Istana Kumala Putih Jilid 33

 
Jilid 33

Cuma sayang ia tidak pandai bicara, maka ia tidak dapat menjawab, hanya mengawasi Ciok Goan Hong dengan badan tidak bergerak, tidak memberikan jawaban menerima juga tidak mengatakan kalau ia tidak suka.

Ciok Goan Hong yang menyaksikan itu, hatinya sudah panas. Kalau tidak karena Thie Bok Taysu suka pada bocah itu, barangkali ia sudah mengemplang kepalanya Co Seng sampai binasa.

Tapi tidak mengetahui kalau perkataannya Thie Bok Taysu tadi justru sudah menolong dirinya tidak sampai dibikin malu di depan orang banyak. Sebab bila diukur kekuatan Co Seng pada waktu itu, sekalipun Ciok Goan Hong menganggap dirinya ada suatu ahli pedang ternama, masih bukan tandingannya Co Seng.

Thie Bok Taysu yang melihat Co Seng tidak memberikan jawaban, lalu maju sendiri di depannya Co Seng seraya berkata :

"Bocah, kau barangkali tidak kenal aku ini siapa ? Biarlah aku perlihatkan padamu."

Tiba-tiba ia mengambil Bok-hie-nya yang digendong di gegernya dan dilemparkan di tanah.

Gerakannya itu kelihatan seenaknya saja, tetapi ternyata Bok-hie yang terbikin dari bahan besi itu sudah melesak ke dalam tanah.

Thie Bok Taysu ketawa bergelak-gelak.

"Kalau kau ada mempunyai sedikit kekuatan dan kepandaian, kau boleh coba-coba dengan Bok-hie-ku." katanya jumawa.

Co Seng pura-pura seperti tidak mengerti, dengan perlahan ia menghampiri Bok-hie. Ketika sudah berada dekat sekali tiba-tiba kakinya menendang dan Bok-hie itu lantas melesat melayang ke perut Thie Bok Taysu.

Kejadian yang di luar dugaan itu telah mengejutkan semua orang.

Mereka sungguh tidak mengira, bahwa Co Seng yang masih kanak-kanak, dengan sekali tendang saja sudah membikin terbang Bok-hie-nya Thie Bok Taysu yang membuat ia mendapat nama baik. Jika tidak mempunyai kepandaian yang berarti, mana ia berani berbuat demikian ?

Selagi semua orang pada kaget terheran-heran, sebaliknya Thie Bok Taysu malah ketawa bergelak-gelak. Ia tidak menyingkir ataupun berkelit, bahkan tangannya juga tidak bergerak, dengan gelembungkan perutnya ia membikin Bok-hie-nya itu menempel di perutnya. 

"Bagusss, bagus ! Mari kita main-main lagi." demikian mulutnya mengoceh.

Tetapi belum habis perkataannya, mendadak Co Seng sudah melesat ke belakangnya Bok- hie, tangannya digerakkan menghajar benda itu.

Ia tidak menghajar orangnya sebaliknya memukul Bok-hie nya, Ini memang benar-benar aneh. Thie Bok Taysu ketawa bergelak-gelak. Ia tidak takut oleh Co Seng, apalagi dipukul Bok-hie-

nya. Siapa nyana, selagi mulutnya masih ketawa, Hawa dingin tiba-tiba menyusup ke dalam perutnya sehingga sekujur badannya menggigil. Bok-hie-nya tidak dapat dipertahankan lagi dan. jatuh di tanah.

Thie Bok Taysu terperanjat ! Keinginannya hendak memungut murid telah musnah seperti asap tertiup angin. Sambil berseru aneh tangannya menyambar dirinya Co Seng dan mulutnya memaki-maki.

"Bocah busuk! Dari mana kau dapatkan pelajaran ilmu setan? Hari ini kalau Hudya-mu tidak dapat membunuh mati kau, benar-benar tidak akan merasa puas!"

Karena terpisahnya antara Thie Bok dan Co Seng ada demikian dekatnya dan gerakan yagn dilakukan oleh Thie Bok Taysu secepat kilat itu, maka Co Seng sudah tidak keburu menyingkirkan diri, badannya sudah kena disambar.

Thie Bok Taysu adalah seorang padri yang sudah terkenal kejahatannya di dunia Kang ouw dan kepandaiannya sangat tinggi. Beberapa hari berselang, ketika Sin-hoa Tok Kai dan muridnya bertemu padanya, belum sampai lima puluh jurus si pengemis sakti dan muridnya itu sudah tertangkap olehnya dan pagi tadi ketika Hui-thian Go-kang bersama dua cucunya hendak menolong Sin-hoa Tok-kai, ketika berhadapan dengan Thie Bok Taysu, meskipun dikerubuti tiga akhirnya ketiga-tiganya ditangkap hidup-hidup oleh Thie Bok dalam waktu tiga ratus jurus.

Sekarang menghadapi bocah yang baru berusia tujuh tahunan saja, ia pandang enteng. Siapa nyana ketika tangannya mengenai tangan Co Seng yang kecil ada sangat licin, seolah-olah ikan belut sehingga terlepas dari cekalannya secara tiba-tiba, kemudian lengan kirinya dirasakan sakit bekas serangan tangan Co Seng. Bukan kepalang kagetnya Thie Bok Taysu. Sejak ia berkelana di dunia Kang-ouw, belum pernah ia menemukan kejadian yang begitu aneh seperti malam ini.

Apakah ia harus menyerah kepada satu bocah yang masih ingusan ?

Kegusarannya memuncak. Sambil menggeram hebat, tangannya yang besar seperti kipas dengan beruntun telah melancarkan tiga kali serangan.

Meskipun Co Seng mempunyai kekuatan cukup besar, tetapi pelajaran ilmu silatnya masih sangat terbatas. Di bawah serangan yang gencar dari Thie Bok Taysu sudah tentu ia merasa kewalahan, sebentar saja ia sudah terdesak keluar tenda.

Pada saat itu hujan dan angin sudah berhenti, rembulan juga sudah menunjukkan dirinya.

Thie Bok Taysu yang sudah merasa gemas sekali terhadap Co Seng, bernapsu sekali untuk membinasakan seketika itu juga. Apa mau Co Seng sangat kuat dan tangkas, apa lagi ilmu mengentengi tubuhnya yang sangat luar biasa, sekalipun ia terus terusan mundur, tetapi kadang- kadang masih bisa membalas menyerang.

Mendadak terlihat satu bayangan orang yang datang menghalangi maksud Thie Bok Taysu, orang itu bukan lain Kim Houw adanya.

"Thie Bok, kepala gundul! Kau ada seorang terkemuka didalam kalangan Kang-ouw, mengapa terhadap seorang bocah saja harus menggunakan serangan begitu ganas? Kalau hal ini nanti tersiar diluaran, haaa.  " Kim Houw mengejek sambil tertawa dingin.

Begitu melihat Kim Houw, Thie Bok segera dapat mengenali bahwa dialah orangnya yang tempo hari ditepi telaga Sin-yang-ouw, bersama-sama dengan Co Seng mempermainkan dirinya. Pada saat itu baru ia ingat bahwa bocah cilik di depan matanya sekarang ini, adalah si bocah yang pernah mempermainkan dirinya, maka kegusarannya semakin memuncak. "Oow, bangsat-bangsat cilik! Kiranya adalah kalian, hari ini kalau Hudya-mu tidak dapat membunuh mati kalian berdua, percuma saja aku menjadi jago dalam dunia Kang ouw!" ia berseru dan lantas mengirim serangan hebat kepada Kim Houw.

Kim Houw hanya ganda ketawa badannya sedikitpun tidak bergerak, hanya tangannya diangkat untuk menyambuti serangan Thie Bok Taysu.

Suara beradunya kedua kekuatan tenaga dalam terdengar nyaring, batu dan pasir pada beterbangan.

Thie Bok Taysu merasa lengan dan tangannya kesemutan, badannya mundur setengah tindak. Ia terperanjat, sebab serangannya yang dilancarkan tadi dalam keadaan gusar sudah melampaui batas kekuatannya yang ada, bukan main hebatnya. Siapa nyana Kim Houw dengan seenaknya saja sudah membuat dirinya terpental mundur dan tangannya kesemutan.

Pada saat itu dalam tenda juga terdengar suara ribut-ribut. Dalam kaget dan herannya, Thie Bok Taysu lalu melongok ke dalam, ternyata tawanannya yang tadi menggeletak di tanah, sekarang semuanya sudah dapat ditolong orang.

Kim Houw pada saat itu berdiri tepat di tengah-tengah pintu tenda, sehingga tidak mudah bagi Thie Bok Taysu untuk menerjang masuk. Dalam gusarnya Thie Bok Taysu lalu menghunus goloknya yang beracun, terus diputarnya dan menerjang si anak muda.

Kim Houw yang sama sekali tidak membawa senjata apa-apa, sudah tentu tidak berani menyambuti dengan tangan kosong.

Baru saja ia hendak berkelit, dari dalam tampak melesat keluar beberapa bayangan orang.

Thie Bok Taysu terkejut dan menunda serangannya. Ketika ia menegasi, ternyata itu adalah orang-orangnya sendiri. Tetapi apa yang mengherankan adalah saat itu Pek-kauwnya tengah memutar tongkatnya, tetapi tidak mirip dengan orang yang sedang bertempur, sebaliknya seperti anak kecil yang sedang bermain-main.

Thie Bok Taysu ketawa menghina, ia menyimpan kembali golok beracunnya, lalu melompat dan merebut senjata tongkatnya Pek-kauwnya seraya berkata :

"Pergilah kalian ! semua ! Biarlah aku sendiri yang menghadapi orang-orang semua ini."

Ia berkata sambil memutar tongkatnya Pak-kauwnya untuk menahan orang-orang yang hendak kabur.

Kim Houw yang menyaksikan tingkah lakunya Thie Bok Taysu, sudah dapat mengetahui akan kehebatan kepala gundul itu, maka ia sungkan menyambuti serangan senjata Thie Bok Taysu dengan tangan kosong.

Hanya Hui-thian Go-kang Teng Kie Liang saja yang lantas menyerang dengan senjata rahasianya, jarum Hui-ie-ciam. Sayang, karena jarum itu halus lembut, sebelumnya sampai pada sasarannya sudah tersampok jatuh oleh sambaran angin tongkatnya Thie Bok yang diputar laksana titiran.

Kim Houw memang sengaja melepas orang orang Thie Bok Taysu, sebab Ciok Yaya-nya pernah melepas budi kepada dirinya. Sekarang Ciok Yaya-nya sudah meninggal dunia, ingin membalas sedikit budi kepada anaknya, yaitu Ciok Goan Hong. Sedangkan Pek-kauwnya, meskipun bukan engkongnya sendiri, tetapi juga masih terhitung salah satu dari adik engkongnya, biar bagaimana juga masih termasuk anggota keluarganya dari golongan tua.

Sebentar saja Ciok Goan Hong dan Pek-kauwnya sudah kabur tidak kelihatan bayangannya.

Thie Bok Taysu selagi hendak memikirkan untuk kabur, mendadak ada angin kuat yang menyambar dirinya dan terus menindih di atas kepalanya. Thie Bok Taysu terkejut, telinganya mendadak mendengar suara bentakan halus :

"Hajar saja !"

Thie Bok Taysu dengan menggunakan suatu gerakan "Oey-liong-hoan-sin" atau "Naga kuning membalikkan badan", dengan tongkatnya menyambuti serangan yang datang tiba-tiba itu.

Terdengar suara "Trang" dari beradunya kedua senjata yang nyaring sekali.

Thie Bok Taysu merasakan kedua lengannya kesemutan, tongkatnya hampir saja terlepas dari tangannya, kiranya yang menyerang dirinya tadi adalah Bok-hie-nya sendiri.

Sampai disini Thie Bok benar-benar jeri dan tidak berani berdiam lebih lama lagi. Dengan Bok- hie-nya ditinggalkan begitu saja ia kabur sambil membawa tongkatnya.

Teng Kie Liang dan Sin-hoa Tok-kai sebenarnya hendak mengejar, tetapi sudah dicegah oleh Kim Houw.

"Jiewie Cianpwe, biar saja dia kabur ! Asal dia berani masuk ke dalam Istana Panjang Umur nanti, tidak akan kuampuni jiwanya lagi. Untuk menghadapi manusia semacam dia, Bok-hie dari besi ini benar merupakan senjata yang paling cocok!"

Pada saat itu cuaca sudah mulai terang.

Semua orang setelah saling bertemu, Kim Houw lalu melihat Sun Cu Hoa yang sedang membimbing Teng Ceng Ceng keluar dari dalam tenda.

Kedatangan Teng Ceng Ceng sebetulnya hendak mencari Kim Houw. Bersama-sama dengan engkongnya dan adiknya, sepanjang jalan ia mencari keterangan tentang dirinya Kim Houw. Ia dapat kabar bahwa Kim Houw akan datang ke Istana Panjang Umur, maka segera ia juga datang menyusul ke tempat itu.

Tidak dinyana ditengah jalan mereka sudah berpapasan dengan Thie Bok Taysu dan akhirnya telah kena ditangkap olehnya dan hampir saja dirinya dibikin ternoda. Untung saja Kim Houw bersama Co Seng keburu datang.

Waktu melihat Teng Ceng Ceng hati Kim Houw agak berdebar. Untung disitu ada Sun Cu Hoa, maka Kim Houw sengaja menghalau Thie Bok Taysu supaya Sun Cu Hoa mendapat kesempatan menolong dirinya si nona.

Teng Ceng Ceng sudah dihina demikian rupa, meskipun dirinya belum dirusak kehormatannya, tetapi ia sudah merasa malu untuk menemui orang. Sebetulnya ia ingin membunuh diri, tetapi karena melihat Sun Cu Hoa telah memperlakukan dirinya begitu baik, maka ia mengurungkan maksudnya.

Sebetulnya ia lebih penujui Kim Houw, tetapi karena mengingat anggota-anggota yang berharga pada dirinya seorang gadis sudah dilihat semua oleh Sun Cu Hoa, sudah tentu ia tidak ada muka untuk kawin dengan orang lain. Apalagi, Sun Cu Hoa orangnya juga gagah, kecakapannya tidak berada di bawah Kim Houw, maka sebentar saja kedukaannya sudah lenyap semuanya, ia sudah bisa bicara dan ketawa seperti biasa.

Teng Kie Liang dengan Cu Su merupakan kenalan lama mereka tidak menduga akan bertemu pula dalam keadaan seperti sekarang ini, maka hubungan mereka kelihatannya semakin rapat, sedangkan si bengal Co Seng juga telah dapatkan Teng Peng Sin sebagai kawannya.

Teng Peng Sin yang telah menyaksikan kepandaian Co Seng ada begitu tinggi, dalam hati merasa agak mengiri. Setelah pertempuran selesai ia lantas menarik tangannya Co Seng untuk menanyakan segala macam soal. Ia tidak mengetahui bahwa Co Seng tidak pandai bicara maka ketika ia menanya dan tidak mendapat jawaban, ia lantas pelototi matanya.

Dengan demikian, diantara dua bocah itu telah timbul salah pengertian.

Teng Peng Sin merasa gusar, lalu menyerang dengan senjata serulingnya. Co Seng belum mengetahui kalau kawannya itu gusar benar-benar, lalu menggunakan tipu silatnya Hun-kin-che- kut-chiu, sehingga sebentar saja seruling Teng Peng Sin sudah berpindah tangan.

Teng Peng Sin tidak menduga dalam tempo sekejap mata saja senjatanya sudah dapat dirampas oleh lawannya maka ia semakin gusar lalu menyerang dengan senjata jarumnya, Hui-ie- ciam.

Co Seng tengah ketawa-ketawa, ketika ia melihat berkelebatnya sinar perak, bukan kepalang kagetnya, ia lantas melesat tinggi dan kabur, sedangkan Teng Peng Sin masih mengejar dibelakangnya

Pada saat itu pikiran Kim Houw sedang kusut. Ia sedang memikirkan bagaimana nanti ia menghadapi Siao Pek Sin yang merupakan saudaranya sendiri. Apa ia tega turun tangan untuk membinasakan dirinya ? Tetapi kecuali ia sendiri, siapapun bukan tandingan Siao Pek Sin.

Dalam keadaan melamun, mendadak dari jauh terdengar suara jeritan kaget yang tidak begitu jelas. Suara itu kedengarannya hanya Suhu.... suhu....

Kim Houw tersadar dari lamunannya. Segera ia mengenali suara itu adalah suara Co Seng. Ia sungguh tidak mengerti, mengapa Co Seng nampaknya begitu ketakutan. Andaikata ia berpapasan dengan seorang yang lihay, orang itu pasti mempunyai kepandaian yang luar biasa sebab Co Seng tidak mengerti apa arti takut.

Segera Kim Houw lompat melesat menuju ke arah datangnya suara Co Seng.

Kira-kira sepuluh tombak lebih jauhnya, dari depan kelihatan lari satu bayangan putih. Kim Houw kenali itu adalah Co Seng, maka ia lantas menyambutinya.

Co Seng kelihatan gugup, air matanya mengalir dan mulutnya menganga, lama sekali ia baru dapat mengeluarkan suara.

"Peng."

Mendengar Co Seng menyebut namanya Peng Peng, Kim Houw terperanjat, lalu meninggalkan Co Seng lari mencari Peng Peng. Setibanya Kim Houw ditempat yang digunakan untuk meneduh semalam, di situ ia dapatkan Tiong-chiu-khek sudah rebah binasa dalam keadaan mengenaskan, sedangkan Peng Peng sudah tidak kelihatan bayangannya lagi.

Kim Houw seolah-olah sudah terbang semangatnya, lama ia berdiri menjublek di sisinya Tiong- chiu-khek. Tiba-tiba terdengar suara orang berkata :

"Kim Siaohiap, kejadian sudah demikian rupa. Apa gunanya bersedih ? Lebih baik lekas berdaya untuk menuntut balas dan menolong orang."

Kim Houw terkejut. Dengan perlahan ia berpaling, ternyata mereka sudah datang semuanya.

Sin-hoa Tok-kai berlutut disampingnya Tiong-chiu-khek dan menangis dengan sedih sekali, sedangkan yang berbicara tadi adalah Cu Su.

Kim Houw tidak keluarkan air mata, tetapi matanya merah seperti bara. Kemudian ia mendengar Cu Su berkata pula :

"Menurutku, Touw toako ini rasanya belum lama binasanya. Dia seperti terluka oleh senjata berat, kelihatannya ini adalah perbuatannya si bangsat gundul tadi. Aku percaya dia pergi belum jauh. Untuk menolong dirinya nona Touw, sebaiknya Kim Siaohiap segera berangkat lebih dulu, urusan di sini ada lohu dan lain-lainnya yang nanti akan bantu membereskan, harap tidak usah kuatir."

Mendengar disebutnya nama bangsat kepala gundul, Kim Houw merasa menyesal dan gemas

! Coba kalau tadi ia menggunakan sedikit tenaga untuk membinasakannya, bukankah tidak ada kejadian seperti sekarang ini ? Tetapi menyesal selamanya datang belakangan. Sekarang ia terpaksa harus mencari Hwesio yang ganas itu untuk menolong Peng Peng dan membalas sakit hati Tiong-chiu-khek.

Kim Houw berlutut di depan jenazah Tiong-chiu-khek, lalu menyatakan terima kasih kepada Cu Su beramai, kemudian meninggalkan mereka.

Baru saja Kim Houw lompat melesat lantas bertemu dengan Co Seng yang kelihatannya sangat sedih. Bocah itu, di belakang gegernya menggendong Bok-hie-nya Thie Bok Taysu.

Kim Houw mengagumi kecerdasan sang murid. Dengan tidak berkata apa-apa ia lantas menggandeng tangannya, keduanya lantas melesat pergi.

Meskipun jalanan gunung itu sangat sukar, tetapi bagi Kim Houw dan Co Seng tidak menjadi halangan. Sebentar saja mereka sudah melalui beberapa puluh lie jauhnya.

Tetapi dimana sekarang adanya Thie Bok si hwesio cabul itu dan dimana adanya Peng Peng ?

Sekalipun Ciok Goan Hong dan Pek Kauwya dengan rombongannya sudah tidak kelihatan bayangannya.

Kim Houw menghentikan tindakan kakinya, ia mencari sebuah tempat yang lebih tinggi untuk mengawasi sekitarnya. Tetapi di gunung yang tinggi itu, kecuali suara binatang-binatang gunung, tidak ada satu bayangan manusiapun yang terlihat.

Melihat keadaan demikian, Kim Houw menduga bahwa mereka barangkali sedang melalui jalanan kecil. Dalam hati merasa gelisah. Tiong-chiu-khek sudah binasa, dalam waktu satu hari satu malam lamanya, sudah cukup untuk membinasakan jiwanya Peng Peng. Mengingat hal itu, bagaimana Kim Houw tidak cemas ? Dengan tiba-tiba Co Seng menarik tangannya Kim Houw, lalu menunjuk ke suatu tempat di bawah puncak gunung.

Lapat-lapat Kim Houw seperti mendengar suara tindakan kaki orang yang masuk ke dalam telinganya.

Hal ini telah menggirangkan hatinya, maka segera ia lompat melesat ke arah terdengarnya suara tadi.

Tidak antara lama, Kim Houw sudah mendekati tempat tersebut. Suara itu kedengarannya makin nyata. Sayang dari gerakan kakinya dapat diketahui bahwa orang-orang itu semuanya tidak berkepandaian tinggi, sedangkan orang yang dicarinya mungkin tidak ada dalam rombongan mereka.

Tetapi orang-orang yang bergelandangan dalam gunung ini, kecuali orang-orangnya dari Istana Panjang Umur, tidak ada orang lain lagi.

Kim Houw mengambil jalan memutar, tiba-tiba ia memperlihatkan diri dari balik sebuah batu besar. Rombongan itu terdiri dari delapan belas orang, kesemuanya. Kelihatannya sangat keren, dengan pakaiannya yang seragam. Kim Houw mengetahui bahwa apa yang diduganya semula tidak salah.

Kim Houw tidak mengenal mereka, begitu pula diantara mereka tidak ada seorangpun yang mengenali Kim Houw, hanya munculnya Kim Houw secara tiba-tiba itu benar-benar telah mengejutkan mereka.

Salah seorang dari antara mereka yang agaknya bertindak sebagai kepala rombongan mungkin karena menganggap Kim Houw terlalu muda, sehingga dapat digertak begitu saja telah membentak :

"Jahanam cilik ! Apa kau sudah bosan hidup ? Berani kau menggoda kami orang, kami semua adalah orang-orang dari Istana Panjang Umur yang paling pandai menangkap setan."

Sehabis bicara demikian, ia lantas hendak menjambret dirinya Kim Houw.

Kalau ia tidak menyebutkan namanya Istana Panjang Umur, barangkali Kim Houw masih belum mengetahui dengan pasti kalau mereka itu adalah anak buahnya Istana Panjang Umur, apa mau pengakuannya orang-orang tadi itu berarti mencari penyakit sendiri. Tangan yang sedang di ulur hendak menjambret Kim Houw belum sampai mengenakan sasarannya, sebaliknya sudah dijepit oleh kedua jarinya Kim Houw.

Dengan memakai dua jari tangan saja, orang itu sudah merasakan tangannya seperti dijepit oleh tang sehingga ia menjerit-jerit kesakitan, kemudian disusul oleh mengetelnya keringat yang membasahi tubuhnya.

Melihat kejadian itu, semua kawannya maju menyerang untuk memberikan pertolongan.

Kim Houw yang sudah kalap, sudah tidak memperdulikan apa-apa lagi, ia terus memutar tangannya, lima orang sudah terpental melayang seperti layangan putus talinya.

Semua orang baru merasa kaget. Tiga diantara lima orang yang jatuh itu telah meninggal seketika itu juga. "Siapa berani bergerak ? Ini adalah contohnya !" Kim Houw membentak.

Orang-orang itu seperti mati kutu, semuanya sekarang sudah tidak bergerak lagi.

Kim Houw menduga orang yang dijepit itu, tentunya adalah kepala dari rombongan maka lantas mengendorkan jepitannya dan berkata:

"Aku mau ajukan pertanyaan, harap kau suka menjawab dengan sejujurnya. Kalau kau berani main gila di hadapanku, hati-hati dengan batok kepalamu !"

Orang itu lantas berlutut di hadapan Kim Houw dan meratap :

"Mana Siaojin berani membohongi Tayhiap? Harap saja Tayhiap suka menaruh belas kasihan.

Ampunilah para saudara Siaojin ini."

"Baik! Sekarang aku hendak menanyakan padamu. Apakah kau mengetahui kemana perginya itu hwesio jahanam Thie Bok Taysu?"

Orang itu mengawasi Kim Houw dengan sorot mata ragu-ragu, lama baru ia menjawab : "Mengenai dirinya Thie Bok Taysu, Siaojin sama sekali tidak mengenalnya. Hanya pada waktu

terang tanah tadi, Siaojin telah menerima titah dari Ciok-ya supaya kita balik ke Istana Panjang Umur melalui jalanan ini yang lebih dekat. Tetapi sebetulnya jalanan yang diambil oleh Ciok-ya ada lebih dekat lagi, cuma saja harus melalui tiga puncak gunung dan tiga tebing curam, akhirnya satu lembah yang lebarnya kira-kira seratus tombak, tetapi di atas lembah itu ada tambangnya.

Jika tidak mempunyai ilmu kepandaian mengentengi tubuh, jangan harap dapat melalui lembah tersebut. Oleh karena Siaojin sekalian tidak mempunyai itu kepandaian, maka kami tidak berani mengambil jalan melalui lembah tersebut. "

"Siapa suruh kau memberi keterangan banyak-banyak. Aku hanya ingin mengetahui si padri jahanam saja." kata Kim Houw jengkel.

"Ya, ya, baik, baik." jawab orang itu gugup. "Diantara orang-orang yang berjalan bersama- sama Tiok-ya, memang benar ada seorang hwesio yang tinggi besar. Tapi hwesio itu apakah hwesio yang Tayhiap cari atau bukan, Siaojin tidak tahu, sebab Siaojin sebelumnya belum pernah melihatnya.... Oh, ya! Digegernya Tiok-ya masih ada menggendong satu."

"Apa?"

"Seorang nona kecil."

Kim Houw mengerti bahwa yang dimaksud dengan nona kecil itu tentunya adalah Peng Peng.

Seketika itu hatinya berdebaran dan gelisah sekali.

Orang itu melihat Kim Houw membisu, lalu berkata pula:

"Nona kecil itu juga belum pernah Siaojin lihat sebelumnya. Ia menggelendot di belakang gegernya Tiok-ya agaknya sedang tertidur pulas. Nona kecil itu parasnya cantik sekali. Dalam keadaan tidur kelihatannya lebih menarik."

Tetapi mendadak dagunya dirasakan sakit, mulutnya penuh dengan darah segar, itu adalah akibat tamparan Kim Houw yang merasa sebal ia mengoceh yang bukan-bukan. Meskipun ia merasa sakit, tetapi ia tidak berani bersuara. Kim Houw menanya lagi pada seorang lainnya :

"Dari sini ke Istana Panjang Umur, harus mengambil jalan mana yang paling dekat?" "Melalui itu lembah yang sangat dalam yang terdekat."

"Dari sini menuju kemana?" tanya Kim Houw lagi.

"Kalau dari sini harus menuju ke timur. Setelah melalui puncak gunung yang dinamai gunung Hidung Gajah, lantas tiba di lembah tersebut. Di situ nanti Tayhiap akan dapat melihat seutas tambang besar. Setelah melewati tambang, kalau dapat berjalan lebih cepat, hanya dalam waktu satu hari satu malam sudah bisa sampai ke Istana Panjang Umur."

Keterangan orang itu jelas, tidak melantur atau bertele-tele, Kim Houw mengetahui orang ini cerdik, maka ia lantas menanyakan namanya.

"Siaojin bernama Coa Khun." jawabnya.

Kim Houw tidak mau membikin sulit padanya, maka segera ia mengajak Co Seng melalui jalanan yang telah ditunjukkan oleh Coa Khun tadi.

Betul saja di lembah ia menemukan seutas tambang panjang yang diikat dari satu tepi ke lain tepi di seberangnya, untuk menghubungkan kedua tebing dari lembah tersebut.

Kim Houw yang terus memikirkan keselamatan Peng Peng tanpa ayal lagi lantas berlari-larian di atas tambang tersebut, yang diikuti oleh Co Seng.

Karena ilmu mengentengi tubuh kedua orang itu sudah mencapai puncaknya kesempurnaan, maka walaupun di atas tambang yang sangat berbahaya itu, mereka sebentar saja lari melalui tiga puluh tombak lebih.

Mendadak ada suara ketawanya seseorang yang menyeramkan terdengar dari seberang tepi jurang.

Kim Houw terkejut! Ketika ia mendongakkan kepalanya, ternyata orang yang ketawa tadi adalah Thie Bok Taysu sendiri.

"Hai, bocah busuk! Benar-benar kalian berani datang kemari. Kalau Hudyamu tidak dapat membikin mampus ke lain berdua, bagaimana Hudyamu mau mengerti? Hudyamu memang sudah berpikir, bahwa kalian pasti akan mengambil jalan ini, maka Hudyamu sengaja menunggu kalian di sini. Benar saja, orang yang mencari kematian itu sekarang sudah datang. Sekarang Hudyamu menghendaki kalian mati tanpa bekas!"

Hwesio itu lalu mengeluarkan goloknya digosok gosokkan sebentar diatas tambang, lalu berkata pula sambil ketawa:

"Hudyamu tadi pagi telah dapat menangkap seorang nona cantik, katanya adalah isterimu. Apa benar? Kalau benar demikian, Hudyamu juga tidak akan sungkan-sungkan lagi, tentu akan menerima baik dia. Kau tidak usah kuatir. Aku tidak akan perlakukan jahat padanya. Ha, ha, ha,

...."

Sehabisnya ketawa, Thie Bok Taysu lantas memotong tambang itu sehingga putus.

Sejak munculnya Thie Bok Taysu ditepi seberang, Kim Houw mengerti bahwa diri mereka berada dalam keadaan bahaya, karena maju tidak dapat dan mundurpun demikian pula. Otaknya diputar dengan cepat, tetapi ia masih belum mendapatkan pikiran untuk menolong dirinya sendiri dan dirinya Co Seng.

Tiba-tiba ia mendengar Hwesio itu telah menyebut-nyebut dirinya Peng Peng, bukan main Kim Houw gusar. Justeru dalam keadaan demikian, badannya mendadak dirasakan enteng, terus melayang kedalam jurang.

Tiba-tiba ia mendengar suara jeritan Co Seng. Kiranya karena Co Seng menggendong Bok- hie-nya Thie Bok Taysu yang berat, maka melayangnya semakin pesat.

Meskipun Kim Houw sudah tahu bahwa ia sendiri sekarang berada dalam keadaan bahaya, tetapi tokh ia masih memikirkan keadaan Co Seng, maka ia segera ulurkan tangannya untuk menyambar tubuhnya Co Seng.

Di bawah suara ketawanya Thie Bok Taysu, tubuhnya Kim Houw dan Co Seng menghilang kedalam jurang yang curam.

Tanggal lima bulan tujuh, sejak pagi-pagi sekali, dalam Istana Panjang Umur di gunung Kua- chong-san, sudah penuh dengan kawanan manusia kurcaci yang sedang mengadakan perjamuan. Sebagai orang yang duduk di atas adalah Tiancu dari Istana Panjang Umur, Siao Pek Sin.

Disampingnya duduk nona Touw Peng Peng yang diriasi seperti bidadari, tetapi sikapnya tidak beda seperti patung. Di meja sebelah kiri tampak duduk Kow-low Sin-ciam dengan Khu Leng Lie yang dandanannya masih tetap seperti biasa.

Tetapi Khu Leng Lie meskipun duduk disampingnya Kow-low Sin-ciam, matanya sebentar- sebentar mengerling ke arah Siao Pek Sin dan kadang-kadang juga mengawasi Peng Peng dengan sorot mata jelus.

Tiba-tiba Khu Leng Lie merasa ada sepasang sorot mata tajam yang sedang memandang padanya dengan tidak berkedip.

Khu Leng Lie diam-diam berpikir, Siapakah orang itu yang demikian besar nyalinya ?

Padahal ia sendiri sebetulnya mengharap-harap akan ada orang binal bernyali besar yang berani memikat dirinya, sebab sejak beberapa bulan ini ia bersatu kembali dengan Kow-low Sin- ciam, belum pernah ia menikmati kesenangan dunia. Sejak hari itu, ia membuat perhubungan gelap dengan Siao Pek Sin, ia tidak mendapat kesempatan untuk berdekatan lagi dengan dia.

Meskipun Kow-low Sin-ciam tidak memperlakukan dingin padanya, tetapi wajahnya yang menjemukan membuat Khu Leng Lie makin susah tidur.

Merasa dirinya diawasi orang, meskipun dalam hatinya memaki-maki, tetapi di luar kelihatannya sangat gembira. Seketika itu ia lantas mengobral senyumnya.

Setelah ia memandang dengan seksama, barulah diketahuinya bahwa orang yang memandang dirinya tadi adalah Thie Bok Taysu yang tadi malam baru tiba di situ yang membawa kabar jatuhnya Kim Houw ke jurang.

Kabar kematiannya Kim Houw ke dalam jurang sudah cukup mengejutkan hatinya, tetapi juga cukup menggirangkan. Hampir setiap orang juga girang, terutama Siao Pek Sin.

Ia sekarang tidak usah kuatirkan dirinya lagi. Kedudukannya sebagai Tiancu tidak akan tergoyah, apalagi ia segera akan didampingi oleh nona Peng Peng yang cantik manis dan yang setiap hari dan malam dibuat pikiran. Perjamuan yang diadakan hari itu adalah untuk menjamu Thie Bok Taysu yang telah membuat jasa besar. Siao Pek Sin dengan perasaan girang dan hati bangga duduk di atas kursi kebesarannya. Peng Peng pada saat itu seperti orang linglung karena mendengar kabar jelek yang menimpa dirinya Kim Houw, tetapi Siao Pek Sin percaya perlahan-lahan si nona tentu akan sembuh kembali.

Thie Bok Taysu yang datang ke Istana Panjang Umur ini bermaksud akan mendapatkan dirinya Peng Peng, tidak nyana Ciok Coan Hong telah bertindak lebih dahulu menyerahkan Peng Peng kepada Siao Pek Sin.

Sebab Ciok Coan Hong masih tersangkut keluarga dengan Peng Peng, ia lebih suka Peng Peng menjadi isterinya Siao Pek Sin daripada menjadi isterinya padri cabul itu.

Ketika pertama kali Thie Bok Taysu melihat Peng Peng berada dengan Siao Pek Sin, hampir saja mengumbar amarahnya. Tapi setelah diberikan penjelasan oleh Ciok Coan Hong hatinya baru tenang. Meski demikian, melihat Siao Pek Sin demikian tergila-gila terhadap Peng Peng, hatinya sangat mendelu.

Pada saat itu, ketika matanya dapat melihat Khu Leng Lie yang centil dan genit, semangatnya lantas terbang, matanya lantas terus-terusan ditujukan padanya, sedapat-dapatnya ia ingin menyambar dan memeluknya.

Khu Leng Lie juga tidak menyangka kalau orang yang mengintai padanya tadi adalah si padri yang namanya sudah sangat terkenal. Ketika sepasang mata saling beradu, ketawanya Khu Leng Lie kelihatan lebih manis lagi.

Memang Khu Leng Lie juga merasa suka sebab badannya Thie Bok Taysu yang tegap kekar, wajahnya merah. Meskipun tidak menarik seperti Siao Pek Sin, tetapi jauh lebih gagah dari Kow- low Sin-ciam.

Meskipun dalam hati Khu Leng Lie ingin mendekati Thie Bok Taysu, tetapi hari itu tak berani berlaku secara terang-terangan. Ia hanya berani main mata lalu balik seperti biasa lagi.

Siao Pek Sin tiba-tiba bangkit dan memaklumkan bahwa hari itu ia hendak menikah dengan Peng Peng.

Siao Pek Sin sebetulnya sudah menetapkan pada tanggal tujuh bulan tujuh hendak menikah dengan Peng Peng, tetapi karena semalam Peng Peng terus menangis dan ribut, semalam suntuk setelah mendengar kabar tentang kematiannya Kim Houw, telah membuat Siao Pek Sin tidak menyentuh dirinya. Tetapi hari ini sikapnya berubah dengan mendadak seperti seorang yang sudah lupa ingatan.

Kesempatan sebaik itu ia tidak mau lewatkan begitu saja, sekalipun hanya tinggal dua hari lagi, ia sudah tidak sabar menunggu lagi.

Pengumuman itu telah disambut dengan tempik sorak oleh semua orang yang hadir di situ, kemudian disusul dengan orang-orang yang memberi selamat kepada Siao Pek Sin.

Tiba-tiba seorang pelayan perempuan berlari-lari dari dalam sambil berseru : "Siaoya ! Siaoya ! Celaka ! Nyonya besar"

"Nyonya besar kenapa ?" Siao Pek Sin menanya dengan kaget. Ibunya Siao Pek Sin, Ceng Nio cu, sebetulnya segar bugar. Tadi malam, ketika mendengar berita tentang kematiannya Kim Houw, disamping menggirangkan juga merupakan pukulan, mungkin disebabkan perasaan aneh yang telah lama menindih hatinya.

Sudah tentu penyakit yang datang dari perasaannya itu tidak lama lagi tentu dapat sembuh kembali.

Bertepatan dengan diadakannya perjamuan oleh Siao Pek Sin, di kamarnya Ceng Nio-cu tiba- tiba telah muncul seorang imam tua.

Imam tua itu dengan sorot mata dingin setelah lama mengawasi Ceng Nio-cu, telah menyodorkan sebuah kantong kecil yang sudah kuning warnanya.

Ceng Nio-cu kaget oleh munculnya imam tua itu secara tiba-tiba, karena diantara orang-orang yang dikumpulkan oleh Siao Pek Sin, meskipun banyak yang berasal dari kalangan Kangouw, tidak ada seorangpun yang berani memasuki kamarnya secara sembarangan.

Ketika Ceng Nio-cu dapat melihat tegas imam tua itu, agaknya seperti mengenalnya, badannya seketika lantas menggigil. Ketika ia melihat kantong kecil yang disodorkan, wajahnya pucat seketika.

"Kau.... kau." ia berseru.

"Ini adalah adik Leng yang telah memesan untuk diberikan padamu. Kewajibanku telah selesai, sekarang aku hendak pergi lagi."

Setelah menyambuti kantong kecil itu, Ceng Nio-cu lantas berkata : "Engko Bwee Seng, kau tunggulah sebentar."

Imam tua itu memang benar adalah Bwee hoa Kiesu. Tanpa menghiraukan panggilan Ceng Nio-cu, ia lantas berjalan keluar dengan tindakan lebar.

Ceng Nio-cu tidak keburu tukar pakaian lagi, ia lantas lompat memburu.

Di halaman pekarangan yang luas, ia tak menemukan bayangannya Bwee-hoa Kiesu lagi, terpaksa Ceng Nio-cu kembali ke kamarnya dengan perasaan masgul. Di bawah penerangan lampu pelita, ia terus mengawasi kantong kecil yang warnanya sudah dekil itu, tetapi ia masih mengenali bahwa kantong itu adalah barang yang sering dibawa-bawa oleh Pek Leng.

Mengingat peristiwa yang telah terjadi pada dua puluh tahun yang lalu, lima atau enam hari setelah ia menikah dengan Pek Leng.

Ia ingat benar, tepat lima malam enam hari, Pek Leng mendadak menghilang tidak meninggalkan bekas.

Timbulnya peristiwa ialah karena kantong kecil itu. Ceng Nio-cu ingin melihat, tetapi tidak diijinkan oleh Pek Leng. Ceng Nio-cu tetap memaksa, ia telah menggantikan kedudukannya Ceng Kim-cu untuk dapat menikah dengan Pek Leng.

Ceng Kim-cu adalah seorang perempuan lemah-lembut, sedangkan Ceng Nio-cu beradat keras. Dengan demikian, rahasia telah terbuka lebih cepat.

Selanjutnya ia tidak dapat menemukan Pek Leng lagi, tidak nyana hari itu setelah dua puluh tahun lamanya, kembali ia dapat melihat kantong kecil itu. Ceng Nio-cu membuka kantong kecil itu, didalamnya terdapat sehelai kertas yang terlipat-lipat.

Itu adalah sepucuk surat yang sudah luntur warnanya. Mungkin karena sudah terlalu lama disimpan. Surat itu berbunyi:

"Ketika kau membaca surat ini, belum ada satu bulan aku meninggalkan dunia yang fana ini.

Kantong ini akhirnya dapat kau lihat juga. Apa isi didalamnya ? Didalamnya tidak ada apa-apanya ! Yang ada hanyalah air mata dan darah ! Perbuatanmu yang dulu, apakah kau tetap tidak merasa menyesal ? Kau telah mencelakakan dirinya orang lain, dirimu sendiri, juga dirinya keturunan kita di kemudian hari. Kau ! Apakah yang kau dapatkan. Hanya pengharapan yang kosong.

Penyesalan yang tak ada akhirnya yang telah merusak penghidupanmu yang sangat berharga. Jiwa manusia yang hanya beberapa puluh tahun saja lamanya, dengan cepat akan berlalu.

Siapakah yang dapat mempertahankan usia mudanya terus-menerus ? Maka sadarlah ! Aku dan Kim-cu telah rebah didalam satu liang kubur. Aku akan tetap berdampingan dengan dia untuk membuktikan kecintaanku dimasa hidup. Hal ini barangkali bukan seperti apa yang kau pikirkan."

Hanya sekian bunyinya surat itu, tetapi cukup membuat Ceng Nio-cu menjadi kalap, ia lantas merobek-robek hancur surat itu, kemudian berkata kepada dirinya sendiri :

"Rencanamu sungguh bagus ! Aku Ceng Nio-cu telah mengetahui benar bahwa kau belum mati, maka aku pertahankan diriku sampai hari ini. Bagaimana aku dapat mengijinkan kau berkumpul lagi dengan kecintaanmu? Aku adalah istrimu yang sah, kita nanti akan membuat perhitungan dialam baka !"

Setelah berkata demikian, Ceng Nio-cu lantas memilih pakaiannya yang paling bagus, ia berdandan dan bersolek. Kantong kecil itu disimpan dalam sakunya.

Selesai bersolek, Ceng Nio-cu lalu menelan sebutir obat pil, lantas naik ke atas pembaringannya.

Siao Pek Sin yang diberitahukan tentang keadaan ibunya ketika tiba di kamar ibunya, jiwanya Ceng Nio-cu sudah melayang ke akherat untuk mencari suaminya.

Dengan demikian upacara pernikahan terpaksa harus ditunda, sebab biar bagaimanapun juga Siao Pek Sin tidak berani menikah selagi jenazah ibunya masih belum dikubur.

Oleh karena itu pula, maka Peng Peng juga terhindar dari terkamannya Siao Pek Sin. Tetapi Kim Houw sudah binasa, apa artinya hidup tanpa dia? Siao Pek Sin yang kuatirkan Peng Peng akan mencari jalan pendek, ia menyerahkan si nona kepada Ciok Goan Hong untuk menjaga keselamatannya.

Hampir berbareng saatnya, di sebuah lembah yang tidak berjauhan dengan Istana Panjang Umur, juga ada berkerumun banyak orang. Orang-orang itu kebanyakan adalah orang-orang kuat dari golongan partai sepatu rumput yang diundang oleh Cu Su dan Sin-hoa Tok-kai, sedangkan Teng Kie Liang dan kedua orang cucunya juga terdapat diantara mereka.

Tetapi hampir semua orang menunjukkan paras masgul dan kelu, sebabnya karena Kim Houw dan Co Seng yang berangkat lebih dahulu, ternyata tidak kedengaran kabar ceritanya.

Hilangnya kedua orang itu secara misterius, siapapun tidak dapat menduga-duga kemana perginya. Mereka baru saja tiba di situ belum lama, mengapa sampai begitu cemas? Itulah karena hampir di semua pelosok telah mereka cari, tetapi tetap Kim Houw dan Co Seng tidak diketemukan jejaknya. Semua orang telah diliputi oleh perasaan kuatir. Mungkin Kim Houw dan Co Seng telah mengalami bencana ?

Mendadak Sin-hoa Tok-kai memecahkan suasana sunyi itu. Ia berkata :

"Aku si pengemis tua benar-benar tidak akan percaya kalau Kim Siaohiap yang mempunyai kepandaian yang luar biasa menemukan bahaya, aku lebih percaya kalau mereka sudah memasuki Istana Panjang Umur. Setelah jam dua malam nanti aku akan pergi kesana untuk mengadakan penyelidikan. Siapa yang hendak ikut aku pergi ?

Pertanyaan itu segera disambut oleh beberapa orang yang menyatakan ingin ikut.

Tetapi semuanya telah ditolak oleh Cu Su yang dalam rombongan itu bertindak selaku kepala.

Ia berkata :

"Kepergiannya Sute kali ini bukannya untuk melakukan pertempuran. Kalau yang ikut kebanyakan, bisa menyulitkan urusan. Ilmu mengentengi tubuhnya Sute sangat sempurna maka boleh saja dia pergi, tetapi sebagai kawannya aku ingin minta saudara Teng yang mengawani. Bagaimana ? Tentang kepandaian saudara Teng tidak usah kujelaskan lagi."

Teng Kie Liang memang mendapatkan nama dalam rimba persilatan, karena ilmu mengentengi tubuhnya yang sangat luar biasa, sehingga ia telah mendapatkan nama julukan Hui- thian Go-kang atau kelabang terbang. Apalagi senjata rahasianya yang merupakan jarum halus yang dinamakan Hui-ie-ciam, dapat digunakan melawan musuh yang jumlahnya lebih banyak. Jika berada dalam keadaan terdesak seandainya ia ingin kabur, senjata itu merupakan benda yang paling berharga untuk melindungi dirinya.

Teng Kie Liang lantas menjawab :

"Saudara Cu, mengapa begitu merendah terhadap diriku ? Aku akan menurut perintahmu apa saja." jawab Teng Kie Liang.

Demikianlah Sin-hoa Tok-kai dan Teng Kie Liang pada jam dua tengah malam telah meninggalkan lembah dan menuju ke Istana Panjang Umur. Meskipun banyak rintangan, tetapi mereka dapat tiba ditempat tujuannya dengan selamat.

Ketika mereka tiba, tepat waktu Ceng Nio-cu berangkat ke akhirat, sehingga keadaannya pada saat itu sangat ribut. Mereka tadinya mengira bahwa Kim Houw benar-benar sudah ada di situ, siapa nyana peristiwa ribut-ribut itu ternyata adalah karena kematiannya Ceng Nio-cu. Mereka terus mencari kemana-mana tetapi tetap tidak dapat menemukan dirinya Kim Houw dan Co Seng sehingga Sin-hoa Tok-kai mulai merasa cemas dan ragu-ragu.

Sin-hoa Tok-kai sudah mengetahui bahwa di dalam Istana Panjang Umur itu banyak berkumpul orang-orang kuat seperti Kow-low Sin-ciam dan Thie Bok Taysu.

Akhirnya Sin-hoa Tok-kai telah mendapat satu akal. Ia menangkap salah satu anak buahnya Siao Pek Sin dan dikompas secara diam-diam.

Justru keterangan yang didapat dari mulutnya orang itu telah membikin terbang semangatnya Sin-hoa Tok-kai. Bertepatan dengan itu, dalam istana telah ribut dengan suaranya orang-orang mencari seseorang. Dalam kagetnya, Teng Kie Liang lantas menotok rubuh orang tangkapan tadi, kemudian menarik Sin-hoa Tok-kai kabur ke bawah gunung.

Tindakannya yang tergesa-gesa itu telah menimbulkan akibat meluncurnya sebatang anak panah yang dilepaskan dari dalam istana. Anak panah itu seolah-olah mempunyai mata, dengan apinya yang berwarna merah terus mengikuti kedua orang yang sedang lari itu. Teng Kie Liang terperanjat, ia buru-buru menepok jalan darahnya Sin-hoa Tok-kai yang berada dalam keadaan seperti orang linglung, tetapi tepokannya itu ternyata malah telah mendatangkan bencana.

Karena Sin-hoa Tok-kai yang mendapat kabar tentang kematian Kim Houw, pengharapan yang paling besar dianggapnya sudah musnah, maka ia tidak memikirkan lagi tentang mati hidupnya.

Dengan mendadak ia memekik nyaring, tetapi ia tidak lari ke bawah gunung, sebaliknya telah lompat melesat ke atas. Teng Kie Liang yang menyaksikan keadaan demikian, bukan main rasa kagetnya.

Sebentar kemudian, satu bayangan orang telah menghalang di depannya Sin-hoa Tok-kai, orang itu ternyata adalah Thie Bok Taysu.

"Hudya kira siapa orangnya yang berani mati masuk kedalam Istana Panjang Umur ini. Kiranya adalah dua orang pecundang yang berhasil meloloskan diri dari bawah tongkatku. Hari itu aku telah mengampuni jiwa kalian, tetapi malam ini sudah tidak bisa lagi"

Sin-hoa Tok-kai tidak perdulikan ocehannya Thie Bok Taysu, ia terus menyerang dengan tangannya.

Thie Bok Taysu kembali tertawa bergelak-gelak, dengan enak saja ia menggoyang-goyangkan tongkatnya ia sudah berhasil mengelakkan serangan Sin-hoa Tok-kai. Tetapi belum lagi Thie Bok Taysu bergerak, Sin-hoa Tok-kai sudah menyerang lagi dengan hebat, sebentar saja Sin-hoa Tok- kai sudah melancarkan tujuh kali serangannya. Thie Bok Taysu karena lalai sedikit saja, maka serangan Sin-hoa Tok-kai tadi telah membuat ia kelabakan dan terpaksa ia harus mundur tiga tindak.

Thie Bok Taysu menjadi gusar, selagi Sin-hoa Tok-kai sedikit lambat serangannya, ia lantas membabat dengan tongkatnya.

Sin-hoa Tok-kai yang memang bukan tandingan Thie Bok Taysu, apalagi tangannya tidak membawa senjata, maka ia terpaksa mundur sampai setombak lebih.

Mendadak berkelebat jatuh sinar hijau yang menyambuti tongkatnya Thie Bok Taysu.

Itulah Teng Kie Liang dengan sebatang seruling batu giok di tangannya. Thie Bok Taysu diam- diam merasa geli, karena dengan sebatang suling saja, bagaimana mau diadu dengan tongkatnya?

Maka ia tidak menarik serangannya dan membiarkan serulingnya Teng Kie Liang membentur tongkatnya. Siapa nyana seruling Teng Kie Liang itu hanya menotol di kepala tongkat, segera badannya melesat tinggi, kemudian menyerang Thie Bok Taysu secara menukik.

Itulah gerak tipunya Teng Kie Liang yang telah membuat ia terkenal didunia Kangouw. Karena duluan pernah ditawan oleh Thie Bok Taysu, ia anggap itu ada suatu penghinaan yang paling besar bagi dirinya. Sudah banyak tahun ia tidak menggunakan senjata dan malam itu karena telah memasuki goa macan, maka ia sengaja membekal seruling cucunya dan begitu turun tangan ia lantas menggunakan tipu serangannya yang dinamakan "Hui-thian-sam-yauw". Tipu serangan Hui-thian-sam-yauw ini sangat aneh, terutama senjata seruling itu, serangannya seperti kilat cepatnya. Orang hanya dapat melihat berkelebatnya sinar hijau saja, tetapi banyak bagian jalan darahnya yang terancam oleh totokan seruling itu. Bukan main kagetnya Thie Bok Taysu, ia buru-buru mundur sejauh tiga tindak, tongkatnya diputar laksana titiran untuk menahan serangannya Teng Kie Liang.

Si orang she Teng yang sudah melancarkan ilmu silatnya itu, sudah tentu tidak gampang- gampang menarik pulang senjatanya setengah jalan, bahkan ia menyerang semakin hebat dan satu kali ia mengancam belakang kepala Thie Bok Taysu.

Bagian belakang kepala itu ada merupakan bagian yang terpenting dari anggotanya badan manusia, siapa yang kena ditotok akan binasa seketika itu juga.

Thie Bok Taysu sungguh tidak menyangka kalau kepandaiannya Teng Kie Liang ada begitu tinggi, dalam kagetnya ia buru-buru mundur kira-kira satu tombak lebih.

Sekalipun ia sudah bergerak dengan cepat, tetapi serangan Teng Kie Liang ternyata ada lebih cepat.

Serulingnya sudah berhasil membabat pundak kiri Thie Bok Taysu, sehingga jubahnya terlepas sebagian.

Bukan main gusarnya Thie Bok Taysu karena beberapa puluh tahun lamanya selama ia malang melintang di dunia Kangouw, belum pernah ia mengalami penghinaan demikian rupa.

Kali ini ia sudah benar-benar marah, sambil mendelik dan membentak hebat ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Dengan ilmu tongkatnya Hok-mo-tung-hoat, ia menyerang dengan hebat.

Sebentar saja Teng Kie Liang sudah terkurung oleh bayangan dan anginnya tongkat Thie Bok Taysu.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan: "Hajar!" lalu disusul oleh suara berkelebatnya dua benda kuning yang menyelusup diantara sambaran angin tongkatnya dan terus menyerang Thie Bok Taysu.