-->

KPPDM Bab 6. Kisah A Hu dari Bu-kee-cung

Bab 6. Kisah A Hu dari Bu-kee-cung 

It Liong-ci sendiri sepertinya terkejut melihat orang yang menyerangnya adalah gadis yang diundang oleh Cia Tayjin kemarin. Mendadak dikuranginya lweekang hingga lebih dari setengah sehingga selain Siok-lan hanya terpental dengan pedang patah, tak urung It Liong-ci sendiri terpukul mundur oleh lweekangnya sendiri yang ditarik balik.

“Hiaaatttt...” Berbarengan dengan itu, dari atas atap meluncur sebuah serangan yang dilancarkan oleh Kim-hong terhadap It Liong-ci. Kali ini Kim-hong tak mau main-main lagi. Tanpa ragu lagi dia menggunakan ilmu andalannya Kong-ciak Sin-na untuk menaklukkan lawan sekaligus mencegah It Liong-ci meneruskan serangan kepada keponakannya.

Memanfaatkan pantulan dari tenaga balik miliknya sendiri, It Liong-ci menjejakkan kakinya dan melompat untuk menyongsong cengkeraman merak Kim-hong. Kim-hong yang sebelumnya belum pernah menemui lawan setanding mana mau mengalah begitu saja.

“Dukkkk... !!!”

Kim-hong terpental balik sambil berjumpalitan untuk mengurangi tenaga pantulan lawan, kemudian mendarat dengan gagah disebelah Siok-lan yang memandangnya dengan terkejut. Dilihatnya Kim-hong tidak kekurangan satu apapun, padahal kalau mengukur tenaga It Liong-ci pada saat awal memukul paling tidak Kim-hong pasti muntah darah. Sungguh heran Siok-lan dibuatnya, selain mengurangi tenaga sebelum pukulannya membentur Siok-lan kemudian It Liong-ci juga mengurangi tenaga sewaktu menyambut serangan Kim-hong.

Belum sempat Siok-lan berpikir lebih jauh, Kim-hong sudah meloncat lagi menyerang pundak lawan dengan gerakan indah bagaikan burung merak merentangkan sayapnya sambil berseru. “Pembunuh! Menyerahlah engkau!!!”

“Aiihhh...” Raut wajah It Liong-ci terlihat lebih terkejut karena seruan Kim-hong daripada karena serangan cengkeramannya. Sambil mengeserkan pundaknya It Liong-ci melompat mundur sambil menjawab, “Bukan aku pembunuhnya!”

“Mana ada maling mengaku mencuri,” Kim-hong kembali mengejar dengan tendangan ke arah lutut It Liong-ci. Repot juga It Liongci menghindar terus menerus tanpa membalas serangan.

Walaupun Siok-lan masih merasa bingung, tetapi melihat demi Kim-hong terus menyerang It Liong-ci tanpa hasil, mau tidak mau dia ikut meloncat membantu bibinya. Paling tidak tangkap dulu It Liong-ci, kemudian baru tanya dan selidiki kejadian barusan dari mulut It-Liong-ci.

Majunya Siok-lan dengan pedang kutungnya tentu saja membuat It Liong-ci terdesak hebat mengingat dia tak pernah membalas serangan kedua gadis itu. Bagaimanapun juga lawannya adalah pewaris terakhir ilmu pendiri Butong pai dan tokoh sakti dari Gobi pai. Mulut It Liong-ci beberapa kali berseru menyatakan kedua nona salah sangka. Karena tidak ada tanggapan lain selain diserang akhirnya It Liong-ci mengambil keputusan untuk menghindar lebih dulu.

Tiba-tiba gerakan It Liong-ci berubah mendadak, jari telunjuk tangan kirinya menotok Siok-lan dengan gaya aneh dan terdengar suara berciut dari ujung telunjuknya itu. Berbarengan dengan totokan jari kirinya, telapak tangan kanan It Liong-ci bergerak mendorong Kim-hong. Siok-lan yang mendengar suara mencicit dari telunjuk kiri It Liong-ci langsung menduga kalau lawannya ini sedang melancarkan ilmu totokan hebat sehingga cepat dia meloncat mundur. Kim-hong sendiri yakin dengan kemampuannya sehingga menyambut tapak It Liong-ci dengan gerakan memutar telapak tangannya sehingga mencengkeram pergelangan tangan kanan It Liong-ci. Tapi siapa menduga kalau It Liong-ci justru mengubah gerakan telapak tangannya menjadi totokan dan justru berbalik mengincar pergelangan tangan Kim-hong.

Kim-hong adalah murid tunggal Ban Su To Niocu, walaupun terkejut dengan perubahan gerakan lawan tetap saja dia masih bisa menarik balik cengkeramannya. Berbarengan dengan itu It Liong-ci cepat meloncat ke wuwungan rumah dibelakangnya dan mengerahkan ginkangnya untuk meloncat ke atap rumah yang lain. Melihat lawannya lari menuju arah luar kota Beiping, Kim-hong yang takut kehilangan buruannya langsung meloncat mengejar It Liong-ci. Siok-lan yang tadinya ragu-ragu untuk mengejar terpaksa ikut karena melihat Kim-hong sudah mengejar duluan.

It Liong-ci terus berlari dan meloncat diantara wuwungan rumah penduduk. Ketika sampai di pintu gerbang kota, dia menoleh kebelakang dan melihat bayangan dua orang yang mengejarnya. It Liong-ci mendengus dengan gegetun,” Keras kepala. ”

It Liong-ci turun dari wuwungan rumah dan berjalan biasa keluar dari gerbang kota. Kim-hong yang melihat bayangan It Liong-ci berbaur dengan kerumunan penduduk keluar kota melewati gerbang ikut turun dari wuwungan atap diikuti oleh Siok-lan. Belum sempat Siok-lan berbicara, Kim-hong sudah berlari mendahuluinya keluar dari pintu gerbang. Para penjaga gerbang agak heran dan curiga melihat dua orang gadis berlari dengan langkah terburu-buru keluar kota. Tapi demi melihat salah seorang diantaranya adalah murid Ban Su To Niocu yang terkenal di kotaraja, tak seorangpun mencegah mereka.

Setelah keluar gerbang, Kim-hong sekilas melihat bayangan It Liong-ci berlari menuju arah timur yang diketahuinya merupakan arah sebuah hutan kecil. “Kouw-kouw.... tahan dulu. Mungkin ini perangkap!” seru Siok-lan yang menyusulnya.

“Biarpun perangkap, aku tidak takut!” balas Kim-hong sambil melesat kearah bayangan It Liong-ci yang tadi dilihatnya.

Siok-lan hanya menghela napas sambil menyusul Kim-hong. Ditepi hutan kecil itu terlihat It Liong-ci sedang menanti kedua gadis pengejarnya. Ketika sampai, Kim-hong menunding It Liong-ci dengan telunjuknya sambil berkata,” Rupanya kau mau menyerah juga yah?”

“Ji-wi kauwnio (nona berdua), mengapa terus menerus mendesak cayhe? Bukan cayhe yang membunuh keempat kasim pengawal itu. Kalau tidak percaya, silahkan lihat dan periksa sendiri luka yang menyebabkan mereka tewas,” jawab It Liong-ci.

“Lalu mengapa kau berada ditempat kejadiandan mendadak menyerangku? Tentunya bukan karena kebetulan?” tanya Siok-lan dengan curiga.

It Liong-ci tersenyum mendengar pertanyaan itu, “ Tentu saja tidak. Tugas pertamaku sebagai anggota Kim Ih Wi, cayhe diperintahkan untuk mengikuti kasim yang bernama Ong Chen yang katanya diperintahkan untuk menjemput In-kauwnio. Mata-mata Kim Ih Wi didalam Tung-chang melaporkan kalau In- kauwnio melakukan kunjungan kemarin setelah pulang dari rumah Cia Tayjin.”

“Ahh....” terkejut Siok-lan mendengar kalau didalam Tung-chang sendiri terdapat mata-mata Kim Ih Wi. “Lalu siapa yang membunuh kasim pengawal itu?” tanya Siok-lan.

“Cayhe hanya mengawasi Ong Chen yang menunggu di depan restoran disebelah lorong masuk. Sama sekali cayhe tak menyangka kalau empat kasim pengawal dibunuh sewaktu cayhe sedang mengawasi Ong Chen. Ong Chen sendiri pergi dengan ketakutan setelah masuk lorong dan melihat keempat kasim pengawal sudah jadi mayat. Melihat Ong Chen pergi terburu-buru dengan sorot mata ketakutan, tentu saja cayhe curiga dan memeriksa masuk ke dalam lorong. Ketika cayhe sedang memeriksa keadaan mayat, ji-wi kauwnio tiba-tiba datang. Tadinya cayhe pikir pembunuh itu datang kembali sehingga cayhe menjadi salah paham dengan ji-wi kauwnio,” jelas It Liong-ci

“Apa maksudmu menceritakan hal ini kepada kami? Sepertinya engkau masuk menjadi anggota Kim Ih Wi dengan tujuan terselubung. Jangan-jangan kau mata-mata utusan Hiat-ouw,” bentak Kim-hong.

“Eh, kauwnio harap tidak sembarangan menuduh. Cayhe punya alasan pribadi yang tidak bisa diceritakan pada orang lain, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hiat-ouw,” It Liong-ci terlihat mulai kesal dengan tuduhan beruntun itu.

“Kalau begitu sebaiknya engkau ikut dengan kami dan menceritakan hal yang sebenarnya kepada petugas kerajaan,” kata Kim-hong.

“Hahaha.  kauwnio terlalu mendesak cayhe yang sudah mengalah beberapa

kali. Cayhe bukanlah orang bodoh yang menyerahkan leher sendiri dengan mengaku terang-terangan didepan para mata-mata Kim-Ih Wi dan Tung-chang yang tersebar didalam kotaraja Beiping. Justru cayhe mengajak ji-wi kauwnio kesini dengan alasan menghindar dari para gerombolan mata-mata.” It Liong-ci tertawa terbahak-bahak mendengar usulan Kim-hong untuk menyerahkan diri.

Kim-hong yang seumur hidupnya tak pernah ditertawakan orang seperti itu menjadi keras kepala. Walaupun tadinya Kim-hong sudah lunak hatinya, muncul lagi sifat tak mau mengalahnya. “Kalau tak mau ikut dengan suka rela, aku akan memaksamu ikut!”

Kim-hong tiba-tiba menyerang dengan gerak tipu yang lihay dari Kong-ciak Sin- na. Tapi kali ini It-Liong-ci tidak menghindar malah membalas dengan ilmu tiam-hoatnya yang tak kalah hebat. Bagaimanapun Kim-hong adalah kouw- kouwnya sendiri, tentu saja Siok-lan tak akan berpangku tangan membiarkan Kim-hong menghadapi lawannya sendiri.

It Liong-ci mulai membalas serangan kedua gadis lawannya, hanya saja gerakan balasannya itu setengah-setengah. Cuma sekedar agar serangan lawan tidak berlanjut dengan gerakan yang lebih berbahaya.

Sesosok bayangan semakin lama semakin mendekat dengan arena pertarungan, mata It Liong-ci yang awas melihat sosok tubuh itu adalah seorang pemuda tanggung berumur sekitar dua belas tahunan. Setelah dekat barulah It Liong-ci terkejut karena dia mengenal anak tanggung itu.

“Siawya (tuan muda), kubantu kau!” Seru si anak tanggung itu sambil meloncat masuk arena pertarungan dan menyerang Kim-hong sehingga meninggalkan Siok-lan bertarung sendirian melawan It Liong-ci.

Kim-hong terkejut melihat orang yang menyerangnya cuma seorang anak berumur dua belasan tahun. Tapi alangkah kagetnya dia setelah melihat betapa anak itu menyerang dan mendesak dirinya dengan jurus-jurus tapak dan tiam-hoat lihay. Tadinya Kim-hong enggan untuk menghadapi anak tanggung itu, tapi setelah merasakan betapa tangguhnya lawannya yang masih kecil itu, Kim-hong mulai membalas serangan dan mendesak lawannya dengan cengkeraman meraknya.

Sebenarnya kalau anak tanggung itu sudah matang ilmu silat dan lweekangnya, belum tentu Kim-hong dapat medesaknya sedemikian rupa. Melihat pemuda kecil yang membantunya mulai terdesak, It Liong-ci mengerahkan lweekangnya untuk memukul mundur Siok-lan dan meloncat kearah Kim-hong sambil menotok siku Kim-hong.

Kim-hong yang terkejut dengan serangan mendadak dari sampingnya buru- buru menarik cakarnya yang tadinya ditujukan mencengkeram pundak pundak si anak tanggung.

Cepat It Liong-ci menarik anak itu dan meloncat lari menjauhi kedua nona lawannya sambil mengerahkan ginkangnya dengan sepenuh tenaga. It Liong-ci dan anak itu dengan cepat melesat dan tak lama kemudian meninggalkan bayangan samar. “Aih. ginkang yang hebat!” seru Siok-lan melihat betapa dalam waktu singkat

bayangan keduanya sudah terlihat kecil.

“Betul-betul lawan yang berat. Kau lihat anak kecil itu? Ilmu silatnya benar- benar luar biasa. Belum lagi kelihatannya It Liong-ci belum sungguh-sungguh mengeluarkan kemampuannya. Hari ini mataku baru terbuka, ternyata didunia kangouw banyak sekali jago-jago yang namanya belum pernah terdengar, “ desah Kim-hong perlahan.

Siok-lan mengajak Kim-hong kembali kedalam kota untuk memeriksa mayat keempat kasim pengawal didalam lorong. Ternyata didalam lorong sudah banyak orang berkumpul terutama orang-orang berpakaian kasim pengawal Tung-chang.

“In-lihiap.... Engkau baik-baik saja. Aku khawatir kalau datang telambat membawa bantuan,” Ong Chen muncul diantara para pengawal Tung-chang dengan muka pucat.

“Aku tidak apa-apa. Oya, perkenalkan ini bibiku Sun Kim-hong,” kata Siok-lan sambil memperkenalkan Kim-hong. Kim-hong dan Ong Chen saling memberi hormat. Setelah itu Siok-lan meminta kepada Ong Chen untuk membiarkannya memeriksa kondisi mayat sendiri

Tak lama kemudian Siok-lan selesai memeriksa kondisi mayat para pengawal Tung-chang tersebut dan raut muka Siok-lan terlihat terkejut.

“Kouw-kouw, mereka semua tewas mati tertusuk pedang mereka sendiri, “ kata Siok-lan setelah memeriksa dan mengajak Kim-hong berbicara perlahan ditempat yang agak jauh.

“Apa maksudmu?” tanya Kim-hong tidak mengerti.

“Mereka tewas karena tolakan tenaga yang mengakibatkan pedang mereka berbalik arah menjadi senjata makan tuan. Ini....ini...... Tay-kek Kun,” jelas Siok-lan yang masih terlihat kaget.

“Aih. maksudmu mereka tewas dibunuh oleh lawan yang menggunakan Tay-

kek Kun. Apakah pembunuhnya ingin menjatuhkan fitnah kepadamu?” Kim- hong menjadi gelisah dan serba salah.

“Bukan, sepertinya pembunuhnya memiliki hubungan dengan pangeran Chu Kaoshu yang juga menguasai Tay-kek Kun. Atau juga mungkin ada pihak ketiga yang ingin mengadu domba pangeran Chu Kaoshu dengan Tung-chang. Urusan ini menjadi rumit. Sekarang aku percaya pada kata-kata It Liong-ci. Sebaiknya urusan It Liong-ci sementara waktu jangan diceritakan pada orang lain,” kata Siok-lan.

“Hmmmm... Aku setuju dengan usulmu. Tapi bagaimanapun juga aku tetap harus menceritakan urusan ini selengkapnya kepada subo lalu minta pendapat beliau.”

Siok-lan mengangguk tanda setuju dengan kata-kata Kim-hong barusan.

Setelah mayat-mayat kasim pengawal Tung-chang selesai diurus dan diangkut, barulah Ong Chen berbicara dengan Siok-lan dan Kim-hong.

Siok-lan meminta kepada Ong Chen untuk kembali dan menyampaikan pesan kepada Liang Taykam agar menanti kabar penyelidikan. Siok-lan mengatakan untuk sementara dia ingin menyelidiki pembunuhan keempat kasim pengawal Tung-chang, karena mungkin memiliki kaitan dengan pembunuhan para pangeran dan meminta untuk tidak bertemu secara langsung dengan Liang Taykam sementara waktu.

Setelah Ong Chen dan para anggota Tung-chang yang lain pergi, barulah Kim- hong dan Siok-lan pergi menuju istana terlarang untuk menemui Ban Su To Niocu yang berdiam didalam istana tempat keluarga kaisar tinggal.

  ooOoo  

“Siawya, sudah hampir enam bulan aku mencarimu. Tiga bulan yang lalu aku mendapatkan jejak siawya di sepanjang sungai Huang-ho. Penduduk dusun di sepanjang sungai Huang-ho bercerita tentang seorang pendekar yang gambarannya mirip dengan siawya. Mereka bilang kalau bajak sungai Huang- ho yang sering merampok dan ditakuti oleh para penduduk dusun tewas dibunuh oleh pendekar itu. Aku yakin orang yang membunuh bajak sungai Huang-ho itu pastilah siawya,” anak tanggung dua belasan tahun itu terlihat berseri-seri sambil bercerita panjang lebar dihadapan It Liong-ci yang terus menerus dipanggil siawya olehnya.

“A Hu, bagaimana kau tahu kalau aku ada di kotaraja Beiping? Lagipula mengapa engkau meninggalkan Bu-kee-cung? Bukankah sudah kupesan supaya engkau tetap tinggal didalam dusun untuk melayani Ji-pekhu (paman, kakak ayah yang kedua),” kata It Liong-ci.

“Aku...aku.... Hu..hu...hu...hu....,” tiba-tiba anak yang dipanggil A Hu itu menangis terisak-isak. It Liong-ci yang menjadi serba salah dibuatnya, terpaksa membujuk A Hu supaya menghentikan tangisnya dan menceritakan tentang apa yang membuatnya bersedih. Setelah menangis beberapa saat, barulah A Hu berhenti menangis dan mulai bicara lagi dengan wajah mewek.

“Sejak Twa-loya (tuan pertama) dan Twa-lohujin (Nyonya pertama) meninggal dunia, seperti yang siaw-ya minta aku ikut dengan Ji-loya (tuan kedua) yang menjadi Bu-kee-cung cu (kepala dusun keluarga Bu) yang baru.”

Mulailah A Hu menceritakan pengalamannya setahun terakhir sejak berpisah dengan tuan mudanya itu.

  ooOoo   Siaw Hu (Hu kecil) atau biasa dipanggil A Hu oleh para penghuni Bu-kee-cung adalah jongos keluarga Bu yang turun temurun menjadi kepala dusun Bu-kee- cung. A Hu merupakan anak dari Siaw-cui, pelayan wanita yang melayani istri Bu Kiong yang menjadi Bu-kee-cung cu saat itu. Selain melayani istri kepala dusun, Siaw-cui juga bertugas untuk mengawasi dan mengajak bermain anak- anak Bu Kiong termasuk Bu Dian Long, keponakan Bu Kiong yang ikut dengan dengan twa-pekhu nya sejak kecil.

Pada suatu hari Siaw-cui yang cantik manis itu kedapatan hamil tiga bulan diluar nikah. Hal ini tentu membuat berang Bu Kiong karena membikin malu keluarga Bu sebagai majikannya. Tadinya Bu Kiong ingin menjatuhkan hukuman berat karena Siaw-cui tak mau mengakui siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Berkat bujukan dan nasehat dari istrinya yang kasihan dan prihatin dengan keadaan Siaw-cui, akhirnya Bu Kiong mengurungkan niatnya dan memerintahkan Siaw-cui untuk tinggal dibelakang rumah kediaman Bu Kiong tanpa boleh meninggalkan rumah.

Siaw-cui meninggal beberapa bulan kemudian setelah melahirkan A Hu dan tetap tutup mulut sampai akhir hayatnya tanpa memberitahu siapa ayah dari anak yang dilahirkannya itu. Karena Siaw-cui sendiri sebatang kara dan tidak diketahui siapa sesungguhnya ayah A Hu, Bu Kiong mengambil dan merawat A Hu sejak kecil dan ikut keluarga Bu sebagai pelayan.

Sejak Bu Kiong tewas dalam pertarungan memperebutkan Jit Goat Siang Pokiam (baca serial Jit Goat Siang Pokiam) dan istri Bu Kiong juga meninggal dunia beberapa bulan kemudian akibat terlalu sedih atas kematian suaminya, A Hu ikut dan melayani Bu Dian Long sebagai tuan mudanya.

Bu Dian Long mengikuti petunjuk Twa-pekhu nya dalam mencari pusaka keluarga Bu dan menemukan kitab lengkap dari kauw-koat (teori ilmu silat) pusaka Hang Liong Sip Pat Ciang dan It Yang-ci didalam kompleks pemahkaman leluhur keluarga Bu.

Selama dua tahun A Hu ikut Dian Long yang berlatih didalam kompleks pemahkaman leluhur keluarga Bu dan melayani serta menyediakan makanan bagi tuan mudanya. Selama dua tahun itu pula Dian Long juga melatih A Hu kedua ilmu silat pusaka keluarga Bu tersebut sehingga A Hu cukup mahir dalam memainkan Hang Liong Sip Pat Ciang dan It Yang-ci walaupun belum matang ilmu silat maupun lweekangnya.

Kadang datang teman siawya nya yang bernama Yehlu Ceng ikut berlatih selama beberapa kali dengan Dian Long. Dalam kesempatan itu Dian Long menyatakan kepada Yehlu Ceng bahwa sudah sepantasnya Hang Liong Sip Pat Ciang yang merupakan ilmu andalan pendekar besar Kwee Ceng juga ikut dipelajari dan diwarisi oleh Yehlu Ceng sebagai keturunannya. Yehlu Ceng bersedia ikut mempelajari Hang Liong Sip Pat Ciang dengan syarat Dian Long juga mempelajari ilmu yang dimiliki oleh Yehlu Ceng sebagai tukarannya. Yehlu Ceng mengajarkan kepada Dian Long ilmu memecah pikiran andalan si bocah tua nakal Ciu Pek Tong ratusan tahun yang lampau sebagai “balasan” Hang Liong Sip Pat Ciang yang dipelajarinya.

Dengan ilmu warisan si bocah tua nakal, Dian Long bisa menggerakkan kedua ilmu silat andalan keluarga Bu sekaligus dalam satu serangan. Jika tangan kanannya bergerak menyerang dengan ilmu tiam-hoat It Yang-ci warisan si kaisar selatan It Teng Taysu, pada saat yang bersamaan Dian Long dapat pula mengerakkan Hang Liong Sip Pat Ciang andalan si pengemis utara Ang Cit- kong dengan tangan kirinya. Demikian pula sebaliknya.

Bu-kee-cung sekarang dipimpin oleh adik kedua Bu Kiong yang bernama Bu Keng-an. Ayah Dian Long adalah Bu Kiat, adik ketiga dari Bu Kiong sehingga Dian Long memanggil Bu Keng-an dengan Ji-pekhu dan A Hu memanggilnya dengan Ji-loya.

Bu Keng-an adalah seorang yang tampan gagah, pada usia tuanya pun masih terlihat sisa ketampanannya. Ketika muda, Keng-an agak berbeda dengan kakak dan adiknya Bu Kiong dan Bu Kiat yang walaupun sama gagahnya tetapi tidak berwajah tampan. Jika kedua saudaranya itu terlihat berambisi besar untuk mengharumkan nama Bu-kee-cung, Bu Keng-an malah seperti tak terlalu perduli dengan nama besar Bu-kee-cung dan sering kelayapan serta mogor di kota besar dekat dengan Bu-kee-cung. Ayah mereka Bu Lojin menjodohkan Bu Keng-an dengan anak seorang teman baik Bu Lojin, dengan harapan Bu Keng- an akan merubah sifat bengalnya. Walaupun setelah sedikit dipaksa, akhirnya Bu Keng-an setuju untuk menikah dengan pilihan ayahnya. Terlihat setelah menikah, Keng-an memang tidak seliar sewaktu masih bujangan dulu.

Sebelum Bu Kiong tewas, Bu Dian Long memperlihatkan gelagat yang mirip dengan paman keduanya yaitu suka kelayapan dan sering mogor di “rumah bunga merah” di kota yang sama dengan yang sering dikunjungi oleh Ji-pekhu nya. Bu Kiong beberapa kali menasehati Dian Long tanpa hasil.

Tewasnya Bu Kiong yang meninggalkan pesan kepada Bu Keng-an untuk menjabat sebagai Bu-kee-cung cu membuat Keng-an tak punya pilihan lain. Sejak muda walaupun Keng-an terlihat tidak terlalu serius memperdalam dua macam ilmu silat warisan keluarga Bu, namun Keng-an dikenal sebagai orang yang cukup ahli dan giat mempelajari ilmu silat Hang Liong Sip Pat Ciang dibandingkan anggota keluarga Bu yang lain. Hal ini dikarenakan gaya ilmu warisan Ang Cit Kong ini tidaklah serumit It Yang-ci tetapi berdaya serang luar biasa. Cocok dengan sifat Keng-an muda yang kurang suka hal ruwet seperti mempelajari letak jalan darah sebagai dasar ilmu tiamhoat.

Ketika Dian Long memberi tahukan tentang rahasia kauw-koat pusaka keluarga Bu kepada Keng-an, karena memang pada dasarnya Keng-an merasa terlalu tua untuk melatih ilmu silat pusaka keluarga malah menyuruh Dian Long melatihnya sendiri. Keng-an hanya ikut berlatih bersama Dian Long dengan menitik beratkan pada pengembangan ilmu silat Hang Liong Sip Pat Ciang saja. Keng-an yang telah menikah sekian lama belum juga memiliki keturunan. Bu Kiong memiliki dua anak perempuan kembar Bu Siang-cin dan Bu Siang-cun yang dipanggil A Cin dan A Cun, Bu Kiat sendiri memiliki anak tunggal yaitu Bu Dian Long. A Cin dan A Cun ikut tinggal bersama paman mereka, sedangkan Dian Long sendiri lebih sering berada di kompleks pemahkaman leluhur keluarga Bu untuk berlatih silat.

Sejak Twa-pekhu nya tewas, sifat Dian Long berubah drastis. Tidak suka kelayapan dan mogor lagi, malah dengan serius melatih kepandaiannya dengan keras. Berkat racun tawon asmara dan pemunah yang diberikan oleh Ban Su To Niocu kepadanya, lweekang Dian Long bertambah berlipat ganda sehingga memudahkan Dian Long mematangkan Hang Liong Sip Pat Ciang dan It Yang-ci dalam waktu dua tahun. Didalam hatinya, Dian Long bersumpah untuk mencari orang yang telah membujuk Bu Kiong sehingga menyebabkan paman tuanya itu tewas.

Setelah dua tahun dirasakan kepandaiannya sudah cukup matang, Dian Long menghadap Keng-an untuk meminta ijin meninggalkan kampung keluarga Bu mencari musuhnya. Awalnya Keng-an tidak mengijinkan keponakannya itu pergi, apalagi setelah Keng-an mendengar dari cerita A Hu, betapa saktinya orang yang menyebabkan twakonya ikut terseret peristiwa perebutan Jit Goat Siang Pokiam.

Dian Long yang sekarang bukanlah Dian Long dua tahun yang lalu, dan hal ini diperlihatkannya di hadapan Keng-an. Keng-an yang melihat betapa kepandaian Dian Long jauh meningkat pesat mengijinkannya dengan berat hati. A Hu diminta oleh Dian Long untuk tinggal bersama Keng-an dan pedang Goat Pokiam dititipkan oleh Dian Long untuk dijaga oleh A Hu.

Sejak Dian Long pergi, A Hu merasa hidupnya sepi. Setiap hari kerjanya adalah melayani kebutuhan Bu Keng-an sekeluarga bersama pelayan yang lain. Bu Keng-an dan kedua siocia kembar A Cun dan A Cin besikap baik kepadanya, malah Keng-an bersikap terlalu baik pada A Hu lebih dari sikap terhadap pelayan biasanya. Tetapi yang membuat A Hu tidak tahan adalah sikap istri Keng-an yang dipanggilnya Ji-lohujin. A Hu mengerti kalau Ji-lohujin tidak mempunyai keturunan hingga usia tua, sehingga sikapnya kadang memang mengesalkan. Namun sikapnya terhadap A Hu lebih dari sekedar mengesalkan, malah hampir tak pernah A Hu bertemu dengan Ji-lohujin tanpa Ji-lohujin marah dan membentak bentak tanpa A Hu mengerti alasannya. Hanya saja demi menaati perintah Dian Long sebelum pergi dan mengingat kebaikan keluarga Bu yang lain, A Hu tetap bertahan tinggal bersama Bu Keng- an sekeluarga.

Hingga pada suatu hari, A Hu tanpa sengaja mendengar pertengkaran antara Bu Keng-an dengan Ji-lohujin sewaktu melewati kamar tidur mereka. Terdengar suara Keng-an dan istrinya saling berteriak bersahut-sahutan.

“Aku tak mau lagi anak haram itu tinggal bersama dirumah kita, suruh dia pergi dari rumah ini sekarang juga!” “Tidak ada orang yang boleh mengusir anak itu dari rumahku tanpa seijinku!” “Apa?? Kau membela anak haram itu?”

“Diam! Jangan kau panggil dia dengan kata itu.”

“Bertahun-tahun aku diam saja dan tak mengungkit-ungkit urusan ini. Tapi sekarang anak itu tinggal bersama kita satu atap. Dan sikapmu bagaikan ayah sejati membuatku tak tahan lagi!”

“Memangnya kenapa kalau aku ini memang ayahnya?”

“Huh... Kau pikir aku tidak tahu kalau dulu engkaulah yang membuat Siauw-cui hamil dan melahirkan anak haram bernama A Hu itu, sampai aku kena kutukan dari Thian tak punya keturunan gara-gara ulahmu!”

Plakkkk!!!!!

Terdengar suara tamparan keras, entah siapa menampar siapa. Namun yang membuat A Hu seperti disambar geledek adalah ucapan terakhir Ji-lohujin. Rupanya itulah alasan mengapa selama ini Ji-lohujin bersikap kasar kepadanya. Suara teriakan, jerit dan caci maki selanjutnya tidak lagi terdengar oleh A Hu yang berjalan meninggalkan Bu-kee-cung dengan langkah sempoyongan.

Tanpa sadar A Hu melangkah menuju kompleks pemahkaman leluhur keluarga Bu tempat dimana dia dan Dian Long berlatih ilmu silat selama dua tahun belakangan ini. Didepan mahkam Bu Kiong dan istrinya yang dikubur berdampingan, A Hu berhenti dan menumpahkan segala beban deritanya.

A Hu menangis menggerung-gerung teringat pada Siaw-cui, ibu yang wajahnya saja tak dapat diingatnya. Teringat kepada Bu Kiong dan istri yang selalu bersikap baik kepadanya. Teringat pada Bu Dian Long yang entah pergi kemana. Teringat kepada.....Bu Keng-an..... pria tua yang ternyata ayah kandungnya. Selama ini memang Bu Keng-an memperlakukannya sangat baik, terlalu baik malahan karena mengingat posisi A Hu sebagai jongos keluarga Bu. Tak sedikitpun A Hu bisa menduga kalau Bu Keng-an adalah ayah kandungnya. Dia... A Hu... adalah anggota keluarga Bu. Akhirnya A Hu punya she (marga) yang semenjak kecil diinginkannya seperti anak-anak lainnya di Bu-kee-cung. Tapi sedikitpun tak terpikir olehnya kalau she-nya adalah she Bu.

Dua hari tiga malam A Hu berdiam didalam kompleks pemahkaman leluhur keluarga. Kerjanya hanyalah menangis dan merenung. Kalau lapar A Hu hanya tinggal memetik buah-buahan hutan yang ada disekitar situ. Kadang kalau rindu ingin bertemu Dian Long, A Hu mengelus Goat Pokiam yang disimpannya di dalam ruang rahasia tempat kauw-koat pusaka selama ini disimpan.

Pada malam ketiga, samar-samar A Hu melihat cahaya kemerahan dari arah Bu-kee-cung. Lama kelamaan cahaya kemerahan itu semakin besar dan terlihat seperti cahaya kebakaran. Khawatir dengan keadaan kampungnya, A Hu mengambil Goat Pokiam dan membawanya sambil melesat ke arah Bu-kee- cung.

Tiba di pinggir dusun, A Hu melihat Bu-kee-cung terbakar dan terlihat para penduduk kampung yang berusia tua dan perempuan menggendong anak- anaknya yang masih kecil berlari keluar Bu-kee-cung.

“Sim lopek (paman tua bermarga Sim), apa yang terjadi?” tanya A Hu pada seorang tua kenalannya yang berlari sambil membawa cucunya dengan terburu-buru. Orang tua itu berhenti sebentar dan menjawab pertanyaan A Hu,” A Hu, cepat kau juga lari. Dusun kita diserang musuh. Tadi Cung cu memerintahkan semua lelaki tua, perempuan dan anak-anak mengungsi keluar kampung. Lelaki muda diperintahkan oleh Cung cu mengambil senjata untuk melawan musuh. Engkau masih kecil, ayolah ikut lari bersama.”

Walaupun kepandaian A Hu belum sempurna dan lweekangnya juga belum kuat mengingat usianya belum dewasa, tetapi kepandaian silat A Hu masih jauh lebih hebat dari rata-rata penduduk Bu-kee-cung yang telah dewasa. Apalagi dengan nyali besar dan adanya Goat Pokiam ditangannya, mana mau dia lari dari pertempuran.

“Sim lopek, kau ajak para pengungsi ke kompleks pemahkaman leluhur keluarga Bu. Aku tadi dari sana dan kukira tempat itu cukup aman. Aku akan masuk dan membantu Cung cu,” sahut A Hu sambil melompat masuk ke dalam dusun. Sim Lopek hanya terbengong melihat kegagahan A Hu. Tapi tak lama kemudian orang tua itu sadar dan mengajak penduduk dusun yang lari menuju kompleks pemahkaman leluhur keluarga Bu.

A Hu yang sudah berada didalam Bu-kee-cung melihat pertempuran kacau balau antara penduduk dusun dan para penyerang. Jumlah penyerang tidaklah terlalu banyak, hanya sekitar belasan orang. Tapi belasan musuh itu rata-rata berilmu silat cukup tinggi, para penduduk Bu-kee-cung cukup kerepotan sehingga menghadapinya dengan cara keroyokan. Pertempuran malam itu hanya diterangi oleh cahaya bulan dan api yang membakar beberapa bangunan di Bu-kee-cung sehingga terlihat lebih menegangkan

Bu-kee-cung didirikan oleh keturunan langsung Bu bersaudara murid Kwee Ceng Tayhiap yang gugur bersama di benteng kota Siangyang ratusan tahun yang lalu. Sebagai keturunan orang yang menguasai ilmu silat, tentu saja keluarga Bu mewarisi ilmu peninggalan leluhurnya. Selama bertahun-tahun, anak keturunan keluarga Bu yang perempuan menikah dan suaminya ikut tinggal di Bu-kee-cung turun temurun sehingga selain she Bu banyak juga keluarga she lain yang masih berhubungan keluarga dengan she Bu yang tinggal di Bu-kee-cung. Kebanyakan penduduk Bu-kee-cung adalah ahli silat, walaupun tingkat kepandaian masing-masing tidaklah sama.

A Hu tiba-tiba teringat pada Bu Keng-an Cung cu, sehingga A Hu langsung lari menuju rumah Cung cu yang terletak ditengah kampung. Dilihatnya dari jauh, Bu Keng-an sedang bertempur melawan tiga orang musuh dengan gagahnya. Seorang musuh malah berhasil dibacok bagian pundaknya oleh golok yang berada ditangan Keng-an dan membuat dua lawannya yang lain melompat mundur karena jeri.

A Hu sendiri dihadang oleh seorang lawan yang menggunakan pedang. Dengan tangan kosong A Hu merasa dapat mengalahkan lawannya sehingga Goat Pokiam tetap disimpan didalam sarungnya tanpa dihunus.

Tiba-tiba melayang turun dengan ringannya sesosok bayangan dari atap rumah sebelah dan langsung berhadapan dengan Keng-an, rupanya selama pertarungan orang itu hanya menonton diatas atap. “Kau cukup gagah untuk menjadi lawanku Hek Hui-mo (Iblis terbang hitam), tokoh tingkat dua Hiat-ouw,” kata orang yang baru turun itu.

Terlihat wajahnya yang berkulit kehitaman diterangi oleh cahaya api dari bangunan rumah yang terbakar menyebabkan tampang orang itu semakin mengerikan.

“Bu-kee-cung kami tidak pernah berurusan dengan Hiat-ouw, mengapa kalian menyerang kami?” bentak Keng-an sambil menunding dengan goloknya kearah Hek Hui-mo.

Salah seorang dari sisa lawan Keng-an tadi menjawab,” Cung cu yang sebelumnya Bu Kiong telah membunuh ketua kami lama Tee-it Thian-mo.”

“Cerewet! Kalian carilah lawan kalian yang baru. Biar aku yang menghadapi Bu Cung cu yang ini. Aku sendiri tidak perduli dengan urusan Hiat-ouw dengan Bu- kee-cung, tapi aku diperintahkan oleh pangcu untuk membantu jika Hiat-ouw bertemu lawan tangguh,” seru si iblis terbang.

A Hu berhasil memukul roboh lawannya dengan sebuah jurus Hang Liong Sip Pat Ciang, lalu kembali berlari menuju arah Keng-an yang masih berhadapan dengan Hek Hui-mo.

“Ji-loya!!” teriak A Hu tetap memanggil “ayah”nya itu dengan panggilan biasa.

Bu Keng-an menoleh dan melihat A Hu sedang berdiri sambil memegang Goat Pokiam yang masih berada dalam sarungnya. “A Hu, cepat kau masuk ke dalam rumah. Kau tolong Ji-lohujin dan kedua siocia untuk mengungsi!” perintah Keng-an.

A Hu tahu kalau waktunya tidak banyak lagi segera berlari masuk kedalam rumah Cung cu. Didalamnya dilihat dua lawan Keng-an yang tersisa tadi sedang bertarung melawan dua putri kembar anak Bu Kiong. Dilihatnya Ji- lohujin tergeletak di pojok ruangan dengan napas kembang kempis sambil tangannya yang berlumuran darah memegang pedang yang menembus perutnya. A Cun dan A Cin sejak kecil selalu dimanja oleh Bu Kiong dan istrinya. Mereka memang dilatih ilmu silat warisan keluarga Bu oleh Bu Kiong, hanya saja karena tidak terlampau serius berlatih, kepandaian kedua Bu siocia ini tidaklah terlalu tinggi. Terlihat dari dua orang musuh mereka bertarung sambil tertawa- tawa, kadang mencolek tubuh kedua nona disana sini dengan kurang ajarnya.

Melihat kedua nona kembar itu dipermainkan oleh musuh, marahlah A Hu. Apalagi kalau diingat kedua nona itu adalah kakak sepupunya. Dicabut Goat Pokiam dari sarungnya dan dengan cepat ditusukkan pedang pendek itu dengan gaya totokan It Yang-ci. Lawan yang ditikam oleh A Hu melihat kalau orang yang menikamnya hanyalah seorang anak tanggung. Walaupun pedang pendek itu memancarkan cahaya dan hawa dingin tanda senjata pusaka, tetap saja pemegangnya masih terhitung anak-anak. Dengan gerakan meremehkan dia menangkis serangan A Hu dengan pedangnya.

“Trangggg.....Crookkkk...”

“Ahhh...” menjeritlah orang itu tertikam dadanya oleh Goat Pokiam setelah pedangnya sendiri kutung bertemu dengan Goat Pokiam yang mematahkannya bagai mengiris tahu.

Temannya yang sedang menghadapi sepasang nona kembar Bu menjadi terkejut melihat kawannya tewas tertikam pedang pendek milik A Hu sehingga lengah dan menyebabkan A Cin dan A Cun dapat memukul dadanya cukup telak. Melihat lawan yang satu lagi terpukul dan terbanting jatuh, A Hu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Cepat A Hu meloncat dan ditikamnya dada lawan yang jatuh itu dengan Goat Pokiam.

“Crookkkk...” kembali pedang pendek berlekuk tujuh itu memakan korban.

Setelah yakin kedua musuhnya tewas, kedua Bu siocia berlari menghampiri Ji- lohujin yang sedang sekarat,” Bibi. ” jerit mereka pilu melihat Ji-lohujin sudah

tak tertolong lagi.

A Hu yang telah memasukkan Goat Pokiam kedalam sarungnya mendekati Ji- lohujin. Walaupun sikap Ji-lohujin selama ini selalu galak kepadanya, tetapi bagaimanapun juga nyonya tua inilah yang membuka tabir asal usulnya.

Ji-lohujin melihat A Hu berlutut disebelahnya menoleh perlahan sambil menarik napas berat dan berkata dengan suara berbisik,” Ma’af. ”. A Hu tidak berkata

apa-apa, hanya menjawab permintaan terakhir Ji-lohujin itu dengan menggenggam lembut tangan Ji-lohujin sambil tersenyum sedih. Ji-lohujin terlihat tersenyum lega dan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya dibarengi dengan suara tangis kedua Bu siocia.

  ooOoo