Makam Bunga Mawar Jilid 07

 
Jilid 07

Semakin dipikir, Hee Thian Siang semakin bingung, dan akhirnya mengambil keputusan hendak balik kembali ke kuil yang misterius itu, untuk mengadakan penyelidikan.

Ketika ia berlalu dari kuil itu, cuaca masih gelap, tetapi kini sudah mulai remang-remang. Baru saja tiba di depan kuil, pintu telah terbuka, dan Hian-ceng berdiri ditengah pintu dengan wajah masam.

"Hee siao sicu, apakah kedatanganmu kali ini juga tidak disengaja?" demikian tegur Imam itu.

Hee Thian Siang tidak menduga bahwa imam itu sudah berjaga-jaga, maka saat itu wajahnya lantas merah seketika. Terpaksa ia menjawab sambil memberi hormat: "Sebabnya Hee Thian Siang balik kembali, ialah... karena lupa untuk tanya sesuatu kepada totiang!"

"Siao sicu tidak usah berlagak, Pinto hanya hendak memberi nasehat kepadamu: Timbulnya pertikaian disebabkan karena banyak mulut; Kerisauan disebabkan karena sudi gawe. Pak-bin Sin-po meski merupakan seorang berkepandaian tinggi yang namanya terkenal di seluruh jagat, tetapi juga belum tentu mau melibatkan diri dalam urusan pribadi golongan lain."

Sejak turun gunung, Hee Thian Siang belum pernah mendapat hinaan sedemikian rupa, maka saat itu lantas berdiri terpaku di depan pintu! Imam itu setelah berkata demikian, lantas menutup pintu meninggalkan Hee Thian Siang seorang diri.

Hee Thian Siang sebetulnya hendak menyerbu masuk, tetapi kemudian berpikir, karena menyerbu tempat orang tanpa sebab, itu adalah perbuatan yang melanggar aturan, apalagi kalau ia menggunakan kekerasan, malah tidak dapat membongkar rahasia yang mengenai diri imam tua rambut putih itu.

Akhirnya ia mengendalikan hawa amarahnya dan diam- diam meninggalkan kuil tersebut.

Karena mengetahui sudah ada penjagaan keras, maka hari pertama itu ia tidak mengambil tindakan apa-apa, hanya mondar-mandir di sekitar tempat itu, hingga pada hari kedua waktu malam, baru pergi menyatroni kuil Pho hie hee wan secara menggelap.

Penerangan dalam kuil remang-remang, ia lompat ke atas sebuah pohon besar yang terpisah kira-kira setombak lebih dengan kuil tua itu, hendak menggunakan pandangan matanya yang tajam untuk mengintai, kemudian masuk ke dalam.

Kamar sebelah kiri kediaman Hian-ceng Tojin, tampak gelap gulita, hanya ruangan tengah dan kamar tidur imam tua yang dikatakan bisu itu ada sedikit penerangan.

Hee Thian Siang baru saja pasang telinga, sudah terdengar suara Hian-ceng yang berkata kepada imam tua itu: "Koan susiok!"

Begitu mendengar sebutan Koan susiok, Hee THian Siang hampir menjerit, sungguh tidak diduganya bahwa imam tua yang dianiaya sedemikian rupa itu ternyata masih merupakan susiok dan paman guru Hian-ceng sendiri! Apakah imam tua itu bukan jago tua golongan Tiam cong Koan Sam Pek yang mempunyai nama harum sebagai imam pengasih, yang pada tiga puluh tahun berselang namanya sangat kesohor itu?

Koan Sam Pek terkenal bukan saja karena dengan sebilah pedangnya Pek liong kiam, seorang diri dengan beruntun melawan tiga ketua golongan Lo-hu, Siaw-lim dan Kie-lian, tetapi tidak terkalahkan, tetapi juga karena orangnya yang hatinya jujur, tegas dan pengasih, hingga selalu dihormati oleh semua orang rimba persilatan?

Khabarnya jago tua tingkatan tua ini, sejak Thiat-kwan Totiang menjadi ketua, sudah menutup diri dan kemudian juga dikabarkan sudah meninggal dunia. Tetapi dengan cara bagaimana ia masih hidup? Bahkan dianiaya sedemikian rupa?

Karena penemuannya yang tidak terduga-duga, dia lantas pasang telinganya.

Sementara itu Hian-ceng sudah terdengar pula suaranya yang diucapkan dengan sikap tidak sopan terhadap paman gurunya sendiri: "Koan susiok, usiamu yang sudah demikian lanjut, berapa lama lagi bisa hidup di dunia? Mengapa ambisimu masih belum padam, selalu hendak merintangi dan merusak rencana besar ciangbun suheng. Tugas Hiang-ceng sangat berat, apabila kau membocorkan rahasia besar dalam kuil ini, jangan sesalkan kalau aku tidak pandang kau sebagai orang tingkatan tua lagi, jangan sesalkan kalau aku bertindak dengan tangan kejam."

Imam tua itu karena sudah tidak mempunyai lidah, sudah tentu tidak bisa menjawab hanya dari hidungnya saja terdengar suaranya yang penuh marah. Hee Thian Siang kini sudah mengetahui bahwa imam tua itu benar adalah Koan Sam Pek yang dahulu namanya sangat terkenal. Ucapan Hian-ceng tadi menimbulkan tiga pertanyaan dalam hatinya.

1. Thiat-kwan Totiang sebetulnya mempunyai rahasia dan rencana besar apa yang takut dibongkar oleh paman gurunya sendiri?

2. Didalam kuil tua yang rusak ini, entah ada mengandung rahasia apa yang takut diketahui oleh orang luar?

3. Hian-ceng berani berlaku tidak sopan bahkan berani menggertak kepada Koan Sam Pek apakah seluruh kepandaian imam tua itu sudah dimusnahkan? Apakah perbuatan terkutuk itu dilakukan oleh Thiat-kwan Totiang sendiri?

Kini mengertilah Hee Thian Siang bahwa tindakan imam tua yang membuka mulut dan mengeluarkan tangannya yang tidak berjari terhadap dirinya malam itu, pasti mengandung maksud dalam. Tetapi karena ia masih belum mengerti benar, karena ia tidak berani menduga-duga serampangan, kemudian tujukan perhatiannya kepada pembicaraan Hian- ceng.

Terdengar pula suaranya Hian-ceng: "Koan susiok, kalau kau merasa penasaran, jangankan Hee Thian Siang yang kemarin malam datang itu, seorang tingkatan muda yang masih belum mendapat nama, sekalipun gurunya sendiri Pak- bin Sin-po datang sendiri, juga akan Hian-ceng lawan. Kalau masih bisa melawan, Hiang-ceng akan melawan mati-matian, kalau tidak sanggup, aku akan melaksanakan sumpah Ciangbun suheng, menggunakan senjata yang kusembunyikan, dengan sebutir senjata belerang yang bisa meledak, ku akan hancurkan tiga orang dalam golongan kita sendiri yang berada dalam kuil ini bersama musuh kita, hingga menjadi hangus."

Ucapan imam itu menambah suatu pertanyaan bagi Hee Thian Siang. Ditinjau dari ucapan Hiang-ceng tadi, jelas bahwa seluruh ruang yang semuanya hanya tiga kamar, kecuali ruang tengah yang digunakan untuk tempat sembahyang, kamar kanan didiami oleh Koan Sam Pek, dan sebelah kiri didiami Hian-ceng sendiri, siapakah yang dimaksudkan dengan orang ketiga itu? Dan dimana adanya?

Berbagai pertanyaan itu selalu mengganggu pikiran Hee Thian Siang, selagi hendak melompat masuk ke dalam kuil untuk mengadakan penyelidikan dengan seksama, di belakang dirinya tiba-tiba merasakan hembusan angin yang menyerang dirinya.

Oleh karena hembusan angin itu datangnya perlahan, tidak seperti senjata gelap, maka Hee Thian Siang mengulurkan tangannya, dan ketika barang itu disambar olehnya, benar saja hanya selembar daun pohon.

Daun itu dilancarkan dari dalam rimba sejauh tiga tombak dari tempatnya, ketika mata Hee Thian Siang ditujukan ke tempat itu, tampak olehnya di dalam rimba itu berkelebat sesosok bayangan hitam yang sudah menggapai dirinya.

Hee Thian Siang karena menyaksikan bahwa bayangan hitam itu bentuknya seperti tidak asing, maka diam-diam ia melayang ke dalam rimba itu, tetapi bayangan hitam itu kembali lompat melesat sejauh lima-enam tombak, dan menghilang ke belakang gunung batu yang berada di kaki bukit.

Hee Thian Siang turut melompat mengikuti jejak bayangan tadi, di tengah udara ia berteriak dengan perlahan. "Yang berada di belakang batu itu apakah Sam-chiu Lopan Oe-tie Khao locianpwe?"

"Hee laote, pandangan matamu sungguh hebat sejak kapan kau tiba ditempat ini? Kau sudah mengintai dari atas pohon, apakah sudah dapat lihat didalam kuil itu ada tanda- tanda yang mencurigakan?" Menjawab bayangan itu sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Dugaan Hee Thian Siang ternyata benar, bayangan hitam itu benar Oe-tie Khao, adanya. Diam-diam ia merasa girang, dan ketika kakinya menginjak tanah lantas bertanya: "Oe-tie locianpwe, dimana Say han Kong locianpwe dan bibiku Leng- po Giok-lie itu sekarang berada? Khabarnya bibi Ca pernah mengadakan pertempuran sengit dengan Liong-hui Kiam-khek disini, khabarnya juga dalam keadaan luka hampir kehabisan tenaga, telah terkena tujuh kali serangan pedang lawannya...!"

Hee laote, kau ternyata sudah tahu lebih jelas daripada aku. Aku dengan situa bangka Say itu sejak mengejar Leng-po Giok-li, hanya sepintas lalu saja mendengar ucapan orang, bahwa beberapa hari berselang di depan kuil ini ada seorang pria dan wanita sedang bertempur sengit, dua pihak terluka parah, tua bangka she Say itu karena mendapat keterangan tentang wajah dan dandanan wanita itu mirip dengan Ca Bu Kao, maka merasa tidak tega hati, ia telah mengejarnya untuk memberi bantuan, sedangkan si pengemis tua berdiam di sini untuk menyelidiki keadaan sebenarnya, Hee laote, katamu lawan Ca lihiap adalah Liong-hui Kiam-khek dari Tiam-cong- pay, benarkah itu?"

Hee Thian Siang lalu menceritakan pengalamannya di dalam kuil itu, sehabis menceritakan bertanya sambil tersenyum: "Oe-tie locianpwe, tadi ketika aku sembunyi di atas pohon, dengan telinga telah menangkap suara Hian-ceng totiang yang panggil nama Kwan Susiok, apakah imam itu yang disebut Kwan susiok adalah tokoh terkuat golongan Tiam-cong dahulu yang bernama Kwan Sam Pek?"

Oe-tie Khao yang mendengar pertanyaan itu terkejut dan keheranan, ia berkata sambil gelengkan kepala:

"Tidak mungkin, tidak mungkin, kepandaian ilmu silat yang demikian tinggi dari Kwan Sam Pek, juga merupakan satu- satunya orang dari angkatan tua Tiam-cong-pay, bagaimana bisa sampai mengalami keadaan demikian mengenaskan?"

"Tidak perduli imam tua berjubah putih itu betul Kwan Sam Pek atau bukan tetapi menurut apa yang kudengar tadi, didalam kuil Pho-hie-hee-wan ini, jelas semuanya ada tiga orang. Siapakah orang satu lagi yang dimaksudkan itu, dan disembunyikan dimana? Mengapa tidak berani menemui orang? didalam hal ini pasti ada mengandung rahasia. Locianpwe pasti mempunyai banyak akal cerdik, cobalah pikirkan suatu cara yang baik untuk menyelidiki persoalan ini."

Oe-tie Khao agaknya tergerak hatinya oleh keterangan Hee Thian Siang, ia berkata sambil ketawa: "Hee laote, sebutan San-chiu lopan bagiku itu disebabkan karena aku mahir mencuri bahkan pandai membuat alat berbagai macam sehingga dapat julukan nama itu, tetapi tadi aku sudah diperingatkan olehmu, mungkin dapat menyelidiki sedikit keterangan keadaan kuil itu."

"Oe-tie locianpwe mempunyai rencana apa? Apakah kau hendak menggunakan kepandaian mencuri, hendak melakukan pencurian didalam kuil ini?"

"Dengan hanya mencuri saja belum tentu dapat mencuri barang penting bagi bahan penyelidikan, aku sedang pikir hendak memberikan mereka api berperasaan!" Berkata Oe-tie Khao sambil tertawa. "Peribahasa mengatakan bahwa AIR DAN API ITU TIDAK MEMPUNYAI PERASAAN, tidak tahu cara bagaimana locianpwe hendak menggunakan api yang dikatakan ada perasaan itu?" Bertanya Hee Thian Siang heran.

Dari dalam sakunya Oe-tie Khao mengeluarkan tiga butiran kecil berwarna biru, lalu berkata sambil tertawa: "Hee laote, tiga butiran kecil ini adalah benda ciptaanku sendiri, kunamakan api yang punya perasaan. Benda ini begitu keluar dari tanganku dan mengenakan barang, kalau tertiup angin lantas menyala, bahkan menimbulkan asap tebal, apinya yang keluar dari bahan ini besar sekali, tidak dapat dipadamkan oleh air, sehingga membuat orang ribut dan kalang kabut, tidak tahu bagaimana harus memadamkannya. Tapi api ini waktunya menyala sangat pendek dalam waktu singkat akan padam sendiri, hingga tidak menimbulkan kerugian besar terhadap bangunan."

Hee Thian Siang baru tahu bahwa apa yang dinamakan api punya perasaan itu ternyata api yang tidak menimbulkan bahaya besar, maka bertanya pula sambil tertawa: "Apakah locianpwe hendak membakar orang ketiga yang tersembunyi itu, supaya ia keluar dari tempat sembunyinya hingga kita bisa melihat wajah yang sebenarnya?"

"Asal api ini menyala, orang-orang yang berdiam dalam kuil mesti lari keluar, bukan saja akan melihat orang ketiga yang sembunyi ditempat persembunyiannya, tetapi juga dapat lihat dari gerakan imam berbaju putih itu, betul atau bukan adalah Kwan Sam Pek yang dahulu pernah bertanding dengan ketua- ketua golongan Lo-hu, Siao-lim dan Kie-lian."

Hee Thian Siang merasa bahwa akal Oe-tie Khao itu benar dapat digunakan, maka lantas berkata sambil tersenyum: "Oe- tie locianpwe, api ini biarlah aku yang melepaskan, aku hendak mencoba betapa hebatnya apimu yang dinamakan api yang punya perasaan itu." Oe-tie Khao mengeluarkan tiga butir mutiara kecil lagi diberikan kepada Hee Thian Siang, lalu berkata sambil tersenyum: "Hee laote boleh cari tempat sejarak dua atau tiga tombak, melemparkan kebagian tengah Timur dan Barat, masing-masing sebutir, sudah cukup. Dan tiga butir yang lainnya, kuhadiahkan kepadamu, tetapi setelah kau melemparkan api itu, kau harus segera sembunyikan diri jangan sampai diketahui pihak sana."

Hee Thian Siang terima baik pesan itu, dengan sangat hati- hati ia melangkah maju dan tiba ditempat sejarak tiga empat tombak dengan kuil, tiga butir api yang mempunyai perasaan itu dilepaskan lalu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, ia lompat kembali ke samping Oe-tie Khao.

Tak lama kemudian, benar saja tampak berkelebatnya tiga titik warna hijau dibagian tengah kuil itu dan dua kamar lainnya terdengar suara ledakan, kemudian asap mengepul hebat.

Semula Hian-ceng totiang yang agaknya dikejutkan dan coba menolong memadamkan api, tapi sebentar kemudian dengan tindakan tergesa ia lompat keluar dari tengah kuil, di tangannya membawa seorang yang berpakaian biasa tidak memperdulikan lagi kamar yang lain, dan lari menuju ke Barat laut.

Oleh karena api itu besar sekali, hingga dapat dilihat dengan jelas, bahwa orang yang dibawa kabur oleh Hian-ceng itu bagi Hee Thian Sian dan Oe-tie Khao sudah tidak asing lagi, orang itu ternyata adalah jago pedang ketiga golongan Tiam-cong, Liong-hui Kiam-khek sendiri.

Hee Thian Siang terkejut, katanya dengan suara keheranan: "Kiranya Su-to Wie yang terkena hajaran tiga kali ilmu Pan-san ciang oleh bibi Ca bukan lari jauh, bahkan ia merawat lukanya di dalam kuil itu, tetapi kalau benar dia, perlu apa harus sembunyikan diri?" Oe-tie Khao tidak menjawab, sebaliknya bertanya: "Hee laote, imam tua berbaju putih yang kau katakan, sudah tidak mempunyai lidah dan jari tangan itu belum lari keluar, maka kita bisa masuk ke dalam kuil untuk melihatnya jika ada kesalahan bukankah berarti aku si pengemis tua melakukan dosa yang besar."

Hee Thian Siang yang diperingatkan oleh Oe-tie Khao dalam hati merasa khawatir atas keselamatan imam tua berbaju putih itu, maka dua orang itu masing-masing mengeluarkan ilmu meringankan tubuh, menyerbu ke dalam kuil.

Pada saat itu berkobarnya api pelan-pelan sudah padam sendiri, benar saja api itu hanya membakar sebagian jendela dan tiang-tiang pintu, tetapi tidak menimbulkan kerusakan besar.

Hee Thian Siang dan Oe-tie Khao yang menyerbu ke dalam kuil, begitu tiba di depan pintu kamar sebelah timur, segera dapat lihat bahwa imam tua berbaju putih itu masih tetap duduk bersila di atas tempat tidurnya, sikapnya itu sangat agung, seolah-olah sebuah patung batu, terhadap api yang berkobar di pintu dan jendela seolah-olah tidak menghiraukan sama sekali.

Hee Thian Siang merasa bahwa imam tua berbaju putih ini memiliki wibawa yang sangat agung, maka ia lalu memberi hormat dan bertanya: "Murid golongan Pak-bin Hee Thian Siang minta tanya kepada totiang, apakah totiang ini adalah Kwan Sam Pek locianpwe, satu-satunya tokoh tingkatan tua dari Tiam-cong-pay?"

Imam tua berbaju putih itu mengawasi Hee Thian Siang sejenak, menganggukkan kepalanya. Oe-tie Khao sementara itu merasa terkejut dan keheranan, ia bertanya: "Isu berhati murah itu dahulu pernah dengan menggunakan sebilah pedang Pek-liong-kiam dengan beruntun bertanding dengan ketua-ketua golongan Lo-hu, Siau-lim dan Ki-lian, namun tetap bertahan tidak terkalahkan. Oleh karenanya hingga namanya menggemparkan seluruh rimba persilatan. Kalau totiang benar adalah pendekar luar biasa dari tingkatan tua, dan dimana sekarang seluruh kepandaian locianpwe itu?"

Imam tua berbaju putih itu yang mendengar ucapan demikian mengerutkan alisnya yang putih dan mengulurkan tangannya kepada Oe-tie Khao untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak mempunyai lidah, tangannya tidak mempunyai jari, sehingga tidak dapat berbicara dan menulis.

Oe-tie Khao dan Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan yang mengenaskan itu merasa pilu. Oe-tie Khao bertanya pula sambil mengkerut alis: "Maksud totiang menunjukkan keadaan ini kepada kita apakah seluruh kepandaian silat totiang sudah dimusnahkan oleh kawanan penjahat?"

Koan Sam Pek mengangguk, Oe-tie Khao yang menyaksikan seorang tingkatan tua yang namanya pernah menggemparkan rimba persilatan sekarang telah mengalami nasib yang demikian mengenaskan maka sesaat itu berdiri tertegun, tanyanya pilu: "Kepandaian ilmu silat totiang, sebetulnya dimusnahkan oleh kawanan penjahat siapa? Oe- tie Khao dan Hee Thian Siang sebagai orang persilatan yang selalu membela keadilan dan kebenaran bersedia hendak membela diri totiang."

Koan Sam Pek semula menunjukkan sikap kasar, tetapi setelah mendengar ucapan Oe-tie Khao tadi dengan tiba-tiba seperti tergerak. Matanya ditujukan kepada mereka berdua, setelah itu mata itu dipejamkan, dari kelopak matanya mengalir turun dua butir airmata. Tangisan yang tak bersuara itu kadang-kadang lebih menyedihkan daripada tangisan yang mengeluarkan suara keras. Berdasar atas penglihatan semua itu dan apa yang didengarnya, Hee Thian Siang sudah dapat menebak beberapa bagian maka dengan hati panas ia bertanya:

"Oleh karena keadaan totiang yang mengenaskan kini, Hee Thian Siang sudah dapat menebak sebagian besar. Sekarang Hee Thian Siang ingin tanya kepada totiang, orang yang menganiaya totiang demikian rupa ini, betulkah sutemu sendiri? Yang sekarang menjabat ketua Tiam-cong-pay?"

Kwan San Pek yang dengan tenang mendengarkan pertanyaan Hee Thian Siang, setelah mendengar pertanyaan itu, airmatanya mengalir semakin deras, dan kemudian dengan tiba-tiba membuka sepasang matanya.

Tetapi pada saat ia membuka lebar matanya, dan belum menjawab pertanyaan Hee Thian Siang tadi, dari luar jendela tiba-tiba menyambar masuk hembusan angin dingin, yang langsung menyerang bagian belakang Kwan Sam Pek, sehingga tokoh tua kenamaan itu belum sempat membuka rahasia yang menyelubungi dirinya, sudah meninggalkan dunia yang fana ini secara tergesa-gesa."

Hee Thian Siang yang pertama mengetahui tetapi oleh karena serangan pihak lawan itu terlalu cepat, dalam keadaan demikian ia tidak keburu mencegah, hingga menyebabkan kematian Kwan Sam Pek. Saat itu bukan kepalang amarahnya, sambil mengertek gigi lompat keluar melalui lobang jendela.

Sedangkan Oe-tie Khao sendiri dalam keadaan repot, ia membalikkan tubuh Kwan Sam Pek, kini ia telah mendapat kenyataan bahwa orang tua itu telah diserang dengan senjata racun paku yang sangat ganas, senjata itu tidak dapat membuka rahasianya, sudah meninggal dunia. Ia bukan saja merasa gemas terhadap orangnya yang demikian kejam, tapi juga sangat marah maka lantas pergi mengejar melalui lobang jendela.

Orang yang melakukan serangan tadi adalah Hian-ceng tojin yang sudah pergi tetapi kembali lagi, dan waktu itu sedan bertempur sengit dengan Hee Thian Siang yang menggunakan senjatanya Sam-ciok Kang-hwan.

Hian-ceng Totiang meskipun merupakan sute ketua Tiam- cong-pay Thiat-kwan Totiang, tetapi ilmu silatnya kalau dibanding dengan tiga jago pedang golongan Tiam-cong, masih selisih jauh! Apalagi senjata yang digunakan olehnya adalah sebilah pedang biasa, sudah tentu agak repot menghadapi Hee Thian Siang yang menggunakan senjata aneh Sam Ciok Kang-hwan. Hanya dengan mengandalkan ilmu pedangnya Hui-hong-u-liu-kiam-hwat, ia dapat bertahan untuk sementara waktu.

Hee Thian Siang di samping menggunakan senjata tunggalnya Sam Ciok Kang-hwan dan ilmu silat golongan Pak- bin, untuk menahan Hian-ceng Tojin, mulutnya memanggil- manggil U-tie Khao dengan suara nyaring:

"U-tie locianpwe, terhadap kawanan penjahat yang sudah membunuh susioknya sendiri ini kita tidak boleh membunuhnya begitu saja! Aku hendak menangkap hidup padanya, untuk kuserahkan kepada sahabat-sahabat rimba persilatan yang akan putuskan dosanya!!"

Hee Laote, terserah bagaimana engkau hendak berbuat, setelah kau berhasil menangkap penjahat ini, biarlah aku nanti akan menggunakan ilmuku Ngo-im Kai-mek yang sangat kejam dan sangat jarang kugunakan, sekali pun dia berhati baja dan berkepala batu, juga pasti akan membuka semua rahasianya!" "U-tie locianpwe, harap kau menjaga di samping batu aku memperhatikan penjahat ini jangan sampai kabar, atau menggunakan senjata rahasianya golongan Tiam-cong, aku ingin suruh dia merasakan senjataku Sam Ciok Kang-hwan !"

Sehabis mengucap demikian, suara mengaung tiba-tiba timbul di tengah udara, dua buah gelang Sam-ciok Kang- hwan, saling beradu di tengah udara, kemudian meluncur ke arah Hian-ceng Tojin. Imam itu memang sudah tahu, bahwa ia tidak sanggup melawan, tetapi sepasang senjata aneh lawannya itu sungguh hebat, apalagi gerak tipu serangannya yang luar biasa, hebatnya tekanan Hee Thian Siang membuat dirinya tidak dapat melepaskan diri, ia juga tidak berdaya untuk menggunakan senjata rahasianya golongan Tiam-cong!

Oleh karena ia mempunyai tugas berat, dan pernah bersumpah apabila menghadapi bahaya hebat, harus habiskan jiwanya sendiri, jangan sampai membocorkan rahasianya Tiam-cong-pay!

Sekarang ia berada dalam keadaan demikian, ini merupakan saatnya baginya untuk menghabiskan jiwanya. Tetapi meskipun ia bisa berlaku kejam terhadap susioknya sendiri, terhadap dirinya sendiri ia masih timbul keinginan hidup, maka ia coba mencari kesempatan untuk melarikan diri!

Ketika Hee Thian Siang memberi tekanan hebat pada dirinya, ia segera dapat merasakan betapa hebat tekanan itu, ia tahu gelagat tidak baik maka buru-buru menggunakan salah satu gerak tipunya dari ilmu pedangnya Hui-hong-u-liu kiam- hoat untuk melindungi dirinya, pedangnya diputar sedemikian rupa untuk menahan senjata Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang yang sudah bertekad hendak menangkap hidup-hidup lawannya, sudah tentu yakin akan tindakannya sendiri itu, dengan senjata gelang itu ia menangkis semua serangan lawannya, hingga dalam sesaat kemudian dan saat selanjutnya ia sudah berhasil mengunci pedang Hian-ceng Tojin.

Hian-ceng Topjin mengetahui senjatanya terkunci, saat itu bukan kepalang terkejutnya, ia tahu bahwa satu-satunya kesempatan untuk hidup ialah memberikan perlawanan dengan kekuatan tenaga dalamnya! Apabila ia dapat menggunakan pedangnya untuk merampas senjata lawannya, maka itu berarti suatu kesempatan baginya untuk melarikan diri, tetapi apabila maksudnya itu gagal, ia akan bunuh diri sendiri !

Oleh karena mati hidupnya tergantung tindakannya kali ini, sudah tentu ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, ia berusaha untuk merebut senjata lawannya !

Orang kalau dalam keadaan nekad, kadang-kadang tenaganya bertambah besar dengan mendadak, tindakan Hian-ceng Totiang yang menarik kembali pedangnya secara nekad, benar saja telah berhasil, hingga senjata gelang Sam- ciok Kang-hwan di tangan Hee Thian Siang, telah terlepas terbang di udara!

Bukan kepalang girangnya Hian-ceng Tojin, dia hendak menggunakan kesempatan itu untuk memutar tubuhnya, tetapi mulutnya sudah mengeluarkan suara jeritan. Di antara berkelebatnya sinar putih, sebelah lengan kanannya telah terlepas putus sehingga ia rubuh pingsan di tanah!

Rupanya Hee Thian Siang sudah mengetahui bahwa Hian- ceng Totiang dalam keadaan tak berdaya, ia pasti hendak merebut kembali pedang secara nekad! Maka ia sengaja mengendorkan senjata gelang yang berada di tangan kiri dan senjata di tangan kanan diam-diam dilempar ke tengah udara, setelah itu ia menggunakan kesempatan selagi imam itu menarik kembali pedangnya, senjata gelangnya di tangan kanan ditekan dan senjata gelangnya yang lain  digunakan untuk menabas kutung lengan kanan Hian-ceng Totiang.

Di satu fihak berusaha secara nekad hendak menarik kembali pedangnya, sedang di lain pihak berdaya melepaskan senjata pergelangannya, ketika gelang di tangan kanan Hee Thian Siang tertarik oleh lawannya dan terbang ke udara, tetapi Hian-ceng Tojin juga lantaran bagian dadanya tidak mendapat perlindungan, maka lengan kanannya terpapas kutung oleh senjata gelang bergigi di tangan kiri Hee Thian Siang!

Hee Thian Siang yang sudah berhasil melukai lawannya, maka tangan kanannya yang kosong, dia menggunakan kesempatan itu untuk menotok jalan darah lawannya sehingga Hian-ceng Tojin jatuh tersungkur dalam keadaan tidak ingat orang lagi!

Begitu Hian-ceng Tojin roboh, Hee Thian Siang lantas menyambuti senjatanya Sam-ciok Kang-hwan yang melayang turun kembali, dengan perasaan bangga hingga ia tersenyum !

Bukan saja ia sendiri yang merasa bangga, sedang U-tie Khao yang menyaksikan pertempuran itu juga memberikan pujiannya:

"Cara Hee laote memancing musuh ini, kau lakukan dengan sangat bagus sekali, sehingga aku si pengemis tua juga baru kali ini pernah menyaksikan ilmu demikian hebat!"

Hee Thian Siang hanya menyambut pujian itu dengan senyuman, selagi hendak membuka suara, U-tie Khao kembali berkata dengan perasaan terheran-heran sambil menunjuk ke depan:

"Hee laote, coba lihat di dalam kuil itu bagaimana bisa timbul api lagi, api itu bahkan sangat aneh, apakah itu bukan senjata rahasia tunggal Kiu-yu Leng-hwe dari golongan Kie- lian-pay?"

Hee Thian Siang yang mendengar perkataan itu agak terkejut, ketika ia berpaling benar saja di dalam kuil itu timbul api. Api itu menimbulkan sinar biru, sangat mirip dengan senjata rahasia Kiu-yu Leng-hwe yang biasa digunakan oleh orang Kie-lian-pay.

"Dugaan locianpwe memang benar, api itu memang mirip dengan senjata rahasia tunggal Kiu-yu Leng-hwe golongan Kie-lian-pay, tetapi tidak perduli betul atau tidak, kita harus segera bawa Hian-ceng TOtiang ke suatu tempat yang tersembunyi, biar locianpwe menggunakan caramu yang ganas itu untuk paksa ia mengaku.  "

Belum habis ucapannya, dua orang itu sama-sama merasakan adanya ancaman bahaya maka keduanya terus menggunakan ilmunya meringankan tubuh, lompat ke kiri dan ke kanan sejauh setombak lebih.

Di belakangnya, entah darimana datangnya ada api berwarna hijau. Api itu bukan saja menyerang Hee Thian Siang dan U-tie Khao, tetapi juga ditujukan kepada Hian-ceng Totiang yang masih rebah dalam keadaan pingsan !

Ketika api itu jatuh di tempat Hian-ceng Totiang, imam itu lantas terbakar sekujur badannya sehingga menjadi melepuh dan hangus!

Hee Thian Siang dan U-tie Khao mengetahui siapa yang terbakar oleh api Kiu-yu Leng-hwe tak mungkin dapat ditolong lagi, maka ia merasa tak perlu untuk memberi pertolongan kepada Hian-ceng Totiang lagi. Mereka hanya saling pandang dan tertawa getir, matanya ditujukan ke keadaan sekelilingnya, untuk mencari siapakah orangnya dan dari mana melepaskan api ? Tetapi lama sekali ia mencari-cari, bahkan di situ tetap sunyi sepi, tidak terdapat jejak manusia. Maka Hee Thian Siang lantas berkata dengan suara gemas:

"Dalam urusan ini bagaimana golongan Kie-lian-pay juga turut campur tangan? Seorang yang masih hidup dan dapat kita gunakan untuk mencari keterangan, karena kelalaian kita sudah dihabiskan oleh senjata Kiu-yu Leng-hwe!"

"Kejadian sudah menjadi begini, terpaksa kita harus mencari lain jalan untuk mengadakan penyelidikan. Tetapi aku tidak mengerti orang yang melepaskan api Kiu-yu Leng-hwe di tempat persembunyiannya itu, mengapa hanya menujukan serangannya kepada Hian-ceng Tojin, tidak ditujukan kepada laote dan aku?"

"Sebabnya aku tahu !"

U-tie Khao merasa heran, maka ia segera menanyakan sebabnya. Hee Thian Siang lalu menjawab:

"Manusia-manusia dari golongan Kie-lian-pay itu semua tahu bahwa aku tidak takut dengan api Kiu-yu Leng-hwe!"

Baru berkata sampai di situ, ia terkejut karena ia teringat bahwa senjata jaring sutera warna merah yang dapat digunakan untuk menundukkan api Kiu-yu Leng-hwe, jatuh di tangan Tiong-sun Hui-kheng, oleh karena kalah dalam pertaruhan. Apabila apoi tadi ditujukan kepada dirinya atau U- tie Khao, bukankah keadaannya akan serupa dengan Hian- ceng Tojin?

U-tie Khao yang mendengar jawaban itu sangat heran dan berkata:

"Senjata rahasia Kiu-yu Leng-hwe ini, sifat racunnya sangat ganas, daya menempelnya juga kuat sekali, apa yang lebih hebat ialah tidak dapat dipadamkan oleh air! Maka baik manusia maupun benda logam asal terkena api itu tidak luput dari kehancuran. Sungguh aneh laote memiliki kepandaian demikian tinggi yang tidak takut dengan api itu !"

Hee Thian Siang teringat pengalaman berbahaya tadi, dalam hatinya masih bergidik ngeri karena menganggap orang Kie-lian-pay yang melepaskan senjata Kiu-yu Leng-hwe tadi mungkin masih bersembunyi di tempat gelap, maka ia bersikap sombong, katanya sambil tertawa:

"Locianpwe, ketahuilah olehmu, bahwa aku memiliki jaring wasiat milik Thian-gwa Ceng-mo yang Hwa Ji Swat berikan kepadaku, benda ini sudah cukup untuk menumpas Kiu-yu Leng-hwe! Apalagi pada waktu terakhir ini aku kembali bertemu dengan orang aneh, sudah mendapat pelajaran caranya untuk membasmi api beracun ini!"

"Hee laoten, kau ketemu orang siapa lagi...?"

Ditanya demikian, Hee Thian Siang pura-pura bersikap misterius, katanya sambil tersenyum:

"Hal ini adalah suatu rahasia, jikalau terdengar oleh kawanan kurcaci itu, akan kehilangan khasiatnya! Maka marilah kita pergi dari sini, mencari suatu tempat yang lebih baik, nanti akan kuceritakan kepada locianpwe!"

U-tie Khao tak dapat mengerti apa yang terkandung dalam hati Hee Thian Siang, terpaksa ia mengikutinya dengan hati penuh tanda tanya.

Setelah mereka menghilang dari tempat tadi, benar saja lantas muncul dua orang, yang satu adalah Tho-hwa Niocu dari Kie-lian-pay, yang lain adalah Liong-hui Kiam-khek dario Tiam-cong-pay. Liong-hui Kiam-khek wajahnya masih pucat, tidak bersemangat, jelas bahwa saat itu ia masih terluka parah dalam tubuhnya. Di tempat sembunyinya, matanya terus ditujukan kepada Hee Thian Siang dan U-tie Khao, setelah melihat dua orang itu benar-benar sudah berlalu jauh, dia lalu berkata kepada Tho-hwa Niocu:

"Hiang-ci, kuil Po-hie-he-wan tadi sudah kau bikin hangus sebagian oleh apimu Kiu-yu Leng-hwe, sekarang kuminta tolong padamu supaya kau rubuhkan saja bangunan itu, untuk menutupi lubang di bawah tanah. Sekalian kita ingin lihat apakah tulang-tulang Kwan Sam Pek terbakar semua atau belum ? Sekali-kali jangan meninggalkan bekas yang menimbulkan kecurigaan orang lain !"

Tho-hwa Niocu menurut, ia lompat kembali ke kuil yang sudah terbakar hangus, di antara reruntuhan ;puing, terdapat tulang-tulang Kwan Sam Pek yang sudah menjadi abu, ia lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, melakukan serangan kepada tembok-tembok yang masih berdiri sehingga semuanya rubuh menutupi tempat tersebut!

Setelah semua selesai, Liong-hui Kiam-khek berkata kepadanya sambil menghela nafas:

"Setan kecil Hee Thian Siang itu adalah murid Pak-bin Sin- po Hong-poh Cui, sudah begitu hebat asal-usulnya, orangnya juga sangat licik dan pintar serta sulit dihadapi, apa mau dikata dia juga bermusuhan dengan kita, enci Hiang, apa kau tadi tidak dengar katanya bahwa ia sudah mempelajari suatu cara yang khusus untuk mengalahkan senjata Kiou-yu Leng- hwe, maka di kemudian hari apabila ketemu dengan setan kecil itu, harus berlaku hati-hati, jangan terlalu gegabah!"

Tho-hwa Niocu ketika mendengar ucapan itu memperdengarkan suara tertawa terkekeh-kekeh dan kemudian berkata: "Sungguh tak kusangka seorang jago pedang dari golongan Tiam-cong yang kesohor namanya ternyata sudah takut terhadap satu setan kerdil saja. Apakah kau tidak tahu bahwa aku ini ahli membereskan kaum pria betapa pun kerasnya sekalipun..."

Tidak menantikan habis ucapan Tho-hwa Niocu, Liong Hui Kiam-khek sudah berkata dan menggelengkan kepala serta ketawa getir:

"Muslihatmu yang cukup membuat kaum pria luluh dan bertekuk lutut di hadapanmu, hanya dapat kau lakukan terhadapku, apakah terhadap Hee Thian SIang si setan kecil yang masih bau susu itu juga perlu menggunakan keindahan tubuhmu yang penuh daya seks itu?"

Tho-hwa Niocu kembali perdengarkan suara ketawanya yang genit, seluruh tubuhnya diletakkan dalam pelukan Liong- hui Kiam-khek, jago jalang itu mencium pipinya dengan mesra, kemudian melanjutkan ucapannya:

"Apa sebabnya aku jeri terhadap Hee Thian Siang, lantaran di belakang dirinya mempunyai sandaran Pak-bin Sin-po si tua bangka itu, nenek yang berkepandaian sangat tinggi, sifatnya juga terlalu aneh, aku pernah dipesan wanti-wanti oleh Ciangbun-suheng, sebelum rencana besar kita berhasil, sedapat mungkin menghindari bentrokan dengannya!"

Tho-hwa Niocu setelah mendapat perlakuan mesra dari Liong-hui Kiam-khek, mukanya berseri-seri, ia tempelkan mulutnya di telinga Liong-hui Kiam-khek mengatakan beberapa patah kata, yang takut terdengar oleh orang !

Liong-hui Kiam-khek yang mendengar ucapan itu lalu berkata dengan muka murung: "Aku telah terkena serangan ilmu Pan-sian ciang dari budak hina Ca Bu Kao, luka di dalam tubuh masih belum sembuh seluruhnya "

Tho-hwa Niocu yang sudah timbul birahinya bagaimana ia bisa bersabar? Hanya hidungnya saja yang mengeluarkan suara, tidak menunggu habis ucapan Liong-hui Kiam-khek, jago pedang itu sudah ditariknya, dan kemudian kedua- duanya bergelimpangan di dalam gerombolan rumput!

Apa yang dilakukan oleh dua makhluk itu kita tidak perlu jelaskan. Mari kita sekarang balik kembali kepada Hee Thian Siang.

Dalam perjalanannya itu, Hee Thian Siang telah melihat bahwa U-tie Khao nampak murung saja, seolah-olah sedang banyak pikiran, maka ia lantas bertanya sambil tersenyum:

"U-tie cianpwe coba kau tebak, ilmuku yang khusus untuk memecahkan senjata api Kiu-yu Leng-hwe Kie-lian-pay itu kudapatkan dari orang aneh tingkatan tua siapa?"

U-tie Khao berpikir dulu, kemudian baru menjawab: "Apakah bukannya Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong?" Hee Thian Siang menggelengkan kepala dan tersenyum,

U-tie Khao melanjutkan kata-katanya:

"Kalau bukan May Ceng Ong mungkin adalah It-pun Sinceng, kalau bukan dia, tentunya kau telah berjumpa dengan Duta Bunga Mawar!"

Hee Thian Siang menggelengkan kepala berulang-ulang, hingga U-tie Khao berkata lagi: "Laote, lekaslah kau beritahukan dengan terus terang jikalau kau demikian minta aku menebak terus-terusan, bagaimana pun aku tak dapat menebaknya!"

Hee Thian Siang tak dapat menahan perasaan gelinya, ia tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata:

"Locianpwe itu orangnya cerdik sekali, dengan keahliannya mencuri, namanya terkenal di kolong langit, hingga sahabat- sahabat rimba persilatan menghadiahkan julukan padanya Sam-ciu Lo-pan!"

U-tie Khao yang mendengar ucapan itu hatinya merasa mendongkol, tetapi juga merasa geli, katanya sambil menggelengkan kepala:

"Hee laote, mengapa kau hendak bercanda denganku? Sejak kapan aku pernah mengajarkan kau ilmu khusus untuk menumpas api Kiu-yu Leng-hwe dari golongan Kie-lian-pay?"

"Meskipun locianpwe belum pernah memberi pelajaran, tetapi dari pengalaman yang kudapatkan selama berada di samping locianpwe, aku mendapat faedah tidak sedikit, dalam perjalanan ini apabila bertemu lagi dengan orang-orang Kie- lian-pay yang demikian buas dan jahat, ilmunya boleh dicoba!"

U-tie Khao mendengar ucapan Hee Thian Siang semakin bingung, sementara itu Hee Thian Siang sudah berkata lagi sambil tersenyum:

"Benda yang dapat digunakan untuk memecahkan api golongan Kie-lian-pay, adalah api yang mempunyai rasa, yang locianpwe berikan padaku tiga butir, yang pernah kau gunakan untuk membakar kuil Po-hie-he-wan!"

U-tie Khao baru saja hendak menggelengkan kepalanya, Hee Thian Siang sudah berkata lagi: "Kalau kita sedang berhadapan atau bertempur dengan orang-orang golongan Kie-lian-pay, kita harus berlaku hati- hati, jikalau melihat mereka hendak melepaskan api Kiu-yu Leng-hwe, maka kita segera menggunakan api yang mempunyai rasa lebih dulu, digunakan untuk menyerang api itu! Coba locianpwe pikir, dengan tindakan ini, bukankah akan memberikan mereka suatu pembalasan yang setimpal?"

U-tie Khao kini baru sadar, dan diam-diam memuji kecerdikan Hee Thian Siang! Maka lantas berkata sambil tertawa dan menganggukkan kepala:

"Hee laote, kepintaranmu ini, dalam tingkatan muda pada dewasa ini, barangkali tidak ada tandingannya. !"

Baru berkata sampai di situ, Hee Thian Siang sudah berkata sambil menggelengkan kepala:

"Locianpwe jangan memuji aku, semula aku juga menganggap bahwa aku memiliki sedikit kepintaran, sehingga diam-diam juga merasa bangga, siapa tahu di gunung Oey- san kali ini dua kali aku ketemu batunya, dan menerima sekali pelajaran, barulah tahu bahwa di dunia yang luas ini jumlahnya orang pintar, sesungguhnya tidak sedikit kalau dibanding kepintaranku itu tidak berarti apa-apa!"

U-tie Khao yang tidak tahu bahwa Hee Thian Siang pernah kalah taruhan dengan Tiong-sun Hui Kheng, sehingga sudah kehilangan jaring wasiat dan lambang bunga mawar milik duta bunga mawar, sudah tentu ketika mendengar ucapan itu merasa heran. Selagi hendak menanyakan hal itu, tiba-tiba melihat bahwa mata Hee Thian Siang ditujukan ke arah jauh, maka ia juga berpaling mengikuti, di suatu tempat sejarak dua- tiga puluh tombak jauhnya, tampak sesosok bayangan orang dari jurusan barat laut lari menuju ke timur. U-tie Khao merasa bahwa gerakan bayangan orang itu seperti sudah dikenalnya, dan Hee Thian Siang yang masih muda dan tajam pandangan matanya, sudah menggunakan ilmunya menyampaikan suara ke jarak jauh, ia berkata dengan suara nyaring:

"Say Locianpwe, tunggu dulu, boanpwe Hee Thian Siang dan U-tie Locianpwe semua ada di sini !"

Bayangan orang itu ketika mendengar ucapan Hee Thian Siang lantas berhenti dan kemudian berbalik menuju ke arah Hee Thian Siang berdua, benar saja bayangan orang itu adalah tabib sakti Say Han Kong. Tabib sakti itu kelakuannya tergesa-gesa seolah-olah ada urusan penting !

Setiba di hadapan Hee Thian Siang berdua, U-tie Khao lantas bertanya sambil tertawa aneh:

"Tua bangka she Say, mengapa kau berjalan balik? Apakah di depan menjumpai kesulitan ?"

Say Han Kong tertawa menyeringai, ia menunjukkan sepotong robekan baju, Hee Thian Siang yang menyaksikan itu lantas bertanya dengan perasaan terkejut.

"Ujung baju ini, apakah bukan milik Ca Bu Kao? Apakah Say locianpwe berjumpa dengannya?"

"Nona itu terlalu keras kepala, juga terlalu taat kepada kekasihnya! Dia baru sembuh dari luka pedangnya, sudah dengan seorang diri pergi menyerbu Pho-hi To-kwan di gunung Tiam-cong-san. Aku coba mencegah tetapi tidak berhasil, hingga hanya mendapat sepotong ujung bajunya saja

!" berkata Say Han Kong sambil menggelengkan kepala dan menghela nafas. "Pho-hie To-kwan merupakan markas besar dan tempat terpenting golongan Tiam-cong-pay. Di situ selain tiga jago pedang, juga terdapat banyak orang-orang kuat, apalagi permusuhannya dengan orang-orang Lo-hu-pay sudah sangat dalam sekali! Nona Ca dengan seorang diri menyerbu goa naga, apalagi luka di badannya baru saja sembuh, barangkali sangat berbahaya baginya!" berkata U-tie Khao sambil mengerutkan alisnya.

"Justru karena aku merasa tidak tega, maka barulah aku balik kembali, maksudku hendak mengajak kalian pergi memberi bantuan bersama-sama. Siapa tahu tadi jikalau bukan Hee laote yang tajam pandangan matanya, hampir saja aku lari terus!" berkata Say Han Kong sambil menganggukkan kepala.

U-tie Khao dan Hee Thian Siang yang mendengar keterangan Say Han Kong, tanpa ayal lagi lantas mengerahkan ilmunya lari pesat, bersama-sama Say Han Kong lari menuju ke barat laut.

Sepanjang jalan itu, Hee Thian Siang sambil lari bertanya kepada Say Han Kong:

"Say locianpwe, tadi kau kata bahwa bibi Ca terlalu berat kepada kekasihnya, apakah maksudnya ucapan locianpwe itu? Apa sebabnya ia demikian tergesa-gesa pergi ke Pho-hie To-kwan?"

"Lantaran dia buru-buru hendak menolong pria idamannya Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie!" jawab Say Han Kong.

Jawaban Say Han Kong itu sesungguhnya di luar dugaan Hee Thian Siang dan U-tie Khao, dengan perasaan heran U- tie Kha bertanya: "Hendak menolong Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie? Nona Ca bukankah sudah bentrokan dan menjadi musuh dengan orang itu? Mereka kan sudah melakukan pertempuran sengit di depan kuil Pho-hie-hee-wan, sehingga badannya terluka oleh ujung pedang orang she Su-to itu?

Setelah nona Ca memberitahukan sebab musababnya, aku baru tahu bahwa itu adalah suatu rahasia yang berbelit-belit, orang yang Hee laote pernah jumpai di daerah gunung Bin- san, maupun orang yang pernah kulihat bersama u-tie Khao di puncak gunung Thian-tu-hong itu bukanlah Liong-hui Kiam- khek Su-to Wie!" berkata Say Han Kong sambil menggelengkan kepala dan menghela nafas.

Hee Thian Siang terkejut dan terheran-heran, ia bertanya: "Apa dia bukan Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie?" "Andaikata kita tidak kenal, apakah Leng-po Sian-lie yang

pernah bersumpah sehidup semati dengannya, juga bisa

salah lihat?"

"Justru karena wajah dua orang itu mirip satu sama lain, hanya yang mempunyai tanda tahi lalat merah di tengah- tengah kedua alisnya, barulah dapat dibedakan siapa Liong- hui Kiam-khek yang benar dan yang palsu." Berkata Say Han Kong sambil menganggukkan kepala.

"Oo! Menurut ucapan Say Locianpwe ini, Ling-hui Kiam- khek yang palsu itu jadi masih merupakan saudara kembar dengan Liong-hio Kiam-khek yang tulen, kalau begitu yang satu itu pasti adalah jejaka tangan kejam Su-to Keng. Tetapi bukankah kita sudah dengar, bibi Ca pernah mengatakan ketika di gunung Ciong-san, bahwa Su-to Keng itu pada dua tahun berselang pernah terkena serangan oleh ilmu Pan-sian- ciang dari Peng-sim Sin-nie, sehingga mati tercebur ke dalam sungai." Berkata Hee Thian Siang. "Su-to Keng pandai berenang meskipun tenggelam di air, namun masih bernapas, tetapi setelah kejadian itu ia lantas mengasingkan diri dan merahasiakan nama aslinya. Ia muncul lagi di dunia Kang-ouw dengan menggunakan nama dan rupa adiknya, ialah Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie." Berkata Say Han Kong.

Oe-tie Khao yang berdiri disamping lantas bertanya: "Dan Liong-hui Kiam-khek yang benar ada dimana?"

"Rahasia dalam rimba persilatan ini panjang ceritanya, kau pengemis tua dan Hee laote harus dengar keterangan yang hendak ku mulai dari semula."

"Dalam perjalanan yang sangat panjang ini kita justru merasa kesepian, maka tidak halangan locianpwe menceritakan dengan jelas." Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Say Han Kong lalu menuturkan rahasia yang dituturkan oleh Leng-po Giok-li sendiri, kini ia ceritakan kepada mereka. Seperti apa yang telah diketahui, bahwa golongan Tiam-cong dan Lo-hu, dua golongan sudah lama mempunyai permusuhan sangat dalam, orang-orang dari kedua pihak sering mengadakan pertempuran tidak henti-hentinya, sehingga tiba waktunya ketika Thiat-kwan Totiang dan Peng- sim Sin-nie masing-masing menjabat ketua, diantara ketua partai itu masing-masing muncul satu orang yang berpendirian sama dan masing-masing telah terjalin cinta kasih yang sangat dalam, sepasang muda mudi dua golongan itu, bahkan hendak menggunakan cinta kasih pribadinya untuk berusaha memperbaiki hubungan dua golongan yang sudah lama bermusuhan itu.

Sepasang pendekar pria dan wanita yang masing-masing sudah jatuh cinta itu yang wanita adalah Leng-po Giok-li Ca Bu Kao dari Lu-hu-pay dan yang pria adalah Liong-hui Kiam- khek Su-to Wie dari Tiam-cong-pay.

Cita-cita mereka berdua meskipun baik dan suci murni, tetapi didalam gerombolan manusia buruk, bagaimana juga susah untuk memberanikan diri, Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie pernah membentang maksudnya kepada suhengnya yang menjadi ketua, tetapi kemudian bahkan disemprot oleh ketuanya dan sutenya Lui Hwa, bahkan suruh dia menodai Leng-po Giok-li yang masih suci supaya ia bisa masuk menjadi anggota golongannya dan dengan menggunakan gadis itu sebagai komplotannya untuk mencari rahasia golongan Lo-hu-pay. Suto Wie yang sifatnya jujur sudah tentu tak mau berlaku demikian rendah, maka ia tetap mempertahankan pendiriannya. Dengan demikian di antara saudaranya sendiri itu telah terjadi perselisihan faham dan akhirnya bercekcok hebat.

Jejaka tangan ganas Suto Keng tepat pada waktu itu sudah mulai sembuh lukanya, ketika pulang kekuil Pho-hi-to-kwan, tiba0tiba mendengar saudaranya Suto Wie mengusulkan supaya memperbaiki hubungannya dengan Lo-hu-pay dalam keadaan permusuhan hebat seperti itu, sudah tentu lantas marah, secara licik dan tiba-tiba ia menggunakan ilmu jarinya Thiat-ji-sin-kang, menotok jalan darah Suto Wie.

Suto Wie yang tertotok jalan darahnya, kepandaian ilmu silatnya telah dimusnahkan, Suto Keng yang tahu sudah bertindak keterlaluan, maka lalu minta maaf kepada Thiat- kwan Totiang.

Diluar dugaannya, Thiat-kan Totiang bukan saja tidak marah, bahkan tertawa disamping suruh orang mencari tempat untuk mengurung Suto Wie, juga suruh Suto Keng menyaru menjadi Suto Wie, dengan memakai tanda tahi lalat merah ditengah dua alisnya, kecuali itu juga mengambil pedang ceng-hong-kiam Suto Wie sebagai senjatanya. Selanjutnya ia telah muncul dengan nama Liong-hui Kiam- khek. Ia berusaha untuk merebut dan menodai diri Ca Bu Kao supaya ia berbalik menghianati golongannya sendiri Lo-hu- pay.

Leng-po Giok-li bagaimana tahu diantara dua saudara kembar itu terjadi perpecahan demikian rupa? Maka masih melanjutkan hubungan cinta kasihnya yang mesra dengan Liong-hui Kiam Khek yang palsu itu.

Suto Keng dan Suto Wie meskipun sepasang saudara kembar, tetapi adat dan perangai mereka beda jauh, Suto Keng sifatnya jahat, tidak seperti Suto Wie yang jujur. Bukan saja merupakan orang yang gemar pipi licin, tetapi juga mendapat perintah suhengnya yang menjadi ketua, sudah tentu ia berusaha sedapat mungkin untuk mendapatkan diri Ca Bu Kao bahkan demikian bernafsu supaya bisa menodainya.

Untung Leng-po Giok-li masih mempertahankan kesuciannya, sedikitpun tidak tergerak oleh birahinya. Ia hanya merasa bahwa kekasihnya itu kini jauh berbeda dari dulu, kelakuannya agak ceriwis, maka buru-buru berusaha untuk mempertahankan jangan sampai terjerumus dalam jurang asmara, ia beritahukan kepada pemuda ceriwis itu, sekalipun satu sama lain sudah saling mencinta, tetapi sebelum melakukan pernikahan yang sah jangan sampai melakukan perbuatan yang membikin noda, nama baiknya, harus menunggu dulu supaya orang-orang kedua pihak benar- benar sudah berhasil membujuk ketua masing-masing dan ia masih mengharap dengan perkawinannya itu dapat melenyapkan permusuhan dua golongan itu, dengan demikian barulah ia merasa untung dalam perkawinannya itu.

Maksud baik dari Ca Bu Kao sudah tentu dapat menggerakan hati Suto Keng yang memang mengandung maksud jahat. Sementara Suto Keng yang sudah berkobar nafsu birahinya bagaimana mau melepaskan barang yang sudah berada ditangannya? Maka ia hendak memperlakukan Ca Bu Kao dengan jalan kekerasan.

Leng-po Giok Lie dalam keadaan terkejut telah memberi tamparan kepada pemuda itu, dalam pertengkaran itu Suto Keng telah menggunakan obat racunnya yang jahat untuk merusak sebelah pipi Leng-po Giok-lie. Gadis itu karena wajahnya dirusak, maka buru-buru pergi ke gunung Siong-san untuk minta obat kepada tabib sakti Say Han Kong, dan karena ia merasa gemas terhadap Su-to Wie yang berubah hatinya secara mendadak, maka ia pergi ke gunung Bin-san untuk minta restu kepada makan bunga mawar supaya Suto Wie bisa menginsafi kesalahannya.

Ketika Hee Thian Siang mendengar penuturan Say Han Kong itu, sudah tak sabar lagi mengajukan pertanyaan: "Dengan cara bagaimana Bibi Ca itu mengetahui rahasia itu?"

"Ketika berada di gunung Hok-gu-san nona Ca berjumpa lagi dengan Su-to Keng di situ ia terpancing lagi oleh akal muslihatnya, dan dalam keadaan tidak sadar, hampir saja dirinya dinodai. Untung keburu ditolong oleh duta bunga mawar, dari mulutnya orang luar biasa itu, ia diberi tahu segalanya. Nona Ca setelah mengetahui sebab musababnya, ia menganggap bahwa Suto Wie yang sebenarnya pasti dikurung dalam tempat penting Tiam-cong-pay, atau didalam kuil Pho-hie-to-koan yang merupakan markas besar golongan itu. Maka setelah pertemuan di gunung Oey-san selesai, malam-malam ia pergi hendak menyatroni kuil itu. Di depan kuil ia telah berjumpa dengan jejaka tangan ganas Suto Keng dalam keadaan sengit nona Ca telah membuka rahasianya yang telah mencelakakan diri saudaranya sendiri, dengan demikian kedua orang itu lalu timbul pertengkaran dan selanjutnya terjadi pertempuran. Suto Keng terkena serangan ilmu Pan-sian-ciang tiga kali dan nona Ca sendiri terkena serangan pedang sampai tujuh kali." Berkata Say Han Kong sambil tertawa.

"Dalam perjalanan ke gunung Tiam-cong-san, kukira Bibi Ca akan sia-sia saja, sebab Su-to Wie itu sama sekali tidak dikurung didalam kuil Pho-hie-kwan." Kata Hee Thian Siang.

Kali ini giliran Say Han Kong yang keheranan, Hee Thian Siang lalu menceritakan apa yang dilihatnya di kuil Pho-hie- hee-kwan.

Setelah mendengar cerita Hee Thian Siang, Say Han Kong berkata sambil mengerutkan alis: "Menurut dugaanku ketika kuol Pho-hie-hee-kwan kebakaran, orang yang dibawa lari Hian-ceng totiang, barangkali Suto Wie yang asli. Tetapi waktu itu pengemis tua dan loate tidak keburu mengejar, entah disembunyikan dimana sekarang?"

Oe-tie Khao mendengarkan ucapan itu, berkata: "Sekalipun dugaanmu itu benar, tetapi sekarang barangkali sudah tak ada waktu untuk mengejar Suto Wie lagi."

"Ucapanmu ini memang benar, kita sekarang memang tidak sempat mencari Su-to Wie lagi, lebih dulu kita perlu memberi bantuan nona Ca. Dengan seorang diri ia menyerbu ke kuil Pho-hie-to-kwan yang banyak orang kuat, ini terlalu berbahaya!" Berkata Say Han Kong sambil menganggukkan kepala.

"Jika ditilik dari kekuatan orang-orang Tiam-cong-pay yang ada dikuil Pho-hie-to-kwan seorang Leng-po Giok-lie ditambah lagi dengan kita tiga orang, rasanya masih kurang cukup. Tetapi dalam keadaan terpaksa, tidak ada orang lain yang dimintai bantuan, kita terpaksa melawannya dengan nekat." Berkata Oe-tie Khao sambil mengawani Say Han Kong dan Hee Thian Siang. Hee Thian Siang juga tahu bahwa jika ditilik dari kepandaian ilmu silat, dipihaknya sendiri tiga orang belum tentu dapat melawan orang golongan Tiam-cong-pay, ia segera teringat kepada sahabat barunya Leng Pek Cok. Dalam hati berpikir, orang aneh itu kata setelah memberi laporan kepada Peng-pek Sin-kun, akan terjun ke dunia Kang- ouw lagi untuk menyelidiki duri beracun Thian-keng-cek, jika ditengah jalan kebetulan bisa ketemukan dia, bukankah merupakan suatu bantuan tenaga yang paling baik?

Say Han Kong yang melihat Hee Thian Siang tiba-tiba berpikir, lantas bertanya sambil tersenyum: "Hee Laoute, kau seorang cerdas dan pintar, kulihat kau sedang memikirkan apa-apa, apakah kau sedang mencari daya upaya yang lebih baik?"

"Pengetahuan dan pengalaman kedua locianpwe lebih banyak daripadaku, bagaimana Hee Thian Siang dapat memikirkan daya yang lebih baik. Aku sebetulnya sedang memikirkan bahwa perjalanan kita ke Tian-cong-san ini meskipun sangat berbahaya, tetapi dalam perjalanan ini kemungkinan bisa bertemu dengan seorang yang dapat memberi bantuan pada kita, sekalipun jika benar-benar kita sudah kepepet dan dalam bahaya, kita juga masih ada jalan untuk menolong diri sendiri." Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Oe-tie Khao seolah-olah baru disadarkan, ia bertanya: "Benar... benar, di badan Hee Thian Siang ada sebutir senjata ampuh yang dapat menghancurkan Pho-hie-to-kwan, yang membuat tiga jago Tiam-cong mau tak mau harus memikirkan masak-masak sebelum melakukan tindakannya, benda itu adalah Kian-thian-pek-lek, senjata peledak golongan Pak-bin."

Kian-thian-pek-lek meskipun merupakan senjata pusaka perguruan kami, tetapi Hee Thian Siang anggap karena senjata itu terlalu ganas juga harus patuh kepada pesan Suhu, belum berani menggunakan senjata sembarangan. Tetapi karena harus membela keselamatan Bibi Ca serta membela keadilan dan kebenaran dunia Kangouw, terpaksa aku akan menggunakannya untuk menghadapi orang Tiam-cong yang mengandalkan jumlah banyak." Berkata Hee Thian Siang.

Berkata sampai di situ, matanya ditujukan ke arah Barat laut, kemudian berkata pula:

"Locianpwe berdua, kalau kita sudah mengambil keputusan tepat, seharusnya jangan ayal di jalan, sebab Bibi Ca, dengan badan yang masih putih bersih, dengan seorang diri menerjang ke goa srigala, sesungguhnya terlalu berbahaya. Kita harus tiba dan memberi bantuan pada saat yang tepat, jangan sampai ia terhina atau dinodai oleh kawanan manusia jahat itu!"

Say Han Kong dan U-tie Khao juga berpendapat demikian, maka semuanya mempercepat jalannya, untuk menuju ke markas Tiam-cong-pay!

Dalam perjalanan mereka itu meskipun mengandung resiko bahaya besar, tetapi dalam pertempuran sengit yang akan terjadi, akan membuat markas besar Tiam-cong-pay Pho-hie To-kwan, diobrak-abrik demikian rupa, sehingga menggegerkan orang-orang Tiam-cong-pay!

Semua itu kini baik kita tunda dulu dan nanti akan dilanjutkan lagi.

Pada saat Hee Thian Siang bertiga baru saja bergerak menuju ke Pho-hie To-kwan di gunung Tiam-cong-san, tempat yang baru ditinggalkan oleh rombongan Hee Thian Siang tadi, daerah pegunungan Bu-leng-san, tempat itu merupakan tanah kuburan tua. Di samping itu merupakan tanah kuburan tua. Di samping rumput dan alang-alang yang lebat, juga terdapat banyak tulang-tulang manusia dan peti-peti mati yang berserakan di sana-sini, ditambah lagi malam itu sudah larut dan habis turun hujan, keadaannya semakin sunyi dan seram !

Dalam keadaan demikian, di tanah kuburan yang sepi menyeramkan itu, muncul seorang lelaki dan seorang perempuan. Yang lelaki adalah Su-to Kheng, yang menyamar menjadi Su-to Wie sedang yang perempuan adalah wanita tergenit dalam rimba persilatan, anggota dari golongan Kie- lian-pay, Tho-hwa Nio-cu Kie Liu Hiang! Kedua orang itu berjalan ke suatu kuburan yang letaknya lebih tinggi, tetapi kuburan itu sudah tidak ada yang mengurus dan tak ada yang merawat. Su-to Kheng menghentikan langkahnya dan berkata kepada Tho-hwa Nio-cu sambil tertawa:

"Peribahasa mengatakan: Menjadi orang jangan melakukan perbuatan yang melanggar hati nurani", maka meskipun tengah malam mendengar ketukan maut juga tidak akan kaget! Selama hidupku, entah berapa banyak jiwa yang melayang di sepasang tanganku, tetapi terhadap saudaraku sendiri, oleh karena aku menurunkan tangan secara ragu- ragu, menotok jalan darahnya Lo-im-hiat, hingga kini aku tidak berani bertemu muka dengannya, coba kau pikir, ini aneh atau tidak?"

Sepasang mata Tho-hwa Niocu memancarkan cahaya buas, ia memandang Su-to Kheng sejenak, lalu berkata sambil tertawa dingin:

"Kau yang mendapat gelar JEJAKA TANGAN GANAS ternyata nyalimu begitu kecil, kau sudah berani berbuat, tetapi takut bertanggung jawab! Kini Pho-hie-hee-wan sudah hancur, apakah kau masih hendak antar dia ke kuil Pho-hie To-kwan, untuk membocorkan rahasiamu sendiri?"

Su-to Kheng yang mendengar ucapan itu, belum menjawab, Kie Liu Hiang sudah berkata lagi sambil ketawa terkekeh-kekeh: "Saudaramu itu meskipun merupakan sedarah sedaging, tetapi dalam hubungan kasih, belum tentu lebih erat daripada hubungan kasih antara dua kekasih! Apakah kau masih ingat, lantaran hubunganku denganmu, aku telah menggunakan racun merenggut jiwa suamiku sendiri?"

"Ucapanmu memang benar, orang bernyali kecil bukanlah seorang laki-laki, jikalau tidak kejam bukanlah seorang jantan! Sekarang aku minta tolong padamu supaya kau bawa keluar Su-to Wie dari goa itu, biarlah di saat yang terakhir ini aku hendak menasehati padanya beberapa patah kata!" Berkata Su-to Kheng sambil tertawa dingin.

Kie Liu Hiang menunjukkan senyumnya yang kejam, ia membalikkan diri dan lompat sejauh tiga tombak, lalu berjalan menuju ke sebuah lubang yang tertutup oleh alang-alang dan rumput, ia lalu memondong keluar tubuh Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie yang sudah menderita lahir dan bathin sekian lamanya, ia bawa laki-laki itu keluar lubang, dan didudukkan di depan sebuah kuburan.

Su-to Kheng yang melihat saudaranya meskipun sudah ditotok jalan darahnya, hingga seluruh kepandaiannya sudah musnah, keadaannya waktu itu seperti orang cacat, tetapi wajahnya masih tetap gagah dan tampan, terutama sinar matanya yang menunjukkan semangatnya yang tak terpatahkan, hingga membuat Su-to Kheng berdiri bulu romanya sendiri, bibirnya bergerak-gerak tetapi tiada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Tho-hwa Niocu yang menyaksikan keadaan demikian, alisnya dikerutkan, mulutnya mengeluarkan suara: "Hei....!" lalu mengulurkan tangannya menepuk pundak Su-to Kheng seraya bertanya sambil tertawa:

"Tadi bukankah kau hendak bicara dengan saudaramu?" Ditepuk demikian oleh Tho-hwa Niocu, dengan tiba-tiba Su- to Kheng timbul pikiran jahatnya, dengan mata memandang Su-to Wie, ia bertanya:

"Saudara, kau telah kutotok jalan darah Lo-im-hiatmu, sehingga menjadi demikian rupa, apakah dalam hatimu membenci aku?"

Liong-hui Kiam-khek dengan sinar mata aneh memandang bergiliran kepada saudara sekandung sendiri tetapi berhati jahat bagaikan ular berbisa, dan Tho-hwa Niocu si perempuan bejat, kemudian menggeleng-gelengkan kepala, suatu tanda bahwa ia tidak membenci.

Su-to Kheng melihat saudaranya itu tidak membenci dirinya, dalam hati merasa agak lega, ia berkata sambil menganggukkan kepala:

"Saudara kau masih terhitung orang yang berhati, kau tidak membenciku itulah benar! Kau tak tahu meskipun jalan darahmu terpenting telah tertotok, sehingga kepandaian ilmu silatmu untuk sementara telah lenyap, tetapi asal kau bisa merobah kesalahanmu, saudaramu ini nanti akan minta kepada Ciangbun suheng, supaya diberikan sebutir pil obat Kiu-coan Ban-leng-tan dari golongan kita, masih bisa pulih seperti sedia-kala."

Su-to Wie yang mendengar ucapan itu berkata, dengan nada suara dingin:

"Obat pil Kiu-coan Ban-leng-tan, seluruhnya hanya ada dua butir, bagaimana boleh digunakan sembarangan untuk menolong aku? Lagi pula walaupun tubuhku hancur lebur, cita-citaku tidak akan berubah; bahkan aku sudah bertekad, seandainya aku tidak mati dan kepandaianku pulih kembali, aku juga sudah bersumpah tidak akan hidup bersama-sama denganmu dan Ciangbun suheng!" "Adik, kau selamanya bicara tidak pernah berbohong, tadi kau bukankah mengatakan tidak membenci aku?" Bertanya Su-to Keng terkejut.

"Engkoh, kau adalah saudara sekandungku, jangankan turun tangan secara menggelap menotok jalan darahku, sekalipun kau bunuh dan bakar tubuhku, aku juga tidak akan membenci. Yang kubenci adalah tindakanmu dan tindakan Ciangbun suheng yang berlaku jahat atas tingkatan tua, perbuatan itu seperti sudah kehilangan perikemanusiaan dan akal budinya. Cobalah kau pikir, bagaimana kejam perbuatan suheng yang sudah menganiaya Kwan Sam Pek susiok sampai demikian rupa?" berkata Su-to Wie.

Ucapan yang penuh semangat yang diucapkan oleh Su-to Wie itu membuat terkejut Su-to Keng, tetapi ia segera mengeluarkan suara tertawa yang menyeramkan, dan berkata kepada saudaranya:

"Kwan Sam Pek terlalu membanggakan diri sebagai tingkatan tua! Dengan kedudukannya yang sudah mengundurkan diri, ia mencoba mencampuri urusan besar partai kita, terhadap ketuanya juga terlalu tidak sopan. Kesalahan itu bukankah dicari sendiri? Sekalipun dibunuh rasanya juga tidak ada salahnya. Sebaliknya yang diucapkan olehnya sebelum lidahnya dipotong oleh Ciangbun suheng, kita tidak tahu jelas apa yang dimaksudkan?"

Su-to Wie yang menyaksikan sikap engkohnya hanya tahu bahwa saudara sekandungnya itu telah tersesat terlalu dalam, rasanya tidak dapat dibiarkan begitu saja, mengingat akan hubungan saudaranya, ia menghela nafas panjang, setelah itu baru menjawab:

"Kwan susiok dalam hidupnya kecuali kepandaian ilmu silatnya yang sangat tinggi, juga seorang yang pintar dan banyak akalnya. Ia hanya tidak menduga bahwa dalam golongan Tiam-cong-pay ada orang yang berani melanggar tata tertib serta berkhianat terhadap tingkatan tua, barulah terbokong olehmu dan Ciangbun suheng! Kata-kata Bunga song menunjuk jalan, rembulan purnama di atas kepala, meskipun mengandung maksud sangat dalam, tetapi siaote sendiri ternyata juga dianiaya pada waktu itu, sehingga sampai sekarang masih belum dapat memikirkan artinya."

"Adik, kalau kau mengucapkan kata-kata yang tidak berguna lagi, dan kau tahu tapi juga tidak mau menjawab, itu berarti mencari kematianmu secara cepat!" Berkata Su-to Keng sambil tertawa mengejek.

"Sejak aku tertotok jalan darahku di hadapan meja sembahyang leluhur Tiam-cong-pay, soal mati hidupku sudah tidak ada dalam pikiranku! Sebagai seorang adik aku hanya dapat mencoba menasehati engkau, persoalan yang menyangkut penganiayaan diriku, kau boleh tidak terlalu pikirkan, tetapi tindakan terhadap Kwan susiok yang demikian kejam, harus siap sedia untuk menerima pembalasan dari Tuhan!" Berkata Liong-hui Kiam-khek dingin.

Su-to Keng nampak sangat marah, dengan suara bengis ia membentak:

"Tutup mulutmu, apa yang dinamakan pembalasan dari Tuhan? Su-to Keng tidak perduli! Sekarang aku hendak bertanya kepadamu, kau mau melepaskan cita-citamu atau tidak? Karena aku sudah bertekad hendak menjunjung nama baik Tiam-cong-pay dan sudah bersumpah hendak menumpas musuh bebuyutan kita Lo-hu-pay."

"Dendam antara golongan Lo-hu dan Tiam-cong, sudah berlangsung seratus tahun lamanya, hingga menimbulkan pertempuran yang tidak henti-hentinya, dan membuat tidak aman dunia rimba persialtan! Koko, kau tak usah banyak omong untuk menasehati aku melepaskan cita-citaku yang hendak memperbaiki hubungan dengan Lo-hu-pay kecuali Su- to Wie sudah menjadi abu, kalau aku masih hidup pasti aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan permusuhan itu!"

Su-to Keng yang mendapat julukan JEJAKA BERTANGAN GANAS, sudah tentu seorang yang berhati kejam dan bertangan ganas! Oleh karena Su-to Wie masih merupakan saudara sekandungnya sendiri, maka ia tidak tega untuk membunuh. Jikalau orang lain barangkali sudah lama jiwanya dikirim ke akhirat!

Setelah mendengar ucapan Su-to Wie, alis Su-to Keng berdiri, katanya dengan suara bengis:

"Adik kau masih keras kepala, kalau aku mau mengambil jiwamu, bukankah itu sangat mudah sekali?"

Dengan sikap yang tak takut sedikit pun juga Su-to Wie berkata dengan suara gagah:

"Koko, silahkan kau turun tangan, kalau kau membinasakan adikmu, itulah paling baik, supaya di kemudian hari kalau aku hendak menuntut balas dendam bagi Kwan susiok, tidak lagi mengingat adanya perhubungan persaudaraan denganmu, dengan demikian aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk bertindak!"

Su-to Wie waktu itu bukan saja tidak mudah digertak, bahkan di hadapan Tho-hwa Niocu dia membeber rahasia Su- to Keng demikian jelas, hingga sifat kebinatangan Su-to Keng muncul pula, katanya sambil tertawa dingin:

"Kau jangan coba menggunakan kata-kata hubungan tali persaudaraan untuk menggerakkan hatiku yang keras, malam ini aku pasti mengiringi kehendakmu untuk mengirim kau ke akhirat! Tapi sebelum kau mati masih ada satu hal yang harus kutanyakan lebih dahulu, jikalau kau tak menjawab dengan sejujurnya, jangan kau salahkan kalau aku bertindak kejam terhadapmu."

Sehabis berkata demikian, dengan senjata pakunya, ia gunakan untuk melukai paha kiri Su-to Wie, setelah itu ia berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

"Ini adalah hubungan tali persaudaraan, biarlah kau lebih dulu merasakan tangan kejam Su-to Keng, yang berani menentang kehendaknya!"

Sungguh tidak kecewa Su-to Wie menjadi seorang lelaki jantan berhati baja, senjata paku yang ganas itu meskipun masuk dalam daging pahanya sehingga darahnya mengucur keluar, namun sikap dan wajahnya sedikit pun tidak berubah. Ia hanya berkata sambil mengerutkan alisnya terhadap saudara tuanya yang berhati kejam bagaikan serigala itu:

"Koko, kau memperlakukan aku bagaimana pun kejamnya itu tidak apa. Pertanyaan yang hendak kau ajukan padaku, jikalau aku tahu, aku pasti menjawabnya! Tetapi sebelum aku mati aku ada sedikit permintaan, aku berharap supaya kau mengingat bahwa aku adalah adik kandungmu sendiri, supaya kau bisa menerima baik permintaanku!"

Pada saat itu, Su-to Keng kembali mengambil dua buah paku di tangannya, mendengar perkataan itu ia bertanya dengan nada suara dingin:

"Kau ada permintaan apa, kau katakan dulu, tetapi di antara kita untuk selanjutnya jangan lagi menggunakan perkataan saudara sekandung!"

Tadi ketika paku menancap di dalam pahanya, rasa sakit tidak mematahkan semangatnya, ia sedikit pun tidak mengerutkan alisnya! Tetapi sekarang setelah mendengar ucapan terakhir dari Su-to Keng, kata-kata itu sangat menusuk hati dan perasaannya, sehingga airmatanya mengalir keluar!

Namun demikian, terhadap saudara sekandung itu agaknya tidak merasa benci, sebaliknya dengan perasaan sayang ia memandang kepada Su-to Keng, dan katanya lambat-lambat:

"Koko, walaupun kau tega memutuskan hubungan saudara denganku, tetapi aku yang menjadi adikmu, kecuali di kemudian hari apabila aku menuntut balas untuk Kwan Susiok tidak akan memaafkan dirimu, sekarang ini masih tetap. "

Su-to Keng yang mendengar ucapan itu tidak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, ia berkata dengan suara bengis:

"Sekarang kematian sudah berada di hadapan matamu, dengan apa kau hendak menuntut balas dendam Kwan Sam Pek? Karena kau masih pandang diriku sebagai engkomu, maka aku juga akan berikan tanda mata lagi terhadap kesetiaanmu ini. Tadi paku telah menancap di paha kirimu, sekarang satu ini ku akan tancapkan di lengan kananmu, kau ada permintaan apa, mengapa kau tidak lekas jelaskan?"

Sehabis berkata demikian tangannya bergerak dan paku di dalam genggamannya melesat dan menancap ke lengan kanan Su-to Wie! Kepandaian ilmu silat Su-to Wie sudah dimusnahkan, terhadap serangan senjata paku sudah tentu tidak bisa mengelak dan menyingkir. Ia tahu bahwa malam itu harapan hidupnya sudah tidak ada lagi, sulit untuk terlepas dari tangan kejam saudaranya sendiri. maka ia keraskan hati untuk menerima segala siksaan, sedikit pun tidak ingin mengelak!

Tetapi ketika senjata paku itu melayang ke arahnya, dengan tiba-tiba lengan kanannya seperti disengat oleh serangga, hingga dirasakan kesemutan, dengan sendirinya lengan itu lantas diturunkan dan serangan paku yang dilancarkan oleh Su-to Keng melayang mengenai bajunya, kemudian jatuh di atas rumput! Su-to Wie anggap hal itu bukan suatu kebetulan, mungkin ada orang yang melindungi dirinya di tempat gelap. Oleh karena ia khawatir menimbulkan kecurigaan Su-to Keng, maka ia buru-buru berkata:

"Apa yang kuminta ialah harap engko suka mengingat dengan gelarku Liong-hui Kiam-khek, yang kudapatkan secara tidak mudah, supaya jangan kau pakai lagi. Untuk selanjutnya menggunakan gelarmu sendiri JEJAKA BERTANGAN GANAS, dan sekali pun siaote mati, juga tidak akan menyesal!"

Su-to Keng yang mendengar perkataan itu tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala:

"Aku meminjam nama gelarmu Liong-hui Kiam-khek ini maksudku semata-mata hendak mencari kesempatan untuk merampas kehormatan Leng-po Giok-lie Ca Bu Kao, karena dengan demikian membuatnya mau tak mau harus kawin denganku, dan dengan demikian pula Lo-hu-pay juga akan tergabung dalam golonganku!"

Su-to Wie yang mendengar ucapan itu, bulu romanya berdiri semua, ia bertanya dengan suara gemetaran:

"Dia.... dia.... apakah sudah kau. "

Tho-hwa Niocu yang selama itu berdiri di samping menyaksikan semua itu, tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun juga, sekarang dia menggertak gigi, ia melirik kepada Su-to Keng dengan sikapnya yang buas !

Su-to Keng berkata pula: "Tetapi sekarang, entah bagaimana Ca Bu Kao sudah mengetahui rahasiaku, untuk selanjutnya tidak perlu lagi aku meminjam gelarmu, maka aku terima baik permintaanmu ini!"

Dari ucapan Su-to Keng tadi, Su-to Wie mengakui bahwa Ca Bu Kao sudah mengetahui semua rencana jahat Su-to Keng, dan kesuciannya juga belum ternoda, maka hatinya merasa girang, katanya sambil tersenyum:

"Terimakasih atas kebaikan koko, kau masih hendak bertanya apa lagi, apa yang Suto Wie tahu pasti akan menjawabnya!"

Dengan sinar mata buas Suto Keng memandang adiknya sejenak, kemudian bertanya dengan suara dalam:

"Setan tua Kwan Sam Pek menghargai dirimu, dahulu dengan seorang diri ia bertempur dengan ketua-ketua Siauw- lim, Lo-hu dan Ki-lian, senjata pedang Pek-liong-kiam yang digunakan waktu itu, dan sejilid buku ilmu pedang Pek-liong- kiam-po, sekarang ada dimana, apakah ia pernah memberitahukan padamu?"

"Kwan susiok sehabis melakukan perjalanan ke berbagai tempat, ketika pulang kembali, tidak lama berada di kuil Pho- hie To-kwan, sudah kau aniaya dengan Ciangbun suheng, sama sekali belum pernah melakukan pembicaraan denganku, bagaimana kitab ilmu pedangnya Pek-liong Kiam-po dan pedangkan Pek-liong-kiam bisa diberitahukan kepadaku?" Menjawab Suto Wie sambil menggelengkan kepala.

Suto Keng tahu benar sifat-sifat adiknya yang selamanya tidak pernah membohong, kalau ia berkata demikian, berarti benar-benar ia tidak tahu tentang kitab ilmu pedang dan pedang Pek-liong-kiam, maka ia lantas mengeluarkan tiga buah paku diletakkan dalam telapak tangannya, sambil pelototkan sepasang mata, ia berkata kepada adiknya: "Jejaka Tangan Ganas membunuh orang selamanya tak pernah kedipkan mata, tetapi hari ini aku secara spesial memberikan kau kesempatan hidup, kau sebetulnya mau atau tidak. "

Tidak menunggu habis ucapan Suto Keng, Suto Wiwe sudah menjawab sambil menggelengkan kepala:

"Koko tidak usah menasehati aku apa-apa, hati Suto Wie ini sudah beku seperti batu. "

Baru berkata sampai di situ, dihadapannya berkeredepan tiga buah paku yang dilancarkan Suto Keng, senjata-senjata rahasia paku itu ditujukan kepada tiga jalan darah di bagian dada kanan, kiri, dan bagian ketiak!

Dengan serangan itu, Suto Keng menganggap bahwa adiknya itu pasti binasa, tetapi serangan yang dilakukannya secara ganas dan secara cepat, dengan tiba-tiba agak miring ke samping, meluncurnya hampir semua ke bagian kiri, semua tak mengenai sasarannya, hanya lewat di bawah ketiak Suto Wie!

Pada sebelumnya, ketika serangan yang ditujukan kepada lengan kanan belum mengenai sasaran, Suto Keng mengira bahwa adiknya itu mengelak, maka ia tidak ambil pusing, tetapi kali ini Ia telah merasakan ada apa-apa yang merintangi, dengan sinar mata buas matanya ditujukan ke gerombolan rumput di belakang Suto Wie, maka ia curiga di situ ada orang bersembunyi dan sengaja main gila terhadapnya !

Tho-hwa Niocu yang berdiri di samping juga sudah mengetahui ada apa-apa yang tidak beras, tetapi ia masih berpura-pura tidak tahu, ia memberi isyarat dengan matanya kepada Suto Keng, katanya sambil tertawa: "Lukamu baru saja sembuh, tadi malam kau juga berlaku seperti orang kelaparan, hingga sudah tidak bisa lagi menggunakan senjata rahasiamu, bukankah ini sangat lucu? Tetapi kalau kau memang sudah bertekad hendak mengirim adikmu ke sorga, seharusnya jangan batalkan maksudmu setengah jalan, kau boleh gunakan lagi serangan tangan kosongmu Thian-seng-hiu-hoat, kemudian kau serang lagi dengan senjata pakumu!"

Su-to Keng mengerti maksud ucapan Tho-hwa Nio-cu, dari sakunya kembali mengambil tujuh buah paku, sedangkan Kiu Liu Hiang sendiri juga sembunyikan dua butir api Kiu-yu Leng- hwe, matanya ditujukan ke arah gerombolan rumput di belakang Su-to Wie, apabila melihat tanda yang mencurigakan ia segera turun tangan.

Selagi sepasang manusia terkutuk itu hendak merncanakan tipu muslihatnya yang licin, Su-to Wie sendiri dengan tiba-tiba merasakan sambaran angin dingin pada sepasang pahanya, sehingga badannya dirasakan dingin.

Di samping itu telinganya juga mendengar suara halus seperti nyamuk tetapi dapat ditangkap dengan jelas, suara itu adalah suara orang berbicara ditujukan kepada dirinya: "Sepasang pahamu yang jalan darahnya sudah ditotok orang sekarang sudah terbuka, lekas kau berdiri dan lari menuju ke gerombolan rumput di belakang dirimu, jikalau Su-to Keng menyerang dengan senjata gelap, kau boleh berlaku pura- pura sudah pulih kembali kepandaian ilmu silatmu, dengan secara sembarangan saja kau kibaskan jubahmu, tindakan itu akan menimbulkan keajaiban.!"

Su-to Wie yang sudah ditotok jalan darahnya sehingga kehilangan semua kepandaian ilmu silatnya, kembali dilumpuhkan urat nadi kedua pahanya, sehingga ia tidak bisa berdiri atau berjalan, maka ketika mendengar ucapan itu ia masih setengah percaya setengah tidak. Tetapi coba bangkit, benar saja urat nadinya sudah normal kembali, hingga saat itu juga berdiri tegak.

Su-to Keng yang saat itu baru mengeluarkan lima buah pakunya, dengan tiba-tiba melihat Su-to Wie berdiri, hingga wajahnya pucat seketika, sambil mengeluarkan suara bentakan keras, ia mengeluarkan serangan tangannya yang paling buas ditujukan kepada saudaranya.

Serangan Thian-seng-chiu-hoat itu, meskipun merupakan ilmu serangan yang sangat ampuh, tapi kebanyakan menggunakan senjata rahasia jenis uang logam, atau biji teratai yang sangat ganas, serangan itu lebih hebat daripada menggunakan senjata rahasia yang halus.

Su-to Wie waktu itu meskipun sudah bisa berjalan, tetapi seluruh kepandaian ilmu silatnya sudah dimusnahkan, terpaksa ia bertindak menurut pesan orang yang mengucapkan kata-kata secara menggelap tadi. Dengan lengan bajunya ia kibaskan untuk menyambut senjata rahasia yang ditujukan kepadanya. Suatu kekuatan tenaga dalam tanpa berwujud membarengi gerakan Su-to Wie, menyapu bersih senjata rahasia yang dilancarkan oleh Su-to Keng, paku-paku itu terjatuh bertebaran di tanah.

Kejadian itu membuat Su-to Keng terheran-heran, hampir saja ia berteriak.

Su-to Wie sendiri juga tidak kalah herannya, karena mengetahui dirinya terlepas dari bahaya, ia buru-buru melarikan diri ke gerombolan rumput di belakangnya.

Pada waktu itu dari gerombolan rumput itu dengan tiba-tiba muncul sebuah kepala aneh yang bentuknya seperti tengkorak, sedangkan api Kiu-yu-leng-hwe yang sudah disiapkan oleh Tho-hwa Nio-cu, saat itu juga sudah meluncur keluar dari tangannya. Begitu api itu tiba, kepala aneh itu juga melesat terbang ke tengah udara, dan dengan tepat terkena serangan api yang sangat ganas itu.

Ketika api Kiu-yu-leng-hwe itu melesat dan memancarkan sinarnya yang hijau, baru tampak tegas bahwa kepala yang seperti tengkorak tadi ternyata memang benar tengkorak binatang, entah kerbau atau kuda. Tengkorak itu setelah terkena api Kiu-yu-leng-hwe, telah hancur berantakan, sehingga apinya juga bertebaran ke sekitarnya. Kejadian itu mengejutkan Su-to Keng dan Tho-hwa Nio-cu, keduanya mengerahkan ilmu meringankan tubuh, dengan cepat lompat melesat meninggalkan tempat mereka berdiri, karena takut terbakar oleh api Kiu-yu-leng-hwe yang dilepaskan sendiri.

Tetapi dua manusia jahat dan kejam itu bagaimana mau mengerti. Keduanya setelah menyingkir dari tempat bahaya, kembali melompat melesat menyerbu Su-to Wie yang belum sembunyikan diri di gerombolan rumput, tetapi pada saat itu dengan tiba-tiba terdengar suara orang yang bagaikan geledek kerasnya. Suara itu sangat ringkas, hanya terdiri dari empat kata: "DIMANA... HATI... NURANIMU ITU...?"

Ucapan "Dimana hati nuranimu itu?" masuk dalam telinga Su-to Keng, dengan tiba-tiba ia terdiam. Pengalamannya ketika berada di gunung, waktu ia sedang menggunakan obat bius hendak menodai Ca Bu Kao, pengalamannya waktu itu juga sama dengan yang dialami malam ini, maka buru-buru ia menarik tangan Tho-hwa Nio-cu, dua-duanya lantas melarikan diri ke dalam tanah kuburan yang luas dan sepi itu.!

Su-to Wie dengan perasaan bingung dan terheran-heran berjalan masuk ketempat yang penuh rumput itu, tetapi didalam gerombolan rumput itu ternyata tidak ada orangnya, hanya di atas tanah ia menemukan sepotong kertas dan sebutir obat pil warna merah, diatas kertas itu terdapat tulisan yang berbunyi: "MAKAN PIL INI DULU BARU BACA TULISAN"

Pada saat seperti itu, Su-to Wie sudah tentu menurut saja, ia mengambil pil warna merah itu lalu ditelannya. Saat itu sekujur badannya terasa hangat dan kemudian ia membuka sampul di atas kertas itu terdapat tulisan yang berbunyi: "LEMBAH LIE-CIE-KOK DIGUNUNG KOLO-KONG-SAN, BUNGA SONG MENUNJUKAN JALAN, REMBULAN DIATAS KEPALA!"

Dari kata-kata yang berbentuk syair itu, kalau dihubungkan bait yang diatas agaknya lebih mudah, tetapi bait yang bawah agak sulit, sebab lembah Lie-cie-kok di gunung Kolo-kong-san itu jelas merupakan nama suatu tempat, sedang barisan bawah yang dikatakan "Bunga Sing menunjuk jalan, rembulan di atas kepala" bukan saja tidak tahu ia apa maksudnya, yang mengherankan ialah, bunyi kata-kata itu sama dengan apa yang diucapkan oleh susioknya Kwan Sam Pek, ketika hendak dipotong lidahnya oleh Thiat-kwan Totiang.

Lama Su-to Wie memikirkan artinya tulisan dalam surat itu, dengan tiba-tiba ia merangkaikan bariasan kata-kata itu dengan pertanyaan Su-to Keng kepada dirinya tentang pedang Pek-liong-kiam dan kitab ilmu pedang Pek-liong Kiam- pho.

Diam-diam ia berpikir: Apakah sebelum Kwan susiok dianiaya maksudnya ia memanggil aku, supaya aku bertindak menurut kata-kata yang mengandung rahasia itu, untuk mencari pedang Pek-liong-kiam dan kitabnya Pek-liong Kiam- pho dengan itu untuk membereskan perpecahan golongan Tiam-cong-pay dan menghukum ketuanya yang berbuat melanggar aturan?

Setelah berpikir demikian, ia pikir hendak menuju ke lembah Lie-cie-kok, di gunung Ko-lo-kongsan untuk mencari. Sejak ia makan pil merah tadi, semangatnya terbangun, tetapi oleh karena jalan darah Ngo-im-hiatnya tertotok, kekuatan tenaga dalamnya masih belum pulih kembali, ditambah lagi karena paha kirinya tertusuk oleh Paku Su-to Keng, barangkali sebelum tiba ditempat yang dituju sudah dikejar dan dibinasakan oleh Thiat-kwan Totiang dan saudara sekandungnya sendiri yang berhati kejam.

Selagi masih dalam keadaan ragu, tiba-tiba angin meniup kencang sehingga awan-awan di langit tersapu bersih, kini rembulan memancarkan sinarnya yang terang benderang lagi.

Dengan munculnya sinar bulan, hati Su-to Wie yang sudah dingin, dengan tiba-tiba hangat lagi, ia pikir jika bukan orang ajaib tadi yang memberikan pertolongan, itu pasti sudah mati ditangan saudaranya sendiri. Bagaimanapun juga dirinya toh seolah-olah hidup kembali dari kematian, apa salahnya kalau menurut petunjuk surat itu pergi ke gunung Ko-lo-kongsan untuk mengadu untung.

Sambil mengertek gigi, ia mencabut paku yang menancap di paha kirinya. Setelah itu ia ikat lukanya dengan sobekan pakaiannya, setelah selesai semua ia melanjutkan perjalanannya ke gunung Ko-lo-kongsan.

Biarlah kita tinggalkan dulu Su-to Wie yang melakukan perjalanannya ke gunung Ko-lo-kongsan, sekarang kita balik ke kuil Po-hie-to-kwan digunung Tiam-cong-san.

Ketua Tiam-cong-pay Thiat-kwan Totiang bersama sutenya sejak kembali pertemuannya digunung Oe-wan, ia sendiri bersama sutenya Liu Hwa, lantas melakukan perjalanannya menuju ke propinsi Im-lan, sedangkan Su-to Keng karena ingin bersenang-senang dengan Tho-hwa niocu maka hingga saat itu masih belum kembali ke gunung. Dari pengalamannya selama di gunung Oey-san Thiat- kwan Totiang tahu benar bahwa rencana yang diatur bersama ketua Kie-lian-pay Khie Thay Cao ada kemungkinan akan gagal, pertempuran hebat dalam rimba persilatan sudah berada di depan mata. Maka setelah kembali ke po hie-to- kwan, segera mengumpulkan semua tokoh kuat golongan Tiam-cong, tiap orang diberikan sekantong kecil pasir beracun, yang dianggap barang pusaka dan tidak sembarang digunakan, ia tugaskan kepada semau anak buahnya supaya giat melatih ilmunya Lui-hwa-cang-hwat dan ilmu pedang Hui- hong-u-liu-cang-hwat.

Hari itu ketika That Kawan totiang sedang memeriksa sendiri latihan beberapa anak buahnya tiba-tiba mendapat laporan rahasia, bahwa adik seperguruan ketua Lo-hu-pay, Leng-po Giok-li Ca Bu Kao dengan seorang diri datang berkunjung dan kini sudah berada di bawah kaki gunung Tiam-cong-san.

Thiat-kwan Totiang bersama sutenya Liu Hwa saling pandang sejenak, lantas berkata sambil mengerutkan alisnya: "Ca Bu Kao seorang diri datang ke Tiam-cong, mungkin sudah bosan hidup. Tetapi terhadap wanita itu aku masih ingin menggunakan tenaganya, Lui sute kau sambut kedatangannya menurut tata cara dunia Kangouw."

Lui Hwa menganggukkan kepala, dengan mengajak dua imam kecil berjalan keluar untuk menyambut kedatangan Ca Bu Kao.

Ca Bu Kao sejak mengetahui duduk perkara yang sebenarnya tentang diri Su-to Wie sudah bertekad hendak menolongnya. Maka dengan cara menempuh bahaya ia pergi ke gunung Tiam-cong-san tetapi ia juga tahu bahwa dengan seorang diri untuk menghadapi begitu banyak tokoh-tokoh kuat, memang sangat berat, ia juga tahu bahwa ia tidak sanggup melawan Thiat-kwan Totiang dll. Maka ia telah mengambil keputusan tidak akan masuk secara menggelap, sebaliknya dengan menurut peraturan rimba persilatan dia datang berkunjung secara terang-terangan. Dia hendak menggunakan cara dan kata-kata untuk membuka rencana busuk di kalangan Tiam-cong-pay, ia ingin tahu bagaimana ketua Tiam-cong-pay hendak menjawab.

Begitu kedatangannya disambut oleh Lui Hwa, ia terpaksa mengendalikan hawa amarahnya, ia berkata sambil memberi hormat: "Ca Bu Kao dengan secara lancang datang berkunjung, harap locianpwe suka memaafkan."

Lui Hwa menganggukkan kepala membalas hormat, dan berkata sambil tersenyum: "Ca lihiap datang berkunjung dari tempat jauh, ini membuat Pho-hie Tokwan merasa bangga. Liu Hwa diperintahkan oleh Ciangbunjin menyambut, silahkan Ca lihiap masuk ke dalam kuil." 

Habis berkata ia lalu minggir dan mempersilahkan tamunya itu masuk.

Golongan Tiam-cong dan golongan Lo-hu telah lama saling bermusuhan, maka Kuil Pho-hie Tokwan itu bagaikan sarang harimau. Tetapi Ca Bu Kao oleh karena hendak menolong kekasihnya sekalipun gunung api, ia juga dianggap sebagai jalan besar, maka sedikitpun tidak merasa takut, ia berjalan masuk.

Thiat-kwan Totiang menunggu di ruangan tengah, Ca Bu Kao lebih dulu memasang dupa di hadapan Ceng Cowsu, setelah itu ia duduk ditengah pandangan mata semua anak murid Tiam-cong.

Tak lama kemudian, seorang imam kecil keluar membawa teh, Thiat-kwan Totiang mempersilahkan tamu itu minum, kemudian bertanya sambil tersenyum: "Belum lama kita berpisah di puncak Thian-tu-hong, entah ada keperluan apa Ca-lihiap datang berkunjung?"

Ca Bu Kao tersenyum, ia menjawab sambil menatap wajah Thiat-kwan Totiang:

"Totiang yang sudah tahu, perlu apa pura-pura bertanya? Ca Bu Kao juga selamanya tidak pernah membohong, kedatanganku ini adalah hendak mencari Liong-hui Kiam-khek Suto Wie!"

Thiat-kwan tidak menduga bahwa Ca Bu Kao sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya, tetapi ia masih mengira bahwa yang dimaksudkan oleh Ca Bu Kao adalah Liong-hui Kiam-khek yang palsu, maka lantas berkata sambil tersenyum:

"Suto Wie sejak pertemuan di gunung Oey-san, oleh karena masih ada urusan pribadi, kini masih belum kembali. "

"Orang yang kucari bukanlah Liong-hui Kiam-khek yang turut hadir di pertemuan gunung Oey-san, melainkan Liong-hui Kiam-khek Suto Wie yang kau keram di dalam kuil Pho-hie To- kwan ini!"

Thiat-kwan Totiang yang mendengar perkataan itu sepasang alisnya dikerutkan, tanyanya:

"Bagaimana Ca lihiap dengan tiba-tiba berbicara soal rahasia kepadaku? Suteku belum pernah melanggar peraturan perguruan, dengan cara bagaimana harus dikeram? Apalagi aku tadi sudah menjelaskan bahwa ia masih berada di luar, belum kembali ke gunung!"

"Ucapan Totiang ini hanya berpura-pura untuk mengelabui mata orang saja!! Suto sutemu yang masih belum kembali dan sedang bersenang-senang dengan Tho-hwa Niocu barangkali bukan Suto Wie, melainkan Suto Keng!"

Thiat-kwan Totiang yang mendengar ucapan itu, dalam hati diam-diam terkejut, sebab rahasia itu dengan cara bagaimana diketahui oleh Ca Bu Kao? Tetapi karena ia harus mempertahankan kedudukannya sebagai ketua, terpaksa pegang teguh pendiriannya, katanya dengan suara heran:

"Ca lihiap, oleh karena hari ini kau datang ke sini dan menurut aturan dunia Kang-ouw, maka menjadi tamu agung bagiku, Thiat-kwan Totiang, tidak pantas bagiku mengeluarkan perkataan yang tidak sopan terhadapmu! Tetapi aku juga minta agar Ca lihiap hargai diri sendiri, jangan lagi mengucapkan perkataan yang bukan-bukan, Suto Keng suteku, bukankah sudah tiga tahun berselang sudah dihajar oleh sucimu, dan jatuh ke dalam sungai?"

Mendengar jawaban itu, Ca Bu Kao tahu bahwa Thiat-kwan Totiang sudah pasti tidak mau mengaku terus terang! Sedangkan ia sendiri saat itu juga tak dapat mengeluarkan bukti-buktinya yang kuat, apabila satu sama lain tidak dapat keakuran dan timbul perselisihan, sudah pasti dia sendiri yang mendapat kesulitan, bahkan sama sekali tidak ada faedahnya bagi Liong-hui Kiam-khek yang hendak ditolong!

Setelah dipertimbangkan untung ruginya, maka hawa amarahnya mulai reda, ia tidak lagi mendesak, sebaliknya berkata sambil tertawa:

"Ca Bu Kao hanya dengar cerita orang saja, belum dipastikan kebenarannya! Dan kini Ca Bu Kao minta diri, aku juga membawa pesan suciku, minta kita sama-sama mencari dan menyelidiki persoalan yang menyangkut duri beracun Thian-kheng-cek." Sementara itu, Lui Hwa yang mendengar ucapan Ca Bu Kao, jelas gadis itu sudah mengetahui Suto Keng yang menyamar menjadi Suto Wie, ia merasa bahwa gadis itu sudah tidak bisa lagi untuk memihak kepada Tiam-cong-pay, maka pikirnya selagi datang seorang diri, lebih baik disingkirkan, supaya golongan Lo-hu-pay kehilangan seorang muridnya yang kuat!

Oleh karena itu maka ketika mendengar Ca Bu Kao minta diri, lantas memberi isyarat dengan lirikan mata kepada Thiat- kwan Totiang tetapi Thiat-kwan Totiang sebaliknya pura-pura tidak melihat, ia bangkit dan berkata sambil tersenyum:

"Persoalan yang menyangkut duri beracun Thian-kheng- cek merupakan perhatian yang tidak akan kulupakan tiap siang hari dan malam. Thiat-kwan juga sudah mengurus beberapa anak murid Tiam-cong yang pandai untuk mengadakan penyelidikan, jikalau Ca lihiap mendapat kabar harap suka mencari anak buah Tiam-cong-pay yang terdekat, supaya memberi kabar kepadaku, atas budimu itu terlebih dahulu Thiat-kwan mengucapkan banyak-banyak terima kasih!"

Ca Bu Kao membalikkan diri dan keluar dari ruangan itu, Thiat-kwan Totiang membalas hormat dan mengantarkan sendiri sehingga di luar kuil!

Setelah Ca Bu Kao pergi jauh, Lui Hwa ketika kembali ke kuil bertanya kepada suhengnya dengan terheran-heran:

"Toa suheng, apakah kau anggap bahwa perempuan itu masih dapat kita gunakan?"

Thiat-kwan Totiang ketika ditanya demikian lantas tertawa terbahak-bahak:

Perbuatan itu telah menimbulkan keheranan Lui Hwa! Setelah berhenti tertawanya, Thiat-kwan Totiang berkata sambil menatap wajah sutenya:

"Lui jite, bagaimana kau pandang suhengmu sudah begitu rendah? Ca Bu Kao sudah tahu bahwa Suto samte menyamar menjadi Liong-hui Kiam-khek, bagaimana kita bisa gunakan lagi?"

Lui Hwa meskipun juuga merupakan orang yang kejam, tetapi kalau dibanding dengan toa suhengnya itu, masih kalah jauh! Saat itu ia masih belum dapat memahami maksud Thiat- kwan Totiang, maka ia bertanya dengan perasaan heran:

"Kalau toa-suheng sudah tahu bahwa perempuan itu sudah tidak ada harganya untuk digunakan, mengapa setelah ia masuk jaring sendiri, sebaliknya kau lepaskan lagi, apakah tidak menimbulkan bahaya di kemudian hari?"

Thiat-kwan Totiang mengulurkan tangannya dan menepuk pundak Lui Hwa, katanya sambil tertawa terbahak-bahak:

"Lui jite, di dalam hal kepandaian ilmu silat, meskipun kau dapat direndengkan dengan tokoh silat manapun juga, tetapi di dalam gal kecerdikan otak, kau masih perlu banyak belajar, dan kau kira Ca Bu Kao yang datang dari tempat demikian jauh, sudah cukup dengan sepatah dua patah kata lantas pergi begitu saja?"

Kini Kui Hwa barulah sadar, katanya:

"Apa toa suheng anggap Ca Bu Kao masih berani menyirapi kuil Pho-hie To-kwan?"

"Tidak perduli lelaki atau perempuan, asal sudah terlibat oleh asmara, pasti berusaha sebisa mungkin untuk menolong kekasihnya yang berada dalam keadaan bahaya, tidak akan menghiraukan keselamatan diri sendiri! Maka jangan kata hanya kuil Pho-hie To-kwan kita, sekalipun lautan api, Ca Bu Kao juga akan menerjangnya! Maka itu, malam ini ia pasti akan datang lagi," Berkata Thiat-kwan Totiang sambil tertawa.

Lui Hwa diam-diam mengagumi kecerdikan suhengnya, ia berkata sambil tersenyum:

"Kepandaian ilmu silat golongan Lo-hu gadis itu, kita tidak boleh pandang ringan, apalagi ilmu serangan tangan kosongnya Pan-sian-ciau-lek, lebih-lebih kita harus berjaga- jaga, nanti malam kalau ia datang, apakah siaute sendiri yang harus menghadapinya?" 

"Lui jite, pikiran seperti kau ini merupakan pikiran yang kurang tepat! Kalau aku hendak membunuh dia secara mudah, apa perlunya tadi kubiarkan ia keluar dari kuil ini?" Berkata Thiat-kwan Totiang sambil menggelengkan kepala.

Lui Hwa merasa bingung atas jawaban suhengnya itu sehingga ia berdiri termangu-mangu.

Thiat-kwan Totiang yang melihat sikap sutenya, lantas tertawa dan berkata:

Ada sebuah pepatah yang sangat bagus: Kalau membentang gendewa harus membentang dengan tertib, kalau menggunakan anak panah harus menggunakan yang panjang, kalau hendak memanah orang, lebih dulu harus memanah keduanya, kalau hendak menangkap penjahat, lebih dulu menangkap kepalanya. Dan kalau hendak membunuh orang, ialah menghancurkan perasaan hatinya adalah yang paling baik! Malam ini tidak perlu kita menggunakan ilmu Liu-hwa-ciang, juga ilmu Hui-hong-u-liu- kiam-hwat atau pasir beracun yang telah kau latih demikian rajinnya, Aku jamin Ca Bu Kao pasti runtuh nyalinya dan terbang semangatnya, ia pasti akan bunuh diri sendiri karena tidak tahan penderitaan hatinya." Tetapi penjelasan Thiat-kwan Totiang itu makin membingungkan Lui Hwa, setelah ketua Tiam-cong-pay itu bisik-bisik di telinganya, Lui Hwa barulah mengerti dan menyatakan kekagumannya.

Benar saja seperti apa yang telah diduga oleh Thiat-kwan Totiang, Ca Bu Kao telah mengambil keputusan malam itu hendak mengadakan penyelidikan di dalam kuil Pho-hie To- kwan.

Setelah ia keluar dari kuil Pho-hie To-kwan, dengan seorang diri ia pesiar di tempat sekitar daerah itu, untuk melewatkan waktu, Tetapi oleh karena pikirannya selalu memikirkan keselamatan kekasihnya, maka ia menikmati semua pemandangan alam itu dengan perasaan kosong!

Malam yang dinanti-nantikan itu akhirnya telah tiba, di tengah udara diliputi oleh awan, keadaan tidak begitu terang, Ca Bu Kao mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya lari menuju ke markas Tiam-cong-pay ialah kuil Pho hie to kwan! Keadaan kuil itu tidak ada tanda-tandanya yang luar biasa, beberapa anak murid Tiam cong pay agaknya masih melakukan ibadat, di malam yang sunyi itu, kadang-kadang terdengar suara orang membaca kitab suci, tidak seperti sarang penjahat yang diliputi oleh kebuasan.

Oleh karena kuil itu memakan tempat sangat luas, di bagian depan bahkan kadang-kadang dikunjungi oleh penduduk di bawah kaki gunung, maka Ca Bu Kao tahu apabila ada rahasia, pasti berada di bagian belakang. Dengan sangat hati-hati sekali, ia berjalan menuju ke bagian belakang untuk mencari tempat di mana di kurungnya sang kekasih!

Setelah melalui tiga ruangan besar, di depan matanya terdapat sebuah dinding tembok yang tinggi, pintu besinya tertutup rapat, di depan pintu terdapat tulisan yang berbunyi Yang Tidak Berkepentingan Dilarang Masuk! Ca Bu Kao yang memeriksa keadaan di situ, mengingat pula temboknya yang sangat tinggi, maka ia menarik kesimpulan bahwa di balik dinding tembok itu pasti merupakan tempat penting dari kuil itu!

Benar saja, ketika Ca Bu Kao baru saja melayang ke atas tembok, sudah terdengar suara yang timbul dari sebuah kupel yang berbentuk aneh, suara itu merupakan suara orang ketawa yang menyeramkan.

Suara itu begitu masuk di telinga Ca Bu Kao segera dikenalinya sebagai suara tertawa ketua Tiam-cong pay sendiri Thiat kwan Totiang!

Tetapi bangunan berbentuk segi delapan itu sesungguhnya sangat aneh temboknya setinggi sekitar dua tombak, bukan saja tidak kelihatan atapnya, juga tidak ada pintu dan jendelanya. Pada bagian yang dihadapi oleh Ca Bu Kao, terdapat sebuah lobang bundar, garis tengahnya 1 kaki.

Lui Hwa yang termasuk jago pedang nomor dua golongan Tiam cong, dengan empat orang anak buahnya masing- masing dengan pedang terhunus berdiri di luar lobang, agaknya sedang bertugas sebagai penjaga.

Ca Bu Kao yang menyaksikan keadaan demikian, diam- diam timbul rasa curiganya, dalam hati bertanya-tanya sendiri, entah apa yang dilakukan oleh Thiat kwan Totiang di dalam tempat aneh itu? Mengapa ia menunjukkan sikap demikian hati-hati?

Belum lenyap pikirannya itu, dari dalam bangunan aneh itu tiba-tiba terdengar suara jeritan mengerikan, selanjutnya disusul oleh suara tertawa yang keluar dari mulut Thiat-kwan Totiang. Suara jeritan itu, kedengaran sangat mengerikan, sehingga bisa menegakkan bulu roma, tetapi suara tertawa itu kedengarannya sangat buas dan menyeramkan.

Ca Bu Kao sejak diberitahu oleh duta bunga mawar bahwa ada orang yang menyaru Long-hui Kiam Khek yang tulen, hatinya selalu memikirkan keselamatan kekasihnya maka ketika mendengar suara yang mengerikan itu, hatinya merasa hancur luluh, dan setelah mendengar tertawanya ketua Tiam- cong-pay yang menyeramkan, dengan sendirinya lantas menduga kepada diri Su-to Wie.

Oleh karena di hadapannya tampak Lui Hwa bersama empat anak buah Tiam-cong-pay yang menjaga keras, Ca Bu Kao terpaksa hendak mengintai dari atas tembok yang tinggi itu, maka diam-diam ia memutar kebagian samping.

Selama ia berjalan setapak demi setapak itu suara jeritan dan suara tertawa bukan saja masih terdengar nyata, bahkan suara tertawa ketua Tiam-cong-pay itu semakin lama semakin bengis, dan suara jeritan itu juga semakin lama semakin menyayat hati. Sehingga membuat Ca Bu Kao yang sudah lama berkelana di dunia Kangouw dan sudah lama pula menghadapi segala bahaya, perasaannya menjadi tidak tenang dan hatinya berdebaran.

Memutar kira-kira sepuluh tombak, Ca Bu Kao dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh lompat melesat, kedua tangannya memegang tembok, sepasang matanya ditujukan kebagian dalam. Benar saja Liu Hwa dan empat anak buahnya teraling oleh tembok tinggi dan tidak melihat dirinya.

Karena tempat itu merupakan sarang harimau ia khawatir sedikit suara bisa menimbulkan curiga, maka ia tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk melesat lebih jauh, setapak demi setapak ia berjalan ke bangunan yang aneh itu. Baru saja ia mendekati tembok di bawah bangunan itu, kembali terdengar suara mengerikan. Tetapi suara itu meskipun mengerikan, namun sudah mulai agak perlahan, seolah-olah orang tersiksa itu sudah tidak punya tenaga lagi untuk mengeluarkan suara.

Hati Ca Bu Kao berdebar semakin keras, ia mengerahkan ilmu meringankan tubuh lompat melesat setinggi setombak lebih, dengan cepat menggunakan kedua tangannya merambat ke atas, untuk mengintai keadaan dalam tembok.

Bangunan yang berbentuk aneh itu menggunakan jaring tembaga yang sangat rapat sebagai gantinya atap rumah, atap jaring tembaga itu tampak sinar terang benderang, tetapi keadaan yang mengerikan membuat Ca Bu Kao yang menjuntai hampir saja terlepas tangannya karena tak sanggup menahan kesedihannya.

Bangunan berbentuk aneh yang ditutup oleh jaring tembaga itu hanya sekitar tujuh-delapan tombak saja, tetapi kecuali bara api yang menyala sedikitpun tidak terdapat alat- alat yang lainnya, dalam ruangan itu hanya terdapat tiga orang satu seorang imam kecil berpakaian hijau, satu lagi ialah ketua Tiam-cong-pay sendiri Thiat-kwan Totiang, dan yang lain seorang yang bagian atas badannya terbuka seluruhnya, sedang bagian bawah hanya mengenakan celana pendek, di belakang punggungnya terdapat tanda-tanda hangus melepuh bekas terbakar, sehingga sekujur kulitnya melepuh, dan waktu itu sudah tengkurap di tanah dalam keadaan pingsan.

Ca Bu Kao meskipun tidak melihat wajah orang yang disiksa itu, tetapi dari belakang punggungnya dan potongan tubuhnya, sangat mirip dengan kekasihnya yaitu Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie.

Selagi Ca Bu Kao berada dalam keadaan terkejut dan hati pilu, Thiat-kwan Totiang yang sangat buas dan kejam kembali memperdengarkan suara tawanya yang menyeramkan, dan kemudian disusul oleh kata-katanya: "Karena Sute sudah tidak mau bekerja sama denganku, apalagi Lo-hu-pay sudah mengirimkan hal-hal yang tidak diingini, terpaksa suhengmu bertindak. Tetapi bagi kita, sebelum aku mengiringi kehendakmu, aku masih suruh kau merasakan tangan Ciang- bun suhengmu supaya semua tahu bahwa barang siapa yang berani menentang kehendakku harus kuperlakukan dengan cara seperti ini."

Kata-kata yang keluar dari mulut Thiat-kwan Totiang, setiap patah kata bagaikan ujung pedang yang menikam ulu hati Ca Bu Kao, hingga hatinya dirasakan hancur luluh, hampir saja ia jatuh pingsan. Sebab, meskipun Thiat-kwan Totiang tidak menyebut nama Su-to Wie tetapi dari maksud yang diucapkan itu sudah dapat dimengerti bahwa orang yang disiksa itu benar adalah Liong-hui Kiam-Khek Su-to Wie yang tak mau menurut kehendak suhengnya.

Pada saat itu Thiat-kwan Totiang memberi isyarat dengan tangan kepada imam kecil berbaju hijau, imam itu lantas mengangkat seember air dingin, diguyurkan ke badan orang yang disiksa, setelah itu ia mengulurkan tangannya membalikkan orang yang bernasib malang itu.

Ca Bu Kao dalam hatinya masih mengandung sedikit harapan, matanya ditujukan kebagian muka orang yang disiksa itu, tetapi baru saja dilihatnya, kembali hatinya hancur luluh. Sebab muka orang itu keadaannya sama dengan belakang punggungnya, semuanya sudah melepuh tidak dapat dikenali lagi.

Thiat-kwan Totiang seolah-olah tidak mempunyai perasaan sama sekali, menghadapi orang yang keadaannya demikian mengenaskan masih tidak berbalik perasaannya, dengan nada suara dingin ia berkata kepada imam berbaju hijau: "Kau gunakan lagi besi panas itu satu kali lagi, aku nanti akan segera kirim ia untuk menghadap si susiok dialam baka."

Kata-kata "Si susiok" itu benar-benar telah membuyarkan semua harapan Ca Bu Kao, otaknya saat itu dirasakan kosong melompong, yang tinggal hanya suatu keinginan saja, keinginan itu adalah mati. Ia sudah ingin menggunakan ilmunya untuk menggempur kepala sendiri, mengikuti kekasihnya pergi bersama ke lain dunia.

Ini bukankah karena Ca Bu Kao terlalu lemah tidak berani menggempur orang-orang Tiam-cong-pay. Oleh karena situasi pada saat itu tidak menguntungkan pihaknya. Setelah menunjukkan betapa hebat dan betapa kuat penjagaan Tiam- cong-pay, karena ia tidak sanggup meluncur melalui atap jaring itu, juga tidak sanggup dalam waktu sangat singkat memukul mundur Lui Hwa dan empat anak buahnya yang menjaga tempat itu, apalagi asal di luar terjadi sedikit pergerakan saja, Thiat-kwan Totiang yang berada didalam sudah pasti akan menurunkan tangan kejam.

Dalam keadaan yang sudah tak berdaya sama sekali itu, maka Ca Bu Kao barulah timbul keinginannya yang hendak menghabisi jiwanya sendiri.

Tapi baru saja ia hendak melaksanakan keinginannya, sebelum tangan menggempur kepalanya sendiri, tiba-tiba ia teringat pula, lebih baik ia mati dengan jalan lempar dirinya dari atas gunung Tiam-cong-san atau ke dalam laut, tetapi tidak boleh mati ditempat itu. Sebab jika orang Tiam-cong-pay yang merupakan manusia-manusia buas tidak tahu malu, apabila melakukan perbuatan keji terhadap jenasahnya, bukan saja ia akan mengandung malu, tetapi juga akan menodai nama baik Lo-hu-pay.