-->

Jago Kelana Jilid 06

Jilid 06

YANG paling membuat Sie Soat Ang terperanjat adalah orang itu sendiri, walaupun wajahnya sudah hancur sehingga sukar dibedakan siapakah dia namun dari dandanan serta bajunya Sie Soat Ang dapat dikenali sebagai salah seorang dari sepasang harimau Sio To Siang Hauw.

Sio To Siang Hauw tadi melarikan diri ber-sama2 orang lain, namun akhirnya ia tak berhasil melarikan diri. Ia mati juga, bahkan mati dalam keadaan mengerikan.

Dalam hati kecil gadis she Sie ini benar2 tidak ingin memandang orang itu lebih lanjut lagi, namun sinar matanya tak mau juga beralih dari sosok mayat yang sudah hancur itu.

Ketika itu kembali sesosok bayangan hitam terbanting masuk kedalam halaman, mayat tadi tepat berbaring disisi mayat pertama. dan mereka bukan lain adalah Sio To Siang Hauw.

Melihat sepasang harimau sudah mati, bahkan kematiannya sama dengan kematian dari orang2 lain, Sie Soat Ang merasa amat terperanjat, tanpa terasa lagi ia bergerak mendekati pemuda tadi.

Walaupun ia sangat membenci terhadap pemuda tersebut, namun berada dalam keadaan seperti ini pemuda itu adalah satu2nya orang yang bisa dimintai perlindungannya.

Setelah ia bergeser dua langkah mendekati pemuda itu, ia ingin sekali berteriak memanggil ayahnya, namun berhubung ia sangat tegang maka kendari sudah pentang mulutnya lebar2 ia masih juga belum bersuara.

"Hee hee...hee.. takut ?" jengek pemuda itu sambil tertawa dingin.

"Kau tidak takut ?" "Tentu saja aku tidak takut, sebab belum pernah aku melakukan perbuatan terkutuk !"

Ucapan ini membual jantung Sie Soat Ang berdebar sangat keras, perkataan dari pemuda itu se-olah2 jarum yang menusuk ke dalam hatinya.

"Haa . haaa . . . bukankah kau merasa takut ?"

Sie Soat Ang merasa terkejut bercampur gusar, ia ingin mengumbar hawa amarahnya namun melihat jenazah sepasang harimau yang menggeletak diatas tanah dengan berlumuran darah, ia jadi batalkan niatnya. Sebab hanya pemuda tersebut satu2nya orang yang bisa dimintai perlindungannya.

Terpaksa dia tertawa getir katanya: "Aku... hitung2 aku benar2 takut, apakah kau merasa girang ?"

Ucapan ini diutarakan tanpa disadari, setelah berkata demikian ia jadi melongo dengan sendirinya, hampir2 saja ia tak percaya kalau barusan saja ia telah berkata demikian, boleh dikata sepanjang hidupnya baru kali ini ia tunduk dan menyerah kalah dihadapan seseorang.

"Nona Sie" Pemuda itu tertawa ringan. "Sudah cukup asalkan kau suka mengaku salah kau sedang takut."

"Apa sebabnya kau ingin tahu ?"

"Hal ini bisa memberi gambaran kepadamu kalau dalam kenyataan sebenarnya kau bukan apa2, bahkan kau pun tak punya sesuatu apapun yang bisa kau banggakan, kau hanya seorang bocah cilik yang memiliki ilmu silat kucing kaki tiga belaka."

Perkataan dari pemuda itu boleh dikata sudah benar2 menyinggung perasaan serta kehormatan Sie Soat Ang hal ini membuat ia amat gusar, napasnya mulai ter-sengkal2... Namun sebelum ia berbuat sesuatu, dari luar tembok kembali melayang datang dua sosok mayat.

Kedua sosok mayat itu menggeletak disisi jenasah sepasang harimau, wajah merekapun hancur dan rusak penuh berpelepotan darah.

Sie Soat Ang merasa hatinya tercekat, sekalipun ia sangat membenci terhadap pemuda itu, bukannya menjauh ia malah bertambah mendekati pemuda itu lebih dekat lagi.

"Aaaai... !" Seru pemuda itu sambil menghela napas. "Agaknya manusia2 yang lari dari benteng Thian It Poo tak seorangpun berhasil meloloskan diri kecuali Yu Put Ming seorang."

Baru saja ucapan tadi diutarakan, mendadak terdengar jeritan aneh yang sangat mengerikan berkumandang dari tempat kejauhan, mengikuti jeritan tadi muncul sesosok bayangan manusia yang kecil mungil berkelebat mendekat. Sie Soat Ang menjerit, saking takutnya menjatuhkan diri kedalam pelukan pemuda tersebut.

"Jangan kaget... jangan kaget" hibur pemuda tersebut, sementara tangannya memeluk pinggang gadis tadi semakin erat. "Coba lihat siapa yang datang.”

Rasa kejut dalam hati Sie Soat Ang perlahan-lahan bisa teratasi ketika ia menengok ke arah orang itu, maka terteralah bahwa orang tadi bukan lain adalah Yu Put Ming, salah seorang dari Tionggoan Su Koay.

Ketika itu air muka Yu Put Ming pucat bagai mayat. tubuhnya gemetar keras sambil menuding kearah Sie Soat Ang seakan-akan ia hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah katapun bisa diutarakan keluar.

Yu Pit Ming ini adalah salah seorang dari anggota Empat Manusia aneh dari Tionggoan yang sudah tersohor akan ilmu silatnya namun pada saat ini keadaan manusia she Yu itu mengenaskan sekali, ia tidak mencerminkan barang sedikitpun sikap seorang jagoan lihay.

"Yu sianseng, bukankah kau sudah melarikan diri? mengapa balik kembali?" tegur pemuda itu memecahkan kesunyian.

"Tak bisa lari, tak mungkin lari." jerit Yu Put Ming dengan suara melengking "Anggota Thian It poo tak seorangpun bisa melarikan diri dari sini."

Mendadak dari arah sebelah Timur laut berkumandang kembali jeritan ngeri yang menyayatkan hati.

Jeritan itu ada yang tinggi melengking, ada pula yang rendah dan berat, namun kendari suaranya berbeda namun nadanya sama yaitu mencerminkan keputus-asaan serta ketakutan membuat bulu roma setiap orang yang mendengar ikut bangun berdiri.

Jeritan ngeri itu saling susul menyusul tiada hentinya, Yu Put Ming menjerit keras sambil berseru:

"Seorangpun tak akan berhasil lolos, seorang manusiapun tak bakal lolos, semua anggota benteng Thian It Poo bakal musnah !"

Sie Soat Ang sangat terperanjat, ingin sekali ia membentak Yu Put Ming agar jangan buka suara, namun tak sedikit suarapun bisa diutarakan keluar.

"Yu sianseng..." mendadak pemuda itu berseru.

Baru saja ia menyapa, mendadak dari sisi sebelah samping berkumandang datang gelak tertawa aneh, suara itu muncul dengan kecepatan laksana kilat dan jelas suara seorang wanita. "Siapa yang melarang aku meninggal benteng Thian It Poo ?" seru orang itu.

Dalam sekejap mata sesosok bayangan manusia telah muncul di depan mata, perempuan itu berwajah pucat, rambutnya tidak keruan dan biji matanya melotot sayu.

Begitu tiba di tengah kalangan ia segera menuding kearah Sie Soat Ang serta pemuda itu sambil berseru : "Kau yang melarang aku pergi dari sini ?"

Mengikuti tudingan tadi, Sie Soat Ang merasakan adanya segulungan angin serangan mendesir datang, napasnya kontan jadi sesak.

"Bukan... bukan kami !" jawab pemuda itu cepat. Perempuan gila itu segera berputar memandang kearah

Yu Pit Ming, kembali serunya sambil menuding kedepan: "Tentu kau !"

Yu Put Ming tertegun lalu geleng kepala, dalam waktu singkat tersebut wajahnya kelihatan begitu bodoh se akan2 baru saja bangun dari tidur. setelah menoleh keempat penjuru ia perlihatkan wajah ketakutan kemudian putar badan dan berlalu.

Gerakannya sangat cepat, begitu berkata hendak pergi segera berlalu Namun walaupun gerakannya cepat perempuan gila itu jauh lebih cepat.

Sementara ia sedang bergerak kedepan, perempuan gila tadi sudah berkelebat dan menghadang dihadapannya.

"Mengapa kau melarang aku tinggalkan benteng Thian It Poo ?"

Sewaktu berlari masuk tadi Yu Put Ming bingung dan se- olah2 jadi gila karena mempunyai suatu peristiwa yang sangat memukul perasaannya tetapi sekarang ia jauh lebih sadar, terdengar jawabnya: "Sekarang, kau anggap aku meninggalkan benteng Thian It Poo, bagaimana malah menuduh aku yang melarang kau meninggalkan benteng Thian It Poo ?"

Perempuan gila itu tertegun, sebelum ia sempat berbicara, pemuda itu sudah mendahului: "Yu sianseng, kalau kau sudah tahu tak bakal lolos dari sini, mengapa kita tidak menggabungkan diri untuk ber-sama2 melawan kedatangan musuh tangguh tersebut ?"

"Bekerja sama menghadapi musuh tangguh?" seakan2 mendengar cerita paling konyol dikolong langit, Yu Put Ming mendongak tertawa terbahak2

"Haaa... haa... dikolong langit dewasa ini siapa yang punya keberanian sebesar itu ? haaa... haaa... kerja sama menghadapi musuh ?"

Dengan tangan kiri tetap memeluk pinggang Sie Soat Ang, mendadak pemuda itu enjotkan badannya meloncat kedepan. Telapak tangannya laksana kilat ditabokkan keatas leher bagian belakang Yu Put Ming dengan suara gerakan cepat.

Merasa dirinya diserang. Yu Put Ming tidak putar badan, ia balas melancarkan cengkeraman menghajar dada pemuda itu.

Walaupun serangan ini datangnya secara serampangan namun kecepatannya tidak meleset tahu2 "Plaakk" cengkeraman itu dengan telak telah bersarang didada pemuda tadi.

Sie Soat Ang yang berada disisi pemuda itu jadi kaget tak kuasa ia berseru tertahan.

Sementara gadis she-Sie ini berseru tertahan, Yu Put Ming pun menjerit keras, buru2 ia lepas tangan dan putar badan dengan kecepatan laksana kilat, dengan sepasang mata melotot ia perhatikan pemuda itu tajam2, "Kau... kau adalah Si Thay Sianseng?"

"Yu sianseng, ternyata kaupun bukan manusia sembarangan" tukas Sang pemuda sambil tersenyum.

Yu Put Ming segera tertawa getir dan bungkam dalam seribu bahasa. Sebaliknya Sie Soat Ang tertegun, tentu saja ia tahu bahwasanya ilmu silat yang dimiliki pemuda itu sangat lihay namun ia menyangka sang pemuda yang masih begitu muda belia telah disapa orang lain sebagai Si Thay sianseng.

Agaknya pemuda itu dapat menebak apa yang dipikirkan sang gadis, sambil berpaling kearah-nya dan tersenyum ia berkata:

"Si Thay sianseng adalah guruku, anda bisa menebak asal usul perguruanku hanya dalam sekali coba saja, boleh dikata kau sangat luar biasa sungguh kagum, sungguh kagum!"

Per-lahan2 Yu Put Ming menghembuskan napas panjang.

"Apakah gurumu Si Thay sianseng pun berada disekitar sini?" ia bertanya.

"Suhuku bagaikan burung bangau yang terbang dimanapun, berada dimanakah beliau pada saat ini, aku sendiri pun tidak tahu."

"Sejak kapan anda berada dibenteng Thian It Poo? dan apa yang kau lakukan didalam benteng ini?"

"Apa yang kulakukan didalam benteng Thian It Poo ini asalkan bertanya pada dirimu sendiri sudah cukup, apa pula yang kau lakukan selama berada didalam benteng ini ?" Dengan ter-sipu2 Yu Put Ming tertawa, terhadap pertanyaan pemuda tersebut ia tidak menjawab.

"Siapa nama anda?" tanyanya kemudian setelah lewat beberapa lamanya.

"Seorang prajurit tak bernama, namaku buat apa dibicarakan ? lebih baik tak usah diucapkan."

"Diantara anak murid Si Thay sianseng, tak ada manusia tanpa nama, tetapi kami hanya kenal dengan murid tertua dari Si Thay sianseng. sigolok baja Lok Thay yang tempo dulu pernah melakukan pertarungan sengit melawan tujuh puluh dua orang malaikat dipinggiran propinsi Su Tzuan dengan propinsi In Lam, ketika membinasakan orang yang keenam puluh sembilan ia kehabisan tenaga dan binasa. sejak kematiannya aku belum pernah dengar Si Thay sianseng terima murid lagi."

"Yu sianseng." dengan nada tidak senang pemuda itu berseru, "Aku adalah anak murid siapa bukan kuakuinya sendiri, melainkan kau sendiri yang menyerukan, bagaimana pun perkataan itu bukan sengaja kuutarakan untuk mengibuli orang lain bukan ?"

Merah padam selembar wajah Yu Pit Ming buru2 katanya:

"Berhubung anda tidak mau beritahu siapakah nama anda, maka timbullah perasaan curiga dalam hatiku: harap anda jangan salah sangka."

Sebelum pemuda itu berkata kembali, terdengar Ciang Oh telah berteriak aneh:

"Siapa yang tidak memperkenankan aku meninggalkan benteng Thian It Poo ? siapa ?" "Nona Sie..." sembari melepaskan pelukannya pemuda itu berseru. "Ia sudah datang, mengapa ayahmu belum datang juga, coba kau pergi ke sana dan periksalah sejenak

!"

Sie Soat Ang mundur selangkah kebelakang berpaling kesamping, melihat tempat itu begitu gelap gulita se akan2 ditempat mana tersembunyi roh2 yang gentayangan, air mukanya kontan berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, buru2 ia gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku... aku... seorang diri aku tak berani pergi kesana." "Hmm, bukankah kau tidak takut langit tidak takut bumi

? mengapa tidak berani pergi kesana ?"

Sekali demi sekali pemuda itu sudah menyinggung kehormatan Sie Soat Ang, membuat gadis ini amat membenci dirinya, namun pada saat ini ia tahu bahwa orang tersebut adalah anak murid Si Thay Sianseng yang merupakan jago tersohor dikolong langit dewasa ini, apalagi situasi sangat tidak menguntungkan baginya, ia masih membutuhkan tenaga orang ini untuk mengatasi persoalan.

Karena itu kendari hawa amarah sudah memuncak, namun ia masih tetap bersabar diri.

"Aku sangat takut, aku tidak berani pergi ke sana seorang diri."

Seakan akan pemuda itu sangat gembira sebab maksudnya menggoda Sie Soat Ang tercapai, ia tertawa terbahak-bahak.

"Ha... ha... kalau begitu kami harus merepotkan Yu sianseng suka pergi kesana sebentar untuk memeriksa apakah Sie Poocu sudah mati ataukah masih hidup!" Ucapan ini seolah-olah menandakan bahwa Sie Liong sebagian besar sudah menjumpai peristiwa diluar dugaan, seketika membuat tubuh Sie Soat Ang gemetar sangat keras.

"Soal ini... soal ini... lebih baik aku berdiam disini saja" buru2 Yu Put Ming menolak seraya goyangkan tangannya berulang kali.

Sepasang alis pemuda itu berkerut kencang, karena apa boleh buat terpaksa ia berpaling ke arah Ciang Oh dan bertanya.

"Bukankah kau dipanggil datang oleh Sie Pocu? mengapa sampai sekarang orang itu belum juga munculkan diri?"

Ciang Oh mendongak tertawa ter kekeh2, suaranya sangat aneh, rambutnya yang panjang dan kacau bergoyang tiada hentinya mengikuti gelak tertawa tersebut, sehingga keadaannya mirip iblis ganas yang baru muncul dari neraka, sungguh menyeramkan sekali.

"Kau bertanya tentang bangsat keparat Sie Liong ?" teriaknya sambil tertawa tergelak "Dia ha ha haaa ia sudah merampas diriku dari daerah Biauw... dia... ha ha...!" sementara masih tertawa tergelak, mendadak ia membungkam kemudian memperdengarkan jeritan lengking yang sangat menusuk telinga:

"Telapak berdarah Tong Houw !"

Suaranya begitu sadis, ngeri dan sukar dilukiskan dengan kata2, membuat setiap orang yang mendengar ikut bergidik dan tanpa terasa bulu kuduk pada bangun berdiri.

Ditengah jeritan lengking itu, mendadak dari balik ujung tembok sebelah depan berkumandang datang pula bentakan dingin yang tidak kalah ngerinya: "Loei San keparat cilik, cepat keluar jangan menyeret orang lain dalam masalah ini !"

Jeritan Ciang Ooh tinggi melengking membuat jantung tiap orang berdetak keras, tubuh gemetar namun masih bisa ditahan.

Sebaliknya suara yang muncul dari tempat kegelapan dibalik tembok, walaupun tidak begitu keras namun dingin, kaku dan menyeramkan membuat semua orang serasa seluruh tubuhnya masuk kedalam gentong berisi air dingin, sang hati jadi tercekam

Suara itu bukan saja membuat orang lain jadi terperanjat bahkan Ciang Ooh yang sudah berubah ingatanpun segera menghentikan jeritan ngerinya.

Dalam pada itu suara tadi masih tetap berseru:

"Loei Sam keparat cilik, kau sudah menyeret banyak jiwa, apa saat ini masih juga ingin menyeret orang lagi ?"

Yu put Ming serta Sie Soat Ang saling berputar pandangan sekejap, mereka pada heran siapakah sebenarnya manusia yang bernama "Loei Sam keparat cilik" itu.

Walaupun tak ada orang beritahu kepadanya, namun meninjau dari sikap yang sangat aneh itu, Mereka berdua segera paham "Loei Sam keparat cilik" itu pasti dia.

Dalam sekejap mata, rasa benci yang timbul dihati Sie Soat Ang mencapai titik puncak dan sukar dilukiskan dengan kata2

Suara seram ini sudah pernah berkumandang berulang kali mengikuti melayang datangnya mayat2 jago benteng Thian It Poo, jelas dia adalah tokoh tangguh yang datang mencari gara2 itu. Selama ini baik Sie Soat Ang maupun Sie Poo-cu berpendapat orang ini datang kebenteng Thian It Poo, sengaja hendak cari gara2 dengan mereka.

Maka dari itu kendari gadis itu sangat membenci pemuda itu, ia masih menaruh rasa terima kasih kepadanya, berterima kasih karena ia mau tetap tinggal disana membantu mereka.

Tapi sekarang, setelah mendengar dari ucapan orang itu, ia baru tahu bencana yang menimpa benteng Thian It Poo bukan lain karena gara2 keparat tersebut.

Teringat sampai soal ini. Sie Soat Ang tak kuasa menahan diri lagi ia tertawa ter-kekeh, sambil menuding kearah pemuda itu jengeknya:

"Ada orang sedang memanggil dirimu, apakah kau tidak mendengar? mengapa tidak kau hampiri orang itu?"

Air muka pemuda tersebut seketika berubah hebat.

Hal ini membuktikan kalau dugaan Sie Soat Ang tidak salah, kembali ia membentak:

"Kau takut? kau pun pernah mengenal rasa takut?"

Ia sama sekali tak tahu siapakah yang telah datang, dan tidak tahu apa sebabnya orang itu tidak munculkan diri namun memerintahkan Loei Sam pergi kesana, yang dipikir pada saat ini adalah balas mengejek orang itu, menuntut balas atas penghinaan yang pernah diterima barusan.

"Tutup mulutmu!" akhirnya pemuda itu tak tahan dan menghardik.

"Haa...haa...haa..,kenapa aku harus tutup mulut ? bukankah kau merasa ketakutan ? kalau kau tidak takut mengapa ada orang panggil kau kesana, kau tidak berani kesana ?" "Plook...!" sebuah tamparan keras dengan cepat bersarang diatas pipi Sie Soat Ang, membuat gadis ini mundur kebelakang dengan sempoyongan.

Ia tahu keadaan sangat genting, seandainya ia buka suara lagi tidak bisa diramalkan tindakan apa yang bakal dilakukan pemuda tersebut terhadap dirinya lagi.

Sebagai seorang perempuan cerdik ia tidak ingin menerima kerugian yang ada diambang pintu, karena itu ia segera mundur selangkah kebelakang dan membungkam.

"Loei Sam keparat cilik, kau masih mau unjuk kan keganasannya ?" suara dingin menyeramkan yang muncul dari tempat kegelapan kembali berkumandang keluar, "Ayoh cepat kemari, apa yang kau takuti lagi ?"

Pemuda itu tidak menggubris terhadap ucapan yang muncul dari tempat kegelapan itu, sebaliknya mendekati Ciang Ooh dan secara mendadak mencengkeram pergelangannya.

Ditinjau sepintas lalu, Ciang Ooh berdiri kaku bagaikan patung. namun setiap kali mendapat serangan ia segera menunjukkan reaksinya.

Baru saja jari tangan pemuda itu bergerak ke depan, Ciang Oh sudah menunjukkan pula reaksinya, pergelangan tangannya mendadak menekan kebawah, kemudian jari tengahnya menyentil ke depan balas menghantam urat nadi pemuda itu.

Merasakan datangnya serangan balasan, pemuda itu sangat terperanjat, buru2 ia tarik kembali tangannya sambil mundur kebelakang.

Melihat pemuda itu mundur, Ciang Oh pun melototkan sepasang matanya bulat2 memperhatikan pemuda tersebut tajam2 namun iapun tidak menyerang lebih jauh. Per-lahan2 pemuda itu tarik napas panjang2, kemudian ujarnya lirih: "Ciang Oh, dimana putri mu ?" Ciang Oh tertegun, biji matanya seketika jadi berputar kembali.

"Aku. . . putriku ?" ia balik bertanya.

"Benar, setelah kau dirampas bangsat Sie Liong dan dibawa kedalam benteng Thian It Poo, tidak lama kemudian telah melahirkan seorang putri, dimana putrimu ? Sekarang berada dimana ?"

Sepasang alis Ciang Oh berkerut kencang wajah yang sudah menyeramkan ini kelihatan lebih seram.

"Putriku? ? ? putriku? ?" terdengar ia bergumam seorang- diri.

"Benar, putrimu !" sambung pemuda itu dengan cepat. Mendadak Ciang Oh angkat kepalanya dan berkata dengan suara parau:

"Putriku, putriku berada dimana ? ia berada dimana ?" "Aku tahu putrimu saat ini berada dimana !"

Si Soat Ang yang berada disamping dalam anggapannya pemuda itu benar2 hendak beritahu kepadanya dimanakah Giok Jien pada saat ini berada, hatinya tercekat dan tanpa terasa mundur kebelakang. Ketika ia mundur sampai empat lima langkah jauhnya. mendadak terlihat olehnya Ciang Oh telah mendekati pemuda tersebut, sembari menghardik:

"Dimanakah putriku ?"

Ditengah bentakan, jari tangannya bagaikan cakar burung elang menghajar sepasang bahu pemuda tersebut. Dengan sebat pemuda itu berkelit kesamping. kemudian buru2 menuding ke arah mana berasalnya suara dingin tadi.

"Ha... ha... disana." serunya sambil terbahak2 "Sejak lahir    putrimu    disembunyikan    oleh    manusia    yang bersembunyi dibalik kegelapan itu, sekarang ia ingin mencelakai putrimu kembali, apakah kau tidak ingin cari dia untuk menuntut balas ?"

Belum selesai pemuda itu berkata, terdengar Ciang Ooh menjerit ngeri dan menubruk kearah tempat kegelapan yang ditunjukkan kepadanya.

Gerakan Ciang Ooh sangat cepat, menanti badannya sudah lenyap dibalik kegelapan mendadak terdengar suara bentrokan keras berkumandang datang, batu pasir beterbangan jelas dalam gerakannya barusan tembok dinding sudah jebol diterjang olehnya.

Pada saat inilah Se Soat Ang baru tahu maksud pemuda tersebut ternyata bukan lain ingin menggunakan tenaga Ciang Ooh untuk menghadapi musuh tangguh dibalik kegelapan itu, untuk sementara persoalan ini tiada sangkut pautnya dengan dia pribadi.

Teringat akan soal ini, ia menghembuskan napas lega. Mendadak pada saat itulah pundaknya serasa ditekan oleh sebuah tangan yang dingin kaku itu. la ingin menjerit, namun mulutnya hanya bisa di pentangkan lebar2 tanpa sedikit suarapun berhasil dipancarkan keluar, bulu kuduk bangun berdiri dan ia dibikin berdiri mematung.

Makin lama Sie Soat Ang semakin ketakutan sehingga akhirnya sepasang giginya mulai beradu dengan amat kerasnya, saking takutnya maka ketika itu baik Loei Sam maupun Yu Put Ming tak seorangpun yang memperhatikan dirinya, semua perhatian telah dicurahkan ke mana Ciang Oh melenyapkan diri.

"Braaak...!" kembali suara bentrokan keras berkumandang memenuhi angkasa, batu pasir beterbangan, laksana kilat Ciang Oh telah muncul kembali dengan sepasang mata melotot besar. "Kau berani membohongi aku, disana sama sekali tak ada seorang manusiapun."

"Aku tak akan membohongi dirimu" Buru2 Loei Sam berseru "Kuberitahukan kepadamu, manusia yang merampas putrimu ada tiga bagian mirip manusia tujuh bagian mirip kera, badannya pendek kecil, kepalanya kurus dan panjang, asal kau berjumpa tentu segera dapat mengenalinya."

"Sekarang ia berada dimana ?"

Dengan cepat Loei Sam putar badan, mendadak ia berhenti, diatas wajahnya memperlihatkan rasa kaget yang bukan alang kepalang, arah yang dilihatnya bukan lain adalah arah dimana Sie Soat Ang berdiri.

Gadis ini sadar, yang dilihat pemuda tersebut bukan dirinya melainkan manusia yang berada dibelakangnya.

Ia mengempos napas ingin berteriak, namun disebabkan badannya makin lama semakin dingin suaranya tak sanggup diutarakan keluar, terpaksa sepasang tangannya bergerak cepat, apa yang telah digerakan bahkan ia sendiripun tidak paham.

Dalam pada itu kesadaran Ciang Oh agaknya sudah jauh lebih sadar, bahkan reaksinya amat cepat:

Ketika Loei Sam alihkan sinar matanya ia pun mengikuti gerak Loei Sam memandang pula kearah depan

"Aaah... dia !" mendadak ia menjerit dan meloncat kedepan.

Diam2 Sie Soat Ang mengeluh, ia tahu manusia yang berada dibelakangnya tentu manusia monyet yang barusan dimaksudkan, bahkan orang itu bukan lain adalah pembunuh sadis yang membasmi seluruh isi benteng, pada saat ini tangannya telah menekan diatas pundaknya.

Seluruh tubuh gadis itu gemetar keras, sebelum ia sempat melakukan sesuatu terdengar Loei Sam telah jerit melengking:

"Tidak salah, dialah manusianya, Yu sianseng dengan kekuatan kita bertiga pasti kita berhasil menghadapi dirinya."

Siapa sangka Yu Put Ming dengan cepat telah goyangkan tangannya berulang kali.

"Apa maksudmu berkata demikian, ia datang hendak mencari dirimu, kau pernah melakukan kesalahan terhadap dirinya, apa sangkut pautnya persoalan ini dengan diriku?"

Loei Sam amat gusar, seraya tertawa dingin kembali jengeknya.

"Yu sianseng, coba kau pikir kau berani cari gara2 dengan diriku? berani cari gara2 dengan guruku? seandainya aku bergebrak melawan dirinya dan aku mendapat cidera, apakah ia mau membocorkan berita ini keluar ? agar suhupun tahu?"

Yu Put Ming tertegun, akhirnya sambil tertawa paksa katanya:

"Aku pasti akan menjaga rahasia ini baik2. Sin Koen pasti akan percaya kepadaku bahwa aku tak akan bicara sembarangan!"

"Haaaa . . . haa . .. lebih baik sekarang ia sudah mempercayai dirimu, agar setelah kejadian ini kau lebih banyak menerima pahit getir, kalau kau tidak ingin turun tangan yaa sudahlah, kau anggap aku sangat membutuhkan tenagamu?" Air muka Yu Put Ming berobah sangat hebat, terpaksa ia mundur beberapa langkah kebelakang, ia tidak pergi sebaliknya berdiri tegak disisi kalangan, sementara itu selangkah demi selangkah Ciang Oh berjalan mendekati manusia tersebut.

Sie Soat Ang yang masih ditekan pundaknya oleh sepasang tangan manusia itu jadi umat gelisah, ia tahu seandainya terjadi pertarungan sengit antara kedua orang ini maka yang konyol lebih dahulu adalah dia sebab ia berada ditengah.

Setelah berjalan beberapa langkah kedepan mendadak Ciang Ooh mengeluarkan tangannya sembari berseru:

"Dimana putriku ? dia berada dimana ?"

"Putrimu ? haa..haa.. secara bagaimana kau tahu kalau kau punya seorang putri ?" jengek orang itu dengan suara yang dingin menyeramkan. "Bagaimana kau tahu kalau dia masih sudi mengakui dirimu sebagai ibunya ?"

Ciang Oh menjerit keras badannya meloncat kedepan melancarkan sebuah tubrukan maut.

Pada saat2 kritis. nendadak orang itu mengirim segulung tenaga yang amat besar melemparkan badan Sie Soat Ang kesamping, sehingga membuat gadis itu terpental dan jatuh terjengkang keatas tanah.

Namun ketika itulah, ia dapat melihat jelas wajah manusia aneh yang selama ini berdiri di belakang tubuhnya.

Wajah dan raut muka dari orang itu sungguh persis seperti apa yang digambarkan Loei Sam barusan.

Tubuhnya pendek kecil dengan sepasang lengan yang luar biasa panjangnya, yang paling aneh batok kepalanya lancip lagi gepeng seakan2 waktu dilahirkan ke kolong langit, batok kepalanya pernah terjepit diantara dua lembar papan.

Walaupun pada saat itu cuaca telah gelap, namun Sie Soat Ang dapat melihat jelas potong an orang itu dengan sangat jelas.

Diatas wajah maupun tangannya memakai selapis bulu berwarna coklat yang pendek, dengan raut mukanya keadaan orang ini persis seperti yang dilukiskan Loei Sam "Tiga bagian mirip manusia, tujuh bagian mirip monyet."

Dalam pada itu, setelah orang itu mendorong Sie Soat Ang kesamping, bagaikan kalap Ciang Oh telah menubruk datang, kelima jari tangan nya bagaikan pancingan mencengkeram batok kepala orang itu.

Merasakan datangnya serangan manusia monyet tersebut sama sekali tidak menghindar, sebaliknya malah memperhatikan jari tangan Ciang Oh dengan sikap mengejek.

Gerakan Ciang Ooh teramat cepat.. "Sreet ! sreet !" ditengah desiran tajam kelima jarinya sudah mencengkeram dengan telak batok kepala orang itu.

Sebenarnya, bagi seseorang yang ingin mencengkeram batok kepala orang lain merupakan suatu perbuatan yang paling sulit. Namun disebabkan bentuk dari batok kepala itu lancip lagipula gepeng, maka bagi Ciang Ooh dengan sangat mudahnya berhasil menangkap dengan telak.

Kelima jari segera memperketat cengkeramannya, "Pleetak... pleetak ..." persendian jari tangan Ciang Ooh bergemerutukan, jelas membuktikan kalau ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya. Wajah orang itu sangat aneh, sepasang alisnya berkerut, giginya berdetak keras, seakan2 ia sedang mencoba kekerasan batok kepalanya.

Kurang lebih seperminum teh kemudian, barulah orang itu memaki dengan suaranya yang aneh: "Neneknya sungguh lihay !"

Mendadak sepasang telapaknya bergerak cepat melancarkan sebuah serangan kilat kearah depan.

Keanehan serta kedahsyatan dari serangan ini boleh dikatakan suatu serangan yang sulit dicarikan tandingannya dikolong langit.

Ketika itu Ciang Oh sedang mencengkeram batok kepalanya, jarak antara masing2 pihak tentu saja amat dekat, bagi orang itu seharusnya serangan yang dilakukan dengan mudah bisa bersarang di tubuh Ciang Oh dengan telak. Namun tangannya amat panjang, bahkan sendirian terlalu kaku, mendadak sepasang lengannya menyambar lewat dari sisi tubuh Ciang Oh dan menghantam punggung perempuan gila itu.

Merasakan desiran tajam mengancam punggungnya Ciang Oh ayunkan tangannya kebelakang menyambut datangnya serangan tersebut.

Namun gerakannya terlambat setindak . . .

"Plaakk, plaakkk." dua serangan tadi dengan telak bersarang dipunggungnya.

Sie Soat Ang yang ada disisi kalangan tak dapat membayangkan seberapa besar tenaga pukulan tersebut, tampak olehnya tubuh Ciang Oh mendadak maju selangkah kedepan dan saling berbenturan dengan orang itu. Jeritan aneh berkumandang memenuhi angkasa, kelima jari tangan yang mencengkeram batok kepala orang itu mendadak mengendor. Dalam sekejap mata telapak tangan berayun memenuhi angkasa, ia balas melancarkan tujuh- delapan belas buah serangan kearah orang itu.

Ketujuh delapan belas serangan tadi merupakan jurus2 serangan jarak dekat, kecepatannya melebihi kilat dan sukar dibayangkan dengan kata-kata.

"Plaak, plook... plaaak... ploook" Tujuh-delapan buah serangan ada separuhnya bersarang ditubuh orang itu.

"Aduuh... suatu ilmu pukulan Thay Yau Ciang yang amat cepat !" teriak orang itu dengan suara lengking.

Sembari berteriak badannya bergerak ke depan mengitari Ciang Oh dan berputar kencang.

Sementara itu Ciang Oh masih tetap melancarkan serangan maut, serangannya makin lama semakin cepat semakin lama semakin ganas.

Sie Soat Ang yang berdiri satu tombak dari kalangan pun merasakan desiran angin pukulan menderu-deru, jurus serangan apa saja yang telah digunakan Ciang Oh ia tak dapat melihat jelas.

Mengikuti gerakan tubuh Ciang Oh yang makin menyerang semakin cepat, tubuh orang itu-pun berputar kencang, Tampak dua sosok bayangan satu tinggi satu pendek sebentar kesana sebentar kesini bagaikan bayangan setan belaka, bagi para jago yang hadir dikalangan hanya melihat bayangan belaka yang bergerak kencang.

Sementara Sie Soat Ang masih ber-debar2 hatinya melihat pertarungan itu, mendadak dari sisi nya terdengar suara bisikan seseorang: "Apanya yang bagus dilihat? ayoh cepat melarikan diri ambil kesempatan baik ini!"

Buru2 Sie Soat Ang berpaling padahal sekali pun tak usah berpalingpun ia tahu orang yang dibelakangnya bukan lain adalah Loei Sam.

Saat ini gadis she Sie sudah amat jelas sekali kedatangan orang itu mengacau benteng Thian It Poo adalah disebabkan Loei San, dan sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan benteng Thian It Poo.

Nyalinya makin besar, mendengar bisikan dari Loei Sam ini, ia segera mendengus dingin.

"Hmm! apa yang perlu aku takuti lagi ? kalau kau takut boleh sana sipat kuping melarikan diri ambil kesempatan ini."

Loei Sam kerutkan alisnya, mendadak ia cengkeram lengan Sie Soat Ang.

Gadis itu sangat gusar, ia balik tangan menempeleng pipi Loei Sam namun dengan mudah sekali pemuda itu berhasil mencengkeram urat nadinya dan dengan paksa menyeret gadis itu berlalu dari sana.

Walaupun ia harus membawa seorang, namun badannya masih juga mencelat setinggi dua, tiga tombak dan melewati tembok pekarangan.

Ketika badannya melayang keluar dari halaman terdengar orang itu berteriak kembali dengan jeritan lengking.

"Loei Sam keparat cilik, sekalipun kau melarikan diri kelangit aku kejar kelangit, kau menerobos kedalam tanah aku kejar kau ketanah, dan kulihat lebih baik kau jangan melarikan diri lagi." Tetapi Loei Sam pura2 tidak mendengar, ia enjot badan dan didalam sekejap mata telah keluar dari benteng Thian It Poo.

Sudah jauh ia keluar dari benteng Thian It Poo namun suara jeritan itu masih juga berkumandang masuk kedalam telinganya, bahkan amat nyaring, jelas orang itu sudah terkurung oleh serangan Ciang Oh sehingga ia tak sanggup mengejar diri Loei Sam.

Pemuda itu lari terus kearah utara, setelah lewati puluhan li suara yang dingin menyeramkan itu tidak kedengaran lagi, pada saat itulah baru berhenti berlari.

Ketika urat nadinya dicengkeram tadi, Sie Soat Ang merasakan sekujur badannya kaku, bahkan tenaga untuk berteriakpun tak ada. Menanti Loei Sam berhenti berlari dan mendorong badannya kedepan, ia baru terguling keluar seperti layang2 yang putus benang.

"Brukk...!" untung permukaan tanah sudah dilapisi oleh salju yang saat tebal, sehingga badannya walaupun terbanting keatas tanah sama sekali tidak menderita luka.

Dengan tangan menekan diatas tanah, ia merangkak bangun namun ketika itulah Loei Sam sudah berada dihadapannya.

Pada saat ini rasa bencinya sukar dibendung lagi, mendadak ia cengkeram baju Loei Sam dengan tangan kanan, kemudian kepalan kirinya meninju badan pemuda itu keras2.

Kena digebuk, Loei Sam bukannya meringis kesakitan bahkan malah mendongak tertawa ter bahak2

Lima, enam puluh tinjuan sudah bersarang di tubuh Loei Sam, tetapi pemuda itu masih tenang saja, bahkan napas gadis itu yang ter-engah2. "Sungguh lihay." seru sang pemuda berulang kali. "Coba kau lihat, aku sudah kau pukuli sampai seperti ini, mana ada istri yang berani pukuli suami sendiri... wah, memang perempuan yang galak sekali!"

Ucapan tersebut membuat Sie Soat Ang amat terperanjat, buru2 ia mundur selangkah kebelakang.

Sewaktu berada didalam Benteng Thian It Poo, Loei Sam pernah memandang kearahnya dengan sinar mata aneh, ketika itu ia masih belum merasa, namun sekarang ucapan dari Loei Sam begitu blak2an, bulu kuduknya segera pada bangun berdiri.

Ketika ia mundur selangkah kebelakang. Loei Sam memandang kearahnya lebih berani lagi, bahkan tatapnya lebih ganas.

"Kau., apa yang hendak kau lakukan ?" Seru Sie Soat Ang dengan jantung berdebar keras.

"Nona Sie." kata Loei Sam. sambil memperhatikan gadis itu dengan sinar mata kurang ajar. "Gadis manis diluar perbatasan amat banyak, namun hitung2 kaulah gadis yang paling menarik hati !"

Kalau pada hari2 biasa ucapan tersebut tentu akan membuat setiap gadis2 merasa girang hati, tetapi pada saat ini bukan saja ucapan tersebut tidak mendatangkan rasa senang dalam hatinya, bahkan malah membuat sang hati jadi tercekat.

Buru2 ia mundur kembali selangkah kebelakang. "Benarkah begitu ?" tanyanya sambil tertawa paksa.

Baru saja ia mundur selangkah kebelakang, dengan sangat berani Loei Sam telah mendesak ke depan. Sie Soat Ang makin terperanjat, buru2 ia mundur kebelakang berulang kali.

"Mengapa kau mundur terus ? apakah takut melihat aku?" seru Loei Sam sambil tertawa cabul.

"Apa yang perlu kutakuti ?" jawab Sie Soat Ang dengan keraskan kepala.

"Benar. kenapa mesti takut padaku ? bukankah kau jadi marah dan penasaran karena memikirkan orang lelaki ? aku lihat engkohmu jauh lebih lemah kalau dibandingkan dengan permainanku, coba kau lihat aku kan lebih bagus daripadanya?"

Mendengar ucapan itu hampir2 saja Sie Soat Ang jatuh tidak sadarkan diri, sepasang matanya jadi gelap.

"Engkoh misanku...dia...dia tak ada sangkut paut apapun dengan diriku" jawabnya gugup.

Loei Sam tertawa seram.

"Kau anggap mataku picik ? setiap orang dalam benteng Thian It Poo siapa yang tidak tahu kalau disebabkan Liem Hauw Seng dicintai Giok Jien, membuat siocia kesayangan dari benteng Thian It Poo jadi marah2 ? haa...haa...sungguh tak disangka Giok Jien adalah putri kesayangan Ciang Oh, permainan dibalik semuanya ini sungguh tidak sedikit, sekarang kau sudah apakan mereka berdua? bagaimana kalau kau ceritakan kembali?"

Sembari berkata, selangkah demi selangkah Loei Sam berjalan kedepan, Setiap kali ia melangkah setindak kedepan, Sie Soat Ang mundur pula selangkah kebelakang sehingga akhirnya ia terdesak kebelakang sebuah pohon Kok yang tua lagi kering. Menanti punggung Sie Soat Ang sudah menempel diatas pohon dan tidak dapat mundur lagi kebelakang, mendadak sepasang lengan Loei Sam disodokan kedepan menekan kearah batang pohon itu sementara tangannya dengan cepat memeluk tubuh gadis itu.

"Haaa... haaa... nona Sie, kau tak bakal bisa melarikan diri lagi bukan? coba kau melarikan diri lagi."

Air muka Sie Soat Ang berubah pucat pasi bagaikan mayat. dengan wajah penuh kecabulan Loei Sam makin merapatkan mukanya keatas wajah gadis tersebut.

Sebenarnya Sie Soat Ang adalah seorang gadis yang amat lincah dan tidak takut langit dan bumi, pekerjaan jelek apapun pernah ia lakukan, tentu saja ia tahu apa yang hendak dilakukan Loei Sam terhadap dirinya.

Ia gigit bibirnya kencang2 badannya yang montok. Sie Soat Ang baru tertawa paksa dia menegur: "Kau... kau anggap cantikkah wajah ku ?"

"Benar, sudah lama aku tak pernah berjumpa dengan nona secantik kau, wajahmu benar2 cantik jelita."

"Sekalipun terhitung kau suka padaku, seharusnya kau ajukan pinangan dihadapan ayahku" buru2 Sie Soat Ang menambahi. "Kau adalah murid dari Si Thay sianseng, ayahku sangat menghargai dirimu, ia pasti akan mengabulkan permintaanmu itu ?"

Loei Sam segera tertawa gelak.

"Sayangku... siapa yang bilang aku ada niat meminang dirimu dihadapan Sie Liong ?"

Sie Soat Ang makin terperanjat lagi.

"Kau... bu... bu... bukankah kau berkata suu... suka kepadaku? mengatakan aku cantik?" "Benar, memang kau cantik, namun dapatkah sepanjang hidup kau cantik terus seperti ini?" seru Loei Sam sambil tertawa, "Sekarang aku memang suka kepadamu, namun beberapa hari lagi siapa yang tahu kalau aku masih suka kepada mu atau tidak? kau ingin jadi suami istri sepanjang hidup dengan diriku? siociaku yang terhormat, kau sedang bermimpi disiang hari bolong."

OOOoodwooOOO

BAB 5

HAMPIR2 saja Sie Soat Ang jatuh tidak sadarkan diri, dengan sekuat tenaga ia menahan dada Loei Sam mencegah pemuda itu lebih mendekati tubuhnya lagi.

Tapi tenaga Loei Sam amat besar dengan kekuatannya mana ia sanggup mempertahankan diri? dalam sekejap mata ia merasakan sepasang lengannya bagaikan ditekan dengan tenaga beribu-ribu kati beratnya, kalau lengannya tidak ditarik kembali niscaya akan putus jadi dua.

Mau tak mau terpaksa Sie Soat Ang tarik kembali tangannya, badan Loei Sam mendekat makin kedepan, ia tangkap pakaian Sie Soat Ang, menariknya kedepan dan menciumi wajahnya. Gadis dari benteng Thian It Poo ini hanya merasakan badannya jadi lemas tak bertenaga, sepasang lututnya membengkok dan tanpa sadar badannya meluncur kabawah, namun dengan cepat Loei Sam memeluk kembali badannya.

"Ehmm, sungguh wangi sekali" seru Loei Sam sambil menciumi seluruh lekukan tubuh gadis tersebut.

Sie Soat Ang merasa badannya makin lemas, namun otaknya masih sadar, mimpipun ia tidak menyangka akhirnya ia akan menjumpai peristiwa terkutuk semacam ini.

Ia coba meronta dan pelukan Loei Sam makin kencang, sementara badannya dibopong siap hendak dibawa lari kedepan mendadak...

"Loei Sam, letakkan perempuan itu dan berpalinglah !" suara bentakan dari dua manusia asing berkumandang dari arah belakang.

Suara orang itu berkata dan membuat hati setiap orang tergetar keras, buru2 Loei Sam berpaling namun ia tidak melepaskan Sie Soat Ang sebaliknya menggunakan tubuh gadis itu sebagai perisai.

Setelah itu badannya mundur selangkah kebelakang dan punggungnya menempel diatas dahan pohon.

Dalam perkiraan Sie Soat Ang, ia tak akan lolos dari perbuatan terkutuk tersebut. siapa sangka kembali peristiwa berubah diluar dugaan, hal ini membuat ia tercengang.

Setelah tarik napas panjang2, sinar matanya segera dialihkan kearah dua orang itu.

Kedua orang yang munculkan diri secara tiba2 ini berusia tiga puluh tahunan dengan alis mata tebal, wajah mereka berdua hampir mirip dan didalam sekilas pandang dapat diketahui kalau mereka berdua adalah saudara sekandung.

Dalam pada itu dengan sinar mata penuh kegusaran mereka berdiri melototi Loei Sam tak berkedip.

Sie Soat Ang yang digunakan sebagai perisai oleh Loei Sam tentu saja tak dapat melihat bagaimanakah perubahan wajahnya, namun ia merasa badan Loei Sam gemetar keras jelas pemuda itupun sedang ketakutan dibuatnya. "Saudara berdua, cepat tolong aku !" karena muncul harapan, gadis she Sie ini berteriak keras.

Begitu ia berseru, tubuh kedua orang itu kembali bergerak, lima enam depa lebih kedepan.

Pada waktu itulah Sie Soat Ang merasakan sebuah telapak tangan dari Loei Sam telah ditempelkan keatas batok kepalanya.

"Kalau kalian berani maju selangkah lagi ke-depan, akan kubunuh budak keparat ini !" Loei Sam-pun membentak keras.

Kena diancam kedua orang itu segera berhenti dan berkata hampir berbareng: "Loei Sam, cepat lepaskan gadis itu, menyerahlah dan mandah kami belenggu, ikut kami pulang gunung dan terima hukuman !"

"Heeee... heeee... heeee... suheng berdua kalau aku ikut kalian pulang kegunung maka yang bakal kuterima hanya suatu kematian belaka" seru Loei Sam sambil tertawa dingin, "Bukankah kau tahu seekor semutpun masih menyayangi jiwanya, apa lagi manusia ? kau anggap aku suka menyerah dan mengorbankan jiwaku dengan percuma

? lebih baik kalian berdua tak usah banyak bicara !" Mendengar ucapan itu kedua tertawa dingin.

"Loei Sam, kau anggap dirimu masih bisa melarikan diri

dari sini? sudah hampir dua tahun lamanya kami mengikuti jejakmu, dengan susah payah akhirnya kujumpai juga dirimu, kau hendak membangkang perintah kami dan tak mau ikut kembali kegunung?"

"Hal ini masih tergantung bagaimanakah kepandaian serta kelihaian kalian berdua." "Loei Sam." kembali kedua orang itu berkata. "Kau sudah melanggar pantangan terbesar dari perguruan, dengan membawa dosa kau melarikan diri dari gunung, bukannya menyesali perbuatan yang pernah kau lakukan sebaliknya malah mencatut nama suhu melakukan perbuatan jahat di mana2, bahkan pada sepuluh bulan berselang kau telah memperkosa dan membinasakan putri kesayangan Hiat Goan Sin Koen, benarkah telah terjadi hal ini?"

"Haaa.. haa... yang memperkosa sih benar aku, tapi yang membunuh bukan aku sendiri." jawab Loei Sam begitu tak tahu malu, sebaliknya malah tertawa terbahak2.

"Karena nona cilik itu tak bisa memecahkan persoalan yang ia hadapi sendiri akhirnya bunuh diri apa sangkut pautnya soal ini dengan diriku?"

Sie Soat Ang yang mendengar ucapan itu, hatinya kontan terjelos, seluruh tubuh gemetar.

Yang membuat ia terperanjat. pertama, seandainya kedua orang itu tidak datang tepat pada waktunya, mungkin akibat yang ia terima sama halnya dengan kejadian yang menimpa putri kesayangan Hiat Goan Sin Koen

Kedua, setelah mendengar nama "Hiat Goan Koen" Atau Malaikat sakti Monyet berdarah, pikirannya seketika jadi terang kembali ia ingat manusia aneh yang muncul di benteng Thian It Poo dan melakukan pertarungan sengit melawan Tjiang Oh itu bukan lain adalah Hiat Goan Sin Koen, manusia paling lihay dikolong langit dewasa ini.

Terhadap putri kesayangan Hiat Goan Sin koen pun Loei Sam berani turun tangan, apalagi terhadap dirinya? Tentu saja ia tak akan sungkan2 untuk mengerjakannya. Bahkan jika ditinjau dari nada ucapan kedua orang itu, Loei Sam melarikan diri dari perguruan, berhubung telah melakukan suatu perbuatan terkutuk, itu berarti dia adalah seorang manusia yang paling jahat paling terkutuk dan paling keji.

Dalam pada itu terdengar Loei Sam sudah berkata: "Suheng berdua, kalau kalian bisa melepaskan diriku kali

ini, selama hidup aku Loei Sam tak akan melupakan budi kalian berdua, Gunung nan hijau kesempatan berjumpa dikemudian hari masih panjang, mengapa suheng berdua harus mendesak diriku terus menerus?"

Air muka kedua orang itu makin lama berubah semakin gusar. salah satu diantaranya tak dapat menahan diri lagi dan menghardik:

"Loei Sam kau masih juga tidak sadarkan diri ? apakah kau tidak sadar seandainya kau ikut kami pulang kegunung Go bie kemungkinan hidup bagimu masih ada, sebaliknya kalau kau tidak pulang maka tidak bakal bisa menandingi kepandaian Hiat Goan Sin Khoen!"

"Haaa... haaa... terima kasih atas perhatian yang telah suheng berdua limpahkan kepada diriku, seandainya aku pulang ke gunung Go-bie sekalipun masih memperoleh kesempatan untuk hidup tetapi sepanjang masa harus menyalahi sumoay seorang. Waa... sungguh membosankan sangat menjemukan, jauh lebih baik berada ditempat luaran sambil mencicipi disini merasakan disana."

Air muka kedua orang itu seketika berubah hebat, mereka berbareng mendengus keras:

"Kau...Kau benar2 sudah rusak dan tak bisa ketolongan lagi ! kalau demikian adanya kamipun tak usah memikirkan ikatan perguruan lagi !" Sie Soat Ang yang ada disamping merasakan hatinya makin terperanjat, sebab ia dapat merasakan apabila Loei Sam telah melanggar pantangan memperkosa bahkan yang jadi korban adalah sumoaynya sendiri.

Dan didengar nada ucapan kedua orang suhengnya barusan, seakan2 kalau pemuda itu mau menikah dengan sumoaynya maka hukuman mati bisa dihindari tetapi ia tak mau, jelas Loei Sam adalah seorang manusia terkutuk yang sudah tak ketolongan lagi.

Kembali Loei Sam tertawa.

"Terima kasih atas perhatian kalian berdua, hingga detik ini juga kalian berdua masih mau memandang diriku sesama saudara seperguruan tapi jikalau kalian berdua masih juga hendak mendesak diriku semacam ini, bukankah sama artinya kalian sudah memandang aku sebagai orang luar ?"

"Loei Sute !" seru kedua orang itu setelah tertegun sejenak. "Sewaktu kami turun gunung, suhu serta subo telah memberi pesan wanti2 kepada kami berdua..."

"Apa yang suhu katakan?"

"Bagaimanakah tabiat suhu aku rasa tentu sudah kau ketahui bukan? karena tempo dulu ia pernah angkat sumpah maka dia orang tua tak bisa turun dari gunung Go bie lagi, mereka telah berpesan kepada kami asalkan bertemu dengan dirimu segera suruh turun tangan membinasakan dirimu!"

Agaknya Loei Sam sama sekali tak gentar dengan ancaman tadi, sambil angkat bahu katanya.

"Kesemuanya itu sudah berada didalam dugaanku, lalu apa yang dikatakan Subo?" Kedua orang itu merandek sejenak kemudian meneruskan kembali kata2nya:

"Subo berkata, sumoay sudah menjadi milik-mu, ia berharap setelah kami berjumpa dengan dirimu, maka kami harus berusaha keras menasehati dirimu agar pulang kegunung, ia pasti akan mohonkan ampun dihadapan suhu dan tidak menjatuhkan hukuman mati."

Diam2 Sie Soat Ang menghela napas panjang, Saat ini ia baru tahu sumoay yang telah diperkosa Loei Sam bukan lain adalah putri kesayangan dari Si Thay sianseng sendiri.

"Ehmm..! lalu bagaimana dengan pendapat kalian berdua?" akhirnya Loei Sam bertanya.

"Seandainya kau tidak mau ikuti kami pulang kegunung, maka terpaksa kami berdua harus melaksanakan tugas sesuai dengan perintah suhu kami!"

Mendengar ucapan itu Loei Sam tertawa terbahak 2 "Haa... haa... suheng berdua benar2 seorang lelaki sejati,

aku tidak ingin mencelakai kalian berdua!"

"Apa maksudmu mengucapkan perkataan tersebut." tanya kedua orang itu rada melengak.

"Perjalanan dari sini hingga ke gunung Gobie ada laksaan lie jauhnya, perjalananpun mungkin harus ditempuh selama beberapa bulan, seandainya aku sanggupi permintaan kalian dan ikut kalian pulang ke gunung, maka... heee... heee kau harus tahu macam manusia apakah diriku ini, pekerjaan keji macam apakah bisa aku lakukan, apakah kalian tak bisa bayangkan sewaktu berada ditengah jalan aku memperlihatkan sedikit permainan setan, mencelakai jiwa kalian... apakah jadinya nanti." Air muka kedua orang itu berubah hebat, sang badanpun tanpa terasa tergetar sangat keras.

"Maka dari itu..." sambung Loei Sam lebih jauh. "Aku tidak suka berangkat ber-sama2 kalian, sebab aku masih ingat bahwa kita adalah saudara seperguruan, aku merasa tidak enak hati kalau sampai terpaksa harus mencelakai jiwa kalian berdua."

Kedua orang itu saling bertukar pandangan, sepatah katapun tak dapat diutarakan keluar.

Mereka sadar, apa yang diucapkan Loei Sam sedikitpun tidak salah, dalam melakukan perjalanan sejauh laksaan li dan berjalan bersama2 dirinya, pelbagai mara bahaya kemungkinan besar bisa terjadi, kendari mereka berjaga2 dengan penuh waspada, pada suatu saat bisa teledor juga, dalam keadaan seperti itu kemungkinan besar jiwa mereka berdua bisa dicelakai.

Melihat kedua orang suhengnya tidak bicara, dengan sangat bangga Loei Sam berkata kembali: "Suheng berdua, lebih baik diantara kita tak usah saling ikut campur dalam urusan masing2, kalian pulanglah kegunung Gobie dan laporkan saja tidak pernah berjumpa dengan diriku, bukankah dengan berbuat demikian kalian bisa cuci tangan disamping tak akan terancam jiwanya. Sumoay mempunyai wajah yang cukup cantik. sedang kalian berdua pun cukup tampan, diantara kalian berdua boleh saja salah satu diantaranya meminang dia sebagai istri, bukankah urusan segera bisa dibereskan?"

Semakin berbicara ia semakin bangga, pemuda itu tidak memperhatikan orang yang ada di sebelah kiri air mukanya makin lama berubah semakin menghebat, menanti ia menyelesaikan ucapannya orang itu sudah membentak keras: "Tutup mulut, kau berani bicara ngaco belo?" Air muka orang itu sudah berubah hijau membesi, sepasang matanya memancarkan cahaya berapi wajahnya kelihatan begitu mengerikan.

Se-akan2 menyadari akan sesuatu, Loei Sam berseru tertahan.

"Aaaah! Siok Toako aku tahu mengapa kau begitu gusar terhadap diriku?" katanya perlahan "Selama ini kau selalu menghormati serta menyayangi Sumoay, tidak disangka sumoay telah kena dipatil, kau jadi begitu gusar bukankah begitu?"

Tubuh orang itu gemetar semakin keras, namun wajah yang semula penuh diliputi kegusaran pada saat ini berubah jadi amat sedih sekali.

"Kau... kau tak usah bicara lagi. lebih baik kau jangan membicarakan soal ini lagi ."

"Siok Suheng !" ujar Loei Sam sambil tertawa "Watak sumoay amat tinggi dan sombong, terhadap suheng2nya tak seorangpun dipandang sebelah mata olehnya, kau tentu tahu bukan akan hal ini ? justru karena aku mendongkol maka kulakukan perbuatan tersebut, sekarang kau boleh segera kembali kegunung dan pinanglah sumoay di hadapan suhu, Sumoay dia orang pasti akan menerima pinanganmu itu, bukankah dengan berbuat demikian aku sudah menyempurnakan harapanmu ? seharusnya kau berterima kasih kepada aku yang sudah menjadi mak comblang mu !"

Orang yang berwajah sedih tadi membungkam dalam seribu bahasa, sebaliknya yang berseru sepatah demi sepatah kata: "Loei Sam, kau masih mempunyai perasaan malu tidak

?"

Wajah Loei Sam benar2 sangat tebal, sambil tertawa ia

menjawab: "Terhadap manusia macam aku, tentu saja tidak kenal apa itu yang di sebut perasaan malu."

"Siok sute ! tak berguna banyak bicara dengan dirinya mari kita bekerja sesuai dengan perintah suhu !" seru orang itu dengan suara berat.

"Baik !"

Bersamaan dengan ucapan tadi, kedua orang itu ber- sama2 maju dua langkah kedepan.

"Tahan ! jangan turun tangan lebih dahulu !" Bentak Loei Sam keras2, senyuman yang semula menghiasi bibirnya saat ini telah lenyap tak berbekas.

Ketika itu sepasang telapak dari kedua orang itu sudah diayun ketengah udara, mendengar beritakan dari Loei Sam ini mereka segera menunda gerakannya dan berhenti bergerak.

"Terus terang saja kuberitahukan kepada kalian berdua, sebab setengah tahun berselang sesaat putri kesayangan dari Hiat Goan Sin Koen menemui ajalnya, ia pernah adu jiwa dengan diriku sehingga aku menderita luka parah dan hampir2 saja menemui ajalnya hingga pada lukaku belum sembuh, aku bukan tandingan kalian berdua lagi."

"Kalau begitu, hari naasmu sudah tiba dan masamu berbuat jahatpun telah berakhir !"

"Tidak salah. Namun sebelum aku menemui ajalnya akan kuseret seseorang untuk menemani keberangkatanku ini jikalau kalian berani ingin turun tangan terhadap diriku maka nona Sie akan kubinasakan terlebih dahulu, dia adalah putri kesayangan Sie Poocu dari benteng Thian It Poo."

"Kau... kau... apakah kau ada urusan sakit hati atau dendam dengan dirinya ?" tanya kedua orang itu rada tertegun.

"Sama sekali tak ada dendam maupun sakit hati, jikalau aku binasakan dirinya maka sama arti dia sudah mati ditangan kalian berdua !"

Kedua orang ini sekalipun merupakan saudara seperguruan dengan Loei Sam keji, licik, banyak akal, perbuatan apapun bisa ia lakukan, sebaliknya kedua orang itu jujur dia berwelas asih.

Mendengar ucapan dari Loei Sam, mereka berdua seketika tertegun dan berdiri menjublak.

Mereka berbareng mengalihkan sinar matanya kearah Sie Soat Ang, tampak olehnya air muka gadis itu pucat pasi bagaikan mayat, titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, pakaian yang dikenakan sudah robek separuh sehingga kelihatan kulitnya yang putih bersih, keadaannya amat mengenaskan sekali.

Mereka berdua tidak tahu kalau Sie Soat Ang pun bukan seorang manusia baik2, melihat jiwanya terancam timbul rasa kasihan kedua orang itu.

"Loei Sam! cepat lepaskan!" serunya hampir berbareng. "Haaa... haaa... suheng anggap aku adalah seorang

bocah gampang dibohongi?" Loei Sam sambil bergelak "Seandainya aku melepaskan kemudian kalian menyerang diriku, aku bisa mati konyol? kalian sedang menjalankan perintah suhu untuk mencabut jiwaku, hal ini sudah sepantasnya kalau kalian laksanakan, tapi kalau dilakukan pada saat ini, maka jiwa nona Sie pun akan ikut musnah!" Mendengar jiwanya akan digunakan sebagai jaminan, Sie Soat Ang jadi kaget bercampur gelisah, namun dalam keadaan seperti ini ia tak dapat berbuat apa2, sebab tak mungkin baginya untuk memohon kedua orang itu turun tangan terhadap Loei Sam tanpa hiraukan jiwanya sendiri.

Ia tahu Loei Sam adalah seorang manusia berkeras kepala, apa yang telah diucapkan dapat saja dilakukan.. Seandainya kedua orang suheng benar-benar turun tangan terhadap dirinya, maka yang akan mati lebih dahulu adalah ia.

Pertama2 yang akan mati lebih dahulu adalah ia sendiri. Kedua orang itu saling bertukar pandangan dengan wajah serba salah, lama sekali mereka tak memperlihatkan reaksi apapun.

Air muka Loei Sam berubah memerah, kembali ia membentak:

"Pada waktu2 yang lampau kalian tak mau turun tangan terhadap diriku, buat apa kalian begitu bersikeras hendak turun tangan pada saat ini sehingga harus mengorbankan pula selembar jiwa nona Sie yang sama sekali tiada ikatan dendam dengan diri kalian berdua?"

Walaupun terang2an kedua orang itu tahu ucapan tersebut hanya gertak sambal belaka, namun justru yang dikatakan adalah kematian Sie Soat Ang disebabkan mereka berdua hal ini membikin kedua orang ini semakin ragu2 lagi.

"Suheng berdua!" mendadak Loei Sam berteriak keras, "Hiat Goan Sin Koen berada dibenteng Thian It Poo, kemungkinan besar setiap waktu bisa tiba disini, aku tidak akan banyak berbicara dengan dirimu lagi, akan kuhitung sampai tiga, kalau kalian belum juga mau meninggalkan tempat ini, maka nona Sie akan segera kubunuh, dan kematiannya ini sama halnya disebabkan oleh kalian berdua."

Selesai bicara ia merandek sejenak kemudian mulai menghitung.

"Satu!"

Sembari berseru telapak tangannya mulai disaluri tenaga murni dan ditempelkan keatas batok kepala Sie Soat Ang.

Gadis itu kontan merasakan adanya segulung tenaga murni yang maha dahsyat menerjang masuk melalui jalan darah Pek-hwee hiatnya langsung menyebar keseluruh tubuh mendatangkan rasa sakit yang luar biasa. tak tahan ia mulai merintih kesakitan.

Rintihan tersebut membuat dua orang itu menghela napas panjang dan bersama sama mundur kebelakang.

Loei Sam tertawa terbahak bahak. "Haaa... haa... kalian harus mundur dua puluh tombak lagi!" perintahnya.

Kedua orang itu dibikin apa boleh buat, terpaksa mundur kembali dua puluh tombak kebelakang.

"Didalam satu jam kalian dilarang berkutik." Teriak Loei Sam keras2 "Relakan aku pergi bersama2 nona Sie. Sudah dengar belum?"

Kedua orang itu membungkam. kecuali menghela napas panjang dengan perasaan apa boleh buat, Loei Sam tertawa aneh, ia menyeret Sie Soat Ang dan berkelebat kedepan, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas. Lama sekali kedua orang itu berdiri tertegun, kemudian salah satu diantaranya baru berkata memecahkan kesunyian.

"Su site, bagaimana dengan kita?" "Jie suko, aku lihat... aku lihat... terpaksa satu jam lagi kita baru mengejar keparat tersebut."

"Sekalipun kita berhasil menyandak dirinya." kata lelaki yang disebut Adik seperguruan keempat sambil tertawa getir, "la akan menggunakan sanderanya nona Sie untuk menggertak kita. sama pula kita tak bisa turun tangan... ba... bagaimana kita bisa memberi laporan kepada suhu?"

Orang itu menghela napas, mendadak selintas rasa girang berkelebat lewat.

"Aaah, tidak menjadi soal, dia., dia tidak akan bertahan lama terhadap seorang gadis, beberapa hari lagi ia pasti akan meninggalkan nona Sie".

"Sekalipun ia tinggalkan nona Sie, apakah tak bisa mencari perempuan lain ? persoalan ini.. persoalan ini.."

Kedua orang itu sangat murung dan hati terasa sedih, pada saat itulah mendadak terdengar jerit lengking seorang gadis berkumandang datang dari tempat kejauhan.

"Jie suko !..su suko.."

Mendengar panggilan itu kedua orang lelaki tersebut amat terperanjat.

"Aah, siauw sumoay !" serunya hampir berbareng. Tapi dengan cepat pula mereka membantah sendiri:

"Aah tidak mungkin, mana mungkin siauw sumoay bisa

sampai disini ? suhu serta sunio mana mengijinkan dia pergi

?"

Dari balik hutan tampak sesosok bayangan merah berkelebat mendekat, gerakannya cepat laksana kilat, dalam sekejap mata bayangan tadi sudah tiba dihadapan mereka berdua. dia bukan lain adalah seorang gadis bermantel merah dengan potongan wajah yang cantik jelita. Umurnya baru tujuh, delapan belas tahun, wajahnya potongan kwaci dengan sepasang mata yang jeli dan bening, mantelnya terbuat diri bulu rase hanya sayang gadis ini kelihatan begitu murung dan kucel.

"Chen Sumoay ! "seru kedua orang pemuda itu dengan gelagapan sewaktu dilihatnya gadis itu menghampiri mereka. "Kaupun datang kemari ? apakah suhu tahu akan kedatanganmu..."

Gadis ini bukan lain adalah adik seperguruan dari kedua orang pemuda itu, atau merupakan putri tunggal dan Si Thay sianseng manusia aneh dalam dunia persilatan dewasa ini nama lengkapnya Si Chen. sementara ia gelengkan kepalanya.

"Tia tidak tahu akan kepergianku!" jawabnya.

"Lalu sunio tahu bukan? seharusnya dia orang tua diberitahu !" seru kedua orang itu dengan hati gelisah.

Kembali Si Chen menggelengkan kepala, butir air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, namun ia tidak ingin kedua orang kakak seperguruannya tahu, ia mendongak dan menjawab:

"Ibupun tidak tahu !"

"Sumoay, hal ini mana boleh jadi ? kau berkelana seorang diri dalam dunia persilatan.. Aaai dari gunung Go bie sampai disini ada selaksa lie, kau berjalan seorang diri mana boleh?"

"Suko berdua, apa yang harus kutakuti lagi ? coba kalian jawab, apa yang harus kutakuti lagi?" air mata jatuh berlinang makin deras.

"Chen sumoay !" Kedua orang pemuda itupun tak dapat menahan diri dan ikut mencucurkan air mata. Suasana jadi hening, tak kedengaran sedikit suarapun, akhirnya Si Chen-lah buka suara lebih dulu, ujarnya: "Aku lepaskan pakaianku ditepi dinding jurang, pura2 bunuh diri dengan terjunkan diri kedalam jurang, kemudian secara diam2 turun gunung."

"Sumoay, kau berbuat demikiam apakah tidak takut suhu serta sunio amat bersedih hati ?"

"Tentu saja aku berpikir sampai disitu" sahut Si Chen sambil tertawa sedih. "Tapi aku pikir merekapun sudah terlalu sedih, seandainya tahu aku telah mati, rasa sedih mereka tidak akan lebih jauh, terutama sekali Tia, nama besarnya sudah tersohor di mana2, setiap orang Bu lim tentu menaruh rasa jeri kepadanya "

Mendadak ia membungkam dan tidak teruskan lagi kata2nya. Kembali suasana jadi hening, kecuali hembusan angin yang menderu.

Akhirnya Si Chen tertawa getir serunya:

"Sepanjang jalan aku mengejar kemari, suatu saat aku berhasil temukan kabar beritanya, aku tahu ia berada dibenteng Thian It Poo dan segera kukejar."

Kedua orang pemuda itu tertegun mereka cuma bisa mengangguk. "Akupun tahu si Hiat Goan Sinkoen sedang mencari dia, bukankah begitu?"

Sekali lagi kedua orang pemuda tersebut mengangguk. "Tetapi ketika aku tiba dibenteng Thian It Poo" lanjut Si

Chen "Benteng tersebut sudah kacau balau, Hiat Goan Sinkoen-sedang bertarung mati2an melawan seorang perempuan gila, Yu loo-koay lah yang beritahu kepadaku bahwa dia berangkat keutara. Jie suko, Su Suko, apakah kau berhasil menyusulnya?" Kedua orang ini tukar pandangan dan membungkam, merasa sulit untuk buka suaranya.

Melihat kejadian itu timbul rasa curiga dalam hati Si Chen.

"Suko berdua, apakah kalian ada urusan yang sedang mengelabui diriku?" tanyanya.

"Tidak ada... tidak ada?" buru2 kedua orang itu goyangkan tangannya berulangkali, Si Chen menghela napas-panjang.

"Aku tahu kalian tak akan berbuat demikian, bencana yang kualami sudah cukup mengenaskan kalian... kalau kalian masih mengelabuhi diriku tentang satu persoalan maka . . . aai . . . kalian sedikit keterlaluan."

Ucapan ini betul2 tajam, kedua orang itu semakin kelabakan dibuatnya.

"Loei Sam dia . . . dia . . . barusan saja kami berjumpa dengan dirinya" ujar kedua orang itu dengan gelagapan.

Seluruh tubuh Si Chen tergetar keras. "Lalu, mengapa kalian tidak hadang jalan perginya ?" ia berseru.

"Tentu saja kami sudah menghalangi jalan perginya" jawab salah seorang pemuda itu sambil tertawa getir, "bahkan siap sedia menangkapnya pulang kegunung, cuma dia menangkap nona Sie sebagai sanderanya, kalau kami akan turun tangan menangkap dirinya, ia akan membinasakan nona Sie lebih dahulu, oleh karena itu kami

. . . kami . . ."

"Karena itu kalian lepaskan dia pergi, bukan begitu ?" sambung Si Chen sambil menghela napas panjang.

Dengan rasa jengah kedua orang itu mengangguk. "Kalian terlalu berbelas kasihan, sedang dia terlalu jahat" Kata gadis itu sambil tertawa getir. "Nona Sie itu..."

"Dia adalah putri kesayangan dari Thian It Poocu !" "Mengapa kalian tidak kejar dirinya ? baik, aku akan

pergi mengejarnya, sekalipun tak bisa mengapa-apakan

dirinya, paling sedikit harus menolong nona Sie itu !"

Ucapan ini seketika menyadarkan kedua orang itu, mereka terkesiap dan berseru berbareng: "Ucapan sumoay sedikitpun tidak salah, mari kita kejar dirinya !"

Demikianlah ketiga orang itu segera mengejar kearah mana Loei Sam melarikan diri tadi.

Menanti ketiga bayangan tubuh itu sudah lenyap dari pandangan, mendadak terdengar gelak tertawa Loei Sam berkumandang memecahkan kesunyian dari atas sebuah pohon muncullah pemuda itu sambil membopong Sie Soat Ang.

Setelah melayang keatas tanah, ia tertawa bergelak dan berkata: "Nona Si, coba kau lihat bagaimanakah tipu muslihat ku ? kau bisa berkenalan dengan manusia sepertiku, hitung2 tidak rugi jadi manusia !"

Kiranya pemuda itu tidak berlalu, sebaliknya cuma bersembunyi diatas sebuah pohon.

Karena jalan darahnya tadi tertotok, Si Soat Ang tak dapat berteriak sekarang ia bebas dari pengaruh totokan menjeritlah gadis ini se-jadi2nya.

Namun Loei Sam tertawa tergelak sambil menjengek. "Nona manis, sekalipun kau berteriak sampai serakpun

percuma saja tak mungkin ada orang yang mendengarkan

jeritanmu itu!"

Sie Soat Ang berhenti berteriak, serunya: "Kau... bukankah gadis tadi adalah sumoay mu? dia begitu cantik, kalau kau bisa jadi suami istri dengan dirinya, bukankah bagus sekali?"

"Hiii... hihi . . . cantik sih cantik, cuma kalau dibandingkan dengan engkau, maka ia ketinggalan jauh sekali"

Diam2 Sie Soat Ang mengeluh, ia tidak menyangka perubahan yang terjadi semalaman bisa demikian besar. Ingin sekali ia meronta namun tenaganya musnah sama sekali, bahkan ketika itu bibir sang pemuda dengan paksa mencium bibirnya.

Sekali lagi Sie Soat Ang menjerit kali ini ia menjerit sekeras kerasnya namun baru dua kali ia berteriak bibirnya sudah tersumbat kembali oleh bibir Loei Sam napasnya mulai ter-sengkal2 dan keadaan amat kritis.

"Aduuh, sungguh romantis." tiba2 terdengar orang berseru.

Loei Sam terkesiap, dengan cepat ia berpaling.

Tampak olehnya, tidak jauh dibelakang tubuhnya diatas permukaan salju yang tebal berdiri seseorang.

Orang itu berusia tiga puluh tahunan, berdandan siucay, wajahnya kurus panjang dengan sebuah codet dikening kirinya, hal ini membuat potongan mukanya kelihatan jauh lebih panjang.

Melihat munculnya seseorang. Si Soat Ang segera berteriak minta tolong.

"Ooouw enghiong tolonglah diriku!" sastrawan itu tetap berdiri dibawah pohon, bajunya berwarna putih bagaikan salju, keadaannya amat aneh sekali. Mendengar Si Soat Ang berteriak, Loei Sam segera menghardik.

"Kalau kau menjerit lagi akan kutotok jalan darah gatalmu!"

Tentu saja Sie Soat Ang tahu, bila seseorang tertotok jalan darah gatalnya maka seluruh tubuh akan terasa kaku dan gatal, lebih sengsara dari pada mati, karena takut pada ancamannya ia segera membungkam.

Ketika itulah sisastrawan berbaju putih itu berkata: "Memandang keadaan anda mentereng dan terpelajar tak disangka perbuatanmu ternyata begitu rendah dan terkutuk

!"

"Hmmm, apa sangkut pautnya dengan urusan mu ?" jengek Loei Sam sambil tertawa dingin.

"Eeeei ? bukankah anda adalah seorang ahli silat ?" "Omong kosong, apakah aku tak dapat melihat sendiri ?"

"Nah, melihat ketidak adilan maka sebagai seorang pendekar haruslah turun tangan menyelesaikan persoalan itu secara bijaksana, kalau anda seorang ahli silat, kenapa bertanya kepadaku apa sangkut pautnya dengan urusan tersebut ?"

"Oooouw. . . kiranya kaupun seorang ahli silat, Hmm, ingin sekali kulihat sampai dimana kehebatanmu itu !"

Sebelum ia bertindak sesuatu mendadak serasa segulung angin berhembus lewat, bayangan tubuh sastrawan tadi laksana kilat telah meluncur datang.

Loei Sam terkesiap. ia merasa kejadian ada di luar dugaan, untung sebelumnya sudah bikin persiapan. telapak kiri dibalik kemudian melancarkan sebuah hantaman kedepan. Angin pukulan men deru2, belum sampai sasarannya terkena, bayangan tubuh orang itu kembali lenyap tak berbekas diikuti pergelangan tangan nya tiba2 jadi kaku.

Ternyata tubuh sisastrawan yang menerjang ke depan walaupun cepat laksana kilat namun secara tiba2 ia sudah berputar ke sebelah kanan Loei Sam dan menyentuh urat nadinya.

Serangan ini terkena telak, Loei Sam kontan merasakan urat nadinya kaku dan tak kuasa lagi kelima jari tangannya mengendor.

Perubahan jurus dari sastrawan itu amat cepat sekali, baru saja Loei Sam kendorkan tangannya sisastrawan itu sudah menyambar tangan Sie Soat Ang dan didorongnya ke depan, dengan ringan dan mantap tubuh gadis itu meluncur beberapa tombak jauhnya dan kalangan.

Melihat korbannya dirampas, Loei Sam amat gusar sambil kesempatan waktu sisastrawan mendorong tubuh Si Soat Ang keluar kalangan, jari tangannya bergerak cepat menotok jalan darah "Hoa Kay Hiat" ditubuh lawan.

Jalan darah Hoa-kay hiat merupakan satu jalan darah penting ditubuh manusia, tindakan dari Loei Sam ini menunjukkan kalau ia ada maksud membinasakan lawan dalam satu jurus serangan belaka.

Dengan cepat sastrawan itu menyusup tubuhnya kebelakang, sepasang alis berkerut dan tegurnya:

"Kau adalah anak murid dari Si Thay sianseng ?"

Loei Sam melakukan pengacauan digunung Go-bie, ini sama hal sudah diusir dari perguruan, namun nama Si Thay sianseng sangat berpengaruh di dunia persilatan, oleh sebab itu setiap orang yang mengatakan dia adalah muridnya Si Thay sianseng, selamanya pemuda ini tak pernah menolak, ia segera tertawa.

"Kalau sudah tahu asal usulku, kenapa kau tidak sipat ekormu dan melarikan diri dari sini?"

"Benarkah kau anak murid dari Si Thay sianseng ?" kembali sastrawan itu bertanya, sementara sepasang matanya melototi pemuda itu tajam2. "Ditinjau dari jurus serangan tersebut kau memang ahli waris dan Si Thay Sianseng, tapi memandang dari tindak laku dirimu yang rendah serta memalukan. tidak mungkin seorang pendekar sejati punya murid macam kau."

Terhadap makian ini Loei Sam tidak marah, yang membuat ia naik pitam adalah tindakan Sie Soat Ang yang melarikan diri ter-birit2 setelah di tolong oleh sastrawan tadi, ia segera menghardik:

"Ayoh cepat minggir !"

"Criing..." dari balik ujung bajunya mendadak meluncur keluar sebatang pedang pendek, senjata nya langsung mengarah tenggorokan lawan.

"Aaai . . . ilmu silatmu tidak terhitung jelek" seru sastrawan tersebut sambil menghela napas panjang, ia mundur kebelakang meloloskan diri dari ancaman.

Melihat serangannya gagal Loei Sam makin gusar, sebab waktu itu Si Soat Ang sudah jauh melarikan diri sehingga sebuah titik hitam belaka.

"Tingkah lakumu amat mencurigakan sekali" Seru sastrawan tadi setelah berhasil meloloskan diri dari ancaman maut, "Aku lihat kebanyakan kau berhasil mencuri dapat satu dua jurus ilmu silat dari Si Thay sianseng, kemudian sengaja melakukan keonaran dalam Bu- lim dengan maksud merusak nama baik Si Thay sianseng, akan ku tangkap dirimu untuk kemudian diserahkan ke pada Si thay sianseng."

Mendengar ucapan itu Loei Sam teramat gusar bercampur kaget, namun ia sadar ilmu silat lawan amat lihay sekali, segera ujarnya dengan nada dingin:

"Bagus sekali, kulihat sampai dimanakah ilmu silatmu sehingga bisa membawa aku pergi."

Tubuh sisastrawan yang sudah mundur berulang kali mendadak menerjang kembali kedepan dengan kecepatan laksana sambaran kilat, kali ini Loei Sam pun sudah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.

Melihat terjangan sastrawan itu amat cepat, diam2 Loei Sam kegirangan. pikirnya:

"Bagus...bagus...makin cepat kau datang semakin bagus..." tubuhnya mendadak merandek, kemudian pedangnya diayun kedepan mengirim sebuah tusukan ganas.

Siapa nyana mendadak pandangan matanya jadi kabur, bayangan lawan sudah lenyap tak berbekas diikuti segulung angin tekanan yang amat keras menekan tubuhnya.

Loei Sam terperanjat jangan dikata setengah tahun berselang ia pernah terluka parah, kendari ilmu silatnya sudah pulih semuapun tak akan ia sanggup menghadapi keadaan semacam ini.

Dalam keadaan gugup dan terdesak, ia tak sempat berkelit lagi. terpaksa pedangnya berputar kencang melancarkan sebuah tusukan kembali.

Tusukan ini amat cepat, serangannya dahsyat, namun bagaimanapun juga terlambat satu langkah, mendadak pergelangannya jadi kaku dan urat nadinya sudah dicekal lawannya erat-erat.

"Trang. . !" pedang pendeknya terlepas dari cekalan diikuti suara ejekan dari sastrawan berbaju putih itu bergema datang: "Hemm ! kiranya pedangmu sudah direndam racun keji, dari aliran lurus tak ada manusia macam kau!"

Diatas pedang pendek milik Loei Sam memang sudah dipolesi racun keji, bahkan suatu racun yang ganas dan segera mencabut nyawa seseorang apabila berjumpa dengan darah, tetapi tanda2 tersebut amat samar sekali, tak mungkin bisa ketahuan oleh orang biasa.

Kini orang bisa menunjukkan bahwa pedang nya beracun, hal ini bisa ditarik kesimpulan be tapa tajamnya sepasang mata orang ini, kejadian tersebut membuat Loei Sam semakin terperanjat.

Tapi urat nadinya sudah dicekal orang, tak sedikit tenagapun masih tersisa, dalam keadaan keritis ia tidak jadi bingung, sambil tertawa2 jengeknya: "Oooouw... kepandaian anda tidak jelek juga. entah kau berasal dari perguruan mana."

"Guruku adalah sahabat dari Si Thay sian-seng, padahal dari gerakanku barusan sudah sepantasnya kau tahu siapa diriku !"

Pikiran Loei Sam jadi terang, ia semakin terperanjat sebab teringat olehnya ia pernah mendengar dari suhunya yang menyatakan diantara sahabat2 lamanya terdapat seorang manusia jelek yang suka memakai baju warna putih, sifatnya berangasan dan bongkok, orang2 Bu lim menyebutnya sebagai Lieh Hwie Sin Tho atau si Bongkok Sakti berangasan. Sekalipun wajahnya jelek, ia punya seorang istri yang kecantikan wajahnya sulit dicarikan tandingannya, karena perbedaan yang menyolok inilah ia sering diejek orang.

Diantara tiga macam ilmu sakti yang dimiliki Si Bongkok Sakti Berangasan ini terhadap suatu ilmu langkah yang lihay disebut "Mie Tjong Sin Poh" atau ilmu langkah sakti penghilang jejak, gerakan yang dipergunakan sastrawan tersebut.

Teringat akan kepandaian itu Loei Sam kaget sampai air mukanya berubah hebat, walaupun ia berusaha untuk menenteramkan hatinya.

"Ooouw... sekarang aku paham sudah, bukankah Heng thay adalah anak murid dari si Bongkok Sakti Berangasan?" tegurnya sambil tertawa.

"Hmmm siapa yang kesudian menyebut saudara dengan dirimu." hardik sisastrawan.

"Hiii... hihi soal ini tak bisa salahkan diriku, anda punya hubungan sama si Bongkok.berangasan, tentu saja kita harus saling menyebut saudara, siapa suruh antara Si Thay sianseng dengan si Bongkok Sakti Berangasan mengikat tali persaudaraan ?"

Sastrawan berbaju putih ini bukan lain adalah putra kesayangan si Bongkok Sakti Berangasan mendengar ucapan itu dia lantas mendengus.

"Hmm ! tingkah lakumu hanya merusak dan menodai nama baik gurumu saja !" serunya.

"Haa...haa...haa...kelihatannya nama besar si Bongkok Sakti Berangasan bukan nama kosong belaka, aku lihat Heng-thay pun sudah ketularan beberapa bagian watak berangasannya. coba lihat. bekerja tanpa membedakan mana putih mana merah !" "Eeei., apa maksudmu berkata begini, bagian manakah yang kau rasa tidak benar ?"

"Tahukah kau siapakah gadis yang barusan kau tolong itu ?"

Pertanyaan ini membuat si sastrawan berbaju putih seketika tertegun, waktu itu ia cuma melihat Loei Sam menangkap Si Soat Ang dan gadis itu hendak diperkosa, sedangkan siapakah Sie Soat Ang ia tidak tahu.

Karena itu mendapat pertanyaan tersebut ia jadi tertegun, kemudian gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tidak tahu siapakah dia, tapi tidak pantas kau bersikap macam itu terhadap seorang nona?"

"Haaa... haaa... haaa..." Loei Sam segera mendongak tertawa terbahak2 dengan kerasnya, "Apa itu nona atau bukan nona, diakan istriku!"

"Apa kau katakan ?" sastrawan itu amat terperanjat. "Dia adalah istriku, dia adalah nyonya ku !"

"Kaaa, , . kalau dia adalah hujienmu, lalu mengapa ia menjerit ?" sastrawan tersebut dibikin gelagapan.

"Aku rasa Heng thay tentu belum menikah, bukankah begitu ?"

"Benar, aku belum menikah."

"Nah itulah dia, justru karena Heng thay belum menikah maka tak akan tahu perbuatan apa saja yang sering dilakukan antara suami dan istri, ia minta aku untuk kerjakan suatu persoalan aku tidak setuju, karena itu hatinya jadi dongkol dan tak mau bermesraan dengan diriku kalau bukan perbuatanmu yang gegabah niscaya persoalan sudah selesai !" "Tidak benar, sewaktu aku berjumpa dengan kalian. akupun mendengar dia. . . dia berkata agar kau mengawini sumoaymu saja."

"Benar, ia memang seorang yang cemburuan, rasa dengkinya terlalu besar."

"Tapi aku mendengar ia minta tolong apakah aku sudah salah mendengar?".

"Tentu saja kau tidak salah mendengar, wataknya memang begitu suka mendatangkan kerepotan buat diriku karena ia dongkol maka dipanggilnya dirimu untuk diadu dengan aku."

"Kalau Heng thay tidak percaya mari kita kejar dirinya. Setelah kau bertanya sendiri urusan akan jadi jelas, bagaimana ?"

Perkataan Loei Sam yang lihay ini membuat pikiran sisastrawan goncang, setelah termenung sejenak ia mengangguk.

"Baiklah !"

Sembari berkata ia kendorkan tangannya. Tujuan Loei Sam banyak berbicarapun bukan lain agar sisastrawan suka lepaskan tangannya.

-oo0dw0ooo-