Makam Bunga Mawar Jilid 06

 
Jilid 06

Hee Thian Siang yang pernah mengadu kepandaian sepintas lalu dengan Liong-hui Kiam-khek ketika di daerah gunung Bin-san, maka ia khawatirkan Hok Siu In, dengan cepat ia bertanya: "Su-to Wie merupakan ahli pedang kenamaan, Hok Siu In barangkali bukan tandingannya..."

Baru berkata sampai disitu, Oe-ti Khauw perdengarkan suara tertawanya yang aneh, dan berkata: "Hee laote, dugaanmu ini hampir keliru semua! Anggota termuda dari empat jago pedang Ngo-bi itu, merupakan orang yang sudah dihadapinya. Dua orang itu bertempur seratus jurus lebih, dalam ilmu pedang bukan saja tidak kalah dengan ilmu pedangnya Liong-hui Kiam-khek, bahkan sudah berhasil memapas pedang pusaka Liong-hui Kiam-khek yang terkenal sangat tajam itu!"

Hee Thian Siang memandang Say Han Kong sejenak, kemudian kembali berkata kepada Oe-tie Khao: "Apakah Hok Siu In menggunakan pedang Liu-yap-bian-si-kiam peninggalan Tay-piat Sianjin?"

"Bagaimana kau Hee laote dapat menebak jitu? Jikalau Hok Siu In tidak memiliki pedang itu, dalam tiga atau lima ratus jurus, barangkali masih belum sanggup menjatuhkan Su- to Wie."

Hee Thian Siang yang mendengar bahwa ilmu pedang Hok Siu In itu demikian hebat, dalam hati merasa kaget! Dalam hatinya diam-diam berpikir, aku harus melatih dengan giat, jikalau tidak, mungkin akan mendapat malu kalau nanti mengadakan pertandingan dengannya di atas gunung Ngo-bi- pay!

Say Han Kong yang mendengar penuturan Oe-tie Khao lalu bertanya sambil tersenyum: "Kiranya pertemuan di atas puncak Thian-tu-hong yang ditutup secara tergesa-gesa ini masih meninggalkan pertandingan ilmu pedang yang demikian menarik, aku yang diajak pergi oleh Hee laote sungguh merasa sayang tidak dapat menyaksikan pertandingan seru tadi!"

Dengan wajah agak marah Hee Thian Siang bertanya kepada Oe-tie Khao sambil menunjuk tiga buah batu besar yang terdapat tanda: "Oe-tie locianpwe, tanda yang terdapat di atas batu itu darimana datangnya? Batu yang terdapat tanda telapak tangan itu, mirip dengan telapak tangan Peng-sim Sin- nie yang menggunakan ilmu Pan-sian-ciang dari golongan Budha!"

"Laote, kau benar-benar mempunyai pengetahuan sangat luas! Pedang Su-to Wie terpapas, ketua Tiam-cong-pay Thiat- kwan Totiang lantas turun tangan sendiri, ia turun kelapangan dan menantang ketua-ketua Ngo-bie dan Kun-lun untuk mengadakan pertempuran."

"Kalau begitu urusan itu semakin menjadi-jadi, bahaya mengancam rimba persilatan juga semakin besar! Thiat-kwan Totiang sudah mengeluarkan tantangan, Hian-hian Sianlo dan Tie-hui-cu, barangkali tidak akan membiarkan padanya berlaku sombong! Diantara dua ketua itu siapakah yang turun tangan lebih dahulu?"

"Hian-hian Sianlo yang lebih dulu turun ke lapangan menerima tantangan Thiat-kwan Totiang tetapi Tie-hui-cu karena menganggap terjadinya pertemuan itu disebabkan oleh Kun-lun-pay, maka ia tidak mau menyerahkan tanggung jawabnya kepada orang lain, maka ia mendahului turun ke lapangan dan melakukan pertempuran hebat dengan Thiat- kwan Totiang!"

Hee Thian Siang yang mendengarkan hatinya seperti dikitik-kitik, ia merasa menyesal hari itu tak dapat menyaksikan pertempuran seru itu! Terpaksa ia bertanya lagi kepada Oe-tie Khao: "Siapakah akhirnya yang merebut kemenangan dalam pertempuran itu?"

"Orang-orang yang berkepandaian tinggi seperti mereka itu, sebetulnya susah sekali akan menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam waktu singkat. Senjata Thian-keng-cek bertemu dengan pedang Hui-hong-liu-kiam, ilmu tangan kosong Kun-lun In-liong berhadapan dengan Liong-ciang Hiu-hwa-ciang, ditambah lagi dengan beberapa serangan yang menggunakan kekuatan tenaga dalam. Setelah bertarung terus lama sekali, ternyata masih dalam keadaan seri, siapapun tak ada yang menang dan yang kalah!"

Say Han Kong ketika mendengar sampai di situ lantas menyela: "Kalau kedua pihak tak ada yang menang dan yang kalah, bukankah lebih baik disudahi saja? Dengan menurut usul ketua Bu-tong-pay pertemuan itu diundurkan waktunya setahun lagi, untuk memberi kesempatan kepada orang-orang Kun-lun-pay untuk menyelidiki persoalan itu.!"

"Hong-hwat Cinjin pada saat itu lantas turun tangan untuk memberi nasehat kepada pihak, tapi ketua Kie-lian-pay Kie Tay Cao yang datang dari jauh untuk meninjau dan menonton bersama sucinya Pao Sam-kow, mereka itu adalah orang- orang yang mengandung maksud tertentu, mereka agaknya merasa tak senang kalau dunia tidak menjadi kalut. Mereka yang berdiri sebagai penonton telah mendesak kepada orang Tiam-cong dan Kun-lun-pay dengan ucapannya yang penuh ejekan, seolah-olah mendorong dua orang itu untuk bertempur sampai ada yang mati salah satu, dengan demikian maka ketua Tiam-cong dan Kun-lun-pay tidak bisa mengakhiri pertemuan itu, sehingga keadaan betul-betul sudah menjadi semakin gawat!"

"Aku semula heran, mengapa Kie-lian-pay datang dari tempat demikian jauh dengan semua orang-orangnya, kalau begitu benar saja Kie Tay Cao mengandung maksud tidak baik!" Berkata Hee Thian Siang terkejut.

"Dua sute Tie-hui-cu ialah Siang Biauw Yan dan Siau Tek, memang sedari semula sudah merasa kurang puas terhadap suhengnya yang terlalu sabar, kini setelah mendengar ejekan Khie Tay Cao itu semakin tak dapat mengendalikan hawa amarahnya, keduanya lantas bertindak dan menegor Khie Tay Cao bersama Pao San-kow..." Berkata Oe-tie Khao.

"Khie Tay Cao dan Pao Sam-kow semua bukanlah orang- orang yang bisa berlaku sabar, dengan demikian keonaran pastilah bertambah besar dan tidak dapat diselesaikan dengan mudah!" berkata Say Han Kong.

Oe-tie Khao menghela napas dan berkata pula: "Kalau benar keonaran itu terjadi dan tidak sudah diselesaikan, pasti hebat kesudahannya, saat yang kritis itu, ketua Bu-tong-pay dan Lo-hu-pay serta pelindung hukum Siau-lim-pay Ceng-kek Siansu yang datang sebagai peninjau, masing-masing lantas turun ilmu kepandaian mereka yang sangat tinggi!"

Say Han Kong dan Hee Thian Siang semangatnya terbangun seketika, mereka dengan penuh perhatian mendengarkan keterangan Oe-tie Khao lebih lanjut: "Ketua Lo-hu-pay Peng-sim Sin-nie dengan ilmunya Pan-san ciang dari golongan Budha telah meninggalkan bekas di atas batu, dan ketua Bu-tong-pay Hong-hwat Cinjing menggunakan ilmunya Bu-tong Sim-hwat, dengan pedangnya ia membelah batu besar, sedangkan Ceng-kek Siansu dari Siauw-lim-pay dengan ilmu golongan siau-lim yang dinamakan Tai-lek-im- kong-cu, sebuah batu besar yang beratnya ribuan kati itu dipukul hancur lebur..."

Say Han Kong dan Hee Thian Siang yang mendengar penuturan itu kembali tujukan pandangan matanya kearah Timur laut yang waktu itu tampaknya sepi sunyi.

Oe-tie Khao berdiam sejenak hingga suasana menjadi sunyi, setelah hening agak lama kembali terdengar perkataannya: "Dengan diunjukkannya kepandaian- kepandaian ilmu luar biasa itu, juga berarti bahwa tiga partai Bu-tong, Siauw-lim dan Lo-hu sudah bertekad untuk bekerja sama dan bersatu hati. Betapapun hebatnya orang-orang Tiam-cong dan Kie-lian juga tahu benar bahwa kemarahan orang-orang tiga partai itu sulit dihadapi, maka terpaksa mereka mengalah dan menurut usul Hong-hwat Cinjin untuk mengundurkan pertemuan itu satu tahun lagi, dengan demikian maka pertemuan itu lantas bubar!"

Oe-tie Khao setelah menceritakan apa yang terjadi diatas puncak Thian-tu-hong lalu berkata pula kepada Hee Thian Siang sambil tertawa: "Tadi Leng-po Giok-li Ca Bu Kao sebelum meninggalkan tempat ini, karena tahu aku akan di sini menunggu pulangnya kau dan si tua bangka ini, maka meninggalkan pesan padaku, ia menjelaskan kedatangan laote yang agak terlambat, kemudian pergi lagi dengan secara tergesa-gesa serta tidak membawa barang bukti, supaya ia dapat membuka rahasia atau rencana jahat yang mengancam rimba persilatan..."

Hee Thian Siang melongo, ia tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Ca Bu Kao, maka lalu bertanya: "Dengan cara bagaimana Bibi Ca berkata demikian? Mana aku ada bukti untuk membuka rahasia manusia-manusia jahat yang hendak mengeruhkan dunia persilatan?" Melihat sikap pemuda itu, Oe-tie Khao juga merasa heran, maka lalu berkata: "Hee laote, ini sungguh aneh, diri laote ada membawa bukti, bagaimana tidak tahu? Sayang nona Ca pergi tergesa-gesa ia belum memberi penjelasan barang apa yang dinamakan sebagai bukti kuat itu?"

"Perlu apa Bibi Ca pergi demikian tergesa-gesa?" Bertanya Hee Thian Siang.

"Katanya hendak mengejar Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie untuk membuka rahasia besar yang bagi rimba persilatan dan membereskan urusan pribadinya."

Tampaknya di sana ada rencana jahat, di sini juga rencana jahat, orang rimba persilatan memang selalu mengutamakan kejujuran, bagaimana bisa berubah menjadi dunia kejahatan?"

Kata-kata Hee Thian Siang itu, meninggalkan kesan dalam hati Say Han Kong dan Oe-tie Hao, tiga orang saling pandang tanpa bicara sepatah katapun juga, hingga suasana semakin sunyi senyap.

Angin gunung meniup kencang, awan di langit berterbangan. Hee Thian Siang semakin memikir semakin tidak mengerti, ia ingin sekali segera menemukan Ca Bu Kao, untuk menanyakan sebabnya.

Sambil mengerutkan alisnya, ia menarik napas, memecahkan kesunyian, kemudian berkata kepada Oe-tie Khao: "Apakah bibi Ca tidak pernah minta aku untuk menemuinya di suatu tempat?"

"Ca lihiap hanya mengatakan bahwa dalam perjalanan ini tidak diketahui bagaimana akhirnya, maka ia tak dapat menjanjikan tempat bertemu denganmu, ia hanya menyuruh aku menyampaikan kepadamu, apabila tidak ada urusan yang penting, tidak halangan kau pergi ke Barat laut gunung Tiam- cong-san sebagai tujuan, oleh karena dengan tujuan yang sama ini mungkin bisa bertemu di gunung itu."

"Locianpwe berdua, bagaimana tujuan locianpwe selanjutnya?" Bertanya Hee Thian Siang sambil mengawasi.

"Aku dengan tua bangka she Say ini, selamanya seperti awan yang beterbangan di atas langit, atau gelombang disungai, kemana saja tiba menurut aliran angin dan air, tidak mempunyai tujuan tertentu, jikalau benar di Barat laut ada urusan tidak halangan kita pergi ke sana menyaksikan kuil Ku- hi-to-koan milik jago pedang golongan Tiam-cong." Berkata Oe-ti Khao sambil tertawa.

Say Han Kong tersenyum dan menganggukkan kepala, ia dapat menyetujui perkataan Oe-tie Khao ini. Hee Thian Siang yang mendengarkan ucapan itu baru saja hendak berkata lagi, dari jauh tiba-tiba terdengar suara binatang aneh.

Suara binatang itu baru masuk ke telinganya, sikap Hee Thian Siang kembali menjadi tegang, ia bangkit dan berdiri ke lamping gunung, berpaling ke arah Say Han Kong dan Oe-tie Khao, setelah itu ia memberi hormat dan berkata: "Hee Thian Siang masih ada urusan penting, untuk sementara minta diri dulu, harap dua locianpwe jalan lebih dulu, kita nanti bertemu dijalan Barat laut."

Sehabis berkata demikian, lantas melesat turun dengan kecepatan bagaikan kilat, sebentar saja sudah tak kelihatan.

Say Han Kong memanggil kepadanya: "Hee laote!" Tetapi tidak mendapatkan jawaban dari Hee Thian Siang.

Oe-tie Khao lalu berkata sambil tertawa aneh: "Tua bangka, perlu apa kau panggil dia? Apakah kau tadi tidak lihat sikap bocah tasi tergesa-gesa, sudah pasti dia ada urusan penting."

"Bukan aku tidak tahu bahwa dia ada urusan penting! Tetapi oleh karena sekarang ini duri berbisa sedang meraja- lela dan menimbulkan onar dimana-mana, apalagi racunnya tak dapat disembuhkan dengan obat biasa, maka aku pikir hendak memberikan obat yang ku bikin dengan campuran getah lenci, untuk bekal beberapa butir baginya."

"Tua bangka kau benar-benar mempunyai pikiran halus, urusan ini memang sangat penting..." Berkata Oe-tie Khao sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Dengan tiba-tiba ia berdiam, setelah berpikir sejenak kemudian ia berkata pula: "Tetapi aku tadi lihat muka Hee Thian Siang terdapat tanda gembira, juga ada tanda-tanda guram, kejadian-kejadian yang menggirangkan, tapi juga ada sedikit gangguan, kekagetan dan gangguan meskipun tidak terluput, namun tidak membahayakan jiwanya. Kita boleh tunggu sampai bertemu kembali, nanti dibicarakan lagi."

"Pengemis tua, pengalamanmu dan pengetahuanmu selama berkelana didunia Kangow ternyata sudah banyak mendapat kemajuan, sekarang kau juga sudah mendapat pelajaran sebagai tukang ramal, suka dukanya setiap orang tergantung kepada pikiran dan tindakannya sendiri, orang dahulu pernah berkata: Bahaya dan bahagia tidak ada pintunya, hanya orang yang memasuki sendiri, pembalasan antara baik dan jahat bagaikan bayangan yang mengikuti jejak. Hee Thian Siang baik kepribadian maupun kepandaian ilmu silatnya, atau sifat-sifatnya dan kecerdikannya, semua merupakan orang dari golongan pilihan, benar-benar merupakan bakat sangat bagus yang jarang tampak dalam rimba persilatan selama beberapa tahun ini, tetapi batu giok jikalau tidak digarap tidak akan menjadi alat yang berguna, biarlah ia menerima sedikit gangguan yang tidak berarti, ini juga merupakan suatu pengalaman yang berguna baginya."

Dua orang pendekar luar biasa dalam rimba persilatan itu, berjalan sambil mengobrol, oleh karena mereka sudah bertekad hendak memberi bantuan kepada Ca Bu Kao, maka perjalanan itu ditujukan ke arah Barat laut.

Dalam perjalanan itu apa yang akan dijumpai untuk sementara baiklah kita tunda dulu, sekarang kita balik kepada Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang yang masih berada di daerah puncak Thian-tu-hong, dari jauh mendengar suara binatang aneh, suara itu mirip dengan suara dari binatang aneh berbulu emas, maka ia mengira bahwa majikan binatang itu ialah Tiong-sun Hui Kheng sudah di daerah pegunungan itu, maka ia buru-buru minta diri pada Say Han Kong dan Oe-tie Khao dengan cepat pergi menuju ke arah suara binatang aneh tadi.

Tetapi suara binatang itu hanya satu kali, lantas berhenti. Setelah Hee Thian Siang turun dari puncak gunung, kembali melalui beberapa jalan tikungan, sudah tidak tahu kemana harus mencari.

Tempat ia berdiri saat itu, kebetulan terpisah tidak jauh dari tempat dimana ia tadi bersama-sama Say Han Kong memberi pertolongan kera kecil berbulu putih, Hee Thian Siang yang berdiri termangu, selagi hendak berjalan menuruti langkah kakinya, tiba-tiba dari dalam rimba pohon cemara yang agak jauh terdengar suara orang berkata: "Saudara kecil ini, bolehkah tunggu sebentar mari kita mengobrol!"

Suara itu keras dan nyaring, jelas bukanlah orang dari golongan sembarangan. Hee Thian Siang menengok ke arah datangnya suara itu, tampak olehnya didalam rimba pohon cemara itu berjalan keluar seorang tua yang hidungnya besar mulutnya lebar, matanya melotot dan brewoknya seperti duri landak, sedang rambutnya terurai ke pundaknya, usia orang tua itu sekitar lima-enam puluh tahunan.

Hee Thian Siang yang melihat orang yang baru muncul itu demikian aneh rupanya, segera teringat ucapan Say Han Kong yang ditujukan kepadanya tentang manusia aneh dari Swat-san-pay, orang itu adalah Ling Pek Ciok yang memiliki kepandaian sangat tinggi, bahkan mungkin tidak dibawah ketuanya Swat-san-pay sendiri, tetapi oleh karena pernah menerima budi besar, maka ia rela seumur hidupnya menjadi budak ketua Swat-san-pay.

Baru saja ia memikirkan asal usulnya orang tua itu, orang tua aneh itu yang memang benar Leng Pek Ciok menghampiri padanya, Hee Thian Siang lalu menyoja, memberi hormat, kemudian berkata: "Bapak ini apakah bukan Swat-san Peng..."

Berkata sampai di situ, tiba-tiba ia terdiam. Sebab ia teringat perkataan selanjutnya yang berbunyi Lo, yang berarti budak, dirasakan terlalu kurang sopan, jikalau ia lanjutkan mungkin menyinggung perasaan orang itu.

Swan-san Penglo Leng Pek Ciok rupanya dapat menduga pikiran Hee Thian Siang, ia lalu berkata sambil tersenyum: "Leng Pek Ciok yang menerima budi besar dari majikanku, maka rela menjadi budak seumur hidupnya, sebutan budak terhadapku bukan berarti apa-apa. Laote kalau memang sudah kenal asal usul diriku, panggil aku Leng Pek Ciok saja juga baik, kau panggil Swat-san Penglo juga tidak halangan, terserah bagaimana kau hendak menyebutnya. Tetapi aku tidak tahu, bolehkah laote memberitahukan namamu dan asal usulmu serta gurumu?" Hee Thian Siang merasa bahwa Swat-san Penglo itu sikapnya sangat polos dan terus terang, sifat itu cocok dengan sifatnya sendiri, maka lantas berkata sambil tersenyum: "Namaku Hee Thian Siang, murid golongan Pak-bin, aku bukan saja mengetahui asal usul cianpwe, bahkan mungkin dapat menebak maksud locianpwe memanggilku."

Swat-san Penglo menatap wajah Hee Thian Siang, lalu berkata sambil menganggukkan kepala dan tersenyum: "Ho... laote ternyata muridnya Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui. Kau berbeda dengan orang biasa. Kau panggil aku Leng Locianpwe itu kurang tepat, aku juga tidak sanggup menerima, jikalau kau tetap tak mau memanggilku Swat-san Penglo, atau Leng Pek Ciok, panggillah aku dengan sebutan Leng Toako saja, dengan demikian hubungan kira agak intim."

Hee Thian Siang menurut, maka lalu berkata sambil tertawa: "Panggil kau toako sebetulnya tidak halangan, tapi kau yang menerima budi besar dan rela menjadi budak orang sedangkan aku tak mempunyai kewajiban seperti itu, dilain waktu apabila ketemu dengan ketua Swat-san-pay, aku hanya dapat menyebut dia sebagai locianpwe saja."

Leng Pek Ciok yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata: "Unik, unik, laote kau sesungguhnya merupakan orang yang sangat menyenangkan. Kau boleh legakan hatimu, sebutan toako dan laote antara aku denganmu hanya merupakan urusanmu dan urusanku pribadi, tidak menyangkut siapapun juga, sudah tentu laote tidak perlu membahasakan diri terhadap majikanku budak, aku juga tidak perlu menyebut suhumu Hong-poh Sinpo locianpwe dan menyebut diriku sendiri sebagai boanpwe."

Hee Thian Siang yang mendengar perkataan itu segera merubah sebutannya dan memanggil orang tua itu Leng toako. Leng Pek Ciok tampaknya sangat senang sekali, ia tertawa terbahak-bahak dan berkata: "Laote, kau benar-benar panggil aku toako, dan aku yang menjadi toako ini, sebaliknya tidak mempunyai apa-apa sebagai hadiah pertemuan ini."

Hee Thian Siang tahu benar, bahwa Swat-san Penglo itu memiliki kepandaian ilmu silat sangat tinggi sekali, maka ia lantas berkata sambil tertawa: "Jikalau toako memberikan aku hadiah barang biasa saja, aku juga tidak mau, barang berharga susah dicari. Sebaiknya untuk sementara catat saja sebagai rekening, kita hitung dilain waktu saja."

"Dicatat rekening juga boleh, kau tadi kata dapat menebak maksudku mencari kau..." Berkata Leng Pek Ciok sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Tidak menunggu habis ucapan Leng Pek Ciok, Hee Thian Siang sudah berkata sambil tertawa: "Bukankah toako hendak mencari keterangan tempat disekitar ini, apakah tidak ada orang yang patut dicurigai, atau orang yang tersangkut dengan perbuatannya yang membokong ketua Swat-san-pay suami istri?"

Mata Leng Ciok terbuka lebar, memancarkan sinar tajam berkilauan, ia bertanya dengan keheranan: "Bagaimana Laote bisa menebak demikian jitu? Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa majikanku suami istri dibokong oleh kawanan manusia tidak tahu malu?"

"Bukankan toako sendiri yang pergi ke puncak gunung Thian-tu-hong dan mengumumkan di depan tokoh-tokoh persilatan?" Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Leng Pek Ciok kembali menatap wajah Hee Thian Siang, ia memandang pemuda itu dari atas sampai bawah, dengan tiba- tiba menunjukkan sikap yang aneh, dan setelah itu ia berkata sambil tertawa: "Lote, mengapa kata-katamu ini seperti tidak selaras dengan hatimu? Aku tahu waktu itu kau tidak berada diantara banyak tokoh yang ada di puncak Thian-tu-hong!"

Hee Thian Siang diam-diam terkejut dan mengagumi ketajaman pandangan mata Leng Pek Ciok, buru-buru ia memberi keterangan sambil tertawa: "Toako, harap kau jangan timbul rasa curiga, waktu itu memang benar aku tidak berada diatas puncak Thian-tu-hong, tetapi hal ini aku diberitahu oleh Say Han Kong sitabib sakti, bahkan aku dapat menduga bahwa suami istri ketua Swat-san-pay tadi malam kira-kira jam tiga terbokong orang dan letak tempatnya itu tidak jauh dari sini."

Leng Pek Ciok yang mendengar keterangan itu merasa keheranan, Hee Thian Siang berkata pula sambil tertawa: "Toako barangkali hendak menanyakan aku lagi, dengan cara bagaimana sampai tempatnya juga bisa menebak dengan jitu?"

Leng Pek Ciok benar-benar dibuat keheranan oleh kata- kata Hee Thian Siang ini, sambil mengerutkan alisnya, ia hanya menjawab "Hmmm..." setelah itu ia diam saja.

"Tadi malam sekitar jam tiga aku pergi ke puncak, aku telah mendengar suara bentakan dan jeritan ditempat ini, ketika aku datang untuk melihat, sudah tidak tampak bayangan seorangpun juga, hanya menemukan sepuluh butir lebih senjata rahasia tunggal milik golongan Swat-san-pay, senjata itu pada menancap di atas batu, dan tertampak dengan jelas."

Kini Leng Pek Ciok baru mengerti, mengapa Hee Thian Siang dapat menebak begitu jitu waktunya, tempatnya, kiranya tadi malam pernah mendengar dan mendatangi tempat tersebut, maka itu lalu berkata sambil menghela napas panjang: "Sebetulnya siapakah kawanan penjahat itu? Apakah sebabnya ia membokong majikanku suami istri? Aku Leng Pek Ciok pasti hendak membongkar rahasia ini, baru bisa pulang ke gunung Swat-san untuk memberi laporan. Tetapi tempat ini aku sudah mengadakan pemeriksaan hampir setengah hari, sedikitpun tak ada tanda-tanda yang dapat kugunakan sebagai penunjuk jalan untuk pengusutanku, dalam hal ini apakah lote bisa memberi sedikit keterangan?"

"Perkara ajaib ini bukan saja toako hendak menyelidiki, aku sendiripun bermaksud demikian sebab tadi malam ketika aku menginjak daerah gunung Oey-san, sudah disambut dengan serangan gelap. Sepanjang perjalanan, beberapa kali aku telah diserang secara menggelap oleh senjata-senjata paku berbisa dan jarum berbisa serta anak panah berbulu putih, senjata rahasia itu merupakan senjata yang sangat berbisa."

"Tetapi senjata-senjata semacam itu hanya dapat digunakan untuk menghadapi orang-orang persilatan biasa saja, jikalau dimata kita, bukan terhitung senjata rahasia yang ganas."

"Yang lebih ganas dan berbisa bukan tidak ada, harap toako lihat sendiri, tadi malam sahabatku hampir saja mati di bawah senjata duri kecil ini yang sangat berbisa."

Sehabis berkata, ia mengeluarkan dua buah duri beracun Thian-keng-cek yang dapat digulung olrh senjata jaring wasiatnya, ia letakkan duri itu ditangan kanannya dan diperlihatkan kepada Leng Pek Ciok.

Leng Pek Ciok setelah melihat duri beracun Thian-kheng- cek, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, giginya gemertakkan.

Hee Thian Siang dapat melihat semua perubahan itu, ia bertanya dengan sikap keheranan: "Bagaimana sikap Leng toako berubah demikian rupa? Apakah senjata gelap yang digunakan untuk menyerang suami istri Swat-san-pay juga benda ini?"

Leng Pek Ciok menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan Hee Thian Siang, lalu bertanya kepadanya: "Sahabat laote itu siapakah adanya? Bisa yang terkandung dalam duri beracun ini sangat jahat sekali, orang yang terkena serangan duri ini, jarang yang bisa hidup. Maukah ia kuberi sebutir buah teratai Swat-lian, yang sudah dibuat pil mujarab...?"

Hee Thian Siang menggelengkan kepala dan berkata sambil tertawa: "Terima kasih atas kebaikan toako, tetapi sahabatku itu lukanya sudah disembuhkan oleh tabib sakti Say Han Kong, ia adalah..."

Leng Pek Ciok yang menyaksikan keadaan itu lantas bertanya sambil mengerutkan alisnya: "Laote sudah berlaku jujur dan terus terang, mengapa dengan tiba-tiba sikapmu berubah demikian seperti ada apa-apa yang dirahasiakan?" Berkata sampai di situ, tiba-tiba seperti baru sadar, ia memandang pula Hee Thian Siang sejenak, kemudian berkata pula sambil tersenyum: "Rasanya aku dapat menebak, sahabat baik lote itu barangkali seorang pendekar wanita?"

Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, ia berkata sambil menggelengkan kepala: "Dugaan toako tidak benar, dia hanya seekor kera."

Mendengar jawaban itu Leng Pek Ciok terkejut, dan dengan perasaan heran memandang Hee Thian Siang sejenak, sebentar kemudian tertawa terbahak-bahak sambil mengurut-urut jenggotnya.

Hee Thian Siang buru-buru memberikan keterangan: "Jangan tertawa, antara kera dengan kera adalah jauh sekali perbedaannya, kera yang menjadi sahabatku itu, barangkali boleh dikatakan sebagai makhluk yang susah didapatkan dikolong langit ini, juga merupakan makhluk luar biasa."

Leng Pek Ciok merasa tertarik oleh keterangan itu, ia berhenti tertawa dan bertanya sambil menatap Hee Thian Siang: "Kera apakah yang kau maksudkan itu? Bagaimana kau puji demikian tinggi?"

"Terlalu banyak kemujizatannya, ia denganku baru saja mengikat tali persahabatan, belum cukup banyak pengertianku terhadap dirinya, maka aku hanya dapat menceritakan beberapa diantaranya saja, pertama dia mengerti bahasa manusia, kedua dia memiliki kulit kebal yang tak mempan segala senjata tajam, hingga senjata biasa saja tak dapat melukai dirinya, ketiga dia pernah berlatih ilmu silat, bahkan mahir sekali memainkan ilmu pedang Wan-kong Kiam-hwat."

Leng Pek Ciok yang mendengar keterangan itu agaknya tidak percaya, ia bertanya dengan sikap heran: "Apakah keterangan Laote ini tidak terlalu dibesar-besarkan? Bagaimana ada kera begitu cerdik, bahkan paham akan ilmu pedang segala?"

"Tidak heran kalau toako merasa curiga, kemukjizatan kera itu jikalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri siapapun tidak mau percaya. Tetapi juga lantaran dia terlalu cerdik dan terlalu lihai, maka tadi malam berlaku agak gegabah, dengan mengandalkan kulitnya yang kebal, ia coba menyergap musuhnya yang jahat itu, dan terkena senjata duri beracun..."

Kata-kata duri beracun Thian-keng-cek itu telah membuat Leng Pek Ciok yang mendengarkan menjadi marah, matanya terbuka lebar, dan berkata sambil menunjuk duri di telapak tangan Hee Thian Siang: "Hee lote, katamu bahwa duri berujung tiga warna biru kehitaman ini adalah duri beracun yang dinamakan Thian-keng-cek?" Baru saja Hee Thian Siang menganggukkan kepala, Leng Pek Ciok sudah berkata: "Aku seperti pernah dengar duri beracun Thian-keng-cek ini, duri semacam ini hanya tumbuh di puncak Kun-lun-san yang tertinggi."

"Benar, aku pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, anak murid Kun-lun-pay pernah menggunakan duri beracun Thian-keng-cek ini."

Tetapi Leng Pek Ciok tidak percaya, ia berkata: "Tidak benar, tidak benar, ketua Kun-lun-pay Tie-hui-cu adalah sahabat baik majikanku Peng-pek Sin-kun, kedatangan majikanku suami istri kali ini bersamaku dari tempat jauh justru hendak memberi bantuan tenaga kepada Kun-lun-pay, dengan cara bagaimana anak murid Kun-lun-pay bisa menggunakan senjata rahasia sangat beracun ini untuk membokong kita?"

"Urusan ini memang benar-benar membingungkan orang, pantas saja bibi Ca Bu Kao pernah mengatakan bahwa perbuatan itu merupakan rencana keji yang dapat menimbulkan bencana bagi seluruh rimba persilatan. Sedangkan partai-partai Bu-tong, Siauw-lim dan Lo-hu, oleh ketua masing-masing menunjukkan kemahiran mereka untuk menundukkan orang-orang dari golongan Tiam-cong dan Ki- lian, sehingga pertemuan di gunung Thian-tu-hong itu diperpanjang satu tahun lagi, supaya orang-orang Kun-lun-pay selama satu tahun itu dapat mencari keterangan untuk membersihkan dirinya, maksudnya ialah di sini."

"Kiranya di atas puncak Thian-tu-hong masih ada terjadi urusan demikian ramai, aku merasa sangat menyesal karena repot hampir setengah harian ditempat ini, sehingga tak dapat menyaksikan keramaian itu, aku juga tidak tahu akan pertemuan itu diperpanjang waktunya, kalau begitu sekarang tentu sudah ditutup?" Hee Thian Siang lalu menceritakan apa yang telah didapatnya dari keterangan Oe-tie Kao, Leng Pek Ciok setelah mendengar penuturan lalu berkata:

"Kalau demikian halnya, aku rasanya perlu segera pulang ke Tay-swat-san, untuk melaporkan semua kejadian itu kepada majikanku suami istri, Swat-san-pay rasanya juga harus menyumbangkan sedikit tenaga untuk mencegah bencana yang mengancam rimba persilatan ini."

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan Leng Pek Ciok segera mengerti bahwa orang tua itu sudah akan meninggalkan dirinya, maka ia memandangnya lama sekali seolah-olah merasa berat untuk ditinggalkan.

Leng Pek Ciok yang menyaksikan demikian lantas menepok pundak Hee Thian Siang dan berkata sambil tersenyum: "Laote benar-benar seorang sangat baik dan penuh cita rasa, tetapi manusia dimana saja bisa bertemu, apalagi aku setelah pulang ke Swat-san dan melapor kepada majikanku suami istri, segera terjun kembali ke dunia Kangouw, untuk memberi bantuan tenaga kepada orang- orang Kun-lun-pay, dan menyelidiki peristiwa ini. Karena tujuan kita masing-masing sama, mungkin setiap waktu setiap tempat kita bisa bertemu lagi. Kuharap laote baik-baik membawa dirimu."

Sehabis mengucapkan demikian, lantas berlalu meninggalkan Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang mengawasi berlalunya sahabat yang baru dikenalnya itu, seolah-olah kehilangan sesuatu.

Selagi dalam keadaan demikian, kembali terdengar suara binatang aneh, yang datang dari arah sejarak kira-kira sepuluh tombak. Suara itu sudah tidak asing lagi baginya. maka saat itu semangat Hee Thian Siang mendadak bangun, ia berseru dengan suara nyaring: "Siaopek, kau ada dimana?"

Suara binatang tadi terdengar pula, tetapi sebentar kemudian lantas diam, dari belakang puncak gunung, terdengar suara kaki kuda, tak lama kemudian muncul seekor kuda tinggi besar berbulu hijau, di atas kuda duduk seorang gadis yang sangat cantik, gadis itu bukan lain daripada gadis yang selalu menggoda hatinya, Tiong-sun Hui Kheng.

Binatang aneh berbulu emas itu mengikuti di belakang kuda, sedangkan siaopek si kera berbulu putih sangat cerdik, tampak berada dalam pelukan Tiong-sun Hui Kheng tetapi waktu itu sekujur badan yang putih meletak sudah tertutup selapis rompi emas.

Selanjutnya Tiong-sun Hui Kheng membuat Hee Thian Siang berdebaran, saat itu dalam hatinya ada satu perasaan, ialah wajah gadis itu sesungguhnya terlalu cantik, sikapnya, sehingga membuatnya merasa malu terhadap dirinya sendiri.

Hee Thian Siang sedapat mungkin menindas perasaannya sendiri ia mencoba berusaha mengendalikan debaran jantungnya, tetapi dalam benaknya kembali timbul pertanyaan, ia coba-coba bertanya kepada diri sendiri: Apakah gadis inilah yang pernah dilihatnya di gunung Kiu-gi-san itu?

Selagi pikirannya diliputi oleh berbagai pertanyaan, kuda berbulu hijau itu sudah menghampiri Hee Thian Siang tinggal satu tombak lebih, dan pada saat itulah menghentikan langkahnya.

Tiong-sun Hui-kheng yang menyaksikan sikap Hee Thian Siang demikian rupa, mengeluarkan suara terkejut, sambil memondong kera cerdik siaopek lompat turun dari atas kuda. Gerakan gadis itu, baru menyadarkan Hee Thian Siang, dengan wajah kemerahan, ia menyoja memberi hormat, kemudian berkata sambil tersenyum: "Nona Tiong-sun, kau benar-benar seorang yang boleh dipercaya..."

Belum lagi habis ucapannya, dari mulut Tiong-sun Hui- kheng sudah tercetus suaranya yang sangat merdu, tanyanya sambil tertawa: "Oleh karena ada urusan, kedatanganku jadi terlambat setengah hari, bagaimana kau masih mengatakan aku seorang yang boleh dipercaya?"

Hee Thian Siang selamanya pintar omong, pandai berdebat, tetapi sungguh heran hari ini baru saja membuka mulut, setelah dipotong oleh Tiong-sun Hui-kheng demikian, wajahnya lantas menjadi merah, tidak mampu menjawab!

Tiong-sun Hui-kheng tersenyum dan berkata pula: "Siaopek memang terlalu sombong dan suka sok berlaku gagah, sehingga hampir saja kehilangan jiwanya, kuucapkan terima kasih padamu yang sudah memberikan pertolongan kepadanya, budimu ini tak akan kulupakan untuk selama- lamanya.!"

Hee Thian Siang mengerti bahwa Tiong-sung Hui-kheng sudah mengetahui apa yang tadi malam telah terjadi, ia tahu hal itu pasti adalah siaopek yang memberitahukan kepadanya, diam-diam ia mengerti bahwa apa yang diduganya itu sedikitpun tidak keliru, bahwa gadis itu memang paham bahasa hewan. Sambil berpikir, ia merendahkan diri tetapi ketika matanya ditujukan pada kera putih, ia lihat bahwa rompi emas yang dipakai oleh kera itu, ada mengandung sinar aneh, maka ia lalu bertanya dengan perasaan aneh: "Rompi emas dibadan siaopek ini..."

Tidak menunggu Hee Thian Siang melanjutkan perkataannya sudah dipotong oleh Tiong-sun Hui-kheng sambil tertawa: "Rompi ini kubuat dengan menggunakan sisik naga pelindung jalan darah, benda wasiat peninggalan Tay- piat Sianjin, barang itu memang didapatkan oleh siaopek ketika di gunung Tay-pat-san, ia mendapat benda itu dengan susah payah, kalau kubuatkan sepotong rompi untuk ia pakai supaya jangan sampai di bokong orang lagi, bukankah itu sudah sepantasnya?"

Hee Thian Siang yang mendengar keterangan itu merasa mengiri terhadap siaopek. Ia mengiri karena peruntungan kera itu sesungguhnya bagus sekali, setiap hari hampir tidak pernah berpisah dengan gadis cantik ini, bahkan diberikan rompi dari benda wasiat peninggalan tokoh rimba persilatan yang tiap orang persilatan ingin mendapatkannya, kalau hal ini diceritakan kepada orang lain, barangkali tidak ada orang yang mau percaya.

Tiong-sun Hui Kheng yang melihat Hee Thian Siang matanya terus ditujukan kepada rompi emas yang dipakai oleh siaopek, lalu tersenyum dan bertanya kepadanya:

"Dimana nona Hok Siu In itu sekarang?"

Pertanyaan itu kembali membuat merah wajah Hee Thian Siang, ia buru-buru membantahnya: "Nona Hok Siu In itu denganku bukan merupakan sahabat akrab, kami masih ada sedikit perselisihan paham, sudah berjanji dengannya bahwa tanggal dua puluh bulan lima tahun depan kami akan mengadakan pertandingan ilmu silat diatas puncak Ngo-bi- san!"

Tiong-sun Hui-kheng yang melihat sikap Hee Thian Siang, yang setiap kali ditanya olehnya wajahnya lantas menjadi merah, maka diam-diam disamping merasa heran juga dianggapnya sangat lucu. Ia menunjukkan senyumnya yang manis, kemudian bertanya pula: "Kau ini kalau bukan mengajak orang berkelahi, lantas mengajak orang mengadakan pertaruhan, suatu tanda bahwa kau selalu mengandalkan kepandaianmu, dan tidak menjaga baik-baik kelakuanmu sendiri! Aku ingat ketika kau berada di gunung Tay-pat-san kau pernah berkata padaku bahwa kau pernah bertaruh dengan suciku Hwa Ji Swat."

Kali ini Hee Thian Siang mukanya tidak merah, bahkan dengan alis berdiri ia menjawab: "Urusan ini bagaimana bisa bohong? Kau lihat bukankah jaring wasiat merah ini milik sucimu? Sekarang berada di tanganku karena kumenangkan dengan jalan pertaruhan."

Sehabis berkata demikian, ia lantas mengeluarkan jaring wasiatnya dan diperlihatkan kepada Tiong-sun Hui-kheng.

Terhadap jaring wasiat warna merah itu bagi Tiong-sun Hui-kheng sudah tentu bukan barang asing lagi, maka begitu melihatnya ia segera mengenali. Diam-diam juga merasa heran, ia juga tak mengerti dengan cara bagaimana sucinya bisa menggunakan barang wasiat itu dibuat taruhan dengan Hee Thian Siang? Dalam keadaan terheran-heran demikian, ia bertanya kepada pemuda itu: "Dengan cara bagaimana suciku itu mengadakan pertaruhan denganmu?"

Hee Thian Siang kini sudah tidak begitu tegang perasaannya, pikirannya pelan-pelan mulai tenang kembali, maka ia dapat menjawab sambil tersenyum: "Kalian adalah suci dan sumoi, sudah tentu sifatnya juga tidak berbeda jauh, Bu-san siancu Hwa Ji Swat caranya bertaruh denganku justru mirip dengan caramu bertaruh dengan tabib sakti Say Han Kong, ia menanyakan tiga pertanyaan kepadaku suruh aku yang menjawab."

"Tiga pertanyaan apa yang oleh suciku ditanyakan kepadamu? Bolehkah kau beritahukan kepadaku?"

Pada waktu itu dua orang itu hanya terpisah beberapa kaki saja, Hee Thian Siang bukan saja dapat menghirup bau harum dari tubuh Tiong-sun Hui-kheng tetapi ia juga merasakan setiap gerak-gerik gadis itu mempunyai pengaruh yang agaknya susah dilawan.

"Waktu aku mengadakan pertaruhan dengan sucimu, justru pada malaman lima belas, Hwa Ji Swat lantas mendapat inspirasi mengajukan pertanyaan kepadaku, yang ada bersangkutan dengan rembulan. Ia bertanya kepadaku begini:

- Rembulan di atas langit itu mengapa bisa suram dan mengapa bisa terang, mengapa kadang-kadang bundar dan kadang-kadang hanya setengah ?- ”

"Dan bagaimana kau menjawab?"

"Bagi orang yang mengerti syair-syair, kebanyakan dapat menjawabnya, jawabanku begini: - Manusia ada suka dan dukanya, begitupun dengan rembulan, ada masa suram dan ada masa terang - ada peribahasa pernah berkata, -Jika ada cinta kasih, orang tidak akan merasa tua, jika tidak ada kemasgulan, rembulan akan tetap pudar...-"

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengarkan tampak mengerutkan alisnya, kemudian bertanya: "Pertanyaan kedua bagaimana?"

"Pertanyaan kedua itu masih tetap berkisar dan bersangkutan dengan jawabanku tadi, ia bertanya: - Bulan purnama yang menyinari seluruh jagat, bagaimana bisa masgul ?-"

Tiong-sun Hui Kheng menatap wajah Hee Thian Siang, Hee Thian Siang mengerti apa maksudnya, maka ia lantas berkata: "Jawabanku kali ini, aku menyindir beberapa patah syair pujangga Lie-gie-san di jaman dahulu: - Song Go (Dewi Rembulan) seharusnya merasa menyesal atas perbuatannya mencuri obat mukjizat ! Dibawah langit yang biru, diatas laut yang luas, hati tergoda -. Demikianpun dengan keadaanmu, perasaan dalam hatimu mungkin sama atau setidak-tidaknya mirip dengan Dewi Rembulan itu."

Tiong-sun Hui Kheng menganggukkan kepala dan berkata: "Kau benar-benar sangat pintar, jawabanmu itu justru mengenakan hati dan perasaan Hwa suci, lantas ia menghadiahkan benda wasiat perguruannya kepadamu! Dan pertanyaan ketiga itu apa lagi?"

"Pertanyaan ketiga itu ia menggunakan peribahasa LAUTAN KERING, BATU RUSAK, sekarang aku hendak tanya kepadamu, LAUTAN BAGAIMANA BISA KERING, DAN BATU BAGAIMANA BISA RUSAK?"

"Pertanyaan itu rasanya tidak begitu mudah untuk dijawab!"

"Waktu itu aku sebetulnya merasa sulit, tetapi selagi aku sedang berpikir, ada seekor burung malam terbang diangkasa, burung itu menimbulkan inspirasi dalam pikiranku, maka aku menggunakan burung itu untuk menjawab pertanyaannya."

"He! Seekor burung malam? Bagaimana bisa

membangkitkan inspirasimu? Dan bagaimana kau

menjawab?"   

"Didalam dunia ini TIDAK SEMUA BURUNG PANDAI MENJAGA DIRI, DIKOLONG LANGIT INI TIADA ORANG YANG TIDAK TAHU BAHWA KAUM WANITA ITU MERUPAKAN BAHAYA?"

"Jawabanmu ini sesungguhnya merupakan satu pikiran yang luar biasa, jawabanmu ini memang bagus sekali!" Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa.

Di bibir Hee Thian Siang saat itu tersungging suatu senyuman bangga, tetapi Tiong-sun Hui Kheng setelah memberi pujian kepadanya, seolah teringat sesuatu, ia berkata sambil menganggukkan kepala: "Aku mengerti, sebabnya suciku Hwa Ji Swat kalah pertaruhan denganmu, semata-mata karena kesombongannya sendiri. Dalam pikirannya jikalau ingin menangkan dirimu, harus ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih susah!"

Hee Thian Siang tidak mengerti apa yang diucapkan gadis itu, dengan alis yang dikerutkan ia bertanya keheranan: "Nona Tiong-sun, kau kata kekalahan sucimu itu disebabkan karena pertanyaan yang diajukan itu agak sulit?"

"Benar. Jikalau ia majukan pertanyaan yang mudah, belum tentu kau dapat menjawab."

"Pertanyaan yang agak mudah bagaimana lebih susah dijawab daripada pertanyaan yang lebih susah?"

Sepasang mata Tiong-sun Hui-kheng yang jeli dan tajam menatap wajah Hee Thian Siang kemudian berkata sambil mengangguk kepala: "Apakah kau ingin mencobanya?"

"Mau, aku ingin mencoba. Biarlah aku menggunakan senjata pusaka golonganku Kian-thian Pek-lek untuk barang taruhan yang pertama."

Tiong-sun Hui-kheng yang mendengar ucapan itu matanya kembali menatap Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil tersenyum: "Oo, jadi kau ini muridnya Pak-bin Sinpo Hong-poh Cui locianpwe, tetapi senjata peledak Kian-thian Pek-lek itu meskipun dianggap sebagai barang mujizat dalam rimba persilatan, bahkan juga menggemparkan dunia Kang-ouw, namun aku tidak suka dengan barang yang terlalu ganas itu."

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu malah mendapat kesan bahwa gadis itu sudah yakin akan menang, maka dalam hati merasa agak mendongkol. Ia mengeluarkan benda wasiat jaring sutera berwarna merah, kemudian berkata: "Nona Tiong-sun, kau boleh majukan pertanyaanmu, kalau kau tidak menghendaki senjataku Kian-thian Pek-lek, biarlah aku menggunakan benda wasiat hadiah sucimu ini sebagai barang taruhan."

"Bagaimana kau begitu terburu nafsu? Barang taruhanku sendiri toh belum kukeluarkan."

"Tidak perlu, menurut katamu ini, seolah-olah aku sudah pasti kalah! Bagaimanapun juga hari ini kita akan mengadakan pertaruhan tiga pertanyaan, seandainya aku benar-benar kalah, barangku ini tidak halangan kuberikan kepada nona sebagai barang hadiah!"

"Kau tampaknya tahu diri, juga sangat polos, tapi aku tidak memiliki barang apa-apa, jikalau aku kalah sehingga tidak dapat mengeluarkan barang yang dapat digunakan sebagai barang taruhan, aku nanti akan menghentikan pertanyaanku!"

Tiong-sun Hui Kheng tampaknya semakin yakin bahwa kemenangan pasti berada dipihaknya, sudah tentu membuat Hee Thian Siang semakin penasaran. Tetapi oleh karena gadis itu baik wajahnya maupun tingkah lakunya dan tata bahasanya, semua menimbulkan kegairahannya, maka membuat Hee Thian Siang yang biasa beradat tinggi hati, hari itu benar-benar tidak bisa berkutik.

"Baiklah kuturuti kehendakmu, tetapi aku tidak tahu apakah jaring sutera warna merah ini boleh digunakan sebagai barang pertaruhan atau tidak?"

"Benda itu adalah benda wasiat tunggal yang diciptakan oleh ayah, sudah tentu boleh! Kau sekarang siaplah, pertanyaanku yang ku anggap paling mudah, tetapi bagimu barangkali merupakan pertanyaan yang paling susah dijawab." Hee Thian Siang yang menghadapi gadis cantik bagaikan bidadari ini, meskipun jantungnya selalu berdebaran, tetapi ia masih tetap waspada ketika mendengar ucapan itu, ia selalu berusaha untuk menenangkan pikirannya, menantikan pertanyaan gadis itu.

Tiong-sun Hui Kheng dengan sikapnya yang tenang mengelus-elus kepala kera putih kecil yang cerdik itu, matanya menatap wajah Hee Thian Siang, ia berkata sambil tersenyum: "Sekarang tolong kau jawab pertanyaanku: BULU SEKUJUR BADAN KERA YANG KUSAYANG INI, BAGAIMANA BISA PUTIH?"

Hee Thian Siang yang ditanya demikian, jadi tercengang, sementara dalam hatinya berpikir: Pertanyaan ini benar-benar kurang ajar! Bulu kera itu putih atau kuning adalah pembawaan alam, apakah bulu kera hitam harus disebut putih?

Akan tetapi meskipun dalam hatinya merasa bahwa pertanyaan itu terlalu sederhana dan mudah, namun mulutnya tidak tahu bagaimana harus menjawab, apalagi harus menjawab dengan tepat.

Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan pemuda itu terus berpikir tidak menjawab, kemudian menatap wajahnya, dan bertanya sambil tersenyum: "Kukatakan bagaimana? Pertanyaan ini terlalu mudah sekali, tetapi sebaliknya kau tidak dapat menjawab."

Hee Thian Siang sangat penasaran, dengan tiba-tiba ia angkat muka, hingga dua pasang matanya bertemu.

Sejak ia bertemu muka dengan Tiong-sun Hui Kheng, Hee Thian Siang merasa bahwa pandangan mata gadis itu seolah- olah mengandung daya tarik yang luar biasa. Tiap kali kalau ia yang berpandangan dengan gadis itu, hatinya selalu berdebaran, pikirannya bingung, tidak dapat mengendalikan perasaannya sendiri.

Dan sekarang selagi hendak menjawab, apalagi kembali kebentrok dengan sepasang mata gadis itu yang halus dan tajam, sehingga pikirannya kembali menjadi kalut, ia tidak dapat memikirkan bagaimana harus menjawab.

Tiong-sun Hui Kheng yang melihat tingkah laku Hee Thian Siang seperti orang setengah kemalu-maluan setelah beradu mata dengan dirinya sendiri juga menjadi merah wajahnya, saat itu menundukkan kepalanya, sudah tentu ia anggap bahwa pemuda itu sudah mengaku kalah, dia lantas berkata sambil mengulurkan tangan: "Kalau kau sudah tak bisa menjawab dan menyerah kalah, bagaimana kau tidak memberikan jaring sutera berwarna merah itu kepadaku?"

Kalau pandangan mata Tiong-sun Hui Kheng bisa mengalutkan pikiran Hee Thian Siang, apalagi suaranya yang sangat merdu itu, sudah tentu lebih besar pengaruhnya, hingga semakin membuat pemuda itu tidak berdaya sama sekali.

Maka ia lalu memberikan benda wasiat jaring sutera warna merah itu kepadanya, sementara dalam hati berpikir: Bukan hanya menyerah kalah saja tapi juga kekalahan ini benar- benar tidak habis dimengerti.

Tiong-suh Hui Kheng menyambuti benda pusaka dari tangan Hee Thian Siang, setelah itu ia tersenyum dan berkata pula: "Terhadap pertanyaanku yang pertama ini, kalau kau sudah menyerah kalah, apakah masih perlu mengadakan pertaruhan lagi?"

Hee Thian Siang kali ini mengelakkan pandangan matanya dari gadis itu, ia menjawab sambil menganggukkan kepala: "Sudah tentu mau, pertanyaanmu yang kedua ini, kau toh tidak akan menyakan tentang kudamu itu, dan tentang bulu warna kuning emas binatang anehmu itu, mengapa bulu mereka itu bisa hijau dan kuning, bukan?"

Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar perkataan itu juga merasa geli, sehingga menunjukkan tertawanya yang manis, sikap demikian ini dimata Hee Thian Siang semakin mengalutkan pikirannya, dalam hatinya berpikir: Tidak perduli gadis itu adalah yang pernah dilihatnya di gunung Kiu-gi-san atau bukan, aku juga akan terus berusaha untuk mendapatkannya.

Selagi masih berpikir demikian, telinganya sudah mendengar ucapan Tiong-sun Hui Kheng yang sangat merdu: "Jikalau kau mau bertaruh lagi, kau hendak menggunakan barang apa sebagai barang pertaruhan?"

Hee Thian Siang sebetulnya akan mengeluarkan sepasang senjatanya gelang Sam-ciok Kang-hwan, tetapi oleh karena Tiong-sun Hui Kheng tidak menyukai barang-barang atau senjata tajam yang sifatnya ganas, maka ia teringat kepada Kipas May Cing Ong yang diberikan kepadanya, tapi apa mau barang itu sudah terjatuh ditangan murid Kun-lun-pay, jikalau tidak, barang itu pasti dapat digunakan sebagai barang taruhan.

Kini barang yang cukup berharga yang masih ada padanya hanya batu giok warna ungu berbentu bunga mawar milik duta bunga mawar yang diberikan kepadanya sebagai tanda kepercayaan, tetapi duta bunga mawar pernah berpesan barang itu jangan sampai hilang, maka ia menjadi ragu-ragu, apakah barang itu boleh dipinjam dulu?"

Tiong-sun Hui Kheng yang melihat Hee Thian Siang memasukkan tangannya kedalam saku, seolah-olah hendak mengeluarkan barang, tetapi lama tidak menjawab, maka lantas bertanya kepadanya: "Bagaimana kau ini terus berpikir saja, apa kecuali benda wasiat hadiah suciku itu sudah tak ada lagi barang kedua yang agak berharga?"

Ditanya demikian, wajah Hee Thian Siang kembali menjadi merah, tanpa dipikir panjang lagi, ia mengeluarkan tanda kepercayaan duta bunga mawar, diperlihatkan kepada Tiong- sun Hui Kheng: "Coba kau lihat, bunga mawar yang terbuat dari batu giok ini boleh tidak kupergunakan sebagai barang taruhan?"

Tiong-sun Hui Kheng menyambuti barang yang diberikan kepadanya, lalu diperiksanya sebentar, dan kembalikan kepada Hee Thian Siang, setelah itu ia berkata sambil menganggukkan kepala: "Boleh... boleh, batu giok warna ungu ini bukan saja bahannya bagus sekali, ukiran bunga mawar yang diukir diatasnya ini juga sangat indah! Tahukah kau bahwa diantara begitu banyak bunga, hanya bunga mawar saja yang menjadi kesukaanku?"

Hee Thian Siang ketika mendengar Tiong-sun Hui Kheng menerima baik tawarannya menggunakan lambang bunga mawar itu sebagai barang taruhan, hatinya kembali berdebaran, karena kali ini biar bagaimana tidak boleh kalah lagi, jikalau tidak, bukan saja tidak mempertanggung jawabkan terhadap duta bunga mawar, tetapi juga sudah tidak ada barang berharga lagi didalam sakunya yang dapat digunakan untuk barang taruhan ketiga.

Hee Thian Siang yang sedang menghadapi lawan yang tangguh, ia berusaha untuk menenangkan kembali pikirannya, sesudah pikirannya itu tenang kembali, barulah berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng: "Nona Tiong-sun, pertanyaan yang kedua ini kau hendak menanyakan soal apa, bolehkan sekarang kau mulai?"

Tiong-sun Hui Kheng entah disengaja atau tidak, kembali menggunakan sinar mata yang tajam bagaikan pedang pusaka, dan gerak-geriknya yang menggairahkan serta suaranya yang merdu merayu, semuanya itu merupakan senjata yang paling berbahaya dan lebih tajam dari segala senjata yang paling tajam.

"Pertanyaanku yang kedua ini jauh berbeda dengan pertanyaan yang pertama, aku ingin kau menebak, APA SEBABNYA DIANTARA BEGITU BANYAK BUNGA, AKU HANYA PALING SUKA KEPADA BUNGA MAWAR SAJA?"

Kali ini karena Hee Thian Siang sebetulnya malah takut kalah, maka matanya tidak berani memandang wajah gadis itu lagi, ia mengelak dan jangan sampai beradu pandang dengan gadis cantik itu.

Tetapi antara pria dan wanita, kadang-kadang ada banyak hal yang aneh yang tak dapat dimengerti oleh orang-orang yang bersangkutan. Tiong-sun Hui-kheng dengan mata yang jeli memandang Hee Thian Siang yang waktu itu sedang menundukkan kepala dan menantikan jawabannya, masih tetap membuat pemuda yang keras kepala dan tinggi hati itu merasakan betapa hebat pandangan mata gadis itu.

Pertanyaan yang diajukan itu sebetulnya boleh dijawab sesukanya, tetapi kalau mau supaya jawaban itu mencocoki hati yang bertanya, sesungguhnya terlalu sulit. Sebab seorang gadis lemah lembut seperti Tiong-sun Hui Kheng ini, tidak mungkin menyukai bunga mawar karena banyak durinya. Tetapi gadis itu sudah menganggap bunga mawar yang paling disukai dan lebih berharga dari bunga-bunga cempaka, teratai, seruni dan lain-lainnya, yang banyak disukai oleh kaum wanita, apakah sebabnya?

Pertanyaan itu belum dapat menemukan jawabannya, hidung Hee Thian Siang sudah menghirup harum yang dipancarkan dari tubuh Tion-sun Hui Kheng, dan sementara itu Tiong-sun Hui Kheng sudah mengulurkan tangannya yang putih halus mengambil lambang bunga mawar batu giok ungu yang berada dalam tangannya, kata gadis itu sambil tersenyum: "Kau tidak dapat menjawab, sudahlah lekas mengaku kalah saja, kau harus tahu bahwa kalau kau bisa menyerah kalah dengan rela, barulah bisa mulai berpikir lagi dari semula, tidak sampai mengalami penderitaan terlampau hebat."

Karena ia benar-benar tidak dapat menjawab, maka kali ini untuk kedua kalinya ia dikalahkan, tanpa disadari ia sudah angkat kepala dan memandang Tiong-sun Hui Kheng, tetapi kali ini ia memandangnya dengan perasaan penuh kekhawatiran dan malu.

Tiong-sun Hui Kheng yang melihat sikapnya demikian, alisnya dikerutkan, agaknya merasa tidak enak, ia berkata sambil tersenyum: "Kau jangan putus asa, pertanyaan pertama dan kedua meskipun sudah kalah, tetapi masih ada pertanyaan yang ketiga, mungkin kau bisa menang!"

Wajah Hee Thian Siang dari merah berubah menjadi pucat, ia berkata sambil menggelengkan kepala: "Aku tidak mau lakukan pertaruhan yang ketiga lagi!"

Tiong-sun Hui Kheng memang sudah tahu bahwa pemuda yang tampan dan gagah ini sifatnya sangat keras dan tinggi hati, namun demikian pemuda itu memiliki kepandaian ilmu silat dan ilmu surat yang sama baiknya, dia sendiri juga merasa kagum. Oleh karena itu setelah mendengar jawaban diluar dugaannya, segera bertanya dengan perasaan keheranan: "Mengapa kau tak mau bertaruh lagi? Apakah kau anggap bahwa pertanyaanku itu ada yang tak adil?"

"Aku bukan tidak mau bertaruh denganmu, melainkan aku sudah tidak mempunyai barang lain lagi yang dapat digunakan untuk bertaruh!" Tiong-sun Hui Kheng hanya mengeluarkan suara "Oo..." saja, bibirnya bergerak-gerak agaknya hendak mengatakan sesuatu, tetapi setelah dipikir-pikir, ia batalkan maksudnya dan menganggukkan kepala kepada Hee Thian Siang, setelah itu berkata: "Pertaruhan yang ketiga itu boleh juga kita tunda dan dilakukan lain waktu saja!" Sehabis bicara demikian, ia lompat melesat ke atas kudanya dan berjalan pelan-pelan meninggalkan Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang mengawasi berlalunya gadis itu, di wajahnya yang penuh rasa malu kini timbul senyuman di bibirnya, ia pikir ditunda untuk lain waktu juga baik, jikalau tidak, untuk menjumpai nona Tiong-sun ini dimana harus dicarinya?

Selagi keadaan melamun, Tiong-sun Hui Kheng tiba-tiba balik kembali, ia bertanya kepadanya:

"Kau setelah berlalu dari tempat ini apakah hendak pulang ke gunung Pak-bin-san?"

Hee Thian Siang menggeleng-gelengkan kepala, Tiong-sun Hui Kheng bertanya pula: "Jikalau aku hendak mencari kau untuk melanjutkan pertaruhan kita yang ketiga, kemana aku harus mencari..."

"Sekarang ini aku hendak melakukan perjalanan ke Barat untuk pergi ke gunung Kie-lian-san dan Tiam-cong-san, bulan lima tahun depan akan mendaki gunung Ngo-bie-san untuk melakukan pertandingan pedang dengan Hok Siu In, tanggal enam belas bulan dua belas akan pergi lagi ke puncak Thian- tu-hong di gunung Oey-san untuk menghadiri pertemuan orang-orang rimba persilatan. Begitu banyak tempat yang harus kukunjungi, seharusnya kau dapat menemukan aku."

Tiong-sun Hui Kheng memandang padanya dengan penuh arti, selagi hendak putar kembali kudanya, tetapi ia dengan tiba-tiba tersenyum kepadanya, dari tangannya meluncur keluar tiga lembar emas berkilauan.

Hee Thian Siang tahu bahwa gadis itu agaknya tidak mengandung maksud jahat, maka tiga lembar emas berkilauan itu disambutnya, emas itu ternyata adalah tiga lembar sisik emas.

"Sisik naga pelindung jalan darah peninggalan Tay-piat Sianjin, semuanya ada tiga puluh enam lembar. Meskipun aku sudah pergunakan untuk membuat rompi siopek tetapi oleh karena badannya kecil, masih ada tinggal enam buah banyaknya, sekarang kita berdua bagi sama rata masing- masing mendapat bagian tiga lembar."

Hee Thian Siang tidak menduga bahwa Tiong-sun Hui Kheng setelah menangkan jaring warna merah dan lambang bunga mawar, masih menghadiahkan padanya tiga lembar sisik naga pelindung jalan darah yang merupakan barang pusaka bagi orang-orang persilatan. Maka ketika itu ia agak bingung sendiri, tidak tahu harus menerima atau tidak?

Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan keadaan demikian, memandang padanya sambil tersenyum dan berkata: "Bagaimana kau masih tidak menerimanya? Pertaruhan tinggal pertaruhan, tetapi sahabat tetap sahabat, kita yang bertemu muka secara kebetulan, bagaimanapun juga merupakan jodoh, aku dengar kau hendak pergi ke Barat melakukan perjalanan ke gunung Ki-lian-san, oleh karena manusia-manusia Ki-lian-pay semua merupakan orang-orang yang sangat kejam dan mahir menggunakan segala senjata berbisa, maka barulah kuhadiahkan kau tiga lembar sisik naga pelindung jalan darah ini, untuk melindungi dirimu, tak lama rasanya kita akan bertemu lagi, harap baik-baik menjaga dirimu sendiri!" Kata-kata gadis itu seolah-olah mengandung maksud dalam, sehingga Hee Thian Siang yang mendengarkan jantungnya berdebaran, pikirannya bergolak, perasaannya kabur! Barulah setelah telinganya mendengar suara kuda yang dilarikan, mulai tersadar pikirannya, tetapi waktu itu si gadis jelita sudah menghilang dari hadapannya.

Dua kali pertaruhan Hee Thian Siang sudah kalah. Dua buah benda pusakanya yang tak ternilai harganya, sudah terjatuh ditangan gadis itu, namun demikian ia merasa senang, sebab dengan demikian ia bisa mempererat perkenalannya, apalagi setelah mendengar suara gadis itu yang mengucapkan bahwa pertemuan yang tidak terduga ini bagaimanapun juga adalah jodoh, dan pemberiannya kepadanya tiga lembar sisik naga pelindung jalan darah itu agaknya juga mengandung maksud dalam.

Tetapi kalau dipikir lagi, apabila gadis itu juga menaruh hati kepada dirinya bagaiman meninggalkan lagi secera tergesa- gesa? Jikalau mau dikatakan tidak suka, mengapa sudah pergi balik lagi dan memberikan barang kepadanya sebagai benda peringatan, bahkan menanyakan jejak selanjutnya untuk mengadakan pertemuan yang kedua?

Hee Thian Siang yang baru pertama kali terlibat dalam jaring asmara, tidak dapat menjajagi pikiran Tiong-sun Hui Kheng terhadap dirinya, ada timbul benih cinta kasih atau tidak, sehingga lama ia berdiri bingung dan terombang-ambing dalam pikirannya sendiri.

Akhirnya ia teringat kepada tulisan di atas kertas yang didapatkan didekat goa kuno yang terdapat rangka burung elang raksasa, yang mengatakan bahwa: Ca tidak halangan, Hok patut dikasihani, Giok ada durinya dan Kheng banyak cita rasa. Menurut kata-kata terakhir itu maka Hee Thian Siang dapat menduga bahwa Tiong-sun Hui Kheng yang cantik manis dan penuh cita rasa itu, setidak-tidaknya mengandung rasa simpatik terhadap dirinya.

Oleh karena Hee Thian Siang sudah menganggap bahwa Tiong-sun Hui Kheng juga suka kepadanya, sudah tentu ia menganggap bahwa pemberian hadiah tiga lembar sisik naga pelindung jalan darah itu mengandung arti terlalu dalam. Ia tidak mau menyia-nyiakan maksud baik orang, maka ia juga simpan baik-baik sebagai barang pusaka yang paling berharga, apalagi untuk melindungi jalan darah terpenting anggota badannya sendiri.

Oleh karena bibi Ca Bu Kao sudah pergi mengejar jago pedang Tiam-cong-pay yang ketiga, sedangkan Say Han Kong dan Oe-tie Haow sudah melakukan perjalanannya yang sama, tapi ia sendiri oleh karena mengadakan pertaruhan dengan Tiong-sun Hui Kheng hingga habis terkandas di daerah gunung Oey-san, dan berjalan paling belakang. Kini setelah urusan selesai, rasanya perlu untuk segera berangkat dan menggunakan kesempatan itu sekalian pergi ke gunung Kie-lian-san, untuk menyelidiki tanaman yang digali dari goa kuno, dimana terdapat kerangka burung elang raksasa, sebetulnya mengandung rahasia apa?

Demikian dalam hatinya berpikir, sesudah itu langkah kakinya dipercepat, tetapi sebelum ia berlalu dari daerah pegunungan gunung Oey-san, kembali menjumpai suatu peristiwa.

Di suatu tempat yang letaknya sangat berbahaya, yang di situ terdapat banyak rumput lebat, terdengar suara rintihan orang yang agaknya sedang bergulat dengan maut.

Hee Thian Siang sebetulnya tak ingin mencampuri lagi segala urusan, tetapi ketika mendengar suara rintihan yang menyayat hati, ia merasakan tidak tega, dan menghentikan langkahnya, kini ia berdiri dan matanya celingukan sambil siap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Setelah itu ia lompat melesat ke tempat tersebut untuk mengadakan pemeriksaan. Baru saja ia lompat, pertama-pertama hidungnya dapat mengendus bau darah yang amis, matanya juga melihat sepotong jubah warna merah, tetapi bagian bawahnya sudah hancur tidak karuan serta terdapat banyak darah yang sudah menjadi hitam.

Orang yang mengenakan jubah berwarna merah darah itu, wajahnya sangat menakutkan. Wajah itu baginya tidak asing lagi terutama jubahnya yang berwarna merah, dan sepasang senjatanya yang berbentuk alat tulis yang berada disampingnya, segera dapat dikenali olehnya sebagai orang dari Kie-lian-pay yang pernah dijumpainya di gunung Hok-gu- san. Orang itu bukan lain daripada Go Ing.

Go Ing, saat itu agaknya mengharap kedatangan seseorang, tetapi setelah mengenali bahwa orang yang datang itu adalah Hee Thian Siang, lantas menghela napas panjang dan menantikan kematiannya sambil memejamkan matanya.

Terhadap orang-orang Kie-lian-pay, Hee Thian Siang merasa benci tetapi ketika menyaksikan keadaan Go Ing demikian mengenaskan, perasaan kasihannya timbul secara mendadak. Apalagi ia dengan Go Ing tidak mempunyai permusuhan dalam, maka ia lantas mengulurkan tangannya dan membuka jubah bagian bawah Go Ing, kini ia telah dapat kenyataan bahwa pada paha kiri orang she Go itu sudah terpapas putus.

Kehilangan satu paha, memang tidak menjadikan suatu kehilangan, tetapi kalau kehilangan banyak darah, bisa mengakibatkan kematian bagi dirinya. Hee Thian Siang yang sudah menemukan Go Ing yang sudah terluka parah, segera mengeluarkan obat luka yang dibawanya, ia gunakan untuk mencegah mengalirnya darah. Setelah itu ia menyobek sepotong pakaian Go Ing lalu digunakan untuk membungkus lukanya.

Saat itu Go Ing seperti hampir putus jiwanya, ia hanya memejamkan mata, sedikitpun tak bergerak. Sementara itu Hee Thian Siang sudah memberikan obat dan membungkus lukanya, ketika menyaksikan keadaan demikian, sikapnya karena kehilangan banyak darah, ia lalu berikan sebuah pil dari perguruannya, setelah itu bertanya sambil tertawa: "Sahabat she Go, pahamu ini dipotong oleh siapa?"

Mata Go Ing tampak bergerak sedikit, begitupun ujung bibirnya, tetapi akhirnya oleh karena keadaan terlalu lemah, matanya tak dapat dibuka, kata-katanya juga tidak bisa keluar dari mulutnya, ia hanya dengan terpaksa menggeleng-geleng kepalanya.

"Sahabat Go kalau kau tidak bisa bicara, janganlah kau paksakan diri, kutung sebuah paha, meskipun merupakan luka yang parah, tetapi dengan kepandaian yang kau miliki, apalagi sudah makan obatku, obat luar dan dalam, jiwamu pasti akan terjamin. Hanya Hee Thian Siang perlu memberi nasehat padamu sepatah kata, ialah dendam itu tidak baik kalau selalu dibesar-besarkan, urusan perkara pengutungan pahamu ini jikalau kesalahan itu ada di pihakmu, sebaiknya kau jangan lagi berkelana di dunia Kang-ouw, sebaiknya kau berdiam di pegunungan untuk melewati hari tuamu."

Muka Go Ing waktu itu memperlihatkan sikapnya yang semakin menyeramkan, tetapi masih tetap memejamkan matanya dan tidak bersuara, Hee Thian Siang tahu bahwa nasehat tadi meskipun baik tetapi beberapa patah kata yang kosong, bagaimana dapat menggerakkan hati seorang jahat seperti Go Ing itu, maka ia berkata pula sambil menghela napas: "Siapakah yang dapat menyadari kesalahan. Siapakah yang dapat meninggalkan kancah kegagalan? Itulah tergantung kepada pikiran sendiri. Hee Thian Siang masih ada banyak urusan dan tak bisa berdiam di sini lebih lama. Sahabat Go, biarlah kau beristirahat dulu di sini."

Sehabis berkata demikian, oleh karena menganggap bahwa Go Ing itu tinggal satu kaki, tak mungkin ia dapat berjalan dengan baik, maka ia pungutkan senjatanya yang merupakan alat tulis yang dilemparkan tak jauh dari tempatnya, dan mencarikan lagi sebatang ranting pohon, dibuatnya menjadi tongkat, semua itu diletakkan disamping Go Ing.

Pada saat Hee Thian Siang berdiri membelakangi Go Ing, dengan tiba-tiba dari sinar matahari tampak ada barang bergerak, ia lalu membalikkan badan untuk melihatnya, tampak Go Ing sedang mengangkat tangan kanannya. Dalam telapak tangannya terdapat sebuah duri berbentuk ujung tiga, warna biru kehitaman, duri itu bukan lain daripada duri berbisa Thian-keng-chek.

Hee Thian Siang sebagai orang muda yang belum banyak pengalaman, bagaimana dapat mengira bahwa ia sendiri yang dengan baik hati mengobati luka Go Ing yang jahat itu, orang itu bukan saja tidak mengucapkan terima kasih atas budinya, sebaliknya bahkan hendak menggunakan senjata duri berbisa Thian-ken-chek melakukan serangan gelap.

Maka ketika ia melihat duri berbisa ditangan Go Ing, ternyata sudah salah paham, ia malah bertanya sambil tertawa: "Sahabat she Go, harap kau beristirahat baik-baik, jangan bergerak. Aku tahu, kau barangkali terluka oleh duri berbisa Thian-keng-thek ini, tetapi apa yang lebih tidak beruntung adalah pahamu yang kehilangan sebelah. Tetapi disekitar puncak gunung Thian-tu-hong ini, orang yang mengalami nasib buruk itu bukan hanya kau seorang. Ketua Swat-san-pay Peng-pek Sin-kun suami istri juga sudah dibokong oleh manusia jahat, dengan terdapatnya banyak senjata jahat berbisa ini, sudah cukup untuk memfitnah Kun- lun-pay dan cukup untuk menimbulkan orang-orang berbagai partai mengadakan perhitungan dengannya."

Berkata sampai di situ ia berdiam sebentar, tongkat dan senjata alat tulisnya diletakkan lagi ke tempat yang dekat dengan Go Ing, setelah itu ia berkata pula sambil tertawa: "Senjata yang biasa kau gunakan, dan tongkat yang kubuat untukmu ini, semua berada di sampingmu, tunggu setelah tenagamu pulih kembali kau boleh menggunakan tongkat ini untuk berjalan. Aku sekarang hendak minta diri dulu, di kemudian hari mungkin kita bisa bertemu lagi di gunung Kie- lian-san."

Sehabis berkata demikian, ia melihat Go Ing tetap tidak menjawab, maka ia lantas tersenyum dan pergi melanjutkan perjalanannya.

Ia terus berjalan dengan cepatnya, hampir mengakhiri perjalanannya ke gunung Oey-san itu, di belakangnya tiba-tiba terdengar pula suara derap kaki kuda dan suara kuda meringkik, Hee Thian Siang yang dapat menangkap suara itu, semula merasa girang tetapi kemudian ia merasa terkejut dan akhirnya keheranan. Semula ia kira bahwa suara derap kaki kuda itu adalah suara kuda Tiong-sun Hui Kheng yang datang ke arahnya, maka dalam hatinya merasa girang. Tetapi ia segera dapat mengenali bahwa suara kuda itu agak berlainan, sedang arahnya juga menunjukkan kebalikannya. Jikalau benar Tiong-sun Hui Kheng yang datang, seharusnya datang dari jurusan depan, bagaimana sekarang dari jurusan belakangnya?

Ilmu meringankan tubuh Hee Thian Siang sudah termasuk golongan kelas satu, sedang suara derap kaki kuda itu, ternyata lebih cepat daripada ilmu meringankan tubuhnya, kecuali kuda Ceng-hong-kie Tiong-sun Hui Kheng, apabila kuda biasa saja, bagaimana memiliki kepandaian lari demikian pesat. Maka ketika ia mendengar suara kuda, kegirangan dalam hatinya lantas berubah menjadi perasaan terkejut.

Sementara itu seekor kuda berbulu hijau sudah muncul di depan matanya yang sedang lari pesat menuju ke arahnya, tetapi orang yang duduk di atas kuda bukanlah Tiong-sun Hui Kheng yang cantik bagaikan bidadari, melainkan seorang bertubuh tinggi besar.

Kuda hijau itu bukanlah Ceng-hong-kie, melainkan seekor kuda lain yang pernah dikatakan oleh pendekar pemabokan. Kuda itu ialah Cian-kiok-hwa-ceng. Sedangkan orang tua yang bertubuh tinggi besar diatasnya, meskitpun tidak tampak tegas, tetapi sudah dapat dipastikan bahwa dia adalah ketua golongan Kie-lian-pay Kie Tay Cao.

Kecepatan lari kuda itu sesungguhnya sangat mengagumkan, baru saja Hee Thian Siang menebak asal usul kuda dan orangnya, wajah Khie Tay Cao yang buas menyeramkan sudah tampak di depan matanya.

Kudanya belum berhenti, orangnya sudah lompat turun lebih dahulu, Khi Tay Cao dengan membawa senjata berat, melayang dari atas kuda dan turun di hadapan Hee Thian Siang. Sedangkan kuda Cian-li-kiok-hwa-ceng setelah berhenti di belakang Hee Thian Siang merupakan satu posisi yang mengurung Hee Thian Siang ditengah-tengah manusia dan kuda.

Hee Thian Siang kini telah dapat melihat bahwa ketua Kie- lian-pay itu sikapnya tidak menunjukkan maksud baik, bahkan wajahnya sangat menakutkan. Maka tangannya segera dimasukkan kedalam sakunya. Khi Tay Cao yang menyaksikan gerakan itu dari hidungnya mengeluarkan suara menghina, katanya dengan suara dingin: "Kau rupanya hendak menggunakan senjatamu yang paling ampuh Kian- thian-pek-lek lagi?" Hee Thian Siang mengeluarkan senjatanya Sam-ciok Kang-hoan, dengan sinar mata tajam ia menatap Khi Tay Cao kemudian berkata sambil tertawa: "Sahabat, kau jangan kira bahwa kau adalah seorang ketua dari salah satu partai besar, tetapi Hee Thian Siang kalau melawan kau saja belum perlu menggunakan senjata Kiam-thian-pek-lek, karena menggunakan senjata ganas itu secara gegabah berarti melanggar peraturan golonganku sendiri."

Kie Tay Cao meskipun juga adalah seorang buas yang tidak kenal arti kasihan, tetap juga merasa kagum atas keberanian dan ketabahan Hee Thian Siang itu.

Ia mendengarkan dengan tenang, kemudian tertawa dan berkata: "Simpanlah dahulu senjata gelangmu itu, aku mengejar kau hanya ingin menanyakan sesuatu saja, tidak perlu harus bertanding."

Hee Thian Siang setengah percaya, mengalihkan senjatanya ke tangan kiri, bertanya: "Kau hendak menanyakan soal apa? Apakah masih pertanyaan yang pernah kau ucapkan di gunung Hok-gu-san dahulu?"

Kie Tay Cao menggelengkan kepala dan berkata: "Di puncak gunung sana tadi kulihat kau lari seorang diri, maka aku mengejarmu untuk menanyakan diri seseorang."

Hee Thian Siang yang mendengar perkataan itu segera dapat menduga siapa orangnya yang ditanyakan oleh Kie Tay Cao, sudah pasti Go Ing yang terluka dan terbabat buntung sebelah kakinya. Tetapi ia masih pura-pura tidak tahu, menantikan keterangan lebih lanjut.

Dengan sikap marah, Kie Tay Cao berkata: "Pertemuan di puncak Thian-tu-hong diundurkan setahun, maka aku mengumpulkan semua anak buahku kembali ke Kie-lian-san. Ketika aku turun dari puncak baru ketahuan bahwa salah satu orangku telah menghilang secara mendadak."

"Orang itu apakah bukan Go Ing?" Bertanya Hee Thian Siang sambil tersenyum.

"Orang yang hilang itu memang Go suteku, apakah kau pernah melihatnya?" Bertanya Khi Tay Cao terkejut.

"Dia terkena serangan duri berbisa Thian-keng-cek, kaki kirinya sudah buntung." Menjawab Hee Thian Siang sambil mengelengkan kepala.

Khi Tay Cao yang mendengar keterangan itu badannya bergetar, alisnya yang tebal semakin dikerutkan, ia bertanya dengan hati cemas: "Go suteku itu sekarang masih hidup ataukah sudah mati? Dimana dia berada?" "Mati sih tidak, tetapi ia akan menjadi seorang cacat untuk selamanya, jikalau hendak menjagoi rimba persilatan, ia masih perlu berlatih beberapa tahun lagi." Menjawab Hee Thian Siang.

Sehabis berkata, ia lalu memberitahukan dimana letak Go Ing terluka.

Khi Tay Cao setelah mendengar keterangan itu, tanpa mengucapkan terima kasih lantas cengklak kudanya hendak pergi mencari. Hee Thian Siang memanggil dengan suara nyaring: "Sahabat she Kie, kau tidak boleh pergi begitu saja."

Khi Tay Cao merasa heran, maka ia bertanya: "Mengapa aku tidak boleh pergi begitu saja?"

Mata Hee Thian Siang ditujukan kepada kuda tunggangan ketua Khi-lian-pay itu, lalu berkata sambil tersenyum: "Pertaruhan kita di atas Hok-gu-san belum cukup satu tahun, sedangkan Go Ing kini sudah kehilangan sebelah kakinya, maka kudamu ini seharusnya sudah menjadi milikku." Khi Tay Cao yang mendengar perkataan itu alisnya berdiri, dan berkata dengan suara bengis: "Sebab musabab Go sute kehilangan sebuah kaki, apakah itu perbuatanmu yang melakukan serangan secara membokong?"

Hee Thian Siang mendongakkan kepala mengawasi awan di langit, lalu tertawa terbahak-bahak: "Hee Thian Siang meskipun usianya masih sangat muda, kepandaian ilmu silatnya belum tinggi, tetapi adalah hal kejujuran tidak akan kalah dengan orang lain, aku terutama paling benci kepada perbuatan orang-orang yang melakukan serangan secara menggelap."

Beberapa patah kata itu, membuat merah wajah Khi Tay Cao yang mendengarnya.

Hee Thian Siang melanjutkan perkataannya: "Apalagi pertaruhan kita waktu dulu, sudah ditetapkan dalam waktu satu tahun, siapa yang kehilangan kakinya, sekarang sebelah kaki Go Ing sudah putus, maka tidak perduli dipotong oleh siapa, menurut peraturan pertaruhan itu adalah aku yang menang, apakah kau dengan sikapmu sebagai ketua partai besar ada muka untuk mengingkari janjimu sendiri?"

Khie Tay Cao hampir tak dapat menjawab Hee Thian Siang itu, biji matanya berputaran, kemudian berkata: "Ucapanmu ini benar, Khi Tay Cao sebagai ketua partai besar, bagaimana dapat mengingkari janjinya, tetapi aku mempunyai tiga alasan, sekarang ini belum dapat memberikan kudaku ini kepadamu."

"Kalau memang ada alasannya, kau boleh ceritakan, alasan apa yang hendak kau kemukakan?"

"Sewaktu di gunung Hok-gu-san, kau kata bahwa Tong- samte dan Go sute dalam waktu satu tahun, mungkin tak dapat menjamin utuh kedua kakinya. Sekarang meskipun sebelah kaki Go sute sudah hilang tetapi Tong samte masih belum menjadi orang cacat. Ini berarti aku masih belum kalah seluruhnya, hanya baru kalah sebagian. saja."

"Alasanmu yang pertama ini memang cukup beralasan. Tetapi dalam pertaruhan yang sudah kalah setengah, bagaimana kau harus mempertanggung-jawabkan? Apakah kudamu yang punya empat kaki ini harus kau potong, dan kau berikan dua kakinya kepadaku?"

"Tiga alasan yang hendak kukemukakan, baru satu saja yang kujelaskan."

"Benar... bernar, aku agak terburu napsu, sekarang kupersilahkan kau mengemukakan alasanmu yang kedua."

Sikap Khie Tay Cao mendadak berubah, ia tertawa meringis dan berkata: "Waktu satu tahun masih belum cukup, Tong samteku selama ini dapat atau tidak menjamin sebelah kakinya, sudah tentu susah diramalkan. Tetapi apakah kau sendiri juga tidak ada kemungkinan akan dipotong sebelah kakimu?"

Sepasang alis Hee Thian Siang berdiri dengan sepasang mata yang tajam ia menatap ketua Khi-lian-pay itu, sedikitpun tidak merasa takut, katanya dengan sikap garang: "Apakah kau hendak mengandalkan senjatamu yang berat itu menggunakan kekerasan?"

"Jikalau aku hendak mengandalkan senjata tongkatku yang beratnya seratus lima puluh kati untuk memotong sebelah kakimu saja sungguh sangat mudah seperti membalikkan tangan memotes ranting potong saja..."

Hee Thian Siang yang mendengar perkataan itu tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, dengan gelangnya Sam- ciok Kong-hwan dipindahkan ke tangan kanannya, dan wajahnya mendadak berubah. Khie Tay Cao yang menyaksikan keadaan demikian, lalu menggoyangkan tangan dan berkata sambil tertawa: "Anak muda, jangan terlalu cepat naik darah. Meskipun aku tadi berkata demikian, tetapi aku selamanya merupakan orang yang pegang janjiku, apa yang kuucapkan akan kulaksanakan. Tadi sudah kujelaskan hari ini tiada maksud hendak mengadakan pertempuran denganmu, maka kakimu itu seandainya aku mau memotongnya juga harus tunggu pada waktu jika kita berjumpa lagi. Sekarang aku hanya ingin tanya padamu, alasan kedua telah kukemukakan tadi, pantas atau tidak?"

Kemarahan Hee Thian Siang pelahan mulai reda, ia berpikir sejenak, baru berkata sambil menganggukkan kepala: "Bukan saja pantas, bahkan sangat beralasan. Kedua alasan yang kau kemukakan tadi sudah cukup membuat aku sebelum tiba waktunya, tidak akan minta pertaruhan yang ku menangkan."

Dua alasan tadi meskipun sudah cukup, tetapi alasan ketiga aku masih perlu dengar, tapi aku masih belum dapat memikirkan apakah kau ada alasan ketiga yang akan kau kemukakan?" Demikian ia berkata pula.

"Alasanku yang ketiga ini aku tidak salahkan kalau kau tak dapat memikirkannya, itu adalah kudaku ini, sifatnya galak sekali, kecuali aku ia tidak akan mau menyerah ditunggangi oleh siapapun juga. Maka jangankan aku sekarang masih belum kalah pertaruhan denganmu, sekalipun waktu setahun itu sudah cukup, dan aku yang kalah, juga belum tentu kau dapat membawanya pergi." Berkata Kie Tay Cao sambil tertawa.

Hee Thian Siang yang mendengarkan itu menggelengkan kepala dan berkata: "Alasanmu ke satu dan kedua yang kau kemukakan, memang cukup beralasan. Tetapi alasanmu yang ketiga ini kurang tepat." "Mengapa tidak tepat? Apakah kau anggap bahwa kudaku yang sangat galak dan hanya aku yang dapat menunggangi, merupakan omong kosong belaka?" Tanya Kie Tay Cao.

Hee Thian Siang yang mendengarkan pertanyaan itu matanya ditujukan kepada kuda Cian-li-kiok-hwa-ceng, meskipun ia merasa bahwa kuda itu memang tampaknya galak, tapi bagaimana ia percaya bahwa dirinya yang memiliki kekuatan tenaga dalam cukup sempurna tak sanggup mengendalikannya?

Maka dengan perasaan agak penasaran ia berkata: "Mengenai persoalan tentang pertaruhan, baiklah kita bicarakan setahun kemudian, sekarang apakah kau bersedia meminjamkan kudamu itu kepadaku untuk ku coba?"

Tanpa ragu-ragu Khi Tay Cao turun dari kudanya, kuda itu diberikan kepada Hee Thian Siang, setelah itu ia berkata sambil tertawa: "Kalau kau ingin coba, cobalah! Tetapi kalau mendapat kesulitan, kau jangan sesalkan diriku."

Hee Thian Siang menyambukti les kuda, kemudian berkata sambil tersenyum: "Kau percaya kepada diriku, apa kau tidak takut kalau aku naik kudamu dan akan kabur jauh?"

Khi Tay Cao tertawa dan berkata: "Didalam jarak sepuluh pal, asal aku mengeluarkan siulan satu kali saja, kudaku ini pasti dapat mendengarnya dan bisa mencari aku sendiri. Jikalau kau bisa mengendalikannya berjalan bolak-balik dua puluh pal dan orangnya tidak jatuh dari atas kuda, tidak perlu bicara soal pertaruhan lagi, aku juga akan memberikan kudaku ini kepadamu."

Dalam otak Hee Thian Siang dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, ia lantas naik ke atas kuda, kuda itu tampak berdiri tegak tidak bergerak, tidak seperti kuda yang banyak tingkah, yang suka dinaiki oleh orang asing. Dengan tangan memegang les, Hee Thian Sian naik ke atas punggung kuda, dengan perasaan girang ia berkata sambil tertawa: "Peribahasa mengatakan: KUDA BAGUS PASTI MENGENAL MAJIKANNYA, lihat kuda itu tampak begini jinak terhadapku..."

Berkata sampai disitu kuda Cian-li-kiok-hwa-ceng yang semula berdiri diam tampak bergerak dengan tiba-tiba bergerak dan melesat bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, sehingga Hee Thian Siang yang masih duduk diatasnya dengan perasaan bangga terlempar ke atas tanah.

Selembar muka Hee Thian Siang menjadi merah, sementara itu kuda Cian-li-kiok-hwa-ceng pelahan-lahan sudah menghampiri Khie Tay Cao. Dengan perasaan bangga Khie Tay Cao mengelus-elus punggung kudanya, mulutnya mengeluarkan suara tertawa yang mengandung penuh ejekan.

Dengan muka kemerahan Hee Thian Siang bangkit dan berkata: "Kali ini tidak... dihitung!"

"Tidak dihitung, ya boleh, kau boleh coba sekali lagi!" Berkata Khi Tay Cao sambil tertawa.

Sementara itu Hee Thian Siang tiba-tiba mengeluarkan ilmunya meringankan tubuh dengan satu gerakan yang manis, ia sudah berada di atas punggung kuda.

Kuda itu mengeluarkan suara meringkik yang nyaring, kaki depan diangkat tinggi, sehingga berdiri seperti manusia.

Tetapi Hee Thian Siang sudah siap sedia, kedua kakinya menekan kencang perut kuda, dengan kekuatan sepenuhnya hingga sekujur badannya seperti terpaku di atas punggung kuda. Maka bagaimanapun juga kuda itu meronta, juga tidak berhasil melemparkan dirinya. Kuda itu yang tak berhasil melemparkan Hee Thian Siang nampaknya sangat marah, ia berkali-kali mengeluarkan suara hebat, empat kakinya bergerak dan lari bagaikan terbang.

Hee Thian Siang pegang kencang lesnya, biarpun kuda itu lari bagaikan terbang, tetapi tidak berhasil menjatuhkannya. Sementara itu Hee Thian Siang yang berada diatasnya diam- diam mengakui bahwa kuda itu memang pantas mendapat julukan Cianli yang berarti bisa lari ribuan pal jauhnya. Larinya kuda itu demikian pesatnya, sehingga dalam waktu sekejap saja sudah melalui banyak puncak gunung.

Setiap kali menjumpai tempat-tempat yang agak tinggi atau pepohonan yang merintangi dijalan, kuda itu selalu mengambil jalan memutar, bagaimanapun juga tidak mengurangi kecepatannya, bahkan kadang-kadang dilalui dengan jalan melompat tinggi.

Hee Thian Siang yang duduk di atas kuda dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya diam-diam hatinya memikirkan apabila berhasil bisa mendapatkan kuda itu, dapat direndengkan dengan kuda Ceng-hong-kie milik Tiong-sun Hui Kheng, kalau kedua kuda itu bisa berjalan bersama-sama dan mengadakan perjalanan ke seluruh tempat, bukankah itu merupakan suatu hal yang sangat menyenangkan?

Selagi dirinya masih melamun, dibelakan dirinya terdengar suara siulan panjang, Hee Thian Siang terkejut, apakah dalam waktu sekejap itu kudanya sudah lari sejauh sepuluh pal?

Kuda itu benar saja begitu mendengar siulan Khie Tay Cao, lantas putar balik kepalanya, tetapi ia agaknya sengaja hendak main gila terhadap Hee Thian Siang, ia sengaja mencari jalan yang berbahaya atau terbang tinggi melompati jurang yang curam. Hee Thian Siang yang baru menaiki sebentar saja sekujur badannya sudah basah kuyup, pahanya dirasakan ngilu, seolah-olah habis melakukan pertempuran ratusan jurus dengan musuh tangguh.

Ketika kuda itu kembali ke tempat semula, Kie Tay Cao masih berdiri tetap di tempatnya, sehingga Hee Thian Siang diam-diam merasa girang. Ia pikir sudah dapat mengendalikan kuda lari bolak-balik dua puluh pal jauhnya, ia tidak tahu bagaimana sikap ketua Kie-lian-pay apakah ia masih pegang janjinya atau tidak? Apakah ia bersedia menghadiahkan kuda tunggangannya itu?

Sementara hatinya merasa girang, nasib buruk menimpa dirinya. Kuda itu dengan tiba-tiba keluarkan suara nyaring, dan kemudian meloncat setinggi tiga tombak.

Tempat itu merupakan lereng di tanah pegunungan, tidak terhalang oleh pohon, juga tidak ada jurang, bagaimana Hee Thian Siang menduga bahwa kuda itu bisa lompat demikian tinggi?

Dalam keadaan terkejut demikian rupa, Hee Thian Siang masih tetap menggunakan cara lama, ia tengkurapkan tubuhnya ke depan, kedua kakinya mengepit kencang perut kuda, seolah-olah membantu bergeraknya kuda itu. Ia juga siap kalau kuda itu turun ke tanah, jangan sampai terbalik, maka ia menggunakan tenaganya dan memegang kencang lesnya.

Tindakan demikian itu sebetulnya merupakan suatu tindakan yang tepat untuk mengendalikan kuda binal, tetapi kuda yang dinaiki itu karena merupakan kuda luar biasa dan sifatnyapun sangat galak dan buas, maka setelah sepanjang jalan lompat-lompat dan lari tidak berhasil melemparkan Hee Thian Siang dari tempatnya, dalam hati rasanya sangat penasaran. Sekarang setelah dari jauh ia tampak majikannya berada di depannya, ia lalu mengeluarkan kepandaiannya untuk membanting orang dari atas punggungnya.

Sepanjang jalan Hee Thian Siang selalu memperhitungkan, ia tahu bahwa kuda itu sekali lompat tinggi, sudah mencapai jarak tiga tombak lebih. Tetapi kali ini sungguh di luar dugaannya, kuda itu hanya melompat tinggi setombak lebih saja, lantas menurunkan empat kakinya dengan berbareng menginjak tanah, dan kaki itu demikian kerasnya menginjak di atas batu.

Gerakan kuda serupa itu sebetulnya mengandung daya banting yang sangat hebat. Jikalau penunggang kuda biasa atau orang yang memiliki kepandaian biasa saja sudah pasti akan terpental atau hancur isi perutnya dan jatuh terguling dari atas kuda.

Hee Thian Siang tidak berjaga-jaga bahwa tentunya kuda itu demikian pesat, ia masih menjepit perut kuda dengan kedua kakinya, maka ketika kuda itu menginjak tanah, ia hanya terpental setinggi lima-enam kaki dan kemudian terlempar di tanah.

Baru saja Hee Thian Siang jatuh di tanah, Khi Tay Cao sudah menghampiri sambil tertawa tergelak-gelak, setelah itu ia lompat diatas kudanya, dan tanpa berhenti lagi ia sudah larikan kudanya ke tempat Go Ing terluka. Sebelum meninggalkan Hee Thian Siang ia berkata dengan suara dingin: "Hee Thian Siang hari ini kau boleh merasa beruntung, tetapi didalam waktu satu tahun kau harus hati-hati menjaga kedua kakimu."

Hee Thian Siang sebetulnya hendak membuka mulut, tetapi baru saja mengerahkan tenaganya, badannya dirasakan sakit. Ia kini baru sadar betapa hebat pengaruh bantingan kuda tadi, yang bisa membuat  dirinya  terluka bagian dalam, maka ia tidak berani berlaku gagah-gagahan lagi, ia memejamkan matanya untuk mengatur napasnya.

Masih untung ia mempunyai dasar sangat kuat, lukanya juga tidak terlalu parah, maka ia setelah lama mengatur pernapasannya, sudah sehat seperti biasa. Tetapi karena ia dua kali dijatuhkan oleh kuda itu, dalam hatinya merasa heran, sepanjang jalan masih merasa tidak senang.

Dari gunung Oey-san, Hee Thian Siang melanjutkan perjalanannya ke gunung Tiam-cong, sebetulnya ia boleh melalui propinsi ??-yan terus menuju ke propinsi In-lam, tapi oleh karena jalan itu merupakan jalan yang sudah dilalui kemarin, maka ia tidak mau melalui jalan itu lagi. Ia telah mengambil keputusan hendak berjalan melalui ke propinsi In- lam.

Sepanjang jalan ia tidak menjumpai hal-hal aneh, juga tidak menemukan jejak Ca Bo Kao dan Say Han Kong atau Oe-tie Khao.

Di daerah pegunungan Bu-ling-san di propinsi Ouw-lam, karena malam itu turun hujan, Hee Thian Siang terpaksa hendak menginap di sebuah kuil yang dibangun sangat sederhana. Tetapi ketika matanya ditujukan kepada kuil itu, terkejutlah hatinya, sebab kuil itu meskipun keadaannya sudah tua dan banyak yang rusak, tetapi papan mereknya terdapat tulisan PHO-HIE-HEE-WAN, empat huruf besar masih baru pula.

Perkataan "Hee-Wan" itu tidak ada apa-apa yang mengherankan, ia hanya merasa heran terhadap perkataan "Pho-Hie", sebab kuil yang sudah tua dan rusak keadaannya itu, apakah ada hubungannya dengan kuil Pho-hie-to-kwan di gunung Tiam-cong-san yang dianggap sebagai tempat keramat? Sambil berpikir tangannya mengetuk pintu tak lama kemudian, seorang imam berusia kira-kira tiga puluh tahun, keluar membuka pintu, bertanya kepadanya: "Apakah Siao sicu ingin menginap? Kuil kami ini kamarnya kecil-kecil, sebaiknya mencari lain tempat saja."

Hee Thian Siang melihat imam yang menolak dirinya menginap didalam kuil itu, sinar matanya sangat tajam, kedua jidatnya juga menonjol tinggi, jelas ia memiliki kepandaian ilmu yang tinggi. Hingga ia mengetahui bahwa apa yang diduganya itu tidaklah salah, tempat ini pasti ada hubungan erat dengan kuil Pho-hie-to-kwan di gunung Tiam-cong.

Imam tadi setelah menolak Hee Thian Siang hendak menutup pintunya lagi, sedangkan Hee Thian Siang yang tertarik oleh perasaan aneh lantas mencegahnya dan berkata sambil tertawa: "Malam gelap dan hujan deras seperti ini apa lagi di daerah pegunungan, dimana aku harus mencari tempat lain untuk menginap? Orang beragama seharusnya mengutamakan cinta kasih, bagaimana sebutan Totiang yang mulia? Bolehkah totiang ijinkan aku Hee Thian Siang menginap untuk sementara saja, aku juga ingin berjumpa dengan pemimpin kuil ini."

Imam itu karena mendengar ucapan Hee Thian Siang demikian, ia tahu jikalau ditolak lagi, pasti menimbulkan rasa curiga Hee Thian Siang, maka lantas rubah sikapnya, ia berkata sambil tertawa: "Pinto Hian-ceng, kalau Hee siao-sicu tidak anggap kotor tempat ini, silahkan masuk saja."

Sehabis berkata demikian, lantas berdiri tegak dan memberi hormat mempersilahkan Hee Thian Siang masuk.

Oleh karena perubahan sikap yang terlalu cepat imam itu, malah menimbulkan perasaan curiga Hee Thian Siang, tetapi ia tidak kentarakan kecurigaannya, dengan perlahan ia berjalan masuk ke dalam kuil. Hian-ceng totiang berkata sambil tertawa: "Harap Hee siao sicu memasang dupa di hadapan Sam-ceng Su-cow dahulu, Hian-ceng hendak melaporkan kepada Kwan-cu, sebentar lagi akan ajak sicu ke kamar tempat menginap."

Mendengar kuil itu ternyata masih ada Kwan-cu (Ketua Kuil) yang lain, Hee Thian Siang lantas menerima baik permintaan imam tadi, ia mengambil beberapa batang hio untuk sembahyang, tapi tiba-tiba ia pasang mata. Benar saja Hian-ceng masuk ke kamar sebelah kanan, berkata dengan suara perlahan kepada seorang imam tua berjubah putih, agaknya sedang melaporkan tentang kedatangannya.

Imam tua berjubah putih itu duduk bersila di atas tempat tidurnya, rambut maupun jenggot dan kumisnya semua sudah putih, mungkin usianya sudah lanjut. Setelah mendengar laporan Hian-ceng tidak mendengarkan perkataan, juga tidak menunjukkan gerakan apa-apa.

Hian-ceng mengundurkan diri dari kamar itu. Hee Thian Siang lalu bertanya sambil tersenyum: "Kalau begitu, kuil ini masih ada Kwan-cu tua, apakah Hee Thian Siang harus pergi menemuninya supaya jangan dianggap kurang sopan?"

"Kwancu tua usianya sudah terlalu lanjut, takut ketemu orang asing, Hee siaocu tidak perlu terlalu pegang kepada aturan, silahkan istirahat didalam kamar." Berkata Hian-ceng sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

Hee Thian Siang mengikuti Hian-ceng memasuki kamar sebelah kiri, namun dalam hatinya selalu merasa bahwa kuil tua yang sudah rusak keadaannya itu agaknya diliputi oleh suasana misteri.

Kamar yang berada di sebelah Barat itu perlengkapannya lebih sederhana, hanya sebuah pembaringan, dua buah kursi bambu, Hee Thian Siang lalu berkata sambil mengerutkan alisnya: "Kalau Hee Thian Siang rebah diatas pembaringan totiang ini bukanlah..."

Belum habis ucapannya, Hian-ceng sudah mengambil tikar diatas pembaringan dan digelar di tanah, ia lalu berpaling dan berkata sambil tertawa: "Kuil kecil di pegunungan yang sepi, keadaan sangat rusak, pinto merasa malu tidak ada tempat yang baik untuk melayani tetamu, Hee siao sicu silahkan beristirahat di atas pembaringan, biarlah Hian-ceng yang duduk di atas tikar ini."

Hee Thian Siang mengerti maksud Hian-ceng, yang hendak menjaga dirinya, maka alisnya lalu terkesiap, matanya ditujukan keluar jendela, setelah itu dia berkata sambil tertawa: "Sekarang hujan sudah mulai berhenti, karena Hee Thian Siang ada urusan penting, maka begitu terang tanah, perlu segera berangkat. Sebetulnya tidak memerlukan hidup jikalau totiang tidak menganggap aku mengganggu ketenanganmu, marilah kita duduk bersama mengobrol untuk melewatkan malam ini."

Hian-ceng menuangkan teh untuk Hee Thian Siang, matanya berputaran kemudian bertanya sambil tersenyum: "Hee siao-sicu agaknya ingin bertanya, silahkan bicara terus terang saja!"

Hee Thian Siang sebetulnya sudah melihat bahwa Hian- ceng tojin itu memiliki kepandaian cukup tinggi, sekarang ia telah mengetahui betapa cerdiknya imam itu maka berkata sambil tertawa: "Numpang tanya, kuil Pho-hei-hee-wan totiang ini dengan Pao-hie-kwan di gunung Tiam-cong-san, masih ada hu..."

Mata Hian-ceng mendadak memancarkan sinar aneh, dan memotong ucapan Hee Thian Siang yang belum habis: "Kalau Hee siao-sicu sudah tahu, pho-hie-to-kwan di gunung Tiam-cong-san seharusnya Siao-sicu orang dari golongan persilatan. Bolehkah sebelum pinto menjawab pertanyaanmu lebih dulu minta siao-sicu menerangkan asal usul dan golongannya?"

"Di hadapan orang yang mengerti, tidak perlu membohong, Hee Thian Siang mengerti sedikit ilmu silat, kini sedang mengadakan perjalanan dan merantau didunia kangouw, tetapi tidak termasuk orang dari partai Siao-lim, Bu-tong, Tiam-cong, Ngo-bi, Kun-lun, Kie-lian dan Swat-san!"

Hiang-ceng Tojin yang mendengar perkataan itu bertanya pula dengan terheran-heran: "Kalau begitu siapakah gurumu?"

Hee Thian Siang menyebutkan nama gurunya sambil berdiri tegak, dan meluruskan kedua tangannya.

Mendengar Hee Thian Siang menyebutkan nama gurunya dengan terus terang, bukan kepalang terkejutnya Hian-ceng Tojin, karena jawaban itu agaknya di luar dugaannya.

Sementara itu Hee Thian Siang sudah bertanya: "Apakah Totiang juga termasuk anggota Tiam-cong-pay?"

Hian-ceng mengerti sudah tidak dapat sembunyikan dirinya lagi, maka juga menjawab terus terang: "Ketua Tiam-cong- pay, Thiat-kwan Totiang adalah suhengku, kunjugngan Hee siaosicu secara kebetulan, ataukah memang disengaja?"

Tampak sikap Hian-ceng yang begitu sangat hati-hati, Hee Thian Siang diam-diam berpikir: apakah dalam kuil tua yang sudah rusak ini ada mengandung rahasia besar? Mengapa imam ini agaknya curigai diriku?

"Hee Thian Siang memang ada urusan hendak pergi ke barat laut, hanya secara kebetulan saja lewat kuil ini karena melihat nama kuil ini yang kesamaan dengan kuil di gunung Tiam-cong-san, kukira tentu ada hubungannya dengan Tiam- cong, harap totiang jangan salah paham..." demikian ia menjawab.

Hee siao-sicu, maaf harap jangan anggap pinto curiga, sebab jago pedang ketiga Liong-hui Kiam-khek su-to Wie, tak lama berselang bertempur dengan musuh tangguh Leng-po Giok-lie dari Lo-hu-pay di depan kuil ini, pertempuran sengit itu berlangsung sehari penuh. Karena pinto lihat siao-sicu seorang yang memiliki kepandaian silat maka pinto mengira adalah kawan Leng-po Giok-li yang mendak memberi bantuan."

Mendapat tahu bahwa bibi Ca-nya sudah bertempur satu hari dengan Liong-hui Kiam-Khek, Hee Thian Siang merasa kuatir keselamatannya, tapi diluarnya tidak menunjukkan perubahan apa-apa, hanya merasa agak heran ia bertanya: "Memang sudah lama kedua golongan itu saling bermusuhan, sayang kedatanganku agak terlambat juga tidak dapat menyaksikan pertempuran dari dua jago itu, yang tentunya sangat hebat. Bagaimana kesudahannya pertempuran itu? Siapa yang mendapat kemenangan?"

Karena kecerdikan Hee Thian Siang memainkan peranan kecurigaan Hian-ceng perlahan-lahan lenyap. Katanya sambil tersenyum:

"Leng-po Giok-lie setelah hampir kehabisan tenaga, terkena serangan pedang Su-to suheng sampai tujuh kali..."

Hee Thian Siang terperanjat, tetapi ia pura-pura memberi pujian: "Ilmu pedang Hui-hong-u-liu-hoat golongan Tiam-cong, benar-benar hebat.  "

Berkata baru sampai disitu, sudah dipotong oleh Hiang- ceng: "Tetapi Su-to suheng ketika melancarkan serangannya, mungkin karena terlalu bernafsu hingga agak lalai, maka juga terkena seringan ilmu Pan-siang-ciang Leng-po Giok-li tiga kali banyaknya."

Kini Hee Thian Siang baru berani menanya: "Kalau begitu, bukankah mereka terluka keduanya? Tetapi entah siapa yang terluka lebih parah? Karena ilmu Pan-sian-ciang dari Lo-hu- pay adalah ilmu terampuh golongan tersebut. Liong-hui Kiam- khek yang terkena sampai tiga kali apakah tidak membahayakan jiwanya?"

Hee Thian Siang sangat cerdik, ia sengaja tidak menanyakan keadaan Leng-po Giok-li sebaliknya menanyakan keadaan Liong-hui Kiam-khek, seolah-olah perhatiannya ditujukan kepada jago pedang Tiam-cong itu.

Benar saja Hian-ceng dengan tidak merasa curiga sama sekali menjawab: "Pengetahuan Hee siao-sicu benar-benar sangat luas, katamu itu memang benar. Su-to suheng yang terkena serangannya sampai tiga kali, mendapat luka bagian dalam sangat parah. Serangan pedang yang mengenakan diri Len-po Giok-li tidak mengenakan bagian-bagian yang terpenting, hanya terlalu banyak keluar darah, barangkali dia tidak akan sembuh dalam waktu singkat."

Mendapat keterangan bibinya tidak mendapat bahaya, hati Hee Thian Siang mulai lega. Kembali ia bertanya sambil tersenyum: "Dua orang itu semuanya merupakan jago-jago kenamaan dalam rimba persilatan, Hee Thian Siang sebetulnya ingin sekali berjumpa dengan mereka, apakah mereka sekarang masih berada dalam kuil ini...?"

"Jangankan Leng-po Giok-li dan su-to suheng yang merupakan musuh bebuyutan, sudah tentu tidak mau singgah dalam kuil ini, sedangkan su-to suheng sendiri juga tidak mau menginjak pintu kuil. Mereka dengan membawa luka masing- masing melanjutkan perjalanannya menuju ke Barat laut." "Pertempuran antara dua musuh kuat, kebanyakan terluka dua-duanya. Hee Thian Siang kebetulan hendak melakukan perjalanan ke barat laut, apa masih ada kesempatan berjumpa Thia-kwan totiang, pasti akan berusaha untuk mendamaikan dua golongan itu, supaya menghapuskan segala permusuhannya."

Mendengar ucapan Hee Thian Siang, Hian-ceng lantas memuji nama Buddha, setelah itu berkata: "Maksud Hee siao- sicu ini memang baik tapi rasanya tidak perlu capaikan hati, sebab dua golongan itu sejak dahulu sudah bersumpah tidak mau hidup bersama, permusuhan yang terlalu dalam itu tidak mungkin dapat dihapuskan."

Saat itu, dengan mendadak Hee Thian Siang merasa heran terhadap sikap Ca Bu Kao, bukankah bibi itu sudah minta bantuannya duta bunga mawar agar Liong-hui Khiam-khek kekasihnya bisa baik lagi terhadapnya? Dengan cara bagaimana sisa bertempur mati-matian dengan kekasihnya sendiri? Bukankah itu bertentangan dengan kemauannya semula?

Hian-ceng yang menyaksikan Hee Thian Siang seolah-olah sedang berpikir, merasa heran, maka lalu bertanya: "Hee siao- sicu, kau sedang memikirkan apa?"

"Tidak apa-apa, aku hanya sedan berpikir dalam dunia ini tiada kebencian yang tidak dapat dihapuskan, tiada permusuhan yang tidak dapat didamaikan, maka aku sedang mencari daya upaya, dengan cara bagaimana supaya permusuhan dua golongan ini dapat didamaikan?"

Hian-ceng selagi hendak menggelengkan kepalanya, Hee Thian Siang sudah melanjutkan kata-katanya sambil mengawasi luar jendela: "Hujan sudah berhenti, Hee Thian Siang sudah mengganggu ketenangan Totiang hampir setengah malam, di sini kuucapkan banyak-banyak terima kasih, tolong sampaikan terima kasihku kepada kwancu."

Sehabis berkata demikian, ia lalu bangkit dan minta diri. Hian-ceng juga tidak mencegah, ia antarkan Hee Thian

Siang keluar dengan membawa lentera.

Ketika berjalan melalui ruangan tengah, dengan tidak sengaja Hee Thian Siang menyaksikan suatu kejadian aneh.

Rupanya imam tua berambut putih yang oleh Hian-ceng dikatakan sebagai ketua kuil itu, ketika Hee Thian Siang lewat dihadapannya, dengan disengaja atau tidak, imam tua itu membuka mulutnya, yang ternyata sudah tidak mempunyai lidah.

Hee Thian Siang masih dalam keadaan keheranan, imam tua itu sudah mengulurkan tangannya yang ternyata juga sudah tidak ada jari-jarinya.

Hian-ceng yang berjalan di depan, seolah-olah sudah mendapat firasat, segera berpaling mengawasi Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang mengerti bahwa gerakan imam tua itu pasti mengandung maksud dalam. Untuk menjaga supaya jangan sampai menimbulkan kecurigaan Hian-ceng, ia buru- buru memasukkan tangannya ke dalam saku, dan mengeluarkan sepotong uang emas, diberikan kepada Hian- ceng katanya berkata: "Hian-ceng Totiang, uang ini sekedar untuk bantu uang minyak, harap Totiang terima dengan senang hati."

Oleh karena perbuatan Hee Thian Siang itu, benar saja Hian-ceng tidak melihat kalau imam tua itu sudah membocorkan rahasia. Hian-ceng menggelengkan kepala menolak pemberian Hee Thian Siang, katanya sambil tersenyum: "Kita toh sama-sama orang persilatan, harap Hee sicu jangan pandan sebagai orang luar."

Hee Thian Siang terpaksa menyimpan uangnya lagi, setelah itu ia memberi hormat dan minta diri.

Berjalan kira-kira setengah pal, Hee Thian Siang merandek, kelakuan Hian-ceng dan perbuatan imam tua tadi, selalu mengganggu pikirannya.

Imam tua itu kalau benar sebagai Kwancu kuil itu mengapa tidak mempunyai lidah dan jari tangan? Siapakah yang menganiayanya?

Orang-orang Tiam-cong terkenal sebagai orang berjiwa kerdil, kalau imam itu dianiaya oleh orang luar, sudah pasti menuntut balas, juga tidak mungkin hal itu tidak tersiar di luar.

Apabila perbuatan orang-orang Tiam-cong sendiri, maksudnya tentu untuk mencegah imam tua itu membuka rahasia, sebab dengan dipotong lidah dan jarinya sudah tentu membuat orang tidak bisa omong dan menulis. Tetapi rahasia apakah hingga sampai perlu menganiaya kepada imam tua itu demikian rupa?

Hee Thian Siang memikir bolak-balik, akhirnya menarik kesimpulan, imam tua itu sengaja memberitahukan padanya, perbuatan itu pasti dilakukan oleh orang Thiam-cong sendiri.

Tetapi ia masih belum dapat memikirkan apabila benar perbuatan itu dilakukan oleh orang Thian-cong sendiri, mengapa tidak dibunuh saja? Mengapa diperlakukan demikian kejam dan mengapa pula harus diam dalam kuil Pho-hie-hee- wan?