-->

Jago Kelana Jilid 10

Jilid 10

UJUNG bajunya segera dikibaskan kedepan, segulung angin desiran yang lunak dan empuk seketika menggulung tubuh Liem Hauw Seng sehingga mundur tiga lima tombak jauhnya kebelakang.

Menanti pemuda itu berdiri tegak, maka bayangan Si Thay sianseng pun sudah lenyap tak berbekas dari depan matanya.

Beberapa patah kata dari tokoh sakti dunia persilatan ini semakin membuat pikiran Liem Hauw Seng bertambah kalut, dengan hati yang kacau ia lanjutkan perjalanannya kedepan, menanti cuaca mulai gelap ia sudah keluar dari daerah pegunungan Lak Ban San. Ditengah hutan disebuah lapangan yang kecil ia membuat api unggun dan duduk ter mangu2 di sana, lama sekali pemuda itu ambil keluar gelang emas tadi dan dipandangnya dengan sinar mata mendelong.

Gelang emas itu merupakan benda kepercayaan Si Thay Sianseng, bentuknya tidak terlalu besar tapi indah dan menawan hati.

Beberapa waktu kemudian Liem Hauw Seng menyimpan kembali gelang emas tadi kedalam saku, mendadak terdengar seseorang berseru tertahan.

"Eeei bukankah benda itu adalah gelang emas benda kepercayaan Si Thay sianseng ? darimana anda dapatkan benda tersebut ?"

Ucapan ini membuat Liem Hauw Seng sangat terperanjat tapi dengan cepat hatinya jadi lega kembali, sebab setelah orang itu mengenali gelang emas tersebut berarti ia tahu akan asal usul benda itu, siapa yang berani mencari gara2 dengan Si Thay sianseng ?

Setelah menyimpan gelang emas tadi, lambat2 Liem Hauw Seng angkat kepala, kurang lebih dua tombak dihadapannya, disisi sebuah pohon besar berdirilah seseorang.

Usia orang itu masih sangat muda, kurang lebih dua puluh lima, enam tahunan, badannya kurus kering, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat namun sepasang matanya memancarkan cahaya berkilat, siapapun akan segera ketahui kalau orang ini amat cerdik.

Sementara itu Liem Hauw Seng merasa wajah pemuda itu sangat dikenali olehnya, hanya ia lupa siapakah orang itu. Pambaca budiman, dapatkah anda sekalian menerka siapakah sianak muda itu ? dia bukan lain adalah Loei Sam.

Bagaimana Loei Sam bisa berada disitu? Kiranya pada waktu itu setelah ia menggelinding jatuh dari atas pagoda dibenteng Thian it Poo bersama Ciang Ooh, dengan hati gembira Loei Sam mengira kitab pusaka "Sam Poo Cin Keng" tersebut pasti akan terjatuh ketangannya.

Dalam perkiraan Loei Sam. setelah ia membokong Ciang Ooh kemudian perempuan itu menggelinding jatuh dari atas pagoda, ia pasti jatuh tidak sadarkan diri, dan kitab pusaka Sam Poo Cin Keng tadi dengan mudah akan terjatuh ketangannya.

Siapa sangka peristiwa berlangsung diluar dugaan, ketika tubuh Ciang Ooh menggelinding hingga sepuluh tingkat, tiba2 perempuan itu melejit dan meloncat ketengah udara.

Perobahan ini membuat Loei Sam kaget, dengan melejitnya Ciang Ooh maka Loei Sam merasakan ada segulung tenaga besar mementalkan tubuhnya meninggalkan anak tangga dan meluncur kebawah dengan kecepatan penuh.

Loei Sam terkesiap, tubuhnya bagaikan anak panah terlepas dari busur meluncur kebawah dengan cepatnya, untung reaksinya cukup cepat, buru2 ia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan, ketika sang tubuh berada enam tujuh tombak dari permukaan sepasang telapak nya berbareng didorong kebawah.

Pukulan ini mendatangkan tenaga pantulan yang kuat, hal ini membuat gerakan daya luncur tubuhnya semakin lambat dan berhasil hinggap diatas permukaan dengan empuk. Menanti ia bisa berdiri tegak, Ciang Ooh yang menggelinding kebawah pun sudah keluar dari pagoda. badannya menggelinding terus sejauh beberapa tombak untuk kemudian sang tubuh melingkar jadi satu dan tak berkutik lagi.

Menyaksikan kejadian itu, Loei Sam kegirangan setengah mati, buru2 ia melangkah dua langkah kedepan, sebagai lelaki cerdas yang banyak akal ia bertindak sangat hati2 untuk menghindari dari sergapan sang perempuan tengkorak yang mungkin berpura2 mati ketika berada lima, enam depa didepan Ciang Ooh ia berhenti.

Kemudian memungut sepotong batu bata dan di sertai tenaga lwekang ia sambit batu tadi keatas punggung Ciang Ooh keras2

Maksud Loei Sam dengan timpukannya ini adalah untuk menghindari sergapan perempuan itu seandainya ia pura2 jatuh pingsan, tapi ia lupa Ciang Ooh adalah seorang perempuan gila tidak mungkin manusia yang otaknya kurang waras bisa mengatur jebakan tersebut.

Kadangkala, orang cerdik pun berbuat bodoh setelah jatuh dari atas tangga pada waktu itu Ciang Ooh benar2 jatuh tidak sadarkan diri, bilamana Loei Sam menggunakan keadaannya ini maka tidak seharusnya ia timpuk punggung perempuan tengkorak itu dengan batu bata.

Dalam pada itu, batu bata tadi dengan disertai desiran tajam bersarang telak diatas punggung Ciang Ooh dimana terletak jalan darah "Sin ciang-hiat."

Dengan terbenturnya jalan darah tersebut, Ciang Ooh yang pingsan seketika dibikin sadar kembali. Perempuan itu buka matanya lebar2. lalu dengan cepat meloncat bangun dari atas tanah dan lari meninggalkan tempat itu.

Loei Sam tidak ingin kitab pusaka "Koei Thiao Pit Lip" lenyap dari tangannya, melihat Ciang Ooh melarikan diri dari sana ia mengejar dari belakangnya, tapi makin lari perempuan itu bergerak semakin cepat sehingga akhirnya pemuda itu tak dapat menahan diri dan membentak keras:

"Ciang Ooh, berhenti ! aku ada urusan hendak dibicarakan dengan dirimu !" Bentakan ini mendatangkan reaksi yang cepat, Ciang Ooh segera berhenti dan putar badan, sepasang matanya yang hijau menyeramkan dengan tajam menatap wajah pemuda itu tajam2.

"Siapa kau ? ada urusan apa kau memanggil-diriku ?" tanya Ciang Ooh dengan nada dingin.

"Benarkah kau tidak tahu siapa aku ?" tegur Loei Sam dengan nada menyelidiki sementara dalam hati ia berpikir:

"Bagus sekali, barusan saja aku bergebrak mati2an melawan dirimu, sekarang kau sudah lupa siapa aku ?"

Ciang Ooh menggeleng, "Aku benar2 tidak tahu !" jawabnya.

"Ada seseorang suruh aku datang kemari untuk meminta sesuatu benda dari tanganmu ." kata pemuda itu lebih jauh.

Sembari berkata ia buat persiapan lalu selangkah demi selangkah maju mendekati perempuan itu.

"Siapa yang suruh kau datang kemari ?" tanya Ciang Ooh, sementara wajah tengkoraknya berkerut, "Benda apa yang ia minta ?"

"Orang yang suruh aku datang kemari adalah sitelapak berdarah Tong Hauw !" sambil menjawab pemuda itu perhatikan perubahan sikap Ciang Ooh dengan seksama, sebab reaksi dari perempuan itu mempunyai hubungan yang erat dengan didapatkan atau tidaknya kitab pusaka "Kioe Thian Pit Kip" tersebut.

"Sitelapak berdarah Tong Hauw" empat patah kata membuat seluruh tubuh Ciang Oh tergetar keras, tulang belulang yang kurus bergemerutukan keras, mulutnya menganga lebar2.

"Si tee . . . telapak . . . berdarah . . . Tong . . . Hauw !" "Kenalkah kau dengan orang ini ?" dengan cepat Loei

Sam menyambung, "Dialah yang suruh aku datang kemari."

"Kenalkah aku dengan orang ini ?" suara Ciang Ooh amat lemah, seakan2 ucapan ini di utarakan dan tempat yang sangat jauh "Aku kenal suara ini, tentu saja aku kenal dengan orang ini !"

Ambil kesempatan itu Loei Sam melangkah beberapa langkah lebih dekat dari hadapan perempuan tersebut.

"Kalau kau kenal dengan orang itu, bagus sekali, dialah yang menitahkan aku untuk datang kemari minta semacam benda darimu."

"Lalu sekarang ia berada dimana?"

"Asalkan kau berikan benda miliknya kepada nya, maka ia akan segera datang kemari untuk berjumpa denganmu, paham?"

Dengan sangat berat Ciang Ooh mengangguk tanda mengerti.

"Apa yang ia minta?" tanyanya kemudian.

Loei Sam merasakan jantungnya berdebar sangat keras, ia berusaha menahan diri dan buru2 menyahut. "la minta kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip." Sekali lagi seluruh tubuh Ciang Ooh gemetar keras, agaknya ia amat bersedih hati.

"Kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip ? benda apakah itu! aku tidak memiliki benda semacam itu, benarkah kalau aku tak punya barang itu lantas tak dapat berjumpa lagi dengan dirinya"

"Tidak. . . kau salib besar, benda itu kau punya, yang kumaksudkan Kioe Thian Pit Lip adalah selembar gulungan kain sutra yang penuh dengan lukisan bentuk manusia, asalkan kau berikan benda itu kepadaku maka Tong Hauw segera akan datang kemari menjumpai dirimu

!"

"Benda inikah yang kau maksudkan ?" Dari tenggorokkan Ciang Ooh mulai terdengar suara gemerutukan keras, ia perlihatkan gulungan kain sutra diatas tangannya itu.

"Benda ini bukan Kioe Thian Pit Lip, banyak tahun berselang seorang bangsa Han yang mati ditanah Biauw kami serahkan benda tersebut kepada ku, menurut pesannya benda ini tak boleh diperlihatkan ktpada orang lain."

Menjumpai kitab pusaka "Kioe Thian Pit Lip" tersebut, jantung Loei Sam berdebar semakin keras. Ketika itu ia hanya berdiri empat lima depa dihadapan Ciang Ooh cukup tangannya diulurkan kedepan benda tersebut akan segera berada ditangannya.

Ia tarik napas panjang2 dan berkata: "Coba kau dengarkan dahulu perkataanku."

Tiba2 pergelangan tangan kirinya membalik, "Sreeet !" dengan kecepatan bagaikan kilat ia melancarkan sebuah serangan kedepan. Merasakan datangnya serangan, Ciang Ooh miringkan badannya kesamping, dengan gerakan ini serangan Loei Sam yang semula mengancam dada segera bersarang dengan telaknya diatas bahu, Loei Sam yang ada niat merampas Kioe Thian Pit Lip tersebut sejak semula sudah memperhitungkan segala gerak-geriknya, perduli serangan pemuda itu bersarang dimanapun ia sudah persiapkan gerakan selanjutnya.

Meminjam tenaga pantulan dari serangannya yang bersarang dibahu Ciang Ooh, sang tubuh mencelat ketengah udara kemudian berkelebat lewat dari atas kepala perempuan itu.

Dikala sang badan menyambar lewat dari atas kepala indah. telapak kiri dengan cepat menotok jalan darah " Pik Hwie Hiat" diatas batok kepala Ciang Ooh.

Meskipun perempuan tengkorak Ciang Ooh adalah seorang manusia berotak sinting, namun reaksinya cukup sebat terhadap datangnya setiap serangan, merasakan adanya bokongan dari atas kepala ia segera miring kesamping.

Loei Sam menduga perempuan itu pasti akan balas menyerang dirinya dengan Kioe Thian Pit Lip sebagai senjata, tapi Ciang Ooh tidak berbuat demikian ia tidak melancarkan serangan balasan.

Sepasang kaki Loei Sam segera melancarkan tendangan berantai menghajar dada Ciang Ooh, sementara tangan kirinya menyambar Kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip tersebut dan ditarik keluar.

Sejak Loei Sam bertindak, melancarkan serangan, meloncat keatas, menotok, menendang dan merampas kitab pusaka tersebut, semuanya dilakukan dalam sekejap mata, tidak malu ia disebut anak murid Si Thay sianseng. Setelah berhasil mencekal Kioe Thian Pit Lip tersebut, Loei Sam kegirangan setengah mati, dalam perhitungannya benda itu pasti akan menjadi miliknya sementara sepasang kaki yang menempel diatas dada Ciang Ooh bisa digunakan sebagai batu jejakan dalam usahanya melarikan diri.

Siapa sangka, meskipun perhitungannya sangat bagus, tetapi Kioe Thian Pit Lip yang dirampas nya dari tangan Ciang Ooh belum juga berhasil direbut lepas.

Dalam pada itu, sepasang kaki yang melancarkan tendangan berantai telah bersarang telak di atas dadanya. "Braak ! Braak l" bagaikan menghantam kayu saja Ciang Ooh sama sekali tak merasakan adanya tendangan tersebut.

Loei Sam amat kaget, ia sadar apabila kitab pusaka itu tidak dilepaskan maka dirinyalah yang bakal menerima rugi besar.

Segera ia lepas tangan, berjumpalitan setengah lingkaran ditengah udara dan meloncat mundur ke belakang.

Ketika itulah telapak kiri Ciang Ooh sudah di dorong kedepan melancarkan sebuah serangan balasan.

Serangan itu datangnya tanpa menimbulkan suara, tapi angin pukulan yang berhembus lewat teramat dahsyat, laksana gulungan angin puyuh yang melanda jagad serta amukan gulungan ombak di tengah samudra melanda datang tiada hentinya.

Untung Loei Sam cukup sebat, meski begitu badannya tak urung terdorong juga sampai terjungkal.

Berada ditengah udara ia berjumpalitan tujuh delapan kali, seumpama badannya tidak melewati tembok dan ambil kesempatan itu tangannya menutul permukaan tembok, niscaya ia sudah terlempar jauh sekali dari kalangan. Dalam pada itu Ciang Ooh telah berputar badan dan berkelebat pergi dari tempat itu.

Loei Sam tak mau berdiam sampai disitu saja ia segera enjot badan mengejar kembali dari belakang, makin lari semakin cepat dalam sekejap mata mereka sudah tinggalkan benteng Thian It Poo jauh2.

Kejar mengejar berlangsung dengan serunya, makin lari Ciang Ooh semakin cepat sampai akhirnya ketika fajar menyingsing Loei Sam telah kehilangan jejak perempuan itu.

Bagaimanapun Loei Sam baru sembuh dari luka parahnya setelah berlarian selama semalaman jantungnya berdetak semakin keras. ia merasakan dadanya sakit tenggorokan terasa amis dan hampir2 saja muntah darah segar.

Buru2 ia berhenti untuk beristirahat dan memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, dari tengah hutan yang lebar dibawah sorotan cahaya fajar tampak asap putih membumbung tinggi ke angkasa, jelas didalam hutan ada perkampungan.

Kemana Ciang Ooh telah pergi? mungkinkah ia berada dikampung sebelah depan? Loei Sam tak tahu, tapi ia mengerti setiap umat Bu-lim pada kesemsem dan ingin mendapatkan kitab pusaka Kioe Thian Pu Lip tersebut, hanya saja orang lain cuma tahu kitab itu berada didaerah Biauw, sedang ia mengetahui jelas benda itu berada disaku Ciang Ooh.

Dengan adanya rahasia ini, walaupun untuk sementara kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip gagal dirampas, dikemudian hari masih ada kesempatan mencari Ciang Ooh. Demikianlah ia duduk beristirahat disisi sebuah batu besar sambil melemaskan otot2, kemudian mengatur pernapasan menanti terang tanah.

Kurang lebih satu jam kemudian pemuda itu selesai bersemedi, ia segera bangun berdiri dan melanjutkan perjalanan kedepan.

Tidak selang beberapa saat lamanya ia sudah menerobosi hutan dan dapat melihat perkampungan tersebut. Kampung ini berdiri diatas sebuah tanah lapang yang luas bangunannya angker dan kokoh.

Empat lima puluh ekor kuda berlari silih berganti diatas tanah lapang tersebut, gerak-gerik penunggangnya gesit dan sebat, sekali pandang dapat diduga mereka adalah orang Bu lim.

Sewaktu Loei Sam berjalan lewat disisi mereka, tak seorangpun yang menaruh perhatian kepadanya, pemuda itu langsung berjalan kedepan dan akhirnya berhenti disisi kalangan dibawah sebuah pohon besar.

Kegagalannya merampas kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip membuat hatinya murung dan kesal, dalam keadaan mendongkol ini ingin sekali ia mencari gara2 dengan orang itu, segera ia salurkan hawa murninya siap menghardik orang itu.

Mendadak ia menemukan ada beberapa ekor kuda kembali bergerak keluar meninggalkan pintu perkampungan.

Beberapa ekor kuda itu menarik dua kereta salju, gerakannya sangat cepat dalam sekejap sudah menyebrangi tanah lapang tersebut.

Terdengar sikakek tua yang ada diatas kereta salju berkata. "Harap kalian bertiga suka menyampaikan salamku buat Si Thay sianseng !"

Gerakan kereta salju itu amat cepat, semula Loei Sim tidak begitu memperhatikan siapa 2 kah yang berada diatas kereta tapi ucapan "Si Thay sianseng" empat patah kata ini membuat ia jadi melengak.

Dengan cepat tubuhnya berkelebat kebelakang pohon dan bersembunyi sementara kereta salju bergerak lebih lambat diikuti siorang tua itu meloncat turun dari atas kereta.

"Maaf Loohu tidak menghantar lebih jauh!" katanya. Dan pada saat inilah Loei Sam dapat melihat siapakah orang2 yang berada diatas kereta salju.

Kiranya diatas kereta pertama berdiri siauw sumoaynya, sedang pada kereta berikutnya berdiri kedua orang suhengnya.

Menjumpai ketiga orang itu, Loei Sam amat terperanjat, jantungnya berdebar2 keras, tubuhnya ditempelkan pada pohon semakin rapat dan tak berani berkutik lagi, ia tahu seandainya jejaknya diketahui kedua orang suhengnya maka sulitlah baginya untuk melarikan diri.

Lagi pula sepasang mata sikakek tua itu bercahaya tajam, jelas dia adalah seorang tokoh lihay dari dunia persilatan, apabila dirinya di kerubuti niscaya bakal konyol.

Sementara itu sikakek tua tadi telah menjura kearah ketiga orang itu sambil berkata:

"Berada diluar perbatasan, kalian mengungkap nama loohu, pasti ada orang yang melayani kebutuhan kalian !"

"Terima kasih atas bantuan Ong Cungcu, kami hendak mohon diri !" jawab dua orang suheng dan Loei Sam. Pemuda Loei Sam yang bersembunyi dibelakang pohon, setelah mendengar tanya jawab itu segera berseru tertahan pikirnya:

"Oouw kiranya sikakek tua ini adalah tokoh sakti kenamaan dari luar perbatasan sitelapak pembelah batu nisan Ong Mie, dengan hadirnya jago selihay ini aku tak boleh munculkan diri secara gegabah !"

Berada dalam keadaan seperti ini, ia tak ada permintaan lain kecuali mengharapkan kedua suhengnya bisa cepat2 membawa siauw sumoaynya berlalu dari sana, dengan demikian iapun punya kesempatan untuk melarikan diri.

Siapa sangka Ong Mie, sebagai seorang yang lanjut usia masih saja memberikan pesan ini tiada hentinya, hal ini membuat Loei Sam makin gelisah.

Mendadak, ia mendengar suara langkah kaki yang ringan muncul dibelakang tubuhnya.

Waktu itu Loei Sam sedang pusatkan seluruh perhatiannya kedepan, maka ketika ia menangkap suara langkah manusia, orang itu sudah berada sangat dekat dengan dirinya, ia jadi terperanjat dan buru2 berpaling.

Kurang lebih enam tujuh depa dihadapannya berdirilah seorang kakek kurus kering berbaju abu2 dengan wajah sadis, dia bukan lain adalah si Manusia bertangan aneh Yu Put Ming.

Loei Sam terjelos, untuk sesaat ia jadi ragu2 untuk turun tangan atau tidak ia takut kalau turun tangan maka kedua orang suhengnya akan mengetahui kalau ia bersembunyi disitu.

Dalam pada itu Yu Put Ming menatap wajahnya dengan sinar mata permusuhan, pemuda itu jadi bergidik ia makin gelisah. Ditatapnya wajah orang itu, Yu Put Ming balas menatap dirinya tajam2 sehingga akhirnya terdengar simanusia bertangan aneh menegur dengan suara yang berat:

"Bagus sekali tindakanmu! memang paling tepat bagimu untuk bersembunyi dalam benteng Thian It Poo."

Semula Loei Sam masih mengharapkan suatu keajaiban yaitu Yu Put Ming tidak kenal dirinya, tapi sekarang orang itu sudah menegur begitu, hal ini membuktikan kalau ia sudah mengetahui asal-usulnya.

Loei Sam sadar setelah Yu Put Ming mengetahui asal usulnya maka ia tak akan melepaskan dirinya begitu saja, ia pasti akan berusaha menangkap dirinya, membawa dirinya kegunung Go bie dan mencari pahala dihadapan Si Thay sianseng.

Ia tidak ingin digusur kedepan suhunya, maka dari itu belum selesai Yu Put Ming bicara, Loei Sam telah membentak dan melancarkan serangan dahsyat ke depan.

Bersamaan dengan dilepaskannya serangan tadi badannya melejit ketengah udara, kemudian melesat keluar kalangan dan melarikan diri cepat2 dari tempat itu.

Kedua buah serangan itu dilancarkan dengan segenap tenaga Iweekang yang dimiliki, dahsyat nya luar biasa sampai2 Yu Pui Ming sang tokoh silat kenamaan dalam dunia persilatanpun terdesak mundur dua langkah kebelakang.

Suara hiruk pikuk ini memancing kedua orang suheng dari Loei Sam, mereka berseru tertahan, dan berpaling, pada waktu itulah Loei Sam sedang meloncat keluar dari tempat persembunyiannya, dengan jelas wajah pemuda itu tertangkap oleh mereka berdua. "Aaah, Loei Sam !" teriak kedua orang itu hampir berbareng

Loei Sam tidak menggubris, ia meloncat kembali ketengah udara meminjam batang ranting dari pohon diatasnya ia menekan kemudian mencelat kemuka dan tepat melayang turun diatas kereta salju.

Tangannya bergerak cepat, urat nadi siauw sumoaynya segera dicekal erat2 kemudian menyentak tali les dan melarikan kereta salju itu kedepan.

Semua peristiwa berlangsung dalam sekejap mata saja walaupun banyak tokoh sakti hadir dalam kalangan untuk sesaat mereka dibikin kelabakan juga oleh perbuatan Loei Sam ini.

Menanti semua orang menjerit kaget, Loei Sam dengan membawa siauw sumoaynya telah berada puluhan tombak jauhnya dari situ.

oooOdwOooo

BAB 9

ONG MIE sama sekali tak tahu siapakah orang itu, ia membentak keras:

"Keparat cilik, ayoh berhenti dan kembali !"

Loei Sam tidak menggubris, ketika itu ia sudah berada puluhan tombak jauhnya dari beberapa orang itu,

Yu Put Ming simanusia bertangan aneh menjerit keras, sepasang telapaknya didorong kuat2 kemuka menghajar gumpalan salju dihadapannya.

Sungguh dahsyat serangan ini, gulungan angin pukulan yang keras menghancurkan gundukan salju tersebut, pecahan salju disertai desiran tajam segera meluncur kedepan dengan hebatnya.

"Yu cianpwee jangan sampul melukai siauw su moay kami." buru2 kedua orang murid Si Thay sianseng berseru. Meski tindakan Yu Pu. Ming sangat cepat, ratusan pecahan salju beterbangan keempat penjuru sayang gagal melukai Loei Sam apa lagi Siauw sumoaynya.

Segera agak merandek, kereta salju itu meluncur puluhan tombak lebih jauh lagi, berada dalam keadaan seperti ini serangan tersebut semakin tak dapat mengenai sasarannya.

Dalam sekejap mata Loei Sam sudah berlalu semakin jauh, menanti semua orang meloncat naik keatas kereta salju dan melakukan pengejaran kereta salju yang ditumpangi Loei Sam sudah tinggal sebuah titik kecil diatas permukaan salju, diikuti kemudian lenyap tak berbekas.

Kehilangan jejak pemuda itu, semua orang cuma bisa saling berpandangan dengan wajah kecut.

Sementara waktu kita tinggalkan beberapa orang itu dan kembali pada Loei Sam yang melarikan diri sambil mencengkeram urat nadi siauw sumoaynya.

Kereta salju bergerak dengan cepatnya kedepan, sementara Si Chen sang gadis tersebut tiada hentinya meronta, Loei Sam segera menotok jalan darahnya dan kembali lakukan perjalanan sejauh tiga, lima puluh li, menanti dilihatnya tak ada orang yang mengejar lagi baru tertawa terbahak2 dan membebaskan kembali siauw sumoay nya dari pengaruh totokan.

"Sumoay." ia berseru, "aku sungguh amat rindu kepadamu tak kusangka kau melakukan perjalanan laksaan li untuk menemukan kembali sang suami, perbuatanmu ini membuat hatiku terharu." Si Chen putri tunggal Si Thay sianseng adalah seorang gadis berhati kuat, tapi pada saat ini air mukanya pucat pasi bagaikan mayat, sepasang matanya merah berapi api, ketika mendengar ucapan dari Loei Sam ini ia gigit bibirnya keras2 sehingga darah mengucur keluar tiada hentinya.

Tiba2 ia menjerit keras, cahaya tajam berkilat langsung menubruk kearah Loei Sam.

Dalam sekejap mata pergelangannya berputar dan dalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah pisau belati yang sangat tajam, ia menubruk pemuda itu dengan gerakan ganas.

Tapi Loei Sam bukan manusia lemah, hanya sekali bergerak ia berhasil mencengkeram pergelangan kanan gadis itu, dimana ujung pisaunya tinggal beberapa coen didepan tubuh pemuda itu.

Kembali gadis itu menjerit keras. tangan kanannya berputar menghantam dada Loei Sam.

Tapi kembali pemuda itu mencengkeram pergelangannya, lalu sambil tertawa cengar-cengir godanya:

"Siauw sumoay, pepatah kuno mengatakan: "jadi suami istri semalaman kalahkan hubungan mesra ratusan hari, benarkah kau tega membinasakan diriku?"

"Cepat lepaskan aku !" teriak Si Chen dengan napas terengah2. "Aku hendak membinasakan dirimu, cepat lepaskan aku, akan kubunuh dirimu !"

Tiba2 Loei Sam menghela napas panjang.

"Siauw sumoay!" ia berkata "Coba pikirlah dengan akal yang sehat, kita sama2 jatuh cinta kemudian kita lakukan perbuatan itu dengan sama2 suka. Kemudian suhu akan membunuh aku, dalam keadaan seperti ini terpaksa aku harus melarikan diri !"

"Cepat lepaskan diriku !" jerit Si Coen.

"Baik, baiklah, aku lepas tangan, kalau kau ingin membunuh aku, silahkan turun tangan !"

Ia benar2 lepas tangan, Si Chen segera mundur selangkah kebelakang, napasnya ter-engah2, dadanya naik turun menahan emosi, sedang pisau belatinya dicekal kembali erat2 lalu selangkah demi selangkah berjalan mendekati Loei Sam.

Sianak muda ini tidak menghindar ataupun berkelit dengan sinar mata patut dikasihani ia tatap wajah Si Chen tajam2.

Ujung pisau makin lama semakin mendekati dada Loei Sam. tapi ketika ujung pisau itu be rada tiga empat coen diatas dada lawan tiba2 ia berhenti, tubuhnya mulai gemetar dengan kerasnya.

Menyaksikan keadaan itu Loei Sam geleng kepala berulang kali

"Siauw sumoay !" katanya, "Kalau kau benar membenci diriku cepatlah turun tangan!"

Tubuh Si Chen gemetar semakin keras, tiba2 kelima jarinya mengendor, pisau belati itu tahu2 sudah terlepas dari tangannya dan jatuh keatas tanah.

Ia menubruk kedalam pangkuan Loei Sam, merangkulnya erat2 dan mulai menangis tersedu2.

"Sudahlah, jangan menangis" hibur Loei Sam sambil merangkul gadis tersebut "Sumoay jangan menangis, bukankah sekarang kita berkumpul kembali." "Kau . . kau menganiaya diriku. . . kemudian meninggalkan gunung Go-bie. . . kau. . . dalam hati kecilmu sama sekali tak ada diriku, kau adalah. . ."

Si Chen menangis makin menjadi, tapi ia tetap bersandar diatas dada Loei Sam.

"Aaaai sumoay, sudah kukatakan aku benar2 cinta padamu, aku ingin mengawini dirimu sebagai istri, tapi siapa yang mau mempercayai perkataanku ?"

Si Chen tarik napas panjang2, ia mundur selangkah kebelakang kemudian menatap wajah si anak muda itu dengan matanya yang merah membengkak.

"Aku manusia pertama yang tidak percaya !" serunya. "Benar, dikolong langit memang tak seorang pun yang

suka mempercayai diriku, sewaktu kuajukan persoalan ini dihadapan suhu, dia orang tua langsung memerseni sebuah tamparan kepada ku, aku. . . kenapa aku tidak pantas mengawini dirimu ? ? mengapa ? ? . . . siauw sumoay. dapatkah kau memberikan jawabannya ? ? ?".

"Sebab kau. . . kau. . . kau adalah iblis pemain cinta . . kau adalah pemerkosa anak gadis orang. . . manusia terkutuk. ."

Makian ini dijawab Loei Sam dengan gelak tertawanya yang parau dan berat.

"Semua perbuatan itu kulakukan setelah meninggalkan gunung Go-bie" katanya sungguh2. "Setelah aku ditampar suhu, aku sadar apabila kejadian ini diketahui suhu maka jiwaku bakal terancam, maka malam itu juga aku melarikan diri gunung Gobie"

"Kau . . . setelah meninggalkan gunung Go-bie, kau kembali melakukan kejahatan ?" "Kenapa aku tak boleh melakukan perbuatan jahat ?" seru Loei Sam sambil tertawa seram, "Sumoay, mungkin kau tidak tahu, mungkin juga kaupun tahu. Tahukah kau apabila seseorang bisa melakukan perbuatan jahat, maka timbullah kegembiraan yang bukan kepalang ?"

"Kau . . . kau . . ." tubuh Si Chen gemetar semakin keras.

"Sumoay, kau suka berhubungan gelap dengan diriku, main cinta dengan diriku, apakah itu bukan perbuatan jahat

? kenapa kau suka melakukannya dengan diriku ?"

Si Chen mundur dengan sempoyongan, hampir-hampir saja ia jatuh tak sadarkan diri.

Kembali Loei Sam tertawa getir, ujarnya:

"Tidak lama setelah aku turun gunung, suhu telah menyiarkan kabar kepada seluruh umat Bu lim untuk menangkap aku dan gusur aku pulang gunung, berada dalam keadaan seperti ini boleh dikata aku adalah seorang manusia yang setiap saat bisa mati. Sumoay! coba kau bayangkan betapa pahit dan tersiksanya hidup dalam keadaan seperti ini mungkin kau tak pernah berpikir sampai disitu!"

Si Chen tidak menjawab, ia tetap membungkam dan berdiri diatas permukaan salju dengan mata mendelong

Makin bicara Loei Sam semakin emosi ujarnya kembali dengan suara keras.

"Tiada hentinya aku melarikan diri. setiap kali tidur aku tak beristirahat dengan nyenyak, setiap kali mendengar suara aku pasti bangun dengan hati kaget, memang aku telah melakukan banyak kejahatan! sampai dalam impian aku merasa ditangkap orang dan digusur kehadapan suhu, aku merasa seakan2 telapak suhu menghajar batok kepalaku, aku merasa diriku sudah mati, jiwaku melayang." Napasnya ter-sengkal2, setelah merandek sejenak terusnya:

"Kenapa aku tak boleh melakukan kejahatan ? aku adalah seorang manusia yang setiap saat bisa mati, apa yang kutakuti lagi ? aku sendiri tak tahu sampai kapan aku bisa hidup, mungkin besok aku akan mati, mungkin lusa baru aku mati, aku ingin menggunakan setiap kesempatan sebelum mati untuk ber-senang2 dan melewati hidup yang gembira !"

Tiba2 Si Chen mendongak dan menatap wajah Loei Sam tajam2. lama sekali ia baru berkata:

"Kau . . . apakah kau tak tahu apa yang di ucapkan ibu ?" "Apa yang dikatakan Su-nio ? tanya Loei Sam tertegun. "Ibu pernah berkata, asalkan kau bisa dicari kembali

maka ia akan muncul sebagai penengah dan menyelenggarakan perkawinan kita."

Sekali lagi Loei Sam tertegun, lalu secara tiba2 mendongak dan tertawa terbahak2.

"Sumoay, coba kau pikir, seandainya suhu akan membunuh diriku, dapatkah aku meloloskan diri, dapatkah Sunio menolong diriku?"

Si Chen membungkam, kepalanya tertunduk rendah2. Kembali Loei Sam tertawa getir, terusnya:

"Sudah banyak perbuatan jahat yang telah kulakukan, tapi sungguh aneh sekali, makin banyak perbuatan jahat yang kulakukan semakin banyak orang yang takut kepadaku sampai akhirnya. . aku . . . aku menculik putrinya Hiat Goan Sin Koen, aku baru terluka parah dan hampir2 mati diatas permukaan salju, aku kira saat ajalku telah tiba tapi aku tidak takut, sebab pada suatu hari manusia tentu akan mati, tapi . . . justru pada saat itulah ada serombongan saudagar datang menyelamatkan jiwaku."

"Haaa . . . ! hanya benteng Thian It Poo lah yang ketimpa sial, seluruh isi benteng diobrak abrik Hiat Goan Sin Koen, tak seorang manusiapun lolos dari kematian dan semuanya musnah, punah dan hancur berantakan."

"Siauw sumoay, aku tidak pernah menyangka kau bisa berangkat keluar perbatasan untuk mencari aku, menurut kau apa yang harus kulakukan ?"

Si Chen tertegun dan membungkam apa yang harus dilakukan Loei Sam ? membawanya kembali kegunung Go bie dan mohon ibunya meminta kan ampun kepada ayah ? tapi hal ini tak mungkin terjadi, ia sudah banyak melakukan kejahatan, tak mungkin ayahnya suka mengampuni jiwa nya begitu saja.

Lalu, apa yang harus dilakukan ?

Lama sekali Si Chen tertegun, kemudian ia baru berkata. "Menurut perkataanmu kau bermain cinta dengan banyak perempuan. hal ini di sebabkan setiap saat kau akan mati maka kau berbuat demikian, dan sama sekali berbeda sewaktu dengan diriku ?"

Loei Sam cekal tangan gadis itu erat2 dan mengangguk tiada hentinya.

"Kalau kau bisa memahami hal ini, itulah bagus sekali."

Si Chen merasa hatinya kecut, titik2 air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

"Aku tidak tahu" serunya sambil menggeleng, "Mungkin aku sudah paham, mungkin juga belum paham, tapi aku tidak percaya kepadamu." "Siauw sumoay, kalau tidak percaya bersamalah selalu dengan diriku, buktikan sendiri apakah aku masih melakukan kejahatan atau tidak."

"Kita ber sama2 ?" gumam Si Chen seperti mengigau. "Benar, kita akan selalu bersama bagaikan sewaktu

berada digunung tempo dulu dimana kita hanya berdua, tak ada orang lain."

Si Chen tundukkan kepalanya rendah2, begitu rendah ia menunduk untuk menutupi rasa jengahnya, Loei Sam tertawa lirih, dengan ujung bajunya ia menyeka air mata yang membasahi pipinya.

"Sumoay" ia berkata, "Kita tak usah masuk ke daratan Tionggoan, luar perbatasan masih cukup luas buat kita untuk berdiam, aku dengar diatas gunung Tiang Pek san terdapat sebuah telaga yang amat besar. tempat itu sangat indah se akan2 sorga. kita bersembunyi saja ditempat itu, jangan biarkan orang lain berhasil menemui kita."

"Tidak mungkin, pasti ada orang berhasil menemukan kita berdua." seru gadis itu dengan kepala menggeleng.

"Kalau sampai terjadi begitu kita melarikan diri lagi, kita lari terus sampai tak ada orang yang menemukan kita. atau biarkanlah aku melarikan diri. kau,.kau tak usah ikut, kau tak usah melarikan diri ber-sama2 aku."

"Kau...aku larang kau berkata demikian" jerit Si Chen. Loei Sam menghela napas panjang, ia tak berbicara lagi.

Kedua orang itu saling berpandangan beberapa saat lamanya. terakhir Si Chen buka suara lebih dahulu:

"Baiklah ! kalau begitu kita berangkat dulu ke tanah sorga yang kau maksudkan itu, mari cepat kita berangkat, jangan sampai mereka berhasil menyusul kita !" Sekali lagi Loei Sam menghela napas panjang.

"Siauw sumoay, sejak semula tahu kau bersikap begini baik kepadaku, aku takkan banyak melakukan perbuatan jahat, sehingga membuat keadaanku pada saat ini...jadi begini dan runyam"

"Akupun tak tahu dalam penjelmaan sebelumnya telah melakukan dosa apa, sehingga pada penjelmaanku kali ini bisa mencintai diri-mu." seru Si Chen tertawa getir.

Loei Sam tertegun, lama sekali baru menghela napas panjang.

"Sekarang . . sekarang . ."

Kata-kata selanjutnya tak sanggup ia teruskan, Loei Sam bukan seorang lelaki jujur, wataknya terlalu halus, apa yang dipikirkan tanpa pertimbangan yang masak akan dilakukan bagaimana akibatnya dia tak ingin dipikirkan mulai sekarang.

Demikianlah, sambil bercekalan tangan Loei Sam serta Si Chen melanjutkan perjalanannya ke depan.

Suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, permukaan salju nan luas tak nampak batasnya dalam keadaan seperti ini Si Chen mendongak dan mengawasi wajah Loei Sam, air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, sambil meraba wajah pemuda itu bisiknya:

"Kau . kau bertambah kurus." Loei Sam tertawa getir.

"Putri Hiat Goan Sin-koen...!"

Belum sempat ia meneruskan kata2nya, Si Chen telah menutupi mulutnya sambil geleng kepala berulang kali. "Aku larang kau membicarakan peristiwa yang terjadi tempo dulu, selama aku berada disisimu, kau dilarang melakukan perbuatan2 terkutuk itu lagi !"

"Tentu saja aku takkan melakukan perbuatan itu lagi, tapi ...sumoay, sekarang aku sudah jadi buronan orang2 Bu- lim, setiap orang menganggap aku sebagai iblis keji yang patut dibunuh, ada kala demi melindungi keselamatan sendiri terpaksa aku harus menggunakan pelbagai siasat untuk meloloskan diri."

"Kita bisa jauh2 menyingkir, jauh2 menghindari semua orang !"

Diam2 Loei Sam menghela napas panjang, ia tahu ucapan dari Si Chen itu terlalu polos, terlalu bersikap ke kanak2an. untuk menghindarkan diri dari semua orang bukan suatu pekerjaan yang dapat dilakukan, tapi pada saat ini ia tidak ingin membantah.

Setelah tertegun sejenak ia mengangguk. "Benar lebih baik kita berbuat demikian saja" "Aaaaa . - - apakah lukamu telah sembuh."

"Sudah sembuh enam tujuh bagian, kau tak usah kuatir sewaktu aku hampir menemui ajalnya diatas permukaan salju tiba2 muncul orang yang menyelamatkan jiwaku, setelah kupikir aku rasa meski ada mara bahaya tak mungkin segawat tempo dulu waktu itu aku harus berbaring setengah bulan lamanya, dalam benteng Thian It Poo, selama itu badanku kaku tak berkutik."

Memandang wajah Loei Sam, putri dari Si Thay sianseng ini bergumam. "Sudahlah sekarang semuanya telah berlalu di manakah letak . . . telaga Thian Tie digunung Tiang Pek San yang kau maksudkan! marilah kita berdiam ditempat itu."

Begitulah mereka berdua melanjutkan perjalanan, entah berapa saat kemudian sampailah mereka disebuah kota kecil.

Tingkah laku Loei Sam sangat ber-hati2, agar jangan sampai dikenali anak buah Ong Mie yang dikirim kesana, mereka berusaha keras menghindari bentrokan pandangan dengan setiap orang.

Hari kedua pagi2 kedua orang ini segera menggabungkan diri dengan orang2 yang hendak berangkat kegunung Tiang Pek san untuk mengumpulkan jinsom, sepanjang jalan mereka berbuat se-olah2 sepasang suami istri yang tak mengenal ilmu silat.

Beberapa hari mereka berkumpul penuh kemesrahan, walaupun sepanjang perjalanan sering kali mereka bertemu dengan orang2 dunia persilatan, namun tak seorangpun diantara jago2 Bu-lim itu ada yang menyangka bahwa Loei Sam telah bergabung dengan rombongan pencari jinsom.

Suatu senja mereka memasuki sebuah kota yang amat besar, setelah masuk kedalam kota, pemimpin rombongan itu berkata kepala Loei Sam:

"Engkoh cilik aku lihat usiamu masih muda dan tidak mirip kuli2 pencari jinsom, aku rasa sudah sepantasnya kita berpisah. sebab malam ini kita harus menyambangi Ciang ya lebih dahulu kemudian akan masuk gunung."

"Benar, memang kita harus berpisah" Loei Sam mengangguk. "Terima kasih kuucapkan atas perhatian yang dalam beberapa hari ini." "Engkoh cilik, tak terhitung seberapa yang bisa kuberikan kepada kalian." pemimpin rombongan itu tertawa lantang. "Melihat hubungan yang begitu mesrah antara kalian berdua. hampir2 membuat kami tidak kerasan dan ingin cepat2 pulang kerumah dan memeluk bini sendiri erat2 !"

Loei Sim tertawa jengah, sedang Si Chen tunduk dengan wajah merah jengah. karena takut gadis itu merasa amat malu, buru2 sianak muda itu mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain.

"Siapa sih Ciang ya yang hendak kalian sambangi ?" "Oouw Ciang ya ? dia adalah seorang lelaki jantan

nomor wahid didaerah sekitar gunung Tiang Pek san"

jawab pemimpin itu sambil tunjukkan jempolnya.

Loei Sam adalah pemuda cerdik, tak usah bertanya lebih jauh ia sudah tahu yang dimaksudkan "Ciang ya" tentulah Tiang Pek sam Mo, sebab hanya mereka tiga bersaudara memakai she Ciang dan menjagoi sekitar gunung Tiang Pek san.

"Oow!" Loei Sim mengiakan hambar dan tidak bertanya lebih jauh, sementara pemimpin tadi berkata lebih jauh:

"Engkoh cilik, kalau kau ingin tancap kaki ditempat ini dan berjaga2 atas segala sesuatu yang tak diinginkan, tiada halangan ikut serta diri kami untuk menyambangi Ciang- ya."

"Tidak, aku tidak ingin pergi aku . . aku tak pernah bergaul, takut bertemu dengan orang kenamaan."

Ucapan dari pemuda ini seketika menimbulkan gelak tertawa semua orang. "Engkoh cilik, memang lebih baik kau jangan pergi, sebab binimu terlalu cantik dan Ciang-ya paling gemar pipi licin, kalau bertemu dengan diri nya aku takut..."

Bicara sampai disitu mendadak pemimpin rombongan itu membungkam.

Rombongan ini terdiri dari dua puluh orang yang sama2 menunggang sebuah kereta besar, waktu itu kereta sudah memasuki jalan raya, kebungkaman sang pemimpin rombongan yang dilanjutkan dengan berubahnya air muka segera diikuti orang lain.

Ditengah bentakan keras, kereta mereka mendadak berhenti.

Loei Sam menyadari terjadinya sesuatu yang tak diinginkan, ia segera berpaling dan tampak lah serombongan kecil jago2 berbaju ringkas dengan mengiringi seseorang berjalan mendekat.

Orang itu berjalan dipaling depan! pakaiannya perlente dengan sikap yang angkuh, sepasang mata memandang keatas dan sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap semua orang.

Dalam pada itu ada dua orang lelaki telah berebut maju, sambil menuding orang2 yang ada diatas kereta hardiknya: "Mata kalian semua sudah buta ? sudah tahu Ciang sam ya hendak lewati tempat ini, kenapa kereta kalian masih juga menerjang kemari ? Eei, tarik dia turun dan hukum dengan lima puluh cambukan !"

Sang kusir ketakutan setengah mati, hampir2 air mukanya berubah pucat pasi, tubuhnya gemetar keras.

"Yaya sekalian berbuatlah mulia." ia merengek "Memang mata hamba sudah buta. tak tahu kalau Ciang Sam ya sedang lewat, maaf yaya sekalian, berbuatlah mulia dan ampunilah diriku "

"Ciang Sam ya, berbuatlah mulia." sang pemimpin rombonganpun mohonkan ampun, "Kami sedang berangkat untuk menyambangi dirimu."

Loei Sam serta Si Chen yang ikut dalam rombongan bungkam dalam seribu bahasa, mereka berdua sama sekali tak berkutik, sementara itu dalam hati kecilnya sianak muda itu berpikir:

"Orang ini disebut Ciang Sam ya, mukanya pucat seperti mayat, dia tentulah si Tengkorak kumala Ciang Huan dari Tiang Pek Sam-mo!" Terdengar Ciang Huan mendengus tertawa dingin, sepasang matanya yang sipit menyapu sekejap wajah orang2 itu, tiba2 ia tertegun, sinar matanya menatap wajah Si Chen tak berkedip.

"Liuw Loo toa!" ia segera menegur, "Kenapa kalian masuk gunung menempuh bahaya dengan membawa seorang nyonya manis?"

"Bukan . . bukan rombongan kami." buru2 pemimpin rombongan itu menerangkan "Sepasang suami istri ini berangkat bersama2 kami, tapi sebentar lagi akan berpisah."

"Kalau begitu bagus sekali, Liuw loo toa, tinggalkanlah kedua orang itu disini, dan kalian segeralah berangkat untuk mulai bekerja."

Pemimpin rombongan itu adalah orang baik, ia tahu apabila sepasang suami istri itu ditinggalkan disini maka nona cilik itu akan dilalap oleh Ciang Huan, ia jadi serba salah. "Tentang soal ini . . ."

Belum sempat ia menyelesaikan kata2nya. air muka Ciang Huan telah berubah hebat, begitu menyeramkan sampai membuat bulu kuduknya pada bangun berdiri. Pemimpin rombongan itu tak berani berkutik lagi, dengan sinar mata apa boleh buat ia pandang wajah Loei Sam, air mukanya menunjukkan rasa kasihan namun ia tak dapat berbuat apa2.

Menyaksikan hal itu Loei Sam merasa geli bercampur mendongkol, pikirnya:

"Maknya, aku adalah kakek moyangnya orang jahat, tak disangka ditempat ini harus bertemu dengan cucu buyutnya orang jahat,..kurang ajar ! kurang ajar !"

Dengan suara hambar ia lantas berkata:

"Liuw Loo toa. mungkin Ciang-ya ini hendak merawat kami berdua, kau tak usah cemas, biarkanlah kami berdua ikuti orang ini !"

Liuw Loo-toa menghela napas panjang, ingin sekali ia memberi peringatan kepada sianak muda tapi berada dalam keadaan seperti ini mana berani ia buka suara ?

Demikianlah, dengan dibimbing oleh Loei Sam putri dari Si Thay sianseng segera meloncat turun dari atas kereta,

Dalam pada itu sepasang mata Ciang Huan yang sipit tiada hentinya mengawasi seluruh tubuh Si Chen dari atas sampai bawah, baru saja gadis itu turun dari kereta sambil tertawa seram ia maju menghampiri dan menowel pipinya.

Dalam hati Si Chen amat gusar, ia berkelit ke samping dan menghindarkan diri dari towelan tersebut.

Ciang Huan bukan manusia sembarangan, dari gerakan ini ia dapat menerka gadis itu memiliki ilmu silat yang amat lihay. ia tertegun, belum sempat melakukan sesuatu Loei Sam telah turun tangan. Ciang Huan hanya merasakan ada sesosok bayangan manusia menghampiri dirinya, baru saja ia putar badan tahu2 pinggangnya sudah jadi kaku.

Ketika itulah tubuhnya terasa amat lemas tak bertenaga, tidak mungkin dalam keadaan seperti itu ia dapat melancarkan serangan.

Setelah merobohkan lawannya, Loei Sam tidak berhenti sampai disitu saja, ia segera cengkeram urat nadinya erat2, setelah itu sambil tertawa terbahak2 ujarnya:

"Ciang sam-ya, kami suami istri berdua sedang lewat kota ini, dan untuk sementara waktu ingin menginap dirumah kalian, aku rasa kau tak akan menampik bukan !"

Waktu itu semua orang yang ada dalam kereta dengan mata terbelalak sedang mengawasi Loei Sam. dalam sangkaan mereka pemuda ini pasti akan mati dihajar oleh Ciang Huan, siapa sangka orang itu malahan kena dicengkeram.

Merasa dirinya dikecundangi, Ciang Huan merasa kaget bercampur gusar, ia tahu siapakah orang itu tapi berada dalam keadaan seperti ini terpaksa ia mengangguk.

"Baik . . baik . , tentu saja akan kami sambut dengan senang hati!"

Ciang Huan mempunyai perhitungan sendiri, sekarang ia menderita rugi tapi ia mengharapkan bantuan dari kedua orang saudaranya setelah berada dirumah, maka iapun mengharapkan Loei Sam bisa mampir dirumahnya.

Mendengar orang itu sudah setuju, Loei Sam lantas berpaling kearah Si Chen dan sambil tersenyum ujarnya:

"Mari kita segera berangkat." Demikianlah dengan tangan sebelah ia cekal urat nadi Ciang Huan dengan tangan lain menggandeng Si Chen, mereka bertiga bersama2 maju kedepan, tentu saja kejadian ini membuat anak buah sitengkorak kumala jadi ter mangu2 dan mengikuti dari belakang dengan pikiran bingung.

Tidak lama kemudian sampailah Loei Sam sekalian didepan sebuah bangunan yang megah dan kokoh, mereka langsung masuk kedalam ruangan itu dan berhenti disebuah ruang tamu yang indah mewah dan megah.

Setelah berada ditempat itu, Loei Sam pun tidak menutupi apabila ia mengerti ilmu silat, pemuda ini segera tertawa dingin.

"Sudah lama kudengar ilmu silat Tiang pek Sam-mo terutama Loo toa serta Loo Jie sangat dahsyat, kenapa tidak suruh mereka berdua munculkan diri. ."

Sitengkorak kumala Ciang Huan mendengus, segera teriaknya: "Jie-ko . . !"

Teriakkan ini amat lantang dan jauh menggema kedalam ruangan, sebentar kemudian terdengarlah suara sahutan dari dalam.

"Ada urusan apa?"

Bersamaan dengan ucapan itu dari balik ruangan muncul seorang laki2 kurus berbaju hitam dengan sulaman tengkorak emas didadanya, menyaksikan keadaan saudaranya jadi tertegun.

"Samte siapakah orang ini?"

"Aku... akupun tidak tahu." jawab Ciang Huan dengan air muka sebentar pucat sebentar menghijau.

Sambil berkata matanya berkedip2 sedang mulutnya mencibir kearah Si Chen maksudnya jelas sekali, ia minta sitengkorak emas turun tangan diluar dugaan dan mencengkeram Si Chen kemudian memaksa Loei Sam lepas tangan.

Sudah lama Tiang Pek Sam-mo bekerja sama dan melakukan kejahatan, kerdipan mata ini segera diketahui oleh sitengkorak-emas, tubuhnya segera bergerak menubruk kearah gadis tersebut.

Loei Sam bukan manusia bodoh begitu tengkorak emas bergerak, sambil menarik tangan Ciang Huan iapun bergeser kesamping, kaki kanan berputar menyerang tubuh bagian bawah tengkorak emas itu dan memaksanya mundur.

Sitengkorak emas merandek, jari tangannya meluncur keluar bagaikan kilat menotok jalan darah Hoa Kay hiat diatas dada Loei Sam, pemuda itu miring badan segera berkelit kesamping.

Totokan dari si Tengkorak emas ini dilancarkan dengan gerakan sangat cepat, kelihatan Loei Sam yang dilakukan secara mendadak ini membuat serangan orang itu tak bisa tertahan lagi, jari tangannya segera menerobosi ketiak sianak muda itu dan meluncur kedepan.

Loei Sam segera menekan dan mengepit lengan kirinya, pergelangan tangan si Tengkorak Emas segera terjepit kencang2.

Ilmu silat si Tengkorak Emas buat daerah sekitar gunung Tiang Pek san memang terhitung hebat, tapi kalau dibandingkan dengan anak murid dari Si Thay sianseng ini masih ketinggalan jauh.

Dibawah jepitan Loei Sam, tulang pergelangan sitengkorak emas dengan disertai suara keras telah ditekuk patah jadi dua bagian. Loei Sam tetap tak lepas tangan, tulang pergelangan yang sudah patah kembali disentak dan ditarik olehnya dengan disertai tenaga Iweekang benturan yang keras menimbulkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati dari sitengkorak emas ini, keringat mengucur keluar bagaikan hujan gerimis.

"Hoohan, ampun . . . jangan cabut jiwaku?"

Loei Sam mendongak tertawa terbahak2 ia angkat lengannya memaksa sitengkorak emas Ciang Loo mundur tiga langkah kebelakang tangan kiri mencekal pergelangan kanan dan mulutnya berkaok2 terus menahan rasa sakit.

Sejak permulaan hingga akhir, Loei Sam bertindak tanpa melepaskan cengkeramannya pada urat nadi Ciang Huan, ketika itulah horden kembali tersingkap dan diikuti kemunculan seseorang, Orang ini aneh wajahnya kukoay dengan batok kepala gepeng seakan-akan balok yang dibelah menjadi dua potong.

Panca indranya datar dan luar biasa, ketika ia berdiri ditengah ruangan keadaannya mirip dengan manusia kayu.

Loei Sam maupun Si Chen yang menyaksikan orang itu sama2 berdiri tertegun, mereka dibuat melongo oleh keadaan yang aneh dari manusia tersebut.

Beberapa saat kemudian, sianak muda itu sudah dapat menduga orang ini pastilah sang Loo toa dari Tiang Pek sam Mo, sitengkorak sayu Ciang Yu adanya.

Belum sempat ia buka suara, sitengkorak kayu telah berkata: "Sungguh hebat ilmu yang anda miliki, benarkah kedatangan anda sengaja hendak mencari gara2 dengan kami bertiga ?"

Loei Sam segera tertawa dingin. "Soal ini tak usah ditanyakan padaku, tanyakan saja secara langsung dengan saudaramu yang sampai sekarang masih kucengkeram ini, dengan cepat kau akan tahu apa yang telah terjadi."

"Toako !" teriak si Tengkorak kumala, "Keparat cilik ini.

. dia. . ."

"Tutup mulut !" bentak Si Tengkorak kayu sebelum saudaranya selesai berbicara, "Kembali kau bikin onar ditempat luar, bukankah sejak semula sudah kukatakan diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, meski kita bertiga turun tangan berbarengpun jangan dikata saudara ini, cukup nona itupun tak akan sanggup kita menangkan, ayoh cepat berlutut dan mohon ampun kepada sahabat ini !"

Terhadap ucapan yang diutarakan saudaranya ini, si Tengkorak kumala sangat menurut, segera ia jatuhkan diri berlutut keatas tanah, namun gerakan ini tak dapat dilanjutkan sebab Loei Sam masih mencengkeram pergelangannya.

Pemuda itu tertawa dingin, ia segera lepas tangan. Sebagai lelaki yang bernyali besar dan berilmu tinggi, ia tidak takut si Tengkorak Kumala main setan dengan dirinya.

Setelah urat nadinya terlepas, si Tengkorak kumala jatuh berturut diatas tanah, waktu itulah kembali si Tengkorak kayu menghardik:

"Ayoh cepat anggukkan kepalamu dan jalankan penghormatan besar?"

Merah padam selembar wajah Ciang Huan, ia benar2 menurut dan tok, tok, tok, menganggukkan kepala tiga kali.

Menyaksikan kejadian ini Loei Sam amat kegirangan, ia tertawa terbahak2. "Sudah, sudahlah, cayhe akan segera mohon diri."

Maksud dari perkataan ini jelas sekali, ia tidak akan merecoki urusan dengan Tiang Pek Sam mo lagi, tapi sewaktu ia putar badan Ciang Yu kembali berseru:

"Harap saudara sudah berdiam sejenak lagi, berilah kesempatan bagi kami bertiga untuk menjamu anda dengan tiga cawan arak sebagai tanda minta maaf dari kami bertiga2.

"Soal ini sih tak perlu, kami ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, biarlah kami mengganggu dikemudian hari."

"Lalu dapatkah anda beritahu kepada kami, siapakah nama besar anda?"

Mendengar pertanyaan itu buru2 Si Chen mengedipkan matanya berulang kali kearah pemuda itu dan melarang ia bicara, tapi Loei Sam adalah manusia yang suka cari menang sendiri, sikap hormat dari orang lain membuat ia kepala besar.

Saat ini ia ingin menggunakan kesempatan ini mempopulerkan diri, maka dari itu segera jawabnya:

"Cayhe she Loei bernama Sam."

Ucapan ini diiringi helaan napas panjang dari Si Chen, ia merasa kecewa sebab pemuda itu tak mau menuruti perkataannya.

Sebaliknya Tiang Pek Sam Mo bertiga jadi tertegun dan berdiri melongo-longo setelah mendengar nama itu.

Haruslah diketahui dewasa itu nama Loei Sam sudah amat tersohor dalam dunia persilatan setiap tokoh silat Bu lim pada kenal nama ini, hal ini dikarenakan Si Thay sianseng telah memerintahkan seluruh umat Bu lim untuk menangkap dirinya.

Tiang Pek Sam mo memang manusia jahat, tapi kalau dibandingkan dengan perbuatan2 Loei Sam, mereka masih ketinggalan jauh.

Air muka ketiga orang itu segera berubah hebat, setelah tertegun beberapa saat lamanya Ciang Yu baru berseru:

"Aaah,..kiranya...kiranya anda adalah Loei sauw hiap, ini hari bisa berkenalan dengan sauw-hiap sungguh...sungguh membuat kami merasa amat bangga."

Loei Sam amat cerdik, dari perubahan air muka ketiga orang itu setelah mendengar namanya ia bisa membade isi hati mereka, dengan cepat ia tertawa dingin.

"Hmm ! benarkah kalian merasa bangga ? apakah kalian tidak takut Si Thay sianseng serta Hiat Goan Sin koen cari gara2 dengan kalian ?"

"Tentang soal ini tentu saja kami takut" sahut Ciang Yu sambil tertawa getir. "Walaupun harus berkorban demi menemani seorang Koencu kamipun anggap, bagaimanapun juga ini hari kami bertiga ingin mengikat tali persahabatan dengan anda"

"Ha ha ha kalian boleh berlega hati, aku tak akan menyeret kalian, hanya saja aku berharap kalian jangan mengungkap tentang dirinya kepada siapapun !"

"Tentu saja ! tentu saja !"

Sementara itu, tampak seorang lelaki kekar berjalan masuk dengan ter buru2, setibanya di hadapan Ciang Yu segera lapornya:

"Toa-ya orang itu sudah tidak tertolong lagi." "Jangan banyak ribut, ayoh cepat pergi !" hardik Ciang Yu.

Lelaki kekar itu mundur selangkah kebelakang dan berkata kembali:

"Lukanya terlalu parah, hamba betul2 tak sanggup menyelamatkan jiwanya. untuk memperpanjang usianya tiga, empat hari lagi pun amat susah. Jie-ya, Sam ya. kalau kalian mau membalas dendam cepatlah turun tangan, kalau tidak ia akan kedahuluan mati."

Melihat tegurannya tidak digubris Ciang Yu semakin gusar.

"Disini ada tamu terhormat, kenapa kau ribut terus2an? ayoh cepat enyah dari sini, kau sudah bosan hidup?"

Orang itu amat terperanjat, ia tak berani banyak bicara lagi dengan mulut terbungkam segera mengundurkan diri

"Eeee, sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Loei Sam keheranan.

"Ooouw... seorang keparat cilik pernah mengikat tali permusuhan dengan kami, beberapa hari berselang kami berhasil temukan dirinya disebuah rumah penginapan, kebetulan orang itu sedang menderita luka parah, maka kami tawan dirinya, berada dalam keadaan tidak sadar terlalu enak kalau kami bunuh begitu saja maka kami ada maksud merawat lukanya sampai sembuh dahulu, setelah itu baru kita siksa perlahan-lahan, siapa sangka rejekinya agak bagus, ternyata jiwanya tak tertolong lagi!"

"Ooouw, kiranya begitu, kalau memang dia adalah musuh besarmu, berikanlah suatu kematian buatnya, buat apa kalian berbuat keterlaluan?"

"Ucapan Loei Siauw hiap tepat sekali." Ia segera berpaling dan berseru: "Gusur pergi Tong hong Pek dan buang tubuhnya ditengah kuburan liar dekat bukit sana."

Nama "Tong hong Pek" membuat Loei Sam tertegun buru2 serunya:

"Apa, orang itu Tong hong Pek ? maksudmu orang itu bernama Tong hong Pek ?"

Tiang pek Sam mo pun tertegun, untuk sesaat air mukanya berubah hebat! tentu saja mereka pun mengerti Loei Sam pasti kenal dengan Tong hong Pek hanya tak tahu apa hubungan antara mereka berdua.

Seandainya Loei Sam adalah sahabat karibnya Tong hong Pek, bukankah mereka bertiga bakal konyol ?"

Sambil tertawa getir Ciang Yu mengangguk.

"Benar, . LoeiSiauw hiap . . apakah kau kenal dengan Tong hong Pek ?"

"Bukan kenal saja, bukankah bagian dada Tong hong Pek terluka ?"

"Tidak salah, darimana Loei siauhiap bisa tahu ?"

Loei Sam tak dapat menahan diri lagi, ia mendongak dan tertawa terbahak.2.

"Kalau dibicarakan sungguh kebetulan sekali, justru ia terluka ditanganku."

Ucapan ini segera membuat Ciang Yu berlega hati, sebab bilamana Tong-hong Pek memang terluka ditangan Loei Sam apalagi terluka begitu parah, jelas mereka adalah musuh.

Ambil kesempatan inilah, ia ingin cari muka ujarnya: "Aaah kiranya bangsat itu ada ikatan permusuhan dengan Loei sauw hiap, apakah Loei sauw hiap..."

"Hal ini sungguh aneh sekali" tukas Loei Sam sambil ulapkan tangannya, "Bangsat itu terluka sangat parah, secara bagaimana ia bisa hidup sampai ini hari ?"

Ciang Yu menyeringai seram.

"Terus terang saja, kami ingin menghidupkan dahulu orang itu kemudian per-lahan2 menyiksanya, maka dari itu setiap hari kami beri dirinya semangkok cairan jinsom terbaik agar jiwanya selalu utuh sebab kami tidak ingin dia mati begitu saja"

"Aah kiranya begitu !"

Kembali alisnya berkerut setelah mengucapkan kata2 itu. agaknya ia sedang memikirkan sesuatu.

Tiang Pek Sam-mo tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Loei Sam pada saat ini. merekapun tak berani bicara dan menanti dengan mulut membungkam.

"Suko siapakah Tong hong Pek itu ?" tiba2 Si Chen bertanya dengan suara lirih.

"Dia... menurut pengakuannya dia adalah anak murid dari si Bongkok sakti Lieh Hwiee Sin-Tuo"

Si Chen adalah putri tunggal Si Thay sianseng tentu saja ia tahu manusia macam apakah sibongkok sakti tersebut, tidak heran kalau ia kaget setengah mati setelah mendengar ucapan itu.

"Kau . . kembali kau lukai anak murid si-bongkok sakti, hal ini . , hal ini , , " serunya gelagapan.

Buru2 Loei Sam cekal tangan Si Chen erat2. "Sumoay. kejadian ini berlangsung beberapa waktu berselang ketika itu aku belum berjumpa dengan dirimu."

"Sekarang kau harus berusaha untuk menyelamatkan jiwanya, kalau ia mati aaai . . . kalau kalau sampai ia mati .

. ."

Menurut jalan pikiran Si Chen, apabila Tong hong Pek binasa, dengan sipat si bongkok yang berangasan, tokoh sakti itu pasti takkan melepaskan Loei Sam, ini berani ruang gerak sianak muda itu akan semakin sempit. Makin cemas gadis itu, sepasang alis Loei Sam berkerut semakin kencang, katanya.

"Akupun punya pikiran demikian, hal ini bukan disebabkan aku takut dengan sibongkok sakti tersebut, aku hanya berpikir apa yang pernah kulakukan pada masa lalu, yang masih bisa di tolong akan kutolong sekuat tenaga, dan yang tak bisa ditolong lagi, yaa apa boleh buat."

"Suko, ucapanmu tepat sekali !" dengan terharu Si Chen membenarkan.

Selama ini Tiang Pek Sam mo mendengarkan tanya jawab itu disisi kalangan, saat ini mereka dibuat tertegun dan jengah sekali sehingga tukar dilukiskan dengan kata2.

"Tong hong Pek masih bisa ditolong ?" terdengar Loei Sam bertanya kembali.

"Aku lihat... ia sudah tak tertolong lagi"

"Bagus, kalau begitu cepat bawa aku menengok keadaannya !"

"Silahkan, silahkan !" buru-2 Tiang Pek Sam-mo membawa jalan, mengiringi Loei Sam serta Si Chen melewati serambi dan memasuki sebuah kamar yang gelap. Kamar itu mirip gudang penyimpan kayu, bukan saja lembab, lagi gelap dan kotornya luar biasa, ruangan tersebut hanya diterangi sebuah pelita yang amat kecil.

Air muka Tiang Pek Sam mo kelihatan semakin jengah, terdengar Ciang Yu bergumam memberi penjelasan."

"Kami. . kami tidak tahu kalau Loei Sam ingin menyelamatkan jiwanya, maka selama ini ia . . . ia disekap ditempat ini."

Loei Sam mendengus dingin, ia ambil pelita tadi dan didekatkan pada altar batu dimana berbaring seseorang, air muka orang itu pucat pasi melebihi mayat, tubuhnya tak berkutik atau dengan perkataan lain lebih mirip sesosok mayat yang sudah lama mati.

Menyaksikan keadaan orang itu, Si Chen segera menjerit tertahan.

"Aaaah dia sudah mati."

"Belum... ia belum mati hanya. . . jaraknya dengan kematian memang sudah tak jauh lagi" kata Loei Sam setelah memeriksa napasnya.

Ia segera berpaling dan berseru lebih jauh.

"Disini kalian punya obat bagus apa saja, cepat keluarkan semua hitung2 aku hutang dengan kalian."

"Aaaah, kenapa Loei tayhiap bicara begitu sungkan" buru2 Tiang Pek Sam Mo berseru.

"Hanya permintaan itu saja terlalu sederhana, apakah perlu memulihkan Tong hong . . Tong hong sauw hiap ketempat lain?"

"Jangan dikata pindah tempat asalkan kalian goncangkan sedikit saja tubuhnya mungkin napasnya segera akan putus. Sumoay, coba kau tekan jalan darah Pek Hwie Hiatnya lalu per lahan2 salurkan hawa murni kedalam tubuhnya!"

Si Chen menurut ia segera duduk disisi Tong hong Pek dan tekan telapaknya diatas batok kepala pemuda itu.

Tampak Loei Sam tertawa getir.

"Sungguh tak nyana beberapa hari berselang aku melukai dirinya, sekarang aku harus menolong dirinya kembali. Siauw sumoay, tahukah kau apa sebabnya aku berbuat demikian?"

Merah padam selembar wajah Si Chen, hal ini disebabkan ia merasa sangat girang dan gembira.

"Aku tahu, kau berbuat demikian karena diri ku, karena kau dapat bersama-sama diriku kembali."

Loei Sam cekal tangan Si Chen erat2. kedua orang itu saling berpandangan dengan penuh kemesraan.

Tidak selang beberapa saat kemudian, Tiang Pek Sam mo telah muncul kembali dengan membawa macam2 jenis obat, Loei Sam memilih beberapa diantaranya lalu ditumbuk jadi halus seperti bubuk dan dicampur dengan jinsom diaduk sebagai kuah, kemudian mementangkan mulut Tong hong Pek dan mencekoki cairan tersebut kedalam perutnya.

Dalam pada itu tiada hentinya Si Chen salurkan hawa murninya kedalam tubuh Tong hong Pek, beberapa saat kemudian per-lahan2 pemuda itu telah membuka matanya dan sadar.

Berbicara dari pihak Tong hong Pek, sejak terluka dan jatuh tak sadarkan diri, baru kali ini ia sadar kembali.

Ketika sadar, pertama2 yang dirasakan olehnya adalah segulung tenaga lunak yang meluncur masuk kedalam tubuh tiada hentinya dari ubun2, aliran panas dan lunak ini mendatangkan rasa yang nyaman buat seluruh tubuhnya.

Saat ini dia tidak merasa tersiksa lagi, bahkan merasa dirinya seakan2 berbaring diatas awang2 dimana badannya sama sekali tak bertenaga, lunak, lemas dan ringan.

Dengan membuang banyak tenaga ia membuka kelopak matanya diikuti otakpun jadi jernih kembali, ia mulai bisa berpikir, dimanah aku? sudahkah berada dirumah?

Saat ini sepasang matanya tak dapat di pentangkan lebar2. pemuda itu cuma menangkap suara gadis yang terasa amat asing baginya.

"Suko, coba kau lihat ia sudah sadar kembali.”

Tong hong Pek tertegun, orang yang barusan bicara tentu saja Si Chen, tapi pemuda itu tidak kenal dengan dara tersebut, setelah mendengar ucapan itu ia lantas berpikir lebih jauh.

"Kalau begitu aku belum berada dirumah? tapi... kenapa suara gadis yang masih asing baginya ?. Mungkinkah Si Soat Ang sudah ke timpa kemalangan?"

Makin dipikir hatinya semakin cemas, kelopak matapun terbentang semakin lebar.

Tapi tak sebuah bayanganpun berhasil ditangkap jelas, semuanya kabur, buram dan tidak jelas, ingin sekali ia buka suara namun tak sepotong suarapun berhasil dipancarkan dari mulutnya.

"Baru saja kau sadar, jangan terlalu gelisah, beristirahatlah sebentar baru bicara" ujar gadis asing itu kembali.

Tong hong Pek mengedipkan matanya berulang kali, akhirnya ia dapat melihat jelas gadis dihadapannya, ia memiliki selembar wajah yang amat mempersonakan, hidungnya mancung, bibirnya kecil dan sepasang mata yang sayu.

"Aku...aku...aku berada...berada dimana ?" rintih Tong- hong Pek lirih.

"Tak usah keburu bicara, hitung2 baru saja kau jalan2 diakhirat dan sekarang sudah kembali kedunia ?"

"Siapa kau ? dimana nona...nona Si ?" "Siapa itu nona Si?" Si Chen rada melengak.

"Nona Si . . nona Si dari benteng Thian It Poo . . selama

ini . . selama ini kami selalu . . selalu bersama . . ."

Meski Tonghong Pek sudah sadar, tapi kesehatan badannya masih terlalu lemah, rasa cemas yang mencekam membuat pandangannya jadi gelap, hampir2 saja pemuda itu jatuh tidak sadarkan kembali.

Menyaksikan keadaannya tidak menguntungkan, Si Chen segera menjerit:

"Suko!"

Waktu itu Loei Sam sedang berdiri didepan pintu, mendengar panggilan itu ia goyangkan tangannya berulang kali se akan2 sedang beritahu kepadanya bahwa ia tidak ingin diketahui oleh Tong hong Pek.

Si Chen mengerti maksudnya, ia menunduk dan berkata:

"Nona Si yang kau maksudkan, dia . . dia . ." Si Chen sama sekali tidak kenal manusia macam apakah nona Si itu, ia tak biasa berbohong, maka setelah bicara setengah jalan ia berhenti dan tak sanggup meneruskan lebih jauh.

"Bagaimana . . . bagaimana keadaannya?" tanya Tong hong Pek dengan napas tersengkal. "Mungkin ia berada dalam keadaan baik saja, sewaktu kami berjumpa dengan dirimu kau hanya seorang diri. Entah nona itu berada dimana? ketika kami temukan dirimu, keadaanmu lebih mirip dengan sesosok mayat.

Tong hong Pek menghela napas panjang, ia sadar dirinya tentulah sudah tidak sadarkan diri beberapa waktu lamanya.

Perlahan2 ia pejamkan matanya atur pernapasan setelah itu membuka matanya kembali sambil berkata.

"Lalu sekarang . . aku . . aku berada dimana! siapakah nama . . .nama besar nona."

"Sekarang kau ada dirumahnya Tiang Pek Sam-mo aku bernama Si Chen"

"Nona siapa . . apa hubunganmu dengan Si Thay sianseng?"

"Beliau adalah ayahku, ayahku adalah sahabat karib gurumu sibongkok sakti Lieh Hwee Sin Tuo, sewaktu kami tiba disini kebetulan Tiang-pek Sam Mo hendak membuang dirimu ketanah kuburan liar dibelakang bukit sana, melihat kejadian ini sukoku lantas turun tangan dan menyelamatkan jiwamu."

Ketika Si Chen bicara sampai disitu, Loei Sam telah goyangkan tangannya berulangkali, tapi Si Chen tidak menggubris ia meneruskan kata2nya sampai selesai.

"Aaaah! kiranya begitu" Tong-hong Pek berseru tertahan, "Dimana suhengmu ? sudah sepantasnya kuucapkan terima kasih atas budi pertolongannya !"

"Suko kau kemarilah !" seru Si Cheo kemudian

Tentu saja Loei Sam mengerti maksud yang terkandung dalam hati kecil gadis tersebut, ia minta dirinya jangan ber- sembunyi2 dan menjumpai diri Tong-hong Pek, hal ini ingin membuktikan bahwa dia, Loei Sam tidak selalu melakukan perbuatan jahat.

Loei Sam tertawa getir, sebab dalam kolong langit hanya Si Chen seorang yang dapat memahami isi hatinya.

Kecuali gadis itu siapa yang mau percaya padanya ?

Ia sadar meski dirinya maju juga percuma Tong-hong Pek tak akan mempercayai dirinya, karena itu ia tetap berdiri tertegun ditempat semula.

"Suko, cepatlah kemari !" kembali Si Cheo berseru.

Melihat gadis itu mendesak terus, Loe Sam jadi serba salah, tak kuasa lagi ia menghela napas panjang.

Suara itu sangat dikenal oleh Tong-hong Pek, seketika pemuda ini dibuat tertegun, apa lagi sewaktu Loei Sam muncul dihadapannya, ia semakin melengak dan hampiri saja tak mau mempercayai mata sendiri.

Ditatapnya wajah Loei Sam tajam-2 lalu pejam mata, dalam sekejap pikirannya terasa kacau, benarkah Loei Sam telah menyelamatkan jiwanya? tapi hal ini tak mungkin terjadi !

Pikiran Tong hong Pek semakin kalut, diam2 ia berkata: "Aaah. tak mungkin, yang kulihat pastilah suatu lamunan belaka mungkin lukaku yang terlalu parah menimbulkan pelbagai lamunan yang tak masuk diakal, hal ini tak mungkin terjadi..." ia menghela napas panjang dan tak mau buka matanya lagi.

Dalam pada itu dari sisi telinganya kembali terdengar Si Chen berkata:

"Sudah kau lihat? dia adalah Loei suko ku. meski kau terluka ditangannya, tapi dia pula yang menyelamatkan jiwamu, kau panas bukan? setelah ia berada bersama diriku, Loei suko takkan melakukan perbuatan jahat lagi."

-oodeoowioo-