Istana Kumala Putih Jilid 26

 
Jilid 26

PEK HO TOJIN tidak nyana Kim Houw akan menggunakan siasat demikian, ia lengah, pedangnya lantas terlepas dari tangannya karena tertendang oleh kakinya Kim Houw. Sudah tentu, kejadian ini disebabkan kelengahan Pek Ho Tojin sendiri yang tadi telah menegor Kim Houw, yang dikiranya membawa banyak kawan. Jika tidak, sekalipun Kim Houw mempunyai dua pasang kaki, juga jangan harap bisa menyentuh pedang lawannya.

Tiga jurus serangannya Pek Ho Tojin sudah habis, Kim houw lantas tertawa bergelak gelak, sambil lompat bangun ia berkata :

"Kedatanganku ke atas gunung ini, hanya seorang diri saja, tidak mempunyai kawan.

Sekarang, tiga jurus serangan Koancu sudah habis, apa yang Koancu harus katakan lagi? Aku rasa hal itu juga tidak ada perlunya, jika Koancu masih banyak rewel, mungkin lebih tidak enak akibatnya bagi Koancu sendiri !"

Setelah berkata, Kim Houw lantas lompat melesat ke atas genteng. Dari jauh ia lihat berkelebatnya bayangan satu orang, yang lompat melesat ke puncak gunung seperti gerakannya kucing liar. Kim Houw tahu, bayangan itu tentunya ada Bwee-hoa Kiesu, sudah tidak bisa salah lagi.

Kim Houw dapat merasa bahwa pada imam di atas genteng benar saja tidak merintangi perjalanannya, maka ia tidak mau berlaku keterlaluan lagi, dengan cepat lantas meninggalkan gereja Pek-ho-koan.

Saat itu sudah jam empat menjelang pagi hari, di puncak gunung kabut menampak semakin tebal. Mendadak di depan jalan ada mencorong sepasang sinar terang yang menembusi kabut tebal itu.

Kim Houw mengira ada matanya binatang buas, karena apa bila itu ada sorot matanya orang, orang itu pasti mempunyai kekuatan tenaga lwekang yang sudah tinggi sekali.

Sinar itu makin lama makin mendekat, tapi karena kabut amat tebal, Kim Houw tidak dapat lihat sinar itu ada matanya binatang atau manusia.

Kim Houw yang bernyali sebar, dengan cepat lompat menghampiri. tepat tiba di depannya sinar itu. Ketika ia buka lebar mata untuk menegasi, ternyata di depannya ada berdiri satu orang, bukannya binatang buas, hingga Kim Houw terkejut.

Apa sebabnya, apakah ia takut? Tidak!

Sebab orang yang mempunyai sinar mata begitu hebat itu, ternyata bukan seperti apa yang Kim Houe duga semula, ada seorang tua yang rambutnya sudah putih atau seorang laki-laki yang berbadan tegap, sebaliknya ia hanya satu bocah tanggung yang berusia kira-kira dua belas atau empat belas tahun.

Cuma, bocah ini ada beda dengan bocah biasanya, ia berpakaian kopiah imam, di belakang gegernya menggendong sebilah pedang, tangannya membawa kebutan, persis seorang imam cilik. Untuk sesaat lamanya Kim Houw telah dibikin tercengang, sebab bocah yang usianya masih begitu muda, ternyata sudah mempunyai kekuatan lwekang begitu tinggi, apakah mungkin seperti dirinya sendiri yang menemukan pengalaman gaib?

Selagi Kim Houw masih merasa bingung, imam cilik itu sudah menegor padanya: "Adakah tuan seorang she Kim?" "Aku yang rendah benar adalah Kim Houw, entah apa

sebutannya toheng yang mulia?" jawab Kim Houw, ia heran mengapa imam cilik itu mengetahui shenya.

"Benar! benar! harap toheng sudi memberi sedikit petunjuk!" "Aku ini adalah Pek Leng Tojin, entah ada urusan apa tuan mencari aku?"

Kimm Houw mendengar pertanyaan itu, hatinya terkejut. Ia mundur selangkah, lama matanya memandang imam cilik, mulutnya ternganga, tidak bisa menjawab.

Kim houw sejak masih baya belum pernah melihat ayahnya, sudah tentu tidak tahu bagaimana roman ayahnya itu. Sekarang, bocah cilik yang berada di depan matanya itu, ternyata sudah mengaku sebagai Pek Leng Tojin. Meski ia tahu benar bahwa bocah itu bukan ayahnya sendiri, tapi, untuk sesaat itu ia juga tidak mampu menjawab.

Bocah yang mengaku Pek Leng Tojin itu berkata pula:

"Aku si tojin tahun ini sudah berusia enam puluh tiga tahun, orang menyebut aku sebagai imam yang tidak bisa tua. Tapi, seumur hidupku aku belum pernah kawin, sebaliknya aku menyebut aku sebagai ayahmu. Aku belum kawin dari mana bisa mempunyai anak? Terang kau datang untuk mencari setori. Lebih baik kau lekas pulang, kalau tidak, hati-hati kau nanti tidak bisa turun gunung lagi..."

Kim Houw memang sudah tahu kalau imam itu bukan ayahnya, sebab dimasa mudanya ayahnya pernah menjadi rebutan kaka beradik dari keluarga Ceng-kee-cee, kalau roman ayahnya seperti imam cilik, bagaimana bisa dibuat rebutan oleh dua wanita?

Siapa nyana, belum sampai Kim Houw memberi jawabannya, si imam cilik itu sudah mengejek Kim Houw begitu rupa, sehingga Kim Houw seketika itu lantas naik darah!

Tidak menunggu si imam cilik bicara habis, Kim Houw sudah membentak dengan suara keras : "Imam busuk yang tidak punya mata, dengan cecongormu seperti ini juga berani keluarkan

perkataan yang tidak sopan. Rupanya kau sudah bosan hidup, hari ini aku Kim Houw hendak memberi pelajaran sedikit padamu, supaya lain kali kau tidak berani sembarangan buka mulut lagi

!"

Kim Houw merasa benci sekali kepada imam cilik itu, karena romannya yang masih seperti bocah, ternyata sudah berani mengaku ayahnya.

Tiba-tiba ia sudah keluarkan dua tangannya, satu menyerang ke barat dan lainnya menyerang ke arah timur, serangannya itu semua ditujukan ke tempat kosong dikanan kirinya badan si imam cilik.

Si imam cilik kelabakan, ia tidak tahu serangan apa yang digunakan oleh Kim Houw. Tapi, ia juga bukan seorang lemah, dalam keadaan bingun, ia masih bisa lekas menghunus pedangnya. Ia tingginya tidak lebih dari tiga kaku, dengan pedangnya itu hampir sama panjangnya, maka ketika pedang panjang itu berada didalam tangannya, ia seperti juga seorang anak kecil yang memainkan golok besar.

Kim Houw yang menyaksikan keadaannya si imam cilik itu, dalam hati merasa geli, tapi rasa bencinya lebih besar daripada perasaan gelinya.

Ia menunggu sampai imam itu sudah pegang betul pedangnya, kedua tangannya mendadak menarik dam melepas dengan berbareng. nampaknya Kim Houw seperti main-main saja, tapi sebetulnya imam cilik itu sudah terkurung oleh kekuatan tenaga Kim Houw.

Tapi, imam cilik itu yang sudah mempunyai kepandaian sampai sepasang matanya memancarkan sinar begitu terang, sudah tentu bukan termasuk orang sembarangan Gesit sekali tubuhnya yang pendek kecil lantas melesat tinggi ke angkasa, segera menukik balik dan pedang panjangnya digunakan untuk menikam. Ia ingin mengetahui sampai dimana Kim Houw masih dapat menyambuti pedangnya itu dengan tangan kosong.

Tidak nyana baru saja ia melesat ke atas dan pedangnya juga baru hendak menikam, suatu tenaga dahsyat telah membentur pedangnya dan menerbitkan suara nyaring sekali.

Si imam cilik gemetar badannya, ia tidak dapat pertahankan dirinya lebih lama lagi ditengah udara, lantas meluncur jatuh dan sebelah tangannya hampir saja patah.

Mendadak ia merasakan tangannya sangat enteng, ketika ia memeriksa pedang di tangannya ternyata hanya tinggal gagangnya saja, Sedangkan pedangnya sudah hancur berkeping-keping.

Melihat itu si imam cilik bergidik, pikirnya andaikata tadi ia tidak keburu jatuh, tentu tubuhnya yang kecil sudah hancur lebur.

Imam cilik itu setelah menenangkan pikirannya, baru melemparkan gagang pedangnya seraya berkata:

"Sungguh hebat sekali kekuatan tenaga dalammu, sekarang marilah kita, mengadu kekuatan tenaga!"

Mendengar itu dalam hati Kim Houw diam-diam menyumpahi si imam cilik itu yang bandal. Andaikata benar-benar kekuatan tenaga dalamnya hebat sekali, apa kiranya Kim Houw takut padanya?

Ketika itu si imam cilik sudah menyodorkan kedua tangannya, tetapi Kim Houw hanya menyambuti dengan sebelah tangannya saja.

Siapa nyana sebelum tangan kedua pihak saling menempel, badan si imam cilik lantas menggigil, sehingga dengan diam-diam ia merasakan kaget. Ia tidak berani melanjutkan mengadu tenaga lagi, sambil melesat mundur ia berseru:

"Apa Siaohiap melatih ilmu Han-bun-cao-khie?"

Semula Kim Houw hendak memberi sedikit hajaran pada imam cilik itu, sekalipun tidak dihajar sampai mampus, setidak-tidaknya juga harus dibikin babak belur. Diluar dugaan, sekarang si imam cilik telah memajukan pertanyaan ilmunya Han-bun cao-khie, Kim Houw menjadi terheran- heran.

Sebab sejak ia muncul di dunia Kaog ouw jarang menggerakan ilmunya Han-bun-cao khie, sampai seorang tingkatan tua dan mempunyai kepandaian sangat tinggi seperti Kow-low Sin-ni dan Liok-cio Thian-mo juga tidak mengenali nama dari ilmunya yang sangat hebat siapa nyana imam tua yang bentuknya seperti bocah ini belum sampai mengadu kekuatan sudah segera dapat menyebut nama ilmunya.

"Karena kau telah mengenali ilmu apa yang kupelajari, maka hari ini aku akan mengampuni jiwamu!" kata Kim Houw.

Imam tua yang seperti bocah itu rupanya bukan dari partai Ceng-shia, sebab ilmu yang ia pelajari bukan ilmu dari Cie-khie-sin-kang, tapi suatu ilmu yang justru paling takuti Han-bun cao- khie.

Karena sedikit sekali orang yang mempelajari ilmu Han-bun-cao-khie, maka boleh digunakan sepanjang perjalanan hidupnya ia belum pernah menemukannya. Tidak nyana dimasa tuanya ia telah menemukan ilmu itu pada diri Kim Houw yang masih muda belia.

Maka lantas ia tidak berani bertingkah lagi, ia persilahkan Kim Houw naik gunung Seraya berkata:

"Siaohiap, silahkan naik ke atas, Ceng-bun-jin Ceng-shia-pay sudah menantikan kedatanganmu!"

Kim Houw tidak mengira imam cilik itu dapat berubah sikap demikian ccpat, maka ia juga tidak sungkan-sungkan lagi terus naik ke atas gunung.

Saat itu kabut semakin tebal, sehingga jalanan kelihatannya gelap. Meskipun Kim Houw mempunyai mata yang sangat tajam dan dapat menembusi hawa gelap, tetapi dalam kabut yang demikian tebalnya itu daya penglihatannya juga hanya mencapai sejauh kira-kira lima kaki saja.

Maka terpaksa Kim Houw berjalan dengan pelahan.

Mendadak telinganya mendengar suara genta ditabuh dua kali.

Kim Houw menghentikan kakinya, ia memasang mata dengan seksama dan merasa agaknya sudah menginjak puncaknya gunung, hanya sayang karena tebalnya kabut, matanya tidak dapat memandang jauh. Dalam keadaan demikian Kim Houw tidak berani gegabah, sebab biarpun bagaimana gunung Ceng-shia san itu tidak boteh dipandang remeh.

Meskipun ia sudah menundukkan Pek Ho Tojin dam si imam tua yang seperti bocah tadi, selain dari mereka berdua tidak kelihatan datangnya orang yang lebih kuat, tetapi menurut keterangan Bwee hoa Kiesu bahwa di atas gunung itu terdapat banyak sekali imam yang berkepandaian tinggi, maka tidak boleh tidak, ia harus berlaku hati hati.

Setelah memeriksa keadaan di sekitarnya, Kim Houw lalu duduk di atas sebuah batu besar dan membuka buli-buli kecil dari Tiong ciu-khek dan meminum air untuk menghilangkan rasa dahaganya. Air itu begitu masuk ke dalam perutnya, sekujur badannya kontan dirasakan sangat segar dan rasa letihnya lantas lenyap seketika.

Pada saat itu langit di sebelah timur kelihatan berwarna merah, dan menembusi kabut tebal. Meskipun diketahui oleh Kim Houw bahwa sinar itu ialah sinar matahari pagi, tetapi karena dirinya berada di atas puncak Ceng-shia-san, dan pusatnya Ceng-shia-pay, maka hatinya merasa kurang tenteram. Ia lalu berbangkit dan kembali celingukan mengamati keadaan sekitarnya, benar saja ia sudah berada di atas puncaknya gunung Ceng-shia. Hanya di situ bukan saja tidak terlihat ada manusianya, bahkan sebuah gerejapun tidak kelihatan.

Yang terlihat hanya batu-batu aneh yang berserakan di sana sini. Keadaan di situ sangat berlainan dengan keadaan di Pek ho koan, ini benar sangat mengherankan hati Kim Houw, ia tidak mengerti apa sebab-sebabnya.

Mendadak terdengar satu suara yang seperti gembreng pecah dari samping kirinya, "Bocah, kemari, Yayamu ingin menanya kau!"

Mendengar suara itu, Kim Houw segera mengerti bahwa orang itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi. Ia heran, sejak kapankah orang itu datang ke situ dan mengapa sedikitpun tidak diketahuinya, apakah ia sudah datang terlebih dahulu dari pada dirinya sendiri?

Meskipun orang itu mempunyai kekuatan lwekang sangat tinggi, tetapi sebagai seorang imam yang bicara secara kasar demikian, baru sekali ini Kim Houw mendengarnya.

Kembali ia mendengar suara orang tadi.

"Bocah, kau kenapa, apa kau tidak mau mendengar perkataan Yayamu? Mengingat ayahmu dulu"

Mendengar orang yang tidak mau memperlihatkan dirinya itu selalu menyebut dirinya sendiri Yaya dan anggap Kim Houw sebagai bocah, sebenarnya Kim HOuw sudah hendak mencarinya dan memberikan hajaran padanya, tapi tiba-tiba ia mendengar orang itu mengatakan soal ayahnya.

Hati Kim Houw berdebaran, apa mau orang itu tidak melanjutkan perkataannya, hal mana membuat hati Kim Houw sangat cemas. Saat itu mendadak terdengar lagi suaranya.

"Bocah, Yaya mau bicara padamu, mau dengar atau tidak ? Kalau tidak mau dengar, lekas pergi saja kalau mau dengar harap segera kemari Yayamu tidak mempunyai tempo banyak lagi"

Kim Houw yang berulang-ulang mendengar ucapan "bocah" dan Yaya dari suara orang itu masih belum mengetahui perkataan itu ditujukan pada siapa, tetapi di puncak gunung itu kecuali ia sendiri sudah tidak ada orang lain lagi. Apakah orang itu benar-benar Yayanya yang datang untuk mengunjukkan jalan supaya ia dapat bertemu dengan ayahnya, oleh karena pikirannya itu, maka lantas ia menggerakan kakinya menuju ke arah datangnya suara tadi.

Diatas sebuah batu besar, dilihatnya ada seorang berkepala gundul. Kim Houw merasa heran mengapa di dalam partai Ceng-shia-pay ada terdapat juga hwesio?

Yang lebih mengherankan hatinya, imam tua yang berperawakan seperti bocah telah mengaku dirinya sebagai ayahnya dan sekarang hwesio ini mengaku sebagai Yayanya.

Benar-benar merupakan teka teki bagi KIm Houw.

Tetapi karena ia ingin mengetahui urusan ayahnya, terpaksa ia menahan sabar dan maju menghampiri.

Tetapi baru saja kakinya bergerak, ia mendengar hwesio itu membentak. "Bocah, kau si binatang cilik ini, apa benar-benar tidak mau mendengar kata-kata Yayamu.?

Belum selesai ucapan hwesio itu, sesosok tubuh manusia telah melesat turun di hadapan si hwesio. Kim Houw menegasi bayangan yang barusan turun, ternyata ia ada seorang bocah laki- laki berusia kira-kira tujuh tahun. Kini Kim Houw baru mengerti akan duduknya perkara, ternyata kedua orang itu adalah kakek dan cucu, sedangkan ia sendiri bukannya orang yang dimaksudkan.

Tetapi pada saat itu, hwesio itu mendadak berbangkit dan berpaling kepada Kim Houw. "Apakah kau naik ke gunung ini hendak mencari ayahmu ? Cucuku ini juga hendak mencari

ayahnya." kata si hwesio.

Hwesio itu bertubuh tinggi besar lebih tinggi dari pada Kim Houw. Wajahnya menakutkan seolah-olah pernah terbakar sebab di sana sini kelihatan warna merah melepuh tanda bekas terbakar.

Melihat wajahnya orang sudah seram, apalagi melihat ia ketawa lebih-lebih menakutkan.

Dalam hati diam-diam Kim Houw berpikir, entah darimana datangnya si Hwesio dan mengapa bentuknya begitu menyeramkan ?

Atas pertanyaan hwesio tadi, Kim Houw segera menduga bahwa hwesio ini juga bukan berasal dari golongan Ceng-shia-pay.

Seketika itu ia lantas menjura.

"Kapan Taysu datang ke gunung ini dan ayah adik kecil ini sekarang berada dimana ?" tanyanya dengan laku hormat.

Si Hwesio ketawa bergelak-gelak.

"Ayahnya bocah ini sudah lama tidak ada dalam dunia," jawabnya. "Ayahmu yang tidak berguna itu rasanya juga sudah tidak ada lagi, perlu apa kau mencari dia, mari kita bersama-sama turun gunung saja."

Kim Houw gusar, dengan tanpa sebab si hwesio menyumpahi ayahnya. Darah panas mendorong ia kasih hajaran pada hwesio berengsek itu, ia mengeluarkan tangannya hendak menyerang. Dalam keadaan gusar, sudah tentu serangan Kim Houw ini akan sangat hebat akibatnya.

Tetapi Hwesio itu agaknya sudah mengetahui akan kelihaian si anak muda, ia segera melompat melesat sejauh dua tombak, hanya batu besar yang bekas didudukinya tadi telah terpental sampai beberapa kaki jauhnya dan tepat pada saat itu juga, mendadak terlihat satu bayangan hitam secepat kilat menerjang Kim Houw.

Bayangan hitam itu demikian gesitnya, belum dapat di lihat tegas orangnya, tahu-tahu bayangan itu sudah berada di depan mata Kim Houw. Terpaksa ia mengayun tangannya menyerang, satu sinar emas yang menyusul berkelebat telah menjadi sasarannya. Ia terkejut karena tangannya dirasakan sakit.

Buru-buru ia memeriksa tangannya, terlihat ada dua titik hitam dan di tanah menggeletak seekor ular emas kecil. Ular emas itu sudah pernah di lihat oleh Kim Houw, ia yang berada di dalam tongkat Kim Coa Nio-nio. Sejak Kim Coa Nio-nio meninggal dunia, ular emas itu juga lantas lenyap, tidak dinyana sekarang telah muncul di sini dan menggigit padanya.

Ketika ia mendongakkan kepalanya untuk menegasi siapa tadi yang menerjang padanya dan melemparkan ular emas itu ternyata ia adalah si bocah, yang saat itu tengah mengawasi padanya sambil ketawa cengar cengir.

Benar-benar ini merupakan suatu kesulitan. Bocah itu masih terlalu muda usianya, belum mengerti urusan, membuat Kim Houw sungkan turun tangan kepadanya, untuk melampiaskan kedongkolannya.

Ia heran, dengan cara bagaimana ular emas kecil itu bisa jatuh di tangannya.

Si Hwesio aneh melihat Kim Houw berdiri terlongong-longong, lantas ketawa bergelak-gelak, dan dengan suaranya yang seperti gembreng pecah berkata :

"Bocah, apakah kau kenali ulat emas kecil itu ? Biasanya asal mengenai orang sedikit saja cukup membikin orang itu binasa. Kau tadi sudah di gigit olehnya, dalam tempo satu jam saja jangan harap kau masih bernyawa. Kalau kau mau turun gunung, Yaya nanti akan memberikan obatnya untuk menolong jiwamu, bagaimana ? Lekas jawab, sebab kalau terlambat obat itu pun sudah tidak ada gunanya lagi. Bocah, aku beri nasehat jangan kau coba main-main dengan jiwamu!"

Ketika tadi Kim HOuw digigit oleh ular emas kecil itu, sebetulnya sangat kuatir, tetapi mendengar disebut "bocah" berkali-kali oleh si hwesio, ia jadi mendongkol sekali. Tidak perduli betapa jahatnya bisa ulat emas itu, segera ia mengeluarkan Bhak-tha Liong-kin nya yang lantas diletakkan di tempat bekas luka gigitan tadi, sebentar saja titik hitam itu lantas lenyap dan rasa sakitnya hilang sama sekali.

Kim Houw menyimpan kembali Bhak-tha Liong-kin nya, kemudian dengan bangga ia ketawa bergelak-gelak.

"Kau jangan kegirangan tidak keruan," katanya, "Kau tahu tubuhku kebal terhadap racun yang bagaimana jahatnyapun dalam dunia ini. Sekarang kau harus membuat perhitungan dengan aku."

Sehabis berkata, Kim Houw lantas menyerang kepada si hwesio.

Hwesio aneh itu hanya ketawa, kemudian angkat kaki dan kabur ke bawah gunung, mulutnya berkaok-kaok :

"Bocah, kalau berani, mari kita adu kekuatan di bawah gunung ... "

Kim Houw sangat gusar, segera ia mau mengejar, tetapi mendadak KIm HOuw ingat maksud kedatangannya hendak menemui ayahnya. Jika karena tindakannya itu lantas hilang kesempatan nya untuk menemui ayahnya, hal itu akan merupakan sesalan seumur hidupnya.

Karena pikirannya itu, maka makian hwesio aneh tadi dianggap sepi.

Ia mau lanjutkan perjalanannya memanjat ke puncak gunung, tiba-tiba melihat si bocah masih berdiri mengawasi ular emas kecil yang tidak berkutik.

Kim Houw lalu menghampiri si bocah, ia menanya : "Adik kecil, hwesio tadi pernah apa dengan kau dan ular emas ini kau dapatkan dari mana ?

Kau jangan takut, kau beritahukan padaku, tidak nanti aku mengganggu dirimu."

Siapa kira berulang-ulang Kim Houw menanya, bocah itu tetap tidak mau menyahut.

Kim Houw merasa heran, karena di lihat dari romannya, bocah itu bukan anak tolol, juga bukan seperti orang yang tidak mengerti bahasa orang. Si bocah hanya memandang terus pada Kim Houw, seperti yang mengandung rasa kebencian yang hebat.

Semula Kim Houw tidak memperhatikan hal itu, tetapi ketika matanya beradu dengan mata bocah itu, hatinya lantas bercekat.

Lewat sejenak, bocah itu memungut ular emasnya dimasukkan ke dalam bumbungnya.

Dengan tidak memperdulikan Kim Houw lagi, ia lantas lari turun gunung.

Kim Houw kagum, melihat bocah yang usianya masih sekecil itu, kepandaian mengentengkan tubuhnya ternyata sudah begitu mahir. Ia sendiri, jika tidak menemukan kejadian yang sangat ajaib, walaupun berlatih sepuluh tahun barangkali belum tentu mempunyai kepandaian seperti bocah ini.

Munculnya bocah dan hwesio aneh itu seolah-olah merupakan suatu teka teki baginya. Siapakah adanya mereka ? Di bagian belakang nanti kita bicarakan lagi.

Ketika melihat bocah tadi turun ke belakang gunung, sedangkan di puncak gunung tidak kelihatan gereja atau bayangan orang, Kim Houw segera menuju ke arah jejak bocah tadi.

Baru saja berjalan kira kira sepuluh tombak jaraknya, di samping kiri lantas terbentang sebidang tanah kosong yang luas. Ketika ia mendekati, disamping gunung itu ternyata ada dibangun beberapa bangunan gereja yang sangat megah.

Selagi Kim Houw mengawasi pemandangan itu dengan perasaan heran, dari kedua sisinya mendadak muncul sepasang imam kecil yang sama dandanannya dan sama perawakannya.

Dengan laku yang sangat menghormati, mereka berkata kepada Kim Houw :

"Ciang bun Sucow dari Ceng-shia-pay sudah lama menantikan kedatangan tuan." Kim Houw terkejut, buru-buru ia membalas hormat.

"Terima kasih atas penyambutan Toheng berdua." jawabnya.

Kedua imam kecil itu lantas mengajak Kim Houw ke pinggir tanah lapang tadi.

Begitu menginjak tanah lapang, jauh-jauh sudah dapat dilihatnya dalam sebuah gereja besar ada duduk berbaris kira-kira sepuluh orang imam. Para imam itu kesemuanya telah lanjut usianya, sedangkan Bwee-hoa Kiesu juga terdapat diantaranya.

Dalam barisan imam itu, di tengah tengahnya berduduk seorang imam tua yang usianya kira- kira sudah lebih dari delapan puluh tahun. Tidak perlu disangsikan lagi, Kim Houw lantas mengetahui bahwa imam tua itu ialah ketua Ceng-shia-pay yang sekarang, Giok Yang Cinjin.

Kim Houw maju beberapa tindak dan memberi hormat kepada imam tua itu sembari berkata: "Boanpwe Kim Houw menghaturkan selamat kepada Cinjin"

Imam tua itu dengan sikap yang agung hanya mengawasi Kim Houw dari bawah sampai ke atas. Lama sekali baru ia berkata dengan suara dingin :

"Kau inilah orangnya yang dengan seorang diri sudah berhasil menerjang tiga rintangan dari Ceng-shia-pay ?"

Kim Houw merasa heran, apa yang dimaksud dengan ketiga rintangan dari Ceng-shia-pay, maka ia lantas menjawab :

"Boanpwee malam-malam mengunjungi gunung ini hanya bermaksud untuk menemui seseorang, harap Cinjin suka memberi maaf sebanyak-banyaknya dan suka memberi kelonggaran."

"Maksud kedatanganmu sudah kuketahui semua kau ingin menemui orang di gunung ini harus melalui tiga rintangan lagi" kata si imam itu masih tetap dengan suara dingin dan sehabis berkata ia lantas berbangkit hendak masuk ke dalam lapangan.

Mendadak seorang imam tua di sisinya sudah bangkit dan berkata padanya: "Toa-suheng, sabar dahulu, biarlah aku yang akan coba-coba dulu padanya !"

Ketika si imam tua berpaling, imam yang bicara tadi ternyata adalah sutenya sendiri yang bernama Chiang Liong Cu. Ia tahu bahwa sutenya ini sejak kecil sudah mempunyai kepandaian yang sangat luar biasa, ilmunya Ciekie-sin-kang, termasuk yang paling kuat diantara para imam dari golongan Ceng-shia-pay, maka ia lantas berkata :

"Sute, kau boleh coba dahulu kekuatan tenaga dalamnya !"

Chiang Liong Cu memberi hormat, lali berjalan menuju kelapangan. Ketika sudah berada dekat, mendadak ia batuk-batuk, riak kental lantas keluar dari mulutnya dan tepat jatuh di atas sebuah batu besar.

Sungguh heran riak kental itu ketika jatuh dibatu segera mengeluarkan suara dan ketika semua orang melihatnya, ternyata riak kental itu sudah melesak kedalam batu kira-kira satu dim, sehingga merupakan satu lobang kecil. lobang kecil itu demikian rata bentuknya, seolah-olah terbuat dari ujung pedang yang tajam.

Kekuatan tenaga dalam yang begitu hebat, benar-benar jarang terlihat.

Menyaksikan itu, meskipun dalam hati Kim Houw merasa kagum, tetapi wajahnya sedikitpun tidak menunjukkan perubahan. Kepandaian tadi ternyata untuk ditunjukkan hendak menguji dirinya, jika ia sendiri tidak menunjukkan sedikit kepandaian yang melebihi itu, jangan harap dapat menemui ayahnya.

Kelihatannya ia masih tenang tenang saja, dengan tidak banyak lagak, ia buka mulutnya meludah, karena ia tidak mempunyai reak.

Ludah itu juga jatuh tepat di atas batu besar tadi, tepat pula ditempat bekas jatuhnya reak Chiang Liong Cu, hanya ludah itu jatuhnya mengitari sekitar lubang kecil tadi, membuat lingkaran, seolah-olah telah diatur oleh tangan manusia dan lubang kecil yang duluan tepat berada ditengah- tengahnya. bahkan ludah itu, ketika jatuh di atas batu, hampir sedalam lubang bekas reak Chiang Liong Cu tadi.

Chiang Liong Cu dan semua imam yang menyaksikan kejadian itu, berubah semua wajahnya, sebab ludah yang diludahkan dengan kekuatan tenaga lweekang itu, ternyata juga mempunyai kekuatan seperti reak kental yang dikeluarkan dari m ulut Chiang Liong Cu, ternyata kekuatan anak muda ini masih berada diatasnya Chiang Liong Cu.

Dengan tidak banyak bicara, Chiang Liong Cu manggutkan kepala kepada Kim Houw, lantas mundur ke tempat duduknya, kemudian berkata kepada Giok Yang Cinjin :

"Bocah ini benar-benar tidak boleh dipandang ringan, dia mirip Pek Sin, tetapi bukan Pek Sin, harap Toa suheng suka hati-hati sedikit"

Giok Yang Cinjin anggukkan kepala dan ia hendak berbangkit, kembali ada seorang imam berbadan pendek maju dan berkata padanya: "Toa- suheng, aku ingin mencoba melayaninya !"

Ketika Giok Cinjin menoleh, ternyata itu sutenya yang paling kecil, Hian Bu Cu. Ia lantas mengerutkan alisnya, sebab Hian Bu Cu kekuatannya masih terbatas, baik ilmu pedangnya maupun kekuatan tenga dalamnya, semuanya masih berasa di bawah Chiang Liong Cu dan Pek Ho tojin. Kedua orang itu sudah maju, bukankah itu berarti tidak mengukur dirinya sendiri ?

Tetapi Giok Yang Cinjin segaera mengingar bahwa Hian Bu Cu ini ada seorang licik dan kejam, lagi pula banyak akalnya, mungkin ia hendak menggunakan akal busuknya untuk menjatuhkan lawannya.

Sebetulnya, Kim Houw yang dengan seorang diri sudah berhasil naik ke atas gunung sehingga membuat rusak nama Cheng-shia-pay maka Ceng-shia-pay sebetulnya boleh tidak mentaati peraturan dunia Kang-ouw yang harus menghadapi Kim houw dengan satu lawan satu, tetapi dengan cara mengerubuti beramai-ramai untuk menyingkirkan Kim houw sehingga dapat melampiaskan sakit hatinya.

Tetapi mengingat sejak naik sampai ke puncak gunung, Kim Houw belum pernah melukai jiwa manusia, apalagi ia menemui orang-orang dengan laku sangat hormat, membuat Ceng-shia-pay sungkan untuk berbuat demikian.

Sekarang, andaikata Hian Bu Cu dapat memenangkan dengan akal busuknya, jika hal tersebut sampai tersiar keluar, juga masih dikatakan bahwa pertandingan itu dilakukan dengan satu lawan satu. Kalau Hian Bu Cu benar-benar bisa berhasil menjatuhkan Kim Houw, itu merupakan soal yang paling baik, setidak-tidaknya dapat memperbaiki kembali nama ceng-shia-pay.

Oleh karena berpikir demikian, maka Giok Yang Cinjin lantas menyambut sambil menganggukan kepala :

"Baiklah harap sute melayani dengan hati-hati dan dengan sepenuh tenaga"

Hian Bu Cu ketawa, agaknya mengerti maksud suhengnya. Ia berjalan memasuki kalangan, terlebih dahulu ia menganggukkan kepala kepada Kim Houw lalu berkata :

"Kepandaian dan kekuatan Siaohiap yang luar biasa, benar-benar sangat mengagumkan, sekarang aku si tojin yang tidak berguna ini, mempunyai suatu usul yang bodoh, ingin minta pertimbangan Siaohiap, sukalah Siaohiap memberi sedikit muka kepadaku!" Kim Houw segera menjawab sambil membalas hormat : "Silahkan."

"Usulku yang bodoh ini, kalau mau dikatakan sungguh menggelikan. Caranya ialah begini: Kau serang aku tiga kali dan aku juga akan menyerang kau tiga kali, siapapun juga tidak boleh menangkis dan balas menyerang, yang melanggar dibilang kalah. Kau pikir bagaimana?"

Kim Houw melihat imam ini, meskipun usianya sudah enam puluh tahun lebih, tapi pembicaraannya tidak mempunyai dasar yang adil, bukan seperti orang yang beribadat. Tetapi Karena ia sudah memajukan syarat-syarat itu justru membikin pusing kepalanya.

Sebab kalau ia berani majukan syarat demikian, kalau tidak yakin benar mempunyai kekuatan yang tinggi dan ada yang diandalkan, bagaimana ia berani mengajukan syarat demikian? Tetapi Kim Houw yang datang hendak menemui ayahnya, bahaya macam apapun juga tidak diperdulikannya. Kepandaian dan ilmunya Han-bun-cao-kie yang sudah tidak ada taranya itu, kekuatan tenaga yang bagaimanapun juga, tidak dapat berbuat apa-apa terhadapnya.

Maka ia lantas anggukkan kepalanya sebagai suatu tanda telah menerima baik perjanjian tersebut.

Hian Bu Cu yang menyaksikan Kim Houw menerima baik usulnya tanpa berpikir, lantas tertawa menyeringai. Kemudian ia membuat suatu lingkaran, kira-kira lima kaki bundarnya. Kim Houw tidak mengerti apa maksudnya, maka ia lantas menanya pada bakal lawannya.

"Kau dan aku berdua sama-sama berada dalam lingkaran ini, siapa yang terpukul sekali keluar dari lingkaran, dihitung kalah". jawab Han Bu Cu.

Kim Houw dalam hati merasa tidak tenang. Pikirnya: Aku tidak main-main dengan kau, bagaimana ada cara bertanding demikian. Kalau aku turun tangan terlalu keras, kalau tidak mati, tentu kau terluka parah.

Tetapi Kim Houw bukan seorang bodoh ia merasa curiga. Ketika ia melirik kepada Bwee-hoa Kiesu, ia melihat Bwee-hoa Kiesu menunjukkan paras sedih, sehingga hatinya ada rasa tidak tentram.

Tetapi, syarat telah diterima baik olehnya ia tidak boleh tidak harus memenuhinya Pikirnya: Betapapun tingginya kekuatan tenaga tanganmu, aku sudah mempunyai ilmu Han-bu cao ki, asal aku berlaku hati-hati, perlu apa harus takut?

Kemudian ia melihat Hian Bu Cu sudah lompat masuk ke dalam lingkaran, maka tanpa ayal lagi ia lantas lompat masuk juga.

"Siaohiap, silahkan mulai dahulu." kata Hian Bu Cu. "Silakan totiang menyerang lebih dahulu" jawabnya. "Kalau begitu, biarlah aku yang mulai terlebih dahulu."

Berbareng dengan itu, lengan kanannya memutar keluar, tangan kirinyapun demikian pula, dengan berbareng ia mendorong dada Kim Houw. Gerakannya itu kelihatannya lambat, tetapi sebetulnya luar biasa cepatnya. Sebentar saja sepasang tangannya sudah sampai di dada Kim Houw. Apalagi kedua perang ini terpisah tidak lebih dari tiga kaki, dengan mengulur tangan saja sudah mencapai sasarannya. Maka Kim Houw diam-diam juga merasa terkejut, ia buru-buru kerahkan ilmunya Han-bun-cao-kie untuk melindungi dirinya.

Siapa nyana gerakan Hian Bu Cu itu, hanya gerak tipu pura-pura. Meskipun datangnya gesitnya, tetapi kekuatannya tidak ada, ketika menempel di dada, kekuatan itu lantas musnah dengan sendirinya.

Kim Houw merasa lega. Kiranya gerakan itu adalah percobaan belaka, pikirnya.

Di luar dugaan, dalam waktu sekejap saja suatu kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat dirasakan telah menindih dadanya, sehingga untuk bernapas saja ia merasa susah.

Bukan main kagetnya Kim Houw, sungguh tidak dinyana bahwa imam tua itu begitu licik.

Belum hilang rasa kagetnya, kekuatan itu mendadak mendesak dengan hebat. Ini mana dapat disebut serangan tangan yang betul adalah mendorong dengan hebat. Sampai di sini Kim Houw baru tahu kalau ia sudah ditipu oleh lawannya.

Sebetulnya ia ingin menggunakan ilmu memberatkan badannya untuk mengadu tenaga dengan imam yang licik itu, tetapi tadi. ketika ia sedikit lengah, bagian yang sangat berbahaya dibagian dadanya sudah berada di bawah cengkeraman tangan lawannya. Kalau ia memaksa, belum diketahui bagaimana akibatnya nanti, terpaksa ia mengimbangi gerakan lawannya dan lantas melesat ke udara.

Tetapi gerakan melesatnya Kim Houw itu agak miring terbang ke atas, ditengah udara ia membungkukkan badannya dan dengan cepat ia meluncur kembali ke dalam lingkaran.

Tetapi belum sampai kaki Kim Houw menginjak tanah, kembali Hian Bu Cu melancarkan serangannya.

Karena menurut perjanjian tidak boleh menangkis dan balas menyerang, maka serangan itu kelihatannya akan mengenai kedua paha Kim Houw. la ini merasa gemas sekali, terpaksa dengan menggertak gigi ia menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya pada kedua pahanya untuk menyambuti serangan lawanya.

"Plak, plak!" terdengar suara nyaring, sepasang pahanya masing- masing terkena satu serangan, tetapi serangan itu, kembali membuat Kim Houw merasa heran. Sebab dari suara sambaran anginnya, Kim Houw menduga, serangan itu tentunya hebat sekali, siapa nyana, setelah serangan itu mengenakan pahanya, ternyata tidak begitu hebat seperti yang diduganya semula.

Meskipun pahanya dirasakan sedikit nyeri, tetapi bagi Kim Houw tidak berarti apa-apa.

Namun kedua serangan itu sudah membuat Kim Houw, hampir keluar dari lingkaran.

Masih untung dalam keadaan demikian, Kim Houw masih bisa berlaku tenang, ia tekuk sepasang lututnya dan kembali melesat tinggi setengah tombak, ketika ia melayang turun, ia masih tetap berada didalam lingkaran.

Hian Bun Cu tetap berbuat seperti tadi tidak menantikan sampai Kim Houw menginjak tanah, kembali kedua tangannya datang menerjang, bahkan kali ini lebih hebat lagi dan sasaran yang diarah juga bagian perut yang lebih berbahaya. Tetapi, diukur dari kekuatan yang barusan digunakan untuk menyerang pahanya Kim Houw yakin, bahwa serangan itu meskipun mengenai sasarannya juga tidak akan dapat melukakan dirinya.

"Beleduk", perut Kim Houw benar-benar harus menyambuti serangan si imam, betul saja ia hanya merasakan sedikit sakit, tetapi tidak ada tanda apa-apa.

Apa mau, kemudian disusul oleh suara keras, badan Kim Houw jumpalitan sampai tiga kali dan jatuh sejauh setombak lebih, matanya berkunang-kunang, perutnya dirasakan mulas.

Bukan main kagetnya Kim Houw, ia tahu bahwa isi perutnya sudah terluka, tanpa ayal lagi, dengan cepat ia mengambil buli-bulinya dan minum airnya yang mujijat. Ia lantas menyedot napas dalam-dalam, ia merasa bahwa di dalamnya benar-benar sudah tidak ada halangan apa-apa. Ia baru membuka matanya dan merayap bangun dengan perlahan-lahan.

Ini benar-benar satu kealpaan yang hampir saja mengantarkan jiwanya, hal ini sungguh diluar dugaannya.

Setelah berdiri tegak, Kim Houw lalu melihat ke dalam kalangan, ternyata Hian Bu Cu masih berdiri didalam lingkaran, tetapi wajahnya menunjukkan perasaan terheran-heran.

Ketika ia melirik kepada para imam yang duduk berbaris, mereka juga pada menunjukkan perasaan heran, barangkali mereka pada tidak habis mengerti, bagaimana Kim Houw yang terkena serangan yang begitu hebat, dapat sembuh dalam waktu sekejap mata saja.

Kim Houw ketawa, dalam hati kecilnya berkata; Aku Kim Houw tidak bisa mati, kalian tidak usah kuatir!

Ketika ia melihat Hian Bu Cu yang masih berdiri di dalam lingkaran, matanya lantas beringas.

Katanya kepada diri sendiri: Aku dengan kau tidak mempunyai ganjalan dan permusuhan, mengapa kau turunkan tangan begitu keji, hendak mengambil jiwaku? Orang yang begitu kejam seperti kau, apa artinya menjadi imam?

Tidak nyana, wajah Hian Bu Cu yang semula kelihatan terheran-heran, begitu berhadapan muka dengan Kim Houw lantas ketawa menyengir.

"Sekarang adalah giliranmu." katanya menantang.

Kim Kauw balas dengan ketawa dingin dan dengan tindakan perlahan ia melangkah masuk ke dalam lingkaran.

Hian Bu Cu mengerti, bahwa serangannya tadi tidak jujur. Bahkan ia sudah berpikir akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk membinasakan lawannya. Meskipun ilmu pedang dan kekuatan tenaga dalamnya masih kalah dengan lain-lain suhengnya, tetapi kekuatannya yang sudah mempunyai latihan beberapa puluh tahun dan digunakan dengan sepenuh tenaga, juga tidak boleh dianggap ringan.

Ketika melihat serangannya mengenai telak sasarannya, hingga dalam keadaan mengenaskan Kim Houw jatuh bergulingan, bukan main hatinya kegirangan. Kalau ia berhasil membikin Kim Houw terluka parah, memang ada merupakan suatu hal yang aneh dimata para suhengnya. Tidak nyana, sebentar saja Kim Houw ternyata sudah bisa bangun berdiri lagi, tetapi ia masih mengira bahwa itu adalah perbuatan Kim Houw yang hendak menjaga mukanya, maka barusan ia berani keluarkan ucapan yang bersifat menantang.

Siapa kira Kim Houw dengan setindak demi setindak memasuki lingkaran, sedikitpun tidak menunjukkan bekas-bekas terluka, ini membikin Hian Bu Cu terkejut dan hatinya mulai tidak tentram.

Tetapi ia masih berlagak jumawa, ketawa bergelak-gelak dan berkata: "Siaohiap sungguh hebat, sekarang adalah giliranmu, silahkan!"

Ia lantas pasang kuda-kuda, sengaja ia membuka bagian yang berbahaya di depan dada dan perutnya. seolah-olah tidak memandang mata kepada Kim Houw.

Kim Houw muak melihat laganya Hian Bu Cu, pikirnya: "Kau si imam licik ini berani bertingkah di depanku, jangan kata aku mempunyai Han-bun-coa-khie, hanya dengan kekuatan satu tanganku saja rasanya sudah cukup bikin kau mampus!"

Kim Houw lantas melakukan apa yang dipikir, dengan tidak bicara apa-apa ia lantas mengerahkan tenaganya dan dengan kekuatan kira-kira delapan puluh persen ia turun tangan.

Meskipun Kim Houw sangat membenci imam yang kejam itu, tetapi ia adalah seorang yang berhati welas asih maka serangan yang dilancarkan itu ditujukan pada tempat yang berisi.

Dengan kekuatan tenaga dalam yang dipunyai oleh Kim Houw, serangannya itu bagi orang yang mengerti, siapa juga tahu itu bukan main hebatnya, tetapi Hian Bu Cu sebaliknya kelihatan tidak takut, ia masih berdiri tegak, sedikitpun tidak bergerak.

Ketika serangan Kim Houw meluncur dan melihat lawannya masih berdiri dengan sikap acuh tak acuh, semula ia masih menganggap bahwa musuhnya itu tidak memandang dirinya. Dalam gusarnya kekuatannya ditambah lagi beberapa bagian.

Jika serangannya itu mengenakan sasarannya dan sang lawan itu tidak menangkis atau menyingkir, maka jiwanya pasti melayang.

Ketika tangannya sudah hampir mengenakan dada lawannya, suatu pikiran sehat mendadak terlintas dalam otak Kim Houw, ia ingat kedatangannya ini hanya bermaksud untuk menemui bapaknya, meskipun lawannya itu sangat kejam, tetapi ia sendiripun tidak terluka.

Lagi pula ketika tangannya sudah hanya mengenakan dadanya, Hian Bun Cu tinggal tenang- tenang saja. tidak berusaha untuk menyingkirkan, maka diam-diam Kim Houw juga mengagumi ketabahan imam tua itu.

Dengan demikian, tanpa dirasa kekuatan ditangan Kim Houw telah hilang dengan sendirinya kira-kira separuh lebih.

Siapa nyana telapak tangan Kim Houw baru saja menyentuh dada lawannya, tiba-tiba merasakan sakit sampai menusuk ke hulu hatinya.

Kim Houw terkejut! Dengan tidak memperdulikan lagi apa akibatnya, tangan kirinya ayun melancarkan serangan Han-bun-cao-kienya. Kekuatan serangan itu baru saja sampai tengah jalan, cukup membuat Hian Bu Cu terpental sejauh tiga tombak lebib dan jatuh di tanah dalam keadaan pingsan. Tetapi tangan kanan Kim Houw dirasakan amat sakit, terluka dan darah mengalir bercucuran.

Kiranya Ceng-shia-pay ada mempunyai baju rompi besi yang berduri yang merupakan pusaka turun-temurun dari golongan Ceng-shia pay, duri rompi itu tajamnya bukan main.

Ketika suhu Hian Bu Cu hendak menutup mata, karena ia kasihan kepada Hian Bu Cu, belum lama ia masuk perguruan dan ilmu silatnya masih cetek, maka ia telah menghadiahkan baju wasiatnya kepada murid bontot itu.

Hian Bu Cu orangnya sangat licik dan banyak akalnya. Setelah mendapat hadiah warisan itu, ia tidak memberitahukannya kepada siapapun juga, kecuali Toa-suhengnya yang merangkap menjadi ketua Ceng-shia-pay, yang lainnya jadi tidak ada yang mengetahui hal ini.

Soal ini terjadi pada kira-kira dua puluh tahun berselang, siapapun tidak mengingat lagi adanya rompi besi yang dapat melindungi badan itu, apalagi orang-orang yang datang belakangan ke gunung, seperti Bwee-hoa Kiesu dan lain-lain, sudah tentu tidak mengetahui adanya baju rompi itu.

Siapa nyana baju rompi itu, hari ini telah membuat Kim Houw mengalami tidak sedikit kerugian, rasa sakit di telapak tangannya benar-benar hampir membuatnya tidak tahan.

Apalagi setelah ia merubuhkan Hian Bu Cu yang masih belum diketahui nasibnya, segera sudah ada dua imam tinggi kurus, yang telah mengurung dirinya dengan pedang terhunus. Terang mereka bermaksud membunuh Kim Houw, untuk menuntut balas Hian Bu cu.

Pada saat itu, Kim Houw yang berulang-ulang sudah mengalami hinaan, terutama oleh akal kejinya Hian Bu Cu, sehingga tangannya menderita kesakitan yang sangat hebat, maka hawa amarahnya lantas meluap! Ia tidak memperdulikan apa akibatnya lagi, lalu mengulur tangan kirinya laksana kilat, sebentar saja dua bilah pedang kedua imam tua tadi, telah dapat dirampasnya secara mudah.

Kim Houw yang sudah kalap, tidak ingat lagi pesan Bwee-hoa Kiesu dan tidak perduli lagi apa yang dinamakan pantangan, pedang panjang itu kemudian di patah-patahkan menjadi beberapa potong, kemudian dilemparkan berantakan di tanah.

Justru dengan demikian, benar-benar telah melanggar pantangan besar bagi partai Ceng-shia- pay yang telah menjadi terkenal di rimba persilatan terutama karena ilmu pedangnya, maka setiap anak murid dari Ceng-shia pay, tidak perduli imam atau orang bisa hampir semuanya membawa- bawa pedang di badannya.

Sejak Ceng-shia-pay jika belum lulus dari perguruannya, tidak boleh membawa pedang. Bagi yang sudah lulus dari pelajarannya, baik murid itu merantau dikalangan Kang-ouw atau yang menjadi imam di gereja, pedang itu sudah merupakan jiwa bagi mereka, Jika mereka pedang masih ada, orangnya juga tentu ada, tetapi jika pedangnya musnah, orangnya juga harus binasa, kecuali jika pedang itu dibikin rusak oleh lawannya, tidak perduli dengan cara bagaimana, sang murid itu harus berhasil membinasakan lawannya, baru jiwanya terhindar dari kematian.

Oleh karena adanya peraturan itu, maka semua anak murid dari golongan Ceng-shia-pay, hampir setiap saat tidak boleh berpisah dengan pedangnya, yang dipandang sebagai jiwanya sendiri. Dan kini, dalam waktu sekejap saja pedang dua imam itu sudah dirusak oleh Kim Kouw, bagaimana itu tidak membangkitkan kegusaran semua anak murid Cheng-shia-Pay? Maka sebentar kemudian, Kim Houw sudah dikurung oleh anak murid Ceng shia-pay, tujuh atau delapan bilah pedang sudah menyambar ke arah dirinya. Serangan itu kelihatannya sangat ganas, sebab kesemuanya ditujukan kebagian-bagian yang sangat penting dari anggota badan.

Kim Houw berkelit kesana dan kemari, mula-mula ia masih dapat melayani serangan-serangan itu dengan leluasa, tetapi selewatnya sepuluh jurus, karena darah di telapak tangannya mengalir terus-menerus dan rasa sakit terus mengganggu, maka perlahan-lahan ia sudah mulai kewalahan.

Apalagi sedikitpun ia tidak mendapat kesempatan untuk beristirahat, sebab ujung-ujung pedang yang datang mendatangi itu setiap saat dapat membinasakannya.

Ia tidak diberi kesempatan mencabut senjata Bak-tha Liong-kinnya, yang selalu ditaruh di sebelah kanan. Karena tangan kanannya terluka, tangan kirinya tidak leluasa digunakan untuk mengambilnya.

Iman-imam yang mengerubutinya agaknya juga jeri terhadap senjata Kim Houw yang hebat itu. Apa mau Han-bun-cao-kie Kim Houw juga rupanya tidak dapat digunakan secara leluasa, karena satu tangannya terganggu oleh rasa sakitnya.

Disamping itu, imam-imam itu juga mengetahui kelihaian ilmu Han-bun-cao-kie Kim Houw, maka setiap kali mereka melihat Kim Houw hendak mengeluarkan serangannya, segera dilawannya dengan kekuatan tiga atau empat orang dengan berbareng. Maka meskipun Han-bun- cao-kie itu lihai, juga tidak dapat dengan mudah menembusi kekuatan tenaga gabungan yang terdiri dari kekuatan tiga atau empat orang.

Lewat lagi sepuluh jurus, kelihatannya Kim Houw sudah mulai tidak tahan, keadaannya sungguh sangat berbahaya.

Kim Houw merasa sedih hatinya, ia sesalkan dirinya sendiri, karena kelalaiannya ia telah tertipu oleh akal muslihat musuh yang licik.

Dalam keadaan yang sangat berbahaya itu sebilah pedang meluncur hendak menikam dadanya, Kim Houw melengakkan badannya ke belakang menghindari serangan.