Makam Bunga Mawar Jilid 01

 
Jilid 01

Pendahuluan

Dalam suatu lembah di gunung Bin-san, terdapat sebuah makam. Sebagaimana lazimnya suatu makam, tentu terdapat sebuah batu nisan dihadapannya. Begitu pun dengan makam di lembah gunung Bin-san itu. Bedanya, bentuk batu nisan makam itu tajam meruncing bagaikan anak panah, di permukaan batu nisan itu juga tidak terdapat tulisan nama penghuninya, melainkan sebaris tulisan yang berbunyi:

"CINTA SEJATI TIDAK AKAN LUNTUR"

Depan, belakang, kiri dan kanan makam, kecuali batu nisan, terdapat tujuh buah tanaman pohon bunga mawar. Tujuh pohon bunga mawar itu terdiri atas tujuh warna, ialah warna-warna merah, kuning, biru, putih, hijau, merah dadu dan ungu!

Keganjilan lainnya ialah: Yang dikubur di dalam makam itu bukanlah manusia, juga bukan binatang, melainkan setangkai bunga mawar yang diletakkan di dalam sebuah kotak kecil yang terbuat dari batu giok yang sangat indah warnanya. Jangan pandang rendah makam aneh itu, meskipun letaknya di suatu tempat yang tersembunyi dan sukar dikunjungi, tetapi namanya jauh lebih terkenal daripada delapan partai besar rimba persilatan pada masa itu.

Konon khabarnya muda-mudi dari rimba persilatan yang saling berkasih-kasihan, asal cinta mereka itu suci, tetapi terhalang oleh keadaan, atau dirintangi oleh keluarga salah satu fihak, sehingga tidak tercapai cita-cita mereka untuk kawin, boleh berusaha pergi berziarah ke makam bunga mawar itu. Mereka harus berdua-duaan sujud serta membawa bunga mawar sebagai antaran. Lalu membaca tulisan tulisan yang terdapat di atas batu nisan itu, mereka nanti akan mendapat restu, sehingga sepulangnya dari makam itu tentu akan menjadi suami istri dan tidak akan mendapat rintangan lagi.

Tetapi pemuda-pemudi yang bersama-sama pergi berkunjung kepada makam itu, setiba di puncak gunung Hui- thaw-hong di Gunung Bin-san, akan menjumpai berbagai rintangan yang tidak terduga duga, jarang yang sanggup menghalau rintangan itu, hingga yang berhasil melewati puncak gunung Hui-thao-hong dan menuju ke makam yang letaknya di dalam lembah Kim-giok-kok, jumlahnya sedikit sekali.

Mengapa begitu ?

Ini merupakan suatu syarat yang sudah digariskan oleh makam bunga mawar tersebut, seolah tidak mengijinkan orang dengan mudah mencapai cita-citanya sebelum melalui berbagai rintangan dan kesulitan, setelah mereka berhasil lulus dari ujian yang berat itu barulah nanti akan mencicipi buah hasilnya yang manis dan indah!

MUSIM SEMI telah berlalu, diganti dengan musim panas. Malam, suasana sepi sunyi. Dengan tiba-tiba, pada malam yang sepi sunyi itu, awan-awan gelap mulai menutupi rembulan yang berada di atas langit, tak lama kemudian hujan mulai turun, sehingga membasahi seluruh gunung Bin-san !

Angin meniup sangat santar, hujan semakin lama semakin deras. Di antara hujan angin lebat itu sebentar-sebentar diselingi oleh sinar kilat dan gegap suara geledek yang berbunyi.

Di dalam keadaan demikian, gunung Bin-san seolah-olah dikejutkan oleh kemarahan Tuhan, sehingga membiarkan sang malam yang gelap gulita meliputi seluruh gunung itu, hanya suara geledek yang sebentar-sebentar memecahkan kesunyian, dengan dibarengi oleh sinar kilat, yang sebentar- sebentar mengungkap keadaan di gunung Bin-san.

Dalam suasana yang menyeramkan itu, di lembah Kim- giok-kok, di hadapan makam bunga mawar yang sudah lama tak pernah dikunjungi oleh orang, malam itu terdengar suara orang menghela napas panjang. Helaan napas itu meskipun sangat pelahan, tetapi seolah-olah mengandung entah berapa banyak kesedihan dan kedukaan.

Di waktu malam yang gelap sedemikian rupa dan hujan begitu lebat, siapakah gerangan yang berkunjung ke hadapan makam bunga mawar dengan diliputi kesedihan seperti itu ?

Dengan tiba-tiba kembali suara geledek menyambar dan sinar kilat berkelebat, kini tampaklah sekilas lintas, orang yang berdiri di hadapan makam bunga mawar itu, ternyata adalah seorang perempuan muda berbaju kuning yang memiliki potongan tubuh sangat indah. Hujan lebat membasahi baju perempuan itu, namun tidak menutupi potongan tubuhnya yang indah. Sayang sekali sinar pelita itu hanya sepintas lalu saja, hingga tidak tampak wajah perempuan itu yang sebenarnya.

Setelah sinar kilat yang sangat singkat itu berlalu, disusul oleh keheningan untuk sementara, kemudian terdengar pula suara geledek dan sinar berkeredepan kedua timbul lagi. Tubuh perempuan muda yang indah itu tampak gemetaran, kakinya digeser semakin dekat ke hadapan makam bunga mawar yang sangat misteri itu, begitu berada di depan makam, kedua tangannya dirangkapkan ke depan dadanya.

Pada waktu itu angin yang meniup kencang pelahan-lahan mulai reda, begitupun hujan juga mulai kurang, tetapi, di belakang makam bunga mawar yang gelap gulita keadaannya, dengan tiba-tiba timbul suara berat:

"Nona yang berdiri di hadapan makam, harap jangan dilanjutkan usahamu, ada dua syarat yang belum kau penuhi, kau belum boleh minta restu di hadapan makam bunga mawar

!"

Perempuan itu ketika mendengar suara tersebut nampaknya tercengang, sinar matanya seolah-olah menembusi kerudung mukanya, memandang ke belakang makam yang masih gelap gulita. Suara orang dari belakang makam terdengar pula:

"Pertama, kau agaknya belum membawa bunga mawar untuk dipersembahkan di hadapan makam. "

Perempuan itu kembali dikejutkan oleh ucapan tadi, matanya kembali ditujukan ke belakang makam, tangan kirinya dimasukkan ke dalam sakunya untuk mengeluarkan setangkai bunga mawar yang sudah layu, bunga itu boleh dikata sudah rontok semua, tangkainya juga sudah kering. Suara orang yang terdengar dari belakang makam itu rupanya belum memperhatikan gerakan perempuan tadi, hingga meneruskan kata katanya dengan suara dalam:

"Kedua, barang siapa yang menghadap kepada makam bunga mawar hendak minta restu, harus datang berdua-dua dengan hati sujud dan cinta kasih yang murni, tetapi kau datang dengan seorang diri. "

Ucapan itu telah diputuskan dengan mendadak oleh suara tertawa getir dari mulut perempuan muda itu, suara itu seolah- olah mengandung kedukaan dan kesedihan yang hebat. Orang yang berada di belakang makam bunga mawar agaknya juga dibingungkan oleh suara tertawa getir yang keluar dari mulut perempuan muda itu, sehingga ia bertanya dengan terheran heran.

"Kau tertawa demikian sedih, apakah maksud yang sebenarnya?"

Butiran air mata tiba-tiba mengalir turun dari sepasang mata yang dikerudungi oleh kain sutera, tetapi tangan gadis itu mulai membereskan rambutnya yang kusut tertimpa air hujan, dam diam-diam membesut kering air mata yang mengalir turun dari matanya, setelah itu ia balas menanya kepada orang yang berada di belakang makam bunga mawar:

"Apakah kau dapat mewakili makam bunga mawar ini untuk berbicara denganku?"

Dari tempat gelap terdengar suara orang berseru kaget, kemudian disusul oleh jawabannya.

"Aku adalah duta bunga mawar yang ditugaskan untuk menjaga makam ini, di samping juga mengurus persoalan orang-orang yang meminta restu, semoga pemuda-pemudi yang benar-benar saling menyinta, bisa hidup rukun sampai hari tua! Bagaimana tidak dapat mewakili makam bunga mawar untuk bicara denganmu? "

"Tiga tahun berselang, aku dengan kekasihku dengan melalui berbagai rintangan yang berat telah datang kemari. Kami telah mempersembahkan dua tangkai bunga mawar segar, dan membaca tulisan-tulisan do'a yang terdapat di atas batu nisan, minta restu makam ini supaya kami berdua dapat mengelakkan segala rintangan yang ada agar bisa hidup sebagai suami isteri sehingga tua "

Demikian terdengar ucapan dari perempuan muda tadi. Orang yang berada di belakang makam, ketika mendengar ucapan itu, lalu memotong:

"Duta bunga mawar yang bertugas menjaga makam ini, semua berjumlah tiga orang, setiap tiga tahun bergiliran satu kali, dahulu sewaktu kau datang kemari, waktu itu yang bertugas menjaga di sini adalah duta bunga mawar nomor dua, aku adalah duta nomor tiga. "

Perempuan itu, tidak menunggu sampai habis ucapan orang di tempat gelap itu, kembali berkata: "Tetapi keajaiban yang diberikan oleh makam bunga mawar hanya nama kosong belaka, sebelum kami datang kemari, satu sama lain sudah saling menyinta dan sudah saling berjanji hendak sehidup semati, tetapi setelah kami datang kemari untuk minta restu, sepulang dari sini, kekasihku itu telah berubah hatinya, sumpah yang diucapkan dahulu telah digilasnya, dan ia alihkan cinta kasihnya kepada perempuan lain, sehingga aku kini jadi seorang perempuan yang hancur luluh hatinya!"

Orang yang berada di tempat gelap itu seolah-olah tidak percaya atas ucapannya, lalu bertanya:

"Apakah yang kau ucapkan itu semuanya benar ?"

Perempuan itu kembali memperdengarkan suara tawanya yang menyedihkan, lalu membuka kerudung di mukanya.

Saat itu hujan dan angin sudah berhenti awan di langit juga sudah buyar, sinar rembulan mulai menerangi jagat lagi.

Kini tampaklah dengan nyata bahwa perempuan muda itu wajahnya kira-kira baru dua-puluh dua atau tiga, mukanya sebelah kanan putih cantik bagaikan bidadari tetapi sebelah kirinya penuh dengan tanda hitam, sehingga dipandangnya sangat buruk sekali.

Perempuan itu kembali membuka kerudungnya kemudian berkata sambil menghela napas panjang:

"Duta bunga mawar senantiasa mengharap semua orang yang bercinta kasih bisa hidup rukun sehingga hari tua, sekarang aku hendak minta keterangan darimu, kini aku telah dibikin demikian rupa oleh kekasihku yang dahulu sama-sama datang ke makam ini untuk minta restu, bukankah itu suatu hal yang menghancurkan harapan dan hatiku? Maka malam ini di waktu hujan angin lebat begini, aku datang kembali di hadapan makam ini, maksudku ialah hendak menghancurkan makam yang menipu orang ini supaya tidak akan membuat celaka banyak orang yang datang kemari dengan penuh harapan!"

Sehabis berkata demikian, dua tangannya disingkapkan ke depan dada dan menjura kepada makam itu, suatu kekuatan tenaga dalam tampak menghembus keluar dan menggulung kepada makam bunga mawar. Tetapi kekuatan tenaga dalam yang menghembus keluar dari perempuan itu baru saja hendak menyentuh makam, dari belakang makam, juga menyambar angin dingin, angin itu meskipun nampaknya biasa, tetapi mengandung kekuatan tenaga yang sangat hebat, angin itu tidak mengganggu atau menyentuh perempuan itu, akan tetapi sudah memunahkan kekuatan tenaga perempuan itu yang hendak menghancurkan makam bunga mawar.

Perempuan itu juga merupakan salah seorang kuat dari salah satu delapan partai besar yang berpengaruh dalam rimba persilatan pada masa itu, selama berkecimpungan di dunia Kang-ouw, ia belum pernah rnenemukan kepandaian demikian aneh.

Selagi ia masih berada dalam keheranan, duta bunga mawar yang bersembunyi di belakang makam juga mengeluarkan suara yang keheran-heranan:

"Kesaktian bunga mawar tidak mungkin tidak manjur, bagaimana kau boleh merusak makam bunga mawar ini? Ilmu pukulan tangan Pan-Sian-ciang yang kau gunakan tadi, sudah mencapai ke taraf yang cukup tinggi, apakah kau adik seperguruan ketua golongan Lo-hu-pay Peng-sim Sin-nie, yang bernama Ca Bu Kao dan berjulukan Leng-po Giok-lie itu?" Perempuan itu agaknya dikejutkan dan merasa kagum terhadap duta bunga mawar, karena dari ilmu pukulannya Pan-sian-ciang dapat mengetahui dirinya, dapat diduga betapa luas pengetahuan duta itu.

"Dugaanmu benar, sekarang Ca Bu Kao telah menjadi demikian rupa karena terlibat asmara, bukan saja diriku sudah rusak, namun golongan Lo-hu-pay, juga turut mendapat malu, mengapa kau masih mengagumi dan memuji-muji kesaktian bunga mawar?"

Perempuan itu kembali diliputi oleh perasaan sedih dan marah, ia mengerahkan lagi kekuatan tenaga dalamnya. Dengan mata memandang makam bunga mawar, ia menggerakkan tangannya hendak menghancurkan lagi.

Duta bunga mawar yang menyaksikan keadaan itu, dari tempat gelapnya berkata:

"Ca Bu Kao, kau jangan berlaku gegabah dengan mengandalkan kepandaianmu, karena itu berarti mencari penyakit sendiri. Tunggu dulu sehingga aku menanyakan sampai habis segala persoalan yang menimpa dirimu, jikalau benar bahwa kesaktian makam bunga mawar itu tidak manjur, maka makam ini akan kuhancurkan sendiri setelah mengumpulkan tiga duta bunga mawar!"

Ling-po Giok-lie Ca Bu Kao yang sudah mengetahui bahwa tiga duta bunga mawar itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, ketika mendengar perkataan itu lalu membatalkan maksudnya dan menjawab:

"Kalau kau hendak tanya, tanyalah. Ca Bu Kuo akan menjawab dengan sejujurnya."

"Pada tiga tahun berselang, dengan siapa kau datang kemari meminta restu??" Ca Bu Kao bersangsi sejenak, kemudian menjawab dengan suara pelahan:

"Su-to Wie, yang mempunyai gelar Liong-hui Kiam-khek!"

Duta bunga mawar agaknya terkejut mendengar jawaban itu, ia berkata:

"Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie adalah salah satu dari tiga jago pedang golongan Tiam-cong yang termasuk delapan partai besar rimba persilatan pada dewasa ini, golongan Tiam- cong dan golongan Lo hu-pay, sudah lama sering bermusuhan. Kau adalah adik seperguruan ketua golongan Lo-hu-pay, dengan cara bagaimana bisa mengikat percintaan dengan salah seorang penting dari golongan Tiam-cong-pay?"

Ca Bu Kao menjawab dengan nada suara marah:

"Justru karena Su-to-Wie menyinta demikian dalam terhadap diriku, sedangkan golongan Tiam-cong dan Lo-hu satu sama lain saling bertentangan demikian hebat, maka kami dari tempat ribuan pal jauhnya sengaja datang kemari untuk minta restu di hadapan makam bunga mawar! Di luar lembah Kim-giok-kok Su-to Wie telah memetik tiga tangkai bunga mawar yang masih segar, kami masing-masing membawa setangkai dan dipersembahkan di depan makam ini, yang setangkai lagi oleh Su-to Wie ditancapkan di depan dadaku!"

Duta bunga mawar berkata sambil menghela napas pelahan:

"Kisah ini benar-benar sangat menarik, cukup membuat orang mengucurkan airmata!" Ca Bu Kao menggertak gigi, ia memesut airmata yang mulai mengalir dari matanya, dan berkata dengan suara gemas:

"Apa yang kau kata memang benar, tetapi di balik keindahan itu adalah kedukaan, akibatnya dari kesedihan itu sungguh mengenaskan! Bunga mawar segar yang ditancapkan di depan dadaku oleh Su-to Wie meskipun sudah kering dan berubah warnanya, namun masih tetap kusimpan baik-baik, sedangkan aku sendiri telah dirusak mukaku olehnya hingga sedemikian rupa, dengan menggunakan obat mukjizatnya!"

Sehabis berkata, perempuan itu tidak dapat mengendalikan perasaannya sendiri, badannya tampak gemetaran lagi, dengan marah ia menghancurkan bunga mawar yang sudah kering yang berada di tangan kirinya.

Hujan meskipun sudah berhenti, tetapi saat itu angin gunung masih meniup kencang, hancuran bunga dari tangan Ca Bu Kao telah tertiup olehnya dan bertebaran di depan makam, sementara itu airmata yang keluar dari kelopak matanya, terus mengalir tidak henti-hentinya hingga bajunya yang sudah basah oleh air hujan, kini telah tertimpa lagi oleh air matanya sendiri.

Sementara itu Duta bunga mawar juga diam saja, hingga di tempat makam itu kembali terbenam dalam kesunyian.

Ketika Ca Bu Kao melemparkan hancuran bunga mawar yang terakhir, pandangan matanya ditujukan ke belakang makam bunga mawar, kemudian bertanya dengan nada suara dingin:

"Duta bunga mawar, ucapanku sudah habis! Rembulan yang sudah tinggal separoh, mungkin bisa bundar lagi, tetapi bunga yang sudah layu tidak akan menjadi segar kembali. Badanku kini sudah terjerumus hingga begini rupa, mengapa aku harus mencelakakan orang lain lagi di kemudian hari? Maka itu makam bunga mawar ini apakah akan kau hancurkan sendiri, ataukah perlu oleh tanganku??"

Duta bunga mawar yang mendengar penuturan itu, kembali diam. Lama sekali baru terdengar suara jawabannya yang diucapkan lambat-lambat:

"Tiga tahun yang lalu kau datang kemari untuk minta restu, tetapi hasilnya bukan saja tidak manjur, sebaliknya malah menyiksa dirimu, kalau begitu makam bunga mawar ini sesungguhnya harus dihancurkan. Tetapi bolehkah sekiranya niatmu ini kau tunda tiga tahun?"

"Kalau kau sudah anggap bahwa makam ini harus dihancurkan, mengapa harus ditunda waktunya hingga tiga tahun?" tanya Ca Bu Kao heran.

"Aku minta padamu untuk menunda tiga tahun, maksudku ialah hendak menyelidiki dulu urusanmu dengan Liong-hui Kiam-khek itu, yang penting adalah sebab musabab dari percekcokan ini, jikalau dahulu Su-to Wie sewaktu minta restu di sini denganmu, sedikit pun tidak mengandung lain maksud, itu benar-benar merupakan kesujudan hatinya. Tetapi perbuatannya yang meninggalkan kau setengah jalan, apakah tidak ada lain sebab? Jikalau benar tidak ada sebab lainnya, maka pada hari tanggal seperti ini tiga tahun kemudian, oleh kami tiga orang duta bunga mawar akan mengundang para ketua dari delapan partai besar rimba persilatan, untuk bersama-sama menghancurkan makam ini. Karena, tiga duta bunga mawar selamanya ingin ada perdamaian yang abadi, supaya semua kekasih yang ada di dunia bisa hidup rukun selama-lamanya, kami bersumpah dengan hasrat ini akan berusaha menyingkirkan segala kesulitan yang merintangi atau menghalangi hubungan kekasihmu dengan Su-to Wie. Kami juga mengharap supaya kau dapat melangsungkan hidupmu dengannya di hadapan makam bunga mawar ini. Selain daripada itu permusuhan antara golongan Lo-hu dan Tiam-cong, juga diharap supaya bisa didamaikan lagi."

Ucapan duta bunga mawar itu benar-benar memberi harapan bagi Ca Bu Kao, hingga wanita malang itu, yang semula datang dengan hati marah, kini setelah mendengar janji itu perasaan gusarnya perlahan-lahan telah lenyap kembali. Tanpa dirasa, ia segera berlutut di hadapan makam bunga mawar dan menjura dengan hati terbuka.

Duta bunga mawar tahu bahwa perbuatan itu adalah karena tergugahnya hati nurani Ca Bu Kao yang tadi telah dibikin gelap oleh perasaannya sendiri, maka ia membiarkan perempuan itu berlutut dan bersujud di hadapan makam, ia hanya berkata sambil menghela napas perlahan.

"Anak perempuan sifatnya memang suka kecantikan, wajahmu telah dinodai oleh obat golongan Tiam-cong-pay, mungkin kau juga tidak berani pulang ke rumahmu di gunung Lo-hu-san, takut akan bertemu dengan sucimu."

Ca Bu Kao yang mendengar perkataan duta bunga mawar itu segera menghela napas panjang, tetapi duta bunga mawar kembali melanjutkan ucapannya, "Oleh karena itu, maka usahaku yang pertama ialah hendak memulihkan wajahmu lebih dahulu "

Ca Bu Kao perlahan-lahan bangkit dari depan makam bunga mawar, lalu berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa getir,

"Obat berbisa buatan golongan Tiam-cong-pay merupakan salah satu dari empat pusaka golongan itu. Obat itu mengandung tujuh rupa racun berbisa yang sangat jahat, menurut Siong-san Ing-siu Sai Han Kong, meskipun aku dapat disembuhkan dengan obat mujarabnya, dan terhindar dari kematian, tetapi bekas tanda luka di pipi kiriku harus menggunakan getah buah lengci yang usianya sudah ribuan tahun, dan biji buah teratai Swat-lian dari gunung Swat-san. Dua rupa obat mujarab dari rimba persilatan ini harus digabung menjadi satu untuk dibuat obat lagi. Kalau tidak menggunakan dua rupa obat itu, wajahku tidak bisa pulih seperti sedia-kala! Tetapi, dua rupa obat yang jarang terdapat di dalam dunia ini, yang satu berada di tangan ketua Swat- san-pay Peng-pok Sin-kun yang selamanya tidak akur dengan suciku Peng-sim Sin-nie, sedang yang lain berada di lautan timur yang jarang mengadakan hubungan dengan dunia luar. "

Mendengar ucapan itu, duta bunga mawar lalu memotong, "Kiranya kau sesudah terluka pernah minta obat kepada tabib nomor satu pada dewasa ini Siong-san Ing-siu? Apa yang dikatakan olehnya itu memang benar, dua rupa obat mukjizat itu sesungguhnya memang sangat berharga, akan tetapi susah sekali untuk mendapatkannya. Tetapi Peng-pok Sin-kun di Toa-swat-san denganku masih ada sedikit hubungan, sementara paderi It-pun Sin-ceng di Lautan timur, mungkin aku masih bisa berusaha mendekatinya. Oleh karena aku sudah berhasrat besar dalam membantu, bagaimanapun juga aku akan berusaha terus untukmu. Nanti pada tanggal sembilan bulan sembilan tahun ini, kau boleh pergi dan tunggu aku di kediaman tabib Siong-san Ing-siu!"

Bukan kepalang girangnya Ca Bu Kao mendengar keterangan itu, sehingga ia harus mengucapkan terima kasih berulang-ulang, kemudian ia memutar tubuhnya dan sesaat kemudian sudah menghilang ke dalam lembah Kim-giok-kok. Duta bunga mawar yang sembunyi di belakang makam, setelah berlalunya Ca Bu Kao, lalu menghela napas panjang, dan hendak keluar dari tempat sembunyinya. Waktu itu sinar rembulan agak suram, selagi orang yang sembunyi di belakang makam itu hendak unjukkan mukanya, tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara seruan tertahan, dan badannya kembali disembunyikan, setelah itu lalu berkata kepada diri sendiri dengan perasaan terheran-heran. "Bagaimana ada orang datang lagi! Malam ini aku rasanya perlu melayani banyak pendatang!"

Benar saja, tak lama kemudian sesosok bayangan muncul dari lembah Kim-giok-kok, kemudian dengan beberapa kali lompatan bayangan itu sudah tiba di hadapan makam bunga mawar. Ilmunya meringankan tubuh orang itu agaknya masih kalah setingkat dengan ilmu meringankan tubuh Ca Bu Kao yang belum lama berselang pergi dari hadapan makam itu, akan tetapi juga masih terhitung seorang yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup sempurna.

Orang yang baru datang itu berjalan lambat-lambat ke dalam makam, di bawah sinar bintang dan rembulan yang agak suram, tampak bahwa orang itu adalah seorang pemuda berwajah tampan bertubuh tegap yang usianya baru kira-kira delapan belas tahunan. Kedua tangan pemuda itu memegang sekuntum bunga mawar warna ungu, dengan lakunya yang sangat menghormat, ia persembahkan bunga itu di hadapan makam, akan tetapi ia tidak bersujut, hanya mengangkat tangan memberi hormat, matanya lalu ditujukan kepada batu nisan di atas makam itu, setelah mana ia membaca tulisan di atas batu nisan dengan suara yang amat pelahan.

Duta bunga mawar yang sembunyi di belakang makam, lantas membuka suara, "Anak muda, jangan membaca tulisan di atas batu nisan itu, karena mulai malam ini makam bunga mawar untuk sementara tidak menerima tamu lagi. Selama waktu tiga tahun tidak akan memberi restu kepada orang yang datang bersujud."

Mendengar suara itu pemuda itu terkejut, dengan mata yang ditujukan ke belakang makam yang gelap, ia bertanya, "Tuan siapa??" "Aku adalah duta bunga mawar yang mengurus segala persoalan mengenai makam bunga mawar ini!" Menjawab duta bunga mawar.

Mendengar jawaban itu pemuda itu tertawa dingin, kemudian melanjutkan membaca kata-kata yang tertulis di atas batu nisan itu. Duta bunga mawar ketika menyaksikan pemuda itu sama sekali tidak menghiraukan ucapannya, lantas bertanya dengan perasaan heran.

"Aku sudah beritahukan padamu, bahwa dalam waktu tiga tahun, makam bunga mawar ini untuk sementara tidak akan memberi restu kepada orang yang datang bersujud, mengapa kau masih perlu membaca tulisan batu nisan itu?"

"Tentang akan ditutupnya untuk sementara makam bunga mawar ini, apakah kau pernah memberi pengumuman kepada rimba persilatan?" Demikian pemuda itu balas menanya dengan nada suara dingin.

Duta bunga mawar itu tidak menduga anak muda itu akan mengajukan pertanyaan demikian, maka terpaksa menjawab:

"Belum pernah."

"Apakah kau juga pernah pasang pemberitahuan di atas puncak gunung Wie-thian-hong, dan di dalam lembah Kim- giok-kok ??" Bertanya pula pemuda itu.

Duta bunga mawar diam saja tidak menjawab. Anak muda itu berkata pula sambil tertawa:

"Oleh karena kau belum pernah memberi pengumuman dan mengeluarkan pemberitahuan, dan aku sudah datang dari tempat jauh, sudah tentu setelah mempersembahkan bunga mawar segar di hadapan makam bunga mawar, serta membaca petuah yang tertulis di atas batu nisan, kau harus memberi restu kepadaku seperti apa yang tersiar didalam rimba persilatan, kecuali jikalau kau mengaku sendiri bahwa makam bunga mawar ini sudah tidak manjur lagi."

Duta bunga mawar hampir kewalahan menghadapi pemuda yang pandai bicara dan sombong sikapnya itu, sehingga lama sekali ia baru berkata lambat-lambat. "Walau demikian, kau masih tetap tidak akan mendapatkan restu dari makam bunga mawar! Sebab kau masih belum memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh makam bunga mawar!"

"Aku sudah mempersembahkan bunga segar, dan aku sudah membaca petuah di atas batu nisan ......." Berkata pemuda itu heran.

"Setiap orang yang minta restu kepada makam bunga mawar, harus merupakan pasangan muda mudi orang-orang rimba persilatan yang saling mencinta dengan sejujurnya "

Pemuda itu tidak menunggu habis ucapan duta bunga mawar, lalu mendongakkan kepala dan tertawa terbahak- bahak.

Duta bunga mawar benar-benar sangat repot menghadapi pemuda itu, ia bertanya dengan suara dalam:

"Anak muda, kenapa kau ketawa?"

Mata pemuda itu memancarkan sinar aneh, ia bertanya pula kepada duta bunga mawar:

"Hei, duta bunga mawar, kau berbicara soal aturan atau tidak?"

Duta bunga mawar sekarang tahulah sudah bahwa pemuda itu sulit dihadapi, maka lalu berkata: "Apakah kau menemukan pula kesalahanku?"

"Jikalau aku sudah mempunyai kekasih yang satu sama lain sudah cinta, bukankah ... kita sudah mengikat janji atau....

Untuk apa jauh-jauh aku datang kemari untuk. kepada

makam bunga mawar?"

Kata-kata pemuda itu membuat duta bunga mawar yang mendengarkannya tidak dapat membantah, tetapi juga merasa lucu atas sikap pemuda itu, maka ia lantas bertanya sambil tertawa:

"Kalau kudengar dari ucapanmu ini, barangkali kau sudah punya pandangan gadis dalam matamu, akan tetapi gadis yang kau cintai itu barangkali tidak membalas cintamu. Apa bukan begitu anak muda ?"

Wajah pemuda itu tampak merah, ia berkata sambil; menggelengkan kepala:

"Aku memang benar suka padanya, tetapi aku masih belum tahu, ia suka kepadaku atau tidak. Oleh karena itu maka aku datang kemari untuk bersujut di hadapan makam bunga mawar serta minta restunya!"

Kesan duta bunga mawar terhadap pemuda itu kini pelahan-lahan mulai merasakan betapa masih kekanak- kanakan sifatnya, maka lalu tertawa terbahak-bahak dan bertanya:

"Kalian berdua sudah berapa lama kenal ? Siapakah nama gadis itu ? Dan, anak murid dari golongan mana ?"

Pemuda itu yang ditanya demikian pipinya kembali menjadi merah, dan ia menjawab sambil menggelengkan kepala. "Kita hanya satu kali saja bertemu muka, aku belum tahu siapa namanya, juga tidak tahu dia dari golongan mana !"

Duta bunga mawar yang mendengar jawaban itu berulang- ulang memperdengarkan suara tertawa getirnya, diam-diam ia berpikir bahwa malam itu ia telah menjumpai seorang wanita dan seorang pria yang minta bantuan sangat aneh sekali. Permintaan dari dua muda-mudi, barangkali akan membuat ia harus memutar otak supaya tidak mencemarkan nama baik makam bunga mawar yang selama ini banyak menolong muda-mudi yang bercinta kasih.

Tetapi urusan itu sungguh aneh, juga semakin menarik perhatian duta bunga mawar itu, maka ia bertanya pula kepada pemuda itu.

"Kau tidak tahu nama dan golongan gadis itu, tetapi kau harus beritahukan namamu sendiri, dan nama suhumu !"

"Namaku Hee Thian Siang, sebaiknya kau bantu aku saja, jangan menanyakan banyak-banyak soal yang lainnya! Sebab, watak suhuku sangat aneh, tidak mengijinkan aku memberitahukan kepada siapa pun juga. Pendeknya, aku bukanlah murid dari salah satu delapan partai besar kenamaan pada dewasa ini!"

Setelah mendengar jawaban demikian itu, sesungguhnya menyulitkan aku!

"Gadis itu, apakah ada keistimewaannya, baik mengenai wajah atau bentuk tubuhnya atau dandanannya pakaian dan senjatanya?"

Pemuda itu berpikir sejenak, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala dan tertawa: "Ada, ada, waktu itu, aku sedang berada di daerah pegunungan Kiu-gi-san di daerah Ouwlam, dari jauh aku melihat dia menunggang seekor kuda Ceng-ciong-ma, ia mengenakan mantel warna hitam, sedang senjata yang digunakan tidak dapat kulihat dengan tegas, karena terpisah terlalu jauh. Tetapi kalau tidak salah, senjata itu jarang ada, semacam pedang Go-ko-kiam."

Duta bunga mawar memperdengarkan suara seruan, dan mulai berpikir.

Hee Thian Siang berkata pula:

"Kudanya Ceng-ciong-ma itu larinya pesat sekali, ketika aku hendak menghampiri, ia sudah lari jauh sekali. Yang ditinggalkan di tempat itu hanya empat setan dari Kiu-yan yang semuanya sudah pecah hancur batok kepala dan robek dadanya."

Kata-kata yang terakhir itu, tampaknya mengejutkan duta bunga mawar, maka lalu bertanya:

"Dia dengan seorang diri ternyata sudah dapat membinasakan empat setan dari Kiu-yan yang masing-masing memiliki kepandaian cukup tinggi dan masing-masing mempunyai senjata beracun yang sangat ganas."

Wajah Hee Thian Siang saat itu menunjukkan sikap kagumnya, ia menjawab:

"Ia melakukan pembunuhan itu bukan saja dengan sangat mudah, bahkan dilakukannya cepat sekali! Aku yang waktu itu berada di kaki gunung Kiu-gie-san, melihat ia dipegat oleh empat setan itu, tetapi belum sempat aku memburunya, empat setan itu sudah dikirim nyawanya ke akherat!" Setelah mendengar keterangan itu, duta bunga mawar diam-diam telah mengambil keputusan untuk menutup makam bunga mawar untuk sementara, karena ia perlu turun tangan sendiri, untuk menyelidiki persoalan yang menyangkut diri Su- to Wie dan Ca Bu Kao, ia juga hendak mengurusi persoalan Hee Thian Siang yang jatuh cinta sepihak kepada gadis yang baru dilihatnya sepintas lalu saja, akan mencoba pengaruhnya makam bunga mawar, manjur atau tidak.

Setelah mengambil keputusan itu, lalu berkata kepada Hee Thian Siang; "Keinginanmu ini, meskipun sangat unik, tetapi tampaknya masih dengan sejujurnya, maka aku mengadakan pengecualian terhadapmu, dalam waktu tiga tahun, selama makam bunga mawar ini akan ditutup untuk umum, aku akan mencoba berusaha membantu keinginanmu!"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu tampaknya sangat girang, sementara itu duta bunga mawar sudah berkata lagi:

"Tetapi di dalam dunia yang luas ini, hendak mencari seorang gadis seperti apa yang kau sebutkan tadi, apalagi harus menyingkirkan segala rintangan yang menghalangi maksudmu supaya kalian bisa terangkap jodoh dan hidup rukun, sesungguhnya bukanlah satu urusan yang mudah !"

"Aku tahu hal itu memang sulit, jikalau tidak sulit aku juga tidak akan datang kemari untuk minta restu dari makam bunga mawar ini!"

"Keinginanmu ini mungkin tiga tahun kemudian baru akan terbukti, tetapi mulai malam ini kau harus melakukan seperti apa yang akan kukatakan nanti!"

"Aku meminta bantuanmu, sudah tentu akan mendengar perintahmu ! Tetapi setelah batas tiga tahun itu habis, jikalau keinginanku itu tidak bisa tercapai, maka janganlah kau sesalkan kalau aku nanti akan membikin rata makam ini dengan menggunakan sebutir bom peledak Kian thian Pek- lek!"

Ketika duta bunga mawar itu mendengar ucapan demikian, diam-diam mengeluh bahwa makam bunga mawar ini benar- benar akan mengalami kehancuran!

Ia lalu berkata:

"Pantas saja kau bukan merupakan salah murid dari delapan partai besar rimba persilatan pada dewasa ini, kiranya kau adalah murid Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui. Menurut apa yang aku tahu, bom Kian-thian Pek-leknya Hong-poh Cui itu juga memiliki nama sendiri yang dinamakan mutiara mati meski pun hebat kekuatannya, tetapi bom itu jumlahnya hanya tiga butir saja. Kau yang masih sangat muda sekali usiamu dan masih berdarah panas, dengan memiliki senjata hebat itu, sekali-kali jangan kau gunakan secara serampangan, bisa- bisa nanti akan menimbulkan bencana hebat !"

Berkata sampai di situ, tiba-tiba ia bertanya dengan suara lantang:

"Jikalau benar makam bunga mawar tidak menunjukkan kemanjurannya pada tiga tahun kemudian, kau boleh menggunakan senjata peledak itu untuk meratakan makam bunga mawar ini. Tetapi bagaimana seandainya keinginanmu itu nanti tercapai ?"

Hee Thian Siang berpikir sejenak, kemudian menjawab dengan serius:

"Pertanyaanmu ini memang benar. Jikalau makam bunga mawar terbukti memang benar-benar manjur, nanti setelah kau meninggal dunia aku dengan nona itu akan menggantikan kedudukanmu sebagai duta bunga mawar, dengan kepandaian yang ada, kami akan berusaha supaya bunga tetap segar, rembulan tetap bundar dan semua kekasih yang berkasih-kasihan bisa hidup rukun selama-lamanya!"

Jawaban itu ternyata telah membuat girang hati si duta bunga mawar, hingga dari tempat persembunyiannya ia mengeluarkan suara tertawa gembiranya.

Berhenti tertawa, ia melanjutkan kata-katanya:

"Sekarang aku minta kau melakukan dua pekerjaan. Pertama, kau boleh membawa sebuah tanda lambangku bunga mawar, kau pergi ke pulau Kura di lautan Timur, lalu kau pergi menemui It-pun Sin-ceng, minta ia memberikan padamu dua tetes getah buah lengci yang sudah ribuan tahun umurnya. Kedua, setelah itu kau sekalian mencari pendekar pemabokan Bu Ju yang jejaknya tidak menentu, tapi pengalamannya yang sangat luas dalam dunia Kang-ouw dewasa ini tidak ada keduanya. Setelah kau menemukan dia, dia mungkin dapat memberi petunjuk yang berharga tentang gadis yang kau lihat itu!"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala sambil tersenyum, sementara itu duta bunga mawar di tempat sembunyinya yang gelap telah melemparkan padanya sebuah benda seraya berkata; "Lambang bunga mawar kepercayaanku ini kau harus simpan baik, jangan kau bikin rusak atau hilang ! Setelah kau mendapatkan getahnya buah lengci itu, tidak perduli kau berhasil menemukan pendekar pemabokan atau tidak, dan berhasil menemukan jejak gadis itu atau tidak, pada waktu tanggal sembilan bulan sembilan tahun ini, kau harus datang ke tempat kediaman tabib kenamaan Say Han Kong yang letaknya di gunung Siong-san untuk mendengar beritaku lebih lanjut!"

Hee Thian Siang menyambut lambang bunga mawar yang dilemparkan oleh duta  bunga mawar, lambang itu ternyata hanya selembar bunga mawar warna ungu yang terbuat daripada batu giok !

Karena kata-kata duta bunga mawar tadi, ia jadi tahu bahwa benda itu pasti sangat berharga dan sangat penting sekali, maka dengan sangat hati-hati ia masukkan di dalam sakunya, kemudian membengkokkan badan memberi hormat kepada duta bunga mawar, setelah itu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, berjalan keluar dari lembah Kim-giok- kok.

Dalam perjalanan pulang itu, Hee Thian Siang telah menjumpai pemandangan alam yang indah permai di daerah pegunungan itu. Karena di waktu ia datang ke lembah tadi justru hujan angin lebat, apalagi dalam hatinya ada urusan, maka ia tidak ada pikiran untuk menikmati pemandangan alam di tempat yang dilalui. Dan sekarang setelah ia berhasil mendapatkan janjinya duta bunga mawar Yang hendak membantu keinginannya, apalagi hujan angin juga sudah berhenti, sudah tentu hatinya merasa lega, maka sepanjang jalan itu ia dapat menikmati pemandangan alam yang sangat indah dengan hati gembira.

Waktu itu meskipun permulaan musim panas, tetapi daerah pegunungan sehabis hujan hawanya sangat sejuk.

Hee Thian Siang yang turun dari puncak gunung Hui- thauw-hong, di bawah suatu tempat yang sebelah kirinya lereng gunung, yang sebelah kanan sebuah rimba kecil, pada saat itu di tengah-tengah lereng gunung itu tiba-tiba terdengar tiga kali suara ser-seran yang sangat pelahan sekali.

Gurunya Hee Thian Siang, Hong-poh Cui yang terkenal sangat tinggi kepandaian ilmu silatnya, dan sangat aneh wataknya, dalam rimba persilatan pada masa itu, merupakan salah seorang yang paling susah didekati. Sehingga ketua dari delapan partai besar perlu menasehati anak-anak muridnya, jangan sampai menimbulkan onar atau menanam permusuhan dengan nenek itu.

Hee Thian Siang yang menjadi muridnya, meskipun baru mendapat enam atau tujuh bagian kepandaiannya, tetapi kepandaian yang dimiliki pada waktu itu sudah cukup menempatkan dirinya menjadi salah seorang kuat dalam rimba persilatan. Suara ser-seran yang masuk di telinganya tadi, sudah cukup baginya untuk membedakan bahwa suara itu adalah suara sambaran pedang, maka ia segera mengelakkan diri dengan jalan lompat melesat sejauh delapan kaki. Baru saja kakinya menginjak tanah, dari belakang dirinya terdengar suara sambaran angin berulang-ulang ketika ia berpaling dan melihat apa yang terjadi, di atas pohon cemara tua, saat itu nampak berbaris menancap tiga bilah pedang kecil yang tidak lebih satu kaki panjangnya, dan yang di bagian gagangnya ada bulu berwarna emas.

Hee Thian Siang meski pun masih muda usianya, tetapi ia pernah dengar tentang senjata rahasia istimewa dari berbagai golongan rimba persilatan, maka begitu melihat pedang itu, ia merasa terkejut dan berkata kepada diri sendiri.

"Pedang bulu emas dari golongan Tiam-cong dengan beruntun dilepaskan sampai tiga, apakah orang yang datang itu jago pedang ketiga dari tiga jago pedang Tiam-cong, yang bernama Su-to Wie dengan julukannya Liong-hui Kiam-khek

?"

Saat itu dari tebing tinggi di belakang dirinya melayang turun sesosok bayangan orang dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh "Naga Sakti menyeberang lautan", dengan gayanya yang ringan sekali melayang masuk ke dalam rimba pohon cemara, bayangan orang itu mengeluarkan kata-kata yang sangat pelahan: "Tempat ini belum terpisah dari puncak Hui-thauw-hong hingga masih merupakan daerah terlarang makam bunga mawar, tidaklah pantas kalau aku mengganggu ketenangan tempat ini, maka aku akan menunggu padamu di luar rimba ini."

"Tiga jago pedang golongan Tiam-cong yang namanya sangat kesohor ternyata juga masih takut kepada duta bunga mawar " Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa dingin.

Belum lagi habis ucapannya, bayangan hitam itu sudah menghilang ke dalam rimba pohon cemara. Thian Siang yang sejak anak-anak sudah dipengaruhi adat aneh gurunya, maka adatnya juga keras dan sombong, ia segera mengejarnya tanpa menghiraukan tempat berbahaya atau tidak, dengan cepat ia sudah mengikuti masuk ke dalam rimba itu.

Rimba pohon cemara itu, luasnya kira-kira setengah pal, begitu keluar dari dalam rimba, benar saja, tampak olehnya seorang yang mengenakan kerudung muka kain hitam, dengan badannya yang tegap, di bawah sinar rembulan yang remang-remang orang ini berdiri tegak sambil menyoren pedang di tangannya.

Hee Thian Siang meskipun beradat sombong dan tidak mudah menyerah kepada siapa pun juga, tetapi karena ia tahu bahwa tiga jago pedang golongan Tiam-cong, namanya sangat terkenal dalam rimba persilatan, maka ia juga harus berlaku hati-hati, dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya pada kedua tangannya, ia berjalan keluar lambat- lambat dari rimba itu.

Orang yang mengenakan kerudung kain hitam itu, ketika menyaksikan Hee Thian Siang yang masih muda belia agaknya di luar dugaannya. Tetapi ia juga dikejutkan oleh sikap sombong pemuda itu, maka lalu bertanya sambil tertawa hambar:

"Kawan, dengan tanpa menghiraukan hujan lebat kau telah masuk dalam pegunungan gunung Bin-san, dan turun dari puncak gunung Hui-thauw-hong, apakah maksudmu datang kemari? Apakah tadi kau pernah berkunjung ke makam bunga mawar?"

Melihat sikap jumawa jago pedang itu, Hee Thian Siang menjawab dengan nada suara dingin ; "Kalau sudah ke puncak gunung Hui-thauw-hong sudah tentu berkunjung ke makam bunga mawar. Dan kalau sudah bersujud di hadapan makam bunga mawar, sudah tentu minta restunya. Pertanyaanmu tadi apakah bukan berlebih-lebihan?"

Dijawab demikian, orang berkerudung hitam itu terdiam. Hee Thian Siang berkata pula:

"Kau ini bagaimana sih, pandai bertanya saja, tetapi tidak mampu menjawab pertanyaan orang? Kau tadi mengancam orang dengan menggunakan tiga bilah pedang bersayap, apakah kau ini bukan Liong-hui Kiam Su-to Wie, salah seorang dari tiga jago pedang golongan Tiam-cong ?"

Orang berkerudung hitam itu tertawa bangga kemudian menghunus pedang dari atas punggungnya, pedang itu memancarkan sinar berkilau dan mengeluarkan suara mengaung. Hee Thian Siang yang menyaksikan itu mundur setengah langkah, tangan kanannya dimasukkan ke dalam lengan baju tangan kiri.

Tak ia sangka bahwa orang berkerudung hitam yang sudah menghunus pedang di tangan, ternyata tidak digunakan untuk melakukan serangan, hanya menggunakan ujung pedang untuk menyontek kain kerudung di mukanya, sehingga kain itu terbang sejauh beberapa kaki.

Di balik kain kerudung hitam itu, tampak wajah seorang laki-laki tampan gagah, berusia kira-kira tiga-puluhan, dan yang paling menarik perhatian orang ialah tanda tahi-lalat merah yang berada di tengah-tengah sepasang alisnya. Pedang panjang berkilauan itu, dan tanda tahi lalat warna merah serta wajahnya yang gagah dan tampan, merupakan tanda khas Su-to Wie, yang di dalam rimba persilatan mendapat julukan Liong-hui Kiam-khek.

Mata Hee Thian Siang memandang lama kepada Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie itu, masih tetap dengan sikapnya yang jumawa, berkata dengan nada suara dingin:

"Mengapa kau tadi berlaku demikian ? Seorang Liong-hui kiam-khek saja apa artinya? Sekali pun ketuamu golongan Tiam-cong-pay sendiri ada di sini, juga belum tentu aku takut

!"

Dengan sinar mata yang tajam, Liong-hui Kiam-khek mengawasi Hee Thian Siang, kemudian bertanya dengan sikap menghina:

"Sahabat, usiamu masih begini muda, tetapi ucapanmu terlalu jumawa, kau sebetulnya bernama apa dan siapakah gurumu?"

Hee Thian Siang tertawa bergelak-gelak kemudian menjawab:

"Namaku Hee Thian Siang, tak termasuk seorang dari golongan mana pun juga dalam rimba persilatan, juga sedikit pun tidak ada permusuhan dengan golonganmu Tiam-cong- pay ! Jikalau kau tidak percaya kau boleh coba dengan menggunakan pedang Cing-he-kiammu, untuk mengetahui ilmu silatku atau gerak tipuku!"

Pedang di tangan Liong-hui Kiam-khek lambat-lambat dimasukkan kembali ke dalam sarungnya, ia berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala:

"Tiga jago pedang dari golongan Tiam-cong, jikalau tidak berhadapan dengan orang yang berimbang kedudukannya, selamanya tidak akan menggunakan pedang "

Belum lagi habis ucapannya sepasang alis Hee Thian Siang tampak berdiri, katanya dengan suara keras:

"Kau sendiri berkedudukan sebagai apa? Sudah berlaku demikian tidak tahu malu, sekali pun kau tidak mau bertempur denganku aku juga akan menempur kau!!"

Dari balik tangan baju kirinya, terdengar suara kerincingan, dari situ dikeluarkan sepasang gelangan bergigi, kecuali giginya yang runcing, juga memancarkan sinarnya berkilauan, benda itu agaknya sangat tajam, namun tidak ada apa-apanya yang aneh.

Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie yang sudah menjelajahi hampir seluruh dunia Kang-ouw ternyata masih belum dapat mengenali nama dan bagaimana gunanya sepasang senjata pergelangan itu. Seketika itu ia terperanjat dan lenyaplah kesombongannya. Ia tahu bahwa pemuda bernama Hee Thian Siang yang sekarang berada di hadapannya itu, mungkin murid dari seorang rimba persilatan yang sudah mengasingkan diri, dan bukan seorang sembarangan.

Sejenak dalam pikirannya bekerja, setelah itu ia berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa: "Saudara Hee tadi mengaku tidak ada permusuhan dengan golonganku Tiam-cong-pay, kalau begitu mengapa kita harus bertempur? Aku hanya hendak minta sedikit keterangan darimu, apakah saudara tidak berkeberatan?"

Oleh karena perubahan Su-to Wie itu, hingga membuat Hee Thian Siang sudah mengeluarkan senjatanya Sam-ciok Kian-hoan, sesaat itu menjadi kesima, karena ia juga tidak suka berlaku keterlaluan terhadap orang yang berlaku baik terhadapnya, maka ia terpaksa menjawab sambil mengerutkan alisnya:

"Kau hendak menanya apa?"

"Saudara Hee tadi sudah berkunjung ke makam bunga mawar, dengan demikian pasti sudah melalui lembah Kim-giok kok, bolehkah aku menumpang tanya, apakah kau pernah berjumpa dengan adik perguruan golongan Lo-hu pay, Peng- Sim Sin-nie yang bernama Ling-po Giok-Lie Cu Bu Kao ?" bertanya Liong-Hui Kiam-khek dengan ramah tamah.

"Orang yang keluar masuk ke makam bunga mawar, hanya melalui jalan itu saja, tetapi aku yang keluar dari sana tadi tidak pernah jumpa dengan Ling-po Giok-lie yang kau maksudkan tadi," menjawab Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala. Liong-hui Kiam-khek yang mendengarkan keterangan pemuda itu matanya terus menatap dirinya, agaknya sedang memikirkan keterangan pemuda itu, betul atau bohong.

Hee Thian Siang yang memperhatikan sikap demikian, matanya terbuka lebar dan bertanya dengan suara gusar.

"Apakah kau tidak percaya dengan keteranganku?"

Liong-hui Kiam-khek agaknya tidak senang terhadap sikap dan kata-kata jumawa Hee Thian Siang tadi, tetapi ia masih berusaha mengendalikan dirinya, sambil mengerutkan alis dan menggoyangkan kepala ia berkata:

"Aku bukannya tidak percaya keteranganmu, tetapi menurut laporan rahasia yang kuterima, budak hina itu dari tempat yang jauh telah datang ke gunung Bin-san, apakah ia tidak pergi bersujud ke hadapan makam bunga mawar?"

"Hei, Ling-po Giok-lie Ca Bu Kao orangnya seperti dengan namanya, biasanya suka menyendiri, kecantikannya dan nama baiknya terkenal di dalam rimba persilatan, mengapa kau mengejarnya? Apakah kau ada maksud "

Mata Su-to Wie dialihkan ke puncak gunung Hui-thauw- hong di belakang rimba pohon cemara, agaknya mengenangkan kembali masa yang sudah lalu, ia menghela napas pelahan, dan berkata lambat:

"Tiga tahun berselang, aku dengan Ca Bu Kao pernah datang kemari dengan bergandengan tangan, bersama-sama bersujud di hadapan makam bunga mawar untuk meminta restunya. "

Tidak menunggu habis ucapan Liong-hui Kiam-khek, Hee Thian Siang sudah menyela:

"Kau dengannya kalau benar pernah berkasih-kasihan, mengapa ucapanmu tadi. ?"

Berkata sampai di situ dari dalam rimba tiba-tiba terdengar suara merdu yang dibarengi dengan suara tertawanya yang menggiurkan:

"Saudara kecil, kau juga orang yang baru pulang dari makam bunga mawar, adakah kau sudah lupa apa yang ditulis di atas batu nisan itu ? Apa yang dikatakan di dalam batu nisan itu memang benar hanya dirubah saja sedikit sifatnya ! Kaum wanita memang mengutamakan kecantikan, wajah Ca Bu Kao yang sudah cacat, perlu apa Su-to Wie hendak berkasih-kasihan lagi dengannya ? Apalagi "

Berkata sampai di situ, orangnya sudah berjalan keluar dari dalam rimba, ia adalah seorang wanita muda berpakaian merah yang usianya kira-kira dua-puluh lima tahun. Wanita itu berjalan menghampiri dan kemudian berdiri di samping Liong- hui Kiam-khek, sepasang matanya dengan lagaknya yang sangat genit mengawasi dalam-dalam kepada Hee Thian Siang, kemudian melanjutkan kata-katanya; "Apalagi golongan Tiam-cong-pay dan Lo-hu-Pay ada permusuhan sangat dalam, dua golongan itu setiap tujuh tahun pasti mengadakan pertandingan satu kali, Su-to Wie yang merupakan salah seorang dari tiga jago pedang golongan Tiam-cong-pay, sekali pun ia jatuh cinta kepada Ca Bu Kao, juga tidak dapat melenyapkan permusuhan dari kedua golongan   itu! Apalagi. "

Hee Thian Siang yang tidak senang menyaksikan, kegenitan wanita itu dalam hatinya merasa mual, setelah mengeluarkan suara dari hidung ia bertanya:

"Sebentar-sebentar kau menggunakan istilah apa lagi dari mana datangnya begitu banyak. "

Wanita muda itu melirik Su-to Wie sejenak dengan sikapnya yang tetap genit memotong ucapan Hee Thian Siang:

"Apalagi ia sekarang sudah memiliki diriku!"

Hee Thian Siang semakin mual melihat sikap wanita genit itu, dengan alis berdiri ia bertanya dengan suara dingin:

"Kau ini sebetulnya manusia apa?" Liong-hui Kiam-khek mendengar pertanyaan Hee Thian Siang yang sangat tidak enak itu wajahnya nampak sedikit berubah, tetapi wanita itu, sedikit pun tidak ambil pusing, ia hanya berseru:

"Ya," lalu berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Saudara kecil, kau ini orangnya sangat tampan dan gagah, hingga menyenangkan bagi setiap orang yang kau hadapi, tetapi mengapa bicaramu demikian ketus? Namaku di dalam rimba persilatan, belum tentu di bawah Ca Bu Kao apakah kau belum pernah dengar nama Tho-hwa Niocu Kie Liu Hiang dari golongan Ki-lian pay ?"

Hee Thian Siang tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya matanya ditujukan kepada Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie, bibirnya nampak bergerak-gerak, sikap pemuda itu terlalu tidak pandang mata terhadap jago pedang dari golongan Tiam-cong, ia mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

Su-to Wie tahu bahwa orang seperti Hee Thian Siang itu tidak mungkin mudah diajak bicara, tetapi ia terpaksa masih bertanya sambil mengerutkan alisnya:

"Mengapa saudara tertawa ?"

Hee Thian Siang menghentikan tertawanya, dengan sinar mata tajam ia memandang Su-to Wie dan berkata:

"Sebelum aku bertemu kau, aku kira bahwa orang yang bernama Su-to Wie dengan julukannya Liong-hui Kiam-khek itu, di dalam golongan Tiam-cong-pay, namanya paling baik, sudah pasti adalah seorang pendekar yang gagah perkasa. Siapa tahu bahwa nama itu tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, kau ternyata merupakan seorang yang tidak dapat melepaskan keduniawian, bahkan dengan mudah kau tergiur oleh paras cantik, sehingga rela hidup bersama dengan perempuan genit yang namanya kurang harum di dalam kalangan Kang-ouw!"

Kata-kata itu sesungguhnya sangat menusuk hati Liong-hui Kiam-khek, bukan saja membuat orang she Su-to itu sangat sakit hati, sehingga timbul nafsunya hendak membunuh pemuda itu, sekali pun orang yang bermuka tebal seperti Tho- hwa Niocu ketika mendengar ucapan itu juga merasa tersinggung.

Hee Thian Siang kembali berkata sambil tertawa tergelak- gelak:

"Su-to Wie, mengapa kau berlagak demikian, Hee Thian Siang memang sudah kandung maksud hendak menempur kalian tiga jago dari golongan Tiam-cong, mengapa kau tidak menghunus pedangmu ?"

Liong-hui Kiam-khek Su-to Wie yang masih mempertahankan kedudukannya berkata dengan nada suara dingin:

"Untuk memberi pelajaran kepada seorang bocah yang masih ingusan, aku Su-to Wie masih belum perlu menggunakan pedang."

Hee Thian Siang yang menampak Su-to Wie tidak mau menghunus pedangnya lalu melemparkan senjata pergelangannya bergigi sendiri, kepada sebuah pohon cemara besar.

Pergelangan bergigi yang disambitkan oleh Hee Thiun Siang itu, hampir setengah masuk ke dalam pohon, dan batang pohon itu juga menggetar daun-daunnya pada rontok. Kehebatan tenaga dalam pemuda itu, agaknya jauh lebih tinggi daripada Liong-hui Kiam-khek yang waktu sebelum unjuk muka sudah melemparkan tiga bilah pedang bersayapnya.

Hee Thian Siang setelah melemparkan senjatanya, dengan kedua tangan terbuka ia berkata dengan sombongnya:

"Su-to Wie, kau tidak mau menghunus pedang Cing-he- kiammu, aku juga tidak akan menggunakan senjataku Sam- ciok kiau-hoan. Dengan sepasang tangan kosong, aku bersedia menyambut serangan tangan kosongmu dan yang merupakan ilmu silat simpanan golongan Tiam-cong yang dinamakan Hui-hoa-ciang !"

Su-to Wie yang menyaksikan Hee Thiun-Siang yang masih sangat muda sekali, namun mempunyai pengetahuan sangat luas tentang berbagai ilmu silat dan senjata, apalagi waktu itu ia dapat menyebutkan dirinya yang memiliki ilmu silat tertinggi dari golongan Tiam-cong-pay, maka diam-diam merasa heran.

Hee Thian Siang tahu bahwa orang she Su-to itu masih mempertahankan kedudukannya, sudah tentu tidak mau membuka serangannya lebih dahulu, maka ialah yang lebih dulu membuka serangan menyerang Su-to Wie.

Su-to Wie yang menyaksikan gerak tipu serangan Hee Thian Siang nampaknya sangat jumawa dan tidak pandang mata dirinya sendiri yang sudah menjadi jago pedang dalam rimba persilatan, diam-diam merasa marah. Ia lalu geser kakinya setengah langkah, dengan kekuatan tenaga delapan puluh persen, ia menyambuti serangan pemuda itu.

Pada waktu itu Tho-hwa Niocu sudah mundur ke samping, sedang mulutnya terus menggumam sendiri menyebut senjata yang dinamakan Sam-ciok-kiau-hoan tadi, ia seolah-olah sedang berpikir keras untuk memikirkan nama senjata itu. Sementara itu Hee Thian Siang yang mengadu tenaga dengan Su-to Wie, kedua-duanya sama-sama merasakan hebatnya lawan, mereka buru-buru lompat mundur, sedang dalam hati masing-masing merasakan kekuatan kedua pihak.

Su-to Wie dikejutkan oleh pemuda yang sombong itu, yang ternyata memiliki kekuatan tenaga yang cukup sempurna, namun ia masih belum mengenali entah dia dari golongan mana. Sedangkan Hee Thian Siang tahu dirinya dari golongan Tiam-cong, dan saat itu ia diam-diam juga mengakui bahwa orang she Su-to itu memang memiliki kekuatan tenaga cukup hebat, karena dengan dirinya sendiri yang menggunakan tenaga seratus persen masih belum dapat menjatuhkan lawannya itu, dan kini terbukti bahwa latihannya sendiri masih belum cukup sempurna.

Maka sikap sombongnya perlahan-lahan lenyap, kini ia terpaksa menggunakan gerak kakinya yang lincah untuk melayani lawannya.

Liong-hui Kiam-khek tertawa dingin, mulai lagi membuka serangannya, dalam golongan Tiam-cong-pay, ilmu pedangnya Hui-hong U-liu Kiam-hwat dan ilmu tangan kosong Hui-hoa-ciang yang terdiri dari delapan jurus, di samping itu masih ada beberapa rupa senjata rahasia yang luar biasa, dengan senjata-senjata itulah untuk menghadapi lawan- lawannya di rimba persilatan.

Sekarang ia yang sudah mengetahui betapa hebatnya pemuda itu, tidak berani memandang rendah lawannya, maka begitu membuka serangannya ia lantas menggunakan ilmu silatnya Hui-hoa-ciang yang sudah terkenal ampuhnya.

Ilmu serangan tangan kosong yang dinamakan Hui-hoa- ciang itu, karena gerak tangan dan kakinya yang lincah dan gesit, apalagi dimainkan oleh Liong-hui Kiam-khek yang berbadan tegap dan berwajah tampan, nampak lebih hebat gayanya. Kedua tangannya yang bergerak lincah dan gesit telah berubah bagaikan bunga yang bertebaran, dalam waktu sekejap saja sudah berhasil mengurung Hee Thian Siang sehingga pemuda yarg sangat jumawa itu berada dalam keadaan yang berbahaya dan terpaksa mundur berulang- ulang.

Kini Hee Thian Siang baru tahu betapa ampuhnya ilmu kepandaian dari golongan Tiam-cong-pay, maka lalu berseru dengan pujiannya:

"Ilmu tangan kosong Hui-hoa-ciang dari Tiam-cong-pay, benar-benar bukan nama kosong belaka. Tetapi Hee Thian Siang yang sudah lama mempunyai hasrat hendak mempelajari ilmu-ilmu ampuh dari berbagai golongan, maka ada lebih baik kalau kau pertunjukkan lagi ilmu pedangmu Hui- Hong U-Liu Kiam-hwat!"

Sehabis berkata demikian, kakinya menggeser ke kanan, dengan beruntun ia memutar tiga kali, ternyata sudah berhasil melepaskan dirinya dari kurungan tangan Liong-hui Kiam- khek.

Percuma saja Su-to Wie yang merupakan salah satu jago pedang dari golongan Tiam-cong-pay, hingga saat itu ia masih belum berhasil mengenali gerak tipu apa dan dari golongan mana yang digunakan oleh Hee Thian Siang.

Akan tetapi karena terdorong oleh semangat dari hawa amarahnya yang sudah mulai berkobar, saat itu pikirannya sudah mulai gelap, maka dengan sinar mata tajam ia berkata kepada lawannya:

"Sahabat she Hee, kepandaian ilmu silatmu benar-benar luar biasa, sekali pun aku Su-to Wie menunjukkan kepartaianku, barangkali juga belum dapat memuaskan dirimu, sekarang cobalah kau sambuti serangan pedangku Hui-hong U-liu Kiam-hwat!"

Sehabis berkata pedangnya digerakkan sehingga mengeluarkan suara mengaung.

Hee Thian Siang juga bergerak melompat ke depan pohon cemara, untuk mengambil senjatanya yang tadi dilampirkan menancap ke batang pohon itu.

Selagi dua jago muda itu hendak mulai bertarung lagi dengan senjata masing-masing, Tho-hwa Niocu yang sejak tadi berdiri di samping dengan berpikir keras tiba-tiba berseru:

"Tahan!!!"

Setelah itu orangnya juga lompat melesat ke tengah-tengah dua orang yang hendak bertarung, dengan sepasang matanya yang jeli ia memandang Hee Thian Siang sejenak, kemudian berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

"Saudara kecil, aku sekarang sudah mengetahui siapa gurumu, kau ternyata adalah murid kesayangan Pat-bin Sin-po Hong-poh Cui. Belum lama berselang, kau sudah mencuri sebutir senjata bomnya Kian-thian-pek-lek dan mengeluyur di kalangan Kang-ouw "

Begitu mendengar disebutnya nama Pak-bin Sin-po, Liong- hui Kiam-khek lantas mengerutkan alisnya, apalagi setelah mendengar bahwa Hee Thian Siang membawa senjata Kian- thian-pek-lek yang terkenal paling ampuh dalam rimba persilatan, maka ia semakin tidak berani menanam bibit permusuhan lagi dengannya.

Namun demikian, karena hawa amarahnya belum padam, maka pedang Cing-lie-kiam yang masih berada di tangannya, ia merasa tidak enak untuk mengembalikan ke dalam sarungnya.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan Tho-hwa Niocu tadi, ia mengatakan dirinya yang sudah mencuri senjata peledak gurunya, sesaat itu mukanya menjadi merah, dalam hatinya diam-diam merasa heran, dengan cara bagaimana wanita itu mengetahui asal-usul dirinya?

Tho-hwa Niocu lalu melirik kepada Liong-hui Kiam-khek dan berkata dengan pura-pura menyesali:

"Mengapa kau tidak simpan senjatamu? Kita telah bertemu secara kebetulan dengan saudara kecil ini, oleh karena satu sama lain tiada permusuhan apa-apa, pertandingan tadi anggap saja sebagai pertandingan persahabatan, maka sebaiknya kita sudahi saja. Apakah kau masih perlu bertarung mati-matian dengan menggunakan senjata tajam?"

Liong-hui Kiam-khek telah menggunakan kesempatan itu menyimpan lagi pedangnya, Tho-hwa Niocu kembali berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa:

"Saudara kecil, kau jangan kaget, aku tadi sebetulnya dari senjatamu yang kau sebut sendiri sebagai Sam-ciok Kian- hoan, barulah dapat menduga asal-usul dirimu! Aku juga pernah dengar kata dari suhumu, oleh karena ia tidak tega kau berkelana di dunia Kang-ouw seorang diri, pula merasa khawatir kau yang belum mempunyai pengalaman dalam dunia Kang-ouw, lalu menggunakan senjata Kian-thian-pek-lek dengan sembarangan, maka ia bergegas hendak turun gunung hendak mencari kau!!" B

Berkata sampai di situ ia berhenti sejenak, dengan sikapnya yang genit itu ia mengerling Hee Thian Siang sebentar, kemudian berkata pula sambil tertawa: "Sementara itu mengenai urusan kita malam ini, oleh karena siapa pun tidak ada yang dirugikan, maka siapa pun juga tidak perlu dibuat pikiran. Peribahasa kata, berjumpa yang tiada terduga-duga, itulah yang dinamakan jodoh. Kita satu sama lain, kelak di kemudian hari jika bertemu lagi di kalangan Kang-ouw, atau saudara kecil kalau kebetulan lewat di gunung Tiam-cong-san atau Kie-lian-san, Liong-hui Kiam- khek aku pasti akan menerima kedatanganmu dengan tangan terbuka!"

Sehabis berkata ia lalu berpaling dan berkata kepada Liong-hui Kiam-khek:

"Ca Bu Kao kalau memang belum pernah datang kemari, perlu apa kau harus mencarinya kembali? Sebaliknya undangan yang dikeluarkan oleh golongan Tiam-cong dan Kie-lian, kau antarkan langsung ke gunung Lo-hu-san, undang Peng-sim Sin-nie pada musim panas tahun depan, untuk mengadakan pertemuan atau pertandingan di lembah kematian di gunung Cong-lam-san!"

Liong-hui Kiam-khek yang seolah-olah tunduk terhadap Tho-hwa Nio-cu, ketika mendengar ucapan itu, memandangnya sejenak lalu bertanya sambil tersenyum:

"Apakah kita perlu berangkat sekarang juga dan tidak berkunjung dulu ke makam bunga mawar untuk meminta restunya?"

"Aku dengan kau tokh sudah bersumpah dan berjanji hendak sehidup semati, walaupun dunia kiamat. cintaku ini tidak akan berubah. Oleh karena kita satu sama lain sudah saling mengerti dan saling mencinta, perlu apa harus minta restu lagi kepada makam bunga mawar?" menjawab Tho-hwa Nio-cu sambil tertawa geli. Sehabis mengucap demikian, ia menganggukkan kepala kepada Hee Thian Siang, lantas berlalu sambil menggandeng tangan Liong-hui Kiam-khek.

Hee Thian Siang mengawasi berlalunya sepasang insan tadi sehingga memutar gunung, lalu berkata sendiri sambil mengeluarkan suara dari hidung:

"Orang hina dina semacam kalian itu, bagaimana boleh menginjak tanah suci makam bunga mawar?"

Belum lama berselang, seperginya Liong-hui Kiam-khek dan Tho-hwa Nio-cu, dari puncak gunung Hui-thian-hong, telah muncul dirinya Ling-po Giok-lie Ca Bu Kao.

Namun wanita ini kini sudah pucat pasi wajahnya, sambil menggertak gigi dan menghela napas, ia hendak terjun ke dalam jurang yang tinggi itu.

Ca Bu Kao yang masih dirundung malang, saat itu timbul niatnya hendak bunuh diri, tetapi ketika mendengar perkataan yang diucapkan oleh Hee Thian Siang tadi, ucapan itu seolah- olah suatu kekuatan dari atas, telah memberi hiburan kepada Ca Bu Kao yang sudah putus harapan. Sehingga niatnya hendak bunuh diri waktu itu dibatalkan. Ia memutar tubuhnya menghadap ke arah makam bunga mawar dan merangkapkan kedua tangannya sambil mendoa. Karena kedatangan Hee Thian Siang ke makam bunga mawar tadi, justru Ling-po Giok- lie baru saja berlalu dari situ, hingga keduanya tidak sampai bertemu muka. Sedangkan duta bunga mawar juga tidak memberitahukan padanya, maka ia sama sekali tidak tahu bahwa Ling-po Giok-lie Ca Bu Kao dengan Liong-hui Kiam- khek Su-to Wie pernah terjadi pertikaian dalam asmara.

Sekarang ia juga tidak menduga sama sekali bahwa ucapannya yang tidak disengaja yang keluar dari mulutnya, telah menyadarkan wanita itu sehingga membatalkan maksudnya yang hendak bunuh diri terjun ke dalam jurang. Ia masih seenaknya dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh lari keluar dari gunung Bin-san hendak pergi ke lautan timur seperti apa yang diberikan petunjuk oleh duta bunga mawar.

Hee Thian Siang yang mengingat dirinya sendiri, juga diam- diam merasa geli, karena ia sendiri dengan gadis berbaju putih itu hanya melihatnya sepintas lalu saja. Namun potongan tubuh yang indah, parasnya yang menggiurkan dan ilmu silat yang sangat tinggi dari gadis itu telah berkesan sangat dalam di dalam otaknya sehingga selalu memikirinya siang maupun malam.

Bayangan gadis itulah yang mendorongnya pergi melakukan perjalanan ke gunung Bin-san, mau minta restu kepada makam bunga mawar yang oleh orang-orang rimba persilatan disohorkan sebagai tempat suci yang sudah banyak membantu pemuda-pemudi yang saling mencinta mencapai maksudnya menjadi suami isteri.

Meskipun ia sendiri masih menyangsikan apakah maksudnya sendiri bisa terkabul atau tidak, namun dalam perjalanannya itu, ia sudah mendapat banyak pengalaman yang berharga.

Tetapi menurut apa yang dikatakan oleh Tho-hwa Nio-cu tadi, katanya gurunya sendiri hendak turun gunung mencari dirinya, maka selanjutnya ia harus berlaku hati-hati, apabila tidak terpaksa jangan sembarangan menggunakan ilmu silat simpanan dan senjata rahasia tunggal, jangan sampai diketahui oleh gurunya. Karena apabila diketemukan oleh gurunya pasti akan dibawa pulang ke gunung lagi.

Duta bunga mawar pernah memberi petunjuk kepadanya, bahwa pulau yang didiami It-pun Sin-ceng terletak di lautan Timur dekat tiga selat di sungai Tiang-kang propinsi Ciat-kang. Hee Thian Siang yang tertarik oleh pemandangan alam di selat tiga, maka dari kota Ban-sian ia pergi ke kota Hong-ciat, di situ ia hendak menumpang perahu menuju ke lautan timur.

Sepanjang jalan itu tidak ada hal-hal yang perlu dicatat. Tapi setelah ia tiba di kota Hong-ciat, selagi hendak numpang perahu, ternyata tidak terdapat sebuah perahu pun juga. Dalam keadaan demikian, ia terpaksa berjalan mondar-mandir di tepi sungai.

Saat itu tampak olehnya seorang nelayan berambut putih dengan tangan memegang jala berdiri di tepi sungai yang airnya sangat deras, sedang matanya ditujukan ke air yang berombak-ombak, kemudian melepaskan jalanya, tak lama kemudian dalam jala itu sudah dipenuhi oleh ikan.

Cara menjala ikan seperti itu, baru pertama kali itu disaksikan olehn ya. Ia yang tertarik oleh cara menjala orang tua itu, sehingga melupakan tugasnya sendiri yang sedang mencari perahu, lalu berhenti di situ, berdiri di belakang nelayan tua dengan penuh perhatian menyaksikan caranya orang tua itu menjala ikan.

Nelayan tua itu telah berhasil mendapat lima belas ekor ikan besar, nampaknya ia merasa puas dan menghentikan jalanya, kemudian memutar tubuh dan berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa tergelak-gelak:

"Anak muda, karena kau sudah melihat setengah hari caraku menjala, maka aku berikan kepadamu seekor ikan segar untuk kau jadikan teman arak, sukakah kau menerimanya?"

Setelah berhadapan dengan nelayan tua itu Hee Thian Siang baru dapat melihat orang tua itu meskipun usianya sudah lanjut, namun semangatnya masih menyala-nyala, jelas orang tua itu bukanlah orang sembarangan yang mungkin sengaja menyembunyikan diri di kalangan nelayan.

Atas pertanyaan nelayan tua tadi, ia lalu menjawab sambil tertawa dan memberi hormat:

"Bapa, kalau kau senang memberikan aku seekor ikan segar, mengapa tidak sekalian memberikan araknya?"

Mendengar perkataan itu, kembali nelayan tua itu memperhatikan Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil tertawa dan mengangguk-anggukkan kepala:

"Anak muda, kau suka berlaku terus terang, sesungguhnya merupakan orang yang sangat baik! Semua ikanku ini, sudah ada pemesannya, sekarang kuminta kau tunggu di sini sebentar, setelah aku nanti mengantarkan ikan-ikanku ini, aku nanti akan membelikan sedikit arak, kita boleh makan ikan dan minum arak sambil menikmati hawa malam di tepi sungai ini!"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala sambil tersenyum, nelayan tua itu lalu membawa keranjangnya yang penuh ikan, dengan sangat gembira berlalu sambil bernyanyi- nyanyi. Pada waktu itu matahari sudah mulai condong ke barat, air ombak yang sedang pasang hampir merupakan tembok tinggi yang bisa bergerak. Hee Thian Siang dengan seorang diri berdiri di tepi sungai, diam-diam berpikir, sungai Tiang-kang ini belum lagi memasuki selat, airnya sudah demikian hebat, bagaimana keadaannya nanti kalau kita sudah memasuki selat?

Sinar matahari di waktu senja, memang sangat indah pemandangannya, tetapi pemandangan alam seindah itu tidak lama, sebab sudah keburu diganti oleh kedatangannya sang malam. Ketika malam tiba, di belakang dirinya terdengar suara nelayan tua tadi, yang dibarengi dengan suara tertawanya.

"Anak muda, apakah air sungai yang mengalir deras ini memberi kesan di dalam hatimu? Tetapi seperti apa yang dikatakan oleh orang-orang: Ombak air sungai Tiang-kang yang belakang mendiring yang depan, dalam dunia orang yang baru menggantikan yang lama. Orang semuda seperti kau ini justru seperti bulan yang baru muncul, memancarkan sinarnya yang sangat indah. "

Hee Thian Siang mengerti bahwa ucapan orang tua itu mengandung filsafat dalam, ia lalu memutar tubuhnya dan berkata sambil tertawa:

"Semua air sungai yang mengalir ke timur, akhirnya toh masuk ke dalam lautan. Manusia berapa lama hidup dalam dunia ? Seperti air dalam sungai, rembulan di atas langit, masing-masing mempunyai suka dukanya sendiri. Ombak air sungai Tiang-kang barangkali masih tidak sanggup menelan semangat pendekar yang tulen, namun ia juga merupakan saksi mati sepanjang masa atas banyak jiwa yang melayang di dalam sungai ini, semata-mata karena berebut pengaruh berebut nama dan kedudukan kosong!"

Nelayan tua yang mendengarkan ucapan Hee Thian Siang, semangatnya terbangun. Ia meletakkan cawan di tangannya dan berkata tertawa terbahak-bahak:

"Anak muda, dalam usiamu yang masih muda belia seperti ini, kau sudah mempunyai pandangan yang sangat luas, sesungguhnya jarang ada! Tetapi sebutanmu padaku yang selalu menggunakan istilah bapak, seolah-olah menimbulkan kesan bahwa aku ini sudah mendekati liang kubur! Maka sebaiknya sebut namaku Kiong Lam saja. Dan Kau? Apakah kau orang rimba persilatan yang hendak pergi ke gunung Bu- san ?" Mendengar ucapan terakhir nelayan tua yang menamakan diri Kiong Lam itu, Hee Thian Siang tercengang, buru-buru menyelanya sambil tertawa:

"Namaku Hee Thian Siang, meskipun mengerti sedikit ilmu silat, juga terhitung salah seorang rimba persilatan, tetapi aku masih belum tahu ada kejadian apa sebetulnya di atas gunung Bu-san itu?"

"Kalau kau tidak tahu urusan ini, itulah paling baik. Iblis wanita itu sesungguhnya susah sekali dihadapi. Sampai pun salah seorang dari golongan Bu-tong dan salah seorang dari Siauw-lim, tidak berdaya menghadapinya, sehingga.....

mengalami kematian di dalam air!"

Hee Thian Siang yang mendengarkan ucapan nelayan tua itu, ia semakin merasa bahwa di dalam hal itu sesungguhnya sangat menarik, maka lalu berkata:

"Bapa Kiong. "

Baru saja mengeluarkan sepatah katanya, Kiong Lam sudah menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata sambil tertawa:

"Hee laote, aku tahu, kau yang masih muda gemar sekali dengan keramaian, kau tentunya ingin mendengar kisah ini? Tetapi kau harus hapuskan sebutan Bapa tadi, panggil saja aku Kiong toako, itu sudah cukup!"

Hee Thian Siang memang sudah tahu bahwa orang tua yang mengaku bernama Kiong Lam itu sesungguhnya bukan orang sembarangan, maka ia menurut dan merubah panggilannya, ia berkata sambil tertawa:

"Toako, siaute baru pertama kali ini menginjak kaki di kalangan Kang-ouw, hingga pengalamanku sangat dangkal sekali, oleh karena ada suatu urusan, aku harus pergi ke lautan timur, tetapi di kota Hong-ciat ini aku tidak berhasil menemukan sebuah perahu pun untuk membawa aku ke sana, hingga aku tahu dalam hal ini pasti ada sebabnya! Bolehkah kiranya toako menceritakan kisah yang menyangkut diri iblis wanita dari gunung Bu-san itu sambil minum arak di sini?"

Kiong Lam menganggukkan kepala sambil tersenyum, ia lalu membuat api untuk menggoreng ikan, setelah itu ia membuka botol araknya, dengan Hee Thian Siang sama-sama duduk di sebuah batu besar di tepi sungai, sembari minum ia berkata sambil tertawa:

"Gunung Bu-san yang mempunyai puncak dua belas itu memang paling banyak kisahnya. Di puncak gunung Tiao-in- hong, didiami oleh seorang iblis, meskipun kau baru pertama menginjak dunia Kang-ouw, tetapi tentunya sudah pernah kau mendengar nama Thian-gwa Ceng-mo, bukan?"

Hee Thian Siang berseru kaget dan bertanya:

"Ow! Thian-gwa Ceng-mo Tiong Sun Seng juga merupakan orang yang paling susah dihadapi dari tiga orang yang paling aneh dalam rimba persilatan dewasa ini! Ilmu silatnya luar biasa anaknya, jejaknya tidak menentu, apakah dia berdiam di puncak Tiao-in-hong gunung Bu-san ini?"

"Kata-katamu tadi memang tidak salah, Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui, Thian-gwa Ceng-mo Tiong Sun Seng dan Hong-bin Ong-khek Ma Sing Ong, mereka bertiga disebut sebagai orang yang paling susah dihadapi dalam rimba persilatan dewasa ini! Sedangkan Tiong Sun Seng yang sifatnya aneh dan jejaknya tidak menentu, ia juga merupakan orang yang paling susah didekati di antara tiga orang aneh itu. Tetapi orang yang jejaknya tidak menentu seperti dia itu, dengan cara bagaimana bisa berdiam lama di gunung Bu- san? Di dalam puncak Tiao-in-hong ada berdiam seorang murid wanita bernama Hwa Jie Swat, dengan julukannya Bu- san Sian-cu. Dengan Tiong Sun Seng merupakan setengah murid dan setengah anak angkat."

Hee Thian Siang merasa tertarik oleh keterangan orang tua itu, sekaligus ia dapat menghabiskan tiga cawan arak, kemudian ia bertanya sambil tersenyum:

"Tiong Sun Seng meskipun susah dihadapi tetapi anak muridnya belum tentu demikian hebat! Dengan cara bagaimana Bu-san Sian-cu Hwa Jie Swat dapat menggunakan pengaruhnya, sehingga perahu-perahu di sini menyingkir jauh- jauh dan tidak bersedia menyeberangkan orang?"

Kiong Lam telah mendapat kenyataan bahwa pemuda itu gemar minum arak, apalagi setelah mendengar keterangan tentang diri Thian Gwa Ceng-mo agaknya tidak merasa takut, maka ia tahu bahwa anak muda itu, pastilah bukan orang sembarangan. Maka ia segera menjawab:

"Bagaimana pun jahatnya Hwa Jie Swat, juga tidak sampai berani memutuskan hubungan perahu di sungai Tiang-kang ini! Hanya pada hari-hari yang ditentukan, ialah pada setiap tahun tanggal lima belas, enam belas, tujuh belas, bulan lima, ada larangan yang dibuat olehnya, yang melarang semua perahu berlayar melewati gunung Bu-san, barang siapa yang berani berlayar akan mendapat kesusahan yang memusingkan kepala!"

Hee Thian Siang waktu itu segera menghitung-hitung harinya, memang benar malam itu justru tanggal lima belas bulan lima, bulan di langit sedang bundarnya, maka lalu berkata kepada Kiong Lam:

"Tolong Kiong toako berikan keterangan lebih jelas apabila dalam waktu tiga hari yang ditentukan oleh Bu-san Sian-cu itu seandainya ada perahu yang berani berlayar di bawahnya gunung Bu-san akan mendapat kesulitan apa?"

"Hwa Jie Swat yang berdiam di puncak Tiao-in-hong jarang sekali turun gunung hanya pada setiap tahun dan tiga hari yang ia sudah tentukan, di malam bulan purnama ia pasti turun gunung dan dengan seorang diri menggadangi puteri malam di tepi sungai, jika menemukan orang rimba persilatan yang berlayar di situ pasti diganggunya. Kadang-kadang diajak bertanding ilmu silat, kadang-kadang juga mengajak pertaruhan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dan aneh-aneh! Tanggal enam belas bulan lima tahun yang lalu, Lie-tim-cu dari golongan Bu-tong dan Tiat-ciang Gin-so Lok Kiu Siang dari golongan Siau-lim, sewaktu berlayar melalui gunung Bu-san dan berjumpa dengan Hwa Jie Swat, karena tidak berhasil memenangkan pertandingan dan pertaruhan, dua-duanya harus terjun ke dalam air sungai, karena merasa malu!"

Mendengar penuturan itu, sepasang alis Hee Thian Siang berdiri, setelah berdiam sejenak kemudian berkata lambat- lambat:

"Hwa Jie Swat ini pasti pernah mengalami kegagalan dalam asmara atau patah hati, jikalau tidak, tidaklah mungkin ia sengaja mempersulit orang-orang rimba persilatan yang pada hari-hari yang ditentukan itu lewat di gunung Bu-san! Jikalau toako ada keberanian. "

Tidak menunggu Hee Thian Siang menjelaskan maksudnya, Kiong Lam sudah memotong sambil tertawa:

"Maksud Hee laote, apakah hendak mengajak aku mengawani kau berlayar melalui gunung Bu-san, untuk menjumpai Hwa Jie Swat?" Baru saja Hee Thian Siang menganggukkan kepala, Kiong Lam sudah berkata pula:

"Kiong Lam sebetulnya tidak memiliki kepandaian apa-apa, hanya kepandaian mengemudikan perahu dan menyelam di dalam air, aku yakin masih boleh diandalkan. Karena aku merasa senang bersahabat dengan pemuda seperti kau ini, maka apa salahnya kalau aku mengiringi kehendakmu? Jikalau ketemu dengan Hwa Jie Swat, aku hendak menonton laote menghadapi Hwa Jie Swat. Seandainya tidak ketemu, aku akan antar keluar kau dari selat See-leng-kiap!"

Mendengar ucapan itu, bukan kepalang girangnya Hee Thian Siang, maka ia segera memberi hormat dan mengucapkan terima kasih. Ketika ia bangkit dari tempat duduknya, ia sengaja menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya kepada lengan di jubahnya dan ketika lengan jubah itu menyentuh ujung batu, ujung batu itu lantas hancur. Kiong Lam yang menyaksikan kejadian itu, lalu berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

"Laotee tidak perlu menunjukkan kepandaianmu untuk melegakan hatiku! Dari sikap dan keberanianmu, bagi orang yang mempunyai sedikit pengalaman saja di dunia Kang-ouw, begitu melihat sudah bisa mengetahui kalau kau bukan orang dari golongan sembarangan! Mari sekarang kita pergi dulu ke kediamanku untuk mempersiapkan perahuku, besok malam kita sudah bisa tiba di bawah kaki gunung Bu-san. Tentang kepandaian ilmu silat Hwa Jie Swat, mungkin masih mudah kau hadapi, hanya pertanyaan-pertanyaannya yang aneh- aneh yang digunakan sebagai pertaruhan, yang paling susah dihadapi. Maka laotee harus berhati-hati sedikit!"

Dalam hati Hee Thian Siang meski tidak dapat membenarkan anggapan Kiong Lam, namun mulutnya masih menyatakan terima kasihnya atas peringatan itu. Setelah semua persiapan selesai, malam itu juga dua kawan itu lalu menumpang sebuah perahu kecil berlayar menuju ke timur. Nelayan tua Kiong Lam itu, sesungguhnya merupakan seorang tukang perahu yang sangat pandai, ia mengemudikan perahunya di atas air sungai yang ombaknya keras itu dengan seenaknya, bahkan masih beromong-omong dan tertawa-tawa.

Kalau tiba di tempat yang indah pemandangan alamnya, ia sengaja berhenti dan membiarkan perahunya berputaran mengikuti arahnya air.

Hee Thian Siang yang memang sangat pemberani dan sifatnya yang gemar segala barang aneh, ketika menyaksikan kepandaian Kiong Lam, mengemudikan perahu yang mahir sekali, malah minta supaya mencari tempat yang airnya mengalir paling deras, perahunya menerjang ombak bagaikan terbang.

Dengan tiba-tiba ia teringat kepada diri seorang jago dari rimba persilatan yang mahir dalam air, maka lalu bertanya kepada Kiong Lam:

"Kiong toako, namamu Kiong Lam itu, jikalau dibalik, justru menjadi Lam Kiong, dan kau juga pandai sekali mendayung perahu, apakah kau bukannya Lam Kiong Phay, yang dalam kalangan Kang-ouw mendapat julukan In-po Kun-siu dan yang dahulu pernah menjagoi daerah telaga Tong-teng-ouw?"

Kiong Lam yang ditanya demikian secara mendadak, semula tercengang, tetapi kemudian menjawab sambil tertawa terbahak-bahak:

"Hee laotee, pandangan matamu sesungguhnya sangat tajam sekali. Dengan terus terang, In-po Kun-siu adalah saudara tuaku, tetapi sudah lama meninggal. Namaku sendiri sebetulnya Lam-kiong Hao, tetapi nama itu sudah lama tidak kugunakan, maka sebaiknya kau sebut aku Kiong toako saja!"

Hee Thian Siang dapat merasakan bahwa suara tertawa orang tua yang mengaku bernama Lam-kiong Haoi itu ada mengandung kedukaan hebat, ia tahu bahwa jago-jago dunia Kang-ouw seperti ini, tidak mungkin mengasingkan diri tanpa sebab, dalam halnya orang tua itu pasti pernah mengalami pukulan hebat atau kedukaan yang terlalu besar yang menindih hatinya, maka lalu berkata:

"Bapak Lam-kiong, kau tadi berkata bahwa denganku kau sudah anggap sebagai sahabat akrab, bagaimana kau yang agaknya mempunyai kesusahan dalam hati, tidak mau menceritakan terus terang kepadaku. ?"

Lam-kiong Hauw agaknya teringat masa yang lampau, ia mendongakkan kepala memandang tebing-tebing di kedua sisi yang menjulang ke langit, setelah menenangkan pikirannya lalu memotong ucapan Hee Thian Siang.

"Hee Laotee, aku tahu kau adalah seorang pendekar yang berjiwa ksatria,. tetapi rahasia dalam hati Lam-kiong Hao, untuk sementara aku tidak dapat menceritakan padamu,. Setahun kemudian kita nanti bisa bertemu muka lagi aku pasti akan menceritakan padamu bahkan ada kemungkinan aku akan minta bantuan tenagamu!"

Dengan tanpa dirasa, perahu itu sudah tiba di selat Bu- hiap, gumpalan-gumpalan air yang sudah beku menjadi es telah tampak di bagian-bagian gunung Bu-san yang hijau. Lam-kiong Hauw memperlambat lajunya perahu, berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa:

"Sekarang kita sudah melewati habis selat ini, dua tebing yang menjulang ke langit ini adalah gunung Bu-san! Paling banyak memutar tiga kali putaran lagi, Bu-san Sian-cu pasti akan keluar!"

Baru menutup mulutnya, di bagian tikungan sudah terdengar samar-samar suara nyanyian yang dinyanyikan oleh seorang perempuan. Hee Thian Siang yang mendengar nyanyian itu lalu berkata sambil tertawa:

"Dia telah menyanyikan lagi dari syair-syair pujangga ternama di zaman Siok, apakah murid dan anak angkat Thian Gwa Ceng-mo ini seperti apa yang aku duga adalah ??"

Berkata sampai di situ, perahu kecil itu mengikuti mengalirnya air sungai, sesudah memutar di bawah kaki bukit, di situ jauh-jauh sudah tampak seorang wanita berbaju putih, berdiri di antara bukit-bukit itu, gaunnya yang berwarna putih berkibar-kibar di tiup angin. Wanita itu mendongakkan kepala, memandang bulan purnama, sedang mulutnya menyanyikan lagu-lagu yang nadanya berubah dari semula.

Selagi suara nyanyian itu masih terdengar dalam telinga dua orang itu, tiba-tiba berkelebat sinar emas, meluncur keluar dari lengan baju wanita berbaju putih itu, sinar itu melesat dan turun ke dalam sungai.

Lam-kiong Hauw yang menyaksikan keadaan itu, alisnya berdiri, sambil mengemudikan perahunya melalui air sungai yang mengalir deras, perahu itu agak dimiringkan dan didayung menuju ke tempat wanita itu berdiri, di samping itu ia berkata kepada Hee Thian Siang:

"Hwa Jie Swat jika melihat ada perahu mendatangi, lalu menggunakan tambang Kim-kau Tiang-sok, dilemparkan ke tengah sungai, jikalau kita tidak keburu menepi, asal dia menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, begitu tambang itu digerakkan, perahu kita akan terbalik, dan orangnya akan tenggelam, akan tamatlah riwayat kita!" Hee Thian Siang ketika mendengar keterangan Lam-kiong Hauw telah mengetahui bahwa Bu-san Sian-cu itu agak keterlaluan tindakannya, selagi hendak membuka mulut, di hadapan matanya tampak berkelebat sinar terang, dan kemudian meluncur pula seutas tali yang ujungnya diikat sebuah benda yang tajam runcing, benda itu lalu menancap ke kepala perahu.

Lam-kiong Hauw tertawa terbahak-bahak, ia lalu menghentikan dayungnya dan membiarkan Bu-san Sian-cu menarik perahunya, hingga sebentar kemudian sudah merapat dengan bahwa kaki gunung.

Hee Thian Siang yang berdiri di bagian kepala dengan sinar mata yang tajam telah mengetahui bahwa Bu-san Sian- cu itu kira-kira usianya dua-puluh tujuh tahunan, bentuk tubuhnya sedang, tetapi wajahnya meskipun cantik, namun sikapnya agaknya sangat murung, di ujung matanya bahkan memancarkan sinarnya yang agak buas.

Terpisah kira-kira dua tombak dengan pantai, Hee Thian Siang dan Lam-kiong Hauw dua-duanya sudah lompat dari perahunya.

Hwe Jie Swat lalu menambat perahu itu dengan sebuah batu besar, setelah itu sambil mengawasi Lam-kiong Hauw berkata:

"Tua bangka, bagus sekali ilmumu mendayung perahu, kau agaknya kenal betul keadaan di selat ini, seharusnya kau adalah penduduk di daerah tiga selat! Tetapi mengapa kau berani melalui jalan di daerah yang terlarang ini? Apakah kau tidak tahu peraturan yang sudah aku tetapkan?"

Lam-kiong Hauw tersenyum, ia menjawab sambil mengurut-urut jenggotnya: "Peraturan itu, adalah kau sendiri yang membuatnya, apalagi kau membuat peraturan itu disebabkan karena dahulu ada orang yang tidak menepati janji untuk datang ke tepi sungai ini pada tanggal lima-belas hingga tujuh-belas bulan lima, kau lalu melemparkan kemarahanmu kepada setiap orang yang lewat di tempat ini, dengan demikian kau telah membuat peraturan semacam itu, barang siapa yang melewati selat ini pada setiap tahun pada hari dan bulan itu, kau lantas anggap sebagai orang melanggar janjimu dan lantas merasa benci. Perbuatan semacam itu semata-mata hanya perbuatan untuk membalas dendam terhadap orang yang tidak menepati janji kepadamu itu!"

Hwa Jie Swat agaknya terkejut oleh ucapan orang tua itu, yang mengetahui keadaan dirinya, alisnya lalu berdiri, matanya memancarkan sinar tajam, kemudian berkata lambat- lambat:

"Kalau kau sudah mengetahui sebab musabab aku membuat peraturan ini, apakah kau sengaja datang kemari? Mengapa kau tidak memberitahukan namamu?"

Hee Thian Siang yang merasa tidak senang menyaksikan sikap sombong perempuan itu, lalu berkata dengan suara lantang:

"Aku bernama Hee Thian Siang, dan Tuan ini adalah toako- ku Lam-kiong Hauw, aku merasa heran mendengar ucapanmu tadi, tokh tidak mungkin daerah sungai Tiang-kang seluas ini adalah milik pribadimu, sehingga kau dapat mengeluarkan larangan seenaknya saja. Aku ada urusan perlu pergi ke lautan timur, hingga minta Kiong toako mengantarkan aku melalui selat ini, meskipun aku tahu bahwa kau akan merintangi perjalananku, tetapi aku sudah bersedia untuk menyambuti ilmu silatmu yang kau dapatkan dari Thian-gwa Ceng-mo Tiong Sun Seng dan bersedia pula untuk menjawab pertanyaan yang aneh-aneh itu, sedikit pun tidak ada niat untuk melanggar dengan sengaja!"

Hwa Jie Swat dengan tenang mendengar ucapan Hee Thian Siang, sinar matanya sebaliknya tidak begitu kejam lagi, sikap yang sombong perlahan-lahan juga mulai menghilang dan berubah ramah tamah dan berkata sambil tersenyum:

"Saudara kecil, kau pandai bicara dan berani sekali. Kau ternyata tidak takut ilmu turunan Thian-gwa Ceng-mo dan pertanyaan yang aneh-aneh, bolehkah kau memberitahukan kepadaku, kau ini murid dari golongan mana?" "

Aku dengar kabar kau sengaja dan suka sekali mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh untuk menyusahkan orang yang hendak lewat di sini, kau juga senang sekali mengadakan taruhan dengan pertanyaanmu yang aneh-aneh itu. Apa salahnya kalau aku sekarang mencoba bertaruh denganmu, jika aku tidak dapat menjawab semua pertanyaanmu, aku akan menjawab dengan jujurnya tentang guruku. Sebaliknya apabila aku dapat menjawab dengan benar, maka kau harus menyediakan arak dan barang hidangan untuk menjamu kita, aku harap kau jangan terlalu pelit!"

Hwa Jie Swat kembali mengamat-amati pemuda yang sangat berani itu, kemudian berkata sambil mengangguk- anggukkan kepala dan tertawa:

"Kau saudara kecil ini, sesungguhnya merupakan orang yang paling menyenangkan dari orang-orang yang pernah kujumpai pada beberapa tahun ini! Tidak perduli kau dapat menjawab dengan tepat atau tidak pertanyaan yang kuajukan, sudah seharusnya aku yang bertindak selaku tuan rumah akan menjamu padamu!"

Sehabis berkata, ia lalu mendongakkan kepala dan mengeluarkan siulan panjang. Hee Thian Siang tahu bahwa perempuan itu sedang memanggil pelayannya untuk menyediakan barang hidangan, maka segera menarik tangan Lam-kiong Hauw dan duduk di atas batu, dengan tenang menantikan pertanyaan yang akan diajukan oleh Hwa Jie Swat.

Hwa Jie Swat sehabis memanggil pelayannya lalu membereskan rambutnya yang awut-awutan setelah itu ia menunjuk rembulan di atas langit dan berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum:

"Saudara kecil, pertanyaan pertama ini tidak besar artinya, maka pertanyaanku juga tidak terlalu sulit, rembulan di atas langit itu mengapa bisa suram, dan mengapa bisa terang? Mengapa kadang-kadang bundar dan kadang-kadang hanya setengah?"

"Manusia ada suka dan dukanya, begitu pun dengan rembulan, ada masa suram juga ada masa terang, ada peribahasa pernah berkata: Jika ada cinta kasih, orang tidak akan merasa tua, jika tidak ada kemasgulan, rembulan akan tetap bundar! Pertanyaanmu yang pertama ini sesungguhnya terlalu. "

Belum lagi habis ucapannya, di bawah sinar rembulan tiba- tiba tampak berkelebat bayangan orang yang muncul dari puncak gunung, dua bayangan orang itu adalah dua pelayan wanita berbaju hijau, tangan mereka masing-masing membawa rantang yang berisi barang hidangan.

Barang hidangan dan arak disediakan di atas batu, kemudian memberi hormat kepada tuan rumah dan tetamunya, setelah itu berdiri sambil meluruskan tangannya.

Hwa Jie Swat menuangkan araknya kepada Hee Thian Siang dan Lam-kiong Hauw, setelah itu ia berkata sambil tertawa: "Saudara kecil, kau jangan anggap pertanyaan tadi terlalu mudah, kau harus tahu bahwa pertanyaan yang sulit-sulit masih akan menyusul, sekarang pertaruhan apa dengan pertanyaanku yang kedua?"

Hee Thian Siang telah dapat menyaksikan bahwa Hwa Jie Swat yang menuangkan arak lebih dulu kepada Lam-kiong Hauw, sikapnya sangat tenang, tetapi ketika menuangkan arak kepada dirinya sendiri, sikapnya agak gemetar, pipinya berubah merah, agaknya sedang mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya.

Hwa Jie Swat diketahui oleh Hee Thian Siang sebagai murid dan anak angkat Thian-gwa Ceng-mo Tiong Sun Seng, sudah tentu ia tidak berani memandang ringan, maka diam- diam mengerahkan ilmu kepandaian perguruannya yang dinamakan Kian-thian Khie-kang, dikerahkan kepada lengan tangannya, dengan satu tangan menyambut cawan yang disuguhkan oleh Hwa Jie Swat, sambil tertawa.

Begitu tangan menyambut cawan arak, Hee Thian Siang segera dapat merasakan bahwa kekuatan tenaga dalam perempuan itu terlalu kuat sekali, hingga ia sendiri hampir tidak dapat tahan lama!

Seketika itu wajahnya menjadi merah, selagi hendak menambah kekuatan tenaga sendiri, Hwa Jie Swat tiba-tiba menarik kembali kekuatan tenaga dalamnya, lalu berkata sambil tersenyum ramah:

"Saudara kecil, pertanyaanku yang pertama, meskipun sudah kau jawab dengan betul, tetapi aku juga sudah mengetahui asal-usul dirimu, kau adalah murid Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui!"

Lam-kiong Hauw yang mendengar ucapan itu, bukan kepalang terkejutnya, maka diam-diam merasa kagum atas diri pemuda itu, pantas saja kalau ia tidak takut nama besar Thian-gwa Ceng-mo Tiong Sun Seng, karena ia sendiri juga merupakan murid salah seorang dari tiga orang yang terkenal sangat sulit dilayani itu.

Hee Thian Siang yang sudah diketahui asal-usulnya oleh Hwa Jie Swat, terpaksa menganggukkan kepala, ia berkata kepadanya:

"Pertaruhan pertama adalah aku yang usulkan, maka pertaruhan yang kedua ini seharusnya kau yang menetapkan!"

"Saudara kecil, adat dan watakmu ini benar-benar mirip dengan suhumu yang keras kepala, tetapi keras kepala suhumu sangat menakutkan orang, sedangkan sifat keras kepalamu sangat menyenangkan! Oleh karena Hwa Jie Swat dahulu sudah pernah bersumpah, sebelum orang yang dahulu mengingkari janji kepadaku itu datang memenuhi janjinya, aku tidak akan berlalu dari gunung Bu-san ini. Maka pertanyaanku kedua ini, aku kira kutetapkan demikian: Jikalau aku yang menang, dalam waktu tiga tahun kau harus tolong aku mencarikan orang yang mengingkari janjinya itu, minta ia lekas datang untuk memenuhi janjinya. Jikalau kau yang menang, aku nanti akan memberi hadiah sesuatu benda yang sangat berguna bagimu!"

Hwa Jie Swat berkata pula sambil menunjuk rembulan. "Saudara kecil, kau tadi menggunakan kata-kata dari

peribahasa dari rembulan yang akan terus bundar apabila

tidak ada kemasgulan. Sekarang aku hendak bertanya kepadamu, rembulan purnama yang cahayanya menyinari seluruh jagat ini, bagaimana bisa masgul?"

Hee Thian Siang mengerti bahwa pertanyaan yang bersifat khayalan ini tidak dapat dijawab dengan positif, harus diimbangi dengan khayalan pula, yang penting, jawaban itu harus mengenakan dengan jitu terhadap perasaan dan persoalan yang menimpa diri gadis itu.

Maka ia berpikir dahulu, baru menjawab lambat-lambat: "Aku teringat kepada dua bait syair pujangga Lie Siong Ing

yang bunyinya begini:

"Siong-Go (Dewi Rembulan) seharusnya merasa menyesal atas perbuatannya mencuri obat mujizat. Di bawah langit yang biru, di atas laut yang luas, tiap malam hati tergoda." Demikian pun dengan keadaanmu, perasaan dalam hatimu mungkin sama, atau setidak-setidaknya mirip dengan Dewi Rembulan itu."

Jawaban Hee Thian Siang itu, benar saja telah menggerakkan hati Hwa Jie Swat, dengan tiba-tiba ia menundukkan kepala dan airmatanya mengucur deras sekali!

Lam-kiong Hauw merasa khawatir keadaan akan menjadi runyam, maka lalu memperdengarkan suara batuk-batuknya, selagi hendak membuka mulut, Hwa Jie Swat sudah memesut airmatanya dengan menggunakan lengan bajunya, setelah itu dari dalam badannya ia mengeluarkan segulung jala sutera merah, benda itu diberikan kepada Hee Thian Siang seraya berkata sambil tertawa getir:

"Saudara kecil, dalam babak kedua ini kembali aku mengalami kekalahan, jala ini sekarang kuberikan kepadamu!"

Mata Hee Thian Siang ditujukan kepada benda halus warna merah di tangan Hwa Jie Swat, sikapnya menunjukkan rasa terkejut, sambil mengulurkan tangan menyambuti benda itu, mulutnya bertanya sambil mengerutkan alis:

"Apakah ini bukan jala sutera merah darah yang dinamakan pula dengan Jala Asmara itu?" "Suhumu dengan Suhuku sama-sama terkenalnya, jala sutera merah darah dan senjata peledak kian-thian pek-lek, dua-duanya sama terkenalnya. Yang satu tergolong benda lunak, dan yang lain tergolong benda keras. Dengan dua benda itu kau gunakan sebagai bekal dalam dunia Kang-ouw, sangat berguna sekali bagimu!" berkata Hwa Jie Swat sambil menganggukkan kepala.

Dalam keadaan yang sangat girang, Hee Thian Siang menerima pemberian benda wasiat itu, kemudian berkata kepada Hwa Jie Swat sambil tertawa:

"Sebagai manusia, kita harus bisa mengutamakan keadilan! Tapi sebelum kita mengadakan pertaruhan yang pertama kali, kau pernah mengucapkan bahwa dalam pertaruhan ini tidak perduli menang atau kalah, kau akan berlaku sebagai tuan rumah untuk menjamu kita! Jadi sekarang setelah pertaruhan yang kedua ini berakhir, aku juga berjanji kepadamu, dalam waktu tiga tahun, aku hendak mencarikan orang yang telah mengingkari janji terhadapmu itu, aku akan minta padanya supaya datang kemari untuk menepati janjinya, dengan ini sebagai balasannya terhadap kebaikanmu kepada kami berdua!"

Hwa Ji Swat memandang Hee Thiang Siang sejenak, dari sepasang matanya memancarkan sinar terharu, Hee Thian Siang kembali bertanya padanya:

"Orang yang mengingkari janjimu itu, siapakah sebetulnya?

Sekarang kau seharusnya memberitahukan kepadaku."

Paras Hwa Ji Swat sebentar nampak merah, agaknya merasa malu, jawabnya dengan suara gelagapan:

"Dia.... dia. dia adalah orang yang dahulu tinggal di pulau

Kura di lautan timur, tetapi sekarang sudah melakukan perjalanan ke seluruh dunia, entah di mana adanya, namanya atau julukannya adalah It-pun Sin-ceng!"

Jawaban itu membuat terkejut dan terheran-heran kepada Hee Thian Siang dan Lam-kiong Hauw sebab dari ucapan dan sikap Hwa Ji Swat, mereka telah mengetahui dengan jelas, bahwa di antara dua insan ini pasti pernah terjalin sesuatu perhubungan yang intim sekali, tetapi kemudian terjadi sedikit kericuhan, sungguh tak mereka duga bahwa laki-laki yang dibuat idaman oleh Hwa Ji Swat itu adalah tokoh golongan Budha yang memiliki kepandaian ilmu silat tinggi sekali.

************************* HALAMAN 75 s/d 78 ROBEK

*************************

sifat yang keras kepala, sifat demikian ini dikala berkelana di dunia Kang-ouw kadang-kadang akan menemukan banyak kesulitan, jala merah darah yang kuberikan kepadamu tadi, dapat kau pergunakan untuk menjaga diri dan menyerang lawan, besar sekali gunanya. Aku minta padamu agar disimpan baik-baik, jangan sampai kau hilangkan!"

Hee Thian Siang mengucapkan terima-kasih kepadanya, kemudian bersama Lam-kiong Hauw melompat ke dalam perahunya, Hwa Ji Swat juga melepaskan tambang Kim-kao- suknya, setelah itu mereka berpisahan!

Lam-kiong Hauw mengajarkan Hee Thian Siang keluar dari selat tiga, tibalah mereka di Kota Gi-ciang. Oleh karena ia sendiri masih ada urusan penting, maka di kota itulah ia berpisah dengan kawannya yang baru itu.

Hee Thian Siang yang usianya masih muda, sedikit banyak senang sekali dengan segala urusan, oleh karena persahabatannya dengan Lam-kiong Hauw yang demikian akrab, maka ketika hendak berpisah, ia merasakan seperti kehilangan. Dengan seorang diri ia berjalan dengan tindakan limbung, masuklah ia ke sebuah rumah makan.

Oleh karena ia tiba di rumah makan itu waktunya masih terlalu pagi, maka dalam rumah makan itu kecuali dia, lainnya ada seorang tamu berbaju kuning sedang duduk minum seorang diri.

Orang itu mempunyai berewok dan jambang, wajahnya sangat gagah, agaknya gemar sekali minum arak, sepasang matanya bercahaya. Mata Hee Thian Siang yang sepintas lalu berhadapan dengannya, diam-diam merasa terperanjat, sebab orang itu adalah orang luar biasa di kalangan Kang-ouw. Ia sendiri yang pernah mengalami kejadian aneh-aneh dalam sepanjang perjalanan, apakah di kota Gi-ciang itu, kembali akan menemukan suatu kejadian yang luar biasa?

Oleh karena semakin heran dalam hatinya, matanya semakin tertarik oleh tamu berjambang itu, sehingga matanya sebentar-sebentar ditujukan kepadanya. Dari mangkok kosong yang tidak sedikit yang berada di atas meja lelaki berjambang itu, ia dapat menduga betapa besar kekuatan minum arak orang itu.

Hati Hee Thian Siang seketika itu merasa tergerak, lalu teringat pada pesan duta bunga mawar, tentang seorang pendekar pemabukan Bo Bu Yu yang tidak menentu jejaknya, maka dalam perjalanannya ke lautan timur itu ia harus menaruh banyak perhatian terhadap orang-orang yang suka minum. Oleh karena itu ia lantas mencurahkan perhatiannya kepada tamu