-->

Jago Kelana Jilid 22

Jilid 22

DENGAN cepat gadis itu enjotkan badannya berkelebat kehadapannya lalu mencekal tangan sianak muda itu erat2.

Si Soat Ang angkat kepala memandang wajah sianak muda itu bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun yang kedengaran. Lama.. lama sekali ia baru berseru.

"Sejak semula aku sudah mencurigai bahwa aku pernah kenal dengan dirimu, sejak semula aku sudah curiga..."

"Tapi aku tak berani beritahu kepadamu sebab wajahku ketika itu menyeramkan sekali."

"Sekarang bukankah sudah pulih kembali ? wajahmu telah pulih kembali seperti sedia kala !"

"Benar !" sahut Tonghong Pek sambil tertawa getir. "Tetapi sayang.. aku sudah hampir mati !"

Mula2 Si Soat Ang sedang kegirangan atas perjumpaan ini tapi mendengar ucapan yang terakhir hatinya jadi terjelos, wajahnya seketika itu juga berubah jadi pucat pias, bahkan ditengah perubahan tersebut jelas kelihatan betapa mendongkol serta gusarnya gadis itu.

"Kalau kau tahu bahwa berbuat demikian bakal mati, mengapa kau suka menghisap keluar jarum beracun tersebut dari tubuhku ?" jeritnya keras2.

Tonghong Pek mengerti apa sebabnya gadis itu menegur, ia menghela napas panjang dan tundukkan kepalanya rendah2.

”Waktu itu wajahku amat menyeramkan bagaikan memedi, aku malu untuk berjumpa dengan orang lain daripada hidup menanggung derita lebih baik aku menolong jiwamu !"

Si Soat Ang sangat terharu, titik air mata jatuh berlinang. Pada saat itulah tiba2 terdengar Tonghong Pacu berkata. "Pek-jie seandainya aku bisa menolong dirimu, lalu

bagaimana sikapmu ?" Sebutan "Pek-jie" tersebut sangat menusuk pendengaran Tonghong Pek, tentu saja ia mengerti maksud gembong iblis tersebut.

"Aku sudah terkena racun keji dari jarum beracun milik Kiem Ciam-Sin-Bo, tak ada orang yang bisa menolong aku lagi !" sahutnya ketus.

"Dugaanmu salah besar, aku dapat mengorbankan separuh dari tenaga dalam yang kumiliki untuk memaksa racun yang mengeram dalam tubuhmu terdesak keluar."

"Kau suka berbuat demikian ?" Kata Tong hong Pek, sepasang matanya menatap gembong iblis itu tajam2.

Tonghong Pacu menghela napas panjang.

"Pek-jie apa maksudmu berkata demikian ?" serunya. "Kau adalah putraku, kau adalah anak kandungku, kau harus tahu tak ada cinta kasih yang lebih mendalam daripada cinta kasih orang tua terhadap anaknya !"

Beberapa patah kita itu sangat mengena dilubuk hati Tonghong Pek, ia segera tundukkan kepalanya rendah2 dan tak sanggup diangkat kembali.

Setahun berselang Tonghong Pek sudah tahu bahwa Tonghong Pacu adalah ayah kandungnya tapi apa sebabnya ia pergi kegunung Go bie? tidak lain untuk memusuhi ayahnya.

Kemudian ia pun selalu berusaha untuk memusuhi dan mempersulit ayahnya, tetapi sekarang Tonghong Pacu rela mengorbankan separuh dari tenaga dalam yang dimilikinya untuk menolong jiwanya, ucapan ini membuat Tonghong Pek menyesal dan malu. Namun iapun merasa curiga, sungguhkah ucapan dari Tonghong Pacu itu? Benarkah ia berbuat demikian karena tulus ikhlas?

Setelah putar otak beberapa saat lamanya sianak muda itu angkat kepala. kembali berkata.

"Kalau kau menolong diriku, bagaimana dengan kau sendiri ?"

"Soal ini sukar diramalkan mulai sekarang, menurut perasaanku, menurut perkiraanku dengan korbankan separuh dari tenaga dalamku, mungkin racun yang mengeram didalam tubuhmu ini bisa didesak keluar. Tetapi kalau sampai pada waktunya tidak berhasil, maka dalam keadaan seperti itu, kemungkinan seluruh ilmu silatku bakal musnah."

"Jika demikian adanya, bukankah kau tak dapat jadi Boe-Tek-Bengcu dan berkuasa di seluruh kolong langit ?" kata sianak muda sepatah demi sepatah.

Sebelum Tong hong Pacu sempat menjawab Si Soat Ang telah menimbrung lebih duluan:

"Soal itu tidak penting, sekalipun ilmu silatnya sama sekali musnah, aku dapat mewakili dirinya untuk menjabat sebagai Bengcu!".

Tonghong Pacu segera mendongak tertawa tergelak. ”He.,.he he.,., sekalipun aku tak bisa jadi Bu-Tek-Bengcu

apa salahnya ? aku punya dua  orang putra yang  dapat

meneruskan cita2ku, apa yang aku takuti lagi ?".

"Nanti dulu," seru Tonghong Pek sambil goyangkan tangannya, "Aku hendak bicara lebih dulu, seandainya urusan ini diserahkan kepadaku maka pertama2 aku akan bubarkan dahulu perserikatan Boe-Tek Beng ini !". "Tonghong toako, apa gunanya kau saling ribut dengan ayahmu pada saat ini ?".

Seru Si Soat Ang sambil mendepakkan kakinya keatas tanah, "Sekarang hanya dia seorang yang bisa menolong jiwamu !"

Tonghong Pek tertawa getir, ia tahu apa yang diucapkan gadis tersebut merupakan kenyataan dan iapun tahu Tonghong Pacu suka mengorbankan separuh dan tenaga dalamnya untuk menolong dia bukan lain ingin melumerkan hatinya yang keras dengan cinta kasih seorang ayah terhadap putra kandungnya.

Tetapi iapun tidak sudi demi hidup, ia sanggupi untuk meneruskan cita2 Tonghong Pacu dengan mewakili dirinya jadi Boe-Tek-Bengcu.

Beberapa saat lamanya ia merasa pikirannya sangat kacau dan bimbang.

"Tonghong toako !" Si Soat Ang lantas ber bisik, "Lenyapkan dahulu racun yang mengeram dalam tubuhmu, kemudian baru kita bicarakan persoalan lain..."

Tonghong Pek merasa ucapan itu memang cengli maka ia lantas menghela napas panjang.

"Ucapan nona Si sedikitpun tidak salah." Tonghong Pacu menimbrung, "Satu detik aku terlambat turun tangan berarti racun yang mengeram dalam tubuhmu satu bagian lebih sulit untuk dipaksa keluar, mari ikutilah diriku."

Habis bicara gembong iblis itu lantas putar badan dan berjalan masuk ke dalam.

Tonghong Pek masih ragu2, Si Soat Ang yang ada disisinya lantas mendorong tubuhnya.

"Sudah, ayohlah cepat ikuti dia masuk ke dalam.” Tonghong Pek tarik napas panjang2, akhirnya dia mengikuti juga.

Se-akan2 Tonghong Pacu sudah menduga bahwa Tonghong Pek pasti akan mengikuti dirinya, sepanjang perjalanan sama sekali tidak berpaling, menanti sianak muda itu sudah menyusul ia baru berkata.

"Ada satu persoalan membuat hatiku merasa sangat sedih mungkin kau masih belum tahu akan kejadian ini."

"Persoalan apa ?"

"Ibu mu sudah meninggal dunia !"

Tonghong Pek tertegun bagaikan kesambar geledek disiang hari bolong ia berdiri kaku tak berkutik.

Sejak kecil ia anggap ibunya sebagai ibu guru, berbagai macam kebaikan Sunio terhadap dirinya segera mengalir dan memenuhi benaknya, ia tidak ingin menangis tetapi pada saat ini tanpa sadar titik2 air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

"Manusia yang telah mati tak mungkin bisa hidup kembali apa gunanya kau bersedih hati ?" tegur Tonghong Pacu sambil berpaling.

"Bagai.. bagaimanakah ia bisa mati ?" tanya sianak muda itu dengan sesenggukan.

"Mungkin disebabkan rasa sedih yang menyerang dirinya selama banyak tahun akhirnya ia jatuh sakit dan meninggal dunia sewaktu jantungnya terserang, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk melindungi detak jantungnya jangan sampai berhenti, tapi sayang terlambat, Aai... aku telah mencelakai dia !"

Pembaca yang budiman, apa yang diucapkan Tonghong Pacu pada saat ini sudah tentu hanya kata2 bohong belaka, tapi sewaktu diutarakan keluar, jelas kelihatan betapa serius dan sungguhnya wajah gembong iblis tersebut, bahkan diantara nada2 suaranya terkandung rasa sedih yang bukan kepalang.

Bukan saja apa yang diceritakan adalah kata2 bohong belaka, sekalipun ucapannya hendak menolong Tonghong Pek pun bohong besar.

Tentu saja hal ini bukan dimaksudkan Tong hong Pek sudah tak tertolong lagi, tetapi dalam kenyataan sianak muda itu sama sekali tak perlu ditolong lagi.

Pengetahuan yang dimiliki Tonghong Pacu sangat luas, ketika pertama kali bertemu dengan Tonghong Pek yang memiliki wajah aneh ia sudah menanyakan apakah sianak muda itu berasal dari wilayah Biauw, ia bertanya demikian sebab ia tahu wajah Tonghong Pek bisa berubah begitu menyeramkan sebab telan sebutir Lwee-tan dari binatang aneh yang hanya berada diwilayah Biauw belaka.

Dan tiba2 wajah Tonghong Pek pulih kembali seperti sedia kala, kejadian ini mula2 mengherankan Tonghong Pacu, tetapi setelah menyaksikan kesegaran badan sianak muda itu dan sama sekali tidak menunjukkan tanda keracunan, ia lantas mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi.

Ia mengerti hal ini tentu disebabkan Tong hong Pek telah menghisap hawa racun dari jarum beracun, kemudian racun itu menyerang tubuhnya dan dengan racun melawan racun malahan berhasil memunahkan kedua gulung racun itu.

Baik bawa racun dari jarum beracun maupun racun dari pil Lwee-tan tersebut. Bukan saja akibatnya Tonghong Pek tidak mati malahan memberikan kebaikan kepadanya. Mengetahui keadaan tersebut Tonghong Pacu kegirangan setengah mati, ia tahu diantara dua orang putranya watak Tonghong Pek paling keras, ia harus menggunakan akal licik untuk menundukkan dirinya.

Dengan satunya jalan tidak lain adalah memanjakan serta menyayangi dirinya dengan suatu perbuatan luar biasa, bila ia selamatkan jiwanya dengan mengorbankan diri sendiri si anak muda itu pasti akan dibikin terharu oleh perbuatannya.

Dalam pada itu dengan nada sedih Tong hong Pek menghela napas panjang, ujarnya.

"Manusia telah mati tak mungkin bisa hidup lagi, memang benar apa gunanya dipikirkan lagi ? Aaai, ! sejak kecil aku anggap dia sebagai Sunioku betapa sedih dan tersiksanya perasaan beliau .."

"Benar, akupun menyesal akan perbuatanku dahulu, aku memang sedikit keterlaluan, dimata aku sudah mengusir kalian berdua. Setelah aku paksa keluar racun yang mengeram dalam tubuhmu paling sedikit aku harus beristirahat selama setengah sampai setahun untuk memulihkan kembali tenaga yang telah kukorbankan kepadamu, aku rasa di-saat2 seperti inilah paling tepat bagiku untuk merenungkan kembali perbuatan2 ku tempo dulu, benar bukan ?"

Ucapan dari gembong iblis tersebut kedengaran begitu ber-sungguh2 membuat Tonghong Pek merasa sangat terharu, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengutarakan sepatah katapun.

Demikianlah Tonghong Pacu berdua melanjutkan perjalanannya ke depan, dalam halaman pun tinggal Si Soat Ang, Si Chen serta Tong hong Loei bertiga. Dengan sinar mata tajam Si Soat Ang memperhatikan terus hingga bayangan kedua orang itu lenyap dari pandangan, setelah itu ia baru putar badan dan bergumam seorang diri.

"Semoga saja racun keji yang bersarang di dalam tubuhnya benar2 berhasil dipaksa keluar !" jelas menunjukan betapa kuatirnya gadis ini terhadap keselamatan Tonghong Pek.

"Nona Si, sungguh tak disangka manusia aneh itu bukan lain adalah toako." buru2 Tonghong Loei menyela.

Dengan gemas Si Soat Ang melotot sekejap ke arahya kemudian mendengus, dalam hati kecilnya ia sangat mendendam terhadap diri Tonghong Loei.

Sudah tentu sianak muda itupun tahu akan keadaan tersebut, dalam hati ia sudah siapkan jawaban yang rasanya dianggap tepat melihat gadis itu melotot kembali ia berseru.

"Nona Si, kau tak bisa salahkan diriku, kalau toako tidak menghisap racun dari tubuhmu, wajahnya tidak akan pulih kembali seperti sedia kala, bukankah perbuatanku ini malah mendatangkan kebaikan bagimu?"

Ucapan ini dalam kenyataan memang benar, Si Soat Ang tak bisa bicara lagi kecuali mendengus kembali dengan dingin.

"Nona Si sejak kini kita malah jadi orang sendiri" seru Tonghong Loei tertawa cekikikan.

"Harap kau suka menerima sebuah penghormatanku sebagai rasa sesalku atas perbuatanku membokong dirimu!"

Si Soat Ang semakin lembek hatinya mendengar rayuan2 manis itu, akhirnya ia menghela napas panjang. "Sudah, sudahlah memandang diatas wajah adik Si. aku tidak akan cari keributan lagi dengan dirimu."

"Terima kasih nona Si."

"Caramu untuk membokong diriku pun terhitung amat keji dan telengas, seandainya se belum kejadian itu aku tidak menangkap cahaya biru yang berkelebat dibawah sorotan sinar lampu, mungkin sejak tadi sudah menemui ajal nya ?"

"Nona Si. pada waktu itu kau adalah musuhku dan sekarang kau sudah hampir jadi ensoku, aku..."

Merah jengah selembar wajah Si Soat Ang. "Ayoh bicara sekali lagi!" serunya.

Ucapan si anak muda itu terutama kata "Enso" mendatangkan perasaan nyaman dan manis dalam hati gadis itu.

Ia putar kepala memandang keluar jendela, menyaksikan fajar hampir menyingsing ia lalu berkata.

"Silahkan kalian kembali akupun hendak beristirahat sebentar!"

"Baik!" sahut Tonghong Loei serta Si Chen.

Setelah kedua orang itu mengundurkan diri, Si Soat Ang pun kembali kekamarnya dan berbaring diatas pembaringan, matanya tak sanggup dipejamkan pikiran terasa sangat kalut.

Sejak berhasil memiliki ilmu silat lihay, ia selalu berharap bisa berjumpa dengan Tonghong Pek, tetapi sama sekali tak disangka olehnya ia bisa berjumpa dengan pujaan hatinya dalam keadaan seperti ini. Ia pun terbayang pula setelah Tonghong Pacu kehilangan separuh dari tenaga dalamnya karena harus menolong Tonghong Pek, hal ini berarti dalam perkampungan Jiet Gwat Cung kepandaian silatnya yang paling lihay.

Berpikir sampai disitu gadis tersebut benar2 kegirangan setengah mati, ketika itulah langit sudah terang, ia segera bangun untuk berlatih silat sebentar, sementara Tonghong Loei pun muncul kembali disana.

Sianak muda itu sama sekali tidak berjalan masuk, ia cuma ber-teriak2 diluar halaman.

"Nona Si! Nona Si!" "Ada urusan apa?"

"Ada serombongan orang Bulim datang dari tempat kejauhan untuk menggabungkan diri dengan perserikatan Bu Tek Beng kita sedangkan Bengcu tak mungkin bisa temui mereka, ia minta kau yang menyelenggarakan pertemuan ini."

"Minta aku yang temui mereka?" seru Si Soat Ang dengan jantung berdebar keras.

"Tentu saja. apabila Bengcu tak bisa hadir sudah tentu kedudukannya harus diwakili dirimu sebagai wakil Bengcu dan Thian Tong Tongcu!"

"Baik, perintahkan mereka untuk temui aku di ruang tengah, disamping itu perlu tata cara apa saja bagi seorang Bengcu untuk temui tamunya aku sama sekali tidak tahu, harap kau siapkan dahulu segala keperluannya, aku segera menyusul kesitu."

Tonghong Loei mengiakan dan segera berlalu.

Sepeninggalnya anak muda itu, buru2 Si Soat Ang suruh dayangnya untuk membantu ia berdandan, tidak lama kemudian dari tempat luaran terdengar irama musik bergema memenuhi angkasa.

Lalu disusul tambur dibunyikan ber-talu2, makin lama semakin keras dan semakin cepat sehingga kedengarannya amat mengerikan sekali disusul seseorang berteriak lantang.

"Harap wakil Bengcu munculkan diri?" Teriakan itu lantang, keras penuh tenaga jelas menunjukkan bahwa orang itu adalah seorang jago lihay yang memiliki ilmu silat sangat lihay.

Dengan penuh kegembiraan Si Soat Ang berjalan keluar, ketika ia keluar dari halaman, seekor kuda jempolan segera menghampiri dirinya, Tonghong Loei dengan cepat loncat turun dari atas kuda dan jatuhkan diri berlutut dihadapannya

"Menghunjuk hormat kepada wakil Bengcu!" serunya. Sejak itu Si Soat Ang hampir saja diperkosa oleh

Tonghong Loei sewaktu ada diluar perbatasan, gadis ini menaruh rasa tidak senang kepada pemuda tersebut, tapi sekarang setelah menyaksikan para jago dari perkampungan Jiet Gwat Cung berbaris rapi dikedua belah sisinya dan segera tundukan kepala ketika ia berjalan keluar, hatinya merasa amat gembira sekali. Menanti Tonghong Loei melakukan penghormatan besar ia semakin kegirangan.

Namun dalam hatipun merasa kurang leluasa buru2 ia berbisik lirih.

"Kita adalah orang sendiri, apa gunanya ber macam begitu ??"

Tonghong Loei adalah manusia cerdik, dari ucapan Si Soat Ang barusan ia mengerti bahwa rasa benci dan tidak senang gadis tersebut kepadanya sudah lenyap sama sekali, sambil tertawa ia lantas bangun berdiri dan menjawab: "Menurut adat kesopanan kita harus berbuat demikian, tak boleh tidak tata cara harus di turuti."

Setelah Tonghong Loei bangun berdiri para jago sekitar tiga ratus orang yang berdiri dikedua belah sisipun sama2 berseru.

"Menghunjuk hormat kepada Wakil Bengcu."

Seperti halnya sianak muda tadi, seraya berseru tiga ratus orang jago lihay itu sama2 jatuhkan diri berlutut keatas tanah.

Haruslah diketahui tiga ratus orang yang hadir saat ini merupakan jago2 lihay dari perkampungan Jiet-Gwat-Cung semua, tentu saja jumlah anggota perkampungan itu lebih dari tiga ratus orang, tetapi disanapun berlaku satu peraturan aneh.

Bagi para jago yang berkepandaian tidak tinggi dan kedudukanpun tidak tinggi maka mereka sama sekali tidak berhak untuk ikut serta dalam penyambutan macam begini, dus berarti tiga ratus orang yang hadir saat ini rata2 memiliki ilmu silat yang lihay dan masuk hitungan.

Bisa dibayangkan betapa dahsyat dan luar biasanya seruan dari ketiga ratus orang itu secara serentak.

"Kalian semua tak usah banyak adat !" Sahut Si Soat Ang dengan suara keren dan berat.

Dalam ucapan barusan inipun ia telah saluri hawa murni yang amat hebat bukan saja suaranya nyaring, lantang dan memekikkan telinga, bahkan jauh berkumandang entah mencapai mana saja.

Mula2 diantara para jago yang hadir saat ini, ada yang merasa tidak puas ketika menyaksikan wakil bengcu dari perserikatan Boe Tek Beng mereka adalah seorang gadis muda belia.

Tapi sekarang setelah mendengar seruan yang begitu lantang mereka baru terperanjat mereka sadar apabila tenaga dalam seseorang belum berhasil mencapai puncak kesempurnaan maka tidak mungkin ia bisa mengeluarkan suara yang begitu mengejutkan.

"Terima kasih wakil Bengcu !" kembali orang2 itu berseru.

Menanti para jago sudah bangun berdiri, Tonghong Loei baru maju selangkah kedepan sambil berkata.

"Lapor Wakil Bengcu, saat ini ada empat puluh tujuh orang sahabat Bu-lim yang datang dari delapan penjuru terdiri dari pelbagai partai dan perguruan hendak ikut serta dalam perserikatan Boe-Tek-Beng kita, harap Wakil Bengcu suka menyelenggarakan penerimaan ini"

"Ehmm harap Tonghong Tongcu suka bawa jalan !"

Tonghong Loei maju selangkah lebih dekat, bisiknya lirih.

"Wakil Bengcu hendak jalan kaki atau naik kuda atau mungkin ingin naik tandu ?"

"Tidak perlu" jawab Si Soat Ang setelah berpikir sebentar "Lebih baik aku berjalan kaki saja bagaimanapun juga masuk berada didalam perkampungan Jiet-Gwat-Cung"

Mendengar keputusan itu Tonghong Loei putar badan dan berseru lantang.

"Wakil Bengcu hendak menghadiri upacara penerimaan ini dengan berjalan kaki."

Irama musik segera bergema kembali memecahkan kesunyian, tiga ratus orang jago Bulim dengan berbaris jadi dua berjalan lebih dahulu didepan membuka jalan disusul Tonghong Loei mempersilahkan Si Soat Ang mengikutinya di belakang lambat2.

Si Soat Ang benar2 kegirangan setengah mati, kepada Tonghong Loei serunya.

"Buat apa kau bersikap banyak adat!"

"Sudah semestinya bertindak begini, coba lihat begitu banyak jago lihay dari pelbagai partai dan perguruan sama2 berkumpul dalam ruangan tersebut, pertemuan besar ini boleh dikata merupakan suatu pertemuan besar yang belum pernah terjadi dalam dunia persilatan !"

"Ehmm ! memang demikian adanya."

oooOdwOooo

BAB 23

”APABlLA jago2 Bu-lim sebanyak ini dikumpulkan jadi satu kemudian kita gunakan untuk menghadapi perguruan serta partai2 yang tak mau tunduk maka usaha kita akan berhasil dengan sangat gampang !"

"Benar, Tak ada partai atau perguruan di kolong langit dewasa ini yang mampu menghadapi serbuan kita !"

"Untuk beberapa waktu lamanya Bengcu serta Toako tak mungkin bisa munculkan diri, sekalipun racun yang mengeram dalam tubuh Toako berhasil dilenyapkan, ilmu silat Bengcu pun tak mungkin bisa pulih seperti sedia kala, aku lihat tugas berat untuk menundukkan partai2 yang tak mau bergabung terpaksa jatuh ketangan Wakil Bengcu !"

Ucapan ini membuat Si Soat Ang terkesiap, tapi tanpa berpikir panjang ia mengangguk. "Sudah tentu !".

"Menurut Bengcu semula..." ujar Tonghong Loei lebih jauh dengan hati gembira. "Tidak usah kita lakukan pembunuhan secara besar2an asalkan ciangbunjin partai tersebut kita bunuh kemudian kita tempatkan jago lihay kita untuk menguasai perguruan tersebut, dengan gampang partai itu akan kita tundukkan, entah bagaimana menurut pendapat Wakil Bengcu ?".

"Suatu idee yang sangat bagus, dengan adanya kau sebagai penyusun rencana aku rasa tidak bakal salah lagi !".

"Aaai      wakil Bengcu terlalu memuji !".

Dalam pada itu mereka telah tiba di depan ruang tengah, cahaya emas berkilauan memenuhi seluruh penjuru, dalam ruangan telah penuh berdiri jago2 kangouw.

Di bawah Tonghong Loei sebagai penunjuk jalan, Si Soat Ang berjalan masuk ke dalam ruangan, ketika itu ada empat lima puluh orang duduk menanti disitu, menyaksikan gadis tersebut berjalan masuk mereka sama2 bangun berdiri.

Si Soat Ang, langsung menuju keujung ruang tengah tersebut, dimana diantara dua tonggak tergantung sebuah papan nama yang bertulisan, Tiada tandingan dikolong langit.

Akhirnya sampailah gadis itu didepan kursi berlapiskan kulit harimau, Si Soat Ang tertegun dan ragu2 untuk mendudukinya, sebab ia tahu kursi inilah merupakan tempat duduk Bengcu.

Agaknya Tonghong Loei dapat menebak isi hatinya, ia segera berseru. "Wakil Bengcu, sekarang kau sedang mewakili bengcu untuk menerima para rekan Bulim untuk menggabungkan diri dalam perserikatan ini, tentu saja kau harus duduk dikursi utama."

Si Soat Ang mengangguk dengan gagah ia lalu duduk dikursi Bengcu tersebut.

Baru saja ia duduk, empat puluh orang yang ada dalam ruangan itu sama2 jatuhkan diri berlutut dan menyebutkan nama masing2, untuk sesaat gadis itu tak sanggup mengingat begitu banyak nama, ia hanya mengangguk tiada hentinya.

Seorang jago muncul dengan membawa selembar kain sutera orang-orang itupun segera mencantumkan sama sendiri diatas kain tadi, setelah itu dengan suara lantang Tong-hong Loei membacakan peraturan perserikatan.

Menanti semuanya telah selesai, irama musik berbunyi kembali dan Tonghong Loei berseru.

"Silahkan Hu Bengcu mengundurkan diri!"

Para jago sama2 bangun berdiri memberi hormat, dibawah bimbingan Tonghong Loei lambat2 Si Soat Ang berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Menanti hampir tiba dihalaman kediamannya, Si Soat Ang baru bisa menghembuskan napas panjang.

"Oouw sungguh tidak gampang jadi seorang wakil Bengcu!" serunya.

"Bukan Wakil Bengcu amat cantik jelita bahkan agung dan punya wibawa besar, dari kisikan para jago hamba dengar sebagian besar sama2 merasa kagum kepada diri wakil Bengcu."

Si Soat Ang tertawa. "Ditempat ini cuma ada kau dan aku, apa gunanya sih kau masih pakai segala istilah Wakil Bengcu dan hamba segala...?" serunya.

Tonghong Loei pun tertawa.

"Ruangan di sini terlalu sempit, aku sedang perintahkan orang untuk siapkan sebuah halaman yang jauh lebih besar tetapi belum selesai disiapkan, harap kau beristirahat dulu disini, nanti akan kubawa beberapa orang jago untuk berunding langkah kita selanjutnya."

"Baik ! Baik !"

Menanti Si Soat Ang telah masuk kedalam halaman, Tonghong Loei pun segera mengundurkan diri.

Sianak muda itu tidak kembali kekamarnya tapi menuju kesebuah halaman lain, sambil mendorong sebuah pintu sapanya.

"Tia apakah kau ada di sana ?"

"Bagaimana ?" tanya Tonghong Pacu sambil munculkan diri.

"Semuanya berjalan dengan lancar ayah, bukankah ayah sedang mengobati toako ? mana boleh kau tinggalkan dirinya ?"

"Aku punya caraku sendiri untuk bertindak apakah kau hendak memberi pelajaran kepada ku ?" tegur Tonghong Pacu dengan wajah membesi.

Walaupun dalam hati Tong hong Loei menaruh curiga, tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau Tonghong Pek sebenarnya sama sekali tidak keracunan, dan iapun tak pernah menyangka kalau Tonghong Pacu sama sekali tidak keluar tenaga barang sedikit pun untuk mendesak keluar racun dari tubuh si anak muda itu, ia hanya menotok jalan darah tidurnya agar Tonghong Pek selalu berada dalam keadaan tidak sadar dan sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi.

Dalam pada itu menyaksikan air muka Tong hong Pacu berubah hebat, Tonghong Loei tak berani banyak suara lagi, ia bungkam dalam seribu bahasa.

"Apakah ia sudah setuju untuk membawa orang memusuhi para jago dari partai2 yang belum mau takluk ?" tanya Tonghong Pacu.

"Aku ajukan usul tersebut dikala ia sedang merasa amat gembira dan ia menyetujui usul tadi"

"Bagus...bagus sekali kalau begitu suruhlah dia bawa orang untuk menghadapi kuil Sauw-lim si lebih dahulu" seru gembong iblis itu kegirangan, "Asal kuil Sauw-lim Si sudah jebol maka berarti iapun sudah terjerumus kedalam air keruh ini, sekalipun ingin meloncat keluar juga tak bakal bisa !"

Ucapan tersebut membuat Tonghong Loei kerutkan alisnya rapat2, tak sepatah katapun diucapkan.

"Apa yang sedang kau pikirkan ?" tegur Tonghong Pacu, ”Apakah kau ingin tinggalkan perkampungan Jiet-Gwat- Cung ?"

Tonghong Loei tertawa getir.

"Ayah aku ada sepatah kata hendak diutarakan kepada mu"

Agaknya Tonghong Pacu sudah mengerti apa yang hendak dikatakan putranya, dengan nada tidak senang ia menegur dingin.

"Apa yang ingin kau katakan ?" "Tia tahukah kau bahwa hubungan toako dengan nona Si sangat akrab ?"

"Aku bukan orang buta, kau anggap aku tidak mengerti

?"

"Seandainya Toako tahu bahwa nona Si membawa jago

untuk menyerang partai2 besar, ia pasti akan tidak senang hati"

"Hmm ! Bukankah Si Soat Ang suka berangkat sendiri ? apa aku yang paksa ia berbuat demikian ? sebenarnya itu urusanku, tapi sekarang siang malam aku harus berusaha untuk memaksa keluar racun yang mengeram dalam tubuhnya darimana aku bisa tinggalkan perkampungan Jiet- Gwat-Cung !"

Tonghong Loei tahu apa yang dikatakan ayahnya cuma alasan belaka, tujuan paling utama dari gembong iblis itu bukan lain adalah menyeret Si Soat Ang terjun keair keruh, agar ia tak dapat cuci tangan lagi dari noda tersebut meski demikian, ia pun tak bisa membantah ucapan ayahnya maka ia hanya bisa menghela napas belaka.

"Apakah kau punya persoalan lain lagi?" tanya Tonghong Pacu.

"Sudah tidak ada lagi."

"Bagus sekali, kalau begitu kita tetapkan tanggal serta hari pemberangkatan seperti rencana semula, tiga hari kemudian kau serta Si Soat Ang bawalah jago2 lihay yang ada dalam perkampungan menuju kekuil Suuw-lim Si, apabila sepanjang jalan ada yang berharga untuk dihadapi, serbu sekalian dan tundukkan mereka, menanti kuil Siauw- lim Si berhasil diserbu, kita bakar kuil itu.

Dengan berbuat demikian, aku rasa kita tak usah banyak bertingkah lagi dalam dunia persilatan, nama besar perserikatan Boe Tek Beng pasti akan menggetarkan seluruh kolong langit!"

"Ayahku! Siauw lim terdiri dari tujuh puluh dua ruangan, tetapi di ruang belakang banyak hidup padri2 lihay, ilmu silat mereka luar biasa sekali dan entah berapa banyak jago Bu-lim yang bersembunyi dalam kuil tersebut, usaha kita kali ini dapatkah berjalan dengan lancar ?".

"Semua tindakan biar Soat Ang seorang yang hadapi." tukas Tonghong Pacu seraya ulapkan tangannya . "Mulai detik ini, menjumpai persoalan apapun tak usah kau tanyakan kepadaku, rundingkan saja dengan Si Soat Ang aku tidak akan temui dirimu lagi, mengerti ?"

Tonghong Loei mengiakan berulang kali dan segera mengundurkan diri.

Sepeninggalnya Tonghong Loei, Tonghong Pacu segera masuk kedalam kamarnya, tiba didepan sebuah kursi, ia memencet sebuah tombol dan terbukalah sebuah pintu rahasia diatas dinding, dilain balik dinding terletak sebuah ruangan rahasia dan Tonghong Pek tertidur nyenyak dalam ruangan tersebut.

Tonghong Pacu tak kuat menahan diri lalu terbahak2. setelah menutup kembali pintu rahasia tersebut segera duduk bersemedi

Sementara itu Tonghong Loei berlalu dengan hati berat dan pikiran kalut sekali.

Setelah berselang sewaktu ia dikejar Hiat-Goan-Sin-Koen serta Si Thay sian-seng sehingga tak ada jalan keluar, tiba2 mengetahui bahwa ayahnya adalah Tonghong Pacu, betapa girangnya pada saat itu. Tapi setahun kemudian rasa girang makin lama makin luntur dan hingga saat ini boleh dikata sudah tak ada rasa senang lagi dalam hatinya.

Sebab ia merasa orang2 yang berada sama2 Tonghong Pacu tidak lain hanya alatnya belaka, segala persoalan yang telah ditetapkan gembong iblis itu tak mungkin bisa dibantah orang lain.

Tonghong Pacu mengatakan ketimur tak ada yang berani kebarat, meskipun ia adalah putranya namun sama sekali tak ada kemesraan antara ayah dan anak. Tonghong Loei merasa dirinya bagaikan sebuah patung kayu belaka.

Dan kini, walaupun ia tahu ayahnya kembali susun rencana untuk menjerumuskan Si Soat Ang serta Tonghong Pek, namun ia tak berdaya sama sekali kecuali menurut.

Demikianlah dua hari ber-turut2 seluruh orang yang ada dalam perkampungan Jiet-Gwat-Cung sama2 perketat latihannya, kuda2 jempolanpun mulai dikumpulkan dari berbagai tempat hingga jumlahnya ribuan lebih.

Untuk menghindari keadaan menyolok, dua hari sebelum pemberangkatan lebih dahulu ber puluh2 rombongan untuk menanti mereka di sekitar kuil Siauw- lim.

Ketika hari ketiga telah tiba, fajar baru saja menyingsing diiringi suara gemuruh pasukan induk perkampungan Jiet Gwat Cung pun mulai bergerak meninggalkan perkampungan menuju ke kuil Siauw-lim.

Pada barisan belakang para jago itu mengikuti Tonghong Loei serta Si Chen, disusul Si Soat Ang paling belakang dengan menunggang kuda putih dan pelana emas. Dibelakang Si Soat Ang mengikuti tiga orang lelaki kekar masing2 membawa sebuah bendera yang besar yang bertulisan Boe Tek Beng tiga patah kata dari emas.

Menyaksikan seram dan agungnya dia dalam rombongan tersebut, Si Soat Ang merasa sangat bangga terdengar ia berseru.

"Tonghong Tongcu!"

Teguran itu segera disusul dengan berhentinya Tonghong Loei seraya berpaling ia bertanya.

"Nona Si ada urusan apa?"

"Tonghong Tongcu, apa yang dikatakan oleh rombongan yang berangkat lebih dahulu dalam suratnya lewat burung merpati!"

"Semuanya berjalan lancar."

"Coba kau lihat keangkeran kita, walaupun kuil Siauw- lim Si sudah tersohor selama ribuan tahun dalam dunia persilatan mungkin ia tidak berani bergerak melawan kita benar tidak ?"

"Hal ini sulit diramalkan, nona Si ada satu persoalan aku hendak utarakan kepadamu!"

"Urusan apa?"

"Coba pikirlah apakah toako suka melihat kau.. kau membawa orang menyerbu kuil Siau lim Si?"

Si Soat Ang seketika itu juga tertegun mendengar perkataan tersebut, air mukanya berubah hebat.

Menyaksikan perubahan   itu   Tonghong Loei sangat terperanjat, buru2 sambil tertawa paksa ujarnya kembali.

"Aku hanya bicara sembarangan, harap kau jangan marah atau merasa tersinggung." "Aku sama sekali tidak ada maksud untuk menyalahkan dirimu." sahut Si Soat Ang seraya geleng kepala, "Aku hanya sedang berpikir bahwa ucapanmu sedikitpun tidak salah, aku .. aku ketika ia tahu aku tetap tinggal dalam perkampungan Jiet Gwat Cung untuk jadi wakil Bengcu pun ia sudah tidak senang hati, apalagi kalau ia tahu bahwa aku . ."

Berbicara sampai disini Si Soat Ang tiba2 berhenti, alisnya berkerut kencang.

Beberapa saat suasana hening, akhirnya ia menghela napas panjang.

"Aaai . . . aku sadar bahwa ia tentu tidak senang hati, tetapi . . . . tetapi seandainya Bengcu berhasil mendesak keluar racun yang mengeram didalam tubuhnya sampai saatnya ia pasti . . . pasti bisa berobah pendapat !"

Gadis ini sadar bahwa watak Tonghong Pek sangat keras, tidak gampang sianak muda tersebut berubah pendapat, maka ucapan terakhir diutarakan dengan hati tidak yakin.

"Semoga saja demikian adanya." sambung Tonghong Loei cepat.

"la sangat baik terhadapku suka mengorbankan diri demi menolong jiwaku ini, aku pikir kaku urusan sudah selesai sekalipun dalam hati ia tidak senang hati, iapun tak dapat berbuat apa2 terhadap diriku !"

"Aku rasa.. dia mungkin bisa berbuat demikian."

Perjalanan dilanjutkan kembali sepanjang perjalanan tidak dijumpai rintangan dan semua berjalan lancar, ketika senja menjelang tiba, beristirahatlah mereka disebuah perkampungan yang sangat besar. Ketua perkampungan adalah seorang Bu-lim, mula2 ia tidak sudi menggabungkan diri dalam perserikatan Boe-Tek- Beng tersebut, tapi setelah menyaksikan besarnya kekuatan lawan terpaksa ia buka pintu dan menyambut kedatangan rombongan itu.

Begitulah sepanjang beberapa hari mereka sudah melanjutkan perjalanan entah berapa jauh, sepanjang jalan tak ada yang berani merintangi mereka, mereka yang takut segera datang menyambut dan mereka yang tak sudi berjumpa sama2 melarikan diri tinggalkan perguruan mereka dalam keadaan kosong.

Disamping itu banyak pula diantara jago2 Bu-lim yang menggabungkan diri ditengah jalan, maka dari itu ketika tiba dikaki gunung Siong-san, rombongan yang semula berjumlah tiga ratus orang telah meningkat jadi lima ratus orang.

Suatu siang sampailah rombongan itu didepan mulut lembah menuju ke kuil Siauw-lim, di sisi jalan tersebut terdapat sebuah batu nisan yang amat besar.

Pada saat itulah di-sisi batu tersebut duduk bersila seorang padri tua, ia duduk ditengah persis menghalangi jalan pergi rombongan tersebut.

Menjumpai rintangan itu, rombongan didepan segera berhenti dan melaporkan kejadian ini kepada Soat Ang.

Mendengar laporan itu, Si Soat Ang dengan membawa Tonghong Loei serta Si Chen segera maju kedepan.

Setibanya disana, sambil tertawa dingin gadis itu segera menegur:

"Thaysu, kau hendak menghalangi perjalanan kami dengan andalkan kekuatan kau seorang belaka ?" Per-lahan2 padri tua itu buka matanya dan menatap wajah gadis itu dengan sinar mata sayu, sama sekali tidak mirip seorang tokoh sakti yang memiliki tenaga dalam yang sempurna.

Mula2 Si Soat Ang mengira padri tersebut tentu seorang padri lihay dari kuil Siauw-lim tapi sekarang setelah menyaksikan sinar matanya yang sayu, ia jadi geli bercampur mendongkol segera bentaknya.

"Gotong padri tua ini dan singkirkan dari sana !" Kedudukan Si Soat Ang pada saat ini sangat tinggi,

perintahnya segera dilaksanakan dengan cepat, tampak belasan orang munculkan diri dengan gerakan amat cepat.

"Seorang saja sudah cukup !" tegur Si Soat Ang kembali dengan alis berkerut.

Bentakan ini segera menghentikan jago2 lain, hanya seorang saja diantaranya meneruskan gerakannya menghampiri padri tua itu.

Seraya mencengkeram tubuh padri tersebut jengeknya. "Toa suhu, anjing yang baik tidak akan menghalangi

jalanan, maaf aku bertindak lancang!"

Seraya berseru ia cengkeram baju hweesio itu dan sekuat tenaga diangkat keatas.

Semua orang kenali jago yang sedang menghadapi padri tersebut sebagai jago kelas wahid dari kalangan sesat siawan hitam Liuw Goan, ilmu silatnya sangat lihay dan semua orang yakin hweesio tadi pasti akan terlempar kesisi jalan.

Siapa sangka kejadian diluar dugaan telah berlangsung didepan mata, sewaktu orang itu menggerakkan tangannya, tiba2 hweesio tua itu menghela napas panjang, bukan sang padri itu yang terangkat sebaliknya lelaki itu sendiri yang menjerit aneh, sambil lepas tangan badannya mundur kebelakang dengan sempoyongan.

Setelah itu badannya roboh terjengkang ke atas tanah, muntah darah dan menggeletak dengan badan lemas.

Kejadian ini benar2 menggemparkan, siapa pun tidak tahu bagaimana bisa terjadi begini, bahkan para jago kelas satu yang banyak pengalaman dan memenuhi tempat itupun tak tahu apa sebab jagoan she Liuw tersebut bisa digetarkan sampai mundur ke belakang suasana jadi hening dan sunyi tak kedengaran sedikit suarapun.

Beberapa saat kemudian muncul dua orang mendekati orang she Liuw tadi, tapi dengan cepat mereka meloncat bangun dengan wajah berubah.

"Hu Bengcu, ia sudah mati !" serunya hampir berbareng.

Sejak semula Si Soat Ang sudah tahu kalau Liuw Goan telah mati jantungnya terasa berdebar sangat keras.

Haruslah diketahui meskipun ilmu silat yang ia miliki sangat lihay namun pengetahuannya amat cetek, ia tak dapat menebak asal usul dari padri tua itu.

Dengan cepat Si Soat Ang berpaling namun sianak muda itupun geleng kepala tanda iapun tak dapat menebak asal usul padri tua itu.

Dalam pada itu padri tersebut tetap duduk tak berkutik ditempat semula sedang jenasah Liuw Goan sudah digotong pergi.

Bagaimanapun juga Si Soat Ang adalah Wakil Bengcu dari perserikatan Boe-Tek-Beng ia merasa kurang leluasa untuk turun tangan sendiri sebelum mengajak kuil Sauw-lim Si maka ia segera membentak rendah, mengikuti bentakkan tersebut muncul tujuh orang yang segera mengurung padri itu.

Kematian rekan mereka memberi pelajaran kepada ke tujuh orang ini untuk tidak bertindak secara gegabah, senjata tajam segera diloloskan dari sarung sambil menantikan perubahan dari padri tersebut.

Namun padri itu tetap duduk tak berkutik, lama kelamaan ketujuh orang jago itu tak dapat menahan sabar lagi, salah seorang diantaranya membentak keras, pergelangan bergetar senjata cakar terbang yang ada dalam cekalannya segera menyambar ke-atas batok kepala hwesio itu.

Senjata tersebut mirip dengan tangan manusia dengan lima jari yang runcing seperti kaitan di ujung senjata tersebut dihubungkan dengan seutas rantai emas, ketika menyambar ke depan cepatnya luar biasa dalam sekejap mata senjata tadi sudah mengancam diatas batok kepala hweesio tersebut.

Namun padri tua itu tetap tak berkutik.

Si Soat Ang serta Tonghong Loei jadi keheranan melihat sikap tenang tersebut, mereka tak tahu dengan cara apakah padri tua itu hendak menghadapi datangnya ancaman.

Sementara semua orang masih berpikir dengan hati ragu2 terdengar suara nyaring bergema diangkasa, senjata cakar terbang itu sudah bersarang diatas batok kepala padri tua itu dengan telak.

Jago yang bersenjata cakar terbang itu jadi kegirangan buru2 tangannya digetarkan untuk tarik senjatanya kebelakang, ia menyangka serangan ini pasti akan berhasil menghancurkan batok kepala musuhnya. Siapa sangka ketika senjata cakar terbangnya digetar ke belakang, batok kepala sang padri yang gundul sama sekali tidak terluka barang sedikitpun juga.

Kejadian ini membuat semua orang tercengang sampai Si Soat Ang serta Tonghong Loei pun berubah wajah, ilmu sakti apakah itu ?

Orang yang bersenjata cakar terbang itu bergelar Hwie- Jiauw-Ong, sudah lama ia menggetarkan sekitar daratan Tionggoan terutama senjatanya yang luar biasa itu, jangan dikata batok kepala meskipun batang pohon yang besar pun bakal hancur apabila tersambar senjata tersebut.

Tapi saat ini senjatanya sama sekali tidak mendatangkan hasil, kulit kepala hweesio tua itu sama sekali tidak lecet atau terluka barang sedikitpun oleh sambaran senjatanya, hal ini menunjukkan betapa sempurnanya tenaga lweekang yang ia miliki.

Bukan saja peristiwa itu mengejutkan Si Soat Ang berdua, orang lainpun sama2 dibikin tercengang, kaget dan tidak habis mengerti.

Dalam pada itu seandainya Hwie-Jiauw-Ong mengerti gelagat dan segera mengundurkan diri mungkin tak akan menemui kejadian apa2 justru ia terlalu bernapsu, melihat serangannya gagal ia mengira terlalu lemah tenaga yang di salurkan maka ia membentak, tangannya bergeletar dan senjata cakar itupun menyambar kembali keatas batok kepala padri tersebut diiringi desiran angin tajam.

Menanti senjata itu untuk kedua kakinya, bersarang telak diatas batok kepala padri itu, sang hweesio tersebut baru menghela napas panjang.

Seraya menyambar dan mencengkeram senjata cakar terbang itu ujarnya lambat2: "Siancay ! Siancay! serangan pertama gagal kau lanjutkan dengan serangan berikutnya, perbuatanmu ini menunjukkan betapa keji dan telengas hatimu, sudah tahu salah masih belum juga menyesal... aai ! entah berapa jiwa sudah melayang di ujung senjatamu ini, mereka yang beriman mendapat balasan yang baik mereka yang jahat mendapat balasan yang setimpal, ini hari ajalmu tiba !"

Suara hweesio itu amat halus dan lunak di tengah ketulusan terselip keagungan dan kekerenan, membuat setiap orang bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri.

Begitu selesai bicara padri itu lambat2 mengendorkan kelima jarinya, senjata cakar terbang itu laksana kilat segera menyambar ke arah batok kepala Hwie Jiauw-Ong, kecepatannya luar biasa sekali.

Hwie-Jiauw-Ong berteriak keras, buru2 lengannya digetar kedepan berusaha untuk memusnahkan datangnya terjangan senjata tersebut ke arah muka sendiri.

Sejak kecil ia berlatih main senjata cakar terbang, boleh dikata setiap gerakan tersebut sudah dikuasai dengan sempurna, tapi pada saat ini dia tak sanggup menguasai diri, ia merasakan adanya segulung tenaga yang maha dahsyat menerjang datang dan langsung meluncur ke tubuhnya.

Hwie-Jiauw-Ong jadi sangat terperanjat, ia sadar keadaan tidak menguntungkan, sementara siap membuang senjata tersebut untuk menghindar keadaan sudah terlambat.

Diiringi jeritan tajam ia menjerit ngeri, suaranya tinggi, seram dan menyayatkan hati. Senjata cakar terbang telah balik dan dalam2 menembusi wajah Hwie-Jiauw ong, keadaan orang itu jadi sangat mengerikan sekali.

Hwie-Jiauw-Ong menggerakkan sepasang telapaknya kesana kemari, akhirnya ia berhasil mencekal rantai senjatanya dan sekuat tenaga dicabut keluar.

"Bress" senjata cakar terbang tadi segera tercabut keluar dari atas wajahnya, darah segar segera menyembur membasahi seluruh permukaan tanah, membuat setiap orang memandang dengan mata membelalak mulut melongo.

Setelah senjatanya tercabut keluar, Hwie-Jiauw-Ong mundur ke belakang dengan sempoyongan dan akhirnya roboh dan binasa seketika itu juga.

Menyaksikan peristiwa yang mengerikan ini, tiga ratus orang jago sama2 membungkam dalam seribu bahasa.

Terdengar padri tua itu berkata kembali.

"Siancay ! Siancay ! Samudra kesengsaraan tak bertepi, berpalinglah ke tepian, janganlah berbuat menyalahi kebajikan sehingga mencari kebinasaan buat diri sendiri. Bertobatlah kalian semua..."

Beberapa patah kata dari padri itu mendatangkan perasaan bergidik dari semua orang, untuk sesaat semua orang sama2 berpaling ke arah Si Soat Ang serta Tonghong Loei.

Ketika itu Si Soat Ang sendiripun merasa serba salah, ia sadar walaupun padri itu kelihatannya tidak menyolok, namun dalam kenyataan ilmu silatnya benar2 lihay dan tidak berada dibawah kepandaian Tonghong Pacu. "Thaysu sungguh lihay ilmu silatmu" jengek Si Soat Ang sambil tertawa dingin, perlahan2 ia enjot badannya dengan suatu gerakan yang sangat indah, badannya berjumpalitan ditengah udara kemudian melayang keatas tanah tanpa menimbulkan sedikit suarapun, begitu indah gerakannya membuat para jago sama2 bersorak memuji.

Kiranya gadis itu sadar bahwa para jago sudah di bikin keder oleh ilmu silat sang padri tua yang luar biasa itu, saat ini hanya ia sendiri yang sanggup menghadapi orang itu, maka iapun segera turun dari kudanya.

Ditengah sorak sorai memuji yang gegap gempita, Padri yang bergelar Boe Wuo Coen Cu tersebut tetap duduk tak berkutik ditempat semula, sepasang matanya dipejamkan rapat2, seakan2 ia tidak mendengar dan melihat sesuatu apapun dihadapannya.

Si Soat Ang melayang keatas tanah kurang lebih dua tombak dari hadapan padri tua itu, ia berdehem lalu menegur dingin.

"Sejak dahulu perserikatan Boe Tek Beng sudah kirim berita kepada pihak kuil Siauw-lim Si, mengapa pihak kalian sama sekali tidak membalas surat pemberitahuan kami?"

"Isi kuil Siauw-lim Si kami adalah kaum pendeta yang telah melepaskan diri dari urusan keduniawian, kami tidak suka mencari nama dan kedudukan dengan orang luar, dan tidak tahu pula apa yang dimaksudkan dengan perserikatan Boe Tek Beng itu, apa yang li-sicu ucapkan pinceng sama sekali tidak mengerti." kata Boe Wuo Coen Cu sambil tetap pejamkan matanya.

Diam2 Si Soat Ang salurkan hawa murni nya mengelilingi seluruh badan, lalu maju lima langkah kedepan ujarnya kembali. "Sekarang, bukankah kau sudah melihat sendiri ? seluruh jago Bu-lim yang berkumpul di sini sekarang adalah anggota dari Perserikatan Boe-Tek-Beng, kedatangan kita kali ini adalah hendak mengajak Hong-tiang partai Siauw- lim untuk ikut serta didalam perserikatan ini !".

"Tadi pinceng kan sudah berkata, pihak Siauw-lim sama sekali tak mau ikut campur didalam urusan keduniawian, apa lagi mengenai kedudukan dan perebutan nama !"

"Hmm ! perkataanmu tak termasuk dalam hitungan, ayo menyingkir, aku hendak bertemu dengan Hong tiang partai Siauw-lim kalian." bentak Si Soat Ang.

Sembari berseru kelima jarinya dipentingkan lebar2 kemudian menyambar ke depan.

Pada saat ini Si Soat Ang masih berada tujuh delapan depa dihadapan padri tua itu, menurut keadaan semestinya untuk melancarkan serangan itu agar bersarang telak di tubuh lawan, ia harus menyertakan tubrukan badannya kedepan. Tetapi dalam melancarkan serangan itu, Si Soat Ang sama sekali tak berkutik, bahkan maju selangkahpun tidak.

Si Soat Ang sendiripun sadar tidak mungkin ia berhasil menangkan lawannya cuma dalam sejurus belaka, maka dalam serangannya ini tidak lain ia hanya ingin menjajal sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimiliki lawan.

Sreet., ! Sreet., ! Sreet l diiringi desiran angin tajam serangan tersebut menggulung ke depan memaksa sang padri tua yang semula duduk terpaksa harus meloncat bangun.

Serangan yang semula diancam keatas batok kepala padri itu, dengan gerakan tersebut maka arah sasaranpun berbeda, dari kepala berubah jadi dada, lima jari gadis itu diiringi desiran angin tajam langsung menghajar jalan darah penting diatas dadanya.

Dengan sebat padri itu menyingkir ke samping, ujung bajunya diayun kedepan melepaskan sebuah serangan dahsyat.

Namun sayang gerakan si hweesio itu terlambat selangkah, ketika ia sedang kebaskan ujung bajunya kelima gulung serangan jari gadis itu sudah menyerbu datang..diiringi bentrokan dahsyat muncul lima buah lubang kecil diatas jubah lhasa padri itu.

Boe Wuo Coe Cu sama sekali tidak gentar, ia teruskan kebasannya kedepan, pada saat itulah Si Soat Ang putar telapak kirinya mengirim satu pukulan lagi.

Brak dua gulung hawa pukulan yang maha dahsyat saling membentur ditengah angkasa menimbulkan ledakan keras pasir debu sama2 be terbangan memenuhi angkasa.

Dalam bentrokan tersebut diam2 Si Soat Ang merasa terkejut, ia sadar padri itu pasti bukan seorang hweesio biasa, ilmu silatnya amat lihay ia sadar bila usahanya untuk menundukkan partai Siauw-lim ingin berhasil maka satu2 nya jalan adalah robohkan padri ini dahulu.

Karena punya pikiran demikian, maka badannya segera menubruk kembali kedepan dengan hebatnya, setelah bentrokan tersebut cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa serentetan desiran angin tajam telah membabat kepala hweesio itu.

Gerakan dari gadis itu benar2 sungguh cepat, entah sejak kapan tahu2 ditangannya sudah bertambah dengan sebilah pedang pendek yang aneh sekali bentuknya itu, dari desiran tajam yang dipancarkan bisa diterka betapa tajamnya senjata tersebut. Boe Wuo Coen Cu dengan cepat meloncat mundur selangkah kebelakang ujung baju di ayun kemuka, sebagian untuk melindungi wajah sendiri dan sebagian digunakan untuk menggulung senjata tersebut.

Sungguh dahsyat gulungan itu sebelum Si Soat Ang sempat menarik kembali pedangnya tiba2 pergelangan tangan terasa jadi kencang pedang pendek itu sudah tergulung didalam baju.

Diam2 Si Soat Ang sangat terperanjat, buru2 ia meronta pedangnya yang merupakan sebilah pedang mustika itu segera menyambar ke bawah merobek baju hweesio itu dibawah sentakan, lengan yang kurus bagai rantingpun ter bentang didepan mata.

Menyaksikan serangan pedangnya berhasil rebut kedudukan diatas angin, Si Soat Ang kegirangan setengah mati, ia bersuit nyaring tubuhnya bergerak kembali pergelangan berputar dan secara beruntun melancarkan tiga buah serangan.

Boe Wuo Gun Gu sendiripun amat terperanjat ketika menyaksikan ujung bajunya tersambar robek oleh pedang pendek lawan, ia tahu senjata lawan adalah sebilah senjata mustika yang amat tajam, kini mendapat serangan gencar dari gadis tersebut, beruntun ia mundur tiga langkah kebelakang.

Semangat Si Soat Ang makin berkobar, walaupun tiga serangan pertama gagal mengenai sasaran namun ia tahu pihak lawan sudah terdesak hebat. serangan keempat dilepaskan, kali ini serangannya jauh lebih hebat dan ganas.

Dalam pada itu tubuh Boe Wuo Cun Gu sudah terdesak hingga berdempetan dengan batu besar, apabila serangan ini bersarang telak niscaya perutnya bakal robek dan hancur. Disaat yang amat kritis itulah mendadak ia enjotkan dan meloncat keatas.

Criiing . ! disertai desiran tajam dan percikan bunga2 api, babatan pedang Si Soat Ang menyambar diatas batu besar itu hingga muncul sebuah bekas yang sangat dalam lagi nyata.

Babatan ini mengenai sasaran kosong, posisi Si Soat Ang semakin menguntungkan sebab ketika itu Boe Wuo Coen Cu berada diudara, dengan bentuk gerakan lingkaran pedangnya bergerak kedepan menyongsong datangnya tubuh si hweesio itu, dimana ia sedang melayang turun kebawah.

Boe-Wuo-Coen-Cu pun bukan manusia sembarangan, ia sadar apabila badannya melayang turun kebawah niscaya ia bakal celaka.

Tiba2 badannya menyusut keatas diikuti padri itu melentik kembali ke tengah udara kemudian berkelebat dan melayang keatas batu besar tersebut, ilmu meringankan tubuh yang barusan digunakan padri ini disebut "Kiat-kiat- yin-Than hi, suatu ilmu ginkang tingkat paling atas.

Menjumpai ilmu meringankan tubuh sehebat itu, para jago yang hadir disana sama2 berteriak, suasana jadi amat gaduh.

Terdengar diantara para jago ada yang berteriak lantang. "Padri tua itu bukan manusia sembarangan mungkin dia

adalah Hong-tiang dari padri partai Siauw-lim !" Ada pula yang berteriak.

"Hati2, padri tua ini pasti punya asal usul yang luar biasa.". Ditengah jeritan para jago itulah, tubuh Boe Wuo-Coen- Cu sudah melayang dan berhenti di ujung batu besar tersebut.

Si Soat Ang menjengek dingin, ujung kakinya menutul permukaan, iapun meloncat naik keatas batu tersebut.

Siapa sangka ketika ia berada ditengah udara tiba2 Boe- Wuo-Coen-Cu membentak keras.

"Dosa ! Dosa !"

Telapak diayun segulung angin pukulan segera menyambar kedepan menghantam di ujung batu tersebut.

"Braak...!" batuan cadas berhamburan ke angkasa dan sama2 meluncur kearah tubuh Si Soat Ang dimana ia sedang melayang keatas.

Menyaksikan datangnya hamburan batu cadas tersebut, berada di tengah udara Si Soat Ang membentak keras, sepasang lengan diayun berbareng dua gulung angin pukulan segera menggulung keatas.

"Brak Brak.. " batuan itu saling berbentrokan ditengah udara kemudian hancur dan rontok keatas tanah, suasana amat seram, tegang dan luar biasa.

Pada saat ini Si Soat Ang sudah menyadari betapa luar biasanya tenaga dalam yang dimiliki padri itu, ia sadar apabila dirinya melayang naik dari badannya niscaya ia bakal menderita rugi, maka gadis itu segera meloncat naik lewat bekas gempuran batu cadas itu.

Setelah tiba diatas ia maju kedepan menghampiri padri itu, dengan pedang pendeknya sambil menuding pihak lawan ia berseru. "Sebagai anggota Agama Buddha kau telah menghancurkan batu peringatan kaum beragama, tahukah kau apa dosanya ?"

"Demi melenyapkan bencana serta malapetaka, pinceng tidak memikirkan soal dosa atau tidak."

"Hmm ! sayang sekali. meski kau robohkan batu peringatan ini juga tidak akan berhasil menghalangi niatku"

Sambil berseru badannya meloncat kedepan kemudian mengirim sebuah tusukan kilat kedepan.

Boe-Wuo-Coen-Cu tetap berdiri tak berkutik, menanti hawa pedang pihak lawan sudah mengurung seluruh tubuhnya, ia baru membentak, badannya tiba2 merendah kebawah.

Bersamaan dengan merendahnya sang badan, sepasang tangan tiba2 menyambar sebuah batu besar yang beratnya dua ratus kati dan diangkat ketengah udara.

oooOdwOooo

BAB 24

PADA saat itulah serangan pedang dari Si Soat Ang telah menyambar datang . sreet ! ujung pedang pendek itu dengan cepat menembusi batu besar tadi sehingga tinggal gagangnya belaka.

Gerakan si hweesio itu sangat cepat, perubahan yang terjadi diluar dugaan ini sama seka li berada diluar dugaan Si Soat Ang.

Menanti gadis itu sadar keadaan tidak menguntungkan dan siap cabut keluar pedang pendeknya, Padri tua itu sudah mendorong batu besar tadi kearah depan disertai gulungan tenaga yang maha dahsyat. Si Soat Ang merasa terkejut bercampur gusar, tangan kanannya dengan cepat bergeletar dan cabut keluar pedang tadi dari atas batu kemudian tubuhnya meloncat keatas.

Dalam pada itu batu sudah menghantam datang dengan hebatnya, buru2 Si Soat Ang mengeluarkan ilmu bobot seribu untuk melayang turun diikuti badannya merendah, hawa murni segera disalurkan keatas telapak tangannya.

Kejadian itu berlangsung hanya dalam waktu singkat. Brak! sekali lagi telapaknya telah bersarang diatas batu tersebut.

Serangannya kali ini sangat hebat, batu tadi hancur ber- keping2 dan berhamburan keempat penjuru membuat para jago sama2 berseru kaget dan buru2 menghindar ke belakang.

Setelah melemparkan batu pertama, Boe-Wuo-Coen-Cu melemparkan kembali batu kedua. Kali ini datangnya batu cadas itu jauh lebih cepat dari batu pertama, dalam sekejap mata tahu2 sudah tiba didepan mata.

Si Soat Ang gelagapan, buru2 ia tusuk kembali pedangnya untuk menghantam batu itu kali ini ia tak berhasil.

Ia kerahkan tenaganya lebih besar termakan oleh dorongan tenaga murni lawan tubuhnya terdesak mundur dua langkah kebelakang.

Disusul padri itu tiba2 menerjang kedepan sepuluh jarinya dipentangkan lebar2 mencengkram batok kepalanya.

Si Soat Ang merasa terkejut bercampur gusar menyaksikan datangnya serangan, ia gunakan batu cadas tersebut untuk menyambut datangnya serangan lawan, diikuti badannya berputar dan menyingkir ke samping. Ambil kesempatan itulah gadis tersebut telah menyusup kebelakang punggung, buru2 Boe Wuo Cun Cu putar tubuhnya.

Sebenarnya gerakan sang padri itu cukup cepat dan masih sempat untuk lolos dari ancaman, tapi dalam keadaan yang sudah mendendam, dalam hati gadis itu ada niat untuk membinasakan lawannya.

Maka ketika itu putar badan, dara tersebut membentak keras, pedang pendeknya laksana kilat disambit kearah depan.

Boe-Wuo-Coen Cu terperanjat, ia tidak menyangka pihak lawan akan menyambit pedangnya, dalam keadaan tersebut baru saja ia putar badan ujung pedang pendek itu sudah tiba diiganya.

Boe-Wuo Coen-Cu segera ayun tangannya dengan jari tengah serta telunjuk ia jepit pedang pendek ini, inilah ilmu Kiem-Kong-Ci yang lihay dari partai Siauw-lim.

Seandainya pedang pendek itu adalah pedang biasa dengan gampang senjata tersebut bakal terjepit, lain halnya dengan senjata yang di gunakan saat ini, senjata tersebut adalah sebilah pedang mustika yang sangat luar biasa.

Baru saja ia menjepit, pedang itu dengan licin dan dahsyatnya melanjutkan gerakannya kedepan dan tahu2 ujung pedang telah menembusi iganya setengah coen lebih.

Dalam dugaan Si Soat Ang semula serangan yang dilancarkan dengan segenap tenaga ini pasti akan berhasil menembusi dada padri tersebut, siapa sangka serangannya kembali gagal, ujung pedangnya cuma berhasil menembusi setengah coen belaka ke dalam tubuh lawan, ia jadi sangat terperanjat. Dengan air muka berubah hebat serta jantung berdebar keras, badannya mundur tiga empat langkah kebelakang, telapak kanan segera disilangkan didepan dada telapak kiri didorong kemuka siap menantikan perubahan selanjutnya.

Boe-Wu-Cun-Cu tetap berdiri tegak ditempat semula, tangannya yang mencekal digagang pedang pendek itu sama sekali tidak bermaksud untuk mencabutnya keluar, hanya air mukanya tiba2 berubah hebat diikuti badannya mulai mundur kebelakang dengan sempoyongan.

Si Soat Ang tertegun, ia tak tahu apa yang telah terjadi. Lain   halnya   dengan   para   jago   yang hadir   disitu,

pengetahuan mereka lebih luas, menyaksikan keadaan itu

mereka lantas sadar apa sebenarnya yang telah terjadi.

Seketika itu juga ada beberapa orang diantaranya berteriak keras.

"Wakil Bengcu... kiong-hie, kiong-hie, kau berhasil melenyapkan musuh tangguh.".

Si Soat Ang masih tidak mau percaya, sebab ditinjau dari keadaan lawan padri tak terluka serius, ia hanya menderita sedikit luka saja pada iga nya akibat tusukan pedang pendek tersebut.

Sementara Si Soat Ang masih ragu2, tiba2 muncul seorang kakek tua mendekati sisi tubuhnya.

"Hu Bengcu" bisiknya lirih, " ilmu tenaga dalam yang dilatih padri tua ini adalah ilmu berhawa yang, tusukan pedangmu barusan berhasil menembusi jalan darah Khie- Hay-Hiat nya dimana merupakan sumber seluruh hawa murninya, saat ini dia sudah lemah bagaikan lampu kehabisan minyak !" Keterangan ini segera menyadarkan Si Soat Ang, ia baru mendusin apa yang sebenarnya telah terjadi.

Buru2 ia angkat kepala, tampaklah wajah Boe-Wuo- Coen-Cu telah berubah sangat hebat, badannya bergoncang makin keras, akhirnya roboh terjengkang keatas tanah dan tak berkutik lagi.

Si Soat Ang jadi kegirangan setengah mati, ia segera meloncat kedepan dan merebut kembali pedang pendeknya.

Sedangkan Tonghong Loei yang menyaksikan kejadian itu segera berteriak keras:

"Mari kita terjang terus kedalam !"

Seketika itu juga ratusan orang sama2 berteriak keras, kemudian menerjang naik ke atas gunung, suasana jadi gempar dan riuh rendah.

Tidak selang beberapa saat kemudian para jago telah tiba didepan kuil di mana terletak sebuah halaman yang sangat luas, pintu kuil tertutup rapat.

Si Soat Ang menerjang maju ke depan, naik anak tangga dan tiba didepan pintu, sekali tendang ia menghajar roboh pintu kuil tadi.

Dengan jebolnya pintu masuk kuil, Si Soat Ang segera meneruskan terjangannya kedalam diikuti Tonghong Loei di belakang,

Menyaksikan pemimpinnya sudah menerjang masuk, ratusan orang-orang jago kangouw itu pun sama2 berteriak keras mereka serentak ikut menerjang masuk kedalam ruangan kuil Siauw-lim tersebut.

Dibalik pintu kuil merupakan sebuah halaman yang luas, ditengah halaman berdiri sebuah hioloo yang amat besar sekali, lewati lapangan tadi merupakan ruang tengah yang megah dan mentereng.

Ketika itu dalam halaman yang luas tidak nampak sesosok bayangan manusiapun, suasana hening dan sunyi senyap.

Si Soat Ang segera enjotkan badan melayang ketengah halaman, dia langsung menyerbu kedalam ruang tengah diikuti para jago sebanyak tujuh delapan puluh orang, sama2 membuntuti di belakangnya, suasana hiruk pikuk dan terdengar gaduh sekali.

Diantara tujuh delapan puluh orang yang turut menyerbu kedalam ruang kuil Siauw-lim Si saat itu boleh dikata merupakan jago2 dari kalangan sesat semua, tak seorangpun berasal dari golongan lurus.

-ooo0dw0ooo-