-->

KPPDM Bab 5. Utusan dari Kotaraja Beiping

Bab 5. Utusan dari Kotaraja Beiping

Tak perlu engkau khawatir, kunjungan mereka kemari adalah untuk melamar putriku Amannisa untuk kakakmu Hu-sin,” jelas Siang Lojin.

“Ah, begitukah? Hai-ji turut senang memiliki Piawci seperti eh. cici Amannisa,”

gugup Ma Hai saking kaget bercampur gembira mendengar kabar Siang Lojin akan berbesan dengan keluarga Ma.

“Hahaha.   Aku tahu kalau Amannisa baru berusia dua puluh tahun dan lebih

muda darimu. Tak usah sungkan, kau boleh panggil dia dengan namanya saja,” kata Siang Lojin sambil tersenyum.

“Wah, tidak boleh tidak. Istri kakakku adalah kakakku juga, harus dipanggil sesuai kedudukannya. Ngomong-ngomong bagaimana mereka berdua bisa berkenalan satu sama lain?” tanya Ma Hai untuk menutupi rasa sungkannya.

“Kakakmu Hu-sin datang ke kota Tiang-an ini setahun yang lalu untuk menjalankan tugas dari Laksamana Cheng Ho, dimana pada saat itu mereka berdua berkenalan. Walau Tiang-an telah berganti nama menjadi See-an setelah wangsa Chu dari dinasti Beng berkuasa, tidak berarti kota ini selalu aman seperti namanya. Selain bertujuan melamar, ayah dan kakakmu juga berkunjung kemari untuk membahas dua masalah yang akhir-akhir ini menjadi berita santer di dunia kang-ouw. Mungkin adikku Temuyun telah menceritakan hal ini kepadamu,” desah Song Lojin.

“Sudah beberapa tahun terakhir ini, Gihu tidak pernah ikut campur dan mengikuti kabar dari dunia kangouw. Kabar terakhir yang beliau dapatkan justru terjadinya pertentangan hak putra mahkota dan pembunuhan beberapa putra baginda kaisar di kota raja Beiping. Itu juga karena beliau mendapatkan kabar dari Ban Su To Niocu yang meminta bantuan Gihu. Surat pengantar dari Gihu ini akan menjelaskan tugas Hai-ji lebih jelas.” Ma Hai bangkit dari tempat duduknya dan menyerahkan surat pengantar dari Temuyun siucay untuk kakaknya.

Setelah membaca surat pengantar itu Siang Lojin menghela nafas panjang. “Mengenai belati itu akan ku berikan padamu nanti. Tentang tugas yang dibebankan adikku padamu mungkin saja berhubungan dengan dua masalah besar yang kukatakan sebelumnya.”

“Masalah apakah yang menyebabkan Laksamana Cheng Ho mengutus engkoh Hu-sin kemari?” tanya Ma Hai tertarik.

“Masalah pertama adalah mengenai organisasi pembunuh rahasia Hiat-ouw (telaga darah) yang setelah ditinggal mati oleh ketuanya Tee-it Thian-mo tiga tahun yang lalu diambil alih oleh ketujuh murid perempuannya Jit Tok-hoa. Sebenarnya tidak ada yang istimewa karena nama Hiat-ouw turun pamornya akibat tewasnya Tee-it Thian-mo. Hanya saja dua tahun yang lalu, markas mereka di daerah barat tiba-tiba kosong melompong dan anggotanya entah pergi kemana termasuk ketujuh orang Jit Tok-hoa. Lalu beberapa bulan kemudian Hiat-ouw mendadak muncul kembali dengan ketuanya yang baru dan mengegerkan dunia kangouw. Mereka sering terlihat beraktifitas disekitar kota ini, sehingga Laksamana Cheng Ho meminta kakakmu menyelidiki hal ini sebelum beliau berangkat berlayar tahun lalu,” jawab Siang Lojin panjang lebar.

“Siapakah ketua baru Hiat-ouw dan apa yang dilakukannya sehingga menggegerkan dunia kangouw?” tanya Ma Hai lebih lanjut.

“Tidak ada yang mengetahui asal-usul dan nama ketua Hiat-ouw, yang diketahui hanyalah julukannya Hiat-eng cu (si bayangan darah) dan secara berturut-turut Hiat-eng cu telah mengunjungi Kunlun pay, Hoasan pay, Gobi pay dan Khongtong pay serta mengalahkan jago-jago mereka berturut-turut. Kabarnya dia menunggu kesempatan untuk menantang jago Siawlim pay dan Butong pay untuk mendapatkan kedudukan sebagai Bulim Bengcu,” jelas Siang Lojin.

“Hiat-eng cu ingin menjadi Bulim Bengcu?” kaget Ma Hai mendengar penjelasan Siang Lojin.

“Itulah masalah yang kedua. Ketika Chu Goan Ciang merebut tahta dari pemerintah mongol dan mendirikan dinasti Beng, beliau mendapat bantuan dari gabungan dukungan dari para patriot termasuk pendekar dari dunia persilatan dibawah panji Bengkauw. Chu Goan Ciang yang mengangkat dirinya menjadi kaisar Hongwu melihat orang-orang dari dunia kangouw sebagai ancaman bagaikan melihat dirinya sendiri pada saat memimpin orang-orang kangouw dalam mengusir bangsa mongol. Karena itu kaisar Hongwu berinisiatif untuk mengendalikan gerak-gerik dunia kangouw supaya tidak berseberangan arah tujuan dengan pemerintahan dinasti Beng. Pemilihan Bulim Bengcu adalah idenya untuk mengawasi dunia kangouw dan dapat dipastikan kalau orang yang dipilih sebagai Bulim Bengcu adalah orang yang kuat pengaruhnya di dunia kangouw dan dapat bekerja sama dengan pemerintah. Selama ini jabatan Bengcu yang dipilih lima tahun sekali selalu dipegang oleh kepala biksu dari biara Siawlim yang cukup baik hubungannya dengan pemerintah Beng dan biasanya tidak ada penolakan dari pihak orang-orang kangouw.” Siang Lojin mengelus jenggotnya sambil matanya menerawang menatap kedepan. “ Hanya saja sejak kaisar Yong Le memegang tampuk pemerintahan, jabatan Bengcu dibebaskan oleh kaisar, tidak harus selalu berhubungan baik dengan pemerintah Beng. Walaupun demikian, tetap saja jabatan Bengcu masih dipegang oleh kepala biara Siawlim mengingat reputasi Siawlim pay selama ini.”

“Gihu pernah bercerita pada Hai-ji betapa beberapa tahun yang lalu terjadi pertikaian memperebutkan Jit Goat Siang Pokiam dan mengakibatkan terbunuhnya 3 tokoh dari Siauwlim pay, Butong pay dan Hoasan pay. Apakah hal ini berhubungan dengan pemilihan Bulim Bengcu?” Ma Hai mengemukakan pendapatnya.

“Mungkin saja, karena tokoh Siawlim yang terbunuh adalah wakil kepala biara Tiong-ki Taysu yang didesas-desuskan akan dipilih sebagai pengganti kepala biara Siawlim merangkap Bulim Bencu, Hong-shi Taysu yang telah lanjut usianya. Hal lain yang menjadi dugaan adalah adanya pihak ketiga yang ingin mengadu domba perguruan silat besar, sehingga pengaruh mereka memudar dan dapat dimanfaatkan oleh orang ketiga tersebut,” kata Siang Lojin.

“Apakah menurut Pek-hu (paman, kakak dari ayah), semua kejadian besar ini didalangi oleh satu pihak yang sama?” tanya Ma Hai.

Siang Lojin tersenyum mendengar pendapat Ma Hai. “Dugaanmu itu tepat sama dengan dugaanku setelah berdiskusi dengan ayah dan kakakmu. Menurut kakakmu ada indikasi kuat kalau dalang semua ini memiliki hubungan dengan pejabat pemerintah yang memiliki posisi penting di istana kaisar. Kemungkinan besar pihak ini ingin merebut kekuasaan dengan menggunakan tenaga orang-orang pandai dari dunia kangouw. Dan sepertinya organisasi Hiat-ouw turut terlibat dengan hal ini. Mengingat mereka memiliki jaringan mata-mata didunia kangouw seperti halnya Kim Ih Wi didunia politik, aku khawatir penyelidikan yang dilakukan kakakmu Hu-sin tercium juga oleh mereka.

“Engkoh Hu-sin sudah ikut Laksamana Cheng Ho seperti Hai-ji yang ikut Gihu sedemikian lama. Tentu Engkoh Hu-sin telah banyak mewarisi kepandaian Laksamana Cheng Ho dengan mahir dan memiliki kepandaian yang cukup untuk menjaga dirinya dan keluarganya,” kata Ma Hai dengan yakin.

“Hahaha..... kalau engkau saja begitu yakin dengan kemampuan kakakmu sendiri, tentu akupun tidak perlu merasa khawatir menyerahkan anak perempuanku untuk diperistri oleh Ma Hu-sin. Aku percaya dia dapat menjaga anakku dengan baik,” Siang Lojin mengangguk-angguk sambil tertawa perlahan. “O ya, mengenai belati yang diserahkan adikku kepadamu. Tahukah engkau belati apakah itu?”

“Hai-ji mohon petunjuk Pek-hu, selama ini Hai-ji menyebut belati itu dengan nama Leng-tiong mengingat hawa dingin yang dipancarkannya dan mirip dengan nama aslinya, rencong,” jawab Ma Hai sambil tertunduk malu mengingat pengetahuannya yang terbatas.

“Hai-ji, kau tunggulah sebentar,” kata Siang Lojin sambil bangkit dari tempat duduknya dan masuk kedalam kamarnya. Tak lama kemudian Siang Lojin membawa keluar sebuah peti besi yang terkunci dengan gembok yang cukup kuat kelihatannya. Siang Lojin kemudian membuka gembok dan penutup peti sehingga terlihat sebuah belati bergagang gading yang sarungnya berukir indah. Lalu Siang Lojin mengambil belati tersebut dan menyerahkannya kepada Ma Hai sambil menyuruhnya untuk meloloskan belati tersebut dari sarungnya. Terpancar cahaya kemilau dan hawa dingin dari belati tersebut ketika Ma Hai menarik keluar belati dari sarungnya. Terlihat ukiran samar huruf arab pada tengah belati yang bertuliskan “NUR”.

“Belati rencong ini berasal dari kerajaan Pasai diseberang selatan dataran Tionggoan. Ada 3 macam rencong sejenis ini yang dimiliki oleh petinggi kerajaan Pasai yaitu raja, putra mahkota dan panglima perang. Raja Pasai memiliki rencong berukir Al-Malik yang berarti raja, dan putra mahkota memegang rencong yang disebut An-Nas (Manusia). Sedangkan rencong ketiga bernama An-Nur yang berarti cahaya dipegang oleh panglima perang kerajaan Pasai. Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa rencong An-Nur ini jatuh ketangan adikku. Menurut dugaanku, mungkin pada saat itu kerajaan Majapahit menyerang kerajaan Pasai dan rencong ini bisa terlepas dari tangan panglima perang Pasai dalam keadaan kacau akibat serangan itu. Walaupun hanya sebilah belati, rencong An-Nur ini sangatlah berguna sebagai penangkal racun sehingga aku meminjamnya beberapa tahun yang lalu dari adikku Temuyun untuk kugunakan mengobati berbagai korban keracunan,” Siang Lojin menceritakan riwayat belati tersebut sekaligus dengan kegunaannya.

“Kalau rencong An-Nur ini dapat digunakan Pek-hu dalam mengobati pasien, sebaiknya biarlah Pek-hu yang memegangnya. Walau bagaimanapun, belati An-Nur lebih berguna bila di gunakan Pek-hu daripada dipegang olehku,” kata Ma Hai sambil memasukkan rencong An-Nur kembali kedalam sarungnya.

“Mengenai penangkal racun, aku telah mengembangkan metode pengobatan lainnya untuk mengobati korban keracunan sehingga rencong itu tak pernah kugunakan lagi setahun terakhir ini. Lagi pula rencong An-Nur terbuat dari logam istimewa yang tak kalah dengan pedang pusaka lainnya sehingga cocok untuk digunakan sebagai senjata. Ilmu tiam-hoat yang engkau warisi dari adikku sangat cocok bila menggunakan rencong sebagai senjata. Kalau menggunakan pedang atau golok yang panjang tentu akan menghalangi gerakanmu. Tapi apabila menggunakan belati atau rencong yang pendek bentuknya, tentu akan lebih sesuai dan cocok. Ambillah olehmu, lagipula engkau harus mematuhi pesan Gihu-mu untuk mewarisi rencong itu,” kata Siang Lojin.

Ma Hai mengangkat rencong An-Nur dengan khidmat sambil berkata,” Hai-ji berjanji akan berusaha menggunakan rencong ini dijalan yang lurus dan tidak akan pernah digunakan untuk kejahatan.”

“Bagus.... Bagus. memang begitulah seharusnya sikap keturunan Ma Huan,”

komentar Siang Lojin sambil tersenyum lebar.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu utama dan seorang pelayan Siang Lojin menghampiri pintu utama untuk membuka pintu. Siang Lojin dan Ma Hai menduga tentu tamu yang barusan datang adalah calon pasien baru yang datang dengan maksud untuk berobat. Tak lama kemudian tamu yang baru datang itu muncul diruang tengah diantar oleh pelayan, dan Ma Hai melihat dua pemuda yang mengenakan pakaian sasterawan tersebut terlalu sehat untuk minta diobati.

“Hormat kepada Locianpwe Siang Lojin dari kami berdua,” kedua tamu itu mengangkat tangannya menghormat. Siang Lojin dan Ma Hai bangkit dari duduknya untuk menyambut tamu dan membalas penghormatan mereka. Siang Lojin mempersilahkan tamunya duduk dan menyuruh pelayan untuk menyediakan minuman bagi dua tamu tersebut, setelah itu barulah Siang Lojin menanyakan maksud kedatangan keduanya.

“Ada hal apakah ji-wi (anda berdua), mengunjungi kediaman cayhe yang sederhana ini?” tanya Siang Lojin.

Salah seorang diantara mereka berdua agaknya diserahi tugas sebagai pembicara memperkenalkan dirinya,” Siawte bernama Kian bermarga Ie seorang Jinshi (gelar akademis pada masa itu) sedangkan teman siawte ini bernama Khu Leng-ho. Kami berdua berasal dari kotaraja Beiping dengan maksud meminta bantuan Locianpwe Siang Lojin yang dikenal sebagai pewaris tabib sakti Nanto.” Ie Kian berhenti sejenak sambil melirik Ma Hai.

“Pertolongan apakah yang dapat cayhe berikan? Adapun pemuda ini adalah keponakan cayhe sendiri yang bernama Ma Hai, tidak perlu sungkan mengatakannya,” kata Siang Lojin.

Ie Kian menoleh kepada temannya yang bernama Khu Leng-ho, melihat Leng- ho mengangguk kecil barulah Ie Kian meneruskan kata-katanya sambil menunjukkan sebuah lempeng kecil bertulisan “wakil putra mahkota” kepada Siang Lojin, ”Sesungguhnya kami ini adalah utusan putra mahkota dari istana kaisar di kotaraja Beiping.”

Terkejut Siang Lojin dan Ma Hai mendengar kata-kata Ie Kian tersebut, tiba- tiba Ma Hai teringat pembicaraan tamu di restoran Uighur tadi siang. Sepertinya Khu Leng-ho yang dihadapannya inilah yang dikatakan anak pejabat istana Khu Cho Tayjin. Jika mereka datangnya bertiga kemana lagi yang seorang, pikir Ma Hai.

“Yang mulia kaisar sedang menderita penyakit aneh dan belum bisa disembuhkan oleh tabib istana hingga sekarang. Putra mahkota Chu Kaoshi mengutus hamba berdua untuk datang meminta pertolongan dan menjemput Locianpwe Siang Lojin dari kota See-an,” sambung Ie Kian sambil memasukkan lempeng tanda utusan putra mahkota kedalam sakunya kembali.

“Sungguh merupakan suatu kehormatan bila cayhe diundang oleh putra mahkota Chu Kaoshi untuk memeriksa penyakit yang diderita oleh Hongsiang (sri baginda), hanya saja sembuh atau tidaknya semua bergantung kepada Thian yang maha kuasa,” Siang Lojin menjura untuk menghormati undangan yang disampaikan kepadanya.

“Mohon maaf apabila siawte mencampuri urusan pamanku, hanya saja tadi siang siawte mendengar peristiwa didusun sebelah tenggara Tiang-an. Apakah dua dari utusan dari istana itu ji-wi berdua? Kemanakah yang seorang lagi?” tanya Ma Hai dengan hormat.

Kali ini Leng-ho yang semenjak tadi diam yang menjawab, ”Sejak Tiang-an direbut dari bangsa Mongol namanya telah berganti menjadi See-an, harap Ma kongcu menghormati keputusan pemerintah Beng yang melakukan pergantian nama tersebut. Mengenai peritiwa didusun tenggara See-an, memang kami bertiga yang datang sebagai utusan dari istana kaisar. Sayang sekali karena memiliki urusan lain yang sama pentingnya, teman kami yang seorang lagi tidak bisa menemani kami berkunjung kerumah Siang Lojin.”

“Hmmm, sikap Khu Leng-ho ini benar-benar mencerminkan seorang loyal pada pemerintah dinasti Beng. Sampai-sampai nama kota yang diganti namanya oleh pemerintah Beng dipersoalkan olehnya. Apakah Ie Kian ini yang dikatakan orang-orang sebagai si sakti yang mengalahkan para tukang pukul pejabat korup”, pikir Ma Hai.

“Kami telah menyewa kereta kuda yang sedang menunggu diluar untuk membawa Locianpwe ke kotaraja. Harap Locianpwe memaklumi sikap kami yang terburu-buru mengingat parahnya sakit Hongsiang,” Ie Kian bangkit dari duduknya mempersilahkan Siang Lojin untuk ikut serta berangkat menuju kotaraja.

Siang Lojin sendiri tersenyum melihat sikap tergesa kedua tamunya. “Harap ji- wi berdua menunggu sebentar, bagaimanapun cayhe masih memiliki beberapa pasien yang dirawat digedung sebelah. Silahkan ji-wi beristirahat sejenak sementara cayhe memeriksa para pasien dan memberi petunjuk pada anakku dan para pelayan untuk perawatan mereka selanjutnya. Hai-ji ikutlah denganku!”

Siang Lojin bangkit dan pergi menuju bangunan tempat perawatan pasien disebelah diikuti oleh Ma Hai. Leng-ho dan Ie Kian terpaksa duduk menunggu tuan rumah dengan raut muka tak sabar.

Beberapa saat kemudian setelah Siang Lojin memeriksa keadaan para pasien dan memberi petunjuk cara pengobatan lanjutan kepada para pelayan dan Amannisa barulah Siang Lojin menghadap Ma Hai dan Amannisa, ”Kalian dengarkanlah, hal ini cukup berbahaya karena bisa menyeret kita kedalam lingkaran persaingan putra mahkota. Engkau sudah tahu sendiri mereka berdua adalah utusan pangeran Chu Kaoshi, dengan sendirinya pangeran Chu Kaoshu akan menganggap kita sebagai pembantu kakaknya jika pergi bersama Ie Kian berdua.”

Ma Hai menunduk mendengar ucapan Siang Lojin, “Justru karena itu, Hai-ji ingin melakukan perjalanan bersama Pek-hu untuk menjaga segala kemungkinan. Bukankah kesulitan lebih mudah dihadapi berdua dari pada sendirian. Lagipula Hai-ji juga memiliki urusan sendiri untuk melaksanakan tugas dari Gihu.”

“Tia-tia (ayah), ada urusan apakah kedua tamu diruang tengah mengajak tia-tia pergi menuju kotaraja? Apa benar-benar untuk memeriksa kesehatan Hongsang atau ada hal lain? Malah menurutku lebih baik aku dan Hai-ko ikut serta bersama tia,” Amannisa mengucapkan kata-katanya dengan nada khawatir. “Tak usah kau khawatir. Sesampai dikotaraja, mungkin aku juga akan pergi mengunjungi rumah calon mertuamu Ma Huan. Kau tunggulah disini untuk merawat para pasien dan menggantikanku mengobati orang yang membutuhkan pengobatan, biarlah Hai-ji saja yang menyertaiku. Pengetahuan pertabibanmu sudah lebih dari cukup untuk menggantikan aku. Hai-ji engkau boleh ikut denganku, tapi sepanjang perjalanan engkau harus menuruti kata- kataku. Tidak boleh sembarangan bertindak. Bagaimanapun aku ingin posisi kita tetap netral diantara kedua pangeran yang sedang bersaing itu,” kata Siang Lojin sambil menyuruh Amannisa mempersiapkan kebutuhan untuk perjalanan menuju Beiping.

Tak lama kemudian terlihat dua orang menunggang kuda mengiringi sebuah kereta kuda sewaan meninggalkan rumah Siang Lojin. Kuda Ma Hai ditinggal di rumah Siang Lojin, sedangkan dia sendiri ikut masuk kedalam kereta kuda bersama Siang Lojin. Ie Kian dan Leng-ho berbarengan mengawal kereta kuda, masing-masing menunggang seekor kuda yang gagah.

Selama dalam perjalanan waktu benar-benar tak disia-siakan oleh Siang Lojin, Ma Hai banyak mendapatkan petunjuk dari Siang Lojin mengenai tata cara pengobatan dan ilmu pertabiban praktis tetapi efektif, termasuk cara menggunakan rencong An-Nur sebagai penolak racun. Pelajaran paling berharga yang didapat Ma Hai adalah pengobatan dengan menggunakan tusuk jarum, terutama karena Ma Hai menguasai ilmu tiamhoat dan memahami letak jalan darah secara lengkap sehingga dengan cepat Ma Hai dapat menangkap inti sari dari metode pengobatan dengan menggunakan tusuk jarum.

  ooOoo  

Rumah bangsawan Sun Kuang-yi di kotaraja Beiping walaupun tidak terlalu besar tetapi sangat indah dan sedap dipandang mata. Maklum saja karena Sun Tayjin adalah seorang arsitek yang cukup dihormati oleh kaisar dan merupakan salah seorang perancang istana terlarang ketika kaisar Yong Le memindahkan ibu kota dari Nanking ke Beiping. Setelah kota terlarang selesai dibangun, kaisar menghadiahkan sebidang tanah di kotaraja Beiping untuk tempat tinggal Sun Tayjin yang menyatakan ingin pensiun. Diatas tanah hadiah kaisar inilah Sun Tayjin membangun karya terakhirnya yaitu tempat tinggalnya sendiri. Di rumah inilah Sun Tayjin tinggal bersama anak tunggalnya Sun Kim-hong beserta para pelayan yang selalu siap melayani mereka.

Walaupun Sun Tayjin tidak memiliki kepandaian silat, tidak demikian halnya dengan putrinya Sun Siocia yang dikenal sebagai murid tunggal Ban Su To Niocu. Semenjak kematian ibunya, Sun Siocia sangat dekat dengan subo (ibu guru) nya yang juga sebaliknya sangat menyayanginya. Seluruh ilmu silat Ban Su To Niocu yang diturunkan kepadanya dapat dikuasai Kim-hong dengan baik termasuk ilmu silat andalan Ban Su To Niocu yang dikenal bernama Kong-ciak Sin-na (cengkeraman sakti burung merak). Kong-ciak Sin-na merupakan gubahan guru Ban Su To Niocu, seorang suthay tua dari Gobi pay yang dipanggil dengan Ciu-subo, berasal dari ilmu cakar tulang putih sembilan bulan yang terkenal ratusan tahun yang lalu karena ketelengasannya. Oleh Ciu-subo, ilmu cakar ini diperlembut dan diperlunak sehingga tidak terlampau kejam lagi seperti ketika Bwee Tiaw-hong menguasainya dan diberi nama baru Kong-ciak Sin-na.

Malam itu terlihat rumah Sun Tayjin cukup ramai, karena cucu keponakan tirinya In Siok-lan datang berkunjung sehingga diadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut kedatangannya. Terlihat empat orang mengelilingi meja makan yang penuh dengan hidangan lezat yaitu tuan rumah Sun Tayjin, putrinya Sun Kim-hong, In Siok-lan dan Ban Su To Niocu yang masih terlihat cantik dan awet muda.

Sun Tayjin terlihat khawatir mendengar cerita Siok-lan yang baru saja datang tadi pagi tetapi sudah mengunjungi rumah kepala Kim Ih Wi Cia Tayjin sekaligus bertemu Liang Taykam di markas Tung-chang.

“Lan-ji (anak Lan), sebaiknya engkau jangan bertemu lagi dengan mereka. Bagaimanapun juga mereka tentu akan berusaha menarik dirimu untuk mendukung salah satu pihak. Apalagi kalau melihat kedudukan pamanmu sebagai Ciangbunjin Butong pay yang terhormat, tentu dukungan Butong pay lah yang mereka incar,” Sun Tayjin menasehati Siok-lan yang duduk disamping kirinya.

“Tapi tia-tia, aku justru tidak sependapat denganmu. Menurutku malah baik sekali Lan-ji dapat ikut serta menyelidiki penyebab kematian mendadak putra- putra hongsiang. Hal ini benar-benar membuatku penasaran,” sahut Kim-hong membela keponakannya.

Siok-lan menghibur kakeknya agar tidak mengkhawatirkan dirinya, “Kongkong tak perlu khawatir, tentu saja aku akan bertindak hati-hati. Lagipula maksud kedatanganku kesini memang berhubungan dengan penyelidikan pembunuhan para pangeran. Menurut pek-hu In Liang, kemungkinan besar pembunuh ayahku yang sebenarnya berada dibalik pembunuhan para pangeran putra hongsiang. Sejak awal pek-hu tak pernah percaya kalau ayah terlibat dalam perebutan Jit Goat Siang Pokiam, mengingat sifat ayahku bukanlah orang yang haus benda pusaka. Selain mengutusku kesini pek-hu juga mengutus ketiga susiok turun gunung untuk menyelidiki munculnya Hiat-ouw dengan ketua barunya.”

“Ah, pengalaman kalian masih dangkal sehingga mudah terbawa darah muda kalian yang panas. Bagaimana menurut pendapat Niocu? Sebaiknya apakah yang harus kita lakukan?” tanya Sun Tayjin kepada Ban Su To Niocu yang semenjak tadi diam mendengarkan.

“Menurut pendapatku boleh saja In-kauwnio menyelidiki kasus ini, tapi alangkah lebih baik kalau hubungan dengan Tung-chang tidak diteruskan lebih lanjut. Bagiku sendiri, persaingan Chu Kaoshi dengan adiknya Chu Kaoshu tidaklah seberbahaya persaingan Kim Ih Wi dengan Tung-chang, apalagi dengan kemunculan mendadak ketua baru Hiat-ouw ketika pemilihan bulim bengcu semakin dekat. Hong-ji, kau harus membantu dan melindungi keponakanmu selama berada di Beiping. Lan-ji adalah orang luar, sedangkan engkau adalah penduduk Beiping yang tahu seluk beluk kota ini.” Ban Su To Niocu berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya lagi, “Aku sendiri sedang menanti seseorang yang kuminta bantuannya untuk memecahkan kasus ini.”

“Eh? Siapakah dia subo? Apakah teecu mengenalnya?” tanya Kim-hong heran, baru kali ini dia mendengar subo-nya meminta bantuan orang luar.

“Namanya adalah Temuyun, seorang siucay dari suku Uighur. Dunia kangouw hampir tak pernah mengenal namanya, tetapi setahuku kepandaiannya sangatlah hebat. Malah dengan kemampuanku yang sekarang, mungkin aku akan kalah jika bertarung dengannya,” jawab Ban Su To Niocu dengan suara perlahan.

“Apa?” Terkejut Kim-hong mendengar jawaban gurunya. Bagaimanapun juga Kim-hong sangatlah mengenal karakter gurunya yang angkuh dan tak pernah mau mengaku kalah. Tapi kali ini malah gurunya terang-terangan memuji orang yang diminta bantuannya itu. Didalam hatinya terbetik rasa penasaran untuk mencoba kemampuan orang yang dipuji oleh gurunya itu.

“Semakin bertambah umurku, semakin banyak orang hebat yang kutemui. Diantara mereka malah memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari yang kumiliki. Hong-ji, masih ingatkah engkau saat aku pulang sambil membawa Jit Pokiam (pedang pusaka matahari) tiga tahun yang lalu?” tanya Ban Su To Niocu pada muridnya.

“Tentu saja teecu ingat. Saat itu hongsiang terlihat sangat senang dengan kembalinya Jit Pokiam kedalam kamar penyimpanan pusaka kerajaan. Subo benar-benar hebat bisa merebutnya dari tangan orang-orang kangouw yang memiliki kepandaian tinggi,” kata Kim-hong sambil membayangkan Jit Pokiam yang berhasil direbut oleh subonya.

Ban Su To Niocu hanya menghela nafas mendengar pujian muridnya, “Sebenarnya aku mendapatkannya lebih karena keberuntungan. Saat itu aku menghadapi lawan tangguh, yaitu kepala dusun Bu-kee Cung (perkampungan keluarga Bu) yang bernama Bu Kiong. Kalau saja pertarungan dilakukan satu lawan satu, aku akan kalah dengan telak.”

Kali ini yang terkejut bukan hanya Kim-hong, Siok-lan juga tak kalah terkejutnya mengingat betapa hebat kepandaian Ban Su To Niocu, tidak selisih jauh dengan pamannya Ciangbunjin Butong pay.

“Kejadian ini adalah rahasia yang hanya diketahui beberapa orang, hanya saja karena memiliki hubungan dengan kematian ayah In-kauwnio terpaksa harus diceritakan. Oleh karena itu harap kalian semua merahasiakannya dan tidak menceritakan kepada orang lain,” kata Ban Su To Niocu kepada ketiga orang itu. Sun Tayjin menjawab dengan hembusan nafas panjang, ”Lagi-lagi urusan dunia kangouw. Karena urusan ini menyangkut urusan dunia kangouw, kupikir tidak perlu aku ikut mendengarnya. Silahakan kalian berdua mendengarkan cerita Niocu. Bila sudah selesai, aku akan kembali lagi.”

Setelah Sun Tayjin pergi meninggalkan ruang makan, barulah Ban Su To Niocu melanjutkan ceritanya tentang peristiwa dimana dia berhasil merebut Jit Pokiam tiga tahun yang lalu kepada kedua gadis dihadapannya (Baca cerita Jit Goat Siang Pokiam).

Setelah selesai mendengar cerita Ban Su To Niocu, In Siok-lan mengepalkan tangannya sambil berkata, “Ternyata betul dugaan pek-hu kalau ayahku dibunuh orang yang ingin mengadu domba Butong pay dengan perguruan besar lainnya. Ah.  betapa hebat kepandaian dalang dari semua ini. Bu Kiong

Tayhiap yang sedemikian sakti itu saja tidak bisa menandinginya, apalagi aku?

“Subo, kemanakah perginya kedua pemuda sakti itu?” tiba-tiba Kim-hong menanyakan lebih lanjut.

“Maksudmu Bu Dian Long dan Yehlu Ceng? Entahlah, setahuku Bu Dian Long kembali ke dusun Bu-kee Cung sedangkan Yehlu Ceng berkelana entah kemana. Hingga kini belum pernah aku bertemu dengan seorangpun dari mereka berdua,” Ban Su To Niocu mendesah perlahan lalu menyambung ucapannya kembali, “Ingat, jangan kalian ceritakan rahasia ini kepada orang lain. Kita tidak boleh mengejutkan ular didalam sarangnya, karena kalau ular itu sudah kabur sulit dapat menangkapnya karena saking licinnya!”

”Baiklah,” sahut Kim-hong dan Siok-lan berbarengan.

“Mengenai Liang Taykam, aku pernah mendengar kabar bahwa dia melatih sejenis ilmu kepandaian khusus yang hanya bisa dipelajari oleh orang yang telah dikebiri. Mungkin dengan ilmu itu Liang Taykam dapat mengalahkanmu dengan mudah,” kata Ban Su To Niocu kepada siok-lan

“Ah, waktu itu Liang Taykam mengatakan suka menanam bunga matahari. Apa maksud perkataannya?” Siok-lan bertanya dengan heran.

“Entahlah, yang jelas kalian jangan lagi berurusan dengan Liang Taykam maupun Cia Tayjin. Kedua orang ini sangat berbahaya, lebih baik menghindari mereka jauh-jauh,” Ban Su To Niocu mengakhiri ceritanya.

Tak lama kemudian Sun Tayjin kembali bergabung bersama mereka bertiga dan melanjutkan acara makan yang tertunda. Kali ini tidak ada seorangpun yang menyinggung-nyinggung masalah dunia kangouw lagi hingga makan malam selesai dan Ban Su To Niocu pulang ke istana kaisar.

Malam itu Siok-lan tidur bersama Kim-hong didalam kamar Kim-hong. Sebenarnya Sun Tayjin sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan sebuah kamar tamu untuk Siok-lan, tapi Kim-hong setengah memaksa ayahnya untuk mengijinkan Siok-lan tidur bersamanya malam itu. Sun Tayjin memaklumi kalau mereka berdua sudah lama tak bertemu, tentu ingin mengobrol panjang lebar. Apalagi jika mengingat bibi dan keponakan itu hanya berselisih umur dua tahun saja sehingga lebih mirip kakak adik atau teman sebaya saja.

Sebelum tidur kedua gadis itu menceritakan keadaan mereka masing masing setelah terakhir kali bertemu sepuluh tahun sebelumnya ketika Kim-hong dan ayahnya menghadiri upacara pemahkaman ibu Siok-lan. Saat itu ayah Siok-lan masih seorang pendekar Butong pay dari golongan bukan pendeta, berbeda dengan kakaknya In Liang yang memang sejak muda memilih untuk menjadi seorang tosu (pendeta agama To). Setelah istrinya meninggal dunia, dua tahun kemudian barulah ayah Siok-lan mengikuti jejak kakaknya masuk menjadi tosu dengan gelar Bu-liang Tosu. Empat tahun yang lalu Bu-liang Tosu ditemukan tewas bersama wakil ketua Siawlim pay Tiong-ki Taysu dan Siang-wi siansing tokoh Hoasan pay. Desas-desus yang berkembang didunia kangouw adalah ketiga tokoh perguruan besar tersebut tewas karena memperebutkan Jit Goat Siang Pokiam. Tiong-ki Taysu tewas dengan dada tertembus pedang tokoh Hoasan pay, Siang-wi siansing sendiri mati akibat pukulan Taykek kun, sedangkan pada mayat Bu-liang Taysu terdapat bekas cakar Ang-liong Jiauw (cakar naga merah) yang merupakan salah satu ilmu andalan Siawlim pay.

Hubungan ketiga perguruan besar ini sempat tegang apalagi dengan adanya dukungan dari perguruan lain yang memiliki hubungan dekat dengan salah satu dari tiga perguruan besar tersebut sebelum ketiga ciangbunjin bertemu dan menjalin kesepakatan damai. Saat itu In-liang Cinjin sebagai kakak sekaligus ciangbunjin Butong pay menyatakan kalau Bu-liang sama sekali tidak mewarisi atau menguasai ilmu pukulan Taykek kun, sehingga tidak mungkin beliau yang melukai Siang-wi siansing.

Setelah bertahun-tahun tidak ada kabar terang dari penyelidikan kasus tewasnya tiga tokoh itu, justru kemunculan Hiat-ouw baru dan kematian misterius para pangeran menimbulkan titik terang. Tiga tetua Butong pay yaitu Lian-cu Tosu, Thay-giam Tosu dan Siong-kee Tosu diutus ciangbunjin Butong pay untuk menyelidiki munculnya ketua baru Hiat-ouw yang misterius. Memang ketiga tetua Butong pay ini memakai nama guru mereka masing-masing sebagai gelar tosunya. Selain itu In-liang Cinjin sendiri sengaja mengutus keponakannya Siok-lan untuk menyelidiki kasus pembunuhan para pangeran dengan dalih mengunjungi kakek dan bibi luarnya.

Kedua gadis itu mengobrol dengan suara kecil mirip berbisik, khawatir suara percakapan mereka didengar oleh orang lain.

“Kouw-kouw (bibi), apa betul mau ikut denganku menemui Liang Taykam besok siang? Bagaimana jika ketahuan sama kong-kong? Tentu aku akan diomeli habis-habisan karena menyeret kouw-kouw kedalam urusan ini,” bisik Siok-lan.

“Hush, yang akan didamprat bukan hanya engkau. Aku sebagai bibimu tentu mendapat hukuman lebih keras lagi. Tapi hal menarik seperti ini tidak bisa dilewatkan begitu saja, lagipula apa engkau tidak mendengar kata-kata subo barusan? Engkau sebagai orang luar, tentu tidak mengenal kota Beiping dengan baik sehingga perlu aku temani, ”sahut Kim-hong sambil medelik lucu.

Siok-lan tersenyum lebar melihat tampang Kim-hong yang marah dibuat-buat. “Tapi kouw-kouw.  ” sebelum habis perkataan Siok-lan, Kim-hong memotong,

“sudahlah! Bagaimanapun aku ini kouw-kouw-mu, ayahmu adalah sepupuku, nenekmu adalah bibiku. Walaupun engkau lebih muda hanya 2 tahun dari umurku tetap saja menurut tingkatan aku ini bibimu! Seorang keponakan yang baik harus menuruti kata-kata orang tua.” 

Kedua gadis itu tertawa kecil sambil membayangkan Kim-hong sebagai orang tua yang menasehati anak kecil serupa Siok-lan.

Akhirnya mereka berdua menyusun rencana untuk besok siang, dimana Kim- hong akan turut serta mengantar Siok-lan menemui Liang Taykam.

Pagi-pagi kedua gadis itu bangun sambil bersenda gurau didepan Sun Tayjin, sehingga Sun Tayjin sama sekali tidak menduga kedua gadis itu memiliki rencana untuk berkunjung ke markas Tung-chang di bagian luar istana terlarang.

Setelah meminta ijin untuk mengantar Siok-lan jalan-jalan berkeliling kota Beiping, Kim-hong mengajak Siok-lan menggunakan jalan memutar menuju lorong gang tempat Siok-lan bertemu dengan Ong Chen sebelumnya.

Sesampai didepang gang sebelah restoran, tidak terlihat batang hidung Ong Chen. Padahal sesuai janji, Ong Chen akan menyambut Siok-lan didepan lorong. Karena curiga, Siok-lan meminta Kim-hong naik ke atas atap dan mengikuti Siok-lan yang berjalan menyelusuri lorong gang.

Lorong gang yang berkelok-kelok itu sunyi sekali. Diikuti oleh Kim-hong yang mengawasinya dari atas atap, Siok-lan merasa semakin mantap keberaniannya. Tiba di ujung lorong tempat joli dan 4 kasim pengangkut berada, Siok-lan terkejut melihat betapa 4 kasim pengangkut joli tergeletak dan sepertinya telah tewas.

Sesosok tubuh sedang berjongkok memeriksa mayat salah seorang kasim pengangkut joli. Tanpa tanya-tanya lagi, Siok-lan langsung menduga kalau orang yang sedang memeriksa mayat kasim itulah sang pembunuh. Seketika diloloskan pedang dari sarungnya dan bergerak menyerang sambil berteriak,” Penjahat, serahkan dirimu!”

Serangan Siok-lan menggunakan sebuah jurus ampuh dari Tay-kek Kiam-hoat dengan tujuan melumpuhkan lawan dengan cepat. Orang yang diserang berputar cepat tanpa melihat sambil dengan berani memapak pedang Siok-lan dengan tangan kosong. “Siapa itu!” bentaknya.

Kaget Siok-lan melihat wajah yang dihiasi brewok tipis tak tercukur rapi yang dikenalnya sebagai pemuda tak acuh mantan bajak sungai yang berjuluk It Liong-ci. Belum habis rasa terkejut Siok-lan, gadis itu merasakan angin yang keluar dari tapak It Liong-ci benar-benar kuat. Baru kali ini Siok-lan bertemu orang yang memiliki lweekang sedahsyat ini, malah lebih hebat dari lweekang yang dimiliki oleh pamannya sendiri ciangbunjin Butong pay.

Cepat Siok-lan memutar tubuhnya setengah lingkaran untuk mementahkan serangan lawan dengan ilmu silat Tay-kek kun. Tapi tak ayal juga bagian samping pedangnya terserempet pukulan tangan kosong lawan sehingga patah di ujungnya dan dirinya sendiri terdorong mundur akibat angin pukulan lawan.

  ooOoo  

Keterangan dan fakta sejarah:

- Tiang-an/Ch’ang-an adalah sebuah kota yang memiliki sejarah panjang dan pernah menjadi ibu kota kerajaan beberapa dinasti. Tiang-an mencapai masa keemasannya ketika menjadi ibu kota kerajaan dinasti Tang, dimana kota Tiang-an menjadi kota paling ramai diseluruh dunia dan menjadi pusat kebudayaan dan ekonomi dunia pada masa dinasti Tang. Nama kota Tiang-an yang berarti perdamaian kekal diganti menjadi Xi-an/See-an yang berarti perdamaian barat oleh pemerintah dinasti Ming/Beng setelah dinasti Yuan/Goan dari mongol berhasil dikalahkan.

- Yu Qian/Ie Kian (1398-1457) adalah seorang jenderal dinasti Ming yang dikenal sebagai seorang patriot sejati pada jaman kaisar Xuande dan kaisar Zhengtong. Beliau adalah seorang ahli sastra terutama puisi sekaligus juga mahir beladiri. Kebanyakan puisi-puisi beliau berisikan patriotisme dan kecintaan pada negara. Tokoh yang dikagumi oleh Yu Qian adalah Wen Tian- xiang perdana menteri terakhir dinasti Sung yang gugur karena membela negara. Yu Qian meraih gelar Jinshi (gelar akademis tertinggi pada jaman dinasti Ming) pada tahun 1421 dan langsung mendapatkan kedudukan sebagai petugas administrasi kekaisaran. Dengan bakat militernya yang besar, Yu Qian dimutasikan ke bagian militer dan dengan cepat naik pangkat kemudian dikenal sebagai jenderal kepercayaan kaisar Xuande.