Istana Kumala Putih Jilid 30

 
Jilid 30

TIONG CIU KHEK dan Peng Peng dengan tidak berkata apa apa, telah putar pedang masing- masing, sebatang panahpun tidak ada yang bisa menembusi sinar pedang mereka ! Tapi anak panah terus menyerang tidak berhentinya, sehingga Peng Peng sudah mulai kewalahan. Disaat itu mendadak ia tidak dapat lihat Kim Houw yang tadinya berada di belakang dirinya, begitu pula Co seng juga sudah menghilang dari belakangnya Tiong ciu khek.

Yaya ! Yaya ! di mana mereka berdua ?" Tiong ciu khek menoleh ke belakangnya, bukan main kagetnya, karena Co Seng sudah tidak ada di belakangnya. Tepat pada saat itu, dipihak lawan mendadak terjadi kekalutan besar, hujannya anak panah juga nampak berkurang. Tiong Ciu Khek dan Peng Peng melongok, keduanya pada berseru kaget :

"Hai ! bagaimana mereka bisa lari ke sana ?"

"Eh ! dengan cara bagaimana mereka bisa menyerang kesana ?"

Apa sebetulnya yang dilihat oleh Peng Peng dan Yaya nya ? Kawanan bandit yang berada di ujung sebelah kanan dan ujung sebelah kiri, satu persatu nampak dilempar-lemparkan ke dalam sungai, dan orang yang melempar-lemparkan mereka itu adalah Kim Houw dan Co Seng.

Buat Kim Houw, hal itu tidak mengherankan. Tapi buat Co Seng, sebetulnya belum mempunyai itu kemampuan untuk melemparkan orang-orang tersebut. Tapi, ilmunya mengentengi tubuh sangat luar biasa, ditambah lagi di tangannya ada memegang senjatanya Kim Houw, Bak- tha Liong kini ia gunakan senjata itu untuk menghajar setiap orang yang diketemukan, hingga kawanan bandit itu pada tidak berdaya.

Bagaimana Kim Houw dapat menyeberangi sungai itu ? Ternyata, Kim Houw meski terluka dalam, tapi setelah minum air mujijat, sebentar sudah sembuh. ia sengaja tidak mau bertindak dan membiarkan Tiong ciu khek dan Peng Peng yang melayani semua serangan anak panah dari pihak bandit itu.

setelah menyaksikan kawanan bandit itu begitu brutal, ia tidak sabar lagi. Diam-diam ia gapai Co Seng, dengan isyarat tangannya ia suruh Co Seng menutup pernapasannya.

Kim Houw lalu gendong padanya dan terjun ke dalam sungai untuk kemudian selulup menyeberang ke perahu musuhnya.

Semula Co Seng ketakutan, tapi perintah Kim Houw ia tidak berani bantah. terpaksa ia tutup pernapasannya sambil gertak gigi, setelah keluar dari dalam air dan berada di atas perahu musuh, Kim Houw memberikan senjatanya Bak-tha Liong Kin untuk ia menghajar setiap orang yang diketemukannya. Karena setiap serangannya berhasil dan orang-orang itu pada kecebur ke dalam sungai, Co Seng kegirangan dan gembira sekali menjalankan tugasnya.

Sedang Kim Houw sendiri, setelah perintah Co Seng untuk menghajar setiap musuhnya, lantas menyeberang ke lain tepi. Karena dengan ilmunya mengentengi tubuh Co Seng yang istimewa, apa lagi ada senjata di tangannya, pihak musuh yang terdiri dari orang-orang biasa tidak mudah untuk menangkap dia. Maka Kim Houw percaya Co Seng pasti bisa menghadapi mereka tanpa kesulitan. Dan ia sendiri lalu menyerang dari pihak lain, supaya musuh dapat kesempatan untuk mengurung Co Seng.

Sebentar saja, beberapa puluh perahu sudah dibikin terbalik oleh Kim Houw, dan akhirnya ia tiba ke sebuah perahu besar. Tapi di sini ia telah mendapat perlawanan hebat dari sepuluh kawanan bandit.

Sepuluh orang itu termasuk orang-orang yang mempunyai latihan ilmu silat cukup baik, tapi Kim Houw yang kepandaiannya luar biasa, sekalipun di tangannya tidak ada senjata, ia juga tidak jeri. Sebentar ia kelihatan berkelebat di sana, sebentar di sini, dengan tangan kosong, ia telah berhasil merampas senjata musuh musuhnya yang jumlahnya lebih banyak.

Sepuluh orang yang mengepung padanya, sebentar saja sudah dirubuhkan separuhnya. satu diantara mereka yang agak lanjut usianya, yang dalam rombongan itu agaknya bertindak sebagai pemimpin mereka, mendadak berseru nyaring dan menerjang dengan senjata goloknya.

Kim Houw anggap karena orang-orang itu bukan termasuk orang terpenting, ia tidak mau membinasakan lebih banyak jiwa mereka. Selagi hendak mengundurkan dirinya, siapa nyana seruan orang tua tadi agaknya membawa pengaruh besar bagi mereka, serangannya nampak semakin hebat.

Menampak mereka tidak kena dikasih hati, Kim Houw menjadi gusar. Setelah perdengarkan suara pekikannya yang nyaring, lantas ia keluarkan ilmu silatnya yang luar biasa, hingga sebentar saja kawanan bandit itu sudah tercebur ke dalam sungai semuanya.

Kim Houw merasa lega, tapi baru saja hendak berlalu, mendadak sambaran angin yang amat hebat seperti hendak menindih kepalanya, Kim Houw cepat egoskan dirinya dan bergerak kira-kira setengah tombak ketika ia pasang matanya, ditempat ia berdiri tadi telah muncul seorang tua kurus kering dengan sorot mata gusar terheran heran.

Kim Houw juga pernah lihat Ho Leng Tan, maka begitu melihat orang tua di depan matanya itu segera mengenali kalau ia adalah kauw-cu dari Ceng hong kauw. Maka lantas berkata sambil ketawa dingin :

"Siaoyoa sejak menginjak daerah Su coan," kata Kim Houw sambil ketawa dingin. "Sungguh merasa bersyukur atas perhatian dan perlakuan orang-orang Ceng hong kauw, dan sekarang dimana Kie Yong Yong sudah tidak ada lagi dalam dunia ini, sungguh tidak dinyana Kau cu masih belum mau sudah . . . "

Orang tua kurus kering itu, memang benar kau cu dari Ceng hong kauw bernama Ho Su Yam, ketika mendengar perkataan Kim Houw wajahnya mendadak pucat seketika. Entah kaget atau gusar, tetapi tangannya yang digunakan untuk mengurut urut kumisnya, agaknya nampak gemetar.

Tidak menunggu sampai habis bicaranya Kim Houw, lantas ia memotong :

"Pantas kau binatang cilik ini ada mempunyai kepandaian yang begitu tinggi, kiranya adalah musuh besar kami yang sudah melukai beberapa orang kuat dari golongan kami. Hari ini, aku yang mendapat perintah untuk menangkap kau, tidak nyana bisa sekalian menuntut balas dendam sakit hati saudara-saudara kami."

Meski Ho Su Yam orangnya kurus kecil dan pendek, tetapi suaranya sangat nyaring, suatu bukti bahwa kekuatan tenaga dalamnya sudah terlatih cukup sempurna, begitu pula ilmu silatnya.

"Aku justru hendak pergi ke Istana Panjang Umur untuk membikin perhitungan dengan Tiancu- mu. Harap kau dapat melihat gelagat, supaya lekas tarik kembali pasukanmu dan selanjutnya kau harus merubah kelakuanmu yang sudah-sudah, mungkin Sioyamu masih dapat memberikan jalan hidup untuk kau" jawab Kim Houw.

Ho Su Yam menggeram, suaranya seperti geledek.

"Kentut ! Kau sendiri yang sudah mendekati ajalmu, dan tokh masih berani omong besar.

Anakku pergi dan sampai sekarang belum kembali, barangkali juga sudah celaka dalam tanganmu, sekarang kau harus membikin perhitungan dengan aku." "Anakmu yang jagoan itu masih belum mati, tetapi lukanya tidak ringan. Dia suatu anak yang bisanya hanya mencuri ayam atau memukul anjing saja, kalau dia jadi anakku, siang siang sudah kubunuh mati, buat apa kau masih mengharap harap pulangnya ?"

Ho Su Yam yang mendengar ucapan Kim Houw yang sangat menghina anaknya, perutnya hampir meledak menahan amarahnya. Dengan tiba-tiba ia ayun tangannya menyerang Kim Houw sambil memaki maki :

"Kau kata anakku belum mati, hm apa kau kira aku dapat mengampuni jiwamu ? Jangan ngimpi sahabat !"

Kim Houw sudah mengetahui bahwa kepandaian orang tua ini tidak dapat dipandang ringan, maka siang siang ia sudah siap sedia. Ketika melihat orang tua itu menyerang dan sambaran anginnya begitu dingin serta telapak tangannya yang berubah hitam, lantas ia mengerti bahwa orang tua ini ada melatih ilmu Tok-see-ciang atau serangan tangan pasir beracun. Dalam kagetnya, ia lantas mengegoskan dirinya untuk menyingkir dari serangan, sembari berkata :

"Aku kira kau mempunyai apa apa yang dapat dibanggakan, kiranya hanya ilmu Tok see ciang biasa saja !"

Ho Sun Yam ketika melihat Kim Houw menyingkir dan tidak berani menyambuti serangannya, dianggapnya Kim Houw takut padanya.

"Kau juga kenal takut, he ! Sekarang aku suruh kau mengenal lihaynya seranganku, ilmu serangan yang dilatih oleh kauwcumu ini dinamakan Pek-tok Im-hong-ciang, agar kauwcu mu tidak usah berabe !" katanya dengan sikap sangat jumawa.

Kim Houw sebal melihat lagaknya, Ia ketawa bergelak gelak, kemudian berkata :

"Im hong ciang yang biasa saja kau begitu berani menamakan Pek-tok ! Siaoyamu ganda tidak balas menyerang, akan menyambuti tiga kali seranganmu, aku ingin tahu sampai di mana kekuatan seranganmu yang sangat kau banggakan itu. "

Ho Su Yam gemas lihat Kim Houw begitu sombong. Pikirnya, ini adalah kau sendiri yang mencari mampus !

Ho Su Yam segera mengerahkan seluruh kekuatannya kepada kedua telapak tangannya dan mulai menyerang.

Karena Ho Su Yam orangnya pendek maka serangannya itu hanya mengenakan perutnya Kim Houw, tapi bahaya karena perut merupakan salah satu bagian terpenting dari anggauta tubuh manusia.

Serangan yang pertama ini hanya dipakai tenaga enam puluh persen saja, sebab Kim Houw kata tidak akan membalas menyerang, maka ia ingin mengetahui dengan cara bagaimana Kim Houw akan menyambuti serangannya itu.

Tidak nyana, angin dari sambaran serangan tangannya tadi sampai diperut Kim Houw, lantas buyar.

"Aha, bagaimana ? Apa kau tidak pandang Siaoyamu, atau takut Siaoyamu binasa dibawah seranganmu ?" Kim Houw bersenyum mengejek. Ho Su Yam sudah murka benar-benar, ia berseru dengan suara keras : "Bocah kurang ajar, lihat kau cuma akan mengambil jiwa anjingmu !"

Sehabis berkata, ia lantas menyedot napasnya dalam-dalam, kemudian mengirim serangannya lebih hebat, yang menjadi sasarannya masih tetap dibagian perut.

Serangan tangan kali ini, si orang tua menggunakan kekuatan sepenuhnya, sehingga sambaran anginnya dingin dan tajam, bahkan mengandung bau busuk.

Tetapi Kim Houw yang melatih ilmu silat di tempat dingin, sudah tentu tidak takut akan hawa dingin. Sekujur badannya seperti ditutupi oleh kabut tebal sehingga Pek-tok Im-hong-ciang orang tua itu punah daya gunanya.

Ho Su Yam bukan kepalang kagetnya, Ia sadar kali ini ia menemukan batunya, maka buru- buru tarik kembali serangannya, tetapi ternyata sudah terlambat, sebab hawa dingin yang dikirim Kim Houw sudah menerobos masuk ke dalam badannya melalui telapakan tangannya sendiri.

Saat itu, sesosok bayangan hitam telah meluncur ke arahnya.

Orang tua itu hendak menyingkir, celaka kehilangan kegesitannya karena hawa dingin tadi yang masuk ke dalam tubuhnya.

Kedua pipinya kena digampar sehingga mengeluarkan suara nyaring dan giginya dirasakan ada yang otek.

Ketika ia membuka matanya, ternyata yang menampar pipinya tadi hanya satu bocah cilik yang baru berumur kira kira tujuh tahun saja. Bocah itu mengawasi padanya sambil ketawa cengar cengir. Ho Su Yam hanya bisa mendelik matanya saja, tidak berani jual lagak lagi.

"Sekarang bagaimana, apa kita masih bertempur lagi ?" Kim Houw menanya.

Ho Su Yam copot nyalinya, seketika itu lantas menekuk lututnya dan berkata seolah-olah meratap.

"Ho Su Yam benar-benar ada punya mata tapi tidak mengenal gunung Tay san, harap siaohiap suka mengampuni kesalahanku"

Kim Houw kerutkan alisnya. Pikirnya : Ho Su Yam ini orang apa, tanpa memikirkan kedudukannya sendiri sebagai Kauwcu, begitu mudah tekuk lutut dan meratap minta-minta ampun.

Kim Houw sebetulnya tidak menghargakan manusia rendah semacam itu. Tetapi karena mengingat Ceng-hong-kauw adalah suatu partai terbesar di daerah Kang-lam, murid-muridnya juga banyak beredar di seluruh daerah Kang-lam dan Kang-pak, jika Ho Su Yam mati, mungkin akan menimbulkan kekalutan dan berbahaya sekali.

Maka ia terpaksa mengampuni. Ia menyuruh Ho Su Yam merubah peraturan agamanya supaya benar-benar menjalankan kebajikan dan membawa faedah bagi masyarakat.

Di kemudian hari jika terdengar masih berani melakukan kejahatan, tentu tidak ada keampunan lagi.

Untuk menolong jiwanya, sudah tentu Ho Su Yam menerima baik semua syaratnya Kim Houw. Pada saat itu, Tiong-ciu-khek dan Peng-Peng sedang berada di dalam keadaan bahaya.

Perahu mereka sudah dibikin berlubang oleh orang-orang Ceng-hong-kauw dari dalam air sehingga sudah hampir tenggelam.

Ho Su Yam lalu mengeluarkan perintah untuk menghentikan pertempuran dan perahu itu mendadak mengapung lagi, bahkan meluncur laksana kilat ke arah perahu besar. Ternyata beberapa puluh orang Ceng-hong-kauw yang menyelam di dalam air sudah mendorong perahu tersebut.

Sebentar saja kedua perahu hanya terpisah kira-kira tiga tombak jauhnya, Peng Peng dan Tiong-ciu-khek lantas melesat lompat perahu besar.

Peng Peng begitu melihat Kim Houw lantas menyesali padanya :

"Orang sedang melindungi jiwamu, sebaliknya kau lantas tidak perdulikan mati hidupnya orang lain, kau sungguh tidak mempunyai liangsim," air matanya sudah hampir mengalir keluar.

"Ya, itu adalah salahku, karena aku hendak menggunakan akal untuk menundukkan mereka." Kim Houw buru-buru minta maaf.

"Siapa suruh kau minta maaf segala," Peng Peng berkata sambil tertawa.

Tiong-ciu-khek tersenyum melihat kelakuannya sang cucu yang cengeng tapi cepat ketawa.

Sebagai orang yang sudah kenyang makan asam garam, begitu melihat kelakuan Peng Peng dan Kim Houw, Ho Su Yam segera mengetahui bahwa mereka adalah sepasang muda-mudi yang dalam ayunan asmara. Untuk menggirangkan mereka, ia lantas mengeluarkan perintah kepada anak buahnya supaya menyediakan perjamuan di atas perahunya untuk menjamu tamu-tamu agungnya ini.

Sebentar saja dari jauh sudah mendatangi sebuah perahu yang terhias indah.

Peng Peng yang menyaksikan kemewahan perahu tersebut, hatinya merasa girang. Belum sampai di undang, ia sudah lompat lebih dulu ke atas perahu indah itu. Kim Houw dan Tiong-ciu- Khek terpaksa menyusul.

Co Seng sejak membantu Kim Houw melakukan pertempuran di atas perahu tadi, agaknya sudah tidak takut akan air lagi. Dari jauh ia sudah lompat melesat mengikuti Kim Houw turun ke perahu mewah tadi.

Cuma saja, begitu berada di dalam perahu, ia lantas menyembunyikan dirinya, tidak mau memperdulikan hal-hal yang lainnya lagi. Dengan kedua tangannya ia memainkan senjata Bak-tha Liong-kin, begitu kegirangan, agaknya ia merasa sayang untuk melepaskan.

Ho Su Yam yang menyaksikan Co Seng dalam usianya masih begitu muda, tetapi sudah mempunyai ilmu kepandaian mengentengi tubuh demikian hebatnya, merasa sangat kagum. Sejak saat itu ia tidak berani bertingkah lagi dan benar-benar saja telah mentaati pesanannya Kim Houw. Ia mengadakan pembersihan di dalam agama atau partainya itu untuk melakukan perbuatan baik bagi masyarakat. Di kemudian hari karena pembersihan dan perubahan besar besaran itu, Ceng- hong-kauw telah menjadi salah satu partai terbesar dari golongan orang baik-baik di daerah Kang- lam dan Kang-pak. Ho Su Yam setelah mengetahui Kim Houw benar-benar hendak ke istana Panjang Umur di gunung Kua-cong-san, lantas perintahkan orang-orangnya untuk menyediakan perahu yang besar guna keperluan perjalanan tersebut.

Ketika diadakan perjamuan, Kim Houw telah dapat melihat bahwa kelakuan Ho Su Yam sudah banyak berubah. Ia mengetahui bahwa orang tua itu selanjutnya pasti benar-benar dapat merubah kelakuannya, maka ia lalu menyodorkan tangannya untuk menyekal tangannya Ho Su Yam sambil berkata :

"Kauwcu, coba kau atur pernapasanmu, sebentar lagi lukamu tentu akan sembuh dengan sendirinya."

Ho Su Yam segera mengerti maksud Kim Houw, maka ia lantas duduk bersila. Tadi ketika ia terluka seluruh badannya menggigil, hawa dingin telah menyusup ke seluruh jalan darah. Dan kini setelah tangannya digenggam oleh Kim Houw, lantas merasakan hawa hangat yang masuk ke dalam dirinya melalui tangan yang di pegang oleh Kim Houw ddan terus menyelusup ke semuanya jalan darah.

Tidak lama kemudian seluruh hawa dingin dalam badan Ho Su Yam telah hilang semuanya dan badannya dirasakan segar, Kim Houw lalu berkata padanya sambil menarik kembali tangannya :

"Setiap pelajaran ilmu silat, baik dari golongan baik-baik maupun golongan tersesat, semua tergantung daripada cara penggunaannya tepat atau tidak. Untuk selanjutnya, semoga kau dapat menggunakan ilmu kepandaianmu dengan sebaik-baiknya dan pasti kau akan mendapat nama baik dalam kalangan rimba persilatan!"

Ho Su Yam ketawa getir. Baru saja ia hendak menyatakan terima kasihnya, pundaknya sudah di pegang oleh Kim Houw.

"Kauw-cu tidak perlu merendah sikap yang terlalu merendahkan diri sebaliknya akan merenggangkan persahabatan." kata jago muda itu.

Ho Su Yam angguk-anggukan kepala, kemudian mohon diri pergi keluar.

Meskipun hanya beberapa hari saja Kim Houw berada dalam perahu, tetapi selama beberapa hari itu, kelakuan Ho Su Yam sudah seperti seperti budak saja, ia memperlakukan Kim Houw luar biasa hormatnya.

Sejak muncul di dunia Kang-ouw, Kim Houw belum pernah mendapat kesempatan makan sepuas-puasnya seperti kali ini, terutama buat Co Seng, maka setiap kali diadakan perjamuan makan, adalah mereka berdua yang makannya paling banyak.

Pada suatu hari, Kim Houw mendadak ingat akan senjata Bak-tha Liong-kin nya. Ia menyuruh Co Seng membawanya ke atas geladak perahu dan suruh Co Seng mencoba memainkan beberapa jurus, meskipun tidak teratur, tetapi gerakan Co Seng itu ternyata gesit sekali.

Kim Houw diam-diam menganggukkan kepalanya dan jalan menghampiri Co Seng.

Co Seng yang belum mengerti baik akan bahasa manusia, tetapi pendengarannya sangat tajam. Ketika Kim Houw berada di belakangnya, Co Seng sudah merasa. Ketika ia menghentikan gerakannya dan melihat Kim Houw sedang mengawasi senjatanya, rasa sedihnya seketika lantas timbul, lalu ia berlutut di hadapan KIm Houw sambil memegang erat-erat senjata mujijat itu, agaknya ia sangat kuatir kalau senjata itu nanti diambil kembali oleh pemiliknya. Kim Houw mengerti akan maksud Co Seng, maka menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian mengelus- elus kepalanya Co Seng. "Anak goblok, aku tokh tidak kata akan mengambil senjatamu, aku justru hendak mengajar padamu kepandaian ilmu silat," katanya.

Bukan main girangnya hati Co Seng mendengar Kim Houw berkata demikian. Ia berjingkrak- jingkrak dan berjungkir balik karena kegirangannya.

Kim Houw ketawa lihat kelakuan anak kecil itu. Ketika Co Seng sudah berdiri lagi, Kim Houw lalu menjambret Co Seng seraya berkata:

"Duduklah dan dengarkan keteranganku. Ini adalah senjata pecut pusaka yang tidak ada tandingannya di dalam dunia ini, namanya Bak-tha Liong-kin.

"Segala rupa racun, bagaimanapun jahatnya racun itu, dapat disembuhkan dengan segera oleh Bak-tha Liong-kin ini. Dan Liong-kin lebih sangat berharga, bukan saja golok atau pedang biasa, sekalipun pedang pusaka juga tidak mampu membikin rusak padanya.

"Hanya saja, benda pusaka semacam ini hampir semua orang yang melihatnya tentu menyukainya. Maka kalau orang yang memegangnya tidak mempunyai kepandaian ilmu silat yang tinggi sekali, sukar untuk melindunginya. Kali ini dalam pertempuran di Istana Panjang Umur, belum tentu aku menggunakannya, tetapi aku kuatir kalau tidak hati-hati senjata ini dapat lenyap dirampas orang lain, hilangnya senjata adalah merupakan perkara kecil, tetapi jiwamu mungkin juga akan turut melayang.

"Sekarang aku hendak memberi pelajaran padamu suatu ilmu serangan yang paling hebat.

Tipu serangan ini keseluruhannya hanya ada delapan jurus yang masing-masing dinamakan "Kin- na-chiu". "Bun-kin Cho-kut-chiu", "Kang chiu Jit-pek-jin", "In-liong Tam-jiau". Siang-liong Chio cu. "Tam-long Khie-but". dan "Bun hoa Hut-liu" dan satu lagi dinamakan Kang-kang chiu.

"Jangan kau pandang hanya delapan jurus itu saja, tetapi tiap jurus tidak mempunyai hubungan satu dengan lainnya, sedangkan tiap jurus merupakan suatu tipu serangan yang paling istimewa. Betapapun tingginya kepandaian musuh yang berhasil merebut Bak-tha Liong-kio, asal kau menggunakan salah satu gerak tipu dari delapan jurus tipu serangan tadi, sebentar saja kau akan dapat merebutnya kembali tanpa menggunakan tenaga. Dan selanjutnya aku akan mendidik kau dengan suatu ilmu silat yang dinamakan "Thia liong Pat sek" yang luar biasa hebatnya.

Dengan mengandalkan kepandaianmu mengentengi tubuh yang luar biasa, tidak sulit bagimu untuk mempelajari ilmu silat ini, asal kau sudah dapat memahami, aku akan merasa lega."

Sehabis berkata panjang lebar demikian, Kim Honw memulai dengan pelajarannya. Ia kuatir karena Co Seng masih terlalu muda, maka ia mengajari dengan sungguh-sungguh sampai Co Seng paham benar-benar.

Hari itu, perahu tersebut melalui kota Ie-ciang malamnya harus singgah di kaki bukit yang dinamakan Gigi macan.

Rembulan di langit memancarkan sinarnya yang terang benderang menyinari air sungai Ciang- kang sehingga kelihatannya laksana perak.

Selewatnya tengah malam, semua orang didalam perahu sudah tidur menggeros. Tiba-tiba dibagian kepala perahu terdengar suara apa-apa.

Peng Peng yang malam itu entah bagaimana, tidak dapat tidur pulas mendengar suara itu tambah membikin ia sukar meramkan matanya. Untuk mengetahui suara itu suara apa, Peng Peng lantas keluar dari dalam kamarnya dan menuju kebagian kepala.

Apa yang disaksikan? Ternyata adalah si Co Seng itu bocah nakal yang sedang berlatih silat dengan senjatanya Kim Houw.

Peng Peng kenali gerak tipu yang digunakan si bocah itu adalah gerak tipu serangan yang dinamakan "Thian-liong Pat sek" sebab selama dalam perjalanannya dengan Kim Houw, ia juga pernah diberikan pelajaran demikian, cuma saja ia belum apal benar.

Pada saat itu ia melihat apa yang dimainkan oleh Co Seng agaknya tidak berbeda dengan apa yang telah dipelajarinya. Sudah tentu ia juga sudah mengetahui tentang Kim Houw yang memberikan pelajaran ilmu tersebut kepada Co Seng. Tetapi dalam tempo tiga hari saja, sungguh tidak dinyana bahwa bocah itu sudah dapat memainkan tipu "Thian-liong Pat-sek" dengan cukup baik. Seketika itu dalam hati Peng Peng lantas timbul satu pikiran yang hendak menguji sampai dimana kemampuan bocah cilik itu.

Ketika Co Seng baru saja melayang turun dari tengah udara, tidak menantikan sampai baik lagi, Peng Peng lantas lompat melesat. Ia menggunakan kedua tangannya, yang satu dipakai untuk merebut senjata Bak-tha Liong-kin sedang yang lainnya digunakan untuk menepok pundak Co Seng.

Karena Co Seng mempunyai daya pendengaran yang sangat tajam, begitu pula cita rasanya, maka ketika Peng Peng berada di atas kepala perahu, dia juga sudah mengetahuinya, hanya ia tidak menduga kalau Peng Peng akan turun tangan menyerang padanya.

Ketika senjatanya kena dirampas, selagi ia hendak menarik kembali, tangan Peng Peng sudah mengancam pundaknya.

Dalam keadaan demikian Co Seng terpaksa melepaskan senjatanya untuk lolos dari serangan Peng Peng.

Peng Peng setelah berhasil merebut senjata itu, lalu berkata kepada dirinya sendiri: Aku ingin tahu bagaimana kau dapat melindungi senjata ini, kalau kau tidak berhasil merebut kembali, besok aku akan memberitahukan kepada engko Houw, supaya kau diomeli.

Tetapi belum lenyap pikiran itu dari otaknya, mendadak matanya dibikin kabur, tangannya dirasakan kesemutan dan senjata itu sudah terlepas dari tangannya.

Ketika ia membuka matanya, senjata itu ternyata sudah berada dalam gengggaman Co Seng lagi yang saat itu tengah berdiri di atas kepala perahu mengawasi padanya sambil ketawa.

Co Seng tidak kenal apa artinya takut. Terhadap Kim Houw, mungkin karena merasa berterima kasih sehingga timbul rasa kagumnya, maka kecuali Kim Houw seorang yang ditakutinya, terhadap siapapun ia tidak pernah merasa takut.

Meskipun kelakuannya itu bukan sengaja untuk mengejek Peng Peng, tetapi hampir saja Peng Peng menjadi gusar. Untung kemudian Peng Peng dapat balik berpikir bahwa sifatnya Co Seng yang masih kanak-kanak, maka lantas lenyaplah rasa gusarnya dan menanyakan kepadanya:

"Co Seng, gerak tipu itu apa namanya?" "Kin-na-chiu!" jawabnya. Peng Peng tercengang, memang itu ada salah satu gerak tipu dalam tipu silat Kin-na-chiu. "Coba kau perlihatkan sekali lagi," ia berkata pula.

Co Seng agaknya sudah yakin benar terhadap kepandaiannya sendiri, tanpa ragu-ragu ia melemparkan senjatanya kepada Peng Peng, Setelah menyambuti senjata tersebut, Peng Pang sudah lantas siap sedia, matanya terus mengawasi Co Seng dengan tidak berkedip. Ia ingin tahu dengan cara bagaimana Co Seng dapat mengambil senjatanya.

Setelah senjata itu berada dalam tangan Peng Peng, Co Seng lantas mengitari dirinya Peng Peng dengan perlahan.

Peng Peng memasang mata dan telinganya betul-betul mengikuti setiap gerakan Co Seng. Baru saja "memutar" beberapa putaran, mendadak Co Seng lompat melesat ke depan,

kemudian balik mundur secara jungkir balik.

Baru saja Peng Peng hendak menepok dengan tangannya. Co Seng sudah mundur lagi, tetapi, ketika tangan Peng Peng belum ditarik kembali, dua jari tangan kanan Co Seng sudah mengancam di depan mukanya Peng Peng.

Peng Peng sudah tidak keburu menangkis, terpaksa ia mengayunkan senjatanya untuk menyerang mundur dirinya Co Seng. Siapa nyana, senjatanya itu baru saja diangkat, pergelangan tangannya mendadak dirasakan kesemutan dan senjata itu sudah terlepas dari tangannya.

Peng Peng tercengang, ia seperti telah kena dikibuli oleh anak kecil yang baru belajar dalam waktu hanya tiga hari saja. Hal ini sebenarnya sulit untuk dipercaya kebenarannya.

Mendadak ia mendengar suaranya Co Seng yang tidak tegas:

"Siang-liong... Chio-cu."

Sehabis berkata, kembali ia melemparkan senjatanya. Peng Peng sebenarnya tidak ingin menyambuti lagi, sebab dalam percobaan tadi, ia telah mengetahui bahwa Co Seng bukan saja sudah matang benar, tetapi juga gerakannya sudah sempurna.

Tetapi kemudian ia berpikir: Bocah ini adalah muridnya Kim Houw dan ia sendiri adalah istrinya, kalau ia sendiri coba-coba memberi petunjuk-petunjuk beberapa jurus toh tidak ada halangannya.

Maka ia lalu menyambuti lagi senjata itu dan selanjutnya sampai empat lima kali. Peng Peng masih belum berhasil melindungi senjatanya, maka ia lantas berkata kepada Co Seng:

"Sudah! Sudah! Aku ingin tidur."

Setelah Peng Peng berlalu, mendadak terdengar suara halus. Co Seng agaknya sudah kenali suara itu, dengan tidak melihat terlebih dahulu, ia sudah menjatuhkan dirinya dan berlutut di atas kepala perahu.

Selanjutnya, di atas perahu itu lantas muncul Kim Houw, ia berkata dengan sikap keren: "Jangan kau suka mengagulkan diri, kau harus mengetahui bahwa gunung tinggi masih ada yang lebih tinggi lagi dan orang kuat masih ada yang lebih kuat lagi. Pepatah ini kau harus dapat menyimpan baik-baik dalam hatimu, tidak boleh kau lupakan, mengerti?"

"Meng .... ngerti," jawab Co eng dengan tidak begitu jelas.

"Sekarang sudah, lekas tidur! Besok akan kuajari ilmu lwee-kang."

Esok harinya, perahu itu tiba di Bu Ciang. Oleh karena pusat Ceng-hong-kauw ada dalam kota ini, maka Ho Su Yam minta Kim Houw dan kawan-kawannya untuk mendarat dan mengaso beberapa hari. Oleh karena permintaan itu diucapkan dengan hati tulus dan mengingat bahwa waktu yang dijanjikan masih terlalu jauh, maka Kim Houw bersama Peng Peng, Tiong chiu-khek dan Co Seng, ikut Ho Su Yam mendarat di Bu-ciang.

Ceng hong kauw siang-siang sudah menyambut ketuanya dipelabuhan, menyediakan kuda dua tandu. Tetapi Kim Houw dan Peng Peng tidak mau naik kuda atau duduk di atas tandu, maka terpaksa Ho Su Yam berjalan mengikuti ke empat orang itu.

Ho Su Yam, sebagai kauwcu dari Ceng hong kauw dikota Bu ciang banyak orang yang kenal padanya. Melihat sikapnya Ho Su Yam yang begitu menghormat terhadap empat orang itu, semuanya merasa heran, mereka tidak mengetahui Kim Houw dan kawan-kawannya itu sebenarnya dari golongan mana.

Setelah melewati dua jalan tikungan. Ho Su Yam lantas berkata kepada Kim Houw: "Pusat Ceng hong kauw masih jauh dari kota. Harap Siaohiap bermalam dalam kota dulu." Lalu ia ajak tetamunya memasuki sebuah rumah yang besar.

Kim Houw dapat lihat dikedua sisinya rumah itu sudah berdiri beberapa puluh orang laki laki berpakaian hitam, agaknya sedang menantikan kedatangan mereka dengan sikap yang menghormat sekali.

Ruang gedung itu ada sangat luas, diperlengkapi dengan perabotan amat mewah-mewah.

Sebentar kemudian hidangan untuk perjamuan sudah disediakan. Ho Su Yam minta Kim Houw duduk dibagian atas, tetapi Kim Houw menolak. Akhirnya Tiong-ciu-khek yang duduk dibagian atas. Kim Houw dan Peng Peng duduk dikedua sisinya, Co Seng dan Ho Su Yam duduk dibagian bawah.

Baru saja Kim Houw duduk, di luar jendela mendadak terlihat berkelebatnya bayangan orang.

Dari gerak-geriknya, orang itu agaknya tidak mengandung maksud baik. Kim Houw diam-diam merasa geli, ia menganggap itu adalah perbuatan Ho Su Yam yang hendak coba-coba main gila terhadap dirinya, maka diam-diam sudah waspada dan siap sedia.

Belum lama perjamuan berlangsung, tiba-tiba Tiong-ciu-khek kerutkan alisnya. Celaka baru saja ia hendak membuka mulutnya, tiba-tiba sudah rubuh dari atas kursinya.

Kemudian disusul oleh Co Seng yang juga rubuh di bawah kursinya.

Peng Peng yang barusan minum satu cawan arak pemberian Ho SU Yam, lantas melihat Tiong-ciu-khek dan Co Seng pada rubuh. Dalam kagetnya, baru saja hendak berseru: "Bangsat" lantas rubuh tidak ingat orang. Bagaimana dengan Kim Houw? Ia juga turut minum arak maka juga rubuh hampir berbareng dengan rubuhnya Peng Peng.

Pada saat itu, mungkin Ho Su Yam tidak akan mengalami apa-apa, tetapi tidak demikian halnya. Ketika melihat ke empat orang itu pada rubuh, baru saja tangannya menepok meja ia juga rubuh di tanah.

Tiba-tiba terdengar orang ketawa. Dari ruangan dalam telah muncul Ho Leng Than, dengan wajah puas ia berkata kepada dirinya sendiri: "Aku kira kau ada mempunyai tiga kepala dan enam tangan tidak nyana terhadap sedikit obat pulas saja kau sudah tidak tahan dan tokh masih ingin ke Istana Panjang Umur, untuk mencari setori dengan Tiancu."

"Hai, orang-orang! Ikat mereka dengan rantai besi. Putuskan urat-urat di kakinya dan hancurkan tulang-tulang pipenya begitu pula sepuluh jari tangannya juga harus di potong semuanya. Dengan demikian, walaupun mereka mempunyai kepandaian dapat terbang ke langit juga tidak mampu lolos dari tanganku Ho Leng Than. Ha, ha,ha..."

Sebentar kemudian dari luar lantas lari mendatangi empat puluh orang laki-laki yang masing- masing membawa rantai besi, golok dan palu yang kelihatannya sudah disediakan sedari siang- siang.

Mendadak Ho Leng Than ulapkan tangannya seraya berkata: "Tunggu dulu! Perempuan ini cantik sekali. Agaknya lebih cantik dari pada Kie Yong Yong. Aku suka padanya. Bawa dia ke kamar belakang dan ikat padanya di atas kursi kemudian beritahu aku lagi."

Belum sampai mulutnya tertutup, tiba-tiba ada sebutir pasir halus yang terbang memasuki mulutnya. Meskipun pasir itu halus tetapi ketika mengenai lidahnya, dirasakan sakit sekali. Ho Leng Than kaget, ia mencari celingukan, tetapi kecuali lima orang yang rubuh dan beberapa orangnya sendiri, tidak terlihat bayangan orang lain.

Ho Leng Than yang telah berbuat kesalahan, telah merasa takut sendirinya.

Karena tidak dapat menemukan apa yang dicari, lantas ia tumpahkan kesalahannya kepada orangnya sendiri." "Bocah, bocah, bocah! Kalian masih menunggu apa lagi? Kenapa tidak lekas turun tangan?"

Orang-orang itu mendengar bentakan, lantas pada bergerak untuk turun tangan. Mendadak terdengar suara bentakan keras: "Siapa berani sembarangan turun tangan?"

Laki-laki berbaju hitam itu mengetahui bahwa suara itu adalah suaranya Kauwcunya sendiri yang sudah siuman, bukan main rasa kagetnya, maka semuanya lantas pada berlutut.

Ho Leng Than mula-mula juga merasa kaget, tetapi kemudian berkata sambil ketawa:

"Ayah, ini apa salahnya? Ikat mereka dan serahkan kepada Tiancu. Bukankah kedudukan Hu- tiancu nanti akan jatuhnya pada dirimu?... "

"Kau masih mengenali ayahmu!" bentak Ho Su Yam. "Ahh... ini benar-benar penasaran, bagaimana aku tidak mengenali ayahku sendiri? Aku tohk bukannya binatang?"

"Hmm... Potong urat kaki, hancurkan tulang pipe dan potong jari tangan, apa itu tidak ada bagianku?"

"Ini aku tujukan kepada mereka, tidak termasuk ayah." "Apa bedanya dengan aku? Kalau aku mati, bukankah kedudukan Hu-taincu dari Istana Panjang Umur dan Kauwcu dari Ceng-hong-kauw akan jatuh pada dirimu?"

"Ayah, ayah, kau jangan salahkan aku dulu. Bagaimanapun tidak berbaktinya, aku juga tidak akan mencelakakan dirinya ayahku sendiri."

Sehabis berkata ia lalu jatuhkan diri untuk berlutut di hadapan ayahnya.

Ho Su Yam agaknya sudah sangat jengkel: "Bangun! Kalau memang tidak ada itu hati ya sudah. Dan sekarang maksudmu... ?"

Ho Leng Than seperti baru lolos dari tali penggantungan, dengan badan penuh keringat dingin ia berdiri pula.

"Maksud anak, serahkan mereka pada Tiancu si Istana Panjang Umur untuk menerima hadiah."

"Kau tahu, betapa tingginya kepandaian mereka?"

"Anak sudah tahu, maka hendak memotong urat kaki mereka supaya mereka tidak dapat lompat tinggi. Kutungi jari tangan mereka supaya mereka tidak dapat memukul orang dan hancurkan lagi tulang pipe mereka sehingga musnahlah seluruh kepandaiannya."

"Sungguh bagus pikiranmu!"

Ho Leng Than yang mendengar pujian ayahnya, kelihatannya sangat bangga.

"Anak memikirkan siasat ini sudah tiga hari lamanya. Kalau tidak sempurna, percuma saja." "Rencanamu itu meskipun cukup sempurna tetapi aku masih belum merasa lega. Kau panggil

empat anggota pelindung tata hukum gereja. ketua gereja dan orang-orang yang berkepandaian tinggi. Aku hendak memberi pesanan kepada mereka!"

Ho Leng Than yang mendengar perintah itu, mengira bahwa ayahnya akan bergerak secara besar-besaran, maka dalam hatinya merasa sangat girang.

Tetapi mendadak dari ruangan belakang dan depan kedengaran suara riuh: "Picit sudah lama menunggu perintah!"

Berbareng dengan itu, dari depan dan belakang telah muncul dua puluh orang lebih yang usianya lima puluh atau enam puluh tahunan. Setiap orang, menunjukkan sikapnya yang gagah, matanya bersinar tajam, dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang kuat yang mempunyai kepandaian cukup tinggi.

Ho Su Yam lantas ketawa bergelak-gelak seraya berkata:

"Bagus, bagus! Aku Ho Su Yam meskipun seorang berhati jahat dan kejam, ternyata masih ada orang yang setia padaku."

Berbicara sampai di sini, orang tua itu lantas mengurut jenggotnya dan dengan tiba-tiba ia berseru dengan suara keras. "Algojo Lao Thie Pan ada dimana?"

Dari rombongan orang itu lantas muncul seorang tua yang wajahnya hitam berbentuk persegi, tetapi sikapnya dingin kaku, maka ia mendapat julukan Lao Thie Pan.

"Picit ada disini."

Ketika Ho Su Yam melihat orang tua itu, ia lantas membentak dengan suara keras. "Bukan lekas bawa anak durhaka ini, tunggu kapan lagi?"

Ho Leng Than yang mendengar perkataan ayahnya itu, ketakutan setengah mati, semangatnya sudah terbang. Tidak dinyana bahwa keterangannya itu masih tidak dipercaya, oleh ayahnya.

"Ayah, kau kenapa? Kalau tidak setuju, ya sudah saja. perlu apa." Belum habis

perkataannya, lehernya sudah merasa dicengkeram oleh satu tangan yang kuat.

Kemudian badannya diangkat tinggi-tinggi.

Dalam kagetnya ia lantas berseru : "Hei, kau siapa ? Sungguh besar nyalimu !" "Algojo Lao Thien Pan yang telah mendapat perintah untuk menangkap kau." demikian ia mendengar suatu suara yang menyahut.

Ho Leng Than yang mendengar suaranya Lao Thie Pan telah mengerti bahwa pengharapannya sudah tidak ada lagi, terpaksa ia minta ampun lagi pada ayahnya.

"Ayah, ayah, apa kau tega ? Kau tokh hanya mempunyai aku seorang anak. Apa pesan ibu ketika hendak meninggal dunia, bukankah minta kau supaya baik baik menjaga diriku ? Tidak nyana anak yang setiap hari mainkan golok dan pedang tetapi tidak binasa ditangan orang lain, sebaliknya binasa ditanganmu sendiri. ibu, oh, ibu, mengapa kau tidak menunjukkan dirimu ? Ayah hendak membunuh aku"

Ho Su Yan sejak istrinya meninggal dunia, hidup dengan anaknya yang hanya satu satunya itu, maka agak dimanja, tidak nyana anak durhaka hendak membinasakan ayahnya dan hendak merebut kedudukannya. Anak demikian buat apa dipertahankan jiwanya ?

"Bawa keluar dan penggal kepalanya."

Demikian Ho Su Yam mengeluarkan perintah sambil kertak gigi

Tetapi baru saja perintah dikeluarkan, mendadak terdengar satu suara : "Tahan dulu."

Suara itu seperti dari bawah tanah datangnya, sehingga membuat heran semua orang yang ada di situ. Ketika semua mata ditujukan ke arah dari mana datangnya suara tadi, baru diketahui bahwa suara itu adalah suaranya Kim Houw yang barusan sudah dibikin mabuk oleh Ho Leng Than.