Makam Bunga Mawar Jilid 08

 
Jilid 08

Oleh karena berpikir demikian, ia batalkan tekadnya hendak bunuh diri, dan sementara itu tangannya terdengar suara "Ser..." setelah hidungnya mengendus bau daging terbakar. Imam kecil itu sudah mulai menggunakan besinya yang panas untuk menyiksa lagi.

Ca Bu Kao tidak tega menyaksikan kekasihnya disiksa demikian rupa, sambil menggertak gigi melayang turun dan lari meninggalkan tempat itu.

Baru saja ia bergerak, Lui Hwa yang ditugaskan untuk menjaga tempat itu, sudah mengetahui, matanya lalu ditujukan ke arahnya, dan berseru sambil mengeluarkan suara bangga: "Budak hina Ca Bu Kao tunggu dulu, kau dari tempat sejauh ribuan pal, dua kali kau memasuki kuil Pho-hie-to-kwan dengan secara terang dan menggelap, bagaimana kau tidak meninggalkan ilmumu golongan Lo-hu-pay?"

Ca Bu Kao yang sudah bertekad hendak korbankan jiwa bagi kekasihnya, tetapi ia juga berusaha untuk mempertahankan kesuciannya, maka ia tidak menghiraukan tantangan Lui Hwa, ia tetap mengarahkan tenaganya, dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh, terus lari, sedang mulutnya menjawab dengan suara bengis:

"Kawanan manusia durhaka, kejahatan kalian pasti akan mendapat pembalasan jahat pula! Su-to Wie dan Ca Bu Kao, di masa hidupnya menjadi seorang gagah, mati juga akan menjadi setan gagah pula. "

Baru saja hendak meninggalkan tempat berbahaya itu, dari bagian lain tampak tiga bayangan orang mengejar padanya!

Ca Bu Kao mengira terjebak pula oleh pasukan tersembunyi Tiam-cong-pay, terpaksa ia mengertak gigi, baru saja ia hendak melawan secara mati-matian tetapi dengan tiba-tiba ia dapat lihat bahwa orang yang menuju ke arahnya itu adalah bala bantuan yang merupakan Say Han kong, Utie Khao dan Hee Thian Siang yang hendak membantu dirinya!

Melihat kedatangan ketiga bala bantuan itu, kesedihan dalam hati Ca Bu Kao kini telah meledak tak ampun lagi airmatanya mengalir ke luar, dan berkata kepada Say Han Kong bertiga dengan suara sedih:

"Say locianpwe bertiga sudah datang, ca Bu Kao meskipun mati juga tidak akan menyesal tapi kuminta supaya Say locianpwe bertiga suka membawa jenasahku keluar dari daerah Pho-hie to-kwan ini, atau kalau tidak biarlah musnahkan saja, sekali-kali jangan terjatuh ke tangan manusia-manusia berhati serigala ini, ca Bu Ka0 sekali pun mati juga akan masih merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Say locianpwe sekalian!"

Ucapan tersebut baru keluar dari mulutnya, bibirnya tersungging senyuman getir, ilmunya Pan-sin cian-lek dikerahkan ke tangan kanan, lalu diangkat hendak memukul kepalanya sendiri.

Hee Thian Siang yang bermata jeli secepat kilat sudah mencegah maksud ca Bu Kao, ia bertanya dengan perasaan heran:

"Bibi Ca, mengapa kau hendak mengambil jalan pendek?"

Semula Ca Bu Kao yang ditanya itu wajahnya menjadi merah, tetapi kemudian dengan sinar mata yang tajam ia menjawab dengan suara lantang:

"Aku dengan Liong-hui Kiam-kek Suto Wie, sudah bersumpah sehidup semati, sekarang dia sudah mati di tangan ketuanya yang juga merangkap menjadi suhengnya, yang ternyata tidak mempunyai perikemanusiaan!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu juga terkejut, ia bertanya pula dengan hati cemas:

"Bibi Ca, Liong-hui Kiam-kek Suto Tayhiap mati di mana?

Dengan cara bagaimana kau tahu?"

Ca Bu Kao membalikkan dirinya dan menunjuk bangunan aneh itu seraya berkata:

"Aku tadi telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, ia disiksa dengan besi panas di dalam kamar tahanan itu, sekarang barangkali sudah putus jiwanya."

Pada saat itu Lui Hwa tidak maju mengejar lagi hanya dengan sikap sangat tenang berkata dengan suara pelahan kepada Thiat-kwan Totiang yang baru keluar dari kamar tahanan. Tetapi di sekitar Say Han Kong, Oe-tie Khao Hee Thian Siang dan Ca Bu Kao berdiri, entah dari mana datangnya orang-orang begitu banyak yang sudah mengurung dengan senjata terhunus!

Hee Thian Siang yang mendengar keterangan dari Ca Bu Kao bahwa gadis itu pernah menyaksikan Suto Wie disiksa dalam kamar rahasia itu, lantas saling berpandangan mata dengan Say Han Kong dan Oe-tie Khao mereka merasa terheran-heran, maka dengan sungguh-sungguh berkata kepada Ca Bu Kao:

"Bibi Ca, manusia hidup dalam dunia paling berharga adalah kawan sejati, jikalau Liong-Hui Kiam-kek Suto Tayhiap benar-benar sudah teraniaya, maka Hee Thian Siang sudah tentu tidak berani menghalangi bibi Ca yang hendak menghabiskan jiwa sendiri untuk mengikuti jejak tayhiap!" Mendengar ucapan Hee Thian Siang itu, Ca Bo Kao agak heran, maka lalu bertanya:

"Apakah maksud ucapan Hee laote ini ? Apakah kematian Suto Wie itu masih ada mengandung rahasia?"

Say Han Kong yang berdiri di samping lalu berkata dengan sungguh-sungguh:

"Ca lihiap, sabarlah dahulu untuk sementara tunggu aku nanti akan minta kepada ketua Tiam cong-pay ini, setelah mengetahui keadaan sebenarnya, barulah mengambil keputusan lagi!" Berkata sampai di situ ia berhenti sebentar, matanya mengawasi keadaan di seputarnya, meskipun tahu bahwa dirinya sudah dikepung rapat, tetapi sikapnya masih tenang saja, dengan menurut peraturan dunia Kang-ouw ia menjura memberi hormat dan berkata kepada Thiat-kwan Totiang.

"Seorang tidak berguna dari rimba persilatan Say Han kong Oe-tie Khao, Ca Bu Kao dan Hee Thian Siang berempat, malam-malam berani datang berkunjung ke kuil Pho-hie-to- kwan, harap Totiang maafkan atas kelancangan kita!"

Thiat-kwan Totiang memandang empat orang itu bergiliran, mukanya menunjukkan kegusarannya, ia berkata dengan nada suara dingin: "Kuil Pho-hie-to-kwan di gunung Tiam- cong-tidak dapat dibandingkan dengan puncak Thian tu hong gunung Oey-san, tetapi ini bagaikan gunung golok dan rimba pedang, atau sarang harimau dan goa naga, kalian datang boleh datang tetapi hendak berlalu lagi, itulah mustahil."

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan tekebur itu lantas tertawa terbahak-bahak dan berkata: "Kalau sudah berani menerjang ke goa naga sudah tentu memiliki sedikit kepandaian untuk menundukkan naganya ! Kita datang secara terang kalau kembali bukankah sama saja bisa kembali dengan seenaknya? Mari! Hee Thian Siang masih ada beberapa patah kata hendak minta keterangan dari kau ketua Tiam-cong-pay!"

Dengan wajah merah padam, Thiat-kwan Totiang memandang Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil tertawa sinis.

"Aku tadi telah mendapat laporan rahasia, kau bocah ini berulang-ulang coba menghalang-halangi usaha golongan kita, malam ini lebih baik kita berlaku salah terhadap Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui, bagaimana pun juga aku tidak akan membiarkan kau keluar dari Po-hie-to-kwan, dalam keadaan hidup!"

"Sebelum diketahui kepandaian masing-masing, kau si hidung kerbau bagaimana berani mengucapkan perkataan sombong lebih dahulu? Kau tunggu dulu, sehabis pertanyaanku selesai, aku masih ingin menerima pelajaran dari golongan Tiam-cong-pay, sebetulnya ada apanya yang patut kau banggakan itu?" Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kepandaian ilmu golongan Tiam-cong betul tidaknya patut dibanggakan, sebentar lagi kau akan tahu sendiri! Kau hendak menanyakan urusan apa? Boleh tanyakan sekarang!" Berkata Thiat-kwan Totiang sambil tertawa dingin.

Hee Thian Siang menunjuk bangunan aneh itu dan kemudian bertanya;

"Orang yang kau siksa di dalam kamar ini, betul Liong-Hui Kiam-khek Su-to Wie atau bukan?"

Oleh karena Thiat-kwan Totiang sebagai seorang ketua dari salah satu partai besar juga merupakan salah seorang penting dalam rimba persilatan pada dewasa itu, kalau tadi Ia dapat menggunakan akal untuk mengelabui mata Ca Bu Kao, tetapi sekarang terhadap Hee Thian Siang dan lain-lainnya, di mata orang banyak ini bagaimana pun juga ia harus pegang teguh prestasinya maka ia tidak berani membohong lagi. Terpaksa ia menggelengkan kepala sebagai jawabannya bahwa orang yang disiksa dalam kamar itu bukanlah Liong- Hui Kiam-khek Su-to Wie!

Begitu melihat Thiat-kwan Totiang itu menggelengkan kepala, Ca Bu Kao yang menyaksikan seolah-olah memakan obat penenang urat syaraf yang paling manjur, saat itu hatinya merasa sangat girang, boleh jadi karena girangnya sehingga air matanya mengalir keluar dari matanya.

Sementara itu Lui Hwa yang menyaksikan Hee Thian Siang menunjukkan sikap yang bangga tak sanggup kendalikan hawa amarahnya lagi, katanya dengan nada suara gusar:

"Kalian jangan merasa bangga dulu, siksaan yang akan diterima oleh Liong-hui Kiam-khek Suto Wie di belakang hari, sudah pasti lebih hebat daripada siksaan yang diterima oleh orang dalam kamar tadi!"

"Kau dengan Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie masih saudara dalam satu perguruan, bagaimana kau hendak berlaku kejam terhadapnya?" Tanya Hee Thian Siang dingin.

Thiat-kwan Totiang memandang Ca Bu Kao sejenak, lantas menjawab:

"Di dalam rimba persilatan, orang harus mengutamakan peraturan yang menghormat orang tua dan perguruannya, Su- to Wie yang bertindak menurut kemauannya sendiri, tidak mengindahkan perintah ketuanya sudah tentu harus menanggung resiko atas kesalahannya sendiri!" Hee Thian Siang setelah mendengar ucapan Thiat-kwan Totiang dengan tiba-tiba alisnya berdiri, mulutnya mengeluarkan suara tertawa menghina.

"Mengapa kau tertawa seperti orang gila?" Bertanya Thiat- kwan Totiang tidak senang.

"Aku tertawakan kau, karena kau ternyata juga mengerti maksudnya menjunjung tinggi orang tingkatan tua!" Berkata Hee Thian Siang marah.

Ucapannya itu ialah berdasarkan atas dugaannya sendiri bahwa siksaan yang dijatuhkan kepada Kwan Sam Pek, mungkin dilakukan oleh ketua Tiam-cong-pay itu sendiri, maka ia sengaja mengeluarkan ucapan demikian untuk mencoba hati ketua itu.

Thiat-kwan Totiang karena dalam hati merasa malu sendiri, benar saja setelah mendengar ucapan Hee Thian Siang itu dia menunjukkan perasaan terkejut, tidak berani menjawab langsung, sebaliknya pura-pura marah dan membentak dengan suara keras: "Anjing kecil, kau mengeluarkan perkataan yang tidak sopan, siapa sudi meladeni kau orang gila? Kalian sudah berani memasuki Tho-hie-ta-kwan dengan secara lancang, kukira sudah pasti ada mempunyai persiapan, apakah kalian sudah bersedia hendak berkelahi?"

Hee Thian Siang yang melihat Thiat-kwan Totiang mengelakkan pertanyaannya, bahkan hendak menunjukkan keganasannya, ia segera mengerti bahwa dugaan sendiri bersama Say Han Kong dan Oe-tie Khao pasti tidak salah, maka kembali ia tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata dengan suara lantang:

"Manusia yang tidak melakukan perbuatan melanggar hati nurani sendiri, sekalipun tengah malam ada orang mengetuk pintu juga tidak akan kaget atau ketakutan. Kau jangan coba mengelakkan pertanyaanku tadi, juga jangan ada pikiran takut, perbuatan durhaka yang dikutuk oleh Dewa-dewa itu aku hendak beberkan di hadapan tokoh-tokoh rimba persilatan yang hendak berkumpul di atas puncak Thian-tu-hong pada tanggal enam belas bulan dua belas tahun depan, disitulah kami akan membeber rahasiamu. Sementara malam ini kau hendak bagaimana bertindak, apa kau menghendaki aku bertempur lebih dulu dengan kau?"

Hee Thian Siang yang sangat cerdik, dari situ ketua Tiam- cong-pay ia sudah dapat menebak pikiran orang, maka dia berani mengeluarkan tantangannya, dengan demikian ia mendahului Thian-kwan Totiang supaya tidak bersikap curang.

Terutama ucapan yang terakhir tadi, telah membuat ketua Tiam-cong-pay yang berkepandaian tinggi berhati ganas dan sudah bertekad hendak membasmi Say Han Kong berempat, untuk menyingkirkan bahaya di kemudian hari, kini terpaksa merasa tidak enak untuk turun tangan sendiri.

Sementara itu Liu Hwa yang menyaksikan sikap suhengnya nampak serba sulit, lantas berkata sambil tertawa: "Ciangbunjin perlu apa marah? Orang dari tingkatan muda yang tidak ada artinya ini sekalipun siaote juga merasa belum perlu turun tangan sendiri, perintahkan saja kepada murid- murid generasi kedua golongan kita, rasanya sudah cukup untuk menghadapinya."

Thiat-kwan Totiang karena tahu benar Hee Thian Siang meskipun usianya masih sangat muda tetapi karena ia adalah murid Pak-bin Sin-po, tentunya memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat tinggi, tetapi kalau ia sendiri turun tangan, oleh karena baik usianya maupun tingkatannya yang berada jauh, jikalau memang ia juga menjadi tertawaan orang, apalagi kalau sampai kalah, maka ia juga merasa serba salah, ketika mendengar ucapan Liu Hwa tadi, lantas menganggukkan kepala dan berkata: "Si kecil tangan ganas Tang Cin ada dimana?"

Belum lagi menutup mulut, dari rombongan sebelah barat terdengar suara orang menyahut, seorang imam berwajah bengis, berusia kira-kira tiga puluh tahu, telah melesat dan menghadap kepada Thiat-kwan Totiang.

Hee Thian Siang diam-diam berpikir, Su-to Keng mempunyai gelar jejaka tangan ganas, sekarang imam muda ini gelarnya tangan ganas kecil, tentunya merupakan orang yang kejam dan bertangan ganas, sudah tentu pula bukan dari golongan baik-baik. Si tangan ganas kecil Tang Cin berdiri tegak di hadapan ketuanya, setelah memberi hormat ia berkata: "Tecu Tang Cin, kini menghadap untuk menantikan perintang Ciangbunjin!"

Mata Thiat-kwan Totiang menatap Hee Thian Siang, dengan alis berdiri dan wajah marah katanya dengan suara dalam: "Kalau ada orang dari golongan rimba persilatan, tidak mengindahkan peraturan dan tata tertib dunia Kang-ouw, datang berkunjung tanpa memberitahukan nama, dengan mengandalkan kepandaian berani memasuki daerah terlarang partai kita, menurut peraturan dalam golongan kita, orang itu harus mendapat hukuman apa?"

"Bagi orang yang memasuki bagian depan kuil Pho-hie-to- kwan secara gegabah, dikutungi sebelah kaki atau tangannya, jikalau sampai bagian belakang, harus dibunuh sampai mati." menjawab Tang Cin.

"Kalau sudah tahu aturan dan larangannya maka sekarang aku perintahkan kau segera potong sebelah kaki atau tangan orang-orang ini untuk melindungi hukum kita." Demikian Thiat- kwan Totiang mengeluarkan perintahnya. Si tangan ganas kecil yang mendengar perintah itu, dengan sinar mata buas memandang Hee Thian Siang lalu berkata pula kepada ketuanya: "Tecu menurut perintah akan menjalankan tugas itu dengan segera, tetapi tecu dengar bahwa sahabat she Hee ini adalah murid Pak-bin Sin-po Hong-poh..."

"Tidak perduli dia murid siapa, tidak perduli dari golongan mana, oleh karena sudah melanggar peraturan golongan kita sendiri." Bentaknya bengis.

Hee Thian Siang yang menyaksikan pertunjukan itu merasa sangat muak, tetapi karena memikir dirinya sendiri sudah berani menerjang ke dalam goa macan, maka kini telah bertekad hendak mengacau sarang penjahat itu.

Sementara itu Tang Cin yang mendengar suara ketuanya tadi, lantas memberi hormat, setelah itu ia berpaling dan berkata pula kepada Hee Thian Siang: "Hee sicu, pinto Tan Cin atas perintah ketua, hendak minta pelajaran beberapa jurus dari ilmu kepandaianmu, baik dengan senjata atau dengan tangan kosong, kita mengadu kepandaian yang tulen."

Oleh karena Hee Thian Siang sendiri dahulu pernah bertempur dengan Su-to Keng yang menyamar menjadi Su-to Wie dan kemudian pernah bertempur dengan Hian-ceng Cinjing dari Pho-hie hee-wan dengan ilmu pedangnya Hui- hong-u-liu-kiam-hwat, maka ia tahu benar bahwa ilmu silat terampuh golongan Tiam-cong itu semuanya merupakan ilmu silat yang sangat ampuh, ia sendiri sekalipun bisa merebut kemenangan tetapi pasti harus mengeluarkan banyak tenaga, maka sebaiknya menggunakan ilmu Kiam-thian Khie-kang yang merupakan ilmu kepandaian terampuh dari suhunya, untuk lebih dulu memberi hajaran kepada imam itu.

Pada saat itu Say Han Kong anggap keadaan di sekitarnya sangat berbahaya, Thiat-kwan Totiang dan Lui Hwa berada dihadapannya menilik dirinya, ia juga melihat bahwa sepasang mata Hee Thian Siang sudah bernapsu benar, ia dapat menduga bahwa jago muda yang keras kepala dan berhati baja itu mungkin sudah timbul nafsu membunuh, maka ia buru-buru mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, dan berbisik di telinganya: "Hee laote, kita berada di sarang penjahat, maka harus mengadakan reserve, supaya kita bisa keluar dengan selamat. Dalam pertempuran baiknya jangan terlalu memforsir tenaga, sudah cukup kalau dibikin terluka saja." 

Hee Thian Siang karena sudah mengambil keputusan dan ilmunya Kiam-thian-khie-kheng diam-diam sudah dipusatkan, ketika mendengar ucapan demikian, ia masih tetap unjukkan tertawa dan berkata kepada Tang Cin: "Karena ketuamu sudah memberikan perintah kepadamu untuk membasmi orang-orang yang berani masuk ke daerah terlarang golongan Tiam-cong, sayang Hee Thian Siang yang ingin mempertahankan jiwanya, maka kit sebaiknya bertanding kekuatan tenaga dalam, bagaimana kalau kita putuskan dalam pertandingan satu jurus saja?"

Dalam pertandingan ilmu silat, baik dengan tangan kosong maupun menggunakan senjata, siapa yang kuat bisa saja mencecar lawannya dengan serangan yang gencar dan hebat tetapi pihak yang lemah masih bisa menggunakan kelincahan gerak badannya untuk mengelakkan serangan lawannya. Hanya dalam pertandingan mengadu tenaga dalam, sedikitpun tidak dapat menggunakan akal atau kecerdikan, apalagi hanya dalam satu jurus. Dengan lain perkataan, juga berarti suatu keputusan antara mati dan hidup dalam sejurus itu saja.

Oleh karenanya, maka tantangan Hee Thian Siang itu membuat Tang Cin yang bersikap ramah tapi berhati kejam, yang mendengar itu tertegun di tempatnya. Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, berkata pula sambil tertawa terbahak-bahak: "Orang Tiam- cong-pay ternyata hanya bisa omong besar saja, tetapi sebetulnya tidak memiliki kepandaian yang benar-benar..."

Belum lagi habis ucapannya, si tangan ganas kecil Tang Cin sudah memusatkan ilmunya Hek-sat-im-ciang ke dalam tangannya, dengan tiba-tiba dan tanpa memberi peringatan lebih dahulu sudah melancarkan serangannya kepada Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang yang sudah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melindungi sekujur badannya ketika diserang secara mendadak, ia lantas lonjorkan tangannya, tetapi gerakan itu sedikitpun tidak menimbulkan hembusan angin.

Ketika dua pasang tangan saling beradu, ilmu Hek-sat-im- ciang Tang Cin yang disalurkan melalui kedua tangannya sudah mendesak dengan hebatnya, tapi Hee Thian Siang dua tangannya tiba-tiba agak ditarik kembali kemudian dengan tiba-tiba pula dibalikkan, sambil tertawa terbahak-bahak ilmunya Kiam-thian-khie-kang juga disalurkan melalui kedua tangannya dan balas mendesak dengan hebatnya.

Thiat-kwan Totiang sebagai ketua dari partai besar, sudah tentu memiliki pemandangan luas, ketika mendengar suara ketawa Hee Thian Siang tadi, samar-samar ada mengandung kekuatan Kian-thian-khie-kang lantas berkata kepada Li Hwa sambil mengerutkan alisnya: "Tak kuduga she Hee itu dalam usia begini muda sudah dapat mempelajari ilmu Kian-thian- khie-kang, ilmu terampuh Hong-poh Cui, ilmu yang dilatih Tang Cin justru paling takut terhadap ilmu semacam ini, barangkali ia tidak akan lolos dari bahaya maut."

Sambil bicara matanya ditujukan ke tengah lapangan, saat itu tangan Tang Cin masih menempel di sepasang tangan Hee Thian Siang, satu sama lain sedang mengadu kekuatan dengan hebatnya. Tetapi di pihak Hee Thian Siang tampak tenang-tenang saja, bahkan di bibirnya masih tersungging satu senyuman, sebaliknya Tang Cin, sepasang matanya melotot, keringat dingin menetes dengan deras, mulai turun dari jidatnya.

Thiat-kwan Totiang yang menyaksikan keadaan itu kembali berkata dan perintahkan kepada anak buahnya: "Cit sute Hian Hwa, kau keluarlah, murid yang bertugas di Pat-kwa-tong hari ini, lekas persiapkan untuk keperluan Tang Cin suheng!"

Dari rombongan anak buah Tiam-cong-pay, muncul seorang Imam berwajah merah dan berewokan, tetapi sebelum orangnya tiba, di lapangan, Hee Thian Siang tiba-tiba menarik kembali tangannya, kaki tangannya diangkat, untuk menendang rubuh Tang Cin yang sudah menjadi bangkai, darah mengucur keluar dari lubang mulut dan telinganya.

Say Han Kong yang menyaksikan dalam pertempuran babak pertama itu di pihak Tiam-cong-pay sudah kehilangan satu jiwa, ia sudah mengetahui bahwa kedua pihat tidak dapat diselesaikan dengan cara baik, jikalau hendak keluar dari kuil Pho-hie-to-kwan dalam keadaan selamat, mau tak mau harus melalui suatu pertempuran hebat dan sengit.

Baru saja ia sendiri hendak turun ke lapangan untuk menggantikan Hee Thian Siang, Leng-po Giok-lie Ca Bu Kao sudah lompat melesat dan turun ke tengah lapangan.

Hee Thian Siang tahu benar kepandaian ilmu silat Ca Bu Kao yang jauh lebih tinggi daripada dirinya sendiri, maka untuk sementara ia undurkan diri, dan berkata sambil tertawa kepada imam bermuka merah yang oleh Thiat-kwan Totiang disebut sebagai Cit sutenya Hian Hwa: "Hee Thian Siang untuk sementara hendak beristirahat dulu, biarlah kau merasakan kepandaian ilmu Lo-hu-pay dari bibi Ca ini." Antara golongan Lo-hu dan Tiam-cong memang sudah lama mendendam permusuhan maka Ca Bu Kao dan Hian Hwa tojin juga tidak perlu banyak bicara, lantas mulai bergebrak.

Hian Hwa tojin merupakan seorang dari tingkatan yang lebih tua setingkat daripada Tang Cin, sudah barang tentu kepandaiannya lebih tinggi sedikit, ilmu tangan kosongnya meskipun belum mencapai ke taraf sempurna, tetapi juga sudah cukup kuat, gerakannya yang gencar dan dibarengi dengan kekuatan tenaga dalam, kadang-kadang melancarkan serangan yang mematikan, yang susah dijaga oleh lawannya.

Ca Bu Kao juga menggunakan ilmu tangan kosong dari Lo- hu-pay, kepandaian tenaga dalamnya lebih tinggi setingkat dari Hian Hwa tojin tapi oleh karena ia belum sembuh betul dari lukanya, meskipun ia sudah diberi obat oleh Say Han Kong, tetapi sedikit banyak mempengaruhi gerakannya, maka setelah beberapa jurus, keadaannya masih menunjukkan sama kuatnya, belum dapat merebut kemenangan.

Hian Hwa tojin agaknya sudah dapat menemukan kelemahan Ca Bu Kao, serangannya semakin gencar, hingga menimbulkan kemarahan Ca Bu Kao, ia juga tidak ingat keadaan lukanya sendiri, dengan beruntun ia menggunakan gerak tipu terampuh untuk menggempur lawannya.

Serangan dari gerak tipu Pan-sian-ciang-lek, berhasil mendesak Hian Hwa tojin, sehingga terpaksa menyambut dengan kekerasan dan akhirnya terpental mundur beberapa langkah dengan terhuyung-huyung, imam itu merasakan darahnya bergolak, wajahnya pucat pasi, jelas bahwa luka dalamnya sudah tidak ringan lagi. Tetapi Ca Bu Kao sendiri juga lantaran memforsir tenaganya, luka di bagian pundaknya terbuka lagi, hingga darahnya membasahi pakaiannya. Say Han Kong buru-buru memanggil balik Ca Bu Kao, dengan obat luka yang dibawanya, dia berikan kepadanya.

Sedangkan dipihak Thiat-kwan Totiang, ketika menyaksikan keadaan demikian, dengan wajah penuh sesal, memerintahkan Hian Hwa tojin mundur, kemudian ia mengeluarkan siulan panjang, semua anak buahnya yang berada diseputaran itu berkumpul menjadi satu ke tengah lapangan, orang-orang itu berdiri terpisah tiga tombak lebih dari Hee Thian Siang dan lain-lain. Masing-masing menghunus pedang panjangnya dan membentuk satu barisan pedang yang bentuknya sangat aneh.

Selesai membentuk barisan pedang, Thit-kwan tojin dengan wajah merah padam, berkata kepada sutenya Lui Hwa: "Lui Jie sekarang kuperintahkan kau turun tangan sendiri, jangan kau pandang muka kepada siapapun juga, bunuh semua orang-orang yang datang itu, biarlah mereka belajar kenal dengan kepandaian Tiam-cong yang tulen."

Berkata sampai di situ ia berhenti sejenak, dan berkata kepada anak-anak muridnya yang membentuk barisan pedang itu: "Sekarang barisan pedang Tiang-keng Kiam-tin sudah terbentuk, daerah di belakang kuil Pho-hie-to kwan ini hanya boleh orang masuk tidak boleh orang keluar. Anak-anak murid Tiam-cong yang bertugas menumpas musuh itu, tidak perduli berjaga dibagian mana saja, apabila penjagaannya dipatahkan oleh musuh, akan dihukum mati."

Semua anak murid Tiam-cong-pay menerima perintah itu, pedang panjang setiap orang semua diangkat setinggi dada, ujung pedang ditujukan ke arah Say Han Kong berempat, suara sunyi namun diliputi oleh ketegangan hingga membuat daerah itu diliputi oleh nafsu pembunuhan.

Say Han Kong yang melihat suasana sudah memburuk, sepasang alisnya dikerutkan, ia pikir dipihak sendiri yang hanya empat orang, selain Leng-po Giok-lie lah yang berkepandaian paling tinggi, tetapi lukanya telah kambuh kembali, tentunya tidak sanggup melakukan pertempuran hebat dalam waktu yang lama. Kedua adalah Hee Thian Siang, sedangkan dirinya bersama Oe-tie Khao meskipun masing-masing memiliki kepandaian istimewa, tetapi kepandaian ilmu silat yang sebenarnya, kalau dibanding dengan sepasang jago pedang Tiam-cong itu, masih belum nempil.

Di sini sudah tahu bukan saja jumlah orang kalah banyak, sedang kekuatan tangannya juga masih belum bisa mengimbangi, untuk keluar dari dalam barisan pedang itu, ia belum tahu harus menggunakan cara bagaimana? Oe-tie Khao yang melihat Lui Hwa yang sudah berdiri ditengah lapangan dengan gagahnya, lalu berkata kepada Say Han Kong: "Tua bangka, kau jangan kesal, peribahasa mengatakan, Sebelum takdir dipantang mati! Malam ini aku si pengemis tua juga terpaksa akan turun tangan sendiri, dengan senjata tongkat Cit-po Likongkay ini, aku hendak menguji kepandaianku melawan ilmu pedang Tiam-cong yang dimainkan oleh hidung kerbau she Lui itu."

Hati Say Han Kong tergerak, ia bertanya dengan suara perlahan: "Pengemis tua, kau selamanya mendapat gelar Sam-ciu lopan, tongkatmu Lie-kongkay itu ditambah dengan gelar Cit-po, apakah benar ada rahasianya untuk menundukkan..."

"Rahasia tidak boleh dibocorkan, aku betul-betul tidak takut dengan ilmu pedang Tiam-cong dari hidung kerbau she Lui itu, tetapi jikalau dia sudah naik darah dan menggunakan senjata pasir beracunnya yang sangat ganas, aku terpaksa minta tolong kepadamu untuk membantu aku." Memotong Oe-tie Khao sambil tertawa. Dua jago tua itu semuanya memiliki kecerdasan otak luar biasa, kini karena harus menghadapi musuh tangguh, maka masing-masing mengasah otak dan peras keringat berunding dengan cara bagaimana untuk menghadapi musuh-musuhnya, tetapi mereka tidak menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga, sebaliknya kata-kata itu diucapkan dengan terang-terangan, seolah-olah sengaja supaya didengar oleh Lui Hwa dan Thiat-kwan Totiang.

Lui Hwa juga tahu benar bahwa Oe-tie Khao itu seorang pengemis sakti yang sangat cerdik, disamping itu juga memiliki kepandaian dan pengetahuan berbagai macam senjata rahasia, ketika mendengar ucapannya bahwa ia tidak takut ilmu pedangnya, maka segera menduga bahwa senjata tongkatnya itu pasti diperlengkapi senjata khusus.

Sehabis bicara dengan Say Han Kong, Oe-tie Khao berjalan menuju ke lapangan sambil ketawa berseri-seri dari badannya mengeluarkan sebuah tongkat pendek sekaki lebih, tongkat itu warnanya hitam legam, yang terbuat dari baja tulen.

Lui Hwa yang menyaksikan tongkat baja itu, bentuknya demikian pendek, seolah-olah barang permainan anak-anak, lantas mengerutkan alisnya, ia tahu bahwa tongkat aneh itu pasti memiliki daya yang luar biasa, jikalau tidak, dengan cara bagaimana Oe-tie Khao berani menggunakannya untuk menghadapi senjata pedangnya?

Benar saja, Oe-tie Khao setelah tongkat berada di tangannya, tidak nampak gerakan apa-apa, ia hanya mengeluarkan suara tertawa aneh, tetapi dengan cara tiba- tiba tongkat itu menjadi panjang sehingga hampir tiga kaki, tongkat itu dilintangkan di depan dada, sedang kedua kakinya dengan suatu gerakan seolah-olah orang mabok, bergerak ke samping dan ke kanan! Jago pedang nomor dua Tiam-cong Lui Hwa juga merupakan salah seorang persilatan, ia kini mendapat kenyataan bahwa senjata tongkat Oe-tie Khao bukan saja bisa menjadi panjang dan pendek menurut keinginan hatinya, tetapi juga menggunakan ilmu silat yang sudah jarang ada didalam rimba persilatan, ilmu silat itu ialah ilmu silat yang menggunakan senjata tongkat yang dinamakan Pat-sian-cui- kay. Atau ilmu tongkat delapan dewa yang mabok arak.

Diam-diam ia lalu mengambil keputusan, ia harus berlaku hati-hati untuk menjaga jangan sampai terbokong oleh lawannya sehingga menodai nama baik tiga jago pedang Tiam-cong selain itu, setelah melayani beberapa jurus segera menggunakan senjata rahasianya yang terampuh, pasir beracun untuk menyingkirkan pengemis tua yang tindak tanduknya, senjata dan ilmu silatnya sangat aneh.

Oe-tie Khao waktu itu sudah membuka serangannya lebih dahulu, tongkatnya ditujukan ke depan dada Lui Hwa.

Lui Hwa yang sudah banyak pengalaman dan sudah banyak menghadapi lawan besar, dapat berlaku sangat hati- hati, ketika diserang oleh Oe-tie Khao dengan tongkatnya yang sangat pendek, tongkat itu berikut lengannya cukup lima kaki panjangnya, tetapi anehnya serangannya itu dilakukan dari jarak enam kaki lebih, hingga ia dapat menduga bahwa serangan itu pasti mengandung rahasia apa-apa, maka ia sengaja tidak menyambuti, hanya melompat mundur tiga kaki jauhnya.

Benar seperti apa yang ia duga, selagi ia lompat mundur, ujung tongkat ditangan Oe-tie Khao dengan tiba-tiba mulur panjang lagi delapan dim.

Belum hilang rasa terkejutnya Lui Hwa, Oe-tie Khao sudah melancarkan serangannya, kini ujung tongkatnya dengan tiba- tiba tumbuh setangkai bunga teratai sedang gagang yang lain tumbuh benda yang bentuknya mirip dengan bulan sabit, tetapi memancarkan sinar berkilauan.

Lui Hwa tidak berlaku gegabah, ia lintangkan pedang di depan dada untuk melindungi bahaya, setelah itu ia berkata sambil tertawa: "Dalam tongkatmu ini rasanya kau perlengkapi berbagai macam barang yang tidak sedikit."

"Bukan apa-apa, hanya sebuah tongkat yang bisa panjang dan diperpendek, ujungnya diperlengkapi bunga teratai, ditambah lagi dengan senjata golok To liong-to yang khusus untuk memecahkan ilmu Khikang, dalam tujuh wajah sekarang baru muncul empat, bagaimana sudah anggap banyak? Sebaiknya kau berhati-hati dengan tongkatku ini, ia belum mengeluarkan senjatanya yang paling ampuh yaitu senjata pembetot nyawa."

Sementara itu Oe-tie Khao tangannya sudah pegang tengah-tengah tongkatnya yang kini berubah menjadi senjata aneh, karena dari ujung terdapat baja yang berbentuk bunga teratai, sedang di ujung lain golok bulan sabit, dua benda tajam itu seolah-olah semua dapat menyerang musuhnya dengan senjata aneh sekarang ia menyerbu Lui Hwa dan menyerang dengan hebatnya.

Dalam hal kepandaian ilmu silat, meskipun kepandaian Lui Hwa lebih unggul sedikit dari dada Oe-tie Khao, tetapi oleh karena ia Harus berlaku hati-hati dengan senjata Oe-tie Khao yang bentuknya sangat aneh itu, maka setiap ia sambuti dengan hati-hati sekali. Setelah pertempuran itu sudah berlangsung selama dua tiga puluh jurus masih belum dapat menggunakan ilmu pedang Tiam cong-pay yang diagulkan.

Hee Thian Siang yang menyaksikan pertandingan itu tampaknya sangat girang, ia berkata kepada Say Han Kong dengan suara pelahan: "Say locianpwe, kalau dilihat keadaan yang seperti ini, suasana malam ini tidak demikian buruk seperti apa yang kita duga semula, jikalau Oe-tie locianpwe menggunakan senjatanya membetot nyawa dalam tongkatnya itu, barangkali akan membuat Lui Hwa mengalami sedikit kesulitan."

Say han Kong mengerutkan alisnya, dengan suara perlahan pula ia berkata kepada Hee Thian Siang:

"Laote, kau tidak tahu, senjata tongkat Cit-po li-kong-cay Oe-tie Khao itu, sedikit pun tidak ada gunanya, tongkat itu semata-mata merupakan barang gaib, yang hanya dapat digunakan untuk menggertak orang. Jikalau sampai diketahui oleh Lui Hwa keadaannya akan berubah dan membahayakan dirinya sendiri, kecuali apabila musuh itu terjebak oleh akal yang baru saja kita bicarakan tadi, sehingga menggunakan senjata rahasia pasir beracun, mungkin kita dapat menggunakan senjata berbisa untuk melawan bisa dengan demikian barangkali kita akan dapat menguasai keadaan!"

Hee Thian Siang yang mendengarkan ucapan itu baru tahu bahwa Serangan hebat yang dilancarkan oleh Oe-tie Khao itu, sebetulnya hanya merupakan suatu tipuan belaka namun demikian serangan itu benar saja menimbulkan repot lawannya. Lui Hwa merasa khawatir, maka setiap merasakan bahwa gerakannya selalu terhalang!

Tetapi pasir beracun itu adalah senjata rahasia tunggal golongan Tiam cong yang dapat dipakai untuk menjagoi rimba persilatan, bukan saja khasiatnya mirip dengan api Kiu-yu- Leng-hwe, oleh karena pasir ini dapat ditebarkan secara luas maka hebatnya jauh lebih besar daripada Kiu-yu-leng-bwe. Justru senjata rahasia ganas inilah yang ditakuti oleh Leng-po Giok-li. Dengan cara bagaimana Oe-tie Khao menghendaki lawannya menggunakan senjata itu? Benarkah pengemis tua itu memiliki kepandaian atau senjata yang dapat digunakan untuk merampas pasir beracun? Pihak Hee Thian Siang masih diliputi perasaan heran dan tanda tanya, di pihak Thiat kwan Totiang juga menyaksikan itu juga merasa jengkel, ia anggap bahwa senjata tongkat yang dipakai oleh Oe-tie Khao itu terlalu sakti, jikalau dibiarkan pengemis tua itu menggunakan senjatanya terus-terusan, ji sutenya Lui Hwa mungkin akan mengalami kesulitan, maka ia lalu memberikan isyarat kepada Lui Hwa supaya jangan melayani terus, tetapi supaya lekas menurunkan serangannya yang mematikan!

Benar saja, ketika Lui Hwa mendengar isyarat suhengnya diperhebat hingga dalam waktu sekejap mata, U-tie Khao telah dikurung oleh sinar pedang Lui Hwa!

U-tie Khao sendiri juga merasakan hebatnya serangan itu, maka ia tidak berani menyambut, hanya dengan mengandalkan kelincahannya, mengelakkan setiap serangan lawannya! Lui Hwa setelah berhasil mendesak mundur lawannya, lalu menggunakan kesempatan baik itu, pedangnya dialihkan ke tangan kiri, sedang tangan kanannya dengan kecepatan bagaikan kilat memakai sarung tangan kulit yang khusus menggunakan senjata pasir beracunnya!

Ketika U-tie Khao menyaksikan Lui Hwa sudah memakai sarung- tangan, lalu berkata kepada Say Han Kong dengan suara nyaring:

"Say Han Kong dan Hee Laote, awas menjaga diri nona Ca, hidung kerbau she Lui ini hendak menggunakan senjata rahasia pasir beracun yang sangat ganas!"

Lui Hwa yang mendengarkan perkataan itu dengan sombongnya memperdengarkan suara ketawa dingin, sementara itu U-tie Khao sudah berkata lagi: "Hidung kerbau, asal kau berani menggunakan pasir beracunmu, aku juga akan suruh kau merasakan satu senjata wasiatku yang selama ini belum pernah kugunakan!

Lui Hwa bagaimana mau percaya ucapan Oe-ti Khao itu, sambil memperdengarkan suara tawanya, tangan kanannya yang memakai sarung dimasukkan ke dalam kantong kulit yang tergantung di pinggangnya, setelah itu ia menggenggam pasir beracunnya dan ditebarkan seluas setombak lebih, pasir itu mengeluarkan sinar yang kemerah-merahan, mengurung sekujur badan U-tie Khao!

Senjata pasir beracun itu adalah ciptaan Lui Hwa sendiri jikalau tidak digunakan disimpan di dalam kantong kulit yang terbuat dari kulit ular, bentuknya hanya seperti pasir biasa, hanya warnanya merah berkeredepan, tetapi jikalau sudah ditebarkan, begitu tertiup angin lantas terbakar dan menjadi api yang mengandung bisa, hingga lawannya sulit untuk mengelakkan dirinya dari serangan api itu!

Tetapi U-tie Khao dengan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, tongkat di tangannya didorong ke depan, dari ujungnya yang berbentuk bunga teratai, setiap ujungnya bunga mengeluarkan "menyemburkan" air yang berbau aneh, air itu ditujukan ke udara untuk memadamkan api dari pasir berbisa tadi!

Air ajaib itu adalah semacam air yang terbuat dari bahan minyak yang mudah terbakar, ia dapatkan itu ketika ia merantau keluar negeri dan didapatkan secara tidak terduga- duga, kemudian olehnya minyak itu dibuat menjadi air dan dimasukkan ke dalam tongkatnya, ia sungguh tak menduga bahwa air ajaib itu kini dapat digunakan.

Dalam mata Lui Hwa, air yang keluar dari tongkat itu tentu tidak dipandang mata olehnya, maka ia berani omong besar, dengan ucapan sangat jumawa ia mengejek U-tie Khao. "Inikah yang kau maksudkan senjatamu yang belum pernah kau gunakan itu ? . . ."

Baru saja menutup mulutnya, wajahnya tiba-tiba berubah, dengan cepat ia lompat ke samping!

Kiranya air yang muncrat dan tongkat itu, begitu menyentuh sinar api yang keluar dari pasir beracunnya, saat itu lantas menjadi padam, sedangkan air itu berubah menjadi api, terus meluncur ke arah Lui Hwa sendiri!

Meskipun Lui Hwa sudah gesit tindakannya untuk menyingkir, tetapi karena terjadinya itu secara tidak terduga- duga, masih agak terlambat, apalagi U-tie Khao waktu itu sudah menarik kembali tongkatnya, dengan kedua tangannya ia melancarkan serangannya dengan menggunakan tenaga dalam untuk mendorong api itu semakin ganas.

Api itu begitu menyambar tubuhnya, Lui Hwa merasa tidak beres, benar saja ketika api itu menyentuh pakaiannya, lantas mulai membakar dirinya.

Terbakar sedikit kulit dan rambut memang tak menjadi halangan tetapi yang dikhawatirkan ialah kantong kulit yang berisi pasir beracun yang tergantung di pinggang Lui Hwa, apabila kantong itu ikut terbakar, juga akan menimbulkan kebakaran hebat, dan pasir beracun jika tersentuh api pasti akan meledak dan menimbulkan bahaya besar, bukan saja Lui Hwa sendiri akan menjadi hancur luluh, tetapi orang-orang di sekitarnya sejarak lima tombak termasuk Say Han Kong dan lain-lainnya.

Hee Thian Siang agaknya masih belum mengetahui bahaya sudah mengancam, ia masih berkata-kata dengan Say Han Kong dan Ca Bu Kao untuk memuji kecerdikan U-tie Khao yang dianggapnya bahwa tongkat itu merupakan senjata terampuh untuk menghadapi pasir beracun ! Sedangkan U-tie Khao sendiri juga yakin usahanya berhasil, sedikitnya dapat menyingkirkan Lui Hwa, diam-diam merasa bangga, sedikitpun tidak memikirkan akibatnya!

Pada saat semua orang masih berdiri bingung menyaksikan kejadian itu, dan bahaya setapak demi setapak sudah datang mengancam di tengah udara tiba-tiba tampak berkelebatnya sinar putih yang meluncur dari tangan Thiat- kwan Totiang. dan dengan cepat sekali menyambar Kantong kulit yang tergantung di pinggang LUi Hwa, dan sedikit pun tidak melukai orangnya! Selanjutnya ujung pedang itu menyontek, sehingga kantong yang sudah dipenuhi oleh air yang menyembur keluar dari tongkat U-tie Khao jadi terbang di tengah udara. setelah itu, ditambah lagi oleh serangannya, kantong itu dibikin terpental sejauh enam tombak lebih!

Thiat-kwan Totiang setelah berusaha sekuat tenaga untuk menghindarkan bahaya yang mengancam orang-orangnya, di samping itu ia membentak kepada Lui Hwa: "Lui jite, lekas bergulingan untuk memadamkan api yang membakar dirimu, dan berusahalah mengobati luka-lukamu sendiri, orang-orang yang datang malam ini nampaknya terlalu berani mati biarlah aku yang akan turun tangan sendiri untuk membereskan mereka, satu pun jangan mengharapkan bisa keluar dari Pho- hie to-kwan dalam keadaan hidup!"

Baru saja menutup mulutnya, tiba-tiba terdengar suara ledakan hebat, kantong kulit yang berisi pasir beracun, sudah meledak. Bukan saja sudah menghancurkan kuil Po hie to kwan, sedang apinya yang ganas, juga sudah menimbulkan kebakaran di beberapa tempat. Hebatnya api itu, sesungguhnya sangat menakutkan!

Thiat kwan Totiang lalu memberi isyarat kepada orang- orangnya supaya lekas menolong tempat kebakaran, setelah itu ia sendiri dengan pedang terhunus dan muka merah padam menghampiri U-tie Khao, katanya dengan nada suara dingin:

"U-tie Khao, jikalau aku tadi tidak turun tangan dalam waktu yang tepat, perbuatanmu tadi bukankah akan menimbulkan bencana hebat?"

U-tie Khao sesungguhnya tidak pernah menyangka bahwa perbuatan tadi menimbulkan akibat yang begitu hebat, maka diam-diam ia juga merasa tidak enak, atas teguran itu ia diam saja sambil mengerutkan alisnya!

Thiat-kwan Totiang memandang beberapa bagian kuilnya yang sudah terbakar, dengan sinar mata buas ia berkata pula:

Di dalam dunia Kang-ouw semua orang tahu bahwa siapa yang membunuh orang harus mengganti jiwa, siapa yang hutang uang harus mengganti uang! Kuilku ini telah kau rusakkan demikian hebat, sekarang aku akan mengambil tulang-tulang rusukmu untuk mengganti!"

Sejak Thiat kwan Totiang turun tangan, U-tie Khao sudah tahu, bahwa kali ini sulitlah untuk lolos dari tangan ketua Tiam cong pai itu, tetapi sebaliknya semangatnya terbangkit, ia mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak:

Thiat kwan Totiang dibingungkan oleh sikap U-tie Khao yang aneh itu, maka lalu bertanya dengan perasaan terheran- heran:

"Mengapa kau tertawa?"

Dengan alis berdiri dan mata melotot, selagi U-tie Khao hendak menjawab, Hee Thian Siang sudah lompat maju sambil membawa senjata Sam ciok hwan, katanya sambil tertawa: "U-tie locianpwe, silahkan mengaso dulu, biarlah Hee THian Siang yang menghadapi ketua Tiam cong pai ini!" U-tie Khao tahu bahwa anak muda itu bukan tak berkepandaian tinggi, sedang kecerdikannya juga tidak di bawahnya sendiri, apalagi ia adalah murid Pak bin Sin po, salah seorang terkuat pada dewasa ini, rasanya sedikit banyak akan membuat ragu-ragu Thiat-kwan Totiang. Oleh karena itu, maka ia lantas mengundurkan diri dan berkata sambil tersenyum:

"Hee laote, kau hendak menggantikan aku sudah tentu lebih baik daripada aku hadapi sendiri, tetapi lawan kita ini adalah ketua dari satu partai, kepandaian ilmu silatnya tentu bukan main hebatnya, jangan kau berlaku sembrono atau gegabah!"

Thiat kwan Totiang dengan sikap dingin memandang Hee THian Siang dan lalu berkata sambil menganggukkan kepala:

"Kau yang menghadapi, tidak ada halangan. U-tie Khao karena hutang sudah pasti harus membayar, sedang kau setan kecil ini karena membunuh orang, maka juga akan membayar jiwa!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu juga lantas tertawa terbahak-bahak:

"Mengapa kau juga tertawa?" bertanya Thiat-kwan Totiang.

"Kalau aku membunuh orang, kau kata harus mengganti dengan jiwa, dan kau sendiri yang sudah membunuh orang, apakah tidak mengganti jiwa?"

"Harus dilihat, siapa yang dibunuh."

Sepasang mata Hee Thian Siang memancarkan sinar tajam, dengan sinar mata yang tajam, ia menatap ketua Tiam cong pai, setelah itu ia membentak dengan keras: "Orang yang kau bunuh adalah susiokmu yakni Kwan Sam Pek! Alasannya hanya kau hendak merebut "

Bukan kepalang terkejutnya Thiat kwan Totiang setelah mendengar perkataan itu, sudah tentu juga merasa tidak senang boroknya dikorek oleh Hee Thian Siang, maka dalam keadaan kalap ia berkata dengan suara keras:

"Bangsat kecil tidak tahu diri, kau berani mengucapkan kata-kata yang tidak keruan, lekas serahkan jiwamu!"

Ucapan itu disusul oleh gerakan serangan yang ditujukan ke ulu hati Hee Thian Siang!

"Melihat kau ketua dari salah satu partai besar, hatimu ternyata demikian kerdil!"

Secepat kilat ia menggunakan senjata gelangnya untuk mengunci pedang Thiat kwan Totiang! Ketika di hadapan kuil Pho hie hee wan di gunung Bu leng san, Hee Thian Siang pernah menggunakan siasat dan gerak tipu semacam itu menjatuhkan Hian ceng Tojin! Tetapi untuk menghadapi ketua Tiam cong pai, siasat itu tentu tidak mempan lagi. Thiat kwan Totiang mengibaskan tangan kanannya, hingga pedang yang terjepit oleh sepasang gelang Hee Thian Siang terlepas lagi, sedangkan Hee Thian Siang merasakan kesemutan kedua tangannya, bahkan sudah mengeluarkan darah, maka sepasang senjata gelangnya juga jatuh ke tanah!

Say Han Kong, U-tie Khao dan Ca Bu Kao menyaksikan gerakan Thiat-kwan Totiang baru sejurus sudah berhasil menjatuhkan senjata Hee Thian Siang, hingga semuanya pada terkejut dan terheran-heran!

Thiat kwan Totiang yang sudah tumbuh nafsu membunuhnya, dengan gerakan yang sangat lincah baru saja dengan tangan kanannya menjatuhkan senjata lawannya, tangan kirinya secepat kilat menggunakan lengan jubah untuk mengibaskan hembusan angin hebat, hembusan angin hebat itu tepat mengenai diri Hee Thian Siang, hingga terpental sejauh lima tombak!

Oleh karena ketua Tiam cong pai itu sudah menggunakan tenaga sepenuhnya ia menduga pasti bahwa lawannya itu mesti mati, maka ia berkata dengan bangga:

"Hee Thian Siang sudah mati, di antara kalian siapa. "

Belum lagi habis ucapannya, Hee Thian Siang tiba-tiba melompat bangun dari tanah dan berkata sambil menuding Thiat kwan Totiang:

"Hidung kerbau yang tak tahu malu, bagaimana kau masih berani mengucapkan ucapan sombong? Seranganmu dengan lengan jubah tadi barangkali masih belum dapat membinasakan aku!"

Thiat kwan Totiang yang menyaksikan kejadian itu sesaat merasa terheran-heran dan malu kepada diri sendiri, ia pikir senjata Hee Thian Siang sudah terpukul jatuh, dalam keadaan tidak berjaga-jaga, lagi pula tidak mengerahkan tenaganya, maka setelah dihajar oleh kekuatan tenaga dalamnya, seharusnya sudah mati, bagaimana bukan saja tidak mati, bahkan masih bisa melompat bangun dan berbicara?

Selagi otaknya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, tabib sakti Say Han Kong sudah berada di depannya, ia menepuk pundak Hee Thian Siang dan berkata sambil tersenyum :

"Hee laote, kali ini biarlah aku yang mewakili kau!"

Belum lagi habis ucapannya, secepat kilat tangannya sudah bergerak, di luar dugaan Hee Thian Siang, tabib itu telah menotok jalan darah bagian ketiaknya! Jikalau pada waktu biasa, sekalipun Say Han Kong turun tangan secara tiba-tiba rasanya belum tentu dapat merubuhkan Hee Thian Siang tapi malam itu Hee Thian Siang sedang terluka parah, lagi pula memaksakan diri untuk lompat bangun, nafasnya sudah mulai sesak, maka tidak kuat memberikan perlawanan sama sekali, dengan demikian, maka ia lantas rubuh dan jatuh lagi!

Thiat kwan Totiang tahu benar, bahwa Say Han Kong pandai ilmu obat-obatan, Hee Thian Siang yang waktu itu belum mati, mungkin dapat disembuhkan oleh obatnya. Dan dengan hidupnya tabib itu, ada kemungkinan akan mengadu kepada guru Hee Thian Siang ! Hal itu sudah tentu akan merupakan bahaya di kemudian hari bagi golongan Tiam cong pai, maka dari pada menghadapi bahaya besar, sebaiknya empat orang malam itu juga dibinasakan semua, supaya tidak diketahui oleh siapa pun juga. Dengan demikian, Hong poh Cui seandainya hendak menuntut balas juga tidak dapat menemukan saksinya!

Setelah mengambil keputusan itu, ketika melihat Say Han Kong menyentuh Hee Thian Siang dan selagi satu tangan hendak mengambil gelangnya Hee Thian Siang lalu berkata dengan nada suara dingin :

"Say Han Kong, apakah kau masih ingin menolong jiwanya?"

Say Han Kong meneruskan usahanya untuk mengambil senjata Hee Thian Siang, dengan sinar mata yang tajam ia menatap Thiat kwan Totiang, setelah itu ia menjawab dengan suara lantang:

"Bagi seorang tabib, harus memiliki jiwa untuk menolong sesama manusia jangankan Hee Thian Siang laote ini yang datang bersamaku, sekali pun orang-orang dari golongan mu, seandainya ada orang yang terkena racun atau terluka parah, aku juga akan memberikan pertolongan!"

"Kata-katamu ini seolah-olah penuh cinta kasih, tetapi raja akherat sudah menetapkan jam tiga harus mati, bagaimana dapat diperpanjang sampai jam lima? Aku bukan saja akan membuat Hee Thian Siang mati seketika, sekali pun kau dan lain-lainnya juga kukirim ke neraka sekalian!"

Say Han Kong yang mendengar ucapan tekebur itu alisnya berdiri, selagi hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang sangat merdu kemudian disusul oleh kata- katanya:

"Perkataan yang demikian kejam, aku tidak percaya keluar dari mulut ketua Tiam cong pai Thiat kwan Totiang!"

Setelah itu, dari tembok tinggi di belakang kuil Tho hie to kwan melayang turun tiga bayangan, satu hitam satu kuning satu putih terlapis kuning. Ilmunya meringankan tubuh tiga golongan putih itu, semua merupakan ilmu yang jarang tampak di dalam rimba persilatan sehingga diam-diam Thiat kwan Totiang yang waktu itu masih diliputi oleh kemarahan, mau tak mau harus waspada, ia lompat ke samping beberapa kaki jauhnya.

Bayangan orang itu sudah berada di hadapannya, bayangan itu adalah puteri tunggal Thian-gwa Ceng-mo Tiong- sun Hui Kheng, bayangan putih adalah binatang aneh berbulu kuning keemas-emasan dan bayangan putih terlapis kuning dan bentuknya kecil adalah si Siaopek, kera ekcil yang sangat cerdik itu!

U-tie Khao dan Ca Bu Kao semua tak mengenali Tiongsun Hui Kheng dan dua peliharaannya, tetapi Say Han Kong bukan saja masih mengenali kera kecil itu juga mengenali gadis cantik yang mengenakan mantel hitam itu. Ia adalah Tiongsun Hui Kheng yang dahulu memenangkan pertaruhan kudanya Ceng hong kie.

Tetapi malam itu siaopek sudah mengenakan rompi emas yang sangat indah!

Thiat kwan Totiang meskipun tidak kenal dengan Tiongsun Hui Kheng, tetapi dari sikapnya yang agung, sudah dapat menduga bahwa gadis itu bukan dari golongan sembarangan, terutama dua peliharaannya dua binatang luar biasa!

Dengan alis dikerutkan ia bertanya: "Siapakah nona ini? Tahukah bahwa orang yang malam-malam memasuki kuil ini ada pantangan golongan Tiam-cong?"

Tiongsun Hui Kheng, begitu kakinya menginjak tanah, pertama-tama matanya ditujukan kepada Hee Thian Siang, ketika menampak pemuda itu rebah dengan memejamkan matanya, alisnya dikerutkan seolah-olah tidak mendengar pertanyaan Thiat kwan Totiang, maka tidak dihiraukannya sama sekali.

Sementara Say Han Kong sudah mengeluarkan sebutir pilnya yang dibuat dari buah pohon Lengci, segera dimasukkan sebutir ke mulut Hee Thian Siang, kemudian berkata kepada Tiongsun Hui Kheng dengan suara perlahan:

"Nona Tiongsun, jawablah dulu pertanyaan ketua Tiam cong pai. Hee Thian Siang laote untuk sementara tidak halangan, tunggu setelah kita keluar dari markas Tiam cong pai, nanti aku akan periksa dengan teliti!"

Tiongsun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu, kemarahannya mulai hilang, dengan sinar mata yang tajam ia menatap Thiat kwan Totiang, kemudian berkata lambat- lambat: "Namaku Tiongsun Hui Kheng, dengan mengandalkan hubungan ayah dengan ketua Tiam cong pai yang dahulu yang demikian erat, maka aku berani datang kemari untuk menghindarkan kuil pho hie to kwan dari bencana, dan toh kau masih sesalkan aku melanggar pantangan."

Thiat kwan Totiang yang sudah lama mendengar Thian- gwa Ceng mo Tiongsun Seng ada mempunyai seorang puteri yagn pandai menjinakkan segala binatang, maka setelah melihat binatang aneh berbulu emas dan kera kecil yang cerdik itu sudah merasa curiga, kini setelah mendengar Tiongsun Hui Kheng menyebutkan namanya, benar saja apa yang dicurigainya itu ternyata benar, dan oleh karena suhunya sendiri dahulu mempunyai hubungan erat dengan Thian-gwa Ceng mo, maka ia terpaksa merubah sikapnya dan berkata sambil pura-pura tertawa:

"Oooo, kiranya adalah adik Tiongsun, maafkan aku yang tidak menyambut kedatanganmu secara baik ! Tetapi entah apa yang adik maksudkan bahwa kedatanganmu ke Pho hie to kwan adalah hendak menghindarkan kuil kita dari bencana?"

"Tahukah kau asal-usul dan perguruan dia?" tanya Tiongsun Hui Kheng sambil menunjuk Hee Thian Siang.

"Dia adalah muridnya Pak bin Sin po Hong poh Cui." "Nenek itu sifatnya keras dan aneh pula, ia juga lebih susah

dihadapi daripada ayahku, apalagi dia terlalu membela kepada

murid-muridnya! Jikalau Hee Thian Siang yang merupakan murid satu-satunya mati di dalam tanganmu, sudah pasti Hongpoh Cui akan mencari kau. Dalam keadaan marah, tentu dia akan mengambil tindakan keras ! Hanya aku kuatir senjatanya Kian thian Pek lek, seluruh kuil ini pasti akan hancur lebih menjadi abu!" Thiat kwan Totiang memang tahu hebatnya Hongpoh Cui, maka ia tadi menggunakan ilmunya Tiat siu sin kang, ialah serangannya dengan lengan jubah. Setelah membinasakan Hee Thian Siang ia akan membinasakan yang lain-lainnya, tetapi maksud jahat itu ia tak dapat menerangkan maka terpaksa diam saja.

Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan Thiat-kwan Totiang diam saja, segera mengetahui meskipun imam tua itu diluarnya garang, tapi didalam hatinya merasa jeri, maka lantas berkata sambil tertawa hambar: "Kau tadi menyebut aku adik, dan sekarang dengan kedudukanku sebagai adik, aku hendak menyelesaikan pertikaian ini. Kedua pihak kuminta supaya menghentikan pertempuran. Permintaanku ini rasanya toh tidak keterlaluan? Dan kalau memang mau dilanjutkan, tunggulah saja pada nanti pertemuan di puncak Thian-tu-hong yang kedua, boleh dibereskan sekalian."

Thiat-kwan Totiang menatap wajah Tiong-sun Hui Kheng sejenak, sementara hatinya menimbang-nimbang, jika ia tidak terima permintaannya, bukan saja akan tambah musuh kuat lagi, apalagi orang-orang yang berada dihadapannya malam ini, kecuali Hee Thian Siang, masih ada lagi Tiong-sun Hui Kheng dan dua binatang aneh yang pasti juga tidak mudah dihadapi. Maka ia terpaksa berkata:

"Mereka bukan saja sudah memasuki Pho-hie-to-kwan secara lancang, juga melukai beberapa anak buah kami, bahkan melakukan hinaan, pinto sudah tak dapat mengendalikan kesabaran lagi, sehingga terpaksa turun tangan ganas. Sekarang kalau adik Tiong-sun ingin jadi pemisah, biarlah permusuhan ini kita tunda hingga pertemuan di puncak Thian-tu-hong, demikian juga boleh. Hanya adik Tiong-sun juga harus tahu bahwa kuterima permintaanmu ini semata-mata karena memandang mukamu, bukan karena aku takut Pak-bin Sin-po atau senjata Kian-thian-pek-lek." Say Han Kong dan Oe-tie Khao tahu bahwa ucapan Thiat- kwan Totiang itu semata-mata hanya sebagai alasan untuk undurkan diri. Maka mereka tiada berkata apa-apa. Tetapi tidak demikian dengan Ca Bu Kao, ketika mendengar ucapan itu merasa sangat muak, ia mengeluarkan suara dari hidung, dan selagi hendak menyela, Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan keadaan demikian segera menggelengkan kepala tersenyum kepada Ca Bu Kao kemudian berkata:

"Kalau totiang sudah berkata demikian, maka Tiong-sun Hui Kheng bersama Say Tayhiap dan lainnya kini hendak minta diri."

Mendengar disebutnya nama Say tayhiap, Thiat-kwan Totiang kembali mengerutkan alisnya, katanya dengan perasaan tidak senang: "Adik Tiong-sun, kedatanganmu kali ini sungguh tidak kebetulan, lain kali jika kau hendak datang ke Pho-hie-to-kwan, harus lebih dahulu memberi kabar, supaya pinto bisa menyambut dari jauh jangan dianggap kurang sopan terhadap sahabat lamanya."

Tiong-sun Hui Kheng dapat menangkap maksud kata-kata Thiat-kwan Totiang, ia menyesalkan kedatangan secara tiba- tiba, dan membantu Say Han Kong dan lain-lain, tetapi ia berlagak tidak tahu. Segera melambaikan tangannya bersama Say Han Kong dan lain-lain undurkan diri dari Pho-hie-to- kwan. Turun dari gunung Tiam-cong-san melalui satu tikungan, Say Han Kong lalu menghentikan langkahnya dan memeriksa luka Hee Thian Siang.

Tiong-sun Kui Kheng juga tahu bahwa Hee Thian Siang terluka parah, alisnya dikerutkan dan bertanya kepada Ca Bu Kao yang berdiri di sisi dirinya: "Dia terluka oleh siapa? Agaknya...!"

Ca Bu Kao yang melihat Hee Thian Siang meskipun sudah makan sebutir obat pil yang terbuat dari getah lengci, namun masih belum tampak agak sembuh, juga merasa cemas, ketika ditanya ia juga tidak bisa memberikan jawaban memuaskan, maka terpaksa menjawab dengan suara perlahan: "Ia terkena serangan Thiat-kwan Totiang yang menggunakan ilmu Tiat-siu-sin-kang!"

"Hebatkah serangannya?" Bertanya Tiong-sun Hui Kheng terkejut.

Ca Bu Kao mengerutkan alisnya, dengan wajah murung ia menjawab: "Waktu itu Lui Hwa sedang menggunakan senjatanya yang terampuh pasir beracun, apa mau senjata ampuh itu telah digagalkan oleh Oe-tie Khao taihiap, orang- orang Tiam-cong-pay yang mengalami kekalahan hebat, menimbulkan kemarahan ketuanya. Thiat-kwan Totiang sangat marah dan turun tangan sendiri. Dengan demikian serangannya sudah pasti tidak mengenal kasihan. Mungkin dia menggunakan kekuatan tenaga sepenuhnya."

"Kalau ditilik dari kekuatan dan kepandaian ketua Tiam- cong-pay ini dan hebatnya serangan Tiat-siu-sin-kang, apabila dilakukan dengan sepenuh tenaga, sekalipun orang terbuat dari batu juga akan hancur lebur seketika. Tetapi dengan cara bagaimana Hee Thian Siang waktu itu tidak mati seketika dan masih bisa pertahankan badannya?" Berkata Tiong-sun Hui Kheng kaget.

Berkata sampai di situ ia berhenti sejenak, tiba-tiba ia teringat sesuatu, katanya pula sambil menganggukkan kepala: "O, sekarang aku mengerti, ketika di bawah kaki gunung Oey- san aku pernah memberi Hee Thian Siang tiga lembar emas sisik naga pelindung jalan darah peninggalan Tay-piat sianjin, mungkin lantaran barang itu yang melindungi jalan darah bagian dadanya sehingga ia tidak sampai mati."

Say Han Kong yang mendengar ucapan itu segera memeriksa dada Hee Thian Siang, benar saja ia menemukan sisik naga pelindung jalan darah itu berada dijalan darah dibagian dadanya, sedang yang lain berada dibagian punggungnya. Tabib sakti itu setelah mengetahui sebab musabab lantas berkata sambil menghela napas:

"Dua jalan darah dibagian dada Hee Thian Siang, sama dilindungi oleh pusaka peninggalan Tay-piat Sianjin, meskipun terkena serangan Thiat-sing-kang jikalau bisa menahan napas pada waktu yang tepat, tidak akan menjadi halangan, tapi ia beradat keras, ketika terluka ia telah menggunakan ilmunya untuk melompat bangun dan berkata keras kepada Thiat-kwan Totiang sehingga napas dan tenaga mengalami pukulan hebat, meskipun sudah makan sebutir obat yang dibuat dari getah buah lengci, namun masih..."

Tiong-sun Hui Kheng melihat Say Han Kong setelah memeriksa keadaan Hee Thian Siang, wajahnya masih murung, dan kata-katanya itu juga agak ragu-ragu, ia tahu keadaan sangat gawat, maka perasaannya jadi cemas dan bertanya: "Mengapa Say tayhiap tidak melanjutkan keteranganmu, apakah..."

"Sekalipun menggunakan seluruh kepandaianku, paling lama juga cuma bisa menahan jiwanya tujuh hari saja." Berkata Say Han Kong sambil menghela napas panjang.

Ca Bu Kao dan Oe-tie Khao yang mendengar ucapan itu saling pandang.

"Say tayhiap adalah tabib sakti pada dewasa ini, benarkah tidak dapat menolong jiwanya?" Bertanya pula Tiong-sun Hui Kheng cemas.

Say Han Kong menatap Leng-po Giok-lie, kemudian berkata: "Nona Ca, luka Hee Thian Siang sekarang ini serupa keadaannya dengan lukamu waktu kena serangan pasir beracun dahulu, hanya dengan setetes getah pohon lengci atau setangkai bunga teratai Swat-lian yang bisa menolong. Tetapi dua macam barang luar biasa itu yang satu ada di lautan Timur dan yang lain ada di perbatasan Tibet dalam waktu tujuh hari bagaimana keburu..."

Tiong-sun Hui Kheng tampak girang, katanya: "Lautan timur terlalu jauh, tetapi gunung Swat-san yang berada di perbatasan Tibet dalam waktu tujuh hari mungkin masih bisa datang kembali."

Say Han Kong yang mendengar ucapan itu juga teringat kepada kudanya ceng-hong-kie, maka lantas bertanya kepada Tiong-sun Hui Kheng: "Nona Tiong-sun, apakah kudamu Ceng-hong-kie itu juga kau bawa kemari?"

Karena mengingat bahwa Say Han Kong adalah majikan lama Ceng-hong-kie maka ketika ditanya demikian, wajah Tiong-sun Hui Kheng menjadi merah.

Sesaat kemudian ia mengeluarkan siulan pelan, dan kuda yang cerdik itu benar saja lantas mencarinya, melihat Say Han Kong lantas menghampiri dan menunjukkan sikapnya yang masih mengenali bekas majikannya yang lama.

Ling-po Giok-lie Ca Bu Kao menganggukkan kepala dan berkata: "Dengan adanya kuda istimewa ini, dalam waktu tujuh hari mungkin tidak menjadi soal, tapi buah Swatlian itu merupakan barang yang tidak ternilai, bagaimana Peng-pek Sim-po suka memberikan orang sampai setangkai? Kepandaian orang Swat-san-pay juga merupakan kepandaian yang luar biasa, rasanya tidak mudah kita hadapi..."

Kalau benar hanya jalan ini yang bisa menolong Hee Thian Siang, meskipun sukar, juga harus dicoba. Apalagi aku memiliki kuda istimewa, siopek serta binatang anehku ini, mungkin aku dapat mendapatkannya, siapa tahu?" Berkata Tiong-sun Hui Kheng. Berkata sampai di situ, ia berpaling dan bertanya kepada Say Han Kong: "Waktunya sudah mendesak rasanya tidak perlu menghambat lagi, Tiong-sun Hui Kheng kini hendak berangkat ke gunung Tay-swat-san, Say tayhiap dan lain-lain dimana hendak menunggu?"

Say Han Kong berpikir sejenak, kemudian berkata: "Di tepi lautan jihay sebelah Timur ada sebuah kuil tua, kita akan menunggu di sana."

Tiong-sun Hui Kheng menganggukkan kepala, lantas minta diri dan lompat ke atas kudanya bersama siaopek. Dengan cepat kudanya dibedal menuju ke gunung Tay-swat-san.

Say Han Kong dan lain-lain yang menunggu di kuil tua di tepi laut, masih mengalami berbagai kejadian yang mendebarkan hati, tetapi hal itu baiklah kita tunda dulu, kita sekarang mengikuti perjalanan Tiong-sun Hui Kheng.

Tiong-sun Hui Kheng yang melakukan perjalanan itu, sepanjang jalan memikirkan dirinya sendiri: Ia merasa heran, sebab ia selamanya tidak suka bergaul dengan orang biasa, kesukaannya bergaul dengan binatang, tetapi entah kenapa setelah bertemu muka dan mengadakan pertaruhan dengan Hee Thian Siang, hatinya selalu memikirkan pemuda itu, hingga dengan tergesa-gesa ia menyusul ke gunung Tiam- cong-san, bahkan setelah melihat Hee Thian Siang terluka ia telah majukan diri memikul tugas berat itu, melakukan perjalanan ribuan pal jauhnya, untuk mencari buah teratai Swat-lian untuk menyembuhkan luka Hee Thian Siang.

Kalau memikir semua itu Tiong-sun Hui Kheng merasa malu sendiri: "Tindakanku ini hanya memenuhi rasa sebagai orang dunia Kang-ouw yang harus membantu kawan, dan harus menolong sesama yang terluka, putri Thian-gwa Ceng- mo tidak mungkin bisa terlibat oleh jaring asmara." Siaopek yang berada dalam pelukannya, ketika melihat majikannya berkata kepada diri sendiri agaknya seperti berubah kelakuannya, lalu menggunakan tangannya untuk menepuk-nepuk pundak Tiong-sun Hui Kheng.

Tiong-sun Hui Kheng yang paham bahasanya, tahu bahwa keranya itu telah mengetahui kelakuannya sendiri yang beda dengan biasanya, maka seketika itu wajahnya menjadi merah, pura-pura berkata kepadanya: "Siaopek jangan kau menggoda aku, apakah sesalkan aku mengapa ketika berada dikui Thie- hee-kwan aku tidak memberi kau kesempatan untuk berkelahi? Kau harus tahu, bahwa dengan imam itu semuanya merupakan orang-orang yang sangat jahat."

Siaopek yang cerdik ketika mendengar ucapan itu, sepasang matanya berputaran memancarkan cahaya tajam, agaknya merasa penasaran.

Tiong-sun Hui Kheng tahu benar bahwa keranya itu beradat tinggi, maka ia mengelus-elus manja dan berkata pula sambil tertawa: "Sebenarnya kau yang sudah memakai rompi sisik naga peninggalan Tay-piat Sianjin, ditambah lagi dengan kecerdikanmu, sekalipun ketemu dengan tokoh yang bagaimana pun kuatnya, masih sanggup menghadapi. Untuk selanjutnya, apabila ada kesempatan, aku akan memberi kau bergerak, tetapi jangan kau sembarangan mengambil jiwa orang!"

Siaopek yang mendengar ucapan itu tampaknya sangat girang, ia menjatuhkan kepalanya di atas pelukan majikannya, sedangkan binatang buas berbulu kuning emas itu yang lari di belakang Ceng hong kie saat itu mengeluarkan suara geramnya yang aneh !

Tiongsun Hui Kheng yang mendengar geram binatangnya, sudah mengerti maksudnya, maka ia lalu berkata kepadanya : "Tay wang, kau jangan terlalu gembira dulu, kau berbeda dengan Siaopek, oleh karena kau mengikuti aku belum lama, sehingga sifat buasmu masih belum lenyap apabila kau bertindak sembarangan dan melakukan pembunuhan secara sembarangan, aku nanti akan hukum berat padamu!"

Binatang aneh yang dinamakan Tay wang itu setelah mendengar ucapan majikannya, lagi pula dengan memperhatikan sikap nonanya, badannya gemetar agaknya sangat takut.

Tiongsun Hui Kheng sangat sayang kepada tiga binatangnya itu, ketika menyaksikan binatang buas itu demikian sikapnya, ia merasa kasihan, maka lantas berkata sambil tersenyum : "Tay wang, kali ini setelah perjalanan kita dari gunung Tay swat san, kau jangan berlaku sembarangan, segala-galanya kalau kau menurut benar kataku, aku nanti akan menyayangi dirimu seperti aku menyayangi diri Siaopek!"

Dengan mengandalkan kudanya yang istimewa, baru dua hari lebih sudah tiba di daerah pegunungan Tay swat san. Tempat kediaman ketua Swat san pai Pengpok Sin kun bersama istrinya Mao Giok Ceng, yang terletak di tempat yang tertinggi yang dinamakan Hian peng gwan.

Kalau kuda biasa, di tempat yang diliputi oleh salju dan berhawa dingin itu pasti sudah kaku kedinginan, apalagi untuk lari. Tetapi kuda Ceng hong kie adalah kuda istimewa, ia sedikit pun rupanya tidak takut dingin. Di atas pegunungan yang penuh salju ia bisa naik seperti berjalan di tanah datar!

Puncak gunung tertinggi itu ada sebuah dataran tinggi yang terbuat dari salju keras dan pintu gerbangnya terpancang sebuah papan gedung HIAN PENG GWAN.

Tiongsun Hui Kheng yang sifatnya lemah lembut dan ramah tamah, tidak suka berlaku curang, turun dari keduanya terpisah dari tempat itu kira-kira tiga tombak dengan menggandeng kudanya ia berjalan lambat-lambat.

Terpisah dengan pintu gerbang Hian peng gwan masih satu tombak lebih, kedatangannya itu disambut oleh dua pelayan wanita berbaju putih. Dua pelayan itu memberi hormat, ia bertanya sambil tersenyum:

"Bolehkah numpang tanya, siapakah nama nona yang mulia? Adakah hendak berjumpa dengan ketua kami suami istri?"

Tiongsun Hui Kheng melihat pelayan berbaju putih itu semuanya sangat cantik, orangnya pun ramah tamah, ditambah lagi ketika melihat pakaian yang tipis meskipun berdiri di atas gunung yang hawanya dingin demikian rupa sudah pasti memiliki kepandaian ilmu tinggi, maka ia juga menjawab sambil senyum:

"Namaku Tiongsun Hui Kheng, bagaimana sebutan suci berdua?"

Dua pelayan wanita berbaju putih yang cantik manis itu ketika disebut enci oleh Tiongsun Hui Kheng muka mereka merah, maka buru-buru memberi hormat dan menjawab:

"Nona, kita berdua adalah saudara sekandung, namaku Leng Eng dan dia ini Leng Kiat, Swat san Peng bu Leng Pek Ciok adalah kakek kita! Nona adalah puteri Tiongsun locianpwe yang namanya sangat kesohor, tingkatannya lebih tua setingkat daripada kita!"

Mendengar keterangan bahwa Leng Eng dan Leng Kiat itu adalah cucu Leng Peng Ciok, memang sebenarnya tingkatannya sendiri masih tua setingkat daripada mereka. Maka ia juga tidak merendah lagi. Selagi hendak memberikan maksud kedatangannya yang hendak menjumpai Pengpok Sinkun, Leng Kiat yagn berdiri di sebelah kanan, agaknya merasa senang dengan Tiongsun Hui Kheng, lantas berkata sambil tersenyum:

"Nona Tiongsun, kau datang dari jauh pasti ada maksudnya. Sebaiknya kau berunding dengan nyonya saja ! Sebab ada nyonya lebih ramah. Sinkun sendiri sejak pulang dari gunung Oey san, karena terbokong oleh orang jahat, hingga kini masih marah-marah saja. Beberapa kali ia ingin pergi ke daerah Tionggoan bersama kakekku untuk menyelidiki siapakah yang menggunakan duri beracun Thian keng cek itu, maka rasanya susah diajak bicara!"

Tiongsun Hui Kheng tersenyum sambil menganggukkan kepala. Leng Kiat lalu berkata kepada Leng Eng:

"Enci, kau pergi kawani bibi Tiongsun pergi pesiar ke gunung untuk menikmati pemandangan alam di sekitar Hian peng gwan, aku akan memberitahukan kepada nyonya!"

Sehabis berkata, ia bergerak menuju ke sebuah bangunan yang bentuknya seperti goa. Gerakannya gesit sekali, menunjukkan betapa tinggi ilmunya meringankan tubuh!

Leng Eng mengawasi siaopek yang berada dalam pelukan Tiongsun Hui Kheng, dan binatang aneh berbulu emas serta kuda Ceng hong kie, lantas berkata sambil tersenyum:

"Bibi Tiongsun, kudanya terlalu bagus sekali, dan kera putih ini rupanya sangat lucu ! Kita di sini di daerah dingin yang hampir tiap hari turun salju, juga memelihara sepasang kera salju, kecuali bulunya yang putih, bentuknya mirip dengan binatang berbulu warna emas ini!"

"Tiongsun Hui Kheng baru menyahut : "Ooooooo. !"

dan selagi hendak bertanya, tiba-tiba dari dalam goa salju itu ada orang keluar. Orang yang baru keluar itu gerakannya sangat indah dan lemah gemulai, sebentar saja sudah tiba di hadapan matanya. Dia adalah seorang wanita cantik setengah umur yang mengenakan pakaian warna ungu.

Tiongsun Hui Kheng tahu bahwa wanita cantik setengah umur ini pasti adalah istri Pengpok Sinkun Mao Giok Ceng, maka lalu berkata sambil tersenyum: "Boanpwe Tiongsun Hui Kheng, oleh karena ada suatu urusan, dari jauh boanpwe datang kemari, harap Mao locianpwe maafkan atas tindakanku ini!"

Istri Pengpok Sinkun Mao Giok Ceng memang seorang yang ramah tamah, ditambah lagi sikapnya yang simpatik dari Tiongsun Hui Kheng, apalagi siaopek menimbulkan suka kepada orang yang melihatnya, maka lantas berkata sambil tersenyum:

"Nona Tiongsun, kau datang dari tempat jauh, pula ada urusan penting ! Sebetulnya aku akan persilahkan kau masuk ke dalam gubukku ini, untuk menyambut kau sebagaimana mestinya, tetapi oleh karena suamiku sejak pulang dari gunung Oey san, keadaannya kurang baik. "

Tidak menantikan Mao Giok Ceng habis kata-katanya, Tiongsun Hui Kheng sudah memberi hormat dan berkata sambil tertawa:

"Tiongsun Hui Kheng tidak berani mengganggu Sinkun, tetapi karena salah satu sahabat boanpwe terkena serangan ilmu Tiat siu Sinkang dari ketua Tiam cong pai Thiat kwan Totiang sehingga mendapat luka dalam, maka barulah memerlukan datang kemari. Sudikah kiranya Mao locianpwe memberikan setangkai buah teratai swat lian ? Supaya dapat boanpwe gunakan untuk menolong jiwanya?" Mao Giok Ceng setelah mendengar keterangan Tiongsun Hui Kheng bahwa kedatangannya itu hendak minta buah swatlian, sikapnya menunjukkan keberatan, katanya lambat- lambat:

"Daerah pegunungan Thian jan peng san ini, meskipun tumbuh tanaman buah teratai swatlian tetapi juga hanya ada tiga tangkai saja, yang lainnya oleh karena waktunya belum tiba, sebagian besar warnanya masih putih, masih boleh dianggap sebagai obat biasa saja!"

Tiongsun Hui Kheng yang mendengar keterangan itu baru saja merasa lega karena sikap Mao Giok Ceng yang demikian ramah dan baik hatinya, apalagi buah teratai swatlian itu ada tiga tangkai banyaknya, mungkin suka memberikan setangkai padanya. Tetapi pada saat itu Mao Giok Ceng sudah berkata pula:

"Tetapi tiga tangkai buah teratai itu, setengah sudah diambil oleh duta bunga mawar dan ketika suamiku dan aku terkena serangan di bawah kaki gunung Oey san sudah mengenakan setengah tangkai lagi, dan untuk menjaga serangan penjahat itu lagi, yang menggunakan duri beracun secara sembarangan, suamiku kembali memetik setangkai lagi, dibuat obat yang dapat digunakan untuk memunahkan racun. Maka itu, sekarang ini hanya tinggal setangkai saja dan merupakan yang terakhir!"

Tiongsun Hui Kheng ketika mendengar bahwa buah teratai itu tinggal setangkai yang terakhir, alisnya dikerutkan, wajahnya menunjukkan sikap kecewa!

Menampak wajah Tiong-sun Hui Kheng diliputi oleh rasa sedih, Mao Giok Ceng lantas berkata sambil menghela napas: "Kami suami istri meskipun berdiam di goa Hian-peng-goan dan mendirikan partai Swat-san-pay tetapi buah teratai Swat- lian itu adalah tumbuhan alam yang dikaruniai oleh Tuhan, agaknya tidak pantas kalau kami kangkangi sebagai milik sendiri."

"Maksud Mao locianpwe, apakah kiranya locianpwe tidak melarang orang lain masuk ke lembah Thian-han-kok untuk mengambil buah teratai itu?"

"Melarang sih tidak, tetapi ada tiga rupa ketentuan yang rasanya sulit ditembus, maka selama itu belum pernah ada orang luar yang berhasil mengambil buah teratai itu dari lembah Thian-han-kok."

"Mao locianpwe, sudikah kiranya locianpwe memberitahukan kepada boanpwe tentang tiga ketentuan itu?"

Mao Giok Ceng mengawasi Tiong-sun Hui Kheng dan tiga ekor binatang ajaibnya itu dengan bergiliran, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala: "Ketentuan pertama ialah; buah teratai Swat-lian itu tumbuh di atas tebing salju setinggi sepuluh tombak, orang yang hendak mengambil dilarang menggunakan segala macam alat tambang juga senjata rahasia. Harus diambilnya dengan mendaki ke atas tebing tersebut, supaya jangan merusak akarnya."

Tiong Sun Hui Kheng memandang siaopek sejenak, ia rasa bahwa ketentuan pertama ini mungkin dapat menyulitkan orang lain, tetapi tidak demikian dengan si kera kecil itu. Maka ia lalu bertanya pula: "Dan apakah ketentuan yang kedua itu?"

"Di dalam lembah Thian-han-kiok, ada berdiam dua ekor orang hutan daerah dingin, tenaganya kuat sekali, luar biasa ganasnya. Mereka bertugas menjaga buah teratai Swat-lian. Orang yang hendak mengambil buah teratai tersebut hanya boleh mengusirnya, tidak boleh membinasakan dengan tangan ganas." Tiong-sun Hui Kheng sebagai seorang gadis yang memiliki kepandaian menjinakkan segala binatang buas, maka terhadap ketentuan kedua itu agaknya mudah diatasi. Maka diam-diam ia merasa girang dan menanyakan lagi ketentuan yang ketiga.

Mao Giok Ceng yang tadi menampak wajah gadis itu sangat murung, tetapi setelah mendengar keterangan tentang dua ketentuan itu, mendadak berubah ramai dengan senyuman, agaknya sedikit pun tidak anggap soal penting dua ketentuan itu. Maka ia lalu berkata dengan perasaan heran:

"Dua ketentuan itu tadi, adalah ketentuan yang harus ditaati pada sebelum bertindak hendak mengambil buah teratai, tetapi ketentuan yang ketiga ini, adalah ketentuan yang mengenai sesudahnya! Barang siapa yang berhasil mendapatkan buah teratai swatlian, diharuskan berdiam di dalam lembah Thian han kok tiga hari lamanya untuk diuji kekuatannya bisa tahan hawa dingin atau tidak, setelah itu baru diperbolehkan keluar!"

Ketentuan ketiga inilah yang menyulitkan Tiongsun Hui Kheng, sebab Hee THian Siang yang sedang menghadapi bahaya maut, apabila tiga hari kemudian baru boleh keluar dari lembah Thian han kok, bukankah akan memperlambat waktunya yang sudah ditetapkan dalam tujuh hari harus sudah kembali?

Mao Giok Ceng kembali menampak wajah Tiongsun Hui Kheng menjadi murung, lalu menghela napas, kemudian berkata :

Tiga ketentuan ini, sesungguhnya terlalu sulit tetapi buah teratai swat lian itu merupakan obat ajaib dan sangat mujarab serta jarang ada di dalam dunia, maka Swat san pai mau tak mau " Tiongsun Hui Kheng segera memotongnya:

"Boanpwe bukan takut menghadapi tiga ketentuan itu, hanya minta Mao locianpwe supaya sudi memberi sedikit kelonggaran!"

"Nona Tiongsun, kau denganku seperti ada jodoh, begitu aku melihat kau, aku merasa suka, kelonggaran bagaimana yang kau kehendaki? Katakanlah terus terang, jikalau tidak keterlaluan, aku pasti akan meluluskan permintaanmu!"

Mendengar ucapan itu, Tiongsun Hui Kheng sudah lebih dulu menghaturkan terima kasih, kemudian berkata sambil tersenyum:

"Tiongsun Hui Kheng karena sahabat karibnya terluka parah, barulah datang kemari mengganggu locianpwe. Seandainya boanpwe ada jodoh dapat mentaati dua ketentuan yang terdahulu, sehingga berhasil mendapatkan buah teratai swat lian, maka boanpwe minta locianpwe memberi izin supaya mengirim lebih dulu kepada bintang peliharaan boanpwe, ke gunung Im Cong san, untuk menolong jiwa sahabat boanpwe yang terluka itu. Setelah itu boanpwe dengan seorang diri akan berdiam tiga hari lamanya di dalam lembah Thian han kok. Setelah batas waktu tiga hari sudah terpenuhi, baru keluar dari lembah!"

Mendengarkan permintaan Tiongsun Hui Kheng yang cukup pantas, Mao Giok Ceng lalu berpikir, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala : "Demikian besar perhatian nona terhadap sahabatmu itu. sudah tentu aku bersedia menerima baik permintaanmu ini, tetapi dua ketentuan yang terdahulu, rasanya sudah sulit sekali, apalagi ketentuan yang ketiga, harus berdiam di dalam lembah Thian han kok tiga hari, menahan lapar dan hawa dingin, di samping itu juga ada kemungkinan terancam arus hawa yang dapat menghancurkan tulang, telinga dan hidung, apakah nona Tiongsun kiranya sanggup?"

Tiongsun Hui Kheng sedikit pun tidak gentar, katanya dengan sikap menghormat: "Terima kasih atas kesediaan locianpwe meluluskan permintaan boanpwe, tapi kini boanpwe hendak memberi pesan beberapa patah kata kepada kuda boanpwe ini, setelah itu mohon locianpwe menunjukkan jalannya yang menuju ke lembah Thian han kok!"

Sehabis berkata demikian, ia memutar diri, lalu menghampiri kudanya Ceng hong kie. Di telinga kdua istimewa itu ia mengucapkan beberapa patah kata dengan suara sangat pelahan. Kuda itu tampak mengangguk- anggukkan kepalanya, mukanya yang panjang ditempelkan kepada muka majikannya, hingga tampaknya sangat mesra. Setelah itu, lantas lari keluar, di dekat tempat itu ia mencari tempat sendiri untuk beristirahat.

Mao Giok Ceng yang menyaksikan semua kejadian itu, diam-diam merasa heran, tanyanya kepada Tiongsun Hui Kheng:

"Nona Tiongsun, kudamu ini demikian cerdik, apakah bukan kuda Ceng hong kie yang sangat terkenal kecerdikannya itu?"

Tiongsun Hui Kheng menganggukkan kepala, membenarkan dugaan Mao Giok Ceng, lalu menanyakan lagi jalannya menuju ke lembah Thian han kok.

Mao Giok Ceng mengawasi siaopek dan Tay wong sebentar, lalu bertanya sambil tersenyum:

"Apakah nona juga hendak membawa dua binatang peliharaan ini ke lembah Thian han kok?" Tiongsun Hui Kheng mengelus-elus Siaopek dan Tay wong, lalu menjawab:

"Kera sangat cerdik ini, selamanya tidak mau berpisah dengan boanpwe, kalau boanpwe bawa, mungkin ada juga gunanya!"

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula sambil menunjuk Tay-wong:

"Tentang Tay-wong ini, setelah boanpwe berhasil mendapatkan buah teratai Swat lian, boanpwe suruh dia pulang dahulu ke tepi laut di Propinsi In-lam!"

"Kalau nona memang sudah mengambil keputusan demikian, baiklah aku akan antar sendiri padamu ke lembah Thian han kok!"

Mendengar ucapan itu, Tiongsun Hui Kheng lalu mengucapkan selamat berpisah dengan Leng Eng dan Leng Kiat, kemudian ikut Mao Giok Ceng ke lembah Thian han kok, yang letaknya di sebelah barat daya Hian peng gwan, di tengah-tengah antara puncak gunung Cek thian dan Tiat bong.

Dalam perjalanan, Mao Giok Ceng berkata kepada Tiongsun Hui Kheng sambil tersenyum:

"Hari ini nona masuk ke lembah Thian han kok, waktunya baik, sebab arus hawa dingin yang sangat berbahaya itu, pada setiap waktu tertentu paling hebat. Tadi malam baru saja lebat waktu tertentu it, maka hawa dingin mulai hari ini agak kurang, sedikit hangat dari pada waktu biasa!"

Keterangan nyonya rumah itu seolah-olah memberikan petunjuk, maka Tiongsun Hui Kheng malu-malu menyatakan terima kasihnya. Sementara itu, Mao Giok Ceng sudah melanjutkan kata- katanya: "Terhadap ancaman bahaya alam semacam ini, aku juga tidak dapat memberi petunjuk yang tepat. Aku hanya tahu bahwa dahulu orang-orang yang masuk ke lembah Thian han kok hendak mengambil buah teratai merah itu, sebagian besar mati kedinginan terserang oleh arus hawa dingin itu. Mereka itu kebanyakan karena mengandalkan ilmu kekuatan tenaga dalamnya yang dianggapnya sudah sempurna betul, ketika terserang oleh arus hawa dingin, telah menggunakan hawa murni dalam tubuhnya yang termasuk hawa panas dan akhirnya, betapapun tinggi kepandaian mereka, betapa hebat kekuatan tenaga dalam mereka, bagaimana sanggup bertahan serangan hawa dari alam sampai tiga hari ? Maka pada akhirnya tidak mampu lagi menghindarkan diri dari bencana ! Sebaiknya berusaha berjaga-jaga dengan jalan menghitung tepat waktunya arus hawa dingin itu datang. Sewaktu memasuki lembah, sedapat mungkin berlaku tenang, simpan tenaga, begitu arus hawa dingin timbul, baru menggunakan hawa murni dalam tubuh, perlahan-lahan disalurkan ke seluruh tubuh, jangan sampai jalannya darah terganggu. Dengan cara demikian, mungkin bisa terhindar dari bencana."

Tiongsun Hui Kheng yang sangat cerdik, mendengar ucapan itu, ia sudah mengerti bahwa Mao Giok Ceng sengaja memberikan petunjuk yang sangat berharga baginya bagaimana menolak serangan arus hawa dingin, apabila arus itu datang.

"Demikian besar cinta locianpwe terhadap boanpwe, terlebih dahulu boanpwe mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas budi locianpwe, di kemudian hari apabila locianpwe membutuhkan bantuan tenaga boanpwe, boanpwe pasti menyediakan tenaga untuk membalas budi locianpwe ini!"

Mao Giok Ceng pikir, Thian gwa Ceng mo Tiongsun Seng adalah salah seorang dari tiga aneh rimba persilatan yang kukoay dan paling sukar dilayani, tetapi putri satu-satunya ini mengapa sikapnya lemah lembut, ramah tamah, sangat menyenangkan?

Karena keadaannya yang sangat baik terhadap gadis itu, maka diberitahunya lagi beberapa petunjuk yang berharga. Katanya:

"Tetapi, apa yang kukatakan tadi, semua ditujukan kepada orang-orang yang tidak berhasil mengambil buah teratai Swat lian. Karena nona adalah keturunan tokoh kenamaan, mungkin jauh berbeda dengan orang lain. Apabila dalam perjalananmu ini, berhasil mendapatkan buah teratai itu, sudah tentu semuanya tidak perlu dikhawatirkan."

Tiongsun Hui Kheng masih hendak menanyakan sebabnya, keduanya sudah tiba di depan mulut lembah Thian han kok yang tertutup oleh batu besar setinggi empat lima tombak, sehingga orang yang hendak masuk ke dalam lembah harus melompati batu tinggi itu.

Mao Giok Ceng berhenti dan berkata sambil menunjuk batu besar itu:

"Kebesaran alam, sesungguhnya di luar perhitungan manusia. Seperti batu ini, adanya tepat menutupi mulut lembah, juga berfungsi menahan meniupnya angin dingin dari dalam lembah. Jikalau tidak ada batu besar ini, entah bagaimana keadaannya kediaman kita di Hian Peng Gwan? Nanti kalau nona lompat masuk melalui batu ini, harap berlaku hati-hati. Aku sudah bicara terlalu banyak terhadapmu, ini sudah melampaui batas-batas ketentaraan yang sudah kita tetapkan. Maka untuk sementara aku harus meninggalkan kau, tiga hari kemudian, aku nanti datang lagi, untuk menyambut kau keluar dari lembah!" Tiongsun Hui Kheng anggap bahwa nyonya rumah itu sangat baik sekali, maka lalu menarik tangannya dan berkata sambil tertawa:

"Mao locianpwe, sambutan locianpwe terhadap boanpwe sesungguhnya baik sekali, selanjutnya boanpwe ingin supaya banyak mengadakan perhubungan!"

Mao Giok Ceng menganggukkan kepala sambil tersenyum: Tiongsun Hui Kheng berkata pula sambil tersenyum manis: "Tetapi sebutan locianpwe ini rasanya kurang intim, untuk

selanjutnya bolehkah kalau boanpwe sebut locianpwe bibi saja?"

"Mempunyai seorang kemenakan seperti kau cantik manis ini, siapakah orangnya yang tidak senang ? Aku sudah perhitungkan timbul dan berlalunya arus hawa dingin yang sangat ganas itu, kalau sekarang ini kau masuk ke lembah mengambil buah teratai, waktunya sangat tepat ! Maka aku yang menjadi bibimu ini, tidak perlu banyak bicara lagi. Tiga hari kemudian aku nanti datang lagi untuk menyambut kau!"

Sehabis berkata ia melambaikan tangan sambil tersenyum, kemudian meninggalkan Tiongsun Hui Kheng seorang diri. Sepulangnya di rumah, ia telah memberitahukan kepada suaminya bahwa ia sudah memungut seorang kemenakan perempuan yang cantik manis.

Tiongsun Hui Kheng mengawasi berlalunya Mao Giok Ceng, mengingat pesan bibinya tadi, maka ia harus segera masuk ke lembah untuk melaksanakan tugasnya.

Pada saat itu, Siaopek si kera kecil putih, sudah lompat- lompatan dalam dukungan majikannya. Tiongsun Hui Kheng sudah mengerti maksud Siaopek, maka melepaskan tangannya, dan secepat kilat monyet itu sudah melesat ke atas batu tinggi!

Tiongsun Hui Kheng khawatir monyetnya mendapat kesulitan, maka diperintahkannya turun pula, kemudian bersama-sama dengannya lompat melesat ke atas batu.

Benar saja, baru saja berada di atas batu, hawa dingin dirasakan semakin hebat.

Untung Tiongsun Hui Kheng yang sejak kanak-kanak sudah mendapat didikan sendiri dari ayahnya, ditambah lagi dengan ilmunya yang pandai menjinakkan binatang, maka sejak anak-anak sudah banyak sekali makan buah-buahan ajaib yang didapatkan dari kawan-kawan binatangnya. Ilmu dan kekuatan tenaga dalam maupun kepandaian ilmu silatnya, bukan saja jauh lebih tinggi daripada Hee Thian Siang dan anak-anak muda sebayanya, sekalipun para ketua delapan partai besar pada waktu itu, juga harus pandang lain. Maka meskipun harus berlaku sangat hati-hati, tetapi sedikitpun tidak merasa takut. Ia memperhatikan keadaan dalam lembah sejenak, lantas melompat turun.

Lembah Thian han kok berbeda dengan lembah biasa, hanya merupakan lembah sempit bagaikan jalanan berliku- liku. Oleh karena di kedua sampingnya semua adalah tebing- tebing saja tingginya ratusan tombak, maka tiada pemandangan alam yang menghijau. Di permukaan bumi hanya terbentang pemandangan yang putih meletak dan hawanya yang dingin meresap tulang.

Tiongsun Hui Kheng bersama dua ekor binatangnya yang luar biasa, setelah melompat turun ke dalam lembah, lantas berkata kepada Tay-wong:

Tay wong, keluarkan suaramu, coba pancing keluar dua binatang orang utan dari dalam lembah, aku pikir hendak dijinakkan dulu, supaya jangan mengganggu usaha kita untuk mengambil buah teratai!"

Mendengar perintah majikannya, Tay-wong lantas pentang mulutnya yang lebar, tetapi Siaopek mendadak melarangnya.

Semula Tiongsun Hui Kheng merasa heran, tetapi kemudian lantas mengerti, ia berkata sambil tersenyum:

"Siaopek sungguh pintar, Tay-wong jangan terlalu nyaring suaramu. Aku pernah dengar ayah berkata, dalam daerah pegunungan salju, kumandangnya echo sangat nyaring sekali, maka tidak boleh mengeluarkan suara terlalu keras. Jikalau tidak, bisa menimbulkan gugur salju, ini merupakan suatu bencana besar!"

Tay-wong meski agak bodoh kalau dibanding dengan Siaopek, tetapi tokh masih lebih cerdik daripada binatang buas biasa. Maka setelah mendengar pesan majikannya, benar saja, ia tidak berani mengeluarkan suara terlalu nyaring.

Suara yang keluar dari mulutnya itu, seolah-olah suara yang keluar dari mulut seorang tokoh berkepandaian tinggi yang menggunakan ilmu tenaga dalam!

Sesaat kemudian, benar saja segera mendapat sambutan dari tempat yang agak jauh.

Tiongsun Hui Kheng berdiri di tengah-tengah antara dua binatangnya, matanya ditujukan ke tempat jalanan tikungan sejauh lima atau enam tombak.

Tak lama kemudian, dari atas tebing melayang turun dua sosok bayangan putih; itu adalah dua ekor orang hutan setinggi lima kaki, sekujur badannya berbulu putih sepanjang kira-kira enam dim yang sangat menyolok adalah sepasang lengannya yang sangat panjang. Orang utan salju itu meskipun galak, tetapi lagaknya sangat cerdik dan tidak berlaku gegabah. Mungkin tahu bahwa Tay- wong tidak muda didekati, maka lantas berhenti di depan Tiongsun Hui Kheng bertiga sejak kira-kira tiga tombak.

Siaopek memandang sebentar kepada dua ekor binatang itu, tangan dan kakinya bergerak-gerak, demikian pula mulutnya juga cecuwitan tidak ada hentinya.

Tiongsun Hui Kheng yang mengerti bahasa binatang, mengetahui maksud Siaopek yang memuji dua orang utan itu.

"Siaopek, meskipun mereka sangat menyenangkan, tetapi adalah binatang peliharaan Swat san pai, apakah kau ingin ajak mereka pulang ? Adat Tay-wong terlalu keras, jikalau sampai terjadi pertarungan, mungkin akan menimbulkan luka pada mereka. Sebaiknya kau saja yang menghadapi mereka untuk bertanding mengadu kekuatan tenaga, biar mereka merasa kagum dulu, nanti aku akan berbicara sendiri dengan mereka!"

Mendengar perintah majikannya, Siaopek berjalan perlahan-lahan menghampiri dua eko orang utan yang memandang dirinya dengan sikap tegang.

Ia mengeluarkan suara dari mulutnya dan mengacungkan tangan depan untuk memberi tanda kepada mereka.

Orang utan salju itu juga termasuk sejenis binatang monyet, bahasa mereka sudah tentu sama. Maka mereka segera mengerti maksud Siaopek, yang mengajak bertanding kekuatan tenaga.

Pikiran binatang monyet, hampir sesuai dengan pikiran manusia, dua ekor orang utan salju itu meskipun tahu keadaan lawannya agak berbeda dengan yang lain, mungkin tidak mudah dihadapi, tetapi dianggapnya terlalu pendek dan kecil, apabila dihadapi dengan berduaan bersama kawannya, monyet kecil itu pasti bonyok!

Selagi mereka saling berpandangan, Siaopek sudah bertindak lebih dulu. Secepat kilat ia lompat setinggi beberapa tombak, melalui kepala merek. Di tengah udara berjumpalitan lagi, dua tangannya menyambar batang leher dua orang utan dan kemudian dilemparkan jauh-jauh.

Dua ekor binatang aneh yang tinggi besar itu, ternyata sudah terlempar jatuh sejauh beberapa kaki.

Dua ekor orang utan itu sesungguhnya tidak menduga bahwa monyet kecil itu memiliki kekuatan tenaga demikian hebat.

Baru saja mereka berusaha merayap bangun dengan kalapnya, Siaopek sudah mengulurkan tangannya lagi, dan menyambar dada orang utan yang berada di sebelah kiri.

Orang utan itu mengelakkan diri ke samping, lalu balik menyambar diri Siaopek.

Siaopek yang merupakan seekor binatang luar biasa, sengaja hendak mempertontonkan kekuatan tenaganya, maka ketika melihat lawannya menyambar, ia tidak mengelak, malah membiarkan dirinya disergap oleh lawannya.

Orang utan itu menganggap bahwa kali ini pasti dapat mematahkan tangan Siaopek, tetapi dugaannya itu ternyata keliru ! Betapapun keras dan runcing kuku jari yang menerkam tubuh Siaopek, tetapi seolah-olah tidak dirasakan olehnya. Malah sebaliknya, dengan tangan kiri Siaopek menggunakan gerak tipu dari ilmu silat Wankong Cianghoat melakukan serangannya, hingga serangan itu mengenakan telak dada lawannya. Orang utan itu seolah-olah digenjot oleh martil besar, seketika itu juga mundur terhuyung-huyung beberapa langkah dan hampir jatuh rubuh di tanah.

Orang utan yang bertubuh tinggi besar dan kekar ini, kini baru merasa gentar, mereka berdua mengawasi Siaopek dengan sikap terheran-heran.

Tiongsun Hui Kheng yang menyaksikan semua kejadian, ia menganggap bahwa saatnya sudah tiba untuk turun tangan sendiri. Maka ia lalu berjalan menghampiri dan berkata sambil tersenyum:

"Siaopek, sudah cukup, jikalau mereka timbul sifat buasnya dan berlaku nekad, bisa menimbulkan akibat tidak baik!"

Di samping memberi peringatan kepada Siaopek, ia sudah berjalan menghampiri dua orang utan putih itu.

Tiongsun Hui Kheng suka bersahabat dengan kawanan binatang, nyalinya besar, sikapnya lemah lembut namun mengandung wibawa.

Orang utan yang biasanya sangat galak itu, kini memandangnya dengan perasaan aneh, sedikit pun tidak berani bergerak.

Tiba di depan orang utan, Tiongsun Hui Kheng menggunakan bahasa monyet, berkata kepada dua orang utan itu:

"Orang utan! Siaopek dan Tay-wong peliharaanku ini, kekuatan tenaganya lebih besar dari pada kalian berdua, perlu apa kalian berkelahi dengan mereka ? Biarlah kita mengambil buah teratai Swat-lian, untuk menolong jiwa orang!" Dua orang utan itu setengah mengerti setengah tidak, mereka masih tetap tidak bergerak, hanya pentang matanya lebar-lebar.

Tiongsun Hui Kheng sangat suka kepada dua ekor orang utan itu, maka lantas memberanikan diri, mengelus-elus bulu mereka yang putih halus dan panjang.

Dua ekor orang utan itu semula agak takut tetapi setelah mengetahui bahwa gadis itu tidak mengandung maksud jahat, malah merasa girang. Mereka membiarkan kepalanya di elus- elus dengan membuka lebar mulutnya, tetapi tidak bergerak sama sekali. Tampaknya sangat jinak.

Tiongsun Hui Kheng tahu bahwa dua ekor orang utan itu bukan saja sudah mulai jinak, bahkan sudah ada tanda-tanda hendak menyerah. Maka dengan sikap lebih mesra ia minta dua lembar bulu dari mereka.

Benar saja, dua ekor orang utan itu memenuhi permintaannya, masing-masing mencabut selembar bulu dari kepalanya dan diberikan kepada Tiongsun Hui Kheng.

Apalagi binatang-binatang sejenis monyet, kalau suka memberikan bulunya, berarti sudah bersedia menakluk dan tidak berani berontak lagi.

Tiongsun Hui Kheng yang menyaksikan sikap demikian, sudah tentu sangat girang. Ia menerima pemberian bulu orang utan itu dan meminta supaya menunjukkan jalannya yang menuju ke tempat pohon bunga teratai Swat lian. Benar saja dua ekor orang utan itu lantas menurut. Dengan berjalan dulu di muka, mereka mengantarkan Tiongsun Hui Kheng berjalan menuju ke bagian dalam lembah Thian han kok.

Tiongsun Hui Kheng bersama dua ekor binatangnya yang mengikuti orang utan itu, dapat merasakan bahwa hawa udara dalam lembah itu semakin dalam semakin dingin. Jika tidak memiliki kekuatan tenaga dalam cukup sempurna, tidak menunggu timbulnya arus dingin yang jahat itu, juga sudah mati kaku.

Setelah melalui banyak jalan tikungan, keadaan lembah semakin sempit, tebing di kedua sisi menjulang tinggi ke langit. Dua ekor orang utan itu mendadak menghentikan langkahnya.

Tiongsun Hui Kheng mendongakkan kepala. Di atas tebing yang tingginya kira-kira tiga puluh tombak itu, tampak setangkai bunga aneh berbentuk mirip dengan bunga teratai berwarna merah. Maka ia lalu berkata kepada dua orang- orang utan itu:

"Bunga merah itu, apakah bunga teratai yang disebut Swat lian itu?"

Dua orang utan itu mengangguk-anggukkan kepala dan mengeluarkan kata-kata dalam bahasa binatangnya: Maksudnya membenarkan pertanyaan Tiongsun Hui Kheng. Tetapi karena takut larangan dari Mao Giok Ceng dan suaminya, maka tidak berani mengganggunya.

Tiongsun Hui Kheng tertawa dan menepuk-nepuk bahu dua orang utan itu, kemudian berkata sambil menunjuk Siaopek:

"Tebing setinggi tiga puluh tombak, barangkali tidak menyulitkan Siaopek. Kamu tidak perlu membantu, tetapi jangan mengganggu, itu saja sudah cukup!"

Setelah itu ia berpaling dan berkata kepada Siaopek: "Siaopek, kau perhitungkan dulu masak-masak, apakah

kau sanggup mencapai ke atas itu?" Siaopek mendongakkan kepala mengawasi bunga teratai warna merah itu kemudian menganggukkan kepala.

Tiongsun Hui Kheng berkata pula:

"Kalau kau sanggup naik ke atas, bukalah rompi emasmu, supaya tidak licin!"

Tetapi Siaopek tidak menurut, sebaliknya sudah mengeluarkan suara siulan yang panjang kemudian melompat melesat setinggi tujuh-delapan tombak dengan masih menggunakan rompi emas itu!

Menyaksikan Siaopek demikian membandel, Tiongsun Hui Kheng hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Siaopek yang mengapung di tengah udara, dengan beberapa kali lompatan, sudah tiba dekat bunga teratai Swat lian.

Dua orang utan itu yang menyaksikan gerakan Siaopek demikian lincah, juga mengawasinya dengan perasaan kagum.

Dengan sangat mudah Siaopek menunaikan tugasnya, setelah memetik bunga teratainya, kembali mengorek akarnya di dalam salju.

Tiongsun Hui Kheng yang mengingat kebaikan Mao Giok Ceng, ketika menyaksikan perbuatan Siaopek, lantas berseru mencegahnya. Tetapi ternyata sudah terlambat, tangan Siaopek yang jail sudah berhasil mengorek akarnya sebesar lengan manusia yang warnanya putih.

Setelah itu, ia melayang turun dan langsung menuju ke dalam pelukan majikannya. Karena sudah terlanjur, disesalkan pun tidak ada gunanya. Sebelum ditegurnya, mulutnya sudah dimasuki sepotong buah teratai oleh Siaopek. Tiongsun Hui Kheng yang tidak mau mengecewakan hati binatang peliharaannya, terpaksa menerimanya. Ketika barang itu terkunyah oleh giginya, menimbulkan rasa dan bau sangat harum, dan sebentar kemudian setelah berada dalam perutnya, sekujur tubuhnya merasa hangat, tidak lagi merasa takut oleh hawa dingin.

Pada waktu itu, ia baru teringat kepada perhatian Mao Giok Ceng, asal bisa mendapatkan akar dan buahnya bunga teratai Swat-lian, tidak perlu khawatir apa-apa. Mungkin yang ditujukan adalah buah ini, dan mungkin pula jika dimakan semua, tidak takut kepada serangan arus hawa dingin yang sangat jahat itu lagi.

Karena yang diambil oleh siaopek cukup besar, lalu dibagi bagikan kepada siaopek, taywong dan dua orang utan itu.

Setelah itu ia menyerahkan Swat-lian merah kepada taywong, suruh binatang itu bawa ke kuil dimana Say Han Kong dan lainnya pada menunggu, sedang ia sendiri bersama siaopek harus berdiam dalam lembah selama tiga hari untuk mentaati pesan Mao Giok Ceng.

Taywong yang bentuknya demikian buas dan galak, tetapi terhadap majikannya sangat takut sekali. Setelah menerima barang yang diberikan oleh majikannya, ia lantas kabur untuk melaksanakan tugasnya.

Sekarang kita tinggalkan dulu Tiong-sun Hui Kheng bersama Siaopek yang harus berdiam tiga hari didalam lembah Thian-san-kok, dan mari kita kembali kepada Say Han Kong, Oe-tie Khao, Ca Bu Kao dan Hee Thian Siang yang menunggu di sebuah kuil tua yang sudah rusak keadaannya. Kuil tua itu meskipun keadaannya sudah rusak, tetapi menempati tanah yang luas sekali.

Say Han Kong dan lain-lain, menempati ruangan ketiga untuk tempat meneduh sementara.

Oleh karena dari jalan napas dan nadinya, Say Han Kong mengetahui bahwa luka Hee Thian Siang sangat parah, ia khawatir sebelum bunga teratai Swat-lian sampai, tidak keburu ditolong, maka kembali diberikannya dua butir obat yang terbuat dari getah lengci, disamping itu juga dibantu dengan tenaga dalam.

Patung-patung yang dipuja dalam kuil itu, sudah lama rusak, tetapi dua buah peti mati yang diletakkan di ruangan Timur, mungkin karena terbuat dari bahan kayu pilihan, keadaannya masih sangat bagus, jelas bahwa dua buah peti mati itu adalah milik peninggalan keluarga kaya, mungkin karena keluarga itu mengalami kehancuran sehingga tidak ada keturunan yang merawatnya, dan dibiarkan tinggal didalam kuil yang kini rusak, tidak ada yang mengubur.

Say Han Kong dan kawannya pada lima hari pertama sejak mendiami kuil itu tidak mengalami kejadian apa-apa, tetapi pada hari ke enam waktu malam, Oe-tie Khao yang pergi keluar untuk membeli makanan, ketika kembali wajahnya menunjukkan sikapnya yang serius, berkata kepada Say Han Kong dan Ca Bu Kao.

"Aku tadi ketika masih berada sepuluh pal dari sini, melihat Su-to Keng yang menyamar menjadi Liong Hui Kiam Khek minta keterangan kepada orang-orang kampung, yang mungkin sebentar lagi akan datang mencari kemari, apakah kita perlu mengadakan persiapan?"

Ca Bu Kao yang mendengar disebutnya nama Su-to Keng, hawa amarahnya meluap seketika, alisnya berdiri, giginya bercatrukan. Katanya dengan nada gemas: "Jikalau Su-to Keng datang seorang diri, ini merupakan suatu kesempatan yang baik bagiku untuk menuntut balas dendam, supaya aku bisa membunuhnya ditempat ini."

Say Han Kong menggeleng-geleng kepala kepada Ca Bu Kao, seraya berkata: "Su-to Keng seorang yang sangat buas dan kejam, dia sudah tahu bahwa aku bukanlah lawan yang mudah baginya, sedangkan aku dan pengemis tua ini, juga bukan orang dari golongan sembarangan, bagaimana dia berani datang sendiri?"