Makam Bunga Mawar Jilid 02

 
Jilid 02

Orang brewok dan bercambang itu memang hebat sekali kekuatan minumnya, apalagi karena wajahnya yang tak seperti orang biasa, maka dalam pikirannya timbul pertanyaan, mungkinkah orang itu pendekar pemabokan yang sedang dicarinya ?

Ia semakin berpikir, wajah orang itu semakin mirip dengan bayangan dalam otaknya, akhirnya oa tidak dapat mengendalikan perasaannya sendiri lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri orang itu. Sesaat itu tampak olehnya bahwa disamping tangan tetamu berbaju kuning itu, ada sebuah kipas yang terbuat dari bambu, maka lalu menghampirinya dan berkata kepadanya: "Tuan ini sangat menarik hati, terutama kipasmu ini, nampaknya sangat indah sekali, bolehkah kiranya kupinjam sebentar untuk melihatnya 

?"

Tetamu brewok berbaju kuning itu mendelikkan matanya yang aneh, kemudian baru berkata:

"Anak muda, kalau bicara, semakin terus terang semakin baik. Kau hendak melihat kipasku, kan boleh ambil saja, sikapmu begini ini sesungguhnya sangat menjemukan !"

Dalam waktu biasa Hee Thian Siang kala menghadapi seseorang selamanya tidak suka terlalu merendahkan diri, hari ini karena didalam hati memikirkan diri pendekar pemabokan, dan orang itu dianggapnya adalah orang yang dicarinya, maka ia sendiri yang biasanya jarang sekali minta pertolongan terhadap prang, mau tak mau harus berlaku menghormat dan merendahkan diri. Di luar dugaannya kelakuannya yang merendah dan sopan itu ternyata membikin kecil dirinya, maka setelah mendapat jawaban yang agak ketus itu lalu mengambil kipasnya tanpa sungkan-sungkan lagi. Kipas itu dibukanya, hendak melihat ada tanda pengenalnya atau tidak. Di luar dugaannya, begitu kipas itu terbuka tulisan yang terdapat di atas kertas itu membuatnya terkejut, hingga seketika itu wajahnya lantas berubah! Kiranya kipas yang terbuat dari kertas itu satu muka terdapat lukisan beberapa pohon bambu, yang dilukis dengan sangat kuat dan indahnya, dalam muka terdapat tulisan dengan gayanya yang kuat sekali dan syairnya yang menarik hati.

Di tepian ujung kipas terdapat sebuah tanda cap merah, tanda itu tertulis dengan huruf kecil Pendekar Pemabukan.

Hee Thian Siang tujukan matanya kepada tamu brewokan itu, kemudian bertanya sambil tersenyum:

"Apakah locianpwee adalah pendekar pemabukan Bo Bu Ju locianpwee ?"

Tetamu brewokan berbaju kuning itu menjawab sambil menggelengkan kepala: "Aku bukan Bo Bu Ju, dia sekarang ini barangkali sedang enak-enak melakukan perjalanan entah dimana, tetapi juga mungkin sedang repot karena banyak musuh yang mencari dirinya !"

Hee Thian Siang semula masih mengira bahwa orang aneh itu sengaja menyangkal, baru saja menunjuk tanda cap kecil warna merah itu, orang brewokan itu sudah mendelikkan matanya lagi dan berkata dengan nada suara dingin:

"Bocah, mengapa kau begitu ceriwis. Ini tokh bukan cap tanda namaku, tanda lambangku itu hanya beberapa batang bambu yang dilain muka itu !"

Hee Thian Siang kini baru tahu bahwa tulisan di atas kipas itu meskipun tulisannya pendekar pemabokan Bo Bu Ju, tetapi lukisan bambu dilain muka justru dilukis sendiri oleh laki-laki brewok itu. Ketika ia membalikkan kipas dan melihatnya lagi, ternyata di bawah lukisan itu terdapat cap huruf kecil, tulisan itu berbunyi RAJIN MENGURUSI ORANG LAIN, di baris lainnya maksudnya kira-kira SINTING TETAP SINTING.

Hee Thian Siang tidak mengerti apa maksudnya dua baris huruf dan tanda-tanda itu ? Oleh karena tadi ia mendengar lelaki brewok itu mengatakan bahwa Pendekar Pemabokan kini dalam keadaan bahaya, dengan penuh perhatian ia bertanya lagi: "Aku yang rendah adalah Hee Thian Siang, aku ingin minta keterangan lebih jelas kepada locianpwee, dimanakah adanya Bo Bu Ju sekarang ini ?"

"Hm, Bo Bu-ju itu kecuali matanya yang lebar, perutnya yang besar, gemar minum arak, suka bicara, selain daripada itu tidak ada kepandaian lainnya lagi, apa maksudnya kau mencari dia ?"

"Kesatu, karena boanpwee sangat kagum kepada orangnya, dan ingin minta sedikit keterangan. Kedua, locianpwee itu adalah seorang pendekar angkatan tua di kalangan Kang-ouw, oleh karena dalam keadaan bahaya, sudah seharusnya kita berusaha untuk membantu kepadanya supaya terhindar dari bahaya itu !"

Lelaki brewokan itu ketika mendengar ucapan Hee Thian Siang, sepasang matanya mendadak memancarkan sinar tajam, sebentar ia menatap wajah Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil tertawa terbahak-bahak: "Sedangkan aku sendiri masih belum sanggup untuk membantunya, apakah kau kira dapat membantu dia menyingkirkan bahaya ?"

Mendengar jawaban itu Hee Thian Siang mendapat kesan bahwa kata-kata orang itu sangat jumawa sekali, juga sangat memandang rendah terhadap dirinya, maka lalu berkata sambil tertawa: "Dalam dunia yang luas ini, belum tentu selain locianpwee sendiri, sudah tidak ada orang lain yang lebih tinggi kepandaiannya !"

Lelaki brewokan itu ketika melihat sikap pemuda itu yang agaknya tidak mau mengalah, lalu tertawa kemudian bertanya sambil menepok kepalanya sendiri.

"Tahukan kau, diantara delapan partai besar rimba persilatan pada dewasa ini, partai mana yang paling susah dihadapi ?"

Tanpa memikirkan lebih dahulu, Hee Thian Siang menjawab dengan capat: "Pertanyaan locianpwee ini sesungguhnya kurang tepat !"

Lelaki brewok itu kembali memancarkan sinar matanya yang aneh, lalu menatap wajah Hee Thian Siang, kemudian baru bertanya.

"Kau bocah ini, sesungguhnya juga keras kepala, coba kau sebutkan bagaimana pertanyaanku itu tidak tepat ?"

Hee Thian Siang pada waktu itu sifatnya yang sombong dan keras kepala sudah kambuh lagi, saat itu lalu menjawab sambil tertawa dingin: "Bagi seorang pendekar yang berjiwa ksatria, yang diutamakan ialah soal keadilan dan kebenaran, tidak seharusnya memikirkan kekuatan lawannya, mudah dihadapi atau tidak ! Jikalau kita anggap tidak perlu dilakukan, maka sekalipun kaum wanita dan anak anak, kita juga tidak akan mengganggu, jikalau kita anggap perlu lakukan, sekalipun kuat juga tidak perlu takut... "

Belum lagi habis ucapannya, tiba-tiba lelaki brewok itu tertawa tergelak gelak dan berkata: "Bocah, kesombonganmu ini sesungguhnya sangat menyenangkan hatiku, kau sebaliknya sudah memberi pelajaran kepadaku ! Tetapi kau yang tidak mengetahui persoalannya, jangan bicarakan dahulu... "

Hee Thain Siang juga tidak menunggu sampai habis ucapan orang brewokan itu, lantas menyambungnya. "Bo Bu- ju locianpwe sebetulnya ada permusuhan apa dengan orang ? Dimana sekarang menghadapi kesulitan ? Locianpwe sebaiknya berkata terus terang ?"

"Jikalau kau dapat minum habis sepoci arak di hadapanku ini ,aku akan memberitahukan padamu dimana sekarang Bo Bu-ju berada !"

Berkata lelaki brewokan itu sambil tertawa dan mengangukkan kepala.

Hee Thian Siang melihat arak itu isinya barangkali hanya tiga cawan saja, maka lalu tuangkan secawan penuh dan diminum habis.

Tidak ia duga bahwa sifat arak itu sesungguhnya keras sekali, itu merupakan arak keras yang ia belum pernah minum pada waktu sebelumnya, ditambah lagi karena menuruti perasaan hati, hingga ia minum secara terburu buru tanpa dipikir, apalagi ia tadi sudah banyak minum dengan Hwa Ji sat, maka baru secawan masuk ke dalam perutnya, ia sudah merasa seperti mabok ! Tetapi karena ingin sekali mengetahui persoalan permusuhan pendekar pemabokan, maka ia paksakan diri meminum habis tiga cawan arak itu.

Ketika cawan ketiga masuk ke dalam tenggorokannya, kepalanya sudah dirasakan pening, ketika ia meletakkan cawan diatas meja, matanya hanya terbuka lebar, karena lelaki brewokan berbaju kuning tadi sudah menghilang seperti setan, hanya tinggal kipasnya dan sepotong uang perak yang masih ditinggalkan di atas meja ! Di belakang rumah minum itu, terdapat sebuah sungai, Hee Thian Siang setelah diam sejenak ia tonjolkan kepala melalui jendela, betul saja segera tampak olehnya lelaki brewokan berbaju kuning tadi, bayangannya sudah berada di suatu tempat sejarak tiga puluh tombak lebih bahkan agaknya sedang melambaikan tangan terhadap dirinya.

Hee Thian Siang sejak meninggalkan gurunya secara diam- diam, belum pernah bertemu dengan orang rimba persilatan yang pandai meringankan tubuh demikian hebat, sehingga saat itu ia berdiri terpaku dengan sangat kagumnya. Ia tahu bahwa sepotong uang perak itu, pasti ditinggalkan untuk membayar araknya, sedangkan kipas itu tentunya ditinggalkan untuk dirinya, maka kipas itu lalu diambilnya, kemudian juga lompat melesat melalui lubang jendela itu, setelah itu ia mengerahkan ilmunya peringankan tubuh, lari mengejar bayangan orang itu tadi. Tetapi ketika masih terpisah sejarak kira-kira sepuluh tombak dengan orang itu tadi, matanya dapat menyaksikan bahwa orang brewok berbaju kuning tadi, tubuhnya sudah melesat sejauh lima enam tombak lagi, orang itu melayang turun ke dalam sungai dengan ilmunya meringankan tubuh yang luar biasa, ternyata berhasil menyeberangi sungai dengan menginjakkan kakinya di atas air.

Hee Thian Siang yang menyaksikan kejadian itu semakin kagum. Ilmunya meringankan tubuh orang itu, ia tahu bahwa ia sendiri tentu tidak berhasil mengejarnya, terpaksa berdiri di tepi sungai dengan mulut menganga memandang berlalunya orang tadi, dari jauh samar-samar ia dengar orang tadi mengeluarkan suara nyanyian dari mulutnya.

Nyanyian yang keluar dari mulut orang tadi adalah sebuah syair dari pujangga Lie Gie Sa di jaman Tong. Ia tahu bahwa orang tadi menyanyikan syair tersebut, pasti mengandung maksud dalam, tetapi sesaat itu bagaimana is ada kesempatan untuk mempelajari arti dan maksud orang tadi ? Setelah berdiri termangu mangu sekian lama, tiba-tiba ia teringat bahwa orang berewokan tadi, karena merupakan salah seorang kuat dalam rimba persilatan, sebagai seorang tokoh kenamaan, tadi ia sudah berjanji kepadanya, asal ia sanggup meminum habis sepoci araknya, ia akan memberitahukan dimana pendekar pemabokan itu berada, ucapannya itu tentunya tidak akan diingkari begitu saja.

Oleh karena berpikir demikian, maka ia segera berjalan menuju ke tepi sungai dimana orang tadi pernah berlalu, mungkin di situ ada peninggalan tulisan olehnya.

He Thian San wujudkan pikirannya itu, jarak sepuluh tombak itu dengan cepat sudah dicapai olehnya, benar saja seperti apa yang ia duga, diatas sebuah batu di tepi sungai terdapat tulisan yang ditulis dengan jari tangan, tulisan itu berbunyi:

"BESOK MALAM KIRA KIRA JAM SATU, HARAP DATANG KEBAWAH JEMBATAN DEWA DIBUKIT KING BUN SAN!"

Mengenai tempat-tempat kreasi di kota itu, ia pernah diceritakan oleh Lam-kiong How, maka ia tahu tempat yang disebut King Bun San tadi, letaknya ialah di sebelah Timur laut kota Gie-ciang.

Oleh karena dinyatakan tegas jamnya dan tempatnya, maka segera dimengerti olehnya, tapi pada saat itu arak didalam perutnya mula bekerja, ditambah lagi dengan tiupan angin ditepi sungai, arak itu bekerja semakin keras, sehingga ia tidak sanggup mempertahankan dirinya lagi, maka lalu rebahkan diri diatas batu dimana terdapat tulisan jari tangan lelaki berewokan tadi.

Tak lama kemudian, ia lantas tidur pulas, Ketika ia mendusin, ternyata sudah esok harinya hampir tengah hari, maka ia buru-buru meninggalkan tempat tersebut untuk mencari barang hidangan untuk mengisi perutnya, kemudian pergi mencari sewaan perahu, Diwaktu sore hari itu juga ia lantas melakukan perjalanan ke tempat yang dituju, maka malam itu juga ia sudah sampai di bawah jembatan dewa yang letaknya di gunung King Bun San.

Di luar dugaannya, ketika ia tiba ditempat yang dijanjikan, lelaki berewokan yang tadi malam mengenakan pakaian kuning, ternyata sudah tiba lebih dahulu, saat itu ia sedang duduk seorang diri, dua tangannya dibalikkan ke belakang, matanya memandang jauh.

Hee Thian Siang yang beberapa kali menyaksikan kepandaian ilmu meringankan tubuh orang itu, dalam hati sudah merasa sangat kagum, maka ia segera menjura dan berkata sambil tersenyum.

"Kepandaian ilmu meringankan tubuh Lo-cianpwee benar- benar merupakan seorang yang sukar dicari tandingannya... "

Belum lagi habis ucapannya, orang aneh itu sudah menatapnya dan berkata sambil tertawa, sambil menggelengkan kepala: "Bocah, kau jangan pura pura berlaku menghormat kepadaku, asal usulmu ini sangat aneh, kau murid Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Song, ataukah muridnya Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui ?"

Ditanya demikian, Hee Thian siang sesaat tercengang, sedang orang aneh itu berkata pula sambil tertawa: "Di badanmu menyimpan bom senjata peledak Kian-thian Pek-lek dan Sam-ciok Kian Hwan, seharusnya kau adalah muridnya Pak-bin Sin-po, akan tetapi dengan cara bagaimana pula kau masih memiliki salah satu benda pusaka Tiong-sun0song yang dinamakan jala sutera warna merah darah ?... " Mendengar pertanyaan itu Hee Thian Siang lalu sadar bahwa tadi malam waktu ia mabok dan tidur di tepi sungai, sekujur badannya pasti sudah diperiksa oleh orang aneh itu, seandainya orang aneh itu mengandung maksud jahat, bukan saja barang-barang pusakanya sudah hilang semua, bahkan mungkin jiwanya sendiri juga akan melayang begitu saja, berpikir sampai di situ, ia mula merasa bergidik menghadapi kejahatan dan kebahayaan dunia Kang-ouw, maka ia harus berlaku hati-hati, sedikitpun tidak boleh lalai !

Sementara itu orang aneh itu sudah melanjutkan kata katanya lagi sambil tetawa:

"Dalam badanmu kecuali dua macam benda pusaka yang berlainan asalnya, yang lebih mengejutkan aku ternyata masih ada sebuah benda yang jauh lebih berharga daripada senjata Kian-Thain Pek-lek dan jala merah darah itu !"

Hee Thian Siang semula tidak mengerti, tetapi setelah berpikir sejenak, lalu tersadar, maka ia lantas bertanya sambil tersenyum:

"Yang Locianpwe maksudkan apakah sebuah lambang kepercayaan bunga mawar yang terbuat dari batu giok warna ungu itu ?"

Orang aneh berbaju kuning itu kembali dengan sinar mata tajam menatap Hee Thian Siang sekian lama, kemudian berkata lambat-lambat sambil menganggukkan kepala:

"Lambang bunga mawar ungu, senjata peledak, dan jala sutera warna merah, ditambah lagi dengan kipas bambu pemberianku tadi, kau sesungguhnya satu satunya orang yang paling beruntung, dengan seorang diri kau memiliki empat benda pusaka yang jarang ada di rimba persilatan, hal ini sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sekalipun ketua-ketua delapan partai besar rimba persilatan dewasa ini, jikalau ketemu padamu, mereka juga akan perlakukan kau dengan sangat hormat tidak berani berlaku congkak !"

Hee Thain Siang kini baru tahu, bahwa kipas bambu itu oleh orang tersebut sudah dihadiahkan kepadanya. Tentang empat benda pusaka rimba persilatan itu kecuali bom peledak Kian-thian pek-lek milik gurunya dan jala sutera warna merah pemberian Hwa Ji Swat, karena ia sudah pernah diberitahukan bagaimana cara menggunakannya, maka ia sudah tahu. Hanya kipas pemberian ornag aneh itu dan lambang bunga mawar warna ungu yang dipuji sangat tinggi oleh orang aneh itu, bagaimana cara menggunakannya, ia sedikitpun tidak mengerti.

Karena mendapat hadiah benda pusaka itu dalam kegirangannya Hee Thian Siang buru buru mengucapkan terima-kasih lebih dulu kepada orang aneh itu, dan selagi hendak menanyakan nama dan asal usulnya serta gunanya kipas dan lambang bunga mawar itu, orang aneh itu dengan tiba-tiba pasang telinganya kemudian berkata dengan suara pelahan kepadanya:

"Empat jago wanita dari golongan Ngo-bi-pay sudah tiba, tak lama lagi Bo Bu Ju juga akan datang! Oleh karena sesuatu sebab aku perlu menyingkir lebih dahulu: kau boleh sembunyi di atas pohon cemara besar yang daunnya rindang itu untuk menyaksikan keramaian. Dan kau harus waspada, apabila Bo Bu JU dalam keadaan terjepit benar-benar, kau boleh segera unjuk diri dengan mengeluarkan salah satu benda pusaka yang kau miliki, kau boleh berkata kepada mereka bahwa Hong-tim Ong-hek Mai-ceng Ong katanya sedang melakukan perjalanan ke gunung Ngo-bie-san, katakan saja bahwa Mai- ceng-ong akan mengambil benda pusaka keturunan Ngo-bie- pay yang disimpan didalam kuil Khu-leng To-koanmo. Benda pusaka itu adalah kitab ilmu pedang Thuan-hiam Kiam-pho. Barangkali saja dengan ucapanmu itu, kau dapat menolong Bo Bu Ju dari kesulitannya !?"

Sehabis mengucapkan perkataan yang terakhir, orangnya sudah melayang ke jembatan dewa, sedang Hee Thian Siang sendiri pada waktu itu juga sudah mendengar berkibarnya baju, maka buru-buru ia lompat melesat ke sebuah pohon cemara yang ditunjuk oleh orang aneh tadi. Di bawah sinar bulan purnama ia dapat menyaksikan keadaan di bawah, sedangkan dirinya tak dapat dilihat orang-orang yang berada di bawahnya.

Bagi setiap orang rimba persilatan, hampir semua tahu tokoh-tokoh kuat kenamaan dari delapan partai besar, khususnya mengenai partai Ng-bie-pay sejak berdirinya, seperti biasa pada keadaan partai-partai, partai itu juga mengalami pasang surut. Selama itu baru sekarang inilah partai itu mulai menanjak lagi pamornya. Partai itu sekarang di bawah pimpinan lima persaudaraan, pimpinan partai adalah yang tertua dari lima saudara itu, julukannya Hian Hian Sian- lo, empat uang lainnya terdiri dari golongan pendeta wanita atau biasa, usia mereka berbeda jauh, tetapi kekuatan dan kepandaian silat hampir berimbang, terutama yang termuda; ilmu pedangnya hebat sekali. Dalam kalangan Kang-ouw empat persaudaraan kaum wanita itu merupakan empat jago wanita golongan Ngo-bie. Ilmu silat mereka yang berujud barisan yang dinamakan Susiang-tui-hun-kiam-tin, sejak diciptakannya jarang sekali menemukan tandingan!

Ditambah lagi dengan kebiasaan dalam kalangan Kang- ouw yang suka mengalah terhadap kaum wanita, kalau tidak bermusuhan terlalu dalam, kebanyakan suka menghindari pertempuran dengan demikian maka lama kelamaan, Hian Hian Sian-lo dan nama julukan empat jago wanita golongan Ngo-bi, hampir merupakan orang-orang delapan partai besar rimba persilatan. Maka ketika Hee Thian Siang mendapat kabar bahwa orang yang datang itu adalah empat jago wanita dari golongan Ngo-bi, diam-diam juga mengerutkan alisnya. Ia tidak berani bernapas sama sekali ditempat persembunyiannya, ia juga ingin menyaksikan bagaimana wanita kuat dari golongan rimba persilatan yang sudah lama didengar namanya tapi belum pernah melihat orangnya, sebetulnya bagaimana mereka benar bermusuhan dengan pendekar pemabokan ??

Baru saja ia menyembunyikan dirinya, empat sosok bayangan wanita, bagaikan terbang melayang ke puncak gunung, empat bayangan wanita itu mengenakan pakaian dari golongan wanita biasa dan pendeta, sedang di punggung mereka masing masing menyoren sebilah pedang empat wanita itu dua dari golongan pendeta dan dua dari golongan biasa, akan tetapi usia mereka satu sama lain terpaut sangat jauh, Yang paling tua merupakan seorang pendeta wanita yang rambutnya sudah putih semuanya, usianya mungkin sudah mencapai delapan puluh lebih, sedang yang termuda merupakan seorang gadis yang usianya kira-kira enam-belas tahun dan berpakaian seperti biasa, sedang yang lainnya yang satu berpakaian seperti pendeta, usianya sekitar empat puluhan tahun, yang lain usianya kira-kira dua-puluhan tahun, wanita ini parasnya cantik sekali.

Empat jago wanita dari golongan Ngo-bi itu berdiri di puncak gunung, mata mereka menyapu keadaan sekitarnya, wanita yang tertua lalu membuka suara:

"Sumoay bertiga, Bo Bu Ju sekarang masih belum tiba, sebentar kalau ia datang kita jangan sungkan-sungkan lagi, masing-masing harus berusaha sekuat tenaga, jangan membiarkan setan pemabukan itu lolos dari barisan Susiang- tui-bun-kiam.

Salam seorang sumoaynya, ialah pendeta wanita setengah umur, agaknya merupakan wanita yang sifatnya paling keras diantara saudara saudaranya, ketika mendengar perkataan itu, sepasang alisnya lantas berdiri dan berkata dengan nada suara dingin: "Kee-kia sampai menjadi tercacat, semua itu karena gara-gara sepatah ucapan setan pemabokan itu, maka malam ini kupikir kita juga harus dapat memotong sebelah kakinya, barulah merasa puas, kemudian baru mencari perempuan genit itu untuk membuat perhitungan ! Tetapi Su- cie juga jangan pandang terlalu tinggi kepada Bo Bu Ju, di bawah ilmu pedangku, dia masih tidak sanggup bertahan seratus jurus, mengapa masih perlu menggunakan barisan pedang kita uang terampuh itu ?"

Wanita uang agak muda ketika mendengar ucapan itu alisnya bergerak, selagi hendak bicara tiba-tiba terdengar suara orang tertawa, yang datang dari tempat agak jauh.

Pendeta wanita berambut putih lalu berkata sambil mengeluarkan tangannya:

"Sebentar lagi, tidak perduli dengan cara bagaimana kita sekarang lebih dahulu berdiri di empat penjuru menurut bentuk barisan se siang tui-hun kiam-tin."

Setelah itu mereka berempat lalu berpencaran masing- masing berdiri di empat penjuru.

Dari kata-kata mereka itu, Hee Thian Siang sudah mendapat dengar dengan jelas, entah apa sebabnya pendekar Pemabukan Bo Bu Ju hanya dengan sepatah kata saja telah membuat cacat diri seseorang, dan orang itu justru ada hubungan erat dengan wanita cantik dari empat jago wanita golongan Ngo-bi, hingga mengakibatkan pertemuan malam ini.

Tetapi tentang diri perempuan genit yang diucapkan oleh pendeta wanita itu, ia belum dapat memastikan dengan tegas; wanita yang dimaksudkan olehnya itu, apakah Tho-hwa niocu Kiu Liu Hiang, yang ia pernah bertemu muka di daerah gunung Bu-san belum lama berselang ?

Apabila urusan ini ada hubungannya dengan perempuan itu, bukanlah akan menjadi ramai ?

Berpikir sampai di situ, tampak olehnya sesosok bayangan orang dari atas puncak gunung, melayang turun ke bawah. Bayangan orang itu ternyata adalah seorang berwajah bersih berusia kira-kira empat-puluh tahun, sedang di pinggangnya tergantung sebuah buli-buli arak berwarna merah.

Begitu tiba di hadapan empat jago wanita, matanya menyapu mereka sejenak, kemudian menyoja memberi hormat, dan berkata sambil tertawa terbahak bahak:

"Bo Bu Ju sedang minum arak dirumah makan Kim-hok- lauw tiba tiba mendapat panggilan dari empat jago wanita golongan Ngo-bi, sehingga aku harus perlu datang ke atas puncak gunung King-bun-san, dengan tergesa gesa, entah lantaran urusan Wie Kee Kie dari golonganmu yang dipotong sebelah kakinya oleh Tho-hwa Niocu Kiu Liu Hiang dari Ki Lian-san, ataukah ada urusan lain ?"

Wanita cantik berpakaian biasa, segera bertanya dengan nada suara dingin:

"Bo Bu Ju, tahukan kau bahwa dalam dunia Kang-ouw ada suatu kebiasaan yang menetapkan bahwa hutang jiwa harus bayar jiwa, hutang uang harus bayar uang ?"

Pendekar pemabukan menjawab sambil tertawa dan memberi hormat:

"Nona Seng Siu cie... " Baru saja mengeluarkan ucapan itu, sudah dipotong oleh saudara termuda dari empat jago wanita itu:

"Bo Bu Ju, kau juga terhitung seorang kesatria pada dewasa ini, mengapa kau tidak tahu tentang kebiasaan dalam dunia Kang-ouw itu ? Apakah kau perlu menunggu aku Koh Siu In ini turun tangan dulu barulah menyerahkan sebelah paha kananmu ?"

Mendengar ucapan itu Bo Bu Ju tercengang, tetapi ia segera menjawab sambil tertawa:

"Nona nona, harap kalian jangan salah paham, jikalau kalian menyebut hutang darah dibayar darah, kalian seharusnya berkunjung ke gunung Kie-lian san, kalian harus perhitungkan dengan raja setan Tong Kie si malaikat maut Gouw Eng dan Tho-hwa Niocu Kie Liu Hiang, justru merekalah yang melakukan penganiayaan terhadap Wie Kee Kie."

Pendeta yang berdiri disebelah Selatan lalu berkata sambil tertawa dingin:

"Tong Kie, Gouw Eng Kie Liu Hiang memang merupakan orang penting dalam peristiwa ini, tetapi kau Bo Bu Ju biang keladinya ! Jikalau bukan lantaran kau yang banyak mulut mengatakan bahwa Kie Liu Hiang itu adalah perempuan cantik genit yang tak ada tandingannya, serta memiliki daya sex luar biasa yang dapat memikat kaum lelaki sehingga lelaki yang berdekatan dengannya hampir tidak berdaya; sudah tentu Wie Samtee tidak akan pergi berkunjung ke gunung Ki-lian-san yang mengakibatkan kehilangan sebelah paha kanannya !"

Pendekar pemabukan juga menjawab sambil tertawa dingin:

"Siu-wan Tokow, dalam urusan ini bukan sengaja aku hendak mencelakakan orang lain,  hanya secara iseng aku membicarakan beberapa wanita-wanita rimba persilatan yang paling genit, pada dewasa ini, dalam pembicaraan dengan sahabatku itu, aku bahkan peringatkan bahwa beberapa perempuan genit itu yang sudah banyak melakukan kejahatan, perlu segera dilenyapkan dari rimba persilatan supaya tidak akan membawa korban lebih banyak. Waktu itu Wie Kee Kie yang sedang mendengarkan pembicaraan tersebut tiba-tiba timbul pikirannya ingin belajar kenal dengan perempuan genit itu, barulah ia melakukan perjalanan jauh ke gunung Ki-lian- san, jadi dalam hal ini adalah ia sendiri yang mencari penyakit... "

Belum habis ucapannya, Seng Siu Cie yang cantik itu, dengan cepat menghunus pedangnya, dan berkata sambil menudingkan pedangnya:

"Bo Bu Ju kau jangan menuduh orang sembarangan suamiku itu bukanlah orang sebangsa hidung belang, dia pergi ke gunung Ki Lian san maksudnya ialah hendak menyingkirkan perempuan genit itu, bukanlah karena tertarik oleh kecantikan atau kegenitannya, sebelah kaki kanannya, karena ucapanmu itu sehingga harus dikorbankan. Malam ini jikalau kau tidak membayar hutang dengan memotong sendiri pahamu, lekas hunus pedangmu, sambutlah pedang golongan Ngo-bi sampai seratus jurus !!"

Bo Bu Ju yang mempunyai pengalaman sangat luas dalam dunia Kang-ouw sudah tentu mengetahui bahwa empat jago wanita dari golongan Ngo-bi itu semuanya memiliki sifat sombong dan keras kepala, maka urusan malam ini tentu tidak dapat diselesaikan dengan baik, ia terpaksa berkata sambil tertawa terbahak bahak:

"Seratus jurus ilmu pedang golongan Ngo-bi belum tentu dapat memotong sebelah pahaku, jikalau kalian ingin memuaskan hati, sebaiknya mengeluarkan ilmu silat Su-siang Tui-hun-kiam-tin yang dimainkan oleh kalian berempat itu !" Seng Siu cie yang mendengar perkataan itu semakin marah, hingga wajahnya pucat pasi, ia berpaling dan berkata kepada pendeta wanita rambut putih yang merupakan Toa suci-nya.

"Suci, dalam seratus jurus apabila sumoay tidak berhasil memotong sebelah paha Bo Bu Ju aku nanti akan habiskan jiwaku sendiri dengan melompat ke dalam sungai Tiangkang dri puncak gunung ini, kau dengan sam-suci dan siao-suci cukup menjaga saja dengan sampai orang ini melarikan diri, jangan sekali kali kau menjadi buah tertawaannya karena mengandalkan jumlah orangnya yang banyak, sehingga merendahkan derajat Ngo-bi-pay !"

Dari empat jago wanita itu, yang paling mahir ilmu pedangnya, adalah saudara termuda Hok Siu In, Seng Siu cie merupakan orang kedua, dalam seratus jurus, rasanya cukup untuk menundukkan lawannya, maka pendeta wanita berambut putih itu lalu menganggukkan kepala dan memerintahkan yang lainnya bersiap siap menghunus pedangnya, sedangkan Seng Siu cie dengan pedang melintang pelahan-lahan masuk ke dalam kalangan, tiga yang lainnya berdiri di luar kalangan untuk menjaga kaburnya pendekar pemabukan.

Pendekar pemabukan Bo Bu Ju dengan mengerutkan alisnya, berdiri sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya.

Seng Siu Cie yang menyaksikan keadaan demikian, lalu berhenti dan bertanya: "Bo Bu Ju, dimana senjatamu ?"

Sepasang mata pendekar pemabukan dengan tiba-tiba dibuka lebar, dengan sinar mata yang tajam, ia menatap wajah Seng Siu Cia, kemudian berkata sambil tertawa terbahak bahak: "Bo Bu Ju hanya mengandalkan keberaniannya, untuk bekal berkelana di seluruh negeri, aku selamanya tidak pernah membawa senjata !"

"Setan pemabukan yang tidak tahu diri, jikalau kau berkelahi dengan tangan kosong, barangkali belum sampai setengahnya dari seratus jurus, jiwamu sudah melayang di bawah pedangku !" berkata Seng Siu Cie dengan suara keras.

Sehabis berkata, ia segera membuka serangannya dengan ilmu pedangnya yang terampuh.

Hee Thian Siang yang menyaksikan dari tempat sembunyinya, diam-diam juga mengakui ilmu pedang luar biasa wanita itu, ia pikir jikalau ia sendiri yang menghadapi barangkali belum tentu dapat mengimbangi dengan baik.

Dalam anggapannya, ilmu pedang empat persaudaraan itu mungkin hanya yang termuda yang ia dapat menghadapinya, akan tetapi dugaan pemuda itu ternyata keliru jauh sekali, karena diantara empat saudara seperguruan itu, hanya yang termuda itulah yang ilmu pedangnya yang paling tinggi, justru karena anggapan yang keliru itu, maka di kemudian hari ia hampir celaka di tangannya Hok Siu In !

Pendekar pemabukan tahu benar bahwa sendiri barangkali belum sanggup melawan Si Siu cie yang memiliki ilmu pedang sangat tinggi itu, akan tetapi karena urusan sudah berubah begitu rupa, mau tak mau ia harus menghadapinya dengan seluruh kekuatan yang ada. Di bawah serangan gencar wanita itu, hanya dengan mengandalkan sepasang tangan kosong dan gerakan yang sangat lincah untuk menghindarkan serangan tersebut.

Hee Thian Siang telah mengetahui bahwa Bo Buju meskipun juga memiliki kepandaian ilmu silat tinggi, tetapi ia agak dipersulit oleh kebiasaannya yang tidak pernah menggunakan senjata, sedangkan lawannya yang menggunakan ilmu pedang golongan Ngo-bi, justru merupakan ilmu pedang yang paling hebat, maka baru dua puluh jurus, berulang ulang ia sudah dalam keadaan bahaya !

Menyaksikan keadaan demikian, jikalau tidak segera unjuk diri, nama baik Bo Bu Ju barangkali akan terkubur di puncak gunung ini, maka ia buru-buru mengeluarkan senjatanya seciok Kang-hoan, dari atas ia sambitkan ke bawah !

Sambitan senjata itu mengeluarkan suara hebat, apalagi Hee Thian Siang melakukannya dengan kekuatan tenaga sepenuhnya, mak ketika senjata itu mengenakan batu besar, segera menimbulkan suara dan percikan percikan yang hebat, hingga empat jago wanita dan pendekar pemabukan yang sedang bertempur semuanya terperanjat, mereka segera mendongakkan kepala untuk menyaksikan dari mana datangnya sambaran senjata secara tiba-tiba itu ?

Hee Thian Siang sementara itu tertawa terbahak bahak, dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh, melayang turun ke bawah, akan tetapi ilmu meringankan tubuh itu tidak mengejutkan empat jago wanita golongan Ngo-bi, sedangkan Siu-wan Tokow yang berambut ubanan lalu bertanya padanya: "Bocah, kau murid dari golongan mana ? Mengapa berani main gila di hadapan empat jago golongan Ngo-bi ?"

Hee Thia Siang yang dengan seorang diri menghadapi empat jago golongan ngo-bi, namun sikapnya masih tetap tenang, ia menjawab sambil tertawa.

"Kalian mengadakan pertempuran ditempat ini, sebetulnya tidak ada hubungan denganku, tetapi empat orang menggunakan pedang sedang seorang hanya dengan tangan kosong, pertempuran semacam ini sesungguhnya tidak adil sekali, sehingga aku yang menyaksikan juga merasa tidak puas ! Dengan demikian maka aku hendak meminjamkan senjataku ini kepada locianpwe yang namanya terkenal karena kegemarannya minum arak ! Tentang diriku dari golongan mana dan murid siapa, kalian yang menganggap diri tokoh-tokoh terkuat timba persilatan, apakah tidak bisa mengenal diriku dari sepasang senjata gelangku ini !"

Keberanian dan kejumawaan pemuda yang baru muncul itu, seorang beradat aneh seperti pendekar pemabukan itu diam-diam juga merasa heran, tetapi ia adalah seorang berpengalaman luas, ketika menyaksikan sepasang senjata Sam-ciok-kang-hwan yang menancap dalam batu besar, tanpa sadar sudah mengeluarkan seruan tertahan, dan ia sudah mengetahui bahwa pemuda berbaju hijau yang berani sekali itu, adalah murid Pak-bing Sia-po Hong -poh Cui??? merupakan satu dari tiga orang yang terkuat paling susah dihadapi dirimba persilatan.

Oleh karena empat jago wanita dari golongan Ngo-bi itu, biasanya pandang dirinya sendiri terlalu tinggi, kecuali para ketua partai rimba persilatan yang lainnya, atau tokoh-tokoh kenamaan, hampir semuanya tidak dipandang mata oleh mereka. Maka empat wanita itu hanya mengawasi senjata Sam-ciok-kang-hwan, namun sedikitpun tidak mengetahui asal usulnya. Sedangkan Hok Siu In yang merupakan jago termuda dari yang lainnya, sebaliknya malah perdengarkan suara tertawa dingin dan kemudian berkata.

"Sepasang gelang berbentuk aneh yang dibuat olehnya sendiri, paling banter dibuat dari bahan baja, apa yang diherankan ? ... "

Hee Thian Siang mendelikkan matanya, dengan sinar mata yang tajam menatap wajah gadis itu, kemudian berkata sambil tertawa bergelak gelak.

"Kau sendiri yang berpengetahuan kurang dan bermata picak terlalu berniat pandang rendah orang lain ! Beranikah kau bertempur seratus jurus dengan sepasang senjataku yang tidak ada asal usulnya dan tidak ada namanya ini ?"

Sepasang alis Hok Siu Ing berdiri, dengan sikap menghina ia berkata:

"Kau seorang yang belum mempunyai nama juga berani melawan aku sampai seratus jurus ? Barangkali belum sampai sepuluh jurus perutmu sudah berlubang atau kepalamu menggelinding ditanah !"

Mendengar kata kata yang sangat jumawa itu, Hee Thian Siang sangat marah, ia berkata:

"Jangankan kau seorang perempuan yang masih begini muda, sekalipun barisan Su-siang Tui-hun kiam-tin yang kalian banggakan itu, aku juga dapat menghancurkan dengan satu gerakan tangan saja !"

Hok Siu In yang mendengarkan itu berulang ulang memperdengarkan suara tertawa dingin, sedang pedang di tangannya beberapa kali digerakkan, agaknya sudah hendak turun tangan.

Pendekar pemabukan karena sudah mengetahui asal usul Hee Thian Siang, ia khawatir apabila kedua pihak benar-benar terjadi pertempuran dan masing-masing turun tangan ganas, barangkali seluruh rimba persilatan nanti akan mengalami kegegeran hebat, maka buru-buru ia menggoyangkan tangan dan berkata kepada Hok Siu In "

"Nona Hok, aku dengan saudara kecil ini meskipun belum pernah kenal, tetapi aku tahu apa yang dikatakan tadi, sedikitpun bukan ucapan gertakan saja !"

Siu wan Tokow yang merupakan orang kedua dari empat jago wanita itu juga berkata: "Bo Bu Ju, didalam rimba persilatan, kau juga terhitung orang yang mempunyai nama baik, bagaimana kau juga membantu seorang bocah yang masih ingusan, mengeluarkan perkataan yang susah dipercaya orang ini ? Dengan cara bagaimana ia dapat menghancurkan barisan kita dengan satu gerakkan tangan saja ?"

Sikap Pendekar pemabukan itu kini nampak semakin tenang, ia lalu mengangkat buli-buli araknya dan minum dua cegukan, dengan mata menatap Siu-wan Tokow, ia berkata sambil memalingkan kepala:

"Mungkin aku anggap saudara kecil ini sangat mungkin dapat menghancurkan barisan kalian dengan satu gerakan tangan saja !"

Hok Siu In sangat marah mendengar perkataan itu, ia berkata dengan suara gusar:

"Coba kau katakan, jikalau kau tidak dapat memberikan keterangan sebab apa ia dapat menghancurkan barisan kita dengan satu gerakan tangan, aku nanti akan suruh kalian bersama sama merasakan rasanya tercincang dalam barisan su-siang Tui-hun-kiam-tin ini !" 

Bo Bu Ju lebih dulu memberikan buli-buli araknya kepada Hee Thian Siang, suruh ia minum, kemudian menunjukkan senjata gelang yang menancap di atas batu, setelah itu ia baru berkata sambil tersenyum:

"Dari sepasang senjatanya yang luar biasa itu, aku dapat mengenali bahwa saudara kecil ini adalah murid Pak-bin Sin- po Hong-poh Cui !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapannya benar-benar merasa kagum atas pengetahuan yang luas dari pendekar pemabukan itu, ia merasa bahwa maksudnya yang hendak minta keterangannya tentang gadis berbaju putih yang pernah disaksikannya di gunung Kiu-gi-san, pasti ada harapan.

Nama besar Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui, benar saja telah membikin kuncup hati empat jago wanita golongan Ngo-bi yang sangat jumawa itu ! Tetapi Hok Siu In yang termuda dan sedang berdarah panas, oleh karena sikapnya tadi, merasa malu hendak mundur begitu saja maka setelah berdiam sejenak, kembali ia berkata kepada pendekar pemabukan:

"Tentang suhunya Pak-bin Sin-po, meskipun benar aku pernah dengar memiliki kepandaian sangat tinggi, tetapi ia sendiri belum tentu memiliki kepandaian seperti suhunya ! Apalagi sekalipun Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui datang sendiri, juga belum tentu sanggup menghancurkan barisan Su-siang Tui-hun-kiam tin dengan satu gerakan tangan saja !"

Pendekar pemabukan berkata sambil tertawa: "Nona Hok benar, barisan Su-siang Tui-hun-kiam-tin kalian memang luar biasa hebatnya, juga memang benar jarang sekali ada orang yang sanggup bertahan sampai dua atau tiga-ratus jurus !... "

"Pengetahuanmu benar-benar luas sekali, tetapi kalau kau sudah tahu kekuatan bariana Su-siang Tui-hun-kiam-tin, mengapa masih berani mengatakan bahwa pemuda itu dapat menghancurkannya hanya dengan satu gerakan tangan saja

?" bertanya Hok Siu In.

Pendekar pemabukan merasa bahwa orang-orang golongan muda ini, selamanya hanya ingin menang saja, juga terlalu keras kepala, maka ia lalu tersenyum, dan menatap wajah empat wanita itu, kemudian bertanya:

"Apakah kalian belum pernah dengar orang kata tentang senjata peledak Kian-thian Pek-lek ?"

Kali ini adalah Siu-wan tokow yang menjawab: "Kian-thian Pek-lek adalah senjata pusaka Pak-bin Sin-po, tidak mungkin dengan mudah diberikan kepada muridnya, yang masih begini muda, untuk digunakan sehingga menimbulkan bencana hebat !"

"Saudara kecil ini sudah berani membuka mulut besar, mungkin dalam badannya ada membekal senjata pusaka yang hebatnya menggetarkan rimba persilatan itu !" berkata Bo Bu Ju sambil tertawa.

Selagi empat jago wanita itu hendak membuka mulut, Hee Thian Siang benar-benar sudah mengeluarkan sebuah benda kecil sebesar tinju orang yang berwarna hitam dan berbentuk seperti bola, benda itu diletakkan di atas tangan kanannya.

Empat jago wanita meskipun masih tidak mau percaya bahwa bole hitam yang tidak mengandung sifat aneh itu adalah bom Kian-thian pek-lek yang namanya pernah menggemparkan rimba persilatan, tetapi mereka juga pernah dengar bahwa benda ini juga bernama "mutiara terbang", kehebatannya memang dapat menggegerkan ini, manusia yang terdiri daging dan darah betapapun tinggi ilmu silatnya, sudah tentu tidak sanggup menahan senjata peledak itu! Maka itu, meskipun mereka semua dalam hati agak bersangsi, tetapi juga tiada satupun yang berani mencoba dan memaksa Hee Thian Siang turun tangan !

Hee Thian Siang yang menyaksikan lawan lawannya itu semuanya sudah merasa jeri, lalu menyimpan senjatanya itu lagi dengan sikap sangat hati hati sekali.

Hok Siu In yang menyaksikan sikap jumawa Hee Thian Siang, dalam hati masih merasa tidak puas, maka lalu bertanya: "Kau bernama apa ?"

"Namaku Hee Thian Siang, bukankah kau hendak bertempur denganku ?" "Aku kira murid Pek-bin Sin-po Hong-poh Cui, barangkali tidak sehebat gurunya, tetapi apakah kau berani menggunakan senjata Kian-thian Pek-lek ?"

"Bom ini terlalu hebat, bagaimana dapat digunakan dengan sembarangan ? Apabla kalian tidak merebut kemenangan dengan mengandalkan jumlah orang yang banyak, menggunakan barisan Su-siang Tui-han-kiam-tin, aku juga sanggup melawan kau seratus jurus dengan sepasang senjata Sam-jiok Kang-hwan ini !"

Sehabis berkata ia lalu lompat melesat untuk mengambil kembali sepasang senjatanya yang menancap didalam batu.

Begitu senjata berada ditangan Hee Thian Saing tiba tiba teringat ucapan lelaki aneh berewokan yang diucapkan kepadanya, maka ia lalu bertanya sambil menatap Hok Siu In: "apakah benar didalam kuil kalian digunuung Ngo-bie-san ada menyimpan kitab ilmu pedang Thian-hian Kiam-pho ?"

Kitab ilmu pedang Thian-hian Kiam-pho adalah pusaka simpanan dari golongan Ngo-bie-pay, hanya calon-calon ketua partai itu yang boleh mempelajari ilmu pedang yang tertulis dalam kitab itu, maka dalam kalangan Kang-ouw sedikit sekali orang yang mengetahui. 

Begitu mendengar pertanyaan Hee Thian Siang, wajah empat jago wanita itu lantas berubah, Sui-long Tokow lantas bertanya:

"Sahabat, bagaimana kau bisa tahu bahwa dalam kuil Khu- leng To-kuan kita,ada menyimpan kitab rahasia Thian-hian Kiam-pho ?"

Didalam kota Gi-ciang, dengan secara kebetulan aku telah berjumpa dengan Hong-tin Ong-khak... " menjawab Hee Thian Siang kembali tersenyum. Mendengar jawaban itu, jago wanita itu semakin terkejut, Seng Siu Cie lalu bertanya kepada sucinya sambil mengerutkan alis:

"Suci, kalau benar Hong-tin Ong-khek May Ceng Ong sudah muncul di kota Gi-ciang. mungkinkah ia melanjutkan perjalanannya kesana dengan memalui sungai Ting-kang ?"

Tidak menantikan habis ucapan wanita itu, Hee Thian Siang lantas berkata:

"Benar, benar, aku pernah dangan May Ceng Ong berkata kepada seorang kawannya, katanya ia belajar melalui selat sungai Tiang-kang kemudian menuju ke barat dan terus ke gunung Ngo-bie-san, ia hendak pergi ke kuil Khun-leng To- kuan, dan berusaha akan mengambil kitab ilmu pedang Thian- hian Kiam-pho milik Hian-thian Sian-lo !"

Empat jago wanita yang mendengarkan keterangan itu semakin terheran heran, meraka khawatirkan ketua mereka Hian-hian Sain-lo tidak tahu kalau May Ceng Ong diam-diam kandung maksud hendak mencuri kitab itu, sehingga partai Ngo-bie harus kehilangan benda pusaka keturunannya.

Maka mereka lalu saling berunding sebentar kemudian Seng- Siu cie yang maju dan berkata kepada Bo Bu Ju:

"Oleh karena partai kita sekarang sedang menghadapi urusan lain, maka urusan malam ini untuk sementara kita tunda dulu, tetapi dilain waktu apabila ada kesempatan, harap sahabat Bo... "

Hee Thian Siang tertawa terbahak bahak dan memotong ucapan itu: "Kalian tidak perlu khawatir, dalam waktu satu tahun aku pasti akan mengawani Bo Locianpwe untuk berkunjung ke gunung Ngo-bie; tetapi aku merasa bahwa kalian empat wanita dari golongan Ngo-bie-pay, seolah-olah hanya berani kepada seorang saja dan takut neghadapi orang banyak... "

Hok Siu In yang mendengar ucapan itu, sepasang alisnya lantas berdiri dan bertanya dengan suara gusar:

"Hee Thian Siang, dengan bukti apa kau berani berkata demikian ?"

"Aku tadi dengar bahwa Wie Kee Kie kehilangan sebelah paha kanannya, jelas telah dipotong oleh manusia-manusia jahat dari golongan Ki-lian-pay, akan tetapi kalian tidak mencari mereka pergi menuntut balas, sebaliknya telah beramai ramai minta pertanggungan jawab kepada Bo locianpwe yang suka berkelana seorang diri, apakah ini tidak jelas bahwa kalian sudah takut pengaruhnya golongan Ki-lian- pay ? Dan tidak berani menghadapi ketua mereka Khie Tay Tiu yang menggunakan senjata berat seratus lima puluh kati itu ?"

Siulong tokow yang mendengarkan perkataan itu lalu merangkapkan kedua tangannya ke dadanya, setelah memuji nama budha lalu berkata:

"Hee Thian Siang, kau jangan pandang ringan ilmu pedang golongan Ngo-bie, senjata berat yang berupa tongkat baja ketua dari Ki-hian-pay itu, didalam rimba persilatan hanya mendapat sedikit nama saja, padahal sebetulnya, tak ada apa apanya yang patut dibanggakan. Setahun kemudian, kalau kalian nanti berkunjung ke gunung Ngo-bie-san, apabila empat jago wanita golongan Ngo-bie tidak dapat mengeluarkan sebelah paha raja setan Tong-kie atau paha Gouw-eng, untuk ditunjukkan kepada kalian, maka permusuhan kita dengan Bo Bu Ju ini kita habiskan begitu saja dan selanjutnya tidak akan dibicarakan lagi !" Sehabis berkata demikian lalu pamitan dan bersama tiga saudara lainnya meninggalkan tempat tersebut. Didalam keadaan sunyi hanya terdengar ucapan Hok Siu In yang diucapkan dari tempat jauh: "Hee Thian Siang, satu tahun kemudian, kalau kau nanti datang berkunjung ke gunung Ngo- bie-san, jangan lupa kau harus bertanding denganku seorang diri di atas puncak gunung Ngo-bie-san !"

Bo Bu Ju menunggu dengan tenang, sehingga suara itu menghilang ditelan oleh suasana gelap, kemudian dengan perasaan bersyukur menatap wajah Hee Thian Saing dan berkata sambil menghela napas:

"Peribahasa ada kata: laki-laki yang baik tidak suka berkelahi dengan kaum wanita, Empat jago wanita ini sesungguhnya susah sekali dihadapi ! Kedatangan Hee Thian Siang ini karena secara kebetulan, ataukah mendapat petunjuk orang lain, sehingga dapat membantu aku melepaskan diri dari kesulitan ini ? Kau tadi pernah kata bahwa Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong menuju ke barat pergi ke gunung Ngo-bie hendak mencuri kitab ilmu pedang Thian-hian Kiam-pho, rasanya tidak benar !"

Hee Thian Siang benar-benar sangat kagum pengetahuan yang luas dari pendekar pemabukan ini. Ia lalu menceritakan semua pertemuannya dengan seorang aneh berewokan berbaju kuning dirumah minum di kota Gie-chiang, setelah itu minta keterangan kepada Bo Bu Ju tentang orang aneh berkepandaian tinggi itu, dan apakah masih unjukkan diri untuk bertemu muka ?

Setelah mendengar itu, Bo Bu Ju tertawa geli-geli dan berkata:

"lelaki berewokan berbaju kuning itu adalah satu satunya sahabat minum arakku, juga orang yang tadi kau sebut Hong- tim Ong-khek May Ceng Ong ! segala sepak terjang orang ini seolah-olah naga sakti dari langit, sungguh susah diduga atau ditangkap maksudnya ! Waktu ini mungkin ia sudah berlayar menuju ke barat dan benar-benar hendak menyatroni Khun- leng To-koan"

Hee Thian Siang baru sadar, bahwa orang aneh yang ditemui dalam rumah minum itu adalah salah satu dari tiga orang yang paling sulit dihadapi pada dewasa ini, orang itu ternyata adalah May Ceng Ong yang namanya berendeng dengan suhunya sendiri dan Thian-gwa Ceng-mo Tiong Sun seng, pantas ia memiliki kepandaian ilmu silat demikian hebat

!

Tetapi setelah mendengar ucapan Bo Bu Ju ia masih belum begitu paham, maka ia bertanya:

"Bukankah locianpwe tadi kata bahwa dia menuju ke barat ke gunung Ngo-bie hendak mencuri kitab ilmu pedang Thian- hian Kiam-pho rasanya hal itu tidak benar?"

"Waktu itu mungkin tidak benar, tetapi sekarang barangkali tidak bisa salah lagi ? sebab jikalai ia tidak menyuruh kau berkata demikian empat jago wanita dari golongan Ngo-bie sudah tentu tidak mau melepaskan kita begitu saja. Dalam keadaan sulit begitu rupa, kecuali kau bersedia menggunakan senjata peledakmu. Kian-thian-pek-lek melakukan pembunuhan besar-besaran, meskipun kita berdua mengerahkan tenaga, barangkali juga masih susah terlepas dari barisan sui-san Tui-hun Kaim-tin !"

Oleh karena Hee Thian Siang tadi sudah menyaksikan hebatnya ilmu pedang Sing Siu cie, maka ia tahu bahwa ucapan Bo Bu Ju itu bukanlah omong kosong belaka! Maka ia lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum, untuk mendengarkan lebih lanjut keterangan orang aneh itu.

Bo Bu Ju berkata lagi: "Sekarang kita sudah lolos dari bahaya, aku tahu sifat May Ceng Ong yang biasanya pasti akan melakukan apa yang ia sudah katakan, pada waktu ini sudah pasti is sudah melakukan perjalanan ke barat ! aku duga ia pasti akan mendahului empat jago wanita itu sebelum mereka tiba di kuil Khun-leng To-koan, supaya dapat menjumpai Hian-hian Sianlo !"

Hee Thian Siang masih agak sangsi, maka ia bertanya pula: "Dengan kepandaian dan kekuatan tenaga seperti May Ceng Ong Locianpwe, jikalau ia tadi berada di sini dan turun tangan sendiri, untuk menegor atau merintangi maksud empat jago wanita itu, bukankah lebih mudah ? Perlu apa harus memutar demikian rupa, dan perlu pergi sendiri ke gunung Ngo-bi ?"

"Laotee, kau tidak tahu, kalau May Ceng Ong berbuat demikian, itu karena hendak menghindarkan diri supaya jangan sampai bertemu muka dengan Hok Siu In!" berkata Bo Bu Ju sambil tersenyum.

"Hok Siu In hanya seorang gadis yang masih kecil, apa sebabnya seorang yang namanya sudah sangat terkenal seperti May Ceng Ong Locianpwe, harus menghindarkan dan tidak mau bertemu muka dengannya ?" bertanya Hee Tian Siang terheran heran.

Pada saat itu, wajah Bo Bu Ju menunjukkan sikap seolah- olah sedang mengenangkan kembali kejadian dimasa yang lampau, ia menjawab lambat-lambat: "Sebab musababnya kejadian ini, merupakan suatu rahasia dalam rimba persilatan ! Tetapi sekarang belum tiba waktunya untuk diungkapkan, harap laotee memaafkan yang aku tidak dapat memberitahukan kepadamu !" Mendengar orang aneh itu berkata demikian, sudah tentu Hee Thian Siang tidak berani bertanya lebih jauh. Sementara itu Bo Bu Ju kembali menenggak araknya, dan setelah itu ia berkata pula sambil tersenyum: "Malam terang bulan dan angin sejuk, sehingga membuat badan panas hilang semua. Tak kusangka di puncak gunung Keng-bun-san ini bukan saja sangat indah pemandangan alamnya, tetapi juga merupakan suatu tempat yang cocok untuk tempat tetirah! Laotee, kau tadi pernah berkata bahwa kau mencari aku karena hendak menanyakan sesuatu urusan. Urusan apa yang kau ingin tanya ? Tidak halangan kau jelaskan apa yang aku tahu, aku tentu akan memberitahukan kepadamu. Marilah kita duduk di bawah langit yang biru ini, beromong-omong satu malam suntuk.

Hee Thian Siang yang secara kebetulan telah berhasil menjumpai pendekar pemabukan uang tidak menentu tempat kediamannya, sudah tentu hendak menggunakan kesempatan itu untuk mengutarakan semua isi hatinya, tetapi sungguh aneh setelah berhadapan dengan orang yang dicari tenggorokannya seolah-olah terkancing, kata-kata yang sedianya hendak dikeluarkan, agaknya merasa berat diceritakannya.

Bo Bu Ju yang menyaksikan keadaan demikian lalu bertanya sambil tersenyum:

"Laotee, kau seorang gagah yang sangat berani, bagaimana sikapmu menjadi demikian rupa? Kau seolah-olah menyimpan rahasia yang sulit di keluarkan. Pertanyaan yang hendak kau ajukan kepadaku itu mengenai persoalan orang ataukah persoalan yang menyangkut sesuatu perkara ?"

Didalam keadaan demikian, Hee Thian siang terpaksa godek-godekkan kepala dan menjawab: "Aku hendak menanyakan seseorang!"

"Didalam dunia yang luas ini, untuk menanyakan seseorang, sesungguhnya memang sulit, orang yang ingin kau tanyakan itu, lelaki ataukah perempuan ? Apakah ada tanda- tanda keistimewaannya ? Kapan dan ditempat mana serta didalam keadaan bagaimana kau pernah berjumpa dengannya? Dan sekarang ada urusan apa kau mencari dia ?"

Diserbu dengan pertanyaan yang bertubi tubi itu, Hee Thian siang merasa kelabakan. Terpaksa ia menceritakan semua pengalaman dan apa yang dilihatnya ketika berada di gunung Kiu-gi-san, tetapi terhadap pertanyaan terakhir, ia sengaja tidak mau menjawab.

Bo Bu Ju setelah mendengarkan penuturan itu kembali menghirup araknya, lalu duduk di atas batu sambil menyandar di pohon cemara untuk berpikir.

Hee Thian Siang tidak mau mengganggu, ia berjalan ke tepi selat, matanya ditujukan ke air sungai Tiang-kang yang mengalir deras. Tetapi pikirannya tetap merasa tegang.

Setelah hening cukup lama, Bo Bu Ju bangkit dari tempat duduknya dan berkata kepada Hee Thian Siang:

Hee Laotee, pertanyaanmu ini mungkin akan menyulitkan diriku !"

Hee Thian siang yang mendengarkan perkataan itu, dalam hati merasa kecewa ! Tetapi pendekar pemabukan itu kembali menghibur kepadanya dan berkata sambil tertawa.

"Laotee, kau jangan kesal dulu, Minumlah secawan arak lagi, marilah kita pelajari bersama sama !"

Dalam keadaan terpaksa, Hee Thian siang menurut saja, tetapi Bo Bu Ju melarang ia minum terlalu banyak, ia minta kembali buli-buli araknya, suruh Hee Thian Siang duduk disampingnya, kemudian ia berkata sambil tersenyum: "Apa yang kukatakan tadi, bukan berarti bahwa aku sudah tidak dapat memikirkan diri nona itu, sebaliknya, malah ada tiga nona dalam dugaanku! Hanya diantara tiga orang gadis itu rasanya tiada satupun yang mirip benar-benar dengan gadis yang pernah kau lihat di gunung Kui-gi-san itu!"

Hee Thian Siang yang sudah agak putus asa kembali timbul sedikit harapannya, maka buru buru bertanya:

"Bo Locianpwee, coba kau terangkan siapa-siapa kiranya tiga orang gadis yang kau duga itu ? Marilah kita pelajari bersama sama, mungkin bisa menemukan jawabannya !"

Pendekar pemabukan nampak berpikir agak lama, kemudian berkata:

"Gadis yang berusia masih muda, mengenakan mantel warna hitam, dengan menggunakan pedang, dalam waktu sekejap mata, seorang diri telah berhasil membinasakan empat setan golongan Kie-lian. Gadis tangkas itu, dalam dugaanku adalah: Ke satu, adalah Hok Siu In yang tadi kau sudah lihat, salah seorang dari empat jago wanita golongan Ngo-bie yang termuda !" Hee Thian Siang menggelengkan kepala dan berkata: "Waktu itu, meskipun aku belum melihat tegas wajah nona itu, tetapi agaknya tidak mirip dengan Hok Siu In." 

"Dengan seorang diri dapat membinasakan empat setan golongan Kie-lian,, ini memerlukan keberanian dan kepandaian ilmu silat yang luar biasa, maka kecuali Hok Siu In, dalam dunia ini hanya tinggal dua orang gadis muda yang memiliki kepandaian setinggi itu ! Tetapi tidak tahu apakah mereka itu menggunakan pedang dan suka mengenakan mantel berwarna hitam ?"

"Harap Locianpwee sebutkan dulu namanya dua nona itu, supaya kita dapat mempelajari lebih dahulu !" "Dua nona ini semua bukan orang-orang sembarangan, mereka lebih sukar dihadapi daripada Hok Siu In, yang satu adalah murid ketua partai Kun-lun-pay The Hui Cu, yang bernama Liok Giok-jie, dan yang lain adalah puteri tunggal Thian-gwa Ceng-mo yang bernama Tiong-sun Hui-kheng!"

Bagi Hee Thian siang, nama-nama ketua Kun-lun-pay dan Thian-gwa Ceng-mo Tiong Sun Seng. sedikitpun tidak merasa heran atau jeri, maka ia lalu bertanya kepada Bo Bu Ju sambil tersenyum:

"Bo Locianpwee, urusan ini seharusnya mudah sekali, diantara tiga nona itu, siapakah uang memelihara kuda Ceng- cong-ma yang biasa digunakan berjalan jauh ?"

"Di sinilah letak kesulitannya, karena baik Hok Siu In, Liok Giok-jie maupun Tiong-sun Hui-kheng, di waktu biasanya tiada satu yang suka menunggang kuda! Sedangkan kuda pilihan sebangsa Ceng-Cong-ma itu di dalam rimba persilatan ada dua ekor !"

Hee Thian Siang tahu bahwa urusan ini makin berbelit-belit, terpaksa ia mendengarkan terus penuturan Bo Bu Yu.

Sementara itu Bo Bu Yu sudah berkata lagi:

"Dua ekor kuda pilihan itu, seekor di antaranya adalah milik ketua golongan Kie-lian-pay. Khie Tay Cao, kuda itu dinamakan Cian-li Kiau-hwa-cang! Sedang seekor lagi adalah milik tabib kenamaan dalam rimba persilatan dewasa ini, ialah tabib Say Han Kong yang mengasingkan diri di gunung Siong- san, yaitu dinamakan Ceng-hong-ki!"

Mendengar penuturan itu, Hee Thian Siang bahkan semakin bingung. "Menurut pikiranku, sebaiknya laotee mengecek kudanya dulu, kemudian baru mencari orangnya. Jikalau kau dapat mencari keterangan antara Khie Tay Cao dan Say Han Kong, siapa yang pernah meminjamkan kudanya kepada seorang nona muda, melakukan perjalanan ke propinsi Ouw-lam, bukankah akan segera kau ketahui nama dan asal-usul nona itu?" Berkata Bo Bu Yu sambil tersenyum.

Hee Thian Siang dapat menyetujui usulan Bo Bu Yu itu, justru ia sendiri sedang membantu tugas guta bunga mawar, pada nanti tanggal sembilan bulan sembilan, akan pergi ke gunung Siong-san, berkunjung ke rumah Say Han Kong maka ia dapat menggunakan kesempatan itu untuk mencari keterangan sekalian! Tetapi menurut keterangan Hwa Ji Swat, It-pun Sin-ceng sudah meninggalkan kediamannya di pulau Kura-kura, sedang melakukan perjalanan ke seluruh negeri, hal ini merupakan suatu kesulitan lagi baginya, karena dengan cara bagaimana ia baru dapat menemukan paderi itu? Jikalau ia tidak dapat menemukannya, sudah tentu ia tidak dapat minta getah pohon Leng-cie yang berumur ribuan tahun, dan jikalau tidak mendapatkan barang mukjijat itu, bagaimana harus mempertanggung-jawabkan kepada duta bunga mawar

?

Bo Bu Yu yang melihat sikap Hee Thian Siang yang mendengar ucapannya, lalu menundukkan kepala dan berpikir keras, segera bertanya padanya sambil tersenyum:

"Laote pikir bagaimana ? Apakah kau kira usulku ini bisa dipakai ?"

"Buah pikiran locianpwe bagaimana bisa salah? Aku sebetulnya sedang memikirkan seorang aneh lain dari rimba persilatan, karena orang itu tidak menentu jejaknya, hingga susah sekali ditemukannya !" "Laotee, kau barangkali sedang membawa tugas hendak mencari orang. Tidak sangka begitu banyak orang yang hendak kau cari ! Siapakah orang yang kau anggap aneh dari rimba persilatan itu ? Mungkin aku masih dapat mengetahui sedikit yang dapat kuberitahukan padamu !"

Wajah Hee Thian Siang kemerah-merahan, tetapi ia menjawab juga:

"Orang yang kucari itu adalah It-pun Sin-ceng yang biasanya berdiam di pulau Kura di lautan timur, tetapi khabarnya ia sudah melakukan perjalanan.  "

Bo Bu Yu tidak menunggu Hee Thian Siang berkata habis, lantas tertawa terbahak-bahak dan berkata:

"Laote, nasibmu benar-benar sangat bagus dan pertanyaanmu ini boleh dikata "tepat" kalau kau tanyakan padaku. Mengenai jejak It-pun Sin-ceng itu barangkali selain aku tidak ada orang lain lagi yang tahu!"

Hee Thian Siang sangat girang, selagi hendak minta keterangan lebih jauh, Bo Bu Yu sudah berkata lagi sambil tertawa:

"Laote, tahukah kau bahwa dalam partai besar rimba persilatan pada dewasa ini, kecuali Ngo-bi dan Kie-lian, yang lantaran urusan Wie Kee Kie, sehingga timbul dendam sakit hati, di samping itu adalah partai Tiam-cong dan Lo-hu yang permusuhannya sangat dalam ?"

"Aku bukan saja mengetahui bahwa partai Tiam-cong dan Lo-hu setiap tujuh tahun sekali pasti mengadakan pertempuran mati-matian. Bahkan mengetahui pula bahwa ketua Tiam-cong-pay sendiri ialah Thiat Kwan Totiang bersama ketua Kie-lian Khie Tay Cao, telah mengundang ketua golongan partai Lo-hu-pay Peng-sim Sin-nie, pada musim panas tahun depan, mengadakan pertempuran di lembah kematian di gunung Ciong-lam-san !"

Pendekar pemabokan oleh karena tidak tahu bahwa Hee Thian Siang ketika berada di gunung Bin-san secara kebetulan telah berjumpa dengan Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie dan Tho-hwa Nio-cu, maka ketika mendengar penuturan demikian jelas dari pemuda itu, agaknya merasa heran, ia lalu berkata lambat-lambat:

Kata-katamu itu sedikit pun tidak salah, tetapi jago pedang ke satu golongan Tiam-cong, juga yang menjadi pemimpin golongan itu ialah Thiat-kwan Totiang, dalam surat undangannya kepada Peng-sim Sin-nie untuk mengadakan pertandingan di lembah kematian di gunung Ciong-lam-san itu, diberikan sebuah undangan rahasia, maksudnya ialah pertempuran kedua partai itu yang dilakukan setiap tujuh tahun sekali, mengakibatkan pertumpahan darah di antara murid-murid di kedua golongan tersebut, sudah tentu hal itu akan merugikan kedua partai itu sendiri, maka sebaiknya pertempuran itu dilakukan satu dengan satu antara ketua kedua partai itu. Sebelum, orang-orang di kedua pihak datang, supaya datang lebih dahulu di lembah kematian gunung Ciong-lam-san, dalam kedatangannya itu, siapa pun tidak boleh membawa peserta sebagai bantuan tenaga. Kedua pihak hanya diperbolehkan menggunakan kepandaian masing-masing, untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, dengan demikian mungkin dapat menghindarkan pertumpahan darah besar-besaran bagi kedua pihak !"

"Usul Thiat-kwan Totiang itu maksudnya baik. Apakah Peng-sim Sin-nie dapat menerima usul itu ?"

"Peng-sim Sin-nie seorang beradat tinggi dan keras kepala, setelah membaca undangan yang bersifat rahasia itu segera dapat menyetujuinya ! Tetapi dengan demikian, ketua Lo-hu dan Tiam-cong, setelah bersama-sama masuk ke dalam lembah kematian, paling-paling hanya tinggal satu yang bisa keluar dalam keadaan hidup, bahkan kedua-duanya mungkin akan terkubur dalam lembah itu !"

Hee Thian Siang mengerutkan alisnya, lama tidak membuka suara.

Pendekar pemabokan kembali minum araknya, kemudian melanjutkan kata-katanya:

"Akan tetapi usul Thiat-kwan Totiang itu entah dengan cara bagaimana telah bocor ! Sehingga dapat diketahui oleh sahabat karib Peng-sim Sin-nie, ialah It-pun Sin-ceng ! It-pun Sin-ceng lalu buru-buru meninggalkan kediamannya di lautan timur, sambil melakukan perjalanan ke seluruh negeri, ia akan menuju ke gunung Ciong-lam dan bersedia akan menggunakan kekuatan dan cinta kasih golongan Buddha, untuk menghindarkan dua ketua itu dari ancaman bahaya maut !"

"Bo locianpwe, Thiat-kwan Totiang dan Peng-sim Sin-nie entah kapan hendak mengadakan pertemuan di lembah kematian ?"

"Mereka telah menetapkan tanggalnya, nanti tanggal lima bulan delapan. Sekarang kira-kira masih ada waktu dua bulan setengah lagi...." Berkata sampai di situ ia berhenti sejenak dengan pandangan mata yang penuh perhatian ia menatap Hee Thian Siang, kemudian dengan sikap sungguh-sungguh ia berkata pula:

"Meskipun aku sudah memberitahukan padamu tentang rahasia sangat besar ini, tetapi kau sekali-sekali jangan berlaku gegabah ! Paling-paling kau boleh mondar-mandir saja di mulut lembah untuk menantikan kedatangan It-pun Sin- ceng, jangan sekali-sekali kau lantaran tertarik oleh keinginanmu hendaknya menyaksikan pertandingan itu, sehingga dengan semberono kau memasuki lembah kematian itu ! Kau harus tahu, bahwa pertempuran yang bersifat rahasia ini paling pantang dilihat orang, apalagi orang-orang yang tersangkut dalam urusan ini adalah orang-orang kenamaan dan pemimpin dari kedua partai besar. Apabila mereka marah, dalam waktu sekejap mata. "

"Maksud locianpwe, apakah Thiat-kwan Totiang atau Peng- sim Sin-nie, dalam waktu sekejap dapat membinasakan aku ?"

Pendekar pemabokan tahu bahwa ucapannya telah menyinggung perasaan pemuda itu, maka buru-buru berkata lagi sambil tersenyum:

"Laote, kau jangan salah paham ! Dengan dirimu yang memiliki kepandaian dari golongan Pak-bin, lagi pula dengan membawa bekal senjata Kian-thian Pek-lek, sekali pun Thiat- koan Totiang atau Peng-sim Sin-nie, walaupun ketua-ketua dari dua golongan besar, juga pasti akan pandang lain terhadapmu! Maksudku tadi ialah aku khawatir pertandingan mereka yang sudah diketahui orang luar, dalam keadaan malu dan marah, dengan mudah menimbulkan keonaran dan malapetaka lebih hebat hingga semakin sulit diselesaikan !"

Hee Thian Siang bangkit memberi hormat kepada Bo Bu Yu seraya berkata sambil tertawa:

"Locianpwe tidak usah khawatir, Hee Thian Siang juga tidak berani berlaku begitu kurang ajar terhadap dua ketua golongan rimba persilatan itu! Rasanya sudah cukup kita mengobrol, lagi pula juga sudah hampir terang tanah dan sekarang Bo cianpwe hendak pergi kemana lagi? Satu tahun kemudian kita masih perlu bersama-sama pergi ke gunung Ngo-bie, apakah kita perlu berjanji lebih dahulu, di mana kita nanti saling bertemu ?" "Jejakku selamanya tidak menentu, sebetulnya aku dapat mengawani kau, tetapi oleh karena urusanku sendiri masih belum selesai maka terpaksa untuk sementara kita berpisahan dahulu. Mengenai perjalanan kita ke gunung Ngo-bie, sebaiknya kita tetapkan pada tahun depan, hari dan tanggal seperti ini. Laote, kau boleh datang ke jurang di bawah gunung Ngo-bie-san! Laote, aku lihat di wajahmu ada tanda suram, meskipun kau memiliki kepandaian sangat tinggi dan keberanian luar biasa, tetapi karena keberanianmu yang terlalu menonjol maka di kemudian hari meskipun besar rezekimu namun ada kemungkinan juga akan ada banyak bahaya yang selalu mau mendampingimu. Aku sebetulnya mengerti sedikit tentang ilmu melihat wajah orang, pesanku sebelum aku meninggalkan kau, harap kau jangan kecil hati !"

Hee Thian Siang menjura dalam-dalam, menyatakan terima kasihnya, Bo Bu Yu tersenyum menyambut pemberian hormat itu, kemudian menggerakkan kakinya dan menghilang di balik pohon cemara.

Hee Thian Siang mengawasi berlalunya Bo Bu Yu, dengan seorang diri yang masih berdiri di tempatnya, mengawasi air di sungai Tiang-kang yang berombak tinggi, apalagi ketika matahari muncul di ufuk timur, pemandangan itu memberikan gambaran yang sangat indah sekali.

Ia diam-diam juga merasa geli sendiri, pembicaraannya dengan Bo Bu Yu semalam suntuk hanya mendengarkan cerita tentang rahasia rimba persilatan, sebaliknya sudah melupakan urusannya sendiri yang ingin menanyakan padanya, apakah gunanya kipas May-ceng-ong dan lambang bunga dari duta bunga mawar ?

Dari situ ia hendak melakukan perjalanannya ke gunung Ciong-lam, barulah menuju ke utara dan ke barat, dalam perjalanan itu ia harus melewati gunung Bu-tong-san, perjalanan itu bukanlah merupakan suatu perjalanan yang dekat.

Oleh karena waktunya masih cukup, waktu melewati gunung Bu-tong-san, dari jauh menampak bayangan gunung Thian-cu-hong timbullah keinginannya hendak menyambangi orang-orang penting dari golongan Bu-tong.

Partai Bu-tong merupakan partai golongan orang baik-baik di antara delapan partai besar rimba persilatan. Baik ilmu pedangnya maupun ilmu kekuatan tenaga dalamnya, semua mempunyai sifat keasliannya tersendiri. Pada waktu belakang- belakangan ini agaknya mulai sepi, jarang sekali mengadakan hubungan dengan partai-partai lainnya, juga tiada keinginan dari pihak mereka untuk berebut nama dan kedudukan, hanya tekun memperdalam ilmunya.

Hee Thian Siang yang sudah timbul pikiran itu, lalu menunjukkan kakinya mendaki gunung Thian-cu-hong. Tetapi baru saja ia melewati jalan tikungan di atas gunung, telinganya sudah mendengar suara memuji nama Buddha, suara yang keluar dari dalam rimba di tepi jalan, kemudian dari dalam rimba itu muncul dua orang imam berjubah hijau.

Hee Thian Siang tahu, bahwa suara memuji Buddha tadi ditujukan kepada dirinya, tetapi ia masih tetap melanjutkan perjalanannya sambil menggoyang-goyangkan kipas di tangannya, agaknya tidak menghiraukan suara tadi itu.

Satu di antara dua imam itu, yang usianya lebih muda, lalu maju menyongsong dan berkata:

"Harap Anda berhenti dahulu !"

Melihat imam itu menghalangi dirinya, Hee Thian Siang lalu menutup kipasnya dan bertanya dengan nada suara dingin: "Totiang, mengapa kau merintangi perjalananku ?"

"Oleh karena dalam partai kami sedang terjadi sesuatu peristiwa, pinto telah mendapat perintah ketua, bahwa kuil Sam-gwan-koan, dalam waktu seratus hari ini, tidak menerima kunjungan tamu !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu diam-diam merasa terkejut. Belakangan ini memang banyak kejadian- kejadian yang menimpa rimba persilatan. Peristiwa itu terjadi pada golongan Bu-tong-pay ini, agaknya juga bukan peristiwa kecil, jikalau tidak, mengapa ketuanya sampai perlu mengeluarkan perintah untuk menutup kuil Sam-gwan-koan ? Meskipun hatinya merasa heran, tetapi ia masih berkata dengan nada suara dingin:

"Ada terjadi peristiwa di golongan Bu-tong, paling-paling tokh tidak mengijinkan orang memasuki kuil Sam-gwan-koan. Apakah puncak gunung Thian-cu-hong juga termasuk daerah terlarang ?"

Imam yang menghadang di depan Hee Thian Siang tadi ketika melihat sikap dan jawaban anak muda itu kelewat sombong, wajahnya juga menunjukkan perobahan.

Tetapi seorang kawannya yang usianya lebih tua, yang waktu itu juga sudah berjalan menghampirinya, matanya ditujukan kepada kipas di tangan Hee Thian Siang, cepat ia unjukkan sikap terkejutnya kemudian ia memberi isyarat dengan pandangan mata kepada kawannya, lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum:

"Di hadapan orang yang mengerti, tidak perlu menyimpan rahasia. Golongan Bu-tong-pay kami oleh karena dengan beruntun kehilangan nyawa tiga orang dari anggota yang terpenting, maka oleh ketua kami telah dikeluarkan perintah untuk mengumpulkan semua anak muridnya dan anggotanya yang terkuat, berkumpul di kuil Sam-gwan-koan untuk bersama-sama merundingkan persoalan itu. Selama perundingan itu berlangsung, kuil Sam-gwan-koan akan ditutup selama seratus hari, dalam waktu seratus hari itu, semua anggota golongan kami diharuskan melatih ilmu dan mempersiapkan diri hendak mengumpulkan bukti-bukti, untuk mencari dan membuat perhitungan kepada orang yang melakukan kejahatan itu. Oleh karena pinto lihat Siao sicu ada memegang kipas milik May-ceng-ong Locianpwe, sudah pasti bukan orang sembarangan dalam rimba persilatan, pada waktu biasanya memang benar akan menjamu tetamu terhormat bagi Sam-gwan-koan, tetapi sekarang oleh karena terjadi peristiwa yang luar biasa ini, maka pinto minta agar Siao sicu suka memberi maaf dan sebaiknya jangan melanjutkan perjalananmu ini !"

Melihat imam itu memberitahukan dengan terus terang dan sikapnya yang menghormati sikap Hee Thian Siang lalu berubah menjadi lunak, ia berkata sambil tertawa:

"Kalau benar ada terjadi peristiwa dalam partai Bu-tong, Hee Thian Siang juga tidak akan mempersulit orang lain. Biarlah di lain waktu saja apabila ada jodoh, aku akan datang berkunjung lagi! Tetapi, tentang tiga orang penting dari golongan Bu-tong itu semuanya tokh merupakan orang-orang dari golongan kelas satu pada dewasa ini, dengan cara bagaimana beruntun dan begitu mendadak bisa kehilangan tiga di antaranya? Bahkan dari keterangan Totiang tadi aku dapat menduga bahwa orang yang melakukan perbuatan itu masih belum diketahui oleh ketua Bu-tong-pay sendiri. "

Berkata sampai di situ, tiba-tiba ia teringat olehnya yang didengar di gunung Bu-san, tetapi oleh karena kesannya terhadap Hwa Ji Swat tidak buruk, maka ia tidak mau menerangkan, hanya berlagak tidak tahu dan bertanya pula: "Di antara tiga orang penting yang tewas itu, apakah di dalamnya terdapat Lie-tim Cu ?"

"Lie-tim susiok itu, terjunkan diri sendiri ke selat gunung Bu- san pada tahun lalu bulan lima, Bu-tong-pay tidak akan menuntut dendam terhadap Hwa Ji Swat, hanya ditangguhkan pada lain waktu untuk diperhitungkan kepada gurunya Hwa Ji Swat, Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun Seng. Sementara itu, mengenai Tek-tin, Ngo-tim dan Hu-tim ketiga susiok, semuanya telah terbokong orang dengan semacam senjata duri berbisa yang berwarna ungu hitam, berbentuk ujung tiga, karena dalam keadaan tigak berjaga-jaga, ketiga susiok itu setelah mengalami penderitaan kejang kaku sekujur badannya, lalu meninggal secara mengenaskan !"

Hee Thian Siang diam-diam berpikir: "Sayang Bo Bu Yu tidak di sini, jikalau tidak dengan pengetahuannya yang luas, mungkin ia dapat tahu bahwa duri berbisa warna ungu hitam berujung tiga itu, senjata rahasia tunggal dari golongan mana

?"

Baru saja berpikir demikian, di atas puncak gunung Thian- cu-hong tiba-tiba terdengar beberapa kali suara benturan batu giok.

Imam yang usianya lebih tua itu, ketika mendengar suara itu lalu menganggukkan kepala kepada Hee Thian Siang dan berkata padanya sambil tertawa:

"Pinto It-hwan, telah mendapat panggilan dari Sam-gwan- koan. Maaf pinto tidak dapat mengawani siao sicu lebih lama. Semoga siao sicu yang berkelana di kalangan Kang-ouw, diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Esa !"

Hee Thian Siang merasa suka terhadap It-hwan Tojin yang ramah dan sopan santun, maka ia juga menjura dan berkata sambil tertawa: "Keterangan Totiang tadi mengenai diri Pek-tim, Ngo-tim dan Hu-tim tiga orang penting golongan Bu-tong yang binasa dibokong oleh orang, Hee Thian Siang nanti jikalau mendengar kabar, pasti akan memberitahukan kepada ketuamu di Sam-gwan-koan !"

Setelah itu, mereka lalu berpisahan.

Dengan demikian, sudah tentu Hee Thian Siang merasa tidak enak melanjutkan perjalanannya ke puncak, maka ia terpaksa turun lagi dan melanjutkan perjalanannya yang menuju ke gunung Ciong-lam-san. Tetapi dalam hati masih diliputi berbagai pertanyaan, golongan Bu-tong yang merupakan golongan orang-orang yang beribadat dan yang selama iuni tidak memikirkan untuk mencari nama dan mendapat kedudukan, entah apa sebabnya ada orang yang melakukan perbuatan keji terhadap orang-orang penting golongannya ? Apakah orang yang melakukan kejahatan itu mengandung maksud, dan sengaja hendak menimbulkan kekeruhan di dalam rimba persilatan ?

Karena dalam otaknya diliputi berbagai pertanyaan demikian, maka sepanjang perjalanannya itu Hee Thian Siang sengaja memperhatikan segala sesuatu yang menarik perhatiannya, tetapi cuma-cuma saja usahanya itu, karena sepanjang jalan itu tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan dirinya, bahkan tanpa dirasa sang waktu berlalu laksana terbang, tahu-tahu sudah tiba tanggal tiga bulan delapan, dan kini jejaknya sudah memasuki daerah pegunungan Ciong-lam.

Dalam hati Hee Thian Siang berpikir, karena lembah itu dinamakan lembah kematian, letaknya pasti di daerah pedalaman. Maka ia sengaja menjelajahi bagian-bagian yang sangat seram dan berbahaya, tetapi dua hari lamanya ia mencari, ketika pada tanggal lima tengah hari, ia masih belum menemukan tempat yang dicari. Dalam hati cemas itu ia khawatir akan menggagalkan usahanya sendiri yang hendak menjumpai It-pun Sin-ceng, serta hendak menyaksikan pertandingan antara Thiat-kwan Totiang dengan Peng-sim Sin-nie, maka ia diam-diam menyesali dirinya sendiri, mengapa sebelumnya tidak tanya lebih dahulu jalan yang menuju ke lembah itu kepada Bo Bu Yu.

Keadaan yang dihadapinya pada waktu itu adalah: sebelah timur, selatan dan utara, semua merupakan tebing-tebing tinggi yang menjulang ke langit, sedangkan sebelah barat adalah air terjun yang sangat tinggi. Hee Thian Siang yang menjelajahi gunung beberapa hari lamanya, pikirannya mulai risau, maka ia hendak beristirahat di tepi danau, supaya pikirannya tenang kembali.

Di luar dugaannya, begitu tiba di tepi danau, tiba-tiba menemukan kejadian aneh. Di belakang air terjun itu ternyata ada sebuah goa sangat gelap, sedang luar samping mulut goa itu masing-masing terdapat sebuah lukisan.

Lukisan di sebelah kiri adalah setangkai bunga dan yang- liu, sedangkan sebelah kanan adalah lukisan dua buah tangan orang.

Lukisan-lukisan itu bukan dilukis dengan menggunakan senjata tajam, melainkan dilukis dengan menggunakan jari tangan. Hee Thian Siang telah menyaksikan kejadian itu, dalam hati lalu berpikir: Apakah ini tanda-tanda yang dibuat oleh Thiat-kwan Totiang dan Peng-sim Sin-nie? Apakah lembah kematian itu ada di balik lubang goa yang gelap dan dalam ini ?

Tidak perduli benar atau tidak, apa salahnya kalau memasuki ke dalamnya untuk memeriksa sebentar ?

Oleh karena timbulnya pikiran itu, dan karena khawatir pula di dalam goa yang gelap dan dalam itu ada tersembunyi binatang-bintang berbisa atau binatang buas, maka lebih dulu ia memusatkan kekuatan tenaga dalamnya kepada kedua tangannya. Dengan tangan kiri melindungi dadanya, tangan kanan membuka jalan, ia perlahan-lahan berjalan menuju ke mulut goa.

Tetapi baru saja ia bergerak, telinganya dapat menangkap suara orang memuji Buddha, sangat perlahan, Hee Thian Siang terkejut dan membalikkan badannya, sebab di sekitar danau itu tadi jelas tidak terdapat orang lain, apalagi dengan daya pendengarannya yang sangat luar biasa, yang sudah dapat membedakan benda jatuh di tempat sepuluh tombak jauhnya, bagaimana tadi ia tidak mengetahui, sedang sekarang dengan mendadak timbul suara orang yang memuji nama Buddha itu ?

Di atas sebuah batu besar kira-kira satu tombak terpisah dengan danau, tampak berduduk seorang paderi berjubah abu-abu, tetapi usia paderi itu paling banter baru kira-kira dua puluh lima atau dua puluh enam, wajahnya putih bersih dan tampan, tangan kanannya membawa sebuah benda seperti pot yang terbuat dari batu giok warna ungu.

Dengan adanya pot batu giok sebagai lambang, tanpa ditanya sudah dapat diketahui bahwa paderi itu pasti adalah It- pun Sin-ceng yang berdiam di pulau Kura lautan Timur !!

Hee Thian Siang telah menyaksikan orang aneh luar biasa dari golongan Buddha itu yang usianya ternyata masih muda dan berwajah tampan, barulah menyadari dan pantas saja Bu- san Sian-cu Hwa Ji Swat bisa begitu tergila-gila terhadapnya.

Pertemuan yang tidak terduga-duga itu seharusnya ia mengeluarkan lambang bunga mawar, dipertunjukkan kepada It-pun Sin-ceng guna minta obat mukjijat getah pohon lengci yang umurnya sudah ribuan tahun, di samping itu ia juga perlu menyampaikan pesan Hwa Ji Swat, supaya ia datang ke puncak gunung Tiaw-in-hong untuk menepati janji. Tetapi Hee Thian Siang setelah menatap paderi itu sejenak, dengan tiba- tiba merubah maksudnya semula, ia berlaku pura-pura tidak kenal dengan paderi muda itu, lalu menjura dan memberi hormat kepadanya:

"Aku yang rendah, Hee Thian Siang, bagaimanakah sebutan Taysu? Kau tadi menyebut nama Buddha, agaknya melarang aku memasuki goa ini, apakah di dalam goa itu ada tersembunyi ular berbisa atau binatang buas ?

It-pun Sin-ceng angkat sedikit pot batu giok di dalam tangannya, kemudian berkata sambil tersenyum:

"Pinto selamanya berdiam di lautan timur hanya dengan pot ini saja sebagai julukan!"

Hee Thian Siang yang mendengar jawaban itu lalu merubah sikapnya dan memberi hormat sedalam-dalamnya seraya berkata:

"Ouw, kiranya taysu ini adalah It-pun Sin-ceng yang namanya sangat terkenal di dalam rimba persilatan! Kalau begitu Hee Thian Siang sudah berlaku kurang sopan terhadap taysu..."

It-pun Sin-ceng menggoyangkan tangannya dan berkata sambil tertawa:

"Aku tidak ada sangkut pautnya dengan berbagai golongan dalam rimba persilatan, maka dalam hubungan dengan mereka selamanya kuperlakukan sama rata, tidak membeda- bedakan yang derajatnya tinggi atau rendah, yang tua atau yang muda! Kau tadi hendak masuk ke dalam goa, apakah kau tidak kenal dengan tanda yang terpampang di kedua sisi mulut goa itu?" Hee Thian Siang kembali mengamat-amati dua lukisan yang terpampang di kedua sisi mulut goa kemudian menggelengkan kepala.

It-pun Sin-ceng berkata pula:

"Setangkai daun pohon yang-liu itu adalah lambangnya ilmu pedang Hui-hong U-liu-kiam-hwat Thiat Kwan Totiang, kedua dari golongan Tiam-cong; sedangkan tangan manusia yang dirangkapkan itu, adalah lambang dan tanda ilmu tangan kosong Pan-siang-ciang-lek, Peng-sim Sin-nie, ketua golongan Lo-hu-pay."

Terkejut Hee Thian Siang mendengar keterangan itu, maka lalu berkata:

"Tanda-tanda dan lambang ketua-ketua partai Tiam-cong dan Lo-hu, semua sudah ada di mulut goa, kalau begitu lembah kematian letaknya di dalam goa ini ?"

Begitu mendengar pertanyaan tentang lembah kematian, alis It-pun Sin-ceng dikerutkan, matanya dengan mendadak memancarkan sinar tajam menatap wajah Hee Thian Siang, kemudian bertanya:

"Kau ini murid dari golongan mana? Bagaimana kau tahu ketua golongan Tiam-cong dan Lo-hu-pay, mengadakan pertemuan di dalam lembah kematian ini ?"

Hee Thian Siang tahu bahwa ia tadi sudah terlanjur lancang mulut, jikalau membohong lagi, sudah pasti akan menimbulkan kecurigaan paderi muda itu, maka ia lalu menjawab sambil tertawa:

"Suhuku adalah Pak-bin Sin-po, tetapi tentang pertemuan kedua ketua partai di lembah kematian itu, kudengar dari Bo Bu Yu Locianpwe, maka barulah aku datang kemari untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri."

It-pun Sin-ceng menggelengkan kepala dan berkata sambil menghela napas:

"Bo Bu Yu sifatnya memang suka banyak mulut, satu hari kelak ia pasti akan mendapat susah dengan sifatnya itu sendiri!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu diam-diam merasa geli, karena ucapan It-pun Sin-ceng itu sesungguhnya sangat jitu, sebab Bo Bu Yu baru saja mengalami kesukaran akibat dari sifatnya yang banyak mulut, sehingga hampir saja tidak dapat lolos dari barisan Susian Tu-hun-kiam-tin yang sengaja dibentuk oleh empat jago wanita golongan Ngo-bie.

It-pun Sin-ceng berkata pula:

"Suhumu Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui meskipun namanya sangat terkenal di seluruh jagat, dan pernah menggemparkan rimba persilatan, tetapi Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang yang kini berada di dalam lembah kematian ini, semuanya merupakan ketua-ketua dari suatu golongan besar, terutama pertempuran yang sifatnya rahasia semacam ini, paling pantang disaksikan oleh orang lain, mau keramaian yang membawa akibat bisa mencelakakan diri sendiri itu, sebaiknya jangan disaksikan saja !"

Hee Thian Siang perlahan-lahan berjalan menghampiri It- pun Sin-ceng, baru kinilah ia dapat melihatnya dengan tegas bahwa pot batu giok yang berwarna ungu itu di dalamnya ternyata ada tanahnya yang juga berwarna ungu, dan di atas tanah itu tumbuh sebuah tanaman warna ungu pula yang berdaun sembilan ! Dalam ke heran-heranannya, ia bertanya sambil tersenyum:

"Taysu suruh aku sebaiknya jangan menyaksikan keramaian itu, sedangkan kau sendiri jauh-jauh datang dari lautan timur, apakah perlunya ?"

"Aku hanya ingin menggunakan kepandaianku yang ada untuk mencegah terjadinya malapetaka yang mengancam diri Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang !"

"Taysu dengan cinta kasih yang begitu besar kau hendak mencegah kedua pihakj yang bersangkutan terhindari dari bahaya maut, apakah Taysu tidak keberatan kalau Hee Thian Siang juga turun mengeluarkan sedikit tenaga yang ada untuk berbagi pahalamu ini ?"

It-pun Sin-ceng kembali terbungkam oleh pertanyaan itu, tapi akhirnya berkata juga sambil menganggukkan kepala dan tertawa:

"Hee Siao-sicu, kau sesungguhnya seorang gagah yang sangat berani dan pandai bicara, sesungguhnya merupakan jago muda yang jarang terdapat di dalam rimba persilatan ! Baik, baik, baik, pinceng bersedia membantu untuk mencapai cita-citamu yang baik ini !"

"Kedatangan taysu barangkali terlalu pagi Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang berdua entah sejak kapan memasuki goa ?" Bertanya Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Tadi pagi-pagi sekali, dua ketua dari dua partai besar itu, setelah masing-masing melukiskan lambang tandanya ke atas batu di mulut goa itu, lalu bersama-sama memasuki lembah kematian !" Mendengar jawaban itu Hee Thian Siang terkejut, maka lalu bertanya:

Pagi-pagi sekali sudah masuk ke dalam lembah, hingga sekarang sudah cukup lama, kalau taysu memang hendak mencegah terjadinya pertempuran antara kedua ketua itu, bagaimana hingga sekarang masih belum bersedia masuk ke dalam lembah ?"

"Bagaimana kau pandang begitu tidak berharga dua ketua itu ? Mereka setelah masuk ke lembah kematian, pertandingan yang dilakukan dengan tangan kosong hingga menggunakan senjata tajam, dan dari senjata tajam lalu beralih ke pertandingan kekuatan tenaga dalam, setidak- tidaknya akan makan waktu dua atau tiga hari lamanya, barulah kedua-duanya kehabisan tenaga dan melakukan pertempuran mati-matian yang terakhir!" Berkata It-pun Sin- ceng sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

"O, jadi taysu hendak menunggu sampai keduanya melakukan pertandingan yang terakhir, barulah hendak masuk ke dalam lembah ?"

It-pun Sin-ceng memandangnya sejenak, kemudian berkata sambil tersenyum:

"Orang-orang rimba persilatan seperti Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang yang menjadi ketua dari partai besar, sudah tentu sifatnya tinggi hati, sayang namanya daripada nyawanya, jikalau tidak menunggu sampai mereka kehabisan tenaga, siapakah yang bisa memasuki goa itu ? Sekalipun kita berhasil memasuki goa dengan diam-diam, asal terlihat oleh mereka, pasti akan ditertawakannya dan diejeknya sehingga kita mendapat malu besar, bahkan ada kemungkinan kita akan diusir keluar !" Setelah mendengar keterangan itu, Hee Thian Siang tahu bahwa apa yang telah dikatakan It-pun Sin-ceng, memang sebenarnya, maka ia hanya menghela napas karena merasa sayang.

It-pun Sin-ceng yang menyaksikan keadaan demikian, bertanya dengan heran:

"Siao-sicu, mengapa sikapmu menunjukkan perasaan sayang ?"

Thiat-kwan Totiang dalam rimba persilatan mendapat julukan jago pedang nomor satu dari golongan Tiam-cong-pay, di samping ilmu pedangnya yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus, kepandaian ilmu silat lainnya juga sudah menggemparkan dunia kang-ouw! Sedangkan Peng-sim Sin- nie, ilmu tangan kosongnya Pan-sian-ciang-lek dan senjata kebutannya Pin-swi-hut, merupakan kepandaian luar biasa dalam rimba persilatan, yang sudah lama sangat kukagumi! Pertandingan yang jarang tampak ini sebaliknya aku tidak mendapat kesempatan untuk menyaksikan, maka itu merasa sangat sayang !"

Mata It-pun Sin-ceng memandang Hee Thian Siang dari atas sampai ke bawah, tiba-tiba bertanya:

"Apakah suhumu pernah mengajari kau ilmu mengkeretkan badan ?"

Hee Thian Siang meskipun merasa pertanyaan itu agak mendadak, tetapi ia tahu ada mengandung maksud dalam, maka menjawab dengan muka kemerah-merahan.

"Suhu memang pernah mengajarkan, tetapi oleh karena aku diam-diam meninggalkan suhu turun gunung, hingga ilmuku belum mencapai ke taraf yang sempurna betul, barangkali hanya tujuh atau delapan bagian saja!" "Pelajaran ilmu batin keturunan Pak-bin Sin-po sudah tentu sangat jauh berlainan dengan golongan biasa, kalau sudah berhasil mempelajari ilmu mengerutkan tubuh sehingga delapan bagian, barangkali sudah cukup kau pakai !"

Berkata sampai di situ, It-pun Sin-ceng berdiam sejenak dan selagi Hee Thian Siang hendak menanyakan sebabnya, ia harus menggunakan ilmu mengerutkan badan, It-pun Sin-ceng sudah berkata pula sambil menunjuk goa yang gelap itu:

"Ucapanmu tadi benar, dengan tidak mudah kita menemukan pertandingan antara orang-orang seperti Peng- sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang yang kedua-duanya memiliki kepandaian ilmu silat sangat tinggi, jikalau kita tidak menyaksikan dengan mata sendiri, sesungguhnya sangat sayang dengan perjalanan kita ini !"

Hee Thian Siang dapat menyelami maksud ucapan It-pun Sin-ceng itu maka dengan sangat girang ia bertanya:

"Apakah taysu mengijinkan aku masuk ke dalam lembah untuk menyaksikan secara diam-diam?"

It-pun Sin-ceng menjawab sambil menganggukkan kepala: "Tetapi aku minta kau mesti mematuhi ucapanmu sendiri

itu, ialah menyaksikan secara diam-diam. Ketahuilah olehmu bahwa daya pendengaran orang-orang seperti dua ketua partai itu, sekalipun hanya sebutir pasir jatuh di tanah sudah cukup mengejutkan mereka, maka sekali-kali kau jangan mendekati tempat sejarak sepuluh tombak dari tempat pertempuran, jikalau tidak perbuatanmu ini bukan saja mencelakakan orang lain, tetapi juga bisa mencelakakan dirimu sendiri !" Hee Thian Siang menganggukkan kepala tanda menurut, baru saja hendak lompat melesat, It-pun Sin-ceng sudah berkata lagi:

"Setelah kau masuk ke dalam goa, kau harus melewati dinding batu yang terdiri empat lapis, barulah bisa sampai ke lembah kematian! Tetapi dinding lapis empat itu, sulit bagimu untuk melewati, juga tidak boleh kau lewati, kau hanya boleh berpisah dengan dinding batu itu, untuk menyaksikannya dengan menahan nafas."

Dalam benak Hee Thian Siang saat itu sudah terbayang bagaimana serunya pertempuran antara Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang itu, maka ketika mendengar perkataan itu, sambil menganggukkan kepala ia sudah lompat melesat, dua kali lompatan saja sudah masuk ke dalam goa yang gelap.

Setelah melewati lima tikungan, beradalah di dalam goa yang sedikit pun tidak ada sinarnya, hingga keadaan gelap gulita, di samping itu juga terdapat selapis dinding tembok yang merintangi perjalanannya.

Hee Thian Siang mengulur tangannya meraba-raba dinding itu; benar saja dinding itu terpisah kira-kira empat kaki tingginya dari sana, di situ terdapat lubang kecil kira-kira satu kaki, maka lalu ia menggunakan ilmunya mengkeretkan badannya, menyusup ke dalam lubang kecil itu. Lobang yang terdapat di lapisan kedua lebih kecil lagi, garis tengahnya hanya satu kaki. ketika tiba di lapis ketiga, lobang yang terdapat di dinding itu sekecil pot yang berada di tangan It-pun Sin-ceng. Hee Thian Siang mengerahkan seluruh kepandaian ilmunya, baru berhasil menyusup melalui lobang itu!!

Tempat ia sekarang berada, merupakan balik dinding ke empat yang gelap, juga merupakan alingan lembah kematian, maka tampak sedikit sinar, tetapi apa yang dinamakan sinar itu hanya sinar samar-samar yang keluar dari bagian atas dinding itu, jelas bahwa goa di atas turun menurun ke bawah, sehingga sinar yang menyinari atas goa memantul ke dalam tempatnya, tetapi karena terlalu suram maka keadaan dalam goa masih tidak dapat melihat dengan pandangan mata. Dua tangan Hee Thian Siang menempel di dinding, menggunakan ilmunya "cecak merambat tembok", perlahan-lahan merambat naik ke atas setinggi satu tombak lebih, benar saja di luar dinding terdapat tempat yang dinamakan lembah kematian itu, karena tempat itu agak rendah, dengan demikian hingga lubang itu benar menurun ke bawah.

Lembah kematian itu, memang tepat dengan namanya!! Hee Thian Siang meskipun terhalang oleh kecilnya lobang goa dan jurusannya sehingga tidak bisa banyak melihat keadaan dalam lembah, tetapi apa yang masuk ke dalam pandangan matanya, tampak dengan jelas olehnya tumpukan tulang- tulang putih, di tengah-tengah runtuhan tulang-tulang itu, terpisah kira-kira enam kaki jauhnya, duduk berhadapan seorang pendeta wanita berbaju putih dan berwajah cantik, dengan seorang imam yang wajahnya kurang jelas, hanya dari rambut dan jenggotnya yang putih semuanya, ditaksir usianya kira-kira sudah enam puluh tahun lebih!

Pendeta wanita dan Imam yang saling berhadapan itu, keduanya duduk bersila sambil memejamkan mata, tiada sepatah kata pun yang keluar dari mulut masing-masing, tetapi pakaian dan jubah kedua pihak, semuanya bergelombang, agaknya badan mereka sedang gemetaran.

Hee Thian Siang merasa sangat kecewa, dia pikir dua ketua itu keadaannya tidak mirip sedang mengadu kepandaian, mereka mirip sekali dengan orang-orang yang sedang menderita kesakitan hebat!

Di luar tahunya Hee Thian Siang, di dalam goa yang sangat gelap gulita itu, terpisah dengan dinding tembok berlapis empat, waktu ia sedang tujukan pandangan matanya ke dalam lembah kematian, ada sepasang mata yang sangat kejam buas dan licik mengawasi gerak-geriknya di tempat yang terpisah hanya beberapa kaki dengan dirinya.

Sayang, Hee Thian Siang yang tidak mengira bahwa di dalam goa itu masih ada orang lagi juga belum pernah memikirkan untuk berpaling memandang keadaan di belakangnya, maka ia sama sekali tidak tahu kalau ada sepasang mata yang mengintai dirinya, jikalau tidak, mungkin ia dapat melihat bahwa sepasang mata yang mengintai dirinya itu, tidak asing bagi dirinya, lalu dapat mempelajari maksud orang itu untuk mengetahui maksud yang sebenarnya. Kalau ia bertindak demikian, niscaya tindakannya itu dapat mencegah terjadinya banyak persoalan di kemudian hari, juga dapat mencegah pula kehancuran seluruh rimba persilatan!

Orang yang sembunyi di tempat gelap itu beberapa kali mengangkat tangannya, hendak membokong Hee Thian Siang, tetapi entah pertimbangan apa, akhirnya ia membatalkan maksudnya, sedangkan Hee Thian Siang saat itu sudah mendapat lihat bahwa Peng-sim Sin-nie dan Thiat- kwan Totiang benar seperti dalam keadaan terluka parah, maka ia telah mengambil keputusan hendak balik kembali untuk memberitahukan kepada It-pun Sin-ceng dan minta ia supaya mengambil tindakan seperlunya.

It-pun Sin-ceng sendiri juga tidak menduga bahwa di dalam lembah kematian itu bisa terjadi perobahan secara tiba-tiba demikian. Ketika menampak Hee Thian Siang yang belum lama masuk ke dalam goa, sudah melompat keluar kembali dengan sikap gugup dan bingung, maka lalu ditegurnya dengan perasaan heran:

"Siao sicu, bagaimana demikian cepat kau sudah kembali lagi? Apa kau tadi mengeluarkan suara, sehingga mengejutkan mereka berdua...?" Belum lagi habis ucapannya, Hee Thian Siang sudah menjawab:

"Taysu, lekas pergi lihat, aku sendiri tidak mengalami kesulitan apa-apa, namun aku khawatir dua ketua itu barangkali akan mengalami kesulitan besar!!"

Agak bingung It-pun Sin-ceng mendengar jawaban itu, maka ia masih bertanya dengan perasaan sangsi:

"Kau maksudkan Thiat-kwan Totiang yang mendapat kesulitan dari serangan tangan Pan-sian Ciang-lek Peng-sim Sin-nie, ataukah Peng-sim Sin-nie yang mendapat kesulitan menghadapi ilmu pedang Hui-hong-u-liu-kiam-hoat?"

Karena keadaan sudah mendesak, maka Hee Thian Siang tidak menjawab pertanyaan It-pun Sin-ceng, sebaliknya menarik tangan paderi itu dan diajak bersama-sama masuk ke dalam goa.

Dalam perjalanan itu ia menceritakan tentang apa yang dilihatnya di dalam lembah.

It-pun Sin-ceng yang mendengar laporan ini merasa setengah percaya setengah tidak, tetapi ketika dia tiba di dinding lapis ke empat, dari satu celah lobang mengintai ke dalam lembah kematian, baru tahu bahwa ucapan Hee Thian Siang sedikit pun tidak salah !

Dalam perjalanan itu, Hee Thian Siang baru menyadari bagaimana hebatnya kepandaian ilmu It-pun Sin-ceng, dengan tangan membawa pot batu giok, dengan mudah sekali ia dapat menyusup masuk melalui lobang-lobang goa yang sangat kecil itu.

Dalam keadaan demikian, ia sangat kagum sekali terhadap kepandaian paderi itu, saat itu tampak olehnya It-pun Sin-ceng sedang pusatkan perhatiannya kepada Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang yang duduk berhadapan di sekeliling tulang-tulang manusia, namun agaknya juga tidak berdaya, maka ia lalu berkata dengan suara perlahan:

"Mengapa Taysu tidak mau menggunakan ilmu "Singa Mengaung" dari golongan Buddha, atau "Naga Sakti Menyanyi", coba mungkin dapat menyadarkan dua ketua partai yang agaknya berada dalam keadaan pingsan itu ??"

It-pun Sin-ceng merasa bahwa usul Hee Thian Siang itu sesungguhnya boleh dicoba, maka ia lalu mengerahkan kekuatan tenaganya, lebih dulu ia menggunakan ilmu "Naga Menyanyi" yang sangat lembut, namun paling tepat untuk menggerakkan pikiranb orang, ia berkata sambil tertawa:

"Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang, dengan cara bagaimana kalian berdua bisa bersama-sama ebrada di dalam lembah kematian ini ? Sungguh gembira nampaknya kalian berdua...!"

Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang yagn mendengar suara itu, lebih dulu Thiat-kwan Totiang yang agaknya terkejut, kemudian disusul oleh Peng-sim Sinc-nie yang bergerak kelopak matanya, tetapi akhirnya karena tiada sanggup membukanya, sehingga badannya gemetar semakin hebat.

Pada saat itu, orang yang tadi sembunyi di dalam ruang yang gelap itu sudah lama mengundurkan diri melalui jalan rahasia.

It-pun Sin-ceng yang melihat bahwa ilmunya tadi itu masih belum berhasil menyadarkan kedua pemimpin itu, lalu mengerahkan ilmunya yang dinamakan "Singa Mengaung", dengan suara keras ia berkata: "Toyu berdua, bagaimana kalian seperti dalam keadaan bingung? Pinceng It-pun ada di sini !"

Suara ini menimbulkan gema yang sangat hebat, sehingga menggetarkan lembah dan gua yang gelap itu.

Kali ini Peng-sim Sin-nie, dengan susah payah dari mulutnya mengeluarkan suara lemah dan terputus-putus:

"Di luar.... lembah... kema...tian... ada.... orang.....

membokong.... aku....... dan...... ketua...... Tiam-cong-pay.....

Thiat-kwan.... Totiang..... selagi..... pertempuran...... ber.....

langsung...... tidak lama....... lalu.... sama-sama......

terkena...... racun.... berbisa "

Jawaban itu sesungguhnya di luar dugaan It-pun Sin-ceng, maka ia lalu mengeluarkan suara terkejutnya, sedangkan Hee Thian Siang yang sudah tidak perlu merasa ragu-ragu lagi, lalu menyalakan api untuk memeriksa keadaan dalam goa kemudian ia berkata kepada It-pun Sin-ceng:

"Apakah taysu merasa perlu menghancurkan dinding lapis ke empat ini? Jikalau Taysu anggap perlu, biarlah kuberikan senjata peledakku ini !!"

"Kian-thian Pek-lek dari perguruanmu, meskipun merupakan senjata yang sangat dahsyat cukup untuk menghancurkan goa ini, tetapi jikalau kita gunakan di sini, bukan saja Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang yang berada di lembah, yang sudah pasti akan hancur lebur bersama, sedangkan kau dan aku sendiri juga akan terkubur hidup-hidup di dalam goa ini..." Menjawab It-pun Sin-ceng sambil menggelengkan kepala.

Berkata sampai di situ, tiba-tiba sikapnya menunjukkan sangat serius, sepasang matanya memancar sinar berkilauan menatap Hee Thian Siang, setelah itu ia memberikan pot batu giok yang ada di tangannya kepada Hee Thian Siang seraya berkata dengan sungguh-sungguh:

"Sejak pinceng masuk dalam golongan Buddha dan menggunakan sebuah pot ini sebagai tanda, pot ini belum pernah terpisah dari tanganku! Hari ini oleh karena perlu hendak menolong ketua Lo-hu-pay dan Tiam-cong-pay yang dibokong orang, dan jelas dalam keadaan sangat berbahaya, terpaksa akan membuang kebiasaanku sendiri, sekarang kuserahkan benda ini supaya sicu pegang, kau boleh tunggu mulut goa ini untuk mendengar perintahku lebih jauh, sekali- kali jangan sampai tanaman yang berada di dalam pot ini tersentuh dengan benda logam !"

Menyaksikan sikap sungguh-sungguh dari orang aneh golongan Buddha ini, Hee Thian Siang dengan sikap sangat menghormat menyambuti pot batu giok dari tangannya, sedang matanya mengawasi It-pun Sin-ceng yang menggunakan ilmunya mengkeretkan badan, perlahan-lahan keluar dari lubang itu dan memasuki lembah kematian yang penuh tulang manusia !

Begitu It-pun Sin-ceng keluar dari lubang goa dan melompat turun ke dalam lembah, pertama-tama mengeluarkan suara pujian nama Buddha terhadap tulang- tulang manusia yang berserakan di dalam lembah itu.

Pada saat itu, ketua dari golongan Lo-hu dan Tiam-cong meskipun mereka memiliki kekuatan tenaga yang sudah sempurna, namun kedua-duanya masih tidak sanggup mempertahankan keadaannya duduk di tanah, sehingga jatuh rubuh di atas tumpukan tulang, sedang sekujur badannya gemetaran, jika ditilik dari keadaannya yang demikian, paling lama hanya dalam waktu beberapa menit saja jiwanya pasti akan melayang !! It-pun Sin-ceng kembali memuja Buddha, ibu jari dan jari tengah tangan kanan, melakukan gerakan ke tengah udara, dengan menggunakan ilmunya membuka totokan jalan darah melalui udara dari golongan Buddha, untuk sementara ia menahan bergolaknya darah dalam tubuh kedua ketua itu.

Kemudian, ia cepat-cepat lompat kembali ke dalam goa, dan berkata kepada Hee Thian Siang:

"Siao sicu, lekas kau petikkan selembar daun yang berada dalam goa itu, berikan kepadaku untuk menolong mereka!"

Hee Thian Siang menurut, ia melakukan seperti apa yang diminta oleh It-pun Sin-ceng. Poros bekas petikan tangkai daun itu, mengeluarkan getah berwarna putih, getah itu menimbulkan bau yang sangat harum sekali, sehingga bagi orang yang menciumnya pikirannya merasa segar dan begitu pula perasaannya.

Getah dari tumbuhan ajaib yang memiliki bau demikian harum, mengingatkan Hee Thian Siang akan perintah duta mawar, hingga diam-diam menduganya apakah getah itu getahnya pohon lengci yang sudah berumur ribuan tahun?

It-pun Sin-ceng setelah menerima daun dari tangan Hee Thian Siang, segera dibagi menjadi dua potong, yang masing- masing dimasukkan ke dalam mulut Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang, di samping itu, di atas badan dua orang itu, dia mengurut-urut dengan melalui ilmu dari jarak jauh. Tindakan itu seolah-olah menggunakan tenaga terlalu banyak, hingga di atas kepalanya sampai mengeluarkan keringat.

Hee Thian Siang yang menyaksikan dengan jelas, tahu bahwa It-pun Sin-ceng karena terbatas oleh adat istiadat antara kaum pria dengan wanita, terpaksa harus menggunakan ilmunya yang memakan banyak tenaga itu, meng urut-urut melalui udara, supaya getah dari daun tadi lekas membawa hasil.

It-pun Sin-ceng yang merupakan Sahabat akrab Peng-sim Sin-nie, tidak heran jika ia mengeluarkan banyak tenaga untuk menolong jiwa sahabatnya itu, tetapi terhadap musuh besar sahabatnya itu ialah Thiat-kwan Totiang, ia juga perlakukan dengan cara yang serupa, tidak membeda-bedakan atau pilih kasih. Ini membuktikan betapa agung cinta kasih It-pun Sin- ceng terhadap sesama manusia, dan betapa adil tindakannya itu; sehingga Hee Thian Siang yang menyaksikan semuanya itu merasa sangat kagum sekali.

Tak lama kemudian It-pun Sin-ceng menarik napas panjang, dan menarik kembali tangannya sambil tersenyum. Hee Thian Siang tahu bahwa usaha paderi muda itu telah berhasil, hingga dengan demikian dua ketua dari dua partai besar yang saling bermusuhan itu, terhindarlah dari ancaman maut.

Benar saja, dalam waktu sekejap mata, Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang dua-duanya telah sadar kembali dan lompat dari tumpukan tulang. Dua orang itu dengan berbareng membuka tangannya, dalam telapak tangan masing-masing terdapat sebuah duri beracun yang panjangnya satu dim dan bentuknya sangat aneh, tetapi besar dan kecilnya benda itu serupa benar.

Thiat-kwan Totiang membolak-balikkan duri beracun dalam tangannya, dengan sangat hati-hati dimasukkan dalam saku bajunya, lebih dahulu ia menganggukkan kepala kepada It-pun Sin-ceng untuk mengucapkan terima kasih atas pertolongannya, kemudian berkata kepada Peng-sim Sin-nie: "Pertemuan kita hari ini, oleh karena kita sama-sama terbokong oleh manusia licik, sudah tentu kita habiskan sampai disini dahulu! Tetapi pinto ingin berunding dengan taysu, bolehkah kiranya pertempuran yang dijanjikan akan dilakukan pada musim panas tahun depan kita undurkan waktunya?"

"Kalau sudah ditentukan, perlu apa harus diundurkan?" jawab Peng-sim Sin-nie dengan nada suara dingin.

Sepasang mata Thiat-kwan Totiang terbuka lebar. Dengan sinar mata tajam menatap wajah Peng-sim Sin-nie, kemudian berkata dengan suara tegas: "Peng-sim Taysu, kau jangan salah paham, tiga jago pedang dari golongan Tiam-cong dan semua anak muridnya, apa kau kira ada orang-orang yang takut mati? Aku hanya pikir hendak menyelidiki lebih dahulu siapa manusianya yang begitu tidak tahu malu, yang menggunakan senjata duri beracun ini membokong kita? Setelah kita berhasil menangkap kawanan tikus itu barulah kita mengadakan pertemuan lagi untuk melangsungkan pertandingan antara Tiam-cong dengan lohu!!"

Hee Thian Siang yang mendengar pembicaraan itu tiba-tiba teringat pada tujuh orang penting golongan Bu-tong, tiga diantaranya juga binasa oleh senjata duri beracun itu. Keadaannya mirip dengan kejadian hari ini, sayang, oleh karena jarak terlalu jauh ia tidak dapat melihat dengan tegas duri beracun di tangan Peng-sim Sin-nie dan Thiat-kwan Totiang itu, apakah betul merupakan duri yang berbentuk ujung tiga??

Selagi dalam hatinya timbul perasaan curiga, terdengar pula Peng-sim Sin-nie menjawab: "Kata-katamu ini aku dapat mengerti, kita masing-masing berusaha untuk mencari dan membasmi orang itu, setelah kita berhasil dalam usaha itu, lalu mengadakan pula tempat dan waktunya untuk melangsungkan pertandingan!"

Thiat-kwan Totiang yang mendengar ucapan itu lalu berkata sambil menganggukkan kepala: "Baiklah, demikian saja kita tetapkan, oleh karena pinto ingin segera melakukan penyelidikan terhadap manusia tidak tahu malu yang melakukan perbuatan rendah itu, maka disini aku minta diri lebih dahulu!"

Sehabis berkata, kembali ia memberi hormat kepada It-pun Sin-ceng, lalu melompat melesat melalui lobang dalam goa, dengan menggunakan ilmunya mengkeretkan tubuh.

Hee Thian Siang sebetulnya ingin menyingkir tapi kemudian berpikir lain. Ia tetap berdiri dengan tegak sambil memegang pot It-pun Sin-ceng. Thiat-kwan Totiang setelah memasuki lapisan dinding itu, dengan tiba-tiba ia tampak Hee Thian Siang, sejenak ia menatap terkejut dan hendak turun tangan. Hee Thian Siang lalu tersenyum kepadanya dan mengangkat tinggi pot batu giok yang berada di tangannya.

Thiat-kwan Totiang yang melihat pot batu giok berwarna ungu itu baru tahu bahwa Hee Thian Siang adalah orang yang datang bersama It-pun Sin-ceng, maka ia membatalkan maksudnya hendak turun tangan, dan melanjutkan perjalanannya menyusup ke lobang dinding lapis ketiga!