-->

Jago Kelana Jilid 13

Jilid 13

KIRANYA ketika telapaknya menempel diatas tubuh Ciang Ooh, pada saat itulah ia merasakan munculnya segulung tenaga pental yang maha dahsyat dari balik tubuh perempuan tersebut, begitu dahsyat tenaga tadi sehingga membuat si Bungkuk sakti terperanjat sekali, buru2 ia atur hawa murninya untuk menumbuk kedepan.

Siapa sangka makin besar tenaga murni yang dikerahkan, makin dahsyat pula daya pental itu memancar keluar, akhirnya saking tak kuat menahan diri ia terdesak mundur sejauh lima, enam langkah kebelakang.

Bukan begitu saja, setelah ia mundur sejauh enam langkah, tenaga tekanan yang memancar ke luar dari tubuh lawan makin menerjang keluar tiada hentinya, terpaksa ia bersalto ditengah udara dan melayani kembali sejauh tujuh delapan depa.

Kali ini Lieh Hwee Sin Too benar2 terperanjat mulutnya melongo matanya terbelalak, se akan2 banyak perkataan hendak diutarakan namun tak tahu yang harus dikatakan.

Ia temukan Ciang Ooh masih tetap berdiri tertegun ditempat semula, se-olah2 tak pernah terjadi sesuatu peristiwapun terhadap dirinya.

"Lieh Hwee ! bagaimana dengan ilmu silatnya?" tegur Hiat Goan Sin-koen, per-lahan2 Lieh Hwee Sin Tuo menghembuskan napas panjang.

"Hiat Goan, ilmu silat yang dimiliki orang ini benar2 luar biasa dan susah diukur dengan kata2" jawabnya.

"Bagaimana kalau dibandingkan dengan gembong iblis itu ?"

"Tentang soal ini...tentang soal ini..."

"Suhu, mengapa tidak kau ijinkan Ciang Ooh untuk menjajal kekuatannya?" Teriak Tonghong Pek keras. "Kesempurnaan tenaga Iwekangnya telah mencapai taraf yang tak terhingga, aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tonghong Pacu belum tentu bisa memadahi dirinya." Lieh Hwee Sio Tuo ragu sejenak, akhirnya ia mengangguk.

"Baiklah, mari kita coba-2 kalian ikutlah diriku."

Seraya berkata ia lantas melangkah kedepan diikuti empat orang lainnya dari belakang.

Tidak selang beberapa saat kelima orang itu sudah memasuki hutan bambu, kembali terlihat Lieh Hwee Sin Tuo merandek dan berpikir dengan ragu2, tapi akhirnya ia meneruskan langkahnya sejenak kemudian mereka telah keluar dari hutan bambu itu.

Didepan mata terbentang sebuah selokan dengan air yang jernih, disisi selokan tadi berdiri beberapa buah rumah gubuk, suasana ketika itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Tiba2 Lieh Hwee Sin-Tuo berhenti, sambil berpaling ia berkata:

"Aku... lebih baik aku...aku...tidak..."

"Suhu, sebenarnya kerugian apa yang telah kau derita ? mengapa kau begitu takut ?" tanya Tong hong Pek dengan hati sedih.

"Kaupun tak usah ikut kesana" Tiba2 sibongkok sakti menarik tangan pemuda itu, "Kau harus tahu, kau...Suniomu berada ditangannya...kalau...sampai kita membangkitkan gusarnya, dia... dia..."

"Apa ? Sunio terjatuh ke tangannya ? mana boleh kita duduk sambil berpeluk tangan belaka ?"

"Kalau tidak duduk sambil berpeluk tangan, lalu apa yang hendak kita lakukan ? siapa diantara kita yang bisa menangkan dirinya ?" Tonghong Pek menarik napas panjang lalu berpaling kearah Si Soat Ang. Gadis itu amat cerdik, ia lantas memahami maksud pemuda tersebut, kepada Ciang Ooh dara ini membisikkan sesuatu sementara perempuan tengkorak tadi mengangguk tiada hentinya.

"Suhu!" Tonghong Pek berkata kembali "Menurut kau, lebih baik kita maju berbareng ataukah sementara bersembunyi dahulu disini dan biarkan Ciang Ooh maju seorang diri memancing Tonghong Pacu keluar dari dalam rumah?"

Kembali Lieh Hwee Sin-tuo merasa ragu2 terhadap Tonghong Pacu ia memang merasa takut ia lebih senang kalau Ciang Ooh maju seorang diri.

Tapi sebagai seorang jago dari kalangan pendekar, ia tidak ingin berbuat demikian, sebab ia belum tahu mampukah Ciang Ooh menghadapi Tonghong pacu, seandainya ia biarkan perempuan tengkorak itu maju seorang diri, kemudian ia bukan tandingannya dan mati ditangan Tonghong Pacu, bukankah hal ini sama artinya dialah yang menghantarkan kematian perempuan tersebut.

Disamping itu, masih ada satu persoalan lagi yang membuat Si bongkok sakti merasa serba salah, ia takut Tonghong Pacu mengetahui siapakah Tonghong Pek, kemudian menerangkan asal usul pemuda itu, inilah persoalan yang tidak ia inginkan.

Setelah dipikir bolak balik, akhirnya cuma ada satu cara untuk menghindari kejadian ini, ia harus memerintahkan Tonghong Pek tak boleh mengeluarkan suara dalam situasi serta keadaan apapun.

Haruslah diketahui walaupun Tonghong Pek adalah putra Tonghong Pacu, tetapi semasa pemuda itu masih bayi bersama2 ibunya telah diusir dari rumah dan diterlantarkan. Tentu saja Tonghong Pacu tak mungkin akan kenali pemuda ini sebagai bayinya dahulu.

Sedangkan Lieh Hwee Hujien adalah seorang perempuan buta asalkan Tonghong Pek tidak buka suara, tak bakal perempuan itu tahu kalau putranya pun telah datang.

Maka dari itu, setelah dipertimbangkan beberapa saat akhirnya Si Bongkok sakti ini berkata.

"Pek jie, ada satu persoalan kau harus dengarkan perkataanku!"

"Suhu! silahkan utarakan aku pasti akan turut perintahmu!"

"Nanti, tentu saja kita harus maju bersama2, tidak sepantasnya kalau kita biarkan Ciang Ooh seorang diri menghantarkan kematian. Tetapi sebelumnya itu kau harus menyanggupi satu permintaanku."

"Aku tidak akan bertindak gegabah !" seru Tonghong Pek berjanji.

"Bukan...bukan itu yang kumaksud, aku sih tidak takut kau bertindak sekehendak hatimu, aku hanya minta kau jangan mengeluarkan suara apa pun, dalam keadaan serta situasi macam apapun."

"Meng...mengapa?" tanya sang pemuda keheranan.

"Tak usah kau bertanya mengapa, aku ingin bertanya, bisakah kau menuruti permintaanku ini ? berbuat demikianpun bukan suatu pekerjaan sulit, apakah kaupun hendak membangkang perintahku?"

Tonghong Pek sadar, dibalik larangan tersebut pasti ada suatu latar belakang yang sangat penting, hanya ia tak dapat menebaknya, menyaksikan pula sikap gurunya amat keren, terpaksa ia mengangguk.

"Baiklah aku tidak akan bersuara !"

"Bukan saja kau tak boleh bersuara, kaupun tak boleh mengucapkan perkataan apapun" Si Bongkok sakti menambahkan. "seandainya Sunio menanyakan tentang dirimu, kaupun dilarang mengeluarkan sedikit suarapun. Nona Si. Hiat Goan, kalian berduapun tak boleh mengucapkan kata2 yang menunjukkan bahwa Tonghong Pek berada disisi kalian, ingatlah pesan ini baik2 !"

Tentu saja Hiat Goan Sin koen tahu apa sebabnya sibongkok sakti berbuat demikian, sebaliknya Si Soat Ang tidak tahu.

Gadis ini ingin bertanya, tetapi Tonghong Pek yang lebih kenal watak gurunya segera mencegah "Nona Si ikuti saja perintah suhuku" katanya.

Si Soat Ang mengangguk terpaksa dengan memendam rasa curiganya ia membungkam.

Lieh Hwee Sin Tuo menghela napas panjang, melangkah maju kedepan menepuk bahu Tonghong Pek dan berkata:

"Selama banyak tahun kau ikuti diriku, bagaimana perasaanmu terhadap sikapku selama ini padamu ?"

"Suhu, Budi kebaikanmu sangat besar bagaikan bukit Thay san, kalau kau bertanya demikian, suruh aku menjawab bagaimana ?"

"Kau tak usah gugup, aku cuma ingin menunjukkan kepadamu bahwa segala pekerjaan yang kuperintahkan kepadamu. kendari bagaimana aneh serta kukoaynya kesemuanya ini demi kebaikanmu, asal kau bisa mengerti itu sudah cukup" "Harap suhu berlega hati, tentang persoalan ini belum pernah timbul perasaan curiga dalam hatiku."

"Tetapi aku telah perintahkan Hiat Goan Sin koen untuk bawa kau jauh2 meninggalkan gunung Lak Ban san, mengapa kau nongol juga disini?"

Mendengar teguran itu, Tonghong Pek tertawa getir. "Suhu, setelah murid tahu bahwa perguruan terjadi

kesulitan apabila aku takut mati dan jauh2 menyingkir, kau

suruh aku bagaimana hidup jadi manusia?"

Lieh Hwee Sin Tuo menghela napas, katanya: "Sudahlah, ayo berangkat!"

Tadi perjalanan dilakukan dengan cepat. Sekarang setelah tahu gembong iblis nomor satu Tonghong Pacu berada didepan mata, langkah kaki mereka terasa berat sekali.

Cuma Ciang Ooh seorang tetap berjalan dengan tenang, sebentar ia menengok kekanan, sebentar menengok kekiri, seakan2 pohon bambu yang tumbuh disekelilingnya membuat ia merasa gembira.

Tidak selang beberapa saat kemudian mereka telah tiba kurang lebih dua tiga tombak dari gubuk tersebut, suasana sunyi, diantara merekapun tak ada yang buka suara.

"Siapa?" tiba2 dari berkumandang suara teguran yang nyaring dan jelas sekali.

Seluruh tubuh keempat orang itu tergetar keras, tak kuasa mereka sama 2 berhenti dan berdiri kaku.

Kembali terdengar suara gelak tertawa yang amat nyaring, disusul orang itu berkata kembali. "Hey bongkok. setelah berlalu buat apa kau balik lagi? adakah kau hendak mencari penyakit buat diri sendiri?"

Lieh Hwee Sin Tuo adalah seorang manusia bongkok, tetapi ia paling benci kalau ada ada orang menyebut dirinya sebagai bongkok, tentang soal ini Tonghong Pek tahu jelas maka dari itu setelah ucapan tersebut diutarakan pemuda kita lantas tahan napas.

Ia teringat akan pesan gurunya, dan tak berani mengeluarkan sedikit suarapun.

Tampak Lieh Hwee Sio-tuo tertawa getir.

"Tonghong sianseng setelah pergi aku balik kembali, hal ini disebabkan . ."

Ucapannya terputus, hal ini menunjukkan ia ragu2 apa yang harus dikatakan.

"Haaa. . haa. . disebabkan soal apa?" suara orang itu bertambah nyaring.

"Kraaak. . ." pintu gubuk terbentang, diikuti munculnya seseorang.

Dalam sangkaan Tonghong Pek, manusia Tonghong Pacu yang disebut sebagai gembong iblis nomor wahid dari kolong langit pastilah seorang manusia kasar yang berwajah bengis dan seram.

Tetapi ia salah sangka, orang muncul dari dalam gubuk adalah seorang lelaki berusia pertengahan dengan dandanan siucay, bukan saja wajahnya bersih dan ganteng, bahkan sangat menarik hati, senyuman selalu menghiasi bibirnya.

Tonghong Pek tercengang, ia merasa ragu2 benarkah lelaki ini yang bernama Tonghong Pacu, seorang gembong iblis nomor wahid yang disegani dan ditakuti semua orang dikolong langit Ia berpaling, tampak air muka gurunya Lieh Hwee Sin tuo serta Hiat Goan Sin koen pucat pias bagaikan mayat, mereka berdiri berjejer dengan mata menatap tajam kedepan, sikapnya gugup dan tegang.

Sementara Si Soat Ang berdiri dekat sekali dengan Ciang Ooh wajahnya pun terlintas rasa takut.

Tonghong Pek lantas sadar apa yang terbentang didepan matanya, membuktikan bahwa lelaki tampan ini bukan lain adalah Tonghong Pacu, tanpa sadar iapun merasa bergidik, buru2 ia berpaling memandang lagi kearah gembong iblis tersebut.

Dalam pada itu Tonghong Pacu telah berdiri tegak wajahnya masih tersungging senyuman yang ringan dan manis.

Kepada si bongkok tegurnya: "Tidak aneh kau berani balik lagi, ternyata kau membawa pem-bantu2 yang bernyali. Bagus sekali, siapakah ke dua orang itu."

Sambil berkata ia menyapu wajah Ciang Ooh serta Tonghong Pek.

Sungguh tajam sinar mata gembong iblis itu ketika sorotan matanya menyapu lewat, Tonghong Pek merasa tubuhnya tergetar sehingga tanpa sadar pemuda ini mundur ke belakang.

Agaknya Ciang Ooh pun mempunyai perasaan yang sama, ketika sinar mata Tonghong Pacu berkelebat lewat, perempuan tengkorak itu segera berteriak keras.

"Siapa kau?"

"Aaaah. . benar, tentu kau adalah. . bukankah kau berasal dari perguruan Pian Hoo?" ujar Tonghong Pacu sambil tertawa. Hiat Goan Sin koen serta Lieh Hwee Sin Tuo berdua sama2 melengak, meski mereka adalah tokoh lihay yang pernah berkelana diseluruh jagad, pengetahuan mereka amat luas, tetapi kedua orang itu tak tahu siapakah yang dimaksudkan "Pian Hoo" oleh gembong iblis tersebut.

Sedangkan Tonghong Pacu mengajukan pertanyaan ini adalah dikarenakan ia dapat melihat di antara beberapa orang itu kepandaian Ciang Ooh paling lihay. Ditinjau dari hal ini bisa dibayangkan betapa dahsyatnya manusia yang bernama "Pian Hoo" itu.

"Siapa itu Pian Hoo ?" terdengar Ciang Ooh berseru setelah melengak sejenak, "Aku bernama Ciang Ooh !"

Tonghong Pacu ganti yang berdiri tercengang, bukan saja ia tak tahu asal usul dari perempuan tengkorak ini, tapi ia sadar kepandaian silatnya benar2 luar biasa.

Tentu saja gembong iblis itu tak akan kenali asal usulnya. Dahulu Ciang Ooh hanya seorang gadis suku Biauw yang kebetulan memperoleh kitab pusaka "Sam Poo Cin Keng". Lalu dikurung selama belasan tahun dalam pagoda besi dibenteng Thian It Poo, dikolong langit dewasa ini kecuali Loei Sam mungkin tak seorangpun yang akan tahu asal usul ilmu silatnya.

Hanya sebentar rasa kaget dan ragu2 melintas diatas wajah Tonghong Pacu, terdengar ia tertawa ter- bahak2.

Gelak tertawanya amat mengejutkan, setiap kali ia buka suara terasa ada segulung tenaga besar yang menekan dada tiap orang, membuat orang merasa tidak enak badan dan sesak.

Diantara beberapa orang itu, dasar lweekang Si Soat Ang paling cetek, tanpa sadar napasnya mulai terengah2.

Pada saat itulah tiba2 Ciang Ooh membentak keras: "Hey, apa yang sedang kau lakukan? sedang menangis atau sedang tertawa? kenapa suara yang kau perdengarkan tidak enak didengar? hayo cepat2 berhenti !"

Gelak tertawa dari Tongbong Pacu saat ini di paksa keluar dengan membawa serta tenaga Iweekang yang amat dahsyat sebenarnya boleh dihitung suatu kepandaian yang sangat luar biasa, bahkan sejenis dengan ilmu Auman singa serta ilmu Tot Ing Sam Ciang dari kaum beragama atau ilmu pembingung sukma "Wu Sin Si Hun Thay Hoat" dari kaum sesat.

Seandainya gelak tertawa ini diteruskan lebih jauh maka bagi mereka yang memiliki lweekang cetek akan merasakan tekanan diatas dadanya makin lama semakin dahsyat sehingga akhirnya muntah darah dan menemui ajalnya.

Bentakan dari Ciang Ooh pun sangat luar biasa gelak tertawa tadi seketika dipukul kalut, pengaruh yang terpancar keluarpun seketika punah sama sekali.

Suatu kejadian yang benar2 diluar dugaan, Tonghong Pacu amat terperanjat, dengan sinar mata mendelong ia mengawasi perempuan itu tajam2.

Sementara itu terdengar Ciang Ooh masih menggerutu tiada hentinya.

"Sungguh tak sedap didengar suara tertawamu eeeei , , lebih baik lain kali kau jangan tertawa lagi?"

Bagi Ciang Ooh ucapan ini diutarakan tanpa mengandung maksud tertentu, lain halnya bagi Tonghong Pacu yang selama tiga-puluh tahun lamanya tak pernah ditegur orang, ia benar2 merasa tersinggung.

"Hmm!" dengusnya, "Kiranya dikolong langit banyak tersebar manusia2 pandai, kalau anda bukan anggota dari perguruan Pian Hoo berasal dari manakah kau? harap anda suka memberi penjelasan."

Ciang Ooh sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Tonghong Pacu barusan, sambil melototkan matanya ia balik bertanya:

"Heei . . sebenarnya apa yang kau katakan?"

Lambat laun Tonghong Pacu mulai maju ke-depan, semula Lieh Hwee Sia Tuo berdiri sejajar dengan Ciang Ooh tetapi sekarang setelah Tong-hong Pacu maju kedepan, tanpa sadar mereka berempat sama2 mundur kebelakang beberapa langkah, dengan demikian tinggal Ciang Ooh seorang tetap berdiri ditempat semula tanpa berkutik.

Selangkah demi selangkah Tonghong Pacu berjalan makin dekat, suasana semakin tegang setiap saat bisa terjadi perubahan yang hebat tapi Ciang Ooh tetap berdiri tegak ditempat semula, sepasang matanya melotot kedepan tajam2, wajahnya kelihatan tidak jeri, bahkan mundur selangkahpun tidak.

Keberanian yang belum pernah dijumpai Tong hong Pacu selama tiga puluh tahun ini membuat ia tercengang, keheranan dan akhirnya berhenti kurang lebih lima enam depa dihadapannya.

"Bukankah nama besar anda adalah Ciang Ooh?" sapanya sambil tersenyum ramah. "Cayhe she Tonghong bernama Pacu!"

"Oouw-..kiranya kau bernama Tonghong Pacu Ehm.! bukankah kau hendak mengalahkan guru dari sahabat karib putriku ?"

Kiranya ketika Si Soat Ang berbisik kepada perempuan tengkorak ini, ia mengatakan ada seorang manusia bernama Tonghong Pacu hendak mencari gara2 dengan Lieh Hwee Sin Tuo, sedang sibongkok itu adalah guru Tonghong Pek dan Tonghong Pek adalah sahabat karibnya, maka ia harus berusaha untuk mengusir jauh2 orang yang bernama Tonghong Pacu itu.

Apa yang dikatakan dara tersebut diingat terus didalam hatinya, dan diantara nama2 yang begitu banyak, ia cuma ingat nama Tonghong Pacu seorang, tidaklah aneh kalau Ciang Ooh langsung menegur setelah berjumpa dengan orangnya.

Tonghong Pacu tertegun, meski ia cerdik, tak dipahami apa yang dimaksudkan perempuan itu.

Belum sempat ia bicara, Ciang Ooh telah ulapkan tangannya sambil berkata.

”Dipandang dari wajahmu, kau tidak mirip seorang manusia jahat tetapi putriku mengatakan bahwa kau bukan manusia baik, aku rasa ucapannya tak bakal salah. Lebih baik cepat2 lah kau angkat kaki!"

Saat ini Tonghong Pacu merasa gusar campur geli, angkat nama selama puluhan tahun belum pernah ada orang yang menggunakan kata2 sekasar itu mengusir dirinya, tak kuasa ia mendongak dan tertawa ter bahak2.

"Kau hendak mengusir diriku?"

"Eeei . . kau mungkin sudah tuli? sudah kukatakan sejak tadi, apakah kau tidak dengar ?"

"Ooouw begitu . . tapi kalau aku tak mau pergi? kau mau apa?"

"Kalau kau tak mau pergi, aku akan mengusir dirimu." "Haaa . . haa . . bagus sekali, kalau begitu aku tak mau

pergi saja, akan kulihat kau akan mengusir diriku dengan cara apa?" Sambil bertolak pinggang ia berdiri tegak di tengah kalangan.

Ciang Ooh segera maju mendorong bahu Tonghong Pacu, sambil mendorong teriaknya keras2.

"Ayoh pergi.,.ayoh pergi !"

Seandainya Ciang Ooh bukan mendorong bahu nya melainkan tempat penting lain. Tonghong Pacu pasti akan turun tangan menghadapinya, tetapi sekarang yang didorong adalah tempat tidak penting gembong iblis ini tertawa dingin didalam hati, ia ada maksud memberi pelajaran kepada perempuan tengkorak tersebut, maka bukannya mundur menghindar, ia malah berdiri tegak tak berkutik.

Hawa murninya telah disalurkan keseluruh tubuh terutama diatas bahu, bukan saja seluruh jalan darahnya telah terlindung, bahkan badannya jadi keras bagaikan baja, apabila terjadi serangan dari luar, segera akan timbul daya pental yang maha dahsyat.

Maksud Tonghong Pacu bilamana Ciang Ooh mendorong tubuhnya dengan segenap tenaga, maka ia akan mementalkan tubuh perempuan itu sampai terjengkang keatas tanah.

Siapa sangka, meski Ciang Ooh mendorong badannya, ia tidak menggunakan tenaga dalam, ia cuma mendorong dengan sekenanya bagaikan anak kecil mendorong teman sebayanya.

Menurut ilmu tenaga Lweekang, makin besar tenaga serangan dari luar makin besar pula daya pental yang terpancar keluar, kini Ciang Ooh tidak mengeluarkan tenaga dalam, tentu saja tubuh Tonghong Pacu tak berhasil didorong, sementara ia sendiripun tidak terpental oleh tenaga daya pental lawan.

Dalam sekejap mata Tonghong Pacu merasakan tenaga yang terkumpul diatas bahunya tak dapat tersalur keluar ia heran, dikiranya kepandaian lawan jauh lebih dahsyat dari dirinya, sehingga membuat tenaga dalamnya tak sanggup memancar keluar.

Mimpipun ia tidak menyangka bahwa kejadian ini timbul disebabkan pihak lawan sama sekali tidak memakai tenaga dalamnya.

Tetapi setelah kejadian ini diulang beberapa kali, sebagai seorang manusia cerdik, Tonghong Pacu segera mengetahui duduknya persoalan, tanpa terasa lagi ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

Dalam pada itu Ciang Ooh mendorong kembali bahunya, kali ini perempuan tersebut merasakan ada segulung tenaga pental yang amat besar memancar keluar dari bahunya, otomatis tanpa sadar dari tubuh Ciang Ooh pun ikut memancar keluar segulung tenaga perlawanan yang mengimbangi besarnya tekanan lawan.

Demikianlah semakin besar tenaga tekanan memancar keluar dari bahu Tonghong Pacu, semakin besar pula tenaga dorongan yang muncul dari telapak Ciang Ooh siperempuan tengkorak itu.

Dalam sekejap mata tenaga serangan maupun tenaga pantulan telah mencapai titik terhebat, tenaga Iweekang yang semula berkumpul dibahu Tonghong Pacu mulai tidak sanggup melayani serangan lawan.

Gembong iblis nomor wahid ini mulai terperanjat, ia segera mengempos tenaga, dan salurkan kembali beberapa bagian tenaganya keatas bahu pada waktu itu mereka berdua berdiri dengan jarak dua tiga depa, tangan kanan Ciang Ooh menempel diatas bahu Tonghong Pacu dan berdiri tak berkutik dipandang sepintas lalu mereka berdua tidak tampak sesuatu yang aneh.

Tetapi dalam kenyataan kedua orang itu sedang melangsungkan pertempuran sengit yang mendebarkan hati.

Dalam seperminum teh lamanya sudah tiga kali Tonghong Pacu mengempos tenaga, dari batok kepalanya mulai mengepul asap putih yang makin lama semakin tebal.

Tonghong Pacu benar2 sangat terperanjat, ketika untuk keempat kakinya ia kerahkan tenaga, Ciang Ooh masih tetap berdiri tak berkutik bahkan sedikitpun tidak menunjukkan tanda2 kepayahan.

Ia mulai sadar perempuan tengkorak yang dihadapinya saat ini merupakan musuh paling tangguh yang pernah dijumpai selama puluhan tahun ini, tenaga lwekang yang dimiliki pihak lawan seakan2 tiada habisnya, mengalir dan melawan terus dengan amat gigih,

Ia sadar kalau pertarungan ini dilanjutkan dirinya pasti kalah dan pamornya ini akan hancur, kalah dalam tenaga dalam terpaksa ia harus menolong diri dalam jurus serangan.

Berpikir demikian tubuh Tonghong Pacu per-lahan2 mulai bergeser dan merendah kebawah.

Telapak Ciang Ooh masih menekan diatas bahunya, ketika ia merendah mendesak telapak tangan perempuan itu menekan kebawah.

Dalam sekejap itulah hawa murni Tonghong Pacu dengan dahsyat menerjang keatas menghantam serangan lawan, kekuatannya saat ini benar-benar luar biasa, bagaikan gulungan ombak ditengah samudra yang menghantam tepian.

Walaupun tenaga dorongan sangat besar, telapak Ciang Ooh tidak berhasil digetar lepaskan cuma saja ia berhasil menahan tenaga serangan yang memancar keluar dari telapak Ciang Ooh.

Inilah yang diharapkan Tonghong Pacu, menggunakan kesempatan yang amat singkat ia berkelit lalu secara tiba2 berkelebat kebelakang.

Setelah melayang dua depa dan lolos dari ancaman, telapak kirinya membalik langsung ditabok kedepan keras2.

Perhitungan gembong iblis ini sangat bagus sekali setelah berkelit dalam keadaan yang tidak mungkin pihak lawan pasti tak sempat menarik kembali serangannya sementara serangan yang ia lancarkan telah mengancam datang, kemenangan tentu berada dipihaknya.

Siapa sangka, kejadian ada diluar dugaan, dari telapak Ciang Ooh sama sekali tidak memancar keluar tenaga tekanan, kekuatan yang muncul dari tubuh perempuan itu tidak lain disebabkan tenaga murninya yang memancar keluar dari bahu, terlalu dahsyat sehingga memancing datangnya tenaga pantulan yang lebih hebat.

Karena itulah setelah ia berkelit dan tenaga serangan punah dari telapak Ciang Ooh tidak memancar tenaga pantulan lain, tubuh perempuan itu tentu saja tidak terpelanting kedepan, ia tetap berdiri tegak ditempat semula.

Serangan Tonghong Pacu kelihatan sebentar lagi akan bersarang diatas dada Ciang Ooh, namun ketika dilihatnya perempuan itu berdiri tak berkutik si gembong iblis itu jadi tertegun. Ilmu silat yang dimiliki iblis Tonghong ini benar2 luar biasa, dalam serangannya barusan apa bila Ciang Ooh menghindar maka perduli ia berkelit kemanapun diburu sehingga akhirnya serangan itu bersarang telak.

Sebaliknya kalau Ciang Ooh berkelit lalu menyambut datangnya serangan itu dengan kekerasan, maka Tonghong Pacu akan berubah jurus dan mengeluarkan jurus kedua yang disebut "Tiang Kang Sam tiap Lang" atau Ombak Sungai Tiang kang bersusun tiga untuk mencabut jiwa lawannya.

Siapa sangka Ciang Ooh tidak menghindar maupun membalas, ia cuma berdiri tak berkutik.

Belum pernah gembong iblis itu menjumpai lawan seperti ini setelah tertegun ia lantas tarik kembali serangannya.

"Kenapa kau tidak membalas?" hardiknya keras2.

Bentakan ini sangat dahsyat bagaikan guntur membelah bumi disiang hari, membuat Hiat Goan Sin koen serta Lieh Hwee sin-tuo tanpa sadar mundur dua langkah kebelakang.

Tampak Ciang Ooh berdiri termangu2 dengan jarinya ia mengorek2 lubang telinga, setelah itu baru katanya :

"Hey, kalau bicara kenapa begitu keras seperti suara geledek ? sampai2 telingaku terasa gatal sekali, kau kira aku seorang tuli ?"

Ucapan ini membuat Tonghong Pacu melongo dan meringis, mau gusar tak bisa mau tertawapun sungkan.

Haruslah diketahui ucapan barusan diutarakan Ciang Ooh karena telinganya benar2 gatal, tetapi dalam pendengaran Tonghong Pacu, ucapan tersebut tidak lain bernadakan mengejek. ooOdwOoo -

BAB 12

IA MERASA teramat gusar, pergelangannya segera memutar dari cengkeramam jadi menabok jurus "Tiang Kang Sam Tiap Lang" segera dilancarkan keluar.

Dalam serangan ini disertakan tiga gulung tenaga yang benar2 luar biasa, satu gulungan lebih hebat dari gulungan berikutnya, saat terhajar pasti fatal keadaannya.

Menyaksikan telapak tangan lawan menekan kearah dadanya, Ciang Ooh menjerit lengking, tiba2 ia miringkan badannya.

Seandainya orang yang melancarkan serangan bukan Tonghong Picu, kelitan tersebut tentu akan berhasil menghindarkan diri dari serangan lawan.

Tetapi gembong iblis ini bukan manusia sembarangan, mana ia sudi biarkan lawannya berkelit. Baru saja Ciang Ooh miringkan badan, telapak iblis itu sudah berputar satu lingkaran, membalik lalu menghantam dada perempuan tersebut.

Buru2 Ciang Ooh merendah kebawah, tetapi serangan Tonghong Pacu telah menekan datang, perempuan itu tak tempat berkelit lagi "Plaak !" serangan tadi dengan telak bersarang ditubuhnya.

Meskipun bersarang telak, arahnya agak meleset, sebenarnya ia mengancam dada Ciang Ooh tetapi secara tiba2 perempuan itu membungkuk maka serangannya tadi bersarang diatas bahunya.

Hiat Goan Sin koen, Lieh Hwee Sin Tuo, Tong hong Pek serta Si Soat Ang sama2 merasa tegang, keringat dingin mengucur keluar membasahi tubuh mereka, menang kalah Ciang Ooh tergantung dari keindahan pertarungan ini.

Sementara itu setelah terhantam oleh serangan Tonghong Pacu, Ciang Ooh berteriak keras, badannya bergetar keras bagaikan bambu yang meliat-liat dapat roboh keatas tanah.

Bersamaan dengan getaran tersebut kembali ia berteriak keras, badannya tak dapat berdiri tegak dan mundur selangkah kebelakang.

Agaknya ia tidak ingin mundur kebelakang, tetapi ia dipaksa oleh tenaga dahsyat Tonghong Pacu untuk mundur, maka setelah mundur kakinya segera menginjak tanah keras2 sehingga menimbulkan getaran dahsyat bagaikan gempa bumi di atas permukaan tanah.

Sepasang lengannya mulai menari menyambar ke sana kemari membawa deruan angin tajam yang menyapu kesana kemari, namun sama sekali tidak mengandung tenaga dalam, ia cuma menyambar sekenanya belaka.

Terdengar ia menjerit aneh, tubuhnya kembali mundur selangkah kebelakang.

Jurus "Tiang-kang Sam-Tiap Lang" semuanya memiliki tiga lapisan tenaga, tenaga lapisan pertama membuat badannya bergetar, lapisan kedua membuat ia mundur selangkah kebelakang, sedang tenaga lapisan terakhir memiliki kekuatan terdahsyat.

Setelah ia mundur langkah yang kedua perempuan gila ini menjerit keras, badannya tiba2 terjengkang dan jatuh terduduk diatas tanah.

Ia tidak segera bangun, kepalanya per-lahan2 mendongak mengawasi wajah Tonghong Pacu, kemudian berseru: "Tenagamu benar2 luar biasa sekali ! sungguh hebat, sungguh dahsyat !"

Sementara itu Tonghong Pacu tetap berdiri tak berkutik, air mukanya sebentar berubah menghijau sebentar lagi memerah, ia kelihatan mengenaskan sekali.

Dalam pandangan orang lain Tonghong Pacu berhasil merebut kedudukan diatas angin, sebab terbukti Ciang Ooh berhasil ia hantam sempat jatuh terduduk, tetapi Tonghong Pacu pribadi menyadari ia tidak menang, dalam serangannya barusan ia telah salurkan segenap tenaganya, sebuah bukit karangpun pasti akan jebol apabila termakan oleh serangan tersebut.

Tetapi bagaimana kenyataannya ? Ciang Ooh perempuan edan itu cuma mundur dua langkah kebelakang lalu jatuh terduduk, ia sama sekali tidak binasa bahkan luka sedikitpun tidak, demikian dahsyat tenaga Iweekang yang ia miliki, benar2 sukar dipercaya dengan akal sehat.

"Bagus... bagus sekali" sementara itu Ciang Ooh sudah meloncat bangun dan berteriak keras. "Kau miliki tenaga yang hebat, akan kusuruh kaupun mencicipi sebuah bogem mentahku."

Mendengar ucapan itu Tonghong pacu terkesiap, barusan ia telah menghantam orang lain, dari kini perempuan itu mengatakan hendak menghantam pula dirinya satu kali, tentu saja menurut peraturan Bu lim ia harus terima tantangan tersebut.

Hawa murninya segera disalurkan mengelilingi seluruh badan, ketujuh puluh dua buah jalan darahnya ditutup dan dilindungi semua, kemudian ianbil tertawa hambar jawabnya: "Aku telah memukul kau sekali, dan kaupun ingin balas menghantam aku sekali, ini memang cengli, Nah silahkan !"

Mendengar pihak lawan setuju, Ciang Ooh kegirangan setengah mati.

"Bagus...bagus...ternyata kau tidak benar2 jahat, kau masih punya cengli juga" sahutnya.

Sambil berkata ia maju kedepan, ayun telapaknya dan . . "Plakk!" sebuah gaplokan telah bersarang diatas bahu Tonghong Pacu.

Ketika perempuan itu ayunkan telapaknya, gembong iblis ini merasa amat tegang sekali, tetapi setelah telapak lawan bersarang diatas bahunya, ia jadi melengak dan berdiri termangu2.

Sebab bahunya sama sekali tidak sakit dan tidak merasakan sesuatu apapun, atau dengan kata lain dalam gaplokannya barusan Ciang Ooh sama sekali tidak menggunakan tenaga. Kejadian ini benar2 diluar dugaan gembong iblis nomor wahid dikolong langit ini.

Mana mungkin Ciang Ooh tidak sertakan tenaga dalam gaplokan barusan.

Mengapa ia berbuat demikian? Tonghong pacu merasa terkejut dan keheranan tiada habisnya, ia mundur selangkah ke belakang lalu mengawasi wajah jelek Ciang Ooh dengan sinar mata mendelong.

Tentu saja ia tak akan menyangka kalau ilmu silat yang dimiliki Ciang Ooh didapatkan tanpa sengaja, boleh dikata dia adalah seorang yang sama sekali tak kenal ilmu silat.

Apabila ada orang menyerang dirinya, tenaga lweekang yang ia miliki baru memancar keluar, makin besar serangan lawan maka kerugian yang bakal terimapun semakin besar. Ia tak tahu bagaimana caranya mengerahkan tenaga, tidak aneh kalau dalam serangannya barusan sama sekali tidak disertai dengan tenaga.

Sebenarnya Tonghong Pacu adalah seorang manusia cerdik. sayang ia tak pernah berpikir sampai disini, tentu saja ia keheranan dan berdiri mendelong.

Dalam pada itu Ciang Ooh telah berkata: "Sudah, aku telah membalas satu kali dan kaupun telah memukul aku sekali, sekarang kau pergi!"

"Hmm, kenapa aku harus pergi?"

"Aaaah benar, kenapa kau harus pergi?" seru Ciang Ooh tertegun, ia berpaling dan segera teriaknya:

”Heeei putriku, kenapa kau suruh dia pergi ?"

"Dia . . dia adalah seorang manusia jahat!" teriak Si Soat Ang.

Karena takut ucapannya mengandung serangan balasan dari Tonghong Pacu, maka seraya berbicara, ia bersembunyi dibelakang Hiat Goan Sin koen serta Lieh Hwee Sintuo.

"Aaah benar, kau adalah sedang manusia jahat." seru Ciang Ooh cepat.

"Kau ingin aku pergi? sebenarnya tak susah." "Bagaimana? kau mau apa?"

"Kita beradu lagi satu kali, coba lihat siapa yang berhasil merebut kemenangan setelah itu aku segera pergi dari sini."

"Apa yang dimaksud dengan "beradu ?" tanya perempuan edan itu keheranan.

Tonghong Pacu benar2 tak bisa menahan diri, dengan gusar teriaknya: "Hey! sebenarnya apa maksudmu? kalau kau tidak berani saling beradu dengan diriku, lebih baik cepat enyah dari sini."

"Ciang Oh pun dibuat naik pitam, ia membalas:

"Apa yang dimaksud saling beradu? kalau tidak kau terangkan, mana aku bisa tahu?"

Sebenarnya Tonghong Pacu sedang merasa amat gusar, tapi dia adalah seorang cerdik dari tingkah laku Ciang Ooh selama ini, tiba2 ia teringat akan sesuatu, senyuman mulai menghiasi bibirnya kembali seandainya apa yang dipikirkan benar, maka tidak terlalu sulit baginya untuk merebut kemenangan.

Setelah memadamkan hawa amarah yang membakar didadanya, sambil tersenyum ia berkata:

"Oooouw . . kiranya kau masih belum tahu apa yang dimaksud dengan saling beradu ?"

"Benar!"

"Baik, mari kuajarkan kepadamu, luruskan dahulu telapak tanganmu."

Ciang Ooh adalah perempuan tidak waras ia tak tahu mara bahaya telah mengancam jiwanya mendengar perkataan itu dia benar2 luruskan tangannya kedepan.

Dalam pada itu Lieh Hwee Sin Tuo, Hiat Goan Sin koen,Tonghong Pek serta Si Soat Ang berdiri kurang lebih dua tombak dari hadapan Tonghong Pacu ketika mereka dengar ucapan tersebut, semua orang segera sadar dibalik ucapan tadi tentu akan maksud tertentu.

Tonghong Pek yang pertama2 menyadari akan hal ini, ia pentang mulutnya hendak berteriak, tetapi ketika teringat akan pesan gurunya, terpaksa ia telan kembali ucapan tadi dan membungkam.

Pada waktu itulah Lieh Hwee Sin Tuo dan Hiat Goan Sin Koen telah berteriak tampik berbareng:

"Ciang Ooh, jangan menuruti ucapannya !"

Bentakan tersebut diutarakan tepat pada waktunya, sayang reaksi Ciang Ooh tidak begitu cepat, tampak perempuan itu tertegun dan berdiri melongo.

Menanti Ciang Ooh hendak menarik kembali tangannya, detik itulah kelima jari tangan Tonghong Pacu bagaikan cakar burung garuda telah mencengkeram urat nadi perempuan itu.

Cengkeraman tersebut dilancarkan dengan jurus "Thian Ing Mi Si" atau Rajawali sakti mencari Mangsa yang amat dahsyat. gerakannya cepat serangannya tepat, meski seorang tokoh maha saktipun sulit untuk menghindarkan diri, apalagi Ciang Ooh yang masih berdiri ter-mangu2.

Ditengah teriakan kedua orang itu, kelima jari Tonghong Pacu telah mencengkeram urat nadi Ciang Ooh erat2.

Tonghong Pacu sudah tahu tenaga lwekang yang dimiliki Ciang Ooh teramat luar biasa, maka dari itu dalam serangannya ini jari tangannya telah menggunakan tenaga sebesar sembilan bagian, kalau berganti orang lain yang kena dicengkeram olehnya dengan keadaan semacam ini niscaya tulang pergelangannya akan remuk hancur.

Lain halnya dengan Ciang Ooh, semakin besar tenaga yang menyerang dari luar semakin dahsyat pula tenaga perlawanan muncul dari tubuhnya, tentu saja tulang pergelangannya tidak sampai patah. Meskipun demikian urat nadi adalah suatu tempat yang penting dimana menguasai seluruh urat syaraf ditabuh, kini setelah dicengkeram oleh gembong iblis itu, tenaga perlawanan yang timbul dari Ciang Ooh pun peroleh kerugian yang amat besar.

Berada dalam keadaan seperti ini, kendari ada segulung tenaga dahsyat yang memantul balik, tetapi perempuan tengkorak itu gagal untuk melepaskan cengkeraman lima jari Tonghong Pacu.

Menyaksikan hal itu, diam2 gembong iblis nomor wahid dari kolong langit ini merasa kegirangan.

Dalam pada itu. dengan suara keras Hiat Goan Sin koen simanusia monyet berteriak lantang:

"Eeei Tonghong sianseng, kau adalah tokoh sakti nomor wahid dikolong langit, apakah kau tidak merasa malu menghadapi orang lain dengan cara yang demikian rendah?"

Tonghong pacu pura2 tidak mendengar, ia berlagak pilon, malah sambil mendongak perdengarkan suitan nyaring.

Dalam kenyataan dalam hati kecil gembong iblis tersebut telah punya rencana bagus, ia hendak bereskan dahulu diri Ciang Ooh kemudian semua orang yang berada dihadapannya satu persatu akan dibunuh habis. Waktu itu siapa lagi yang tahu bahwa ia pernah merobohkan orang dengan cara yang rendah serta memalukan?

Maka dari itu ia bersuit panjang menutupi bentakan gusar dari Hiat Goan Sin koen, bersamaan itu pula tangan kirinya membalik "Braak!" serangannya bersarang telak diatas jalan darah "Hoa Kay Hiat" yang berada didada Ciang Ooh! Jalan darah Hoa Kay Hiat merupakan salah satu diantara tiga jalan darah kematian ditubuh manusia kecuali Pek Hwee Hiat dibatok kepala serta urat nadi disepasang tangan, walaupun dari tubuh Ciang Ooh mengeluarkan tenaga perlawanan, tak urung serangan Tonghong Pacu jauh lebih dahsyat datangnya.

"Braaak . . !" terdengar Ciang Ooh menjerit aneh, tubuhnya meronta keras.

Dasar tenaga Iweekang yang dimiliki Ciang Ooh luar biasa, setelah terhantam begitu berat rontaannya telah menggunakan tenaga yang tak terkira dahsyatnya. Tonghong pacu segera merasakan segulung tenaga besar meluncur keluar dari dalam tubuh, tak kuasa kelima jari tangannya mengendor dan Ciang Ooh berhasil melepaskan diri dari cengkeraman.

Tonghong Pacu terperanjat, ia sadar apabila Ciang Ooh berhasil lolos dari cengkeramannya, dus berarti ia sudah sia2 bertindak sebagai manusia rendah yang membokong orang dengan cara memalukan.

Ia tak rela membiarkan perempuan sinting itu meloloskan diri, begitu Ciang Ooh meloncat mundur kebelakang sepasang telapaknya segera berkelebat melancarkan dua serangan dahsyat

Datangnya dua serangan itu teramat dahsyat membuat orang merasa sesak napas, tentu saja Ciang Ooh tidak kuat menahan diri, apalagi ia berada dalam posisi sempoyongan setelah berhasil lolos dari cengkeraman.

"Braaak. . ." bagaikan layang2 putus benang, badannya mencelat ketengah udara dan terlempar kebelakang sejauh tiga empat lebih. Tampaklah perempuan sinting itu terlempar kedalam tumpukan pohon bambu sehingga membuat beberapa batang bambu melengkung kedalam memunahkan hampir sebagian besar dari tenaga lemparan tersebut, menanti tenaga tekanan telah lenyap, badannya memantul kembali kearah Tonghong Pacu terlempar oleh kekuatan beberapa batang bambu yang melengkung tadi.

Tonghong Pacu adalah manusia cerdik, ilmu silatnya pun lihay namun mimpi pun ia tidak menyangka tubuh Ciang Ooh yang terlempar jauh secara tiba2 bisa memantul balik dengan gerakan begitu cepat, ia tertegun dan berdiri melongo.

Dalam pada itu diiringi jeritan aneh dari Ciang Ooh, bagaikan anak panah terlepas dari busurnya tubuh perempuan itu menubruk kearah Tonghong Pacu.

Gembong iblis nomor wahid dari kolong langit ini teramat kaget, badannya segera menekuk kebawah, hawa murni disalurkan kedasar kaki kemudian secara tiba2 bergeser tiga empat depa kesamping meloloskan diri dari terjangan Ciang Ooh.

Bukan begitu saja, ambil kesempatan ketika tubuh Ciang Ooh menyambar lewat dari sisi tubuhnya, ia segera menyambar kedepan, kelima jari tangannya bagaikan kuku garuda mencengkeram kaki lawan.

Ciang Ooh bisa memantul balik bukan atas kehendak sendiri melainkan karena terlempar oleh daya pental pohon bambu, rasa kaget yang luar biasa membuat seluruh tenaga dalam yang dimiliki perempuan itu menyelimuti segenap badan, ketika merasakan datangnya cengkeraman otomatis perempuan itu memberikan reaksinya, suatu tendangan kilat segera dilepaskan. Tonghong Pacu terperanjat, ia tidak menyangka serangannya menemui kegagalan, sebaliknya pihak lawan melancarkan serangan belasan dengan tenaga demikian besar, untuk berkelit tidak mungkin . . tahu2 tendangan perempuan itu sudah menyelonong masuk menghajar iganya dengan telak.

"Braak. . ." tubuh Tonghong Pacu tergetar keras lalu mundur selangkah kebelakang, dimana kakinya menginjak permukaan tanah segera muncullah sebuah liang yang dalamnya kurang lebih setengah depa lebih.

Setelah terdorong mundur selangkah Tong-hong Pacu belum berhasil menguasahi diri badannya bergoyang lalu mundur pula dua langkah kebelakang.

Setelah mundur dua langkah sekali lagi badannya bergoyang keras dan mundur tiga langkah, dengan demikian seluruhnya ia terdorong sejauh lima langkah.

Dalam pada saat itu tubuh Ciang Ooh pun terbanting jatuh keatas tanah, namun dengan demikian sebatnya perempuan itu segera meloncat bangun dan berdiri kembali dengan sinar mata berkilat, seakan2 ia mulai dibikin naik pitam oleh keadaan yang memaksa.

Tiga puluh tahun berkelana, belum pernah Tonghong Pacu menderita kerugian sebesar ini, meski ia tidak sampai terbanting keatas tanah, hawa darah sukar ditahan lagi, secara lapat2, selapis hawa merah darah memancar diatas wajahnya, hawa napsu membunuh mulai menyelimuti benaknya.

Lambat2 ia putar badan, kepada Lieh Hwee Sin Tuo serta Hiat Goan Sin koen serunya:

"Ehmm bagus. . bagus sekali, pembantu yang kalian undang benar2 luar biasa." Menjumpai air muka Tonghong Pacu tiba2 berubah jadi merah darah, dalam hati Lie Hwe Sin Tuo serta Hiat Goan Sin koen merasa terkejut bercampur girang, sebab setiap orang yang memiliki tenaga dalam amat sempurna, jikalau menderita luka dalam, niscaya wajahnya akan menunjukkan perobahan seperti itu.

Dan kini air muka Tonghong pacu telah berubah hebat, hal ini menunjukkan apabila tendangan dari Ciang Ooh tadi telah mengakibatkan ia menderita luka dalam.

Tetapi menyaksikan bahwa napsu membunuh yang terlintas diatas wajah mereka pun merasa terperanjat, mereka sadar Tonghong Pacu telah membenci mereka hingga merasuk ketulang sumsum.

Dengan keraskan kepala Hiat Goan Sin-koen segera berkata.

"Tonghong sianseng, aku lihat tidak kecil kerugian yang kau derita, lebih naik cepat-cepat menyerah saja . . aku takut kerugian yang sangat kecil akan mengakibatkan menderita kerugian besar."

"Hmm ! baik sampai jumpa lagi lain kesempatan."

Melihat gembong iblis itu hendak berlalu. Si Soat Ang yang berada disamping segera berseru tertahan:

"Jangan biarkan dia . ."

Belum sampai maksud kata2nya diutarakan Tonghong Pacu telah bersuit panjang, badannya bergerak laksana kilat meluncur kedepan. dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan, sebaliknya Ciang Ooh yang melihat Tong hong Pacu telah berlalu jadi kegirangan setengah mati. "Heeei . . eeii . . coba kalian lihat, ia sudah pergi! dia sudah pergi." teriaknya sambil mencak-mencak.

Lieh Hwee Sin Tuo, Hiat Goan Sin koen, Tonghong Pek serta Si Soat Ang bungkam dalam seribu bahasa.

Semula mereka membawa datang Ciang Ooh kemari adalah bertujuan menggunakan ilmu silat yang dimiliki perempuan sinting itu untuk mengalahkan Tonghong Pacu, kini Tonghong Pacu telah berlalu seharusnya mereka merasa gembira, tapi pikiran lain telah menyelimuti benak mereka, sekarang baru sadar sekalipun Ciang Ooh berhasil mengalahkan gembong iblis itu, tetapi urusan belum selesai sama sekali.

Luka dalam yang diderita Tonghong Pacu tidak terlalu berat tidak selang beberapa hari ia sudah sembuh kembali, tentu saja ia siap membalas dendam setelah kekuatannya pulih kembali, siapa yang bisa berjaga dari setiap saat atas pembalasan dari gembong iblis itu?

"Eeeei . . kenapa kalian?" tiba2 terdengar Ciang Ooh menegur sambit melototkan matanya.

Hiat Goan Sin koen si manusia monyet tertawa getir. "Meskipun saat ini kita berhasil mengusir dia pergi, tetapi

ia sudah pasti akan balik langit" katanya.

"Sekalipun datang lagi kenapa kita harus takut? kalau ia datang lagi, apakah aku tak bisa usir dia pergi? ada aku disini, kalian tak usah takut."

Hiat Goan Sin koen menghela napas panjang, ia tidak bicara lagi.

Dalam pada itu Lieh Hwee Sin Tuo telah menggerakan badannya lari kedalam gubuk diikuti Tonghong Pek dari belakang, tetapi setelah melangkah masuk kedalam ruangan mereka berdua sama2 berdiri tertegun.

Ruangan kosong melompong tak nampak sesosok bayangan manusia pun, suasana sunyi sepi.

"Suhu, dimana sunio?" tanya Tonghong Pek dengan nada cemas.

"Aku . . aku sendiripun tidak tahu!" jawab Lieh Hwee Sin tuo sibongkok sakti lemah, air mukanya pucat pias bagaikan mayat.

Mereka berdua segera berteriak memanggil nama sunionya. tetapi tak kedengaran suara jawaban.

"Mari kita cari secara berpisah!" akhirnya si bongkok sakti berseru.

Mereka berdua sama2 mundur keluar dari ruangan, seraya menekan bahu Tonghong Pek si bongkok sakti itu berpesan.

"Kau harus berhati-hati, seandainya berjumpa dengan Tonghong Pacu, jangan berkata apapun segera putar badan dan berlalu?"

Tonghong Pek adalah seorang pemuda berwatak keras, suruh dia putar badan melarikan diri apabila berjumpa dengan musuh tangguh, sebenarnya sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya! Tetapi menyaksikan air muka gurunya begitu serius, maka setelah berpikir sejenak ia mengangguk.

"Aku mengerti," Bibir sibongkok bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya ia menghela napas tidak bicara lagi, tangannya segera diulapkan!

Tong Hong Pek segera berkelebat kesamping untuk mulai pencariannya terhadap jejak sunio nya. belum beberapa langkah Lieh Hwee Sin Tuo telah berseru kembali.

"Kau harus ingat, seandainya bertemu dengan suniomu..." tiba2 ia merandek.

Sebenarnya ia hendak berpesan apabila bertemu dengan sunionya iapun dilarang bicara, segera putar badan dan berlalu, Sebab ketika mengucapkan kata2 tersebut ia hanya berpikir jangan sampai Tonghong Pek mengetahui asal usul yang sebenarnya.

Tetapi ketika ucapan telah diutarakan setengah jalan ia mulai teringat kembali, kepergian Tong hong Pek kali ini adalah hendak mencari jejak sunionya, lucu sekali kalau ia suruh pemuda itu segera berlalu setelah orang yang dicari ketemu, maka dari itu ia lantas membungkam.

Sementara itu Tonghong Pek telah berhenti sambil menanti ucapan selanjutnya, tunggu punya tunggu tidak kedengaran juga gurunya sibongkok sakti meneruskan kata2nya, maka ia lantas bertanya:

"Setelah bertemu dengan sunio, apa yang harus aku lakukan ?"

Dari dalam saku Lieh Hwee Sin Tuo ambil keluar sebatang anak panah bersuara, sambil menyerahkan benda itu ketangan sianak muda pesannya:

"Seumpama kau berhasil temukan jejak sunio-mu, lepaskanlah anak panah bersuara ini, aku segera akan datang menemui kalian."

Tonghong Pek ragu2, namun akhirnya anak panah bersuara itu diterimanya juga. "Suhu!" katanya, "Seandainya kau berhasil menemukan jejak sunio, kaupun harus lepaskan anak panah bersuara untuk memberi khabar kepadaku."

Lieh Hwee Sin Tuo mengangguk mengiakan. Demikianlah Tonghong Pek segera meluncur kedepan,

seraya berlalu teriaknya keras2:

"Nona Si, kau serta Ciang Ooh berdirilah di sana, jangan sembarangan berlalu."

Si Soat Ang mengiakan gadis inipun tidak banyak bicara.

Begitulah Lieh Hwee Sin Tuo, Hiat Goan Sin koen serta Tonghong Pek segera berlalu dari sana, gerakan tubuh mereka amat cepat, dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan.

Sekeluarnya dari hutan bambu, mereka bertiga segera berpisah.

Untuk sementara kita tinggalkan dahulu Lieh Hwee Sin- tuo serta Hiat Goan Sin koen, bercerita tentang Tonghong Pek dalam pada itu sekeluarnya dan hutan bambu ia lantas berlari menuju ke selatan.

Ia tak tahu sunionya berada di mana ? terpaksa sepanjang perjalanan ia melakukan pencarian dengan seksama, ketika berjalan tiga lima li jauhnya mendadak ia dengar suara air dan tiba di samping sebuah selokan!

Tonghong Pek berhenti sejenak ditepi selokan tersebut, menghela napas panjang lalu mengempos tenaga meloncat naik keatas sebuah batu besar ditepi selokan tadi dan mulai mengawasi keadaan sekeliling tempat itu.

Tiba2 dari antara semak belukar sekitar batu besar itu berkumandang suara rintihan yang lemah dan mengenaskan. Rintihan itu amat lirih dan rendah, kalau bukan didengar dengan cermat hampir saja tak kedengaran.

Tonghong Pek kaget, ia pasang telinga dan sekali lagi mendengarkan dengan seksama, sedikit pun tidak salah suara itu memang suara rintihan yang lirih sekali.

"Siapa?" tegur Tonghong Pek sambil melayang turun, hatinya penuh rasa curiga.

Pertanyaan itu diulang sampai beberapa kali namun tak kedengaran ada suara jawaban, badannya segera berkelebat masuk kedalam semak, menyingkirkan pepohonan disekitarnya, dan segera ditemui sesosok tubuh manusia terkapar diatas tanah, wajahnya menempel diatas tanah.

Punggung orang itu masih kelihatan bergetar jelas jiwanya belum sampai putus dan cuma menderita luka parah belaka, suara rintihan lirih tadi berasal dari orang ini.

Buru2 Tonghong Pek maju ke depan berjongkok dan membangunkan tubuh orang itu, Dia adalah seorang pemuda kurus yang berwajah pucat pias.

Tonghong Pek segera cekal urat nadi pemuda itu dan periksa denyutan jantungnya, ia merasa pemuda itu sudah amat lemah sekali setiap saat kemungkinan besar jiwanya bisa melayang.

Tonghong Pek tertegun, dengan lengan sebelah merangkul kepala pemuda itu tangan lain menempel diatas punggungnya ia salurkan hawa murni kedalam tubuh orang lain.

Seperminum teh lamanya telah berlalu, per-lahan2 baru nampaklah orang itu membuka sepasang matanya. Walaupun sepasang matanya telah terbuka namun sinar matanya masih sayu, jelas ia belum menangkap pemandangan yang terbentang dihadapannya itu.

Ia pentang matanya lebar2 bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun berhasil diutarakan.

"Sahabat, jangan terburu napsu," cegah Tonghong Pek dengan suara dalam "Ada perkataan utarakan saja nanti!"

Orang itu tidak menggubris. kembali ia paksakan diri untuk mengutarakan beberapa patah kata.

"Cepat... cepat... cepat kejar..."

Tonghong Pek menghela napas panjang hawa murni yang disalurkan keluar diperbesar sehingga seluruh tubuh pemuda itu bergemetar, ucapannya makin banyak dan suaranya semakin keras.

"Cepat... cepat kejar Loei Sam !"

"Apa Loei Sam ?" seru Tonghong Pek terperanjat.

"Loei Sam...dia...dia merampas tanda pengenal dari Si Thay sianseng"

Makin didengar Tonghong Pek merasa semakin terperanjat, setelah mendengar nama "Loei Sam" pemuda tersebut menyadari persoalan ini luar biasa dan mimpipun ia tidak mengira kalau peristiwa tersebut menyangkut pula Si Thay sianseng tokoh maha sakti dari kolong langit dewasa ini, ia tertegun, kemudian serunya:

"Lalu apakah anda adalah anak murid dari Si Thay sianseng ?"

Karena mendengar pemuda itu mengatakan bahwa Loei Sam telah merampas tanda pengenal dari Si Thay sianseng, ini berarti dia adalah anak murid manusia luar biasa tersebut.

"Aku bukan anak muridnya." sahut orang itu dengan napas ter-engah2, "Aku she Liem. . Si Thay sianseng titip kepadaku..."

Bicara sampai disitu ia tak kuat lagi menahan diri, wajahnya berubah semakin hebat. Dasar wajah yang pucat kian memutih sehingga terlintas hawa hijau yang menyeramkan.

Tonghong Pek sadar keadaan tidak menguntungkan, ia tahu bilamana orang ini tidak cepat ditolong maka jiwanya pasti akan segera melayang.

Dalam keadaan cemas, ia ambil keluar anak panah bersuara milik suhunya dan siap dilepaskan untuk mohon bantuan sibongkok sakti tersebut.

Mendadak.,.dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara seseorang sedang berkata:

"Cepat menyingkir, dia akan mengumbar hawa amarahnya..."

Tonghong Pek semakin terperanjat lagi, ia kenali suara tersebut sebagai suara dari Tonghong Pacu.

Pemuda kita tertegun, hawa murninya segera di emposkan siap meluncur kedepan dan melarikan diri.

Tetapi bersamaan waktunya, pemuda yang berada dalam rangkulannya tiba2 memperdengarkan suara yang sangat aneh.

Perubahan ini benar2 berada diluar dugaan Tonghong Pek, barusan saja untuk bicarapun pemuda itu tidak kuat bahkan sebentar lagi akan putus nyawa, tapi kenyataan saat ini ia masih sanggup memperdengarkan jeritan sedahsyat ini.

Dengan cepat Tonghong Pek melompat bangun, sedang pemuda itupun tiba2 meronta bangun dan berdiri pula, ditengah gerakan itulah tanpa sengaja sepasang lengannya yang direntangkan menghantam diatas bahu Tonghong Pek.

Gaplokan ini benar2 luar biasa sekali, Tonghong Pek yang sama sekali tidak bersiap sedia segara terpukul mental dan jatuh terpelanting diatas tanah.

Peristiwa ini sangat tidak masuk diakal, maka dari itu setelah terpelanting sejauh tiga lima tombak Tonghong Pek segera bangun, ia sudah lepaskan Tonghong Pacu. sambil memandang pemuda itu dengan ter-mangu2..

Dalam pada itu pemuda tersebut mulai bertingkah bagaikan orang gila, sepasang tangannya diayunkan kesana kemari menyertai deruan angin tajam.

Sementara itu selangkah demi selangkah Tong-hong pacu berjalan mendekati pemuda tadi dari sepasang matanya memancar keluar cahaya berkilat, semua perhatiannya dicurahkan keatas tubuh lelaki itu.

Ketika Tonghong Pacu berjalan mendekat tadi, pemuda she Liem itu masih tidak merasa, menanti gembong iblis tersebut sudah berada empat lima depa dari tubuhnya, laksana deruan angin puyuh tiba2 ia putar badan sambil melancarkan sebuah jotosan keatas dada Tonghong Pacu.

Pukulan ini datangnya sangat cepat bahkan disertai deruan angin dahsyat, kekuatannya luar biasa sekali.

Mendadak Tonghong Pacu berhenti. "Braakk..." serangan tadi dengan telak bersarang diatas dadanya sehingga menimbulkan suara keras. Gerak-gerik Tonghong Pacu kalem sekali, tiba-tiba tangan kanannya berkelebat cepat mencengkeram pergelangan pemuda itu, hardiknya dengan suara bagaikan guntur.

"Liem Hauw Seng, kau masih kenal akan diriku?!"

Pemuda itu bukan lain adalah Liem Hauw Seng yang mendapat tugas dari Si Thay sianseng untuk menyampaikan kabar kedalam lembah Coei Hong Kok digunung Go bie.

Bentakan dahsyat tersebut benar2 luar biasa, tubuh Liem Hauw Seng yang masih meronta bagaikan orang gila tiba2 merandek lalu menjadi tenang kembali.

Ketenangan membuat hawa hijau yang melapisi wajahnya semakin menebal, saat ini seluruh wajahnya hampir boleh dikata telah berubah hijau ke hitam2an.

Setelah tertegun beberapa saat, Liem Hauw Seng mulai alihkan sinar matanya memandang sekejap kearah Tonghong Pacu, tiba2 ia berseru.

"Kau . . kau adalah Tonghong . . Tonghong sianseng?" "Haa.   .   haha   sungguh   tak   disangka,   sungguh   tak

disangka, sebenarnya aku pandang bakatmu kurang baik!

aku tak terima kau sebagai muridku, tapi sekarang keadaannya berbeda, kau boleh belajar silat bersama2 Giok Jien!"

"Aku. . aku . . " sepasang mata Liem Hauw Seng melotot bulat2.

Sembari berkata ia menunduk memperhatikan diri sendiri, seakan2 ia ingin mengetahui perbedaan apakah yang terjadi pada dirinya. Menyaksikan tingkah laku pemuda ini, Tonghong Pacu mendongak tertawa terbahak 2:

"Sudahlah, jangan banyak berpikir yang bukan2, apakah kau ingin berada bersama2 Giok Jien?"

"Tentu saja aku ingin berada sama2 dirinya, tetapi aku tak tahu ia berada dimana ?"

"Ikuti saja diriku nanti kau bakal tahu sendiri!"

Bicara sampai disini ia lantas lepas tangan, Liem Hauw Seng mundur dua langkah kebelakang, menanti Tonghong Pacu hendak putar badan, tiba2 pemuda itu berseri kembali:

"Tunggu sebentar!"

Air muka Tonghong Pacu berubah hebat, agaknya ia merasa sangat tidak senang hati.

"Ada urutan apa ?" tanyanya kasar.

"Aku teringat sudah...aku teringat, ditempat itulah aku berjumpa dengan Loei Sam, ia merampas tanda pengenal yang diserahkan Si Thay sianseng kepadaku kemudian menghajar aku sampai menderita luka parah, ketika itu aku berada ditepi selokan, aku lantas merangkak kedepan hingga tiba didalam semak, lalu aku jatuh tidak sadarkan diri?"

Mendengar sampai disitu, air muka Tonghong Pacu telah berubah beberapa kali, tiba2 ia ulapkan tangan memotong ucapan pemuda tersebut lebih jauh:

"Loei Sam ? kau telah berjumpa dengan dirinya ? sekarang ia berada dimana ?"

"Aku tidak tahu, aku telah jatuh tidak sadarkan diri... meski tidak mati tentu akan terluka parah, dari mana datangnya tenaga sebesar ini...apa kah kau yang menolong aku ?" "Haa... haaa... tentu saja aku, kalau bukan aku siapa lagi?"

"Kau ?" seru Liem Hauw Seng keheranan. "Mengapa..? mengapa kau tolong aku ? kau... kau adalah..."

Sebenarnya ia hendak mengatakan "Kau adalah gembong iblis nomor wahid dari kalangan sesat" tetapi perkataan ini akhirnya tak berani diutarakan keluar.

Tonghong Pacu bukan manusia bodoh, tentu saja ia mengerti apa yang hendak dikatakan pemuda she Liem itu, dengan dingin katanya:

"Kau benar2 tidak tahu diri Giok Jien telah angkat aku sebagai guru, bukannya kau tidak tahu, apakah kan masih belum paham?"

Liem Hauw Seng masih hendak mengucapkan sesuatu. Tonghong Pek yang berada disisinya sudah tak kuat menahan diri, sebab terang2-an Liem Hauw Seng ditemukan olehnya, dari mana Tong-hong Pacu bisa mengaku bahwa dia yang menolong?

"Tonghong sianseng." pemuda she Tonghong segera berseru. "Tidak kusangka manusia macam kau berani mengaku pahala orang lain."

"Siapa kau?" Bentak Tonghong Pacu sambil putar badan secara tiba2.

Kena dibentak Tonghong Pek kaget pikirnya:

"Setelah bertemu dengan Tonghong Pacu, meski tidak melarikan diri akupun tidak sepantasnya mengusik dia..."

Walaupun kaget, berada dalam keadaan seperti ini tidak mungkin bagi Tonghong Pek untuk melarikan diri.

Karena itu segera ujarnya: "Aku... aku..." "Hmm! sekarang aku kenali dirimu!" dengus Tonghong Pacu ketus, "Kau adalah manusia yang datang ber-sama2 sibongkok, siapa namamu ayoh cepat sebutkan, agar kau jangan mati sebagai setan tak bernama."

Ketika mengucapkan kata2 terakhir, diatas wajah Tonghong Pacu mulai terlintas hawa napsu membunuh yang mengerikan sekali.

Tanpa sadar Tonghong Pek mundur selangkah kebelakang, ia sadar dengan kepandaian yang dimiliki tidak mungkin bisa menandingi Tonghong Pacu, untuk meloloskan diri pada saat inipun tidak mungkin, satu2nya jalan terpaksa ia coba menenangkan hatinya.

Setelah mundur dua langkah kebelakang, jawabnya berat:

"Aku bernama Tonghong Pek !"

Seluruh tubuh Tonghong Pacu bergetar keras ketika mendengar nama itu, kemudian diikuti ia mendongak dan tertawa terbahak2.

"Haa... haa... haa... kiranya kau adalah Tonghong Pek !" "Hmm ! apa anehnya dengan namaku ? kenapa kau

tertawa ?"

"Siapa yang melarang aku tertawa ? Eeei siapakah diriku, apakah kau belum tahu ?"

"Tentu saja aku tahu."

"Nah itulah dia. mengapa kau tidak panggil diriku ?" "Memanggil dirimu ? memanggil apa kepadamu ?".

Tonghong Pek benar2 keheranan dibuatnya.

Sepasang alis Tonghong Pacu langsung berkerut. "Oouw kiranya kau tidak tahu ? apakah ibumu belum pernah menceritakan kisah tersebut kepadamu ?"

Pada saat2 ini Tonghong Pek benar2 bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan gembong iblis tersebut, ia cuma tahu dirinya adalah seorang anak yatim piatu, tapi kalau didengar dari ucapan tersebut agaknya Tonghong Pacu kenal dengan ibunya.

Seandainya perkataan ini diucapkan orang lain Tonghong Pek tentu akan bertanya lebih jauh, tetapi pemuda ini tahu Tonghong Pacu adalah seorang gembong iblis nomor wahid yang ganas dan keji, ia tak boleh mempercayai ucapannya.

"Hmm ! aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang kau katakan." serunya sambil mendengus.

Per-lahan2 Tonghong Pacu menghela napas panjang. "Aaii, hal ini memang tak bisa disalahkan dirimu, dan

tak bisa disalahkan pula atas ibumu, ibumu tidak pernah menyangka kalau bisa berjumpa kembali dengan diriku, maka ia tak pernah bercerita apa2."

"Tutup mulut!" bentak Tonghong Pek dengan gusar, makin mendengar hatinya makin dongkol "Sebenarnya persoalan apa yang sedang kau bicarakan terus menerus?"

"Bocah apakah kau belum mengerti? aku adalah ayah kandungmu!"

"Apa?" Tonghong Pek tertegun, tubuhnya mulai mundur sempoyongan.

Ucapan tersebut benar2 bagaikan godam yang menghantam dadanya keras2, ia tertegun berdiri menjublek dan tak mengerti apa yang harus ia lakukan saat itu. "Sekarang kau mengerti bukan?" kembali Tonghong Pacu berkata.

Tiba2 Tonghong Pek menjerit, suaranya tinggi melengking aneh sekali kedengarannya!

"Kau sedang ngaco, aku... aku adalah seorang anak yatim piatu aku sama sekali tidak ada hubungan dengan dirimu."

Tonghong Pacu tertawa. "Mari, akan kuantar kau menjumpai ibumu, biarlah ibumu yang menerangkan nanti, kau pasti akan mempercayai perkataanku!"

"Aku siapakah ibuku?" tanya pemuda itu dengan napas terengah-engah.

"Aaah, apakah kau tidak tahu siapakah ibumu? Eeehmm, benar kalau ia tidak menerangkan kepadamu, dari mana kau bisa tahu? kalau begitu pada hari2 biasa kau menyebut dirinya dengan sebutan apa?"

Pikiran Tonghong Pek benar2 kalut, ia benar-benar tak mengerti perkataan apakah yang tedeng dibicarakan Tonghong Pacu, tetapi ia mulai merasa antara dia dengan gembong iblis nomor wahid ini pasti terikat suatu hubungan yang erat sekali.

Dalam sekejap mata saja perbagai ingatan berkelebat dalam benaknya, seperti apa yang dikatakan Hiat Goan Sin- koen kepada orang lain bahwa dia adalah putra dari Tonghong Pacu kemudian larangan gurunya agar ia jangan kembali kegunung Lak ban san lagi.

Berbagai persoalan bergabung menjadi satu membuat pikirannya semakin kalut, sekuat tenaga ia menggeleng lalu menjerit: "Aku... aku tidak mengerti apa yang sedang kau katakan!"

"Haaa haa kau tidak mengerti asalkan kau berjumpa dengan dirinya, maka kau akan segera paham sendiri, ikutilah diriku, akan kuhantar kau pergi menemui dirinya."

Bukan maju ke depan Tonghong Pek, malah mundur selangkah kebelakang, tolaknya:

"Tidak, aku tak mau ikuti dirimu, aku masih ada urusan, maaf tak bisa kutemani diriku lebih lama."

"Kau masih ada urusan? apakah urusan ini jauh lebih penting dari pada menjumpai ibu kandungmu sendiri?"

Tubuh Tonghong Pek bergetar keras, sekali lagi ia mundur selangkah kebelakang.

Tetapi baru saja ia melangkah mundur, Tonghong Pacu telah bersuit nyaring sambil membentak.

"Jangan pergi!"

Mengikuti ucapan tersebut, tiba2 sepasang lengannya dipentang, bagaikan seekor burung alap-alap, segera melayang dan menubruk Tonghong Pek dengan dahsyatnya.

Tonghong Pek terperanjat, buru2 ia lempar badannya kesamping namun gerakan gembong iblis tersebut benar2 luar biasa, pemuda kita hanya merasakan segulung tenaga dahsyat menyambar lewat dan tahu2 tangan lelaki itu sudah menempel diatas bahunya.

Bahunya seketika terasa sangat berat, bagaikan ditindihi dengan bukit Thay san, badannya sama sekali tak dapat berkutik, ia merasa terkejut bercampur gusar:

"Kau. . ." hardiknya keras2. "Aku tahu mungkin kau tak rela pergi mengikuti diriku." tukas Tonghong pacu dengan suara yang lembut, halus dan menawan hati, "Tetapi, apakah kau tidak ingin mengetahui asal usulmu sendiri?"

Dikolong langit tak ada yatim piatu yang tak ingin menjumpai orang tuanya, tidak terkecuali Tonghong Pek, pemuda itu tertawa getir.

"Setelah berjumpa dengan dirinya, kau akan segera memahami duduknya persoalan" sahut Tonghong Pacu kembali sambil tertawa, "Sampai waktunya kalau kau tidak ingin bersama diriku, takkan kupaksa dirimu seperti aku tak pernah memaksa saudaramu harus ikuti diriku tetapi sebelum berlalu kau harus mengetahui dahulu keadaan saudaramu!"

"Apa . . apa yang kau katakan? apa aku masih punya saudara?" suara Tonghong Pek yang telah kalut kini semakin kalut.

"Benar kau masih punya seorang adik, kini aku sedang mencari dirinya dan sunio saat ia pasti kutemukan waktu itu kita ayah anak bertiga bisa berkumpul kembali, betapa senangnya waktu itu, mari ikutilah diriku."

Kembali Tonghong Pek meronta, tetapi makin ia meronta pemuda itu merasakan dari tangan Tonghong Pacu yang menekan diatas pundaknya memancarkan tenaga aneh yang makin dahsyat.

Akhirnya Tonghong Pek menghela napas panjang dan berdiri dengan hati putus asa, sementara itu Tonghong Pacu berpaling kearah Liem Hauw Seng yang mana segera berdiri dengan ketakutan.

Menyaksikan keadaan orang itu, Tonghong Pacu mendongak tertawa ter bahak2: "Kau tak usah pergi sekarang aku sudah temukan kembali Tonghong Pek meski kau merengek-rengek kepadaku tidak nanti kuterima dirimu"

Liem Hauw Seng jadi kegirangan, tanpa sadar ia berseru: "Terima kasih cianpwee!"

"Hmm! keparat busuk yang tak tahu diri ketika kau menderita luka parah dan menggeletak di atas tanah, kebetulan kau berbaring diatas sumber gas bumi, maka dari itu walaupun jatuh tidak sadarkan diri selama beberapa hari, bukannya tewas, tenaga dalammu malah bertambah pesat.

Tetapi kau harus tahu meski hawa bumi bisa perkuat badanmu namun kau harus tahu pula bagaimana cara penggunaannya, mulai ini hari berlatihlah semedhi setiap hari paling banyak kau cuma boleh beristirahat setengah jam, bila kau berbuat demikian selama satu tahun maka bukan saja bisa menghindari bahaya dari hawa bumi yang bersarang dalam tubuhmu bahkan mendatangkan manfaat yang besar bagimu."

0ooodwooo0