Istana Kumala Putih Jilid 28

 
Jilid 28

Kim Houw sejak tiga hari berselang terjun mengikuti air terjun, malam itu ia naik lagi ke atas gunung untuk mencari keterangan. Oleh karena Hian Bu Cu terluka dan Chiang Liong Cu juga tidak kelihatan, maka ia belum mau turun tangan. Kematian Pek Leng, ayahnya membuat ia sangat berduka. Jangan kata Pek Leng pernah memesan kepadanya untuk ia menuntut balas, sekalipun tidak di pesan juga ia akan menuntut balas. Hanya dengan adanya keterangan Pek Leng, ia baru tahu siapa-siapa musuhnya, sehingga ia tidak ragu-ragu lagi san meminta korban jiwa orang-orang yang tidak berdosa.

Karena Hian Bu Cu terluka, maka ia mau turun tangan, apalagi perbuatannya itu nanti akan mengakibatkan terkejutnya orang-orang Ceng-shia-pay. Disamping itu, ia juga harus mencari Bwee-hoa-Kiesu, entah dimana sekarang orang tua itu berada di mana jenasah ayahnya dikubur?

Malam ini ia mencari ubek-ubekan hampir semalam suntuk masih juga ia tidak menemukan bayangan Bwee-hoa Kiesu. Akhirnya dari mulutnya para imam baru diketahui bahwa Bwee-hoa Kiesu juga sudah menghilang.

Maka ia kembali turun gunung untuk pergi mencari. Tiga hari beruntun ia berputar-putar, tetapi juga tidak berhasil mencari jejak Bwee-hoa Kiesu. Selama tiga hari itu, ia juga berpapasan dengan beberapa imam yang naik dan turun gunung, tetapi ia dapat menyingkir dengan baik.

Malam itu kembali ia naik ke gunung, sebelum hari gelap ia sudah berhasil bersembunyi dalam ruangan gereja. Selama mengadakan penyelidikan di Ceng-shia-san Kim Houw sudah mengetahui bahwa setiap tengah malam dalam gereja itu pasti diadakan pertemuan.

Ketika ia melihat Hian Bu Cu dalam ruangan, tiba-tiba dikejutkan oleh sambaran angin yang dilancarkan di belakang dirinya. Dalam kagetnya Kim Houw segera mengetahui bahwa serangan angin tadi adalah dilancarkan oleh bocah cilik yang tidak bisa bicara itu.

Untuk menjaga supaya para imam dalam ruangan itu tidak melihat dirinya, Kim Houw lalu bertindak cepat. Ia berhasil menangkap dan menotok jalan darah bocah yang nakal itu, sehingga ia tertidur pulas.

Tapi perbuatannya itu diketahui juga oleh Giok Yang Cin Jin yang telah menampak berkelebatnya bayangan Kim Houw. Namun ketika Giok Yang Cin-jin datang memburu, ia sudah bawa kabur dirinya bocah tadi ke lain sudut.

Akhirnya ia letakkan si bocah di atas tiang penglari dan ia sendiri melayang turun ke bawah untuk membereskan Chiang Liong Cu dan Hian Bu Cu. Hian Bu Cu ternyata sangat licik, begitu melihat Kim Houw, ia lantas lari bersembunyi ke lain sudut. Para imam yang lainnya masih mengira ia belum sembuh benar dari luka-luka nya, maka tidak ambil perhatian.

Sebaliknya Kim Houw ada sangat gusar, pikirnya dengan akal busuk apa kau telah mencelakakan diri ayah ? Aku tidak tahu! Tapi ayah pesan aku supaya membunuh kau untuk membalas dendam sakit hatinya, kecuali kau kabur ke langit atau menghilang, jangan harap kau bisa lolos dari tanganku! Walaupun tidak ada pesan ayah, karena kau pernah menggunakan akal keji untuk melukai diriku, aku juga tidak gampang-gampang melepaskan kau begitu saja, sekarang Chiang Liong Cu berada dekat di depan mataku, baiklah aku bunuh dia dulu.

Tapi setelah Chiang Liong Cu binasa, Hian Bu Cu ternyata masih berdiri jauh-jauh di sana.

Meski Kim Houw mampu menahan serangan pedang delapan imam yang dilancarkan dari depan dan belakang dirinya, tetapi jika mau menerjang sampai di depannya Hian Bu Cu juga tidak mudah.

Setelah mendengar Giok Yang Cin-jin memerintahkan para imam supaya menyerang dengan senjata rahasia, dalam hati Kim Houw merasa sangat girang, karena ia dapat menggunakan senjata musuh untuk membereskan jiwa musuhnya. Demikianlah, ketika senjata rahasia menyambar dirinya dari berbagai penjuru, ia sudah berhasil menyambuti beberapa buah diantaranya.

Dan ketika ia mendapat kesempatan, ia menggunakan berbagai senjata rahasia itu, Ia menyerang muka dan kepalanya Hian Bu Cu, sebab ia tahu bahwa dirinya Hian Bu Cu ada rompi besi yang melindungi, tidak ada gunanya menyerang bagian badannya.

Selagi para imam, tidak terkecuali Giok Yang Cinjin sendiri dikejutkan oleh binasanya Hian Bu Cu, di depan pintu tiba-tiba terdengar suara ketawa aneh, kemudian disusul oleh munculnya sinar merah. Dalam suasana malam yang gelap, sinar merah itu nampak makin menyolok.

Begitu sinar merah itu muncul, dalam ruangan gereja itu ada orang yang merasa paling kaget.

Mereka itu adalah si paderi aneh dan ketua Ceng-shia-pay, Giok Yang Cin-jin sendiri.

Kalau paderi aneh itu kaget dan ketakutan, hal ini tidak mengherankan, sebab ia sendiri sudah tahu siapa orangnya yang telah datang. Ia cuma kuatir kalau iblis yang tidak kenal kasihan itu nanti melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap para imam yang tidak berdosa dan merusak gereja Cheng Shia san.

Kagetnya Giok Yang Cin jin benar-benar merupakan suatu hal di luar dugaan orang, sebabnya ialah ia sungguh tidak nyana yang muncul di depan matanya itu adalah si iblis yang terkenal paling ganas dalam golongan hitam itu.

Seketika itu, pertempuran juga mendadak berhenti.

Dan, di depan pintu itu kini tambah seorang aneh, ia bukan lain adalah Liok-cie Thian-mo.

Dengan tindakan lebar Liok-cie Thian-mo berjalan masuk ke dalam gereja. Semua imam yang berada didalam gereja itu agaknya dianggap sepi, ia terus menghampiri si paderi aneh dengan sikapnya yang jumawa.

Dua imam yang tidak tahu lihaynya Liok-cie Thian-mo, coba maju merintangi sambil lintangkan pedang mereka, membentak :

"Iblis dari mana berani berlaku kurang ajar di atas gunung Ceng shia san ?" Siapa nyana, baru saja ucapannya itu dikeluarkan, Liok-cie Thian-mo cuma tampak menggerakkan lengan kanannya, lantas terdengar suara jeritan ngeri, kedua imam yang merintangi padanya tadi sudah terlempar jatuh disudut dinding serta binasa seketika itu juga.

Dengan kematiannya dua imam itu, dalam ruangan itu sebentar saja lantas menjadi geger. Tapi Liok-cie Tahin-mo tidak hiraukan itu semua imam, ia tetap berjalan menghampiri di paderi aneh.

Kira-kira setengah tombak terpisah di depannya paderi aneh tadi, asal Liok-cie Thian-mo mau ulurkan tangannya, sudah lantas dapat menangkap si paderi. Tapi Liok-cie Thian-mo sengaja tidak maju lagi. Anehnya, paderi itu sudah ketakutan setengah mati, seolah-olah sudah terbang semangatnya, hingga tidak memikirkan untuk menyingkirkan diri.

Liok-cie Thian-mo sungguh kejam! sudah tahu kalau si paderi aneh sudah ketakutan setengah mati, ia malah perlakukan padanya seperti kucing mempermainkan tikus. Ia tahu paderi itu sudah tidak bisa lari lagi, tapi ia sengaja tidak mau turun tangan dengan segera, sebaliknya masih berkata padanya sambil ketawa bergelak-gelak :

"Paderi edan, kali ini kau tentunya mengerti kalau kau sudah tidak bisa mabur lagi! Sekalipun kau sembunyi didalam kuburan, aku juga bisa berdaya untuk menggali keluar tulang-tulangmu... !"

Sehabis keluarkan perkataannya yang bermaksud mengejek itu, Liok-cie Thian-mo kembali perdengarkan suara ketawanya yang aneh, sampai ruangan itu rasanya menggetar.

Tapi, belum bahis suara ketawanya, mendadak terdengar suara dingin dari belakang dirinya.

Suara itu meski halus, tapi sangat menusuk telinga. Ketika Liok-cie Thian-mo berpaling, Kim Houw telah berdiri di belakangnya sambil lintangkan senjatanya di depan dada, untuk merintangi jalan mundurnya iblis tua itu.

Begitu melihat Kim Houw, Liok-cie Thian-mo kaget bukan main, tapi ita masih tetap perdengarkan suara ketawanya yang aneh, kemudian baru berkata :

"Aku kira siapa, ternyata kau binatang cilik ini. Apa kau kira aku benar-benar takuti kau ? Hari ini aku akan suruh kau membuka mata, betapa lihaynya Liok-cie Thian-mo!"

Mendengar namanya Liok-cie Thian-mo semua imam pada ketakutan, buru-buru pada mundur beberapa langkah. Dengan sendirinya lantas terbuka suatu lapangan luas.

Si Paderi aneh dalam waktu sekejapan itu agaknya sudah sadar dari rasa takutnya, ia lantas dongakkan kepalanya untuk mencari bocah kecil nakal tadi. Ia melihat si bocah rupanya sedang tidur nyenyak di atas tiang penglari, buru-buru lompat ke atas. Ketika ia pondong turun, baru tahu kalau bocah itu ternyata sudah tertotok jalan darahnya.

Ketika itu, Liok-cie Thian-mo sudah mulai turun tangan. Dengan kecepatan yang sangat luar biasa, ia menyerang dirinya Kim Houw.

Tapi Kim Houw yang mempunyai kepandaian sukar diukur, mana gampang-gampang kena diserang, dengan sedikit egosan dirinya saja, ia sudah berhasil mengelakkan serangan iblis tua itu. Kemudian, dengan gerakan yang tidak kalah cepatnya dari pada si iblis, ia juga sudah balas menyerang.

Liok-cie Thian-mo melihat Kim Houw dengan mudah sudah dapat menyingkir dari serangannya yang sangat hebat, ia juga ingin turut teladannya. Ia coba mengelakkan serangan Kim Houw sambil miringkan kepalanya. Nampaknya, usaha itu sudah akan berhasil, apa celakanya serangannya Kim Houw itu dilakukan secara beruntun oleh kedua tangannya, dilancarkan saling menyusul.

Liok-cie Thian-mo yang diserang secara demikian, sungguh terperanjat! Selagi hendak ulur tangannya untuk menyembuti, mendadak pipi kirinya dirasakan panas, ternyata sudah dipersen tempilingan oleh Kim Houw.

Ia kelabakan. Lalu tarik mundur dirinya dengan tersipu-sipu.

Untung gaplokan Kim Houw tadi tidak menggunakan kekuatan tenaga penuh, ia hanya bermaksud supaya si iblis tahu diri. Tapi dengan demikian justru membuat si iblis tua itu bertambah waspada.

Malam itu Liok-cie Tahin-mo rupanya sudah mengambil keputusan nekat hendak menempur Kim Houw mati-matian.

Karena malu dan gusar, begitu mundur, ia lantas maju lagi dan menyerang dengan mendadak. Kali ini ia menggunakan tangannya yang besar hendak mencengkeram batok kepalanya Kim

Houw.

Kim Houw tidak berani menyambuti dengan kekerasan. Ia tahu bahwa Liok-cie Thian-mo yang cuma mempunyai satu tangan itu, kekuatan di tangannya itu pasti ada luar biasa hebatnya. Maka dengan gesit sekali ia sudah memutar ke belakang dirinya Liok-cie Thian-mo kemudian ulur tangannya hendak menghajar belakang geger si iblis tua.

Tapi Liok-cie Thian-mo ada jago kawakan, tahu dirinya berada di bawah ancaman serangannya Kim Houw. segera memutar tubuh nya untuk memunahkan serangan lawan. Pertempuran yang dilakukan secara cepat dan sengit itu, sebentar saja sudah berlangsung tujuh delapan jurus. Kedua pihak sama-sama gesitnya. Setiap serangan dilakukan secara kilat, kalau serangannya tidak berhasil mengenakan sasarannya, masing-masing lantas mundur dengan gesit sekali. Selagi pertempuran berlangsung dengan sengit, Kim Houw berkata dengan gemas:

"Iblis tua, malam ini aku Kim How kalau tidak bisa menghajar mampus kau, selanjutnya tidak akan bicara soal ilmu silat lagi."

"Lihat saja! Hm kau jangan temberang kalau kau berani, kau jangan menggunakan senjata, siapa yang menggunakan senjata ia bukan turunan manusia. Bagaimana?"

"Baik! Aku tidak akan menggunakan senjata. Biar bagaimana malam ini aku akan suruh kau mati meram, supaya kalau kau sampai di akherat, dapat memasuki pintu neraka dengan hati tenang!"

Saat itu, Giok Yang Cin-jin sedang memimpin beberapa imam tua membentuk barisan "Kian pek Bie-hun-tin", kedua orang itu dikurung ditengah tengahnya.

Kim Houw agak heran, ia lalu berkata, dengan suara gusar:

"Giok Yang, imam brengsek kau jangan salah hitung. Kalau aku mau turun tangan menghadapi iblis ini, itu semata-mata hanya hendak menyingkirkan satu bahaya bagi rakyat.

Dengan dia aku sebenarnya tidak mempunyai permusuhan apa-apa, tetapi kalau kalian main gila, aku nanti tinggalkan tempat ini dan tidak mau pusing lagi. Apakah kalian mempunyai nyali begitu besar untuk menghadapi iblis ini?" Kim Houw sejak mendaki gunung Ceng Shia-san, oleh karena ayahnya dan Bwee-hoa Kiesu, belum berani membuka mulut kasar memaki satu imampun, apalagi terhadap Giok Yang Cinjin yang merupakan ketua dari Ceng Shia-pay. Kini karena melihat mereka telah membentuk barisan untuk mengepung dirinya maka dalam gusarnya lantas mengeluarkan perkataan yang agak kasar terhadap Giok Yang Cinjin.

Giok Yang Cinjin adalah ketua dari Ceng shia-pay, siapa yang berani memaki brengsek padanya? Kini bukan saja Kim Houw memakinya, bahkan menyemprot habis-habisan. Tapi ia seolah-olah tidak mendengar kalau dirinya dicaci-maki, sebaliknya dengan lakunya yang seperti seorang yang ketakutan ia menjawab:

"Kim Siaohiap, harap kau jangan salah mengerti. Aku juga mengandung maksud sama dengan kau, hendak membasmi kejahatan, maka aku membentuk barisan ini supaya dia tidak dapat meloloskan diri, lain dari itu, aku tidak mengandung maksud apa-apa lagi, kau tidak usah kuatir."

"Kalau begitu, lebih baik." kata Kim Houw. "Tapi kalian juga harus hati-hati, senjatanya iblis itu yang dinamakan "Thian-mo-liok-hun-leng" ada sangat lihay, maka kalian harus jaga-jaga jangan sampai ada yang menjadi korban. Dia hendak meloloskan diri, bukan soal mudah dia bisa lakukan.

Giok Yang Cinjin, kini agaknya sudah memandang Kim Houw sebagai malaikat, maka ia lantas berkata dengan sangat menghormat:

"Terima kasih atas pengunjukkan Siaohiap semua nanti akan kulakukan menurut permintaan Siaohiap."

Liok-cie Thian-mo yang mendengar mereka, agaknya ada ganjalan apa-apa, tiba-tiba mendapat suatu akal, maka ia lantas tertawa terbahak-bahak sambil berkata:

"Bagus, kiranya kalian bermaksud hendak mengurung diriku Liok-cie Thian-mo- Walaupun kalian maju semua juga dan hendak menggunakan jumlah yang banyak untuk merebut kemenangan, aku Liok-cie Thian-mo tidak takut.

Kalau dengan tangan kosong aku tidak bisa merobek-robek perut dan dada kalian, jangan anggap aku iblis lagi."

Kim Houw tahu bahwa iblis tua ini banyak akalnya, ia tidak membiarkan si iblis mengoceh terus sudah lantas menyerang lagi sambil mengejek:

"Iblis galak, biarlah aku robek perutmu dulu!"

Liok-cie Thian-mo ketawa, segera menyambuti serangan Kim Houw.

Mereka bertempur hebat sekali! Bermula kelihatan dua orang saling serang, kemudian berkelebatan dua bayangan lalu berubah menjadi cuma satu bayangan yang berkelebatan pergi datang. Angin pukulan yang dahsyat membuat api lilin dalam ruangan bergoyang-goyang. Semua orang terpesona! Matanya dibuka lebar-lebar, dengan penuh rasa kagum, mereka mengikuti jalannya pertempuran.

Tetapi biarpun angin pukulan ada begitu keras, ternyata tidak terdengar suara tangan beradu, entah mereka satu sama lain merasa jeri, ataukah ada lain maksud.? Sebentar saja, pertandingan sudah berlangsung seratus jurus lebih, tetapi kelihatannya kedua pihak masih sama kuatnya. Hanya Kim Houw yang kelihatannya makin gagah dan makin bersemangat.

Sebaliknya dengan Liok-cie Thian-mo. Ia kelihatannya makin lama makin jeri, sebabnya adalah ia hanya mempunyai satu tangan, sudah tentu kekuatannya tidak mampu menandingi kekuatan Kim Houw yang tangannya masih utuh.

Akhirnya Liok-cie Thin-mo terpaksa menggunakan kekuatan lweekangnya yang sudah dilatih sejak beberapa puluh tahun dan dianggapnya sudah tinggi sekali, untuk bertempur mati-matian dengan Kim Houw.

Setelah mengadu kekuatan lwekang dengan beruntun sampai tiga kali, kelihatannya Kim Houw masih tenang tenang saja. Sebaliknya Liok-cie Thian-mo sudah merasakan sakit dan linu dikedua tangannya. Dalam kagetnya, ia tidak berani mengadu kekuatan lagi dengan Kim Houw.

Justru setelah mengadu kekuatan lwekang tadi, serangan Kim Houw kelihatannya makin lama makin kuat, sehingga Liok-cie Thian-mo terpaksa mundur terus.

Tetapi di sekitarnya sudah dikepung rapat oleh para imam yang membawa pedang dengan mata beringas. Kalau pada waktu biasa, Liok-cie Thian-mo mana takuti para imam itu, sekalipun ditambah lagi satu lipat jumlahnya, iapun tidak memandang mata.

Sekarang, karena Kim Houw terus mendesak, keadaan ada berlainan. Sebabnya, jika ia mundur sedikit meleng, ada kemungkinan terkena serangan tangan Kim Houw.

Ia tahu kekuatan Kim Houw sangat luar biasa, jangan kata terkena dengan telak, sekalipun keserempet saja ia sudah tidak sanggup menerima.

Akhirnya Liok-cie Thian-mo terdesak dan terkurung oleh serangan Kim Houw sehingga berputar-putaran seperti gasing di tengah-tengah ruangan gereja itu. Kalau mau dikatakan kalah, memang sejak tadi Liok-cie Thian-mo sudah pecundang.

Tetapi bagi Kim Houw, kali ini bukan hanya soal menang kalah saja. Karena ia sudah bertekad bulat hendak membinasakan si iblis, biar bagimana ia tidak mau melepaskannya dalam keadaan hidup.

Maka, paling akhir Kim Houw turun tangan berat. Tidak mau berhenti sebelum membinasakan jiwanya Liok-cie Thian-mo, ia tidak memberi kesempatan pada siiblis untuk bernapas.

Saat itu, pukulannya Liok-cie Yhain-mo kelihatan sudah ngawur, Kim How tanpa beranyal lagi lantas melancarkan serangannya yang paling hebat.

Liok-cie Thian-mo melihat perubahan itu, bukan main kagetnya, sebab setiap serangan Kim Houw yang aneh itu dirasakan sangat berat, sehingga ia merasa sulit untuk menyambuti, ia insyaf bahwa malam itu sudah tiba saatnya yang paling berbahaya dalam seumur hidupnya.

Dalam keadaan demikian, dengan sendirinya ia lantas mengingat senjatanya yang paling lihay, Thian-mo-siok-hun-leng! Meskipun sudah ada perjanjian dimuka bahwa masing-masing tidak akan menggunakan senjata tajam, tetapi dalam keadaan yang sangat berbahaya bagi dirinya, bagaimana ia dapat memegang teguh janjinya? Untuk menolong jiwanya sendiri apa saja dapat dilakukannya, apa artinya mengingkari janji? Tetapi dalam keadaan tergesa-gesa, selagi hendak mengeluarkan senjatanya, mendadak sesosok bayangan orang melayang turun melalui kepalanya para imam, terus menerjang pada Liok-cie Thian-mo. Karena cepatnya gerakan bayangan itu, siapapun tidak ada yang berhasil untuk menahannya.

Liok-cie Thian-mo yang biasanya malang melintang seorang diri tanpa pembantu dan tanpa sahabat, dalam saat yang sangat berbahaya itu, muncul bayangan orang secara tiba-tiba itu merupakan suatu kesempatan baik untuk dirinya.

Kalai diwaktu biasanya Liok-cie Thian-mo dapat menyerang dengan tangannya kepada bayangan itu tanpa banyak pikir.

Tetapi malam itu keadaannya ada berlainan, ia agaknya masih kuatirkan melukai dirinya bayangan yang menerjang tadi, tangannya digerakkan dengan perlahan untuk menangkap orang yang coba menyerang padanya, tadi, bahkan sudah menguasai bagian jalan darah yang penting supaya orang itu tidak melakukan perlawanan.

Tetapi ketika sudah ditegasi siapa orangnya itu ternyata ia hanya satu bocah cilik yang berumur kira-kira tujuh tahun. Ini benar-benar ada suatu hal yang diluar dugaannya.

Tetapi justru itu Liok-cie Thian-mo sudah mendapat akal lagi. Kim Houw yang menganggap dirinya ada seorang budiman, tidak nanti mau turun tangan untuk mencelakakan dirinya satu bocah, maka jika bocah itu digunakan sebagai senjata, bukankah ia dapat menolong dirinya sendiri ?

Karena pikiran itu, maka Liok-cie Thian-mo lantas ketawa bergelak-gelak. "Tuhan tidak memutuskan jalan hidupku?" serunya kegirangan.

Tetapi baru saja perkataan itu keluar dari mulutnya, mendadak tangannya dirasakan sakit dan linu. Ia terkejut dan buru-buru memeriksa tangannya, ternyata seekor ular emas kecil sudah menggigit tangannya.

Begitu melihat ular emas kecil itu, Liok-cie Thian-mo segera mengenali, maka saat itu terbanglah semangatnya. Dalam kagetnya, di depannya sudah berkelebat bayangan orang, segera bocah yang berada dalam tangannya sudah direbut oleh Kim Houw.

Sampai di sini, Liok-cie Thian-mo tidak jumawa lagi, tidak ketawa lagi, wajahnya sebentar pucat, sebentar biru dan kemudian berubah menjadi kelabu.

Akhirnya Liok-cie Thian-mo perlahan-lahan angkat tangannya, dengan giginya ia menggigit badannya ular, sehingga ular emas itu terpaksa melepaskan gigitannya pada tangan Liok-cie Thian-mo.

Orang-orang semua menduga bahwa Liok-cie Thian-mo pasti akan melemparkan ular itu dari mulutnya dan kemudian berusaha untuk mengobati lukanya atau ia menggunakan kesempatan itu lantas berlaku nekad, membinasakan beberapa orang untuk mengawani dirinya berangkat ke akhirat. Maka dengan tidak dirasa semuanya lantas melakukan penjagaan rapat.

Siapa nyana, sebentar kemudian, Liok-cie Thian-mo lantas mengunyah hancur ular kecil itu, rupanya ia tidak dapat binasa dengan mati meram jika tidak makan ular kecil itu. Kejadian itu telah mengejutkan semua orang, pemandangan yang mengerikan itu telah membuat berdiri bulu semua orang.

Dasar iblis, maka sifatnya juga kejam seperti iblis! Karena tadi ia digigit oleh ular, maka ia juga harus balas menggigit ular itu baru merasa puas.

Sebentar kemudian, darah tampak beketel-ketel dimulutnya Liok-cie Thian-mo dan ular kecil itu akhirnya menjadi penghuni tanpa ?????. dalam perut si iblis. Liok-cie Thian-mo kemudian dengan ketawa bergelak-gelak, berkata menyeramkan :

"Puas, puas... bagaimana? apa kalian masih ingin hidup? mari kawani aku saja..."

Belum habis ucapannya, ia sudah keluarkan dari dalam sakunya sejumlah senjata rahasianya Thian-mo-siok-hun-leng.

Kim Houw tahu lihaynya Thian-mo-siok-hun-leng, jika dilancarkan semuanya akan membuat para imam yang berada dalam ruangan itu sedikitnya ada separuh lebih yang akan menjadi korban.

Selagi Kim Houw hendak berusaha mencegah, ternyata sudah sedikit terlambat. Kim Houw terkejut, ia berseru:

"Lekas menyingkir!"

Di luar dugaan, sinar merah itu yang berkelebatan, mendadak jatuh ditengah jalan.

Kim Houw merasa heran. Ketika ia melihat keadaan Liok cie Thian mo, ternyata matanya sudah meram, wajahnya berubah hitam, kemudian sepasang kakinya teklok dan rubuh di tanah untuk tidak dapat bangun lagi selamanya.

Kim Houw keluarkan keringat dingin. Diam-diam ia merasa bersyukur, karena gagalnya rencana Liok-cie Thian mo tadi.

Tetapi baru saja hatinya merasa lega, mendadak tangannya dirasakan sakit.

Ia melihat, kiranya bocah yang barusan di tolongnya, karena hendak melepaskan diri dari dalam pelukannya, telah menggigit tangan Kim Houw.

Kim Houw cuma bisa ketawa getir, terhadap bocah yang masih belum dewasa itu, apa yang dapat diperbuatnya?

Tiba-tiba padri aneh tadi, sambil menggandeng bocah nakal tadi, keduanya berlutut di hadapan Kim Houw.

Kim Houw tercengang! Buru-buru ia memimpin bangun si padri, sehingga padri tadi terpaksa mengucapkan terima kasih berulang-ulang sambil menangis.

"Atas budimu yang telah menolong jiwa kami berdua, seharusnya kami mengucapkan terima kasih padamu. Untuk perbuatan kami yang tidak pantas pada beberapa hari berselang semoga Siaohiap suka memaafkan banyak-banyak ... "

Sehabis berkata, ia hendak berlutut lagi, tapi Kim Houw dengan keras mencegah. Ia bingung bagaimana harus menjawab kata-kata si paderi itu. Sementara itu, Giok Yang Cinjin sudah memimpin para imam dari Ceng-shia-pay untuk minta maaf kepada Kim Houw.

Jago muda itu, tidak mengetahui harus bagaimana, sebab orang-orang yang tadinya memusuhinya sekarang berbalik menganggap dirinya ada tuan penolong mereka.

Tetapi kalau Kim Houw tidak berkata apa-apa, mereka tentunya akan menganggap bahwa ia itu sombong dan tidak mau memberi maaf kepada mereka.

Maka akhirnya Kim Houw terpaksa menjawab :

"Giok Yang Totiang, keliru, kau tahu bahwa kematian Liok-cie Thian-mo tadi ada jasanya adik kecil ini. Kalau bukan karena ular emasnya adik kecil ini, aku percaya tidak mudah aku membinasakan kepadanya. tentang urusan kita, sebaiknya kita bikin habis saja, sebab musuh ayahkupun sudah aku binasakan. Kalau kalian tidak sesalkan perbuatanku, biarlah sekarang aku permisi berlalu."

Mendengar Kim Houw hendak pergi, sudah tentu Giok Yang Cin-jin tidak mau membiarkan ia berlalu begitu saja, maka lantas memerintahkan orang-orangnya untuk menyiapkan perjamuan untuk menjamu Kim Houw.

Sebentar kemudian setelah jenazahnya Liok-cie Thian-mo dibakar, dan ruangan gereja itu dibersihkan, lalu diadakan sedikit perjamuan untuk menghormat Kim Houw.

Dalam perjamuan itu, Giok Yang Cin jin lantas menuturkan hal ikhwalnya Pek Leng sehingga ditawan digunung Ceng-shia san.

Peristiwa yang menyedihkan itu telah terjadi karena salah satu kakak piauwnya Hian Bu Cu, kebetulan adalah ibunya Ceng Nio cu. Pek Leng yang pergi bersama Ceng Kim cu beberapa lama tak kedengaran kabar beritanya.

Ibunya Ceng Nio cu lalu naik gunung mencari adik piauwnya diminta mencarikan Pek Leng.

Hian Bu Cu ketika mengetahui duduknya persoalan lantas menjadi gusar. Karena ia pernah engku (paman) Ceng Nio cu, maka ia menyanggupi untuk mengurus soal tersebut.

Kebetulan waktu itu Giok Yang Cin-jin tidak berada di atas gunung, maka Hian Bu Cu lantas berunding dengan Chiang Liong Cu.

Chiang Liong Cu juga menganggap bahwa perbuatan Pek Leng itu keterlaluan, maka ia mengijinkan Hian Bu Cu turun gunung untuk mencari Pek Leng yang kemudian akan dibawa naik ke gunung Ceng shia san.

Kala itu, kebetulan Pek Leng hendak pulang ke rumahnya bersedia menerima hukuman ayahnya, setelah ia mengantarkan anaknya di rumahnya Bee Seng.

Ditengah jalan telah berpapasan dengan Hian Bu Cu. Hian Bu Cu segera unjukkan diri sebagai orang tingkatan tua, ia mencela perbuatan Pek Leng.

Pek Leng sebetulnya tidak kenal Hian Bu Cu, ditambah lagi karena hatinya sedang risau, maka seketika itu lantas menjadi gusar. Kemudian keduanya lantas berhantam. Semula, Hian Bu Cu tidak pandang mata Pek Leng, ia anggap beberapa gebrak saja pasti bisa menggulingkan dirinja Pek Leng dan bawa dirinya ke atas gunung.

Siapa tahu, kenyataannya akan kebalikannya. Baru saja bergebrak, Hian Bu Cu lantas mengetahui gelagat tidak baik, dalam kagetnya tahu-tahu pundaknya sudah kena diserang oleh Pek Leng dengan telak. Untung Pek Leng tidak menggunakan tenaga penuh, kalau tidak pundaknya Hian Bu Cu pasti sudah hancur.

Hian Bu Cu yang biasanya sangat jumawa, sudah tentu tidak mau mengerti dihina begitu rupa, dalam gusarnya ia lantas menghunus pedangnya dan menyerang hebat dengan ilmu pedangnya Ceng-shia Kiam-hoat.

Pek Leng tahu sang engku itu melancarkan ilmu pedangnya Ceng-shia Kiam-hoat, lantas merubah sikapnya. Ia minta maaf kepada Hian-Bu Cu, sebab Pek-Liong-po dengan Ceng-shia-pay ada mempunyai hubungan baik, maka ia tidak mau membuat renggang tali persahabatan itu.

Siapa nyana, Hian Bu Cu tidak mau dengar, ia masih anggap Pek Leng takuti ilmu pedangnya, ia terus mendesak Pek Leng dengan pedangnya. Pek Leng melihat Hian Bu Cu tidak mengenal aturan, seketika itu juga naik darah. Ia mengambil sepotong ranting kayu sebagai senjata, untuk melayani serangannya Hian Bu Cu yang hebat.

Ilmu pedang Ceng shia pay sebetulnya sudah menggemparkan dunia rimba persilatan cuma oleh karena kekuatan Hian Bu Cu masih sangat terbatas, maka akhirnya terjatuh di tangannya Pek Leng yang hanya menggunakan sepotong ranting kayu sebagai pedang, Hian Bu Cu ternyata tidak tahu malu, yang sudah dibikin terjungkal masih bisa ketawa, bahkan mengatakan bahwa tindakannya tadi hanya untuk menguji ilmu pedangnya Pek Leng saja.

Ia yang terkenal sebagai seorang licik dan banyak akalnya, telah berhasil membujuk Pek Leng naik ke gunung Ceng shia san.

Setibanya di atas gunung, didalam suatu perjamuan yang diadakan di gereja Pek Ho koan, Hian Bu Cu telah menggunakan obat pulas untuk membikin mabuk Pek Leng, dan malam itu juga Pek Leng telah dibikin kutung kedua kakinya untuk membalas sakit hatinya.

Selanjutnya, di hadapan Chiang Liong Cu ia telah mengarang cerita sendiri mengatakan bahwa Pek Leng menghina party Ceng shia pay.

Apa mau Chiang Liong Cu yang mendengar keterangan itu tanpa mengadakan penyelidikan lagi sudah percaya begitu saja keterangannya Hian Bu Cu, lalu perintahkan orang masukan Pek Leng ke dalam tahanan di bawah tanah.

Ketika Giok Yang Cin jin pulang ke gunung kejadian tersebut sudah lewat satu tahun lamanya dan Pek Leng juga sudah menjadi seorang bercacad.

Giok Yang Cin jin telah sesalkan perbuatan kedua imam itu, tapi apa gunanya. Sebab Pek Leng sudah jadi seorang cacad, kalau dibawa turun gunung, Pek-liong-po pasti akan menanyakan soalnya, bagaimana Ceng-shia-pay sanggup pikul resikonya?

Maka kesalahan itu telah dibiarkan begitu saja.

Tidak nyana pada lima belas tahun kemudian Pek Leng dikeluarkan juga dari kamar tahanan, Chiang Liong Cu dan Hian Bu Cu masih tidak terluput menerima hukumannya. Dengan keterangannya Giok Yang Cin-jin itu, Kim Houw lantas mengetahui duduknya perkara pantas ayahnya cuma menyebutkan namanya kedua imam itu, tidak sebut-sebut yang lainnya.

Pada saat itu, di bawah gunung kembali terdengar suara genta berbunyi. Bahkan makin lama makin gencar dan makin nyaring, hingga membuat semua orang pada terkejut.

Ada musuh siapa lagi yang berani naik gunung? Demikian mereka menduga-duga.

Selagi semua imam masih dalam kebingungan, kembali genta berbunyi semakin nyaring. Tiba- tiba suara keras terdengar nyata. Dalam suasana malam sunyi, suara itu kedengarannya seperti guntur, seolah-olah seluruh gunung itu sedang tergoncaog hebat.

Giok Yang Cin-jin yang mendengar suara itu agak lain dari biasanya, juga merasa kaget dan heran. Mungkin karena barusan pernah mengalami banyak kejadian yang sangat langka, sedikit banyak mempengaruhi pikirannya, hingga seketika itu wajahnya lantas berubah.

Dan setelah suara keras tadi, dari bawah gunung lantas kelihatan sinar api!

Mungkin itu ada tanda mala petaka gunung Ceng Shia san atau party Ceng shia pay. Giok Yang Cinjin geleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas.

"Apa Ceng shia san benar akan mengalami bencana?" katanya berduka.

"Tidak mungkin!" Kim Houw menghibur. "Biarlah aku turun gunung untuk mengadakan penyelidikan, barangkali saja dapat mengusir orang yang hendak mengacau!"

Giok Yang Cinjin segera berbangkit dari duduknya lalu menjura pada Kim Houw.

"Kalau Siaohiap mau turun tangan," katanya. "Aku percaya betapapun besarnya urusan tidak akan menjadi soal lagi, aku ingin ikut mengawani Siaohiap." Kemudian ia berpaling dan berkata kepada orang-orangnya:

"Kalian harus hati-hati melakukan penjagaan, jangan sampai gereja ini orang bikin hancur!" suaranya agak gemetar karena duka.

Kim Houw dan Giok Yang Cinjin berjalan belum berapa lama, mendadak ia melihat dua imam lari terbirit-birit, di belakangnya ada seseorang yang sedang mengejar. Dari jauh sudah mengenali bahwa orang yang mengejar itu adalah Peng Peng, calon isterinya.

Kim Houw heran menyaksikan keadaan demikian, terutama melihat pakaian Peng Peng sudah berlepotan darah, terang bahwa apa yang dikatakan "orang lihai" yang menyatroni Pek-ho-koan tadi adalah si nona.

Sebentar saja kedua pihak sudah saling mendekati Peng Peng juga sudah dapat melihat Kim Houw, dalam kagetnya ia lantas menghentikan gerakan kakinya dengan tiba-tiba. Pedang Ngo- heng-kiam di tangannya lantas jatuh, seakan-akan si nona hilang tangannya dengan tiba-tiba.

Lebih dulu Kim Houw minta Giok Yang Cinjin jangan bergerak dulu, kemudian menyilakan kedua imam tadi lewat, baru dengan perlahan ia mendekati Peng Peng. Ia melihat wajah si nona menunjukkan rasa kaget dan bersangsi, lantas menanya dengan heran"

"Peng Peng, kau kenapa?" Jawaban Peng Peng adalah menjatuhkan diri dalam pelukannya Kim Houw dan menangis terisak-isak.

"Jangan tinggalkan aku!" si nona sesambat mengharukan.

Apa sebabnya Peng Peng bisa mendadak menerjang ke atas gunung? Kiranya pada beberapa hari berselang, Peng Peng yang dibikin pulas oleh totokan Kim Houw dan kemudian diserahkan kepada Tiong-ciu-khek yang muncul dalam waktu yang tepat, oleh si kakek ia diajak menumpang pada salah satu rumah petani dibawah gunung.

Waktu ia mendusin, ternyata sudah tengah hari.

Ia heran tidak melihat Kim Houw, sebaliknya ia melihat ada Yayanya. "Yaya, kemana dia ?" tanya si nona cemas.

Tiong-ciu-khek sengaja, hendak menggoda cucunya, maka ia berlagak pilon.

"Dia? Dia siapa ?" ia lantas balas menanya. "Ah, sudahlah," kata Peng Peng manja. "Yaya selalu permainkan aku, Yaya sekarang sudah tidak sayang Peng Peng lagi... " "bagaimana kau tahu Yaya tidak sayang padamu? Yaya paling sayang kau. Tetapi Yayamu tokh bukan dewa, bagaimana dapat mengetahui siapa yang kau maksudkan dengan dia itu? Betul tidak ? ha, ha, ha... "

"Aku maksudkan Kim Houw, kemana dia perginya ?"

"Oh, jadi yang kau maksudkan dengan dia itu, ci bocah yang tidak mempunyai liangsim?... " "Dia kenapa? Yaya, dia...? tanya Peng Peng gugup.

"Hmm!" Tiong ciu-khek pura-pura gusar. "Dia berani turun tangan kejam selagi tidak ada orang, kalau bukan Yayamu keburu datang dan mengusir dia pergi, apa kau kira sekarang kau masih hidup ?"

Bukan main kagetnya Peng Peng wajahnya pucat seketika, sambil menangis tersedu-sedu ia menanya : "Yaya, apakah... itu benar ?"

Tiong-ciu-khek yang menyaksikan keadaan Peng Peng, dalam hati mengeluh sendiri, karena ucapannya itu agak keterlaluan. Ia tidak berani bergurau lagi. Kemudian ia mendapatkan suatu pikiran, lalu ketawa gelak-gelak dan berkata:

"Anak bodoh, bagaimana belum-belum kau sudah menangis. Kau jangan keburu napsu dulu, perkataan Yaya tohk masih belum habis? Mula-mula aku kira juga ada sungguhan.

Kulihat terang kalian berdua rukun sekali, mendadak kulihat kau tidak ingat orang. Ketika itu aku kaget, tapi kemudian mendengar penjelasan Kim Houw. Katanya sebab selama beberapa hari kau melakukan perjalanan siang hari malam, kelihatannya sangat letih, dia kuatir kau tidak mau tidur, maka ia lantas menotok jalan darahmu supaya kau tidur mengaso. Aku girang, karena perbuatannya itu memang bermaksud baik, ha ha ha, anak cengeng !"

Mendengar perjelasan itu hati Peng Peng barulah menjadi girang. Ia tahu kiranya Yayanya telah menggoda dirinya, maka dengan sikapnya yang sangat manja sesalkan Yayanya. "Yaya sungguh jahil." Tiong-ciu-Khek, meskipun usianya sudah lanjut, tapi kelihatannya masih suka bercanda.

Mendengar sesalan cucunya, ia lantas pura-pura tidak senang.

"Bagus, sekarang kau sudah punya senderan, lantas tidak ingat Yayanya, biar aku nanti tidak beritahukan halnya padamu." demikian katanya.

"Hm tidak mau ya sudah. Sekalipun Yaya tidak memberitahukan, aku juga sudah tahu." "Kalau aku tidak beritahu, bagaimana kau dapat tahu ?"

"Apa Yaya kira aku tidak tahu ? Yaya salah hitung, aku sudah tahu dia sedang naik ke gunung Ceng-shia-san untuk mencari ayahnya. Hanya berapa lama dia sudah pergi, mengapa sampai sekarang dia masih belum kembali?"

"Ya, hal ini tentunya kau tidak tahu akupun tidak mau memberi tahukan padamu" "aku bisa mencari sendiri"

Tiong-ciu-Khek kewalahan. Diam-diam hatinya merasa gelisah, sebab bukannya si nona mau dengar kata, sebaliknya hendak pergi mencari sendiri.

Ia lalu putar otaknya lagi untuk mencari akal. Tiba-tiba ia berubah seperti seorang yang sedang sedih.

"Yah, anak perempuan yang sudah dewasa memang biasa tidak ingat orang tuanya lagi, yang diingat hanya pujaannya saja, bagaimana orang tuanya tidak berduka hatinya ?"

Sehabis berkata demikian Tiong-ciu-khek pura-pura menangis sedih.

Peng Peng merasa cemas, buru-buru ia memeluk Yayanya dan berkata dengan suara pilu. "Yaya, yaya, siapa kata aku tidak perdulikan kau lagi? Hanya kepergiannya dia kali ini,

bukankah sangat berbahaya? Mengapa kau sedikitpun kelihatannya tidak mau mengambil perhatian terhadap dirinya?"

Tiong-ciu-khek pura-pura gembira lagi. "Siapa kata dia naik ke gunung Ceng-shia-san? Dia baru saja berlalu, katanya hendak mencari seorang sahabat. Satu dua hari katanya hendak kembali dan kemudian bersama-sama naik gunung untuk mencari ayahnya. Dia minta aku menjaga kau di sini, supaya kau dapat beristirahat dan harus menunggu dia pulang, baru berangkat lagi bersama-sama."

Karena perkataan Tiong-ciu-khek itu kelihatannya diucapkan dengan sungguh-sungguh maka Peng Peng juga percaya. Dengan demikian ia menurut saja apa kata Yayanya, berdiam dirumah petani itu untuk menantikan kedatangan Kim Houw.

Satu hari telah berlalu, kemudian disusul dengan hari selanjutnya!

Hari Pertama, Peng Peng masih dapat menantikan dengan sabar. Tetapi hari kedua, perasaannya mulai gelisah, ia tidak dapat duduk dengan tenang dalam gubuk yang sempit dan pendek itu. Ia berjalan mundar-mandir, jika ia mendengar tindakan kaki orang saja ia lantas lari keluar, tetapi selalu dibikin kecewa, sebab masih belum kelihatan bayangan Kim Houw. Malam itu, Peng Peng tidak dapat tidur nyenyak. Sebab baru saja ia pulas ia dapat impian buruk. Dalam mimpinya itu, ia dengan bergandengan bersama Kim Houw, seolah-olah bisa terbang, ia terbang di atas awan dan melayang turun di atas yang luas.

Dengan mendadak Kim Houw berjumpalitan, dari atas awan ia terjatuh di atas sebuah batu aneh. Meskipun Kim Houw tidak terluka parah, tetapi penyakit lamanya kambuh lagi dan sudah tidak mengenal dirinya sendiri lagi.

Peng Peng ketakutan setengah mati. Sebab Kim Lo Han sudah binasa, siapa lagi yang mampu menyembuhkan penyakit? Dalam sedihnya Peng Peng hanya dapat menangis saja. Ketika ia mendusin, baru diketahuinya bahwa itu hanya suatu impian belaka. Tetapi meskipun hanya impian belaka, karena orang tidak ada didampinginya, hati Peng Peng tetap sedih bahkan ia tidak berani memikirkan lebih jauh.

Malam itu rembulan terang, sampai dikamarnya juga terang karena cahayanya si dewi malam.

Dengan tidak sengaja, Peng Peng menoleh ke tempat tidur Yayanya. Ia melihat Yayanya sudah tidak ada, sedang selimutnya belum si sentuh, kemana perginya sang kakek ?

Peng Peng terkejut! Lalu ia lompat turun mencari Yayanya di belakang dan di depan rumah, tetapi tidak dapat menemukannya hingga hatinya mulai curiga.

Kemana sebetulnya Yayanya pergi ?Ah, celaka Kim Houw pasti seorang diri naik ke atas

gunung Ceng-shia-san untuk mencari ayahnya. Oleh karena tidak ada kabar apa-apa maka Yayanya lantas pergi menyusul untuk mencari keterangan.

Memikir sampai disitu, Peng Peng tidak berani berlaku ayal lagi. Maka malam itu juga ia lantas berangkat menuju ke atas gunung Ceng-shia-san. Oleh karena memikirkan keselamatan jiwa sang kekasih, maka perjalanan itu dilakukan dengan cepat.

Di bawah gunung Ceng-shia-san dari jauh Peng Peng sudah melihat satu bayangan orang yang sedang berjalan dengan perlahan. Ia tidak tahu siapa orang itu maka ia lantas sembunyikan dirinya di tempat gelap.

Ketika orang itu sudah dekat, dari sinarnya ia mengenali bahwa orang itu adalah yayanya sendiri.

Keadaan yayanya seperti seorang yang sedang terluka. Selagi ia hendak unjukkan dirinya, tiba-tiba ia mendengar suara yayanya yang berkata sendirian:

"Ini harus bagaimana baiknya ? Dia masih tidak berdaya, bagaimana orang lain, bukankah akan mengorbankan jiwa dengan cuma-cuma?

Tiong-ciu-khek yang sedang berbicara sendirian, telah mengejutkan Peng Peng yang tengah menghampiri padanya, sehingga si nona lantas mengurungkan maksudnya. Dalam hatinya berpikir, "Siapa yang dimaksudkan dengan dia yang sudah tidak berdaya itu ... ? Ahh celaka ...

Yang dimaksudkkan dengan dia tentunya Kim Houw. Apakah benar Kim Houw mendapat celaka

...?

Peng Peng mengingat itu, hatinya dirasakan seperti hancur luluh. Tetapi mengingat kembali tentang keselamatannya Kim Houw, dapatkan ia peluk tangan begitu saja ? Kalau terjadi apa-apa atas dirinya Kim Houw, apa ia dapat hidup sendiri ?

Saat itu Tiong-ciu-khek sudah berjalan semakin jauh meninggalkan dirinya. Peng Peng segera percepat gerakan kakinya, ia lari menuju ke atas gunung Ceng-shia-san. Sebentar saja ia sudah sampai di Pek-ho-koan. Karena hendak mencari keterangan tentang dirinya Kim Houw, ia tidak berani sembarangan bergerak, hanya menyembunyikan diri di tempat gelap sambil mengintai keadaannya dalam gereja itu.

Tetapi Peh-ho-koan baru saja habis diaduk oleh Liok-cie Thian-mo, bukan saja gerejanya hancur berantakan, mayat-mayat manusiapun banyak yang bergelimpangan di tanah, Pek Ho Tojinpun binasa.

Beberapa imam kecil yang keburu menyingkir, terluput dari bahaya kematian. Setelah Liok-cie Thian-mo berlalu, imam-imam kecil satu demi satu telah muncul keluar lagi.

Peng Peng yang sedang mengintai dan menyaksikan keadaan tersebut, diam-diam merasa heran, mendadak di dengarnya salah satu imam cilik itu berkata kepada kawannya.

"Ceng-shia-san benar-benar akan mengalami kehancuran! Tiga hari yang lalu, kedatangan bocah she Kim itu sudah cukup membikin pusing kepala dan hari ini telah disantroni oleh raja iblis yang tidak mengenal kasihan! Dengan tanpa sebab dan alasan lagi dia telah membunuh siapa saja yang di ketemuinya. Kalau bukan karena kaki kita keburu lari, pasti kita juga sudah binasa."

Karena yang dicari oleh Peng Peng ialah Kim Houw, maka ia tidak mau ambil pusing dengan orang yang dimaksudkan raja iblis yang tidak mengenal kasihan itu. Tiba-tiba ia mendengar seorang lagi berkata.

"Masih untung tiga hari berselang bocah she Kim itu sudah terdesak dan kecebur ke jurang, kalau tidak dalam dua hari ini barangkali"

Peng Peng dengar itu merasa seolah-olah disambar geledek, matanya berkunang-kuang, tapi cepat ia bisa tenang lagi. Sekarang sudah jelas, yang dimaksudkan dengan di oleh yayanya pasti adalah Kim Houw. Tidak nyana, Kim Houw yang mempunyai kepandaian begitu tinggi juga masih dapat didesak sampai masuk ke dalam jurang. Mengingat akan nasibnya Kim Houw, hatinya si nona sangat pilu, sehingga air matanya bercucuran.