-->

KPPDM Bab 2. Nona Muda Berkunjung ke Sarang Naga

Bab 2. Nona Muda Berkunjung ke Sarang Naga

Ibu kota kekaisaran dinasti Beng dibawah pemerintahan kaisar Yong Le adalah Beiping. Sebagai sebuah kotaraja dan pusat pemerintahan, Kota Beiping ramai dikunjungi oleh para pedagang maupun pelancong dari berbagai daerah, sehingga disekitar kota banyak didirikan berbagai macam jenis rumah makan dan penginapan untuk didiami para pendatang. Suasana ramai Beiping sama sekali tidak menunjukkan adanya pengaruh persaingan didalam istana antara putra mahkota Chu Kaoshi dengan adiknya panglima perang Chu Kaoshu. Padahal dikota Beiping banyak sekali tersebar mata-mata Kim Ih Wi dan Tung- chang dari istana dengan tujuan memperoleh informasi dan memberangus lawannya secara tersembunyi.

Kim Ih Wi merupakan organisasi mata-mata dan pengawal kaisar dibawah pimpinan Cia Tayjin yang mendukung pangeran Chu Kaoshu untuk menggantikan kaisar Yong Le menduduki tahta. Sedangkan Tung-chang merupakan organisasi mata-mata yang didirikan oleh para Taykam istana dibawah pimpinan Liang Taykam yang mendukung putra mahkota Chu Kaoshi. Kedua organisasi mata-mata istana ini saling bersaing berebut pengaruh dan berusaha saling menjatuhkan satu sama lain secara diam-diam.

Walaupun sejak kaisar Yong Le naik tahta telah ditetapkan putra pertama Chu Kaoshi sebagai putra mahkota, akhir-akhir ini kaisar Yong Le melihat betapa pangeran Chu Kaoshu sangat berbakat dibidang kemiliteran dan kepandaian silat, suatu hal yang disukai oleh kaisar Yong Le. Setelah beberapa kali kaisar Yong Le mengutus pangeran Chu Kaoshu dalam beberapa ekspedisi pertempuran, Chu Kaoshu selalu pulang dengan membawa kemenangan sehingga kaisar mengangkat pangeran Chu Kaoshu sebagai panglima perang dan mulai mencetuskan keinginannya mengganti kedudukan putra mahkota secara tidak langsung. Hal ini menyebabkan ketegangan antar para pendukung dua pangeran termasuk Kim Ih Wi dan Tung-chang. Hanya saja pangeran Chu Kaoshu pernah sekali tidak mentaati perintah kaisar dalam tugas militernya sehingga pangeran Chu Kaoshu diasingkan ke daerah San-tung untuk merenungkan dosanya. Berkat bujukan Cia Tayjin agar pangeran Chu Kaoshu menyesali perbuatannya menentang perintah dan ampunan yang diberikan kaisar Yong Le, pangeran Chu Kaoshu dapat kembali ke kotaraja dan memperoleh kembali seluruh hak dan posisi sebelumnya di kotaraja.

Siang itu terlihat seorang gadis muda berwajah manis memasuki sebuah penginapan besar merangkap restoran. Gadis itu sebetulnya tidaklah terlalu menarik perhatian, mengingat di kotaraja masih banyak berkeliaran wanita yang lebih cantik. Akan tetapi karena gadis itu membawa sebilah pedang, tentu saja hal ini menarik perhatian para pengunjung yang lain. Biasanya para lelaki yang membawa-bawa pedang sambil petantang petenteng kesana kemari bagaikan pendekar silat jagoan nomor satu di dunia kangouw.

Setelah memesan makanan gadis itu duduk diatas sebuah kursi menunggu pesanan datang. Tiba-tiba terdengar suara keributan dari ruang restoran. Terlihat seorang remaja berpenampilan halus bagai wanita sedang di bentak oleh 2 orang berbadan tegap sambil berkacak pinggang.

“Hey banci goblok, kalau jalan lihat ke depan! Memangnya matamu kau taruh dimana? Apa mentang-mentang engkau seorang kasim istana, sampai berlagak jalan ini engkau yang punya?” teriak si badan besar bermuka brewok.

“Ma’af, aku benar-benar tak sengaja,” sahut si kasim muda gemetar ketakutan.

“Wah, mungkin karena dibelakangmu ada Tung-chang yang mendukung sehingga kau jadi banyak lagak,” sambung teman si brewok yang bermuka bopeng.

Mendengar ini si kasim jadi makin gemetar ketakutan, malah para tamu restoran juga jeri mendengar nama Tung-chang sehingga perlahan mereka mulai menyingkir.

Plak.....plak.    bengap pipi si kasim digaplok oleh si brewok.

“Sudahlah twako, hajar saja dan jangan dikasih ampun,” kata si bopeng memanas-manasi.

Wuuuttt......menderu pukulan si brewok mengarah ke muka si kasim yang sudah pasrah. Tiba-tiba saja pukulan si brewok berhenti ditengah jalan. Si brewok merasa sikunya diketuk perlahan sehingga tangannya lemas seketika. Sebutir biji kacang jatuh kelantai restoran sambil dipandang melongo oleh si brewok. Si brewok sadar ada orang pandai yang melempar biji kacang. Dilihatnya sekeliling restoran telah sepi ditinggal pengunjung, hanya seorang gadis muda yang masih duduk tak jauh dari tempatnya berada dengan pedang diletakkan di atas mejanya.

“Ada apa twako? Ada yang tidak beres?” tanya si bopeng tidak sadar kalau memang ada yang tidak beres.

Si brewok menggeleng kepalanya lalu berkata ketus kepada si kasim,” Kali ini kulepaskan kau. Awas kalau lain kali berurusan denganku. Pergi sana!”

Si kasim membungkuk-bungkuk mengucapkan terima kasih sambil berlalu dengan memegangi pipinya yang matang biru. Setelah kasim muda itu telah berlalu, si brewok berjalan mendekati gadis muda yang berlagak tak tahu apa- apa.

“Lihiap (pendekar wanita) sungguh lihay, hanya dengan sebutir kacang dapat menotok tangan orang dengan sempurna. Sungguh aku merasa kagum bukan kepalang,” kata si brewok sambil mengangkat tangannya memberi hormat.

“Siapa yang kau maksud? Aku tidak mengerti kenapa engkau harus memberi hormat kepadaku?” jengek si gadis muda.

Si bopeng yang tak tahu urusan malah mendekati si gadis muda dengan sikap kurang ajar.

“Hai manis, bagaimana kalau kita makan siang bersama. Setelah itu akan kuantar engkau berpesiar keliling kota,” kata si bopeng sambil tangannya bergerak untuk mengelus pipi sang nona.

“Kraaakkk….Ahhhh” terdengar suara tulang patah dan si bopeng menjerit kesakitan karena mendadak sumpit si nona menjepit jari telunjuk sibopeng dan memuntirnya hingga jari telunjuknya patah.

Melihat hal itu semakin ciut nyali si brewok. Bukan hal gampang menjepit jari dengan sumpit sambil memuntirnya hingga patah.

“Ma’af nona, temanku ini memang bersikap kurang sopan. Harap mengampuninya,” si brewok memintakan ma’af bagi temannya sambil membungkuk lebih dalam. Sedangkan si bopeng cuma bisa mengaduh saja.

Huh, kalian beraninya hanya dengan orang lemah saja. Kalau aku tidak mengampuninya sejak tadi temanmu itu sudah tidak bernyawa.

“Ah lihiap sungguh pendekar yang lihay. Sekiranya lihiap sudi, maukah lihiap berkunjung ke rumah tuan kami untuk dijamu makan ala kadarnya? Tuan kami sekarang sedang mencari orang pandai yang ingin berbakti bagi nusa dan bangsa untuk direkrut,” kata si brewok.

“Aku tak tertarik menjadi anak buah tuanmu itu, namun aku tertarik untuk mengetahui siapakah tuanmu itu?” kata si nona muda.

“Tuanku itu bernama Cia Tayjin, kepala pasukan pengawal kaisar Kim Ih Wi yang terhormat,” jawab si brewok.

“Hmmmm, aku sudah mendengar namanya sejak masuk gerbang kota Beiping. Apakah benar Cia Tayjin tidak pandai ilmu silat? Bagaimana bisa dia menjadi seorang pimpinan pengawal kaisar?” tanya si gadis acuh tak acuh.

“Cia Tayjin adalah seorang ahli strategi perang yang hebat dalam peristiwa Jinnan sehingga kaisar Yong Le sendiri menaruh kepercayaan penuh pada Cia Tayjin untuk memegang posisi kepala Kim Ih Wi walaupun beliau tidak mengerti ilmu silat. Akan tetapi wakil beliau di Kim Ih Wi adalah seorang ahli silat Kunlun pay yang tangguh,” jelas si brewok sambil membusungkan dada memuji tuannya.

“Menarik juga, baiklah aku akan berkunjung kerumah tuanmu. Tapi bukan berarti aku akan mandah saja menjadi anak buah tuanmu itu. Aku hanya ingin melihat nama besar Kim Ih Wi seperti apa,” kata si nona muda.

“Baiklah, silahkan!” kata si brewok mempersilahkan si nona muda berjalan mengikutinya. Si brewok membentak si bopeng yang masih mengaduh kesakitan untuk berlari secepatnya ke rumah Cia Tayjin untuk menberitahukan ada tamu yang berkunjung.   ooOoo  

Gedung megah tempat tinggal Cia Tayjin tidak terlalu jauh letaknya dari istana kaisar, sehingga memudahkan Cia Tayjin menghadap kaisar tanpa membuang waktu. Sepanjang jalan sibrewok yang bernama A Liok bercerita penuh kebanggaan tentang Cia Tayjin. Betapa besarnya jasa Cia Tayjin hingga pangeran Chu Kaoshu mengangkat beliau sebagai ayah angkat. Ekspedisi militer yang diperintahkan kaisar kepada pangeran Chu Kaoshu sering kali didampingi oleh Cia Tayjin, sehingga kemenangan gemilang pangeran Chu Kaoshu tak terlepas dari andil Cia Tayjin. Mungkin hal ini yang menyebabkan Chu Kaoshu mengangkat Cia Tayjin sebagai ayah angkat. Dengan posisi sebagai Gihu dari pangeran Chu Kaoshu, Cia Tayjin beserta Kim Ih Wi tentunya berada dibelakang pangeran dalam hal apapun, termasuk persaingan dengan putra mahkota

Sesampai digerbang gedung milik Cia Tayjin, A Liok mempersilahkan gadis muda itu masuk sambil berkata,” Silahkan lihiap masuk kedalam gedung, aku sendiri bukan anggota Kim Ih Wi tidak diperbolehkan masuk ke halaman gedung, apalagi masuk ruangan didalam.”

Gadis itu masuk kedalam dengan tanpa takut. Maklumlah, dia sudah memperhitungkan betapa besarnya nama Cia Tayjin sehingga tak akan berani dirinya diperlakukan tak pantas sehingga mencoreng kebesaran nama kepala Kim Ih Wi.

Setelah masuk kedalam gedung, gadis itu melihat betapa pengawalan ketat didalam gedung tak kalah dengan pengawalan diluar gedung. Seluruh pengawal memakai seragam baju brokat (hiasan bersulam timbul) yang khas. Agaknya tiap tingkatan memiliki bentuk sulaman dan warna yang sedikit berbeda. Tentunya Kim Ih Wi yang menjaga kaisar di istana mempunyai tingkatan yang lebih tinggi daripada pengawal dirumah Cia Tayjin. Betapa banyak anggota Kim Ih Wi berkeliaran di kotaraja dan kota besar lainnya tanpa menggunakan seragam alias bertindak sebagai mata-mata sehingga bisa dibayangkan pengaruh Kim Ih Wi dalam pemerintahan dinasti Beng. Gadis itu tak tahu kalau A Liok bukanlah siapa-siapa hanya seorang keroco yang suka berlagak kalau dirinya didukung oleh Kim Ih Wi. Dia tidak melihat kalau A Liok terangguk-angguk menunduk pada seorang anggota Kim Ih Wi tingkat rendahan sambil menerima upah beberapa potong perak karena berhasil membujuk seorang jago silat untuk berkunjung ke rumah Cia Tayjin.

Diruang tamu dilihatnya masih ada dua tamu yang sedang duduk menanti sambil menikmati arak sungguhan yang diletakkan disamping meja dan seorang lagi pemuda berwajah brewok tipis tak tercukur rapi duduk dengan mata tertutup tak acuh dengan keadaan sekitarnya. Gadis itu dipersilahkan duduk disamping pemuda diam tak acuh itu dan ditanya ingin minum apa. Si nona muda meminta teh hangat sambil mengucapkan terima kasih. Tak lama kemudian muncul seorang pemuda matang berusia sekitar 30 tahunan dengan pakaian mewah tetapi cukup ringkas. Gadis itu dan tamu yang lain berdiri untuk menghormati tuan rumah, tetapi pemuda berpakaian mewah itu malah menyuruh mereka bersikap biasa saja.

“Cuwi sekalian, aku bukanlah Cia Tayjin melainkan wakilnya di Kim Ih Wi yang biasa dipanggil Toan kongcu. Aku menyambut cuwi sekalian atas nama Cia Tayjin dan menyampaikan terima kasih atas kunjungan cuwi sekalian. Kalau boleh kita berkenalan lebih jauh, sudikah cuwi sekalian menyebutkan asal dan nama cuwi yang mulia,” Toan kongcu mengucapkan kata-katanya dengan halus dan sopan mencerminkan sikap bangsawan yang berpendidikan tinggi.

Tamu yang duduk didepan si nona berdiri memberi hormat sambil berkata,” Cayhe Kang Sun-hong yang berjuluk Bu-tek Sin-jiu (kepalan sakti tanpa tanding) dari daerah Kanglam.”

Setelah Kang Sun-hong duduk, tamu yang duduk disebelahnya kemudian bangkit juga sambil memperkenalkan diri,” Cayhe Gak Liat yang berjuluk Hong- lui Kiam-ong (raja pedang angin dan kilat) dari Lam-hai (pantai timur).

Si gadis mengerenyitkan keningnya mendengar julukan kedua orang itu yang begitu mentereng. Julukan Bu-tek dan Kiam-ong terlalu sombong untuk disandang seseorang, biasanya semakin mentereng nama julukan seseorang semakin kosong isinya. Apalagi kalau julukan itu dipakai dan di perkenalkan pada orang lain oleh diri sendiri. Karena pemuda disebelahnya masih diam saja, terpaksa si nona muda berdiri dan memperkenalkan diri.

“Namaku Siok-lan. Tidak dari mana-mana dan tidak punya nama julukan. Tujuanku ke kotaraja untuk mengunjungi bibi-ku bukan untuk unjuk nama besar,”kata si gadis yang bernama Siok-lan sambil melirik dua orang didepannya dan menjengek.

Merah muka Kang Sun-hong dan Gak Liat mendengar kata-kata Siok-lan, tapi tak berlangsung lama karena pemuda pendiam itu berdiri dengan sikap malas- malasan memperkenalkan diri,” Julukanku It Liong-ci (Jari naga tunggal), tak punya nama dan tak punya tempat tinggal tetap.” Cuma itu yang diucapkannya, setelah itu dia langsung duduk.

Walaupun sikapnya sepertinya kurang sopan, tetapi bagi orang-orang kangouw hal itu sudah seperti tabiat orang-orang kangouw yang sehari-harinya memang aneh, dan memang sepertinya Toan kongcu juga tidak mau ambil pusing. Hanya saja Toan kongcu merasa pernah bertemu dengan pemuda ini entah dimana walaupun tidak ingat. Karena It Liong-ci sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda mengenalnya, Toan kongcu tidak memperhatikannya lagi.

Toan kongcu kemudian menutup acara perkenalan itu dengan berkata,” Sebagai orang kangouw cayhe tidak akan berbasa basi lagi, kami pada saat ini sedang merekrut orang-orang pandai unutk bekerja dan mengabdi pada kerajaan. Tingkatan, pangkat dan gaji yang diperoleh ditentukan lewat kepandaian dan tugas yang diberikan. Oleh karena itu harap cuwi sekalian sudi memperlihatkan kepandaian yang dimiliki.”

Bu-tek Sin-jiu Kang Sun-hong berdiri sambil memberi hormat,” Aku akan mencoba memperlihatkan kepandaianku yang tak seberapa ini.”

Seluruh orang itu pergi mengikuti Toan kongcu menuju Lian-bu-thia. Setelah semuanya berdiri di tepi Lian-bu-thia, Kang Sun-hong menghormat pada Toan kongcu, setelah itu dia mulai bersilat dengan kepalan dan tendangannya. Sebenarnya ilmu silatnya cukup hebat karena merupakan pecahan dari cabang ilmu silat tangan kosong Kongtong pay yang telah cukup banyak mengalami perubahan. Setelah bersilat hingga 20 jurus, tiba-tiba Siok-lan berkata perlahan tetapi cukup jelas untuk didengar oleh telinga Kang Sun-hong dan yang lainnya,”Huh, Kepalan dan tendangan yang sakti sekalipun tidak berguna kalau melawan angin karena angin tidak melawan kalau dipukul.”

Kang Sun-hong berhenti bersilat mendengar ucapan Siok-lan sambil memandang kepada Toan kongcu. Toan kongcu sendiri kaget mendengar kata- kata Siok-lan yang jelas menghina Bu-tek Sin-jiu. Untuk menghindari perselisihan, Toan kongcu menepuk tangannya memanggil pengawal lalu berkata pada pengawal yang datang,” Panggil Ciok Lojin berdua kemari!”

Tak lama kemudian muncul dua orang kakek yang berumur sekitar 50 tahunan, yang seorang membawa pedang dan yang lain bertangan kosong.

“Supaya uji kepandaian ini lebih menarik, silahkan Ciok Kun Loheng menguji Kang Sun-hong sicu hingga 50 jurus. Kalau Kang sicu bisa bertahan berarti Kang sicu lulus ujian untuk menjadi anggota Kim Ih Wi,” kata Toan kongcu.

Ciok Kun yang bertangan kosong maju menghormat kepada Toan kongcu dan Kang Sun-hong lalu mempersilahkan Kang Sun-hong untuk menyerangnya.

Kang Sun-hong mengetahui kalau Ciok Kun dihadapannya ini adalah jagoan tingkat atas Kim Ih Wi sehingga tidak main-main lagi dan segera mengeluarkan jurus-jurus pilihan. Dalam sekejap kedua orang itu bertempur, berkelit dan mengadu pukulan hingga 50 jurus. 

“Cukup 50 jurus!” bentak Ciok Kun sambil melompat mundur. Terlihat wajah Ciok Kun biasa saja, akan tetapi wajah Kang Sun-hong agak merah dengan napas agak sedikit tersegal.

Kakek Ciok Kun menghormat kepada Toan kongcu sambil berkata memuji,” Kang sicu memiliki kepandaian cukup hebat untuk masuk kedalam anggota tingkat tiga Kim Ih Wi.”

“Hahahaha….. baiklah, silahkan Kang sicu masuk kedalam untuk melengkapi dan mengisi dokumen resmi anggota Kim Ih Wi,” Toan kongcu mempersilahkan Kang Sun-hong masuk ruang bagian dalam. Giliran Ciok Boan yang menguji Gak Liat dengan ilmu pedang. Gak Liat juga memperlihatkan pecahan ilmu pedang Toamjong pay yang cukup lumayan sehingga masuk kedalam ruangan yang telah dimasuki oleh Kang Sun-hong dengan mendapatkan kedudukan tingkat 3 Kim Ih Wi.

Ciok Boan masih tetap berdiri ditempatnya karena sedang menunggu giliran Siok-lan untuk maju memperlihatkan kepandaiannya, tapi gadis itu masih tetap saja duduk hingga terpaksa Toan kongcu menegurnya.

“Lihiap, apakah tidak sudi memperlihatkan kepandaian yang dimiliki? Ataukah It Liong-ci sicu yang ingin maju duluan?” tanya Toan kongcu heran.

Kembali pemuda disampingnya itu tetap diam dan masih memejamkan matanya, sehingga terpaksalah Siok-lan yang menjawab pertanyaan Toan kongcu.

“Aku kemari bukan untuk mencari kedudukan ataupun mencari nama besar. Aku hanya tertarik mendengar nama besar Cia Tayjin sejak tadi pagi aku masuk ke kotaraja. Lagipula untuk uji kepandaian tidak perlu Ciok Locianpwe menungguku, lebih baik Toan kongcu sendiri yang maju untuk bermain-main pedang sebentar. Apalagi tentu Ciok locianpwe masih merasa lelah setelah bertanding dengan si Raja Pedang itu,” jawab Siok-lan.

Kaget Ciok Boan mendengar kata-kata Siok-lan. Sungguh gadis muda ini tidak melihat tingginya gunung dengan langsung menantang Toan kongcu. Tapi Toan kongcu yang berpengalaman berurusan dengan orang-orang dunia kangouw memaklumi kalau gadis muda dihadapannya ini jauh lebih hebat dari pada dua “nama besar” tadi. Toan kongcu menggerakkan tangannya untuk menyuruh Ciok Boan mundur.

“Nona ingin mengadu kepandaian dengan tangan kosong ataukah pedang?” Tanya Toan kongcu.

“Terserah kongcu, tapi kulihat telapak tangan kongcu berkulit agak tebal karena sering berlatih silat dengan senjata. Kukira lebih baik kalau kita mengadu kepandaian dengan senjata dan senjata yang sering kupakai adalah pedangku ini,” kata Siok-lan sambil meloloskan pedang yang dibawanya. Terlihat kilap pedang yang dicabut, walaupun bukan merupakan pedang pusaka tapi merupakan pedang buatan tangan empu yang ahli.

“Hahaha. mata lihiap sungguh tajam. Sebagai ahli pedang tentu lihiap cukup

terampil untuk memainkan pedang tanpa melukai lawan dalam pibu (adu kepandaian). Baiklah, Ciok Boan Loheng harap meminjamkan pedang,” kata Toan kongcu yang menerima pinjaman pedang dari Ciok Boan. “Silahkan mulai, nona Siok-lan.”

Beberapa saat kemudian Toan kongcu dan Siok-lan terlibat saling serang dengan pedang ditangan. Keduanya saling tusuk dan tebas dengan cepat. Toan kongcu merupakan ahli silat pedang Kunlun pay. Setelah kalah telak bertarung dengan Bu-kee-cungcu Bu Kiong, Toan kongcu berlatih lebih keras lagi untuk meningkatkan kepandaiannya termasuk berkunjung ke Kunlun san (Gunung Kunlun) untuk memperoleh petunjuk dari tosu-tosu tua ahli pedang Kunlun pay. Siok-lan cukup repot bertanding dengan Toan kongcu, karena bagaimanapun hebatnya ilmu pedangnya, Siok-lan masih kalah pengalaman bertempur.

“Ah, penguasaan Butong Kiam-sut (ilmu pedang Butong) yang hebat,” puji Toan kongcu yang cukup berpengalaman didunia kangouw sehingga mengenal gaya permainan pedang Siok-lan.

Makin penasaran Siok-lan mendengar pujian Toan kongcu, tiba-tiba saja Siok- lan mengubah gaya serangannya yang tadinya cepat dan bertubi-tubi menjadi lambat mengalir perlahan.

Kaget Toan kongcu menghadapi gaya silat pedang yang aneh ini. Biasanya orang bersilat pedang mengandalkan kecepatan dan ringannya berat pedang, berlainan dengan gaya silat golok yang menggunakan senjata yang lebih berat. Tapi gadis ini malah menggerakkan pedangnya dengan lambat dan anehnya gerakan Toan kongcu seperti terpaksa mengikuti gaya pedang si gadis muda menjadi ikut-ikutan lambat. Toan kongcu sadar kalau pertarungan dilanjutkan lambat laun dia akan kalah memalukan. Tapi menarik mundur pedangnya bukanlah hal yang mudah, dia merasa seakan-akan pedangnya tidak bisa bergerak bebas lagi melainkan mengikuti gerakan pedang Siok-lan.

Pada saat yang kritis bagi Toan kongcu ini tiba-tiba terdengar suara tertawa terbahak-bahak dari arah pintu depan gedung. Entah sejak kapan dua orang sudah berdiri menonton adu pedang antara Siok-lan dan Toan kongcu. Yang satu sudah berumur tua sekitar enam puluh tahunan lebih dan yang tertawa terbahak-bahak adalah orang yang berbadan tegap dan berusia lebih muda sekitar empat puluh tahunan lebih. Kedua orang ini berpakaian bangsawan mewah tetapi ringkas seperti Toan kongcu.

Tiba-tiba saja orang yang tertawa itu menghentikan tawanya dan melompat ketengah pertempuran, mendorong mundur Toan kongcu sambil merebut pedang ditangannya. Toan kongcu sepertinya mandah saja dan tidak melawan ketika diambil pedangnya dan didorong mundur. Segera saja terjadi pertempuran aneh antara orang yang baru datang itu dengan Siok-lan. Keduanya menggerakkan pedang dengan perlahan dan lambat bagaikan air mengalir. Tapi Siok-lan kali ini ketemu batunya dan terperanjat seketika karena sadar kalau orang yang ada dihadapannya ini menguasai ilmu pedang yang sama dengan dirinya. Cepat Siok-lan meloncat mundur sambil menarik pedangnya. Karena Siok-lan menarik pedang, lawannya juga tidak mengejar malah melempar pedangnya ke Toan kongcu yang kemudian memberikannya lagi kepada Ciok Boan.

“Siapakah engkau? Bagaimana bisa menguasai Tay-kek Kiam-sut?” tanya Siok-lan curiga. “Hahaha. nona muda yang lihay. Engkau menguasai Butong Kiam-sut dengan

sempurna padahal seluruh anggota Butong pay adalah para tosu dan kaum lelaki, apalagi dengan memperoleh warisan Tay-kek Kiam-sut tentunya engkau adalah orang istimewa di Butong pay. Namaku adalah Chu Kaoshu, benar- benar mengagumi kepandaian nona yang lihay. Sedangkan orang ini adalah ayah angkatku, pemilik gedung ini Cia Tayjin. Siapakah gerangan nona ini dan bolehkan aku mengetahui nama gurumu yang mulia?” kata pria yang ternyata pangeran Chu Kaoshu dan memperkenalkan Cia Tayjin yang baru masuk ke dalam ruang tamu.

Kaget juga Siok-lan mendengar kalau dua orang yang berdiri dihadapannya ini adalah putra kaisar dan kepala Kim Ih Wi, sehingga dia tidak berani lagi menanyakan lebih lanjut tentang Tay-kek Kiam-sut apalagi menyembunyikan identitas dirinya

“Nama hamba In Siok-lan. Selain mendiang ayahku sendiri, Butong Ciangbunjin yang mengajari hamba ilmu silat adalah pamanku sendiri. Hamba datang ke kotaraja untuk mengunjungi kakek dan bibiku yang bermarga Sun. Ma’afkan kalau hamba telah mengganggu acara perekrutan anggota Kim Ih Wi dengan datang kemari.”

“In Liang Cinjin adalah Butong Ciangbunjin yang menggantikan paman gurunya Ji Lian-chu sebagai Ciangbunjin Butong pay ketiga. Setahuku, In Liang Cinjini merupakan putra pendekar ke-enam Butong Cit-kiam In Li-heng dan Yo Put-hui anak mendiang menteri Yo Siauw, pembesar pada jaman kaisar Hong Wu. Menteri Yo Siauw sendiri memiliki anak dari selir setelah usianya cukup tua. Tentunya bibi tirimu ini berusia tak jauh beda dengan dirimu. Bukankah begitu nona In?” kata Cia Tayjin. Tak percuma Cia Tayjin menduduki jabatan ketua Kim Ih Wi kalau tidak memiliki pengetahuan seluas itu. Ban Su To Niocu sendiri mengakui kalau Cia Tayjin banyak mengetahui rahasia-rahasia tokoh kerajaan baik jaman dulu maupun sekarang lebih banyak dari dirinya sendiri.

Tentu saja In Siok-lan menjadi lebih terkejut lagi mendengar penjelasan lengkap Cia Tayjin mengenai asal usul keluarganya. Siok-lan manjadi semakin segan pada kakek didepannya ini.

  ooOoo  

Keterangan dan fakta sejarah

- Beiping (sekarang bernama Beijing/Peking) merupakan ibukota dinasti Yuan/Goan Mongol dengan sebutan Khanbalik. Setelah Chu Goan Ciang (Zhu Yuan Zang) berhasil mengusir bangsa Mongol dan mendirikan dinasti Beng/Ming, Chu Goan Ciang memindahkan ibukota kerajaan ke kota Nanking/Nanjing. Hingga masa pemerintahan kaisar Jianwen, Nanking tetap menjadi ibukota dinasti Beng. Pada masa kaisar Yong Le menduduki tahta dinasti Beng, ibukota kekaisaran dipindahkan kembali ke Beiping pada tahun 1420-1421..

- Kim Ih Wi (dalam Hokkian) atau dalam dialek mandarin Jinyi Wei (pengawal berseragam brokat) adalah organisasi pengawal kaisar mirip secret service yang selain bertugas melindungi kaisar juga berfungsi sebagai agen rahasia dan mata-mata pemerintah dinasti Ming. Dibentuk sejak tahun 1382 oleh kaisar pertama Ming yaitu kaisar Hong Wu (Chu Goan Ciang) dengan tujuan melindungi kaisar dan keluarganya serta memata-matai para bawahannya yang dicurigai berkeinginan merebut kekuasaan dari tangan kaisar Hong Wu. Banyak jenderal-jenderal terkenal dalam sejarah yang telah membantu Chu Goan Ciang naik tahta dihabisi oleh Kim Ih Wi karena kedapatan berpotensi besar untuk memberontak.

- Tung-chang (dalam Hokkian) atau dalam dialek mandarin Dong Chang (Biro timur) adalah organisasi mata-mata buatan para kasim pada jaman kaisar Yong Le dengan tugas mirip seperti Kim Ih Wi dengan penekanan tugas mata-mata sehingga Tung-chang ini dikenal sebagai telinga kaisar. Kasim dimasa pemerintahan Hong Wu sangatlah ditekan. Kaisar Hong Wu mempereteli kekuasaan para kasim di istana karena mengingat kehancuran dinasti-dinasti sebelumnya diakibatkan terlalu besarnya kekuasaan para pembesar kebiri. Seluruh taykam (pembesar kebiri) malah dilarang untuk menyentuh berbagai macam dokumen penting didalam istana dan banyak diantaranya dibiarkan buta huruf oleh kaisar Hong Wu. Sewaktu jaman kaisar Yong Le, para taykam perlahan mulai mendapatkan kepercayaan dari kaisar. Hal ini dikarenakan para taykam telah membantu kaisar Yong Le naik tahta dengan membocorkan banyak rahasia militer kaisar Jianwen dalam peristiwa Jingnan kepada pangeran Chu Ti (Zhu Di).

- Peristiwa Jingnan adalah peristiwa perebutan kekuasaan antara kaisar Jianwen (cucu Chu Goan Ciang dari putra pertamanya) yang berkedudukan di Nanking dengan pamannya Chu Ti (putra keempat Chu Goan Ciang) yang menjadi penguasa kota Beiping. Perang saudara ini dimenangkan oleh Chu Ti yang naik tahta dengan gelar kaisar Yong Le

- Pembangkangan pangeran Chu Kaoshu terhadap perintah militer kaisar Yong Le terjadi pada tahun 1417 sehingga menyebabkan sang pangeran diasingkan ke sebuah perkebunan kecil di Lu-an daerah San-tung (Shandong)