-->

KPPDM Bab 3. Liang Taykam, Sang Pemimpin Biro Timur

Bab 3. Liang Taykam, Sang Pemimpin Biro Timur

“Nona In, bibimu mudamu itu cukup dikenal di kota Beiping ini sebagai murid tunggal Ban Su To Niocu (Nona selaksa kepandaian) yang masih terhitung adik sepupu kaisar Yong Le. Lagipula ayahnya adalah bangsawan tua Sun Kuang-yi yang menikah dengan putri menteri Yo Siauw itu termasuk orang yang disegani oleh para pembesar negeri,” kata Cia Tayjin.

“Ah, begitukah gihu? Hahaha...ternyata kita masih orang sendiri nona In, karena Ban Su To Niocu sendiri masih terhitung bibi-ku sendiri. Ban Su To Niocu adalah seorang lihiap yang gagah perkasa dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi,” kata pangeran Chu Kaoshu. “Namun sayangnya justru kakak-ku sendiri termasuk orang yang lemah. Sudah tidak mengerti ilmu silat, sikapnya juga terlalu lunak terhadap upaya pemberontakan di daerah Annam (sekarang Vietnam). Gihu lihat sendiri sikapnya terhadap para pendukung Jianwen. Dia malah mengusulkan pada ayahanda kaisar agar merehabilitasi dan membebaskan mereka dari penjara.”

“Justru karena itu lohu berharap agar Hongsiang (baginda) menyadari akan hal ini dan mengubah status putra mahkota selekas mungkin. Tetapi sepertinya Hongsiang akhir-akhir ini selalu mendengarkan nasihat dari penasihat agung Cia Kim yang dekat dengan pangeran pertama Chu Kaoshi.” kata Cia Tayjin menengahi.

“Orang marga Cia yang itu memang bermulut manis. Entah apa yang dibicarakannya pada ayahanda kaisar sehingga ayahanda begitu mempercayai omongannya. Padahal adik ketiga sudah mendukungku untuk dicalonkan sebagai putra mahkota pengganti,” kata pangeran Chu Kaoshu menyadari orang yang dimaksud mempunyai marga sama dengan ayah angkatnya.

“Sudahlah yang mulia pangeran, tidak baik membicarakan urusan istana didepan orang luar. Mungkin membuat nona In menjadi bosan membicarakan urusan politik”, bujuk Cia Tayjin.

“O ya nona In, harap engkau berhati-hati selama berada di kotaraja, walaupun aku yakin dengan kepandaian silatmu engkau bisa menjaga diri. Tapi saat ini di kotaraja sedang terjadi ketegangan akibat terbunuhnya beberapa pangeran saudaraku, belum lagi ayahanda kaisar sedang sakit parah. Banyak sekali tipu muslihat yang digunakan para kasim dan begundalnya untuk menambah kacau suasana. Malah aku yakin ketegangan ini semua merupakan akibat ulah perbuatan mereka untuk memperkuat posisi. Mereka itu mendukung kakak-ku Chu Kaoshi karena kakak-ku terlalu lemah hingga mudah untuk dipengaruhi. Seharusnya para pejabat kebiri itu diturunkan statusnya seperti jaman kakek-ku kaisar Hong Wu,” pangeran Chu Kaoshu mengatakan dengan nada prihatin.

“Terima kasih atas perhatian paduka pangeran. Hamba akan berusaha untuk lebih berhati-hati. Lagipula dengan adanya kakek dan bibi Sun, hamba merasa lebih yakin dapat menjaga diri,” sahut In Siok-lan. Pangeran Chu Kaoshu tiba-tiba memandang It Liong-ci yang sejak tadi diam tak mencampuri pembicaraan.

“Wah, aku sampai lupa dengan sicu. Siapakah namamu? Tentunya engkau datang karena ingin bergabung dengan Kim Ih Wi bukan?” tanya pangeran Chu Kaoshu.

Pemuda yang semenjak datangnya pangeran Chu Kaoshu dan Cia tajin telah berdiri menanti, memberi hormat dengan mengangkat kedua tangannya.

“Hamba adalah It Liong-ci. Memang betul pangeran, kedatangan hamba kesini untuk mengadu nasib mencari untung. Kalau bernasib baik semoga hamba berhasil lulus ujian kepandaian agar dapat menjadi anggota Kim Ih Wi,” kata It Liong-ci.

“It Liong-ci? Hmmm, kudengar namamu 5 tahun belakangan ini malang melintang disepanjang sungai Huangho sebagai bajak sungai tunggal. Tak kusangka orangnya masih muda begini,” komentar Cia Tayjin sambil memperhatikan It Liong-ci dengan curiga.

“Hamba ingin bertobat dengan cara mengabdi pada negara, agar dapat mencuci dosa hamba dan meraih jasa,” jawab It Liong-ci sambil bersoja.

“Sudahlah gihu, siapapun yang ingin kembali ke jalan yang benar akan diterima gihu dengan senang hati bukan?” melihat Cia Tayjin mengangguk perlahan, pangeran Chu Kaoshu melanjutkan,” Kalau begitu silahkan Toan kongcu meneruskan ujian ini. Aku ingin menonton pibu It Liong-ci sicu ini.” Pangeran Chu Kaoshu mempersilahkan Toan kongcu kembali ke tengah ruang Lian-bu- thia. “Nona In juga silahkan ikut menonton pertandingan ini.”

Toan kongcu memerintahkan pelayan untuk menyediakan kursi bagi penonton pibu yang diletakkan dipinggir Lian-bu-thia. Setelah pangeran Chu Kaoshu dan yang lainnya duduk, Toan kongcu lalu menoleh kepada It Liong-ci.

“Baiklah It Liong-ci sicu, saudara ingin menggunakan senjata ataukah bertangan kosong?” tanya Toan kongcu kepada It Liong-ci.

“Hamba memilih pertandingan tangan kosong saja, karena hamba sendiri tidak membawa senjata apa-apa,” jawab It Liong-ci.

“Sebenarnya bila sicu ingin menggunakan senjata, bisa saja memilih senjata yang cukup banyak ragamnya diruangan Lian-bu-thia ini. Tapi karena sicu sudah menentukan pilihan, silahkan Ciok Kun loheng maju untuk menguji,” kata Toan kongcu.

Ciok Kun maju ketengah bersama It Liong-ci. Keduanya saling memberi hormat lalu memasang kuda-kuda. Kemudian mulailah kedua orang itu bertanding dengan sengitnya. Ciok Kun awalnya ingin menguji dan melihat dasar ilmu silat apa yang dimiliki oleh lawannya itu. Hanya saja setelah 10 jurus bertanding, It Liong-ci bersilat seperti tanpa jurus ataupun gaya salah satu perguruan silat besar. Tadinya Ciok Kun menduga dengan nama julukan It Liong-ci, lawannya adalah seorang ahli tiam-hoat (ilmu menotok jalan darah). Namun tak ada satupun gerakan It Liong-ci yang mirip gerakan menotok.

Lebih dari 15 jurus, Ciok Kun yang mulai penasaran bertekad untuk merobohkan lawannya dan mulai mengeluarkan kemampuannya yang sesungguhnya. Ciok Kun adalah tokoh Kim Ih Wi tingkat satu, dia dan adiknya hanya kalah tingkat dengan tokoh utama Kim Ih Wi yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari seperti Toan kongcu.

Walaupun gerakan It Liong-ci sepertinya kacau balau, tetapi tak ada satupun pukulan Ciok Kun yang mampu menyentuh tubuh It Liong-ci. Malah gerakan kacau balau It Liong-ci sepertinya membikin repot Ciok Kun yang mulai menghindar kesana kemari.

Tak terasa telah lewat 70 jurus, baik Ciok Kun dan It Liong-ci sepertinya sudah lupa pada peraturan pibu sebelumnya dan tetap melanjutkan pertandingan. Tiba-tiba Toan kongcu melompat ketengah pertandingan, membentangkan tangannya sambil mengerahkan lweekang untuk memisahkan mereka.

“Cukup, sudah lewat 50 jurus! Harap berhenti!” bentak Toan kongcu.

Keduanya meloncat ke belakang untuk menghindari telapak tangan penuh lweekang milik Toan kongcu, lalu saling menghormat satu sama lain.

“Ciok loheng ternyata tidak bernama kosong, sungguh patut menjadi tokoh kosen Kim Ih Wi,” puji It Liong-ci

“Ah, menurutku kepandaian It Liong-ci sicu sangatlah hebat. Beruntung sekali bila Kim Ih Wi menerima sicu sebagai anggota,” balas Ciok Kun.

“Hahahaha….. menurutku It Liong-ci sicu ini patut menjadi tokoh tingkat satu Kim Ih Wi. Dengan kemampuannya aku yakin It Liong-ci sicu dapat membangun dan membesarkan nama Kim Ih Wi mengalahkan nama Tung- chang. Bagaimana gihu?” tanya pangeran Chu Kaoshu kepada Cia Tayjin.

Cia Tayjin menatap It Liong-ci seakan-akan ingin menyelami isi hati orang tersebut.

“Melihat ilmu silat sicu mungkin memang pantas menduduki posisi tingkat satu, tapi karena sicu terhitung orang baru dilingkungan Kim Ih Wi, kukira posisi tingkat dua adalah yang terbaik bagi sicu. Begitulah pendapatku yang mulia pangeran,” jawab Cia Tayjin diplomatis.

“Gihu sebagai kepala Kim Ih Wi selalu berhati-hati dan penuh perhitungan. It Liong-ci sicu, sepertinya keputusan gihu sudah final. Bagaimana denganmu? Maukah engkau bergabung dengan Kim Ih Wi di posisi tingkat dua?” tanya pangeran Chu Kaoshu. “Tentu saja hamba menerima putusan Cia Tayjin. Jangankan tingkat dua, tingkat paling bawah saja akan hamba masuki. Bagaimanapun memulai suatu karir sebaiknya dari awal bukan?” jawab It Liong-ci..

“Baiklah, kalau begitu silahkan sicu masuk keruang dalam untuk melengkapi dokumen resmi sebagai anggota Kim Ih Wi,” kata Toan kongcu sambil mempersilahkan masuk It Liong-ci kedalam ruangan yang tadi telah dimasuki oleh Kang Sun-hong dan Gak Liat.

Pangeran Chu Kaoshu dan Cia Tayjin sendiri berpaling kepada In Siok-lan.

“Nona In, jika nona memiliki waktu bolehkah kami menjamu nona In untuk makan siang di ruang makan sebelah dalam,” kata Cia Tayjin kepada Siok-lan.

“Ma’af Tayjin, hamba sudah tiba di kotaraja sejak tadi pagi dan belum mengunjungi rumah kakek dan bibi Sun karena ingin melihat-lihat kotaraja. Hamba ingin mohon diri jika tak ada keperluan lain,” tolak Siok-lan sambil menghormat untuk mohon diri.

“Baiklah, kalau begitu aku juga tidak ingin memaksa. Sampaikan salamku pada bangsawan tua Sun Kuang-yi,” sahut Cia Tayjin sambil membalas hormat.

“Kapan-kapan aku ingin menjamu nona In jika kita bertemu lagi dilain waktu,” kata pangeran Chu Kaoshu juga sambil besoja.

Siok-lan keluar dari gedung Cia Tayjin sambil diantar oleh dua orang pengawal Kim Ih Wi.

----------------------------------ooOoo----------------------------------

Berkat petunjuk Cia Tayjin, Siok-lan langsung pergi ke arah barat kotaraja, tempat tinggal bangsawan tua Sun Kuan-yi berada. Ketika melewati sebuah rumah makan besar, terdengar suara memanggilnya dengan suara perlahan dari sebuah gang disamping rumah makan yang penuh dengan pengunjung itu.

“In-lihiap………….. In Siok-lan lihiap… ”

Siok-lan merasa aneh. Dia barusan tiba di kotaraja tadi pagi dan hanya memberitahukan namanya di gedung Cia Tayjin. Bagaimana bisa ada orang lain memanggil namaku? Siok-lan menoleh dan melihat kasim muda yang digampar oleh A Liok tadi melambaikan tangannya dari dalam gang disamping rumah makan. Penasaran dengan apa yang terjadi, Siok-lan menghampiri kasim muda itu.

“Hei, kenapa kau sembunyi-sembunyi seperti itu? Lagipula dari mana kau tahu namaku?” tanya Siok-lan pada kasim yang dengan takut-takut melihat kanan kirinya. “Harap lihiap merendahkan suara, karena banyak sekali mata-mata Kim Ih Wi ataupun orang bayaran mereka berkeliaran di kotaraja,” pinta si kasim muda perlahan.

“Ah, begitukah? Ternyata kabar yang kudengar sejak tadi pagi itu betul adanya. Bukan hanya Kim Ih Wi yang punya banyak mata-mata, Tung-chang juga punya banyak. Malah ada mata-mata didalam gedung Cia Tayjin sehingga engkau juga mengetahui namaku bukan?” Bentak Siok-lan.

“Ssssttttthhh. aduh lihiap, harap rendahkan suaramu. Kalau tidak matilah aku.

Aku cuma menjalankan perintah pimpinanku agar menyampaikan pesan kepadamu kalau pemimpin Tung-chang ingin bertemu denganmu,” jelas si kasim muda ketakutan.

“Pimpinan Tung-chang ingin bertemu denganku?” tanya Siok-lan heran.

“Betul! Katanya apabila lihiap ingin mengetahui dari mana asal ilmu pedang Tay-kek yang diperagakan pangeran Chu Kaoshu, hendaknya lihiap menghadap Liang Taykam,” lanjut si kasim muda.

Melegak Siok-lan mendengar penjelasan si kasim. Memang semenjak tadi dia sudah penasaran dengan Tay-kek Kiam-hoat yang diperagakan oleh pangeran Chu Kaoshu tadi. Walaupun menyadari adanya persaingan antara Kim Ih Wi dan Tung-chang dapat menyeret-nyeret dirinya, rasa penasaran Siok-lan mengalahkan kekhawatirannya. Segera Siok-lan menjawab.

“Baiklah, antarkan aku pada Liang Taykam itu,” sahut Siok-lan.

“Harap lihiap mengikuti aku,” kata si kasim muda sambil masuk kedalam lorong diikuti Siok-lan yang memegang erat gagang pedangnya, siap untuk dihunus bila si kasim berbuat mencurigakan.

Setelah melewati lorong berkelok-kelok, ternyata didalam lorong sedang menunggu sebuah joli (tandu) yang ditunggu oleh 4 orang pengangkut berpakaian kasim istana.

“Silahkan In-lihiap masuk ke dalam joli. Harap tetap ada didalam tanpa membuka gerai karena aku takut kalau mata-mata Kim Ih Wi mengetahui kalau In-lihiap berada didalam tandu yang diangkat oleh kasim-kasim istana. Apabila telah sampai, aku sendiri yang akan membuka gerai joli,” kata si kasim muda yang memperkenalkan diri sebagai Ong Chen yang baru berumur 15 tahun dan baru beberapa bulan masuk istana sebagai kasim

Siok-lan masuk kedalam joli dan menurut tetap diam didalam joli sampai akhirnya joli dirasakannya berhenti dan Ong Chen membuka tirai yang menutupi joli lalu mempersilahkan Siok-lan keluar dari joli.

Siok-lan keluar dari dalam joli dan memandang suasana sekelilingnya, terlihat seorang kasim yang sudah agak berumur datang menyambutnya. “Silahkan nona In mengikuti hamba untuk bertemu dengan Liang Kong-kong didalam.”

Gedung yang dimasuki oleh Siok-lan terlihat dijaga oleh para pengawal kasim dan sepertinya jauh lebih ketat dari pada penjagaan ditempat tinggal Cia Tayjin. Maklumlah tempat ini adalah bagian dalam dari istana terlarang tempat tinggal kaisar, dan gedung yang dimasuki oleh Siok-lan adalah markas besar Tung- chang

Sesampai diruangan dalam yang luas dan megah, Siok-lan diantar menghadap seorang kasim lain yang sedang duduk menanti disebuah kursi besar dipojok ruangan. Sepertinya kasim itulah yang dipanggil Liang Taykam, dan dia mempersilahkan Siok-lan duduk.

Siok-lan duduk dan memandang kasim didepannya, seorang kasim setengah tua yang bertubuh kurus dan berpakaian mewah. Kasim itu tersenyum ramah kepada Siok-lan lalu berkata,” Perkenalkan diriku bernama Liang Taykam, pimpinan Tung-chang.”

“Ada maksud apakah Liang Taykam memanggil aku yang muda untuk menghadap?” Tanya Siok-lan.

“Wah, nona In tidak suka berbasa basi rupanya. Bukankah nona sendiri yang suka rela mau ikut dengan Ong Chen tanpa dipaksa?” Liang Taykam malah balik bertanya.

“Itu hanya karena dia mengatakan bahwa Liang Taykam ingin membagi informasi sesuatu hal yang ingin kuketahui. Kalau misalnya Liang Taykam tidak berminat bertemu denganku lagi, aku akan mohon diri,” kata Siok-lan sambil berdiri.

“Hahaha. orang muda memang berdarah panas dan tidak sabaran. Nona In

silahkan duduk kembali. Engkau ingin mengetahui darimana asal ilmu silat pangeran Chu Kaoshu, bukan? Baiklah, sebelumnya aku ingin mengetahui pendapat nona In sendiri mengenai pewaris ilmu Tay-kek Kun dan Tay-kek Kiam-hoat,” tanya Liang Taykam.

“Kalau Liang Taykam hanya minta pendapatku berarti sudah mengetahui jawabannya dengan pasti. Apalagi dengan kekuasaan Tung-chang, apalagi yang bisa jadi urusan rahasia bagi Liang Taykam?” jawab Siok-lan diplomatis.

“Hahaha… terus terang saja informasi mengenai hal ini sudah aku ketahui. Cuma saja aku hanya ingin kepastian mendengar dari orang dalam Butong pay sendiri. Selain kelima murid Thio Sam-hong, siapa lagi yang menguasai kedua ilmu pusaka tersebut?” kembali Liang Taykam bertanya.

Setelah menimbang-nimbang sejenak, barulah siok-lan menjawab, ”Didalam Butong pay, orang yang langsung menerima warisan ilmu tersebut dari Thio Sam-hong sucouw adalah 5 pendekar sisa dari Butong Cit-kiam. Sekarang kelima-limanya telah meninggal dunia, dan yang mewarisi dari mereka sekarang selain aku sendiri, masih ada pamanku Butong Ciangbunjin beserta 3 tetua pelindung Butong pay yang merupakan murid utama para supek-kong (paman kakek guru) Ji Lian-chu, Ji Thay-giam dan Thio Siong-kee. Supek-kong Song Wan-kiauw sendiri kudengar mengasingkan diri sampai meninggal dunia tanpa menerima murid. In Li-heng kong-kong (kakek) sendiri hanya mau mengajarkannya pada salah satu dari dua anaknya, sehingga paman In Liang Cinjin mewarisinya sedangkan mendiang ayahku sendiri tidak

“Bagaimana dengan cucu murid kesayangan Thio Sam Hong yang terhitung supek-mu Thio Bu-ki? Bukankah dia juga menguasai Tay-kek kun dan Tay-kek Kiam-hoat dengan sempurna?” tanya Liang Taykam sambil memperhatikan perubahan raut wajah Siok-lan.

“Thio Bu-ki supek terakhir kali muncul di daratan tonggoan sewaktu menghadiri upacara pemahkaman Thio Sam-hong sucouw, setelah itu tidak pernah lagi terlihat, apalagi mengajarkan Tay-kek Kiam-hoat kepada orang lain. Lagipula tidak mungkin Thio supek sembarangan mengajarkan ilmu Butong pay pada orang luar tanpa persetujuan pamannya Ji Lian-chu yang menjadi Ciangbunjin pengganti saat itu,” sahut Siok-lan mulai tersinggung.

“Aku berpendapat kalau. orang yang mengajarkan Tay-kek Kiam-hoat

dan kemungkinan besar pula Tay-kek Kun kepada pangeran Chu Kaoshu adalah orang yang berada dibalik pembunuhan misterius para pangeran putra Hongsiang akhir-akhir ini, dan aku yakin orang itu ada hubungannya dengan Butong pay,” kata Liang Taykam sambil tersenyum kecil. Entah apa yang berada dalam benaknya memancing emosi Siok-lan.

“Kurang ajar! Jangan kau seret-seret nama Butong pay kami kedalam perselisihan istana! Kami orang dari Butong pay bukanlah orang yang suka menjual diri demi harta dan kedudukan!” sahut Siok-lan.

“Oh ya? Bagaimana dengan kasus supek-mu yang bernama Song Ceng-su? Bukankah putra Song Wan-kiaw itu menjual perguruannya sendiri demi seorang wanita?” ejek Liang Taykam.

“Tutup mulutmu! Kalau engkau bukan seorang kasim yang lemah, tentu sudah ku gampar bacotmu yang kurang ajar itu,” kata Siok-lan dengan kasar seakan- akan sudah lupa kalau dia masih berada dalam lingkungan istana.

“Hihihi……. Nona In memang masih muda dan belum sadar akan luasnya samudera dan tingginya gunung. Kau pikir aku memperoleh posisi pimpinan Tung-chang dengan cara menjilat sama dengan Cia Tayjin menduduki jabatan kepala Kim Ih Wi? Benar-benar salah besar. Diatas gunung masih ada langit, dan diatas langit masih ada bintang. Bicara kepandaian tak akan ada batasnya. Jangankan ingin menggampar mulutku, menyentuh sehelai rambutku pun aku yakin engkau tak akan mampu,” ejek Liang Taykam sambil tertawa geli.

Tiba-tiba Siok-lan sadar kalau dia masih berada dalam lingkungan istana, malah berada didalam markas Tung-chang lagi. Sikapnya berubah mendadak dari yang tadinya berangasan menjadi penuh perhitungan.

“Mentang-mentang berada didalam markas Tung-chang, Liang Taykam bicara seakan-akan menjadi jago paling sakti didunia. Apakah kau berani menerima pukulanku tanpa menggunakan kekuasaanmu mengeroyok diriku?” tantang Siok-lan sambil tersenyum mengejek.

“Hihihi…..sudah kukatakan kalau sehelai rambutku pun engkau tak akan dapat menyentuhnya. Baiklah, aku akan mengajukan penawaran yang adil kepadamu. Nona In boleh menyerangku 3 kali tanpa aku membalas sedikitpun. Jika nona In dapat menyentuhku sedikit saja, artinya nona In menang dan boleh mengajukan satu permintaan yang aku coba kabulkan sebisa mungkin,” kata Liang Taykam sambil tersenyum misterius memandang Siok-lan.

“Kalau aku kalah memangnya apa yang kau inginkan?” tanya Siok-lan curiga.

“Aku tidak meminta macam-macam, hanya minta nona In bekerja sama dengan kami untuk membongkar kasus pembunuhan para pangeran. Itu saja!” jawab Liang Taykam.

“Huh.... sudah kubilang kalau aku tidak ingin terseret kedalam perselisihan dalam istana kalian.,” tolak Siok-lan.

“Urusan perselisihan dalam istana adalah urusan internal kami, jadi nona In tidak perlu ikut campur. Aku hanya minta nona In bekerja sama dengan kami menangkap pembunuh misterius para pangeran saja. Kalau saat penyelidikan ditemukan adanya kaitan dengan perselisihan ini, tentu saja nona In boleh berlepas diri dari urusan ini. Bagaimana? Apakah nona In berani menerima tantangan ini?” tanya Liang Taykam dengan sikap menantang.

Kata ”berani” itu membuat darah muda Siok-lan mendidih. Toh kalau terkait urusan perselisihan istana dia dapat membatalkan penjanjian itu, pikirnya. Itu juga kalau dia kalah taruhan.

“Baiklah, aku setuju. Jangan kau salahkan kalau engkau terluka karena seranganku,” kata Siok-lan optimis dan percaya pada kemampuannya.

Liang Taykam tertawa sambil berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Siok- lan. Baru saja Liang Taykam ingin bicara lebih lanjut, tiba-tiba Siok-lan melancarkan sebuah pukulan dari jarak dekat sambil berseru,” Lihat serangan!”

Kaget Liang Taykam tak menduga akan diserang dalam keadaan tidak siap. Tapi dengan sigap Liang Taykam melengos kesamping menghindari pukulan Siok-lan. Berbareng dengan gagalnya serangan pertama, Siok-lan melanjutkan dengan pukulan kedua yang lebih dahsyat. Kali ini Siok-lan mulai menyadari kalau Liang Taykam tidaklah selemah penampilannya, sehingga memperhebat serangannya yang kedua. Lagi-lagi Liang Taykam bisa menghindari jurus serangan kedua Siok-lan dengan kecepatan yang tak pernah Siok-lan bayangkan akan diperagakan oleh kasim itu.. Kali ketiga Siok-lan tak mau gagal lagi, serangan ketiga ini menggunakan ilmu silat andalannya Tay-kek Kun. Dengan gerakan lambat Siok-lan menyerang Liang Taykam, terdengar kesiur angin dari tangan Siok-lan. Walaupun lambat, Liang Taykam tahu kalau serangan lambat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan dua serangan awal tadi. Segera dia bergerak memutar berkelit dari pukulan Siok-lan, anehnya justru gerakan berkelitnya seperti mengikuti arah pukulan Siok-lan. Mendadak Liang Taykam membentak, tiba- tiba saja tangan Siok-lan seperti berhenti mendadak seperti ditahan oleh tenaga tak terlihat, sehingga Liang Taykam dapat meloloskan diri dari serangan Siok-lan.

“Sudah tiga jurus berlalu nona In,” kata Liang Taykam.

“Siapa bilang tiga jurus sudah berlalu, aku tidak pernah bilang akan menyerang dengan tangan kosong. Tadi itu cuma pemanasan saja. Kepandaian utamaku adalah menggunakan pedang. Jadi aku akan menyerang dengan pedang,” sahut Siok-lan sambil menghunus senjatanya.

“Apa?” kata Liang Taykam terkejut dengan siasat Siok-lan. “Hahahaha….. nona In Siok-lan benar-benar cerdik, tak percuma menjadi keturunan utusan kiri Bengkauw Yo Siauw. Baiklah, apa salahnya menambah 3 jurus dengan menggunakan pedang. Silahkan!”

Kali iniSiok-lan langsung menyerang dengan jurus Tay-kek Kiam-hoat yang paling hebat. Siok-lan termasuk murid berbakat sehingga dalam usia muda sudah mampu menguasai Tay-kek Kun dan Tay-kek Kiam-hoat sampai tahap “lupa 60 persen”. Tentu saja tak dapat dibandingkan dengan paman gurunya Thio Bu-ki yang menguasai “lupa 100 persen” pada usia yang sama. Namun walau bagaimanapun tingkat penguasaan Siok-lan sudah amat tinggi jika mengingat usianya.

Tiga jurus serangan terhebat Tay-kek Kiam-hoat sudah diperagakan oleh Siok- lan, tapi jangankan dapat mendesak Liang Taykam malah Siok-lan merasakan adanya hawa aneh yang menghalanginya untuk melancarkan setiap jurus serangan dengan sempurna. Sehingga tak satu juruspun dapat menyentuh Liang Taykam.

“3 jurus pedang sudah lewat nona In. Sudah puaskah dirimu?” kata Liang Taykam sambil tersenyum simpul.

“Tidak mungkin! Aku sudah menyerang dengan 3 jurus paling hebat yang aku kuasai. Kenapa tidak ada satupun yang kena sasaran?” omel Siok-lan kepada dirinya sendiri penasaran.

“Hahaha.      sudah kubilang kalau diatas gunung masih ada langit, engkau

tidak percaya pada kata-kataku,” kata Liang Taykam sambil tertawa.

“Kau pasti menggunakan ilmu sihir untuk memperdayai aku,” tuduh Siok-lan pada kasim didepannya itu.

“Sama sekali bukan ilmu sihir. Kalau kalian para perempuan suka menanam bunga mawar atau bunga lain yang indah, aku sendiri lebih suka menanam bunga matahari. Hahahahaha… lagipula kalau sudah kalah yah tetap kalah

bukan?” jawab Liang Taykam.

“Menanam bunga matahari? Apa maksudmu?” tanya Siok-lan heran.

“Ah, tidak ada maksud apa-apa, yang jelas sesuai dengan perjanjian nona In telah kalah. Jadi harus menepati janji yang telah kita sepakati tadi,” sahut Liang Taykam.

Siok-lan mendengus kesal, tapi tak bicara apa-apa lagi karena dia bukanlah tipe orang yang suka menjilat ludahnya sendiri.

“Besok pagi kita akan membicarakan masalah penyelidikan tentang pembunuhan para pangeran. Untuk menghindari mata-mata Kim Ih Wi, harap nona In datang kemari dengan cara seperti tadi. Silahkan nona In pulang dan mengaso terlebih dahulu di rumah keluarga Sun,” kata Liang Taykam.

Siok-lan keluar dari kompleks istana terlarang dengan menggunakan joli yang sama dan diantar oleh Ong Chen ke lorong disebelah rumah makan yang sama.

Setelah Ong Chen dan para kasim pengantarnya pergi, barulah Siok-lan melangkah keluar lorong itu dan berjalan menuju arah barat ke tempat kediaman keluarga Sun.

  ooOoo  

Keterangan dan fakta sejarah:

- Pangeran ketiga yang dimaksud Chu Kaoshu bernama Chu Kaosui (Zhu Gaosui) yang dekat dengan kakak keduanya dan selalu mendukung Chu Kaoshu menggantikan kedudukan Chu Kaoshi sebagai putra mahkota.

- Kaisar Yong Le mengawali pemerintahannya dengan sejarah yang berdarah- darah. Banyak para pendukung Jianwen (jenderal, menteri, kasim, dayang dan orang lain yang melayani Jianwen) yang ditangkap olehnya dan dihukum mati beserta keluarganya dan keturunannya. Metode Yong Le ini terkenal dengan nama “Pemusnahan Sepuluh Generasi” dimana bukan hanya keluarga dekat saja yang dihabisi, melainkan juga sepupu, dua pupu, tiga pupu, hingga murid bagi yang berprofesi sebagai guru. Sisa yang meminta ampun dipenjara olehnya dan bagi yang mempunyai kemampuan dan bersedia tunduk akan diberi posisi yang sesuai dengan kemampuannya didalam pemerintahan.

- Sekretaris besar (Penasihat Agung) Xie Jin (atau Cia Kim dalam dialek Hokkian) adalah penasihat utama kaisar Yong Le yang sangat didengar nasihatnya oleh kaisar. Salah satu tugas penting yang diselesaikan olehnya adalah mengkoordinasi para pelajar untuk mengumpulkan dan membuat kompilasi segala macam kitab berharga yang berada di China, terutama hal yang mencakup sejarah, seni, budaya dan sastra, juga astronomi dan filsafat. Kompilasi ini dikenal diseluruh dunia hingga sekarang dengan nama Enslikopedia Yong Le. Sayangnya, dari 11.000 lebih bab hasil kompilasi ini, hanya 400 bab kurang yang selamat hingga kini akibat kekacauan yang terjadi pada masa berikutnya.

- Kota terlarang (Zijin Cheng - kota ungu terlarang) adalah kompleks istana kekaisaran yang dibangun pertama kali oleh kaisar Yong Le pada tahun 1406 dan selesai pada tahun 1420. Istana terlarang terus dipakai sebagai kompleks istana kekaisaran dari jaman kaisar Yong Le hingga akhir masa dinasti Qing (Mancu). Kota terlarang menjadi kompleks tempat tinggal kaisar beserta keluarga (bagian dalam) dan pusat kegiatan politik (bagian luar) pada masa dinasti Ming dan Qing.

- Ong Chen (Wang Zhen) adalah kasim istana kaisar Ming paling berpengaruh pada jaman kaisar Zhengtong (1435-1449 dan 1457-1464) yang menyebabkan kaisar Zhengtong tertangkap oleh raja Oirat-Mongol pada insiden Tumu (Tumubao) dan disandera selama satu tahun (1449-1450). Wang Zhen akhirnya mati dipukul kepalanya sampai pecah oleh jenderal Ming bernama Fan Zhong yang marah karena Wang Zhen menyebabkan kaisar Zhengtong terkepung dan akhirnya tertangkap oleh pasukan Mongol. Fan Zong sendiri gugur dalam membela kaisar Zhengtong dalam pertempuran Tumu.