Makam Bunga Mawar Jilid 04

 
Jilid 04

Baru berkata sampai di situ, wanita itu tiba-tiba mengeluarkan seruan tertahan, dan berkata pula dengan perasaan terkejut: "Pertempuran besar di puncak gunung Thian-tu-hong itu, meskipun diadakan oleh ketua partai-partai ini, tetapi tidak terdapat ketua dari partai Kie-lian dan Siau-lim! Andaikata Khie-tay-cao hendak datang, juga tidak perlu datang demikian pagi! Apakah maksudnya ia datang ke tempat begitu jauh ke gunung Hok-gu-san bersama anak muridnya?" Mereka toh akan mengadakan pertemuan di gunung itu, perlu apa kita repot menduga-duga? Bukankah lebih baik kita diam-diam mengintai ke sana?"

Sehabis berkata demikian, ia sudah bergerak hendak pergi, tetapi buru-buru dicegah oleh Ca Bu Kao, katanya dengan suara perlahan: "Kie-tay-cao menggunakan tanda api Kiu-yu Leng-hwe, mengumpulkan seluruh anak buahnya. Tanda api itu dilepas demikian tinggi, dapat diduga bahwa jumlahnya orang pasti sangat banyak, juga bukan berada di tempat yang dekat! Jikalau kita pergi sekarang ini, ada kemungkinan bisa berjumpa dengan orang-orangnya. Ini bukan saja sangat berbahaya buat kita, tetapi juga seolah-olah mengeprak rumput mengejutkan ular tidur, sebelum tertangkap ularnya sudah kabur lebih dahulu!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, terpaksa membatalkan maksudnya dan duduk kembali di tempatnya, katanya dengan suara perlahan sambil tertawa, "Maksud bibi Ca, apakah akupun harus menunggu sampai semua orang- orang golongan Kie-lian-pay itu sudah berkumpul, barulah kita boleh pergi ke sana untuk mengintai?"

"Sekarang baru jam dua malam, kita tunggu sampai jam tiga baru pergi, rasanya juga belum terlambat!" Berkata Ca Bu Kao sambil melihat keadaan cuaca. Setelah itu, ia berkata sambil menunjuk ke arah Barat Daya.

"Kau lihat, di sana sudah ada jawaban, bahkan orang yang datang itu adalah salah satu orang penting dari golongan Kie- lian-pay!"

Hee Thian Siang menujukan pandangan matanya ke arah yang ditunjuk oleh Ca Bu Kao, benar saja dari arah itu tampak olehnya api warna hijau yang berjumlah tujuh, perlahan padam tertiup angin! Selanjutnya dari jurusan Timur laut dan Barat, semua sudah memberi jawaban, masing-masing diluncurkan tujuh api yang serupa, ada juga yang enam atau delapan, tetapi tiada satu pun yang enam ke bawah!

"Nampaknya orang-orang kuat golongan Kie-lian-pay hampir semuanya sudah keluar dari sarangnya. Hal ini benar- benar merupakan suatu kejadian aneh!" Berkata Ca Bu Kao kepada dirinya sendiri.

Sebaliknya dengan Hee Thian Siang yang sama sekali tidak memikirkan urusan orang lain, dalam anggapannya, lebih banyak orang kuat yang datang, itu lebih baik baginya. Sebab malam itu setidak-tidaknya ia akan dapat menyaksikan suatu pertunjukan yang ramai! 

Hening sesaat, Ca Bu Kao berkata dengan suara sangat perlahan, "Orang-orang kuat Kie-lian-pay yang sudah di sini, jumlahnya tidak sedikit. Sebentar lagi kita boleh pergi mengintai! Aku tahu adatmu keras kepala dan sombong, sedangkan kau sendiri selamanya juga belum pernah mengalah kepada orang. Tetapi malam ini ada suatu ketentuan yang harus kita perhatikan!"

Melihat sikap sungguh-sungguh dari Ca Bu Kao, Hee Thian Siang lalu bertanya kepadanya, "Bibi Ca, kau maksudkan ketentuan apa yang harus kita perhatikan? Mengapa kau tidak jelaskan? Asal pantas, sudah tentu aku akan mendengar perkataanmu!"

Terhadap pemuda yang sifatnya keras kepala, sombong dan agak nakal ini, Ca Bu Kao benar-benar merasa susah menghadapinya. Ia memandang sejenak, baru berkata sambil mengerutkan alisnya, "Sebab, golongan Kie-lian-pay sedang mengumpulkan semua orang-orang pentingnya, maksud kedatangan mereka itu sesungguhnya sangat mencurigakan, maka malam ini kita harus berlaku hati hati. Usaha kita ini harus dititik beratkan kepada usaha mencari rahasia, sedapat mungkin menghindarkan pertempuran !!"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala dan tertawa, ia anggap bahwa ketentuan itu memang benar.

Sementara itu Ca Bu Kao sudah melanjutkan ucapannya: "Akan tetapi, orang orang dari golongan Kie-lian-pay itu semuanya buka orang orang sembarangan, apabila tindakan kita ini kepergok oleh mereka dan jikalau perlu harus turun tangan untuk memberi perlawanan, ada dua hal yang harus kita perhatikan !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan "turun tangan", semangatnya lantas terbangun, dengan muka berseri-seri, ia mendengarkan Ca Bu Kao yang melanjutkan keterangannya: "Ke satu, kita harus waspada terhadap senjata rahasia mereka yang bernama Kiu-yu Leng-hwee yang tadi kita sudah saksikan, apa semacam itu tidak dapat dipadamkan oleh air, juga tidak dengan kekuatan tangan saja, api itu jikalau mengenakan badan kita, bukan saja dapat membakarnya sehingga kulit badan melepuh, tapi juga akan hangus oleh racunnya yang sangat berbisa !"

Hee Thian Siang ingat betul pesan itu, ia bertanya lagi sambil tertawa:

"Kesatu yang kita harus perhatikan ialah api Kiu-yu Leng- hwee, dan kedua itu apa ??"

"Kedua ialah senjata tongkat baja yang berbentuk sayap elang, senjata ketua golongan Kie-lian-pay itu beratnya seratus lima puluh kati !! Khie Tay-cao bukan saja sudah berhasil menciptakan ilmu tongkat baja itu yang khusus untuk menggempur senjata tajam lawannya, tetapi juga dapat digunakan untuk menotok dua jalan darah badan lawannya. Pemimpin Kie-lian-pay itu, juga merupakan seorang yang tenaga besar, gagah dan berani mati, sesungguhnya merupakan salah seorang terkuat dari lima ketua partai besar dalam rimba persilatan dewasa ini !!"

Hee Thian Siang karena tahu benar bahwa Ca Bu Kao didalam rimba persilatan namanya sangat kesohor, ilmu tangan kosongnya dari golongan Lo-hu-pay sudah mencapai ketaraf yang tinggi, kalau dibanding dengan ilmu kepandaiannya sendiri, masih jauh tidak menempil ! Wanita itu masih jeri menghadapi tongkat Kie Tay Cao dan senjata api Kiu-yu Leng-hwee, bahkan memberi pesan wanti-wanti kepadanya demikian rupa, maka sudah semestinyalah kalau ia sendiri berlaku sedikit hati-hati, jangan sampai menempuh bahaya, sehingga menodai nama baik perguruannya sendiri !!

Sementara itu di beberapa tempat yang tadi muncul api-api warna hijau tampak lompat melesat tiga empat bayangan orang, dengan gerakan yang gesit dan ringan lari serabutan menuju ke tempat yang mengeluarkan apa pertanda semula.

Ca Bu Kao waktu itu mendongakkan kepala melihat cuaca, agaknya sudah jam tiga hampir pagi, maka lalu siap-siap hendak melakukan pengintaian, baru saja hendak mengajak Hee Thian Siang untuk pergi bersama sama, dengan tiba-tiba dari arah Timur laut terdengar pula suara sentilan pedang sampai tiga kali banyaknya !!

Tiga kali suara sentilan pedang itu sebetulnya tidak menarik bagi orang biasa, tetapi bagi Ca Bu Kao seolah-olah mempunyai daya penarik luar biasa, sehingga wanita yang berkepandaian sangat tinggi itu ketika mendengar bunyi tadi sekujur tubuhnya bergetar !

Kiranya Ca Bu Kao bukan saja sudah dapat mengenali bahwa tiga kali suara sentilan pedang tadi adalah tanda rahasia Liong-hui Kiam-Khek Su-to Wie yang dalam barisan jago pedang golongan Tiam-cong merupakan orang yang ketiga, tetapi juga merupakan kode rahasia jikalau hendak mengadakan pertemuan di kala cinta kasih mereka sedang hangat hangatnya !!

Sebaliknya dengan Hee Thian Siang yang tidak mengetahui tanda rahasia suara sentilan pedang tadi, begitu melihat Ca Bu Kao setelah memperhatikan keadaan cuaca, dengan tiba-tiba terpaku, maka ia lantas menegornya:

"Bibi Ca, orang-orang dari golongan Kie-lian-pay sudah tidak sedikit yang datang berkumpul di lembah ini, cuaca agaknya sudah hampir jam tiga !"

Ca Bu Kao uang mendengar tegoran itu wajahnya merah seketika, sambil memaksakan diri untuk tertawa ia menjawab: "Salah seorang kenalan lamaku, dengan tiba-tiba datang kemari bahkan sudah mengeluarkan tanda untuk mengadakan pertemuan... "

Hee Thian Siang dapat kenyataan bahwa Ca Bu Kao agak keberatan untuk pergi bersamanya, maka lalu berkata sambil tersenyum:

"Bibi Ca, silahkan bibi pergi menemui kawan lama, dengan seorang diri aku hendak pergi dulu ke bawah puncak dekat gunung sana untuk mengintai mereka, aku akan perhatikan pesanmu, aku tidak akan berlaku gegabah supaya tidak menimbulkan onar !!"

"Begitupun baik, kau pergi menuju ke Barat daya sedangkan aku menuju ke Timur laut, setelah kita kedua pihak menyelesaikan urusan masing-masing, nanti bertemu lagi di tempat ini !" Berkata Ca Bu Kao sambil menganggukkan kepala.

Hee Thian Siang yang sudah tidak sabaran jika mendengar ucapan itu dengan cepat lantas bergerak, tetapi di telinganya masih dapat menangkap pesan Ca Bu Kao yang diucapkan dengan suara pelahan: "Jangan lupa, perhatikan senjata yang berupa tongkat baja dan api Kiu-yu Leng-hwee !"

Hee Thian Siang yang sudah menganggur banyak hari, sekarang telah mendapat kesempatan untuk bergerak lagi, apalagi hendak menyaksikan keramaian, sudah tentu sangat gembira sehingga tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi atas diri bibinya, ia juga tidak memikirkan sebab Ca Bu Kao dengan mendadak membatalkan maksud semula yang hendak pergi bersamanya. Atas kecerobohannya itu hampir saja mencelakakan diri wanita itu.

Setelah berjalan kira-kira sepuluh tombak lebih, dalam hatinya baru timbul perasaan curiga, tetapi tatkala ia berpaling melihat ke tempat Ca Bu Kao, ternyata sudah tak tampak bayangannya.

Meskipun ia merasa dirinya sudah alpa mengapa lupa menanyakan Ca BU Kao ada urusan apa, yang mendadak membatalkan maksudnya tetapi ia sedikit pun tidak menyangka jelek atas diri Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie, maka ia tetap melanjutkan perjalanannya ke tempat berkumpulnya orang-orang Kie-Lian-pay hendak mengintai apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan !

Oleh karena Ca Bu Kao tadi telah memberitahukan padanya bahwa dalam golongan Kie-lian-pay terdapat banyak tokohnya yang kuat yang berkumpul di situ, apalagi ketuanya ialah Khie Tay-cao yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali, maka Hee Thian Siang harus berlaku sangat hati-hati, ia tahu dalam perbuatannya itu jikalau tidak hati-hati sedikit suara saja, bagaimanapun kecilnya suara itu, meski pun masih terpisah jarak sepuluh tombak juga akan diketahui oleh mereka! Maka sebelum mendekati kaki bukit ia sudah berhenti dahulu dan memeriksa keadaan sekitarnya, ia pikir dengan cara bagaimana dapat mendaki ke atas puncak gunung, dan kemudian menggunakan pohon rotan yang banyak terdapat di situ, buat turun lagi, dengan cara itu mungkin dapat menghindarkan perhatian orang-orang Kie-lian-pay.

Waktu itu sudah tiada orang lagi yang diajak berunding, jadi apa yang dipikirkannya lantas dilakukan. Dengan sangat hati- hati ia memutar ke samping, kemudian lompat melesat ke puncak gunung, setelah itu ia baru kembali ke arah di mana tadi api pertandaan itu dinyalakan, di situ ia mencari pohon rotan yang ulet dan kuat untuk digunakan sebagai pegangan merambat turun ke bawah.

Ia tahu bahwa merambat turun dengan mengandalkan pegangan pohon rotan masih tetap bisa menimbulkan suara, apalagi waktu itu bulan di langit memberi penerangan samar- samar. Angin gunung juga meniup dan tiupan angin itu seakan saja menimbulkan rasa dingin baginya, juga membahayakan baginya yang merambat turun ke bawah.

Tetapi suara-suara berisik dari daun yang tertiup angin juga merupakan kesempatan baik sekali baginya untuk melakukan tugasnya, cara demikian benar saja untuk sementara dapat mengelabui mata dan telinga beberapa tokoh tersebut dari golongan Kie-lian-pay ! 

Hee Thian Siang yang dengan sangat hati-hati merambat turun kira-kira sepuluh tombak, dengan pandangan matanya yang tajam, dari tempatnya ia sudah dapat lihat di bawah kira- kira delapan-sembilan tombak tampak berkumpul empat orang, mereka semua agaknya melongok ke arah timur laut, seolah-olah sedang menantikan kedatangan seseorang.

Terpisah begitu dekat, jikalau ia turun lagi pasti ia akan kepergok oleh mereka! Apalagi di tempat itu kebetulan ada sebuah batu yang menonjol yang cukup untuk tempat duduk dan kecuali itu di tempat itu juga terlindung oleh bilah-bilah rotan sehingga merupakan tempat yang cukup baik dan strategis baginya. Sayang, tempat itu masih dianggapnya agak ketinggian, apalagi suara mereka tidak dapat tertangkap jelas apalagi jikalau sinar rembulan tertutup awan hingga wajah orang-orang itu nampaknya hanya samar-samar saja.

Sesaat kemudian, ketika rembulan yang tertutup awan itu muncul lagi, gunung-gunung dan daun-daun pohon yang dekat dan jauh, kini telah diliputi oleh sinar rembulan, Hee Thian Siang sekarang baru bisa lihat agak nyata bahwa empat orang yang berada di bawah itu, kecuali salah seorang yang berperawakan tinggi besar, dengan tangan membawa senjata tongkat luar biasa panjang maupun besarnya, sehingga bagi orang yang baru melihat senjata itu, sudah dapat menduganya bahwa orang tinggi besar itu adalah ketua golongan Kie-lian- pay Khie Tay-cao yang namanya sangat terkenal di kalangan Kang-ouw, sedang tiga yang lainnya, tiada seorang pun yang dikenalnya !

Tiga orang itu terdiri dari dua orang lelaki dan seorang wanita, wanita itu adalah seorang wanita yang sudah lanjut usianya, karena rambut di kepalanya sudah putih seluruhnya, sedang yang lelaki, satu di antaranya sudah berusia lima puluh tahun ke atas, lelaki itu mulutnya lebar, begitu pula hidungnya juga besar, sebab berewokan, ditambah lagi dengan wajahnya yang pucat kebiru-biruan, sehingga tampaknya sangat menakutkan! Seorang lagi berpakaian jubah merah, di tangannya membawa senjata alat tulis yang terbuat dari besi, lelaki itu selalu unjukkan muka manis, namun sikapnya sangat licik!

Saat itu mata Khie Tay Cao kembali ditujukan ke arah timur laut, setelah itu ia berkata kepada tiga orangnya: "Tong Samtee dan Go Sute, aku dengan menggunakan tanda Kiu-yu Leng-hwee untuk meminta semua orang berkumpul di sini, kecuali Tho-hwa Niocu yang masih ada urusan sehingga tidak bisa datang, tapi Ciao Ngotee mengapa sampai sekarang belum tiba?"

Hee Thian Siang yang mendengar sebutan itu, baru tahu bahwa lelaki tua berewokan dan lelaki yang mengenakan jubah merah itu, adalah orang-orang yang pernah bekerja- sama dengan Tho-hwa Niocu, memotong sebelah paha Wie Kee Kie dari golongan Ngo-bie-pay. Merekalah yang justru sedang dicari oleh empat jago wanita golongan Ngo-bie, untuk menuntut balas dendam Wie Kee Kie! Tetapi entah siapa wanita tua berambut putih itu? Apakah orang itu yang menjadi kakak seperguruan Khie Tay Cao yang dikabarkan sudah sepuluh tahun lebih tidak mencampuri urusan luar, dan selalu duduk bertapa dalam goa? Kalau betul dia, maka perempuan itu pasti adalah perempuan yang bernama Pao Sam-kow dengan julukannya Pek-kow Losat!

Oleh karena ucapan Tay Cao tadi sampai pada akhirnya sudah mulai marah, maka Tong Kie dan Go Ing, semua hanya mengerutkan alisnya tidak bisa menjawab!

Sedangkan perempuan tua berambut putih itu, dengan sinar matanya yang tajam menyapu keadaan di sekitarnya kemudian berkata:

"Ciangbunjin (sebutan bagi seorang ketua) jangan terburu napsu, Ciao Ngote biasanya sangat berhati-hati, kelambatannya kali ini pasti ada sebabnya!"

Khie Tay Cao agaknya sangat menghormat kepada perempuan rambut putih itu, maka ketika mendengar ucapan begitu, ia lalu memberi hormat dan berkata sambil tersenyum: "Pao suci..." Sementara itu Go Ing lantas menyela sambil tertawa: "Ciang-bun-jin silahkan lihat, apakah itu bukan tanda api yang dilepaskan Ciao Ngote?"

Khie Tay Cao mendongakkan kepala. Benar saja, di suatu tempat di Barat laut, tampak tujuh larik sinar api Kiu-yu Leng- hwe, di malam yang sunyi dan agak gelap itu, begitu berada di tengah udara lantas padam.

Dari ucapan Khie Tay Cao kepada perempuan rambut putih tadi, Hee Thian Siang tahu bahwa dugaannya sendiri tidak salah, perempuan tua rambut putih itu memang benarlah Pao Sam Kow, tokoh Kie-lian-pay yang bertapa di dalam goa Soat- hong-tong, maka setelah mengetahui keadaan wanita itu, dalam hati diam-diam merasa terkejut, sebab pertempuran yang akan diadakan oleh enam partai besar di atas puncak gunung Lian-tu-hong tidak termasuk partai Kie-lian dan Siaw- lim, dua partai lainnya, juga tidak terlibat dalam pertikaian dengan ketiga partai lainnya, walaupun maksud Kie-lian-pay mungkin hanya sebagai peninjau atau penontong biasa, juga tidak pada tempatnya memerlukan datang dari tempat begitu jauh dan mengerahkan seluruh orang-orangnya yang terkuat!

Jadi apa yang terkandung oleh partai itu benar-benar sangat mencurigakan. Hee Thian Siang memikirkan bolak- balik atas tindakan partai itu sedang dari arah tadi tampak berkelebat sesosok bayangan orang yang lari menuju ke tempat pertemuan tersebut!

Orang yang baru muncul itu adalah seorang lelaki bertubuh tinggi kurus, bermata sipit dan tumbuh sedikit kumis di atas bibirnya, orang itu mengenakan jubah panjang warna putih, selain itu dandanannya yang menarik ialah serentengan uang kertas yang selalu digantung di lehernya, persis seperti setan pencabut nyawa yang biasa terdapat dalam dongengan ! "Ciao laotee, mengapa sampai saat ini kau baru tiba?

Apakah. " demikian Khie Tay Cao menegurnya.

"Ciangbunjin, Cia Khan tadi ketika berada di gunung Hok- gu-san di dalam satu gua kuno telah menemukan reruntuhan tulang peninggalan burung rajawali emas!"

Amarah Khie Tay Cao lenyap seketika, dengan girang ia bertanya:

"Ciao laotee, di dekat tulang burung rajawali emas itu, apakah ada barang-barang yang kita butuhkan?"

"Justru karena siatee mengambil barang itu sehingga lambat datang kemari! Karena keadaan hawa udara dan keadaan tanah, mungkin khasiatnya agak berkurang kalau dibanding dengan yang tumbuh di gunung Kun-lun-san!" berkata Ciao Khan sambil tertawa.

Sehabis berkata demikian, ia masukkan tangan ke dalam sakunya, hendak mengambil barang yang dimaksudkan, tetapi perempuan tua berambut putih Pao sam-kow dengan tiba-tiba mencegah sambil menggoyangkan tangan dan berkata:

"Di sekitar tempat ini sekarang ada orang luar, Ciao Ngote harap berlaku hati-hati jangan sampai membuka rahasia!"

Pada waktu itu Hee Thian Siang sedang pusatkan perhatiannya hendak mencari tahu barang apa sebetulnya yang hendak dipertunjukkan oleh Ciao Khan, ketika mendengar ucapan Pao Sam-kow itu, bukan kepalang terkejutnya, karena ia tahu bahwa kehadirannya di situ sudah diketahui oleh nenek rambut putih yang berkepandaian sangat tinggi itu !

Terkejutnya Khie Tay Cao lebih hebat daripada Hee Thian Siang, sambil mengeluarkan suara bentakan keras, bersama- sama Tong Kie, Go Ing dan Ciao Khan, bergerak dengan seretak, dengan setiap orang meluncurkan dua buah api disambitkan ke sekitar tempat yang keadaannya tak gelap itu !

Tetapi oleh karena daerah sekitar kaki bukit itu sangat luas, apalagi sambitan orang-orang dari Kie-lien-pay itu tidak mempunyai tujuan, sehingga api Kiu-yu Leng-hwe yang bersebaran di sekitar tempat itu, tiada satu pun yang mengenai Hee Thian Siang. Api-api itu hanya mengenai pohon-pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu sehingga menimbulkan kebakaran.

Khie Tay Cao yang merasa dirinya sendiri memiliki kepandaian sangat tinggi, namun masih belum ada orang yang mengintai di dekat situ, dan api yang disambitkan juga tidak mengenai sasarannya, sehingga ia merasa sangsi atas ucapan sucinya, maka ia memandangnya sejenak, seolah- olah hendak menanyakan pikiran sucinya itu.

Sementara itu, Pao Sam-kow hanya tersenyum simpul dan tertawa dingin, ia tidak berkata apa-apa hanya mengulurkan tangannya dan menunjuk ke suatu tempat kepada Khie Tay Cao.

Tempat persembunyian Hee Thian Siang ternyata terdapat lobang, pada saat itu sinar rembulan justru memancarkan sinarnya melalui lobang itu, sehingga bayangannya tertampak nyata, bayangan itu merupakan bayangan orang berikut pohon rotannya.

Khie Tai Cao yang menyaksikan bayangan dari sinar rembulan itu, baru mengetahui bahwa sucinya itu telah mengetahui bayangan tersebut, maka segera mengetahui kalau ada orang mengintai. Bukan kepalang amarahnya, sehingga mengeluarkan suara tertawa seperti orang gila. Hee Thian Siang tahu bahwa ia sudah tidak dapat menyembunyikan dirinya lagi, maka dengan secara gagah dan berani sekali ia melayang turun ke bawah.

Begitu kaki Hee Thian Siang menginjak tanah, Tong Kie, Go Ing dan Ciao Khan segera memburu dan mengurungnya di tengah-tengah. Mereka sudah siap menantikan perintah pemimpinnya.

Hee Thian Siang tahu benar bahwa dirinya berada dalam keadaan bahaya, bilamana orang-orang yang mengurung dirinya itu bertempur satu lawan satu, mungkin ia masih sanggup melayani, tetapi apabila Khie Tay Cao yang turun tangan sendiri, apalagi perempuan tua Pao Sam-kow itu, sudah tentu ia tak sanggup melawan.

Ditilik dari kelakuan mereka yang sangat misterius, agaknya hendak merundingkan sesuatu rencana besar yang sangat rahasia, karena rahasia itu telah dipergoki olehnya, sudah tentu orang-orang itu tidak akan melepaskan dirinya begitu saja.

Namun demikian, ia sedikit pun tidak gentar, karena ia selalu ingat pesan suhunya, jangan gentar dan jangan gugup jika menghadapi sesuatu bahaya, maka saat itu ia tidak menghiraukan sikap galak orang-orang Kie-lian-pay, sebaliknya adalah dengan sikap sangat tenang, ia memberi hormat kepada Pao Sam-kow dan Khie Tay Cao, setelah itu ia berkata:

"Aku yang rendah Hee Thian Siang, seorang pendatang baru dalam rimba persilatan, di sini unjuk hormat kepada locianpwe berdua. Harap jangan salah mengerti..."

Belum lagi habis ucapannya, Khie Tay Cao telah menggunakan senjatanya yang berat itu untuk menotok batu- batu di bawahnya, sehingga menimbulkan percikan lelatu yang hebat, dengan sikap yang kaku dingin dan sombong, ia berkata sambil menggelengkan kepala:

"Kau sembunyikan diri dan mengintai orang yang sedang mengadakan pertemuan, perbuatan itu merupakan pantangan besar dalam rimba persilatan. Tidak perlu kau memberi keterangan, aku juga tidak perlu tanya padamu!"

Berkata sampai di situ matanya tiba-tiba didelikkan, dengan sinar mata buas ia berkata pula dengan suara bengis:

"Tong samtee, Ngo sutee, dan Ciao ngotee, mengapa kalian masih belum mau menggunakan api Kiu-yu Leng-hwe untuk mengirim saudara Hee ini ke sorga?"

Tong Kie, Go Ing dan Ciao Khan bertiga ketika mendengar ucapan itu, masing-masing lalu menyerang dengan api Kiu-yu Leng-hwenya, api itu dengan bentuk segi-tiga menyerang Hee Thian Siang dari tiga jurusan.

Api sangat ganas itu, terkena satu saja sudah cukup menyusahkan orang, apalagi kalau tiga-tiganya mengenai sasarannya dengan tepat. Hee Thian Siang pasti akan terbakar hangus ! Apalagi orang-orang dari golongan Kie-lian- pay itu sudah terlatih benar menggunakan senjata rahasianya yang tunggal itu dengan caranya yang khusus! Api itu yang dari jurusan timur, selatan dan barat, cepat dan lambatnya serta tinggi atau rendah, satu sama lain berbeda jauh, andaikata orang yang diserang dapat mengelakkan serangan dari timur, tentu tidak dapat mengelakkan api dari barat, sekali pun dapat mengelakkan serangan dari timur dan barat, juga pasti akan terluka dari api yang menyerang dari selatan!

Maka serangan dengan api sangat berbisa semacam ini, sudah terlalu banyak menimbulkan kematian orang-orang rimba persilatan, serangan semacam itu, oleh orang-orang Kie-lian-pay disebut sebagai ilmu serangan Sam-cay-kiu- kiong. Betapa tinggi sekali pun ilmu kepandaian orang yang diserang, asal sudah terkurung di tengah-tengah, jarang yang sanggup meloloskan diri!

Tetapi Hee Thian Siang bukan saja berani, tapi juga sangat cerdik serta sudah banyak mendapat pengalaman yang aneh- aneh! Ketika melihat sikap dan mendengar ucapan Khie Tay Cao, sudah mengerti bahwa dirinya tidak akan secara mudah bisa terlepas dari kurungan mereka. Maka ia sudah siap dan mengeluarkan dua buah benda pusakanya, tangan kanannya menggenggam jala sutera warna merah pemberian Hwa Ji Swat, sedang tangan kiri menggenggam senjata peledak Kian- thian Pek-lek dari gurunya !

Ketika api Kiu-yu Leng-hwe menyerang dari tiga jurusan, badannya lalu diputar, ia menggunakan jala sutera merah untuk menjaring api Kiu-yu Leng-hwe yang menyerang dirinya dari tiga jurusan!

Perbuatan pemuda itu sesungguhnya di luar dugaan semua orang Kie-lian-pay! Terutama bagi Khie Tay Cao, dengan mata terbuka lebar ia mengawasi api Kiu-yu Leng-hwe yang berada dalam jaring pusaka di tangan Hee THian Siang, api itu masih menyala-nyala, tetapi kemudian padam, maka ia lalu bertanya dengan perasaan tertahan-tahan:

"Apakah kau murid Thian-gwa Ceng-mo ?"

Hee Thian Siang yang baru pertama kali menggunakan benda pusaka jaring warna merah, benar saja sudah menunjukkan khasiatnya, juga diam-diam merasa girang! Setelah mendengar pertanyaan Khie Tay Cao, dengan mata mendelik mengawasi pemimpin Kie-lian-pay dan selagi hendak menjawab, nenek rambut putih Pao Sam-kow sudah berkata kepada Khie Tay Cao: "Ciangbunjin, soal pertemuan kita di tempat ini sangat pantang didengar oleh orang-orang luar, supaya jangan sampai tersiar di kalangan Kang-ouw, karena bisa-bisa nanti akan menimbulkan perkara yang tidak diingini, maka, sekalipun ia adalah muridnya Thian-gwa Ceng- mo juga harus disingkirkan. Jaring sutera warna merah itu meskipun dapat menumpas api Kiu-yu Leng-hwe, apakah ia sanggup menyambuti senjatamu yang beratnya seratus lima puluh kati itu?"

Khie Tay Cao yang diperingatkan oleh sucinya, dengan tiba-tiba tertawa nyaring, badannya bergerak secepat kilat, tanpa bicara apa-apa lagi, senjata tongkat baja di tangannya lalu diangkat dan menyerang kepada Hee Thian Siang! Sebagai ketua dari salah satu partai terbesar, sudah tentu Khie Tay Cao memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat tinggi, ditambah lagi saat itu ia sudah bertekad hendak membinasakan Hee Thian Siang supaya tidak dapat membocorkan rahasianya, maka serangannya itu dapat diduga betapa hebatnya. Serangan itu bukan saja dilakukan dengan kekuatan tenaga demikian besar, sedang ilmu silatnya juga merupakan suatu ilmu silat yang jarang ada di dalam rimba persilatan.

Hee Thian Siang yang sudah tahu bahwa ketua golongan Kie-lian-pay itu memiliki kepandaian dan kekuatan tenaga sangat hebat, dari Ca Bu Kao juga sudah tahu bahwa di antara ketua-ketua delapan partai besar pada masa itu, orang she Khie inilah yang berkepandaian paling tinggi, sudah tentu terhadap orang berkepandaian tinggi itu ia tidak berani berlaku gegabah. Dan oleh karena senjata tongkat baja yang digunakan oleh Khie Tay Cao itu merupakan senjata yang sangat berat, ditambah lagi dengan kekuatan tenaga gerakannya yang hebat, maka ia tidak berani menyambuti senjata berat itu dengan senjatanya sendiri Sam-ciok-kang- hwan. Ia hanya menggunakan gerakan badannya yang sangat lincah, untuk mengelakkan serangan Khie Tay Cao.

Khie Tay Cao yang melakukan serangan dengan senjatanya yang berat, ketika senjata itu masih terpisah satu kaki lebih di atas kepala Hee Thian Siang, dengan tiba-tiba menyaksikan lawannya yang lebih muda itu menggunakan gerak badannya yang lincah dan aneh, secara luar biasa ia sudah lompat sejauh delapan kaki, maka dipandangnya lawannya yang muda itu dengan perasaan terkejut dan terheran-heran. Oleh karena itu pula, secepat kilat pula ia menghentikan serangannya, serangan yang dilakukan dengan penuh tenaga tadi dengan mudah ditariknya kembali! Tapi matanya menatap wajah Hee Thian Siang dengan penuh keheranan.

Untuk menarik kembali serangan yang dilakukan begitu hebat, sesungguhnya bukan soal yang mudah! Hee Thian Siang yang menyaksikan Khie Tay Cao menarik serangannya dengan demikian mudah, baru tahu bahwa pemimpin golongan Kie-lian-pay itu benar-benar bukanlah orang sembarangan, maka ia harus berlaku hati-hati sekali terhadapnya !

Pao Sam-kow yang berdiri di suatu sudut dengan sikapnya yang kejam, agaknya juga dikejutkan dengan ilmu silat Hee Thian Siang yang luar biasa, dari mulutnya tercetus suara seruan, kemudian disusul oleh kata-katanya yang diucapkan dengan suara perlahan: "Gerakan itu adalah gerakan dari ilmu silat Thian-liong-coan (Naga langit berputaran) dari Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui... Bocah itu pandai menggunakan ilmu silah Thian-liong-coan, juga memiliki benda pusaka jaring sutera warna merah, sebetulnya orang dari..."

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu segera memotongnya dan berkata dengan suara nyaring: "Pao Sam- kow, kau jangan perdulikan aku murid golongan Pak-bin atau Thian-gwa Ceng-mo! Sekalipun aku hanya seorang Kang-ouw biasa yang tidak ada artinya, tetapi kalian orang dari Kie-lian- pay juga tidak seharusnya melakukan pengeroyokan seperti ini, apalagi dengan kedudukan seorang ketua seperti Khie Tay Cao, seperti perlu turun tangan sendiri dengan senjatanya yang terampuh, apakah kalian tidak malu terhadap diri sendiri?"

Mendengar perkataan pedas dari mulut Hee Thian Siang, muka Kie Tay Cao nampak merah, ia merasa malu terhadap dirinya sendiri, hingga sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya.

Sementara itu Pao Sam-kow sudah berkata: "Jikalau pada waktu biasa, sudah tentu kami tidak akan berbuat demikian terhadapmu. Tetapi keadaan dan situasi malam ini berlainan, semua itu lantaran kau sudah mengintai dan mencoba mencuri dengar rahasia dari golongan kamai. Bagaimana kami boleh hadapi kau dengan cara biasa?"

"Aku hanya secara kebetulan saja lewat di sini, dan mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Ciao Khan tadi, yang katanya ia telah menemukan sebuah goa tua, yang didalamnya ada tulang-tulang dari burung rajawali emas. Burung rajawali emas meskipun merupakan binatang yang jarang ada, tetapi karena tadi disebut tulang-tulangnya, paling banter juga hanya tulang rangka burung yang sudah mati, apa harganya barang demikian? Dan terhitung rahasia besar apa lagi?"

Khie Tay Cao yang mengingat bahwa rahasia sebenarnya sendiri belum diketahui oleh Hee Thian Siang, maka lalu bertanya kepada Pao Sam-kao dengan perlahan: "Bagaimana kita haru bertindak terhadap bocah ini? Bolehkah kita lepaskan, atau harus dibunuh mati?"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu lalu bangkit kemarahannya, ia berkata dengan suara nyaring: "Siapa yang ingin kau lepaskan? Aku bisa datang sendiri, sudah barang tentu juga bisa pergi sendiri!" Saat itu baru terdengar suara Ciao Khan sambil perdengarkan suara tawanya yang aneh: "Jikalau tidak ada perintah dari Ciang-bun-jin yang melepaskan kau, apa kau anggap dapat pergi seenaknya saja?"

Dengan sinar mata yang tajam Hee Thian Siang menatap wajah Ciao Khan, kemudian berkata sambil membusungkan dada: "Sebagai manusia harus tahu harga diri, aku masih sangat muda sekali, karenanya kekuatan dan kepandaianku juga terbatas, meskipun aku tidak sanggup melawan Pao Sam-kow atau Khie Tay Cao, tetapi jikalau dengan kau saja atau Tong Kie dan Go Ing satu persatu, belum tentu siapa yang menggeletak jadi bangkai di tempat ini!"

Go Ing yang mendengarkan ucapan jumawa Hee Thian Siang, nampaknya juga marah, ia mengeluarkan suara dari hidung dengan sikap menghina.

Hee Thian Siang memandangnya dengan mata gusar, setelah itu ia berkata:

"Apa kau penasaran? Segala urusan di dalam dunia ini, ada untungnya tapi juga ada ruginya! Kalian jangan coba-coba mengandalkan jumlah orang yang banyak, meskipun menduduki posisi menguntungkan, tetapi jikalau aku mau, dengan mudah saja dapat membunuh beberapa orang sekaligus !"

"Bocah, hidup atau matimu tergantung dalam pikiranku seorang, dan keputusan dari Ciangbunjin! Bagaimana kau masih berani mengucapkan perkataan demikian takabur?" berkata Pao Sam-kow dengan nada suara dingin.

"Pao Sam-kow, siapa yang takabur? Kau sudah mengenali jaring pusaka warna merah, dan ilmu silat Thian-tiong-coan! Apakah kau tidak kenal dengan senjata peledakku Kian-thian Pek-lek ini?" Pada waktu itu api yang berada dalam jaring sudah padam semuanya, maka jaring itu dimasukkannya ke dalam sakunya, dan tangannya mengeluarkan lagi senjatanya yang terampuh Kian-thian Pek-lek, senjata peledak itu diletakkan dalam tangan kanannya, dan diperlihatkan kepada orang-orang Kie- lian-pay!

Senjata ampuh Kian-thian Pek-lek yang bentuknya tidak lebih dari sekepalan tangan orang tampaknya memang tidak terlalu hebat! Apalagi orang-orang Kie-lian-pay juga tidak menduga bahwa senjata ampuh Pak-bin Sin-po dan benda pusaka Thian-gwa Ceng-mo yang dua-duanya merupakan benda sangat berharga dalam rimba persilatan bisa berada di tangan Hee Thian Siang, maka semuanya hanya memandangnya saja sambil mengerutkan alisnya, tiada satu pun yang membuka suara.

"Jikalau senjataku ini ku sambitkan, setidak-tidaknya di antara kalian lima orang ada tiga yang binasa! Apakah ini bukannya sudah cukup bagiku untuk menarik keuntungan?" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa terbahak-bahak.

Kini adalah Khie Tay Cao yang menjadi pemimpin golongan Kie-lian-pay berada dalam kedudukan yang paling sulit, ia merasa serba salah, untuk menjaga gengsinya sendiri, tidak tahu bagaimana harus berbuat.

Pao Sam-kow sendiri juga diam saja, hanya dalam hatinya masih memikirkan senjata bom peledak yang ada di tangan Hee Thian Siang. Dia masih merasa sangsi, apakah benda itu benar-benar Kian-thian Pek-lek milik Pak-bin Sin-po yang sangat hebat itu atau bukan !

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, ia tahu bahwa dengan mengandalkan senjata ampuh perguruannya itu, mungkin dapat meloloskan diri dari keadaan yang berbahaya itu. Maka dengan sikap yang jumawa ia berjalan menuju ke arah yang menjadi penjagaan Go Ing.

Go Ing yang waktu itu belum mendapat perintah ketuanya untuk melepaskan pemuda itu, sedangkan ia sendiri yang masih bertugas untuk menjaga, maka dengan senjata alat tulisnya di tangan digerakkan untuk mencegah lewatnya Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang sedikitpun tidak merasa takut, ia masih berjalan dengan sikap yang jumawa, dengan sinar mata yang tajam menatap Go Ing, kekuatannya sudah dikerahkan pada kedua tangannya, selagi hendak menghajar orang she Go itu, tiba-tiba terdengar suara Khie Tay Cao yang menunjukkan kemarahannya:

"Go sute, malam ini biarlah ia pergi, tetapi apabila di lain hari kita bertemu lagi di kalangan Kang-ouw, jikalau tidak dibeset kulitnya juga kita harus potong sebelah pahanya!"

Oleh karena sudah mendapat perintah dari pemimpinnya, maka Go Ing terpaksa menarik kembali senjatanya, dia membiarkan Hee Thian Siang pergi, tetapi mulutnya masih mengeluarkan perkataan sombong:

"Sahabat Hee, sudahkah kau dengar perintah ketua kami tadi? Selanjutnya kau sebaiknya banyak melakukan perjalanan ke arah timur laut, dan jangan terlalu banyak melakukan perjalanan ke barat daya. Terutama jangan sekali- kali kau mendaki gunung Kie-lian-san! Jika tidak, hati-hati dengan kedua pahamu!"

Hee Thian Siang yang saat itu sebetulnya sudah keluar dari kepungan mereka, ketika mendengar perkataan terakhir dari orang se Go itu, dengan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berpaling, ia lompat kembali ke hadapan Khie Tay Cao dan bertanya dengan suara nyaring: "Kau adalah seorang ketua dan pemimpin suatu golongan besar, beranikah kau bertaruh denganku?"

Ketua dan pemimpin golongan Kie-lian-pay itu benar-benar merasa sangat kagum atas keberanian pemuda itu, setelah menatapnya sejenak, lalu bertanya sambil mengerutkan alisnya:

"Kau hendak bertaruh dengan apa? Dan bagaimana cara bertaruhnya?"

"Apa yang aku ingin pertaruhkan denganmu ialah perkataan orangmu terakhir tadi yang mengatakan hendak memotong pahaku, sebab aku kini telah mendapat lihat bahwa di wajah Tong Kie dan Go Ing ada tanda buram di atas jidatnya, ini suatu tanda bahwa ada bahaya mengintai kepada mereka, aku dapat memastikan dalam waktu satu tahun, salah satu di antara mereka atau semuanya akan dikutungi sebelah pahanya!" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Tong Kie dan Go Ing yang mendengar perkataan itu, bukan kepalang marahnya, hingga mulutnya mengeluarkan suara bentakan bengis.

"Aku bisa melihat peruntungan manusia, kamu tak perlu berteriak-teriak seperti orang gila! Sebaiknya kamu berlaku hati-hati saja! Jikalau dalam waktu satu tahun kalian masing- masing masih dapat menjamin utuh kedua paha kalian, maka benda pusakaku jaring warna merah ini akan kuberikan kepada ketua kalian!" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Khie Tay Cao sudah tentu tidak mau percaya pada ucapan Hee Thian Siang. Baru saja ia menganggukkan kepala dan menerima baik tantangan itu, Hee Thian Siang sudah berkata pula: "Tetapi kalian berdua apabila di dalam waktu satu tahun, benar-benar kehilangan paha seperti apa yang kukatakan tadi, bagaimana ?"

"Jikalau benar seperti apa yang kau ucapkan tadi, kalau kau menghendaki senjataku tongkat ini, aku juga akan berikan kepadamu!" berkata Khie Tay Cao yang sudah tak dapat mengendalikan hawa amarahnya.

"Senjatamu tongkat baja ini, beratnya seratus lima puluh kati, karena aku masih belum bisa menggunakan, apalagi tidak mengerti ilmu tongkatmu, bagiku tidak ada gunanya sama sekali. Untuk apa aku minta senjata itu?" berkata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala.

"Asal kau menangkan pertaruhan ini, apa yang kau kehendaki, aku bersedia memberikan kepadamu!" berkata Khie Tay Cao yang semakin gusar.

"Kalau aku kalah aku akan memberikan benda pusaka jaring sutera warna merah ini, tapi kalau kau kalah, aku minta kuda tungganganmu Cian-lie-kiok-hwa-chang, apa kau tidak keberatan?" berkata Hee Thian Siang sambil tersenyum.

Khie Tay Cao yang pernah malang melintang di kalangan Kang-ouw tanpa tandingan, dan seorang yang berambisi besar hendak menguasai rimba persilatan, bagaimana mau percaya ucapan Hee Thian Siang ini ? Apalagi ia tahu benar bahwa anak buahnya Tong Kie dan Go Ing, merupakan orang- orang yang memiliki kepandaian ilmu silat sangat tinggi, baik tenaga dalamnya maupun kekuatan tenaganya, semua merupakan orang-orang pilihan dalam rimba persilatan pada dewasa ini. Terutama bagi Go Ing, di samping ilmu kepandaiannya juga banyak akalnya, bagaimana dapat dibokong oleh orang? Maka ia lalu menerima baik tantangan Hee Thian Siang tadi. Hee Thian Siang lantas memutar tubuhnya dan meninggalkan ketua golongan Kie-lian-pay itu. Ia pikir puteri tunggal Thian-gwa Ceng-mo dan cara bertaruh telah menangkan Say Han Kong yang bernama Ceng-hiong-kie, alangkah senangnya ia sendiri juga bisa menangkan kuda tunggangan Khie Tay Cao yang bernama Cian-lie-kiok-hwa- chang itu.

Hee Thian siang berani bertaruh demikian karena ia masih ingat ucapan empat jago wanita golongan Ngo-bie-pay yang diucapkan di atas gunung Keng-bun-san, waktu itu jago termuda dari empat wanita, itu ialah Hok Siu-in pernah berkata kepadanya, bahkan berjanji dalam waktu satu tahun, ia pasti akan berusaha untuk mengutungi paha salah satu dari antara dua orang golongan Kie-lian-pay, dua orang yang dimaksudkan itu ialah Tong Kie dan Go ing, setelah itu baru ia hendak menuntut balas terhadap pendekar pemabukan Bo Bu Ju !

Oleh karena jago-jago golongan Ngo-bie itu merupakan orang-orang yang tinggi hati, ia pasti akan membuktikan apa yang pernah diucapkan, kecuali jikalau orang-orang golongan Kie-lian-pay selama setahun itu selalu berkumpul seperti keadaan malam itu. Apabila Tong Kie dan Go Ing masing- masing melakukan perjalanan seorang diri, jikalau dalam perjalanannya itu bertemu dengan empat jago golongan Ngo- bie-pay yang memang sengaja hendak menuntut balas terhadap mereka, bagaimana dapat meloloskan diri dari tangan mereka ? Apalagi empat jago wanita golongan Ngo-bie itu mempunyai senjata yang terampuh berupa barisan ilmu pedang yang dinamakan Siu-siang tui-hun-kiam-tin !

Belum lenyap pikirannya, di belakang dirinya tiba-tiba terdengar suara Khie Tay Cao yang sangat gagah, suara itu disusul oleh suara keras beradunya barang logam dan batu, di malam gelap seperti itu percikan api tertampak jelas di depan matanya ! Suara itu adalah akibat gempuran tongkat baja Khie Tay cao, yang digunakan untuk menggempur batu besar yang berada di dekatnya, sebab sebagai seorang yang beradat sombong dan berangasan, biasa suka marah-marah dan mengumbar nafsunya terhadap anak buahnya. Malam itu karena menghadapi Hee Thian Siang yang sangat berani. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena pemuda itu memiliki senjata Kian-thian Pek -lek yang telah ditakuti ! Didalam keadaan demikian, ia terpaksa mengendalikan hawa amarahnya, dan setelah pemuda itu berlalu dari hadapannya, lalu umbar amarahnya kepada benda-benda yang ada di situ !

Hee Thian siang agaknya tidak menghiraukan suara itu, melanjutkan terus perjalanannya tanpa menoleh. Tetapi dalam pikirannya masih memikirkan dua urusan yang mencurigakan !

Ke satu, ia sendiri yang hampir terbit onar dengan lima orang dari golongan Kie-lian-pay, mengapa Ca Bu Kao tidak mendengar suara dan datang menyusulnya ? Siapakah orang yang hendak ditemui oleh wanita itu ? Mungkinkah ia menemukan bahaya ditengah jalan ? 

Kedua, adalah gerakan orang-orang golongan Kie-lian-pay tadi, yang mengerahkan hampir seluruh orang orangnya yang terkuat, apakah itu hanya semata mata hendak mencari tulang rajawali emas saja ? Kalau itu benar, sebetulnya bukan merupakan suatu rahasia besar, dengan cara bagaimana si nenek rambut putih Pao-san-kow berulang kali minta ketuanya membunuh dirinya untuk menutup mulut ?

Setelah dipikir bolak balik, dianggap bahwa menghilangnya Ca Bu Kao yang hingga saat itu belum muncul kembali, sudah pasti menemukan kesulitan ! Maka tidaklah benar jikalau ia tetap menunggu di tempat yang dijanjikan itu, adalah lebih baik jikalau pergi mencari ke jurusan di mana tadi ia pergi ! Mengenai urusan yang menyangkut diri orang-orang Kie-lian- pay yang menganggap penting dan menganggap sebagai rahasia besar terhadap penemuannya tulang rajawali emas di goa tua, menurut kesimpulannya, di dalam goa itu jikalau tidak terdapat obat mujizat yang jarang ada, tentunya terdapat benda-benda pusaka atau senjata-senjata tua peninggalan orang-orang rimba persilatan jaman dahulu !

Namun kesimpulan itu ternyata keliru ! Mengenai kesimpulannya terhadap Ca Bu Kao yang menemukan bahaya memang benar, tetapi bahaya yang dialami oleh wanita itu, apabila menunggu hingga saat itu ia baru pergi memberi pertolongan, ternyata sudah terlambat!

Sebab Ca Bu Kao yang merupakan seorang pendekar wanita masih putih bersih dan bersifat tinggi hati, sesungguhnya tidak mudah jatuh cinta kepada orang lelaki, tetapi kalau ia sudah jatuh cinta, sudah tentu cinta itu takkan mudah berubah !

Maka meskipun wajahnya sudah pernah dirusak oleh Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie dengan obat racun yang jahat, bahkan sudah dilihatnya dengan mata sendiri, bagaimana Su- to Wie sudah jatuh cinta kepada perempuan lain, namun cinta kasihnya terhadap lelaki itu belum padam, ia masih mengharap mendapat restunya makam bunga mawar, agar Su-to Wie dapat berbaik kembali dengannya ! Ketika dari jurusan Barat daya timbul api Kiu-yu-leng-hwee, dari sebelah Timur laut terdengar tiga kali suara sentilan pedang yang ia kenali sebagai kode pertemuan Liong-hui Kiam-khek dengannya, maka ia suruh Hee Thian Siang pergi mengintai pengamatan orang-orang Kie-lian-pay, sedang ia sendiri pergi ke Timur laut hendak menjumpai bekas kekasihnya itu.

Suara sentilan pedang itu, keluar dari sebuah lembah kira- kira sepuluh tombak di jurusan Timur Laut, begitu Ca Bu Kao tiba di dekat lembah, sudah tampak bekas kekasihnya itu berdiri sambil mendongakkan kepala melihat rembulan. Ca Bu Kao ketika bertemu kembali dengan bekas kekasihnya itu, dengan sendirinya perasaan itu timbul dalam hatinya hingga airmatanya mengalir bercucuran.

Tetapi Ca Bu Kao yang tinggi hati, meskipun dalam hati masih menaruh cinta kepada Su-to Wie, namun diluarnya tidak mau menunjukkan kelemahannya, ia tidak mau dilihat oleh lelaki itu hal kelemahan hatinya, maka ia paksakan untuk menenangkan dirinya sendiri dan lantas melompat ke dalam lembah, ditengah udara ia mengeringkan sendiri air matanya dan menahan jangan sampai mengalir lagi !

Liong-hui Khiam-khek Su-to Wie ketika menampak Ca Bu Kao melayang turun dari atas dan sudah berada dihadapannya, sengaja tidak mau menegur, hanya memandangnya dengan mata tajam, dari atas sampai bawah.

Ca Bu Kao yang menyaksikan sikap Liong-hui Kiam-khek yang masih tetap itu, hatinya juga merasa sedih, namun tetap ditahannya jangan sampai mengeluarkan airmata, tanyanya dengan suara sedih:

"Ada urusan apa kau minta aku datang kemari ?"

"Aku minta kau datang kemari, ialah hendak memberitahukan dan minta padamu supaya selanjutnya kau jangan salahkan aku yang mengalihkan cintaku kepada perempuan lain ! Engkau sendiri juga... " Menjawab Su-to Wie dengan nada suara dingin.

Ca Bu Kao belum paham apa yang terkandung dalam perkataan Su-to Wie tadi, maka ia lalu bertanya: "Aku juga bagaimana ? Mengapa bicaramu tidak mau terus terang ?"

Su-to wie membuka matanya, kemudian tertawa terbahak bahak dan berkata: "Kau juga sudah mendapat sahabat baru yang mungkin sudah menempati hatimu ! Kulihat kau selalu berdua-duaan, maka selanjutnya kau jangan mengganggu aku lagi, karena itu berarti mencari penyakit sendiri !"

Ca Bu Kao mengerti bahwa yang dikatakan oleh Su-to Wie sebagai kawan baru adalah Hee Thian Siang, maka sesaat itu juga hawa amarahnya meluap, sambil mengertak gigi ia berkata: "Su-to Wie, kau jangan sembarangan menuduh orang, dengan perkataan yang bukan bukan! Dia adalah orang dari tingkatan muda, terhadapku saja membahasakan bibi... "

Tidak menunggu habis ucapan Ca Bu Kao, Su-to Wie kembali tertawa terbahak-bahak dan berkata: "Bibi, Enci, Adik, Engkoh, semua itu hanya sebutan belaka yang tidak ada artinya ! Kalian bersama sama pergi ke gunung ban-san, sama-sama masuk ke lembah Kim-giok-kok, sama-sama menghadap ke makam bunga mawar, sedangkan Hee Thian Siang sendiri di hadapanku masih berpura pura tidak kenal denganmu, tetapi kemudian kalian berdua melakukan perjalanan kemana-mana, apakah didalam ini tidak terdapat apa-apa yang mencurigakan ?"

Ca Bu Kao dadanya hampir meledak, airmatanya juga hampir mengalir keluar, tetapi ia pertahankan semua itu, jangan sampai terlihat oleh bekas kekasihnya ! Namun, bagaimanapun juga ia tidak bisa mengendalikan perasaan marah dan sedihnya, maka pada saat itu ia sudah timbul pikirannya hendak bunuh diri saja dengan menggempur kepalanya sendiri !

Tetapi tiba-tiba ia teringat kepada sucinya ialah Peng-sim Sin-nie, yang begitu cinta dan penuh pengharapan terhadap dirinya, sedangkan waktu itu dalam pertemuan di puncak gunung Thian-tu-hong nanti, masih membutuhkan tenaga bantuan, jikalau ia sendiri bunuh diri, sesungguhnya merasa malu terhadap sucinya, mengapa tidak memutuskan saja hubungannya dengan Su-to Wie setelah pertemuan di gunung Thian-tu-hong itu selesai, baru minta kepada sucinya supaya mencukur rambutnya dan selanjutnya menganut agama Buddha !

Selagi berada dalam pikiran kusut, di lembah itu tiba-tiba angin meniup kencang, hingga kerudung kain hitam yang menutupi wajahnya tersingkap.

Pada saat itulah Liong-hui Kiam-khek telah menyaksikan wajah Ca Bu Kao yang sebenarnya, tanda cacat hitam di sebelah pipinya telah lenyap, dan wanita itu pulih kembali seperti dahulu yang cantik rupawan. Dalam terheran- herannya, ia lalu bertanya:

"Tanda mateng biru di pipimu itu ternyata sudah sembuh kembali ?"

Kata-kata itu mengingatkan Ca Bu Kao kepada perbuatan Su-to Wie yang dahulu mencelakakan dirinya dengan menggunakan obat berbisa itu, maka seketika itu perasaannya merasa pilu dan juga gemas, dalam keadaan demikian ia lupa akan pesan Hee Thian Siang, kerudung itu dibukanya dan berkata dengan nada suara dingin:

"Cacat di mukaku ini, adalah duta bunga mawar yang pergi sendiri ke gunung Tay-swat-san untuk minta buah teratai Swat-lian dari ketua Swat-san-pay sendiri, ia juga suruh Hee Thian Siang pergi menemui It-pun Sin-cang minta setetes getah pohon lingci, dua macam bahan itu telah dibuat obat lagi oleh pendekar tabib kenamaan Say Han Kong, dengan obat itulah bekas cacatku ini disembuhkan ! Dahulu kau telah turun tangan demikian keji terhadapku, dan hari ini kembali kau mengeluarkan perkataan mesum, jikalau kau masih ada sedikit perikemanusiaan saja, bukankah kau harus malu terhadap dirimu sendiri ?" Mata Su-to Wie terus menatap wajah Ca Bu Kao tanpa berkedip, sesaat kemudian dengan pelan-pelan ia menghela napas panjang dan berkata:

"Kau hanya menyesali aku saja yang kau anggap sudah berbalik hati terhadapmu, namun kau tidak tahu perbuatanku itu sesungguhnya ada kesulitan sendiri ! Ketahuilah olehmu, golongan Tiam-cong dan Lo-hu, sudah lama bermusuhan, permusuhan yang demikian dalam itu tak mungkin diperbaiki dengan hanya mengandalkan kekuatan kau dan aku saja ! Coba kau buka kotak emas itu, kau nanti akan mengerti sebab musababnya !"

sehabis berkata, ia masukkan tangannya ke dalam saku, mengeluarkan sebuah kotak berlapis emas, kotak itu lalu diberikan kepada Ca Bu Kao.

Ca Bu Kao yang mendengar kata-kata Su-to Wie juga tercengang dan kemudian ia menyambuti kotak emas yang diberikan kepadanya.

Kotak berlapis emas itu sangat indah, karena tertarik oleh ucapan tadi, kotak itu perlahan-lahan dibukanya, ia ingin tahu apakah isinya itu benar merupakan sesuatu rahasia yang menyangkut permusuhan golongan Tiam-cong dan Lo-hu-pay

?

Tetapi, setelah dibukanya, kotak itu ternyata kosong melompong, hanya sewaktu kotak itu dibuka, dari dalamnya timbul bau harum dan timbul hawa seperti asap ! Bau harum dan asap itu dengan sendirinya telah masuk ke dalam hidung Ca Bu Kao dan Ca Bu Kao setelah mencium bau itu sesaat kepalanya dirasakan pening, matanya gelap, dan akhirnya jatuh tersungkur di tanah dalam keadaan pingsan !!

Su-to Wie mengambil kotak dan dimasukkan lagi ke dalam sakunya, setelah itu matanya ditujukan kepada Ca Bu Kao yang sudah rebah pingsan di tanah, kemudian ia berkata kepada diri sendiri sambil tertawa cengar-cengir: "Budak hina, kau selamanya sangat sombong dan keras hati, kau selalu tidak mau menuruti kemauanku ! Dahulu karena ada Kie Liu Hiang yang dengan diam-diam mengintai gerak gerikku, maka terpaksa aku hanya menggunakan obat berbisa untuk merusak wajahmu, tidak sampai aku berbuat apa-apa terhadap dirimu ! Malam ini rupanya Tuhan telah memberikan kesempatan kepadaku, maka setelah ku puaskan segala nafsuku terhadap dirimu, aku nanti akan tetap menggunakan obat itu untuk merusak wajahmu ! Aku ingin tahu betapa besar kekuatan duta bunga mawar, apakah masih sanggup memulihkan kembali parasmu yang cantik !

Sehabis berkata demikian, dengan hawa nafsu yang menyala-nyala, ia hendak melakukan perbuatan mesum terhadap wanita itu, tetapi baru saja ia hendak bertindak, tiba- tiba merasa seperti ada suara apa, ia lalu pasang telinga dan kemudian mengangkat kakinya dan menendang Ca Bu Kao ke tempat yang banyak rumputnya !

Benar saja, baru saja Su-to Wie menyimpan tubuh Ca Bu Kao ke dalam tempat yang banyak ditumbuhi rumput, dari mulut lembah melayang sesosok bayangan manusia, bayangan manusia itu bukan lain dari pada Tho-hwa Nio-cu, wanita genit itu mukanya berseri-seri, agaknya merasa gembira bertemu kembali dengan Su-to Wie.

Su-to Wie merasa tidak senang atas kedatangan wanita itu, karena dianggapnya telah mengganggu kesenangan yang hendak mencemarkan diri Ca Bu Kao, tetapi diluarnya masih menunjukkan muka berseri seri untuk menyambut kedatangan perempuan genit itu, bahkan menegornya dengan suara lemah lembut: "Hiangci, bukankah kau tadi bersama-sama Ciao pergi mencari goa kuno tempat tersimpannya bangkai rajawali emas

? Mengapa mendadak kau datang kemari ?"

"Aku dengan sengaja menyusulmu supaya kau merasa senang!" Menjawab Tho-hwa Nio-cu sambil mengerlingkan matanya yang penuh arti.

Su-to Wie salah tangkap maksud ucapan Kie Liu-hiang, maka ia lantas berkata sambil mengerutkan alisnya:

"Di dalam lembah sunyi ini apalagi angin meniup kencang dan embun dingin... "

Kie Liu Hiang dengan cepat memotong sambil mencolek pipi Si-to Wie dengan jari tangannya: "Dasar lelaki, apa yang kau dengar tadi ? perkataan orang kan maksudnya kemana ? Kedatanganku hanya untuk memberitahukan padamu bahwa goa kuno tempat bangkai rajawali emas itu sudah kutemukan bersama Ciao Ngo-ko!"

Jawaban itu sesungguhnya di luar dugaan Su-to Wie, maka ia lantas bertanya dengan terheran-heran:

"Kau dengan Ciao-heng sudah dapat menemukan goa bangkai rajawali emas, apakah benar didalam goa itu terdapat tumbuhan seperti apa yang pernah disiarkan dan yang sedang kita cari ??"

"Ada, ada, tetapi keadaan tanah dan hawa udara barangkali jauh berbeda, maka khasiatnya dan hebatnya barangkali masih kalah sedikit !"

Sehabis berkata, dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah benda kecil diberikan kepada Su-to Wie ! Su-to Wie menyambutnya dan diperiksanya sejenak, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala:

"Benar saja memang benda ini, tentang khasiatnya dan hebatnya yang agak kurang sedikit, ini tidak menjadi soal ! Kalau begitu perjalanan kita ke gunung Koh-gu-san ini, ternyata tidak sia-sia, akhirnya dapat tercapai cita-cita Toa- suhengku Thian-kwan Totiang dan Khie Suhengmu yang mempunyai ambisi besar?"

Berkata sampai di situ, tiba-tiba tampak Tho-hwa nio-cu memandangnya dengan wajah berseri-seri hingga ia tahu bahwa wanita genit itu sudah timbul hawa nafsu berahinya, maka ia pura-pura memegangi tangannya dan berkata sambil tersenyum:

"Hiangci, aku tadi telah melihat jie-suhengmu Khie Tay Cao dengan kedudukannya sebagai ketua golongan Kie-lian-pay, memasang api kiu-yu leng-hwe sebagai tanda, agaknya sedang mengumpulkan orang-orangnya untuk mengadakan pertemuan, maka hiangci akan pergi sekarang juga, ataukah hendak bersenang senang dahulu dengan ku... ?"

Tho -hwa Nio-cu yang mendengar perkataan itu, belum habis mendengarnya, sudah berkata sambil menggertak gigi:

"Jikalau kita harus bersenang-senang di sini sedikitnya harus sampai pagi hari barulah puas, bagaimana aku nanti mengatakan terhadap suheng tentang tulang rajawali emas yang sudah kita ketemukan itu ? Begitu pula dengan barang- barang yang kita cari. Besok malam mungkin kita sudah tidak ada tugas apa-apa lagi, maka kita boleh bersenang-senang sepuas puasnya !!"

Sehabis berkata demikian, barulah ia bertanya: "Aku tadi berjalan melalui jalan lembah, di kedua sisi lembah itu semua adalah puncak-puncak gunung bertebing tinggi, maka tidak melihat api Kiu-yu Leng-hwe, api tanda golongan kami itu kau lihat dikeluarkan dari mana ??"

Su-to Wie tadi memang sudah melihat dengan tegas bahwa api yang dikeluarkan oleh Khie-tay Cao timbul di sebelah Barat daya, tetapi ia sebaliknya menunjuk ke sebelah Barat. "Aku juga tidak begitu perhatikan, barangkali jikalau tidak di sebelah Barat, tentunya di sebelah Barat daya!"

Tho-hwa Nio-cu sedikitpun tidak menduga bahwa Su-to Wie saat itu sedang berusaha menodai diri Ca Bu Kao, maka ia lalu mendekatinya dan mencium pipinya sebentar, kemudian memutar tubuhnya dan lari menuju ke Barat ! Su-to Wie mengawasi wanita genit itu sehingga menghilang ditempat gelap, ia menunggu lagi sebentar, ketika melihat tidak ada gerakan apa-apa barulah merasa lega. Sementara itu dalam hati berpikir; Kie Liu Hiang meskipun cukup menarik dan dapat memuaskan kaum lelaki tetapi bagaimanapun juga merupakan kembang yang sudah hampir layu ! Dengan susah payah aku baru mendapatkan kesempatan seperti ini, bagaimana aku boleh lewatkan begitu saja, untuk mencicipi diri Ca Bu Kao yang masih putih bersih ini ?

Sambil berpikir demikian, ia memutar tubuh berjalan kembali ke tempat dimana ia tadi menyembunyikan diri Ca Bu Kao, tetapi ketika tiba di tempat tersebut, sesat berdiri terpaku dengan mata terbuka lebar, karena di situ sudah tidak tampak bayangan Ca Bu Kao yang tadi dalam keadaan pingsan !

Tempat itu sebetulnya tidak terlalu jauh terpisah dengan dirinya, jangankan Ca Bu Kao yang saat itu masih pingsan dan masih tidak bisa sadarkan diri sendiri. Sekalipun khasiat obatnya sudah hilang, dan bisa bergerak, tetapi gerakan itu pasti akan lekas diketahui olehnya. Dengan cara bagaimana ia bisa menghilang secara mendadak ? Dengan penuh rasa heran ia mencari-cari ditempat dekat- dekat situ, namun masih tidak menemukan orang yang dicari. Ia lalu mengeluarkan pedangnya hendak membabat semua pohon-pohon yang berada di situ, ia ingin tahu apakah Ca Bu Kao benar-benar dapat melarikan diri !

Tetapi baru saja ia hendak mengayunkan pedangnya, telinganya tiba-tiba menangkap suara orang yang sangat aneh: "Oi.. ma... na... peri... ke... manu... siaan... mu... "

Ucapan di mana perikemanusiaanmu yang diucapkan dengan sepotong-sepotong, ketika masuk dalam telinga Su-to Wie kata-kata itu bagaikan geledek menyambar, dirasakan seperti menggempur ulu hatinya !! Tetapi suara itu bagaikan suara dari langit yang didengarnya samar-samar seperti ada, tetapi juga seperti tidak ada, sama sekali ia tak pernah mengenal suara itu dari mana datangnya ? Dan siapa yang mengeluarkan ucapan itu ! Orang tua ? Muda ? Lelaki, ataukah perempuan ?

Su-to Wie setelah mendengar perkataan itu, lebih dulu badannya gemetaran, keringat dingin mengucur keluar, setelah itu alisnya dikerutkan perasaan terkejut, heran, curiga dan marah berkumpul jadi satu ! Dalam hatinya berpikir: Sebagai jago pedang nomor tiga dari golongan Tiam-cong, yang juga merupakan salah seorang umat rimba persilatan dewasa ini, siapakah yang berani main gila dengan menggunakan akal licik demikian, yang mempermainkan diriku demikian rupa ??

Semakin dipikir semakin marah, pedangnya lalu digunakan menyerang sana menyerang sini seperti orang gila, dengan secara kalap ia menggunakan pedang itu untuk membabat semua pohon-pohon yang berada di sekitarnya, untuk mencari dimana adanya orang yang mengeluarkan suara tadi. Sungguh aneh, suara tadi secepat kilat sudah lenyap lagi! Su-to Wie yang bergerak dengan cepat, dan membabati semua pohon-pohon yang hadapannya, tetapi masih agak terlambat, karena suara itu terdengar di tempat makin jauh dan makin jauh dan kemudian di empat penjuru tempat itu dipenuhi oleh suara tadi.

Sesudah berlaku seperti orang gila sekian lama, sehingga badannya basah kuyup, namun tak berhasil menemukan orang yang dicari, ia tahu bahwa kepandaiannya sendiri sesungguhnya belum sebanding dengan orang yang mengeluarkan suara tadi, maka ia lalu lompat melesat meninggalkan lembah tersebut.

Baru saja kakinya menginjak tanah, dari mulut lembah tiba- tiba terdengar suara tiga kali ketukan "Bok-hie" yang biasa digunakan oleh paderi, tapi suara ketukan itu masuk di telinga Su-to Wie seolah-olah merupakan barang berat yang menggempur dadanya, hingga hatinya berdebaran begitu keras dan kakinya merasa lemas, hampir saja ia terjerumus kembali ke dalam lembah, maka ia buru-buru menenangkan pikirannya sendiri, dan lari terbirit birit meninggalkan tempat yang menakutkan itu !

Setelah berlalu dari situ, dalam lembah itu kembali sunyi sepi, tidak terjadi apa-apa lagi, juga tak tampak bayangan seorang pun juga yang keluar dari dalam lembah.

Ketika Hee Thian Siang tiba ditempat itu juga tidak dapat menemukan Ca Bu Kao yang dicarinya.

Dengan hilangnya Ca Bu Kao, sudah tentu menjadi pikiran Hee Thian Siang, ia terpaksa mencari-carinya sehingga tiga hari lamanya, namun masih tak dapat menemukan orang yang dicari. Pada hari ketiga waktu malam, selagi ia hendak mencari ke jurusan Barat laut, tempat itu merupakan jurang yang dalam sekali.

Di dalam jurang itu terdapat banyak batu, perjalanan sangat sulit sekali ! Hee Thian Siang diam-diam merasa heran, karena dengan seorang yang berkepandaian tinggi seperti Ca Bu Kao telah menghilang secara mendadak. Ini sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang sangat ajaib !

Ia hampir menjelajahi jurang yang keadaannya sangat berbahaya itu, tetapi ketika ia tiba di suatu tempat di bawah tebing batu, ia telah mendapat kenyataan bahwa tebing itu bukan seperti tebing biasa, namun tempat itu terdapat banyak hal-hal yang sangat mengherankan, tempat itu batu-batunya ada yang menonjol tapi ada yang melesak, seolah-olah terbuat dari tumpukan batu yang tidak karuan susunannya.

Hee Thian Siang merasa bahwa susunan tebing batu itu bentuknya sangat aneh, maka ia mencarinya dengan sangat hati-hati. Benar saja ia menemukan sebuah goa di antara tumpukan batu itu, tapi goa itu mulutnya sudah ditutup dengan sebuah batu besar!

Goa yang merupakan goa alam itu nampaknya ditutup oleh tangan manusia, dalamnya sudah tentu mengandung rahasia apa-apa. Ia lalu teringat ucapan Ciao Khan yang mengatakan tentang goa tua tempat kuburannya rajawali emas, maka ia menggunakan seluruh kekuatan tenaganya hendak menyingkirkan batu besar yang menutup goa tersebut, ia menggeser sedikit sehingga terbuka selubang kecil, kemudian dengan menggunakan ilmunya mengkeretkan badan, masuk ke dalam goa itu !

Jalan yang menuju ke dalam goa itu terdapat banyak liku likunya, tetapi setelah ia melalui jalanan yang berliku-liku itu, di hadapan matanya tampak sinar terang, di tempat itu seolah- olah merupakan suatu tempat kosong seluas sepuluh tombak lebih, rembulan di atas langit memancarkan sinarnya ke dalam goa melalui lobang-lobang batu sehingga merupakan suatu pemandangan yang cukup menarik!

Tempat seluas sepuluh tombak persegi itu bukanlah merupakan kamar batu, hanya merupakan tempat kosong di pusar gunung, di situ terdapat setumpuk kerangka dari seekor burung raksasa.

Menyaksikan tumpukan tulang-tulang burung itu, Hee Thian Siang segera mengerti bahwa tempat itu benar-benar adalah tempat yang dianggap oleh orang-orang Kie-lian-pay sebagai tempat yang mengandung rahasia besar !

Tetapi Hee Thian siang yang berada didalamnya, tidak menemukan sesuatu barang yang mengandung rahasia, maka diam-diam merasa heran sendiri.

Sangkaan lalu timbul, tempat yang berada di pusar gunung itu kecuali kerangka tulang-tulang rajawali emas, sudah tak ada barang apa-apa lagi.

Mengapa orang-orang Kie-lian-pay menganggapnya sebagai suatu tempat yang sangat penting ??

Kerangka tulang itu sudah demikian besarnya, maka burung rajawali emas itu di masa hidupnya pasti merupakan seekor burung raksasa yang sangat menakutkan ! Dan burung raksasa semacam ini dengan cara bagaimana bisa memasuki tempat tersembunyi seperti ini ?

Oleh karena di sekitar tumpukan tulang-tulang itu masih terdapat hancuran batu-batu yang tidak sedikit jumlahnya, maka ia telah menarik kesimpulan bahwa tempat tersebut dahulu pasti pernah terjadi gempa bumi atau tanah longsong, sehingga menjadikan tempat yang bentuknya sangat aneh itu, dan bahaya alam itu mengakibatkan burung rajawali emas yang justru berada di situ terkubur hidup-hidup di pusar gunung !!

Ia anggap bahwa analisanya itu sangat beralasan, kini tinggal mencari jawabannya apa orang-orang Kie-lian-pay anggap penting goa itu ?

Ia lalu memeriksa keadaan tanah di sekitar tumpukan tulang burung itu, akhirnya ia dapat menemukan beberapa buah batu yang berserakan tidak karuan, di antara batu-batu ini terdapat potongan akar-akar tetumbuhan, agaknya ada orang yang mencongkel dan mencabut sebuah tanaman yang tumbuh di tempat itu.

Bagi orang-orang rimba persilatan, tanaman yang dianggap paling berharga, tidak lain daripada pohon lengci atau Pho-siu- o dan tumbuh tumbuhan lain yang dapat digunakan menyembuhkan luka parah atau memusnahkan racun-racun yang sangat berbisa: maka Hee Thian Siang setelah menemukan tanda-tanda itu, dianggapnya orang-orang dari golongan Kie-lian-pay telah menemukan pohon ajaib dari dalam goa itu, sedikitpun ia tidak menduga bahwa di dalamnya ternyata mengandung maksud keji orang-orang Kie- lian-pay yang mungkin akan menimbulkan pertumpahan darah besar-besaran dalam rimba persilatan !

Setelah kedua pertanyaan itu sudah menemukan jawabannya, Hee Thian siang kembali mencari jejak Ca Bu Kao.

Baru saja ia memutar tubuhnya, di bawah sinar rembulan ia telah menemukan sebuah pohon aneh yang berbentuk tiga cabang.

Pohon aneh itu lalu dipungutnya dan diperiksanya dengan seksama, ia pikir pohon yang aneh itu pasti pohon yang dicabut dan kemudian ditinggalkan oleh orang-orang Kie-lian- pay, maka sebaiknya ia bawa saja supaya di lain waktu bisa bertemu kembali dengan pendekar pemabokan yang berpengetahuan luas, dapat ditanyakan sebetulnya tumbuhan apa ?

Selagi berjalan menuju ke mulut goa, ia merasa heran, karena melihat sinar terang dari luar dan tidak habis mengerti bagaimana bisa terjadi hal seperti itu.

Sebab batu besar yang ia singkirkan dengan sudah payah itu, tapi hanya bisa menggeser sedikit sehingga ia perlu lagi menggunakan ilmunya mengkeretkan tubuh baru ia bisa masuk ke dalam goa, sekarang batu besar itu ternyata sudah bergeser banyak ke samping sehingga orang bisa keluar masuk dengan leluasa !

Oleh karena kejadian yang aneh itu, sehingga Hee Thian Siang tidak berani sembarangan keluar dari dalam goa. Ia mengambil sebuah batu kecil, lebih dulu dilemparkan keluar, setelah itu ia baru lompat keluar dari dalam goa.

Ternyata ia tadi sudah merasa tegang sendiri, karena di luar itu tiada seorang pun yang menyerang dirinya. Setelah berada di luar goa, ia mengamat-ngamati lagi batu yang digunakan untuk menutup pintu goa tadi, sedikitnya hampir satu ton beratnya, batu itu bisa menggeser begitu saja, sudah merupakan suatu kejadian yang sangat aneh, yang lebih aneh lagi, mengapa batu yang menutup goa tadi ketika menggeser ia sedikitpun tidak tahu atau mendengar suaranya ? Maka apabila ada orang yang menggeser batu itu, dapatlah dibayangkan betapa hebatnya orang yang melakukan pekerjaan itu.

Lama ia memikir, tetapi tidak menemukan jawabannya, terpaksa ia angkat kaku meneruskan perjalanannya dalam usahanya untuk mencari Ca Bu Kao. Berjalan baru beberapa tombak, tiba-tiba ia teringat sesuatu, dengan cepat ia memutar tubuh dan balik kembali, dari jauh benar saja tampak olehnya seorang yang mengenakan jubah panjang warna abu-abu, sudah menggeser batu raksasa itu untuk menutup kembali mulut goa tadi !!!

Hee Thian Siang yang waktu itu masih berada di tempat yang jauhnya sepuluh tombak lebih, tapi orang berjubah warna kelabu itu agaknya sudah mengetahui, dengan cepat lompat melesat tinggi tujuh tombak lebih, dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh yang luar biasa, ia berjalan di atas tumpukan batu-batu itu seolah-olah terbang di atasnya !

Dengan perasaan sangat kagum dan girang Hee Thian Siang mencoba mengerahkan tenaganya memanggilnya dengan suara keras: "Locianpwee harap tunggu sebentar, Hee Thian Siang hendak minta sedikit keterangan !!"

Tetapi orang yang berpakaian kelabu itu sedikit pun tidak menoleh, ia merasa tetap melakukan perjalanannya bagaikan terbang itu. Ketika Hee Thian Siang memburu sampai ke mulut goa, yang tadi sudah tak tampak lagi bayangannya, hanya di tempat tersebut melayang sepotong kertas.

Hee Thian Siang segera melompat menyambar kertas itu, setelah dibukanya kertas itu hanya merupakan secarik kertas putih, di kedua belah halamannya semua terdapat tulisan tangan, di bagian muka terdapat tulisan sebagai berikut:

Ca sehat Wal Afiat, Hok patut dikasihani, Giok ada durinya, Khong banyak cita rasa

Tanpa berpikir lagi, Hee Thian Siang lalu membalik kertas itu, di halaman belakang juga terdapat tulisan begini: Thian-tu berbahaya, Thian-kheng buas, Su-to baik, Su-to jahat !!

Kata-kata yang ditulis di atas kertas itu meskipun maksud yang terkandung di dalamnya tidak terlalu dalam, dan bagi orang yang bisa berpikir agak mudah dimengerti, tetapi masih memerlukan orang putar otak lebih jauh untuk mendapatkan jawabannya yang tepat! Hee Thian Siang yang mempunyai otak cerdas, setelah dipikirnya sekian lama, ia hanya merasa urutan pertama yang berbunyi Ca sehat Wal Afiat, yang dimaksudnya untuk menghibur dirinya dan memberitahukan bahwa Ca Bu Kao saat itu dalam keadaan sehat Wal'afiat, hingga tak perlu dipikirkan, sedang tiga patah yang lainnya, justru ditujukan kepada nama tiga gadis yang disebutkan oleh pendekar pemabukan dulu !

Baris kedua yang dikatakan Hok patut dikasihani yang disebut Hok tadi apakah Hok Siu In, salah seorang dari empat jago wanita golongan Ngo-bie yang patut dikasihani keadaannya, ataukah patut dikasihani riwayatnya ?

Dan Giok ada durinya kata-kata itu jelas ditujukan kepada murid yang dibanggakan oleh ketua Kun-lun-pay ialah Giok Jie, yang memiliki senjata berbisa luar biasa, hingga mengandung maksud samar-samar tidak boleh didekati dengan serampangan.

Sedangkan kata-kata Khong banyak cita rasa, juga jelas ditujukan kepada puteri tunggal Thian-wa Ceng-mo yang bernama Tiong-sun Hui-kheng. Mungkin gadis itu adalah seorang lemah lembut yang banyak cita rasanya !

Setelah dipelajarinya bunyi kata-kata itu, Hee Thian Siang tiba-tiba lompat ke atas tebing, dan dengan menggunakan menyiarkan suara dari jarak jauh ia berkata kepada orang tua itu: "Locianpwe, aku tahu kau siapa ! Kau adalah "DUTA BUNGA MAWAR!" Dari jauh agaknya terdengar suara apa-apa, tapi ketika Hee Thian Siang memasang telinga, ternyata tidak terdengar jawaban dari orang yang dianggap sebagai DUTA BUNGA MAWAR tadi !

Sementara dua belas huruf dengan kata-kata yang ditulis dari baliknya tadi, jikalau dipelajari dengan seksama, bagian bawah agak sulit ditebak, sedang bagian atas agak mudah.

Kata-kata yang dimaksud Thian-tu berbahaya, mungkin dimaksudkan pertemuan yang akan dilakukan pada tanggal enam belas bulan dua belas oleh ketua Bu-tong, Lo-hu, Tiam- cong, Kun-lun, Swat-san dan Ngobie, di dalam pertemuan di atas gunung Thian-tu-hong itu, mungkin mengandung "bahaya sangat besar !"

Perkataan Thian-kheng buas, yang dimaksudkan adalah pasti duri Thian-kheng yang membinasakan dua orang penting golongan Bu-tong itu yang digunakan untuk membokong peng-sim Sin-nie serta Thiat-kwan Totiang, senjata gelap itu merupakan senjata yang sangat berbisa dan buas, sehingga perlu waspada terhadapnya.

Perkataan Su-to baik dan su-to jahat ini, sesungguhnya sukar diduga, sebab perkataan Su-to sudah tentu dimaksudkan kepada diri Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie yang terlibat urusan asmara dengan Ca Bu Kao, tetapi baik dan jahat itu menggambarkan sifat dari macam seseorang. Jikalau Su-to Wie itu baik, dengan sendirinya bukan orang jahat, tetapi jikalau jahat, dengan sendirinya tentulah bukanlah seorang yang baik ! Bagaimana seseorang bisa memiliki dua macam sifat yang berlainan demikian jauh ?

Hee Thian Siang setengah mengerti dan setengah bingung, setengah tepat dugaannya dan setengah salah, ia mempelajari sekian lama, akhirnya masih belum bisa menemukan jawabannya yang tepat ! Dengan pikiran penuh diliputi tanda tanya, ia lalu berjalan keluar dari daerah pegunungan Hok-gu-san !

Waktu itu baru tanggal sebelas bulan sepuluh, masih ada enam puluh hari lagi untuk menghadiri pertemuan di atas puncak Thian-tu-hong. Waktu itu baginya masih ada banyak kesempatan untuk pesiar dibanyak tempat. Ia melakukan perjalanan melalui beberapa propinsi, tetapi di sepanjang jalan itu ia tidak menemukan hal-hal yang luar biasa, hanya ketika ia tiba di gunung Tay-piat-san, di tempat itulah ia kembali menemukan kejadian ajaib.

Saat itu ia berdiri di atas puncak gunung, dari tempat yang tinggi itu ia lepaskan pandangan matanya ke arah jauh, selagi matanya menikmati pemandangan alam yang sangat indah, di kanan kirinya tampak bayangan orang yang semua menuju ke puncak gunung di seberangnya yang banyak terdapat pohon lebat !

Bayangan orang baginya tidak mengherankan sama sekali, apa yang mengherankan baginya ialah kesebatan lari bayangan tadi, dari puncak sebelah dirinya adalah sesosok bayangan berbaju kuning, bayangan itu lari laksana mengambang di tengah udara, tetapi kalau dibanding dengan bayangan putih yang berada di puncak gunung sebelah kanannya, rasanya masih kalah jauh !

Dengan penemuan kejadian yang aneh itu, telah menimbulkan perasaan heran dirinya, ia pikir di dalam gunung Tay-piat-san yang jarang didaki oleh manusia ini, dari mana ada orang yang berkepandaian tinggi luar biasa seperti dua orang itu ?

Tempat yang dituju oleh dua bayangan tadi justru terpisah lebih jauh dari tempat Hee Thian Siang berdiri, tempat itu dapat dicapai tak mudah dari tempat berdiri itu. Hee Thian Siang yang masih muda dan senang kepada segala sesuatu yang aneh-aneh, karena tertarik oleh tingginya ilmu meringankan tubuh dua bayangan itu, maka ia segera lari ke puncak gunung dan mencari sebuah tempat yang agak sempit, dengan tiba-tiba ia menggunakan ilmunya Naga Sakti menyeberang laut, dari situ melesat jauh enam tombak lebih, ketika masih berada ditengah udara, ia melakukan gerakan salto, hingga dengan mudah mencapai kebagian tengah puncak gunung tadi.

Di tempat itu ia pasang mata, tampak olehnya tiga sosok bayangan orang yang mengenakan pakaian hitam, kuning dan putih, semua menuju ke puncak gunung itu, tetapi ketika ia berada di puncak gunung tersebut, kecuali air mancur, pohon- pohonan yang lebat daunnya, sudah tak menampak apa-apa lagi !

Ia lihat bahwa puncak gunung itu bukan saja tinggi menjulang ke langit, tetapi juga tempatnya sangat berbahaya, kalau hendak mencari orang ditempat yang begitu berbahaya barangkali agak sukar.

Yang menyulitkan baginya, karena ia tidak tahu bahwa tiga bayangan orang tadi apa maksudnya datang ke tempat itu? Maka ia terpaksa jalan seenaknya dengan harapan bisa menemukan mereka lagi, dengan secara kebetulan atau secara tidak terduga duga !

Benar saja seperti apa yang ia harapkan, baru saja berjalan kira-kira lima tombak, dari satu sudut tiba-tiba terdengar suara kaki berjalan, seorang gadis berpakaian hitam, berparas cantik luar biasa dan berusia kira-kira baru tujuh belas tahun, berjalan memutar lambat-lambat.

Gadis berpakaian hitam itu bagi Hee Thian Siang agaknya tidak asing lagi, ia adalah Hok Siu In, salah seorang dari empat jago wanita golongan Ngo-bie, yang termuda, juga seorang yang memiliki ilmu pedang paling bagus diantara saudara saudaranya, munculnya gadis itu sangat tiba-tiba, sesungguhnya mengejutkan Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang tadi tahu kedatangan gadis itu sangat tergesa gesa, tetapi kini mengapa demikian tenang sikapnya, sehingga ia berdiri bingung mengawasinya, setelah dekat dengan dirinya ia tentu mengangkat tangan memberi hormat seraya berkata sambil tersenyum:

"Nona Hok, perpisahan kita di puncak gunung Peng-bun- san, tak diduga hari ini kita kembali bertemu di tempat ini, boleh dikata suatu kebetulan !"

Hok Siu In yang dengan tiba-tiba bertemu kembali bersama Hee Thian Siang, juga merasa terkejut, atas pertanyaan tadi itu, ia menjawab dengan nada suara dingin: "Kebetulan memang kebetulan, dengan tiba-tiba kau datang kemari, maksudmu hendak turut hadir dalam pertemuan di puncak gunung Thian-??-hong, ataukah dengan kebetulan kau pesiar ke gunung ini ? Ataukah maksudmu itu bersamaan dengan aku hendak mencari goa kuno yang terdapat benda-benda pusaka ?"

Pertanyaan terakhir itu menggerakan hati Hee Thian Siang, pertanyaan itu telah mengingatkan kembali akan penemuannya, goa kuburan burung rajawali emas, dan teringatlah pula ucapan yang terdapat di atas kertas yang ditinggalkan oleh orang aneh itu, oleh karenanya maka ia menatap wajah gadis itu, saat itu ia memang dapat merasakan bahwa gadis itu memang benar dari wajahnya yang cantik molek agak mengandung sikap lemah lembut yang menarik perasaan kasihan bagi orang yang melihatnya !

Berhadapan dengan gadis berparas cantik seperti itu, yang memiliki pula kepandaian ilmu silat sangat tinggi, jikalau ia tidak teringat oleh gadis yang dilihatnya di gunung, Kiu-gi-san pada waktu itu, gadis dari golongan Ngo-bia ini sesungguhnya merupakan orang yang sangat menarik bagi dirinya !

Hok Siu in yang melihat Hee Thian Siang tidak menjawab pertanyaannya, apalagi juga melihat matanya memandang dirinya tanpa berkedip, wajahnya lalu berubah ! Hee Thian Siang juga merasa bahwa sikapnya itu agak kurang sopan, dengan wajah kemerah merahan ia bertanya sambil tersenyum: "Nona Hok, mengapa marah ? Apakah kau masih ingin berkelahi denganku ?"

"Sekarang aku tidak ingin berkelahi denganmu, di kemudian hari aku pasti akan coba menguji kepandaianmu ! Bukankah kita sudah menetapkan waktu dan tempatnya ?" Menjawab Hok Siu-in dengan suara dingin.

"Oya benar, waktunya ialah tanggal dua puluh bulan lima tahun depan, dan tempatnya ialah di puncak gunung Ngo-bie- san !"

Berkata sampai di situ, tiba-tiba ia bertanya sambil tertawa: "Kalau nona Hok benar tidak ingin berkelahi denganku,

mengapa kau tadi demikian marah merasa seperti tidak senang ?"

Sudah tentu Hok Siu-in merasa tidak enak untuk menjawab bahwa Hee Thian Siang tadi memandang dirinya dengan mata tak berkedip, maka ia hanya menjawab: "Aku tadi bertanya padamu, mengapa kau tidak menjawab ?"

Hee Thian Siang pada waktu itu sebab pikirannya tergerak, maka ia merasa terkejut ketika ditanya demikian, ia tak tahu apa yang dimaksud oleh gadis itu.

Hoa Siu-in disamping merasa geli juga merasa jengkel, ia berkata pula: "Aku tadi tanya kau, kedatanganmu di gunung ini hanya untuk pesiar saja ataukah hendak mencari..."

Hee Thian Siang baru sadar, maka dengan cepat ia menjawab:

"Aku hanya kebetulan saja pesiar kemari, dan kebetulan pula bertemu dengan nona, bukan maksudku untuk mencari goa atau benda-benda berharga."

Berkata sampai di situ tiba-tiba mendapat satu pikiran dan berkata pula sambil tertawa: "Nona Hok, meskipun aku bukan mencari barang berharga, tetapi mungkin aku dapat menduga barang apa yang sedang nona cari ?"

Hok Siu-in agaknya tidak mau percaya, maka lalu menjawab " "Coba kau tebak !"

"Bukankah kau hendak mencari kerangka seekor burung ?

Betul tidak ?"

"Kau benar-benar sudah gila! Jikalau dapat menundukkan seekor burung terbang yang masih hidup, masih boleh juga digunakan untuk terbang di atas awan, Tulang tulang burung- burung, perlu apa harus dicari ?"

Hee Thian Siang semula mengira bahwa penemuan kerangka burung rajawali emas didalam goa tua yang dianggap sangat berharga bagi orang-orang Kie-lian-pay dianggapnya barang yang digali dari bawah rangka burung itu pasti merupakan tetumbuhan ajaib, dan pasti merupakan tumbuhan yang sangat berharga bagi orang-orang rimba persilatan, maka ketika mendengar Hok Siu-in hendak mencari goa tempat simpan barang-barang berharga, ia sudah menduga kepada goa itu! Sungguh di luar dugaannya jawaban Hok Siu-in itu tidak membenarkan tebakannya, maka ketika mendengar perkataan Hok Siu-in, wajah Hee Thian Siang kembali menjadi merah, ia terpaksa berkata pula sambil tertawa:

"Barang yang kau cari kalau bukan seperti apa yang kuduga tadi, sebaliknya barang apakah yang sedang kau cari itu ?"

Barang-barang pusaka yang sangat berharga bagi rimba persilatan itu, sebetulnya tidak seharusnya ditanyakan begitu saja kepada orang yang berkepentingan, maka ketika ditanya demikian oleh pemuda itu, Hok Siu-in merasa serba salah, karena itu tak tahu bagaimana harus menjawabnya !

Hee Thian Siang sesudah mengeluarkan pertanyaannya itu baru merasa telah kesalahan omong, tetapi ucapan sudah keluar tidak bisa ditarik kembali, maka terpaksa melanjutkan pertanyaannya lagi: "Nona Hok, jangan kecil hati, Hee Thian Siang lebih suka membantu kau mencarikan dan aku jamin dengan nama perguruanku, sedikitpun aku tak bermaksud untuk minta bagian darimu !"

"Kuberitahukan padamu juga tidak ada halangan, tetapi aku juga tidak perlu minta bantuanmu untuk mencari, juga tidak takut kau minta bagian, siapa yang bernasib baik dan siapa yang beruntung mendapatkannya boleh ambil barang itu !"

Hee Thian Siang yang biasanya sangat sombong dan tinggi hati, telah ketemu batunya, hingga sesaat itu ia berdiri melongo dengan wajah kemerah merahan.

Hok Siu-in yan menyaksikan keadaan Hee Thian Siang, juga merasa geli sendiri, ia melanjutkan ucapannya: "Aku dengar bahwa di gunung Tay-piat-san ini di atas puncak gunung Cek-tian-hong, didalam sebuah goa tua, ada tersimpan sebuah benda yang dinamakan sisik naga untuk melindungi jalan darah, dan sebilah pedang yang dinamakan Liu-yap Bian-sie-kiam yang sangat lemas bagaikan kertas !" Hee Thian siang hanya mengeluarkan perkataan "Oo...", tetapi tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Hok Siu-in melihat sejenak pemuda itu, karena agaknya tidak ambil perhatian atas jawabannya, maka lalu memberi tambahan keterangan: "Benda pusaka yang dinamakan sisik naga pelindung jalan darah itu semuanya berjumlah tiga puluh enam potong, jikalau digunakan melindungi tiga puluh enam jalan darah manusia, dapat digunakan untuk menolak segala kekuatan jari tangan atau golok dan pedang! Sedangkan pedang yang dinamakan Liu-yao Bian-sie-kiam itu bentuknya lemas bagaikan kertas, tapi tajamnya luar biasa, dapat menembus segala benda yang keras. Kalau kita bawa, cahaya dan hawanya yang dingin dapat mencapai jarak sepuluh langkah ! Dua benda pusaka itu semua merupakan benda-benda kuno yang dimiliki oleh jago pedang Thuao San Jin pada tiga ratus tahun berselang, benda itu hingga kini merupakan benda yang paling dicari dan diimpi- impikan oleh orang-orang kuat rimba persilatan dewasa ini !"

Keterangan Hok Siu-in tentang benda pusaka jaman dahulu itu tidak menarik perhatian Hee Thian Siang, ia hanya tertawa tawa dan kemudian berkata: "Jikalau aku dapat menemukan sisik naga pelindung jalan darah, dan kau menemukan padang pusaka Liu-yap Bian-sie-kiam, d ikemudian hari apabila kita melakukan pertandingan di atas gunung Kun-lun-san, kita dapat mencoba benda pusaka itu, mana yang lebih kuat ?"

Permusuhan Hok Siu-in terhadap Hee Thian Siang, saat itu pelahan lahan mulai berkurang, ia merasa bahwa pemuda yang keras hati dan sombong ini, sesungguhnya sangat menarik, oleh karenanya, maka ia lalu angkat muka dan tersenyum padanya, justru pada waktu itu Hee Thias Siang juga sedang memandangnya, hingga dua pasang mata saling berpadu !

Berdebar hati Hee Thian Siang. Sedangkan Hok Siu-in sebagaimana biasa gadis-gadis sebayanya, perasaannya malu hati dengan sendirinya lantas timbul, kedua pipinya lantas merah, kemudian menundukkan kepala, dan setelah itu ia lompat melesat setinggi tiga tombak ke puncak gunung!

Begitu kakinya menginjak batu gunung, Hee Thian Siang tahu-tahu sudah berada di sisinya lagi, ia tak tahu bagaimana perasaannya waktu itu terhadap pemuda yang agak jenaka itu; girang ataukah malu ? Katanga setengah menyesalinya:

"Kita hanya boleh mengandalkan keberuntungan masing- masing, kita pergi mencari sendiri-sendiri, mengapa kau mengikuti aku saja ?"

"Tentang benda pusaka itu aku sebetulnya memang tidak tahu, sekalipun aku dapat menemukan, aku juga pasti akan berikan padamu ! Mengapa perlu mencari sendiri-sendiri di daerah pegunungan yang luas ini ?" Menjawab Hee Thian Siang sambil tertawa.

Ucapan Hee Thian Siang yang dikeluarkan dengan seenaknya itu tanpa disengaja mengandung dua arti, sehingga Hok Siu-in yang mendengarnya merasa sedikit kemalu-maluan, kembali ia meninggalkan pemuda itu dan lompat melesat setinggi hampir sepuluh tombak.

Dengan sikap dan perbuatannya itu, Hee Thian Siang baru sadar bahwa ucapannya yang tidak disengaja tadi mengandung arti dalam, hingga ia sendiri kemudian juga merasa malu.

Tetapi Hok Siu-in waktu itu hanya malu, dan tidak merasa marah, jelas gadis itu sudah mulai timbul rasa suka terhadap Hee Thian Siang, oleh karenanya maka Hee Thian Siang merasa berdebaran jantungnya ! Diam-diam ia berpikir, sayang sekali gadis ini bukanlah gadis yang kulihat di gunung Kiu-gi-san dahulu. Aku jauh-jauh pergi kehadapan makam bunga mawar yang kuminta darinya ialah orang yang kulihat di gunung Kiu-gi-san itu, jikalau tidak, perlu apa aku lari kesana kemari...

Belum lenyap pikirannya, Hok Siu-in sudah beruntun lompat melesat menjelajahi puncak gunung, Hee Thian Siang buru-buru mengerahkan ilmu meringankan tubuh, kembali ia pergi mengejar gadis itu, setelah menyandaknya, ia berkata dengan suara perlahan.

"Nona Hok, harap kau maafkan kesalahanku yang tak sengaja tadi..."

Hee Thian Siang yang belum pernah mengalami berjumpa kasih dengan seorang wanita, sudah tentu dalam hal ini ia masih belum mempunyai sedikit pengalaman, pun juga untuk menghadapi seorang gadis, atas ucapannya tadi ia membuat Hok Siu-in merasa lebih malu, maka gadis itu lantas menjawabnya dengan suara agak ketus: "Jikalau kau mengucapkan kata-kata yang bukan-bukan lagi, jangan sesalkan kalau aku nanti akan segera berlalu dari sini, dan perjanjian akan mengadakan pertandingan di atas gunung Kun-lun-san juga akan kutarik kembali."

Berkata sampai di situ Hok Siu-in tiba-tiba merasa bahwa ucapannya sendiri banyak terdapat kesalahan, ucapan itu tidak mirip seorang yang baru kenal saja, bahkan mirip dengan kelakuan seseorang yang sedang ngambek kepada kekasihnya.

Hee Thian Siang yang mendengarkan ucapan itu diam- diam merasa geli, sebab saat itu Hok Siu-in hampir-hampir mengeluarkan air mata, maka buru-buru ia mengarahkan ucapannya ke lain soal, ia berkata sambil tertawa:

"Nona Hok, ucapan yang kuucapkan dahulu di atas gunung Keng-lun-san itu entah betul atau tidak ? Dan Hong-tim Ong- khek May Ceng-ong, apakah betul pernah datang kekuil Khun- leng To-koan ?"

Hok Siu-in waktu itu masih berdiri diam saja, dengan kedua tangannya ia membereskan rambutnya yang hitam legam, yang sedang tertiup angin gunung, setelah menenangkan pikirannya kembali, ia memandang Hee Thian Siang sejenak lalu menjawab:

"Jikalau apa yang kau ucapkan waktu itu tidak benar, sehingga kami empat saudara lari pulang tanpa hasil, maka hari ini aku sudah pasti tak akan berlaku begitu baik lagi terhadapmu... " "Kenapa ? Apakah kau mau suruh aku segera merasakan hebatnya ilmu pedang golongan Ngo-bie-pay ?"

Hok Siu-in kini benar-benar merasa kewalahan menghadapi Hee Thian Siang yang nakal itu, baru saja ia hendak menegornya lagi, Hee Thian Siang sudah bertanya pula.

"Kalau benar Hong-tim Ong-khek May Ceng-ong sudah mendatangi kuil Khun-lun To-kwan, apakah ilmu kitab Thian- hian-kiam-pho milik partai Ngo-bie-pay juga sudah diambilnya

?"

"Orang yang menamakan diri Hong-tim Ong-khek May Ceng-ong itu, meskipun merupakan salah satu dari tiga orang yang paling sudah dihadapi pada dewasa ini, tapi suci kami Hian-cian Sian-lo bukan orang dari golongan sembarangan, bagaimana bisa dengan mudah kitab berharga itu diambil olehnya ?"

Hee Thian Siang tiba-tiba ingat keterangan pendekar pemabokan tentang Hong-tim Ong-khek May Ceng-ong yang tidak suka bertemu muka dengan Hok Siu-in, maka ia lantas bertanya. "Waktu kalian balik kembali ke kuil Khun-lun To-koan, apakah menggunakan barisan ilmu pedang Su-siang Tui-hun- kiam-tin untuk menghadapi May Ceng Ong...?"

"May Ceng Ong agaknya juga tahu diri, kami empat saudara baru saja tiba di depan pintu kuil, ia sudah merat dari pintu belakang! Jikalau tidak, seperti apa yang kau katakan tadi, kami akan menghadapinya dengan menggunakan barisan ilmu pedang Su-siang Tui-hun-kiam-tin!"

Hee Thian Siang diam-diam terkejut, karena apa yang dikatakan oleh pendekar pemabukan itu ternyata tidak salah ! Tetapi apa sebabnya May Ceng Ong harus melarikan diri dan tak mau bertemu dengan Hok Siu-in ?

Rahasia itu, kecuali orang yang mengetahui benar keadaannya, sudah tentu tidak dapat menduganya ! Hee Thian Siang tahu bahwa kunjungan May Ceng Ong ke gunung Ngo-bie-san tidak mungkin berlalu begitu saja tanpa mendapatkan apa-apa, maka ia lalu bertanya pula sambil tertawa:

"Menurut keterangan ini, apakah May Ceng Ong belum pernah bertempur dengan orang-orang golongan Ngo-bie-pay

?"

"Orang-orang yang kepandaiannya sudah mencapai setaraf dengan toa-suci Hian-hian sian-li dan May Ceng Ong, kecuali bertempur mati matian, sehingga salah satu ada yang mati, pertandingan biasa saja sebetulnya tak ada artinya, ia hanya duduk bersila berhadapan dengan Toa-suci di dalam kuil Khun-leng To-koan satu hari lamanya !"

Orang-orang seperti mereka yang sudah memiliki kepandaian tinggi sekali, pasti tidak duduk berhadapan satu hari begitu saja ada gunanya ! Mereka sedang mengadu kekuatan tenaga dalam ataukah hendak meninggalkan apa- apa yang patut dibuat peringatan didalam kuil itu ?"

Hok Siu-in yang mendengar pertanyaan itu merasa terkejut atas kecerdasan otak Hee Thian Siang yang melebihi dari manusia biasa, maka ditatapnya wajah pemuda itu agak lama, baru menjawab sambil menganggukkan kepala:

"Perkataanmu juga terakhir itu memang benar! Mereka setelah duduk berhadapan satu hari lamanya, lalu seraya bangkit sambil tersenyum, tempat yang diduduki oleh May Ceng Ong, ternyata masih utuh tidak ada yang rusak, hanya tempat itu masuk ke dalam lantai ?"

"Dan Toasucimu sendiri ?"

"Bagi, Toasuciku, dalam ilmunya golongan budha, yang agak kalah sedikit dengan May Ceng Ong, tempat yang ia duduki masih belum masuk ke lantai sedalam seperti tempat yang diduduki oleh May Ceng Ong !

Hee Thian Siang diam-diam menghargai sikap terus terang gadis itu, ia berkata sambil tersenyum:

"Tentang kepandaian ilmu silat, sebetulnya terlalu banyak jenisnya, ilmu golongan keras, ilmu meringankan tubuh, atau ilmu pedang dan ilmu senjata rahasia, karena gurunya berlian- lainan, sudah tentu kepandaiannya juga berbeda beda. Toa- sucimu Hian-hian Sian-lo, meskipun dalam ilmu dari golongan budha itu agak kurang dari kepandaian May Ceng Ong tetapi mungkin... "

Berkata sampai disitu, mendadak ia berhenti, sebab ia telah melihat bahwa Hok Siu-in tidak memperhatikan ucapannya, matanya ditujukan ke arah lain, agaknya merasa tertarik oleh sesuatu yang terjadi ditempat itu, ia lalu tunjukkan pandangan matanya arah yang menjadi perhatian Hok Siu-in, tampak olehnya didekat puncak gunung sebelah kanannya ada sebuah tebing kira-kira tiga puluh tombak tingginya, dindingnya rata menjulang tinggi seolah-olah dibelah oleh kampak, dinding tebing itu penuh dengan tumbuhan lumut, hingga tampaknya sangat licin sekali, tebing itu bagian atasnya menonjol sedang bagian bawahnya kecil, hingga nampaknya agak miring, bagaimanapun tinggi ilmunya meringankan tubuh seseorang juga sulit untuk mencapai ke atasnya !

Tetapi di tengah-tengah tebing yang luar biasa bentuknya itu, tampak sebuah goa yang lubangnya demikian kecil !

Hee Thian Siang diam-diam berpikir. Mengapa Hok Siu-in demikian besar perhatiannya tempat itu? Apakah ia kira di atas tebing itu ada goa kuno yang didalamnya terdapat dua benda pusaka yang sedang dicari itu ?

Melihat keadaan tempat yang demikian berbahaya dan sulit dicapai, kemungkinan itu memang ada; tetapi lubang goa terlalu kecil, garis tengahnya tidak ada satu kaki, bagaimanapun tingginya ilmu mengkeretkan tubuh juga tidak dapat memasuki goa itu !

Hee Thian Siang yang baru berpikir demikian, Hok SIu-in tiba-tiba berkata sambil menunjuk ke tempat itu: "Aku tadi seperti melihat ada bayangan putih berkelebat masuk ke dalam gua yang mulutnya kecil itu, mulut goa yang demikian sempit, bagaimana ada orang dapat masuk kedalamnya ?"

Oleh karena Hee Thian Siang tadi tanpa disengaja pernah melihat berkelebatnya bayangan hitam, kuning dan putih, semua menuju ke puncak gunung itu, bayangan yang berbaju hitam kemudian ternyata adalah Hok Siu-in sendiri, bayangan kuning dan putih hingga saat itu belum pernah dijumpainya lagi, maka ketika mendengar ucapan Hok Siu-in, tergeraklah hatinya, hingga matanya juga ditujukan ke tempat itu. Dua orang itu sekian lama memperhatikan keadaan di atas tebing itu, tetapi tidak tampak bergeraknya bayangan putih yang masuk kedalamnya, sebaliknya terdengar suara teriakan aneh seperti orang bicara !

Suara itu datang dari bagian dalam goa, kemudian dari atas puncak gunung tiba-tiba terdengar suara pekikan yang amat nyaring, suara itu disusul dengan munculnya seekor binatang yang sekujur badannya berbulu warna kuning emas, binatang itu seperti monyet tetapi bukan monyet, seperti orang hutan, tetapi juga bukan orang hutan !

Munculnya binatang aneh itu sangat mengejutkan Hee Thian Siang dan Hok Siu-in! Tetapi Hee Thian Siang yang menyaksikan binatang aneh itu ia merasa seperti pernah melihatnya.

Pada Saat dua orang itu sedang memandangnya dengan perasaan berheran rehan, dari dalam goa yang mulutnya sempit itu tiba-tiba menongol keluar sebuah tangan kecil berbulu putih, tangan itu melemparkan sebuah kotak emas yang kecil mungil.

Dengan munculnya tangan binatang kecil berbulu putih itu, Hee Thian Siang seketika itu baru sadar, ia tadi merasa pernah melihat binatang berbulu kuning emas, kiranya adalah binatang yang pernah dilihatnya ketika berada di lembah gunung Ciong-lam-san sewaktu di situ terjadi air banjir dan banyak binatang-binatang buas pada lari serabutan, di antaranya terdapat kuda berbulu hijau, dan di atas kuda itu terdapat seekor kera putih dan binatang aneh berbulu kuning emas itu !

baru sadar Hee Thian Siang tersadar, Hok Siu-in sudah berkata: "Usaha kita sudah ketinggalan, benda pusaka itu sudah diambil orang lain lebih dulu, kotak kecil mungil berlapis emas itu didalamnya pasti terdapat sisik naga pelindung jalan darah peninggalan Tay-piat Sianjin !"

Hee Thian Siang waktu itu melihat tangan kera putih itu meskipun kecil, tetapi kekuatan tenaganya melemparkan kotak emas itu ternyata hebat sekali ! Hingga ia dapat menduga bahwa kera putih sejenis itu pasti bukan binatang sembarang binatang. Maka lalu berkata sambil tersenyum:

"Nona Hok, tidak hanya tidak berjodoh dengan benda pusaka itu, juga bukannya ketinggalan ! Sebab yang mengambil benda pusaka itu adalah seekor kera kecil berbulu putih, jikalau kita, sekalipun sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya, juga tak dapat memasuki lobang goa sekecil itu ! "

Mendengar keterangan itu Hok Siu-in terpaksa diam, lama baru berkata:

"Bagaimana kau tahu bahwa yang masuk ke dalam itu seekor kera berbulu putih yang kecil sekali ? ... "

Belum habis ucapannya, dari goa itu kembali melesat butiran warna merah yang segera disamber oleh binatang aneh berbulu emas itu.

"Butiran putih itu barangkali gulungan pedang mustika Lin- yap-hian-si-kiam seperti apa yang pernah disiarkan di rimba persilatan itu !" berkata Hok Siu-in sambil menggeleng gelengkan kepala.

"Dua benda pusaka peninggalan Tay-piat-sianjin sudah didapatkan oleh orang lain, kera tak lama lagi pasti keluar dari dalam goa, kau nanti boleh saksikan sendiri, betul seekor kera kecil berbulu putih atau bukan ?" Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Baru saja Hok Siu-in hendak menanya bagaimana ia bisa tahu, tetapi ketika matanya ditunjukkan ke mulut goa lantas berseru kaget, dan benar saja dari dalam goa itu muncul seekor kera berbulu putih yang badannya kecil sekali, herannya kera itu demikian lincah dan mahir sekali ilmunya meringankan tubuh, ditempat yang demikian licin miring dan sangat berbahaya, ia dapat bergerak dengan leluasa dan gesit sekali !

Kera putih itu lompat lompat di atas tebing yang curam, ia minta kotak emasnya dari tangan binatang berbulu emas lalu dibukanya. Kera itu nampaknya sangat gembira sekali, mulutnya mengeluarkan suara ceciutan, kemudian menyerahkan kembali ke tangan binatang aneh tadi. Ia sekarang ambil lagi butiran warna putih perak, lalu dikibatkan keluar, dan benda telah berubah menjadi sebilah pedang lemas sepanjang dua kaki lebih, pedang itu meskipun lemas tapi tampaknya sangat tajam dam bentuknya aneh sekali.

Hee Thian Siang dan Hok Siu-in yang menyaksikan itu merasa tertarik dan kagum sekali, kera putih itu dengan tiba- tiba memainkan pedang itu dengan sangat mahirnya!

Hok Siu-in semakin heran, ia berseru:

"Itulah ilmu pedang yang dinamakan kera sakti menyembah buah dan satu pedang tiga tangkai bunga, apakah kera kecil itu juga pandai mainkan ilmu pedang Wan-kong Kiam-hwat ?"

Kalau Hok Siu-in mengagumi dan memuji kera kecil itu, sebaliknya dengan Hee Thian Siang, saat itu pikirannya melayang layang kepada majikannya. Sebab binatang piaraannya saja sudah demikian hebat, apalagi majikannya ! Entah ada kesempatan untuk belajar kenal atau tidak ? Dua binatang aneh yang berada di tebing tinggi itu agaknya mencium bau manusia dan mendengar suara Hok Siu-in dan Hee Thian Siang hingga dua pasang matanya ditujukan kepada dua muda mudi itu. Kera putih itu agaknya mengerti apa arti waspada, dengan cepat ia menggulung lagi pedangnya menjadi butiran, sesudah mengeluarkan suara cuitan beberapa kali, bersama sama binatang aneh berbulu kuning emas, dari tempatnya yang tinggi itu lari turun ke bawah !

Hok Siu-in yang menyaksikan sendiri bahwa dua benda pusaka rimba persilatan itu sudah terjatuh ditangan binatang tadi, ia tidak keburu untuk mengejarnya, apalagi sekalipun ia dapat mengejar, juga merasa tidak enak untuk merebut barang orang lain dari tangan binatang !

Pada saat itu, di atas puncak gunung yang sunyi itu, tiba- tiba terdengar suara yang merdu: "Siao-pek, Tow-wie, kamu mengerti peraturan dunia Kang-aow atau tidak ? Orang sering berkata: Benda yang tak ada miliknya, siapa yang melihatnya semua ada hak untuk mendapatkan. Aku hanya ingin Sisik Naga Pelindung jalan darh itu saja, kau antarkan pedang Liu- yap-sian-sie-kiam kepada nona itu !"

Hee Thian Siang dan Hok Siu-in yang mendengar ucapan itu kedua duanya tercengang, dan saling berpandangan. Tetapi kera putih dan binatang berbulu emas tadi ketika mendengar suara merdu itu, segera lari ke bawah dan kera berbulu putih itu lalu menyerahkan kotak emas kepada binatang berbulu emas, setelah itu ia lari ke lain tepi, menuju ke tempat berdirinya Hee Thian Siang dan Hok Siu In.

Hok Siu In karena mendengar suara orang tadi juga merupakan suara seorang gadis, maka sambil mengerutkan alisnya ia berkata kepada Hee Thian Siang dengan suara perlahan: "Siapakah nona itu? Selain dapat menguasai dan memelihara binatang-binatang aneh yang mengerti kemauan orang itu, juga begitu baik hati. Apakah benar ia hendak memberikan pedang pusaka itu kepadaku?"

Mata Hee Thian Siang ditujukan ke arah datangnya suara merdu tadi, ia lalu menjawab dengan suara perlahan pula: "Asal usul nona itu mungkin aku bisa menduganya, dia adalah... Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng..."

Belum habis ucapannya, Hok Siu In sudah memotong sambil menggelengkan kepala: "Kau jangan menebak-nebak sembarangan. Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng adalah seorang lelaki, sedangkan suara tadi suara seorang perempuan..."

Hee Thian Siang juga tidak menunggu habis ucapannya, sudah berkata sambil tertawa: "Kau belum dengar terang ucapanku, bagaimana sudah menyalahkan aku? Aku menduga dia adalah putri tunggal Thian-gwa Ceng-mo Tiong- sun Seng!"

Baru saja menutup mulut, di bawah puncak gunung tampak berkelebat bayangan putih, kera kecil berbulu putih itu sudah tiba di tempatnya, kera itu mengulurkan tangan kirinya, di dalam tangan itu ada butiran benda warna perak, diberikan kepada Hok Siu In.

Setelah berada dihadapannya, dua orang itu baru melihat tegas bahwa bulu putih mulus sekujur badan kera kecil itu, selain halus juga mengkilap, kedua tangannya juga sangat panjang telapak tangannya besar sekali, sepasang matanya merah membara mengeluarkan cahaya sangat tajam. Jelas ia merupakan seekor binatang luar biasa yang jarang ada di dalam dunia.

Hok Siu In meskipun juga ingin sekali mendapatkan pedang pusaka yang dinamakan Liu-yap-bian-sie-kiam itu, tetapi kini ia juga merasa tidak enak untuk menerima barang pusaka itu dari tangan kera putih.

Kera putih itu ketika melihat Hok Siu In tak mau menyambuti pedang pusaka itu, nampaknya sangat gelisah, ia menggaruk-garuk telinga sendiri, dan mulutnya mengeluarkan suara cecuitan yang aneh.

Hee Thian Siang juga lantas berkata kepada Hok Siu In sambil tertawa: "Kau jangan mengabaikan maksud baik kera putih itu, di lain waktu kau juga boleh menghadiahkan padanya buah-buahan dari gunung Ngo-bie-san bukankah..."

Baru berkata sampai di situ, suara merdu dilain tepi itu kembali terdengar dan kali ini dibarengi oleh suara tawanya yang merdu pula: "Orang-orang Kang-ouw pada bercerita, bahwa di antara empat jago Ngo-bie-pay, yang termudalah yang paling hebat. Mengapa sekarang nampaknya begitu malu-malu hati? tidak cukup berani, sebilah pedang toh bukan berarti apa-apa!"

Hok Siu In heran bahwa nona itu mengetahui asal usul dirinya, karena ia tak suka diejek lagi maka tanpa malu-malu lagi lantas mengambil pedang pusaka dari tangan kera putih itu.

Waktu itu suara merdu itu kembali terdengar: "Siao-pek lekas kembali aku hendak pergi!"

Kera putih itu membuka matanya lebar-lebar, memandang Hee Thian Siang dan Hok Siu In sejenak, kemudian mengeluarkan suara pekikan, setelah itu ia lompat turun dari atas gunung, seolah-olah anak panah yang melesat dari busurnya, ia melesat ke tempat suara majikannya tadi.

Di lembah kaki bukit puncak gunung dekat Hee Thian Siang dan Hok Siu In, tampak seekor kuda berbulu hijau dilarikan keluar lembah, di atas kuda terdapat seorang gadis berparas cantik yang mengenakan mantel warna hitam, sedang binatang aneh berbulu emas tadi mengikuti di belakang kuda, oleh karena terpisah terlalu jauh, paras gadis itu tidak nampak nyata, tetapi bentuk tubuhnya yang indah, membuat Hee Thian Siang yang memandangnya sampai berdebar-debar jantungnya, karena wanita itu adalah wanita yang pernah dilihatnya sepintas lalu di gunung Kiu-gi-san, dan kemudian ternyata selalu mengganggu pikirannya.