Makam Bunga Mawar Jilid 03

 
Jilid 03

Pada waktu itu, didalam lembah kematian itu Peng-sim Sin- nie dan It-pun Sin-ceng tampak berdiri berhadapan saling memandang, tetapi kedua-duanya bungkam. Lama tiada seorang pun yang membuka suara.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, timbullah rasa herannya, namun ia sedikitpun tidak berani bergerak, karena takut mengganggu mereka.

Dua tokoh luar biasa dalam rimba persilatan itu, setelah sekian lama berdiri berhadapan dalam keheningan, Peng-sim Sin-nie baru bertanya kepada It-pun Sin-ceng, sambil menghela napas: "Kau tidak berdiam di lautan Timur untuk melakukan pertapaanmu, mengapa kau datang lagi ke gunung Ciong-lam untuk campur tangan urusan ini?"

It-pun Sin-ceng menjawab sambil tersenyum: "Jikalau aku tidak datang dari tempat demikian jauh dan secara kebetulan pula berjumpa dengan sahabat kecil murid Pak-bin Sin-po itu, sehingga secara keberulan mengetahui keadaan didalam lembah dan dapat menolong pada waktunya yang tepat, kau dengan Thiat-kwan Totiang bukankah sudah mati bersama- sama didalam lembah ini?"

"Jikalau aku dan Thiat-kwan Totiang bersama-sama binasa didalam lembah kematian ini mungkin dapat menghapuskan semua dendam dan sakit hati yang ada diantara golongan Lo- hu-san dan golongan Tiam-cong!"

"Pikiranmu semacam itu, sesungguhnya salah sekali. Andaikata benar hari ini ketua dari golongan Lo-hu-pay dan Tiam-cong-pay bersama-sama binasa didalam lembah kematian ini tetapi kematian itu disebabkan karena terbokong oleh orang lain, maka hal ini pasti akan membawa akibat hebat bagi rimba persilatan! Dengan demikian, bukankah berarti kau yang masuk neraka, tetapi semua orang juga ikut masuk ke dalam neraka?"

Dikatakan demikian oleh It-pun Sin-ceng, Peng-sim Sin-nie tidak bisa menjawab. Maka dengan tiba-tiba ia lompat melesat ke dalam goa dengan melalui lobang kecil itu.

It-pun Sin-ceng berkata sambil tertawa: "Sudah lama kita tidak pernah bertemu muka, bagaimana kau pergi begitu tergesa-gesa?"

Peng-sim Sin-nie yang waktu itu sudah menggunakan ilmunya mengkeretkan tubuh, menyusup ke dalam lobang goa, atas perkataan It-pun Sin-ceng itu ia menjawab dengan suara nyaring: "Kau yang berdiam di lautan timur, dengan susah payah baru mendapatkan kemajuan ilmu kepandaianmu, janganlah lagi tergerak pikiran keduniawianmu! Tunggu setelah aku berhasil menyelidiki asal- usulnya duri beracun itu, dan menyelesaikan permusuhan dengan golongan Tiam-cong, aku akan undang kau ke gunung Lo-hu-san untuk berkumpul lagi selama sepuluh hari!"

Berkata sampai di situ, orangnya sudah keluar dari lobang kecil itu, tetapi ketika ia menampak Hee Thian Siang yang berdiri sambil memegang pot batu giok milik It-pun Sin-ceng, ketua dari golongan Lo-hu itu mendadak merah wajahnya, setelah itu ia menggerakkan kakinya melanjutkan perjalanannya keluar dari goa itu!

Hee Thian Siang yang menyaksikan kejadian itu, terkejut, heran dan timbul kecurigaannya, diam-diam memikirkan diri Bu-san Siancu Hwa Ji Hwat yang sudah tergila-gila kepada It- pun Sin-ceng, tetapi Peng-sim Sin-nie ketua dari golongan Lo- hu-pay itu agaknya juga mempunyai hubungan erat sekali dengannya, kalau begitu It-pun Sin-ceng ternyata tidak mirip dengan orang beribadat yang menganut agama Buddha, perbuatannya itu bahkan mirip dengan seorang pemuda yang romantis.

Selagi ia berada dalam keadaan keheran-heranan, It-pun Sin-ceng sudah berada di belakangnya, dan berkata sambil tertawa: "Siao sicu kau sedang memikirkan apa? Meskipun ilmu silatmu dari keturunan orang ternama tetapi ada beberapa bagian pengetahuan dalam golongan Buddha bukanlah orang semuda kau ini, apalagi yang belum lama terjun didalam dunia Kang-ouw dan belum mempunyai pengalaman banyak, yang dapat memahami apalagi merasakan!" Wajah Hee Thian Siang merah seketika, ia mengembalikan pot batu giok kepada It-pun Sin-ceng, keduanya lalu menggunakan ilmu mengkeretkan tubuh, keluar melalui lobang kecil itu.

Sekeluarnya dari goa yang gelap itu, ia baru bertanya kepada It-pun Sin-ceng sambil tertawa: "Apakah taisu tadi pernah melihat duri berbisa yang digunakan untuk membokong Peng-sim Sin-nie dan Thiat Kwan Totiang, benarkah bentuknya itu berujung segi-tiga?" 

Dengan terheran-heran, It-pun Sin-ceng menatap wajah Hee Thian Siang, kemudian bertanya padanya: "Bagaimana kau dapat menduga duri berbisa itu ujungnya berbentuk segi- tiga?"

Hee Thian Siang yang mendengar jawaban itu, segera mengetahui bahwa duri berbisa itu benar duri berbentuknya segi-tiga, ia juga menduga bahwa dalam rimba persilatan kembali terancam oleh bahaya maut, jikalau perbuatan itu dibiarkan berlangsung terus, tidak dicegah, sudah pasti nanti akan menimbulkan keonaran dan pertumpahan darah tidak henti-hentinya! Maka ia segera menjawab: "Tahukah taisu bahwa Tek-tim, Ngo-tim dan Hu-tim tiga orang penting dari golongan Bu-tong juga terbinasa oleh senjata rahasia duri berbisa itu?"

It-pun Sin-ceng ketika mendengar bahwa tiga orang penting dari golongan Bu-tong juga terbinasa di bawah senjata duri berbisa itu, tergerak hatinya, maka segera menanyakan lebih jauh kepada pemuda itu. Hee Thian Siang menjawab bahwa apa yang diketahui olehnya juga belum begitu jelas, ia hanya menceritakan apa yang dilihatnya dan apa yang diucapkan oleh Imam Bu-tong-pay It-hwan Totiang ketika berjumpa dengannya di puncak gunung Thian-cu-hong. It-pun Sin-ceng dengan tenang mendengarkan cerita itu, matanya kembali ditujukan ke arah lembah kematian dan goa yang gelap itu.

Pada waktu itu, lukisan tanda dan lambang pemimpin kedua partai sudah dihapus oleh dua orang yang bersangkutan.

Dengan sikap serius It-pun Sin-ceng berkata sambil mengerutkan alisnya: "Orang yang menggunakan senjata rahasia duri berbisa semacam itu, dengan beruntun telah turun terhadap orang-orang penting dari golongan Bu-tong, Lo-hu dan Tiam-cong, maksud dan tujuannya sangat mencurigakan, terutama kejadian hari ini, sesungguhnya sangat mengherankan sekali!"

Hee Thian Siang menanyakan sebabnya, It-pun Sin-ceng menjawab lambat-lambat: "Kedatanganku ditempat ini masih terlalu pagi sekali, ketika aku tiba di sini keadaan masih gelap, dan jam waktu itu menunjukkan jam satu malam, maka pinceng segera menyembunyikan diri disekitar tempat ini, terus menunggu sampai datangnya pagi, barulah tampak ketua Tiam-cong Thiat-kwan Totiang dan ketua Lo-hu-pay Peng-sim Sin-nie tiba hampir berbareng ditempat ini, dua ketua partai itu setelah melukiskan tanda dan lambing masing- masing dengan beruntun memasuki lembah kematian! Kecuali ini, sama sekali tidak tampak orang lain yang memasuki goa, maka dari manakah orang yang melakukan serangan gelap itu? Apakah ada orang yang sudah merancangkan suatu rencana lebih dahulu, dan orang itu sebelumnya sudah tahu pertempuran antara Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang yang akan berlangsung ditempat ini, sehingga sembunyikan diri lebih dahulu didalam goa dengan melalui jalan rahasia, maka setelah melakukan perbuatannya dengan mudah sekali dapat mengundurkan diri." Hee Thian Siang juga merasa bingung. It-pun Sin-ceng lalu berkata lagi padanya sambil tertawa: "Siao-sicu yang hendak berkelana di kalangan Kang-ouw, ada baiknya banyak ambil perhatian terhadap persoalan yang mengandung rencana keji dan sifatnya agak misterius ini, jikalau dapat membuka kedok orang yang main gila di belakang layer itu, mungkin dapat mencegah terjadinya pertumpahan darah didalam rimba persilatan, hal ini merupakan suatu pahala besar bagi umat manusia! Pinto juga hendak pergi ke kuil Sam-gwa-kwan untuk menjumpai pemimpinnya, untuk menanyakan sebab musabab kematian tiga anggotanya yang terpenting itu!" Sehabis berkata demikian, baru saja hendak membalikkan badannya, Hee Thian Siang sudah berkata sambil tersenyum:

"Taysu harap tunggu sebentar, sungguh kebetulan kita berjumpa di sini, jikalau tidak, Hee Thian Siang yang ada urusan pasti masih perlu pergi ke lautan Timur untuk mencari Taysu!"

It-pun Sin-ceng agak terkejut, maka segera bertanya: "Aku semula masih mengira bahwa pertemuan dengan siau sicu ini hanya secara kebetulan saja, tak disangka bahwa siao sicu memang sengaja mencari pinceng, akan tetapi orang-orang dari golongan Pak-bin denganku selamanya tidak ada..."

"Maksud dan tujuan Hee Thian Siang hendak berkunjung kepada Taysu, sebenarnya ada dua hal, tetapi semuanya tidak ada hubungannya dengan perguruanku."

Mendengar pernyataan Hee Thian Siang, yang mengatakan bahwa ia mencari dirinya ada keperluan dua hal, karena ia tidak mengetahui yang dimaksudkan dengan dua hal itu maka menatap wajah pemuda itu, kemudian bertanya sambil tertawa: "Siao sicu, pinceng meskipun menganut agama Buddha, tetapi masih belum dapat mengetahui apa- apa yang belum terjadi, kau hendak pergi ke lautan Timur mencari pinceng, ada urusan apakah sebetulnya? Sebaiknya kau berkata terus terang!" Mata Hee Thian Siang ditujukan ke atas pot batu giok berwarna ungu itu, kemudian berkata sambil tersenyum: "Ke satu, aku hendak minta dua tetes getah pohon lengci ini kepada taysu!"

Jawaban itu agaknya di luar dugaan It-pun Sin-ceng, ia memandangnya sejenak, setelah berpikir barulah berkata pelan-pelan: "Pohon lengci yang kutanam dalam mangkok ini, semuanya ada sembilan daun, setiap daun khasiatnya dapat menghidupkan orang yang sudah hampir mati, apalagi getahnya lebih-lebih manjur sekali! Kecuali hari ini, karena untuk keperluan menolong jiwa Peng-sim Sin-nie dan Thiat- kwan Totiang, pinceng sangat saying sekali hingga belum pernah menggunakannya! Tetapi pinceng dengan siao sicu agaknya sudah berjodoh, karena mengingat kau sangat butuh dengan benda ini, pinceng bersedia menghadiahkanmu setetes, betapapun hebatnya dan parahnya luka-luka berat juga sudah cukup digunakan untuk memunahkannya!"

Hee Thian Siang yang sudah tahu khasiat getah itu, dan ia sendiri yang baru pertama bertemu muka dengan It-pun Sin- ceng, lagi pula belum mengeluarkan lambang bunga mawar, ternyata paderi muda itu sudah bersedia memberikan setetes kepadanya. Maka terhadap kepribadian It-pun Sin-ceng sesungguhnya sangat menghargai sekali. Setelah mengucapkan terima kasih ia berkata pula: "Bagi Hee Thian Siang sendiri masih belum menemukan bahaya apa-apa, bagaimana berani meminta kepada taysu obat yang sangat berharga itu? Aku hanya ditugaskan oleh seorang Locianpwe, dengan mewakili dirinya pergi ke lautan Timur untuk memenuhi kebutuhannya!"

Dengan sinar mata aneh It-pun Sin-ceng mengawasi Hee Thian Siang, kemudian bertanya: "Siapa orangnya yang begitu tidak tahu diri menyuruh kau melakukan perjalanan begini jauh ke lautan Timur? Apakah dia sudah dapat memastikan bahwa aku akan memberikan getah ini kepadamu?" "Tentang nama dan asal usul locianpwe itu, aku sedikitpun tidak tahu, sampaipun usianya atau wajahnya aku juga belum kenal!"

"Siaosicu, perkataanmu ini agaknya mengandung teka-teki yang sangat dalam! Terhadap seorang yang masih belum kau ketahui namanya, asal-usul, rupa dan usianya, mengapa kau mau diperintah olehnya?"

"Dalam urusan ini, kalau aku ceritakan, sesungguhnya memang agak lucu, tetapi waktu itu aku hanya merasa bahwa locianpwe itu ada memiliki suatu tenaga gaib yang susah kutentang, sehingga aku menuruti segala perintahnya!"

It-pun Sin-ceng semakin lama semakin heran mendengar perkataan Hee Thian Siang itu, maka bertanya pula: "Siaosicu, dimanakah kau bertemu dengan orang aneh itu?"

"Di hadapan makam bunga mawar, yang letaknya di lembah Kim-giok-kok di gunung Bin-san daerah Su-cwan!"

It-pun Sin-ceng segera berseru: "Kalau begitu siao-sicu adalah utusan dari duta bunga mawar?"

Pada saat itu Hee Thian Siang baru mengeluarkan lambang bunga mawar batu giok, dan dengan sikapnya yang sangat hormat dan hati-hati dipertunjukkan kepada It-pun Sin- ceng, kemudian ia berkata sambil tersenyum: "Dugaan Taysu ternyata tidak salah, Hee Thian Siang memang mendapat perintah Duta bunga mawar, dengan membawa bunga ini sebagai tanda kepercayaan untuk minta dua tetes getah pohon lengci kepada taysu!"

It-pun Sin-ceng menatap wajah Hee Thian Siang, ia mengembalikan dulu lambang bunga mawar itu, tetapi mata Hee Thian Siang yang sangat tajam itu dengan tiba-tiba ia mendapat kenyataan bahwa lambang bunga mawar itu, baik bahan batu gioknya maupun warnanya, mirip dengan bahan dan warna pot yang berada ditangan It-pun Sin-ceng!

Apakah dua benda itu satu sama lain ada hubungan erat? Ataukah kebetulan saja? Pikiran semacam itu terus berputaran dalam otaknya. Namun sebentar lagi pikiran itu telah lenyap, karena setelah It-pun Sin-ceng mengembalikan lambang bunga mawarnya, dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah botol kecil, kemudian dengan sangat hati-hati ia mengambil dua tetes getah dari daun pohon lengci, dimasukkan ke dalam botol tersebut, lalu dengan hati-hati pula barang itu diberikan kepada Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang menerima botol itu sambil memberi hormat, kemudian dengan sangat hati-hati sekali memasukkan botol itu ke dalam sakunya.

It-pun Sin-ceng bertanya sambil berseru: "Siaosicu, tadi kau kata bahwa maksudmu mencari aku ada dua urusan, yang pertama sudah kulakukan, dan yang kedua itu apa? Urusan itu atas permintaan orang lain ataukah urusanmu sendiri?"

"Kali ini dugaan taysu keliru sama sekali! Bukan atas permintaan orang, juga tidak ada hubungan dengan Hee Thian Siang sendiri, sebaliknya adalah urusan yang menyangkut diri taysu sendiri." Demikian kata Hee Thian Siang sambil tersenyum.

Kali ini It-pun Sin-ceng telah terbenam dalam keheranan oleh perkataan Hee Thian Siang itu, maka lalu bertanya: "Kau maksudkan lantaran urusanku kau pergi ke lautan Timur mencari aku?"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala sambil tersenyum, setelah itu balas menanya kepada It-pun Sin-ceng: "Setiap orang yang berkecimpung dalam rimba persilatan, umumnya menjunjung tinggi dua hal, yakni Tidak sembarangan mengeluarkan janji dan harus menepati janji; murid-murid dalam golongan Budha, apakah terhadap hal ini..."

Tidak menunggu sampai habis pertanyaan Hee Thian Siang, It-pun Sin-ceng sudah mengeluarkan suara memuji nama Budha, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa: "Bagi murid-murid golongan Budha seharusnya tidak boleh membohong, kepercayaan itu lebih berharga daripada segala harta dunia! Maksud dalam pertanyaanmu tadi, apakah aku pernah melakukan perbuatan yang melanggar janji..."

Hee Thian Siang juga tidak menunggu sampai habis pertanyaan It-pun Sin-ceng, segera memotong sambil tertawa: "Seorang beribadat tinggi seperti taysu ini bagaimana akan melanggar janji terhadap orang? Tetapi mungkin karena merasa jemu dan hendak menyingkiri, sehingga baru terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan orang lain seperti ini!"

It-pun Sin-ceng kembali memuji nama Budha dan berkata: "Ucapan siaosicu ini sesungguhnya terlalu pandang rendah terhadap kaum Budha, bagi kaum Budha selalu mengutamakan cinta kasih terhadap sesamanya, sekalipun terhadap musuh juga diperlakukan sama, bagaimana bisa merasa jemu dan menyingkirkan diri? Jikalau kau tahu ada perbuatanku yang aku sudah lupa atau tidak sengaja, harap kau beritahukan terus terang! Pinceng pasti akan pergi memenuhi janji itu dengan segera, dan atas pemberitahuanmu ini, sebelumnya pinceng ucapkan banyak-banyak terima- kasih!"

Hee Thian Siang menduga bahwa It-pun Sin-ceng itu mungkin sudah melupakan perbuatannya terhadap Hwa Ji Swat, maka ia lalu berkata dengan sungguh-sungguh: "Taisu, apakah kau masih ingat, dahulu diwaktu tanggal 15 hingga 17 bulan lima, apakah kau pernah mengatakan sesuatu atau mengucapkan janji kepada seseorang diselat Bu-hiap bawah kaki puncak gunung Tiau-in-hong?"

Pertanyaan itu sesungguhnya di luar dugaan It-pun Sin- ceng, hingga sesaat itu ia merasa kaget. Ia lalu mendongakkan kepala memandang awan-awan di langit, seolah-olah sedang memikirkan urusan yang telah lalu, sementara mulutnya kembali menyebut nama Budha, kemudian bertanya dengan suara perlahan: "Apakah siaosicu kenal anak angkat dan murid Thian-gwa Ceng-mo, Busan Siancu Hwa Ji Swat yang berdiam di puncak gunung Tiao-in- hong di gunung Bu-san?"

"Hwa Ji Swat denganku sebetulnya tidak ada hubungan apa-apa, tetapi apabila taisu tidak pergi memenuhi janji, setiap tahun pada tanggal antara 15 hingga 17 bulan lima, entah berapa banyak orang yang tidak berdosa nanti akan korbankan jiwa diselat itu!" berkata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala.

It-pun Sin-ceng yang mendengar perkataan itu agaknya tidak mengerti.

Hee Thian Siang lalu menceritakan apa yang dialami di selat itu.

It-pun Sin-ceng setelah mendengar penuturannya, lalu memberi hormat kepadanya, setelah itu badannya nampak bergerak dan dalam waktu sekejap mata sudah menghilang dari hadapan Hee Thian Siang.

Meskipun Hee Thian Siang tidak tahu kemana perginya It- pun Sin-ceng dan apakah ia pergi menepati janji ke gunung Bu-san? Tetapi oleh karena tujuannya sendiri sudah tercapai, sudah tentu ia merasa bebas dari tugasnya yang berat. Maka ia siap-siap hendak meninggalkan gunung Cong-lam-san, dan melanjutkan perjalanannya ke Thian-sing-peng di gunung Siong Sam, berkunjung ke kediaman Say Han Kong, untuk menanyakan apa yang akan diperintah lagi oleh duta bunga mawar. Disamping itu ia juga akan minta keterangan kepada Say Han Kong tentang kuda ceng-hong-kie, apakah pernah dipinjamkan orang lain untuk melakukan perjalanan ke Propinsi Auw-lam? Dari situ supaya ia dapat mencari dimana adanya gadis yang sudah mencuri hatinya.

Sejak pendekar pemabokan Bo Bu Ju memberi keterangan tentang gadis dalam hatinya itu, yang menyebutkan namanya gadis kuat ia lalu mengambil keputusan hendak menyelidiki kuda tunggangannya lebih dulu.

Apabila dari dua ekor kuda itu masih tetap tidak mendapatkan keterangan apa-apa, maka tindakan selanjutnya setidak-tidaknya ia akan dapat mengenali satu diantaranya entah siapa yang pernah dijumpai secara kebetulan di gunung Kui-gi-san itu.

Pikiran Hee Thian Siang yang terganggu oleh bayangan gadis itu, melanjutkan perjalanannya dengan hati bimbang. Tapi sebelum ia meninggalkan daerah gunung Cong-lam kembali menemukan suatu kejadian aneh! Selagi berjalan dengan pikiran bimbang sambil menikmati pemandangan alam disekitar pegunungan itu, dengan tiba-tiba matanya tertumbuk oleh sesuatu kejadian yang luar biasa, hingga ia berhenti dengan mendadak.

Kiranya dihadapannya sejauh kira-kira tiga tombak didalam tumpukan batu aneh, di atas sebuah batu hijau yang agak rata, ada melingkar seekor ular raksasa.

Ular raksasa sejenis itu, banyak ia sudah lihat, sebetulnya tidak ada apa-apanya yang aneh, tetapi keadaan di hadapan matanya itu agak berlainan, badan ular raksasa itu gemetaran, agaknya sedang menderita hebat. Kecuali itu dari mulutnya yang sebentar terbuka lebar dan sebentar tertutup rapat, ada mengalir darah warna hitam, ular itu kadang-kadang juga mengeluarkan auman yang mengerikan sehingga membuat berdiri bulu roma!

Hee Thian Siang tahu bahwa ular raksasa semacam itu mungkin tidak berbisa, tetapi tubuhnya yang besar dan panjangnya kira-kira dua tombak lebih itu, sudah tentu memiliki tenaga yang kuat, mungkin binatang buas sejenis singa, harimau, atau harimau kumbang semua bukan tandingannya. Akan tetapi apa sebab bisa berubah demikian keadaannya?

Menurut pesan duta bunga mawar, pada tanggal 9 bula 9 ia harus sudah berada di kediaman Say Han Kong di gunung Siong-san! Oleh karena getah pohon lengci sudah ia dapatkan, dengan demikian maka waktunya masih cukup banyak.!

Hee Thian Siang yang sudah menyaksikan keadaan aneh itu lalu mendekati dan duduk di dahan pohon rotan yang terpisah kira-kira setombak dari tempat itu untuk menyaksikan keadaan yang sebenarnya.

Pada waktu itu, dari mulut ular raksasa itu sebentar- sebentar mengeluarkan suara yang mengerikan, yang sisik- sisik sekujur badannya nampak bergerak-gerak dan gemetar semakin hebat. Hee Thian Siang yang selagi menyaksikan keadaan itu dengan terheran-heran, tiba-tiba dari mulut lembah terdengar suara aneh.

Ketika ia berpaling ke tempat itu, oleh karena pandangan matanya teraling oleh tepi duri, tidak dapat melihat, benda apa yang mengeluarkan suara itu. Tetapi ketika ia berpaling kembali ke arah ular raksasa itu, kembali menyaksikan keadaan yang sangat mengherankan, karena di hadapan matanya terjadi suatu pemandangan aneh, yang belum pernah disaksikannya! Sekujur badan ular raksasa itu gemeteran semakin hebat, mulutnya yang tadi sebentar terbuka dan tertutup, juga terbuka semakin lebar, tetapi dalam tenggorokkannya seolah- olah ada setitik benda merah putih yang bergerak-gerak tidak hentinya!

Hee Thian Siang yang menyaksikan pemandangan semacam itu dalam hatinya menduga-duga: Apakah benda merah putih yang bergerak-gerak itu ada binatang sejenis ular ataukah binatang yang jarang ada, mungkinkah itu binatang hidup?

Belum lagi lenyap pikiran itu, ular raksasa yang nampaknya sudah habis tenaganya, dari mulutnya kembali mengeluarkan suara yang sangat mengerikan, kemudian ular itu melesat tinggi empat lima tombak, ketika ia jatuh lagi di tanah, sudah tidak bisa bergerak lagi, sedang dari mulutnya perlahan-lahan merambat keluar seekor ular kecil yang sangat aneh, ular itu sekujur badannya berwarna putih, sedang bagian atasnya ada terdapat benda semacam jengger ayam berwarna merah darah!

Ular berjengger merah dan bertubuh putih itu baru saja keluar dari mulut ular raksasa, telinga Hee Thian Siang tiba- tiba mendengar suara orang bicara yang sangat perlahan, ia lalu pasang telinganya dari tempat yang teraling oleh tebing tinggi itu, terdengar suara orang berkata: "Phoa sumoay, ular Swat-kap Kee-kwan itu sudah muncul, biarlah aku yang pergi menangkapnya. Kali ini kita telah mendapat perintah pergi mencari bahan obat-obatan, nampaknya sudah lengkap dan tidak satu yang kurang."

Hee Thian Siang yang mendengar perkataan itu baru tahu bahwa ular aneh itu namanya Swat-kap Keek-kwan dan orang dibelakang tebing itu agaknya hendak menangkapnya untuk bahan obat, tapi ular semacam ini sangat buas, entah dengan cara bagaimana orang itu hendak menangkapnya? Pada saat itu terdengar suara seorang wanita bertanya kepada orang yang bicara tadi: "Tio suheng, ular Swat-kap Kee-kwan itu, tidak mempan senjata tajam, bisanya jahat sekali! Bagaimana kau hendak turun tangan menangkapnya? Kau hendak menggunakan jarring sutera Ciam-si-cao, ataukah hendak menggunakan duri beracun?"

Orang yang semula bicara tadi memperdengarkan jawabannya: "Binatang aneh semacam ini memang benar seperti katamu, bisanya terlalu jahat! Sekalipun dapat ditangkap oleh jarring sutera Ciam-si-cao, kita juga tidak bisa menguasainya, sebaiknya kita gunakan duri Thiam-keng yang sangat berbisa, dengan bisanya duri itu kita gunakan untuk menumpas racunnya, dengan demikian kiranya lebih berhasil!"

Ular yang sangat aneh itu, sejak mendengar suara orang, kepalanya yang berbentuk segi-tiga diangkat tinggi, sepasang matanya yang buas juga ditujukan ke atas tebing.

Hee Thian Siang yang mendengar disebutnya duri Thiam- keng yang sangat berbisa, hatinya lantas tergerak, dalam hatinya berpikir: Ular berbisa yang aneh bentuknya itu, kalau benar tidak mempan senjata tajam, mengapa orang itu menggunakan duri Thiam-keng? Apakah racun senjata berbisa itu sudah tentu lebih kuat daripada racunnya ular itu?

Oleh karena timbulnya pikiran itu, maka ia pasang mata benar-benar hendak menyaksikan duri beracun itu, apakah duri berbentuk segi-tiga yang dahulu pernah digunakan untuk membokong Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang? Disamping itu ia juga ingin tahu, murid dari golongan mana yang hendak menggunakan ular itu sebagai bahan obat?

Baru saja ia berpikir demikian, orang yang berada di belakang batu itu sudah mulai bertindak, tiga benda bersinar putih berkilauan dengan dibarengi oleh suara tajam meluncur ke arah ular aneh berbisa itu. Ia kini telah dapat menyaksikan bahwa senjata rahasia yang digunakan itu berwarna putih perak berkilauan, sehingga ia sendiri diam-diam juga merasa kecele bahwa dugaannya itu meleset. Tetapi ketika ia perhatikan keadaan ular aneh itu diam-diam mengkerutkan alisnya.

Kiranya ular aneh itu sesungguhnya sangat jumawa, ketika menampak tiga benda berkilauan menerjang dirinya, sedikitpun tidak merasa takut, ia membiarkan dirinya diserang oleh benda tajam berkilauan itu. Ketika senjata rahasia itu terjatuh di badannya, seolah-olah mengenai benda keras dan mental sejauh beberapa kali.

Tiga benda berkilauan itu jatuhnya di atas tanah berumput, kini Hee Thian Siang baru tahu bahwa senjata rahasia itu adalah senjata rahasia sejenis paser yang khusus untuk memunahkan ilmu weduk, yang tidak mempan senjata, senjata rahasia semacam ini sudah terkenal ganasnya, hingga dalam hatinya merasa terkejut dan terheran-heran. Ia terkejut karena senjata rahasia yang sudah terkenal keganasannya itu, ternyata sedikitpun tidak bisa melukai kulit ular aneh itu, yang mengherankan baginya adalah senjata paser yang sangat ganas itu adalah senjata rahasia yang khusus digunakan oleh orang-orang golongan Kun-lun-pay, tetapi golongan itu pada waktu dewasa ini, tidak suka berebut pengaruh atau nama dengan partai-partai lainnya. Maka orang yang menggunakan senjata macam ini untuk melakukan serangan gelap terhadap orang-orang Bu-tong, Lo-hu dan Tiam-cong seharusnya bukan dilakukan oleh murid-murid dari golongan Kun-lun-pay.

Belum lenyap rasa heran Hee Thian Siang, orang dari belakan tebing itu tiba-tiba mengeluarkan suara pekikan panjang! Dan ular aneh itu karena mahluk berbisa dari alam, sudah tentu sangat buas, kini rupanya ia sudah tahu pasti bahwa orang yang menyerangnya itu berada di belakang tebing itu, maka ia sudah siap hendak melakukan serangan terhadap orang yang menyerang dirinya tadi! Begitu mendengar suara pekikan panjang itu, ular itu dengan tiba-tiba mengeluarkan suara-suaranya yang sangat aneh, secepat kilat ia melesat ke tempat tadi.

Ketika badan ular itu berada ditengah udara, dari belakang tebing itu kembali meluncur tiga benda bersinar ungu kehitam- hitaman, benda itu ditujukan kebagian kepala ular yang merah seperti jengger ayam.

Binatang-binatang buas atau ular berbisa, sekalipun buas dan sangat berbisa, juga tidak mampu menandingi kecerdikan manusia! Ular aneh itu benar-benar sangat mengandalkan kulitnya yang keras dan tidak mempan senjata tajam. Ketika diserang oleh tiga buah paser yang ganas, sedikitpun tidak mengelakkan diri, sudah tentu ia juga tidak merasa takut terhadap benda bersinar ungu kehitaman tadi, maka ia tetap melesat tanpa menghiraukan benda yang mengancam dirinya.

Tetapi, tiga benda bersinar ungu kehitaman tadi adalah senjata rahasia yang dinamakan "Duri Thian-keng berbisa", jauh lebih ganas dan lebih berbisa daripada senjata paser yang digunakan terdahulu, maka ketika senjata rahasia itu mengenai sasarannya, ular aneh berbisa tadi mengeluarkan suara marahnya yang menyeramkan, badannya melayang jatuh dari tengah udara, sedang bagian kepalanya dekat bagian yang bentuknya seperti jengger ayam, menancap tiga buah duri berbisa berwarna ungu kehitaman.

Ular itu ketika jatuh di tanah, menggeliat sebentar, sekujur badannya lalu gemetaran, pemandangan itu serupa dengan apa yang disaksikan oleh Hee Thian Siang kepada diri Peng- sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang ketika mengadakan pertandingan didalam lembah kematian.

Hee Thian Siang yang melihat senjata yang digunakan oleh orang itu adalah senjata yang dinamakan "Duri Thian-keng berbisa" senjata itu benar saja berwarna ungu kehitaman, dan berbentuk segitiga, maka seketika itu ia semakin perhatikan benda itu, ia sedikitpun tidak berani bernapas, karena ia ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri orang yang telah menggunakan senjata itu apakah benar murid dari golongan Kun-lun-pay?

Ular berbisa yang bentuknya aneh itu setelah bergulingan dan gemetaran, pelan-pelan tidak bergerak lagi. Dari sebuah pohon di belakang tebing muncul dua orang pria dan wanita, usia mereka semuanya di atas 30-an tahun, dua orang itu semuanya mengenakan pakaian Imam, yang lelaki sangat gagah dan tampan, sedang yang wanita juga sangat cantik, tetapi agaknya sedikit genit. Dua imam lelaki dan perempuan itu agaknya erat sekali hubungannya.

Yang lelaki berjalan ke tempat sejarak tiga kaki, kemudian berkata kepada yang perempuan sambil tertawa: "Phoa sumoay, senjata rahasia tunggal duri Thian-keng berbisa kita ini sungguh ampuh sekali, barangkali sama hebatnya dengan senjata peledak Kian-thian Pek-lek milik Pak-bin Sin-po Hong- poh Cui!"

Yang perempuan tersenyum dan menganggukkan kepala, dari pinggangnya mengeluarkan sebuah kantong kulit dengan menggunakan ranting kayu ia mengambil ular berbisa itu berikut tiga buah senjata rahasia yang sangat ganas, yang masih menancap di atas tubuh ular, dimasukkan ke dalam kantong, kemudian dua-duanya berlalu hendak meninggalkan tempat itu.

Hee Thian Siang menunggu sampai dua orang itu berlalu melalui tebing tinggi, baru muncul dan berkata dengan suara nyaring kepada mereka: "Hai, murid-murid dari golongan Kun- lun-pay harap berhenti sebentar!"

Dua imam tadi ketika mendengar seruan itu lantas berhenti, mata mereka menatap Hee Thian Siang, keduanya lalu melayang balik, Imam lelaki itu lalu berkata: "Pinto Tio Giok dan ini adalah sumoyku Phoa Soa, karena mendapat perintah suhu, kami melakukan perjalanan untuk mencari bahan obat- obatan, dengan saudara rasanya belum pernah kenal, dengan cara bagaimana saudara bisa tahu bahwa aku adalah murid golongan Kun-lun-pay? Dan ada keperluan apa saudara memanggil kami?"

Hee Thian Siang ketika mendengar bahwa orang itu sudah mengakui sebagai murid golongan Kun-lun-pay, maka ia telah mengambil keputusan hendak mencari onar dengannya untuk menyelidiki hal ikhwal senjata berbisa itu. Maka dengan sikapnya yang sombong dan tertawa dingin berulang-ulang, ia lalu berkata: "Di atas tanah tadi terdapat tiga buah senjata tajam yang dinamakan Pek-bo Liang-hing-cut, bagaimana aku tidak tahu bahwa kalian adalah murid dari golongan Kun-lun- pay?"

Imam yang menamakan diri Tio Giok tadi menampak sikap Hee Thian Siang yang sombong dan dingin, apalagi pemuda itu agaknya ada kandung maksud hendak mencari onar, maka lalu bertanya: "Sahabat, bagaimana sebutanmu? Kau sebetulnya ada keperluan apa? Pengetahuanmu yang sangat luas sesungguhnya mengagumkan pinto!"

Hee Thian Siang mendelikkan matanya, dan menjawab dengan nada suara yang tetap dingin: "Namaku Hee Thian Siang, lantaran ular aneh Swat-kap Kee-kwan itu, telah beberapa hari lamanya aku menunggu ditempat ini, tetapi akhirnya telah kalian tangkap..."

Belum lagi habis ucapannya, wanita berpakaian pendeta yang bernama Phoa Soa tadi, sudah bertanya dengan keheranan: "Hee, ular luar biasa itu hanya dapat digunakan untuk bahan campuran dengan tanaman yang hanya tumbuh di puncak gunung Kun-lun-san, tak dapat digunakan untuk keperluan lain. Kau tadi kata sudah menunggu beberapa hari lamanya, sebetulnya untuk apa?"

Hee Thian Siang yang tidak menduga akan mendapat pertanyaan demikian, sudah tentu lantas bungkam.

Phoa Soa yang melihat sikap pemuda itu, lantas mengerti bahwa pemuda itu hanya membual saja, yang sengaja hendak mencari onar, maka lalu perdengarkan suara tertawa dingin, kemudian berkata lagi dengan suara mengejek: "Apalagi ular itu, merupakan binatang berbisa yang luar biasa, kulitnya keras bagaikan baja, apa kau kira kau dapat menangkapnya?"

Ucapan yang terakhir ini telah menimbulkan kemarahan Hee Thian Siang, dengan sinar mata tajam ia menatap wajah wanita itu, kemudian dia berkata dengan suara dingin: "Sebabnya aku menantikan munculnya ular itu justru karena suka dengan kulitnya yang putih bersih itu! Sekarang ular itu sudah mati, sudah tentu tidak dapat melakukan serangan dengan racunnya yang berbisa lagi, maka terpaksa aku hendak melawan orangnya yang menangkap ular tadi, bukankah serupa saja?"

Sepasang mata Phoa Soa juga memancarkan sinar tajam, ia menatap wajah Hee Thian Siang sejenak, lalu mengeluarkan suara dari hidung. Kemudian dengan sikap menghina ia berkata: "Anak murid golongan Kun-lun-pay selamanya tidak suka berebut nama, juga tidak suka mencari kedudukan, tetapi kalau kau ingin coba bertempur, tak halangan akan kulayani kau beberapa jurus, baik dengan menggunakan ilmu tangan kosong maupun pedang atau kekuatan tenaga dalam atau meringankan tubuh, terserah kau saja, aku bersedia menggunakan ular ajaib ini sebagai barang taruhan, namun kau hendak menggunakan barang apa buat taruhan?" Hee Thian Siang yang mendengar ucapan Phoa Soa, bahwa murid golongan Kun-lun-pay selamanya tidak suka berebut nama atau kedudukan, diam-diam merasa sangsi, dianggapnya bahwa ucapan wanita itu tidak sesuai dengan perbuatannya, sebab kalau benar murid-murid kun-lun-pay tidak suka berebut nama atau kedudukan maka dengan cara bagaimana tiga orang penting dari golongan Bu-tong dan ketua golongan Tiam-cong serta ketua golongan Lo-hu, diserang dengan senjata rahasia yang berbentuk ujung segitiga itu?

Oleh karena wanita itu hendak menggunakan ular ajaib itu sebagai barang taruhan, sedangkan ia sendiri masih belum dapat mencari benda yang dapat digunakan untuk bertaruh, maka terpaksa mengeluarkan kipas pemberian May-seng-ong, kipas itu dilemparkan ke arah Tio Giok kemudian berkata sambil tertawa terbahak-bahak: "Sahabat she Tio, apakah kau kenal barang ini? Aku hendak mengadakan pertandingan dengan sumoaymu, aku piker hendak menggunakan kipas ini sebagai barang taruhan untuk mengimbangi barang taruhan sumoaymu, ular ajaib itu!"

Sehabis berkata demikian, baru mengeluarkan sepasang senjata gelangnya yang dinamakan Sam-ciok Kang-hwan.

Baru saja Pho Soa hendak mengejek Hee Thian Siang yang hendak menggunakan kipas sebagai barang taruhan, karena dianggapnya kipas itu tidak ada harganya, tetapi tiba- tiba ia melihat sikap suhengnya dengan penuh perhatian mata sang suheng ditujukan kipas itu, dan sikap suheng kemudian menunjukkan perasaan terkejut dan terheran-heran, maka akhirnya ia batalkan maksudnya hendak mengejek.

Tio Giok waktu itu belum melihat tulisan-tulisan di atas kipas yang ditulis oleh May-ceng-ong tetapi ia sudah melihat lukisan daun bambu yang sangat kuat dan tanda tangannya si pelukis yang menyebutkan pendekar pemabokan Bo Bu Ju, oleh karena ia sudah pernah dengar nama itu, maka ia anggap tidak perlu menanam permusuhan lantaran urusan sepele saja, maka ia lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum:

"Sahabat she Hee, tidak perlu berpikiran seperti sumoiku, kalau kau benar suka dengan kulit ular ajaib yang putih bersih itu, kami tidak merasa keberatan, karena kami hanya membutuhkan dagingnya yang merah seperti darah di atas kepalanya itu, kepentingan kita satu sama lain tidak bertentangan, hanya untuk sementara ini baik bagi kami untuk membaginya, maka jikalau kau sudi mengalah, di kemudian hari apabila melakukan perjalanan ke Barat, sudilah kiranya kau mampir ke tempat kediaman kami di gunung Kun-lun-san? Tio Giok pasti akan menghadiahkan kulit ular ajaib itu kepadamu!"

Hee Thian Siang yang mendengar perkataan ini diam-diam merasa heran, karena murid Kun-lun-pay itu mengapa tidak demikian kejam dan jahat seperti apa yang diduga sebelumnya. Tetapi karena ia sengaja mencari onar, dan tidak menghendaki kulit ular ajaib itu, terutama ia ingin menyelidiki rahasia senjata berbisa itu, supaya di kemudian hari dapat digunakan untuk menjumpai murid ketuanya, ialah gadis cantik Liok Giok Ji itu, maka ia ingin mendapatkan kulit ular itu dengan jalan bertanding supaya kalau ia menang, bisa mendapatkan kulit ular yang masih menancap tiga buah senjata duri beracun itu. Dan dengan adanya bukti dai dapat membuka rahasia kematian orang-orang dari Bu-tong, dan serangan gelap terhadap ketua golongan Lo-hu dan Tiam- cong.

Dengan tujuan itu, maka setelah mendengar perkataan itu, ia merasa tidak enak dan terpaksa rubah sikapnya menjadi lunak dan menjawab sambil tersenyum: "Sahabat she Tio, harap jangan khawatir, seekor ular sebetulnya tidak perlu kita recoki, Hee Thian Siang mempunyai hobby yang suka ilmu silat dan suka menjumpai orang-orang pandai, maksudku tadi hanya ingin menggunakan kesempatan ini untuk ajar kenal dengan ilmu silat golongan Kun-lun-pay!"

Phoa Soa dan Tio Giok, semua merupakan anak murid golongan Kun-lun-pay terpilih, semula pandang ringan kepada Hee Thian Siang, tetapi setelah pemuda itu mengeluarkan senjatanya sepasang gelang San-ciok Kang-hoan, yang bentuknya luar biasa, mereka menduga senjata itu pasti bukanlah senjata sembarangan, maka setelah mendengar perkataan itu meskipun mereka tiada maksud untuk mencari kemenangan, tetapi juga ingin mencoba kepandaian pemuda itu dan senjatanya yang aneh!

Setelah Phoa Soa mengeluarkan senjatanya yang berbentuk aneh, Hee Thian Siang yang menyaksikan senjata itu matanya terbuka lebar, pikirannya diliputi oleh berbagai pertanyaan.

Kiranya senjata yang dikeluarkan oleh Pho Soa itu bentuknya semacam pedang tetapi bukanlah pedang. Disebut kaitan juga bukan kaitan. Bagian atas tebal tetapi bagian ujung tipis dan runcing, panjangnya kira-kira tiga kaki, hampir seluruhnya merupakan bentuk pedang, tetapi bagian dekat ujung terdapat sebatang pisau runcing berujung tiga yang menghadap ke bawah.

Sebabnya Hee Thian Siang terkejut dan terheran-heran bukannya takut kepandaian ilmu silat wanita itu, ia hanya teringat apa yang pernah disaksikan dari tangan gadis cantik di atas gunung Kiu-gi-san dahulu, gadis itu waktu menghadapi empat setan dari golongan Ki-lian, yang kemudian dibinasakannya, agaknya juga pernah menggunakan senjata aneh semacam itu.

Pho Soa yang menyaksikan anak muda itu memandang senjata di tangannya tanpa berkedip, diam-diam juga merasa heran, maka segera ditegurnya: "Kau tadi kata hendak belajar kenal dengan ilmu silat golongan Kun-lun, apakah senjata di tanganku yang bernama Kun-lun-chek ini kau juga tidak kenal?"

"Setiap senjata boleh saja diberi nama menurut sesuka hatinya. Apa yang dibuat heran? Aku sesungguhnya memang tidak kenal dengan senjatamu Kun-lun-Chek ini, apakah kau juga kenal dengan senjataku Sam-ciok Kang-hwan ini?"

Pho Soa ketika mendengar disebutnya nama senjata pemuda itu meskipun merasa seperti pernah dengar, tetapi ia masih belum mengambil perhatian, senjata Kun-lun-chek dilintangkan di dada, sedang matanya menatap wajah Hee Thian Siang, kemudian dengan sangat lincah kakinya bergerak menggeser ke kanan.

Hee Thian Siang juga sudah siap untuk menghadapi serangan lawannya, ia berdiri tegak menantikan tindakan lawannya, ia sudah bertekad hendak menggunakan ilmu silat golongannya yang didapat dari suhunya untuk menempur ilmu silat golongan Kun-lun-pay!

Sementara itu kedua pihak sedang siap-siap hendak melakukan pertandingan, Tio Giok yang menyaksikan sedari tadi tiba-tiba berseru: "Sahabat Hee dan Phoa sumoay, tunggu dulu. Kalian dengar suara itu suara apa?"

Daya pendengaran Hee Thian Siang dan Phoa Soa semuanya tidak di bawah Tio Giok, setidak-tidaknya juga berimbang. Tetapi oleh karena keduanya sedang memusatkan perhatiannya untuk melakukan pertempuran, maka tidak memperhatikan keadaan disekitarnya lagi.

Kini setelah diperingatkan oleh Tio Giok, keduanya lalu pasang telinga, benar sja mereka segera dapat menangkap suara gemuruh, suara itu merupakan suara yang sangat aneh yang belum pernah didengarnya, dan saat itu agaknya sedang menuju ke arah mereka bertiga.

Suara aneh itu sesungguhnya cepat sekali, waktu pertama suara itu masuk ke dalam telinga mereka, agaknya masih sejauh kira-kira satu pal lebih, tetapi dalam waktu sangat singkat sudah berada dimulut lembah.

Hee Thian Siang dan dua murid Kun-lun, karena merasakan betapa hebatnya suara aneh itu, maka siapapun tidak berani menuruti perasaan masing-masing untuk melanjutkan pertandingan itu, kedua pihak lalu pergi menyelamatkan diri, yang satu melesat ke Timur yang dua melesat ke Barat, mereka sama-sama mencari tempat sembunyi ditempat yang lebih tinggi.

Baru saja mereka melesat ke tebing tinggi, sudah mendengar dengan jelas suara aneh itu, ternyata adalah derap kaki seperti kaki kuda, sesudah itu lalu tampak beberapa ekor binatang keledai liar, yang lari keluar dari lembah!

Hee Thian Siang dengan seorang diri berdiri di atas sebuah batu dibagian Timur, ketika menyaksikan keadaan itu diam- diam merasa heran, karena suara derap kaki binatang tadi kedengarannya banyak sekali, apakah itu hanya merupakan suara derap kaki binatang keledai? Dan apa sebabnya binatang-binatang itu lari berserabutan dari dalam lembah?

Belum lenyap perasaan herannya, dari mulut lembah kembali muncul binatang keledai liar yang jumlahnya ratusan ekor, binatang-binatang itu lari serabutan, agaknya tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya!

Dengan perasaan terheran-heran, Hee Thian Siang pasang telinga, saat itu ia mendengar derap suara kaki yang lebih banyak jumlahnya, tetapi binatang-binatang yang lari serabutan itu bukannya binatang keledai lagi, melainkan binatang-binatang buas seperti harimau, serigala dan lain- lainnya.

Yang menyeramkan adalah binatang-binatang buas itu biasanya suka saling membunuh sendiri, tetapi hari ini mereka tidak saling bunuh lagi sebaliknya bersama-sama, agaknya hendak menyelamatkan diri dari ancaman bahaya.

Pada saat itu dari jauh terdengar suara aneh yang tidak terputus-putus, suara itu seolah-olah semakin lama semakin nyaring, bahkan dicampuri dengan suara kuda.

Hee Thian Siang yang mendengar suara kuda segera mengetahui suara itu adalah suara kuda istimewa, maka diam- diam juga heran, apakah diantara rombongan binatang buas itu juga terdapat kuda luar biasa itu?

Karena dalam hatinya merasa heran, maka matanya selalu ditujukan ke mulut lembah. Tak lama kemudian, tampak olehnya seekor kuda berbulu hijau yang lari dengan pesatnya, sedang di atas kuda itu tampak sesosok bayangan kuning dan bayangan putih.

Pemandangan aneh itu ketika masuk dalam pandangan matanya, Hee Thian Siang semakin terheran-heran. Sebab ia masih ingat dengan jelas pendekar pemabokan di gunung Keng-bun-san, orang aneh itu pernah menerangkan tentang kuda berbulu hijau itu. Menurut keterangan Bo Bu Ju, kuda istimewa semacam itu dalam rimba persilatan hanya terdapat dua ekor, satu adalah milik ketua Kie-lian-pay dan lainnya adalah milik tabib kenamaan Say Han Kong.

Dan kuda luar biasa yang disaksikan olehnya pada saat itu, jikalau ditinjau dari larinya, sudah pantas kalau mendapat sebutan kuda istimewa yang bisa lari ribuan pal jauhnya, apakah kuda itu merupakan salah satu dari kuda yang pernah dikatakan oleh pendekar pemabokan itu?

Kalau kudanya sudah menarik perhatiannya demikian besar, apalagi setelah Hee Thian Siang menyaksikan dengan tegas bayangan kuning yang berada diatas kudanya dan bayangan putih yang ada disampingnya. Ia semakin terheran- heran, hingga saat itu berdiri terpaku di tempatnya.

Kiranya bayangan kuning dan putih yang berada di atas kuda itu, semua bukanlah manusia, bayangan kuning tadi adalah seekor binatang aneh yang sekujur badannya berbulu kuning emas, sedang bayangan putih adalah seekor kera putih yang tingginya kira-kira hanya dua kaki saja.

Yang berada di belakang kuda luar biasa itu, adalah air ombak yang menggulung-gulung tinggi yang seolah-olah mengejar larinya binatang-binatang itu. Kalau binatang- binatang itu larinya semakin cepat, air itu juga mengejar cepat sekali. Dalam waktu hanya sekejap saja, air itu agaknya sudah hampir menggulung binatang tadi.

Tak lama kemudian, setelah binatang-binatang tadi melarikan diri untuk menyelamatkan dirinya masing-masing, air itu juga menggenangi seluruh tempat sehingga air itu hampir mencapai dimana Hee Thian Siang berdiri.

Hee Thian Siang kini baru sadar bahwa binatang-binatang buas yang lari serabutan tadi kiranya hendak menyelamatkan diri dari bahaya banjir. Seandainya tadi ia tidak keburu naik ke atas tebing, mungkin juga akan terendam dalam air banjir.

Oleh karena takut air banjir itu akan lebih tinggi, maka Hee Thian Siang menggunakan ilmunya "Cecak merambat" dan "Naga berenang" terus mendaki ke atas tebing hingga dua puluh tombak lebih, di situ ia baru dapat menemukan tempat yang agak aman guna menyelamatkan diri. Sedangkan dua murid Kun-lun yang sembunyi dibagian Barat, kini entah sudah sembunyikan diri kemana lagi.

Hee Thian Siang yang berada di tempat tinggi, matanya mengawasi air banjir, meskipun ia tahu bahwa air itu tidak akan mencapai ke tempat duduknya, tetapi dalam hati juga merasa khawatir.

Sekarang pikirannya teringat lagi kepada senjata ditangan Phoa Soa tadi yang mirip dengan senjata yang digunakan oleh gadis yang pernah dilihatnya di gunung Kiu-gi-san, dengan penemuannya atas senjata itu, ia hampir dapat memastikan bahwa gadis itu adalah Liok Giok Ji, murid dari ketua Kun-lun- pay, tetapi kemudian ia telah menyaksikan lagi kuda tunggangan gadis itu yang merupakan kuda istimewa, yang mengherankan baginya penunggang kuda itu bukanlah manusia, melainkan binatang aneh, dengan demikian, bagaimana ia harus mencari penunggangnya?

Diam-diam ia juga merasa geli sendiri, karena tanpa sebab ia sudah mencari onar dengan Pho Soa, bukan saja tidak berhasil mengalahkan wanita itu, juga tidak berhasil mendapatkan ular ajaib tadi, sebaliknya malah kehilangan kipas pemberian May-ceng-ong yang dengan mudah jatuh ke tangan Tio Giok.

Selama berdiri dengan pikiran dikerjakan keras, ia tidak merasakan berlalunya sang waktu. Ketika melihat air itu tidak naik lagi, ia teringat pula nasibnya tiga orang penting golongan Bu-tong, dan bahaya yang pernah mengancam Peng-sim Sin- nie serta Thiat-kwan Totiang, apakah benar mereka itu diserang oleh senjata rahasia duri berbisa yang tadi pernah membinasakan ular ajaib itu?

Jikalau bukan, mengapa senjata rahasia yang mirip dengan yang pernah dilihatnya itu dapat membinasakan ular yang sangat berbisa tadi? Jikalau ya, partai Kun-lun yang selamanya tidak suka berebut nama dan kedudukan, mengapa dengan tiba-tiba melakukan serangan terhadap orang-orang penting dari tiga golongan itu?

Pertanyaan itu selalu mengganggu pikiran Hee Thian Siang, hingga sulit baginya untuk menarik suatu kesimpulan. Sementara itu air gunung yang membanjiri lembah tadi meskipun datangnya cepat, surutnya juga lekas. Air kini hanya tinggal satu kaki lebih menggenang di lembah.

Hee Thian Siang yang banyak menjumpai pengalaman aneh-aneh, seolah sudah biasa dengan segala keanehan, maka ia tidak merasa begitu heran lagi kalau menghadapi hal yang aneh.

Pada saat itu pikirannya masih terumbang-ambing dalam usahanya untuk mencari jejak gadis yang pernah mencuri hatinya itu. Bayangan gadis itu seolah terus menggoda pikirannya. Namun karena mengingat tugasnya yang diberikan oleh duta bunga mawar, maka ia dapat cari It-pun Sin-ceng, dibawa ke gunung Siong-san untuk menjumpai Say Han Kong lebih dulu.

Hee Thian Siang semula tidak memperhatikan hal pertemuan ajaib, sejak dari gunung Bin-san sehingga perjalanannya kemari, hampir setiap tempat ia menjumpai kejadian-kejadian yang ajaib, tetapi selagi pikirannya mengharapkan menjumpai hal-hal ajaib lagi, didalam perjalanannya ke gunung Siong-san itu, tiada apa-apa yang mengherankan baginya, penemuan ajaib yang diinginkan satupun tidak pernah dijumpai.

Karena waktunya sudah mendesak, maka ia tujukan langkahnya menuju ke perjalanan gunung Siong-san. Tempat yang dinamakan Thian-sim-peng itu letaknya dibagian dalam di gunung Siong-san, dua tiga bagian dikitari oleh gunung-gunung, sedang satu bagian menghadap ke jurang dan air mancur sehingga pemandangan alamnya sangat indah. Diantara pohon-pohon itu terdapat tiga bangunan rumah atap.

Hee Thian Siang lalu tujukan langkahnya ketiga rumah atap itu, tiba di hadapan rumah, tampak seorang tua kurus berpakaian kasar tenun, sedang duduk main catur di bawah pepohonan cemara, dengan seorang wanita muda yang memakai kerudung dimukanya, mereka agaknya sedang asyik sekali.

Say Han Kong yang mengasingkan diri di gunung Siong- san, meskipun jarang turun gunung, tetapi dia adalah seorang tabib kenamaan, sudah tentu namanya banyak dikenal oleh orang-orang rimba persilatan, maka Hee Thian Siang begitu melihat orang kurus itu, sudah dapat menduga bahwa orang itu adalah tabib kenamaan yang sedang dicarinya, oleh karena tabib itu tidak diketahui nama aslinya, hanya dengan nama julukannya saja yang dikenal oleh dunia luar, maka ketika ia menghampiri dan memberi hormat kepadanya ia lantas memperkenalkan dirinya lebih dulu:

"Boanpwe Hee Thian Siang, di sini menghadap Say Han Kong locianpwe!"

Dengan sikap ramah tamah Say Han Kong mempersilahkan Hee Thian Siang duduk, kemudian berkata kepadanya sambil tersenyum: "Hee laote, silahkan duduk, sebelum aku menanyakan maksud kedatangan laote, kuperkenalkan lebih dulu dengan tokoh ternama dari rimba persilatan. Nona ini adalah nona Ca Bu Kao yang berjuluk Leng-po Giok-lie, dia adalah salah satu tokoh terkuat dari golongan Lo-hu-pay!" Hee Thian Siang ketika bertemu dengan Liong-hui Kiam- khek Su-to Wie di daerah gunung Bu-san, pernah dengar nama wanita itu, maka sambil memberi hormat, memperhatikan keadaan wanita itu. Ternyata adalah seorang wanita yang memiliki bentuk tubuh sangat indah, meskipun mukanya ditutupi oleh kain hitam hingga tak tertampak olehnya, namun ia dapat menduga bahwa wanita itu pasti berparas cantik. Sedang itu Ca Bu Kao sendiri, waktu ia kembali dari makam bunga mawar, dalam putus asanya hampir dia terjunkan diri ke dalam jurang, untung pada saat itu ia mendengar kata-kata Hee Thian Siang yang memuji pengaruh makan bunga mawar, sehingga tersadarlah pikirannya, dan membatalkan niatnya untuk membunuh diri, bahkan ia mengambil keputusan untuk menantikan duta bunga mawar, yang hendak membantu menolong nasibnya. Maka ketika Hee Thian Siang memperkenalkan dirinya, dari balik kerudung muka, ia memandang pemuda itu dengan perasaan terima kasih.

Dari pertanyaan terakhir Say Han Kong tadi, Hee Thian Siang mengetahui bahwa duta bunga mawar belum tiba di situ, maka lalu bertanya kepada Say Han Kong dan Ca Bu Kao: "Kedatangan boanpwe ini ialah atas perintah duta bunga mawar, apakah Say Han Kong locianpwe dan Ca lihiap kenal dengan duta bunga mawar yang sembunyikan diri di belakang makam bunga mawar di lembah Kim-giok-kok gunung Bin- san?"

Say Han Kong dan Ca Bu Kao ketika mendengar keterangan Hee Thian Siang bahwa kedatangannya itu atas perintah duta bunga mawar keduanya merasa terkejut dan terheran-heran. Terutama bagi Ca Bu Kao, ia tahu bahwa kedatangan pemuda itu pasti ada hubungannya dengan dirinya sendiri, maka lalu berkata sambil tersenyum:

"Dua kali aku pernah berkunjung dan menghadap makam bunga mawar, yang terakhir bahkan pernah bercakap-cakap dengan duta bunga mawar atas kesediaannya, katanya hendak menolong aku yang mengalami nasib buruk. Sedangkan Say Han Kong tayhiap sendiri belum kenal dengannya. Laote tadi berkata ada membawa perintah duta bunga mawar, apakah laote ada membawa bunga teratai Swat-lian dari gunung Tay-swat-san dan getah buah lengci dari lautan Timur?"

Hee Thian Siang juga merasa heran atas pertanyaan Ca Bu Kao tentang getah buah lengci itu, diam-diam dalam hatinya berpikir: Apakah keterangan Liong-hui Kiam-khek yang mengatakan sedang mengejar Ca Bu Kao itu tidak salah? Kalau begitu waktu itu wanita ini memang benar datang lebih dahulu di hadapan makam bunga mawar untuk menceritakan kesulitannya.

Oleh karena itu maka ia lantas menjawab sambil tersenyum: "Duta bunga mawar hanya suruh aku ke pulau kura di lautan Timur, untuk minta getah pohon lengci yang umurnya sudah puluhan tahun dari tangan It-pun Sin-ceng, aku tidak tahu tentang bunga teratai merah dari gunung Tay- swat-san..."

Say Han Kong menyela sambil tertawa: "Getah pohon lengci milik It-pun Sin-ceng kalau dibanding dengan buah teratai merah dari gunung Tay-swat-san milik ketua golongan Tay-swat-san, jauh lebih berharga, juga jauh lebih susah didapatkannya! Apakah Hee laote pernah mendapatkan barang berharga itu?"

"Boanpwe belum sampai ke lautan Timur, ketika di daerah Ciong-lam-san di luar lembah kematian, secara kebetulan telah berjumpa dengan It-pun Sin-ceng, atas kebaikannya boanpwe diberi dua tetes getah itu..." jawab Hee Thian Siang sambil tertawa. Bukan kepalang kejutnya Say Han Kong, lalu berkata dengan perasaan terheran-heran: "It-pun Sin-ceng biasanya pandang tinggi getah buah lengci-nya itu, bahwa dipandang lebih berharga daripada nyawanya sendiri, kalau ia mau memberi setetes saja, itu sudah suatu keajaiban bagi orang lain, dengan cara bagaimana ia sampai mau memberikan dua tetes kepadamu?"

"Pendekar luar biasa dari golongan Budha ini, agaknya berjodoh dengan boanpwe waktu boanpwe mengajukan permintaan itu, beliau sudah bersedia memberi setetes. Setelah boanpwe mengutarakan lagi bahwa maksud kedatangan boanpwe atas perintah duta bunga mawar, maka diberikannya setetes lagi kepada boanpwe!" berkata Hee Thian Siang sambil tersenyum.

Berkata sampai di situ tiba-tiba teringat kepada Ca Bu Kao, yang merupakan adik seperguruan Peng-sim Sin-nie, ketua golongan Lo-hu-pay maka lalu berkata padanya sambil tertawa: "Ketika aku berada di luar lembah kematian di gunung Cong-lam-san, bukan saja secara kebetulan telah berjumpa dengan It-pun Sin-ceng tetapi juga bertemu dengan suci Ca lihiap dalam lembah kematian itu, yang waktu itu sedang mengadakan pertandingan dengan ketua Tiam-cong Thiat- kwan Totiang!"

Ca Bu Kao mendengar keterangan Hee Thian Siang, semakin lama semakin mengherankan, maka segera bertanya kepadanya: "Suto Wie bukankah pernah berkata kepadamu ketika di gunung Bin-san, golongan Tiam-cong dan Kie-lian, hendak mengundang suci untuk mengadakan pertempuran di lembah kematian di gunung Cong-lam-san? Dengan cara bagaimana suciku bisa datang lebih dahulu ke tempat tersebut mengadakan pertandingan dengan ketua Tiam-cong-pay..."

"Bukan hanya ketua Tiam-cong dan Lo-hu yang datang dan mengadakan pertandingan lebih dahulu di lembah kematian, barangkali ada serupa kejadian yang akan mengejutkan Ca lihiap, kejadian itu ialah ketika kedua ketua partai itu bersama- sama memasuki lembah kematian, bersama-sama pula terbokong oleh orang dengan menggunakan senjata rahasia berbisa, sehingga badan mereka bersua sama-sama kena bisa yang sangat hebat! Jikalau bukan getah pohon lengci It- pun Sin-ceng keburu memberi pertolongan barangkali Peng- sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang keduanya akan terkubur didalam lembah kematian.!"

Ca Bu Kao yang mendengar keterangan Hee Thian Siang baru tahu bahwa sucinya telah mengalami kejadian luar biasa, hingga dengan penuh perhatian ia menatap wajah Hee Thian Siang serta buru-buru bertanya: "Hee laote, bolehkan kau menceritakan lebih jelas kepadaku, apa yang kau saksikan didalam lembah kematian tentang kejadian itu?"

"Dalam perjalananku ini banyak sekali menjumpai hal-hal yang sangat ajaib, apalagi duta bunga mawar mungkin besok baru bisa tiba kemari, baiklah aku akan menggunakan kesempatan ini untuk menceritakan apa yang pernah kulihat dan kualami! Setelah aku menceritakan semua itu, Hee Thian Siang masih ada sedikit urusan hendak minta keterangan dari Say Han Kong locianpwe.

Demikianlah ia lalu menceritakan semua pengalamannya. Ca Bu Kao setelah mendengar penuturan Hee Thian Siang,

diam-diam telah merasa bersyukur bahwa sucinya itu telah terhindar dari bahaya maut.

Sebaliknya dengan Say Han Kong, ketika mendengar penuturan tentang senjata rahasia berbisa berbentuk duri berujung tiga, alisnya dikerutkan, agaknya sedang berpikir keras. Hee Thian Siang karena menganggap urusan itu besar sekali hubungannya dengan seluruh rimba persilatan, maka ia tidak berani membuka mulut, apalagi menduga sembarangan tentang dua murid dari Kun-lun yang dilihatnya menggunakan senjata serupa itu untuk membinasakan ular ajaib berbisa, sebaliknya ia bertanya kepada Say Han Kong:

"Locianpwe adalah tabib kenamaan pada dewasa ini, sudah tentu banyak dan luas sekali pengetahuannya! Apakah Locianpwe kiranya tahu, siapakah orangnya yang biasa menggunakan senjata semacam itu, atau dari mana asal usulnya?"

"Meskipun aku tahu tumbuhan serupa itu, tumbuh ada dimana dan dari golongan siapa, tetapi setelah kupikir bolak- balik orang-orang dari golongan itu tidak mungkin menggunakan benda berbisa itu untuk menerbitkan keonaran dalam rimba persilatan dengan tanpa sebab. Oleh karena itu, maka aku pikir apabila dugaanku itu keliru, ada kemungkinan besar akan menimbulkan pertumpahan darah hebat dalam rimba persilatan, maka sekalipun suci Ca lihiap pernah terluka oleh senjata semacam itu, aku juga tidak berani menduga sembarangan, sebelum aku mendapatkan bukti cukup!"

Say Han Kong telah dapat kenyataan bahwa Hee Thian Siang setelah mendengar keterangan itu, alisnya berdiri, sinar matanya mengeluarkan cahaya tajam, agaknya hendak membuka mulut, maka dengan sikap sungguh-sungguh ia berkata pula sambil menggoyangkan tangannya: "Urusan ini benar-benar besar sekali efeknya, kita perlu mempelajari dulu dengan seksama, setelah menemukan bukti-bukti yang nyata, barulah kita dapat mengambil kesimpulan yang tepat. Maka aku juga mengharap Hee laote supaya berlaku hati-hati dalam urusan ini!"

Hee Thian Siang juga tahu bahwa dalam ucapan Say Han Kong agaknya sudah tahu bahwa duri berbisa itu tumbuh di gunung Kun-lun-san, jadi merupakan benda milik golongan Kun-lun-pay, tetapi selagi hendak ditanya, tabib kenamaan itu dengan sikap demikian memberi keterangan lain maka terpaksa ia robah sikapnya, dan bertanya kepada tabib itu sambil tersenyum:

"Kalau locianpwe sudah berkata demikian, maka untuk sementara baik juga kita tidak bicarakan soal ini! Tetapi tentang urusan Hee Thian Siang sendiri, sekaran gboanpwe ingin minta sedikit keterangan darimu!"

"Hee laote hendak menanya apa, katakanlah saja!" "Locianpwe selama melakukan tugas sebagai tabib, apakah

pernah menggunakan seekor kuda istimewa sebangsa ceng-

cong-ma untuk melakukan perjalanan di dunia Kang-ouw?"

Sebelum Say Han Kong menjawab, Ca Bu Kao yang duduk di depannya sudah berkata sambil tersenyum: "Kuda tunggangan Say Han Kong taihiap yang bernama Ceng-hong- kie, adalah kuda turunan sejenis Ceng-cong-ma, bukan saja dapat melakukan perjalanan sangat jauh tanpa merasa lelah, tapi juga sangat galak dan segala binatang buas pada takut padanya!"

Ucapan terakhir wanita itu telah mengingatkan Hee Thian Siang kepada kejadian apa yang telah dialami ketika berada di puncak gunung ketika sedang bercakap-cakap dengan dua murid Kun-lun-pay, waktu itu banyak binatang buas telah lari serabutan karena air banjir, maka lalu bertanya: "Kuda yang Ca lihiap sebutkan tadi dimana sekarang adanya?"

Say Han Kong ketika mendengar pertanyaan itu wajahnya menunjukkan sikap tidak enak.

Ca Bu Kao yang menyaksikan perubahan muka Say Han Kong juga lantas bertanya dengan perasaan terheran-heran: "Say Han Kong taihiap mengapa demikian? Apakah kuda ceng-hong-kie itu sudah kau berikan kepada orang lain?"

"Kuda yang ku dapat dari seorang kepala suku daerah Biauw, oleh karena aku sudah menyembuhkan penyakitnya yang hebat, bagaimana aku berikan kepada orang dengan mudah?" menjawab Say Han Kong sambil tertawa getir.

Hee Thian Siang seolah-olah menyadari sesuatu, maka lalu menyela: "Oo, kuda sejenis itu, memang setiap orang yang melihat merasa suka, barangkali locianpwe karena agak lengah sehingga tercuri oleh sahabat dari kalangan Kang- ouw?"

Say Han Kong menatap wajah Hee Thian Siang sejenak, lalu berkata sambil menggeleng kepala: "Jangankan di kalangan Kang-ouw, berhubung tugas dan pekerjaanku banyak menolong orang, boleh dikata tidak ada musuh, maka tidak mungkin ada orang yang demikian berani mendaki ke gunung Siong-san mencuri kudaku! Apalagi kudaku itu sangat galak dan cerdik sekali, bagi orang rimba persilatan golongan kelas dua atau tiga saja jangan harap dapat mendekati dirinya!"

Ca Bu Kao yang mendengar jawaban itu semakin merasa heran, maka ia bertanya sambil menatap Say Han Kong: "Kuda ceng-hong-kie Say Han Kong tayhiap itu kalau benar tidak diberikan kepada orang lain, dan lagi pula tidak dicuri, tatapi mengapa..."

Berkata sampai di situ, tiba-tiba timbul dugaan lain, maka pertanyaannya dialihkan kesoal lain: "Apakah barangkali ada orang yang ada keperluan mendadak sehingga minta pinjam kepada tayhiap?"

Kembali Say Han Kong menggelengkan kepala dan menunjukkan senyum masam, ia minum lagi araknya baru memberi keterangan kepada Ca Bu Kao dan Hee Thian Siang: "Urusan ini kalau kuceritakan sesungguhnya membuat orang merasa penasaran, tetapi juga sangat lucu! Kuda ceng-hong- kie milikku tidak kupinjamkan, juga tidak kuberikan kepada siapapun juga, apalagi dicuri. Sebaliknya sudah dimenangkan orang dalam suatu pertaruhan!"

Jawaban itu sesungguhnya di luar dugaan Ca Bu Kao dan Hee Thian Siang. Terutama bagi Ca Bu Kao yang tidak habis herannya, maka lalu bertanya pula: "Dengan orang dari golongan mana Say Han Kong tayhiap melakukan taruhan itu?"

"Orang itu bukan termasuk salah satu dari delapan partai besar pada dewasa ini!"

Hee Thian Siang tiba-tiba tergerak hatinya, maka lalu bertanya: "Orang itu apakah bukan orang yang ada hubungan dengan Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng?"

Say Han Kong menatap Hee Thian Siang dan bertanya dengan perasaan terheran-heran: "Dengan cara bagaimana Hee laote dapat menebak begitu jitu?"

"Oleh karena aku tahu benar bahwa muridnya Thian-gwa Ceng-mo paling suka melakukan pertaruhan dengan orang!"

"Oo! Apakah Hee laote juga pernah mengadakan pertaruhan dengan murid Thian-gwa Ceng-mo?"

Hee Thian Siang mengiakan, tetapi untuk sementara ia tidak mau menceritakan soal pertaruhan dengan Hwa Ji Swat, sebaliknya balas menanya: "Pertaruhan itu, dilakukan oleh Thian-gwa Ceng-mo sendiri ataukah oleh muridnya..."

Baru berkata sampai di situ, Ca Bu Kao dan Hee Thian Siang semua merasa bingung. Sementara itu Say Han Kong sudah melanjutkan ucapannya lagi: "Itu orang yang memenangkan kudaku, adalah putri tunggal Thian-gwa Ceng- mo yang bernama Tiong-sun Hui Kheng."

Ketika mendengar disebutnya nama itu, jantung Hee Thian Siang tergoncang hebat! Sebab sejak ia melihat anak murid golongan Kun-lun ialah Phoa Soa, yang menggunakan senjata yang bentuknya mirip dengan pedang tetapi bukan pedang, hampir ia anggap bahwa wanita yang dahulu pernah dilihatnya di gunung Siu-gie-san itu adalah murid Kun-lun-pay, tetapi sekarang setelah mendengarkan keterangan Say Han Kong demikian, wanita yang selama ini mengganggu dan membayangi pikirannya sebetulnya adalah putrid tunggal Thian-gwa Ceng-mo itu!

Ca Bu Kao bertanya kepada Say Han Kong: "Say Han Kong tayhiap berkepandaian sangat tinggi, terutama dalam ilmu ketabiban dan dalam ilmu obat-obatan, demikian pula tentang pengalaman dan pengetahuan, sudah tentu lebih tinggi setingkat daripada orang lain! Dengan cara bagaimana Tiong-sun Hu Kheng berani bertaruh dengan tayhiap? Dan dengan cara bagaimana ia bisa memenangkan kuda itu?"

"Nona itu cantik sekali sehingga menimbulkan rasa suka setiap orang yang melihatnya, disamping itu juga sangat pintar dan cerdik, tetapi juga nakal! Begitu ia tiba di situ, lantas memperkenalkan dirinya sendiri, dan menurut katanya bahwa ia mempunyai seorang suci yang menjadi murid ayahnya sendiri, tetapi suci itu telah terlibat dengan jaring asmara sehingga mendapat penyakit yang susah diobati, maka ia minta aku membuka tiga macam resep!"

Hee Thian Siang kini tahulah sudah bahwa perempuan yang dikatakan sebagai sucinya itu pasti adalah Bu-san Siancu Hwa Ji Swat. "Ilmu obat-obatan Say Han Kong tayhiap pada dewasa ini barangkali tiada orang yang mampu menandingi, sedangkan nona Tiong-sun itu yang minta resep kepadamu, boleh dikata tepat pada alamatnya, dengan cara bagaimana ia mengajak bertaruhan pula?" bertanya Ca Bu Kao yang masih belum mengerti urusannya.

"Menurut keterangan Nona Tiong-sun itu, ia belum pernah minta tolong kepada orang lain, sekalipun terhadap ayahnya sendiri, kali ini lantaran penyakit sucinya barulah mengadakan pengecualian dan berkunjung kepadaku! Jikalau resep itu cocok, ia bersedia memberi benda pusaka yang jarang ada didalam dunia, tetapi apabila aku tidak dapat membuka resepnya, ia lalu Tanya padaku, bagaimana harus berbuat?"

"Dan bagaimana locianpwe menjawab?" Tanya Hee Thian Siang.

"Waktu itu, karena aku memang anggap pengetahuanku boleh diandalkan, kedua juga tidak menduga bahwa nona Tiong-sun itu akan mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh, maka aku lalu menjawab kepadanya, sebagai seorang tabib sudah tentu mengerti membuka resep yang sesuai dengan penyakitnya. Kalau resep itu tepat, itu adalah kewajibanku sebagai tabib, maka tidak menginginkan barang hadiah yang jarang ada didalam dunia! Jikalau aku tidak dapat membuka resepnya, semua barang yang ada didalam gubugku, ia boleh mengambil sesukanya!"

Ca Bu Kao yang mendengar ucapan itu lalu memberi pujian: "Penolakan Say Han Kong tayhiap mengenai hadiah barang pusaka itu memang tepat, dan itu menunjukkan kepribadian Say Han Kong Tayhiap yang tinggi. Tetapi entah resep apa yang diminta nona itu sehingga menyulitkan tayhiap?" "Kalau benar nona Tiong-sun menanyakan penyakitnya, sudah tentu aku tidak sampai tidak sanggup menjawabnya! Berkata Say Han Kong sambil menggelengkan kepala.

"Kedatangan Tiong-sun Hui Kheng adalah urusan sucinya, jikalau tidak menanyakan penyakit lalu menanyakan apa?" bertanya Ca Bu Kao heran.

"Penyakit, memang betul penyakit, tetapi penyakit itu bukan penyakit biasa seperti masuk angin atau panas dingin atau kecapaian!"

"Habis yang Tiong-sun Hui Kheng minta locianpwe buka, hendak digunakan untuk mengobati penyakit apa?" Bertanya Hee Thian Siang merasa tertarik oleh pembicaraan itu.

"Resep ke satu, ia menanyakan aku dengan cara bagaimana menyadarkan orang yang dapat sakit mimpi mabuk cinta." Menjawab Say Han Kong sambil menghela napas panjang.

"Hmm! Pertanyaan yang ke satu ini selain aneh juga agak gila! Rupanya tidak seperti orang minta obat atau menanyakan penyakit, sebaliknya mirip dengan pertanyaan yang mengandung filsafat hidup! Dan pertanyaan yang kedua?" bertanya Ca Bu Kao.

"Resep yang kedua, ada hubungannya dengan resep ke satu, dia menanyakan bagaimana memutuskan cinta yang tidak habis?"

"Pertanyaan nona Tiong-sun itu benar-benar sangat baik! Dan resep ketiga itu barangkali hendak menanyakan locianpwe, bagaimana cara mengobati orang sakit rindu?" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa geli. "Hee laote, kau benar-benar sangat pintar! Dugaanmu itu sedikitpun tidak salah, tetapi unik sih memang unik, sebaliknya waktu itu aku agak gelagapan tidak dapat menjawab, aku tidak dapat membuka resepnya orang yang sedang menderita penyakit seperti itu, maka akhirnya ia menangkan kuda tungganganku yang istimewa itu!" berkata Say Han Kong sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Ca Bu Kao juga merasa urusan ini memang betul sangat unik tetapi juga membuat penasaran orang, hal serupa itu ia belum pernah dengar sebelumnya, tetapi sehabis mendengarkan cerita itu, ia lalu berkata dengan perasaan yang masih diliputi oleh keheranan: "Kuda Ceng-hong-kie Say Han Kong tayhiap itu galak dan gagah luar biasa, apalagi kuda serupa itu kebanyakan mengenali majikannya. Dengan cara bagaimana ia dapat tundukkan dan mau ditunggangi oleh Tiong-sun Hui-kheng?"

"Pertanyaan Ca lihiap memang benar, aku juga lantaran urusan ini, dalam hatiku masih merasa heran dan masih penasaran. Sebab kuda Ceng-hong-kie biasanya susah didekati oleh orang asing, ternyata begitu jinak dan menurut benar terhadap Tiong-sun Hui-kheng, kuda itu bukan saja mandah, bahkan jinak sekali membiarkan Tiong-sun Hui- kheng menaiki diatasnya, kemudian kabur turun kebawah gunung!" berkata Say Han Kong sambil menganggukkan kepala.

Ca Bu Kao merasa bahwa urusan itu sesungguhnya sangat luar biasa, tetapi tiba-tiba Hee Thian Siang sedang berpikir keras sambil memejamkan matanya, maka ia lalu menegornya sambil tersenyum: "Hee laote, kau sedang memikirkan apa?"

Hee Thian Siang membuka matanya, dengan sinar mata yang tajam ia menatap wajah Say Han Kong, kemudian berkata sambil tertawa: "Aku sedang pikir, seorang seperti Say Han Kong cianpwe yang sangat pintar dan pandai, ternyata dapat diakali begitu saja oleh seorang gadis. Tiga resep itu, sebetulnya tidak susah, sungguh mengherankan kalau locianpwe dapat kalah begitu mudah sehingga kuda istimewa itu diakali olehnya!"

Kini giliran Ca Bu Kao yang menatap wajah Hee Thian Siang dengan sikap keheranan, ia merasa tertarik oleh keterangan pemuda itu, maka lalu bertanya kepadanya: "Kalau Hee laote berani berkata demikian, apakah kau sanggup membuka tiga resep itu?"

"Pertanyaan pertama Tiong-sun Hui-kheng mengenai penyakit orang mimpi mabuk cinta dan pertanyaan kedua cinta yang tidak habis, pertanyaan itu sangat kosong, maka kita juga boleh jawab dengan jawaban yang samar-samar. Hanya pertanyaan yang ketiga mengenai rindu, karena yang ditanyakan itu penyakit, maka kita juga harus buka resepnya untuk mengobati penyakitnya!" berkata Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Say Han Kong menuangkan tiga cawan arak kepada Hee Thian Siang, dan ia sendiri juga menuang tiga cawan, kemudian berkata sambil tertawa: "Aku siorang tua dengan sungguh-sungguh hati hendak minta pelajaran darimu, maka setiap kali aku hormati kau dengan secawan arak, aku minta laote bukakan resepnya untuk mengobati penyakit suci Tiong- sun Hui-kheng yang terbenam dalam lautan asmara!"

Hee Thian Siang mengambil cawan berisi arak dihadapannya, lalu berkata sambil tersenyum: "Silahkan locianpwe Tanya saja, nanti Hee Thian Siang akan coba menjawab."

Ca Bu Kao yang waktu itu juga sedang terlibat urusan asmara, sudah tentu sangat perhatikan urusan itu, maka ia pasang telinga benar-benar untuk mendengarkan jawaban Hee Thian Siang. Say Han Kong mengangkat cawannya, dan minta Hee Thian Siang minum bersama, seraya berkata sambil tertawa: "Sekarang aku hendak Tanya kepadamu, bagaimana menyadarkan orang yang mendapat penyakit mimpi mabuk cinta?"

"Dengar saja beberapa kali suara bedug diwaktu magrib atau lonceng gereja di pagi hari, orang yang mendapat penyakit mimpi mabuk itu bukankah lantas mendusin?"

Say Han Kong mengangkat cawannya yang kedua dan melanjutkan pertanyaannya: "Sekarang kuminta Hee laote, bagaimana memutuskan cinta yang tidak habis?"

Hee Thian Siang minum kering arak dalam cawannya, setelah itu ia menjawab sambil tersenyum: "Menggunakan senjata kecerdikan, menyadari kehilapan sendiri, penyakit itu bukankah akan lantas putus?"

Ca Bu Kao yang mendengar jawaban itu lantas berkata: "Semula kukira pertanyaan Tiong-sun Hui-kheng itu mengandung rahasia kehidupan. Sekarang benar saja Hee laote menjawab dengan rahasia atau filsafat kehidupan! Pertanyaannya sudah merupakan hal aneh, dan jawabannya juga sangat cerdik. Selain mengandung keunikan juga menyadarkan orang yang sedang mabuk!"

Say Han Kong mengangkat cawannya yang ketiga dan diberikan kepada Hee Thian Siang seraya berkata: "Jawabanmu yang ke satu dan kedua memang sangat cerdik. Tetapi pertanyaan yang ketiga ini mengenai soal benar-benar, pertanyaan itu ialah tentang obat penyakit rindu? Sekarang ingin melihat Hee laote bagaimana membuka resepnya?"

Hee Thian Siang kembali minum habis arak dalam cawannya, kemudian dengan sikap bangga menjawab sambil tersenyum: "Resep obat penyakit itu sudah ada sejak dahulu kala, tidak perlu Hee Thian Siang memutar otak untuk memikirkan! Apa yang dinamakan penyakit rindu itu adalah merupakan suatu penyakit dalam hati, seperti apa yang peribahasa kata: Sakit dalam hati harus diobati dengan hati...!"

Say Han Kong diam-diam mengagumi kecerdikan Hee Thian Siang, saat itu rasanya ia ingin mencoba kecerdikan pemuda itu, maka ia segera memotong dan bertanya: "Hee laote, apa yang kau namakan obat hati itu? Dimana adanya?"

"Dengan hati sujud dan sejujurnya berkunjunglah ke daerah gunung Bin-san, setelah melewati puncak Hui-than-hong, melalui berbagai rintangan, tibalah ke lembah Kim-giok-kok, di sana terdapat sebuah makan yang dinamakan makam bunga mawar. Di hadapan makam itu menyembah bunga segar dan membaca doa-doanya minta agar bunga mawar memberikan restu, dengan demikian itulah merupakan obat hati yang paling baik untuk menyembuhkan penyakit rindu!"

Jawaban pemuda itu benar-benar sangat mengagumkan Say Han Kong dan Ca Bu Kao, hingga keduanya pada menganggukkan kepala, menganggap jawaban Hee Thian Siang itu luar biasa!

Tepat pada saat itu, di atas puncak gunung di belakang gubug Say Han Kong, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa ramah, kemudian disusul oleh kata-katanya: "Hee Thian Siang, kau jangan membuat reklame bagi diriku, kau harus tahu, sebelum aku dapat membantu kau dan Ca Bu Kao untuk mencapaikan cita-cita kalian berdua, lembah Kim-giok-kok untuk sementara masih ditutup bagi umum, maka sementara itu juga tidak akan menerima kunjungan orang, atau memberi restu bagi orang yang dihinggapi penyakit rindu!"

Ca Bu Kao dan Hee Thian Siang mendengar perkataan itu, segera mengetahui bahwa suara itu keluar dari mulut duta bunga mawar, maka keduanya lalu merangkap tangan memberi hormat menghadap ke belakang gubug Say Han Kong juga lalu bangkit dari tempat duduknya dan berkata sambil tersenyum: "Duta bunga mawar, harap unjukkan diri supaya aku orang biasa yang tidak berguna ini dapat belajar kenal dengan wajahmu!"

Di puncak gunung itu masih tidak tampak muncul bayangan orang, hanya suaranya saja yang ramah tamah itu perlahan menjawab ucapan Say Han Kong: "Say Han Kong tayhiap, kau merupakan tabib sakti pada dewasa ini, pahalamu seperti seorang mentri yang bijaksana terhadap Negara, jasamu terhadap umat manusia jauh lebih besar dari padaku, perlu apa kau merendahkan diri demikian rupa? Oleh karena masih ada sedikit urusan, untuk sementara waktu aku masih belum perlu unjuk muka, setangkai bunga teratai merah ini, tumbuh di daerah gunung Tay-swat-san, harap kau campur dengan setetes getah pohon lengci yang umurnya ribuan tahun, yang kini dibawa oleh Hee Thian Siang. Kau gunakan untuk memulihkan paras Ca Bu Kao! Mengenai setetes lagi dari getah pohon mujizat itu, baik hadiahkan saja kepada Hee Thian Siang supaya dapat digunakan diwaktu perlu!"

Sehabis berkata demikian, dari tengah udara melayang sebuah kantong obat yang terbuat dari rumput aneh, Say Han Kong lalu menyambuti benda itu, ketika dibukanya, benar saja didalam kantong itu ada setangkai bunga teratai warna merah!

Selagi Ca Bu Kao dan Hee Thian Siang merasa kecewa dengan tidak mau munculnya duta bunga mawar, suara ramah tadi kembali terdengar dengan pertanyaannya: "Ca Bu Kao, aku hendak Tanya padamu, jago pedang ketiga golongan Tiam-cong Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie masih mempunyai saudara tua, yang bernama Su-to Keng dan berjuluk Joko suci bertangan ganas?"

"Su-to Keng dengan Su-to Wie mereka berdua adalah saudara kembar, wajah mereka berdua memang mirip, perbedaannya adalah: ditengah-tengah antara kedua alis Su- to Wie ada sebuah tahi lalat warna merah! Mereka berdua saudara, yang satu menganut agama, sang adik seorang sadis, tetapi Su-to Keng pada dua tahun berselang oleh karena sifatnya yang terlalu jumawa, telah diserang oleh suciku dengan menggunakan ilmu tangan Sian-ciang-lek, sehingga terjatuh dalam air dan binasa. Dengan demikian sehingga permusuhan golongan Lu-hu dan Tiam-cong semakin dalam. Kemungkinan besar, Su-to Wie juga lantaran itu sehingga sikapnya berubah, bahkan menggunakan obat beracun dari golongannya diam-diam merusak wajahku untuk melampiaskan hawa amarahnya!" menjawab Ca Bu Kao dengan sikap menghormat.

Duta bunga mawar yang berada di puncak gunung setelah mendengar keterangan itu lalu diam sejenak, kemudian bertanya kepada Hee Thian Siang: "Hee Thian Siang, dengan secara kebetulan telah berjumpa dengan pendekar pemabokan Bo Bu Ju, hingga mengetahui peristiwa di lembah kematian. Apakah kau pernah menanyakan pada Bo Bu Ju tentang nona yang pernah kau lihat di gunung Kiu-gi-san itu?"

Dengan wajah kemerahan, Hee Thian Siang menjawab: "Bo locianpwe menduga tiga orang nona, tiga-tiganya mungkin merupakan nona yang kulihat di gunung Kiu-gi-san itu. Mereka adalah Hok-siu In dari Ngo-bie-pay, Liok Giok jie murid ketua golongan Kun-lun-pay dan Tiong-sun Hui-kheng putri tunggal Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun-seng!"

"Pandangan matamu benar-benar tinggi sekali, tiga tangkai bunga itu, semuanya seperti bunga mawar, meskipun warnanya indah, tetapi durinya tajam! Kalau Bo Bu Ju sudah menduga demikian, bagaimana dengan pandanganmu sendiri?" bertanya duta bunga mawar sambil tertawa.

Hee Thian Siang berpikir dulu, barulah menjawab dengan terus terang: "Tentang Hok Siu In aku sudah pernah bertemu muka. Nona itu tidak mirip dengan nona yang kulihat di gunung Kiu-gi-san! Dua yang lainnya jika ditilik dari senjata mereka Liok Giok Jie agak mirip..."

"Pikiranmu demikian itu memang benar, senjata Kun-lun- chek yang digunakan oleh orang-orang Kun-lun-pay jikalau dilihat dari jauh memang bentuknya mirip dengan pedang tetapi bukan pedang!"

"Tetapi jikalau ditilik dari tunggangan mereka, hanya Tiong- sun Hui-kheng yang menangkan kuda Ceng-hong-kie dari Say Han Kong locianpwe, rasanya yang mirip dengan nona itu!"

Dari atas puncak gunung terdengar suara tertawa terbahak- bahak duta bunga mawar. Setelah itu terdengar suaranya: "Aku sudah tahu urusan ini pasti berbelit-belit dan satu sama lain sangat bertentangan jikalau terlalu mudah, bagaimana kekuasaan makan bunga mawar dapat sebutan darimu sebagai obat paling mujarab buat mengobati orang yang sakit rindu?"

Say Han Kong, Ca Bu Kao dan Hee Thian Siang bertiga yang mendengar ucapan itu membenarkan pendapat duta bunga mawar.

Terdengar pula ucapan duta bunga mawar: "Sekarang aku hendak pergi menyelidiki beberapa soal yang mencurigakan, untuk mengeluarkan tangan bagi kalian berdua! Di dunia Kang-ouw dimana saja kita bisa bertemu. Kepada Say Han Kong tayhiap, kukira ada baiknya dengan kedudukanmu sebagai tabib kenamaan, untuk sementara kau berlaku sebagai comblang dari muda-mudi yang sedang dihinggapi penyakit rindu ini kalau masing-masing sudah menemukan orang yang dirindukannya supaya kau jodohkan!"

Sehabis mengucapkan demikian terdengar suara tertawa terbahak-bahak, setelah itu keadaan sunyi kembali. Oleh karena duta bunga mawar tadi sudah meninggalkan pesan, apalagi sudah mengantarkan setangkai bunga teratai merah, maka Say Han Kong lalu minta setetes getah pohon lengci Hee Thian Siang, saat itu juga ia segera memasak obatnya menyembuhkan cacat dimuka Ca Bu Kao, supaya wanita itu pulih kembali kecantikannya sebagai sediakala!

Dengan keahliannya membuat obat, tabib kenamaan itu dalam waktu beberapa hari saja sudah membuat paras Ca Bu Kao pulih seperti biasa! Sedangkan Hee Thian Siang yang selama ini sudah bergaul agak rapat dengannya, oleh karena tingkatan wanita itu tinggi setingkat dirinya, maka Hee Thian Siang merubah panggilannya dan panggil Ca Bu Kao sebagai Tow-kow atau bibi Ca.

Ca Bu Kao setelah pulih kembali parasnya yang cantik, ia hendak membuka kerudung muka, tetapi dicegah oleh Hee Thian Siang, kata anak muda itu sambil tersenyum: "Bibi Ca, mengapa kau begitu suka dengan kecantikan, hingga terburu- buru hendak membuka kerudung mukamu? Sebaiknya kau tunggu saja hingga pertikaianmu dengan Su-to Wie dapat dibereskan oleh pengaruh makam bunga mawar, kemudian biarlah lelaki yang pernah berlaku jahat terhadap dirimu itu nanti akan merasa keheranan!"

Su-to Wie bukan saja sudah berlaku kejam terhadap diriku, malahan ia sudah terjatuh di bawah telapak kaki Tho-hwa Nio- cu Kie Liu Hiang! Maka sekalipun duta bunga mawar dengan susah payah berusaha menolong diriku, barangkali masih susah untuk memperbaiki perhubungan kami lagi! Tetapi mengingat katamu demikian tadi, biarlah untuk sementara aku tidak akan membuka kerudungku dulu, supaya buat peringatan untuk kemudian hari!" berkata Ca Bu Kao dengan suara sedih.

Hee Thian Siang sehabis mendengar jawaban itu baru saja hendak membuka mulut, tiga orang itu tiba-tiba seperti mendengar suara sesuatu, sang Say Han Kong yang berlaku sebagai tuan rumah, matanya lalu ditujukan ke bawah dan berkata sambil tertawa: "Di bawah, adakah orang yang dating berkunjung? Apakah ingin mencicipi arak anggurku yang dibuat dengan cara istimewa, apakah kau adalah San-cu Lo- pan Oe-tie Khawtie Khauw, pengemis tua yang senang mencopet itu?"

Di bawah puncak Tian-sim-peng, terdengar suara tertawa yang aneh, ketika tertawa itu sirep di hadapan mereka tampak seorang pengemis kurus yang banyak tambalan, ketika berhadapan dengan tiga orang itu pengemis tersebut lalu berkata dengan suara nyaring sambil menunjuk Say Han Kong:

"Kau si tabib yang suka menjual obat palsu ini, bagaimana kau hanya menebak aku dengan kesukaanku minum arak? Tahukah kau bahwa pada dewasa ini dunia Kang-ouw sedang menghadapi banyak urusan, bahaya maut sudah mengancam, orang-orang yang akan datang kemari untuk meminta obat pemunah racun, kuduga pasti akan membuat ramai kediamanmu. Barangkali kau juga tidak ada waktu lagi untuk minum arak!"

"Pengemis tua, kau jangan membual dulu, mari kuperkenalkan kau dengan kawan-kawanku ini!" berkata Say Han Kong sambil tertawa.

Sehabis berkata demikian, selagi menunjuk Ca Bu Kao dan belum memperkenalkan diri wanita itu, Oe-tie Khawtie Khaw sudah berkata lebih dahulu sambil perdengarkan suara tertawanya yang aneh: "Nona ini aku kenal, ia adalah salah seorang kuat dari golongan Lo-hu-pay, namanya Nona Ca dan julukannya Ling-po Giok-lie, betul tidak? Dan kau sekarang perkenalkan aku dengan sahabat muda yang berwajah tampan dan bertubuh kekar itu!" Hee Thian Siang tahu bahwa Oe-tie Khawtie Khaw juga merupakan seorang pendekar luar biasa dalam rimba persilatan pada dewasa ini, sifat orang itu suka membanyol dan suka bergurau, didalam kalangan Kang-ouw dapat julukan Pencuri sakti dan Ahli pertukangan, maka ia lantas bangkit dan memberi hormat serta berkata: "Aku yang rendah Hee Thian Siang, keluaran dari golongan Pak-bin, suhuku Hong- poh..."

Belum habis ucapannya, Oe-tie Khawtie Khauw sudah mengulurkan tangannya mengambil sebotol arak, kemudian ditenggaknya, setelah itu ia berkata sambil tertawa lebar.

"Nona Ca pendekar wanita dari golongan Lo-hu, dan Hee lote murid dari golongan Pak-bin, sungguh beruntung aku hari ini dapat berkenalan dengan kalian berdua! Terutama arak buah anggurmu tabib tukan bohong ini rasanya semakin lama semakin enak, benar-benar luar biasa!"

Ca Bu Kao dan Hee Thian Siang yang menyaksikan sikap lucu Oe-tie Khawtie Khaw semuanya merasa geli, Say Han Kong lantas berkata sambil tertawa: "Pengemis tua, sudah berapa kali sebetulnya kau belum pernah minum arak? Bagaimana baru melihat arak saja sudah rakus demikian rupa? Kau tadi kata bahwa dunia Kang-ouw banyak urusan, bahaya maut sedang mengintai, mengapa kau baru berkata sebagian lantas tidak melanjutkan lagi?"

Oe-tie Khaw mendelikkan mata kepada Say Han Kong, kemudian barulah berkata dengan suaranya yang aneh.

"Mana arakmu lagi? Aku pengemis tua yang dating berkunjung kemari mulutku sudah merasa haus! Jikalau kau sudah tidak ada arak untuk menghilangkan rasa hausku ini, bagaimana kau dapat menyuruh aku mengobrol begitu saja?" Say Han Kong hanya tertawa sambil menggeleng- gelengkan kepalanya, setelah itu ia masuk ke dalam gubungnya untuk mengambil araknya lagi, disamping itu ia juga mengambil sebuah cawan besar, diletakkan di hadapan Oe-tie Khaw baru berkata padanya:

"Kedatangan tetamu rakus seperti kau ini, sesungguhnya merupakan bahaya bagi tempatku Thian-sim-peng ini! Ini adalah sisa arak lamaku yang sudah kusimpan sepuluh tahun lamanya, namun masih tinggal setengah botol, tapi rasanya sudah cukup utnuk memenuhi perutmu yang gemar arak ini. Kau minum sambil menceritakan apa yang pernah kau lihat dan dengar di kalangan Kang-ouw, dan bagaimana kau katakana mendadak ada banyak urusan?"

Oe-tie Khaw mengambil botol arak itu dan dituangkan penuh dalam cawan yang besar, ia lalu meminumnya dan sesudah merasa puas baru berkata sambil tertawa: "Tahukah kalian bahwa nanti pada tanggal 15 bulan 12 tahun ini, akan ada pertemuan besar yang sangat ramai antara orang-orang rimba persilatan? Pertemuan itu akan diadakan di puncak gunung Thian-tu-hong daerah gunung Tay-san!"

Say Han Kong bertiga yang mendengar ucapan itu semuanya terkejut. Ca Bu Kao yang lebih dulu membuka mulut bertanya kepadanya: "Pertemuan orang-orang riba persilatan itu apakah sebetulnya yang menggerakkan? Dan siapa-siapa yang diundang untuk hadir?"

Sebelum menjawab, Oe-tie Khaw yang gemar minum arak itu, minum dulu araknya sampai puas, setelah itu baru menjawab sambil perdengarkan suara tertawanya yang aneh: "Sucimu ketua Lo-hu-pay Peng-sim Sin-nie, merupakan salah satu dari tiga orang yang menggerakkan pertemuan itu, dua yang lainnya adalah ketua Bu-tong-pay Hong Hwat Cinjing dan ketua Tiam-cong-pay Thiat-kwan Totiang! Orang orang yang diundang..." Hee Thian Siang mengerti bahwa pertemuan besar itu pasti lantaran duri berbisa berujung tiga yang mengganas dan melukai orang secara menggelap. Maka sebelum pengemis tua itu menjelaskan orang-orangnya, ia lalu bertanya: "Oe-tie Khawtie cianpwe, bolehkah boanpwe numpang Tanya, orang yang diundang oleh tiga ketua partai itu, apakah bukan ketua partai Kun-lun-pay?"

Dengan perasaan agak heran Oe-tie Khaw menatap wajah Hee Thian Siang, kemudian baru menjawab sambil mengganggukkan kepalanya: "Dugaanmu tidak salah, orang yang diundang oleh Peng-sim Sin-nie, Hong Hwat Cinjing dan Thiat-kwan Totiang, memang benar adalah ketua golongan Kun-lun-pay. Tetapi Tie-hui-cu tidak berani dengan kekuatan satu partai untuk menghadapi kekuatan tiga partai, oleh karena itu maka ia juga mengajak sahabat karibnya Hian-hian Sian-lo ketua golongan Ngo-bie-pay dan Peng-sim Sin-niecek Sin-kun Sin To Hay ketua golongan Swat-san-pay! Coba kalian bertiga pikir, pertemuan besar yang akan diadakan di puncak gunung Thian-tu-hong itu, ada begitu banyak ketua- ketua partai persilatan yang akan hadir, selain dari itu, orang- orang persilatan dari berbagai tempat yang akan turut datang menyaksikan keramaian, jumlahnya tentu juga tidak sedikit. Apakah itu bukan merupakan suatu pertemuan rimba persilatan yang luar biasa?"

Berkata sampai di situ ia diam sejenak, wajahnya menunjukkan sikap menyesal, kemudian melanjutkan perkataannya: "Diantara delapan partai besar, kecuali yang sudah pernah tanam bibit kebencian akan mengadu kekuatan, umpama partai Lo-hu dan Tiam-cong, yang memang sudah sering mengadakan pertemuan dan masih menanam bibit permusuhan, yang agak mengherankan ialah partai Kie-lian- pay paling belakangan ini akrab sekali hubungannya dengan partai Tiam-cong, kalau dating pasti akan berdiri di belakang Tiam-cong-pay, partai-partai Kun-lun dan Swat-san yang sudah pasti akan berdiri sebagai musuh dengan partai-partai Bu-tong, Ngo-bie dan Tiam-cong, bagaimana rimba persilatan bisa aman? Sudah tentu dalam rimba persilatan selanjutnya pasti akan timbul onar yang tidak henti-hentinya."

Sehabis berkata demikian, kembali ia minum kering sisa arak dalam cawannya, setelah itu ia berkata pula sambil menunjuk Say Han Kong: "Berdasarkan keadaan seperti apa yang kuceritakan tadi, bukankah dunia Kang-ouw selanjutnya akan banyak urusan dan menghadapi ancaman bahaya maut? Kau manusia aneh yang dapat julukan tabib sakti dewasa ini, sebaliknya masih senang-senang dan enak-enakan minum arak di atas kediamanmu Thian-sim-peng ini, mengapa kau begitu pelit dengan obat-obatmu, mengapa kau tidak pikirkan turun gunung untuk mengamalkan kepandaianmu itu membawa rebut besar, dalam persilatan pasti akan terjadi pertumpahan darah, setidak-tidaknya kau harus menggunakan obatmu untuk menolong orang-orang yang terluka, apalagi bagi orang-orang yang terus menghadapi ancaman bahaya senjata duri beracun!"

Hee Thian Siang yang sejak tadi mendengarkan dengan tenang semua berita pengemis tua itu, lalu berkata kepada Ca Bu Kao sambil tertawa: "Didalam pertemuan itu, karena Peng- sim Sin-nie sebagai salah seorang yang menggerakkan, barangkali bibi Ca perlu juga hadir! Maka alangkah baiknya jika kita segera turun gunung, di sepanjang jalan kita dapat menyelidiki hal-hal yang mencurigakan, dan siapa tahu kita nanti menemukan hal-hal yang ada hubungannya dengan duri beracun itu!"

Ca Bu Kao menganggukkan kepala sambil tersenyum. Hee Thian Siang lalu bertanya pula kepada Say Han Kong: "Apakah Say Han Kong locianpwe juga hendak berjalan bersama kami?"

"Pada waktunya aku pasti akan datang ke puncak Thian-tu- hong dan turut menyaksikan kejadian itu, tetapi sekarang ini aku tidak bisa berjalan bersama kalian!" menjawab Say Han Kong sambil tertawa.

Hee Thian Siang merasa heran hingga menanyakan apa sebabnya, Say Han Kong lalu menjawab sambil tersenyum: "Apa yang dikatakan oleh pengemis tua tadi memang benar, aku hendak mengamalkan kepandaianku dalam ilmu obat- obatan, hendak mencegah atau menolong sahabat-sahabat rimba persilatan yang sedang menghadapi bencana! Maka selama ini aku masih perlu menyediakan dan masak obat-obat yang perlu kugunakan untuk menolong orang-orang itu!"

Hee Thian Siang yang mendengar keterangan itu lalu mengeluarkan sisa setetes getah pohon lengci, botol itu diberikan kepada Say Han Kong, dan berkata: "Say Han Kong locianpwe, dalam botol ini masih ada sisa setetes getah pohon lengci, jikalau locianpwe campur dengan obat-obatan mujarabmu pasti akan menambah mujarabnya!"

Say Han Kong dengan tangan memegang botol matanya terus memandangi wajah Hee Thian Siang, kemudian berkata dengan sungguh-sungguh: "Laote jangan terlalu royal, setetes getah pohon lengci ini khasiatnya hampir dapat menghidupkan orang yang hampir mati! Apabila di kemudian hari laote berkelana di dunia Kang-ouw dan menjumpai bahaya yang tidak terduga-duga, dengan adanya obat mujarab ini mungkin kau dapat menghindarkan kau dari segala bahaya..."

Hee Thian Siang tidak menunggu habis ucapan Say Han Kong, lantas berkata dengan lantang: "Hee Thian Siang dengan bekal kepandaian yang diberikan oleh suhu untuk berkelana di dunia Kang-ouw, didalam perjalanan itu, Hee Thian Siang hanya menitik beratkan kepada persoalan mana yang benar dan mana yang salah, tapi tidak menghiraukan soal untuk rugi maupun bahaya! Sebaiknya locianpwe gunakan saja setetes getah pohon lengci ini, untuk dicampur dengan obat-obat yang kau masak, supaya saat digunakan untuk menolong orang yang menderita dengan demikian juga tidak menyia-nyiakan harapan dan cinta kasih It-pun Sin-ceng yang menghadiahkan getah ini!"

Oe-tie Khaw yang mendengar perkataan Hee Thian Siang tadi, mendadak melepaskan cawan di tangannya, lalu mengacungkan dua ibu jarinya, seraya berkata sambil tertawa: "Ada orang kata bahwa ksatria-ksatria itu bibitnya harus dicari dari angkatan muda! Hari ini aku si tua bangka baru tahu bahwa ucapan itu sedikitpun tidak salah. Semangat anak-anak muda memang hebat! Hee laote menghadiahkan bahannya, tua bangka orang she Say Han Kong memasak obatnya, sedang aku yang tidak bisa apa-apa hanya hendak membantu mengipasi api, barangkali saja akan kebagian sedikit pahala!"

"Pengemis tua, seumur kau memang mau nebeng saja, bagaimana jadi tukang kipas api, ingin mendapat bagian pahala? Jelas maksudmu ialah tidak tega meninggalkan botol arakku, sebelum isinya itu kering semua!" berkata Say Han Kong sambil tertawa geli.

Oe-tie Khaw mendelikkan matanya, memandang Say Han Kong dan berkata dengan suara keras: "Tua bangka, kau jangan menghina orang, aku si pengemis tua sudah bertekad hendak mendirikan suatu pahala yang besar sekali dalam pertemuan orang-orang rimba persilatan di puncak gunung Thian-tu-hong nanti!"

"Pengemis tua, dengan orang-orang berkepandaian seperti aku dan kau ini, kalau disbanding dengan ketua-ketua delapan partai besar, ibarat bumi dan langit. Tapi aku masih dapat menggunakan ilmuku dalam bidang pengobatan, untuk membantu mereka yang terluka atau yang terkena racun, sedangkan kau memiliki kepandaian apa, kau berani membuka mulut besar seperti ini?" "Tua bangka, kau jangan membanggakan kepandaianmu ilmu pengobatan yang hanya begitu saja, kalau kau tidak percaya lihat saja apa yang nanti akan kulakukan, pasti akan jauh lebih besar artinya daripada apa yang kau lakukan! Sebab mengobati orang yang terluka atau yang terkena racun hanya dilakukan sesudah ada orang jatuh korban, tetapi rencana yang terkandung dalam hatiku sebaliknya adalah suatu rencana yang mencegah sebelum perkara itu terjadi!"

"Oo!" berkata Say Han Kong heran: "Pengemis tua, bagaimana kau berani mengucapkan perkataan demikian? Dengan menggunakan akal apa kau sanggup mencegah delapan ketua partai besar yang sudah mengadakan perjanjian itu hingga tidak melangsungkan pertemuannya?"

"Aku tadi bukan kata bahwa aku dapat mencegah delapan ketua partai supaya membatalkan maksudnya yang hendak mengadakan pertemuan, tetapi aku boleh berusaha supaya pertemuan orang persilatan yang mengandung bahaya besar ini, mengurangi jatuhnya korban, dan memperkecil bencana!"

Say Han Kong agaknya masih merasa curiga dan tidak percaya ucapan pengemis tua itu, ia menatap dirinya sekian lama lalu bertanya lambat-lambat: "Jikalau kau benar-benar dapat melakukan seperti apa yang kau katakana ini, jasa itu sudah lebih dari cukup! Pengemis tua, kalau kau memang benar mempunyai rencana yang bagus, mengapa kau tidak mau bicara terus terang, supaya kita juga bisa Bantu untuk mempelajarinya?"

"Rahasia alam tidak boleh dibocorkan, jikalau tidak, rencanaku ini pada waktunya akan berubah tidak manjur lagi!"

Pembicaraan itu telah ditutup sampai di situ. Ca Bu Kao dan Hee Thian Siang lalu minta diri kepada mereka! Say Han Kong tahu bahwa mereka selain melakukan perjalanan di kalangan Kang-ouw dan pada nanti tanggal 16 bulan 12 berkunjung ke puncak gunung Thian-tu-hong, untuk menghadiri pertemuan besar itu, masih ada keperluan lain yang belum diselesaikan, maka ia tidak menahannya, menjanjikan pada waktu dan tanggal itu nanti bertemu lagi di atas puncak Thian-tu-hong.

Begitu turun gunung, Hee Thian Siang lalu bertanya kepada Ca Bu Kao: "Bibi Ca, bagaimanakah sebetulnya kelakuan orang-orang Kun-lun-pay. Mengapa Say Han Kong locianpwe percaya bahwa mereka tidak bisa melakukan kejahatan?"

"Orang-orang Kun-lun-pay di bawah pimpinan Tie-hui-cu, disiplinnya sangat keras, biasanya memang tidak melakukan kejahatan, mereka tawar terhadap nama dan kedudukan, juga jarang mempunyai musuh di kalangan Kang-ouw!"

"Kalau benar seperti bibi Ca dan Say Han Kong katakana, mengapa ketika aku kembali dari perjalananku di lembah kematian, aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, dua murid Kun-lun-pay pernah menggunakan senjata rahasia yang bentuknya berduri ujung tiga, senjata itu mirip dengan senjata yang digunakan untuk membokong Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang?"

"Kalau kau benar pernah melihat senjata rahasia itu, dan mengenali adalah serupa benar, dengan senjata rahasia yang digunakan untuk membokong suci itu, ada kemungkinan bahwa orang-orang Kun-lun-pay hanya diluarnya saja yang tawar terhadap nama dan kedudukan, padahal dalam hati mereka mengandung ambisi besar, hendak menumpas pengaruh golongan-golongan lainnya, dengan demikian hingga bisa menguasai rimba persilatan. Ini hanya kemungkinan, aku belum bisa memastikan. Jikalau tidak, suci dan ketua Tiam-cong, kalau belum mendapat buktinya yang nyata bagaimana dengan mendadak mengundang ketua Kun- lun-pay mengadakan pertemuan besar di puncak Thian-tu- hong?"

"Setidak-tidaknya aku dapat menunjuk dan membuktikan bahwa dua murid Kun-lun-pay Tio Giok dan Phoa Soa pernah menggunakan senjata semacam itu, di daerah gunung Cong- lam-san, membunuh seekor ular aneh yang dinamakan Swat- kap Khe-kwan. Kecuali mereka dapat mengemukakan alasannya yang kuat, bagaimanapun juga mereka tidak akan dapat mengelakkan tuduhan membunuh tiga orang penting Bu-tong-pay dan membokong ketua Lo-hu dan Tiam-cong!"

Ca Bu Kao yang usia, tingkatan dan pengalamannya semua jauh lebih banyak dari Hee Thian Siang, sudah tentu jauh mengerti dalam segala urusan. Ia tahu bahwa tuduhan mencelakakan orang dengan menggunakan duri beracun itu jikalau benar dilakukan oleh orang-orang Kun-lun-pay, maka tindakan Bu-tong, Lo-hu dan Tiam-cong yang hendak minta keadilan sudah tentu merupakan suatu tindakan yang seharusnya. Jikalau tidak, apabila Kun-lun merasa penasaran maka golongan Ngo-bie dan Swat-san yang berdasar atas setia kawan, lalu membantu pihak Kun-lun-pay, bukankah akan terjadi suatu pertumpahan darah hebat? Pertempuran itu andai benar nanti terjadi, bukan saja puncak Thian-tu-hong akan banjir darah, tetapi juga akan membawa bencana bagi seluruh rimba persilatan! Maka diam-diam dalam hatinya berpikir: pertemuan di puncak Thian-tu-hong itu akan dilakukan tanggal 16 bulan 12, sedang sekarang baru bulan 9, jadi masih ada waktu 3 bulan lebih, waktu itu cukup digunakan untuk pesiar lebih dulu, juga apabila didalam perjalanan dapat menemukan tanda-tanda atau bukti yang mengentengkan atau membersihkan dosa Kun-lun-pay, mungkin dapat digunakan untuk memperbaiki nama partai itu dan mencegah terjadinya bencana besar! Karena berpikiran demikian maka setiap tiga ditempat yang indah pemandangan alamnya, Ca Bu Kao pesiar sepuas- puasnya, sedangkan Hee Thian Siang yang juga mengandung pikiran sama dengannya apalagi sifatnya yang suka dan ingin tahu segala perkara, sudah tentu dapat mengawani wanita itu.

Mereka dari gunung Siong-san melanjutkan perjalanannya ke Propinsi An-wie, setelah keluar dari daerah San-se, lalu memasuki daerah pegunungan Hok-gu-san yang letaknya di Propinsi Ho-lam, setelah pesiar beberapa hari di lembah pegunungan itu, barulah menjumpai suatu kejadian aneh!

Daerah itu merupakan daerah pegunungan yang banyak puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi, karena beberapa goa yang terdapat disitu oleh Ca Bu Kao dianggapnya kurang bersih, maka bersama Hee Thian Siang hendak melewati waktu malam di bawah sebuah pohon yang letaknya ditengah-tengah gunung!

Waktu itu malaman tanggal 18 bulan 10, rembulan di udara sudah terang, keduanya yang duduk bersila sedang samadi, cukup lama, Hee Thian Siang yang merasa sudah segar kembali lalu membuka matanya dan memandang Ca Bu Kao sambil tersenyum, selagi hendak membuka mulut bicara, tiba- tiba matanya dapat lihat di sebelah Barat daya, kira-kira beberapa puluh tombak dari tempat ia semedi, di bawah puncak gunung yang lain, ada api warna hijau seperti lentera, naik setinggi kira-kira dua tombak. Api itu sebentar nyala sebentar padang, dan akhirnya padam sama sekali.

Hee Thian Siang lalu bertanya dengan keheranan: "Bibi Ca, lihat! Apakah itu? Perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang dunia Kang-ouw, ataukah ilalang kering yang menimbulkan api di lembah gunung ini?"

Ca Bu Kao yang mendengar pertanyaan itu, selagi hendak menjawab, tiba-tiba di bawah bukit sana, kembali tampak api warna hijau itu, yang aneh naik tinggi ke tengah udara! Dua orang itu tidak berani membuka mulut lagi, mereka perhatikan api itu, ternyata setelah timbul dan naik sembilan kali baru tidak tampak lagi! Tidak perlu Tanya lagi, Hee Thian Siang sudah dapat menduga bahwa api itu dinyalakan oleh orang- orang Kang-ouw! Benar saja Ca Bu Kao lalu berbisik-bisik di telinganya:

"Api itu adalah senjata rahasia yang biasa digunakan oleh orang-orang dari golongan Kie-lian-pay, juga merupakan tanda saling mengenal diwaktu malam. Api itu dinamakan KIU YULENG HWI! Jumlah api yang dipasang dan dilepas tinggi boleh digunakan untuk menunjukkan kedudukan orangnya, paling sedikit tiga dan paling banyak sembilan..."

"Tadi api itu semuanya berjumlah sembilan, apakah ketua Kie-lian-pay sendiri juga ada di bawah kaki puncak gunung itu?"

"Ketua golongan Sie-lian-pay Khi-tay-cao, sedang menggunakan api Kiu-ju Leng-hwe, untuk mengumpulkan anak buahnya. Entah mereka hendak mengadakan pertemuan rahasia apa?"