Makam Bunga Mawar Jilid 05

 
Jilid 05

Hok Siu In yang menyaksikan keadaan Hee Thian Siang demikian, mengeluarkan suara dari hidung!

Manusia memang aneh, Hok Siu In yang baru saja mengeluarkan suara dari hidung, tiba-tiba ia merasakan bahwa perbuatan itu kurang pantas, hingga wajahnya merah seketika, dan untuk menutupi rasa malunya, ia lalu membuka gulungan pedang di tangannya, sehingga berubah menjadi sebilah pedang tipis yang sangat tajam.

Hee Thian Siang ketika mendengar suara dari hidung Hok Siu In tadi, ia terkejut dan merasa heran. Ia berpaling dan hendak menanyakan sebabnya, telah tampak olehnya gadis itu sedang memeriksa pedang pusakanya!

Selagi Hok Siu In hendak mencoba pedangnya, kera kecil putih itu sudah lari dan mengejar majikannya, dengan cara yang genit sekali kera kecil itu lompat melesat ke dalam pelukan majikannya.

Gadis itu nampaknya begitu sayang kepada binatang kesayangannya, kera itu dipeluknya dan lalu melarikan kudanya lebih cepat. Hee Thian Siang menyaksikan berlalunya gadis bersama kuda tunggangannya yang luar biasa dan dua kawannya yang aneh-aneh, coba mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dan mencoba menggunakan ilmunya untuk menyampaikan suaranya ke jarak yang jauh, ia memanggil dengan suara nyaring: "Nona Tiong-sun, harap berhenti dulu!"

Gadis di atas kuda itu ketika mendengar panggilan Hee Thian Siang, sebentar menarik kudanya dan memutar kepalanya, dari dalam pelana kudanya ia mengambil sebuah benda seperti terompet dan diletakkan dalam bibirnya lalu bertanya sambil tertawa: "Kau siapa, bagaimana mengetahui asal-usulku?"

Hee Thian Siang dan Hok Siu In semula agak heran, karena suara gadis itu kedengaran demikian tegas, selagi mereka merasa kagum akan ketinggian ilmu tenaga dalam gadis itu, ketika menampak benda di mulutnya berubah ia sadar bahwa gadis itu menggunakan alat pengeras suara di mulutnya yang bentuknya seperti terompet.

"Namaku Hee Thian Siang, kuda tunggangan Tiong-sun apakah kuda Ceng-hong-kie yang dahulu menjadi milik Say Han Kong yang kemudian telah kau menangkan dengan jalan pertaruhan?" demikian Hee Thian Siang menjawab.

"O, kiranya kau kenal dengan Say Han Kong? Pantas kau dapat menduga asal-usulku dan mengetahui namaku. Ada urusan apa kau memintaku untuk berhenti?"

Ditanya demikian Hee Thian Siang merasa gugup hingga wajahnya kemerahan, tetapi ia masih berusaha untuk menjawab: "Aku merasa kau terlalu pintar bertaruhan, maka aku juga ingin mencari suatu kesempatan untuk mencoba bertaruh denganmu!" Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu dari pelana kudanya mengambil sebuah kaca untuk melihat jarak jauh, kaca itu ditujukan kepada Hee Thian Siang dan Hok Siu In, setelah itu ia tetap menggunakan alat pengeras suara tadi dan berkata kepadanya: "Kuda Say Han Kong yang didalam dunia ini tidak ada duanya, toh kalah dalam tanganku, kau ingin bertaruh denganku, apakah kau tidak takut akan kalah?"

"Mengapa takut kalah? Di selat gunung Bu-hiat di kaki gunung Tiao-in-hong aku pernah mengadakan pertaruhan dengan Sucimu Bu-san Sian-cu Hwa Ji Swat!"

Ucapan itu mengejutkan Tiong-sun Hui Kheng, gadis itu tampak berpikir sejenak kemudian berkata: "Kalau demikian halnya, kita nanti coba mencari kesempatan untuk bertemu lagi di gunung Oey-san di puncak Thian-tu-hong pada nanti tanggal enam belas bulan dua belas akan diadakan pertemuan besar, kau barangkali juga akan kesana! Sekarang aku tak akan mengganggu kesenangan kalian, sampai bertemu dilain waktu di puncak Thian-tu-hong di daerah gunung Oeu-san!"

Sehabis berkata demikian, kuda Ceng-hong-kienya lalu dipacu dan sebentar kemudian sudah menghilang didalam rimba yang lebat!

Hee Thian Siang ketika mendengar ucapan Tiong-sun Hui Kheng yang mengatakan padanya "Tidak akan mengganggu kesenangan kalian!" agaknya sudah salah paham, agaknya ia bersama Hok Siu In disangkanya sepasang kekasih, maka diam-diam ia mengerutkan alisnya.

Selagi ia hendak berkata kepada Hok Siu In, tetapi nona itu ternyata sudah pergi tanpa pamit, ia hanya melihat berkelebatnya bayangan hitam dan kemudian sudah menghilang dijalan kecil di puncak gunung itu. Selagi berdiri termangu memikirkan diri dua gadis tadi, diantara dinding bukit terdapat beberapa baris tulisan yang digores dengan ujung pedang, tulisan itu maksudnya: "Orangnya patut dihormati! Patut dikagumi! Patut dicintai! Berusaha terus dan jangan lupa perjanjian di atas gunung Ngo-bie pada nanti tanggal dua puluh bulan lima, tahun depan!

Hee Thian Siang setelah membaca tulisan itu akhirnya ia dapat menebak bahwa yang dimaksudkan dengan kata-kata "patut dihormati" adalah ditujukan kepada Tiong-sun Hui Kheng, karena gadis itu meskipun sudah mendapatkan benda pusaka peninggalan Tay-piat Siang-jin tetapi tidak mementingkan diri sendiri, sebaliknya menurut peraturan dunia Kang-ouw ia menghadiahkan pedang pusakanya Liu- yap Bin-si-kiam kepada Hok Siu In.

Sedangkan kata-kata "patut dikagumi" yang dimaksudkan ialah Tiong-sun Hui Kheng yang dapat mengendalikan kuda galak dan menjinakkan binatang aneh berbulu emas serta kera putih kecil.

Sementara barisan tulisan ketiga yang dikatakan "patut dicintai" kata itu seolah-olah mengandung perasaan cemburu yang besar sekali.

Terutama kata-kata "berusahalah terus" kata-kata itu mengandung dua arti. Apakah ia boleh berusaha terus untuk mendapatkan gadis yang patut dihormati, yang patut dikagumi dan patut dicintai itu, ataukah suruh ia berusaha mempertinggi ilmu silatnya, supaya dapat digunakan untuk bekal pertandingan yang akan diadakan nanti di puncak gunung Ngo-bie-san. Hee Thian Siang lama memikirkan persoalan ini, tetapi ia semakin memikir semakin bingung, sebab dalam pesiarnya ke gunung Tay-pit-san hari itu, meskipun secara kebetulan menemukan Tiong-sun Hui Kheng dan dapat menyaksikan benda pusaka peninggalan Tay-piat Sianjin, tetapi benda itu sudah menjadi milik Hok Siu In sedang ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa.

Karena Tiong-sun Hui Kheng sudah salah anggap dirinya menjadi kekasih Hok Siu In, maka di kemudian hari kalau hendak berkenalan dengannya pasti akan mendapat rintangan yang tidak sedikit.

Dan Hok Siu In sendiri nampaknya juga seperti tumbuh benih cinta terhadap dirinya.

Dalam pertandingan yang akan diadakan di puncak Ngo- bie-san nanti, gadis itu pasti akan berusaha untuk mendapatkan kemenangan, ditambah lagi kalau rasa cemburunya, hal mana mungkin akan menyulitkan dirinya sendiri.

Dengan pikiran bimbang Hee Thian Siang seorang diri turun dari puncak gunung dengan menyusuri daerah gunung Tay-piat-san, ia melanjutkan perjalanannya ke gunung Oey- san dengan melalui propinsi An-hui.

Pada tanggal lima belas bulan dua belas di puncak Thian- tu-hong daerah gunung Oey-san telah kedatangan tiga tokoh dari partai Bu-tong-pay. Mereka adalah ketuanya, Hong-hwat Cinjing, salah seorang dari tujuh partai penting Bu-tong, ialah It-tim-cu dan satu lagi adalah seorang tua, usianya yang paling tinggi, dia adalah suheng Kong-hwat Cinjin, lantaran suatu kesalahan telah dihukum dua puluh tahun menghadap tembok oleh ketuanya yang dahulu, dan yang paling belakang ini sudah dibebaskan karena hukumannya sudah cukup, dia adalah Kong-kong Totiang.

Maksud partai Bu-tong, Tiam-cong dan Lo-hu mengundang partai Kun-lun mengadakan pertemuan itu sebetulnya hendak menanyakan tentang senjata rahasia duri berbisa, tetapi mengingat semuanya adalah orang-orang persilatan, apabila dalam pembicaraan terdapat perselisihan paham sehingga menerbitkan onar, kemungkinan itu memang ada. Maka ketua partai Kun-lun The Wie Cu juga mengundang sahabat karibnya Peng-pek Sin-kun yang menjadi ketua Swat-san-pay dan Hian-hian Sianlo ketua Ngo-bie-pay! Oleh karena itu pihak yang mengundang dan pihak yang diundang masing-masing terdiri dari tiga partai besar. Orang rimba persilatan yang mendengar kabar, yang datang untuk menyaksikan, jumlahnya juga tidak sedikit. Maka kedua pihak pernah mengadakan sesuatu perjanjian, yang membatasi jumlah orang-orang kedua pihak, tetapi jumlah orang yang datang untuk menyaksikan sudah tentu tak bisa dibatasi. Hanya orang-orang dari enam partai yang bersangkutan setiap partai hanya dapat diwakili oleh tiga orang.

Tiga orang dari Bu-tong-pay yang lebih dahulu tiba ditempat pertemuan, Hong-hwat Cinjin sebagai ketuanya berkata kepada suhengnya Hong-kong Totiang: "Tak disangka ketua Kun-lun-pay Tie-hui-cu tak mau mengakui kesalahannya mengenai senjata rahasia duri berbisa, bahkan mengundang Swat-san dan Ngo-bie untuk membantu pihaknya! Apabila tokoh-tokoh persilatan yang tidak sedikit jumlahnya nanti juga membantu mengobarkan kekeruhan, maka pertemuan di puncak Thian-tu-hong ini pasti tidak bisa berakhir dengan baik, akibatnya kedua pihak nanti akan mengadu kekuatan dan kepandaian. Karena sebagaimana umumnya orang-orang persilatan siapakah yang tak ingin mendapat kemenangan? Tetapi kalau hal itu nanti benar-benar terjadi, maka permusuhan antara partai dan golongan sudah tentu akan bertambah dalam. Untuk selanjutnya dunia Kang-ouw barangkali akan terjadi pertumpahan darah berlarut-larut yang tak henti-hentinya."

Hong-kong Totiang memuji nama Buddha, setelah itu baru berkata: "Ciang-bun Sute, perlu apa kau berpikiran demikian? Sudah dua puluh tahun aku menjalani hukuman menghadap tembok, namun demikian hatiku terhadap nama dan kedudukan masih belum tawar, apalagi manusia biasa! Peribahasa mengatakan: Siapa yang menanam bibitnya dialah yang akan memetik buahnya! Orang yang diam-diam menggunakan senjata duri berbisa untuk membinasakan tiga saudara kita, orang itu sesungguhnya sangat kejam sekali! Jikalau tidak dihajar adat untuk memberi peringatan kepada yang lainnya maka rimba persilatan nanti benar-benar tidak akan mengalami ketenangan!"

Baru berkata sampai di situ, di bawah puncak Thian-tu- hong terdengar suara orang memuji nama Budha, kemudian disusul oleh kata-katanya: "Sahabat dari Bu-tong ternyata sudah datang demikian pagi! Pin-nie dan Ciu susiok semula masih mengira adalah orang pertama yang tiba ditempat ini!

Hampir berbareng pada saat suara itu ditutup, seorang pendeta wanita berpakaian putih dan seorang lelaki tua berwajah merah segar dan berpakaian kain tenun, sudah berdiri di puncak Thian-tu-hong dan memberi hormat sebagaimana layaknya kepada Hong-hwat Cinjing, Hong-kong Totiang dan It-im-cu.

Pendeta wanita yang baru datang itu adalah ketua Lo-hu- pay Peng-sim Sin-nie, dan lelaki tua bermuka merah segar itu adalah Susioknya Peng-sim Sin-nie yang bernama Cin Lok Pho.

Tiga Imam dari Bu-tong-pay buru-buru membalas hormat dan berkata sambil tersenyum: "Mengapa Peng-sim taysu hanya datang bersama Cin Lociapwe berdua saja...?"

"Bu-tong dan Lo-hu merupakan dua partai besar yang sama tingkatannya, Cin Lok Pho tidak bernai menerima panggilan Ciang-bun Cinjing tadi! Satu orang lagi yang akan turut hadir dalam pertemuan di puncak Thian-tu-hong ini adalah Leng-po Giok-lie, oleh karena dia sekarang sedang berkelana di kalangan Kang-ou sudah lama meninggalkan gunung Lo-hu-san, tetapi sudah diberi kabar oleh Ciang-bun- jin barangkali akan datang kemari sebelum pertemuan itu dibuka."

Hong-hwat Cinjing masih tetap menghormati Cin Lok Pho yang kedudukannya paling tinggi dalam Lo-hu-pay, sambil memberi hormat berkata: "Didalam rimba persilatan meskipun banyak jumlahnya partai dan golongan, namun sumbernya adalah satu! Apalagi Cin locianpwe yang berkedudukan tinggi dan berbudi luhur, juga merupakan Susiok dari Peng-sim taysu sudah tentu termasuk orang dari angkatan tua, harap cianpwe jangan pandang Hong-hwat sebagai orang luar! Sayang orang dari Tiam-cong masih belum tiba, jikalau tidak besok pagi kita boleh bertanya dulu pada Kun-lun, dan bagaimana harus menghadapi Ngo-bi dan Swat-san, hal ini perlu kita pelajari dan rundingkan dahulu supaya mendapat keputusan yang adil, dan sedapat mungkin kita jangan sampai bentrok sehingga menimbulkan pertumpahan darah. Karena apabila hal itu terjadi, dengan mudah akan menimbulkan malapetaka hebat bagi rimba persilatan.

"Kami dari Lo-hu dan Tiam-cong memang sudah lama menanam bibit permusuhan tak disangka kali ini lantaran perlu hendak menanyakan orang-orang Kun-lun-pay tentang senjata rahasia duri beracun, ternyata sudah berdiri dalam satu front! Orang yang datang dari pihat Tiam-cong-pay barangkali ketuanya sendiri Tiat-kwan Totiang dan Cie-yan Thian-cun Lui Hwa serta Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie yang biasanya dianggap sebagai tiga orang penting atau tiga jago pedang golongan Tiam-cong!" Berkata Peng-sim Sin-nie sambil tertawa getir.

Pada saat itu, Hong-kong totiang menunjuk ke bawah dan berkata sambil tersenyum: "Di bawah bukit diantara pepohonan itu tampak beberapa bayangan orang, entah orang dari mana yang datang, jumlahnya agaknya tidak sedikit." Empat yang lainnya mendengar ucapan itu lantas pasang telinga, benar saja ada suara orang yang sedang mendaki gunung, tetapi orangnya hanya tiga, jadi agak berbeda seperti apa yang didengar oleh Hong-kong Totiang.

Tak lama kemudian tiga jago pedang dari golongan Tiam- cong semua sudah tiba di puncak gunung, dengan dipimpin oleh ketuanya Thiat-kwan Totiang, mereka bertiga memberi hormat kepada Hong-hwat Cinjin dan lain-lainnya, sementara itu Hong-hwat Cinjin juga menyambut kedatangan mereka sebagaimana layaknya, tetapi tiga jago pedang itu terhadap Peng-sim Sin-nie dan Cin Lok Pho hanya menyoja saja dengan sikap dingin, agaknya masih mendendam permusuhan.

Peng-sim Sin-nie dan Cin Lok Pho yang menyaksikan keadaan demikian, meskipun merasa kurang senang tetapi ia tidak ambil pusing, sementara itu Hong-kong Totoang sudah bertanya kepada Thiat-kwan Totiang: "Thiat-kwan Toheng, waktu kalian datang kemari, orang golongan mana yang berjalan bersama-sama kalian?"

Thiat-kwan Totiang tak menduga bahwa orang-orang Bu- tong dan Lo-hu datang lebih pagi, bahkan Hong-kong Totiang ini nampaknya sudah tahu dirinya berjalan bersama-sama orang lain, maka sejenak setelah merasa tercengang barulah menjawab: "Pinto bertiga tadi ketika di bawah puncak Thian- tu-hong secara kebetulan telah berpapasan dengan ketua Ki- lian-pay yaitu Khi Tay Cao bersama anak buahnya datang kemari untuk meninjau..."

Hong-hwat Cinjing mendengar bahwa Kie-lian-pay juga turut hadir, alisnya nampak dikerutkan, dan mengajukan pertanyaan kepadanya: "Kalau benar ketua Kie-lian-pay sudah datang dimana sekarang berada?" "Menurut kata saudara Khie Tay Cao, besok baru akan naik ke puncak untuk meninjau saja, tindakan itu diambil karena khawatir barangkali dipihak kita akan melakukan perundingan apa-apa lebih dahulu dan hal itu sudah tentu tidak pantas diketahui oleh orang luar." Menjawab Thiat-kwan Totiang.

Peng-sim Sin-nie yang mendengar jawaban itu lalu berkata: "Itulah yang benar-benar dinamakan Dengan jiwa seorang kecil mengukur hati orang yang berjiwa besar!"

Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie yang terkenal berangasan ketika mendengar ucapan yang mengandung ejekan itu dengan sinar mata tajam menatap Peng-sim Sin-nie kemudian bertanya: "Siapakah yang dimaksudkan orang berjiwa kecil? Dan siapakah yang kau maksudkan orang berjiwa besar?"

Peng-sim Sin-nie memandangnya sejenak dengan sinar mata dingin, baru saja hendak menjawab sudah didahului oleh Cin Lok Pho: "Siapa yang pernah memikir hendak merencanakan suatu rencana keji di puncak gunung, hendak mencelakakan pihak lawannya, dialah yang dinamakan orang berjiwa kecil! Dan siapa yang tetap berlaku jujur dan terus terang serta blak-blakan, dialah yang berjiwa besar!"

Hong-hwat Cinjin menampak orang-orang dari pihak Lo-hu dan Tiam-cong yang benar saja masih mengandung permusuhan, sepatah kata saja mungkin bisa menimbulkan bentrokan, maka ia buru-buru mengelakkan dengan kata-kata lain, ia bertanya kepada ketua Tiam-cong-pay: "Mengenai dasar atau pedoman yang akan digunakan untuk menghadapi orang-orang golongan Kun-lun-pay besok pagi, Toheng mempunyai pikiran apa?"

Mata Thiat-kwan Totiang berputaran, menyapu Peng-sim Sin-nie dan Cin Lok Pho sebentar, kemudian balas menanya: "Aku ingin dengar dulu kalian hendak mengambil tindakan bagaimana?" "Peng-sim taysu dan Pinto sendiri sudah berpendapat asal sudah mendapat penjelasan yang adil, tidak halangan kita tidak menarik panjang urusan ini..." Sebelum habis ucapannya Liong-hui Kiam-khek tiba-tiba dongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Hong-hwat Cinjing memandang jago pedang nomor tiga yang gagah itu sejenak, lantas bertanya dengan perasaan heran: "Su-to tayhiap mengapa ketawa? Apakah ucapan pinto tadi ada salah?"

Tidak kecewa Hong-hwat Cinjing sebagai ketua dari satu partai golongan besar, ia tidak berlaku sombong dan dapat menghormati tiap orang yang berhadapan dengannya! Sikap itu telah mendapat pujian dari dua orang golongan Lo-hu-pay hingga mereka mengangguk-anggukkan kepala merasa sangat kagum! Tetapi Liong-hui Kiam-khek yang adatnya sombong saat itu dengan sikapnya yang masih jumawa berkata dengan suara agak ketus:

"Aku kecewa karena aku anggap apakah kalian semua takut kepada senjata thian-kheng-ci-ting ditangan ketua Kun- lun-pay? sehingga kalian merasa perlu merendahkan diri? Jikalau demikian halnya, perlu apa mesti berunding?

Besok masing-masing boleh mengambil jalan sendiri- sendiri. Kalian ketua Lo-hu dan tiga orang Bu-tong boleh saja tak menuntut balas atas kematian saudara-saudara kalian atau hinaan yang diterima oleh Peng-sim Sin-nie, tetapi bagi kami orang-orang Tiam-cong-pay, kami lebih suka hancur lebur menjadi bubur tetapi tidak suka menjadi utuh sebagai orang terhina. Kami tidak sudi membiarkan begitu saja atas hinaan orang terhadap suheng hanya hampir terbinasa di lembah kematian di gunung Cong-lam-san.

Ucapan Liong-hui Kiam-khek itu sesungguhnya sangat tajam, Peng-sim Sin-nie dan Cin Lok Pho sebetulnya tidak suka tiga jago pedang Tiam-cong itu banyak mulut, sedangkan Hong-hwat Cinjin dari Bu-tong-pay yang terkenal sebagai orang yang berbudi luhur juga merasa tidak senang atas ucapan Liong-hui Kiam-khek yang menyatakan hendak mengambil jalan sendiri-sendiri tadi, karena dengan demikian berarti sudah menutup jalan musyawarah dan perdamaian.

Selagi orang-orang kedua pihak pada ngotot dengan ceritanya orang-orang Tiam-cong-pay yang hendak mengambil jalan sendiri, dari bawah gunung tiba-tiba muncul bayangan orang lain.

Orang yang baru tiba itu ternyata adalah adik seperguruan Peng-sim Sin-nie, Ca Bu Kao yang sudah kita kenal. Hari ini ia mengenakan pakaian berwarna putih perak yang sangat indah, sehingga makin menambah kecantikannya. Lebih dulu ia menemui dan unjuk hormat kepada suci kakak seperguruannya, kemudian memberi hormat kepada susioknya, setelah itu baru memberi hormat kepada tiga Imam Bu-tong. Ketika menyaksikan tiga jago pedang Tiam-cong, dengan sinar mata yang tajam ia menatap Long-hui Kiam- khek Su-to Wie.

Su-to Wie yang tadinya di hadapan orang-orang Bu-tong dan Lo-hu sikapnya begitu galak dan jumawa, ketika dia pandang demikian rupa oleh Ca Bu Kao, lantas menundukkan kepala dari sikapnya jelas menunjukkan perasaan malu dan terkejutnya, hingga lenyaplah semua kesombongannya!

Kiranya begitu jago pedang nomor tiga itu melihat Ca Bu Kao, seketika teringatlah ia kepada perbuatannya sendiri beberapa waktu yang lalu, ketika ia hendak mencemarkan diri wanita itu, Oleh karenanya, ketika ia melihat wanita itu muncul dengan tiba-tiba, juga teringat peristiwa malam itu ketika Ca Bu Kao menghilang secara misterius, dan ucapan yang memperingatkan dirinya itu, kinipun seolah-olah masih berkumandang dalam telinganya. Bagi Peng-sim Sin-nie sebetulnya masih belum tahu perhubungan antara adik seperguruannya itu dengan Liong- hui Kiam-khek. Ia hanya merasa bahwa adik seperguruannya itu sudah terlalu lama meninggalkan gunung. Tetapi karena waktu itu ada orang-orang dari Bu-tong dan Tiam-cong, ia juga tidak enak untuk menegornya. Selagi hendak berkata beberapa patah dengannya, tiba-tiba dapat dilihat Ca Bu Kao dengan sinar mata dingin memandang Su-to Wie sejenak, dan Su-to Wie yang terkenal sombong dan jumawa itu dengan tiba-tiba menundukkan kepala, seolah-olah merasa malu. Hal itu sesungguhnya sangat mengherankan ketua Lo-hu-pay.

Kalau Peng-sim Sin-nie sudah merasa terheran-heran melihat jago pedang nomor tiga itu, adalah terlebih lagi sikap Tiam-cong-pay Thiat-kwan Totiang dan sutenya Lui Hwa yang sama sekali tak tahu perbuatan yang dilakukan adik seperguruannya terhadap wanita itu, kelihatan jelas perubahannya, mereka benar-benar pada merasa heran.

Sementara itu Ca Bu Kao sendiri yang menyaksikan sikap Liong-hui Kiam-khek demikian itu, lalu perdengarkan suara ketawa dingin, setelah itu ia berpaling kepada sucinya dan ketua Butong-pay seraya katanya: "Ciangbun suci dan Ciangbun Cinjin, perlu apa banyak mulut terhadap manusia hina yang tidak tahu diri ini...?"

Perkataan yang terakhir itu telah membuat Liong-hui Kiam- khek merasa malu dan geram, hawa amarahnya seketika tibul pula, dengan cepat ia angkat muka dan menegornya: "Budak hina Ca Bu Kao..."

Tetapi baru mengucapkan perkataan itu, suara tegoran mana prikemanusiaanmu yang didengar di gunung Hok-gu- san tempo hari seolah-olah menggema kembali di telinganya, sehingga saat itu hatinya tergoncang keras dan bungkam seketika. Selanjutnya Peng-sim Sin-nie dengan menggunakan ilmu dari golongan Buddha menegornya dengan suara keras: "Su- to Wie tutup mulut. Jikalau kau berani mengeluarkan perkataan yang tidak sopan lagi, biarlah kau nanti akan kuhajar dulu dengan ilmu Pan-sian-ciang dari golongan kami."

Ca Bu Kao yang ucapannya dipotong oleh Liong-hui Kiam- khek, sebentar ia berdiam dengan sinar mata tajam mengawasi orang Tiam-cong-pay kemudian berkata pula melanjutkan ucapannya kepada Peng-sim Sin-nie dan Hong- hwat Cinjin: "Tentang peristiwa duri beracun itu, didalamnya masih mengandung rahasia besar, hal ini Ca Bu Kao sudah mengetahui hampir sembilan puluh persen, besok didalam pertemuan di gunung ini, pasti akan kubeber dan supaya jelas keadaan yang sebenarnya, supaya diketahui oleh para tokoh rimba persilatan yang hadir di sini."

Tiga jago dari Tiam-cong, ketika mendengar ucapan Ca BU Kao itu semuanya menunjukkan perasaan terkejut dan ingin tahu keadaan yang sebenarnya.

Sebaliknya dengan ketua Bu-tong Hong-hwat Cinjin saat itu ia merasa sangat girang, maka ia segera berkata sambil tersenyum: "Ca lihiap, kalau benar sudah tahu rahasia besar ini, mengapa tidak mau bicara terus terang? Jikalau tindakanmu ini dapat mengelakkan bencana yang mengancam rimba persilatan, sesungguhnya merupakan suatu jasa yang besar sekali."

Ca Bu Kao angkat muka menunjukkan pandangan matanya ke sekitar puncak gunung, setelah itu ia berkata sambil tertawa dingin:

"Lantaran dibikin celaka oleh orang jahat, akhirnya aku mendapat pertolongan secara tidak terduga-duga. Lebih untung lagi aku jadi dapat mengetahui rahasia besar ini. Sayang apabila puncak gunung Thian-tu-hong  ini dijadikan tempat pembunuhan besar-besaran. Lebih harus disayangkan bilamana orang-orang dari golongan baik sendiri satu sama lain berhantam, sedangkan yang bermaksud jahat merasa..."

Berkata sampai di situ ia sengaja berhenti dulu, matanya menatap tiga jago dari Tiam-cong. Waktu itu ia melihat Thiat- kwan Totiang yang memandang Liong-hui Kiam-khek dengan mata gusar, Ca Bu Kao yang menyaksikan itu, unjukkan tertawa hambar, kemudian melanjutkan kata-katanya: "Tetapi semua bukti-bukti itu masih ditangan seorang lain, maka perlu harus menunggu dulu kedatangan orang tersebut supaya dapat diumumkan."

Peng-sim Sin-nie segera mengajukan pertanyaan: "Sumoay, mengapa ucapanmu ini begitu samar-samar. Siapakah orang itu yang kau maksudkan? Kapan kiranya baru bisa tiba ditempat ini? Barang bukti apa yang berada dalam tangannya?"

Ca Bu Kao yang menyaksikan tiga jago dari Tiam-cong semuanya menunjukkan sikap terkejut dan memasang telinga, maka lalu berkata sambil tersenyum: "Urusan ini besar sekali sangkut pautnya harap Ciangbun suci maafkan sumoay, untuk sementara perlu merahasiakan dahulu. Sebab orang itu selambat-lambatnya satu hari ini pasti sudah akan tiba di sini. Jikalau kuterangkan nama dan kedudukan orang itu, urusan ini akan bocor lebih dahulu, dan mungkin akan menimbulkan bahaya besar, atau akan dilakukan pencegatan ditengah jalan terhadapnya, untuk menutup rahasia mereka."

Peng-sim Sin-nie, Hong-hwat Cinjin kini telah mengetahui bahwa urusan itu benar-benar sangat penting, dan memang seharusnya perlu dirahasiakan lebih dahulu, maka ia tidak menanya lebih jauh, tetapi Thiat-kwan Totiang yang memperhatikan persoalan itu lalu merubah sikapnya yang sombong menjadi lemah, ia berkata kepada Ca Bu Kao: "Di lembah kematian di gunung Ciong-lam-san, aku telah terbokong oleh sebuah duri beracun warna ungu kehitaman, sebetulnya aku tak dapat menahan amarahku, maka aku ingin segera mengetahui musuh yang sebenarnya, supaya aku bisa menuntut balas. Siapa orangnya yang kau katakan membawa bukti? Coba kau ceritakan, toh tidak ada halangan. Jikalau kau khawatir orang itu ditengah jalan akan dipegat atau diganggu, tiga jago pedang dari Tiam-cong bersedia malam ini juga turun gunung untuk menjaga keselamatan orang itu, dan melindunginya sampai di puncak gunung ini dengan keadaan selamat."

Ca Bu Kao menatap wajah Thiat-kwan Totiang sejenak kemudian berkata: "Orang-orang sebagai tiga jago pedang Tiam-cong, bagaimana mampu melindungi orang? Besok jikalau kalian tiga saudara bisa pulang dengan selamat sudah terhitung beruntung."

Jago pedang nomor dua Lui Hwa lantas membentak dengan suara keras: "Budak hina dari Lo-hu-pay, kau jangan coba menghina golongan Tiam-cong, perlu apa menunggu sampai besok pagi? Dengan terang-terangan saja kita orang- orang dari kedua partai malam ini mengadakan pertandingan dulu untuk menetapkan siapa yang unggul dan siapa yang bakal asor."

Peng-sim Sin-nie yang mendengar perkataan Lui Hwa yang bersifat menantang terang-terangan lalu mengerutkan alisnya, dengan sinar mata tajam memandang jago itu sejenak agaknya hendak memberi jawaban.

Hong-hwat Cinjin karena tadi mendengar ucapan Ca Bu Kao yang mengandung arti sangat dalam, dan iapun tahu bahwa Peng-sim Sin-nie adalah seorang yang ramah diluarnya tetapi keras didalamnya, apalagi golongan Lo-hu- pay dan Tiam-cong-pay satu sama lain sudah ada bibit permusuhan yang lama, apabila terjadi perselisihan omongan lagi, kemungkinan bisa menimbulkan kericuhan. Maka ia pura- pura berlaku marah, diam-diam memberi isyarat dengan mata kepada Peng-sim Sin-nie, Cin Lok Pho dan Ca Bu Kao, setelah itu ia lalu membuka suara:

"Pertemuan ini, besok pagi baru dibuka secara resmi, sekarang partai yang kita undang, Kun-lun, Ngo-bie dan Swat- san belum lagi tiba, kita yang berlaku sebagai tuan rumah, bagaimana boleh baku-hantam sendiri lebih dulu? Peng-sim Taysu dan Thiat-kwan Toheng, harap supaya pikirkan dahulu masak-masak, Butong-pay selamanya menjunjung keadilan dan kebenaran, tidak akan berpihak kepada siapapun juga. Siapa yang berani bertindak lebih dulu, itu berarti bermusuhan dengan Butong."

Peng-sim Sin-nie yang mengerti maksud ketua Butong-pay itu lantas diam sedangkan Thiat-kwan Totiang yang tidak suka berbentrokan dengan Butong-pay maka juga tak berani melanjutkan maksudnya dan menurut nasehat Hong-hwat Cinjing. Mereka malam itu mengundurkan diri dari puncak Thian-tu-hong dan besok pagi baru akan datang lagi untuk menghadiri pertemuan.

Malam itu Peng-sim Sin-nie, Cin Lok Pho dan Ca Bu Kao bertiga, duduk beristirahat di puncak Kim-lin-hong yang agak kecil. Malam itu sebetulnya malam terang bulan, tetapi karena diliputi oleh awan, maka keadaan agak suram.

Peng-sim Sin-nie telah duduk bersemedi, membuka matanya dan bertanya kepada Ca Bu Kao: "Ca sumoay, barangkali sudah tiga tahun setengah kau belum pernah kembali ke gunung Lo-hu-san..."

"Siaomoay mengalami banyak kejadian yang menyedihkan, tetapi oleh karena saatnya belum tiba, maaf siao-moay belum dapat menceritakan kepada suci, nanti setelah pertemuan di puncak gunung ini selesai, akan menjelaskan semua persoalan, dan siaomoay bersedia juga untuk menerima hukuman."

Peng-sim Sin-nie biasanya paling sayang kepada sumoay yang satu ini, maka ketika menyaksikan keadaan dan sikap Ca Bu Kao yang menyedihkan, meskipun dalam hati merasa heran, tetapi juga tidak tega mendesak untuk bertanya lebih jauh, maka lantas menganggukkan kepala dan bertanya:

"Baiklah, untuk sementara aku tak akan menanyakan urusan pribadimu, tapi tadi kau berkata kepada ketua Butong- pay Hong-hwat Cinjin, siapa yang kau maksudkan orang yang akan membawa bukti-bukti itu? Sekarang rasanya kau toh boleh memberitahukan kepadaku dan kepada Cin susiok."

"Dia bernama. "

Baru saja mengucapkan demikian, Ca Bu Kao lantas bungkam, setelah itu ia menggelengkan kepala dan berkata pula: "Suci dan susiok, maafkan aku merasa lebih baik untuk sementara jangan menjelaskan dulu, ini rasanya mesti selamat."

"Sumoay, kau sesungguhnya terlalu kumanja, sehingga kelakuanmu semakin tidak beres. Apa salahnya sekarang kau ceritakan? Apakah kau takut aku dan Cin susiokmu akan membocorkan rahasia?" Berkata Peng-sin Sin-nie.

Ditegor demikian, muka Ca Bu Kao merah seketika, ia buru-buru minta maaf dan berkata sambil tertawa: "Suci dan Susiok maafkan Ca Bu Kao tadi berlaku salah. Mana berani aku takut suci dan susiok membocorkan rahasia? Hnay aku anggap bahwa disekitar kita ini terang harus ada orang-orang jahat yang diam-diam mengintai.  "

Cin Lok Pho menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa: "Apa yang kau katakan memang benar, kita lebih baik berlaku hati-hati, tidak boleh gegabah. Bagaimanapun juga kita toh hanya menunggu semalam saja, besok toh akan tahu sendiri. Perlu apa..."

Sebaliknya dengan Peng-sim Sin-nie, pendeta wanita yang berhati jujur itu menganggap bahwa orang-orang dari berbagai partai sudah berjanji besok akan bertemu di puncak Thian-tu- hong, hanya semalam saja, bagaimana bisa terjadi hal0hal yang tak diinginkan. Tetapi iapun tahu bahwa sumoay itu biasanya terlalu tinggi hati dan tidak pandang mata semua orang, mengapa berubah begitu hati0hati. Bukankah itu sangat mengherankan? Namun untuk menguji adiknya, ia sengaja memotong ucapan Cin Liok Pho dan berkata: "Mengapa susiok juga percaya ucapan sumoay yang tak keruan juntrungannya itu?"

Begitu ucapannya tidak keruan juntrungannya keluar dari mulutnya, Peng-sim Sin-nie mendadak berseru: "Hee!!!" sementara itu ia sudah suap dengan ilmu Pan-siang-ciang yang terampuh, kedua tangannya dirangkapkan di depan dada lalu mengeluarkan serangan yang tak berwujud ke arah sudut puncak gunung yang ada beberapa titik api warna hijau.

Api hijau itu seluruhnya berjumlah tujuh, lelatu api itu hanya sebesar biji buah, kalau tertiup angin sebentar terang sebentar buram, ia naik tinggi perlahan lahan, kecuali kecepatannya seperti binatang kunang-kunang biasa, hingga sulit membedakan apakah itu kunang-kunang ataukah api. Tetapi kekuatan tenaga yang meluncur dari ilmu Pan-sian-ciang Peng-sim Sin-nie, ketika mengenakan sasarannya itu, tiba-tiba terdengar suara "Bum", api sebesar kunang-kunang tadi telah berubah menjadi gumpalan api tebal warna hijau dan api itu bertebaran karena akibat serangan Peng-sim Sin-nie tadi. Anehnya lelatu api itu ketika jatuh di batu, batunya terbakar dan sebagian yang menyambar daun pohon, pohonnya menjadi hangus. Sementara itu Cin Lok Pho yang mengikuti gerakan Peng- sim Sin-nie juga menggunakan ilmu meringankan tubuh, secepat kilat lompat melesat setinggi tujuh tombak. Ditengah udara ia masih melakukan salto dan kemudian menyerbu ke sudut puncak gunung tempat dimana api warna hijau tadi muncul. Namun ketika ia tiba ditempat tersebut, tetap tidak menemukan apa-apa, hanya di suatu tempat ia menampak seutas tali yang terbuat dari rotan, setelah itu di bawahnya didapati sepotong bambu sepanjang sekaki lebih.

Sebagai orang Kangouw kawakan, Cin Lok Pho yang menyaksikan keadaan demikian segera mengetahui bahwa ditempat itu benar ada bangsa manusia jahat yang sembunyi ditempat gelap. Dan orang itu mengandung maksud keji terhadap diri tiga orang. Orang jahat itu mungkin akan mengintai gerak-gerik atau mendengarkan pembicaraan Ca Bu Kao, tetapi setelah mereka tahu bahwa Ca Bu Kao tidak mau memberi keterangan, baru merasa kecewa, barulah dari bambu itu meniup api yang berwarna hijau tadi, dan orangnya juga melarikan diri dengan menggunakan tali rotan.

Peng-sim Sin-nie ketika melihat Cin Lok Pho membongkok dan memungut sesuatu barang, lalu bertanya kepadanya: "Cin Susiok, apakah menemukan tanda apa-apa? Senjata rahasia yang digunakan oleh orang tadi rupanya seperti senjata rahasia kaum Kie-lian-pay yang bernama Kiu-ju Leng-hwee yang sudah dirubah."

Cin Lok Pho balik kembali ke tempat semula, lalu menjawab sambil menganggukkan kepala: "Senjata-senjata rahasia berbagai partai, hanya senjata tunggal dari Kie-lian- pay ini, ialah Kiu-ju Leng-hwe yang mirip dengan api sebesar kunang-kunang tadi. Tetapi pertemuan partai-partai besar di puncak Thian-tu-hong besok, Kie-lian-pay tidak termasuk undangan, walaupun Kie Tay Cao berambisi besar, mungkin dengan pura-pura sebagai peninjau tetapi maksudnya hanya untuk menilik kekuatan berbagai partai, rasanya juga tak perlu sampai mengutus anak buahnya berbuat demikian keji terhadap kita."

Ia lalu memberikan bambu yang dipungutnya kepada Peng- sim Sin-nie, kemudian berkata: "Senjata rahasia api Kie-ju Leng-hwe golongan Kie-lian-pay bentuknya seperti lentera, tapi api itu bukan saja diperkecil seperti kunang-kunang, tapi juga bisa diletakkan dibumbung bambu ini, waktu digunakannya ditiup dengan mulut, dari sini terbukti bahwa tindakan itu bukanlah secara kebetulan saja, melainkan sudah direncanakan baik-baik. Untung kau tadi bermata jeli, hingga dapat mematahkan api itu. Apabila api itu meledak didekat kita, walaupun tak sampai mati tetapi akan bisa terbakar hangus atau melepuh, sudah tentu besok kita tak dapat menghadiri pertemuan dan terpaksa diam-diam kembali ke Lo- hu-san dengan penderitaan hebat."

"Susiok tak perlu memuji, tindakanku tadi bukanlah karena mataku jeli, hanya pihak sanalah yang kurang hati-hati, sehingga tanpa mereka sadari sudah menunjukkan kecerobohan."

Cin Lok Pho dan Ca Bu Kao semua merasa heran hingga pada menanyakan sebabnya. Peng-sim Sin-nie lalu berkata sambil menunjuk rembulan di langit: "Mereka menggunakan senjata rahasia api yang jahat ini, sengaja dibuat mirip kunang-kunang, supaya orang tidak mengira sehingga mudah tertipu olehnya. Sekalipun pikiran mereka itu cukup sempurna, tetapi bagaimana juga masih ada kekeliruannya, sebab malam ini adalah malam terang bulan di musim dingin, dalam udara sedingin ini darimana datangnya kunang-kunang?"

Cin Lok Pho dan Ca Bu Kao setelah mendengar keterangan itu barulah mengerti sehingga pada tertawa geli sendiri. Pada waktu itu, sudah hampir jam tiga malam, angin gunung bertiup cukup kencang, Ca Bu Kao tidak ingin suci dan susioknya kebingungan lama-lama, maka dengan menggunakan jari tangan ia menulis di atas tanah: "Orang yang kita tunggu namanya Hee Thian Siang, dia adalah murid kesayangan Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui."

Peng-sim Sin-nie dan Cin Lok Pho setelah membaca tulisan itu, mereka saling pandang dan menganggukkan kepala.

Ca Bu Kao dengan cepat menghapus tulisan itu, dan kembali menulis kata-kata: "Dibadan orang itu membawa barang bukti yang cukup untuk membuka rencana rahasia orang jahat yang menggemparkan rimba persilatan, maka besok pagi sebaiknya tunggu kedatangannya dulu, barulah bertanya kepada Kun-lun-pay. Seandainya ia datang agak lambat, harap suci berunding dulu dengan ketua Butong-pay sedapat mungkin supaya diundurkan waktunya, jangan sampai dilanjutkan dengan demikian barulah bisa menghindarkan kerewelan yang tidak diharapkan."

Tindakan Ca Bu Kao tadi hanya untuk menghindarkan terbukanya rahasia oleh orang luar, maka Peng-sim Sin-nie juga menggunakan perhatian sepenuhnya untuk mengikuti jalan tulisan Ca Bu Kao, setelah itu mereka lalu pada istirahat untuk menantikan datangnya pagi hari.

Peng-sim Sin-nie dan Cin Lok Pho yang memiliki kepandaian sangat tinggi, setelah duduk bersemedi cukup lama, lalu tampak seperti orang tidur tak tahu apa-apa. Hany Ca Bu Kao yang pikirannya agak risau, tak dapat melakukan semedinya dengan baik.

Apa yang dipikir olehnya ialah kelambatan kedatangan Hee Thian Siang ke puncak gunung, sebab jikalau diingat sifat-sifat dan adatnya Hee Thian Siang, seharusnya ia sudah dapat datang lebih dahulu ke tempat itu untuk menonton keramaian. Tetapi mengapa hingga hari itu masih belum tampak mata hidungnya? Apakah ia kembali menemukan halangan setelah berpisah dulu?

Hal kedua yang masih mengganggu pikirannya ialah dirinya sendiri ketika berada di gunung Hok-gu-san, karena lalainya sehingga terkena obat mabuk dan hampir saja dirinya dinodai oleh Liong-hui Kiam-khek, setelah ditolong oleh duta bunga mawar, ia masih merasa sangsi apakah yang dinamakan "orang itu masih utuh seluruhnya?"

Pikiran itu terus mengganggu hingga hampir pagi, namun Hee Thian Siang masih tetap belum tampak mata hidungnya. Peng-sim Sin-nie terpaksa bersama susioknya dan Ca Bu Kao bersama-sama pergi ke puncak Thian-tu-hong.

Pada waktu pagi itu, bukan saja rombongan dari Butong- pay dan Tiam-cong-pay semua sudah berkumpul, sedangkan dari pihak yang diundang, ialah pemimpin partai Kun-lun-pay Tie-hui-cu juga sudah datang bersama sutenya Siong Phiauw- yan dan Siauw Tek, selain dari pada itu ketua partai Ngo-bie- pay Hian-hian Sian-lo juga datang bersama sumoaynya Siu- hong To-kow dan Hok Siu In, sementara itu ketua Kie-lian-pay Kie Tay Cao yang datang sebagai peninjau juga datang bersama-sama Pao Sam-kow yang mendapat julukan Pek- thauw Losat (Iblis kepala putih). sedangkan dari Swat-san-pay yang juga sebagai peninjau saat itu datang kedua bagian pelindung hukum Ceng-kak Siansu, orang-orang dari rimba persilatan yang sudah datang adalah Say Han Kong, pencuri sakti Oe-tie Khao dan lain-lain yang jumlahnya sepuluh orang lebih, mereka semua sudah berkumpul di puncak gunung, hanya ketua Swat-san-pay Peng-pek Sin-kun yang akan bantu pihak Kun-lun-pay serta dua pembantunya masih belum tampak datang. Delapan partai besar dari rimba persilatan pada dewasa itu, kecuali ketua Siauw-lim-pay yang tidak datang, tujuh yang lainnya semua sudah datang bersama-sama pembantunya yang terpilih, pertemuan itu benar-benar merupakan pertemuan besar yang bagi sementara orang-orang rimba persilatan dianggap belum pernah ada.

Semua orang yang datang berkunjung hampir rata-rata menunjukkan sikap serius, hanya beberapa orang saja yang memang mengandung maksud tertentu sudah menunjukkan sikap tenang, diantaranya bahkan khawatir tak dapat menyaksikan pertunjukan ramai.

Ketua Kun-lun-pay Tie-hui-cu, adalah seorang tua rambut putih yang mengenakan pakaian Imam, meskipun usianya sudah lanjut, namun sikapnya masih gagah. Ketua Kun-lun- pay itu ketika melihat kedatangan Peng-sim Sin-nie bertiga, lantas berkata kepada ketua Bu-tong-pay sambil tersenyum:

"Pinto dan ketua Ngo-bie-pay Hian-hian Sian-lo dan lain- lain datang kemari karena undangan ketua partai Bu-tong, Tiam-cong dan Lo-hu. Sekarang meskipun salah seorang sahabat pinto ketua Swat-san-pay masih belum tiba, rasanya tidak perlu menunggu sehingga menghambat waktu, maka dengan ini pinto minta supaya salah seorang dari golongan Bu-tong atau Tiam-cong atau Lo-hu sudi menerangkan maksud pertemuan ini."

Ketua Butong-pay yang lebih dahulu sudah mendapat kisikan Peng-sim Sin-nie supaya menghambat waktunya untuk menunggu kedatangan Hee Thian Siang, supaya jangan sampai timbul kesalah pahaman lebih besar, maka ketika mendengar pertanyaan itu ia lantas menganggukkan kepala memberi hormat kepada Tie-hui-cu, kemudian berkata sambil tersenyum: "Orang-orang dari delapan partai besar, biasanya jarang saling berjumpa sungguh merupakan suatu kebetulan hari ini kita sedang menghadapi menjelangnya tahun baru, bisa berkumpul ditempat ini. Apa salahnya bila kita menunggu lagi sebentar atas kedatangan ketua Swat-san-pay?"

Selagi Tie-hu-cu hendak bersuara, orang-orang yang berada di puncak gunung, dengan tiba-tiba menunjukkan pandangan matanya ke bawah gunung.

Tak lama kemudian, sesosok bayangan putih melesat ke puncak gunung Tiam-tu-hong.

Oran yang baru datang itu adalah seorang berpakaian jubah sutera putih, orang itu hidungnya besar dan mulutnya lebar, matanya segede jengkol, sedang brewoknya seperti duri landak, rambutnya panjang hampir sebatas pinggang, bentuk badan orang itu sesungguhnya sangatlah aneh, agak mirip dengan orang utan, tetapi tokoh-tokoh rimba persilatan yang ada di situ sebagian besar tahu bahwa orang itu adalah seorang aneh yang kepandaian dan kekuatannya tidak di bawah ketua Swat-san-pay sendiri, tapi oleh karena ketua Swat-san-pay pernah melepas budi besar terhadapnya, maka orang itu seumur hidupnya hanyalah mengabdi padanya sebagai budak, namanya ialah Leng Pek Ciok, dan julukannya Swat-san Peng-lo (budak dari gunung Swat-san)

Ketua Kun-lun-pay Tie-hui-cu, yang sudah kenal baik dengan Swat-swan Penglo itu, maka begitu menampak kedatangannya lalu disapanya sambil memberi hormat: "Kuucapkan terima-kasih atas kuncungan Loheng kemari, begitupun atas bantuanmu yang besar sekali artinya. Tetapi bagaimana dengan Pek-pek Sin-kun..."

"Pek Ciok tidak berani menerima sebutan demikian dari Ciang-bunjin. Majikanku Peng-pek Sin-kun dan istrinya, oleh karan mendapat halangan di bawah gunung, terpaksa balik kembali ke Tay-swan-san, beliau suruh budak untuk mengabarkan kepada Ciangbun-jin dan minta maaf karena tak bisa turut menghadiri pertemuan ini."

Peng-sim Sin-nie ketika mendengar keterangan itu, lalu menanyakan halangan apa yang mengakibatkan Pek-pek Sin- kun dan istrinya, telah di bokong oleh manusia jahat yang tidak diketahui rupanya.

Semua tokoh persilatan yang mendengar keterangan itu seluruhnya merasa tertarik.

Peng-sim Sin-nie segera teringat pada api warna hijau sebesar kunang-kunang yang tadi malam disaksikan, matanya lalu ditujukan kepada ketua Kie-lian-pay yang berdiri diantara para penonton, namun waktu itu Kie Tay Cao sikapnya tenang-tenang saja, seolah-olah tidak tahu apa-apa. Tetapi sucinya Pao Sam-kow bibirnya tersungging senyum mengejek.

Tie-hui-cu yang mendapat penjelasan demikian, lalu berkata: "Tak kusangka lantaran urusan partai kami Kun-lun- pay sudah merembet sahabat baikku, sehingga mendapatkan kesulitan yang tak terduga-duga, tolong sampaikan ucapanku kepada Peng-pek Sin-kun suami istri, katakan saja setelah pertemuan di Thian-tu-hong ini selesai, Tie-hui-cu akan berangkat ke Tay-swat-san untuk menyampaikan terima-kasih dan penjelasannya."

Leng Pek Ciok mundur setengah langkah, kemudian menjawab sambil memberi hormat: "Maafkan budakmu ini, untuk sementara aku tak akan kembali ke gunung Tay-swat- san, karena hendak menyelidiki keadaan di bawah gunung, siapakah kiranya orang yang begitu tidak tahu malu dan berani mati membokong majikanku, aku hendak minta keadilan darinya." Sehabis berkata demikian, tiba-tiba mengangkat muka, dua matanya memancarkan sinar bercahaya tajam, menyapu semua orang yang hadir di situ sejenak, setelah itu ia lantas bergerak dan melayang turun ke kaki gunung.

Setelah berlalu, Peng-sim Sin-nie menarik napas panjang dan berkata sambil menggelengkan kepala: "Bagi orang-orang rimba persilatan, mau gontok-gontokan atau saling membunuh memang boleh saja, tetapi sebagai orang persilatan harus bersikap jujur dan harus berani berlaku terus terang. Perbuatan membokong secara menggelap itu adalah perbuatan paling rendah dan paling memalukan, pertemuan ini juga diadakan oleh karena perbuatan rendah yang memalukan itu."

"Ucapan Peng-sim taysu itu agaknya mengandung maksud dalam, pinto ingin mendapat keterangan yang jelas!" Bertanya ketua partai Kun-lun sambil menatap Peng-sim Sin-nie.

Sementara itu ketua Butong-pay Hong-hwat Cinjing karena saat itu Hee Thian Siang masih belum sampai, ia tahu tidak dapat diundurkan lagi waktunya, maka bertanya kepada Tie- hui-cu sambil tersenyum: "Tie-hui Toheng, maafkan kalau pinto ada salah, ada suatu kejadian yang sangat ajaib, pinto hendak minta keterangan dari toheng."

"Silahkan Cinjin tanya, kalau pinto tahu sudah pasti akan menjawabnya dengan jelas."

"Anak murid Kun-lun-pay, kecuali senjata Pek-houw Liong- gin-cut (senjata paser macan putih) apakah masih menggunakan senjata rahasia lainnya?"

Tie-hui-cu yang ditanya demikian, sejenak nampak tercengang, kemudian menjawab sambil menganggukkan kepala: "Golongan kami masih ada semacam senjata rahasia yang sangat lihai, senjata itu namanya Thian-keng-cek, namun tidak boleh digunakan secara serampangan oleh anak buah kami.

"Seandainya Thian-keng-cek yang kau katakan tadi berbisa atau tidak?"

"Senjata rahasia itu, adalah duri dari sebuah pohon ajaib yang tumbuh di puncak gunung tertinggi Kun-lun-san, pohon itu bercabang dua, cabang yang menjulur ke selatan ada bisanya, sedang yang ke Utara tidak berbisa. Duri yang berbisa begitu mengenakan daging manusia atau binatang, pokoknya asal mengenai darah korbannya perlahan-lahan menjadi kejang dan akhirnya mati, korban yang terkena duri itu sukar sekali ditolong, maka kami selamanya melarang anak murid Kun-lun-pay menggunakan senjata rahasia itu, hanya kalau berada di daerah pegunungan atau sedang bermalam ditempat belukar, bila diserang oleh binatang buas atau ular berbisa dan jiwanya benar-benar terancam baru boleh menggunakan senjata itu, tetapi sekali-kali tidak boleh digunakan kepada manusia. Yang tidak berbisa juga dapat menembusi segala benda yang bagaimanapun kerasnya. Sekalipun besi, baja, atau bahan logam lainnya semua tak mempan menjaganya. Senjata ini juga khusus untuk memecahkan kepandaian orang yang memiliki ilmu kebal, artinya yang tidak mempan senjata tajam."

Hong-hwat Cinjing yang mendengar penjelasan Tie-hui-cu demikian nyata dan sikapnya juga demikian tenang, lantas saling berpandangan dengan ketua Tiam-cong-pay dan ketua Lo-hu-pay, setelah itu ia bertanya pula: "Pinto hendak menanya lagi, pohon yang ajaib itu kecuali tumbuh dipuncak tertinggi Kun-lun-san, apakah ditempat lain juga bisa tumbuh? Dan bagimana bentuk dan rupanya pohon itu?"

Tie-hui-cu menjawab masih dengan sikapnya yang tenang dan tidak menunjukkan sikap ragu-ragu: "Dunia ini sangat luas, banyak gunung-gunung yang terpencil mungkin masih banyak mengandung rahasia, meskipun siapa juga tidak bisa menutup rahasia untuk selamanya, tapi hingga saat ini pinto masih belum pernah dengar di daerah lain ada tumbuh pohon berduri sebangsa Thian-keng itu. Memang macamnya duri Thian-keng-cek ada banyak, duri itu panjangnya hanya kira- kira satu dim lebih sedikit, bentuknya berujung tiga, yang tak ada bisanya berwarna hijau mulus, sedang yang berbisa warnanya biru kehitaman.

Setelah mendengar keterangan itu, dengan sikap serius Hong-hwat Cinjin mengeluarkan tiga butir duri berujung tiga berwarna biru kehitaman, diletakkan di telapak tangannya. Sementara itu Thiat-kwan Totiang dan Peng-sim Sin-nie masing-masing juga mengeluarkan sebutir duri yang serupa, duri-duri itu ditunjukkan kepada Tie-hui-cu.

"Tie-hui Toheng, silahkan periksa dengan seksama, duri berujung tiga yang berada dalam tangan pinto dan tangan Peng-sim taysu serta Thiat-kwan Totiang ini, apakah benar adalah dari Thian-keng-cek yang mengandung racun sangat berbisa dan merupakan senjata rahasia tunggal dari golongan toheng?"

Thie-hui-cu begitu melihat sudah dapat mengenali bahwa duri itu memanglah senjata rahasia yang dinamakan Thian- keng dari golongannya, yang dilarang untuk digunakan sembarangan. Maka setelah menyaksikan duri-duri itu, ia lalu saling berpandangan dengan sutenya Siong Phiauw Yan dan Siauw Tek, dan setelah itu ia berkata kepada Hong hwat Cinjin bertiga dengan perasaan keheranan:

"Bolehkah pinto numpang tanya kepada tiga saudara ketua, duri Thian-keng ini memang benar adalah barang yang hanya terdapat di gunung Kun lun-san, darimana saudara mendapatkan barang itu?" Hong-hwat Cinjing ketika mendengar keterangan Tie-hui-cu yang mengakui terus terang barang miliknya, seketika itu ia berada dalam kedudukan agak sulit, maka ia mengerutkan alisnya dan merangkapkan kedua tangannya di atas dada, setelah memuji nama Budha barulah berkata:

"Pinto hanya dapatkan ini dari golongan kami yang biasa mendapat sebutan Bu-tong Cit-cu, tiga di antaranya ialah Pek Tin, Go Tin dan He-tin, semua terbinasa terbokong oleh senjata berbisa ini, juga duri ini kudapatkan dari tubuh mereka!!"

Mengenai binasanya tiga orang Bu-tong, itu didalam kalangan Kangouw belum begitu banyak tersiar, maka tokoh- tokoh yang hari itu datang kecuali beberapa orang yang sudah mengetahui, yang lainnya seketika itu terkejut dan keheranan. Mereka tahu bahwa ketua Kun-lun-pay hari itu kedudukannya sudah terjepit, tidak mudah baginya untuk mengelakkan tuduhan itu, ada kemungkinan akan menimbulkan pertentangan dan pertempuran hebat.

Sementara Peng-sim Sin-nie juga berkata sambil menyebutkan nama Buddha: "Ketika kami hendak mengadakan pertandingan ilmu silat dengan Thiat-kwan Totiang di lembah kematian, sebelum pertandingan dimulai, dari luar lembah orang membokong dengan menggunakan senjata ini, kalau bukan karena sahabat karib Sin-nie It-pun Sin-ceng datang memberi pertolongan dengan getahnya pohon lengci dalam waktu yang tepat, mungkin Peng-sim Sin- nie dan Thiat-kwan Totiang sudah lama terkubur dalam lembah itu."

Keterangan Peng-sim Sin-nie itu sesungguhnya merupakan suatu berita dalam rimba persilatan. Tie-hui-cu sendiri yang mendengarkan juga merasa kaget, hingga alisnya selalu dikerutkan, dan setelah berunding dengan kedua sutenya barulah berkata kepada Hong-hwat Cinjing bertiga: "Urusan ini sesungguhnya sangat aneh, tetapi pinto tadi sudah berkata dengan sejujurnya, maka sekarang bagaimanapun juga sulit untuk membantahnya. Jikalau tiga saudara ketua hendak menuntut balas terhadap golongan kami Kun-lun-pay, Tie-hui-cu sebagai ketua, sudah tentu bersedia bertanggung jawab sepenuhnya."

"Kun-lun-pay selamanya suka menjauhkan diri dari segala pertentangan, sehingga pada dihormati oleh sahabat-sahabat rimba persilatan, maka kematian tiga anggota terpenting kami, perbuatan itu di bokong oleh orang jahat, namun Hong-hwat masih belum berani memastikan itu perbuatan anak buah Kun-lun-pay, maka mau tak mau pinto undang datang kemari, hendak minta keterangan darimu tentang senjata itu. Asal toheng dapat memberi keterangan yang adil, Butong-pay tidak akan mencari setori secara serampangan, sehingga menimbulkan keretakan persahabatan dari kedua golongan kita."

Baru Hong-hwat Cinjin memberi keterangan, Ceng-kak Siansu yang berdiri di barisan para pengunjung, lantas merangkapkan kedua tangannya di depan dada sambil memuji nama Buddha, ia berkata:

"Hong-hwat Cinjing benar-benar tidak tercela menjadi pemimpin partai Butong-pay. Jikalau dalam rimba persilatan ada orang yang berjiwa seperti Toheng, sudah tentu diantara kita tak akan ada timbul pertentangan dan pertumpahan darah. Segalanya bisa dibereskan dengan jalan musyawarah atau perundingan."

Tetapi sikap Hong-hwat Cinjin semakin lunak dan semakin merendah, Tie-hui-cu semakin sulit untuk menjawab, maka setelah dipikirnya bolak-balik, ketua Kun-lun-pay itu merasa tidak bisa mendapatkan perkataan yang sesuai dalam menjawab ucapan ketua Butong-pay tadi. Hubungan ketua Ngo-bie-pay Hian-hian Sianlo dengan Tie- hui-cu sangat erat sekali, ketika menyaksikan kedudukan sahabatnya dalam keadaan terjepit demikian rupa, lantas berkata: "Saudara-saudara Hong-hwat Cinjin, Peng-sim taysu dan Thiat-kwan Totiang, aku si orang tua yang berkedudukan sebagai orang luar, bolehkah kiranya hendak mewakili sahabat Tie-hui dari Kun-lun-pay untuk menanggapi persoalan ini?"

Thiat-kwan Totiang yang melihat Hian-hian Sian-lo hendak turut campur tangan, perdengarkan suara dari hidung, tetapi Hong-hwat Cinjing dan Peng-sim Sin-nie masih berdiam diri sambil menganggukkan kepala, berarti mereka tidak berkeberatan atas usul Hian-hian Sian-lo. Hian-hian Sian-lo setelah menatap para ketua Kun-lun, Bu-tong, Ngo-bie dan Tiam-cong bergiliran lalu berkata dengan suara lantang:

"Persoalan tentang penggunaan senjata duri berbisa untuk melakukan serangan secara serampangan menurut hemat pin-nie, jikalau bukan lantaran golongan Kun-lun-pay ada mempunyai anak murid yang tidak beres, sudah tentu dilakukan oleh orang lain yang mengandung maksud tertentu sengaja hendak menimbulkan huru-hara, supaya berbagai partai pada baku hamtam sendiri. Maka pin-nie ingin minta tiga saudara ketua, supaya memberikan keluangan waktu kepada Tie-hui-cu dalam waktu setahun ini supaya berusaha untuk membikin terang urusan ini. Pada hari tahun depan, kita boleh berkumpul lagi di sini, dan Tie-hui-cu harus memberikan tanggung jawabnya kepada saudara-saudara ketua bertiga."

Baru saja Hian-hian Sian-lo menutup ucapannya, di atas puncak gunung tampak berkelebat sesosok bayangan manusia, Hee Thian Siang yang sekian lama ditunggu-tunggu oleh Ca Bu Kao, telah muncul dengan mendadak. Namun sikapnya tergesa-gesa sekali, pandangan matanya ditujukan kepada semua orang sejenak, kemudian dengan tergesa-gesa pula lompat ke dalam barisan para peninjau, di situ ia menghampiri Say Han Kong, setelah itu ia bertanya sambil mengerutkan alisnya:

"Say locianpwe, jikalau ditilik dari keadaan sekarang ini, pertemuan ini rasanya masih belum dimulai, benarkah begitu?"

Say Han Kong yang tidak mengerti maksud pertanyaan Hee Thian Siang hanya menjawab sambil menganggukkan kepala dan tertawa: "Bukan saja belum dimulai, malah mungkin akan diperpanjang satu tahun lagi. Keramaian hari ini barangkali tak akan dapat kita saksikan."

"Tidak perduli diperpanjang atau tidak, aku hanya ingin menonton keramaian saja, toh tidak ada lebih penting daripada menolong jiwa. Mari locianpwe lekas ikut aku!" Berkata Hee Thian Siang, dan setelah itu ia menarik tangan Say Han Kong dan lari menuju ke bawah gunung.

Ca Bu Kao sungguh tak menduga, Hee Thian Siang datang secara tergesa dan pergi lagi dengan cara tergesa pula. Sebetulnya ia hendak mencegah, tapi oleh karena di hadapan orang persilatan demikian banyak, sudah tentu ia merasa malu untuk berkaok-kaok memanggilnya. Dan lagi kalau ditinjau dari sikap Hee Thian Siang yang demikian cemas, mungkin benar-benar ada orang penting yang memerlukan pertolongan Say Han Kong, maka ia hanya mengawasi berlalunya orang itu dari puncak gunung.

Sementara itu, Hian-hian Sian-lo kembali berkata kepada Hong-hwat Cinjin bertiga: "Saudara ketua bertiga, apakah saudara juga sependapat dengan usul aku si nenek tua tadi?"

Peng-sim Sin-nie diam saja tidak menjawab, sedangkan Hong-hwat Cinjin perdengarkan suaranya setelah lebih dulu memuji nama Buddha: "Bu-tong-pay bersedia menerima baik usul Sianlo, diharap supaya pada tahun depan di waktu dan tempat seperti ini, supaya pihak yang berkepentingan suka memberikan keadilan kepada kami."

Baru saja Hong-hwat Cinjing menutup mulut, suara tertawa sangat aneh tiba-tiba terdengar dari kalangan peninjau. Ketua Kie-lian-pay Khie Tay Cao berpaling ke arah Pao Sam-kow dan berkata kepadanya: "Pao suci, tak disangka kita yang datang dari tempat demikian jauh, ternyata tidak akan dapat menyaksikan kepandaian tinggi jago-jago dari enam partai besar ini, hanya menyaksikan pertemuan yang tak ada kepala dan ekornya seperti ini..."

Sebelum habis ucapan ketua Kie-lian-pay, dari golongan tuan rumah terdengar suara bentakan bengis, ketua Tiam- cong-pay Thiat-kwan Totiang saat itu sudah bicara sambil tertawa dingin: "Saudara Kie Tay Cao, kau jangan merasa kecewa dulu. Kami partai Tiam-cong meski merupakan satu partai kecil yang tak dapat dibandingkan dengan Bu-tong dan lainnya yang mengaku golongan kebenaran dan memiliki jiwa besar, yang tidak mau menuntut balas dendam atas kematian tiga orang penting golongan Bu-tong, namun, perbuatan yang dilakukan terhadap diriku di lembah kematian di gunung Cong- lam-san, kami tidak akan tinggal diam. Dan bersedia menerima pelajaran dari ketua Kun-lun-pay yang menjadi orang yang harus bertanggung jawab atas senjata duri berbisa itu."

Tantangan Thiat-kwan Totiang yang ditujukan secara terus terang ini membuat suasana gawat yang sudah mulai reda atas usaha Hian-hian Sianlo kini diliputi ketegangan lagi. Tie- hui-cu dengan alis dikerutkan segera berkata kepada Tiat- kwan Totiang sambil memberi hormat:

"Thiat-kwan Totiang ketahuilah olehmu, sebelum perkara kejahatan membokong orang dengan menggunakan senjata duri berbisa Thian-keng ini menjadi terang, kami orang Kun- lun-pay merasa sangat menyesal terhadap partai Bu-tong, Lo- hu dan Tiam-cong. Dengan cara bagaimana masih berani berlaku keras atau mengajak bertanding dengan kalian?"

"Apakah kalian orang-orang Kun-lun-pay hanya bisa menyerang orang secara menggelap, tidak berani bertanding secara jantan?" Berkata Thiat-kwan Totiang dengan suara dingin.

Tuduhan itu sesungguhnya terlalu berat. Tie-hui-cu, Siong Phiauw Yan dan Siau Tek, ketika mendengar ucapan itu, wajah mereka dengan mendadak lantas berubah.

Tie-hui-cu buru-buru menggunakan tangannya mencegah kedua sutenya itu melakukan gerakan, ia masih berkata kepada Thiat-kwan Totiang sambil tertawa: "Orang-orang golongan Kun-lun-pay belum sampai demikian tidak berguna dan tidak tahu maku seperti apa yang kau katakan tadi. Kalau dikehendaki, untuk mengadakan pertandingan saja, sebetulnya tidak menjadi halangan, tetapi atas kebijaksanaan saudara ketua yang sudah memberi waktu setahun, supaya aku mengadakan penyelidikan dan mempertanggung jawabkan..."

Belum habis ucapannya, Thiat-kwan Totiang sudah memotong sambil tertawa dingin:

"Bu-tong dan Lo-hu boleh saja memberi waktu padamu satu tahun, tetapi aku dari Tiam-cong-pay, sedikitpun tidak mau bersabar lagi terhadap manusia tidak tahu malu itu. Yang ku kehendaki, pada saat dan tempat seperti sekarang ini, harus dibereskan dengan di hadapan para tokoh rimba persilatan yang ada di sini."

Betapapun besar kesabarannya Tie-hui-cu, saat itu juga tidak sanggup lagi mengendalikan kesabarannya. Atas ucapan pedas dari Thiat-kwan Totiang, maka hawa amarahnya perlahan mulai timbul, sepasang matanya bergerak-gerak dengan sinar yang tajam.

Ketua Kie-lian-pay Khie Tay Cao yang mendengar ucapan keras Thiat-kwan Totiang kembali memberi dorongan semangat, lalu berkata sambil tertawa terbahak-bahak: "Bagus, itu bagus. Thiat-kwan Toheng itu barulah satu- satunya ucapan yang bersemangat pendekar dari orang yang ada di puncak gunung hari ini."

Tie-hui-cu mendongakkan kepala dan tertawa terbahak- bahak, matanya ditujukan kepada Khie Tay Cao. Selagi hendak membuka mulut, saudara termuda ketua Ngo-bie-pay Hian-hian Sianlo, ialah Hok Siu In yang usianya paling muda, sudah tidak dapat lagi mengendalikan perasaannya, dengan tiba-tiba ia berjalan menuju ke lapangan, dan berkata kepada Thiat-kwan Totiang dengan suara marah:

"Berapa jurus ilmu pedang Hui-hon U-liu-kiam-hoat dari kalian golongan Tiam-cong-pay ada apanya yang dapat kau banggakan? Mengapa kau berani membuka mulut besar dan bertingkah d hadapan orang banyak? Mengapa kau tidak membuka mata melihat ketua-ketua Bu-tong-pay dan Lo-hu- pay, betapa besar jiwa mereka? Jikalau kau hendak main gagah-gagahan, aku tidak suka memandang perbuatanmu yang sangat congkak itu, lekas kau turun ke gelanggang, Hok Siu In akan memberi pelajaran beberapa jurus kepadamu dengan ilmu pedang golongan Ngo-bie-pay."

Ketua Ngo-bie-pay Hian-hian Sianlo sungguh tak menyangka bahwa adik seperguruannya itu secara tiba-tiba sudah bertindak membela Kun-lun-pay, tetapi ia juga hanya mengerutkan alisnya tidak mencegah lebih jauh.

Ketua Tiam-cong-pay menatap Hok Siu In sejenak, mungkin karena melihat gadis yang muda belia itu, maka dipandangnya dengan sikap menghina, katanya dengan suara dingin: "Nona Hok, meskipun kau hendak membela Kun-lun- pay, tetapi dengan kepandaian yang kau miliki sekarang ini, barangkali masih belum memerlukan aku turun tangan sendiri."

Hian-hian Sianlo yang mendengarkan ucapan takabur itu memperdengarkan suara dari hidung, kemudian berkata padanya: "Ketua Tiam-cong-pay, kau jangan terlalu tinggi pandang dirimu sendiri. Jikalau Hok Siu In masih belum ada kedudukan untuk bertanding denganmu biarlah aku nenek tua ini menyambuti seranganmu, kau pikir bagaimana?"

Tokoh-tokoh rimba persilatan dari rombongan peninjau ketika mendengar orang-orang golongan Ngo-bie dan Tiam- cong hendak mengadu kepandaian, semangat mereka tergugah lagi.

Pada saat itu Tie-hui-cu memberi hormat dan berkata kepada Hian-hian Sianlo: "Sianlo, harap jangan marah dulu, jikalau Tiam-cong-pay benar-benar mau mengerti, maka soal yang menyangkut golongan Kun-lun-pay biarlah orang Kun-lun sendiri yang mempertanggung jawabkan."

Sehabis berkata demikian, ia memberi isyarat dengan matanya kepada sam-sutenya Siauw Tek, maksudnya minta sutenya itu turun tangan untuk menggantikan Hok Siu In.

Siauw Tek yang melihat isyarat dari suhengnya seketika itu mengerti, baru saja hendak turun ke lapangan, Hok Siu In yang sudah lama menunggu, kedua alisnya berdiri dan berkata pula kepada Thian-kwan Totiang.

"Jikalau kau anggap dirimu sebagai ketua dari suatu partai, hingga tak memandang diriku, boleh saja kau perintahkan sutemu yang menamakan diri jago pedang nomor dua atau jago pedang nomor tiga yang turun ke lapangan. Apakah ilmu pedang Hui-hong U-liu-kiam-hoat yang selamanya kau banggakan itu masih patut menghadapi ilmu pedangku dari Ngo-bie?"

Thiat-kwan Totiang sangat marah atas tantangan itu, matanya ditujukan kepada Liong-hui Kiam-khek jago pedang nomor tiga, kemudian berkata kepadanya: "Sam sute, jikalau ada kegembiraan sukalah kiranya kau turun ke lapangan untuk menghadapi jago pedang terpandai dari Ngo-bie-pay ini!"

Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie yang mendengar ucapan suhengnya itu lalu turun ke lapangan. Sudah lama sebenarnya ia dengar kabar tentang ilmu pedang Siu In, ternyata yang paling pandai dari dua saudara tuanya, maka ia tak aberani memandang ringan kepada gadis cantik itu, sambil memberi hormat ia berkata: "Nona Hok, harap berlaku hati-hati, pedang Ceng-liong-kiam ditangan Su-to Wie ini bukanlah terbuat dari besi biasa."

Sehabis berkata demikian, ia menyentil ujung pedang dengan jari tangannya, hingga pedan itu mengeluarkan suara mengaung dan menimbulkan sinar!

Meskipun Hok Siu In sudah tahu bahwa pedang Ceng-bok- kiam ditangan lawannya adalah pedang pusaka yang tajam sekali, tetapi ia sedikitpun tidak merasa heran atau jeri, dari dalam sakunya ia mengeluarkan pedang pusaka dari gunung Tay-piat-san, pedang yang masih menjadi gulungan itu diletakkan di telapak tangannya dan ia berkata kepada Liong- hui Kiam-khek sambil tertawa:

"Pedang Ceng-bong-kiam, hanya terbuat dari bahan besi yang agak baik, yang lebih tajam dari pedang biasa, apa yang kau banggakan? Kenalkah kau senjata apa yang berada di tanganku ini?" Ucapan Hok Siu In itu menarik perhatian orang yang ada di situ, hingga semua mata ditujukan kepada butiran warna perak yang berada di tangannya. Sebagai seorang yang berpengalaman ketua Bu-tong-pay Hong-hwat Cinjin pertama- tama yang mengeluarkan seruan kaget, kemudian berkata: "Butiran perak ini seperti pedang Liu-yap-hian-sie-kiam peninggalan Tay-piat Sianjing, seorang jago pedang nomor satu dirimba persilatan pada tiga ratus tahun berselang."

"Pengetahuan Ciang-bun Cinjin sesungguhnya sangat luar, Hok Siu In sangat kagum!" Berkata Hok Siu In sambil memberi hormat dan tertawa.

Sehabis berkata, ia lalu mengempos kekuatan tenaga dalamnya, disalurkan ke pedangnya, selama itu tidak tertampak gerakan sedikitpun juga, namun butiran perak yang berada di tangannya tiba-tiba berubah menjadi sebilah pedang bagaikan daun pohon nyiur, pedang itu panjangnya hanya dua kaki lebih, namun sinarnya berkilauan.

Pedang Liu-yap-hian-sie-kiam peninggalan Tay-piat Sianjing itu dari bentuknya saja sudah sangat aneh, apalagi Hok Siu In yang sudah menyalurkan kekuatan tenaga didalam awak pedang itu, semakin mengejutkan semua orang yang ada di situ.

Kini semua mata ditujukan ke lapangan, mereka ingin menyaksikan pertandingan antara jago pedang nomor tiga dari Tiam-cong dan jago pedang nomor empat dari Ngo-bie, siapakah nanti yang akan menang, dan siapa yang akan kalah?

Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie sesungguhnya tidak menduga bahwa gadis cilik itu juga mempunyai pedang pusaka yang jarang ada didalam dunia, oleh karenanya didalam hatinya agak kuncup, tetapi oleh karena pedang Liu- yap-bian-sie-kiam yang lemas itu, pedangnya kecil dan pendek, maka ia masih tidak begitu jeri untuk menghadapinya, ia mulai membuka serangannya dengan mata memandang Hok Siu In tanpa berkedip.

Sebaliknya Hok Siu In saat itu tangannya menggenggam pedang lemasnya, dilintangkan di hadapan dadanya, ia miringkan badan dan menggeser ke kanan, secepat kilat ia sudah putar kakinya tiga putaran, dua jago pedang itu sama- sama maju ke tengah lapangan dan saling menyerang. Pertandingan ilmu pedang itu sesungguhnya menggemparkan semua orang yang ada di situ.

Tiga jurus kemudian pedang masing-masing mengeluarkan hembusan angin dan hawa yang sangat dingin.

Ilmu pedang dalam golongan Tiam-cong unggul dalam kecepatan dan keganasannya, sedang ilmu pedang Ngo-bie unggul dalam kelincahan dan gerak tipunya yang aneh, dua orang itu masing-masing mengeluarkan kepandaiannya sendiri-sendiri, kedua pihak sama-sama mengerahkan ilmu kekuatan tenaganya, sehingga bagi penonton yang biasa menggunakan pedang pada mencurahkan perhatiannya ke medan pertempuran. Begitupun pemimpin Bu-tong-pay Hong- hwat Cinjing, juga saban-saban menganggukkan kepala memberi pujian.

Sementara itu Ca Bu Kao oleh karena dalam hati masih ada yang dipikirkan, sepasang matanya terus ditujukan kepada Su-to Wie, ia memperhatikan setiap gerakan sehingga yang paling kecil dari jago pedang nomor tiga itu, diam-diam juga merasa heran mengapa Hee Thian Siang begitu terlambat datangnya? Bahkan begitu tiba lantas pergi lagi secara tergesa-gesa bersama Sah Han Kong, apakah sebetulnya yang sedang dilakukan dan apakah ia hendak mengobati orang terluka? Sementara itu dua jago pedang yang sedang bertarung ditengah lapangan sudah memuncak ke taraf penentuan!

Pedang Ceng-hong-kiam ditangan Liong-hio Khiam-khek yang lebih panjang dari pedang Hok Siu In dengan sinar yang berkilauan dan gerak tipu ilmu pedangnya yang sangat ganas, hampir setiap serangannya mengancam tempat-tempat berbahaya badan Hok Sui In, bahkan beberapa kali ujung pedang hampir memapas rambut diatas kepala lawannya.

Sedangkan pedang Liu-yap-bian-si-kiam ditangan Hok Siu In meskipun bentuknya kecil dan pendek, tapi sangat berbahaya, apalagi diimbangi dengan gerak tipu ilmu pedangnya yang licah dan aneh luar biasa, ujung pedang itu beberapa kali hampir menembusi ulu hati Su-to Wie! Dua jago pedang yang sedang mengadu kepandaian itu meskipun tiap saat berada dalam keadaan berbahaya, dan setiap saat bahaya maut bisa merenggut jiwa masing-masing, namun satu sama lain masih tetap tenang, sedikitpun tidak kalut gerakannya! Tetapi orang-orang dari pihak Tiam-cong dan Ngo-bie yang berdiri sebagai penonton, terutama ketua masing-masing, sebaliknya merasa berdebaran dan hampir tak berani bernapas.

Thiat-kwan Totiang maupun Hian-hian Sian-lo sudah beberapa kali ingin memanggil orang di pihaknya supaya menghentikan pertempuran itu, tetapi mereka agaknya beranggapan sama tiada satupun yang berani mengeluarkan suara, satu sama lain saling menunggu siapa yang akan membuka suara lebih dulu!

Karena dua orang ketua partai itu di satu pihak khawatir orangnya sendiri, sedangkan dilain pihak mereka segan turun tangan, agar jangan sampai menurunkan derajatnya sendiri, maka kedua-duanya pada akhirnya tiada seorangpun yang mengeluarkan suara untuk mencegah berlangsung pertandingan itu. Sementara itu Hok Siu In yang merasa gemas terhadap lawannya, saat itu sambil mengertak gigi ia ke arah seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan, dengan memakai gerak tipu "Naga langit menggulung ekor" pedang di tangannya berubah menjadi sinar berkilauan yang berputaran menggulung kepala Liong-hui Kiam-khek.

Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie yang sudah lama belum berhasil menundukkan lawannya, juga sudah bertekad hendak mengadu jiwa dengan gadis itu. Sambil mengeluarkan siulan panjang, gerak tipunya dirubah, dengan gerak tipu yang terampuh ia menerjang lawannya. Suara siulan panjang Su-to Wie tadi mengejutkan Ca Bu Kao, tetapi karena ia sedang menghadapi keadaan gawat, maka tidak mengambil pusing itu semuanya, matanya cepat ditujukan kepada dua bilah pedang yang sedang beradu itu! Dua bilah pedang pusaka itu setelah beradu menimbulkan suara hebat.

Ketua Tiam-cong dan ketua Ngo-bie, masing-masing dengan perasaan terkejut maju selangkah, sedan Hok Siu In dan Su-to Wie juga sudah lompat mundur tiga kaki! Lengan kiri Hok Siu In dirasakan kejang dan ngilu, pedang lemasnya hampir terlepas dari genggaman tangannya.

Demikian pula dengan Su-to Wie, saat itu nampaknya lebih mengenaskan karena pedang pusakanya yang diandalkan ternyata sudah rompal oleh pedang lemas lawannya, hingga pada saat itu ia berdiri tertegun dengan perasaan marah, terkejut dan sayang!

Thiat-kwan Totiang yang menyaksikan keadaan demikian, segera turun sendiri ke lapangan, dalam keadaan marah ia menantang dengan suara lantang: "Ketua-ketua Kun-lun dan Ngo-bie, siapakah yang akan turun ke lapangan, ataukah kedua-duanya turun berbareng?" Tantangan Thiat-kwan Totiang diucapkan dengan suara yang amat jumawa, bukan saja membuat Hian-hian Sianlo dan Tie-hui-cu sudah tak dapat mengendalikan kesabarannya lagi, bahkan membuat Peng-sim Sin-nie dan Hong-hwat Cinjin yang mendengarkan juga turut menggeleng-gelengkan kepala, menunjukkan sikapnya yang tidak senang.

Siapakah sebetulnya yang akan menerima tantangan Thiat- kwan Totiang? Dan bagaimana kesudahannya pertempuran hebat itu? Untuk sementara kita akan tunda dulu, dan biarlah kita mengikuti perjalanan Hee Thian Siang yang tergesa-gesa datang ke puncak Thian-tu-hong dan buru-buru mengajak pergi Say Han Kong.

Say Han Kong yang mengikuti Hee Thian Siang lompat turun ke bawah, karena masih belum mengerti maksud pemuda itu maka ia bertanya sambil tersenyum: "Hee laotee, katamu tadi yang mengatakan bahwa menontong keramaian tidak lebih penting daripada menolong jiwa orang, ucapan itu meskipun benar, tetapi siapakah yang harus ditolong? Terlukakah atau sakitkah? Bolehlah kau beritahukan lebih dulu?"

Hee Thian Siang yang sikapnya masih cemas, dan sedang mengerahkan ilmunya meringankan tubuh, meluncur ke bawah gunung, ketika mendengar pertanyaan itu lantas menjawab: "Harap locianpwe cepat sedikit, kalau locianpwe terlambat, barangkali tidak keburu menolong jiwanya. Korban yang perlu ditolong itu adalah..."

Say Han Kong yang mendengar sampai di situ diam-diam mempercepat kakinya, dan secara kelakar ia berkata: "Hee laote, sekalipun kau tidak mau mengatakan, aku juga dapat menebak siapa orangnya!"

Hee Thian Siang berpaling mengawasi Say Han Kong sejenak, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala: "Julukan locianpwe adalah Say Han Kong, tetapi bukanlah Say Kui Kok, boanpwe tidak percaya dapat meramalkan hal- hal yang belum terjadi, apalagi meramalkan dengan jitu!"

Say Han Kong berani mengucapkan perkataan tadi, hanya atas dasar apa yang dilihatnya dan didengar di puncak Thian- tu-hong, ia menganggap bahwa dugaan itu pasti tidak keliru, maka saat itu lalu menjawab dengan bangganya: "Laote, kali ini kau mungkin akan heran, meskipun aku tidak mempunyai julukan Say Kui Kok, tetapi aku memiliki kepandaian Kui Kok! Kau mengajak pergi aku secara tergesa-gesa dan katamu perlu menolong orang dengan segera, orang yang kau hendak tolong itu bukankah ketua Swat-san-pay Peng-pek Sin-kun dan istrinya Mao Giok Cing?"

Hee Thian Siang berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa besar: "Tidak benar, tidak benar, dugaan locianpwe seluruhnya keliru..."

Belum habis ucapannya dengan tiba-tiba ia berhenti dan memandang Say Han Kong dengan terheran-heran, kemudian bertanya: "Ketua Swat-san-pay Pang-pek-kun dan istrinya semua memiliki kepandaian ilmu silat luar biasa, cara bagaimana mereka bisa terluka dengan mendadak?"

Say Han Kong dengan ringkas menceritakan apa yang dilihatnya di atas puncak Thian-tu-hong, setelah itu ia terus menanya Hee Thian Siang: "Hee laote, kalau kau mengatakan dugaanku itu keliru, apakah orang yang terluka di bawah gunung ini selain dari pada Peng-pek Sin-kun dan istrinya, masih ada orang lain yang kau pandang sebagai tamu luar biasa?"

Hee Thian Siang yang semula mengerutkan alisnya, setelah mendengar pertanyaan terakhir dengan tiba-tiba tersenyum dan dengan sikap sangat misterius berkata sambil menunjuk ke depan: "Di depan sana dibagian tikungan itu, kita sudah akan tiba ditempat yang kumaksudkan. Untuk apa sekarang locianpwe perlu menanya demikian jelas? Korban yang kuminta locianpwe tolong itu, kalau kukatakan sebagai makhluk luar biasa didalam dunia sudah pasti tidak salah, tetapi apakah boleh sekiranya kalau ditambah istilah tamu luar biasa? Itu terserah kepada locianpwe nanti setelah menyaksikan sendiri!"

Jawaban Hee Thian Siang yang semakin mengandung misteri semakin mengherankan Say Han Kong, karena tempat yang dituju itu hanya terpisah kira-kira lima tombak saja, maka ia tidak menanyakan lebih jauh dan dengan cepat lompat melesat ke tempat itu.

Di belakang sebuah gunung itu ada sebuah batu besar yang atasnya sangat rata, tetapi ketika Say Han Kong tiba ditempat itu dan menyaksikan apa yang ada di atas batu lantas berdiri tertegun dan merasa terheran-heran, lama ia baru berkata sambil menunjuk Hee Thian Siang serta menggelengkan kepada dan menghela napas: "Hee laote, kau ternyata sudah mempermainkan aku, aku harus meninggalkan Thian-tu-hong yang sedang ramai-ramainya, dengan maksud apa kau ajak aku lari kemari?"

Perasaan Say Han Kong dapat dimengerti, karena saat itu ia hanya menyaksikan seekor kera kecil berbulu putih yang rebah terlentang di atas batu itu, dimana ada orang yang oleh Hee Thian Siang dikatakan sebagai makhluk luar biasa didalam dunia?

Hee Thian Siang sehabis mendengarkan ucapan Say Han Kong lalu berkata dengan sungguh-sungguh: "Apakah locianpwe ada membawa obat yang baru dibuat? Tolong, lekas tolong jiwanya kera putih ini! Setelah locianpwe menyaksikan lukanya, mungkin tahu bahwa hal ini besar hubungannya dengan apa yang kini berlangsung di atas puncak gunung, kiraku ini merupakan ekor daripada kejadian yang kini sedang diperbincangkan oleh orang-orang kuat rimba persilatan di atas puncak gunung ini!"

Mendengar ucapan Hee Thian Siang itu, Say Han Kong lalu menghampiri batu besar untuk memeriksanya, ia lihat kera putih itu sekujur badannya gemetaran, napasnya sudah hampir putus, lengan kirinya tertancap sebuah duri berbisa berujung tiga yang berwarna biru kehitaman! Begitu melihat duri berbisa itu, benar saja Say Han Kong segera berubah wajahnya dan menunjukkan perasaan terkejut serta terheran- heran, ia buru-buru mengeluarkan capitan besinya untuk menjepit keluar duri berbisa itu dan setelah itu ia memberikan sebuah pil dan dimasukkan ke dalam mulut kera putih.

Sambil memberi pertolongan, ia berkata kepada dirinya sendiri: "Kembali duri berbisa Thian-kheng main gila, tiga orang Kun-lun-pay yang menghadiri pertemuan itu semuanya masih berada di puncak Thian-tu-hong, siapakah orangnya yang menggunakan duri berbisa ini? Benda yang digunakan untuk membokong Peng-pek Sin-kun suami istri, mungkin juga benda ini?"

"Pertemuan besar di puncak Thian-tu-hong ini mungkin sangat ruwet sekali! Aku sebetulnya tadi malam telah tiba di puncak gunung, tetapi karena di perjalanan berkali-kali mengalami serangan yang dilakukan secara menggelap oleh orang-orang yang bermaksud hendak mencegah kedatanganku, maka kedatanganku agak terhalang, dan pada akhirnya ketika tiba di bawah puncak Thian-tu-hong, jikalau bukan karena kera putih ini yang mendahului aku, dan akhirnya mengalami nasib seperti ini barangkali juga aku akan dihadiahi sebuah duri beracun, yang membunuh orang tanpa suara dan tanpa wujud, akan tetapi luar biasa ganasnya!"

Say Han Kong yang pagi itu baru tiba, sudah tentu tidak tahu apa yang terjadi tadi malam, maka ketika mendengar penuturan itu, ia lantas menanya kepada Hee Thian Siang, pemuda itu juga memberitahukan apa yang telah dialaminya.

Hee Thian Siang, dari jauh-jauh menampak Tiong-sun Hui- kheng, pikirannya semakin bimbang dan seolah-olah semangatnya terbawa oleh berlalunya gadis itu. Pikirannya sejak waktu itu selalu mengharapkan agar Tiong-sun Hui- kheng itu adalah gadis yang dilihatnya di gunung Kiu-san dahulu itu, sebab jikalau gadis yang dilihatnya itu adalah Liok Giok Jie, murid dari Kun-lun-pay, dengan terjadinya peristiwa ini mungkin akan menimbulkan banyak keruwetan baginya.

Dengan pikiran bimbang itu ia lanjutkan perjalanannya kegunung Oey-san, ia yang selamanya bernyali besar dan gemar segala kejadian aneh, waktu itu sudah pikir, bagaimanapun juga pada malam hari sebelum pertemuan diadakan harus tiba di puncak gunung Thian-tu-hong. Apa mau, baru saja tiba ditempat hanya beberapa pal terpisah dari Thian-tu-hong, setiap tiba ditempat-tempat yang sunyi dan rimba-rimba selalu menghadapi serangan gelap dengan berbagai senjata rahasia, orang-orang yang menyerang secara menggelap itu agaknya mengandung maksud hendak merintangi Hee Thian Siang supaya tidak dapat melanjutkan perjalanannya.

Hee Thian Siang semula masih tak menduga bahwa selagi tokoh-tokoh kuat dari berbagai golongan berkumpul di atas gunung Oey-san, bagaimana bisa terjadi hal semacam itu? Jikalau ia tidak memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh luar biasa, benar-benar sudah terluka oleh serangan gelap itu. Tetapi setelah mengalami dua kali, ia mengetahui bahwa senjata-senjata rahasia yang digunakan untuk menyerang dirinya itu semuanya merupakan senjata-senjata rahasia yang sangat berbisa, hingga ia lalu mengetahui bahwa serangan itu bukanlah secara kebetulan, melainkan sudah disengaja, maka ia lantas berlaku hati-hati. Oleh karena tindakannya yang hati-hati itu maka perjalanan lantas mulai perlahan, malam itu di bawah sinar rembulan, Hee Thian Siang dapat lihat bahwa ia kini berada di suatu tempat yang letaknya sangat berbahaya, jalanan yang dilalui itu di apit oleh dua puncak gunung, bukan saja sempit, tapi juga sangat berbahaya, apalagi dibagian kiri jalanan itu terdapat banyak pohon-pohon lebat, hingga keadaannya sangat gelap.

Ia berjalan lambat-lambat sambil berpikir, rimba kecil di tepi jalan ini, adalah suatu tempat yang paling baik untuk melakukan serangan menggelap, mengapa aku tidak berlagak seperti tidak tahu? Dalam berpikiran demikian, ia berjalan terus dengan tenang, namun sudah siap siaga, begitu ada sedikit gerakan ia segera menyerbunya. Ia sudah bertekad hendak menemukan salah seorang dari orang-orang yang melakukan serangan menggelap itu, juga ia ingin tahu, siapakah adanya orang jahat itu. Setelah mengambil keputusan demikian, dengan sikap yang seolah-olah tidak ada persiapan ia berjalan seenaknya, bahkan kadang-kadang celingukan ke kanan kiri, dan mendongakkan kepala untuk memandang rembulan di langit, seperti tak menghiraukan keadaan di sekitarnya.

Rimba di bawah puncak gunung itu terpisah dengan jalanan gunung kira-kira tiga tombak lebih, Hee Thian Siang mengerti, asal ia berjalan memasuki jalan itu, di belakangnya pasti ada senjata rahasia sejenis jarum atau paku berbisa yang sangat jahat, akan menyerang dirinya, maka ia harus bersedia lebih dahulu, ia mengeluarkan jaring wasiat warna merah pemberian Bu-san-siansu Hwa Ji Swat, digenggam dalam telapak tangannya.

Benar saja, Hee Thian Siang yang baru beberapa langkah di belakangnya sudah ada serangan senjata rahasia yang mengarah dirinya. Hee Thian Siang melirik ke belakang, ia melihat diantara bayangan pohon tampak tiga buah benda berwarna biru meluncur ke arahnya, ia terkejut karena senjata rahasia yang digunakan untuk menyerang dirinya itu, ternyata adalah senjata rahasia yang dinamakan In-leng-pek-cian atau Anak panah berbulu putih, senjata rahasia semacam itu hanya boleh dielakkan tetapi tidak boleh disambut, juga tak boleh disentuh dengan senjata tajam, karena senjata rahasia itu mengandung bahan peledak dan sangat berbisa.

Oleh karena itu, diam-diam ia merasa bersyukur bahwa ia mendapat hadiah jaring wasiat yang dapat digunakan untuk menumpas segala senjata rahasia yang berbisa.

Setelah ia mengetahui senjata rahasia yang menyerang dirinya, tanpa ayal lagi, ia membuka jaring wasiat di tangannya, jaring itu berubah menjadi gumpalan warna merah, tiga buah anak panah beracun itu telah digulungnya ke dalam jala.

Oleh karena Hee Thian Siang sudah bertekad hendak mencari tahu siapa orangnya yang melakukan serangan menggelap itu, maka disamping menjala senjata rahasia dengan jaring wasiatnya, ia juga terus lompat melesat ke dalam rimba tanpa berhenti.

AKan tetapi orang yang melakukan serangan terhadapnya itu rupanya memang sengaja tidak mau dilihat orang, begitu melancarkan serangnya dengan senjata gelap seolah-olah tidak perdulikan serangannya itu mengenakan sasarannya dengan tepat atau tidak, setelah melancarkan serangan segera melarikan diri, oleh karena itu walaupun Hee Thian Siang sudah menyerbu dengan cepatnya namun ketika tiba didalam rimba ia hanya menyaksikan berkelebatnya bayangan orang yang menghilang diantara puncak-puncak gunung, hingga sudah tak keburu lagi untuk mengejarnya. Selagi Hee Thian Siang masih merasa gemas, tiba-tiba dari jurusan Barat daya terdengar suara saling bentak dan kemudian disusul dengan suara jeritan mengerikan.

Karena malam itu sunyi, maka suara itu terdengar sangat nyata. Hee Thian Siang tahu, darimana datangnya suara itu, setidaknya di suatu tempat sejauh sepuluh tombak lebih, maka ia mengerahkan ilmu meringankan tubuh dan lari menuju ke tempat tersebut, namun dalam hatinya ia tak mengerti, sebab apa pada malaman pertemuan besar di atas puncak Thian-tu-hong dengan cara bagaimana ditengah jalan yang menuju kegunung Oey-san itu bisa terjadi peristiwa demikian aneh?

Ketika ia tiba ditempat tersebut, tempat itu sudah tidak jauh di bawah kaki Thian-tu-hong, tetapi tempat itu sunyi senyap, juga sudah tak terdapat jejak seorangpun juga, hanya di atas batu besar ditengah-tengah rimba itu ada sebuah barang aneh yang menarik perhatiannya.

Benda-benda itu sebesar kacang, sebanyak sepuluh butir lebih menancap di atas batu, benda-benda itu kalau dilihat sepintas lalu seperti pasir putih yang menancap di atas salju.

Say Han Kong setelah mendengar cerita Hee Thian Siang seolah-olah baru tersadar, maka ia lalu memotongnya dan bertanya: "Suara saling bentak yang kau dengar itu sudah pasti suara Peng-pek Sin-kun suami istri, mungkin sedang diserang oleh kawanan manusia jahat, dan suara jeritan yang kau dengar itu mungkin adalah suara yang keluar dari mulut orang-orang yang melakukan serangan itu, karena terkena serangan balasan Sin-kun suami istri. Sebab benda-benda aneh yang menancap diatas batu yang kau lihat itu adalah senjata rahasia tunggal golongan Swat-san-pay yang dinamakan Peng-pek Gin-kong-san." Hee Thian Siang kini baru mengerti, selagi hendak bicara, kera putih yang terkena serangan duri beracun itu setelah makan obat yang diberikan oleh Say Han Kong, obat itu benar saja menunjukkan keajaibannya, dalam waktu singkat, racun di tubuhnya sudah punah, sehingga keadaan monyet itu juga sudah pulih seperti sediakala. Dengan tiba-tiba kera itu lompat berdiri, bagaikan anak panah terlepas dari busurnya melesat ke atas bukit yang sangat tinggi.

Hee Thian Siang yang baru hendak berkata kepada Say Han Kong, ketika mendengar suara bergeraknya kera putih itu, baru saja menoleh tapi kera itu sudah melesat tinggi dua tiga puluh tombak, hanya tinggal bayangan putih yang bergerak di atas pohon di puncak gunung.

"Kera putih ini gesit sekali, apakah piaraan perguruanmu?" Bertanya Say Han Kong sambil memuji.

"Dia bukan saja gesit gerakannya, juga sangat menyenangkan, bahkan ia bisa memainkan ilmu pedang Wan- kon Kiam-hoat, tetapi majikan kera putih itu kalau kusebutkan locianpwe barangkali merasa tidak senang, sebab dia adalah Tiong-sun Hui-kheng yang dahulu menangkan kuda Ceng- hong-kie milik locianpwe."

Say Han Kong yang mendengar perkataan itu tertawa, kemudian berkata: "Hee laote, jangan pandang aku seperti manusia berjiwa kerdil saja. Nona Tiong-sun itu meskipun sudah menangkan kuda kesayanganku, tetapi terhadap kecantikan dan kecerdikannya aku masih berkesan dalam sekali dalam pikiranku. Apalagi dia sudah menjinakkan kuda tersebut, kukira sudah pada tempatnya kuda itu kuhadiahkan kepadanya. Hanya di kemudian hari apabila ada jodoh aku masih ingin menanyakan kepadanya dengan cara bagaimana kudaku bisa demikian jinak terhadapnya?" "Dalam hal ini locianpwe tidak perlu menanyakan kepada Tiong-sun Hui-kheng, aku sudah mengerti, rasanya dapat memberi jawaban untukmu."

"Coba kau ceritakan, karena persoalan ini sudah lama mengganggu pikiranku, sudah lama pula aku ingin mendapatkan jawabannya."

"Nona Tiong-sun itu, kecuali mempunyai peliharaan kera putih yang sangat cerdik tadi, masih ada peliharaan seekor binatang aneh berbulu kuning emas yang sangat galak, namun ia dapat memerintahnya menurut sesuka hatinya. Maka aku menduga gadis itu pasti paham bahasa hewan..."

Say Han Kong yang mendengarkan keterangan itu terus menganggukkan kepala sementara itu Hee Thian Siang melanjutkan ucapannya: "Karena nona Tiong-sun paham bahasa hewan, maka hari itu ketika di atas gunung Ciong-san ia berbisik-bisik di telinga Ceng-hong-kie, kuda itu sebagai kuda istimewa sudah tentu lantas menurut kehendaknya. Ini seperti juga locianpwe yang mengerti obat-obatan, kalau mengobati orang sakit tidak mendapatkan kesulitan."

Say Han Kong tahu bahwa jawaban itu mungkin benar, maka diam-diam ia dapat membayangkan bahwa putri Thin- gwa Ceng-mo itu dalam penghidupannya sehari-hari pasti sangat unik.

"Kera kecil tadi kalau benar peliharaan nona Tiong-sun bagaimana ia bisa datang ke gunung Oey-san sendirian, dan terkena serangan duri berbisa?"

Hee Thian Siang lalu menceritakan bagaimana pertemuan dengan Hok Siu In di gunung Tay-piat-san sedang mencari barang pusaka, dan kemudian berjumpa dengan Tiong-sun Hui Kheng yang menghadiahkan pedang Liu-yap-bian-si-kiam kepadanya, setelah itu ia melanjutkan kata-katanya yang belum habis tadi, ia beritahukan bagaimana kera putih itu terkena serangan senjata berbisa dan ia lantas lari ke puncak Thian-tu-hong untuk meminta pertolongannya.

Semula sebetulnya Hee Thian Siang tidak kenal benda apa yang menancap di atas batu yang bentuknya seperti pasir putih berkilauan yang ternyata adalah senjata rahasia tunggal golongan Swat-san-pay, waktu itu dengan penuh keheranan ia hendak mengambilnya sebuah untuk dilihatnya.

Di luar dugaannya ketika ujung jarinya baru menyentuh butiran-butiran putih yang sangat aneh itu, hawa dingin yang keluar dari senjata itu begitu hebat dirasakan oleh jarinya, dalam keadaan keheranan ia buru-buru menarik kembali jarinya dan kemudian di puncak gunung yang agak jauh ia mendengar suara orang tertawa aneh.

Secepat kilat Hee Thian Siang angkat kepala, tampak olehnya di atas tebing sejauh sepuluh tombak lebih dan setinggi beberapa puluh tombak, berdiri sesosok bayangan orang yang bertubuh kecil pendek.

Karena ia sedang mencari orang yang melepaskan senjata duri beracun itu, sudah tentu tidak mau melepaskan orang itu begitu saja. Saat itu ia lalu bertanya-tanya kepada diri sendiri apakah ia perlu segera mengejar ke puncak gunung itu?

Sementara itu bayangan putih itu sudah melayang turun dari tempat setinggi itu ke arah Hee Thian Siang.

Pada waktu itu rembulan kebetulan tertutup oleh awan, hingga keadaannya agak gelap. Hee Thian Siang meskipun sudah menggunakan pandangan matanya yang tajam juga tak dapat melihat tegas keadaan yang sebenarnya dari bayangan putih itu. Ia hanya merasakan bahwa orang itu berani melayang turun dari tempat yang demikian tinggi, ilmunya meringankan tubuh sudah tentu jarang ada orang yang mampu menandingi.

Akan tetapi bayangan putih itu ketika tiba ditempat dihadapannya kira-kira lima enam tombak, tiba-tiba mengeluarkan suara siulan perlahan. Hee Thian Siang baru tahu bahwa bayangan itu ternyata sejenis binatang, bukan manusia, hingga saat itu ia merasa malu pada dirinya sendiri, dengan cepat ia teringat kepada kera putih aneh yang bisa mainkan ilmu pedang Wan-kon Kiam-hoat yang pernah dilihatnya di gunung Tay-piat-san.

Selagi masih berpikir, bayangan putih itu sudah berada dihadapannya, dan memang benar bayangan putih yang pernah dilihatnya di gunung Tay-piat-san itu, saat itu kera itu menatap wajah Hee Thian Siang dengan sepasang matanya yang tajam.

Hee Thian Siang yang melihat kera putih itu berada di situ, ia mengira bahwa majikannya Tiong-sun Hui Kheng barangkali juga berada ditempat dekat-dekat situ, maka ia lalu balas memandang.

Kera putih itu benar-benar sangat cerdik, ia seolah dapat menduga pikiran Hee Thian Siang, maka berulang-ulang ia menggoyangkan tangannya di hadapan Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang dahulu sudah tahu bahwa majikan kera itu paham bahasa hewan dan sebagai binatang yang cerdik pandai, pasti juga paham bahasa manusia, maka ia lalu bertanya sambil tersenyum: "Maksudmu menggoyangkan tangan kepadaku apakah kau hendak mengatakan bahwa majikanmu tidak berada di dekat sini?"

Kera putih yang mendengar perkataan itu menganggukkan kepala, dari mulutnya hanya mengeluarkan suara yang tidak dimengerti oleh Hee Thian Siang. Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian lantas berkata lagi: "Aku tidak seperti majikanmu yang paham bahasamu, kata-katamu terhadapku ini, seolah-olah memetik gitar di hadapan sapi, sia-sia saja usahamu."

Kera putih itu benar saja lantas tidak mengeluarkan suara, kembali ia menggunakan kedua tangannya untuk memberi tanda-tanda dengan gerakan tangan.

Kali ini Hee Thian Siang dapat mengerti sedikit gerakan tangan yang diberikan oleh kera putih itu, maka lalu bertanya sambil tersenyum: "Apa kau mengatakan bahwa majikanmu kini sedang ada urusan dan tidak keburu datang, mungkin besok atau lusa baru tiba disini?"

Kera putih itu menunjukkan sikap kegirangan, berulang- ulang ia menganggukkan kepala. Hee Thian Siang benar- benar suka sekali kepadanya, maka ia lalu pentangkan kedua tangannya, dan kera putih itu sesungguhnya luar biasa, ia agaknya juga mengerti maksud baik Hee Thian Siang, maka secepat kilat ia lompat melesat ke dalam pelukannya, mukanya yang penuh bulu putih ditempelkan di pipi Hee Thian Siang, agaknya juga merasa senang.

Hee Thian Siang dengan sangat gembira memeluk tubuh kera kecil itu, sedang tangannya mengelus-elus tubuhnya yang berbulu indah, tetapi selagi mereka sedang dalam keadaan demikian, ditempat sejauh tiga empat tombak, didalam tempat yang tumbuh pohon-pohon lebat, tiba-tiba terdengar suara aneh.

Hee Thian Siang dan kera putih yang sama-sama memiliki kepandaian luar biasa, daya pendengarannya juga sama- sama tajam, maka begitu suara itu masuk ke telinga mereka, keduanya lalu tujukan matanya ke arah tempat yang tumbuh rumput lebat itu, bahkan kera putih itu segera merosot turun dari pelukan Hee Thian Siang. Benar saja didalam gerumbulan rumput itu ada sembunyi manusia jahat, orang yang bersembunyi itu sudah bertindak lebih dahulu, tiga buah benda berkelebatan kembali meluncur ke arahnya.

Kera itu memperdengarkan suara yang amat marah, ia lompat tinggi lima tombak, kemudian bentangkan lengannya yang panjang menyambar pada tiga buah benda berkeredepan itu.

Hee Thian Siang dapat mengenali bahwa tiga buah benda berkeredepan mengandung sinar biru itu adalah panah berbulu putih yang pernah menyerang dirinya secara menggelap, maka buru-buru mencegah dengan suara nyaring: "Siaopek, kau tidak boleh menyambar benda itu, benda itu tak boleh dipegang oleh tangan."

Siaopek juga pada waktu itu sudah bergerak sangat gesitnya, meskipun sudah mendengar ucapan Hee Thian Siang, tetapi agaknya sudah tidak keburu menarik kembali tangannya, hingga kedua tangannya itu telah menyambar benda berkeredepan tadi.

Hee Thian Siang karena tahu bahwa senjata rahasia panah berbulu putih itu mengandung racun yang sangat berbisa, dan sedikitpun tidak boleh disentuh oleh tangan, jikalau tidak tangan itu pasti melepuh dan kini setelah menyaksikan kera itu menyambar dengan kedua tangannya, sudah tentu hatinya merasa cemas, apa mau ia tidak berdaya untuk mencegahnya. Selagi dalam keadaan gelisah, tiba-tiba terdengar pula suara nyaring, dan enam buah benda berkeredepan kembali melesat keluar dari gerombolan rumput tadi menuju ke arah kera putih tadi. Enam benda berkeredepan yang terdiri lima buah kecil dan sebuah besar itu, Hee Thian Siang begitu melihat sudah dapat mengenali bahwa itu adalah senjata rahasia yang terganas, yang berupa paku berbisa, menyaksikan meluncurnya senjata rahasia itu, hatinya semakin cemas. Ia pikir kera putih itu meskipun gesit sekali gerakannya, rasanya juga sulit untuk mengelakkan diri dari serangan gencar yang dilakukan oleh orang-orang jahat itu.

Selagi Hee Thian Siang dalam keadaan cemas, kera putih itu memperdengarkan suara siulan panjang, bulunya yang putih dengan tiba-tiba pada berdiri, enam benda berkelebatan yang berupa enam senjata rahasia paku beracun tadi sudah lebih dulu terpental jatuh, kemudian kedua tangannya itu digerakkan pula dan tiga batang panah berbulu putih kembali dipatah-patahkan dan dilempar sejauh empat lima tombak.

Kini Hee Thian Siang baru tahu, bahwa kera putih itu benar-benar sejenis binatang yang luar biasa, ia ternyata memiliki kulit demikian tebal bagaikan baja, ia tidak takut senjata tajam atau api.

Tetapi perasaan itu belum lenyap, kera putih yang tidak mempan senjata berbisa itu selagi hendak bergerak lagi untuk menyerbu ke dalam gerombolan rumput untuk mencari musuhnya, tiba-tiba mengeluarkan suara jeritan tertahan, kemudian jatuh rubuh tidak bergerak lagi.

Hee Thian Siang terkejut dan keheranan, tanpa menghiraukan segala bahaya, dengan cepat ia mengejarnya, sementara itu telinganya dapat menangkap suara ser-seran dua kali, dua senjata rahasia yang sangat kecil bentuknya telah menyerang ke arah dadanya.

Tetapi ketika ia menyerbu melesat ke tempat kera tadi sudah siap dengan jaring wasiatnya warna merah, maka ketika senjata rahasia itu menyerang dirinya, kembali ia dapat menggunakan jaring wasiatnya untuk menjaring senjata rahasia tadi. Tempat itu kembali menjadi sunyi, Hee Thian Siang menggerakkan tangannya, menyerang dengan membabi buta ke tempat yang penuh tumbuhan rumput, tetapi tidak terdapat apa-apa. Maka ia buru-buru memondong kera putih yang terluka dan meninggalkan tempat yang penuh bahaya itu.

Ia mencari sebuah batu besar yang licin, lalu meletakkan kera putih diatasnya, mata kera yang cerdik itu dirapatkan, sekujur badannya menggigil tidak hentinya.

Hee Thian Siang sebetulnya tak tahu, dengan cara bagaimana kera putih itu terluka, dan terkena senjata apa, tetapi tiba-tiba ia teringat apa yang dilihatnya di lembah kematian, yang waktu itu Thia-kwan Totiang dan Peng-sim Sin-nie juga menunjukkan badan yang menggigil, keadaan itu serupa dengan keadaan kera putih yang disaksikannya saat itu, maka ia memeriksa sekujur badan kera itu, dan benar saja di lengan kirinya ia dapat menemukan sebuah duri beracun thian-keng-cek yang berwarna biru kehitaman.

Kulit dan daging kera putih yang begitu keras dan kebal dan toh masih tak sanggup menahan serangan senjata berbisa itu, maka saat itu Hee Thian Siang diam-diam juga keheranan sendiri, ia tidak berani lancang mencabut duri berbisa itu, sementara otaknya berpikir dengan cara bagaimana ia harus menolong jiwa kera putih itu.

Dari ingatannya kepada keadaan Thiat-kwan Totiang dan Peng-sim Sin-nie di lembah kematian, ia lalu teringat kepada getah pohon lengci yang umurnya sudah ribuan tahun, ia kini teringat pula bahwa setetes getah itu telah diberikan kepada Say Han Kong yang dibuat obat untuk persediaan dalam pertemuan di atas puncak Thian-tu-hong esok hari, teringat kepada diri tabib sakti itu, maka Hee Thian Siang buru-buru naik ke puncak Thian-tu-hong. Ditengah jalan ketika ia membuka jaring wasiatnya, benda yang jatuh dari jaring itu ternyata juga sebuah duri berbisa.

Ketika Hee Thian Siang berangkat menuju ke puncak, hari sudah hampir terang, ketika ia tiba di puncak ketua Bu-tong- pay sudah memberi pesan banyak kepada ketua Kun-lun-pay Tie-hui-cu.

Hee Thian Siang karena memikirkan keselamatan dari kera putih tadi, dan kedua karena mendengar kabar bahwa pertemuan itu akan diundurkan satu tahun, maka buru-buru ia menarik tangan Say Han Kong, sampai kepada Ca Bu Kao ia juga tidak keburu menemuinya, dengan cepat balik lagi ke bawah gunung.

Say Han Kong yang mendengar penuturan Hee Thian Siang, lantas berkata sambil tersenyum: "Hee laote, sekarang kera putih itu sudah pergi, aku yang sebagai tabib ternyata tidak mengecewakan harapanmu yang sudah memberikan obat mujizat setetes getah pohon lengci itu. Karena tugas kita sudah selesai, sebaiknya kita balik lagi ke puncak gunung, bagaimana kesudahannya benar akan diundurkan atau tidak?"

Karena Hee Thian Siang sendiri juga masih ingin bertemu dengan Ca Bu Kao yang mendadak menghilang di gunung Hok-gu-san, ia juga ingin tanya apa sebabnya, maka ia dapat menyetujui usul Say Han Kong itu.

Dua orang itu dengan cepat balik kembali ke puncak gunung Thian-tu-hong, tapi ketika mereka tiga ditempat tersebut, tempat itu sudah kosong melompong, beberapa puluh tokoh-tokoh rimba persilatan dari berbagai golongan semuanya sudah tak tampak bayangannya, hanya tinggal si pencuri sakti Oe-tie Khao seorang yang masih berdiri menyender di bawah pohon cemara, mendongakkan kepala mengawasi awan di langit, seolah-olah sedang menunggu kedatangan Say Han Kong dan Hee Thian Siang. Begitu melihat Oe-tie Khao, Say Han Kong lalu bertanya: "Pengemis tua, para ketua dari tujuh partai besar dan tokoh- tokoh rimba persilatan yang menghadiri pertemuan besar hari ini, apakah sudah berlalu dengan tergesa-gesa tidak meninggalkan apa-apa di sini?"

"Nah kau lihat saja, apakah itu bukan tanda-tanda yang ditinggalkan oleh orang-orang yang mengadakan pertemuan di sini?"

Sehabis berkata demikian ia ulurkan tangannya menunjuk ke sudut Timur laut di puncak gunung.

Say Han Kong dan Hee Thian Siang tujukan pandangan matanya kearah yang ditunjuk Oe-tie Khao, ditempat itu yang di bawahnya terdapat jurang yang curam, ada lima enam buah batu besar seberat ribuan kati, tiga diantaranya benar saja terdapat tanda aneh.

Sebuah diantaranya terdapat tanda sepasang telapak tangan wanita sedalam kira-kira satu dim lebih, sebuah lagi, agaknya dibelah oleh sebuah senjata yang sangat tajam, hampir saja pecah menjadi dua.

Masih ada sebuah lagi, seluruhnya sudah remuk, hancuran-hancuran batu itu tampak berkeping-keping dan berserakan di sekitarnya.

Say Han Kong yang menyaksikan keadaan demikian alisnya dikerutkan dan bertanya kepada Oe-tie Khao: "Kau jangan coba main gila, katakanlah terus terang, tadi siapa yang bertempur sengit di atas puncak gunung ini?"

Oe-tie Khao menganggukkan kepala dan berkata: "Setelah kalian pergi, orang-orang Tiam-cong-pay dengan sikap yang galak mendesak orang-orang Kun Lun pay supaya mengadakan pertempuran. Tie-hui-cu masih tetap bersabar belum mau meladeni tantangan orang-orang Tiam-cong-pay, akan tetapi kejadian itu telah menimbulkan kemarahan Hok Siu In dan Ngo-bie-pay, lalu mengadu pedang dengan Liong- hui Kiam Khek jago pedang nomor tiga dari Tiam-cong-pay."