Istana Kumala Putih Jilid 32

 
Jilid 32

Oleh karena ingin mendapatkan kekuatan dalam waktu singkat, Co Seng terus menahan rasa sakitnya sambil kertek gigi, sedikitpun tidak mengeluh.

Tapi hawa dingin itu makin lama makin hebat, sehingga semua anggauta badannya seperti sudah beku seluruhnya. Akhirnya, matanya dirasakan gelap dan sebentar kemudian sudah tidak ingat apa-apa lagi.

Ketika ia siuman kembali, keadaan di sekitarnya sudah gelap, ia sendiri tidak mengetahui hari sudah jam berapa.

Sebetulnya ia sudah pingsan satu hari satu malam lamanya dan saat itu adalah jam satu tengah malam Co Seng membuka matanya dan memandang keadaan sekitarnya, akhirnya dalam keadaan yang gelap gulita itu, samar-samar matanya dapat melihat hanya Tiong-ciu-khek seorang yang tidur di atas pembaringannya, Kim Houw dan Peng Peng tidak kelihatan.

Pada saat itu, Co Seng merasa sangat dahaga sekali. Perut lapar masih tidak menjadi soal baginya, tetapi mulut kering merupakan suatu siksaan yang sangat hebat.

Maka ia ingin mencari air minum. Siapa tahu baru saja badannya bergerak, tulang-tulangnya mendadak dirasakan sakit sekali, hampir saja ia jatuh pingsan lagi. Terpaksa ia membuka mulut, maksudnya hendak minta pertolongan Tiong-ciu-khek untuk mendapatkan sedikit air.

Tetapi perkataan belum sampai keluar dari mulutnya, matanya mendadak dapat melihat, di pembaringan Tiong-ciu-khek terdapat beberapa buah buli-buli besar dan kecil berderet-deret. Buli- buli itu setiap hati dibawa-bawa oleh Tiong-ciu-khek. Sebenarnnya Co Seng menganggap bahwa buli-buli itu ada araknya. Sudah beberapa kali ia ingin mencoba mencurinya untuk meminum isinya. Tetapi tidak berani karena melihat Tiong-ciu-khek sendiri menyayangi barang itu seperti mustika dan setiap hari tidak pernah terpisah dari badannya.

Andaikata benar ada araknya, tentunya merupakan arak mahal. Sayang Co Seng selalu tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengambilnya.

Malam itu, sungguh kebetulan sekali. Dalam keadaan sangat dahaga, ia telah lama menemukan buli-buli yang sudah lama diincarnya itu. maka Co Seng lantas menahan sakitnya seberapa dapat, ia menggerakkan badan dan kakinya perlahan lahan untuk mengambil buli-buli tersebut.

Meskipun Co Seng belum banyak mengerti urusan tetapi kegemarannya terhadap arak merupakan pembawaan dari kodrat. Mengingat bahwa dalam buli-buli itu ada arak wanginya segala penderitaannya lantas lenyap seketika itu juga.

Akhirnya tanganya dapat menjambret buli-buli itu. Apa mau yang diambil itu justru buli-buli yang paling besar.

Dengan susah payah ia baru berhasil membuka tutupnya dan segera diminum isinya.

Siapa nyana, begitu diminum, baru diketahuinya bahwa isinya itu hanya air tawar biasa saja, sehingga hati Co Seng merasa sangat kecewa.

Tetapi dalam keadaan sangat dahaga pada saat itu, air tawar serupa itu merupakan barang yang sangat berharga baginya.

Co Seng terus menenggak isinya, rasa sakit di sekujur badannya tadi mendadak lenyap. Hawa dingin yang semula dirasakan mengeram didalam pusarnya, saat itu juga lenyap.

Dalam hati Co Seng merasa heran. Sambil menuangkan buli-buli itu, ia terus menenggak isinya.

Air sebuli besar itu sekejap saja telah habis diminumnya.

Perut Co Seng yang begitu kecil ternyata dapat mengisi air sebuli besar. Ia masih belum mengetahui bahwa air itu adalah airnya kerbau hijau yang sangat mujijat. Karena sehabis minum airnya, sekujur badannya dirasakan segar maka terus saja ia minum lagi dan buli-buli yang lain- lainnya. Sebentar saja ia sudah menghabiskan isinya tujuh atau delapan buli-buli. Ada ketinggalan dua buli-buli berisi yang belum diminumnya.

Sampai di sini, kekuatan tenaga Co Seng telah bertambah dengan tiba-tiba. Sedangkan didalam perutnya ia merasakan hawa panas yang menyusuri seluruh badannya.

Co Seng terperanjat, ia tidak minum sisanya lagi. Buru-buru ia duduk bersila untuk melatih ilmu tenaga dalam seperti apa yang diajarkan oleh Kim Houw.

Tetapi latihannya itu telah membuat dia merasakan dirinya ringan sekali, seolah-olah akan melayang diudara, sedangkan hawa panas ditengah perutnya dirasakan seperti bergolak. Co Seng yang belum pernah melatih ilmu lweekang, ia tidak mengetahui bahwa keadaan yang beritu itu baik atau jelek. Dalam kagetnya, kembali ia jatuh pingsan.

Ketika ia siuman untuk kedua kalinya, cuaca sudah terang, Kim Houw, Peng Peng dan Tiong- ciu-khek bertiga berdiri di hadapannya.

Kim Houw memandang padanya dengan perasan terheran heran kemudian bertanya kepadanya : "Co Seng, kau kenapa ? kalau kedatanganku terlambat sedikit saja, apa kau kira jiwamu masih ada ? Apa yang telah kau lakukan dan kau mendapat mestika apa ?"

Dengan perasaan bingung, Co Seng hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, mulutnya hanya dapat mengatakan : "Aku... air..."

Kim Houw yang mendengar itu, agaknya tidak percaya.

"Aku tahu kalau kau ingin minum air, aku sudah memesan pada yaya supaya kau tak diberikan air. Darimana kau mendapatkan air ? Apalagi keadaanmu ini tidak mirim dengan seorang yang habis minum air saja, pasti masih ada lain sebab . . . "

Kim Houw masih ingin mengatakan apa-apa lagi, mendadak didengarnya Tiong Ciu Khek berseru :

"Aya . . . ada maling !" Kim Houw dan Peng Peng terperanjat, lalu menanya berbareng: "Yaya, kau kehilangan apa ?" "Tadi malam ketika kalian berdua keluar berlatih, aku telah

kepulasan dan tertidur, sampai-sampai aku tidak mengetahui kalau ada maling masuk ke kamarku

dan mencuri habis air mujizatku yang kubawa bawa dengan susah payah . . . "

Mendengar perkataan Tiong ciu khek itu, wajah Co Seng pucat seketika, badannya menggigil.

Dengan suara gemetar ia berkata : "Aku . . . aku . . . "

Ia sebetulnya ingin mengatakan bahwa dialah yang minum air dalam buli-buli itu, karena ia tidak mengetahui bahwa dalam buli-buli itu terdapat air mujizat, maka minta agar supaya Tiong ciu khek memberi maaf. Tetapi dalam keadaan gugup, ditambah lagi karena ia tidak pandai bicara, maka ia hanya dapat mengatakan "aku, aku" saja.

Tetapi Kim Houw yang menyaksikan keadaan Co Seng itu, lantas mengerti apa yang telah terjadi.

"Yaya tidak usah cemas. Aku sudah menemukan itu orang yang mencuri air mujizatmu itu, cuma saja yaya tidak dapat membunuhnya, sebab dia adalah orang kita sendiri." kata Kim Houw sambil ketawa.

Kemudian ia berpaling dan berkata kepada Co Seng :

"Co Seng, kau juga tidak perlu ketakutan sedemikian rupa. Sebagai seorang laki-laki, berani berbuat harus pula berani tanggung jawab. Kau berani mencuri minum barangnya orang lain, seharusnya kau berani pula mengakui terus terang. Apa kau kira dengan ketakutan saja, perkara dapat habis begitu saja ? Aku tadinya sedang merasa heran, mengapa kekuatanmu mendadak sontak bertambah, kiranya adalah karena kau mencuri minum air mujizat itu."

Tiong ciu khek lalu mengerti akan duduk perkara, tetapi dia masih belum mau percaya, dengan cara bagaimana Co Seng dapat menghabiskan air yang begitu banyak ? Ia lantas berkata :

"Hal ini aku sungguh-sungguh tidak habis mengerti. Air sampai tujuh atau delapan buli-buli, bagaimana dapat masuk semuanya dalam perutnya yang begitu kecil ? Sedangkan air itu kalau diminum sewajarnya, mungkin tidak akan habis setengah bulan. Bagaimana ia dapat meminum habis dalam waktu semalaman saja ?"

Kim Houw yang mendapat keterangan juga merasa terkejut, memang itu merupakan suatu soal yang aneh . . . ?

Co Seng yang sudah mendengar perkataan Kim Houw, nyalinya mendadak menjadi besar. Ia mengeluarkan dua buli-buli yang belum diminum isinya, lalu diberikan kepada Tiong ciu khek sembari berkata :

"Masih ada, masih ada ! Aku . . . aku . . . "

Tiong-chiu-khek menyambuti buli-bulinya itu, memang benar masih ada isinya, sedangkan yang lain-lainnya sudah kosong.

Karena Co Seng mengakui dia yang meminumnya, maka Tiong-chiu-khek yang semula tidak percaya, harus percaya juga.

Kim Houw lantas menyuruh Co Seng duduk di atas pembaringan, ia sendiri lantas berduduk di atas pembaringan, ia sendiri lantas berduduk di depannya sambil menyodorkan kedua tangannya. Ia juga menyuruh Co Seng menyodorkan kedua tangannya, dengan demikian empat tangan lalu saling menempel satu sama lain untuk melatih ilmunya.

Sekali ini, Co Seng bukan saja sedikitpun tidak merasakan gangguan dari ilmu Han bun cao kie Kim Houw, malah sebaliknya, daya kekuatan perlawanannya sangat kuat.

Lewat kira-kira satu jam lamanya, Kim Houw melompat turun dari atas pembaringan dan berseru dengan suara girang:

"Sudah, sekarang kekuatanmu sudah melampaui batas kekuatan manusia biasa. Dua atau tiga tahun lagi kau sudah dapat menandingi kekuatanku. Sungguh tidak nyana, air kerbau hijau yang sangat mujizat itu, khasiatnya terhadap kekuatan tenaga manusia ada demikian gaib, Hanya sayang sekali..."

Mendengar Kim Houw mengatakan sayang Tiong chiu khek dan Peng Peng telah menyerah.

Kalau dulu mereka telah mengetahui bahwa air busa itu ada mempunyai khasiat yang begitu mujizat, sudah tentu merekapun akan minum lebih banyak lagi.

Kemudian sisa air dalam dua buli-buli itu diletakkan dihadapan Tiong chiu khek dan Peng Peng seraya berkata: "Yaya dan Peng Peng masing-masing boleh minum satu buli-buli. Aku percaya, sedikit banyak pasti akan ada faedahnya. Tentang obat luka, lain hari kita bicarakan lagi. Apakah orang-orang dari golongan Sepatu Rumput tidak ada satu juga yang membawa obat-obatan?"

Peng Peng yang mendengar itu lantas hendak membuka tutupnya dan hendak menengguk isinya... Tiba-tiba TIong Chiu Khek berseru :

"Aku sendiri tahu, bahwa latihan ilmu silat setiap orang ada batasnya, betapapun tingginya kekuatan tenaga manusia aku percaya tidak ada yang dapat melampaui batas ukuran. Bakat seseorang adalah karena pembawaan alam. Tidak dapat diperoleh secara paksa. Houw-jie. kau tadi bukan mengatakan bahwa kekuatannya Co Seng itu masih memerlukan dua tiga tahun lagi baru sempurna betul. Sekarang biarlah sisanya dua buah buli-buli ini kuberikan padanya, sebab menolong orang tidak boleh tanggung-tanggung."

Peng Peng yang mendengar keterangan itu juga sadar. Mengapa ia yang mengikuti Kim Houw dan belajar ilmu silat Thian Liong Pat sek sebegitu jauh masih tidak dapatkan hasil yang sempurna, sebaliknya Co Seng yang belum lama belajarnya, hasilnya hampir menyerupai dengna Kim Houw? Ini benar-benar karena bakat seseorang yang berlain-lainan, maka ia juga rela menyerahkan buli-bulinya kepada Co Seng sambil berkata:

"Co Seng, nah ambillah. Semua untukmu Tetapi kau harus mengeluarkan tenaga lebih banyak untuk membantu kami nanti."

Mulanya Co seng tidak berani menerima, tetapi setelah disuruh oleh Kim Houw, ia tak berani menampik lagi. Ia lantas turun dari pembaringan dan berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya di hadapan Tiong chiu-khek dan Peng Peng. Meskipun itu ada merupakan untuk kedua kalinya Co Seng menjalankan peradatan menghormat sejak ia dilahirkan, tetapi ia melakukan perbuatan itu secara sujud dan jujur, bukannya berpura-pura saja.

Kim Houw lantas menyuruh Co Seng supaya minum airnya dan lantas diajak berlatih lagi supaya kekuatannya menjadi sempurna betul-betul dan nanti dalam pertempuran menghadapi kawanan manusia iblis supaya dapat dilepaskan untuk menghadapi lawan yang tangguh-tangguh.

Tiong-chiu-khek dan Peng Peng yang berdiri menyaksikan disamping, mendadak merasakan hawa dingin yang mulai meluas dari badannya Kim Houw dan Co Seng.

Tiong chiu khek dan Peng Peng meskipun terhitung orang-orang kuat, tetapi kalau dibandingkan dengan Kim Houw dan Co Seng yang sekarang, sudah jauh sekali bedanya, maka mereka tidak tahan terhadap serangan hawa dingin tersebut.

Akhirnya seluruh kamar itu terkurung oleh hawa dingin, sehingga Tiong-chiu-khek dan Peng Peng terpaksa menyingkir keluar.

Lewat kira-kita satu jam, Kim Houw memanggil Tiong-chiu-khek dan Peng Peng supaya masuk kembali. Ketika Kim Houw yang sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda keletihan, dalam hati mereka merasa heran.

Kim Houw melihat air muka mereka yang keheranan, sambil tersenyum ia berkata: "Tadi ketika aku membantu padanya membuka urat-urat nadi bagian "Jin" dan "Tok"

sebetulnya sudah merasa sangat letih, siapa nyana dia dapat menggunakan kekuatan dari dalam untuk membantu aku. Maka sekejap saja keletihanku sudah pulih kembali seperti sedia kala. Ini benar-benar ada di luar dugaanku."

Sehabis bicara. Kim Houw lalu mengeluarkan tangannya untuk menotok jalan darah "Kian kin hiat" Co Seng.

"Kian kin hiat" ini merupakan salah satu jalan darah penting anggota badan manusia jika terkena totokan, orang tersangkut akan jatuh pingsan. Sebab Co Seng sendiri masih belum mengerti dimana adanya jalan darah penting, maka Kim Houw kuatirkan jika dalam pertempuran nanti ia terpedaya oleh musuhnya. Sengaja ia mencoba ada reaksi apa dari bocah itu, serta daya perlawanannya bagaimana, baru nanti Co Seng diberikan petunjuk sebagaimana mestinya.

Daya perasaan Co Seng memang luar biasa, ditambah lagi dengan kekuatannya yang sekarang sudah bertambah secara mendadak sudah tentu ia mengerti bagaimana caranya menghindarkan suatu serangan. Hanya saja karena Kim Houw adalah suhunya sendiri, juga ia tidak mengetahui kalau sang guru sedang mencoba dirinya, maka ia tidak berani menyingkirkan diri.

Dengan demikian, maka jari Kim Houw tadi telah dapat mengenakan jalan darah "Kian kin hiat" nya Co Seng.

Cuma jari itu seperti mengenakan barang yang licin, telah meleset.

Pertama kali Kim houw mencoba menotok, sudah tentu ia tidak menggunakan kekuatan banyak-banyak dan setelah kini mengetahui demikian, ketika untuk kedua kalinya ia menotok lagi, ia telah menggunakan kekuatan secukupnya. Ia ingin mengetahui sampai dimana kekuatan daya perlawanan Co Seng.

Sebentar saja, jari tangan Kim Houw sudah menotok bagian jalan darah di badannya Co Seng. Tetapi kesudahannya sama seperti yang pertama. Kim Houw disini baru merasa heran, dalam hati bertanya-tanya kepada diri sendiri: Muhngkinkah Co Seng mempunyai kekuatan Khun goan pembawaan dari alam? Mengapa sampai hari ini baru diketahuinya?

Memang benar dalam diri Co Seng terdapat kekuatan Khun goan Khie kang pemberian alam, hanya saja kekuatan itu tersimpan didalam dirinya dan kini setelah urat nadi Jin dan Tok terbuka, maka kekuatan Khun goan Khie kang-nya itu lantas tersebar di seluruh badannya kekuatan itu lebih jauh lebih hebat dari pada segala ilmu kebal, Kim ciong cao umpamanya yang di dapat dari tenaga latihan.

Tiong Ciu khek dan Peng Peng yang menyaksikan kelakuan Kim Houw, mereka menganggap mungkin masih ada apa-apa yang masih belum selesai dari latihan tadi.

Siapa nyana, Kim Houw sehabisnya menotok diri Co Seng, mendadak lantas berdiri bingung, matanya memandang ke atas, agaknya ada suatu soal sulit yang susah ditutup.

Peng Peng yang selalu memperhatikan Kim Houw melihat keadaan demikian buru-buru maju menanya.

Engko Houw, engkau kenapa?"

Tindakan Peng Peng tadi berbareng juga mengejutkan Co Seng. Dengan wajah ketakutan Co seng kembali berlutut di hadapan Kim Houw ia mengira bahwa dirinya telah berbuat kesalahan.

Kim Houw yang ditegur oleh Peng Peng seketika itu menjadi kaget, kemudian menjawab sambil tersenyum:

"Tidak apa-apa, aku cuma menguatirkan di kemudian hari murid ini kepandaiannya nanti akan melebihi dari suhunya sendiri sebab dalam badannya terdapat kekuatan Khun goan Khie kang.

Dengan demikian kalau murid ini nanti menjadi seorang berandalan sang suhu pasti akan merasa kewalahan." Co Seng yang masih berlutut, ketika mendengar perkataan Kim Houw tadi, hatinya merasa kebat-kebit. Sayang karena ia masih belum pandai bicara, terpaksa ia hanya dapat menganggukkan kepalanya sambil menangis.

"Bangunlah! Asal kau nanti tidak berani melawan suhumu saja sudah cukup," kata Kim Houw bersenyum. Co Seng masih belum berani berdiri, dengan susah payah ia baru dapat mengeluarkan perkataan:

"Ak...aku...tidak berani!"

Di kota Jiauw ciu itu mereka berdiam tiga hari lamanya. Pada hari ke empat pagi-pagi Kim Houw berempat melanjutkan perjalanannya menuju ke gunung Kua chong san. Dalam beberapa hari saja mereka sudah tiba di daerah pegunungan tersebut.

Malam itu, ketika ke empat orang itu baru saja masuk di kota Cho ciu di kaki gunung Kua chong san, Kim Houw sudah mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang mengintai gerak- gerik mereka.

Pada saat itu, Co Seng dengan disengaja atau tidak telah bertubrukan dengan seorang laki- laki yang sedang berjalan mendatangi. Orang itu mungkin karena kesakitan, mulutnya lantas memaki-maki, tangannya bergerak memukul Co Seng. Co Seng berlagak ketakutan, ia lantas membalikkan badannya untuk kabur. Orang itu rupanya tidak mau mengerti, ia terus mengejar. Mereka kejar mengejar sampai didepan pintu sebuah toko obat.

Di situ ada berdiri berendeng dua orang laki-laki yang berpakaian ringkas.

Co Seng yang lari-larian kesana kemari, lantas menubruk tengah-tengah diantara kedua orang laki-laki tadi.

Karena cepatnya Co Seng bergerak. kedua orang laki-laki tadi meskipun sudah mengetahui bahwa diri mereka akan bertabrakan, tetapi mereka tetap tidak mau menyingkir, sehingga akhirnya ketabrak jatuh oleh Co Seng.

Sekali ini, mungkin tabrakannya terlalu keras, sehingga kedua orang laki-laki itu tidak dapat segera berbangkit. Tetapi orang yang sedang mengejar Co Seng tadi sudah keburu sampai.

Ketika melihat kedua orang ketabrak jatuh, diam-diam ia memaki bahwa kedua orang laki-laki itu tidak ada gunanya, atau sengaja berpura-pura. Sebab terhadap satu bocah yang usianya baru kira-kira tujuh tahun saja, ada mempunyai berapa kekuatannya sampai dapat menubruk jatuh dua orang tua. Justru ketika ia berpaling mencari Co Seng lagi, bocah binal itu ternyata sudah tidak kelihatan lagi bayangan.

Kiranya Co Seng yang masih kecil itu tidak pandai bicara, ternyata banyak sekali akal muslihatnya.

Ia lebih dahulu sudah mengetahui bahwa kedua orang itu sedang mengintai rombongannya sendiri. Meskipun orangnya kecil, tetapi kecerdasan luar biasa. Selama mengikuti Yayanya, si padri aneh itu, meskipun waktunya sangat pendek, tetapi segala tingkah laku dan akal muslihatnya padri yang gila-gilan itu Sudah dapat ditirunya semuanva, maka terjadilah peristiwa yang agak lucu tadi.

Mereka berempat, setelah berdiam dirumah penginapan, dari sakunya Co Seng mengeluarkan dua buah "plat papan" sambil mengoceh dengan caranya sendiri. Kim Houw baru mengetahui bahwa dua buah plat papan itu telah didapati oleh Co Seng dari kedua orang laki-laki yang ditabrak jatuh tadi.

Plat papan itu berukirkan sebuah lukisan istana yang mentereng. Dilain mukanya terdapat tanda capnya "Istana Panjang Umur", ternyata plat papan itu adalah tanda dari Istana Panjang Umur yang dikuasai oleh Siao Pek Sin.

"Mereka rupa-rupanya ingin bergerak secara besar-besaran, maka sengaja menggunakan segala macam pertandaan. Apakah di gunung Kua-chong-san itu terdapat banyak rintangannya?" kata Tiong chiu-khek sambil ketawa.

"Hal ini juga sudah dikatakan, nanti kita tangkap mereka dan coba menanyakan keadaannya." jawab Kim Houw.

Tetapi di dalam kota, Kim Houw telah mencari ubek-ubekan, ternyata kedua orang itu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.

Oleh karena dari situ terus sampai ke gunung Kua chong-san semuanya merupakan daerah pegunungan yang panjang, sekalipun ada uang, orang juga tidak dapat membeli makanan, maka di kota Chio-chiu itu Kim Houw sengaja memborong banyak rangsum kering untuk persediaannya di sepanjang jalan.

Hawa udara pada bulan enam, sebetulnya amat panas, tetapi begitu memasuki daerah pegunungan Kua chong san, hawanya dirasakan segar nyaman, terutama di daerah hutannya.

Kim Houw berempat sudah empat hari masuk di daerah pegunungan itu. Disepanjang jalan mereka tidak menemukan kejadian apa-apa. Hari itu mereka berjalan sampai tengah hari dan sudah waktunya untuk bersantap siang.

Mendadak Co Seng dengan gerakannya yang gesit telah melesat balik dari perjalanannya, Kim Houw mengira ia telah dapat melihat apa-apa, maka ketika Co Seng berdiri, ia menanyakan apa yang telah dilihatnya.

Siapa nyana, Co Seng dengan wajah cengar cengir dan tangan menunjuk-nunjuk, mulutnya hanya dapat mengatakan:

"Di sana.... di sana"

Oleh karena mereka tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan kata "di sana" itu, terpaksa Kim Houw menengok kearah yang ditunjuk oleh Co Seng.

Di sana, di bawah salah sebuah bukit, ternyata terdapat satu lembah yang sangat indah pemandangannya, terang di situ terdapat banyak tanaman bunga-bunga beraneka warna. Selain dari pada itu, juga terdapat saluran air kecil dan airnya bening sekali, sehingga tempat itu merupakan suatu tempat yang cocok sekali untuk melepaskan lelah.

Tetapi heran sungguh, lembah itu ternyata merupakan sebuah lembah mati, sebab tidak ada jalan yang dapat digunakan untuk mencapai lembah tersebut. Meskipun tidak terlalu dalam, tetapi untuk dapat mencapai tempat itu, satu-satunya jalan ialah dengan jalan merangkak perlahan- lahan.

Selagi Tiong-chiu-khek dan Kim Houw masih merasa ragu-ragu, Co Seng rupa-rupanya sudah tidak sabaran lagi, sehingga ia berjalan terlebih dahulu dengan menggunakan kaki dan tangannya, ia merambat turun. Peng Peng mengikuti jejaknya Co Seng, mulutnya tidak henti-hentinya berseru: "Engko Houw, engko Houw, lekas turun. Aku mau itu binatang rusa kecil."

Kim Houw memandang Tiong chiu-khek sejenak orang tua itu lalu berkata:

"Kesunyian selama beberapa hari ini sedikit mencurigakan aku. Seharusnya kita berlaku sedikit waspada, apa lagi ditempat yang semacam ini, kita harus lebih berhati-hati. Cuma saja, disekitar tempat ini kelihatannya tidak ada apa apanya yang mencurigakan, bisa dilihat untuk sampai ke lembah itu tidak terdapat jalanan hidup. Andaikata lembah itu merupakan suatu jebakan tentu ada jalanannya supaya kita dapat berjalan kesana, maka menurut pikiranku, boleh juga kita mengaso di situ sebentar."

Karena ucapannya itu keluar dari mulutnya Tiong chiu khek, seorang tua yang sudah mempunyai banyak pengalaman, maka Kim Houw juga tidak mau membantah.

Dengan enak saja ia melompat, sebentar saja sudah berada di bawah. Co Seng yang menyaksikan gerakan Kim Houw tadi, rupanya merasa sangat kagum.

Ia sendiri sebetulnya juga mempunyai kepandaian serupa itu, tetapi karena ia belum dapat menggunakannya, maka ia hanya dapat merasa kagum.

Ketika Tiong-ciu-khek sudah berada di bawah lembah, Co Seng kembali naik ke atas, sebab ia ingin meniru gerakan Kim Houw tadi ia melompat melesat dari atas. Baru saja Co Seng lompat turun mendadak matanya dapat melihat berkelebatnya bayangan orang, Co Seng terperanjat, tetapi badannya sudah melayang turun.

Mungkin ini sudah merupakan suatu takdir. Jikalau Co Seng dapat mendengar perkataannya Tiong ciu khek tadi, pasti ia dapat memanggil Kim Houw, sehingga mereka terhindar dari ancaman bahaya.

Apa mau dikata, ia tidak saja tidak segera memberitahukan setelah melihat bayangan orang tadi, sebaliknya malah menggunakan caranya Kim Houw sehingga ketika berada dalam lembah baru ia mengingat orang itu.

Tetapi karena hanya melihat bayangannya dan tidak kelihatan orangnya, malah ia kuatirkan matanya yang salah lihat, maka untuk kedua kalinya ia melesat naik ke mulut lembah dan sekali ini yang disaksikannya bukan hanya bayangan satu orang saja, tetapi di situ sudah terdapat ratusan manusia yang datang menyerbu dari beberapa penjuru.

Co Seng terperanjat, sambil berseru kaget ia melayang turun lagi ke bawah lembah. Oleh karena ia masih belum mempunyai pengalaman menghadapi musuh kuat, sehingga ia tidak mengerti bagaimana caranya menghadapi keadaan gawat. Sehingga ia berani menghadapi seorang diri saja lebih dulu, Kim Houw tentu keburu siap sedia. Sehingga ada kemungkinan mereka akan terhindar dari bencana.

Kim Houw sendiri karena pendengarannya terhalang oleh suaranya dua ekor rusa yang ditangkap oleh Peng Peng, ia tidak dapat mendengar suara di atas lembah. Ketika belakangan mendengar seruannya Co Seng. ia masih mengira bahwa Co Seng terpeleset kakinya dan tidak memikirkan hal gerakannya musuh.

Ketika Co Seng sudah berada di bawah, dengan mulutnya mengatakan: "Orang...orang." tidak henti-hentinya Kim Houw baru sadar, tetapi sudah terlambat.

Selagi Kim Houw mengeluarkan perintah "Co Seng. mari kita menerobos keluar.  " dari atas

lembah terdengar suara orang tertawa menyeramkan yang dapat membuat bulu roma berdiri.

Sesudah ketawa yang menyeramkan itu lewat, lalu disusul dengan suara orang berkata: "Bocah she Kim, ini adalah tempat untuk mengubur dirimu.Bagaimana? Apa kau masih ingin

coba melawan? Mundur! Pasang api! Bocah she Kim kalau berani kau boleh naik!"

Selama orang tadi berbicara, Kim Houw dan Co Seng sudah hampir tiba di atas dan tepat pada saat itu juga mendadak terdengar suara ledakan hebat yang saling susul Sebentar saja debu pada berhamburan disekitar mulut lembah, tidak hentinya batu-batu kecil meluruk turun ke bawah lembah.

Kiranya musuh itu siang-siang sudah menanam obat peledak dimulut lembah, maka ketika obat itu meledak dinding batu disekitar lembah lantas hancur berhamburan ke bawah.

Menyaksikan keadaan demikian, semangatnya Kim Houw terbang seketika. Ia tidak kuatirkan dirinya sendiri dan dirinya Co Seng, ia hanya memikirkan keselamatannya Peng Peng dan Tiong ciu khek yang masih berada dibawah lembah. Ia percaya ia sendiri dan Co Seng pasti dapat melindungi diri, tetapi Tiong ciu khek dan Peng Peng masih merupakan pertanyaan.

Suara ledakan tadi akhirnya berhenti sendiri, berbareng dengan itu, Kim Houw dan Co Seng juga sudah berada di bawah lembah ketika mereka mencari kesana sini, Peng Peng sudah tidak kelihatan bayangannya lagi, sedang Tiong ciu khek kelihatan rubuh pingsan, kedua kakinya tertindih oleh reruntuhan batu.

Dalam keadaan gusar, Kim Houw lalu mengajukan tangannya menyingkirkan batu besar yang menindih kaki Tiong ciu khek. Benar saja batu besar itu lantas terbang melayang, tetapi lain batu turun mendatang hendak menimpah kepalanya Tiong ciu khek. Karena batu itu bentuknya beberapa kali lipat lebih besar dari pada yang duluan, Kim Houw juga mengetahui bahwa dengan kekuatannya sendiri susah untuk membikin terpental batu sebesar itu. Dalam keadaan yang sangat berbahaya itu dengan gerakan yang gesit sekali Co Seng sudah berhasil menyambar dirinya Tiong chiu khek, sehingga orang tua itu terhindar dari bahaya maut. Kim Houw sangat girang, lalu menarik tangannya Co Seng dan diajak bersembunyi ke tempat yang lebih aman.

Kim Houw ingat dirinya Peng Peng, lalu berseru:

"Peng Peng...Peng Peng.!"

"Engko Houw, lekas kemari! Di sini ada tempat bersembunyi yang sangat baik. " terdengar

jawaban si nona.

Kim Houw mendengar suara Peng Peng hatinya mulai lega, maka ia lantas mengajak Co Seng menuju ke arah suara Peng Peng tadi.

Di situ telah menemukan suatu tempat yang menonjol dan air mengalir tadi itu justru mengalir di sebelahnya tempat itu. Pada saat itu, dari atas kembali terdengar suara orang berkata:

"Bocah she Kim, apa kau sudah memilih kuburanmu? Sekalipun kau ada suatu titisan binatang macan putih dari langit, kini sudah tiba waktunya untuk kembali. Untuk kau aku sudah mengundang dua padri yang akan mintakan doa untuk arwahmu." Kim Houw tidak menggubris ocehan orang itu. Melihat Peng Peng tidak kurang suatu apa hatinya merasa lega. Tetapi kemudian ia lihat wajahnya Peng Peng ketakutan, apa lagi setelah dapat melihat yayanya terluka, matanya lantas melotot, keadaannya jadi seperti orang gendeng.

Kim Houw terkejut, lalu menjambret tangannya.

"Peng Peng, Peng Peng, kau kenapa?" tanyanya gugup.

Perbuatan Kim Houw itu agaknya telah menyadarkan Peng Peng yang berada dalam keadaan setengah pingsan. Ia lantas jatuhkan dirinya dalam pelukan Kim Houw dan menangis tersedu-sedu sambil berkata:

"Yaya, dia...Engko Houw, kau..."

"Yaya tidak apa-apa, cuma terluka pahanya perkara kecil. Sekarang Co Seng sedang menyadarkan dirinya, sebentar lagi yaya tentu akan sadar. Dan aku sendiri, juga tidak kenapa- napa." si pemuda menghibur.

Dengan erat Kim Houw memeluk Peng Peng supaya nona itu dapat menenangkan pikirannya.

Siapa nyana, belum berhenti suara tangisannya, mendadak Kim Houw dikejutkannya oleh seruannya:

"Engko Houw, kau lihat dibelakangmu!"

Kim Houw tercengang, dengan cepat ia menengok. Didinding batu dibelakang dirinya ternyata ada sebuah batu yang diukir dengan tulisan yang berbunyi: "Gunung ini adalah gunung jiwa Melayang dan lembah ini adalah lembah Putus Asmara.

Kalau Kim Houw datang kemari, itu berarti kalau Kim Houw putus asmaranya dan terbang melayang jiwanya.

Kim Houw gusar, ia sudah mengulurkan tangannya untuk menghancurkan batu tersebut, tetapi kemudian ia berpikir lain lagi, sehingga tangannya yang akan digunakan untuk menepok batu dinding, dengan perlahan diletakkan di belakang gegernya Peng Peng.

Gerakkan yang dilakukan secara tidak terduga itu, hanya untuk membuat pingsan Peng Peng. Saat itu sinona seperti rohnya melayang jauh, dalam keadaan samar-samar ia mendengar suara Kim Houw:

"Peng Peng, Peng Peng, sadarlah."

Peng Peng membuka matanya, ia merasa seperti habis menangis dalam kesedihannya, air matanya kembali mengalir keluar.

Tiba-tiba ia mendengar Kim Houw berbisik ditelinganya:

"Peng Peng, apa yang kau suruh lihat tadi? Bukankah ada sebuah batu yang diukir dengan tulisan yang sangat indah? Kenapa kau harus bersusah hati!"

Peng Peng melengak. Ia cepat melepaskan diri dari pelukannya Kim Houw dan menengok ke belakang, ternyata tulisan itu bunyinya sudah berubah menjadi:

"Gunung ini adalah gunung Panjang Umur, lembah ini adalah Lembah Asmara. Kalau Kim Houw tiba disini, akan mendapat kurnia panjang umur??(tm). Peng Peng yang menyaksikan itu, merasa heran sekali, sebab apa yang dilihat duluan, bukan demikian bunyinya. Ia mengucek-ngucek matanya, tetapi tulisan itu bentuknya sama, sedikitpun tidak berbeda. Andaikata berubah, bagaimana dapat berubah begitu cepat! Maka ia menganggap bahwa apa yang dilihatnya duluan adalah yang salah, maka hatinya seketika, itu menjadi gembira.

Tetapi ia tidak memperhatikan bahwa di bawah batu itu ada kedapatan hancuran bubuk batu bekas perbuatannya Kim Houw. Selagi Peng Peng masih pulas, dalam waktu sependek itu Kim Houw sudah berhasil merubah tulisan tersebut.

Pada saat itu, kembali Peng Peng ingat akan diri Yayanya. Kebetulan Tiong chiu-khek juga sudah mendusin pada saat yang bersamaan.

Masih untung luka Tiong-chiu-kbek tidak seberapa berat. Setelah dibikin sadar oleh Co Seng dan diberikan sedikit obat, mungkin dapat lekas sembuh. Tetapi dimana mereka dapat memperoleh obat?

Sekarang Kim Houw baru agak menyesal, kenapa sisa air mujizat itu dikasih Co Seng minum semuanya. Kalau masih ada, bukankah dapat digunakan?

Si kakek lihat air muka menyesal cucu mantunya, lalu dari badannya ia mengeluarkan sebuah buli-buli batu giok sebesar kepalan tangan. Ia menunjukkan itu pada Kim HouW seraya berkata:

"Kau tidak usah menyesal. Disini aku masih menyimpan sedikit. Kau jangan artikan selingkuh, itu hanya untuk menjaga-jaga dikala perlu. Sedangkan buli-buli batu giok kepunyaanku ini juga merupakan suatu benda pusaka keturunan dari keluargaku"

Mendengar keterangan itu, semuanya merasa gembira. sebab dengan adanya air mujizat lukanya Tiong-ciu-khek sudah tidak menjadi soal lagi.

Selama setengah hari dan satu malam, ke empat orang itu tidak dapat keluar dari dalam lembah, sedangkan diatas lembah terus terdengar suara gemuruh tidak henti-hentinya, batu-batu gunung yang besar pada jatuh bergelundungan dari atas, sehingga Kim Houw tidak mendapat kesempatan untuk naik keatas.

Tiga hari telah berlalu. Batu-batu gunung yang besar-besar kelihatan berserakan, didalam lembah, sehingga lembah yang tadinya indah itu sekarang sudah berubah merupakan tumpukan batu-batu.

Hari ke empatnya, suara gemuruh dan ledakan sudah mulai mereda, tetapi kadang-kadang masih ada menggelinding beberapa buah batu besar turun ke dalam lembah.

Kim Houw mengetahui bahwa dinding batu dimulut lembah, mungkin sudah diledakkan semua oleh mereka.

Tiong-chiu-khek tiba-tiba berkata:

"Malam ini seharusnya sudah masuk tanggal satu bulan tujuh. Bulan sabit jam dua belas malam mungkin sudah tidak kelihatan. Kira-kira jam empat pagi, kita boleh siap untuk menerjang. Kalau kita tidak lekas berdaya naik ke atas, kita nanti bisa keputusan rangsum.

Siapa nyana, hari masih belum terlalu gelap, mendadak ada timbul hujan disertai angin ribut.

Inilah suatu kesempatan yang paling baik untuk Kim Houw dan kawan-kawannya naik ke atas lembah. Dalam keadaan hujan dan angin yang demikian lebatnya, keadaan cuaca kelihatannya bertambah gelap. Kim Houw yang mempunyai mata terang dan dapat melihat benda diwaktu malam, keadaan demikian sangat menguntungkan baginya, maka ia lantas menggendong Peng Peng, sambil menggandeng Co Seng dan Liong chiu-khek meninggalkan lembah celaka itu.

Lampu lentera yang dipasang dimulut lembah, ternyata tidak padam meskipun dibawah hujan lebat dan angin kencang.

Mereka setelah berada di atas, Kim Houw mulai lega hatinya, karena sekalipun dipegat oleh beberapa ribu orang, ia percaya dengan kekuatan empat orang itu pasti dapat menerjang keluar.

Di luar dugaan, sudah kira-kira tiga lie mereka berjalan, ternyata tidak seorangpun yang merintangi perjalanan mereka.

Kim Houw bersenyum, ia mencari tempat untuk meneduh, kemudian menyuruh Tiong-chiu khek dan Peng Peng beristirahat dulu. Ia sendiri bersama Co Seng balik lagi kearah lembah tadi.

Kim Houw dan Co Seng yang mempunyai kepandaian luar biasa, sebentar saja sudab berada di atas lembah kembali.

Kelihatannya mereka mencari sesuatu. Tiba tiba terdengar suara orang bicara, keluar dari dalam sebuah goa, tetapi orang-orang itu ternyata hanya merupakan golongan orang biasa, tidak ada satupun yang mempunyai kepandaian cukup berarti.

Kim Houw pasang kuping. Tiba-tiba terdengar suara orang yang mengatakan:

"Pemimpin pasukan, dengar! Komandan kita telah mengancam, barang siapa yang melalaikan tugasnya menjaga mulut lembah. sehingga tawanan bisa lolos, batok kepala akan dibikin terpisah!"

Kim Houw berpikir. menaklukkan rombongan harus menangkap kepalanya, maka ia lalu mencari komandan yang disebutkan tadi.

Suara tadi datangnya dari sebelah kiri, maka lantas mengajak Co Seng lompat melesat ke jurusan itu.

Dengan beberapa kali lompatan saja Kim Houw sudah dapat menemukan tempat kediamannya sang komandan.

Belum sampai memasuki tenda, Kim Houw sudah mendengar suara bentakan dan makian yang bengis Kim Houw rasa-rasanya sudah pernah mendengar suara itu, diam-diam terperanjat.

Ia lantas lompat naik ke atas tenda. Karena pada saat itu hujan angin masih mengamuk, maka orang-orang yang berada dalam tenda tidak seorangpun yang mengetahui bahwa ada orang yang menyatroni.

Kim Houw mengintai dari atas tenda, telah melihat dalam tenda itu ada duduk berkumpul tujuh orang. Diantaranya ada tiga orang yang dikenalnya. Satu, yang duduk dikursi perlama ialah si hwesio tinggi besar yang diduganya adalah Thio Bok Taysu, yang lain adalah Ciok Goan Hong dan Pek Kauwnya dari Pek-liong-po.

Sedangkan empat orang lagi usianya sudah kira-kira empat puluh tahun ke atas. Dua dari antara mereka terdiri dari kawanan padri. Apa yang membuat kaget Kim Houw, ialah dilain sudut tenda itu terlihat rebah terikat empat orang yang dikenal baik semuanya. Ke empat itu adalah si pengemis sakti Sam-hoa Tok-kai dengan muridnya dan Hui Thian Gouw-kang Teng Kie Liang serta cucunya Peng Sin.

Si pengemis sakti dan si botak masih dapat dimengerti tertangkapnya, tetapi Teng Kie Liang dan cucunya ada di situ, sungguh di luar dugaan Kim Houw, apa lagi kedatangannya itu berbareng dengan si pengemis sakti.

Selagi Kim Hauw memikirkan caranya untuk memberikan pertolongan, tiba-tiba didengarnya suara bentakan keras, kemudian disusul oleh berkelebatnya sinar hijau dan kain tenda itu sudah berlubang. Ujung golok yang tajam kelihatan dari luar tenda.

Kim Houw tercengang, sungguh hebat sekali kepandaian orang itu. Itu barangkali goloknya Thie Bok Taysu yang disebut Kayto.

Karena ia mengetahui bahwa dirinya sudah dipergoki orang, Kim Houw pikir tidak perlu bersembunyi lagi. Tetapi baru saja ia hendak bergerak, didalam tenda tiba-tiba terdengar suara orang tertawa, ternyata adalah Co Seng yang sudah masuk ke dalam tenda itu. 

Sebetulnya Co Seng ada di atas tenda tidak ada yang mengetahui, kalau ia sudah mengunjukkan diri adalah hendak mengacaukan perhatian mereka karena Thie Bok Taysu sudah memergoki tempat sembunyinya Kim Houw.

Meskipun Co Seng belum pernah sekolah, tetapi ia sangat setia kepada gurunya. Dalam usia yang demikian mudanya ia sudah mengerti bagaimana harus membela suhunya.

Oleh karena Co Seng sudah mendahului mengunjukkan diri, Kim Houw lalu berpikir hendak menolong empat orang kawannya lebih dulu, baru membuat perhitungan dengan Thie Bok Taysu.

Maka Kim Houw menunda gerakannya. Sekali lagi ia melongok ke bawah, ia hendak melihat bagaimana cara Co Seng menghadapi musuh-musuhnya yang tangguh itu. Dan apa yang disaksikan, sungguh menggelikan sekali, sebab pada saat itu seKujur badan Co Seng berlepotan lumpur. Karena badannya penuh lumpur, maka ketika tangannya diobat-abitkan, lumpur itu berceceran kemana-mana, sehinngga membuat gusar orang-orang yang dibikin kotor pakaiannya.

Seorang hwesio yang berpakaian jubah putih, pertama-tama, yang membentak dengan suara keras.

"Dari mana datangnya anak haram ini? berani main gila di depan kita? Biarlah aku bikin mampus kau!"

Co Seng yang melihat datangnya serangan, dari sambaran anginnya ia sudah mengetahui bahwa kekuatan hwesio itu sangat terbatas, maka sengaja ia tidak menyingkir, juga tidak berkelit. Ia hendak menyambuti dengan kekerasan. Tatkala serangan itu mengenakan pundaknya. Co Seng berlagak jumpalitan beberapa kali sambil menjerit lalu menggelinding ke arah empat orang yang diikat ditanah tadi.

Thie Bok Taysu yang menyaksikan hal itu, tertawa bergelak-gelak ia terus meneguk araknya kemudian berpaling ke belakang sembari berkata:

"Anak manis, ada pertunjukan sangat menarik. Apa kau tidak ingin menonton?"

Kim Houw semula tidak memperhatikan kalau di belakang hwesio itu masih ada orang lain.

Ketika ia mendengar perkataannya si hwesio, barulah ditujukan matanya ke arah belakang dirinya Thie Bok Taysu. Memang benar, di belakang hwesio itu ada kedapatan terlentang seorang perempuan muda yang sudah dibikin telanjang bulat. Perempuan muda itu badannya kelihatan lemas, agaknya tidak dapat bergerak, kiranya ia sudah ditotok jalan darahnya.

Ketika Kim Houw menegasi, ia mengenali perempuan muda itu adalah cucu perempuannya Teng Kie Liang, Teng Ceng Ceng. Kegusarannya Kim Houw seketika lantas meluap! Tetapi baru saja ia hendak membentak, tiba-tiba di belakangnya terdengar suara orang berlari-lari. Kim Houw menoleh, ia melihat dua bayangan orang sedang lari mendatangi, maka ia segera urungkan maksudnya, untuk mengetahui dulu siapa orang-orang yang sedang mendatangi itu.

Orang-orang itu ternyata adalah Cu Su bersama muridnya.

Kim Houw sangat girang, ia buru-buru unjukkan diri menemui mereka.

Semula Cu Su kelihatan kaget, tetapi setelah mengetahui siapa yang berada di depannya, ia lantas merasa sangat girang.

Mereka bertiga lantas berunding sebentar, lalu menyerbu ke dalam tenda.

Sekarang kita balik lagi kepada Co Seng yang menggelinding ke arah empat orang yang sedang rebah terikat di tanah tadi. Ia sebetulnya berniat untuk memberi pertolongan kepada empat orang itu, tetapi karena tali yang dipakai untuk mengikat ke empat orang itu terdiri dari urat macan yang sudah direndam dengan minyak, maka ia tidak dapat memutuskannya, terpaksa ia menggelinding keluar lagi.

Hwesio yang menyerang Co Seng, melihat serangannya gagal, hal ini baginya merupakan suatu penghinaan besar, sebab orang-orang diserang itu justru hanya seorang bocah cilik saja.

Dalam gusarnya, ia lantas lompat melesat dari tempat duduknya untuk menyambar dirinya Co Seng.

Co Seng sangat jail, karena barusan dibikin jatuh oleh hwesio itu, maka ia juga sekarang ingin membalas. Ia sengaja tidak berkelit, ketika tangannya hwesio itu menyambar pundaknya, dengan tiba-tiba ia mengeluarkan ilmunya "Kin-na-shiu-hoat", dengan secara enak saja ia sudah membikin si hwesio itu jatuh terlentang, sehingga jejeritan seperti babi yang disembelih.

Semua orang yang menyaksikan itu, pada merasa sangat heran, wajah mereka berubah seketika. Diantara mereka, hanya itu hwesio tinggi besar yang bukan saja tidak bergerak sama sekali, bahkan keluarkan seruannya yang mengandung pujian:

"Bagusss, suatu gerakan Kin-na-chiu yang bagus sekali..."

Seorang hwesio lainnya dengan hwesio yang dirubuhkan oleh Co Seng itu merupakan saudara seperguruan. Gelarannya sang suheng ialah Gwat Khong, sedangkan sang sute bernama Gwat Seng. Mereka berdua ada sepasang padri cabul. Sebetulnya mereka masih terhitung anak murid dari Siau-lim-pay, gurunya telah membangun gereja di atas gunung Kua-chong-san. Sepuluh tahun berselang, ketika gurunya meninggal dunia, kelakuan mereka bertambah tidak karuan.

Setelah Siao Pek Sin mendirikan Istana Panjang Umur, Gwat Khong dan Gwat Seng lantas menggabungkan diri dan inilah untuk pertama kalinya ia diperintahkan untuk memegat musuhnya.

Sungguh tidak dinyana, baru saja turun tangan mereka sudah dibikin tergelincir oleh serangan anak kecil saja. Gwat Khong yang melihat sutenya dibikin jatuh, lalu mencabut goloknya dan dengan tidak memberikan peringatan terlebih dahulu, ia lantas membabat dirinya Co Seng. Thie Bok Taysu yang menyaksikan kejadian itu, lantas ketawa dingin, karena gerakan Co Seng tadi telah membuat senang hatinya dan ia tidak suka melihat perbuatan Gwat Khing itu. Terhadap seorang bocah saja yang tidak membawa senjata apa apa ia sudah menggunakan golok, ini benar-benar suatu perbuatan yang memalukan bagi golongan hwesio.

Co Seng yang melihat hwesio itu yang agakanya lebih galak dari yang duluan, apalagi dengna golok telanjang hendak menghadapi dirinya, maka dalam hati merasa gemas. Ia meniru caranya Kim Houw, menghadapi hwesio itu sambil ketawa dingin, mungkin ia hendak mengatakan: Kau terlalu galak, aku nanti akan membuat dirimu terluka terlebih hebat!

Melihat golok sudah mendekati batok kepalanya, Co Seng masih tidak berkelit sama sekali. Gwat Khong diam-diam berpikir: Ini adalah kau sendiri yang mencari mampus, jangan sesalkan aku terlalu telengas.

Tetapi belum lenyap pikirannya itu, mendadak matanya berkunang-kunang, pergelangan tangannya yang digunakan untuk memegang golok dirasakan kesemutan sehingga goloknya itu terlepas dari tangannya. Bukan kepalang kagetnya Gwat Khong saat itu, karena dalam segebrakan saja, golok ditangannya sudah dapat dirampas oleh musuhnya. Dalam ketakutannya, ia lantas tidak memperdulikan apa artinya malu lagi, cepat cepat ia menggelindingkan dirinya di tanah...

Thie Bok Taysu tiba-tiba berseru : "Aaa, celaka! Itu adalah gerakan "Hun-kheng Cho-Kut-chiu", bagus sekali dia menggunakannya"

Gwat Khong terus menggelinding sampai satu tombak lebih jauhnya baru berhenti. Selagi hendak lompat mendadak dilihatnya berkelebatan sinar perak, pahanya lantas dirasakan sakit, ia lalu menjerit dan roboh pingsan.

Semua orang baru mengetahui ada senjata makan tuan, golok yang digunakan oleh Gwat Khong tadi sudah menancap di paha kirinya sehingga pahanya terpapas sepotong.

Dan dimana Co Seng ? Ia ternyata masih belum berlalu dari dalam tenda, golok itu hanya disambitkan seenaknya saja, tetapi ternyata berkelebat begitu hebat, sampai Thie Bok Taysu sendiri juga merasa juga merasa kagum.

Pada saat itu, Ciok Goan Hong lantas turun dari atas kursinya. Ia menghampiri Co Seng, dengan sorot mata yang tajam ia mengawasi bocah binal itu.

Tiba-tiba ia mendengar suaranya Thie Bok Taysu :

"Ciok-heng, jangan bikin kaget dia. Bocah itu sangat menyenangkan hatiku, aku Thie Bok Taysu sampai sekarang ini masih belum mempunyai murid yang benar-benar. Tanyakan padanya, apakah dia suka menjadi muridku ?"

"Taysu sungguh tajam penglihatannya. Bocah ini memang mempunyai bentuk badan yang luar biasa. Besar sekali rejekinya bocah ini, dapat menjadi muridnya Taysu, masakan dia tidak suka ?" jawab Ciok Goan Hong sambil ketawa dan kemidian berkata kepada Co Seng :

"Bocah, kau dengarlah Thie Bok Taysu seorang terkuat dari golongan Buddha, ingin mengambil kau sebagai muridnya. Lekas-lekas mengucapkan terima kasih. Nanti setelah kembali ke Istana Panjang Umur baru kau melakukan upacara pengangkatan guru lagi. Co Seng memangnya sudah mengenal Thie Bok Taysu, malah pernah digodanya dengan memasukkan dua ekor udang besar kedalam badannya, ketika tempo hari ia bertemu padanya ditepi telaga "Sin- yang-ouw". Sungguh tidak nyana hwesio itu masih ada muka untuk pungut ia menjadi muridnya.