Istana Kumala Putih Jilid 29

 
Jilid 29

Dalam kesedihannya itu, ia lantas berlaku seperti orang kalap ! Sambil menghunus pedang Ngo-heng-kiamnya, ia lantas menerjang imam tadi, sebentar saja tiga imam sudah binasa di tangannya.

Beberapa imam lain yang menyaksikan keadaan demikian, lantas membunyikan tanda bahaya.

Justru karena ini, kegusaran Peng Peng memuncak. Ia jadi telengas, kembali pedang Ngo- heng-kiamnya mengambil korban para imam yang mencoba hendak membunyikan tanda bahaya.

Peng Peng sudah seperti orang kalap, ia sudah tidak tahu lagi apa artinya kasihan, ia ingin menyikat habis semua imam-imam itu.

Pada saat itu masih ada imam yang tidak takut mati, kembali berdaya hendak membunyikan genta. Dalam gusarnya, Peng Peng setelah membinasakan imam itu, lantas pedangnya menyabet putus tali besar yang digunakan untuk menggantung genta itu. Maka ketika genta besar itu jatuh, telah menimbulkan suara seperti gunung meletus. Sebetulnya beberapa imam yang masih hidup itu, apa semuanya tidak berguna sehingga begitu mudah dibinasakan oleh Peng Peng? sesungguhnya tidak demikian halnya, sebab yang berkepandaian agak tinggi sudah binasa ditangan Liok-cie Thian-mo, yang masih ketinggalan hanya beberapa orang yang kepandaiannya tidak berarti, sudah tentu mereka itu bukan tandingan Peng Peng. Setelah Peng Peng membunuh beberapa orang dan melihat sisanya pada kabut, dalam gusarnya ia lantas melepas api untuk membakar Pek-ho-koan yang sudah rumtuh itu.

Begitu api berkobar, beberapa imam yang masih bersembunyi didalamnya lantas mencoba pada melarikan diri. Apa mau telah berpapasan dengan Peng Peng, sehingga dua imam lagi kembali binasa di tangannya. Dua imam lain yang dapat meloloskan diri, segera lari menuju ke puncak gunung dikejar oleh si nona.

Dasar kedua imam yang belakangan itu masih baik nasibnya, secara kebetulan ditengah jalan mereka berpapasan dengan Kim Houw dan Hiok Yang Cinjin yang turun dari puncak gunung.

Begitu melihat Kim Houw, mula-mula Peng Peng masih mengira bahwa ia telah bertemu dengan rohnya, kemudian mengira ia sedang bermimpi, tetapi setelah ditegur oleh Kim Houw, baru diketahuinya bahwa dugaannya itu salah semuanya.

Kalau di pihaknya Peng Peng sedang memeluk dirinya Kim Houw sambil menangis terisak- isak, dilain pihak, kedua imam yang baru terlepas dari bencana kematian, telah menceritakan kepada ketuanya apa yang telah terjadi digereja Pek-ho-koan.

Giok Yang Cinjin meskipun berduka karena kematian muridnya, tetapi mengingat peristiwa itu adalah pihaknya Ceng-shia-san sendiri yang bersalah, tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab seandainya Peng Peng tidak mendengar kabar tentang kecelakaan Kim houw, sudah tentu tidak akan terjadi peristiwa berdarah yang mendukakan itu.

Giok Yang Cinjin hanya bisa menghela napas panjang kemudian mengajak kedua imam itu turun gunung terlebih dulu. Baru saja mereka berjalan belum jauh, mereka telah melihat sesosok bayangan manusia yang sedang berlari-lari menuju ke puncak gunung seolah-olah terbang.

Giok Yang Cinjin yang melihat ilmu mengentengkan tubuh orang itu sangat luar biasa, dengan hati berdebaran ia menduga-duga siapa gerangan orang itu. Ilmu mengentengi tubuh orang itu benar-benar sangat luar biasa, sekejap saja sudah berada di depan matanya Giok Yang Cinjin.

Ketika melihat Giok Yang Cinjin menghadang di depannya, ia masih belum berhenti dan hendak melanjutkan gerakannya dengan jalan memutar. Sudah tentu Giok Yang Cinjin tidak mau mengerti, dengan cepat ia melompat dan menghadang di depan orang tadi, dengan pedang terhunus ia berkata :

"Sicu menerjang keatas gunung Ceng-shia san ini hendak bermaksud apa ? Apa sicu anggap diatas gunung ini sudah tidak ada orangnya?"

Orang itu ternyata Tiong-cu-khek. Ketika ia balik ke pondok tempat menginapnya tidak melihat Peng Peng, dalam kagetnya ia lantas mengejar ke Ceng-shia-san.

Maksud kedatangannya memang bukan ingin mencari setori, maka ia selalu menghindarkan dirinya supaya jangan kebentrok dengan orang-orang dari Ceng-shia-pay. Tetapi karena ia dengan orang-orang dari Ceng-shia-pay tidak pernah mengadakan hubungan, maka tidak seorangpun yang dikenalnya. Melihat sikap Giok Yang Cinjin yang begitu galak, Tiong-ciu-khek sebagai seorang yang namanya sudah tersohor di kalangan Kang-ouw, sudah tahu hatinya merasa mendongkol, maka ia menjawab dengan suara dingin:

"Aku yang rendah ingin bertemu dengan ketua partiamu." "Apa sicu kenal dengan ketua kami?" "Tidak hanya ingin mengunjungi karena pernah mendengar namanya yang besar."

"Kalau belum kenal, lain hari saja Sicu datang kemari lagi, karena sekarang ini ketua kami sedang repot." Tiong-cui-khek masih belum mengetahui bahwa orang yang berada di hadapannya itu justru ada ketua dari Ceng-shia-pay, Giok Yang Cinjin. Karena melihat sikapnya dan mendengar perkataan yang terlalu jumawa, ia lantas menjadi gusar.

"Totiang berani lancang - lancang menolak orang yang hendak menemui ketua partaimu, tentu bukan orang sembarangan. Karena sikapmu ini, sekalipun aku bikin kau terluka juga tidak akan ada yang mengatakan aku sebagai orang tua menghina orang dari tingkatan muda."

Giok Yang Cinjin ada seorang yang telah lanjut usianya, rambut dan jenggotnya sudah putih semuanya. Meskipun usia Tiong-ciu-khek sebaya dengan ia tetapi karena kelihatannya masih sangat muda, seperti seorang yang baru berusia empat puluh tahunan, tidak nyana berani mengaku sebagai seorang dari tingkatan tua, bagaimana Giok Yang Cinjin yang mendengar itu kalau tidak gusar.

"Sicu yang memang sengaja mencari setori pinto bisa berbuat apa ? Jika Sicu sanggup menyambuti pedang pinto ini, pinto tentu akan membiarkan kau naik gunung. Tetapi jika tidak dapat, jangan mengimpi!" jawabnya dingin.

Tiong-ciu-khek mendengar itu, kegusarannya meluap. Ia adalah seorang ahli pedang yang kenamaan, bagaimana ia takut pedang ? Apalagi kabarnya Kim Houw sudah jatuh ke dalam jurang dan Peng Peng sudah tidak ketahuan dimana adanya, untuk mereka ia rela berkorban untuk menuntut balas. Melihat sikap imam itu yang tergesa gesa hendak turun gunung, agaknya ada terjadi apa apa, Tiong-ciu-khek menaruh curiga.

maka dengan cepat ia sudah menghunus pedangnya. "Begitu paling baik, silahkan mulai katanya.

Giok Yang Cinjin, karena kejadian selama beberapa hari ini yang hampir saja mengakibatkan keruntuhan total bagi partainya, kemendongkolannya juga lantas meluap. Meskipun dari ilmu mengentengi tubuh Tiong-ciu-khek yang sudah dilihatnya tadi, ia telah mengetahui bahwa orang itu bukan orang sembarangan, tetapi karena ia belum mengetahui maksud kedatangannya, ia sebagai ketua dari partainya, bagaimana boleh takut ?

Maka ia lantas perdengarkan suara ketawanya, dengan tidak banyak bicara lagi pedangnya lantas menyerang Tiong-ciu-khek dengan tipu silatnya yang lihai.

Tiong-ciu-khek sebagai seorang yang sudah banyak pengalamannya, sudah tentu mengetahui bahwa serangan Giok Yang Cinjin itu adalah sangat lihay, Ia menggeser tubuhnya dan melesat ke pinggir sejauh lima kaki untuk menghindari serangan tersebut. Kemudian badannya memutar dengan cepat, pedang di tangannya sebentar saja sudah melancarkan tiga serangan berantai laksana kilat mengarah ketiga bagian jalan darah lawannya.

Giok Yang Cinjin sungguh tidak menyangka bahwa lawannya itu dapat turun tangan dengan cepat dan serangannya juga begitu hebat, diam-diam ia merasa terkejut. Dengan cepat ia mundur tiga tindak, badannya melesat tinggi ke atas, kemudian ia melakukan serangan sambil menukik, sebentar saja ujung pedangnya sudah mengurung kepala Tiong-ciu-khek.

Gerakannya itu ada merupakan gerak tipu ilmu pedang Ceng-shia-pay yang paling lihay. Sekalipun Tiong-ciu-khek adalah seorang yang sudah mempunyai banyak pengetahuan dan banyak pengalaman serta sudah banyak menghadapi musuh tangguh, tidak urung juga masih dibikin kelabakan. Akhirnya dalam keadaan tergesa gesa Tiong-ciu-khek hanya dapat mengeluarkan ilmu pedangnya untuk melindungi dirinya. Ia mengetahui bahwa gerak tipunya itu akan mengakibatkan lukanya ke dua pihak, tetapi dalam keadaan demikian, ia tidak dapat berbuat lain, yang penting ialah asal dapat melindungi jiwanya.

Sesaat sebelum kedua pedang itu beradu, tiba-tiba terdengar suara orang berseru : "Ciangbun Cinjin, tahan ! Semua ada orang sendiri !"

Giok Yang Cinjin yang mendengar suara itu, yang ia kenali ada suaranya Kim Houw, hatinya bercekat, dengan cepat ia menarik kembali serangannya dan badannya seolah-olah burung kepinis melayang turun melalui atas kepalanya Tiong-ciu-khek.

Tiong-ciu-khek juga tercengang, Ia terkejut karena Kim Houw dan Peng Peng telah muncul berbareng di hadapannya. Kalau bukan karena Peng Peng ada disitu, ia juga tentu mengira bahwa yang datang itu ada setannya Kim Houw.

Setelah diperkenalkan oleh Kim Houw, Giok Yang Cinjin dan Tiong-ciu-khek keduanya pada tercengang, siapapun tidak mengira, bahwa lawannya ada orang yang sangat lihay.

Kim Houw kemudian ajar kenal Peng Peng kepada Giok Yang Cinjin dan mintakan maaf atas perbuatan si nona yang dilakukan dalam setelah kalap mendengar dirinya didesak masuk ke jurang, ialah perbuatan diluar pikiran sadar.

Giok Yang Cinjin lantas berkata sambil tertawa :

"Siaohiap, tidak perlu kita persoalkan itu lagi. Perkara mati dan hidupnya manusia, masing- masing sudah ada garisnya sendiri, siapapun tidak berhak untuk memperkosa. Kalau tidak karena Siaohiap yang menahan Liok-cie-Thian-mo, mungkin malam itu Ceng-shia-pay sudah hancur lebur."

Pada saat itu, hari sudah menjelang pagi, Kim Houw segera minta diri dari tuan rumah. Giok yang Cinjin juga tidak ingin menahannya lebih lama lagi. Tengah Kim Houw berpamitan itu, tiba- tiba dipuncak gunung ada berkelebat bayangan putih yang melesat demikian gesitnya.

Peng Peng yang menyaksikan sampai mengeluarkan seruan kagum: "Siapa itu? Sungguh hebat sekali kegesitan gerakannya."

"Itu, adalah si bocah yang baru berusia kira-kira tujuh tahun," kata Kim Houw. "Kecuali ilmu mengentengi tubuhnya yang sangat luar biasa, rupanya dia tidak mengerti apa-apa lagi. Hanya dalam tangannya ada seekor ular emas yang sudah dimakan oleh Liok-cie Thian-mo. Entah dari mana dia dapatkan ular emas itu, apakah mungkin ada ularnya Kim Coa Nio-nio yang ada di dalam tongkatnya?"

Baru saja habis ucapan Kim Houw, bayangan putih tadi sudah berada di depannya, betul saja si bocah nakal. Bocah itu agaknya tidak mengerti adat istiadat, ia mengawasi orang di seputarnya dengan mata berputaran, akhirnya ia memandang Kim Houw dengan perasaan yang penuh terima kasih, tetapi mulutnya seperti terkancing, tidak dapat mengutarakan apa-apa.

Giok Yang Cinjin yang berdiri disampingnya lalu berkata:

"Sungguh kasihan nasibnya bocah ini. Baru lahir beberapa bulan, rumah tangganya sudah ketimpa bencana, ayah bunda dan saudara-saudaranya semua telah dibinasakan oleh Liok-cie Thian-mo, hanya dia seorang yang masih hidup, Oleh karena tempat tinggalnya ada didalam gunung, bocah ini akhirnya dipelihara oleh dua Ekor Orang hutan dan sampai-Sampai beberapa bulan berselang, dia telah diambil dari tangannya orang hutan tadi oleh yayanya sendiri, ialah si padri aneh"

Kim Houw angguk-anggukkan kepalanya, Giok Yang Cin-jin meneruskan ceritanya:

"Liok-cie Thian-mo ada satu iblis yang sangat ganas, menyingkir saja rasanya sulit, siapa yang berani menuntut balas padanya? Padri aneh itu dulu adalah sahabat karib dari pinto, maka dia sembunyikan diri di gunung Ceng-sia-san.

Siapa nyana belum lama berselang, mereka kakek dan cucu turun gunung entah dimana mereka dapatkan seekor ular emas, tetapi berbareng dengan itu justru mereka dapat dilihat jejaknya oleh Liok-cie Thian-mo, sehingga akhirnya terjadi peristiwa seperti tadi malam itu.

Menurut sikapnya bocah ini, dia rupanya merasa bersyukur terhadapmu, dan agaknya ingin mengikuti kau, hanya sayang dia tidak dapat berbicara, dia hanya dapat mengerti sedikit pembicaraan orang. Padri tua itu ada seorang malas, terhadap hari kemudian bocah ini merupakan suatu rintangan besar. Kalau siaohiap ada perhatian, baik sekali mengambil dia, hitung-hitung untuk kacung suruhan."

Giok Yang Cin-jin baru bicara sampai di situ, mendadak terdengar suara orang ketawa bergelak-gelak. Dari belakang sebuah batu besar yang tidak jauh dari situ, telah muncul dirinya si padri aneh. Begitu unjukkan diri lantas terdengar suaranya yang seperti gembreng pecah:

"Hei, Tojin brengsek, kau benar-benar mengetahui adatku!"

Baru habis ucapannya itu, ia sudah lompat di depannya Kim Houw, lanlas berlutut Kim Houw terperanjat, buru-buru pimpin bangun padanya sembari berkata:

"Taysu, kau ingin apa? Jelaskan saja tidak perlu melakukan adat peradatan demikian rupa." Padri aneh itu, menyahut sambil tertawa bergelak-gelak:

"Aku si hwesio gila, sejak berguru sehingga sekarang ini belum pernah berlutut dihadapan siapapun juga hanya terhadap kau seorang saja Siaohiap yang kukecualikan. Itu disebabkan karena pertama-tama aku merasa berhutang budi dan kedua karena kau telah menolong bocah ini. Dia bernama Co Seng, harap Siao-hiap sudi mengambil dia sebagai kacungmu, ku percaya dia dapat memuaskan hatimu Aku si hweshio gila, meskipun sudah memasrahkan nasibku kepada Tuhan, tetapi aku juga tahu, bahwa dalam usiaku yang sudah lanjut ini sewaktu-waktu aku dapat meninggalkan dia."

Padri aneh itu meskipun berbicara sambil tertawa, tetapi di wajahnya yang jelek nyata ada mengandung perasaan duka. Pada saat itu si bocah itu juga mendadak berlutut, air matanya mengalir turun dikedua pipinya.

Si padri aneh itu perdengarkan suaranya pula:

"Auww, ini benar-benar aneh! Terhadap yayanya sendiri aku ini, belum pernah dia berlutut, apalagi mengeluarkan air mata..."

Menyaksikan keadaan demikian, meskipun Kim Houw masih muda usianya, tetapi juga merasa terharu, ia buru pimpin bangun bocah itu: "Baiklah, kau ikut aku saja! Hanya aku masih mempunyai banyak musuh yang harus aku bereskan dulu, entah kapan baru dapat melewati hari-hari dengan tenang," kata Kim Hoow berduka, tapi wajahnya yang tampan mengunjuk senyuman menghibur.

Bocah itu mendengar Kim Houw mau menerima dirinya lantas jumpalitan tanda kegirangan yang tak terhingga.

"Ini sungguh gaib," kata padri aneh. "Adakah itu yang dinamakan jodoh? Selama beberapa bulan ini aku hendak mengajar dia bicara dia tidak mau membuka mulutnya, tetapi hari ini."

Bocah cilik yang bernama Co Seng itu lantas lompat ke dalam pelukan si padri aneh. Sambil memeluk kepala si padri, dia mengeluarkan suara yang tidak dimengerti oleh semua orang. Ia mencium berulang-ulang jidatnya si padri aneh, siapa agaknya mengerti bahwa saat itu sudah tiba waktunya untuk mereka berpisahan.

Padri yang aneh sifatnya itu dan yang biasanya suka berlaku seperti orang edan, dalam keadaan demikian ternyata juga dapat mengeluarkan air mata.

"Akhirnya keluarga Co masih meninggalkan satu keturunannya juga, bila aku sekarang binasa aku juga mati dengan mata meram. " Demikian si padri aneh itu mendumel.

Selanjutnya Kim Houw lantas berpamitan kepada Giok Yang Cinjin dan padri aneh itu. Sambil mengajak Peng Peng dan Co Seng, bersama Tiong-ciu-khek pergi meninggalkan gunung Ceng shia-san itu.

Di sepanjang jalan, meskipun Co Seng dapat berlompat-lompatan, tetapi masih sering-sering menoleh ke belakang untuk melihat kakeknya. Sampai jauh dan tidak dapat melihat lagi baru ia tidak berpaling lagi.

Dalam perjalanan itu, Kim Houw menceritakan semua pengalamannya selama beberapa hari berselang kepada Tiong-ciu-khek dan Peng Peng, ia berkata pula bahwa Liok-cie Thian-mo yang sangat ganas sepak terjangnya akhirnya binasa oleh seekor ular saja.

Tiong-ciu-khek dan Peng Peng merasa girang ketika mendengar Liok cie Thian mo sudah binasa tetapi mereka sungguh tidak habis mengerti bahwa bocah yang baru berusia tujuh tahun ternyata mempunyai nyali begitu besar.

Co Seng agaknya mengerti bahwa orang-orang pada memuji dirinya, bukan main rasa bangganya, ia berlompat lompatan dan berjungkir balik seperti layaknya seekor monyet.

Kim Houw berempat setibanya di bawah gunung terus menuju ke rumah petani yang di tumpangi Tiong-ciu khek. Oleh karena selama beberapa hari itu, tidak dapat mengaso, maka setelah menangsal perut mereka lantas beristirahat dirumah petani tersebut.

Selama itu Kim Houw terus membungkam. Tidak ada suaranya sebab banyak persoalan yang mengganggu pikirannya.

Pertama-tama soal Siao Pek Sin yang ternyata masih pernah kakaknya dari lain ibu. Kalau begitu, Ceng Nio ciu juga terhitung ibu tirinya sendiri. Oleh karena adanya hubungan persaudaraan itu, telah menimbulkan satu pertanyaan dalam hatinya: "Apakah ia harus meneruskan usahanya untuk menuntut balas? Apakah ia tega untuk turun tangan?" Kedua ialah soal ayahnya sendiri yang sudah binasa, tetapi entah dimana dikuburnya. Ia sebagai anaknya sampai untuk bersujud saja juga tidak bisa dan ketiga, ia sendiri ada seorang she Pek, tetapi sekarang memakai she Kim dan namanya Houw. Apakah namanya itu perlu diganti atau tidak?

Sehabis makan, ketika Peng Peng melihat sikap Kim Houw tidak seperti biasanya lalu menanya:

"Engko Houw, kau kenapa? Ada urusan apa sebetulnya? Mengapa tidak mau memberitahukan kepada kami? Yaya adalah seorang yang banyak pengetahuan dan pengalaman, jika kau mempunyai persoalan apa apa yang sulit, mintalah saja pendapatnya."

Kim Houw pikir ucapan Peng Peng itu ada benarnya, maka lantas menceritakan semua kesulitan itu.

Tiong-ciu-khek sehabis mendengar penuturan Kim Houw, lantas berpikir sambil kerutkan alisnya, lama sekali baru menjawab:

"Menurut pendapatku, soal pertama itu kau bikin habis saja. Sebab berbuat kebajikan atau kejahatan pada akhirnya ada pembalasan sendiri-sendiri, hanya ditentukan oleh sang waktu. Ayahmu sudah berbuat kesalahan, kau sebagai anaknya boleh mencoba berusaha untuk menebus dosa ayahmu itu. Yang kedua tentang jenazah ayahmu dikubur dimana, tidak perlu kau tergesa-gesa mengetahuinya. Jenazah ibumu dikubur ditepi sungai Ka-leng, rasanya jenazah ayahmu juga tidak akan berjauhan dari situ, coba suruh orang menyelidiki saja, tentu dapat diketahui. Dan yang ketiga, boleh saja kau mengubah she-mu menjadi she Pek, sehingga selanjutnya kau disebut Pek Kim Houw. Orang tidak boleh melupakan asalnya, tentang ini aku percaya kau tentunya tidak merasa keberatan. Sementara itu..."

Baru mendengar sampai di situ, hati Kim Houw merasa lega, dalam girangnya ia lantas berlutut mengucapkan terima kasih kepada Tiong-ciu-khek.

Tiong-ciu-khek buru-buru memimpin bangun pada bakal cucu mantunya, kemudian berkata pula:

"Soal yang paling penting untuk sekarang ini rasanya hanya tinggal usahamu untuk mencari Kow-low Sin-ciam dan Khu Leng Lie. Kedua iblis itu sudah lama merupakan bencana dalam dunia persilatan, sudah seharusnya kalau lekas-lekas kita singkirkan.

"Kim Houw mendengar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Pada saat itu dari luar tiba- tiba terdengar suara aneh...

"Anak busuk, kau berani permainkan siao-yamu, hari ini walaupun kau lari ke langit, siao-yamu juga akan mengejar ke langit."

Kim Houw berempat yang mendengar suara itu lalu melongok keluar untuk melihat apa yang terjadi. Kiranya itu ada gara-garanya Co Seng yang kini sedang dikejar-kejar oleh seseorang, di luar dugaan, orang yang mengejar itu ialah si botak.

Si botak yang mengikuti pengemis sakti Sin-hoa Tok-kai selama setengah tahun ini, kepandaian ilmu silatnya telah maju pesat sekali, tetapi ilmu mengentengi tubuhnya belum sampai ke puncak kesempurnaan. Sebaliknya, Co Seng yang masih bocah, sekalipun tidak mengerti ilmu silat, tetapi ilmu lari pesat dan mengentengi tubuh seolah-olah pemberian dari kodrat alam, sehingga banyak orang terpandai di kalangan Kang-ouw yang tidak menempel padanya. Dengan adanya keganjilan itu, maka saat itu kalau si botak hendak menangkap ia, sesungguhnya tidak mudah. sebaliknya malah dipermainkan oleh Co Seng yang menggoda sambil mengeluarkan suaranya yang aneh.

Kim Houw yang menyaksikan keadaan sibotak, juga merasa geli dan keiawa terpingkal- pingkal.

Sebentar kemudian, mendadak Co Seng menghilang entah kemana larinya, hanya kedengaran suara jeritannya yang aneh. Kim Houw yang melihat keadaan demikian lalu berkata:

"Aku kira siapa yang datang, kiranya adalah Sin hoa Tok-kai Locianpwee!"

Kim Houw bertiga lalu lari keluar, Di belakang rumah di bawah sebuah pohon besar, si pengemis sakti itu sedang memegang kedua tangan Co Seng, mengawasi padanya dari atas sampai ke bawah, agaknya ia merasa heran terhadap ilmu mengentengi tubuh bocah yang luar biasa itu. Kim Houw lalu ketawa bergelak-gelak.

"Hu pangcu, kau suka padanya? Kuberikan padamu untuk menjadi muridmu, bagaimana?"

Sin hoa Tok kai dongakkan kepala. Mula-mula ia terkejut tetapi kemudian setelah melihat ketiga orang itu lantas ketawa.

"Apakah ini ada murid baru Siaohiap?" tanyanya. "Benar-benar ada lain dari pada yang lain, sampai aku si tua bangka juga hampir dipermainkan olehnya..."

"Jangan terlalu memuji dulu, bocah ini belum belajar apa-apa, bagaimana ia berani berlaku gagah-gagahan di hadapanmu?" Tiong-ciu khek nyeletuk.

Sin hoa Tok kai geleng gelengkan kepalanya, lalu melepaskan kedua tangan bocah itu. Siapa nyana, baru saja ia kendorkan cekalannya, mendadak terdengar suara "plak" "plak" dua kali, tangan Co Seng sudah mampir di kedua pipinya Tok kai. Meski tidak sakit, tetapi pipi Tok kai merah juga.

Kim Houw yang menyaksikan itu lalu membentak:

"Co Seng jangan berlaku kurang ajar!" Dengan gerakan seenaknya saja, Co Seng sudah lompat lari sembunyi di belakang dirinya Peng Peng. Kim Houw masih hendak suruh ia meminta maaf, tetapi Sin-hoa Tok-kai lantas berkata sambil ketawa:

"Sudah, sudah, hitung-hitung sebagai hadiah pertemuan ini."

Semua orang pada ketawa. Kim Houw lantas ajak Tok-kai masuk ke dalam rumah, Setelah semua berkumpul, pengemis sakti itu lantas menyampaikan kabar tidak enak.

"Kouw-low Sin-ciam, si iblis ganas itu kabarnya telah mengundang beberapa iblis dari golongan hitam hendak menghadapi Siaohiap, bahkan Liok cie Thian-mo, kabarnya juga turut diundang..."

Peng Peng lantas memotong sambil ketawa: "Liok-cie Thian mo sudah tidak bisa berbuat kejahatan lagi, kemarin sudah binasa di tangannya dia di atas gunung Ceng shia san." sambil menunjuk Co Seng.

Sin hoa Tok kai terkejut! Ia tidak percaya kebenarannya ucapan Peng Peng itu, tetapi setelah diberitahu oleh Kim Houw, sipengemis sakti itu baru percaya dan mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu ia melanjutkan keterangannya. "Sekarang, mereka sudah menuju ke Ciat kang. Diantara mereka, kecuali Kouw low Sin ciam, masih ada Khu Leng Lie, Siao Pek Sin dan lain-lainnya. Tempat mereka berkumpul barangkali didalam Istana Panjang Umur dibukit Koa chong san. Untuk mencegah usahanya itu maka aku perlukan mencari kau, harap Siaohiap lekas berangkat untuk membinasakan Kho-low Sin ciam lebih dahulu, supaya orang-orang yang kehilangan pemimpinnya itu tidak berdaya, dan hal ini mungkin akan dapat hindarkan timbulnya huru-hara.

"Baiklah, kalau begitu kita harus lekas berangkat! Sebaiknya kita lekas tiba di sana sebelum kawanan iblis itu berkumpul." kata Kim Houw.

"Tunggu dulu! Aku si pengemis tua masih mempunyai urusan, sehingga tidak dapat berjalan bersama-sama, bagaimana kalau kita berjanji untuk bertemu di suatu tempat saja berkata si pengemis sakti.

Setelah memikir sejenak, Kim Houw lalu menjawab:

"Waktunya sudah sangat mendesak, baiklah kita bertemu di Istana Panjang Umur di gua hong- san sana! Sudah tentu, kalau ada kesempatan, aku tidak akan melepaskan iblis itu begitu saja."

Pada Saat itu, mendadak Co Seng memutar tubuhnya dan kembali lompat melesat keluar rumah. Kim Houw kuatir ia akan menerbitkan onar lagi, maka ia buru-buru membentak dan mencegah.

Siapa nyana, Co Seng jejeritan, tangannya menuding-nuding, Kim Houw lalu menduga barangkali ada orang berlalu di depan rumah itu, sebab Co Seng meskipun tidak dapat bicara, tetapi daya pendengarannya sangat tajam.

Kim Houw lalu berlongok keluar, benar saja di depan rumah ada berjalan seorang laki-laki muda dan seorang perempuan. Sang perempuan duduk di atas kuda yang dituntun berjalan perlahan-lahan oleh lelaki tadi. Setelah Kim Houw mengenali siapa adanya kedua muda mudi itu, dalam hatinya diam-diam merasa sangat bersyukur.

Siapa kedua orang itu? Mereka itu adalah Kie Yong Yong dan Kee Yong Seng.

Pada saat itu keadaan mereka merupakan seperti sepasang pengantin baru. Mereka berjalan sambil ketawa-ketawa, Kie Yong Yong agaknya sudah sembuh dari penyakitnya, wajahnya ramai dengan senyuman, menandakan ia merasa sangat gembira.

Kim Houw percaya, dengan Kee Yong Seng yang melindungi, meskipun Ceng-hong kauw orangnya cukup banyak, juga tidak dapat berbuat apa-apa. Diam-diam ia berdoa, semoga kedua orang itu benar-benar akan menjadi suami istri yang bahagia.

Selagi Kim Houw terbenam dalam lamunannya, mendadak dapat lihat Kie Yong Yong mengeluarkan sebilah pisau belati. Diantara suara jeritan kagetnya Kee Yong Seng, pisau belati itu sudah bersarang didadanya Kie Yong Yong, sehingga darah segar menyembur keluar.

Kim Houw bukan main kagetnya. Lalu lompat keluar melalui jendela, dengan hanya dua kali lompatan ia sudah berada didepan kuda, lalu ulur tangannya, tepat menyambuti badannya Kie Yong Yong yang hendak rubuh dari atas kuda.

Kie Yong Yong wajahnya sudah pucat pasi, napasnya lemah. Begitu melihat Kim Hauw, yang dianggapnya seolah-olah turun dari langit, ia lalu menunjukkan senyum getirnya, kemudian berkata dengan suara terputus: "Terima kasih..... Oh Tuhan.... akhirnya telah memberi kesempatan padaku......, binasa... didalam.... pelukanmu... Dialam baka... aku..."

Bicara sampai di sini, Kie Yong Yong batuk dua kali, matanya sudah layu. Ia melanjutkan dengan suaranya yang sudah sangat lemah.

"Tidak..... aku.... aku... minta kau... supaya.... menuntut balas.... sakit hatiku..." Perkataan itu, agaknya di ucapkan dengan tenaga terakhir.

Suaranya kedengaran tegas dan nyaring, tetapi berbareng dengan ucapan terakhirnya, jiwanya juga lantas melayang.

Kim Houw sangat berduka, airmatanya mengalir bercucuran, sebab Kie Yong Yong meskipun bukan binasa di tangannya, tetapi ia merasa turut memikul tanggung jawab juga.

Saat itu Tiong-ciu-khek juga sudah memburu datang. Kim Houw meskipun hatinya berduka karena kematian Kie Yong Yong yang mengenaskan, tetapi di depan banyak orang ia juga merasa tidak enak lama-lama memondong jenazahnya Kie Yong Yong, maka ia lalu letakkan di tanah.

Mendadak sambaran angin pukulan yang sangat hebat datang menerjang dirinya. Kim Houw tidak mengetahui siapa orangnya yang menyerang, maka dengan sendirinya ia mengegos menghindarkan serangan itu terlebih dahulu.

Ketika ia melihat tegas baru diketahuinya bahwa ditempat bekas ia berdiri, ada berdiri Kee Yong Seng, Dengan air mata berlinang-linang tetapi dengan sikap sangat gusar, Kee Yong Seng berkata kepada Kim Houw:

"Masih berlagak sedih? Seperti kucing yang coba menangisi tikus, kematiannya dia bukankah karena kau? Kau berbuat demikian, hendak diperlihatkan kepada siapa? Aku gemas melihat tingkah lakumu, menyesal aku tidak dapat makan dagingmu dan menghirup darahmu. 

Kegusaran Kee Yong Seng meluap-luap, Sehingga ia sudah mirip dengan orang gila, maka Kim Houw buru-buru memotong:

"Hengtay jangan berbuat begitu, kalau kau ingin menuntut balas untuk nona Kie pada nanti tanggal tujuh bulan tujuh, dalam pertemuan di Istana Panjang Umur, kau nanti pasti mengerti sendiri."

Kee Yong Seng sebetulnya ingin mengadu jiwa dengan Kim Houw, tetapi kepandaian Kim Houw ada lebih tinggi setingkat dari padanya. Apalagi pihak Kim Houw jumlahnya ada lebih banyak, kalau betul-betul hendak mengadu jiwa, tentu ia sendiri yang akan menderita kerugian. Terpaksa ia menahan luka hatinya, setelah memondong jenazahnya Kie Yong Yong, lantas ia lompat ke atas kudanya.

Kuda hitam itu agaknya mengerti bahwa majikannya sudah binasa. Sambil berbenger, telah kaburkan dirinya, sebentar saja ia sudah lenyap dari pemandangan.

Kim Houw menghela napas berkali-kali.

Mendadak ia mendengar suaranya Peng Peng yang berkata dengan ketawa dingin: "Apa perlunya menghela napas? Dia sudah mati, salahmu sendiri tidak siang-siang mengawani padanya"

Kim Houw menoleh, melihat wajah Peng Peng yang penuh rasa cemburu.

"Apa perlunya? Orang tokh sudah mati buat apa kau cemburu padanya?" sambil geleng- geleng kepala.

"Aku cemburu? Hm.. apa dia..."

Tiong ciu-khek melihat gelagat tidak baik lantas buru-buru mencegah. "Peng Peng, kau kenapa? Sungguh lucu perbuatanmu ini."

Dalam hati Peng Peng sebetulnya sudah merasa kurang senang, sebab ucapan Kie Yong Yong ketika ada di gedungnya Gwanswee aneh itu, terus berputaran dalam otaknya, tidak dapat dilupakan dan sekarang kembali ditegur oleh yayanya, ia merasa makin berduka, maka air matanya lantas mengalir turun tanpa dapat dibendung lagi.

"Ah, Peng Peng, adatmu masih seperti anak-anak saja" Tiong-ciu-khek menghela napas. Si pengemis sakti turut berkata sambil tertawa bergelak-gelak:

"Benar, tidak salah, memang masih seperti anak-anak. Semua masih berbau anak-anak, sekarang aku hendak pergi dulu, sampai bertemu didalam Istana Panjang Umur. Hei botak, apa kau masih belum mau pergi?"

Baru saja si pengemis sakti itu hendak berlalu sambil mengajak muridnya si botak, mendadak didengarnya suara Peng Peng yang ketawa:

"Siapa seperti anak-anak? Aku tokh sudah dewasa?"

"Sebentar nangis, sebentar ketawa, bukankah seperti anak kecil?" nyeletuk Tiong-ciu-khek. Peng Peng lantas menubruk dan memeluk engkongnya yang jail itu.

"Tidak, tidak, Peng Peng sudah dewasa, Peng Peng sudah dewasa!" serunya manja. Tiong-ciu-khek ketawa terbahak-bahak.

"Melihat kelakuanmu ini, mana seperti orang dewasa? Kalau orang dewasa harus tidak boleh berlaku seperti anak kecil." sang engkong berkata lagi.

Peng Peng mendadak ingat apa yang telah diperbuat dengan Kim Houw pada berapa hari berselang. Benar-benar ia seharusnya sudah menjadi seorang dewasa, tidak boleh berkelakuan seperti anak-anak lagi, maka buru-buru lepaskan pelukan pada yayanya dan membereskan pakaiannya.......

Tiong ciu khek yang melihat itu, lantas berkata sambil angguk anggukkan kepala.

".... harus mengerti caranya menjadi orang, polos jangan keterlaluanharus welas asih

kepada sesamanya . . . . harus dapat mengimbangi perasaan orang . . . . harus"

Peng Peng mendengar yayanya ngoceh telah angguk anggukan kepalanya, tetapi pada akhirnya agaknya sudah jemu, maka ia lantas memotong: "Sudah, sudah aku mengerti semua, aku akan menjadi orang yang sempurna!"

Itu yang paling baik, kita sekarang juga harus pergi!" sahut Tiong-ciu-khek sambil tertawa bergelak-gelak.

Kim Houw menyaksikan kelakuan engkong dan cucu itu mesem-mesem urung.

Ketiga orang itu dengan membawa Co Seng berjalan sambil ketawa-ketawa. Baru saja berjalan beberapa puluh lie, di sebuah kaki gunung mendadak terlihat beberapa orang yang sedang naik gunung dengan perlahan lahan.

Kim Houw yang mempunyai daya penglihatan sangat tajam, begitu melihat sudah dapat mengenali bahwa orang-orang itu adalah Kow-san Jie-lo dari Ceng hong kauw dan Ho Leng Tan serta empat orang lain lagi yang belum pernah melihatnya.

Orang-orang itu semuanya seperti sedang menderita luka parah, mungkin itu adalah karena perbuatan Kee Yong Seng.

Kim Houw diam diam menghela nafas. Disebabkan dirinya seorang perempuan, Yong Seng telah membuat begitu banyak orang yang terluka dan entah berapa orang yang sudah binasa, dan tokh akhirnya jiwa perempuan itu tidak dapat ditolong, ini benar-benar suatu dosa.

Belum sampai satu hari, empat orang itu sudah meninggalkan propinsi Su cwan dan mulai memasuki propinsi Hun lam. Oleh karena hawanya semakin panas, maka mereka lantas mengambil jalan air. Dengan menyewa sebuah perahu besar, mereka melakukan perjalanan itu melalui sungai Tiang kang.

Co Seng yang biasanya suka berjalan berlompat lompatan laksana terbang, belum pernah dapat diam barang sejenak. Ia agaknya tidak mengenal artinya cape atau letih, ia hanya mengetahui lapar dan haus saja dan kalau merasa lapar, mulutnya lantas jejeritan, bahkan makannya adalah sangat kuat.

Tetapi sekarang harus duduk berdiam di atas perahu, maka keadaan Co Seng seperti juga seekor burung yang dikutungi sepasang sayapnya. sampai bergerak sajapun ia tidak berani. sedang kalau melihat air lantas menjerit-jerit sambil menekap mukanya.

Selama dalam perjalanan di sungai itu, Kim Houw dan Peng Peng baru mulai mengajar Co Seng berbicara, menulis dan membaca, ilmu silat juga sudah tentu tidak ketinggalan. Sebab kepandaian mengentengi tubuhnya sudah mempunyai dasar yang sempurna, maka pelajaran ilmu silatnya mendapat kemajuan sangat pesat.

Hari itu, ketika perahu mereka melewati selat Bu hiap, air deras dan ombak besar. Di samping gunung yang terdapat dikedua sisi sungai, kadang-kadang terdengar suara binatang buas atau kera-kera dan orang hutan yang kedengarannya menyeramkan.

Co Seng yang sudah mulai biasa dengan penghidupan di atas perahu, begitu diambang- ambing oleh ombak keras, ia mulai takut lagi, dan bersembunyi dalam geladak.

Tetapi suara orang hutan yang didengar secara mendadak telah menarik perhatiannya. Ia keluar dari dalam perahu, ia tidak melihat airnya, matanya berputaran mencari ke arah kedua sisi selat dari sungai itu. Tiba-tiba terdengar suara orang hutan tadi pula dan kali ini kedengarannya seolah olah sedang berduka, sehingga saat itu Co Seng menangis. Kemudian ia juga mengeluarkan suara seperti orang hutan tadi, agaknya saling menumpahkan perasaan duka masing-masing.

Kim Houw yang menyaksikan kelakuannya, mengerti bahwa bocah itu telah teringat akan dirinya orang hutan yang telah memelihara padanya. Karena takut ia nanti akan kecebur ke dalam sungai karena kedukaannya, didalam ombak yang begitu besar ada sangat berbahaya untuk menolong orang, maka ia buru-buru keluar.

Selagi hendak menghibur Co Seng dan mengajaknya kembali ke dalam, mendadak ia merasa ada angin kuat menyambar. Ketika ia mendongak, sebuah batu aneh sebesar meja telah melayang dari atas dan hendak menimpa kepalanya. Bukan main kagetnya Kim Houw, sebab batu itu kalau mengenakan kepalanya, terang kepalanya akan hancur. Andaikata ia terpental dan kecebur dalam sungai juga ada sukar untuk menolong dirinya.

Terutama bagi Tiong-ciu-khek dan Peng Peng serta Co seng yang melihat air saja sudah takut, barangkali sudah hanyut atau tenggelam entah kemana bangkainya. Dalam keadaan yang sangat berbahaya itu, untung Kim Houw dapat berlaku gesit, dengan cepat ia menyambar dirinya Co Seng dan melemparkan ke dalam geladak. Diantara suara jeritan kaget dari si tukang perahu, Kim Houw sudah lompat melesat. Dengan menggunakan ilmu Han-bun-cao-khie ia menyambuti dan mendorong batu yang datang melayang dari atas tadi, sehingga batu itu kecebur ke dalam sungai. Gelombangnya air justru hampir-hampir membuat terbalik badannya perahu yang ditumpangi oleh mereka, untung ketika Kim Houw melayang turun lantas menggunakan ilmu memberatkan badan untuk mencegah tergoncangnya badan perahu.

Tetapi batu besar itu telah datang saling menyusul, yang dilemparkan dari atas tebing yang tinggi. Kim Houw merasa gusar tetapi apa gunanya ? Sebab ia sendiri tokh tidak dapat terbang melayang begitu tinggi untuk menghampiri binatang yang jahil itu, terpaksa ia terus menjaga jangan sampai perahu itu kena kejatuhan batu atau terbalik oleh ombaknya.

Akhirnya perahu itu telah melewati selat itu dengan selamat dan melanjutkan pelajarannya, hanya, Kim Houw yang telah menggunakan tenaga terlalu banyak, telah menderita luka didalamnya, sehingga dari dalam mulutnya keluar darah segar.

Tiong-ciu-khek bertiga yang menyaksikan keadaan demikian, semuanya merasa kaget. Mereka dalam bingung, mendadak dengar suara tambur yang sangat riuh, dibagian depan terdapat sebagian perahu layar yang sudah menutupi jalannya perahu yang ditumpangi oleh Kim Houw dan kawan-kawannya. Karena banyaknya perahu layar itu, permukaan sungai yang begitu luas telah tertutup semuanya, sehingga sangat sukar untuk lain-lain perahu yang hendak belajar.

Tiong-ciu-khek yang menyaksikan keadaan demikian, meskipun dalam hati juga merasa keder, tetapi agaknya sudah mendapatkan suatu pikiran untuk menghadapi kesukaran tersebut. Ia Ketawa dingin, lebih dulu ia berikan buli-bulinya kepada Kim Houw, kemudian ia memerintahkan tukang perahu supaya menghentikan jalannya perahu, lalu memesan dan berkata kepada Peng Peng dan Co Seng.

"Sekarang kalian harus memperhatikan, apa yang kita kuatirkan ialah kalau kawanan bandit itu melepaskan anak panah..."

Belum habis bicaranya, suara tambur kembali terdengar pula. Kemudian disusul oleh munculnya kira-kira tiga puluh lebih laki-laki dari tiga buah perahu besar, diantara mereka sebagian besar usianya sudah lebih dari setengah abad. Orang-orang itu ternyata ada mengiringi seorang tua bertubuh pendek kecil. Orang tua itu meskipun mengenakan pakaian yang sangat perlente, tetapi bentuknya tidak mirip dengan manusia. Kepalanya lonjong, matanya seperti tikus, hidungnya mancung, mulutnya monyong, di bawah janggutnya ada tumbuh beberapa lembar jenggot.

Ketika rombongan orang-orang itu muncul, dari lain-lain perahu lantas kedengaran suaranya sambutan yang sangat riuh.

Mendadak terdengar suara tajam halus yang berkata: "Kawanan pengkhiatan di perahu depan dengarlah! Kini Kauwcu dari Ceng-hong-kauw telah datang sendiri. Harap kalian dapat mengenal gelagat dan lekas menyerah! Kalau kalian tidak mau mendengar nasehatku ini kalian pasti akan menjadi umpan-umpannya ikan-ikan yang ada didalam sungai."

Peng Peng yang mendengar perkataan itu ketawa geli. Ketika ia melihat wajahnya si orang tua, segera ia menduga bahwa orang tua itu tentunya ada ayahnya Ho Leng Than, sebab wajah mereka ada sangat mirip satu dengan yang lainya.

Tiong-ciu-khek meraba-raba pedang di pundaknya, lalu berkata kepada Peng Peng, supaya Kim Houw jangan perdulikan mereka dulu !

Orang-orang Ceng-ho-kauw ketika menampak pihaknya Kim Houw tidak ada reaksi apa-apa, lantas menjadi gusar. Sebentar kemudian anak panah telah melayang seperti hujan, tapi jatuhnya tepat di depan perahunya Kim Houw. Ini ada suatu bukti bahwa orang orang Ceng-hong-kauw itu agaknya sengaja memperlihatkan kepandaian mereka menggunakan anak panah, maka cuma ditujukan ke permukaan air yang tepat di depannya perahunya Kim Houw.

Tidak lama, kembali terdengar suaranya orang berkata :

"Kita kini telah mendapat perintah dari Tiancu Istana Panjang Umur, untuk menangkap pemberontak. Menyerah hidup, tapi kalau melawan berarti mati. Jika bunyi tambur setengah tiga kali tidak mendapat jawaban kita nanti akan hujani kalian dengan anak panah sehingga semua binasa."

Tiong-ciu-khek gusar, ia berkata dengan suara perlahan :

"Sungguh brutal kawanan bandit itu, mereka berani menggunakan namanya Istana Panjang Umur. Peng Peng, kau jaga Kim Houw, aku nanti melindungi Co Seng, suruh tukang perahu pergi sembunyi dulu agar tidak mengganggu jiwa mereka."

Tiong-ciu-khek baru saja habis memberi pesannya lantas terdengar suara tambur sangat tiuh, yang kemudia disusul oleh suara makian.

Tiong-ciu-khek dan Peng Peng sudah siap sedia, tidak perdulikan tingkah polah mereka.

Suara tambur telah terdengar untuk kedua kalinya, kali ini tidak disusul oleh suara makian tapi perahu besar yang berada ditengah tengah banyak perahu itu nampak mengibarkan sebuah bendera merah segi tiga.

Sebentar kemudian suara tambur telah berbunyi lagi untuk ketiga kalinya. Lalu disusul oleh hujan anak panah yang dilepaskan dari berbagai perahu.