-->

Jago Kelana Jilid 05

Jilid 05

BAGAIKAN kalap Giok Jien menerjang ke depan, memeluk tubuh kekasihnya dan ambil peluang tersebut menggotong pemuda itu meninggalkan gentong air.

"Engkoh Hauw Seng... engkoh Hauw Seng..." Teriaknya dengan suara amat memilukan. Karena kaget dan cemas ketika itu Liem Hauw Seng sudah jatuh tidak sadarkan diri, ia sama sekali tidak mendengar lagi jeritan Giok Jien.

Ber-kali2 Giok Jien menjerit namun tidak mendengar jawaban dari kekasihnya, ia lantas menganggap pemuda itu sudah putus nyawanya, setelah tertegun beberapa saat ia menjerit... jeritannya mengerikan dan sangat menyayatkan hati.

Sembari memeluk tubuh Hauw Seng erat, ia putar badan.

Sementara itu kebetulan Sie Soat Ang sedang melangkah keluar dari dalam rumah, Giok Jien segera berteriak lengking:

"Kau sudah... kau sudah membinasakan Kan Djie-ya, sekarang kembali kau binasakan engkoh Hauw Seng! kau pembunuh terkutuk!"

Mendengar Giok Jien mengungkap kembali peristiwa kematian Kan Tek Lin, air muka Sie Soat Ang berubah hebat, dengan cepat badannya meluncur kedepan menotok jalan darah "Tjian-cing-hiat" pada bahu gadis hu..

Tubuh Giok Jien tergetar keras, kemudian ber sama2 Liem Hauw Seng roboh menggeletak ke-atas tanah.

Ketika itu Oen Su dengan penuh ketakutan masih berdiri disisi kalangan, Sie Soat Ang segera membentak dingin:

"Disini sudah tak ada urusan kalian lagi, pada bubar semua!"

Dalam sekejap mata para jago sudah bubarkan diri, kecuali Tjiauw Loo tjhiet yang berjalan menghampiri tuannya sembari berseru:

"Siotjia, aku , , soal perkawinan kami..." Sie Soat Ang sedang mendongkol, mendengar ucapan itu kontan ia naik pitam, sebuah tendangan kilat bersarang ditubuh Tjiauw Loo tjhiet membuat lelaki ini mencelat ke belakang dan jatuh bergelindingan, buru2 orang she Tjiauw tadi merangkak bangun dan melarikan diri.

Perlahan2 Si Soat Ang putar badan dan menendang tubuh Giok Jien dengan mata melotot, pelbagai cara keji untuk menyiksa gadis ini bermunculan didalam hatinya, tanpa sadar air muka nya berubah menyengir kejam.

Mendadak dari ujung tembok berkumandang datang suara tertawa dingin yang sinis, dan mengerikan.

Tertawa dingin itu begitu menyeramkan membuat bulu kuduk diseluruh tubuh Sie Soat Ang bangun berdiri, buru2 ia putar badan dan memandang dengan tajam

Secara lapat2 ia menemukan sesosok bayangan manusia berdiri diujung tembok dengan sikap yang mengerikan.

Walaupun Sie Soat Ang sadar, tempat ini adalah salah satu pos penjagaan bentengnya, asalkan ia berteriak maka puluhan orang akan bermunculan untuk membantu dirinya, namun entah apa sebabnya ia tidak berani berbuat demikian, hatinya serasa tercekat.

Lama sekali ia tarik napas panjang2, lalu tegurnya dengan suara gemetar: "Siii... siapa... siapa kau ?"

Orang itu tidak menjawab, ia masih saja memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan.

"Siapa ? siapa yang bersembunyi diujung tembok sana ?" Kembali ia membentak keras.

Bentakan tersebut memancing kehadiran Oen Su disana, tampak orang itu berjalan mendekat sembari bertanya: "Siocia, apa yang telah terjadi?"

"Coba kemari, coba kau cepat kemari !"

Oen Su mengiakan, ia segera berjalan mendekati tuannya.

Setelah ada orang lain yang berada disisinya, nyali Sie Soat Ang makin besar, ia segera menuding kedepan dan berkata:

"Coba kau pergi keujung tembok sana dan periksalah teliti barusan aku lihat seperti ada orang tertawa dingin ditempat itu."

Ucapan gadis itu mendatangkan rasa ngeri dalam hati Oen Su, bulu kuduknya pada bangun berdiri, buru2 selanya.

"Mungkin siocia sudah salah mendengar, bukankah barusan siocia suruh kami masuk kedalam ruangan, siapa berani tinggal ditempat luaran?"

"Oen Su!" Bentak Sie Soat Ang penuh kegusaran, "Aku perintahkan kau segera melakukan pemeriksaan kesana, kau berani membangkang atas perintahku?"

Walaupun dalam hati Oen Su merasa sangat ketakutan, namun ia tak berani membangkang perintah siocia nya yang sudah tersohor akan kekejiannya.

"Baik, baik - -" jawabnya kemudian. "Aku kau tidak berkata tak mau kesana, aku hanya bilang tak mungkin ada orang didepan sana." sembari berkata, selangkah demi selangkah ia berjalan kedepan.

Tertawa dingin yang muncul dari balik tembok tadi dapat didengar oleh Sie Soat Ang dengan sangat jelas, ia mengerti dibalik tembok tentu ada sesuatu yang tidak beres, oleh karena itu ketika Oen Su berjalan kedepan, ia pusatkan seluruh perhatiannya untuk mengawasi. Tidak selang beberapa saat kemudian, Oen Su telah tiba diujung tembok kemudian selangkah lagi tubuh lelaki tadi sudah lenyap dibalik kegelapan sekalipun begitu secara lapar2 masih kelihatan ia berdiri disitu.

"Ada orangkah disana ? Ada orangkah disana ?" terdengar ia berseru keras.

Ia mengulangi kembali seruan itu sampai beberapa kali, namun tak kedengaran suara jawaban, akhirnya ia bergumam:

"Aaakh ! kiranya tak ada orang, tak ada."

Belum sampai ucapan itu diutarakan mendadak tampak tubuhnya mundur selangkah kebelakang, kemudian mundur lagi selangkah dengan langkah berat, seakan2 ia sedang merasa amat gusar.

Menjumpai keadaan tersebut Sie Soat Ang jadi marah bercampur mendongkol sebelum ia bertindak sesuatu tubuh Oen Su sudah mundur kehadapannya, ia segera menghardik:

"Hay Oen Su, apa yang sedang kau lakukan ?"

Kena dibentak badan Oen Su berhenti kemudian memperdengarkan jeritan yang aneh sekali.

Jeritan itu mirip sedang menangis tapi bukan suara tangisan. mirip tertawa namun bukan gelak tertawa, atau boleh dikata mirip jeritan kuntilanak ditengah malam buta.

Sementara Sie Soat Ang masih tertegun, tubuh Oen Su mendadak jatuh terjengkang keatas tanah.

Walaupun Si Soat Ang dibikin terperanjat oleh jeritan aneh Oen Su, ia tidak menyangka telah terjadi sesuatu. Ketika melihat tubuh Oen Su jatuh terjengkang kearahnya, ia menganggap lelaki itu mengandung maksud tidak senonoh, ditengah bentakan keras jari tangannya laksana kilat mencengkeram leher orang itu.

Setelah mencengkeram leher orang itu, lengannya bergerak cepat membalikkan tubuh Oen Su sementara tangan kirinya diayun kedepan mengirim sebuah gaplokan.

Tetapi sewaktu tangannya siap mengayun kedepan, mendadak ia menjerit ngeri, cengkeramannya pada leher Oen Su terlepas dan ia mundur empat lima langkah kebelakang.

Ternyata ia sudah menemukan sesuatu yang menyeramkan diatas wajah Oen Su sewaktu tangannya hendak menggaplok pipi orang itu.

Wajah Oen Su sudah hancur berantakan, darah segar mengucur keluar membasahi seluruh badannya, ketika itu panca indranya sudah tak dapat dibedakan lagi, seakan2 dalam waktu sesingkat itu diatas wajahnya sudah ditancapi dengan beratus2 batang paku.

Keadaan tersebut benar2 mengerikan sekali, tidak aneh kalau Sie Soat Ang menjerit keras saking kagetnya.

Ketika ia mengendorkan cengkeramannya tadi, tubuh Oen Su menggeletak keatas tanah dan tak berkutik lagi, jelas sewaktu ia menjerit aneh tadi nyawanya sudah melayang, Sie Soat Ang benar-benar ketakutan setengah mati, ia tak berani berpaling lagi kearah ujung tembok tersebut.

Makin ia tak ingin menengok kesana, sinar matanya selalu beralih ketempat itu, dibalik kegelapan, seakan2 muncul seseorang ditempat itu, namun se-olah2 juga disitu tak ada orang.

Makin dipikir gadis ini makin ketakutan, sehingga tak tahan lagi ia menjerit-jerit. "Hey kalian semua ada dimana ? Ayoh keluar semua, ayoh keluar semua !"

Tiada hentinya ia berteriak walaupun hati terasa takut tetapi teringat sebentar lagi bakal ada orang yang bermunculan rasa takutnya sedikit banyak masih bisa diatasi.

Siapa nyana kendari ia sudah berteriak berulang kali namun tak kedengaran juga suara sahutan, kali ini rasa takutnya memuncak.

Lambat2 ia mundur kebelakang, terus mundur sampai kedepan pintu dan menghembuskan napas lega setelah jari tangannya menempel diatas horden depan pintu,

"Hey, kalian semua sudah tuli? tidak mendengar panggilanku?" makinya dengan penuh kegusaran.

Sembari berteriak ia membuka kain horden dan berkelebat masuk kedalam ruangan, namun sekali lagi ia menjerit lengking.

Dalam ruangan itu terdapat tiga orang. lampu masih memancarkan cahayanya dengan terang benderang, justru karena terangnya suasana maka hancurnya wajah ketiga orang itu dapat terlihat amat jelas.

Kiranya ketiga orang itu sudah lama mati bahkan keadaannya tiada berbeda dengan kematian Oen Su.

Sembari menjerit2 Sie Soat Ang mundur kebelakang, ditengah ketakutan ia cabut keluar pedang pendeknya dan membabat hancur kain horden kemudian menerjang keluar dari ruangan tersebut memasuki ruangan lain.

Ruangan kedua ini berisi tujuh orang lelaki kekar. Namun semakin banyak penghuninya keadaan mati mereka semakin mengerikan membuat bulu kuduk pada bangun berdiri

Berturut2 Sie Soat Ang memasuki empat bilik, enam belas orang tak segelintir manusiapun hidup, semuanya mati dalam keadaan yang tak berbeda.

Sie Soat Ang tidak berani berdiam diri dalam bilik terlalu lama lagi, buru2 ia mengundurkan diri kedalam halaman, Suasana disekeliling tempat itu amat sunyi, sehingga saking sepinya gadis itu dapat menangkap hembusan napasnya yang sangat menusuk telinga,

-ooo0dw0ooo-

BAB 4

HATINYA benar2 ketakutan, seluruh tubuh gemetar keras, walaupun ia tahu ilmu silat kedelapan belas orang itu hanya biasa2 saja, namun dalam sekejap mata, tanpa menimbulkan sedikit suarapun mati berbareng, kejadian ini betul2 sangat mengerikan sehingga susah dilukiskan dengan kata2.

Sie Soat Ang maju beberapa langkah kedepan, pedang pendek ditangannya diobat-abitkan kesana kemari kendari disisinya sama sekali tak ada seorang manusiapun.

Akhirnya ia tiba disisi Liem Hauw Seng beserta Giok Jien, sampai kakinya menyangkut di tubuh gadis tadi, ia baru teringat. Paling sedikit masih ada seorang masih hidup dikolong langit, dia adalah Giok Jien sekalipun orang ini paling dibenci olehnya.

Buru2 ia tundukkan kepalanya, tampak Giok Jien dengan sepasang mata melotot bulat2 sedang memandang kearahnya, sinar mata gadis itu penuh mengandung rasa benci dan mendendam!

Sekalipun sinar matanya mengerikan Soat Ang merasa jauh lebih nyaman dari pada se orang diri menghadapi kesunyian yang diliputi kengerian, delapan belas jiwa lenyap dalam sekejap tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Karena itu ia membebaskan jalan darah dayangnya yang tertotok dan menyapa dengan suara halus:

"Giok Jien..."

Sekali loncat, dayang itu sudah bangun berdiri, ia berdiri tegak di hadapannya dengan wajah penuh rasa dendam.

Sie Soat Ang tertawa getir, segera tegurnya: "Giok Jien, apakah kau... kau melihat sesuatu?"

Maksud Sie Soat Ang, adakah ia melihat sesuatu makhluk aneh yang bisa membinasakan seluruh penjaga pos tersebut dalam sekejap mata, tanpa meninggalkan sedikit suarapun

Lambat2 Giok Jien angkat kepala dan menyahut. "Aku... semua yang terjadi dapat kulihat dengan sangat jelas."

Nada suaranya datar dan berat, namun membawa keseraman yang menimbulkan rasa bergidik dihati orang.

Mendengar ucapan itu, Sie Soat Ang makin terperanjat. "Apa yang kau temukan ? manusiakah dia ? siapakah

orang itu ?" serangkaian pertanyaan meluncur keluar secara bertubi-tubi.

Karena tak dapat menahan rasa ngeri yang mencekam hatinya, tanpa disadari ia sudah mendekati tubuh Giok Jien, maksudnya dengan ambil kesempatan tersebut bisa mengurangi rasa takut dalam hatinya. Siapa sangka, ketika badannya berada didepan Giok Jien, mendadak gadis itu melancarkan sebuah serangan mencengkeram bahunya.

"Kau... kau... !" terdengar Giok Jien berteriak sambil kertak giginya kencang-kencang.

"Kau sudah gila !" Bentak Se Soat Ang dengan rasa kejut bercampur gusar, "Cepat lepaskan diriku, aku sedang bertanya kepadamu, apakah kau menjumpai pembunuh sadis tersebut !"

Sembari berkata ia meronta sekuat tenaga, namun cengkeraman Giok Jien amat kencang, untuk sesaat sulit baginya untuk melepaskan diri.

Sie Soat Ang semakin gelisah, tangannya laksana kilat berkelebat mengirim beberapa kali gaplokan keatas pipinya.

Seluruh wajah Giok Jien sembab bengkak oleh tamparan tersebut, namun ia masih dapat bicara serunya keras2:

"Kaulah orangnya, pembunuh sadis itu adalah kau sendiri, kau membunuh Kan Jie-ya lebih dahulu kemudian membunuh pula engkoh Hauw Seng !".

Sie Soat Ang dibikin kehabisan akal, sepasang telapaknya segera didorong ke depan menghantam dada Giok Jien, Tenaga dorongan tersebut amat besar, seketika membuat badan gadis tersebut mencelat beberapa tombak kebelakang dan jatuh terjengkang.

Bantingan tersebut amat berat sekali, terbukti beberapa kali Giok Jien gagal meronta bangun.

Sie Soat Ang menghembuskan napas panjang, makin dipikir ia merasa makin ngeri. pikirnya:

"Aku tak boleh berdiam terlalu lama disini, lebih baik cepat2 tinggalkan tempat ini, Giok Jien tak dapat kubawa serta, lebih baik sekali hantam cabut selembar jiwanya. Kemudian akan kulaporkan bahwa kematiannya, kematian Kan Tek Lin serta kematian orang2 ini disebabkan seorang manusia misterius Bukan saja aku bisa cuci tangan bersih2, bahkan tak usah memikul resiko pula."

Karena berpikir demikian, tubuhnya segera berkelebat kedepan, sewaktu lewat disisi Liem Hauw Seng melirik sekejappun ia tidak. sebab ia mengira pemuda tersebut pasti sudah menemui ajalnya.

Ia tiba di depan Giok Jien dan tertawa dingin tiada hentinya.

"Giok Jien !" jengeknya sinis, "Aku tak dapat membiarkan kau tetap hidup dikolong langit, setelah sukma mu berada diakhirat jangan salahkan diriku."

Baru saja ia bicara sampai disitu mendadak pundaknya terasa sangat berat seakan2 ada segulung tenaga yang menekan tubuhnya, kemudian diiringi gelak tertawa seram muncul dibelakang.

Suara tertawa dingin itu sangat mengerikan, jaraknya begitu dekat sehingga seakan2 terasa hembusan napasnya.

"Sungguh aneh sekali" terdengar suara yang amat dingin menggema datang dari arah belakang. "Setelah ia mati dan tiba diakhirat, kalau bukan salahkan dirimu harus salahkan siapa ?"

Orang itu pasti berada dibelakangnya, sebab Sie Soat Ang dapat merasakan hembusan napasnya yang dingin sewaktu orang itu berbicara, ia ingin sekali berpaling namun tak ada tenaga barang sedikitpun untuk berbuat demikian, jantung nya berdetak keras.

Entah lewat beberapa saat lamanya, ia baru bertanya dengan suara gemetar. "Si... sii... siapa kau ?"

Orang itu hanya tertawa dingin tiada hentinya, tak terdengar suara jawaban.

Tubuh Sie Soat Ang gemetar keras, walaupun ia melihat Giok Jien masih menggeletak diatas tanah, namun ketika itu ia sedang angkat kepala dan memandang kearahnya, sementara orang itu pun berada dibelakangnya, itu berarti ia dapat melihat manusia misterius itu dengan sangat jelas.

"Giok Jien !" serunya dengan napas terengah-engah. "Siii... siapa... yang berada dibelakangku ?"

"Dia... dia buu... bukan manusia !" jawab Giok Jien sepatah demi sepatah.

Ucapan itu seakan2 segentong air dingin yang membasahi seluruh tubuh Sie Soat Ang, giginya saling beradu sehingga menimbulkan suara gemeretukan yang nyaring.

"Dia... kaaa... kalau bukan manusia...... laaa... luu... lalu siapa ?" serunya lirih.

Pucat pias seluruh wajah Giok Jien, namun raut mukanya sama sekali tidak kelihatan rasa takut, sebab dia berada dalam keadaan seperti ini, tak berharga baginya untuk merasa takut.

"Akupun tak tahu macam apakah dia ?" jawabnya dingin "Aku hanya tahu dia bukan manusia, mungkin hari naasmu sudah tiba, Siocia. takutkah kau..."

Mendengar ucapan itu hati Sie Soat Ang merasa terkejut bercampur gusar, rasa takutnya bisa teratasi beberapa bagian, ia malah sedikit lebih tenang, ia tarik napas dalam- dalam, pikirnya: "Yang berada dibelakangku tentu manusia, kalau bukan manusia mana bisa berbicara ? Giok Jien berkata demikian tentu sedang me-nakut2i diriku, Budak hina itu sungguh menggemaskan !"

Jantungnya masih berdetak keras, namun suara pembicaraannya tidak lagi terputus2 seperti semula.

"Kawan ! aku adalah putrinya Sie Poocu dari Benteng Thian It Poo, siapa anda ?" dia bertanya.

Setelah mengucapkan kata2 hatinya semakin mantap sebab dalam anggapannya tidak banyak manusia yang berani melakukan kesalahan terhadap orang2 Thian It Poo apalagi putri kesayangannya.

Manusia yang berada dibelakang tubuhnya segera tertawa seram.

"Heee... heee... aku sudah tahu, kalau kau bukan putri kesayangan dari Sie Loo-toa, mana bisa membinasakan Kan Loo jie? heee... heee..."

Seluruh tubuh Sie Soat Ang kembali gemetar keras setelah mendengar ucapan itu.

"Bukankah saat ini kau ingin cepat2 kembali kebenteng Thian It Poo?" Terdengar orang itu kembali berkata sembari tertawa dingin, "Baiklah kau boleh berangkat selangkah lebih dahulu aku segera akan menyusul datang."

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, segulung tenaga yang amat besar meluncur keluar menghantam tubuhnya, hal ini membuat Sie Soat Ang tak tahan lagi maju tujuh-delapan langkah kedepan dengan sempoyongan.

Setelah berdiri tegak, ia putar badan dan memandang tajam kearah orang itu. seandainya tidak melihat masih tak mengapa, begitu menengok hampir2 saja ia jatuh tak sadarkan diri.

Yang berdiri diatas salju benar2 bukan manusia tetapi makhluk aneh yang berwarna putih dan penuh dengan bulu.

Jikalau dikatakan orang itu mengenakan mantel bulu, tidak mungkin kalau keadaannya begitu menakutkan.

Dengan hati kebat kebit selangkah demi selangkah Sie Soat Ang mundur ke belakang, setelah bersusah payah ia tiba juga diujung tembok, sembari menjerit tajam ia lari kedepan.

Gadis ini tidak berani menunggang kuda lagi, dengan ter- birit2 ia lari tiada tujuan.

Dalam sekejap mata enam, tujuh li sudah dilewati tanpa terasa.

Selama ini ia sendiri tak tahu apa yang telah dilakukan, menanti terdengar gonggongan anjing dari tempat kejauhan, kesadaran Sie Soat Ang baru pulih kembali seperti sedia kala, ia pun memperlambat larinya.

Dari arah depan muncul sebuah kereta salju., orang yang ada diatas kereta salju bukan lain adalah lelaki yang dikirim kembali ke benteng Thian It Poo untuk meminta obat. Melihat ditempat itu muncul seseorang, Sie Soat Ang jadi kegirangan, ia segera lari menyambut kedatangan kereta tersebut.

Dalam sekejap mata kereta sudah berhenti dan dua orang manusia meloncat turun dari atas kereta. mereka menghampiri gadis tersebut. sembari memayang tanyanya berulang kali:

"Apa yang telah terjadi? apa yang telah terjadi?" Perlahan-lahan Sie Soat Ang dapat tenangkan kembali pikirannya, ia mengenali kedua orang itu bukan lain adalah Sia To Hwie Hauw. dua bersaudara she Tang.

Sin To Hwi Hauw atau Golok Sakti Harimau terbang merupakan jago lihay dalam benteng Thian it Poo, menjumpai mereka berdua bagi Sie Soat Ang sama halnya telah minum obat penenang, buru2 serunya:

"Sungguh bagus sekali kedatangan kalian, Aaah... sungguh mengerikan... sungguh mengerikan..."

Melihat wajah Sie Soat Ang begitu gugup, ketakutan dan pucat, Sigolok sakti harimau terbang berduapun diam2 tercekat segera ujarnya berbareng: "Pocu merasa tidak lega hati, biarkan kau keluar benteng seorang diri, beliau sengaja kirim kami datang menjemput dirimu, apa sebenarnya yang telah terjadi?"

"Sungguh mengerikan, sungguh mengejutkan!" Kata gadis itu sambil menghembuskan napas berulang kali. "Bayangan manusiapun tidak kelihatan, Oen Su sekalian dua puluh orang yang berada dibenteng sebelah depan mati terbunuh."

Sewaktu melihat wajah Sie Soat Ang pucat, Sigolok sakti Harimau terbang sudah tahu peristiwa yang menyeramkan.

"Aaaah ! sudah terjadi peristiwa semacam ini?"

Biji mata Sie Soat Ang berputar, ia mengerti inilah kesempatan paling bagus baginya untuk melepaskan diri dari pertanggungan jawab atas kematian Kan Tek Lin, oleh karena itu segera ujarnya kembali: "Buat apa aku membohongi kalian, bahkan paman Kan Jie siok pun menemui ajalnya ditangan manusia misterius tersebut !"

Ketika Sie Soat Ang melaporkan Oen Su dua puluh orang menemui ajalnya ditangan orang lain, walaupun si Golok sakti Harimau Terbang merasa terkesiap namun masih tidak seberapa.

Lain halnya setelah mendengar kabar bahwasanya Kan Tek Lin pun ikut menemui ajalnya, Mereka berdua sadar ilmu silat yang dimiliki masih kalah jauh dari Kan Tek Lin, manusia selihay itupun menemui ajalnya, apa lagi mereka berdua ?

Kontan dua bersaudara she Tang ini bungkam dalam seribu bahasa.

Tentu saja Sie Soat Ang tahu apa sebabnya kedua orang jago lihay ini ketakutan, sembari depakkan kaki keatas tanah ia memaki dengan hati mendelu: "Konyol, berengsek, nyali kalian sungguh kecil ! masa dengan akupun tidak memadahi... berengsek !"

Sepasang mata Golok sakti Harimau Terbang berputar kesana kemari memeriksa keadaan disekelilingnya, setelah yakin disekitar sana tak ada orang mereka baru menghembuskan napas lega.

"Siocia!" ujarnya berbareng, "Bahkan Kan Jie-ya pun sudah kehilangan nyawanya, sekalipun kami kesanapun percuma saja, kau anggap jiwa kami boleh dibuat geguyonan?"

"Aaah benar, maka dari itu aku ketakutan sekali, untung sekali telah berjumpa dengan kalian, aku... perlukah kita menuju kesana untuk melihat apakah orang itu sudah pergi atau belum?"

"Tidak perlu, tidak perlu." buru2 Golok sakti harimau terbang goyangkan tangannya berulang kali, "Dari luar sudah kedatangan musuh tangguh, kita harus cepat2 kembali kebenteng dan laporkan peristiwa ini kepada Poocu kita." Sie Soat Ang dapat melihat kalau mereka ber duapun sudah dibikin ketakutan setengah mati, segera ujarnya kembali: "Aaaai..! hanya sekali saja aku melihat manusia, hampir2 saja jatuh tidak sadarkan diri, dia... boleh dikata tidak mirip manusia, seluruh tubuhnya putih berbulu, jenasah paman Kan Jiesiok masih berada disana, walaupun kematiannya sangat mengerikan. seharusnya kita bawa pulang jenasahnya dan di kubur dalam benteng Thia It-poo secara kebesaran."

Pada saat ini, seumpama golok Sakti Hari mau Terbang suruh Sie Soat Ang kembali kesana sekali lagi, sekalipun penggal leher gadis itu tak bakal sudi menuruti kemauan mereka.

Namun gadis yang cantik dan licik ini sudah dapat menembusi dahulu rahasia kedua orang itu, karenanya ia berbicara lebih dahulu, Dengan demikian seumpama lain hari jenasah Kan Tek Lin tidak dijumpai berada disana, iapun bisa cuci tangan dari segala tanggung jawab.

Sedikitpun tidak salah, Golok Sakti Harimau Terbang gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak usah kesana. tidak usah kesana, lebih baik kita kembali dulu kebenteng untuk melaporkan kejadian ini kepada pocu."

Tanpa banyak bicara lagi, kedua orang itu memayang Sie Soat Ang keatas kereta dan menjalankan kereta tersebut kembali kebenteng.

Semakin lama mereka meninggalkan tempat itu. hati Sie Soat Ang semakin mantap akhirnya dari tempat kejauhan dapat terlihat cahaya lampu yang memancar keluar dari dalam benteng Thian It Poo, kemudian beberapa saat lagi kereta mereka sudah berada didepan pintu. "Siocia telah kembali cepat buka pintu." Teriak GoIok Sakti sepasang Harimau dengan suara keras.

Pintu benteng terbuka, kereta salju segera menerjang masuk kedalam benteng dan langsung menuju keruang tengah, Seakan2 baru saja selamat dari lubang jarum, Siu To Siang Hauw berteriak-teriak keras: "Aduuuh poocu, celaka, celaka, sudah terjadi peristiwa, sudah terjadi peristiwa !"

Teriakan mereka berdua segera memancing perhatian puluhan orang banyaknya, mereka pada berkumpul dan bertanya apa yang sudah terjadi, suasana jadi sangat gaduh.

Tetap Sio To Siang Hiuw sendiripun tidak tahu peristiwa apa yang sebenarnya telah terjadi, karena itu mereka hanya berkata: "Kan Jie-ya mati terbunuh, Oen Su sekalian dua puluh orang pun mati dibunuh orang !"

Suasana kontan jadi gempar, para jago terkesiap dan suara gaduh memenuhi angkasa, mengikuti dibelakang Sin To Siang Hauw serta Sie Soat Ang tiga orang, mereka ber- sama2 menuju ketempat kediaman Poocu.

Selama ini Sie Soat Ang berjalan ke dalam ruangan dengan wajah hijau membesi, sepatah katapun tak diutarakan menanti ayahnya Sie Liong munculkan diri ia baru berseru dan menangis tersedu: "Tia !" Kontan ia menubruk kedalam pelukan ayahnya.

Sebelum Sie Liong munculkan diri tadi, ia sudah mendengar suara gaduh yang mengatakan Kan Jie-ya telah menemui ajalnya, ia tahu Kan Tek Lin pergi ber sama2 putrinya, kini Kan Tek Lin menemui ajalnya, dan berarti putrinya pun terancam mara bahaya.

Oleh sebab itulah sewaktu ia berjalan keluar, hatinya se akan2 tergantung diatas awang2. Menanti ia munculkan diri dan menjumpai putri nya Sie Soat Ang berada dalam keadaan sehat walafiat ia baru menghembuskan napas lega dan buru2 memayang putrinya sembari bertanya: "Sebenarnya apa yang telah terjadi ? siapa yang berani cari gara2 dengan benteng Thian It Poo kita ?"

"Aku sendiripun tidak tahu" jawab Soat Ang sambil menangis tersedu2. "Aku serta paman Kan Jie-siok berhasil menemukan kembali engkoh Hauw Seng terluka parah karena teringat Oen Su ada disekitar sana maka aku membawa dirinya kesana dan segera kirim orang untuk mengambil obat."

"Benar, soal ini aku sudah tahu." Sie Liong mengangguk. "Karena tidak berlega hati maka aku kirim dua bersaudara she Thang untuk membawa obat tersebut.”

Sie Soat Ang menangis semakin menjadi, ujarnya- kembali:

"Siapa sangka engkoh Hauw Seng telah bersekongkol dengan seorang tokoh lihay dari aliran sesat, dalam sekejap mata semua orang sudah terbunuh tinggal aku seorang diri."

Walau pun Sie Long terkejut, namun bagaimanapun juga dia adalah seorang tokoh kenamaan dalam dunia persilatan, hatinya segera tertegun dibuatnya, "sebenarnya apa yang telah terjadi? secara bagaimana semua orang bisa mati dalam sekejap mata?" ia bertanya.

Sejak semula Sie Soat Ang sudah mempersiapkan jawabannya, ia segera berkata "Ketika itu aku menemani engkoh Hauw Seng berada dalam ruangan mendadak terdengar paman Kan Jie-siok berteriak aneh diluar bilik, aku tertegun kemudian buru2 lari keluar, tampak paman Kan Jie-siok telah menggeletak mati ditanah sangat mengerikan sekali." Sekalipun Sie Soat Ang sedang berbohong, namun ada separuh bagian merupakan kisah nyata ketika mendengar Sie Liong bertanya mengenai kematian orang itu, gadis she Sie ini segera teringat kembali peristiwa yang baru saja terjadi di depan mata.

Setelah bersin beberapa kali ia menjawab:

"Mereka mati dalam keadaan sadis... wajah mereka hancur berantakan dan penuh berlepotan darah !"

Begitu ia menjelaskan bagaimanakah ngerinya kematian orang2 itu, para jago yang hadir di-sana pada bergidik.

Air muka Sie poocu berubah hebat, rasa kagetnya bukan alang kepalang, dengan cepat ia angkat kepala dan berseru:

"Yu heng !"

Dari antara para jago muncul seorang kakek yang kurus kering, namun dengan cepat ia mundur kebelakang berulang kali seraya menjura.

"Poocu, terima kasih atas perhatian serta pelayananmu selama beberapa hari ini, aku orang she Yu ingin mohon diri !"

Sudah banyak tahun kakek kurus kering ini berada dalam benteng Thian It Poo, semua orang kenal dengan dirinya, Berhubung Sie Poo cu sangat menghormati dirinya maka semua orangpun amat sungkan terhadapnya.

Sebaliknya kakek kurus ini pada hari2 biasa tak suka menyapa orang karena itu semua orang hanya tahu dia she Yu dan seorang manusia aneh.

Tetapi pada saat ini, semua orang melihat Poo cu mereka tidak menyapa orang lain justru hanya memanggil dia seorang dan melihat ia segera mohon diri, semua orang jadi tertegun dan tidak tahu apa sebabnya. Mendengar kakek kurus kering itu hendak mohon diri, Sie Poocu amat gelisah, sekali loncat ia hadang jalan perginya.

"Yu-heng, kau pernah berkata, seandainya aku menjumpai mara bahaya maka kau akan membantu diriku dengan segenap tenaga, mengapa sekarang malah hendak pergi?" serunya.

Dengan cepat sikakek kurus kering itu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Sie Poocu, aku memang pernah berkata demikian, namun dalam menghadapi masalah ini aku tidak sanggup mengatasinya, kalau tidak pergi apa yang hendak kunantikan lagi ?"

"Yu heng. apakah kau benar2..."

"Banyak bicarapun tak berguna" Dengan cepat kakek kurus itu menukas kata2nya "Lebih baik kau tak usah mengungkap soal ini lagi !"

Selesai bicara ia putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Melihat kakek itu mau berlalu, seorang lelaki kasar yang tinggi besar bagaikan pagoda munculkan diri menghadang jalan perginya, sambil menuding wajah kakek tersebut tegurnya:

"Hey sudah banyak tahun kau tinggal dalam benteng, kini dalam benteng Thian It Poo terjadi peristiwa, bukannya membantu kau malah melarikan diri, akan kuhajar kau anjing busuk !"

Sebuah pukulan yang maha dahsyat segera dikeluarkan menghantam tubuh kakek itu. "Sun Cuang-su, jangan !" buru2 Sie Liong berteriak mencegah.

Namun serangan lelaki itu terlalu cepat, telapaknya sudah diayunkan kedepan, pada saat itu pula mendadak sikakek kurus mengeluarkan kelima jari tangannya yang kurus mencengkeram lengan lelaki tersebut.

Kelihatan sekali.. kendati cengkeramannya mengenai sasaran asalkan lelaki itu getarkan tangannya niscaya cekalan tersebut akan terlepas.

Sementara itu para jago jadi puas dan kegirangan dengan tindakan itu.

Siapa sangka lima jari kurus dari kakek itu benar2 luar biasa melebihi jepitan besi, urat nadinya begitu terpegang, lelaki itu mendadak menjerit aneh diikuti lengan kakek tadi bergerak cepat "Kraak!"

Sebuah lengan lelaki itu putus jadi dua.

Perubahan tersebut boleh dikata terjadi sangat mendadak, semua orang hanya bisa saling bertukar pandangan dengan mulut melongo.

"Yu-heng, harap menaruh belas kasihan kepadanya !" buru2 Sie Poocu berteriak.

Setelah Sie Poocu mohonkan ampun, kakek kurus itu mengendorkan cekalannya dan memaki sambil menuding lelaki kekar tersebut: "Seandai nya Poocu kalian tidak mohonkan ampun, akan kutarik lenganmu sampai hancur

!"

"Cepat mundur kebelakang." kembali Sie Poocu membentak. "Siapa yang berani kurang ajar lagi terhadap Yu-heng? bagi sahabat keluarga Sie kami boleh pergi atau datang semaunya, siapapun dilarang menghalangi niat tamu2 kami."

Dalam pada itu setelah memaki lelaki tadi dengan beberapa patah kata kakek Kurus itu putar badan kembali dan buru2 berlalu.

Dengan cepat Sie Poocu maju mengejar sembari berseru: "Yu-heng, harap tunggu sebentar."

Kakek kurus itu tak menggubris, badannya berkelebat cepat keluar, sembari melayang pergi teriaknya: "Bukankah kau sudah berkata sendiri, bagi sahabat2 keluarga Sie boleh pergi datang sesuka hati ?"

Dalam sekejap mata bayangan orang itu sudah lenyap tak berbekas.

"Yu-heng !" teriak Sie Liong cemas. "Mau pergi silahkan pergi, tetapi sepantasnya kalau kau memberi petunjuk dulu kepadaku !"

Begitu ucapan ini diutarakan keluar, semua orang makin tertegun dibuatnya. Dalam pandangan mereka poocu benteng Thian It Poo adalah seorang jago lihay kelas satu dalam Bu-lim seorang tokoh silat tanpa tandingan dikolong langit dewasa ini.

Tetapi sekarang, setelah kakek kurus itu lenyap tak berbekas, wajahnya berubah pucat pasi bagaikan mayat, dengan sikap gugup mohon bantuan orang lain, kemana perginya kegagahan, keangkeran serta kewibawaan seorang ketua Benteng?..

Beberapa jago tak dapat menahan diri. mereka segera berseru: "Poocu, tentara datang kita hadapi dengan panglima, air bah datang kita tahan dengan tanah kita..." Belum selesai jago2 itu berbicara terdengar suara dari kakek kurus itu berkumandang, datang dari tempat kejauhan, begitu suara itu bergema Sie Liong segera ulapkan tangannya sembari membentak:

"Tutup mulut, dengarkan apa yang diucapkan" Bersamaan itu pula muncul harapan dalam wajah Sie Liong, jelas ia ingin memperoleh petunjuk dari kakek kurus itu. Terdengar suara dari kakek kurus tadi berkumandang datang dari tempat kejauhan:

"Sie Poocu, setelah menerima pelayananmu selama banyak tahun, aku tak bisa tidak harus memberi petunjuk kepadamu, setelah kau mengajukan keinginan tersebut. Aku nasehati dirimu lebih baik cepat2 benahi barang yang penting kemudian bawa sanak keluargamu melarikan diri dari sini, makin jauh kau pergi makin baik."

Suara yang berkumandang datang itu makin lama semasa lirih dan semakin rendah, jelas sembari mengirim suara kakek itu meneruskan larinya kedepan, sehingga ketika mengucapkan kata2 penghabisan suaranya amat lirih sekali.

Air muka Sie Poocu yang pada mulanya penuh dengan harapan kini berubah jadi sangat kecewa, badannya tanpa terasa mundur beberapa langkah kebelakang sehingga menempel diatas dinding, lama sekali ia baru angkat kepala dan memandang sekejap kearah beberapa orang itu.

Para jago yang berada disekeliling Sie Poocu tak mengeluarkan sedikit suarapun, menanti ia sudah angkat kepala suasana baru gaduh.

Terdengar Sie Soat Ang mendengus dingin dan berkata. "Siapa sih kakek tua yang barusan melarikan diri itu ? ia

hanya biasanya makan minum gratis ditempat kita, buat apa kita dengarkan omongannya ? dalam benteng Thian It Poo kita masih terdapat banyak jago. Seandainya melarikan diri, Hmm ! bisa2 ditertawakan orang !"

Walaupun Sie Soat Ang dibikin ketakutan setengah mati sewaktu menghadapi peristiwa tersebut, namun setelah ia berada dalam Benteng Thian It Poo, nyalinya jadi makin besar.

"Poocu !" ada orang berteriak, "Perduli siapa pun yang sudah datang, masa dengan jumlah kita orang yang begitu banyak tak sanggup menghadapinya.."

"Poocu !" ada pula yang berseru, "Kakek tua itu sengaja memperkecil semangat kita, mungkin dia adalah mata2 yang sengaja dikirim kedalam benteng kita sebagai mata2 !"

"Stttt... jangan bicara sembarangan." Tukas Sie Liong dengan badan lemas. "Dia..."

"Aku lihat dia bukan seorang manusia baik !" Sambung Sie Soat Ang dengan hati cemas.

"Aaaai... sewaktu ia datang kemari, sama sekali tidak memperkenalkan diri, ia hanya mengaku she Yu, akupun tidak tahu apa maksudnya mendatangi benteng Thian It Poo kita, namun di tinjau dari keadaannya tidak mungkin membawa maksud jahat oleh karena itu selama ini akupun tidak pernah mengungkapkan soal asal usulnya."

Berbicara sampai disini Sie Liong merandek sejenak dan menyapu sekejap kearah para jago, kemudian lambat2 ujarnya lebih jauh:

"Namun. tidak lama setelah ia tiba aku sudah tahu kalau dia bukan lain adalah salah seorang dari Tionggoan Su Koay yang tersohor itu." Baru saja Sie Liong mengucapkan kata2 itu air muka beberapa orang jago yang hadir disana sudah berubah hebat, tanpa sadar mereka sama2 berseru.

"Si Koay Chiu atau Manusia Bertangan aneh Yu Put Ming!"

Air muka Se Liong makin memberat, ia mengangguk tiada hentinya.

"Benarlah, dia oranglah sebenarnya."

Seketika timbul kegaduhan diantara para jago yang hadir disana, tidak lama kemudian muncul empat lima orang berkata sambil tertawa.

"Sie Poocu, Terima kasih atas sanjungan Poo-cu selama ini sehingga kami memperoleh makan dan tempat tidur dalam benteng Thian It Poo ini, namun... kini... kini, sampai si manusia bertangan aneh Yu Put Ming yang demikian lihaynya pun tidak Heee... heee... kami... kami..."

Kembali Sie Liong menghela napas panjang.

"Aaaai, kalian tak usah berbicara lebih lanjut aku sudah tahu! barang siapa diantara kalian tidak ingin tinggal didalam benteng Thian It Poo lagi, silahkan segera meninggalkan tempat ini, aku tidak akan menghalangi niat kalian?"

Bagaikan mendapat pertolongan saja, sinar kegirangan terpancar keluar dari wajah mereka.

Pada mulanya ada beratus2, orang jago yang berkerubung disekitar Sie Liong, sikap mereka se-olah2 begitu jantan dan tidak takut menghadapi musuh sebagai tangguhpun.

Tetapi kini, setelah semua orang tahu sikakek kurus kering yang baru saja melarikan diri bukan lain adalah simanusia bertangan aneh Yu Pit Ming salah seorang dari Tionggoan Su Koay yang amat tersohor itu, air muka mereka baru berobah hebat.

Nama besar Yu Pit Ming sudah tersohor dimana2, wataknya kukoay dan ilmu silatnya sangat lihay, bahkan boleh dikata sulit menemui tandingan dikolong langit dewasa ini. Namun kini setelah mendengar dalam benteng Thian It Poo terjadi peristiwa, untuk melarikan diripun orang she-Yu itu takut tidak dapat, hal ini bisa dibayangkan betapa luar biasanya musuh tangguh yang menyerang.

Semua orang sadar, bahwa ilmu silat mereka tak dapat menandingi ilmu silat Yu Pit Ming, apalagi orang she-Yu itupun sudah jauh sebelumnya melarikan diri ter birit2.

Hanya saja untuk sementara waktu mereka tidak enak untuk mohon diri, kendari pikiran untuk melarikan diri sudah memenuhi benak mereka.

Lain halnya setelah Sie Liong mengucapkan kata2 itu, suasana jadi gempar, kontan para jago membubarkan diri dan melarikan diri ter-birit2, ada diantara berwajah baik, masih mengucapkan terima kasih, tetapi sebagian besar membungkam, seakan2 mengucapkan sepatah dua patah kata hanya akan menghalangi jalan pergi mereka saja.

Melihat para jago membubarkan diri, Sie Soat Ang jadi sangat mendongkol sampai badannya gemetar keras, sesaat suasana dalam seluruh benteng Thian It Poo jadi gempar, ringkik kuda gonggongan anjing bergema gegap gempita.

Namun suasana kacau seperti itu tidak berlangsung lama, sebentar kemudian semuanya sudah berubah tenang kembali.

Setelah semuanya berubah hening, Benteng Thian It Poo jadi kelihatan lebih mengerikan, tak kedengaran sedikit suarapun menggema kecuali hembusan angin yang menambahkan keseraman suasana disekitar sana.

Sebenarnya Sie Soat Ang sedang gusar sampai badannya gemetar, namun sekarang badannya masih gemetar hanya badannya saat ini rasa takut jauh lebih banyak dari rasa gusar.

Lambat2 Sie Soat Ang putar badan memandang kearah ayahnya, tampak orang tua itu masih berdiri disana tak berkutik, segera tegurnya sambil mendepakkan kakinya keatas tanah.

"Ayah ...!" seluruh tubuh Sie Liong gemetar keras, dengan cepat ia berpaling.

"Soat Ang, mengapa kau masih juga berdiri disana? mengapa kau tidak ikut berlalu?"

Belum pernah gadis she Sie ini melihat ayahnya kebingungan seperti ini, haru hampir2 saja ia menangis tersedu, namun dasar wataknya yang keras hati ia berusaha menahan diri.

"Tia, bagaimana dengan kau? apakah kau tidak ikut pergi?" balik tegurnya pula.

"Aaaah benar, akupun harus pergi." Seru Sie Liong dengan napas ter-engah2, bagaikan baru saja sadar dari impian. "Kita... berangkat bersama, Soat Ang, Apakah mereka... mereka semua sudah pergi?"

Hampir saja tangisannya meledak tetapi gadis ini masih mempertahankan diri.

"Benar!" jawabnya lirih. "Mereka semua telah..." Sebelum kata "Pergi" diutarakan, ia berdiri tertegun.

Sebab dugaannya meleset, tidak benar kalau dikatakan semua orang telah melarikan diri. Sebab diujung tembok masih tertinggal satu orang, dia berjongkok ditanah dan kebetulan berada ditempat kegelapan sehingga kalau tidak di perhatikan sukar untuk menemukan orang itu.

"Tia, masih ada yang belum pergi, disini masih ada satu orang yang tidak ikut melarikan diri."

Sie Liong tertegun, jelas peristiwa ini berada diluar dugaannya, dengan cepat ia berpaling ke arah mana yang dituding oleh Sie Soat Ang.

Dalam pada itu orang yang berjongkok ditanah lambat2 bangun berdiri.

Gerakannya amat lambat dan kelihatan aneh sekali, mendatangkan sesuatu perasaan ngeri buat yang melihat.

"Siapa ?" Tegur Sie Liong setelah menarik napas panjang.

Orang itu mempunyai perawakan tinggi lagi kurus, namun bayangannya serasa dikenal, bukan seorang asing, melihat hal tersebut sedikit banyak Sie Poocu rada berlega hati juga.

"Sie Poocu, aku !" jawab orang itu lirih.

Suara orang itu lemah tak bertenaga, namun terasa sangat dikenal, hanya saja Sie Liong belum teringat kembali siapakah dia.

Dalam pada itu Sie Poocu sudah putus asa, seandainya orang yang masih tertinggal disana adalah seorang jago lihay sebangsa si manusia bertangan aneh Yu Put Ming, semangatnya tentu akan bangkit kembali, ia pasti akan bulatkan tekad untuk mempertahankan benteng Thian It Poo mati2an. Lain halnya setelah ia mendengar suara, itu lemah tak bertenaga, jelas seorang prajurit tanpa nama yang-tidak berguna.

Ia lantas tertawa getir dan menghela napas panjang, katanya:

"Sobat, bencana besar akan menimpa benteng Thian It Poo, semua orang akan melarikan diri..."

Teringat jerih payahnya selama ini hancur berantakan, rasa pedih memenuhi benak pocu dari benteng Thian It Poo ini, setelah merandek sesaat ia baru bicara lebih jauh:

"Sahabat kau tidak pergi, apa yang kau nantikan lagi?" Dengan tidak bertenaga orang itu tertawa, sambil tertawa selangkah demi selangkah maju mendekat, menanti ia sudah keluar dari tempat kegelapan wajahnyapun dapat kelihatan amat jelas.

Orang itu berusia tiga puluh tahunan, wajahnya pucat pias dan kurus, pakaiannya warna abu2 sudah tua sehingga kelihatan begitu rudin beda dengan kementerengan para jago lainnya.

Orang itu berhenti kurang lebih enam tujuh depa di hadapan Sie Liong, karena tidak kenal dengan orang itu Sie Liong lantas menjura.

"Harap saudara suka memberi maaf kalau cayhe tidak kenal siapakah anda..."

"Nama kecilku tiada berharga diutarakan." jawab orang itu hambar.

Karena pikiran Sie Liong saat ini lagi kacau, mendengar orang itu tak mau mengutarakan nama nya. ia pun tidak mendesak lebih jauh, hanya ujarnya: "Tiada berguna anda masih tetap tinggal dibenteng Thian It Poo, semua orang telah pergi !"

Kembali orang itu tertawa hambar.

"Sie Poocu, orang lain pergi itu urusan orang lain. Poocu telah melepaskan budi kepadaku, sekarang benteng Thian It Poo sedang menghadapi mara bahaya, tidak sanggup bagiku untuk melarikan diri dalam keadaan seperti ini."

Walaupun suaranya lemah tak bersemangat namun apa yang diucapkan sangat gagah, membuat Sie Soat Ang tak kuasa berseru memuji:

"Kau benar2 seorang lelaki jantan !"

Agaknya orang itu sangat gembira, ia berpaling kearah Sie Soat Ang dan mengangguk,

"Terima kasih atas pujian siocia, sepanjang hidup tak akan kulupakan kata2 pujian itu !"

Ketika Sie Soat Ang berpaling tadi, kebetulan orang itupun sedang berpaling pula kearah-nya, empat mata bertemu jadi satu menimbulkan debaran keras dalam hati gadis tersebut. Dalam pada itu Sie Liong dibikin kebingungan setengah mati oleh ucapan orang itu, sambil mengetuk kening sendiri ia bertanya.

"Saudara, apa yang kau ucapkan kenapa tak kuingat kembali akan persoalan ini."

"Sie Pocu, masih ingatkah pada setengah tahun berselang ada serombongan pedagang kulit yang lewat disini dan menitipkan seorang manusia yang hampir sekarat kepada diri Pocu?"

"Aaah...!" Sie Pocu berseru tertahan, sekarang ia sudah teringat kembali. Sedikitpun tidak salah, setengah tahun berselang memang benar ada serombongan pedagang kulit yang mampir dalam benteng mereka sewaktu hendak masuk ke Tionggoan.

Bagi benteng Thian It Poo kejadian itu merupakan suatu kejadian lumrah, sebab Sie Poocu mempunyai hubungan yang erat dengan para pedagang itu.

Tetapi, suatu kali pedagang itu bukan saja memberi beberapa hadiah kepadanya bahkan masih menitipkan pula seorang lelaki yang hampir sekarat.

Menurut pedagang2 itu, mereka temukan orang ini menggeletak ditengah jalan dengan badan berlepotan darah, napasnya tinggal satu dan hanya tunggu ajalnya.

Mereka tahu kalau orang ini tiada harapan, namun teringat bahwasanya menolong selembar jiwa menangkan berbuat kebajikan apapun, lagi pula tidak jauh dari benteng Thian It Poo maka mereka bawa serta orang itu kedalam benteng.

Ketika itu Sie Poocu hanya memandang sekejap kearahnya, melihat air muka sudah berubah pucat pasi bagaikan mayat, napas sudah tinggal satu2nya, ia lantas suruh seorang Tabib dalam benteng untuk mengurusinya, bagian manakah yang menderita luka tak pernah diperiksa sendiri.

Kemudian dalam anggapan Sie Liong orang itu sudah mati, Tak disangka bukan manusia ia masih hidup bahkan dia pula satu2nya manusia yang masih tetap tinggal dalam Benteng disaat Thian It Poo menjumpai bencana.

Timbul perasaan terharu dan rasa terima kasih dalam hati Sie Poocu, serunya: "Oooow..! kiranya anda bukan lain adalah orang yang terluka pada setengah tahun berselang, yang menyelamatkan anda bukan aku tapi rombongan pedagang itu, seharusnya kau ucapkan terima kasih kepada mereka."

"Memang benar, kalau bukan ditolong rombongan pedagang itu cayhe sudah menemui ajal-nya," jawab orang itu lambat2 "Namun setelah tiba dibenteng, kalau Poocu tak sudi menerima diriku, bukankah selembar jiwaku tetap akan melayang?"

"Hal ini tidak terhitung seberapa, sekarang tahukah anda bahwa benteng Thian It Poo kita sudah kedatangan seorang musuh tangguh?"

"Poocu, sekalipun terhitung aku benar2 tidak tahu, melihat bagaimana Yu Thayhiap melarikan diri dengan terbirit aku bisa menduganya separuh. Apalagi aku sudah lama tahu hal ini."

"Lalu, mengapa kau tidak pergi." Tanya Sie Liong sambil tertawa getir.

"Tentu saja aku tidak pergi apakah Yu Pit Ming sudah pergi lantas akupun harus ikut pergi."

Walaupun Sie Liong amat berterima kasih atas kesediaan pemuda itu berkorban namun iapun merasa tidak sabaran, sembari hela napas panjang katanya: "Aku orang she Sie mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan anda berkorban namun Thian It Poo.. Aai! aku sudah ambil keputusan untuk menuruti nasehat dari Yu Put Ming dan terbang jauh keangkasa, apa gunanya anda tetap tinggal disini?"

Mendengar ayahnya mau melarikan diri. Sie Soat Ang jadi kaget dan segera berteriak:

"Tia, benarkah kita hendak melarikan diri ?" Lambat2 Sie Liong berpaling memandang benteng Thian It Poo yang megah dan mentereng, kesemuanya ini dibangun dengan jerih payahnya selama puluhan tahun, kini kebanggaan tersebut harus dilepaskan begitu saja, hatinya terasa amat pedih...

"Kita masih ada cara apa lagi ?" Tanyanya dengan suara pedih.

"Tia, sebenarnya siapakah pembunuh sadis itu ?" tanya Sie Soat Ang dengan nada tidak puas.

Air muka Sie Liong pucat pasi bagaikan mayat, mulutnya tetap bungkam dalam seribu bahasa.

"Sie Poocu" ujar pemuda itu kembali, "Kau ingin melarikan, tapi pernahkah kau berpikir, bisa berhasilkah kau melarikan diri dari sini ? sekalipun kau bisa lari, tentu tak punya muka untuk menghadapi orang lagi, kau harus menghabiskan sisa hidupmu ditengah pegunungan yang sunyi, walaupun nyawamu masih hidup namun penderitaanmu lebih hebat daripada mati."

Ucapan sang pemuda itu membuat tubuh Sie Liong gemetar keras.

"Lalu bagaimana menurut pendapat anda ?" tanyanya.

Bukan saja pemuda itu berbadan kurus, bicara tak bertenaga, bahkan ia datang kebenteng Thian It Poo dalam keadaan setengah hidup setengah mati, selamanya Sie Liong tak pernah memandang sebelah matapun terhadap dirinya.

Tetapi sekarang, setelah pikirannya kabur, tanpa terasa ia sudah mohon petunjuk dan pemuda tersebut.

"Tidak pergi, kita hadapi serangan musuh disini !" jawab pemuda itu sepatah demi sepatah. Sie Liong tertawa getir, ia tidak berbicara.

"Seandainya kita menang dalam pertarungan ini, maka nama besar Thian It Poo akan tersohor di empat samudra" ujar pemuda itu lebih jauh.

"Nama Thian It Poo sudah tersohor diempat penjuru !" buru2 Sie Soat Ang menimbrung.

"Nona Sie !" pemuda itu segera tertawa dingin . "Ucapan tersebut hanya bisa diucapkan dalam benteng Thian It Poo sendiri, seumpama kau menganggap nama besar Thian It Poo sudah tersohor diempat penjuru, nanti setelah kau berada dalam Bu-lim akan kau rasakan betapa sulitnya berkelana di dunia yang luas !"

Sama halnya Sie Liong, gadis She Sie inipun tidak pandang sebelah matapun terhadap pemuda tersebut, mendengar pemuda itu menasehati dirinya dengan kata2 itu, ia jadi naik pitam.

"Kau berani pandang rendah benteng Thian It Poo kami

?" teriaknya.

"Sekalipun aku ingin pandang tinggi Thian It Poo juga tak bisa jadi" jawab sang pemuda sambil angkat bahu. "Coba kau lihat begitu ada musuh tangguh hendak menyerang datang, sebelum bayangan musuh muncul para jago dalam benteng sudah pada melarikan diri, pada dasarnya orang2 itu memang kejadian kecil yang tidak becus, kita tak usah bicarakan soal mereka lagi tapi bahkan Sie Poocu sendiripun hendak melarikan diri, coba suruh aku secara bagaimana sudi memandang tinggi Benteng Thian It Poo kalian."

Ucapan ini membuat hawa amarah dalam hati Sie Soat Ang makin berkobar, tetapi berhubung apa yang diucapkan ini, suatu kenyataan, maka ia tak dapat membantah. "Maksud anda sudah kupahami" Terdengar Sie Liong angkat bicara, "Namun aku sadar bahwa aku bukan tandingan orang itu !"

"Benar. tentu saja kau bukan tandingan dari orang !" pemuda tersebut manggut2 membenarkan.

"Hemm ! apakah kau adalah tandingannya ?" jengek Sie Soat Ang sambil mendengus. "Hmm ! sungguh tak tahu malu, pintarnya cuma bicara kosong, siapa yang kesudian ngomong dengan kau?"

Dengan sepasang mata yang tajam pemuda itu melototi diri Sie Soat Ang, sementara gadis itu pun balas meloloti sang pemuda dengan sinar mata ber-api2.

Lama sekali, pemuda itu baru berkata : "Aku ? tentu saja akupun bukan tandingan orang itu, bahkan sekalipun aku turun tangan ber sama2 Sie Poocu pun masih bukan tandingannya namun jika kita bertiga turun tangan berbareng mungkin masih bisa mengatasi masalah tersebut!"

Mendengar ucapan itu Sie Soat Ang jadi kegirangan karena dengan ucapan tadi bisa ditarik kesimpulan kalau pemuda itu sangat memandang tinggi dirinya.

Siapa sangka, sewaktu ia masih tersenyum dengan penuh kebanggaan pemuda tadi sudah berkata kembali:

"Nona Sie, aku lihat kau tentu sudah menaruh salah paham, kau anggap yang dimaksudkan kami bertiga termasuk juga dirimu ?"

"Tentu saja demikian" sahut Sie Soat Ang melengak. "He he he tentu saja tidak, macam ilmu silat yang

dimiliki nona, walau ada delapan sampai sepuluh orangpun percuma saja, bukan bisa membantu malah merepotkan saja."

Kontan-air muka Sie Soat Ang berubah hebat, segera bentaknya dengan penuh kegusaran: "Tutup mulut. besar benar nyalimu !"

Badannya dengan cepat bergerak maju untuk memerseni beberapa tempelengan keatas wajah pemuda tersebut.

Sie Liongpun ikut kheki, ia tahu pemuda tersebut tentu akan menderita kerugian besar.

Namun berada dalam keadaan seperti ini, ia tidak ingin beribut dengan orang lain, karena itu buru2 tegurnya. "Soat Ang, kita..."

Belum habis ia berbicara telapak tangan gadis itu sudah diayun kedepan menyapu pipi pemuda tersebut.

Mungkin disebabkan ia sedang mendongkol maka tenaga yang digunakan sangat keras sehingga angin pukulan men- deru2, asalkan terkena pukulan ini, pemuda tersebut niscaya akan roboh menggeletak.

Diam2 Sie Liong menghela napas panjang, ia ada maksud mencegah maksud putrinya, namun waktu sudah terlambat.

Ketika telapak Sie Soat An hampir mengenai pipi kiri pemuda itu, mendadak tampak pemuda tadi angkat tangan kirinya, jari tangan dengan cepat mencapit pergelangan lawannya.

"Kraaak...!" hanya tiga empat tjoen diatas pipi lelaki tadi, serangan gadis tersebut tak dapat dilanjutkan kembali, bukan berkutik sedikit pun tak sanggup. "Nona Sie." terdengar pemuda itu berkata sambil tertawa hambar: "Kau sudah terbiasa di manja, hati2 lho kalau tanganmu terluka."

Sie Soat Ang kaget sebab tangannya tak bisa ditarik lagi, seluruh badan jadi lemas dan hawa murni susah disalurkan kembali, ingin sekali ia tarik kembali tangannya, namun tak sanggup sebab dari telapak pemuda tadi seakan muncul suatu tenaga hisapan yang kuat dan dahsyat.

Rasa kejut yang dialami Sie Soat Ang kali ini bukan alang kepalang, teriaknya sembari meronta:

"Cepat lepas tangan, cepat lepas tangan?" Tetapi pemuda itu menggeleng.

"Nona Sie, aku tidak mencengkeram tanganmu, coba kau lihat." dan Sie Soat Ang sangat cemas bercampur kaget, pihak lawan cuma menggunakan satu jari tangan untuk menempeli urat nadinya, tetapi ia tak sanggup melepaskan diri, napasnya mulai ter-sengal2.

Sie Liong yang menjumpai peristiwa itu jadi tertegun, disamping merasa kuatir bagi keselamatan putrinya, iapun sangat gembira, sebab manusia macam inilah yang sangat dibutuhkan olehnya pada saat ini untuk mempertahankan keutuhan Thian It Poo.

Sebab dari cara pemuda itu mencekal urat nadi orang lain hanya dengan satu jari sudah menunjukkan betapa dahsyatnya ilmu silat yang ia miliki, sebab menurut apa yang diketahui olehnya bisa menguasai urat nadi orang dengan dua jari saja, sudah tanpa tandingan apa lagi hanya satu jari.

Karena itu buru2 ia maju kedepan dan menjura kearah pemuda tersebut, ujarnya: "Manusia sejati jarang mau unjukkan diri, detik inilah cayhe baru tahu kalau anda adalah seorang manusia lihay !"

Buru-buru pemuda itu memberi hormat.

"Sie Poocu, kau tak usah sungkan2, aku tidak kuat menerimanya."

Ketika pemuda itu sedang balas memberi hormat, Sie Soat Ang merasakan segulung tenaga yang amat besar telah mendorong badannya sementara itu ia menarik kembali jari tangannya tak kuasa sang badan mundur beberapa langkah kebelakang.

Dengan susah payah akhirnya ia berhasil juga berdiri tegak, rasa malu, kaget dan gusar bercampur aduk dalam benaknya.

"Tia..." ia menjerit melengking.

"Soat Ang." bukan dibela ayahnya malah menegur, "Cepat kemari dan memberi hormat kepada tokoh lihay itu."

Sie Soat Ang tertegun, ia berdiri menjublek. "Soat Ang, mengapa kau masih belum juga datang kemari?" bentak Sie Liong sambil mendepakkan kakinya keatas tanah. "Dapatkah benteng Thian It Poo dipertahankan, kita masih butuhkan bantuan tokoh lihay ini, ayoh cepat ke mari."

Pada saat ini Sie Soat Ang terkejut bercampur gusar, ia lebih rela benteng Thian It Poo hancur lebur dari pada harus tunduk dihadapan pemuda itu, karena itu bukan saja ia tidak menghampiri ayahnya, malahan tertawa dingin.

"Soat Ang... kau?"

"Sie Poocu, kau tak usah menyebut aku sebagai tokoh lihay" tukas pemuda itu dengan cepat, "Seumpama Poocu tidak sudi menerima diriku, mungkin aku sudah lama menemui ajalnya. Sekarang benteng Thian It Poo menjumpai peristiwa, untuk membalas budi sudah seharusnya aku memberi bantuan, harap Poocu suka berlega hati !"

Setelah mendapat kesanggupan dari tokoh lihay ini, Sie Liong bisa berlega hati, kembali ia ber tanya: "Siauw-hiap kau mirip siapa ? ilmu silat mu begitu lihay, mengapa tempo dulu bisa menderita luka separah itu ?"

Wajah yang sudah tak sedap dipandang, pada saat ini berubah makin hebat.

"Sie Poocu, lebih baik tak usah kau tanyakan lagi persoalan tersebut, mau bukan ?"

"Baik, baik !"

Sie Soat Ang makin mendongkol lagi melihat ayahnya begitu menaruh hormat atas pemuda tadi, ia segera tertawa dingin tiada hentinya. "Cis, apanya yang luar biasa, seandainya kau tidak ditolong oleh pedagang2 itu kemudian ayah ku tidak menerima dirimu merawat luka dalam benteng, niscaya sejak semula nyawamu sudah melayang, mayatmu sudah mengering !"

"Ucapan nona Sie sedikitpun tidak salah." Melihat pemuda itu tidak dibikin gusar oleh ucapannya, Sie Soat Ang jadi tertegun.

"Memang tidak salah! Hmmm.!"

Tiba2 pemuda itu tertawa manis terhadap diri Sie Soat Ang kemudian berpaling kearah Sie Liong dan berkata:

"Sie Poocu, putrimu boleh dikata..."

Mendadak ia tutup mulut dan tidak meneruskan kembali kata2nya. "Apa yang hendak kau ucapkan?" tegur Sie Soat Ang sambil mendekati pemuda itu. "Mengapa hanya bicara sampai separuh jalan dan tidak kau lanjutkan kembali."

Dengan ter-mangu2 pemuda itu melototi Sie Soat Ang yang segera membuat jantung gadis itu berdebar keras, Lama sekali pemuda itu membungkam dan akhirnya ia menghela napas panjang, helaan napas itu penuh dengan kemurungan kekesalan dan kepedihan.

Mengikuti helaan napas tadi, pemuda itu putar badan dan berkata:

"Sie Poocu, tadi aku pernah berkata, seumpama kita bertiga bisa turun tangan berbareng maka musuh tangguh itu bisa kita atasi."

"Benar, benar. hanya belum kuketahui siapakah orang ketiga yang siauw-hiap maksudkan ?"

"Dalam benteng Thian It Poo selamanya tersembunyi seorang tokoh maha sakti. mengapa poocu sudah tahu sekarang pura2 bertanya lagi ?"

"Apa ? maksudmu...dia...dia?" teriak Sie Liong sangat terperanjat, ia ragu2 dan tak sanggup menyelesaikan kata2.

"Sedikitpun tidak salah" tukas sang pemuda tegas2. "Dia bukan lain adalah perempuan yang selama ini kau sebut sebagai Ciang Oh !"

Mendengar nama itu seluruh tubuh Sie Liong gemetar sangat keras.

"Soal im...soal ini...aaa...aku lihat...tiii...tidak mungkin, Ciang Oh...dia...dia...mana sudi membantu kita ?"

"Sie Poocu, apakah kau pernah mencelakai dirinya ?" tegur pemuda itu sambil melototi Sie Liong tajam2. Tanpa terasa Sie Liong mundur selangkah ke belakang, kemudian mundur lagi kebelakang, keadaannya mirip sekali seorang tukang copet yang ketangkap basah.

"Benar...aku...membawanya pulang dari daerah Biauw Ciang..." jawabnya sambit tertawa getir. "Ketika itu aku dengar didaerah Biauw Ciang ter.. terdengar sebuah kitab ilmu silat yang maha sakti, karena itu aku berangkat kesana, siapa sangka setibanya didaerah Biauw Ciang aku telah berjumpa dengan dirinya, tanpa kusadari aku telah membawanya pulang."

"Heeeee... heeee... heee... ucapanmu sukar dipercayai." jengek sang pemuda sambil tertawa dingin "ilmu silatnya sangat lihay bahkan ber-puluh2 kali lipat dari kepandaianmu, secara bagaimana kau bisa membawanya pulang kemari ?"

"Ketika itu ia tidak mengerti akan ilmu silat, dan benar2 tak bisa main silat barang sedikitpun juga, jauh2 menempuh ribuan lie aku membawa nya pulang kedalam benteng Thian It Poo, sebenarnya aku ingin mengawininya jadi istriku ke-dua. namun ditengah jalan ia sudah jadi gila !"

Sie Liong menceritakan kisahnya dengan napas ter- engah2, sementara putrinya Sie Soat Ang dengan sepasang mata terbelalak memandangi ayah nya tak berkedip, ia merasa seakan dirinya masih berada dalam impian.

Karena apa yang diceritakan oleh ayahnya tak pernah diduga barang sedikitpun juga.

Sie Liong tertawa getir, kembali ujarnya:

"Setelah membawanya kembali ke dalam benteng Thian It Poo, maka aku mengurung perempuan itu didalam ruangan rahasia, entah bagaimana tiba2 ia mengerti ilmu silat, bahkan tenaga dalam yang dimilikinya makin hari makin lihay !"

Mendengar ucapan itu pemuda tersebut tertegun beberapa saat lamanya, sesaat kemudian ia baru berkata: "perduli bagaimanapun kau harus berusaha untuk memohon bantuannya, kalau tidak dengan kekuatan kita berdua jangan harap bisa menahan serangan orang itu !"

"la sudah gila, lagi pula sangat membenci diriku..." Kata Sie Liong sambil tertawa getir.

Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya:

"la baru akan sadar kembali jikalau aku mengucapkan suatu peristiwa kepadanya !"

"Peristiwa apakah itu ?"

Sie Liong tertawa getir, setelah ragu2 sejenak ia berkata: "Kalau kita membicarakan soal putrinya, maka ia akan sadar kembali."

"Putrinya ?" Seru sang pemuda setelah tertegun sejenak, "Dia punya seorang putri ?"

Agaknya Sie Liong sangat tidak ingin membicarakan lagi peristiwa tersebut, namun dikarenakan ia sendiri yang mulai membicarakan hal itu maka tak mungkin berhenti diseparuh jalan. Dalam pada itu Sie Soat Ang sudah bertanya sampai ketiga kakinya:

"Tia, sebenarnya apa yang sedang kau ucapkan? benarkah perempuan gila itu mempunyai seorang putri?"

"Benar, dia mempunyai seorang putri" dalam keadaan terpaksa Sie Liong mengaku. "Sewaktu aku membawanya pulang dari daerah Biauw Tjiang, ia sudah mengandung, suaminya adalah sitelapak berdarah Tang Hauw yang tersohor dalam kalangan kaum sesat tempo dulu." Agaknya Sie Soat Ang pun baru pertama kali ini mendengar rahasia tersebut, ia berseru tertahan.

"Aaaah, tidak aneh kalau perempuan gila itu selalu menyebut-nyebut nama sitelapak berdarah Tang Hauw."

"Kiranya begitu" pemuda itupun menimbrung. "Tidak aneh sitelapak berdarah Tang Hauw sudi menyaru sebagai seorang kakek tua dan berdiam disekitar benteng Thian It Poo sampai banyak tahun."

"Apa? kau sudah tahu akan peristiwa ini jauh sebelumnya?" seru Sie Liong sangat terperanjat.

"Benar, ketika aku melewati benteng Thian It Poo setahun berselang aku sudah tahu akan persoalan ini, dan tahu pula kalau ia membawa maksud2 tertentu, sewaktu aku merawat luka dalam benteng Thian It Poo tempo dulu, sudah beberapa kali aku ingin menjelaskan persoalan ini kepada Pocu, namun poocu sangat repot dan aku hanya seorang prajurit tanpa nama maka sulit bagiku untuk menjumpai anda."

Diam-diam Sie Liong amat kecewa: "Sudah hampir dua puluh tahun lamanya si telapak berparah Tang Hauw tinggal disekitar benteng Thian It Poo, aku sama sekali tidak tahu, sebaliknya pemuda ini malah mengetahui lebih dahulu, dapat kutinjau kalau dia pastilah seorang manusia luar biasa!"

Karena berpikir demikian, buru2 ujarnya: "Ketika itu aku kurang hormat padamu, harap anda jangan menaruh dendam kepada kami."

"Soal yang sudah lalu tak usah kita bicarakan lagi, coba kau teruskan kisahmu."

"Tidak lama setelah tiba dibenteng Thian It Poo, ia melahirkan seorang anak putri, namun ketika itu perempuan tadi sudah gila sekali, sudah tentu saja aku tidak menyentuh dirinya lagi tetapi mengurungnya diatas pagoda. Setelah melahirkan seorang putri ia sadar selama beberapa hari dan ribut ingin berjumpa dengan diriku, aku pergi menjumpai dirinya, dan waktu itu ia berkata asalkan aku suka merawat putrinya maka ia tak akan mengungkap kembali soal perbuatanku yang telah menceraikan hubungan suami istri mereka berdua serta memaksa ia jadi gila."

Berbicara sampai disitu Sie Liong merandek.

Air muka pemuda itu pucat pasi bagaikan mayat, jelas ia menganggap persoalan ini sebagai suatu masalah serius.

Sebaliknya Sie Soat Ang membelalakkan sepasang matanya bulat2, ia merasa gembira karena bisa mengetahui banyak perbuatan jahat yang pernah dilakukan ayahnya pada masa lampau, ia merasa gembira sebab ayahnya pernah berbuat jahat, apa bila ia pun melakukan perbuatan jahat, ayah nya tak akan menegur dirinya.

Semula Sie Soat Ang masih merasa sangat kuatir apabila ayahnya tahu akan perbuatannya membinasakan Kan Tek Lin, memaksa Liem Hauw Seng serta Giok Jien sekalian. tapi sekaranglah boleh berlega hati.

Sie Liong yang melihat wajah pemuda itu sangat serius, ia jadi rada gugup, setelah tertegun beberapa saat lamanya ia baru berkata kembali:

"Ketika itu ia sangat sadar. sedikitpun tidak gila seperti keadaan seperti ini.”

"Kalau begitu anak perempuannya masih berada dalam Benteng Thian It Poo ini?" tanya sang pemuda.

"Benar." "Tia, siapakah orang itu?" sela Sie Soat Ang. "Aaaaai... dia, dia adalah Giok Jien."

"Oooouw kiranya orang itu" Seru Sie Soat Ang dengan

badan tergetar keras, "Hmm! sejak semula sudah kuketahui kalau ia tidak mempunyai asal usul yang lurus, perempuan rendah semacam itu sudah seharusnya dibuang kegunung sejak dulu2 biar disantap srigala."

"Tutup mulutmu!" belum selesai ia berkata pemuda itu sudah membentak keras:

Sie Soat Ang rada tertegun, diikuti iapun membentak keras:

"Aku suka bicara akan bicara, tidak suka bicara akan membungkam siapa yang berani mengurusi persoalanku."

Sambil bertolak pinggang ia pelototi pemuda itu tak berkedip. Wajahnya galak dan buas sedikitpun tak ada tanda jeri.

Melihat putrinya cekcok dengan pemuda tersebut Sie Liong merasa amat cemas, ia hentakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, sudah terlalu biasa ia memanjakan putrinya, sekarang sekalipun mau diurus juga tak bisa.

Pada saat ia masih merasa gelisah pemuda tadi tanpa putar badan secara tiba2 ayunkan telapak tangannya menggaplok pipi Sie Soat Ang, tamparan ini datangnya sangat cepat...

"Plok" Tahu2 gaplokan tersebut sudah bersarang dengan telak.

Sie Soat Ang menjerit tertahan saking kerasnya gaplokan itu, ia mundur sempoyongan dan jatuh terjengkang keatas permukaan salju, Sejak dilahirkan dari kandungan ibunya belum pernah gadis ini dihina semacam ini, hari saking gusarnya hampir2 saja ia jadi gila, Sambil meloncat bangun dengan pipi yang sembab bengkak jeritnya lengking.

"Keparat busuk, kau berani menghantam diriku?" "Sreet..." tangannya dengan cepat digetarkan ke depan,

cambuk lemas yang semula terlibat dipinggangnya telah

diayun kedepan membabat tubuh pemuda tersebut.

Siapa sangka gerakan pemuda itu jauh lebih cepat, sebelum ia sempat menghajar musuhnya, cambuk lemas tadi sudah dicekal erat2 oleh pemuda itu. Dengan sekuat tenaga Sie Soat Ang meronta, namun sama sekali tak gemilang, bahkan sebaiknya ia malah kena ditarik sehingga maju beberapa langkah kedepan dengan sempoyongan.

Bersamaan dengan badannya maju ke depan, kembali pemuda itu melancarkan sebuah gaplokan menampar pipinya yang kiri.

Gaplokan ini jauh lebih keras dari semula, kepalanya kontan pusing tujuh keliling dan ber kunang2 dibuatnya, tanpa terasa ia mengendor kan cekalan pada senjatanya dan jatuh terguling diatas permukaan salju.

"Hmmm! suruh kau bungkam ikuti saja bungkam" tegur pemuda itu dengan suara dingin, "Kalau kau tetap membangkang, akan kutampar terus sampai kau tidak bersuara lagi, dengar tidak?"

Sie Liong tahu bagaimana ketusnya watak putrinya, ia tahu gadis tersebut tak akan sudi mendengarkan ucapan dari pemuda itu. Dan tahu pula bahwasanya dia bukan tandingannya, terpaksa dengan nada memohon ia berkata:

"Tjuang su harap sabar, tjuang-su harap sabar !". "Sie Poocu, putrimu terlalu tidak kenal adat, kini aku beri pelajaran kepadanya justru karena memikirkan nasibmu dimasa yang mendatang." jawab pemuda itu dengan nada mengejek.

Sie Soat Ang yang menggeletak diatas tanah, walaupun dalam hati amat membenci pemuda tersebut dan ingin menggigit dagingnya, namun ia tak ingin menerima kerugian yang ada didepan mata, sedikitpun tidak salah, ia seketika bungkam dalam seribu bahasa:

Melihat Sie Soat Ang membungkam, Sie Liong rada tertegun dan merasa urusan ada diluar dugaannya, ia segera maju menghampiri dengan maksud membangunkan putrinya, namun baru saja ia maju selangkah pemuda itu telah menegur: "Jangan gubris dirinya lagi, kita masih ada banyak urusan penting yang harus diselesaikan Sie Poo cu, cepat undang datang Giok Jien siocia cepat!"

"Soal ini... soal ini... aku rasa sulit untuk dilaksanakan" jawab Sie Liong setelah tertegun sejenak.

"Mengapa ?"

"Selama ini Giok Jien selalu melayani siauw li, namun pada dua hari berselang ia sudah melarikan diri ber sama2 keponakanku Liem Hauw Seng."

Mendengar perkataan itu. dengan sinar mata yang menggidikkan pemuda itu melirik sekejap ke arah Sie Soat Ang membuat hati sang gadis tercekat.

"Apakah Poocu tidak kirim orang untuk mengejarnya kembali ?" ia bertanya.

"Sudah kukirim orang untuk kejar kembali tetapi sewaktu siauw-li menjumpai mereka..." "Apa yang telah terjadi ?" Sie Liong hanya tahu putrinya pergi mengejar Liem Hauw Seng serta Giok Jien, apa yang telah ia lakukan terhadap kedua orang itu dia tidak mengerti, karena itu lama sekali tak dapat menjawab.

Kena didesak oleh pemuda tersebut, terpaksa Sie Liong tertawa getir, dan menjawab: "Soal ini kau harus bertanya kepada... kepada siauwli !"

Pemuda itu segera berpaling dan membentak : "Ayoh bicara, dimana Giok Jien siocia saat ini?"

Saking khekinya Sie Soat Ang gigit bibirnya keras2, kemudian dengan suara tegas serunya:

"Siapa tahu dia berada dimana ? aku sendiripun ketika itu sedang melarikan diri, siapa yang tahu dia berada dimana ? buat apa kau bertanya kepadaku ?"

"Kau hanya tahu melarikan diri sendiri ? kau anggap bisa lolos dari kematian ? kalau tak ada dia, maka selembar jiwamu pun akan melayang ditempat itu."

Sie Soat Ang benar2 amat gusar, saking tak kuat menahan diri ia segera jerit melengking:

"Gelinding pergi, ayoh cepat gelinding, pergi dari sini aku bisa lolos atau tidak itu urusanku pribadi. Ayoh kau cepat gelinding pergi dari sini..."

Seandainya ia tidak merasakan kesakitan pada beberapa saat berselang, pada saat ini ia tentu sudah menubruk kedepan dengan ganas.

Tetapi pada saat ini ia tak berani turun tangan, sepasang kepalannya hanya diremas sekencang-kencangnya sehingga tulang berbunyi gemerutukan.

Dengan perasaan apa boleh buat pemuda itu angkat bahu. "Baiklah, kalau kau suruh aku pergi malah kebetulan sekali bagiku" sahutnya dingin, "Kau jangan salahkan aku lupa budi dan meninggalkan kalian disaat kalian menemui bahaya, jikalau benar pihak benteng Thian It Poo kalian tidak sudi menerima budiku. aku tak ada perkataan lain lagi

!"

Sembari bicara, ia putar badan, dengan bergendong tangan lambat2 berlalu kedepan.

Melihat pemuda ini berlalu Sie Liong amat sedih, namun ia tak berani menahan pemuda itu lebih jauh, sebab ia sadar putrinya sangat benci terhadap orang itu.

Sementara Sie Liong sedang merasa serba susah, mendadak dari tempat kegelapan muncul suara yang amat aneh, suara itu mula2 muncul di tempat kejauhan dan lama kelamaan makin mendekat:

Suara itu sangat kukoay, seakan2 seperti seseorang lagi tertawa, namun didengar lebih teliti lagi mirip orang sedang menangis, suaranya begitu sedih dan mengerikan, susah dilukiskan dengan kata-kata.

Sie Liong maupun Sie Soat Ang yang mendengar suara itu jadi tertegun, lama sekali tak sanggup mengucapkan sepatah katapun sedangkan sang pemuda yang sedang bergerak kedepan, pada saat itupun secara mendadak berhenti tak berkutik.

Suara itu amat aneh dan dengan cepatnya menggema makin mendekat, pemuda tadi tiba2 mendongak kemudian tertawa terbahak2.

"Haaa... haaa... haaa... orang itu sudah datang !" serunya.

"Kawan, kau cepatlah carikan sebuah akal buat kami..." ujar Sie Liong dengan hati yang gelisah. "Bukankah sejak tadi sudah kukatakan, dengan tenaga gabungan kita bertiga mungkin dengan susah payah masih bisa melayani kepandaiannya, namun kau tak mau mohon bantuan perempuan gila itu, apa yang harus kita bicara kan lagi pada saat ini."

"Kau... tunggulah sebentar" suara Sie Liong semakin gemetar "Akan kupergi coba2, mungkin masih ada harapan."

"Kalau begitu cepatlah pergi!"

Pada saat ini Sie Liong sudah kehilangan kewibawaan seorang Poocu, kena dibentak oleh pemuda itu buru2 ia manggut.

"Baik! baik."

Dalam sekejap mata, bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan dan tidak kelihatan lagi.

Sepeninggalnya Sie Liong, tempat itu tinggal Sie Soat Ang serta pemuda itu berdua belaka, dengan pandangan dingin pemuda itu lantas melirik sekejap kearah sang gadis dan berkata:

"Didalam benteng Thian It Poo apakah ada tempat persembunyian yang baik? cepat kau pergi kesana dan bersembunyilah untuk sementara waktu."

"Urusanku, lebih baik kau tak usah ikut campur." teriak gadis she Sie itu dengan suara kegusaran.

"Heee... heee... kalau kau benar2 punya nyali, tidak seharusnya melarikan diri dengan terbirit2, seharusnya kau hadapi sendiri manusia tersebut."

Sie Soat Ang kena ditegur pedas, karena apa boleh buat terpaksa serunya dengan nada mendongkol. "Aku suka melarikan diri akan melarikan diri, mau bersembunyi bisa bersembunyi sendiri, kalau kau ingin mengurusi diriku, lebih baik bercerminlah lebih dulu."

Pemuda itu tertawa dingin, suaranya memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh benteng Thian It Poo. sebab ketika itu suara aneh tadi sudah sirap, Sementara masing2 pihak sedang dipenuhi dengan pikiran masing2, mendadak dari tembok sebelah depan meluncur datang segulung bayangan hitam.

Bayangan ini munculnya sangat mendadak, dalam pandangan Sie Soat Ang boleh dikata jauh berada diluar dugaannya, ia jadi amat tertegun.

Buru2 ia berpaling kearah pemuda tadi namun orang itu tetap berdiri tenang2 saja ditempat semula. Dengan cepat Sie Soat Ang alihkan kembali sinar matanya kearah benda yang menggeletak diatas tanah, seketika tubuhnya jadi gemetar keras, se akan2 baru saja dibangunkan dari air es.

Kiranya benda yang menggeletak diatas tanah pada Saat ini bukan lain adalah sesosok mayat manusia.

Kebetulan sekali mayat itu menggeletak dengan kepala menghadap keatas langit, walaupun ditengah kegelapan masih dapat dilihat dengan jelas sekali.

Wajah orang itu sudah hancur berantakan, cara matinya tak berbeda sama sekali dengan kematian yang dialami para penjaga dibenteng ronda.

-ooo0dw0ooo-