-->

Jit Goat Sang Pokiam Bab 5. Pewaris Ilmu Pengemis Utara dan Kaisar Selatan

Bab 5. Pewaris Ilmu Pengemis Utara dan Kaisar Selatan

Saking asyiknya dengan urusan Jit Goat Siang Pokiam, mereka yang berada didarat tidak sadar ada perahu mendekat. Orang didalam perahu itu terlihat masih muda, paling berumur 25 tahunan, warna biru pakaian yang dikenakannya terlihat sudah pudar saking tuanya, terlihat ada beberapa tambalan. Walaupun demikian pakaiannya bersih, tidak seperti pengemis yang kumal. Tangannya terlihat memegang tongkat pancing dari bambu.

Tee-It Thian-Mo yang merasa gusar belum berhasil medapatkan pusaka, tiba-tiba melemparkan am-gi (senjata gelap) ke arah pemuda di atas perahu. Tak disangkanya pemuda yang dianggapnya nelayan biasa itu justru menangkis am-gi dengan tongkat pancingnya.

Trangtrangtrang.Berturut 3 am-gi ditangkis olehnya.

Tiba-tiba pemuda itu meloncat dari perahu ke pinggir sungai, padahal jarak antara perahu dan daratan masih lumayan jauh. Ginkang yang dikerahkan tidak boleh dianggap main-main.

Setiba didaratan dia langsung menyerang Tee-It Thian-Mo dengan tongkat pancingnya yang sudah tak bertali.

Kurang ajar, sudah menyerangku gelap-gelapan, am-gi mu malah memutuskan tali pancingku. Harus kubalas perbuatanmu

Baru kali ini Tee-It Thian-Mo menghadapi serangan ilmu tongkat yang aneh. Tak pernah sebelumnya dia melihat ilmu tongkat pemuda ini walau sudah malang melintang didunia kang-ow puluhan tahun. Kadang serangan tongkat itu mengincar dadanya, tapi secara mendadak membelok menusuk matanya. Benar-benar kewalahan Tee-It Thian-Mo kali ini. Semenjak Kakek iblis perlente itu diserang pemuda bertongkat, dengan sendirinya pertarungan segi tiga berakhir. Dian Long dan Ban Su To Niocu juga lebih tertarik melihat pertarungan baru tersebut dari pada rebut sendiri.

Ban Su To Niocu tertegun melihat cara pemuda itu memainkan tongkat. Pernah gurunya bercerita tentang ilmu tongkat kebanggaan kaypang (partai pengemis) yang bernama Ta-kauw Pang-hoat (ilmu tongkat pemukul anjing). Biasanya Ta-kauw Pang-hoat turun temurun diajarkan hanya kepada ketua kaypang. Saat benteng Siang-yang runtuh diserang tentara mongol ratusan tahun yang lalu, para pemimpin teras kaypang termasuk bekas kaypangcu (ketua partai pengemis) Oey Yong dan kaypangcu saat itu Yelu Chi tewas bersama Kwee Ceng Tayhiap dan ratusan pendekar yang ikut mempertahankan Siang-yang. Sejak saat itu ilmu Ta-kauw Pang-hoat juga bagaikan lenyap dari muka bumi. Ketua kaypang yang sekarang malah hanya menerima tongkat pemukul anjing sebagai tanda ketua tapi tidak menguasai Ta-kauw Pang-hoat, sehingga pamor kaypang ikut anjlok bagaikan partai gurem yang punya anggota banyak tapi tak punya pengaruh.

Tak tahan menghadapi ilmu tongkat aneh pemuda itu, Tee-It Thian-Mo meloncat mundur. Tadi Ban Su to Niocu bertarung hanya dengan tangan kanan karena tangan kirinya masih memegang bungkusan kulit kambing pipih panjang. Kalau dia maju juga bersama pemuda bertongkat ini, walaupun dibantu murid-muridnya belum tentu dia bisa mengimbangi. Tipis harapannya mendapatkan pedang pusaka hari ini. Biarlah kubiarkan dulu mereka memegangnya, toh dengan jaringan mata-mataku mudah untuk menemukan mereka lagi, pikir Tee-It Than-Mo.

Kita pergi! Bentak Tee-It Thian-Mo pada anak muridnya sambil melocat ke arah hutan diikuti oleh Jit-tok Hoa. Kiam Hoa masih sempat melirik ke arah Dian Long sekejap sebelum ikut meloncat mengikuti suhu-nya.

Ban Su To Niocu mengangkat tangannya memberi hormat pada pemuda bertongkat sambil berkata,Saudara muda sungguh lihay bisa mengusir anjing dengan pukulan tongkat, padahal tongkat yang digunakan hanyalah tongkat pancing biasa. Aku adalah kenalan baik kaypangcu, siapakah nama saudara dan dari cabang kaypang manakah?

Pemuda itu tersenyum,Ban Su To Niocu sungguh jeli mengetahu nama ilmu tongkat yang kupakai, tapi sayang sekali cayhe bukanlah anggota kaypang.

Terkejut Ban Su To Niocu mendengar jawaban pemuda itu. Bagaimana bisa Ta-kauw Pang-hoat bisa dikuasai oleh orang luar kaypang pikirnya, kecuali ada satu kemungkinan.

Kalau begitu, apakah saudara she Yelu? tanya Ban Su To Niocu lebih lanjut.

Hahaha apakah cayhe she Yelu atau she Chu (marga keluarga kaisar Beng) tentulah tak berguna diketahui oleh Ban Su To Niocu yang mulia. Lagipula she Yelu adalah she bangsa Liao bukan?

Cayhe sendiri tidak mengerti bahasa Liao, Hahaha.

Hmmm, bekas ketua kaypang yang terakhir menguasai Ta-kauw Pang-hoat adalah Yelu Chi seorang Liao yang menikah dengan Kwee Hu, anak pendekar Kwee Ceng. Jika keturunan mereka menikah dengan orang Han turun temurun, tentu saja turunan mereka tidak bisa berbahasa Liao bukan?

Hahahaha.. tak percuma Niocu bergelar Ban Su To, terpaksa aku mengaku. Memang aku bermarga Yelu. Namaku Ceng yang berasal dari nama Kwee Ceng Tayhiap. Ayahku ingin agar aku selalu mengingat nama leluhurku sehingga memberikan nama demikian.

Yelu Ceng-sicu, apakah datang kesini juga karena ingin merebut Jit Goat Siang Pokiam? Wah...wah Niocu menuduh yang bukan-bukan. Senjataku adalah tongkat, buat apa aku ikut

berebut pedang. Aku hanya numpang lewat saja sambil melihat keramaian orang-orang kang-ouw berebut pedang. Sejak peristiwa perebutan Ih Thian Kiam dan To Liong To, sudah lama tidak terjadi keramaian seperti sekarang ini. Hanya saja untuk memilikinya aku tidak tertarik!

Hmmmm Pedang Langit dan Golok Naga tetap dibiarkan patah oleh kaisar Hongwu dan disimpan didalam ruang penyimpanan pusaka kerajaan tanpa pernah ditempa ulang. Kini malah muncul keributan baru karena dua pedang ini. Ban Su To Niocu membuka bungkusan kulit kambing sehingga terlihat sebatang pedang yang sarungnya berukir bunga seruni yang indah. Dicabutnya Jit Pokiam, dan terlihat cahaya terang memancar dari pedang bagaikan matahari bersinar cerah. Pedang itu sendiri berhawa panas menyengat, sehingga Ban Su To Niocu harus mengerahkan tenaga dalam untuk menolak pengaruhnya.

Pedang ini adalah milik kerajaan, karena merupakan hadiah dari kaisar Tung-yang-kok (negeri diseberang laut timur sekarang jepang) kepada kaisar Hongwu. Pedang pusaka ini adalah buatan empu pembuat pedang Tung-yang-kok terkenal yang bernama Okazaki Masamune, khusus dibuat sebagai hadiah untuk kaisar Beng yang mengusir bangsa mongol. Bunga seruni ukiran ini sendiri adalah lambang kekaisaran Tung-yang-kok. Dengan demikian adalah hak kaisar Beng menyimpannya di istana kaisar. Sedangkan Goat Pokiam adalah pusaka istana kaisar sejak jaman dinasti mongol. Tentu pula setelah penguasa mongol telah terusir, Goat Pokiam tetap dimiliki oleh penguasa istana kaisar sekarang

Yelu Ceng menghampiri Bu Dian Long sambil bertanya,Hiante, bagaimana Goat Pokiam bisa berada ditanganmu? Kenapa pula bajumu copang-camping robek tidak keruan? Sampai ku sangka engkau ini pengemis kaypang.

AhhhSiawte bukan anggota kaypang, sedangkan baju robek ini gara-gara si hwesio cabul Kemudian Dian Long mulai bercerita tentang diri dan pengalamannya mulai dari awal bertemu dengan Jit-tok Hoa sampai kedatangan Yelu Ceng.

Keluarga Bu dari Bu-kee-cung? Bukankah keluargamu keturunan Bu bersaudara murid Kwee Ceng Tayhiap yang terkenal mempertahankan kota Siang-yang? Ilmu silatmu pastilah lihay karena kudengar sepasang pendekar Bu mewarisi 18 telapak penakluk naga milik Kwee Ceng Tayhiap.

Selain itu juga mereka mewarisi ilmu andalan It Teng Taysu yang bernama It-yang-ci dari ayah mereka Bu Sam-tong yang merupakan murid It Teng Taysu.

Ahsayang sekali kepandaian keluarga Bu tidak seperti yang sicu perkirakan. Bakat leluhurku Bu bersaudara tidaklah terlalu bagus, sehingga Hang Liong Sip Pat Chiang yang di wariskan oleh Kwee Tayhiap tidak bisa dkuasai dengan sempurna oleh mereka. Turun temurun ilmu tersebut diterima oleh keluarga Bu dengan bakat yang kurang bagus, sehingga generasi yang sekarang ini hanya mampu memainkan 10 jurus awal Han Liong Sip Pat Chiang berikut kembangannya.

Sedangkan It-yang-ci yang diajarkan leluhur Bu Sam-tong juga tidak sempurna seratus persen. Boleh dikatakan kalau kami keluarga Bu memiliki ilmu hebat tetapi menguasainya secara tanggung.

Tidakkah mereka mewariskan kitab yang berisikan teori ilmu secara lengkap? Dengan demikian kalaupun ada keturunannya yang berbakat akan bisa menguasainya dengan sempurna, lanjut Yelu Ceng.

Kakekku pernah menceritakan hal ini ketika aku masih kecil. Beliau pernah bilang kalau Bu bersaudara pernah menuliskan kauw-koat (teori ilmu silat) yang diberikan kepada anak mereka sebelum Siang-yang dikepung oleh pasukan mongol pada pertempuran terakhir. Entah dimana kauw-koat itu sekarang, entah jatuh ke tangan pasukan mongol yang menyerbu ataukah masih disimpan oleh leluhur kami ditempat rahasia, siapa yang tahu. Cerita kakekku ini lama kelamaan menjadi mirip legenda atau dongeng saja bagi generasi kami.

Tiba-tiba Ban Su To Niocu menyela pembicaraan mereka,Engkau sendiri kenapa baru sekarang muncul di dunia kang-ouw? Selama ini aku tidak pernah mendengar kabar keluarga Yelu walaupun cuma secuil. Hahaha...keluarga Yelu memang tidak seperti keluarga Bu yang patriot membela negara dengan ilmu silatnya. Kakek moyangku turun temurun lebih suka berdagang atau mempelajari ilmu pengobatan dari pada ilmu silat. Kakekku dan ayahku sendiri adalah tabib yang lebih suka menolong orang terluka dari pada membuat orang lain terluka. Walaupun demikian jiwa patriot mereka tidak kalah dengan orang lain. Kakekku sudah banyak menolong para patriot dan penduduk yang terluka ketika terjadi perang mengusir penjajah mongol, begitu juga dengan ayahku yang menolong orang saat perang saudara antara kaisar Jianwen dan kaisar Yong Le.

Kauw-koat Ta-kauw Pang-hoat dibiarkan menjadi pusaka keluarga tanpa dipelajari isinya. Sekian lama, baru aku yang akhirnya membaca dan mempelajarinya.

Dian Long menghela nafas kemudian memberi hormat pada Ban Su To Niocu dan berkata, Sekarang apa yang hendak Niocu lakukan? Apakah tetap akan menyerangku dan merebut Goat Pokiam?

Ban Su To Niocu menyahut,Aku tahu kalau engkau bukan orang jahat yang mencuri makan tawon asmaraku. Kalau kau setuju, sekarang juga akan kuberikan madu tawon yang sudah kucampur dengan obat Yo-bi-su, asalkan kau serahkan Goat Pokiam untuk kupersembahkan kepada kaisar.

Kali ini, dengan adanya Yelu-sicu disini siawte percaya penuh dengan Niocu. Marilah cuwi sekalian berkunjung ke rumahku di Bu-kee-cung untuk siawte jamu ala kadarnya. Di Bu-kee-cung nanti, siawte serahkan sendiri pedang pusaka ini dihadapan paman siawte dan Yelu-sicu sendiri.

Hahaha. Janganlah kau panggil aku dengan panggilan sicu, membuatku malu saja. Panggil aku twako saja. Eh Niocu, pemuda ini tidaklah setolol yang kau kira. Dia tidak akan menyerahkan Goat Pokiam kepadamu sebelum yakin kalau obat yang kau berikan adalah asli. Hahaha Aku sendiri

tertarik untuk pergi ke Bu-kee-cung. Jelek-jelek begini, leluhurku masih punya hubungan dengan leluhur keluarga Bu., kata Yelu Ceng sambil tertawa.

Huh, jangan dikira aku takut pada keluarga Bu kalian! Lagi pula aku tidak akan menipu obat. Ayo kita pergi! jengek Ban Su To Niocu.

Baiklah,marilah Yelu....eh twako dan Niocu ikut denganku.

Berbareng mereka masuk ke dalam hutan dan berjalan menuju arah perkampungan keluarga Bu. Belum jauh mereka memasuki hutan, tiba-tiba dari atas pohon berkelebat tubuh seseorang berpakaian hitam menyambar ke arah Dian Long. Jari tangan kirinya menotok ke arah pundak seiring dengan tangan kanannya mencengkeram ke arah tangan Dian Long yang memegang Goat Pokiam.

Kaget dengan serangan tiba-tiba itu, Dian Long membanting tubuhnya ke belakang dengan maksud menghindari serangan orang itu. Namun si penyerang rupanya tidak berhenti begitu saja, cepat dia memburu ke arah Dian Long yang masih berguling di atas tanah. Kali ini Ban Su To Niocu tidak tinggal diam, tangan kanannya membentuk cakar dan bergerak menghalangi si penyerang dari samping. Si penyerang itu merasakan hawa dahsyat dari cengkeraman Ban Su To Niocu. Seketika dia mengubah totokannya menjadi serangan tapak menangkis serangan Ban Su To Nocu.

Duarrrrr. Kedua orang ini sama-sama terdorong mundur, Ban Su To Niocu 5 tindakan dan si

penyerang mundur 3 tindakan. Ini menandakan tenaga Ban Su To Niocu masih kalah tipis.

Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng terkejut menyaksikan kehebatan kepandaian si penyerang yang ternyata mengenakan kedok hitam untuk menutupi wajahnya. Tetapi yang paling terkejut adalah Dian Long, si kedok hitam itu tadi menggunakan gerakan Hang Liong Sip Pat Chiang untuk menangkis serangan Ban Su To Niocu. Tidak berhenti begitu saja si kedok hitam lalu berbalik lagi ke arah Diang Long dan kembali bergerak menotok siku Dian Long. Jelas sekali tampak si kedok hitam ingin merampas Goat Pokiam. Hanya saja kali ini Dian Long sudah siap sedia, cepat Dian Long menyambut totokan itu dengan kelitan sambil balas menotok dengan ilmu It-yang-ci.

Kejutan bagi Dian Long belumlah berakhir karena si kedok hitam sepertinya mengetahui gerakan Dian Long termasuk kembangan dari berbagai macam gerak tipuan It-yang-ci. Malah kali ini si kedok hitam membalas serangan Dian Long dengan ilmu yang sama. Namun yang membuat Dian Long lebih kaget lagi, It-yangci yang diperagakan si kedok hitam kelihatannya lebih lengkap dari It-yang-ci yang dikuasai keluarga Bu dari Bu-kee-cung. Beberapa gerakan It-yang-ci yang dikenal oleh Dian Long disambung dengan totokan beruntun dari gerakan yang tidak dikenal Dian Long. Gerakan sambung menyambung itu terlihat serasi sekali dengan gerakan It-yang-ci sebelumnya. Sepertinya itulah gerakan It-yang-ci yang sempurna!

Kelabakan juga Dian Long menghadapi totokan beruntun itu walaupun dibantu oleh Ban Su to Niocu yang berulang kali menangkis totokan si kedok hitam yang mengincar tangan Dian Long dengan cakarnya. Akhirnya tak kuasa juga Dian Long mempertahankan pedang ditangannya. Tiba-tiba saja Dian Long merasakan tangannya kesemutan dan dengan cepat Goat pokiam sudah berpindah tangan ke genggaman si kedok hitam. Tidak hanya itu Dian Long merasakan kakinya lemas tak bertenaga kena totokan dan menyebabkan dia jatuh terguling dan keluar dari arena pertempuran.

Melihat keadaan demikian, Yelu Ceng meloncat ikut menyerang si kedok hitam dengan tongkat pancingnya. Tadinya dia ragu-ragu ikut mengeroyok si kedok hitam. Tapi demi melihat orang ini memakai kedok dan merampas Goat Pokiam, tentulah bermaksud tidak baik. Sehingga dia tidak menghiraukan lagi tata tertib dunia kang-ouw dan ikut terjun mengeroyok.

Gerakan tongkat Yelu Ceng benar-benar aneh dan membuat si kedok hitam berulang kali berseru kaget. Tapi segera si kedok hitam silih berganti melancarkan serangan dengan tapak dan totokannya.

Kembali Dian Long yang melihat dari luar arena membelalak kaget0karena Dian Long mengenali gerakan Ciam Liong Put Yong (Naga berendam ngumpet tak berguna) yang disambung dengan gerakan tapak yang tak dikenalnya. Hang Liong Sip Pat Chiang yang dilancarkan si kedok hitam benar-benar hebat dan lengkap si kedok hitam sepertinya juga menguasai 18 jurus Hang Liong Sip Pat Chiang komplet dengan segala perubahan dan kembangannya. Dengan dua ilmu sakti ini si kedok hitam bisa menahan serangan Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng berikut dengan serangan balasannya.

Tiba-tiba terdengar suara pedang terhunus dan melesat cahaya berkeredepan diiringi hawa panas menuju tengkuk si kedok hitam. Ternyata Ban Su To Niocu sudah tidak sabar lagi dan menggunakan Jit Pokiam untuk menaklukkan si kedok hitam.

Trannggg muncrat lelatu api dari pergesekan dua pedang sakti. Ternyata si kedok hitam juga

menghunus Goat Pokiam untuk menangkis Jit Pokiam. Kedua pedang pusaka itu memang setanding dan tidak ada satupun yang rusak karena pertemuan kedua pedang tadi.

Kembali pertarungan dilakukan dengan senjata ditangan. Dua pedang pusaka memang setara, tetapi tongkat pancing ditangan Yelu Ceng bukanlah Ta-kauw Pang (tongkat penggebuk anjing), pusaka tanda ketua kaypang. Dalam beberapa jurus saja tongkat pancing itu sudah terpotong tiga.

Cepat Yelu Ceng membuang sisa tongkat ditangannya kemudian melompat keatas pohon dan mematahkan sebatang ranting yang cukup lurus untuk digunakannya sebagai pengganti tongkat pancingnya yang putus tadi. Setelah itu kembali Yelu Ceng meloncat ke arena pertarungan lagi. Kali ini Yelu Ceng lebih bertindak hati-hati dan tak ingin mengadu senjata dengan Goat Pokiam. Selain itu Yelu Ceng mulai memainkan ilmu silatnya yang lain, dimana tangan kanannya memainkan ilmu tongkat pemukul anjing sedangkan tangan kirinya memainkan ilmu silat tangan kosong. Kedua ilmu ini sebenarnya bertentangan gerakannya, tetapi Yelu Ceng bisa memainkannya dengan cukup baik sehingga seakan-akan seorang Yelu Ceng mendadak menjadi 2 orang Yelu Ceng. Inilah ilmu silat peninggalan si Bocah Tua Nakal yang merupakan guru dari Yelu Chi, leluhur Yelu Ceng. Si kedok hitam kaget melihat perubahan gerakan Yelu Ceng. Si kedok hitam sendiri bisa memainkan 2 ilmu silat hebat yang dikuasainya secara bergantian, tapi lawannya yang masih muda ini malah bisa memainkannya secara bersamaan dengan kedua belah tangannya

Pada saat itu datang 2 orang, yang satu menghampiri Dian Long yang masih rebah lemas dan sedang berusaha membebaskan totokan dengan tenaga dalamnya. Sedangkan yang satu lagi mencabut pedangnya dan ikut mengeroyok si kedok hitam. Yang menghampiri Dian Long adalah A Hu dan yang ikut mengeroyok si kedok hitam adalah Toan kongcu.

Walaupun Toan kongcu memiliki ilmu pedang Kun-lun pai yang cukup lihai, tetapi dibandingkan dengan kepandaian tiga orang yang lainnya kepandaiannya tidaklah terlalu berguna, malah mengganggu 2 pengeroyok yang lain. Dengan cepat dia terdesak oleh serangan tapak dan totokan si kedok hitam hingga pedang yang dipegangnya putus dibabat Goat Pokiam. Terkejut dengan rusaknya pedang, perhatian Toan kongcu agak teralih dan dadanya pun terkena pukulan tapak si kedok hitam.

Buukkk. Toan kongcu terlempar keluar arena pertarungan dengan muka pucat pasi, dadanya tergetar oleh pukulan sakti Hang Liong Sip Pat Chiang. Cepat dia mengumpulkan hawa murni untuk mendorong gumpalan darah didadanya supaya keluar.

Hoaakkkkk. Toan kongcu memuntahkan darah segar dari mulutnya kemudian pingsan seketika.

Walaupun demikian nyawanya sudah terselamatkan.

Sedangkan A Hu menangis di samping Dian Long tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Totokan si kedok hitam walaupun menggunakan It-yang-ci, tetapi karena terganggu oleh serangan Ban Su To Niocu, agak meleset sedikit dari jalan darah Dian Long yang dituju. Perlahan tapi pasti Dian Long sedikit demi sedikit mulai dapat memunahkan totokan tersebut dengan tenaga dalamnya.

Sambil berusaha memunahkan totokannya, Dian Long memikirkan identitas si kedok hitam. Bagaimana orang ini dapat menguasai 2 ilmu andalan Pengemis Utara dan Kaisar Selatan yang terkenal0sekitar 200 tahun yang lalu dengan sempurna, sedangkan seluruh anggota keluarga Bu satupun tidak ada yang menguasainya dengan lengkap. Lagi pula Dian Long merasa heran dengan serangan si kedok hitam terhadapnya tadi. Jelas sekali serangan si kedok hitam pada Dian Long hanyalah untuk merampas Goat Pokiam, sedangkan serangannya terhadap Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng dengan maksud menurunkan tangan maut.

Pertarungan si kedok hitam dan 2 pengeroyoknya sudah sampai pada puncaknya. Yelu Ceng mengeluarkan salah satu jurus rahasia Ta-kauw Pang-hoat yang bernama anjing menggonggong pengemis berlalu. Berbarengan dengan itu Ban Su To Nocu juga menebaskan Jit Pokiam dengan sebuah jurus maut dari Gobi Kiam-sut.

Si kedok hitam tampaknya kali ini tidak bisa mengelak, sehingga terpaksa dia menyambut kedua serangan ini. Goat Pokiam yang berada ditangan kanannya menyambut serangan Jit Pokiam, sedangkan tangan kirinya menyambut ranting. Traannggg kedua pedang pusaka itu menempel satu sama lain, sedangkan ranting ditangan

Yelu Ceng juga ditangkap oleh tangan kiri si kedok hitam. Terjadilah adu tenaga sakti antara 3 orang itu. Masing-masing pihak berusaha menekan lawan dengan lweekang. Adu tenaga dalam ini sangatlah berbahaya. Jika salah satu kalah, nyawalah taruhannya.

Hanya saja si kedok hitam memang sedang bernasib sial. Dengan mengandalkan Hang Liong Sip Pat Chiang dan It-yang-ci memang dia dapat mengimbangi lawannya. Tapi untuk adu tenaga dalam, si kedok hitam hanya menang tipis terhadap Ban Su To Niocu. Kali ini dia harus menghadapi Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng berbarengan, tentu saja dia merasa kerepotan.

Walaupun Hang Liong Sip Pat Chiang merupakan ilmu yang memiliki serangan sederhana tetapi gerakannya efektif dan berdasarkan kekuatan lweekang. Sedangkan si kedok hitam baru melatih Hang Liong Sip Pat Chiang setelah cukup berumur. Tentu saja tenaga sakti yang dipupuknya belum terlalu sempurna, berbeda jika dia melatihnya sejak usia muda.

Perlahan tapi pasti si kedok hitam mulai terdesak mundur. Tiba-tiba dari atas pohon dibelakang si kedok hitam meluncur bayangan seseorang sambil terdengar suara terkekeh mengejek. Karena konsentrasinya sedang mengadu tenaga dengan Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng, tentu saja si kedok hitam tak sempat memperhatikan orang yang berada dibelakangnya.

Crookkk Orang yang baru turun dari pohon itu menyarangkan serangan cakar ke punggung si

kedok hitam dari belakang. Ternyata orang yang membongkong si kedok hitam adalah Tee-It Thian-Mo. Kakek itu rupanya tidak rela begitu saja menyerahkan Jit Goat Siang Pokiam kepada orang lain sehingga masih menunggu didalam hutan dengan harapan musuh-musuhnya lengah. Murid-muridnya sendiri entah disuruhnya menunggu dimana.

Cakar beracun Hek-hiat Tok-jiaw milik Tee-It Thian-Mo dengan tepat bersarang di punggung si kedok hitam. Si kedok hitam sendiri karena seluruh lweekang-ya dikonsentrasikan untuk adu tenaga dalam, dengan sendirinya meninggalkan punggungnya kosong tanpa perlindungan.

Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng sendiri terkejut dengan kelicikan Tee-It Thian-Mo, seketika mereka menarik tenaga sakti secara berbarengan. Bagaimanapun mereka berdua tidak suka kepada si kakek pesolek itu, dan tentu saja tak sudi dibantu olehnya. Sedangkan Tee-It Thian-Mo sendiri secepat kilat merebut Goat Pokiam dari tangan kanan si kedok hitam kemudian melompat mundur dengan maksud segera melarikan diri.

Tak terkira oleh Tee-It Thian-Mo kalau kedua lawan si kedok hitam justru menarik serangan mereka sehingga si kedok hitam justru terbebas dari gencetan tenaga lawan. Sambil meraung murka si kedok hitam berbalik menghadap Tee-It Thian-Mo dan melancarkan jurus ke-14 dari Hang Liong Sip Pat Chiang yang bernama Sie-seng Liok-liong (mengendarai enam naga) dengan sepenuh tenaga terhadap Tee-It Thian-Mo. Kakek iblis itu sendiri tak menyangka si kedok hitam masih mampu menyerangnya dengan hebat dengan luka separah itu.

Cepat tangannya menggerakkan Goat Pokiam menusuk jantung si kedok hitam. Si kedok hitam hanya berkelit sedikit, namun serangannya sama sekali tidak dihentikannya.

Crapp. Goat Pokiam bersarang di pundak si kedok hitam, tetapi tapak si kedok hitam 6 kali

dengan telak mengenai dada, ulu hati, tengkuk dan 3 bagian lain tubuh Tee-It Thian-Mo. Pukulan Hang Liong Sip Pat Chiang yang ini bukanlah pukulan yang tadi mengenai Toan kongcu. Jika tadi si kedok hitam membagi tenaga serangannya terhadap tiga lawan, kali ini tapaknya mengandung kekuatan sepenuh tenaga.

Duaakkkk.kali ini apeslah nasib Tee-It Thian-Mo. Tubuhnya melayang bagaikan layangan putus dan sebelum tubuhnya jatuh ketanah nyawanya telah putus dengan tubuh bagian dalam remuk. Si kedok hitam terjatuh setelah mengerahkan seluruh kekuatannya pada pukulan terakhir. Pada saat itu Dian Long telah berhasil sepenuhnya melepaskan dirinya dari totokan. Segera dia meloncat ke arah si kedok hitam untuk menyerang.

Long-ji (anak Long). jangan!!! seru si kedok hitam pada Dian Long.

Terperanjat Dian Long mendengar suara itu, baru kali ini si kedok hitam mengeluar suara dan Dian Long langsung mengenali suara itu. Kali ini Dian Long melesat ke arah si kedok hitam bukan untuk melancarkan pukulan melainkan tangannya bergerak membuka kedok si kedok hitam.

Ketika kedok terbuka, tampaklah seraut wajah gagah berumur sekitar 50 tahunan dengan jenggot pendek yang mulai agak memutih.

Toa-siok!!!jerit Dian Long terkejut melihat orang yang memakai kedok tadi ternyata pamannya yang merupakan cung-cu dari Bu-kee-cung, Bu Kiong.

Toa-siok, apa yang terjadi? Mengapa engkau memakai kedok dan menghadang kami? kebingungan Dian Long memberondong Bu Kiong dengan berbagai pertanyaan sambil menotok sana sini untuk menghambat mengucurnya darah lebih banyak. Walaupun luka tusukan pedang dipundak cukup berbahaya, tetapi luka paling parah terdapat dipunggung Bu Kiong. Dari luka dipunggung menetes darah Bu Kiong yang berwarna agak kehitaman. Rupaya racun Hek-hiat Tok- jiaw sudah menyebar dan penyebaran racun semakin cepat setelah Bu Kiong mengerahkan tenaga terakhirnya untuk menghantam mampus Tee-It Thian-Mo.

JIT GOAT SIANG POKIAM