Istana Kumala Putih Jilid 34 Tamat

 
Jilid 34 (Tamat)

Melihat berkelebatnya bayangan kuning itu, Thie Bok Taysu menganggap pada senjata rahasia yang sangat lihay, ia tidak berani menyambuti dengan kekerasan, lalu mencabut goloknya dan terus membabatnya.

Ketika benda itu jatuh, ternyata hanya sepasang sepatu rumput.

Thie Bok Taysu jadi kalap, goloknya lalu digunakan sebagai senjata rahasia, secepat kilat meluncur ke arah Sin-hoa Tok-kai.

Sin-hoa Tok-kai melihat golok itu berwarna biru segera mengetahui bahwa golok itu ada racunnya. Tetapi Sin-hoa Tok-kai tidak takuti segala macam racun yang bagaimana hebatnya pun tidak dapat melukai dirinya.

Tetapi golok itu meluncurnya cepat sekali Sin-hoa Tok-kai hanya dapat melihat berkelebatnya sinar biru, golok itu tahu-tahu sudah berada di depan matanya, maka ia buru-buru memutar tubuhnya untuk berkelit, tetapi tidak urung rambutnya kena terpapas sebagian. Sin-hoa Tok-kai memang sudah bertekad bulat, tidak akan meninggalkan Istana Panjang Umur itu dalam keadaan hidup, melihat rambutnya terkena papasan golok, gusarnya semakin memuncak, ia lalu memutar tangannya bersama Teng Kie Liang mengerubuti Thie Bok Taysu.

Tiba tiba ia mendengar suara orang yang amat merdu: "Pengemis tua, apa tanganmu gatal?

Mari, nyonyamu melayani kau beberapa jurus"

Sin-hoa Tok-kai melihat kearah suara itu, itulah Khu Leng Lie, si perempuan genit dengan dandanannya yang istimewa.

"Perempuan cabul ! Apa kau kira aku takut padamu ? Lihat serangan !" bentaknya Sin-hoa Tok-kai yang lantas melancarkan serangannya.

Siapa nyana, Khu Leng Lie sebaliknya dari berkelit, ia telah pentang dadanya, seolah-olah hendak menyambuti serangan si pengemis tua dengan buah dadanya.

Sin-hoa Tok-kai terpesona, sebagai seorang laki-laki sejati, bagaimana ia mau berbuat begitu rendah menghajar buah dadanya, seorang perempuan tentu rusaklah sudah nama baiknya di dunia kang-ouw yang telah dipupuknya selama beberapa puluh tahun.

Maka ia urungkan serangannya dan buru-buru lompat mundur.

Tetapi Khu Leng Lie yang berbuat demikian, sudah pasti ada mempunyai maksud tertentu.

Bagaimana ia gampang-gampang membiarkan Sin-hoa Tok-kai berlalu? Maka ia segera mengayunkan kain kerudung kepala untuk menghalangi jalan mundur si pengemis tua.

Sin-hoa Tok-kai ketika mengetahui dirinya terancam bahaya, dalam kagetnya telah timbul pikiran jahatnya.

Mendadak ia tarik masuk kedua tangannya dan mengebutkan kedua lengan bajunya yang rombeng.

Baju pengemis tua itu bukan saja rombeng bahkan sudah penuh dengan kotoran minyak, sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap.

Khu Leng Lie tidak menyangka kalau si pengemis tua itu akan berbuat demikian. Seolah-olah terkena serangan racun, tiba-tiba ia merasakan mual dan lantas saja segala makanan dan minuman yang ada dalam perutnya telah dimuntahkan semua.

Dengan menggunakan kesempatan itu, Sin-hoa Tok-kai lantas cepat-cepat lompat mundur.

Tetapi dilain pihak, keadaannya Teng Kie Liang sangat menguatirkan. Meskipun ia sudah menggunakan seluruh kepandaiannya, begitu pula sudah memasuki habis senjata rahasianya, tetapi tetap tidak berdaya menghadapi Thie Bok Taysu.

Sin-hoa Tak-kai, untuk kedua kalinya telah dihalangi oleh Khu Leng Lie, tetapi mempunyai senjata po-pwee (jimat) yang sederhana, meskipun Khu Leng Lie dapat merintangi, tetapi tidak akan dapat melukai dirinya.

Pada saat itu, tiba-tiba terlihat beberapa bayangan orang yang sedang mendaki ke puncak gunung dari berbagai jurusan. Begitu melihat beberapa bayangan itu, Teng Kie Liang makin cemas. Tetapi ia ingat mungkin orang-orang yang datang dari bawah gunung itu tentu adalah Cu Su dan kawan-kawannya. Sebab sudah hampir menjelang pagi hari, mereka belum melihat Tok-kai dan Teng Kie Liang kembali, sudah tentu Cu Su merasa cemas, tetapi air jatuh susah menolong api yang berkobar ditempat dekat. Keadaan Teng Kie Liang pada saat itu sudah dikatakan sudah kehabisan bensin (napas).

Dalam keadaan yang sangat kritis itu, tiba-tiba ada semacam benda yang melayang turun dari atas dan terus molos diantara sambaran tongkat Thie Bok Taysu. Karena cepatnya benda itu meluncur, siapapun tidak mengetahui apakah benda itu.

Thie Bok Taysu melihat lawannya sudah kehabisan tenaga, mendadak ada sebuah benda hitam yang hendak menyambar kepalanya. Dalam gusarnya, ia tidak perdulikan apa adanya benda itu, ia babat dulu dengan tongkatnya.

Segera terdengar suara "Trang" yang amat nyaring, kedua lengan Thie Bok Taysu dirasakan kesemutan, orangnya mundur sempoyongan sampai tiga tindak.

Bukan main rasa kagetnya, ketika ia membuka matanya untuk melihat benda apa itu sebetulnya, di depannya ada berdiri satu bocah yang tangannya masih memegang Bok hie telah mengawasi padanya dengan cengar cengir.

Thie Bok Taysu ketakutan, semangatnya hampir terbang ! Ia lalu keluarkan suara jeritan aneh lantas kabur sambil menyeret tongkatnya.

Apakah bocah itu ada Co Seng ? memangnya dia tidak salah. Tetapi ia sudah terjerumus ke dalam jurang yang curam bersama Kim Houw, cara bagaimana ia tidak binasa dan dimana adanya Kim Houw sekarang ? Kiranya Kim Houw yang hendak menyambar tangannya Co Seng yang meluncurnya lebih pesat, mendadak dapat melihat ujung tambang yang dipotong juga melayang turun.

Kim Houw lantas mengerti kalau ia masih mempunyai harapan untuk menolong dirinya, sebab tambang itu, meskipun sudah dipotong disatu ujungnya, tetapi dilain ujung asih terikat ditempat asalnya. Dengan tidak berayal lagi ia segera bergerak cepat mengejar tambang yang bergelantungan itu dan usahanya itu ternyata telah berhasil.

Kim Houw dan Co Seng, dengan cara bergelantungan terus berusaha naik ke atas lagi.

Setelah bersusah payah, Kim Houw dan Co Seng akhirnya sampai juga di atas puncak gunung dalam keadaan selamat.

Saat itu matahari telah silam. Oleh karena satu hari satu malam mereka tidak makan dan minum, maka terpaksa mereka harus mencari binatang hutan dulu untuk menangsal perut.

Setelah bersemedi sejenak, mereka melanjutkan perjalanannya lagi, oleh karena jalanan pendek tidak mungkin dicapai lagi, maka mereka terpaksa mengambil jalan memutar, maka mereka datangnya di belakang Cu Su.

Hampir jam empat pagi barulah mereka sampai di Istana Panjang Umur.

Begitu sampai, lantas mereka lihat Sin hoa Tok kai dan Teng Kie Liang sedang bertempur dengan Tie Bok Taysu. Sebetulnya Kim Houw sudah ingin segera turun tangan membunuh Thie Bok, untuk melampiaskan hawa amarahnya, tetapi ia takut kalau perbuatannya nanti akan mengejutkan semua orang dari Istana Panjang Umur, sehingga mengakibatkan kerunyaman, sebab maksud kedatangannya pertama-tama adalah untuk menolong Peng Peng lebih dulu. Tetapi karena cuaca sudah hampir terang, jika dalam tiga atau empat jurus belum berhasil menyingkirkan diri lawannya, akibatnya akan lebih runyam lagi, maka dengan diam-diam ia telah perintahkan Co Seng dan ia sendiri memasuki Istana Panjang Umur.

Co Seng begitu unjukkan diri, Thie Bok ketakutan dan kabur, sebab ia menganggap itu adalah setannya Co Seng yang unjukkan diri.

Khu Leng Lie tidak habis mengerti mengapa si hwesio ketakutan terhadap seorang bocah saja.

Dalam keheranannya, ia lantas meninggalkan Sin hoa Tok kai dan menghampiri Co Seng.

"Bocah cilik ! Thie Bok taysu ternyata takut padamu, maka tentunya kau ada sangat lihay. Hanya saja jika kau mau menunjukkan kepandaianmu, aku benar- benar tidak mau percaya.

Co Seng melihat Khu Leng Lie datang mendekati, ia tidak mau ambil perduli, ia repot dengan pekerjaannya sendiri menggendong Bok-hie di belakang gegernya.

Tiba-tiba ia menghunus senjata Bak tha Liong kinnya, sebab Bok hie itu bukan senjata yang cocok untuknya. kalau tidak untuk digunakan menghadapi tongkatnya Thie bok taysu yang lihay, siang-siang ia sudah lempar jauh-jauh Bok hie nya Thie Bok itu, buat apa dibawa bawa ke Istana Panjang Umur ?

Khu Leng Lie melihat Co Seng mengeluarkan Bak tha Liong kin, matanya lantas dibuka lebar- lebar.

"Bocah, benda itu mengapa ada di tanganmu ?" ia bertanya dengan keheran-heranan, kemudian dengan cepat sekali tangannya digerakkan untuk merebut senjata tersebut.

Co Seng terkejut, lalu memutar senjatanya menyerang.

Gerakan Co Seng itu gesit luar biasa. Khu Leng Lie yang sudah tidak berhasil merampas senjata itu, dengan sendirinya merasa terheran heran apalagi setelah dirinya diserang oleh Co Seng, keheranannya semakin bertambah.

Ini benar-benar susah dimengerti, tetapi percaya atau tidak kenyataannya memang demikian.

Karena hebatnya serangan Co Seng tadi, terpaksa ia harus berkelit.

Baru saja Khu Leng Lie lompat ke samping dalam Istana Panjang Umur tiba-tiba terdengar suara tanda bahaya, kemudian disusul oleh suara gemuruh yang tiada henti hentinya. Tanda bahaya mungkin ada sebabnya, tetapi suara gemuruh itu dari mana timbulnya ? Dalam kaget dan keheran-heranan, Khu Leng Lie lalu tinggalkan Co Seng dan lari ke Istana Panjang Umur.

Setelah Khu Leng Lie pergi, Sin hoa Tok Kai lalu menghampiri Co Seng dan bertanya :

"Co Seng bagaimana dengan Kim Siaohiap ? Apa dia tidak mendapat halangan apa-apa ? Di mana adanya dia sekarang ?"

Karena Co Seng tidak dapat bicara, ia hanya manggut-manggutkan kepalanya saja tetapi Sin hoa Tok kai sudah mengerti, bahwa Kim Houw tentunya tidak mendapat halangan apa-apa.

Tiba-tiba Co Seng memutar senjatanya mulutnya berseru : "Kejar !" Badannya yang kecil segera melompat sepuluh tombak lebih jauhnya. Sin hoa Tok kai dan Teng Kie Liang segera menyusul di belakangnya.

Suara gemuruh yang datangnya dari dalam Istana Panjang Umur tadi semakin lama semakin nyaring, agaknya gunung itu hendak meledak, sehingga semua orang yang sedang bertempur di bawah gunung semuanya lari ke atas.

Sin hoa Tok kai yang mengejar di belakangnya Co Seng, sekejapan saja sudah tidak dapat melihat bayangan bocah itu. Tetapi ketika ia sampai di Istana Panjang Umur, dari jauh ia sudah melihat asap mengepul, batu dan tanah berhamburan.

Sebuah Istana yang begitu megah tadinya, sebentar saja sudah menjadi tumpukan puing dan hampir rata dengan tanah. Diantara mengepulnya asap dan berhamburannya tanah dan batu- batunya, kelihatan dua bayangan orang yang sedang bertempur mati-matian.

Siapakah gerangan kedua orang yang sedang bertempur itu? Ketika Sin hoa Tok-kai berada agak dekat, baru diketahuinya bahwa mereka itu adalah Kim Houw dan Kouw-low Sin ciam.

Di tangannya Kouw-low Sin ciam, terdapat senjatanya gendewa panjang, sebaliknya Kim Houw menempur dengan tangan kosong. Pertempuran berjalan sangat seru, saat itu belum dapat ditentukan siapa yang akan menang dan siapa pula yang akan kalah.

Bagaimana Kim Houw bisa muncul di sini? Bagaimana Istana Panjang Umur yang tadinya megah itu bisa hancur lebur ?

Ternyata Kim Houw yang meninggalkan Co Seng dan masuk ke dalam Istana itu, ia segera bertindak dengan cepat.

Semua keadaan dalam Istana, bagi Kim Houw sudah tidak asing lagi. Waktu pertama kali ia memasuki istana itu, ia sudah ingat dan catat baik-baik segala alat-alat dan perlengkapan yang ada dalam istana tersebut.

Begitu tiba di istana, Kim Houw lalu menuju ke ruangan belakang. Tetapi di sini kelihatannya sangat sunyi, satu manusiapun tidak dapat dilihatnya, begitu pula dalam beberapa puluh kamar yang terdapat di ruangan itu semuanya sudah kosong. Kim Houw lalu menuju ke ruangan depan, di sini telah banyak orang yang kelihatannya sedang mengerumuni jenazahnya Ceng Nio-cu. Ia lantas sembunyikan diri di atas penglari, ketika melihat jenazahnya Ceng Nio-cu hatinya merasa pedih, sebab biar bagaimana juga Ceng Nio-cu itu adalah bekas istri ayahnya sendiri.

Ia tahu kalau Ceng-Nio-cu sudah mati dan ia juga sudah mengetahui bahwa kematian Ceng Nio-cu itu karena minum racun, sebab mata, hidung, mulut dan telinganya masih mengalirkan darah hitam. Ia hanya tidak mengetahui sebab-sebab kematiannya, tetapi ketika Kim houw meneliti semua orang yang ada dalam istana itu, ternyata ia tidak dapat menemukan Peng Peng, sehingga hatinya sangat gelisah.

Suatu firasat tidak baik terlintas dalam otaknya. Darahnya dirasakan mendidih dan matanya merah seperti darah.

Akhirnya Kim Houw tidak dapat menahan lagi rasa gusarnya dengan mendadak ia keluarkan pekikannya yang panjang dan nyaring sehingga menggema didalam ruangan istana yang luas itu. Selanjutnya ia lantas loncat turun dan berdiri ditengah-tengah ruangan, sambil menuding Siao Pek Sin ia menanya: "Dimana adanya Touw Peng Peng sekarang? Lekas jawab! Jika tidak, kau jangan sesalkan aku tidak mengikuti tali persaudaraan kita."

Semua orang yang berada dalam ruangan itu pada terkejut mendengar suara pekikan Kim Houw tadi dan ketika melihat Kim Houw muncul dengan tiba-tiba. Mereka semakin merasa heran sebab Kim Houw yang dianggap sudah binasa didalam jurang, mengapa mendadak dapat berada di depan mata mereka sekarang ? Apakah itu bukan setannya?

Tetapi diantara semua orang itu, hanya seorang saja yang tidak terkejut, malah menghampiri dengan tindakan lebar, sambil ketawa terkekeh-kekeh orang itu berkata: "Aku kata juga apa, bagaimana dia begitu gampang binasa? Biarlah aku sekarang yang membereskan padanya."

Orang itu adalah Kouw-low Sin-ciam.

Kim Houw melihat Kouw-low Sin-ciam, lantas ingat akan kematiannya beberapa kawan- kawannya dari Istana Panjang Umur di gunung Tiang-pek-san. Seketika itu lantas mendidih darahnya dan juga lantas melupakan rencananya yang hendak mencari Peng Peng lebih dahulu. Tanpa banyak bicara lagi, ia lantas menyerang Kouw-low Sin-ciam.

Kow-low Sin-ciam masih perdengarkan ketawanya.

Ini adalah untuk ketiga kalinya Kow-low Sin-ciam bertemu dengan Kim Houw. Ia masih tetap bersenjata gendewa panjang dengan anak panah saktinya, sedangkan Kim Houw tidak membawa senjata Bhak-tha Liong-kinnya.

Tetapi begitu turun tangan, Kow-low Sin-ciam mulai berdebaran hatinya, sebab Kim Houw yang sekarang ternyata banyak berlainan dengan Kim Houw yang diketemukan di Pek-liong po dan di Han-pek cin-koan. Setiap serangannya itu ganas serta telengas. Hal ini sungguh di luar dugaannya.

Ia tidak mengetahui bahwa selama beberapa bulan itu Kim Houw sudah beberapa kali bertemu dengan orang-orang kuat, terutama pertempurannya dengan Kee Yong Seng dan kemudian dengan para imam dari gunung Ceng-shia-san yang telah membuat pengalamannya bertambah tidak sedikit.

Apa lagi sekarang sedang berkata ditengah tengah orang-orang yang semuanya merupakan musuh-musuhnya, dengan tangan kosong, jika tidak menurunkan tangan kejam, bukankah itu berarti mencari jalan kematian sendiri?

Kow-low Sin-ciam hatinya berdebaran hanya sebentar saja, sebab senjatanya yang merupakan panah sakti itu jarang sekali ada orang yang mampu menyambuti, apa lagi sekarang Kim Houw tidak membawa senjata apapun juga.

Pertempuran dari kedua jago nomor wahid dari kalangan rimba persilatan, sesungguhnya ada lain adari pada yang lain. Sambaran anginnya sebentar saja sudah membuat orang-orang di sekitarnya tidak berani berada dekat-dekat.

Siao Pek Sin yang menyaksikan keadaan demikian telah timbul niat jahatnya. Ia lantas mengeluarkan perintah menyuruh semua orang meninggalkan ruangan istana, membiarkan Kim Houw dan Kow-low Sin-ciam bertempur mati-matian.

Kiranya ketika Siao Pek Sin membangun Istana Panjang Umur itu, baik di ruangan depan maupun di ruangan belakang, semuanya diperlengkapi dengan pesawat rahasia. Meskipun pesawat rahasia itu tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kim Houw, akhirnya ia tokh mengorbankan juga Istananya yang megah itu bersama-sama dengan Kim Houw dan ia sendiri akan mengangkat dirinya sebagai Tiancu dari Istana Panjang Umur dan Pemimpin dari rimba persilatan. Sebab kalau Kow-low Sin-ciam dan Kim Houw sudah binasa, di dalam rimba persilatan, yang mampu menandingi kepandaiannya Siao Pek Sin hanya dapat di hitung dengan jari. Apalagi badannya dibantu oleh baju wasiat dari keluarga Ciok.

Siapa tahu, setelah istananya dihancurkan, segala reruntuk dinding tembok ternyata tidak dapat membikin mampus Kim Houw dan Kow-low Sin-ciam, sebaliknya adalah jenazah ibunya sendiri yang dipendam oleh tumpukan puing.

Tetapi dengan perbuatannya demikian itu justru membuat gusar Kow-low Sin-ciam, sebab dengan perbuatannya itu nyata Siao Pek Sin hendak mengorbankan jiwanya, maka hal itu telah meninggalkan kesan buruk pada dirinya Kow-low Sin-ciam dan merosotkan semangat bertempurnya.

Tetapi ia sekarang sudah tidak mudah lagi untuk melarikan diri, sebab meskipun Kim Houw tidak membawa senjata, tetapi serangan kedua tangannya saja sudah cukup hebat membuat ia keteter, terutama terhadap ilmu Han-bun-cao-khie nya.

Pada saat itu, dari bawah gunung telah datang menyerbu dua puluh orang lebih. Mereka ada dari golongan partai sepatu dan beberapa orang kuat dari dunia Kang-ouw yag di pimpin oleh Cu Su.

Sudah tentu si botak, Sun Cu Hoa, Teng Ceng Ceng dan adiknya juga terdapat diantara mereka. Begitu mereka tiba di atas gunung, segera menyerbu Siao Pek Sin.

Dengan demikian, maka terjadilah suatu pertempuran yang hebat.

Pertama-tama adalah Siao Pek Sin sendiri yang harus menghadapi serangan Cu Su, Sun Cu Hoa, Teng Ceng Ceng dan Ceng Peng Sin berempat.

Sedangkan Pek Kauwnya yang berada di sampingnya Siao Pek Sin harus melayani Teng Kie Liang. Khu Leng Lie yang baru balik ke atas gunung, kembali bertempur dengan Sin-hoa Tok kai, tetapi kali ini si pengemis sakti itu dibantu oleh muridnya sendiri, yaitu si botak.

Beberapa orang-orang dari pasti sepatu rumput dan orang-orang dari dunia Kang-ouw yang di undang oleh Cu Su sudah berhadapan dengan beberapa jago dari kalangan hitam yang diundang oleh Siao Pek Sin.

Ada yang satu lawan satu, juga yang satu harus melawan dua orang, pokoknya di situ telah terjadi pertempuran kalut yang terdiri dari beberapa rombongan.

Sebenarnya kemudian tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri, dua jago dari partai sepatu rumput sudah roboh binasa. Cu Su dan Sin-hoa Tok-kai merasa heran, sebab kedua orang itu bukannya orang-orang lemah, mengapa dalam segebrakan saja sudah roboh binasa di tangan musuhnya ?

Kedua orang itu bukan lain dari Hai-lam Siang-koay yang dulu pernah menjadi penghuni Istana Panjang Umur dalam rimba keramat dan kemudian kabur meninggalkan Siao Pek Sin.

Selanjutnya Hay-lam Siang-koay kembali menerjang dua orang. Hanya dengan beberapa jurus saja, kembali terdengar suara jeritan ngeri, dua orang itu dilemparkan ke tengah udara.

Semula di pihaknya Siao Pek Sin kelihatannya agak lemah. Thie Bok Taysu tidak unjukkan diri, Ciok Goan Hong juga tidak kelihatan mata hidungnya. Tetapi setelah Hay-lam Siang-koay menunjukkan aksinya, pihak Cu Su mulai terdesak.

Meskipun Kim Houw sedang bertempur sengit dengan Kow-low Sin-ciam, tetapi semua kejadian di sekitarnya tidak ada yang lolos dari matanya.

Melihat aksinya kedua orang tua itu, Kim Houw juga terperanjat, sebab selamanya dia belum pernah menyaksikan kedua orang itu unjukkan kepandaiannya, Sampai dimana tingginya dan sampai dimana keganasannya. Apa mau Co Seng juga tidak kelihatan, ia tadinya ingin meninggalkan Kow-low Sin-ciam untuk melayani kedua orang tua itu, tetapi ia takut Kow-low Sin- ciam terlepas yang akan menjadi bahaya besar umat manusia.

Mendadak ia mendapatkan satu akal. Ia tidak menantikan Hay-lam Siang-koay turun tangan untuk ketiga kalinya, lantas berkata dengan suara keras :

"Jiewie Cianpwe, kalian telah membantu kejahatan. Mengapa tidak lekas hentikan tanganmu ?

Apa Cianpwe tahu bagaimana nasibnya orang-orang yang keluar dari Istana Panjang Umur di rimba keramat dan sekarang di mana mereka berada?

Betul saja Hay-lam Siang-koay setelah mendengar perkataan Kim HOuw kelihatannya terkejut keduanya. Mereka baru pulang dari Hay-lam, kepada Siao Pek Sin juga pernah menjalankan tentang keadaan kawan-kawannya dulu dari istana panjang umur.

Tetapi Siao Pek Sin dengan rupa-rupa alasan tidak memberikan jawaban yang tepat. Mereka juga merasa pernah merasa curiga, tetapi mereka sungguh tidak menyangka kalau kawan- kawannya itu sudah pada pulang ke rakhmatullah.

Tiba-tiba Siao Pek Sin berseru :

"Jiewie Cianpwe, jangan sekali-kali dengan ocehan dia. Basmi dulu mereka semuanya, nanti baru kita bicarakan yang lain-lainnya."

Kim Houw ketawa dingin.

"Tahukah Cianpwe, bahwa Lo Han-ya dan kawan-kawannya semuanya sudah masuk ke sorga

?" katanya mendongkol.

Mendengar berita jelek itu, bukan mau kagetnya Hay-lam Siang-koay. "Dengan cara bagaimana mereka binasa ?" tanya mereka berbareng.

"Kalau mengingat cara kematian dari para cianpwe itu, sungguh sangat menyedihkan. Mereka semua telah binasa ditangan Siao Pek Sin, Tiancu kalian dan iblis tua Kow-low Sin-ciam ini.

Hay-lam Siang-koay yang mendengar berita itu, hatinya gemetar, Dua puluh tahun selama berdiam di Istana Panjang Umur di rimba keramat, sedikitnya ada sepuluh tahun mereka tinggal bersama-sama. Sekalipun mereka sering-sering ribut mulut, tetapi hubungan mereka masih sangat baik. Terutama Kim Lo Han, tidak ada seorangpun yang tidak menghormatinya, tidak disangka setelah keluar dari Istana Panjang Umur, hanya dalam waktu dua tahun saja sudah binasa semua.

Selagi kedua orang itu hendak mengumbar amarahnya, tiba-tiba terdengar suara Siao Pek Sin: "Jiewie Cianpwe, kalian jangan mendengar hasutan orang. Kita belum kalah, tetapi sudah

bertengkar sendiri. Bukankah itu merupakan suatu hal yang dapat ditertawakan orang lain?" Perkataan Siao Pek Sin itu ada pengaruhnya juga, karena kedua orang tua itu tidak dapat segera mengambil keputusan.

Selagi mereka dalam keragu-raguan, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa aneh yang kemudian disusul dengan ucapannya :

"Hay-lam Siang-koay, kalian tidak perlu bersangsi! Orang-orang dari Istana Panjang Umur di rimba keramat, sebagian besar binasa di tanganku. Bagaimana? Apa kalian hendak mencari aku?"

Perkataan itu telah keluar dari mulut Kow-low Sin-ciam sehingga semua orang pada tercengang. Sebabnya ialah Kow-low Sin-ciam adalah orangnya Siao Pek Sin, tetapi mengapa ia bicara buat orang lain.

Hay-lam Siang-koay yang mendengar itu, segera menerjang Kow-low Sin-ciam. Tetapi baru saja mereka berdua bergerak, sudah dibentak oleh Siao Pek Sin. "Kalian berdua mau apa? Apa sudah melupakan sumpahmu berdua?"

Hay-lam Siang-koay tercengang, ia segera urungkan maksudnya hendak menempur Kow-low Sin-ciam. Sepantasnya dalam keadaan demikian, untuk membalas sakit hati kawan-kawannya, seharusnya mereka tidak usah pikirkan tentang sumpahnya.

Apa mau dikata, kedua manusia aneh itu ternyata sangat menghargai janji dan sumpahnya sendiri. Kalau tidak karena mengingat sumpahnya, masakah sekarang mereka mau balik lagi untuk mengabdi kepada Siao Pek Sin? Maka setelah mendengar perkataan Siao Pek Sin tadi, lantas mereka menjawab sambil membungkukkan badan.

"Siang-koay memang pernah bersumpah di hadapan tiancu, maka tidak boleh tidak harus menurut. Tiancu sekarang sudah mendapat bantuan orang-orang yang lebih tinggi kepandaiannya dari pada kami, maka sejak hari ini Siang-koay hendak minta diri dan setelah kembali ke Hay-lam, seumur hidupnya tidak akan kembali kemari."

Sehabis berkata, tanpa menunggu jawaban Siao Pek Sin, mereka lalu memberi hormat dan menghilang ke bawah gunung, Siao Pek Sin hendak mencegah, tetapi sudah tidak keburu lagi.

Perubahan yang terjadi secara mendadak itu, bagi Siao Pek Sin berarti kehilangan dua orang yang boleh diandalkan.

Sebaliknya bagi Kim Houw, berarti kurangnya dua musuh tangguh.

Baru saja Hay-lam Siang-koay berlalu, sesosok bayangan hitam tiba-tiba meluncur dari atas dan jatuh ke tanah tidak berkutik.

Semua orang terkejut, orang yang jatuh dan binasa itu adalah Thie Bok yang sejak tadi tidak kelihatan mata hidungnya.

Thie Bok Taysu yang mempunyai kepandaian sangat tinggi dan merupakan salah satu orang kuat dalam barisan Siao Pek Sin, bagaimana bisa mendadak binasa? dan dia binasa ditangan siapa?

Jago yang pernah malang melintang beberapa puluh tahun di kalangan Kang-ouw itu ternyata telah binasa ditangan Co Seng, seorang anak yang usianya belum cukup tujuh tahun. Sejak Co Seng mengetahui bahwa Tiong-chiu-khek dibinasakan oleh Thie Bok Taysu, ia sudah mengambil keputusan untuk membinasakan Thie Bok Taysu untuk menuntut balas dendam Tiong- chiu-khek. Ia adalah seorang anak yang tidak mengenal takut, apalagi setelah ia mempunyai kepandaian tinggi, ia lebih-lebih tidak takuti apa-apa lagi. Lagi pula dia sendiri hampir saja binasa karena perbuatan Thie Bok Taysu di atas jurang yang curam, maka kebenciannya terhadap Thie Bok Taysu semakin memuncak.

Barusan ketika ia mendengar suara gemuruh Co Seng lebih dulu telah naik keatas gunung.

Dari jauh ia melihat bayangan seseorang yang kelihatannya hendak melarikan diri melalui belakang gunung. Co Seng yang sejak kecil sudah mempunyai pandangan mata yang sangat tajam, begitu lihat, ia segera dapat mengenali bahwa bayangan itu adalah Thie Bok Taysu. Sudah tentu ia tidak mau melepaskan dirinya begitu saja, maka secepat kilat ia lari menyusul.

Apa sebabnya Thie Bok Taysu kabur? Apa ia takut terhadap Co Seng?

Sebetulnya tidak demikian. Ia kabur itu karena ambruknya Istana Panjang Umur itu, dimana telah datang pula orang-orang yang sangat hebat kepandaiannya, maka ia berkeputusan hendak mengambil langkah seribu. Oleh karena maksudnya hendak kabur maka ia tidak berani mengambil jalan depan, tetapi ia mengambil jalan belakang.

Belum sampai ke tengah gunung, tiba-tiba dilihatnya berkelebat bayangan Co Seng dengan kedua tangannya membawa Bok-hie yang dulu merupakan senjata Thie Bok yang sangat diandalkan, Co Seng telah menghadang di depannya.

Thie Bok kembali berseru, sebab Co Seng dianggapnya setan gentayangan yang terus mengejar dirinya. Tetapi dalam keadaan seperti itu, sekalipun benar-benar setan, terpaksa harus dilawannya juga.

"Bocah, kau sebenarnya orang atau setan?" tanya Thie Bok sambil tertawa. Co Seng tidak bergerak, juga tidak menjawab.

Thie Bok dibikin gusar oleh sikap Co Seng yang menantang itu, ia lantas membentak dengan suara keras.

"Bocah busuk, tidak perduli kau setan atau manusia, lekas minggir! Kalau tidak Hudya-mu nanti akan mengambil tindakan untuk mengantarkan kau ke akhirat!"

Co Seng masih tetap tidak mau meladeninya, dadanya dilintangkan merintangi jalan kaburnya Thie Bok.

Thie Bok Taysu tidak dapat menahan amarahnya lagi, maka segera ia gerakkan tongkatnya menyerang dengan hebat.

Biasanya, kalau ia menggunakan senjatanya, belum pernah menggunakan tenaga sepenuhnya seperti yang dilakukannya saat ini. Ini sebab sebelumnya ia pernah mengadu tenaga dengan Co Seng, ia tahu bahwa bocah ini bukan bocah biasa.

Ketika kedua senjata beradu, lantas terdengar suara "Trang" yang amat nyaring.

Thie Bok Taysu merasakan tangannya kesemutan lagi. tapi ia sudah nekat. Ia tidak percaya bahwa lawannya yang masih bocah ini, dalam pertempuran keras lawan keras masa kedua tangannya tidak merasakan apa-apa. Maka ia ulangi lagi serangannya sampai tiga kali berturut- turut. Serangan yang kali ini, Co Seng tidak berani menyambuti, ia berkelit ke samping. Thie Bok Taysu lantas berkata sambil tertawa dingin :

"Aku kira kau benar-benar seorang bocah yang berurat kawat dan bertulang besi, kiranya kau juga tidak berani menyambuti terus seranganku."

Siapa tahu, belum sampai mulutnya ditutup, sambil memegang Bok-hie dengan kedua tangannya, Co Seng sudah melesat menerjang dirinya. Karena Thie Bok Taysu berbadan tinggi besar, Co Seng yang berdiri hanya mencapai lututnya saja, maka kalau ia mau menyerang, mau tidak mau harus melesat ke atas dulu.

Karena Co Seng mempunyai kepandaian mengentengkan tubuh yang luar biasa, maka soal menyerang sambil melesat ke atas baginya tidak menjadi soal apa-apa.

Melihat dirinya diserang, Thie Bok Taysu juga hendak menyambuti dengan kekerasan, sebab sibocah tadi sudah tak berani menyambuti serangan terakhirnya, sudah tentu sekarang juga tidak akan berani mengadu tenaga dengan kekerasan.

Siapa nyana, Co Seng yang sedang mengapung ditengah udara, terus menyerang dengan gencar, bukan saja sudah berani mengadu kekuatan secara keras lawan keras, bahkan serangannya itu dirasakan oleh Thie Bok Taysu makin lama makin hebat.

Setelah menyambuti dua kali serangan Co Seng, lengan Thie Bok Taysu sudah dirasakan sakit setengah mati. Serangan Co Seng yang ketiga kali ini barangkali sudah tidak mampu disambutnya. Dalam keadaan terpaksa, Thie Bok Taysu hendak bergulat dengan sisa tenaganya yang masih ada, ia coba menyambuti lagi serangan yang ketiga itu. Setelah terdengar suara "Trang" yang amat nyaring, Thie Bok Taysu merasakan telinganya pengang, matanya berkunang- kunang, mulutnya menyemburkan darah segar. Co Seng yang melihat kejadian itu tidak mau memberikan kesempatan lagi padanya, kembali ia menerjang dengan hebatnya.

Sekejap mata saja Bok-hie kembali sudah berada di atas kepala Thie Bok Taysu, yang menjadi sangat terperanjat, karena sudah terluka dalam, mungkin sukar baginya untuk menyambuti serangan tersebut. Tetapi karena ia sudah tidak dapat menyingkir lagi, terpaksa ia menangkis lagi dengan tongkatnya.

Meskipun tangkisan itu sudah berhasil dan Bok-hie dibikin terbang melesat tetapi tongkatnya sendiri juga sudah terpental jatuh ke belakang dirinya.

Pada saat itu, senjata Bak-tha Liong-kin nya Co Seng sudah mengancam kepalanya.

Thie Bok Taysu bukan cuma kaget saja, semangatnya juga sudah terbang. Setelah suara "Plak" terdengar dengan nyaring, batok kepala Thie Bok Taysu sudah hancur dan otaknya berantakan.

Sehabis membinasakan Thie Bok Taysu, Co Seng lalu menyerbu untuk memberi bantuannya kepada Kim Houw.

Kim Houw yang melihat kedatangan Co Seng lantas berseru :

"Co Seng, berikan Bak-tha Liong-kin padaku."

Sebentar kemudian Bak-tha Liong-kin itu sudah berada ditangan Kim Houw, maka ia lantas berkata sambil tertawa: IKP34P4849

"Iblis Kow-low, kau sekarang harus hati-hati menghadapi senjataku. Thie Bok Taysu itu adalah contohmu yang paling baik, sebab kau paling suka membikin pecah kepala orang, sekarang aku hendak menggunakan caramu itu untuk mengambil jiwa anjingmu!"

Sehabis berkata demikian, Kim Houw lalu putar senjatanya dan menyerang dengan hebat. Co Seng lalu pasang mata, dipihaknya sendiri siapa yang kewalahan. Ia melihat Cu Su dengan berempat sedang mengerubuti Siao Pek Sin, meskipun tidak berhasil merubuhkan lawannya, tapi keadaannya belum kalut.

Dilain pihak, Teng Kie Liang yang menghadapi Pek Kauw-ya, kekuatannya sangat berimbang, sehingga merupakan suatu pertempuran yang paling seru, tapi tidak demikian halnya dengan Sin- hoa Tok-kai dan si botak, mereka terus terdesak mundur oleh Khu Leng Lie. Masih untung Sin-hoa Tok-kai mesih mempunyai "Po-pwee" yang merupakan lengan bajunya yang tidak sedap, sehingga jiwanya tidak terlalu terancam.

Co Seng yang melihat keadaan mereka berdua dalam bahaya, dengan tidak berkata apa-apa lagi lantas menyerbu membantu kedua orang itu melawan Khu Leng Lie.

Sejak kaburnya Hay-lam Siang-koay dan munculnya Co Seng, keadaan segera berubah. Sekarang sudah kelihatan nyata pihak mana yang kuat dan pihak manan yang lemah. Siao

Pek Sin yang lihat keadaan demikian, bukan main rasa kagetnya.

Karena melihat keadaan tidak menguntungkan pihaknya, Siao Pek Sin lantas memikirkan jalan untuk kabur. Ia sekarang mempertimbangkan caranya untuk meloloskan diri dari kepungan ke empat orang itu. Ia mengetahui bahwa diantara empat orang musuhnya itu hanya Teng Ceng Ceng yang paling lemah, maka ia lantas tujukan serangannya pada Teng Ceng Ceng dan seketika Sun Cu Hoa dan Teng Peng Sin memberi pertolongan dari kanan dan kiri, Siao Pek Sin melihat lowongan, tetapi ia tidak lantas kabur, sebaliknya mengirim satu serang an hebat pada Sun Cu Hoa.

Seranan itu kalau mengenakan sasarannya, Sun Cu Hoa pasti celaka. Cu Su yang menyaksikan itu segera memburu memberi pertolongan.

Justru itulah yang diharapkan oleh Siao Pek Sin. Ia memang menghendaki supaya Cu Su memberi pertolongannya, sebab ia hendak kabur menggunakan kesempatan selagi Cu Su repot menolong Sun Cu Hoa. Ia lalu melompat melesat menyingkir sejauh tujuh delapan tombak, kemudian dengan dua kali lompatan saja ia sudah menyingkir sejauh tiga puluh tombak.

Pada saat itu Kim Houw sedang mencapai babak yang menentukan. Kow-low Sin-ciam tidak berkutik menghadapi Bak-Tha Liong-kin-nya Kim Houw, sampai senjatanya yang sakti juga tidak berdaya.

Lolosnya Siao Pek Sin juga sudah diketahuinya, tetapi untuk menyuruh ia meninggalkan Kow- low Sin-ciam dan mengejar Siao Pek Sin ia tidak ingin melakukannya. Meskipun Siao Pek Sin jahat, ia masih merupakan saudaranya snediri. Kalau disuruh membunuh Siao Pek Sin dengan tangannya sendiri, mungkin ia juga tidak tega turun tanagn, maka ia juga tidak menyuruh Co Seng untuk menghalangi Siao Pek Sin.

Meskipun Kim Houw tidak mengejar, tetapi Cu Su dan muridnya tidak mau melepaskan kepadanya begitu saja, maka mereka lantas lari mengejar. Baru saja Siao Pek Sin meninggalkan medan pertempuran. belum samapai lari tiga puluh tombak jauhnya, tiba-tiba ada satu bayangan orang yang melayang turun dari atas pohon merintangi perjalanannya.

Siao Pek Sin Tercengang. Ketika ia mengawasi siapa orangnya ternyata ia adalah seorang pemuda cakap yang berdandan seperti anak sekolahan. Dari sorot matanya yang tajam, dapat diduga kalau pemuda itu mempunyai kepandaian tinggi.

Belum sampai Siao Pek Sin menegur, pemuda itu itu sudah berkata padanya dengan sikap yang sangat menghormat.

"Sudikah saudara memberitahukan nama saudara yang mulia? Aku yang rendah adalah Kee Yong Seng yang datang dari tempat jauh.

Siao Pek Sin yang melihat tingkah laku pemuda itu yang sopan santun dan agaknya tidak mengandung maksud jahat, maka ia lantas menjawab:

"Aku yang rendah adalah Pek Sin, tetapi orang-orang menyebut aku Siao Pek Sin. Entah siapa orangnya yang ingin saudara cari itu?"

Pemuda tadi memang benar Kee Yong Seng yang datang hendak menuntut balas sakit hatinya Kie Yong Yong. Semula ia memang tidak percaya akan perkataan Kim Houw, menganggap Kim Houw tidak menanggung dosanya, maka hendak mempitnah orang lain.

Tetapi sekarang setelah melihat Siao Pek Sin yang wajahnya mirip benar dengan Kim Houw, hanya matanya saja yang berlainan, Kee Yong Seng lantas pura-pura mengajukan pertanyaan di atas. Begitu mendengar disebutnya nama Siao Pek Sin, alisnya lantas berdiri, wajahnya berubah merah padam. Sambil ketawa dingin ia lantas berkata:

"Apa kau ingat namanya Kie Yong Yong? Ia menyuruh aku menyuruh aku menyampaikan satu kabar padamu."

Sehabis berkata demikian, ia lalu mengeluarkan sebilah belati yang mengkilat, tetapi masih ada tanda darahnya yang rupanya bekas menghirup darah orang.

Kee yong Seng berkata pula sambil goyang-goyangkan belati itu:

"Nona Kie Yong Yong dengan senjata ini telah menghabiskan jiwanya sendiri, ia menyuruh aku menancapkan belati ini di atas dadamu!"

Sehabis mengeluarkan ucapannya yang rapih itu. Kee Yong Seng mendadak menikam Siao Pek Sin secepat kilat.

Ketika Kee Yong Seng menyebut namanya Kie Yong Yong, kelihatan Siao Pek Sin terperanjat.

Tapi ketika mendengar ucapannya yang bersifat mengejek dan melihat pisau belati itu, Siao Pek Sin sudah siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Kee Yong Seng yang berkepandaian sangat tinggi, tidak dapat dibandingkan dengan segala orang, sebab begitu bergerak, senjata itu sudah menempel didadanya.

Dalam kagetnya buru-buru Siao Pek Sin lompat menyingkir, tetapi tidak urung ujung belati sudah mengenai sasarannya dan sudah merobek bajunya. Tetapi heran, dari dadanya tidak kelihatan darah mengucur keluar. Kee Yong Seng terkejut, dalam hatinya berpikir: Apakah ia mempunyai ilmu kebal?

Kee Yong Seng lantas menyimpan kembali belatinya dan mengeluarkan senjata gaetannya, Giok-cu-tiaw-kim-kauw.

Tetapi belum sampai senjatanya itu dikeluarkan, Siao Pek Sin sudah membentak dengan suara keras:

"Dari mana datangnya bocah liar yang berani menyerang Tiancu? Lihat Pedang!" berbareng ia menyerang dengan pedangnya secara hebat sekali.

Karena Kee Young Seng sedikit lengah, ia terdesak oleh Siao Pek Sin sampai mundur enam tindak baru lolos dari ancaman pedang Siao Pek Sin. Sekarang barulah diketahuinya bahwa Siao Pek Sin ini juga bukan seorang lemah, maka dengan tidak banyak bicara lagi ia lantas melayani dengan senjatanya yang istimewa itu.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri. Siao Pek Sin yang mendengar itu, hatinya lantas menjadi hancur-luluh, sebab suara itu adalah suaranya Koe-Low Sin ciam yang tentu sudah binasa ditangganya Kim Houw. Kalau tidak lekas-lekas lari, pasti ia juga akan mengalami nasib yang serupa.

Barulah ia hendak bergerak, kembali terdengar suara jeritan orang , dan kali ini adalah suara jeritannya Khu Leng Lie.

Karena kagetnya itu, didadanya dan belakang gegernya sudah terkena serangannya Kee Young Seng, tetapi semua itu seolah olah tidak dirasakan sama sekali oleh Siao Pek Sin, Kee Young Seng terheran-heran, ia tidak mengetahui kalau dibadannya Siao Pek Sin ada baju wasiat yang melindunginya.

Tiba-tiba terdengar suaranya Sun Cu Hoa dan berseru :

"Dia menggunakan baju wasiat yang menguntungkan dirinya, bagaimana kau dapat melukai badannya ?"

Siao Pek Sin terkejut. Ia lantas menoleh, disitu sudah ada beberapa puluh orang yang sedang mengurung dirinya, tetapi diantara orang banyak itu tidak terlihat Kim Houw.

Sioa Pek Sin mengetahui bahwa untuk meloloskan diri sudah tidak ada jalan lain lagi. Mengingat segala perbuatannya sendiri pada waktu-waktu yang telah lewat, memang agak keterlaluan.

Daripada hidup menanggung siksaan, lebih baik mati saja. Maka ia lantas melintangkan pedangnya untuk menggorok lehernya sendiri.

Belum sampai rubuh badannya Siao Pek Sin, tiba-tiba telah disambar oleh sesosok bayangan orang yang terus dibawa kabur ke Istana Panjang Umur. Orang itu adalah Co Seng. Maka semua orang lantas menuju ke Istana Panjang Umur.

Pada saat itu, didepan bekas Istana Panjang Umur, Kim Houw sudah membuat dua liang kubur. Satu besar dan satunya lagi kecil. Yang besar dipakai untuk mengubur beberapa orang yang berkurban, sedangkan yang kecil masih kosong. Ketika Co Seng datang sambil memondong jenazahnya Siao Pek Sin, lalu disambuti oleh Kim Houw dan diletakan ditanah. Setelah membuka baju wasiatnya lalu dikubur dalam liang kubur yang kecil itu. Ia lantas berdiri dan berkata kepada orang sambil memberi hormat:

"Barusan Kim Houw telah diberitahukan oleh Bwee-hoa-cianpwee bahwa Ciok-nya Ciaok Goan Hong tadi malam entah apa sebabnya mendadak melawan perintahnya Siao Pek Sin dan membawa nona Peng Peng turun gunung balik ke San-see, maka Kim Houw sekarang hendak kesana untuk mengembalikan bajunya, sebab baju wasiat ini adalah kepunyaan keluarga Ciok. Selama ini, atas bantuan para Cianpwee yang diberikan pada Kim Houw, Kim Houw disini mengucapkan banyak-banyak terima kasih.

ooo, tidak. Sejak hari ini aku akan mengganti ske ku, sebab aku seorang berasal she Pek, maka selanjutnya aku akan bernama Pek Kim Houw... "

Istana Panjang Umur digunung Kua-cong-san telah musnah, hanya tinggal reruntuknya saja. Tetapi Istana Panjang Umur digunung Tiang Pek-san masih berdiri dengan megahnya,

didalam rimba yang dipandang KERAMAT itu.

Kini Istana itu bukan merupakan teka-teki bagi orang orang dalam rimba persilatan dan juga bukan merupakan suatu tempat yang keramat lagi. Sebab didalam Istana yang terkurung oleh rimba yang lebat itu, sudah tidak menakutkan lagi. Asal orang dengan sejujurnya hendak masuk kesana, lantas ada orang yang akan memimpin padanya sampai keistana itu, sebab didalam istana itu ada berdiam suami istri yang saling mencintai, mereka itu adalah... Pek Kim Houw dan Touw Peng Peng.

TAMAT