Istana Kumala Putih Jilid 27

 
Jilid 27

Siapa sangka serangan itu agaknya dilakukan dengan sangat bernapsu, sehingga dalam keadaan demikian tidak keburu ditarik kembali, ini merupakan suatu kesempatan yang paling baik bagi Kim Houw.

Meskipun dilain pihak, satu pedang lagi sudah mengancam lengan kanannya, tapi Kim Houw agaknya tidak mau ambil pusing dengan serangan itu, sebab lengan kanannya pada saat itu tidak dapat digunakan, sekalipun ditambah lagi dengan beberapa luka atau dibikin kutung, baginya juga tidak jadi masalah.

Tangan kirinya yang mendapat kesempatan, lantas digunakan untuk menjepit pedang lawannya. Setelah terdengar suara jeritan, ia telah berhasil merebut sebilah pedang dari lawannya, tetapi ia dikejutkan oleh suara jeritan tadi. Ketika ia menoleh, pedang itu ternyata pedangnya Bwee Hoa Kiesu. Kim Houw mengetahui bahwa itu adalah perbuatan Bwee Hoa Kiesu yang dengan sengaja hendak menolong dirinya, maka dalam hati ia merasa sangat bersukur.

Untuk mengelabui mata orang banyak, begitu pedang sudah berada di tangannya, Kim Houw lantas pura-pura menyerang Bwee Hoa Kiesu. Bwee Hoa Kiesu juga berlagak gugup dan membiarkan lengan kanannya tergores ujung pedang Kim Houw dan ia lalu mundur teratur. Kim Houw tahu benar akan kemampuan Bwee Hoa Kiesu. Ia tahu juga bahwa goresan pedang itu tidak berarti apa-apa baginya, tapi siapa sangka, serangan itu tidak ringan, kelihatannya Bwee Hoa Kiesu terluka benar-benar, sehingga diam-diam ia merasa berduka.

Kim Houw mendadak merasakan sakit pada telapak tangannya. Dalam keadaan gusar, dengan cepat ia memutar tubuhnya, sebentar saja pedangnya sudah bersarang pada dada imam yang menikamnya tadi.

Setelah ada pedang ditangan, Kim Houw lalu mengeluarkan pekikan nyaring! Seolah-olah banteng terluka, ia memutar pedangnya seperti kitiran, meskipun ada tujuh atau delapan bilah pedang yang mengurung dirinya, tetapi dengan sekejap saja semua pedang-pedang itu dapat didesak mundur, sehingga tekanannya semakin lama semakin berkurang.

Tepat pada saat itu mendadak terdengar suara bentakan keras. "Semua mundur!"

Suara itu demikian nyaring, meskipun dalam kalangan pertempuran saat itu ramai dengan suara beradunya senjata, tetapi suara bentakan itu dapat menembusi telinga setiap orang. Segera semua imam-imam itu mundur secara teratur.

Ketika melihat semua orang mundur, Kim Houw tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Segera ia melempar pedangnya untuk mengambil buli-bulinya dan air mujizat dari dalam buli-buli itu lantas dituang ke tangannya yang terluka.

Betapa air itu sangat mukjizat, begitu dituang darah lantas berhenti mengalir dan lukanyapun sembuh seperti keadaan semula, sisa air yang masih ada ditenggaknya semua sehingga rasa sakit dan letih lenyap semuanya. Tetapi berbareng dengan itu ia merasa ada angin kuat yang menindih kepalanya, Kim Houw segera mengelak dan lompat melesat satu tombak lebih. Ketika ia sudah berdiri lagi dengan cepat ia mencabut senjata Bak Tha Liong Kin nya.

Ia celingukan mencari orang yang menyerangnya, dan ternyata orang itu adalah Giok Yang Cin Jin sendiri.

Dengan Bak Tha Liong Kin ditangan kiri, Kim Houw tertawa tergelak-gelak. Sehabis tertawa, ia lalu menyodorkan tangan kanannya dan berkata dengan suara gemas :

"Nama Ceng Shia Pay didalam rimba persilatan sangat terkenal, tidak disangka beraninya hanya menggunakan akal busuk dan keji untuk menghadapi seorang dari tingkatan muda. Ha, ha, ha. Urusan kini menjadi hutang darah, maka aku hendak menagih dengan darah pula!"

Perkataan Kim Houw yang diucapkan dalam keadaan gusar nyaring sekali.

Mendadak tampak berkelebat sinar perak yang menyambar kearah mukanya. Tanpa banyak pikir, Kim Houw mengayunkan senjatanya, hingga senjata rahasia yang menyambar tadi lantas tersampok di udara.

Tetapi Kim Houw tiba-tiba merasakan serangan senjata rahasia itu berat sekali, sehingga ia melirik ke arah dari mana datangnya senjata rahasia tadi, dan kembali ia menjadi terkejut.

Kiranya imam yang melepaskan senjata rahasia itu adalah Bwee Hoa Kiesu sendiri. Karena Kim Houw mengetahui bahwa setiap gerakan Bwee Hoa Kiesu sudah tentu ada maksudnya, maka ia buru-buru merubah sikapnya yang jumawa tadi, matanya menyapu keadaan sekitarnya. Di bawah sinar matahari pagi, Kim Houw melihat bahwa disekitar tanah lapang itu telah berbaris ratusan imam, setiap orang membawa pedang terhunus, sehingga sinarnya berkilauan. Barisan imam itu kelihatannya sangat rapi dan teratur. Dengan dipimpin oleh beberapa puluh imam tua, setindak demi setindak mereka maju ke dalam kalangan.

Melihat keadaan demikian, diam-diam Kim Houw terkejut. Barisan Kian Pek Bie Hun Tin dari Ceng Shia Pay telah menjagoi dunia kangouw, hampir setiap orang dalam dunia kangouw mengetahui tentang itu dan pada umumnya dianggap sangat menakutkan.

Di dalam buku pelajaran ilmu silat Kauw jin Kiesu juga ada dimuat dengan jelas tentang barisan "Kian-pek Bue-hun tin" itu terbagi dalam sembilan rombongan, tiga rombongan merupakan satu kelompok tiga kelompok merupakan satu barisan, jumlah orangnya tidak terbatas. Satu rombongan boleh terdiri dari dua orang, tetapi juga boleh dua puluh orang, orangnya lebih banyak, kekuatannya juga besar.

Orang yang diserang, tidak perduli berapa saja jumlahnya, begitu terkurung dalam barisan asal barisan tersebut dan berputar sampai sembilan kali, tentu sang lawan dibikin bingung dan tidak dapat mengenal arah lagi. Betapapun juga tinggi kekuatan sang lawan, sukar sekali untuk meloloskan diri dari barisan itu.

Dari Kitab Kauw-jin Keisu itu Kim Houw mengenal baik tentang barisan tersebut, kini ia menyaksikan sendiri kenyataannya bagaimana lihay barisan itu, diam-diam ia mengeluh melihat barisan imam itu mulai bergerak maju.

Sesaat itu Kim houw melihat Giok Yang Cinjin yang berdiri tidak jauh di depannya ternyata sudah menghunus pedangnya, sedang digoyang-goyangkan yang makin lama makin cepat agaknya ia memberi komando supaya barisannya itu lekas bergerak.

Kim Houw yang melihat keadaan demikian suatu pikiran mendadak berkelebat dalam otaknya.

Melihat sikap Giok Yang Cin-jin yang begitu cemas, rupanya tentu ada apa-apa yang kurang sempurna.

Segera Kim Houw memutar tubuhnya, ia menyapu sejenak keadaan di seputarnya, tetapi ternyata ia tidak mendapatkan tanda apa-apa.

Ketika untuk kedua kalinya ia menghadapi Giok Yang Cin-jin ,ia mendapat kenyataan bahwa pedang imam tua itu sedang digoyangkan semakin gencar, Kim Houw lalu berpikir. Kau cemas? Baiklah, aku bergerak dulu aku ingin mengetahui apa yang dapat kau perbuat dengan "Kian-pek Bei-hun-tin-mu" ini terhadap diriku.

Begitu mengambil keputusan, Kim Houw segera lompat melesat untuk menyerang lawannya. Saat itu tangan kanannya sudah sembuh dan dapat digunakan seperti sediakala, maka senjatanya lantas dipindahkan ke tangan kanannya dan berkata dengan suara nyaring.

"Bagus! Kau hendak menggunakan barisan Bei-hun-tin untuk mengeurung kau, sekarang aku akan membunuh kau lebih dulu!"

Giok Yang Cin-jin ketawa dingin, kemudian kelihatan pundaknya bergerak, seolah-olah anak panah yang melesat dari busurnya ia meluncur ke samping satu tombak lebih jauhnya, tetapi pedang panjang di tangannya masih tetap bergoyang-goyang tidak berhenti-henti.

Kim houw yang menyaksikan lawannya dan tidak maju menyambuti, sebaliknya malah mundur, dan menyaksikan pula kepandaian mengentengi tubuhnya yang tidak berada di bawah kepandaiannya sendiri, diam-diam hatinya mengeluh. Tetapi oleh karena terdesak oleh keadaan, terpaksa ia harus bertempur secara mati-matian. Maka dengan tidak banyak bicara lagi, ia lantas memutar senjatanya, lagi sekali ia menerjang musuhnya.

Giok Yang Cin-jin, ketika melihat dirinya dikejar lawan, hanya ganda dengan terus ketawa dan kemudian lompat lagi setombak lebih jauhnya.

Berulang-ulang Kim Houw menerjang, tetapi selalu ia tidak berhasil mendekati dirinya Giok Yang Cin-jin.

Hanya dengan perbuatan itu Kim Houw segera mengerti kalau Giok Yang Cin-jin selalu tidak meninggalkan tempat ditengah tengah yang hanya dua tombak persegi lebarnya.

Sampai di sini Kim Houw agaknya melihat sedikit titik terang. ia segera meninggalkan Giok Yang Cin-jin, sebaliknya menerjang dengan cepat ke arah rombongan barisan imam.

Tetapi baru saja Kim Houw melesat, di belakangnya segera terdengar suara bentakan Giok Yang Cin-jin, dan pedangnya menunjuk ke arah gerak larinya Kim Houw dan kemudian disusul dengan suara gemuruh yang lama menggema di gunung yang sunyi itu.

Kim Houw menoleh, tetapi kecuali suara gemuruh itu, ia tidak dapat melihat apa-apa lagi yang agak aneh, tetapi ia tidak mengetahui bahwa ini adalah siasatnya barisan Kiam-pek Bie-hun tin untuk membikin kabur semangat lawannya.

Oleh karena tidak melihat apa-apa yang mengherankan, Kim houw tidak mau mengambil pusing lagi, dengan beruntun dua kali lompatan ia sudah berada di depan barisan imam, sampai di sini ia baru dapat melihat dengan tegas bahwa barisan imam itu, kalau tadi dapat bergerak maju dan mundur secara teratur, bukan saja karena sudah terlatih baik, bahkan di setiap pinggang imam-imam itu ada terikat satu dengan lainnya, sehingga tidak dapat terpisah dengan mudah.

Selain dari pada itu, tangan kiri mereka kecuali memegang pedang menghadap ke depan tangan kanan tiap orang diletakkan di atas pundak kanan imam yang berada di depannya, sehingga barisan itu kelihatannya bukan saja rapih, tetapi juga menarik.

Ketika Kim Houw menegasi lagi sekali di depannya terdapat tiga baris rombongan imam, setiap barisnya hanya terdiri lima belas orang, masing-masing terpisah kira-kira tujuh atau delapan kaki lebarnya. Ketika menyaksikan barisan yang terdiri dari empat puluh lima orang itu hati Kim Houw mulai agak lega, pikirnya "barisan yang hanya terdiri dari empat puluh lima orang ini, masakan tidak mampu aku memecahkannya?"

Berpikir sampai di situ, barisan imam dibagian depan, setindak demi setindak maju mendekati, setindak lagi pedang panjang sudah mencapai di depan dada Kim Houw.

Kim Houw, karena hatinya mulai merasa lega, kembali timbul pikirannya hendak mempermainkan imam itu. Ia melihat dirinya sendiri berdiri ditengah-tengah barisan itu, segera ia perdengarkan suara ketawanya, senjatanya diangkat dengan perlahan untuk menotok dada salah seorang imam.

Tetapi baru saja senjata Kim Houw meluncur keluar, segera disambut oleh tiga bilah pedang lawannya, dengan cepat sudah melihat senjata Liong-kinnya Kim Houw. Kalau senjata Kim Houw bukan senjata pusaka yang tidak takuti segala benda tajam, libatan tiga pedang libatan tiga pedang itu, niscaya siang-siang sudah membikin putus senjata Kim Houw!

Gerakkan para imam itu bukan saja sederhana, tetapi juga tepat. Kim Houw yang menyaksikan itu diam-diam juga merasa terkejut, maka dengan cepat ia segera menarik kembali serangannya. Tetapi Bak Tha Liong Kin-nya baru saja ditarik kembali, di belakangnya tiba-tiba dirasakan ada hawa dingin seperti menempel di badannya.

Kim Houw terperanjat, ia tidak keburu memutar tubuhnya maka ia lantas berjungkir balik ditengah udara dan turun mundur ke belakang. Ketika ia berjungkir balik tadi, ia melihat bahwa hawa dingin tadi adalah hawanya enam bilah pedang yang dilancarkan dari kanan dan kiri, masing-masing tiga bilah dan yang melancarkan ke enam bilah pedang itu ialah enam orang imam dari barisan tadi, tiga orang dari bagian kepala dan tiga orang dari bagian ekor.

Dengan demikian, maka kini Kim Houw sudah mengerti bahwa barisan yang terdiri dari lima belas orang tadi, kalau diserang bagian kepalanya, bagian ekornya lantas bergerak untuk membalas menyerang, sebaliknya kalau diserang bagian ekornya, bagian kepala turut membantu membalas menyerang dan kalau diserang bagian tengah, bagian kepala dan bagian ekor lantas maju menyerang berbarengan.

Setelah Kim Houw turun ke tanah, ia mendapatkan kenyataan bahwa mereka juga berdiri ditempat semula, tidak mengejar menyerang.

Ketika ia berpaling, ternyata Giok Yang Cin Jin yang tadi berdiri ditengah-tengah kalangan, entah sejak kapan sudah keluar dari dalam barisan, sedangkan rombongan lain dari kedua pihak juga sudah mendesak semakin dekat.

Kim Houw terkejut, dalam hatinya segera berpikir : Hari ini kalau tidak melakukan pembunuhan besar-besaran, rasanya sukar keluar dari dalam barisan ini........

Tepi belum habis ia berpikir itu, mendadak terdengar suara mengaung kembali, disusul oleh suara yang bergemuruh, yang memekakkan telinga.

Selagi Kim Houw hendak menerjang barisan dengan senjatanya, mendadak dilihatnya barisan telah bergerak lagi, rombongan imam itu mulai mengepungnya sambil bergerak memutar, ada yang ke kiri, ada juga yang ke kanan, nampaknya sangat kalut, tetapi sebenarnya tidak demikian.

Sebentar saja, mata Kim Houw sudah dirasakan kabur, hatinya mulai merasa tidak tenang. Musuh masih belum mulai menyerang, tetapi ia kelihatannya sudah dibikin goyah pikirannya, bagaimana nanti seandainya barisan itu sudah bergerak?

Kim Houw lalu mengambil keputusan, ia hendak melawannya dengan kekerasan lebih dulu.

Tetapi masih baik kalau Kim Houw tidak bergerak, sebab baru saja ia sedikit bergerak, di depan dan di belakang dirinya segera kelihatan bayangan orang, begitulah, seandainya ia turun tangan, segera ada sembilan bilah pedang yang menyerang berbareng dari tiga jurusan.

Dengan beruntun Kim Houw maju menerjang sampai tiga kali, selalu tidak berhasil menerjang keluar sampai lima tindak, sebaliknya malah ia sendiri yang terdesak mundur ke tengah-tengah kalangan.

Tepat pada saat itu, suara mengaung terdengar pula dan gerak lari para imam didalam kalangan, kelihatannya semakin pesat. Bahkan di sekitarnya perlahan-lahan mulai mengepulkan asap.

Ketika asap itu mulai mengepul, bayangan orang itu sebentar kelihatan dan sebentar kemudian menghilang ke dalam gumpalan asap, tampaknya sangat menyeramkan. Sampai di sini Kim Houw baru mengetahui lihainya barisan Kian Pek Bie Hun Tin yang sangat kesohor itu. Luas tengah kalangan itu sebenarnya ada kira-kira tiga tombak lebih, meskipun asap mengepul dan memutari dirinya, biar bagaimana masih bisa kelihatan, maka Kim Houw lalu berpikir : Kalau kalian tidak turun tangan, kalian dapat berlarian sampai berapa lama?

Siapa kira pikiran itu baru saja timbul dalam otaknya, suara mengaung timbul pula untuk ketiga kalinya, kali ini rada pendek, tetapi gencar serta mengaung tidak tidak henti-hentinya, sehingga perasaan Kim Houw mulai tidak enak.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras, dari gumpalan asap lalu muncul sebaris imam- imam, dengan setiap orang membawa sebilah pedang, menerjang tepat ke arah dada Kim Houw.

Kalau mau dikata, Kim Houw di tangannya ada senjata, mustahil ia menakuti barisan yang terdiri dari lima belas orang itu, asal ia mengerahkan ilmu Han Bun Cao Khie dan menggerakkan senjatanya, sudah cukup untuk membuat kutung lima bilah pedang lawan tersebut.

Tetapi, imam-imam mengapit kanan dan kirinya, sudah tentu Kim Houw tidak bisa menghadapi dengan berbarengan. Dalam keadaan demikian, Kim Houw lalu mengambil keputusan, menyingkir lebih dulu untuk melihat perkembangan lebih lanjut, maka ia berkelit memutar ke kiri.

Dengan tiba-tiba saja, dari sebelah timur dan barat, kembali ada sebarisan imam yang datang menerjang.

Kim Houw yang menyaksikan bahwa gerakan dua rombongan imam itu sangat cepat bahkan bersifat mengurung dan Kim Houw menantikan sampai kedua rombongan imam datang lebih dekat, baru lompat tinggi ke atas dan melesat melewati kepala imam-imam itu.

Menurut perhitungan, dua rombongan orang yang datang dari arah yang berlawanan itu, jika menubruk tempat kosong, tentunya akan berbenturan sendiri. Tidak nyana, setelah ia berada di atas, tidak terdengar suara pedang beradu.

Sebaliknya ia sendiri masih belum turun ke tanah, ketika menyaksikan keadaan di bawahnya, diam-diam lantas mengeluh.

Ternyata dari bagian depan juga datang menerjang serombongan imam-imam lagi, ia kembali mengerahkan kekuatannya, melesat lagi melewati atas kepala barisan barusan. Namun tidak disangka, ternyata barisan imam itu, sekelompok demi sekelompok maju menyerang dengan tidak putus-putusnya. Dalam gumpalan asap yang tidak dapat melihat jauh itu, ia tidak dapat mengetahui barisan imam itu hanya terdiri dan sembilan rombongan, atau datang lagi bala bantuan.

Hanya sekelompok-sekelompok imam yang menyerang itu terus maju mendesak seperti berputarnya roda besar yang tidak berhenti-henti. Betapapun tingginya kepandaian Kim How saat itupun ia tidak berdaya.

Keadaan demikian berlangsung terus. Rombongan imam yang bergerak itu, agaknya makin lama makin banyak. Kim How yang harus lompat-lompatan untuk menyingkir dari serangan mereka, perlahan-lahan napasnya mulai memburu.

Pada saat itu, telinganya tiba-tiba dapat menangkap suara seorang yang bicara sambil ketawa dingin:

"Orang she Kim, lepaskan senjatamu dan menyerah! Mungkin kita masih dapat mengampuni jiwamu." Perkataan mengampuni jiwamu itu berarti bahwa meskipun terhindar dari hukuman mati, tetapi tidak dapat terhindar dari hukuman hidup.

Satu laki-laki lebih baik binasa daripada terhina. Kim Houw yang bersifat jantan, bagaimana mau diperhina oleh kawanan imam itu?

Maka setelah berpikir sejenak, Kim Houw lantas menjawab dengan suara keras: "Ampuni jiwaku? Sungguh enak didengarnya. Kalau kalian tidak mau menghentikan

gerakanmu, jangan sesalkan kalau aku nanti melakukan pembunuhan besar besaran."

Sehabis berkata, Kim Houw tidak mendapatkan jawaban sekian lamanya, sedang barisan imam itu masih tetap menerjang dengan tidak berhenti-hentinya. Bukan kepalang gusarnya Kim Houw, sambil memutar senjatanya, ia sekarang tidak menyingkir lagi, tetapi ia juga tidak mengeluarkan serangan, ia hanya mengharapkan dapat menyelamatkan dirinya sendiri dulu.

Senjata Bak-tha Liong-kin lalu diputar dengan rapat untuk melindungi dirinya, siapa saja yang berani menerjang dirinya, dalam batas satu tombak saja, meskipun tidak mati orang yang menerjang itu pasti akan terluka parah. Sukar untuk terhindar dari serangannya.

Sebentar kemudian, lalu terdengar nyaring benturan senjata dari kedua belah pihak kemudian disusul oleh suara jeritan yang saling berganti, Kim Houw tutup rapat mata dan telinganya, meskipun boleh dikata tidak lihat dan tidak dengar, tapi dari gerakan tangannya juga dapat ditaksir, dalam rombongan itu sedikitnya ada tujuh atau delapan imam yang roboh di tangannya.

Selanjutnya kembali terdengar serentetan suara beradunya senjata dan suara jeritan.

Kim Houw dalam hatinya diam-diam merasa pilu, air matanya mengalir keluar. Biar bagaimana ia bukan orang yang berhati kejam dan ganas.

Sejak ia keluar dari istana Panjang Umur belum pernah ia melakukan pembunuhan terhadap orang yang tidak berdosa, tapi sekarang, oleh karena hendak menemui ayahnya, terpaksa melakukan pembunuhan terhadap orang-orangnya party Ceng-shia-pay, hal ini sungguh di luar dugaan semula.

Setelah dengan beruntun dari empat rombongan barisan imam sudah banyak jatuh korban.

Kim Houw mulai lemas hati dan tangannya, sudah tidak bersemangat lagi! Selagi hendak berseru untuk menghentikan pertempuran itu mendadak dirasakan suasananya amat sunyi.

Ia mengira fihak lawannya akan mengeluarkan siasatnya yang lebih lihay lagi, maka buru-buru membuka matanya ternyata barisan imam itu masih tetap ada, begitu pula asap yang mengurung di sekitarnya masih ada juga, tetap imam-imam itu tidak ada satu juga yang berani maju bergerak lagi.

Hati Kim Houw agak terhibur, ia lantas dapat bernapas lega. Tapi baru saja ia dapat bernapas lega, dadanya mendadak dirasakan sesak, kepalanya pusing. Kiranya dalam asap itu ada racunnya, ia buru-buru masukkan Bak tha ke dalam mulutnya, sebentar saja badannya sudah mulai segar kembali.

Kim Houw lalu berpikir: Pantas barisan ini kelihatannya hanya seperti dinding asap, tidak ada tanda-tandanya yang membuat bingung semangatnya, kiranya asap itu ada racunnya, untung senjataku merupakan senjata pusaka, kalau tidak, niscaya siang-siang aku sudah roboh terkurung oleh asap ini. Mendadak ia mendengar suara orang bicara:

"Orang she Kim, sebetulnya apa maksudnya kau menerjang ke gunung Ceng-shia ini?" "Aku hendak mencari ayahku Pek Leng." jawab Kim HouW.

"Baiklah, ayahmu sekarang sudah di sini. Kau lekas lemparkan senjatamu dan menyerah, kalau tidak ayahmu akan binasa di bawah golok. Lihatlah supaya kau ditertawakan oleh orang- orang dari dunia persilatan sebagai anak yang tidak berbakti."

Mendengar itu, bukan main kagetnya Kim Houw. Sekarang bagaimana ia harus berbuat?

Jika benar demikian halnya, ia sendiri belum sampai menemukan ayahnya, sang ayah sebaliknya jadi sudah dicelakai olehnya.

Jika disuruh melemparkan senjatanya untuk menyerah, ia tidak nanti berbuat. Ia rela dirinya dicincang dari pada terhina.

Selagi merasa serba salah, kembali terdengar suara orang itu pula:

"Lekas jawab! Kalau kau ingin mengundur tempo jangan menyesal belakangan!"

Dengan ini membuat Kim Houw tampak bingung. Akhirnya, Kim Houw menggertak gigi dalam hati berpikir: "Kejadian sudah menjadi begini rupa, terpaksa aku harus bertindak dengan melihat gelagat, paling penting aku harus dapat melihat wajah ayahku dulu."

Maka ia lalu menjawab: "Kau mau aku meletakkan senjata boleh saja, tetapi bagaimana aku tahu, kalau ayahku benar-benar ada ditangan kalian? Boleh jadi kalian akan menggunakan tipu daya lagi."

"Menurut pikiranmu bagaimana?" tanya suara tadi.

"Menurut aku, kalian antarkan dulu ayahku kemari untuk bertemu dengan aku. Setelah aku mengenali benar bahwa itu adalah ayahku, aku pasti akan meletakkan senjataku, terserah kalian akan berbuat apapun terhadap diriku."

Sehabis berkata Kim Houw menantikan dengan tenang. Tidak lama kemudian, ia mendengar lagi jawaban orang tadi:

"Tetapi kau jangan coba main gila, hendak menolong dia keluar dari sini!" "Baik, aku turut!" jawab Kim Houw.

Sebentar kemudian, segera terdengar suara menggelindingnya roda. Kim Houw kembali tercengang, di puncak gunung setinggi ini, dari mana datangnya kereta ? Tidak antara lama, dari gumpalan asap, muncul sebuah gerobak dorong, di atas kereta ada duduk seorang berpakaian kelabu yang sudah mesum, orang itu matanya mendelong, mukanya kurus dan rambutnya awut- awutan.

Kim Houw yang melihat munculnya orang berpakaian kelabu itu, hanya timbul rasa curiga apakah orang itu benar ayahnya Pek Leng sendiri atau bukan. Ketika ia memasang mata untuk melihat orang yang mendorong kereta, ia lihat di belakang orang yang mendorong kereta itu, masih terdapat seorang lain, dan orang itu adalah Bwee-hoa Kiesu sendiri. Kim Houw tidak mengerti apa maksud Bwee-hoa Kiesu mengikuti di belakang gerobak dorong itu.

Tapi orang yang berada di atas gerobak dorong dan Bwee-hoa Kiesu yang mengikuti di belakangnya, kelihatan matanya mereka agak dipejamkan, seolah-olah tidak melihat dirinya Kim Houw. Hal ini membuat Kim Houw semakin ragu-ragu.

Akhirnya gerobak dorong itu sampai di depannya Kim Houw dan segera di hentikan.

Kim Houw mengerti bahwa dalam keadaan demikian, tidak enak baginya untuk menanyakan hal sebenarnya kepada Bwee-hoa Kiesu.

Tetapi dengan tidak adanya Bwee-hoa Kiesu sebagai petunjuk, mana berani ia mengakui bahwa orang yang berada di atas gerobak itu adalah ayahnya!

Tiba-tiba orang di atas gerobak itu membuka lebar matanya, memancarkan sinarnya yang tajam. Lama sekali ia mengawasi Kim Houw, kemudian baru berkata dengan suara perlahan-lahan

:

"Apakah kau yang bernama Kim Houw?"

Kim Houw tercengang, ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Tiba-tiba terdengar suara Bwee-hoa Kiesu berkata:

"Ini adalah ayahmu sendiri, mengapa tidak lekas maju memberi hormat?"

Perkataan Bwee-hoa Kiesu itu seolah-olah geledek menyambar di tengah hari, kepalanya dirasakan pening, matanya berkunang-kunang dan sepasang kakinya juga mendadak lemas hingga seketika itu lantas ia berlutut.

Perasaan pedih, duka memenuhi hatinya, air matanya mengalir dengan deras seperti air hujan. "Ayah, kau... kau ..." hanya itu saja yang mampu diucapkannya dan selanjutnya tidak dapat

berkata apa-apa lagi.

Sungguh tak di nyana bahwa keadaan ayahnya ada begitu rupa, seolah-olah seorang tawanan yang baru keluar dari kamar tutupannya.

Selama tujuh belas tahun, belum pernah ia mengetahui siapa sebetulnya ayahnya sendiri.

Sudah tentu juga ia tidak mengetahui bagaimana potongan tubuh ayahnya itu? Sejak anak-anak dalam alam pikirannya hanya menganggap bahwa ayah bundanya sudah lama meninggalkan dunia.

Siapa kira bahwa ayahnya ternyata sekarang masih hidup, bahkan telah menderita siksaan yang begitu hebat, sehingga keadaannya sangat menyedihkan. Bagaimana kalau Kim Houw tidak berduka karenanya ?

Dalam keadaan demikian, di belakang gegernya mendadak dirasakan adanya sambaran angin. Kim Houw yang baru saja merasakan, sambaran angin itu mendadak berhenti dan kemudian di susul oleh suara jeritan ngeri. Kim Houw terkejut! Ketika ia mengangkat kepalanya, sebilah pedang panjang yang sudah berlumuran darah tampak di depannya di ujungnya darah segar masih kelihatan mengetel-ngetel.

Orang yang menggunakan pedang itu adalah ayahnya sendiri. Disamping gerobak kelihatan rubuh dua imam yang mendorong gerobak tadi. Tetapi imam-imam itu di tangannya ada membawa senjatanya, kiranya mereka hendak mencelakakan diri Kim Houw selagi dalam keadaan sedih.

Mereka tidak menduga, bahwa ayahnya Kim Houw, Pek Leng yang duduk di atas gerobak telah mengulur tangannya, dengan mudah dapat merintangi maksud jahat si imam. Bahkan berhasil merebut pedangnya yang kemudian digunakan untuk membinasakan mereka. Senjata makan tuan!

Kim Houw yang menyaksikan keadaan demikian, dalam hati segera percaya bahwa orangnya sebagai tawanan itu betul-betul adalah ayahnya. Ia buru-buru merangkak maju, tetapi baru saja berkata : "Ayah"

Mendadak di depannya ada berkelebat warna merah, pedang yang berlumuran darah itu lewat di depan dadanya.

Kim Houw terperanjat, kemudian terdengar suara ayahnya yang membentak keras :

"Siapa ada ayahmu, siapa ada ayahmu ? Aku tidak mempunyai anak seperti kau ini. Kau juga tidak mempunyai ayah seperti aku. Lekas enyah dari sinilekaslah!"

Selama berbicara itu, pedangnya yang berdarah itu di obat-abitkan, agaknya hendak mengumbar kegusarannya yang sudah memuncak yang selama itu belum pernah dapat kesempatan untuk dikeluarkan.

Kim Houw bingung. Tidak tahu apa yang harus diperbuat! Seudah tentu dengan adanya keterangan dari Bwee-hoa Kiesu tadi, orang ini tentunya Pek Leng, ayahnya sendiri. Sudah tidak perlu disangsikan lagi, tetapi sekarang orang itu tidak mau mengaku sebagai ayahnya, entah apa maksudnya ?

Kim Houw menantikan sampai pedang di tangan ayahnya dengan tidak begitu keras digerakkannya, baru ia berkata :

"Ayah, kaukau tenanglah sedikit, sekarang aku hendak melindungi kau turun gunung."

Tetapi orang tua itu lantas perdengarkan suara ketawanya yang aneh, seolah-olah suara burung kokok beluk di waktu malam, sehingga membuat orang yang mendengarnya pada berdiri bulu romanya.

Tiba-tiba angin gunung telah meniup menyingkap ujung baju Pek Leng, sehingga kelihatan kedua mulutnya yang duduk numprah di atas kereta. Kim Houw yang menyaksikan itu dengan tidak sengaja, bukan main kagetnya, sebab kedua kakinya sehingga lutut sudah tidak ada!

Selanjutnya terdengar suara Pek Leng yang mengandung kegemasan:

"Tahukah kau? Ayahmu Pek Leng, lima belas tahun berselang sudah binasa! Binasa di Ceng shia-san, di tangannya itu imam-imam kurcaci. Mereka mengatakan bahwa ayahmu adalah seorang penghianat, padahal ayahmu dengan mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa.

Hanya ibumu, Ceng Kim jie. " Orang tua itu ketika menyebutkan namanya Ceng Kim jie, badannya kelihatan gemetar begitu jaga suaranya terdengar sangat menyedihkan. Tetapi ia hanya kertak gigi sebentar lantas melanjutkan berkata:

"Ya Ceng Kim-jie, dengan mereka Ceng-shi-pay entah ada mempunyai hubungan apa, mereka telah memancing ayahmu naik gunung dan kemudian membikin celaka dirinya dengan akal busuk. Dengan alasan menghukum ayahmu sebagai penghianat, mereka telah menjebloskan ayahmu ke dalam kamar tutupan di bawah tanah."

Berbicara sampai di sini, orang itu kembali gemetar badannya, lama sekali baru membentak dengan tiba-tiba:

"Akhirnya, dia.... .....ayahmu itu telah binasa..........binasa."

Orang tua itu bicara sampai di sini, agaknya tidak dapat menahan rasa sedih dalam hatinya, maka ia lantas menangis tersedu-sedu....

Agak lama ia menangis, mendadak ia menghentikan tangisnya dan berkata pula sambil menuding Kim Houw:

"Kau adalah anaknya Pek Long"

Belum sampai Kim Houw menjawab, ia sudah berkata pula:

"Ketika ayahmu hendak meninggal dunia ia pernah meninggalkan pesan padaku, bahwa ia ada mempunyai satu anak. Di kemudian hari apabila mendapat kesempatan bertemu padanya suruh dia menuntut balas untuk ayahnya, menuntut balas pada musuh-musuh ayahnya, ialah "Itu imam-imam .... yang dipanggil Chiang Liong Cu.....Hian Bu Cu."

Dengan mendadak pedang orang tua itu menuding ke belakang Kim Houw sambil membentak dengan suara keras:

"Jangan bergerak!"

Kim Houw buru-buru berpaling, tetapi di belakangnya ternyata tidak ada orang, belum sampai ia mengalihkan pandangannya, terdengar suara tangisan Bwee-hoa Kiesu.

"Adik Leng, adik Leng, mengapa kau berbuat seperti ini?"

Kim Houw yang mendengar itu, kontan badannya menggigil! Ketika ia melihat ayahnya, orang lua itu ternyata sudah rubuh dalam pelukan Bwee hoa Kiesu, pedang panjang yang berlumuran darah kelihatan sudah menancap di dadanya.

Kim Houw menjerit, lantas roboh pingsan.

Tetapi baru saja badannya roboh. Bwee hoa Kiesu sudah melompat dan menotok di beberapa bagian jalan darahnya, Kim Houw segera tersadar kembali, lantas terdengar perkataan Bwee-hoa Kiesu:

"Hiantit! Kau harus tahu ini waktu apa dan ditempat mana? Paling penting kau menjaga dirimu lebih dulu, apalagi ayahmu sudah mengharapkan supaya kau menuntut balas untuknya!" Kim Houw lantas menepok kepalanya sendiri, ia lompat bangun, tetapi matanya masih mengetelkan air mata. Sebentar kemudian terdengar pekikannya yang panjang dan nyaring yang penuh dengan perasaan gusar dan duka, kemudian terdengar ia berkata:

"Baik! Menuntut balas, menuntut balas. Aku harus menuntut balas."

Baru Kim Houw bicara sampai di situ, dari dalam gumpalan asap lantas muncul beberapa puluh orang imam. Kim Houw tidak menantikan mereka itu menerjang, sudah maju menyambut sambil memutar senjatanya Bak tha Liong-tin, kali ini ia menggunakan tipu serangannya Hiang-mo sin-pian yang paling ampuh, dengan hebat ia menyerang imam-imam itu.

Diantara suara jeritan yang mengerikan, tujuh atau delapan imam telah rubuh binasa, tapi ia sendiri juga hampir-hampir terluka bagian pahanya. Dengan cepat ia lompat melesat tinggi ke atas, balik kembali ke tempatnya.

Hanya dalam waktu sekejapan saja, Bwee hoa Kiesu yang mendorong ayahnya, sudah tidak kelihatan kemana perginya. Kim Houw merasa cemas, ia lantas memanggil-manggil dengan suara keras, badannya juga melompat- lompat kesana kemari untuk mencarinya.

Siapa nyana, dengan perbuatannya itu akhirnya ia terlepas dari kurungan asap itu dan berdiri disamping gunung yang sangat curam, asal ia terpeleset jatuh, sudah pasti tidak dapat hidup lagi.

Tepat pada saat itu, barisan manusia yang merupakan dinding, telah maju mendesak setindak demi setindak.

Kim Houw yang menyaksikan itu, kagetnya bukan main sebab dinding manusia yang begitu tebal, rasanya tidak dapat ditembusi atau dilompati dengan mudah. Sekalipun ia menggunakan ilmunya Han bun- cao-khi barangkali juga masih sukar menerjang keluar. Apalagi kelihatannya, saat itu, sekalipun bersedia untuk menyerah, mungkin tidak dapat diterima oleh musuhnya, maka satu-satunya jalan yang masih terbuka baginya, ialah melompat dari atas tebing yang curam itu, tetapi itu berarti suatu kematian.

Sedangkan dinding manusia itu perlahan-lahan sudah mulai mendesak maju....

Mendadak Kim Houw mendengar suara gerujukan air, ketika ia mengawasi dengan seksama, ternyata di suatu tempat kira-kira delapan kaki jauhnya ada terdapat air terjun. Begitu ia melihat air terjun itu, hatinya merasa sangat girang. Ia sengaja mengeluarkan jeritan kaget, lalu pura-pura terpeleset jatuh dan terjun ke dalam jurang.

Begitu dirinya melayang, lalu ia berjungkir balik dan melesat laksana anak panah ke dalam air terjun.

Di istana dalam rimba keramat, air terjun demikian yang membuat Kim Houw kehilangan ingatan. Entah sudah berapa kali Kim Houw lompat ke bawah mengikuti terjunnya air, maka dalam hal terjun ke dalam air terjun baginya sudah merupakan hal biasa saja. Dan ketika imam-imam itu melongok dari puncak gunung Kim Houw sudah menghilang ke dalam air terjun.

Bulan sabit di langit nampak muncul pada waktu malam yang gelap, seolah-olah anak perawan yang malu-malu ketemu tunangan!

Sinar rembulan yang tidak begitu terang sudah memancar ke seluruh jagat. Suasana malam yang sunyi membuat gunung Ceng-shia-san itu kelihatannya semakin sunyi.

Tetapi di puncaknya gunung Ceng shia san, didalam gereja yang megah, lampu-lampu memancarkan sinarnya seolah-olah siang hari saja. Diruangan tengah yang luas, yang merupakan singgasana dalam gereja, di situ ada duduk ketua Ceng-shia-pay yaitu Giok Yang Cin-jin, dikedua sisinya terdapat imam-imam yang kesemuanya sudah lanjut usianya, tetapi jumlahnya tidak lebih dari tujuh orang, sedangkan sebagian besar tempat duduk kelihatan kosong.

Bahkan, di wajah setiap orang itu kelihatannya diliputi oleh suatu perasaan duka. Tiba-tiba Giok Yang Cin-jin berbicara:

"Hian Bu Sutee, kau kenapa ?... "

Belum habis perkataannya, dari ruangan dalam muncul keluar seorang imam, ia adalah Hian Bu Cu. Setelah memberi hormat kepada Giok Yang Cin-jin, baru ia menjawab:

"Terimaksih atas perhatian Toa-suheng. Selama istirahat dalam waktu tiga hari itu luka-lukaku sudah sembuh semua."

Giok Yang Cin-jin tidak menjawab apa-apa dan Hian Bu Cu juga tidak berani membuka suara lagi, ia memutar tubuhnya duduk ditempat sendiri.

Tepat pada saat itu, dari luar telah masuk empat imam yang masih muda usianya. Mereka itu begitu tiba didalam ruangan, lantas berlutut satu diantaranya berkata :

"Hunjuk beritahu kepada Sucow, selama tiga hari ini seluruh gunung Ceng-shian-san sudah dicari semua, bukan saja tidak dapat menemukan dirinya Bwee-hoa Keisu dan Pek Leng, bahkan bangkai bocah she Kim itu juga tidak dapat ditemukan..."

Giok Yang Cin-jin hanya perdengarkan suara dihidung, kemudian berkata kepada dirinya sendiri :

"Apa benar dia tidak mati? ini benar-benar sukar untuk membuat orang dapat dipercaya!"

Selagi ia bicara, badannya Giok Yang Cin-jin mendadak melesat tinggi. Terus melayang menuju ke pintu gereja, satu tangannya mengeluarkan serangan yang ditujukan ke arah pintu. Kekuatan dari serangan tangannya itu demikian hebatnya sehingga tiang pintu berguncang dan dinding tembok pada rontok, tetapi ternyata tidak ada apa-apa, hingga Giok Yang Cin-jin berseru kaget: "Eh!"

Ketika ia menengok ke arah para imam, mereka sedang mengawasi padanya dengan sorot mata heran.

Giok Yang Cin-jin merasa tidak enak. Terang tadi ia melihat ada berkelebat bayangan orang, tetapi sekejap saja mengapa lantas tidak kelihatan lagi? Di hadapan para sutenya itu ia merasa tidak enak sendiri.

Pada saat itu dari luar tiba-tiba terdengar suara orang yang seperti gembreng pecah: "Bocah, kau sungguh bernyali besar!"

Giok Yang Cin-jin mendengar suara itu wajahnya berubah seketika. ketika ia menengok padri aneh itu sudah berdiri di depan pintu memberi hormat kepadanya seraya berkata.

"Giok Yang Toheng, harap jangan gusar bocah itu memang sangat nakal, sebentar aku pasti akan menghukumnya." Giok Yang Cin-jin sekarang baru mengetahui, bayangan orang tadi kiranya ada si bocah nakal yang selamanya belum pernah bicara.

Tetapi apa yang membuat ia heran, bocah ini meskipun sangat luar biasa ilmu mengentengi tubuhnya, tetapi bagaimana ia sanggup menerima serangannya tadi? dan sekarang kemana larinya ?

Ketika ia mendongak ke atas, di atas penglari ternyata ada terlihat dua kaki anak yang telanjang, kiranya ia sedang duduk nongkrong di situ.

Kerena memandang persahabatannya dengan padri aneh itu, Giok Yang Cin-jin terpaksa menahan rasa mendongkolnya, sambil membalas hormat ia menjawab.

"Taysu, silahkan masuk. Tiga hari tidak kelihatan, entah kemana Taysu berjalan-jalan?" Padri aneh itu ketawa bergelak-gelak, lalu menyahut :

"Aku sipadri edan yang terpaksa menyingkir kemari untuk menyembunyikan diri dari musuh, kini sudah beberapa tahun lamanya tidak nyana iblis tua itu ternyata sudah mencari sampai di sini. Sebetulnya aku ingin pergi tanpa pamit, tetapi tidak tega meninggalkan bocah cilik itu, sekarang aku tidak tahu bagaimana harus bertindak ?"

"Bocah she Kim itu telah didesak sehingga jatuh ke dalam jurang oleh barisan "Kian-pek Bie Hun-tin" sekarang masih belum diketahui entah dia binasa atau masih hidup. Tetapi walaupun dia bisa lolos, dalam waktu beberapa bulan mungkin tidak berani datang lagi. Hanya tentang orang yang kau anggap musuh itu sebetulnya siapa? Sampai seorang yang mempunyai kepandaian tinggi seperti kau ini juga masih ketakutan setengah mati, sehingga harus lari sembunyi ?"

Si padri aneh tidak menjawab.

"Bukannya kau sengaja hendak omong besar" kata Giok Yang Cin-jin. "Kalau dia masuk dalam barisan "Kian-pek Bei-hun-tin" pasti suruh dia masuk, tetapi tidak bisa keluar, kau jangan harap dia bisa turun gunung lagi dalam keadaan hidup."

"Tentang musuhku itu." jawab si padri aneh.

"Tinggi kepandaiannya dan kelihaiannya aku sungguh tidak dapat melukiskan. Tetapi aku tidak menginginkan dia datang kemari sehingga menimbulkan mala petaka terhadap orang-orang yang tidak berdosa, dan itu akan membuat tambahnya dosaku saja.

Giok Yang Cin-jin mengetahui, meskipun kepandaian padri aneh itu masih jauh di bawah dirinya, tapi ia tidak percaya bahwa musuhnya ada begitu lihay, maka ia menganggap bahwa perkataannya itu sangat di lebih-lebihkan.

Pada saat itu dari bawah puncak gunung ia mendengar suaranya genta yang gencar dan mengaung tidak berhenti hentinya.

Giok Yang Cinjin mendengar suara gentar itu, mengerti ada tanda bahaya kedatangan musuhnya padri aneh itu.

Tetapi mendadak dalam ruangan gereja itu terdengar suara riuh, ketika Giok Yang Cinjin menoleh ternyata di dalam ruangan gereja itu sudah terjadi pertempuran, dimana enam orang imam sedang mengerubuti seseorang. Di bawah kepungan para imam itu, Giok Yang Cinjin tidak dapat melihat tegas wajah orang yang terkurung itu, tetapi diantara berkelebatnya sambaran banyak pedang, terlihat olehnya ada senjata Bak-tha Liong-kin-nya Kim Houw.

Dengan terlihatnya senjata itu, terang orang yang sedang dikepung itu tentu Kim Houw adanya. Dengan cara bagaimana Kim Houw datang sekonyong-konyong, sehingga tidak seorangpun yang mengetahuinya, benar-benar merupakan suatu kejadian yang langka. Benarkah jurang yang curam itu tidak dapat membinasakan padanya ? ...

Sementara itu, suara genta di bawah gunung terdengar semakin gencar. Giok Yang Cinjin wajahnya berubah seketika, sebab suara genta yang begitu gencar ada merupakan suatu tanda bahwa musuh yang mendatangi itu bukan hanya tinggi kepandaiannya saja, tetapi juga sangat ganas dan telengas!

Munculnya Kim Houw saja sudah cukup untuk membikin orang sakit kepala dan sekarang harus ditambah lagi dengan seorang lihay yang belum diketahui namanya, maka hari ini Ceng- shia-pay benar-benar akan mengalami bahaya kebangkrutan.

Mendadak suara jeritan ngeri terdengar nyaring, ketika Giok Yang Cinjin menoleh, sesosok bayangan orang melesat terbang keluar dari dalam kepungan orang-orangnya dan jatuh terbanting di tanah.

Dari suara jatuhnya itu sudah dapat diduga bahwa orang itu pasti tidak ada harapan hidup.

Siapa orang apes itu ? Giok Yang Cinjin meneliti orang itu ternyata adalah Chiang Liong Cu yang diantara imam-imam dalam Ceng-shia-pay mempunyai kepandaian paling tinggi.

Melihat Chiang Liong Cu jatuh dalam keadaan terluka, semangatnya Giok Yang Cinjin terbang seketika, segera ia melesat dan tiba di dekat Chiang Liong Cu, cepat-cepat ia memasukkan tangannya ke dalam sakunya untuk mengambil obat.

Tetapi obat belum dikeluarkan, ia melihat sepasang mata Chiang Liong Cu sudah mendelik, napasnya berhenti, ternyata ia sudah binasa sejak tadi. Melihat sutenya binasa, Giok Yang Cinjin bukan hanya terkejut saja, tetapi juga lantas murka seketika.

Ia lalu menghunus pedangnya dan mengeluarkan perintah dengan suara sedih:

"Semua maju! Gunakan senjata "Am-ceng-cu" untuk menangkapnya!" sambil berkata, ia sendiri juga maju menerjang!

Seorang yang mempunyai kedudukan sebagai ketua sampai mengeluarkan perkataan demikian, dapat diduga sampai dimana cemasnya pikirannya.

Sebetulnya, saat itu Hian Bu Cu sedang berdiri jauh-jauh, ia tidak berani turut ikut menyerang Kim HOuw, agaknya ia sudah mendapat firasat bahwa Kim HOuw hanya datang untuk mencari dia.

Dengan adanya perintah Giok Yang Cinjin tadi, Hian Bu Cu mau tidak mau terpaksa harus turut campur tangan. Ketika mendengar perintah menggunakan "Am-ceng-cu", Hian Bu Cu lalu mundur lagi, kedua tangannya dimasukan ke dalam saku untuk mengambil senjata rahasianya. Ia telah menantikan kesempatan yang paling baik, lalu menyerang dengan senjata rahasia yang sudah digenggamnya. Sebentar saja Kim Houw sudah di kurung rapat dengan senjata rahasia Am Ceng-cu yang dilancarkan dari berbagai penjuru.

Kalau mau dikata bahwa dengan senjata rahasia dapat mencelakakan diri Kim Houw jangan di harap. Tetapi Kim Houw sengaja berkelit kesana kemari atau menyampok dengan senjatanya dan tangannya. Sebentar kemudian mendadak terdengar suara jeritan ngeri. Ketika orang mencari tahu dari mana datangnya suara tadi, ternyata suara jeritan itu keluar dari mulutnya Hian Bu Cu.

Keadaannya sangat mengenaskan. Kepalanya sudah di bilang sudah hancur, wajahnya sudah tidak karuan macam. Apa yang di lihat hanya berbagai macam senjata rahasia yang menancap di muka dan kepalanya.

Disamping itu kedua telapak tangannya juga dibikin berlubang oleh dua buah paku senjata rahasia yang di namakan "Pek-how-teng"

Ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang sangat ganjil dan sulit dibayangkan karena Hian Bu Cu berdirinya paling jauh dan tokh masih tidak terlolos dari tangan puteranya Pek Leng.