Jago Kelana Jilid 17

Jilid 17

KETIKA Si Thay sianseng melayang kebawah seharusnya inilah kesempatan baik untuk Tong hong Pacu untuk menyerang, tapi ia tidak berbuat demikian, malahan buru2 ia enjotkan badan melayang ke luar.

Sementara itu setibanya diatas tanah, Si Thay sianseng segera kebaskan ujung bajunya kedepan, batu2 cadas yang tergulung tadi segera berhamburan kembali kearah Tonghong Pacu diiringi desiran angin tajam.

Agaknya sejak semula gembong iblis itu sudah menduga bakal terjadinya peristiwa ini, maka ketika Si Thay sianseng melayang turun ia segera menyingkir, sebab kalau tidak berbuat demikian niscaya ia bakal menerima kerugian besar.

Batu itu menyambar hingga mencapai sejauh puluhan tombak, tak sepotongpun yang mengena ditubuhnya, kendari begitu para penonton yang berdiri disisi kalangan sama2 mengundurkan diri kebelakang dengan hati terperanjat.

"Si heng sungguh hebat ilmu silatmu." seru Tonghong pacu sambil tertawa setelah berhasil meloloskan diri dari ancaman batu.

"Hmm! kaupun lumayan juga!"

Suasana hening beberapa saat lamanya, kedua orang tokoh sakti itu saling berhadapan dengan penuh kesiap siagaan, tiba2 Si Thay sianseng bergerak kembali kedepan, tangan kanannya diayun kedepan melancarkan sebuah kebasan dahsyat.

Diiringi dengan angin yang dahsyat memekikkan telinga, serangan tersebut laksana sebuah papan baja menghantam dada Tonghong Pacu dengan hebatnya.

Tonghong Pacu tersenyum ketika menyaksikan datangnya serangan, ia tidak sambut pukulan tadi, malahan tahu2 meloncat mundur kebelakang. Si Thay sianseng mengejar ke depan dengan jurus serangan yang tak berubah ia mengejar lawannya.

Sebaliknya Tonghong Pacu mendadak berhenti setelah mundur beberapa tombak ke belakang, tiba2 ia putar tangan melancarkan cengkeraman kearah ujung baju Si Thay sianseng.

Cengkeraman ini kelihatan biasa tak ada yang aneh, apalagi gerakannya cepat tidak membawa keistimewaan, orang lain tidak bakal tahu dimanakah letak kehebatan dari serangan tersebut.

Lain halnya dengan Si Thay sianseng, ia mendengar diantara berkelebatnya jari2 tangan mengikuti suara gemeretukan yang amat nyaring, ia terkesiap pikirnya.

"Aku dengar orang berkata ilmu jari Ngo im Ci dari Tonghong Pacu merupakan ilmu silat dari wilayah Biauw yang terhitung sebagai salah satu diantara tujuh ilmu sakti mungkin inilah yang dinamakan ilmu jari Ngo Im Ci tersebut.”

Agaknya ia ada maksud menyambar ujung bajunya dan merobek dengan kekuatan ilmu jarinya, dengan demikian paling sedikit ia berhasil dikatakan merebut diatas angin.

Serentetan pikiran berkelebat dalam benak Si Thay sianseng, ia tahu apa maksud Tonghong pacu berbuat demikian, dengan cepat suatu cara yang jitu untuk menghadapi kejadian inipun didapatkan.

Dalam pada itu kelima jari tangan lawan telah berhasil mencengkeram ujung bajunya kemudian menarik kebelakang keras2, ia bermaksud apabila Si Thay sianseng mempertahankan tarikan tersebut, niscaya bajunya akan robek. Namun tokoh sakti dari kalangan lurus ini tidak berbuat demikian ia bukannya mempertahankan diri, malahan ikut maju ke depan bersamaan dengan tarikan tersebut.

Kejadian ini benar2 berada diluar dugaan Tonghong Picu, ia jadi melongo dibuatnya.

Sebelum ia sempat berpikir kedua kakinya, tiba2 pergelangan Si Thay Sianseng sudah berputar menghajar dada Tonghong Pacu.

Serangan ini dilancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat, apalagi berada dalam jarak sedekat itu, kehebatan serta kecepatannya sukar dilukiskan dengan kata2.

Berada disaat yang keritis, terdengar Tong hong Pacu menjerit aneh, dalam keadaan gugup ia merendahkan badannya kebawah kemudian berjumpalitan keluar, perubahan ini dilakukan dengan amat cepat sekali, meski demikian serangan tersebut tak urung masih bersarang juga diatas bahunya.

Bahu bukan termasuk tempat bahaya sekali pun serangan dari Si Thay sianseng ini cukup ampuh, namun Tonghong Pacu masih sanggup untuk mempertahankan diri.

Walaupun begitu, setelah terserang oleh pukulan tadi tanpa dikuasai lagi badannya terdorong kearah belakang.

Tonghong Pacu bukan musuh sembarangan, sekalipun ia terhajar dan badannya mencelat kebelakang, namun kelima jarinya yang mencengkeram diujung baju lawan sama sekali tak mengendor.

"Breet. . ." tak bisa tertahan, baju Si Thay sianseng tersambar robek sebagian sedangkan tubuh Tonghong Pacu yang terlempar kebelakangpun, untuk sementara waktu tak sanggup mempertahankan diri. Si Thay sianseng bersuit nyaring, badannya bergerak kedepan mendesak diri Tonghong Pacu lebih jauh.

Dalam sekejap mata selisih arak kedua orang itu makin dekat, sama2 berada ditengah udara, tiba2 Si Thay sianseng menekuk sepasang kakinya, badan melejit dan ia meloncat maju ke depan lebih tinggi dari lawannya.

Inilah yang disebut ilmu meringankan tubuh "Kut Kiat Sin Thian" dengan demikian tubuh Si thay sianseng pun berada diatas batok kepala Tonghong Pacu, kakinya langsung menginjak batok kepala lawan.

Injakan ini maha dahsyat, Tonghong Pacu sadar keadaan tidak menguntungkan, buru2 mengempos tenaga melayang kebawah, dalam keadaan terdesak ia keluarkan ilmu bobot seribu kati melesat lebih cepat kebawah.

Dengan membawa desiran angin tajam, injakan jago silat dari Pek to ini menyambar diatas kepala Tonghong Pacu, sekalipun tidak terkena langsung, namun cukup membuat rambutnya awut2an, keadaan amat mengenaskan sekali terutama karena terlalu cepat meluncur kebawah ketika tiba diatas permukaan badannya terbanting keras2 diatas batu cadas.

Tonghong Pacu mendengus dingin, mendadak badannya melejit keatas, menantikan sewaktu badan Si Thay sianseng melayang kebawah sepuluh jarinya laksana jepitan mencengkeram dada serta lambung lawan.

Si Thay sianseng putar telapak menyongsong datangnya serangan tersebut, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia merasa betapa bodohnya kalau ia sambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras, sebab bagaimana pun pihak lawan lebih hebat, pertama karena mendapat tenaga tekanan dari tanah dan kedua ia berada diatas permukaan tanah sementara dia sendiri ada diangkasa.

Disaat yang kritis ia batalkan serangannya dan meloncat mundur kebelakang.

Tonghong Pacu tidak menyangka disaat yang terakhir, tiba2 pihak lawan membatalkan maksudnya untuk beradu kekerasan tenaga yang sudah terlanjur dikerahkan amat hebat sulit ditarik kembali, begitu serangan mengenai sasaran kosong badannyapun ikut terdorong kedepan sehingga memaksa ia harus melayang ketengah udara untuk mengurangi daya pukulan tersebut

Dalam pada itu Si Thay sianseng telah berjumpalitan dan melayang keatas tanah, dengan demikian kedudukanpun berobah, semula ia ada diatas tanah, lawan diudara, tapi sekarang ia diudara dan lawan diatas tanah.

Hawa gusar sukar ditahan lagi, tak kuasa Tong hong Pacu meraung keras dan menubruk kebawah tapi dengan cepat ia kaget sebab pada saat itulah Si Thay sianseng yang ada dibawah telah putar tangannya keatas, kelima jarinya dipentang siap mencari mangsa sedang telapak kiri didorong ke depan kelima jaripun terpentang hebat, sebagai orang berpengalaman ia segera kenali ilmu tersebut sebagai ilmu cengkeraman "Siang Koan-Kie-Hi" dari partai Go bie.

Tonghong Pacu terperanjat, buru2 ia mengempos tenaga badannya yang hampir mencapai permukaan tanah segera mencelat kembali setinggi lima enam tombak keatas.

Namun Si Thay sianseng tetap diam tak berkutik, posisinya tidak berubah dan bagaikan sebuah patung ia menanti kedatangan lawan.

Kejadian ini membuat gembong iblis itu mengejutkan sekali. ia tak mungkin berani melayang turun kebawah, sebab satu kali meluncur turun niscaya serangan musuh akan dilepaskan, namun ia pun tak mungkin selalu melayang dan melejit terus di tengah udara...

Dalam keadaan apa boleh buat, tangan kanan Tonghong Pacu segera merogoh kedalam pinggang meraup segenggam jarum beracun yang lembut bagaikan bulu, senjata rahasia itu akan dilepaskan setelah Si Thay sianseng melancarkan serangannya.

Kali ini ia tidak melejit lagi, dengan tenangnya sang badan melayang turun keatas tanah. Sementara Si Thay sianseng telah bersuit nyaring memberi peringatan kepadanya, telapak tangan membalik keatas, hawa seranganpun segera meluncur kedepan.

Tetapi pada saat yang bersamaan Tonghong Pacu pun berteriak aneh, tangan kanannya diayun kedepan. serangkum jarum2 lembut segera mengurung seluruh tubuh tokoh sakti dari kalangan lurus itu.

Menyaksikan betapa rendahnya perbuatan lawan, Si Thay sianseng membentak gusar, sementara jarum2 lembut itu dengan cepatnya telah mengurung datang.

Puluhan jarum yang menerjang datang dari depan segera mencelat keempat penjuru termakan oleh desiran angin serangannya, meskipun demikian tidak sedikit pula jarum2 lembut itu menyerang dari posisi lain yang tidak termasuk dalam gulungan serangannya.

Keadaannya amat kritis, jiwa sang tokoh sakti dari kalangan lurus inipun tergantung diatas ujung jarum lembut tersebut.

Tiba2 sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, diiringi jeritan aneh yang memekikkan telinga, disusul sepasang telapaknya berputar melancarkan beberapa buah pukulan.

Kerja sama orang itu dengan Si Thay sianseng erat sekali, dalam beberapa pukulan seluruh jarum lembut yang mengancam datang berhasil digulung masuk kedalam ujung bajunya atau tersampuk rontok.

Menanti ancaman telah lenyap, orang itu meloncat kembali ketempat semula.

Setelah lolos dari ancaman Si Thay sianseng meloncat mundur dengan badan dibasahi oleh keringat dingin, sebenarnya ia tidak ingin dibantu orang, namun setelah Tonghong Pacu turun tangan dengan cara rendah lebih dahulu, iapun tidak pikirkan persoalan itu, dengan perasaan penuh terima kasih ia berpaling ke arah orang tadi.

Dia bukan lain adalah simanusia aneh yang berwajah menyeramkan Tonghong Pek adanya.

Dalam perkiraan semula, Tonghong Pacu menganggap serangan bokongannya ini akan mendatangkan kemenangan baginya, siapa sangka Tonghong Pek telah merusak rencana baiknya, hawa gusar yang berkobar dalam benaknya saat itu sulit dilukiskan lagi dengan kata2.

Ia langsung membentak keras, jari tangannya menuding kedepan..."Traang" sebilah pedang panjang muncul keluar dari balik ujung bajunya dan tahu2 sudah berada didalam genggaman.

Gerakannya sangat cepat, siapapun tak dapat melihat darimanakah pedang tersebut muncul, namun setelah pedang tadi berada dalam genggamannya semua orang baru merasa terkesiap. Kiranya pedang tipis itu bagaikan kertas dan memancarkan cahaya berkilauan jelas pedang tersebut merupakan sebilah pedang mustika yang amat tajam.

Setelah mencekal pedang, Tonghong Pacu segera menggetarkan senjata tadi kearah Si Thay sianseng, pedang yang semula lurus setelah termakan getarannya segera bergetar menciptakan puluhan titik cahaya tajam.

Sang badanpun segera meluncur ke depan Si Thay sianseng, ujung pedangnya menyambar kian kemari tanpa arah sasaran yang tepat.

OdOeOOOOwOiO

BAB 17

MENYAKSIKAN datangnya serangan kilat Si Thay sianseng segera melompat mundur ke belakang, sebenarnya ia dapat menghadang datangnya serangan dengan mengebas balik ratusan batang jarum lembut yang berhasil ia sapu kedalam ujung bajunya namun ia tak sudi berbuat demikian sebagai mencerminkan kejujurannya, sepasang ujung bajunya dikebaskan keatas ratusan batang jarum itupun meluncur ke tengah udara saling membentur hingga memperdengarkan suara desiran nyaring dan rontok kembali keatas tanah bagaikan hujin gerimis.

Dalam keadaan seperti ini seandainya Tong-hong Pacu hendak melanjutkan serangannya maka ia harus singkirkan dahulu serangan hujan gerimis jarum beracun tersebut.

Pada saat ini sigembong iblis ini sudah kalap, yang ia pikirkan adalah merebut kemenangan walau dengan cara apa pun, badannya tiba2 berputar kesamping, dengan serangan yang tak berbeda, sudah lolos dari rontokan jarum, ia menusuk kembali kedepan. Serangan itu datang dengan gerakan yang ganas, jelas gembong iblis itu hendak membinasakan dirinya, hal ini menimbulkan hawa gusar dalam hati Si Thay sianseng, ia membentak keras bukannya mundur ia malah maju menubruk ke depan.

Kejadian ini mencengangkan hati semua orang, sebelum mereka sempat memahami apa maksud dari Si Thay sianseng, selisih jarak antara kedua orang tokoh sakti itu sudah makin mendekat.

"Sreeet. . ." ujung pedang Tonghong Pacu tahu-tahu sudah berada tiga empat coen diatas dada lawan, mendadak Si Thay sianseng merendahkan badannya.

Begitu rendah gerakan tersebut hingga Tong hong Pacu pun merasa diluar dugaan, dengan demikian tusukan itu tidak mengenai sasaran sebaliknya menyambar lewat hanya beberapa senti di atas kepala lawan.

Tonghong Pacu tahu keadaan tak menguntungkan, gagang pedangnya segera menekan kebawah dari tusukan berubah jadi ketukan.

Dalam keadaan seperti ini tak mungkin bagi Si Thay sianseng untuk berkelit, serangan itu dengan telak bersarang di atas batok kepalanya, namun ia tidak cidera, sebab segala gerakan tersebut sudah berada didalam perhitungannya.

Pada saat itulah tangan kanannya membalik langsung menghantam lambung Tonghong Pacu.

"Braak . ." serangan bersarang telak, Tonghong Pacu menjerit aneh, beruntun badannya mundur tiga langkah kebelakang Si Thay sianseng tak mau buang kesempatan baik ini, badannya mendesak kedepan jari tangannya menyentil di ujung pedang lawan. Ia bermaksud untuk menyentil rontok pedang lawan lebih dulu kemudian menambahi dengan sebuah serangan kembali.

Pada saat inilah tiba2 terdengar jeritan melengking yang amat nyaring berkumandang datang:

"Kembalikan pedangku!"

Diikuti serentetan cahaya perak meluncur datang tanpa menimbulkan sedikit suara pun, tahu-tahu sebuah jaring telah menyambar dan mengurung pedang diatas tangan Tonghong Pacu itu.

Berada dalam keadaan seperti ini, apabila Si Thay sianseng tidak buyarkan serangan, niscaya tangannya akan ikut terjaring oleh jala itu.

Si Thay sianseng sadar, jala itu pasti bukan sembarangan jala, sebelum mengetahui asal usulnya ia tak berani bertindak gegabah, badannya segera miring kesamping dan menarik kembali tangannya.

Pada saat itulah Tonghong Pacu telah berhasil mententramkan hatinya, ia menjerit aneh, tangan nya segera ditarik ke belakang berusaha untuk melepaskan pedangnya dari ancaman.

Tetapi jaring itu meluncur datang dengan kecepatan bagaikan kilat, baru saja Tonghong Pi cu menarik pedangnya dua tiga coen kebelakang jaring itu sudah mengurung kebawah dan menjirat pedang tadi erat2.

Pada saat itulah semua orang dapat melihat, orang itu adalah seorang nyonya berusia pertengahan, namun tak seorangpun yang tahu siapakah dia kecuali Tonghong Pek serta Tonghong Pacu yang segera kenali sebagai Kiem Lan Hoa. Dalam pada itu Kiem Lan Hoa telah menggetarkan tangannya, pedang tersebut mengikuti jaring tadi segera melayang ketengah udara.

Setelah berhasil merampas kembali pedangnya, Kiem Lan Hoa tertawa nyaring, sedangkan Tong hong pacu mengeluh lalu mengundurkan diri ke belakang.

Bukan sigembong iblis itu saja mundur, Si Thay siansengpun ikut mengundurkan diri kebelakang.

Waktu itu, keadaan Tonghong pacu yang paling runyam, ia merasa sangat malu sekali karena pedang yang ada ditangannya telah berhasil dirampas nyonya tersebut, namun ia tidak kekurangan akal, segera tertawa nyaring dan berseru.

"Oooouw, istriku. akhirnya kau kembali juga, kedatanganmu sungguh tepat pada saatnya!"

Perkataan ini diucapkan dengan disertai tenaga dalam, setiap orang yang berada dalam perkampungan Jiet Gwat Cung dapat menangkap ucapan itu dengan jelas sekali, seketika itu juga ada yang perlihatkan wajah kaget, ada yang tercengang, ada pula yang kebingungan.

"Benarkah tepat pada waktunya?" kata Kiem Lan Hoa sambil tertawa nyaring.

"Tentu saja tepat pada waktunya," sambil berkata selangkah demi selangkah Tonghong Pacu berjalan mendekati perempuan itu, "perkawinan Loei Jie akan dilangsungkan pada hari ini, sebagai ibunya kau telah menempuh perjalanan ribuan li untuk menghadiri peristiwa ini, bukankah kedatanganmu ini tepat pada waktunya ?"

Semula orang mengira Tonghong Pacu hanya bisa sembarangan tapi sekarang mereka baru tahu bahwa perempuan ini bukan lain adalah ibu kandung dari Tonghong Loei, ibu mertua dari Si Chen putri Si Thay sianseng.

"Istriku" kembali Tonghong Pacu berkata. "Bocah itu bisa menemui keadaan seperti ini hari, tentunya kau bisa memahami jerih payahku bukan? apakah kau masih menyalahkan diriku!"

Kiem Lan Hoa menghela napas panjang.

"Aaaai. . dimana bocah itu? bawalah kemari aku ingin melihat wajahnya."

Mendengar perempuan itu bertemu dengan anaknya, Tonghong Pacu kegirangan setengah mati segera serunya:

"Loei jie."

"Tia, ada apa?" sesosok bayangan manusia berkelebat masuk kedalam kalangan, dia bukan lain adalah Tonghong Loei.

"Loei-jie, dia adalah ibu kandungmu, setelah kau dilahirkan belum pernah ia berjumpa dengan dirimu lagi." kata gembong iblis itu.

"Ibu !" Tonghong Loei segera berseru.

Walaupun Kiem Lan Hoa adalah seorang gembong iblis wanita yang amat keji, tetapi pada saat ini ia tak sanggup menahan rasa sedihnya lagi, titik2 air mata jatuh berlinang.

"Bocah, selama ini kau tentu menderita, apakah kau baik2 saja?" tegur Kiem Lan Hoa.

"Aku baik sekali..."

"Tentu saja baik !" tiba2 suatu bentakan gusar yang menggetarkan seluruh permukaan berkumandang datang dari atas sebuah pohon besar, disusul meluncur datangnya sesosok bayangan manusia. Bayangan tersebut langsung menotok ke arah Tonghong Loei dengan dahsyatnya, begitu hebat serangan tersebut sehingga Si Thay sianseng yang berada disitupun merasa tercengang.

Gerakan orang itu sangat cepat, namun reaksi dari Kiem Lan Hoa pun tidak kalah cepatnya.

Ketika orang itu meluncur kebawah, Kiem Lan Hoa segera tarik tangannya dan melemparkan tubuh Tonghong Loei keluar, dengan demikian serangan pedang orang itu yang semula ditujukan kearah pemuda itu sekarang malahan mengancam lambung Kiem Lan Hoa.

Ilmu silat yang dimiliki Kiem Lan Hoa memang sangat lihay, namun dalam keadaan terdesak ia harus menolong putranya lebih dahulu, maka posisinya saat ini menjadi terancam, dalam keadaan gugup ia tarik napas sehingga membuat lambungnya menekuk lima enam senti kedalam.

"Sreeet. ." diiringi desiran angin tajam, pedang tersebut menyambar lewat tepat diatas lambungnya.

Setelah lolos dari ancaman mara bahaya Kiem Lan Hoa membentak keras, kakinya melancarkan tendangan kilat keatas pedang tersebut.

Dengan tenaga lweekangnya yang amat sempurna, bukan saja tendangan ini membuat pedangnya segera tergetar patah, bahkan orang itupun terdesak mundur selangkah kebelakang.

Pada saat itulah semua orang dapat melihat jelas bentuk wajahnya, ia punya raut muka seperti monyet, wajahnya jelek sekali sepasang lengannya panjang luar biasa, walaupun pedangnya telah patah, namun kesepuluh jari tangannya bagaikan jepitan masih melanjutkan cengkeramannya kearah Tonghong Loei. "Aaaah . . . simanusia monyet Hiat Goan Sin koen!" seruan kaget berkumandang dari empat penjuru.

Serangan yang dilancarkan Hiat Goan Sin koen pada saat ini benar2 luar biasa, dari ujung sepuluh jarinya, angin serangan menderu dan hebat luar biasa.

Sementara itu wajah Tonghong Loei telah berubah pucat bagaikan mayat, ia merasa begitu takut terhadap Hiat Goan Sin Koen sehingga berusaha meronta dari cekalan Kiem Lan Hoa dan melarikan diri keluar.

"Bocah! jangan takut?"

Sambil berkata lengannyapun diayun kedepan desiran tajam menyambar keluar menotok pergelangan Hiat Goan Sin Koen.

Serangan ini memaksa simanusia monyet terpaksa harus buyarkan serangan dan mengundurkan diri apabila ia tidak ingin terhajar oleh serangan tersebut hingga terluka parah.

Tonghong Pacu pun bergerak kedepan, dengan suatu gerakan yang manis ia telah menghadang di hadapan putranya.

"Hiat Goan Sin koen sudah lama kita tak berjumpa, kan

.."

Sepasang mata simanusia monyet itu berubah merah ber

api2. ia benar2 naik pitam dan mendendam, terutama sekali setelah dalam serangannya digagalkan Kiem Lan Hoa. ia sadar niatnya untuk menuntut balas bagi putrinya kembali menemui kegagalan total

Mendadak...terdengar Kiem Lan Hoa jerit melengking suaranya nyaring dan penuh bernadakan rasa kuatir, membuat setiap orang merasakan hatinya bergetar keras. Tonghong Pacu sadar, tentu telah terjadi sesuatu hal diluar dugaan, ia segera berpaling, tampak Kiem Lan Hoa sambil menjerit menubruk kearah Si Thay sianseng, sementara tokoh sakti dari kalangan Pek to itu sedang mengundurkan diri kebelakang.

Kiranya ketika Kiem Lan Hoa berhasil mendesak mundur Hiat Goan Sin-Koen dan Tonghong Pacu berkelebat kedepan itulah, Si Thay sianseng yang berada disisi kalangan telah menggunakan kesempatan baik itu untuk bergerak kedepan dan menyambar urat nadi Tonghong Loei.

Setelah berhasil mencengkeram urat nadi si anak muda tadi, ia mundur kebelakang.

Sekalipun tangan sebelah Tonghong Loei masih dicekal oleh Kim Lan Hoa, namun kejadian di luar dugaan ini membuat siperempuan itu telah mengendorkan tangannya

Dengan demikian ketika Kiem Lan Hoa sadar dan putar badan. Tonghong Loei sudah terjatuh ketangan Si Thay sianseng, ia lantas menjerit keras sambil melancarkan tubrukan kedepan.

Bersamaan itu pula tangannya diayun kedepan, serentetan cahaya perak yang menyilaukan mata langsung mengurung tubuh Si Thay sianseng.

Menyaksikan datangnya ancaman, tokoh sakti dari golongan Pek to ini secara mengundurkan diri kebelakang, telapak tangannya diangkat dan ditempelkan diatas batok kepala Tonghong Loei.

Perubahan ini terjadi sangat mendadak dan di luar dugaan, menyaksikan dirinya terjatuh ketangan gurunya, Tonghong Loei benar2 terperanjat sehingga sulit dilukiskan dengan kata2, begitu kaget dia hampir saja jatuh tidak sadarkan diri, mulutnya melongo lebar namun tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar.

Kiem Lan Hoa sendiripun merasa amat terperanjat dengan kejadian itu, jaring emas yang hampir mengurung tubuh Si Thay sianseng dengan cepat ditarik kembali, ia sadar seandainya jaring ini berhasil mengurung tubuh musuh, maka telapak tangan yang ditempelkan diatas batok kepala Tonghong Loei pun akan melancarkan serangan yang bisa mengakibatkan kematian putra nya.

Dalam pada itu Tonghong Pacu telah menyusul datang serunya:

"Si heng, kau adalah seorang lelaki sejati, mengapa perbuatanmu tiada berbeda dengan simonyet yang suka membokong ?"

Si Thay sianseng tertawa dingin.

"Persoalan ini adalah urusan pribadi partai Go bie kami, apa sangkut pautnya dengan dirimu ?"

Diam2 Tonghong pacu mengeluh, ia tahu perkembangan dari peristiwa ini jauh diluar dugaan nya, bukan saja Tonghong Loei sudah terjatuh ke tangannya, bahkan iapun sudah bicara terus terang, tidak gampang baginya untuk memanasi jago lihay ini dengan kata2 pedas.

Sigembong iblis nomor wahid dikolong langit ini segera menghela napas panjang, ujarnya:

"Si heng, walaupun dia adalah anggota partai Go bie kalian, tetapi aku serta Kiem Lan Hoa adalah orang tuanya, kalau kamipun tak boleh ajukan pertanyaan, bukankah ini berarti kau hendak mencari gara2 dengan kami?"

Ucapan dari Tonghong Pacu ini kedengarannya halus, namun dalam kenyataan tajam sekali membuat orang tak bisa menjawab dengan kedudukannya sebagai seorang ayah, sudah tentu ia berhak untuk mengetahui keadaan dari putranya.

Si Thay sianseng tertegun, kemudian ujarnya. "Tonghong sianseng, kau telah masukkan dia kedalam perguruanku dus berarti akulah yang berhak untuk mendidik dirinya, dan sekarang aku mengakui bahwa aku tidak becus memberi didikan kepadanya, bencana muncul dari aku, maka aku hendak membersihkan perguruanku dari segala noda dan melenyapkan bibit bencana bagi umat manusia!"

"Kesalahan apa yang telah dilakukan anak-ku, buat apa kau harus ikut campur dengan perbuatan putraku?" terdengar Kiem Lan Hoa menjerit, suaranya tinggi melengking dan sangat tidak enak didengar.

"Binatang ini telah membalas budi dengan kejahatan, ia berani memperkosa anak gadis orang."

Sembari berseru telapak tangannya segera diayun keatas siap dihantamkan keatas batok kepala si anak muda itu.

"Si heng, lahan dalam ucapanmu barusan kau telah melupakan sesuatu !" teriak Tonghong Pacu.

"Dimana letak kekuranganku ?" seru Si Thay sianseng keras2, wajahnya telah berubah hijau membesi.

Tonghong Pacu sudah mendapatkan cara yang bagus untuk menyelesaikan keadaan di hadapannya, ia girang dan tak tertahan mendongak sambil tertawa ter bahak2.

"Haa...haa...haa...Si heng, tadi kau tuduhkan dia telah memperkosa putrimu tetapi menurut yang kuketahui, cinta kasih mereka berdua timbul dari dasar agung cinta mencintai, mereka adalah sepasang pengantin yang paling ideal saling cinta..." "Tutup mulut, omong kosong !" Si Thay sianseng tak dapat menahan diri lagi dan segera membentak.

Tonghong Pacu memang sengaja hendak memancing kegusaran Si Thay sianseng, ia tahu ucapan tersebut pasti akan menguntungkan dirinya, maka semakin lawannya gusar, ia semakin gembira.

Setelah tertawa tergelak, ujarnya kembali:

"Si heng! percuma kalau kita yang membicarakan persoalan ini, sebab apa yang kita katakan tidak cocok sama sekali, mari kita tanya kan sendiri persoalan ini kepada nona Si sendiri, coba kita lihat apa yang ia katakan!"

Mula2 Si Thay sianseng tertegun, namun ia segera sadar bahwa dirinya sudah terjebak kedalam siasat licik gembong iblis itu, untuk mencegah terlambat sudah.

Terdengar Tonghong pacu telah mendongak dan berseru:

"Nona Si, harap kau keluar sendiri dan terangkan kepada ayahmu, sehingga Loei Jie tidak mati dalam keadaan penasaran ayahmu adalah seorang yang bisa mengerti urusan, ia tidak akan membunuh orang dengan sekehendak hatinya.”

Si Chen ragu2 bergerak, akhirnya dengan langkah lambat berjalan kedepan, wajahnya pucat pias, melirik sekejap kearah ayahnya tetapi segera tertunduk kembali setelah saling bentrok dengan sinar mata Si Thay sianseng yang sangat tajam itu.

"Nona Si, karena percintaanmu dengan Loei jie, ayahmu hendak menghukum dirinya hari ini disebabkan ayahmu telah mengira bahwa kau tak senang dengan Loei ji tapi dipaksa olehnya. Sekarang kau harus terangkan sendiri persoalan ini kepada ayahmu." seru Tonghong Pacu. Kepala Si Chen tertunduk rendah sekali, suaranya pun amat lirih.

"Tia. . aku. . aku bukan dipaksa, aku rela bersama dia, kau selama ini kau telah salah menuduh dirinya."

Ucapan yang diutarakan sendiri oleh putrinya ini merupakan pukulan hatin yang amat besar bagi Si Thay sianseng, tubuhnya tergetar keras, badannya berdiri mematung dan cengkeramannya pada urat nadi Tonghong Loei pun tanpa sadar telah mengendor.

Berada dalam keadaan seperti ini, apabila Tonghong Loei mengundurkan diri maka ia bisa lakukan dengan gampang sekali, tetapi ia telah dibikin kaget oleh kejadian itu, sehingga saat ini bukannya berusaha meloloskan diri malah berdiri mematung disitu.

Tonghong Pacu yang berdiri disamping kalangan jadi terkejut girang bercampur gelisah setelah dilihatnya cekalan Si Thay sianseng menggemetar, badannya segera berkelebat ke depan dan menyambar tubuh Tonghong Loei untuk diajak menyingkir beberapa tombak jauhnya dari sana.

Setelah Tonghong Loei lolos dari mara bahaya, Kiem Lan Hoa pun segera berkelebat menghadang dihadapannya Tonghong Loei, tentu saja ia takut Si Thay sianseng turun tangan membokong putranya kembali.

Tetapi siapapun tidak tahu, pada saat ini Si Thay sianseng merasa telinganya mendengung keras, pandangan matanya jadi gelap dalam sekejap mata hawa murni yang berada dalam tubuhnya bergolak keras.

Bagaimanapun dia adalah seorang tokoh maha sakti, walaupun berada dalam keadaan gusar ia pun merasa kaget setelah merasakan hawa murni dalam badannya bergolak tidak teratur. Sebab hal ini menunjukkan gejala2 jalan api menuju neraka, sekali salah bertindak apabila tidak mati tentu cacad seumur hidup.

Maka ia tidak perdulikan segala sesuatu lagi ia berdiri tak berkutik dan dengan segenap tenaga berusaha atur hawa murninya, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar bagaikan hujan deras membasahi badannya asap putihpun memenuhi batok kepala.

Tonghong Pacu adalah seorang jagoan pula, dari sikap Si Thay sianseng ia dapat menarik kesimpulan bahwa hawa murni dalam tubuhnya telah menyusup tidak teratur akibat hawa gusar yang kelewat batas, betapa gembira hatinya setelah menjumpai hal tersebut, ia terka inilah saat nya yang paling baik baginya untuk mengajukan cita2nya selama ini.

Jangan dikata seorang lihay seperti Tonghong Pacu, hanya seorang lelaki biasa yang tak berilmu pun bisa membinasakan si jago lihay dari kalangan pek to ini.

Ia mendongak seraya tertawa terbahak2, telapak tanganpun dengan cepat diputar siap melancarkan serangan, serunya.

"Si heng, pertarungan antara kita berdua belum berhasil menentukan siapa menang siapa kalah, silahkan kau menerima sebuah serangan lagi!" suatu pukulan yang maha dahsyat segera dilepaskan.

Tonghong Pacu menyadari serangan yang di lancarkan saat pasti akan bersarang ditubuh lawannya, maka sewaktu melancarkan serangan hatinya ringan dan sama sekali tidak pandang sebelah matapun.

Siapa sangka peristiwa ini diluar dugaan telah terjadi di depan mata. Baru saja telapak tangannya didorong ke depan mendadak segulung angin desiran tajam menyambar datang dari belakang punggungnya.

Serangan ini muncul secepat kilat, bahkan sama sekali tidak meninggalkan jejak, menanti Tonghong Pacu merasakan ada gulungan angin tajam mengancam datang dari belakang tubuhnya, ia baru sadar keadaan tidak beres untuk putar badan sudah terlambat.

"Plaakk.." serangan tersebut dengan telak bersarang di atas punggung si gembong iblis tersebut.

Tenaga dalam yang dimiliki Tonghong Pacu benar2 luar biasa, sekalipun serangan itu bersarang telak ditubuhnya sehingga memaksa ia harus batalkan maksudnya untuk membokong Si Thay sianseng namun setelah termakan oleh serangan itu badannya masih sanggup menyingkir satu langkah kesamping.

Tiba2 sesosok bayangan manusia menyambar lewat dan tubuhnya langsung menerjang kearah Si Thay sianseng, si gembong iblis ini dapat melihat jelas bahwa orang itu bukan lain adalah manusia aneh she Pek itu.

Menyaksikan rencana baiknya kembali digagalkan orang lain, hatinya benar2 mendendam, kakinya langsung disambar kedepan melancarkan tendangan kilat ke arah pantat manusia aneh itu.

Tonghong Pacu tidak kenal kalau manusia aneh itu adalah Tonghong Pek, maka tendangan tersebut dilancarkan amat dahsyat sekali.

"Braak...!" dengan telak tendangan itu bersarang ditubuh Tonghong Pek, namun sianak muda itu bukannya terluka, malahan luncurannya kedepan malah semakin cepat lagi. Ia sambar tubuh Si Thay sianseng, mengempit tubuhnya dan dalam sekejap mata meluncur tiga lima tombak kesisi kalangan laksana kilat ngeloyor pergi.

Melihat mangsanya dibawa lari, Tonghong Pacu membentak gusar, badannya segera bergerak mengejar namun Hiat Goan Sin Koen yang sejak semula berdiri disitu dengan sinar mata ber-api2 telah menubruk kearahnya.

Beberapa kali rencana baiknya digagalkan orang, Tonghong Pacu merasa gemas dan bencinya bukan karuan, sekalipun yang merusak Tonghong Pek, tetapi pada saat ini Hiat Goan Sin Koen yang menubruk kearahnya, maka seluruh hawa amarahnya segera dilampiaskan keatas tubuh manusia monyet itu, tiba2 ia putar badan, membentak keras dan menyongsong kedatangannya dengan dada di busungkan.

Gerakan tubuh Hiat-Goan Sin Koen amat cepat sekali, namun gerakan dari Tonghong pacu pun tidak kalah cepatnya, dalam sekejap mata tubuh mereka berdua saling bertumbukan satu sama lainnya.

"Braakk.,.!" ditengah suara bentrokan yang amat keras, terdengar Hiat Goan Sin Koen memperdengarkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati, mendadak badannya mencelat kebelakang, sementara Tonghong Pacu telah segera melayang turun keatas tanah.

Dalam tubrukan barusan, jelas Tonghong Pacu berhasil duduk diatas angin, sementara tubuh Hiat Goan Sin-koen yang mencelat keluar berteriak ngeri tiada hentinya untuk kemudian terbanting keras2 diatas tanah.

Sewaktu melayang turun, badannya masih berdiri tegak namun sesaat kemudian dengan lemas sekali ia sudah terkulai diatas tanah. Semua orang berseru tertahan dan menghembuskan napas dingin, dari badannya simanusia monyet yang terkulai dan berbaring lemah diatas tanah, maka siapapun bisa ambil kesimpulan bahwa tulang2 dalam badannya tentu sudah patah semua.

Suasana dalam kalangan berubah sunyi senyap, tak kedengaran sedikit suarapun, seperminum teh kemudian, biji mata Hiat Goan Sin Koen berhenti berputar, napaspun segera berhenti.

Walaupun Hiat Goan sinkoen sudah mati, tetapi rasa dendam dalam hati Tonghong Pacu belum lenyap, wajahnya tetap hijau membesi.

Suasana hening tak seorangpun berani bicara, lewat beberapa saat kemudian Tonghong Loei pertama2 buka suara memecahkan keheningan tersebut:

"Tia, musuh tangguh telah berlalu, kitapun tak murungkan hati lagi!"

Si Chen berseru tertahan dan segera lari menghampiri Tonghong Loei disusul ratusan jago lainnya sama2 maju mengerubungi gembong iblis tersebut kata2 pujian segera berhamburan memenuhi angkasa.

"ilmu silat Tonghong sianseng benar2 maha sakti, luar biasa sekali."

Kepergian dari Si Thay sianseng kali ini meskipun untung berhasil menyelamatkan selembar jiwanya, tetapi setelah jatuh kecnudang dalam perkampungan Jiet Gwat Cung, agaknya ia tiada bermaksud berkelana lagi dalam dunia persilatan !

Dalam sekejap mata orang yang mengerubungi Tonghong Pacu, Kiem Lan Hoa, Tonghong Loei serta Si Chen makin lama semakin banyak, kata sanjungan yang mengerikan telingapun berhamburan memenuhi angkasa.

Buru2 Tonghong Pacu menjura ke empat penjuru seraya berseru:

"Terima kasih... terima kasih . , harap anda sekalian suka meneguk dua cawan arak lebih banyak dalam pesta perkawinan putraku nanti."

Sambil berkata ia lantas berlalu dan keluar, Kiem Lan Hoa dengan menarik tangan Tonghong Loei dan disusul oleh Si Chen segera turut berlalu pula dari itu terdengar kedua orang Cungcu dari perkampungan Jiet Gwat Cung berseru:

"Tonghong sianseng, kalian suami istri bisa berkumpul kembali, semestinya kejadian ini perlu dirayakan !"

Kedua orang cungcu ini ada maksud mencari muka, siapa sangka dengan mata mendelik Kiem Lan Hoa telah menegur dingin.

"Kalian menyingkir semua, aku masih ada urusan lama yang hendak diselesaikan dengan dirinya."

Ketanggor batunya kedua orang cungcu itu tertawa paksa dan menyingkir dengan wajah ter-sipu2.

Sang cungcu sama ditegur ketus, tentu saja orang lainpun tahu diri, mereka sama2 membubarkan diri.

Sementara itu mereka telah tiba dalam halaman kecil ditengah bangunan ketika menyaksikan sekeliling tempat itu tak ada orang lagi, sambil tertawa paksa Tonghong pacu berkata.

"Lan Hoa, peristiwa yang telah lewat buat apa kita ungkap lagi? lebih baik disudahi saja." "Apanya yang disudahi?" tegur Kiem Lan Hoa dengan wajah adem.

"Lan Hoa tempo dulu secara tiba2 kita bisa saling bentrok, hal ini semuanya disebabkan karena dia." kata Tonghong pacu sambil menuding kearah Tonghong Loei.

"Kini, coba kau lihat ia sudah menginjak dewasa mendapat pula bini yang cantik apakah kau tidak merasa gembira? peristiwa yang terjadi pada masa silam buat apa kita ungkap kembali."

Maksud ucapan itu jelas sekali, ia menuduh kesalahan yang mengakibatkan kejadian tempo dulu adalah kesalahan Kiem Lan Hoa.

Perempuan itu kontan mendengus dingin.

"Tetapi engkau bertindak terhadap diriku terlalu kejam, ambil kesempatan sewaktu aku tidak merasakan telah mendorongku kedalam jurang yang ada di lembah Cian Tok Kok, seandainya bukan takdir belum menentukan kematianku, bukankah sekarang aku sudah tinggal tulang belulang yang berserakan? mana aku sudi berpeluk tangan belaka?"

"Nah. . nah . . kau ingin menumpukkan semua kesalahan kepada diriku? kan bukan kau hendak menghukum aku dengan menggunakan peraturan Thian li Kauw, tentu saja aku tidak berbuat begitu."

Kiem Lan Hoa kerutkan dahinya, Tonghong Pacu mengerti meski ia sangat gusar namun tidak akan turun tangan pada saat itu, maka ia berseru kembali:

"Loei jie, ayoh cepat mohon kepada ibumu, katakan semua ini adalah kesalahan ayahmu karena waktu itu harus menyelamatkan selembar jiwa kecilmu maka menimbulkan banyak peristiwa yang tak diinginkan." Tonghong Loei sekarang sudah pintar, mendengar ucapan ayahnya, ia segera bertekuk lutut dan memohon kepada ibunya.

"Ibu! Sudahlah jangan cari urusan dengan ayah lagi, kalau kau masih lanjutkan ribut ini, apalagi keributan yang terjadi waktu itu disebabkan diriku, lebih baik biarlah aku mati dahulu kemudian kalian berdua boleh lanjutkan ribut tersebut."

"Loei jie, ayohlah bangun berdiri! Hemm, terlalu enak baginya." seru Kiem Lan Hoa hatinya kena dilelehkan oleh ucapan manis anaknya.

Mendengar hal tersebut Tonghong Pacu segera mendongak dan tertawa terbahak2, tubuhnya menjura dalam2 kearah perempuan itu serunya.

"Terima kasih atas kemurahan yang Nio cu berikan kepadaku !"

"Cis, siapa yang sudi mendengar banyolanmu."

Pada saat itu Tonghong Pacu benar2 merasa girangnya luar biasa, bukan saja Si Thay sianseng berhasil dipaksa hingga menderita "jalan api menuju neraka" bahkan permusuhannya dengan Kiem Lan Hoa berhasil diselesaikan hanya dengan sepatah dua patah kata dari putranya.

Tentu saja ia tahu betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki Kiem Lan Hoa, dengan adanya perempuan ini sebagai pembantu, sekalipun Si Thay sianseng tidak terluka barang sedikitpun, ia tak bakal jeri.

Maka tanpa terasa lagi ia mendongak dan tertawa terbahak2. "Haa...haa...haa...Loei jie, bawalah dahulu ibumu pergi beristirahat, aku masih ada sedikit urusan hendak diselesaikan lebih dahulu."

"Tia, kau sudah lama kau berpisah dengan ibu, kenapa begitu cepat telah saling berpisah ?" goda Tonghong Loei sambil tertawa. "Ada persoalan biarlah putramu yang selesaikan ?"

"Telur busuk !" maki Tonghong Pacu sambil tertawa, "Sungguh tak tahu aturan, berani benar kau menggoda orang tuamu ?"

"Aku cuma pergi sebentar saja, baik2lah jaga ibumu, ceritakan bagaimana kau dianiaya oleh orang2 kangouw..."

Sambil berdiri ia mengerling sekejap kearah Tonghong Loei, anaknya agar sianak muda itu ikut keluar.

Tonghong Loei mengiakan, ia pura2 menghantar Tonghong pacu keluar, setelah berada tiga lima tombak jauhnya, sigembong iblis itu lantas berbisik lirih:

"Loei jie dengan kehadiran ibumu disini, maka ada seseorang tak boleh dibiarkan hidup lagi"

Tonghong Loei tertegun, ia masih belum mengerti apa yang dirahasiakan ayahnya, sebelum ia sempat bertanya Tonghong Pacu telah menyambung lebih lanjut:

"Rasa cemburu ibumu terlalu besar, tentang persoalan perempuan buta itu jangan sekali2 kau ceritakan kepadanya

!"

Tonghong Loei segera mengerti apa yang dimaksudkan ayahnya, ia tertegun sejenak kemudian serunya:

"Ayah seandainya toako pulang...?"

"Apabila toako kembali, ibumu tidak naik pitam, dan ingat apabila ia bertanya kepadamu maka kau jawab, bahwa ibunya pergi mencari jejak toakomu hingga kini tak ada kabar beritanya, mengerti ?"

Diam2 Tonghong Loei bergidik, segera pikirnya.

"Sejak kutinggalkan gunung Go bie, meski banyak perbuatan jahat yang telah kulakukan, namun tak sepotong kejahatanpun yang bisa menandingi perbuatan ayahku, dia benar2 luar biasa..."

Walaupun dalam hati berpikir demikian, tentu saja ia tak berani mengutarakan keluar, segera ia mengiakan.

"Aku mengerti !"

Tonghong Pacu berkelebat kedepan, melewati sebuah halaman dan berjalan masuk kedalam suatu ruangan yang sunyi dan tenang.

Begitu ia berjalan masuk. Gwat Hun serta Giok Jien segera bangun berdiri, terdengar nyonya buta itu berseru:

"Aku dengar dalam perkampungan mendadak, penuh ramai dengan jeritan, sebentar kemudian lantas lenyap tak kedengaran sedikit suarapun, sebenarnya apa yang telah terjadi ?"

"Tak ada apa2" jawab Tonghong Pacu seolah2 tak pernah terjadi sesuatu apapun, "Sebaliknya ada satu persoalan dapat membuat hatimu gembira !"

"Apakah Pek jie telah pulang ?" seru Gwat Hun kegirangan.

"Benar, marilah ikuti diriku, Giok Jien kau tunggu saja disini jangan pergi ke sembarangan tempat !"

Dasarnya Giok Jien adalah seorang gadis penurut, ia segera mengiakan.

"Baik suhu !" Tonghong Pacu segera menggandeng tangan Gwat Hun dan diajak berjalan keluar ruangan.

Ditengah jalan ujar Gwat Hun dengan wajah penuh senyuman:

"Aaaa..! ternyata Pek-jie benar2 saja kembali, apakah dia dalam keadaan baik2 ?"

"Baik sekali, cuma sayang tabiatnya terlalu keras kepala, kau harus baik2 menasehati dirinya !"

"Sudah seringkali kunasehati dirinya, tetapi ia selalu tak mau mendengarkan perkataanku."

Sementara ber cakap2, sampailah mereka ditepi sebuah sumur, tanpa banyak berpikir lagi Tonghong Pacu segera ayun telapak tangannya menghajar batok kepala perempuan matang itu.

Dengan telak serangan tersebut bersarang di atas kepalanya, hampir boleh dikata tanpa menimbulkan sedikit suarapun Gwat Hun roboh lemas keatas tanah, Tonghong Pacu segera mendorong tubuhnya masuk kedalam sumur.

Gerakan Tonghong Pacu benar2 cepat sekali, setelah mendorong tubuh Gwat Hun kedalam sumur, ia segera meloncat beberapa langkah ke samping, mengambil sebuah batu cadas yang besar dan diceburkan kedalam sumur.

Ia tahu apabila Kiem Lan Hoa bertemu dengan Gwat Hun, niscaya perempuan itu akan tidak senang hati, kemungkinan besar baru saja rujuk mereka akan bermusuhan kembali, maka setelah dipikir beberapa waktu ia merasa Gwat Hun harus segera disingkirkan dari muka bumi, sewaktu turun tangan terhadap perempuan malang itu, dalam hatinya sama sekali tidak merasa menyesal ataupun bersedih hati. Setelah selesai berbuat, ia menyapu sekejap ke empat penjuru, menyaksikan disitu tiada orang, ia lantas berpikir:

"Orang yang mengetahui rahasia ini kecuali Tonghong Loei seorang tak ada manusia lain yang tahu! tentu saja Tonghong Loei tak akan memberitahukan persoalan ini kepada orang lain. Giok Jien serta Si Chenpun tidak bakal menanyakan persoalan mengenai Gwat Hun . . haa . . haaa asal aku beri peringatan kepada Giok Jien agar ia jangan menceritakan apa saja yang kulakukan, rahasia ini tentu tak bakal konangan."

Dengan hati gembira ia segera kembali ke halaman, kepada Giok Jien ujarnya dengan suara berat:

"Giok Jien, Gwat Hun sunio telah melakukan perjalanan jauh karena ada urusan yang harus diselesaikan, peristiwa ini amat dirahasiakan sekali, asal ada orang bertanya kepadamu katakan saja tidak tahu!"

Giok Jien adalah seorang gadis yang cermat, tetapi iapun sangat penurut, mendengar ucapan itu meski dalam hati menaruh curiga namun ia mengiakan juga.

"Baik!"

"Ibu dari Loei-jie telah datang tentu saja dia adalah suniomu pula" Ujar Tonghong Pacu lebih jauh, "Setelah berjumpa dengan dirinya kau harus menghormati dirinya dengan penuh kesopanan, ilmu silatnya sangat lihay seumpama kau berhasil mendapatkan simpatiknya kemungkinan besar kau bakal diwarisi kepandaian silatnya."

"Aku tahu!"

Demikianlah, ia lantas mengikuti dari belakang tubuh Tonghong pacu berjalan kedepan. Ketika mereka tiba dalam ruangan, waktu itu Kiem Lan Hoa sedang bercakap2 dengan penuh senyuman namun wajahnya segera berubah setelah menyaksikan Tonghong pacu muncul diikuti seorang gadis muda.

"Siapakah dia?" segera tegurnya.

"Dia adalah seorang murid perempuan yang baru kuterima ia bernama Giok Jien, bakatnya bagus sekali. Giok Jien, ayoh maju dan hunjuk hormat kepada Sunio mu!" seru Tonghong Pacu.

Buru2 Giok Jieo maju kedepan, tetapi belum sempat ia jatuhkan diri berlutut, Kiem Lan Hoa telah mencegah dengan suara berat.

"Tunggu sebentar, kau tak usah menjalankan penghormatan!"

Ia angkat kepala menatap Tonghong Pacu tajam-tajam lalu serunya lebih lanjut:

"Benar2 romantis kau ini, banyak orang tidak kau terima sebaliknya justru menerima seorang gadis sebagai muridmu!"

Ucapan yang diutarakan Kiem Lan Hoa tanpa tedeng aling2 ini membuat Tonghong Pacu jadi jengah sekali, terutama Giok Jien ia jadi kelabakan setengah mati.

Mendengar Kiem Lan Hoa tertawa dingin dan berseru kembali.

"Kau punya dua orang putra, dus berarti punya dua orang menantu, sudah ada empat orang yang harus kau warisi ilmu silat kenapa kau masih juga terima seorang murid perempuan? Hm apa sebabnya! ayoh jawab!" Dalam hati Tonghong Pacu benar2 teramat gusar, tetapi dalam keadaan seperti ini ia tak berani membuat salah pada Kiem Lan Hoa, sambil tertawa paksa sahutnya.

"Ucapan Nio cu memang benar."

"Kalau ucapanku benar, maka saat ini juga kau harus usir dia keluar dari perkampungan Jiet Gwat Cung, dan jangan sekali2 kau singgung tentang murid serta guru lagi!"

Walaupun Tonghong Pacu adalah manusia sesat, namun dalam kalangan Bu lim baik itu golongan lurus ataupun golongan sesat amat menghormati hubungan antara guru dan murid.

Selama ini Giok Jien sama sekali tak pernah berbuat kesalahan lagipula ia sendiri yang menerima gadis tersebut sebagai murid, bagaimanapun juga ia tak bisa mengusir Giok Jien begitu saja, maka setelah termenung sejenak, ia lantas berseru.

"Tentang soal ini..."

”Memang soal apa?" bentak Kiem Lan Hoa amat gusar. Tonghong Pacu adalah seorang manusia sombong,

teguran dari Kiem Lan Hoa yang bernadakan ketus itu sudah membuat kegusarannya memuncak sehingga hampir2 saja sukar ditahan tetapi ia tetap tenang, ia merasa tidak berharga apabila ia sampai bentrok kembali dengan Kiam Lan Hoa hanya disebabkan Giok Jien seorang.

Kembali ia tertawa.

"Nio cu, apa gunanya kau marah2 ?"

Sambil berkata ia putar badan ujarnya lebih jauh.

"Giok Jien saat ini juga tinggalkan perkampungan Jiet Gwat Cung, mulai detik ini kau dilarang menyebut aku sebagai suhu lagi, dan dilarang mengatakan kepada siapapun juga bahwa kau pernah angkat aku sebagai guru, mengerti?!"

Keputusan ini membuat Giok Jien tercengang dan berdiri tertegun, matanya terbelalak mulutnya melongo, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Giok Jien, sudah kau dengar ucapanku?" Tegur Tonghong Pacu kembali dengan suara berat.

Giok Jien merasa amat sedih sehingga hampir2 saja menangis, namun ia berusaha menahan diri, segera sahutnya.

"Sudah dengar !"

"Mengapa masih belum pergi ?" "Baik, aku... aku pergi."

Ia putar badan, titik air mata jatuh mengucur dengan derasnya buru2 ia berjalan keluar. Setibanya di depan pintu ia segera membesut air matanya.

Buru2 ia lari menuju keluar perkampungan, sebagian besar anggota perkampungan Jiet Gwat Cung sama2 kenali gadis ini sebagai anak murid Tonghong Pacu, sikapnya terhadap nona ini amat sungkan sekali.

Walaupun Giok Jien sedang sedih, tetapi iapun bersikap baik kepada semua orang, sapaan mereka dijawab satu persatu, menanti sesudah keluar dari perkampungan ia lari kedepan, sambil lari tak tahan lagi ia menangis ter-isak2.

Entah berapa lama ia lewatkan, entah sudah berapa li telah ia lalui, tiba2 Giok Jien merasakan sekeliling tempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun kecuali isak tangisnya boleh dikata tak ada suara lain. Ia berusaha berdiri tegak, terasa sepasang kakinya lemas sekali sehingga hampir-hampir saja tak sanggup berdiri tegak, ia harus mencekal di atas sebuah pohon untuk mempertahankan badannya.

Tetapi tidak lama kemudian hatinya amat sakit, badannya semakin lemas dan tubuh hampir saja roboh keatas tanah.

Pada saat itulah tiba2 terdengar seseorang berseru: "Nona Giok Jien! nona Giok Jien." Mula2 gadis itu tidak

percaya ada orang memanggil namanya, ia mengira suara

tersebut hanya lamunan belaka maka ia tidak ambil gubris.

Tetapi suara panggilan itu saling susul menyusul berkumandang kembali, bahkan suara itu kedengaran sekali muncul tidak jauh diri tempat itu, Giok Jien tarik napas panjang, dengan suara yang serak ia bertanya:

"Siapa yang sedang memanggil aku? Adakah orang yang memanggil diriku?"

"Benar! barusan akulah yang memanggil dirimu!" jawab suara tadi "Nona Giok Jien! kemarilah dan bantulah aku, mari kita bersama-sama menolong jiwa seseorang."

Tabiat Giok Jien penuh welas kasih meskipun hatinya sedang sedih dan risau namun ketika ia diminta pertolongannya tanpa ragu 2 menyahut.

"Baik, kau berada dimana?" sembari berseru ia maju kedepan.

Baru saja ia maju beberapa langkah, suara orang itu berkumandang kembali:

"Nona Giok Jien, wajahku aneh sekali dan sangat menakutkan...tetapi aku bukan setan ataupun siluman, setelah bertemu dengan aku, kau tak usah ketakutan." Giok Jien berdiri tertegun, ia berhenti tetapi setelah mendengar bahwa orang itu tiada maksud jahat terhadap dirinya, ia segera melanjutkan langkahnya ke depan, ketika tiba didepan semak belukar, suara itupun berkumandang kembali:

"Singkaplah semak belukar tersebut, maka kau segera akan menemukan diriku !"

Giok Jien maju kembali selangkah kedepan, menyingkap semak dan melongok ke dalam.

Pada saat itu rembulan telah berada diatas awang2. cahaya rembulan memancar keempat penjuru, Giok Jien dapat menemukan seorang kakek tua yang sedang memejamkan matanya berbaring disitu.

Wajah kakek itu renta wibawa dan keren sekali, ditinjau dari sepasang matanya yang terpejam rapat2, dapat dibayangkan ketika itu ia sedang menahan penderitaan yang luar biasa.

Meski Giok Jien hanya memandang sepintas lalu, namun wajah kakek itu sudah berubah tiga kali, dari merah jadi pucat kemudian dari pucat berubah merah kembali.

Giok Jien tertegun ia segera maju lebih dekat, tetapi dengan cepat ia tarik napas panjang.

Ingin mundur badannya terasa terpantek, sedikit berkutikpun tak sanggup, ingin berteriak, mulutnya terpentang namun tak sedikit suarapun berhasil terpancar keluar.

Seluruh bulu kuduknya pada bangun berdiri ia merasa badannya seperti terendam dalam air es, dingin dan menggidikkan. Di belakang si kakek tua itu berdiri seseorang bukan manusia lagi tetapi sebuah batok kepala mahluk aneh, rambutnya tak ada sehelaipun, wajahnya merah, bengkak dan menyeramkan, boleh dikata tak dapat dibedakan dimanakah letak panca indranya.

Belum pernah Giok Jien jumpai mahluk seseram ini, ia berdiri tak berkutik dan jadi takut. Lama sekali . . akhirnya mahluk aneh itu buka suara lebih dahulu, nadanya datar dan kalem.

"Nona Giok Jien, kau jangan takut sebenarnya kau kenal akan diriku, tetapi sekarang wajahku telah berubah, kau tidak akan kenali lagi siapakah aku, cepatlah kemari dan bantulah aku."

Per-lahan2 Giok Jien dapat menghembuskan napas kembali sekalipun begitu ia masih diliputi dalam keadaan penuh ketakutam.

"Aku...aku.. apa jang bisa kuberikan ? kalian sedang melakukan apa?"

Manusia aneh yang membuat Giok Jien ketakutan setengah mati tentu saja bukan lain adalah Tonghong Pek, ia segera menjawab:

"Cepatlah kemari, Losianseng ini bukan lain adalah tokoh nomor wahid dari kolong langit Si Thay sianseng adanya"

"Aah...!" Giok Jien berseru tertahan, meskipun ia tidak terhitung jago dalam dunia persilatan namun nama besar Si Thay sianseng telah lama ia dengar.

"Si Thay sianseng ? dia...dia kenapa ?" jeritnya lengking. "Karena hawa gusar yang tidak terkendalikan akhirnya

membuat hawa murni dalam tubuhnya bergerak kacau, aku sudah berusaha keras untuk menyelamatkan jiwanya, tetapi terasa aku seorang tak sanggup untuk menolongnya, a...aku.. aku membutuhkan bantuanmu."

"Aku...kepandaian apapun aku tak bisa, mana dapat membantu dirimu ?" seru Giok Jien gugup.

"Nona Giok Jien, bukankan kau pernah belajar ilmu silat

? walau pun kepandaianmu tidak tinggi, tetapi kau tentu mengerti ilmu bersemedi bukan?"

"Be... benar, engkoh Hauw Seng yang ajarkan kepadaku."

"Nah itu dia, cepatlah kemari, tempelkan telapakmu diatas jalan darah Hoa Kay hiatnya, berapa banyak yang bisa kau kerahkan tenaga dalammu, kerahkanlah kedalam tubuhnya."

Giok Jien tidak banyak berbicara, ia segera maju kedepan duduk bersila disisi Si Thay sianseng dan menempelkan telapak tangannya diatas ubun2 tokoh sakti dari dunia persilatan itu.

Tetapi sewaktu telapaknya hampir menempel diatas tubuh Si Thay sianseng, tiba2 telapaknya tak sanggup bergerak lebih mendekat, ia merasa seakan2 terdapat lapisan tak berwujud yang menahan gerakannya.

Menyaksikan kejadian itu Giok Jien jadi gelisah, buru2 serunya:

"Ini. . . ini apa sebabnya?"

"Kerahkanlah tenagamu semampu yang kau miliki?"

Giok Jien kertak gigi, telapaknya dengan sekuat tenaga didorong kebawah, satu coen demi satu coen, telapaknya makin mendekati tubuh Si Thay sianseng menanti keringat telah mengucur keluar telah membasahi seluruh tubuhnya, telapak itupun baru berhasil menempel diatas tubuhnya.

Maksud Tonghong Pek setelah telapak Giok jien menempel diatas jalan darah tersebut, maka ia segera bisa kerahkan tenaga dalamnya ke tubuh tokoh sakti tersebut.

Tetapi, agaknya segenap tenaga yang dimiliki Giok Jien telah habis terkuras, sekalipun akhirnya sang telapak berhasil menempel diatas badan orang itu namun ia tak sanggup mengerahkan tenaganya lebih jauh, bahkan napasnya kedengaran terengah-engah.

Tonghong Pek jadi terperanjat, buru2 serunya.

"Nona Giok Jien, kau jangan ter-engah2, cepat salurkan hawa murnimu bakatmu sangat baik, kalau tidak Tonghong Pacu tidak akan menerima dirimu sebagai muridnya, cepatlah ikuti cara mengerahkan tenaga, tenaga Iweekangmu segera akan mengalir keluar dengan sendirinya."

Giok Jien tertawa getir.

"Tonghong sianseng telah mengusir aku dari perguruannya!"

Mula2 Tonghong Pek kelihatan tertegun, tapi dengan cepat ia berseru.

"Itu bukan soal penting, cobalah dahulu salurkan hawa murni mu, asalkan Si Thay sianseng berhasil diselamatkan maka tak ada urusan lagi."

Giok Jien mengangguk dengan menekan rasa sedih dalam hatinya ia mulai salurkan hawa murninya.

Ketika telapak tangannya ditempelkan diatas jalan darah Hoa Kay Hiat pada tubuh Si Thay sianseng, gadis ini merasakan segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat memancar keluar dari dalam jalan darah itu, se akan2 setiap saat berusaha mementalkan telapak tangannya.

Tetapi setelah ia salurkan hawa murninya, daya tekanan tersebut lama kelamaan semakin berkurang dan tidak lama kemudian ia merasa ada segulung aliran panas menerjang kedalam telapaknya dari balik tubuh Si Thay sianseng, kemudian melewati jalan darah Lauw Kong Hiat mengitari seluruh tubuh, membuat badan sigadis itu terasa nyaman sekali.

Dengan pusatkan segenap tenaganya Giok Jieo salurkan hawa murninya kedalam tubuh Si Thay sianseng, entah lewat berapa lama tiba2 segulung tenaga yang amat besar mementalkan badannya sehingga berjumpalitan kebelakang, Giok Jien terperanjat buru2 ia membuka kembali matanya.

Tampak Si Thay sianseng serta simanusia aneh itu sudah bangun berdiri, kelihatan nyata sekali simanusia aneh itu letih bukan kepalang, ia mundur beberapa langkah kebelakang, bersandar diatas pohon dan tiada hentinya ter- engah2.

Sementara itu air muka Si Thay sianseng telah pulih kembali seperti sedia kala ia tarik napas panjang2.

Giok Jien segera loncat bangun berdiri Si thay sianseng memandang kearah gadis itu kemudian memandang pula kearah Tonghong Pek.

Seperti halnya dengan Giok Jien, Si Thay siansengpun tidak kenal siapakah Tonghong Pek namun ia sadar bahwa selembar jiwanya berhasil diselamatkan oleh simanusia aneh itu!

la segera menjura kearah Tonghong Pek dan berseru: "Terima kasih atas budi pertolongan yang telah anda berikan kepada diriku."

"Si Thay sianseng tak usah sungkan2 kejadian ini sudah semestinya kutolong." jawab Tonghong Pek dengan napas masih ter-engah2.

Si Thay sianseng kelihatan tertegun.

"Tetapi aku orang she Si belum pernah . . belum pernah kenal dengan diri anda?"

"Sudah lama cayhe mengagumi nama besar Si Thay sianseng, tapi tiada berjodoh untuk saling berkenalan, tapi sudah kukatakan aku hanya menolong orang karena kita sama2 sebagai umat dunia persilatan apalagi anda sudah ditolong orang."

"Ooo. . . kiranya begitu!" agaknya Si Thay sianseng sudah mengerti maksud ucapan simanusia aneh itu.

"Kalau bukan nona Giok Jieo kebetulan lewat disini, dengan tenagaku seorang entah apa yang terjadi?" ujar Tonghong Pek kembali.

Si Thay sianseng segera putar badan dan menjura kearah gadis tersebut "Terima kasih atas budi pertolongan nona atas diriku!"

Mimpipun Giok Jien tak pernah menyangka pada suatu saat seorang tokoh sakti yang disegani umat Bu lim ternyata menjura sambil mengucapkan terima kasih kepada dirinya ia jadi kegirangan setengah mati wajahnya memerah dan untuk beberapa saat tak tahu apa yang harus diucapkan, Si Thay sianseng memperhatikan sekejap diri Giok Jien, lalu lambat2 tanyanya:

"Aku dengar dari ucapan sahabat Pek tadi, apakah kau adalah murid Tonghong Pacu?" "Benar!" Giok Jien mengangguk "Ia sudah menerima diriku sebagai murid tetapi sekarang, ia sudah usir aku kembali, ia larang aku mengungkap persoalan ini dihadapan orang lain."

"Apa sebabnya?" sela Tonghong Pek.

Dengan amat sedihnya Giok Jien menghela napas panjang.

"Aku sedikitpun tidak paham, semuanya, ini atas perintah diri Kiem Lan Hoa, bagaimana-pun juga selama ini tak pernah aku diajar ilmu silat, diusirpun biarlah."

"Siapa ayahmu?" tanya Si Thay sianseng sambil menatap gadis itu tajam2.

Teringat akan orang tuanya tak pernah ditemui, gadis itu merasa amat sedih, tak tahan ia menangis tersedu.

Lama sekali dia baru menjawab:

"Aku , , aku adalah seorang anak yatim piatu !"

Lama sekali Si Thay sianseng berdiri termangu2, akhirnya iapun menghela napas panjang.

"Aai. . kau tahu bukan, aku punya seorang putri namun ia tidak berbakti kepada orang tuanya, bahkan dihadapan umum telah mengutarakan maksudnya untuk kawin dengan Tonghong Loei. Ai . . sungguh . , sungguh!" bicara sampai disini, tak tahan air mukanya berubah kembali.

"Nona Si serta Tonghong Loei memang merupakan pasangan yang setimpal" kata Giok Jien sambil berhenti menangis "Si Thay sianseng, kalau benar2 nona Si mencintai Tonghong Loei, mengapa kau ikut bersedih hati?"

"Kau tidak tahu bagaimanakah perasaan orang tua terhadap anak putrinya, lebih baik tak usah kita bicarakan tentang dirinya, sebenarnya aku sudah putus asa tetapi. . . tetapi setelah bertemu dengan dirimu keadaan jadi berbeda..."

"Aaaa. . apa sebabnya?" Tanya Giok Jien tercengang. "Bakatmu sangat baik merupakan bahan yang paling

bagus untuk belajar silat, maukah kau ikuti diriku berangkat ke gunung Go bie?"

Giok Jien tertegun, sementara ia tak sanggup mengucapkan sesuatu, Tonghong Pek yang mendengar berita itu jadi sangat gembira, segera serunya.

"Nona Giok Jien ayoh cepat mengucapkan terima kasih kepada Si Thay sianseng, inilah kesempatan baik yang sukar didapatkan."

Giok Jienpun segera mendusin, buru2 ia jatuhkan diri berlutut keatas tanah.

"Terima kasih atas kesudian cianpwee untuk menerima diriku, aku merasa amat berterima kasih sekali"

Si Thay sianseng menerima penghormatan besar dari Giok Jien itu lalu membimbingnya bangun, setelah itu barulah ia berkata kepada Tonghong Pek. "Sahabat Pek, seandainya kau suka tunjukkan wajah aslimu..."

"Sekarang apa yang Si Thay sianseng jumpai adalah wajah asliku!" lunas Tonghong Pek sambil tertawa getir.

Tokoh sakti dari dunia persilatan itu menunduk sejenak, ujarnya kembali "Budi tak diutarakan dengan ucapan terima kasih, akupun tidak akan banyak bicara lagi, seandainya dikemudian hari anda membutuhkan bantuan, perintahkan saja seseorang kegunung Go bie, aku orang she Si pasti akan membantu dengan segenap tenaga !" Janji sebesar itu sempat diucapkan oleh seorang tokoh sakti nomor wahid dari kolong langit, tentu saja hal ini merupakan suatu kejadian besar buru2 Tonghong Pek menjura:

"Si Thay sianseng, kau terlalu sungkan !"

"Kau telah selamatkan diriku, aku rasa Tong hong Pacu pasti akan membenci dirimu hingga merasuk ketulang, tindak tandukmu harus ber-hati2!" pesan Si Thay sianseng kembali.

Tonghong Pek tertawa getir, pikirnya:

"Aaai...Si Thay sianseng, mimpipun ia tak akan mengira kalau aku sebenarnya adalah putra kandung dari Tonghong Pacu..."

Per-lahan2 ia tarik napas panjang, kemudian ujarnya: "Terima kasih atas perhatian dari Si Thay sianseng, tentu

saja aku bisa menghindarkan diri dari segala bencana,

wajahku aneh dan seram, akupun tidak ingin berjumpa dengan orang, iapun tak akan temukan diriku, hanya saja. . hanya saja. ."

"Hanya saja kenapa?" tukas Si Thay sianseng

"Tonghong Pacu menggunakan perkampungan Jiet Gwat Cung untuk merayakan pesta perkawinan Tonghong Loei, aku rasa dibalik peristiwa tersebut sebenarnya masih terkandung rencana besar lainnya, entah bagaimana menurut dugaan Si Thay sianseng?"

Tokoh sakti dari kalangan lurus itu menghela napas panjang.

"Tentu saja aku sudah menduganya, tetapi persoalan ini tak mungkin bisa kubantu, harap anda suka memaafkan." Tonghong Pek tahu bagaimanakah perasaan Si Thay sianseng pada saat ini, ia bisa memaklumi posisinya, dengan suara berat ia lantas berseru.

"Si Cianpwe, aku duga dalam perkampungan Jit Gwat Cung, Tonghong Pacu sedang mengadakan musyawarah dengan manusia2 golongan sesat !"

Tetapi sebelum Tonghong Pek menyelesaikan kata2nya sekarang Si Thay sianseng sudah mengetahui maksudnya, ia segera ulapkan tangannya tidak membiarkan dia bicara lebih jauh bersamaan itu pula iapun putar badan menggape ke arah Giok Jien dan serunya:

"Mari, ikutilah diriku !"

Badannya segera melayang kedepan diikuti Giok Jien dari belakang dengan langkah terburu2.

Menyaksikan tokoh sakti itu berlalu, Tonghong Pek segera berteriak:

"Si Thay sianseng, aku suka berkelana didalam dunia persilatan dan menyumbangkan sedikit tenagaku, tetapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, harap Si Thay sianseng suka memberi petunjuk"

Si Thay sianseng berhenti menghela napas panjang dan gelengkan kepalanya.

"Sungguh menyesal sekali, anda jauh lebih unggul daripada aku si orang she-Si. dari mana aku si orang she Si bisa memberi petunjuk kepada anda? tetapi...aku rasa orang yang bisa melawan kekuatan Tonghong Pacu serta Kiem Lan Hoa rasanya cuma beberapa tokoh sakti dari kalangan beragama belaka."

Mendengar jawaban itu, Tonghong Pek tertawa getir. Menanti sianak muda itu angkat kepala kembali, bayangan tubuh Si Thay sianseng serta Giok Jien telah lenyap tak berbekas.

Akhirnya ia menghela napas panjang, berjalan kedepan dan terus berlalu tanpa tujuan, ia merasa dunianya semakin terpencil, ia rasa hanya kegelapan yang pantas menyelimuti dirinya...

Dalam pada itu suasana dalam perkampungan Jiet Gwat Cung amat ramai sekali, irama musik berkumandang tiada hentinya, ditambah gelak tertawa serta suara pembicaraan manusia membuat suasana kelihatan semakin meriah, setiap orang menunjukkan wajah cerah.

Menanti malam semakin kelam, suasana dalam perkampungan Jiet Gwat Cung semakin ramai, ratusan orang jago Bulim yang belum tiba siang harinya, kini sudah pada hadir dan memenuhi ruangan, walaupun tengah ruangan sudah diatur ratusan meja perjamuan namun ada separuh bagian yang merasa kepandaian silatnya tidak memadahi, tidak berani duduk diruang tengah melainkan hanya berada dipojokan belaka.

Ketika tengah malam sudah lewat kegembiraan bukan saja tidak lenyap bahkan semakin bertambah lipat ganda, ketika itulah tiba2 kedua orang Cungcu dari perkampungan Jiet Gwat Cung sama2 meloncat naik keatas sebuah meja.

Tindakan yang muncul secara tiba2 ini membuat semua orang jadi tertegun, suasanapun seketika jadi sunyi hening.

Terdengar kedua orang itu segera berseru lantang: "Sahabat2   sekalian   suka   sama2   berkumpul   dalam

perkampungan kami. Hal ini merupakan suatu kebanggaan buat kami tetapi seandainya bukan Tonghong sian-seng

mengadakan     pesta    perkawinan     buat     putranya    di perkampungan kami, rasanya tentu sulit untuk mengumpulkan kalian semua ditempat ini, ditinjau dari hal ini boleh dikata Tonghong sianseng adalah jagoan nomor satu dalam dunia persilatan, benar bukan?"

Tempik sorak berkumandang memenuhi seluruh ruangan mengiringi ucapan tersebut.

Menyaksikan sambutan para jago, semu merah air muka Ting Kang serta Ting Lou kelihatan amat bangga, mereka segera ulapkan tangannya untuk menenangkan suasana, setelah hening mulai mencekam, mereka bersuit nyaring dan berseru kembali:

"Sahabat2 dari pelbagai daerah harap tenang dahulu, kami masih ada perkataan hendak di sampaikan kepada kalian!"

Air muka Ting Kang serta Ting Lou berubah serius dan keren senyuman yang semula menghiasi bibirnya kini lenyap tak berbekas, ujarnya kembali.

"Pepatah kuno mengatakan. "Ular tanpa kepala tak dapat berjalan", sejak jaman dahulu kala meskipun perguruan serta partai yang ada didalam Bu lim sangat banyak, tetapi belum pernah dipilih seorang Bengcu yang bisa memimpin seluruh perguruan serta seluruh partai yang ada dikolong langit pertama karena tiap manusia mempunyai tujuan yang berbeda, kedua, selama ini belum ada seorang jago lihay dunia persilatan pun yang bisa menguasahi seluruh umat Bulim.

Bicara sampai disini, mereka merandek sejenak. Reaksi dari ucapan itu segera muncul dihati masing2 orang, reaksi merekapun berbeda ada yang menunjukkan rasa girang, ada pula yang merasa kurang beres sebab mereka dapat menangkap maksud kedua orang bersaudara Ting untuk mengangkat Tonghong Pacu sebagai Bulim Bengcu. Beberapa saat kemudian dua bersaudara Ting berkata kembali.

"Dan sekarang ilmu silat yang dimiliki Tong hong sianseng lelah dikagumi oleh seluruh kolong langit, pada saat inipun kebetulan sekali seluruh jago dunia persilatan pada berkumpul di perkampungan Jiet Gwat Cung. Inilah kesempatan yang paling baik bagi kita untuk angkat Tonghong sianseng sebagai Bu lim Bengcu, entah bagaimana maksud anda sekalian?"

Tempik sorak kembali meledak memenuhi angkasa, bahkan ada pula sebagian orang Bu-lim yang segera mengakui Tonghong pacu sebagai Bengcu, mereka berteriak keras:

"Tonghong Bengcu, harap suka menerima penghormatan kami."

Dalam sekejap mata, bukan saja suasana dalam ruangan kacau balau tidak karuan, bahkan ada pula yang mulai meninggalkan tempat duduknya dan maju kedepan untuk memberi hormat kepada Tonghong Bengcu.

Sedangkan mereka2 yang tidak ingin menganggap Tonghong Pacu sebagai Bulim Bengcu segera membungkam dengan wajah serius, mereka hendak melihat perubahan situasi kemudian.

Terdengar dua saudara Ting membentak berulang kali untuk menekan suara hiruk pikuk banyak orang, lalu teriaknya keras-keras:

"Harap kalian jangan bertindak sembarangan dahulu, mengangkat Tonghong Sianseng sebagai Bengcu merupakan suatu peristiwa yang amat besar dalam dunia persilatan, mana boleh kita bertindak seenaknya? kita harus minum darah untuk mengutarakan sumpah!" Berbicara sampai disitu kedua orang bersaudara Ting segera berteriak.

"Bawa kemari hioloo tersebut!"

Suara mengiakan berkumandang datang, pintu tengah terbuka lebar delapan orang lelaki kekar dengan menggotong sebuah hioloo besar yang memancarkan cahaya emas lambat2 berjalan masuk.

Para jago yang tidak ingin mengangkat Tonghong Pacu jadi Bu-lim Bengcu jadi tertegun setelah menyaksikan kejadian itu, dengan sudah tersedianya hioloo tersebut berarti pihak mereka sudah siap dengan rencana tersebut.

Beberapa jago diantaranya yang tidak ingin melibatkan diri dalam pengangkatan itu berseru:

"Cungcu berdua !"

"Saudara2 sekalian ada urusan apa ?" tanya Ting Kang serta Ting Lou sambil putar badan.

"Kami masih ada sedikit urusan yang harus diselesaikan, maaf tak bisa menghadiri upacara ini lebih lanjut, selamat tinggal !"

Selama tiga empat orang berkata, sisanya puluhan orangpun sama meninggalkan tempat perjamuan untuk mohon diri bahkan makin lama jumlah orang yang mohon diri semakin banyak.

Menyaksikan kesemuanya itu, Ting Kang serta Ting Louw tertawa terbahak2, sahutnya:

"Saudara2 sekalian, berada didepan orang budiman tidak bicara bohong, pada saat ini anda sekalian hendak berlalu, aku rasa dalam hati tentu kalian tidak ingin mengangkat Tonghong sianseng sebagai Bu lim Bengcu bukan ?" Diantara orang2 itu hanya ada dua orang yang menjawab dengan suara keras bagaikan geledek:

"Benar kalau ingin angkat Bengcu segala, aku minta tak mau tahu!"

Semua orang segera alihkan sinar matanya ke arah orang itu, tampaklah kedua orang itu meski suaranya keras seperti geledek namun perawakannya kecil dan pendek mereka kenakan pakaian berwarna hitam pekat, ketika terkena sinar memantulkan cahaya yang menyilaukan mata.

Ting Kang serta Ting Lou segera tertawa keras, ujarnya kembali:

"Aku kira siapa, ternyata Toocu berdua dari pulau Me In Too di lautan Timur, apakah kalian berdua merasa ilmu silat yang dimiliki Tonghong sianseng kurang lihay sehingga kalian tak mau anggap dirinya sebagai Bengcu?"

Kedua orang manusia cebol itu she Sim dan merupakan Toocu dari pulau Me ln To yang ada dilautan Timur. ilmu silatnya aneh sekali dan berasal dari perguruan yang berbeda dengan aliran lain.

Suasana jadi sunyi dan hening . . . tiba2 terdengar Sim Toa tertawa dingin: "Aku bilang tidak mau yaa tidak baik, aku baik2 hidup dengan hati gembira, mengapa harus angkat seorang Bengcu untuk mengurusi gerak-gerik kami?"

"Ting Lotoa, Ting Lojie, kalau kalian berdua suka diurusi oleh orang lain, mengapa tidak cepatan menganggap Tonghong Pacu sebagai bapakmu ?"

Ucapan dari Sim Toa serta Sim Jie dua orang Toocu dan pulau Me-In Tuo ini kasar sekali, membuat sebagian besar para hadirin ingin tertawa namun mereka tak berani tertawa sebab mengerti urusan amat serius. Setelah berbicara, kedua orang toocu itupun dengan langkah lebar berjalan menuju kepintu luar tetapi baru saja melangkah dua tiga langkah mendadak mereka tertegun, sebab pintu besar diruang tengah telah tertutup rapat.

Bukan saja pintu tersebut tertutup rapat, bahkan di depan pintu berdiri delapan orang lelaki yang ber-jaga2 dengan mata melotot besar.

Menyaksikan hal tersebut, dua bersaudara she Sim merasa terkejut bercampur gusar, mereka putar badan seraya membentak:

"Hey orang she Ting, sebenarnya apa maksudmu ?" "Apakah kalian berdua belum paham ? seluruh jagoan

yang ada dikolong langit telah menyatakan setuju untuk mengakui Tonghong sianseng sebagai Bu lim Bengcu, seandainya kalian sendiri yang menolak bukankah hal ini berarti bahwa kalian ada maksud memusuhi para jago dikolong langit ? Mana bisa kami biarkan kalian berdua berlalu?"

Siapapun dapat menduga, kepergian dua bersaudara she Sim itu pasti tidak gampang, tetapi siapapun tak menyangka kalau ucapan dari Ting Kang barusan begitu polos, terbuka dan tanpa tedeng aling2.

Mendengar perkataan itu, dua bersaudara she Sim sama2 mendengus dingin, telapak tangannya diputar, serentetan cahaya berkilauan memancar keempat penjuru. tahu2 ditangan mereka berdua telah bertambah dua bilah padang pendek, diikuti badannya berputar kencang, cahaya pedang berkilauan disusul desiran angin tajam men-deru2, seketika itu juga tampak dua sosok bayangan manusia menubruk ke arah dua bersaudara she Ting. Baik Ting Kang maupun Ting Lou sama2 telah menduga kalau pihak lawan bakal menyerang kepada mereka, posisi mereka yang semula merapat kini semakin rapat lagi, ujung baju kedua orang itu sama2 dikebaskan kedepan.

Gerakan tubuh dua bersaudara she Sim sangat cepat sekali, baru saja Ting Kang serta Ting Lou mengebaskan ujung bajunya, Sim Toa serta Sim Jie telah berada dihadapan mereka, pedangnya segera merandek berbareng pedang yang berada disebelah kiri mengancam tubuh bagian atas, sedangkan pedang yang ada disebelah kanan membabat kearah ujung baju yang sedang menyapu ke arah mereka.

Didalam sekejap mata suara desiran tajam berkumandang memenuhi angkasa ujung baju Ting Kang serta Ting Lou yang sedang diayun kedepan telah tersambar robek oleh babatan pedang pendek tersebut.

Pada saat itulah mendadak Ting Kang serta Ting Lou jatuhkan diri ke belakang, sambaran pedang Sim toa serta Sim-Jie yang mengincar tubuh bagian atas mereka mengenai sasaran kosong di ikuti tendangan kilat dilancarkan kedepan..Duuk! Duuk,.,! dua tendangan kilat bersarang telak ditubuh dua bersaudara she Sim.

Sim Toa serta Sim Jie segera memperdengarkan jeritan aneh yang menggetarkan seluruh ruangan, tubuh mereka berjumpalitan beberapa kali ke belakang, sehingga merobohkan beberapa lembar meja sebelum akhirnya berhasil terdiri tegak kembali.

Menanti mereka berhasil berdiri tegak, air muka semua orang itu telah berubah hebat.

Ting Kang serta Ting Lou pun tidak mengejar lebih jauh setelah berhasil duduk diatas angin, mereka hanya tertawa dingin tiada hentinya sambil berseru: "Pikiran kalian berdua sudah terbuka ? jangan dikata semua orang yang hadir dalam perkampungan Jiet Gwat Cung pada saat ini, sekalipun orang2 Bu lim lainnya yang berani tidak mengakui Tonghong sianseng sebagai Bengcu pun akan mengalami nasib yang sama mati atau hancur binasa."

Apa yang diucapkan dua orang bersaudara she Ting sudah cukup jelas bagi pendengaran semua orang tetapi Sim toa serta Sim jie kembali meraung gusar, sekali lagi badannya menubruk ke depan Kali ini Ting Kang serta Ting Lou tidak berani bertindak gegabah, menyaksikan datangnya tubrukan mereka segera loloskan pedangnya menciptakan bunga2 pedang dan sambut datangnya serangan lawan.

-ooo0dw0ooo-