Istana Kumala Putih Jilid 31

 
Jilid 31

Apa yang membuat heran, adalah pemuda itu belum diberikan pertolongan oleh siapapun juga.mengapa bisa siuman sendiri ? Bahkan sudah lama siuman, tapi tidak ada seorangpun yang mengetahui.

Ho Su Yam pertama-tama yang menghampiri padanya untuk meminta maaf, sembari berkata : "Anakku yang durhaka ini telah berani berbuat yang tidak patut terhadap siauhiap, aku sudah perintahkan orang untuk menghukum mati dengan segera ... !"

"Sabar dulu ! sabar dulu !" demikian Kim Houw mencegah orang tua itu, yang seketika itu lantas berbangkit, "Ho Kauwcu, bukankah kau cuma mempunyai seorang anak itu saja ?"

Ho Su Yam tercengang, ia menghela napas.

"Dengan sebenarnya ia berkata. "Isteriku sudah lama meninggal dunia, dia cuma meninggalkan seorang anak ini saja. Tapi, anak yang tidak baik kelakuannya, tidak berbakti, apa gunanya ? Adalah lebih baik kau hidup sendiri dengan tenang."

Kim Houw tertawa bergelak-gelak. "Biarlah aku yang mintakan ampun untuknya, harap supaya kauwcu suka berikan keampunan dosanya kali ini"

Ho Su Yam juga tertawa bergelak-gelak.

"Siaohiap sungguh seorang sangat budiman! Dia hendak menangkap kau untuk dipersembahkan kepada Istana Panjang Umur supaya mendapat pahala dan hadiah, sebaliknya sekarang kau mintakan ampun untuk jiwanya, bukankah itu hanya suatu lelucon besar ?" Ia mendadak berubah bengis.

"Hukuman mati aku dapat ampuni, tapi hukuman hidup tidak bisa. Lao Thie Pan dengar, potong urat-urat kakinya, kutungi jari tangannya, hancurkan tulang pipeya, semuanya ini adalah usulnya dia sendiri sedangkan konco-konconya semua juga dihukum demikian... "

"Kauwcu," menyelak Kim Houw, "Aku memintakan satu ampunan lagi padamu. Urat kakinya boleh dipotong, tulang pipenya juga boleh dihancurkan, tapi jari tangannya harap jangan dikutungi. Diganti dengan hukuman kurungan lama tahun. Dalam tempo mana, aku akan menghadiahkan padanya serupa kepandaian ilmu kekuatan tenaga dalam. Lima tahun kemudian setelah dia menjalani habis hukumannya, ilmu kekuatan tenaga dalam juga sudah dapat digunakan.

Bukankah ada baiknya bagi dirinya ?"

Ho Leng Than yang semula sudah terbang semangatnya, ketika Kim Houw memintakan ampun untuk dirinya, hatinya lantas tergerak. Dengan tiba-tiba ia berotak dan melepaskan dirinya dari cekalan Lo Thie Pan, kemudian ia berlutut di depannya Kim Houw sembari berkata :

"Budi Siaohiap yang sebesar gunung ini, aku tidak cukup hanya dengan mengucapkan terima kasih saja. Asal aku masih hidup apa saja yang Hiaohiap perintahkan, sekalipun harus terjun ke lautan api, tidak nanti aku menolak. Selanjutnya jika aku berani berbuat yang tidak patut lagi, biarlah Tuhan yang akan mengutuk padaku !"

Lo Thie Pan tidak menduga akan tindakan Ho Leng Than itu, sehingga membuat ia terlepas dari cekalannya. Semula ia hendak turun tangan menghajar, tapi setelah mendengar perkataan tersebut, ia lantas urungkan maksudnya.

Ho Leng Than setelah berkata, tiba-tiba menghunus sebilah pisau belati. Semua orang terkejut, mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan anak muda itu.

Lo Thie Pan sudah siap menantikan perbuatan apa yang akan dilakukan oleh Ho Leng Than, Jika anak muda itu hendak membunuh diri, ia segera akan turun tangan untuk mencegahnya.

Tidak nyana Ho Leng Than setelah menghunus belatinya tanpa ragu-ragu lagi lantas dikerjakan pada kakinya sendiri, sehingga sebentar saja urat-urat dikedua kakinya sudah dipotong sendiri olehnya. Setelah urat-urat kakinya pada putus, Ho Leng Than juga lantas jatuh roboh tidak ingat dirinya lagi.

"Bagus ! itu namanya baru satu laki-laki. Kalau begitu Ceng-how-kauw di kemudian hari akan merupakan salah satu perkumpulan agama besar yang sangat bermanfaat bagi umat manusia" demikian Kim Houw memberikan pujiannya, sambil acungkan jari jempolnya.

Ho Su Yam juga merasa bangga, lantas perintahkan orang-orangnya supaya puteranya lekas diobati sebagaimana mestinya.

Satu pertanyaan apa sebabnya Kim Houw yang sudah makan obat mabuknya Ho Leng Than bisa siuman sendiri? Apa ia mempunyai obat pemunah racunnya? Tidak! sebabnya ialah karena ia telah dapat lihat berkelebatnya bayangan orang di luar jendela, dalam kecurigaannya, ia siang- siang sudah waspada.

Lain halnya dengan Ho Su Yan, ia mengetahui orang main gila dari lain sudut, Lihay obat mabuk itu, buktinya Tiong-ciu-khek sendiri yang sudah kenyang makan asam garamnya dunia juga tidak mendusin akan obat mabuknya itu.

Itulah karena obat mabuk yang digunakan oleh Ho Leng Than, ada merupakan obat mabuk spesial dari Ceng-hong-kauw, yang diturunkan dari suhunya Ho Su Yam. Tidak berwarna, tidak ada baunya dan juga tidak ada rasanya, tapi bukan main lihaynya. Kalau si korban bisa berlaku tenang masih tidak apa, tapi apabila terjejut atau ketakutan, bekerjanya obat itu semakin keras !

Ho Su Yam tahu benar-benar ciri cirinya obat mabuk itu. Ketika menyaksikan Tiong-ciu-khek roboh, segera mengetahuinya kalau ada orang main gila, maka dengan cepat ia sudah menelan obat pemunahnya. Cuma oleh karena ia belum tahu siapa orangnya yang main gila itu, untuk dapat menangkap basah orang tersangkut, ia juga berlagak jatuh pingsan. Ho Leng Than yang melihat rencananya berjalan dengan licin dalam kegirangannya ia tidak menjaga reaksi dari ayahnya.

Kim Houw sebetulnya sudah ingin bertindak, tapi kemudian berpikir lain, ia kepingin tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh Ho Leng Than terhadap diri para korbannya ? Oleh karena adanya pikiran itu, maka ia juga berlagak mabuk.

Perbuatan Ho Su Yam yang menelan obat pemunah, juga sudah diketahui oleh Kim Houw. Ia mengira bahwa orang tua itu berlagak berbuat demikian untuk mengelabui matanya orang banyak, maka diam-diam ia merasa geli sendiri.

Kejadian selanjutnya benar-benar di luar dugaan Kim Houw, ia merasa kaget bercampur heran. Ketika Ho Su Yam mengumpulkan orang orangnya yang berkepandaian tinggi. Kim Houw sudah siap sedia untuk turun tangan. Tapi perubahan yang telah terjadi selanjutnya, ia baru mengetahui bahwa pemimpin Ceng hong kauw itu benar-benar sudah berubah menjadi orang baik, maka ia tidak segan-segan mintakan ampun bagi anaknya.

Ketika Tiong-ciu-khek dan Peng Peng mendusin, kembali diadakan perjamuan untuk kedua kalinya dan pada saat itulah Kim Houw baru berani makan dan minum sepuas-puasnya.

Di kota Bu-ciang Kim Houw dan kawan kawannya cuma berdiam dua hari, Kim Houw ingin melanjutkan perjalanannya. Ho Su Yam coba menahan seberapa bisa, tapi tidak berhasil, maka akhirnya ia peringatkan orang orangnya menyediakan perahu besar untuk mengantar, tapi juga ditolak oleh Kim Houw. Beberapa hari kemudian, Kim Houw sudah meninggalkan Ouw pak, dengan melalui jalan air, ia memasuki pedusunan yang banyak menghasilkan beras dan ikan, ialah Sin yang ouw di propinsi Kang see.

Di sepanjang jalan meski orang-orang yang dapat perintah dari Kauwcunya pada menyambut dengan meriah kedatangan rombongan Kim Houw, tapi semuanya itu dicegah oleh Kim Houw.

Maksudnya ialah supaya perjalanan mereka jangan sampai menimbulkan perhatian banyak orang datang ke tepi telaga. Setelah mencari tempat yang agak sepi, ia mulai melatih ilmu silatnya Thian- liong Pat-sek.

Itu memang merupakan kebiasaannya yang suka melatih ilmu silat dengan seorang diri diwaktu tengah malam.

Sekalipun diwaktu siang hari habis melakukan perjalanan jauh, kebiasaannya melatih ilmu silat itu tidak pernah dilupakan, Oleh karena ia belum bisa bicara dengan lancar maka setiap kali ada waktu terluang, ia lantas tidur, supaya diwaktu malam bisa melakukan latihannya dengan baik.

Malam itu, ia juga tidak kecualikan. Baru saja ia mencabut senjata Bak-tha Liong-kin nya ia telah mengetahui bahwa di dekat situ ada orang. Ia memang ada satu bocah yang tidak kenal apa artinya takut, cuma sayang ia tidak bisa bicara dengan lancar seperti manusia biasa.

Ia berdiri dengan otak penuh keheranan, matanya terus ditujukan ke tempat sembunyinya orang tersebut. Ia sebetulnya ingin mengatakan siang-siang aku sudah mengetahui tempat sembunyimu, mengapa kau masih belum mau keluar.!

Betulkah itu ada orang ? Memang benar. Ia ada seorang muda belia, ketika pemuda itu melihat Co Seng mengawasi padanya dengan mata tidak berkesip, lantas mengetahui bahwa dirinya sudah kepergok oleh bocah cilik itu. Dengan perasaan tidak enak ia berjalan keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian berkata kepada Co seng.

"Bocah cilik, pecutmu ini kau dapat curi dari mana ?"

Co seng meski masih kanak-kanak, tapi paling sebal kalau orang memanggil padanya bocah cilik. Apalagi pemuda itu begitu membuka mulut lantas mengatakan padanya pencuri meski ia tidak mengerti betul apa artinya mencuri, tapi nada suaranya kedengarannya kurang sedap dalam telinganya. Cuma sayang ia kurang pandai bicara, maka tidak dapat berbantahan !

Mendadak ia sodorkan pecutnya, dengan gerakannya yang seenaknya, Agaknya ia tidak mau mengatakan. Ambillah jangan malu-malu deh .!

Jawabnya yang merupakan gerakan tanpa bicara itu sebaliknya telah membuat tercengang anak muda tadi.

Siapakah anak muda itu ? Ia adalah Sun Cu Hoa, cucu murid dari ketua partai sepatu rumput, Cu Su. Sudah tentu ia mengenali senjata Bak-tha Liong-kin nya Kim Houw.

Sebab senjata Bak-tha Liong-kin itu merupakan senjata pusaka yang jarang ada dalam dunia dan belum pernah terpisah dari dirinya Kim Houw. Tetapi kenapa sekarang berada dalam tangannya bocah cilik ini ? Maka ia lantas menanyakan kepada Co seng, dari mana ia mencuri senjata tersebut.

Dan ketika melihat Co Seng menyodorkan pecutnya tanpa bicara, dalam hatinya bertambah heran. jikalau orang itu adalah satu manusia yang lihai, mungkin ia dapat menganggap bahwa Kim Houw sudah dapat dicelakakannya. Tetapi bocah yang usianya belum cukup sepuluh tahun, biar bagaimana orang tidak akan percaya, kalau Kim Houw dapat celaka di tangannya.

Ketika menyaksikan bocah itu meluruskan tangannya tanpa menunjukkan gerakan apa-apa, betapapun kecilnya nyali Sun Cu Hoa, juga ia tentu ingin mencoba dan juga ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh bocah itu.

Maka Sun Cu Hoa diam-diam telah waspada, dengan gerakan kaki sewajarnya ia maju ke muka beberapa tindak, kemudian mengulurkan tangannya untuk menyambuti senjata Bak-tha Liong-kin. Ketika tangannya sudah dapat menyentuh pecut dan baru kelima jarinya hendak menjambret, tiba-tiba matanya dirasakan kabur, tangannya ternyata telah menyambar tempat kosong, kemudian disusul oleh bunyi suara "Plak" yang amat nyaring, pipinya mendadak sudah ditampar mentah-mentah, Untung Co seng yang usianya masih terlalu muda, masih belum berapa kuat tenaganya. Kalau tidak, tamparannya itu sudah pasti akan membikin rontok giginya.

Perbuatan Co Seng telah membuat Sun Cu Hoa murka benar-benar. Ia lalu mencabut pedangnya, tetapi baru saja pedang keluar dari sarungnya, di bawah sinar bintang yang berkeredepan, ia telah dapat melihat bahwa pecut ditangan bocah cilik itu sudah berkelebatan di depan matanya.

Sun Cu Hoa terperanjat ! Ia terpaksa menggunakan pedangnya untuk menahan dan menangkis, tetapi pecut itu masih terus saja berkisar di depan dan belakang dirinya, sehingga terpaksa ia harus mundur sampai tujuh atau delapan tindak jauhnya, barulah ia berhasil menyingkirkan dirinya dari ancaman pecut. Tetapi berbareng dengan itu hati Sun Cu Hoa sudah merasa jerih.

Terpaksa ia mundur berulang-ulang, barulah dapat terlepas dari ancaman pecut.

Tetapi ketika ia mengawasi Co Seng, bocah itu ternyata sudah berdiri jauh-jauh sambil memegangi senjatanya. Sikapnya tenang sekali, seolah-olah tidak pernah ada kejadian apa-apa.

Kejadian tersebut benar-benar diluar dugaan Sun Cu Hoa, ia sungguh-sungguh tidak menyangka bahwa bocah yang usianya masih begitu muda sudah mempunyai kepandaian begitu tinggi. Diam-diam ia telah kuatirkan dirinya Kim Houw, ia sangsikan kalau-kalau Kim Houw sudah dibikin celaka oleh bocah ini.

Ia mana tahu, bahwa ilmu silat yang dipelajari oleh Co Seng itu sebetulnya hanya ilmu silat "Hiang mo Pian hoat" dan "Thian liong Pat sek" Ilmu silat "Hiang mo Pian hoat" ini, seorang ahli pedang yang sudah terkenal ulungnya seperti Tiong ciu khek, ketika menghadapi Kim Houw dengan ilmu silatnya itu, juga tidak sanggup melawan sampai tiga puluh jurus, Maka dapat diduga sendiri sampai dimana kelihayan ilmu silat tersebut.

Dalam kaget dan gusarnya Sun Cu Hoa lantas mengeluarkan bentakan keras :

"Bocah cilik, siapa sebetulnya kau ini ? Jika kau tidak mau bicara terus terang, kau jangan sesalkan pedangku ini tidak mengenal kasihan"

Co Seng belum dapat mempelajari bahasa dengan baik, tetapi ia dapat meniru suara ketawanya Kim Houw dengan baik sekali. Saat itu ia meniru lagaknya Kim Houw waktu sedang ketawa dingin, Bak-tha Liong-kin nya kembali disodorkan.

Kali ini maksudnya hendak mengatakan, Apa kau masih berani ? Sun Cu Hoa benar-benar sudah tidak dapat mengendalikan marahnya lagi. Sikap bocah cilik itu sungguh keterlaluan. Sebagai seorang laki-laki dia lebih suka binasa daripada dihina. Maka setelah membentak keras ia lantas mulai dengan serangannya. Serangannya itu hebat sekali, sebentar saja ia sudah melancarkan serangan berantai sampai tujuh kali, setiap kalinya ada begitu ganas dan hebat.

Sun Cu Hoa yang berasal dari keturunan keluarga ahli silat, ditambah lagi dengan didikan Cu Su, sudah tentu bukannya orang sembarangan. Hanya saja sekali ini ia telah bertemu dengan seorang bocah yang mempunyai kepandaian ilmu mengentengi tubuh yang luar biasa.

Apalagi Co Seng baru saja mempelajari ilmu silatnya "Thian liong Pat sek" yang luar biasa lihaynya dan justru tidak menemukan lawan untuk mencoba coba, maka ketika melihat Sun Cu Hoa menyerang dengan pedangnya, ia lantas melesat tinggi. Di tengah udara ia berputar putaran sambil memutar senjatanya, bukan saja sudah berhasil menghindarkan serangannya Sun Cu Hoa yang sangat hebat itu, sebaliknya malah membuat Sun Cu Hoa terkurung di bawah ancaman pecutnya.

Gerakan Co Seng itu ada cepat dan hebat sekali. Sun Cu Hoa sampai kelabakan. Sehingga ia mundur secara teratur, tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan hijau yang melesat menerjang ke arah Co Seng.

Begitu melihat bayangan hijau itu Sun Cu Hoa lantas mengetahui bahwa kawannya telah tiba.

Kawannya itu adalah seorang tinggi kurus yang bernama Kam Tiauw, tetapi orang orang suka memanggil padanya Hie Kong kong. Usianya kira-kira enam puluh tahun. Ia merupakan salah satu orang kuat dalam kawanan partai Sepatu rumput yang menyembunyikan diri di suatu desa di tepi telaga Sin yang ouw. Sekali ini Sun Cu Hoa telah mendapat perintah dari Cu Su untuk mendatangi tempat itu dan mencari Kauw cu dan malam itu mereka sedang merundingkan persoalan Istana Panjang Umur di gunung Kuo cong san.

Mendadak terlihat gerakannya Co Seng, Sun Cu Hoa tidak mengetahui apa yang akan diperbuat bocah itu, maka sengaja ia mengintai sambil menyembunyikan diri.

Siapa nyana, Co Seng begitu tiba ditempat tersebut langsung mengeluarkan senjatanya Bak- tha Liong-kin yang benar benar telah mengejutkan Sun Cu Hoa, maka ia mencoba untuk mendekati sehingga akhirnya ia telah kepergok oleh Co Seng.

Ketika Sun Cu Hoa sudah mundur dan terhindar dari serangan Co Seng, Hie kong kong juga sudah melayang turun sambil membawa Bak-tha Liong-kin di tangannya.

Sun Cu Hoa ketika melihat senjata tersebut dapat dirampas, bukan main girangnya : "Hie kong kong, jangan sampai bocah itu kabur begitu saja."

"Jangan kuatir. ia tidak dapat kabur. hanya aku merasa heran, mengapa ia mempunyai senjata pusaka ini ? Apa kau kenal ?

Sun Cu Hoa pernah membicarakan halnya Kim Houw dengan orang tua itu, selagi ia hendak memberitahukan bahwa itu ada senjatanya Kim Houw yang dibawanya dari Istana Panjang Umur, tetapi entah bagaimana telah berada di tangannya bocah tersebut, belum sampai ia membuka mulutnya, mendadak ia melihat berkelebatnya satu bayangan orang, kemudian disusul oleh jeritan kagetnya Hie kong kong.

Ternyata tangannya Hie kong kong pada saat itu sudah kosong. Ia berdiri seperti terpaku, wajahnya sebentar merah dan sebentar pucat, agaknya ia merasa sangat malu. Ketika Sun Cu Hoa berpaling ke arah Co Seng, bocah itu tengah berdiri dengan bangga sambil memegangi senjatanya yang baru saja direbutnya kembali dari tangannya Hie kong kong.

Wajahnya menunjukkan ketawanya yang mengandung arti. Orang tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh bocah nakal itu.

Sun Cu Hoa kali ini bukan hanya kaget saja, perasaan takut dalam hatinya sungguh tak dapat dilukiskan. Kalau senjata itu dapat direbut dari tangannya, masih tidak begitu mengherankan.

Tetapi Hie kong kong yang merupakan salah satu orang kuat dari partai Sepatu Rumput, bagaimana senjata yang sudah berhasil direbut dari tangan lawannya, dalam waktu sekejap saja telah dapat dirampas kembali, apalagi lawannya itu hanya merupakan seorang bocah saja.

Bukankah kejadian itu merupakan kejadian yang sangat langka ?

Bocah itu kelihatannya masih belum mau kabur, agaknya ada orang yang dibuat andalan, maka sedikitpun ia tidak merasa kuatir.

Sun Cu Hoa lantas berseru:

"Jangan biarkan ia kabur ! itu adalah senjata Bak-tha Liong-kin, senjatanya Kim Siaohiap yang didapatkan dari Istana Panjang Umur.

Hie kong kong pada saat itu sudah mulai tenang pikirannya, ia mengangguk anggukkan kepalanya, kemudian berpaling dan memandang Co Seng agak lama, baru ia berkata :

"Adik kecil, kau bernama apa ? Siapakah suhumu ?"

Co Seng mengerti maksud pertanyaan orang tua itu, namanya sendiri dan nama Kim Houw juga dapat disebutnya. Seandainya pertanyaan itu diajukan oleh Sun Cu Hoa sejak tadi mereka saling bertemu, mungkin ia sudah menjawab dan tidak menimbulkan urusan.

Tetapi sekarang Co Seng sengaja tidak mau menjawab, sebab bocah itu adatnya keras dan aneh. Dalam alam pikirannya sudah menganggap bahwa mereka itu adalah kawanan orang-orang jahat yang hendak merampas senjatanya. maka perlu apa diberitahukan namanya ?

Ia sengaja menutup rapat mulutnya, tetap berdiri seperti orang linglung, wajahnya menunjukkan ketawa aneh.

Kelakuan Co Seng itu benar-benar membuat gusar Hie kong kong. Biar bagaimana mereka tidak mau percaya bahwa anak yang sudah demikian besarnya tidak mengerti perkataan orang.

Hie kong kong menganggap bocah itu terlalu sombong, hingga tidak ada gunanya bicara banyak-banyak dengannya. Masih bocah sudah begitu jumawa dan kurang ajar, bagaimana nanti kalau sudah dewasa.

Maka, seketika itu wajah Hie kong kong lantas berubah, mendadak timbul pikirannya untuk menyingkirkan jiwa bocah itu. Dengan mata bengis dan tangan diluruskan setindak demi setindak ia menghampiri Co Seng.

Co Seng yang tidak kenal takut, sudah tentu tidak mengerti apa artinya lihay. Menampak Hie kong kong menghampiri dengan sikapnya yang demikian, ia juga tidak bersedia untuk lari, bahkan semakin brutal ia menunjukkan ketawanya cengar cengir. Ia tidak tahu bahwa bahaya sedang mengancam dirinya. Hie kong kong berada kira-kira lima kaki jauhnya dari diri Co Seng, jarak itu sudah cukup dengan seuluran tangan saja. Tapi Co Seng masih belum memikirkan untuk kabur. Andaikata ia hendak kabur juga sudah tidak keburu !

Hie kong kong sambil melonjorkan tangannya, ia menanya pula kepada Co Seng :

"Siapa sebetulnya suhumu ? Kalau tidak mau memberitahukan, jangan sesalkan aku orang tua berlaku telengas terhadap dirimu !"

Tapi Co Seng yang melihat sikapnya Hie kong kong dengan kedua tangan menggeleser ke bawah serta bajunya warna hijau yang kedombrongan, mirip seorang malaikat di akherat, dalam hati merasa geli, dan kemudian benar-benar ia sudah tertawa terpingkal pingkal. Terhadap perkataan Hie kong kong sepatahpun tidak ada yang masuk dalam telinganya.

Hie kong kong semakin gusar, dengan mendadak ia mengangkat kedua tangannya, lalu digunakan untuk menyerang dengan berbareng.

Serangannya itu ia lakukan dengan tenaga sepenuhnya, sebentar saja suatu kekuatan yang sangat hebat telah menyambar ke arah badan Co Seng.

Co Seng sejak kanak-kanak sudah melatih ilmu mengentengi tubuh yang luar biasa, ditambah lagi dengan pelajaran dua rupa ilmu silat luar biasa pula dari Kim Houw, tapi kekuatan tenaga dalamnya dan kekuatan luarnya masih belum mempunyai dasar yang sempurna. 

Begitu melihat sambaran angin yang begitu dasyat, ia sudah tidak keburu untuk menyingkirkan diri. Pada saat itu mendadak ada semacam tenaga lunak, telah menjambret dirinya Co Seng, sehingga terhindar dari bahaya.

Co Seng tercengang, ketika ia menengok ke belakang, ternyata . . .

Dari pihaknya Hie kong kong sudah bertekad hendak menyingkirkan dirinya Co seng, maka kalau serangannya mengenai dirinya si bocah binal, tidak ampun lagi jiwanya Co Seng pasti melayang. Siapa nyana dengan mendadak . . .

Semacam kekuatan tenaga yang tidak kelihatan, seolah olah tembok dinding yang kokoh kuat telah membendung tenaga serangan Hie kong kong hingga bocah binal itu bisa lolos dari kurungan kekuatan sambaran anginnya.

Kepandaian tersebut telah membuat Hie Kong-kong terkejut dan terheran-heran. ketika ia menegasi, di bawahnya sinar bintang, entah sejak kapan telah berdiri seorang pemuda cakap yang sedang mengawasi padanya sambil bersenyum.

Hie Kong Kong masih belum hilang rasa kagetnya, mendadak terdengar seruannya Cu Hoa yang berada di belakang dirinya.

"Haa, Kim Siaohiap, kiranya adalah kau!"

Memang benar pemuda cakap yang baru datang itu adalah Kim Houw.

Apa ia datang tepat pada waktunya ? Tidak! Ia sebetulnya siang-siang sudah tiba di tempat itu.

Sebab setiap malam jika Co Seng pergi melatih ilmu silatnya secara diam-diam, ia selalu mengikutinya secara diam-diam juga. Sudah tentu ia tidak dapat melepaskan dirinya bocah nakal itu begitu saja. Anak yang masih baru berusia tujuh tahunan dan membawa senjata pusakanya yang sangat berharga itu.

Tetapi mengapa ia tidak mau menunjukkan dirinya siang-siang ? Itu disebabkan karena ia ingin menguji kekuatan dan ketabahan Co Seng.

Dan apa yang disaksikannya malam itu telah membuat Kim Houw merasa cukup puas, kalau tidak karena Co Seng terancam bahaya, ia masih belum mau menunjukkan dirinya.

Sampai di sini Sun Cu Hoa lalu memperkenalkan Kim Houw dengan Hie Kong-kong.

Kim Houw segera minta maaf kepada Hie Kong-kong serta menerangkan bahwa Co Seng adalah muridnya yang baru saja di pungutnya meskipun usianya sudah tujuh tahun, tetapi masih belum pandai bicara.

Murid baru serta masih berbau pupuk bawang sudah mempunyai kepandaian begitu hebat, apalagi suhunya. Terutama kepandaian Kim Houw yang baru saja diunjukkan tadi yang dipakai membendung serangannya, betul-betul merupakan suatu kepandaian yang istimewa, sehingga Hie Kong-kong merasa sangat kagum sekali.

Kepada Sun Cu Hoa, Kim Houw lalu menanyakan tentang dirinya Cu Su.

"Suhu sedang melakukan perjalanan ke Bin-kang untuk menemui sahabatnya, nanti pada permulaan bukan tujuh pasti ia datang. Siaote sendiri juga ingin pulang ke Shoe-tang Selatan lebih dahulu, juga akan balik pada permulaan bulan tujuh itu. Entah Kim-Siaohiap ada mempunyai pesanan apa ?" demikian jawabnya Sun Cu Hoa.

"Tidak, tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menanyakan saja. Sebab aku sudah berjanji dengan Sin-hoa Locianpwe bahwa pada tanggal tujuh bulan tujuh kita nanti akan berkumpul di Istana Panjang Umur. Mudah-mudahan kita nanti berhasil membasmi Kow-low Sin-ciam dan kambrat-kambratnya untuk menjamin keamanan di dunia rimba persilatan."

Pada saat itu Hie Kong-kong juga lantas menyeletuk :

"Kim Siaohiap, bagaimana kalau kita beromong-omong di dalam perahumu?"

"Ahh, tidak usah. Kalau Hie Kong-kong berperahu, aku mohon supaya besok pagi membawa aku dan kawan-kawanku untuk menyeberangi telaga ini." jawab Kim Houw merendah.

"Itu mudah sekali, besok aku pasti akan menunggu di tempat ini." sahut Hie kong kong sambil tertawa bergelak-gelak.

Setelah berpamitan dengan Hie kong kong dan Sun Cu Hoa, Kim houw lalu mengajak Co Seng pulang.

Keesokan harinya, Kim Houw lantas memberitahukan kejadian yang dialaminya tadi malam kepada Tiong-ciu-khek dan Peng Peng. Tentang dirinya Hie kong kong ternyata Tiong ciu khek sudah lama pernah mendengar namanya. Ketika mendengar keterangan Kim Houw bahwa Co Seng dapat merebut kembali senjatanya dari tangan Hie kong kong, ia agaknya tak mau percaya.

Apalagi tentang Sun Cu Hoa yang katanya juga tidak dapat menandingi Co Seng ia lebih-lebih tidak mau percaya. Meskipun Sun Cu Hoa juga berusia tujuh belas tahunan, tetapi tentang kepandaian anak muda itu Tiong ciu khek juga sudah pernah melihatnya. Kalau tidak karena kekuatan tenaganya yang masih agak kurang sempurna, ia sudah termasuk salah satu orang kuat dalam rimba persilatan. Cara bagaimana ia tidak mampu menandingi seorang bocah cilik seperti Co Seng ?

Tetapi kalau tidak percaya, mau apalagi ?

Kim Houw tokh tidak ada untungnya mengagulkan dirinya Co Seng. Apalagi sebentar tokh akan bertemu dengan Hie kong kong sendiri, dari mulutnya orang tua nanti tentu akan mendapat keterangan yang lebih jelas tentang kejadian malam itu.

Setelah semuanya siap sedia, rombongan Kim Houw lalu berjalan menuju ketepi telaga, di sana sudah menunggu Hie kong kong dengan perahunya. Dengan lakunya yang hormat sekali Hie kong kong mengajak Kim Houw dan kawan kawannya naik ke ats perahunya. Terhadap Co Seng, kelihatannya ia suka sekali ia mengelus elus kepalanya sambil tertawa tawa, mulutnya memuji muji tiada henti hentinya.

Kim Houw lalu memperkenalkan Tiong ciu khek dan Peng Peng pada Hie kong kong, masing- masing pada menyatakan kekagumannya.

Tetapi ketika Hie kong kong mendengar pujiannya Tiong ciu khek, ia lantas bertanya sambil menggeleng gelengkan kepalanya :

"Ah, aku sudah tua, sudah tidak ada gunanya lagi. Sekarang kita harus mengandalkan tenaga orang-orang dari angkatan muda umpama Kim Siaohiap yang mendapat pelajaran ilmu silat dari istana panjang umur di gunung Tiang pek san, sampai dimana tingginya kepandaian itu, tidak perlu dibicarakan lagi. Hanya melihat dari kepandaian si bocah cilik itu saja, sudah cukup membuat aku si tua bangka merasa kagum dan takluk benar-benar . . . "

Karena perahu itu tidak besar, maka setelah semua orang duduk, sisa tempat yanng terluang tidak seberapa lagi.

Selagi Hie kong kong hendak mendayung perahunya, tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki yang sangat tergopoh-gopoh. Sebentar kemudian, ditepi telaga itu telah muncul seorang hwesio tinggi besar, tangannya membawa tongkat, dibelakang gegernya menggemblok sebuah Bok-hie besar, begitu tiba, ia lantas berteriak dengan suaranya yang seperti geledek: "Tunggu dulu! Hudyamu juga ingin menyeberang kesana!"

Semua orang terkejut melihat kedatangan hwesio yang romannya bengis itu, kepalanya besar, badannya tinggi besar, dengan sikapnya yang sangat jumawa.

Hie Kong-kong tetap memegang galahnya dan hendak melanjutkan usahanya untuk mendayung perahunya, tetapi mulutnya lantas menyahut: "Tay-suhu, harap kau suka memaafkan banyak-banyak. Karena perahuku ini kecil dan orangnya banyak, ditambah lagi di telaga ini angin dan ombaknya besar. Jika terjadi sesuatu hal yang tidak diingini, bukan saja berarti mencelakakan diri orang lain, tetapi diri kita sendiripun akan mendapat susah. Tay-suhu adalah seorang beribadat, harap..."

Hwesio itu menyaksikan Hie Kong kong hendak meninggalkan padanya, hatinya semakin mendongkol. Ia tidak menantikan habisnya keterangan Hie Kong kong, tongkatnya sudah digerakkan untuk menahan perahu yang hendak berangkat itu.

Tenaga hwesio itu ternyata kuat sekali, karena perahu yang ditahan oleh tongkatnya tadi lantas tidak dapat bergerak lagi. "Orang banyak tohk bisa disuruh turun semua, karena hudya-mu ada urusan penting maka mau tidak mau kau harus seberangkan aku dulu." demikian kata hweeshio itu sambil ketawa besar.

Orang-orang yang berada di atas perahu itu semuanya merupakan orang-orang yang tidak suka menerima hinaan begitu saja. Melihat sikapnya yang jumawa serta romannya yang jahat dari hwesio itu, dapat diketahui bahwa hwesio itu bukan dari golongan orang baik-baik. Tetapi dari gerakannya yang diunjukkan tadi, telah terlihat bahwa si hwesio mempunyai kekuatan tenaga dalam yang tinggi dan mungkin masih ada diatasnya Hie Kong kong.

Meskipun Hie Kong-kong mengetahui bahwa dirinya sendiri bukan tandingan hweeshio itu, tetapi karena didalam perahu itu masih ada Tiong-chiu-khek dan Kim Houw, maka dengan tidak perdulikan apa akibatnya lagi ia hendak terus mendayung perahunya ke tengah telaga.

Menurut perhitungannya , asalkan perahu itu sudah bergerak meninggalkan tepian, jika hwesio itu berani menggunakan kekerasan, masa ia berani terbang kedalam perahu, apalagi disitu masih ada Kim Houw dan lain-lainnya.

Siapa nyana, galah bambu yang dipakai untuk mendorong perahunya itu mendadak patah menjadi dua dan perahu itu sedikitpun tidak bergerak.

Hie Kong-kong mati kutunya, dalam keadaan demikian, amarahnya lantas meluap.

Tiba-tiba terdengar suaranya hwesio itu yang berkata sambil ketawa dingin : "jikalau kau tidak mau menyeberangkan Hudya-mu kesana, hari ini jangan harap perahumu dapat bergerak, Hai, bagaimana? apa kalian semuanya bangkai hidup, mengapa tidak lekas-lekas turun, ke darat?

Kalau Hudya-mu nanti sudah gusar, jangan harap nanti bisa hidup."

Pada saat itu, tiba-tiba Kim Houw berbisik-bisik di telinganya Co Seng, entah apa yang dibicarakan.

Si Hwesio yang menyaksikan keadaan demikian, lantas berteriak-teriak saking gusarnya : "Bagus sekali. Kiranya kalian hendak main gila! Nanti Hudya-mu suruh kalian menerima

siksaan dulu sebelum mati..."

Siapa nyana, belum habis ucapannya itu, mendadak dirasakan matanya kabur, sesosok bayangan orang sudah menyerang di depan matanya.

Si hwesio semakin gusar. Ia lalu mementang lengan bajunya, di depan dadanya lalu terkurung oleh kekuatan tenaganya. Tetapi ketika ia baru saja mengangkat jubahnya, orang di depannya tadi sudah menghilang.

Kemudian disusul oleh perasaan dingin yang di belakang punggungnya yang terus meresep ke belakang pinggangnya, sehingga pinggangnya, sehingga pinggang itu dirasakan sakit meskipun rasa sakitnya itu tidak hebat, tetapi masih dibarengi oleh rasa ngilu dan gatal.

Bukan kepalang kagetnya hwesio itu, ia tidak mengetahui senjata rahasia apa itu yang dapat merayap dan dapat juga menggigit ?

Maka cepat-cepat ia menurunkan Bok-hie-nya dan mengendorkan jubahnya untuk memeriksa. Tetapi ketika ia sudah menyaksikan sepasang matanya lantas mendelik, mulutnya berteriak- teriak.

Apa sebetulnya yang telah terjadi? Kiranya itu hanya dua ekor udang hidup yang benar-benar yang tadi malam didapat oleh Hie Kong-kong dari dalam telaga itu dan akan digunakan untuk santapan tengah hari untuk para tamunya. Tidak nyana udang itu telah digunakan oleh Kim Houw untuk mempermainkan dirinya si hweeshio.

Hwesio yang dipermainkan demikian rupa itu sudah tentu tidak mau mengerti. Tetapi ketika ia membuka matanya lebar-lebar untuk mencari orangnya yang berani berbuat begitu jahil terhadap dirinya, ternyata perahunya Hie Kong-kong sudah berada jauh ditengah telaga, meninggalkan hwesio itu dalam keadaan kalap sendiri.

Perahu itu, di bawah kekuasaannya Hie kong-kong, dapat berjalan sangat laju dan sebentar saja mereka sudah menghilang dari pemandangan si kepala gundul.

Pada waktu senja hari itu perahu yang ditumpangi Kim Houw dan kawan-kawannya sudah tiba di kota Jiauw ciu. Karena Hie Kong-kong masih sedang menantikan kedatangan salah seorang kawannya, maka Kim houw setelah berpisah dengan Hie Kong-kong bersama kawan-kawannya melanjutkan perjalanannya melalui darat.

Malam itu mereka menginap disalah satu penginapan dalam kota tersebut.

Tengah malamnya, kembali Co Seng hendak keluar dari rumah itu untuk melatih ilmu silatnya.

Tetapi baru saja ia bergerak, tiba-tiba ia mendengar suara Kim Houw yang berkata:

"Co Seng, kita telah kedatangan tetamu malam yang tidak seberapa. Kau pergi gusur kepalanya kemari, nanti aku yang periksa padanya.

Co Seng girang sekali mendapatkan tugas itu dengan cepat ia sudah melompat melesat melalui lubang jendela.

Baru saja Co Seng berada di atas genteng, benar saja dari jauh ia sudah melihat sesosok bayangan hitam yang lari mendatangi laksana terbang.

Co Seng maju menghampiri dan menghadang perjalanan orang tersebut.

Tetamu malam itu ternyata adalah satu pemuda yang berusia kira-kira dua puluh tahun. Karena Co Seng tidak pandai bicara, maka ia mengenakan tangannya menunjuk ke dalam ruangan, seolah-olah hendak berkata: Silahkan turun, kita sudah menantikan kedatanganmu.

Tetapi pemuda tersebut, ketika dengan secara mendadak dirinya dipegat oleb satu satu bocah cilik, agaknya memandang enteng sekali. Sambil miringkan badannya, ia hendak meneruskan perjalanannya sambil memutar di sampig Co Seng.

Tidak dinyana, baru saja badannya bergerak, kembali jalannya sudah dirintangi oleh Co Seng dengan satu tangannya yang lain tetap digunakan untuk menunjuk ke ruang bawah. Bagi Co Seng, perbuatan demikian itu dianggapnya sudah sangat hormat terhadap tetamunya.

Tetapi pemuda itu agaknya mempunyai urusan yang sangat penting, maka ia tidak mau meladeni Co Seng. Beberapa kalipun ia sudah berusaha untuk menyingkirkan diri dari bocah itu, selalu tidak berhasil menyingkir dari depannya Co Seng, maka ia lantas menjadi gusar. "Anak busuk, kau mau apa?" demikian tegurnya. Co Seng hanya mengganda ketawa, tangannya kembali menunjuk ke arah ruangan, mulutnya hanya mengeluarkan perkataan:

"Silahkan... silahkan."

Pemuda itu dibikin bingung oleh lakunya, tetapi kegusarannya tetap memuncak. Dengan tiba- tiba ia mengayun tangannya untuk menyerang Co Seng. Meskipun serangannya itu tidak dibarengi oleh kekuatan sambaran angin, tetapi juga tidak lemah.

Tetapi yang diserang ternyata sudah tidak kelihatan lagi bayangannya sekalipun. Selagi berada dalam keadaan kaget dan terheran-heran, mendadak kedua pergelangan tangannya dirasakan kesemutan semuanya kemudian pundak kanannya dirasakan seperti terdorong oleh tangan orang, sehingga badannya jatuh meluncur kebawah.

Co Seng setelah berhasil mendorong turun pemuda tersebut, di belakang dirinya kembali telah muncul satu bayangan orang, dengan gerakannya yang gesit sekali.

Co Seng lalu menghunus senjata Bak-tha Liong kin-nya, dengan gerak tipu "Thian-liong Pat- sek" badannya melompat tinggi keatas.

Kemudian memutar ditengah udara dan menyerang sambil menukik. Pikirnya ia hendak menggusur orang itu seperti caranya menghadapi pemuda tadi.

Tiba-tiba ia mendengar suaranya Tiong ciu-khek yang berkata:

"Co Seng! Aku. "

Dalam kagetnya Co Seng buru-buru tarik kembali serangannya, ditengah udara ia berjumpalitan sampai tiga kali baru menjelang turun. Ia buru-buru memberi hormat sambil minta maaf kepada Tiong ciu khek.

"Apa hanya satu orang saja?" tanya Tiong ciu khek.

Co Seng mengangguk anggukkan kepalanya, lantas lompat turun ke bawah.

Tiong ciu khek merasa kagum sekali atas kecerdasan Co Seng, dalam usia yang demikian mudanya ia sudah mempunyai daya perasaan yang begitu tajam. Ia sendiri yang baru menginjakkan kakinya di atas genteng, lantas mau diserang dengan senjatanya Bak-tha Liong kin. Kegesitan untuk bergerak, mungkin tidak kalah dengan orang-orang yang tergolong kuat dalam kalangan persilatan. Hanya sayang tenaganya masih kurang. Seandainya ia mendapatkan secara mujijat seperti halnya dengan Kim Houw yang mendapatkan kekuatan tenaga di luar batas kekuatan manusia biasa, maka kedatangannya ke Istana Panjang Umur kali ini, pasti ia akan merupakan seorang pembantu yang sangat berharga.

Tiong chiu khek begitu turun dari atas genteng, segera dapat melihat Kim Houw di dalam kamarnya lampunya sudah dinyalakan dan Peng Peng juga turut serta dalam kamar tersebut, maka ia lantas menghampiri mereka.

Di dalam kamar itu, Kim Houw sedang memeriksa apa-apa dibawahnya penerangan lampu.

Ketika Tiong ciu khek sudah berada di dekat sisinya, barulah ia mengetahui bahwa apa yang diperiksa oleh Kim Houw tadi ternyata adalah suratnya Siao Pek Sin yang dikirim untuk kauwcu Ceng hong kauw. Dalam surat itu diterangkan bahwa Hay lam Siang koay tiba tiba telah pulang dan bersedia membantu padanya memulihkan kembali kewibawaan Istana Panjang Umur. Disamping itu, masih ada lagi Kow low Sin ciam, Thie Bok Taysu, Ho pak am Sian dan lain lainnya yaitu orang orang kelas satu dari golongan hitam yang bersedia untuk menghadapi Kim Houw, maka diminta supaya kauwcu itu supaya dengan segera datang ke Kua-chong-san untuk mengadakan perundingan bersama sama.

Sehabis membaca surat itu, bukan main kagetnya Tiong ciu khek. Sebab seorang seperti Kow low Sin ciam saja sudah cukup menakutkan, apalagi sekarang dibantu oleh Hay lam Siang koay yang mempunyai kepandaian istimewa. Karena Tiong ciu khek belum pernah bertemu dengan mereka maka ia belum mengetahui sampai dimana tingginya kepandaian mereka. Tetapi Thie Bok Taysu dan Hoa pak Sam sian merupakan kawanan manusia iblis yang namanya sama terkenal dengan Kow low Sin ciam dan Liok cie Tianmo. Meskipun belum pernah bertemu, tetapi keganasan mereka hampir diketahui oleh setiap orang dalam kalangan persilatan. Anehnya orang orang ini semuanya yang tadinya sudah lama tidak muncul-muncul didepan umum, mengapa tiba- tiba sekarang muncul lagi dan membuat keonaran dalam kalangan Kang-ouw lagi dengan berbareng.

Kekuatiran Tiong-cui-khek ini sudah tentu tidak diketahui oleh Kim Houw dna Peng Peng, sebab kecuali Kow-low Sin-ciam dan Liok-cie Thian-mo, mereka belum pernah mengetahui nama yang lain-lainnya itu.

Hay Lam Siang koay,meskipun sudah lama berkumpul dengan Kim Houw didalam Istana Panjang Umur, tidak diketahui kepandaiannya berapa tingi? Sebab ketika itu semua orang yang berada dalam istana tersebut, siapapun tidak pernah membicarakan soal kepandaian ilmu silat. Keadaan Kim Houw pada saat itu, sekalipun orang-orang pada membicarakan soal yang berhubungan dengan ilmu silat, ia sendiripun tidak akan mengerti.

Akhirnya Kim Houw seperti mengingat pada sesuatu hal, maka ia lantas menanya kepada Tiong-ciu-khek : "Ya, orang-orang ini terdiri dari golongan apa saja? Apakah mereka semuanya lihay?" "Mungkin dunia akan kiamat, maka pengaruhnya iblis merajalela. Kawanan manusia iblis ini sudah lama namanya tidak terdengar lagi, bagaimana secara mendadak dapat muncul lagi?

Dalam kalangan persilatan semua pada menduga bahwa mereka semuanya sudah pada mampus. Tetapi siapa nyana..." bicara sampai di sini, Tiong-ciu-khek tiba-tiba berseru kaget, kemudian berkata pula : "jikalau begitu ia, bangsat kepala gundul yang kemarin kita ketemukan di tepi telaga kiranya adalah dia."

"Dia siapa?... " tanya Kim Houw dan Peng Peng berbareng.

"Kemungkinan besar adalah dia, kalau bukan dia, bagaimana bisa mempunyai kekuatan begitu hebat?"

"Maksud yaya apakah bukan mau mengatakan bahwa sikepala gundul itu adalah Thian Bok Taysu? Dengan sejujurnya, kalau dilihat dari keadaan kemarin itu, tidak ada apa-apanya yang hebat pada dirinya. Co Seng saja sudah membuat ia berteriak-teriak kelabakan." nyeletuk Kim Houw.

"Itu hanya kebetulan saja, bagaimana dapat dibuat ukuran? Bok-hie dan tongkatnya Thie Bok Taysu sudah lama merupakan senjata yang terkenal hebatnya.

Disamping itu masih ada lagi sebuah golok Kayto yang direndam dalam racun, merupakan senjata yang sangat jahat, senjata itu dapat digunakan secara leluasa dan dapat pula digunakan untuk menyerang sasarannya yang berada sejauh tiga tombak. Tentang Co Seng memang ada satu tenaga bantuan yang sangat baik, hanya sayang. lihaynya masih kurang, apa lagi tenaga dalamnya, ia tidak nanti dapat menghadapi kawanan iblis itu. Kim Houw yang mendengar keterangan itu, agak lama ia berpikir, kemudian berkata:

"Begini saja, waktunya tokh masih ada setengah bulan lebih. Selama beberapa hari ini aku ingin mengorbankan sedikit kekuatan untuk disalurkan ke dalam tubuhnya Co Seng supaya bertambah. Taruh kata tidak digunakan untuk menyerang orang, untuk melindungi dirinya sendiri rasanya sudah lebih dari cukup"

Sehabis berkata demikian Kim Houw lantas buktikan apa yang dipikir. Sementara itu pemuda yang tergeletak di tanah itu oleh Tiong-ciu-khek dibawa keluar dan diletakkan di luar kota.

Suratnya dikembalikan ke dalam sakunya.

Pemuda itu, ketika terjatuh dari atas genteng, ingatannya sudah kabur, sehingga ia tidak lagi mengetahui apa yang telah terjadi pada dirinya. Tatkala ia siuman kembali dari pingsannya, ia telah mendapatkan kenyataan bahwa dirinya sekarang sudah ada di luar kota. Ia memikir bulak balikpun tidak mengerti, bagaimana caranya ia bisa berada di situ. Tetapi karena barang- barangnya tidak ada yang hilang, maka dengan terbirit-birit ia melanjutkan perjalanannya.

Sudah tentu, karena perhubungannya dengan Kim Houw, Ceng-hong-kauw tidak mau masuk dalam persekutuan Siao Pek Sin lagi, maka Kim Houw tidak perlu menahan surat undangan tersebut supaya pemuda itu tidak terlalu bercuriga.

Sekarang kita balik lagi kepada Kim Houw yang sedang menyalurkan kekuatan tenaga ke dalam tubuh Co Seng.

Semula Co Seng masih sangat gembira. Ia menurut perintahnya Kim Houw disuruh duduk, disuruh tidur, ia juga disuruh memejamkan mata ia juga memejamkan matanya. Pendek kata disuruh apa saja ia terus menurut.

Tetapi ketika Kim Houw Han-bun-cao-khie masuk ke dalam badan Co Seng, hawa dingin itu telah membuat Co Seng menggigil tidak berhenti-hentinya. Perasaan gembiranya lenyap seketika itu juga dan diganti dengan penderitaan, badannya seluruhnya dirasakan dingin.