Jago Kelana Jilid 15

Jilid 15

"APAKAH anda adalah Tonghong sianseng yang ingin bertemu dengan diriku." tanya Loei Sam dengan suara berat.

"Loei Sam, mengapa kau panggil aku dengan sebutan Tonghong sianseng?" suara dari Tonghong Pacu kedengaran makin lunak dan lembut.

Loei Sam tertegun, ia tak tahu apa yang sedang diartikan gembong iblis itu.

"Lalu kau suruh aku memanggil apa?" Loei Sam adalah seorang pemuda cerdik, saat ini ia dapat melihat bahwa dibalik kejadian itu masih ada persoalan lain, tidak mungkin Tonghong Pacu mengundang dirinya kemari tanpa sebab, tetapi meski ia cerdik paling banter yang terpikirkan adalah kemungkinan iblis tersebut hendak menerima dirinya sebagai murid.

Sekalipun begitu, Loei Sam sudah merasa cukup gembira, sebab apabila benar demikian, ia pun tak usah takut, melarikan diri kesana kemari. siapa yang berani mengganggu anak murid Tonghong Pacu, gembong iblis nomor wahid paling disegani oleh umat Bu-lim. "Sam-jie, aku adalah ayah kandungmu, apa yang harus kau sebut terhadap diriku?" kata Tonghong Pacu sambil tarik napas panjang2.

Loei Sam adalah seorang pemuda cerdik, ucapan Tonghong pacu pun sederhana, bahkan seorang bocah usia tiga tahunpun segera akan mengerti, namun saat ini ia tak bisa berbicara, mulutnya melongo lebar2, matanya terbelalak tak sepatah katapun bisa meluncur keluar dari bibir.

Menyaksikan keadaan putranya, Tonghong Pa cu mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaa. . . haaa . . kenapa kau? mulutmu me longo lebar tetapi tak bersuara? kau tidak dengar apa yang kukatakan kepadamu barusan?"

Si Chen yang ada disamping pemuda itupun ikut berdiri tertegun, menanti teguran itu berkumandang, dara ini baru menjerit keras.

"Suko, dia bilang kau . . kan adalah putranya."

Loei Sam tidak dapat menjawab, ia berpaling dan sambil tertawa getir ujarnya:

"Aku... dari mana mungkin aku adalah putranya? sumoay, aku bilang. . hal ini mana mungkin?"

Tonghong Pacu tertawa.

"Suatu ketika mendadak kau tahu akan asal usul sendiri, tentu saja rasa kaget tak bisa dihindari, keadaanmu persis seperti kakakmu Tonghong Pek, kalian adalah saudara seayah lain ibu."

"Apa?" sekali lagi Loei Sam terperanjat.

"Dia adalah toakomu!" kata Tonghong Pacu sambil menuding kearah Tonghong Pek "Kalian adalah sesama saudara. sedang aku adalah ayah kalian, yang berbeda dari kalian adalah kamu dilahirkan oleh ibu yang berbeda."

Loei Sam berdiri tertegun, tetapi dengan cepat ia sudah tertawa.

"Aaah, kejadian ini . . kejadian ini menggembirakan sekali, sungguh tak nyangka, sungguh tak nyangka."

"Tentu saja menggembirakan, kita ayah dan anak tiga orang belum pernah berkumpul menjadi satu, tapi sekarang kita sudah bertemu dan berkumpul kembali."

Loei Sam bingung, sebentar ia pandang Tonghong Pacu sebentar memandang Tonghong Pek, dalam hati ia masih belum paham secara bagaimana dia adalah putra gembong iblis tersebut, dalam hati ia masih belum paham secara bagaimana dia adalah putra gembong iblis tersebut, malah ia senang dengan hubungan ini.

"Putra tidak berbakti Loei Sam menghunjuk hormat buat ayah !"

Tonghong pacu kegirangan ia mendongak tertawa terbahak kemudian membimbing bangun pemuda itu.

Sementara Si Chen yang ada disisinya segera berteriak: "Suko !"

Tonghong pacu angkat kepala. agaknya ia sudah menduga apa yang hendak diucapkan Si Chen terhadap Loei Sam segera serunya dengan suara berat:

"Nona Si, asal usul dari Loei Sam sudah diketahui oleh ayahmu !"

"Hal ini . . hal ini tak mungkin !" teriak Si Chen setelah tertegun sejenak. Dia adalah putri Si Thay sianseng, bagaimana tabiat ayahnya tentu saja gadis ini tahu jelas.

Si Thay sianseng adalah seorang manusia yang membenci akan kejahatan, dengan Tonghong Pacu mereka berdiri bermusuhan, seandainya Si Thay sianseng benar2 sudah mengetahui asal-usul Loei Sam, secara bagaimana ia masih sudi menahan pemuda itu sebagai muridnya.

Jangan dikata Si Chen tidak percaya, sekali pun Loei Sam masih menunjukkan perasaan ragu2 dan setengah percaya setengah tidak.

"Si Thay sianseng masih hidup dikolong langit, kalau kalian tidak percaya dengan perkataanku tanyalah sendiri kepadanya. Ketika Si Thay sianseng mengetahui asal usul Loei Sam, waktu itu kau sedang berusia dua belas tahun, meski demikian ia telah turunkan sim hoat ilmu silatnya ke pada mu, berada dalam keadaan seperti ini ia jadi serba salah, maju tidak benar mundurpun salah."

Bicara sampai disitu ia merandek sejenak dan melirik kearah Loei Sam.

Dalam hati Loei Sam sangat membenci Si Thay sianseng, ia dapat membayangkan seandainya apa yang dikatakan Tonghong Pacu saat ini benar, maka pada waktu itu rasa sedih yang dialami Si Thay sianseng benar2 sukar dilukiskan.

"Bagus, memang seharusnya kita bikin hatinya mendongkol." tak kuasa lagi ia berseru.

Si Chen melotot sekejap kearah Loei Sam, namun ia tak mengucapkan sepatah katapun.

Kembali Tonghong Pacu berkata. "Benar, ketika aku tiba digunung Gobie untuk berjumpa dengan dirinya, saat itu kalau kubawa pergi dirimu, maka inti seri ilmu silatnya akan segera tersebar ditempat luaran, tentu saja ia tak sudi berbuat demikian, oleh karena itu ia mohon agar aku jangan mengungkap persoalan ini dan biarkan kau tumbuh jadi dewasa di bawah asuhannya, waktu itu aku sanggupi permintaan nya asalkan ia tidak pilih kasih dan bersikaplah kepadamu, kalau tidak maka asal usulmu akan segera ku bongkar."

"Ehm ! terhadap diriku memang ia tidak pilih kasih atau menganak tirikan, bahkan sampai2 ilmu silat yang tak dapat diturunkan kepada murid lainpun telah diwariskan kepadaku." kata Loei Sam membenarkan.

oooOdwOooo

BAB 15

"HMMM ! kau bilang tidak pilih kasih? kalau ia tidak tahu asal usulmu, maka kau sebagai murid kesayangannya tentu akan di jodoh kan dengan putrinya, mengapa ia melarang hubungan kalian?"

Si Chen yang ikut mendengarkan ucapan itu segera menghela napas panjang.

"Aaaai . . kiranya karena persoalan ini, kira nya karena persoalan ini . ."

"Tidak salah. memang karena persoalan ini!" Tonghong Pacu menegaskan "Kalau dia larang putrinya kawin dengan Loei Sam masih tidak mengapa, apa sebabnya ia sebar surat Enghiong Tiap agar seluruh umat Bu lim yang ada dikolong langit sama2 menyulitkan Loei Sam? setelah ia ingkari janji sendiri, tentu saja akupun tidak akan mengetahui asal usul Loei Sam!" Setelah mendengar perkataan itu, Loei Sam baru yakin bahwa dirinya benar2 adalah putra Tonghong Pacu, saking girangnya tak tahan lagi air mata mengucur keluar membasahi pipinya.

Tonghong pacu cekal tangan putranya erat2, jelas iapun merasa sangat kegirangan.

Beberapa saat kemudian Tonghong pacu berkata kembali:

"Nona si, kau dengan Loei Sam adalah sepasang suami istri yang paling ideal dikolong langit pada dewasa ini, dihadapanmu sepantasnya aku tidak mengucapkan kata2 yang menjelekkan ayahmu, tetapi kalau bukan hatinya yang keras seperti baja. kalianpun tidak akan dipaksa berpisah !"

Saat ini Si Chen benar2 dibikin bingung dan bimbang, ia tidak mengira Loei Sam yang dicintainya dengan segenap jiwa raga ternyata adalah putra Tonghong Pacu, musuh bebuyutan ayahnya, ia tidak tahu bagaimana sikapnya dan bagaimana harus menghadapi kejadian ini.

Tetapi ketika ia berpaling dan melihat Loei Sam sedang memandang kearahnya seakan2 memberi bisikan agar ia terima kenyataan tersebut, hatinya jadi lunak sehingga akhirnya tanpa rasa ia mengangguk.

Loei Sam jadi kegirangan setengah mati ia cekal tangan gadis itu erat2 seraya berkata:

"Nah, cepatlah hunjuk hormat kepada Thia mulai saat ini ayahku adalah ayahmu, kita akan hidup dengan sentosa!"

Merah jengah selembar wajah Si Chen, ia tundukkan kepalanya rendah2 dan maju kedepan lalu menghunjuk hormat kepada Tonghong Pacu, bahkan memanggil namanya, hanya suara gadis itu amat lirih, bahkan si gembong iblis itu sendiripun tidak mendengar.

Namun kejadian ini cukup diluar dugaannya, buru2 ia membimbing bangun dara tersebut seraya berkata:

"Ayoh bangun ayoh bangun! tak usah banyak adat, haa .

. . haa ini hari bukan saja kita ayah dan anak bisa bertemu kembali. bahkan kalian suami istri berdua pun bisa disahkan secara resmi aku pasti akan umumkan hubungan kalian berdua keseluruh dunia persilatan!"

Si Chen merasa senang ketika mendengar Tonghong Pacu menyebut mereka berdua sebagai suami istri, wajahnya makin merah jengah, Loei Sam pun kegirangan serunya, "Ayah, asal ada kau yang sponsori hal ini jauh lebih baik, hanya saja kehadiran Si Thay sianseng akan mendatangkan kerepotan buat Tia!"

"Kenapa aku takut bertemu dengan dirinya." kata Tonghong Pacu sambil tertawa panjang. "Loei jie, aku sudah pikirkan baik2, mulai sekarang namamu diganti jadi Tonghong Loei, Tonghong adalah she mu sedang sijual obat she-Loei itu pernah melepaskan budi kepadamu, dikemudian hari kau harus ingat baik2 akan dirinya, bagaimana nama tersebut menurut kau ?"

"Ayah yang memberi nama, hal ini tentu lebih bagus lagi

!" buru2 Loei Sam menjura kembali.

Pembaca yang budiman, untuk mempemudah pembaca maka mulai saat ini nama Loei Sam kita ganti jadi Tonghong Loei.

Tonghong Pacu benar2 merasa gembira, ia berseru: "Ayoh bangun, ayoh bangun, Loei jie. cepat pergi hunjuk

hormat kepada saudaramu." Tonghong Loei bangun berdiri dan per-lahan2 putar badan.

Sejak semula Tonghong Pek sudah merasa mual akan sikap hangat antara Tonghong pacu dengan Tonghong Loei, kini melihat pemuda itu berpaling kearahnya, dengan cepat ia menukas: "Tidak perlu !"

"Apa maksudmu ?" seru Tonghong Pacu dengan air muka berubah hebat. "Dia adalah saudaramu. kita sesama saudara bertemu untuk pertama kakinya, mana boleh kau tidak terima penghormatannya ?"

Air muka Tonghong Pek berubah hebat, ia membungkam dalam seribu bahasa.

"Tia !" kata Tonghong Loei. "Tempo dulu ketika masih diluar perbatasan, aku pernah melukai diri toako."

Sengaja Tonghong Loei menyebut kata "toako" tersebut keras2. hal ini makin menggusarkan hati.

"Waktu itu kau tidak kenal dirinya dan diapun tak kenal dirimu, kesalahan paham kemungkinan besar terjadi, tetapi sekarang kita adalah orang sendiri, aku larang siapapun mengungkap kembali peristiwa yang terjadi pada masa lampau !"

Tonghong Loei tertawa, ia segera menjura ke arah Si Soat Ang.

"Nona Si, tempo dulu aku sudah melakukan kesalahan kepadamu, harap kau suka memaafkan perbuatan itu." katanya.

Ketika teringat secara bagaimana ia hendak diperkosa oleh Tonghong Loei, dalam hati Si Soat Ang benar2 merasa gusar, tetapi saat ini ia berusaha menahan diri. "Tempo dulu kita tidak saling kenal, suu... sudahlah, tak usah kita ungkap lagi !"

Tonghong Pek mendengus dingin. "Soat Ang! kau . . . kau . . ."

Sebenarnya ia hendak menegur gadis itu mengapa mengucapkan kata2 tadi terhadap Tonghong Loei, tetapi berpikir lebih jauh akhirnya ia batalkan maksudnya dan menghela napas panjang.

Disapunya beberapa orang itu dengan sinar mata dingin lalu tertawa dingin. lalu tertawa per-lahan2 putar badan dan berlalu.

Diantara beberapa orang ini, Si Soat Ang-lah paling gelisah. dengan susah payah ia nasehati Tonghong Pek agar datang berjumpa dengan ayahnya, ia mengira setelah bertemu dengan gembong iblis itu sedikit banyak ia akan bersikap istimewa kepadanya.

Siapa sangka Tonghong Pacu malah lebih menyayangi Si Chen dari pada dirinya, bukan saja ia tidak disanjung bahkan digubrispun tidak, se akan2 ia tidak pandang sebelah matapun kepada nya hal ini membuat gadis dari benteng Thian It Poo ini jadi mendongkol

Sekarang menyaksikan pula Tonghong Pak hendak berlalu, ia semakin gelisah, sambil de-pakkan kakinya ia berseru.

"Tonghong toako, kau hendak pergi kemana?"

Tonghong Pek tertegun, sesaat kemudian ia baru menjawab.

"Soat Ang, biarlah aku menenangkan hatiku seorang diri, kau tunggulah aku sejenak, segera aku akan kembali.." Berbicara sampai disini, ia tertawa getir dan melanjutkan:

"Kau harus tahu bahwa aku akan kembali ke-sini, kalau aku tidak kembali kemari. tempat mana lagi yang dapat kutuju ?"

Si Soat Ang ingin mengucapkan sesuatu, namun Tonghong Pacu sudah menukas dengan suara berat:

"Biarkan dia pergi. ia dapat kembali, kau tak usah menghalangi jalan perginya."

Si Soat Ang tertegun, ia saksikan air muka Tonghong Pacu keren dan penuh kewibawaan, sikapnya jauh berbeda kalau dibandingkan sewaktu berhadapan dengan Tonghong Loei serta Si Chen, Si Soat Ang merasa amat terperanjat ia tidak berani bicara lagi, terpaksa ia biarkan Tonghong Pek per-lahan2 berlalu dari situ hingga akhirnya lenyap dari pandangan.

Saat ini ia berada dalam situasi serba rikuh, mau menggabungkan diri dengan Tonghong Pacu, namun gembong iblis itu tak sudi menerima dirinya, ia lantas bermaksud kembali kesisi Ciang Ooh.

Mendadak...terdengar Tonghong Pacu menegur dengan suara berat.

"Kau kemarilah !"

Si Soat Ang kaget dan mendongak, tampak sepasang mata gembong iblis itu sedang memandang kearahnya dengan sinar mata tajam, jelas ucapan tadi ditujukan kepadanya.

Begitu tajam sinar matanya membuat gadis itu bergidik, bukannya maju kedepan ia malah mundur dua langkah kebelakang. Akhirnya ia tiba disamping Ciang Ooh, tangan perempuan tengkorak itu segera dicekalnya erat2.

"Hey, aku suruh kau datang kemari, kenapa kau tidak kemari ?" kembali Tonghong Pacu menghardik sambil tertawa dingin, sepasang matanya menatap gadis itu tajam2.

Si Soat Ang sadar Tonghong pacu tidak menaruh simpatik kepadanya, terpaksa dengan keraskan kepala ia bertanya.

"Kau ada urusan apa ? katakan cepat !"

"Hmm. . ! baik, aku beritahu kepadamu, aku larang kau bergaul dengan Tonghong Pek lagi, kau tidak pantas bersama dia."

Ucapan ini benar2 tajam bagaikan sebilah pisau yang menembusi ulu hatinya, Si Soat Ang merasa amat gusar wajahnya berubah hijau membesi,

"Kau. . kau.. kau. . kau ?"

"Ayoh cepat enyah dari sini, ingat jangan berada sama2 Tonghong Pek lagi, kalau tidak meski ibu kandungmu pun tidak akan bisa selamatkan jiwamu!"

"Hmmm. . . soal ini tak bisa diputuskan oleh aku seorang?"

Maksud Si Soat Ang jelas sekali, suruh dia bersama2 Tonghong Pek memang gampang, tetapi apakah Tonghong Pek sanggup tidak bertemu lagi dengan dirinya?"

Walaupun Si Soat Ang tidak menjelaskan, namun Tonghong Pacu mengetahui maksudnya, ia segera tertawa dingin.

"Tentang soal ini..." Belum habis ia bicara tiba2 berkumandang suara tertawa yang aneh memotong perkataannya.

Tenaga lweekang yang dimiliki Tonghong Pacu amat sempurna, meskipun dalam berbicara namun hawa murninya tersalur pula pembicaraan sehingga membuat suaranya nyaring, bukan pekerjaan yang gampang untuk menutupi suara ucapannya.

Tetapi saat ini gelak tertawa aneh tadi telah memotong suaranya.

Tonghong pacu terperanjat ketika ia mendongak, maka nampaklah dengan langkah lebar Ciang Ooh sedang berjalan mendekat, wajahnya yang kurus kering memancarkan cahaya menggidikkan.

"Apa yang kau katakan ?" ia menegur, "Kau katakan putriku tidak pantas jadi apa?!"

Sejak semula Tonghong Pacu sudah menyadari meski ilmu silat yang dimiliki Ciang Ooh sangat lihay namun dia adalah seorang perempuan edan, maka pertanyaan tersebut tidak digubris sebaliknya sebagai jawaban ia mengerling sekejap kearah Tonghong Loei.

Tonghong Loei adalah manusia cerdik, ia lantas mengerti yang dimaksudkan ayahnya, sang badan berputar segera menyelinap kebelakang Ciang Ooh.

Dalam pada itu si perempuan edan masih berteriak dengan suara nyaring:

"Putriku tidak pantas jadi apa? aku beritahu kepadamu jadi apapun putriku pantas."

Tonghong Pacu membungkam, diam2 hawa murninya telah disalurkan mencapai pada puncaknya lalu dikumpulkan keatas telapak kanan. "Benarkah begitu?" jengek sigembong iblis sambil tertawa dingin.

Bersamaan dengan ucapan itu telapak kanan nya tiba2 diayun kedepan.

Si Soat Ang terperanjat, buru2 ia menyingkir kesamping dan mundur kebelakang.

"Braak !" belum sempat gadis itu mengucapkan sesuatu, serangan yang dilancarkan Tonghong pacu secepat kilat itu sudah bersarang telak diatas lambung Ciang Ooh.

Serangan ini dilancarkan gembong iblis itu dengan segenap tenaga yang dimilikinya, batu cadas pun akan hancur remuk apabila terhajar oleh serangannya, jangan dikata manusia biasa!

Namun Ciang Ooh bukan manusia sembarangan, ketika serangan tadi menyambar ke tubuh nya otomatis tenaga perlawanan segera muncul dari balik tubuhnya mementalkan datangnya serangan.

Bahkan karena dahsyatnya tenaga pantulan tersebut, Tonghong pacu sampai terdesak mundur sendiri selangkah kebelakang.

Dalam pada itu Tonghong Loei yang telah menyelinap kebelakang Ciang Ooh telah menubruk ke depan, ia menyelonong kepunggung perempuan edan tadi, lalu mencekal gagang pisau belati yang masih menancap diatas punggungnya, kemudian dengan sekuat tenaga senjata tadi dicabut keluar.

Pisau belati itu adalah senjata yang tertinggal diatas punggung Ciang Ooh ketika Tonghong Loei hendak membokong perempuan tersebut sewaktu masih ada dalam benteng Thian It Poo. Pada saat itu Tonghong Loei mengira ia pasti berhasil membunuh Ciang Ooh, siapa sangka tenaga dalam perempuan itu sangat lihay, tusukan tersebut segera terhisap oleh hawa murninya, bukan saja tidak mengucurkan darah, bahkan terasapun tidak.

Seandainya pisau belati itu dibiarkan tetap berada diatas punggung Ciang Ooh, mungkin ia tidak akan menderita, tapi kini, senjata tersebut telah dicabut oleh Tonghong Loei.

Ketika pisau belati tersebut dicabut keluar, kebetulan seluruh hawa murni yang dimiliki Ciang Ooh sedang dikerahkan kebagian depan untuk menahan serangan dari Tonghong Pacu, maka begitu senjata tadi dicabut, darah segar bagaikan air mancur keluar membasahi seluruh permukaan tanah.

Seluruh tubuh Ciang Ooh bergetar keras, tangannya berusaha mencakar, seakan hendak mengetahui bagian manakah dari tubuhnya yang terluka, otomatis tanpa sadar hawa murni yang dimilikinya segera mengalir ke arah mulut luka tersebut.

Pembaca budiman, haruslah diketahui tenaga dalam yang dimiliki Ciang Ooh adalah hasil yang didapat tanpa sadar, ia tak tahu bagaimanakah mengatur dan mengontrol hawa murni tersebut.

Apabila dihantam orang atau ditendang orang, otomatis hawa murni tadi akan memberikan perlawanan, tapi keadaan pada saat ini jauh berbeda, punggungnya terluka oleh tusukan pisau belati.

Berada dalam keadaan seperti ini, seharusnya ia atur hawa murninya agar darah yang mengalir keluar tidak terlalu deras, tetapi ia sama sekali tak paham bagaimana caranya mengatur hawa murni, bukan saja hawa murninya segera mengalir ke arah mulut luka, bahkan darah segarpun mengucur keluar semakin deras lagi.

Dalam sekejap mata tubuh Ciang Ooh sudah berdiri dengan sempoyongan, ia tak sanggup berdiri tegak lagi.

Beberapa kejadian ini berlangsung terlalu men dadak, Si Soat Ang yang berada disisi kalangan meskipun menyaksikan kesemuanya itu, namun ia tak tahu apa yang harus dilakukan.

Tubuh Ciang Ooh semakin gontai, darah segar yang memancur keluar dari mulut luka di punggung pun semakin perlahan, ini menunjuk bahwa perempuan gila ini sudah kehilangan banyak darah.

Sementara itu Tonghong Loei sudah kembali kesisi ayahnya. sambil menyeka darah yang membasahi wajahnya ia berseru:

"Tia! apakah perbuatanku tepat ?!"

Sejak ilmu silat Tonghong Pacu berhasil mencapai puncak kesempurnaan belum pernah ia temukan tandingan, Namun ditangan Ciang Ooh ia sudah menderita kerugian kecil, sejak semula ia ada maksud melenyapkan perempuan gila ini, menyaksikan keadaan siperempuan sinting, ia jadi kegirangan setengah mati, sambil tertawa terbahak2 sahutnya.

"Anakku, perbuatanmu tepat sekali, mari kita pergi."

Ia ulap tangannya, Tonghong Loei segera menggandeng tangan Si Chen, dan berlalu dari situ mengikuti dibelakang Tonghong Pacu.

Menanti ketiga orang itu sudah lenyap dari pandangan Si Soat Ang baru berhasil menenangkan hatinya, buru2 ia mendekati Ciang Ooh, ketika itu siperempuan sinting tadi masih berdiri namun darah yang mengalir keluar dari mulut lukanya itu semakin lirih diikuti buih2 hawa yang meletup diangkasa!

Tangannya menyambar kesana kemari seperti mau mencari sebuah cekalan, tetapi ia tidak mendapatkan apapun, akhirnya perempuan itu mundur sempoyongan dan roboh terjengkang keatas tanah.

Si Soat Ang tertegun, buru2 ia hampiri Ciang Ooh, dimana saat ini keadaannya jauh lebih mengerikan.

Bibir Ciang Ooh bergetar, tenggorokannya ber suara se- olah2 ia ingin berbicara namun sesaat tak sepatah katapun berhasil meluncur keluar dari mulutnya.

Si Soat Ang sadar, kali ini Ciang Ooh tidak bakal tertolong lagi, darah yang mengalir dari mulut lukanya amat deras, saat ini perempuan tersebut sudah kehabisan darah, sebentar lagi nyawanya tentu melayang.

Karena tahu bahwa perempuan tersebut tidak berguna lagi baginya maka setelah berjongkok sejenak, ia bangun berdiri siap berlalu dari sana.

Tiba2 . . terdengar Ciang Ooh berkata:

"Siapa kau? bagaimana aku bisa berada disini."

Si Soat Ang tertegun, ia awasi diri Ciang Ooh dengan sinar mata mendelong tak tahu apa yang harus dikatakan pada saat ini.

Tampak sepasang tangan Ciang Ooh menekan tanah seperti mau bangun berdiri. tetapi saat ini keadaannya bagaikan seekor semut yang hampir mati tertindih, sedikit tenagapun sudah tidak di miliki.

Dasar watak Si Soat Ang memang tidak baik, bukannya beriba hati, ia malah tertawa dingin dan menjengek: "Sudahlah...kau sudah hampir mati, lebih baik simpanlah tenaga untuk berbaring beberapa saat di tanah, nantikan saja saat ajalmu dengan tertidur saja disitu !"

"Aku sudah hampir mati ?" bisik Ciang Ooh setelah pejamkan matanya sejenak, "Nona siapakah kau ? orang yang mencelakai diriku pastlah Si Long, Poocu dari benteng Thian It Poo. Nona kau harus ingat baik2 nama orang ini, katakanlah kepada seseorang yang bernama Tong Hauw, bahwa aku mati ditangan Si Liong."

Si Soat Ang melengak, ia tidak sangka Ciang Ooh yang sinting disaat menjelang kematiannya telah sadar kembali, bahkan penyakit gilanya lenyap tak berbekas.

Ciang Ooh sudah mengidap penyakit gila hampir mendekati dua puluh tahun lamanya, selama ini ia tidak tabu kejadian apa saja yang telah berlangsung, setelah saat ini sadar kembali tentu saja apa yang dialami selama ini tak diketahui olehnya.

Bahkan ia malah menyangka dia mati ditangan Si Liong sementara Tong Hauw masih di ingatnya selalu, Tentu saja ia tidak akan menyangka kalau Tong Hauw serta Si Liong sudah mati bersama didalam benteng Thian It Poo.

Ucapan dari Ciang Ooh tadi mengena dihati Si Soat Ang ia merasa menyesal maka dari itu ia tidak mengejek perempuan malang itu lagi.

"Nona!" seru Ciang Ooh dengan napas terengah-engah, "asal kau menyanggupi untuk sampaikan kabarku kepada Tong Hauw, aku akan kuhadiahkan sebuah benda kepadamu."

"Kau hendak beri aku barang apa?" tanya Si Soat Ang dengan hati geli. "Barang itu aku dapatkan dari seorang manusia sakti di daerah Biauw kami, sewaktu ia hadiahkan benda tersebut kepadaku. pesannya barang itu sangat berguna, maka dari itu setelah ia berikan kepadaku lantas berpesan agar baik2 kusimpan benda tersebut, Sekarang barang itu berada didalam saku."

"Apakah benda itu adalah segulung sutera yang penuh berisikan tulisan dan lukisan?" tanya gadis itu pikirannya sedikit bergerak.

"Dari.... darimana kau bisa tahu?" tanya Ciang Ooh dengan nada tercengang.

"Hmn barang itu sudah diambil orang, apakah kau tidak ingat? ketika Loei Sam menusuk punggungmu dengan belati, badanmu bergelinding jatuh dari atas pagoda, kemudian Loei Sam mengejar kebawah, seandainya benda itu berada di sakumu, bukankah sudah diambil Loei Sam?"

Seperti yang diduga Si Soat Ang, sesaat menjelang kematiannya Ciang Ooh telah sembuh dari sakit gilanya.

Justru karena saat ini ia sadar maka kejadian yang dialami selama dua puluh tahun tersebut tak teringat olehnya, dalam perkiraannya perempuan itu masih mengira dia berada ditengah jalan ketika Si Liong merampasnya untuk dibawa pulang kebenteng Thian It Poo.

Maka dari itu, ketika mendengar apa yang di katakan Soat Ang. perempuan itu semakin tertegun, badannya pun semakin lemah sementara kesadarannya makin pulih.

Kiranya sewaktu berada diruang rahasia di atas benteng Thian It Poo jalan darah Si Soat Ang tertotok, maka dari itu ia tidak tahu peristiwa apa saja yang telah terjadi setelah Ciang Ooh menggelinding ke bawah diikuti Loei Sam dari belakang. Ia menyangka kitab pusaka Sam Poo Cin keng tentu sudah tidak ditangan Ciang Ooh lagi.

Kalau tidak, apa gunanya ia menyaru sebagai putrinya dan selama ini tidak ajukan permintaan akan benda tersebut!

Sementara itu napas Ciang Ooh semakin lemah tetapi ia masih berusaha meronta sambil berkata:

"Nona, aku tidak mengerti apa . . apa yang kau katakan .

. tetapi gulungan kain sutera itu masih berada didalam sakuku, aku masih merasa kalau benda tersebut berada disana, kau sanggupilah permintaanku . . cepatlah nona."

Pikiran Si Soat Ang sedikit bergerak. "Mungkinkah kitab pusaka Sam Poo Cin Keng tersebut benar2 masih berada dalam sakunya?"

Berpikir sampai disitu ia lantas berjongkok dan merobek saku Ciang Ooh.

Plakk! segulung kain sutera tiba2 bergelinding jatuh keatas tanah dari balik saku perempuan itu ketika berada ditanah, gulungan tadi membuyar dan terbentanglah secarik kain sutera panjang yang penuh dengan bentuk manusia.

Jantung gadis itu berdebar keras, tidak disangka pada saat seperti ini ia berhasil mendapatkan kitab pusaka Sam Poo Cin Keng yang diidam-idamkan oleh setiap umat Bu lim, begitu terharunya sampai seluruh badan gemetar keras.

Buru2 ia gulung kembali kain sutera tadi kemudian dicekal erat2. menanti gadis tersebut berpaling kearah Ciang Ooh, tampaklah perempuan malang itu sudah hembuskan napasnya yang penghabisan.

Meski sudah mati, sepasang matanya masih melotot besar, mayat itu awasi Si Soat Ang dengan mata mendelong, seakan2 sedang menantikan jawaban dari gadis itu.

Si Soat Ang melirik sekejap kearah jenasah perempuan malang tu, kemudian sekali tendang melemparkan mayat Ciang Ooh sehingga mencelat ke tengah udara dan bergelinding turun kebawah bukit.

Setelah berbuat demikian ia putar badan dan lari se- kencang2nya kedepan, gulungan kain sutera tadi dicekal terus dalam genggamannya.

Satu2nya yang dipikirkan gadis itu saat ini adalah cepat2 tinggalkan tempat itu, bukan saja ia takut Tonghong pacu serta Tonghong Loei balik lagi ketempat itu, iapun tidak ingin berjumpa kembali dengan Tonghong Pek, sebab selama ini ia bukan sungguh2 mencintai pemuda tersebut, ia hanya ingin menebeng perlindungannya belaka, kini setelah mendapatkan kitab pusaka Sam-Poo Cin-keng, tentu saja ia tidak membutuhkan lagi kawalan pemuda tersebut.

Karena berpikir demikian, secepat kilat ia lari terus kedepan, dalam sekejap mata sebuah bukit sudah dilewati, pada saat ini gadis tersebut sama sekali tidak tabu tempat manakah itu, ia hanya menemukan dihadapannya terbentang sebuah lembah yang indah pemandangannya, dua jalur air terjun membentang disisi tebing terjal.

Pemandangan lembah ini benar2 indah sekali, Si Soat Ang segera berhenti dan berpikir:

"Kalau aku hendak belajar silat dengan bersembunyi di- bukit Lak Boan-san ini, bagaimanapun nyaliku rada besaran tetapi inipun ada baiknya kurang sedikit, seandainya Tonghong pacu menaruh curiga kepadaku dan hendak mencari aku, maka ia tidak akan menyangka kalau aku berada ditengah gunung Lak Boan san !" Si Soat Ang memang gadis yang cerdik, saat ini ia menduga pastilah Tonghong Pacu akan menaruh curiga kepadanya. Dalam kenyataan dugaan tersebut sedikitpun tidak meleset sewaktu Tonghong Loei menceritakan bagaimana ia pernah bertemu dengan Ciang Ooh lalu secara bagaimana pernah menemukan kitab Sam Poo Cin keng, mereka lantas berseru tertahan, sebab kedua orang itu segera menduga kitab pusaka tadi pasti masih berada disaku Ciang Ooh.

Ditengah malam buta itu juga mereka terjun dengan membawa Si Chen serta Giok Jien melakukan pencarian secara besar2an, meski akhirnya jenasah Ciang Ooh berhasil ditemukan namun kitab pusaka itu sudah terbang lenyap dari sakunya.

Tonghong Pacu berdua segera menduga kitab tadi sudah terjatuh ketangan Si Soat Ang, pencarian segera dialihkan untuk mencari jejak gadis itu.

Tetapi siapapun tidak menyangka gadis yang mereka cari2 jauh berada didalam gunung Lak Boan-san, bahkan berada disuatu lembah yang tidak begitu jauh jaraknya dari tempat tinggal mereka.

Kita balik pada Si Soat Ang, waktu itu dengan langkah lambat ia berjalan masuk kedalam lembah, tidak selang sesaat kemudian ia temukan sebuah celah seluas dua depa terletak diantara dua air terjun tersebut, diatas bata cadas yang tumbuh dikedua belah sisi celah tadi sudah tumbuh tebal lumut hijau, suatu tempat persembunyian yang amat bagus.

Menyaksikan keadaan tersebut, Si Soat Ang kegirangan, pikirnya:

"Asalkan dibalik celah tersebut ada sebuah gua maka tempat inilah paling tepat bagiku untut berlatih ilmu silat..." Dalam lembab tersebut bukan saja banyak binatang berkeliaran, ikan2 yang diselokanpun lezat untuk menangsal perut, gadis itu merasa asalkan ia akan bertindak hati2 maka berdiam selama tujuh delapan tahun ditempat inipun belum tentu ditemukan orang.

Apa yang akan terjadi tujuh delapan tahun mendatang? bagaimana dahsyatnya kepandaian silat yang dimiliki itu ? ingatan tersebut membuat gadis she Si ini kegirangan setengah mati, segera ia kumpulkan ranting dan membuat sebuah obor, setelah itu dengan langkah hati2 mendekati celah tadi.

Empat lima tombak ia berjalan masuk lewati celah batu tadi, namun yang didapatkan hanya celah yang sempit sekali, hatinya amat kecewa, hampir2 saja ia mengundurkan diri.

Tetapi, mendadak cahaya obornya menyinari sebuah gua yang luasnya tiga tombak, gua tersebut amat bersih bahkan tampak jelas dinding gua putih bersih, dari dinding batu sebelah kiri mengucur keluar sumber air bersih.

Si Soat Ang jadi kegirangan buru2 ia lari kedepan dan meneguk air bersih itu sampai kenyang, terasa air bersih tadi manis dan nyaman hal ini membuat Si Soat Ang saking girangnya sampai berteriak keras.

Sambil berteriak ia jalan kesana kemari dalam gua tersebut, beberapa saat kemudian ia baru duduk keatas tanah.

Karena girang, ia tidak berkesempatan untuk mengawasi keadaan disekeliling goa itu, dan kini ia dapat melihat ada sebuah jalanan menghubungkan tempat itu dengan tempat lain, jalan tadi letaknya disisi selokan. Hanya saja jalanan tadi tertutup oleh sebuah batu yang amat besar, ketika gadis itu coba mendorongnya ternyata sama sekali tidak bergeming, se akan2 batu tersebut tumbuh secara alam disana.

Karena usahanya sia2 maka Si Soat Ang balik keruang gua, membuka gulungan kain sutra tersebut dan mulai berlatih.

Haruslah diketahui kitab pusaka Sam Poo Cin Keng adalah ilmu sakti dari kaum beragama, semuanya ada dua macam cara untuk berlatihnya, satu macam adalah kitab bergambar sedang macam kedua adalah bacaan kitab bergambar tersebut khusus diciptakan sang tokoh sakti tersebut. Ada seorang muridnya yang bisu lagi tuli maka dari itu ilmu tersebut jauh lebih gampang belajar dari kitab bergambar.

Untuk sementara kita tinggal dahulu Si Soat Ang yang berlatih ilmu silatnya dalam gua.

Berbicara tentang Tonghong Pek, setelah meninggalkan semua orang dengan pikiran kalut ia maju kedepan.

Mula2 ia berjalan sangat lambat, tetapi selang beberapa saat kemudian ia mulai berlari bahkan makin berlari semakin cepat, seakan2 ia hendak lari dari kenyataan, lari kealam dunia lain.

Dan ia berharap, dialam dunia lain tersebut dia bukan putera dari Tonghong Pacu, ia berharap antara dia dengan gembong iblis tersebut sama sekali tidak terikat hubungan apapun.

Tetapi akhirnya ia berhenti dan tertawa getir, sebab ia sadar mesti lari bagaimana cepatpun tak mungkin baginya bisa lolos dari tersebut ia tetap putra dari Tonghong Pacu. Kegusaran yang muncul tanpa sebab dilampiaskan diatas pohon siong yang tumbuh disisinya serangan demi serangan dihantamkan ke atas pohon besar itu, beberapa saat kemudian dengan timbulkan suara yang dahsyat tumbanglah pohon tadi keatas tanah.

Tonghong Pek menghembuskan napas panjang ia meraba dadanya merasa lega, ia tak tahu harus pergi kemanakah dia?

Pada saat itulah, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara teguran yang aneh, suara itu tidak mirip suara lelaki tidak mirip pula suara wanita.

"Hey! kau ikutilah kami. majikan kami sedang mencari dirimu!"

Mimpipun Tonghong Pek tidak menyangka dari belakang tubuhnya bisa muncul orang secara mendadak, ia terperanjat dan segera putar badan.

Tetapi kembali ia berdiri menjublek.

Tidak jauh dihadapannya berdiri dua orang gadis yang berwajah jelek sekali, mereka memiliki potongan wajah seperti kuda, kulitnya kasar dan berbenjol tidak rata, tetapi justru kejelekan tadi disertai pakaian yang amat menyolok, di atas leher lengan serta kakinya memakai banyak sekali gelang emas sehingga potongannya tampak menggelikan sekali.

Dengan pandangan dingin Tonghong Pek awasi mereka berdua, kemudian menjawab "Aku tak kenal dengan majikan kalian, akupun tidak ingin berjumpa dengan siapapun!"

"Sungguh besar nyalimu!" hardik kedua orang gadis jelek itu dengan wajah keren, "Majikan kami ingin berjumpa dengan dirimu, kau berani tidak pergi" Dasar watak Tonghong Pak bukanlah seorang manusia berangasan, seandainya peristiwa ini terjadi pada hari biasa niscaya ia tertawa dingin lalu berlalu.

Tapi saat ini pikirannya sedang murung dan kesal, mendengar ucapan kedua orang jelek itu hawa amarahnya berkobar.

"Ayoh menyingkir !" bentaknya keras2. "Jangan banyak ribut lagi dihadapanku !"

Kedua orang gadis jelek itu saling bertukar pandangan sekejap, tiba2 pada saat yang bersamaan kedua orang itu melancarkan seringan dahsyat ke arah sianak muda itu.

Semula Tonghong Pek masih tidak pandang sebelah matapun terhadap kedua orang gadis jelek itu, namun sekarang hatinya bergidik, sebab angin pukulan yang menyambar datang bukan main hebatnya, dari hal ini bisa ditinjau betapa sempurnanya tenaga dalam yang mereka miliki.

Bersamaan dengan datangnya serangan, kedua orang gadis jelek itu mempendengarkan jeritan aneh yang mendirikan bulu roma, satu dari kiri yang lain dari kanan serentak menyerang Tonghong Pek.

Sianak muda itu sadar, pihak lawan bukan manusia sembarangan, ia tak berani bertindak gegabah, melihat datangnya serbuan, ia putar badan menyusup kebelakang lalu mundur empat lima langkah.

Serangan dari kedua orang gadis jelek itu aneh sekali ketika sasarannya mundur dan serangan mereka mengenai sasaran kosong tiba2 kedua orang gadis jelek itu jatuhkan diri keatas tanah, badannya diangkat kedepan, empat kaki berbareng menendang lambung pemuda tersebut. Walaupun Tonghong pek tidak bisa dihitung seorang jagoan lihay dalam Bu lim, namun pengetahuannya amat luas, ia bukan jagoan yang baru muncul dari kandang, menyaksikan anehnya serangan lawan, ia segera mengempos napas dan meloncat mundur kebelakang.

Meski ia berkelit dengan cepat, namun tetap terlambat sama sekali...Braak ! pinggangnya sudah termakan sebuah tendangan lawan.

Tendangan ini sangat keras datangnya, tubuh Tonghong Pek terpantul dan berjumpalitan ketengah udara.

Siapa sangka justru ia berjumpalitan kedua orang gadis itupun membarengi gerakannya. mereka bergerak maju menanti kedatangannya dibawah.

"Hey siapa kalian berdua ? apa yang kalian inginkan ?" teriak Tonghong Pek ditengah udara.

Kedua orang gadis jelek itu tidak banyak bicara, menanti tubuhnya meluncur turun diatas permukaan tanah, tiba2 serentak mereka berbalik dan tahu2 ditangan kedua orang itu sudah bertambah dengan sebuah senjata yang aneh bentuknya.

Senjata tersebut berbentuk sebilah pedang pendek, tetapi diseluruh tubuh pedang tadi penuh dengan kaitan-kaitan yang berwarna biru.

Sekilas pandang siapapun akan tahu bahwa diatas kaitan tersebut telah diolesi racun keji.

Senjata aneh itu sama sekali tidak digunakan untuk menyerang Tonghong Pek yang sudah tak berkutik, mereka hanya tempelkan senjata tadi di atas punggung pemuda tersebut, seraya berbuat demikian mereka membentak: "Jangan bergerak, sedikit bergerak, kami akan segera melancarkan serangan mematikan !"

Tonghong Pek tertegun, ia rasakan senjata lawan telah beralih ke tempat2 berbahaya, yang satu mengancam tenggorokan sedang yang lain ditempatkan diatas ulu hati.

Ia tak berani berkutik, setelah berdiri tegak dan tarik napas panjang2, serunya:

"Apa yang kalian berdua inginkan ?"

"Sekarang juga ikuti kami untuk menghadap majikan !" jawab kedua gadis jelek itu sambil tertawa.

Tonghong Pek mengeluh, ia tak tahu siapakah majikan dari kedua orang gadis jelek tersebut, tetapi kalau ditinjau dari tingkah lakunya yang tidak pakai aturan, jelas majikan merekapun bukan manusia baik.

Tetapi berada dalam keadaan seperti ini, tidak ingin pergipun tak dapat, terpaksa ia mengangguk.

"Baik ! aku akan mengikuti kalian !"

Melihat sianak muda itu telah setuju, kedua orang gadis jelek itu tadi kegirangan.

Tubuh mereka berkelebat kesamping kemudian satu didepan yang lain berada dibelakang, bentaknya kembali.

"Kau ikutilah dibelakangnya dan aku akan membuntuti dibelakangmu jangan coba2 untuk melarikan diri."

Tonghong Pek adalah seorang  lelaki sejati, setelah ia sanggupi tentu saja ia tak mau melarikan diri.

"Hmm! siapakah nama majikan kalian?" tegurnya sambil tertawa dingin.

"Eeeei . . apakah kau tidak tahu siapakah nama majikan kami?" perempuan jelek itu berseru keheranan, "sungguh menggelikan, ternyata dikolong langit ada juga manusia yang tidak tahu siapakah nama majikan kami lucu . . . sungguh lucu!"

"Aaaah. . . engkaupun aneh sekali" sambung Tonghong Pek cepat, ia mulai tertarik oleh tingkah pola kedua orang gadis jelek yang sangat aneh itu. "Coba katakan dahulu siapa nama majikan kalian, mungkin aku pernah dengar orang menyebutnya, kalau sekarang tidak kau katakan kepadaku dari mana aku bisa tahu?"

"Hmm . . ! perkataanmu memang tepat sekali" sahut gadis jelek sambil garuk2 kepala, "Majikan kami bernama Kiem Lan Hoa, sekarang tentu kau sudah paham bukan?"

Nama "Kiem Lan Hoa menggetarkan seluruh tubuh pemuda tersebut, air mukanya berubah hebat.

Ia lantas teringat akan cerita Tonghong pacu dimana dikatakan Kiem Lan Hoa adalah ibu kandung dari Tonghong Loei atau siluman perempuan yang dikatakan ibunya.

Kembali Tonghong Pek ragu2, sebab gembong iblis itu pernah mengatakan bahwa Kiem Lan Hoa sudah mati, tapi mana mungkin ia dapat memerintahkan kedua orang gadis jelek ini untuk mencari dirinya? ditinjau dari sini bisa disimpulkan bahwa Tonghong Pacu sedang berbohong, lalu apa sebabnya Tonghong Pacu berbohong.

Saat ini pemuda tersebut tak dapat menebak apa sebabnya. tetapi ia sadar dibalik kejadian ini pasti terselip suatu rencana besar. dimana rencana itu menyangkut pula dia serta ibunya, pikirannya makin kalut, untuk beberapa saat ia tak tahu apa yang harus dilakukan. "Hey, bukankah kau mengatakan hendak ikuti kami?" tegur kedua orang gadis jelek itu. "Kenapa berdiri menjublek disana dan sama sekali tidak berkutik?"

Tonghong Pak mengeluh dan tertawa getir. "Siapa bilang aku tak berkutik kenapa kalian sendiri tidak berangkat?"

Kedua orang gadis jelek itu segera berangkat satu ada didepan yang lain ada dibelakang, membiarkan Tonghong Pek berjalan di tengah.

Ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki sempurna sekali makin berjalan semakin cepat, hingga terpaksa Tonghong Pek berulang kali mengempos tenaga untuk mempertahankan jaraknya dengan mereka.

Tidak selang setengah jam kemudian, mereka sudah lewati beberapa buah bukit, dihadapan mereka terbentang sebuah hutan yang lebat.

Hutan tersebut sempit lagi panjang, bentuknya mirip sebuah selat, dua belah dinding merupakan tebing terjal yang menjulang tinggi ke angkasa, suasana dalam hutan tersebut terasa lembab dan gelap.

Tak tahan lagi Tonghong Pek segera bertanya.

"Eeeh, kita harus melalui jarak berapa jauh lagi baru sampai ditempat tujuan?"

"Sudah hampir tiba, coba lihat itu sudah kelihatan."

Tonghong Pek memandang kedepan, kecuali tampak sebuah pohon yang amat besar bangunan apapun tidak kelihatan sebelum ia bertanya kembali kedua orang gadis jelek itu sudah berbelok di depan pohon besar tadi.

Pohon tersebut teramat besar, bahkan pelukan dua orang pun tidak cukup untuk menjangkau tumbuhan tadi, ketika gadis jelek itu tiba di hadapan pohon tersebut. dengan sikap hormat mereka lantas berseru:

"Majikan, orang yang kau cari sudah berhasil kami bawa datang !"

Tonghong Pek terbelalak, suatu kejadian aneh dengan siapakah gadis2 jelek itu berbicara ? dengan pohon besar ?"

"Hey kalian..." teriaknya. Tapi belum selesai ia berbicara, tiba2 dari dalam pohon besar itu berkumandang keluar suara perempuan

"Bawa dia menghadap diriku !" Gadis jelek itu buru2 mengiakan, ia putar badan dan menggape kearah Tonghong Pek, "Kau kemarilah!"

Pada saat ini sianak muda itu tidak melihat sesuatu apapun, namun dengan nyata ia mendengar suara pembicaraan seseorang, dalam hati merasa heran dan tercengang, dengan langkah sangat hati2 ia maju ke-depan.

Menanti ia berjalan dekat dengan pohon besar itu, gadis jelek tadi segera menuding kearah pohon besar yang menghadap sebelah dalam dan memberi bisikan agar ia berjalan kesitu.

Tonghong Pek tarik napas panjang 2, ia putar kebalik pohon tadi dan maju mendekat.

Saat inilah ia baru tahu, kirinya dibalik pohon besar tadi terdapat sebuah lubang besar yang cukup digunakan untuk duduk seseorang,pohon besar itu sudah berlubang entah dimakan oleh ulat kecil ataukah memang sengaja dilubangi orang.

Dia jumpai seorang perempuan duduk bersila didalam lubang pohon tersebut, meski belum melihat jelas bagaimana potongan wajahnya, ia dapat melihat mutiara yang menghiasi rambutnya,pakaian yang dikenakan amat indah dan semarak, seakan2 seorang pengantin yang siap naik ke tandu.

Tonghong Pek tercengang dan keheranan, buru2 ia awasi perempuan tersebut lebih tajam, usianya belum mencapai empat puluh tahun alisnya tebal dan wajahnya cantik menawan hati.

Siapapun akan menduga betapa cantiknya perempuan ini semasa mudanya.

"Apakah perempuan yang duduk didalam lubang pohon tersebut adalah Kiem Lan Hoa?" pikir Tonghong Pek, "Tapi tidak terasa ada bau siluman tubuhnya mungkin dia adalah orang lain dan bukan Kiem Lan Hoa?" Sementara sianak muda itu masih berpikir dengan hati ragu, perempuan itu sudah menanya. "Siapakah kau?"

"Hei. . hei . . ! sungguh lucu sekali." Sahut Tonghong Pek geli bercampur mendongkol: "Bukankah kau utus orang untuk mengundang aku, kok malahan kau sendiripun tidak tahu siapakah aku?"

Sepasang mata perempuan itu dengan tajam mengawasi wajah Tonghong pak, beberapa saat kemudian batu terdengar ia berkata:

"Kau tidak usah takut, setelah berjumpa dengan diriku maka tidak akan ada orang yang berani menyulitkan dirimu lagi."

"Siapa yang hendak menyulitkan diriku?"

"Coba lihat, lagakmu persis seperti ayahmu, Si Thay Sianseng sudah umumkan permintaannya kepada seluruh Umat Bu lim untuk menangkap dirimu, buat apa kau bersikeras mungkir?" Ucapan ini membuat Tonghong Pek jadi runyam, menangispun tak bisa. "Kau telah salah mencari orang!" serunya segera. "Orang yang hendak ditangkap Si Thay sianseng adalah Loei Sam!"

"Kalau begitu kau bukan Loei Sam?" balik tanya siperempuan itu dengan mata terbelalak.

"Tentu saja bukan."

Kembali perempuan itu melirik sekejap kearah Tonghong Pek, wajahnya berobah keren, tiba2 ia berteriak:

"Thay Kiem Thay Gien!"

Dua orang gadis jelek itu berlari datang, sambil berlari mereka berseru: "Majikan ada urusan apa?"

"Eeeei . . aku suruh kalian mencari seseorang yang bernama Loei Sam, siapa yang telah kalian bawa datang?" tegur perempuan itu gusar "Kenapa kalian tidak tanyakan dahulu siapakah namanya sewaktu kalian mencari orang yang ku perintahkan?"

"Dari mana kami bisa tahu. kalau orang itu tidak bernama Loei Sam." sahut kedua gadis jelek itu setelah saling bertukar pandangan sekejap. "Majikan, raut muka serta potongan badan yang kau lukiskan kepada kami, bukankah persis seperti orang ini?"

Mendengar ucapan itu dari dalam sakunya perempuan tersebut ambil keluar segulung lukisan, lalu dibentangnya dengan tangan gemetar.

Dari jauh Tonghong Pek dapat menyaksikan lukisan yang tertera dalam kertas tersebut persis seperti raut muka Loei Sam disamping itu ada beberapa tulisan yang diantaranya terdapat beberapa patah kata yang sempat dibaca pemuda itu "Ciangbunjin dari Go bie Pay" Tak usah dipikir lagi, lukisan tersebut tentulah lukisan yang disebar Si Thay sianseng keseluruh dunia untuk bantu menangkap Loei Sam.

Diam2 Tonghong Pek pun tertawa getir. sebab ia dapat merasakan bahwa wajah Loei Sam memang ada beberapa bagian mirip dengan wajahnya, ia tidak ingin Loei Sam adalah adiknya, tetapi ditinjau dari kemiripan tersebut, ia semakin sadar bahwa kenyataan tersebut tidak dapat dibantah kembali.

Sementara itu perempuan tersebut memandang lukisan tadi tajam2 kemudian mengawasi pula Tong hong Pek beberapa kejap, akhirnya dengan alis berkerut ia berkata:

"Thay Kiem, Thay Gien, kalian sudah salah mencari orang, dia bukanlah orang yang sedang kucari."

Kedua orang gadis jelek itu membelalakkan matanya bulat2. kau memandang diriku dan aku memandang dirimu, lama sekali mereka baru tertawa.

"Ooow.. kiranya kami sudah salah mencari, harap majikan suka mengampuni kesalahan kami."

Diam2 Tonghong Pek bikin persiapan, ia tahu perempuan yang bernama Kiem Lan Hoa dan di sebut siluman perempuan itu bukan manusia baik2, kemungkinan besar ia bisa melancarkan serangan untuk mencabut jiwanya.

Diluar dugaan Kiem Lan Hoa tidak berbuat apa2, ia cuma menghela napas panjang, menggulung kembali lukisan tadi dan bergumam seorang diri:

"Sungguh sulit untuk mencari orang ini !"

Sebetulnya Tonghong Pek ingin beritahu kepadanya bahwa orang yang sedang dicari telah tukar nama dan kini berdiam tidak jauh dari sana, tetapi pikiran lain segera mencegah niatnya itu, sebab ia tidak ingin mencampuri urusan yang menyangkut diri Kiem Lan Hoa dengan Tonghong Pacu.

Perempuan itu menghela napas dan berkata kembali: "Dipandang lebih teliti, wajahmu memang sedikit mirip

dengan wajah yang tertera diatas lukisan itu, tetapi kau

bukan orang yang sedang kucari.

Thay Kiem Thay Gien. terlalu bodoh, seandainya mereka telah melakukan kesalahan terhadap anda, harap kau suka memaafkan. Nah. silahkan anda kalau mau berlalu !"

Tonghong Pek kembali tertegun, ditinjau dari ucapan yang begitu cengli dan pakai aturan, tidak mungkin kalau diutarakan oleh seseorang dari kalangan sesat, ia lantas mundur kebelakang dan bertanya:

"Kau. . kau . . kau adalah Kiem Lan Hoa yang berasal dari wilayah Biauw?"

"Ehmm benar! aku adalah Kiem Lan Hoa, tentu Thay Kiem serta thay Gien lah yang memberitahukan hal ini kepadamu?"

Meski dalam hati kecilnya sianak muda itu masih ragu2 tapi ia tak mau berdiam terlalu lama disitu, sementara ia berlalu tiba2 terdengar Kiem Lao Hoa berseru:

"Tunggu sebentar, sebelum ini apakah anda pernah mendengar namaku dan seseorang?"

Tonghong Pek tertegun, untuk sesaat ia tak tahu bagaimana harus menjawab.

"Selama ini aku selalu mengasingkan diri di wilayah Biauw" ujar Kiem Lan Hoa kembali "ilmu silatku pun berasal dari aliran yang berbeda dengan aliran kalian, kali ini masih untuk pertama kakinya tiba didaratan Tionggoan, sedikit sekali orang yang tahu akan diriku, sedang usiamu masih muda, darimana bisa tahu akan namaku?"

"Aku mengetahuinya dari mulut seseorang."

"Siapakah orang itu, dapatkah anda beritahu kepadaku?" jelas tampak betapa gelisahnya perempuan tersebut.

Tonghong Pek tidak menjawab, sebab ia tak ingin menyebutkan lagi nama dari Tonghong Pacu, ia membenci orang itu, segera ujarnya:

"Kalau memang bukan aku yang anda cari, maaf cayhe akan mohon diri lebih dahulu!"

"Tunggu sebentar, beritahu dulu kepadaku, siapakah orang yang memberitahukan namaku kepada mu?"

Tonghong Pek tidak menjawab, ia putar badan dan berkelebat kedepan.

Tenaga Iweekang-yang dimiliki Tonghong Pek amat sempurna. gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran kilat, namun ketika ia bergerak maju, tiba2 terasa segulung angin serangan yang amat dahsyat mengancam datang dari arah belakang.

Gulungan angin tajam tadi muncul begitu cepat, memaksa si anak muda itu harus mengepos tenaga, putar telapak dan menyambut datangnya terangan bokongan tadi.

Reaksi yang diberikan Tonghong Pek boleh dikata cepat, tetapi baru saja telapaknya berputar, tiba2 ia merasakan tangannya telah menyentuh dengan sebuah benda yang lunak, halus dan dingin. ia terperanjat dan sesaat kemudian tampak cahaya perak berkelebatan, selembar jaring tipis telah membelenggu tubuhnya. Jaring itu ringan lagi lunak, ketika tersentuh ditangan terasa dingin dan nyeri.

Jaring tersebut tidak terlalu besar, setelah mengurung kepalanya mulut jaring tadi segera menjirat diatas lehernya, semakin pemuda itu bergerak, makin kencang jaring tadi menjirat badannya.

Kejadian ini menggusarkan hati Tonghong Pek, ia pun merasa kaget, sambil putar badan ia meraung gusar, telapaknya segera berputar menarik seuntai serat perak yang menghubungkan jaring tadi dengan Kiem-Lan Hoa yang tetap duduk ditempat semula.

Tarikannya ini berharap bisa merampas serat tersebut dari tangan perempuan itu, namun serat tadi licin lagi lunak, sedikitpun tidak ada kesempatan baginya untuk kerahkan tenaga, sepasang tangannya yang membetot diatas serat tadi segera tergelincir saking licinnya.

"Jangan sembarangan bergerak!" bentak Kiem Lan Hoa. "setelah jaring ku ini menjirat seseorang, perduli siapapun yang berhasil terjirat, jangan harap bisa loloskan diri. Aku tiada maksud untuk mencelakai dirimu, aku hanya ingin bertanya siapakah orang yang beritahu namaku kepadamu, kau harus beritahu siapakah dia!"

Tabiat Tonghong Pek adalah keras kepala, Kiem Lan Hoa mengajukan pertanyaan secara baik2, mungkin ia bisa menjawabnya karena tidak enak hati, tapi kini Kiem Lan Hoa bertindak kasar, dari mana sianak muda itu suka berbicara?

Ia tertawa dingin, sepasang tangannya segera mencekal jaring tadi dan ditariknya keras2. Tarikan tersebut telah menggunakan tenaga delapan bagian, ditinjau dari serat jaring yang lembut bagaikan rambut, dalam betotan tersebut tentulah akan terputus.

Siapa sangka bukan saja gagal ia lepaskan diri dari kurungan, bahkan jaring itu makin kencang menjirat dirinya sehingga seluruh badan secara lapat2 terasa amat sakit.

Tonghong Pek amat terperanjat, buru2 ia lepaskan tangan dan membentak:

"ilmu siluman apa yang telah kau gunakan? ayoh cepat lepaskan diriku!"

"Haaa. . haa . . bukan ilmu siluman yang kugunakan jaring ini dibuat dari serat yang di hasilkan ulat salju, meski ringan dan lunak namun kuat dan tahan uji, jaring ini kuat menahan betotan tenaga sebesar seribu katipun, kalau kau lanjutkan betotanmu sehingga badan berdarah, racun yang ada dalam serat itu akan segera menyerang ketubuh, dalam keadaan seperti itu, tak ada obat yang bisa menolong dirimu lagi."

Diam2 Tonghong Pek terperanjat, ia sadar apa yang diucapkan perempuan itu bukan gertak sambal belaka. lagi pula meskipun tidak beracun.

Seandainya pihak lawan perketat tarikannya saja sudah cukup untuk menyesakkan napasnya.

Setelah sadar keadaannya kritis, buru2 pemuda itu maju selangkah kedepan mulut jaring di lipat2 ditangannya dengan maksud menahan agar jaring tersebut tidak terlalu mencekik lehernya, semakinpun pihak lawan menariknya tidak hanya tangannya yang terjirat.

Siapa nyana Kiem Lan Hoa segera tertawa, "Tak berguna kau berbuat demikian coba lihat!" serunya. Bersamaan dengan ucapan tersebut ia menggetarkan tangannya, cahaya perak berkilauan, jaring perak tadi tahu2 sudah tergelincir lepas dari tangan Tonghong Pek.

Sianak muda im semakin terperanjat. "Aku lihat lebih baik katakanlah terus terang" ujar Kiem Lan Hoa lagi sambil tertawa. "Bila kau suka bicara, aku segera lepaskan dirimu pergi, aku tiada maksud jahat pada mu, aku rasa kaupun tahu akan hal ini!"

"Hmmmm! kau anggap setelah jaring berhasil menjerat badanku aku lantas bicara?" jengek Tonghong Pek sambil tertawa dingin, "Kau jangan bermimpi disiang hari bolong!"

Tiba2 seluruh tubuh Kiem Lan Hoa gemetar keras, air mukanya berubah hebat dan tanpa kuasa ia berbicara:

"Kau... apa hubunganmu dengan dirinya ? kenapa watakmu mirip sekali dengan dia ?"

Tonghong Pek tertegun, ia tak tahu apa maksud dari ucapan Kiem Lan Hoa itu, ia berdiri disana dengan angkuh.

Akhirnya terdengar Kiem Lan Hoa menghela napas panjang, tangannya bergetar diiringi berkilatnya cahaya perak, jaring tadi sudah terlepas dari tubuhnya dan melayang kembali ketangan Kiem Lan Hoa.

"Aku dapat lihat watak maupun tingkah lakumu sangat mirip dengan dia, aku duga antara kalian berdua tentu terikat hubungan yang erat" ujar Kiem Lan Hoa lagi setelah menyimpan jaring tersebut, "Apa hubunganmu dengan dia ? ayo, katakan kepadaku !"

Pertanyaan ini semakin membingungkan Tonghong Pek, ia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tersebut.

Meskipun selama ini ia berdiri tak berkutik, namun diam2 hawa murninya sudah disalurkan hingga mencapai pada puncaknya, menanti Kiem Lan Hoa selesai berbicara, ia bersiul panjang.

Tubuhnya mencelat ketengah udara, berjumpalitan satu lingkaran besar dan menerobos keluar, bukan saja indah bahkan cepatnya luar biasa.

Menanti tubuhnya melayang keatas tanah, ujung kakinya kembali menjejak tanah berkelebat kearah depan, tetapi untuk kesekian kakinya ia berdiri tertegun.

Entah sejak kapan. tiba2 Kiem Lan Hoa sudah berdiri dihadapannya persis menghalangi jalan perginya.

Berada dalam keadaan seperti itu, ingin melarikan diripun tidak berguna, maka pemuda ini tegak berdiri tak berkutik, sikapnya sangat dingin, bahkan tersungging pula suatu senyuman dingin.

"Siapakah namamu ?" tanya Kiem Lan Hoa sambil tertawa.

"Aku bernama..."

Mengikuti watak Tonghong Pek yang tinggi hati, ia tidak akan sudi menyembunyikan nama sendiri, tetapi pada saat itu ia berbuat lain, tiba2 ia membungkam.

"Hehe...ayoh katakan siapa namamu ?" tanya Kiem Lan Hoa lebih jauh, "Apakah namamu pun tidak boleh diberitahukan kepada orang lain ?"

Tonghong Pek tarik napas panjang2, "Siapa namaku, apa sangkut pautnya dengan dirimu ? lebih baik kau tak usah banyak bertanya !"

"Aaai...! karena dari tubuhmu aku seakan2 berjumpa dengan bayangan tubuhnya, maka aku ajukan pertanyaan ini kepadamu, kalau memang kau tidak sudi bicara, ya sudahlah ! aku tidak akan terlalu memaksa !" "Kau anggap aku mirip...mirip siapa ?" dada sianak muda ini terasa berdebar keras.

"Mengungkap tentang orang ini, dia adalah seorang jago lihay yang punya nama besar dalam dunia persilatan, dia she Tonghong bernama Pacu."

Pucat pias wajah Tonghong Pek, tubuhnya terasa hampir2 saja roboh keatas tanah, ia amat sedih sekali sebab dari ucapan Kim Lan Hoa barusan, bisa disimpulkan bahwa dia sangat mirip dengan wajah ayahnya, dan ia tak bisa dibantah lagi adalah putra Tonghong Pacu.

"Bukankah hubunganmu dengan orang itu erat sekali ? sekalipun kau tidak berterus terang namun aku tahu jelas" kata Kiem Lan Hoa kembali.

Per-lahan2 Tonghong Pek putar badan, ia ingin menghindari bentrokan matanya dengan perempuan itu, tetapi baru saja ia berpaling, desiran tajam menyambar lewat tahu2 Kiem Lan Hoa sudah berdiri kembali di hadapan mukanya.

"Bukankah kau adalah putranya?" tanya perempuan itu."

"Aaai, lalu apa sebabnya kau mengatakan bahwa kau bukan Loei Sam? aku rasa kau masih belum tahu asal usulmu, kau..."

"Aku bukan Loei Sam!" teriak Tonghong Pek tak tahan lagi, ia menukas perkataan Kiem Lan Hoa yang belum selesai, "Loei Sam adalah putramu dengan Tonghong pacu sedang aku sama sekali tak ada sangkut paut atau hubungan dengan dirimu?"

"Tetapi . . bukankah kau adalah putra Tong hong Pacu?" Tanya Kiem Lan Hoa tertegun. Pertanyaan ini tak sanggup dijawab Tonghong Pek, ia cuma mendengus berat sebagai ganti jawaban.

Kiem Lan Hoa mundur dua langkah ke belakang dengan air muka berubah hebat.

"Aaah! kiranya ia masih mempunyai perempuan lain" teriaknya, "Tidak aneh kalau dia... dia tega meninggalkan aku!"

Pada saat ini Tonghong Pek kepingin berteriak, berteriak se-keras2nya, ia ingin mengatakan justru karena Tonghong Pacu tergila2 dengan dia, maka ia tega meninggalkan ibunya serta dia sehingga hampir2 saja mati didalam sungai.

"Katakan kepadaku, sekarang ia berada dimana? katakan kepadaku!" Teriak Kiem Lan Hoa, kembali sambil maju selangkah Pikiran Tong hong Pek amat kalut, ia sadar bila hendak mengelabuipun percuma, sebab pihak lawan sudah tahu akan duduknya perkara maka ia menjawab:

"Semua orang yang hendak kau cari berada digunung Lak Boan San semua, sebenarnya mereka ada dimana akupun tak tahu, asalkan kau cari didalam gunung ini pasti akan kau temukan.

"Aaaah, ternyata kau benar2 adalah putranya." seru Kiem Lan Hoa, dari sepasang matanya memancar keluar serentetan cahaya aneh. "Aku lihat agaknya kau tidak terlalu gembira jadi putranya."

Kembali Tonghong Pek mendengus sebagai ganti jawaban, tiba2 Kiem Lan Hoa menempelkan tangannya diatas bahu Tonghong Pek, lalu ia bertanya kembali:

"Berapa banyak yang telah ia ceritakan kepadamu tentang persoalanku?" Tangan perempuan itu halus sekali, jarinya lentik panjang, kukunya dicat merah sedang di atas pergelangannya memakai sebuah gelang emas.

Gelang tersebut memancarkan cahaya keemas-emasan yang sangat menyilaukan mata, ketika sianak muda itu memandang dengan penuh curiga, tiba2 ia tersentak kaget.

Ternyata benda yang berada dipergelangan Kiem Lan Hoa bukan gelang emas, melainkan seekor ular kecil yang panjangnya tujuh delapan coen dengan besar sejari kelingking, seluruh tubuhnya memancarkan cahaya ke- emas2an.

Ketika sianak muda itu memandang untuk kedua kakinya, ular kecil tadi angkat kepalanya menjulurkan lidahnya, kepala ular tadi pipih dan gepeng, jelas binatang tadi adalah seekor ular beracun.

Ketika Kiem Lan Hoa meletakkan tangannya diatas bahu Tonghong Pek, ular kecil tadi segera menjulurkan lidahnya sehingga hampir2 menempel diatas punggungnya, buru2 pemuda itu berkelit.

Menyaksikan tingkah laku sianak muda itu, Kiem Lan Hoa mendongak tertawa ter bahak2.

"Pernah kau lihat ular berbisa semacam ini ? ular ini disebut Kiem Lian Gi- dia ia li ular beracun kelas sembilan diantara tujuh puluh dua kelas lainnya !"

"Cepat singkirkan tanganmu itu !" seru Tong hong Pek sambil menarik napas panjang.

Kiem Lan Hoa tertawa dingin.

Jawaban ini memang jujur, sebab hingga kini ia tak tahu siapakah nama sebenarnya dari ibunya yang selama ini jadi Sunio. Meskipun dia jujur, namun Kiem Lan Hoa merasa geli sebab dikolong langit mana ada anak tak tahu nama ibunya, kembali ia tertawa dingin.

"Se akan2 persoalan apapun kau tidak tahu, tapi kau harus jawab pertanyaanku ini!"

Seraya berkata ia perdengarkan siulan nyaring pendek tapi sangat memekikkan telinga.

Mengikuti siulan tersebut, ular emas Kiem Lian Cu tinggalkan pergelangan Kiem Lan Hoa dan bergerak keatas bahu Tonghong Pek

Gerakan ular kecil itu cepat sekali, apa pula Tonghong Pek sama sekali tidak bersiap sedia. menanti ular emas tersebut telah berada diatas bahunya, ia baru terperanjat tangannya bergerak ingin menyapu jatuh binatang tersebut.

Tetapi pada saat itu Kiem Lan Hoa telah menyentil jari tangannya, serentetan angin tajam menyambar lewat, jalan darah Tay Me Hiat diatas pinggangnya segera tertotok.

Dalam pada itu ular kecil tadi melewati bahunya mulai merambat naik keatas leher, tubuh yang dingin dan licin membuat ia merasa muak dan sangat tersiksa, tak tahan lagi dengan nada gusar bercampur kaget teriaknya:

"Kau. . . cepat tangkap ular terkutuk itu dari tubuhku!" "Hmmmn. aku tahu watakmu keras hati, ancaman ini

tidak akan membuat hatimu jeri, namun kau harus tahu asal aku bersiul kencang maka ular Kiem Lian cu tersebut akan segera masuk kedalam tubuhmu lewat lubang hidung dan menghabiskan isi otakmu!"

Tonghong Pek mendengus dingin, walaupun dalam hati bergidik setelah mendengar ucapan itu tetapi dengan wataknya yang keras kepala tak sepatah katapun diutarakan keluar.

"Asal kau suka katakan macam apakah ibumu, maka ular itu akan segera kutangkap kembali." ujar Kiem Lan Hoa lebih jauh.

"Sudah kukatakan tidak, mengapa sih kau tak mau mengerti? sekali tidak tahu tetap tidak tahu." Melihat kekerasan hati sianak muda itu Kiem Lan Hoa angkat bahu, ia bersiul nyaring, ular emas yang berada diatas leher Tonghong Pek segera bergerak menerobos masuk kedalam lubang hidung sianak muda itu.

Tonghong Pek merasa lubang hidungnya jadi kaku dan gatal sekali, sukar di tahan, ingin sekali ia menggaruk, justru badannya tak berkutik karena tertotok, ia merasa amat tersiksa namun mulutnya tetap membungkam.

"Kalau kau tak mau bicara lagi, akan segera kuperintahkan Kiem-Liancu untuk menerobos masuk kedalam hidungmu !" ancam Kiem Lan Hoa.

Setelah napasnya tersumbat sulit bagi sianak muda itu untuk buka suara, namun kekerasan hati yang terpancar diatas wajahnya telah cukup sebagai jawaban yang meyakinkan.

"Bagus !" teriak Kiem Lan Hoa sambil tertawa dingin, air mukanya berubah hijau membesi.

Tiba2...entah dari mana datangnya desiran tajam tahu2 meluncur datang dua biji senjata rahasia sebesar butiran beras.

Gerak luncur kedua buah senjata rahasia itu cepat sukar dilukiskan dengan kata2, salah satu di antaranya dengan dahsyat menghantam batok kepala ular emas kecil yang sedang meluncur kedalam lubang hidung Tonghong Pek itu sehingga terpental ketengah udara dan berkelejit.

Sedangkan butiran senjata rahasia yang kedua langsung menghantam pinggang sianak muda itu, jalan darahnya yang tertotok pun segera jadi bebas kembali.

Merasakan pengaruh totokan lenyap, buru2 Tonghong Pek mengundurkan diri ke-belakang.

Sementara itu Kiem Lan Hoa telah ayunkan lengannya menerima kembali ular emas kecil yang terpental ketengah udara oleh sambaran senjata rahasia itu.

Kemudian berteriak marah dan ayunkan tangannya kedepan, dengan menggunakan ular emas kecil tadi sebagai senjata rahasia ia balas menyambit kearah mana berasalnya dua batang senjata rahasia tersebut.

Ular emas itu meluncur kedepan dengan sangat cepatnya laksana serentetan cahaya emas dalam sekejap mata telah menerjang kedalam semak dua tombak jauhnya dari kalangan dimana secara mendadak muncul seseorang.

"Hati2" teriak Tonghong Pek memberi peringatan, ia sadar betapa dahsyatnya bisa ular emas.

Orang itu tersenyum dingin melihat datangnya serangan, ia ayun tangannya kedepan, jari tengah menyentil keras dimana dengan telak bersarang diatas kepala ular emas itu, kemudian laksana kilat jari tangannya bekerja dengan jari telunjuk serta jari tengah, ia cekal tubuh bagian Tujuh Coen dari ular emas tadi.

Bagian tujuh coen merupakan bagian paling lemah bagi segala jenis ular berbisa, kendari bagaimana lihaynya ular tersebut asal bagian ini kena dicekal maka binatang tadi takkan berkutik lagi, tidak terkecuali ular emas tersebut, setelah kena dicengkeram badannya lantas lemas bagaikan sebatang rantai emas.

Gerakan yang luar biasa ini mengagumkan hati Tonghong Pek ia bersorak dan angkat kepala, tapi segera ia tertegun, sebab orang itu bukan lain adalah ayahnya, Tonghong Pacu.

Diam2 sianak muda itu tertawa getir, ia berpikir: "Sungguh bodoh aku, seharusnya sejak tadi sudah

kuduga akan dirinya. siapa lagi dikolong langit ini memiliki ilmu silat selihay itu kecuali dia ?"

Ia tidak ingin menyapa, berdirilah Tong-hong Pek ditempat itu tanpa berkutik barang sedikitpun.

Dalam pada itu Tonghong Pacu melirik sekejap ke arahnya kemudian berpaling kearah Kiem Lan Hoa dan menegur:

"Sudah lama kita tak bertemu baik2kah dirimu ?" "Kenapa tidak baik !?" jengek Kiem Lan Hoa sambil

berdiri mematung, "Kurang sedikit aku berhasil kau celakai,

sayang tindakanmu kurang lihay, akhirnya aku berhasil lolos dari kematian"

"Haa..haa...haa... aku tabu dimanakah letak penyakitnya." seru Tonghong Pacu sambil tertawa paksa. "seandainya tidak timbul rasa belas kasihan di dalam hatiku, dan bermaksud memberi jenazah yang utuh bagimu, ini hari kau sudah tinggal tulang belulangnya belaka."

"Tidak salah, sayang sekali saat ini bila kau tiada kesempatan lagi untuk berbuat demikian."

"Hmm, kau harus tahu, pada saat aku balas dendam, tidak bakal kuberikan jenasah yang sangat utuh bagimu!" "Haa. . haa. . hal ini sih harus dilihat apakah kau punya kesempatan untuk berbuat atau tidak?"

Berbicara sampai disitu, ia lantas berpaling dan teriaknya keras2:

"Thay Kiem Thay Gien, masih ingatkah kalian berdua dengan diriku ?"

Dua orang gadis jelek itu saling bertatap pandangan sekejap, kemudian sama maju dan menjura kepada gembong iblis tersebut, "Menghunjuk hormat kepada..."

Tiba2 Tonghong Pacu kebaskan ujung bajunya, diiringi dua gulungan desiran tajam tubuh kedua orang gadis jelek itu segera tersapu pergi dan menerjang keatas badan Kiem Lan Hoa.

Bersamaan waktunya ia kebaskan tangan kanannya keatas tanah membanting mati ular emas tersebut, kemudian berkelebat ke depan melewati diatas kepala Thay Kiem Thay Gien serta Kiem Lan Hoa.

Setelah tiba dibelakang ketiga orang perempuan itu, ia melayang turun, tangannya bergerak cepat mencengkeram jalan darah "Leng Thay Hiat" diatas punggung she Kiem tersebut.

Ilmu silat yang dimiliki Kiem Lan Hoa bukan sembarangan, seandainya dalam keadaan biasa tak mungkin ia bisa terjatuh ketangan lawan dengan begitu mudah, justru karena ia harus menerima tubrukan dan dua orang pembantunya maka ia tidak siap dan akhirnya terbokong.

"Haa...haa...haa... bagaimana? bukankah aku mendapat kesempatan lagi ?" jengek Tonghong Pacu sambil tertawa ter bahak2. Kiem Lan Hoa mendengus dingin. ia menghembuskan napas panjang dan berdiri tak berkutik, dalam keadaan seperti ini meski ilmu silatnya jauh lebih lihay pun tak banyak yang bisa ia lakukan.

Kembali terdengar Tonghong Pacu tertawa terbahak2. "Tempo dulu kau tak dapat menangkan diriku dan

sekarang sami mawon kau tetap bukan tandinganku !"

Air muka Kiem Lan Hoa berubah hijau membesi menahan rasa dongkol yang bukan karuan, terhadap ucapan dari Tonghong Pacu barusan sama sekali tidak digubris, per-lahan2 ia memayang bangun Thay Kiem serta Thay Gien, setelah itu dengan suara tenang ujarnya:

"Thay-Kiem. Thay Gien, pulanglah ke wilayah Biauw sendirian apakah kalian kenal jalan ?!"

Kedua orang gadis jelek ini bukan saja berwajah jelek bahkan bodohnya luar biasa, habis mendengar ucapan dari majikannya mereka saling bertukar pandangan dan sesaat tak tahu bagaimana harus menjawab.

Lama sekali, mereka berdua baru berkata: "Majikan, mengapa kau tidak suka membawa kami lagi ? mengapa kau usir kami untuk pulang sendiri ?"

Kiem Lan Hoa membungkam, berada dalam keadaan seperti ini bagaimana ia harus menjawab.

"Majikan kami tak mau pulang, kami tak tahu jalan..." seru mereka dengan wajah merengek.

"Kami tak kenal jalan, tak mungkin bisa sampai dirumah, kami pasti akan mengembara, ter-lunta2 dan dianiaya orang..." kembali rengek kedua orang gadis jelek itu. Sejak tadi Tonghong Pek sudah muak akan perbuatan Tonghong Pacu yang rendah dan memalukan itu, apalagi setelah mendengar isak tangis ke dua orang gadis jelek itu, ia semakin tidak lega, per-lahan2 ia putar badan, lalu tegurnya seraya menuding ke arah gembong iblis itu:

"Kalau ingin bergebrak, bertempurlah dengan jujur dan terbuka, Hmm... sungguh memalukan, seorang manusia yang ternama, tak disangka hanya bisa main bokong belaka."

Mimpipun Tonghong pacu tidak menyangka, pada keadaan begini putranya bisa menegur dia, ia jadi tertegun diikuti dari rasa mangkel berubah jadi gusar.

"Bajingan, kau jangan ngaco belo yang tidak keruan disitu." teriaknya.

"Lepaskan dia!" seru Tonghong Pek sepatah demi sepatah "Kau ingin bergebrak, lakukanlah secara jujur, tidak pantas kau menggunakan dua orang gadis yang tak tahu urusan untuk membokong orang?"

"Bajingan cilik! apa yang hendak kau lakukan?" Teriak Tonghong Pacu sambil tertawa dingin, "Seandainya aku tidak lepaskan dua biji batu kecil tepat pada saatnya, pada saat ini kau sudah mati keracunan."

"Hmm! tidak pernah kumohon pertolonganmu, siapa yang suruh kau turut campur dalam urusanku? biarkan saja aku mati keracunan."

"Ayoh enyah dari sini." gembong iblis itu naik pitam.

Bukannya menyingkir Tonghong Pek malah maju selangkah kedepan, kembali hardiknya.

"Lepaskan dia!" Sementara itu Kiem Lan Hoa tetap berdiri tak berkutik ditempat semula dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, sepasang matanya terbelalak.

Ia merasa heran dan tidak habis mengerti mengapa secara tiba2 si anak muda itu bisa membantu dirinya.

"Kau suka enyah dari sini atau tidak ?" Bentak sigembong iblis nomor wahid itu semakin naik pitam.

Seraya berseru, lengan kirinya menekan kebawah kemudian diayun kedepan dengan hebatnya.

Seketika itu juga Tonghong Pek merasakan adanya segulung angin pukulan maha dahsyat menggulung datang. ia sadar apabila serangan ini ditahan dengan keras lawan keras, niscaya ia bakal terluka parah.

Dalam keadaan seperti ini, timbul akal cerdik dalam benaknya, ia enjotkan badan, meminjam kekuatan daya dorong dari lawannya, anak muda ini melayang mundur sejauh tujuh depa kebelakang, kemudian ia bersuit nyaring, badannya berputar cepat lalu menyusup ke belakang punggung Tonghong Pacu.

Sepasang kakinya menjejak keras, sang badan menubruk kedepan dan sepasang telapak bekerja cepat menghantam punggung ayahnya.

Perubahan yang terjadi mendadak ini sama sekali berada diluar dugaan Tonghong Pacu, ia berteriak keras:

"Eei...apa yang hendak..."

Angin pukulan yang maha dahsyat tahu2 sudah menggulung datang, terpaksa Tonghong Picu menggerakkan telapak tangan kirinya menyambut datangnya serangan sianak muda itu. Tonghong Pek bukan manusia bodoh, sesaat sebelum sepasang telapaknya saling membentur dengan telapak kiri lawan, tangan kanannya bergerak lebih cepat, sebuah jotosan dengan telak bersarang ditubuh ayahnya.

Kehebatan ilmu silat Tonghong Pacu boleh dikata sudah mencapai tarap kesempurnaan tetapi pada saat ini telapak kanannya harus mencengkeram Kiem Lan Hoa, sedang telapak kirinya menerima serangan dari putranya, jotosan yang bersarang diatas punggungnya kontan membuat seluruh tubuhnya tergetar keras.

Sejak terjatuh ketangan Tonghong Pacu setiap saat Kiem Lan Hoa menantikan kesempatan yang amat baik untuk berontak dan melepaskan diri dari cekalan lawan, ketika tubuh sigembong iblis itu tergetar keras ia lantas merasakan inilah kesempatan yang paling baik baginya untuk bertindak, mendadak badannya merendah kebawah, sebelum Tonghong Pacu menyalurkan hawa murninya telapak tangan tersebut sudah melesat kearah bawah, pada saat itulah Kiem Lan Hoa putar badan seraya melancarkan serangan balasan.

"Braakk!" dua serangan dengan telak bersarang diatas lambung Tonghong Pacu.

Sementara itu telapak kiri dari Tonghong Pek yang saling berbentrok dengan tangan kiri Tong-hong Pacu menimbulkan suara bentrokan yang amat nyaring, tentu saja sianak muda itu bukan tandingannya, ia menjerit keras. badannya bagaikan layang2 yang putus benang mencelat ke tengah udara, berjumpalitan beberapa kali dan muntah darah segar, kemudian badannya terbanting ke atas tanah keras2.

Sedangkan Tonghong Pacu yang lambungnya termakan oleh sodokan telapak Kiem Lan Hoa segera terdesak mundur tiga langkah ke belakang, kekuatan daya serangan ini benar2 dahsyat, sebab perempuan dari wilayah Biauw tersebut telah menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Setelah serangannya berhasil, Kiem Lan Hoa putar badan, tangannya diayun kedepan dan tampaklah serentetan cahaya ke-perakan meluncur ke atas batok kepala Tonghong Pacu.

Dua pukulan yang bersarang di lambung serta sebuah pukulan yang bersarang dipunggung membuat Tonghong Pacu terluka dalam, ia sadar seandainya badannya terkurung oleh jaring perak dari Kiem Lan Hoa itu niscaya ia tak bakal lolos lagi dari tangannya.

Sebagai seorang tokoh lihay, dikala jaring itu hampir mengurung badannya, tiba2 ia pentang mulutnya dan menyemburkan serentetan darah segar ke arah jaring tadi.

Semprotan yang disertai hawa murni ini membuat daya luncur jaring tersebut rada merandek, ambil kesempatan itulah ia bersuit nyaring dan meluncur keluar dari kalangan kemudian melarikan diri dari situ.

Menyaksikan sigembong iblis nomor wahid itu melarikan diri, Kiem Lan Hoa membentak keras.

"Kau hendak lari kemana?" perempuan ini segera enjotkan badan dan mengejar dari belakang.

Pada saat itulah Tonghong Pacu yang berada ditengah udara tiba2 putar badan sambil ayunkan telapak tangannya, serentetan jarum lembut yang memancarkan cahaya ke perak2an laksana kilat menyambar datang.

Kiem Lan Hoa kaget, ia sadar betapa lihaynya jarum2 lembut tersebut apabila bersarang di tubuh, dengan cepat badannya meluncur ke bawah kemudian bersalto dan menyingkir beberapa tombak jauhnya dari tempat itu.

Menanti ia berhasil berdiri tegak, Tonghong Pacu sudah lenyap tak berbekas dari pandangan, tak mungkin baginya untuk menyusul dirinya.

Terpaksa, ia putar badan dan berjalan balik ke tempat semula, waktu itu Thay Kiem serta Thay Gien kedua orang dayang jelek sedang berdiri disisi Tonghong Pek yang jatuh tidak sadarkan diri.

"Majikan !" seru Thay Kiem serta Thay Gien hampir berbareng, "Apa sih titik2 sinar tajam yang menyambar datang bagaikan hujan gerimis itu? sungguh indah sekali."

Kiem Lan Hoa mengerti bahwa kedua orang dayangnya sangat bodoh, ia tidak memberi penjelasan hanya sambil tersenyum tanyanya:

"Bagaimana keadaan dia?"

Sambil berkata ia berjongkok disisi sianak muda itu memeriksa denyutan nadinya, lalu dengan alis berkerut berkata kembali:

"Coba kalian berdua bimbing dia bangun !"

Thay Kiem serta Thay Gien mengiakan berbareng satu dikiri yang satu dikanan segera mementangkan tubuh Tonghong Pek dan dipaksa untuk berdiri, sementara Kiem Lan Hoa sendiri segera melayang kebelakang punggung sianak muda itu.

"Braaak...." tiba2 ia ayun tangannya dalam sekejap mata melancarkan tujuh buah serangan sekaligus keatas punggung Tonghong Pek. Kekuatan dari ketujuh buah serangan itu tidak terlalu besar, namun kecepatannya sangat sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Kepala Tonghong Pek yang semula terkulai ke bawah, setelah termakan ke tujuh buah serangan tadi, tiba2 terangkat keatas diikuti ia muntahkan darah.

Setelah itu ia pun sadar kembali dari pingsannya, sepasang matanya per-lahan2 dipentangkan, menghembuskan napas panjang dan melirik sekejap kearah Thay Kiem serta Thay Gien yang berada disisinya.

"Terima kasih . . terima kasih." serunya "Kalian berdua .

. harap kalian suka membawa aku kedepan sana, biarlah aku berdiri ditepi batu cadas dan mungkin aku bisa berdiri sendiri."

-ooo0dw0ooo-