Makam Bunga Mawar Jilid 09

 
Jilid 09

Hawa amarah Ca Bu Kao agaknya tak mudah dipadamkan, katanya dengan alis berdiri: "Tempat ini bukan daerah kekuasaannya seperti di kuil Pho-hie-hee-wan apalagi letak tempat ini juga sangat bagus, sekalipun dia datang bersama kawan-kawannya juga belum tentu kita akan mengalami kekalahan."

Oe-tie Khao sementara itu juga turut bicara, berkata sambil tertawa: "Perkataan nona Ca memang benar, tetapi Hee Thian Siang terluka parah ini merupakan halangan bagi kita. Tho- hwa niocu dari Kie-lian-pay, dengan Su-to Kheng hubungannya sudah seperti suami istri, ada kemungkinan ia akan ikut datang kemari. Jika ikut campur tangan, dengan sebuah api Kiu-leng-hwenya, atau mungkin dengan senjata beracunnya Su-to Kheng, bukankah akan mengakibatkan Hee Thian Siang turut mendapat bencana?"

Ca Bu Kao yang mendengar ucapan itu lantas berkata: "Kita mencari suatu tempat yang aman, lalu meletakkan Hee Thian Siang ditempat itu, bukankah setelah itu boleh bertempur sepuas-puasnya dengan kawanan penjahat itu ?" Say Han Kong berkata sambil tertawa getir: "Didalam kuil tua yang sudah rusak keadaannya seperti ini, dimana ada tempat yang aman ?"

Oe-tie Khao dengan tiba-tiba seperti teringat sesuatu, katanya sambil tertawa: "Aku sebetulnya juga sangat mual terhadap sikap orang Tiam-cong-pay yang sangat buas dan kejam itu, aku pikir, hendak menggunakan kedudukan kita ditempat gelap ini, untuk menghadapi mereka yang ditempat terang, supaya mereka mendapat pembalasan atas perbuatannya yang kejam ! Mengenai tempat untuk menyembunyikan Hee Thian Siang, aku juga sudah pikirkan, tetapi agaknya kurang enak terhadap Hee-laote kita ini yang sedang menderita luka".

"Apakah kau hendak menyimpan Hee Thian Siang didalam peti mati di ruangan Timur itu ?", bertanya Say Han Kong sambil mengerutkan alisnya.

"Hee-laote sudah menelan tiga butir pil yang terbuat dari getah buah lengci, hanya luka didalamnya saja yang belum sembuh seluruhnya seharusnya tidak perlu takut kalau diletakkan didalam peti mati", berkata Oe-tie Khao sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

"Hawa bangkai, kalau tutup pintunya dibuka juga lantas buyar, maka juga tidak perlu takut. Tetapi meletakkan Hee- laote bersama-sama tengkorak didalam peti mati, bagaimanapun juga rasanya. ", berkata Say Han Kong.

Sementara itu dari tempat yang agak jauh tiba-tiba tampak delapan buah api Kiu-yu Lenghwe ! Oe-tie Khao yang menyaksikan itu, katanya dengan nada marah:

"Orang-orang dari Kie-Lian-pay benar juga sudah datang, menurut api Kiuyu Lenghwe yang dilepas sebanyak delapan buah, kedudukan orang itu ternyata masih jauh lebih tinggi daripada Tho-hwa Niocu Kie Liu Hiang !".

Say Han Kong juga mengerti bahwa bahaya yang mengancam semakin dekat, pertempuran hebat tidak mungkin dapat dihindarkan, maka terpaksa menyetujui usul Oe-tie Khao dan berkata kepadanya:

"Pengemis tua, kau lekas pergi ke ruangan Timur, coba buka tutup peti mati, lebih dahulu kau buyarkan hawa bangkainya, kemudian membuat lubang beberapa buah di bawah peti mati untuk jalan nafas, asal musuh sudah dekat, kita letakkan Hee Thian Siang ke dalam peti mati itu, kemudian kita masing-masing mencari tempat untuk menyembunyikan diri".

Oe-tie Khao melakukan seperti apa yang diminta oleh Say Han Kong, pekerjaan membuka peti mati dikerjakan dengan baik sekali, sedikitpun tidak meninggalkan bekas diatas petinya.

Tetapi ketika tutupnya dibuka, Oe-tie Khao terkejut, kiranya di peti mati yang dibuka itu masih membujur bangkai seorang laki-laki yang berpakaian jubah panjang yang sangat rapi, keadaannya masih seperti hidup, sedikitpun tidak terdapat tanda busuk, maka juga tidak terdapat hawa busuk bangkai.

Oleh karena waktunya sangat mendesak, Oe-tie Khao tidak mendapat kesempatan untuk melakukan pemeriksaan yang teliti. Baru saja ia menggunakan jari tangannya untuk membuat lubang di peti mati, Say Han Kong sudah datang bersama Ca Bu Kao dengan memondong Hee Thian Siang, kata tabib itu sambil mengerutkan alisnya:

"Tadi kulihat ditempat yang tak jauh dari kuil ini, kembali ada tujuh buah api Kiucu Leng-hwe, itu pasti adalah Tho-hwa Niocu bersama Su-to Kheng, yang datang kemari, kita seharusnya segera sembunyikan Hee Thian Siang baik-baik, apakah kau sudah membuat lubang hawa di bawah peti mati

?"

Oe-tie Khao menganggukkan kepada, maka Say Han Kong lalu meletakkan tubuh Hee Thian Siang yang masih belum sadar betul, ke dalam peti mati. Setelah itu perlahan-lahan ia menutup dengan tutupnya lagi.

Untung dia buah peti mati itu terbuat dari bahan kayu yang sangat bagus, ruangnya juga luas, meskipun didalamnya ada menggeletak sebuah bangkai dan seorang hidup, juga masih terdapat ruang cukup lebar.

Sewaktu Say Han Kong membantu Oe-tie Khao menutup peti mati, hidungnya dengan tiba-tiba dapat mengendus bau aneh, maka lantas berkata dengan sikap terheran-heran:

"Hawa semacam ini, rasanya seperti semacam hawa yang jarang ditemukan didalam dunia..."

Belum habis ucapannya tiba-tiba terdengar suara nyaring yang keluar dari seorang berkepandaian sangat tinggi. Wajah Say Han Kong berubah, ia berkata kepada Ca Bu Kao dan Oe-tie Khao dengan sangat perlahan:

"Siapakah orang itu ? Kekuatan dan kepandaiannya agaknya masih di atas Su-to Kheng. Kita harus sembunyikan diri baik-baik, jikalau tidak terpaksa betul-betul tidak perlu turun tangan". Sehabis berkata demikian, ia lalu memberi isyarat supaya semua berpencaran.

Oe-tie Khao melesat keluar dan sembunyikan diri didalam rumput yang lebat didalam kuil. Say Han Kong lompat ke atas dan sembunyi di tempat gelap. Sedangkan Ca Bu Kao sembunyi di atas penglari didalam kuil. Pada waktu itu tiga sosok bayangan secepat kilat sudah tiba di hadapan pintu kuil. Yang berada di sebelah kiri benar adalah Su-to Keng, tetapi waktu itu ia sudah tidak menyamar lagi sebagai Liong-hui Kiam-khek, melainkan berpakaian imam seperti asalnya; sebelah kanan adalah si cantik centil Tho-hwa Niocu, sedangkan yang berada di tengah seorang nenek berambut putih yang usianya sudah lanjut, namun sinar matanya sangat tajam, agaknya juga sangat berwibawa, jelas kekuatan dan kedudukannya nenek itu masih di atas Kiu Liu Hiang.

Say Han Kong yang berada ditempat tinggi dapat menyaksikan dengan jelas, ia dapat mengenai bahwa nenek itu adalah Pek-tho Losat Nikow dari golongan Kie-lian-pay yang sudah beberapa puluh tahun menutup diri didalam goa es di gunung Kie-lian, dan sudah lama pula tidak mencampuri urusan dunia.

Kepandaian Pao Sam Kow tinggi sekali, bahkan masih merupakan suci atau kakak seperguruan ketuanya Kia-lian- pay, Khie Thay Cao. Dengan munculnya secara tiba-tiba ditempat itu, Say Han Kong sendiri juga merasa sangat terkejut. Ia khawatir apabila Ca Bu Kao dan Oe-tie Khao tidak sanggup mengendalikan perasaannya bertindak secara gegabah, padahal pasti bukan tandingan nenek itu.

Nenek itu berdiri di depan pintu, berkata dengan nada suara dingin:

"Su-to laote, kau memeriksa bagian depan. Kie Liok-moay memeriksa ruangan kedua, sedangkan aku sendiri akan mengadakan pemeriksaan di ruangan ketiga. Kalau benar laporan yang disampaikan kepada kita, bahwa rombongan orang itu bersembunyi didalam kuil ini, tidak usah takut mereka akan terbang ke langit". Su-to Kheng dan Kiu Liu Hiang yang mendapat perintah itu, masing-masing bergerak menuju ke tempat yang ditunjuk untuk melakukan tugasnya. Sedangkan Pao Sam Kow sendiri mengeluarkan ilmunya meringankan tubuh, lompat melesat setinggi lima tombak lebih, kemudian bagaikan seekor burung malam melayang menuju ruangan ketiga.

Say Han Kong yang sembunyikan diri di atas atap bagian gelap, sebetulnya paling mudah diketahui, tetapi karena udara gelap, dan karena pikiran tiap orang itu ditujukan ke bagian tempat yang gelap terhadap bagian yang agak terang kadang diabaikan, maka sepasang mata Pao Sam Kow yang tajam hanya ditujukan ke bagian-bagian yang gelap saja, tidak memperhatikan tempat dimana Say Han Kong bersembunyi.

Oe-tie Khao yang sembunyikan diri di tempat rumput, oleh karena keadaan disekitar kuil itu yang tidak terurus, maka rumputnya tumbuh panjang dan lebat. Pao Sam Kow bertiga mungkin anggap tidak mudah membasmi habis seluruh tempat yang penuh rumput itu, maka belum bertindak untuk mencari. Kedudukan Oe-tie Khao sebetulnya menguntungkan dirinya, sebab lawannya tidak mau bertindak secara gegabah untuk mengadakan pemeriksaan di situ, sedangkan dia yang berada di luar dapat mengintai gerak-gerik mereka.

Baru saja Pao Sam Kow melayang turun tangan ketiga, Oe- tie Khao juga terkejut, sementara dalam hatinya berpikir: Pantas suara tadi demikian hebat, kiranya adalah Pek-Tho Losat yang sudah lama tidak muncul dan yang belakangan ini tertampak di puncak Thiau-tu-hong bersama-sama Kie Thay Cao.

Ia bersama Say Han Kong mempunyai kekhawatiran bersama, ialah kuatirnya Ca Bu Kao nanti kalau melihat Su-to Keng tidak dapat mengendalikan hawa marahnya, apalagi tempat persembunyiannya, di atas penglari didalam ruangan itu. Ia belum dapat menegasi yang masuk itu adalah Pek Tho Losat, tokoh kuat dari golongan Kie-lian. Apabila sampai terjadi pertempuran, sudah pasti akan parah.

Belum lagi lenyap pikirannya, Pao Sam Kow tiba-tiba memanggil dengan suara nyaring:

"Su-to laote dan Kie liok-moay lekas kemari, mereka benar saja sembunyi didalam ruangan ketiga ini."

Say Han Kong yang mendengar ucapan itu matanya ditujukan pada tangga-tangga batu dan lantai dalam ruangan ketiga, ia tahu bahwa kuil itu sudah lama tidak didiami orang, keadaannya sangat kotor, dimana-mana terdapat debu, dan debu-debu yang tebal itu karena kedatangan sendiri berempat telah meninggalkan bekas kaki, bekas-bekas itu telah diketahui oleh Pao San Tow.

Sedangkan Ca Bu Kao yang sembunyi di atas penglari, oleh karena mendengar orang itu menyebut Su-to Kheng laote dan menyebut Kie Liu Hiang Liok-moay, yang berarti adik seperguruan ke enam, apalagi suaranya juga seperti suara perempuan tua, maka secepat itu ia sudah menduga kepada diri Pao Sam Kow yang dahulu pernah dilihatnya di puncak Thian-tu-hong.

Ca Bu Kao tahu apabila yang datang itu Su-to Kheng dan Kie Liu Hiang berdua saja, maka dengan kekuatan yang terdiri dari dirinya sendiri dan Say Han Kong serta Oe-tie Khao bertiga sudah cukup untuk membereskan mereka. Tetapi kini ditambah lagi dengan Pek-tho Losat, kekuatan kedua pihak lantas berubah. Dalam keadaan demikian maka ia harus mengendalikan hawa amarahnya sendiri, jangan sampai membahayakan diri Hee Thian Siang yang terluka parah.

Oleh karena memikirkan diri Hee Thian Siang, maka Ca Bu Kao tidak berani berkutik. Sebaliknya dari kamar sebelah Timur tiba-tiba terdengar suara aneh yang sangat perlahan sekali.

Begitu suara itu masuk di telinganya, bukan kepalang terkejutnya Ca Bu Kao, ia pikir di ruang sebelah Timur itu tiada orang sembunyi hanya ada dua buah peti mati, darimana datangnya suara aneh itu? Apakah Hee Thian Siang sadar dan pulih ingatannya, tetapi tidak tahan dikeram dalam peti mati sehingga menimbulkan suara?

Masih untung suara aneh itu sebentar kemudian sudah lenyap kembali. Sedangkan Su-to Keng dan Tho-hwa Nio-cu yang berada di luar kuil, kebetulan karena dipanggil oleh Pao Sam Tow, keduanya lantas menghampiri Pau Sam Tow, sehingga tak seorangpun yang mendengar.

Tho-hwa Nio-cu matanya ditujukan ke dalam ruangan yang sunyi dan gelap itu, lalu berkata kepada Pao Sam Kow sambil berkata: "Toa suci, kau sudah masuk dan periksa didalam ruangan ini, apakah terdapat tanda-tanda yang mencurigakan?"

"Perlu apa harus mengadakan pemeriksaan, kau lihat sendiri, didalam kuil yang sudah rusak demikian rupa, dimana- mana terdapat debu, sedangkan bagian depan ini tampaknya bersih dan terdapat tanda bekas telapak kaki orang bukankah sudah jelas bahwa orangnya berada didalam?"

Mendengar keterangan ini, mata Tho-hwa Nio-cu ditujukan ke dalam ruangan, kemudian berkata pula sambil tertawa: "Ca Bu Kao, semua perbuatan yang mencelakakan diri kekasihmu Liong-hui Kiam-khek adalah aku yang merencanakan, bagaimana kau tidak ingin menuntut balas? Lekaslah keluar untuk menghadapi aku Kiu Liu Hiang!"

Ca Bu Kao yang beradat tinggi hati dan yang benci terhadap kejahatan, apalagi terhadap wanita itu, terlebih-lebih bencinya. Sebetulnya ia sudah akan keluar menyambut tantangannya. Tetapi untuk keselamatan Hee Thian Siang ia terpaksa menahan diri dan mandah diejek dan dihina oleh Kiu Liu Hiang.

Say Han Kong yang berada di atas dan Oe-tie Khao yang berada didalam gerombolan rumput, menganggap bahwa atas penghinaan Tho-hwa Nio-cu, Ca Bu Kao pasti akan unjuk diri, maka ia siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Apa yang dikhawatirkan ternyata tidak terjadi, itu di luar dugaannya. Tho-hwa Nio-cu selesai mengeluarkan perkataan demikian, dari dalam kuil itu tidak ada reaksi apa-apa, keadaan masih tetap sunyi sepi.

Say Han Kong dan Oe-tie Khao setelah tidak nampak Ca Bu Kao turun, hal itu sesungguhnya di luar kebiasaan yang beradat keras, maka diam-diam juga merasa heran, tetapi merekapun merasa senang.

Walaupun Ca Bu Kao tetap bersabar, tidak mengeluarkan suara tetapi dalam kamar sebelah Timur dengan tiba-tiba terdengar pula suara aneh, suara itu jelas keluar dari dalam peti mati, hingga semua menduganya bahwa Hee Thian Siang sudah siuman dan berusaha hendak bangkit dari dalam peti mati.

Suara aneh itu, bukan saja sudah didengar oleh Pao Sam Kow, Su-to Keng dan Kie Liu Hiang bertiga, sedangkan Say Han Kong juga sudah merasa bingung, entah darimana datangnya suara itu? Adalah Su-to Keng yang terlebih dahulu mengeluarkan suara, ia berkata sambil tertawa dingin: "Kalian juga merupakan orang-orang yang mempunyai sedikit nama, perlu apa main gila didalam kuil gelap ini? Mengapa kalian tidak berani unjuk muka secara terang-terangan?" Tho-hwa Nio-cu lantas menyambung: "Orang-orang seperti mereka yang menganggap diri sebagai ksatria, jikalau menghadapi bahaya, bukankah serupa saja dengan manusia biasa yang takut mati? Mereka gentar menghadapi Toa suci, oleh karenanya tidak berani keluar. Kita juga tidak perlu masuk ke dalam, jangan terjebak oleh perangkap mereka. Baiknya kita menurut cara pengemis tua Oe-tie Kao sewaktu di kuil Pho-hie-hee-wan dengan menggunakan beberapa buah api kiucu lenghwe untuk membakar kuil ini, kita tak usah kuatir orang-orang itu tidak akan keluar dari ruangan ini."

Usul Kie Liu Hiang itu sesungguhnya sangat keji, sehingga Say Han Kong, Oe-tie Kao dan Ca Bu Kao yang mendengarkan pada mengerut alisnya. Tetapi selagi Kie Liu Hiang menutup mulut, Po Sam Kao sudah tertawa terbahak- bahak kemudian berkata:

"Perlu apa harus membakar kuil? Mereka tidak berani keluar tetapi aku berani masuk untuk mengadakan pemeriksaan. Dengan mengandalkan kepandaian yang tidak berarti yang mereka miliki sekalipun dipasang jebakan, juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadap diriku."

"Apakah Poa toaci selama tiga belas tahun itu didalam goa sudah berhasil menciptakan ilmu yang tidak takut senjata tajam?" Bertanya Su-to Keng.

"Ilmu sakti membekukan tubuh, aku hanya berhasil melatih sampai sebelas bagian saja, Suto laote harus tahu..." Berkata Po Sam Kow sambil tertawa bangga.

"Tahu, tahu sebelas bagian ilmu membekukan tubuh meskipun belum mencapai ke puncak kesempurnaan, tetapi juga sudah seperti seorang yang mempunyai badan kebal dan tidak mempan senjata. Jangankan senjata biasa atau senjata rahasia, sekalipun golok atau pedang pusaka tidak usah takut." Berkata Su-to Keng sambil menganggukkan kepala. Sehabis berkata ia dengan satu gerakan, pedang itu ditusukkan kepada Po Sam Kow.

Po Sam Kow hanya tersenyum, benar saja ia tidak takut sedikitpun dengan senjata tajam. Tangannya diulur untuk menangkis serangan, dan ketika pedang itu mengenakan lengan tangan Po Sam Kow, seperti mengenai kulit keras, pedang Lenghong-kiam yang sangat tajam, sedikitpun tak ada gunanya, karena tidak dapat melukai perempuan tua itu.

Su-to Keng kini merasa kagum benar-benar, Kiu Liu Hiang yang menyaksikan itu juga tampak amat bangga dan gembira. Demikianpun dengan Po Sam Kow sendiri. Tetapi Say Han Kong dan Oe-tie Kao yang menyaksikan itu semua pada terkejut, dan Ca Bu Kao yang mendengar juga merasa heran.

Suara aneh dari kamar sebelah tidak terdengar lagi, sehingga keadaan sepi seperti biasa. Sedangkan Pao Sam Kow mulai berjalan masuk ke dalam ruangan. Oleh karena keadaan sangat gelap, Pao Sam Kow minta disediakan korek api kepada Tho-hwa Nio-cu.

Selagi Po Sam Kow berbalik meminta korek api, sebetulnya merupakan suatu kesempatan baik bagi Ca Bu Kao melancarkan serangan secara menggelap. Tetapi karena Pao Sam Kow tadi sudah menunjukkan kekebalan ilmunya, maka ia kuatir jika serangannya gagal, maka dia tetap bersabar.

Poa Sam Kow setelah menerima korek api, agaknya tidak mau ditaruh di tangannya, matanya mengawasi ke atas sejenak, kemudian api itu dilepaskan kesana dan tepat menancap di penglari bawah Ca Bu Kao. Dengan demikian dibagian bawah penglari itu meskipun terang, bagian atasnya semakin gelap, hingga Ca Bu Kao semakin tidak kelihatan lagi. Pao Sam Kow dengan meminjam penerangan dari korek api tadi, dapat mengadakan pemeriksaan di kamar-kamar bagian Timur dan Barat, tetapi ia agak terkejut dan terheran- heran, di situ tidak terdapat jejak manusia, mengapa tadi timbul suara aneh?

Setelah berpikir sejenak tiba-tiba ia mengerti, katanya sambil tertawa: "Dua buah peti mati yang ada di sebelah Timur keadaannya sangat mencurigakan, apakah mereka bersembunyi didalam peti mati itu? Biar aku coba periksa.

Setelah berkata ia berjalan menuju kamar Timur, perbuatannya itu telah mendebarkan Say Han Kong bertiga yang bersembunyi ditempat gelap, terutama Ca Bu Kao yang bersembunyi di atas penglari, hatinya semakin cemas karena Hee Thian Siang yang disembunyikan didalam peti mati sebelah kanan, apabila Pao Sam Kao membuka peti mati sebelah kiri lebih dahulu tentu ia dapat menyaksikan bahwa peti mati itu masih ada bangkai manusianya, dengan demikian mungkin ia tidak akan timbul rasa curiganya dan segera mengundurkan diri, ini juga ancaman bahaya sudah lenyap. Tetapi apabila ia membuka peti sebelah kanan lebih dulu, maka Ca Bu Kao akan bertindak tanpa menghiraukan bagaimana akibatnya, mungkin ia akan menerjang nenek itu dari tempat sembunyinya.

Meskipun ia sudah mengambil keputusan demikian, tetapi ia tidak melihat tindakan apa-apa, sedangkan kalau ia bergerak pasti akan menimbulkan suara, berarti memberitahukan tempat sembunyinya.

Dalam keadaan terpaksa ia coba berdiri, di atas penglari berjalan mengendap-endap beberapa tindak, untuk melongok ke sebelah Timur.

Berjalan kira-kira tujuh delapan kaki, ia sudah melihat keadaan di ruangan sebelah Timur, tetapi apa yang disaksikannya membuat ia lebih berdebaran, buru-buru mengerahkan ilmu Ban-sian-cek-lek ke kedua tangannya.

Kiranya api yang dinyalakan di ruangan tengah sinarnya tidak mencapai ke ruangan kamar sebelah Timur itu, hanya dalam keadaan samar-samar Pao Sam Kow seolah-olah seperti bayangan iblis dan bayangan iblis itu justru sedang bergerak menuju ke peti mati, di mana ada tersembunyi Hee Thian Siang.

Hati Ca Bu Kao berdebaran, akhirnya bayangan Pao Sam Kow bukan saja berhenti di depan peti sebelah kanan, bahkan perlahan-lahan mengangkat sepasang tangannya diletakkan ke tutup peti mati.

Pada saat itu perasaan tegang Ca Bu Kao sudah tidak bisa dilukiskan dengan pena. Ia sudah hampir berlaku nekad untuk menyergap nenek itu.

Dalam keadaan yang sangat kritis itu, suara aneh tadi kembali terdengar.

Ketika mendengar suara aneh itu Ca Bu Kao hampir saja jatuh pingsan, tetapi sebentar kemudian ia merasa bergidik, bulu romanya hampir berdiri semua. Suara aneh itu bukan timbul dari peti mati sebelah kanan, melainkan timbul dari peti mati sebelah kiri.

Pao Sam Kow yang sudah mengangkat tinggi kedua tangannya, belum sampai digunakan untuk membuka peti mati, tiba-tiba terdengar suara aneh dari peti mati sebelah kiri, maka cepat ia membalikkan diri. Tangan kanannya bergerak melancarkan serangan dari jarak jauh yang ditujukan kepada peti mati sebelah kiri.

Nenek ini bukan saja berkepandaian tinggi tetapi juga bertindak sangat hati-hati. Ia sendiri yang sudah berhasil melatih ilmu kekebalannya masih tetap khawatir bahwa di dalam peti mati tersembunyi kekuatan yang tak terduga-duga, maka lebih dulu ia melancarkan serangan jarak jauh dengan menggunakan ilmunya hong-ciang yang dinginnya meresap tulang.

Serangan dengan menggunakan ilmu serupa itu sebetulnya terlalu ganas. Serangan itu tidak melukai bagian luar, tetapi merusak bagian dalam. Tidak perduli benda apapun yang berada di dalam peti mati itu jikalau terkena serangan itu sudah pasti akan hancur lebur tidak perlu dikhawatirkan lagi.

Tindakannya itu sebetulnya terlalu ganas, siapa tahu bahwa hal-hal di dunia ini kadang-kadang bisa terjadi di luar dugaan manusia. Setelah ia melakukan serangan jarak jauh dengan ilmunya yang sangat jahat, suara aneh itu bukan lantas lenyap, bahkan sebaliknya terdengar makin hebat. Seolah-olah ada orang yang akan keluar dari dalam hendak memecahkan peti mati itu.

Dengan demikian Pao Sam Kow semakin marah. Ia semakin ingin tahu siapakah sebetulnya orang yang bersembunyi di dalam peti mati itu, mengapa sanggup melawan ilmunya yang sangat jahat itu?

Dalam keadaan terkejut dan marah, kembali ia melancarkan serangannya, tetapi kali ini kekuatan tenaganya ditambah lebih banyak.

Dalam jarak lima langkah, angin yang timbul dari serangannya itu sudah bisa membuat mati orang karena kedinginan. Dalam hati Pao Sam Kow berpikir sekalipun orang yang di dalam peti itu terbuat daripada batu, juga pasti akan hancur lebur, tetapi setelah serangan Pao Sam Kow itu mengenai peti mati, suara aneh dari dalam peti mati itu terdengar semakin hebat. Ca Bu Kao yang berdiri di atas penglari dan sudah hendak menyergap Pao Sam Kow telah dapat menyaksikan itu semua, hingga diam-diam juga terkejut dan terheran-heran. Ia tahu bahwa malam itu di kuil itu pasti akan terjadi sesuatu yang sangat menarik.

Oe-tie Khao yang bersembunyi di luar dan Say Han Kong yang sembunyi di atas, juga mendengar suara aneh yang hebat itu, hingga mereka tahu akan terjadi sesuatu yang di luar perhitungannya. Tetapi mereka tak dapat menduga mengapa Ca Bu Kao saat itu masih belum tampak mengadakan tindakan apa-apa, maka mereka masih tetap bersabar.

Sementara itu Suto Keng dan Kie Liu Hiang masing-masing sudah siap. Yang satu sudah siap hendak menggunakan serangan pasir beracunnya, dan yang lain sudah siap dengan api kiu-jit-leng-hwenya. Mereka pasang mata untuk menjaga- jaga jika ada orang lari keluar dari dalam kuil.

Pao Sam Kow sendiri yang merupakan seorang yang buas, waktu itu sudah memuncak amarahnya oleh karena dipermainkan oleh suara aneh dari dalam peti mati itu. Sepuluh jari tangannya dipentang seluruhnya, ia sudah mengerahkan ilmu jari tangannya Kim-kong-jiaw untuk menerkam tutup peti mati, dan kemudian secara tiba-tiba diangkat dan ditariknya.

Suara aneh dari dalam peti mati tadi sebetulnya hendak keluar dengan jalan memecahkan tutup peti mati. Karena dirinya di dalam peti maka kaki tangannya tidak mudah digerakkan; apalagi tutup peti mati itu terbuat dari bahan kayu yang sangat kuat dan dipantek kuat pula, maka sebegitu lama masih belum berhasil menembus keluar. Dan kini setelah Pao Sam Kow menggunakan ilmu Kim-kong-jiawnya untuk membuka peti mati, telah merupakan suatu kekuatan dari luar dan dalam dengan berbareng, maka sebentar kemudian terdengar suara bagaikan ledakan. Tutup peti mati itu terbuka dan hancur berantakan.

Begitu tutup peti mati itu hancur berantakan dari dalam peti mati berhembus hawa dingin. Orang yang rebah di dalam peti mati perlahan-lahan bangkit berdiri. Mayat itu ternyata juga merupakan seorang perempuan tua yang rambutnya sudah putih semua, dengan dandanannya yang berwarna emas.

Dari sinar api yang samar-samar, Ca Bu Kao waktu itu juga melihat wajah orang dari dalam peti mati itu. Saat itu badannya gemetaran sebab ia segera dapat memikirkan bahwa orang perempuan tua berambut putih itu mungkin adalah Pek-thao Ya-cie nenek Liong-lo yang dikatakan sudah mati pada sepuluh tahun berselang. nenek itu merupakan seorang buas dari golongan hitam.

Nenek Liong-lo itu dahulu dengan suaminya sering mendapat julukan "mumi" Siong Teng, pada beberapa puluh tahun berselang namanya sangat dikenal di kalangan Kang- ouw terutama golongan hitam. Tetapi sepuluh tahun berselang telah dikabarkan binasa, entah dengan cara bagaimana kini muncul di tempat itu? Dua buah peti mati itu, kalau yang satu berisi mayat nenek Liong-lo, yang lain sudah pasti suaminya ialah "mumi" Siong Teng.

Usul yang ditelorkan oleh buah pikiran Oe-tie Khao yang hendak menyembunyikan Hee Thian Siang ke dalam peti mati, kini dengan tak disangka-sangka bahwa mayat yang berada di dalam peti mati itu adalah mayatnya seorang jahat serta buas, dan bagaimana akibatnya, sesungguhnya sulit dibayangkan!

Pao Sam Kow dahulu sebelum menutup diri bertapa di dalam goa gunung Kie-lian sudah pernah timbul perselisihan dengan nenek Liong-lo itu; maka ia tahu benar bahwa ilmu cengkeraman jari tangan yang dinamakan Ngo-kwi Tok-jiaw dari nenek  itu sangat ganas  sekali! Dan kini  dengan  tidak terduga-duga telah bertemu kembali. Dua kali ia menggunakan ilmunya Im-hong Ciang tetapi tidak berhasil melukai lawannya. Maka ketika ia berhadapan dengan nenek itu diam-diam juga terkejut. Buru-buru ia menyingkir dan lompat mundur tiga langkah. Matanya ditujukan kepada nenek rambut putih itu, katanya dengan suara keras:

"Liong-lo tak disangka-sangka di waktu malam gelap seperti ini dan di dalam kuil yang sudah rusak ini, aku telah bertemu dengan sahabat lama. Coba malam ini kita main- main beberapa jurus dengan sungguh-sungguh. Aku ingin tahu apakah aku Pek Thao Lo-sat ini yang akan menangkan atau Pek Thao Ya-cie yang bisa menangkan aku Pek-thao Lo- sat?"

Pada waktu itu Say Han Kong yang berada di atas, U-tie Khao yang berada di luar kuil serta Su-to Keng dan Kie Liu Hiang berempat menyaksikan itu dengan hati berdebaran. Sedangkan Ca Bu Kao yang berada di atas penglari di samping berdebaran juga merasa geli, sebab dua nenek yang satu justru berjulukan Pek-thao Lo-sat bertemu muka dengan nenek yang berjulukan Pek-thao Ya-cie.

Pao Sam Kow setelah mengeluarkan perkataan itu tidak mendapat jawaban dari Pek-thao Ya Cie, nenek Liong-lo. nenek itu masih berdiri tegak di dalam peti matinya, sepasang matanya yang buas, namun tidak bersinar, seolah-olah sudah padam sinarnya memandang Pao Sam Kow.

Pao Sam Kow yang menyaksikan keadaan demikian dalam hatinya juga bergidik, dengan hati penuh tanda tanya ia bertanya pula:

"Liong-lo sebetulnya kau masih hidup atau sudah mati, manusia atau setan " Sementara itu dengan tiba-tiba berhembus angin dingin. Nenek Liong-lo tiba-tiba lompat keluar dari dalam petinya. Sepasang lengan tangannya diluruskan dan menyergap kepada Pao Sam Kow . Pao Sam Kow sendiri karena masih belum mengetahui benar Pek-thao Ya-Cie itu entah manusia ataukah sudah menjadi setan atau tengkorak, sudah tentu ia tak berani menyambut serangan itu. Dengan jalan mengelakkan diri ia menyingkir sejauh tujuh kaki. Benar saja serangan nenek Lion-lo itu meskipun hebat tapi tak ada perubahan. Pao Sam Kow begitu menyingkir tangan Liong-lo yang kuat dan tajam telah menerkam tembok dinding kuil itu.

Pao Sam Kow segera sadar, lantas berseru: "dia adalah mumi... Tetapi serangan mumi itu benar-benar hebat dan menakutkan. Dinding tembok itu meskipun sudah tua tetapi masih kokoh, kini telah rubuh berantakan.

Badan orang yang sudah mati beberapa tahun karena di masa hidupnya sudah pernah makan berbagai obat mukjijat maka jenazahnya tidak busuk, dan kini setelah mendapatkan hawa dari orang hidup telah menjadi semacam mumi.

Pek-Thao Losat Pao Sam Kow khawatir bahwa Su-to Keng dan Tho-hwa Nio-Cu tak mengetahui bahaya itu, maka buru- buru mengikuti di belakangnya dan melancarkan serangan dari belakang yang dilancarkan ke punggung nenek Liong-Lo. Di samping itu ia juga melancarkan serangannya dengan menggunakan ilmunya Im-hong-ciang.

Serangan dengan ilmu Im-hong-ciang itu hampir menggunakan seluruh kekuatan tenaga Pao-Sam-Kow tetapi masih belum berhasil melukai tubuh nenek Liong-Lo. Serangan itu hanya membuat pakaian nenek Liong-Lo hancur dan beterbangan menjadi setengah telanjang.

Waktu itu yang paling sulit keadaannya adalah Leng-po Giok-lie Ca Bu Kao. Ia pikir nenek Liong-Lo yang berada dalam peti mati sebelah kiri sudah menjadi mumi, kalau begitu bangkai Siong Tong yang berada dalam peti mati sebelah kanan bukankah semakin menakutkan? Maka seharusnya ia lekas-lekas membawa keluar Hee Thian Siang yang masih dalam keadaan pingsan. Jikalau tidak, apabila terjadi sesuatu atas diri jago muda itu, akibatnya sangat hebat!

Dalam keadaan sangat khawatir, terpaksa ia melayang turun, tetapi sehabis terjadi kericuhan tadi, keadaan dalam peti mati sebelah kanan itu tampaknya masih tenang-tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Maka ia lalu berpikir, jikalau dilindungi keselamatannya maka sebaiknya dibiarkan saja, meskipun perbuatan itu mengandung bahaya juga. Hanya dengan demikian mungkin masih bisa menghindarkan dari serangan musuh-musuhnya.

Dua macam pikiran bertentangan dalam otak Ca Bu Kao. Ia tak dapat mengambil keputusan dengan segera. Tapi setelah ia mencoba menyingkap sedikit peti mati itu dan kemudian pasang telinga, setelah mengetahui tak ada suara-suara dan tanda-tanda aneh lainnya, maka ia baru mengambil keputusan membiarkan Hee Thian Siang berada dalam peti mati, sedang ia sendiri diam-diam merayap keluar untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Pada waktu itu pemandangan di luar kuil sangat menakutkan. Pek-thao Losat Pao Sam-kow, Su-to Keng dan Tho-hwa Nio-cu, tiga orang tokoh kuat dalam rimba persilatan pada waktu itu, sedang repot menghadapi nenek Liong-Lo yang sudah menjadi mumi. Mereka berputar-putaran demikian rupa, namun tidak berdaya menjatuhkan bahkan mereka sendiri yang kewalahan menghadapi mumi itu.

Kiranya Su-to Keng tadi yang mendengar Pao Sam-kow yang memberitahukan kepadanya bahwa itu adalah mumi, kemudian ia melihat seorang perempuan tua berambut putih berwajah menakutkan keluar dari reruntuhan kuil tua, maka segera hendak menyerangnya dengan pasir beracunnya.

Tetapi baru saja mengangkat tangan kanannya, tiba-tiba menampak Pao Sam Kow mengejar dari belakang. Oleh karena senjata rahasia pasir beracun itu begitu ditebarkan bisa mencapai jarak yang sangat luas, maka ia khawatir racunnya itu bisa melukai Pao Sam Kow juga, terpaksa ia membatalkan maksud nya, dan berkata dengan suara cemas:

"Hiangcie, mengapa kau tidak lekas menggunakan apimu kiu-yu-lenghwe?"

Tho-hwa Nio-cu Kie Liu Hiang setelah mengetahui keadaan itu dan mendengar ucapan Su-to Keng, lantas turun tangan. Dua buah kiu-yu lenghwe, dilepaskan dengan beruntun, sebuah mengenai dengan tepat buah dada Nenek Liong Lo, sebuah lagi mengenai lengan kanannya, sehingga sesaat kemudian sekujur badan nenek Liong Lo terbakar oleh api yang sangat ganas itu!.

Say Han Kong yang berada di atas genteng yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam merasa geli, ia pikir Su- to Keng dan Kie Liu Hiang nampaknya dalam hal ini masih kurang pengetahuan. Karena dengan perbuatannya itu akan menyulitkan keadaan diri mereka sendiri. Sebab nenek Liong Lo adalah satu mumi bukanlah manusia hidup; bagaimana bisa takut terbakar atau keracunan?"

Sementara itu Oe-ti Khao khawatir bahwa pertempuran hebat itu nanti akan membahayakan dirinya sendiri, maka dengan diam-diam dari tempat sembunyinya didalam rumput beralih ke belakang tembok, sebab ia tahu bahwa Pek-thao Losat Pao Sam Kow sudah berhasil mempelajari ilmu ??? Im- hong-ciang yang sangat ganas, sedangkan nenek Liong Lo kini sudah berubah menjadi mumi, maka pertempuran itu pasti akan hebat dan membawa akibat sangat luas. Benar saja, ketika tubuh Pek-thao Ya-ce nenek Liong Loh terbakar oleh api Kiu-yu lenghwe, keadaannya semakin menakutkan, wajahnya juga tampak semakin buas. dua tangannya dengan jari-jarinya yang runcing waktu itu diangkat tinggi-tinggi, digunakan untuk menerkam menyergap kepada Pao Sam Kow, Su-to Keng dan Kie Liu Hiang. Mereka tidak berdaya sama sekali, berulang-ulang harus lompat mundur dan berusaha hendak melarikan diri!

Dalam suasana yang gawat itu, dari jurusan barat dan utara, timbul tanda-tanda aneh, dari sebelah barat terdengar suara dengung yang sangat nyaring, sedang dari jurusan utara timbul tujuh buah api kiu-yu lenghwe!

Sesaat kemudian, dari kedua jurusan muncul banyak bayangan menuju ke gereja tua itu. Dua bayangan itu menyerbu masuk ke dalam kuil dengan cara lompat masuk dari pintu atau dari tembok. Oleh karena kedatangan mereka terlalu dekat, dan keadaan justru sangat gelap maka hampir bertubrukan satu sama lain.

Orang yang datang dari sebelah utara, tubuhnya tinggi kurus, berkumis pendek, matanya seperti mata ayam. Orang itu mengenakan pakaian panjang berwarna putih, dikedua daun telinganya tergantung dua renceng uang kertas, bentuk semacam itu mirip dengan setan penjaga pintu!

Sedangkan dari sebelah Barat, adalah seekor binatang aneh berbulu kuning emas yang tampaknya sangat buas. Orang yang bentuknya seperti setan penjaga pintu itu adalah Ngo-te atau saudara seperguruan yang kelima dari Pao Sam Kow yang bernama Ciauw Khian!

Sedangkan binatang aneh yang berbulu kuning emas dan tampaknya sangat buas itu adalah binatang piaraan Tiong-sun Hui Kheng yang disuruh pulang lebih dahulu mengantarkan bunga teratai Swat-lian ke tempat dimana Say Han Kong berempat menunggu, untuk mengobati luka Hee Thian Siang. Binatang itu yang dahulu pulang dengan membawa bunga teratai Swat-lian tetapi kini sudah tidak tampak lagi!

Sementara itu Thoa-hwa Nio-cu yang sedang repot diserbu oleh nenek Liong Lo yang sudah menjadi mumi, matanya telah melihat binatang aneh sangat buas berbulu kuning emas itu yang datang bersama Ciauw Khian, maka ia lalu berseru dengan suara nyaring:

"Ciauw ngoko awas, binatang ini tampaknya sangat galak dan tidak mudah ditundukkan ..."

Sebelum habis ucapan Thoa-hw Nio-cu, Ciauw Khian sudah tertawa terbahak-bahak, tangan kanannya digerakkan, dengan menggunakan ilmunya thiat-pi-pe-chiu melancarkan serangan kepada binatang aneh berbulu kuning emas itu!

Taywong yang merupakan binatang gaib luar biasa, bukan saja tenaganya sangat kuat, tetapi juga berkulit tebal hingga tidak mempan senjata tajam!

Maka terhadap serangan Ciauw Khian tadi, sedikitpun tidak menghiraukan. Sebaliknya menggunakan kesempatan selagi lawannya itu turun tangan, dan badannya masih di udara, binatang itu sudah pentang jari tangannya yang runcing menyambar ketiak kiri Ciauw Khian!

Ciauw Khian juga merupakan salah seorang tokoh kuat dalam rimba persilatan pada dewasa itu, kepandaiannya sangat tinggi, tetapi ia dirugikan oleh perbuatannya sendiri yang terlalu gegabah dan sikapnya terlalu sombong dan mengira bahwa binatang itu tentu tak sanggup menahan serangannya, maka akhirnya mengalami nasib yang sangat mengenaskan! Ketika kuku runcing Ciauw Khian mencengkeram ketiaknya, Ciauw Khian masih anggap sepi, tangan kirinya dengan mengerahkan ilmu kekuatan tenaga dalamnya mendorong keluar. Di luar dugaannya bahwa kekuatan tenaga dalamnya yang sudah sempurna itu ternyata masih tak sanggup melawan kekuatan tenaga binatang aneh itu. Bukan saja tidak berhasil melepaskan diri, bahkan cengkeraman di ketiak kirinya semakin kencang!

Taywong yang diserang lebih dulu oleh Ciauw Khian, ia masih tidak bergeming, tetapi Ciauw Khian yang dicengkeram oleh Taywong sedikitpun tidak berdaya. Empat lima batang tulang rusuknya telah patah seketika, hingga darah mengucur keluar, orangnya juga lantas jatuh pingsan!

Pada saat itu Say Han Kong Oe-tie Khao dan Ca Bu Kao ketika melihat kedatangan Taywong, dianggapnya Tiong-sun Kui Kheng juga tiba. Maka semangat mereka bangun seketika, semua lompat keluar dari sembunyinya masing-masing!

Sementara dipihak Pao Sam Kow bertiga masih repot menghadapi nenek Liong Lo yang sudah menjadi mumi, dan Ciauw Khian yang baru datang juga sudah dirubuhkan oleh binatang aneh itu. Kini ketika Say Han Kong bertiga muncul dari dalam kuil sudah tentu menjadi gentar.

Pao Sam Kow lalu mengambil keputusan tegas, ia perintahkan kepada Su-to Keng dan Kiu Liu Hiung lekas undurkan diri.

Su-to Keng dan Kiu Liu Hiang yang mendengar perintah itu sudah tentu lantas kabur bersama Pao Sam Kow hingga tak lama kemudian sudah menghilang dari depan kuil!

Pek-thao Ya-cie nenek Liong Lo yang sudah menjadi mumi, meskipun sangat galak dan buas, tetapi bagaimanapun gerakannya kurang leluasa, tidak seperti manusia biasa. Sudah tentu ia tidak bisa mengejar Pao Sam Kow bertiga. Mumi itu membalikkan badan dan menyergap Taywong!

Taywong yang belum pernah menyaksikan makhluk aneh seperti itu, sudah tentu sangat terkejut. Dalam keadaan demikian, ia lantas mengangkat tubuh Ciauw Khian yang sudah pingsan dilemparkan kepada mumi nenek Liong Lo!

Nenek Liong Lo itu pentang dua lengannya untuk menyambut tubuh Ciauw Khian kemudian ia pentang mulutnya dan menggigit tenggorokan Ciauw Khian serta minum darahnya!

Sungguh heran, mumi yang demikian buas, setelah minum darah Ciauw Khian, perlahan-lahan berdiri tegak bagaikan patung!

Sesaat kemudian terdengar suara ledakan hebat dan asap berwarna biru mengepul ke atas, senjata tunggal Kie-lian-pay yang dinamakan Ki-yu-lenghwe yang berada dibadan Ciauw Khian telah meledak, terkena api yang membakar tubuh mumi tadi.

Pada saat itu binatang aneh Taywong sedang berlutut di hadapan Say Han Kong dengan badan gemetar, sepasang matanya yang lebar, tampak mengucurkan airmata.

Say Han Kong yang menyaksikan keadaan demikian sangat heran dan terkejut maka lantas bertanya: "Taywong, mengapa kau demikian sedih? Apakah majikanmu nona Tiong-sun dan siaopek mendapat bahaya di gunung Tay-soat- san?

Taywong menggelang-gelengkan kepalanya, mulutnya mengeluarkan rintihan, dua kaki depannya mengorek-ngorek tanah untuk memberi tanda! ??? Po Giok-lie Ca Bu Kao yang berotak tajam itu, ketika menyaksikan tanda-tanda ciptaan kaki binatang aneh itu, lantas mengerti apa yang dimaksudkan oleh Taywong. Maka ia lantas berkata sambil tersenyum:

"Dia seperti mengatakan bahwa nona Tiong-sun dan siaopek masih berdiam di gunung Tay-soat-san belum kembali, dia disuruh pulang lebih dahulu dengan membawa bunga teratai swat-lian untuk kita gunakan!"

Baru saja Ca Bu Kao menutup mulut, Taywong sudah mengangguk-anggukkan kepala tak henti-hentinya.

Say Han Kong yang menyaksikan keadaan demikian, sudah tentu sangat girang, tetapi ketika matanya ditujukan kepada binatang aneh itu lagi, ia merasa heran, maka lalu bertanya: "Taywong, kalau benar kau disuruh mengantarkan bunga teratai swat-lian, mengapa sekarang tidak tampak barang mujizat itu?"

Taywong yang mendengar pertanyaan itu bulu di sekujur tubuhnya pada berdiri, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, seolah-olah sangat marah, sikapnya sangat menakutkan! Tetapi sesaat kemudian kembali unjukkan sikapnya yang takut, sepasang kaki depannya kembali bergerak-gerak untuk memberi tanda, dan setelah itu ia menundukkan kepala dan menangis!

Ca Bu Kao kini sudah mulai mengerti apa yang dimaksud oleh Taywong, maka alisnya lalu dikerutkan dan berkata sambil menghela nafas panjang:

"Maksud Taywong mungkin mau mengatakan bahwa dalam perjalanan itu ditengah jalan telah ditipu orang, hingga bunga teratai itu dirampasnya. Dengan demikian, Hee Thian Siang bukan saja tidak dapat tertolong, tapi juga tidak tahu bagaimana dengan nasib non Tiong-sun. Kasihan Hee Thian Siang, lantaran hendak membantu aku, jauh-jauh pergi ke gunung Tiam-cong, dan akhirnya mendapat luka, apabila benar-benar tak ditolong, Ca Bu Kao juga terpaksa akan bunuh diri untuk membalas budinya!" demikian Ca Bu Kao berkata.

Oe-tie Khao juga tidak menduga akan terjadi perubahan demikian, ia juga merasa bahwa persoalan itu sangat rawan, matanya ditujukan kepada Say Han Kong, ia ingin tahu bagaimana tabib sakti itu hendak bertindak?

Di luar dugaannya wajah Say Han Kong sedikitpun tidak menunjukkan rasa khawatir, sebaliknya malah mengelus-elus kepala Taywong sambil berkata dan tertawa terbahak-bahak:

"Taywong, kau jangan takut, nona Ca juga jangan khawatir, aku bukan saja mengerti tahu obat-obatan dan tabib, tetapi juga mengerti tahu ramal, Hee Thian Siang bukanlah seorang yang pendek umurnya, meskipun kehilangan bunga teratai swat-lian yang bisa menyambung nyawanya, tetapi didalam peti mati itu mungkin dia menemukan keajaiban lain lagi!"

Penemuan gaib, kali ini mengejutkan Oe-tie Khao dan Ca Bu Kao yang mendengarkan. Sekali hendak menanyakan kepada Say Han Kong, binatang aneh Taywong sudah menunjukkan mumi nenek Liong Lo yang ada di tanah, serta Ciauw Khian yang sudah hangus terbakar oleh api Kiu-yu lenghwe sendiri, ia menunjuk ke orang yang sudah menjadi bangkai itu dengan badan gemetaran!

Say Han Kong bertanya sambil tersenyum: "Taywong, apakah lantaran kau membunuh orang ini takut akan dihukum oleh majikanmu?"

Taywong berdiri sambil menundukkan kepala dengan sikapnya yang minta dikasihani, ia memandang wajah Say Han Kong sambil menganggukkan kepala. Say Han Kong kembali menepuk-nepuk pundak Taywong, kemudian berkata sambil tertawa:

"Asal kau tidak mengagulkan kekuatan tenaga dan melakukan pembunuhan secara serampangan, dan dalam keadaan terpaksa kau membunuh Ciauw Khian seorang yang demikian jahat, tidak berdosa besar! Nanti setelah majikanmu datang, biar aku yang menceritakan semua kejadian, dan meminta agar dia tidak menghukum kau!"

Taywong yang mendengar ucapan itu nampaknya sangat girang, sementara itu U-tie Khao bertanya kepada Say Han Kong:

"Tua bangka, kau jangan mengoceh saja dengan Taywong, sebaliknya membiarkan aku dan nona Ca berada dalam kegelisahan. Lekas jelaskan kepadaku, penemuan ajaib apakah yang dialami oleh Hee Thian Siang?"

Say Han Kong menatap ia sejenak, kemudian berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

"Pengemis tua, kau jangan terburu napsu, aku hendak bertanya kepadamu lebih dahulu, ketika kau membuka peti mati itu bukankah sedikitpun tidak ada bau bangkai?"

"Bangkai dalam peti mati itu sama sekali belum busuk, sudah tentu tidak ada baunya. Tetapi Hee Thian Siang yang berada didalam peti mati bagaimanapun juga kurang baik. Maka mari kita lekas masuk ke dalam, untuk mengangkat dia keluar dari dalam peti mati.

"Pengemis tua, kau ini selain minum arak, tidur dan mabuk- mabukan, tongkat yang hanya dapat menggertak Lui Hwa, sudah tidak tahu apa-apa lagi. Dari tanda-tanda yang ku ketemukan, aku berani menduga pasti bahwa Hee Thian Siang benar-benar menemukan kejadian gaib dalam peti mati itu. Biar saja ia tidur, bahkan makin lama makin baik. Bagaimanapun juga, Pao Sam Kow bertiga toh sudah kabur, seandainya mereka penasaran dan pergi minta bala bantuan, malam ini juga tidak keburu datang lagi. Perlu apa tergesa- gesa dikeluarkan?" Berkata Say Han Kong.

"Tua bangka, biar kau mengoceh sendiri, yang penting ialah, lekas kau ceritakan penemuan gaib apa sebetulnya yang dialami oleh Hee Thian Siang?"

Tampak sikap Ca Bu Kao yang juga sudah ingin tahu keadaan sebenarnya. Say Han Kong lalu mencari tempat yang agak bersih untuk duduk. Setelah itu ia baru berkata:

"Hendak menjelaskan soal ini, aku harus memulai dari suatu kisah dalam rimba persilatan yang terjadi pada sepuluh tahun berselang!"

"Nenek Liong Lo setelah mengetahui itu, buru-buru membawa suaminya ke suatu tempat di daerah Barat Laut. Dengan susah payah ia berhasil menemukan sebuah tumbuhan warna lima yang khasiatnya bisa menghidupkan orang yang sudah hampir mati. Tumbuhan itu diberikan kepada suaminya untuk dimakan ..."

"Pengemis tua, kau ternyata banyak pengetahuannya dan kuat ingatanmu, apa yang kau ceritakan itu sedikitpun tidak salah. Dan tengkorak hidup Siong Teng, bagaimana setelah memakan tumbuhan warna lima itu?"

"Tak disangka tengkorak hidup Siong Teng setelah makan tumbuhan warna lima itu bukan saja sedikitpun tidak tampak khasiatnya, sebaliknya malah binasa! Dalam keadaan sangat pilu, nenek Liong Lo menyediakan dua buah peti mati yang terbuat dari bahan kayu pilihan yang bagus, untuk tempat suaminya. Kemudian ia pergi keluar setengah tahun lamanya, sewaktu kembali ia membawa pulang batok kepala tiga puluh enam orang yang dahulu mengeroyok suaminya. Batok kepala itu digunakan untuk sembahyang di hadapan jenazah suaminya, dan setelah itu ia sendiri juga masuk ke dalam peti mati yang kosong, suruh orang pantek kuat-kuat, dan demikian ia telah mengorbankan jiwa demi suaminya, yang telah mati! Tetapi tidak kita sangka-sangka bahwa dua buah peti mati mereka itu tidak sampai dikubur dan masih tetap di tempatnya!"

Sehabis mendengar cerita Oe-tie Khao, Say Han Kong menganggukkan kepala dan berkata sambil menghela napas:

"Sayang, nenek Liong Lo itu hanya mendengar kabar khasiatnya obat, tapi tidak mengetahui sifat tumbuhan itu, sehingga suaminya yang sebetulnya belum mati, harus dipantek hidup-hidup!"

Oe-tie Khao mendelikkan matanya dan bertanya: "Tua bangka, bagaimana maksud perkataanmu ini?"

"Tumbuhan yang berwarna lima itu, memang benar bukan saja dapat menghidupkan orang yang hampir mati, bahkan bisa menambah kekuatan tenaga dalam orang yang melatih ilmu silat. Tetapi orang yang sudah makan tumbuhan itu, harus pingsan selama tiga hari, kemudian baru bisa siuman kembali! Pek-thao Yace yang tak mengetahui sifat tumbuhan itu, telah menganggap suaminya sudah mati, maka lantas dimasukkan ke dalam peti mati. Dengan demikian, ketika siuman kembali akhirnya mati benar-benar karena tidak mendapat hawa."

Ca Bu Kao setelah mendengar keterangan itu baru sadar, katanya:

"Tengkorak hidup Siong Teng pernah makan obat manjur yang jarang ada didalam dunia, lantas tubuhnya tidak membusuk! Tetapi nenek Liong Lo itu bagaimana juga tidak busuk dagingnya?"

"Pek-thao Yace dengan tiga puluh enam kepala manusia untuk sembahyang di hadapan jenazah suaminya dan kemudian pantek dirinya sendiri didalam peti mati, dengan demikian sudah tentu penasaran dalam hatinya belum lenyap, berarti mati dipenuhi oleh rasa penasaran! Mungkin penasaran dan perasaan itu, ia tetap menjaga kulit dan dagingnya supaya tidak busuk; ditambah lagi waktu itu kuil ini banyak dikunjungi orang, hawa-hawa manusia itu telah membuatnya berubah menjadi mumi, dan ketika peti matinya didobrak hancur oleh Pek-thao Losat Pao Sam Kow, terjadilah suatu pertempuran yang sangat menarik!"

"Orang yang mati tiba-tiba atau mati penasaran, hawa penasarannya belum lenyap, kadang-kadang memang bisa berubah menakutkan! Apabila orang yang sakit berhari-hari atau berbulan-bulan lamanya, kekuatan dan semangatnya sudah musnah, hingga tidak terjadi keadaan serupa itu! Inilah mungkin yang menyebabkan mengapa tengkorak hidup Siong Teng tidak berubah menjadi mummi, sedangkan nenek Liong Lo sebaliknya berubah menjadi mummi!" Berkata Ca Bu Kao sambil menganggukkan kepala.

"Ucapan nona Ca ini memang beralasan, tetapi hawa Im dan Yang yang tidak berimbang dengan hawa segar yang membawa kesegaran, barangkali juga merupakan faktor penting. Kita di sini ada tiga laki-laki dan hanya ada satu yang wanita berdiam di kuil ini, karena hawa Yang lebih banyak maka yang menjadi mummi adalah nenek Liong Lo. Jikalau dibalik tiga wanita dan satu lelaki? Mungkin tengkorak hidup itu juga akan bisa berubah menjadi mummi." Berkata Oe-tie Khao sambil tertawa. Say Han Kong yang mendengar cerita itu tertawa terbahak- bahak dan kemudian berkata: "Ucapan pengemis tua dan nona Ca semuanya memang ada benarnya sendiri-sendiri."

"Baik ada benarnya maupun tidak, tua bangka kau jangan berusaha main kucing-kucingan, hingga saat ini kau masih belum menceritakan apa yang dinamakan penemuan gaib dalam peti mati itu?"

Say Han Kong mengawasi Hee Thian Siang yang rebah bersama-sama bangkai Siong Teng dalam sebuah peti mati, kemudian berkata kepada Oe-tie Khao dan Ca Bu Kao: "Khasiat dari jamur warna lima itu belum sempat menunjukkan faedahnya, Siong Teng sudah dipantek hidup-hidup dalam peti mati, ditambah lagi karena peti mati itu dibuat dari bahan kayu yang kuat sekali. Lama kelamaan lalu menjadi tumbuhan yang serupa tetapi bentuknya agak kecil didalam peti mati di depan bangkai Siong Teng. Tumbuhan itu hanya selisih sedikit khasiatnya dengan jamur warna lima yang tumbuh di udara bebas."

Ca Bu Kao yang mendengar keterangan itu merasa sangat girang, ia bertanya sambil tertawa: "Say tayhiap tadi kata tentang penemuan gaib dalam peti mati, apakah menganggap bahwa Hee Thian Siang sudah makan jamur warna lima yang tumbuh dalam peti mati itu?"

Say Han Kong menganggukkan kepala dan menjawab: "Hee Thian Sian sebetulnya hanya dalam pingsan dan hilang seluruh ingatannya, sesudah mengalami kericuhan begitu besar, namun masih tak ada sedikit tanda-tanda gerakannya, sudah pasti sudah makan jamur warna lima itu, hingga ia menjadi pulas karena khasiat jamur itu."

"Tua bangka jika kau benar seperti apa yang kau katakan, sudah tentu baik sekali. Tetapi seandainya dugaanmu meleset, didalam tutup peti mati itu tidak ada tumbuhan jamur warna lima, dan Hee Laote benar-benar telah makan jamur lima warna, merk-mu tabib sakti itu dengan sendirinya akan hancur." Berkata Oe-tie Khao sambil tertawa dingin.

Ca Bu Kao yang mendengar ucapan Oe-tie Khao tadi, perasaan girang di wajahnya lenyap kembali.

"Pengemis tua, kau jangan mengecilkan hati orang. Apakah kau masih ingat sewaktu aku membantu kau menutup peti mati, pernah dapat mencium bau aneh dan aku berkata kepada diriku sendiri?"

Oe-tie Khao segera teringat bahwa Say Han Kong waktu itu memang benar mengendus-endus dengan hidungnya, bahkan mengatakan bahwa bau aneh itu, mengapa seperti bau semacam benda yang jarang ada di dalam dunia... Tetapi waktu itu belum sempat menjelaskan sebab-sebabnya, musuhnya sudah datang !

"Ucapanmu memang betul, aku masih ingat waktu itu kau memang pernah mengucapkan perkataan demikian!" demikian Oe-tie Khao berkata.

"Aku mendapat gelar tabib sakti, dengan sendirinya aku dapat membedakan bau obat, waktu itu aku sudah dapat mengendus hawa dalam peti mati itu mengandung bau obat yang luar biasa, ditambah lagi dengan riwayat hidup Siong Teng dahulu, maka telah kupelajari, lalu menarik suatu kesimpulan seperti apa yang kukemukakan tadi, bagaimana bisa salah?

Sebab keadaan di dalam peti mati tidak seperti di udara dan Hee Thian Siang bagaimanapun juga masih perlu tidur nyenyak selama dua hari, maka tak perlu kita tergesa-gesa mengangkat keluar ! Saudara kecil itu sebelumnya telah makan tiga butir pil mujarabku yang terbuat dari getahnya pohon lengci, ditambah lagi ia makan jamur warna lima, maka nanti setelah ia sadar kembali, bukan saja luka dalam tubuhnya akan sembuh seluruhnya, tetapi juga ilmu perguruannya yang dinamakan Kian-thian Khi-kang juga akan mendapat kemajuan besar !" berkata Say han Kong sambil tertawa.

Ia berdiam sejenak, matanya mengawasi Oe-tie Khao, kemudian berkata pula sambil tersenyum :

"Mengenai persoalan seperti apa yang kau khawatirkan tadi, kuharap kau tidak perlu ada kekhawatiran semacam itu! Say Han Kong berkata menggunakan nama baiknya, dan batok kepalanya, untuk menjamin keselamatan Hee Thian Siang !"

Setelah mendapat penjelasan demikian rupa dari Say han Kong, maka Oe-tie Khao dan Ca Bu kao dengan sendirinya lantas merasa lega hatinya ! Tetapi jika mereka mengingat apa yang baru saja terjadi, lalu saling berpandangan dan tertawa getir.

Tak disangka Pek-thao Losat Pao Sam-kow yang menutup diri di dalam goa selama berpuluh tahun lebih, kini ternyata sudah berhasil mempelajari ilmunya bangkai hidup dalam salju, bukankah itu berarti seperti harimau bertambah sayap? sehingga lebih susah untuk ditaklukkan! Tadi untung muncul bangkai nenek Liong Lo yang sudah menjadi mummi, sehingga dia tak berdaya menghadapi dan akhirnya kabur terbirit-birit! Jikalau tidak, sekalipun kita, mungkin masih bisa sembunyikan diri, tetapi binatang peliharaan nona Tiong-sun ini pasti tak akan luput dari tangan ganasnya. Jikalau tidak binasa di api kiu yu leng hwe atau pasir beracun, tentu akan binasa di bawah serangan duri beracun Thian keng cek!" berkata Ca Bu Kao sambil mengelus-elus bulu Tay wong yang indah. "Musuh yang tadi datang, hanya Pek-thao Losat dan Tho- hwa Niocu dari Kie lian pai dan Su-to Keng dari Tiam cong pai serta kemudian ditambah lagi dengan Ciau Khian yang kini sudah binasa, dengan cara bagaimana mereka bisa membekal Thian keng cek yang hanya tumbuh di gunung Kun lun san?" bertanya Say Han Kong.

"Rahasia ini adalah Duta Bunga Mawar yang memberitahukan kepadaku, tetapi selama itu aku masih belum dapat kesempatan untuk memberitahukan kepada tuan-tuan! Khabarnya, ada seekor burung elang emas yang sangat aneh, dengan tak disengaja membawa pohon Thian keng yang tumbuh di atas puncak gunung Kun lun san, sewaktu terbang dan tiba di gunung Hok gu san lantas timbul gempa bumi hebat, getaran gunung yang hebat membuat burung itu terkubur di dalam reruntuhan batu gunung. Maka perlahan- lahan di dalam goa di mana terdapat tengkorak burung elang emas itu kembali tumbuh pohon aneh itu !

Orang-orang Kie lian paio telah berhasil menemukan goa itu, lalu membawa pohon Thian-keng berikut akar-akarnya. Dengan menggunakan durinya yang sangat berbisa, mereka melakukan kejahatan, maksudnya hendak memfitnah kepada golongan Kun-lun pay, di samping itu juga memang sengaja hendak menimbulkan kericuhan di rimba persilatan supaya para partai-partai golongan kebenaran itu baku hantam sendiri dan akhirnya kehilangan banyak tenaga, sedangkan partai Kie Lian dan Tiam cong akan menerima untungnya," berkata Ca Bu Kao.

"Aku pernah dengar kata Hee Thian Siang laote, bahwa ketua Tiam cong pai Thiat-kwan Totiang sewaktu mengadakan pertandingan dengan Peng-sim Sinni di lembah kematian gunung Ciong lam san pernah bersama-sama diserang dengan senjata duri berbisa Thian keng cek itu," berkata Oe- tie Khao. "Inilah siasat mereka yang sangat jahat dan keji, ketua Tiam cong pai sendiri juga terkena serangan duri beracun Thian keng cek, bahkan disaksikan sendiri oleh ketua Lo hu pai dan Tiam cong pai akan bebas dari tuduhan? Dengan seenaknya pula dapat mengadu domba antara orang-orang golongan partai kebenaran. Dengan sebetulnya partai Tiam cong dan Kie lian sudah lama mereka berkomplot hendak menimbulkan kerusuhan!" berkata Ca Bu Kao sambil menggertek gigi.

Berkata sampai di situ, tiba-tiba ia berseru: "Ooooh!" seolah-olah ingat sesuatu, kemudian berkata pula sambil menghela napas :

"Tetapi di dalam orang-orang Kun lun pai sendiri juga ada anak muridnya yang tidak setia dan menyeleweng; tiga orang kuat dari Bu tong dan suciku sendiri yang terkena duri beracun itu, duri beracun itu adalah barang curian dari anak murid golongan Kun lun pai sendiri, kemudian oleh karena penjagaan Tie hui cu sangat keras, tidak mudah didapatkan, barulah kawanan orang jahat itu mencari goa kuno tempat dikuburnya burung elang emas itu, dari situlah mereka mendapatkan sebuah lagi, pohon ajaib Thian keng."

Say Han Kong yang mendengar keterangan itu lantas bertanya :

"Nona Ca, yang sudah diberitahukan rencana jahat demikian penting oleh Duta Bunga Mawar, mengapa pada pertemuan besar di puncak gunung Thian tu hong tidak membeberkan rahasia itu?"

"Hendak membeberkan rahasia sangat besar seperti itu kita memerlukan saksi dan bukti yang sangat kuat, jikalau tidak, orang-orang golongan Kie lian dan Tiam cong mana mau mengaku? Bahkan hal itu akan mengakibatkan terjadinya pertumpahan darah hebat di atas puncak gunung Thian tu hong!" berkata Ca Bu Kao sambil tertawa getir.

"Utusan ini membutuhkan saksi dan bukti yang cukup, sesungguhnya tidak mudah..." berkata Oe-tie Khao sambil mengerutkan alisnya.

Belum habis ucapannya, sudah dipotong oleh Ca Bu Khao. "Menurut Duta bunga mawar bahwa Hee Thian Siang

dahulu pernah masuk ke dalam goa tengkorak burung elang emas itu. Bahkan sudah menemukan selembar dari daun Thian keng yang masih dibawanya dan disimpan baik-baik. Duta bunga mawar pernah berpesan kepadaku, apabila Hee Thian Siang tiba di puncak gunung Thian tu hong, lalu minta padanya daun itu, dan diberikan kepada ketua Kun lun pai Tie hui cu supaya diperiksanya, disitulah di hadapan orang banyak membuka rahasia rencana keji orang-orang Kie lian dan Tiam cong!"

Say Han Kong teringat dia sendiri pernah mengobati luka kera kecil putih yang terkena duri beracun Thian keng, Hee Thian Siang pernah berkata, dalam perjalanannya menuju gunung Oey san itu sepanjang jalan tidak hentinya diganggu oleh orang-orang jahat yang melakukan serangan secara menggelap, maka kini ia baru sadar rencana jahat itu.

"Dalam perjalanannya ke gunung Oey san itu Hee laote pernah berkali-kali mendapat serangan menggelap oleh orang jahat, apakah lantaran dirinya membawa daun pohon Thian keng itu?" demikian katanya.

"Ca Bu Kao menganggukkan kepala dan tersenyum. Lebih dahulu menceritakan pengalamannya sendiri dengan sucinya Peng sim Sinni bersama susioknya Cin Lok Pho ketika berada di puncak gunung Thian tu hong pada satu malam di muka sebelum pertemuan besar itu, hampir saja diserang secara menggelap oleh senjata rahasia api kiu yu leng hwe dari Kie lian pai, kemudian ia melanjutkan ucapannya sambil tertawa :

"Meskipun aku sudah memberitahukan kepada suci bahwa ada orang yang mendapatkan bukti dan orang itu akan segera tiba di gunung Oey san, tetapi aku tidak menyebutkan nama Hee Thian Siang untuk menjaga ada orang yang sembunyi di sekitar itu mendengarkan namanya dan bisa membawa akibat yang tidak baik bagi Hee Thian Siang !"

"Sikapmu yang sangat hati-hati ini telah menimbulkan rasa curiga orang-orang golongan Kie lian dan Tiam cong, sehingga mengutus orang-orangnya menyembunyikan diri di sepanjang jalan yang menuju ke gunung Oey san, untuk menyerang secara menggelap kepada orang-orang yang menuju ke puncak Thian tu hong, sebab mereka tidak tahu siapa orangnya yang membawa bukti itu, maka setiap orang dicurigai oleh mereka sebagai orang yang membawa tanda bukti tersebut. Untuk menghindari jangan sampai terbuka rahasia kejahatan mereka, maka mereka menyerang setiap orang tanpa pilih bulu !" berkata Say Han Kong sambil tertawa.

Utie Khao juga lantas sadar, katanya sambil menggelengkan kepala :

"O! Penyerangan menggelap secara membabi buta itu sesungguhnya susah dijaga. Yang paling sial barangkali adalah ketua Swat san pai Peng-pek Sinkun bersama istrinya yang datang hendak memberi bantuan kepada Kun lun pai!"

Mereka bertiga dalam pembicaraan itu telah membongkar beberapa rahasia dan hal-hal yang mencurigakan dan yang terjadi di daerah gunung Oey san pada waktu itu, setelah persoalannya menjadi jelas, tanpa dirasa satu hati satu malam sudah dilalui dengan mengobrol. Say Han Kong menghitung-hitung waktunya, lalu berkata kepada Ca Bu Kao dan Oe-tie Khao:

"Kini sudah hampir malam, kita menunggu sampai esok pagi, di waktu matahari terbit kita boleh membuka peti mati untuk memeriksa keadaan Hee Thian Siang, betul seperti apa yang diduga atau tidak ia betul sudah makan jamur warna lima dan mendapat penemuan ajaib dalam peti mati itu atau tidak? Tetapi selama semalam ini kita masih perlu berjaga-jaga dan Pek-thao Losat Pao Sam Kow dan lain-lain minta bantuan ketua Tiam cong pai datang lagi kemari untuk menyerang kita

!"

"Keadaan malam ini sangat berbeda dengan kemarin malam. Ke satu, mereka tak akan menduga bahwa Hee Thian Siang disembunyikan di dalam peti mati. kedua kita sudah bertambah seorang pembantu yang sangat kuat !" berkata Ca Bu Kao sambil tertawa.

Say Han Kong mendengar perkataan itu, matanya ditujukan kepada Taywong binatang aneh itu, lalu bertanya padanya sambil tersenyum :

"Taywong, di tengah perjalanan kau bertemu siapa saja?

Mengapa ia berhasil merampas bunga teratai swat-lianmu?"

Taywong menggunakan kedua kaki depannya untuk memberi keterangan, sedang mulutnya cecuwitan, entah apa yang dikatakan, sikapnya menunjukkan perasaan malunya.

Ca Bu Kao berkata kepada Say Han Kong dan Oe-tie Khao sambil menggelengkan kepala :

"Kita tidak seperti majikannya yang paham bahasa berbagai binatang, barangkali kita harus menantikan kedatangan nona Tiongsun, barulah dapat membuka teka-teki ini." Sang waktu berlalu tanpa berhenti, sore hari sudah diganti dengan malam, dan malam perlahan-lahan mulai larut, jam satu, dua, tiga. dilalui tanpa terasa.

Say Han Kong bertiga perasaannya mulai tegang, bersama meningkatnya sang waktu, pada menduga-duga apakah malam yang sangat penting bagi kehidupan Hee Thian Siang selanjutnya dapat dilalui dengan selamat?

Suasana dari gawat tegang menjadi sepi sunyi, keadaan di luar kuil demikianpun juga. Tiap kali angin meniup dan daun- daun pepohonan menimbulkan suara, sehingga mereka berdebaran dan siap siaga, seolah-olah menantikan kedatangan seorang musuh besar.

Waktu itu suara kentongan dari pedusunan yang agak jauh sudah berbunyi empat kali. Dengan tiba-tiba binatang aneh Taywong sekujur bulunya pada berdiri dan seolah-olah melihat musuh yang sangat hebat, sikapnya itu jelas menunjukkan rasa takutnya.

Ca Bu Kao yang lebih dulu mengetahui perubahan itu, lalu berkata kepada Say Han Kong dan Oe-tie Khao: "Say Tayhiap dan Oe-tie taihiap, sekujur badan Taywong demikian gemetaran, sikapnya seperti ketakutan!"

Say Han Kong dan Oe-tie Khao lalu memperhatikan binatang itu, mereka mengetahui gelagat tidak baik. Oe tie- Khao yang lebih dulu berkata: "Taywong meskipun tubuhnya besar, tetapi gesit dan lincah gerakannya, dia juga sangat galak dan buas, dengan satu samberan saja sudah membikin Ciaw Khian tak berdaya dan pingsan, tetapi sekarang dengan tiba-tiba menunjukkan sikap demikian ketakutan jelas kalau bukan mendapat firasat tidak baik, tentunya kedatangan musuh tangguh sekali, maka kita harus siap untuk menghadapi segala kemungkinan." Di luar, disekitar kuil yang sudah tua dan hancur keadaannya tetap sunyi senyap. Tetapi tubuh Taywong gemetaran semakin hebat, jelas dia sedang berada dalam suasana ketakutan.

Say Han Kong bertiga selagi menduga-duga sebab musababnya, dari jauh tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda.

Kaki kuda itu tampaknya dilarikan sangat cepat, sehingga membuat Ca Bu Kao sadar seketika, maka ia lantas berseru: "O, kiranya adalah nona Tiong-sun Hui Kheng yang sudah kembali dari gunung Tay-swat-san, kuda orang lain tidak mungkin bisa lari demikian pesat."

"Tetapi nona Ca jangan lupa bahwa ketua Kie-lian-pay, Kie Tay Cao juga memiliki kuda Cian-likiok-hwa-ceng yang juga merupakan kuda luar biasa pada dewasa ini." Berkata Oe-tie Khao sambil mengerutkan alis.

"Pengemis tua, kau jangan mengoceh tidak keruan, orang yang datang itu apabila Khie Tay Cao, Taywong sudah tentu sedari tadi sudah siap sedia untuk menghadapi musuh, bagaimana ketakutan demikian rupa?" Berkata Say Han Kong sambil tersenyum.

Berkata sampai di situ ia berpaling dan berkata kepada Taywong yang masih menggigil: "Taywong jangan takut, tunggu nanti setelah majikanmu tiba, biarlah kita nanti mintakan ampun atas kesalahanmu, perkara hilangnya bunga teratai Swat-lian ditengah jalan, supaya jangan sesalkan kepadamu."

Taywong yang mendengar perkataan itu, gemetarannya mulai berkurang. Sepasang matanya yang besar mengawasi bergiliran kepada tiga orang itu, sikapnya menunjukkan minta dikasihani. Ca Bu Kao yang menyaksikan sikap demikian merasa kasihan, maka Taywong ditariknya ke samping dirinya, dielusnya telinganya yang halus dan indah, setelah itu ia berkata kepada Say Han Kong dan Oe-tie Khao: "Kita rasanya percuma saja oleh orang-orang Kang-ouw dipandang sebagai orang kuat golongan kelas satu dan sudah memiliki kepandaian tinggi, namun kalau dibanding dengan binatang aneh Taywong ini, hanya dalam soal daya pendengaran dan daya penglihatan masih terpaut sangat jauh sekali. Dia selagi kita masih belum mendengar apa-apa sudah mengetahui nona Tiong-sun kembali..."

Belum habis ucapannya, suara derap kaki kuda itu sudah berada di luar kuil, bahkan ada kedengaran ringkik kuda Ceng-hong-kie yang hendak terbang masuk melalui tembok.

Say Han Kong mulai mengerahkan kekuatan, berkata dengan suara nyaring: "Apakah di luar nona Tiong-sun yang datang? Kita disini Say Han Kong dan lain-lain sedang menunggu di ruangan ketiga dalam kuil ini."

Belum lagi menutup mulut, matanya sudah nampak berkelebatnya sinar kuning bercampur putih, siaopek si kera kecil yang sangat cerdik yang mengenakan rompi emas sudah berdiri ditengah-tengah ruangan, dan berseru girang terhadap ketiga manusia dan seekor binatang yang ada dihadapannya.

Pada waktu itu Tiong-sun Hui Kheng yang cantik, sudah muncul dengan menggandeng kudanya.

Pertama-tama yang menarik perhatiannya sudah tentu Pek- tho Yace, nenek Liong Lo yang mencengkeram erat-erat tubuh Ciau Khian, yang mukanya sudah menjadi hangus terbakar oleh api Kiu-yu-leng-hwe.

Tiong-sun Hui Kheng rupanya mengetahui keadaan aneh itu, maka buru-buru mengeluarkan dua butir pilnya dimasukkan ke mulut kudanya yang habis melakukan perjalanan demikian jauh. Setelah itu ia baru bertanya kepada Say Han Kong: "Say Tayhiap, aku utus Taywong supaya lekas mengantarkan bunga teratai Swat-lian, apakah kedatangannya itu tepat pada waktunya? Dan dimana sekarang Hee Thian Siang berada?"

Oe-tie Khao waktu itu dapat kenyataan bahwa Tiong-sun Hui Kheng demikian besar perhatiannya terhadap Hee Thian Siang, maka diam-diam menganggukkan kepala dan berkata sambil menunjuk kepada peti mati sebelah kanan: "Hee Thian Siang sekarang berada didalam peti itu."

Tiong-sun Hui Kheng yang tidak menduga apa yang terkandung dalam ucapan Oe-tie Khao itu, ketika mendengar bahwa Hee Thian Siang berada dalam peti mati, dianggapnya sudah mendapat bahaya, maka seketika itu seolah-olah disambar geledek, tubunya gemetaran dan matanya ditujukan kepada Tay-wong.

Tay-wong saat itu sedang berlutut di depan majikannya sekujur badannya gemetaran.

Ting-sun Hui Kheng yang menyaksikan sikap binatang piaraannya, semakin merasakan gawatnya persoalan, dengan alis yang dikerutkan ia berkata dengan suara berat: "Tay- wong, kau ini datang terlambat ataukah bunga teratai Swat- lian itu ditengah jalan dirampas orang, ataukah hilang? Sehingga sahabat baikku Hee Thian Siang telah menemui nasib buruk?"

Tay-wong yang melihat majikannya marah benar, ketakutan setengah mati dan berulang-ulang memberi hormat. Say Han Kong pelototkan matanya kepada Oe-tie Khao dan kepada Tiong-sun Hui Kheng, ia berkata sambil tertawa: "Nona Tiong- sun harap jangan sesalkan Tay-wong yang patut disesalkan adalah pengemis tua Oe-tie Khao ini yang kata-katanya tidak beres, ia belum menerangkan bahwa meskipun bunga teratai Swat-lian itu telah hilang ditengah jalan tetapi bagi Hee Thian Siang malah menemukan kejadian ajaib yang membawa keberuntungan baginya."

Tiong-sun Hui Kheng semula mendengar bahwa bunga teratai swat-lian telah hilang ditengah jalan, sudah tentu terkejut, tetapi setelah mendengar keterangan Say Han Kong bahwa Hee Thian Siang malah menemukan kejadian ajaib, kembali menjadi girang, didalam keadaan demikian, sudah tentu untuk sementara ia tidak mau mengomeli Taywong dan mencari keterangan sebab-sebab kehilangan bunga teratai itu. Lebih dahulu ia hendak mendengarkan keterangan lebih lanjut dari Say Han Kong tentang diri Hee Thian Siang.

Setelah mendengar seluruh keterangan dari Say Han Kong, Tiong-sun Hui Kheng baru mulai minta penjelasan kepada Taywong, katanya: "Taywong, sungguh tak kusangka bahwa kau yang berpisah dengan diriku sehari lebih, kau mengalami kejadian demikian rupa. Kenapa kau kehilangan ditengah jalan, jika besok pagi Hee Thian Siang benar-benar mendapat penemuan gaib, kesalahanmu itu masih dapat kuampuni. Tetapi kesalahanmu kedua yang membunuh orang, harus dihukum."

Taywong menundukkan kepala, sekujur badannya gemetaran, Ca Bu Kao merasa tidak enak hati, maka ia pikir hendak mintakan keringanan baginya, katanya kepada Tiong- sun Hui Kheng sambil tersenyum: "Nona Tiong-sun, dengan kepandaian yang demikian tinggi seperti Pek-thao Losat Pao Sam Kow toh sedikitpun tak berdaya menghadapi mumi dari Pek-taho Yace nenek Liong Lo, jikalau Taywong tidak keburu datang, kami semua barangkali akan mengalami nasib yang menyedihkan. Apalagi Ciaw Khian yang lebih dahulu hendak turun tangan keji terhadap Taywong. Terhadap orang jahat seperti itu, dibunuhpun tidak ada salahnya, maka itu kau bukan saja tidak boleh menghukum Taywong, sebaliknya malah harus memberi dorongan semangat padanya."

Tiong-sun Hui Kheng mendengar kata-kata Ca Bu Kao demikian, kemarahannya mulai reda, katanya sambil tersenyum: "Ca lihiap mungkin belum banyak mengetahui Taywong mengikuti aku masih belum lama, sifat ganasnya masih belum lenyap, jikalau aku tidak mengendalikannya secara keras, mungkin akan banyak kejadian yang tidak kita ingini. Mengenai urusan tadi malam kalau memang kesalahan itu bukan pada dirinya apalagi Ca lihiap bertiga yang memintakan ampun, maka untuk sementara aku akan cabut saja kesalahannya, apabila lain kali berani melanggar lagi, siaopek akan kusuruh mematahkan urat di kakinya, dan akan ku usir keluar dari rumahku."

Ia berdiam sejenak lalu berkata kepada Taywong: "Taywong, bangun! Jangan pura-pura berlaku sedih untuk minta dikasihani orang, bunga teratai swat-lian yang kau bawa, sebetulnya dirampas oleh siapa?"

Dengan badan masih gemetar Taywong bangkit, dan dengan sikapnya yang sedih ia menceritakan pengalamannya dengan bahasa sediri.

Tiong-sun Hui Kheng setelah mendengar keterangan Taywong lantas suruh ia undurkan diri dan berkata kepada Say Han Kong bertiga: "Menurut keterangan Taywong, ditengah jalan ada orang yang mencegat dirinya minta pinjam bunga teratai swat-lian, katanya orang itu sangat perlu untuk menolong orang, orang itu berjanji di kemudian hari akan mengembalikan bahkan akan diberi hadiah kepadanya."

Ca Bu Kao merasa geli, lalu berkata sambil tertawa: "Orang itu juga lucu, apakah Taywong setelah mendengar permintaan orang itu lantas memberikan bunga teratainya begitu saja?" "Taywong sudah tentu tak mau memberikan, tetapi orang itu menggunakan ilmunya yang luar biasa dengan kekerasan merampas bunga teratai dari tangan Taywong." Berkata Tiong-sun Hui-kheng.

Oe-tie Khao yang mendengar keterangan itu merasa heran, katanya: "Taywong merupakan seekor binatang yang luar biasa, kekuatan tenaganya sangat hebat, gerakannya juga gesit dan lincah, orang itu bisa merampas bunga teratai dari tangannya, kepandaian ilmu silatnya pasti tinggi sekali."

Pada waktu itu siaopek sikera kecil sudah berbicara dengan Taywong, agaknya sesalkan Taywong yang kurang hati-hati.

Taywong hanya menundukkan kepala sambil mengeluarkan suara perlahan sikapnya menunjukkan perasaan menyesalnya.

Ca Bu Kao yang menyaksikan semua itu, lalu bertanya kepada Tiong-sun Hui Kheng: "Nona Tiong-sun apa yang dibicarakan oleh mereka berdua?"

"Siaopek sesalkan Taywong tidak ada gunanya, dan Taywong berkata, orang itu larinya lebih pesat daripada dirinya sendiri, tenaganya juga lebih besar, sekalipun siaopek barangkali juga tidak sanggup mempertahankan bunga teratai itu!

Say Han Kong lalu berkata sambil tertawa:

"Bunga teratai itu disebut obat dewa yang jarang ada didalam dunia ialah karena khasiatnya yang mampu memunahkan segala racun dan menyembuhkan segala penyakit, hingga dianggap sebagai obat berharga untuk menolong jiwa orang! Jikalau dugaanku tidak keliru, Hee Thian Siang dalam bencana ini sebaliknya malah akan mendapat keuntungan, dan nanti bisa hidup kembali dalam keadaan selamat, maka obat dewa itu digunakan untuk menolong jiwa orang lain juga terhitung suatu kebaikan bagi sesama umat manusia, maka nona Tiong-sun tidak usah lantaran urusan itu selalu membuat pikiranmu saja!"

"Apakah benar Hee Thian Siang nanti tidak ada halangan, dalam urusan ini sebetulnya aku tak perlu merasa khawatir, tetapi Taywong nampaknya masih penasaran, dia sudah berjanji dengan siaopek, di kemudian hari apabila ketemu dengan orang itu lagi akan diajak berkelahi bersama-sama siaopek!"

Demikian empat orang itu sambil mengobrol telah melewatkan malam yang panjang itu sehingga tanpa di rasa di ufuk Timur sudah tampak titik terang!

Say Han Kong yang selalu menghitung-hitung waktunya, lantas berkata kepada Ca Bu Kao, Oe-tie Khao dan Tiong-sun Hui Kheng bertiga:

"Sekarang sudah terang tanah, kita boleh membuka tutup peti mati untuk melihat Hee Thian Siang laote, benar seperti apa yang kuduga atau tidak!"

Sehabis berkata demikian, ia bangkit lebih dahulu, dan berjalan menuju ke kamar dimana terdapat peti mati.

Apabila dugaan Say Han Kong itu benar, sudah tentu tak menjadi halangan. Tetapi apabila dugaannya itu meleset, sedangkan bunga teratai swat-lian kini sudah dirampas oleh orang lain, maka Hee Thian Siang pasti tidak tertolong jiwanya, bahkan mungkin sudah lama putus nyawanya didalam peti mati.

Oleh karena perhitungan Say Han Kong itu tepat atau tidak, besar sekali hubungannya dengan nasib seorang pemuda yang membawa tugas penting untuk menumpas kawanan penjahat, maka bukan saja Ca Bu Kao, Oe-tie Khao dan Tiong-sun Hui Kheng hatinya berdebaran dan menantikan terjadinya perubahan dengan penuh perhatian, sedangkan Say Han Kong sendiri yang pernah sesumbar akan ramalannya itu juga merasa tegang.

Ketika ia tiba di depan peti mati, lebih dahulu berhenti sejenak dan menarik nafas dalam-dalam. Setelah pikirannya tenang kembali, barulah tangannya perlahan-lahan diletakkan ke tutup peti mati.

Pada saat Say Han Kong hendak membuka peti mati, Tiong-sun Hui Kheng tiba-tiba berkata dengan suara pelahan:

"Say Thaihiap harap buka perlahan-lahan!"

Say Han Kong menghentikan tangannya dan bertanya sambil berpaling:

"Nona Tiong-sun masih ingin berkata apa lagi?"

"Say Taihiap, sesudah membuka tutup peti matinya, apabila benar Hee Thian Siang tidak mendapat halangan, harap jangan menyadarkan dirinya dahulu!"

Oe-tie Khao dan Ca Bu Kao yang mendengarkan ucapan gadis itu merasa bingung dan heran, sementara itu Say Han Kong juga bertanya dengan heran:

"Nona Tiong-sun, apa maksud ucapanmu ini?"

"Sebab aku tidak ingin bertemu muka dengan dia. Asal dia benar-benar tidak halangan, syukurlah, sebelum ia sadar betul-betul aku ingin akan berlalu lebih dahulu!" Ca Bu Kao karena sudah tahu bahwa Tiong-sun Hui Kheng mungkin adalah gadis idaman Hee Thian Siang yang dahulu oleh pemuda itu minta restu kepada makam bunga mawar di gunung Bin-san, maka ketika mendengar ucapan itu alisnya lantas dikerutkan, tanya dengan heran:

"Nona Tiong-sun, aku tahu kau dengan Hee Thian Siang pernah berkenalan di gunung Tay-piat-san dan gunung Oey- san, apakah kau jauh-jauh pergi ke gunung Tiam-cong-san bukan lantaran hendak bertemu muka dengannya?"

Wajah Tiong-sun Hui Kheng menjadi merah lantas berkata kepada Cu Bu Kao sambil menganggukkan kepala:

"Dengan terus terang kedatanganku ini memang hendak mencari dia, jikalau tidak, aku juga tidak perlu sampai pergi ke Hian-peng-gwan di gunung Tay-swat-san minta obat untuk menyembuhkan sakitnya!"

Say Han Kong berkata sambil tertawa:

"Nona Tiong-sun kalau benar demikian baik hubungannya dengan Hee Thian Siang laote, mengapa pula tidak ingin bertemu muka dengannya? Tunggu setelah ia sadar kembali, seharusnya masih perlu mengucapkan terima kasih ke kamu atas bantuanmu pergi ke gunung Tay-swat-san untuk minta obat!"

Muka Tiong-sun Hui Kheng kembali menjadi merah, katanya sambil tersenyum dan menggelengkan kepala:

"Justru karena aku tiba-tiba mengetahui merasa suka dengannya, barulah aku tidak ingin untuk bertemu muka dengannya! Sebab ayahku seumur hidupnya ..."

Say Han Kong tiba-tiba ingat Thian-gwa Ceng-mo Tiong- sun Seng selamanya tidak mengijinkan muridnya terganggu oleh asmara, tidak boleh muridnya sampai terlibat oleh jaring asmara! Maka lantas berkata sambil tertawa:

"Aku sudah mengerti maksud tindakanmu ini, tapi kalau hanya bertemu muka saja dengan Hee loate, rasanya toh tidak menjadi halangan, baiknya tunggu ia sadar dulu, baru pergi."

Tiong-sun Hui Kheng masih menggelengkan kepala, tetapi Ca Bu Kao yang menyaksikan itu telah dapat melihat bahwa gadis itu meskipun malu-maluan; namun bagaimanapun juga masih banyak sikap-sikapnya yang penuh simpati terhadap Hee Thian Siang!

Melihat Tiong-sun Hui Kheng tetap tidak mau bertemu muka dengan Hee Thian Siang, Say Han Kong tidak mau menasehati lagi, lalu berpaling dan berkata kepada Oe-tie Khao:

"Pengemis tua, kau pasang api lebih banyak, dan kau angkat tinggi-tinggi, aku hendak membuka peti mati dan hendak melihat Hee laote yang tidur ditempat tidur istimewa ini, apakah bisa tidur nyenyak atau tidak?"

Oe-tie Khao lalu mengumpulkan kayu-kayu bekas jendela yang dirubuhkan oleh Pek-thao Yace nenek Liong Lo, kemudian menyalakan apinya hingga menjadi penerangan yang cukup terang didalam kamar itu.

Say Han Kong waktu itu lantas mengerahkan kekuatan tenaganya, peti mati yang sangat berat itu dibukanya!

Di bawah penerangan api dari kayu, tampak dengan jelas bahwa sepasang mata Hee Thian Siang masih dipejamkan, namun wajahnya nampak merah dan segar, hanya dirinya rebah di atas bangkai Siong Teng yang masih mengenakan pakaian lengkap, tampaknya sedang tidur nyenyak sekali! Ca Bu Kao yang menyaksikan keadaan demikian, hatinya mulai lega. Ia pikir ingin menahan Tiong-sun Hui Kheng, maka lalu memberi isyarat dengan mata kepada Say Han Kong, minta ia supaya lekas menyadarkan Hee Thian Siang.

Say Han Kong mengerti dan menganggukkan kepala, baru saja mengulurkan tangan hendak membuka totokan Hee Thian Siang, tiga binatang peliharaan Tiong-sun Hui Kheng yang berada didalam kamar telah keluar dari kamar, kemudian bersama Tiong-sun Hui Kheng berjalan pergi. Di atas kudanya ceng-hong-kie masih terdengar suara gadis itu yang menyanyikan sajaknya:

"Diwaktu berkumpul harus berkumpul, diwaktu pergi harus pergi, tidak perlu meninggalkan omongan, tidak akan terjerat oleh jaringan asmara "

Ca Bu Kao yang mendengar suara itu menggeleng- gelengkan kepala dan berkata sambil tertawa: "Nona Tiong- sun ini sebetulnya hanya membawa perasaannya sendiri, dia tidak berani menghadapi kenyataan. Ini bukankah berarti ia terjatuh dalam jaring asmara?"

Pada saat itu Hee Thian Siang baru mulai sadar kembali, pertama-tama yang masuk didalam telinganya adalah suara derap kaki kuda yang perlahan-lahan mulai menjauh, oleh karena suara itu tidak asing baginya, maka lantas membuka matanya dan bertanya:

"Derap kaki kuda ini rasanya tidak asing bagiku. Kuda siapakah itu? Kuda Cian-lie-kiok-hwa-cing milik ketua Kie-lian- pay Kie Tay Cao ataukah kuda Ceng-hong-kie milik Tiong-sun Hui Kheng?"

Oe-tie Khao lantas menyahut sambil tertawa: "Hee laote kau jangan tanya dulu kuda siapa itu, lihatlah dahulu tempat apa yang sedang kau tidurin ini?"

Waktu itu rasa kantuk Hee Thian Siang sudah hilang, ia juga sudah merasakan bahwa tempatnya tidur agak berbeda dengan biasa, maka lantas lompat bangun. Ia baru tahu bahwa dirinya bukan saja sedang tidur didalam peti mati, tetapi di bawahnya bahkan masih ada membujur mayat seorang tua!

Kejadian yang sangat luar biasa anehnya itu telah membuatnya bingung.

Say Han Kong menarik tangan kiri Hee Thian Siang, kemudian diperiksanya keadaan badannya. Setelah itu, lantas tertawa terbahak-bahak dan berkata:

"Hee laote kuucapkan selamat kepadamu, lantaran bencana yang menimpa dirimu akhirnya telah berubah menjadi suatu keuntungan. Bukan saja luka didalam tubuhnya yang disebabkan Thiat-siu sinkang dari ketua Cong-lam-pay kini sudah sembuh seluruhnya, bahkan mungkin ilmu Khian- thian khi-kang dari perguruanmu juga bertambah hebat tanpa kau sadari!"

Hee Thian Siang mendengar ucapan itu semakin bingung, tetapi pada saat itu, mayat Siong Teng dengan tiba-tiba lompat bangun dan duduk didalam peti matinya.

Hee Thian Siang yang seumur hidupnya belum pernah menyaksikan kejadian aneh itu, maka sesaat itu bulu romanya merasa pada berdiri. Ia buru-buru mengulurkan dua tangannya, mengerahkan ilmunya kian-thian-khi-kang, dan mendorong mayat Siong Teng itu rebah kembali dalam peti matinya. Mayat Siong Teng yang duduk itu meskipun didorong jatuh olehnya, tetapi setelah ilmu Kiam-thian-khi-kang Hee Thian Siang ditarik kembali, mayat itu duduk lagi!

Say Han Kong semula merasa heran, tetapi setelah dipikir, ia lantas sadar. Maka lalu menunggu Hee Thian Siang mengerahkan kembali ilmunya dan mendorong mayat Siong Teng, lantas berkata kepada Ca Bu Kao yang berdiri di pinggir peti mati.

"Nona Ca, coba mundur beberapa kaki!"

Ca Bu Kao menurut, dan Say Han Kong berkata pula kepada Hee Thian Siang:

"Hee loate, coba kau tarik kembali ilmumu Kian-thian-khi- kang, barangkali iblis golongan hitam yang dahulu namanya telah menggemparkan rimba persilatan tidak akan duduk lagi!"

Hee Thian Siang setengah percaya setengah tidak. Ia menarik kembali kekuatan tenaganya, dan benar saja mayat Siong Teng telah rebah baik-baik dan tidak duduk lagi! Maka ia lantas bertanya kepada Say Han Kong:

"Locianpwe, apakah sebetulnya yang locianpwe sekalian sedang permainkan, mengapa tidak lekas memberi keterangan? Hingga aku merasa seperti diliputi oleh teka teki besar!"

Sambil Tersenyum Say Han-kong minta Hee Thian Siang membantu membakar peti mati itu, kemudian ia berkata kepada Oe-tie Khao:

"Pengemis tua, lekas kau gunakan apimu yang tak berperasaan untuk membakar peti mati ini, supaya di kemudian hari tidak terjadi lagi seperti mummi nenek Liong Lo yang akan membahayakan penduduk di sekitar kuil ini." Oe-tie Khao yang mendengar ucapan itu, di samping melakukan apa yang diminta oleh Say Han Kong, ia berkata sambil tertawa aneh:

"Tua bangka, bagaimanapun juga kau masih kurang paham, api tak berperasaan ini cuma boleh digunakan untuk mengacau, tugas seperti membakar peti mati ini harus menggunakan api yang berperasaan.!"

"Berperasaan juga baik, tidak berperasaan pun sama juga, kita tak perlu berdiam di sini lagi untuk menyaksikan pembakaran mayat ini. Lekas mencari tempat lain untuk menjelaskan kepada Hoe laote, bagaimana ia terluka sehingga tujuh hari lamanya ia dalam keadaan pingsan dan tidur di dalam peti mati!"

Mendengar ucapan itu, semua orang keluar dari kamar sebelah timur itu. Say Han Kong lalu menceritakan kepada Hee Thian Siang segala sesuatu yang telah terjadi selama tujuh hari itu.

Hee Thian Siang yang mendengarkan keterangan bahwa Tiong-sun Hui Kheng karena hendak menolong dirinya telah melakukan perjalanan jauh, pergi ke gunung Tay-swat-san untuk minta bunga teratai merah swat-lian, dalam hati merasa bersyukur, juga merasa senang. Tetapi ketika mendengar keterangan bahwa Tiong-sun Hui Kheng tidak suka bertemu muka lagi dengannya, lantas merasa sedih!

Say Han kong sehabis memberikan penjelasannya, Ca Bu Kao lalu bertanya kepada Hee Thian Siang:

"Sewaktu kau berada di dalam peti mati, apakah kau merasa pernah makan sebuah tumbuhan semacam jamur kecil yang berwarna lima?" "Waktu itu aku tidur nyenyak tidak tahu apa-apa lagi, hanya yang samar-samar kuingat seperti ada benda yang menyentuh mulut dan hidungku, lantas kumakan tanpa kusadari. Aku sendiri tidaklah tahu benda itu apakah jamur kecil berwarna lima seperti apa yang bibi Ca katakan tadi atau bukan?"

Ca Bu Kao kini baru percaya benar bahwa dugaan Say Han Kong itu seluruhnya memang betul, maka ia bertanya kepadanya sambil tersenyum:

"Say tayhiap, tadi mayat hidup Siong Teng hampir berubah menjadi mummi lagi, jikalau Hee Thian Siang masih dalam pingsan dan rebah di dalam peti mati, lalu terjadi perobahan seperti itu, bukankah akan menimbulkan akibat yang sangat runyam?"

"Nona Ca tidak tahu, Siong Teng meskipun dahulu pernah makan cukup obat manjur luar biasa itu, dan kemudian dipantek hidup-hidup di dalam peti mati, tetapi kalau mau berobah menjadi mummi masih perlu mendapat bantuan dari hawa orang hidup! Kita berdiam di sini sekian lama, oleh karena jumlah lelaki lebih banyak daripada wanita, maka membuat nenek Liong Lo mendapat hawa yang lebih banyak, sehingga bisa menjadi mummi dan bertempur hebat dengan Pao Sam Kow dan lain-lainnya. Tadi justru kau berdiri di samping peti mati, hawamu telah mempengaruhi mayat Siong Teng, hingga bangkit dan duduk di dalam peti matinya!

Tentang Hee laote yang tidur nyenyak di dalam peti mati, oleh karena hawa sesama kaum pria, maka mayat Siong Teng sedikitpun tak bisa berbuat apa-apa!" berkata Say Han Kong sambil tertawa.

"Tua bangka, kalau menurut ceritamu seperti ini, perkara Hee laote yang hidup kembali, aku pengemis tua harus mendapat pahala paling besar!" Oe-tie Khao berkata sambil tertawa besar. "Pengemis tua, kau jangan mabok sendiri, di mana pahalamu?" Say Han Kong berkata sambil tertawa geli.

Oe-tie Khao tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: "Pahalaku ialah yang memilih tepat peti mati bagi Hee

laote! Kalau aku menempatkan Hee laote di dalam peti mati

sebelah kiri, maka ia bukan saja tidak dapat makan jamur lima warna yang dapat menyembuhkan lukanya dan menambah kekuatannya, bahkan mungkin akan merasakan cengkeraman kuku nenek Liong Lo!"

Hee Thian Siang kalau memikirkan kejadian itu, ia sendiri juga bergidik, maka buru-buru ia bangkit dan mengucapkan terima kasih kepada Oe-tie Khao.

Namun Oe-tie Khao berkata sambil menggoyang- goyangkan tangannya:

"Aku pengemis tua paling suka main-main, bagaimana Hee laote anggap sungguh-sungguh? Sebaliknya sekarang aku hendak bertanya padamu, khabarnya kau mendapatkan selembar daun pohon thian-keng yang cukup menggegerkan rimba persilatan dan hampir saja menimbulkan pertumpahan darah hebat, mengapa selama itu kau belum menceritakan kepadaku?

Sekarang lekas kau keluarkan supaya kita semua melihatnya!"

"Di badanku mana ada daun pohon thian-keng?" Hee Thian Siang bertanya bingung.

Say Han Kong tahu, bahwa Hee Thian Siang membawa bukti kuat yang cukup untuk digunakan membuka rahasia rencana keji partai Kee-lian dan Tiam-cong, tetapi dia sendiri belum tahu, maka lantas bertanya padanya: "Hee laote, sewaktu kau berada di gunung Hok-gu-san, apakah kau pernah menemukan sebuah goa kuno yang di dalamnya terdapat tengkorak burung elang raksasa?"

Hee Thian Siang semakin heran, dengan mata menatap Say Han Kong, ia bertanya:

"Say locianpwe, waktu itu kau masih berada di gunung Siong-san membuat obat, bagaimana kau bisa mengetahui, kalau aku di gunung Hok-gu-san menemukan goa kuno yang di dalamnya terdapat tengkorak burung elang raksasa?"

Waktu itu Ca Bu Kao baru menalangi Say Han Kong menjawab padanya:

"Duta Bunga Mawar mengatakan, bahwa kau di dalam goa kuno itu telah menemukan selembar daun pohon Thian keng !"

Mendengar disebutnya nama "Duta Bunga Mawar", Hee Thian Siang baru sadar katanya :

"Pantas, orang-orang Kie lian pai di bawah pimpinan ketuanya,. mendadak mengadakan pertemuan di dalam gunung Hok gu san, bahkan dengan sangat hati-hati dan dirahasiakan sekali, mencari goa kuno kuburan burung elang raksasa itu. Kiranya di dalam goa itu mereka telah membawa pergi tumbuhan yang sangat berharga itu. Dan tumbuhan itu ternyata adalah pohon aneh Thian keng yang dahulu tumbuh di gunung Kun lun san !"

Setelah itu ia mengeluarkan daun yang diambilnya dari goa tersebut, daun itu warnanya sudah berubah menjadi kemerah- merahan, bentuknya menyerupai segi tiga, daun itu lalu diberikannya kepada Ca Bu Kao.

Ca Bu Kao sambil memeriksa daun ajaib itu, menceritakan rencana-rencana jahat orang-orang Kie lian dan Tiam cong yang hendak mengacau rimba persilatan. Semua itu ia dengar dari Duta Bunga Mawar, yang menceritakan padanya.

Hee Thian Siang yang mendengar penuturan itu alisnya berdiri, katanya dengan suara dingin :

"Kalau begitu, peristiwa yang terjadi di lembah kematian gunung Cong lam san, di mana ketua Lo hu pai dan Tiam Cong pai masing-masing terkena serangan duri berbisa Thian keng, ternyata hanya permainan saudara Thiat kwan Totiang yang disengaja. Dalam hal ini ternyata mengandung rencana keji! Aku sesungguhnya merasa sangat menyesal tidak bisa menghadiri pertemuan di puncak gunung Thian tu hong pada waktu yang tepat, sehingga tidak dapat membuka rahasia rencana keji itu. Kalau waktu itu aku datang pada saat yang tepat, pasti akan dapat menyaksikan bagaimana orang-orang Kie lian pai dan Tiam cong mempertanggung-jawabkan di hadapan orang banyak perbuatan mereka yang jahat dan tidak tahu malu itu !"

"Hee laote, perlu apa kau menyesal? Pertemuan pertama di puncak gunung Thian tu hong kan belum bisa membuka rahasia rencana yang keji itu. Tetapi di dalam pertemuan yang kedua tahun depan, seharusnya masih ada waktu bagimu untuk membeber semuanya Hanya daun aneh yang berwarna kemerah-merahan ini betul merupakan daun pohon Thian keng atau hanya menurut dugaan Duta Bunga Mawar saja, hal ini masih belum dapat dipastikan. Rasanya kita perlu mengantarkan ke gunung Kun lun san, diberikan kepada Ketua Kun lun pai untuk diperiksa," berkata Oe-tie Khao sambil tertawa.

"Usul Oe-tie locianpwe ini benar, sekarang ini aku justru tak punya urusan apa-apa yang perlu, maka biarlah aku akan pergi merantau ke daerah barat untuk berkunjung ke gunung Kun lun san!" berkata Hee Thian Siang dengan semangat terbangun. "Kalau memang mau pergi, mari kita sama-sama pergi semua!" berkata Ca Bu Kao.

Hee Thian Siang yang suka keramaian, mendengar perkataan Ca Bu Kao itu sudah tentu sangat girang. Tapi kemudian ia lantas berkata sambil menggoyang-goyangkan kepala :

"Tidak, kita empat orang tidak bisa pergi bersama-sama, sebaiknya kita pisah menjadi dua rombongan."

Ca Bu Kao heran, lalu menanyakan apa sebabnya.

Hee Thian Siang lalu menceritakan urusan perselisihan paham antara Pendekar Pemabukan Bo Bu Yu dengan empat jago wanita Ngo-bie pai, katanya sambil mengerutkan alisnya:

"Karena aku sudah berjanji dengan Bo Bu Yu locianpwe, bahwa pada tanggal dua puluh bulan lima akan bertemu di kaki gunung Ngo Bie san untuk mengawani dia bersama-sama pergi ke puncak gunung Ngo bie, di samping itu, aku sudah berjanji dengan Hok Siu In yang akan mengadakan pertemuan seorang diri untuk mengadakan pertandingan pedang. Pertemuan itu seharusnya aku taati jangan sampai mengingkari janji!

Tetapi sekarang kalau harus melakukan perjalanan jauh ke gunung Kun Lun san, dalam perjalanan yang panjang itu, kita tidak berani menjamin di tengah perjalanan akan menemukan hal-hal yang tak diduga, yang mungkin bisa menghambat perjalanan dan mungkin menggagalkan perjanjianku itu. Maka kita harus pisah menjadi dua rombongan. Satu rombongan pergi menjumpai Bo locianpwe dan Hok Siu In untuk menjelaskan urusanku ini, katakan saja bahwa Hee Thian Siang pasti akan tiba pada waktunya, oleh karena bertugas berat untuk menyelesaikan perkara yang menyangkut kepentingan seluruh rimba persilatan. Seandainya ada sedikit terlambat, supaya minta mereka maafkan dan menunggu !"

Ca Bu Kao yang mendengarkan keterangan Hee Thian Siang lalu berkata :

"Suto Keng sebetulnya masih hidup ataukah sudah mati ? Dan dimana sekarang berada, masih perlu dicari ! Karena Hee laote mempunyai janji dengan Ngo bie pai maka aku boleh mewakili kau pergi ke sana, sekalian mengikuti jejak Suto Keng di daerah perbatasan Inlam dan Kui ciu, mungkin bisa mendapat sedikit kabar tentang dirinya, siapa tahu?"

"Dan bagaimana dengan locianpwe? Siapakah yang hendak berjalan bersama bibi Ca?" bertanya Hee Thian Siang kepada Say Han Kong dan Oe-tie Khao.

"Aku akan berjalan bersama nona Ca, dan kau pengemis tua berjalan bersama Hee laote, dengan demikian barangkali lebih tepat, sebab kalian satu tua dan satu muda, berjalan bersama-sama boleh berbuat sesuka hatinya!" berkata Say Han Kong tertawa.

"Tua bangka, kau memang terlalu licin, jelas kau sendiri yang mau enak-enak saja, tidak malu mencari alasan yang kau bikin-bikin sendiri, apakah kau kira orang tidak mengerti maksudmu?" berkata Utie Khao sambil tertawa juga.

Say Han Kong tersenyum, dari dalam sakunya mengeluarkan obat pil buatannya sendiri dibagikan kepada Hee Thian Siang dan Utie Khao masing-masing dua butir setelah itu ia berkata :

"Kalian berdua dengan bekerja-sama, di tengah perjalanan pasti akan menjumpai banyak rintangan, seandainya kalian menemui gangguan, pil semacam ini banyak faedahnya!" Oe-tie Khao yang mendengar ucapan itu, sepasang matanya dipendelikan, sementara itu Say Han Kong berkata pula sambil tertawa:

"Pengemis tua, kau jangan mendelik dulu, andaikata kalian dalam perjalanan ini tidak mendapat gangguan apa-apa, pil itu boleh kau gunakan untuk orang yang memerlukan!"

Mendengar perkataan itu Oe-tie Khao menerima pilnya dan berkata kepada Hee Thian Siang:

"Hee laote kita sudah mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan jauh ke gunung Kun-lun-san, sebaiknya berangkat dengan segera, sebab perjalanan kita ini benar- benar tidak mudah dan jauh sekali!"

"Kalian berjalan lebih dahulu, baik juga. Aku dengan nona Ca karena waktunya masih cukup, maka kesempatan akan kita gunakan untuk pesiar ke pelbagai tempat yang memiliki pemandangan indah!" Berkata Say Han Kong sambil menganggukkan kepala.

Berkata sampai di situ ia berdiam sejenak, tiba-tiba ia bertanya kepada Hee Thian Siang:

"Hee laote kita akan menantikan kau di puncak Thian-tu- hong gunung Oey-san, ataukah ..."

"Say locianpwe dan bibi Ca harap menunggu sebentar di puncak gunung Ngo-bi-san, aku dengan U-tie locianpwe andai kata tidak keburu tiba pada tanggal dua puluh bulan lima tetapi sebelum permulaan bulan enam pasti akan datang ke gunung Ngo-bi!"

Setelah semua nya diatur selesai, empat orang itu lantas berpisahan. Say Han Kong dan Ca Bu Kao melakukan perjalanannya ke Timur, sedang Oe-tie Khao dan Hee Thian Siang melakukan perjalanannya ke Utara.

Oleh karena perjalanan jauh, juga tidak dibatasi waktunya, maka Oe-tie Khao tidak perlu tergesa-gesa, di sepanjang jalan ia mengobrol dengan Hee Thian Siang, katanya:

"Hee laote, kita hari ini pergi jauh ke gunung Kun-lun-san, harus mengambil jalan dari mana?"

"Oe-tie locianpwe boleh ambil keputusan sendiri, perlu apa harus bertanya kepadaku? Sebab baru pertama kali ini aku melalui jalan ini!" Berkata Hee Thian Siang sambil tersenyum.

"Jikalau kita mau mengambil jalan yang paling dekat, sudah tentu kita dari sini memotong jalan melalui jalan Tibet, lalu langsung menuju ke Kun-lun-san tetapi jikalau mengambil jalan perbatasan propinsi Su-Cwan, dan propinsi Ceng-hay, atau memutar propinsi Kan-siok dan masuk ke King-siang, juga tidak berhalangan!"

"Supaya kita bisa lekas tiba di gunung Kun-lun-san, dan supaya ketua Kun-lun-pay lekas memeriksa dan menetapkan daun yang kubawa itu betul daun dari pohon thian-keng atau bukan, maka perjalanan kita ini agaknya harus memilih jalan yang lebih dekat. Setelah urusan di Kun-lun-san selesai. tidak ada halangan, kita mengambil jalan memutar kan-siok, dan Su-Cwan dengan demikian kita boleh melakukan perjalanan dan pesiar kedaerah-daerah itu dengan tidak mempengaruhi tugas kita, jikalau masih ada waktu, kita juga boleh sekalian pergi ke gunung Kie-lian-san untuk coba-coba belajar kenal dengan manusia-manusia buas ini."

Oe-tie Khao anggap usul Hee Thian Siang ini memang benar, maka perjalanan itu dilakukan menurut rencana itu. Sepanjang jalan, kecuali belajar kenal dengan adat istiadat penduduk daerah pinggiran, mereka tidak menemui halangan apa-apa, maka tiba di kaki gunung Kun-lun-san dengan selamat. Hee Thian Siang dengan penuh semangat dan gembira sekali mendaki gunung Kun-lun. Waktu itu kuil Kun- lun-kiong ialah tempat berkumpulnya orang-orang Kun-lun- pay, pintunya tertutup rapat, hanya ada seorang yang berpakaian imam yang usianya kira-kira tiga puluh tahun, yang berdiri di luar pintu, imam itu rupanya seperti anak murid Kun- lun-pay yang ditugaskan menjaga.

Oe-tie Khao karena menganggap Kun-lun-pay sedang menghadapi banyak urusan ia takut akan menimbulkan salah faham, maka begitu muncul lantas berkata lebih dahulu sambil tersenyum: "Totiang, bagaimana sebutan totiang yang mulia? Aku si orang tua adalah Sam-ciu Lopan.

Oe-tie Khao bersama murid Pak-bin Sin-po Hong-po Cui, Thian Siang laote, ada urusan hendak minta bertemu dengan ketua Kun-lun-pay, maka harap agar totiang sudah menyampaikan."

Orang berpakaian imam itu mengawasi Oe-tie Khao dan Hee Thian Siang sejenak, lalu menganggukkan kepala sambil beri hormat, kemudian menjawab: "Pinto In-ya-hok, kedatangan saudara berdua sangat tidak kebetulan, ketua kita oleh karena hendak menyelidiki urusan yang menyangkut nama baik Kun-lun-pay, sudah turun gunung bersama-sama orang-orang golongan kami."

Hee Thian Siang yang mendengar jawaban itu alisnya dikerutkan, ia ingat kepada pengalamannya di gunung Tiong- lam-san, maka ia lantas bertanya: "Apakah Tio Giok dan Phoa Sa ada?"

In-yu-hok menggelengkan kepalanya, Hee Thian Siang lalu bertanya pula: "Dan, Liok Giok Ji?"