tay Cao dan lain-lain tidak mempunyai kepandaian ilmu meramal, tetapi dari nada suara Oe-tie tayhiap, agaknya kunjungan ini khusus Tayhiap lakukan bukanlah sekedar untuk jalan-jalan saja!"

Oe-tie Khao menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa: "Aku sebetulnya diperintah oleh orang lain untuk melakukan perjalanan yang jauh, tetapi juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk melihat-lihat keindahan Siang-swat-giam, juga masih..."

Khie Tay Cao dengan heran bertanya: "Oe-tie tayhiap, maksud kedatanganmu, ternyata atas perintah orang?"

"Aku sebetulnya sedang dalam pesiar, ditengah jalan telah bertemu dengan seorang tokoh luar-biasa pada saat ini, lalu menyuruhku mewakili dia ke gunung Kie-lian, maksudnya ialah untuk menyampaikan beberapa patah kata seorang yang memiliki kepandaian luar-biasa yang kini khabarnya mengasingkan diri didalam siang-swat-giam".

Kata-kata Oe-tie Khao itu benar-benar mengejutkan Khie Tay Cao, hingga berubah wajahnya, tetapi ia masih berlaku tenang dan bertanya sambil tersenyum: "Siapakah orang luar- biasa yang Oe-tie tayhiap temukan itu? Di daerah Siang-swat giam ini orang yang luar-biasa siapa pula yang Oe-tie tayhiap maksudkan? Dan untuk apa mengasingkan diri di sini?"

Oe-tie Khao melihat sikap Khie Tay Cao sengaja hendak menutup rahasianya, maka dalam hati merasa geli. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya menjura dalam-dalam kepada Khie tay Cao dan Go Eng kemudian berkata: "Oe-tie Khao hanya ditugaskan untuk menyampaikan pesan orang, jikalau keseleo lidah atau kesalahan omong, harap Khie ciangbunjin dan Go Eng maafkan sebesar-besarnya!"

Khie Tay Cao dan Go Eng dua-duanya membalas hormat, kembali oleh Khie Tay Cao yang masih diliputi berbagai pertanyaan dalam hatinya, menjawab: "Oe-tie tayhiap tak perlu merendahkan diri, ada perkataan apa tolong kau jelaskan saja!"

Oe-tie Khao pura-pura berlaku sangat misteri, katanya dengan suara perlahan: "Orang luar-biasa yang kutemukan itu berkata, bahwa orang aneh yang kini mengasingkan diri di Siang-swat-giam bukan cuma satu, tapi ada dua!"

Mendengarkan ucapan itu Khie Tay Cao terkejut, hingga dupa yang di tangannya sampai tumpah dan jatuh ke pakaiannya! Ia lantas bangkit untuk membersihkan abu dipakaiannya, kesempatan itu digunakan untuk memiringkan tubuhnya, berdiri membelakangi Oe-tie Khao, dengan menggunakan isyarat mata ia menanya dengan diam-diam pada Go Eng, bagaimana sikap orang she Go terhadap orang ini? Harus menerima baik? Ataukah menolak permintaannya?

Go Eng tampak berpikir keras, kemudian ia bertanya kepada Oe-tie Khao: "Oe-tie Khao tayhiap, orang luar-biasa yang kau sebutkan itu, apakah ada memberitahukan kepadamu tentang nama dan asal-usulnya dua orang gaib yang mengasingkan diri dan berdiam dibukit siang-swat- giam?"

"Orang itu hanya menyuruhku untuk menyampaikan beberapa patah kata saja!" Menjawab Oe-tie Khao sambil menggelengkan kepala.

Kie tay Cao dan Go Eng saling berpandangan sejenak, selagi hendak menjawab, dengan tiba-tiba dari belakang tirai warna kuning itu, terdengar suara aneh yang sangat perlahan sekali. Katanya lambat-lambat: "Ciangbunjin, tidak perlu disembunyikan lagi, aku hendak bicara beberapa patah dengan sahabat Sam-ciu Lopan ini"

Ketika suara itu berhenti, gorden warna kuning itu perlahan- lahan terpisah sendiri menjadi dua, tampak di atas sebuah tempat duduk yang dibuat dari kasur, duduk seorang tua berbaju kuning, yang rambutnya sudah putih semua. Rambutnya yang sangat panjang itu terurai ke bawah, namun wajahnya susah dikenali, di hadapan orang tua itu, ada sembilan buah tempat pedupaan yang tersusun rapi.

Oe-tie Khao sudah menduga bahwa didalam cong-biauw- tong itu ada sembunyi seorang gaib luar-biasa yang menunjang orang-orang Kie-lian-pay, maka dalam hati hanya merasa heran, namun tidak terkejut. Setelah di amat-amatinya sejenak, dengan pengalamannya sendiri di dunia Kang-ouw, ia masih tak menduga siapa adanya orang tua berambut putih dan panjang itu?

Orang tua berbaju kuning itu masih tetap dalam keadaan duduk tenang sambil menundukkan kepala, tanyanya perlahan-lahan: "Sahabat Oe-tie, apakah kau tidak ingin tahu nama dan asal-usulku si orang tua ini?"

Karena saat itu satu sama lain sudah berbicara saling berhadapan, namun suara yang keluar dari mulut orang tua itu masih tetap demikian rendah dan masih tidak dapat dibedakan perasaannya waktu itu, entah girang, sedih, marah atau bagaimana! Maka ia harus waspada sendiri, jawabnya sambil tertawa: "Oe-tie Khao seumur hidupnya tidak suka mencari keterangan pribadi orang lain, namamu orang tua, kalau suka kau boleh beritahukan, kalau tidak suka ya sudah..."

Mendengar ucapan itu orang tua berbaju kuning itu berkata: "Kalau kau tidak tahu nama dan asal-usulku itulah paling baik, jikalau tidak, didalam ruangan Cong-biauw-tong ini, akan merupakan tempat kuburanmu sendiri!"

Mendengar ucapan itu, sepasang alisnya berdiri, semangatnya terbangun, demikian pula darahnya juga mendidih, tetapi ia berpikir lagi, bahwa tugasnya ke tempat itu sangat penting, maka terpaksa ia kendalikan perasaannya sendiri.

"Di mana kau temukan orang yang minta kau sampaikan ucapannya kepadaku ?" Demikian orang tua itu bertanya pula.

Oe-tie Khao yang memang sudah pikir masak-masak pertanyaan itu, maka tanpa ragu-ragu lantas menjawab : Di dekat lembah kematian gunung tjong-lam san !"

Orang tua berbaju kuning itu mengulangi dengan suara pelahan lembah kematian di gunung tjong-lam san, kemudian ia bertanya pula : "Siapa nama orang itu ?"

Oe-tie Khao pura-pura berlaku misteri, jawabnya : "Orang ini tidak termasuk orang-orang dari delapan partai besar pada saat ini, tetapi dia merupakan salah satu dari tiga orang yang paling susah dihadapi !" Jawaban itu telah mengejutkan Khie Tay Tjao, Go Eng dan orang tua berbaju kuning itu !

Oe-tie Khao yang datang dengan maksud tertentu dan mengawasi gerak gerik orang-orang itu dengan kepala dingin, sudah tentu bisa mengetahui dengan jelas dan membedakan reaksi dari Khie tay Tjao dan Go Eng, mereka terkejut hanya mendengar disebutnya tiga orang yang paling susah dihadapi. Tetapi di dalam hati orang tua berbaju kuning itu agaknya tergerak.

Orang tua berbaju kuning itu tiba-tiba bertanya kepada Khie Tay Tjao: "Ciangbunjin, terhadap urusan dunia kang-ouw, sudah lama aku tidak tahu, tiga orang yang paling susah dihadapi yang disebutkan oleh sahabat Oe tie ini, siapakah mereka itu ?"

Oe-tie Khao dapat melihat sikap orang tua berbaju kuning itu, agaknya sudah tahu nama orang-orang tersebut, tetapi ia pura-pura bertanya, maka diam diam ia juga merasa geli sendiri untuk mendengarkan jawaban dari Khie Thy Tjao sudah menjawab : "Apa yang dinamakan tiga tokoh paling susah dihadapi, yang dimaksudkan adalah Pak-bin Sin-po Hong poh Tjui, Thian-gwat Tjeng-mo Tion sun Seng, Hong- tiem Ong Hek May Tjeng Ong."

Setelah mendengar disebutnya tiga nama itu orang tua berbaju kuning itu sebaliknya agak tergoncang badannya, tetapi itu tidak dapat dilihat jikalau tak diperhatikan benar- benar.

"Orang yang kau temui di dekat lembah kematian di gunung tjong-lam itu adalah Hong po tjui ? Tiong-sun Seng ? ataukah May Tjeng Ong ?" Demikian orang tua berbaju kuning itu bertanya kepada Oe-tie Khao.

Oe-tie Khao yang mendapat nama julukan Sam-tjiu Lopan, sudah tentu memiliki kecerdasan otak yang luar biasa, dari sikap dan nada suara orang tua berbaju kuning itu, mendapat gambaran bahwa orang tua itu pasti mempunyai permusuhan hebat diantara satu dari tiga orang yang disebutkan namanya tadi. Maka dengan sikap mencoba-coba ia menjawab dengan lambat: "Orang yang kutemukan itu, menyebutkan dirinya bahwa dahulu pernah menjadi kenalan lamamu !" "Mereka bertiga dahulu denganku hanya merupakan kenalan secara sepintas lalu, dan semua pernah mengadakan hubungan sebagai sahabat. Siapakah sebenarnya yang kau ketemukan itu?"

"Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng". Demikian Oe-tie Khao menjawab dengan cepat sekali.

Sambil menjawab, matanya terus ditujukan kepada orang tua berbaju kuning, untuk memperhatikan reaksi apa yang ditunjukkan oleh orang tua itu setelah mendengar jawabannya.

Orang tua berbaju kuning itu benar saja menunjukkan rasa terkejutnya dan mulutnya tercetus ucapan: "Eh!" Kemudian berkata dengan nada suaranya yang cepat dan sangat perlahan sekali: "Ada urusan apa tanpa sebab Tiong-sun Seng mencariku? Dengan cara bagaimana pula ia mengetahui bahwa aku berada di sini?"

Oleh karena jawaban itu, dugaan Oe-tie Khao mulai berubah, ia anggap bahwa orang yang hendak ditemui oleh orang tua berbaju kuning itu yang ia dengar dari mulut Go Eng selagi didalam rumah makan di kota Keng-cu, kalau bukan May Ceng Ong, tentunya ialah Hong-po Cui!"

"Keahlian meramal Thian-gwa Ceng-mo dan tindak- tanduknya yang luar-biasa, tiada orang yang mampu menandingi! Dia suruh Oe-tie Khao menyampaikan pesannya, katanya dia adalah orang yang ingin kau temui, pada sebelum akhir tahun ini datang ke bukit siang-swat-giam di gunung Kie- lian-san supaya bisa bertemu muka dengan mu!" Demikian ia berkata.

Orang tua itu diluarnya tampak tenang-tenang saja, tetapi dalam hatinya sebetulnya tergerak, ia bertanya kepada Oe-tie Khao: "Siapakah orang yang ingin kutemui itu?" Oe-tie Khao mendengar suara orang tua berbaju kuning itu agak tajam, di situ dapat diduga bahwa orang tua itu sudah tidak bisa mengendalikan perasaannya seperti semula, tetapi hingga saat itu ia sendiri masih tetap tak bisa menduga siapa namanya dan bagaimana riwayatnya orang tua itu. Terpaksa ia menjawab sambil menggelengkan kepala: "Thian-gwa Ceng-mo belum pernah mengatakan nama orang yang ingin kau temui itu, tetapi ada pesan dua patah kata, minta aku agar menyampaikan kepadamu"

"Pesan apakah itu?" Bertanya orang tua berbaju kuning itu hambar.

"Kalau sudah tiba waktunya bisa melepaskan tangan, lepaskanlah. Kalau masih bisa diampuni, ampunilah!" Berkata Oe-tie Khao dengan sungguh-sungguh.

Orang tua itu setelah mendengar ucapan itu, memperdengarkan suara tertawa dinginnya, kemudian berkata: "Dahulu dia bisa lepas tangan, tetapi hari ini bagaimana aku bisa mengampuni orang? Walaupun lidah Thian-gwa Ceng-mo Tiong Sun Seng bisa tumbuh bunga teratai, bisa mengeringkan air sungai Tiang-kang, juga tidak bisa mencuci bersih dendam sakit hatiku waktu dahulu!"

Oe-tie Khao yang mendengar jawaban itu alisnya dikerutkan, sedang orang tua berbaju kuning itu menggerakkan jari tangannya, menekan pesawat yang berada ditempat duduknya dan kain gorden sutera warna kuning itu perlahan-lahan menutup kembali.

Sepasang mata ketua Kie-lian-pay Khie tay Cao memancarkan sinar buas, sebentar ia menatap wajah Oe-tie Khao, lalu bertanya kepada orang tua berbaju kuning dengan terpisah oleh gorden warna kuning. "Mengenai sahabat Oe-tie Khao yang datang kemari untuk menyampaikan pesan itu locianpwe masih ada pesan khusus apa?"

Oe-tie Khao mengerti maksud pertanyaan Khie Tay Cao, ialah untuk minta jawaban dari orang tua berbaju kuning, apakah dibiarkan pulang dengan selamat atau perlu ditahan?

Suara yang sangat perlahan sekali dari orang tua berbaju kuning itu terdengar dari balik gorden warna kuning itu, katanya lambat-lambat: "Cianbunjin boleh mintakan bukti kepada sahabat Oe-tie itu untuk membuktikan bahwa ia benar-benar disuruh oleh thian-gwa Ceng-mo, atau bukan! Jika ada bukti biarkan ia pergi, jika tidak, kita harus tetap menurut aturan untuk menghukum padanya yang sudah lancang masuk ke daerah Kie-lian. Aku akan menotok lumpuh padanya dari sini, kemudian kau antarkan ke dalam goa Siang-swat-tong, supaya tubuhnya menjadi beku dan kita buat patung di dalam goa itu!"

Oe-tie Khao yang mendengar ucapan itu lantas tertawa terbahak-bahak, dengan mata menatap Khie Tay Cao, ia bertanya dengan nada suara dingin: "Kie ciangbunjin, aku pengemis tua datang dari tempat ribuan pal jauhnya semata- mata hanya menyampaikan pesan orang lain, apakah demikian caranya kalian orang-orang Kie-lian-pay memperlakukan tamu?"

Ditegur secara pedas demikian oleh Oe-tie Khao, sepasang alis Khie Tay Cao berdiri, sejenak tampak berpikir, kemudian berpaling dan berkata kepada Go Eng: "Peraturan dunia Kang-ouw, kita harus patuhi tetapi peraturan golongan Kie- lian-pay, juga tak boleh dirusak! Go sute, lekas perintahkan mereka untuk menyediakan jamuan bagi Oe-tie tayhiap, lebih dulu kita harus melakukan tata-tertib dunia Kang-ouw, kemudian minta lagi kepada Oe-tie tayhiap supaya menunjukkan buktinya untuk menepati peraturan golongan kita!" Oe-tie Khao menggoyangkan tangannya, melarang Go Eng bertindak, dengan sepasang alis berdiri ia berkata dengan nada suara dingin: "Tidak perlu, perjamuan semacam ini aku pengemis tua tidak sanggup menerima! Tata-tertib dunia Kang-ouw boleh dihapus, harap kalian lekas menjalankan peraturan golongan Kie-lian, meskipun aku ada membawa bukti, tetapi kini aku tidak mau mengeluarkan!"

Orang tua berbaju kuning dari balik gorden warna kuning berkata sambil tertawa dingin: "Apakah kau benar-benar ingin mencari mampus?"

Oe-tie Khao tertawa semakin nyaring, katanya juga dengan nada suara keras: "Manusia, kalau sudah mencapai usia seratus tahun siapakah yang bisa lolos dari kematian? Di dunia yang fana ini dimana saja merupakan kuburan..."

Suara itu masih menggema didalam ruangan, murid yang menjaga pintu gerbang dengan tiba-tiba muncul di ruangan dan maju memberi hormat kepada Khie Tay Cao sambil melaporkan bahwa di luar ada seorang gadis dengan menunggang seekor kuda berbulu hijau, gadis itu menyebut dirinya sebagai putri Thian-gwa Ceng-mo, namanya Tiong-sun Hui Kheng dan katanya hendak mencari Oe-tie tayhiap.

Laporan itu mengejutkan Khie Tay Cao, sedangkan Oe-tie Khao sendiri juga terheran-heran.

Dalam hatinya berpikir, urusan didalam dunia ini bagaimana bisa demikian kebetulan? Dengan munculnya Tiong-sun Hui Kheng secara tiba-tiba ini, bukankah akan merupakan pertolongan besar baginya yang sudah mengarang cerita bohong demikian besar?

Benar saja, Khie tay Cao setelah sejenak merasa terkejut, lalu berkata kepada anak buahnya yang ditugaskan menjaga di pintu gerbang: "Kau beritahukan kepada nona Tiong-sun, minta ia tunggu sebentar di pintu gerbang, aku akan mengantar sendiri kepada Oe-tie tayhiap keluar dari sini dengan segera!"

Sehabis berkata demikian ia lalu mengangkat tangan memberi hormat dan berkata kepada Oe-tie Khao: "Kie Tay Cao sudah tahu bahwa kedatangan Oe-tie tayhiap kemari bukanlah omong-kosong saja, atas kealpaanku untuk menyambut secara baik-baik, harap Oe-tie tayhiap maafkan sebesar-besarnya!"

Oe-tie Khao tahu bahwa kawanan manusia jahat dan buas seperti itu, girang atau marah bisa berubah setiap saat, maka ia diam-diam menggelengkan kepala. Tetapi kesempatan itu ia gunakan sebaik-baiknya untuk mengundurkan diri, katanya sambil tersenyum: "Sebagai orang yang berkelana di dunia Kang-ouw, dalam segala hal harus mementingkan urusan orang lain, asal ada sahabat yang sepaham denganku, jangankan hanya melakukan perjalanan ribuan pal saja sekalipun harus menerjang ke dalam neraka juga rela! Cianbunjin kalau sudah tahu bahwa kedatanganku ini tidaklah bohong, maka Oe-tie Khaoe hendak minta diri".

Sehabis berkata demikian, ia bangkit dari tempat duduknya dan berkata pula kepada orang tua dibalik gorden berwarna kuning: "Orang tua, apakah kau ada jawaban yang minta aku sampaikan kepada Than-gwa Ceng mo?"

"Beritahukan kepada Tiong-sun Seng, katakan saja bahwa orang yang kutunggu itu, jikalau sebelum pada tanggal sepuluh bulan sebelas ini, datang kemari menengok aku, maka pada pertemuan di puncak Thian-tu-hong pada nanti tanggal enam belas bulan dua belas, akan merupakan bencana hebat bagi rimba persilatan yang tidak dapat dielakkan lagi!"

Oe-tie Khao hanya sambut dengan tertawanya, kemudian ia memutar dirinya, Khie Tay Tjao oleh karena merasa salah, terpaksa dengan perasaan kemalu-maluan bersama Go Eng mengantar keluar Oe-tie Khao dari tempat itu.

Baru keluar dari pintu gerbang, sudah disambut oleh Tiong- sun Hui Kheng yang berdiri disamping kudanya dengan wajah berseri-seri. Begitu melihat kedatangan Oe-tie Khao lantas berkata kepadanya: "Oe-tie locianpwee, kali ini karena kau melakukan perjalanan terlalu jauh, maka aku sengaja menunggang kuda datang kemari untuk menyambut kau. Apakah kau sudah menyampaikan pesan ayah kepada orang tua itu?".

Oe-tie Khao menganggukkan kepala sambil tersenyum, melihat Tiong-sun Hui Kheng menyerahkan less kudanya, tanpa sungkan lagi lantas melompat keatas punggung kuda, sedangkan Tiong sun Hui Kheng sendiri duduk dibelakangnya. Demikian dua orang itu dengan menunggang seekor kuda, lantas dipacu turun dari Siang-swat-giam.

Pada saat itu, ketua Kie-lian-pay Khie Tay Tjao menyaksikan kuda tjeng-hong-kie Tiong-sun Hui Kheng lebih hebat daripada kuda tjian lie-kiok-hwa-tjengnya sendiri, dengan berdiri termangu-mangu menyaksikan berlalunya Tiong-sun Hui Kheng dan Oe-tie Khao, sedikitpun tidak memikirkan ke tempat lain.

Akan tetapi Go Eng yang licik dan banyak akalnya, sebaliknya tertawa cengar-cengir beberapa kali, kemudian berkata kepada Khie Tay Tjao: "Tjianbun suheng, apakah kau tidak berasa bahwa kedatangan Tiong-sun Hui-kheng ini sangat mencurigakan?".

Khie Tay Tjao sebagai tokoh dan pemimpin satu partai besar, sudah tentu bukan orang sembarangan, setelah diingatkan oleh ucapan Go Eng tadi, sesat lantas menjadi sadar. Katanya: "Kecurigaan Go sute memang benar kedatangan Tiong-sun Hui Kheng ini sesungguhnya terlalu mencurigakan, didalamnya pasti ada mengandung maksud tertentu, tetapi sayang sekali kudanya sangat cepat larinya, rasanya sudah tidak keburu untuk dikejar".

"Kuda mereka bisa lari pesat tetapi tjianlie-kiok-hwatjeng kuda suheng, juga merupakan kuda jempolan pada saat ini, mengapa tidak berusaha mengikuti jejaknya? Kini siaote hendak pergi ke goa siang-swat-tong untuk memberitahukan kepada orang sana supaya siap-siap apabila ada orang datang mengacau!".

"Rencana Go sute ini bagus sekali, perintahkan mereka supaya menyediakan kuda dan senjataku!".

Sesaat kemudian ketua Kie-lian-pay sudah berada di atas kuda jempolannya dengan senjatanya seratus lima puluh kati yang pernah menggemparkan dan menjagoi dunia Kang-ouw sekian lamanya, setelah itu ia memacu kudanya menuju ke tempat dimana tadi tiong-sun Hui Kheng dan Oe-tie Khao pergi.

Sementara itu Go Eng sambil perlihatkan senyum Iblisnya, diam-diam menghilang ke jalanan yang menuju ke goa Siang- swat-tong.

Kita tinggalkan dulu tindakan dua manusia buas dari Kie- lian itu, marilah kita balik kepada Oe-tie Khao yang sudah meninggalkan bukit Siang-swat-giam bersama Tiong-sun Hui Kheng.

Sekeluarnya dari markas besar partai Kie-lian, Tiong-sun Hui Kheng larikan kudanya menuju ke tempat yang sudah dijanjikan kepada Hee Thian Siang, sementara itu Oe-tie Kao berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa: "Nona Tiong-sun, bagaimana kedatangan ini demikian kebetulan, apakah nona sudah bertemu muka dengan Hee Thian Siang? Mengapa siaopek dan taywong tidak ikut serta?". "Dengan secara kebetulan ketika aku berada di kota Kieng- tjiu telah minum ditempat rumah makan yang locianpwee dan Hee Thian Siang ada minum di situ, hanya terpisah satu kamar saja, maka aku mengetahui urusan ini; siaopek dan taywong sudah mengikuti Hee Thian Siang menyerbu ke Goa siang-swat-tong", berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa.

Dari apa yang dilihat dan didengar didalam ruangan Tjong- biaw-tong, Oe-tie Khao tahu bahwa didalam goa siang-swat- tong pasti juga dilakukan penjagaan, hingga di situ mungkin terdapat rintangan berbahaya, maka ia merasa kuatir atas keselamatan Hee Thian Siang, kini setelah mendengar dari mulut Tiong-sun Hui Kheng bahwa kepergian Hee Thian Siang ke goa siang-swat-tong dengan dikawani oleh siaopek dan taywong, maka ia merasa lega.

Ketika tiba ditempat dimana sudah berjanji dengan Hee Thian Siang, baru saja turun dari kudanya, dari arah Siang- swat-giam terdengar suara derap kaki kuda, Oe-tie Khao lantas berkata sambil tertawa dingin: "Aku sudah tahu, bahwa urusan ini hanya dapat mengelabui mata kawanan penjahat Kie-lian untuk sementara, tetapi tidak bisa selama-lamanya. Sekarang Kie Tay Tjao benar saja sudah timbul perasaan curiganya dan pergi mengejar kita. Marilah kita sembunyi di suatu tempat biar dia mengandalkan kudanya yang jempolan pergi mengejar sampai beberapa ratus pal, supaya kita kurang seorang lawan tangguh!".

Tiong-sun Hui Kheng menganggukkan kepala sambil tersenyum, dua orang itu lalu mencari tempat sembunyi, tak lama kemudian benar saja tampak ketua Kie-lian-pay, Khie Tay Tjao dengan membawa senjatanya yang aneh dan berat sekali, dengan menunggang kudanya tjian-lie-kiok-hwat-tjeng yang jempolan dengan pesat melewati tempat persembunyiannya. Setelah bayangan Khie tay Tjao menghilang dari depan matanya, Oe-tie Khao baru berani mengeluarkan suara, ia berkata sambil tertawa: "Nona Tiong-sun, kini kita menggunakan kesempatan selagi Khie tay Tjao melalui kita, dan selagi orang-orang Kie-lian-pay tidak menduga kita yang sudah pergi akan kembali, agaknya kita perlu secara diam- diam pergi ke goa siang-swat-tong, barangkali bisa memberi bantuan tenaga kepada Hee Thian Siang laote bersama siaopek dan taywong".

"Perjalanan kita ini tak boleh mengejutkan orang fihak sana, apakah kita harus pergi kesana dengan jalan kaki? Untung kuda tjeng-hong-kie ini sangat cerdik dan sangat tajam daya pendengarnya, jikalau ada kejadian-kejadian penting, asal aku mengeluarkan siulan, ia pasti akan datang mengikuti suaraku tadi!". Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil menganggukkan kepala dan tersenyum.

"Kekuatiran nona ini memang pada tempatnya. Marilah kita balik lagi kesana".

Perjalanan mereka kali ini menggunakan ilmunya meringankan tubuh masing-masing, juga tidak melalui jalan biasa, melainkan melalui jalan pegunungan yang terjal!

Berjalan melalui jalan-jalan terjal dan kadang-kadang melalui jurang dan gunung-gunung tinggi Oe-tie Khao baru tahu kepandaian Tiong-sun Hui Kheng; ilmu meringankan tubuh dan ilmu silatnya masih jauh di atas Hee Thian Siang.

Tiong-sun Hui Kheng dengan tubuhnya yang indah dan tindakannya yang lemah-gemulai, meskipun melalui jalanan yang demikian sulit masih dapat dilalui dengan tenang-tenang saja, bahkan ia masih bisa tertawa-tertawa dan berkata kepada Oe-tie Khao: "Oe-tie Locianpwe, kau sudah lama hidup di dunia kang-ouw, sudah biasa melakukan perjalanan jauh dan sukar, baik pengalaman maupun pengetahuan tentu luas sekali; rasanya tidak terpaut jauh kalau dibanding dengan pendekar pemabokan Bo Bu Ju locianpwe. Apakah kau tidak dapat melihat atau setidak-tidaknya menduga riwayat atau asal-usul orang berbaju kuning yang dibuat andalan oleh orang-orang Khie-lian-pay?".

"Meskipun aku tidak dapat menduga asal-usul dan riwayat orang tua itu, tetapi waktu ia berbicara denganku, dari pertama sehingga akhir, suaranya demikian halus seperti tidak wajar, agaknya ia takut aku dapat mengenali suaranya yang sebenarnya! Dalam hal ini sesungguhnya sangat menarik dan mencurigakan hatiku! Apakah orang tua berbaju kuning yang sangat aneh itu juga merupakan sahabat lamaku dahulu?".

"Locianpwe boleh pikir dulu baik-baik, diantara kenalan lamamu dahulu, apakah ada seorang tokoh demikian? Locianpwe harus tahu bahwa kepandaian ilmu silat Khie Tay Tjao sudah dapat dibanggakan dan masih di atas daripada beberapa orang kuat lainnya, dia merupakan satu tokoh terkuat pada masa ini, namun ia masih memerlukan orang tua berbaju kuning itu sebagai andalan dan supaya menunjang gerakannya, disitu dapat kita duga bahwa orang tua itu pasti memiliki kepandaian yang luar biasa, seharusnya mudah sekali kalau kita duga!".

Oe-tie Khao berpikir lama sekali, barulah berkata sambil tertawa: "Aku sesungguhnya tak dapat memikirkan orang tua itu, baiklah kita tunggu setelah bertemu muka dengan Hee Thian Siang laote, aku masih perlu menanyakan dahulu apa yang dilihatnya didalam goa Siang-swat-tong, setelah kita adakan konsultasi satu sama lain, mungkin dapat mempelajari asal-usul diri orang tua itu!".

Pembicaraan Oe-tie Khao dan Tiong-sun Hui Kheng dilakukan dengan seenaknya, mereka tidak tahu bahwa pada saat itu Hee Thian Siang yang berada didalam goa Siang- swat-tong sedang menghadapi bahaya hebat yang sangat mendebarkan hati! Kiranya Hee Thian Siang sejak berpisah dengan Tiong-sun Hui Kheng, oleh karena baru pertama kali ini berjalan bersama-sama dengan siaopek dan taywong binatang luar biasa itu, perjalanan itu dilakukan dengan sangat gembira, dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh ia pergi menuju ke goa Siang-swat-tong yang letaknya dibukit siang- swat-giam-im!

Letak siang-swat-giam-im sangat strategis, tempat itu terkurung oleh puncak-puncak gunung yang tingginya menjulang ke langit, oleh karenanya sinar matahari juga agak kurang, maka hawa ditempat itu dingin sekali, setiap tahun diliputi oleh salju....

Hee Thian Siang yang membawa siaopek dan taywong menyelundup sampai ke mulut goa, sepanjang perjalanannya tidak mendapat rintangan juga tidak menemukan jejak musuh, hanya merasakan bahwa goa itu seolah-olah dalam sekali dan jalannya berliku-liku.

bahkan didalam goa itu selalu ditiup oleh angin yang dingin sekali sehingga meresap ke dalam tulang-tulangnya.

Baru mendekati goa, terjadilah suatu kejadian sangat aneh, siaopek dan taywong, dua ekor binatang luar biasa itu, bulu- bulu di sekujur badannya pada berdiri, dengan sikap ketakutan matanya ditujukan ke dalam goa yang gelap dan berliku-liku jalannya, agaknya tidak berani masuk.

Hee Thian Siang yang tahu benar bahwa siaopek sangat cerdik dan taywong berani dan galak, ketika menyaksikan sikap mereka demikian juga merasa gentar. Dengan suara yang sangat perlahan sekali ia bertanya kepada siaopek: "Siaopek, dalam goa itu kau lihat ada barang apa? mengapa kau dan taywong ketakutan demikian rupa?"

Sepasang matanya yang merah dari siaopek ditujukan kepada goa sekian lama lantas menggunakan tangannya untuk memitak-mitakkan sebagai jawaban kepada Hee Thian Siang, maksudnya agaknya menasehati Hee Thian Siang sebaiknya jangan masuk ke dalam. Hee Thian Siang juga tahu, bahwa didalam goa itu sudah pasti sangat berbahaya, tetapi karena ia bernyali besar dan kedua dengan susah payah baru sampai di tempatnya, bagaimana kalau ia tidak berani masuk untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya?

Oleh karena itu setelah ia berpikir sejenak baru berkata lagi kepada siaopek dengan suaranya tetap perlahan: "Siaopek, aku juga tahu bahwa didalam goa ini sangat berbahaya dan ada hal-hal yang luar biasa, tetapi karena kita sudah sampai di sini, bagaimanapun juga toh harus masuk melihat dan menyaksikan sendiri, kau dengan Taywong boleh sembunyikan diri di luar pintu untuk menunggu aku, kalau ada orang jahat Kie-lian-pay, asal kau mengeluarkan suara, aku akan siap sedia!"

Hee Thian Siang tampak Siaopek menunjukkan sikap seolah-olah keberatan, maka ia lalu mencium mukanya, kemudian bertanya sambil tersenyum: "Siaopek, apa kau tidak tega hati dengan seorang diri aku masuk ke dalam goa?"

Siaopek yang mendengar pertanyaan itu, mengamat-amati muka Hee thian Siang beberapa lama, tiba-tiba menganggukkan kepala dan menerima baik permintaannya, sambil menarik Taywong, ia sembunyikan diri ditempat lebat di luar pintu goa.

Hee Thian Siang karena sikap siaopek tadi, mau tak mau tambah waspada, lebih dahulu ia mengerahkan ilmunya Kian- thian-ceng-kie dari perguruannya, disalurkan ke seluruh badan untuk menjaga diri, dengan berjalan indap-indap dan berjalan pelan sekali ia memasuki goa itu.

Jalan didalam goa itu berliku-liku, Hee Thian harus memutar ke kanan dan ke kiri sebanyak kira-kira lima belas tombak, tetapi apa yang disaksikannya tidak lain dari pada gelap! Apa yang dirasakan juga hanya dingin.

Akan tetapi didalam kegelapan itu seolah-olah tersembunyi rahasia yang sangat misteri, di bawah suasana dingin, seolah- olah mengandung bahaya yang menyeramkan!

Semakin misteri semakin seram, juga semakin membangkitkan keberanian Hee Thian Siang. Selangkah demi selangkah ia masuk ke dalam, ia bertekad hendak menyelidiki dalam goa itu!

Kembali ia memasuki ke dalam beberapa tombak, halaman didalam goa itu agaknya melebar tetapi juga semakin gelap.

Karena keadaan gelap sekali, ia terpaksa berjalan maju sambil meraba-raba. Baru saja mengulurkan tangannya, seolah-olah tersentuh oleh binatang berbisa, maka buru-buru ditariknya kembali, orangnya juga lopat mundur sejauh tiga langkah!

Kenapa? Oleh karena Hee Thian Siang sewaktu mengulurkan tangannya meraba-raba telah meraba sesosok tubuh manusia!

Tetapi tubuh manusia itu seolah-olah lebih dingin daripada angin didalam goa yang meniup dirinya, bahkan setelah jari tangan Hee Thian Siang menyentuhnya, juga tidak terdengar sedikitpun suara dari tubuh yang di sentuhnya. Kedua tangan Hee Thian Siang digunakan untuk melindungi dadanya, selagi hendak menantikan kejadian selanjutnya, tetapi tidak tampak sedikit gerakanpun juga dari tubuh manusia itu, maka ia lalu mengambil alat api dari dalam sakunya.

Api itu bukanlah api biasa, cuma api buatan Oe-tie Khao yang dibuat secara istimewa. Alat itu merupakan bentuk bumbung, begitu alat pesawatnya disentuh, lantas bisa menimbulkan api, dan bumbung itu lubangnya juga kecil sekali, tidak beda seperti lampu-lampu batere yang kecil pada sekarang ini.

Ketika api ditangan Hee Thian Siang menerjang ke tubuh manusia yang dirabanya tadi, matanya baru menampak seorang pelajar berbaju putih yang berusia kira-kira tiga puluh tahunan, sedang berdiri menyandar d idinding goa dan menghadapi dirinya.

Tersorot oleh sinar lampu Hee Thian Siang, pelajar berbaju putih itu tetap tidak bergerak atau menyapa, Hee Thian Siang terheran-heran, kembali menggunakan apinya untuk menyinari orang itu, kini ia tujukan kepada wajahnya.

Kini Hee Thian Siang baru tahu, bahwa mata pelajar berbaju putih ternyata sudah tidak bercahaya, ditilik dari keadaan itu, agaknya bukan seperti manusia hidup. Diatas baju panjangnya yang berwarna putih tergantung sebuah plat tembaga diatas plat itu terdapat tanda tulisan.

Hee Thian Siang yang sangat berani, menyaksikan keadaan itu sedikitpun tidak merasa takut, ia maju menghampiri, tetapi setelah ia membaca tulisan pada plat tembaga itu, saat itu badannya lantas gemetaran.

Tulisan yang terdapat di atas plat tembaga itu, ternyata berbunyi seperti berikut: "SALAH SATU DARI PATUNG YANG SUDAH MEMBEKU OLEH ES, INI ADALAH PATUNG SIAUW TEK YANG BERJULUK BERBAJU PUTIH DARI KUN LUN, JUGA MERUPAKAN SAMSUTE KETUA KUNLUN PAY TIE HUI CU!"

Disamping terkejut dan keheranan, Hee Thian Siang diam- diam berpikir: Apa yang dinamakan patung yang sudah membeku oleh salju? Apakah Siauw Tek ini sudah dibinasakan oleh orang Kie-lian-pay, jenasahnya dibekukan didalam goa Siang-swat-tong ini? Selama berpikir, api di tangannya ditujukan kepada dinding goa itu, kini ia menemukan pula ditempat sejarak tiga empat kaki dari patung Siauw Tek, kembali terdapat sebuah patung yang berdiri menyandar di dinding goa.

Meskipun Hee Thian Siang sudah mulai gentar dan dalam hatinya juga merasa sedikit takut, tetapi ia masih berani maju, hendak menegaskan siapa adanya patung kedua itu, apakah juga merupakan sebuah patung yang dibekukan?

Suatu keuntungan baginya, ialah api didalam bumbung buatan Oe-tie Khao itu, hanya dapat digunakan untuk menyoroti langsung ke tempatnya tapi tidak memancarkan sinarnya kebagian samping. Jikalau tidak betapapun besar nyali Hee Thian Siang juga akan ketakutan setengah mati. Sebab, apabila api itu memancarkan sinarnya ke segala penjuru, maka di situ ia akan terdapat dua sosok bayangan; sesosok adalah bayangannya sendiri, tetapi yang lain adalah bayangan seorang yang mengenakan jubah lebar, sedang rambutnya yang panjang terurai ke bawah, orang itu sama keadaannya dengan orang tua berbaju kuning yang dilihat oleh Oe-tie Khao didalam ruangan Cong-biaw-tong. Tetapi orang berbaju kuning ini berdiri tidak jauh di belakang Hee Thian Siang, tangan kanannya diangkat tinggi, jari telunjuk dan jari manis tampak diulurkan, ditujukan kepada jalan darah di belakang kepala Hee Thian Siang. Hingga saat itu Hee Thian Siang masih belum sadar jikalau bayangan maut sudah mengintai dirinya, ia masih berjalan maju ke depan sedangkan orang tua berbaju kuning itu juga melakukan gerakan yang sama.

Hee Thian Siang adalah murid satu-satunya dan paling disayang oleh Pak-bin Sin-po Hong-po Cui, dan baru-baru ini kembali ia mendapatkan obat luar biasa yang menambah kekuatan tenaganya, dalam goa kuno yang menyeramkan seperti itu, seharusnya ada suara sedikit saja akan tertangkap oleh daya pendengarannya. Akan tetapi terhadap orang tua berbaju kuning yang berada di belakangnya sedikitpun ia tidak menyadari atau mendengar, dari situ dapat dilihat betapa tinggi ilmu yang dimiliki oleh orang tua berbaju kuning itu!